IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 3 Proses penentuan perilaku api.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data penelitian diperoleh dari siswa kelas XII Jurusan Teknik Elektronika

IV. Konsolidasi. Pertemuan VII

Oleh : Bustanul Arifin K BAB IV HASIL PENELITIAN. Nama N Mean Std. Deviation Minimum Maximum X ,97 3,

MODEL PERSEDIAAN DETERMINISTIK DENGAN MEMPERTIMBANGKAN MASA KADALUARSA DAN PENURUNAN HARGA JUAL

UJI KESELARASAN FUNGSI (GOODNESS-OF-FIT TEST)

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN WAKTU PENGGORENGAN KERIPIK SOSIS AYAM

PENENTUAN NILAI e/m ELEKTRON

Pada gambar 2 merupakan luasan bidang dua dimensi telah mengalami regangan. Salah satu titik yang menjadi titik acuan adalah titik P.

ANALISIS NOSEL MOTOR ROKET RX LAPAN SETELAH DILAKUKAN PEMOTONGAN PANJANG DAN DIAMETER

Aplikasi Integral. Panjang sebuah kurva w(y) sepanjang selang dapat ditemukan menggunakan persamaan

Analisis Rangkaian Listrik


Analisis Dinamis Portal Bertingkat Banyak Multi Bentang Dengan Variasi Tingkat (Storey) Pada Tiap Bentang

II. LANDASAN TEORI. digunakan sebagai landasan teori pada penelitian ini. Teori dasar mengenai graf

ANALISA PENGARUH PACK CARBURIZING MENGGUNAKAN ARANG MLANDING UNTUK MENINGKATKAN SIFAT MEKANIS SPROKET SEPEDA MOTOR SUZUKI

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pengertian Pasang Surut

Pertemuan XIV, XV VII. Garis Pengaruh

8. Fungsi Logaritma Natural, Eksponensial, Hiperbolik

ANALISIS KOMBINASI PRELOADING MEKANIS DAN ELEKTROKINETIK TERHADAP PEMAMPATAN TANAH LUNAK PONTIANAK

model pengukuran yang menunjukkan ukur Pengukuran dalam B. Model Mode sama indikator dan 1 Pag

IDE - IDE DASAR MEKANIKA KUANTUM

Muatan Bergerak. Muatan hidup yang bergerak dari satu ujung ke ujung lain pada suatu

1. Proses Normalisasi

ANALISIS STABILITAS DAN ADAPTABILITAS GALUR PADI DATARAN TINGGI DI LIMA LINGKUNGAN

Evika Sandi Savitri. Staf Pengajar Jurusan Biologi, Fakultas Sains & Teknologi, UIN Maliki Malang ABSTRAK

ANALISIS LOG-LOGISTIK UNTUK MENGGAMBARKAN HUBUNGAN DOSIS-RESPON HERBISIDA PADA TIGA JENIS GULMA

ANALISIS PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI PAKSA NANOFLUIDA AIR-Al2O3 DALAM SUB-BULUH VERTIKAL SEGIENAM

KAJIAN AWAL MEKANISME REAKSI ELEKTROLISIS NaCl MENJADI NaClO 4 UNTUK MENENTUKAN TAHAPAN REAKSI YANG EFEKTIF DARI PROSES ELEKTROLISIS NaCl

MODUL PERKULIAHAN REKAYASA FONDASI 1. Penurunan Tanah pada Fondasi Dangkal. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

HUBUNGAN ANTARA KELOMPOK UMUR, JENIS KELAMIN DAN JENIS PEKERJAAN PADA PENDERITA HIV/AIDS DI KABUPATEN BANYUMAS

FORMULASI GEL ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L) DENGAN MENGGUNAKAN AQUPEC HV-505

BAB II LANDASAN TEORI

Penentuan Lot Size Pemesanan Bahan Baku Dengan Batasan Kapasitas Gudang

Gambar IV.6. Gambaran kontur bidang sesar yang menggambarkan bentuk ramp-flat-ramp pada border fault di Sub-cekungan Kiri.

PERKEMBANGAN TEORI ATOM & PENEMUAN PROTON, NEUTRON, ELEKTRON. Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd

Bab 6 Sumber dan Perambatan Galat

SIMULASI DESAIN COOLING SYSTEM DAN RUNNER SYSTEM UNTUK OPTIMASI KUALITAS PRODUK TOP CASE

BAB I METODE NUMERIK SECARA UMUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fungsi dari faktor produksi adalah fungsi dari modal (capital) dan tenaga kerja

Reduksi data gravitasi

Mata Kuliah : Matematika Diskrit Program Studi : Teknik Informatika Minggu ke : 7

MINAT SISWA TERHADAP EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA BOLA VOLI DI SMA N 2 KABUPATEN PACITAN

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

ANALISA NILAI SIMPANGAN HORIZONTAL (DRIFT) PADA STRUKTUR TAHAN GEMPA MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA BRESING EKSENTRIK TYPE BRACED V

REGRESI LINEAR & KORELASI. Elty Sarvia, ST., MT. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha Bandung REGRESI

METODE ITERASI TANPA TURUNAN BERDASARKAN EKSPANSI TAYLOR UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR ABSTRACT

RANCANG BANGUN SCREW FEEDER SEBAGAI PERANGKAT DUKUNG PELEBURAN KONSENTRAT ZIRKON

INFRASTRUKTUR. STUDI PERUBAHAN KARAKTERISTIK PASIR SIURI AKIBAT PENAMBAHAN BUTIRAN HALUS NONPLASTIS (STUDI KASUS FC > FC th )

VI. EFISIENSI PRODUKSI DAN PERILAKU RISIKO PRODUKTIVITAS PETANI PADA USAHATANI CABAI MERAH

KAPASITAS ADSORPSI MERKURI MENGGUNAKAN

PENGGUNAAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI ADSORBEN DALAM PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG MENGANDUNG LOGAM Cu. Mochtar Hadiwidodo *)

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK OPTIKA GEOMETRIS

PENGABAIAN PADA LANSIA DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL

KONTROL URBAN SPRAWL DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN PERILAKU PERJALANAN DAN PARTISIPASI PENDUDUKNYA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FUNGSI DOMINASI ROMAWI PADA LINE GRAPH

ANALISIS KETERSEDIAAN PENGGUNA JASA DALAM MEMBAYAR TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN (STUDI KASUS : KOPAJA P20 JURUSAN SENEN LEBAK BULUS)

Pemodelan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Mahasiswa Pasca Sarjana ITS dengan Regresi Logistik dan Neural Network

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN. 35 orang. Setiap orang diambil sampel sebanyak 15 citra wajah dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berbagai macam seperti gambar dibawah (Troitsky M.S, 1990).

TINJAUAN ULANG EKSPANSI ASIMTOTIK UNTUK MASALAH BOUNDARY LAYER

INFLUENCE OF LIMES COLUMN VARIATION DISTANCE IN SOFT CLAY STABILIZATION A REVIEW OF INDEX COMPRESSION (Cc) PARAMATER

BAB 2 DASAR TEORI 2.1 TEORI GELOMBANG LINIER. Bab 2 Teori Dasar

Faculty of Economic Riau University, Pekanbaru, Indonesia

+ = R R γ P II.3 Beberapa Percobaan dengan Soap Films Soap film yang diregangkan sepanjang kawat. Berbentuk planar, karena tekanan di kedua

PROSES PEMANENAN DENGAN MODEL LOGISTIK STUDI KASUS PADA PTP. NUSANTARA IX

Tinjauan Termodinamika Pada Sistem Partikel Tunggal Yang Terjebak Dalam Sebuah Sumur Potensial

Materike April 2014

Tinjauan Termodinamika Sistem Partikel Tunggal Yang Terjebak Dalam Sebuah Sumur Potensial. Oleh. Saeful Karim

Development of Texture and Shelf Life Time Model of Sapote Fruit (Achras sapota L.) ) with Temperature and Pressure Variation under Hypobaric Storage

Modifikasi Analytic Network Process Untuk Rekomendasi Pemilihan Handphone

HASIL DAN PEMBAHASAN

ALAT-ALAT SAMBUNG MEKANIS PADA KAYU: PAKU DAN BAUT OLEH: EVALINA HERAWATI, S.Hut, M.Si NIP

Materi ke - 6. Penggunaan Integral Tak Tentu. 30 Maret 2015

Kontrol Trakcing Laras Meriam 57mm dengan Menggunakan Hybrid Kontrol Logika Fuzzy - PID

BAB 2 LANDASAN TEORI

POTENSI SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TENGAH DENGAN METODE DYNAMIC LOCATION QUOTIENT VERSI BANK DUNIA Oleh: Endang Setiasih 1)

STUDI AWAL FABRIKASI DYE SENSITIZED SOLAR CELL

Bab 1 Ruang Vektor. I. 1 Ruang Vektor R n. 1. Ruang berdimensi satu R 1 = R = kumpulan bilangan real Menyatakan suatu garis bilangan;

KESETIMBANGAN ADSORPSI FENOL DARI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA HIBRIDA PADA ARANG AKTIF

Pembahasan Soal. Pak Anang SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA. Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS. Disusun Oleh :

Uci Sri Sundari STIE Kusuma Negara Indra Isharyanto.

KINETIKA DAN THERMODINAMIKA ADSORBSI ORANGE DNA 13 DENGAN ADSORBEN KARBON AKTIF ARANG BATU BARA

PELABELAN TOTAL SISI ANTI AJAIB SUPER (PTSAAS) PADA GABUNGAN GRAF BINTANG GANDA DAN LINTASAN

Penggunaan Data Karakteristik Minyak Sawit Kasar untuk Pengembangan Transportasi Moda Pipa

RANCANG BANGUN PATCH RECTANGULAR ANTENNA 2.4 GHz DENGAN METODE PENCATUAN EMC (ELECTROMAGNETICALLY COUPLED)

BAB V DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT

KINETIKA SORPSI ION ZINK (II) PADA PARTIKEL GAMBUT

PENURUNAN KADAR TIMBAL(II) MENGGUNAKAN ZEOLIT-X SINTETIS DARI BATU PADAS

5 STABILITAS DINAMIS KAPAL POLE AND LINE SULAWESI SELATAN

UJI PERFORMANCE MEJA GETAR SATU DERAJAT KEBEBASAN DENGAN METODE STFT

KARAKTERISASI ELEMEN IDEMPOTEN CENTRAL

PENGARUH CAR, NPF, FDR, BOPO, DAN GWM TERHADAP LABA PERUSAHAAN (ROA) PADA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA PERIODE

KAJIAN BIOMASSA FITOPLANKTON LAUT

Vol.15 No.2. Agustus 2013 Jurnal Momentum ISSN : X

Online Jurnal of Natural Science, Vol.3(1): ISSN: March 2014

Pemanfaatan Karbon Aktif dari Ampas Teh sebagai Adsorben pada Proses Adsorpsi β-karoten yang Terkandung dalam Minyak Kelapa Sawit Mentah

ROKET AIR SMA NEGERI 21 MAKASSAR

MODEL PENGENALAN POLA : KASUS PEMILAHAN WARNA SUARA SARON DAN BONANG PADA GAMELAN JAWA

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK MUTU DAN REOLOGI CPO AWAL Minyak sawit kasar (crud palm oil/cpo) mrupakan komoditas unggulan Indonsia yang juga brpran pnting dalam prdagangan dunia. Mngingat pntingnya pranan CPO trsbut, maka mutu harus mndapat prhatian yang utama karna sangat mmpngaruhi harga dan nilai konomisnya (Muchtadi 1998). Pnanganan CPO yang kurang baik dapat mngakibatkan krusakan mutu CPO. CPO yang digunakan pada pnlitian ini mrupakan CPO baru yang blum mngalami pross transportasi dan pnyimpanan dalam waktu yang lama. Dngan dmikian, diharapkan komposisi kimia dan kondisi kristal lmak di dalamnya blum mngalami prubahan akibat trjadinya kristalisasi dan pllhan yang brulang. Sblum dilakukan prlakuan slanjutnya, CPO dianalisis mutu srta rologinya pada suhu 25 o C. Hasil analisis mutu CPO awal yang mliputi pngukuran kadar asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid, dan DOBI (dtrioration of blachability indx) dapat dilihat pada Tabl 5 dngan data lngkap pada Lampiran 1. Tabl 5. Paramtr mutu CPO awal. Paramtr mutu Asam lmak Bilangan iod Karotnoid DOBI bbas (%) (g iod/100 g) (ppm) CPO awal 3.44 52.64 642 2.91 Standar mutu SNI 01-2901-2006 Ditjnbun (1997) 0.5 maks 5 maks 50-55 51 min - 500 min - 2.5 min Brdasarkan hasil analisis mutu awal yang dilakukan, sampl CPO yang digunakan pada pnlitian ini mmiliki kadar asam lmak bbas yang tidak ssuai dngan standar yang diacu, dimana standar asam lmak bbas yang diprsyaratkan dalam SNI 01-2901-2006 maksimal 0.5%. Jika mngacu pada standar mutu CPO di PKS Indonsia yang dikluarkan olh Dirktorat Jndral Prkbunan (Ditjnbun) (1997), sampl CPO yang digunakan masih mmnuhi standar, dimana standar asam lmak bbas pada CPO maksimal 5%. Dilihat dari paramtr bilangan iod, kadar karotnoid dan DOBI, sampl CPO yang digunakan masih mmnuhi standar mutu yang diacu. Slain dilakukan analisis mutu awal trhadap sampl CPO yang digunakan, juga dilakukan analisis sifat rologi CPO awal. Sifat rologi yang diamati mliputi indks tingkah laku aliran (n) dan indks konsistnsi (K). Data lngkap analisis rologi CPO awal dapat dilihat pada Lampiran 2. Hasil analisis rologi CPO awal mnunjukkan bahwa indks tingkah laku aliran (n) CPO awal sbsar 0.635, dan indks konsistnsi (K) sbsar 1.505. Dilihat dari nilai n dan K yang diprolh brdasarkan prsamaan powr law diktahui bahwa CPO pada suhu 25 o C mrupakan fluida psudoplastik (0<n<1 dan K>0). Mnurut Toldo (1991) pada kondisi shar rat yang brbda, maka nilai viskositas suatu fluida akan brubah. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO awal pada suhu pngukuran 25 o C dapat dilihat pada Gambar 11. 22

Viskositas (Pa.s) 0.700 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Shar rat (s -1 ) Gambar 11. Hubungan shar rat dan viskositas CPO awal. Gambar 11 mnunjukkan bahwa viskositas CPO pada suhu 25 o C dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang dibrikan. Viskositas CPO awal pada suhu 25 o C smakin mnurun siring dngan knaikan shar rat yang dibrikan. Hal ini mnunjukkan sifat fluida psudoplastik. Mnurut Moros t al. (2002) fluida psudoplastik akan mngalami pnurunan viskositas saat diknai shar rat yang mningkat, atau diknal dngan sifat shar thinning. Sifat rologi CPO yang mnunjukkan prilaku fluida psudoplastik dngan nilai viskositas yang rlatif bsar pada suhu 25 o C (0.175-0.282 Pa.s) mngakibatkan CPO sulit dialirkan pada suhu pngaliran 25 o C, karna diprlukan gaya dorong yang cukup bsar untuk mngalirkan CPO dngan viskositas yang tinggi, slain itu saat dialirkan pada suhu pngaliran trsbut viskositas CPO akan sangat dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang dibrikan. Jika dibandingkan dngan minyak nabati lainnya, CPO mmiliki sifat rologi yang brbda pada suhu pngukuran 25 o C. Pnlitian yang dilakukan olh Kim t al. (2010) trhadap tujuh sampl minyak nabati yaitu minyak canola, jagung, grapsd, hazlnut, zaitun, kdlai, dan biji bunga matahari mnunjukkan bahwa ktujuh minyak nabati trsbut mmprlihatkan sifat fluida Nwtonian pada suhu pngukuran 25 o C dngan nilai viskositas trukur yang rndah (< 0.08 Pa.s). Minyak nabati dngan sifat aliran fluida Nwtonian akan lbih mudah ditangani saat pross pngaliran dalam pipa, karna nilai viskositas fluida Nwtonian tidak dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang dibrikan (Matuszk 1997). Akibatnya minyak dngan sifat fluida Nwtonian dngan nilai viskositas yang rndah dapat mngalir di dalam pipa tanpa dipngaruhi bsarnya shar rat yang dibrikan. Mnurut pnlitian yang dilakukan olh Maskan (2003), komposisi asam lmak jnuh dan tidak jnuh mmpngaruhi sifat rologi minyak. Trdapat korlasi positif antara komposisi asam lmak bbas pnyusunnya trhadap viskositas dari minyak nabati. Minyak nabati yang tinggi asam lmak jnuhnya mmpunyai viskositas yang lbih tinggi dibandingkan minyak nabati yang tinggi asam lmak tidak jnuhnya (Kim t al. 2010). Olh karna itu CPO yang trsusun atas 50% asam lmak jnuh dan 50% asam lmak tidak jnuh mmiliki nilai viskositas yang lbih tinggi dibandingkan minyak nabati lain yang dominan trsusun atas asam lmak tidak jnuh. 23

B. KARAKTERISTIK MUTU DAN REOLOGI CPO SETELAH PEMANASAN AWAL CPO trsusun dari brbagai asam lmak, baik asam lmak jnuh maupun asam lmak tidak jnuh. Pada suhu trtntu, trjadi pmisahan fraksi pada CPO akibat prbdaan titik llh komponn asam-asam lmak pnyusunnya. CPO dapat trpisah mnjadi fraksi minyak yang ttap cair karna mmiliki titik llh yang rndah (disbut fraksi olin) dan fraksi yang mmadat (mmbku) karna mmiliki titik llh yang tinggi (disbut fraksi starin) (Ktarn 2008). Akibatnya, bila suhu pnyimpanan dan pngaliran cukup rndah, CPO dapat mmadat sbagian atau bahkan sluruhnya. Kondisi fas bahan yang mmadat trsbut mnyulitkan saat pross bongkar muatan CPO dari tangki angkut k tangki pnyimpanan. Shingga prlu dilakukan pmanasan CPO untuk mnyragamkan fas CPO sblum dilakukan bongkar muatan. Mnurut Naibaho (1998) suhu CPO pada waktu pmuatan/pmbongkaran adalah 50-55 o C. Pmanasan awal yang dilakukan pada tahap ini brtujuan untuk mlihat pngaruh pmanasan CPO sblum pross bongkar muatan k dalam tangki pnyimpanan CPO. Pada tahap ini CPO dipanaskan hingga mncapai suhu maksimal loading (bongkar muatan) yang dirkomndasikan CODEX Alimntarius Commision (CAC) (2005), yaitu suhu 55 o C. Analisis mutu dan sifat rologi CPO dilakukan trhadap CPO yang tlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C dngan laju knaikan suhu 5 o C/24 jam. Hasil analisis mutu CPO trhadap sampl yang tlah mngalami pmanasan awal dapat dilihat pada Tabl 6 dngan data lngkap pada Lampiran 3. Tabl 6. Paramtr mutu CPO stlah mngalami pmanasan awal hingga suhu 55 o C. CPO stlah pmanasan awal Standar mutu SNI 01-2901-2006 Ditjnbun (1997) Asam lmak bbas (%) Paramtr mutu Bilangan iod (g iod/100 g) Karotnoid (ppm) DOBI 3.85 52.56 604 2.76 0.5 maks 5 maks 50-55 51 min - 500 min - 2.5 min Brdasarkan hasil analisis yang dilakukan, stlah mngalami pross pmanasan hingga suhu 55 o C, asam lmak bbas pada CPO mningkat, bilangan iod cndrung tidak mngalami prubahan, sdangkan kadar karotnoid dan DOBI mngalami pnurunan. Pada Tabl 6 trlihat bahwa kadar asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid dan DOBI stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C masih mmnuhi standar mutu CPO di PKS Indonsia yang dittapkan olh Ditjnbun (1997). Pningkatan kandungan asam lmak bbas pada CPO yang tlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C trjadi karna prlakuan suhu pmanasan pada CPO dapat mmprcpat trjadinya raksi hidrolisis yang mngakibatkan triglisrida trurai mnjadi asam lmak bbas. Slain itu pmanasan hingga suhu 55 o C juga mngakibatkan trjadinya dkomposisi karotnoid yang mngakibatkan turunnya insntas warna karotnoid (Eskin 1979). Turunnya bilangan DOBI trjadi karna pada suhu tinggi karotn dapat brubah mnjadi snyawa yang brwarna kcoklatan dan larut dalam minyak shingga smakin sukar untuk dipucatkan (Pahan 2008). Slain diamati pngaruh pmanasan awal trhadap mutu CPO, juga dilakukan analisis trhadap rologi CPO. Data lngkap hasil analisis rologi CPO stlah mngalami pmanasan awal hingga suhu 55 o C dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil analisis rologi yang dilakukan 24

mnunjukkan bahwa CPO stlah dipanaskan hingga mncapai suhu 55 o C mmiliki indks tingkah laku aliran (n) sbsar 0.935, dan indks konsistnsi (K) sbsar 0.033. Dilihat dari nilai n dan K yang diprolh, CPO yang dipanaskan hingga suhu 55 o C mmiliki sifat yang mndkati fluida Nwtonian (n=1 dan K>0). Pmanasan hingga suhu 55 o C mngakibatkan indks konsistnsi mnurun, sdangkan indks tingkah laku aliran mningkat mndkati fluida Nwtonian. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO stlah mngalami pmanasan awal hingga suhu 55 o C dapat dilihat pada Gambar 12. 0.700 0.600 Viskositas (Pa.s) 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Shar rat (s -1 ) CPO CPO awal awal (T (T = = 25oC) C) CPO stlah pmanasanawal awal (T (T = = 55oC) C) Gambar 12. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO sblum dan stlah mngalami pmanasan awal hingga suhu 55 o C. Brdasarkan data hubungan aantara shar rat dan viskositas CPO pada Gambar 12 trlihat bahwa viskositas CPO stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C cndrung tidak dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang dibrikan, yaitu brkisar antara 0.023-0.026 Pa.s. Viskositas CPO stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C lbih kcil dibandingkan viskositas CPO awal pada suhu 25 o C. Hal ini trjadi karna pmanasan CPO hingga suhu 55 o C akan mngakibatkan kristal lmak pada CPO mllh. Mnurut Himawan t al. (2006), minyak sawit mmiliki titik llh 40 o C. Akibatnya pmanasan hingga suhu di atas titik llh CPO akan mngakibatkan pllhan kristal lmak yang mngakibatkan CPO mmiliki viskositas yang lbih rndah dngan konsistnsi yang lbih cair. Pnlitian yang dilakukan olh Goh (2010) trhadap minyak klapa, zaitun, kdlai, biji bunga matahari, dan wijn juga mnunjukkan bahwa smakin tinggi suhu maka viskositas minyak nabati akan smakin rndah. Trlihat pada Gambar 12 bahwa viskositas CPO stlah mngalami pmanasan awal hingga suhu 55 o C cndrung ttap walaupun dibrikan shar rat yang brbda-bda. Hal ini mnunjukkan bahwa CPO pada suhu 55 o C mmiliki sifat fluida Nwtonian. Goodrum t al. (2002) mngmukakan bahwa viskositas dinamik fluida nilainya brbanding lurus dngan rasio shar strss trhadap shar rat yang ditrapkan. Pada fluida Nwtonian, rasio trsbut brnilai konstan, dan nilai viskositas fluida Nwtonian tidak dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang bkrja pada fluida, shingga fluida Nwtonian akan mmiliki nilai viskositas yang ttap brapapun shar rat yang dibrikan. Brdasarkan pnlitian yang tlah dilakukan olh Kim t al. (2010) trhadap tujuh sampl minyak nabati yang mnunjukkan prilaku fluida Nwtonian, trlihat bahwa smakin tinggi suhu mngakibatkan nilai viskositas minyak smakin kcil. Viskositas minyak canola, jagung, grapsd, hazlnut, zaitun, kdlai, dan biji bunga matahari pada suhu 55 o C brkisar antara 0.020-0.028 Pa.s (Kim t al. 2010). Nilai viskositas CPO yang 25

tlah dipanaskan hingga suhu 55 o C mmiliki nilai yang tidak jauh brbda dngan minyak nabati lainnya yaitu brkisar antara 0.023-0.026 Pa.s. Hal ini mnunjukkan bahwa pada suhu 55 o C, CPO akan lbih mudah ditangani slama pngaliran, karna mmiliki viskositas yang rndah dngan sifat fluida Nwtonian, shingga bsarnya gaya yang dibutuhkan untuk mngalirkan CPO akan lbih kcil dibandingkan pada suhu pngaliran 25 o C. C. KARAKTERISTIK MUTU DAN REOLOGI CPO SELAMA PENYIMPANAN CODEX Alimntarius Commision (CAC) (2005) dalam panduan pnyimpanan dan transportasi lmak dan minyak pada skala bsar (bulk) mnyatakan bahwa trdapat tiga pnybab krusakan yang dapat trjadi slama pnyimpanan dan transportasi minyak nabati, yaitu trjadinya raksi oksidasi dngan oksign di udara, raksi hidrolisis, dan trjadinya kontaminasi. Suhu pnyimpanan yang tidak trkontrol dngan baik dapat mmprcpat trjadinya pnurunan mutu CPO (Naibaho 1998). Pngamatan trhadap prubahan karaktristik mutu dan rologi CPO slama pnyimpanan dilakukan slama 4 minggu pada bbrapa suhu pnyimpanan yang brbda, yaitu suhu pnyimpanan 20, 25, 30, 35, dan 40 o C. Analisis mutu dan rologi dilakukan stiap minggu, slama 4 minggu pnyimpanan. 1. Mutu CPO Slama Pnyimpanan Hasil analisis mutu CPO slama pnyimpanan pada brbagai suhu pnyimpanan yang diujikan dapat dilihat pada Tabl 7 dngan data lngkap trsaji pada Lampiran 5. Brdasarkan data analisis mutu yang diprolh, trlihat bahwa asam lmak bbas slama pnyimpanan mningkat, bilangan iod cndrung tidak mngalami prubahan, sdangkan kadar karotnoid dan DOBI mngalami pnurunan slama pnyimpanan. Smakin tinggi suhu pnyimpanan, mngakibatkan pnurunan mutu CPO yang smakin bsar. Pada Tabl 7 trlihat bahwa pnyimpanan pada suhu 20 o C dapat mnghambat pnurunan mutu CPO. CPO yang disimpan pada suhu 20 o C mmiliki mutu yang paling baik jika dibandingkan dngan CPO yang disimpan pada suhu pnyimpanan lainnya. Slama 4 minggu pnyimpanan, CPO yang disimpan pada suhu 20 dan 25 o C mmiliki kadar asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid, srta DOBI yang masih ssuai dngan standar mutu CPO di PKS Indonsia yang dittapkan olh Ditjnbun (1997). CPO yang disimpan pada suhu 30 o C mmiliki kadar asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid, srta DOBI yang masih ssuai dngan standar mutu CPO hingga 3 minggu pnyimpanan. Stlah 4 minggu pnyimpanan, CPO pada suhu pnyimpanan 30 o C mmiliki nilai DOBI yang sudah tidak mmnuhi standar yaitu 2.44 (<2.50). Pnyimpanan CPO pada suhu 35 dan 40 o C mngakibatkan pnurunan mutu yang lbih cpat, trlihat bahwa pada suhu pnyimpanan 40 o C, CPO sudah tidak mmnuhi standar mutu stlah 2 minggu pnyimpanan dilihat dari nilai DOBI yang sudah tidak ssuai dngan standar yaitu 2.09 (<2.50). 26

Tabl 7. Paramtr mutu CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, dan 40 o C. Suhu pnyimpanan ( o C) 20 25 30 35 40 Standar mutu SNI 01-2901-2006 Ditjnbun (1997) Lama Paramtr mutu pnyimpanan ALB Bilangan iod Karotnoid (minggu) (%) (g iod/100 g) (ppm) DOBI 0 3.85 52.56 604 2.76 1 3.86 52.54 603 2.75 2 3.88 52.57 601 2.72 3 3.89 52.53 600 2.73 4 3.91 52.53 596 2.69 0 3.85 52.56 604 2.76 1 3.88 52.52 602 2.72 2 3.91 52.53 599 2.69 3 3.95 52.53 592 2.64 4 3.99 52.53 584 2.60 0 3.85 52.56 604 2.76 1 4.09 52.52 589 2.63 2 4.13 52.50 579 2.57 3 4.21 52.52 565 2.51 4 4.38 52.55 549 2.44 0 3.85 52.56 604 2.76 1 4.19 52.51 578 2.57 2 4.41 52.52 553 2.51 3 4.58 52.50 524 2.45 4 4.79 52.52 493 2.33 0 3.85 52.56 604 2.76 1 4.26 52.52 563 2.56 2 4.52 52.51 538 2.43 3 4.75 52.52 498 2.26 4 4.92 52.53 474 1.98 0.5 maks 5 maks 50-55 51 min - 500 min - 2.5 min Data analisis mutu CPO slama pnyimpanan diuji dngan munggunakan instrumn statistika untuk mlihat apakah pngaruh suhu dan lama pnyimpanan mngakibatkan prubahan mutu yang signifikan slama pnyimpanan. Analisis statistika yang digunakan adalah ANOVA (analysis of varian) dngan uji lanjut Duncan. Mlalui uji trsbut, juga dapat diktahui apakah prubahan mutu yang trjadi slama pnyimpanan brbda signifikan dngan mutu awal. Dngan uji Duncan, data-data yang tidak brbda signifikan brada pada subst yang sama, sdangkan data-data yang brbda signifikan brada pada subst yang brbda. Hasil analisis statistika dngan ANOVA dan uji lanjut Duncan trhadap asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid, srta DOBI slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu pnyimpanan yang diujikan dapat dilihat pada Lampiran 6-13. Gambar 13, 14, 15, dan 16 mnunjukkan pngaruh suhu dan lama pnyimpanan trhadap paramtr mutu CPO. Gambar 13 mnunjukkan knaikan asam lmak bbas slama pnyimpanan pada suhu pnyimpanan yang diujikan. Asam lmak bbas mrupakan salah satu faktor pnntu mutu CPO yang juga mrupakan salah satu indikator dalam krusakan minyak. Asam lmak bbas dalam minyak tidak dikhndaki karna dgradasi asam lmak bbas trsbut mnghasilkan rasa dan bau yang tidak disukai. Knaikan asam lmak bbas disbabkan adanya raksi hidrolisis pada minyak. Hasil raksi hidrolisis minyak sawit adalah glisrol dan asam lmak bbas. Raksi ini akan diprcpat dngan adanya faktor panas, air, 27

kasaman, dan nzim (Sirgar 1991). Pada sampl CPO yang disimpan di suhu 20 o C, slama 4 minggu pnyimpanan tidak trjadi pningkatan asam lmak bbas yang signifikan. Pada sampl CPO yang disimpan di suhu 25 o C knaikan asam lmak bbas yang signifikan mulai trjadi sjak minggu ktiga pnyimpanan. Sdangkan pada sampl CPO yang disimpan di suhu 30, 35, dan 40 o C knaikan asam lmak bbas yang signifikan sudah trjadi sjak minggu prtama pnyimpanan. Asam lmak bbas sbagai hasil hidrolisis minyak dipacu olh brbagai faktor sprti suhu. Mnurut Saloko (2011) suhu optimum hidrolisis antara 30-40 o C, yang kisarannya tidak bgitu jauh dngan suhu kamar. Brdasarkan hasil ANOVA pngaruh suhu trhadap asam lmak bbas slama pnyimpanan (Lampiran 7) trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda brpngaruh nyata trhadap asam lmak bbas (p valu<0.05) mulai minggu prtama sampai minggu kmpat pnyimpanan. Pnyimpanan CPO pada suhu 20 dan 25 o C tidak brbda nyata namun saling brbda nyata dngan pnyimpanan pada suhu 30, 35, dan 40 o C. Asam lmak bbas (%) 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 a a a ab a b b c d c d b a a abc bc b c d a c a a 20 25 30 35 40 Suhu pnyimpanan ( o C) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 13. Kadar asam lmak bbas slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. Banyaknya ikatan rangkap dalam asam lmak ditunjukkan dngan bilangan iod. Ikatan rangkap akan braksi dngan snyawa iod shingga smakin banyak ikatan rangkap maka jumlah iod yang digunakan smakin banyak dan bilangan iod akan smakin tinggi. Bilangan iod juga mnandakan drajat ktidakjnuhan minyak, bilangan iod yang smakin tinggi mnunjukkan drajat ktidakjnuhan minyak yang smakin tinggi pula. Mnurut Basiron (2005) minyak sawit kasar trdiri dari 50% asam lmak jnuh dan 50% asam lmak tidak jnuh. Shingga minyak sawit kasar akan mmiliki bilangan iod yang brkisar antara 44-58 g iod/100 g sampl (Winarno 1999). Hasil analisis bilangan iod slama pnyimpanan dapat dilihat pada Gambar 14. 28

Bilangan iod (g iod/100 g) 53.00 52.50 52.00 51.50 51.00 50.50 50.00 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 20 25 30 35 40 Suhu pnyimpanan ( o C) minggu 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 14. Bilangan iod slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. Gambar 14 mnunjukkan bahwa bilangan iod CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada stiap suhu pnyimpanan yang diujikan tidak mngalami prubahan yang signifikan. Shingga dapat dikatakan bahwa pada suhu pnyimpanan 20-40 o C tidak mmpngaruhi bilangan iod CPO. Hal ini trjadi karna prlakuan suhu pnyimpanan yang dittapkan tidak mngakibatkan trjadinya prubahan drajat ktidakjnuhan CPO (komponn asam lmak pnyusun ttap). Brdasarkan pnlitian yang dilakukan olh Tsaknis t al. (2002), diktahui bahwa minyak nabati dapat mngalami prubahan bilangan iod jika dibrikan prlakuan suhu tinggi (>180 o C), dimana pada suhu trsbut dapat mngakibatkan pmutusan ikatan rangkap pada asam lmak shingga trjadi pnurunan bilangan iod. Brdasarkan hasil ANOVA pngaruh suhu dan lama pnyimpanan trhadap asam lmak bbas slama pnyimpanan (Lampiran 8 dan 9) trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda srta lama pnyimpanan tidak brpngaruh nyata trhadap bilangan iod (p valu>0.05). Karotnoid mrupakan pigmn yang mmbrikan warna mrah pada klapa sawit. Karotnoid sangat mudah troksidasi, hal ini karna adanya ikatan ganda pada karotnoid yang mnybabkan prcpatan laju oksidasi. Gross (1991) mngatakan bahwa laju oksidasi karotnoid mningkat siring dngan pningkatan suhu. Hasil analisis kadar karotnoid slama pnyimpanan dapat dilihat pada Gambar 15. Karotnoid (ppm) 700 600 500 400 300 200 100 0 a a a a a a a ab b c a b c a b a d c b d c d 20 25 30 35 40 Suhu pnyimpanan ( o C) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 15. Kadar karotnoid slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. 29

Gambar 15 mnunjukkan bahwa trjadi pnurunan kadar karotnoid pada CPO slama pnyimpanan, namun pnurunan kadar karotnoid pada CPO yang disimpan di suhu 20 o C slama 4 minggu pnyimpanan tidak signifikan. CPO yang disimpan di suhu 25 o C mulai mngalami pnurunan kadar karotnoid yang signifikan stlah 3 minggu pnyimpanan. Sdangkan CPO yang disimpan di suhu 30, 35, dan 40 o C sudah mngalami pnurunan kadar karotnoid yang signifikan sjak minggu prtama pnyimpanan. Brdasarkan hasil ANOVA pngaruh suhu trhadap kadar karotnoid slama pnyimpanan (Lampiran 11) trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda brpngaruh nyata trhadap kadar karotnoid (p valu<0.05). Hasil yang diprolh pada pnlitian ini mnunjukkan kssuaian dngan pnlitian sblumnya yang dilakukan olh Alyas t al. (2006) yang mnunjukkan bahwa smakin lama dan smakin tinggi prlakuan suhu yang dibrikan akan mngakibatkan pnurunan kadar karotnoid yang smakin tinggi. Pnlitian yang dilakukan olh Lin dan Chn (2005) mngnai stabilitas karotn pada jus tomat slama pnyimpanan juga mnunjukkan hal yang srupa, dimana trjadi kcndrungan pnurunan kadar karotnoid siring dngan pningkatan suhu pnyimpanan. Pnlitian Hastinah (1997) mnunjukkan bahwa dgradasi karotnoid sangat dipngaruhi olh suhu dan lamanya pmanasan. Suhu yang smakin tinggi dan pmanasan yang smakin lama mngakibatkan smakin mningkatnya dgradasi karotn. Akibat pngaruh suhu tinggi atau raksi oksidasi, karotn dapat brubah mnjadi snyawa yang brwarna kcoklat-coklatan dan larut dalam minyak shingga smakin sukar untuk dipucatkan. Pnurunan daya pmucatan ini disbut DOBI (dtrioration of blachability indx) (Pahan 2008). Hasil analisis DOBI slama pnyimpanan CPO dapat dilihat pada Gambar 16. DOBI 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 0.00 a a a a a a ab ab ab a b a a b bc cd d b bc c b d b c 20 25 30 35 40 Suhu Pnyimpanan ( o C) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 16. DOBI slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. d Hasil uji Duncan trhadap DOBI slama pnyimpanan yang disajikan pada Gambar 16 mnunjukkan bahwa slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu pnyimpanan yang diujikan trjadi pnurunan DOBI. Pnurunan DOBI yang trjadi pada CPO yang disimpan di suhu 20 o C slama 4 minggu tidak signifikan. CPO yang disimpan pada suhu 25 o C mulai mngalami pnurunan DOBI yang signifikan pada minggu kmpat pnyimpanan. Sdangkan pada CPO yang disimpan di suhu 30, 35, dan 40 o C trjadi pnurunan DOBI yang signifikan sjak minggu prtama pnyimpanan. Smakin tinggi suhu akan mngakibatkan 30

krusakan pigmn karotnoid yang smakin bsar. Mnurut Naibaho (1998) pada pross krusakan pigmn karotnoid pada minyak akan trjadi pnurunan nilai absorbansi pada panjang glombang 446 nm dan pningkatan nilai absorbansi pada panjang glombang 269 nm, shingga akan trjadi pnurunan DOBI yang mrupakan ptunjuk krusakan minyak, yang juga mnggambarkan pnurunan daya pmucatan minyak. Brdasarkan hasil ANOVA pngaruh suhu trhadap DOBI slama pnyimpanan (Lampiran 13) trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda brpngaruh nyata trhadap DOBI (p valu<0.05). Pngawasan mutu CPO slama pnyimpanan prlu dilakukan dngan dngan ktat untuk mncgah trjadinya pnurunan mutu. Lubis dan Naibaho (1995) mngatakan bahwa suhu pnyimpanan pada tangki timbun CPO prlu diprhatikan dngan baik, karna suhu mrupakan salah satu faktor yang dapat mngakibatkan krusakan mutu CPO. Brdasarkan hasil analisis mutu CPO yang dilakukan, suhu pnyimpanan yang paling baik adalah pnyimpanan pada suhu 20 o C. CPO yang disimpan slama 4 minggu pada suhu 20 o C mmiliki mutu yang paling baik jika dibandingkan dngan CPO yang disimpan pada suhu pnyimpanan lainnya yang lbih tinggi. Pnyimpanan CPO pada suhu 20 dan 25 o C dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lbih lama, karna pada suhu pnyimpanan trsbut mutu CPO tidak banyak mngalami prubahan. Apabila pnyimpanan dilakukan pada suhu yang lbih tinggi sprti pada suhu 35 dan 40 o C, sbaiknya pnyimpanan CPO tidak dilakukan dalam waktu yang trlalu lama, karna smakin tinggi suhu pnyimpanan akan mngakibatkan pnurunan mutu CPO yang smakin bsar. Olh karna itu lama pnyimpanan CPO pada suhu pnyimpanan yang ditrapkan harus diprhatikan. Pngawasan trhadap mutu CPO slama pnyimpanan harus dilakukan scara tratur. 2. Rologi CPO Slama Pnyimpanan Slama pnyimpanan sifat rologi CPO dianalisis dngan mnggunakan Haak Rotoviscomtr RV20 stiap minggunya. Sifat rologi CPO slama pnyimpanan dilihat dari indks tingkah laku aliran (n) dan indks konsistnsi (K). Hasil analisis rologi CPO slama pnyimpanan dapat dilihat pada Gambar 17 dan 18 dngan data lngkap pada Lampiran 14. Indks tingkah laku aliran 0.900 0.800 0.700 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 a b c d a b d d a a b b c c c d d a b c 20 25 30 35 40 Suhu Pnyimpanan ( o C) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 17. Indks tingkah laku aliran CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. 31

Indks konsistnsi aliran 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 a a a a a b b b b b 20 25 30 35 40 Suhu Pnyimpanan ( o C) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 18. Indks konsistnsi aliran CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20, 25, 30, 35 dan 40 o C. Brdasarkan data rologi CPO slama pnyimpanan yang disajikan pada Gambar 17 dan 18, CPO yang disimpan di suhu 20 o C mmiliki nilai n brkisar antara 0.682-0.692 dan nilai K brkisar antara 1.335-1.354. CPO yang disimpan di suhu 25 o C mmiliki nilai n brkisar antara 0.718-0.734 dan nilai K brkisar antara 0.730-0.755. CPO yang disimpan di suhu 30 o C mmiliki nilai n brkisar antara 0.722-0.739 dan nilai K brkisar antara 0.517-0.598. CPO yang disimpan di suhu 35 o C mmiliki nilai n brkisar antara 0.769-0.778 dan nilai K brkisar antara 0.238-0.245. CPO yang disimpan di suhu 40 o C mmiliki nilai n brkisar antara 0.852-0.869 dan nilai K brkisar antara 0.120-130. Trlihat bahwa smakin tinggi suhu pnyimpanan maka indks tingkah laku aliran (n) smakin tinggi, sdangkan indks konsistnsi (K) aliran smakin mnurun. Mnurut Goodrum t al. (2001), karna viskositas mrupakan fungsi dari suhu, maka nilai paramtr n dan K juga dapat brubah dngan prubahan suhu. Hasil pnlitian yang dilakukan olh Ahmd (2004) juga mnunjukkan bahwa indks tingkah laku aliran akan smakin tinggi siring dngan smakin tinggi suhu fluida, sdangkan indks konsistnsi aliran mnurun scara signifikan. Dilihat dari nilai n dan K, sampl CPO yang disimpan pada stiap suhu pnyimpanan mmiliki sifat psudoplastik. Namun smakin tinggi suhu pnyimpanan, sifat CPO smakin mndkati fluida Nwtonian yang ditandai dngan nilai n yang smakin tinggi (mndkati 1) dan nilai K yang smakin rndah. Scara kasat mata trlihat bahwa CPO yang disimpan pada suhu 40 o C mmiliki konsistnsi yang lbih cair dibandingkan CPO yang disimpan pada suhu pnyimpanan lainnya. Mnurut Rosidah (1990) smakin tinggi suhu akan mngakibatkan pnurunan kkntalan tampak srta konsistnsi suatu fluida Pada Gambar 17 dan 18 trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda mngakibatkan prbdaan nyata trhadap indks tingkah laku aliran dan indks konsistnsi aliran (p valu<0.05). Data lngkap ANOVA pngaruh suhu pnyimpanan trhadap indks tingkah laku aliran dan indks konsistnsi aliran slama pnyimpanan dapat dilihat pada Lampiran 15 dan 16. Jika dilihat dari pngaruh lama pnyimpanan trhadap tingkah laku aliran dan indks konsistnsi aliran, pada Gambar 17 dan 18 trlihat bahwa indks tingkah laku aliran dan indks konsistnsi aliran CPO pada stiap suhu pnyimpanan yang diujikan tidak brbda signifikan slama 4 minggu pnyimpanan. Hal ini mnunjukkan bahwa lama pnyimpanan tidak brpngaruh nyata trhadap sifat rologi CPO. Data lngkap ANOVA pngaruh lama pnyimpanan trhadap indks tingkah laku aliran dan indks konsistnsi c c c c c d d d d d 32

aliran slama pnyimpanan dapat dilihat pada Lampiran 17 dan 18. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada stiap suhu pnyimpanan yang diujikan disajikan pada Gambar 19-23, dngan data ANOVA pada Lampiran 19. 1.200 1.000 Viskositas (Pa.s) 0.800 0.600 0.400 0.200 0 100 200 300 400 Shar rat (s -1 ) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Gambar 19. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 20 o C. 1.200 Viskositas (Pa.s) 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu 0 100 200 300 400 Shar rat (s -1 ) Gambar 20. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 25 o C. 33

Viskositas (Pa.s) 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0 100 200 300 400 Shar rat (s -1 ) 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu Gambar 21. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 30 o C. 1.200 Viskositas (Pa.s) 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu 0 100 200 300 400 Shar rat (s -1 ) Gambar 22. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 35 o C. 1.200 Viskositas (Pa.s) 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4 minggu 10 20 30 40 Shar rat (s -1 ) Gambar 23. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO slama 4 minggu pnyimpanan pada suhu 40 o C. 34

Gambar 19-23 mnunjukkan bahwa smakin bsar shar rat yang dibrikan maka nilai viskositas akan smakin kcil. Mnurut Singh dan Hldman (2001), saat fluida psudoplastik mngalami gaya gsr, partikl-partikl yang trdistribusi scara acak akan mngatur dirinya sjajar dngan arah aliran, shingga viskositas mnurun. Slama 4 minggu pnyimpanan nilai viskositas CPO pada brbagai shar rat yang dibrikan di stiap suhu pnyimpanan tidak mngalami prubahan yang signifikan brdasarkan uji Duncan. Shingga dapat dikatakan bahwa lama pnyimpanan tidak brpngaruh trhadap viskositas CPO. Pada Gambar 19-23 trlihat bahwa suhu pnyimpanan mmpngaruhi viskositas CPO pada stiap shar rat yang dibrikan. Brdasarkan data hubungan antara shar rat dan viskositas CPO pada Gambar 19-23 trlihat bahwa smakin tinggi suhu pnyimpanan maka nilai viskositas CPO akan smakin kcil. Mnurut Rao (1999) suhu sangat brpngaruh trhadap viskositas fluida, dimana scara umum viskositas akan mnurun dngan mningkatnya suhu. Munson t al. (2001) juga mngungkapkan bahwa scara umum viskositas suatu fluida akan mnurun dngan mningkatnya suhu. Hal trsbut disbabkan olh trjadinya pnurunan gaya kohsif pada molkul-molkul fluida saat suhu mngalami pningkatan. Pngaruh suhu trhadap viskositas CPO slama pnyimpanan dapat dijlaskan dari nilai nrgi aktivasi (E a ) yang didapatkan mlalui prsamaan Arrhnius (Prsamaan 10) yang mlibatkan suhu absolut (T), konstanta gas univrsal (R), dan nrgi aktivasi (E a ): ln µ = E a /RT + ln A (10) Nilai E a dan konstanta Arhnnius ditntukan mnggunakan rgrsi linir dari data prcobaan yang diprolh pada shar rat trtntu. Hasil prhitungan nilai nrgi aktivasi dan konstanta Arrhnius pada shar rat 100, 200, 300, dan 400 s -1 dapat dilihat pada Tabl 8, dngan data lngkap pada Lampiran 20. Tabl 8. Enrgi aktivasi dan konstanta Arrhnius pada shar rat 100, 200, 300, dan 400 s -1. Shar rat Prsamaan (s -1 R 2 Enrgi aktivasi Konstanta ) Arrhnius (kj mol -1 ) Arrhnius (Pa.s) 100 y = 7325.x - 26.13 0.98 60.90 4.48x10-12 200 y = 6991.x - 25.23 0.98 58.12 1.10x10-11 300 y = 6860.x - 24.88 0.98 57.03 1.56x10-11 400 y = 6495.x - 23.72 0.97 53.99 4.99x10-11 Brdasarkan Tabl 8, trlihat bahwa smakin kcil shar rat yang dibrikan maka nrgi aktivasi smakin bsar. Pada shar rat 100-1, nrgi aktivasi sbsar 60.90 kj mol -1 dan konstanta Arrhnius sbsar 4.48x10-12. Mnurut Cuah t al. (2008) nrgi aktivasi yang bsar mngindikasikan snsitivitas viskositas trhadap suhu. Artinya pada shar rat 100 s -1, prbdaan suhu akan sangat brpngaruh trhadap viskositas CPO. Konstanta Arrhnius dan dan nrgi aktivasi yang diprolh brdasarkan prsamaan Arrhnius pada shar rat trtntu dapat digunakan untuk mmprkirakan bsarnya viskositas pada brbagai suhu. Sifat rologi CPO slama pnyimpanan sangat brgantung pada suhu pnyimpanan yang ditrapkan. Mnurut CAC (2005) untuk mncgah trjadinya kristalisasi dan pmadatan yang brlbihan slama pnyimpanan singkat, CPO di dalam tangki harus diprtahankan suhunya ttap tinggi pada kisaran suhu 32-40 o C. Suhu-suhu trsbut dipilih untuk mminimalisir krusakan pada minyak atau lmak. Kristalisasi ttap akan trjadi, ttapi tidak 35

brlbihan shingga tidak mmrlukan pmanasan yang panjang sblum sampai di tujuan. Dngan dmikian, minyak sawit yang disimpan pada suhu 32-40 o C mmbutuhkan skitar 3 hari pmanasan pada laju knaikan suhu 5 o C/24 jam untuk mncapai suhu pngaliran. Sdangkan pada pnyimpanan dngan waktu yang panjang, sluruh minyak harus disimpan pada suhu kamar atau suhu yang lbih rndah, dan pmanasan harus dihntikan. Hal ini dilakukan untuk mncgah krusakan mutu CPO akibat pmanasan yang trlalu lama. D. KARAKTERISTIK MUTU DAN REOLOGI CPO SETELAH PEMANASAN SEBELUM PENGALIRAN Pngaliran CPO di dalam sistm pipa brlangsung pada saat pngisian CPO dari tangki pnyimpanan k tangki angkut, atau sbaliknya, srta pada saat pngapanan di plabuhan. Sblum dialirkan, CPO dipanaskan untuk mncapai suhu maksimal pngaliran yang dirkomndasikan CAC (2005), yaitu suhu 55 o C. Hasil analisis mutu CPO trhadap sampl yang tlah mngalami pmanasan sblum pngaliran dapat dilihat pada Tabl 9, dngan data lngkap trsaji pada Lampiran 21. Tabl 9. Paramtr mutu CPO stlah mngalami pnyimpanan 4 minggu dan mngalami pmanasan kmbali hingga suhu 55 o C sblum pngaliran. Paramtr mutu Suhu pnyimpanan ( o Asam lmak Bilangan iod Karotnoid C) DOBI bbas (%) (g iod/100 g) (ppm) 20 4.25 52.52 553 2.57 25 4.33 52.53 538 2.51 30 4.54 52.54 509 2.37 35 5.05 52.53 444 2.10 40 5.24 52.52 425 1.65 Standar mutu SNI 01-2901-2006 Ditjnbun (1997) 0.5 maks 5 maks 50-55 51 min - 500 min - 2.5 min Brdasarkan hasil analisis yang dilakukan, stlah mngalami pross pmanasan hingga suhu 55 o C dngan knaikan suhu 5 o C/24 jam kadar asam lmak bbas pada sampl CPO mningkat, bilangan iod cndrung ttap, sdangkan kadar karotnoid dan DOBI mnurun. Pada Tabl 9 trlihat bahwa smakin tinggi suhu pnyimpanan mngakibatkan pnurunan mutu yang smakin bsar stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C. Stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C, CPO yang disimpan pada suhu 20 dan 25 o C masih mmnuhi standar mutu CPO di PKS Indonsia dilihat dari nilai asam lmak bbas, bilangan iod, kadar karotnoid, dan DOBI. Sdangkan CPO yang disimpan pada suhu 30, 35 dan 40 o C sudah tidak mmnuhi standar mutu stlah dipanaskan hingga suhu 55 o C. Analisis rologi trhadap CPO yang tlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C dilakukan untuk mngtahui sifat rologi CPO sblum pngaliran. Data lngkap analisis rologi CPO stlah mngalami pmanasan sblum pngaliran hingga suhu 55 o C disajikan pada Lampiran 22. Gambar 24 mnunjukkan indks tingkah laku aliran CPO stlah pmanasan sblum pngaliran, sdangkan Gambar 25 mnunjukkan indks konsistnsi aliran CPO stlah pmanasan sblum pngaliran. 36

Indks tingkah laku aliran 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0.966 (a) 0.968 (a) 0.963 (a) 0.957 (a) 0.968 (a) 20 25 30 35 40 Suhu pnyimpanan ( o C) Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 24. Indks tingkah laku aliran CPO stlah pmanasan sblum pngaliran. Indks konsistnsi aliran 0.100 0.080 0.060 0.040 0.020 0.026 (a) 0.027 (a) 0.027 (a) 0.029 (a) 0.027 (a) 20 25 30 35 40 Suhu pnyimpanan ( o C) Huruf yang brbda mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Gambar 25. Indks konsistnsi aliran CPO stlah pmanasan sblum pngaliran. Trlihat pada Gambar 24 dan 25 bahwa pmanasan hingga mncapai suhu pngaliran, yaitu suhu 55 o C mngakibatkan indks konsistnsi mnurun, sdangkan indks tingkah laku aliran mningkat mndkati fluida Nwtonian. Pmanasan CPO hingga suhu 55 o C mngakibatkan CPO homogn dngan konsistnsi yang lbih cair. Brdasarkan data rologi CPO yang disajikan pada Gambar 24 dan 25, trlihat bahwa suhu pnyimpanan yang brbda tidak brpngaruh trhadap rologi CPO stlah pmanasan hingga suhu 55 o C. Smua sampl CPO yang disimpan pada suhu pnyimpanan yang brbda, stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C mmiliki indks tingkah laku aliran dan indks konsistnsi yang tidak brbda signifikan (p valu>0.05), dngan indks tingkah laku aliran brkisar antara 0.957-0.968 dan indks konsistnsi aliran brkisar antara 0.026-0.029. Smua sampl CPO yang dipanaskan hingga suhu 55 o C mmiliki sifat yang mndkati fluida Nwtonian (n=1 dan K>0). Hasil analisis statistika trhadap nilai indks tingkah laku aliran (n) dan indks konsistnsi aliran (K) pada Gambar 24 dan 25 trlihat bahwa stlah mngalami pmanasan, smua sampl CPO yang disimpan pada stiap suhu pnyimpanan (20, 25, 30, 35, dan 40 o C) mmiliki nilai n dan K yang tidak brbda nyata stlah dipanaskan hingga suhu 55 o C. Hubungan antara shar rat dan viskositas CPO stlah mngalami pmanasan sblum pngaliran pada suhu 55 o C dapat dilihat pada Gambar 26. 37

Viskositas (Pa.s) 0.140 0.120 0.100 0.080 0.060 0.040 0.020 20 20 C o C 25 25 C o C 30 30 C o C 35 35 C o C 40 40 C o C 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Shar rat (s -1 ) Gambar 26. Hubungan shar rat dan viskositas CPO stlah mngalami pmanasan sblum pngaliran. Brdasarkan data hubungan shar rat dan nilai viskositas CPO stlah pmanasan sblum pngaliran pada Gambar 26 trlihat bahwa viskositas CPO stlah mngalami pmanasan tidak lagi dipngaruhi olh bsarnya shar rat yang dibrikan. Stlah mngalami pmanasan hingga suhu 55 o C, pada shar rat yang brbda-bda nilai viskositas tidak banyak mngalami prubahan, brkisar antara 0.022-0.024 Pa.s. Hal ini mnunjukkan sifat fluida Nwtonian. Mnurut Goodrum t al. (2002) nilai viskositas fluida Nwtonian tidak dipngaruhi olh bsarnya gaya gsr yang bkrja pada fluida, shingga fluida Nwtonian akan mmiliki nilai viskositas yang ttap brapapun shar rat yang dibrikan. Brdasarkan data rologi CPO stlah pmanasan sblum pngaliran, suhu CPO stlah pmanasan sblum pngaliran sangat mmpngaruhi sifat rologi CPO yang slanjutnya akan dialirkan dalam pipa. Ditinjau dari sifat rologinya, CPO yang tlah dipanaskan hingga mncapai suhu pngaliran tidak dipngaruhi olh suhu pnyimpanan yang dilakukan sblumnya. E. KARAKTERISTIK MUTU DAN REOLOGI CPO SELAMA PENGALIRAN DALAM PIPA Mnurut Yuliati (2001), transportasi minyak klapa sawit moda pipa dapat mningkatkan ktrandalan (rliability) waktu antar, mnydrhanakan pross pnanganan bahan (matrial handling), dan mnurunkan biaya pngangkutan minyak klapa sawit. Dalam mngmbangkan transportasi minyak klapa sawit moda pipa, diprlukan kajian mngnai prubahan sifat fisik dan kimia minyak klapa sawit yang dialirkan scara trus-mnrus pada waktu yang lama. Untuk pngujian pngaruh pross pngaliran CPO trhadap mutu dan rologi CPO, dilakukan pngaliran sampl CPO pada sistm pipa sirkulasi skala laboratorium yang dilngkapi dngan pompa pndorong aliran. Sampl CPO yang digunakan untuk simulasi pngaliran, sblumnya dipanaskan trlbih dahulu hingga mncapai suhu maksimal pngaliran yang dirkomndasikan CAC (2005) yaitu suhu 55 o C. Slama pngaliran trjadi plpasan panas yang mngakibatkan suhu CPO mnurun dan mncapai kondisi isotrmal, yang ditandai dngan tidak trjadinya pnurunan suhu lagi (suhu konstan). Sistm pipa sirkulasi yang digunakan dilngkapi dngan trmokopl yang trdapat di lima titik spanjang pipa pngaliran yang trhubung dngan trmorkordr, shingga suhu slama pngaliran dapat diamati. Pngaliran 38

CPO dilakukan pada dua kondisi, yaitu pada kondisi isotrmal di atas titik llh CPO (kondisi 1, T>40 o C) dan pngaliran CPO pada kondisi isotrmal di bawah titik llh CPO (kondisi 2, T<40 o C). Slama pngaliran dilakukan pngukuran trhadap viskositas trukur yang dapat dilihat pada Gambar 27 dngan data lngkap pada Lampiran 23. 900 60 750 50 Viskositas (mpa.s) 600 450 300 40 30 20 Suhu ( o C) 150 10 0 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Lama Pngaliran (mnit) Viskositas Kondisi 1 Viskositas Kondisi 2 Suhu Kondisi 1 Suhu Kondisi 2 (T >40 o C) (T <40 o C) (T >40 o C) (T <40 o C) Gambar 27. Profil prubahan viskositas dan suhu slama simulasi pngaliran CPO pada dua kondisi pngaliran. 0 Brdasarkan Gambar 27 dapat diktahui bahwa pngaliran CPO pada kondisi 1, suhu pngaliran isotrmal pada suhu 48 o C, dimana pada suhu trsbut viskositas CPO cndrung ttap brada pada kisaran 0.034 Pa.s hingga akhir pngaliran. Hal ini mnunjukkan bahwa blum trjadi kristalisasi lmak ktika CPO dialirkan pada kondisi trsbut. Titik llh minyak sawit adalah kisaran dari nilai-nilai yang mnunjukkan glisrida pnyusunnya yang trdiri dari asamasam lmak dngan titik cair yang brbda-bda (Satiawihardja t al. 2001). Mnurut Himawan t al. (2006), minyak sawit mmiliki titik llh 40 o C. Olh karna itu, CPO ttap brada dalam fas cair ktika dialirkan pada kondisi pngaliran isotrmal di atas titik llh CPO. Pada Gambar 27 juga dapat diamati pngaliran CPO dngan kondisi yang sangat brbda yaitu pngaliran CPO pada kondisi 2, ktika CPO dialirkan pada kondisi isotrmal di bawah titik llh CPO. Pada kondisi 2, ktika trjadi pnurunan suhu dari 55 o C hingga mndkati titik llh CPO yaitu skitar suhu 40 o C, viskositas CPO cndrung tidak banyak mngalami prbuahan, brkisar antara 0.030 0.040 Pa.s. Namun ktika suhu CPO brada di bawah titik llhnya, viskositas CPO mngalami pningkatan yang drastis. Pada saat suhu CPO isotrmal di skitar suhu 35 o C, viskositas CPO trus mngalami pningkatan yang signifikan. Hal ini mnunjukkan mulai trbntuknya kristal lmak yang mngakibatkan pmbntukan fas padat pada CPO. Mnurut Mtin dan Hartl (2005), pnybab trjadinya kristalisasi adalah adanya prbdaan suhu aktual di bawah suhu titik llh triglisrida. Shingga suhu yang smakin jauh di bawah titik llh CPO akan mngakibatkan pningkatan kandungan lmak padat pada CPO yang dapat diamati dari pningkatan viskositas trukur. Brdasarkan Gambar 27, pada pngaliran CPO kondisi 2 trlihat bahwa pada suhu 40 o C viskositas trukur sbsar 0.041 Pa.s, pada suhu 38 o C 39

viskositas trukur mngalami pningkatan, yaitu sbsar 0.070 Pa.s, dan pada suhu 36 o C viskositas trukur mningkat drastis, mncapai 0.770 Pa.s. Dngan dmikian, untuk mnjamin CPO ttap dapat mngalir di spanjang pipa, maka pmbntukan kristal lmak pada CPO slama pngaliran prlu dicgah. Kristalisasi lmak pada CPO dapat dicgah dngan cara mmprtahankan suhu pngaliran yang lbih tinggi dari titik llh CPO, yaitu suhu di atas 40 o C. Slama pngaliran juga dilakukan analisis trhadap sifat rologi CPO yang dilihat dari indks konsistnsi aliran (n) dan indks konsistnsi aliran (K). Hasil analisis rologi CPO slama pngaliran dapat dilihat pada Tabl 10. Tabl 10. Sifat rologi CPO slama pngaliran dalam pipa. Suhu Prsamaan Indks tingkah Indks pngaliran ( o C) powr law laku aliran (n) konsistnsi (K) Sifat fluida 55 y = 0.961x - 1.572 0.961 0.027 Nwtonian 50 y = 0.904x - 1.348 0.904 0.045 Nwtonian 45 y = 0.915x - 1.305 0.915 0.049 Nwtonian 40 y = 1.021x - 1.445 1.021 0.035 Nwtonian 35 y = 0.667x - 0.060 0.667 0.870 Psudoplastik Brdasarkan indks tingkah laku dan indks konsistnsi aliran pada Tabl 10, ktika CPO dialirkan dari suhu 55 o C hingga suhu 40 o C, CPO mmiliki sifat fluida Nwtonian. Namun ktika suhu CPO brada di bawah titik llh CPO, yaitu pada suhu 35 o C, CPO mmiliki sifat fluida psudoplastik. Brdasarkan data trsbut maka dapat dikatakan bahwa slama pngaliran, CPO dapat mmprtahankan sifat fluida Nwtonian hingga suhu pngaliran mndkati titik llh CPO, namun ktika suhu pngaliran brada di bawah titik llh CPO, maka CPO akan mmiliki sifat psudoplastik. Slain sifat rologi, slama pngaliran juga dilakukan pngamatan trhadap prubahan mutu CPO yang trjadi. Pngamatan trhadap mutu CPO dilakukan pada kondisi 1, yaitu kondisi pngaliran CPO pada suhu isotrmal di atas titik llh CPO. Analisis trhadap mutu CPO slama pngaliran dapat dilihat pada Tabl 11 dngan data lngkap pada Lampiran 24. Tabl 11. Paramtr mutu CPO slama pngaliran dalam pipa pada kondisi isotrmal di atas titik llh CPO (T>40 o C). Paramtr mutu Lama Asam lmak Bilangan iod Karotnoid pngaliran (jam) DOBI bbas (%) (g iod/100 g) (ppm) 0 4.13 a 52.43 a 623 a 2.76 a 2 4.43 b 52.41 a 595 b 2.57 b 3 4.64 c 52.40 a 582 c 2.52 bc 4 4.85 d 52.42 a 574 d 2.45 cd 5 5.07 52.40a 563 2.38 d 6 5.21 f 52.42a 547 f 2.32 Standar mutu SNI 01-2901-2006 Ditjnbun (1997) 0.5 maks 5 maks 50-55 51 min - 500 min - 2.5 min Ktrangan: Huruf yang brbda dalam kolom yang sama mnunjukkan prbdaan yang signifikan (p<0.05) dngan uji Duncan pada slang kprcayaan 95%. Pada Tabl 11 trlihat bahwa slama pngaliran trjadi pnurunan mutu CPO. Slama 3 jam pngaliran, mutu CPO masih mmnuhi standar mutu CPO di PKS Indonsia yang 40

dittapkan olh Ditjnbun (1997), dimana standar asam lmak bbas maksimal 5%, bilangan iod minimal 51 g iod/100 g, karotnoid minimal 500 ppm, dan DOBI minimal 2.5. Stlah 4 jam pngaliran, DOBI sudah tidak mmnuhi standar (<2.50), dan stlah 5 jam pngaliran asam lmak bbas sudah tidak mmnuhi standar (>5%). Slama 6 jam pngaliran kadar karotnoid masih mmnuhi standar (>500 ppm), sdangkan bilangan iod cndrung tidak mngalami prubahan slama pngaliran brlangsung. Pnanganan CPO sblum pngaliran sangat mmpngaruhi mutu CPO ktika dialirkan. Smakin baik mutu CPO awal, maka pngaliran dapat dilakukan pada waktu pngaliran yang lbih lama sblum akhirnya mlwati standar mutu yang dittapkan. Slama pross pngaliran, suhu CPO diprtahankan ttap di atas titik llh CPO (>40 o C) agar mmudahkan pross pngaliran. Namun pngaliran di atas titik llh CPO ini mngakibatkan pnurunan mutu CPO slama pngaliran. Brdasarkan hasil uji Duncan trhadap prubahan paramtr mutu CPO slama pngaliran yang disajikan pada Lampiran 24, trlihat bahwa slama pngaliran trjadi pnurunan mutu yang signifikan dilihat dari asam lmak bbas, karotnoid, dan DOBI. Sdangkan bilangan iod tidak mngalami prubahan yang signifikan slama pngaliran. Pada sistm pipa yang digunakan untuk pngaliran pada pnlitian ini trdapat bagian yang trbuka, yaitu pada tangki pmanas. Kondisi pngaliran yang tidak trtutup smpurna dapat mngakibatkan trjadinya kontak antara CPO dngan lingkungan, trutama oksign dan air yang mrupakan faktor pnybab krusakan minyak. 41