PERKEMBANGAN PROPERTI KOMERSIAL

dokumen-dokumen yang mirip
SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY. Pusat Perbelanjaan/Ritel di Jabodetabek dan Bandung

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

SURVEI PROPERTI KOMERSIAL

1 PENDAHULUAN. Gambar 1 Tarif Sewa Hotel dan Ritel. Gambar 2 Sewa Apartemen, Kantor dan industri. Sumber : BI (2013)

KOMERSIAL COMMERCIAL PROPERTY SURVEY

LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI PROPERTI KOMERSIAL DI INDONESIA

Studi Kinerja Industri Properti Komersial Apartemen, Hotel, Perkantoran, Pusat Perbelanjaan, Lahan Industri

Indonesia Property Market Overview 4 th Quarter 2015

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

SURVEI PERBANKAN * perkiraan

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

BAB I PENDAHULUAN. selama tahun tersebut. Menurunnya daya beli masyarakat yang dipicu dari

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlahan menjadi lebih baik dan stabil

Grafik 3. Pertumbuhan Per Jenis Kredit Konsumsi. Grafik 2. Perkembangan NPL Per Jenis Kredit (%) 3.0. (%, yoy)

(%, SBT) (%, qtq)

Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tantangan Sektor Properti

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

Grafik 1. Permintaan Kredit Baru (SBT, %)

Analisa Statistik Uang Beredar (M2) dan Perkembangan Dana, Kredit serta Suku Bunga Perbankan

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

BAB 1 PENDAHULUAN. perkantoran di Jakarta. PT XYZ saat ini dimiliki oleh PT BCD sebesar 72,25%

aruhi Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar

Elastisitas Outstanding Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen Terhadap Indikator Pasar Perumahan. Oleh : Tim Riset

No. Jenis Kredit Rincian Kredit

ASURANSI UMUM & REASURANSI

SURVEI KREDIT PERBANKAN

aruhi Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar

BERITA RESMI STATISTIK

PROFIL DAN PENCAPAIAN PERSEROAN

BERITA RESMI STATISTIK

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

BAB I PENDAHULUAN. dan juga mempengaruhi minat investor untuk menanam atau menarik investasinya

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

SURVEI HARGA PROPERTI RESIDENSIAL

Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar. aruhi. Nov. Okt. Grafik 1. Pertumbuhan PDB, Uang Beredar, Dana dan Kredit KOMPONEN UANG BEREDAR

LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI HOTEL DI INDONESIA

LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI HOTEL DI INDONESIA

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Perkembangan Uang Beredar (M2)

BAB II DESKRIPSI INDUSTRI PROPERTY DAN REAL ESTATE DI INDONESIA Sejarah Perusahaan Sub Sektor Property dan Real Estate

% yoy. Jan*

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Studi Kinerja Industri Properti Residensial Pertumbuhan Harga, Penjualan, Pembiayaan, & Faktor Yang Mempengaruhinya.

aruhi Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar

SURVEI KREDIT PERBANKAN

I. PENDAHULUAN. Bisnis properti tahun 2008 akan berkembang pesat, hal ini disebabkan

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengaruhi

BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kebutuhan akan rumah adalah kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan

SURVEI KREDIT PERBANKAN

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

aruhi Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Memen

Transkripsi:

PERKEMBANGAN PROPERTI KOMERSIAL Triwulan I - 2010 Perkembangan Properti Komersial di wilayah Jabodebek (qtq) : Jumlah pasokan properti komersial di Jabodebek pada triwulan I-2010 meningkat pada beberapa jenis properti dengan kecenderungan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, kecuali pasokan ritel sewa dan lahan industri yang meningkat lebih besar dibandingkan triwulan lalu. Tingkat hunian cenderung menurun sementara tingkat penjualan mengalami kenaikan, kecuali pada tingkat hunian ruang perkantoran dan apartemen yang menunjukkan peningkatan, sementara penurunan tingkat penjualan hanya terjadi pada lahan industri. Untuk tarif sewa dan harga jual cenderung mengalami penurunan, kecuali harga jual ruang perkantoran dan ritel yang sedikit meningkat. Perkembangan Properti Komersial di wilayah Banten (qtq) : Peningkatan pasokan properti komersial di Banten pada triwulan I-2010 hanya terjadi pada hotel. Tingkat hunian dan tingkat penjualan pada semua subsektor properti komersial cenderung meningkat, penurunan hanya terjadi pada tingkat hunian hotel. Tarif sewa dan harga jual mengalami penurunan namun harga jual ruang ritel mengalami peningkatan. GEDUNG PERKANTORAN stagnan, tingkat hunian meningkat dan tarif sewa menurun. Perkantoran (leased-office) di Jakarta Jumlah pasokan ruang perkantoran sewa pada triwulan I-2010 tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, tetap sebesar 6,14 juta m 2, namun secara tahunan meningkat sebesar 3,64%. Sementara itu, pada tahun 2010 diperkirakan akan terdapat penambahan pasokan ruang perkantoran sewa sebesar 40.000 m 2 dari pembangunan Ciputra World Office yang terletak di Jl. Dr. Satrio Grafik 1 Tingkat Hunian dan Tarif Perkantoran di Jakarta 100% Rp170,000 95% Rp160,000 90% Rp150,000 85% Rp140,000 Rp130,000 Rp120,000 Rp110,000 Metodologi Perkembangan Properti Komersial dipublikasikan sejak triwulan I-1996 dengan cakupan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Sejak triwulan I-2006, data properti komersial mengalami perluasan, yaitu memasukkan wilayah Banten (Serang dan Cilegon). Data property komersial ini diperoleh dari sekitar 706 perusahaan properti di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Banten (Tangerang, Serang, dan Cilegon) dan 60 perusahaan di wilayah Bandung. Cakupan data properti komersial terdiri dari 5 jenis, yaitu : pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, apartemen, dan lahan industri. Pengumpulan data dilakukan oleh pihak ketiga (outsourcing) dengan menghubungi responden secara langsung (face to face) dan melakukan pencatatan data atas tingkat hunian, harga jual, dan tarif sewa properti komersial. Pengolahan data dilakukan dengan metode rata-rata tertimbang terhadap luas atau jumlah unit masing-masing properti. Perkembangan data properti komersial dapat digunakan untuk mengetahui secara dini arah dan tekanan harga properti komersial sebagai salah satu indikator perkembangan inflasi harga aset. Note : Tingkat penjualan : merupakan angka kumulatif yang dihitung dari perbandingan jumlah yang terjual dengan tambahan pasokan baru dengan stok lama Tim Statistik Sektor Riil 1

Realisasi komitmen ANZ untuk menyewa UOB Plaza, perpindahan Medco Energy ke The Energy, serta kenaikan tingkat hunian di Menara Bidakara 2 dan The Plaza telah mendorong tingkat hunian meningkat dari 86,37% (IV-2009) menjadi 87,57% (I-2010). stagnan, tingkat penjualan dan harga jual meningkat. Sementara itu, tarif sewa mengalami penurunan sebesar 0,17% (qtq) atau 4,29% (yoy), yang disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD. Perkantoran Jual (strata title) di Jakarta Seperti halnya perkantoran sewa, jumlah pasokan ruang perkantoran jual pada triwulan I-2010 secara triwulanan tidak mengalami perubahan, tetap sebesar 731.162 m 2, namun secara tahunan pertumbuhannya cukup signifikan, sebesar 18,15% (yoy). Sementara itu, tingkat penjualan sedikit meningkat dibandingkan triwulan IV-2009, dari 95,26% menjadi 95,59%. Sementara itu, harga jual mengalami sedikit peningkatan sebesar 1,52% (qtq). Namun secara tahunan mengalami penurunan sebesar 9,94% menjadi Rp.15,29 juta/m 2, yang didorong oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD. Perkiraan ke depan, sejalan dengan membaiknya perekonomian Indonesia maka pasar perkantoran diperkirakan menunjukkan perbaikan terkait dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap perkantoran jual, baik untuk relokasi usaha maupun untuk ekspansi bisnis. PUSAT PERBELANJAAN (RITEL) Ritel di Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi) Jabodebek: jumlah pasokan meningkat sementara tingkat hunian dan tarif sewa mengalami penurunan. Seiring dengan selesainya pembangunan Rasuna Epicentrum, jumlah pasokan ruang ritel sewa pada triwulan I-2010 meningkat sebesar 1,44% (qtq) atau 6,09% (yoy) menjadi 3,30 juta m 2. Pada triwulan mendatang, pasokan ruang ritel diperkirakan akan mengalami penambahan sekitar 29.450 m 2 yang berasal dari pembangunan Galeria Glodok dan Blue Mall Extension. Masih lemahnya penyerapan ruang ritel menyebabkan tingkat hunian secara keseluruhan mengalami penurunan dari 88,17% menjadi 87,52%. Penurunan tersebut terjadi di kawasan primer sedangkan kawasan sekunder sedikit meningkat. Secara umum, penyerapan pada triwulan I-2010 didominasi oleh jenis usaha restoran dan kafe. Tarif sewa ruang ritel baik di kawasan primer maupun sekunder secara keseluruhan pada triwulan I-2010 sedikit menurun, yaitu sebesar 0,35% (qtq) menjadi Rp.471.275/m 2 /bulan. Sementara secara tahunan, meningkat sebesar 1,35% (yoy). Grafik 2 Tingkat Hunian dan Tarif Ritel di Jabodebek 92% Rp500,000 91% Rp462,500 90% Rp425,000 88% Rp387,500 87% Rp350,000 Tim Statistik Sektor Riil 2

Jabodebek: jumlah pasokan dan harga jual stabil, sementara tingkat penjualan sedikit meningkat. Banten: jumlah pasokan dan tarif sewa stagnan sementara tingkat hunian meningkat Banten: jumlah pasokan tetap, sementara tingkat penjualan dan harga jual meningkat. Ritel Jual (strata-title) di Jabodebek Selama triwulan I-2010 tidak terdapat tambahan pasokan ruang ritel jual di wilayah Jabodebek, jumlah pasokan tetap sebesar 1,72 juta m 2. Namun jika dibandingkan dengan triwulan I-2009, jumlah pasokan meningkat 15,68% (yoy). Pada triwulan II-2010, pasokan ritel jual diperkirakan meningkat sebesar 177.300 m 2 yang berasal dari pembangunan Atrium Pondok Gede dan Plaza Mobil Kemayoran. Tingkat penjualan pada triwulan I-2010 sedikit meningkat atau 0,38% (qtq) menjadi 76,58%. Sementara itu, secara triwulanan harga jual relatif tidak mengalami perubahan, tetap sebesar Rp.42,9 juta/m 2. Sampai dengan akhir tahun 2010, pasar ritel terutama di Jakarta diperkirakan meningkat seiring dengan maraknya kegiatan bisnis retail yang berhubungan dengan life style. Ritel di Banten (Tangerang, Serang dan Cilegon) Pasokan ruang ritel sewa di Banten sampai dengan triwulan I-2010 tetap sebanyak 226.175 m 2, namun secara tahunan meningkat, sebesar 4,87%. Pada triwulan mendatang, diperkirakan akan terdapat penambahan pasokan seluas 17.900 m 2, yang berasal dari Tangerang City Mall dan Carrefour Serang. Tingkat hunian ritel sewa meningkat dari 91,96% menjadi 92,45%. Tarif sewa masih relatif stabil dibandingkan triwulan lalu, sebesar Rp.370 ribu/m 2 /bulan, namun secara tahunan meningkat 3,88%. Ritel Jual (strata-title) di Banten Jumlah pasokan ritel jual di Banten pada triwulan I-2010 tetap stabil dibandingkan triwulan lalu, sementara tingkat penjualan sedikit meningkat dari 78,88% menjadi 78,96%. Kenaikan juga terjadi di harga jual ritel sebesar 1,31% (qtq) seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap ritel jual. APARTEMEN Apartemen (leased apartment) di Jakarta tetap, sementara tingkat hunian meningkat didorong oleh tarif sewa yang menurun. Jumlah pasokan apartemen sewa tidak mengalami perubahan sejak 3 triwulan terakhir, tetap sebesar 11.616 m 2. Untuk meningkatkan tingkat hunian, tarif sewa apartemen mengalami penurunan sebesar 2,90% (qtq) menjadi Rp.152.114/m 2 /bulan sehingga tingkat hunian sedikit meningkat dari 70,32% menjadi 72,32%. Pasar apartemen sewa di tahun 2010 mulai menunjukkan pertumbuhan, terutama di kawasan sekunder. Harga sewa yang lebih rendah dibandingkan di kawasan primer menyebabkan banyak penyewa yang memilih untuk menyewa di kawasan sekunder. Selain itu, mulai kembalinya beberapa ekspatriat yang berasal dari Jepang dan Korea ke Indonesia yang disebabkan oleh membaiknya kondisi perekonomian negara-negara tersebut akibat krisis global diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya pemintaan terhadap apartemen sewa. Grafik 3 Tingkat Hunian dan Tarif Apartemen 90% Rp170,000 85% Rp160,000 Rp150,000 Rp140,000 Rp130,000 65% Rp120,000 60% Rp110,000 Tim Statistik Sektor Riil 3

meningkat diikuti oleh meningkatnya penjualan, sementara tarif sewa menurun. Apartemen Jual (Condominium) di Jakarta Selesainya pembangunan Tamansari Sudirman Apartmen Tower A di kawasan CBD dan Urbana Apartment di kawasan sekunder memberikan pasokan baru sebanyak 561 unit, atau meningkat 0,82% (qtq) dan 8,13% (yoy). Dengan penambahan ini, jumlah pasokan menjadi sebanyak 69.304 unit. Pada triwulan mendatang penambahan pasokan diperkirakan sekitar 1.700 unit, yang berasal dari pembangunan Centro City Tower, Gandaria Height Tower A, Mapple Park Tower B dan The Groove. Peningkatan jumlah pasokan tersebut diikuti dengan kenaikan permintaan sehingga tingkat penjualan meningkat 0,57% (qtq) menjadi 93,15%. Hal ini didukung oleh kegiatan promo diskon yang diberikan oleh pengembang untuk menarik minat konsumen sehingga ratarata harga jual apartemen mengalami penurunan sebesar 0,51% (qtq) menjadi Rp.10,85/m 2. Pada triwulan mendatang, pasar apartemen jual diperkirakan akan mulai pulih seiiring dengan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap kestabilan kondisi ekonomi dan suku bunga KPA yang semakin menurun. HOTEL Jabodebek : jumlah pasokan kamar bertambah namun tingkat hunian dan tarif kamar menurun. Hotel di Jabodebek Jumlah pasokan baru kamar hotel pada triwulan I-2010 berasal dari Hotel Kawanua Aerotel di Cempaka Putih sebanyak 79 kamar dan Grand Zuri Hotel di kawasan Jababeka sebanyak 134 kamar, namun demikian penjualan dan penghentian operasi Hotel Sofyan Cikini dengan jumlah kamar sebanyak 111 kamar, menyebabkan jumlah kamar hotel hanya bertambah sebanyak 102 kamar (0,43%, qtq), sehingga jumlah kamar hotel secara keseluruhan sebanyak 23.908 kamar. Secara tahunan, jumlah pasokan mengalami peningkatan sebesar 2, (yoy). Pada triwulan mendatang penambahan pasokan diperkirakan sebanyak 2.019 kamar yang berasal dari beberapa hotel, antara lain Aston, Bidakara Hotel 2, dan Merlynn Park. Tingkat hunian hotel pada triwulan I-2010 mengalami penurunan pada semua jenis hotel berbintang (bintang 3, 4 dan 5), yang terbesar pada hotel bintang 5 dari 61,33% (IV-2009) menjadi 58,88% (I-2010). Sementara untuk hotel bintang 4 dan 3, masing-masing mengalami penurunan dari 66,83% menjadi 66,43% dan dari 71,03% menjadi 70,15%. Penurunan terjadi pula pada tarif kamar hotel sebesar 0,89% (qtq) atau 6,12% (yoy) menjadi Rp.802.816/kamar/malam. Secara triwulanan, penurunan terbesar terjadi pada hotel bintang 3 sebesar 4,04% (qtq) menjadi Rp.480.278/kamar/malam, hotel bintang 4 turun 0,28% menjadi Rp.669.593/kamar/malam dan hotel bintang 5 yang hanya turun 0,04% (qtq) menjadi Rp.1.140.679/kamar/malam. Grafik 4 Tingkat Hunian dan Tarif Kamar Hotel Jabodebek Rp950,000 Rp875,000 Rp800,000 65% Rp725,000 60% Rp650,000 55% Rp575,000 50% Rp500,000 (Rp) Tarif kamar/malam Tim Statistik Sektor Riil 4

Banten: jumlah pasokan meningkat, namun tingkat hunian dan tarif kamar mengalami penurunan. Jabobeka: jumlah pasokan meningkat, sementara tingkat penjualan dan harga jual menurun. Penurunan terjadi pula pada tingkat hunian dan tarif sewa. Hotel di Banten Setelah stagnan selama 3 triwulan, jumlah pasokan kamar hotel pada triwulan I-2010 bertambah sebanyak156 kamar dengan beroperasinya Hotel Aston di Taman Palem, sehingga jumlah pasokan kamar hotel di Banten menjadi 2.104 kamar. Jika dibandingkan dengan triwulan I-2009, peningkatan pasokan kamar hotel cukup signifikan yaitu sebesar 17,02% (yoy). Sementara itu, tingkat hunian hotel pada triwulan I-2010 mengalami penurunan dari 58,54% menjadi 56,50%. Penurunan terjadi pula pada tarif kamar hotel, sebesar 4,98% (qtq) atau 6,12% (yoy) menjadi Rp.671.538/malam. Sejalan dengan liburan panjang anak sekolah pada triwulan mendatang, tingkat hunian hotel diperkirakan akan meningkat, terutama hotel yang berada di lokasi wisata seperti di Pantai Anyer, Carita dan daerah lainnya. LAHAN INDUSTRI Lahan Industri di Jabobeka (Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Karawang) Jumlah lahan industri pada triwulan I-2010 mengalami penambahan sebanyak 200 hektar (3,34%, qtq) atau 6,53% (yoy), yang berasal dari Kawasan Industri Delta Silikon 3 sehingga jumlahnya mencapai 6.197 hektar. Sementara itu tingkat penjualan lahan industri pada triwulan I-2010 menurun dari 73,20% menjadi 71,27%, dimana sebagian besar (77,04%) penyerapan lahan industri tersebut berasal dari wilayah Bekasi. Penurunan terjadi pula pada harga jual sebesar 2,57% (qtq) menjadi Rp.713.257/m 2. Tingkat hunian lahan industri sewa pada triwulan I-2010 tercatat mengalami penurunan, dari 69,85% menjadi 67,83%. Penurunan juga terjadi pada tarif sewa, secara triwulan penurunannya sebesar 3,21% (qtq) namun secara tahunan cukup signifikan sebesar 18,98% menjadi Rp.39.254/m 2 /bulan. Grafik 5 Tingkat Hunian dan Tarif Lahan Industri di Jabobeka Rp50,000 Rp45,000 Rp40,000 65% Rp35,000 60% Rp30,000 55% Rp25,000 Banten: jumlah pasokan dan tingkat hunian stabil, sedangkan harga jual mengalami penurunan. Lahan Industri di Banten Jumlah lahan industri di Banten tidak mengalami perubahan, tetap seluas 5.388 ha, demikian pula dengan tingkat hunian relatif stabil sebesar 70,09%. Sementara itu, harga jual lahan industri mengalami penurunan (-0,53%, qtq) menjadi sebesar Rp.607.592/m 2. Pada triwulan II-2010, pasokan baru lahan industri diperkirakan berasal dari pengembangan Milenium Industrial Estate tahap 2 di kawasan Tigaraksa, Tangerang seluas 169 hektar. Tim Statistik Sektor Riil 5

KREDIT PROPERTI BANK UMUM Kredit Properti: kredit KPR/KPA mengalami penurunan, sementara kredit real estate dan konstruksi mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari LBU, penyaluran kredit properti 1 oleh bank umum sampai dengan triwulan I-2010 (Maret 2010) tercatat sebesar Rp.200,74 triliun. Pangsa kredit properti tersebut sebesar 14,00% dari total outstanding kredit bank umum yang berjumah Rp.1.433,65 triliun. Jumlah kredit properti pada triwulan I-2010 mengalami penurunan sebesar 6,26% (qtq), sementara pada triwulan lalu pertumbuhannya tercatat sebesar 3,94% (qtq). Penurunan kredit properti tersebut disebabkan oleh terjadinya kontraksi pada kredit KPR/KPA 2 dan kredit konstruksi 3, masing-masing sebesar 8,06% (qtq) dan 14,47% (qtq), sementara kredit real estate 4 masih meningkat sebesar 21,69% (qtq). Dengan berkurangnya jumlah kredit KPR/KPA, maka pangsa kredit KPR/KPA mengalami penurunan dari 64,29% menjadi 56,67%. Sementara pangsa kredit untuk kegiatan konstruksi pada triwulan I-2010 tercatat sebesar 27,17% dan kredit untuk subsektor real estate sebesar 16,16%. Grafik 6 Realisasi Kredit Perbankan Terhadap Properti Nasional Rp. Triliun 225.0 200.0 175.0 150.0 125.0 100.0 75.0 50.0 25.0 0.0 Properti (total) KPR dan KPA Konstruksi Real Estate Distribusi Kredit Properti Triwulan I-2010 (%) 27.17 16.16 Kons truksi Real Estate 56.67 KPR & KPA Penyaluran kredit properti antara lain juga dipengaruhi oleh tingkat suku bunga kredit. Berdasarkan grafik 7, secara umum terlihat bahwa tingkat suku bunga kredit yang relatif rendah akan mendorong penyaluran kredit yang lebih besar. Namun di triwulan 1-2010, meskipun suku bunga kredit di sektor konstruksi menurun dari triwulan sebelumnya, yaitu dari 13,58% menjadi 12,5%, namun pertumbuhan kredit properti mengalami penurunan sebesar 6,26% (qtq). Grafik 7. Pertumbuhan Kredit Properti dan Suku Bunga Kredit Sektor Konstruksi 15.0 10.0 5.0 - (5.0) % 16.0 15.0 14.0 13.0 (10.0) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 12.0 Sk. Bunga Kr. Sektor Konstruksi (kiri) Pertumbuhan Kredit Properti (qtq) 1 Kredit Properti: mencakup kredit yang diberikan kepada kontraktor untuk pembangunan perkantoran, perhotelan, rumah dan pertokoan serta kredit kepada perorangan untuk kepemilikan serta pemugaran rumah 2 KPR/KPA : pemberian kredit untuk membeli atau memperbaiki/memugar rumah atau apartemen. 3 Konstruksi: usaha yang dilakukan kontraktor untuk pembangunan dan perbaikan gedung, jalan, pasar, dan kegiatan konstruksi untuk fasiltias umum lainnya. 4 Real estate : usaha-usaha membangun gedung, flat, rumah tempat tinggal, pasar dan sebagainya, baik untuk disewakan maupun dijual. Tim Statistik Sektor Riil 6

Lampiran Laporan Survei Properti Komersial Triwulan I-2010 A I II III IV I IV-2009 I-2010 IV-2009 I-2010 JABODEBEK Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi PERKANTORAN = Stok (m2) 5,919,897 6,059,297 6,115,535 6,135,335 6,135,335 0.32% 0.00% 4.49% 3.64% = Tingkat hunian / Lease 87.83% 86.23% 85.69% 86.37% 87.57% 0. 1.39% -1.32% -0.29% = Tarif sewa (Rp/m2/bulan) 161,378 156,776 153,544 154,726 154,461 0.77% -0.17% 0.46% -4.29% Jual = Stok (m2) 618,862 693,862 714,262 731,162 731,162 2.37% 0.00% 24.22% 18.15% = Tingkat Penjualan 95.72% 95.31% 95.72% 95.26% 95.59% -0.47% 0.34% 0.62% -0.13% = Harga jual (Rp/m2) 16,975,649 15,753,730 15,071,535 15,060,352 15,288,628-0.07% 1.52% -5.31% -9.94% B. SEKTOR RITEL = Stok (m2) 3,111,970 3,111,970 3,254,759 3,254,759 3,301,559 0.00% 1.44% 8.49% 6.09% = Tingkat hunian 88.40% 88.99% 87. 88.17% 87.52% 0.42% -0.74% -1.08% -0.99% = Tarif sewa (Rp/m2/bulan) 464,979 477,212 473,655 472,894 471,257-0.16% -0.35% 3.98% 1.35% C Jual = Stok (m2) 1,488,172 1,488,172 1,708,982 1,721,582 1,721,582 0.74% 0.00% 15.68% 15.68% = Tingkat Penjualan (%) 79.55% 79.64% 76.11% 76.29% 76.58% 0.24% 0.38% -3.32% -3.73% = Harga Jual (Rp/m2) 43,083,028 43,506,814 44,063,802 42,860,534 42,865,161-2.73% 0.01% -0.51% -0.51% APARTEMEN = Stok (unit) 11,524 11,594 11,616 11,616 11,616 0.00% 0.00% 0. 0. = Tingkat hunian 72.29% 72.55% 70.43% 70.32% 72.32% -0.16% 2.84% -6.90% 0.04% = Tarif sewa (Rp/m2/bulan) 157,919 156,388 156,558 156,653 152,114 0.06% -2.90% -1.10% -3.68% Jual / Kondominium = Stok (unit) 64,093 66,371 67,162 68,743 69,304 2.35% 0.82% 11.07% 8.13% = Tingkat penjualan 94.30% 92.93% 92.24% 92.63% 93.15% 0.42% 0.57% -1.62% -1.22% = Harga jual (Rp/m2) 10,617,690 10,581,958 10,836,489 10,911,460 10,851,899 0.69% -0.55% 2.00% 2.21% D HOTEL (Bintang 3, 4, 5) = Stok (kamar) 23,268 23,268 23,268 23,806 23,908 2.31% 0.43% 2.31% 2. = Tingkat hunian 70.62% 71.56% 65.19% 65. 64.44% 0.86% -2.00% -13.40% -8. = Tarif kamar (Rp/malam) 855,180 831,074 828,977 810,056 802,816-2.28% -0.89% -2.71% -6.12% E KETERANGAN LAHAN INDUSTRI* = Stok (ha) 5,817 5,997 5,997 5,997 6,197 0.00% 3.34% 3.09% 6.53% = Tingkat penjualan 74.99% 72.85% 72.98% 73.20% 71.27% 0.29% -2.63% -2.05% -4.96% = Harga jual (Rp/m2) 773,401 762,369 741,878 732,086 713,257-1.32% -2.57% -4.23% -7.78% = Tingkat Hunian 69.45% 69.65% 69.72% 69.85% 67.83% 0.19% -2.89% 1.15% -2.32% = Tarif sewa (Rp/m2/bulan) 48,447 43,438 41,487 40,554 39,254-2.25% -3.21% -9.26% -18.98% * wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi dan Kerawang BANTEN Tangerang, Cilegon, Serang, Pandeglang PERKEMBANGAN PROPERTI KOMERSIAL DI WILAYAH JABODEBEK DAN BANTEN 2009 PERTUMBUHAN (%) Tahunan A. SEKTOR RITEL = Stok (m2) 215,675 226,175 226,175 226,175 226,175 0.00% 0.00% 4.87% 4.87% = Tingkat hunian 91.57% 90.41% 91.65% 91.96% 92.45% 0.34% 0.53% 0.99% 0.96% = Tarif sewa (Rp/m2/bulan) 356,517 372,236 338,649 371,102 370,344 9.58% -0.20% 4.87% 3.88% Jual = Stok (m2) 524,670 524,670 524,670 524,670 524,670 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% = Tingkat Penjualan 78.69% 78.81% 78.82% 78.88% 78.96% 0.07% 0.10% 0.35% 0.33% = Harga Jual (Rp/m2) 34,820,004 34,878,565 34,878,565 34,878,565 35,333,895 0.00% 1.31% 0.40% 1.48% B. HOTEL (Bintang 3, 4, 5) = Stok (kamar) 1,798 1,948 1,948 1,948 2,104 0.00% 8.01% 8.34% 17.02% = Tingkat hunian 53.11% 54.21% 56.66% 58.54% 56.50% 3.32% -3.48% -5.26% 6.38% = Tarif kamar (Rp/malam) 742,219 710,365 704,157 706,711 671,538 0.36% -4.98% -4.34% -9.52% C. LAHAN INDUSTRI = Stok (ha) 5,388 5,388 5,388 5,388 5,388 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% = Tingkat penjualan 69. 69.83% 69.96% 70.06% 70.09% 0.14% 0.05% 0.78% 0.50% = Harga jual (Rp/m2) 630,972 618,676 613,369 610,834 607,592-0.41% -0.53% -2.33% -3.71% 2010 Triwulanan Tim Statistik Sektor Riil 7