Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008"

Transkripsi

1 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas). Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam pasal 17 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Dengan demikian jenjang pendidikan dasar merupakan tahapan yang sangat penting dalam upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Mutu pendidikan nasional dan pengajaran perlu dipantau terus-menerus dalam setiap tahap dan langkah kegiatan pendidikan. Pantauan itu ditujukan sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan dan lebih jauh sebagai penjaminan mutu pendidikan. Upaya inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 tahun 2003 dan Kepmendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Akhir Nasional (UAN/UN). UN merupakan fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational quality control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance). Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; (1) Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (2) Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan (Permendiknas No. 34/2007) Pada UN tahun 2008, mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang MTs/SMP adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai upaya penilaian dan evaluasi ujian nasional pada 44

2 tingkat Madrasah Tsanawiyah, pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah Tsanawiyah seluruh Indonesia tahun Tujuan untuk: Analisis hasil ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 bertujuan 1. Membandingkan hasil ujian nasional tahun 2008 antara Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama. 2. Mendeskripsikan angka ketidaklulusan siswa Tsanawiyah pada ujian nasional tahun 2008 setiap propinsi. 3. Mendeskripsikan karakteristik nilai ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun Bahan dan Metodologi 2.1. Bahan Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah (MTs) tahun 2008 menggunakan data sekunder yang berasal dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Departemen Pendidikan Nasional yang berisikan hasil-hasil ujian nasional pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/K/MA dan data Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun Hasil ujian nasional tersebut meliputi angka ketidaklulusan siswa peserta UN setiap propinsi pada setiap program studi yang diikutinya. Juga terdapat nilai rata-rata ujian setiap mata pelajaran di setiap propinsi dan program studi. Daftar lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 dan Metodologi Analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif, analisis cluster dan analisis Biplot menggunakan fasilitas software Microsoft Excel, Minitab versi dan SPSS versi

3 3. Hasil dan Pembahasan Perkembangan jumlah lembaga Madrasah Tsanawiyah (MTs) semakin meningkat setiap tahun. Selama kurun waktu tahun 2003 sampai 2008 lembaga MTs bertambah rata-rata 2,43% setiap tahun. Sedangkan jumlah siswa MTs bertambah rata-rata 3,05% setiap tahun (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan ). Sedangkan kontribusi lembaga dan jumlah siswa MTs terhadap pendidikan nasional jenjang SMP/MTs adalah 34,29% dan 21,76%. Perkembangan Jumlah Lembaga MTs Tahun Perkembangan Jumlah Siswa MTs Tahun / / / / / / / / / /2008 Gambar 1. Perkembangan Jumlah Lembaga dan Siswa MTs Ujian Nasional tahun 2008 pada jenjang MTs diikuti oleh orang siswa. Jumlah siswa terbanyak berasal dari propinsi Jawa Timur yaitu siswa, kemudian propinsi Jawa Barat berjumlah siswa dan propinsi Jawa Timur berjumlah siswa. Jumlah siswa peserta UN terkecil untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah adalah propinsi Papua berjumlah 357 orang siswa. Dari jumlah orang siswa tersebut, orang (24,14%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan orang (75,86%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS). Jumlah siswa peserta Ujian Nasional MTsS lebih banyak dibandingkan dengan MTsN, hal ini berbanding lurus dengan jumlah lembaga MTs yang mayoritas adalah lembaga swasta dibandingkan negeri yaitu 90,23% : 9,77%. (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan 2008) 46

4 Siswa Peserta Ujian Nasional Jenjang MTs (%) 80,00 75,86 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 24,14 20,00 10,00 - MTsN MTsS Gambar 2. Jumlah Peserta Ujian Nasional Jenjang MTs Tahun Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama Tahun Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa Inggris. Pada mata ujian Bahasa Inggris, nilai rata-rata ujian nasional siswa SMP lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata ujian nasional siswa MTs baik pada lembaga negeri maupun swasta (Tabel 1). Angka ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun 2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding 7,17%. Hal yang sama juga terjadi pada MTsN dan MTsS yang mempunyai angka ketidaklulusan lebih rendah dibanding SMPN dan SMPS. Hal ini mengindikasikan secara umum kualitas siswa MTs relatif lebih baik dibanding siswa SMP. 47

5 Tabel 1. Perbandingan Hasil Ujian Nasional MTs dan SMP Jenjang Nilai Ujian Tidak BIN ING MAT IPA Lulus MTs 6,89 6,92 6,80 7,06 5,61% - MTsN 7,00 6,88 6,78 7,14 5,24% - MTsS 6,85 6,94 6,80 7,04 5,72% SMP 7,00 6,80 6,69 7,00 7,17% - SMPN 7,04 6,80 6,71 7,03 6,41% - SMPS 6,89 6,83 6,61 6,93 9,31% Secara umum juga dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas MTsN/SMPN relatif lebih baik dibandingkan dengan MTsS/SMPS, hal ini terlihat dari angka ketidaklulusan siswa lembaga negeri lebih rendah dibanding lembaga swasta. Pada Sekolah Menengah Pertama terdapat selisih ketidaklulusan yang relatif tinggi antara lembaga negeri dan swasta yaitu 6,41% : 9,31%. Sedangkan pada Madrasah Tsanawiyah, selisih ketidaklulusan relatif rendah yaitu 5,24% : 5,72%. Hal ini mengindikasikan terdapat variasi kualitas yang lebih tinggi pada lembaga SMP dibandingkan dengan MTs. Perbandingan Angka Ketidaklulusan UN Siswa MTs/SMP (%) 10,00 9,00 9,31 8,00 7,00 6,00 5,00 5,24 5,72 6,41 4,00 3,00 2,00 1,00 - MTs SMP Negeri Swasta Gambar 3. Perbandingan Angka Ketidaklulusan UN Siswa MTs dan SMP Tahun

6 3.2. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Setiap Propinsi Pada ujian nasional tahun 2008, ketidaklulusan siswa MTs terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%) siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan Barat sebanyak (33,41%) siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481 (30,79%) siswa peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan terendah terdapat pada propinsi DKI Jakarta yaitu 0% atau semua siswa MTs peserta UN dinyatakan lulus. Gambar 4 menunjukkan siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Nusa Tenggara Timur, kemudian Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung dengan ketidaklulusan di atas 20%. Sedangkan Propinsi DKI Jakarta merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terendah yaitu seluruh siswa MTs peserta UN dinyatakan lulus atau ketidaklulusan 0% (Tabel 2). Siswa Mts Tidak Lulus UN (%) 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 - NTT KALBAR BABEL BENGKULU KEPRI DIY SULTENG SULSEL NAD JATENG SULBAR MALUKU PAPUA KALSEL MALUT NTB SUMBAR SULTRA LAMPUNG JAMBI RIAU SUMUT JATIM GTLO SULUT SUMSEL KALTENG PABAR BANTEN KALTIM JABAR BALI DKI Gambar 4. Siswa MTs yang Tidak Lulus UN 2008 Setiap Propinsi Nilai rata-rata ujian nasional tertinggi pada jenjang MTs adalah propinsi Jawa Barat dengan total nilai rata-rata 29,81, kemudian di peringkat kedua dan ketiga adalah propinsi Bali dan Jawa Timur dengan total nilai rata-rata 29,77 dan 29,25. Sedangkan nilai rata-rata ujian nasional terendah pada jenjang MTs 49

7 adalah propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung dengan total nilai rata-rata 20,80, 22,11 dan 22,62. Persentase siswa MTs tidak lulus tertinggi juga terdapat pada 3 propinsi ini. (Tabel 2) Tabel 2. Nilai Rata-rata UN dan Ketidaklulusan Propinsi Mata Ujian Jumlah Propinsi Tdk BIN ING MAT IPA Total Peserta Lulus % JABAR 7,33 7,46 7,43 7,59 29, ,61 BALI 7,19 7,33 7,36 7,89 29, ,56 JATIM 7,24 7,35 7,13 7,53 29, ,88 BANTEN 6,87 7,18 7,29 7,50 28, ,06 GTLO 6,39 7,82 7,57 7,04 28, ,37 SUMUT 6,75 7,34 7,09 7,21 28, ,88 DKI 7,63 6,87 6,68 7,04 28, SULUT 6,62 6,71 7,03 7,27 27, ,34 NAD 6,25 7,22 7,10 7,03 27, ,30 SULTRA 6,32 7,17 6,97 7,00 27, ,07 JAMBI 6,46 7,02 6,89 7,02 27, ,80 MALUKU 6,41 6,85 6,83 7,06 27, ,44 SUMSEL 6,60 7,03 6,90 6,61 27, ,82 KALTIM 6,85 6,75 6,75 6,75 27, ,72 NTB 6,15 7,11 6,60 6,84 26, ,50 SUMBAR 6,85 6,44 6,23 6,98 26, ,38 KALSEL 6,70 6,23 6,27 7,20 26, ,94 KALTENG 6,50 6,58 6,54 6,65 26, ,48 SULSEL 5,89 7,15 6,31 6,75 26, ,66 LAMPUNG 6,59 6,34 6,31 6,79 26, ,15 RIAU 6,54 6,56 6,43 6,39 25, ,10 SULBAR 5,97 6,76 6,43 6,54 25, ,63 PAPUA 6,42 6,20 6,20 6,70 25, ,12 MALUT 5,93 6,53 6,53 6,42 25, ,73 BENGKULU 6,59 6,32 5,80 6,64 25, ,44 JATENG 6,75 6,03 6,09 6,32 25, ,37 PABAR 6,18 5,99 6,45 6,14 24, ,46 KEPRI 6,81 6,33 5,80 5,75 24, ,60 DIY 7,43 5,98 5,43 5,74 24, ,59 SULTENG 5,86 5,95 5,83 6,34 23, ,81 BABEL 6,32 5,70 5,04 5,56 22, ,79 KALBAR 6,48 5,31 4,85 5,47 22, ,41 NTT 6,10 4,77 4,71 5,22 20, ,75 Tabel 3. Pengelompokan Propinsi Berdasarkan Hasil UN MTs Cluster 1 Cluster 2 Cluster 3 DKI Jakarta Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Maluku, Bali, NTB, Papua, Bengkulu, Malut, Gtlo, Banten, Kepri, Sulbar, Pabar Kalbar, Babel, NTT 50

8 Bila dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis cluster berdasarkan nilai setiap mata ujian dan angka ketidaklulusan, maka hasil ujian nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi tiga cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta (kode 1) dengan nilai rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Maluku, Bali, NTB, Papua, Bengkulu, Malut, Gorontalo, Banten, Kepri, Sulbar, dan Papua Barat (kode 2 33) dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 29,81 dan cluster ketiga adalah propinsi Kalbar, Babel, dan NTT (kode 13, 24, dan 28) dengan nilai rata-rata UN berkisar 20,8 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%. Dendrogram with Single Linkage and Euclidean Distance 76,10 Similarity 84,07 92,03 100, Observations Gambar 5. Dendogram Pengelompokan Propinsi Berdasarkan Hasil UN MTs 3.3. Karakteristik Nilai Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Karakteristik nilai ujian nasional bisa dilakukan dengan analis biplot. Analisis Biplot merupakan upaya penampilan grafis dua dimensi terhadap tabel dengan banyak variabel. Ada tiga hal penting yang bisa didapatkan dari tampilan biplot yaitu ; (1) kedekatan antar objek : dimana informasi ini bisa dijadikan 51

9 panduan objek mana yang memiliki kemiripan karakteristik dengan objek tertentu ; (2) keragaman variabel : informasi ini digunakan untuk melihat apakah ada variabel tertentu yang nilainya hampir sama untuk setiap objek, atau sebaliknya bahwa nilai dari setiap objek ada yang sangat besar dan ada juga yang sangat kecil ; (3) Korelasi antar variabel : informasi ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana variabel yang satu mempengaruhi/dipengaruhi variabel yang lain. Gambar 6. Biplot Hasil UN MTs Karena biplot adalah upaya membuat gambar di ruang berdimensi banyak menjadi gambar di ruang dimensi dua. Pereduksian dimensi ini mempunyai konsekuensi menurunnya besar informasi yang terkandung dalam biplot. Pada hasil ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah, analisis biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan 52

10 propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya. Propinsi Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Jawa Timur relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih baik dibanding propinsi lain. Sedangkan propinsi NTT, Kalbar, dan Bangka Belitung relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain. Vektor variabel nilai Bahasa Inggris dan Matematika hampir berhimpitan, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi positif. Yang berarti propinsi yang nilai Bahasa Inggris tinggi akan memiliki nilai Matematika yang tinggi pula. 4. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis hasil ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 ini adalah : Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa Inggris. Angka ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun 2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding 7,17%. Pada UN 2008, ketidaklulusan siswa MTs terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%) siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan Barat sebanyak (33,41%) siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481 (30,79%) siswa. Hasil ujian nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi tiga cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta dengan nilai rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, 53

11 Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Bali, Nusa Tenggara Bara, Papua, Bengkulu, Maluku Utara, Gorontalo, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, dan Papua Barat dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 29,81 dan cluster ketiga adalah propinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur dengan nilai rata-rata UN berkisar 20,8 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%. Analisis Biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakrta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya. Propinsi Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Jawa Timur relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih baik dibanding propinsi lain. Sedangkan propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain. 54

12 5. Daftar Bacaan Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama. Series 2001/2002 sd 2007/2008. Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta. Depag. Departemen Statistika FMIPA IPB Analisis Peubah Ganda. Bogor. FMIPA IPB. Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional (UAN). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2007 tentang Ujian Nasional. Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007. Jakarta. Depdiknas. Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008. Jakarta. Depdiknas Tatham. Ronald. L, Anderson. Rolph.E, & Hair. Joseph. E Multivariate Data Analysis. Second Edition. New York: Macmillan Publishing Company. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 55

13 Lampiran 1a HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH TSANAWIYAH Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,63 6,87 6,68 7,04 28,22 2 JABAR ,61 7,33 7,46 7,43 7,59 29,81 3 JATENG ,37 6,75 6,03 6,09 6,32 25,19 4DIY ,59 7,43 5,98 5,43 5,74 24,58 5 JATIM ,88 7,24 7,35 7,13 7,53 29,25 6 NAD ,30 6,25 7,22 7,10 7,03 27,60 7 SUMUT ,88 6,75 7,34 7,09 7,21 28,39 8 SUMBAR ,38 6,85 6,44 6,23 6,98 26,50 9 RIAU ,10 6,54 6,56 6,43 6,39 25,92 10 JAMBI ,80 6,46 7,02 6,89 7,02 27,39 11 SUMSEL ,82 6,60 7,03 6,90 6,61 27,14 12 LAMPUNG ,15 6,59 6,34 6,31 6,79 26,03 13 KALBAR ,41 6,48 5,31 4,85 5,47 22,11 14 KALTENG ,48 6,50 6,58 6,54 6,65 26,27 15 KALSEL ,94 6,70 6,23 6,27 7,20 26,40 16 KALTIM ,72 6,85 6,75 6,75 6,75 27,10 17 SULUT ,34 6,62 6,71 7,03 7,27 27,63 18 SULTENG ,81 5,86 5,95 5,83 6,34 23,98 19 SULSEL ,66 5,89 7,15 6,31 6,75 26,10 20 SULTRA ,07 6,32 7,17 6,97 7,00 27,46 21 MALUKU ,44 6,41 6,85 6,83 7,06 27,15 22 BALI ,56 7,19 7,33 7,36 7,89 29,77 23 NTB ,50 6,15 7,11 6,60 6,84 26,70 24 NTT ,75 6,10 4,77 4,71 5,22 20,80 25 PAPUA ,12 6,42 6,20 6,20 6,70 25,52 26 BENGKULU ,44 6,59 6,32 5,80 6,64 25,35 27 MALUT ,73 5,93 6,53 6,53 6,42 25,41 28 BABEL ,79 6,32 5,70 5,04 5,56 22,62 29 GTLO ,37 6,39 7,82 7,57 7,04 28,82 30 BANTEN ,06 6,87 7,18 7,29 7,50 28,84 31 KEPRI ,60 6,81 6,33 5,80 5,75 24,69 32 SULBAR ,63 5,97 6,76 6,43 6,54 25,70 33 PABAR ,46 6,18 5,99 6,45 6,14 24,76 JUMLAH ,61 6,89 6,92 6,80 7,06 27,67 56

14 Lampiran 1b HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,76 6,77 6,62 7,04 28,19 2 JABAR ,44 7,39 7,34 7,45 7,67 29,85 3 JATENG ,97 6,89 6,05 6,15 6,45 25,54 4DIY ,57 7,43 5,94 5,42 5,68 24,47 5 JATIM ,80 7,39 7,18 6,94 7,52 29,03 6 NAD ,50 6,28 7,28 7,27 7,17 28,00 7 SUMUT ,35 7,00 7,44 7,32 7,59 29,35 8 SUMBAR ,52 7,01 6,59 6,48 7,15 27,23 9 RIAU ,11 6,84 7,00 6,88 6,89 27,61 10 JAMBI ,77 6,75 7,36 7,34 7,48 28,93 11 SUMSEL ,46 6,60 7,35 7,30 6,99 28,24 12 LAMPUNG ,16 6,87 6,74 6,60 7,45 27,66 13 KALBAR ,84 6,99 5,48 4,86 5,71 23,04 14 KALTENG ,07 6,67 6,82 6,66 6,97 27,12 15 KALSEL ,31 6,89 6,27 6,22 7,35 26,73 16 KALTIM ,48 6,96 6,83 6,84 6,77 27,40 17 SULUT ,50 6,46 6,66 6,80 7,17 27,09 18 SULTENG ,35 6,02 6,12 6,14 6,65 24,93 19 SULSEL ,03 6,24 7,44 6,76 7,05 27,49 20 SULTRA ,28 6,48 7,45 7,35 7,36 28,64 21 MALUKU ,22 6,57 7,28 7,32 7,67 28,84 22 BALI ,23 7,55 7,33 7,60 8,05 30,53 23 NTB ,36 6,40 7,07 6,66 6,97 27,10 24 NTT ,43 6,03 4,60 4,69 5,17 20,49 25 PAPUA ,68 5,20 5,86 6,87 24,61 26 BENGKULU ,28 6,68 6,53 5,90 6,80 25,91 27 MALUT ,87 5,80 6,46 6,40 6,30 24,96 28 BABEL ,12 6,50 5,29 5,08 5,50 22,37 29 GTLO ,33 6,48 8,30 7,79 6,97 29,54 30 BANTEN ,53 6,99 7,09 7,04 7,26 28,38 31 KEPRI ,70 6,98 6,21 5,87 5,94 25,00 32 SULBAR ,13 5,75 6,61 6,61 6,89 25,86 33 PABAR ,87 6,09 6,02 6,48 6,16 24,75 JUMLAH ,24 7,00 6,88 6,78 7,14 27,80 57

15 Lampiran 1c HASIL UJIAN NASIONAL 2008 MADRASAH TSANAWIYAH SWASTA Jumlah Mata Ujian No Propinsi Tdk Peserta Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,55 6,93 6,72 7,05 28,25 2 JABAR ,65 7,31 7,49 7,42 7,57 29,79 3 JATENG ,74 6,72 6,02 6,07 6,29 25,10 4DIY ,55 7,43 6,06 5,46 5,83 24,78 5 JATIM ,90 7,19 7,40 7,18 7,53 29,30 6 NAD ,81 6,21 7,13 6,83 6,81 26,98 7 SUMUT ,78 6,70 7,32 7,05 7,14 28,21 8 SUMBAR ,12 6,59 6,20 5,83 6,69 25,31 9 RIAU ,63 6,49 6,48 6,35 6,33 25,65 10 JAMBI ,62 6,30 6,83 6,64 6,76 26,53 11 SUMSEL ,24 6,61 6,93 6,78 6,50 26,82 12 LAMPUNG ,65 6,54 6,28 6,27 6,68 25,77 13 KALBAR ,42 6,29 5,26 4,84 5,39 21,78 14 KALTENG ,71 6,42 6,46 6,47 6,48 25,83 15 KALSEL ,49 6,54 6,20 6,32 7,07 26,13 16 KALTIM ,83 6,29 6,72 6,72 6,75 26,48 17 SULUT ,03 6,71 6,74 7,17 7,33 27,95 18 SULTENG ,13 5,80 5,88 5,70 6,22 23,60 19 SULSEL ,90 5,79 7,07 6,18 6,66 25,70 20 SULTRA ,03 6,20 6,95 6,67 6,71 26,53 21 MALUKU ,68 6,34 6,65 6,61 6,79 26,39 22 BALI ,85 6,86 7,34 7,14 7,75 29,09 23 NTB ,51 6,11 7,11 6,59 6,82 26,63 24 NTT ,11 6,16 4,93 4,72 5,27 21,08 25 PAPUA ,73 6,40 6,27 6,22 6,69 25,58 26 BENGKULU ,76 6,46 6,01 5,64 6,39 24,50 27 MALUT ,86 5,98 6,56 6,58 6,47 25,59 28 BABEL ,66 6,25 5,88 5,02 5,58 22,73 29 GTLO ,31 6,34 7,60 7,46 7,08 28,48 30 BANTEN ,14 6,85 7,20 7,34 7,53 28,92 31 KEPRI ,16 6,73 6,39 5,76 5,66 24,54 32 SULBAR ,69 5,99 6,78 6,41 6,50 25,68 33 PABAR ,50 6,68 5,84 6,28 6,02 24,82 JUMLAH ,72 6,85 6,94 6,80 7,04 27,63 58

16 Lampiran 2a HASIL UJIAN NASIONAL 2008 SEKOLAH MENENGAH PERTAMA No Propinsi Jumlah Mata Ujian Peserta Tdk Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,01 7,86 7,29 7,06 7,22 29,43 2 JABAR ,03 7,39 7,42 7,31 7,52 29,64 3 JATENG ,36 7,13 6,02 6,26 6,40 25,81 4DIY ,47 7,86 6,56 6,18 6,30 26,90 5 JATIM ,33 7,48 7,29 7,01 7,62 29,40 6 NAD ,14 6,05 6,95 6,87 7,09 26,96 7 SUMUT ,84 6,67 7,00 6,85 7,09 27,61 8 SUMBAR ,10 6,97 6,38 6,05 7,04 26,44 9 RIAU ,51 6,63 6,68 6,46 6,50 26,27 10 JAMBI ,94 6,81 7,20 7,05 7,42 28,48 11 SUMSEL ,30 6,78 7,32 7,15 7,14 28,39 12 LAMPUNG ,94 6,85 6,43 6,32 6,89 26,49 13 KALBAR ,39 6,69 5,55 5,04 5,60 22,88 14 KALTENG ,79 6,71 6,72 6,52 6,77 26,72 15 KALSEL ,78 6,90 6,37 6,39 7,26 26,92 16 KALTIM ,60 7,00 6,90 6,82 6,84 27,56 17 SULUT ,61 6,81 6,86 7,38 7,18 28,23 18 SULTENG ,98 6,11 5,58 5,58 6,31 23,58 19 SULSEL ,55 6,11 6,92 6,38 6,88 26,29 20 SULTRA ,36 6,29 7,00 6,93 6,99 27,21 21 MALUKU ,35 6,14 6,68 6,70 6,96 26,48 22 BALI ,79 7,18 7,65 8,03 8,55 31,41 23 NTB ,88 6,25 6,59 6,18 6,52 25,54 24 NTT ,61 5,93 4,59 4,47 5,03 20,02 25 PAPUA ,46 6,06 6,36 6,47 6,64 25,53 26 BENGKULU ,22 6,87 6,41 5,94 6,59 25,81 27 MALUT ,87 5,89 6,46 6,55 6,45 25,35 28 BABEL ,23 6,75 5,75 5,01 5,83 23,34 29 GTLO ,55 6,27 7,41 7,31 7,14 28,13 30 BANTEN ,57 6,83 6,84 6,68 7,07 27,42 31 KEPRI ,12 7,06 6,68 5,55 5,91 25,20 32 SULBAR ,71 6,24 6,12 6,18 6,79 25,33 33 PABAR ,19 6,04 6,07 6,33 6,20 24,64 JUMLAH ,17 7,00 6,80 6,69 7,00 27,49 59

17 Lampiran 2b HASIL UJIAN NASIONAL 2008 SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI No Propinsi Jumlah Mata Ujian Peserta Tdk Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,00 7,89 7,14 6,92 7,20 29,15 2 JABAR ,62 7,44 7,46 7,38 7,59 29,87 3 JATENG ,63 7,24 6,10 6,42 6,52 26,28 4DIY ,04 7,98 6,70 6,44 6,51 27,63 5 JATIM ,14 7,62 7,34 7,10 7,69 29,75 6 NAD ,17 6,03 6,94 6,88 7,09 26,94 7 SUMUT ,37 6,75 6,95 6,87 7,10 27,67 8 SUMBAR ,89 6,98 6,36 6,05 7,04 26,43 9 RIAU ,17 6,65 6,67 6,45 6,52 26,29 10 JAMBI ,92 6,82 7,16 7,04 7,42 28,44 11 SUMSEL ,17 6,81 7,29 7,13 7,14 28,37 12 LAMPUNG ,50 6,97 6,46 6,36 6,96 26,75 13 KALBAR ,97 6,78 5,52 5,05 5,64 22,99 14 KALTENG ,66 6,71 6,71 6,50 6,78 26,70 15 KALSEL ,84 6,92 6,34 6,40 7,24 26,90 16 KALTIM ,48 7,02 6,86 6,81 6,83 27,52 17 SULUT ,38 6,79 6,80 7,37 7,16 28,12 18 SULTENG ,42 6,11 5,55 5,56 6,30 23,52 19 SULSEL ,16 6,16 6,88 6,43 6,90 26,37 20 SULTRA ,34 6,30 6,99 6,91 6,98 27,18 21 MALUKU ,84 6,12 6,74 6,75 7,03 26,64 22 BALI ,71 7,24 7,70 8,03 8,57 31,54 23 NTB ,81 6,26 6,59 6,17 6,52 25,54 24 NTT ,14 5,88 4,59 4,47 5,03 19,97 25 PAPUA ,64 6,11 6,25 6,44 6,64 25,44 26 BENGKULU ,09 6,88 6,41 5,95 6,60 25,84 27 MALUT ,57 5,90 6,42 6,54 6,46 25,32 28 BABEL ,76 6,80 5,70 4,98 5,84 23,32 29 GTLO ,56 6,27 7,40 7,31 7,13 28,11 30 BANTEN ,24 6,84 6,59 6,37 6,80 26,60 31 KEPRI ,29 7,08 6,49 5,53 5,87 24,97 32 SULBAR ,63 6,24 6,12 6,20 6,79 25,35 33 PABAR ,26 6,04 6,02 6,24 6,21 24,51 JUMLAH ,41 7,04 6,80 6,71 7,03 27,58 60

18 Lampiran 2c HASIL UJIAN NASIONAL 2008 SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA No Propinsi Jumlah Mata Ujian Peserta Tdk Lulus % BIN ING MAT IPA Total 1 DKI ,03 7,83 7,54 7,31 7,27 29,95 2 JABAR ,97 7,26 7,35 7,14 7,37 29,12 3 JATENG ,42 6,75 5,76 5,72 5,98 24,21 4DIY ,79 7,50 6,13 5,37 5,66 24,66 5 JATIM ,37 7,13 7,15 6,76 7,44 28,48 6 NAD ,75 6,35 7,02 6,74 7,03 27,14 7 SUMUT ,10 6,54 7,07 6,82 7,07 27,50 8 SUMBAR ,96 6,83 6,62 6,10 7,01 26,56 9 RIAU ,80 6,53 6,71 6,49 6,44 26,17 10 JAMBI ,19 6,77 7,51 7,15 7,36 28,79 11 SUMSEL ,71 6,70 7,40 7,23 7,15 28,48 12 LAMPUNG ,72 6,64 6,36 6,26 6,77 26,03 13 KALBAR ,59 6,47 5,59 5,03 5,51 22,60 14 KALTENG ,62 6,72 6,76 6,64 6,74 26,86 15 KALSEL ,24 6,69 6,61 6,30 7,42 27,02 16 KALTIM ,12 6,94 7,04 6,85 6,85 27,68 17 SULUT ,18 6,86 7,03 7,39 7,20 28,48 18 SULTENG ,69 6,07 5,88 5,80 6,43 24,18 19 SULSEL ,65 5,87 7,15 6,13 6,78 25,93 20 SULTRA ,78 6,07 7,26 7,39 7,18 27,90 21 MALUKU ,64 6,19 6,50 6,54 6,76 25,99 22 BALI ,02 7,03 7,50 8,02 8,48 31,03 23 NTB ,92 6,09 6,66 6,30 6,42 25,47 24 NTT ,39 6,02 4,57 4,47 5,04 20,10 25 PAPUA ,00 5,93 6,65 6,52 6,63 25,73 26 BENGKULU ,80 6,60 6,45 5,77 6,42 25,24 27 MALUT ,03 5,83 6,61 6,60 6,45 25,49 28 BABEL ,32 6,53 5,98 5,11 5,79 23,41 29 GTLO ,24 6,21 7,56 7,43 7,54 28,74 30 BANTEN ,04 6,81 7,20 7,13 7,46 28,60 31 KEPRI ,10 7,00 7,37 5,63 6,06 26,06 32 SULBAR ,38 6,26 6,07 5,99 6,80 25,12 33 PABAR ,00 6,03 6,20 6,56 6,18 24,97 JUMLAH ,31 6,89 6,83 6,61 6,93 27,26 61

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) KONSEP 1 Masyarakat Anak Pendidikan Masyarakat Pendidikan Anak Pendekatan Sektor Multisektoral Multisektoral Peserta Didik Pendidikan Peserta Didik Sektoral Diagram Venn:

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan Subdit Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Aplikasi SIM PERSAMPAHAN...(1)

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum No. 11/02/94/Th. VII, 6 Februari 2017 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017 A. Penjelasan Umum 1. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) I-2017 No. 27/05/94/Th. VII, 5 Mei 2017 Indeks Tendensi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

KESEHATAN ANAK. Website:

KESEHATAN ANAK. Website: KESEHATAN ANAK Jumlah Sampel dan Indikator Kesehatan Anak Status Kesehatan Anak Proporsi Berat Badan Lahir, 2010 dan 2013 *) *) Berdasarkan 52,6% sampel balita yang punya catatan Proporsi BBLR Menurut

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH Deskriptif Statistik Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pendataan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Tahun 2007-2008 mencakup 33 propinsi,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2016 No. 25/05/94/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi konsumen terkini yang dihasilkan

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website: AKSES PELAYANAN KESEHATAN Tujuan Mengetahui akses pelayanan kesehatan terdekat oleh rumah tangga dilihat dari : 1. Keberadaan fasilitas kesehatan 2. Moda transportasi 3. Waktu tempuh 4. Biaya transportasi

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013

Konferensi Pers. HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Konferensi Pers HASIL UN SMP - Sederajat Tahun Ajaran 2012/2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 31 Mei 2013 A Ringkasan SMP/MTs 2 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP/MTs Tahun 2012/2013 Peserta

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS 5 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan 4 GAMBARAN UMUM 4.1 Kinerja Fiskal Daerah Kinerja fiskal yang dibahas dalam penelitian ini adalah tentang penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah, yang digambarkan dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota

Lebih terperinci

CEDERA. Website:

CEDERA. Website: CEDERA Definisi Cedera Cedera merupakan kerusakan fisik pada tubuh manusia yang diakibatkan oleh kekuatan yang tidak dapat ditoleransi dan tidak dapat diduga sebelumnya Definisi operasional: Cedera yang

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH Deskriptif Statistik RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) A. Lembaga Pendataan RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs dan MA) Tahun Pelajaran 2007/2008 mencakup 33

Lebih terperinci

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro)

EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) EVALUASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan Setjen, Kemdikbud Jakarta, 2013 LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG KONSEP Masyarakat Anak

Lebih terperinci

PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012

PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012 No Kode PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012 Nama Satuan Kerja Pagu Dipa 1 4497035 DIREKTORAT BINA PROGRAM 68,891,505.00 2 4498620 PELAKSANAAN JALAN NASIONAL WILAYAH I PROVINSI JATENG 422,599,333.00

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol tersebut adalah

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROGRAM LISTRIK PERDESAAN DI INDONESIA: KEBIJAKAN, RENCANA DAN PENDANAAN Jakarta, 20 Juni 2013 DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KONDISI SAAT INI Kondisi

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th.VII, 7 Agustus 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2017 SEBESAR

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN. Website:

KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN. Website: KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN Pendahuluan Indera penglihatan dan pendengaran saja Data prevalensi kebutaan dan ketulian skala nasional perlu diperbarui Keterbatasan waktu untuk pemeriksaan mata

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK RISET KESEHATAN DASAR 2 BLOK KESEHATAN ANAK JENIS DATA Jenis data yang disajikan : berat badan lahir kepemikilan KMS dan Buku KIA, penimbangan balita, kapsul vitamin A, pemberian ASI proses mulai menyusui

Lebih terperinci

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN DISAMPAIKAN OLEH : DEPUTI SESWAPRES BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN, SELAKU

Lebih terperinci

POTRET KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

POTRET KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH POTRET KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Tengah 2015 Palangka Raya, 16Desember 2015 DR. Ir. Sukardi, M.Si Kepala BPS

Lebih terperinci

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website: FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL RUANG LINGKUP Obat dan Obat Tradisional (OT) Obat Generik (OG) Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) TUJUAN 1. Memperoleh informasi tentang jenis obat

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum Wr. Wb. Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya

Lebih terperinci

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Oleh : Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian *) Disampaikan

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017

INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 Nomor : 048/08/63/Th.XX, 15 Agustus 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 SEBESAR 71,99 (SKALA 0-100) Kebahagiaan Kalimantan Selatan tahun

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan http://simpadu-pk.bappenas.go.id 137448.622 1419265.7 148849.838 1548271.878 1614198.418 1784.239 1789143.87 18967.83 199946.591 294358.9 2222986.856

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012 4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Jumlah Lembaga No. Provinsi PTAIN PTAIS Jumlah 1. Aceh 3 20 23 2. Sumut 2 40 42 3. Sumbar 3 19 22 4. Riau 1 22 23 5. Jambi 2 15 17 6. sumsel 1 13 14 7. Bengkulu

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 45/08/61/Th. XV, 6 Agustus 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN II- 2012 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan Barat pada II-2012 sebesar 109,62;

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 65 /11 /61 /Th. XVII, 5 November 2014 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III- 2014 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2014 Indeks Tendensi Konsumen

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan Oleh : Drs Bambang Setiawan, MM 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pasal 3 UU no 20/2003 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 74/11/52/Th VII, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN III-2016 A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah

Lebih terperinci

WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN. Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta

WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN. Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta WORKSHOP KOMPILASI DATA SATUAN PENDIDIKAN DAN PROSES PEMBELAJARAN Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta Kab. Karimun, 2015 PAPARAN PENDAHULUAN A. DAPODIK B. WORKSHOP

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

PELAKSANAAN DAN USULAN PENYEMPURNAAN PROGRAM PRO-RAKYAT

PELAKSANAAN DAN USULAN PENYEMPURNAAN PROGRAM PRO-RAKYAT PELAKSANAAN DAN USULAN PENYEMPURNAAN PROGRAM PRO-RAKYAT BAMBANG WIDIANTO DEPUTI BIDANG KESRA KANTOR WAKIL PRESIDEN RI APRIL, 2010 KLASTER 1: PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERSASARAN KELUARGA/RUMAH

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap

Lebih terperinci

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 NO CABOR PROVINSI PELAKSANAAN KONTAK PERSON 1 Atletik DKI Jakarta 3 s.d 7 Agustus 2016 2 Dayung RIAU 22 s.d 27 Oktober 2016 Pak Sanusi Hp. 081275466550 3 Gulat

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS 148 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Deskriptif Statistik Guru PAIS A. Tempat Mengajar Pendataan Guru PAIS Tahun 2008 mencakup 33 propinsi. Jumlah

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Penggandaan, Pendistribusian, dan Pengelolaan Dana Bahan UN 2015 Jakarta, 25 Februari 2015 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL

Lebih terperinci

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP SELAYANG PANDANG SIMLUH KP Jakarta, 29 April 2014 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2014 IMPLEMENTASI SISTEM PENYULUHAN

Lebih terperinci

STATUS GIZI. Website:

STATUS GIZI. Website: STATUS GIZI Baku Standar yang Digunakan 1 Anak balita WHO Anthropometri 2005 2 Anak umur 5-18 th WHO Anthropometri 2007 (5-19 th) 3 Risiko KEK WUS (LiLA 90, P >80) 5 Status

Lebih terperinci

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 Workshop Perencanaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2015

Lebih terperinci

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Razali Ritonga, MA razali@bps.go.id Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik 15 SEPTEMBER 2012 1 PENGANTAR SENSUS: Perintah

Lebih terperinci

Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010

Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010 PENCAPAIAN DAN UMPAN BALIK PELAPORAN INDIKATOR PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT 2010 Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 23 Nopember 2010 SASARAN PEMBINAAN

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 No. 28/05/17/VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I-2016

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 5 LAMPIRAN I TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

AFP Surveillance Analysis

AFP Surveillance Analysis AFP Surveillance Analysis Week 21, 2016 Sub Directorate Surveillance Directorate of Surveillance & Health Quarantine Directorate General of Disease Control Ministry of Health, Republic Indonesia Jl. Percetakan

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN i.oetama Marsis PB. IKATAN DOKTER INDONESIA Diajukan dalam Rakornas KKI,Bandung, 10-13 Agustus 2015 PENDAHULUAN Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah

Lebih terperinci

ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI

ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI ANALISIS TERHADAP INDIKATOR INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI INDONESIA WENNY INDRIYARTI PUTRI DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci