Regularitas Operator Potensial Layer Tunggal

dokumen-dokumen yang mirip
SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI

19, 2. didefinisikan sebagai bilangan yang dapat ditulis dengan b

METODE BEDA HINGGA PADA KESTABILAN PERSAMA- AN DIFUSI KOMPLEKS DIMENSI SATU

Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer. FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR

Turunan Fungsi. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi

10. TEOREMA NILAI RATA-RATA

A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan

untuk i = 0, 1, 2,..., n

11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS)

LUAS DAERAH, TITIK BERAT DAN MOMEN INERSIA POLAR KARDIODA DENGAN INTEGRAL NUMERIK METODE TRAPESIUM & METODE SIMPSON

KALKULUS. Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah KALKULUS Dosen Pengampu : Ibu Kristina Eva Nuryani, M.Sc. Disusun Oleh :

MA3231 Analisis Real

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi dan akurasi penyelesaian

METODE MULTIGRID UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN POISSON DUA DIMENSI DENGAN METODE BEDA HINGGA ABSTRACT

Aplikasi Persamaan Bessel Orde Nol Pada Persamaan Panas Dua dimensi

Fourier Analysis & Its Applications in PDEs - Part II

BAB III METODE PENELITIAN

Solusi Analitik Model Perubahan Garis Pantai Menggunakan Transformasi Laplace

DASAR-DASAR TEORI RUANG HILBERT

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

KB. 2 INTERAKSI PARTIKEL DENGAN MEDAN LISTRIK

MA1201 MATEMATIKA 2A Hendra Gunawan

METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN NILAI BATAS PADA PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL NONLINEAR ABSTRACT

Bab II Konsep Dasar Metode Elemen Batas

Limit Fungsi. Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri

4 SIFAT-SIFAT STATISTIK DARI REGRESI KONTINUM

BAB III STRATIFIED CLUSTER SAMPLING

Membangun Kode Golay (24, 12, 8) dengan Matriks Generator dan Menggunakan Aturan Kontruksi. Ikhsan Rizki K 1 dan Bambang Irawanto 2

PDP linear orde 2 Agus Yodi Gunawan

BAGIAN KEDUA. Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan

Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

MA3231 Analisis Real

ESTIMASI FUNGSI DENSITAS GEMPA TEKTONIK DI JAWA BALI

MA3231 Analisis Real

Matematika ITB Tahun 1975

BARISAN SIMBOL DAN UKURAN INVARIAN FUNGSI MONOTON SEPOTONG-SEPOTONG KONTINU

MA3231 Analisis Real

LEMBAR KERJA SISWA 1. : Menggunakan Konsep Limit Fungsi Dan Turunan Dalam Pemecahan Masalah

Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan

Penyelesaian Model Matematika Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya

TURUNAN FUNGSI. turun pada interval 1. x, maka nilai ab... 5

Deret Binomial. Ayundyah Kesumawati. June 25, Prodi Statistika FMIPA-UII. Ayundyah (UII) Deret Binomial June 25, / 14

SOLUSI PERIODIK TUNGGAL SUATU PERSAMAAN RAYLEIGH. Jurusan Matematika FMIPA UT ABSTRAK

FUNGSI REGULAR. Endang Cahya M.A 1 Jurusan Matematika FMIPA ITB Jl. Ganesa 10, Bandung, Indonesia

Variabel Banyak Bernilai Real 1 / 1

Hubungan Antara Turunan Parsial dan Kekontinuan Pada Fungsi Dua Peubah

BAB III INTEGRASI NUMERIK

FUNGSI KABUR. Tugas Akhir Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika

65 Soal dengan Pembahasan, 315 Soal Latihan

ANALISIS VEKTOR. Aljabar Vektor. Operasi vektor

Ruang Linear Metrik: Sifat Sifat Dasar Dan Struktur Ruang Dalam Ruang Linear Metrik

AKAR PERSAMAAN Roots of Equations

16. BARISAN FUNGSI Barisan Fungsi dan Kekonvergenan Titik Demi Titik

MENYELESAIKAN TURUNAN TINGKAT TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SELISIH ORDE PUSAT BERBANTUAN PROGRAM MATLAB

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mampu:

Persamaan Diferensial: Pengertian, Asal Mula dan Penyelesaian

Galeri Soal. Dirangkum Oleh: Anang Wibowo, S.Pd

Persamaan Diferensial Biasa

4. TURUNAN. MA1114 Kalkulus I 1

BAB II DASAR TEORI. Gambar dapat direpresentasikan ke dalam dua macam bentuk yaitu bentuk

MODIFIKASI METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH NILAI AWAL SINGULAR PADA PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA ORDE DUA ABSTRACT

Materi : Bab XIII. LUAS Pengajar : Khomsin, ST

Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f

FUNGSI DELTA DIRAC. Marwan Wirianto 1) dan Wono Setya Budhi 2)

Matematika Teknik I. Prasyarat : Kalkulus I, Kalkulus II, Aljabar Vektor & Kompleks

TRANSFORMASI LINIER PADA RUANG BANACH

BAB 5 DIFFERENSIASI NUMERIK

Fungsi Analitik (Bagian Pertama)

Pemodelan Matematika Penyebaran Penyakit Leptospirosis Antara Vektor Penyebar Dengan Populasi Manusia

MA1201 MATEMATIKA 2A Hendra Gunawan

= = =

MA3231 Analisis Real

BAB V. SIFAT GELOMBANG DARI PARTIKEL

4.1 Konsep Turunan. lim. m PQ Turunan di satu titik. Pendahuluan ( dua masalah dalam satu tema )

dapat dihampiri oleh:

BAB III PEMODELAN DENGAN METODE VOLUME HINGGA

PENETAPAN MODEL BANGKITAN PERGERAKAN UNTUK BEBERAPA TIPE PERUMAHAN DI KOTA PEMATANGSIANTAR

PENERAPAN METODE ELEMEN HINGGA UNTUK SOLUSI PERSAMAAN STURM-LIOUVILLE

ANALISIS KEKONVERGENAN PADA BARISAN FUNGSI

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world

INTERGRAL. Sifat dasar dari bentuk integral tak tentu sebagai berikut.

DERET TAK HINGGA. Contoh deret tak hingga :,,, atau. Barisan jumlah parsial, dengan. Definisi Deret tak hingga,

Setiap mahasiswa yang pernah mengambil kuliah kalkulus tentu masih ingat dengan turunan fungsi yang didefenisikan sebagai

BAB III METODE STRATIFIED RANDOM SAMPLING

Bagian 2 Matriks dan Determinan

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

PENGGUNAAN METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN PADA KALKULUS VARIASI ABSTRACT

PENGANTAR ANALISIS FUNGSIONAL

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP)

BAB V ALINYEMEN VERTIKAL

EKSISTENSI BIFURKASI MUNDUR DAN KENDALI OPTIMAL PADA MODEL PENYAKIT VEKTOR-BORNE YANG DISEBABKAN NYAMUK

TOPOLOGI RUANG LINEAR

Fungsi Gamma. Pengantar Matematika Teknik Kimia. Muthia Elma

SYARAT FRITZ JOHN PADA MASALAH OPTIMASI BERKENDALA KETAKSAMAAN. Caturiyati 1 Himmawati Puji Lestari 2. Abstrak

Disarikan dari Malatuni Topik Bahasan Penggunaan Konsep Limit Fungsi

MODEL REGRESI PARTIAL LEAST SQUARES (PLS) (Studi Kasus : Kinerja Satuan Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal)

Keterbatasan Operator Riesz di Ruang Morrey

Sistem Hasil Kali Persamaan Diferensial Otonomus pada Bidang

Transkripsi:

JMS Vol. No., al. 8-5, April 997 egularitas Operator Potensial Layer Tunggal Wono Setya Budi Jurusan Matematika, FMIPA Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesa 0 Bandunng, 403 Abstrak egulitas operator = π Ω ln x ξ ( ξ ) x Ω dibuktikan dengan teknik serupa untuk membuktikan regularitas operator integral Caucy. Kususnya. Jika merupakan fungsi kontinu di Ω, maka u merupakan fungsi kontinu Holder dengan eksponen α secara uniform α (0,). Tetapi, berdasarkan uraian bukti dapat disimpulkan, jika L ( Ω) maka u mempunyai sifat yang sama. Abstract We prove te regularity of te operator = ln x ξ ( ξ ) x Ω π Ω using similar tecnique for proving Caucy integral operator. If are continue on Ω, we prove tat u is uniformly Holder continue in Ω wit Holder exponent α for every α (0,). However, from te proof, if u L ( Ω) ten u is in te same space as before.. Pendauluan Masala fisis yang kita adapi pada umumnya dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan diferensiak parsial. Persamaan diferensial parsial yang umum kita adapi adala persamaan Laplace. Misalkan Ω n impunan terubung buka di n dengan batas Ω = Γ. Bentuk umum persamaan Laplace adala mencari u C (Ω) fungsi yang dapat diturunkan dua kali secara kontinu di Ω dan memenui persamaan u u u = x + + L = 0 di Ω () dilengkapi dengan syarat batas Diriclet x n u = f di Γ Γ () dan syarat batas Neumann = g di Γ Γ (3) dengan di Γ Γ = Γ. Peratikan bawa Γ atau Γ dapat saja kosong. 8

JMS Vol. No., April 997 9 Banyak pilian untuk menyelesaikan persamaan tersebut. Teknik yang paling sederana dipakai adala persamaan beda ingga. Teknik yang lain adala metoda elemen batas. Nanti dapat kita liat, kusus untuk bidang (n = ), dalam menggunakan metoda elemen batas tersebut kita akan beradapan dengan operator. = G( ξ ) g( ξ ) x Ω (4) r dengan gx ( ; ξ) = ln xξ. Operator ini disebut operator potensial layer tunggal. Makala π ini memberikan bukti regularitas dari operator dengan menggunakan gagasan dari bukti regularitas operator Caucy yang ada di (). Operator ini disebut operator layer tunggal potensial.. Jawab Fundamental Persamaan Laplace Untuk keperluan kita, misalkan diketaui daera buka, tersambung dan terbatas Ω dan persamaan Laplace u = 0 di Ω. Kemudian yang dimaksud dengan jawab fundamental G(ξ) untuk persamaan Laplace adala jawab persamaan G = -δ(x - ξ) (5) dengan δ(x - ξ) merupakan fungsi Dirac yang berpusat di ξ. Untuk mencari jawab ini, cukup dengan mengasumsikan bawa fungsi Dirac di ξ = 0, kemudian jawab (5) diperole dengan translasi. Dengan asumsi bawa media yang digunakan isotropis, dalam koordinat polar, jawab tersebut anya bergantung pada jari-jari. Seingga persamaan yang arus dipenui ole jawab fundamental tersebut adala u + = 0 untuk r > 0. r r r Jawab persamaan terakir ini adala u(r) = C ln r + C. Kemudian untuk keperluan normalisasi, kita pili bawa u() = 0 yang memberikan C = 0. Selanjutnya dengan menggunakan syarat δ ( x) dxdy udxdy = u nds = = C C C dengan C lingkaran berjari-jari berpusat di (0, 0), memberikan syarat mengenai C. Jawab persamaan (5) diperole dengan menggunakan translasi yaitu Gx ( ; ξ) = u( x ξ ) = ln x. π ξ Selanjutnya dengan menggunakan kesamaan Green g f ( f g g f ) dxdy= f g ds Ω Ω dan menggunakannya untuk f = u dan g = G, maka

0 JMS Vol. No., April 997 Ω ( u ( x ξ )) dxdy= Ω G u G ds dan memberikan = G u ( ξ ) Ω u G ds n n Dalam kasus persamaan Laplace disertai anya dengan syarat batas Neumann, diperole ) u ( ξ ) = G ds Ω yaitu operator yang akan dikaji pada uraian berikut. 3. egularitas Kita akan membuktikan regularitas persamaan = G( ξ ) ( ξ) (6) Ω dengan Ω dan Ω. uang yang tepat untuk pembicaraan ini adala ruang kontinu Holder L). Misalkan C 0,α (Ω) (C 0,α ( Ω)) adala fungsi yang terbatas di Ω ( Ω) dan memenui sifat Holder kontinu secara uniform dengan order α. Teorema berikut yang merupakan modifikasi dari teorema serupa untuk operator integral Caucy ) sebagai asil utama adala Teorema. Misalkan Ω impunan buka, terubung dan terbatas dan Ω lengkungan licin. Kemudian untuk C( Ω), maka u C 0,α (Ω) untuk setiap 0 < α < dan u C C 0, α ( α) (7) ( Ω) C( Ω ) dengan C(α) konstanta yang anya bergantung pada eksponen Holder. n Untuk membuktikan teorema ini, kita perlu memperliatkan mengenai beberapa sifat geometri dari Ω. Lemma. Misalkan Ω lengkungan tutup dan terbatas di dan dapat diturunkan dua kali secara kontinu, maka ada bilangan M > 0 seingga n( y), x y M x y nx ( ) ny ( ) M x y untuk setiap x,y Ω, dengan n(x) vektor normal teradap Ω di x. Bukti : Misalkan y Ω, kemudian definisikan f ( x ) = y n ( y ), x y. Kemudian nilai f ( y) = 0 dan nilai turunan berara sepanjang Ω untuk f adala y f ( x ) = n ( y ), y T ( x ) T ( x ) dengan T(x) menyatakan vektor singgung teradap Ω di x, dan nilai f' y di y adala nol. Berdasarkan Teorema ekspansi dari Taylor, maka

JMS Vol. No., April 997 dengan fy ( x) M x y M = sup f ( z) z Ω y Bukti untuk bagian kedua menggunakan teorema nilai rata-rata. n Lemma 3. Misalkan Ω impunan buka, terubung dan terbatas dan Ω lengkungan licin. Kemudian, ada bilangan M seingga untuk x Ω dan ξ Ω, x ξ berlaku G( ξ) M x ξ untuk setiap δ > 0. Bukti : Bukti dari lemma ini bergantung kepada penyelidikan sifat fungsi satu variabel f(t) = t δ ln t, t > 0 dengan δ > 0. Fungsi ini monoton turun di (0, e -/δ ) dan monoton naik di t > e -/δ. sedangkan nilai lim f () t = 0, ole karena itu f terbatas pada daera terbatas n t 0 Lemma 4. Misalkan Ω impunan buka, tersambung dan terbatas dan Ω lengkungan licin. Kemudian, ada bilangan M seingga untuk setiap x, x Ω dan x Ω berlaku G( x ; ξ) G( x ; ξ) M x ξ x x Bukti : Karena x ξ x ξ + x x x ξ, maka kita cukup memperliatkan bawa untuk t 0 berlaku ln ( + t) t. Tetapi al ini akibat dari + t untuk setiap t 0. n Bukti teorema utama. Pertama, kita arus memperliatkan bawa integral (6) mempunyai arti. Misalkan 0 > 0 bilangan cukup kecil dan definisikan Ω = x x = z + n( z), z Ω, { } 0 Akan diperliatkan bawa ada bilangan C > 0 seingga u( x) C (8) untuk setiap x Ω 0 Ω dengan sup{ ( ) } dengan = bilangan cukup kecil dan 0 berlaku G( ξ) ( ξ) (9) Ω Misalkan x Ω, maka 0

JMS Vol. No., April 997 x = z + n(z) (0) untuk suatu z Ω, dan 0 0. Karena n(z), n(x) = - n(z), n(z) - n(x) maka kita dapat memili bilangan > 0 seingga nz ( ), n( ξ) untuk setiap ξ,z Ω dengan x - ξ. Kita juga dapat mengasumsikan bawa cukup kecil seingga impunan L z, = {ξ Ω ξ - z, z dan x diubungkan berdasarkan (0)} terubung untuk setiap x Ω dan kita dapat memproyeksikan satu-satu ke garis singgung teradap Ω di titik z. Selanjutnya dρ ξ) = dρ nz ( ), n( ξ) dengan dρ ukuran panjang pada garis singgung dan, 3 G ( ξ ) ( x ξ ξ ), 3M δ / ( δ) () jika xξ 4 zξ, asalkan cukup kecil. Selain syarat tersebut, al terakir ini berlaku jika proyeksi teradap garis singgung tersebut termuat dalam interval dengan panjang kurang atau sama dengan. Selanjutnya Ω\, G( ξ ) ( M Ω\, ξ ) Berdasarkan (9), () dan (), kita tela memperliatkan (8). δ panjang ( Ω ) () Sekarang tinggal ditunjukkan bawa u(x) kontinu Holder secara uniform. Untuk itu, misalkan x, x Ω, dengan x 0 j = z j + j n(z j ), dengan j =,. Misalkan bilangan seperti di (9) dan 0< x x < 4 Dengan menggunakan ketaksamaan kedua di lemma, berlaku x x z z x x asalkan dan 0 cukup kecil (dengan memperatikan nilai M pada lemma tersebut). Misalkan r = 4 x - x, maka L L / karena z, r z, 3r, y - z y - z + z - z r + x - x 3 r+ r = r Selanjutnya dengan argumentasi serupa dengan (), maka G( x ; ξ ) G( ξ )] ( L z L, z ξ [ x ξ ),

JMS Vol. No., April 997 3 untuk suatu C > 0 yang bergantung pada M dan δ. Kemudian, dengan menggunakan lemma 4, maka, \ L z, r + x ξ ξ ) L z,3r / C x x (3) [ G( x ξ Sedangkan untuk δ (0, ) berlaku x x ln x x x x Ole karena itu L z \ L, z, r [ G( x ; ξ ) G( ξ )] ( x x x ds ξ ( ) L, \ z, r δ 4π M x x ρ dρ r / 4 = 4π M x x ln x x ; ξ ) G( ξ )] ( ξ ) C x x untuk suatu C > 0 yang bergantung pada M, dan δ. Peratikan bawa untuk δ 0, konstanta C. Sekali lagi dengan menggunakan Lemma 4, maka [ G( x ; ξ ) G( ξ )] ( x x x ds Ω L ξ ( ξ ) \ z Ω\ L, dengan C 3 bergantung pada M, dan Ω. C z, (4) x (5) 3 x Dengan mengkombinasikan (5), (3) dan (4) kita dapat menyimpulkan bawa ux ( ) ux ( ) ( C+ C+ C) x x δ untuk setiap x x 0 Jika x x 3, Ω dengan x x < 4. 4 4 8C <, kita cukup menggunakan (8) untuk menyimpulkan bawa ux ( ) ux ( ) C x x x x Ole karena itu. ux ( ) xx ( ) C x x δ 4 untuk setiap x, x Ω Ω atau kita tela membuktikan kekontinuan Holder secara uniform untuk u(x). 0 Selanjutnya, karena Ω kompak, maka (7) berlaku. n Corollary 5. Misalkan L ( Ω), maka u C 0, α ( Ω ) untuk setiap α (0, ) dan u 0, α C( α) C ( Ω) L ( Ω)

4 JMS Vol. No., April 997 Ucapan Terima Kasi iset ini dibiayai ole () Commision of European Communities, Directorate General XII B, Joint Project CI*-CT93-008 antara Jurusan Matematika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia dan Faculty of Applied Matematics, University of Twente, te Neterlands. iset ini juga dibiayai ole Hiba Tim Urge Project No : 0/HTPP-II/UGE/996. Penulis mengucapkan terima kasi kepada Dr. Hendra Gunawan untuk komentar yang tela diberikan. eferensi. Brebia, C.A., Dominguez, J., "Boundary Elements, An Introduction Course", Second Edition, Computational Mecanics Publication, McGraw Hill Book Company, 99.. Kress,., "Linear Integral Equations", Pringer Verlag, 989. 3. Hayakawa, K. and Iso, Y., "Hig-Order Uniform Convergence Estimation of Boundary Solutions for Laplace's Equation", Publ. ims, Kyoto Univ. (99), 333-345. 4. Sloan, H.I., "Error Analysis of Boundary Integral Metods", Acta Numerica (99), 87-339.