MODUL IV SISTEM PERSAMAAN LINEAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MODUL IV SISTEM PERSAMAAN LINEAR"

Transkripsi

1 MODUL IV SISTEM PERSAMAAN LINEAR 4.. Pendahuluan. Sistem Persamaan Linear merupakan salah satu topik penting dalam Aljabar Linear. Sistem Persamaan Linear sering dijumpai dalam semua bidang penyelidikan yang menggunakan pemodelan matematis sebagai alat bantu. Sistem persaman linear akan banyak digunakan dalam berbagai masalah, baik di teori maupun di praktis, salah satunya dalam optimasi. 4.. Sistem Persamaan Linear Untuk memahami sebuah sistem persamaan liner, akan diberikan ilustrasi sebagai berikut : Sebuah Perusahaan Sepatu X membuat tiga jenis sepatu, yaitu Sepatu Olah Raga, Sepatu Kerja dan Sepatu Santau. Setiap jenis sepatu memerlukan tiga tahapan terpisah yang dikerjakan oleh bagian-bagian tertentu. Dengan ketentuan sebagai berikut : Tabel.4.. Waktu yang diperlukan dalam setiap tahapan dalam pembuatan sepatu Waktu yang dibutuhkan tiap tahapan (menit) Jenis Sepatu Memotong Mengelem Menjahit Olah Raga Kerja 6 8 Santai Dimana pada bagian memotong menyediakan 50 jam orang per hari Pada bagian mengelem menyediakan jam orang per hari Pada bagian menjahit menyediakan 8 jam orang per hari Supaya memaksimumkan ketersediaan tenaga kerja, berapa banyak setiap jenis sepatu harus dihasilkan setiap hari? Untuk menganalisis keadaan tersebut kita misalkan : = banyaknya sepatu olah raga yang dihasilkan y = banyaknya sepatu kerja yang dihasilkan z = banyaknya sepatu santai yang dihasilkan

2 Sehingga : Pemanfaatan total bagian memotong adalah : 4 + 6y +8 z menit Karena tenaga pemotong tersedia sebanyak 50 jam atau 000 menit maka : 4 + 6y +8 z = 000 Pemanfaatan total bagian mengelem adalah : 8 + y +9 z menit Karena tenaga mengelem tersedia sebanyak jam atau 980 menit maka : 8 + y +9 z = 980 Pemanfaatan total bagian menjahit adalah : 9 + 8y +4 z menit Karena tenaga penjahit tersedia sebanyak 8 jam atau 080 menit maka : 9 + 8y +4 z = 080 Sehingga unsur-unsur,y,z yang tidak diketahui harus memenuhi persamaan berikut : 4 + 6y +8 z = y + 9 z = y + 4 z = 080 Kasus di atas merupakan salah satu ilustrasi dari sistem persamaan linear. Tiap-tiap persamaan di atas yaitu 4 + 6y +8 z = 000, 8 + y + 9 z = 980 dan 9 + 8y + 4 z = 080 disebut persamaan linear. Definisi 4. (Persamaan Linear) Persamaan linear dalam n variabel,,, n adalah suatu persamaan yang bisa disajikan dalam bentuk : a a ann b dimana a, a,, an dan b konstanta real. Variabel-variabel dalam suatu persamaan linear kadang disebut variabel bebas. Dari contoh kasus diatas dan dikaitkan dengan definisi 4., jika anda amati persamaan linear tidak melibatkan hasil kali atau akar dari suatu variabel. Semua variabel hanya muncul sekali dengan pangkat satu dan tidak muncul variabel bebas dari suatu fungsi trigonometri, logaritma atau eksponensial. sebagai 8

3 Contoh 4. Perhatikan persamaan-persamaan berikut : 4 y 7 7 z y... n Apakah persamaan-persamaan ditas merupakan persamaan linear? Berdasarkan definisi 4., persamaan-persaman diatas merupakan persamaan linear. Contoh 4. Perhatikan persamaan-persamaan berikut : y 7 cos y 0 y z y 4 y z Apakah persamaan-persamaan diatas merupakan persamaan linear? Berdasarkan definisi 4., persamaan-persaman diatas bukan merupakan persamaan linear karena : y 7 (melibatkan variabel y dengan pangkat ) cos y 0 (melibatkan fungsi trigonometri yaitu cos y) y z y 4 (melibatkan perkalian dua variabel yaitu y) y z (melibatkan akar dari variabel y) Definisi 4. (Sistem Persamaan Linear) Sebuah himpunan berhingga persamaan linear dalam variabel-variabel,,, n disebut sebuah sistem persamaan linear. Definisi 4. (Penyelesaian Sistem Persamaan Linear) 84

4 Sederetan angka s, s,, s n disebut suatu penyelesaian sistem persamaan linear jika s, s,, n sn merupakan penyelesaian dari setiap persamaan dalam sistem tersebut. Contoh 4. : Diberikan sistem persamaan linear sebagai berikut : 4y 4y0 Tentukan penyelesaian dari sistem pesamaan linear tersebut. Dari contoh diatas, dengan mudah dapat kita tentukan bahwa = 4 dan y = 0 merupakan penyelesaian. Contoh 4.4 : Perhatikan sistem persamaan linear berikut : y 4 y Dari dua persamaan diatas, jika persamaan kedua kita kalikan dengan ½ akan diperoleh : y 4 y 6 merupakan persamaan yang kontradiksi. Sistem persamaan di atas tidak mempunyai penyelesaian. Dari dua contoh sistem persamaan linear diatas dapat disimpulkan bahwa suatu persamaan linear bisa mempunyai penyelesaian dan bisa juga tidak mempunyai penyelesaian. Definisi 4.4 (Penyelesaian Sistem Persamaan Linear) Sebuah persamaan linear yang tidak mempunyai penyelesaian disebut tak konsisten, jika minimal ada satu penyelesaian disebut konsisten 85

5 Untuk mengilustrasikan kemungkinan yang terjadi dalam menyelesaikan sistem persamaan linear, kita lihat dulu arti geometri persamaan linear dari dua variabel dan y. Misalnya diberikan sistem persamaan linear : a b y c a b y c dengan a, b, c, a, b, c bilangan real yang diketahui. Telah kita ketahui bahwa persaman a by c dapat digambarkan sebagai garis dibidang. Sehingga sistem persamaan linear diatas dapat digambarkan sebagai dua garis L dan L di bidang. Ada tiga kemungkinan kedudukan kedua garis tersebut, yaitu :. Garis L dan L berpotongan. Garis L dan L sejajar. Garis L dan L merupakan satu garis (berimpit ) Lebih jelasnya perhatikan Gambar 4. berikut : Y L Y L L Y L =L X X X L Gambar 4.. Kemungkinan kedudukan dua garis dalam bidang Dengan demikian ada tiga kemungkinan jawaban/penyelesaian dari sistem persamaan linear diatas yaitu :. mempunyai tepat satu penyelesaian. tidak mempunyai penyelesaian. mempunyai banyak penyelesian Ketiga kemungkinan ini juga berlaku untuk sembarang sistem persamaan linear. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap persamaan linear mungkin tidak mempunyai penyelesaian, mempunyai tepat satu penyelesaian atau mempunyai tak hingga banyak penyelesaian. 86

6 Sesuai dengan definisi 4., sebarang sistem m persamaan linear dalam n variabel dapat ditulis sebagai berikut : a a a b n n a a a b n n a a a b m m mn n m..() dimana,,, n merupakan variabel, a ij dan b ij (i=,,,m ; j=,,,n) merupakan konstanta. Jika ditinjau dari bentuk sistem persamaan linear pada persamaan () maka dapat juga dinyatakan sebagai : dengan AX B () a a a n b a a a n b A ; X dan B a a a b m m mn n m Dimana A merupakan matriks koefisian dari sistem persamaan linear. Berdasarkan nilai dari konstanta B, maka anda akan mengenal dua macam sistem persamaan linear, yang akan dibahas pada sub bab berikutnya 4... Sistem Persamaan Linear Homogen Suatu sistem persamaan linear AX=B dikatakan non homogen jika konstanta real B tidak semuanya nol (B0), yaitu jika sistem tersebut mempunyai bentuk : a a a b n n a a a b n n a a a b m m mn n m Definisi 4.5 (Matriks yang diperbanyak) Sebuah sistem m persamaan dalam n variabel dapat disingkat hanya menuliskan angka dalam bentuk segiempat : 87

7 a a a n b a a an b am am amn bm bentuk matriks di atas disebut matriks yang diperbanyak (Augmanted matri). Dengan Notasi A* Bentuk matriks yang diperbanyak, akan sangat berguna untuk menentukan penyelesaian dari suatu sistem persamaan linear. Teorema 5.: Sistem Persaman linear non homogen AX hanya jika rank rank A* Contoh 4.5 : Selesaikan sistem persamaan linear berikut : Dari sistem persamaan linear diatas : A ; A* B mempunyai penyelesaian jika dan Akan dicari rank A dan rank A* dengan eliminasi baris secara bersama -sama : BB B4B BB Sehingga diperoleh Rank dan Rank A* =. Karena rank A A* maka sistem persamaan linear diatas tidak ada penyelesaian. Contoh 4.6 : Selesaikan sistem persamaan linear berikut 88

8 Dari persamaan diatas diperoleh, matriks koefisien dan matriks yang diperbanyak : A ; A* Akan dicari rank A dan rank A* dengan eliminasi baris secara bersama-sama: BB B4B BB Sehingga diperoleh rank dan rank A* =. Karena rank A= A* maka sistem persamaan linear diatas mempunyai penyelesaian. Anda perhatikan, bahwa yang telah dilakukan untuk menentukan rank pada matriks-matriks diatas sebenarnya suatu eliminasi berturut-turut dari i. Sehingga dapat kita tentukan penyelesaian umum dari sistem persamaan ini. Persaman diatas ekuvalen dengan : misal jika kita ambil s dan v maka diperoleh persamaan : s v 8 7 selanjutnya diperoleh : 84 7s 5v dan s 4v 8 8 Jadi penyelesaian umumnya adalah vektor : 84 7s 5v 44 8s 4v X s,, v, ; s, v parameter 8 8 Selain dengan menggunakan metode eliminasi, untuk sistem persamaan linear non homogen dapat dilakukan dengan metode berikut : 89 t

9 . Aturan Cramer Torema 4. : Jika AX = B merupakan suatu sistem persamaan linear dalam n variabel sedemikian hingga det(a) 0, maka sistem tersebut mempunyai suatu penyelesaian yang unik (tunggal). Penyelesaian ini adalah : det( A) det( A) det( An ),,, n det( A) det( A) det( A) dengan A j adalah matriks yang diperoleh dengan menggantikan anggota-anggota pada kolom ke-j dari matriks koefisien A dengan anggota-anggota pada matriks b, yaitu : b b b b n Contoh 4.7 : Dengan aturan Cramer, selesaikan sistem persamaan linear berikut : Dari sistem persamaan linear diatas kita dapatkan : 0 6 A 4 6 ; b 0 8 sehingga : A ; A 0 6, A Dari matriks-matriks diatas kita cari determinan masing-masing, diperoleh : 90

10 det( A) 44 det( A ) 40 det( A ) 7 det( A ) 8 Sehingga penyelesaian dari sistem persamaan linear tersebut adalah : det( A ) 40 0 det( A) 44 det( A ) 7 8 det( A) 44 det( A ) 5 8 det( A) 44. Menggunakan Invers Matriks Jika SPL AX = B, A matriks non singuilar dengan A - miks A maka didapat - - A (AX) = A B, - - (A A)X = A B, - I X = A B - X = A B Contoh 4.8 : Selesaikan persamaan 4 Dari persamaan diatas, diperoleh matriks koefisiennya : A 4 Dengan mudah dapat kita tentukan A =6-4= 0, maka A invertibel, dan diperoleh : Jadi X = A - B A 4 9

11 = = - 7 atau dan 7. Eliminasi Gaussian Cara lain dalam menyelesaiakan suatu sistem persamaan linear adalah dengan metode Gaussian atau dengan metode Gauss Jordan. Metode ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikit : dengan langkah-langkah sebagai berikut :. Tempatkan kolom paling kiri yang tidak seluruhnya terdiri dari nol.. Pertukarkan baris teratas dengan baris lainnya, jika perlu, untuk membawa salah satu anggota tak-nol ke posisi paling atas dari kolom yang didapatkan dalam langkah di atas.. Jika anggota yang sekarang berada di posisi paling atas pada kolom yang ditemukan dalam langkah adalah a, kalikan baris pertama dengan /a untuk mendapatkan utama. 4. Tambahkan hasil kali yang sesuai dari baris teratas ke baris-baris di bawahnya sedemikian sehingga semua anggota di bawah utama menjadi nol. 5. Sekarang tutup baris teratas matriks tersebut dan mulai lagi dengan langkah yang diterapkan pada sub-matriks yang tersisa. Lanjutkan cara ini sampai semua matriks berada dalam bentuk baris-eselon. Keseluruhan matriks sekarang berada dalam bentuk baris-eselon. Untuk menemukan baris-eselon tereduksi kita perlu langkah tambahan berikut ini. 6. Mulai dengan baris tak-nol terakhir dan kerjakan ke atas, tambahkan perkalian yang sesuai dari masing-masing baris ke baris-baris di atasnya untuk mendapatkan nol di atas utama. Matriks terakhir berbentuk baris-eselon tereduksi. Prosedur di atas untuk mereduksi suatu matriks menjadi bentuk baris-eselon tereduksi disebut eliminasi Gauss-Jordan. Jika kita hanya menggunakan lima langkah pertama, prosedur tersebut menghasilkan bentuk baris-eselon dan disebut eliminasi Gaussian. 9

12 Contoh 4.9. Selesaikan dengan eliminasi Gauss-Jordan, jika diberikan matriks lengkap dari suatu sistem persamaan linear sebagai berikut : Dari matriks yang diperbanyak untuk sistem tersebut, dilakukan langkah-langkah : Langkah, menempatkan kolom paling kiri yang tidak semuanya terdiri dari nol, kolom tak nol paling kiri Langkah, Baris pertama dan kedua pada matriks sebelumnya dipertukarkan Langkah, Mengalikan baris pertama dengan / Langkah 4, Mengalikan baris pertama dengan - dan ditambahkan ke baris ke tiga Langkah 5, menutup baris pertama, dan mulai seperti langkah, yang diterpkan pada sub matriks yang tersisa kolom tak nol paling kiri 9

13 Baris pertama pada sub matriks dikalikan dengan -/ untuk,membuat menjadi satu utama Baris pertama sub matriks dikalikan -5 ditambahkan kebaris kedua sub matriks untuk mendapatkan nol dibawah utama Baris pertama dari sub matriks ditutup dan kembali pada langkah kolom tak nol paling kiri Baris pertama dan satu-satunya baris dalam sub matriks yang baru dikalikan dengan untuk mendapatkan utama Matriks yang diperoleh ini, merupakan bentuk baris eselon, untuk mendapatkan matriks bentuk baris eselon tereduksi dilakukan langkah : Langkah 6, Mulai dengan baris tak-nol terakhir dan kerjakan ke atas, tambahkan perkalian yang sesuai dari masing-masing baris ke baris-baris di atasnya untuk mendapatkan nol di atas utama. 7/ kali baris ketiga, ditambahkan ke baris kedua kali baris ketiga ditambahkan ke baris pertama 94

14 kali baris kedua ditambahkan ke baris pertama Matriks terakhir ini, berbentuk matriks baris eselon tereduksi. Sistem persamaan yang berpadanan adalah : Jika diberikan sebarang nilai r dan s masing-masing kepada peubah bebas dan 4,penyelesiaan dari sistem tersebut adalah : 7 r s 5 Metode elimanai Gauss Jordan, secara praktis tidak meberikan keuntungan yang berarti. Karena anda pada matriks baris eselon anda dapat menghitung nilai variabel dengan substitusi mundur. Contoh 4.0 : Sistim persamaan linear non-homogen Matriks koefisien 4 A Dapat ditunjukkan bahwa A 0, atau matriks A invertibel. Eliminasi Gaussian akan membawa matriks A ini menjadi matriks segitiga atas elemen-elemen diagonalnya semua, dengan menggunakan operasi elementer. 95

15 Perhatikan langkah-langkah berikut ini I II III 8 8 IV V Langkah I : menukar persamaan ke- dengan persamaan ke- agar supaya koefisien pada persamaan ke- sama dengan. Langkah II : melakukan eliminasi dari persamaan ke- dan ke-. Langkah III : mengubah koefisien pada persamaan ke- sama dengan. Langkah IV : mengeliminasi dari persamaan ke-. Langkah V : menjadikan koefisien dari persamaan ke- sama dengan. Akhirnya sistem persamaan di atas ekivalen dengan sistem persamaan berikut ini Persamaan ke- disubstitusikan ke dalam persamaan ke- sehingga didapat =, dan selanjutnya = dan = disubstitusikan ke dalam persamaan ke- sehingga diperoleh hasil =. Jadi nilai yang didapat adalah =, = dan nilai =. Sama halnya dengan sistem persamaan linear homogen, jika anda dihadapkan pada permasalahan dengan sistem persamaan linear yang rumit, anda dapat melakukan penyelesaian dengan bantuan paket program komputer. Perhatikan contoh berikut : Contoh 4. Selesaikan sistem persamaan linear non homogen berikut : 96

16 Sama dengan penyelesaian pada kasus sistem persamaan linear homogen, lakukan langkah-langkah berikut : Masukkan matriks yang diperbanyak dari sistem persamanan non homogen diatas : A Ketik :» A=[ - -5;5 0; ;-6-4 0] » R=rref(A) R = Inilah bentuk eselon baris tereduksi, yang ekuivalen dengan bentuk : 4 7 Contoh 5.9. Selesaikan sistem persamana linear non homogen berikut : 97

17 0y 4z w 4y z w y z w 5 8y z w 4 6y z Maka langkah pertama adalah memasukkan nilai matriks yang diperbanyak A* Yang dinyatakan dengan B sebagai beriktu :» B=[0 0-4 ; 4 - ; 5; ; - 0 ] B = » R=rref(B) R = 0 0 /4 7/ /4 -/ bentuk matriks ini ekuivalen dengan : z w y 0 w 4 4 dari bentuk ini, anda dapat menentukan nilai dari, y, z dan w (lanjutkan sebagai latihan anda) 4... Sistem Persamaan Linear Homogen Suatu sistem persamaan linear AX=B, dikatakan homogen jika konstanta real semuanya nol, yaitu jika sistem tersebut mempunyai bentuk : 98

18 a a a 0 n n a a a 0 n n a a a 0 m m mn n atau dapat disingkat AX = 0 atau n j a 0; i,, m ij j Dari definisi 4.6, sistem persamana linear homogen juga dapat dinyatakan dalam bentuk vektor : a a a n 0 a a a n 0 n a a a 0 m m mn dapat pula dinyatakan : K K K dimana K j merupakan vektor kolom. n n 0 Sistem persamaan linear homogen selalu mempunyai penyelesaian trivial, n 0, 0,, 0. Jika ada penyelesaian lain disebut, maka penyelesaiannya disebut penyelesaian non-trivial. Karena sistem persamaan linear homogen selalu mempunyai penyelesaian trivial, maka hanya ada dua kemungkinan untuk penyelesaiannya : ) sistem tersebut hanya mempunyai penyelesaian trivial 0, 0,, n 0 ) sistem tersebut mempunyai tak hingga banyaknya penyelesaian disamping penyelesaiana trivial. Jika perhatikan persamaan () dan mengingat definisi tak bebas linear maka sistem persamaan di atas mempunyai penyelesaian non trivial jika hanya jika vektor-vektor K j tak bebas linear. Tiap penyelesaian adalah n-tupel. Vektor-vektor tersebut dapat dipandang sebagai vektor-vektor berdimensi n, yaitu (,,, ) t n Pandang persamaan (). () 99

19 Jika m < n maka vektor-vektor Kj (yang berdimensi m) banyaknya n, pastilah tak bebas linear karena dalam ruang berdimensi m paling banyak adalah m. Sehingga jika banyaknya variabel melebihi banyaknya persamaan, maka pasti dapat ditemukan penyelesaian non trivial. Jika n = m maka matriks A adalah bujur sangkar, dan supaya ada penyelesaian non trivial, maka menurut teori determinan, A harus sama dengan 0. Kedua keadaan di atas tercakup dalam teorema di bawah ini. Teorema 4. : Syarat perlu dan cukup agar supaya sistem persamaan linear homogen AX 0 mempunyai penyelesaian non trivial adalah bahwa banyaknya variabel tak diketahui yaitu n melebihi rank r dari matriks koefisien A. Jadi n > r. Bukti : Misal vektor-vektor K j adalah vektor-vektor kolom dari matriks koefisien dari A bertipe m n. Sehingga jika rank dari matriks A sama dengan r, maka banyaknya vektor bebes linear maksimal diantara vektor-vektor K j juga sama dengan r. Maka jika n > r, vektor-vektor K j adalah tak bebas linear. Yang berarti bahwa sistem persamaannya mempuyai penyelesaian non trivial. Sebaliknya jika sistem persamaan itu mempunyai penyelesaian non trivial, maka himpunan vektor-vektor K, K,,Kn adalah tak bebas linear. Sehingga banyaknya yang bebas linear diantara mereka pasti kurang dari n, maka rank (A) < n. Catatan : Jika n = m, atau matriks A bujur sangkar dan menurut teorema 5., supaya ada penyelesaian non trivial, maka rank(a) = r harus < n. Jika demikian, semua vektor kolomnya adalah tak bebas linear. Sehingga A 0. Pernyataan ini sesuai dengan teori determinan. Jika banyak variabel melebihi persamaan, maka matriks A berukuran m n dengan m < n. Rank dari A paling banyak adalah m. Sehingga r < n, dan menurut teorema 5., pasti ada penyelesaian non trivial. Akibat dari teorema 4. : 00

20 Jika sistem persamaan linear homogen AX 0 mempunyai sifat m < n maka pasti mempunyai penyelesaian non trivial. Jika suatu sistem persamaan linear homogen mempunyai penyelesaian trivial, maka dengan mudah akan anda dapatkan penyelesaiannnya. Jika sistem persamaan linear homogen tersebut juga mempunyai penyelesaian non trivial anda harus menentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear homogen tersebut. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan sistem persamaan linear homogen adalah dengan melakukan eliminasi. Perhatikanlah contoh berikut : Contoh 4.: Diberikan sistem persamaan linear homogen : Tentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear diatas : Dari Sistem persamaan linear diatas, diperoleh matriks koefisien A : 6 8 A penyelesaian persaman diatas dapat dilakukan dengan cara eliminasi : BB B B B B Sehingga dapat diketahui bahwa Rank A adalah, yaitu kurang dari banyaknya variabel yang tidak diketahui (variabel yang tidak diketahui 4). Sehingga sistem persamaan linear homogen diatas mempunyai penyelesaian non trivial. Sistem ekuivalen dengan :

21 Dari bentuk diatas, ternyata dan dapat dipilih dengan bebas. Misal =s dan = s. Harga-harga dan 4 dapat dinyatakan setelah beberapa perhitungan didapat s s s s s s dimana,,, Penyelesaian yang memuat parameter-parameter seperti diatas sehingga memberikan semua penyelesaian disebut penyelesaian umum Dapat ditunjukkan bahwa himpunan semua penyelesaian dari sistem persamaan linear homogen merupakan suatu ruang vektor. Sehingga penyelesaian umum diatas juga disebut ruang penyelesaian. Teorema 4. : Jika didalam persamaan n aij j 0; i,, m rank matriks koefisien sama j dengan r, maka dimensi ruang penyelesaiannya adalah n-r Bukti : (Kerjakan sebagai latihan) Contoh 4. : Selidikilah apakah sistem persamaan linear berikut mempunyai penyelesian non trivial atau tidak, jika mempunyai penyelesaian non trivial, tentukan penyelesaian umumnya : Matriks koefisien dari sistem persamaan linear diatas adalah : A 0 6 Karena det(a) = - 0, maka rank (A) =. Sehingga sistem persamaan linear diatas mempunyai penyelesaian trivial. 0 0

22 Jika anda dihadapkan pada bentuk sistem persamaan linear yang besar, tentu penyelesaian sistem persamaan linear tersebut akan lebih rumit jika dilakukan secara manual. Atau kadang dalam penyelesaian anda dihadapkan dengan nilai-nilai pecahan sehingga penyelesaian akan lebih rumit lagi. Meskipun dengan perhitungan manual dapat diperoleh, namun keadaan seperti ini dapat kita hindari dengan menggunakan program komputer. Dalam modul ini akan dibahas penyelesaian sistem persamaan linear dengan paket program Matlab. Dalam program Matlab, metode yang dipakai adalah eliminasi Gauss Jordan. Coba anda perhatikan contoh berikut : Contoh 4. : Selesaikan sistem Persamaan Linear homogen berikut : Untuk menentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear homogen diatas, dalam modul ini akan digunakan paket program Matlab. Langkah pertama adalah anda masukkan nilai dari matrik koefisien A yaitu : 4 A Dalam program Matlab, metode yang dipakai adalah eliminasi Gauss Jordan, dimana matriks akhir dari hasil operasi baris merupakan bentuk matriks eselon baris tereduksi, dengan perintah untuk mendapatkan penyelesaian adalah :» A=[ - 4 -;7-8 9; 8 -] Dengan perintah untuk mendapatkan penyelesaian adalah :» R=RREF(A) R = 0

23 R = / / /8 yang ekuivalen dengan bentuk : dari bentuk ini, anda dapat menentukan nilai untuk masing-masing variabel. (lanjutkan sebagai latihan anda) Dengan perintah RREF(A) yang berarti Reduced Row Echelon Form atau bentuk eselon baris tereduksi, hasil yang ditampilkan adalah bentuk akhirnya. Padahal langkah-langkah operasi baris untuk memperoleh mariks eselon baris terduksi tidaklah singkat sesuai dengan ukuran matriks asalnya. Dengan program Matlab, anda juga dapat menampilkan matriks yang dihasilkan langkah-demi langkah dari operasi baris tersebut. Untuk mendapatkan hasil seperti ini lakukan perintah :» RREFMOVIE(A) Original matri Press any key to continue... swap rows and (menukar baris dengan baris ) Press any key to continue... pivot = A(,) (membuat baris kolom bernilai) /7-8/7 9/7 04

24 Press any key to continue... /7-8/7 9/7 0 -/7 44/7-5/7 0 54/7 /7-5/7 Press any key to continue... swap rows and /7-8/7 9/7 0 54/7 /7-5/7 0 -/7 44/7-5/7 Press any key to continue... pivot = A(,) /7-8/7 9/7 0 /54-5/54 0 -/7 44/7-5/7 Press any key to continue... eliminate in column /7-8/7 9/7 0 /54-5/54 0 -/7 44/7-5/7 Press any key to continue /54 7/54 0 /54-5/ /54-75/54 Press any key to continue... pivot = A(,) 05

25 0-65/54 7/54 0 /54-5/ /8 Press any key to continue... eliminate in column 0-65/54 7/54 0 /54-5/ /8 Press any key to continue / / /8 Inilah bentuk matriks eselon baris tereduksi. Hasil akhir ini sama dengan hasil pertama. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab sebelumnya, nilai konstanta real B tidak selalu bernilai nol, sering kita dihadapkan permasalahan dimana B 0. Referensi Anton, H., 987, Elementary Linear Algebra, John Wiley & Son, New York Cullen, CG., 988, Linear Algebra With Application, Schott, Foresman and Company. Shchoot, J.R., Matri Analysis for Statistics, John Wiley, New York. 06

Sebuah garis dalam bidang xy bisa disajikan secara aljabar dengan sebuah persamaan berbentuk :

Sebuah garis dalam bidang xy bisa disajikan secara aljabar dengan sebuah persamaan berbentuk : Persamaan Linear Sebuah garis dalam bidang xy bisa disajikan secara aljabar dengan sebuah persamaan berbentuk : a x + a y = b Persamaan jenis ini disebut sebuah persamaan linear dalam peubah x dan y. Definisi

Lebih terperinci

BAB II SISTEM PERSAMAAN LINEAR. Sistem persamaan linear ditemukan hampir di semua cabang ilmu

BAB II SISTEM PERSAMAAN LINEAR. Sistem persamaan linear ditemukan hampir di semua cabang ilmu BAB II SISTEM PERSAMAAN LINEAR Sistem persamaan linear ditemukan hampir di semua cabang ilmu pengetahuan. Di bidang ilmu ukur, diperlukan untuk mencari titik potong dua garis dalam satu bidang. Di bidang

Lebih terperinci

5. PERSAMAAN LINIER. 1. Berikut adalah contoh SPL yang terdiri dari 4 persamaan linier dan 3 variabel.

5. PERSAMAAN LINIER. 1. Berikut adalah contoh SPL yang terdiri dari 4 persamaan linier dan 3 variabel. 1. Persamaan Linier 5. PERSAMAAN LINIER Persamaan linier adalah suatu persamaan yang variabel-variabelnya berpangkat satu. Disamping persamaan linier ada juga persamaan non linier. Contoh : a) 2x + 3y

Lebih terperinci

dimana a 1, a 2,, a n dan b adalah konstantakonstanta

dimana a 1, a 2,, a n dan b adalah konstantakonstanta Persamaan linear adalah persamaan dimana peubahnya tidak memuat eksponensial, trigonometri (seperti sin, cos, dll.), perkalian, pembagian dengan peubah lain atau dirinya sendiri. Secara umum persamaan

Lebih terperinci

Sebelum pembahasan tentang invers matriks lebih lanjut, kita bahas dahulu beberapa pengertian-pengertian berikut ini.

Sebelum pembahasan tentang invers matriks lebih lanjut, kita bahas dahulu beberapa pengertian-pengertian berikut ini. . INVERS MTRIKS Sebelum pembahasan tentang invers matriks lebih lanjut, kita bahas dahulu beberapa pengertian-pengertian berikut ini. a. RNK MTRIKS Matriks tak nol dikatakan mempunyai rank r jika paling

Lebih terperinci

Dalam bentuk SPL masalah ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dalam bentuk SPL masalah ini dapat dinyatakan sebagai berikut: SISTEM PERSAMAAN LINIER Persamaan linier adalah persamaan dimana peubahnya tidak memuat fungsi eksponensial, trigonometri, logaritma serta tidak melibatkan suatu hasil kali peubah atau akar peubah atau

Lebih terperinci

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR Bentuk umum persamaan linear dengan n peubah diberikan sebagai berikut : a1 x1 + a2 x2 +... + an xn = b ; a 1, a 2,..., a n R merupakan koefisien dari persamaaan dan x 1,

Lebih terperinci

MODUL ALJABAR LINEAR 1 Disusun oleh, ASTRI FITRIA NUR ANI

MODUL ALJABAR LINEAR 1 Disusun oleh, ASTRI FITRIA NUR ANI 214 MODUL ALJABAR LINEAR 1 Disusun oleh, ASTRI FITRIA NUR ANI Astri Fitria Nur ani Aljabar Linear 1 1/1/214 1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i BAB I MATRIKS DAN SISTEM PERSAMAAN A. Pendahuluan... 1 B. Aljabar

Lebih terperinci

Chapter 5 GENERAL VECTOR SPACE Row Space, Column Space, Nullspace 5.6. Rank & Nullity

Chapter 5 GENERAL VECTOR SPACE Row Space, Column Space, Nullspace 5.6. Rank & Nullity Chapter 5 GENERAL VECTOR SPACE 5.5. Row Space, Column Space, Nullspace 5.6. Rank & Nullity 5.5. Row Space, Column Space, Nullspace Vektor-Vektor Baris & Kolom Vektor baris A (dalam R n ) Vektor kolom A

Lebih terperinci

SISTEM PERSAMAAN LINEAR

SISTEM PERSAMAAN LINEAR SISTEM PERSAMAAN LINEAR BAB 1 Dr. Abdul Wahid Surhim POKOK BAHASAN 1.1 Pengantar Sistem Persamaan Linear (SPL) 1.2 Eliminasi GAUSS-JORDAN 1.3 Matriks dan operasi matriks 1.4 Aritmatika Matriks, Matriks

Lebih terperinci

SISTEM PERSAMAAN LINEAR

SISTEM PERSAMAAN LINEAR SISTEM PERSAMAAN LINEAR Persamaan Linear Pengertian Persamaan linear adalah persamaan yang mempunyai bentuk umum sebagai berikut. + + + Di mana:,,,, dan adalah konstanta-konstanta riil.,,,, adalah bilangan

Lebih terperinci

BAB 4 : SISTEM PERSAMAAN LINIER

BAB 4 : SISTEM PERSAMAAN LINIER BAB 4 : SISTEM PERSAMAAN LINIER 4.1 PERSAMAAN LINIER Misalnya x 2 Matematika analitik membicarakan ilmu ukur secara aljabar. Garis lurus pada bidang x 1 dan x 2 dapat dinyatakan sebagai persamaan a 1 x

Lebih terperinci

uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg

uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd Qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg

Lebih terperinci

Pertemuan 1 Sistem Persamaan Linier dan Matriks

Pertemuan 1 Sistem Persamaan Linier dan Matriks Matriks & Ruang Vektor Pertemuan Sistem Persamaan Linier dan Matriks Start Matriks & Ruang Vektor Outline Materi Pengenalan Sistem Persamaan Linier (SPL) SPL & Matriks Matriks & Ruang Vektor Persamaan

Lebih terperinci

Part II SPL Homogen Matriks

Part II SPL Homogen Matriks Part II SPL Homogen Matriks SPL Homogen Bentuk Umum SPL homogen dalam m persamaan dan n variabel x 1, x 2,, x n : a 11 x 1 + a 12 x 2 + + a 1n x n = 0 a 21 x 1 + a 22 x 2 + + a 2n x n = 0 a m1 x 1 + a

Lebih terperinci

Pertemuan Ke 2 SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) By SUTOYO,ST.,MT

Pertemuan Ke 2 SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) By SUTOYO,ST.,MT Pertemuan Ke SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) By SUTOYO,ST,MT Pendahuluan Suatu sistem persamaan linier (atau himpunan persaman linier simultan) adalah satu set persamaan dari sejumlah unsur yang tak diketahui

Lebih terperinci

ALJABAR LINEAR ELEMENTER

ALJABAR LINEAR ELEMENTER BAHAN AJAR ALJABAR LINEAR ELEMENTER Disusun oleh : Indah Emilia Wijayanti Al. Sutjijana Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada Desember, 22 ii Daftar Isi Sistem Persamaan Linear dan Matriks.

Lebih terperinci

Sistem Persamaan Linier dan Matriks

Sistem Persamaan Linier dan Matriks Sistem Persamaan Linier dan Matriks 1.1 Pendahuluan linier: Sebuah garis pada bidang- dapat dinyatakan secara aljabar dengan sebuah persamaan Sebuah persamaan jenis ini disebut persamaan linier dalam dua

Lebih terperinci

MODUL V EIGENVALUE DAN EIGENVEKTOR

MODUL V EIGENVALUE DAN EIGENVEKTOR MODUL V EIGENVALUE DAN EIGENVEKTOR 5.. Pendahuluan Biasanya jika suatu matriks A berukuran mm dan suatu vektor pada R m, tidak ada hubungan antara vektor dan vektor A. Tetapi seringkali kita menemukan

Lebih terperinci

SISTEM PERSAMAAN LINEAR

SISTEM PERSAMAAN LINEAR Pokok Bahasan : Sistem persamaan linier Sub Pokok Bahasan : Sistem persamaan linier Eliminasi Gauss Eliminasi Gauss Jordan Penyelesaian SPL dengan invers SISTEM PERSAMAAN LINEAR Tujuan : Menyelesaikan

Lebih terperinci

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA CATATAN KULIAH ALJABAR LINEAR MUSTHOFA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 20 SISTEM PERSAMAAN LINEAR Tujuan : Menyelesaikan sistem persamaan linear. OPERASI BARIS ELEMENTER

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Matriks 1 Pengertian Matriks Definisi 21 Matriks adalah kumpulan bilangan bilangan yang disusun secara khusus dalam bentuk baris kolom sehingga membentuk empat persegi panjang

Lebih terperinci

Lampiran 1 Pembuktian Teorema 2.3

Lampiran 1 Pembuktian Teorema 2.3 LAMPIRAN 16 Lampiran 1 Pembuktian Teorema 2.3 Sebelum membuktikan Teorema 2.3, terlebih dahulu diberikan beberapa definisi yang berhubungan dengan pembuktian Teorema 2.3. Definisi 1 (Matriks Eselon Baris)

Lebih terperinci

Pertemuan 13 persamaan linier NON HOMOGEN

Pertemuan 13 persamaan linier NON HOMOGEN Pertemuan 13 persamaan linier NON HOMOGEN 10 Metode CRAMER Aljabar Linier Hastha 2016 10. PERSAMAAN LINIER NONHOMOGEN 10.1 PERSAMAAN LINIER Misalnya x 2 Matematika analitik membicarakan ilmu ukur secara

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Persamaan Linier Sistem Persamaan dengan m persamaan dan n bilangan tak diketahui ditulis dengan : Dimana x 1, x 2, x n : bilangan tak diketahui a,b : konstanta Jika SPL

Lebih terperinci

Adri Priadana. ilkomadri.com

Adri Priadana. ilkomadri.com Adri Priadana ilkomadri.com Pengertian Sistem Persamaan Linier Persamaan linier adalah suatu persamaan dengan bentuk umum a 1 x 1 + a 2 x 2 + + a n x n = b yang tidak melibatkan hasil kali, akar, pangkat

Lebih terperinci

Secara umum persamaan linear untuk n peubah x 1, x 2,, x n dapatdinyatakandalambentuk: dimanaa 1, a 2,, a n danbadalahkonstantakonstanta

Secara umum persamaan linear untuk n peubah x 1, x 2,, x n dapatdinyatakandalambentuk: dimanaa 1, a 2,, a n danbadalahkonstantakonstanta Persamaan linear adalah persamaan dimana peubahnyatidakmemuateksponensial, trigonometri(sepertisin, cos, dll.), perkalian, pembagian dengan peubah lain atau dirinya sendiri. Secara umum persamaan linear

Lebih terperinci

ALJABAR LINEAR BASIS RUANG BARIS DAN BASIS RUANG KOLOM SEBUAH MATRIKS. Dosen Pengampu: DARMADI, S.Si, M.Pd. Oleh: Kelompok III

ALJABAR LINEAR BASIS RUANG BARIS DAN BASIS RUANG KOLOM SEBUAH MATRIKS. Dosen Pengampu: DARMADI, S.Si, M.Pd. Oleh: Kelompok III ALJABAR LINEAR BASIS RUANG BARIS DAN BASIS RUANG KOLOM SEBUAH MATRIKS Dosen Pengampu: DARMADI, SSi, MPd Oleh: Kelompok III 1 Andik Dwi S (06411008) 2 Indah Kurniawati (06411090) 3 Mahfuat M (06411104)

Lebih terperinci

DIKTAT PERKULIAHAN. EDISI 1 Aljabar Linear dan Matriks

DIKTAT PERKULIAHAN. EDISI 1 Aljabar Linear dan Matriks DIKTAT PERKULIAHAN EDISI 1 Aljabar Linear dan Matriks Penulis : Ednawati Rainarli, M.Si. Kania Evita Dewi, M.Si. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG 011 IF/011 1 DAFTAR ISI

Lebih terperinci

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 7

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 7 Aljabar Linier Elementer Kuliah 7 Materi Kuliah Ekspansi kofaktor Aturan Cramer 2 2.4 Espansi Kofaktor; Aturan Cramer Definisi: Jika A adalah matriks bujur sangkar, maka minor dari entri a ij dinyatakan

Lebih terperinci

Modul Praktikum. Aljabar Linier. Disusun oleh: Machudor Yusman IR., M.Kom. Ucapan Terimakasih:

Modul Praktikum. Aljabar Linier. Disusun oleh: Machudor Yusman IR., M.Kom. Ucapan Terimakasih: Modul Praktikum Aljabar Linier Disusun oleh: Machudor Yusman IR., M.Kom. Ucapan Terimakasih: David Abror Gabriela Minang Sari Hanan Risnawati Ichwan Almaza Nuha Hanifah Riza Anggraini Saiful Anwar Tri

Lebih terperinci

BAB X SISTEM PERSAMAAN LINIER

BAB X SISTEM PERSAMAAN LINIER BAB X SISTEM PERSAMAAN LINIER 10.1 Definisi Persamaan linier adalah persamaan aljabar yang terdiri dari satu atau lebih peubah dan masing-masing peubah mempunyai derajad satu. Sebagai contoh persamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Suatu matriks A C m n dikatakan memiliki faktorisasi LU jika matriks tersebut dapat dinyatakan sebagai A = LU dengan L C m m matriks invertibel segitiga bawah

Lebih terperinci

Modul 2.2 Matriks dan Sistem Persamaan Linear (Topik 4) A. Pendahuluan Matriks dan Sistem Persamaan Linear

Modul 2.2 Matriks dan Sistem Persamaan Linear (Topik 4) A. Pendahuluan Matriks dan Sistem Persamaan Linear Modul 2.2 Matriks dan Sistem Persamaan Linear (Topik 4) A. Pendahuluan Salah satu kajian matematika sekolah menengah yang memiliki banyak aplikasinya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kehidupan

Lebih terperinci

Operasi Eliminasi Gauss. Eliminasi Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam

Operasi Eliminasi Gauss. Eliminasi Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam Operasi Eliminasi Gauss Eliminasi Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam matriks sehingga menjadi matriks yang lebih sederhana (ditemukan oleh Carl Friedrich Gauss). Caranya adalah

Lebih terperinci

M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR

M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL TO N I BAKHTIAR I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR 2 0 1 2 Kesetimbangan Dua Pasar Permintaan kopi bergantung tidak hanya pada harganya tetapi juga pada harga

Lebih terperinci

Ruang Baris, Ruang Kolom, dan Ruang Null (Kernel)

Ruang Baris, Ruang Kolom, dan Ruang Null (Kernel) Ruang Baris, Ruang Kolom, dan Ruang Null (Kernel) Kuliah Aljabar Linier Semester Ganjil 2015-2016 MZI Fakultas Informatika Telkom University FIF Tel-U November 2015 MZI (FIF Tel-U) Ruang Baris, Kolom,

Lebih terperinci

a11 a12 x1 b1 Kumpulan Materi Kuliah #1 s/d #03 Tahun Ajaran 2016/2016: Oleh: Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA.

a11 a12 x1 b1 Kumpulan Materi Kuliah #1 s/d #03 Tahun Ajaran 2016/2016: Oleh: Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA. a11 a12 x1 b1 a a x b 21 22 2 2 Kumpulan Materi Kuliah #1 s/d #03 Tahun Ajaran 2016/2016: Oleh: Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA. a11 a12 x1 b1 a a x b 21 22 2 2 a11 a12 x1 b1 a a x b 21 22 2 2 Setijo Bismo

Lebih terperinci

(Departemen Matematika FMIPA-IPB) Matriks Bogor, / 66

(Departemen Matematika FMIPA-IPB) Matriks Bogor, / 66 MATRIKS Departemen Matematika FMIPA-IPB Bogor, 2012 (Departemen Matematika FMIPA-IPB) Matriks Bogor, 2012 1 / 66 Topik Bahasan 1 Matriks 2 Operasi Matriks 3 Determinan matriks 4 Matriks Invers 5 Operasi

Lebih terperinci

6 Sistem Persamaan Linear

6 Sistem Persamaan Linear 6 Sistem Persamaan Linear Pada bab, kita diminta untuk mencari suatu nilai x yang memenuhi persamaan f(x) = 0. Pada bab ini, masalah tersebut diperumum dengan mencari x = (x, x,..., x n ) yang secara sekaligus

Lebih terperinci

Minggu II Lanjutan Matriks

Minggu II Lanjutan Matriks Minggu II Lanjutan Matriks Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Tujuan Instruksional Umum Tujuan Instruksional Khusus Jumlah Pertemuan : Matriks : A. Transformasi Elementer. Transformasi Elementer pada baris

Lebih terperinci

Aljabar Matriks. Aljabar Matriks

Aljabar Matriks. Aljabar Matriks Aljabar Matriks No No Unit Unit Kompetensi 1 Menerapkan keamanan web dinamis 2 Membuat halaman web dinamis dasar 3 Membuat halaman web dinamis lanjut 4 Menerapkan web hosting 5 Menerapkan konten web memenuhi

Lebih terperinci

ALJABAR LINIER DAN MATRIKS

ALJABAR LINIER DAN MATRIKS ALJABAR LINIER DAN MATRIKS MATRIKS (DETERMINAN, INVERS, TRANSPOSE) Macam Matriks Matriks Nol (0) Matriks yang semua entrinya nol. Ex: Matriks Identitas (I) Matriks persegi dengan entri pada diagonal utamanya

Lebih terperinci

Suatu himpunan tak kosong F dengan operasi penjumlahan dan perkalian, dikatakan sebagai field jika untuk setiap,, memenuhi sifat-sifat berikut:

Suatu himpunan tak kosong F dengan operasi penjumlahan dan perkalian, dikatakan sebagai field jika untuk setiap,, memenuhi sifat-sifat berikut: Bagian 5. RUANG VEKTOR 5.1 Lapangan (Field) Suatu himpunan tak kosong F dengan operasi penjumlahan dan perkalian, dikatakan sebagai field jika untuk setiap,, memenuhi sifat-sifat berikut: 1. dan 2., 3.,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang biasanya dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: =

BAB II LANDASAN TEORI. yang biasanya dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: = BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Matriks Definisi 2.1 (Lipschutz, 2006): Matriks adalah susunan segiempat dari skalarskalar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: Setiap skalar yang terdapat dalam

Lebih terperinci

Operasi Baris Elementer (OBE) dan Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

Operasi Baris Elementer (OBE) dan Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ) Operasi Baris Elementer (OBE) dan Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ) Kuliah Aljabar Linier Semester Ganjil 2015-2016 MZI Fakultas Informatika Telkom University FIF Tel-U Agustus 2015 MZI (FIF Tel-U) OBE dan

Lebih terperinci

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 1 dan 2

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 1 dan 2 Aljabar Linier Elementer Kuliah 1 dan 2 1.3 Matriks dan Operasi-operasi pada Matriks Definisi: Matriks adalah susunan bilangan dalam empat persegi panjang. Bilangan-bilangan dalam susunan tersebut disebut

Lebih terperinci

Aljabar Linear. & Matriks. Evangs Mailoa. Pert. 4

Aljabar Linear. & Matriks. Evangs Mailoa. Pert. 4 Aljabar Linear & Matriks Pert. 4 Evangs Mailoa Sistem Persamaan Linier & Matriks 1. Matriks dan Operasi Matriks 2. Pengantar Sistem Persamaan Linier 3. Eliminasi Gaus 4. Invers: Aturan Aritmatika Matriks

Lebih terperinci

MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI

MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI SAP (1) Buku : Suryadi H.S. 1991, Pengantar Aljabar dan Geometri analitik Vektor Definisi, Notasi, dan Operasi Vektor Susunan

Lebih terperinci

ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I)

ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I) ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I) 1 MATERI ALJABAR LINIER VEKTOR DALAM R1, R2 DAN R3 ALJABAR VEKTOR SISTEM PERSAMAAN LINIER MATRIKS, DETERMINAN DAN ALJABAR MATRIKS, INVERS MATRIKS

Lebih terperinci

Bab 4 RUANG VEKTOR. 4.1 Ruang Vektor

Bab 4 RUANG VEKTOR. 4.1 Ruang Vektor Bab RUANG VEKTOR. Ruang Vektor DEFINISI.. Suatu ruang vektor (V, +,, F) atas field (F, +), ditulis singkat V(F), adalah suatu himpunan tak kosong V dengan elemenelemennya disebut vektor, yang dilengkapi

Lebih terperinci

PAM 252 Metode Numerik Bab 3 Sistem Persamaan Linier

PAM 252 Metode Numerik Bab 3 Sistem Persamaan Linier PAM 252 Metode Numerik Bab 3 Sistem Persamaan Linier Mahdhivan Syafwan Jurusan Matematika FMIPA Universitas Andalas Semester Genap 2013/2014 1 Mahdhivan Syafwan Metode Numerik: Sistem Persamaan Linier

Lebih terperinci

Bentuk umum : SPL. Mempunyai penyelesaian disebut KONSISTEN. Tidak mempunyai penyelesaian disebut TIDAK KONSISTEN TUNGGAL BANYAK

Bentuk umum : SPL. Mempunyai penyelesaian disebut KONSISTEN. Tidak mempunyai penyelesaian disebut TIDAK KONSISTEN TUNGGAL BANYAK Bentuk umum : dimana x, x,..., x n variabel tak diketahui, a ij, b i, i =,,..., m; j =,,..., n bil. diketahui. Ini adalah SPL dengan m persamaan dan n variabel. SPL Mempunyai penyelesaian disebut KONSISTEN

Lebih terperinci

Penyelesaian Teka-Teki Matematika Persegi Ajaib Menggunakan Aljabar Lanjar

Penyelesaian Teka-Teki Matematika Persegi Ajaib Menggunakan Aljabar Lanjar Penyelesaian Teka-Teki Matematika Persegi Ajaib Menggunakan Aljabar Lanjar Gaudensius Dimas Prasetyo Suprapto / 13514059 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi

Lebih terperinci

MATRIKS VEKTOR DETERMINAN SISTEM LINEAR ALJABAR LINEAR

MATRIKS VEKTOR DETERMINAN SISTEM LINEAR ALJABAR LINEAR MATRIKS VEKTOR DETERMINAN SISTEM LINEAR ALJABAR LINEAR 7.1 Matriks DEFINISI Susunan bilangan (fungsi) berbentuk persegi panjang yang ditutup dengan tanda kurung. Bilangan (fungsi) disebut entri-entri matriks.

Lebih terperinci

MUH1G3/ MATRIKS DAN RUANG VEKTOR

MUH1G3/ MATRIKS DAN RUANG VEKTOR MUH1G3/ MATRIKS DAN RUANG VEKTOR TIM DOSEN 5 Ruang Vektor Ruang Vektor Sub Pokok Bahasan Ruang Vektor Umum Subruang Basis dan Dimensi Beberapa Aplikasi Ruang Vektor Beberapa metode optimasi Sistem Kontrol

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA Mata Kuliah : Matematika Diskrit 2 Kode / SKS : IT02 / 3 SKS Program Studi : Sistem Komputer Fakultas : Ilmu Komputer & Teknologi Informasi. Pendahuluan 2. Vektor.. Pengantar mata kuliah aljabar linier.

Lebih terperinci

ALGORITMA ELIMINASI GAUSS INTERVAL DALAM MENDAPATKAN NILAI DETERMINAN MATRIKS INTERVAL DAN MENCARI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN INTERVAL LINEAR

ALGORITMA ELIMINASI GAUSS INTERVAL DALAM MENDAPATKAN NILAI DETERMINAN MATRIKS INTERVAL DAN MENCARI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN INTERVAL LINEAR Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No. 3 (2015), hal 313 322. ALGORITMA ELIMINASI GAUSS INTERVAL DALAM MENDAPATKAN NILAI DETERMINAN MATRIKS INTERVAL DAN MENCARI SOLUSI SISTEM

Lebih terperinci

ALJABAR VEKTOR MATRIKS. oleh: Yeni Susanti

ALJABAR VEKTOR MATRIKS. oleh: Yeni Susanti ALJABAR VEKTOR MATRIKS oleh: Yeni Susanti Materi SPL : Definisi, Solusi, SPL Nonhomogen, SPL Homogen, Matriks Augmented, Bentuk Eselon Baris (Bentuk Eselon baris Tereduksi), Eliminasi Gauss (Eliminasi

Lebih terperinci

SILABUS MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT304. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Matriks dan Operasinya. 1. Pengertian Matriks

SILABUS MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT304. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Matriks dan Operasinya. 1. Pengertian Matriks JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN MATEMATIKA MINGGU KE SILABUS MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT304 POKOK & SUB POKOK TUJUAN INSTRUKSIONAL TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan hingga modul ajar ini dapat terselesaikan.

Kata Pengantar. Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan hingga modul ajar ini dapat terselesaikan. i Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan hingga modul ajar ini dapat terselesaikan. Modul ajar ini dimaksudkan untuk membantu penyelenggaraan kuliah jarak

Lebih terperinci

Sistem Persamaan Linier (SPL)

Sistem Persamaan Linier (SPL) Sistem Persamaan Linier (SPL) Kuliah Aljabar Linier Semester Ganjil 2015-2016 MZI Fakultas Informatika Telkom University FIF Tel-U Agustus 2015 MZI (FIF Tel-U) SPL Agustus 2015 1 / 27 Acknowledgements

Lebih terperinci

BAB II DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS

BAB II DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS BAB II DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS A. OPERASI ELEMENTER TERHADAP BARIS DAN KOLOM SUATU MATRIKS Matriks A = berdimensi mxn dapat dibentuk matriks baru dengan menggandakan perubahan bentuk baris dan/atau

Lebih terperinci

SYARAT PERLU DAN CUKUP SISTEM PERSAMAAN LINEAR BERUKURAN m n MEMPUNYAI SOLUSI ABSTRACT

SYARAT PERLU DAN CUKUP SISTEM PERSAMAAN LINEAR BERUKURAN m n MEMPUNYAI SOLUSI ABSTRACT SYARAT PERLU DAN CUKUP SISTEM PERSAMAAN LINEAR BERUKURAN m n MEMPUNYAI SOLUSI Aryan Zainuri 1, Syamsudhuha 2, Asli Sirait 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematika 2 Dosen Jurusan Matematika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

8 MATRIKS DAN DETERMINAN

8 MATRIKS DAN DETERMINAN 8 MATRIKS DAN DETERMINAN Matriks merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem persamaan linear. Oleh karenanya aljabar matriks sering juga disebut dengan aljabar linear. Matriks dapat digunakan untuk

Lebih terperinci

Matematika Teknik I: Matriks, Inverse, dan Determinan. Oleh: Dadang Amir Hamzah STT DR. KHEZ MUTTAQIEN 2015

Matematika Teknik I: Matriks, Inverse, dan Determinan. Oleh: Dadang Amir Hamzah STT DR. KHEZ MUTTAQIEN 2015 Matematika Teknik I: Matriks, Inverse, dan Determinan Oleh: Dadang Amir Hamzah STT DR. KHEZ MUTTAQIEN 2015 Dadang Amir Hamzah (STT) Matematika Teknik I Semester 3, 2015 1 / 33 Outline 1 Matriks Dadang

Lebih terperinci

Membentuk Algoritma untuk Pemecahan Sistem Persamaan Lanjar secara Numerik

Membentuk Algoritma untuk Pemecahan Sistem Persamaan Lanjar secara Numerik Membentuk Algoritma untuk Pemecahan Sistem Persamaan Lanjar secara Numerik Bervianto Leo P - 13514047 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha

Lebih terperinci

Pertemuan 14. persamaan linier NON HOMOGEN

Pertemuan 14. persamaan linier NON HOMOGEN Pertemuan 14 persamaan linier NON HOMOGEN 10 Metode GAUSS Aljabar Linier Hastha 2016 10.2.2 METODE ELIMINASI GAUSS Apabila [A][X]=[B] maka dengan menyusun matriks baru yaitu matriks [A.B] akan didapat

Lebih terperinci

Aljabar Linier & Matriks. Tatap Muka 2

Aljabar Linier & Matriks. Tatap Muka 2 Aljabar Linier & Matriks Tatap Muka 2 Matriks Matriks adalah susunan segi empat siku siku dari bilangan yang dibatasi dengan tanda kurung siku. Suatu matriks tersusun atas baris dan kolom, jika matriks

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik

BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini, akan dijelaskan landasan teori yang akan digunakan dalam bab selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung dan memperkuat tujuan penelitian. Landasan teori yang dimaksud

Lebih terperinci

MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT 304

MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT 304 MATA KULIAH : ALJABAR MATRIKS (2 SKS) KODE: MT 304 Deskripsi: Perkuliahan ini bertujuan mengembangkan kemampuan mahasiswa memahami konsep-konsep dasar Aljabar Matriks sebagai bekal untuk mengajar matematika

Lebih terperinci

MATRIKS. Matriks adalah himpunan skalar (bilangan riil/kompleks) yang disusun secara empat persegi panjang (menurut baris dan kolom)

MATRIKS. Matriks adalah himpunan skalar (bilangan riil/kompleks) yang disusun secara empat persegi panjang (menurut baris dan kolom) MTRIKS DEFINISI Bentuk umum =(aij),i=,,...m J=,,...m a a a n baris a a..a n baris MTRIKS Matriks adalah himpunan skalar (bilangan riil/kompleks) yang disusun secara empat persegi panjang (menurut baris

Lebih terperinci

Aljabar Linear. & Matriks. Evangs Mailoa. Pert. 5

Aljabar Linear. & Matriks. Evangs Mailoa. Pert. 5 Aljabar Linear & Matriks Pert. 5 Evangs Mailoa Pengantar Determinan Menurut teorema 1.4.3, matriks 2 x 2 dapat dibalik jika ad bc 0. Pernyataan ad bc disebut sebagai determinan (determinant) dari matriks

Lebih terperinci

RUANG VEKTOR UMUM AKSIOMA RUANG VEKTOR

RUANG VEKTOR UMUM AKSIOMA RUANG VEKTOR 7//5 RUANG VEKTOR UMUM Yang dibahas.. Ruang vektor umum. Subruang. Hubungan dependensi linier 4. Basis dan dimensi 5. Ruang baris, ruang kolom, ruang nul, rank dan nulitas AKSIOMA RUANG VEKTOR V disebut

Lebih terperinci

BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU

BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU Sistem persamaan linear orde/ tingkat satu memiliki bentuk standard : = = = = = = = = = + + + + + + + + + + Diasumsikan koefisien = dan fungsi adalah menerus

Lebih terperinci

ALJABAR LINEAR [LATIHAN!]

ALJABAR LINEAR [LATIHAN!] Pada dasarnya cara yang digunakan untuk memperoleh penyelesaian sistem persamaan linear adalah sama yaitu mengubah sistem persamaan linear menjadi matriks yang diperbesar, kemudian mengubah matriks yang

Lebih terperinci

Matriks adalah susunan segi empat siku-siku dari objek yang diatur berdasarkan baris (row) dan kolom (column). Objek-objek dalam susunan tersebut

Matriks adalah susunan segi empat siku-siku dari objek yang diatur berdasarkan baris (row) dan kolom (column). Objek-objek dalam susunan tersebut Matriks adalah susunan segi empat siku-siku dari objek yang diatur berdasarkan baris (row) dan kolom (column). Objek-objek dalam susunan tersebut dinamakan entri dalam matriks atau disebut juga elemen

Lebih terperinci

Part III DETERMINAN. Oleh: Yeni Susanti

Part III DETERMINAN. Oleh: Yeni Susanti Part III DETERMINAN Oleh: Yeni Susanti Perhatikan determinan matriks ukuran 2x2 berikut: Pada masing-masing jumlahan dan Terdapat wakil dari setiap baris dan setiap kolom. Bagaimana dengan tanda + (PLUS)

Lebih terperinci

Course of Calculus MATRIKS. Oleh : Hanung N. Prasetyo. Information system Departement Telkom Politechnic Bandung

Course of Calculus MATRIKS. Oleh : Hanung N. Prasetyo. Information system Departement Telkom Politechnic Bandung Course of Calculus MATRIKS Oleh : Hanung N. Prasetyo Information system Departement Telkom Politechnic Bandung Matriks dan vektor merupakan pengembangan dari sistem persamaan Linier. Matriks dapat digunakan

Lebih terperinci

BAB II DASAR DASAR TEORI

BAB II DASAR DASAR TEORI BAB II DASA DASA TEOI.. uang ruang Vektor.. uang Vektor Umum Defenisi dan sifat sifat sederhana Defenisi : Misalkan V adalah sebarang himpunan benda yang didefenisikan dua operasi, yakni penambahan perkalian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Matriks 1. Pengertian Matriks Definisi II.A.1 Matriks didefinisikan sebagai susunan persegi panjang dari bilangan-bilangan yang diatur dalam baris dan kolom. Contoh II.A.1: 9 5

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. yang dibicarakan yang akan digunakan pada bab selanjutnya. Bentuk umum dari matriks bujur sangkar adalah sebagai berikut:

BAB 2 LANDASAN TEORI. yang dibicarakan yang akan digunakan pada bab selanjutnya. Bentuk umum dari matriks bujur sangkar adalah sebagai berikut: BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini dibicarakan mengenai matriks yang berbentuk bujur sangkar dengan beberapa definisi, teorema, sifat-sifat dan contoh sesuai dengan matriks tertentu yang dibicarakan yang

Lebih terperinci

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh:

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh: 5 II LANDASAN TEORI 2.1 Keterkontrolan Untuk mengetahui persoalan sistem kontrol mungkin tidak ada, jika sistem yang ditinjau tidak terkontrol. Walaupun sebagian besar sistem terkontrol ada, akan tetapi

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP SPL DAN MATRIKS DALAM MENENTUKAN TEGANGAN DAN ARUS LISTRIK PADA TIAP-TIAP RESISTOR

PENERAPAN KONSEP SPL DAN MATRIKS DALAM MENENTUKAN TEGANGAN DAN ARUS LISTRIK PADA TIAP-TIAP RESISTOR PENERAPAN KONSEP SPL DAN MATRIKS DALAM MENENTUKAN TEGANGAN DAN ARUS LISTRIK PADA TIAPTIAP RESISTOR Rangga Ajie Prayoga 1), Rizky Fauziah Setyawati 1), Siti Gita Permana 1), Hendra Kartika 2) 1) Program

Lebih terperinci

Kumpulan Soal,,,,,!!!

Kumpulan Soal,,,,,!!! Kumpulan Soal,,,,,!!! Materi: Matriks & Ruang Vektor 1. BEBAS LINEAR S 3. BASIS DAN DIMENSI O A L 2. KOMBINASI LINEAR NeXt FITRIYANTI NAKUL Page 1 1. BEBAS LINEAR Cakupan materi ini mengkaji tentang himpunan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. yang diapit oleh dua kurung siku sehingga berbentuk empat persegi panjang atau

BAB II KAJIAN TEORI. yang diapit oleh dua kurung siku sehingga berbentuk empat persegi panjang atau BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini akan diberikan kajian teori mengenai matriks dan operasi matriks, program linear, penyelesaian program linear dengan metode simpleks, masalah transportasi, hubungan masalah

Lebih terperinci

Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks

Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks Vol. 8, No.1, 1-11, Juli 2011 Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks Nur Erawati, Azmimy Basis Panrita Abstrak Teorema Cayley-Hamilton menyatakan bahwa setiap matriks bujur sangkar memenuhi persamaan

Lebih terperinci

Aljabar Linier Sistem koordinat, dimensi ruang vektor dan rank

Aljabar Linier Sistem koordinat, dimensi ruang vektor dan rank Aljabar Linier Sistem koordinat, dimensi ruang vektor dan rank khozin mu tamar 9 Oktober 2014 PERTEMUAN-4 : SISTEM KOORDINAT, DIMEN- SI RUANG VEKTOR DAN RANK 1. Sistem koordinat (a) Ketunggalan scalar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. nyata (fenomena-fenomena alam) ke dalam bagian-bagian matematika yang. disebut dunia matematika (mathematical world).

II. TINJAUAN PUSTAKA. nyata (fenomena-fenomena alam) ke dalam bagian-bagian matematika yang. disebut dunia matematika (mathematical world). 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemodelan Matematika Definisi pemodelan matematika : Pemodelan matematika adalah suatu deskripsi dari beberapa perilaku dunia nyata (fenomena-fenomena alam) ke dalam bagian-bagian

Lebih terperinci

Matematika Teknik INVERS MATRIKS

Matematika Teknik INVERS MATRIKS INVERS MATRIKS Dalam menentukan solusi suatu SPL selama ini kita dihadapkan kepada bentuk matriks diperbesar dari SPL. Cara lain yang akan dikenalkan disini adalah dengan melakukan OBE pada matriks koefisien

Lebih terperinci

Penyelesaian SPL dalam Rangkaian Listrik

Penyelesaian SPL dalam Rangkaian Listrik Penyelesaian SPL dalam Rangkaian Listrik Harry Octavianus Purba (13514050) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132,

Lebih terperinci

Matriks. Modul 1 PENDAHULUAN

Matriks. Modul 1 PENDAHULUAN Modul Matriks Dra. Sri Haryatmi Kartiko, M.Sc. I PENDAHULUAN lmu pengetahuan dewasa ini menjadi semakin kuantitatif. Data numerik dengan skala besar, hasil pengukuran berupa angka sering dijumpai oleh

Lebih terperinci

BAB IV TRANSFORMASI LINEAR. sebuah vektor yang unik di dalam W dengan sebuah vektor di dalam V, maka kita mengatakan F

BAB IV TRANSFORMASI LINEAR. sebuah vektor yang unik di dalam W dengan sebuah vektor di dalam V, maka kita mengatakan F BAB IV TRANSFORMASI LINEAR 4.. Transformasi Linear Jika V dan W adalah ruang vektor dan F adalah sebuah fungsi yang mengasosiasikan sebuah vektor yang unik di dalam W dengan sebuah vektor di dalam V, maka

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebuah garis dalam bidang xy secara aljabar dapat dinyatakan oleh persamaan yang berbentuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebuah garis dalam bidang xy secara aljabar dapat dinyatakan oleh persamaan yang berbentuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sebagian besar dari sejarah ilmu pengetahuan alam adalah catatan dari usaha manusia secara kontinu untuk merumuskan konsep-konsep yang dapat menguraikan permasalahan

Lebih terperinci

Pertemuan 8 Aljabar Linear & Matriks

Pertemuan 8 Aljabar Linear & Matriks Pertemuan 8 Aljabar Linear & Matriks 1 Jika A adl matriks nxn yg invertible, untuk setiap matriks b dgn ukuran nx1, maka sistem persamaan linier Ax = b mempunyai tepat 1 penyelesaian, yaitu x = A -1 b

Lebih terperinci

Aljabar Linear Elementer MUG1E3 3 SKS

Aljabar Linear Elementer MUG1E3 3 SKS // ljabar Linear Elementer MUGE SKS // 9:7 Jadwal Kuliah Hari I Selasa, jam. Hari II Kamis, jam. Sistem Penilaian UTS % US % Quis % // 9:7 M- ljabar Linear // Silabus : Bab I Matriks dan Operasinya Bab

Lebih terperinci

1.1 MATRIKS DAN JENISNYA Matriks merupakan kumpulan bilangan yang berbentuk segi empat yang tersusun dalam baris dan kolom.

1.1 MATRIKS DAN JENISNYA Matriks merupakan kumpulan bilangan yang berbentuk segi empat yang tersusun dalam baris dan kolom. Bab MATRIKS DAN OPERASINYA Memahami matriks dan operasinya merupakan langkah awal dalam memahami buku ini. Beberapa masalah real dapat direpresentasikan dalam bentuk matriks. Masalah tersebut antara lain

Lebih terperinci

7. NILAI-NILAI VEKTOR EIGEN. Nilai Eigen dan Vektor Eigen Diagonalisasi Diagonalisasi Ortogonal

7. NILAI-NILAI VEKTOR EIGEN. Nilai Eigen dan Vektor Eigen Diagonalisasi Diagonalisasi Ortogonal 7. NILAI-NILAI VEKTOR EIGEN Nilai Eigen dan Vektor Eigen Diagonalisasi Diagonalisasi Ortogonal Nilai Eigen, Vektor Eigen Diketahui A matriks nxn dan x adalah suatu vektor pada R n, maka biasanya tdk ada

Lebih terperinci

Aljabar Linear Elementer MA SKS. 07/03/ :21 MA-1223 Aljabar Linear 1

Aljabar Linear Elementer MA SKS. 07/03/ :21 MA-1223 Aljabar Linear 1 Aljabar Linear Elementer MA SKS 7//7 : MA- Aljabar Linear Jadwal Kuliah Hari I Hari II jam jam Sistem Penilaian UTS 4% UAS 4% Quis % 7//7 : MA- Aljabar Linear Silabus : Bab I Matriks dan Operasinya Bab

Lebih terperinci

DIAGONALISASI MATRIKS ATAS RING KOMUTATIF DENGAN ELEMEN SATUAN INTISARI

DIAGONALISASI MATRIKS ATAS RING KOMUTATIF DENGAN ELEMEN SATUAN INTISARI Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 02, No. 3 (2013), hal. 183-190 DIAGONALISASI MATRIKS ATAS RING KOMUTATIF DENGAN ELEMEN SATUAN Fidiah Kinanti, Nilamsari Kusumastuti, Evi Noviani

Lebih terperinci