BAB III SISTEM NUMERASI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ALOGARITMA DALAM OPERASI ARITMATIKA PENDAHULUAN

BAB V BILANGAN BULAT

BAB VI BILANGAN REAL

pangkatnya dari bilangan 10 yang dipangkatkan ( 1

BAB 1. Sistem Bilangan. 1.1 Pendahuluan

Mengenal Bilangan Bulat

BAB I BILANGAN. Skema Bilangan. I. Pengertian. Bilangan Kompleks. Bilangan Genap Bilangan Ganjil Bilangan Prima Bilangan Komposit

1. Nilai Tempat Bilangan s.d Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai

BILANGAN CACAH. b. Langkah 1: Jumlahkan angka satuan (4 + 1 = 5). tulis 5. Langkah 2: Jumlahkan angka puluhan (3 + 5 = 8), tulis 8.

Perpangkatan dan Akar

G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.

Ringkasan Materi Soal-soal dan Pembahasan MATEMATIKA. SD Kelas 4, 5, 6

Mengenal Bilangan Bulat

Saat menemui penjumlahan langsung pikirkan hasilnya dengan cepat lalu lakukan penjumlahan untuk setiap jawaban yang diperoleh.

1. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan bukan pecahan yang terdiri dari bilangan :

PEMBINAAN TAHAP I CALON SISWA INVITATIONAL WORLD YOUTH MATHEMATICS INTERCITY COMPETITION (IWYMIC) 2010 MODUL BILANGAN

VII. Bilangan Romawi BAB. Peta Konsep. Peta Konsep. Kata Kunci. Tujuan Pembelajaran. - Bilangan asli - Bilangan Romawi

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu bertemu yang namanya bilangan karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi,

134 Ayo Belajar Matematika Kelas IV

matematika PEMINATAN Kelas X PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN EKSPONEN K13 A. PERSAMAAN EKSPONEN BERBASIS KONSTANTA

08. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

Geometri di Bidang Euclid

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E)

EKSPLORASI BILANGAN. 1.1 BARISAN BILANGAN

Paket 2 BILANGAN BULAT DAN OPERASINYA

SISTEM BILANGAN BULAT

MATEMATIKA 1. Pengantar Teori Himpunan

Sifat 1 Untuksebarang bilangan rasional a tak nol dan sebarang bilangan bulat m dan n, berlaku a m. a m = a m + n

pengukuran waktu panjang dan berat

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. abstrak suatu objek. melalui konsep, diharapakan akan dapat menyederhanakan

penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

Aep Saepudin Babudin Dedi Mulyadi Adang. Gemar Belajar. Matematika. untuk Siswa SD/MI Kelas V

Bab. Bilangan Riil. A. Macam-Macam Bilangan B. Operasi Hitung pada. Bilangan Riil. C. Operasi Hitung pada Bilangan Pecahan D.

Bab 1. Bilangan Bulat. Standar Kompetensi. 1. Memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan pengunaannya dalam pemecahan masalah.

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

PENGERTIAN RING. A. Pendahuluan

Paten Pengertian Paten Prosedur Permohonan Dan Pendaftaran Paten

BAB I BILANGAN BULAT dan BILANGAN PECAHAN

BAB 5 Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar

CONTOH SOAL CONTOH SOAL CONTOH SOAL TENTUKAN JUMLAH DERET GEOMETRI TAK HINGGA BERIKUT

Operasi Hitung Bilangan 1

1. Membilang banyaknya benda dari 1 sampai dengan 10

a 2 e. 7 p 7 q 7 r 7 3. a. 8p 3 c. (2 14 m 3 n 2 ) e. a 10 b c a. Uji Kompetensi a. a c. x 3. a. 29 c. 2

BAB 1. PENDAHULUAN KALKULUS

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Matriks. Pada Kelas X, Anda telah mempelajari cara menyelesaikan sistem

Solusi Pengayaan Matematika Edisi 14 April Pekan Ke-2, 2006 Nomor Soal:

Melakukan Operasi Hitung Bilangan Bulat dalam Pemecahan Masalah

KALKULUS 1 UNTUK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA OLEH: DADANG JUANDI, DKK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB 2. HIMPUNAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER ILHAM SAIFUDIN PROGRAM STUDI MANAJEMEN INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK. Senin, 17 Oktober 2016

2 PECAHAN. Kata-Kata Kunci: jenis pecahan pengurangan pecahan bentuk pecahan perkalian pecahan penjumlahan pecahan pembagian pecahan

BAB 2 PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

matematika DISTRIBUSI VARIABEL ACAK DAN DISTRIBUSI BINOMIAL K e l a s A. Penarikan Sampel dari Suatu Populasi Kurikulum 2013 Tujuan Pembelajaran

GLOSSARIUM. A Akar kuadrat

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS

Modul ini adalah modul ke-1 dalam mata kuliah Matematika. Isi modul ini

INFORMASI PENTING. No 1 Bilangan Bulat. 2 Pecahan Bentuk pecahan campuran p dapat diubah menjadi pecahan biasa Invers perkalian pecahan adalah

SISTEM BILANGAN REAL

Teknik Menguadratkan Suatu Bilangan dengan Mudah Oleh: Pujiati

NOTASI ILMIAH DAN ANGKA PENTING

LOGIKA MATEMATIKA PENGERTIAN HIMPUNAN DAN OPERASI OPERASI DALAM HIMPUNAN. TITI RATNASARI, SSi., MSi. Modul ke: Fakultas ILKOM

MATEMATIKA BISNIS. Himpunan. Muhammad Kahfi, MSM. Modul ke: Fakultas Ekonomi Bisnis. Program Studi Manajemen.

Diktat Kuliah. Oleh:

LEMBAR AKTIVITAS SISWA MATRIKS

BAB 1 OPERASI PADA HIMPUNAN BAHAN AJAR STRUKTUR ALJABAR, BY FADLI

Soal-soal dan Pembahasan UAS Matematika SD/MI Tahun Pelajaran 2006/2007


DEKAK-DEKAK. Fungsi alat peraga : - Menjelaskan nilai tempat - Memperagakan operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan asli

Homepage : ekopujiyanto.wordpress.com HP :

Piramida Besar Khufu

BAB V BARISAN DAN DERET BILANGAN

Sumber: Kamus Visual, 2004

BILANGAN BULAT. Operasi perkalian juga bersifat tertutup pada bilangan Asli dan bilangan Cacah.

BAB ANGAN. Tujuan Pembelajaran. Pernahkan kamu bermain ular tangga? Ada angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Termasuk bilangan apa angka di ular tangga?

MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. bilangan riil. Bilangan riil biasanya dilambangkan dengan huruf R (Negoro dan

PEMETAAN SK - KD. Operasi Hitung Bilangan. Menentukan perkalian dengan bilangan 0 dan 1. Menentukan hasil pembagian dengan bilangan 0 dan 1

EKSPLORASI BILANGAN. 1.1 Barisan Bilangan

A. Pengertian dan Notasi Himpunan 1. Pengertian Himpunan Istilah kelompok, kumpulan, kelas, maupun gugus dalam matematika dikenal sebagai istilah

PERTEMUAN 5. Teori Himpunan

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

BILANGAN. Kita bisa menggunakan garis bilangan di bawah ini untuk memaknai penjumlahan 3 ditambah 4.

MATEMATIKA KONSEP DAN APLIKASINYA Untuk SMP/MTs Kelas VII

Keliling dan Luas. Keliling dan luas. Luas bangun datar. Mengenal kembali bangun persegi Menghitung luas persegi dan persegi panjang

Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

KALKULUS 1 HADI SUTRISNO. Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan. Hadi Sutrisno/P.Matematika/STKIP PGRI Bangkalan

BAB V HIMPUNAN. Himpunan adalah kumpulan benda-benda atau obyek yang mempunyai definisi yang jelas.

Bab. Bilangan Bulat. SUmber buku: bse.kemdikbud.go.id

Struktur Aljabar I. Pada bab ini disajikan tentang pengertian. grup, sifat-sifat dasar grup, ordo grup dan elemennya, dan konsep

SISTEM BILANGAN REPRESENTASI DATA

Bahan kuliah Matematika Diskrit. Himpunan. Oleh: Didin Astriani P, M.Stat. Fakultas Ilkmu Komputer Universitas Indo Global Mandiri

BARISAN DAN DERET TAK BERHINGGA

Bilangan Biner. Bentuk umum dari bilangan biner dan bilangan desimal adalah : Biner Desimal

KONSTRUKSI SISTEM BILANGAN

Induksi Matematika. Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik.

Himpunan Matematika Diskret (TKE132107) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

Transkripsi:

BAB III SISTEM NUMERASI PENDAHULUAN Sejak zaman dahulu kala, manusia berkepentingan dengan bilangan untuk menghitung banyaknya ternak yang dimiliki, mengukur luas sawahnya, untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Kebutuhan terhadap bilangan tersebut mulamula sederhana, tetapi makin lama makin meningkat, sehingga manusia perlu mengembangkan sistem numerasi. Sistem numerasi pun terus berkembang selama berabad-abad, dari masa ke masa hingga saat ini. Dengan mempelajari sejarah perkembangan sistem numerasi, notasi pangkat dan algoritma dalam operasi aritmetika, kita dapat lebih menghayati, lebih mengagumi para pendahulu kita. Betapa hebat dan uletnya para penemu yang hidup pada abad-abad yang silam. Betapa indah dan menakjubkannya penemuan-penemuan di dalam bidang matematika tersebut, sehingga kita bisa lebih mencintai dan lebih menyukai matematika yang oleh sebagian besar murid dianggap sebagai hal yang ditakuti. A. Beberapa Sistem Numerasi Sebelum membicarakan sistem numerasi, sebaiknya kita mengetahui apakah yang dimaksud dengan bilangan dan lambang bilangan. Perbedaan antara bilangan dan lambang bilangan adalah perbedaan antara objek dan nama objek tersebut. Nomor halaman yang Anda lihat pada halaman buku ini bukanlah suatu bilangan melainkan lambang bilangan. Lambang bilangan adalah simbol yang melambangkan suatu bilangan. Simbol yang digunakan untuk menyatakan atau menggambarkan suatu bilangan dapat bermacam-macam, misalnya 4; 2+2; 2.2; 3+1; dan sebagainya. Semua simbol tersebut menyatakan sebuah bilangan yang sama. Untuk membuat lambang bilangan digunakan simbol yang disebut angka. Bagian ini akan membicarakan beberapa macam angka yang digunakan untuk menyatakan bilangan dalam sistem nuinerasi. 47

Secara umum, sistem numerasi yang pertama-tama digunakan, merupakan sistem penjumlahan, sistem perkalian, dan sistem nilai tempat. Sistem penjumlahan yang mula-mula digunakan, dinyatakan dengan sekumpulan simbolsimbol. Sebuah bilangan yang dinyatakan dengan kumpulan simbol, merupakan jumlah dan bilangan-bilangan yang dinyatakan oleh masing-masing symbol. Misalnya : a. @ adalah simbol-simbol dalam sistem Mesir, artinya 111(100 + 10 + 1) b. XI adalah simbol-simbol dalam sistem Romawi yang artinya 1(10 + 1) Berikut ini akan dikenalkan beberapa sistem numerasi yang pernah digunakan dan dikembangkan oleh para pendahulu kita. 1. SistemTurus Salah satu sistem numerasi yang pertama-tama digunakan adalah sistem turus. Sistem ini menggunakan simbol tongkat untuk menyatakan suatu bilangan. Misalnya, menunjukkan bilangan 6 ternak. Hingga saat kini pun kita masih menggunakan sistem turus ini, misalnya untuk mencatat skor suatu pertandingan olahraga. Sebagai ilustrasi :5 dan, merupakan simbol-simbol yang menunjukkan bilangan yang sama. 2. Sistem Mesir Kuno Sistem numerasi. ini merupakan salah satu pelopor dan. sistem penjumlahan yang tercatat dalam sejarah yaltu ± 3000 S.M (Glenn, John and Litter, Graham dalam A Dictionary of Mathematics, 1984, p.58). Tulisan pada jaman Mesir (± 650 S.M) ditulis pada papyrus (dari kata papu, yaitu semacam tanaman) atau pada perkamen (kulit kambing). Sistem mi menggunakan simbol berupa gambar-gambar: 48

Gambar 3.1 Simbol-simbol dalam sistem Mesir dapat diletakkan dengan urutan sebarang, sehingga untuk menyatakan suatu bilangan yang sama dapat ditulis dengan beberapa cara. Dengan perkataan lain, sistem Mesir tidak mengenal nilai tempat (sedang dalam sistem yang kita gunakan, 43 nilainya berbeda dengan 34). Contoh 1 : 43 dapat ditulis sebagai: Contoh 2 : Dengan sistem Mesir mi, juga dapat dilakukan penjumlahan. Pada gambar 3.2 dapat dilihat prosedur mencari jumlah dua bilangan 397 dan 3845. (a) 397 3845 -------- + 4242 49

Gambar 3.2 Gambar 2.2. (a) menunjukkan penjumlahan dalam sistem Hindu Arab. Gambar 3.2. (b) menunjukkan penjumlahan dua bilangan yang sama dalam sistem Mesir. Catatan : Sebenarnya, apakah yang dilakukan dalam operasi penjwnlahan dengan menggunakan sistem Mesir di atas? Tak lain, hanyalah melakukan pengelompokan ulang. 10 tongkat ( I ) menjadi 1 tulang tumit ( ); 10 tulang tumit ( ) menjadi 1 gulungan ( @ ) 10 gulungan ( @ ) menjadi tanda 1 bunga teratai ( ) demikian seterusnya. Pada contoh Gb. 2.2 di atas, dapat dilihat, terdapat 12 tongkat. 12 tongkat itu dikelompokkan lagi menjadi 1 tulang tumit dan 2 tongkat ( ). Berikutnya, 13 tulang tumit + 1 tulang tumit (yang diperoleh dari 10 tongkat) dikelompokkan menjadi 1 gulungan dan 4 tulang tumit ( @ ). Kemudian 11 gulungan + 1 gulungan (yang diperoleh dan 10 tulang tuinit) dikelompokkan menjadi 1 bunga teratai dan 2 gulungan (@@@@@@@@@@@ @@). 50

10 gulungan). 3. Sistem Babilonia Dan akhirnya terdapat 3 bunga teratai + 1 bunga teratai (diperoleh dan Sistem numerasi Babilonia ini digunakan kira-kira 3000 S.M - 0 S.M (Glenn, John and Litter, Garaham dalam A Dictionary of Mathematics, 1984 p.13). Pada masa itu orang menulis angka-angka dengan sepotong kayu pada tablet yang terbuat dan tanah hat (clay tablets). Simbol baji V digunakan untuk menyatakan 1 dan simbol < untuk 10. Kedua simbol tersebut digunakan untuk menyatakan bilangan-bilangan 1-59, yaitu dengan cara menuliskan kedua simbol itu secara berulang. Contoh 1 : <<<VVVVV berarti : 35 Selanjutnya untuk menyatakan 60 dan 1 ditulis dengan symbol yang sama, yaitu V. Beda antara 60 dan 1 ditunjukkan dengan adanya jarak yang agak jauh di antara simbol-simbol itu. Contoh 2: a) V <V berarti 1.60+11 = 71 b) VV VV berarti 2.60+2 = 122 c) V< <<V berarti 11.60+21 = 681 Ciri-ciri dan sistem Babilonia : a) Menggunakan bilangan dasar (basis) 60. b) Menggunakan nilai tempat (setiap posisi dipisahkan oleh sebuah jarak) c) Simbol-simbol yang digunakan adalah V dan < (lihat gambar 2.3) d) tidak mengenal simbol 0 (nol). Gambar 2.3 51

Contoh 3: (a) V < <V artinya : l(60) 2 + 10(60) + 1l (b) < V << V artinya : l0(60 3 + (60) 2 + 20(60) + 1 (c) VV V << artinya : 2(60 2 + 1(60) + 20 Sistem Babilonia ini cepat hilang karena tidak menggunakan simbol nol. Sistem angka lain yang menarik adalah sistem Maya. 4. Sistem Maya Sistem ini menggunakan basis 20, tetapi bilangan kelompok kedua adalah (18)(20) sebagai ganti dari (20)2, bilangan kelompok ketiga adalah (18)(20) 2 sebagai ganti dari (20), dan seterusnya (18)(2O) n. Bilangan-bilangan di bawah basis (20) ditulis secara amat sederhana dengan titik (kerikil) untuk satu dan tangkai ( ) untuk lima. Gambar 3.4 Ciri-ciri sistem numerasi Maya: a) Menggunakan basis 20 b) Mengenal simbol 0 yaitu (8) c) Ditulis secara tegak atau vertikal. Gambar 3.5 52

5. Sistem Romawi (± 500 SM - 1600) Sistem numerasi Romawi ini menggunakan basis 10. Pada dasarnya, sistem Romawi ini merupakan sistem penjumlahan dan sistem perkalian. Jika simbol-simbol sebuah angka mempunyai nilai yang menurun dari kiri ke kanan, maka nilai angka tersebut dijumlahkan. Sebaliknya jika sebuah angka mempunyai nilai yang naik dari kiri ke kana, maka nilai angka tersebut dikurangkan. Dalam hal pengurangan, sebuah angka tidak pernah ditulis lebih dari 2 simbol, misalnya IV, IX, XL, CD, CM. Contoh : CX = 100 + 10 = 110 (dari kiri ke kanan nilainya menurun, jadi dijurnlahkan). XC = 100-10 = 90 (dari kiri ke kanan nilainya naik, jadi dikurangkan). Posisi dari sebuah simbol/huruf menduduki tempat yang penting, karena CX dan XC merupakan dua angka yang berbeda, yaitu 110 dan 90. Tetapi walaupun demikian, sistem Romawi ini tidak menggunakan nilai tempat. Hingga saat ini sistem Romawi ini masih sening digunakan. Gambar 3.6 Dalam sistem Romawi, penulisan sebuah bilangan tidak boleh menggunakan lebihdari 3 simbol yang sama secara berurutan. Contoh 1: 4 ditulis IV dan bukan IIII 9 ditulis IX dan bukan VIIII Untuk menulis sebuah bilangan yang besar digunakan. simbol garis ( _ ) di atas simbol yang bersangkutan, misalnya V berarti 5 dikalikan 1000, atau 5000. Lambang V berarti 5 dikalikan 1.000.000, atau 5.000.000. 53

Jadi sebuah simbol yang dibeni tanda garis di atasnya menunjukkan sebuah bilangan yang ditunjukkan simbol tersebut dikalikan dengan 1.000. Jika tanda garisnya dua buah, maka dikalikan dengan 1.000.000, demikian seterusnya. Contoh 2: a) MMMDCCLXIII = 3000 + 700 + 60 + 3 = 3763 b) MMMXCDCCXLIX = 3090.1000 + 700 + 40 + 9 = 3.090.749 c) VI = 6.000 d) VII = 7.000.000 e) IVDCXLVII = 4.1000 + 600 + 40 + 7 = 4.647 f) LMDXXI = 50.1000000 + 1000 + 500 +21 = 50.001.521 6. Sistem Arab-Hindu (mulai dipakai ± tahun 1000) Ciri-ciri sistem Arab-Hindu: a) Menggunakan basis 10 b) Menggunakan nilai tempat c) Menggunakan angka : 1, 2, 3, 4,..., 9 d) Mengenal simbol 0 (nol). Karena sistem ini menggunakan basis 10 maka disebut juga sebagai sistem desimal. Sistem desimal ini menggunakan ide nilai tempat, misalnya 492 : 4 menunjukkan 4 buah himpunan seratusan (400) 9 menunjukkan 9 buah himpunan sepuluhan (90) 2 menunjukkan 2 buah himpunan satuan (2) Contoh 1 : Gambar berikut menunjukkan nilai tempat dan angka-angka dalam 192, 123456, dan 1578263. 54

Gambar 3.6 Contoh 2 : Angka 3 terdapat pada tiap lambang 123, 231 dan 321. Karena posisinya, maka angka tiga tersebut mempunyai nilai yang berbeda-beda. Pada lambang 123 ; 3 berarti 3 satuan (3). Pada lambang 231 ; 3 berarti. 3 puluhan (30). Pada lambang 321 ; 3 berarti 3 ratusan (300). Dalam sistem desimal, setiap posisi yang berurutan (dari kanan ke kiri), harus dikalikan dengan 10. Tempat pertama (paling kanan) menunjukkan ada berapa buah satuan, tempat kedua menunjukkan ada berapa buah (l0 x l)-an, tempat ketiga menunjukkan ada berapa buah (l0 x l0)-an, tempat keempat menunjukkan ada berapa buah (l0 x l0 x l0)-an, demikian seterusnya. Jadi 4567 adalah kependekan dari : 4 (10.10.10) + 5 (10.10) + 6 (10) + 7 (1) atau : 4 (10) 3 + 5(10) 2 + 6(10) 1 + 7(1) 0 Penulisan di atas disebut sebagai notasi bentuk panjang dan 4567. Untuk memudahkan penggunaan ide di atas, Anda dapat mempelajari penjelasan mengenai notasi pangkat. Contoh: Tuliskan lambangnya dalam bentuk panjang untuk bilangan: a) 76.309 b) 4.538 c) 9.300 Jawab: 55

a) 76.309 = 7(10.000) + 6(1000) + 3(100) + 9(1) b) 4.538 = 4(1000) + 5(100) + 3(10) + 8(1) c) 9.300 = 9(1000) + 3(100). Kadang-kadarig a dan c ditulis sebagai: 76.309 = 7(10.000) + 6(1000) + 3(100) + 0(10) + 9(1) atau 76.309 = 7(10) 4 + 6(10) 3 + 3(10) 2 + 0(10) 1 + 9(10) 0 dan 9.300 = 9(1000) + 3(100) + 0(10) + 0(1) atau 9.300 = 9(10) 3 + 3(10) 2 + 0(10) 1 + 0(10) 0 Penulisan bentuk terakhir mi disebut penulisan dalam bentuk baku dengan basis 10 (pangkat menurun). LATIHAN Kerjakan soal-soal berikut sebagai latihan! 1. Tuliskan lambang-lambang berikut dengan notasi bentuk panjang : Contoh : 1234 = 1(1000) + 2(100) + 3(10) + 4(1) a) 3.222.007 b) 361.152 c) 8001 2. Tulislah dengan notasi bentuk baku basis 10. a) 3(1000) + 2(10) + 5 b) 7(100) + 3(10) c) 2(100.000) + 3 3. Tulislah setiap lambang bilangan pada nomor 1 dengan menggunakan sistem Mesir dan Romawi. 4. Nyatakan nilai tempat angka 6 pada tiap lambang bilangan di bawah ini: a) 3674 b) 637 c) 6 d) 526.987.123 5. Lengkapilah dengan lambang bilangan tabel berikut: 56

6. Tulislah dengan sistem Babilonia : a) 76 b) 184 c) 1728 7. Pada suatu han Bram bermimpi menjual 1ayang-layangnya di pasar internasional. Ia memiliki 153 buah layang-layang. Pembeli pertama adalah seorang Mesir, ía membeli sebanyak buah. Pembeli kedua adalah seorang Babilonia, ía membeli sebanyak <<< VVVVVVVV buah dan pembeli ketiga adalah seorang Romawi sebanyak XIV buah. Akhirnya seorang Asia ingin memborong layang-layang yang tersisa. Berapa buah layang-layangkah yang dibeli oleh orang Asia tersebut? B. Notasi Pangkat Dalam sistem numerasi yang menggunakan nilai tempat, akan lebih mudah dipahami jika menggunakan notasi pangkat. Seperti penulisan 3.3.3.3, bisa ditulis 3 4. Definisi : Jika a dan n masing-masing merupakan bilangan asli, maka pangkat ke n dan a, ditulis a n didefinisikan sebagai: Padanotasi pangkat a n a disebut bilangan pokok n disebut pangkat atau eksponen, dan a n disebut bilangan berpangkat. Sebuah bilangan yang lambangnya ditulis dalam bentuk a n dikatakan sebagai bilangan yang ditulis dalam bentuk pangkat (notasi ini diperkenalkan oleh seorang ahli matematika Perancis, Descartes pada abad XVI). 57

Con toh : Bilangan berpangkat 7 4 7 merupakan bilangan pokok, 4 merupakan pangkat/eksponen dan bilangan berpangkat tersebut. 7 4 dibaca tujuh pangkat empat, yang berarti 7.7.7.7. Dengan menggunakan pola tertentu kita dapat mengembangkan suatu sifat bilangan berpangkat misalnya : (a)(a 2 ) = (a)(a.a) = a.a.a = a 3 (a 2 )(a 3 ) = (a.a).(a.a.a) = a.a.a.a.a = a 5 (a 3 )(a 4 ) = (a.a.a).(a.a.a.a) = a.a.a.a.a.a.a = a 7 atau (a)(a 2 ) = a 1+2 (a 2 )(a 3 ) = a 2+3 (a 3 )(a 4 ) = a 3+4 Secara umum, jika a, m, dan n merupakan bilangan asli, maka : = (a.a..... a) = sebanyak m + n faktor = a m+n Sifat : Jika a, m, dan n merupakan bilangan asli, maka a m.a n = a m+n. Selanjutnya bagaimanakah dengan a 0? Jika ingin mendefinisikan a 0 maka digunakan sifat di atas: a 0.a 0 = a m+0 Karena m + 0 = m, maka : a m.a 0 = a m Padahal a m.1 = a m ; ini berarti a 0 = 1. Dari sini dapat dibentuk sebuah definisi baru. Jika a bilangan asli, maka a 0 = 1 58

Berdasarkan definisi pangkat : 5 3.4 3 = (5.5.5)(4.4.4) dan sifat komutatif dan asosiatif perkahian pada bilangan asli, maka pernyataan di atas dapat ditulis : (5.5.5).(4.4.4) = (5.4).(5.4).(5.4) = (5.4) 3 Secara umum : a m.b m = (a.a.a.... a). (b.b. b.... b) sebanyak m faktor sebanyak m faktor = (a.b).(a.b).(a.b).(a.b)............ (a.b) sebanyak m faktor = (ab) m Sifat : Jika a,b, dan m merupakan bilangan asli, maka : A m.b m = (ab)m Dengan cara yang sama: (2 3 ) 4 = 2 3.2 3.2 3.2 3 = 2 3+3+3+3 = 2 3.4 = 2 12 Secara umum : (a m ) n = (a m. a m. a m........... a n ) = a mn sebanyak n faktor Sifat: Jika a,b,m, dan n merupakan bilangan asli, maka : (a m ) n = a mn Contoh: a) 235 0 =1 b) 10 5.10 3 = 10 5+3 = 10 8 c) (5x) 7 = 5 7.x 7 LATIHAN Kerjakan soal-soal berikut sebagai latihan! 1. Tulislah dalam bentuk pangkat! 59

a) 9.36 b) 2x.2x.2x.2x c) ab.ab.ab d) 14.18 2. Tulislah lambang setiap bilangan berikut dalam bentuk notasi. pangkat dengan bilangan pokok 2,3,5,7, atau 11. Contoh : 625 = 5 4 a) 32 b) 121 c) 1 d) 125 e) 27 3. Carilah nilai k agar setiap pernyataan di bawah ini benar. a) (3 2 ).(3 3.3 5 ) = 3 k b) 1.3 7 = k 7 c) 5 k.5 2 = 5 8 d) 3 k 3 k = 1 e) 5 2.4 2 = 20 k f) 6 k+1 = 6 3 4. Tulislah dalam bentuk yang lebih sederhana : a) 5.10 3 + 2.10 3 b) 5a 3 + 15a 3 c) 4a 5 + 6a 5 d) 4.10 4 + 3.10 3 + 2.10 2 + 3.10 3 + 5.10 2 + 7.10 1 5. Dengan menggunakan nilai tempat, kita dapat menentukan manakah bilangan yang terbesar dan dua bilangan yang diketahui. Contoh : 305751 lebih besar dari 304973 karena : Jika diatur secara vertikal dan rapat kanan, kemudian dibandingkan angka demi angka, maka páda posisi ribuan, 5 lebih besar dan 4. Jadi 305751 lebih besar dari 304973 3 0 5 7 5 1 3 0 4 9 7 3 3=3 0=0 5 > 4 Dengan menggunakan prosedur di atas, tentukan bilangan manakah yang lebih besar dan tiap pasang bilangan berikut. a) 43.521; 43.731 b) 470.123; 470.123 c) 235.044; 235.240 6. Dengan menggunakan prosedur di atas, susunlah setiap barisan bilangan berikut, dan yang terkecil sampai dengan yang terbesar. 60

a) 1.250.432; 1.250.324; 1.250.234 b) 46.230; 406.230; 40.625; 46.023 c) 850.670; 796.670; 804.952; 850.670 d) 63.809; 63.980; 63.809; 63.089 7. Isilah tempat yang kosong. 10 9 1.000.000.000 semilyar.... 100.000.000 seratus juta 10 7......... sepuluh juta 10 6........................ 100.000........... 10 4.................... 10 3................................. seratus............. sepuluh 10 0.................... 8. Tulislah bilangan berpangkat ini diurutkan, dari yang terkecil sampai yang terbesar : 2 5, 10 2, 3 4, 9 1, 136 0, 5 4, 8 2. 9. Sederhanakanlah bilangan berpangkat berikut: (misalnya 3.8 3 = 3.2 6 ) a) 2 3.8 5 b) 16 3.2 2 c) 9 2.27 0 d) 3 4.27 2 e) 5 5.125 f) 16 6.4 C. Sistem Numerasi dengan Nilal Tempat Sekarang marilah kita kembali ke sistem numerasi yang menggunakan nilai tempat. Dalam sistem numerasi yang biasa digunakan, apakah artinya jika ditulis 37? Kita mengatakan, terdapat 3 himpunan yang masing-masing beranggotakan 10 elemen dan 7 himpunan yang masing-masing beranggotakan 1 elemen. Dan diagramnya adalah sebagal berikut: 61

Gambar 3.7 Demikian juga dengan 24 adalah sebagai berikut: Gambar 3.8 Misalnya kita menggunakan basis/bilangan dasar yang bukan sepuluh, apakah artinya jika ditulis 23 lima.? Dalam hal ini, basis yang digunakan adalah 5 dan simbol yang digunakan cukup 0, 1, 2, 3, 4. Lambang 23 lima berarti 2 himpunan yang masing masing beranggotakan 5 elemen dan 3 himpunan yang masing-masing beranggotakan 1 elemen. Dan diagramnya adalah sebagai berikut: Gambar 3.9 62

Gambar 3.10 Secara umum, pada notasi bilangan dengan menggunakan nilai tempat dapat digambarkan sebagai berikut : (b) ----- ------ ----- ---- ---- ------ basis 5 basis 4 basis 3 basis 2 basis 1 basis 0 Contoh 1: Notasi 123 lima, melambangkan: 1 himpunan lima lima-an 63

2 himpunan lima-an dan 3 himpunan satuan Hal ini dapat digambarkan sebagai Gb. 3.12 berikut: Gambar 3.11 Selanjutnya lambang bilangan diubah menjadi lambang lain dengan basis yang berbeda. Contoh 2: Tulislah 234 lima ke dalam lambang berbasis sepuluh. Jawab : Pertama-tama dibuat diagram himpunan dalam basis 5; di sini membutuhkan 2 himpunan lima. lima-an 3 himpunan lima-an, dan 4 himpunan satuan. (Gambar 2.13.a) Pada gambar 2.13.b, menunjukkan setelah diadakan pengelompokan dan himpunan tersebut menjadi himpunan sepuluh-an, sehingga didapat : 234 lima = 69 sepuluh = 69 (keterangan basis sepuluh tidak ditulis). Gambar 3.12 64

Selanjutnya ikutilah contoh meimbangkan bilangan berbasis 3. Untuk ini diperlukan 4 himpunan baku dan 3 simbol angka seperti berikut : Gambar 3.13 Contoh 3 : Buatlah diagram yang menggambarkan 212 tiga. 2 himpunan tiga-tiga-an 1 himpunan tiga-an 2 himpunan satuan Diagram adalah sebagai berkut : Gambar 3.13 Contoh 4: Tulislah 44 ke dalam lambang basis 3. 65

Gambar 3.13 Pertama-tama buatlah diagram dengan 44 elemen. Kemudian kelompokkan menjadi himpunan tigaan (gambar 23..(a)), ternyata masih bersisa 2 elemen (2 himpunan satuan). Gambar 2.16 (b) menunjukkan pengelompokan berikutnya, yaitu himpunan tiga-tiga-an (4 buah), himpunan tiga-an (2 buah) dan himpunan satuan (2 buah). Akhirnya dibentuk himpunan tiga (tiga-tiga)-an (1 buah), 66

himpunan tiga-tiga-an (1 buah), himpunan tigaan (2 buah), himpunan satuan (2 buah) (gambar 2.16.(c)). Sehingga didapat 44 sepuluh = 1122 tiga Jika Anda mengalami kesukaran, maka gunakanlah benda-benda nyata sebagai model misalnya pipa sedotan yang dipotong-potong, mata uang logam, kerikil, kelereng, jepitan kertas, dan sebagainya. Kini marilah kita meningkat pada cara lain yang tidak lagi menggunakan gambar-gambar. Misalnya kita ingin mengubah 34 lima ke basis sepuluh. 34 lima artinya terdapat 3 himpunan limaan dan 4 himpunan satuan sehingga 34 lima = (3.10 + 4 lima ) dengan 10 lima = 5 sepuluh. Jadi 34 lima = (3.10 + 4 lima ) = (3.5 + 4 sepuluh ) = (15 + 4) sepuluh = 19 sepuluh = 19 Contoh 5 : a) 124 lima =.. sepuluh 124 lima = (1.10 2 ) + 2.10 + 4) lima = (1.5 2 + 2.5 + 4) sepuluh = (25 + 10 + 4) sepuluh = 39 sepuluh b) 432 enam = sepuluh 432 enam = (4.10 2 + 3.10 + 2) enam = (1.6 2 + 3.6 + 2) sepuluh = (144 + 18 + 2 ) sepuluh = 164 sepuluh c) 323 empat = sepuluh = (3.10 2 + 2.10 + 3) empat = (1.4 2 + 2.4 + 3) sepuluh = (48 + 8 + 3) sepuluh = 59 sepuluh Contoh-contoh di atas dapat juga dikerjakan dengan cara sebagai berikut: 67

Gambar 3.13 LATIHAN Kerjakan ltihan berikut sebagai latihan. 1. Tulislah lambang bilangan dalam lambang bilangan dengan basis ; a) lima b) dua c) tiga d) delapan 2. Tulislah lambang bilangan dalam basis tujuh, bilangan asli mulai1 tujuh sampai dengan 35 tujuh 3. Buatlah diagram untuk menggambarkan proses perubahan suatu notasi bilangan dari basis yang satu ke basis yang lain (seperti contoh 4). a) 32 sepuluh = ----------- lima b) 42 enam = ----------- delapan c) 311 empat = ----------- lima d) 110tiga = ----------- delapan 4. Tuhislah lambang bilangan berikutnya setelah setiap lambang bilangan berikut; misalnya : setelah 125 sepuluh adalah 126 sepuluh. Setelah 11 dua adalah 100 dua a) 144 lima b) 2222 tiga c) 1011 dua d) 788 sembilan 68

5. Ubahlah ke basis yang diminta (tanpa menggambar diagram). a) 175 sepuliuh = lima b) 134 tujuh =.. tiga c) 108 sembilan =.. delapan 69