BAB 2. Landasan Teori

dokumen-dokumen yang mirip
Bab 2. Landasan Teori. perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh : 歩く 倒れる 話す.

Bab 2. Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori. Mengenai definisi kelas kata Jepang (hinshi) Noda (1991 : 38) mengatakan :

Bab 2. Landasan Teori. Istilah sintaksis dalam bahasa Jepang disebut dengan togoron 続語論 atau

Bab 2. Landasan Teori. dengan sendirinya dapat menjadi predikat, contoh : suatu kalimat. Keiyoushi memiliki beberapa perubahan bentuk.

Bab 2. Landasan Teori. Istilah sintaksis dalam bahasa Jepang disebut dengan togoron 続語論 atau

BAB 2. Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori. Masuoka dan Takubo (1992, hal.8), mengungkapkan bahwa Hinshi 品詞 atau. kelas kata dibagi menjadi sebelas jenis, diantaranya:

BAB 2. Landasan Teori

Bab 2 Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori. digunakan sebagai landasan teori untuk mendukung penelitian skripsi ini. Teori-teori

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG JOSHI

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL GURAI DAN GORO. Menurut Drs. Sugihartono ( 2001:178 ), joshi adalah jenis kata yang tidak

ANALISIS KONTRASTIF PENGGUNAAN KONJUNGSI /-TARA/ BAHASA JEPANG DENGAN KONJUNGSI /KALAU/ BAHASA INDONESIA

Bab 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB IV KESIMPULAN. Penulis berkesimpulan bahwa di dalam penerjemahan kata tanya doko dan

Bab 2. Landasan Teori. baik dalam memberikan penjelasan tentang hubungan antara satu kata dengan kata

Bab 2. Landasan Teori. Dalam bahasa Jepang, terdapat pembagian kelas kata yang disebut dengan

BAB I PENDAHULUAN. Untuk berkomunikasi, masyarakat sebagai makhluk sosial membutuhkan

ぽん ぼん. Morfem. Kata. Alomorf adalah. morfem. Morfem Bebas. Morfem Terikat 形態素 自由形態素 拘束形態素. Contoh. bagan. Definisi. Alomorf. Contoh.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bab 2. Landasan Teori. kata memiliki fungsi yang sangat penting dalam pembentukan suatu kalimat.

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa di dunia memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya

Bab 2. Landasan Teori

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL BAHASA JEPANG (JOSHI) disebut hinshi bunrui. Hinshi berarti jenis kata atau kelas kata, sedangkan bunrui

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap bahasa mempunyai keunikannya masing-masing. Baik dari segi penulisan,

BAB I PENDAHULUAN. termasuk bahasa Jepang. Salah satu keunikan bahasa Jepang ialah adanya. 助詞は 単独で用いられず 名詞や動詞などの他の語に後接する 活用のない語です (Iori, 2000 : 345)

PERLUASAN MAKNA PARTIKEL DE UNTUK MENYATAKAN BAHAN DASAR PRODUKSI DALAM MAJALAH KYOU NO RYOURI ABSTRAK

ABSTRAK. tujuan. Ketika kita berbahasa, orang lain dapat mengerti apa maksud, ide, pesan,

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa dari berbagai negara memiliki ciri universal dan ciri khusus.

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Meishi merupakan kata yang menunjuk kepada orang, benda, keadaan, tempat,

Bab 2. Landasan Teori. Menurut Minami dalam Hinata ( 1990: 1 ), danwa dapat disebut juga discourse

BAB 2. Tinjauan Pustaka

BAB 2 Landasan Teori

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adalah sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. dipelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusastraan, filologi,

ビナ ヌサンタラ大学日本語科三年生にみられる ~ てある と ~ ておく という動詞の使用能力の分析

ABSTRAK. lambang tertentu ada yang dilambangkan. Maka yang dilambangkan disini yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah perilaku mengekspresikan, menyampaikan, dan

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Hinshi Definisi hinshi yang dikemukakan oleh Masuoka dan Takubo (1990:9) adalah: 文中での動き ( 統語的機能 ) に基づいて語を分類したものを 品詞 という

Bab 2. Landasan Teori. Secara umum pembagian kelas kata dalam bahasa Jepang disebut dengan hinshi.

Bab 2. Landasan Teori

BAB II GAMBARAN UMUM SHUUJOSHI

BAB 2 LANDASAN TEORI. Penulis akan membagi teori yang dipakai dalam penelitian ini menjadi 5 bagian, yaitu: 2.1 Teori Pragmatik

BAB I PENDAHULUAN. Kelas kata dalam bahasa Jepang (hinshi bunrui) diklasifikasikan ke dalam 10

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Belajar bahasa lain mungkin menjadi penting dalam aktivitas intelektual manusia

BAB I PENDAHULUAN. secara lisan maupun tertulis. Dalam komunikasi secara lisan, makna yang

BAB I PENDAHULUAN. kalimat. Untuk menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lainnya, digunakan

BAB I PENDAHULUAN. hal ini disebabkan karena keunikan dari bahasa-bahasa tersebut.

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN. struktur inilah menjadikan struktur bahasa Jepang menarik. Salah satunya disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam suatu bahasa terdapat bermacam macam jenis kata, di antaranya,

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2. Landasan Teori. Noda (1991, hal.38), menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hinshi (kelas kata

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa terdiri dari unsur kalimat, klausa, frase dan kata. Salah satu

Bab 1. Pendahuluan. antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

SOAL PRE TEST. A. Pilihlah jawaban yang tepat untuk melengkapi kalimat di bawah ini! は に を ) やすみですか

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. sehingga pesan dimaksud dapat dipahami. (KBBI:1998:445) dengan adanya penggunaan joshi atau kata bantu dalam kalimat.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

3. Dimasa mendatang, saya bermaksud menjadi pelukis terkenal. ~ つもりです. 4. Sekarang, pertandingan baseball dapat ditonton di televisi.

BAB I PENDAHULUAN. bantu, atau postposisi termasuk dalam kelompok fuzokugo. Menurut Sudjianto

PENGGUNAAN SHUUJOSHI JOSEIGO DAN DANSEIGO DALAM KOMIK NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO VOLUME 1 DAN 2 KARYA HEBIZOU DAN UMINO NAGIKO SKRIPSI

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB I PENDAHULUAN. sehingga dapat dimengerti oleh lawan bicara. Kata-kata tersebut terkadang

PENGGUNAAN FUKUSHI DALAM SURAT KABAR ONLINE ASAHI SHIMBUN EDISI 9 DAN 10 FEBRUARI 2015

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PERCAKAPAN BAGI PENGAJAR BAHASA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN. di seluruh dunia. Melalui bahasa, manusia dapat saling berinteraksi dan

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang penting dalam kontak

PENGGUNAAN SHUUJOSHI RAGAM BAHASA WANITA DALAM DRAMA SHOKOJO SEIRA EPISODE 1,2,3 SKRIPSI OLEH: ANINDYA PURI PRIMASWARI NIM

Bab 2. Landasan Teori. Sintaksis merupakan salah satu bidang kajian dalam linguistik.sintaksis berasal

BAB 1 PENDAHULUAN. antaranya adalah partikel atau kata bantu yang disebut joshi ( 助詞 ). Joshi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Melalui bahasa, seseorang dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan atau apa yang

映画 野ブタをプロデュース における社会的 現象 苛め の分析

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa berperan antara lain dalam membentuk pengalaman sehubungan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. nomina abstrak yang dalam bahasa Jepang disebut 形式名詞 (keishikimeishi).

BAB I PENDAHULUAN. ajektiva (keiyoushi), nomina (meishi), pronomina (rentaishi), adverbia (fukushi), interjeksi

Bab 2. Landasan Teori

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang terbagi dalam 10 jenis kelas kata. Partikel merupakan salah

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam

BAB I PENDAHULUAN. manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Seperti yang dikatakan oleh P.W.J

BAB I PENDAHULUAN. makna apabila melekat pada kelas kata lain dalam suatu kalimat. Joshi dalam bahasa Jepang

Dikerjakan O L E H SUNITA BR

PROGRAM TAHUNAN. Kompetensi Dasar Materi Pokok Alokasi Waktu. Salam. Mengucapkan salam : おはようございます こんにちは こんばんは. Mengucapkan salam ketika berpisah :

BAB I PENDAHULUAN. satu keunikan bahasa Jepang adalah penggunaan partikel sebagai pemarkah yang

BAB I PENDAHULUAN. kata sifat, kata kerja bantu, partikel, dan kata keterangan.

BAB 2. Landasan Teori

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa たび tabi beberapa

LANDASAN TEORI. Menurut Niwa saburo (1998 : 2005/03/18 ) bahwa: とも や っけ って か. menurut gendai nihongo bunpo gaisetsu adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang adalah salah satu bahasa yang banyak dipelajari di

Transkripsi:

BAB 2 Landasan Teori 品詞 ) 2.1 Teori Kelas Kata ( 品詞 Sama halnya dengan bahasa-bahasa lain, dalam bahasa Jepang juga mengenal kelas kata atau hinshi ( 品詞 ). Pada setiap kelas kata (hinshi) tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam pembentukan kalimat bahasa Jepang. Pengertian hinshi ( 品 詞 ) menurut Masuoka dan Takubo (1993, hal.4) adalah : 語は文の材料であり 文を組み立てる上で一定の働きをする この働きの違いによって語を種類分けしたものが 品詞 である Bahasa adalah materi dari kalimat dan befungsi secara stabil dalam menyatukan kalimat. Hal yang membagi jenis kata berdasarkan perbedaan fungsi inilah yang disebut dengan kelas kata. Kelas kata atau hinshi ( 品詞 ) terbagi kedalam beberapa jenis, berikut adalah jenisjenis hinshi ( 品詞 ) menurut Sakakura (1992, hal.317) 1. Doushi ( 動詞 ) atau verba Merupakan salah satu jenis kata yang dapat digunakan untuk menyatakan aktivitas, maupun keberadaan. Doushi ( 動詞 ) dapar mengalami perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh doushi ( 動詞 ), yaitu aruku (berjalan), shinjiru (percaya), taberu (makan). 7

2. Keiyoushi ( 形容詞 ) atau ajektiva-i Biasa disebut kata sifat golongan satu. Setiap kata yang termasuk dalam keiyoushi ( 形容詞 ) selalu berakhiran i dalam bentuk kamusnya, dapat menjadi predikat, serta dapat menjadi adverbia yang menerangkan kata lain dalam sebuah kalimat. Keiyoushi ( 形容詞 ) juga memiliki beberapa perubahan bentuk. Contoh : atsui (panas), chiisai (kecil). 3. Keiyoudoushi ( 形容動詞 ) atau ajektiva-na Adalah kata yang berdiri sendiri serta merupakan kata sifat golongan dua, memiliki perubahan sendiri yang berbeda dengan kata sifat golongan satu atau keiyoushi ( 形容詞 ). Contoh dari keiyoudoshi ( 形容動詞 ), yaitu jyouzu (pandai), kirei (cantik). 4. Meishi ( 名詞 ) atau nomina Yaitu kata-kata yang menunjukan nama suatu tempat, benda, orang, peristiwa, dan keadaan. Meishi ( 名詞 ) dapat berdiri sendiri dan dapat menjadi subjek. Meishi ( 名詞 ) juga tidak memiliki perubahan pada bentuk. Kata yang termasuk ke dalam meishi ( 名詞 ), yaitu kaban (tas), Kyouto (kota Kyoto), hikari (cahaya). 5. Rentaishi ( 連体詞 ) atau promina Kelas kata ini masuk dalam kelompok jiritsugo yang tidak mengenal konjugasi yang digunakan untuk menerangkan nomina. Rentaishi ( 連体詞 ) ini tidak bisa menjadi subjek atau predikat serta tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : sono (itu), kono (ini). 6. Fukushi ( 副詞 ) atau adverbia Merupakan kata-kata yang menerangkan verba, ajektiva, dan adverbia yang lainnya tidak dapat berubah bentuk dan berfungsi menyatakan keadaan atau 8

derajat dari suatu aktivitas, suasana, maupun perasaan pembicara. Contoh fukushi ( 副詞 ), yaitu totemo (sangat), amari (agak). 7. Kandoushi ( 感動詞 ) atau interjeksi Ialah kata-kata yang dapat berdiri sendiri dan pada umumnya menyatakan ekspresi, perasaan, cara memanggil, cara menjawab, dan sebagainya. Kandoushi ( 感動詞 ) tidak dapat menjadi subjek dan tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : aa, ara, are. 8. Setsuzokushi ( 接続詞 ) atau konjugasi Yaitu kata yang dapat berdiri sendiri dan berfungsi untuk menyatakan hubungan antara kalimat atau bagian kalimat atau frase dengan frase. Setsuzokushi ( 接続詞 ) tidak bisa menjadi subjek, objek, predikat, ataupun kata yang menerangkan kata lain serta tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh kata-kata yang masuk kedalam setsuzokushi ( 接続詞 ), yaitu dakara (oleh sebab itu), soshite (lalu), tatoeba (misalnya). 9. Jodoushi ( 助動詞 ) atau verba bantu Jenis kelas kata ini tidak dapat berdiri sendiri, dapat berubah bentuk, dan banyak melekat pada doushi ( 動詞 ), keiyoushi ( 形容詞 ), serta pada jodoushi ( 助動詞 ) lain. Contoh : ~rareru (bentuk pasif), ~nai (bentuk negatif). 10. Joshi ( 助詞 ) atau partikel 助詞 Merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri, dan tidak memiliki perubahan bentuk. Apabila kata ini terpisah dari kata lain, maka kata ini tidak mempunyai arti. Joshi ( 助詞 ) hanya berfungsi untuk menyambung kata-kata jiritsugo dalam pembentukan kalimat bahasa jepang dan menentukan arti kata tersebut. Contoh Joshi ( 助詞 ), yaitu ga, wa, o, e, ni, no. 9

2.2 Teori Joshi Pada halaman ini penulis akan menjelaskan mengenai definisi dari joshi menurut ahli bahasa Jepang, Masuoka (2000, hal.49) menjelaskan sebagai berikut : 名詞に接続して補足語や主題を作る働きをするのや 語と語 節と節を接続する働きをするもの 等を一括して 助詞 と言う Joshi berfungsi sebagai penghubung antara suatu kata dengan kata lainnya, suatu klausa dengan klausa lainya, serta berfungsi juga sebagai kata bantu dan subjek yang menghubungkan dengan kata benda. Sedangkan menurut Chino (2006, hal.7) menyatakan bahwa sebuah partikel mungkin dapat didefinisikan sebagai bagian yang tak dapat ditafsirkan dalam sebuah percakapan, memiliki kemutlakan, arti tersendiri yang bebas ikatan, melengkapi dirinya sendiri dalam bagian-bagian pembicaraan yang dengan demikian, ia menempatkan dirinya dalam sebuah konteks. Oleh karena itu, suatu kata yang hanya terdiri dari partikel saja mungkin tidak akan bermakna apa-apa. Istilah joshi ( 助詞 ) ditulis dengan dua buah kanji ; pertama kanji jo ( 助 ) dapat dibaca juga tasukeru ( 助ける ) yang berarti bantu, membantu, atau menolong. Sedangkan kanji shi ( 詞 ) memiliki makna yang sama dengan istilah kotoba ( 言葉 ) yang berarti kata, perkataan, atau bahasa. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang menerjemahkan joshi ( 助詞 ) dengan istilah kata bantu. Akan tetapi ada juga yang menerjemahkan joshi ( 助詞 ) kedalam bahasa Indonesia dengan istilah postposisi. Pemakaian istilah postposisi ini berdasarkan pada letak joshi ( 助詞 ) pada kalimat yang selalu menempati (posisi di belakang) setelah kata yang lain. Contohnya pada kalimat 私は昨日友達とジャカルタへ行きました yang terdiri dari lima frasa atau bunsetsu ( 文節 ) yaitu 私は 昨日 友達と ジャカルタへ行きました. Di 10

antara frasa atau bunsetsu tersebut mengandung joshi ( 助詞 ), yaitu は, と, dan へ yang ketiganya menempati posisi setelah nomina. Akan tetapi, joshi ( 助詞 ) tidak hanya dapat dipakai setelah nomina, tapi dapat dipakai juga setelah verba, ajektiva-i, ajektiva-na, dan lain-lain. Selain dengan istilah kata bantu dan postposisi, ada juga yang menerjemahkan joshi ( 助詞 ) dengan istilah partikel. Pemakaian istilah partikel ini tampaknya ada kaitannya dengan penerjemahan joshi ( 助詞 ) kedalam bahasa Inggris. Sebab dalam kamus Jepang-Inggris, istilah joshi ( 助詞 ) sering dterjemahkan menjadi particle yang dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi partikel. Kawashima (1992, hal.1) mengemukakan pengertian joshi sebagai berikut : 1. A particle (joshi) in the Japanese language follows a word to: a) Shows its relationship to other words in a sentence, and/or b) Give that word a particular meaning or nuance 2. Unlike verb, adjective, and adverbs, particles are not inflected, and therefore stay in the same form regardless of where they appear in a sentence. 3. Generally, particles are considered to be equivalent to prepositions, conjunctions and interjections of the English language; of these three, the majority of particles belong to the first category. 4. A particle should always be placed after the word it modifies, which means that in translating them into English, the word order should be changed. 1. Partikel (joshi) menurut bahasa Indonesia adalah kata untuk : a) Menunjukan hubungan antara kata tersebut dengan kata lain dalam sebuah kalimat, atau b) Memberikan arti khusus atau nuansa pada kata tersebut. 2. Tidak seperti verba, adjektiva, dan adverbial, partikel tidak berubah bentuk dan oleh karena itu partikel mempunyai bentuk yang sama tanpa memperdulikan dimana partikel tersebut muncul dalam satu kalimat. 3. Secara umum, partikel dianggap sama dengan preposisi, konjungsi, dan interjeksi dalam bahasa inggris; dari ketiga jenis ini, sebagian besar partikel termasuk dalam kategori yang pertama yaitu preposisi. 4. Sebuah partikel selalu diletakan setelah kata yang diubahnya, yang berarti bahwa pada waktu menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, susunan katanya harus diubah. 11

Penggunaan joshi (partikel) dalam bahasa Jepang sangat penting karena dapat mempengaruhi arti atau makna dari kalimat bahasa Jepang tersebut. Seperti yang diketahui joshi (partikel) bahasa Jepang sangat banyak dibandingkan bahasa lain. Dan tidak jarang diantaranya ada yang memiliki makna yang sama. Para ahli bahasa Jepang mengelompokan joshi menjadi beberapa kelompok dan memiliki fungsi yang bermacam-macam. Menurut Asano (2008, hal.15) mengklasifikasikan joshi ( 助詞 ) menjadi empat macam, yaitu : 1. Fukujoshi ( 副助詞 ) 副助詞は助詞のように後の語に関係していく助詞 副助詞は は も こそ さえ しか なら でも くらいぐらい だけ ばかり などの多の語があります Fukujoshi adalah joshi yang berfungsi untuk menunjukan hubungan antara satu kata dengan kata sesudahnya, seperti kata keterangan. Fukujoshi terdiri dari wa, mo, koso, sae, shika, nara, demo, kurai gurai, dake, bakari dan sebagainya. 2. Setsuzokujoshi ( 接続助詞 ) 接続助詞は表現 ( または体言に助動詞のついて形 ) について文節宇をつくり ~ を引きた部分体の述語とどんな関係で結びつくかを表すのに使う助詞です 接続助詞には けれど ながら が し もの の などがあります Setsuzokujoshi adalah joshi yang berfungsi untuk menunjukan hubungan antara kata sebelum setsuzokujoshi dengan kata sesudahnya, biasa dipakai setelah hyogen. Setsuzokujoshi terdiri dari keredo, nagara, ga, shi, mono, no dan sebagainya. 3. Kakujoshi ( 格助詞 ) 格助詞は体言について その体言の文の中で働きを示すものです 格助詞は が を に で と へ から まで より があります 12

Kakujoshi adalah joshi yang berfungsi untuk menunjukan hubungan antara kata benda dengan kata lainnya dalam suatu kalimat. Kakujoshi terdiri dari ga, wo, ni, de, to, e, kara, made, yori dan sebagainya. 4. Shuujoshi ( 終助詞 ) 終助詞は話しての気持ちを表現するために話し言葉で多く使われます 終助詞には かい かしら ぜ ぞ っけ とも わ さ な よ ね などがあります Shuujoshi adalah joshi yang berfungsi untuk menunjukan perasaan pembicara dan sering digunakan pada ragam bahasa lisan. Shuujoshi terdiri dari kai, kashira, ze, zo, kke, tomo, wa, sa, na, yo, ne dan sebagainya. Dari penjelasan macam-macam joshi ( 助詞 ) atau partikel diatas, penulis hanya akan membahas joshi (partikel) e ( へ ) yang masuk kedalam kelompok partikel kakujoshi ( 格助詞 ). 2.3 Teori Fungsi Partikel e ( へ ) Dalam Kakujoshi Partikel e ( へ ) merupakan salah satu partikel yang ada dalam bahasa Jepang, partikel ini masuk kedalam jenis joshi (partikel) kakujoshi ( 格助詞 ). Sebelum penulis menjelaskan lebih lanjut apa fungsi dari partikel e ( へ ) tersebut akan dijelaskan terlebih dahulu pengertian tentang kakujoshi ( 格助詞 ). Sedangkan menurut Masuoka & Takubo (2000, hal.1) mengemukakan mengenai pengertian kakujoshi ( 格助詞 ). 文の骨格は 一つ術語といくつかの名詞 補語 により組み立てられる 例えば 太郎が花子に電話でそのことを知らせた と言う文は 太郎 が 花子 に 電話 で そのこと を の四つの名詞と 知らせた と言う術語で構成さ 13

れている この例はにおて が に で を は それぞれの名詞の術語に対する関係 格助詞 を表す語を 格助詞 と言う Struktur dari sebuah kalimat dibentuk dari sebuah predikat dan beberapa nomina sebagai pelengkap. Seperti pada contoh (Taro memberitahukan hal tersebut kepada Hanako melalui telepon), dibentuk dari sebuah predikat yaitu Taro, Hanako, Telepon, hal tersebut, terhadap contoh kalimat ini, partikel が, に, で, を berfungsi menunjukan ikatan antara nomina dengan predikat inilah yang disebut kakujoshi. Selanjutnya menurut Kawashima (1992, hal.30) mengemukakan bahwa karakter huruf へ digunakan sebagai partikel yang dibaca e meskipun sebenarnya dibaca he. Penempatan setelah kata benda yang mengacu pada tujuan, arah, atau menunjukan suatu perbuatan. Biasanya partikel e ( へ ) diikuti oleh kata-kata : 上げる 歩く 出 かける 電話をかける 電話をする 出る 入る 入れる 行く 帰る 書 く 来る 戻る 向かう 奥 贈る 旅行する 出発する 倒れる 手紙を 書く 転勤する 着く. Berikut adalah fungsi partikel e ( へ ) yang dibagi menjadi 3 bagian diikuti dengan contoh kalimat menurut Kawashima (1992, hal.32) 1. Menunjukan tujuan atau arah sebuah peristiwa terjadi. Contohnya : A) 私は大阪へ行きます B) 彼は駅の方へ歩いて行きました C) 北野さんはヨーロッパへ出張中です D) 地震で五階だての建物が後ろへ傾いた 2. Menunjukan poin atau tujuan terakhir dari suatu peristiwa. Contohnya : A) 私は今空港へ着きました B) いつ日本へお帰りになりましたか? 14

C) 僕は道に迷ったあげく 三十分も遅れて会議場へたどり着いた 3. Ditujukan untuk orang atau hal yang terjadi secara langsung. A) これはあなたへのプレゼントです B) これは先生への手紙だからお渡ししてね Dari beberapa penjelasan menurut Kawashima di atas membuktikan bahwa penggunaan partikel e ( へ ) sebagai kakujoshi yang diletakan setelah noun atau kata benda dan diikuti oleh kata keterangan. 15