DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH"

Transkripsi

1 DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

2 Deskriptif Statistik RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) A. Lembaga Pendataan RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs dan MA) Tahun Pelajaran 2007/2008 mencakup 33 propinsi. lembaga yang berhasil didata sebanyak RA/BA/TA, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Persentase sebaran lembaga adalah sebanyak 33% - RA/BA/TA, 36% - MI, 22% - MTS, dan hanya 9% - MA. Persentase Sebaran Lembaga RA/BA/TA, MI, MTs dan MA MTs, 22% MA, 9% RA/BA/TA, 33% MI, 36% Grafik 1.1. Persentase Sebaran Lembaga RA/BA/TA, MI, MTs dan MA Status lembaga pada RA/BA/TA didominasi oleh lembaga dengan status reguler sebanyak atau 90,4%, inti atau 8,8% dan hanya 0,8% atau 144 lembaga berstatus Pembina. Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 1

3 Status Lembaga RA/BA/TA Pembina, 0.8% Inti, 8.8% Reguler, 90.4% Grafik 1.2. Persentase Status Lembaga RA/BA/TA Status lembaga pada Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 92,6% atau lembaga berstatus swasta dan sebanyak 7,4% atau lembaga berstatus Negeri. Madrasah Tsanawiyah Negeri sebanyak 9,8% atau lembaga, kemudian Madrasah Tsanawiyah Swasta sebanyak 90,2% atau lembaga. Madrasah Aliyah berstatus Negeri sebanyak 11,9% atau 644 lembaga, sementara Madrasah Aliyah berstatus swasta sebanyak 88,1% atau lembaga. 19,621 11,624 4,754 1,567 1, MIN MIS MTsN MTsS MAN MAS Grafik 1.3. MI, MTs dan MA berdasarkan status Negeri dan Swasta 2 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

4 B. Peserta Didik (Siswa) B.1. Siswa Total total Siswa sebanyak yang tersebar mulai dari tingkat RA/BA/TA sampai dengan MA. tersebut sebanyak 11,7% atau orang merupakan siswa RA/BA/TA, orang atau 41,8% siswa MI, orang atau 34,1% siswa MTs dan sebanyak orang atau 12,4% merupakan siswa MA. MTs, 2,347,186 RA/BA/TA, 800,925 MI, 800,925 MA, 855,553 Grafik 1.4. Siswa Tahun pelajaran 2007/2008 Komposisi siswa untuk Madrasah berdasarkan status Madrasah, sebanyak orang atau 11,9% siswa MIN dan orang atau 88,1% siswa MIS. Sementara untunk jenjang MTs sebanyak orang atau 23,8% siswa MTsN, dan sebanyak orang atau 76,2% siswa MTsS. Untuk jenjang MA, sebanyak orang atau 35,9% merupakan siswa MAN, dan sebanyak orang atau 64,1% merupakan siswa MAS. Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 3

5 2,528,260 1,789, , , , ,324 MIN MIS MTsN MTsS MAN MAS Grafik 1.5. Siswa MI, MTs dan MA B.2. Jenis Kelamin Siswa Komposisi siswa berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut: untuk jenjang RA/BA/TA sebanyak orang atau 49,5% merupakan siswa laki-laki, dan sebanyak orang atau 50,5% siswa perempuan. Untuk jenjang MI, sebanyak orang atau 50,9% berjenis kelamin laki-laki, dan sebanyak orang atau 49,1% merupakan siswa perempuan. Jenjang MTs komposisi siswa laki-laki dan perempuan juga hampir berimbang, sebanyak orang atau 48,9% merupakan siswa laki-laki dan sebanyak orang atau 51,1% merupakan siswa perempuan. Sementara untuk jenjang MA, sebanyak orang atau 45,6% merupakan siswa laki-laki, dan sebanyak orang atau 54,4% siswa perempuan. Secara keseluruhan komposisi siswa berdasarkan jenis kelamin untuk jenjang RA/BA/TA sampai dengan MTs hampir berimbang, kondisi yang agak berbeda terdapat pada jenjang MA, dimana jumlah siswa perempuan sedikit lebih banyak dibanding jumlah siswa laki-laki. Hal ini diperlukan penelusuran lebih lanjut agar 4 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

6 didapatkan jawaban yang tepat, mengapa pada jenjang MA, siswa perempuan lebih banyak dibanding siswa laki-laki. 1,462,002 1,408,837 1,147,719 1,199, , , , ,650 Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr RA/BA/TA MI MTs MA Grafik 1.6. Siswa MI, MTs dan MA berdasarkan Jenis Kelamin B.3. Rombel, Rasio Rombel:Siswa dan APK rombel untuk jenjang RA/BA/TA adalah sebanyak dengan jumlah siswa sebanyak orang, sehingga diketahui rasio rombel:siswa sebanyak 1:20. rombel untuk jenjang MI sebanyak dengan jumlah siswa sebanyak orang, sehingga rasio rombel:siswa sebanyak 1:21. Untuk jenjang MTs, jumlah rombel sebanyak dengan jumlah siswa sebanyak orang, rasio rombel:siswa adalah 1:34. Sementara untuk jenjang MA, jumlah rombel sebanyak dengan jumlah siswa sebanyak orang, sehingga rasio rombel:siswa adalah 1:31. Sementara komposisi rasio rombel:siswa berdasarkan status madrasah negeri maupun swasta adalah sebagai berikut: untuk MIN sebesar 1:27; MIS sebesar 1:21; MTsN sebesar 1:37; MTsS sebesar 1:33; MAN sebesar 1:36; dan MAS sebesar 1:28. Nilai APK untuk RA/BA/TA sebesar 6,71, sementara untuk MI sebesar 11,65, MTs sebesar 18,35 dan MA Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 5

7 sebesar 6,66. Dari nilai APK tersebut nampak bahwa miant masyarakat terhadap madrasah semakin besar dari jenjang RA/BA/TA sampai dengan MTs, akan tetapi pada jenjang MA terlihat turun sangat drastis. Hal ini perlu dicari terobosanterobosan yang lebih inovatif agar nilai jual MA menjadi semakin baik, sehingga pandangan masyarakat terhadap MA menjadi semakin baik dan masyarakat tertarik menyekolahkan anaknya di tingkat MA. Namun hal ini perlu penelurusan dan pendalaman lebih lanjut. MA, 6.66 RA/BA/TA, 6.71 MTs, MI, Grafik 1.7. Nilai APK untuk jenjang MI, MTs dan MA B.4. Pengulang. Peningkatan kualitas peserta didik secara gender perlu mendapat perhatian khusus, mengingat berdasarkan data yang ada dapat dipaparkan bahwa secara rata-rata siswa pengulang untuk jenis kelamin perempuan lebih kecil di banding dengan siswa laki-laki. Hal ini terjadi baik di tingkat MI, MTs maupun MA baik itu di madrasah negeri maupun swasta (lihat tabel sampai dengan tabel ). Secara persentase nilai pengulang siswa perempuan untuk MIN sebesar orang atau 1,4%, sementara untuk pengulang siswa laki-laki sebesar atau 6 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

8 1,7%. Jenjang MIS memiliki siswa pengulang perempuan sebanyak orang atau 1,1%, sementara siswa laki-laki sebanyak orang atau 1,5%. siswa pengulang untuk jenjang MTsN sebesar atau 0,4% dari jumlah siswa total sebanyak orang. tersebut sebanyak orang adalah siswa laki-laki, sementara sebanyak 845 orang pengulang adalah siswa perempuan. Untuk tingkat MTsS sebanyak orang atau 0,5% dari total siswa sebanyak merupakan siswa pengulang. Dari sebanyak orang ternyata sebagian besar adalah siswa laki-laki sebagai pengulang dengan volume sebanyak orang. Sisanya dengan jumlah sebanyak orang nerupakan siswa perempuan sebagai pengulang. Untuk jenjang MAN jumlah siswa pengulang sebanyak orang atau 0,5% dari jumlah siswa total sebanyak orang. Dari jumlah tesebut sebanyak 774 orang merupakan siswa pengulang laki-laki, sementara sebanyak 673 orang merupakan siswa pengulang perempuan. Sementara untuk jenjang MAS sebanyak orang atau 0,5% dari total siswa siswa merupakan siswa pengulang. Dari jumlah tersebut sebanyak orang merupakan siswa pengulang laki-laki, sisanya sebanyak orang merupakan siswa pengulang perempuan. Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 7

9 44,052 32,047 6,036 4,582 2,387 1,757 Lk Pr Lk Pr Lk Pr MI MTs MA Grafik 1.8. Siswa Pengulang jenjang MI, MTs dan MA berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan data pengulang yang dipaparkan diatas ternyata sebagian besar siswa pengulang adalah siswa lakilaki. Hal ini menunjukan bahwa kualitas siswa laki-laki perlu mendapat perhatian lebih khusus lagi, sehinga jumlah pengulangnya bisa lebih diperkecil. Secara keseluruhan kualitas siswa madrasah sudah lebih baik mengingat secara rata-rata jumlah siswa pengulang maksimal hanya 0,5% dari jumlah siswa total. B.5. Drop Out (DO) siswa drop out untuk tingkat MI sebanyak orang. Dari jumlah tersebut sebanyak atau 0,5% dari total siswa orang merupakan siswa drop out di jenjang MIN. Dari jumlah tersebut untuk jenjang MIN ternyata sebanyak 902 orang merupakan siswa drop out laki-laki, sementara sebanyak 704 orang siswa drop out perempuan. Sementara untuk jenjang MIS sebanyak orang atau 0,6% dari jumlah siswa total siswa MIS merupakan siswa drop out. Dari jumlah siswa drop out di tingkat MIS ternyata sebanyak orang merupakan 8 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

10 siswa drop out laki-laki, sisanya sebanyak orang merupakan siswa drop out perempuan. Secara umum siswa laki-laki di jenjang MI baik untuk status negeri maupun swasta lebih mendominasi tingkat drop out siswa dibandingkan dengan siswa perempuan. Sementara untuk jenjang MTs total jumlah siswa yang terkena drop out sebanyak orang. Dari jumlah tersebut sebanyak orang atau 0,7% dari jumlah total sebanyak orang merupakan siswa drop out untuk MTsN. Dari jumlah tersebut sebanyak orang merupakan siswa laki-laki, dan sebanyak orang merupakan siswa perempuan. Untuk tingkat MTsS sebanyak orang atau 1,0% dari jumlah total siswa sebanyak orang adalah siswa drop out. tersebut di tingkat MTsS sebanyak orang merupakan siswa laki-laki yang terkena drop out, sementara sebanyak orang merupakan siswa perempuan drop out. Data diatas untuk jenjang MTs baik untuk negeri maupun swasta ternyata jumlah siswa drop out lebih didominasi oleh siswa laki-laki dibandingkan dengan siswa perempuan. Untuk jenjang MA total siswa yang terkena putus sekolah atau drop out sebanyak orang. siswa putus sekolah di tingkat MAN sebanyak orang atau 0.6% dari total siswa MAN sebanyak orang. siswa putus sekolah di tingkat MAN ternyata didominasi oleh siswa laki-laki, yaitu sebanyak orang dan siswa perempuan sebanyak 793 orang. Sementara untuk MAS jumah siswa putus sekolah sebanyak orang atau 1,0% dari jumlah siswa sebanyak orang.dari jumlah jumlah tersebut ternyata siswa laki-laki lebih banyak terkena Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 9

11 drop out yaitu sebanyak orang dan siswa perempuan sebanyak orang. Berdasarkan data drop out yang dipaparkan diatas ternyata sebagian besar siswa drop out adalah siswa laki-laki. Hal ini menunjukan bahwa kualitas siswa laki-laki perlu mendapat perhatian lebih khusus lagi, sehingga jumlah pengulangnya bisa lebih diperkecil. Kemungkinan yang lain adalah perubahan-perubahan nilai-nilai dan cara pandang masyarakat itu sendiri bahwa anak perempuan juga memerlukan pendidikan sampai dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga sangat berguna untuk bekal anak tersebut dimasa yang akan datang yang penuh dengan tantangan-tantangan kehidupan. 11,582 9,575 9,418 6,339 3,946 3,274 Lk Pr Lk Pr Lk Pr MI MTs MA Grafik 1.9. Siswa Drop Out jenjang MI, MTs dan MA berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan diagram atau grafik 1.9. diatas, ternyata terdapat fenomena dimana jumlah siswa putus sekolah atau drop out cenderung tinggi di tingkat MTs. Hal ini dimungkinkan karena faktor ekonomi orangtua yang sudah tidak dapat mendukung untuk pembiayaan pendidikan siswa yang bersangkutan. Ini baru dugaan penulis, perlu diteliti lebih 10 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

12 mendalam lagi, faktor-faktor pemicu timbulnya siswa putus sekolah di tingkat MTs. B.6. Keberadaan Siswa Lulusan (Almamater). Siswa RA/BA/TA yang telah menyelesaikan masa pendidikannya ternyata sebanyak 58,3% lulusannya melanjutkan ke jenjang SD, sementara yang melanjutkan ke jenjang MI sebanyak 42,7%. Ternyata kualitas dari data tersebut orantua siswa lebih cenderung memilih SD sebagai pendidikan lanjutan dibandingkan dengan MI. Hal ini perlu mendapat perhatian agar kualitas MI lebih ditingkatkan dan perlunya sosialisasi tentang MI di khalayak luas agar masyarakat mendapat informasi yang jelas tentang MI baik dari segi kualitas kurikulum pendidikan maupun SDM Tenaga Pengajarnya. Sosialisasi ini diharapkan dapat menarik minat masyarakat luas untuk menyekolahkan anaknya di jenjang MI. SD, 58.3% MI, 41.7% Grafik Lulusan Siswa RA/BA/TA yang melanjutkan ke MI/SD Siswa lulusan MI, ternyata cenderung memilih MTs sebagai tingkat pendidikan selanjutnya dengan sebanyak 57,6% lulusan MI. Sementara pilihan selanjutnya adalah sebanyak 34,0% memilih SMP sebagai pendidikan Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 11

13 lanjutannya dan hanya 8,4% siswa lulusan MI memilih jalur Pondok Pesantren sebagai bekal masa depannya. Fenomena ini sudah cukup baik, akan tetapi tidak boleh lengah agar terus meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat MTs agar masyarakat lebih tertarik menyekolahkan anaknya di jenjang MTs. Pontren, 8.4% SMP, 34.0% MTs, 57.6% Grafik Lulusan Siswa MI yang melanjutkan ke MTs/SMP/Pontren Sementara untuk siswa lulusan MTs, kecenderungannya hampir berimbang antara memilih MA atau SMA sebagai pendidikan lanjutannya. Sebanyak 45,8% lulusan MTs memilih MA sebagai lembaga pendidikan lanjutan, sementara sebanyak 41,7% siswa lulusan MTs memilih SMA sebagai pijakan pendidikan lanjutannya. Sementara 12,5% siswa lulusan MTs memilih Jalur Pondok Pesantren sebagai bekal masa depannya. Fenomena diatas cukup membuktikan bahwa kualitas pendidikan MA tidak kalah kelas dengan kualitas pendidikan SMA, terbukti masih banyaknya orangtua siswa atau siswa yang bersangkutan lebih memilih MA sebagai pendidikan lanjutannya. Kualitas MA perlu lebih ditingkatkan agar masyarakat semakin tertarik terhadap jenjang pendidikan MA. 12 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

14 Pontren, 12.5% MA, 45.8% SMA, 41.7% Grafik Lulusan Siswa MTs yang melanjutkan ke MA/SMA/Pontren Sementara untuk lulusan MA, sebanyak 34,6% memilih PTAI sebagai lanjutan pendidikan berikutnya, 25,7% memilih PTU, 11,5% memilih Pondok Pesantren sebagi Bekal masa depannya, dan sebanyak 28,2% langsung bekerja. Data diatas menunjukkan bahwa lulusan MA lebih memilih PTAI sebagai jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu juga ternyata kualitas lulusan MA merupakan SDM yang siap kerja, terbukti dengan banyaknya jumlah lulusan MA yang langsung bekerja. Hal ini perlu ditingkatkan agar lulusan MA merupakan lulusan dengan SDM yang handal sehingga mampu diserap oleh seluruh sektor lapangan pekerjaan yang ada. Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 13

15 Kerja, 28.2% PTAI, 34.6% Pontren, 11.5% PTU, 25.7% C. Personal Lembaga Pendidikan. Grafik Lulusan Siswa MA yang melanjutkan ke PTAI/PTU/Pontren/Kerja C.1. Kepala Lembaga Pendidikan. Kepala RA/BA/TA sebanyak orang memimpin RA/BA/TA sebanyak lembaga. Dari jumlah tersebut sebanyak orang atau 82,9% berstatus Non PNS, dan sisanya sebanyak orang atau 17,1% berstatus PNS. Sementara dari latar belakang pendidikan atau kualifikasi pendidikan sebanyak 71,7% atau orang memiliki jenjang pendidikan maksimal D2, sebanyak 5,7% atau orang berpendidikan D3, dan selebihnya sebanyak orang atau 22,6% berpendidikan minimal S1. 14 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

16 15,546 13,446 3,213 1,069 4,244 PNS Non PNS D2 D3 S1 Status Kualifikasi Grafik Status Kepegawaian dan Kualifikasi Kepala RA/BA/TA Latar Belakang Pendidikan Kepala MIN sebanyak 457 orang atau 29,2% berpendidikan kurang dari S1, dan sebanyak 62 orang atau 4,0% berpendidikan S2. Sementara sebagian besar Kepala MIN berpendidikan S1, yaitu sebanyak orang atau 66,9%. Sementara untuk Kepala MIS sebagian besar berpendidikan kurang dari S1, yaitu sebanyak orang atau 64,2%, sebanyak orang atau 35,0% berpendidikan S1, dan selebihnya sebanyak 159 orang atau 0,8% berpendidikan minimal S2. 12,595 6, , < S1 S1 S2 < S1 S1 S2 MIN MIS Grafik Kualifikasi Kepala MI Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 15

17 Untuk jenjang MTsN, sebanyak 61 orang atau 4,8% Kepala MTsN masih berlatar belakang kurang dari S1, sedangkan sebagian besar sudah berkualifikasi S1 sebanyak 969 orang atau 77,0%, sedangkan sebanyak 229 orang atau 18,2% berkualifikasi S2. Sementara untuk MTsS, sebanyak orang atau 29,5% berkualifikasi kurang dari S1, orang atau 66,8% berkualifikasi S1, dan selebihnya sebanyak 426 orang atau 3,7% berkualifikasi minimal S2. 7,766 3, < S1 S1 S2 < S1 S1 S2 MTsN MTsS Grafik Kualifikasi Kepala MTs Untuk jenjang MAN, sebanyak 11 orang atau 1,7% Kepala MAN berkualifikasi kurang dari S1, 443 orang atau 68,8% berkualifikasi S1, dan sebanyak 190 orang atau 29,5% berkualifikasi minimal S2. Sementara untuk MAS sebanyak 689 orang atau 14,5% berkualifikasi kurang dari S1, orang atau 77,3% berkualifikasi S1, dan sisanya sebanyak 391 orang atau 8,2% berkualifikasi minimal S2. 16 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

18 7,766 3, < S1 S1 S2 < S1 S1 S2 MAN MAS Grafik Kualifikasi Kepala MA C.2. Tenaga Pendidik. Tenaga Pendidik di jenjang RA/BA/TA sebanyak orang dengan komposisi berdasarkan status kepegawaian sebanyak orang atau 7,0% berstatus PNS dan sisanya sebanyak orang atau 93,0% berstatus Non PNS. Sementara jika dilihat dari kualifikasi pendidikan, sebanyak atau 91,1% berkualifikasi kurang dari S1, dan selebihnya orang atau 8,9% berkualifikasi minimal S1. 69,878 68,396 5,240 6,722 PNS Non PNS < S1 S1 Status Kepegawaian Kualifikasi Grafik Status Kepegawaian dan Kualifikasi Tenaga Pendidik RA/BA/TA Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 17

19 Untuk Jenjang MI, jumlah Tenaga Pendidik sebanyak orang atau 17,3% berstatus PNS, sementara sebagian besar berstatus Non PNS sebanyak atau 82,7%. Jika dilihat berdasarkan kualifikasi pendidikan, maka sebanyak orang atau 75,8% berkualifikasi kurang dari S1, sisanya sebanyak orang atau 24,2% berkualifikasi minimal S1. 182, ,551 38,146 53,500 PNS Non PNS < S1 S1 Status Kepegawaian Kualifikasi Grafik Status Kepegawaian dan Kualifikasi Tenaga Pendidik MI Tenaga Pendidik jenjang MTs berjumlah orang dengan orang atau 15,1% berstatus PNS, sementara sebanyak orang atau 84,9% berstatus Non PNS. Jika dilihat dari sisi kualifikasi pendidikan, sebanyak orang atau 41,6% berkualifikasi kurang dari S1, dan sebanyak orang atau 58,4% berkualifikasi pendidikan minimal S1. 205, , ,477 36,598 PNS Non PNS < S1 S1 Status Kepegawaian Kualifikasi Grafik Status Kepegawaian dan Kualifikasi Tenaga Pendidik MTs 18 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

20 Total Tenaga Pendidik untuk jenjang MA sebanyak orang dengan orang atau 17,8% berstatus PNS, sementara selebihnya sebanyak orang atau 82,2% berstatus Non PNS. Kualifikasi pendidikan Tenaga Pendidik untuk tingkat MA sebagian besar sudah berpendidikan minimal S1 yakni sebanyak orang atau 77,0%, sementara sisanya berpendidikan kurang dari S1 sebanyak orang atau 23,0%. 92,456 86,525 19,954 25,885 PNS Non PNS < S1 S1 Status Kepegawaian Kualifikasi Grafik Status Kepegawaian dan Kualifikasi Tenaga Pendidik MA D. Perencanaan Tahun Booklet ini juga memaparkan data-data perencanaan tahun 2009 diantaranya, jumlah alokasi penerima tunjangan guru fungsional, alokasi peserta sertifikasi Guru, dan alokasi penerima tunjangan profesi bagi Guru. alokasi penerima tunjangan guru fungsional untuk tahun 2009 sebanyak orang. Komposisi tersebut sebagai berikut: Guru RA/BA/TA sebanyak orang atau 14,1%, Guru MI sebanyak orang atau 36,4%, Guru MTs sebanyak orang atau 35,4%, dan Guru MA sebanyak orang atau 14,2%. Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 19

21 MA, 69,532 RA/BA/TA, 69,183 MTs, 173,314 MI, 178,235 Grafik Alokasi Penerima Tunjangan Guru Fungsional untuk Tahun 2009 Perencanaan untuk alokasi peserta sertifikasi guru tahun 2009 sebanyak orang guru. tersebut terdiri dari: orang atau 1,7% Guru RA/BA/TA, sebanyak orang atau 16,1% Guru MI, orang atau 51,9% Guru MTs, dan sebanyak orang 30,3% merupakan Guru MA. MA, 22,543 RA/BA/TA, 1,273 MI, 12,028 MTs, 38,656 Grafik Alokasi Peserta Sertifikasi Guru Tahun Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

22 alokasi penerima tunjangan profesi bagi Guru pada tahun 2009 sebanyak orang. ini merupakan alokasi jumlah gabungan antara RA/BA/TA, MI, MTs dan MA. E. Penerima Bantuan Tahun Pada buku ini juga dipaparkan tentang jumlah lembaga pendidikan yang pernah menerima bantuan dari Program Bantuan Direktorat Pendidikan pada Madrasah untuk tahun berdasarkan data yang dikerjakan oleh Bagian Perencanaan dan Data. Untuk tingkat RA/BA/TA pada tahun 2006 jumlah lembaga yang pernah menerima bantuan sebanyak 778 lembaga. ini masih jauh lebih kecil (4,1%) dari jumlah total lembaga yang tercatat sebanyak lembaga. Sementara pada tahun 2007 jumlah lembaga yang menerima bantuan sebanyak 527 lembaga. ini menurun dibanding tahun ,886 18, Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Tahun 2006 Tahun 2007 Grafik Perbandingan Lembaga Total dan Penerima Bantuan RA/BA/TA Tahun 2006 dan Tahun 2007 Sementara untuk tingkat MI, jumlah lembaga yang menerima bantuan tahun 2005 sebanyak 55 lembaga. ini hanya Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 21

23 berkisar 0,2% dari jumlah MI yang tercatat, yaitu sebanyak Pada tahun 2006, jumlah MI yang menerima bantuan meningkat drastis menjadi 946 lembaga atau sekitar 4,3% dari jumlah MI yang tercatat pada tahun yang sama sebanyak Kemudian pada tahun 2007 jumlah MI yang menerima bantuan meningkat lagi menjadi lembaga atau 4,8% dari jumlah MI yang tercatat di tahun yang sama. 22,610 22,189 21, ,021 Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Grafik 1.25 Perbandingan Lembaga Total dan Penerima Bantuan MI Tahun 2005 s/d Tahun 2007 Untuk jenjang MTs, jumlah lembaga yang menerima bantuan tahun 2005 sebanyak 50 lembaga atau berkisar 0,4% dari jumlah lembaga yang tercatat sebanyak Kemudian pada tahun 2006 jumlah MTs yang menerima bantuan sebanyak atau 8,9% dari jumlah MTs yang tercatat sebanyak Pada tahun 2007 jumlah penerima sedikit menurun menjadi 986 lembaga atau 7,7% dari jumlah lembaga yang tercatat sebanyak Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

24 12,498 12,619 12, , Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Grafik 1.26 Perbandingan Lembaga Total dan Penerima Bantuan MTs Tahun 2005 s/d Tahun 2007 Sementara jenjang MA, jumlah lembaga yang menerima bantuan tahun 2005 sebanyak 50 lembaga atau berkisar 1,0% dari jumlah lembaga yang tercatat sebanyak Kemudian pada tahun 2006 jumlah MA yang menerima bantuan sebanyak atau 23,2% dari jumlah MA yang tercatat sebanyak Pada tahun 2007 jumlah penerima menurun menjadi 599 lembaga atau 11,1% dari jumlah lembaga yang tercatat sebanyak ,918 5,043 5, , Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Jml Lembaga Jml Penerima Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Grafik 1.27 Perbandingan Lembaga Total dan Penerima Bantuan MA Tahun 2005 s/d Tahun 2007 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 23

25 24 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

26 TABEL STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

27 Lembaga RA/BA/TA, MI, MTs dan MA RA/BA/TA MI MTs MA Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta 1 NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya Jabar 2, , , Jateng 4, , , DIY Jatim 5, , , Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat ,567 19,621 1,259 11, ,754 18,759 21,188 12,883 5,398 58,228 % Sebaran 33% 36% 22% 9% % Status 7.4% 92.6% 9.8% 90.2% 11.9% 88.1% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 25

28 RA/BA/TA Berdasarkan Status No Propinsi Status Lembaga Pembina Inti Reguler 1 NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya Jabar ,621 2, Jateng ,015 4, DIY Jatim ,492 5, Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat ,645 16,970 18,759 % 0.8% 8.8% 90.4% 100.0% 26 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

29 Siswa RA/BA/TA, MI, MTs dan MA RA/BA/TA MI MTs MA Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta 1 NAD 11,569 99,927 12,900 39,376 27,630 24,795 15,177 2 Sumut 40,476 26,924 66,857 26, ,218 17,483 42,806 3 Sumbar 16,655 9,717 5,704 37,180 24,412 14,640 8,958 4 Riau 7,796 2,641 34,064 9,054 55,373 5,615 18,578 5 Jambi 7,776 4,839 5,260 13,394 22,972 7,114 10,661 6 Sumsel 11,843 6,355 54,907 11,856 38,392 8,760 15,204 7 Bengkulu 2,560 5,913 6,393 4,795 3,993 4,683 1,743 8 Lampung 15,630 10,753 77,433 11,684 69,977 8,741 20,103 9 Kep. Babel 2,369 1,380 2,657 1,625 3,973 1,293 1, Kep. Riau 4,588 1,843 5,219 1,689 4, , DKI Jaya 33,005 8,361 80,403 18,019 30,125 7,066 6, Jabar 110,401 19, ,326 82, ,313 37,022 63, Jateng 165,900 27, ,853 73, ,757 42,839 69, DIY 3,560 2,907 9,354 12,519 6,838 6,186 3, Jatim 248,893 29, , , ,237 53, , Banten 29,288 6, ,233 16, ,843 7,733 29, Bali 3,146 3,550 6,026 1,536 1,685 1, NTB 9,363 5,743 70,154 9,909 74,533 8,084 40, NTT 2,924 3,272 12,296 2,954 3,071 2,163 1, Kalbar 4,246 7,058 36,884 6,056 18,682 3,967 7, Kalteng 6,660 7,758 23,865 5,865 11,846 3,291 4, Kalsel 13,469 22,280 43,670 25,245 28,906 11,626 10, Kaltim 4,223 3,442 11,006 6,258 14,641 3,781 3, Sulut 2,140 2,809 3,030 2,132 3, Sulteng 6,036 3,324 9,770 4,680 17,737 2,760 7, Sulsel 21,816 7,516 50,949 13,314 46,700 10,319 18, Sultra 4,406 3,275 6,918 7,592 10,014 3,188 4, Gorontalo 1, ,307 2,043 4,698 1,705 2, Sulbar 3, , ,026 1,191 2, Maluku 101 2,238 9,986 2,531 5,776 1,811 2, Mal. Ut 570 3,585 4,929 2,853 8,201 1,634 3, Papua 2, , , Papua Barat 1, ,658 1, ,579 2,528, ,100 1,789, , , ,925 2,870,839 2,347, ,553 6,874,503 % Sebaran 11.7% 41.8% 34.1% 12.4% % Status 11.9% 88.1% 23.8% 76.2% 35.9% 64.1% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 27

30 Siswa RA/BA/TA Berdasarkan Jenis Kelamin Kelas A Kelas B Total Lk Pr Lk Pr Lk Pr 1 NAD 2,753 2,960 2,888 2,968 5,641 5,928 2 Sumut 10,399 11,469 8,923 9,685 19,322 21,154 3 Sumbar 1,341 1,533 6,827 6,954 8,168 8,487 4 Riau 1,306 1,081 2,689 2,720 3,995 3,801 5 Jambi 1,282 1,318 2,546 2,630 3,828 3,948 6 Sumsel 2,233 2,317 3,675 3,618 5,908 5,935 7 Bengkulu ,175 1,385 8 Lampung 2,958 3,074 4,704 4,894 7,662 7,968 9 Kep. Babel ,147 1, Kep. Riau ,743 1,690 2,334 2, DKI Jaya 4,260 4,377 12,309 12,059 16,569 16, Jabar 19,971 21,214 34,392 34,824 54,363 56, Jateng 31,530 32,557 51,668 50,145 83,198 82, DIY ,206 1,058 1,907 1, Jatim 64,330 64,827 59,597 60, , , Banten 4,643 4,949 9,715 9,981 14,358 14, Bali ,498 1, NTB 2,067 2,347 2,363 2,586 4,430 4, NTT 820 1, ,370 1, Kalbar 1,068 1,104 1,033 1,041 2,101 2, Kalteng 1,303 1,345 2,028 1,984 3,331 3, Kalsel 3,013 3,062 3,802 3,592 6,815 6, Kaltim ,460 1,415 2,123 2, Sulut ,033 1,032 1, Sulteng 1,468 1,539 1,438 1,591 2,906 3, Sulsel 4,379 4,925 6,244 6,268 10,623 11, Sultra 1,097 1,200 1,019 1,090 2,116 2, Gorontalo Sulbar ,585 1, Maluku Mal. Ut Papua ,426 1, Papua Barat , , , , , , , , ,925 % 49.1% 50.9% 49.9% 50.1% 49.5% 50.5% 28 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

31 Siswa MI Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : (Negeri + Swasta) Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 1 NAD 57,500 55,327 21,686 20,937 18,790 17,781 17,195 16,438 2 Sumut 47,819 45,962 19,702 18,323 15,783 14,152 13,548 12,273 3 Sumbar 8,081 7,340 3,115 2,840 2,560 2,502 2,382 2,022 4 Riau 18,832 17,873 8,398 7,068 6,255 5,716 4,940 4,328 5 Jambi 5,265 4,834 2,545 2,038 1,735 1,352 1,294 1,135 6 Sumsel 31,471 29,791 13,398 11,896 10,417 9,182 8,665 7,704 7 Bengkulu 6,370 5,936 2,468 2,376 2,006 1,939 1,834 1,683 8 Lampung 44,880 43,306 18,873 16,341 14,691 14,036 12,964 11,281 9 Kep. Babel 2,150 1, Kep. Riau 3,648 3,414 1,559 1,347 1,157 1, DKI Jaya 45,154 43,610 17,158 15,817 14,626 14,140 13,959 13, Jabar 253, , ,056 90,522 82,759 79,269 76,379 70, Jateng 260, ,074 95,765 90,086 82,069 78,561 79,427 78, DIY 6,394 5,867 2,428 2,198 1,967 1,908 1,975 1, Jatim 403, , , , , , , , Banten 67,442 67,596 28,805 26,349 23,187 20,621 18,706 17, Bali 4,317 5,259 1,886 1,904 1,644 1,526 1,339 1, NTB 39,193 36,704 14,834 15,063 13,383 10,492 11,629 10, NTT 8,135 7,433 4,124 3,075 2,508 2,326 1,965 1, Kalbar 22,469 21,473 9,642 8,902 7,506 6,772 6,074 5, Kalteng 16,093 15,530 7,361 6,427 5,529 4,635 4,131 3, Kalsel 34,132 31,818 14,265 12,798 10,679 10,001 9,476 8, Kaltim 7,454 6,994 3,150 2,889 2,486 2,131 2,045 1, Sulut 2,949 2,890 1,235 1,159 1, Sulteng 6,624 6,470 3,324 2,906 2,198 1,883 1,536 1, Sulsel 30,098 28,367 12,178 11,123 10,028 9,201 8,451 7, Sultra 5,195 4,998 2,403 2,051 1,843 1,513 1,290 1, Gorontalo 3,550 3,368 2,026 1,558 1, Sulbar 5,232 4,867 2,460 1,816 1,659 1,500 1,357 1, Maluku 6,314 5,910 2,692 2,248 1,968 1,870 1,875 1, Mal. Ut 4,388 4,126 2,459 1,632 1,290 1,130 1, Papua 1,979 1, Papua Barat 1,619 1, ,462,002 1,408, , , , , , ,774 2,870,839 % 50.9% 49.1% 20.2% 18.4% 16.6% 15.5% 15.1% 14.2% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 29

32 Siswa MI Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Negeri Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 1 NAD 50,922 49,005 18,936 18,260 16,578 15,838 15,383 14,932 2 Sumut 13,729 13,195 5,572 5,198 4,415 4,134 3,986 3,619 3 Sumbar 5,077 4,640 1,949 1,786 1,637 1,588 1,516 1,241 4 Riau 1,361 1, Jambi 2,518 2,321 1, Sumsel 3,346 3,009 1,386 1,221 1, Bengkulu 3,114 2,799 1,148 1, Lampung 5,521 5,232 2,330 1,882 1,735 1,735 1,597 1,474 9 Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya 4,078 4,283 1,741 1,637 1,328 1,271 1,250 1, Jabar 9,842 9,527 3,765 3,395 3,134 3,063 3,110 2, Jateng 14,250 13,358 5,497 5,097 4,541 4,329 4,128 4, DIY 1,435 1, Jatim 14,544 14,654 5,817 5,193 4,563 4,635 4,567 4, Banten 3,431 3,374 1,425 1,250 1,197 1, Bali 1,600 1, NTB 2,990 2,753 1,002 1,077 1, NTT 1,715 1, Kalbar 3,539 3,519 1,411 1,403 1,192 1,117 1, Kalteng 3,958 3,800 1,647 1,537 1,360 1,124 1,068 1, Kalsel 11,534 10,746 4,602 4,064 3,624 3,513 3,219 3, Kaltim 1,760 1, Sulut 1,358 1, Sulteng 1,659 1, Sulsel 3,865 3,651 1,530 1,403 1,320 1,182 1, Sultra 1,625 1, Gorontalo Sulbar Maluku 1,212 1, Mal. Ut 1,847 1, Papua Papua Barat , ,906 68,586 63,529 56,781 53,651 51,434 48, ,579 % 51.0% 49.0% 20.0% 18.5% 16.6% 15.7% 15.0% 14.2% 30 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

33 Siswa MI Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Swasta Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 1 NAD 6,578 6,322 2,750 2,677 2,212 1,943 1,812 1,506 2 Sumut 34,090 32,767 14,130 13,125 11,368 10,018 9,562 8,654 3 Sumbar 3,004 2,700 1,166 1, Riau 17,471 16,593 7,770 6,568 5,850 5,324 4,543 4,009 5 Jambi 2,747 2,513 1,464 1, Sumsel 28,125 26,782 12,012 10,675 9,342 8,269 7,733 6,876 7 Bengkulu 3,256 3,137 1,320 1,254 1,026 1, Lampung 39,359 38,074 16,543 14,459 12,956 12,301 11,367 9,807 9 Kep. Babel 1,398 1, Kep. Riau 2,695 2,524 1,177 1, DKI Jaya 41,076 39,327 15,417 14,180 13,298 12,869 12,709 11, Jabar 243, ,523 96,291 87,127 79,625 76,206 73,269 67, Jateng 246, ,716 90,268 84,989 77,528 74,232 75,299 74, DIY 4,959 4,395 1,838 1,665 1,476 1,436 1,513 1, Jatim 388, , , , , , , , Banten 64,011 64,222 27,380 25,099 21,990 19,571 17,815 16, Bali 2,717 3,309 1,180 1,208 1, NTB 36,203 33,951 13,832 13,986 12,296 9,579 10,760 9, NTT 6,420 5,876 3,372 2,464 1,970 1,810 1,509 1, Kalbar 18,930 17,954 8,231 7,499 6,314 5,655 5,044 4, Kalteng 12,135 11,730 5,714 4,890 4,169 3,511 3,063 2, Kalsel 22,598 21,072 9,663 8,734 7,055 6,488 6,257 5, Kaltim 5,694 5,312 2,484 2,180 1,859 1,601 1,583 1, Sulut 1,591 1, Sulteng 4,965 4,805 2,622 2,250 1,598 1,362 1, Sulsel 26,233 24,716 10,648 9,720 8,708 8,019 7,368 6, Sultra 3,570 3,348 1,698 1,404 1, Gorontalo 3,244 3,063 1,879 1,453 1, Sulbar 4,890 4,539 2,329 1,693 1,537 1,386 1,275 1, Maluku 5,102 4,884 2,184 1,830 1,618 1,518 1,508 1, Mal. Ut 2,541 2,388 1, Papua 1,767 1, Papua Barat 1,341 1, ,287,329 1,240, , , , , , ,176 2,528,260 % 50.9% 49.1% 20.2% 18.3% 16.6% 15.5% 15.2% 14.2% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 31

34 Siswa MTs Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : (Negeri + Swasta) Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 1 NAD 32,431 34,575 24,466 22,380 20,160 2 Sumut 77,511 84,064 57,140 55,130 49,305 3 Sumbar 29,142 32,450 23,455 20,140 17,997 4 Riau 31,581 32,846 23,331 21,592 19,504 5 Jambi 17,738 18,628 13,308 12,165 10,893 6 Sumsel 24,587 25,661 18,238 17,339 14,671 7 Bengkulu 4,276 4,512 3,065 3,058 2,665 8 Lampung 40,068 41,593 30,682 27,096 23,883 9 Kep. Babel 2,610 2,988 2,059 1,872 1, Kep. Riau 2,925 2,874 2,089 1,948 1, DKI Jaya 23,100 25,044 17,540 16,222 14, Jabar 207, , , , , Jateng 184, , , , , DIY 10,044 9,313 7,306 6,223 5, Jatim 216, , , , , Banten 69,669 75,829 54,379 49,133 41, Bali 1,446 1,775 1,253 1, NTB 41,301 43,141 29,310 28,723 26, NTT 3,032 2,993 2,466 1,937 1, Kalbar 12,246 12,492 9,097 8,431 7, Kalteng 8,300 9,411 6,486 6,202 5, Kalsel 24,989 29,162 19,597 17,959 16, Kaltim 9,237 11,662 7,705 6,882 6, Sulut 2,735 2,750 2,108 1,906 1, Sulteng 11,192 11,225 8,209 7,433 6, Sulsel 30,248 29,766 22,037 20,156 17, Sultra 8,676 8,930 6,464 5,839 5, Gorontalo 3,313 3,428 2,870 2,161 1, Sulbar 4,161 3,717 2,996 2,653 2, Maluku 4,204 4,103 2,992 2,819 2, Mal. Ut 5,518 5,536 4,186 3,641 3, Papua Papua Barat 1,238 1,337 1, ,147,719 1,199, , , ,271 2,347, Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

35 Siswa MTs Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Negeri Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 1 NAD 17,953 21,423 13,985 13,080 12,311 2 Sumut 11,427 14,930 9,263 9,116 7,978 3 Sumbar 16,979 20,201 13,888 12,095 11,197 4 Riau 4,338 4,716 3,122 3,176 2,756 5 Jambi 6,545 6,849 4,808 4,554 4,032 6 Sumsel 5,694 6,162 4,398 4,047 3,411 7 Bengkulu 2,335 2,460 1,583 1,699 1,513 8 Lampung 5,738 5,946 4,473 3,727 3,484 9 Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya 8,121 9,898 6,711 6,309 4, Jabar 39,768 42,517 30,929 27,033 24, Jateng 36,341 37,274 26,020 24,571 23, DIY 6,481 6,038 4,560 4,161 3, Jatim 50,121 52,057 36,211 33,803 32, Banten 7,534 9,121 5,978 5,690 4, Bali NTB 4,635 5,274 3,532 3,349 3, NTT 1,408 1,546 1, Kalbar 2,862 3,194 2,115 2,095 1, Kalteng 2,642 3,223 2,001 2,114 1, Kalsel 11,401 13,844 8,995 8,361 7, Kaltim 2,698 3,560 2,368 1,989 1, Sulut 1,035 1, Sulteng 2,273 2,407 1,739 1,634 1, Sulsel 6,494 6,820 4,937 4,518 3, Sultra 3,725 3,867 2,748 2,548 2, Gorontalo 983 1, Sulbar Maluku 1,283 1, Mal. Ut 1,399 1, , Papua Papua Barat , , , , , ,100 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 33

36 Siswa MTs Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Swasta Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 1 NAD 14,478 13,152 10,481 9,300 7,849 2 Sumut 66,084 69,134 47,877 46,014 41,327 3 Sumbar 12,163 12,249 9,567 8,045 6,800 4 Riau 27,243 28,130 20,209 18,416 16,748 5 Jambi 11,193 11,779 8,500 7,611 6,861 6 Sumsel 18,893 19,499 13,840 13,292 11,260 7 Bengkulu 1,941 2,052 1,482 1,359 1,152 8 Lampung 34,330 35,647 26,209 23,369 20,399 9 Kep. Babel 1,817 2,156 1,436 1,360 1, Kep. Riau 2,102 2,008 1,511 1,380 1, DKI Jaya 14,979 15,146 10,829 9,913 9, Jabar 168, , , ,484 95, Jateng 148, , , ,785 89, DIY 3,563 3,275 2,746 2,062 2, Jatim 166, , , , , Banten 62,135 66,708 48,401 43,443 36, Bali NTB 36,666 37,867 25,778 25,374 23, NTT 1,624 1,447 1, Kalbar 9,384 9,298 6,982 6,336 5, Kalteng 5,658 6,188 4,485 4,088 3, Kalsel 13,588 15,318 10,602 9,598 8, Kaltim 6,539 8,102 5,337 4,893 4, Sulut 1,700 1,653 1,286 1, Sulteng 8,919 8,818 6,470 5,799 5, Sulsel 23,754 22,946 17,100 15,638 13, Sultra 4,951 5,063 3,716 3,291 3, Gorontalo 2,330 2,368 2,088 1,500 1, Sulbar 3,713 3,313 2,641 2,370 2, Maluku 2,921 2,855 2,060 2,014 1, Mal. Ut 4,119 4,082 3,266 2,621 2, Papua Papua Barat , , , , ,468 1,789, Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

37 Siswa MA Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : (Negeri + Swasta) Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 10 Kelas 11 Kelas 12 1 NAD 17,729 22,243 14,907 12,908 12,157 2 Sumut 25,597 34,692 21,269 20,286 18,734 3 Sumbar 9,659 13,939 8,640 7,714 7,244 4 Riau 10,518 13,675 8,696 8,024 7,473 5 Jambi 8,131 9,644 6,113 5,656 6,006 6 Sumsel 10,833 13,131 8,824 8,016 7,124 7 Bengkulu 2,497 3,929 2,213 2,204 2,009 8 Lampung 13,277 15,567 11,317 9,224 8,303 9 Kep. Babel 1,054 1, Kep. Riau 992 1, DKI Jaya 5,828 7,759 4,947 4,446 4, Jabar 47,791 52,583 37,225 32,932 30, Jateng 48,488 64,045 41,028 36,940 34, DIY 3,730 6,082 3,126 2,881 3, Jatim 85,016 97,223 66,642 59,198 56, Banten 17,635 19,941 13,955 12,320 11, Bali 765 1, NTB 24,203 24,249 18,664 15,690 14, NTT 1,798 2,014 1,435 1,211 1, Kalbar 5,206 6,019 3,979 3,863 3, Kalteng 3,635 4,252 2,817 2,410 2, Kalsel 9,764 12,719 8,363 7,142 6, Kaltim 3,602 4,027 2,615 2,600 2, Sulut 890 1, Sulteng 4,850 5,042 3,852 3,195 2, Sulsel 14,291 14,713 10,457 9,137 9, Sultra 3,386 3,992 2,709 2,485 2, Gorontalo 1,603 2,236 1,560 1, Sulbar 2,061 1,945 1,430 1,221 1, Maluku 1,876 2,140 1,381 1,248 1, Mal. Ut 2,495 2,288 1,858 1,519 1, Papua Papua Barat , , , , , ,553 % 45.6% 54.4% 36.7% 32.6% 30.7% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 35

38 Siswa MA Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Negeri Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 10 Kelas 11 Kelas 12 1 NAD 10,425 14,370 8,804 8,049 7,942 2 Sumut 6,630 10,853 6,084 5,865 5,534 3 Sumbar 5,715 8,925 5,458 4,740 4,442 4 Riau 2,238 3,377 1,875 1,857 1,883 5 Jambi 3,115 3,999 2,404 2,353 2,357 6 Sumsel 3,652 5,108 3,242 2,836 2,682 7 Bengkulu 1,710 2,973 1,605 1,619 1,459 8 Lampung 3,704 5,037 3,314 2,679 2,748 9 Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya 2,859 4,207 2,613 2,422 2, Jabar 16,497 20,525 13,319 12,064 11, Jateng 16,350 26,489 15,061 13,759 14, DIY 2,173 4,013 1,866 1,866 2, Jatim 21,618 32,339 19,273 17,513 17, Banten 3,155 4,578 2,751 2,501 2, Bali NTB 3,586 4,498 2,700 2,806 2, NTT 1,006 1, Kalbar 1,705 2,262 1,378 1,249 1, Kalteng 1,470 1,821 1,212 1, Kalsel 4,671 6,955 4,250 3,753 3, Kaltim 1,687 2,094 1,348 1,324 1, Sulut Sulteng 1,241 1,519 1, Sulsel 4,627 5,692 3,803 3,403 3, Sultra 1,398 1,790 1,165 1, Gorontalo 701 1, Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat , , , ,117 97, ,229 % 41.1% 58.9% 35.7% 32.6% 31.7% 36 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

39 Siswa MA Berdasarkan Jenjang Kelas dan Jenis Kelamin Status Lembaga : Swasta Jenis Kelamin Jenjang Kelas Lk Pr Kelas 10 Kelas 11 Kelas 12 1 NAD 7,304 7,873 6,103 4,859 4,215 2 Sumut 18,967 23,839 15,185 14,421 13,200 3 Sumbar 3,944 5,014 3,182 2,974 2,802 4 Riau 8,280 10,298 6,821 6,167 5,590 5 Jambi 5,016 5,645 3,709 3,303 3,649 6 Sumsel 7,181 8,023 5,582 5,180 4,442 7 Bengkulu Lampung 9,573 10,530 8,003 6,545 5,555 9 Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya 2,969 3,552 2,334 2,024 2, Jabar 31,294 32,058 23,906 20,868 18, Jateng 32,138 37,556 25,967 23,181 20, DIY 1,557 2,069 1,260 1,015 1, Jatim 63,398 64,884 47,369 41,685 39, Banten 14,480 15,363 11,204 9,819 8, Bali NTB 20,617 19,751 15,964 12,884 11, NTT Kalbar 3,501 3,757 2,601 2,614 2, Kalteng 2,165 2,431 1,605 1,326 1, Kalsel 5,093 5,764 4,113 3,389 3, Kaltim 1,915 1,933 1,267 1,276 1, Sulut Sulteng 3,609 3,523 2,781 2,329 2, Sulsel 9,664 9,021 6,654 5,734 6, Sultra 1,988 2,202 1,544 1,429 1, Gorontalo 902 1, Sulbar 1,528 1,287 1, Maluku 1,063 1, Mal. Ut 1,670 1,479 1, Papua Papua Barat , , , , , ,324 % 48.1% 51.9% 37.3% 32.6% 30.1% Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 37

40 Rombel RA/BA/TA, MI, MTs dan MA RA/BA/TA MI MTs MA Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta 1 NAD 486 3, , Sumut 1, , , ,379 3 Sumbar , Riau , , Jambi Sumsel , , Bengkulu Lampung , , Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya 1, , Jabar 6, ,934 2,053 9, , Jateng 7, ,583 1,859 8,224 1,144 2, DIY Jatim 11,585 1,127 40,270 2,592 10,736 1,442 4, Banten 1, , , Bali NTB , , , NTT Kalbar , Kalteng , Kalsel 609 1,017 2, , Kaltim Sulut Sulteng Sulsel 1, , , Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat , ,608 14,929 54,942 8,558 19,381 39, ,126 69,871 27, , Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

41 Rasio Rombel-Siswa RA/BA/TA, MI, MTs dan MA RA/BA/TA MI MTs MA Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta 1 NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat Rasio Total Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 39

42 Nilai APK Jenjang RA/BA/TA, MI, MTs dan MA RA/BA/TA MI MTs MA Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta 1 NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jaya Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Mal. Ut Papua Papua Barat Rasio Total Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

DESKRIPTIF STATISTIK PENDIDIKAN MADRASAH

DESKRIPTIF STATISTIK PENDIDIKAN MADRASAH DESKRIPTIF STATISTIK PENDIDIKAN MADRASAH Deskriptif Statistik Pendidikan Madrasah Statistik Pendidikan Islam Tahun 2008/2009 A. Lembaga Jenis Lembaga yang didata antara lain RA, MI, MTs, MA dan Pengawas

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Akademik

Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Akademik Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Akademik 2009-2010 A. Pengantar Tahun ini terjadi penambahan jumlah madrasah negeri dikarenakan beberapa madrasah penegerian baru yang di-sk-kan per

Lebih terperinci

Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Pelajaran

Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Pelajaran Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Pelajaran 2011-2012 A. Pengantar Madrasah (RA, MI, MTs dan MA) disebutkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 merupakan

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS 148 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Deskriptif Statistik Guru PAIS A. Tempat Mengajar Pendataan Guru PAIS Tahun 2008 mencakup 33 propinsi. Jumlah

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website: AKSES PELAYANAN KESEHATAN Tujuan Mengetahui akses pelayanan kesehatan terdekat oleh rumah tangga dilihat dari : 1. Keberadaan fasilitas kesehatan 2. Moda transportasi 3. Waktu tempuh 4. Biaya transportasi

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Oleh : Drs Bambang Setiawan, MM 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pasal 3 UU no 20/2003 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Razali Ritonga, MA razali@bps.go.id Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik 15 SEPTEMBER 2012 1 PENGANTAR SENSUS: Perintah

Lebih terperinci

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

STATUS GIZI. Website:

STATUS GIZI. Website: STATUS GIZI Baku Standar yang Digunakan 1 Anak balita WHO Anthropometri 2005 2 Anak umur 5-18 th WHO Anthropometri 2007 (5-19 th) 3 Risiko KEK WUS (LiLA 90, P >80) 5 Status

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK RISET KESEHATAN DASAR 2 BLOK KESEHATAN ANAK JENIS DATA Jenis data yang disajikan : berat badan lahir kepemikilan KMS dan Buku KIA, penimbangan balita, kapsul vitamin A, pemberian ASI proses mulai menyusui

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

TABEL STATISTIK PENDIDIKAN DINIYAH DAN PONDOK PESANTREN

TABEL STATISTIK PENDIDIKAN DINIYAH DAN PONDOK PESANTREN TABEL STATISTIK PENDIDIKAN DINIYAH DAN PONDOK PESANTREN 3. 01. Lembaga Pondok Pesantren (Pontren), Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Al Qur'an, dan Majelis Taklim Tahun Pelajara n 2008/2009 No

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI

PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI INPUT Kebijakan nasional Peraturan dan perundangan Pedoman /Juknis/Juklak Kurmod Bahan Advokasi Kit Pelatihan, Sosialisasi, Orientasi, Pembinaan Pencatatan dan

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROGRAM LISTRIK PERDESAAN DI INDONESIA: KEBIJAKAN, RENCANA DAN PENDANAAN Jakarta, 20 Juni 2013 DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KONDISI SAAT INI Kondisi

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Lebih terperinci

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap

Lebih terperinci

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU ART UMUR 10 TAHUN Tujuan Memperoleh informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku individu maupun RT dalam pencegahan kesehatan dan perilaku berisiko terjadinya penyakit.

Lebih terperinci

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009 Jl Terusan Lembang, D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id METODOLOGI Quick

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)

Lebih terperinci

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya No Kategori Satuan Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Babel Kepri Potensi Lahan Ha Air 76.7 0 7.9 690.09 0.9 60. 069.66 767.9 79.6. Air

Lebih terperinci

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website: FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL RUANG LINGKUP Obat dan Obat Tradisional (OT) Obat Generik (OG) Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) TUJUAN 1. Memperoleh informasi tentang jenis obat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 No. 14 / 03 / 94 / Th. VII, 2 Maret 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 Nilai Tukar Petani Papua pada Februari 2015 sebesar 97,12 atau mengalami kenaikan 0,32

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP SELAYANG PANDANG SIMLUH KP Jakarta, 29 April 2014 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2014 IMPLEMENTASI SISTEM PENYULUHAN

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol tersebut adalah

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 5 LAMPIRAN I TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

KESEHATAN REPRODUKSI. Website:

KESEHATAN REPRODUKSI. Website: KESEHATAN REPRODUKSI Tujuan Umum: Menyediakan informasi mengenai indikator kesehatan ibu dan besaran masalah kesehatan reproduksi Khusus: Memperoleh informasi kejadian kehamilan di rumah tangga Memperoleh

Lebih terperinci

HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF Rabu, 9 April 2014

HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF Rabu, 9 April 2014 HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF 2014 Rabu, 9 April 2014 Metodologi Exit Poll Exit poll merupakan penelitian perilaku memilih (voting behavior) ketika pemilih berada di TPS. Total sampel 2000 responden,

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Oleh : Ir Zainal Achmad, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan indikator utama pembangunan dan kualitas SDM suatu bangsa. Salah

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014)

PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014) PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014) Dr. Siswanto, MHP, DTM Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA DAN KESIAPAN PENYALURAN DAK FISIK DAN DANA DESA MELALUI KPPN

PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA DAN KESIAPAN PENYALURAN DAK FISIK DAN DANA DESA MELALUI KPPN KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA DAN KESIAPAN PENYALURAN DAK FISIK DAN DANA DESA MELALUI DISAMPAIKAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN DALAM SOSIALISASI

Lebih terperinci

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 ARAHAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT NASIONAL (MUSRENBANGNAS) 28 APRIL 2010

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Sambutan... Kata Pengantar... Daftar Isi...

DAFTAR ISI. Kata Sambutan... Kata Pengantar... Daftar Isi... DAFTAR ISI Kata Sambutan... Kata Pengantar... Daftar Isi... i iii v TABEL RA/BA/TA, MI, MTs DAN MA 1.01. Jumlah Lembaga RA/BA/TA, MI, MTs dan MA... 1 1.01.1. Jumlah Lembaga RA/BA/TA, MI, MTs dan MA...

Lebih terperinci

PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015

PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015 PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN 2015 BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

Suatu model pembelajaran yang memanfaatkan media audio sebagai sumber belajar dengan bimbingan guru. Pengertian

Suatu model pembelajaran yang memanfaatkan media audio sebagai sumber belajar dengan bimbingan guru. Pengertian Suatu model pembelajaran yang memanfaatkan media audio sebagai sumber belajar dengan bimbingan guru. Pengertian Latar Belakang Kebijakan pemerintah ditekankan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 24/05/63/Th.XIX, 2 Mei NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN APRIL TURUN 0,14 PERSEN Pada NTP Kalimantan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 15/03/63/Th.XIX, 1 Maret NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN FEBRUARI TURUN 0,22 PERSEN Pada NTP

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

KEMENTERIAN AGAMA R.I Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi

KEMENTERIAN AGAMA R.I Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi KEMENTERIAN AGAMA R.I Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Peta Pendidikan Islam Jenis Pendidikan Umum Berciri Khas Islam Pendidikan Keagamaan Islam Diniyah Pondok

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN FEBRUARI 2017 NAIK 0,33 PERSEN No. 16/03/63/Th.XXI, 1 Maret

Lebih terperinci

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Oleh : Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian *) Disampaikan

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum Wr. Wb. Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya

Lebih terperinci

Capaian Keaksaraan, Gender, dan Pengembangan Budaya Baca

Capaian Keaksaraan, Gender, dan Pengembangan Budaya Baca Capaian Keaksaraan, Gender, dan Pengembangan Budaya Baca Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kementerian

Lebih terperinci

PENYAKIT MENULAR. Website:

PENYAKIT MENULAR. Website: PENYAKIT MENULAR Penyakit Menular Penyakit menular memberikan Informasi insiden, period prevalence dan prevalensi penyakit secara klinis dengan/tanpa informasi laboratorium yang digali melalui kuisioner.

Lebih terperinci

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Konferensi Pers HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 31 Mei 2013 A Ringkasan SMP/MTs 2 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP/MTs Tahun 2012/2013 Peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, baik negara ekonomi berkembang maupun negara ekonomi maju. Selain pergeseran

Lebih terperinci

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA. 1. Penerapan Standar Pendidikan drg 2. Penerapan Standar Pendidikan drg Sp 3. Uji Kompetensi 4. RSGMP 5.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA. 1. Penerapan Standar Pendidikan drg 2. Penerapan Standar Pendidikan drg Sp 3. Uji Kompetensi 4. RSGMP 5. KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 1. Penerapan Standar Pendidikan drg 2. Penerapan Standar Pendidikan drg Sp 3. Uji Kompetensi 4. RSGMP 5. KKNI 1. PENERAPAN STANDAR PENDIDIKAN DOKTER GIGI Pemahaman dan kemampuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 31/06/63/Th.XIX, 1 Juni NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN MEI TURUN 0,33 PERSEN Pada NTP Kalimantan

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA TAHUN 2013 DAN RENCANA KERJA TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH

PROGRAM KERJA TAHUN 2013 DAN RENCANA KERJA TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH PROGRAM KERJA TAHUN 2013 DAN RENCANA KERJA TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH Oleh: EUIS SAEDAH Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian B A H A N

Lebih terperinci

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro)

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan Setjen, Kemdikbud Jakarta, 2013 LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG KONSEP Masyarakat Anak

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 13/02/52/Th VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2016 Penjelasan Umum Badan Pusat Statistik melakukan Survei

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK PTAIN

DESKRIPTIF STATISTIK PTAIN DESKRIPTIF STATISTIK PTAIN Deskriptif Statistik PTAIN A. Lembaga lembaga yang berhasil didata pada pendataan PTAIN Tahun 2007/2008 sebanyak 52 lembaga, yang terdiri dari 6 atau 11,5% berbentuk Universitas,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 Bahan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional 3 4 Juni 2015 KEMENTERIAN PERTANIAN

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JUNI 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JUNI 2017 NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN JUNI SEBESAR 96,06 ATAU TURUN 0,64 PERSEN Pada Juni NTP Kalimantan Selatan tercatat 96,06 atau turun 0,64 persen dibanding NTP Mei yang mencapai 96,67. Turunnya NTP ini disebabkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016 No. 08/02/63/Th.XX, 1 Februari 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN JANUARI 2016 NAIK 0,01

Lebih terperinci

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI KEMENTERIAN ENERGI & SUMBER DAYA MINERAL

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI KEMENTERIAN ENERGI & SUMBER DAYA MINERAL DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI PERATURAN MENTERI ESDM NOMOR 19 TAHUN 2016 PEMBELIAN TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA FOTOVOLTAIK

Lebih terperinci