BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Data yang berhasil dikumpulkan dan akan digunakan pada penelitian ini merupakan data statistik yang diperoleh dari a. Biro Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta : Data jumlah dan laju petumbuhan penduduk Indonesia berdasarkan propinsi tahun Data PDRB dan laju petumbuhan PDRB Indonesia berdasarkan propinsi tahun b. PT Angkasa Pura II Bandar Udara Soekarno-Hatta. Data jumlah pesawat yang datang dan berangkat dari Jakarta menurut masing-masing maskapai penerbangan berdasarkan kota-kota di Indonesia. Data jumlah penumpang yang datang dan berangkat dari Jakarta menurut masing-masing maskapai penerbangan berdasarkan kota-kota di Indonesia Data Penerbangan Berikut ini adalah data penerbangan ini diperoleh dari PT Angkasa Pura II Bandar Udara Soekarno-Hatta yang telah diklasifikasikan berdasarkan propinsi-propinsi di Indonesia :

2 34 a. Jumlah Penumpang Tabel 4.1a : Jumlah Penumpang Terminal Domestik di Bandara Soekarno-Hatta No Propinsi Penumpang ke Jakarta Penumpang dari Jakarta (orang) (orang) 1 Aceh 18,535 22,561 2 Sumut 1,167,074 1,043,168 3 Sumbar 1,132,730 1,015,521 4 Riau 707, ,313 5 Jambi 280, ,020 6 Sumsel 507, ,501 7 Bengkulu 117, ,870 8 Lampung 87,732 68,145 9 Bangka & Belitung DKI Jakarta Jabar Jateng 667, , DI Yogyakarta 796, , Jatim 1,742,205 1,559, Banten Bali 860, , NTB 18,657 17, NTT 18,670 20, Kalbar 423, , Kalteng 56,154 47, Kalsel 260, , Kaltim 396, , Sulut 157, , Sulteng 20,259 18, Sulsel 629, , Sultra Gorontalo 722 1, Maluku 13,831 25, Maluku Utara Papua 57,271 82, Lain-lain 45,025 46,975

3 35 b. Jumlah Pesawat Tabel 4.1b : Jumlah Pesawat pada Terminal Domestik Bandara Soekarno-Hatta No Propinsi Pesawat ke Jakarta Pesawat dari Jakarta (unit) (Unit) 1 Aceh Sumut 9,643 9,768 3 Sumbar 9,599 9,599 4 Riau 6,323 6,424 5 Jambi 2,905 2,902 6 Sumsel 4,722 4,685 7 Bengkulu 1,334 1,343 8 Lampung 1,140 1,139 9 Bangka & Belitung DKI Jakarta Jabar Jateng 7,681 1, DI Yogyakarta 8,244 8, Jatim 17,796 17, Banten Bali 9,345 8, NTB NTT Kalbar 4,502 4, Kalteng Kalsel 3,238 2, Kaltim 4,779 5, Sulut 2,531 2, Sulteng Sulsel 7,564 7, Sultra Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua 3,074 4, Lain-lain 1,420 1,429

4 Data Sosial Ekonomi a. Penduduk Data penduduk yang digunakan adalah data penduduk tahun 2004, data penduduk ini berfungsi untuk memprediksi jumlah penduduk di tahun-tahun mendatang, yang akhirnya data tersebut digunakan untuk memprediksi jumlah penumpang pesawat terbang yang menuju Jakarta pada tahun-tahun selanjutnya. Tabel 4.1c : Data Penduduk Indonesia Berdasarkan Propinsi Tahun 2004 No Propinsi Penduduk Laju Pertumbuhan (Ribuan Jiwa) Penduduk (%) 1 Aceh 4, Sumut 12, Sumbar 4, Riau 5, Jambi 2, Sumsel 6, Bengkulu 1, Lampung 7, Bangka & Belitung 1, DKI Jakarta 8, Jabar 38, Jateng 32, DI Yogyakarta 3, Jatim 36, Banten 9, Bali 3, NTB 4, NTT 4, Kalbar 4, Kalteng 1, Kalsel 3, Kaltim 2, Sulut 2, Sulteng 2, Sulsel 8, Sultra 1, Gorontalo Maluku 1, Maluku Utara Papua 2,

5 37 b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Data PDRB yang digunakan adalah data PDRB tahun 2004, data PDRB ini berfungsi untuk memprediksi nilai PDRB di tahun-tahun mendatang, yang akhirnya data tersebut digunakan untuk memprediksi jumlah penumpang pesawat terbang yang menuju Jakarta pada tahun-tahun selanjutnya. Tabel 4.1d : Data PDRB Indonesia Berdasarkan Propinsi Tahun 2004 No Propinsi PDRB Laju (Jutaan Rupiah) Pertumbuhan (%) 1 Aceh 41,901, Sumut 117,744, Sumbar 36,718, Riau 114,188, Jambi 17,939, Sumsel 64,617, Bengkulu 7,638, Lampung 36,199, Bangka & Belitung 9,140, DKI Jakarta 321,818, Jabar 283,339, Jateng 186,530, DI Yogyakarta 21,382, Jatim 292,322, Banten 71,971, Bali 27,697, NTB 23,022, NTT 10,884, Kalbar 28,960, Kalteng 18,708, Kalsel 25,071, Kaltim 127,115, Sulut 15,022, Sulteng 14,019, Sulsel 47,073, Sultra 10,231, Gorontalo 2,793, Maluku 3,952, Maluku Utara 2,177, Papua 32,848,

6 Data Jarak Jarak memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menentukan proyeksi banyaknya pengguna pesawat terbang. Berikut ini adalah data jarak dari Jakarta ke ibukota propinsi-propinsi di Indonesia. Tabel 4.1e : Jarak Ibukota Propinsi dari Jakarta No Propinsi Jarak (Km) 1 Aceh 1,267 2 Sumut 1,008 3 Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Bangka & Belitung DKI Jakarta - 11 Jabar Jateng DI Yogyakarta Jatim Banten Bali NTB NTT 1, Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut 1, Sulteng 1, Sulsel 1, Sultra 1, Gorontalo 1, Maluku 1, Maluku Utara 1, Papua 2,606

7 Pengolahan Data Modifikasi Data Penerbangan Modifikasi data penerbangan ini perlu dilakukan karena pada data penerbangan yang didapatkan, ditemukan adanya sejumlah penumpang dan pesawat yang tidak jelas aslanya (untuk perjalanan kedatangan) atau tujuannya (untuk perjalanan keberangkatan). Pada langkah ini penumpang dan pesawat tersebut akan didistribusikan ke masingmasing propinsi sesuai dengan proporsinya. Untuk mendistribusikannya digunakan rumus : a. Jumlah Penumpang Pn' d Pn Pn + ΣPn LL = d d d xpn..(4.1) Dimana : Pn d Pn d Pn LL = Jumlah penumpang dalam 1 daerah yang telah didistribusi = Jumlah penumpang dalam 1 daerah sebelum didistribusi = Jumlah penumpang lain-lain Contoh perhitungan : Ditribusi penumpang Propinsi Aceh : Pn d Pn LL = orang = orang Σ Pn d = orang

8 Pn' d = x = = orang Berikut ini adalah tabel jumlah penumpang yang sudah didistribusikan : Tabel 4.2a : Jumlah Penumpang ke Jakarta yang Telah Didistribusikan No Propinsi Penumpang ke Jakarta Penumpang dari Jakarta (orang) (orang) 1 Aceh 18,617 22,679 2 Sumut 1,172,256 1,048,604 3 Sumbar 1,137,759 1,020,813 4 Riau 711, ,551 5 Jambi 282, ,266 6 Sumsel 509, ,760 7 Bengkulu 117, ,401 8 Lampung 88,122 68,500 9 Bangka & Belitung DKI Jakarta Jabar Jateng 670, , DI Yogyakarta 800, , Jatim 1,749,940 1,567, Banten Bali 864, , NTB 18,740 17, NTT 18,753 20, Kalbar 425, , Kalteng 56,403 47, Kalsel 261, , Kaltim 398, , Sulut 158, , Sulteng 20,349 18, Sulsel 632, , Sultra Gorontalo 725 1, Maluku 13,892 26, Maluku Utara Papua 57,525 82,928

9 41 b. Jumlah Pesawat Ps LL Ps' d = Psd + xpsd...(4.2) ΣPsd Dimana : Ps d Ps d Ps LL = Jumlah pesawat dalam 1 daerah yang telah didistribusi = Jumlah pesawat dalam 1 daerah sebelum didistribusi = Jumlah pesawat lain-lain Contoh perhitungan : Ditribusi pesawat Propinsi Aceh : Ps d Ps LL = 517 unit = 1420 unit Σ Ps d = unit 1420 Pn' d = x = = 524 unit Berikut ini adalah tabel jumlah pesawat yang sudah didistribusikan : Tabel 4.2b : Jumlah Pesawat ke Jakarta yang Telah Didistribusikan No Propinsi Pesawat ke Jakarta Pesawat dari Jakarta (unit) (unit) 1 Aceh Sumut 9,769 9,903 3 Sumbar 9,725 9,731 4 Riau 6,406 6,513 5 Jambi 2,943 2,942 6 Sumsel 4,784 4,750

10 42 No Propinsi Pesawat ke Jakarta Pesawat dari Jakarta (unit) (unit) 7 Bengkulu 1,351 1,362 8 Lampung 1,155 1,155 9 Bangka & Belitung DKI Jakarta Jabar Jateng 7,782 1, DI Yogyakarta 8,352 8, Jatim 18,029 17, Banten Bali 9,467 8, NTB NTT Kalbar 4,561 4, Kalteng Kalsel 3,280 2, Kaltim 4,842 5, Sulut 2,564 3, Sulteng Sulsel 7,663 8, Sultra Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua 3,114 4, Prediksi Pertumbuhan Penduduk Untuk memprediksi jumlah penduduk masing-masing propinsi di Indonesia untuk tahun-tahun berikutnya, digunakan rumus : Pn ) n = P0 (1 + i..(4.3) Dimana : Pn Po = Jumlah Penduduk tahun ke-n = Jumlah penduduk saat ini i = Laju pertumbuhan penduduk (%)

11 43 Contoh perhitungan : Proyeksi jumlah penduduk Propinsi Aceh Pn = 4089 jiwa i = 0,01 n = 2 Maka jumlah penduduk Aceh tahun 2006 : Pn = 4089 (1+0,01) 2 = 4089 (1,0201) = 4171 jiwa Hasil prediksi jumlah penduduk tahun-tahun selanjutnya dapat dilihat pada lampiran Prediksi Pertumbuhan PDRB Untuk memprediksi angka PDRB masing-masing propinsi di Indonesia untuk tahun-tahun berikutnya, digunakan rumus : Pn ) n = P0 (1 + i..(4.4) Dimana : Pn Po = Angka PDRB tahun ke-n = Angka PDRB saat ini i = Laju pertumbuhan PDRB (%)

12 44 Contoh perhitungan : Proyeksi nilai PDRB Propinsi Aceh tahun 2006 Pn = juta rupiah i = - 0,061 n = 2 Maka nilai PDRB Propinsi Aceh tahun 2006 : Pn = (1-0,061) 2 = (0,881721) = juta rupiah Hasil prediksi nilai PDRB tahun-tahun selanjutnya dapat dilihat pada lampiran PDRB per Kapita PDRB per kapita akan menunjukan kemampuan ekonomi setiap orang dalam suatu daerah, untuk mencari nilai PDRB per kapita, digunakan rumus : PDRB PDRB / kpt =...(4.5) Jmlpenduduk Contoh perhitungan : PDRB per kapita Jakarta tahun 2006 PDRB = ,94 juta Jml Penduduk = jiwa PDRB / kpt = juta = (rupiah)

13 45 Angka ini berarti pada tahun 2006 rata-rata penghasilan masyarakat Jakarta adalah Rp ,- per tahun. Hasil prediksi nilai PDRB per kapita tahun-tahun selanjutnya dapat dilihat pada lampiran Analisis Korelasi Koefisien korelasi menunjukkan tingkat keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya, baik antara variabel tidak bebas dengan variabel bebas atau antara sesama variabel bebas. Dengan bantuan program SPSS, dapat diperoleh : Tabel 4.2c : Koefisien Korelasi Y X 1 X 2 X 3 Y X X X Dimana : Y X 1 X 2 X 3 = Jumlah penumpang ke Jakarta = Jumlah penduduk = PDRB per kapita = Jarak Dari Tabel 4.2c, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Jumlah penduduk dan PDRB per kapita memiliki koefisien korelasi yang bernilai positif, artinya jumlah penduduk dan PDRB per kapita berbanding lurus dengan

14 46 jumlah penumpang ke Jakarta, sehingga jika terjadi peningkatan jumlah penduduk dan PDRB per kapita, maka jumlah penumpang ke Jakarta juga akan mengalami peningkatan. Jarak memiliki koefisien korelasi yang bernilai negatif, artinya jarak berbanding terbalik dengan jumlah penumpang ke Jakarta. Jarak merupakan fungsi penghambat dalam melakukan perjalanan. Jumlah penduduk, PDRB per kapita, dan jarak memiliki koefisien korelasi yang kecil, sehingga ketiga variabel tersebut dapat disatukan dalam satu persamaan Prediksi Jumlah Penumpang Pesawat Terbang Persamaan regresi yang akan dihasilkan akan berbentuk Y = Co. X 1. X 2. X 3. X 4. D n yang merupakan pengembangan dari persamaan T O D. f ( C ) yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Dimana : id i. d id Y Co X 1 X 2 X 3 X 4 D = Jumlah penumpang pesawat terbang menuju Jakarta = Koefisien regresi = Jumlah penduduk daerah tujuan tahun tertentu = PDRB per kapita daerah tujuan tahun tertentu = Jumlah penduduk Jakarta tahun tertentu = PDRB per kapita Jakarta tahun tertentu = Jarak dari Jakarta ke daerah tujuan

15 47 Untuk menentukan persamaan regresi yang tepat, harus dilakukan uji terhadap koefisien determinasi (R²) untuk berbagai kemungkinan nilai n. Koefisien determinasi akan menunjukkan keakuratan dari persamaan regresi yang dihasilkan. Oleh sebab itu perlu dicari nilai n dengan koefisien determinasi yang paling besar. Berikut ini adalah analisis koefisien determinasi untuk berbagai nilai n yang didapatkan menggunakan metoda trial & error dengan memanfaatkan program SPSS. Tabel 4.2d : Koefisien Determinasi Propinsi-propinsi di Indonesia n R Karena R 2 yang dihasilkan tidak cukup tinggi (tertinggi = 0,656), maka dirasakan perlu dilaksanankan modifikasi atas model. Penyebab kurang tingginya R 2 diperkirakan karena karakteristik daerah yang sangat beragam dilihat dari aksesbilitasnya dari Jakarta. Daerah di Pulau Jawa misalnya, sangat mudah diakses dengan kendaraan darat. Daerah di Sumatera lebih sulit diakses melalui jalan darat namun masih memungkinkan. Sedangkan daerah lainnya tidak bisa diakses dari Jakarta dengan kendaraan darat. Berhubung analisa ini tidak mencakup tahap pemilihan moda, maka perlu dilakukan pembedaan atas 3 jenis daerah tersebut. Analisa selanjutnya dibagi menjadi 3, dengan masing-masing menggunakan model yang berbeda.

16 48 Analisa dan model dibedakan atas zona asalnya (untuk perjalanan kedatangan) sebagai berikut : Model 1 untuk penumpang dari Pulau Jawa dan Bali, karena wilayah Jawa dan Bali masih dapat ditempuh dengan menggunakan moda darat atau laut. Model 2 untuk penumpang dari Pulau Sumatra, karena wilayah Sumatra masih dapat ditempuh dengan menggunakan moda darat dan moda laut tetapi relatif lebih sulit dibandingkan wilayah Jawa dan Bali. Model 3 untuk penumpang dari pulau-pulau lain di Indonesia, karena wilayah ini tidak dapat ditempuh dengan menggunakan moda darat. Dengan pembagian atas 3 model yang berbeda, didapatkan bahwa koefisien determinasi menjadi lebih tinggi, sebagaimana ditunjukkan di bawah ini : a. Model 1 : Penumpang dari Pulau Jawa dan Bali Tabel 4.2e : Koefisien Determinasi Model 1 n R Berdasarkan Tabel 4.2e, maka nilai n yang dipakai adalah 2.9 Tabel 4.2f : Data untuk Menghitung Persamaan Regresi Pulau Jawa dan Bali Propinsi Y X 1 X 2 X 3 X 4 D D 2.9 Jateng 670,377 36,779,205 8,750 5,731,808 32, ,446 Yogya 800,331 36,779,205 8,750 6,634,250 3, ,570 Jatim 1,749,940 36,779,205 8,750 8,012,790 36, ,708 Bali 864,062 36,779,205 8,750 8,153,597 3, ,871

17 49 Berdasarkan Tabel 4.2f, dapat diperoleh persamaan regresi : Y = 3,25 x X 1. X 2. X 3. X 4. D 2,9... (4.6) Dimana : Y X 1 X 2 X 3 X 4 D = Jumlah penumpang pesawat terbang menuju Jakarta = Jumlah penduduk daerah tujuan tahun tertentu = PDRB per kapita daerah tujuan tahun tertentu = Jumlah penduduk Jakarta tahun tertentu = PDRB per kapita Jakarta tahun tertentu = Jarak dari Jakarta ke daerah tujuan Contoh perhitungan : Penumpang dari Bali pada tahun 2006 X 1 X 2 X 3 X 4 D = (rupiah) = jiwa = (rupiah) = jiwa = 706 km Y = 3,25 x ( ).( 3528). ( ).( 8951). (706) 2,9 = orang Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada bagian lampiran

18 50 b. Model 2: Penumpang dari Pulau Sumatra Tabel 4.2g : Koefisien Determinasi Model 2 N R Berdasarkan Tabel 4.2g, maka nilai n yang dipakai adalah 0,2 Tabel 4.2h : Data untuk Menghitung Persamaan Regresi Pulau Sumatra Propinsi Y X 1 X 2 X 3 X 4 D D 0,2 Aceh 18,617 36,779,205 8,750 10,247,380 4, Sumut 1,172,256 36,779,205 8,750 9,712,478 12, Sumbar 1,137,759 36,779,205 8,750 8,096,665 4, Riau 711,020 36,779,205 8,750 19,991,009 5, Jambi 282,004 36,779,205 8,750 6,834,233 2, Sumsel 509,537 36,779,205 8,750 9,749,175 6, Bengkulu 117,724 36,779,205 8,750 4,931,158 1, Lampung 88,122 36,779,205 8,750 5,124,566 7, Berdasarkan Tabel 4.2h, dapat diperoleh persamaan regresi : Dimana : Y = 7,07 x X 1. X 2. X 3. X 4. D 0, (4.7) Y X 1 X 2 X 3 X 4 D = Jumlah penumpang pesawat terbang menuju Jakarta = Jumlah penduduk daerah tujuan tahun tertentu = PDRB per kapita daerah tujuan tahun tertentu = Jumlah penduduk Jakarta tahun tertentu = PDRB per kapita Jakarta tahun tertentu = Jarak dari Jakarta ke daerah tujuan

19 51 Contoh perhitungan : Penumpang dari Aceh pada tahun 2006 X 1 X 2 X 3 X 4 D = (rupiah) = jiwa = (rupiah) = jiwa = km Y = 7,07 x ( ).( 4171). ( ).( 8951). (1267) 0,2 = orang Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada bagian lampiran c. Model 3: Penumpang dari Pulau Lain di Indonesia Tabel 4.2i : Koefisien Determinasi Model 3 N R Berdasarkan Tabel 4.2i, maka nilai n yang dipakai adalah -1,8

20 52 Tabel 4.2j : Data untuk Menghitung Persamaan Regresi Pulau Lain Di Indonesia Propinsi Y X 1 X 2 X 3 X 4 D D -1,8 NTB 18,740 36,779,205 8,750 5,637,137 4, E-06 NTT 18,753 36,779,205 8,750 2,619,054 4,156 1, E-06 Kalbar 425,243 36,779,205 8,750 7,180,811 4, E-05 Kalteng 56,403 36,779,205 8,750 10,004,411 1, E-06 Kalsel 261,836 36,779,205 8,750 7,769,171 3, E-06 Kaltim 398,390 36,779,205 8,750 45,956,268 2, E-06 Sulut 158,495 36,779,205 8,750 6,958,186 2,159 1, E-06 Sulteng 20,349 36,779,205 8,750 6,222,794 2,253 1, E-06 Sulsel 632,747 36,779,205 8,750 5,624,698 8,369 1, E-06 Sultra ,779,205 8,750 5,320,475 1,923 1, E-06 Gorontalo ,779,205 8,750 3,114, , E-06 Maluku 13,892 36,779,205 8,750 3,177,424 1,244 1, E-06 Maluku Utara ,779,205 8,750 2,493, , E-06 Papua 57,525 36,779,205 8,750 13,055,798 2,516 2, E-07 Berdasarkan Tabel 4.2j, dapat diperoleh persamaan regresi : Dimana : Y = 3,04 x X 1. X 2. X 3. X 4. D -1,8.. (4.8) Y X 1 X 2 X 3 X 4 D = Jumlah penumpang pesawat terbang menuju Jakarta = Jumlah penduduk daerah tujuan tahun tertentu = PDRB per kapita daerah tujuan tahun tertentu = Jumlah penduduk Jakarta tahun tertentu = PDRB per kapita Jakarta tahun tertentu = Jarak dari Jakarta ke daerah tujuan Contoh perhitungan : Penumpang dari NTB pada tahun 2006 X 1 X 2 = (rupiah) = jiwa

21 53 X 3 X 4 D = (rupiah) = jiwa = 792 km Y = 3,04 x ( ).( 4.122). ( ).( 8.951). ( 792) -1,8 = orang Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada bagian lampiran Prediksi Jumlah Penumpang pada Terminal Domestik Berdasarkan hasil penerapan model 1,2,dan 3 dengan asumsi bahwa jumlah penumpang pada terminal domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah 2 kali jumlah penumpang yang menuju ke Jakarta, didapatkan : Tabel 4.2k : Tabel Jumlah Penumpang pada Terminal Domestik Tahun Penumpang ke Jakarta / tahun (orang) Penumpang pada terminal/tahun (orang) ,114,478 20,228, ,184,208 22,368, ,373,901 24,747, ,697,156 27,394, ,169,225 30,338, ,807,010 33,614, ,628,990 37,257, ,656,501 41,313, ,912,690 45,825, ,422,725 50,845, ,217,644 56,435, ,327,529 62,655, ,789,807 69,579, ,644,468 77,288, ,936,352 85,872,703

22 54 Tahun Penumpang ke Jakarta / tahun (orang) Penumpang pada terminal/tahun (orang) ,715,555 95,431, ,036, ,072, ,962, ,924, ,563, ,126, ,915, ,831, Analisa Standar yang ada saat ini adalah sebagai berikut : Standar Direktorat Jendral Perhubungan Udara (DJU) : Terminal Internasional Terminal Domestik : 17 m² / penumpang : 14 m² / penumpang Standar ini adalah standar resmi yang digunakan di Indonesia yang berlaku apabila parameter-parameter rancangan adalah normal untuk kondisi Indonesia. Ada pula standar lain yaitu standar IATA, namun standar ini tidak digunakan di Indonesia. Standar IATA : Excellent Level Service High Level Service Good Level Service : 2,7 m² / penumpang : 2,3 m² / penumpang : 1,9 m² / penumpang

23 55 Menurut data yang ada, luas terminal domestik pada Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang terdiri dari terminal A,B,C,dan F adalah m², dan rata-rata jumlah penumpang pada jam sibuk terminal domestik diasumsikan 10 % dari jumlah penumpang per hari, maka luas untuk masing-masing penumpang dapat dihitung menggunakan rumus : LT Lp =, maka dapat persamaan dapat disederhanakan menjadi ( Y / 365) x10% LT Lp = 365x (4.9) Y Dimana : Lp L T Y = Luas untuk 1 orang penumpang = Luas Terminal = Jumlah penumpang per tahun Contoh perhitungan : Luas penumpang tahun 2006 : L T = m² Y = orang Lp = 365x = 36,41 m²/penumpang (Memenuhi standart DJU) Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

24 56 Tabel 4.3a : Prediksi Jumlah Penumpang ke Jakarta Tahun Penumpang / tahun pada terminal (orang) Pen/hari (orang) Pen / jam sibuk (orang) Luas/pen (m2/pen) Keterangan ,228,957 55,422 5, Memenuhi standart DJU ,368,417 61,283 6, Memenuhi standart DJU ,747,801 67,802 6, Memenuhi standart DJU ,394,312 75,053 7, Memenuhi standart DJU ,338,450 83,119 8, Memenuhi standart DJU ,614,021 92,093 9, Memenuhi standart DJU ,257, ,077 10, Memenuhi standart DJU ,313, ,186 11, Memenuhi standart DJU ,825, ,549 12, Memenuhi standart DJU ,845, ,303 13, Memenuhi standart DJU ,435, ,617 15, Tidak Memenuhi standart DJU ,655, ,658 17, Tidak Memenuhi standart DJU ,579, ,629 19, Tidak Memenuhi standart DJU ,288, ,751 21, Tidak Memenuhi standart DJU ,872, ,268 23, Tidak Memenuhi standart DJU ,431, ,455 26, Tidak Memenuhi standart DJU ,072, ,611 29, Tidak Memenuhi standart DJU ,924, ,081 32, Tidak Memenuhi standart DJU ,126, ,251 35, Tidak Memenuhi standart DJU ,831, ,539 39, Tidak Memenuhi standart DJU Grafik 4.3a Tahun Vs Kapasitas Kapasitas (m2/pen) Tahun

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK) KONSEP 1 Masyarakat Anak Pendidikan Masyarakat Pendidikan Anak Pendekatan Sektor Multisektoral Multisektoral Peserta Didik Pendidikan Peserta Didik Sektoral Diagram Venn:

Lebih terperinci

INDONESIA Percentage below / above median

INDONESIA Percentage below / above median National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta

Lebih terperinci

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website: AKSES PELAYANAN KESEHATAN Tujuan Mengetahui akses pelayanan kesehatan terdekat oleh rumah tangga dilihat dari : 1. Keberadaan fasilitas kesehatan 2. Moda transportasi 3. Waktu tempuh 4. Biaya transportasi

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 2012, No.659 6 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS 5 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum No. 11/02/94/Th. VII, 6 Februari 2017 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/02/18 TAHUN VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017 A. Penjelasan Umum 1. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) I-2017 No. 27/05/94/Th. VII, 5 Mei 2017 Indeks Tendensi

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1.

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VII, 5 Mei 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2017 SEBESAR 101,81

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/05/Th. XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013 KONDISI BISNIS DAN EKONOMI KONSUMEN MENINGKAT A. INDEKS TENDENSI BISNIS A. Penjelasan

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan Subdit Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Aplikasi SIM PERSAMPAHAN...(1)

Lebih terperinci

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung 2.11.3.1. Santri Berdasarkan Kelas Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Tingkat Ulya No Kelas 1 Kelas 2 1 Aceh 19 482 324 806 2 Sumut 3 Sumbar 1 7-7 4 Riau 5 Jambi 6 Sumsel 17 83 1.215 1.298 7 Bengkulu

Lebih terperinci

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT Tujuan dari pemetaan dan kajian cepat pemetaan dan kajian cepat prosentase keterwakilan perempuan dan peluang keterpilihan calon perempuan dalam Daftar Caleg Tetap (DCT) Pemilu 2014 adalah: untuk memberikan

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2016 No. 25/05/94/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi konsumen terkini yang dihasilkan

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH Deskriptif Statistik Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pendataan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Tahun 2007-2008 mencakup 33 propinsi,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th. VI, 5 Agustus 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website: PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan upaya kesehatan/memperbaiki keadaan kesehatan yang

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 46/05/Th. XVIII, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2015 KONDISI BISNIS MENURUN NAMUN KONDISI EKONOMI KONSUMEN SEDIKIT MENINGKAT A. INDEKS

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/08/18/Th.VII, 7 Agustus 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN II-2017 SEBESAR

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN No. 10/02/91 Th. VI, 6 Februari 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui

Lebih terperinci

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *) Oleh : Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian *) Disampaikan

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18/Th. VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2016 SEBESAR

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan

Lebih terperinci

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

DATA INSPEKTORAT JENDERAL DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 45/08/61/Th. XV, 6 Agustus 2012 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN II- 2012 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan Barat pada II-2012 sebesar 109,62;

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KALIMANTAN TENGAH. 07 November 2016

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KALIMANTAN TENGAH. 07 November 2016 BADAN PUSAT STATISTIK 07 November 2016 Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Tengah (Produk Domestik Regional Bruto) Indeks Tendensi Konsumen 7 November 2016 BADAN PUSAT STATISTIK Pertumbuhan

Lebih terperinci

KESEHATAN ANAK. Website:

KESEHATAN ANAK. Website: KESEHATAN ANAK Jumlah Sampel dan Indikator Kesehatan Anak Status Kesehatan Anak Proporsi Berat Badan Lahir, 2010 dan 2013 *) *) Berdasarkan 52,6% sampel balita yang punya catatan Proporsi BBLR Menurut

Lebih terperinci

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan http://simpadu-pk.bappenas.go.id 137448.622 1419265.7 148849.838 1548271.878 1614198.418 1784.239 1789143.87 18967.83 199946.591 294358.9 2222986.856

Lebih terperinci

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012 4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Jumlah Lembaga No. Provinsi PTAIN PTAIS Jumlah 1. Aceh 3 20 23 2. Sumut 2 40 42 3. Sumbar 3 19 22 4. Riau 1 22 23 5. Jambi 2 15 17 6. sumsel 1 13 14 7. Bengkulu

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 65 /11 /61 /Th. XVII, 5 November 2014 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III- 2014 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2014 Indeks Tendensi Konsumen

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Secara umum metodologi penelitian yang digunakan dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini : Start Data sosial, ekonomi dan jarak Pemodelan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol tersebut adalah

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Indeks Tendensi Konsumen Provinsi Bengkulu Triwulan III-2017 No. 71/XI/17/VII, 6 November 2017 BERITA RESMI STATISTIK PROVINSI BENGKULU Indeks Tendensi Konsumen Provinsi Bengkulu Triwulan III - 2017 Indeks

Lebih terperinci

Disabilitas. Website:

Disabilitas. Website: Disabilitas Konsep umum Setiap orang memiliki peran tertentu = bekerja dan melaksanakan kegiatan / aktivitas rutin yang diperlukan Tujuan Pemahaman utuh pengalaman hidup penduduk karena kondisi kesehatan

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 13/02/52/Th VII, 6 Februari 2017 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2016 Penjelasan Umum Badan Pusat Statistik melakukan Survei

Lebih terperinci

CEDERA. Website:

CEDERA. Website: CEDERA Definisi Cedera Cedera merupakan kerusakan fisik pada tubuh manusia yang diakibatkan oleh kekuatan yang tidak dapat ditoleransi dan tidak dapat diduga sebelumnya Definisi operasional: Cedera yang

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN III TAHUN 2016 SEBESAR 109,22

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN III TAHUN 2016 SEBESAR 109,22 No. 66/11/17/VI, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN III TAHUN 2016 SEBESAR 109,22 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan

Lebih terperinci

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA 5 LAMPIRAN I TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS TRANSMIGRASI NOMOR PER.07/MEN/IV/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014

HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat. Tahun Ajaran 2013/2014 HASIL Ujian Nasional SMP - Sederajat Tahun Ajaran 213/21 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 13 Juni 21 1 Ringkasan Hasil Akhir UN - SMP Tahun 213/21 Peserta UN 3.773.372 3.771.37 (99,9%) ya

Lebih terperinci

KONDISI WILAYAH. A. Geografis Garis Lintang : LU LS Garis Bujur : 106º º58 18

KONDISI WILAYAH. A. Geografis Garis Lintang : LU LS Garis Bujur : 106º º58 18 KONDISI WILAYAH A. Geografis Garis Lintang : 5 19 12 LU - 6 23 54 LS Garis Bujur : 106º22 42-106º58 18 B. Batas Wilayah Batas Barat : Propinsi Banten Batas Timur : Propinsi Jawa Barat Batas Utara : Laut

Lebih terperinci

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) F INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014) Kemampuan Siswa dalam Menyerap Mata Pelajaran, dan dapat sebagai pendekatan melihat kompetensi Pendidik dalam menyampaikan mata pelajaran 1

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Assalamu alaikum Wr. Wb. Sambutan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Assalamu alaikum Wr. Wb. Sebuah kebijakan akan lebih menyentuh pada persoalan yang ada apabila dalam proses penyusunannya

Lebih terperinci

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017 - Direktur Otonomi Daerah Bappenas - Temu Triwulanan II 11 April 2017 1 11 April 11-21 April (7 hari kerja) 26 April 27-28 April 2-3 Mei 4-5 Mei 8-9 Mei Rakorbangpus

Lebih terperinci

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik

Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik Kuliah 1 Memahami Arti Penting Mempelajari Studi Implementasi Kebijakan Publik 1 Implementasi Sebagai bagian dari proses/siklus kebijakan (part of the stage of the policy process). Sebagai suatu studi

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

C UN MURNI Tahun

C UN MURNI Tahun C UN MURNI Tahun 2014 1 Nilai UN Murni SMP/MTs Tahun 2014 Nasional 0,23 Prov. Sulbar 1,07 0,84 PETA SEBARAN SEKOLAH HASIL UN MURNI, MENURUT KWADRAN Kwadran 2 Kwadran 3 Kwadran 1 Kwadran 4 PETA SEBARAN

Lebih terperinci

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016

TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 TUAN RUMAH KEJURNAS ANTAR PPLP TAHUN 2016 NO CABOR PROVINSI PELAKSANAAN KONTAK PERSON 1 Atletik DKI Jakarta 3 s.d 7 Agustus 2016 2 Dayung RIAU 22 s.d 27 Oktober 2016 Pak Sanusi Hp. 081275466550 3 Gulat

Lebih terperinci

PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012

PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012 No Kode PAGU SATUAN KERJA DITJEN BINA MARGA 2012 Nama Satuan Kerja Pagu Dipa 1 4497035 DIREKTORAT BINA PROGRAM 68,891,505.00 2 4498620 PELAKSANAAN JALAN NASIONAL WILAYAH I PROVINSI JATENG 422,599,333.00

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 No. 28/05/17/VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2016 SEBESAR 100,57 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2016 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I-2016

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Inflai BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 74/11/52/Th VII, 7 November 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN III-2016 A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN. Website:

KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN. Website: KESEHATAN INDERA PENGLIHATAN PENDENGARAN Pendahuluan Indera penglihatan dan pendengaran saja Data prevalensi kebutaan dan ketulian skala nasional perlu diperbarui Keterbatasan waktu untuk pemeriksaan mata

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008 Oleh : Asep Sjafrudin, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PERTUMBUHAN, KEMISKINAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN Pertumbuhan ekonomi Kemiskinan Distribusi pendapatan konsep konsep konsep ukuran ukuran Data-data Indonesia

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data Gambaran dari peubah mata kuliah, IPK dan nilai Ujian Nasional yang ditata sesuai dengan mediannya disajikan sebagai boxplot dan diberikan pada Gambar. 9 3 Data 6

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK RISET KESEHATAN DASAR 2 BLOK KESEHATAN ANAK JENIS DATA Jenis data yang disajikan : berat badan lahir kepemikilan KMS dan Buku KIA, penimbangan balita, kapsul vitamin A, pemberian ASI proses mulai menyusui

Lebih terperinci

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015 Penilaian Status Capaian Pelaksanaan Kegiatan/ Program Menurut e-monev DJA CAPAIAN KINERJA

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan 4 GAMBARAN UMUM 4.1 Kinerja Fiskal Daerah Kinerja fiskal yang dibahas dalam penelitian ini adalah tentang penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah, yang digambarkan dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota

Lebih terperinci

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota) DISTRIBUSI PENCAPAIAN IPM PROVINSI TAHUN 2013 Tahun 2013 Tahun 2013 DKI DIY Sulut Kaltim Riau Kepri Kalteng Sumut Sumbar Kaltara Bengkulu Sumsel Jambi Babel

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat ini

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif. Pada saat

Lebih terperinci

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya No Kategori Satuan Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Babel Kepri Potensi Lahan Ha Air 76.7 0 7.9 690.09 0.9 60. 069.66 767.9 79.6. Air

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TERPADU PENANGGULANGAN KEMISKINAN

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TERPADU PENANGGULANGAN KEMISKINAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TERPADU PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAFTAR ISI Kondisi Umum Program Kesehatan... 1 1. Jumlah Kematian Balita dan Ibu pada Masa Kehamilan, Persalinan atau NifasError! Bookmark not

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

Kesehatan Gigi danmulut. Website: Kesehatan Gigi danmulut Latar Belakang Survey gigi bersifat nasional Dilaksanakan secara periodik yaitu : SKRT 1995 SKRT 2001 SKRT 2004 RISKESDAS 2007 RISKESDAS 2013 Data diperlukan untuk advokasi, peremcanaan,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN IV TAHUN 2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN IV TAHUN 2015 No. 12/02/17/VI, 5 Februari 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN IV TAHUN 2015 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2015 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan IV-2015 di

Lebih terperinci

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website: FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL RUANG LINGKUP Obat dan Obat Tradisional (OT) Obat Generik (OG) Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) TUJUAN 1. Memperoleh informasi tentang jenis obat

Lebih terperinci

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF

LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF LAPORAN QUICK COUNT PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009 Jl Terusan Lembang, D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (021) 3919582, Fax (021) 3919528 Website: www.lsi.or.id, Email: info@lsi.or.id METODOLOGI Quick

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Disampaikan pada: SEMINAR NASIONAL FEED THE WORLD JAKARTA, 28 JANUARI 2010 Pendekatan Pengembangan Wilayah PU Pengembanga n Wilayah SDA BM CK Perkim BG AM AL Sampah

Lebih terperinci

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA

TABEL 1 LAJU PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA (Persentase) Triw I 2011 Triw II Semester I 2011 LAPANGAN USAHA No. 01/08/53/TH.XIV, 5 AGUSTUS PERTUMBUHAN EKONOMI NTT TRIWULAN II TUMBUH 5,21 PERSEN Pertumbuhan ekonomi NTT yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan II tahun

Lebih terperinci

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN SEKILAS TENTANG IGI Indonesia Governance Index (IGI) adalah pengukuran kinerja tata kelola pemerintahan (governance) di Indonesia yang sangat komprehensif.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN

PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI WILAYAH PESISIR/NELAYAN DISAMPAIKAN OLEH : DEPUTI SESWAPRES BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN, SELAKU

Lebih terperinci

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS

DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS DESKRIPTIF STATISTIK GURU PAIS 148 Statistik Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Deskriptif Statistik Guru PAIS A. Tempat Mengajar Pendataan Guru PAIS Tahun 2008 mencakup 33 propinsi. Jumlah

Lebih terperinci

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan

4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA

Lebih terperinci

INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017

INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 Nomor : 048/08/63/Th.XX, 15 Agustus 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 INDEKS KEBAHAGIAAN KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2017 SEBESAR 71,99 (SKALA 0-100) Kebahagiaan Kalimantan Selatan tahun

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 No. 14 / 03 / 94 / Th. VII, 2 Maret 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 Nilai Tukar Petani Papua pada Februari 2015 sebesar 97,12 atau mengalami kenaikan 0,32

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita atau Gross National

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita atau Gross National 1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi dimaknai sebagai suatu proses di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah

Lebih terperinci

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor), Babi Aceh 0.20 0.20 0.10 0.10 - - - - 0.30 0.30 0.30 3.30 4.19 4.07 4.14 Sumatera Utara 787.20 807.40 828.00 849.20 871.00 809.70 822.80 758.50 733.90 734.00 660.70 749.40 866.21 978.72 989.12 Sumatera

Lebih terperinci

DRAF APK-APM PENDIDIKAN TAHUN 2017

DRAF APK-APM PENDIDIKAN TAHUN 2017 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DRAF APK-APM PENDIDIKAN TAHUN 2017 Cutoff data tanggal 30-Nov-2017 PDSPK, Setjen Kemendikbud Jakarta, 11 Desember 2017 DRAF APK-APM PENDIDIKAN TAHUN AJARAN 2017/2018

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN BADAN PUSAT STATISTIK No.06/02/81/Th.2017, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO MALUKU PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,344 Pada September 2016,

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2015

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2015 No. 30/05/17/V, 5 Mei 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2015 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2015 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2015 di Provinsi

Lebih terperinci