10. Transformasi Fourier

dokumen-dokumen yang mirip
12. Teorema Inversi Fourier dan Transformasi Fourier di L 2 (R)

7. Transformasi Fourier

13. Aplikasi Transformasi Fourier

11. Konvolusi. Misalkan f dan g fungsi yang terdefinisi pada R. Konvolusi dari f dan g adalah fungsi f g yang didefinisikan sebagai.

Fourier Analysis & Its Applications in PDEs - Part I

0. Pendahuluan. 0.1 Notasi dan istilah, bilangan kompleks

Fourier Analysis & Its Applications in PDEs - Part II

MA3231 Analisis Real

11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS)

4. Deret Fourier pada Interval Sebarang dan Aplikasi

17. Transformasi Wavelet Kontinu dan Frame

BAB V KEKONVERGENAN BARISAN PADA DAN KETERKAITAN DENGAN. Pada subbab 4.1 telah dibahas beberapa sifat dasar yang berlaku pada koleksi

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

Hendra Gunawan. KK Analisis & Geometri FMIPA-ITB. Bandung, Maret 2001 [Edisi Revisi II: Mei 2014]

MA3231 Analisis Real

4. Deret Fourier pada Interval Sebarang dan Aplikasi

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

BAB III INTEGRAL LEBESGUE. Pada bab sebelumnya telah disebutkan bahwa ruang dibangun oleh

5.1 Fungsi periodik, fungsi genap, fungsi ganjil

Analisis Fourier dan Wavelet

BAGIAN KEDUA. Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan

16. Analisis Multi Resolusi

asimtot.wordpress.com BAB I PENDAHULUAN

Keterbatasan Operator Riesz di Ruang Morrey

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I

10. TEOREMA NILAI RATA-RATA

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. October 3, Dosen FMIPA - ITB

16. BARISAN FUNGSI Barisan Fungsi dan Kekonvergenan Titik Demi Titik

INTERGRAL INTEGRAL TAK TENTU INTEGRAL SUBSTITUSI MENU

Daftar Isi 5. DERET ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. Dosen FMIPA - ITB September 26, 2011

8. Deret Fourier yang Diperumum dan Hampiran Terbaik di L 2 (a, b)

BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK

MA3231 Analisis Real

MA1201 KALKULUS 2A (Kelas 10) Bab 8: Bentuk Tak Tentu d

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world

KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia

Catatan Kuliah KALKULUS II BAB V. INTEGRAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3. Kekonvergenan Deret Fourier

BAB I DERIVATIF (TURUNAN)

BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR)

LIMIT DAN KEKONTINUAN

METODE GARIS SINGGUNG DALAM MENENTUKAN HAMPIRAN INTEGRAL TENTU SUATU FUNGSI PADA SELANG TERTUTUP [, ]

BAB IV DERET FOURIER

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Analisis Riil II: Diferensiasi

Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan

BAB III FUNGSI TERUKUR LEBESGUE. Setelah dibahas mengenai ukuran Lebesgue dan beberapa sifatnya pada

Bab 16. LIMIT dan TURUNAN. Motivasi. Limit Fungsi. Fungsi Turunan. Matematika SMK, Bab 16: Limit dan Turunan 1/35

Karena deret tersebut konvergen pada garis luarnya, kita dapat menukar orde integrasi dan penjumlahan pada ruas kanan.

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

: D C adalah fungsi kompleks dengan domain riil

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

BAB III FUNGSI YOUNG DAN KOMPLEMEN YOUNG

BAB I PENDAHULUAN. Integral Lebesgue merupakan suatu perluasan dari integral Riemann.

II. LANDASAN TEORI ( ) =

Dwi Lestari, M.Sc: Konvergensi Deret 1. KONVERGENSI DERET

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1

BAGIAN PERTAMA. Bilangan Real, Barisan, Deret

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

DEFINISI TIPE RIEMANN UNTUK INTEGRAL LEBESGUE 1. Drajad Maknawi 2 dan Muslich 3 Jurusan Matematika FMIPA UNS. Abstrak

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

Bagian 2 Matriks dan Determinan

Bab 2 Fungsi Analitik

Suku Banyak Chebyshev

VARIABEL KOMPLEKS SUMANANG MUHTAR GOZALI KBK ALJABAR & ANALISIS

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

Beberapa Pertidaksamaan Tipe Ostrowski

MA3231 Analisis Real

KALKULUS MULTIVARIABEL II

Bab III. Integral Fungsi Kompleks

Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar Tanggal 6 s.d. 19 Agustus 2004 di PPPG Matematika

KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL

SISTEM HUKUM KEKEKALAN LINEAR

TURUNAN, EKSTRIM, BELOK, MINIMUM DAN MAKSIMUM

KALKULUS MULTIVARIABEL II

MAT 602 DASAR MATEMATIKA II

SYARAT DIRICHLET. 1, 1 < t < 0

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Matematika

Kalkulus 2. Teknik Pengintegralan ke - 3. Tim Pengajar Kalkulus ITK. Institut Teknologi Kalimantan. Januari 2018

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA

BAB IV PERTIDAKSAMAAN. 1. Pertidaksamaan Kuadrat 2. Pertidaksamaan Bentuk Pecahan 3. Pertidaksamaan Bentuk Akar 4. Pertidaksamaan Nilai Mutlak

DASAR-DASAR TEORI RUANG HILBERT

KALKULUS (IT 131) Fakultas Teknologi Informasi - Universitas Kristen Satya Wacana. Bagian 4. Derivatif ALZ DANNY WOWOR

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f

FUNGSI KONTINU. sedemikian sehingga jika x adalah titik dari A (c), maka f (x) berada pada Vg (f (c)). (Lihat Gambar 5.1.1).

DERET FOURIER DAN APLIKASINYA DALAM FISIKA

Catatan Kuliah MA1123 KALKULUS ELEMENTER I BAB III. TURUNAN

MA3231 Analisis Real

Transkripsi:

10. Transformasi Fourier Dalam beberapa bab ke depan, kita akan membahas transformasi Fourier, sifatsifatnya, dan aplikasinya. Seperti halnya pada pembahasan deret Fourier, pendekatan yang diambil dalam pembahasan transformasi Fourier di sini sama pendekatan dalam buku Fourier Analysis and Its Applications karangan G.B. Folland (Wadsworth, 1992). 10.1 Pengantar yakni Pada Bab 4, kita telah membahas deret Fourier pada interval [ L, L] sembarang, f(x) = n= c n e inπx/l, x L, c n = 1 L f(x)e inπx/l dx, n N. 2L L Dengan sedikit modifikasi, kita dapat menuliskan ulang rumus di atas sebagai f(x) = 1 2L c n,l = L L n= c n,l e inπx/l, f(x)e inπx/l dx. Selanjutnya misalkan ξ := π L dan ξ n := n ξ = nπ L. Maka f(x) = 1 n= c n,l e iξ nx ξ, c n,l = L L f(x)e iξ nx dx. 43

Jika f(x) 0 cukup cepat untuk x, maka c n,l tidak akan berbeda banyak apabila daerah pengintegralannya diperluas dari [ L, L] ke (, ), yakni c n,l f(x)e iξ nx dx = f(ξ n ), n N. Dalam hal ini, f(x) 1 n= f(ξ n )e iξ nx ξ, x L. Ini mirip jumlah Riemann dari f pada (, ). Jika L, maka ξ 0 dan ξ n semakin memadati R, sehingga dapat digantikan = dan rumus di atas menjadi f(x) = 1 f(ξ) = f(ξ)e iξx dξ, x R, (1) f(x)e iξx dx, ξ R. (2) Kalkulasi ini tentu saja masih merupakan kalkulasi kasar, namun untuk f tertentu kalkulasi ini berlaku. Rumus (2) disebut transformasi Fourier dari f, dan rumus (1) merupakan rumus inversi Fourier, yang merupakan cara untuk memperoleh f kembali dari f yang akan kita buktikan kelak secara cermat. 10.2 Ruang L 1 (R) dan L 2 (R) Untuk merapikan definisi transformasi Fourier dan mempelajari sifat-sifatnya, kita perlu beberapa asumsi, istilah dan notasi. Pertama, fungsi yang akan kita bahas selnjutnya adalah fungsi yang terdefinisi pada R. Seperti ketika kita mendefinisikan deret Fourier, kita asumsikan bahwa f terintegralkan (mutlak) pada R. Untuk itu, kita definisikan ruang L 1 = L 1 (R) sebagai ruang semua fungsi f yang terintegralkan mutlak pada R, yakni L 1 := f : } f(x) dx <. Ruang L 1 dilengkapi norm 1 yang rumusnya adalah f 1 := 44 f(x) dx.

Sebagai perluasan dari L 2 (a, b), kita juga mendefinisikan ruang L 2 = L 2 (R) sebagai ruang semua fungsi f yang kuadratnya terintegralkan, yakni L 2 := f : } f(x) 2 dx <. Ruang L 2 dilengkapi norm 2 yang rumusnya adalah tinjau dan [ 1/2. f 2 := f(x) dx] 2 Catat bahwa tidak ada hubungan urutan di antara L 1 dan L 2. f(x) = g(x) = x 2/3, jika 0 < x < 1, 0, jika x lainnya x 2/3, jika x > 1, 0, jika x lainnya. Maka f L 1 tetapi f / L 2, sementara g L 2 tetapi g / L 1. Sebagai contoh, Walaupun demikian, ada dua fakta yang kelak berguna bagi kita mengenai kedua ruang ini, yaitu: (1) Jika f L 1 dan f terbatas pada R, maka f L 2. Persisnya f M f 2 M f f(x) 2 dx M f(x) dx <. (2) Jika f L 2 dan f bernilai 0 di luar suatu interval [a, b], maka f L 1. Persisnya f(x) dx = b a 1 f(x) dx (b a) 1/2[ b 1/2 f(x) dx] 2 <. a Catatan. Ruang L 1 dan L 2 merupakan kasus khusus dari ruang Lebesgue L p = L p (R), 1 p yang beranggotakan semua fungsi f sedemikian sehingga f(x) p dx <. 10.3 Transformasi Fourier Misalkan f L 1, yakni f 1 = f(x) dx <. Transformasi Fourier dari f, yang kita tuliskan sebagai f, didefinisikan oleh f(ξ) = R f(x)e iξx dx, ξ R. 45

Seperti halnya dalam pembahasan deret Fourier, pertanyaan kita adalah bagaimana kita dapat memperoleh f kembali dari f. Kesamaan (1) menyarankan kita untuk mendefinisikan invers transformasi Fourier dari g, yang dituliskan sebagai ǧ, sebagai ǧ(x) = 1 g(ξ)e ixξ dξ, x R. Teorema inversi Fourier, yang akan kita bahas nanti, menyatakan bahwa asalkan f dan f terintegralkan. R ( f)ˇ(x) = f(x), h.d.m. Sebelum sampai ke sana, kita pelajari dahulu sifat-sifat dasar transformasi Fourier. Teorema. Jika f L 1, maka f terbatas pada R. Bukti. Perhatikan bahwa untuk setiap ξ R berlaku f(ξ) e iξx f(x) dx = f(x) dx = f 1. Jadi f terbatas pada R, f := ess sup x R f(x) f 1. (QED) Teorema. Jika f L 1, maka f kontinu pada R. Bukti. Untuk setiap ξ dan h R, sehingga f(ξ + h) f(ξ) = f(ξ + h) f(ξ) e iξx (e ihx 1)f(x) dx, e ihx 1 f(x) dx. Integran di ruas kanan didominasi oleh 2 f(x) dan menuju 0 apabila h 0. Jadi, menurut Teorema Kekonvergenan Terdominasi Lebesgue, ruas kanan mestilah menuju 0 apabila h 0, dan akibatnya ruas kiri juga menuju 0 apabila h 0. (QED) Teorema (Riemann-Lebesgue) Jika f L 1, maka lim f(ξ) = 0. ξ Bukti. Perhatikan bahwa f(ξ) = f(x)e iξ(x+ π ξ ) dx = f(x π ξ )e iξx dx. Karena itu 2 f(ξ) = f(ξ) ( f(ξ)) = 46 ( f(x) f ( x π ξ ) ) e iξx dx,

sehingga 2 f(ξ) f(x) f ( x π ) dx. ξ Karena f L 1, maka (menggunakan kekontinuan dalam norma di L 1 ) ruas kanan akan menuju 0 apabila ξ. Dengan demikian ruas kiri pun mestilah menuju 0 apabila ξ. (QED) Akibat. Transformasi Fourier F memetakan fungsi f di L 1 ke fungsi Ff = f di C 0 (R). Catatan. C 0 (R) adalah ruang fungsi kontinu dan terbatas pada R limit nol di ±. Notasi Ff akan kita gunakan secara bergantian notasi f untuk menyatakan transformasi Fourier dari f. berikut. Berkenaan translasi dan dilasi, transformasi Fourier mempunyai sifat sebagai Teorema Misalkan f L 1 dan a R. (i) Jika g(x) := f(x a), maka ĝ(ξ) = e iaξ f(ξ); (ii) Jika g(x) := e iax f(x), maka ĝ(ξ) = f(ξ a). Selanjutnya, misalkan δ > 0. (iii) Jika g(x) := δ 1 f(x/δ), maka ĝ(ξ) = f(δξ); (iv) Jika g(x) = f(δx), maka ĝ(ξ) = δ 1 f(ξ/δ). Berkenaan operasi turunan dan perkalian peubah bebasnya, transformasi Fourier mempunyai sifat sebagai berikut. Teorema Misalkan f L 1. Jika f kontinu dan mulus bagian demi bagian pada R, dan f L 1, maka (f ) (ξ) = iξ f(ξ). Sebaliknya, jika g(x) := xf(x) terintegralkan mutlak pada R, maka ĝ(ξ) = i( f) (ξ). Berikut ini adalah beberapa contoh transformasi Fourier dari fungsi-fungsi tertentu. Contoh 1. Jika f = χ [ a,a] (a > 0), maka f(ξ) sin aξ = 2 ξ. Contoh 2. Jika f(x) = 1 x 2 +a 2 (a > 0), maka f(ξ) = π a e a ξ. 47

Contoh 3. Jika f(x) = e ax2 (a > 0), maka f(ξ) = a e ξ Contoh 1 dapat dihitung langsung, sementara Contoh 2 memerlukan teorema residu (untuk suatu integral fungsi kompleks yang berpadanan). Untuk Contoh 3, perhatikan 2 2a. bahwa f memenuhi persamaan diferensial f (x) + axf(x) = 0. Kenakan transformasi Fourier pada persamaan ini, kita peroleh persamaan diferensial yang dipenuhi oleh f, dan akhirnya kita peroleh rumus untuk f. 10.4 Soal Latihan 1. Buktikan dua teorema terakhir di atas. 2. Buktikan tiga contoh transformasi Fourier di atas. 48