Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008"

Transkripsi

1 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan dasar penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Mutu pendidikan nasional dan pengajaran perlu dipantau terus-menerus dalam setiap tahap dan langkah kegiatan pendidikan. Pantauan itu ditujukan sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan dan lebih jauh sebagai penjaminan mutu pendidikan. Upaya inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 tahun 2003 dan Kepmendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Akhir Nasional (UAN/UN). UN merupakan fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational quality control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance). Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; (1) Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (2) Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan (Permendiknas No. 34/2007) Kebijakan penyelenggaraan UAN menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Meskipun terjadi beberapa kesenjangan dan kontroversi di kalangan pakar pendidikan, pendidik/guru, siswa dan masyarakat namun tidak menggoyahkan niat pemerintah untuk tetap melaksanakan UAN. Tahun 2003 merupakan awal dilaksanakannya UAN untuk tingkat SMA/MA dengan persyaratan minimal nilai kelulusan 3,01, yang artinya nilai di bawah 3,01 dinyatakan tidak lulus. Kemudian untuk meningkatkan mutu 62

2 pendidikan nasional, standar kelulusan dinaikkan menjadi 4,01 dan sebenarnya standar kelulusan ini masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Pada tahun 2005 UAN diganti dengan UN dan menaikkan standar kelulusan menjadi 4,25. Kemudian tahun 2006, standar kelulusan dinaikkan lagi menjadi 4,50. Ujian Nasional tahun 2007 terjadi beberapa perubahan tentang standar kelulusan yaitu harus memiliki nilai rata-rata seluruh mata pelajaran yang diujikan minimal 5,00 dengan nilai tiap mata pelajaran tidak ada di bawah 4,25. Kalaupun memiliki nilai 4,00 pada salah satu mata pelajaran yang diujikan, nilai dua mata pelajaran lainnya yang diujikan harus 6,00. sedangkan di tingkat SMK harus menggunakan ujian kompetensi. Semakin ruwet saja standar kelulusan tahun 2007, namun pemerintah merasa standar ini lebih luwes karena ada beberapa kategori yang dinyatakan lulus. Namun tidak akan diadakan ujian ulang bagi siswa yang tidak lulus berarti mereka harus menempuh ujian paket B dan C. Pada UN tahun 2008, mata pelajaran yang diujikan untuk tingkat SMA/MA bertambah menjadi 6 mata pelajaran. Untuk program IPA, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Pada program IPS, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Pada program Bahasa, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, Antropologi, dan Bahasa Asing lainnya. Pada program Agama, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Tafsir, Hadits, dan Tasawuf. Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah juga memerlukan upaya pengendalian, penjaminan dan penilaian mutu dan kualitas. Sebagai upaya penilaian mutu dan kualitas Madrasah Aliyah Negeri, pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah Aliyah Negeri seluruh Indonesia tahun Tujuan untuk : Analisis hasil ujian nasional Madrasah Aliyah Negeri tahun 2008 bertujuan 63

3 1. Membandingkan angka ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada ujian nasional tahun 2007 dan Membandingkan hasil ujian nasional tahun 2008 antara Madrasah Aliyah Negeri dan Sekolah Menengah Atas Negeri 3. Mendeskripsikan angka ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada ujian nasional tahun 2008 setiap propinsi. 4. Mendeskripsikan karakteristik nilai ujian nasional Madrasah Aliyah Negeri tahun Bahan dan Metodologi 2.1. Bahan Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri tahun 2008 menggunakan data sekunder yang berasal dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Departemen Pendidikan Nasional yang berisikan hasil-hasil ujian nasional pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/K/MA dan data Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun Hasil ujian nasional tersebut meliputi angka ketidaklulusan siswa peserta UN setiap propinsi pada setiap program studi yang diikutinya. Juga terdapat nilai rata-rata ujian setiap mata pelajaran di setiap propinsi dan program studi. Daftar lengkap dapat dilihat pada lampiran Metodologi Analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan analisis Biplot menggunakan fasilitas software Microsoft Excel dan SPSS versi Hasil dan Pembahasan Ujian Nasional tahun 2008 pada jenjang Madrasah Aliyah Negeri diikuti oleh orang siswa. Jumlah siswa terbanyak berasal dari propinsi Jawa Timur yaitu siswa, kemudian propinsi Jawa Tengah berjumlah siswa dan propinsi Jawa Barat berjumlah siswa. Jumlah siswa peserta UN 64

4 paling sedikit untuk jenjang Madrasah Aliyah Negeri adalah propinsi Papua Barat berjumlah 181 orang siswa. Jumlah Peserta Ujian Nasional IPA IPS BHS A GM 918 Gambar 1. Jumlah Peserta Ujian Nasional 2008 Dari jumlah orang siswa peserta UN tahun 2008 tersebut mayoritas berasal dari program IPS yaitu siswa, kemudian siswa program IPA berjumlah siswa, siswa program Bahasa berjumlah siswa, dan terakhir siswa program Agama berjumlah 918 siswa Ketidaklulusan Siswa pada Ujian Nasional Tahun 2007 dan Pada Ujian Nasional tahun 2008 secara keseluruhan terdapat (8,48%) siswa Madrasah Aliyah Negeri yang tidak lulus UN. Dari jumlah tersebut persentase siswa yang tidak lulus terbesar terdapat pada siswa program Agama yaitu sebanyak 116 (12,64%) siswa dari 918 siswa peserta UN. Selanjutnya adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu sebanyak (10,02%) siswa dari siswa peserta UN. Kemudian adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu sebanyak (6,79%) siswa dari siswa peserta UN. Dan terakhir adalah siswa program Bahasa yaitu sebanyak 334 (5,96%) siswa dari siswa peserta UN. Secara grafis hal tersebut ditunjukkan pada gambar 2. 65

5 Siswa Yang Tidak Lulus Pada UN 2008 (%) 14,00 12,00 10,00 10,02 12,64 8,00 6,00 6,79 5,96 4,00 2,00 - IPA IPS BHS AGM Gambar 2. Siswa MAN yang Tidak Lulus UN 2008 Fakta ini menunjukkan terdapat kenaikan ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada tahun 2008 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada UN 2007 tercatat sejumlah 7,49% siswa MAN tidak lulus UN, sedangkan pada UN tahun 2008 siswa MAN tidak lulus berjumlah 8,48%. Lebih jelas ditampilkan pada gambar 3 berikut : Perbandingan Jumlah Siswa Tidak Lulus UN Tahun 2007 dan 2008 (%) 8,6 8,4 8,2 8,48 8 7,8 7,6 7,4 7,49 7,2 7 6, Gambar 3. Perbandingan Jumlah Siswa Tidak Lulus UN Tahun 2007 dan

6 Jika dibandingkan antara Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN), maka dapat dilihat bahwa persentase siswa tidak lulus di MAN lebih banyak pada program IPA dan IPS, sedangkan pada program Bahasa tingkat ketidaklulusan siswa di MAN lebih sedikit dibandingkan dengan SMAN. Pada program Bahasa siswa MAN yang tidak lulus adalah 5,96% sedangkan di SMAN berjumlah 8,48%. Lebih lengkap dapat dilihat pada gambar 4 berikut : Perbandingan Jumlah Siswa Tidak Lulus Di MAN dan SMAN (%) ,09 10,02 8, ,79 5,96 4 4, IPA IPS BHS SMAN MAN Gambar 4. Perbandingan Jumlah Siswa Tidak Lulus di MAN dan SMAN pada UN Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri dan Sekolah Menengah Atas Negeri Tahun Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) untuk setiap mata ujian program IPA ternyata lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Hal ini mengindikasikan untuk program IPA, secara umum dapat disimpulkan kualitas siswa SMAN relatif lebih baik dibandingkan siswa MAN (Tabel 1). Tingkat ketidaklulusan siswa MAN pun lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SMAN yaitu 6,79% berbanding 4,32%. 67

7 Tabel 1. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Program IPA antara MAN dan SMAN Jenjang Nilai Ujian Program IPA BIN ING MAT FIS KIM BIO Total Tidak Lulus MAN 7,45 6,95 7,12 6,68 7,58 7,57 43,35 6,79% SMAN 7,72 7,39 7,62 7,00 7,87 7,91 45,51 4,32% Demikian pula untuk program IPS, nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) untuk setiap mata ujian program IPS ternyata lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Hal ini mengindikasikan untuk program IPS, secara umum dapat disimpulkan kualitas siswa SMAN relatif lebih baik dibandingkan siswa MAN (Tabel 2). Tingkat ketidaklulusan siswa MAN pun lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SMAN yaitu 10,02% berbanding 9,09%. Tabel 2. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Program IPS antara MAN dan SMAN Jenjang Nilai Ujian Program IPS BIN ING MAT EKO SOS GEO Total Tidak Lulus MAN 6,95 6,56 6,89 7,65 7,63 6,41 42,09 10,02% SMAN 7,05 6,78 7,16 7,75 7,68 6,53 42,95 9,09% Untuk program Bahasa, nilai rata-rata ujian nasional siswa MAN pada mata ujian Bahasa Indonesia, Sastra, Antropologi, dan Bahasa Asing lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SMAN, hanya pada mata ujian Bahasa Inggris dan Matematika nilai rata-rata ujian nasional siswa MAN lebih kecil dibandingkan siswa SMAN. Tingkat ketidaklulusan siswa MAN pada program Bahasa pun lebih rendah dibandingkan siswa SMAN yaitu 5,96% berbanding 8,48%. Hal ini mengindikasikan, untuk program Bahasa kualitas siswa MAN lebih baik dibandingkan siswa SMAN. Lebih lengkap dapat lihat pada tabel 3 berikut : Tabel 3. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Program Bahasa antara MAN dan SMAN Jenjang Nilai Ujian Program Bahasa BIN ING MAT SAS ATR BAS Total Tidak Lulus MAN 6,75 6,75 6,80 7,03 7,64 8,10 43,07 5,96% SMAN 6,65 6,79 6,94 7,00 7,48 7,64 42,50 8,48% 68

8 3.3. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Setiap Propinsi Pada UN 2008, ketidaklulusan siswa terbesar terdapat pada propinsi Kalimantan Barat yaitu sebanyak 453 (36,86%) siswa dari siswa peserta UN. Kemudian propinsi Sulawesi Tengah yaitu sebanyak 275 (30,42%) siswa dari 904 siswa peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan paling sedikit terdapat pada propinsi Papua Barat, yaitu dari 181 siswa peserta UN seluruhnya lulus. Siswa Tidak Lulus UN (%) 40,00 35,00 30,00 25,00 20,00 15,00 10,00 5,00 0,00 KALBAR SULTENG NTB BABEL NTT BENGKULU KEPRI NAD SUMBAR DIY RIAU JAMBI MALUKU KALSEL JATENG SUMUT LAMPUNG BALI SULTRA SULSEL SULUT MALUT JATIM KALTIM GTLO SULBAR DKI KALTENG SUMSEL BANTEN JABAR PABAR Gambar 5. Siswa yang Tidak Lulus UN 2008 Setiap Propinsi Gambar 5 menunjukkan siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Kalimantan Barat, kemudian Sulawesi Tengah, NTB, Bangka Belitung, NTT, Bengkulu, Kepulauan Riau dan Nanggroe Aceh Darussalam dengan ketidaklulusan di atas 20% (Tabel 4). Propinsi Papua Barat merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terendah yaitu 0%. Bila dilihat berdasarkan program studinya, pada program IPA siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Kalimantan Barat yaitu berjumlah 135 (40,79%) siswa dari 331 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPA terdapat pada propinsi Sulawesi Utara dan Papua Barat yaitu 0%. Siswa tidak lulus pada program IPS terbanyak terdapat di propinsi Sulawesi Tengah yaitu berjumlah 217 (42,80%) siswa dari 507 siswa peserta UN. 69

9 Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPS terdapat pada propinsi Papua Barat yaitu 0%. Tabel 4. Ketidaklulusan UN Tahun 2008 setiap Propinsi Persentase Tidak Lulus Total Propinsi Tdk IPA IPS BHS AGM Peserta Lulus % KALBAR 40,79 36,69 18, ,86 SULTENG 15,71 42,80-21, ,42 NTB 26,88 24,34 15,56 40, ,60 BABEL 25,48 20, ,83 NTT 21,09 31,72 4, ,79 BENGKULU 18,02 24,74 16, ,42 KEPRI 2,35 31, ,18 NAD 13,11 29,71 36, ,71 SUMBAR 13,00 16,50 1,82 12, ,56 DIY 18,97 12, ,21 RIAU 6,33 22,88 0,72 1, ,65 JAMBI 8,54 13,30 16,67 4, ,71 MALUKU 12,81 6,17 42, ,86 KALSEL 5,46 10,08 10,38 33, ,71 JATENG 6,59 10,28 2, ,53 SUMUT 10,58 4,62 20,31 24, ,31 LAMPUNG 13,46 2,82 1, ,99 BALI 1,09 9, ,76 SULTRA 2,97 6,78 22, ,48 SULSEL 1,31 6,30 6, ,91 SULUT - 8,25 3, ,27 MALUT 2,62 2,23 5, ,74 JATIM 1,55 3,73 1, ,60 KALTIM 1,32 2, ,08 GTLO 1,31 0,79 9, ,95 SULBAR 2,56 1, ,88 DKI 0,28 1,88 0, ,23 KALTENG 0,48 1, ,20 SUMSEL 0,36 1, ,16 BANTEN 0,41 0, ,63 JABAR 0,24 0,72 0, ,52 PABAR Pada program Bahasa siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Maluku yaitu berjumlah 12 (42,86%) siswa dari 28 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program Bahasa terdapat pada propinsi DIY, Sulteng, Kalteng, Kaltim, Bali, Banten, Sulbar, dan Papua Barat yaitu 0%. Propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terbanyak pada program Agama yaitu berjumlah 15 (40,54%) siswa dari 37 70

10 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program Agama terdapat pada propinsi DKI Jakarta, Jatim, Lampung, dan Sulut yaitu 0% Karakteristik Nilai Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri. Karakteristik nilai ujian nasional bisa dilakukan dengan analis biplot. Analisis Biplot merupakan upaya penampilan grafis dua dimensi terhadap tabel dengan banyak variabel. Ada tiga hal penting yang bisa didapatkan dari tampilan biplot yaitu ; (1) kedekatan antar objek : dimana informasi ini bisa dijadikan panduan objek mana yang memiliki kemiripan karakteristik dengan objek tertentu; (2) keragaman variabel : informasi ini digunakan untuk melihat apakah ada variabel tertentu yang nilainya hampir sama untuk setiap objek, atau sebaliknya bahwa nilai dari setiap objek ada yang sangat besar dan ada juga yang sangat kecil; (3) Korelasi antar variabel : informasi ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana variabel yang satu mempengaruhi/dipengaruhi variabel yang lain. Karena biplot adalah upaya membuat gambar di ruang berdimensi banyak menjadi gambar di ruang dimensi dua. Pereduksian dimensi ini mempunyai konsekuensi menurunnya besar informasi yang terkandung dalam biplot Program IPA Pada hasil ujian nasional program IPA, analisis Biplot memberikan gambaran terdapat dua kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 6). Kelompok pertama adalah Jateng, Gorontalo, Kaltim, Lampung, DKI Jakarta, Jatim, Bali, Jabar, Sulsel, Banten, Sumut, Sumsel, Riau, Sulut dan Sultra. Di kelompok kedua adalah DIY, Kepulauan Riau, NTT, Kalbar, Babel, Bengkulu, Sumbar, Kalteng, NTB, Sulbar, Maluku, Jambi, Maluku Utara, NAD, dan Sulteng. Bila diperhatikan lebih lanjut pengelompokan propinsi tersebut dapat dibedakan berdasarkan total nilai ujian nasional. Propinsi-propinsi yang berada di kelompok satu mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan propinsi-propinsi yang berada di kelompok dua. 71

11 Dari gambar dapat dilihat lebih jelas bahwa propinsi Jawa Tengah, Gorontalo, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan dengan propinsi lain. Sedangkan propinsi Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan relatif memiliki nilai Biologi dan Kimia lebih baik dibandingkan propinsi lain. Sebaliknya propinsi-propinsi yang tergabung dalam kelompok dua memiliki nilai-nilai ujian nasional lebih rendah. Gambar 6. Biplot Hasil UN Program IPA Vektor variabel nilai Bahasa Indonesia dan Matematika membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti propinsi yang nilai Bahasa Indonesianya tinggi relatif memiliki nilai Matematika yang rendah, begitupun sebaliknya. 72

12 Program IPS Pada hasil ujian nasional program IPS, analisis Biplot memberikan gambaran terdapat tiga kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 7). Kelompok pertama adalah Jatim, Jabar, Kaltim, DKI Jakarta, dan Sulsel. Di kelompok kedua adalah propinsi Gorontalo, Sumsel, Lampung, Banten, Jambi, Sulut, dan Papua Barat. Selainnya masuk dalam kelompok ketiga seperti NTT, Sulteng, Kepulauan Riau, Sulbar dan lain-lain. Gambar 7. Biplot Hasil UN Program IPS Dari gambar 7 diketahui propinsi Jatim, Jabar, Kaltim, DKI Jakarta, dan Sulsel memiliki nilai rata-rata Sosiologi relatif lebih baik dibandingkan propinsi lain. Sedangkan propinsi Gorontalo, Sumsel, Lampung, Banten, Jambi, Sulut, dan Papua Barat memiliki nilai Bahasa Inggris, Ekonomi, dan Geografi lebih baik. Vektor variabel nilai Sosiologi dan Geografi membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi 73

13 negatif. Yang berarti propinsi yang nilai Sosiologinya tinggi relatif memiliki nilai Geografi yang rendah, begitupun sebaliknya Program Bahasa Pada hasil ujian nasional program Bahasa, analisis Biplot memberikan gambaran terdapat tiga kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 8). Kelompok pertama adalah Sulawesi Tengah, Gorontalo, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, DIY, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Di kelompok kedua yaitu Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Papua Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Bengkulu, dan NTB. Selainnya masuk kelompok Ketiga yaitu Maluku, Riau, Jambi, Sulawesi Utara, NTT, Maluku Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar 8. Biplot Hasil UN Program Bahasa Dari gambar 8 diketahui propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Bali memiliki nilai rata-rata Bahasa Asing dan Bahasa Inggris lebih baik dibandingkan 74

14 propinsi lain. Sedangkan propinsi DIY dan Sulsel memiliki nilai rata-rata lebih baik pada mata ujian Matematika dan Sastra. Vektor variabel nilai Antropologi dan Matematika membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti propinsi yang nilai Antropologinya tinggi relatif memiliki nilai Matematika yang rendah, begitupun sebaliknya. Panjang vektor nilai ujian Antropologi dan Matematika relatif lebih panjang dibandingkan mata ujian yang lain, yang berarti nilai rata-rata Antropologi dan Matematika lebih beragam dibandingkan mata ujian yang yang lain Program Agama Madrasah Aliyah Negeri yang menyelenggarakan program Agama hanya terdapat pada 12 propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Kalbar, Kalsel, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Gambar 9. Biplot Hasil UN Program Agama Gambar 9. Biplot Hasil UN Program Bahasa 75

15 Pada hasil ujian nasional program Bahasa, analisis Biplot memberikan gambaran terdapat dua kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 9). Kelompok pertama yaitu propinsi Lampung, Jambi, Jabar, Jatim, dan Sulut. Selainnya yaitu Sumbar, Riau, Sumut, Kalbar, Kalsel, Sulteng dan NTB masuk kelompok kedua. Propinsi Sulawesi Utara relatif memiliki nilai ujian Matematika lebih baik dibandingkan propinsi lain. Vektor nilai bahasa Inggris dan Tasawuf membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti propinsi yang nilai Antropologinya tinggi relatif memiliki nilai Matematika yang rendah, begitupun sebaliknya. Panjang vektor nilai ujian Bahasa Inggris, Matematika dan Tasawuf relatif lebih panjang dibandingkan mata ujian yang lain, yang berarti nilai rata-rata Bahasa Inggris, Matematika dan Tasawuf lebih beragam dibandingkan mata ujian yang yang lain. 4. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis hasil ujian nasional Madrasah Aliyah Negeri tahun 2008 ini adalah : Persentase siswa yang tidak lulus terbesar terdapat pada siswa MAN program Agama yaitu sebanyak 116 (12,64%) siswa dari 918 siswa peserta UN. Selanjutnya adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu sebanyak (10,02%) siswa dari siswa peserta UN. Kemudian adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu sebanyak (6,79%) siswa dari siswa peserta UN. Dan terakhir adalah siswa program Bahasa yaitu sebanyak 334 (5,96%) siswa dari siswa peserta UN. Pada UN 2008, ketidaklulusan siswa terbesar terdapat pada propinsi Kalimantan Barat yaitu sebanyak 453 (36,86%) siswa dari siswa peserta UN. Kemudian propinsi Sulawesi Tengah yaitu sebanyak 275 (30,42%) siswa dari 904 siswa peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan terendah terdapat pada propinsi Papua Barat, yaitu dari 181 siswa peserta UN seluruhnya lulus. Terdapat kenaikan ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada tahun 2008 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada UN 2007 tercatat sejumlah 76

16 7,49% siswa MAN tidak lulus UN, sedangkan pada UN tahun 2008 siswa MAN tidak lulus berjumlah 8,48%. Siswa MAN program Bahasa relatif mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan siswa SMAN yang ditunjukkan oleh nilai hasil ujian nasional dan tingkat kelulusan yang lebih baik. Sedangkan untuk program IPA dan IPS siswa SMAN relatif mempunyai kualitas lebih baik. Pada program IPA siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Kalimantan Barat yaitu berjumlah 135 (40,79%) siswa dari 331 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPA terdapat pada propinsi Sulawesi Utara dan Papua Barat yaitu 0%. Siswa tidak lulus pada program IPS terbanyak terdapat di propinsi Sulawesi Tengah yaitu berjumlah 217 (42,80%) siswa dari 507 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPS terdapat pada propinsi Papua Barat yaitu 0%. Pada program Bahasa siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Maluku yaitu berjumlah 12 (42,86%) siswa dari 28 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program Bahasa terdapat pada propinsi DI Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali, Banten, Sulawesi Barat, dan Papua Barat yaitu 0%. Propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terbanyak pada program Agama yaitu berjumlah 15 (40,54%) siswa dari 37 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program Agama terdapat pada propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Utara yaitu 0%. Pada program IPA, propinsi Jawa Tengah, Gorontalo, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan dengan propinsi lain. Sedangkan propinsi Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan relatif memiliki nilai Biologi dan Kimia lebih baik dibandingkan propinsi lain. Pada program Bahasa, propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Bali memiliki nilai rata-rata Bahasa Asing dan Bahasa Inggris lebih baik dibandingkan 77

17 propinsi lain. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan memiliki nilai rata-rata lebih baik pada mata ujian Matematika dan Sastra. 5. Daftar Bacaan Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama. 2007/2008. Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta. Depag. Departemen Statistika FMIPA IPB Analisis Peubah Ganda. Bogor. FMIPA IPB. Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional (UAN). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2007 tentang Ujian Nasional. Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007. Jakarta. Depdiknas. Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008. Jakarta. Depdiknas Tatham. Ronald. L, Anderson. Rolph.E, & Hair. Joseph. E Multivariate Data Analysis. Second Edition. New York: Macmillan Publishing Company. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Universitas Negeri Yogyakarta Sejarah Ujian Nasional. Yogyakarta. UNY 78

18 Lampiran 1a HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM IPA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT FIS KIM BIO Total 1 DKI ,28 7,80 7,24 7,67 7,17 7,49 7,75 45,12 2 JABAR ,24 7,91 7,23 7,78 7,09 8,27 8,07 46,35 3 JATENG ,59 7,61 6,71 6,52 6,98 7,09 6,96 41,87 4DIY ,97 8,14 6,41 5,12 5,73 6,02 6,46 37,88 5 JATIM ,55 8,07 7,32 7,43 6,76 8,22 8,22 46,02 6 NAD ,11 6,49 6,38 7,43 5,91 7,66 7,13 41,00 7 SUMUT ,58 7,21 7,26 7,13 6,72 7,75 7,60 43,67 8 SUMBAR ,00 7,59 6,68 6,31 5,83 7,12 7,89 41,42 9 RIAU ,33 7,14 6,56 6,73 8,25 7,55 7,79 44,02 10 JAMBI ,54 6,54 6,65 6,14 6,46 7,18 7,60 40,57 11 SUMSEL ,36 7,42 7,54 7,84 7,91 7,87 7,73 46,31 12 LAMPUNG ,46 7,16 7,29 6,36 7,19 7,43 7,59 43,02 13 KALBAR ,79 7,14 5,55 5,35 5,12 5,18 6,26 34,60 14 KALTENG ,48 7,40 6,94 6,56 6,83 6,76 6,41 40,90 15 KALSEL ,46 7,22 7,25 6,77 7,03 7,01 7,48 42,76 16 KALTIM ,32 7,39 7,36 7,03 6,94 7,29 7,87 43,88 17 SULUT ,34 7,16 8,99 7,07 7,75 8,66 46,97 18 SULTENG ,71 5,89 5,32 6,66 6,33 7,21 7,21 38,62 19 SULSEL ,31 7,67 7,67 8,55 6,06 7,87 8,10 45,92 20 SULTRA ,97 7,08 6,66 7,57 7,49 8,22 7,81 44,83 21 MALUKU ,81 6,94 6,62 6,48 5,57 6,50 7,64 39,75 22 BALI ,09 7,92 7,57 7,72 7,37 8,10 8,35 47,03 23 NTB ,88 6,64 5,82 6,19 5,87 6,27 6,49 37,28 24 NTT ,09 7,17 5,87 5,40 4,91 5,36 5,41 34,12 25 BENGKULU ,02 7,39 6,27 5,14 6,37 6,60 7,72 39,49 26 MALUT ,62 6,36 6,02 7,13 6,25 6,79 6,79 39,34 27 BABEL ,48 7,31 5,81 5,77 4,78 6,41 6,31 36,39 28 GTLO ,31 7,51 7,25 7,40 5,71 7,48 7,35 42,70 29 BANTEN ,41 7,42 7,62 7,75 6,90 7,76 7,91 45,36 30 KEPRI ,35 7,72 7,10 5,82 6,44 6,64 6,47 40,19 31 SULBAR ,56 6,61 6,29 6,90 6,18 6,29 6,12 38,39 32 PABAR ,16 6,87 6,75 7,84 7,51 7,25 43,38 33 PAPUA JUMLAH ,79 7,45 6,95 7,12 6,68 7,58 7,57 43,35 79

19 Lampiran 1c HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM BAHASA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT SAS ATR BAS Total 1 DKI ,57 6,86 6,53 7,27 7,41 8,23 8,28 44,58 2 JABAR ,61 7,35 7,60 7,57 7,19 7,86 8,67 46,24 3 JATENG ,97 7,07 6,69 6,55 7,15 7,80 7,93 43,19 4DIY ,21 6,79 6,86 7,17 7,78 7,72 43,53 5 JATIM ,01 7,15 6,91 7,27 7,07 7,93 8,56 44,89 6 NAD ,31 5,64 6,13 4,62 5,86 6,93 7,23 36,41 7 SUMUT ,31 6,39 6,89 6,59 6,75 7,04 8,47 42,13 8 SUMBAR ,82 6,77 6,53 5,88 7,02 7,07 7,89 41,16 9 RIAU ,72 6,35 6,26 6,96 6,60 7,01 6,62 39,80 10 JAMBI ,67 6,07 6,23 5,50 6,78 7,18 7,58 39,34 11 LAMPUNG ,06 7,02 7,30 6,34 7,45 8,25 8,34 44,70 12 KALTENG ,83 6,19 7,39 6,81 6,74 7,09 41,05 13 KALSEL ,38 5,91 6,43 6,12 6,94 8,20 8,25 41,85 14 KALTIM ,86 6,49 6,63 6,80 7,45 7,03 41,26 15 SULUT ,13 6,48 7,10 8,70 7,16 6,97 7,87 44,28 16 SULTENG ,24 6,20 6,17 7,38 8,96 8,20 43,15 17 SULSEL ,21 6,60 7,35 7,39 7,58 7,37 7,97 44,26 18 SULTRA ,73 6,15 6,08 5,25 6,93 6,76 7,65 38,82 19 MALUKU ,86 6,04 5,46 7,45 7,30 5,46 8,15 39,86 20 BALI ,08 6,52 7,89 7,48 8,41 8,74 46,12 21 NTB ,56 6,20 6,36 6,49 7,07 7,01 7,50 40,63 22 NTT ,49 5,80 5,86 6,19 6,45 7,53 6,83 38,66 23 BENGKULU ,04 6,24 5,82 5,68 6,99 7,79 8,38 40,90 24 MALUT ,88 6,07 5,44 5,91 6,31 6,75 6,95 37,43 25 GTLO ,09 6,24 7,66 6,87 6,50 8,30 8,23 43,80 26 BANTEN ,75 6,49 6,15 7,39 7,67 9,03 43,48 27 SULBAR ,06 6,30 6,83 6,45 7,67 8,59 41,90 28 PABAR ,88 6,94 6,99 6,03 7,64 8,07 41,55 29 SUMSEL KALBAR PAPUA BABEL KEPRI JUMLAH ,96 6,75 6,75 6,80 7,03 7,64 8,10 43,07 81

20 Lampiran 1b HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM IPS Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT EKO SOS GEO Total 1 DKI ,88 7,27 6,64 6,98 8,00 7,96 6,83 43,68 2 JABAR ,72 7,56 7,09 7,89 8,17 8,32 6,84 45,87 3 JATENG ,28 7,07 6,34 6,14 7,60 7,27 6,14 40,56 4DIY ,44 7,62 5,87 6,08 7,46 7,63 6,14 40,80 5 JATIM ,73 7,65 6,86 7,47 7,88 8,31 6,16 44,33 6 NAD ,71 5,72 5,84 6,19 6,68 6,74 5,55 36,72 7 SUMUT ,62 6,95 6,98 7,53 7,96 7,46 7,03 43,91 8 SUMBAR ,50 6,64 6,14 6,45 7,31 7,66 5,88 40,08 9 RIAU ,88 6,65 6,09 6,41 7,66 6,93 6,37 40,11 10 JAMBI ,30 5,92 6,36 6,55 7,68 8,08 7,02 41,61 11 SUMSEL ,75 7,13 7,10 7,40 7,80 7,37 7,10 43,90 12 LAMPUNG ,82 6,73 7,02 6,89 8,24 7,67 7,33 43,88 13 KALBAR ,69 6,54 5,03 6,00 6,59 6,77 5,56 36,49 14 KALTENG ,98 7,00 6,42 6,37 7,19 6,59 6,62 40,19 15 KALSEL ,08 6,60 6,92 6,63 7,53 7,29 6,73 41,70 16 KALTIM ,61 7,06 6,78 7,10 7,82 7,98 6,59 43,33 17 SULUT ,25 6,79 7,17 8,62 7,40 6,76 7,12 43,86 18 SULTENG ,80 4,94 4,96 5,88 7,19 6,30 5,77 35,04 19 SULSEL ,30 6,93 7,37 7,81 8,09 8,21 7,11 45,52 20 SULTRA ,78 6,69 6,33 6,95 7,40 7,47 5,90 40,74 21 MALUKU ,17 6,73 6,68 6,94 7,18 7,30 6,85 41,68 22 BALI ,69 7,39 6,74 7,89 8,13 7,81 6,76 44,72 23 NTB ,34 5,71 5,52 6,14 7,35 6,88 5,48 37,08 24 NTT ,72 5,91 5,13 5,36 5,53 5,81 5,70 33,44 25 BENGKULU ,74 6,17 5,87 5,66 7,05 7,64 6,55 38,94 26 MALUT ,23 6,50 6,21 7,63 7,07 7,21 6,44 41,06 27 BABEL ,98 6,89 5,69 5,73 6,43 7,21 5,41 37,36 28 GTLO ,79 6,66 6,62 7,74 7,44 7,61 6,71 42,78 29 BANTEN ,82 6,91 7,50 7,75 8,47 8,02 7,63 46,28 30 KEPRI ,49 6,87 5,85 5,33 6,29 7,05 5,15 36,54 31 SULBAR ,90 6,37 6,45 6,75 7,89 6,45 6,99 40,90 32 PABAR 87-7,08 6,53 6,87 8,17 6,72 8,69 44,06 33 PAPUA JUMLAH ,02 6,95 6,56 6,89 7,65 7,63 6,41 42,09 80

21 Lampiran 1d HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM AGAMA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Pesert Tdk a Lulus % BIN ING MAT TAF HAD TWF Total 1 JABAR ,59 6,92 8,08 6,79 7,71 7,73 44,82 2 JATIM ,30 6,93 8,47 8,11 8,56 8,75 49,12 3 SUMUT ,66 5,72 7,08 6,37 7,15 7,06 6,87 40,25 4 SUMBAR ,26 7,01 6,42 6,51 7,23 6,66 7,22 41,05 5 RIAU ,49 6,38 5,93 7,29 7,22 6,88 7,09 40,79 6 JAMBI ,55 6,15 6,15 7,08 7,72 7,95 7,99 43,04 7 LAMPUNG ,06 8,14 7,41 8,63 8,39 8,55 48,18 8 KALBAR ,75 6,65 5,44 6,07 7,09 7,10 7,18 39,53 9 KALSEL ,33 6,47 6,90 4,61 6,73 7,01 6,68 38,40 10 SULUT ,48 6,62 8,37 7,87 6,28 7,88 43,50 11 SULTENG ,43 5,14 5,87 6,51 5,73 6,38 7,83 37,46 12 NTB ,54 4,97 4,67 5,51 7,10 6,91 7,07 36,23 13 DKI JAKARTA - 14 JATENG - 15 DIY - 16 NAD - 17 KALTENG - 18 KALTIM - 19 SULSEL - 20 SULTRA - 21 MALUKU - 22 BALI - 23 NTT - 24 BENGKULU - 25 BABEL - 26 MALUT - 27 GTLO - 28 BANTEN - 29 SULBAR - 30 PABAR - 31 SUMSEL - 32 PAPUA - 33 KEPRI JUMLAH ,64 6,77 6,42 6,73 7,27 7,03 7,40 41,62 82

22 Lampiran 1a HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM IPA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT FIS KIM BIO Total 1 DKI ,28 7,80 7,24 7,67 7,17 7,49 7,75 45,12 2 JABAR ,24 7,91 7,23 7,78 7,09 8,27 8,07 46,35 3 JATENG ,59 7,61 6,71 6,52 6,98 7,09 6,96 41,87 4DIY ,97 8,14 6,41 5,12 5,73 6,02 6,46 37,88 5 JATIM ,55 8,07 7,32 7,43 6,76 8,22 8,22 46,02 6 NAD ,11 6,49 6,38 7,43 5,91 7,66 7,13 41,00 7 SUMUT ,58 7,21 7,26 7,13 6,72 7,75 7,60 43,67 8 SUMBAR ,00 7,59 6,68 6,31 5,83 7,12 7,89 41,42 9 RIAU ,33 7,14 6,56 6,73 8,25 7,55 7,79 44,02 10 JAMBI ,54 6,54 6,65 6,14 6,46 7,18 7,60 40,57 11 SUMSEL ,36 7,42 7,54 7,84 7,91 7,87 7,73 46,31 12 LAMPUNG ,46 7,16 7,29 6,36 7,19 7,43 7,59 43,02 13 KALBAR ,79 7,14 5,55 5,35 5,12 5,18 6,26 34,60 14 KALTENG ,48 7,40 6,94 6,56 6,83 6,76 6,41 40,90 15 KALSEL ,46 7,22 7,25 6,77 7,03 7,01 7,48 42,76 16 KALTIM ,32 7,39 7,36 7,03 6,94 7,29 7,87 43,88 17 SULUT ,34 7,16 8,99 7,07 7,75 8,66 46,97 18 SULTENG ,71 5,89 5,32 6,66 6,33 7,21 7,21 38,62 19 SULSEL ,31 7,67 7,67 8,55 6,06 7,87 8,10 45,92 20 SULTRA ,97 7,08 6,66 7,57 7,49 8,22 7,81 44,83 21 MALUKU ,81 6,94 6,62 6,48 5,57 6,50 7,64 39,75 22 BALI ,09 7,92 7,57 7,72 7,37 8,10 8,35 47,03 23 NTB ,88 6,64 5,82 6,19 5,87 6,27 6,49 37,28 24 NTT ,09 7,17 5,87 5,40 4,91 5,36 5,41 34,12 25 BENGKULU ,02 7,39 6,27 5,14 6,37 6,60 7,72 39,49 26 MALUT ,62 6,36 6,02 7,13 6,25 6,79 6,79 39,34 27 BABEL ,48 7,31 5,81 5,77 4,78 6,41 6,31 36,39 28 GTLO ,31 7,51 7,25 7,40 5,71 7,48 7,35 42,70 29 BANTEN ,41 7,42 7,62 7,75 6,90 7,76 7,91 45,36 30 KEPRI ,35 7,72 7,10 5,82 6,44 6,64 6,47 40,19 31 SULBAR ,56 6,61 6,29 6,90 6,18 6,29 6,12 38,39 32 PABAR ,16 6,87 6,75 7,84 7,51 7,25 43,38 33 PAPUA JUMLAH ,79 7,45 6,95 7,12 6,68 7,58 7,57 43,35 79

23 Lampiran 1c HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM BAHASA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT SAS ATR BAS Total 1 DKI ,57 6,86 6,53 7,27 7,41 8,23 8,28 44,58 2 JABAR ,61 7,35 7,60 7,57 7,19 7,86 8,67 46,24 3 JATENG ,97 7,07 6,69 6,55 7,15 7,80 7,93 43,19 4DIY ,21 6,79 6,86 7,17 7,78 7,72 43,53 5 JATIM ,01 7,15 6,91 7,27 7,07 7,93 8,56 44,89 6 NAD ,31 5,64 6,13 4,62 5,86 6,93 7,23 36,41 7 SUMUT ,31 6,39 6,89 6,59 6,75 7,04 8,47 42,13 8 SUMBAR ,82 6,77 6,53 5,88 7,02 7,07 7,89 41,16 9 RIAU ,72 6,35 6,26 6,96 6,60 7,01 6,62 39,80 10 JAMBI ,67 6,07 6,23 5,50 6,78 7,18 7,58 39,34 11 LAMPUNG ,06 7,02 7,30 6,34 7,45 8,25 8,34 44,70 12 KALTENG ,83 6,19 7,39 6,81 6,74 7,09 41,05 13 KALSEL ,38 5,91 6,43 6,12 6,94 8,20 8,25 41,85 14 KALTIM ,86 6,49 6,63 6,80 7,45 7,03 41,26 15 SULUT ,13 6,48 7,10 8,70 7,16 6,97 7,87 44,28 16 SULTENG ,24 6,20 6,17 7,38 8,96 8,20 43,15 17 SULSEL ,21 6,60 7,35 7,39 7,58 7,37 7,97 44,26 18 SULTRA ,73 6,15 6,08 5,25 6,93 6,76 7,65 38,82 19 MALUKU ,86 6,04 5,46 7,45 7,30 5,46 8,15 39,86 20 BALI ,08 6,52 7,89 7,48 8,41 8,74 46,12 21 NTB ,56 6,20 6,36 6,49 7,07 7,01 7,50 40,63 22 NTT ,49 5,80 5,86 6,19 6,45 7,53 6,83 38,66 23 BENGKULU ,04 6,24 5,82 5,68 6,99 7,79 8,38 40,90 24 MALUT ,88 6,07 5,44 5,91 6,31 6,75 6,95 37,43 25 GTLO ,09 6,24 7,66 6,87 6,50 8,30 8,23 43,80 26 BANTEN ,75 6,49 6,15 7,39 7,67 9,03 43,48 27 SULBAR ,06 6,30 6,83 6,45 7,67 8,59 41,90 28 PABAR ,88 6,94 6,99 6,03 7,64 8,07 41,55 29 SUMSEL KALBAR PAPUA BABEL KEPRI JUMLAH ,96 6,75 6,75 6,80 7,03 7,64 8,10 43,07 81

24 Lampiran 1b HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM IPS Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT EKO SOS GEO Total 1 DKI ,88 7,27 6,64 6,98 8,00 7,96 6,83 43,68 2 JABAR ,72 7,56 7,09 7,89 8,17 8,32 6,84 45,87 3 JATENG ,28 7,07 6,34 6,14 7,60 7,27 6,14 40,56 4DIY ,44 7,62 5,87 6,08 7,46 7,63 6,14 40,80 5 JATIM ,73 7,65 6,86 7,47 7,88 8,31 6,16 44,33 6 NAD ,71 5,72 5,84 6,19 6,68 6,74 5,55 36,72 7 SUMUT ,62 6,95 6,98 7,53 7,96 7,46 7,03 43,91 8 SUMBAR ,50 6,64 6,14 6,45 7,31 7,66 5,88 40,08 9 RIAU ,88 6,65 6,09 6,41 7,66 6,93 6,37 40,11 10 JAMBI ,30 5,92 6,36 6,55 7,68 8,08 7,02 41,61 11 SUMSEL ,75 7,13 7,10 7,40 7,80 7,37 7,10 43,90 12 LAMPUNG ,82 6,73 7,02 6,89 8,24 7,67 7,33 43,88 13 KALBAR ,69 6,54 5,03 6,00 6,59 6,77 5,56 36,49 14 KALTENG ,98 7,00 6,42 6,37 7,19 6,59 6,62 40,19 15 KALSEL ,08 6,60 6,92 6,63 7,53 7,29 6,73 41,70 16 KALTIM ,61 7,06 6,78 7,10 7,82 7,98 6,59 43,33 17 SULUT ,25 6,79 7,17 8,62 7,40 6,76 7,12 43,86 18 SULTENG ,80 4,94 4,96 5,88 7,19 6,30 5,77 35,04 19 SULSEL ,30 6,93 7,37 7,81 8,09 8,21 7,11 45,52 20 SULTRA ,78 6,69 6,33 6,95 7,40 7,47 5,90 40,74 21 MALUKU ,17 6,73 6,68 6,94 7,18 7,30 6,85 41,68 22 BALI ,69 7,39 6,74 7,89 8,13 7,81 6,76 44,72 23 NTB ,34 5,71 5,52 6,14 7,35 6,88 5,48 37,08 24 NTT ,72 5,91 5,13 5,36 5,53 5,81 5,70 33,44 25 BENGKULU ,74 6,17 5,87 5,66 7,05 7,64 6,55 38,94 26 MALUT ,23 6,50 6,21 7,63 7,07 7,21 6,44 41,06 27 BABEL ,98 6,89 5,69 5,73 6,43 7,21 5,41 37,36 28 GTLO ,79 6,66 6,62 7,74 7,44 7,61 6,71 42,78 29 BANTEN ,82 6,91 7,50 7,75 8,47 8,02 7,63 46,28 30 KEPRI ,49 6,87 5,85 5,33 6,29 7,05 5,15 36,54 31 SULBAR ,90 6,37 6,45 6,75 7,89 6,45 6,99 40,90 32 PABAR 87-7,08 6,53 6,87 8,17 6,72 8,69 44,06 33 PAPUA JUMLAH ,02 6,95 6,56 6,89 7,65 7,63 6,41 42,09 80

25 Lampiran 1d HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH ALIYAH NEGERI PROGRAM AGAMA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Pesert Tdk a Lulus % BIN ING MAT TAF HAD TWF Total 1 JABAR ,59 6,92 8,08 6,79 7,71 7,73 44,82 2 JATIM ,30 6,93 8,47 8,11 8,56 8,75 49,12 3 SUMUT ,66 5,72 7,08 6,37 7,15 7,06 6,87 40,25 4 SUMBAR ,26 7,01 6,42 6,51 7,23 6,66 7,22 41,05 5 RIAU ,49 6,38 5,93 7,29 7,22 6,88 7,09 40,79 6 JAMBI ,55 6,15 6,15 7,08 7,72 7,95 7,99 43,04 7 LAMPUNG ,06 8,14 7,41 8,63 8,39 8,55 48,18 8 KALBAR ,75 6,65 5,44 6,07 7,09 7,10 7,18 39,53 9 KALSEL ,33 6,47 6,90 4,61 6,73 7,01 6,68 38,40 10 SULUT ,48 6,62 8,37 7,87 6,28 7,88 43,50 11 SULTENG ,43 5,14 5,87 6,51 5,73 6,38 7,83 37,46 12 NTB ,54 4,97 4,67 5,51 7,10 6,91 7,07 36,23 13 DKI JAKARTA - 14 JATENG - 15 DIY - 16 NAD - 17 KALTENG - 18 KALTIM - 19 SULSEL - 20 SULTRA - 21 MALUKU - 22 BALI - 23 NTT - 24 BENGKULU - 25 BABEL - 26 MALUT - 27 GTLO - 28 BANTEN - 29 SULBAR - 30 PABAR - 31 SUMSEL - 32 PAPUA - 33 KEPRI JUMLAH ,64 6,77 6,42 6,73 7,27 7,03 7,40 41,62 82

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan Subdit Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Aplikasi SIM PERSAMPAHAN...(1)

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro)

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan Setjen, Kemdikbud Jakarta, 2013 LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG KONSEP Masyarakat Anak

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website: AKSES PELAYANAN KESEHATAN Tujuan Mengetahui akses pelayanan kesehatan terdekat oleh rumah tangga dilihat dari : 1. Keberadaan fasilitas kesehatan 2. Moda transportasi 3. Waktu tempuh 4. Biaya transportasi

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol tersebut adalah

Lebih terperinci

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN DISAMPAIKAN OLEH : DEPUTI SESWAPRES BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN, SELAKU

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website: FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL RUANG LINGKUP Obat dan Obat Tradisional (OT) Obat Generik (OG) Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) TUJUAN 1. Memperoleh informasi tentang jenis obat

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th.VII, 7 Agustus 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2017 SEBESAR

Lebih terperinci

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012 4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Jumlah Lembaga No. Provinsi PTAIN PTAIS Jumlah 1. Aceh 3 20 23 2. Sumut 2 40 42 3. Sumbar 3 19 22 4. Riau 1 22 23 5. Jambi 2 15 17 6. sumsel 1 13 14 7. Bengkulu

Lebih terperinci

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Oleh : Drs Bambang Setiawan, MM 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pasal 3 UU no 20/2003 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum Wr. Wb. Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK RISET KESEHATAN DASAR 2 BLOK KESEHATAN ANAK JENIS DATA Jenis data yang disajikan : berat badan lahir kepemikilan KMS dan Buku KIA, penimbangan balita, kapsul vitamin A, pemberian ASI proses mulai menyusui

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

PELATIHAN OPERATOR SEKOLAH DAPODIK KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH

PELATIHAN OPERATOR SEKOLAH DAPODIK KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH PELATIHAN OPERATOR SEKOLAH DAPODIK KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH Pusat Data dan Statistik Pendidikan Setjen, Kemdikbud Kab. Grobogan, 2015 PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROGRAM LISTRIK PERDESAAN DI INDONESIA: KEBIJAKAN, RENCANA DAN PENDANAAN Jakarta, 20 Juni 2013 DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KONDISI SAAT INI Kondisi

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Konferensi Pers HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 31 Mei 2013 A Ringkasan SMP/MTs 2 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP/MTs Tahun 2012/2013 Peserta

Lebih terperinci

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Oleh : Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian *) Disampaikan

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015

ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015 . 1 ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2015 Dra. Th. Nuraeni Ekaningrum, MPd. MARET 2016 Kategori hasil UN dapat dikelompokkan sebagai berikut: 2 NILAI KETERANGAN N > 85 A = SANGAT

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH Deskriptif Statistik RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) A. Lembaga Pendataan RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs dan MA) Tahun Pelajaran 2007/2008 mencakup 33

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 NO CABOR PROVINSI PELAKSANAAN KONTAK PERSON 1 Atletik DKI Jakarta 3 s.d 7 Agustus 2016 2 Dayung RIAU 22 s.d 27 Oktober 2016 Pak Sanusi Hp. 081275466550 3 Gulat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 Jakarta, 25 Februari 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS 148 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Deskriptif Statistik Guru PAIS A. Tempat Mengajar Pendataan Guru PAIS Tahun 2008 mencakup 33 propinsi. Jumlah

Lebih terperinci

Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010

Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010 PENCAPAIAN DAN UMPAN BALIK PELAPORAN INDIKATOR PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT 2010 Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010 SASARAN PEMBINAAN

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

STATUS GIZI. Website:

STATUS GIZI. Website: STATUS GIZI Baku Standar yang Digunakan 1 Anak balita WHO Anthropometri 2005 2 Anak umur 5-18 th WHO Anthropometri 2007 (5-19 th) 3 Risiko KEK WUS (LiLA 90, P >80) 5 Status

Lebih terperinci

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Razali Ritonga, MA razali@bps.go.id Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik 15 SEPTEMBER 2012 1 PENGANTAR SENSUS: Perintah

Lebih terperinci

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 Workshop Perencanaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2015

Lebih terperinci

KEBUTUHAN FORMASI CPNS BNN TAHUN 2013

KEBUTUHAN FORMASI CPNS BNN TAHUN 2013 BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEBUTUHAN FORMASI CPNS BNN TAHUN 2013 LAMPIRAN PENGUMUMAN NOMOR : PENG/01/IX/2013/BNN TANGGAL : 4 SEPTEMBER 2013 No. 1 ACEH BNNP Aceh Perawat D-3 Keperawatan

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 5 LAMPIRAN I TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP SELAYANG PANDANG SIMLUH KP Jakarta, 29 April 2014 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2014 IMPLEMENTASI SISTEM PENYULUHAN

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN. Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta

WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN. Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta Kab. Karimun, 2015 PAPARAN PENDAHULUAN A. DAPODIK B. WORKSHOP

Lebih terperinci

AFP Surveillance Analysis

AFP Surveillance Analysis AFP Surveillance Analysis Week 21, 2016 Sub Directorate Surveillance Directorate of Surveillance & Health Quarantine Directorate General of Disease Control Ministry of Health, Republic Indonesia Jl. Percetakan

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 ARAHAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT NASIONAL (MUSRENBANGNAS) 28 APRIL 2010

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, baik negara ekonomi berkembang maupun negara ekonomi maju. Selain pergeseran

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH No. 07/07/62/Th. X, 18 Juli 2016 PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH MARET 2016 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach).

Lebih terperinci

PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI

PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI Oleh: DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN Pada Acara : RAPAT KOORDINASI TERBATAS Jakarta, 16 Mei 2017 ISI 1 PEMBUBARAN

Lebih terperinci

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 Bahan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional 3 4 Juni 2015 KEMENTERIAN PERTANIAN

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI PAPUA 2015

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI PAPUA 2015 No. 32/06/94/Th. I, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI PAPUA 2015 IPM Provinsi Papua Tahun 2015 Hingga saat ini, pembangunan manusia di Provinsi Papua masih berstatus rendah yang ditunjukkan

Lebih terperinci

KESEHATAN REPRODUKSI. Website:

KESEHATAN REPRODUKSI. Website: KESEHATAN REPRODUKSI Tujuan Umum: Menyediakan informasi mengenai indikator kesehatan ibu dan besaran masalah kesehatan reproduksi Khusus: Memperoleh informasi kejadian kehamilan di rumah tangga Memperoleh

Lebih terperinci

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN i.oetama Marsis PB. IKATAN DOKTER INDONESIA Diajukan dalam Rakornas KKI,Bandung, 10-13 Agustus 2015 PENDAHULUAN Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) Kecuk Suhariyanto Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI Jakarta, 7 September 2015 SEJARAH PENGHITUNGAN IPM 1990: UNDP merilis IPM Human Development

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 No. 28/05/17/VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I-2016

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN BADAN PUSAT STATISTIK No.06/02/81/Th.2017, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO MALUKU PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,344 Pada September 2016,

Lebih terperinci

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009 Jl Terusan Lembang, D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id METODOLOGI Quick

Lebih terperinci

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI i SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional berperan penting

Lebih terperinci

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA

Lebih terperinci

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya No Kategori Satuan Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Babel Kepri Potensi Lahan Ha Air 76.7 0 7.9 690.09 0.9 60. 069.66 767.9 79.6. Air

Lebih terperinci

ANALISIS PROSES BELAJAR MENGAJAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUARAN PENDIDIKAN SMA (BALI & DIY)

ANALISIS PROSES BELAJAR MENGAJAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUARAN PENDIDIKAN SMA (BALI & DIY) ANALISIS PROSES BELAJAR MENGAJAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUARAN PENDIDIKAN SMA (BALI & DIY) Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Jakarta, 2014 LATAR BELAKANG Ringkasan Hasil Akhir UN-SMA/MA

Lebih terperinci

Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini

Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini Uzair Suhaimi uzairsuhaimi.wordpress.com Judul artikel perlu klarifikasi. Pertama, istilah penduduk merujuk pada penduduk Indonesia

Lebih terperinci