Assalamu alaikum Wr. Wb.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Assalamu alaikum Wr. Wb."

Transkripsi

1 Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya didukung oleh ketersediaan data dan informasi yang akurat dan memadai. Di sisi lain, ketersediaan data dan informasi juga merupakan bahan untuk mengetahui dan mengukur hasil dari upaya pemberdayaan yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal demikian diharapkan dapat memacu semua pihak terutama pembina koperasi untuk bekerja lebih keras dan serius dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan koperasi di masa yang akan datang. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka penyediaan data dan informasi yang dibutuhkan, khususnya data dan informasi perkembangan perkoperasian di Indonesia, maka Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) telah menyusun Statistik Perkoperasian Tahun Dalam buku ini memuat gambaran tentang peran koperasi sebagai institusi di masyarakat yang dapat berperan sebagai salah satu sumber keuangan alternatif bagi usaha kecil dan menengah, dan perkembangan kelembagaan serta usaha koperasi dari tahun 2003 hingga i

2 Sumber sumber data pendukung yang digunakan dalam buku ini adalah laporan Dinas/Badan/Instansi yang membidangi koperasi dan UKM di seluruh Indonesia, dan hasil survey usaha terintegrasi Badan Pusat Statistik (SUSI- BPS) tahun 2003 dan Akhir kata, ketersediaan data dan informasi dalam buku ini, diharapkan dapat menjadi bahan analisa yang akurat dan detail terhadap berbagai hal yang terkait dalam pengembangan dan pembinaan perkoperasian di tanah air. Kiranya penerbitan buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap kemajuan perkoperasian dan UKM di Indonesia. Wassalamu alaikum Wr. Wb. Jakarta, 31 Agustus 2005 ii

3 DAFTAR ISI Kata Sambutan... Daftar Isi... i iii Pengertian dan Batasan... 1 Sumber dan Cara Pengumpulan Data... 2 Peran Koperasi sebagai Lembaga Keuangan Alternatif... 3 Perkembangan Kelembagaan Koperasi Secara Nasional Periode Perkembangan Usaha Koperasi Secara Nasional Periode Lampiran-lampiran iii

4 TABEL - 12 STRUKTUR MODAL SENDIRI KOPERASI TERHADAP JUMLAH ANGGOTA PERKEMBANGAN + / - No PROPINSI ANGGOTA (Org) MODAL SENDIRI (Rp. Juta) ANGGOTA MODAL SENDIRI * 1 NAD (287,523) (117,079) Sumatera Utara 153, , Sumatera Barat (55,640) 18, Riau (88,684) (26,689) - - 5Jambi (5,186) Sumatera Selatan 38, , Bengkulu (22,281) (27,944) - - 8Lampung 126,821 56, Bangka Belitung (5,780) (7,192) Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta - 1, Jawa Barat 27,976 1,204, Jawa Tengah (331,155) 71, DI Yogyakarta , Jawa Timur 225, , Banten 79,331 26, Bali 9,753 33, Nusa Tenggara Barat (18,698) 32, Nusa Tenggara Timur 4,295 8, Kalimantan Barat 48,306 76, Kalimantan Tengah 1,264 12, Kalimantan Selatan 2,803 25, Kalimantan Timur 10,652 (54,688) Sulawesi Utara 61,235 10, Sulawesi Tengah 10,138 (104,844) Sulawesi Selatan 44,477 38, Sulawesi Tenggara 3, , Gorontalo 1,398 7, Sulawesi Barat 30 Maluku 4,269 4, Papua (55,588) (5,770) Maluku Utara (6,720) 2, Irian Jaya Barat 240, ,569,

5 TABEL - 11 PERKEMBANGAN PENYERAPAN TENAGA KERJA OLEH KOPERASI PER PROPINSI SELURUH INDONESIA TAHUN No PROPINSI *) MANAJER (Org) KARYAWAN (Org) JUMLAH (Org) MANAJER (Org) KARYAWAN (Org) JUMLAH (Org) JUMLAH % NAD 916 5,623 6, ,028 5,965 (574) (8.78) 2 Sumatera Utara 1,161 6,024 7,185 1,172 6,365 7, Sumatera Barat 569 4,447 5, ,103 4,604 (412) (8.21) 4Riau 911 4,661 5, ,058 4,591 (981) (17.61) 5Jambi 795 2,823 3, ,552 6,351 2, Sumatera Selatan 367 2,479 2, ,667 7,213 4, Bengkulu 232 1,954 2, ,943 2,121 (65) (2.97) 8Lampung 935 9,918 10, ,283 11, Bangka Belitung 26 1,062 1, ,073 1, Kepulauan Riau ,345 1, DKI Jakarta 742 8,222 8, ,998 23,740 14, Jawa Barat 2,542 16,363 18,905 3,597 33,773 37,370 18, Jawa Tengah 1,639 33,203 34,842 1,915 31,861 33,776 (1,066) (3.06) 14 DI Yogyakarta 360 3,476 3, ,424 4, Jawa Timur 3,183 37,304 40,487 3,215 41,172 44,387 3, Banten 933 5,775 6,708 2,429 6,360 8,789 2, Bali 611 8,642 9, ,774 9, Nusa Tenggara Barat 461 5,645 6, ,482 5,976 (130) (2.13) 19 Nusa Tenggara Timur 486 2,288 2, ,300 2, Kalimantan Barat 374 2,200 2, ,255 2, Kalimantan Tengah 106 1,160 1, ,204 8,309 7, Kalimantan Selatan 446 2,837 3, ,111 3, Kalimantan Timur 530 6,737 7, ,460 6,851 (416) (5.72) 24 Sulawesi Utara 765 4,472 5, ,078 8,915 3, Sulawesi Tengah 551 2,064 2, ,364 2, Sulawesi Selatan 3,302 12,815 16,117 3,434 13,374 16, Sulawesi Tenggara 810 3,450 4, ,848 5,661 1, Gorontalo 182 1,042 1, ,017 1,204 (20) (1.63) 29 Sulawesi Barat ,173 1, Maluku 834 2,123 2, ,501 3, Papua 488 2,201 2, ,320 1,586 (1,103) (41.02) 32 Maluku Utara ,075 1, Irian Jaya Barat , , ,954 28, , ,589 61, *) Angka Sementara PENGERTIAN DAN BATASAN a. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan. b. Perkoperasian adalah sesuatu yang menyangkut kehidupan Koperasi. c. Koperasi Aktif adalah koperasi yang dalam dua tahun terakhir mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) atau koperasi yang dalam tahun terakhir melakukan kegiatan usaha. d. Anggota Koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi serta tercatat dalam buku daftar anggota. e. Rapat Anggota Tahunan (RAT) adalah rapat anggota koperasi yang pelaksanaannya sesuai dengan AD/ART koperasi. f. Manager adalah orang yang di angkat oleh pengurus untuk mengelola usaha koperasi. g. Karyawan adalah orang yang dipekerjakan koperasi baik dalam menangani organisasi maupun usaha dan mendapatkan gaji dari koperasi. 28 1

6 h. Modal Sendiri adalah modal yang menanggung resiko (modal equity) atau merupakan kumulatif dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan dan hibah. i. Modal Luar adalah modal yang dipinjam koperasi yang berasal dari anggota, koperasi lainnya, bank/lembaga keuangan, penerbitan obligasi/surat berharga dan sumber-sumber lainnya. j. Volume Usaha adalah total nilai penjualan/pendapatan barang dan jasa pada tahun buku yang bersangkutan. k. Sisa hasil Usaha (SHU) adalah pendapatan koperasi yang di peroleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku, yang bersangkutan. SUMBER DAN CARA PENGUMPULAN DATA Data dalam buku ini bersumber dari laporan Dinas/Badan/Instansi yang membidangi pembinaan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) seluruh Indonesia, yang merupakan hasil konfirmasi terakhir pada bulan Juni * Disisi lain, untuk memberikan kelengkapan informasi tentang keberadaan koperasi di seluruh Indonesia, hasil survey BPS juga kami sertakan guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap peran koperasi dalam TAHUN No PROPINSI 2003 (Juta) 2004 (Juta) *) JUMLAH % NAD 83, , (61,866.15) (74.30) 2 Sumatera Utara 53, , , Sumatera Barat 55, , (2,391.73) (4.33) 4Riau 36, , , Jambi 20, , Sumatera Selatan 29, , , Bengkulu 11, , , Lampung 692, , (649,757.22) (93.78) 9Bangka Belitung 3, (2,895.52) (76.10) 10 Kepulauan Riau 22, DKI Jakarta 135, , , Jawa Barat 174, , , Jawa Tengah 72, , , DI Yogyakarta 16, , (471.33) (2.83) 15 Jawa Timur 146, , , Banten 75, , (24,229.24) (32.16) 17 Bali 40, , (1,607.31) (3.97) 18 Nusa Tenggara Barat 21, , (7,254.66) (33.88) 19 Nusa Tenggara Timur 9, , , Kalimantan Barat 21, , , Kalimantan Tengah 6, , , Kalimantan Selatan 17, , (5,103.00) (29.29) 23 Kalimantan Timur 26, , , Sulawesi Utara 13, , , Sulawesi Tengah 4, , , Sulawesi Selatan 39, , , Sulawesi Tenggara 38, , , Gorontalo 3, , Sulawesi Barat 2, Maluku 9, , , Papua 9, , Maluku Utara 4, , Irian Jaya Barat 2, *) Angka Sementara TABEL - 10 PERKEMBANGAN JML SISA HASIL USAHA KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA 1,871, ,164, ,

7 TAHUN No PROPINSI 2003 (Juta) 2004 (Juta) *) JUMLAH % NAD 485, , (250,846.83) (51.70) 2 Sumatera Utara 758, , , Sumatera Barat 910, ,058, , Riau 912, , , Jambi 645, , Sumatera Selatan 1,352, ,578, , Bengkulu 106, , , Lampung 1,148, ,046, (101,839.90) (8.87) 9Bangka Belitung 40, , (18,614.37) (46.00) 10 Kepulauan Riau 136, DKI Jakarta 4,225, ,585, , Jawa Barat 4,607, ,219, ,612, Jawa Tengah 5,970, ,054, ,083, DI Yogyakarta 328, , , Jawa Timur 4,403, ,651, ,248, Banten 1,109, ,101, (8,021.69) (0.72) 17 Bali 861, , , Nusa Tenggara Barat 482, , , Nusa Tenggara Timur 108, , , Kalimantan Barat 281, , , Kalimantan Tengah 101, , , Kalimantan Selatan 199, , (22,917.00) (11.51) 23 Kalimantan Timur 363, , , Sulawesi Utara 662, , , Sulawesi Tengah 66, , , Sulawesi Selatan 1,110, ,365, , Sulawesi Tenggara 116, , , Gorontalo 91, , , Sulawesi Barat 65, Maluku 99, , (5,778.00) (5.80) 31 Papua 77, , , Maluku Utara 53, , (3,951.00) (7.32) 33 Irian Jaya Barat 30, *) Angka Sementara TABEL - 9 PERKEMBANGAN JML VOLUME USAHA KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA 31,683, ,649, ,965, kehidupan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat usaha kecil dan menengah (UKM). Dalam proses pengumpulan data koperasi, Bagian Data telah menyampaikan format baku data dan informasi yang diperlukan kepada Dinas/Badan/Instansi yang membidangi KUKM di seluruh Indonesia, selanjutnya dari data yang diterima diolah dan disajikan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan data peran koperasi, kami kutip dari hasil Survey Usaha Terintegrasi Badan Pusat Statistik (SUSI-BPS) tahun 2003 dan PERAN KOPERASI SEBAGAI LEMBAGA KEUANGAN ALTERNATIF Keberadaan koperasi dalam kehidupan ekonomi masyarakat hingga saat ini terbukti masih diperlukan, utamanya dalam rangka mendorong laju pertumbuhan unit unit usaha kecil dan menengah yang pada umumnya masih menjadi sandaran hidup masyarakat kecil. Hasil Survei Usaha Tertintegrasi (SUSI) Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2003, menunjukkan bahwa dari usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak berbadan hukum, tercatat UKM yang memanfaatkan pinjaman dalam upaya mendukung proses pengembangan usahanya. Sumber sumber permodalan yang tersedia bagi 26 3

8 UKM dikategorikan dalam perbankan, koperasi, lembaga keuangan non bank, modal ventura, perorangan, keluarga / famili, dan lain-lain. Dari total UKM yang memanfaatkan pinjaman, sumber pinjaman yang berasal dari lain-lain masih menduduki posisi teratas dalam memberikan pelayanan terhadap kebutuhan permodalan UKM yaitu sebanyak UKM atau 36,55 persen, koperasi mampu memberikan pelayanan kepada UKM atau 3,64 persen, selebihnya adalah dari sumber perorangan sebanyak UKM atau 26,61 persen; perbankan sebanyak UKM atau 16,26 persen; keluarga/famili sebanyak UKM atau 13,21 persen; lembaga keuangan non bank sebanyak UKM atau 3,31 persen dan modal ventura sebanyak UKM atau 0,42 persen. Pada tahun GAMBAR-1. SUMBER-SUMBER PERMODALAN YANG MELAYANI UKM TIDAK BERBADAN HUKUM DAN UKM YANG DILAYANI TAHUN 2003 & dibandingkan tahun 2003, hasil survei menunjukkan adanya perubahan Lembaga dimana sumber Modal Perbankan Koperasi Keuangan Perorangan Keluarga/Fa Lainnya Ventura miliy Non Bank permodalan koperasi TAHUN TAHUN tercatat mampu memberikan pelayanan kepada UKM atau mengalami peningkatan sebesar 57,56 persen; Perorangan sebanyak UKM atau mengalami UNIT * TAHUN No PROPINSI 2003 (Juta) 2004 (Juta) *) JUMLAH % NAD 224, , Sumatera Utara 563, , (60,533.21) (10.74) 3 Sumatera Barat 397, , (57,792.12) (14.55) 4Riau 581, , (50,682.00) (8.71) 5Jambi 159, , , Sumatera Selatan 580, , , Bengkulu 28, , , Lampung 978, , (389,915.81) (39.84) 9Bangka Belitung 32, , (19,975.35) (61.04) 10 Kepulauan Riau 43, DKI Jakarta 393, , , Jawa Barat 2,531, ,932, ,400, Jawa Tengah 2,311, ,350, , DI Yogyakarta 119, , , Jawa Timur 3,317, ,620, , Banten 418, , , Bali 438, , , Nusa Tenggara Barat 117, , , Nusa Tenggara Timur 78, , Kalimantan Barat 226, , , Kalimantan Tengah 121, , (18,734.17) (15.47) 22 Kalimantan Selatan 214, , , Kalimantan Timur 50, , , Sulawesi Utara 423, , , Sulawesi Tengah 192, , (10,372.00) (5.38) 26 Sulawesi Selatan 191, , , Sulawesi Tenggara 54, , , Gorontalo 105, , , Sulawesi Barat 9, Maluku 21, , , Papua 42, , (3,462.13) (8.14) 32 Maluku Utara 21, , (469.00) (2.17) 33 Irian Jaya Barat 6, *) Angka Sementara TABEL - 8 PERKEMBANGAN JML MODAL LUAR KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA 14,939, ,897, ,957,

9 TAHUN No PROPINSI 2003 (Juta) 2004 (Juta) *) JUMLAH % NAD 329, , (117,078.66) (35.58) 2 Sumatera Utara 526, , , Sumatera Barat 304, , , Riau 226, , (26,689.00) (11.78) 5Jambi 89, , Sumatera Selatan 252, , , Bengkulu 60, , (27,944.37) (46.14) 8Lampung 124, , , Bangka Belitung 18, , (7,191.75) (38.82) 10 Kepulauan Riau 66, DKI Jakarta 451, , , Jawa Barat 1,092, ,296, ,204, Jawa Tengah 1,596, ,667, , DI Yogyakarta 146, , , Jawa Timur 2,155, ,810, , Banten 204, , , Bali 296, , , Nusa Tenggara Barat 130, , , Nusa Tenggara Timur 117, , , Kalimantan Barat 57, , , Kalimantan Tengah 46, , , Kalimantan Selatan 81, , , Kalimantan Timur 71, , (54,688.21) (75.98) 24 Sulawesi Utara 307, , , Sulawesi Tengah 233, , (104,844.00) (44.99) 26 Sulawesi Selatan 300, , , Sulawesi Tenggara 55, , , Gorontalo 35, , , Sulawesi Barat 16, Maluku 27, , , Papua 56, , (5,769.70) (10.20) 32 Maluku Utara 23, , , Irian Jaya Barat 12, *) Angka Sementara TABEL - 7 PERKEMBANGAN JML MODAL SENDIRI KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA 9,419, ,989, ,569, peningkatan sebesar 28,05 persen; keluarga/famili sebanyak UKM atau mengalami peningkatan sebesar 49,73 persen; lembaga keuangan non bank sebanyak UKM atau mengalami peningkatan sebesar 101,78 persen; perbankan sebanyak UKM atau mengalami peningkatan sebesar 98,11 persen dan Modal ventura sebanyak UKM atau mengalami peningkatan sebesar 193,31 persen. Sedangkan sumber pinjaman yang berasal dari sumber lainnya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya hingga mencapai 20,53 persen yaitu dari UKM menjadi UKM. Dengan mengacu pada gambaran di atas, menunjukkan bahwa manfaat koperasi dalam mendukung aktivitas perekonomian masyarakat di seluruh indonesia masih sangat diperlukan dan perlu terus dipacu agar dapat berkembang dan berperan dalam mendorong aktivitas perekonomian daerah. Secara rinci peran koperasi sebagai lembaga keuangan alternatif disajikan pada tabel-1. Untuk lebih dapat memperjelas peran dan gambaran koperasi secara nasional, perlu diketahui tentang keberadaan koperasi sampai akhir tahun 2004 baik dari aspek kelembagaan maupun aspek usahanya. Untuk itu akan diuraikan pada pokok bahasan selanjutnya. 24 5

10 PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN KOPERASI SECARA NASIONAL PERIODE Kelembagaan Koperasi periode mengalami perkembangan secara signifikan dengan laju perkembangan rata rata sebanyak unit atau 6,13 persen. Empat propinsi dengan perkembangan jumlah koperasi terbesar pada periode yang sama adalah : Sulawesi Tenggara sebanyak 234 unit atau sebesar 13,23 persen; Maluku Utara sebanyak 74 unit atau sebesar 12,09 persen; Gorontalo sebanyak 68 unit atau sebesar 12,04 persen dan Bali sebanyak 241 unit atau sebesar 11,56 persen. Perkembangan jumlah koperasi aktif untuk periode yang sama secara nasional, tercatat mengalami penurunan sebanyak 398 unit atau 0,42 persen. Namun Kop. Tidak Aktif Kop. Aktif GAMBAR-2. JUMLAH KOPERASI AKTIF DAN TIDAK AKTIF TAHUN 2003 & 2004 (dalam unit) Total Kop TH 2003 TH 2004 Total Kop TAHUN No PROPINSI 2003 (Org) 2004 (Org) *) JUMLAH % NAD 5,623 5,028 (595) (10.58) 2 Sumatera Utara 6,024 6, Sumatera Barat 4,447 4,103 (344) (7.74) 4Riau 4,661 4,058 (603) (12.94) 5Jambi 2,823 5,552 2, Sumatera Selatan 2,479 6,667 4, Bengkulu 1,954 1,943 (11) (0.56) 8Lampung 9,918 10, Bangka Belitung 1,062 1, Kepulauan Riau 1, DKI Jakarta 8,222 22,998 14, Jawa Barat 16,363 33,773 17, Jawa Tengah 33,203 31,861 (1,342) (4.04) 14 DI Yogyakarta 3,476 4, Jawa Timur 37,304 41,172 3, Banten 5,775 6, Bali 8,642 8, Nusa Tenggara Barat 5,645 5,482 (163) (2.89) 19 Nusa Tenggara Timur 2,288 2, Kalimantan Barat 2,200 2, Kalimantan Tengah 1,160 8,204 7, Kalimantan Selatan 2,837 3, Kalimantan Timur 6,737 6,460 (277) (4.11) 24 Sulawesi Utara 4,472 8,078 3, Sulawesi Tengah 2,064 2, Sulawesi Selatan 12,815 13, Sulawesi Tenggara 3,450 4,848 1, Gorontalo 1,042 1,017 (25) (2.40) 29 Sulawesi Barat 1, Maluku 2,123 2, Papua 2,201 1,320 (881) (40.03) 32 Maluku Utara 451 1, Irian Jaya Barat 407 *) Angka Sementara TABEL - 6 PERKEMBANGAN JML KARYAWAN KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA 201, ,748 58,

11 TABEL - 5 PERKEMBANGAN JML MANAJER KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA demikian ditinjau dari rincian per propinsi, ada beberapa propinsi yang mengalami perkembangan keaktifan koperasi yang cukup signifikan. Empat propinsi dengan perkembangan jumlah koperasi aktif terbesar adalah : TAHUN No PROPINSI 2003 (Org) 2004 (Org) *) JUMLAH % NAD Sumatera Utara 1,161 1, Sumatera Barat (68) (11.95) 4 Riau (378) (41.49) 5 Jambi Sumatera Selatan Bengkulu (54) (23.28) 8Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat 2,542 3,597 1, Jawa Tengah 1,639 1, DI Yogyakarta (14) (3.89) 15 Jawa Timur 3,183 3, Banten 933 2,429 1, Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah (1) (0.94) 22 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur (139) (26.23) 24 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah (68) (12.34) 26 Sulawesi Selatan 3,302 3, Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua (222) (45.49) 32 Maluku Utara Irian Jaya Barat 150 *) Angka Sementara 25,493 28,841 3, Sulawesi Tenggara sebanyak 258 unit atau 18,22 persen; Sumatera Selatan sebanyak 304 unit atau 12,78 persen; DKI Jakarta sebanyak 356 unit atau 11,06 persen; dan Bali sebanyak 203 unit atau 10,35 persen. Sedangkan perkembangan jumlah koperasi tidak aktif secara nasional tercatat sebanyak unit atau 27,05 persen. Propinsi dengan perkembangan jumlah koperasi tidak aktif terbesar adalah : Kalimantan Timur sebanyak 245 unit atau 207,63 persen; Sumatera Utara sebanyak unit atau 89,18 persen; Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebanyak 737 unit arau 77,91 persen; dan Jawa Timur sebanyak unit atau 53,18 persen. Gambaran rinci perkembangan jumlah koperasi, koperasi aktif dan koperasi tidak aktif disajikan pada tabel

12 Sejalan dengan GAMBAR-3. JUMLAH ANGGOTA KOPERASI AKTIF TAHUN 2003 & 2004 (dalam orang) perkembangan jumlah koperasi aktif, jumlah anggota koperasi mengalami perkembangan sebanyak orang atau 0,88 persen. Propinsi dengan perkembangan jumlah anggota terbesar adalah: Lampung sebanyak orang atau 18,68 persen; Sumatera Utara sebanyak orang atau 17,68 persen; Sulawesi Utara sebanyak orang atau 16,62 persen; dan Kalimantan Barat sebanyak orang atau 16,51 persen. Disisi lain, propinsi dengan penurunan jumlah anggota terbesar adalah : NAD sebanyak orang atau 40,88 persen; Papua sebanyak orang atau 28,62 persen; dan Bengkulu sebanyak orang atau 18,30 persen. TABEL - 4 PERKEMBANGAN JML RAT KOPERASI AKTIF PER PROPINSI SELURUH INDONESIA TAHUN No PROPINSI 2003 (unit) 2004 (unit) *) JUMLAH % NAD 1,058 1,044 (14) (1.32) 2 Sumatera Utara 1,823 2, Sumatera Barat 845 1, Riau 1,377 1,099 (278) (20.19) 5Jambi 987 1, Sumatera Selatan 1,182 1, Bengkulu (27) (5.78) 8Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta 2,288 2, Jawa Barat 5,373 5, Jawa Tengah 6,065 5,953 (112) (1.85) 14 DI Yogyakarta (41) (4.72) 15 Jawa Timur 6,113 5,587 (526) (8.60) 16 Banten 1,976 2, Bali 953 1, Nusa Tenggara Barat 1,046 1, Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan (43) (7.00) 23 Kalimantan Timur 1,781 1,007 (774) (43.46) 24 Sulawesi Utara 1,077 1, Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 4,071 4, Sulawesi Tenggara (22) (2.21) 28 Gorontalo Sulawesi Barat Maluku (79) (27.24) 31 Papua (229) (53.38) 32 Maluku Utara (164) (61.65) 33 Irian Jaya Barat 124 Gambaran rinci perkembangan jumlah anggota disajikan pada tabel-3. *) Angka Sementara 44,661 46,310 1,

13 TABEL - 3 PERKEMBANGAN JML ANGGOTA KOPERASI PER PROPINSI SELURUH INDONESIA TAHUN No PROPINSI 2003 (Org) 2004 (Org) *) JUMLAH % N A D 703, ,827 (287,523) (40.88) 2 Sumatera Utara 870,519 1,024, , Sumatera Barat 588, ,571 (55,640) (9.46) 4Riau 623, ,074 (88,684) (14.22) 5Jambi 289, ,153 (5,186) (1.79) 6 Sumatera Selatan 908, ,469 38, Bengkulu 121,754 99,473 (22,281) (18.30) 8Lampung 679, , , Bangka Belitung 63,126 57,346 (5,780) (9.16) 10 Kepulauan Riau 121, DKI Jakarta 1,716,756 1,716, Jawa Barat 5,095,454 5,123,430 27, Jawa Tengah 5,049,739 4,718,584 (331,155) (6.56) 14 DI Yogyakarta 579, , Jawa Timur 4,368,812 4,593, , Banten 658, ,543 79, Bali 636, ,201 9, Nusa Tenggara Barat 535, ,081 (18,698) (3.49) 19 Nusa Tenggara Timur 351, ,479 4, Kalimantan Barat 292, ,809 48, Kalimantan Tengah 167, ,037 1, Kalimantan Selatan 284, ,683 2, Kalimantan Timur 356, ,571 10, Sulawesi Utara 368, ,778 61, Sulawesi Tengah 217, ,236 10, Sulawesi Selatan 1,089,499 1,133,976 44, Sulawesi Tenggara 171, ,563 3, Gorontalo 97,181 98,579 1, Sulawesi Barat 82, Maluku 144, ,967 4, Papua 194, ,633 (55,588) (28.62) 32 Maluku Utara 57,963 51,243 (6,720) (11.59) 33 Irian Jaya Barat 58,938 27,282,658 27,523, , *) Angka Sementara 27,660,905 Hal menarik yang menjadi catatan kami dalam menganalisis perkembangan jumlah koperasi, pertumbuhan koperasi aktif, perkembangan koperasi tidak aktif dan perkembangan jumlah anggota yaitu dimana 4 (empat) propinsi dengan pertumbuhan jumlah koperasi terbesar tidak selalu diikuti menjadi propinsi dengan pertumbuhan koperasi aktif terbesar dan propinsi dengan perkembangan jumlah anggota terbesar. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa peningkatan jumlah koperasi aktif sebagian besar disumbang oleh tumbuhnya koperasi baru, bukan dari berkembangnya koperasi tidak aktif menjadi aktif. Hal tersebut berdampak juga pada perkembangan jumlah anggota. Disisi lain dengan adanya otonomi daerah yang berdampak terjadinya pemekaran daerah kabupaten/kota, sehingga berdampak juga pada terkendalanya laporan perkembangan koperasi dari daerah. Kabupaten/kota yang pada tahun 2003 belum sempat melaporkan ke propinsi, pada tahun 2004 sudah dapat melaporkan, sehingga berdampak adanya peningkatan yang cukup signifikan. Dengan mengacu pada gambaran di atas, menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap keberadaan koperasi mulai meningkat terutama pada daerah-daerah yang memiliki potensi besar untuk berkembang. Indikator peningkatan animo masyarakat terhadap keberadaan koperasi juga dibarengi dengan tingkat kesadaran masyarakat dalam 20 9

14 berkoperasi, hal GAMBAR-4 JUMLAH KOP. AKTIF DAN KOP. AKTIF YANG TELAH MELAKSANAKAN RAT TAHUN 2003 & 2004 (dalam unit) ini dapat terlihat Kop Aktif juga pada Kop. Aktif yang telah RAT pelakasanaan RAT, dimana (47,61% ) (49,58% ) pada periode pelaksanaan - RAT mengalami peningkatan sebanyak unit koperasi atau 3,69 persen. 18 (delapan belas) propinsi dari 33 (tiga puluh tiga) propinsi yang melapor pada tahun 2003 dan 2004, terjadi peningkatan pelaksanaan RAT, propinsipropinsi tersebut adalah : Lampung sebanyak 375 unit atau 151,21 persen; Sumatera Barat sebanyak 258 unit atau 30,53 persen; Kalimantan Barat sebanyak 116 unit atau 28,71 persen; Nusa Tenggara Timur sebanyak 196 unit atau 28,36 persen; Bali sebanyak 269 unit atau 28,23 persen; DKI Jakarta sebanyak 541 unit atau 23,65 persen; Gorontalo sebanyak 37 unit atau 19,27 persen; Sulawesi Tengah sebanyak 62 unit atau 18,08 persen; Jambi sebanyak 166 unit atau 16,82 persen; Sumatera Utara sebanyak 301 unit atau 16,51 persen; Sulawesi Utara sebanyak 177 unit atau 16,43 persen; TABEL - 2 PERKEMBANGAN KOPERASI PER PROPINSI SELURUH INDONESIA TAHUN 2003 (Unit) 2004 (Unit) *) No PROPINSI Aktif Tidak Aktif JML Koperasi Aktif Tidak Aktif JML Aktif Tidak Aktif JML % % % N A D 3, ,752 3,153 1,683 4,836 (653) (17.16) Sumatera Utara 5,558 1,525 7,083 4,672 2,885 7,557 (886) (15.94) 1, Sumatera Barat 2, ,878 2, ,962 (57) (2.53) Riau 3,326 1,079 4,405 2,549 1,236 3,785 (777) (23.36) (620) (14.07) 5Jambi 1, ,273 1, , Sumatera Selatan 2, ,109 2, , (41) (5.62) Bengkulu Lampung 1, ,634 1, , (11) (1.31) Bangka Belitung (7) (1.90) (2) (0.41) 10 Kepulauan Riau , DKI Jakarta 3,220 3,336 6,556 3,576 3,141 6, (195) (5.85) Jawa Barat 13,396 4,646 18,042 13,283 5,612 18,895 (113) (0.84) Jawa Tengah 11,497 2,854 14,351 11,778 3,494 15, DI Yogyakarta 1, ,911 1, ,950 (43) (2.55) Jawa Timur 12,528 3,383 15,911 11,685 5,182 16,867 (843) (6.73) 1, Banten 3,271 1,520 4,791 3,261 1,740 5,001 (10) (0.31) Bali 1, ,084 2, , Nusa Tenggara Barat 1, ,228 2, , Nusa Tenggara Timur 1, ,182 1, , Kalimantan Barat 2, ,659 2, ,775 (93) (4.16) Kalimantan Tengah 1, ,725 1, ,852 (17) (1.37) Kalimantan Selatan 1, ,761 1, , Kalimantan Timur 2, ,722 2, , Sulawesi Utara 3,024 1,739 4,763 3,072 1,845 4, Sulawesi Tengah , , Sulawesi Selatan 5,117 1,129 6,246 5,244 1,238 6, Sulawesi Tenggara 1, ,769 1, , (24) (6.80) Gorontalo Sulawesi Barat Maluku ,266 1, , Papua 1, , ,545 (619) (40.75) (130) (16.77) (749) (32.65) 32 Maluku Utara Irian Jaya Barat ,800 29, ,181 93,402 37, ,730 (398) (0.42) 7, , *) Angka Sementara 93,978 15, ,

15 18 Sumatera Selatan sebanyak 119 unit atau sebanyak 10,07 persen; Kalimantan Tengah sebanyak 60 unit atau 9,68 persen; Sulawesi Selatan sebanyak 224 unit atau 5,50 persen; Nusa Tenggara Barat sebanyak 54 unit atau 5,16 persen; Jawa Barat sebanyak 255 unit atau 4,75 persen; Banten sebanyak 40 unit atau 2,02 persen; dan Bangka Belitung sebanyak 1 unit atau 0,46 persen. Sedangkan propinsi selebihnya mengalami penurunan. Gambaran rinci pelaksanaan RAT disajikan pada tabel-4. Dari empat indikator GAMBAR-5. TENAGA KERJA KOPERASI NASIONAL TAHUN 2003 & 2004 (dalam orang) perkembangan koperasi TOTAL NAKER yang telah dijelaskan, Org TOTAL NAKER keberadaan koperasi Org sebagai badan usaha Manajer di seluruh daerah Karyawan diharapkan dapat memberikan peluang bagi terbukanya TH 2003 TH 2004 lapangan kerja baru di sebagian anggota masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan perkembangan penyerapan tenaga kerja sebagai manajer dan karyawan koperasi periode secara nasional yang mengalami peningkatan sebanyak orang atau 27,16 persen. manajer dilaporkan meningkat sebanyak orang atau 13,13 persen 11 Lanjutan Tabel - 1 NO PROPINSI ASAL MODAL PINJAMAN UTAMA Bank Koperasi Lemb. Non Bank Modal ventura Perorangan Keluarga/ Famili Lainnya JUMLAH NUSA TENGGARA , , , , , , , NTB , , , , , , , NTT , , , , , ,904 KALIMANTAN , , , , , , , KALBAR , , , , , , KALTENG , , , , , , KALSEL , ,985-2, , , , , KALTIM , , , , , ,244 SULAWESI , , , , , , , , SULUT , , , , , , SULTENG , , , , , , , SULSEL , , , , , , , , SULTRA , , , , , , GORONTALO - 2, ,516-1,524-1,151-7,461 MALUKU & PAPUA , , , , , , , MALUKU ,286-1, , , , PAPUA 449 2, , , , MALUT , ,432-3,352 TOTAL , , , , , , , ,160,782 Sumber : BPS (SUSI 2001 dan 2002)

16 sedangkan jumlah karyawan meningkat sebanyak orang atau 28,93 persen. Walaupun secara nasional terjadi peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja, namun masih terdapat beberapa propinsi yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja seperti; Papua sebanyak orang atau 41,02 persen; NAD sebanyak 574 orang atau 8,78 persen; dan Riau sebanyak 981 orang atau 17,61 persen. Gambaran rinci perkembangan tenaga kerja koperasi aktif disajikan tabel-11. PERKEMBANGAN USAHA KOPERASI SECARA NASIONAL PERIODE Perkembangan usaha koperasi yang dicerminkan oleh indikator keuangan koperasi seperti, modal sendiri, modal luar, volume usaha dan sisa hasil usaha koperasi periode memberikan gambaran perkembangan yang tidak jauh berbeda dengan perkembangan kelembagaan. Perkembangan modal sendiri koperasi memberikan pencerminan kewajiban anggota dalam membayar simpanan pokok dan simpanan wajib kepada koperasi. Dengan perkembangan jumlah anggota sebanyak orang atau 0,88 persen, modal sendiri meningkat sebesar Rp ,34 juta atau 27,28 persen NO PROPINSI TABEL - 1 BANYAKNYA USAHA TIDAK BERBADAN HUKUM YANG PERNAH MEMANFAATKAN PINJAMAN MENURUT PROPINSI DAN ASAL MODAL PINJAMAN UTAMA TAHUN 2003 DAN 2004 ASAL MODAL PINJAMAN UTAMA Bank Koperasi Lemb. Non Bank Modal Ventura Perorangan Keluarga/ Famili Lainnya SUMATERA , , , , , , , ,716 1 NAD , , , ,884 JUMLAH 2 SUMUT , , , , , , ,624 3 SUMBAR , , , , , , ,994 4 RIAU , , , , ,124 5 JAMBI , , , , , ,115 6 SUMSEL , , , , , ,929 7 BENGKULU , , , , , ,287 8 LAMPUNG , , , , , , ,707 9 BABEL , ,607-6,052 JAWA & BALI , , , , , , , ,376, DKI JAKARTA , , , , , , , , JABAR , , , , , , , , JATENG , , , , , , , , DIY , , , , , , , JATIM , , , , , , , , BANTEN - 8,978-2,701-6,522-1,570-33,773-16,585-14,217-84, BALI , , , , , , , ,537

17 Jawa Barat sebesar Rp ,52 juta atau 428,31 persen; Sulawesi Tengah sebesar Rp ,00 juta atau 172,05 persen; dan Kalimantan Tengah sebesar Rp ,11 juta atau 88,93 persen. Propinsi dengan penurunan jumlah sisa hasil usaha terbesar adalah : Lampung, sebesar Rp ,22 juta atau 93,78 persen; Bangka Belitung yaitu sebesar Rp ,52 juta atau 76,10 persen; dan NAD yaitu sebesar Rp ,15 juta atau 74,30 persen. GAMBAR-7. JUMLAH VOLUME USAHA DAN SISA HASIL USAHA (SHU) KOPERASI NASIONAL TAHUN 2003 & 2004 (dalam Rp. Juta) Volume usaha SHU Propinsi dengan perkembangan jumlah modal sendiri terbesar adalah : Sulawesi Tenggara sebesar Rp ,00 juta atau 186,91 persen; Kalimantan Barat sebesar Rp ,74 juta atau 132,76 persen; dan Jawa Barat sebesar Rp ,02 juta atau 110,28 persen. Propinsi yang mengalami penurunan modal sendiri adalah : Kalimantan Timur sebesar Rp ,21 juta atau 75,98 persen; Bengkulu sebesar Rp ,37 juta atau 46,14 persen; dan Sulawesi Tengah sebesar Rp ,00 juta atau 44,99 persen. Jika diteliti lebih jauh terhadap data perkembangan modal sendiri koperasi, terlihat adanya indikasi perubahan dalam struktur keanggotaan yang ada, yaitu adanya perubahan yang besar terhadap jumlah anggota yang keluar dan yang baru masuk menjadi anggota. Gambaran tersebut terlihat pada propinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Untuk lebih jelasnya gambaran perubahan struktur modal sendiri disajikan pada tabel

18 Dalam hal modal TOTAL MODAL Rp jt luar koperasi, TOTAL MODAL Modal Luar Rp jt perkembangannya Modal Sendiri dirasakan sangat kecil, dimana pada periode yang sama perkembangan modal TH 2003 TH 2004 luar secara nasional tercatat hanya mencapai 13,10 persen atau Rp ,20 juta. Propinsi dengan perkembangan jumlah modal luar terbesar adalah: GAMBAR-6. JUMLAH PERMODALAN KOPERASI TAHUN 2003 & 2004 (dalam Rp. juta) Jambi sebesar Rp ,65 juta atau 87,43 persen; Nusa Tenggara Barat sebesar Rp ,10 juta atau 79,40 persen; dan Maluku sebesar Rp ,00 juta atau 72,92 persen. Propinsi dengan penurunan jumlah modal luar adalah : Bangka Belitung sebesar Rp ,35 juta atau 61,04 persen; Lampung yaitu sebesar Rp ,81 juta atau 39,84 persen; dan Kalimantan Tengah sebesar Rp ,17 juta atau 15,47 persen. Disisi lain, perkembangan transaksi usaha koperasi yang dicerminkan oleh besarnya nilai volume usaha koperasi pada periode yang sama, tercatat mengalami perkembangan sebesar 18,83 persen atau Rp ,65 juta. Propinsi dengan perkembangan volume usaha koperasi terbesar adalah : Sulawesi Tengah sebesar Rp ,00 juta atau 92,13 persen; DI Yogyakarta sebesar Rp ,44 juta atau 57,50 persen; dan Kalimantan Barat sebesar Rp ,59 juta atau 56,19 persen. Propinsi dengan penurunan jumlah volume usaha terbesar adalah : NAD sebesar Rp ,83 juta atau 51,70 persen; Bangka Belitung sebesar Rp ,37 juta atau 46,00 persen; dan Kalimantan Selatan sebesar Rp ,00 juta atau 11,51 persen. Dari perkembangan volume usaha koperasi, perkembangan sisa hasil usaha koperasi nasional mengalami peningkatan sebesar 15,62 persen atau Rp ,84 juta. Propinsi dengan perkembangan sisa hasil usaha terbesar adalah : 14 15

d. Anggota Koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi serta tercatat dalam buku daftar anggota.

d. Anggota Koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi serta tercatat dalam buku daftar anggota. PENGERTIAN DAN BATASAN a. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016 No. 11/02/82/Th. XVI, 1 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016 GINI RATIO DI MALUKU UTARA KEADAAN SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,309 Pada September 2016, tingkat ketimpangan

Lebih terperinci

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL Triwulan IV - 2016 Harga Properti Residensial pada Triwulan IV-2016 Meningkat Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan IV-2016 tumbuh sebesar 0,37% (qtq), sedikit

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN BADAN PUSAT STATISTIK No.06/02/81/Th.2017, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO MALUKU PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,344 Pada September 2016,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI, USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI, USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI, USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH Oleh: DR. Syarief Hasan, MM. MBA. Menteri Negara Koperasi dan UKM Pada Rapimnas Kadin Yogyakarta, 3 4 Oktober 2012 UMKM DALAM

Lebih terperinci

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan. S ensus Penduduk, merupakan bagian terpadu dari upaya kita bersama untuk mewujudkan visi besar pembangunan 2010-2014 yakni, Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan. Keberhasilan

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 13/02/12/Th. XX, 06 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA UTARA SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,312 Pada ember

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Oleh : Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian *) Disampaikan

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN Pembangunan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Tahun 2016 PERUMAHAN PERBATASAN LAIN2 00 NASIONAL 685.00 1,859,311.06 46,053.20 4,077,857.49 4,523.00 359,620.52 5,293.00 714,712.50 62,538.00 1,344,725.22

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara, baik negara ekonomi berkembang maupun negara ekonomi maju. Selain pergeseran

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN DISAMPAIKAN OLEH : DEPUTI SESWAPRES BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN, SELAKU

Lebih terperinci

PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI

PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia PEMBINAAN KELEMBAGAAN KOPERASI Oleh: DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN Pada Acara : RAPAT KOORDINASI TERBATAS Jakarta, 16 Mei 2017 ISI 1 PEMBUBARAN

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 No. 28/05/17/VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I-2016

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROGRAM LISTRIK PERDESAAN DI INDONESIA: KEBIJAKAN, RENCANA DAN PENDANAAN Jakarta, 20 Juni 2013 DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KONDISI SAAT INI Kondisi

Lebih terperinci

EVALUASI KEGIATAN FASILITASI PUPUK DAN PESTISIDA TAHUN 2013

EVALUASI KEGIATAN FASILITASI PUPUK DAN PESTISIDA TAHUN 2013 KEMENTERIAN PERTANIAN EVALUASI KEGIATAN FASILITASI PUPUK DAN PESTISIDA TAHUN 2013 DIREKTUR PUPUK DAN PESTISIDA DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN Pada Konsolidasi Hasil Pembangunan PSP

Lebih terperinci

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1 Pembahasan 1. Makna Ekonomi Politik 2. Makna Pemerataan 3. Makna Mutu 4. Implikasi terhadap

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 13/02/52/Th VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2016 Penjelasan Umum Badan Pusat Statistik melakukan Survei

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) (Metode Baru) Kecuk Suhariyanto Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI Jakarta, 7 September 2015 SEJARAH PENGHITUNGAN IPM 1990: UNDP merilis IPM Human Development

Lebih terperinci

Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini

Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini Uzair Suhaimi uzairsuhaimi.wordpress.com Judul artikel perlu klarifikasi. Pertama, istilah penduduk merujuk pada penduduk Indonesia

Lebih terperinci

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015 Workshop Perencanaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2015

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Lebih terperinci

PETA KEMAMPUAN KEUANGAN PROVINSI DALAM ERA OTONOMI DAERAH:

PETA KEMAMPUAN KEUANGAN PROVINSI DALAM ERA OTONOMI DAERAH: PETA KEMAMPUAN KEUANGAN PROVINSI DALAM ERA OTONOMI DAERAH: Tinjauan atas Kinerja PAD, dan Upaya yang Dilakukan Daerah Direktorat Pengembangan Otonomi Daerah deddyk@bappenas.go.id Abstrak Tujuan kajian

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK BANTEN SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK BANTEN SEPTEMBER 2016 MENURUN No.12/02/Th.XI, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK BANTEN SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,392 Pada ember 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS 148 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Deskriptif Statistik Guru PAIS A. Tempat Mengajar Pendataan Guru PAIS Tahun 2008 mencakup 33 propinsi. Jumlah

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT No. 42 / IX / 14 Agustus 2006 PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005 Dari hasil Susenas 2005, sebanyak 7,7 juta dari 58,8 juta rumahtangga

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 NO CABOR PROVINSI PELAKSANAAN KONTAK PERSON 1 Atletik DKI Jakarta 3 s.d 7 Agustus 2016 2 Dayung RIAU 22 s.d 27 Oktober 2016 Pak Sanusi Hp. 081275466550 3 Gulat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN UPSUS PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2015 Bahan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional 3 4 Juni 2015 KEMENTERIAN PERTANIAN

Lebih terperinci

DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN Drs. Braman Setyo, M.Si

DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN Drs. Braman Setyo, M.Si KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN Drs. Braman Setyo, M.Si Dalam Acara : Rapat Koordinasi Terbatas Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Hotel Royal Kuningan, Jl. Kuningan

Lebih terperinci

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA No. 01/08/53/TH.XIV, 5 AGUSTUS PERTUMBUHAN EKONOMI NTT TRIWULAN II TUMBUH 5,21 PERSEN Pertumbuhan ekonomi NTT yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan II tahun

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011 TABEL 1 GAMBARAN UMUM No. Provinsi Lembaga Pengelola Pengunjung Judul Buku 1 DKI Jakarta 75 83 7.119 17.178 2 Jawa Barat 1.157 1.281 72.477 160.544 3 Banten 96 88 7.039 14.925 4 Jawa Tengah 927 438 28.529

Lebih terperinci

VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN

VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN Pada bab V telah dibahas potensi dan kesesuaian lahan untuk seluruh komoditas pertanian berdasarkan pewilayahan komoditas secara nasional (Puslitbangtanak,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi,

Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia pada Hotel Bintang Menurut Provinsi, yang Tersedia pada Menurut, 2000-2015 2015 yang Tersedia pada ACEH 17 1278 2137 SUMATERA UTARA 111 9988 15448 SUMATERA BARAT 60 3611 5924 RIAU 55 4912 7481 JAMBI 29 1973 2727 SUMATERA SELATAN 61 4506 6443

Lebih terperinci

KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN

KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN JAKARTA, 26 Maret 2014 2 Agenda

Lebih terperinci

Deskripsi dan Analisis

Deskripsi dan Analisis 1 Deskripsi dan Analisis APBD 2012 ii Deskripsi dan Analisis APBD 2012 Daftar Isi DAFTAR ISI...iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GRAFIK... vii KATA PENGANTAR... xi EKSEKUTIF SUMMARY...xiii BAB I PENDAHULUAN...1

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017 MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

2

2 2 3 c. Pejabat Eselon III kebawah (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN HALFDAY FULLDAY FULLBOARD (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN No.60/Kpts/RC.110/4/08 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN No.60/Kpts/RC.110/4/08 TENTANG KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN.60/Kpts/RC.0//08 TENTANG SATUAN BIAYA MAKSIMUM PEMBANGUNAN KEBUN PESERTA PROGRAM REVITALISASI PERKEBUNAN DI LAHAN KERING TAHUN 008 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN TA Pusat Ketersediaan Dan Kerawanan Pangan Bali, Juni 2014

RENCANA KEGIATAN TA Pusat Ketersediaan Dan Kerawanan Pangan Bali, Juni 2014 RENCANA KEGIATAN TA.2015 Pusat Ketersediaan Dan Kerawanan Pangan Bali, Juni 2014 1 o. Sub Kegiatan Vol. A Penanganan Rawan Pangan 1 Pengembangan Desa Mandiri Pangan (Demapan) 1) Pembinaan lanjutan Demapan

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 5 LAMPIRAN I TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010

Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Profil Keaksaraan: Hasil Sensus Penduduk 2010 Razali Ritonga, MA razali@bps.go.id Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik 15 SEPTEMBER 2012 1 PENGANTAR SENSUS: Perintah

Lebih terperinci

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN

KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN KUALIFIKASI TAMBAHAN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN i.oetama Marsis PB. IKATAN DOKTER INDONESIA Diajukan dalam Rakornas KKI,Bandung, 10-13 Agustus 2015 PENDAHULUAN Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI i SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional berperan penting

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/09/17/I, 1 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,357 Daerah Perkotaan 0,385 dan Perdesaan 0,302 Pada

Lebih terperinci

2 menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.05/2014 tentang Pelaksanaan Sistem Perbendahar

2 menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.05/2014 tentang Pelaksanaan Sistem Perbendahar BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 2100, 2014 KEMENKEU. Perbendaharaan. Anggaran Negara. Sistem. Pelaksanaan. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 278/PMK.05/2014 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009 Jl Terusan Lembang, D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id METODOLOGI Quick

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

STATUS GIZI. Website:

STATUS GIZI. Website: STATUS GIZI Baku Standar yang Digunakan 1 Anak balita WHO Anthropometri 2005 2 Anak umur 5-18 th WHO Anthropometri 2007 (5-19 th) 3 Risiko KEK WUS (LiLA 90, P >80) 5 Status

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : SE-07/PJ/2016 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : SE-07/PJ/2016 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : SE-07/PJ/2016 TENTANG PENETAPAN TARGET DAN STRATEGI PENCAPAIAN RASIO KEPATUHAN WAJIB

Lebih terperinci

KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN

KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DENGAN DUKUNGAN FASILITAS LIKUIDITAS PEMBIAYAAN PERUMAHAN (KPR-FLPP) PUSAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN JAKARTA, 26 Maret 2014 2 Agenda

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 1 I. Aspek Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2009 2013 Komoditas

Lebih terperinci