HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009"

Transkripsi

1 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol tersebut adalah parpol nasionalis (PN), parpol agamis (PA), dan parpol campuran (PC). Perolehan suara tiga kelompok parpol (PN, PA, dan PC) secara nasional disajikan pada Gambar 1. Suara (%) P.Nasionalis P.Agamis P.Campuran Parpol Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009 Perolehan suara PN meningkat dari 61,68 % menjadi 70,06 %. Persentase PA dan PC mengalami penurunan suara masing-masing sebesar 4,80 % dan 3,58 %. Peningkatan perolehan suara pada PN disebabkan oleh penurunan perolehan suara PA dan PC. Oleh karena itu, hasil ini mengindikasikan masyarakat lebih cenderung memilih PN daripada PA dan PC pada pemilu tahun Profil ketiga kelompok parpol (PN, PA, dan PC) disajikan pada Gambar 2. Gambar 2 Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

2 12 PA dan PC mempunyai kemiripan bentuk sedangkan PN mempunyai bentuk tersendiri. Perolehan suara PA dan PC turun dari pemilu 2004 ke pemilu 2009, sedangkan PN mengalami kenaikan perolehan suara dari pemilu 2004 ke pemilu Oleh karena itu ketiga kelompok parpol mengalami perubahan perolehan suara. Perolehan suara PN, PA, dan PC per-provinsi dapat dilihat pada Gambar 3. Provinsi Papua Irjabar Malut Maluku Gorontalo Sultra Sulsel Sulteng Sulut Kaltim Kalsel Kalteng Kalbar NTT NTB Bali Banten Jatim DIY Jateng Jabar DKI Kepri Babel Lampung Bengkulu Sumsel Jambi Riau Sumbar Sumut NAD PC09 PC04 PA09 PA04 PN09 PN Suara (%) Gambar 3 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut provinsi pada pemilu 2004 dan 2009

3 13 13 Pada kelompok pertama yaitu PN, semua perolehan suaranya naik kecuali di provinsi NTT dan Papua. Provinsi yang tertinggi kenaikan perolehan suaranya adalah NAD. Oleh karena itu masyarakat NAD diindikasikan cenderung menerima PN. Pada provinsi Bali, perolehan suara PN tetap tinggi dari pemilu 2004 ke Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Bali cenderung loyal pada PN. Pada Lampiran 1, perolehan suara PDIP di provinsi Bali terlihat turun cukup tinggi (12,42%) namun perolehan suara PD naik cukup tinggi pula (11,18%). Hal ini diindikasikan bahwa ada pemindahan pilihan partai dalam internal PN yaitu dari PDIP ke PD. Pada kelompok kedua yaitu PA, perolehan suaranya meningkat di provinsi Jatim, Jateng, Bali, NTT, dan Papua. Partai lama yang mendominasi dalam peningkatan perolehan suara pada PA di daerah tersebut adalah PKS. Sedangkan partai-partai baru (PKNU dan PMB), perubahan perolehan suaranya masing-masing kurang dari 1 %. Adapun pada kelompok ketiga yaitu PC, perolehan suaranya meningkat di provinsi Sulsel, Sultra, Maluku, dan Papua. Partai lama yang mendominasi dalam peningkatan perolehan suara pada PC di daerah tersebut adalah PAN (3,77 %). Sedangkan partai baru (PKDI) perubahan perolehan suaranya kurang dari 1 %. Penyebab menurunnya perolehan suara PA adalah suara PBB, PBR, PDS, PPP, dan PNUI menurun walaupun PKS naik. Kemudian perolehan suara PC menurun dikarenakan lebih banyak perolehan suara partai-partai yang turun dari pada yang naik. Analisis Gerombol Selisih perolehan suara 3 kelompok parpol pemilu 2004 dengan 2009 setiap provinsi digerombolkan dengan analisis gerombol. Nilai ini diartikan sebagai perubahan perolehan suara parpol. Untuk mengukur kemiripan perubahan perolehan suara parpol antar provinsi digunakan jarak Euclid. Sedangkan metode yang digunakan di dalam penggerombolan di atas adalah pautan rataan. Metode ini cenderung menghasilkan gerombol dengan keragaman yang kecil (Udiyani 2007).

4 14 Hasil penggabungan gerombol yang terbentuk dari metode ini disajikan dalam dendogram. Dendogram tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk menentukan banyaknya gerombol dilakukan pemotongan pada dendogram. Pemotongan dilakukan pada jarak antar gerombol yang terjauh yaitu kira-kira antara 1.15 sampai dengan 1.5. Provinsi Gambar 4 Dendogram hasil analisis gerombol berdasarkan perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 Prosedur tersebut menghasilkan 3 gerombol dimana 2 gerombol mempunyai anggota masing-masing 1 provinsi sementara itu gerombol lainnya mempunyai anggota 30 provinsi. Sehingga pemotongan pada jarak tersebut tidak menghasilkan gerombol dengan anggota yang seimbang. Selanjutnya pemotongan dendogram pada jarak penggabungan berikutnya yaitu pada jarak 1 itu relatif cukup seimbang dibandingkan dengan pemotongan di atas. Anggota masing-masing gerombol disajikan pada Tabel 1. Gerombol 1 dan 4 beranggotaan satu provinsi. Sedangkan Gerombol 2 memiliki anggota 23 provinsi dan gerombol 3 mempunyai anggota 7 provinsi. Sedangkan gerombol 4 anggotanya adalah provinsi Jatim. Rataan perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 disajikan pada Tabel 2.

5 15 15 Tabel 1 Gerombol provinsi berdasarkan perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 Gerombol Provinsi 1 NAD. Sumut, Jabar, Bengkulu, Sumsel, Kalteng, Kaltim, Banten, Kalsel, NTB, Sumbar, Malut, Babel, DKI, Kepri, DIY, Jateng, Sulut, 2 Riau, Jambi, Kalbar, Lampung, Sultra, dan Maluku. 3 Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua. 4 Jatim. Tabel 2 Rataan peubah perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 Gerombol Perubahan perolehan suara parpol PN PA PC 1 28,31-18,76-9,56 2 9,90-6,02-3,89 3-0,28-0,28 0, ,34 4,34-18,68 Secara umum, perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 pada gerombol 1, 2, dan 4 cukup dinamis. Perubahan perolehan suara PN bernilai positif. Oleh karena itu PN mengalami kenaikan perolehan suara dari pemilu 2004 ke Sedangkan perolehan suara PA dan PC menjadi turun, kecuali pada gerombol 4 PA naik sekitar 4,34 %. Perpindahan pilihan parpol dari PA dan PC ke PN terjadi pada gerombol 1. Gerombol ini memiliki satu anggota yaitu provinsi NAD. Pada provinsi NAD, PN memiliki perubahan perolehan suara parpol yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat NAD cenderung menerima PN. Partai-partai yang mendominasi pada PN adalah PD 34,75, kemudian disusul oleh P. Hanura (2,41), P. Gerindra (2,02), dan PPRN (1,32 %). Perpindahan pilihan parpol dari PA dan PC ke PN juga terjadi pada gerombol 2. Perolehan suara PA dan PC berpindah ke PN. Semua provinsi mengalami kenaikan perolehan suara parpol yang cukup tinggi pada PN dengan rataan sebesar 9,90 %. Provinsi dengan kenaikan yang tertinggi adalah DKI (16,90 %). Ini berarti bahwa masyarakat pada gerombol ini cukup tinggi cenderung menerima PN terutama di DKI. Partai-partai dari PN yang paling

6 16 menonjol adalah PD (11,44 %) kemudian disusul oleh P. Gerindra (4,12 %), P. Hanura (4,11 %), dan PPRN (1,50 %). Perubahan perolehan suara parpol terlihat statis pada gerombol 3. Kekuatan perubahannya agak berimbang di semua kelompok parpol. Hal ini sesuai dengan yang disajikan pada Gambar 3. Ini berarti bahwa masyarakat di provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua cenderung memiliki sikap yang cukup loyal terhadap pilihan partainya. Gerombol 4 memiliki satu anggota yaitu provinsi Jatim. Perpindahan pilihan parpol terjadi pada PC ke PN dan PA. Pada gerombol ini, PN mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 14,34 %. Sedangkan PA mengalami kenaikan 4,34 %. Partai yang menonjol pada gerombol 4 secara urutan tertinggi adalah PD (13,06 %), PKNU (4,60 %), P. Gerindra (4,46 %), PKS (2,37 %), dan P. Hanura (2,36 %). Berdasarkan uraian di atas, kenaikan perolehan suara parpol terbesar terjadi pada PN. Dominasi partai-partai pada PN adalah PD, P. Gerindra, dan P. Hanura. Kenaikan perolehan suara parpol masing-masing partai tersebut secara nasional adalah %, 4,46 %, dan 3,77%. P. Gerindra dan P. Hanura tergolong dalam partai Baru. Diindikasikan bahwa kedua parpol baru tersebut memperoleh suaranya dari Partai Golkar. Hal ini dikarenakan perolehan suara Partai Golkar turun sebesar 7,13 %. Indikasi ini diperkuat dengan adanya pimpinan puncak kedua partai tersebut berasal dari pimpinan pusat PG (Sumarsono 2009). Peubah bebas (karakteristik daerah) dirata-ratakan menurut penggerombolan di atas. Hasil rataan tersebut dinamakan peubah karakteristik gerombol. Tabel 3 berisi tentang peubah karakteristik gerombol. Tabel 3 Peubah karakteristik gerombol Gerombol Peubah karakteristik gerombol ,75 17,57 97,50 99,85 9,56 38,21 23,53 17,12 70, ,57 15,87 96,63 82,31 7,99 41,65 13,63 21,66 71, ,77 14,68 97,47 48,16 5,53 33,34 23,32 13,97 67, ,88 13,35 97,00 90,00 6,42 33,20 18,51 16,76 69,80 Gerombol 1 memiliki peubah yang menonjol pada dan. Dengan demikian provinsi NAD memiliki persentase penduduk beragama Islam dan

7 17 17 persentase penduduk miskin yang tinggi. Peubah yang menonjol pada gerombol 2 yaitu,, dan. Oleh karena itu gerombol 2 memiliki penduduk yang banyak tinggal di perkotaan dengan pengeluaran perkapita bulanan dan PDRB yang cukup tinggi. Sedangkan gerombol 3 mempunyai peubah yang menonjol pada. Itu berarti provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua memiliki persentase penduduk miskin yang tinggi. Peubah dan yang menonjol dan peubah yang kecil terdapat pada gerombol 4. Dengan demikian Jatim adalah provinsi yang penduduknya banyak tinggal diperkotaan dan persentase penduduk beragama Islam yang tinggi serta persentase pemilih pemula yang rendah. Berdasarkan Tabel 2 dan Tabel 3, perpindahan pilihan dari parpol agamis dan parpol campuran ke parpol nasionalis yang cukup tinggi ada hubungannya dengan persentase penduduk beragama Islam, persentase penduduk miskin, pengeluaran perkapita bulanan, PDRB, dan persentase penduduk perkotaan yang cukup tinggi pula. Sedangkan perpindahan pilihan dari parpol nasionalis dan parpol agamis ke parpol campuran yang rendah ada hubungannya dengan persentase penduduk miskin yang cukup tinggi. Adapun perpindahan pilihan dari parpol campuran ke parpol nasionalis dan parpol agamis yang cukup tinggi ada hubungannya dengan persentase penduduk perkotaan dan persentase penduduk beragama Islam yang cukup tinggi, dan persentase pemilih pemula yang rendah. Analisis Biplot Karakteristik gerombol pada Tabel 3 dianalisis dengan menggunakan biplot. Hasil analisis biplot berdasarkan karakteristik gerombol diperoleh akar ciri sebagai berikut = 1589,84, = 205,86, = 68,67, dan = 0,63. Koordinat posisi obyek dan peubah masing-masing disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Tabel 4 Koordinat posisi obyek Gerombol Dimensi 1 Dimensi 2 1 2,98 2,57 2 0,67-2,49 3-5,27 0,85 4 1,62-0,93

8 18 Tabel 5 Koordinat posisi peubah Peubah Dimensi 1 Dimensi2-0,16-0,05 0,82-2,89 0,18 0,40-0,03 0,18 6,16 0,62 0,38 0,24 0,50-0,56-0,34 2,03 0,48-0,95 0,44-0,34 Keterangan: Dimensi 1 adalah sumbu utama pertama (sumbu horizontal) dan dimensi 2 adalah sumbu utama kedua (sumbu vertikal). Grafik biplot berdasarkan karakteristik gerombol disajikan pada Gambar 5. Keragaman yang dapat dijelaskan dalam biplot sebesar 96,33 %. Sumbu utama pertama memberikan kontribusi sebesar 85,13 % dari total keragaman yang dapat diterangkan, sedangkan sumbu utama kedua memberikan kontribusi sebesar 11,20 %. Gambar 5 Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombo l

9 19 19 Berdasarkan titik koordinat obyek hasil biplot, gerombol 1 dicirikan oleh,, dan. Oleh karena itu provinsi NAD memiliki penduduk dengan pemeluk agama Islam, pemilih pemula, dan pengangguran terbuka relatif cukup besar. Sedangkan gerombol 2 dan 4 dicirikan oleh,,, dan. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk pada provinsi-provinsi yang termasuk gerombol ini banyak tinggal di perkotaan dan mempunyai produk domestik regional bruto, pengeluaran perkapita bulanan, dan indeks pembangunan manusia yang relatif cukup tinggi. Pada gerombol 3 yaitu provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua, penduduknya mempunyai tingkat kemiskinan ( ) dan tidak tamat perguruan tinggi yang relatif cukup tinggi ( ). Analisis Korelasi Kanonik Analisis Korelasi Kanonik Menurut Nasional Hasil analisis korelasi antara peubah respon (perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009) dengan peubah bebas (karakteristik daerah) menurut nasional (32 provinsi) disajikan pada Tabel 6. Perubahan perolehan suara PN ( ) memiliki hubungan yang linier cukup erat dengan persentase penduduk beragama Islam ( ). Sedangkan perubahan perolehan suara PA ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase pemilih pemula ( ). Adapun perubahan perolehan suara PC ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase penduduk perkotaan ( ). Tabel 6 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional Peubah respon Peubah bebas Uji hipotesis korelasi kanonik secara keseluruhan menghasilkan nilai statistik uji Wilks lambda sebesar 0,096 dengan nilai-p sebesar 0,0034. Apabila α yang digunakan sebesar 0,05 maka nilai-p ini kurang dari nilai α. Hal ini berarti bahwa ada korelasi kanonik yang signifikan. Dengan demikian korelasi kanonik yang dapat diambil minimal satu buah.

10 20 Selanjutnya uji sebagian dilakukan untuk memperoleh peubah kanonik yang dapat diambil. Hasil uji ini disajikan pada Tabel 7. Korelasi kanonik dari gugus peubah bebas dengan peubah respon menghasilkan 3 buah peubah kanonik yang cukup tinggi yaitu, 0,85, 0,74, dan 0,72. Tabel 7 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut nasional Peubah kanonik Korelasi Kanonik Proporsi Nilai-P 1 0,85 0,63 0, ,74 0,29 0, ,50 0,08 0,5425 Berdasarkan kontribusi keragaman yang dapat dijelaskan oleh peubah kanonik pertama, kedua, dan ketiga masing-masing menjelaskan keragaman total 63 %, 29 %, dan 8 %. Oleh karena itu kontribusi keragaman yang cukup tinggi adalah pada peubah kanonik yang pertama. Jika α diambil 0,05 maka korelasi kanonik yang pertama berbeda nyata dengan nol. Dengan demikian korelasi kanonik yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara gugus peubah respon dengan peubah bebas adalah satu korelasi kanonik saja. Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas pada 32 provinsi disajikan pada Tabel 8. Peubah respon (Y) yang berhubungan cukup erat dengan peubah kanonik bebas pertama ( ) adalah perubahan perolehan suara PN ( ) sebesar 0,61 dan perubahan perolehan suara PC ( ) sebesar -0,69. Tabel 8 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut nasional Peubah Respon Peubah Kanonik Bebas Korelasi peubah bebas (Y) dengan peubah kanonik respon pertama ( ) disajikan pada Tabel 9. Peubah bebas yang berhubungan cukup erat dengan peubah kanonik respon adalah persentase penduduk laki-laki ( ) sebesar -0,57,

11 21 persentase penduduk beragama Islam ( manusia ( ) sebesar 0,53. ) sebesar 0,52, dan indeks pembangunan Tabel 9 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut nasional Peubah Bebas Peubah Kanonik respon Berdasarkan Tabel 8 dan Tabel 9, pola hubungan antar peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional adalah semakin tinggi karakteristik daerah pada persentase penduduk laki-laki, persentase penduduk beragama Islam, dan indeks pembangunan manusia maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara parpol pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran. Analisis Korelasi Kanonik Menurut Gerombol Korelasi kanonik antara peubah bebas (karakteristik daerah) dan peubah respon (perubahan perolehan suara parpol) dianalisis berdasarkan tiap gerombol. Banyaknya obyek pada gerombol 1, 3, dan 4 adalah kurang dari banyaknya peubah. Oleh karena itu gerombol-gerombol tersebut tidak bisa dianalisis. Gerombol yang dapat dianalis hanyalah gerombol 2. Pada gerombol 2, hasil analisis korelasi antara peubah respon (perubahan perolehan suara parpol) dengan peubah bebas (karakteristik daerah) disajikan pada Tabel 10. Perubahan perolehan suara PN ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase penduduk perkotaan ( ). Pada peubah respon yang kedua yaitu perubahan perolehan suara PA ( ), tidak mempunyai hubungan linier cukup erat dengan peubah bebas manapun. Sedangkan perubahan perolehan

12 22 suara PC ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase penduduk laki-laki ( ) dan persentase penduduk perkotaan ( ). Tabel 10 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut gerombol 2 Peubah respon Peubah bebas Uji hipotesis korelasi kanonik secara keseluruhan menghasilkan nilai statistik uji Wilks lambda sebesar 0,042 dengan nilai-p sebesar 0,036. Apabila α yang digunakan sebesar 0,05 maka nilai-p tersebut kurang dari nilai α. Hal ini berarti bahwa ada korelasi kanonik yang signifikan. Dengan demikian korelasi kanonik yang dapat diambil minimal satu buah. Selanjutnya uji sebagian dilakukan untuk memperoleh peubah kanonik yang dapat diambil. Hasil uji ini disajikan pada Tabel 11. Korelasi kanonik dari gugus peubah bebas dengan peubah respon menghasilkan 2 peubah kanonik yang cukup besar yaitu, 0,95 dan 0,72. Tabel 11 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut gerombol 2 Peubah kanonik ke- Korelasi kanonik Proporsi Nilai-p Berdasarkan kontribusi keragaman yang dapat dijelaskan oleh peubah kanonik pertama dan kedua masing-masing menjelaskan keragaman total 88 %, dan 10 %. Oleh karena itu kontribusi keragaman yang cukup tinggi adalah pada peubah kanonik yang pertama. Jika α ditentukan sebesar 0,05 maka hanya peubah kanonik pertama yang berbeda nyata dengan nol. Dengan demikian peubah kanonik yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara gugus peubah respon dengan peubah bebas adalah satu peubah kanonik saja. Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas disajikan pada Tabel 12. Peubah respon (Y) yang berhubungan cukup erat dengan peubah

13 23 23 kanonik bebas ( ) adalah perubahan perolehan suara PN sebesar 0,56 dan perubahan perolehan suara PC sebesar 0,56. Hal ini berarti bahwa peubah yang dapat diambil untuk mewakili gugus peubah respon adalah perubahan perolehan suara PN dan perubahan perolehan suara PC. Tabel 12 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut gerombol 2 Peubah respon Peubah kanonik bebas Korelasi peubah bebas dengan peubah kanonik peubah respon disajikan pada Tabel 13. Peubah bebas yang berhubungan cukup erat dengan peubah kanonik respon ( adalah sebesar -0,59 dan sebesar 0,68. Dengan demikian peubah yang dapat mewakili gugus peubah bebas adalah persentase penduduk laki-laki dan persentase penduduk perkotaan. Tabel 13 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut gerombol 2 Peubah bebas Peubah kanonik respon Berdasarkan Tabel 12 dan Tabel 13, gerombol 2 mempunyai pola hubungan antar peubah respon dengan peubah bebas yaitu semakin tinggi karakteristik daerah pada persentase penduduk laki-laki dan persentase penduduk perkotaan

14 24 maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara parpol pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran. Dengan demikian pola hubungan korelasi kanonik menurut gerombol 2 dan keseluruhan provinsi memiliki persamaan yaitu semakin tinggi karakteristik daerah pada persentase penduduk laki-laki maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara parpol pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran.

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009 Jl Terusan Lembang, D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id METODOLOGI Quick

Lebih terperinci

ANALISIS PERUBAHAN PEROLEHAN SUARA PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2004 DAN 2009 MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO

ANALISIS PERUBAHAN PEROLEHAN SUARA PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2004 DAN 2009 MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO ANALISIS PERUBAHAN PEROLEHAN SUARA PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2004 DAN 2009 MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF Rabu, 9 April 2014

HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF Rabu, 9 April 2014 HASIL EXIT POLL PEMILU LEGISLATIF 2014 Rabu, 9 April 2014 Metodologi Exit Poll Exit poll merupakan penelitian perilaku memilih (voting behavior) ketika pemilih berada di TPS. Total sampel 2000 responden,

Lebih terperinci

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website: AKSES PELAYANAN KESEHATAN Tujuan Mengetahui akses pelayanan kesehatan terdekat oleh rumah tangga dilihat dari : 1. Keberadaan fasilitas kesehatan 2. Moda transportasi 3. Waktu tempuh 4. Biaya transportasi

Lebih terperinci

Kekuatan Elektoral Partai-Partai Islam Menjelang Pemilu 2009

Kekuatan Elektoral Partai-Partai Islam Menjelang Pemilu 2009 Kekuatan Elektoral Partai-Partai Islam Menjelang Pemilu 2009 September 2008 Jl. Lembang Terusan No. D 57, Menteng Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website: FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL RUANG LINGKUP Obat dan Obat Tradisional (OT) Obat Generik (OG) Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) TUJUAN 1. Memperoleh informasi tentang jenis obat

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th.VII, 7 Agustus 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2017 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan Subdit Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Aplikasi SIM PERSAMPAHAN...(1)

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK RISET KESEHATAN DASAR 2 BLOK KESEHATAN ANAK JENIS DATA Jenis data yang disajikan : berat badan lahir kepemikilan KMS dan Buku KIA, penimbangan balita, kapsul vitamin A, pemberian ASI proses mulai menyusui

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

Pemilihan Caleg Perempuan Opsi untuk kemajuan

Pemilihan Caleg Perempuan Opsi untuk kemajuan Pemilihan Caleg Perempuan Opsi untuk kemajuan Oleh: Kevin Evans Pendiri: www.pemilu.asia Di WRI Jakarta Tujuan.. 8 Maret baru lewat lagi. Selama sekian tahun kita membahas masalah menyangkut masalah jender

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

DUKUNGAN TERHADAP CALON INDEPENDEN

DUKUNGAN TERHADAP CALON INDEPENDEN DUKUNGAN TERHADAP CALON INDEPENDEN Temuan Survei Nasional Juli 2007 LEMBAGA SURVEI INDONESIA (LSI) www.lsi.or.id Tujuan Survei Mendekatkan desain institusional, UU dan UUD, dengan aspirasi publik agar

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH No. 07/07/62/Th. X, 18 Juli 2016 PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH MARET 2016 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach).

Lebih terperinci

SURVEI NASIONAL PEMILIH MUDA: EVALUASI PEMERINTAHAN, CITRA DAN PILIHAN PARPOL DI KALANGAN PEMILIH MUDA JELANG PEMILU 2014

SURVEI NASIONAL PEMILIH MUDA: EVALUASI PEMERINTAHAN, CITRA DAN PILIHAN PARPOL DI KALANGAN PEMILIH MUDA JELANG PEMILU 2014 SURVEI NASIONAL PEMILIH MUDA: EVALUASI PEMERINTAHAN, CITRA DAN PILIHAN PARPOL DI KALANGAN PEMILIH MUDA JELANG PEMILU 2014 Data Survei Nasional 15 25 Maret 2013 Prepared by: INDO BAROMETER Jl. Cikatomas

Lebih terperinci

Konsolidasi Demokrasi. Lembaga Survei Indonesia (LSI)

Konsolidasi Demokrasi. Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kualitas Pelaksanaan Pemilu dan Konsolidasi Demokrasi Sebuah Evaluasi Pemilih Lembaga Survei Indonesia (LSI) Juli 2009 Latar Belakang Dalam tahun 2009 ini ada dua peristiwa politik lima tahunan paling

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012 4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Jumlah Lembaga No. Provinsi PTAIN PTAIS Jumlah 1. Aceh 3 20 23 2. Sumut 2 40 42 3. Sumbar 3 19 22 4. Riau 1 22 23 5. Jambi 2 15 17 6. sumsel 1 13 14 7. Bengkulu

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KESEHATAN REPRODUKSI. Website:

KESEHATAN REPRODUKSI. Website: KESEHATAN REPRODUKSI Tujuan Umum: Menyediakan informasi mengenai indikator kesehatan ibu dan besaran masalah kesehatan reproduksi Khusus: Memperoleh informasi kejadian kehamilan di rumah tangga Memperoleh

Lebih terperinci

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011

PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 PENGUATAN KEBIJAKAN SOSIAL DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2011 ARAHAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN TINGKAT NASIONAL (MUSRENBANGNAS) 28 APRIL 2010

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH

DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH DESKRIPTIF STATISTIK RA/BA/TA DAN MADRASAH Deskriptif Statistik RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) A. Lembaga Pendataan RA/BA/TA dan Madrasah (MI, MTs dan MA) Tahun Pelajaran 2007/2008 mencakup 33

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA No. 01/08/53/TH.XIV, 5 AGUSTUS PERTUMBUHAN EKONOMI NTT TRIWULAN II TUMBUH 5,21 PERSEN Pertumbuhan ekonomi NTT yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan II tahun

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, baik negara ekonomi berkembang maupun negara ekonomi maju. Selain pergeseran

Lebih terperinci

STATUS GIZI. Website:

STATUS GIZI. Website: STATUS GIZI Baku Standar yang Digunakan 1 Anak balita WHO Anthropometri 2005 2 Anak umur 5-18 th WHO Anthropometri 2007 (5-19 th) 3 Risiko KEK WUS (LiLA 90, P >80) 5 Status

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 No. 14 / 03 / 94 / Th. VII, 2 Maret 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 Nilai Tukar Petani Papua pada Februari 2015 sebesar 97,12 atau mengalami kenaikan 0,32

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN Pertumbuhan ekonomi Kemiskinan Distribusi pendapatan konsep konsep konsep ukuran ukuran Data-data Indonesia

Lebih terperinci

PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014)

PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014) PROFIL KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU, KECUKUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT INDONESIA (ANALISIS DATA STUDI DIET TOTAL 2014) Dr. Siswanto, MHP, DTM Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes

Lebih terperinci

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya No Kategori Satuan Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Babel Kepri Potensi Lahan Ha Air 76.7 0 7.9 690.09 0.9 60. 069.66 767.9 79.6. Air

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH No. 07/01/62/Th. XI, 3 Januari 2017 PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH SEPTEMBER 2016 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Razali Ritonga, MA razali@bps.go.id Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik 15 SEPTEMBER 2012 1 PENGANTAR SENSUS: Perintah

Lebih terperinci

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU ART UMUR 10 TAHUN Tujuan Memperoleh informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku individu maupun RT dalam pencegahan kesehatan dan perilaku berisiko terjadinya penyakit.

Lebih terperinci

LAPORAN SINGKAT PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS INDONESIA 2010

LAPORAN SINGKAT PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS INDONESIA 2010 LAPORAN SINGKAT PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS INDONESIA 21 DEPUTI BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Tujuan dan Target Millennium Development Goals (MDGs)

Lebih terperinci

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP SELAYANG PANDANG SIMLUH KP Jakarta, 29 April 2014 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2014 IMPLEMENTASI SISTEM PENYULUHAN

Lebih terperinci

PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL

PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL 2009 2014 Data Survei Nasional 18 26 Agustus 2009 Prepared by: INDO BAROMETER Jl. Cikatomas I No. 29, Kebayoran Baru, Jakarta 12180 Telp: 021 7260588 (Hunting) Fax: 021

Lebih terperinci

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROGRAM LISTRIK PERDESAAN DI INDONESIA: KEBIJAKAN, RENCANA DAN PENDANAAN Jakarta, 20 Juni 2013 DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KONDISI SAAT INI Kondisi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 24/05/63/Th.XIX, 2 Mei NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN APRIL TURUN 0,14 PERSEN Pada NTP Kalimantan

Lebih terperinci

EFEK PENCAPRESAN JOKO WIDODO PADA ELEKTABILITAS PARTAI POLITIK

EFEK PENCAPRESAN JOKO WIDODO PADA ELEKTABILITAS PARTAI POLITIK SURVEI OPINI PUBLIK EKSPERIMENTAL EFEK PENCAPRESAN JOKO WIDODO PADA ELEKTABILITAS PARTAI POLITIK Survei Nasional 10 20 Oktober 2013 Jl. Cikini V No 15 A Menteng, Jakarta Pusat 10330 Telp. (021) 3917814

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 15/03/63/Th.XIX, 1 Maret NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN FEBRUARI TURUN 0,22 PERSEN Pada NTP

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

KONDISI WILAYAH. A. Geografis Garis Lintang : LU LS Garis Bujur : 106º º58 18

KONDISI WILAYAH. A. Geografis Garis Lintang : LU LS Garis Bujur : 106º º58 18 KONDISI WILAYAH A. Geografis Garis Lintang : 5 19 12 LU - 6 23 54 LS Garis Bujur : 106º22 42-106º58 18 B. Batas Wilayah Batas Barat : Propinsi Banten Batas Timur : Propinsi Jawa Barat Batas Utara : Laut

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2017 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN FEBRUARI 2017 NAIK 0,33 PERSEN No. 16/03/63/Th.XXI, 1 Maret

Lebih terperinci

PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015

PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015 PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN 2015 BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015 PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MARET 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MARET 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MARET A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN MARET TURUN 1,20 PERSEN No. 20/04/63/Th.XXI, 3 April Pada Maret NTP

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 No. 28/05/17/VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I-2016

Lebih terperinci

PENYAKIT MENULAR. Website:

PENYAKIT MENULAR. Website: PENYAKIT MENULAR Penyakit Menular Penyakit menular memberikan Informasi insiden, period prevalence dan prevalensi penyakit secara klinis dengan/tanpa informasi laboratorium yang digali melalui kuisioner.

Lebih terperinci

EFEK CALON TERHADAP PEROLEHAN SUARA PARTAI MENJELANG PEMILU 2009

EFEK CALON TERHADAP PEROLEHAN SUARA PARTAI MENJELANG PEMILU 2009 EFEK CALON TERHADAP PEROLEHAN SUARA PARTAI MENJELANG PEMILU 2009 Trend Opini Publik Updated 8-18 Februari 2009 LEMBAGA SURVEI INDONESIA (LSI) Jakarta, Februari 2009 www.lsi.or.id Latar Belakang Demi keadilan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

INFORMASI PERKEMBANGAN HASIL PENGAWASAN, PENANGANAN PELANGGARAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA Sampai Dengan Hari Rabu, 26 Maret 2014 Jam 17.

INFORMASI PERKEMBANGAN HASIL PENGAWASAN, PENANGANAN PELANGGARAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA Sampai Dengan Hari Rabu, 26 Maret 2014 Jam 17. Perihal : Laporan Harian Perkembangan Pengawasan, Penanganan Pelangaran dan Penyelesaian Sengketa s.d. Hari Rabu Tanggal 26 Maret 2014 INFORMASI PERKEMBANGAN HASIL PENGAWASAN, PENANGANAN PELANGGARAN DAN

Lebih terperinci

KEBIJAKAN STRATEGIS PNPM MANDIRI KE DEPAN

KEBIJAKAN STRATEGIS PNPM MANDIRI KE DEPAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEBIJAKAN STRATEGIS PNPM MANDIRI KE DEPAN DEPUTI SESWAPRES BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN SELAKU SEKRETARIS EKSEKUTIF TIM NASIONAL

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 31/06/63/Th.XIX, 1 Juni NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN MEI TURUN 0,33 PERSEN Pada NTP Kalimantan

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 13/02/52/Th VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2016 Penjelasan Umum Badan Pusat Statistik melakukan Survei

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) Kecuk Suhariyanto Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI Jakarta, 7 September 2015 SEJARAH PENGHITUNGAN IPM 1990: UNDP merilis IPM Human Development

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI

PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI INPUT Kebijakan nasional Peraturan dan perundangan Pedoman /Juknis/Juklak Kurmod Bahan Advokasi Kit Pelatihan, Sosialisasi, Orientasi, Pembinaan Pencatatan dan

Lebih terperinci

Konstitusionalitas dan Problematika Alokasi Kursi DPR RI Pemilu Indonesia

Konstitusionalitas dan Problematika Alokasi Kursi DPR RI Pemilu Indonesia Konstitusionalitas dan Problematika Alokasi Kursi DPR RI Pemilu Indonesia Sindikasi Pemilu dan Demokrasi SPD Diskusi Media, 18 September 2016 Bakoel Koffie Cikini Pengantar Pembahasan RUU Penyelenggaraan

Lebih terperinci