PERENCANAAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI S U N A R T I

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERENCANAAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI S U N A R T I"

Transkripsi

1 PERENCANAAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI S U N A R T I SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

2 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan Belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, 2009 Sunarti NIM A

3 ABSTRACT SUNARTI. Sustainable farming systems for Rubber and Oil Palm Planning in Batang Pelepat Watershed Bungo District Jambi Province. Under direction of NAIK SINUKABAN, BUNASOR SANIM, and SURIA DARMA TARIGAN Land for rubber and oil palm farmings in Batang Pelepat watershed were generally cultivated without adequate fertilization and soil and water conservation techniques. This practice caused high erosion and in turn gradually decreased land productivity and farmer s income. The objectives of this research were:(1) to identify land characteristics and farming systems of rubber and oil palm (FSROP) types, (2) to study impacts of FSROP on land characteristic, run off and erosion (ROE) rate, crop production and farmer s income and (3) to design sustainable FSROP. Identification of FSROP characteristics were carried out by using descriptive analysis. Impacts of FSROP on ROE was measured in small erosion plot and analyzed using variance analysis and Duncan New Multiple Range Test (DNMRT). The sustainable FSROP was formulated by simulation technique using universal of soil loss equation (USLE) and multiple goal programming models. The results of the research showed that farming system in Batang Pelepat watershed consisted of five types of rubber farming systems and two types of oil palm farming systems. All of those farming systems were not able to fulfill indicators of sustainable agriculture (ISA). Cultivated land resulted higher ROE than forest. However among the cultivated land sesap karet caused the lowest ROE (3.53 mm and ton/ha/year). The sustainable FSROP could be accomplished by application of combination agrotechnologies including balance fertilization using urea, SP-36, KCl and MgSO4. Meanwhile, the ISA were accomplished by application of Legum Cover Crop (LCC) and countour cropping (on slope 3 14%) and LCC and gulud terrace (on slope 15 30%). The sesap karet I (mixed of rubber-manau-kayu sungkai) performed the most optimum ISA. The sesap karet I generated erosion of ton/ha/year and the farmer s income Rp /ha/year. Key Word : agrotechnology, rubber, oil palm, erosion, run off, income

4 RINGKASAN SUNARTI. Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Dibimbing oleh NAIK SINUKABAN sebagai ketua, BUNASOR SANIM, dan SURIA DARMA TARIGAN sebagai anggota. Pembukaan dan konversi hutan menjadi penggunaan lain, termasuk pengembangan pertanian telah terjadi di berbagai DAS di Indonesia. Fenomena ini juga terjadi di DAS Batang Pelepat, yang umumnya ditujukan untuk pengembangan usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS). Pembukaan dan konversi hutan menjadi lahan UTKKS di DAS Batang Pelepat dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek konservasi tanah dan air (KTA). UTKKS pun dikelola dengan berbagai agroteknologi yang tidak memadai sehingga menyebabkan erosi dan degradasi lahan serta rendahnya pendapatan petani. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perambahan hutan oleh masyarakat atau petani di kawasan ini; jika dibiarkan hal ini dapat mengancam kelestarian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) karena kawasan hulu DAS Batang Pelepat merupakan kawasan penyangga TNKS. Perencanaan UTKKS yang komprehensif sangat diperlukan untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi karakteristik lahan dan tipe UTKKS, (2) mengkaji pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dan (3) menyusun perencanaan UTKKS berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan pengukuran lapangan dalam mengumpulkan data biofisik (karakteristik lahan dan tipe UTKKS, sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi pada setiap tipe UTKKS) dan sosial ekonomi (luas lahan, input yang digunakan, pendapatan dan karakteristik petani). Karakteristik lahan dan tipe UTKKS dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dianalisis dengan analisis ragam (uji F) dan uji jarak berganda duncan pada taraf kepercayaan 95% (α=0.05). Selanjutnya UTKKS berkelanjutan diformulasi melalui teknik simulasi dengan menggunakan model USLE dan program tujuan ganda (multiple goal programming). Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Batang Pelepat terdiri atas 23 satuan lahan (SL) yang mempunyai tingkat kesuburan yang tergolong sangat rendah rendah. Lahan tergolong kelas II, III, IV, VI dan VII dengan faktor penghambat utamanya berupa lereng (l) yang tergolong miring hingga sangat curam, erosi (e) yang tergolong ringan hingga sangat berat dan kondisi drainase (d) yang tergolong agak baik hingga agak buruk. Sebagian besar lahan tergolong kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3) untuk usahatani karet dan kelapa sawit dengan faktor pembatas berupa kejenuhan basa dan ph yang rendah (nr) serta kemiringan lereng (eh). Lahan di DAS Batang Pelepat digunakan sebagai lahan pertanian dan non-pertanian. Penggunaan lahan pertanian umumnya sudah sesuai dengan kelas kemampuan dan kesesuaian lahan untuk karet dan kelapa sawit. Lahan pertanian umumnya berupa lahan UTKKS yang terdiri atas sesap karet I atau campuran karet, manau dan kayu sungkai (SK I), sesap karet II atau campuran karet, kayu balam dan kayu medang (SK II), monokultur karet I (MK I), monokultur karet II (MK II), karet-gaharu (KRG), monokultur kelapa sawit (MKS) dan kelapa sawit-pisang (KSP). Semua tipe UTKKS ini tidak menerapkan agroteknologi yang memadai.

5 Tipe UTKKS menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap sifat tanah. Tipe MK I menunjukkan pengaruh paling buruk terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dibandingkan dengan tipe UTKKS lainnya dan hutan. Tipe MK I mengakibatkan tingkat kepadatan tanah paling tinggi (BI =1.14 g/cm 3 ) sehingga menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling tinggi (6.92 mm dan 0.58 ton/ha), sedangkan tipe SK dengan BI = 0.92 g/cm 3 menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling rendah (3.53 mm dan 0.12 ton/ha). Berdasarkan prediksi erosi pada lahan pertanian diketahui bahwa semua tipe UTKKS menyebabkan erosi yang melebihi erosi yang dapat ditoleransikan (Etol), kecuali pada lereng 2% ( ton/ha/tahun) dan akibat penerapan tipe SK pada kemiringan lereng 7% sebesar ton/ha/tahun. Erosi yang lebih rendah pada tipe sesap karet (SK) dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya disebabkan karena sistem pengelolaan pada tipe SK mengakibatkan kapasitas penutupan lahan yang lebih rapat dan jumlah serasah yang lebih banyak dibandingkan tipe usahatani lainnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semua sifat-sifat tanah pada lahan UTKKS menunjukkan perbedaan dengan tanah hutan. Hutan dengan kepadatan tanah 0.81 g/cm 3 menyebabkan aliran permukaan (0.12 mm) dan erosi (1.20x10-6 kg/ha) yang lebih kecil dibandingkan dengan aliran permukaan dan erosi pada lahan UTKKS. Perbedaan sistem pengelolaan pada setiap tipe UTKKS juga mengakibatkan perbedaan terhadap produksi tanaman sehingga pendapatan juga bervariasi (Rp ). Pendapatan yang diperoleh dari setiap tipe UTKKS per tahun dari 2 hektar lahan yang dikelola petani belum dapat mencukupi kebutuhan hidup petani secara layak (Rp /KK/tahun), kecuali pendapatan dari tipe usahatani KRG yang mencapai Rp /ha/tahun atau Rp /2ha/tahun karena gaharu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, yaitu harga jual gubal Rp /kg. Tipe UTKKS lainnya (Rp /2ha/tahun) hanya dapat memenuhi kebutuhan fisik minimum bagi petani (Rp /KK/tahun). Tipe usahatani yang layak hanya tipe MK I, KRG, MKS dan KSP, padahal populasi petani tipe tersebut hanya sebagian kecil. Sebaliknya petani tipe SK I, SK II dan MK II merupakan populasi petani yang dominan di DAS Batang Pelepat, namun tipe usahatani ini tergolong tidak layak. Berdasarkan analisis erosi dan pendapatan di atas, semua tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat tidak menunjukkan indikator berkelanjutan sehingga memerlukan alternatif agroteknologi yang dapat diterima dan diterapkan petani sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Semua tipe UTKKS (kecuali KRG) dapat dijadikan alternatif dalam pemilihan tipe usahatani berkelanjutan yang local based, sedangkan alternatif penyempurnaan agroteknologi aktual terdiri atas 2 skenario. Skenario agroteknologi 1 (SA1) adalah pengaturan jarak tanam pada tipe SK (penanaman baru) dan pemupukan berdasarkan rekomendasi Balitbang Pertanian (2005), yaitu pemberian pupuk urea, TSP dan KCl masing-masing sebanyak 100, 50 dan 50 kg/ha/tahun untuk karet dan untuk kelapa sawit diberikan pupuk NPK sebanyak kg/pohon/tahun dan MgSO 4 sebanyak kg/pohon/tahun. Penerapan agroteknologi ini pada lereng 3 14% disertai dengan penerapan LCC dan sistem tanam menurut kontur dan pada lereng 15 30% disertai dengan penerapan LCC serta teras gulud atau teras kebun. Skenario agroteknolgi 2 (SA2) adalah penerapan pemupukan sesuai dengan rekomendasi BPP Sembawa (2003) untuk karet (urea sebanyak g/pohon/tahun, SP-36 sebanyak g/pohon/tahun dan KCl sebanyak g/pohon / tahun) dan rekomendasi PPKS Medan (1999) untuk kelapa sawit, yaitu urea sebanyak kg/pohon/tahun, TSP sebanyak kg/pohon/tahun, KCl sebanyak kg/pohon/tahun

6 dan MgSO 4 sebanyak kg/pohon/tahun). SA2 juga dilengkapi dengan pengaturan jarak tanam dan teknik KTA yang sama seperti SA1. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan SA1 dapat meningkatkan produksi tanaman sehingga pendapatan petani pun meningkat menjadi Rp /ha/tahun, meskipun biaya yang dikeluarkan untuk usahatani juga meningkat (Rp /ha). Pemanfaatan sebagian (2 ha) atau seluruh (5 ha) lahan milik petani mengakibatkan pendapatan melampaui standar KHL (PKHL). Penerapan SA1 juga menyebabkan erosi pada setiap tipe UTKKS lebih kecil dibandingkan dengan Etol ( ton/ha/tahun). Erosi pada SK I dan SK II adalah ton/ha/tahun, pada MK adalah ton/ha/tahun dan pada MKS dan KSP adalah ton/ha/tahun. Peningkatan pendapatan dan penurunan erosi disebabkan oleh penyempurnaan agroteknologi yang dilengkapi dengan penerapan teknik pemupukan dan KTA yang efektif meningkatkan produksi dan mengendalikan erosi. Penerapan SA2 juga meningkatkan produksi tanaman sehingga pendapatan yang diperoleh dari usahatani juga meningkat menjadi Rp /ha/tahun, meskipun membutuhkan biaya yang lebih besar (Rp /ha). Pemanfaatan sebagian (2 ha) dan seluruh (5 ha) lahan milik petani menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani melampaui standar KHL. Peningkatan produksi dan pendapatan yang dicapai dengan menerapkan SA2 juga diikuti dengan penurunan erosi hingga di bawah Etol (sebagaimana penerapan SA1). Penerapan SA1 dan SA2 tersebut pada setiap tipe UTKKS menyebabkan setiap tipe UTKKS mencapai indikator berkelanjutan. Tingkat erosi akibat penerapan SA1 sama dengan tingkat erosi akibat penerapan SA2, namun tingkat pendapatan yang dicapai akibat penerapan SA1 lebih rendah dibandingkan dengan akibat penerapan SA2. Peningkatan pendapatan dan penurunan erosi akibat penerapan keduanya juga berbanding lurus dengan diversivitas tanaman yang digunakan pada setiap tipe UTKKS. Biaya yang diperlukan untuk menerapkan SA1 dan SA2 masih dapat terpenuhi oleh ketersediaan modal yang dimiliki petani. Hasil analisis program tujuan ganda menunjukkan bahwa usahatani berkelanjutan yang paling optimal diterapkan di DAS Batang Pelepat adalah sesap karet I (karet-manau-kayu sungkai) yang disertai penerapan SA2. Tipe usahatani tersebut saat ini hanya optimal diterapkan petani dengan lahan seluas 2 ha, karena modal yang dibutuhkan lebih kecil yang modal yang dimiliki petani (Rp ), sedangkan penerapannya pada lahan seluas 5 ha memerlukan modal lebih besar dari modal yang dimiliki petani (Rp ). Usahatani optimal tersebut layak dan menguntungkan untuk dikembangkan di DAS Batang Pelepat, karena mempunyai B/C= , NPV=Rp dan IRR= %). Penerapan usahatani optimal dapat menurunkan erosi ton/ha/tahun dan meningkatkan pendapatan sebesar Rp /ha/tahun. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa semua tipe UTKKS dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat, namun tipe SK I dapat dijadikan alternatif utama. Penerapan UTKKS berkelanjutan diarahkan pada pemanfaatan lahan pertanian yang sudah ada secara optimal melalui penerapan agroteknologi yang sesuai, terutama pada lereng 0 30%. Lahan dengan kemiringan >30 45% direkomendasikan untuk tananam kayu-kayuan, sedangkan lahan dengan kemiringan lereng >45% harus tetap hutan atau jika sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian harus direhabilitasi menjadi hutan.

7 Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber: a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah b. pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

8 PERENCANAAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI S U N A R T I Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Pengelolaan Daerah Aliran Sungai SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

9 Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, MS Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, MS

10 Judul Disertasi : Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi Nama : Sunarti NIM : A Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc Ketua Prof. Dr. Ir. H. Bunasor Sanim, M.Sc Anggota Dr. Ir. Suria Darma Tarigan, M.Sc Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Pengelolaan DAS Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. Tanggal Ujian : 22 Januari 2009 Tanggal Lulus :...

11 Buat anak-anakku tersayang, Raidan dan Adli : Usaha keras, percaya pada kemampuan sendiri, profesional dan obyetif dalam mencapai sesuatu akan memberikan kepuasan dan kebanggaan yang luar biasa

12 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan disertasi ini. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2006 ini adalah pengembangan usahatani karet dan kelapa sawit, dengan judul "Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Terima kasih penulis ucapkan kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi ini : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc selaku ketua komisi pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan kuliah dan penulisan disertasi ini. Selanjutnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. H. Bunasor Sanim, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Suria Darma Tarigan, M.Sc sebagai anggota komisi pembimbing atas kesediaannya memberikan masukan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi. 2. Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Sekolah Pascasarjana IPB, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menempuh program doktor di PS DAS Sekolah Pascasarjana IPB dan pelayanan serta fasilitas yang diberikan kepada penulis selama menempuh studi program doktor. 3. Rektor Universitas Jambi dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti program doktor pada Program Studi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Sekolah Pascasarjana IPB. 4. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional yang telah memberikan beasiswa BPPS kepada penulis untuk mengikuti program doktor pada Program Studi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sekolah Pascasarjana IPB serta mendanai sebagian penelitian disertasi ini melalui program Hibah Pascasarjana yang diketuai oleh Bapak Prof. Dr. Ir. H. Bunasor Sanim, M.Sc dan Dr. Ir. H. Yusman Syaukat, M.Ec dan Dr. Ir. H. Muhammad Nur Aidi, M.Si sebagai anggota tim peneliti. 5. Bapak Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, MS selaku penguji luar komisi pada ujian tertutup dan terbuka, atas motivasi yang diberikan kepada penulis dalam mengikuti kuliah di PS DAS dan masukan dalam penyempurnaan disertasi ini. 6. Bapak Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc dari Departemen Kehutanan RI, atas kesediaannya sebagai penguji luar komisi pada ujian terbuka dan saran dalam penyempurnaan disertasi ini. 7. Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dan BP DAS Batanghari atas pelayanan, kerjasama dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama penelitian, terutama dalam pengumpulan data. 8. Pemerintah Daerah Kabupaten Bungo dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Perangkat Desa yang tercakup dalam kecamatan Pelepat atas kerjasama dan fasilitas yang diberikan kepada penulis selama melaksanakan penelitian. 9. Dr. Ir. D. Subardja, M.Sc, Drs. Yayat Hadian, M.Si, Ir. Rudi Eko, M.Sc dan Ir. Erna Suryani, M.Si atas bantuannya dalam penyediaan data karakteristik lahan dan spasial. 10. Kedua orang tua saya H.Darkutni, SH dan Hj. Ruaida yang sangat penulis hormati dan yang telah memberikan do a, panutan dan segala fasilitas kepada penulis dan kedua mertua H. A. Halim Saleh dan Hj. Marianis atas pengertian dan juga atas dukungan moral serta materi kepada penulis.

13 11. Suami tercinta ARDI, SP, M.Si atas izin, motivasi dan pengertian yang diberikan kepada penulis dan anak-anak tersayang Muhammad Raidan Azani dan Muhammad Adli Rahmat Solihin atas pengertian, pengorbanan dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan studi. 12. Seluruh keluarga atas pengertian dorongan dan kasih sayang yang dilimpahkan kepada penulis. 13. Dr. Ir. Apik Karyana, M.Sc dan Ir. Henny H, M.Si yang juga telah banyak memberikan perhatian, sumbangan pemikiran dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi ini. 14. Rekan-rekan dari LSM, yaitu Edi Harfia Surma, SP, Lambok SP dan Marzoni, SP (Gita Buana Club & ACM) dan Ir. Rudisyaf dan Ir. Rahmat (Warsi) yang telah membantu pelaksanaan penelitian di lapangan dan memberikan informasi untuk melengkapi data penelitian ini. 15. Rekan-rekan yang terlibat dalam penelitian Hibah Pasca, yaitu Dr. Ridwansyah, SE, M.Sc, Dr. Ir. Ardi Novra, MS, Dr. Ir. Hutwan Syarifuddin, MP dan Idham Khalid, SP, M.Si atas sumbangan pemikiran dan bantuannya dalam pengumpulan data. 16. Rekan-rekan Program Studi Pengeloaan DAS dan Program Studi lainnya atas apresiasi, do a dan motivasi kepada penulis selama mengikuti kuliah hingga menyelesaikan disertasi ini. 17. Suseno, SP, Budi Hermansyah, SP dan Yuli, SP yang telah banyak membantu penulis selama melaksanakan penelitian di lapangan dan laboratorium dan entry data. 18. Semua pihak yang telah membantu penulis tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Januari 2009 Sunarti

14 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 27 Desember 1973 sebagai anak kedua dari pasangan H. Darkutni, S.H dan Hj. Ruaida. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi, lulus pada tahun Pada tahun 1996, penulis diterima di Program Studi Ilmu Tanah Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran dan menamatkannya pada tahun Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada program studi Ilmu Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada Institut Pertanian Bogor diperoleh pada tahun Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari BPPS Dirjen Pendidikan Tinggi. Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Jambi sejak tahun Bidang penelitian yang menjadi tanggung jawab peneliti ialah konservasi tanah. Selama mengikuti program S3, penulis telah menulis buku dengan judul Pengelolaan DAS Berbasis Bioregion yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan RI pada tahun 2008.

15 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR...vi DAFTAR LAMPIRAN... viii PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Perumusan masalah... 5 Kerangka Pemikiran... 6 Tujuan Penelitian... 8 Manfaat Penelitian... 9 TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Konsep Pertanian Berkelanjutan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Usahatani Karet Usahatani Kelapa Sawit Analisis Usahatani Erosi dan Faktor-Faktor Penyebabnya Dampak Penggunaan Lahan terhadap Erosi Perencanaan Penggunaan Lahan Pertanian Klasifikasi Kemampuan Lahan Kesesuaian Lahan Program Tujuan Ganda METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Persiapan Pengumpulan Data Analisis Data KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penduduk Iklim Hidrologi Tanah Penggunaan Lahan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lahan DAS Batang Pelepat Satuan Lahan di DAS Batang Pelepat Kemampuan Lahan di DAS Batang Pelepat Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian di DAS Batang Pelepat. 63 Karakteristik Tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat i

16 Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Sifat-Sifat Tanah di DAS Batang Pelepat Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Aliran Permukaan dan Erosi di DAS Batang Pelepat Karakteristik Sosial Ekonomi DAS Batang Pelepat Karakteristik Petani Karet dan Kelapa Sawit di DAS Batang Pelepat 80 Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Produksi Tanaman Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Pendapatan dan Kelayakan Usahatani di DAS Batang Pelepat Perencanaan UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Alternatif Tipe dan Agroteknologi UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Optimalisasi UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Penerapan UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Glossary ii

17 DAFTAR TABEL Halaman 1 Perkembangan luas tanam dan produksi karet di kecamatan Pelepat tahun Rekomendasi takaran pupuk dan frekuensi pemupukan tanaman karet sesuai dengan umur tanaman Perkembangan luas tanam dan produksi kelapa sawit di kecamatan Pelepat tahun Rekomendasi takaran pupuk dan frekuensi pemupukan kelapa sawit sesuai dengan umur tanaman Perbandingan analisis finansial dan ekonomi ditinjau dari beberapa unsur Pengaruh beberapa faktor terhadap proses dan tingkat erosi tanah Pengaruh tipe penggunaan lahan terhadap kehilangan tanah di beberapa daerah tangkapan DAS Citarum tahun Pengaruh beberapa kategori penggunaan lahan terhadap kehilangan tanah di Australia tahun Jumlah sampel responden petani yang ditetapkan berdasarkan tipe UTKKS yang terdapat di DAS Batang Pelepat Jenis, sumber, teknik pengumpulan dan kegunaan data penelitian Perlakuan masing-masing petak erosi yang ditentukan berdasarkan tipe UTKKS serta kelompok kemiringan lereng untuk pengukuran erosi di lapangan Sebaran jumlah penduduk, jumlah KK dan jumlah jiwa/kk pada setiap desa di DAS Batang Pelepat berdasarkan jenis kelamin tahun Fluktuasi tinggi muka air dan debit pada setiap bulan di DAS Batang Pelepat berdasarkan data tahun Sebaran dan luas setiap jenis tanah (berdasarkan grup) di DAS Batang pelepat Distribusi alokasi luas tipe penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat tahun 1986, 1994 dan Karakteristik satuan lahan yang terdapat di DAS Batang Pelepat Sebaran kelas kemampuan lahan di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk karet di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan iii

18 19 Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk kelapa sawit di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk padi ladang di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk pisang di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Sebaran luas lahan berbagai tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat berdasarkan peta satuan lahan tahun Deskripsi karakteristik setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap kepadatan dan pori tanah di DAS Batang Pelepat tahun Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah di DAS Batang Pelepat tahun Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap kadar COT, persentase dan indeks kemantapan agregat tanah di DAS Batang Pelepat tahun Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap aliran permukaan dan erosi tanah di DAS Batang Pelepat tahun Sebaran jumlah petani karet dan kelapa sawit berdasarkan tipe usahatani pada setiap desa di DAS Batang Pelepat tahun Sebaran luas kepemilikan lahan dan luas lahan usahatani per KK pada setiap desa di DAS Batang Pelepat tahun Sebaran tingkat pendidikan petani karet dan kelapa sawit di DAS Batang Pelepat tahun Sebaran produksi karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Distribusi biaya, penerimaan dan pendapatan setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Pengaruh tipe UTKKS terhadap tingkat kelayakan usahatani di DAS Batang Pelepat Deskripsi skenario agroteknologi 1 (SA1) dan skenario agroteknologi 2 (SA2) pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Sebaran produksi tanaman karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS akibat penerapan SA1 di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA1 terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan pada setiap UTKKS di DAS Batang Pelepat iv

19 37 Pengaruh penerapan SA1 terhadap kebutuhan luas lahan minimal setiap tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA1 terhadap tingkat kelayakan setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat pada setiap kemiringan lereng Sebaran produksi tanaman karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS akibat penerapan SA2 di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA2 terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan pada setiap UTKKS di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA2 terhadap kebutuhan luas lahan minimal setiap tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA2 terhadap tingkat kelayakan setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat pada setiap kemiringan lereng Pengaruh penerapan SA1 dan SA2 terhadap persentase tingkat ketercapaian (d + ) dan ketidaktercapaian target (d - ) usahatani optimal di DAS Batang Pelepat pada lahan seluas 2 ha dan berbagai kemiringan lereng Pengaruh penerapan SA1 dan SA2 terhadap persentase tingkat ketercapaian (d + ) dan ketidaktercapaian target (d - ) usahatani optimal di DAS Batang Pelepat pada lahan seluas 5 ha dan berbagai kemiringan lereng v

20 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Fase-fase atau tahapan perencanaan pengelolaan DAS Skema parameter USLE berdasarkan pengelompokan variabel faktor fisik dan pengelolaannya Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam penggunaan lahan Diagram alir tahapan penelitian dan analisis data Variasi curah hujan dan jumlah hari hujan setiap bulan di DAS Batang Pelepat berdasarkan data curah hujan tahun Komposisi tanaman karet dan gaharu pada tipe usahatani KRG di DAS Batang Pelepat Komposisi tanaman kelapa sawit dan pisang pada tipe usahatani KSP di DAS Batang Pelepat Pengaruh berat serasah pada setiap tipe UTKKS dan HS terhadap berat volume dan total ruang pori tanah di DAS Batang Pelepat Pengaruh berat serasah terhadap permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah di DAS Batang Pelepat Pengaruh berat serasah terhadap aliran permukaan dan erosi tanah serta konsentrasi sedimen di DAS Batang Pelepat Pengaruh bobot isi tanah terhadap aliran permukaan dan erosi tanah di DAS Batang Pelepat Prediksi erosi dan Etol pada setiap SL yang digunakan sebagai lahan pertanian dan non pertanian di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan berbagai tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng terhadap erosi di DAS Batang Pelepat Perbandingan sebaran produksi karet berdasarkan umur tanaman pada setiap tipe usahatani karet di DAS Batang Pelepat Perbandingan sebaran produksi TBS berdasarkan umur tanaman di DAS Batang Pelepat dengan potensi produksi pada lahan kelas S Pengaruh tipe UTKKS pada lahan seluas 2 ha terhadap pendapatan petani berdasarkan kelas kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat vi

21 18 Pengaruh penerapan SA1 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 2 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA1 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 5 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA2 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 2 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat Pengaruh penerapan SA2 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 5 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat Peta sebaran arahan penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan penggunaan lahan di sub DAS Batang Pelepat Peta sebaran arahan penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat vii

22 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Penyebaran perkebunan karet dan kelapa sawit di Provinsi Jambi Kriteria kesesuaian lahan untuk karet Kriteria kesesuaian lahan untuk kelapa sawit Kriteria kesesuaian lahan untuk padi ladang Kriteria kesesuaian lahan untuk pisang Kriteria klasifikasi kemampuan lahan Peta Administrasi DAS Batang Pelepat Kriteria penilaian struktur tanah dan permeabilitas tanah Nilai faktor C dengan pertanaman tunggal Nilai faktor tindakan konservasi (P) dan pengelolaan tanaman (CP) Faktor kedalaman beberapa sub order tanah Kedalaman tanah minimum untuk berbagai jenis tanaman Sebaran produksi tanaman yang digunakan pada beberapa tipe usahatani sesuai umur dan takaran pupuk yang digunakan Harga pasar yang digunakan dalam analisis usahatani Sebaran curah hujan rata-rata bulanan di DAS Batang Pelepat tahun Peta Penggunaan Lahan di DAS Batang Pelepat Peta tanah di DAS Batang Pelepat Peta Lereng di DAS Batang Pelepat Peta satuan lahan di DAS Batang Pelepat Sifat Fisik dan sifat kimia tanah satuan lahan di DAS Batang Pelepat Penilaian kelas kemampuan lahan pada setiap satuan lahan di DAS Batang Pelepat Peta sebaran kelas kemampuan lahan di DAS Batang Pelepat Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan aktual dan kelas kesesuaian di DAS Batang Pelepat untuk beberapa komoditi pertanian Peta sebaran kelas kesesuaian lahan untuk beberapa komoditi pertanian 142 viii

23 25 Analisis statistik pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap beberapa sifat tanah, aliran permukaan dan erosi tanah pada petak erosi Curah hujan bulanan (cm) dan nilai erosivitas (R) di DAS Batang Pelepat Prediksi erosi pada setiap SL di DAS Batang Pelepat akibat penggunaan lahan aktual Perhitungan erosi yang dapat ditoleransikan (Etol) pada setiap satuan lahan di DAS Batang Pelepat Prediksi erosi pada beberapa kemiringan lereng lahan akibat penerapan berbagai teknik KTA pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Analisis pendapatan dan kelayakan Usahatani sesuai dengan skenario agroteknologi yang diterapkan Nilai CP Maksimum pada setiap satuan lahan di DAS Batang Pelepat ix 32 Hasil Analisis PTG dalam menentukan usahatani berkelanjutan yang optimal di DAS Batang Pelepat

24 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya alam dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) adalah vegetasi, tanah dan air serta jasa-jasa lingkungan yang merupakan modal bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan, sumberdaya alam telah dimanfaatkan dengan prinsip orientasi ekonomi sesaat, terutama hutan dan lahan. Menurut Kartodihardjo et al. (2004), pemanfaatan lahan dalam DAS umumnya kurang memperhatikan keterkaitan unsur-unsur penyusun sistem DAS, padahal kondisi daya dukung lingkungan DAS ditentukan oleh banyak faktor yang mempunyai hubungan dan keterkaitan yang kompleks. Prinsip pemanfaatan yang demikian merupakan salah satu penyebab kerusakan DAS di Indonesia. Gambaran kerusakan DAS di Indonesia dapat dilihat berdasarkan jumlah DAS prioritas yang semakin bertambah dari tahun ke tahun. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum No : 19 tahun 1984 No : 059/Kpts-II/1984 No : 124/kpts/1984 tanggal 4 April 1984 tentang penanganan konservasi tanah dalam rangka pengamanan DAS prioritas, tahun 1984 terdapat 22 DAS super prioritas (Arsyad 2006). Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 284/Kpts-II/1999 tentang penetapan urutan prioritas DAS, jumlah DAS prioritas meningkat hingga 472 DAS. Daerah aliran sungai (DAS) tersebut terdiri atas 62 DAS Prioritas I, 232 DAS Prioritas II dan 178 DAS Prioritas III (Ditjen RRL Dephut 1999). Jumlah DAS prioritas I pada tahun 2004 telah meningkat pula menjadi 65 DAS (Ditjen Sumberdaya Air 2004). Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari merupakan salah satu DAS yang mewakili gambaran umum kondisi DAS di Indonesia yang menunjukkan degradasi pengelolaan hutan dan lingkungan hidup (Direktorat KKSDA BAPPENAS 2007) dan merupakan DAS kedua terbesar di Indonesia. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 284/1999, DAS Batanghari termasuk dalam kategori DAS prioritas I (Ditjen RRL Dephut 1999). Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari dengan luas ± 4.5 juta ha meliputi wilayah Provinsi Jambi, Sumatera Barat dan Riau dan mempunyai nilai yang sangat strategis bagi masyarakat sekitarnya. Kekritisan DAS Batanghari ditandai dengan kondisi sungai Batanghari di luar ambang batas ketentuan sungai yang lestari. Kekritisan DAS dilihat 1

25 2 berdasarkan frekuensi dan besaran banjir yang sulit diprediksi. Banjir besar pernah terjadi tahun 1996; muka air sungai Batanghari naik hingga 4 m dan kembali terjadi pada tahun 2002 dan tahun 2003 (Sihite dan Pasaribu 2004). Banjir yang terjadi di DAS Batanghari disebabkan oleh sedimentasi sehingga terjadi pendangkalan sungai dan pada musim hujan air sungai meluap. Sedimentasi dan pendangkalan sungai mengancam nilai strategis DAS Batanghari, diantaranya telah menyebabkan menurunnya debit aliran sungai Batang Siat yang merupakan sumber air irigasi Sungai Dareh dan Sitiung (SEDASI) di Sumatera Barat. Penurunan debit sungai Batang Siat selama 15 tahun terakhir adalah 10.5 m 3 /det (tahun 1986) menjadi 6.1 m 3 /det (tahun 2001) sehingga kapasitas aliran irigasi ini menurun 67%. Sedimentasi juga mengancam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di DAS Batang Merao dan Batang Merangin-Tembesi (Tim Peneliti Bioregion DAS Batanghari 2003). Daerah aliran sungai (DAS) Merangin mempunyai tingkat sedimentasi tertinggi dibandingkan dengan sub DAS yang lain, yaitu juta ton/tahun (Depkimpraswil 2003). Pendangkalan sungai akibat sedimentasi juga terjadi di DAS Batanghari hilir sehingga operasional Pelabuhan Samudera Muara Sabak pun terganggu karena keperluan navigasi kapal dengan bobot DWT hanya dapat dipenuhi jika dilakukan pengerukan sedimen sebesar m 3 /tahun (JICA 2002). Sedimentasi di DAS Batanghari diduga berasal dari erosi di kawasan hulu. Erosi di DAS Batanghari menggambarkan telah rusaknya daerah resapan terutama di bagian hulu sehingga run off meningkat (koefisien run off sebesar 0.475). Berdasarkan kriteria yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 52 tahun 2001, koefisien rejim sungai kawasan hulu DAS Batanghari (120) pun telah mengindikasikan terjadinya kerusakan (Depkimpraswil 2004). Daerah aliran sungai (DAS) Batanghari terdiri atas 5 sub DAS, yaitu Batanghari Hulu, Batang Tebo, Batang Tabir, Batang Merangin-Tembesi, dan Batanghari Hilir. Sub DAS yang mempunyai tingkat erosi paling tinggi adalah DAS Batang Tebo (kawasan hulu DAS Batanghari) yaitu ton/ha/tahun (Depkimpraswil 2004). Secara administratif DAS Batang Tebo termasuk dalam Kabupaten Bungo dan terdiri atas tiga sub DAS, yaitu Batang Pelepat, Batang Bungo dan Batang Ule (BPDAS Batanghari 2002). Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat yang meliputi sebagian besar kecamatan Pelepat saat ini lebih menarik perhatian berbagai pihak, baik

26 3 Pemerintah Kabupaten Bungo, Pemerintah Provinsi Jambi, swasta (pengusaha) maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti ICRAF, CIFOR dan WARSI dibandingkan dengan DAS Batang Bungo dan Batang Ule. Hal ini disebabkan oleh potensi sumberdaya alamnya, namun beberapa tahun belakangan ini setiap musim hujan di DAS Batang Pelepat selalu terjadi banjir. Informasi terakhir pada awal Pebruari 2006 telah terjadi banjir bandang yang merusak beberapa fasilitas/sarana umum dan menggenangi lahan-lahan pertanian di beberapa desa di kecamatan Pelepat (Rantel, Balai Jaya, Rantau Keloyang, Baru Pelepat dan Batu Kerbau). Banjir yang terjadi menggenangi wilayah tersebut hingga ketinggian 2 m (Anonim 2006). Banjir di DAS Batang Pelepat juga berawal dari erosi dan sedimentasi yang diduga terjadi akibat pembukaan hutan untuk berbagai penggunaan, termasuk pertanian. Pembukaan hutan di DAS Batang Pelepat ditujukan untuk mengembangkan usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) karena Kecamatan Pelepat merupakan salah satu sentra produksi karet nasional dan kawasan prioritas pengembangan kelapa sawit (BAPPEDA Kabupaten Bungo 2005). Berdasarkan data penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat juga dapat diketahui bahwa luas tutupan hutan di DAS Batang Pelepat saat ini hanya 23.51% dari luas DAS (BPDAS Batanghari 2002). Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat terdiri atas beberapa kelas lereng yaitu landai ( ha), agak curam ( ha), curam ( ha) dan curam sekali (1 116 ha). Pembukaan hutan untuk UTKKS di DAS Batang Pelepat pun telah mencapai lereng yang tergolong curam, tetapi tidak disertai dengan teknik konservasi tanah dan air (KTA). Kondisi ini peka menimbulkan erosi terutama pada saat awal tanam yang pada gilirannya menyebabkan degradasi lahan. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat mempunyai nilai indeks bahaya erosi sebesar 4.71 (BPDAS Batanghari 2002); berdasarkan kriteria Hammer (1981) indeks bahaya erosi tersebut tergolong tinggi. Prediksi erosi di beberapa desa yang termasuk dalam DAS Batang Pelepat menunjukkan bahwa erosi telah melebihi erosi yang dapat ditoleransikan (Etol), seperti di Baru Pelepat prediksi erosi mencapai ton/ha/tahun dan di Sungai Beringin sebesar ton/ha/tahun; padahal Etol di kedua lokasi ini hanya dan ton/ha/tahun (PPLH UNJA 2003). Erosi dapat menyebabkan kerugian berupa kehilangan unsur hara pada lahan yang tererosi (on site). Alih fungsi lahan hutan eks HPH (PT Maju Jaya

27 4 Raya Timber dan PT Rimba Karya Indah) menjadi UTKKS di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) telah menimbulkan erosi yang menyebabkan kerugian berupa kehilangan unsur hara senilai Rp milyar/tahun; sebagian besar wilayah eks HPH PT Rimba Karya Indah terdapat di DAS Batang Pelepat (Ridwansyah et al. 2006). Erosi diperkirakan juga menyebabkan sedimentasi di beberapa sungai (off site) yang termasuk dalam DAS Batang Pelepat diantaranya Sungai Batang Pelepat (7.28 ton/hari), Sungai Beringin (9.31 ton/hari) dan Sungai Senamat (9.69 ton/hari) (PPLH UNJA 2003). Lahan UTKKS di DAS Batang Pelepat umumnya dikelola dengan berbagai agroteknologi yang belum memadai. Pengelolaan UTKKS seperti ini menyebabkan rendahnya produktivitas karet (0.45 ton KKK/ha atau 0.71 ton lateks/ha) dan kelapa sawit (11 ton TBS/ha atau 2.20 ton CPO/ha) di DAS Batang Pelepat (Disbun Provinsi Jambi 2005); produktivitas ini berada di bawah produktivitas karet dan kelapa sawit nasional yang masing-masing mencapai 0.60 ton KKK/ha dan 2.78 ton CPO/ha (Ditjenbun 2004; Balitbang Pertanian 2005a) dan potensi produksi karet yang mencapai ton KKK/ha (Balitbang Pertanian 2005a). Produktivitas karet dan kelapa sawit yang rendah berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat di DAS Batang Pelepat yang sebagian besar berasal dari usahatani. Pendapatan petani yang berasal dari usahatani berkisar Rp Rp /bulan, sedangkan total pendapatan masyarakat termasuk usaha di luar usahatani adalah Rp Rp /bulan; pendapatan tersebut masih dibawah standar upah minimum regional Kabupaten Bungo (Rp /bulan), meskipun luas pemilikan lahan di kawasan ini adalah 3.82 ha/kk (PPLH UNJA 2003). Secara nasional standar luas lahan yang dianggap layak untuk mendukung kehidupan keluarga petani adalah 2 ha/kk. Standar ini sesuai dengan standar minimum luas lahan pertanian yang diberikan pada transmigran, dengan asumsi bahwa lahan pertanian diusahakan secara intensif (Permana 1980). Usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) yang tidak berkelanjutan disebabkan oleh perencanaan usahatani belum disusun secara komprehensif berdasarkan pendekatan terhadap berbagai aspek secara simultan. Kondisi UTKKS yang tidak berkelanjutan di DAS Batang Pelepat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat terus merambah hutan; jika dibiarkan hal ini dapat mengancam kelestarian TNKS karena sebagian DAS Batang Pelepat termasuk kawasan penyangga TNKS.

28 5 Peningkatan kinerja usahatani karet rakyat tidak dapat dicapai dengan mudah karena tidak hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga terkait dengan masalah teknologi dan kemampuan sumberdaya manusia yang terkait dalam penerapannya (PPK Medan 1998). Penerapan sistem pertanian konservasi (SPK) dengan penanaman legum penutup tanah (legume cover crop atau LCC) berupa mucuna sp. dan teras gulud yang disertai pemupukan pada lahan usahatani karet milik peladang berpindah di Jambi, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan dapat meningkatkan produksi tanaman hingga 51.10% dan kelayakan usahatani hingga mencapai B/C sebesar 1.82 serta menurunkan aliran permukaan dan erosi masing-masing 65% dan 45% (Juarsah 2008). Perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berkembang pesat dengan teknologi yang sudah ada, tetapi produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan potensi produksi (terutama perkebunan rakyat). Teknologi yang telah ada saat ini belum cukup untuk mendukung pengembangan usahatani kelapa sawit di masa akan datang. Oleh karena itu penelitian yang menghasilkan paket teknologi yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas tanaman dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan perlu segera dilakukan (PPKS Medan 1998). Perbaikan agroteknologi melalui SPK seperti halnya pada lahan usahatani karet diatas merupakan solusi tepat dalam pengembangan usahatani kelapa sawit berkelanjutan. Budidaya kelapa sawit pada lahan berlereng harus dilengkapi dengan tanaman penutup tanah dan teras untuk mengendalikan erosi tanah (PPKS Medan 1999). Berdasarkan pemikiran tersebut penelitian tentang kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat DAS Batang Pelepat serta karakteristik tipe UTKKS dan pengaruhnya terhadap sifat tanah, erosi, aliran permukaan dan sosial ekonomi masyarakat sangat penting dilakukan. Karakteristik biofisik dan sosial ekonomi tersebut sangat diperlukan dalam penyusunan perencanaan SPK yang komprehensif untuk pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Perumusan Masalah Sistem pertanian konservasi (SPK) adalah sistem pertanian yang mampu mengendalikan degradasi lahan (erosi Etol) dan meningkatkan pendapatan petani hingga dapat memenuhi standar kebutuhan hidup secara layak (PKHL) dengan menggunakan agroteknologi memadai serta bersifat site specific (khas lokasi). Penyempurnaan sistem pertanian yang sedang berjalan menjadi SPK

29 6 harus melalui langkah-langkah seperti : (1) inventarisasi keadaan biofisik daerah, (2) inventarisasi keadaan sosial ekonomi petani dan (3) inventarisasi pengaruh luar (Sinukaban 2007a). Kondisi biofisik dan sosial ekonomi merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan SPK untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat, sedangkan faktor luar (eksternal) merupakan pendukung implementasi perencanaan tersebut. Oleh karena itu SPK dapat diterapkan secara optimal melalui pendekatan interdisipliner sebagaimana konsep sistem pertanian berkelanjutan (SPB). Penyempurnaan sistem UTKKS di DAS Batang Pelepat dengan mengikuti langkah-langkah dan pendekatan tersebut dapat menghasilkan perencanaan UTKKS yang komprehensif. Oleh karena itu penyusunan perencanaan UTKKS di DAS Batang Pelepat perlu didukung dengan kajian tentang (1) bagaimana karakteristik lahan dan tipe UTKKS, (2) bagaimana pengaruh berbagai tipe UTKKS terhadap aspek biofisik (beberapa sifat tanah, aliran permukaan dan erosi) dan sosial ekonomi (pendapatan petani dan kelayakan usahatani) dan (3) bagaimana mencapai UTKKS berkelanjutan. Kerangka Pemikiran Daerah aliran sungai (DAS) terdiri atas unsur yang saling berinteraksi dan membentuk suatu sistem yang saling mempengaruhi (interdependensi) dan peka terhadap unsur masukan, termasuk perubahan penggunaan lahan seperti konversi hutan menjadi penggunaan lain. Hutan di DAS Batang Pelepat umumnya mengalami konversi menjadi lahan UTKKS yang masih dikelola secara konvensional sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan hidup petani secara layak dan bahkan menimbulkan degradasi lahan. Perencanaan SPK dalam kerangka pengelolaan DAS sesuai konsep SPB (mengkompromikan berbagai kepentingan, meskipun saling bertentangan) merupakan solusi tepat untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat (Gambar 1). Hal ini sesuai dengan pendapat Sinukaban (2007b) yang menyatakan bahwa konsep SPB yang telah dilaksanakan di sebagian wilayah pulau Jawa dan daerah transmigrasi juga harus diimplementasikan di seluruh daerah dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan sekaligus mempertahankan kelestarian sumberdaya alam. Penerapan SPK untuk memperbaiki agroteknologi dengan pendekatan SPB harus bersifat proaktif, berdasarkan pengalaman (experential) dan partisipatif serta mempertimbangkan sistem yang holistik dan lokal spesifik

30 7 (Zamora 1995, diacu dalam Salikin 2003). Agroteknologi adalah suatu teknologi inovatif yang dirancang untuk mencapai produksi pertanian yang lebih efisien dan menguntungkan (Parker 2002). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agroteknologi meliputi semua teknologi yang diterapkan dalam budidaya tanaman pertanian seperti sistem tanam, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit serta teknik KTA. DAS Batang Pelepat Karakteristik Biofisik Karakteristik Sosial Ekonomi Sistem Pertanian Konservasi Tipe dan Agroteknologi UTKKS Analisis Ekologi : Enviromental friendly Analisis Sosial Ekonomi : Economically profitable and Socially acceptable & Applicable Tipe dan Agroteknologi UTKKS Berkelanjutan UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Gambar 1 Kerangka pemikiran perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Paket agroteknologi untuk lahan pertanian telah banyak tersedia dan direkomendasikan berdasarkan berbagai hasil penelitian, tetapi tidak semua agroteknologi dapat diterima dengan baik oleh petani dan efektif dalam mengurangi erosi dan meningkatkan pendapatan petani. Selain itu tidak semua agroteknologi yang sama dapat diterapkan diberbagai lokasi. Teknik KTA akan efektif jika penggunaan lahan sudah cocok (sesuai dengan kelas kemampuan dan kesesuaian lahan). Agroteknologi tidak ada yang mendukung tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak ada teknik KTA yang dapat mencegah erosi kalau

31 8 kondisi tanahnya tidak cocok untuk pertanian (Sinukaban 1989). Berbagai teknik KTA yang dibutuhkan untuk melengkapi agroteknologi usahatani juga bervariasi dan dapat dipilih melalui simulasi sesuai dengan kondisi biofisik dengan menggunakan model Universal of soil loss equation (USLE). Efektivitas suatu teknik KTA untuk mengurangi erosi dapat diindikasikan oleh laju erosi aktual yang lebih kecil daripada Etol (Dariah et al. 2004). Agroteknologi dalam SPB juga harus dapat diterima dan diterapkan oleh petani dengan sumberdaya yang tersedia baik pengetahuan, ketrampilan maupun tingkat persepsinya (Sinukaban 2007b). Hal ini berarti bahwa agroteknologi yang dipilih dalam usahatani harus pula disesuaikan dengan karakteristik (kendala) sosial ekonomi masyarakat, seperti ketersediaan modal petani, baik lahan, tenaga kerja maupun sarana produksi lainnya. Oleh karena itu agroteknologi juga akan mempengaruhi pendapatan petani, karena agroteknologi yang dipilih akan berhubungan dengan modal usahatani. Petani akan mengadopsi suatu agroteknologi jika mereka memperoleh manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut (Arifin 1996; Cahyono 2002 dan Santoso et al. 2004). Pemilihan agroteknologi usahatani dalam penerapan SPB harus berdasarkan berbagai kriteria, yaitu memberi keuntungan kelestarian lingkungan (environmentally friendly), memberi keuntungan ekonomi kepada masyarakat (economically profitable), serta dapat diterima dan diaplikasikan oleh masyarakat (socially acceptable and Applicable) secara simultan. Berbagai metode dapat digunakan untuk merumuskan model pertanian berkelanjutan dalam pengelolaan DAS melalui analisis sistem multikriteria. Multiple goal programming (MGP) atau program tujuan ganda (PTG) adalah salah satu model yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang mengakomodasi berbagai tujuan atau kepentingan secara simultan (Nasendi dan Anwar 1985; Mulyono 1991 dan Briassoulis 2004). Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran, penelitian ini bertujuan untuk : 1. mengidentifikasi karakteristik lahan dan tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat. 2. menganalisis pengaruh tipe UTKKS terhadap beberapa sifat tanah, aliran permukaan dan erosi. 3. menyusun perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat.

32 9 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini menyajikan kajian biofisik dan sosial ekonomi DAS Batang Pelepat terutama yang berkaitan dengan UTKKS dan alternatif pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk : 1. memberi informasi dan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam memanfaatkan lahan di DAS Batang Pelepat yang sebagian besar termasuk dalam kawasan penyangga TNKS. 2. menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan SPB di kawasan hulu DAS Batanghari (khususnya DAS Batang Pelepat) sehingga dapat mengurangi tekanan penduduk terhadap TNKS. 3. menjadi sumber informasi bagi petani setempat sebagai pengguna lahan. 4. pengembangan ilmu pengetahuan dalam merancang usahatani yang berkelanjutan dengan menggunakan analisis sistem multikriteria.

33 TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Daerah aliran sungai (DAS) atau watershed adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit, sungai dan akhirnya bermuara ke danau atau laut (Agus dan Widianto 2004). Pengertian tersebut menggambarkan bahwa DAS merupakan satu sistem sehingga ada keterkaitan antara bagian hulu dan hilir. Daerah aliran sungai (DAS) terdiri atas sub sistem biofisik dan sosial ekonomi yang juga saling berkaitan. Oleh sebab itu DAS sebagai satu unit perencanaan perlu dikelola secara terpadu. Kartodihardjo et al. (2004) juga mengemukakan bahwa berdasarkan kajian institusi DAS dapat dipandang sebagai sumberdaya alam yang berupa stock dengan ragam pemilikan (private, common, state property) dan berfungsi sebagai penghasil barang dan jasa, baik bagi individu dan atau kelompok masyarakat maupun bagi publik secara luas serta menyebabkan interdependensi antar pihak, individu dan atau kelompok masyarakat. Daerah aliran sungai (DAS) mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Karakteristik DAS terdiri atas ukuran (luas), elevasi dan kemiringan (slope), aspek dan orientasi, bentuk DAS dan jaringan drainase (Black 1995). Karakteristik DAS sangat penting diketahui dalam menentukan tindakan pengelolaan secara tepat. Karakteristik setiap DAS akan menunjukkan perbedaan satu sama lain sehingga tindakan pengelolaan DAS bersifat spesifik lokasi. Pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan (Easter et al. 1986; Dephut 2001). Pengelolaan DAS ini terdiri atas beberapa tahapan proses (fase) yaitu : fase identifikasi dan analisis masalah, fase perencanaan, fase implementasi dan fase evaluasi, dimana keempat fase tersebut dapat terus berlangsung membentuk suatu siklus (Gambar 2). Perencanaan pengelolaan DAS tidak selesai hanya dengan dihasilkannya dokumen rencana, tetapi sebagai proses yang berulang dan berkaitan dengan aktivitas-aktivitas pengelolaan DAS. 10

34 11 Pelaksanaan rencana memerlukan monitoring terhadap tujuan dan sasaran yang ditetapkan, sehingga memungkinkan adanya umpan balik dan revisi terhadap rencana yang telah disusun (Davenport 2002 dan Dephut 2001). FASE PERENCANAAN FASE IDENTIFIKASI MASALAH FASE IMPLEMENTASI FASE EVALUASI Gambar 2 Fase-fase atau tahapan perencanaan pengelolaan DAS (Davenport 2002). Pengelolaan DAS yang mampu memadukan aspek biofisik, sosial ekonomi dan budaya sinergi dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan pemberdayaan ekonomi rakyat/masyarakat dan pelestarian lingkungan secara simultan dan seimbang. Ciri pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam suatu DAS adalah (1) mampu memberikan produktivitas yang tinggi dan pendapatan yang layak bagi seluruh masyarakat, (2) mampu menjamin kelestarian DAS, yaitu dapat menjamin fungsi DAS yang baik, dapat menyimpan air dan memberikan hasil air yang cukup untuk seluruh keperluan yang merata sepanjang tahun dengan kualitas yang baik (erosi/sedimen rendah, pencemaran kecil) dan kuantitas yang mencukupi, (3) mampu memeratakan pendapatan (equity) dan (4) mampu menjamin kelenturan (resiliency) DAS (Sinukaban et al. 2001). Konsep Pertanian Berkelanjutan Pembangunan berkelanjutan harus diterapkan pada berbagai bidang, termasuk pertanian. Pertanian berkelanjutan pada dasarnya berarti pertanian yang mampu berproduksi dengan tetap mempertahankan basis sumberdaya. Defenisi pertanian berkelanjutan telah banyak dikemukakan oleh berbagai pakar, diantaranya : 1. United State Society of Agronomy (1989), mendefenisikan pertanian berkelanjutan sebagai pertanian jangka panjang yang meningkatkan kualitas lingkungan dan sumberdaya yang diperlukan untuk kegiatan pertanian. Pertanian ini menyediakan makanan pokok manusia dan kebutuhan serat dan secara ekonomi dapat meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan.

35 12 2. Menurut TAC/CGIAR (1988), diacu dalam Reijntjes et al. (1999), pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. 3. Defenisi pertanian berkelanjutan secara lebih luas mencakup beberapa hal seperti (1) mantap secara ekologis, (2) bisa berlanjut secara ekonomis, (3) adil, (4) manusiawi dan (5) luwes (Gips 1986, diacu dalam Sabiham 2005) Unsur-unsur pendekatan SPB terdiri atas praktek-praktek ekologi (kebutuhan lingkungan dan didasarkan pada prinsip prinsip ekologi), tanggung jawab sosial (pemberdayaan masyarakat, kesamaan sosial, dan kesehatan kesejahteraan penduduk), dan semangat ekonomi (ketahanan pangan, kelayakan ekonomi dan bernuansa teknologi). Pengertian dan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa SPB harus dapat memenuhi indikator dari berbagai aspek (Thrupp 1996). Indikator-indikator SPB adalah pendapatan masyarakat (petani) yang cukup tinggi, tidak menimbulkan kerusakan dan dapat dikembangkan dengan sumberdaya yang dimiliki oleh petani (Sinukaban 1994). Oleh karena itu keberlanjutan sistem usahatani bergantung pada 3 (tiga) karakteristik utama, yaitu kemampuan untuk mengendalikan kehilangan tanah hingga kurang dari Etol atau tolarable of soil loss (TSL), efektivitas dalam meningkatkan pendapatan petani dan secara sosial agroteknologi yang digunakan harus dapat diterima dan diterapkan (acceptable dan replicable) dengan sumberdaya yang ada, termasuk pengetahuan, ketrampilan dan persepsi petani (Sinukaban 2007c). Pendapatan yang diperoleh petani harus dapat memenuhi kebutuhan hidup petani secara layak. Pendapatan yang tinggi dapat diperoleh jika produksi yang diperoleh dari usahatani juga tinggi dan sangat bergantung pada sistem usahatani, termasuk pengelolaan lahan. Produksi tanaman akan optimal jika ditanam pada lahan yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman. Selain itu komoditi yang dipilih juga harus mempunyai nilai ekonomi tinggi dan sesuai dengan keinginan ataupun kebiasaan petani. Pertanian berkelanjutan harus pula diindikasikan dengan tidak terjadinya kerusakan lingkungan. Indikator kerusakan ini dapat dilihat dengan tingkat erosi yang terjadi di lahan pertanian. Erosi di lahan pertanian tidak mungkin dapat dihindari karena kondisi lahan yang selalu terganggu, tetapi kerusakan tersebut

36 13 dapat diminimalkan. Kerusakan lahan sedikit atau tidak terjadi jika erosi yang terjadi lebih kecil dari Etol. Produksi pertanian yang tinggi dapat dipertahankan secara terus menerus bila erosi lebih kecil dari Etol. Erosi yang lebih besar dari Etol akan menyebabkan produktivitas lahan menurun, sehingga produksi yang tinggi itu hanya dapat dipertahankan beberapa tahun saja (pertanian tidak lestari) (Sinukaban 2003). Oleh sebab itu perlu dilakukan pengendalian terhadap erosi pada lahan pertanian, misalnya penerapan SPK dengan agroteknologi yang dapat diterima dan dikembangkan oleh petani. Salah satu faktor penghambat implementasi teknologi usahatani adalah terbatasnya adopsi petani terhadap paket teknologi yang diperkenalkan karena petani merasa tidak ikut merencanakan dan tidak mengerti sehingga tidak merasa memiliki kegiatan yang mereka lakukan (Subagyono et al. 2004). Pembangunan pertanian berkelanjutan memerlukan teknologi tepat guna, kebijakan dan pengelolaan sumberdaya yang sesuai dengan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah (Adnyana 2006). Usahatani Karet dan Kelapa sawit Usahatani Karet Indonesia pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Komoditi ini pernah diandalkan sebagai penopang perekonomian negara. Karet telah menjadi komoditi ekspor utama Indonesia dan telah menjadi mata pencaharian bagi berjuta-juta keluarga. Usahatani karet terdiri atas perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Karet rakyat meliputi 83% dari total luas kebun karet di Indonesia dengan volume produksi 68% dari total produksi karet di Indonesia. Perkebunan karet rakyat di Indonesia menyebar di Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Riau dan Sumatera Utara, sedangkan perkebunan besar negara dan swasta sebagian besar terdapat di Sumatera Utara (Balitbang Pertanian 2005a). Provinsi Jambi merupakan penghasil karet terbesar ketiga setelah Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Perkebunan karet rakyat di Jambi pertama kali dibudidayakan pada tahun Karet rakyat tersebut ada yang dipelihara dengan baik dan ada yang tidak. Perkebunan yang tidak dirawat tampak seperti tanaman liar yang tumbuh diantara vegetasi lainnya dengan produktivitas tanaman yang rendah. Perkebunan karet rakyat di Jambi menyebar

37 14 ke seluruh wilayah (Lampiran 1) karena karet merupakan salah satu komoditi ekspor Provinsi Jambi (Joshi et al. 2006) Karet rakyat menyumbangkan produksi getah di Jambi hingga 97% terhadap total produksi. Tahun 1992 dan 1998, laju perkembangan kebun karet di Jambi mencapai ha/tahun, tetapi produktivitas karet rakyat masih tetap rendah, yaitu kg KKK/ha/tahun; produktivitas ini hanya sepertiga hingga setengah kali produktivitas perkebunan karet klon yang mencapai kg KKK/ha/tahun (Joshi et al. 2006). Volume ekspor karet di Jambi tahun 2004 mencapai kg dan menghasilkan devisa sebesar dollar AS (Harian Kompas 4 Agustus 2005). Jumlah atau besarnya devisa yang dihasilkan tersebut tidak berbanding lurus dengan perhatian pemerintah terhadap petani karet di Jambi. Hal ini dapat dilihat dari semakin menurunnya produksi karet di daerah ini. Berdasarkan data Disbun Provinsi Jambi (2004), tahun 2003 luas total kebun karet di Jambi adalah ha dan ha diantaranya merupakan tanaman karet tua dengan produksi hanya sekitar 250 kg lateks/ha/tahun. Fenomena penurunan produksi terjadi hampir di seluruh wilayah yang mengembangkan usahatani karet di Provinsi Jambi, termasuk kecamatan Pelepat yang tercakup dalam DAS Batang Pelepat (Tabel 1). Tabel 1 Perkembangan luas tanam dan produksi karet di Kecamatan Pelepat, Tahun Tahun Luas Lahan (ha) Produksi (ton) Sumber : Disbun Provinsi Jambi (2004) Penurunan produksi juga terkait dengan pengelolaan lahan dan tanaman yang kurang optimal. Usahatani karet rakyat hanya diusahakan secara tradisional, tanpa ada pemeliharaan yang baik seperti pemupukan ataupun penyiangan. Perkebunan karet lebih menyerupai hutan karet ( sesap karet ), yang dari aspek konservasi lebih menguntungkan karena kemungkinan terjadinya kerusakan lahan akibat erosi lebih kecil dan dapat menghasilkan kekayaan biodiversiti seperti hutan, tetapi tidak didukung oleh produksi yang optimal. Erosi yang relatif besar terjadi pada awal pembukaan lahan hingga tajuk

38 tanaman dapat menutupi permukaan tanah dengan baik karena tidak ada penerapan teknik KTA yang memadai. Produksi lateks yang optimal dari karet dapat dicapai bila ada pengelolaan ideal dan memenuhi persyaratan lingkungan yang diinginkan oleh karet. Karet dapat tumbuh baik pada ketinggian m diatas permukaan laut (dpl), curah hujan yang cukup tinggi ( mm/tahun) dan merata sepanjang tahun serta sinar matahari dengan intensitas cukup 5 7 jam/hari. Karet dapat berproduksi maksimal pada tanah-tanah subur, tetapi tanaman karet mempunyai tingkat toleran yang tinggi terhadap tanah yang kurang subur bila dilakukan pemupukan. Tanaman ini masih dapat tumbuh pada batas ph 4 8, namun paling cocok pada ph 5 6 (Tim Penulis Penebar Swadaya 2004). Kualitas lahan yang dibutuhkan untuk karet ini secara lengkap telah disusun oleh Djaenudin et al. (2003) seperti terlampir pada Lampiran 2. Karet membutuhkan perawatan, baik sebelum maupun setelah menghasilkan. Perawatan tanaman sebelum menghasilkan meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan, penanaman tanaman penutup tanah serta pengendalian hama dan penyakit. Tanaman yang sudah menghasilkan (diatas 5 tahun) perlu dilakukan penyiangan dan pemupukan. Pemupukan karet harus dilakukan dengan cara, waktu dan takaran yang tepat. Balitbang Pertanian (2005b) menganjurkan penggunaan pupuk urea, TSP dan KCl pada tanaman karet di Kabupaten Bungo (DAS Batang Pelepat) dengan takaran masing-masing 100, 50 dan 50 kg/ha/tahun. BPP Sembawa (2003) juga mengeluarkan rekomendasi pemupukan untuk karet dengan takaran pupuk pupuk urea, SP-36 dan KCl yang bervariasi sesuai dengan umur tanaman (Tabel 2). Tabel 2 Rekomendasi takaran pupuk dan frekuensi pemupukan tanaman karet sesuai dengan umur tanaman Umur Tanaman (tahun) Urea (g/pohon/tahun) Sumber : BPP Sembawa (2003). SP-36 (g/pohon/tahun) KCl (g/pohon/tahun) Frekuensi Pemupukan 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 2 kali/tahun 15

39 16 Karet yang sudah tidak produktif perlu diremajakan. Peremajaan kebun karet umumnya dilakukan dengan sistem tebas bakar, tetapi petani tidak menerapkan sistem ini karena mempunyai keterbatasan modal dan lahan serta mengurangi resiko kegagalan penanaman baru. Petani di Jambi umumnya mengadopsi teknik peremajaan dengan melakukan sisipan. Bibit karet ditanam diantara celah-celah pohon karet untuk mengganti pohon yang sudah tidak produktif. Cara ini mampu memperpanjang usia produktif kebun karet secara nyata (Wibawa dan Hendratno 2006). Karet dapat ditanam secara monokultur dan tumpangsari. Karet yang ditanam secara tumpangsari di Jambi sering dikenal dengan istilah sesap karet atau dikenal pula dengan wanatani karet atau agroforestri karet. Salah satu contoh pengusahaan karet dengan sistem wanatani adalah di Desa Bebeko (Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi). Kebun karet sudah berumur 40 tahun tetapi masih menghasilkan lateks sekitar 40 kg per minggu (dari 300 pohon karet). Pemanenan (penyadapan) karet dilakukan tidak serentak, karena umur tanaman berbeda-beda. Di dalam kebun karet ini juga ditemukan species kayu seperti Alseodaphne spp (kayu medang), Shorea spp. (kayu meranti), Styrax benzoin (kemenyan), garcinia parvifolia (asam kandis), bambu, parkia speciosa (petai), Pithecellobium ellipticum (kabau) dan Baccaurea spp. (rambe). Beberapa tahun yang lalu pemilik telah dapat menjual kayu meranti dan kayu medang dari kebun ini (Joshi et al. 2006). Karet juga dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pertanian lain seperti kopi, kakao dan pisang ataupun tanaman kehutanan. Teknik budidaya karet berkelanjutan perlu juga disertai dengan teknik KTA seperti tanaman legum penutup tanah (LCC) berupa campuran 4 kg Pueraria Javanica, 6 kg Colopogonium mucunoides dan 4 kg Centrosema pubescens. Penanaman karet pada lahan dengan kemiringan lereng lebih dari 15% dianjurkan untuk membuat teras. Lebar teras berkisar antara m dan jarak antar teras dapat disesuaikan dengan jarak tanam (7 m untuk jarak tanam 3 m x 7 m atau 8 m untuk jarak tanam 2.5 m x 8 m) (BPP Sembawa 2003). Penggunaan LCC adalah teknik KTA paling umum diterapkan pada lahan perkebunan. Teras masih tergolong jarang digunakan, karena biaya yang diperlukan relatif mahal dan memerlukan pemeliharaan yang intensif. Teras yang umum digunakan dalam mengembangkan tanaman perkebunan adalah teras gulud dan teras kebun (Ditjen PLA Deptan 2007).

40 17 Usahatani Kelapa Sawit Kelapa sawit berasal dari Guinea Afrika dan mulai diusahakan di Indonesia tahun Kelapa sawit berkembang terus hingga mencapai ha pada tahun 1925 dan telah ditanam di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Aceh, Sumatera timur, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi dan Irian Barat (Sutaryanto 1999). Perkebunan kelapa sawit di Indonesia akhir-akhir ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Indonesia telah menjadi negara produsen dan eksportir CPO terbesar kedua setelah Malaysia. Berdasarkan data Ditjenbun hingga tahun 2004 total luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 5.6 juta ha yang terdiri atas perkebunan rakyat ( ha), perkebunan besar negara ( ha) dan perkebunan besar swasta ( ha) (Khoiri 2006). Berdasarkan catatan terakhir tahun 2003, volume ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 6.5 juta ton dengan volume produksi 9.9 juta ton (Ditjenbun 2004). Peluang Indonesia untuk meningkatkan produksi lebih besar dibandingkan dengan Malaysia karena berkaitan dengan ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, ketersediaan sumberdaya manusia sebagai sumber tenaga kerja dan biaya pembangunan dan perawatan per hektar yang lebih murah, tetapi persoalan klasik dan struktural masih harus dihadapi oleh perkebunan kelapa sawit Indonesia dan hingga saat ini belum teratasi secara tuntas. Persoalan tersebut diantaranya adalah ketersediaan input produksi (bibit yang berkualitas, pestisida dan pupuk), produktivitas yang rendah dan harga yang fluktuatif. Kualitas bibit yang rendah merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi perkebunan kelapa sawit Indonesia sehingga berpengaruh terhadap produktivitas. Menurut Thahar dan Khoiri (2006), di Jambi saat ini diperkirakan terdapat ha kelapa sawit yang berasal dari bibit palsu. Produksi kelapa sawit Jambi saat ini sekitar 1.4 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit/ha/tahun, tetapi produksi kelapa sawit dari bibit palsu hanya 700 kg TBS/ha/tahun. Akibatnya dengan standar harga TBS sebesar Rp653/kg berarti petani mengalami kerugian sebesar Rp164.5 milyar/tahun. Selain itu pengembangan kelapa sawit juga menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan ketersediaan lahan dan tudingan sebagian besar aktivis lingkungan yang menganggap bahwa pembukaan lahan untuk kelapa sawit

41 secara besar-besaran telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal ini terkait dengan terjadinya konversi lahan, terutama hutan. Penebangan hutan akan berpengaruh terhadap siklus hidrologi karena terjadi perubahan infiltrasi tanah, evapotranspirasi dari tanaman dan secara potensial juga akan mengurangi jumlah air yang masuk ke sungai. Selain itu setiap aktivitas yang dilakukan pada saat dan setelah konversi hutan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap lingkungan dan pola aliran sungai (Connolly dan Pearson 2005). Pembukaan hutan untuk kelapa sawit juga sering menyebabkan kebakaran hutan yang menimbulkan pencemaran udara, erosi dan rusaknya biodiversiti. Vegetasi hutan berfungsi baik untuk meresapkan air sehingga dapat mengurangi aliran permukaan. Menurut Iswara (1999), diacu dalam Aswandi (2004), konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit akan meningkatkan aliran permukaan hingga 300 mm sebelum tanaman tersebut dewasa. Sebagian besar aktivis lingkungan meminta disain ulang perkebunan kelapa sawit. Disain ini penting agar lahan yang belum terjamah budidaya kelapa sawit tidak dengan mudah dikonversi menjadi kebun kelapa sawit, baik kawasan hutan konservasi, hutan lindung maupun lahan pertanian rakyat yang sudah ada (Khoiri 2006). Disain ulang tersebut harus lebih menjamin keberlanjutan usahatani kelapa sawit, tanpa mementingkan aspek dan pihak tertentu. Perluasan perkebunan kelapa sawit terus terjadi, termasuk di Jambi yang menyebar hampir di seluruh kabupaten. Kabupaten Bungo, khususnya di DAS Batang Pelepat telah dijadikan salah satu kawasan prioritas pengembangan komoditi ini. Hal ini dapat dilihat dari luas lahan kelapa sawit yang terus meningkat selama 5 tahun terakhir, baik yang diusahakan oleh masyarakat maupun perkebunan swasta (Tabel 3), tetapi tidak diikuti dengan produksi yang baik. Fenomena produksi yang kurang baik ini disebabkan oleh banyaknya jumlah tanaman yang rusak sehingga tidak berproduksi secara maksimal, terutama pada perkebunan kelapa sawit rakyat. Tabel 3 Perkembangan luas tanam dan produksi kelapa sawit di Kecamatan Pelepat, Tahun Tahun Luas Lahan (ha) Produksi (ton) Sumber : Disbun Provinsi Jambi (2004)

42 Produksi yang rendah juga terkait dengan teknik budidaya yang belum memadai. Kelapa sawit tumbuh baik di daerah tropis pada curah hujan >1500 mm/tahun, tidak memiliki defisit air dan merata sepanjang tahun, suhu 25 o C 32 o C (Sutarta et al. 1999). Persyaratan tumbuh lain untuk kelapa sawit adalah elevasi (0 500 m dpl) dan penyinaran matahari 100% diperlukan minimal 5 jam/hari (optmum 7 jam/hari). Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan syarat drainase baik, solumn dalam (minimal 80 cm), agak masam (ph 4 6), topografi datar, landai sampai bergelombang, termasuk tanah gambut (Sutaryanto 1999). Persyaratan kualitas atau karakteristik lahan yang dibutuhkan oleh kelapa sawit terdiri atas sifat-sifat fisik dan kimia tanah (Lampiran 3). Faktor tanah merupakan salah satu faktor utama yang harus dikelola secara tepat untuk memperoleh produksi kelapa sawit yang optimal dan berkelanjutan. Pertumbuhan kelapa sawit memerlukan cadangan unsur hara dan air yang tinggi (Winarna et al. 2000). Oleh karena itu dalam pengembangan kelapa sawit perlu disertai dengan teknik pemupukan dan KTA yang tepat. Pupuk yang direkomendasikan untuk pengembangan kelapa sawit di Kabupaten Bungo adalah NPK dan MgSO 4 dengan takaran masing-masing 0.22 dan 0.10 kg/pohon/tahun (umur 0 2 tahun), sedangkan tanaman yang berumur lebih dari 2 tahun harus diberikan NPK dan MgSO 4 dengan takaran masingmasing 0.45 dan 0.40 kg/pohon/tahun (Balitbang Pertanian 2005b). Pengembangan kelapa sawit juga dapat menggunakan pupuk tunggal seperti Urea, TSP, KCl dan Kisierit (MgSO 4 ) dengan takaran yang disesuaikan dengan umur kelapa sawit. Pupuk urea dan KCl diberikan dengan frekuensi satu kali dalam setahun, sedangkan pupuk TSP diberikan dengan frekuensi dua kali dalam setahun. Kisierit diberikan dua kali per tahun pada tanaman yang berumur 0 15 tahun dan satu kali per tahun pada tanaman berumur >15 tahun (Tabel 4). Tabel 4 Rekomendasi takaran pupuk dan frekuensi pemupukan kelapa sawit sesuai dengan umur tanaman Umur Tanaman (tahun) > 12 Urea (kg/pohon/tahun) Sumber : PPKS (1999). TSP (kg/pohon/tahun) KCl (kg/pohon/tahun) MgSO4 (kg/pohon/tahun)

43 20 Teknik KTA juga diperlukan dalam pengembangan kelapa sawit untuk menurunkan kehilangan tanah, memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan produksi kelapa sawit. Teknik KTA yang dapat diterapkan dalam pengembangan kelapa sawit sama dengan tanaman perkebunan lainnya seperti karet, yaitu penggunaan LCC dan dilengkapi dengan teras pada lahan yang mempunyai kemiringan lereng > 15%. Analisis Usahatani Analisis usahatani pada dasarnya adalah upaya untuk menilai manfaat (output) dan biaya (cost) yang tercakup dalam suatu proses usahatani. Biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan dan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu tujuan (Gitingger 1986). Analisis usahatani dimaksudkan untuk mencari informasi tentang keragaan suatu usahatani yang dilihat dari berbagai aspek (Soekartawi 2002). Kadariah (1990) menambahkan bahwa tujuan analisis usahatani adalah untuk (1) mengetahui tingkat keuntungan yang dicapai melalui investasi dalam suatu kegiatan usahatani, (2) menghindari pemborosan pemakaian sumberdaya yaitu dengan menghindari pelaksanaan kegiatan usahatani yang tidak menguntungkan, (3) mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang dilakukan sehingga dapat diketahui usahatani tersebut menguntungkan atau tidak, dan (4) menentukan prioritas kegiatan usahatani. Analisis usahatani dapat dilakukan dengan mengetahui struktur penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani. Pendapatan usahatani merupakan selisih dari total penerimaan dan total biaya. Analisis usahatani dibagi menjadi dua, yaitu analisis parsial (satu cabang usahatani) dan analisis keseluruhan usahatani (whole-farm analysis). Selain faktor pendapatan ataupun keuntungan tersebut, perlu dianalisis biaya dan manfaatnya. Hasil analisis dapat digunakan untuk menilai kelayakan keuntungan yang diperoleh dari usahatani. Kelayakan keuntungan usahatani dapat dinilai melalui analisis finansial dan analisis ekonomi dengan indikator B/C ratio, Net Present Value (NPV) dan Internal Rate Return (IRR). Rasio manfaat terhadap biaya (B/C ratio) merupakan ukuran manfaat dari usahatani. Menurut Kadariah (1990), analisis B/C ratio adalah salah satu indikator untuk menilai kelayakan suatu investasi yang ditanam baik secara ekonomi maupun finansial. Net Present Value (NPV) merupakan penilaian kembali terhadap pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi modal. Net Present Value (NPV)

44 dijadikan ukuran yang menggambarkan kemampuan suatu proyek (Soekartawi et al. 1986). Usahatani karet dan kelapa sawit merupakan kegiatan usahatani yang mempunyai siklus waktu yang relatif lama, sehingga setiap nilai input ataupun output perlu dikonversi ke nilai waktu sekarang (present). Hal ini penting dilakukan, mengingat waktu dan suku bunga uang akan berpengaruh terhadap nilai output yang diperoleh dari usahatani karet dan kelapa sawit. Internal Rate of Return (IRR) juga sering digunakan sebagai indikator kelayakan investasi dari suatu usahatani disamping B/C ratio dan NPV. Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan karena proyek baru sampai pada tingkat modal kembali (Merrett dan Sykes 1967, diacu dalam Gitingger 1986). Internal Rate of Return (IRR) adalah suku bunga yang dapat mengakibatkan NPV sama dengan nol. Kelayakan finansial dan ekonomi mempunyai indikator yang sama, tetapi keduanya berbeda. Pendekatan analisis ekonomi diperlukan untuk verifikasi bahwa hasil usahatani memberi manfaat bersih kepada masyarakat secara keseluruhan, sedangkan analisis finansial dilakukan untuk melihat keuntungan individu atau perusahaan (private group), seperti perkebunan (Gregersen et al. 1989). Secara rinci tentang perbedaan analisis finansial dan analisis ekonomi dapat dikemukakan dalam Tabel 5. Tabel 5 Perbedaan analisis finansial dan analisis ekonomi ditinjau dari beberapa unsur Unsur Analisis Finansial Analisis Ekonomi Fokus Keuntungan perusahaan atau individu Keuntungan untuk masyarakat Tujuan Indikasi insentif terhadap Ditentukan jika investasi pelaksanaan pemerintah sesuai dengan efisiensi ekonomi Harga Menggunakan harga pasar Beberapa item menggunakan (market price) harga bayangan (shadow price) Pajak Biaya (cost) Benefit Subsidi Pendapatan Biaya Pinjaman bank Meningkatkan modal (input) Transfer payment Bunga Cost (biaya) Transfer payment Discount rate Marginal cost terhadap Opportunity cost terhadap modal keuangan Distribusi pendapatan Dapat dihitung sebagai net return individu. Faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja dan modal tidak termasuk dalam analisis finansial. Sumber : Hitzhusen (1982), diacu dalam Gregersen et al. (1989). 21 Tidak dipertimbangkan dan dapat dilakukan analisis secara terpisah atau sebagai analisis efisiensi terbobot dengan berbagai tujuan.

45 22 Erosi dan Faktor-Faktor Penyebabnya Erosi tanah merupakan salah satu masalah yang sering terjadi dan ditemui hampir di seluruh kawasan dunia. Pengaruhnya bersifat langsung (on site) dan tidak langsung (off site). Pengaruh langsung adalah penurunan produktivitas lahan dan produksi tanaman, sedangkan pengaruh tak langsung dapat berupa siltasi reservoir, saluran dan sungai, penurunan pasokan air, penurunan kapasitas energi listrik, banjir, kerusakan jalan akibat landslide, dan lain-lain (Widianto et al. 2003; Barrow 1991). Kerugian yang ditimbulkan oleh erosi tanah cukup besar, karena mengikis dan mengangkut sebagian tanah, misalnya kehilangan tanah yang terjadi pada lahan pertanian di Amerika dan Montana yang masing-masing mencapai 1.3 juta ton/tahun dan 5.50 ton/ha/tahun serta padang rumput di Wyoming yang telah menyebabkan erosi mencapai 5.10 ton/ha/tahun (McCauley dan Jones 2005). Pengaruh erosi di Indonesia dapat dilihat dari semakin meningkatnya hamparan lahan kritis dan frekuensi dan besaran banjir. Banjir terjadi akibat sedimentasi di sungai, sehingga kapasitas tampung sungai menurun dan air meluap di musim hujan. Peristiwa erosi juga menyebabkan sedimentasi di berbagai waduk seperti waduk Gajah Mungkur, bendungan Jati luhur, dan lainnya. Menurut Arsyad (2006), sedimentasi dapat mempengaruhi kapasitas waduk serta menurunkan life time waduk. Erosi dan sedimentasi merupakan dua hal yang berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Erosi adalah hilangnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air atau angin ke tempat lain. Tanah atau bagianbagian tanah yang terangkut ini disebut sedimen. Erosi di daerah tropika basah termasuk Indonesia umumnya disebabkan oleh air (Arsyad 2006). Erosi yang diakibatkan oleh air sangat dipengaruhi oleh curah hujan (raindrop) dan run off. Proses erosi tanah oleh air terdiri atas empat subproses yang interaktif, yaitu :penghancuran oleh curah hujan, pengangkutan oleh curah hujan, penghancuran oleh run off (scour erosion) dan pengangkutan oleh run off (David 1988 dan Lu et al. 2005). Hujan jatuh di permukaan tanah akan menghancurkan partikel tanah dan memercikan partikel tersebut ke atas kemudian berpindah ke tempat lain. Selanjutnya partikel tersebut dapat menyumbat pori tanah sehingga menyebabkan terjadinya surface crusting atau memadatkan tanah sehingga menurunkan tingkat infiltrasi tanah. Hujan yang melebihi kapasitas infiltrasi tanah menyebabkan run off yang dapat menghancurkan partikel tanah dan

46 mengangkutnya dengan tenaga aliran run off, namun jika kecepatan aliran menjadi lambat atau terhenti, partikel akan mengalami deposisi atau sedimentasi (McClauley dan Jones 2005). Berdasarkan proses (tempat, sumber, magnitud dan bentuk), erosi dapat dibedakan menjadi erosi percikan (splash erosion), erosi lembar (sheet erosion), erosi alur (riil erosion), erosi parit (gully erosion), sedangkan berdasarkan agent atau medianya, erosi dapat dibedakan menjadi erosi air dan erosi angin. Erosi mengalami perubahan secara spasial dan temporal, namun proses yang terlibat dalam erosi adalah sama dan semua jenis erosi ini umumnya diikuti oleh sedimentasi. Erosi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi faktor alam dan faktor manusia. Faktor-faktor alami yang mempengaruhi erosi dapat dirinci sesuai dengan pengaruh yang disumbangkannya terhadap proses erosi dan sedimentasi (Tabel 6). Tabel 6 Pengaruh beberapa faktor-faktor terhadap proses dan tingkat erosi tanah Faktor Pengaruh terhadap Proses Erosi Curah Hujan : intensitas, durasi, frekwensi, indeks erosi Lereng : - Kemiringan, panjang dan bentuk 23 Menghancurkan agregat tanah dengan percikan butir air hujan dan mengangkut partikel oleh run off; surface sealing Erosi cenderung meningkat dengan meningkatnya panjang dan kemiringan lereng; bentuk lereng memperngaruhi tingkat kehilangan tanah, yaitu conveks>lurus>conkaf - Posisi Terhadap lereng Tanah : - Kedalaman - Tekstur - Struktur dan agregasi - Kandungan Bahan Organik Vegetasi : Struktur, penutupan kanopi, penutupan dasar (ground) Sumber : Gunn et al. (1988). Mempengaruhi hubungan run off run on (erosi dan deposisi) Mempengaruhi kapasitas penyimpanan air tersedia Tanah dengan kandungan debu atau pasir halus umumnya paling mudah tererosi; erodibilitas akan menurun dengan meningkatnya kandungan fraksi pasir dan liat Proporsi air- stabilitas dan ukuran agregat mempengaruhi erodibilitas Mempengaruhi inisiasi run off, infiltrasi, perkembangan struktur tanah, water repellency. Mempengaruhi intersepsi curah hujan, percikan butir air hujan, infiltrasi, evapotranspirasi dan run off.

47 24 Iklim Faktor iklim yang mempengaruhi erosi di daerah beriklim basah (seperti Indonesia) adalah hujan. Karakteristik hujan akan menghasilkan energi kinetik yang dapat mendispersi partikel tanah. Besarnya curah hujan, intensitas, ukuran butir dan distribusi menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi. Kecepatan aliran permukaan juga akan berpengaruh terhadap sedimentasi. Kapasitas hujan untuk menimbulkan erosi disebut erosivitas. Nilai erosivitas ini dapat dihitung dengan berbagai cara, misalnya dengan menentukan nilai EI30 atau KE>25 (energi kinetik curah hujan dengan intensitas lebih dari 25 mm). Berdasarkan penelitian Barus dan Suwardjo (1977), diacu dalam Hardjowigeno (2007), di Indonesia kedua indikator tersebut merupakan indeks erosi hujan yang mempunyai koefisien korelasi paling tinggi dengan erosi yang terjadi. Erosivitas merupakan fungsi dari jumlah total curah hujan dan intensitasnya. Curah hujan yang tinggi dapat melebihi kapasitas infiltrasi tanah sehingga air akan mengalir di permukaan tanah. Curah hujan yang tinggi pada lahan bera dapat menyebabkan terjadinya surface sealing sehingga mengurangi tingkat infiltrasi tanah. Curah hujan kemudian mengakibatkan aliran run off di permukaan tanah, potensial erosi meningkat jika run off mulai concentrated (United State Society of Agronomy 2005). Sifat-Sifat Tanah Jenis tanah yang berbeda menyebabkan perbedaan tingkat kepekaannya terhadap erosi. Kepekaan erosi tanah dikenal dengan istilah erodibilitas. Erodibilitas merupakan fungsi dari sifat-sifat fisika dan kimia tanah. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erodibilitas meliputi tekstur, kelembaban, agregasi dan struktur, serta bahan organik. Debu dan pasir halus merupakan partikel yang paling mudah tererosi karena massanya lebih kecil dibanding partikel yang lebih besar serta kurang kohesif dibandingkan dengan partikel yang halus seperti liat (Morgan 1995). Oleh sebab itu tanah aluvial yang merupakan hasil sedimentasi sering merupakan lahan yang subur, karena partikel tanah yang tererosi dan terangkut merupakan tanah yang kaya akan bahan organik tanah dan unsur hara yang diperlukan tanaman. Kelembaban tanah dapat meningkatkan daya kohesif diantara partikel tanah sehingga sulit dihancurkan. Agregasi dapat mengurangi erosi melalui

48 25 ikatan potensial antarpartikel tanah sehingga ukuran partikel menjadi lebih besar dan resisten terhadap perusakan dan pengangkutan. Stabilitas agregat juga akan mempengaruhi erodibiltas dan berhubungan dengan senyawa kimia dan organik dalam tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 2% akan lebih tahan terhadap erosi karena stabilitas agregatnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang kandungan bahan organiknya lebih kecil (McClauley dan Jones 2005). Nilai kepekaan erosi tanah di Indonesia juga bervariasi sesuai dengan bahan induknya, misalnya Latosol Darmaga (haplorthox) dengan bahan induk tuf vulkan mempunyai nilai erodibilitas sebesar 0.03, Podsolik Merah Kuning Lampung (tropudult) dengan bahan induk dasitik mempunyai nilai erodibilitas sebesar 0.32 dan Podsolik Jonggol (tropudult) dengan bahan induk batu liat mempunyai nilai erodibilitas sebesar 0.16 (Kurnia dan Suwardjo 1984, diacu dalam Hardjowigeno 2007). Topografi (Panjang dan Kemiringan Lereng) Pengaruh run off terhadap erosi sangat bergantung pada jumlah dan kecepatan aliran, yang pada gilirannya juga bergantung pada kemiringan lahan. Kecepatan aliran yang tinggi akan membawa sedimen lebih banyak daripada aliran yang lambat. Kehilangan material akan lebih besar terjadi pada lereng yang curam dibandingkan dengan gradual slope. Kedua faktor lereng ini akan sangat berpengaruh pada jumlah sedimen dan proses sedimentasi (United State Society of Agronomy 2005). Lereng yang pendek akan menyebabkan sedimen lebih cepat mencapai sungai. Lereng yang lebih panjang akan menyebabkan terjadinya sedimentasi di sepanjang lereng tersebut jika energi dari aliran run off berkurang atau berhenti, sehingga tidak cepat masuk ke sungai atau laut (Linsley 1982). Tanaman Vegetasi dapat meredam kecepatan angin sehingga dapat berfungsi untuk mengurangi energi angin untuk menimbulkan erosi. Penutupan vegetasi juga dapat mengurangi penghancuran tanah melalui intersepsi butir hujan, mengurangi energi butir hujan tersebut dan mengurangi energi run off dalam proses erosi oleh air. Vegetasi permukaan dan residunya akan bertindak sebagai penghalang atau dam untuk memperlambat aliran air dan memulai deposisi. Selain itu

49 26 vegetasi juga membantu meresapkan air ke dalam tanah melalui sistem perakarannya yang membentuk porositas tanah (Arsyad 2006). Pengaruh vegetasi terhadap erosi berbeda menurut jenisnya. Tumbuhan yang merambat di permukaan tanah dapat menghambat aliran permukaan, sedangkan pohon-pohon dengan tegakan yang jarang mempunyai pengaruh yang relatif kecil dalam mengurangi kecepatan aliran permukaan. Semakin rendah dan rapat tajuk tanaman, semakin kecil energi hujan yang sampai ke permukaan tanah. Vegetasi tinggi (tajuknya berada jauh di atas permukaan tanah) menyebabkan energi yang sampai ke permukaan juga akan meningkat kembali karena bila butir-butir hujan terlepas dari tajuk. Oleh karena itu pada tanaman pohon yang tinggi, peran tanaman rendah juga sangat diperlukan untuk melindungi permukaan tanah. Manusia Faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya merupakan faktor yang bersifat alami, namun sebenarnya erosi semakin parah dengan adanya aktivitas manusia dalam memanfaatkan tanah untuk berbagai kegunaan. Tata guna lahan juga merupakan faktor penting dalam menetapkan laju erosi. Cara bercocok tanam yang jelek atau pembuatan jalan yang ceroboh dapat mempercepat terjadinya erosi. Pemusnahan tanaman akibat kebakaran atau ditebang akan menyebabkan erosi semakin besar. Pengaturan KTA yang baik dapat memperkecil kehilangan tanah akibat erosi (Linsley 1982). Pengendalian secara vegetatif dan konstruksi seperti waterways, strip penyangga, strip cropping dan dam dapat dilakukan untuk mengurangi erosi tanah (United State Society of Agronomy 2005). Penyebab erosi seringkali merupakan faktor yang kompleks. Kultur, institusional, sosial, ekonomi dan lingkungan memberikan kontribusi terhadap erosi tanah, bahkan belakangan ini justru ada kecenderungan bahwa terjadinya kerusakan lahan merupakan akibat dari kepentingan politik, institusional dan ekonomi. Semua kepentingan-kepentingan tersebut merupakan tindakantindakan manusia dalam upaya meningkatkan kesejahteraannya melalui pemanfaatan sumberdaya lahan (Barrow 1991). Banyak faktor yang menentukan bagaimana manusia memperlakukan tanah secara bijaksana sehingga kelestariannya tetap terjaga disamping terpenuhi kebutuhannya, diantaranya mengatur luas lahan pertanian yang diusahakan, sistem pengusahaan tanah, status penguasaan tanah, tingkat

50 27 pengetahuan dan penguasaan teknologi, harga hasil usahatani, perpajakan, ikatan hutang, pasar dan sumber keperluan usahatani, infrastruktur dan fasilitas kesejahteraan (Arsyad 2006). Besarnya erosi dapat diukur langsung di lapangan atau diprediksi dengan menggunakan model. Pengukuran langsung membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang lebih banyak. Oleh karena itu tingkat erosi sering diprediksi dengan berbagai pendekatan atau model. Model prediksi erosi yang umum digunakan adalah model parametrik seperti yang dikembangkan oleh Weischmeier dan Smith (1965, 1978) yang dikenal dengan The Universal Soil Loss Equation (USLE). The Universal Soil Loss Equation (USLE) memungkinkan perencana menduga laju rata-rata erosi suatu tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (teknik KTA) yang mungkin dilakukan atau yang sedang dipergunakan. Persamaan tersebut mengelompokan berbagai parameter fisik dan pengelolaan yang mempengaruhi laju erosi kedalam enam variabel utama yang nilainya pada setiap tempat dapat dinyatakan secara numerik (Gambar 3). Besarnya Erosi yang akan terjadi adalah fungsi : Hujan Kemungkinan Erosi Tanah Energi Sifat Tanah Pengelolaan Kekuatan Perusak Hujan Pengelolaan Lahan Pengelolaan Tanaman A R K LS P C Gambar 3 Skema parameter USLE berdasarkan pengelompokan variabel faktor fisik dan pengelolaannya (Arsyad 2006). The Universal Soil Loss Equation (USLE) dikembangkan di National Run Off and Soil Loss Data Centre yang didirikan tahun 1954 oleh The science and education administration Amerika Serikat yang bekerjasama dengan Universitas Purdue (Weischmeier dan Smith 1978). Persamaan model USLE adalah :

51 28 A = R K L S C P...(1) Keterangan : A : banyaknya tanah yang tererosi (ton/hektar/tahun) R : faktor indeks (erosivitas) hujan. K : faktor erodibilitas tanah L : faktor panjang lereng S : faktor kecuraman lereng C : faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman P : faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah The Universal Soil Loss Equation (USLE) sebagai model prediksi erosi mempunyai keterbatasan (kelemahan) dan keunggulan. Kelemahan model USLE adalah sulit digunakan pada kejadian hujan tertentu, pada DAS yang kompleks dan tidak memperhitungkan proses (bersifat empirik). Penggunaan USLE didasarkan pada beberapa asumsi seperti hanya dapat digunakan pada lereng yang panjangnya 400 feet, kemiringan lereng 3% - 18%, lahan dengan sistem penanaman dan pengelolaan yang konsisten, pada DAS yang tidak terlalu luas (DAS kecil), dan efektif pada unit lahan yang tanahnya bertekstur sedang (tidak untuk tanah yang bertekstur berpasir). The Universal Soil Loss Equation (USLE) mempunyai keunggulan karena mudah diaplikasikan, dapat diterapkan dimana saja (universal) dengan penetapan nilai setiap faktor secara tepat dan dapat memprediksi erosi dalam jangka panjang pada penggunaan lahan yang berbedabeda (Goldman et al. 1986). Selain untuk memprediksi erosi, model USLE dapat pula digunakan untuk memilih teknik KTA untuk pengelolaan tanaman dan lahan pertanian (Hudson 1992). Dampak Penggunaan Lahan terhadap Erosi Tipe dan cara penggunaan lahan sangat berpengaruh terhadap erosi yang terjadi. Secara umum telah diketahui bahwa pada penggunaan lahan hutan erosi yang terjadi relatif kecil. Menurut Calder (1998), hutan dapat mengurangi erosi, tetapi sangat bergantung pada situasi dan kondisi seperti intensitas hujan, kelerengan lahan, dan faktor geologi batuan, serta metode pengelolaan yang dipilih. Menurut Sutono et al. (2001), hanya hutan dan sawah yang mempunyai magnitud erosi yang masih dalam batas yang dapat ditoleransikan dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Kehilangan tanah yang tinggi terjadi pada lahan yang ditanami tanaman campuran (kombinasi tanaman pohon dan

52 tanaman semusim di lahan kering) dan penggunaan lahan untuk tanaman semusim di lahan kering. Tanaman semusim menyebabkan erosi paling besar dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya (Tabel 7). Tabel 7 Pengaruh tipe penggunaan lahan terhadap kehilangan tanah (ton/ha/tahun) di beberapa daerah tangkapan DAS Citarum, Tahun 2000 Penggunaan Lahan Daerah Tangkapan Saguling Cirata Jatiluhur Citarum Hilir 1. Hutan 2. Tanaman Campuran (multistrata) 3. Perkebunan Karet 4. Pemukiman 5. Sawah 6. Belukar 7. Tanaman semusim di lahan kering 8. Perkebunan Teh Sumber : Sutono et al. (2001). Berdasarkan hasil penelitian di Australia pada beberapa kategori penggunaan lahan juga menunjukkan bahwa secara umum erosi pada lahan pertanian relatif lebih tinggi dibandingkan dengan hutan. Tutupan vegetasi yang pendek menyebabkan erosi yang lebih kecil dibandingkan dengan vegetasi yang tinggi (Tabel 8). Tingkat erosi juga bervariasi karena perbedaan kondisi oleh iklim, tanah dan topografi (Lu et al. 2005). Tabel 8 Pengaruh beberapa kategori penggunaan lahan terhadap kehilangan tanah di Australia, Tahun 2004 Tingkat erosi Luas Lahan (Km 2 rata-rata ) (ton/ha/tahun) Deskripsi Penggunaan Lahan 1. Hutan terbuka 2. Hutan 3. Woodland 4. Hutan produksi komersial 5. Taman Nasional 6. Tanaman serat 7. Kacang-kacangan 8. Oilseeds 9. Padi 10. Kapas 11. Tebu 12. Penggunaan Pertanian lainnya 13. Padang rumput 14. Padang rumput alami Sumber : Lu et al. (2005) Total Erosi (ton/tahun) Perencanaan Penggunaan Lahan Pertanian Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi. Semua faktor tersebut mempengaruhi potensi lahan 29

53 30 disamping akibat kegiatan manusia baik pada masa lalu maupun sekarang (Hardjowigeno et al. 2001). Penggunaan lahan diartikan sebagai setiap bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Penggunaan lahan dikelompokkan menjadi dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian (Arsyad 2006). Penggunaan lahan di daerah tropika basah seperti Indonesia secara terus menerus menyebabkan penurunan produktivitasnya secara drastis. Oleh sebab itu manajemen sumberdaya lahan pada dasarnya merupakan penerapan cara pemeliharaan lahan melalui upaya peningkatan kualitas tanah dan perbaikan karakteristik lingkungan sehingga dicapai produktivitas lahan yang tinggi secara berkelanjutan (Lal 1995). Ciri utama penggunaan lahan berkelanjutan adalah berorientasi jangka panjang, dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan potensi untuk masa datang, pendapatan per kapita meningkat, kualitas lingkungan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, mempertahankan produktivitas dan kemampuan lahan serta mempertahankan lingkungan dari ancaman degradasi (Sabiham 2005). Lahan mempunyai keterbatasan daya dukung sehingga perlu perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan. Perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan juga harus diterapkan pada lahan pertanian yang seringkali dibatasi oleh tingkat kesuburan yang rendah. Oleh karena itu penerapan SPK dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan pun memerlukan perencanaan yang harus diawali dengan evaluasi lahan. Evaluasi lahan berguna untuk mengetahui potensi/kemampuan lahan bagi penggunaan lahan tertentu, misalnya bagi tanaman (pertanian), pariwisata, pemukiman dll. Produktivitas lahan akan berkelanjutan bila lahan digunakan sesuai dengan potensinya yang telah diketahui secara dini. Evaluasi Lahan merupakan suatu proses penilaian suatu lahan sehingga sesuai dengan kondisinya pada penggunaan-penggunan tertentu. Evaluasi lahan terdiri atas evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif, tetapi evaluasi kualitatif adalah langkah pertama dalam evaluasi lahan dengan melakukan klasifikasi lahan. Berdasarkan tujuan evaluasi, klasifikasi lahan dapat berupa klasifikasi kemampuan lahan dan kesesuaian lahan. Klasifikasi kemampuan lahan digunakan untuk penggunaan pertanian secara umum yaitu lahan pertanian, padang penggembalaan (ternak), hutan dan cagar alam, sedangkan klasifikasi

54 31 kesesuaian lahan digunakan untuk penggunaan pertanian yang lebih khusus untuk jenis tanaman tertentu (crop specific) berikut tindakan pengelolaannya seperti teknik pemupukan dan KTA yang efektif diterapkan dan lainnya. Klasifikasi Kemampuan Lahan Evaluasi kemampuan lahan merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan lahan sesuai dengan potensinya. Evaluasi kemampuan lahan dapat mendukung proses dalam penyusunan rencana penggunaan lahan di suatu wilayah secara cepat dan tepat sebagai pijakan dalam mengatasi benturan pemanfaatan lahan (Suratman et al. 1993). Sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak digunakan adalah sistem USDA yang dikemukakan oleh Klingebiel dan Montgomery (1961), diacu dalam Arsyad (2006) dan Hardjowigeno (2007). Sistem ini mengenal tiga kategori yaitu klas, subklas dan unit. Kemampuan Lahan dalam Tingkat Kelas Kemampuan lahan dalam tingkat kelas menunjukkan keragaman besarnya faktor-faktor penghambat yang terdiri atas kelas I sampai VIII. Tingkat risiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat semakin bertambah dengan semakin tingginya kelas. Tingkat faktor penghambat ditentukan berdasarkan kriteria tertentu (Lampiran 6). Tanah kelas I IV merupakan lahan yang sesuai untuk usaha pertanian, sedangkan kelas V VIII tidak sesuai untuk usaha pertanian atau diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk pengelolaannya (Gambar 4). Kelas I. Tanah yang tergolong kelas I sesuai untuk semua jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus. Tanah tergolong datar, dalam, bertekstur agak halus atau sedang, drainase baik, mudah diolah dan responsif terhadap pemupukan. Tanah kelas I tidak mempunyai penghambat atau ancaman kerusakan sehingga dapat digarap untuk usahatani tanaman semusim. Pemupukan dan usaha-usaha pemeliharaan tanah yang baik dapat menjaga kesuburannya dan mempertinggi produktivitasnya. Kelas II. Tanah kelas II sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan sedikit hambatan dan ancaman kerusakan. Lahannya berlereng landai, agak peka terhadap erosi, bertekstur halus sampai agak kasar. Penerapan untuk usaha pertanian semusim memerlukan pemupukan seperti pada kelas I dan disertai tindakan pengawetan tanah yang ringan seperti pengolahan menurut kontur, pergiliran tanaman dengan LCC (pupuk hijau), dan guludan.

55 32 KELAS INTENSITAS DAN MACAM PENGGUNAAN MENINGKAT KEMAMPUAN LAHAN CAGAR ALAM/HUTAN LINDUNG HUTAN PRODUKSI TERBATAS PENGGEMBALAAN TTERBATAS PENGGEMBALAAN SEDANG PENGGEMBALAAN INTENSIF PERTANIAN TERBATAS PERTANIAN SEDANG PERTANIAN INTENSIF PERTANIAN SANGAT INTENSIF HAMBATAN/ANCAMAN MENINGKAT, KESESUAIAN DAN PILIHAN PENGGUNAAN BERKURANG I II III IV V VI VII VIII Gambar 4 Skema hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam penggunaan lahan (Klingebiel dan Montgomery 1961, diacu dalam Arsyad 2006 dan Hardjowigeno 2007). Kelas III. Tanah golongan kelas III sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari tanah kelas II sehingga memerlukan tindakan pengawetan khusus. Tanah kelas III terletak pada lereng agak miring. Usaha pertanian pada tanah kelas III memerlukan tindakan untuk memelihara atau meningkatkan kesuburan tanah dan tindakan pengawetan tanah khusus perlu diterapkan diantaranya penanaman dalam strip, pembuatan teras, pergiliran dengan LCC dimana waktu untuk tanaman tersebut lebih lama. Kelas IV. Tanah kelas IV sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari tanah kelas III, sehingga memerlukan tindakan pengawetan tanah khusus yang lebih berat dan lebih terbatas waktu penggunaannya untuk tanaman semusim. Tanah kelas IV terletak pada lereng yang miring (15 30%) atau berdrainase buruk atau kedalamannya dangkal. Penggunaannya untuk tanaman semusim

56 33 memerlukan penerapan teras atau perbaikan drainase atau pergiliran dengan LCC/makanan ternak/pupuk hijau selama 3 5 tahun. Kelas V. Tanah kelas V tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim, tetapi lebih sesuai untuk ditanami tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan. Tanah kelas V terletak pada tempat yang datar atau agak cekung sehingga selalu tergenang air atau terlalu banyak batu di atas permukaannya atau terdapat liat masam (cat clay) di dekat atau pada daerah perakarannya. Kelas VI. Tanah kelas VI tidak sesuai untuk digarap bagi usahatani tanaman semusim, disebabkan terletak pada lereng yang agak curam (30 45%) sehingga mudah tererosi, atau kedalamannya yang sangat dangkal atau telah mengalami erosi berat. Tanah ini lebih sesuai untuk padang rumput atau dihutankan. Penggarapannya untuk usahatani tanaman semusim memerlukan aplikasi teras tangga (bangku) dan penggunaannya untuk padang rumput harus dijaga agar rumputnya selalu menutup dengan baik. Kelas VII. Tanah kelas VII sama sekali tidak sesuai untuk usahatani tanaman semusim, tetapi lebih sesuai untuk ditanami vegetasi permanen. Penggunaannya untuk padang rumput atau penggembalaan atau penebangan harus dilakukan dengan hati-hati. Tanah kelas VII terletak pada lereng yang curam (45 65%) dan tanahnya dangkal atau telah mengalami erosi yang sangat berat. Kelas VIII. Tanah kelas VIII tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian, dan harus dibiarkan pada keadaan alami atau di bawah vegetasi alam. Tanah ini dapat dipergunakan untuk cagar alam daerah rekreasi atau hutan lindung. Tanah kelas VIII adalah tanah-tanah yang berlereng sangat curam (lebih dari 65%) atau lebih dari 90% permukaan tanah ditutupi batuan lepas atau batuan singkapan dan tanah bertekstur kasar. Kemampuan Lahan pada Tingkat Subkelas Subkelas dalam kemampuan lahan adalah pengelompokan unit kemampuan lahan yang mempunyai jenis faktor penghambat atau ancaman kerusakan yang sama jika digunakan untuk pertanian. Jenis-jenis hambatan atau ancaman kerusakan ditulis di belakang angka kelas. Jenis hambatan atau ancaman kerusakan pada tingkat subkelas terdiri atas ancaman erosi (e) yaitu tingkat erosi yang telah terjadi dan ditentukan berdasarkan kecuraman lereng dan kepekaan erosi tanah, keadaan drainase (d)

57 34 yang ditentukan berdasarkan kelebihan air atau ancaman banjir, hambatan daerah perakaran (s) ditentukan berdasarkan kedalaman tanah terhadap batu atau lapisan yang menghambat perkembangan perakaran, adanya batuan di permukaan tanah, kapasitas menahan air yang rendah, sifat-sifat kimia yang sulit diperbaiki seperti salinitas atau kandungan Natrium atau senyawa kimia lain yang menghambat pertumbuhan tanaman yang tidak praktis dihilangkan dan hambatan iklim (c). Kemampuan Lahan pada Tingkat Unit (Satuan Pengelolaan) Kemampuan lahan pada tingkat unit atau satuan pengelolaan menunjukkan keterangan yang lebih spesifik dan detil atau besarnya faktor penghambat pada tingkat subkelas (Lampiran 8). Simbol tingkat unit kemampuan lahan ditulis dengan menambah angka arab di belakang simbol subkelas. Tanah yang tergolong dalam satu unit kemampuan lahan mempunyai kemampuan dan memerlukan cara pengelolaan (pemupukan dan lain-lain) yang sama untuk pertumbuhan tanaman. Lahan ini mempunyai sifat-sifat yang sama dalam hal (a) kemampuan mendukung produksi tanaman pertanian dan rumput ternak, (b) memerlukan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang sama, (c) tanaman yang ditanam di lahan tersebut dengan pengelolaan yang sama akan memberi hasil yang kurang lebih sama (produksi rata-rata tidak akan berbeda lebih dari 25%). Kesesuaian Lahan Penentuan kelas kesesuaian lahan adalah langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun perencanaan SPK. Pertimbangan kesesuaian lahan sangat berkaitan dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh tanaman pertanian sehingga dapat tumbuh baik dan berproduksi secara optimal. Selain itu juga diperlukan untuk menentukan tindakan pengelolaan yang tepat, baik kebutuhan input maupun pola dan sistem tanam. Setiap jenis tanaman akan membutuhkan persyaratan tumbuh yang berbeda (Sinukaban 1989 dan Abdurachman et al. 1998). Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan kriteria setiap kelas kesesuaian lahan untuk suatu jenis tanaman dengan karakteristik (kualitas) lahan. Kerangka sistem klasifikasi kesesuaian laan terdiri atas 4 (empat) kategori, yaitu ordo, kelas, subkelas dan unit (FAO 1976, diacu dalam Djaenudin et al dan Hardjowigeno 2006).

58 35 Tingkat ordo menggambarkan keadaan kesesuaian lahan secara global. Ordo kesesuaian lahan digolongkan menjadi sesuai (S) dan tidak sesuai (N). Tingkat kelas kesesuaian lahan menggambarkan tingkat kesesuaian pada tingkat ordo dan dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), sesuai marginal (S3) dan tidak sesuai (N). Klasifikasi tingkat ordo dilanjutkan dengan tingkat subkelas yang menggambarkan tingkatan dalam kelas kesesuaian lahan. Kelas kesesuaian lahan dibedakan menjadi subkelas berdasarkan kualitas dan karakteristik lahan yang menjadi faktor pembatas terberat. Jumlah faktor pembatas sebaiknya dibatasi, maksmimal dua pembatas. Tingkat subkelas kesesuaian lahan dapat pula digambarkan oleh tingkat unitnya yang ditentukan berdasarkan pada sifat tambahan yang berpengaruh terhadap pengelolaannya. Semua unit yang berada dalam satu subkelas mempunyai tingkatan yang sama dalam kelas dan mempunyai jenis pembatas yang sama pada tingkatan subkelas. Unit yang satu berbeda dengan unit yang lainnya dalam sifat-sifat tambahan dari pengelolaan yang diperlukan dan sering merupakan perbedaan detil dari faktor pembatasnya. Penentuan pembatas hingga tingkat unit akan mempermudah tafsiran secara detil dalam perencanaan usahatani (Djaenudin et al. 2003). Program Tujuan Ganda Program tujuan ganda (PTG) atau multiple goal programming (MGP) merupakan pengembangan dari linear programming yang diperkenalkan oleh Charnes dan Cooper pada awal tahun 60-an. Perbedaan utama antara PTG dengan linear programming (LP) terletak pada struktur dan penggunaan fungsi tujuan. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa PTG dianggap sebagai salah satu teknik penyelesaian masalah (penarikan keputusan) dengan sistem multikriteria. Semua asumsi dalam LP berlaku pula dalam PTG, yaitu linearitas, proporsionalitas, aditivitas, divisibilitas dan deterministik (Nasendi dan Anwar 1985; Mulyono 1991). Multiple goal programming (MGP) adalah salah satu teknik pemrograman matematik yang ditujukan untuk memuaskan berbagai tujuan secara simultan. Semua tujuan digabung dalam sebuah fungsi tujuan dengan mengekspresikan tujuan itu dalam bentuk sebuah kendala (goal contraint) dan memasukkan suatu variabel simpangan dalam kendala tersebut untuk mencerminkan seberapa jauh tujuan tercapai dan menggabung variabel simpangan (deviasi) dalam fungsi tujuan. Tujuan dalam analisis LP adalah maksimisasi atau minimisasi,

59 36 sedangkan dalam MGP tujuannya adalah meminimumkan penyimpangan (deviasi) dari tujuan tertentu (Mulyono 1991 dan Hillier dan Lieberman 1980, diacu dalam Briassoulis 2004). Menurut Nasendi dan Anwar (1985), model PTG terdiri atas model tanpa prioritas tujuan dan model dengan prioritas tujuan. Perumusan model PTG tanpa prioritas dalam strukturnya adalah : Fungsi tujuan : z = m i= 1 W + d + W + i d i... (2) dengan syarat ikatan : n i= 1 a X + d d = b...(3) ij j + i i untuk i = 1, 2,...,n (kendala tujuan) i g X atau C...(4) kj j Untuk k = 1, 2,...,p (kendala fungsional) dan j = 1, 2,...,n + dan Xj, d i, d i 0...(5) k + d. = 0...(6) i d i Keterangan : X j = peubah keputusan (jenis penggunaan lahan) ke-j a ij = koefisien teknologi X j pada kendala sasaran ke-i g kj = koefisien teknologi X j pada kendala real ke-k b i = sasaran/tujuan target ke-i C k = jumlah sumberdaya k yang tersedia d, = deviasi yang kekurangan (-) dan kelebihan (+) terhadap tujuan ke-i + i d i + W = timbangan relatif dari d + W = timbangan relatif dari d - Selain itu model PTG dengan prioritas tujuan dapat pula dirumuskan dengan menambahkan faktor prioritas tujuan (P s dan P y ) dalam struktur model (persamaan) fungsi tujuan seperti dapat ditulis sebagai berikut : z = q i= 1 + i s + i i, y PW, d + PW d...(7) s Program tujuan ganda (PTG) telah banyak digunakan dalam berbagai penelitian tentang optimalisasi penggunaan lahan, diantaranya Manik (1992) i i

60 37 mengaplikasikan PTG dalam optimalisasi penggunaan lahan sesuai dengan daya dukung lingkungan di DAS Way Seputih, Lampung Tengah. Model yang disusun menggunakan luas lahan di hulu DAS Way Seputih sebagai fungsi kendala riil, sedangkan kendala tujuan terdiri atas tingkat erosi, aliran permukaan tiap bulan, ketersediaan tenaga kerja petani, serta pendapatan minimal per kapita petani. Output penelitian ini adalah alokasi luas lahan untuk setiap jenis penggunaan dalam DAS yang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Program tujuan ganda (PTG) digunakan juga oleh Rachman (2000) untuk membuat model penggunaan lahan untuk pengembangan konservasi alam terpadu di Pulau Siberut Sumatera Barat dengan mempertimbangkan aspek biofisik dan sosial ekonomi sebagai faktor atau variabel kendala. Rauf (2004) juga telah menggunakan PTG ini dalam mengkaji sistem agroforestri yang optimal di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser. Faktor kendala riil yang digunakan adalah luas lahan yang dimiliki petani, dengan tujuan untuk mengurangi laju erosi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani, memanfaatkan modal serta tenaga kerja yang dimiliki petani. Hasil analisis PTG menunjukkan alokasi luas lahan optimal untuk setiap jenis tanaman yang dijadikan komponen dalam setiap sistem agroforestri yang dikaji.

61 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan, mulai dari bulan Agustus 2006 hingga Januari Lokasi penelitian adalah kawasan hulu DAS Batanghari, tepatnya DAS Batang Pelepat (Lampiran 7). Daerah alliran sungai (DAS) ini terletak di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan berbagai pertimbangan, diantaranya DAS Batang Pelepat merupakan kawasan hulu DAS Batanghari yang sebagian wilayahnya termasuk kawasan penyangga TNKS dan sebagian hutannya telah mengalami konversi menjadi lahan UTKKS, tetapi belum dikelola secara berkelanjutan dan optimal, terutama usahatani rakyat. Bahan dan Alat Alat-alat yang diperlukan dalam penelitian adalah seperangkat peralatan untuk survei tanah, seperti bor tanah, pisau profil, kompas atau GPS (Geography Position System), abney level, dan lain-lain. Peralatan lain yang diperlukan adalah seperangkat peralatan untuk pengamatan erosi di lapangan, yaitu petak dan bak erosi. Penelitian juga memerlukan bahan berupa bahan-bahan kimia yang digunakan untuk analisis sampel tanah di laboratorium. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei dan percobaan lapangan dengan pendekatan model program tujuan ganda (PTG). Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu persiapan, pengumpulan data, analisis data dan penyusunan perencanaan UTKKS berkelanjutan (Gambar 5). Persiapan Penelitian diawali dengan penetapan lokasi pengamatan intensif, yaitu pada sub DAS Batang Pelepat. Berdasarkan peta lereng, peta tanah dan peta penggunaan lahan sub DAS Batang Pelepat diperoleh satuan lahan (SL) yang menjadi obyek pengamatan dan dasar menyusun perencanaan. Satuan lahan (SL) juga digunakan sebagai pedoman untuk menentukan letak petak erosi yang mewakili setiap tipe UTKKS pada beberapa kemiringan lereng. Sub DAS Batang Pelepat juga digunakan sebagai unit perencanaan UTKKS berkelanjutan. Perencanaan yang disusun pada sub DAS Batang Pelepat tersebut diektrapolasi untuk seluruh DAS Batang Pelepat. 38

62 39 Mulai Persiapan : Studi Pustaka, Pengumpulan peta dan data sekunder, Penetapan sampel (Satuan Lahan Pengamatan, tanah dan responden), Persiapan Kuisioner, dan Groundcheck peta Pengumpulan Data di Lapangan Tujuan 1 dan 2 Survei, Pengukuran dan Pengamatan Kondisi Aktual Data Biofisik : Iklim, hidrologi, karakteristik lahan dan tipe penggunaan lahan, tipe UTKKS Data Sosial Ekonomi : Penduduk, pendapatan, jenis usahatani, luas dan status penggunaan lahan, modal, penggunaan input dan sarana produksi dan agroteknologi yang digunakan. - Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan - Analisis Tipe UTKKS - Analisis Pengaruh Tipe UTKKS terhadap sifat tanah, aliran permukaan dan erosi - Prediksi Erosi dengan USLE Analisis Karakteristik Petani Analisis Usahatani Analaisis Kelayakan Usahatani Alternatif Tipe dan Agroteknologi UTKKS yang sudah diterima dan diterapkan petani Tujuan 3 Analisis Agroteknologi UTKKS (Erosi Etol; P PKHL Tipe dan Agroteknologi UTKKS Berkelanjutan Analisis Optimalisasi UTKKS berkelanjutan dengan PTG Usahatani Berkelanjutan dan Optimal Selesai Gambar 5 Diagram alir tahapan penelitian dan analisis data.

63 Persiapan penelitian juga meliputi penyiapan kuisioner untuk pengumpulan data dari responden. Responden terdiri atas responden pejabat terkait dan petani. Responden pejabat terkait yang ditunjuk secara sengaja (purposive) berjumlah 2 orang, yaitu kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bungo dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di kecamatan Pelepat, sedangkan responden petani ditetapkan dengan cara proportional stratified random sampling. Petani ini dikelompokkan berdasarkan tipe usahatani yang terdapat di DAS Batang Pelepat dengan jumlah sampel sebanyak 10% dari jumlah populasi (Tabel 9). Tabel 9 Jumlah sampel responden petani yang ditetapkan berdasarkan tipe UTKKS yang terdapat di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS Jumlah Populasi Petani Jumlah Sampel Petani Karet : Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet I Monokultur Karet II Karet-Gaharu Jumlah Kelapa Sawit : Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Jumlah Total Pengumpulan Data Jenis, Sumber dan Kegunaan Data Data yang dihimpun dalam penelitian ini berasal dari data primer dan sekunder yang meliputi data biofisik dan sosial ekonomi (Tabel 10). Data sekunder berupa peta-peta digunakan untuk melengkapi surface radar topography model (SRTM) dalam membuat (delineasi) batas DAS Batang Pelepat dan memperoleh satuan lahan. Data biofisik yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data hidrologi (tinggi muka air dan debit), data vegetasi (penggunaan lahan) dan tipe UTKKS, data tanah (fisik dan kimia) dan iklim (curah hujan dan suhu) yang dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik biofisik DAS Batang Pelepat. Data tanah dan iklim digunakan untuk evaluasi lahan, analisis erosi, erodibilitas dan pemilihan teknik KTA (Tabel 10). Data iklim (curah hujan yang meliputi curah hujan bulanan, jumlah hari hujan per bulan dan rata-rata maksimum hujan dalam 24 jam setiap bulan) diperlukan untuk menentukan indeks erosivitas hujan dalam prediksi erosi dengan model USLE. 40

64 Tabel 10 Jenis, sumber, teknik pengumpulan dan kegunaan data penelitian Jenis Data Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Kegunaan Data Primer : 1. Aliran permukaan dan jumlah tanah yang tererosi pada setiap tipe UTKKS 2. Sifat tanah (berat volume, total ruang pori, stabilitas agregat, permeabilitas, kapasitas infiltrasi dan C- organik) 3. Luas penggunaan lahan 4. jumlah dan jenis tanaman pertanian yang diusahakan 5. jumlah anggota keluarga 6. produksi tanaman 7. pendapatan petani 8. modal yang diperlukan dan yang dimiliki petani 9. tenaga kerja yang digunakan 10. input atau sarana produksi yang digunakan 11. Sistem usahatani (agroteknologi) yang diterapkan Data Sekunder : 1. Surface radar topograph model (SRTM) 2. Peta rupa bumi skala 1 : lembar , , dan Peta SPT Kabupaten Bungo skala 1 : Peta penggunaan lahan yang dapat diinterpretasi dari citra landsat ETM 7 path 126/061 tahun Curah hujan dan suhu udara di DAS Batang Pelepat 6. Tinggi muka air dan debit 7. Sifat-sifat tanah(berat volume, total ruang pori, struktur, tekstur, stabilitas agregat, warna tanah, kedalaman tanah, drainase dan permeabilitas, lereng dan bahaya erosi, bahaya banjir (genangan), batuan dipermukaan, C-organik, ph, N-total, K-tersedia, dan P-tersedia) 8. Data Kependudukan 9. Data pendukung lainnya dan hasil penelitian sebelumnya Pengukuran pada petak erosi Analisis sampel tanah petak erosi di laboratorium Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel Wawancara Petani Sampel & pengamatan pada SL Bakosurtanal Bakosurtanal Balitbang Pertanian (2005c) Balitbang Pertanian (2005c) Balitbang Pertanian (2005c) Stasiun Pasir Putih, Kabupaten Bungo Depkimpraswil Satuan lahan (Balitbang Pertanian 2005c) Kantor Kecamatan dan BPS Kab. Bungo Studi Pustaka Analisis pengaruh tipe UTKKS terhadap aliran permukaan dan erosi Analisis pengaruh tipe UTKKS terhadap sifatsifat tanah Analisis karakteristik petani Analisis karakteristik petani Analisis karakteristik petani, KFM &PKHL Analisis karakteristik UTKKS Analisis karakteristik petani Analisis karakteristik petani & analisis usahatani Analisis usahatani Analisis usahatani Identifikasi dan analisis karakteristik tipe UTKKS SRTM dan peta-peta digunakan untuk delineasi batas DAS dan untuk menentukan satuan lahan Kondisi iklim dan menentukan indeks erosivitas Kondisi hidrologi Analisis karakteristik lahan, kelas kemampuan dan kesesuaian lahan, analisis erodibilitas dan erosi serta pemilihan teknik KTA Analisis karakteristik sosial ekonomi Penunjang 41

65 Data sosial ekonomi yang dikumpulkan antara lain data kependudukan, luas pemilikan lahan, sarana produksi yang digunakan, tingkat pendapatan, dan data sosial ekonomi lainnya (Tabel 10). Pengumpulan data ini dimaksudkan untuk menentukan karakteristik sosial dan ekonomi DAS Batang Pelepat, terutama karakteristik petani dan karakteristik tipe UTKKS. Teknik Pengumpulan Data Tipe UTKKS Tipe UTKKS yang ada di DAS Batang Pelepat diidentifikasi melalui survei berdasarkan peta satuan lahan. Satuan lahan (SL) yang dijadikan acuan adalah SL dengan penggunaan lahan berupa karet dan kelapa sawit. Tipe UTKKS diklasifikasi berdasarkan sistem pengelolaan atau budidaya. Tanah Data karakteristik tanah setiap satuan lahan (SL) diperoleh dari hasil penelitian Balitbang Pertanian (2005c). Data tanah juga diperoleh berdasarkan analisis sampel tanah utuh, agregat utuh dan komposit yang diambil dari setiap lokasi petak erosi sesuai dengan perlakuan dan kelompok yang ditetapkan (Tabel 11). Sampel tanah utuh digunakan untuk analisis sifat-sifat fisik tanah seperti bobot isi dan permeabilitas, sampel tanah agregat utuh digunakan untuk analisis indeks kemantapan agregat dan sampel tanah komposit digunakan untuk C-organik tanah. Data tanah dari setiap petak erosi digunakan untuk analisis pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat tanah. Aliran Permukaan dan Erosi tanah pada berbagai Tipe UTKKS dan Hutan Besarnya aliran permukaan dan erosi pada lahan dengan berbagai tipe UTKKS serta hutan ditentukan berdasarkan pengukuran di lapangan dengan membuat petak erosi. Pengukuran tersebut dilakukan pada jenis tanah yang paling dominan di kawasan DAS Batang Pelepat, yaitu Dystrudept. Rancangan percobaan yang digunakan dalam pengukuran aliran permukaan dan erosi adalah rancangan acak kelompok dengan perlakuan yang terdiri atas 3 tipe usahatani karet, 2 tipe usahatani kelapa sawit dan hutan sekunder yang berumur 7 8 tahun dan kelompok (ulangan) yang terdiri atas kelas lereng 10%, 20%, dan 30%. Oleh karena itu jumlah petak erosi yang dibuat di lapangan adalah 18 petak (Tabel 11). Deskripsi masing-masing tipe UTKKS dan hutan yang dijadikan perlakuan adalah sebagai berikut : 42

66 Tabel 11 Perlakuan masing-masing petak erosi yang ditentukan berdasarkan tipe UTKKS serta kelompok kemiringan lereng yang digunakan untuk pengukuran aliran permukaan dan erosi di lapangan Kode Petak Erosi Perlakuan Kelas Lereng (%) (Kelompok) KR11 Monokultur Karet I 10 KR12 Monokultur Karet I 20 KR13 Monokultur Karet I 30 KR21 Monokultur Karet II 10 KR22 Monokultur Karet II 20 KR23 Monokultur Karet II 30 KR31 Karet - Manau - Sungkai 10 KR32 Karet - Manau - Sungkai 20 KR33 Karet - Manau - Sungkai 30 KS11 Monokultur Kelapa Sawit 10 KS12 Monokultur Kelapa Sawit 20 KS13 Monokultur Kelapa Sawit 30 KS21 Kelapa Sawit - Pisang 10 KS22 Kelapa Sawit - Pisang 20 KS22 Kelapa Sawit - Pisang 30 Ht1 Hutan Sekunder 10 Ht2 Hutan Sekunder 20 Ht3 Hutan Sekunder Monokultur karet I (KR-1) Penanaman karet disertai dengan pemupukan dan penyemprotan dengan pestisida secara lebih teratur dengan takaran relatif rendah. Penyiangan tanaman pengganggu dilakukan secara intensif sehingga permukaan tanah relatif bersih dan terbuka (tanpa tanaman penutup tanah dan hanya ditutupi oleh daun-daun karet yang gugur). 2. Monokultur karet II (KR-2) Penanaman karet yang disertai dengan pemupukan pada saat tanaman belum menghasilkan dan selanjutnya hanya dilakukan setiap 5 tahun. Penyiangan tanaman pengganggu relatif tidak dilakukan sehingga permukaan tanah ditutupi oleh tumbuhan semak belukar. 3. Sesap karet (KR-3) Campuran karet dengan tanaman hutan (manau dan sungkai), tanpa pemupukan dan permukaan tanah dibiarkan tertutup oleh tumbuhan semak belukar. 4. Monokultur kelapa sawit (KS-1) Penanaman kelapa sawit yang disertai dengan pemupukan pada saat tanaman yang belum menghasilkan dan selanjutnya hanya dilakukan setiap 5 tahun. Penyiangan tanaman pengganggu relatif tidak dilakukan sehingga permukaan tanah ditutupi oleh tumbuhan semak belukar.

67 44 5. Campuran kelapa sawit dan pisang (KS-2) Campuran kelapa sawit dengan pisang dengan teknik budidaya yang dilengkapi dengan pemupukan pada saat tanaman yang belum menghasilkan dan selanjutnya dilakukan secara tidak teratur. Penyiangan tanaman pengganggu relatif tidak dilakukan sehingga permukaan tanah ditutupi oleh tumbuhan semak belukar. 6. Hutan sekunder (Ht) Hutan bekas tebangan dan telah dibiarkan menjadi hutan kembali selama 7 8 tahun. Petak erosi yang dibuat berukuran 10 m searah lereng dan lebar 10 m searah kontur. Bagian atas dan samping petak dibatasi plastik dengan lebar 45 cm. Sebagian plastik (15 cm) ditanam secara vertikal ke dalam tanah. Bagian bawah lereng pada setiap petak dipasang bak penampung. Bak penampung ini berfungsi untuk menampung aliran permukaan yang terjadi dan tanah yang tererosi. Data aliran permukaan dan erosi pada setiap petak diasumsikan berbeda sesuai dengan perlakuan dan kelompok yang ditetapkan, sedangkan kondisi variabel lain yang mempengaruhi aliran permukaan dan erosi tersebut diasumsikan sama (homogen). Aliran permukaan dan tanah yang tererosi diukur per hari hujan. Volume aliran permukaan dihitung dengan menakar air yang tertampung pada bak erosi. Tanah yang tererosi ditentukan dengan menganalisis sampel yang tertampung di bak dengan metode gravimetri. Sosial Ekonomi Data sosial ekonomi (Tabel 10) diperoleh melalui wawancara responden dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. Data sosial ekonomi digunakan untuk menggambarkan karakteristik petani dan analisis pendapatan serta kelayakan usahatani. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis data biofisik dan sosial ekonomi. Analisis data biofisik meliputi analisis karakateristik lahan (kemampuan dan kesesuaian lahan untuk beberapa tanaman pertanian) dan tipe UTKKS serta pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi, sedangkan analisis data sosial ekonomi meliputi analisis PKHL, pendapatan dan kelayakan setiap tipe UTKKS. Berdasarkan hasil analisis

68 data biofisik dan sosial ekonomi disusun perencanaan UTKKS berkelanjutan sehingga diperoleh tipe dan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan optimal (Gambar 5). Karakteristik Lahan Karakteristik lahan dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan evaluasi lahan (penilaian kelas kemampuan dan kesesuaian lahan). Kelas kemampuan setiap SL dinilai dengan berdasarkan sifat-sifat fisik lingkungan dan jenis faktor penghambat sesuai dengan kriteria klasifikasi kemampuan lahan yang dikemukakan oleh Klingebiel dan Montgomery (1973), diacu dalam Arsyad (2006) dan Hardjowigeno (2007), sedangkan kelas kesesuaian lahan ditentukan dengan menilai atau membandingkan kualitas lahan pada setiap SL dengan kriteria kesesuaian lahan untuk karet dan kelapa sawit serta tanaman sela (padi ladang dan pisang yang disusun oleh Djaenudin et al. (2003) pada Lampiran 2 hingga 5. Karakteristik Tipe UTKKS Karakteristik tipe UTKKS yang terdapat di DAS Batang Pelepat dianalisis secara deskriptif. Analisis meliputi karakteristik petani dan setiap tipe UTKKS yang teridentifikasi, diantaranya tanaman yang digunakan, teknik budidaya dan teknik KTA dan input yang digunakan (bibit, pupuk, dan saprodi lainnya), produksi tanaman (karet, kelapa sawit dan tanaman sela) serta pendapatan yang diperoleh dari usahatani. Analisis Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Sifat-Sifat Tanah, Aliran Permukaan dan Erosi Pengaruh setiap tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dianalisis secara statistik dengan analisis ragam atau uji F pada selang kepercayaan 95%, yang didasarkan pada model linear aditif Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang menurut Gaspersz (1991) dirumuskan dengan persamaan berikut : Y = μ + K + A + ε...(8) ijk k i Keterangan : Y ijk = Pengamatan pada perlakuan ke-i dari faktor A dalam kelompok ke-k µ = nilai rata-rata umum K k = pengaruh kelompok ke-k (kelas kemiringan lereng) = pengaruh perlakuan ke-i dari faktor A (tipe UTKKS dan hutan) A i ijk 45

69 46 Є ijk = pengaruh galat percobaan pada kelompok ke-k yang mempengaruhi perlakuan ke-i dari faktor A Analisis ragam dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan s New multiple range test atau DNMRT pada selang kepercayaan 95%). Analisis ini digunakan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan (tipe UTKKS serta hutan) dalam mempengaruhi sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi. Erosi yang dapat ditoleransikan (Etol) Erosi yang dapat ditoleransikan (Etol) dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Wood dan Dent (1983), diacu dalam Hardjowigeno (2007), yang juga memperhitungkan kedalaman minimum tanah dan laju pembentukan tanah selain kedalaman ekuivalen (equivalent depth) dan umur guna tanah (resources life) dengan persamaan sebagai berikut : D E tol = e D min + LPT...(9) UGT Keterangan : D e = kedalaman ekuivalen (Arsyad, 2006) = kedalaman efektif tanah (mm) x faktor kedalaman tanah (Lampiran 11) D min = kedalaman tanah minimum (mm) (Lampiran 12) UGT = Umur guna tanah, yaitu 300 tahun untuk pemakaian secara terus menerus dan intensif (Sinukaban, 1989) LPT = laju pembentukan tanah, yaitu 1.00 mm/tahun ( Hardjowigeno 2007) Prediksi Erosi pada Satuan Lahan Erosi pada setiap SL diprediksi dengan menggunakan model USLE. Data ini digunakan dalam menyusun perencanaan UTKKS di DAS Batang Pelepat. Penetapan nilai faktor-faktor dalam model USLE dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus atau hasil penelitian yang sudah ada, yaitu : Faktor Erosivitas hujan (R). Di Indonesia data hujan harian untuk menghitung EI belum banyak tersedia sehingga biasanya menggunakan rumus EI. Faktor erosivitas hujan (R) merupakan penjumlahan nilai-nilai indeks erosi hujan bulanan (Bols 1978) dan dihitung berdasarkan persamaan berikut : R = 12 i= 1 ( EI 30) i...(10)

70 47 Nilai EI30 dihitung dengan menggunakan rumus berikut : EI30 = (Rain) 1.21 (Days) 0.47 (Maxp) (11) Keterangan : EI30 = rata-rata erosivitas hujan bulanan Rain = rata-rata hujan bulanan (cm) Days = rata-rata jumlah hari hujan per bulan Maxp = rata-rata maksimum hujan dalam 24 jam setiap bulan Faktor Erodibilitas Tanah (K). Nilai erodibilitas tanah dihitung dengan menggunakan rumus Weischmeier dan Smith (1978) berikut : 100K = {1.292 (2.1 M 1.44 (10-4 )(12 a) (b 2) (c 3)}...(12) Keterangan : K = erodibilitas tanah M = kelas tekstur tanah (% pasir halus + %debu)(100 - % liat) a = % bahan organik b = kode struktur tanah (Lampiran 8) c = kode permeabilitas profil tanah (Lampiran 8) Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS). Faktor panjang dan kemiringan lereng juga bisa dihitung secara langsung (digabung) menurut rumus : LS = X ( S S (13) keterangan : X = panjang lereng (m) dan S = kecuraman lereng (%) Faktor Tanaman dan Pengelolaannya (C). Penentuan faktor C untuk tanaman karet dan kelapa sawit didasarkan atas berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, demikian pula dengan penggunaan lahan lainnya (Lampiran 9). Faktor Pengelolaan Lahan atau Teknik KTA (P). Faktor P juga ditentukan berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (Lampiran 10). Analisis Agroteknologi Analisis agroteknologi didahului dengan inventarisasi tipe UTKKS yang ada dan alternatif agroteknologi yang sesuai dengan kapasitas dan keinginan masyarakat di DAS Batang Pelepat. Sistem budidaya yang telah diterapkan oleh petani dibandingkan dengan sistem budidaya yang direkomendasikan. Perbaikan

71 agroteknologi disesuaikan dengan sistem budidaya yang ideal (rekomendasi) tersebut, meliputi pemupukan dan tindakan pemeliharaan tanaman lainnya. Analisis agroteknologi juga dilengkapi dengan pemilihan teknik KTA yang tepat. Teknik KTA dievaluasi berdasarkan perbandingan erosi yang akibat penerapan beberapa tipe UTKKS dengan Etol. Pemilihan teknik KTA dilakukan berdasarkan simulasi dengan menggunakan model USLE (Weischmeier dan Smith 1978). Nilai faktor R, K, L, dan S diasumsikan konstan sehingga teknik KTA dapat ditentukan dengan simulasi terhadap nilai faktor C dan P saja. Kriteria yang digunakan untuk menetapkan nilai CP maksimum adalah nilai CP yang mengakibatkan erosi lebih kecil atau sama dengan Etol. Kriteria tersebut dapat ditulis sebagai berikut : 48 A Etol atau RKLSCP Etol...(14) Etol CP atau CP rek CP max...(15) RKLS Analisis Pendapatan Usahatani Pendapatan usahatani diperoleh dengan melakukan analisis usahatani dengan menggunakan input berupa komponen biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani. Menurut Soekartawi (2002), analisis usahatani dengan menggunakan variabel tersebut dikenal dengan analisis anggaran arus uang tunai (cash flow analysis). Variabel-variabel tersebut dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : a. Total penerimaan usahatani, merupakan perkalian antara produksi tanaman ke-i yang diperoleh dengan harga produksi tanaman ke-i dan dapat ditulis sebagai : n TR = Y i P yi = ( Y1 Py1 + Y2 Py Yn Pyn )...(16) i= 1 Keterangan : TR = Total penerimaan usahatani (Rupiah) Y i = Produksi tanaman ke-i (kg/ha) P yi = Harga produksi tanaman ke-i (Rupiah) b. Total biaya Usahatani, merupakan nilai semua keluaran yang dipakai dalam usahatani selama proses produksi baik yang langsung maupun tidak langsung. Total biaya usahatani dapat dihitung dengan rumus :

72 49 TC = FC + VC...(17) n VC = X i P xi = ( X 1 Px 1 + X 2Px X npxn )...(18) i= 1 Keterangan : TC = Total biaya usahatani (Rupiah) FC = biaya tetap yang berupa pajak dan biaya-biaya penyusutan modal petani seperti peralatan, bangunan, dll (Rupiah). VC = Biaya variabel atau tidak tetap (Rupiah) Xi = Input usahatani ke-i (kg/ha) Pxi = Harga input usahatani ke-i (Rupiah) c. Pendapatan usahatani, merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang dapat dirumuskan dalam persamaan berikut : π = TR TC...(19) Keterangan : π = Pendapatan usahatani (Rupiah) TR = Total penerimaan (Rupiah) TC = Total biaya (Rupiah) Pendapatan usahatani dianalisis pada setiap tipe UTKKS dengan berbagai skenario agroteknologi (pada kondisi aktual dan perbaikan). Pendapatan yang diperoleh dari setiap tipe UTKKS dengan penerapan alternatif agroteknologi dijadikan masukan dalam optimalisasi UTKKS berkelanjutan dengan menggunakan PTG. Standar Kebutuhan Fisik Minimum dan Hidup Layak Standar kebutuhan fisik minimum (KFM) dan hidup layak (KHL) ditentukan berdasarkan kebutuhan beras per KK dan harga beras yang berlaku di suatu daerah. Menurut Sajogyo dan Sajogyo (1990), nilai ambang kecukupan pangan (beras) untuk tingkat pengeluaran rumah tangga di pedesaan berkisar antara kg/orang/tahun. Standar kebutuhan fisik minimum (KFM) ditetapkan dengan pendekatan sebagai berikut : KFM = KRT x 100% x n x Rp...(20) Keterangan : KFM = Kebutuhan Fisik Minimum KRT = Kebutuhan Rumah Tangga setara beras

73 50 n = Jumlah anggota keluarga Rp = Harga beras Menurut Sinukaban (2007c), KHL adalah KFM ditambah dengan kebutuhan hidup tambahan (KHT) berupa kebutuhan untuk menabung, rekreasi ataupun kebutuhan untuk mengikuti kegiatan sosial yang masing-masing sebesar 50% dari KFM (Persamaan 21). Oleh karena itu besarnya KHL adalah 2.5 kali (250%) KFM (Persamaan 22). KHT = KPS + KKR +Kastab = 150% KFM... (21) KHL = KFM + KHT = KRT x 250% x n x Rp... (22) Keterangan : KFM = Standar Kebutuhan Fisik Minimum (Rupiah) KRT = Standar Kebutuhan Rumah Tangga setara beras (Rupiah) n = Jumlah anggota keluarga (jiwa) Rp = Harga beras (Rupiah) KHT = Standar Kebutuhan Hidup Tambahan (Rupiah) KHL = Standar Kebutuhan Hidup Layak (Rupiah) KPS = Standar Kebutuhan untuk pendidikan dan kegiatan sosial (Rupiah) KKR = Standar Kebutuhan untuk kesehatan dan rekreasi (Rupiah) Kastab = Standar Kebutuhan untuk asuransi dan tabungan (Rupiah) Kebutuhan Lahan Minimal (L min ) Kebutuhan lahan minimal (L min ) adalah luas lahan minimal yang dibutuhkan untuk mengembangkan setiap tipe UTKKS, alternatif agroteknologi sehingga petani dapat memperoleh pendapatan yang dapat memenuhi PKHL. Oleh karena itu kebutuhan luas lahan minimal (L min ) dirumuskan sebagai perbandingan antara standar kebutuhan hidup layak (PKHL) dan pendapatan usahatani (P) atau dapat pula dituliskan dengan persamaan berikut : PKHL L min =...(23) P Analisis Kelayakan UTKKS Berdasarkan total biaya dan pendapatan yang diperoleh melalui analisis usahatani dapat dilakukan analisis kelayakan finansial terhadap setiap tipe UTKKS. Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk setiap tipe UTKKS eksisting dan setiap tipe UTKKS yang menerapkan skenario agroteknologi. Kelayakan

74 setiap tipe UTKKS dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator kelayakan. Menurut Gittinger (1986); Soekartawi (2002) dan Gray et al. (2007), kriteria yang umum digunakan dan dapat dipertanggung jawabkan untuk berbagai penggunaan adalah benefit cost ratio (B/C ratio), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Benefit Cost Ratio (B/C ratio) merupakan perbandingan antara present value total dari hasil keuntungan (B t /(1+i) t ) terhadap present value dari biaya (C t /(1+i) t ) atau dirumuskan dengan persamaan 24berikut : n B t i= 1 t + B (1 i) ratio = C...(24) n C t i= 1 t (1+ i) Keterangan rumus : B t = manfaat dalam tahun ke-t C t = biaya produksi dalam tahun ke-t i = tingkat diskonto atau bunga t = tahun ke-t n = umur ekonomi jenis tanaman Tipe UTKKS dinilai layak dan menguntungkan jika nilai B/C ratio > 1 dan tidak menguntungkan jika nilai B/C ratio < 1. Nilai B/C ratio = 1 menunjukkan tipe UTKKS hanya dapat mengembalikan modal yang dikeluarkan. Net Prevent Value (NPV) merupakan perbedaan antara nilai sekarang dari benefit (B t /(1+i) t ) dengan nilai sekarang dari biaya (C t /(1+i) t ) dengan rumus : Keterangan rumus : B t = manfaat dalam tahun ke-t C t = biaya produksi dalam tahun ke-t i = tingkat diskonto atau bunga t = tahun ke-t n = umur ekonomi jenis tanaman 51 n Bt Ct NPV =...(25) t t= 0 (1+ i)

75 52 Nilai NPV > 0 (positif) adalah indikator tipe UTKKS layak dan menguntungkan untuk dikembangkan, NPV < 0 (negatif) menunjukkan bahwa tipe UTKKS tidak layak dan tidak menguntungkan untuk dikembangkan dan NPV = 0 berarti tipe UTKKS hanya dapat mengembalikan modal yang dikeluarkan. Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menunjukkan persentase keuntungan yang akan diperoleh tiap tahun atau kemampuan usaha dalam mengembalikan bunga bank. Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga pada saat NPV bernilai 0. Perhitungan IRR dilakukan dengan cara interpolasi antara tingkat bunga (i) pada saat NPV bernilai positif (NPV 1 ) dengan tingkat bunga pada saat NPV bernilai negatif (NPV 2 ). Nilai IRR dihitung dengan menggunakan rumus : NPV IRR =...(26) ( i ) 1 i1 + 2 i1 NPV1 NPV2 Keterangan rumus : NPV 1 = NPV bernilai positif NPV 2 = NPV bernilai negatif i 1 = tingkat bunga pada NPV positif i 2 = tingkat bunga pada NPV negatif Tipe UTKKS dinilai layak dan menguntungkan jika IRR > tingkat suku bunga yang sedang berlaku dan jika nilai IRR < tingkat suku bunga yang sedang berlaku, tipe UTKKS dinilai tidak layak dan tidak menguntungkan untuk dikembangkan. Nilai IRR = tingkat suku bunga yang sedang berlaku menunjukkan bahwa tipe UTKKS hanya dapat mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Asumsi yang digunakan dalam analisis pendapatan dan kelayakan usahatani (UTKKS) diantaranya : 1. Umur ekonomis tanaman adalah 30 tahun untuk tipe usahatani sesap karet dan 25 tahun untuk tipe usahatani lainnya. 2. Tanaman karet berproduksi pada umur 8 tahun (sesap karet) dan 6 tahun (monokultur karet), sedangkan tanaman kelapa sawit berproduksi pada umur 3 tahun. 3. Tanaman padi ladang sebagai tanaman sela hanya ditanam 2 musim tanam dalam setahun hingga tanaman utama (karet atau kelapa sawit) berumur 2

76 53 tahun, sedangkan produksi tanaman pagar (pinang) diperhitungkan setiap tahun, mulai tahun ketiga. 4. Produksi tanaman karet dalam bentuk kadar karet kering (KKK), kelapa sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS), padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG), pinang dalam bentuk biji kering, dan gaharu dalam bentuk gubal, kayu sungkai, balam dan medang dalam bentuk kayu bulat (kg/ha atau ton/ha). 5. Hasil panen berupa KKK dan TBS dan produk lainnya selama satu tahun (Lampiran 13) habis terjual pada tahun tersebut. 6. Harga yang digunakan adalah harga rata-rata yang berlaku selama 5 tahun sebelumnya hingga penelitian berlangsung dan diasumsikan tetap (Rp/kg atau Rp/ton). 7. Perhitungan menggunakan tingkat suku bunga bank 12% dan diasumsikan tetap. 8. Harga pasar input (sarana) produksi, hasil (produksi) dan upah tenaga kerja ditentukan berdasarkan harga standar lokal. 9. Peralatan yang digunakan diasumsikan mengalami penyusutan 5% setiap tahun dan diperbaharui setiap 5 tahun. Optimalisasi UTKKS dengan PTG Analisis optimalisasi dilakukan untuk memperoleh usahatani berkelanjutan yang optimal. Analisis optimalisasi dirumuskan dengan model PTG dengan prioritas. Tahapan analisis optimalisasi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Input data Input dalam analisis PTG adalah data modal yang dibutuhkan, erosi, pendapatan pada setiap kemiringan lereng yang menerapkan berbagai tipe UTKKS sesuai dengan skenario agroteknologi. 2. Penetapan target Penggunaan lahan untuk UTKKS yang disertai dengan agroteknologi optimal tersebut harus mencapai sasaran (target) sebagai berikut : a. erosi menjadi lebih kecil dari atau sama dengan Etol b. pendapatan yang diperoleh harus lebih besar dari sama dengan PKHL. 3. Penetapan peubah dan parameter Peubah keputusan, fungsi kendala dan fungsi tujuan yang ditetapkan untuk memperoleh solusi optimal berdasarkan analisis PTG adalah :

77 54 A. Peubah Keputusan : luas penggunaan lahan yang menerapkan tipe UTKKS ke-i (X i ) dalam hektar. B. Fungsi Kendala 1. Kendala real : a. Alokasi penggunaan lahan dengan menerapkan tipe UTKKS ke-i (X i ) yang dibatasi oleh luas milik petani (A) X i A...(27) X i 0...(28) b. Modal yang dibutuhkan untuk menerapkan tipe UTKKS ke-i (M i ) yang dibatasi oleh modal yang dimiliki oleh Petani (M pet ). M i X i M...(29) pet 2. Kendala tujuan/sasaran : a. Mengurangi jumlah erosi akibat penerapan UTKKS ke-i (X i ) yang dibatasi oleh Etol. + Ei X i + d e d e = Etol...(30) + Tujuan : meminimumkan d e b. Meningkatkan pendapatan petani dengan menerapkan tipe UTKKS ke-i (X i ) yang dibatasi oleh standar pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup layak (PKHL). + Pi X i + d p d p = PKHL...(31) - Tujuan : meminimumkan d p C. Fungsi tujuan : meminimumkan total simpangan (deviasi) fungsi kendala tujuan terhadap target yang ditetapkan. + ( P ) ywi yd i + PsW i sd Z =, i,... (32) Keterangan rumus : X ij : Luas lahan dengan tipe UTKKS ke-i A : Luas lahan dominan yang dimiliki petani (5 ha) M i : Modal yang dibutuhkan untuk menerapkan tipe UTKKS ke-i (X i ) M pet : Modal yang dimiliki oleh petani

78 55 E i : Erosi akibat menerapkan tipe UTKKS ke-i (X i ) Etol : Erosi yang dapat ditoleransikan d + - e, d e : Deviasi positif dan negatif target erosi P i : Pendapatan akibat menerapkan tipe UTKKS ke-i PKHL : Pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup layak + - d p, d p : Deviasi positif dan negatif target pendapatan P y, P s : Faktor-faktor prioritas ke y dan ke s (ordinal) W i,y : Pembobotan terhadap di + dalam prioritas ke y W i,s : Pembobotan terhadap di - dalam prioritas ke s Z : Fungsi Tujuan 4. Penetapan Skenario Skenario analisis optimalisasi adalah penerapan alternatif agroteknologi UTKKS dengan modal dan luas lahan yang dimiliki petani dan diterapkan pada beberapa kemiringan lereng dengan prioritas tujuan yang berbeda, yaitu dengan menetapkan sasaran erosi sebagai prioritas utama atau menetapkan sasaran pendapatan sebagai prioritas utama.

79 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat terletak antara o Lintang Selatan dan Bujur Timur. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat berbatasan dengan kabupaten Tebo (sebelah timur), Kabupaten Merangin dan Kerinci (sebelah selatan) dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Rantau Pandan dan Bathin III Ulu (Lampiran 7). Wilayah DAS Batang Pelepat yang terletak di sebelah utara dan timur jalan Lintas Sumatera, mempunyai tanah bergelombang dengan ketinggian lebih kurang 500 m dpl, sedangkan wilayah bagian barat dan selatan mempunyai ketinggian m dpl dan berbatasan dengan TNKS. Penduduk Jumlah penduduk di DAS Batang Pelepat adalah jiwa, yang terdiri atas jiwa laki-laki dan jiwa perempuan dengan KK dan masing-masing keluarga rata-rata mempunyai 5 anggota keluarga (Tabel 12). Jumlah penduduk yang paling banyak terdapat di desa Rantau Keloyang (kawasan hilir DAS Batang Pelepat). Sebagian besar penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai petani karet (1 836 KK atau 85.24%) dan sebagian kecil petani kelapa sawit (178 KK atau 8.26%), pegawai negeri sipil dan swasta (40 KK atau 6.50%). Tabel 12 Sebaran jumlah penduduk, jumlah KK dan Jumlah jiwa/kk pada setiap desa di DAS Batang Pelepat berdasarkan jenis kelamin, Tahun 2003 No Desa Jumlah Penduduk Jumlah Jumlah Jiwa/ Laki-Laki Wanita Jumlah KK KK Batu Kerbau Baru Pelepat Rantel Balai Jaya Rantau Keloyang Jumlah Rata-Rata Sumber : BPS Kabupaten Bungo (2004). Penduduk di DAS Batang Pelepat juga terdiri atas penduduk asli dan pendatang. Penduduk pendatang lebih banyak terdapat di desa Rantau Keloyang yang merupakan ibukota kecamatan Pelepat. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat juga menjadi sasaran program transmigrasi, yaitu di Desa Baru Pelepat. Jumlah transmigran yang tinggal di kawasan ini berjumlah 125 KK. Setiap kepala keluarga diberikan lahan seluas 2 ha, dengan alokasi peruntukan sebagai lahan garapan (1.75 ha) dan tempat tinggal (0.25 ha). Semua 56

80 57 transmigran merupakan petani karet, namun belum menerapkan teknik budidaya yang memadai. Iklim Daerah aliran sungai (DAS) Batang Pelepat mempunyai iklim tropis dengan kelembaban 56 85% dan suhu rata-rata 25 o C 26 o C (BPS Kabupaten Bungo 2004). Berdasarkan data curah hujan, kawasan ini menurut Koppen termasuk ke dalam tipe iklim Afa, menurut Schmidt-Ferguson termasuk tipe hujan A (daerah basah dengan hutan hujan tropis) dan berdasarkan peta agroklimat Sumatera skala 1 : , termasuk ke dalam zona agroklimat B1 (Oldeman 1978) dengan bulan kering selama kurang dari atau sama dengan 2 bulan berturut-turut (Balitbang Pertanian 2005c). Berdasarkan data hujan dari stasiun Pasir Putih tahun dapat diketahui bahwa curah hujan rata-rata tahunan di DAS Batang Pelepat adalah mm (Lampiran 15) dengan 124 hari hujan. Curah hujan maksimum terjadi pada bulan desember dan curah hujan minimum terjadi pada bulan Juli. Curah hujan yang < 100 mm/bulan terjadi pada bulan Mei hingga agustus, sedangkan curah hujan yang > 200 mm terjadi pada bulan oktober hingga maret (Gambar 6) Curah Hujan Bulanan (mm) Curah Hujan Bulanan Jumlah Hari Hujan Jumlah Hari Hujan Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des Bulan Gambar 6 Variasi curah hujan dan jumlah hari hujan setiap bulan di DAS Batang Pelepat berdasarkan data curah hujan tahun (Depkimpraswil Provinsi Jambi 2005). 0 Hidrologi Berdasarkan data tinggi muka air dan debit tahun 1985 hingga 2005 dapat diketahui bahwa debit minimum DAS Batang Pelepat adalah m 3 /det

81 dengan tinggi muka air 1.00 m, sedangkan debit maksimum adalah m 3 /det dengan tinggi muka air 1.50 m. Tinggi muka air dan debit minimum terjadi pada bulan Agustus, sedangkan tinggi muka air dan debit maksimum terjadi pada bulan Desember (Tabel 13). Tabel 13 Fluktuasi tinggi muka air dan debit pada setiap bulan berdasarkan data tahun di DAS Batang Pelepat Bulan Tinggi Muka Air (m) Debit (m 3 /det) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sumber : Kimpraswil Provinsi Jambi (2005). Tanah Berdasarkan kajian Balitbang Pertanian (2005c), fisiografi sub DAS Batang Pelepat dibedakan atas 3 grup utama, yaitu : grup Aluvial (A), grup Tektonik dan Struktural (T) dan grup Volkan (V). Grup aluvial merupakan fisiografi muda yang terbentuk karena proses fluvial (aktivitas sungai) atau gabungan antara proses fluvial dan koluvial (aktivitas gravitasi). Tanah yang terbentuk umumnya berlapis-lapis dengan tekstur yang beragam. Grup aluvial yang dijumpai adalah dataran banjir dari sungai Batang Pelepat. Grup tektonik dan struktural merupakan fisiografi yang terbentuk sebagai akibat proses tektonik (orogenesis dan epirogenesis) berupa proses angkatan, patahan dan atau lipatan. Grup tektonik dan struktural dijumpai dalam bentuk dataran terplainasi berombak (T.10.2) dan bergelombang (T.10.3) dengan lereng 0 15%. Grup volkan adalah kelompok fisiografi yang terbentuk akibat aktivitas gunung berapi. Fisiografi ini dicirikan oleh adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun wilayah yang merupakan akumulasi bahan volkanik. Di daerah penelitian terdapat perbukitan volkan tua (V.3.2) hingga pegunungan volkan tua (V.3.3). Perbukitan volkan tua menyebar pada bentuk wilayah berbukit agak curam hingga berbukit sangat curam dengan lereng 8 55%. Berdasarkan hasil penelitian lapangan dan peta tanah kabupaten Bungo skala 1 : (Balitbang Pertanian 2005c), tanah di DAS Batang Pelepat 58

82 terdiri dari 3 ordo, yaitu : Inceptisols, Ultisols dan Oxisols dan pada tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Grup) dibedakan menjadi endoaquepts, Dystrudepts, Hapludults dan Kandiudox. Tanah di DAS Batang Pelepat didominasi oleh grup Dystrudepts dengan luas ha atau 73.13% dari luas DAS (Tabel 14). Tabel 14 Sebaran dan luas setiap jenis tanah (berdasarkan grup) di DAS Batang Pelepat Jenis Tanah (Grup) Luas Ha % Endoaquepts Dystrudepts Hapludults Kandiudox Jumlah Sumber : Balitbang Pertanian (2005c). Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat dikelompokkan menjadi penggunaan untuk pertanian dan non pertanian. Tutupan lahan di DAS Batang Pelepat tahun 1984 masih didominasi oleh hutan ( ha atau 94.50% dari luas DAS) dan belum ada penggunaan lahan yang lain, seperti pertanian dan pemukiman di kawasan ini. Tahun 1996 tutupan hutan berkurang menjadi ha (78.17%) dan disertai dengan adanya penggunaan lahan untuk perkebunan karet rakyat seluas ha (5.9%) dan pemukiman seluas 95 ha (0.20%). Penggunaan lahan aktual di DAS Batang Pelepat masih didominasi oleh hutan, namun luasnya sudah berkurang menjadi ha (64.20%). Penggunaan lahan pertanian hanya terdiri atas perkebunan karet seluas ha dan kelapa sawit seluas ha. Selain itu penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat saat ini juga meliputi pemukiman (0.74%), belukar (4.24%) dan juga ada lahan yang terbuka seluas 45 ha (Tabel 15). Tabel 15 Distribusi alokasi luas tipe penggunaan lahan di DAS Batang pelepat, Tahun 1986, 1994 dan 2005 Jenis Penggunaan Lahan 1986 a 1994 a 2005 b Ha % Ha % Ha % Pertanian : Karet Kelapa Sawit Non Pertanian : Hutan Hutan Bekas Tebangan Belukar Tanah terbuka (bekas PETI) Pemukiman Jumlah Sumber : a Biotrop (2000), diacu dalam Diana (2000) dan b Alokasi berdasarkan Peta Penggunaan Lahan (Balitbang Pertanian 2005c). 59

83 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lahan DAS Batang Pelepat Satuan Lahan di DAS Batang Pelepat Lahan di DAS Batang Pelepat terdiri atas 4 jenis (grup) tanah, yaitu endoaquepts, hapludults, dystrudepts dan kandiudox, tetapi jenis tanah yang dominan adalah grup dystrudepts, yaitu seluas ha atau 73.13% (Tabel 16 dan Lampiran 17). Lahan tersebut didominasi oleh kelas lereng >15 30% ( ha atau 27.55%) dan kelas lereng >45 65% ( ha atau 29.39%). Penggunaan lahan aktual di DAS Batang Pelepat dikelompokkan menjadi penggunaan pertanian (umumnya UTKKS) seluas ha atau 31.33% dan non pertanian (hutan, semak belukar dan lahan terbuka) seluas atau 68.67% (Tabel 16 dan Lampiran 16). Berdasarkan peta tanah, peta lereng dan peta penggunaan lahan, DAS Batang Pelepat terbagi menjadi 23 satuan lahan (SL) (Tabel 16 dan Lampiran 19). Berdasarkan karakteristik SL dan kriteria penilaian sifat tanah yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Tanah (1983) pada lampiran 20, umumnya tanah di DAS Batang Pelepat mempunyai tingkat kesuburan sangat rendah hingga rendah. Tingkat kemasaman (ph) tanah tergolong sangat masam hingga masam dan kejenuhan basa (KB) juga tergolong sangat rendah hingga rendah, sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan hara tanaman. Kadar bahan organik tanah (BOT) yang tinggi terdapat pada SL yang mempunyai tutupan sangat rapat dan serasah yang tebal, umumnya hutan. Karakteristik tersebut harus menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan pertanian di DAS Batang Pelepat. Agroteknologi perlu dirancang untuk mendukung keberlanjutan pertanian, terutama untuk mengendalikan dampak kesuburan yang sangat rendah hingga rendah dan lereng yang miring hingga curam. Oleh karena itu sebelumnya harus ditentukan kelas kemampuan (Lampiran 21) dan kesesuaian (Lampiran 23) lahan untuk pertanian di DAS Batang Pelepat berdasarkan karakteristik tanah masing-masing SL (Lampiran 20) sehingga lahan dimanfaatkan sesuai dengan potensinya. Kemampuan dan kesesuaian lahan merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam perencanaan atau pengembangan SPB dan sebagai langkah awal dalam penyusunan perencanaan SPK.

84 Tabel 16 Karakteristik satuan lahan yang terdapat di DAS Batang Pelepat SL Relief/lereng Jenis Tanah Penggunaan Lahan Luas Landform Bahan Induk (USDA) dan SPT (ha) (%) 1 Datar (0-3%) Endoaquepts Au A.0 Dataran banjir bermeander aluvium Monokultur Karet II Datar (0-3%) Endoaquepts Au A.0 Dataran banjir bermeander aluvium Monokultur Kelapa Sawit Landai (>3-8 %) Hapludults Tf.10.2.B.2 Peneplain berombak Batuliat Monokultur Karet I Landai (>3-8 %) Hapludults Tf.10.2.B.2 Peneplain berombak Batuliat Monokultur Kelapa Sawit Datar (0-3%) Hapludults Tf.10.2.B.2 Peneplain berombak Batuliat Monokultur Kelapa Sawit Landai (>3-8 %) Hapludults Tf.10.2.B.2 Peneplain berombak Batuliat Sesap Karet Agak miring (>8-15 %) Hapludults Tf.10.3.C.3 Peneplain bergelombang Batuliat Monokultur Karet I Agak miring (>8-15 %) Dystrudepts Va.3.2.D.2 Perbukitan vulkanik tua Tuf Andesit Monokultur Kelapa Sawit Agak miring (>8-15 %) Hapludults Tf.10.3.C.3 Peneplain bergelombang Batuliat Monokultur Kelapa Sawit Agak miring (>8-15 %) Dystrudepts Va.3.2.D.2 Perbukitan vulkanik tua Tuf Andesit Sesap Karet Miring (>15-30%) Kandiudox Vg.3.2.E.2 Perbukitan vulkanik tua Granit Monokultur Karet I Miring (>15-30%) Kandiudox Vg.3.2.E.2 Perbukitan vulkanik tua Granit Monokultur Kelapa Sawit Agak curam ( >30-45% ) Dystrudepts Vg.3.2.E.3 Perbukitan vulkanik tua Granit Monokultur Karet I Agak curam ( >30-45% ) Dystrudepts Va.3.3.E.3 Pegunungan vulkanik tua Tuf Andesit Monokultur Karet I Miring (>15-30%) Dystrudepts Vg.3.2.E.3 Perbukitan vulkanik tua Granit Monokultur Kelapa Sawit Landai (>3-8 %) Hapludults Vg.3.2.E.3 Perbukitan vulkanik tua Granit Monokultur Kelapa Sawit Miring (>15-30%) Dystrudepts Va.3.3.E.3 Pegunungan vulkanik tua Tuf Andesit Belukar Agak curam ( >30-45% ) Dystrudepts Vg.3.2.E.3 Perbukitan vulkanik tua Granit Belukar Miring (>15-30%) Dystrudepts Vab.3.3.E.3 Pegunungan vulkanik tua Tuf Andesit dan basalt Hutan Agak curam ( >30-45% ) Dystrudepts Vg.3.2.E.3 Perbukitan vulkanik tua Granit Hutan Agak curam ( >30-45% ) Hapludults Va.3.3.E.3 Pegunungan vulkanik tua Tuf Andesit Hutan Curam ( >45-65% ) Dystrudepts Vab.3.3.F.4 Pegunungan vulkanik tua Tuf Andesit dan basalt Hutan Datar (0-3%) Endoaquepts Au A.0 Dataran banjir bermeander aluvium Lahan Terbuka Total

85 Kemampuan Lahan di DAS Batang Pelepat Berdasarkan penilaian terhadap SL, kemampuan lahan di DAS Batang Pelepat tergolong menjadi kelas II, III, IV, VI dan VII dengan faktor penghambat yang dominan berupa drainase yang agak baik (d 2 ) hingga agak buruk (d 3 ), lereng yang miring (I 3 ) hingga curam (I 5 ) dan erosi yang ringan (e 1 ) hingga sangat berat (e 5 ) (Tabel 17 dan Lampiran 21). Luas lahan yang dapat digunakan untuk pertanian tanaman semusim atau arable land (kelas II, III dan IV) hanya ha atau 53.22% (Tabel 17 dan Lampiran 22), sedangkan luas lahan pertanian yang ada saat ini adalah ha. Tabel 17 Sebaran kelas kemampuan lahan di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Klasifikasi Kemampuan Lahan Satuan Lahan Luas Ha % II d 3 1, 2, II e 1 3, 4, 5, III d III e 1 7, III e 2 8, 9, IV e 3 12,17, IV e IV I VI I 4 13, 14, 20, VII I * Angka romawi menunjukkan kelas kemampuan lahan; d = faktor penghambat drainase; e = faktor penghambat erosi; I = faktor penghambat kemiringan lereng; angka latin menunjukkan level faktor penghambat. Lahan yang saat ini dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sudah sesuai dengan kelas kemampuan lahan karena tergolong kelas II, III dan IV, kecuali SL 13 dan 14. Kedua SL ini tergolong kelas VI dengan faktor penghambat utama berupa lereng yang tergolong agak curam (>30-45%). Satuan lahan 13 dan 14 saat ini dimanfaatkan sebagai lahan usahatani monokultur karet, padahal sebaiknya lahan kelas VI dimanfaatkan sebagai padang rumput atau dihutankan. Pemanfaatan lahan ini sebagai lahan perkebunan masih dapat dilakukan, namun penutupan permukaan tanah harus baik. Oleh karena itu SL ini sebaiknya dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan dengan sistem tanam campuran seperti agroforestri atau ditanam tanaman kayu-kayuan. Penggunaan lahan non pertanian di DAS Batang Pelepat saat ini terdiri atas semak belukar dan hutan, bahkan terdapat juga lahan terbuka. Lahan yang saat ini ditutupi oleh semak belukar (SL 17 dengan kemiringan lereng >15 30%) dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian karena tergolong kelas IVe 3, tetapi harus disertai dengan agroteknologi yang memadai, sedangkan SL 18 dapat dimanfaatkan untuk tanaman kayu-kayuan karena mempunyai

86 kemiringan lereng >30 45%. Lahan yang masih ditutupi hutan terdiri atas SL 19, 20, 21 dan 22. Berdasarkan hasil penelitian, setiap SL ini masing-masing tergolong kelas IV I 3 (SL 19), VI I 4 (SL 20 dan 21) dan VII I 5 (SL 22). Konversi penggunaan SL tersebut menjadi lahan pertanian dapat menimbulkan kerusakan lahan yang lebih berat karena faktor penghambat utamanya adalah lereng yang tergolong miring (I 3 ) hingga curam (I 5 ). Oleh karena itu SL tersebut diarahkan untuk tetap ditutupi hutan, terutama SL 20, 21 dan 22, sedangkan SL 19 dapat dikonversi menjadi lahan pertanian bila disertai dengan agroteknologi yang memadai dan harus disertai pula dengan izin dari Dephut RI. Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian di DAS Batang Pelepat Kesesuaian Lahan untuk Karet Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan untuk karet di DAS Batang Pelepat dapat diketahui bahwa kelas kesesuaian lahan DAS Batang Pelepat untuk karet tergolong S2 ( ha atau 24.54%) dan tergolong S3 seluas ha (40.2%). Lahan yang tergolong tidak sesuai (N) mencapai ha atau 34.73% (Tabel 18 dan Lampiran 24). Tabel 18 Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk karet di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Kelas Kesesuaian Lahan Satuan Lahan Luas Ha % S2-wa, eh 1, 2, 7, 8, 9, 10, 14, S2-wa, nr 3, 4, S2-wa, nr, eh S3-nr S3-eh 17, 19, S3-nr, eh 11, 12, 13, 18, N-eh 15, * S1 = sangat sesuai, S2= cukup sesuai, S3 = sesuai marginal, N = tidak sesuai, wa = ketersediaan air, nr = retensi hara, eh = bahaya erosi. Faktor pembatas utama untuk pengembangan usahatani karet di kawasan ini adalah ketersediaan air karena curah hujan rata-rata tahunan di DAS Batang Pelepat hanya mm/tahun, sedangkan karet membutuhkan curah hujan mm/tahun. Faktor pembatas lain adalah ph dan kejenuhan basa (KB) tanah yang rendah dan kemiringan lereng dan erosi. Hal ini berkaitan dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah hingga sangat rendah (Lampiran 20) dan sebagian besar topografi tergolong berbukit dan bahkan bergunung (Lampiran 18). 63

87 64 Kesesuaian Lahan untuk Kelapa Sawit Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan untuk kelapa sawit di DAS Batang pelepat, hanya sekitar 48% ( ha) yang tergolong kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3), sedangkan sekitar 52% ( ha) tergolong kelas yang tidak sesuai (N) untuk kelapa sawit. Faktor pembatas lahan di DAS Batang Pelepat untuk pengembangan kelapa sawit adalah ketersediaan air, KB dan ph yang rendah dan lereng yang tergolong berbukit hingga bergunung (Tabel 19 dan Lampiran 24). Tabel 19 Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk kelapa sawit di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Kelas Kesesuaian Lahan Satuan Lahan Luas Ha % S2-wa, eh 1, 2, 8, 10, S2-wa, nr 3, 4, S2-wa, nr, eh 5, 7, 9, S3-eh 17, 18, S3-nr, eh 11, N-eh 13, 14, 15, 20, 21, * S1 = sangat sesuai, S2= cukup sesuai, S3 = sesuai marginal, N = tidak sesuai, wa = ketersediaan air, nr = retensi hara, eh = bahaya erosi. Kesesuaian Lahan untuk Padi Ladang Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan untuk padi ladang di DAS Batang Pelepat, hanya ha (34.79%) yang tergolong kelas tidak sesuai (N) untuk padi ladang dengan faktor pembatas lereng yang tergolong miring hingga curam. Lahan yang tergolong kelas cukup sesuai dan sesuai marginal dengan faktor penghambat yang sama (S2-nr,eh dan S3-nr,eh) terdapat seluas ha dan ha, sedangkan lahan yang tergolong kelas sesuai marginal dengan faktor penghambat ph dan KB rendah (S3-nr) dan kelas sesuai marginal dengan faktor lereng yang tergolong miring hingga curam masing-masing mencapai luas ha dan ha (Tabel 20 dan Lampiran 24). Tabel 20 Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk padi ladang di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Kelas Kesesuaian Lahan Satuan Lahan Luas Ha % S2-nr, eh 1, 2, 8, 10, S3-nr 3, 4, 5, 6, 7, 9, 16, S3-nr, eh 11, 12, 13, 18, 19, S3-eh 14, 17, N-eh 15, * S1 = sangat sesuai, S2= cukup sesuai, S3 = sesuai marginal, N = tidak sesuai, nr = retensi hara, eh = bahaya erosi.

88 65 Kesesuaian Lahan untuk Pisang Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan untuk pisang sebagian besar lahan (65.15% atau ha) di DAS Batang Pelepat tergolong sesuai marginal (S3) dan sebagian lainnya (sekitar ha atau 34.85%) tergolong tidak sesuai (N) untuk pisang. Faktor pembatas utamanya adalah KB dan ph tanah yang rendah serta lereng yang tergolong miring hingga curam (Tabel 21 dan Lampiran 24). Tabel 21 Sebaran kelas kesesuaian lahan untuk pisang di DAS Batang Pelepat berdasarkan satuan lahan Luas Kelas Kesesuaian Lahan Satuan Lahan Ha % S3-nr 1,2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 16, S3-nr, eh 11, 12, 13, 17, 18, 19, 20, N-eh 14, 15, * S1 = sangat sesuai, S2= cukup sesuai, S3 = sesuai marginal, N = tidak sesuai, nr = retensi hara, eh = bahaya erosi. Penggunaan lahan aktual sudah sesuai dengan kelas kesesuaian lahan untuk beberapa tanaman pertanian tersebut diatas, kecuali SL 15 yang saat ini ditutupi oleh kelapa sawit. Berdasarkan analisis kesesuaian lahan, lahan ini tidak sesuai (N-eh) untuk semua tanaman tersebut diatas dengan faktor penghambat ph dan KB yang rendah (Lampiran 23). Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan di DAS Batang Pelepat untuk beberapa tanaman pertanian diatas diketahui bahwa pengembangan pertanian di kawasan ini mempunyai faktor pembatas terutama KB dan ph yang rendah serta lereng yang tergolong miring hingga curam. Berkaitan dengan faktor pembatas tersebut, pengembangan pertanian (UTKKS) berkelanjutan di DAS Batang Pelepat harus disertai dengan agroteknologi yang memadai untuk mengatasi pengaruh negatif faktor pembatas tersebut, terutama pemupukan dan teknik KTA. Karakteristik Tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Usahatani di DAS Batang Pelepat terdiri atas 5 (lima) tipe usahatani karet, yaitu sesap karet I (SK I), sesap karet II (SK II), monokultur karet I (MK I), monokultur karet II (MK II), tumpangsari karet-gaharu (KRG) dan 2 (dua) tipe usahatani kelapa sawit, yaitu monokultur kelapa sawit (MKS) dan tumpangsari kelapa sawit-pisang (KSP). Lahan usahatani karet di DAS Batang Pelepat secara keseluruhan merupakan usahatani karet rakyat. Lahan usahatani karet rakyat umumnya ditanam secara monokultur dan campuran yang dikelola secara tidak intensif (62.43%). Hal ini dapat dilihat dari luas lahan tipe MK II yang mencapai 1

89 475 ha dan tipe SK seluas ha. Luas lahan usahatani karet yang dikelola secara memadai (MK I) hanya ha (9.71%). Usahatani kelapa sawit di DAS Batang Pelepat hanya meliputi 27.81% dari luas lahan pertanian atau ha. Lahan usahatani kelapa sawit terdiri atas usahatani rakyat seluas ha dan perkebunan swasta seluas ha. Lahan usahatani rakyat terdiri atas MKS seluas ha (99.27%) dan KSP seluas 12 ha (0.73%) (Tabel 22). Sistem pertanian yang diterapkan oleh petani karet dan kelapa sawit di DAS Batang Pelepat bersifat khas. Secara umum setelah pembukaan lahan dan sebelum tanaman karet dan kelapa sawit menutupi permukaan lahan, petani menanam padi ladang (Oryza sativa) dan pinang (Pinanga kuhlii) sebagai tanaman pagar. Kajian terhadap perbedaan dampak tipe UTKKS terhadap kondisi ekonomi petani dan lingkungan perlu diawali dengan pemahaman terhadap karakteristik agroteknologi setiap tipe UTKKS (Tabel 23). Tabel 22 Sebaran luas lahan berbagai tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat berdasarkan peta satuan lahan, Tahun 2005 Tipe UTKKS Luas Lahan ha % - Sesap Karet I - Sesap Karet II - Monokultur Karet I - Monokultur Karet II - Karet-Gaharu* - Monokultur kelapa sawit - Kelapa sawit- Pisang* Luas Lahan Pertanian * Karet-gaharu dan kelapa sawit-pisang tidak dapat diperlihatkan dalam peta penggunaan lahan dan peta SL karena luasannya yang sangat kecil (masing-masing 40 ha dan 12 ha). Sumber : Balitbang Pertanian (2005c). Sesap Karet Sesap karet adalah campuran karet dengan tananam hutan, dan merupakan salah satu tipe usahatani karet khas di DAS Batang Pelepat. Tanaman hutan yang ditanam di sela karet berupa manau (Calamus manan Miq.), kayu balam (Palaquium Sp), kayu medang (Litsea Spp) dan kayu sungkai (Peronema canescens). Tanaman hutan ditanam beberapa tahun setelah karet tumbuh, sesuai dengan ketersediaan modal, bibit dan tenaga kerja yang dimiliki petani. Jarak tanam tidak teratur sehingga secara visual menyerupai hutan sehingga sering pula disebut hutan karet. Sistem budidaya pada tipe SK tidak disertai tindakan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit dan gulma serta menggunakan bibit sapuan atau lokal. Tipe SK yang terdapat di DAS Batang Pelepat ada 2 macam, yaitu campuran karet-kayu sungkai-manau (SK I) dan campuran karet-kayu balam- 66

90 Tabel 23 Deskripsi karakteristik setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS * Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet I Monokultur Karet II Karet-Gaharu Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Kondisi tutupan permukaan tanah Relatif rapat, dengan serasah = 13.7 ton/ha (BB) dan 5.66 ton/ha (BK) Relatif rapat, dengan serasah = 13.7 ton/ha (BB) dan 5.66 ton/ha (BK) Relatif terbuka; serasah = 5.8 ton/ha (BB) dan 2.28 ton/ha (BK) Rapat tetapi lebih jarang dibandingkan Sesap karet; Serasah 11.7 ton/ha (BB) dan 4.39 ton/ha (BK) Relatif terbuka; serasah = 5.8 ton/ha (BB) dan 2.28 ton/ha (BK) Sama dengan Monokultur karet II dengan serasah = 13.1 ton/ha (BB) dan 3.95 ton/ha (BK) Sama dengan monokultur karet II dan monokultur kelapa sawit ; serasah = 13.1 ton/ha (BB) dan 3.95 ton/ha (BK) Jarak Tanam Tidak teratur Tidak teratur Populasi & Jenis Tanaman 500 karet, 100 manau dan 40 sungkai 500 karet, 50 balam dan 50 medang Pemupukan 3 m x 7 m 460 karet Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian 3 m x 7 m 460 karet Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (pada awal tanam dan selanjutnya hanya setiap 5 tahun) 3 m x 7m 460 karet dan 429 gaharu 8 m x 8 m 141kelapa sawit 8 m x 8 m 141 kelapa sawit dan 121 pisang Agroteknolgi Penyiangan Pemberantasan & Pengendalian HPT Teknik KTA Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak Ada Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak Ada Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) pada awal tanam dan selanjutnya hanya setiap 5 tahun Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) pada awal tanam dan selanjutnya hanya setiap 5 tahun Dilakukan Seperlunya Tidak Ada Relatif tidak Tidak dilakukan Tidak Ada dilakukan, hanya di sepanjang jalan yang ditempuh untuk menyadap karet Dilakukan Seperlunya Tidak Ada Relatif tidak dilakukan, hanya di sepanjang jalan yang ditempuh memanen TBS Relatif tidak dilakukan, hanya di sepanjang jalan yang ditempuh memanen TBS * Setiap tipe UTKKS tetap menerapkan penanaman Padi Ladang sebagai tanaman sela pada 2 tahun pertama dan Pinang sebagai tanaman pagar. Seperlunya Seperlunya Tidak Ada Tidak Ada

91 kayu medang (SK II). Populasi tanaman pada tipe SK I adalah 500 batang karet, 100 batang manau dan 40 batang kayu sungkai, sedangkan populasi tanaman pada tipe SK II adalah 500 batang karet, 50 batang kayu balam dan 50 batang kayu medang. Penutupan SK terhadap permukaan tanah tergolong rapat karena tumbuhan semak belukar dibiarkan tumbuh menutupi permukaan tanah. Tumbuhan semak belukar yang terdapat pada SK diantaranya adalah rumput jarum (Andropagon acciculatus), rumput teki (Kytlinga monocepela), rumput pahitan (Axohopus compresus), paku resam (Gleichenia linearis), paku sepat (Neprolepis exaltata) dan paku kawatan (Dicranopteris Spp). Berdasarkan pengukuran terhadap berat sampel serasah, total berat basah dan berat kering serasah pada tipe SK masing-masing adalah ton/ha dan 5.66 ton/ha (Tabel 23). Sistem budidaya seperti tipe SK mempunyai nilai positif terhadap kondisi hidrologi DAS dan keanekaragaman hayati, tetapi tidak didukung oleh produksi yang optimal (Joshi et al. 2001). Monokultur karet Tipe MK di DAS Batang Pelepat karet terdiri atas 2 (dua) tipe, yaitu monokultur yang dikelola intensif (MK I) dan tidak intensif (MK II). Monokultur karet I (MK I) adalah budidaya karet yang ditanam secara monokultur dan pengelolaan yang lebih baik, namun belum disertai dengan teknik KTA. Karet ditanam dengan jarak tanam 3 m x 7 m (460 batang/ha) dan disertai pemupukan, pengendalian dan pemberantasan hama penyakit serta penyiangan. Pemupukan dilakukan sesuai dengan rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b), yaitu urea sebanyak 100 kg/ha, TSP sebanyak 50 kg/ha dan KCl 50 kg/ha setiap tahun. Bibit yang digunakan umumnya juga bibit lokal, hanya sebagian kecil petani yang menggunakan bibit unggul. Penyiangan dilakukan hingga permukaan tanah relatif terbuka, hanya ditutupi oleh sedikit rumput-rumput pendek dan daun-daun karet yang gugur. Berdasarkan pengukuran terhadap sampel serasah, serasah yang menutupi permukaan tanah pada tipe MK I lebih sedikit (5.8 ton/ha berat basah dan 2.28 ton/ha berat kering) dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya (Tabel 23). Kondisi seperti ini menyebabkan permukaan tanah lebih mudah terkikis dan terangkut jika terjadi hujan. Pengangkutan tanah akan diikuti oleh pengangkutan unsur hara tanah dan atau pupuk yang diberikan, terutama jika pupuk diberikan secara sebar. Oleh sebab itu perlu adanya penerapan teknik KTA untuk mengurangi dan mencegah erosi dan meningkatkan efektivitas pemupukan.

92 Karet pada tipe monokultur karet II (MK II) juga ditanam dengan jarak 3 m x 7 m (460 batang/ha), namun tanaman dibiarkan tumbuh tanpa perawatan yang intensif (tidak seperti pada tipe MK I). Pemupukan juga hanya dilakukan pada saat tanaman belum menghasilkan, namun setelah dilakukan penyadapan (pada umur 6 7 tahun) pemupukan hanya dilakukan setiap 5 tahun. Bibit yang digunakan pada tipe MK II ini adalah bibit lokal (Tabel 23). Penyiangan sangat jarang dilakukan sehingga permukaan tanah ditutupi oleh tumbuhan semak belukar. Penutupan permukaan lahan oleh tumbuhan semak belukar dapat menyebabkan persaingan terhadap tanaman karet sehingga produksi lateks tidak optimal. Kerapatan vegetasi yang cukup tinggi akan menghasilkan serasah yang lebih banyak (11.70 ton/ha berat basah dan 4.39 ton/ha berat kering) dibandingkan dengan tipe MK I. Tumpangsari Karet dan Gaharu Gaharu merupakan tanaman kehutanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena harga gubal gaharu mencapai Rp /kg (Dephut 2002). Tipe tumpangsari karet-gaharu (KRG) merupakan program Dishutbun Kabupaten Bungo yang diterapkan oleh 20 petani di DAS Batang Pelepat. Tipe KRG terdiri atas 460 batang karet (jarak tanam 3 m x 7 m) dan 429 batang gaharu yang ditanam diantara tanaman karet (Gambar 7). 7 m Kr G Kr G Kr 3 m Kr G Kr G Kr Kr G Kr G Kr Gambar 7 Komposisi tanaman karet dan gaharu pada tipe KRG di DAS Batang Pelepat. Pengelolaan tipe KRG dilakukan secara intensif (seperti pada MK I) dengan penggunaan pupuk sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b). Tanaman gaharu juga diberi pupuk sesuai rekomendasi, yaitu g urea/pohon, g TSP/pohon dan g KCl/pohon. Produksi gaharu diperkirakan mencapai 1 kg gubal, 10 kg kemedangan dan 15 kg abu dari setiap pohon gaharu (Dephut 2002 dan Sumarna 2005).

93 Monokultur Kelapa Sawit Petani di DAS Batang Pelepat umumnya juga menanam kelapa sawit secara monokultur (MKS). Jarak tanam yang digunakan adalah 8 m x 8 m (144 batang/ha), tetapi pengelolaannya juga kurang intensif (Tabel 23). Rumput dan tumbuhan semak belukar dibiarkan tumbuh diantara tanaman kelapa sawit karena penyiangan hanya dilakukan sambil mengambil hasil panen. Adapun berat basah serasah yang menutupi permukaan tanah adalah ton/ha dan berat kering serasah sebesar 3.95 ton/ha. Pemupukan kelapa sawit hanya dilakukan pada saat tanam hingga menjelang tanaman menghasilkan, namun setelah tanaman menghasilkan pemupukan hanya dilakukan setiap 5 tahun (hampir tidak dilakukan). Pupuk yang digunakan untuk kelapa sawit oleh petani adalah NPK (35 kg/ha) dan MgSO 4 (15 kg/ha); takaran ini lebih rendah dibandingkan dengan takaran pupuk yang direkomendasikan oleh PPKS Medan (1999) yang telah dikemukakan sebelumnya pada Tabel 4. Tumpangsari Kelapa Sawit dan Pisang Usahatani kelapa sawit di DAS Batang Pelepat juga ada yang diterapkan dengan sistem tumpangsari dengan pisang (KSP). Komposisi tanaman untuk satu hektar lahan terdiri dari 144 batang kelapa sawit (jarak tanam 8 m x 8 m) dan 121 batang pisang yang ditanam diantara kelapa sawit (Gambar 8). Pisang dipelihara hingga kelapa sawit menghasilkan (empat tahun pertama) tanpa pemupukan. Seperti halnya MKS, tipe KSP juga tidak dikelola secara intensif dan permukaan lahan juga ditutupi oleh tumbuhan semak belukar. 8 m KS KS KS KS 8 m P P P KS KS KS KS P P P KS KS KS KS 8 m Gambar 8 Komposisi kelapa sawit dan pisang pada tipe KSP di DAS Batang Pelepat.

94 Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Sifat-Sifat Tanah di DAS Batang Pelepat Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tipe UTKKS dan hutan berpengaruh secara nyata terhadap beberapa sifat tanah. Selanjutnya berdasarkan uji DNMRT, sifat-sifat tanah pada lahan UTKKS menunjukkan perbedaan dengan sifat-sifat tanah hutan, baik bobot isi (BI), total ruang pori (TRP), pori drainase cepat (PDC), pori drainase lambat (PDL), air tersedia (AT), permeabilitas, kapasitas infiltrasi, persentase agregat, kemantapan agregat maupun kadar C-organik tanah (Lampiran 25). Tipe MK I mempunyai pengaruh paling buruk terhadap sifat-sifat tanah dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya. Tanah pada tipe MK I mempunyai kepadatan paling tinggi dengan BI sebesar 1.14 g/cm 3 dan TRP sebesar 56.98% dibandingkan dengan tanah pada tipe usahatani lainnya yang mempunyai BI sebesar g/cm 3 dan TRP sebesar % dan hutan yang mempunyai BI sebesar 0.81 g/cm 3 dan TRP sebesar 69.43%. Tanah yang mempunyai kepadatan yang lebih tinggi mempunyai PDL yang lebih tinggi, sebaliknya mempunyai PDC dan AT yang lebih rendah (Tabel 24). Kepadatan tanah tinggi pada tipe MK I menyebabkan tanah mempunyai permeabilitas sebesar 8.34 cm/jam dan kapasitas infiltrasi sebesar cm/jam; permeabilitas dan kapasitas infiltrasi ini lebih rendah dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya (Tabel 25). Tabel 24 Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap kepadatan dan pori tanah di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Tipe Usahatani dan BI TRP Distribusi Pori (% Volume) hutan (g/cm 3 ) (% Vol) PDC PDL Air Tersedia KR-1(MK I) 1.14 a e e a e KR-2(MK II) 0.98 c c c c c KR-3 (SK) 0.92 d b b d b KS-1(MKS) 1.05 b d c b c KS-2 (KSP) 1.04 b d d b d Ht (HS) 0.81 e e a e a * BI : Bobot Isi, TRP : total ruang pori, PDC : pori drainase cepat, PDL : pori drainase lambat. Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DNMRT). Pengaruh tipe MK I yang buruk terhadap sifat-sifat tanah tersebut dapat disebabkan oleh kondisi permukaan tanah yang relatif terbuka dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya dan hutan. Kondisi tanah yang terbuka akan mempercepat proses pemadatan tanah. Selain itu jumlah serasah pada tipe MK I lebih sedikit dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya, yaitu 2.28 ton/ha berat kering (Tabel 23) sehingga kadar karbon organik tanah (COT) pada tipe MK I pun hanya 1.36% (Tabel 26) ; padahal kunci untuk mengurangi kepadatan tanah

95 adalah mempertahankan ketebalan serasah di permukaan tanah. Serasah dapat berfungsi untuk menjaga kekasaran permukaan tanah, kelembaban dan menyediakan pakan bagi mikroorganisme tanah seperti cacing (Hairiah et al. 2006). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kepadatan tanah (bobot isi) semakin meningkat dengan berkurangnya jumlah serasah (Gambar 9). Peningkatan kepadatan tanah akibat menurunnya jumlah serasah pada gilirannya akan berpengaruh terhadap penurunan permeabilitas dan kapasitas infiltrasi (Gambar 10). Tabel 25 Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Tipe Usahatani dan Hutan Permeabilitas (cm/jam) Kapasitas Infiltrasi (cm/jam) KR-1(MK I) 8.34 e e KR-2(MK II) d d KR-3 (SK) b b KS-1(MKS) d d KS-2 (KSP) c c Ht (HS) a a * Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DNMRT). Tabel 26 Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap Kadar COT, persentase dan indeks kemantapan agregat tanah di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Tipe Usahatani Agregat Tanah COT (%) dan Hutan % Agregat Indeks Kemantapan Agregat KR-1(MK I) 1.36 e e e KR-2(MK II) 1.56 d d d KR-3 (SK) 2.50 b b b KS-1(MKS) 1.59 d d d KS-2 (KSP) 1.80 c c c Ht (HS) 3.10 a a a * COT = C-organik tanah; Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DNMRT). Berdasarkan hasil penelitian tipe SK mempunyai serasah yang paling banyak dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya, yaitu 5.66 ton/ha berat kering (Tabel 23). Jumlah serasah yang lebih banyak menyebabkan tanah yang ditutupi oleh SK mempunyai kandungan COT sebesar 2.50%; kandungan COT ini menunjukkan perbedaan dengan COT pada tipe usahatani lainnya yang hanya berkisar % dan hutan yang mempunyai COT sebesar 3.10% (Tabel 26). Hal ini disebabkan karena sistem agroforestri seperti SK mempunyai siklus hara yang berada diantara siklus hara tanah hutan (tertutup) dan siklus hara pada lahan pertanian (terbuka). Sistem agroforestri juga mempunyai sumber dan kualitas bahan organik dan unsur hara tanah yang variatif dan proses penyediaannya berlangsung terus menerus (Hairiah et al. 2007).

96 Bobot Isi (g/cm 3 ) Berat Volume (Y1) Total Ruang Pori (Y2) Y2 = 2.29x R 2 = 0.96 Y1 = -0.06x R 2 = Total Ruang Pori (% Vol) KR-1 (2.28) KS-1 (3.95) KS-2 (3.95) KR-2 (4.39) KR-3 (5.66) Ht (9.71) 0.00 Gambar 9 Berat Serasah (ton/ha) Pengaruh berat serasah pada setiap tipe UTKKS dan HS terhadap Bobot Isi dan total ruang pori tanah di DAS Batang Pelepat Permeabilitas (cm/jam) Permeabilitas (Y1) Kapasitas Infiltrasi (Y2) Y1 = 20.60X R 2 = 0.78 Y2 = 9.48X R 2 = Kapasitas Infiltrasi (cm/jam) KR-1 (2.28) KS-1 (3.95) KS-2 (3.95) KR-2 (4.39) KR-3 (5.66) Ht (9.71) Berat Serasah (ton/ha) 0 Gambar 10 Pengaruh berat serasah terhadap permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah di DAS Batang Pelepat. Kondisi serasah dan COT yang lebih tinggi menyebabkan tanah yang ditutupi oleh SK mempunyai sifat tanah yang lebih baik dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya. Tanah pada tipe SK mempunyai tingkat kepadatan yang paling rendah (BI sebesar 0.92 g/cm 3 dan TRP sebesar 65.41%) sehingga mempunyai permeabilitas dan kapasitas infiltrasi yang lebih cepat, yaitu dan cm/jam (Tabel 25). Kandungan COT yang lebih tinggi (2.50%) tersebut juga menyebabkan tanah ini mempunyai persentase (78.39%) dan indeks kemantapan agregat (143.33) yang lebih baik dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya yang hanya mempunyai persentase agregat sebesar % dan indeks kemantapan agregat sebesar (Tabel 26).

97 Pengaruh positif SK terhadap sifat-sifat tanah juga didukung oleh sistem perakaran tanaman yang lebih dalam dan kompleks karena tipe SK terdiri atas tanaman yang lebih banyak dan bervariasi dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya. Perkembangan perakaran tanaman juga mampu menekan dan memperenggang agregat tanah yang berdekatan. Penyerapan air oleh akar tanaman dapat menyebabkan dehidrasi, pengkerutan dan terbentuknya rekahanrekahan kecil. Proses ini juga mendukung terbentuknya pori yang lebih besar (makroporositas). Selain itu banyaknya akar dapat meningkatkan produksi exudant dan akar yang mati juga merupakan sumber bahan organik tanah yang mampu memacu aktivitas mikroorganisme sehingga dapat mengurangi kepadatan tanah (Widianto et al. 2003). Tanah hutan juga menunjukkan permeabilitas dan kapasitas infiltrasi yang lebih cepat dibandingkan dengan pada lahan UTKKS, yaitu dan cm/jam (Tabel 25). Hal ini disebabkan karena tanah hutan mempunyai pori yang banyak sejalan dengan tingginya aktivitas biologi tanah serta turnover (penetrasi) perakaran yang lebih dalam. Sistem perakaran vegetasi penyusun hutan sangat mendukung pembentukan pori dan struktur tanah yang lebih baik (Susswein et al. 2001). Tanah hutan juga mempunyai serasah yang lebih banyak dibandingkan dengan tanah pada semua tipe UTKKS, yaitu ton/ha (berat basah) atau 9.71 ton/ha (berat kering) (Tabel 23) dan bobot Isi tanah 0.81 g/cm 3 (Tabel 24). Jumlah serasah yang lebih banyak juga berpengaruh positif terhadap peningkatan permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah hutan (Gambar 10). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat tanah pada lahan UTKKS berbeda dengan sifat-sifat tanah hutan, tetapi sifat-sifat tanah pada lahan UTKKS tersebut masih lebih baik bila dibandingkan dengan sifat-sifat tanah pada lahan pertanian tanaman pangan. Berdasarkan hasil penelitian Juarsah (2008), lahan pertanian tanaman pangan (padi gogo-palawija) mempunyai tingkat kepadatan yang lebih tinggi (BI = g/cm3 dan TRP %), PDC sebesar %, permeabilitas yang lebih lambat ( cm/jam) dan COT yang lebih rendah yaitu %. Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Aliran Permukaan dan Erosi di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi (analisis ragam pada Lampiran 25). Aliran permukaan dan erosi pada tanah dengan tutupan HS lebih kecil dibandingkan dengan aliran permukaan dan erosi pada lahan UTKKS. Aliran permukaan dan erosi pada lahan pertanian yang paling

98 tinggi terjadi pada lahan usahatani MK I (6.92 mm atau 28.07% dari jumlah hujan dan 0.58 ton/ha) dan menunjukkan perbedaan dengan aliran permukaan dan erosi pada tipe usahatani lainnya, sedangkan aliran permukaan dan erosi paling rendah terjadi pada tipe SK (3.53 mm atau 14.31% dari jumlah hujan dan 0.12 ton/ha). Aliran permukaan dan erosi yang terjadi pada lahan usahatani karet bervariasi sesuai tipe usahatani, tetapi aliran permukaan dan erosi pada lahan usahatani kelapa sawit (MKS dan KSP) tidak menunjukkan perbedaan satu sama lainnya, yaitu 5.09 mm atau 9.98% dari jumlah hujan dan 0.24 ton/ha pada tipe MKS dan 4.93 mm atau 22.25% dari jumlah hujan dan 0.23 ton/ha pada tipe KSP (Tabel 27). Tabel 27 Pengaruh tipe UTKKS dan hutan terhadap aliran permukaan serta erosi tanah di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Berat Tipe Usahatani dan Aliran Permukaan 1 Konsentrasi Erosi 1 Serasah Hutan Sedimen 1 (g/l) (ton/ha) (ton/ha) (mm) % Hujan KR-1(MK I) a a KR-2(MK II) b b KR-3 (SK) c c KS-1(MKS) b b KS-2 (KSP) b b Ht (HS) d x10-6 d * 1 = berdasarkan rata-rata dari 5 kejadian hujan (curah hujan mm). Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DNMRT). Kondisi aliran permukaan dan erosi yang demikian berkaitan dengan kondisi tutupan permukaan lahan dan kepadatan tanah. Tutupan permukaan tanah bergantung pada jumlah serasah, kerapatan dan jenis vegetasi yang menutupi permukaan lahan. Penot dan Budiman (2004) mengemukakan bahwa salah satu nilai positif dari agroforestri karet (SK) adalah kapasitas penutupannya terhadap tanah sehingga dapat mengendalikan erosi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tutupan yang lebih rapat pada sistem tanam polikultur (campuran) dan tutupan permukaan tanah oleh semak belukar pada lahan UTKKS (kecuali MK I) dan hutan mengakibatkan adanya serasah yang lebih banyak (Tabel 27). Berat serasah yang lebih tinggi menyebabkan aliran permukaan dan erosi lebih rendah (Gambar 11A) karena serasah dapat menyumbangkan BOT yang mempunyai kapasitas memegang air (water holding capasity) yang relatif tinggi dan meningkatkan pori makro melalui aktivitas mikroorganisme tanah sehingga kepadatan tanah menurun dan infiltrasi meningkat (Hairiah et al. 2007) dan berfungsi sebagai filter sehingga semakin tinggi berat serasah menyebabkan konsentrasi sedimen semakin menurun (Gambar 11B).

99 Pengaruh jumlah serasah terhadap aliran permukaan dan erosi juga berkaitan dengan pengaruhnya terhadap kepadatan tanah. Lahan usahatani dengan tipe MK I relatif terbuka dan mempunyai kepadatan yang lebih tinggi (BI = 1.14 g/cm 3 ) dibandingkan dengan tipe UTKKS lainnya (BI = g/cm 3 ) dan HS (0.81 g/cm 3 ) (Tabel 24). Kondisi ini menyebabkan air lebih lambat terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga aliran permukaan lebih cepat terjadi dan jumlahnya juga akan lebih besar (Gambar 12). Lahan usahatani kelapa sawit (MKS dan KSP) dan MK II mempunyai kondisi tutupan permukaan lahan dan tingkat kepadatan tanah yang sama sehingga aliran permukaan dan erosi yang terjadi pada kedua tipe usahatani kelapa sawit tersebut tidak menunjukkan perbedaan (Tabel 27). Gambar 11 Pengaruh berat serasah terhadap aliran permukaan dan erosi tanah (A) serta konsentrasi sedimen (B) di DAS Batang Pelepat. Gambar 12 Pengaruh bobot isi tanah terhadap aliran permukaan dan erosi tanah di DAS Batang Pelepat.

100 Data erosi hasil pengukuran langsung tersebut hanya dapat menggambarkan perbedaan erosi antar tipe UTKKS dan hutan, sedangkan erosi keseluruhan pada setiap tipe UTKKS tersebut diprediksi dengan model USLE. Prediksi erosi di DAS Batang Pelepat menunjukkan bahwa penggunaan lahan aktual menyebabkan erosi sebesar ton/ha/tahun. Erosi terbesar terjadi pada lahan pertanian yaitu SL 15 dan erosi terkecil terjadi pada lahan nonpertanian (hutan) yaitu SL 22. Secara keseluruhan erosi yang terjadi di DAS Batang Pelepat mencapai ton/tahun atau rata-rata ton/ha/tahun. Erosi pada lahan pertanian ( ton/ha atau rata-rata ton/ha/tahun) lebih besar dibandingkan dengan erosi pada lahan non pertanian yang hanya ton/tahun atau rata-rata ton/ha/tahun (Lampiran 27). Erosi pada lahan pertanian tersebut tidak dapat dihindari karena tanah selalu terganggu, tetapi kerusakan lahan dapat dikurangi dengan mengendalikan erosi. Kerusakan lahan akibat erosi dapat diindikasikan dengan erosi yang lebih besar dibandingkan dengan Etol. Etol setiap SL di DAS Batang Pelepat juga bervariasi antara ton/ha/tahun (Gambar 13). Perbedaan Etol setiap SL tersebut disebabkan oleh perbedaan jenis tanah, kedalaman tanah, kedalaman minimum perakaran dan berat volume. Kedalaman tanah di DAS Batang Pelepat berkisar cm dengan faktor yang berkisar Kedalaman minimum perakaran bergantung pada penggunaan lahan (jenis tanaman yang menutupi tanah). Lahan yang ditutupi oleh tanaman perkebunan mempunyai kedalaman minimum perakaran 50 cm, sedangkan semak belukar dan hutan masing-masing mempunyai kedalaman minimum perakaran 30 cm dan 90 cm. Perbedaan jenis tanah dan tipe penggunaan lahan menyebabkan bobot isi tanah pun bervariasi antara g/cm 3 sehingga pada gilirannya juga berpengaruh terhadap besarnya Etol (Lampiran 28). Berdasarkan prediksi, erosi yang terjadi pada lahan pertanian umumnya melebihi Etol, kecuali pada SL yang mempunyai kemiringan lereng <8%, yaitu SL 1 (22.23 ton/ha/tahun), SL 3 (12 ton/ha/tahun) dan SL 6 (12.27 ton/ha/tahun) dengan Etol masing-masing sebesar ton/ha/tahun pada SL 1 dan ton/ha/tahun pada SL 3 dan 6. Ketiga SL tersebut digunakan sebagai lahan pertanian berupa MK I (SL 3), MK II (SL 1) dan SK (SL 6). Erosi terbesar pada lahan pertanian terjadi pada SL 15, yaitu ton/ha/tahun, padahal Etolnya hanya ton/ha/tahun (Gambar 13A dan Lampiran 27). Satuan lahan (SL) 15

101 mempunyai kemiringan lereng 30% dan ditanami kelapa sawit berumur sekitar 4 tahun (lahan relatif banyak yang terbuka). Erosi parit yang berasal dari jatuhan air pelepah daun kelapa sawit telah terlihat pada SL 15. Prediksi erosi pada lahan non pertanian menunjukkan bahwa hanya SL yang ditutupi oleh hutan yang mempunyai erosi lebih kecil dari Etol, yaitu SL 19, 20, 21 dan 22. Satuan lahan yang terbuka (SL 23) dan yang ditutupi oleh semak belukar (SL 17 dan 18) mempunyai erosi yang juga lebih besar dari Etol (Gambar 13B). Satuan Lahan Erosi Etol A Satuan Lahan B Erosi Etol Erosi (ton/ha/thn) Erosi (ton/ha/thn) Gambar 13 Prediksi erosi dan Etol pada setiap satuan lahan yang digunakan sebagai lahan pertanian (A) dan non-pertanian (B) di DAS Batang Pelepat. Berkaitan dengan adanya beberapa tipe UTKKS yang terdapat di DAS Batang Pelepat, prediksi erosi pada lahan pertanian dapat dirinci berdasarkan tipe UTKKS tersebut pada berbagai kemiringan lereng. Prediksi erosi tersebut menunjukkan bahwa erosi yang terjadi berkisar ton/ha/tahun; sebagian besar erosi tersebut melebihi Etol ( ton/ha/tahun), kecuali erosi yang terjadi pada lereng 2% ( ton/ha/tahun) dan 7% dengan tipe SK sebesar ton/ha/tahun (Gambar 14 dan Lampiran 29). Berdasarkan prediksi erosi akibat penerapan berbagai tipe UTKKS tersebut dapat dikatakan bahwa erosi yang terjadi pada lahan dengan kemiringan lereng 3 < 8% masih dapat dikendalikan bila ditutupi oleh kanopi

102 tanaman yang rapat seperti tipe SK. Tipe SK mempunyai kapasitas penutupan yang lebih rapat (C = 0.10) terhadap pemukaan tanah dibandingkan dengan tipe MK I, MK II, KRG, MKS dan KSP. Tipe MK I mempunyai kapasitas penutupan yang tergolong jarang terhadap pemukaan tanah (C = 0.80), sedangkan MK II, KRG, MKS dan KSP mempunyai kapasitas penutupan yang tergolong sedang terhadap permukaan tanah (C = 0.50). Menurut Suprayogo et al. (2007), peningkatan diversivitas tanaman pohon seperti pada sistem agroforestri multistrata atau penanaman LCC adalah teknik KTA vegetatif yang dapat memulihkan laju infiltrasi dan kondisi makroporositas. Tanaman LCC dapat menjadi sumber serasah sehingga dapat menyumbangkan bahan organik tanah (BOT). Zheng et al. (2004) dan Terra et al. (2006) mengemukakan bahwa peningkatan kandungan karbon organik tanah akibat teknik KTA cenderung menurunkan koefisien erodibilitas tanah dan aliran permukaan. Gambar 14 Pengaruh penerapan setiap tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng terhadap erosi di DAS Batang Pelepat. Penggunaan LCC sangat terbatas pada kemiringan lereng 0 <15%, sedangkan penggunaannya pada lahan dengan kemiringan lereng 15% menunjukkan efektivitas yang rendah. Oleh karena itu dalam pengembangan tanaman perkebunan pada lereng yang lebih curam, penerapan LCC juga harus disertai dengan teras gulud atau teras kebun untuk menekan aliran permukaan dan erosi. Teras gulud efektif diterapkan pada lahan dengan kemiringan lereng 10 40% dan teras kebun masih efektif diterapkan pada lahan dengan kemiringan 30 50% (Ditjen PLA 2007a).

103 Karakteristik Sosial Ekonomi DAS Batang Pelepat Karakteristik Petani Karet dan Kelapa Sawit di DAS Batang Pelepat Berdasarkan hasil penelitian, jumlah rumah tangga (RT) tani di DAS Batang Pelepat adalah atau sekitar 93.50% dari jumlah KK yang ada di DAS Batang Pelepat. Petani di DAS Batang Pelepat sebagian besar (91.04%) adalah petani karet dan sebagian kecil (8.96%) petani kelapa sawit yang menerapkan beberapa tipe usahatani, yaitu SK I (31.34%), SK II (25.87%), MK I (9.95%), MK II (22.95%), KRG (0.99%), MKS (8.46%) dan KSP (0.50%) (Tabel 28). Tabel 28 Sebaran jumlah petani karet dan kelapa sawit berdasarkan tipe usahatani di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Jumlah Tipe UTKKS Orang % Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet I Monokultur Karet II Karet-Gaharu Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Jumlah Sebaran jumlah petani berdasarkan tipe UTKKS menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil petani yang mengelola tanaman secara memadai (MK I dan KRG). Pengelolaan usahatani yang tidak memadai di DAS Batang Pelepat disebabkan oleh keterbatasan modal tunai. Berdasarkan hasil penelitian, petani di DAS Batang Pelepat memiliki modal sebesar Rp /KK (Rp modal tunai dan Rp modal tenaga kerja setara dengan 250 HOK). Keterbatasan modal pula yang menyebabkan petani hanya mampu mengelola sebagian lahan (2 ha) yang dimilikinya, walaupun petani memiliki lahan rata-rata 5 ha/kk (Tabel 29). Table 29 Sebaran luas kepemilikan lahan dan luas lahan usahatani per KK pada setiap desa di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Desa Luas Lahan yang dimiliki (ha) Luas Lahan usahatani (ha) Batu Kerbau Baru Pelepat Rantel Balai jaya Rantau Keloyang Rata-Rata

104 Petani juga mempunyai tingkat pendidikan (formal) yang tergolong rendah karena sebagian besar (76.12%) petani hanya lulusan sekolah dasar (SD) dan bahkan sekitar 0.99% petani tidak pernah menempuh pendidikan formal (Tabel 30). Tingkat pendidikan yang relatif rendah merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat adopsi petani di kawasan ini terhadap agroteknologi usahatani, selain modal yang terbatas. Tabel 30 Sebaran tingkat pendidikan petani karet dan kelapa sawit di DAS Batang Pelepat, Tahun 2006 Tingkat Pendidikan Jumlah Orang % Tidak sekolah SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi Jumlah Pengaruh Tipe UTTKS terhadap Produksi Tanaman Produksi Karet Produksi karet di DAS Batang Pelepat bervariasi antara kg lateks/ha/tahun; sesuai dengan tipe usahatani. Tipe SK mulai berproduksi pada umur 8 tahun dan umur produktif mencapai 30 tahun, tetapi produksinya tergolong rendah, yaitu kg lateks/ha/tahun. Karet pada tipe MK I dan KRG mulai berproduksi pada umur 6 tahun, tetapi umur produktifnya hanya 25 tahun dengan produksi kg lateks/ha/tahun dan lebih tinggi dibandingkan dengan produksi pada SK dan MK II yang masing-masing hanya dan kg lateks/ha/tahun (Tabel 31). Tabel 31 Sebaran produksi karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Jenis Produksi Tanaman pada setiap Tipe Usahatani Tanaman SK I SK II MK I MK II KRG MKS KSP 1. Karet a Manau b Sungkai c Medang c Balam c Gaharu d Klp. Sawit e Pisang f Padi g Pinang h 11. Ky.Karet c * a = dalam kg lateks/ha dan b = dalam kg manau panjang 6 m/ha/tahun, c = m 3 kayu bulat/ha/tahun, d = kg gubal/ha/tahun, e = kg TBS/ha/tahun, f = kg buah segar/ha/tahun, g = kg GKG/ha/tahun dan h = kg biji kering/ha/tahun.

105 Produksi karet maksimum pada setiap tipe usahatani juga dicapai pada waktu (umur tanaman karet) yang berbeda. Produksi karet pada tipe SK mencapai maksimum pada umur 20 tahun (1 100 kg lateks/ha), sedangkan produksi maksimum pada tipe MK II tercapai pada umur 15 tahun (1 500 kg lateks/ha) dan pada tipe MK I dan KRG tercapai pada umur 13 tahun (1 700 kg lateks/ha). Produksi karet maksimum pada tipe MK I dan KRG dapat diperoleh selama 3 tahun, yaitu umur tanaman tahun setelah tanam (Gambar 15 dan Lampiran 13). Produksi karet pada semua tipe usahatani juga masih tergolong rendah dibandingkan dengan standar atau potensi produksi karet, yaitu kg lateks/ha/tahun dengan produksi maksimum pada tahun sadap ke 9 (umur 14 tahun setelah tanam), yaitu sebesar kg lateks/ha (Anwar 2006). Rendahnya produksi karet disebabkan karena pengelolaan yang belum memadai, sedangkan perbedaan produksi pada setiap tipe UTKKS disebabkan oleh perbedaan sistem pengelolaannya. Produksi Karet (kg lateks/ha) Sesap Karet Monokultur Karet II Monokultur Karet I dan Karet Gaharu Umur Tanaman (tahun) Gambar 15 Perbandingan sebaran produksi karet berdasarkan umur tanaman pada setiap tipe usahatani karet di DAS Batang Pelepat Produksi Kelapa Sawit Produksi kelapa sawit di DAS Batang Pelepat hanya sekitar kg TBS/ha/tahun; produksi ini masih di bawah potensi produksi TBS pada lahan kelas S3 yang mencapai kg TBS/ha/tahun (Tabel 31). Produksi TBS bervariasi sesuai umur tanaman dan mencapai produksi maskimum pada umur yang berbeda. Teknik budidaya kelapa sawit aktual mengakibatkan produksi maksimum tercapai pada umur tanaman 14 tahun, tetapi penerapan agroteknologi yang ideal pada lahan dengan kelas kesesuaian S3

106 mengakibatkan produksi maksimum tercapai pada umur tanaman 9 13 tahun (Gambar 16 dan Lampiran 13). Tipe usahatani kelapa sawit di DAS Batang Pelepat menerapkan sistem tanam monokultur (MKS) dan tumpangsari (KSP), namun belum disertai dengan agroteknologi yang memadai. Kedua tipe usahatani kelapa sawit tersebut menghasilkan jumlah produksi TBS yang sama Produksi TBS (kg/ha) Potensi Produksi pada Kelas Kesesuaian Lahan S3 Produksi Aktual Umur Tanaman (tahun) Gambar 16 Perbandingan sebaran produksi TBS berdasarkan umur tanaman di DAS Batang Pelepat dengan potensi produksi pada lahan kelas S3. Produksi Tanaman Sela Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa produksi padi ladang sebagai tanaman sela hanya mencapai kg GKG/ha/tahun dan produksi pinang adalah sekitar 700 kg biji kering/ha/tahun. Pisang adalah pilihan komoditi yang ditanam secara tumpangsari dengan kelapa sawit yang mempunyai kapasitas produksi 80 tandan pada tahun pertama dan 170 tandan pada tahun kedua hingga tahun keempat, sehingga produksi rata-rata mencapai tandan/ha/tahun atau kg/ha/tahun (Tabel 31 dan Lampiran 13). Tanaman kehutanan berupa manau yang dijadikan tanaman sela pada tipe SK I mencapai produksi rata-rata 4.11 ton/ha (dari 100 batang manau/ha) dan kayu sungkai dengan populasi 40 batang/ha dapat menghasilkan 40 m 3 kayu bulat/ha. Berat jenis kayu sungkai menurut Martawijaya (2005a) adalah 0.63 g/cm 3 sehingga 40 m 3 /ha kayu bulat tersebut setara dengan ton/ha kayu bulat. Tanaman kehutanan lainnya yang digunakan sebagai tanaman sela pada usahatani karet adalah kayu medang dan kayu balam. Kedua jenis tanaman ini ditemukan pada SK II dengan populasi masing-masing 50 batang/ha dengan produksi sekitar 50 m 3 kayu bulat/ha. Menurut Martawijaya (2005b), berat jenis

107 kayu medang dan balam adalah 0.56 g/cm 3 sehingga 50 m 3 /ha kayu bulat tersebut setara dengan ton/ha kayu bulat (Tabel 31 dan Lampiran 13). Selain tanaman sela, kayu karet yang sudah tua juga memberi kontribusi terhadap pendapatan petani. Berdasarkan hasil penelitian setiap hektar kebun karet rakyat dapat menghasilkan sekitar 100 m 3 kayu karet (Tabel 31). Pengaruh Tipe UTKKS terhadap Pendapatan dan Kelayakan Usahatani di DAS Batang Pelepat Berdasarkan analisis usahatani dapat diketahui bahwa pendapatan petani karet berkisar Rp hingga /ha/tahun. Pendapatan tertinggi akan diperoleh dari tipe KRG, tetapi saat ini tanaman belum menghasilkan, sedangkan pendapatan terendah diperoleh dari tipe MK II, yaitu Rp /ha/tahun. Tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat mempunyai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan yang berbeda karena dikelola dengan agroteknologi yang berbeda (Tabel 32 dan Lampiran 30). Diversifikasi tanaman pada tipe UTKKS memberikan kontribusi terhadap pendapatan usahatani. Berdasarkan analisis usahatani diketahui bahwa pendapatan pada tipe usahatani campuran lebih tinggi dibandingkan pendapatan pada usahatani monokultur. Pendapatan pada tipe SK dan KRG lebih tinggi dibandingkan dengan monokultur karet dan pendapatan dari tipe KSP lebih tinggi dibandingkan dengan MKS. Pendapatan yang diperoleh petani karet lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh oleh petani kelapa sawit. Petani MKS mempunyai pendapatan sekitar Rp dan petani KSP mempunyai pendapatan sekitar Rp (Tabel 32). Tabel 32 Distribusi biaya, penerimaan dan pendapatan serta kebutuhan luas lahan minimal (Lmin) setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Biaya Penerimaan Pendapatan Lmin Tipe UTKKS Juta Rp/ha/tahun Juta Rp/ha/tahun Juta Rp/ha/tahun (ha) Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet I Monokultur Karet II Karet-Gaharu (TBM) * Monokultur K.Sawit Kelapa sawit-pisang * Hasil Prediksi karena tanaman belum menghasilkan Berdasarkan hasil penelitian PKHL di DAS Batang Pelepat adalah Rp /KK. Pendapatan petani karet dan kelapa sawit di DAS Batang Pelepat yang berasal dari 2 ha lahan belum dapat memenuhi PKHL, kecuali petani yang menerapkan tipe KRG (Gambar 17). Tingginya pendapatan dari tipe KRG

108 disebabkan oleh tingginya nilai ekonomi gubal gaharu (Rp /kg), namun pengembangannya sangat dibatasi oleh pengetahuan petani untuk mengelola tanaman tersebut karena petani hanya terbiasa mengelola tanaman karet. Pengembangan tipe KRG di DAS Batang Pelepat masih bergantung pada fasilitas pemerintah, padahal menurut Sinukaban (2007b) pertanian berkelanjutan harus dapat dikembangkan oleh petani secara mandiri. Pendapatan (Juta Rupiah/2 ha/tahun) % 7% 14% 30% Pendapatan SK I Pendapatan SK II Pendapatan MK I Pendapatan MK II Pendapatan KRG Pendapatan MKS Pendapatan KSP PKHL Kemiringan Lereng (%) Gambar 17 Pengaruh tipe UTKKS pada lahan seluas 2 ha terhadap pendapatan petani berdasarkan kelas kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat. Berdasarkan perbandingan PKHL dan pendapatan dari setiap tipe UTKKS dapat diketahui bahwa untuk memenuhi PKHL petani harus mengelola lahan yang lebih dari 2 ha, kecuali petani KRG (0.30 ha). Luas lahan minimal yang dibutuhkan petani untuk mencapai PKHL berkisar antara ha (Tabel 32), sesuai tipe UTKKS yang dipilih. Pemanfaatan seluruh lahan yang dimiliki petani (5 ha) mengakibatkan petani dapat memenuhi PKHL, namun saat ini petani tidak memiliki modal yang cukup untuk mengelola seluruh lahan yang dimilikinya dan akan semakin meningkatkan luas lahan terdegradasi. Ketercapaian PKHL melalui usahatani merupakan salah satu indikator keberhasilan usahatani atau menunjukkan keberlanjutan suatu usahatani. Selanjutnya PKHL digunakan sebagai salah satu indikator penilaian keberlanjutan UTKKS di DAS Batang Pelepat dan PKHL tersebut juga digunakan sebagai salah satu target (target pendapatan) dalam optimalisasi UTKKS berkelanjutan dengan PTG.

109 Kelayakan UTKKS juga dapat dinilai berdasarkan analisis kelayakan terhadap masing-masing tipe UTKKS. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa tipe SK dan MK II tidak layak. Tipe usahatani yang layak adalah MK I, KRG, MKS dan KSP yang hanya diterapkan oleh sebagian kecil petani (Tabel 33 dan Lampiran 30). Hasil analisis kelayakan UTKKS sesuai dengan kondisi masyarakat (petani) di DAS Batang Pelepat yang umumnya belum dapat memenuhi kebutuhan hidup secara layak (masih miskin). Pendapatan sebagian besar masyarakat tergantung pada UTKKS (93.50% atau KK), terutama tipe SK (57.21%) dan MK II (22.89%). Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat masih memerlukan penyempurnaan agroteknologi agar penanaman investasi petani pada UTKKS menguntungkan dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Tabel 33 Pengaruh tipe UTKKS terhadap tingkat kelayakan usahatani di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS B/C NPV (Juta Rp) IRR (%) Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet I Monokultur Karet II Karet-Gaharu (TBM) Monokultur Kelapa Sawit Kelapa sawit-pisang Perencanaan UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Alternatif Tipe dan Agroteknologi UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Berdasarkan analisis pengaruhnya terhadap erosi dan pendapatan serta kelayakan usahatani diatas, semua tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat dinilai tidak berkelanjutan sehingga perlu dilakukan penyempurnaan terhadap tipe UTKKS yang sudah ada melalui perbaikan agroteknologi yang dapat diterima dan diterapkan petani sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Semua tipe UTKKS (kecuali KRG) di DAS Batang Pelepat dapat dijadikan alternatif dalam pemilihan usahatani berkelanjutan yang local based yang disertai dengan 2 skenario agroteknologi. Skenario Agroteknologi 1 (SA1) Skenario agroteknologi 1 (SA1) adalah pengaturan jarak tanam pada tipe SK (untuk penanaman baru), penerapan teknik pemupukan dan KTA (Tabel 34). Pupuk yang digunakan untuk karet adalah urea, TSP dan KCl dengan takaran

110 Tabel 34 Deskripsi skenario agroteknologi 1 (SA1) dan skenario agroteknologi 2 (SA2) pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Skenario Agroteknologi 1 (SA1) Tipe UTKKS* Jarak Populasi & Jenis Pemberantasan & Pemupukan Penyiangan Tanam Tanaman Pengendalian HPT Teknik KTA Sesap Karet I 3 m x 7 m** 460 karet, 128 manau dan 128 Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) sungkai Sesap Karet II 3 m x 7 m** 460 karet, 128 balam dan Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) 128 medang Monokultur Karet 3 m x 7 m 460 karet Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Monokultur Kelapa Sawit 8 m x 8 m 141kelapa sawit Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Kelapa Sawit- Pisang 8 m x 8 m 141 kelapa sawit dan 121 pisang Sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Skenario Agroteknologi 2 (SA2) Tipe UTKKS* Jarak Populasi & Jenis Pemberantasan & Pemupukan Penyiangan Tanam Tanaman Pengendalian HPT Teknik KTA Sesap Karet I 3 m x 7 m** 460 karet, 128 manau dan 128 sungkai Rekomendasi BPP Sembawa (2003) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Sesap Karet II 3 m x 7 m** 460 karet, 128 balam dan 128 medang Rekomendasi BPP Sembawa (2003) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Monokultur Karet 3 m x 7 m 460 karet Rekomendasi BPP Sembawa (2003) Monokultur 8 m x 8 m 141kelapa sawit Rekomendasi PPKS Medan Kelapa Sawit (1999) Kelapa Sawit- 8 m x 8 m 141 kelapa sawit Rekomendasi PPKS Medan Pisang dan 121 pisang (1999) untuk kelapa sawit dan rekomendasi Balitbang Pertanian (2005b) untuk pisang * Setiap tipe UTKKS tetap menerapkan penanaman Padi Ladang sebagai tanaman sela pada 2 tahun pertama dan Pinang sebagai tanaman pagar. ** Jika dilakukan penanaman baru Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%) Seperlunya Seperlunya LCC + Kontur (3-14%) dan LCC + teras gulud/kebun (15 30%)

111 88 masing-masing 100, 50 dan 50 kg/ha/tahun, sedangkan untuk kelapa sawit digunakan pupuk NPK sebanyak kg/pohon/tahun dan MgSO 4 sebanyak kg/pohon/tahun (Balitbang Pertanian 2005b). Pemberian pupuk pada SA1 pada lereng 3 14% disertai dengan penerapan LCC dan sistem tanam menurut kontur (CP = ) (Hammer 1986, diacu dalam Arsyad 2006) dan pada lereng 15 30% disertai dengan penerapan LCC serta teras gulud atau teras kebun (CP = ) (Balitbang Pertanian 2005b). Teknik KTA ini sesuai dengan nilai CP maks pada setiap kemiringan lereng, yaitu 0.24 (pada lereng 7%), 0.06 (pada lereng 14%) dan 0.01 pada lereng 30% (Lampiran 31). Penerapan SA1 menyebabkan erosi pada setiap tipe UTKKS lebih kecil dibandingkan dengan tanpa penerapan agroteknologi (Lampiran 31) dan bahkan erosi dapat dikendalikan hingga lebih kecil Etol. Erosi pada SK I dan SK II sebesar ton/ha/tahun, pada MK sebesar ton/ha/tahun dan pada MKS dan KSP sebesar ton/ha/tahun, sedangkan Etol berkisar ton/ha/tahun (Gambar 18 dan 19). Penyempurnaan agroteknologi yang dilengkapi dengan teknik KTA yang efektif mengendalikan erosi (sesuai kemiringan lereng) pada gilirannya dapat mempertahankan produktivitas lahan. Gambar 18 Pengaruh penerapan SA1 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 2 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat.

112 89 Gambar 19 Pengaruh penerapan SA1 pada setiap tipe UTKKS terhadap pendapatan dan erosi pada lahan seluas 5 ha dengan kemiringan lereng yang berbeda di DAS Batang Pelepat. Penerapan SA1 mengakibatkan peningkatan biaya usahatani karena adanya perbaikan agroteknologi berupa pemupukan dan teknik KTA. Biaya pemupukan meningkat sesuai peningkatan takaran yang direkomendasikan, sedangkan biaya teknik KTA meningkat sesuai dengan jenis teknik KTA yang digunakan. Menurut Ditjen PLA Deptan (2007b), penerapan LCC membutuhkan biaya sebesar Rp /ha, yang terdiri atas biaya upah tenaga kerja sebesar Rp (setara 16 HOK) untuk penanamannya dan bibit LCC senilai Rp25 000/ha, serta Rp /tahun (setara 6 HOK/tahun) untuk pemeliharaannya, sedangkan pembuatan teras gulud atau teras kebun membutuhkan biaya upah tenaga kerja sebesar Rp /ha (80 HOK) dan pemeliharaannya membutuhkan biaya tenaga kerja sebesar Rp /tahun (6 10 HOK). Perbaikan agroteknologi UTKKS melalui penerapan SA1 mengakibatkan produksi tanaman juga meningkat dibandingkan dengan produksi tanaman yang tidak menerapkan agroteknologi. Produksi karet mencapai kg lateks/ha/tahun atau %, kelapa sawit mencapai kg TBS/ha/tahun (84.11%), manau mencapai kg/ha (27.98%) dan kayu

113 sungkai, balam serta medang mencapai 128 m 3 /ha ( %) (Tabel 35). Peningkatan produksi karet dan kelapa sawit dapat diketahui berdasarkan hasil survei terhadap petani yang sudah menerapkan takaran pemupukan tersebut, sedangkan peningkatan produksi tanaman sela diperkirakan berdasarkan penambahan populasi tanaman dan pengelolaan usahatani karet secara memadai dapat meningkatkan produksi kayu karet hingga 300 m 3 /ha kayu bulat (Ditjenbun 2007). Tabel 35 Sebaran produksi tanaman karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS akibat penerapan SA1 di DAS Batang Pelepat Jenis Tanaman Produksi Tanaman pada setiap Tipe Usahatani SK I SK II MK I MKS KSP Karet a Manau a Sungkai b Medang b Balam b Gaharu a Klp. Sawit a Pisang a Padi a Pinang a Kayu Karet b * a = dalam kg lateks/ha dan b = dalam kg manau panjang 6 m/ha/tahun, c = m 3 kayu bulat/ha/tahun, d = kg gubal/ha/tahun, e = kg TBS/ha/tahun, f = kg buah segar/ha/tahun, g = kg GKG/ha/tahun dan h = kg biji kering/ha/tahun. Peningkatan produksi tanaman akibat penerapan SA1 pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan petani menjadi Rp /ha/tahun, meskipun biaya yang dikeluarkan untuk usahatani juga meningkat (Rp /ha). Pendapatan petani bervariasi sesuai tipe UTKKS dan agroteknologi yang diterapkan pada berbagai kemiringan lereng, yaitu Rp /ha/tahun (SK I), Rp /ha/tahun (SK II), Rp /ha/tahun (MK), Rp /ha/tahun (MKS) dan Rp /ha/tahun (KSP). Pendapatan paling tinggi dapat dicapai dengan menerapkan tipe SK I, sedangkan yang paling rendah dapat dicapai dengan hanya menerapkan tipe MK (Tabel 36). Pemanfaatan sebagian (2 ha) atau seluruh (5 ha) lahan milik petani dengan menerapkan SA1 mengakibatkan petani memperoleh pendapatan sebesar Rp /tahun; pendapatan ini telah melampaui PKHL yang mencapai Rp /KK (Gambar 18 dan Gambar 19). Berdasarkan pendapatan dari setiap tipe UTKKS yang dapat melampaui PKHL (pada lahan seluas 2 ha dan 5 ha) tersebut, berarti untuk memenuhi PKHL di DAS Batang Pelepat petani cukup mengelola lahan yang kurang dari 2 ha. 90

114 Berdasarkan perbandingan PKHL di DAS Batang Pelepat (Rp /KK) dan pendapatan yang diperoleh dari setiap tipe UTKKS per hektar akibat penerapan SA1 dapat ditentukan kebutuhan lahan minimal yang harus dikelola petani sesuai dengan tipe UTKKS yang dipilih. Kebutuhan lahan minimal untuk setiap tipe UTKKS pun bervariasi sesuai dengan kemiringan lereng, yaitu ha karena pendapatan yang diperoleh pada setiap tipe UTKKS pun bervariasi sesuai kemiringan lereng atau disesuaikan dengan teknik KTA yang diterapkan (Tabel 37). Tabel 36 Pengaruh penerapan SA1 terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Tipe Biaya (Juta Rp/ha) Penerimaan Pendapatan (Juta Rp/ha) UTKKS KTA0* KTA1* KTA2* (Juta Rp/ha) KTA0* KTA1* KTA2* SK I SK II MK MKS KSP * KTA0 = tanpa teknik KTA pada lereng 0 2%, KTA1 = LCC dan sistem tanam menurut kontur (CC) pada lereng 3 14% dan KTA2 = LCC dan teras gulud atau teras kebun pada lereng 15 30%. Tabel 37 Pengaruh penerapan SA1 terhadap kebutuhan luas lahan minimal setiap tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS Luas Lahan pada setiap Kemiringan Lereng (ha) 2% 7% 14% 30% Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Berdasarkan analisis kelayakan usahatani, semua tipe UTKKS berkelanjutan yang dicapai melalui penerapan SA1 layak dan menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari indikator kelayakan investasi usahatani (B/C, NPV dan IRR). Kelayakan investasi setiap tipe UTKKS bervariasi sesuai dengan kemiringan lereng karena biaya dan penerimaan usahatani pada setiap kemiringan lereng juga berbeda (Lampiran 30). Berdasarkan analisis kelayakan usahatani, tipe SK I mempunyai tingkat kelayakan yang lebih tinggi (B/C = , NPV = Rp dan IRR = %) dibandingkan dengan tipe UTKKS lainnya (Tabel 38). Peningkatan pendapatan, penurunan erosi dan analisis kelayakan usahatani tersebut menunjukkan bahwa indikator keberlanjutan pada setiap tipe UTKKS dapat dicapai dengan menerapkan SA1. Peningkatan pendapatan dan 91

115 penurunan erosi akibat penerapan SA1 berbanding lurus dengan diversivitas tanaman yang digunakan pada setiap tipe UTKKS. Tabel 38 Pengaruh penerapan SA1 terhadap tingkat kelayakan setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat pada setiap kemiringan lereng Tipe UTKKS B/C NPV (Juta Rupiah) IRR (%) SA1 pada lereng 2% Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang SA1 pada lereng 7% dan 14% SA1 pada lereng 30% Skenario Agroteknologi 2 Skenario agroteknologi 2 (SA2) adalah pengaturan jarak tanam dan penerapan KTA seperti pada SA1, namun menerapkan rekomendasi pemupukan yang berbeda (Tabel 34). Takaran pupuk tanaman disesuaikan dengan rekomendasi BPP Sembawa (2003) untuk karet ( g urea, g SP-36 dan g KCl per pohon setiap tahun) dan rekomendasi PPKS Medan (1999) untuk kelapa sawit ( kg urea, kg TSP, kg KCl dan kg MgSO 4 per pohon setiap tahun). Perbaikan agroteknologi dengan menerapkan SA2 dapat mengendalikan erosi hingga di bawah Etol (Gambar 20 dan Gambar 21). Tingkat ketercapaian penurunan erosi akibat penerapan kedua skenario agroteknologi adalah sama. Pengendalian erosi dapat mempertahankan kesuburan tanah sehingga dapat pula dicapai produksi tanaman secara optimal. Penerapan SA2 dapat meningkatkan produksi karet menjadi kg lateks/ha/tahun ( %) dan produksi kelapa sawit menjadi kg TBS/ha/tahun (98.02%). Peningkatan produksi karet sesuai dengan standar produksi karet yang ditetapkan oleh BPP Sembawa (Anwar 2006), sedangkan peningkatan produksi kelapa sawit sesuai dengan potensi produksi TBS pada lahan dengan kelas kesesuaian S3. Peningkatan produksi tanaman lainnya sama dengan produksi akibat penerapan SA1 (Tabel 39 dan Lampiran 13). 92

116 93 Gambar 20 Pengaruh penerapan SA2 pada setiap tipe UTKKS terhadap erosi dan pendapatan pada lahan seluas 2 ha dengan kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat. Gambar 21 Pengaruh penerapan SA2 pada setiap tipe UTKKS terhadap erosi dan pendapatan pada lahan seluas 5 ha dengan kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat.

117 Tabel 39 Sebaran produksi tanaman karet, kelapa sawit dan tanaman sela pada setiap tipe UTKKS akibat penerapan SA2 di DAS Batang Pelepat Jenis Tanaman Produksi Tanaman pada setiap Tipe Usahatani SK I SK II MK I MKS KSP Karet a Manau a Sungkai b Medang b Balam b Gaharu a Klp. Sawit a Pisang a Padi a Pinang a Kayu Karet b * a = dalam kg lateks/ha dan b = dalam kg manau panjang 6 m/ha/tahun, c = m 3 kayu bulat/ha/tahun, d = kg gubal/ha/tahun, e = kg TBS/ha/tahun, f = kg buah segar/ha/tahun, g = kg GKG/ha/tahun dan h = kg biji kering/ha/tahun. Penerapan SA2 membutuhkan biaya yang lebih besar (Rp /ha) dibandingkan dengan penerapan SA1, tetapi peningkatan produksi tanaman mengakibatkan pendapatan yang diperoleh dari usahatani juga meningkat menjadi Rp /ha/tahun; peningkatan pendapatan ini pun lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan SA1 dan tanpa penerapan agroteknologi. Peningkatan pendapatan petani akibat penerapan SA2 juga bervariasi sesuai tipe UTKKS dan teknik KTA yang diterapkan pada setiap kemiringan lereng. Pendapatan tertinggi diperoleh dari tipe SK I, sedangkan pendapatan terendah diperoleh dari tipe MKS. Pendapatan yang diperoleh dari setiap tipe UTKKS berkisar Rp /ha/tahun (SK I), Rp /ha/tahun (SK II), Rp /ha/tahun (MK), Rp /ha/tahun (MKS) dan Rp /ha/tahun (KSP) (Tabel 40). Pemanfaatan sebagian (2 ha) dan seluruh (5 ha) lahan milik petani bila disertai penerapan SA2 juga menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani mencapai Rp /tahun; pendapatan ini juga melampaui PKHL yang besarnya Rp /KK (Gambar 20 dan Gambar 21). Tingkat ketercapaian peningkatan pendapatan akibat penerapan SA2 lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan SA1. Peningkatan pendapatan dan penurunan erosi juga berbanding lurus dengan diversivitas tanaman pada setiap tipe UTKKS. Berdasarkan perbandingan pendapatan yang diperoleh dari setiap hektar tipe UTKKS yang disertai penerapan SA2 dengan PKHL di DAS Batang Pelepat (Rp /KK) dapat ditentukan kebutuhan lahan minimal harus dikelola petani untuk setiap tipe UTKKS yang dipilih. Luas lahan minimal yang dibutuhkan untuk setiap tipe UTKKS dalam mencapai PKHL dengan menerapkan 94

118 SA2 lebih kecil dibandingkan dengan SA1, yaitu ha. Kebutuhan lahan tersebut juga bervariasi berdasarkan kemiringan lereng (Tabel 41). Tabel 40 Pengaruh penerapan SA2 terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan pada setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat Tipe Biaya (Juta Rp/ha) Penerimaan Pendapatan (Juta Rp/ha) UTKKS KTA0* KTA1* KTA2* (Juta Rp/ha) KTA0* KTA1* KTA2* SK I SK II MK MKS KSP * KTA0 = tanpa teknik KTA pada lereng 0 2%, KTA1 = LCC dan sistem tanam menurut kontur (CC) pada lereng 3 14% dan KTA2 = LCC dan teras gulud atau teras kebun pada lereng 15 30%. Tabel 41 Pengaruh penerapan SA2 terhadap kebutuhan luas lahan minimal setiap tipe UTKKS pada berbagai kemiringan lereng di DAS Batang Pelepat Tipe UTKKS Luas Lahan pada setiap Kemiringan Lereng (Ha) 2% 7% 14% 30% Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Penilaian keberlanjutan setiap tipe UTKKS melalui penerapan SA2 juga didukung dengan analisis kelayakan usahatani. Hasil analisis kelayakan usahatani menunjukkan bahwa semua tipe UTKKS layak dan menguntungkan dengan indikator nilai B/C >1, NPV > 0 dan IRR > 12%. Tingkat kelayakan setiap tipe UTKKS yang disertai dengan penerapan SA2 bervariasi sesuai dengan teknik KTA yang digunakan pada setiap kemiringan lereng (Lampiran 30). Hasil analisis kelayakan usahatani menunjukkan bahwa SK I mempunyai tingkat kelayakan yang lebih tinggi (B/C = , NPV = dan IRR = %) dibandingkan dengan tipe UTKKS lainnya (Tabel 42). Keberlanjutan UTKKS di DAS Batang Pelepat, terutama dengan tercapainya peningkatan pendapatan hingga melampaui PKHL akibat penerapan SA1 dan SA2 pada setiap tipe UTKKS dapat menekan dan mencegah perambahan hutan oleh masyarakat (petani). Perbaikan agroteknologi UTKKS di DAS Batang Pelepat juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan masyarakat di kawasan tersebut dan akan sangat efektif untuk menjamin kelestarian TNKS. Hal ini sejalan dengan kebijakan prioritas pembangunan kehutanan yang salah satu diantaranya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar dan dalam hutan (Menhut RI 2008). 95

119 96 Tabel 42 Pengaruh penerapan SA2 terhadap tingkat kelayakan setiap tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat pada setiap kemiringan lereng Tipe UTKKS B/C NPV (Juta Rupiah) IRR (%) SA2 pada lereng 2% Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang Sesap Karet I Sesap Karet II Monokultur Karet Monokultur Kelapa Sawit Kelapa Sawit-Pisang SA2 pada lereng 7% dan 14% SA2 pada lereng 30% Optimalisasi UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Usahatani berkelanjutan yang optimal diperoleh melalui analisis optimalisasi dengan PTG. Optimalisasi usahatani dilakukan pada penerapan SA1 dan SA2 untuk sebagian (2 ha) dan seluruh (5 ha) lahan milik petani pada beberapa kelas kemiringan lereng (2, 7, 14 dan 30 %) dengan modal yang dimiliki petani (Rp /tahun), target pendapatan Rp (PKHL) dan target erosi Etol (43.12 ton/ha/tahun pada lereng 2%, ton/ha/tahun pada lereng 7%, ton/ha/tahun pada lereng 14% dan ton/ha/tahun pada lereng 30%). Hasil analisis PTG menunjukkan bahwa usahatani yang paling optimal diterapkan di DAS Batang Pelepat adalah SK I (karet-manau-kayu sungkai) yang disertai penerapan SA2. Hal ini terlihat dari deviasi positif target erosi (de + ) dan deviasi negatif target pendapatan (dp - ) yang sama dengan nol (de + dan dp - = 0) pada setiap kemiringan lereng dengan alokasi penggunaan hanya untuk SK I. Penerapan agroteknologi (SA1 dan SA2) menyebabkan penetapan prioritas sasaran (pengutamaan terhadap salah satu aspek) tidak berpengaruh terhadap penentuan usahatani yang optimal karena analisis terhadap prioritas pengendalian erosi dan peningkatan pendapatan menunjukkan hasil yang sama (Lampiran 32). Tingkat ketercapaian target pengendalian erosi dan peningkatan pendapatan akibat penerapan SA1 berbeda dengan SA2 (Tabel 43 dan 44).

120 Tabel 43 Pengaruh penerapan SA1 dan SA2 terhadap persentase tingkat ketercapaian (d + ) dan ketidaktercapaian target (d - ) usahatani optimal di DAS Batang Pelepat pada lahan seluas 2 ha dan berbagai kemiringan lereng Kendala Target SA1 SA2 Lereng 2% Lahan (Ha) (00.00) 2.00 (00.00) Modal (Juta Rupiah/tahun) ( ) 3.18 ( ) Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) Lereng 7% Lahan (Ha) 2.00 Modal (Juta Rupiah/tahun) 6.00 Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) Lereng 14% Lahan (Ha) 2.00 Modal (Juta Rupiah/tahun) 6.00 Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) (-93.55) ( ) 2.00 (00.00) 2.90 (+51.67) 0.61 (-97.93) ( ) 2.00 (00.00) 2.90 (+51.67) 3.46 (-87.66) (+81.56) 97 (-93.55) ( ) 2.00 (00.00) 3.20 (+46.67) 0.61 (-97.93) ( ) 2.00 (00.00) 3.20 (+46.67) 3.46 (-87.66) ( ) Lereng 30% Lahan (Ha) (00.00) 2.00 (00.00) Modal (Juta Rupiah/tahun) (+43.00) 3.72 (+38.00) Erosi (ton/ha/tahun) (-94.79) 1.11 (-94.79) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) (+78.89) ( ) * nilai 0 menunjukkan tujuan/target tepat tercapai, tanda negatif menunjukkan target tidak tercapai (kurang dari target) dan tanda positif menunjukkan target terlampaui. Tingkat ketercapaian target mengendalikan erosi hingga di bawah Etol pada kedua skenario agroteknologi adalah sama ( % di bawah Etol). Sebaliknya tingkat ketercapaian target meningkatkan pendapatan petani hingga melebihi PKHL pada penerapan SA2 lebih tinggi dibandingkan dengan SA1. Peningkatan pendapatan dengan menerapkan SA1 mencapai % diatas PKHL (pada lahan seluas 2 ha) dan % diatas PKHL (pada lahan seluas 5 ha), sedangkan peningkatan pendapatan dengan menerapkan SA2 mencapai % diatas PKHL (pada lahan seluas 2 ha) dan % diatas PKHL (pada lahan seluas 5 ha) (Tabel 43 dan Tabel 44). Hasil analisis PTG juga menunjukkan bahwa usahatani paling optimal saat ini hanya dapat diterapkan petani dengan lahan seluas 2 ha, karena modal yang dibutuhkan (Rp atau %) lebih kecil dari

121 modal yang dimiliki petani (Tabel 43). Penerapannya pada lahan seluas 5 ha memerlukan modal (Rp atau %) lebih besar dari modal yang dimiliki petani (Tabel 44). Tabel 44 Pengaruh penerapan SA1 dan SA2 terhadap persentase tingkat ketercapaian (d + ) dan ketidaktercapaian target (d - ) usahatani optimal di DAS Batang Pelepat pada lahan seluas 5 ha dan berbagai kemiringan lereng Kendala Target SA1 SA2 Lereng 2% Lahan (Ha) (00.00) (00.00) Modal (Juta Rupiah/tahun) ( ) ( ) Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) Lereng 7% Lahan (Ha) 5.00 Modal (Juta Rupiah/tahun) 6.00 Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) Lereng 14% Lahan (Ha) 5.00 Modal (Juta Rupiah/tahun) 6.00 Erosi (ton/ha/tahun) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) (-93.55) ( ) 5.00 (00.00) 7.25 (-20.83) 0.61 (-97.93) ( ) 5.00 (00.00) 7.25 (-20.83) 3.46 (87.66) ( ) 98 (-93.55) ( ) 5.00 (00.00) 8.00 ( ) 0.61 (-97.93) ( ) 5.00 (00.00) 8.00 ( ) 3.46 (87.66) ( ) Lereng 30% Lahan (Ha) (00.00) (00.00) Modal (Juta Rupiah/tahun) ( ) (-55.00) Erosi (ton/ha/tahun) (-94.79) (-94.79) Pendapatan (Juta Rupiah/tahun) ( ) ( ) * nilai 0 menunjukkan tujuan/target tepat tercapai, tanda negatif menunjukkan target tidak tercapai (kurang dari target) dan tanda positif menunjukkan target terlampaui. Usahatani berkelanjutan yang optimal akan dapat mendukung perbaikan kesejahteraan petani di DAS Batang Pelepat karena sebagian besar petani menerapkan tipe SK I (karet-manau-kayu sungkai). Hasil penelitian ini sangat relevan untuk mendukung program pemerintah Kabupaten Bungo karena pengembangan rotan manau di Kabupaten Bungo merupakan prioritas ketiga setelah karet dan kelapa sawit (Budisetiawan 2008). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan kajian Penot dan Budiman (2004) yang mengemukakan bahwa SK adalah salah satu tipe agroforestri (agroforestri karet) khas Indonesia

122 99 yang berkembang dengan keterbatasan modal petani, namun melalui penerapan agroteknologi untuk intensifikasi pengelolaan dan input sistem usahatani akan memberikan keuntungan ekonomi dan lingkungan secara optimal. Penerapan UTKKS Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Lahan di sub DAS Batang Pelepat terdiri atas beberapa kelas kemampuan lahan, yaitu II, III, IV, VI dan VII dengan faktor penghambat berupa lereng yang miring hingga curam, drainase yang agak baik hingga agak buruk dan erosi yang ringan hingga sangat berat. Lahan digolongkan cukup sesuai (S2), sesuai marginal (S3) dan tidak sesuai (N) untuk tanaman karet dan kelapa sawit dengan faktor pembatas kemiringan lereng dan kejenuhan basa dan ph tanah yang rendah. Usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) rakyat yang dikembangkan petani lokal saat ini belum disertai dengan agroteknologi yang memadai sehingga terjadi kerusakan lahan, produksi yang dicapai pun tidak optimal dan pendapatan petani masih rendah. Oleh karena itu sangat diperlukan perencanaan UTKKS untuk memperbaiki kondisi tersebut. Perencanaan UTKKS berkelanjutan harus disusun secara komprehensif melalui pendekatan interdisiplin (sesuai konsep SPB) dan analisis multikriteria. Perencanaan UTKKS berkelanjutan disusun untuk memperoleh agroteknologi yang memadai dengan indikator tidak menimbulkan degradasi lahan (erosi Etol), meningkatkan kesejahteraan petani (pendapatan PKHL) dan dapat diterima serta diterapkan oleh petani. Hasil penelitian ini memberi rekomendasi agroteknologi yang menyempurnakan sistem UTKKS yang sudah ada sehingga diharapkan akan lebih mudah diadopsi oleh petani. Penyempurnaan agroteknologi UTKKS di sub DAS Batang Pelepat dititikberatkan pada teknik pemupukan dan teknik KTA yang dapat diterapkan petani sesuai dengan modal yang dimilikinya. Pemupukan yang direkomendasikan oleh BPP Sembawa (2003) untuk karet dan PPKS Medan (1999) untuk kelapa sawit dapat memberikan produksi dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemupukan yang direkomendasikan oleh Balitbang Pertanian (2005b). Teknik KTA yang dipilih disesuaikan dengan kemiringan lereng. Pemanfaatan lahan dengan kemiringan lereng 2% harus disertai dengan penanaman LCC, pada kemiringan lereng 3 14% disertai dengan penanaman LCC dan sistem tanam menurut kontur dan pada kemiringan lereng 15 30% disertai dengan penanaman LCC dan teras gulud (teras kebun). Lahan dengan kemiringan >30-45% direkomendasikan untuk tanaman kayu-

123 100 PETA SEBARAN ARAHAN PENERAPAN AGROTEKNOLOGI UTKKS BERKELANJUTAN DAN PENGGUNAAN LAHAN DI SUB DAS BATANG PELEPAT Gambar 22 Peta sebaran arahan penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan penggunaan lahan di Sub DAS Batang Pelepat

124 101 kayuan. Oleh karena itu sebaran penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan penggunaan lahan di sub DAS Batang Pelepat bervariasi sesuai dengan kondisi biofisik lahan terutama kemiringan lereng (Gambar 22). Semua tipe UTKKS dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan UTKKS berkelanjutan, tetapi tipe usahatani yang paling optimal adalah tipe SK I (karet-manau-kayu sungkai). Penerapan tipe usahatani yang paling optimal dapat mengendalikan erosi hingga di bawah Etol (87.66% % di bawah Etol) dan meningkatkan pendapatan petani hingga melampaui PKHL (103.56% % diatas PKHL). Oleh karena itu SK I dapat dijadikan alternatif utama dalam pengembangan UTKKS berkelanjutan di sub DAS Batang Pelepat. Berdasarkan analisis kelayakan usahatani, penerapan alternatif agroteknologi dalam pengembangan UTKKS di sub DAS Batang Pelepat juga dikategorikan layak dan menguntungkan. Metode perencanaan UTKKS berkelanjutan di sub DAS Batang Pelepat ( ha) dapat diterapkan pada seluruh DAS Batang Pelepat ( ha). Berdasarkan peta satuan lahan DAS Batang Pelepat dapat direkomendasikan penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan seperti pada sub DAS Batang Pelepat. Satuan lahan yang terdapat di DAS Batang Pelepat yang mempunyai karakteristik yang sama dengan satuan lahan di sub DAS Batang Pelepat direkomendasikan untuk menerapkan agroteknologi UTKKS yang sama. Berdasarkan perencanaan UTKKS berkelanjutan, arahan penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat meliputi hutan (31.82%), UTKKS (62.12%) dengan agroteknologi yang sesuai dan tanaman kayu-kayuan (6.07%) dengan sebaran seperti pada Gambar 23. Alokasi tersebut masih sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang menetapkan bahwa luas penutupan hutan yang harus dipertahankan dalam suatu daerah DAS guna optimalisasi manfaat lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat setempat adalah minimal 30% dari luas DAS dengan sebaran yang proporsional. Pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat diarahkan untuk memanfaatkan lahan pertanian yang ada secara optimal melalui penerapan agroteknologi yang sesuai. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa petani dapat mencapai pendapatan yang dapat memenuhi PKHL hanya dengan mengelola atau memanfaatkan lahan < 1.5 ha, meskipun saat ini petani mempunyai lahan seluas 5 ha. Lahan yang telah diusahakan petani saat ini umumnya adalah 2 ha yang bila dikelola secara optimal dengan agroteknologi yang memadai, petani akan memperoleh pendapatan yang melampaui PKHL dengan tetap menjaga kelestarian lahan.

125 102 PETA SEBARAN ARAHAN PENERAPAN AGROTEKNOLOGI UTKKS BERKELANJUTAN DAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS BATANG PELEPAT Gambar 23 Peta sebaran arahan penerapan agroteknologi UTKKS berkelanjutan dan penggunaan lahan di DAS Batang Pelepat

126 Pembukaan lahan baru untuk pengembangan pertanian dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di DAS Batang Pelepat belum mendesak untuk dilakukan. Pemanfaatan lahan yang lebih luas pun akan memerlukan modal yang besar, sedangkan saat ini petani mempunyai modal yang terbatas (hanya dapat memenuhi modal untuk mengelola lahan seluas 2 ha). Meskipun demikian kebijakan pemerintah untuk pengembangan pertanian yang membutuhkan lahan di kawasan ini masih dimungkinkan karena masih tersedia lahan yang sesuai untuk pertanian (kelas II, III dan IV) yang saat ini masih ditutupi oleh hutan (sebagian), semak belukar, dan lahan terbuka. Agroteknologi harus tetap menjadi perhatian dalam implementasi pengembangan tersebut sehingga menjamin aspek keberlanjutan usahatani. Pemanfaatan lahan kelas II, III dan IV yang masih berupa hutan untuk pengembangan usahatani berkelanjutan harus pula disertai dengan izin dari Dephut RI. Lahan yang telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, namun tergolong kelas VI dan VII dan kemiringan lereng >30-45% direkomendasikan untuk ditanam tanaman kayu-kayuan. Lahan pertanian yang mempunyai kemiringan lereng >45% sebaiknya diarahkan untuk direhabilitasi atau dihutankan kembali, sedangkan lahan yang saat ini masih berupa hutan sebaiknya tidak dikonversi untuk penggunaan lain. Agroteknologi yang dapat mendukung pengembangan UTKKS seperti yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini harus pula disosialisasikan kepada berbagai pihak yang terkait melalui berbagai pertemuan baik yang bersifat ilmiah maupun non-ilmiah. Sosialisasi agroteknologi kepada petani dapat dilakukan melalui pemberdayaan Petugas Penyuluh Lapang (PPL). Sosialisasi kepada pemerintah juga sangat penting sehingga pemerintah dapat meningkatkan kepedulian atau perhatiannya terhadap usahatani rakyat dan kesejahteraan petani lokal dan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan pemanfaatan lahan di DAS Batang Pelepat terutama untuk pengembangan pertanian. Implementasi perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya sistem kelembagaan dan efek eksternalitas yang ditimbulkan dalam penerapan UTKKS tersebut. Oleh karena itu dalam rangka melengkapi perencanaan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat masih perlu dilakukan penelitian yang mengkaji aspek-aspek tersebut dan pengaruhnya terhadap keberlanjutan usahatani.

127 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tanah di DAS Batang Pelepat mempunyai status kesuburan yang sangat rendah hingga rendah dan didominasi oleh tanah grup dystrudepts ( ha atau 73.13%), kelas >15-30% ( ha atau 27.55%) dan kelas lereng >45 65% ( ha atau 29.39%). 2. Penggunaan lahan aktual sesuai dengan kelas kemampuan dan kesesuaian lahan. Lahan yang tergolong kelas II, III dan IV (arable land) hanya ha atau 53.22% dengan kelas kesesuaian S2 dan S3 untuk karet dan kelapa sawit. 3. Usahatani di DAS Batang Pelepat terdiri atas campuran karet-manau-sungkai (sesap karet I), campuran karet-balam-medang (sesap karet II), monokultur karet I, monokultur karet II, campuran karet-gaharu, monokultur kelapa sawit dan campuran kelapa sawit-pisang; semua tipe usahatani ini belum menerapkan agroteknologi yang memadai sehingga tidak menunjukkan indikator berkelanjutan. 4. Tipe MK I mempunyai pengaruh paling buruk terhadap sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dibandingkan dengan tipe UTKKS lain. Tipe MK I mempunyai tingkat kepadatan paling tinggi (BI =1.14 g/cm 3 ) sehingga menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling tinggi (6.92 mm dan 0.58 ton/ha), sedangkan tipe SK dengan BI = 0.92 g/cm 3 menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling rendah (3.53 mm dan 0.12 ton/ha). 5. Usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS) berkelanjutan di DAS Batang Pelepat dapat dicapai bila menggunakan agroteknologi berupa pemberian pupuk untuk karet dengan takaran g urea/pohon/tahun, g SP-36/pohon/tahun dan g KCl/pohon/tahun, sedangkan untuk kelapa sawit adalah kg urea/pohon/tahun, kg TSP/pohon/tahun, kg KCl/pohon/tahun dan kg MgSO 4 /pohon/tahun. Teknik KTA yang dapat diterapkan adalah LCC dan sistem tanam menurut kontur pada lereng 3 14% dan LCC dan teras gulud/teras kebun pada lereng 15 30%. 6. Usahatani berkelanjutan yang paling optimal di DAS Batang Pelepat adalah tipe sesap karet I (karet-manau-kayu sungkai) pada lahan seluas 2 ha dengan menerapkan agroteknologi berupa pemberian pupuk dengan takaran g urea/pohon/tahun, g SP-36/pohon/tahun dan g 104

128 105 KCl/pohon/tahun dan teknik KTA berupa LCC dan sistem tanam menurut kontur pada lereng 3 14% dan LCC dan teras gulud/teras kebun pada lereng 15 30%. 7. Sesap karet I dapat menurunkan erosi menjadi ton/ha/tahun dan meningkatkan pendapatan menjadi Rp /ha/tahun serta mempunyai tingkat kelayakan investasi paling tinggi (B/C= , NPV=Rp dan IRR= %). 8. Semua tipe UTKKS dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat dan penerapannya diarahkan pada pengelolaan lahan pertanian yang sudah ada secara optimal melalui penerapan agroteknologi. Saran 1. Perencanaan usahatani berkelanjutan untuk memperoleh rekomendasi agroteknologi harus disusun dengan mempertimbangkan aspek biofisik, ekonomi dan sosial secara simultan (analisis multikriteria) dengan indikator erosi Etol, Pendapatan PKHL dan dapat diterima serta diterapkan oleh petani. 2. Pengembangan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat saat ini disarankan untuk menerapkan agroteknologi yang sesuai berupa pemberian pupuk untuk karet dengan takaran g urea/pohon/tahun, g SP-36/pohon/tahun dan g KCl/pohon/tahun, sedangkan untuk kelapa sawit adalah kg urea/pohon/tahun, kg TSP/pohon/tahun, kg KCl/pohon/tahun dan kg MgSO 4 /pohon/tahun. Teknik KTA yang dapat diterapkan adalah LCC dan sistem tanam menurut kontur pada lereng 3 14% dan LCC dan teras gulud/teras kebun pada lereng 15 30%. 3. Sesap karet I (karet-manau-kayu sungkai) dengan luas lahan 2 ha dapat dijadikan alternatif utama dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di DAS Batang Pelepat saat ini. Pemanfaatan lahan seluas 5 ha saat ini dapat diwujudkan melalui pengajuan kredit usahatani dengan pertimbangan kelayakan investasi (IRR > 12%, yaitu %). 4. Lahan di DAS Batang Pelepat yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian (UTKKS) sebaiknya adalah lahan yang mempunyai kemiringan lereng 0 30%. Lahan yang mempunyai kemiringan lereng >30 45% dan telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sebaiknya ditanam tanaman

129 106 kayu-kayuan, sedangkan yang >45% diarahkan untuk direhabilitasi kembali menjadi hutan. Lahan yang masih berupa hutan sebaiknya tidak dikonversi. 5. Kajian tentang sistem kelembagaan yang mendukung dan efek eksternalitas penerapan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat masih sangat diperlukan.

130 DAFTAR PUSTAKA Abdurachman A, Anny M dan Karmini G Kesesuaian lahan untuk pengembangan beberapa tanaman perkebunan di Indonesia. Di dalam: Zainal M, Elna K, DD Tarigans, Syamsu O dan Joko M, editor. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Medan, November Medan:Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri dan Balitbang Kehutanan dan Perkebunan. Adnyana MO Pengembangan sistem usaha pertanian berkelanjutan. [3 Maret 2006]. Agus, F dan Widianto Petunjuk praktis konservasi tanah pertanian lahan kering. World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Bogor. Allamaras RR, Linden DR dan Clapp CE Corn-Residue Transformations into Root and Soil Carbon as Related to Nitrogen, Tillage and Stover Management. Soil Sci. Soc. Am. J 68: [Anonim] Banjir besar hantam tiga desa. Harian Jambi Ekspress 8 Pebruari 2006 : 2. Anwar C Managemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pelatihan Tekno Agribisnis Karet; Jakarta, 18 Maret Jakarta : PT FABA Indonesia Konsultan. [2 September 2007]. Arifin B Kontroversi program konservasi lahan. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3) : Arsyad S Konservasi tanah dan air. Bogor : Serial Pustaka IPB Press. Aswandi Tinjauan kritis peluang dan tantangan pengelolaan dengan pendekatan bioregion di DAS Batanghari. Prosiding Konsultasi Publik Regional Membangun Kesepahaman Bersama menuju Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Masyarakat dengan Pendekatan Bioregion pada DAS Batanghari; Gedung Mayang Mangurai BAPPEDA Jambi, Maret Jambi : KKI Warsi, Pemerintah daerah Provinsi Jambi dan Departement for International Development Multistakeholder Forestry Programme. Baker BJ, Fausey NR, dan Islam KR Comparison of Soil Physical Properties under Two Different Water Table Management Regimes. Soil. Sci. Am. J 68 : [Balitbang] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005a. Prospek dan arah pengembangan agribisnis karet. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. [Balitbang] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005b. Kumpulan Teknologi Unggulan Pendukung Primatani. Bogor : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. [Balitbang] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005c. Penyusunan Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian Kabupaten Bungo. Bogor : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. [BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bungo Revisi RTRW Kabupaten Bungo. Bungo : PEMDA Kabupaten Bungo. 107

131 108 [BPP] Balai Penelitian Perkebunan Sembawa Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat. Palembang : Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Perkebunan Sembawa. Barrow CJ Land degradation. Cambridge-New york-port Chester- Melbourne-Sydney : Cambridge University Press. Black PE Watershed hydrology. New York : State University of New York. [BPDAS Batanghari] Balai Pengelolaan DAS Batanghari Database dan informasi kegiatan rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial. Jambi : Balai Pengelolaan DAS Batanghari. Briassoulis H Analysis of land use change theoritical an modelling approaches. Virginia : Regional Research Institute West Virginia University. Budisetiawan I Potensi pengembangan rotan manau di Kabupaten Bungo. Di dalam : Adnan H, Tadjudin D, Yuliani EL, Komarudin H, Lopulalan D, Siagian YL dan Munggoro DW, editor. Belajar dari Bungo Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi. Bogor : Center for International Forestry Research (CIFOR). Cahyono SA Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Info DAS 13 : Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Calder IR Water resources and land use issues. System Wide Initiative on Water Management. Paper No. 3, Colombo. Sri Lanka : IWMI. Connolly NM dan Pearson RG Impact of forest conversion on the ecology of streams in humid tropics. In Forest, water and people in humid tropics (Past, present and future hydrological research for integrated land and water management). Australia : Cambridge University Press. Dariah A, Rachman A dan Kurnia U Erosi dan degradasi lahan kering di Indonesia. Di dalam : Kurnia U, Rachman A dan Dariah A, editor. Prosiding Teknologi konservasi lahan kering berlereng. Bogor : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. Dariah A, Agus F, Arsyad S, Sudarsono dan Mascar Erosi dan aliran permukaan pada lahan pertanian berbasis tanaman kopi di Sumberjaya, Lampung Barat. files/journal/bk [21 September 2007]. Davenport T E The watershed project management guide. Washington, DC. USA : Lewis Publisher. A CRC Press Company. David WP Erosion and sediment transport. Bahan Kuliah Transpor Sediment. (Tidak dipublikasikan) [Dephut] Departemen Kehutanan Pedoman penyelenggaraan pengelolaan daerah aliran sungai. Jakarta : Dirjen RLPS dan RLKT. Jakarta. [Dephut] Departemen Kehutanan Budidaya Tanaman Penghasil Gaharu. Jakarta : Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan.

132 109 [Depkimpraswil] Departemen Kimpraswil Rencana penyusunan arahan pemanfaatan ruang di DAS Batanghari. Jambi : Departemen Kimpraswil. [Depkimpraswil] Departemen Kimpraswil Data Besar Aliran Air (Debit) Pos Duga Air/AWLR Rantau Keloyang. Jambi : Departemen Kimpraswil. Diana M Dampak Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Sumberdaya Air pada Sub DAS Batang Pelepat Provinsi Jambi.[Skripsi]. Bogor : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. [Direktorat KKSDA BAPPENAS] Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air Badan Perencana Pembangunan Nasional Kajian Model Pengelolaan DAS Terpadu. http ://www/bappenas.go.id [17 Pebruari 2007]. [Disbun] Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Statistik Perkebunan Jambi tahun Jambi : Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. [Disbun] Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Statistik Perkebunan Jambi. Jambi : Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. [Ditjenbun] Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Statistik Perkebunan Indonesia. Kelapa Sawit dan Karet. Jakarta : Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian. [Ditjenbun] Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Pedoman Umum Program Revitalisasi Perkebunan (Kelapa Sawit, karet dan Kakao). Jakarta : Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian. http :// [12 September 2007]. [Ditjen PLA Deptan] Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departeman Pertanian. 2007a. Pedoman Teknis Pengembangan Usahatani Konservasi Terpadu (PUKLT). Jakarta : Departeman Pertanian. http ://setjen.deptan.go.id [12 Mei 2008]. [Ditjen PLA Deptan] Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departeman Pertanian. 2007b. Pedoman Umum Padat Karya Pengelolaan Lahan dan Air Ta Jakarta : Departemen Pertanian. http ://setjen.deptan.go.id/pedum_padat_karya_2007_lkp[1].pdf [12 Mei 2008]. [Ditjen RRL Dephut] Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Departemen Kehutanan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 284/Kpts-II/1999 tentang Penetapan Urutan DAS Prioritas. Jakarta : Ditjen RRL Departemen Kehutanan RI. [Ditjen Sumberdaya Air] Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Pertanian Sebanyak 65 DAS dalam kondisi semakin kritis. Harian Kompas 20 Agustus 2004 : 15. Djaenudin D, Marwan H, Subagyo H, Mulyani A dan Suharta N Kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. Versi 1. Bogor : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Djaenudin D, Marwan H, Subagyo H, Mulyani A dan Suharta N Kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. Versi 4. Bogor : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.

133 110 Easter KW, Dixon JA, and Hufschmidt MM Watershed Resources Management. Honolulu, Hawaii : Published in Cooperation With The East-West Center, Environment and Policy Institute. Gaspersz V Metode perancangan percobaan. Bandung : CV Armico. Gittinger JP Analisa ekonomi proyek-proyek pertanian. Sutomo S dan Mangiri K, penerjemah. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Terjemahan dari : Economics analysis of agriculture project. Goldman SJ, Jackson K dan Bursztynzky TA Erosion and Sediment Control Handbook. McGraw-Hill Book Company. Gray C, Simanjuntak P, Lien KS, Maspaitella PFL dan Varley RCG Pengantar evaluasi proyek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Gregersen HM, Brooks KN, Dixon JA dan Hamilton S Guidelines for economics appraisal of watershed management projects. FAO Conservatioan Guide 16. FAO. Gunn RH, Beattie JA, Reid RE dan Graff V Australian soil an land survey handbook : guidelines for conducting survey. Melbourne : Inkata Press. Hairiah K, Sulistyani H, Suprayogo D, Widianto, Purnomosidhi P, Widodo RH dan Noorwidjk MV Litter layer resisdence time in forest and coffea agroforestry system in Sumberjaya, West Lampung. Forest Ecology and Management 224: Hairiah K, Utami SR, Lusiana R dan Noordwijk MV Neraca hara dan karbón dalam sistem agroforestri. Bahan Agroforestri. Bogor : ICRAFT. N [27 September 2007]. Hammer WI Soil conservation consultant report. Bogor : Centre for soil research. Hardjowigeno S, Widiatmaka dan Yogaswara Kesesuaian lahan dan perencanaan tata guna tanah. Bogor : Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. Hardjowigeno S Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Prescindo. JICA The study on the development scheme for the principal river ports in Indonesia. Directorate General of Sea Communication Ministry of Communications. Joshie L, Wibawa G, Vincent G, Boutin D, Akiefnawati R, Manurung G dan Noordwijk MV Wanatani kompleks berbasis karet. Bogor : ICRAFT. [2 Maret 2006]. Joshie L, Wibawa G, Vincent G, Boutin D, Akiefnawati R, Manurung G dan Noordwijk MV Wanatani kompleks berbasis karet. Bogor : ICRAFT. [2 Maret 2006]. Juarsah I Implementasi sistem pola tanam usahatani konservasi petani peladang berpindah terhadap peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Di dalam : Murtilaksono K, Agus F, Tarigan SD, Dariah A, Nurida NL, Santoso H, Sinukaban, N dan Gintings A Ng, editor. Prosiding Seminar dan Kongres Nasional MKTI VI; Safari Garden Hotel, Cisarua,

134 111 Bogor, Desember Jakarta : Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI). Hlmn Kadariyah Pengantar evaluasi proyek. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kartodihardjo H, Murtilaksono K dan Sudadi U Institusi pengelolaan daerah aliran sungai (konsep dan pengantar analisis kebijakan). Bogor : Fakultas Kehutanan IPB. Khoiri, I Kebun sawit versus hutan konservasi. Harian Kompas tanggal 25 Pebruari Lal R Soil erosion by wind and water : problem and prospects dalam R. Lal. Soil erosion research methods. Florida : Soil and Water Conservation Society. Lal R Sustainable management of soil resources in the sumid tropics. New York : United Nation University Press. Linsley RKJR, Kohler MA dan Paulus JLH Hirologi untuk Insinyur. Sianipar Y dan Haryadi E, penerjemah. Jakarta : Penerbit Erlangga. Terjemahan dari : Hydrology for engineers. Lu HJ, Gallart IP, Prosser, Moran C dan Priestley G Prediction of sheet and riil erosion over the australian continent, incorporating monthly soil loss distribution. CSIRO Land and Water. Technical Report 13/01. [3 Juli 2005]. Manik ES Analisis daya dukung lingkungan berdasarkkan optimasi penggunaan sumberdaya lahan di bagian hulu daerah aliran sungai Way Seputih, Lampung Tengah. [Disertasi]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Martawijaya AI, Kartasujana K, Kadir dan Prawira SA. 2005a. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Bogor : Balitbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Martawijaya AI, Kartasujana K, Kadir dan Prawira SA. 2005b. Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Bogor : Balitbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. McClauley A dan Jones C Managing for soil erosion. Di dalam : Soil and Water Management. Module 3. Montana :Montana State University Estension Service. [Menhut RI] Menteri Kehutanan Republik Indonesia Arahan Kebijakan Pembangunan Kehutanan dalam Penanganan Kawasan Hutan dan lahan yang tidak Produktif. Di dalam : Awang SA, Soepijanto B, Yuliarto JP dan Karyana A, editor : Rehabilitasi Hutan dan Lahan Capaian dan Perubahan. Yogyakarta : Jurusan Managemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dn Ditjen RLPS Dephut RI. Morgan RPC Soil erosion and conservation. 2 nd edition. London, UK: Longman Group Unlimited. Mulyono S Operations Research. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

135 112 Parker SP Dictionary of Scientific and Technical Terms. 6 th edition. McGraw-Hill Companies Inc. [20 Maret 2008]. Penot E dan Budiman AFS Smallholder rubber agroforestry in Indonesia : reconcile production, biodiversity and environment. Di dalam : Arifin HS, Ma mun S dan Nurheni W, editor. Kompilasi abstrak agrofrestri di Indonesia. Bogor : IPB, INAFE, SEANAFE dan ICRAFT. [12 Mei 2008]. Permana T Perencanaan teknis satuan pemukiman transmigrasi. Bahan Kursus Satgas perencanaan teknis pemukiman transmigrasi. Bandung, Nopember Bandung : Kerjasama Departemen Pekerjaan Umum dan ITB. [PPK Medan] Pusat Penelitian Karet Medan Teknologi peremajaan, rehabilitasi dan perluasan tanaman karet. Di dalam: Zainal M, Elna K, DD Tarigans, Syamsu O dan Joko M, editor. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Medan, November Medan : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri dan Balitbang Kehutanan dan Perkebunan. Hlmn [PPKS Medan] Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan Teknologi peremajaan, rehabilitasi dan perluasan tanaman kelapa sawit. Di dalam: Zainal M, Elna K, DD Tarigans, Syamsu O dan Joko M, editor. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Medan, November Medan : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri dan Balitbang Kehutanan dan Perkebunan. Hlmn [PPKS] Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan Pedoman teknis pemupukan tanaman kelapa sawit. No. : Pub-99 edisi Januari Medan : Pusat Penelitian Kelapa Sawit. [PPLH UNJA] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Jambi Analisis dampak lingkungan perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya di Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Jambi : PT Aman Pratama Makmur Lestari dan PPLH Universitas Jambi. Pujianto, Wibawa, A dan Winaryo Pengaruh teras dan tanaman penguat teras terhadap erosi dan produktivitas kopi arabika. Pelita Perkebunan Vol 17(1): Pusat Penelitian Perkebunan Indonesia. Rahman S Model penggunaan lahan untuk pengembangan konservasi alam terpadu (Studi kasus Pulau Siberut-Provinsi Sumatera Barat). [Disertasi]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Rauf A Kajian sistem dan optimasi penggunaan lahan agroforestry di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser. [Disertasi]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Reijntjes C, Haberkort B dan Water-Bayer A Pertanian masa depan. Pengantar untuk pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah. Jakarta : Kanisius. Ridwansyah M, Sanim B, Aidi MN dan Saukat Y Biaya imbangan ekonomi alih fungsi eks-areal hutan konsesi di sekitar zona penyangga Taman

136 113 Nasional Kerinci Seblat. Makalah Seminar Hasil Penelitian Disertasi. Bogor : Sekolah Pascasarjana IPB. Sabiham S Manajemen sumberdaya lahan dalam usahat pertanian berkelanjutan. Makalah Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Save our Land for the Better Environment Bogor, 10 Desember Sajogyo dan P. Sajogyo Sosiologi pedesaan. Jilid 2. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press. Salikin KA Sistem Pertanian Berkelanjutan. Jakarta : Penerbit Kanisius. Santoso, D, J. Purnomo, I.G.P. Wigena dan E. Tuherkih Teknologi konservasi tanah vegetatif (Teknologi Konservasi Tanah Pada Lahan Kering Berlereng). Bogor : Puslitbangtanak. Sihite J dan Pasaribu H Hidup bersama Banjir. Bahan Kuliah Kapita Selekta DAS pada Bogor : Program Studi Pengelolaan DAS Sekolah Pascasarjana IPB. (Tidak dipublikasikan). Sinukaban N Konservasi tanah dan air di daerah transmigrasi. PT. Indeco Duta Utama International Development Consultants Berasosiasi dengan BCEOM. Sinukaban N Membangun pertanian menjadi industri yang lestari dengan pertanian konservasi. Orasi Ilmiah dalam penerimaan Jabatan Guru Besar. Bogor : Fakultas Pertanian IPB. Sinukaban N Masalah dan konsepsi pengembangan daerah aliran sungai. Makalah pada seminar sehari tentang pengelolaan DAS terpadu di Sulawesi Tenggara. Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, 1 Nopember Sinukaban N, Pasaribu H, dan Siagian O Pengelolaan Danau Toba : peluang dan ancaman dalam kebijakan konservasi tanah dan air dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Di dalam : Prosiding Kongres IV dan seminar nasional MKTI. Medan, mei Sinukaban N Strategi, kebijakan dan kelembagaan pengelolaan lahan kritis. Paper dalam studi Strategi, kebijakan dan kelembagaan pengelolaan lahan kritis di Departemen Kehutanan. (Tidak dipublikasi). Sinukaban N. 2007a. Membangun Pertanian menjadi industri yang lestari dengan pertanian konservasi. Di dalam : Konservasi Tanah dan Air kunci pembangunan berkelanjutan. Ed ke-1. Jakarta : Dirjen RLPS Departemen Kehutanan. Hlmn : Sinukaban N. 2007b. Agricultural Dvelopment In Indonesia. Di dalam : Soil and Water Conservatioan in Sustainable Development. Ed ke-1. Bogor: Direktorat Jenderal RLPS. Hlmn Sinukaban N. 2007c. Conservation Farming Systems For Sustainable Development in Java, Indonesia. Di dalam : Soil and Water Conservatioan in Sustainable Development. Ed ke-1. Bogor: Direktorat Jenderal RLPS. Hlmn

137 114 Soekartawi, Soehardjo A, Dillon JL dan Hardaker JB Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia Press. Soekartawi Analisis usahatani. Yakarta : Universitas Indonesia Press. Soil Survey Staff Key of soil taxonomy. United Status Departement of agricultural. Natural Resources Conservation Service. Subagyono, K., U. Haryati dan S.H. Tala ohu Teknologi konservasi air pda pertanian lahan kering. Prosiding Teknologi konservasi lahan kering berlereng. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor. Sumarna Y Budidaya Gaharu. Jakarta : Penebar Swadaya. Suprayogo D, Widianto, Purnomosidi P, Widodo RH, Rusiana F, Aini ZZ, Khasanah N, Kusuma Z Degradasi sifat fisik tanah sebagai akibat alih guna lahan hutan menjadi sistem kopi monokultur : kajian perubahan makroporositas tanah. http: //icraf /cgiar/ org/sea/ publication/ files/journal/ja [21 September 2007]. Suratman W, Suharyadi dan Suharyanto Evaluasi kemampuan lahan untuk perencanaan penggunaan lahan dengan metode GIS di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. Susswein PM, Noordwijk MV, dan Verbist B forest watershed functions and tropical land use change. Di dalam Noordwijk MV, Williams S dan Verbist B, editor. Towards integrated natural resources management in forest margins of the humic tropics:local action and global concerní. Bogor: Internacional Cetre for resesarch in Agroforestry. Sutarta ES, Pulpa W dan Lubis AU Iklim dan teknik budidaya kelapa sawit. Pedoman Teknis No Pub-99. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Sutaryanto Budidaya kelapa sawit (Elaeis guineensis). MMA-IPB. Bogor. Sutono S, Kusnadi H dan Djunaedi MS Soil prediction in paddy field and upland of Citarik sub-watershed ang Garang watershed. Proceedings National Seminar on the Multifunction of Sawah. Bogor, 1 Mei Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Terra JA, Shaw JN, Reeves DW, Raper RL, Van Santen E, Schwab EB, dan Mask PL Soil Management and Landscape Variability Affects Fiel- Scale Cotton Productivity. Soil Sci. Soc. Am. J 70: Thahar N dan Khoiri I Runyam sejak penyediaan benih. Harian Kompas tanggal 25 Pebruari Thrupp LA New pathnerships for sustainable agriculture. New York : World Resources Institute. Tim Peneliti Bioregion DAS Batanghari Membangun kesepahaman bersama menuju pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat dengan pendekatan bioregion pada DAS Batanghari. Di dalam : Prosiding Konsultasi Publik DAS Batanghari di Sawahlunto. Tim Penulis Penebar Swadaya Karet : budidaya dan pengolahan strategi pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta

138 115 United State Society of Agronomy Soil erosion by Water. [3 Juli 2005]. Weischmeier WH dan Smith DD Predicting ranfall-erosion losses. A guide to conservation planning. USDA. Agric. Eng 29 : Wibawa G dan Hendratno S Faktor apa yang mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan atas pengelolaan sistem usahataninya di Jambi. Lembar Informasi Seri Wanatani Karet Nopember [2 Maret 2006]. Widianto, Hairiah K, Suharjito D dan Sardjono MA Fungsi dan peran agroforestri. Bahan Ajaran Agroforestri 3. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF). [27 September 2007] Winarna ES, Sutarta dan Purba P Konservasi tanah berliat aktivitas rendah (LAR) di perkebunan kelapa sawit : aplikasi pelepah dan tandan kosong kelapa sawit. Di dalam : Prosiding Kongres IV dan seminar nasional MKTI; Medan, mei Wood SR dan Dent FJ A land evaluation computer system methodology. AGOF/INS/78/006. Manual 5 Versi 1. Ministry of Agriculture Govern of Indonesia in corporation with UNDP and FAO. Zheng FL, Merill SD, Huang CH, Tanaka DL, Darboux F, Leibig MA dan Halvorson AD Run Off, Soil Erosion, and Erodibility of Conservation Reverse Program Land under Crop and High Production. Soil Sci. Soc. Am. J 68:

139 Lampiran 1 Penyebaran perkebunan karet dan kelapa sawit di Provinsi Jambi Sumber : Hadi (1992), diacu dalam Joshie et al. (2006) 116

140 Lampiran 2 Kriteria kesesuaian lahan untuk Karet Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata ( o C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N Masa kering (bln) 1 2 Ketersed. Oksigen (oa) Drainase Baik Sedang Agak terhambat, terhambat Media Perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah Gambut Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK Liat (cmol) Kejenuhan basa (%) ph H 2O Halus, agak halus, sedang < 15 > 100 < 60 < 140 Saprik+ - < Saprik, hemik Agak kasar Hemik, Fibrik+ - > 50 > 6.5 < >34 < > > 4 Sangat terhambat, cepat Kasar > 60 < 50 > 200 > 400 Fibrik C-organik > 0.8 Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) < > 2 Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya Sulfudik (xs) Kedalaman sulfudik (cm) > < 75 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi < 8 Sangat rendah 8 16 Rendahsedang berat > 30 > 45 Sangat berat Bahaya banjir (fh) Genangan F0 - F1 > F1 Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) < 5 < 5 Sumber : Djaenudin et al. (2003) > 40 >

141 Lampiran 3 Kriteria kesesuaian lahan untuk Kelapa Sawit Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata ( o C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N Masa kering (bln) <2 Ketersed. Oksigen (oa) Drainase Baik, sedang Agak terhambat Media Perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah Gambut Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK Liat (cmol) Kejenuhan basa (%) ph H 2O Halus, agak halus, sedang < 15 > 100 < 60 < 140 Saprik+ > 16 > Saprik, hemik Terhambat, agak cepat Agak kasar Hemik, Fibrik+ - - > 7.0 < < 20 > 35 < > > 4 Sangat terhambat, cepat Kasar > 55 < 50 > 200 > 400 Fibrik C-organik > 0.8 Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) < > 4 Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya Sulfudik (xs) Kedalaman sulfudik (cm) > < 60 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi < 8 Sangat rendah 8 16 Rendahsedang berat > 30 Sangat berat Bahaya banjir (fh) Genangan F0 F1 F2 > F2 Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) < 5 < 5 Sumber : Djaenudin et al. (2003) > 40 >

142 Lampiran 4 Kriteria kesesuaian lahan untuk Padi Ladang Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata ( o C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) bulan ke-1 Curah hujan (mm) bulan ke-2 Curah hujan (mm) bulan ke-3 Kelembaban Ketersed. Oksigen (oa) Drainase Media Perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah Gambut Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK Liat (cmol) Kejenuhan basa (%) ph H 2O Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N Baik, sedang, agak cepat, agak terhambat Halus, agak halus, sedang < 15 > 50 < 60 < 140 Saprik+ > 16 > ; ; < ; ; <30 >90 - Terhambat, sangat terhambat Saprik, hemik Agak kasar Hemik, Fibrik+ - < 20 < 5.0 > 7.9 <0.8 < 18 > 35 >650; <50 >650; <50 >650; <50 > 4 cepat Kasar > 55 < 25 > 200 > 400 Fibrik C-organik > 1.5 Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) < > 6 Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) < >40 Bahaya Sulfudik (xs) Kedalaman sulfudik (cm) > < 30 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) < berat >30 >50 Sangat berat Bahaya erosi Sangat rendah Rendah- sedang Bahaya banjir (fh) Genangan - F11 F12-F13 > F13 Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) < 5 < 5 Sumber : Djaenudin et al. (2003) > 40 >

143 Lampiran 5 Kriteria kesesuaian lahan untuk Pisang Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata ( o C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Masa kering (bln) Kelembaban Ketersed. Oksigen (oa) Drainase Media Perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah Gambut Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK Liat (cmol) Kejenuhan basa (%) ph H 2O Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N < >60 Baik, Agak terhambat Halus, agak halus, sedang < 15 > 75 < 60 < 140 Saprik+ > 16 > Agak cepat, sedang > Saprik, hemik Terhambat Agak kasar, sangat halus Hemik, Fibrik+ - <35 < 5.2 > 8.2 <0.8 > 35 <18 < > > 6 <30 Sangat terhambat, cepat Kasar > 55 < 50 > 200 > 400 Fibrik C-organik > 1.5 Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) < > 6 Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) < >12 Bahaya Sulfudik (xs) Kedalaman sulfudik (cm) > < 40 Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi < 8 Sangat rendah 8 16 Rendahsedang berat > 40 Sangat berat Bahaya banjir (fh) Genangan F0 F1 F2 > F2 Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) < 5 < 5 Sumber : Djaenudin et al. (2003) > 40 >

144 Lampiran 6 Kriteria Klasifikasi Kemampuan Lahan Faktor Penghambat Kelas Kemampuan Lahan I II III IV V VI VII VIII 1. Lereng lo l 1 l 2 l 3 lo l 4 l 5 l 6 2. Kepekaan Erosi KE 1,KE 2 KE 3 KE 4,KE 5 KE 6 (1) (1) (1) (1) 3. Tingkat Erosi e 0 e 1 e 2 e 3 (2) e 4 e 5 (1) 4. Kedalaman Tanah k 0 k 1 k 2 k 3 (1) (1) (1) (1) 5. Tekstur Lapisan Atas 6. Teksut Lapisan Bawah t 1,t 2,t 3 t 1,t 2,t 3 t 1,t 2,t 3 t 1,t 2,t 3 t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 (1) (1) t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 t 1,t 2,t 3,t 4 t 5 t 5 7. Permeabilitas P 2,P 3 P 2,P 3 P 2,P 3 P 2,P 3 P 1 (1) (1) P 5 8. Drainase d 1 d 2 d 3 d 4 d 5 (2) (2) d 0 9. Kerikil/batuan b 0 b 0 b 1 b 2 b 3 (1) (1) b Ancaman Banjir 11. Garam/Salinitas (3) O 0 g 0 O 1 g 1 O 2 g 2 O 3 g 3 O 4 (2) (2) g 3 (2) (1) (1) (1) * (1) = dapat mempunyai sembarang sifat (2) = tidak berlaku (3) = umumnya terdapat di daerah beriklim kering Sumber : Klingebiel dan Montgomery (1961), diacu dalam Arsyad (2006) dan Hardjowigeno (2007). Kriteria yang digunakan untuk pengelompokan dalam kelas 1. Iklim : Curah hujan dan temperatur 2. KECURAMAN LERENG l 0 (A) = 0 - <3% (datar) l 1 (B) = >3-8% (landai atau berombak) l 2 (C) = >8 15% (agak miring atau bergelombang) l 3 (D) = >15 30% (miring atau berbukit) l 4 (E) = >30 45% (agak curam atau bergunung) l 5 (F) = >45 65% (curam) l 6 (G) = > 65% (Sangay curam) 121

145 122 Lampiran 6 (Lanjutan) Kriteria yang digunakan untuk pengelompokan dalam kelas 2. KEPEKAAN EROSI KE 1 = (Sangat rendah) KE 2 = (rendah) KE 3 = (sedang) KE 4 = (agak tinggi) KE 5 = (tinggi) KE 6 = (sangat tinggi) 3. EROSI YANG TELAH TERJADI e 0 = tidak ada erosi e 1 = ringan : kurang dari 25% lapisan atas hilang e 2 = sedang : 25 75% lapisan atas hilang e 3 = agak berat : lebih dari 75% lapisan atas sampai kurang dari 25% lapisan bawah hilang e 4 = berat : lebih dari 25% lapisan bawah hilang e 5 = sangat berat : erosi parit 4. KEDALAMAN TANAH k 0 = lebih dari 90 cm (dalam) k 1 = cm (sedang) k 2 = cm (dangkal) k 3 = kurang dari 25 cm (sangat dangkal) 5. TEKSTUR TANAH t 1 = tanah bertekstur halus : liat berpasir, liat berdebu dan liat t 2 = tanah bertekstur agak halus : lempung liat berpasir, lempung berliat dan lempung liat berdebu t 3 = tanah bertekstur sedang : lempung, lempung berdebu dan debu t 4 = tanah bertekstur agak kasar : lempung berpasir, lempung berpasir halus dan lempung berpasir sangat halus t 5 = tanah bertekstur kasar : pasir berlempung dan pasir 6. PERMEABILITAS P 1 = lambat : kurang dari 0.5 cm jam -1 P 2 = agak lambat : cm jam -1 P 3 = sedang : cm jam -1 P 4 = agak cepat : cm jam -1 P 5 = cepat : > 12.5 cm jam DRAINASE d 0 = berlebihan (excessivelly drained) d 1 = baik d 2 = agak baik d 3 = agak buruk d 4 = buruk d 5 = sangat buruk 8. FAKTOR-FAKTOR KHUSUS Batu-batuan dan kerikil b 0 = tidak ada atau sedikit : 0 15 % volume tanah b 1 = sedang : % volume tanah b 2 = banyak : % volume tanah b 3 = sangat banyak : lebih dari 90 % volume tanah Batuan kecil b 0 = tidak ada atau sedikit : 0 15 % volume tanah b 1 = sedang : % volume tanah b 2 = banyak : % volume tanah b 3 = sangat banyak : lebih dari 90 % volume tanah

146 123 Lampiran 6 (Lanjutan) Kriteria yang digunakan untuk pengelompokan dalam kelas Batuan lepas b 0 = tidak ada atau kurang dari 0.01 % luas areal b 1 = sedikit : % permukaan tanah tertutup b 2 = sedang : 3 15% permukaan tanah tertutup b 3 = banyak : 15 90% permukaan tanah tertutup b 4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup Batuan tersingkap b 0 = tidak ada atau kurang dari 2 % permukaan tanah tertutup b 1 = sedikit : 2 10% permukaan tanah tertutup b 2 = sedang : 10 50% permukaan tanah tertutup b 3 = banyak : 50 90% permukaan tanah tertutup b 4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup 9. ANCAMAN BANJIR O 0 = tidak pernah : dalam periode satu tahun tanah tidak pernah tertutup banjir untuk waktu lebih dari 24 jam O 1 = kadang-kadang : banjir menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam periode kurang dari satu bulan O 2 = selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktu lebih dari 24 jam O 3 = selama waktu 2 5 bulan dalam setahun, secara teratur selalu dilanda banjir yang lamanya lebih dari 24 jam O 4 = selama waktu 6 bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya lebih dari 24 jam 10. SALINITAS g 0 = bebas : % garam larut ; 0 4 (ECx 10 3 ) mmhos cm -1 pada suhu 25 o C g 1 = terpengaruh sedikit : % garam larut ; 4 8 (ECx 10 3 ) mmhos cm -1 pada suhu 25 o C g 2 = terpengaruh sedang : % garam larut ; 8 15 (ECx 10 3 ) mmhos cm -1 pada suhu 25 o C g 3 = terpengaruh hebat : > 0.65% garam larut ; >15 (ECx 10 3 ) mmhos cm -1 pada suhu 25 o C

147 Lampiran 7 Peta Administrasi DAS Batang Pelepat Kab. Kerinci Kab. Sarolangun 124

148 Lampiran 8 Kriteria penilaian struktur tanah dan permeabilitas tanah Tipe struktur Kode Granular sangat halus (very fine granular) 1 Granular halus (fine granular) 2 Granular sedang dan kasar (medium, coarse granular) 3 Gumpal, lempeng, pejal (blocky, platty, massif) 4 Kelas Permeabilitas (cm/jam) Nilai Kode Cepat (rapid) > 25,4 1 Sedang sampai cepat (moderat to rapid) 12,7 25,4 2 Sedang (moderat) 6,3 12,7 3 Sedang sampai lambat (moderat to slow) 2,0 6,3 4 Lambat (slow) 0,5 2,0 5 Sangat lambat (very slow) < 0,5 6 Sumber : Arsyad (2006). 125

149 Lampiran 9 Nilai faktor C dengan pertanaman tunggal NO Tipe penggunaan untuk pertanaman tunggal Nilai Faktor C 1 Tanah yang diberakan tapi diolah secara periodik 1.00* 2 Sawah beririgasi 0.01* 3 Sawah tadah hujan 0.05* 4 Tanaman tegalan (tidak terspesifikasi) 0.70* 5 Tanaman rumput Brachiaria : Tahun permulaan Tahun berikutnya 0.30* 0.02* 6 Ubi kayu 0.80* 7 Jagung 0.70* 8 Kacang-kacangan 0.60* 9 Kentang 0.40* 10 Kacang tanah 0.20* 11 Padi 0.50* 12 Tebu 0.20* 13 Pisang 0.60* 14 Sereh wangi 0.40* 15 Kopi dengan tanaman penutup tanah 0.20* 16 Yam 0.85* 17 Cabe, jahe, dan lain-lain (rempah-rempah) 0.90* 18 Kebun campuran : Kerapatan tinggi Ubi kayu-kedele Kerapatan sedang 0.10* 0.20* 0.30* Kerapatan rendah (kacang tanah) 0.50* 19 Perladangan berpindah-pindah (shifting cultivation) 0.40* 20 Perkebunan (penutup tanah buruk) Karet Teh Kelapa sawit Kelapa 21 Hutan alam : Penuh dengan serasah Serasah sedikit 22 Hutan produksi : Tebang habis (clear cutting) Tebang pilih (selective cutting) 0.80* 0.50* 0.50* 0.80* 0.001* 0.005* 0.50* 0.20* 23 Belukar/rumput 0.30* 24 Ubi kayu + kedele 0.181* 25 Ubi kayu + kacang tanah 0.195* 26 Padi + sorgum 0.345* 27 Padi + kedele 0.417* 28 Kacang tanah + gude 0.495* 29 Kacang tanah + kacang tunggak 0.571* 30 Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha 0.049* 31 Padi + mulsa jerami 4 ton/ha 0.096* 32 Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ha 0.128* 33 Kacang tanah + mulsa clotalaria 3 ton/ha 0.136* 34 Kacang tanah + mulsa kacang tunggak 0.259* 35 Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/ha 0.377* 36 Padi + mulsa clotalaria 3 ton/ha 0.387* 37 Padi tanam tumpang gilir + mulsa jerami 6 ton/ha 0.079* 38 Pola tanam berurutan + mulsa sisa tanaman 0.347* Sumber : Pusat Penelitian Tanah ( ), diacu dalam Hardjowigeno (2007). 126

150 Lampiran 10 Nilai faktor tindakan konservasi tanah (P) dan pengelolaan tanaman (CP) No Tindakan Konservasi Tanah dan Pengelolaan Tanaman Nilai Faktor 1 Teras bangku a. standar disain dan bangunan baik 0,04* b. standar disain dan bangunan sedang 0,15* c. standar disain dan bangunan jelek 0,35* 2 Teras tradisional 0,40* 3 Penanaman/pengolahan menurut kontur pada lereng a. 0-8 % 0,50* b % 0,75* c. > 20 % 0,90* 4 Hill side ditch atau field pits 0,30* 5 Penanaman rumput dalam strip : a. stándar disain dan keadaan pertumbuhan baik b. stándar disain dan keadaan pertumbuhan tidak baik 0.04* 0.40* 6 Penanaman Clotalaria dalam rotasi 0.60* 7 Penggunaan mulsa jerami a. 6 ton/ha/thn 0,30* b. 3 ton/ha/thn 0,50* c. 1 ton/ha/thn 0,80* 8 Penanaman tanaman penutup tanah rendah pada tanaman perkebunan a. kerapatan tinggi 0,10* b. kerapatan sedang 0,50* 9 Strip cropping-kacang tanah sisa tanaman dijadikan mulsa 0,05** 10 Jagung-kedelai, sisa tanaman dijadikan mulsa 0,087** 11 Jagung-mulsa jerami padi 0,008** 12 Padi gogo-kedelai, mulsa jerami 4 ton/ha 0,193** 13 Kacang tanah-kacang hijau 0,730** 14 Kacang tanah-kacang hijau, mulsa jerami 0,013** 15 Padi gogo-jagung-kacang tanah + mulsa jerami 0,267** 16 Jagung+padi gogo+kacang tanah+mulsa (sisa tanaman) 0,159** 17 Teras gulud dengan tanaman penguat teras 0.500** 18 Teras gulud dengan tanaman penguat teras pada tanaman ** tahunan 19 Teras gulud : padi-jagung 0,013** 20 Teras gulud : sorghum-sorghum 0,041** 21 Teras gulud : ketela pohon 0,063** 22 Teras gulud : jagung-kacang tanah + mulsa (sisa tanaman) 0,006** 23 Teras gulud : Kacang tanah kedelai 0,105** 24 Teras gulud : padi-jagung-kacang tunggak, kapur 2 ton/ha 0,012** 25 Teras bangku : jagung-ubi kayu/kedelai 0,056** 26 Teras bangku : sorghum-sorghum 0,026** 27 Teras bangku : kacang tanah-kacang tanah 0,009** 28 Teras bangku : tanpa tanaman 0,039** Sumber : * Hammer (1986), diacu dalam Hardjowigeno (2007) dan ** Pusat Penelitian Tanah ( ), diacu dalam Sinukaban (1989). 127

151 Lampiran 11 Faktor kedalaman beberapa sub order tanah No Aqualf Udalf Ustalf Aquent Arent Fluvent Orthent Psamment Andept Vitrand Udand Aquept Tropept Udepts Alboll Aquoll Rendoll Udoll Ustoll Aquox Humox Orthox Ustox Aquod Ferrod Humod Orthod Aquult Humult Udult Ustult Udert ustert Sub order Harkat Kemerosotan Sifat Fisika dan Kimia Fisika Kimia Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi Rendah Rendah Sedang Tinggi Sedang Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Nilai Faktor Kedalaman Tanah Sumber : Hammer (1981), diacu dalam Sinukaban (1989) dan Hardjowigeno (2007). 128

152 Lampiran 12 Kedalaman tanah minimum untuk berbagai jenis tanaman Jenis Tanaman Kedalaman minimum (cm) 1. Padi Sawah Padi gogo Jagung Sorghum Kedelai Kacang hijau Kacang tanah Ubi jalar Kentang Hui Tanah terbuka Pisang Jeruk Mangga Kelapa Sawit Kelapa Karet Kakao Kopi Cengkeh Teh Kapas Tebu Rumput ternak Jati Mahoni Agathis Altingia Albizia Leucaina Acasia Eucalyptus Gelam Pinus 50 Sumber : Wood dan Dent (1983), diacu dalam Hardjowigeno (2007). 129

153 Lampiran 13 Sebaran produksi tanaman yang digunakan pada beberapa tipe usahatani sesuai umur dan takaran pupuk yang digunakan (kg/ha) Tahun Ke Karet Kelapa Sawit Tanaman Sela Kopi Kakao Pisang Gaharu Pinang Padi Gogo Manau Sungkai Medang Balam , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , * 1 = takaran pada agroteknologi aktual; 2 = takaran rekomendasi Balitbang Pertanian (2005); 3 = takaran rekomendasi Balai Penelitian Perkebunan Sembawa (2003) dan 4 = takaran rekomendasi Ditjenbun (1993). 130

154 Lampiran 14 Harga pasar yang digunakan dalam analisis usahatani No Faktor Produksi dan produk Satuan Harga Pasar (Rp) 1 Lahan 1 ha Tenaga kerja HOK Galon getah unit Bak getah unit Cangkul unit Garpu unit Pisau sadap unit Arit unit Parang unit Tempurung kelapa karung Atap pondok kodi Papan dinding pondokan m Dodos unit Urea kg TSP kg SP-36 kg NPK kg KCL kg MgSO4 kg cuka botol Thiodan 35 EC 250 ml Bibit Karet Lokal batang Bibit Karet Unggul batang Bibit kelapa sawit batang Bibit Padi kg Bibit Pinang batang Benih LCC kg Bibit Kayu Sungkai batang Bibit Kayu Balam batang Bibit Kayu Medang batang Bibit Manau batang Bibit Pisang batang Karet kg KKK Kelapa Sawit kg TBS Padi Gogo kg GKG Pinang kg BK Manau ton Kayu Sungkai m 3 kayu bulat Kayu Karet m 3 kayu bulat Kayu Balam m 3 kayu bulat Kayu Medang m 3 kayu bulat Pisang tandan buah segar

155 Lampiran 15 Sebaran curah hujan rata-rata bulanan di DAS Batang Pelepat tahun Tahun Bulan Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nop Des Total Rata- Rata

156 Lampiran 16 Peta Penggunaan Lahan di Sub DAS Batang Pelepat Lampiran 17 Peta Tanah di DAS Batang Pelepat 133

157 Lampiran 17 Peta Tanah di Sub DAS Batang Pelepat PETA JENIS TANAH SUB DAS BATANG PELEPAT 134

158 Lampiran 18 Peta Lereng di Sub DAS Batang Pelepat PETA KELAS LERENG SUB DAS BATANG PELEPAT 135

159 Lampiran 19 Peta satuan lahan di DAS Batang Pelepat 136

160 Lampiran 20 Sifat fisik dan kimia serta status kesuburan setiap satuan lahan di DAS Batang Pelepat SLH Pasir Tekstur ph BO Nilai Tukar Kation (NH4-Acetat 1N ph 7) KCl 1N P2O5 PH Debu Liat C N C/N Ca Mg K Na Jml KTK KB Al3+ H+ H2O KCl (%) (%) ppm cmol/kg (%) cmol/kg

161 Lampiran 20 (Lanjutan) SLH ph C-organik P-tersedia KTK Liat KB Alkalinitas Nilai status nilai Status nilai Status nilai Status nilai Status (ESP) % masam 3.33 tinggi 2.80 sgt rendah 26.2 tinggi rendah masam 3.33 tinggi 2.80 sgt rendah 26.2 tinggi rendah masam 2.29 sedang 6.20 sgt rendah sedang sgt rendah masam 2.29 sedang 6.20 sgt rendah tinggi sgt rendah masam 2.29 sedang 6.20 sgt rendah tinggi sgt rendah masam 2.29 sedang 6.20 sgt rendah tinggi sgt rendah masam 2.66 sedang sedang 27.7 tinggi rendah masam 3.2 tinggi 5.40 sgt rendah sedang rendah masam 2.66 sedang sedang 27.7 tinggi rendah masam 3.2 tinggi 5.40 sgt rendah sedang rendah sgt masam 1.89 rendah 6.10 sgt rendah rendah sgt rendah sgt masam 1.89 rendah 6.10 sgt rendah rendah sgt rendah sgt masam 1.9 rendah 7.90 sgt rendah tinggi rendah agak masam 2.96 sedang 6.70 sgt rendah 21.8 sedang rendah sgt masam 1.9 rendah 7.90 sgt rendah tinggi rendah sgt masam 1.9 rendah 7.90 sgt rendah tinggi rendah agak masam 2.96 sedang 6.70 sgt rendah 21.8 sedang rendah sgt masam 1.9 rendah 7.90 sgt rendah tinggi rendah masam 4.61 tinggi sedang 36.2 tinggi 7.86 sgt rendah sgt masam 1.9 rendah 7.90 sgt rendah tinggi rendah agak masam 2.96 sedang 6.70 sgt rendah 21.8 sedang rendah masam 7.33 sgt tinggi rendah 36.8 tinggi rendah masam 3.33 tinggi 2.80 sgt rendah 26.2 tinggi rendah

162 Lampiran 21 Penilaian kelas kemampuan lahan pada setiap satuan lahan di DAS Batang Pelepat SLH Lereng (%) Erosi Kedalaman tanah (cm) Tekstur lap atas Tekstur lap bawah Permeabilitas Drainase Kerikil/batuan Ancaman Banjir Kelas 1 2 l 0 tidak ada erosi e k 0 lempung liat berdebu t 2 lempung berliat t 2 sedang p 3 agak buruk d 3 tidak ada b 0 kadang-kadang O 1 II d l 0 tidak ada erosi e k 0 lempung liat berdebu t 2 lempung berliat t 2 sedang p 3 agak buruk d 3 tidak ada b 0 kadang-kadang O 1 II d l 1 ringan e k 0 Liat berpasir t 1 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 II e l 1 ringan e k 0 Liat berpasir t 1 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 II e l 1 ringan e k 0 Liat berpasir t 1 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 II e l 1 ringan e k 0 Liat berpasir t 1 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 II e l 2 ringan e k 0 Lempung berliat t 2 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III e l 2 sedang e k 0 Liat t 1 liat t 1 sedang p 3 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III e l 2 sedang e k 0 Lempung berliat t 2 liat t 1 agak lambat p 1 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III e l 2 ringan e k 0 Liat t 1 liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III e l 2 ringan e k 0 Liat t 1 liat t 1 agak lambat p 2 agak baik d 2 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III d l 3 agak berat e k 0 Liat t 1 liat t 1 agak lambat p 2 agak baik d 2 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 IV e l 4 sedang e 2 88 k 1 Lempung liat berpasir t 2 Liat berpasir t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 VI l l 4 ringan e k 0 Liat t 1 Liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 VI l l 3 sangat berat e 5 88 k 1 Lempung liat berpasir t 2 Liat berpasir t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 IV e l 1 sedang e 2 88 k 1 Lempung liat berpasir t 2 Liat berpasir t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 III e l 3 agak berat e k 0 Liat t 1 Liat t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 IV e l 3 agak berat e 3 88 k 1 Lempung liat berpasir t 2 Liat berpasir t 1 agak lambat p 2 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 IV e l 3 tidak ada erosi e k 0 Lempung liat berdebu t 2 Lempung liat berdebu t 2 sedang p 3 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 IV l l 4 tidak ada erosi e 0 88 k 1 Lempung liat berpasir t 2 Liat berpasir t 1 sedang p 3 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 VI l l 4 tidak ada erosi e k 0 Liat t 1 Liat t 1 sedang p 3 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 VI l l 5 tidak ada erosi e k 0 Liat t 1 Lempung t 3 sedang p 3 baik d 1 tidak ada b 0 tidak pernah O 0 VII l l 0 tidak ada erosi e k 0 lempung liat berdebu t 2 lempung berliat t 2 sedang p 3 agak buruk d 3 tidak ada b 0 kadang-kadang O 1 II d 3 139

163 Lampiran 22 Peta sebaran kelas kemampuan lahan di DAS Batang Pelepat PETA KELAS KEMAMPUAN LAHAN SUB DAS BATANG PELEPAT 140

164 Lampiran 23 Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan aktual dan kelas kesesuaian lahan di DAS Batang Pelepat untuk beberapa komoditi pertanian SL Penggunaan Luas Kelas Kesesuaian Setiap Tanaman Evaluasi Lahan Aktual (ha) (%) Padi Gogo Pisang Karet Kelapa Sawit Penggunaan Aktual 1 Karet S2-nr, eh S3-nr S2-wa, eh S2-wa, eh Sesuai 2 Kelapa Sawit S2-nr, eh S3-nr S2-wa, eh S2-wa, eh Sesuai 3 Karet S3-nr S3-nr S2-wa, nr S2-wa, nr Sesuai 4 Kelapa Sawit S3-nr S3-nr S2-wa, nr S2-wa, nr Sesuai 5 Kelapa Sawit S3-nr S3-nr S2-wa, nr, eh S2-wa, nr, eh Sesuai 6 Karet S3-nr S3-nr S2-wa, nr S2-wa, nr Sesuai 7 Karet S3-nr S3-nr S2-wa, eh S2-wa, nr, eh Sesuai 8 Kelapa Sawit S2-nr, eh S3-nr S2-wa, eh S2-wa, eh Sesuai 9 Kelapa Sawit S3-nr S3-nr S2-wa, eh S2-wa, nr, eh Sesuai 10 Karet S2-nr, eh S3-nr S2-wa, eh S2-wa, eh Sesuai 11 Karet S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh Sesuai 12 Kelapa Sawit S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh Sesuai 13 Karet S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh N-eh Sesuai 14 Karet S3-eh N-eh S3-wa, eh N-eh Sesuai 15 Kelapa Sawit N-eh N-eh N-eh N-eh Tidak Sesuai 16 Kelapa Sawit S3-nr S3-nr S3-nr S2-wa, nr, eh Sesuai 17 Belukar S3-eh S3-nr, eh S3-eh S3-eh Tidak Sesuai 18 Belukar S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh S3-eh Tidak Sesuai 19 Hutan S3-nr, eh S3-nr, eh S3-eh S3-eh Sesuai 20 Hutan S3-nr, eh S3-nr, eh S3-nr, eh N-eh Sesuai 21 Hutan S3-eh S3-nr, eh S3-eh N-eh Sesuai 22 Hutan N-eh N-eh N-eh N-eh Sesuai 23 Lahan terbuka S2-nr, eh S3-nr S2-wa, eh S2-wa, eh Tidak Sesuai 141

165 Lampiran 24 Peta sebaran kesesuaian lahan untuk beberapa komoditi pertanian 142

166 Lampiran 24 Lanjutan 143

167 Lampiran 24 Lanjutan 144

168 Lampiran 24 Lanjutan 145

169 Lanjutan Lampiran 29 Peta kesesuaian lahan potensial untuk tanaman kelapa sawit 146

170 Lanjutan Lampiran 29 Peta kesesuaian lahan potensial untuk tanaman padi ladang 147

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya alam dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) adalah vegetasi, tanah dan air serta jasa-jasa lingkungan yang merupakan modal bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN PETANI PADA BERBAGAI TIPE USAHATANI KARET DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO, JAMBI. Sunarti * ) ABSTRACT

ANALISIS PENDAPATAN PETANI PADA BERBAGAI TIPE USAHATANI KARET DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO, JAMBI. Sunarti * ) ABSTRACT ANALISIS PENDAPATAN PETANI PADA BERBAGAI TIPE USAHATANI KARET DI DAS BATANG PELEPAT KABUPATEN BUNGO, JAMBI Sunarti * ) * ) Staf Pengajar Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi Telp.

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: land degradation, tobacco, income, erosion, agro-technology, slit pit

ABSTRACT. Keywords: land degradation, tobacco, income, erosion, agro-technology, slit pit ABSTRACT JAKA SUYANA. The Development of Tobacco-Based Sustainable Dry Land Farming System at Progo Hulu Sub-Watershed (Temanggung Regency, Central Java Province). Under direction of NAIK SINUKABAN, BUNASOR

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN ALTERNATIF USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN DI DAS SEKAMPUNG HULU IRWAN SUKRI BANUWA

PENGEMBANGAN ALTERNATIF USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN DI DAS SEKAMPUNG HULU IRWAN SUKRI BANUWA PENGEMBANGAN ALTERNATIF USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN DI DAS SEKAMPUNG HULU IRWAN SUKRI BANUWA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT FISIKA TANAH PADA LAHAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI DAS BATANG PELEPAT

BEBERAPA SIFAT FISIKA TANAH PADA LAHAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI DAS BATANG PELEPAT BEBERAPA SIFAT FISIKA TANAH PADA LAHAN USAHATANI KARET DAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI DAS BATANG PELEPAT (SOME PHYSICAL PROPERTIES OF SOIL ON RUBBER AND OIL PALM SMALLHOLDER LAND IN BATANG PELEPAT WATERSHED)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Lahan DAS Batang Pelepat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Lahan DAS Batang Pelepat HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lahan DAS Batang Pelepat Satuan Lahan di DAS Batang Pelepat Lahan di DAS Batang Pelepat terdiri atas 4 jenis (grup) tanah, yaitu endoaquepts, hapludults, dystrudepts

Lebih terperinci

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO Rini Fitri Dosen pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Almuslim ABSTRAK Lahan kering di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya alam terutama sumberdaya lahan dan air, mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Pengelolaan sumberdaya lahan dan air di dalam sistem DAS (Daerah Aliran Sungai)

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 18 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2006 - Agustus 2006 di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Dodokan (34.814 ha) dengan plot pengambilan sampel difokuskan

Lebih terperinci

POTENSI LAHAN DI DAS BATANG PELEPAT UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN

POTENSI LAHAN DI DAS BATANG PELEPAT UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN POTENSI LAHAN DI DAS BATANG PELEPAT UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN Sunarti 1 ABSTRACT Land degradation as impact of agricultural practices is one of some land use impacts that unsuitable with land capability.

Lebih terperinci

POTENSI DAS DELI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN EVALUASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN ABSTRAK

POTENSI DAS DELI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN EVALUASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN ABSTRAK 1 POTENSI DAS DELI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN EVALUASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi DAS Deli berdasarkan evaluasi kemampuan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Sistem pertanian lahan kering adalah merupakan suatu bentuk bercocok tanam diatas lahan tanpa irigasi, yang kebutuhan air sangat bergantung pada curah hujan. Bentuk pertanian

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan, mulai dari bulan Agustus 2006 hingga Januari 2007. Lokasi penelitian adalah kawasan hulu DAS Batanghari, tepatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alamnya untuk pembangunan. Pada negara berkembang pembangunan untuk mengejar ketertinggalan dari

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) TANAH ANDEPTS PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN KACANG TANAH DI KEBUN PERCOBAAN KWALA BEKALA USU

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) TANAH ANDEPTS PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN KACANG TANAH DI KEBUN PERCOBAAN KWALA BEKALA USU KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) TANAH ANDEPTS PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN KACANG TANAH DI KEBUN PERCOBAAN KWALA BEKALA USU DELIMA LAILAN SARI NASUTION 060308013 DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN AGROFORESTRY DI SUB DAS LAU BIANG (KAWASAN HULU DAS WAMPU)

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN AGROFORESTRY DI SUB DAS LAU BIANG (KAWASAN HULU DAS WAMPU) KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN AGROFORESTRY DI SUB DAS LAU BIANG (KAWASAN HULU DAS WAMPU) SKRIPSI Oleh HARRY PRANATA BARUS DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) merupakan sistem yang kompleks dan terdiri dari komponen utama seperti vegetasi (hutan), tanah, air, manusia dan biota lainnya. Hutan sebagai

Lebih terperinci

STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah)

STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah) JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 9, Issue 2: 57-61 (2011) ISSN 1829-8907 STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah) Rathna

Lebih terperinci

PENDAHULLUAN. Latar Belakang

PENDAHULLUAN. Latar Belakang PENDAHULLUAN Latar Belakang Tanaman kakao sebagai salah satu komoditas andalan subsektor perkebunan Propinsi Sulawesi Tenggara banyak dikembangkan pada topografi berlereng. Hal ini sulit dihindari karena

Lebih terperinci

ANALISIS KEMAUAN MEMBAYAR MASYARAKAT PERKOTAAN UNTUK JASA PERBAIKAN LINGKUNGAN, LAHAN DAN AIR ( Studi Kasus DAS Citarum Hulu) ANHAR DRAKEL

ANALISIS KEMAUAN MEMBAYAR MASYARAKAT PERKOTAAN UNTUK JASA PERBAIKAN LINGKUNGAN, LAHAN DAN AIR ( Studi Kasus DAS Citarum Hulu) ANHAR DRAKEL ANALISIS KEMAUAN MEMBAYAR MASYARAKAT PERKOTAAN UNTUK JASA PERBAIKAN LINGKUNGAN, LAHAN DAN AIR ( Studi Kasus DAS Citarum Hulu) ANHAR DRAKEL SEKOLAH PASCSARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PERNYATAAN

Lebih terperinci

PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA PENGGUNAAN LAHAN DI DAS CISADANE HULU: MAMPUKAH MEMPERBAIKI FUNGSI HIDROLOGI DAS? Oleh : Edy Junaidi ABSTRAK

PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA PENGGUNAAN LAHAN DI DAS CISADANE HULU: MAMPUKAH MEMPERBAIKI FUNGSI HIDROLOGI DAS? Oleh : Edy Junaidi ABSTRAK PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA PENGGUNAAN LAHAN DI DAS CISADANE HULU: MAMPUKAH MEMPERBAIKI FUNGSI HIDROLOGI DAS? Oleh : Edy Junaidi ABSTRAK DAS Cisadane Hulu merupakan salah satu sub DAS Cisadane yang

Lebih terperinci

PENDUGAAN EROSI TANAH DIEMPAT KECAMATAN KABUPATEN SIMALUNGUN BERDASARKAN METODE ULSE

PENDUGAAN EROSI TANAH DIEMPAT KECAMATAN KABUPATEN SIMALUNGUN BERDASARKAN METODE ULSE PENDUGAAN EROSI TANAH DIEMPAT KECAMATAN KABUPATEN SIMALUNGUN BERDASARKAN METODE ULSE SKRIPSI Oleh: MARDINA JUWITA OKTAFIA BUTAR BUTAR 080303038 DEPARTEMEN AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem,

PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, PENDAHULUAN Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, peluang pengembangannya sangat besar

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN RUANG DAN KEGIATAN REHABILITASI LAHAN DI KABUPATEN SUMEDANG DIAN HERDIANA

IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN RUANG DAN KEGIATAN REHABILITASI LAHAN DI KABUPATEN SUMEDANG DIAN HERDIANA IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN RUANG DAN KEGIATAN REHABILITASI LAHAN DI KABUPATEN SUMEDANG DIAN HERDIANA PROGRAM STUDI ILMU PERENCANAAN WILAYAH SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan kegiatan memperbaiki, memelihara, dan melindungi keadaan DAS, agar dapat menghasilkan barang dan jasa khususnya, baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Manusia dan lingkungan memiliki hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Manusia sangat bergantung pada lingkungan yang memberikan sumberdaya alam untuk tetap bertahan

Lebih terperinci

PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DAS KETAHUN HULU PROVINSI BENGKULU

PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DAS KETAHUN HULU PROVINSI BENGKULU PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN USAHATANI BERBASIS KOPI UNTUK SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DAS KETAHUN HULU PROVINSI BENGKULU LUXMAN ARIEF A155080041 SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN PANGAN (UBI KAYU) DI KEBUN PERCOBAAN USU KWALA BEKALA

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN PANGAN (UBI KAYU) DI KEBUN PERCOBAAN USU KWALA BEKALA KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN PANGAN (UBI KAYU) DI KEBUN PERCOBAAN USU KWALA BEKALA SKRIPSI Oleh: HOLONG MUNTE 060308042 DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali

Lebih terperinci

Vol 2 No. 1 Januari - Maret 2013 ISSN :

Vol 2 No. 1 Januari - Maret 2013 ISSN : POTENSI SUMBERDAYA LAHAN DI DAS BATANG BUNGO UNTUK PENGEMBANGAN SAYURAN (Land Resources Potency at Batang Bungo Watershed for Vegetables Development) Dedy Antony, Sunarti and Henny, H. Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

ABSTRACT PREDICTION EROSION, LAND CAPABILITY CLASSIFICATION AND PROPOSED LAND USE IN BATURITI DISTRICT, TABANAN REGENCY, BALI PROVINCE.

ABSTRACT PREDICTION EROSION, LAND CAPABILITY CLASSIFICATION AND PROPOSED LAND USE IN BATURITI DISTRICT, TABANAN REGENCY, BALI PROVINCE. ABSTRACT PREDICTION EROSION, LAND CAPABILITY CLASSIFICATION AND PROPOSED LAND USE IN BATURITI DISTRICT, TABANAN REGENCY, BALI PROVINCE. Land resource damage caused by the land conversion and land use without

Lebih terperinci

PERAN MODEL ARSITEKTUR RAUH DAN NOZERAN TERHADAP PARAMETER KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PAGERWOJO, TULUNGAGUNG NURHIDAYAH

PERAN MODEL ARSITEKTUR RAUH DAN NOZERAN TERHADAP PARAMETER KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PAGERWOJO, TULUNGAGUNG NURHIDAYAH PERAN MODEL ARSITEKTUR RAUH DAN NOZERAN TERHADAP PARAMETER KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PAGERWOJO, TULUNGAGUNG NURHIDAYAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA BALIAN KECAMATAN MESUJI RAYA KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SKRIPSI

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA BALIAN KECAMATAN MESUJI RAYA KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SKRIPSI PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA BALIAN KECAMATAN MESUJI RAYA KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SKRIPSI OLEH : MUHAMMAD MAULANA SIREGAR 120301112 ILMU TANAH

Lebih terperinci

PENENTUAN TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM DI SUB DAS AEK RAISAN DAN SUB DAS SIPANSIHAPORAS DAS BATANG TORU

PENENTUAN TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM DI SUB DAS AEK RAISAN DAN SUB DAS SIPANSIHAPORAS DAS BATANG TORU PENENTUAN TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM DI SUB DAS AEK RAISAN DAN SUB DAS SIPANSIHAPORAS DAS BATANG TORU SKRIPSI OLEH: BASA ERIKA LIMBONG 061201013/ MANAJEMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan daerah yang berfungsi sebagai daerah resapan, daerah penyimpanan air, penampung air hujan dan pengaliran air. Yaitu daerah dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawah Tengah. DAS Garang terdiri dari tiga Sub DAS yaitu Kripik, Kreo

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawah Tengah. DAS Garang terdiri dari tiga Sub DAS yaitu Kripik, Kreo BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) Garang merupakan DAS yang terletak di Provinsi Jawah Tengah. DAS Garang terdiri dari tiga Sub DAS yaitu Kripik, Kreo dan Garang, berhulu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Paradigma pembangunan berkelanjutan mengandung makna bahwa pengelolaan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan sekarang tidak boleh mengurangi kemampuan sumberdaya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengelolaan DAS di Indonesia telah dimulai sejak tahun 70-an yang diimplementasikan dalam bentuk proyek reboisasi - penghijauan dan rehabilitasi hutan - lahan kritis. Proyek

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan tropis di Indonesia meliputi areal seluas 143 juta hektar dengan berbagai tipe dan peruntukan (Murdiyarso dan Satjaprapdja, 1997). Kerusakan hutan (deforestasi) masih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian menjadi prioritas utama dalam pembangunan wilayah berorientasi agribisnis, berproduktivitas tinggi, efisien, berkerakyatan, dan berkelanjutan. Keberhasilan

Lebih terperinci

Pendugaan Erosi Aktual Berdasarkan Metode USLE Melalui Pendekatan Vegetasi, Kemiringan Lereng dan Erodibilitas di Hulu Sub DAS Padang

Pendugaan Erosi Aktual Berdasarkan Metode USLE Melalui Pendekatan Vegetasi, Kemiringan Lereng dan Erodibilitas di Hulu Sub DAS Padang Pendugaan Erosi Aktual Berdasarkan Metode USLE Melalui Pendekatan Vegetasi, Kemiringan Lereng dan Erodibilitas di Hulu Sub DAS Padang Estimation of Actual Erosion by USLE Method Approach Vegetation, Slope

Lebih terperinci

ANALISIS LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DENGAN PROGRAM AGNPS

ANALISIS LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DENGAN PROGRAM AGNPS ANALISIS LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DENGAN PROGRAM AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution Model) DI SUB DAS CIPAMINGKIS HULU, PROVINSI JAWA BARAT Oleh : Wilis Juharini F14103083 DEPARTEMEN TEKNIK

Lebih terperinci

ANALISIS POTENSI LAHAN SAWAH UNTUK PENCADANGAN KAWASAN PRODUKSI BERAS DI KABUPATEN AGAM - SUMATERA BARAT NOFARIANTY

ANALISIS POTENSI LAHAN SAWAH UNTUK PENCADANGAN KAWASAN PRODUKSI BERAS DI KABUPATEN AGAM - SUMATERA BARAT NOFARIANTY ANALISIS POTENSI LAHAN SAWAH UNTUK PENCADANGAN KAWASAN PRODUKSI BERAS DI KABUPATEN AGAM - SUMATERA BARAT NOFARIANTY SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 YANG SELALU DI HATI Yang mulia:

Lebih terperinci

PREDIKSI EROSI PADA LAHAN PERTANIAN DI SUB DAS KRUENG SIMPO PROVINSI ACEH

PREDIKSI EROSI PADA LAHAN PERTANIAN DI SUB DAS KRUENG SIMPO PROVINSI ACEH PREDIKSI EROSI PADA LAHAN PERTANIAN DI SUB DAS KRUENG SIMPO PROVINSI ACEH (PREDICTION OF EROSION ON AGRICULTURAL LAND IN KRUENG SIMPO SUB WATERSHED ACEH PROVINCE) Rini Fitri ABSTRACT Erosion on agricultural

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan dan merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lainnya di muka bumi. Berdasarkan UU Sumberdaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung,

I. PENDAHULUAN. satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan,

Lebih terperinci

VALUASI EKONOMI LAHAN PERTANIAN

VALUASI EKONOMI LAHAN PERTANIAN VALUASI EKONOMI LAHAN PERTANIAN Pendekatan Nilai Manfaat Multifungsi Lahan Sawah dan Lahan Kering (Studi Kasus di Sub DAS Citarik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat) I R A W A N SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1)

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1) A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Cisangkuy merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hulu yang terletak di Kabupaten Bandung, Sub DAS ini

Lebih terperinci

sumber daya lahan dengan usaha konservasi tanah dan air. Namun, masih perlu ditingkatkan intensitasnya, terutama pada daerah aliran sungai hulu

sumber daya lahan dengan usaha konservasi tanah dan air. Namun, masih perlu ditingkatkan intensitasnya, terutama pada daerah aliran sungai hulu BAB I PENDAHULUAN Pembangunan pertanian merupakan bagian integral daripada pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur (Ditjen Tanaman Pangan, 1989). Agar pelaksanaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mengalami peremajaan secara berkesinambungan (Alibasyah, 1996).

I. PENDAHULUAN. mengalami peremajaan secara berkesinambungan (Alibasyah, 1996). I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Erosi tanah (soil erosion) adalah proses penghanyutan tanah dan merupakan gejala alam yang wajar dan terus berlangsung selama ada aliran permukaan. Erosi semacam itu

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI PENGENDALI EROSI DI SUB DAS CIBOJONG KABUPATEN SERANG, BANTEN. Oleh: FANNY IRFANI WULANDARI F

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI PENGENDALI EROSI DI SUB DAS CIBOJONG KABUPATEN SERANG, BANTEN. Oleh: FANNY IRFANI WULANDARI F PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI PENGENDALI EROSI DI SUB DAS CIBOJONG KABUPATEN SERANG, BANTEN Oleh: FANNY IRFANI WULANDARI F14101089 2006 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR FANNY

Lebih terperinci

PENDUGAAN EROSI DENGAN METODE USLE (Universal Soil Loss Equation) DI SITU BOJONGSARI, DEPOK

PENDUGAAN EROSI DENGAN METODE USLE (Universal Soil Loss Equation) DI SITU BOJONGSARI, DEPOK PENDUGAAN EROSI DENGAN METODE USLE (Universal Soil Loss Equation) DI SITU BOJONGSARI, DEPOK Oleh: NURINA ENDRA PURNAMA F14104028 2008 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

commit to user BAB I PENDAHULUAN

commit to user BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumberdaya alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu ekosistem, yaitu lingkungan tempat berlangsungnya hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai dan Permasalahannya Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak

Lebih terperinci

PENGUATAN KELEMBAGAAN TANI IKAN MINA SARI. (Studi Kasus di Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Propinsi Jambi)

PENGUATAN KELEMBAGAAN TANI IKAN MINA SARI. (Studi Kasus di Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Propinsi Jambi) PENGUATAN KELEMBAGAAN TANI IKAN MINA SARI (Studi Kasus di Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Propinsi Jambi) RONALD FRANSISCO MARBUN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN LUAS LAHAN PERTANIAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PANGAN PENDUDUK KABUPATEN LAMPUNG BARAT SUMARLIN

ANALISIS KEBUTUHAN LUAS LAHAN PERTANIAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PANGAN PENDUDUK KABUPATEN LAMPUNG BARAT SUMARLIN ANALISIS KEBUTUHAN LUAS LAHAN PERTANIAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PANGAN PENDUDUK KABUPATEN LAMPUNG BARAT SUMARLIN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT MELALUI PENERAPAN TEKNIK KONSERVASI TANAH LOKAL SPESIFIK (Studi Kasus pada DAS Cisadane)

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT MELALUI PENERAPAN TEKNIK KONSERVASI TANAH LOKAL SPESIFIK (Studi Kasus pada DAS Cisadane) PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT MELALUI PENERAPAN TEKNIK KONSERVASI TANAH LOKAL SPESIFIK (Studi Kasus pada DAS Cisadane) Oleh : Edy Junaidi Balai Penelitian Kehutanan Ciamis ABSTRAK Luasan penggunaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan. besar sementara wilayah kawasan lindung dan konservasi menjadi berkurang.

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan. besar sementara wilayah kawasan lindung dan konservasi menjadi berkurang. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan dan lingkungan mempunyai hubungan timbal balik. Di dalam pembangunan, manusia merupakan konsumen yang berperan aktif dalam proses pemanfaatan sumber daya

Lebih terperinci

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam ANNY MULYANI Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi) (sumber : SINAR TANI

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN JENIS TANAMAN DAN POLA TANAM DI LAHAN HUTAN NEGARA DAN LAHAN MILIK INDRA GUMAY FEBRYANO

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN JENIS TANAMAN DAN POLA TANAM DI LAHAN HUTAN NEGARA DAN LAHAN MILIK INDRA GUMAY FEBRYANO PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN JENIS TANAMAN DAN POLA TANAM DI LAHAN HUTAN NEGARA DAN LAHAN MILIK Studi Kasus di Desa Sungai Langka Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung INDRA GUMAY

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan 31 HASIL DAN PEMBAHASAN Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air Kondisi Saat ini Perhitungan neraca kebutuhan dan ketersediaan air di DAS Waeruhu dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply

Lebih terperinci

PERAN DAN KOORDINASI LEMBAGA LINTAS SEKTORAL DALAM KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (STUDI KASUS DAS GUMBASA KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH)

PERAN DAN KOORDINASI LEMBAGA LINTAS SEKTORAL DALAM KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (STUDI KASUS DAS GUMBASA KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH) PERAN DAN KOORDINASI LEMBAGA LINTAS SEKTORAL DALAM KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (STUDI KASUS DAS GUMBASA KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH) MUH. ANSAR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

PREDIKSI EROSI PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI DAS SEKAMPUNG HULU PROVINSI LAMPUNG

PREDIKSI EROSI PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI DAS SEKAMPUNG HULU PROVINSI LAMPUNG PREDIKSI EROSI PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI DAS SEKAMPUNG HULU PROVINSI LAMPUNG Irwan Sukri Banuwa Staf Pengajar pada Fakultas Pertanian Unila ABSTRACT Land degradation is a serious problem in Upper

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya

Lebih terperinci

ANALISA LAJU EROSI DAS AMPRONG - MALANG AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TUGAS AKHIR

ANALISA LAJU EROSI DAS AMPRONG - MALANG AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TUGAS AKHIR ANALISA LAJU EROSI DAS AMPRONG - MALANG AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TUGAS AKHIR Disusun Oleh : MUHARAM DEDY S. N 0353010022 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

ANALISIS PENGEMBANGAN KOMODITAS DI KAWASAN AGROPOLITAN BATUMARTA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU ROSITADEVY

ANALISIS PENGEMBANGAN KOMODITAS DI KAWASAN AGROPOLITAN BATUMARTA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU ROSITADEVY ANALISIS PENGEMBANGAN KOMODITAS DI KAWASAN AGROPOLITAN BATUMARTA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU ROSITADEVY SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat untuk Hutan Aceh Berkelanjutan Banda Aceh, 19 Maret 2013

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat untuk Hutan Aceh Berkelanjutan Banda Aceh, 19 Maret 2013 ANALISIS SPASIAL ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KEKRITISAN LAHAN SUB DAS KRUENG JREUE Siti Mechram dan Dewi Sri Jayanti Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang 1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Erosi adalah proses terkikis dan terangkutnya tanah atau bagian bagian tanah oleh media alami yang berupa air. Tanah dan bagian bagian tanah yang terangkut dari suatu

Lebih terperinci

PERENCANAAN USAHATANI SAYURAN BERKELANJUTAN BERBASIS KENTANG DI DAS SIULAK, KABUPATEN KERINCI JAMBI HENNY H.

PERENCANAAN USAHATANI SAYURAN BERKELANJUTAN BERBASIS KENTANG DI DAS SIULAK, KABUPATEN KERINCI JAMBI HENNY H. PERENCANAAN USAHATANI SAYURAN BERKELANJUTAN BERBASIS KENTANG DI DAS SIULAK, KABUPATEN KERINCI JAMBI HENNY H. SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI IKLIM, TANAH DAN IRIGASI PADA LAHAN POTENSIAL PERTANIAN DI KABUPATEN LANGKAT

IDENTIFIKASI IKLIM, TANAH DAN IRIGASI PADA LAHAN POTENSIAL PERTANIAN DI KABUPATEN LANGKAT IDENTIFIKASI IKLIM, TANAH DAN IRIGASI PADA LAHAN POTENSIAL PERTANIAN DI KABUPATEN LANGKAT SKRIPSI OLEH : RAHMADI RABUN DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi lahan kering untuk menunjang pembangunan pertanian di Indonesia sangat besar yaitu 148 juta ha (78%) dari total luas daratan Indonesia sebesar 188,20 juta ha

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI OLEH SUCI NOLA ASHARI A14302009 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 10 C. Tujuan Penelitian... 10

Lebih terperinci

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kerusakan akibat erosi dalam ekosistem DAS (Widianto dkk., 2004). Kegiatan

I. PENDAHULUAN. kerusakan akibat erosi dalam ekosistem DAS (Widianto dkk., 2004). Kegiatan I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sistem penggunaan lahan dalam daerah aliran sungai (DAS), berupa aneka pepohonan dan semak sehingga membentuk tajuk berlapis. Hutan yang demikian

Lebih terperinci

Kajian Tingkat Bahaya Erosi pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan Hubungannya Dengan Pendapatan Petani Dikawasan di Sub Das Krueng Simpo

Kajian Tingkat Bahaya Erosi pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan Hubungannya Dengan Pendapatan Petani Dikawasan di Sub Das Krueng Simpo Jurnal S. Pertanian 1 (2) : 105-109 (2011) ISSN : 2088-0111 Kajian Tingkat Bahaya Erosi pada Berbagai Jenis Penggunaan Lahan Hubungannya Dengan Pendapatan Petani Dikawasan di Sub Das Krueng Simpo Erosio

Lebih terperinci

STRATEGI MENSINERGIKAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DENGAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

STRATEGI MENSINERGIKAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DENGAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH STRATEGI MENSINERGIKAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DENGAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH (Kasus Program Community Development Perusahaan Star Energy di Kabupaten Natuna dan Kabupaten Anambas) AKMARUZZAMAN

Lebih terperinci

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan suatu proses produksi untuk menghasilkan barang

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan suatu proses produksi untuk menghasilkan barang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertanian merupakan suatu proses produksi untuk menghasilkan barang yang dibutuhkan manusia, dengan cara budidaya usaha tani. Namun pertumbuhan manusia dan

Lebih terperinci

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217 PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA RINGKASAN DISERTASI Oleh : Sayid Syarief

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tank Model Penerapan Tank Model dilakukan berdasarkan data harian berupa data curah hujan, evapotranspirasi dan debit aliran sungai. Data-data tersebut digunakan untuk menentukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Intensitas kegiatan manusia saat ini terus meningkat dalam pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun pemanfaatan sumberdaya alam ini khususnya

Lebih terperinci

125 permukaan dan perhitungan erosi berasal dari data pengukuran hujan sebanyak 9 kejadian hujan. Perbandingan pada data hasil tersebut dilakukan deng

125 permukaan dan perhitungan erosi berasal dari data pengukuran hujan sebanyak 9 kejadian hujan. Perbandingan pada data hasil tersebut dilakukan deng 124 Bab VI Kesimpulan Lokasi penelitian, berupa lahan pertanian dengan kondisi baru diolah, tanah memiliki struktur tanah yang remah lepas dan jenis tanah lempung berlanau dengan persentase partikel tanah

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 9 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Persiapan : Oktober November 2010 (Bogor). Pelaksanaan lapang (pra survei dan survei) : Desember 2010. Analisis Laboratorium : Januari Februari 2011.

Lebih terperinci

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam melaksanakan kegiatannya, manusia selalu membutuhkan air bahkan untuk beberapa kegiatan air merupakan sumber utama.

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA TESIS. Oleh ZURIANI

ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA TESIS. Oleh ZURIANI ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA TESIS Oleh ZURIANI 107039001 PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 Judul : Analisis Produksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat manusia. Pengertian lahan dari FAO (1976) yang dikutip oleh Sitorus (1998), yaitu : Lahan merupakan

Lebih terperinci

MOTIVASI PETANI DALAM MENERAPKAN TEKNOLOGI PRODUKSI KAKAO (KASUS KECAMATAN SIRENJA KABUPATEN DONGGALA, SULAWESI TENGAH) SYAMSYIAH GAFUR

MOTIVASI PETANI DALAM MENERAPKAN TEKNOLOGI PRODUKSI KAKAO (KASUS KECAMATAN SIRENJA KABUPATEN DONGGALA, SULAWESI TENGAH) SYAMSYIAH GAFUR MOTIVASI PETANI DALAM MENERAPKAN TEKNOLOGI PRODUKSI KAKAO (KASUS KECAMATAN SIRENJA KABUPATEN DONGGALA, SULAWESI TENGAH) SYAMSYIAH GAFUR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional INACID Mei 2014, Palembang Sumatera Selatan

Prosiding Seminar Nasional INACID Mei 2014, Palembang Sumatera Selatan No Makalah : 1.17 EROSI LAHAN DI DAERAH TANGKAPAN HUJAN DAN DAMPAKNYA PADA UMUR WADUK WAY JEPARA Dyah I. Kusumastuti 1), Nengah Sudiane 2), Yudha Mediawan 3) 1) Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung air hujan

BAB I PENDAHULUAN. topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung air hujan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung air hujan kemudian mengalirkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 41 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lahan DAS Ketahun Hulu Das Ketahun Hulu seluas 115.998 hektar terdiri beberapa jenis penggunaan lahan yaitu kebun campuran, hutan primer, hutan sekunder, rawa dan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. kegiatan pertanian, pemukiman, penggembalaan serta berbagai usaha lainnya

BAB I. PENDAHULUAN. kegiatan pertanian, pemukiman, penggembalaan serta berbagai usaha lainnya BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan lahan semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Peningkatan kebutuhan akan lahan akan digunakan untuk kegiatan pertanian, pemukiman,

Lebih terperinci

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR Oleh: HERIASMAN L2D300363 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dikelilingi dan dibatasi oleh topografi alami berupa punggung bukit atau pegunungan, dan presipitasi yang jatuh di

Lebih terperinci

ANALISIS EKOLOGI-EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERIKANAN BUDIDAYA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR PROVINSI BANTEN YOGA CANDRA DITYA

ANALISIS EKOLOGI-EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERIKANAN BUDIDAYA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR PROVINSI BANTEN YOGA CANDRA DITYA ANALISIS EKOLOGI-EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERIKANAN BUDIDAYA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR PROVINSI BANTEN YOGA CANDRA DITYA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 ABSTRACT

Lebih terperinci

MODEL USAHATANI SAYURAN DATARAN TINGGI BERBASIS KONSERVASI DI DAERAH HULU SUNGAI CIKAPUNDUNG

MODEL USAHATANI SAYURAN DATARAN TINGGI BERBASIS KONSERVASI DI DAERAH HULU SUNGAI CIKAPUNDUNG MODEL USAHATANI SAYURAN DATARAN TINGGI BERBASIS KONSERVASI DI DAERAH HULU SUNGAI CIKAPUNDUNG (Studi Kasus: Lahan Pertanian Berlereng di Hulu Sub DAS Cikapundung, Kawasan Bandung Utara) Hendi Supriyadi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam 11 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan, termasuk hutan tanaman, bukan hanya sekumpulan individu pohon, namun merupakan suatu komunitas (masyarakat) tumbuhan (vegetasi) yang kompleks yang terdiri dari pohon,

Lebih terperinci

MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIK MENGGUNAKAN PARAMETER MORFOMETRI (STUDI KASUS DI DAS CILIWUNG HULU) BEJO SLAMET

MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIK MENGGUNAKAN PARAMETER MORFOMETRI (STUDI KASUS DI DAS CILIWUNG HULU) BEJO SLAMET MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIK MENGGUNAKAN PARAMETER MORFOMETRI (STUDI KASUS DI DAS CILIWUNG HULU) BEJO SLAMET SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya

Lebih terperinci