G. Paradigma Penelitian
|
|
|
- Agus Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 42 G. Paradigma Penelitian Dewasa Awal Tugas Perkembangan Mencari Pasangan Hidup Membina Kehidupan Rumah Tangga Meniti Karier utk memenuhi kehidupan ekonomi Rumah Tangga Menjadi Warga Negara yg Bertanggung Jawab Pacaran Ta aruf Romantic Love Agama Menikah Suami Istri KEPUASAN PERNIKAHAN
2 LAMPIRAN VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara I Tanggal: 28 maret 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 30 Menit Subjek : Suami Pelaku Verbatim Pemaknaan Waktu menikah, usia abang berapa tu? Waktu menikah tahun ya bang ya. Terus, apa alasan abang menikah di usia tersebut? Pertimbangan satu, karena abang dan kakak kan sudah lama pacaran. Terus pun memang saatnya aja, karena umurnya sudah mencukupi, karena kalau ditunggutunggu lagi umurnya makin bertambah. Sekarang usia pernikahannya sudah berapa bang? Bulan juli ini masuk dua tahun. Flashback, kembali ke belakang ya bang, kemarin gimana sih proses perkenalan abang dengan kakak? Prosesnya itu ya, kebetulan itu ya kami satu kampus, satu stambuk, satu kelas, jadi memang waktu di kuliah itu aja. Kan pacaran, prosesnya? Prosesnya, ya, kayak pacaran biasa aja. Ada putus sambung, putus sambungnya gitu. Setelah tamat ada sekitar satu tahun gitu dia ke Jakarta, abang tetap di sini. Baru dia kembali kemari, gak berapa lama di sini dia berangkat ke Bogor untuk kuliah lagi, lanjut S2 nya. Terus udah sekitar dua atau tiga tahun, dia kembali kemari untuk penelitian, penelitiaanya di sini. Setelah selesai, baru kami menikah. Sekitar tiga bulan menikah, dia balik lagi ke Bogor untuk menyelesaikan studinya. Kan udah penelitian, nyusun tesis ya kan. Tinggal sidangnya? Iya, tinggal sidangnya. Tapi, udah menikah duluan Udah. Jadi sekitar tiga bulan atau empat bulan menikah, dia balik lagi ke sana. Jadi, abang tetap di sini dulu. Berapa lama tuh bang pisahnya? Dia bulan 12, sekitar bulan empat kalau tidak Usia saat menikah Alasan menikah di usia tersebut karena sudah lama berpacaran dan merasa sudah cukup umur. Usia pernikahan saat ini setahun lebih. Proses perkenalan responden dengan pasangan, karena bertemu di satu kampus saat kuliah. Hubungan responden dan pasangannya sempat putus sambung-putus sambung sebelum menikah. Setelah menikah, responden sempat berpisah sekitar lima bulan dengan pasangannya karena pasangannya kembali ke Jawa menyelesaikan S2 nya. 1
3 salah, abang nyusul ke sana. Lima bulanlah. Berapa lama tuh bang prosesnya dari pacaran sampai akhirnya menikah? Coba hitung, dari 1998 sampai Sekitar delapan tahun. Apa pertimbangannya kemarin milih kakak jadi istrinya? Sebenarnya, kalo dari latar belakangnya itu ya biasa aja sih, dari kedekatan, sering samasama, sering curhat-curhatan gitulah kan, sering cerita. Dari semua kawan, kawan ceweklah, sama dia abang memang sering cerita. Dia pun sering cerita sama abang, jadi ya, awalnya dari itu aja. Kedekatan emosional ya. Sering bersama, sering curhat-curhat gitulah, ujungnya ya pacaran, ya jadi. Sampai akhirnya menikah ya bang ya. Iya. Gak ada yang aneh sih dari proses kejadiannya. Teruskan bang, gimana hubungan abang dulu pas masih pacaran dengan kakak? kan ada yang berantem-berantemnya, atau apa? Ya biasa, kalo berantem ya sering juga berantem. Sampai terus putus, habis tu berapa minggu kemudian sambung lagi, Cuma walaupun putus gak sampe bulanan gitu, gak. Sekitar berapa hari atau berapa minggu dah balik lagi. Pas masih pacaran kan pasti ada sifat-sifat dan karakter-karakter yang kita kenal dari pasangan kita. Kalo abang kenalnya gimana dulu waktu masih pacaran? Kakak tuh orangnya seperti ini? Ini menurut pandangan abanglah, menurut abang tu dia ringan tangan gitu. Maksudnya mudah memberi pada kawankawan yang membutuhkan, peng-iba-lah gitu, pemurah. Kalo kita cerita, cerita tentang masalah, dia pande bantu cari solusinya gimana. Sederhanalah. Itulah yang buat abang seneng ya? Ya... yang buat abang seneng itu, dia mudah membantu orang lain. Gitu aja. Karena kan banyak kawan-kawan kami yang butuh bantuan, cepet dia, responnya cepet. Teruskan bang, kita kan punya harapanharapan, standard tentang pasangan kita. Misalnya, saya pengennya istri saya seperti ini. Kalo abang gimana? Proses pacaran sampai menikah selama delapan tahun. Alasan memilih pasangan menjadi istri karena ada kedekatan secara emosional, sering curhatcurhatan. Hubungan responden dan pasangan saat masa pacaran sempat ada putus sambungnya, dan juga sering ada pertengkaranpertengkaran. Responden mengenal pasangan sebagai seorang yang ringan tangan, suka membantu orang lain, pintar mencari solusi atas permasalahan orang lain dan sederhana. 2
4 Kalo abang, simpelnya lah, ya kalo untuk standard manusia dah sempurna. Di samping ada kekurangan dan kelebihannya. Menurut abang dia sudah cukup sempurnalah bagi abang. Masa pacaran kan beda dengan setelah menikah. Kalo masih pacaran kan masih mungkin ada batasan-batasannya, kalo dah menikah kan dah milik seutuhnya. Apa saja perbedaan-perbedaan yang abang rasakan, waktu masih pacaran dengan setelah menikah. Misal dari segi hubungan atau sifat-sifat pasangan? Kalo sifat, karena dah kenal sekian lama, lebih kurang sifatnya dah nampak. Lagian kami dari pacaran dah punya komitmen jangan ada sifat-sifat yang ditutup-tutupi. Kalo ada, bilang aja dek. Kalo suka tentang ini, bilang, kalo gak suka bilang. Cuma perubahannya itu, soal perhatiannya kan lebih intens. Yang pasti dulu, ngurus badan sendiri, gosok, makan, nyuci sendiri, sekarang dah ada yang ngurus. Abang rasa sih itu. Sampai sekarang pun sifat-sifat yang dahulu gak muncul, sekarang muncul itu gak ada. Karena dulu itu bisa dibilang dah tau semua lah. Udah terbukalah sifat-sifatnya semua. Jadi, sekarang gak ada sifat yang aneh, sifat tambahan lainlah yang kemungkinan bisa buat masalah. Kalo waktu awal-awal pernikahan bang? Kalo sekarang mungkin sudah ada penyesuaian. Awal-awal nikah itu, yang menjadi masalahnya itu, abang harus mikirin, kami bakal jauhan lagi. Karena kan dari dia mulai penelitian kami udah bicarakan, nanti kalo menikah sekarang, dia kan harus balik lagi kesitu, gimana. Pasti kami harus berjauhan, abang pun gak mungkin ikut ke sana, karena pun kalo ke sana, apa yang mau dikerjain. Jadi, abang pun harus tetap di sini, sedangkan dia harus ke sana. Jadi, memang harus kami terima kondisi itu. Awal menikah, itu yang abang pikirin sampe hari H nya dia berangkat. Beberapa bulan abang di sini ya, walaupun gak terbiasa juga, tapi ya harus dihadapi. Itu aja sih ya kendala. Dalam pacaran kan sudah cukup mengenal pasangan dengan baik. Apa aja misalnya halhal baru dari pasangan abang yang baru abang Menurut responden, pasangannya saat ini sudah cukup sempurna baginya. Perubahan yang dirasakan setelah menikah dari diri pasangan yakni dari segi perhatiaan pasangan yang semakin intens. Dari segi sifat, tidak ada yang berubah, sama saja dengan saat masih pacaran. Di awal pernikahan, masalah yang dihadapi responden adalah karena memikirkan pasangannya yang akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya, sehingga harus terpisah jarak dengan responden. 3
5 temui setelah menikah. Misal kebiasaankebiasaannya yang baru kelihatan. Gak ada sih kebiasaan dia yang baru yang lain dari yang dulu. Satu contoh misalnya, pemarah. Dia kalo memang gak suka ama sifat abang, ada misalnya sesuatu yang dia gak suka, dia memang dari dulu bilang, dia orangnya kayak gini, dia gak suka nengok abang kayak gini. Memang gak ada sih sifatsifatnya yang baru, yang sekarang ni baru muncul. Ya...mungkin kalo..., gak ada lah, ya menurut abang sih gak ada. Bilang aja bang. Ya gak ada sebenarnya yang baru tu sifatnya apa. Ya gak ada. Kayaknya yang abang nampak yang baru. Mungkin satu ya.. ya...tapi mungkin...tapi ya abang rasa itu bukan sifat aslinya sih. Misalnya? Maksud abang gini kan, itu mungkin sifat dia, tapi waktu pacaran disembunyikan dia. Tapi sekarang baru muncul. Menurut abang itu bukan sifat aslinya dia. Cuma kalo menurut abang itu, hmm... rasa manja dia aja. Kalo menurut abang dulu dia orangnya tegar, kuatlah dalam menghadapi masalah. Sekarang dia lebih, lebih cemana ya, lebih gampang sedih ngadapi masalah. Makanya, abang ngerasa itu bukan sifat asli dia. Cuma sekarang karna sudah ada abang, mungkin ada tempatnya untuk apa. Kalo menurut abang bukan sifat aslinya. Yang lain bang? Yang lain, Cuma itulah. Gampang sedih, gampang nangis. Kalo dulu seberat apapun masalah, dia pasti gak gampang sesedih itu. Itu aja sih. Selain itu bang dari perilakunya? Apa ya? Yang abang rasakan selama ini? Gampang jajan. Apa? Suka jajan. Abang rasa gak ada lah. Gak ada lagi sifat-sifatnya yang lain. Abang pun bingung nyarinya, karena dari pacaran dulu ya udah itu dia. Kalo dia cerewet, ya dari dulu dia memang suka nyerewetin abang, dia suka marah sama abang. kalo abang buat salah, dia memang marah. Gak ada sih, gak ada. Kita kan pasti ada perbedaan-perbedaan sifat Dari segi kebiasaan, secara umum tidak ada perubahan yang dirasakan responden dari diri pasangannya. Kebiasaankebiasaan pasangannya saat ini, memang sudah seperti itulah yang ia kenal dari dahulu saat masa pacaran. Sifat pasangan yang baru muncul setelah menikah yakni bahwa pasangannya saat ini lebih mudah sedih dibandingkan dahulu. 4
6 dengan pasangan kita, latar belakangnya kan berbeda. Gimana abang menyikapi perbedaanperbedaan itu? Kalo abang sih sudah biasa ngadapinya, karena dari pacaran dulu kami memang gak seide. Kalo abang itu orangnya cuek dek, kalo dia orangnya semuanya itu harus terkendali. Kalo abang orangnya gak pedulian, jadi, udah memang dari awal pacaran kami memang tidak satu ide. Sampe sekarang pun tetap sering berdebat. Ujung-ujungnya kalo kami berdebat karena tidak satu ide itu, kalo ujungujungnya tidak selesai. Ya udah, ya tetap, diyakini dia, dengan diyakini abang. Cuma jangan sampe itu jadi masalah yang dibesar-besarkan. Itu aja. Jadi kalo hmm, masalah yang apa tu...merokok, dia kan memang gak suka. Ya udah, dari pacaran dulu dia tetap. Boleh dibilang dia tidak suka sama abang seperti itu. Pernah dulu masih sekitar dua ato tiga tahun pacaran, abang masih juga seperti itu. Pas pula di tas abang dia ketemu rokok sebungkus, padahal baru satu batang tu abang isap. Ada sekitar 15 batang lagilah. Ya udah, diambilnya, di bagi-bagikannya ke yang duduk di situ. Ya udah, seperti itulah dia tidak sukanya. Dan sampe sekarang pun dia tetap tidak suka dan tidak berubah. Kadang-kadang kan ada pasangan yang waktu pacaran memang tidak suka, tapi begitu udah menikah, dia bisa terima kalo suaminya seperti itu. Dia tetap gak terima sampe sekarang, sampe hari ini. Jadi solusinya, di rumah abang tidak merokok, di luar pun ya abang masih merokok. Cuma dia pun tahu kondisinya seperti itu. Teruspun dulu memang udah komitmen sih, Cuma ya pengertian kami aja. Abang pun nerima itu. Kalo misal memang abang lagi ama dia, abang gak merokok, tapi kalo dia memang gak ada ya terserah abang. Itu sih. Tapi itu ya, memang dari dulu sampe sekarang gak berubah-berubah. Setelah menikah, responden tidak lagi mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dengan pasangannya, karena responden sudah biasa menghadapinya saat masa pacaran dulu. Responden dan pasangan sering tidak satu ide sehingga ini memicu perdebatan diantara keduanya. Responden dan pasangannya tetap bertahan dengan ide masing-masing. Dalam menyikapi perbedaan dengan pasangan, responden tetap menjaga agar perbedaanperbedaan yang ada tidak sampai menjadi masalah yang dibesar-besarkan. Responden dan pasangannya berusaha untuk saling pengertian tentang hal-hal yang tidak mereka sepakati, misal dalam hal merokok. 5
7 VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara II Tanggal: 8 April 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 20 Menit Subjek : Suami Pelaku Verbatim Pemaknaan Jadinya usia pernikahan abang dah berapa lama bang? Ya...Satu tahun, udah setahun lebih lah, bulan Usia tujuh ini pas dua tahun. Terus, bagaimana penilaian abang terhadap pernikahan abang saat ini? Ya, kalo sampe sekarang belum, ya masih Responden berjalan normal lah, masih biasa aja. Ya, belum ada yang kalo dibilang aneh-aneh terjadi belum ada. Masih berjalan normal seperti biasa ajalah. Terus, bagaimana pernilaian abang terhadap istri abang? Ya seperti yang abang...seperti dulu juga, gak, Responden gak ada yang berubah juga. Dia pun masih seperti itu. Terus, mengenai komunikasi kan bang, bagaimana komunikasi abang dengan pasangan abang? Ya, komunikasi lancar. Ya, cuma mungkin karena abang pigi kerja dari pagi, kadangkadang Komunikasi pulang habis maghrib, malam gitu kan, jadi mungkin kuantitasnya aja yang kurang, tapi kalo kualitasnya ya, lancar sih, gak ada masalah. Terus, bagaimana perasaan abang ketika berkomunikasi dengan kakak? Ya, perasaannya seperti abang bilang, seperti berbicara, berkomunikasi sama dia, mungkin contohnya seperti abang berbicara tentang kondisi yang abang alami hari ini gitu kan di tempat kerja, abang senang bercerita sama saat dia, sharing tentang apa yang abang alami dan itu sesuatu yang menyenangkan bagi abang. Terus, bagaimana kejujuran abang terhadap pasangan? Kalo, e..., mungkin ada satu hal yang memang harus abang tutupi sama dia, karena mungkin ada sesuatu hal yang menurut abang sih gak, gak pernikahan responden sudah setahun lebih. menilai pernikahannya saat ini masih berjalan normalnormal saja. menilai pasangannya sama seperti dulu, tiada yang berubah dari diri pasangannya. responden dengan pasangan lancar. Responden merasa senang berkomunikasi dengan pasangannya. 6
8 harus abang ceritakan sama dia. Itu abang rasa, bukan berarti abang bohong sama dia tapi kalo untuk hal-hal lain abang rasa udah, walaupun belum, belum bisa di bilang 100% jujur, Cuma abang rasa, abang udah berusaha ke tahap itulah, untuk jujur sama dia semuanya. Yang perlu, yang gak perlu abang tutupi, gak perlu abang tutupi, kan gitu, Cuma mungkin ya, ya masih, ya tahap, belum 100% jujur gitu. Kendala-kendalanya bang, yang buat abang belum 100% jujur? Ya, kayak gini, kalo itu, itu abang ceritai seperti adanya kan gitu kan, abang merasa itu akan jadi apa, konflik, konflik diantara kami, kan gitu. Jadi, untuk sekarang abang tutupi aja dulu. Tapi itu, e..., bukan masalah yang terlalu penting kali sih untuk ditakutkan akan menjadi masalah, Cuma ya, menurut abang itu aja, belum saatnya harus abang ceritakan. Terus, mengenai kepercayaan abang terhadap istri, gimana? Ya, sangat percaya abang ma dia, bahkan kalo bisa terlalu percaya, dan abang yakin kepercayaan abang itu gak akan disalah gunakannya. Terus kan bang, kita kan sering punya waktu luang, abang misalnya punya waktu luang, bagaimana abang memanfaatkan waktu luang abang itu? Ya...memang sih, walaupun sampai sekarang waktu luang abang itu belum sepenuhnya ada untuk dia, cuma ada memang sesekali, ada waktu luang, biasanya ya abang habiskan paling ya di rumah aja abang habisin, kalo dia pun gak ada aktifitas di rumah ini, utama, ya kami berdua di kamar, entah buat kesibukan apa-apa, ya, cerita-cerita, terus mungkin ya beresin kamar bersama, gitu. Gitu ya. Terus kan sekarang dah nikah kan bang. Gimana perbandingan religiusitasnya antara sebelum menikah dengan sesudah menikahan dalam hal keagamaannya? O..eh, ini abang ya kan? Abang. Mungkin kalo dari abang, masalah shalat apa gitu kan, yang pasti lebih, memang ada peningkatan dari abang sebelum menikah. Kalo dulu memang sebelum menikah, satu mungkin karena gak ada yang mengingatkan, Responden berusaha untuk selalu jujur dengan pasangannya, walaupun ada hal-hal yang masih responden tutupi dari pasangannya. Responden menutupi tentang suatu hal dari pasangannya karena khawatir bila diceritakan dapat menimbulkan konflik dengan pasangannya. Responden sepenuhnya pasangannya. percaya pada Responden mengisi waktu luangnya bersama pasangannya dengan melakukan berbagai aktifitas bersama di rumah. 7
9 walaupun orangtua sering juga mengingatkan, kan gitu, gak sepenuhnya orangtua itu bisa mengawasi, kan gitu. Terus pun kalo misalnya untuk shubuh itu, biasanya pun shubuh udah agak siang baru bisa shubuh, sekarang kan karena sudah ada istri, pagi-pagi itu dia kan sudah bangun, gitu adzan dia pasti bangunin, langsung shalat abang, dah ada peningkatan. Terus, ehm...yang untuk misal mengaji, ya kan, itu memang yang bisa dibilang gak pernah sama sekali, jarang gitu kan, jarang sekali. Terus sekarang, minimal setipa habis shalat maghrib pasti ngaji, kalo dia lagi gak bisa ngaji, berdua, kalo gak abang sendiri. Terus yang pasti ada peningkatan aja. Terus kan bang, dalam rumah tangga itu kan wajar ada konflik-konflik, biasanya konflikkonflik apa saja yang sering terjadi? Yang pasti salah pengertian aja, istilahnya terkait suatu masalah, abang berpikirnya ke arah sini, dia kemari, gitu kan, dua-dua tetap bertahan, ujung-ujungnya ya, agak keraskerasan sikit. Gitu. Dan biasanya memang ya, memang sampai sekarang pun memang, ya walaupun gak sedang bermasalah seperti itu, tapi e.. biasanya memandang suatu masalah itu kami memang beda persepsinya. Tetap pada pendirian masing-masing. He-e Penilaian abang terhadap masalah itu sendiri gimana bang? Tanggapan abang terhadap adanya suatu masalah. Bagaimana pengeruh adanya suatu masalah terhadapa diri abang? Kalo abang sih ya gak terlalu, gak terlalu ehm...apa ya istilahnya. Gak mau terlalu menganggap masalah itu jadi besar. Ya udah kalo memang itu jadi masalah, gak terlalu abang pikirkan kali. Ya, selagi memang masalah bisa abang jalani apa adanya tanpa ada solusi terhadap masalah itu, ya udah abang jalani aja terus. Sebatas, sampai dia memang mengganggu betul, itu baru abang pikirin gimanan solusinya. Misal masalah itu gak ada solusinya tapi masih bisa abang jalani terus gitu kan, gak jadi penghambat bagi abang, ya udah gak akan abang pikirin kali, biar aja seperti itu. Terus, misalnya lah ada masalah gitu, bagaimana solusi atau strategi yang abang lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut? Religiusitas dan ibadahibadah responden semakin meningkat setelah menikah. Masalah yang sering muncul dengan pasangan karena adanya salah pengertian dan perbedaan persepsi antara keduanya, masing-masing bertahan dengan pemikirannya sendiri. Responden tidak terlalu memikirkan tentang uatu masalah yang timbul, cenderung mengabaikannya saja kecuali bila masalah tersebut sudah sangat mengganggau baru responden mencari solusinya. 8
10 Ya, pertama kalo menurut abang masalah itu, menurut abang, abang perlu membicarakan dengan istri abang, ya abang bicarakan sama dia, dan biasanya memang dia, dia selalu abang suruh cari solusinya, karena abang sendiri pun gak terlalu mau memikirkan mencari solusi itu gimana gitu. Jadi mungkin dari dia misalnya dah dapat, menurut dia solusinya seperti ini, mungkin abang pertimbangin, abang pikirin, cocok gak kalo misalnya itu pun abang laksanakan seperti yang dia bilang, dan biasanya abang, bisa dibilang jaranglah abang memikirkan sendiri, apa, tentang suatu masalah itu, pasti selalu abang ceritakan ke dia. Diselesaikan bersama. Terus, bagaimana penilaian abang tentang kondisi ekonomi abang saat ini? Ya, mungkin belum bisa dibilang mapan, tapi kalo menurut abang masih bisa mencukupi gitu karena pun ya kebutuhannya pun belum begitu besar saat ini ya, tapi mungkin kedepannya kalo masih seperti ini aja ya mungkin gak bakal mencukupi, tapi untuk saat ini masih mencukupilah penghasilan kami. Terus, siapa bang yang mengelola keuangan? 100% istri abang. Istri abang ya. Karena ehm...ketika menerima gaji, sepenuhnya abang kasih ke dia. Nanti, entah abang perlu duit berapa, abang minta saja sama dia. Jadi, 100% dialah yang mengelola, dan abang gak pernah mau memusingkan hal itu. Kepercayaan abang dalam hal, kan kakak yang mengelola keuangan, gimana kepercayaan abang terhadap kakak dalam mengelola keuangan? O.. Ya pasti abang lebih percaya istri orang daripada istri abang sendiri, hehehe, enggaklah. Jadi ya, sesungguhnya abang percaya sepenuhnya sama dia, biar dia mampu untuk itu, dan dia pasti bisa, daripada abang yang mengelola pasti ya entah gimana jadinya. Percaya aja. He-e. Terus, bagaimana hubungan abang dengan kerabat-kerabat abang? Dengan keluarga dari pihak istri maupun pihak abang sendiri? Ya, sampai sekarang sih memang gak ada masalah, gak ada masalah dengan keluarga, baik keluarga disini maupun keluarga disana. Responden umumnya selalu berbagi, menceritakan dan meminta pasangannya untuk membantu mencarikan solusi bila ada suatu masalah yang terjadi. Kondisi ekonomi responden saat ini masih mencukupi. Keuangan keluarga sepenuhnya dikelola oleh istri responden. Responden percaya sepenuhnya pada istrinya dalam mengelola 9
11 Walaupun jarang ketemu, komunikasi jarang, cuma, gak ada permasalahan lah. Berjalan normal aja. Bagaimana perasaan abang dalam berhubungan dengan pihak keluarga? Ya, ya pasti karena kita udah, jumlah keluarga pasti bertambah, kan gitu ya kan. Pasti itu, ya menambah rasa bahagia kita kan. Keluarga kita dah bertambah, misalnya kita entah ke keluarga abang, ada keluarga juga, terus abang balik kemari pun tetap ada keluarga abang, kan gitu. Tetap senang kita, merasa ada keluarga baru. Terus, bagaimana kepedulian abang terhadap pihak keluarga? Mungkin abang memang belum sepenuhnya bisa ngasih, baik keluarga istri maupun keluaga abang sendiri, kan gitu. Cuma, abang memang masih berusaha untuk bisa, karena memang pada dasarnya abang belum mempunyai apa istilahnya ya, kepekaan gitu lah kan. Itulah, abang masih berusaha untuk menunjukkan kepedulian abang kepada keluarga abang keseluruhannya. Mungkin sekarang ini walaupun belum bisa dibilang 100% abang bisa memberi perhatian pada keluarga abang, Cuma masih menuju kesitulah. Belajar. Gitu ya. Masih berusaha menunjukkan kepedulian sama keluarga. Terus bang, beralih ke masalah seksualitas. Bagaimana abang dengan pasangan abang terkai dengan masalah seksualitas? Yang pasti, ehm...setiap berhubungan sama istri pasti kita bahagia, karena istri juga menunjukkan kasih sayang dia, kan gitu. Cuma yang pasti, mungkin yang menjadi, walaupun gak boleh sebenarnya dijadikan beban, cuma secara tidak langsung menjadi beban, menjadi bebannya kadang-kadang menjadi target kan gitu kan. Target setiap berhubungan itu ya masalah belum punya anak itu, gitu. Walaupun setelah itu, gak harus jadi masalah, kan gak, karena kalo kita pikirin jadi beban pikiran, nah itu kan, larinya kan ke kualitas hubungan itu kan gitu kan. Cuma ya, secara tidak langsung seperti itu jadinya kondisinya saat ini. Tapi kalo setiap berhubungan pasti seneng, gitu. Sabar dalam keuangan keluarga. Hubungan responden dengan pihak keluarga baik-baik saja, tidak ada masalah. Responden merasa senang dan bahagia dalam berhubungan dengan keluarga, apalagi setelah menikah, keluarganya jadi semakin bertambah. Responden belum memiliki kepekaan terhadap keluarga, namun responden masih berusaha untuk dapat menunjukkan kepeduliannya kepada keluarganya. Responden merasa senang dan bahagia saat berhubungan seksual dengan pasangannya, hanya saja saat ini mereka didorong oleh target ingin segera memiliki anak, sehingga target ini mempengaruhi kualitas mereka dalam behubungan seksual. 10
12 menjalani itu. Seperti itu. Terus, bagaimana respon pasangan abang dalam membaca keinginan-keinginan abang? Yah, mungkin gini ya, mungkin... Ya, responnya sih ya cemana kita bilang, karena selama ini memang ya kan, dari dia dulu yang apa, yang memberi apalah kan itu, baru abang yang merespon, seperti itu biasanya. Iya ya. Terus bagaimana kesetiaan abang terhadap pasangan abang? Ya, alhamdulillah sampai sekarang abang berusaha untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Saya berusaha menyadari, kondisi abang sekarang ini sudah punya istri, jadi ya abang selalu berusaha menjaga itu dan sampai sekarang belum ada, belum ada godaangodaan yang berartilah, yang mengganggu kesetiaan itu. Bagaimana perasaan abang, saat ini kan belum memiliki anak. Gimana perasaannya? Ya gitu, yang pasti e...setiap manusia, kita pasti ingin kan punya anak. Cuma selagi bisa, itu gak abang jadikan beban, gak abang, gak menjadi beban pikiran abang, gak abang bebanin. Ya udah, abang berusaha untuk menjalani kondisi itu aja. Ya, mungkin, ya sekarang memang belum, belum dikasih, belum dikasih kepercayaan untuk ehm...memelihara anak, kan gitu. Ya kalo dari istri abang, mungkin gak tau ya gimana perasaan dia. Cuma dari diri abang, gak menjadikan itu sebagai beban, tapi mungkin sesekali mungkin timbul keinginan itu kok belum. Cuma ya abang tetap berusaha gak memikirkan itu. Itu aja. Ya mungkin berusaha, berusaha, berusaha, apa yang bisa dibuat. Ya, kalo memang belum juga, ya seperti itulah ya, ya kan. Terus, bagaimana pengaruhnya belum hadirnya anak itu terhadap hubungan abang dengan istri? Ya, enggak. Menurut abang sampai sekarang itu gak jadi masalah diantara kami. Kami memang itu ya, memang gak seharusnya menjadi permasalahan dalam kehidupan berdua. Ya itulah, kalo memang belum dikasih, mau kita apain. Berusaha apapun kalo belum dikasih ya mau gimana lagi. Yang penting kami berdua dah berusaha, dah mencoba berobat, kan gitu kan. Ya, sampai sekarang walaupun belum nampak hasilnya, yang penting Responden dapat membaca dan merespon keinginan seksual pasangannya dengan baik. Responden berusaha untuk selalu menjaga kesetiaannya pada istrinya. Responden berusaha untuk tidak memikirkan dan tidak menjadikan sebagai beban karena belum hadirnya anak dalam rumah tangganya, walaupun sesekali pikiran itu tetap juga muncul. Responden terus berusaha melakukan apa yang dapat dilakukan untuk mendapatkan anak. Responden tetap berpikiran positif pada yang kuasa walau belum juga mendapat anak, mungkin Allah belum memberi kepercayaannya saat ini. Belum hadirnya anak tidak menjadi pemicu munculnya masalah 11
13 kami dah berusaha. Itu aja. Terus bang, mengenai kepribadian, bagaimana abang menyesuaikan diri dengan kepribadian pasangan abang? Ya, mungkin karena kami pacaran dah lama, dah delapan tahun itu. Setelah menikah pun gak da hal-hal khusus yang harus dilakukan untuk menyesuaikan kita dengan pasangan kita, karena dah terlalu panjang kan proses penyesuaiannya, gitu, dengan tambah lagi putus sambung, putus sambung, jadi udah tau, dia gak sukanya ini, kan gitu kan. Ya udah, kita coba perbaiki diri, itu, selama delapan tahun itu kan bukan proses yang singkat, tiap hari jumpa, tiap hari belajar sama, satu kelas, kan gitu. Ya gitu, sampai sekarang pun gak da hal khusus yang dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan. Terus, mengenai peran kan bang, bagaimana perasaan abang terhadap pembagian peran-peran dalam rumah tangga, misalnya sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga? Yang pasti mungkin kan walaupun sejak menikah gak da secara langsung lah kita bilang, aku ngerjai ini, kamu ngerjai ini, walaupun gak ada, cuma ya mungkin masing-masing ya lebih kerjanya sih, yang lebih mengerti posisi, peran dan seperti apa, apa yang harus dikerjainya, seperti itu. Jadi ya berjalan dengan sendiri aja. Dia lebih mengerti apa yang harus dikerjai, apa tugas dia, abang pun, apa yang harus abang kerjai, ya abang ya seperti itu aja, gak da langsung pembagian peran secara legal kita bilang gak, kau tugasnya ini, ini, ini, gak, gak seperti itu, berjalan sendiri aja. Yang pasti, mengerti sendiri aja gitu sambil proses belajar kan, aku harus seperti ini. antara responden dan pasangannya. Responden sudah saling mengenal dan menyesuaikan diri dengan pasangannya sejak masa pacaran, sehingga tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan pasangan setelah menikah. Responden mengerti akan peran-perannya dalam rumah tangga. 12
14 VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara III Tanggal: 23 Mei 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 60 Menit Subjek : Suami Pelaku Verbatim Pemaknaan Kemaren kan abang ada bilang kalo baru-baru nikah itu sempat pisah beberapa bulan. Oh, karena kakak sekolah lagi. Iya betul, lanjut S2. Itu gimana bang perasaannya dalam menjalani hubungan yang jarak jauh seperti itu? Ya kalo tengok perasaan paling dalam sih gak terima kan gitu, bukan gak terima apa, maksudnya ya cemana istilahnya, gak enaklah. Cuma kan memang harus dijalani, karena pun sebelum nikah pun, sebelum resmi nikah, dah ada pertimbangan kesitu. Kalo pun kita nikah sekarang kan belum selesai kuliah, berarti habis nikah mungkin ntah dua menghadapi bulan ya kita bakal jauhan lagi. Dah ada, dah jarak jauh tersebut. dapat gambaran di awal. Jadi ya, dah lumayan siaplah ngadapin hubungan jarak jauh setelah menikah itu. Jadi ya, bukan jadi kendala, bukan jadi masalah kali. Ya sesekali ada rasa rindu, rasa apa, wajar. Mungkin itu aja. Terus bang, kendala-kendala yang dihadapi saat hubungan jarak jauh itu seperti apa? Ya kendalanya mungkin abang rasa mungkin kalo pingin ketemu, ntah kita pingin pergi, aturnya bisa berdua, terpaksa sendiri. Kalo kendala komunikasi sih gak ada karena kan dah ada HP sekarang kan kalo komunikasi ya lebih lancar. Tapi ya setidaknya dua malam ato tiap malam ada lah nanya kabar gimana. Komunikasi gak ada masalah. Terus ada gak bang, kalo jarak jauh gitu kan biasa ada kecurigaan-kecurigaan. Itu ada gak menjaga sih? dengan istrinya. Enggak kok, kalo abang sendiri kan dah dari dulu sebelum menikah dulu, udah, abang dah ma dia, abang pun dah sangat percaya ma dia. Jadi curiga, contohnya ntah dia selingkuh ntah apa gitu, alhamdulillah belum pernah muncul di benak abang karena dah dari awal dari Responden Responden merasa tidak enak dengan hubungan jarak jauh saat istrinya melanjutkan kuliah ke luar kota setelah menikah. Namun karena sudah mendapat gambaran di awal tentang hal ini maka ia sudah lebih siap dalam hubungan Hubungan jarak jauh membuat hal-hal yang ingin responden lakukan berdua bersama istri terpaksa hanya ia lakukan sendiri. Menurut responden tidak ada masalah yang terjadi dalam hubungan jarak jauh ini karena ia selalu komunikasi percaya 13
15 waktu pacaran, abang dah percaya ma dia. Jadi kalo kecurigaan-kecurigaan itu alhamdulillah gak pernah ada terpikir sama abang. Terus apa tu bang, kira-kira yang buat abang percaya sama kakak sampai sekarang? Karena kita pacaran panjang ya kan, sekitar delapan tahun. Jadi setidaknya abang udah tau dia gimana, terus pun dia kan, satu, dia gak gampang bisa suka sama orang gitu. Abang dah memang dari awal dah sedikit banyak tau tentang dia, itulah yang bisa membuat kepercayaan abang sama dia muncul gitu. Iya ya. Kemaren waktu wawancara sebelumnya, bahwa menurut abang kakak itu dah sempurnalah bagi abang. Sempurna dalam konteks manusia gitu ya. Iya. Itu dalam artian sempurna itu seperti apa bang? Sebenarnya satu gini, kalo untuk tugas rumah tangga dia sangat mengerti, tau dia tugastugasnya itu apa-apa aja. Terus kalo untuk perhatiannya, apa dia, udah, udah selama ini sama abang sudah cukup banyak. Kalo apanya, kerjaan di rumah dia ngerti, tentang karir dia, tentang apapun dia ngerti. Jadi banyak yang kalo apa, bisa kita bilang banyak yang dia bisa. Terus pun orangnya memang mudah, cepat belajar,mengetahui sesuatu. Itulah yang abang anggap dia sempurna, di rumah bisa, di luar pun dia ilmunya lumayan kan gitu, pengetahuannya bagus, itu yang buat abang apa. Terus pun dia itu macam yang tadi, kalo di rumah itu dia tau tugas tanggung jawab dia itu apa, untuk melayani abang selama ini dah, cukup besarlah perhatian dia. Jadi karena kakak bisa menjalani peranperannya dengan baik. He-e. Terus kan bang, kemaren abang ada bilang, setelah nikah kakak jadi lebih mudah sedih ketika menghadapi masalah jadi lebih mudah sedih. Padahal waktu pacaran yang abang tau cukup tegar. Itu gimana bang, perasaan abang menghadapi perubahan, perubahan sifat kakak? Awal-awalnya dulu mungkin ya heran juga, lho kok seperti ini dia. Tapi belakanganbelakangan, abang berpikir, satu ya kan, dulu mungkin sebelum menikah ya mungkin sepenuhnya pada istrinya walaupun jarak mereka berjauhan, ia tidak merasa curiga dengan istrinya yang jauh disana. Kepercayaan responden pada istri sudah terbentuk sejak mereka pacaran, dan dari situ responden sudah mengenal bagaiman sifat dan karakter istrinya, itulah yang membuatnya percaya pada istrinya kini. Responden merasa istrinya sudah sempurna baginya karena menurutnya, selama ini istrinya dapat menjalankan seluruh peran, tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. 14
16 memang seperti itu, cuma kan kami gak intens bertemu. Kalo kondisinya di rumah kan abang gak tau, pas gak sama abang, mungkin di rumah itu dia sedih, pas ketemu sama abang mungkin ya dia berusaha untuk tegar, menahankan. Satu itu. Yang kedua pertimbangan abang, mungkin dulu itu memang, memang udah tegar kian, Cuma karena dia beranggapan, dia belum punya siapa-siapa yang untuk bisa tempat dia curhatlah, membagi kesedihan dia. Jadi dia harus belajar tegar untuk menghadapi masalah dia. Sekarang mungkin karena sudah ada abang suaminya, ada tempat dia bercerita masalah dia. Ha... itu mungkin pertimbangan abang, antara dua itu aja. Terus gimana perasaan abang? Ya kalo perasaan abang sendiri ya, awal-awal itu ya itu, abang memang agak sedih juga. Cuma belakangan ini udah abang terima. Cuma sesekali memang abang nasehati aja, udah, gak usah, setiap masalah itu gak usah terlalu dipikirin. Cuma sedikit nasehat aja yang abang kasih. Cuma ya memang, kalo lagi sedih ya, abang sebagai suami harus berusaha mengurangi beban dia, karena kan sekarang ini masalah dia, masalah abang juga, masalah keluarga kan gitu ya. Terus bang abang bilang dari dulu dari masa pacaran dulu kan, seringnya banyak tidak seidenya dengan kakak ya. Iya. Sampai sekarang pun terkadang masih seperti itu. Itu gimana bang perasaannya? Beda persepsi? Karena dah tau dari awal dia kek mana, abang kek mana, walaupun sekali-sekali jadi masalah cuma kami berusaha gak kami perpanjang. Mungkin kalo lagi berdebat gitu, gak ketemu titik temunya, ya udah gak usah dibahas, diberhentikan aja. Cuma gak pernah jadi masalah yang besar yang sampe apa gitu. Paling ya itu aja, gak usah kita bahas gitu, dibahas pun gak ada ujungnya. Itu terkait dengan masalah-masalah apa bang seringnya tidak seide itu? Gimana ya, satu mengenai kerjaan abang, kan gitu. Kalo abang kan kalo kerjaan sama abang tu abang kalo kerjaan di kantor belum selesai itu, pingin abang tu abang kerjai dulu Responden merasa heran dan sedih dengan perubahan sifat istrinya yang kini setelah menikah menjadi lebih mudah sedih dibandingkan dulu saat masih pacaran. Responden kini sudah mulai menerima an memahami sifat istrinya yang jadi lebih mudah sedih. Sebagai suami responden berusaha untuk dapat membantu mengurangi beban masalah yang dirasakan istrinya. Responden sudah terbiasa bila berbeda pendapat dengan pasangannya sejak dari pacaran dulu, jadi itu tidak lagi mengganggu dirinya. Hanya saja responden berusaha menjaga agar perbedaan pandangan tersebut tidak menjadi masalah yang dibesar-besarkan. Menurut responden, selama ini yang sering menimbulkan perbedaan 15
17 sampai selesai. Itulah kadang-kadang abang harus pulang agak telat, kalo menurut abang yang seperti seperti itu wajarlah sebagai tanggung jawab pekerjaan. Tapi kalo menurut dia itu gak seperti itu, itu dibodoh-bodohi pekerjaan menurut dia. Jadi seperti seperti itu. Dan memang biasanya, terkait hal inilah, ya mengenai menghadapi kerjaan itu yang sering beda pandangan lah gitu. Terus tentang, tentang kerjaanlah pokoknya. Apapun macam-macam masalahnya, intinya itu mengenai pekerjaan itu yang lebih banyak berbeda pandangannya. Terus cara mengatasinya gimana bang, ketika misalnya tidak seide, seperti yang tadi abang bilang? Ya kalo dia kan kekeh seperti itu, abang pun ya, abang pun ya akhir-akhir ini menurut abang sih ada betulnya yang dia bilang mengenai sisitem bekerja abang. Sekarang ini abang cuma sedikit-sedikit berusaha mengikuti apa yang dijelasin dia, kerjaan itu gimana. Udah abang ikutin, abang berusaha pulang sesuai jadwal, gak malam tapi yah pulang apa, sore, jam jam lima jam enam abang kalo bisa dah pulang. Cuma dari abang sendiri sebetulnya masih belum bisa abang bekerja seperti itu. Kerjaan hari ini ya harus abang lanjuti besok hari. Walaupun dari abang belum bisa sepenuhnya, ya seberat apapun daripada menjadi masalah, ya abang merubah sikitsikit lah. Mungkin abang kerja datang lebih pagi, jadi dah bisa selesai satu hari itu kerjaannya. Kalo biasanya kan abang kerja jam sepuluh, sekarang abang jam jam delapan dah ke kantor. Jadi mungkin abang ubah jadi seperti itu aja, supaya gak pulang malam. Itu gimana respon kakak? Ya pasti kalo memang abang pulangnya agak cepat gitu ya dia senang. Cuma kalo pulang malam lagi sekali-sekali, tetap dipertanyakan dia lagi, gitu aja kalo menurut abang, dia senang. Cuma kalo menurut abang belum begitu nampak sih. Abang berusaha kesitu. Pas pula belakangn belakangan ini kerjaannya lagi banyak gitu. Terus kemaren abang juga bilang bahwa komunikasi abang dengan kakak sedikit, karena kan abang kerja dari pagi sampe malam, kuantitasnya itu kurang. pendapat diantara ia dan istrinya yakni terkait dengan masalah pekerjaannya, yang terkadang membuat ia harus pulang malam. Responden mulai berusaha merubah kebiasaan kerjanya selama ini agar ia bisa pulang lebih awal, walaupun berat dengan perubahan kebiasaan kerja ini, ia tetap berusaha melakukannya agar ini tidak lagi menimbulkan masalah antara ia dengan istri. Istri responden merasa senang bila ia pulang lebih awal, namun bila ia kembali pulang malam, istrinya tetap konsisten mempertanyakannya. 16
18 Ya Gimana tu bang efeknya terhadap hubungan abang dengan kakak? Ya sesekali memang jadi masalah juga. Karena kan dia pasti nuntut, karena memang hak istri kan memperoleh waktu yang wajar dari suami, kan gitu. Cuma ya abang memang sampai sekarang belum bisa memenuhi itu seluruhnya. Cuma abang berusaha pelan-pelan, kalo yang dulu dulu, yang awalnya abang kerja, sekali-sekali abang hari libur masih ke kantor terus, abang usahakanlah hari libur itu gak usah ke kantor. Terus kan abang bilang kemaren kan, abang merasa senang gitu ketika bercerita dengan kakak kan, misalnya tentang masalah kerja. Itu kenapa bang merasa senang? Sebetulnya kita karena ada tempat kita berbagi pengalaman. Apalagi udah ada istri tempat kita bercerita. Walaupun waktunya singkat, ya itu aja, bisa menceritakan pengalaman abang hari ini. Itu aja yang buat senang, kita bisa membagi cerita. Itu aja. Terus bang, ada beberapa hal yang tidak abang ceritakan ke kakak. Ada beberapa hal ato masalah yang tidak abang ceritakan ke kakak. Takutnya kalo diceritakan malah menimbulkan konflik. Itu kenapa bang? Kira-kira masalahnya itu apa? Gini kan, kan gini, abang kan sikit banyak dah tau sifatnya kayak mana. Jadi abang paham kira-kira masalah yang kayak mana yang kira-kira dia gak suka, mana yang suka dia bisa nerima. Jadi ya alasannya ya seperti itu. Abang tau kalo ini abang ceritai pasti dia marah. Contoh apanya itu ya, biasanya memang terkait pekerjaan abang juga. Kan memang sih yang abang alami di kantor itu mungkin ntah karena kepercayaan bos ataupun memang kawan yang dianggap bos abang itu agak gak bisa mengerjakan sesuatu itu, kan ada bos bosnya, di atas abang ini kan ada monek, monek ini kan jabatannya diatas abang. Jadi terus diatas kami ini ada bos lagi, manajer programnya. Kebetulan kan kerjaan yang abang kerjakan sekarang itu porsi untuk moneknya itu. Cuma karena selama ini moneknya itu ada pertimbangan tertentu lagi mungkin dari program manajer, jadi banyak dilimpahkan ke abang semua. Jadi seperti Waktu responden yang cukup sedikit bersama istri membuat ini sering menimbulkan masalah, karena istri responden terkadang menuntut haknya untuk bisa lebih sering bersama suami. Responden merasa senang saat bercerita dengan istrinya karena ia merasa ada seseorang yang bisa menjadi tempat baginya untuk berbagi pengalaman tentang apa yang ia alami. Responden tidak menceritakan suatu masalah kepada istrinya karena ia tau bila hal itu diceritakan akanmembuat istrinya marah atau proters, misalnya tentang ketidakadilan dalam pembagian kerja yang ia alami di kantor. 17
19 seperti itu. Sedangkan kalo kita lihat sistim penggajiannya ya monek ini pasti lebih besar dari abang, cuma kerja ke abang selama ini ya macam-macam seperti itu yang abang kerjai. Kalo abang ceritai ke dia pasti dia protes dan itu memang pernah terjadi, pas abang coba ceritai itu, dia memang protes. Ya wajar, kalo abang dipersusah, protes. Cuma abang beranggapan ya udah selagi yang abang kerjai itu gak nyusahi abang, ya udah abang jalani aja seperti itu. Walaupun sekarang ini sudah beberapa kali abang pertanyakan juga, udah agak berubahlah sistemnya itu, dah benarlah. Ya gitu gitu itu. Biasanya memang masalah masalah yang menyangkut ketidakadilan di kantor itu yang tidak abang ceritai. Terus kan waktu masa pacaran abang bilang sifat kakak itu mudah membantu orang lain, ringan tangan. Kalo sekarang udah menikah gimana? Ya, tidak berubah sih, tetep, tidak berubah. Malah pun kalo misalnya di kantor itu kan sering ada event, acara gitu. Dia malah sering diminta orang kantor langsung untuk diajak, bang ajak kakak untuk bantu-bantu. Iya, walaupun gak dikasih imbalan gitu tetep dia seneng membantu. Di keluarga ini apa-apa yang diminta bantu, dia mau gitu. Gak pernah merengut, gak pernah apa. Ya kalo itu gak berubah, masih seperti dulu, masih seperti itu dia. Setelah menikah kan pasti beda dengan masamasa pacaran kan bang. Kalo dalam hubungan abang dengan kakak gimana tu, perbedaan mendasarnya, saat pacaran dengan sesudah menikah. Gimana aja perbedaannya? Ya pasti intensitas pertemuannya lebih sering, komunikasi lebih sering. Menurut abang ya lebih baik. Perubahannya yang lebih baik dari dulu pas pacaran dulu, lebih banyak waktu saling berbagi apa. Kalo dulu kan kalo kita mau kemari pun suka-suka kita. Sekarang itu semua harus dilakukan bersama. Kalo sekarang lebih banyak yang harus dipertimbangkan untuk kepentingan berdua. Jadi sekarang, senang berdua, susah juga berdua. Jadi menurut abang mana lebih menyenangkan, masa-masa pacaran ato setelah menikah? Sifat istri responden yang suka membantu orang lain, dari masa pacaran sampai sekarang sudah menikah tetap seperti itu, tidak berubah. Responden merasa lebih dekat dengan istrinya setelah menikah, sekarang semuanya harus dipikirkan dan dilakukan bersama, tidak lagi sendiri sendiri seperti saat masih pacaran. 18
20 Ya kalo sekarang ini ya, sekarang ini menurut abang lebih enakan sekarang ini, karena satu, ada tempat abang berbagi terus ada tempat abang merasa bertanggung jawab. Disisi lain ada yang memberi perhatian khusus sama abang. Yang selama ini semuanya abang sendiri apa semua, sekarang ada yang membantu, ada yang nyiapkan. Pokoknya ya lebih seneng sekarang ini. Cuma kan posisinya itu beda, kalo dulu senengnya ya seneng senengan, kalo sekarang senengnya seneng bertanggung jawab. Sudah ada komitmen gitu ya. He-e. Kemaren abang juga ada bilang kalo lagi ada masalah biasanya abang tidak terlalu membebani itu gitu. Cenderung kalo misalnya masih bisa gak abang pikirkan, ya gak abang pikirkan. Itu kenapa bang, kenapa gak langsung diselesaikan aja masalahnya? Sebenarnya kan gini, kan ada, kita kan tau sih masalah mana yang memang harus dipikirin, dicari jalan keluar, mana masalah apa yang memang apa. Walaupun awalnya masih tetap, bisa dibilang ke depan itu bukan jadi masalah. Kita ambil contoh masalah di kantor aja lagi ya. Di kantor itu misalnya masalah pembagian kerja itu tadi ya. Makanya kalo menurut abang ke depannya itu masih seperti itu tapi gak mengganggu, ya udah, kalo aku pun masih bisa menjalaninya, gak terlalu mengganggu waktu ku kali, ya udah gak abang pikirin. Dan mungkin pun kalo kemaren itu istri abang itu gak komplain, ini, mungkin abang pun gak abang tanyakan ke atasan, kenapa harus ngerjai ini. Itulah latar belakang makanya abang tanya ke atasan. Jadi ya seperti itu. Kalo menurut abang gak perlu dipikirin, gak perlu dibahas, mungkin entah masalaha kedepannya gimana, kalo kita gini gini aja mungkin kedepan itu kita gak bisa menjadi apa yang kita cita-citakan. Kalo yang seperti itu ya harus kita pikirkan. Cuma ya masalah masalah yang menurut abang yang kedepannya gak akan mengganggu, gak pernah abang pikirin. Misalnya juga masalah kenaikan BBM nanti, kalo toh dipikirin juga gak akan membuat BBM itu turun, ya udah gak usah dipikirin. Paling kalo nanti gak cukup beli minyaknya ya, sekali sekali aja pake keretanya. Responden merasa lebih senang setelah menikah dibanding dulu saat masih pacaran. Responden merasa tidak perlu memikirkan suatu masalah yang ke depannya itu tidak akan mengganggu dirinya, kecuali memang bila masalah itu akan mempengaruhi masa depannya maka itu harus ia pikirkan bagaimana solusinya. 19
21 Seperti itu. Terus bang, gimana bang harapan abang dengan ekonomi abang kedepannya? Ya kalo sekarang ini mungkin tetap dijalani. Walaupun agak tersendat-sendat juga akhir bulan pun dah simpanan pun dah menipis. Kalo sekarang ini masih bisa dijalani berdua. Cuma ya kedepannya pun abang masih cari alternatif yang lebih baik. Dia pun ya, berusaha mencari penghasilan tambahan gitu. Dia pun gak abang larang untuk bekerja, berkarir. Ya udah kita sama-sama berkarir. Ya selagi gak menganggu tanggung jawab di rumah ya silahkanlah apa yang bisa dikerjai, kerjai. Dan kedepannya itu ya tetap mencari yang lebih baik. Karena kalo mengharapkan kondisi saat ini kedepan nanti abang pun gak yakin, satu tahun dua tahun mendatang pasti kami gak bisa ngadapi lagi dengan penghasilan seperti ini. Gini bang, sekarang kan dah dua tahun nikah belum diberi anak. Bagaimana perasaannya, itu ada gak memicu konflik gitu dalam rumah tangga? Abang berusaha menekankan ke dia, kita sekarang belum punya anak, tapi itu jangan dijadikan masalah, karena kalo kita jadikan masalah, ya kan, itu bakal mengganggu hubungan kita sendiri. Jadi kalo apa jalani aja. Toh walaupun kita gak punya anak kita bisa mengadopsi anak, itu bisa jadi amal gitu. Jadi kalo bisa peringan, ngapai kita berat-beratin. Toh dari awal tujuan menikah itu bukan Cuma ingin punya anak. Ya masih banyak cara. Ya cuma memang manusiawi kita pingin punya anak dari diri kita sendiri kan. Tapi jangan terlalu kita jadikan beban. Dia pun gak terlalu menjadikan itu beban. Bagaimana pengaruhnya belum hadirnya anak terhadap hubungan seksual kakak dengan abang, ntah ada target-target? Sekali kali mungkin ada. Cuma kalo dari waktu yang panjang selama ini gak menganggu sih ya itu. Abang cerita juga ma dia bahwa anak itu jangan dijadikan target dalam kita berhubungan. Ya udah mengalir aja. Berhubungan itu ya kita anggap aja itu salah satu cara kita menyalurkan kasih sayang. Tapi gak usah berhubungan harus jadi, jadi anak, gak usah seperti itu. Karena apapun yang, konsultasi Responden merasa bila keuangannya kedepan masih seperti ini maka ia tidak akan mampu menghadapi kondisi di masa yang akan datang. Saat ini ia berusaha untuk mencari alternatif pekerjaan yang lebih baik. Responden memberi izin untuk istrinya berkarir, selama itu tidak mengganggu tanggung jawabnya sebagai istri. Responden sudah menekankan pada istrinya agar belum hadirnya anak jangan dijadikan sebagai beban ataupun masalah, karena bila dijadikan beban maka itu akan mengganggu hubungan itu sendiri. Responden menilai bahwa hubungan seksual akan menjadi tidak maksimal bila pikiran kita terbebani, misal terbebani oleh keinginan ingin punya anak dari hubungan 20
22 sama orang yang, yang memang awal pun lama punya anak kan gitu, mereka umumnya bilang kalo kita berhubungan kalo yang kita pikiri harus jadi anak, nah itu bakal mengganggu hubungan itu sendiri. Satu, mengganggu mental kita kan gitu, kita jadi seakan dikejar-kejar target untuk dapat anak, jadi tidak relaks. Kita berhubungan kan kalo belum tentu jadi, kan nanti jadi beban. Itu juga mengganggu apanya sendiri, kesehatan ovum dan spermanya itu. Ya udah kita jalani aja, jadi ya jadi, enggak ya enggak, kan gitu. Cuma ya kita tetap berusaha, kemaren itu kami berdua dah berobat, setidaknya target kami itu tahu ada gak masalah diantara kita, ternyata dia sehat, abang pun sehat, mungkin kalo abang sih ada beberapa yang apa, cuma kata dokter ya gak berpengaruh kali ini sih. Secara umum kami sehat. Kita tau seperti itu, ya udah, jalani seperti adanya aja karena kalo dari kesehatannya, sehat dua-duanya kan gitu. Menurut abang seberapa besar sih peran agama dalam rumah tangga? Ya pasti yang utama agama. Karena satu kalo misalnya abang walaupun agama abang saat ini kurang tapi kalo kurang sama sekali kan gitu mungkin abang gak bertanggung jawab seperti ini sama keluarga. Walaupun belum maksimal, setidaknya abang tahu kewajiban abang kepada istri apa, kewajiban sebagai suami apa, istri pun ya walaupun untuk pengetahuan agamanya secara umum masih lebih jauh dia lebih dari abang, dia pun dengan pengetahuannya seperti itu dia pun tahu apa kewajiban dia kepada suami, apa yang harus dilakukan sebagai kewajiban kepada keluarga. Ya seperti itu. Sebenarnya ya memang peran agama itu nomor satu, harus kita utamakan karena itu dasar kita unutk membina hubungan. Terus bang menurut abang bagaimana sih pengaruh pendidikan kita selama ini dalam kita bersikap dalam rumah tangga? Ya kalo dalam menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari ya kan pengetahuan pendidikan dalam konteks pengetahuan yang umumlah, pendidikan agama itu kan. Kalo pendidikan itu ya ada sih, faktor penentu dalam rumah tangga, terutama dalam tersebut, karena pikiran ini akan mengganggu mental dan kesehatan ovum dan sperma itu sendiri, jadi menurut responden hubungannya dilakukan dengan mengalir saja tanpa beban. Responden dan istri sudah berobat memeriksakan kesehatan mereka dan ternyata keduanya sehat. Menurut responden, agama sangat berperan dalam membimbing kita menjalani rumah tangga, sehingga kita tahu apa saja kewajiban-kewajiban kita, baik sebagai suami maupun istri. Menurut responden faktor 21
23 berhubungan sehari-hari. Misalnya kalo kita gak punya pendidikan kita gak tau gimana proses berhubungan itu. Kalo gak ada pendidikan kita gak tau gimana cara berhubungan yang sehat, yang baik yang gak membahayakan keduanya, gitu. Cuma ya itu pun pendidikan yang tinggi itu gak menjadi faktor utama dalam membina hubungan yang baik kan gitu. Makanya yang jadi patokan itu sebenarnya agama, karena rumah tangga yang baik yang saling memahami keduanya, yang muncul saling menghormati itu. Karena banyak kita lihat orang yang makin tinggi pendidikan, misal istrinya tinggi tapi pengetahuan agamanya kurang, dia bisa semena-mena sama suaminya, kan gitu. Tetap agama yang utama, walaupun pendidikan menentukan, cuma gak begitu jadi faktor penentu dalam membina keluarga yang baik. Terus bang selama ini yang abang rasakan apa aja manfaatnya dari peran agama tadi? Satu, kalo dari istri abang menjalani tugasnya itu,dia tahu apa aja gitu yang menjadi kewajiban seorang istri kepada suami itu. Dan itu menjadi pedoman dia untuk menjadi istri yang baik, kan gitu. Dan dengan pengetahuannya itu dai pun bisa memberi nasehat kepada abang, kita gak boleh seperti ini, seperti ini, gitu. Jadi ya dampaknya sangat besar dengan adanya pengetahuan agama yang baik itu. Menurut abang, setelah menikah gimana bang ibadah-ibadah abang dibandingkan sebelum menikah dulu, perbedaan-perbedaannya? Ya pasti, memang lebih baik. Dulu memang biasanya, contoh satulah ya, dulu memang jarang kalilah abang habis shalat mengaji, sekarang, walaupun bukan kegiatan rutin tapi dah jauh lebih seringlah dari yang dulu, gitu. Ibadahnya jadi lebih baik. Kira-kira apa penyebabnya bang, sekarang menjadi lebih meningkat ibadah-ibadahnya? Satu mungkin, awalnya dulu karena ada istri yang sering ngajak, mengingatkan. Jadi kan awal-awal itu di ajak, jadi kan sekarang jadi biasa. Kalo saat ini lebih sering untuk ngaji, itulah, diajak. Ya udah belakangan belakangan jadi kebiasaan, kebiasaan sendiri, sekarang itu habis maghrib isya gitu abang ngaji. Dulu biasa shalat sendiri-sendiri, utama yang berperan dlam membina rumah tangga adalah faktor agama, karena menurutnya pendidikan yang tinggi jika tidak dibarengi dengan pengetahuan agama akan membuat orang jadi semena-mena dalam bertindak. Responden merasakan besarnya peran agama dalam ia menjalani pernikahannya selama ini, misalnya dari kepatuhan istrinya dalam menjalankan tugasnya, serta kemampuan istri dalam memberikan nasehat-nasehat padanya. Responden merasa setelah menikah, ibadahibadahnya jadi semakin meningkat dan lebih baik. Peningkatan ibadah responden saat ini karena ada peran istri yang sering mengajak dan mengingatkannya dalam beribadah, sehingga lama kelamaan menjadi kebiasaan sendiri pada 22
24 sekarang shalat sering berjamaah, walaupun maghrib atau isya. Yang penting ada sedikit perbaikan ibadah dari dulu walaupun belum maksimal, tapi ada lah arah kesitunya, lebih baik. Kita kan belajar dari pengalaman, misal pengalaman orangtua kita. Kalo abang gimana bang pengaruhnya ke abang, dari pernikahan orangtua abang dalam abang menyikapi pernikahan abang? Ya, kalo abang sendiri sih ya. Yang pasti abang melihat gimana pernikahan orangtua abang, gimana mereka menjalani rumah tangga mereka. Ya itu mungkin sedikit banyak memberi pengaruh sama abang dalam menjalani rumah tangga abang. Cuma ya lebih banyak ya memang, itu pun gak menjadi faktor yang apa, lebih banyak dari diri abang sendiri daripada dari keluarga. Selama ini abang lihat bapak abang memperlakukan ibu ya kan, jadi itulah yang lebih banyak memberi pengaruh abang bagaimana memperlakukan istri abang. Maksudnya bang? Kalo orangtua abang itu dia, bapak kan misalnya dia dapat gaji bulanan itu ya utuh, itu bersih dikasih seperti itu. Jadi amplopnya itu pun gak terbuka. Jadi ya seperti itulah abang berusaha untuk istri abang. Jadi berapa pun yang abang dapat dari kerjaan, itu abang kasih ke dia semua. Jadi ya paling kalo ada perlu baru abang minta. Jadi abang gak mau, ntah pun abang kasih, abang bagi, dia sekian, abang sekian, gak. Itu abang kasih semua, dia yang mengelola, ya kan. Nanti seberapa abang perlu tinggal abang minta. Ya mungkin itu abang lihat dari gimana bapak abang bertindak sama istrinya. Seperti itu. Terus kan, bagaimana sekarang, kan pernikahannya sudah dua tahun. Bagaimana harapan abang dengan pernikahan abang kedepan? Yang pasti ya kita berharap menjadi keluarga bahagia, lengkap dengan semua atributnya, ayah, istri, anak dan semua semua, kan gitu kan. Pasti harapan kita kan pengen lebih bahagia dari sekarang. Cuma kita jalani ajalah, bahwa ke depan itu gimana, sambil berusaha ke arah seperti itu, gitu. Kalo untuk anak, seperti abang bilang tadi, kalo diri responden untuk beribadah. Responden merasa ada pengaruh dari melihat contoh pernikahan orangtuanya dulu dalam ia menyikapi pernikahannya saat ini, tapi menurutnya itu bukanlah faktor utama. Dari pernikahan orangtuanya, responden berusaha mencontoh bagaimana sikap bapaknya dalam memperlakukan istri, misal dalam memberikan keseluruhan gaji untuk dikelola istri, itu salah satu yang ia contoh dari ayahnya. Responden berharap agar kedepan keluarganya lebih bahagia dan lebih baik lagi dari sekarang, dan dikaruniai anak, sehingga semakin lengkaplah keluarganya. 23
25 memang ya sampe dah lama memang pun gak dikasih rezejki ya udah, masih banyak anak-anak lain yang bisa kita hidupi. Meskipun harapan kita kalo kita bisa memperoleh hidup yang bahagia, kan gitu. Kalo gak bisa anak sendiri, ya kenapa gak anak orang yang gak bisa memperoleh kemampuan unutk hidup layak. Itulah yang mungkin bisa membuat hiburansama kami. Toh kalo untuk ambil anak yatim pun, amal ibadahnya kan lebih baik. Kalo harapan untuk bahagia sih, manusiawi kita ingin lebih baik ke depan. Terus, bagaimana menurut abang dari pernikahan ini, masa-masa mana yang paling, paling menyenangkan? Masa awal, tengah ato yang baru-baru ini? Yang pasti sekarang, karena awal pernikahan kami jauhan, sekarang-sekarang inilah ya masa yang membahagiakan dari awal pernikahan. Yang lebih baik dari awal? Bisa dibilang lebih baik, karena kalo dari sisi perekonomian, abang kan awal menikah, abang kan baru keluar dari pekerjaan, sampai kakak ke Bogor pun abang pun belum punya kerja yang tetap. Satu lagi, awal menikah beberapa bulan, kami berjauhan setelah dia balik ke Bogor, beberapa bulan disini abang dapat pekerjaan. Itulah kalo dari sisi perekonomian, masih lebih baik dari sekarang. Terus dari kondisi rumah tangga, ya lebih normal sekarang daripada yang awal. Yang awal rumah tangga, abang dimana, dia dimana. Jadi masih lebih bagus sekarang ini daripada yang awal. Oh gitu, yang belakangan ini berarti ya bang. He-e. Beralih ke masalah kesetiaan kan bang. Misalnya kalo ada goda-godaan dari wanita lain, bagaimana abang menanggapinya? Sampai sekarang abang belum menemukan yang seperti itu. Abang digoda yang apa, ya memang kita harus berhubungan dengan orang lain, ya kan. Kita berhubungan kan gak harus sama pria aja kan gitu. Meskipun abang ya dikantor pun kami lebih banyak yang cewekceweknya. Ya berhubungannya ya masih berhubungan manusiawi, ya sama kawan kerja, kalo sekali sekali ejek-ejekan, saling ganggu ya wajar kan. Cuma kalo lebih spesifik ke arah Bagi responden, masamasa sekarang ini adalah masa yang paling menyenangkan dan lebih baik dibandingkan masa sebelumnya baik ditinaju dari segi ekonomi maupun kestabilan dalam keluarga. Responden berusaha untuk menjaga pergaualan dan memilih-milih teman wanita, sehingga dapat 24
26 menggoda, belum pernah abang alami sampai sekarang. Ya mudah-mudahan kedepannya pun jangan sampe, kan gitu. Itulah yang bisa abang buat. Abang pun harus lebih selektif dalam memilih kawan cewek yang bisa abang temeni, kan gitu. Jangan sampe yang sembarangan yang kita kawani, karena itulah yang bisa jadi pintu masuk ke arah seperti itu. Jadi pande-pande jaga pergaulan. Ha-a. Cuma ya sampe sekarang belum ada lah abang temui yang seperti itu, menggoda goda. Mudah-mudahan kedepan juga gak ada. He-e. Mudah-mudahan gak ada. Terus bang, satu lagi, kemaren abang bilang waktu luang abang belum sepenuhnya ada untuk kakak, karena pekerjaan abang yang menyibukkan. Terus bagaimana tanggapan kakak? Yang pasti, dia protes. Di gak suka. Dan itu memang dah beberapa kali jadi masalah. Udah beberapa kali juga dipertanyakan dia. Abang kerja sampe malam, libur pun kerja lagi, katanya. Ya jadi memang, itu yang lebih jadi masalah selama ini, gitu. Makanya yang seperti abang bilang tadi, ya sekarang ini mungkin abang sedikit-sedikit lah abang perbaiki. Yang selama ini dah abang buat, mungkin, kalo pun abang masih sesekali pulang malam, masih sering, cuma sekarang ini abang berusaha agar hari libur itu abang gak kerja. Tapi sekali-kali mungkin kalo memang ada tugas dari kantor langsung, ya abang harus apa. Cuma yang seperti itu dia masih mengerti. Karena kan selama ini abang libur pun ke kantor, itu memang gak ada tugas khusus kantor, cuma karena memang abang pengen menyelesaikan pekerjaan sendiri, jadi inisiatif sendiri lah, kan gitu. Cuma kalo dari kantor, besok sabtu harus pigi kemari, ya abang harus pergi, dan itu, seperti itu dia mengerti. Ya kalo memang apa, ya jadi masalah sih, karena memang sering ditanya dia, dia sih merasa komplain dengan masalah itu. Kalo dari diri abang sendiri gitu bang, ada gak keinginan supaya ada waktu luang bersama istri? Kalo pengennya ya, kalo bisa pun seminggu itu entah tiga hari empat hari di rumah aja. Cuma ya seperti itu tadi, gak, gak bisa abang seperti itu. Kenapa bang? mencegah terjadinya perselingkuhan. Responden merasa belum mmpu dalam memanajemen waktunya, sehingga waktu untuk istri sangat sedikit, ini membuat istri sering komplain dan protes padanya, khususnya apabila responden pulang kerja malam. 25
27 Ya, mungkin yang jadi faktor utama itu, pekerjaan itu. Walaupun sebetulnya pekerjaan itu gak harus abang jalani seperti itu. Cuma memang masalahnya itu mungkin dari abang sendiri yang belum, belum begitu bisa membagi waktu dengan baik dalam pekerjaan itu karena memang pun abang kerja pagi, ya udah nanti siang pun abang gak mood ngerjai apa apa di kantor ya abang duduk duduk aja. Begitu jam empat sore itu dah muncul lagi moodnya, abang kerja lagi. Makanya kalo bisa, intens dari pagi sampe sore itu kan tugasnya bisa selesai hari itu juga. Cuma mungkin kesulitan itu memang pembagian kerja abang di kantor itu yang belum bisa abang atur dengan baik. Berarti lebih ke manajemen waktunya. Iya. 26
28 VERBATIM Responden 2 (Pacaran) Wawancara I Tanggal: 28 maret 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 30 Menit Subjek : Istri Pelaku Verbatim Pemaknaan Usia pernikahan kakak waktu menikah berapa kak? 29 Sama dengan abang ya, 29 tahun. Terus sekarang usia pernikahannya sudah berapa tahun kak? Satu tahun delapan bulan. Kemarin waktu menikah, kan pasti ada alasan-alasan, pertimbangan memilih, kalo ini akan jadi pasangan kita. Kalo kakak apa yang menjadi pertimbangan kakak memilih abang menjadi suami kakak. Karena cocok aja. Cocoknya? Dari cara berpikirnya, ya kita berarti satu tujuan. Ya itu aja. Selain itu kak? Hmm... Apa ya. Setiap orang kan beda-beda pikirannya, pandangannya kan. Ada yang karena ganteng, ada yang karena apa. kalo kakak enggak. Karena gak semua orang bisa mengerti kita. Kalo abang termasuk yang bisa ngerti kita. Ya udah. Bisa ngerti, maksudnya? Maksudnya gak ngerti cuma diri kita sendiri, tapi ngerti keluarga kita kayak mana, karena kan masuk ke dalam lingkungan kita berarti dia masuk ke dalam keluarga kita, gak Cuma kita sendiri. Dan bang Hasri bisa, gitu ya? Iya. Kemudian kan kak, kita flashback ke belakang dulu ya. Bagaimana proses perkenalan abang dengan kakak dulu? Kenalannya karena satu angkatan, satu kelas, jumpa satu praktikum, satu kelompok, ya udah gitu aja, karena sering sama-sama. Sampai akhirnya jadi pacar, gitu kak? Awalnya karena ingin ngerjai. Usia saat menikah. Usia pernikahan saat ini. Alasan memilih pasangan, karena merasa ada kecocokan dalam berpikir. Alasan lain, karena pasangan bisa mengerti diri dan juga keluarga responden. Proses perkenalan dengan pasangan karena sering bertemu, karena berada di satu kampus. 27
29 Kek mana kak? Kan temen-temen, ayo kita kerjai dia yok. Kayaknya kok sok kali dia. Gitu-gitu aja awalnya. Makanya, gitu udah jadian, jadian beberapa bulan, dah putusin. Nanti balik lagi. Pokoknya putusnya ampe tiga kalilah. Terakhir tu yang balikannya, kan dah kenal ma keluarga abang, jadi keluarganya cerita gini, gini, minta bantulah awalnya. Ya udah, lama-lama akhirnya, kayaknya gak seperti yang kita pikirkan. Sampai akhirnya menikah gimana kak prosesnya? Kakak kan dah di Jakarta, tapi masih sering contact lah. Terus udah kuliah lagi. Pulang mau penelitian. Kan jumpa. Jumpa, ceritacerita. Awalnya cuma mau nikah aja, pokoknya udah nikah, udah. Tapi karena keluarga semua, ya udah sekalian pesta. Tapi kan belum tamat. Ya gak apa-apa, udah selesai itu nanti baru diselesaikan. Tapi udah selesai penelitian. O... Udah selesai penelitian, baru nikah. Iya. Kemudian. Terus kan pisah tu kan kak. Terus gimana tu? Habis nikah kan kakak balik lagi ke sana. Enam bulan. Pisah ya kak. Itu gimana kak? Yang penting kita ada komunikasi aja. Abang sering nelpon, sms. Ya udah itu aja. Artinya tetap ada komunikasi? Iya. Pokoknya setiap ada yang dikerjain, kita kasih tau. Ini seperti ini. Pokoknya cerita aja. Kemarin, berapa lama kak pacarannya? Dari 2008 sampai nikahnya Ada delapan tahun. Dari 2008? Eh, Dari 1998 sampai Dari delapan tahun itu pasti banyak yang sudah kita kenal dari pasangan kita. Apa saja yang kakak kenal dari pasangan kakak selama masa pacaran dulu? Abang ni orangnya seperti ini lo orangnya, gitu. Gini lo, abang itu orangnya suka kasihanan sama orang lain. Dia tu susah untuk nolak kalo ada orang minta tolong tu, susah nolaknya. Walaupun dia tahu kalo dia bantu pasti ada akibat negatifnya itu pasti ada. Tapi, dia susah kali mau nolak orang. Awal ketertarikan responden dengan pasangan karena iseng-iseng ingin mengerjai, namun semakin lama mengenal pasangan dan juga keluarganya membuat responden semakin tertarik dengan diri pasangannya. Setelah menikah, responden dan pasangan sempat berpisah jarak selama enam bulan. Sikap responden dalam menyikapi hubungan jarak jauh dengan pasangan yakni tetap menjaga komunikasi dengan baik. Masa pacaran selama delapan tahun. Responden mengenal pasangan sebagai orang yang murah hati dan suka menolong. 28
30 Baik budinya ya. Itu yang buat kakak suka? Terkadang kakak suka dia nolong orang. Tapi yang kakak gak suka, dia tu gak tegas. Kalo bantu orang kita juga harus ada batasanbatasannya. Nah, dia tu gak tegas untuk menentukan batasan-batasannya itu sampai mana. Sampai sekarang pun masih gitu. Kakak gak sukanya mungkin karena ada kerugian disamping itu? Kerugiannya sih enggak. Cuma namanya kita hidup berkeluarga, kita harus saling menjaga. Kayak abang suka, kayak ada istrinya temen. Temen itu pigi, dia suka minta dijemput ke rumahnya, ke kantor. Kakak bilang, kalo sekedar urusannya dari kantor, terus sama pigi itu wajar, tapi kalo dia udah minta jemput terus, habis tu pulangnya minta di antar lagi. Kakak bilang, abang tu bukan supirnya. Kita tu harus ada batasannya seperti itu. Kalo pun seandainya yang jumpa itu, kalo kayak keluarga kakak mungkin dah ngerti, kakak dah cerita, dia tu punya temen, gini, gini, gini. Tapi, kalo seandainya yang jumpa itu keluarga jauh, itu kan bisa menimbulkan fitnah. Jadi abang tu, kalo dia minta antar, siapa yang ada di kantor itu, suruh dia yang antar, jangan abang langsung. Abang itu sebenarnya gak pingin juga, cuma dia gak tega gitu bilangnya. Terus kak, kan ada ni, harapan-harapan kita tentang pasangan kita, dulu sebelum menikah, pengennya punya suami seperti ini. Kakak gimana? Harapan-harapan kakak dapat gak dari abang? Karena ini Sukma, kakak tu gak pernah punya kayak khayalan, nanti suamiku tu harus begini, begini. Enggak. Jalani aja. Jadi, kalo seandainya ada sesuatu yang menurut kita gak wajar, ya diomongin. Gak mau gini, gini. Ya udah, gitu aja. Terbuka aja. Iya. Seandainya kita terlalu, aku ingin suamiku harus bekerja seperti ini, penghasilannya seperti ini, kita kan merasa terbebani. Dulu kan sempat abang itu nganggur sampai setahun lebih, nganggur gitu. Setelah menikah? Kalo tidak salah, seminggu atau dua minggu Hal yang kurang disukai responden terhadap pasangan adalah karena pasangan responden kurang tegas dalam mengambil tindakan. Responden khawatir dengan sikap pasangannya yang kurang tegas, sehingga membuat pasangannya sering melakukan tindakantindakan yang sebenarnya juag tidak diinginkannya. Responden tidak memiliki harapan-harapan tertentu pada pasangannya, responden cukup bersyukur dengan apa yang ada karena menurut responden, bila terlalu banyak berharap akan banyak kecewa dan terbebani. 29
31 sebelum menikah itu pabrik dia bangkrut. Jadi kan gak mungkin kita membatalkan cuma karena itu. Ya udah, begitu selesai nikah, gak ada pekerjaan. Udah beberapa hari nikah gitu, terus ada dapat ikut pelatihan tiga bulan. Nah itu kan ada honornya. Setelah itu, gak ada kerja lagi, habis tu sekali-kali ada temen yang ngajak. Ya udah, gak terlalu menuntut. Cuma terkadang ada yang buat kita kesel. Wajarlah kan, ada panggilan kerja, tapi dia merasa tidak cocok. Kenapa gak diterima? Nanti alasannya gini, gini, gini.ya udah. Teruskan kak. Gimana hubungan kakak dengan abang waktu masa pacaran dulu. Gimana? Komunikasinya ato hubungannya? Kalo kami waktu pacaran dulu, kalo orang harus ngapel malam minggu, pergi bersama, kami enggak. Pokoknya jumpa di kampus, sama-sama belajar, pigi-pigi. Kalo ada waktu, kita pigi yok. Kalo pigi itu, karena ongkos masih dari orangtua, ongkosnya masing-masing, kalo pun makan sama, ya bayar sendiri-sendiri. Kita kenanya 20 ribu, 10 ribu, 10 ribu. Tapi kalo seandaninya dia dapat proyek dari dosen, ya ini abang yang traktir. Jadi gak ada paksaan harus gini. Teruskan, sekarang udah menikah. Gimana hubungan kakak dengan abang? Kalo menurut kakak, ya kita bisa saling semakin ini ya, lebih dekatlah. Kalo dulu, pacaran masih ada... Ada batasannya. Iya. Kalo mau pigi masih khawatir. Kalo sekarang dah lebih tenanglah. Plong. Kak, ada gak misalnya, kalo dulu pas masih pacaran, ada tu perbedaan-perbedaannya. Gimana tu menyikapinya? Ya, perbedaanperbedaan sikap, kebiasaan yang mungkin tidak kakak suka dari bang Hasri. Ada sih. Yang kalo kebiasaan yang gak kakak suka. Merokok. Kakak kan gak suka dia merokok. Ya solusinya, kalo di dekat kakak jangan merokok. Walaupun, hampir tiap hari kakak nanyakan, tadi merokoknya berapa batang bang? Walaupun dengan berbagai alasan. Namanya orangkan, kebiasaan kayak gitu kan susah menghilangkannya. Tapi, selama satu bulan penuh puasa itu, bang Hasri pun bisa berhenti merokoknya, karena kan di rumah gak bisa, mau pigi keluar, paling kan Responden memilih pasangannya bukan karena harta, terbukti karena beberapa minggu sebelum menikah, pabrik tempat suaminya bangkrut, dan suaminya nganggur, namun responden tetap menikahi suaminya tersebut. Hubungan responden dengan pasangan saat masa pacaran berjalan apa adanya, tanpa ada hal yang dipaksakan, berjalan sesuai dengan kemampuan dan kondisi responden dan pasangan pada saat itu. Hubungan responden dengan pasangan setelah menikah menjadi semakin dekat dan tenang. Hal yang tidak disukai responden terhadap pasangan yakni kebiasaan pasangannya yang suka merokok. 30
32 Cuma tarawihan, kan gak mungkin merokok. Ya udah, ya gak masalah juga ma dia. Kalo sabtu minggu di rumah, ya gak apa- apa. Berarti gak terlalu kuat juga. Cuma kalo udah di luar, apalagi sama teman, itu bisa. Gitu ya. Pokoknya jangan dekat kakak ajalah. Bisa Marahlah. Iya. Kalo seandainya dalam keluarga kan pastilah sering ada masalah-masalah, kek mana tu kak, kakak menyikapi permasalahan-permasalahan yang ada? Kakak yang setiap yang terjadi itu pasti cerita ma abang. Syukurnya, abang tu gak terikut emosinya kakak gitu. Misalnya kakak kesel, gini. Ya, dia paling, gak boleh gitu, kita harus gini. Ya udah, gitu aja. Walaupun masalahnya berantem ma siapa, ya dia pasti gak mau ikut. Ya udahlah, namanya orang, sifatnya kan beda-beda. Gitu aja. Kalo misalnya pacaran kan, apalagi kakak kan dah lama pacaran ma abang, apalagi dah delapan tahun. Pasti dah kenal cukup baik ma abang. Setelah nikah, ada gak kak hal-hal baru yang dulunya gak ada ni ma abang, sekarang kok ada. Misal, sifat-sifatnya atau apanya. Kayaknya gak ada lah. Iya? Biasa aja. Karena dah kenal ya. Ya, palingkan, dulu kan kita gak tahu kebiasaan dia, sekarang kita tahu dia tu sukanya gini. Kayak habis Shubuh tidur lagi, dulu kan kita gak tau kan kalo dia kayak gitu. Kalo dari sifat-sifatnya, perhatiannya? Sama aja. Iya. Sekarangkan nikah, biasanya kalo dah nikah kan tinggal berdua, di rumah sendiri. Sekarang kakak kan masih tinggal dengan keluarga. Gimana kak perasaannya? Ya, namanya manusia, pasti punya sifat ingin selalu sempurna. Pasti ada aja kurangnya. Tapi kita gak bisa mandang dari diri kita aja. Kadang, kalo lagi kesel, bang, kita ngontrak aja. Tapi, kalo dah reda, dipikir lagi, kok kayak gitu. Kalo perasaan kayak gitu pasti selalu ada, kayak gitu. Cuma kita kan Dalam menyikapi kebiasan merokok pasangannya, ada saling pengertian diantara keduanya, yakni pasangan tidak merokok saat berada di rumah. Responden adalah orang yang cukup terbuka, ini dapat dilihat dari keterbukaannya dalam menceritakan segala hal yang terjadi kepada suaminya. Kebiasaan baru yang ditemui responden dari pasangannya seperti kebiasaan tidur lagi sehabis shalat shubuh. Salah satu cara responden dalam menyikapi suatu masalah adalah dengan 31
33 nimbangnya gak cuma kita. Nanti kalo kita ngontrak, ibu gimana, siapa yang ngurus, kita harus mikiri kayak gitu juga. Ya udah, lamalama udahlah, kalo ada masalah, paling tidur, nanti udah hilang. Itu aja. Kalo misalnya hubungan dengan suaminya gimana kak, merasa tidak bebas, atau seperti apa? Enggak. Kakak sama abang gak pernah dikasih batasan. Kalo misalnya mau pigi, bang, sms, saya pigi ya sama bu Eca, kayak gini, gini,gini. Ya udah. Kalo pun rencana piginya tu dah beberapa hari sebelumnya, dah dikasih tau. Hari ini pigi kayak gini, kayak gini, boleh? Ya udah. Gak ada batasanbatasan, gak ada. Pokoknya, dikomunikasikan aja. Pokoknya jelas piginya kemana, apa. Terus kak, gimana komunikasi kakak dengan abang? Biasanya abang kalo pulang kerja tu suka cerita sih. Sebelum tidur, cerita, tadi ginigini atau pagi habis sholat shubuh, biasanya suka juga ngajak cerita. Karena kakak orangnya gini, walaupun marah gitu, gak bisa. Sebentar aja udah, baik. Kayak mana, gini, gini. Kalo kakak sendiri ke abang? Tadi kan abang ke kakak. Kalo kakaknya ke abang? Kakak pun suka gitu. Kalo apa, bang tadi gini, gini, gini. Suka cerita. Abang pun tahu, kalo kakak lagi ada yang dipikirin, dia pasti tau. Mikirin apa, ni pasti ada apaapanya. Dari raut mukanya. Iya. Dia dah tau perubahan kita itu kayak mana. Kemudian kan kak, kalo misalnya dalam komunikasi itu kan ada bagian keterbukaannya. Gimana keterbukaan kita dengan pasangan. Kakak gimana dengan abang? Kami tu semua itu di omongin gitu. Kalo gini, ah, gak mau gitu. Misalnya pun pake baju kan, ah, gak usah pake itu, gak bagus. kalo abang mo pigi kerja pun ngomong gitu, bajunya yang mana yang, yang ini ya? Ah, jangan yang itulah, nanti kan ada acara ini, ini, ini, gak usah yang itu. Pokoknya semuanya dibilangin, diomongin. mengalihkan agar tidak memikirkan masalah tersebut dengan tidur. Pasangan responden tidak memberi batasan pada responden dalam bertindak. Namun, responden selalu mengkomunikasikan pada pasangan tentang hal-hal yang akan ia kerjakan. Komunikasi responden dengan pasangan cukup baik. Keduanya selalu meluangkan waktu untuk saling becerita tentang kejadian-kejadian yang dialami setiap hari. Pasangan responden dapat membaca raut responden, jika ada perubahan yang terjadi, dan pasangan menanyakan apa yang terjadi. Empati terhadap pasangan. Komunikasi responden dengan pasangan terbuka, semua di omongin ke 32
34 Kalo misalnya kita ada masalah gitu kak? Pasti cerita. Misalnya, hal yang pribadi. Ah, capek ya. Pokoknya semuanya diomongin, gitu lah. Kayaknya gak ada yang di rahasiain. Tadi kan masalah keterbukaan, dalam komunikasi kan juga ada kejujuran kan kak. Kakak gimana? Kalo misalnya dengan abang, gimana? Semua kakak ceritain. Kalo misalnya perasaan kakak, kadang kita kan ada curiga apa gitu, kakak ngomong. Abang, kakak kok mikirnya abang gini, gini, ginilah. Gitu kan. Nanti jadinya kayak gini. Semuanya diomongin. Jangan gitu lah, masak abang kayak gitu. Abang pun pasti bilang, enggaklah, abang gak kayak gitu. Walaupun kita di rumah, abang kan di luar, pasti ada lah perasaan itu. Kakak omongin aja semua. Iya ya. jadi plong gitu ya. Karena kalo dipendam, nanti merengut, apa, gitu. Kan gak enak. Apalagi kakak kan di kamar itu berdua aja, masak mau merengut semua. Jadi terbuka aja. kalo tentang jujur, kakak berarti jujur aja kalo lagi ada masalah cerita ke suami. Terus kalo masalah kepercayaan kak, kepercayaan kepada pasangan, kakak gimana? Kalo kakak percaya aja. Kalo ada perasaan kayak gitu, kayaknya kayak gini. Itu biasanya timbul kalo kita lagi capek, ada masalah. Kadang kita bisa sewot, apa. Itu kadang muncul, tapi kita cepet-cepet, astaghfirullah al adzim. Kok kayak gitu. Ya pasti ada lah, namanya orang, terkadang gak percaya. Tapi kakak pasti omongin. Abang bohong ya? Abang gini, gini, gini. Enggak, gak ada abang bohong. Karena abang pun kalo bohong, kayak ginilah, misalnya, tadi abang merokok ya? Enggak. Eh, jangan bohong. Tangan abang bau rokok. Iya. Gak bisa bohong. Kayak kemaren kan, minjamin buku, kakak gak suka ma anak itu, ada sifatnya yang gak kakak suka, gak maulah, gak mau minjamin ma dia. Tapi, karena abang udah terlanjur janji, gak mungkinlah di batalin ma anak itu. Dia ngasih bukunya tanpa sepengetahuan kakak. Jadi, gitu kakak mo perlu kan, kan pasti di rak buku itu berkurang pasangan, tidak ada yang dirahasiakan. Responden selalu jujur dengan pasangan tentang hal-hal apa saja yang ia rasakan. Sehingga tidak terjadi kesalahhfahaman diantara keduanya, karena setiap yang meresahkan jiwa, selalu dikonfirmasi ke pasangan. Responden berusaha untuk tidak memendam-mendam masalah. Mengenai kepercayaan, responden percaya dengan pasangannya. Kalaupun muncul perasaan curiga dengan pasangan, diatasi dengan istighfar dan mengkonfirmasi perasaan tersebut ke pasangan. 33
35 bukunya kan. Bang, buku ini di mana? Abang kasih pinjam ma dia ya? Iya. Ya sayang, nanti abang gak enaklah ma dia. Gak apa-apa ya. Pasti ngaku gitu. Iya ya. Terbuka juga orangnya ya. Abang itu gak bisa bohong. Jadi, saling percaya itu tetap terjaga ya. Kalo dalam hal-hal lain kak, tetap percaya. Ada pasangan kan, yang ini disampaikan, yang ini tidak. Kalo ada sesuatu yang tidak disampaikan itu, kalo misalnya ada orang cerita, jangan cerita ke siapa-siapa ya. Ya udah, kakak gak cerita ma siapa-siapa. Kalo yang lain itu, ya mungkin adalah yang masalah keluarga, yang suami kita gak perlu tahu, itu ada. Gak semualah kakak ceritain kalo masalah keluarga. Tapi kalo masalah pribadi kakak sendiri, semua pasti tahu. Gak ada yang ditutupi. Kalo masalah empati gitu kak. Misalnya kalo pasangan kita mengalami sesuatu gitu, kita ikut merasakannya. Kakak gimana terhadap pasangan kakak? Kalo abang lagi banyak kerjaan, suntuk, kakak ngerasain gitu susahnya. Udah sini, biar dibantuin. Gitu aja. Dulu, waktu sebelum kerja, abang gitu yang sering. Kita kan tau kan gimana perasaannya, gak kerja, di rumah aja, malam-malam sering kadang tidur gitu kayaknya karena berpikiran apa gitu, kayak orang nangis. Udahlah bang, gak usah dipikirin. Yang penting kan kita sekarang usaha, cari kerja. Kalo ada rezekinya kan gak ke mana. Ya kalo pun dia kerja dapatnya Cuma seberapa, ya udah gak apa-apa. Tapi, kita tau perasaan dia itu kayak mana. Sebagai istri kita support terus ya. Kayak inilah, kerjaan dulu. Kakak sebenarnya gak suka abang kerja di LSM gitu, karena sering LSM itu, kerjaanya itu yang gak betul. Kadang apa yang diprogramkannya beda, kerjanya tu asal. Awalnya kakak gak kasih. Tapi, setelah abang ditawari kerja ini gak mau, kerja ini. Karena kan dia sukanya kerja di lapangan kan, dia gak suka kerja yang di kantor. Lamalama kakak pikir. Ah, mungkin memang lama-lama kakak pikir, ah memang mungkin disitulah rezeki dia. Ya udah, Beberapa hal yang tidak dikatakan kepada pasangan, terkait dengan masalah orang lain yang memang diminta untuk dirahasiakan dan masalah-masalah keluarga responden yang dirasa tidak perlu untuk diceritakan pada pasangan, tidak diceritakan pada pasangan. Khusus masalah pribadi responden selalu ia ceritakan pada pasangan. Mengenai empati, responden dapat merasakan apa yang dirasakan pasangan dan berusaha untuk meringankan beban pasangannya. Responden ikut berperan dalam memberi masukan dan pertimbanganpertimbangan kepada pasangan dalam mengambil keputusan, misal dalam hal pekerjaan. 34
36 karena kan dari mulai tamat dulu itu dia dah ditawarkan. Udah banyaklah konsultan lingkungan. Ada juga yang konsultan gitu tu, betul-betul gak kakak kasih, karena dah jelas dia manipulasi data, yang konsultan itu. Tapi, ya belakangan ini, karena kakak pun sering diajak lihat kerjaan orang tu gimana. O, ya udah, berarti betul-betul kerjaannya. Ya udah. Gitu ya kak. Kalo misalnya tentang jadi pendengar yang baik, kakak gimana? Ya, kalo misal dia bilang tunggu dulu, dengar abang cerita ya. Ya udah kakak dengar. Walaupun nanti kakak bilang, abang jangan gitulah jelasinya, adek kan bukan anak kecil, masa jelasinya kayak gitu. O iya ya. Nanti dia cerita lagi. Kakak denger, walaupun nanti di ceritanya itu kalo pun ada yang gak kakak suka, ya kakak bilang, harusnya abang gak kayak gitu, kayak gini-ginilah kita sikapnya. Dia sering kalo dikerjaannya, masakan gitu-gitu dia, dia masakan gini. Nanti kakak bilang, abang tu harusnya gini. Abang harus kasih tau dia kalo gini-gini. Kayak kemaren tu ada kerjaan juga, ya, walaupun bosnya itu ngasih tau, sampaikan ke bawahannya aja laporannya. Kakak bilang, enggak bang, abang tetap harus ngasih laporan ke dia. Walaupun gak se detail yang abang kasih ke bawahannya itu, tapi abang harus ngelapor. O, dah dikerjain, ini, ini, ini. Gitu. O iya lah. Karena nanti kan kita harus saling menjaga, namanya kan kerja ma keluarga. O iya ya. Tapi pasti cerita. Iya ya kak. Jadi terbuka ya kan kak. Kan kita sering banyak waktu luangnya. Kakak punya waktu luang, aban juga punya waktu luang. Jadi, pas sama-sama punya waktu. Biasanya diisi dengan apa kak? Kegiatannya. Macam-macam. Kadang kalo lagi doyan baca, sama-sama baca. Kalo lagi Cuma pengen tidur-tiduran aja, ya tidur-tiduran. Atau lagi senang, bang, pigi tempat ibu ya. Ya udah pigi. Gitu aja. Ngambil keputusannya itu gimana? Kakak aja ato sama-sama? Enggak. Kalo cuma misalnya cuma abang aja yang pengen pigi, malaslah bang, ya udah gitu. Tapi biasanya seide aja. Lebih seringnya seide. Kita kalo pun gak abang yang ajak, paling kakak yang ngajak. Bang, nanti sore Responden adalah seorang pendengan yang baik ketika pasangannya bercerita. Responden peduli dengan apa yang disampaikan pasangan dan memberi masukan bila diperlukan. Responden dan pasangan mengisi waktu luang dengan membaca, tidurtiduran atau pergi ke rumah ibunya. Pilihan kegiatan yang dilakukan dalam mengisi waktu luang ditetapkan atas kesepakatan bersama. 35
37 kita gak tempat ibu? Iya. Habis ashar ya kita pigi. Ya udah. Tapi lebih seringnya kalo di rumah, paling kalo dah sabtu gitu, abang gak kerja, dia lebih sering tidur-tiduran aja, tidurtiduran, baca buku. Iya ya. Terus kan kak, ada juga tentang religiusitasnya. Ada orang yang bilang, setelah menikah dia tambah religius. Misal karena nanti dah punya anak, agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Kalo kakak gimana? Kalo kakak lihat, kakak pribadi, kayaknya semakin berkurang. Dulu ketika masih sendiri, masih sering bangun tengah malam, shalat Tahajud, terus masih... Tapi sekarang ini enggak tahu entah kenapa. Bukan karena berkeluarga atau apa. Kayaknya lebih karena kakak sendiri masih kurang gitu. Kalau abang kakak tengok, dia, kakak gak taulah kalo kuliah tu dia gimana ya. Ya lebih rajin sih. Dia lebih suka kalo beli buku, misalnya cara dzikir dan doa yang baik. Dia lebih suka beli buku-buku kayak gitu. Kalo kakaknya? Kakak tergantung mood kayaknya. Kayak mana kak? Kalo masalah yang kayak ngaji, shalat, awalnya kayak ini, shalat Tahajud gitu awalnya kakak yang ngajak. Tapi nanti lama-lama kakak yang jadi malas, abang tetap, rajin. Kayak-kayak gitu sih. Abang gak ngajak kakak lagi? Kayaknya kalo pagi, kakak gak shalat gitu kan, dia tau kalo pagi-pagi tu kakak bangun buat sarapan. Kalo kakak gak shalat, dia gak bangunin. Udah. Sendiri aja. Paling kalo habis maghrib dia ngaji, dia bilang, yang, sayang kok ngak ngaji sih. Iya. Ngajilah, masak gitu. Cuma kalo masalah pakaian, kayak kakak pake celana, jangan pake celanalah, pake rok ajalah. Kayak-kayak gitu. Dari kek jilbab, kadang kan kita jilbabnya pendek, jangan gitulah, turunin aja, kayak gitu. Dari dulu sih memang kayak gitu. Kemudian, kalo misalnya dalam konflik kak. Gak kita pungkiri pastilah sering terjadi konflikkonflik antara kita dan pasangan. Teus gimana tu kakak menyikapinya, jika ada konflik antara kakak dan abang? Ya, paling sering tu, misalnya ini kan, misalnya masalah apa gitu, abang ni gitu kalilah, gini, gini, gini. Palingan kakak merengut aja Religiusitas responden setelah menikah semakin berkurang. Hal ini dilihat dari intensitas ibadahnya yang semakin menurun. Menurut responden, ibadah pasangannya justru semakin meningkat. Ibadah responden mengikuti moodnya. Pasangan ikut mengajak responden untuk lebih giat beribadah. Responden menyikapi konflik yang terjadi dengan menunjukkan ekspresi 36
38 sebentar. Terus habis tu nanti, udahlah, masak kayak gitu aja marah. Ya udah gitu, udah selesai. Kayaknya gak ada lah, kayak yang orang bilang, laki-ku semalaman gak kucakapi, gitu kan, kayaknya gak pernah gitu. Ya, kalo ada, misalnya marah, abang ini mendem. Merepetlah, gini,gini, gini. Tapi, udah, sebentar aja. Kakak gak bisa ngelihat abang yang terus merengut gitu. Paling nanti kakak datangi, bang, abang jangan merengutlah, jelek kali abang gitu. Udah. Paling gitu aja. O... Langsung ditanggapi. Iya. Pokonya gak pernah lah masalah itu yang sampai bermalam gitu. langsung diselesaikan saat itu juga. Misalnya, masalah-masalah apa aja kak yang sering muncul? Kalo sekarang ini, masalah yang sering muncul itu, apa ya? Karena abang, ini sih, gak bisa waktu. Itu aja sih masalahnya. Gak bisa bagi waktu gitu, maksudnya kak? Kayak kerja, kalo kakak bilang, kayang siang gini, bawa bontot, dia kan dak mau. Kalo siang itu kan semua ada istirahat makan siang bang, kalo abang gak mau beli nasi, abang pulang, makan siang. Terus kalo malam itu kerjanya, semua usahainlah siang itu dikerjakan semua. jadi pulangnya gak malam-malam. Jadi kalo bisa maghrib itu dah di rumah. Jadi, mandinya pun gak malam-malam. Tapi abang itu kakak perhatiin, kalo dia malas, siang itu dia gak ngerjain apa-apa. Nanti dia nelpon, abang pulangnya nanti agak malam ya, karena habis maghrib baru ngerjain laporan ini, laporan itu. Itu yang sering bikin masalah. Kakak bilang juga, bukannya kakak gak ngasih dia kerja sampai malam. Cuma kan kita harus mikirkan, nanti abang pulangnya sering malam, terus sering mandi malam, nanti kalo sakit, duit yang gajinya itu gak cukup untuk biaya berobatnya. Cuma itu sih. Karena abang gak pandai bagi waktu. Terus kakak biasanya gimana tu, yang kakak lakukan kalo abang kayak gitu? Yang paling sering, kakak diam. Nanti kalo dah gitu, abang pulang, kakak diam aja. Nanti dia pasti bilang, jangan marahlah yang, gini, gini. Orang abang gak bisa dikasih tau, masaan kek gitu terus. Gak mikirin, ih, istriku di rumah sendiri, dah malam. Bukan gitu. Masak abang merengut. Namun tidak berlarut-larut. Pasangan responden cukup peka dengan sikap responden bila sikap responden berbeda dari biasa, dan pasangan berusaha untuk membujuk dan mencairkan suasana, begitu pula sebaliknya responden terhadap pasangannya. Masalah yang terjadi diantara responden dan pasangan diselesaikan hari itu juga dan diusahakan agar masalahnya tidak sampai bermalam. Masalah yang sering muncul adalah mengenai manajemen waktu pasangan yang kurang baik, membuat pasangan sering pulang malam untuk bekerja. Responden akan 37
39 gak mikirin, mikirin, gini, gini. Nanti berubah. Dah gak pernah diomongin lagi, diulang lagi. Kayak gitu. Kayak gini, pagi-pagi gitu. Kakak bilang, kalo memang mau ini, pigi kerja itu pagipagi, jadi begitu nyampe tu buat dulu laporan yang semalam tu, karena kan dikantor tu fasilitasnya terbatas. Nanti berebut pake komputernya. Atau abang bawa ke rumah, kalo Cuma sekedar ngetik. Ya kayak gitu aja sih yang sering jadi masalah. Iya,kalo ngetikkan bisa di rumah. Iya. Kalo yang lain kak? Apalagi masalah keuangan, gak pernah kayaknya. Kalo sedikit ya dibagi-bagi biar cukup, kalo banyak, ya gitulah. Masalah-masalah lain gitu kak? Kayaknya gak ada. Pokoknya selalu diselesaikan berdua. Kalo misalnya sama temennya kakak gak suka, awak gak suka temen abang yang itu, gini, gini. Nanti abang bilang, ya namanya manusia, semua itu pasti ada perbedaannya. Tapi abang jangan ini lah, jangan sering-sering ama dia lah. ya udah. Biasanya abang kalo memang yang wajar, itu dilakuin. menunjukkan ekspresi diam bila sedang marah dengan pasangannya. Jika pasangan memancing membujuk, responden akan mengungkapkan keluh kesahnya pada pasangan dengan terbuka. Pasangan memberi penjelasan dan pengertian akan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hal keuangan, reponden dapat mengelolanya dengan baik. Masalah yang ada selalu diselesaikan berdua. Pasangan menerima masukan-masukan dari responden, bila masukan itu benar. 38
40 VERBATIM Responden 2 (Pacaran) Wawancara II Tanggal: 8 April 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 20 Menit Subjek : Istri Pelaku Verbatim Pemaknaan Kan dalam rumah tangga kan biasa tu kan ada masalah atau konflik gitu. Terus, bagaimana pengaruhnya, adanya suatu masalah itu terhadap kakak? Pengaruhnya kayaknya sebentar aja. Pas lagi marahan, habis itu ya udah, hilang, gak pernah dipikirin berlarut-larut. Dalam menyikapi permasalahan itu kakak sendiri gimana? Kalo pas lagi kesal, diem. Nanti kalo dah Responden gak kesel baru ngomong. Biasanya solusi-solusi yang kakak lakukan dalam menyelesaikan permasalahan itu bagaimana? Ajak ngobrol, paling diajak ngomong. Udah gitu aja. Diselesaikan. He-e. Terus kan, gimana penilaian kakak dengan kondisi ekonomi kakak saat ini? Kita hitunglah. Kakak gak merasa ini, Responden punya duit banyak gak berlebih, punya duit pas-pasan pun gak kekurangan. Ya udah, kalo pas lagi ada duit kepingin, beli. Kalo gak da duit, ya udah gak apa-apa. Gitu ya. Terus yang mengelola keuangan siapa? Kakak. Kakak ya. Gimana cara kakak mengelola Responden keuangan yang sudah... keuangan Pastinya dah ada anggarannya, kalo punya duit segini, sebagian untuk ini, ini, ini, gitu. Dah dipilah-pilah ya kak ya. Iya. Terus bagaimana kepercayaan suami kakak kepada kakak dalam mengelola keuangan itu Kepercayaan kak? responden Pengaruh adanya masalah bagi responden hanya sebentar saja, tidak dipikirkan berlarut-larut. menyikapi masalah dengan bersikap diam. Solusi yang responden lakukan ketika ada masalah yakni dengan mengajak ngobrol pasangannya. menilai keuangan keluarga saat ini cukup memadai, tidak berlebih dan tidak kekurangan. mengelola berdasarkan anggaran yang telah dibuat. pasangan ditunjukkan 39
41 Pokoknya abang kalo gajian, gajinya semua dikasih ke kakak. Kalo dia mau perlu misalnya mau service kereta, nanti dia minta sendiri. Iya ya. Terus, sekarang kan dah menikah ya kan kak. Terus gimana hubungan kakak dengan family-family kakak, baik kerabat dari keluarga suami maupun dari keluarga kakak sendiri? Baik-baik aja. Baik-baik aja ya. Terus bagaimana perasaan kakak dalam menjalin hubungan dengan mereka, dari pihak suami ini kan baru? Kalo kakak orangnya, kalo memulainya kan susah, mulai kenalan kita yang mulai itu susah. Tapi kalo udah kenal, ya gampang akrab. Iya, gimana perasaan kakak dalam menjalin hubungan dengan pihak keluarga? Karena, dari keluarga, kalo dari keluarga kakak sendiri, udahlah, udah biasa kan kakak. Dari keluarga abang pun, rata-rata keluarganya abang itu gampang bergaul gitu, jadi ya cepet deket. Kayak sama om nya, sama adek ibunya, ya gampang akrab, ya kayak biasa aja, gak da sungkan, apa, gitu, gak ada. Biasanya kan sungkan ya kan kak, ini enggak ya. Karena pun disana, keluarganya abang itu rumahnya deket-deketan, gitu. Jadi, kalo ke rumah ibunya abang, ya ke rumah tantenya, ke rumah kakaknya, ke rumah, semua disitu, deket-deketan. Iya ya. Terus gimana, bagaimana kepedulian kakak terhadap pihak keluarga? Keluarga abang? Keluarga kakak, keluarga abang. Kalo kakak orangnya gampang ini, kalo ngelihat sesuatu, misalnya kan kerja, gak bisa kalo biarin aja. Tapi ada keinginan untuk bantu. Kalo pun sakit, nanti nanyai, ke dokter apa enggak. Kalo kira-kira sanggup beli obatnya, ya udah dibeliin obatnya, gitu. Sekarang beralih ke masalah seksualitas ya kak. Gimana sikap atau perasaan kakak dengan suami dalam hal seksualitas? Ya, biasa aja. Ceritalah kak. dengan ia memberikan seluruh gajinya untuk dikelola oleh responden. Hubungan responden dengan keluarga baik-baik saja. Responden merasa akrab dengan keluarga barunya dari pihak suami. Responden merasa cepat dekat dan akrab dengan keluarga pasangannya. Rumah keluarga suami yang saling berdekatan, membuat silaturahim reponden dengan mereka semakin mudah dan lancar. Responden cukup peduli dengan keluarganya, suka membantu dan perhatian pada kondisi keluarga. 40
42 Sekarang perasaan kayak mana? Ya kakak lah yang tahu. Karena kan kalo untuk memulai itu kita harus sama-sama mau gitu. Iya. Kalo pas abang yang capek atau kakak yang capek, ya udah enggak. Terus bagaimana respon, misal respon pasangan kakak dalam membaca keinginankeinginan kakak gitu dalam hal hal seksual? Biasanya kami tu ngomong gitu kalo samasama kepengen. Kalo gak ya, misalnya capek, ya udah. Dikomunikasikan ya. Iya. Terus kak, bagaimanana kesetiaan kakak terhadap pasangan kakak? Kayaknya setia. Gak pernah mikirin, kayak, kepingin berselingkuh, apa, gitu. Setia aja. He he he Sekarang kan, kan belum punya anak. Bagaimana perasaan kakak? Karena gak dijadiin beban, ya gak ada, kak, orang kan sebagian dah nikah beberapa bulan gak hamil jadi pikiran, aku ini kek mana, kek mana, gitu. Kakak gak ada jadi beban, makanya waktu itu pengen periksa, pengen tau aja, subur, bagus atau enggak. Udah ketauan bagus, ya udah, berarti tinggal nunggu. Iya ya. Terus bagaimana kak, belum hadirnya anak ini, gimana pengaruhnya terhadap hubungan kakak dengan abang? Sama aja, karena tiap hari abang kerja. Di rumah pun dia kalo pun gak kerja, di rumah ya sama saudara-saudara semua. Terus, bagaimana kak, beralih ke kepribadian pasangan, gitu kan kak. Bagaimana penilaian kakak terhadap kerpribadian pasangan kakak? Sejauh ini bagus-bagus aja penilaiannya. Ya mungkin ada beberapa sifatnya yang gak kita suka tapi kan itu perlu waktu untuk perubahan sikap karena sifat seseorang itu kan gak bisa dipaksa. Teruskan sekarang kan dah nikah ni kan. Pasti ada peran-peran baru yang kita jalani. Bagaimana perasaan kakak dalam menjalani peran-peran tersebut, misalnya sebagai seorang istri. Responden dan pasangannya memiliki rasa saling pegertian dalam hal seksual. Responden dan pasangan saling mengkomunikasikan keinginan-keinginan seksualnya. Responden setia dengan pasangannya. Belum hadirnya anak tidak dijadikan sebagai beban oleh responden, tapi responden tetap berusaha dan tawakal saja dengan hasilnya. Hubungan responden dan pasangan tetap baik seperti biasa, walaupun mereka belum memiliki anak, karena hal ini tidak dijadikan sebagai beban. Penilaian responden terhadap kepribadian pasangannya baik-baik saja. 41
43 Yang paling ingat, biasanya baju sesekali aja nyuci sendiri, sekarang nyuci semua. Kalo capek gak dikerjain, kalo lagi mood dikerjain. Itu aja. Perasaannya gimana tu kak? Pokoknya kerja itu gak jadi beban, kalo lagi banyak pikiran atau malas, ya udah sama sekali gak dikerjain. Pokoknya betulbetul kerja itu dari keinginanan hati lah, gitu, biar gak capek, gak kesal gitu. Terus, perasaan kakak sebagai istri bagi suami gimana? Tadi kan dalam hal peran sebagai istrinya. Terus kalo peran sebagai istri suami gimana? Sebetulnya peran kakak gak terlalu banyak. Paling nyuciin bajunya, terus siapin kalo mau kerja, baju abang mana, diambilin bajunya, kalo makan, nyiapin makan, paling cuma buat sarapan. Kalo siang kan dah ibu yang masak, paling biasanya tinggal ngambilin nasinya, sediain minumnya, udah. Perasaan kakak dalam menajalani peran-peran itu? Biasa aja. Biasa aja ya. He-e. Enjoy aja. Terus kan kak, kan kerja ni kan, kakak kan kerja juga kan, sebagai dosen. Bagaimana respon atau tanggapan suami dengan istri yang bekerja? Abang malah seneng kalo kakak gak di rumah aja, karena dulu pernah kakak bilang, nanti kalo dah nikah, kakak gak usah kerja. Gak dikasih. Jadi, untuk apa sekolah kalo gak mau kerja. Kalo kita cuma di rumah aja kayak mana mau ngembangin apa yang udah kita dapat. Abang pun mendukung, kayak misalnya kayak buku, itu ada buku disitu, mau beli, udah, biasanya ditawarin buku. Terus, kembali lagi kak, tentang kepercayaan kepada pasangan. Gimana kepercayaan kakak kepada abang? Kalo masalah kepercayaan, dia setia enggaknya itu, 100% kakak percaya. Yang kakak gak percaya itu kayak yang kemaren itu, abang nanti jangan merokok ya, nanti sampai di rumah pasti kakak tanyain. Pasti ngerokok tadi kan. Terus, gimana kak, menurut kakak, pengaruh Responden berusaha menjalani dan mengerjakan peran-perannya dengan hati sehingga tidak merasa terbebani. Responden menyadari dan dapat melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Perasaan responden dalam menjalani perannya biasabisa saja. Pasangan responden mendukung dan senang bila responden untuk bekerja, tidak hanya di rumah saja. Responden percaya sepenuhnya akan kesetiaan pasangannya padanya. 42
44 pola asuh orangtua bagi kakak sekarang? Karena dari kecil itu kami itu dimanja, tapi dimanja itu enggak, mesti, dimanja itu mesti tau gitu. Ya, kalo saatnya bermanjamanja, mau dikelonin mau apa ya kayak gitu, tapi kalo saatnya dah kerja, itu di rumah itu dah dibagi-bagi kerjanya masing-maisng, kamu kerjanya ini, kerjanya ini, jadi harus bersih, kalo piring belum dicuci, jangan pergi sekolah. Manfaatnya sekarang gitu kak? Ya terasa. Dalam rumah tangga, gitu? Kalo ngeliat sesuatu yang kotor gitu, kita kepingin bersihin. Kalo dalam hal pendidikan kak, gimana peran dan pengaruh pendidikan bagi kakak? Sebetulnya kan kita sekolah itu semakin mengasah pola pikir kita kan. Semakin bisa berpikir. Kalaupun terkadang kita terbawa emosi, tapi kita bisa menetralisirnya, kok kek gitu ya, kita masih bisa memikirkan. Kalo orang yang gak sekolah, kakak rasa pemikirannya gak sampe kayak gitu. Ya kalo dah emosi, makanya di TV itu banyak yang bunuh anaknya, bunuh istrinya, gitu. Berpengaruh juga berarti pendidikan. Kalo dalam segi agama gimana kak, pendidikan agama sejak kecil setelah berumah tangga, gimana pengaruhnya? Kalo pendidikan agama itu yang paling berpengaruh itu pendidikan agama dikeluarga. Kalo, dah banyak contohnya kalo pun anaknya disekolahkan, ngaji, sekolah agama, gitu. Tapi, kalo di rumahnya gak menunjukkan sikap. Sikapnya kayak gitu ya terkadang dia terbawa lagi, kehidupan rumahnya. Contoh, kakak aja punya abang yang dia itu dari kecil terlalu dimanja oleh mendiang kakek. Jadi pun dia mau ngaji mau apa suka-suka dia gitu. Yang kecil itu dia lebih gak terlalu dimanja tapi dia diberi kepercayaan gitu. Jadi soal agamanya si kecil ini lebih bagus daripada si abangan. Tapi yang paling penting di keluarga itu adalah pengertian, kita dikasih, kami itu ngaji gak pernah dimarahi, kalian harus ngaji, harus ini, enggak. Kakak ngaji itu, waktu SD itu, ndo pengen ngaji disana, udah, diantar, gak enak gurunya, berhenti. Orangtua responden memanjakan anaknya, namun tetap memberi tanggung jawab pada anakanaknya. Pola asuh orangtua bermanfaat bagi responden saat ini setelah menikah, ia jadi cekatan dan tanggap. Pendidikan bagi responden sangat penting untuk mengasah pola pikir manusia, sehingga individu lebih mampu untuk mengendalikan diri dan emosinya dari perbuatan yang amoral. Menurut responden, peranan dan teladan keluarga (orangtua) sangat penting dan utama dalam memberikan pendidikan agama pada anak-anak. Menurut responden, memberikan pengertian dan tidak memaksakan kehendak pada anak-anak 43
45 Gak pernah dimarahi, udah diam aja, begitu disekolahkan, kita sering denger, orang cerita begini, begini, kita harus ngaji, ya udah kepingin lagi ngaji, ndo ngaji sama ini. Gak pernah dimarahin. terus pun udah mulai kan sering dibeliin buku, suruh baca, kayak gitu. Kita baca dari buku sendiri, timbul keinginan untuk nyari sendiri. Kami lima bersaudara yang empat itu pendidikan agamanya karena keinginan sendiri gitu. Terus pun kalo apa-apa diluaran gitu, suka cerita di rumah, tadi itu, kek gini, kek gini. Terus kak, ada gak pengaruhnya, rumah tangga keluarga, misal orangtua kakak gitu, dalam kakak menilai pernikahan? Kalo mamak kakak ini, orang jauh. Ini enggak. Cuma, bundo ini kalo menilai orang, kalo rajin sholatnya, terus ngomongnya bagus, menurutnya udah baik, gitu. Tapi, kalo pun sholatnya udah bolong-bolong, terus pun tata kramanya gak ada, ya udah bundo biasanya, gak bisa itu. Kan kalo orang tua itu kan lebih tau, cara, dari orang ngomong-ngomong, o itu orangnya kayak gitu. Karena di rumah itu yang sering gonta ganti pacar itu kan abang, jadi bundo itu tau, o itu gak betul itu ceweknya, kalo perempuan, udah mau di ajak ke rumah laki-laki berarti gak betul. Ya udah, nanti si abang pun, udah. dalam mengerjakan sesuatu adalah cara yang baik dalam mendidik anak-anak. Kesadaran yang muncul dari diri sendiri dalam mengerjakan sesuatu akan jauh lebih baik daripada sesuatu yang dipaksakan. Responden banyak belajar dari pengalamanpengalaman ibunya. 44
46 VERBATIM Responden 2 (Pacaran) Wawancara III Tanggal: 13 Mei 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 30 Menit Subjek : Istri Pelaku Verbatim Pemaknaan Kemaren kakak bilang waktu awal menikah kan sempat beberapa bulan pisah ya, kakak di Bogor abang di Medan. Itu gimana perasaan kakak? Baru-baru nikah dah pisah? Biasa aja. Pokoknya abang tiap hari itu ada nelpon, paling kalo gak sms, kan pas waktu itu ada mentari yang free dua jam itu kan. Jadi kalo udah malam, kadang bangun jam 12, ngobrol mpe jam 2, ngobrol aja. Itu gimana kak, ada kecurigaan-kecurigaan gitu menghubungi gimana? Kan jaraknya jauh? Aman-aman aja, karena tetap ada komunikasi. Terus kan kak, kakak bilang kemaren abang kurang tegas tu kalo misalnya bantu orang lain, menurut kakak harusnya kan ada batasanbatasan. Itu gimana kak perasaan kakak dengan sifat abang yang seperti itu? Kalo perasaannya itu kesel, kesel, habis tu diomongin, iya, iya, nanti abang berubah. Ya udah gitu aja. Tanggapan abang? Nanti dia, dia ini juga sih, ngomong, tapi kan gini, gini. Iya, tapi kan kita kasih alasan. Kayak dia bonceng istri orang, hampir tiap hari dijemput, diantar, gitu. Kalo kakak kan gak masalah, tau kalo itu temen. Tapi kalo ada nanti keluarga yang jumpa, dia kan gak tau kalo itu teman abang, dikiranya nanti kek mana, dia hamil lagi, gitu. Iyalah nanti kalo apa abang suruh aja yang lain ngantar kalo dia minta antar. Terus kan kak, kakak kan sempat pacaran delapan tahun. Itu gimana perasaannya, perbedaan yang dirasakan ketika masa-masa pacaran dengan setelah menikah, dalam hubungan kakak dengan abang? Dulu pacaran kalo kita mau marah, mau ngomong aja, ah udahlah biar aja. Tapi sekarang kalo ada masalah gitu, diomongin. Responden merasa amanaman saja saat berpisah jarak dengan suaminya karena suaminya selalu dan berkomunikasi dengannya. Responden merasa kesal bila suaminya menolong orang lain tanpa batasan, seperti mengantar istri temannya hampir setiap hari. 45
47 Kalo dulu bisa sampe berhari-hari dah gak ada kabar beritanya. Ya udah, elos aja gitu. Kalo sekarang kalo ada masalah langsung diomongin. Pokoknya gak pernahlah yang diam-an. Itu kenapa bisa gitu kak? Kok setelah menikah jadi? Mungkin karena merasa lebih dekat kali ya. Karena kita dah tinggal sekamar, apalagi kalo malam, masa gak ngomongan. Gitu aja. Berarti kalo misal ada masalah langsung kakak komunikasikan. Kalo pacaran dulu masih dipendam-pendam. Iya, biar aja. Kenapa waktu masa pacaran dibiari aja gitu? Karena prinsipnya kalo jodoh lanjut, kalo gak jodoh ya udah gitu aja. Kalo sekarang kan beda, masa kita mau, udahlah enceng, kan gak mungkin, gak segampang itu. Terus kan kak, sekarang kan dah menikah tu kan. Banyaklah kita tahu kebiasaan-kebiasaan pasangan kita. Kakak gimana dalam emnyikapi kebiasaan-kebiasaan abang? Mungkin karena bangsa cerewet gitu ya. Pokoknya kakak gak bosan ngasih tau. Pokoknya apa-apa diomongin. Walaupun dah dikasih tau, tapi selalu kakak omongin. Kayak kalo kerja itu piginya pagi bang, jadi pulangnya gak malem-malem. Ya aturnya dikerjain malam itu bisa dikerjain pagi. Walaupun nanti dua hari dikerjain ya kakak omongin lagi, kayak gitu. Pokoknya gak bosen. Kakak bilang kemaren kak, kebiasaan abang habis sholat shubuh tidur lagi. Itu gimana kak perasaannya? Kadang, kadang kakak bilangin. Pasti bolak balik dibangunin. Tapi kadang kasihan juga kalo dia dah pulangnya malam, terus pagi-pagi harus diuber-uber lagi. Ya udah kadang kakak biarin aja. Perasaan kakak gitu dalam kebiasaan-kebiasaan pasangan kakak? Kakak biarin aja sih. Paling nanti marahnya kalo dia udah nelpon, banyak kerjaan, gini, gini, gini. Nanti pulangnya pasti kakak marah, itulah abang kan, disuruh cepat gak mau. Iya, iya, besok cepat. Paling nanti abang cepet beberapa hari, besoknya dah diulangin lagi. Diingetin lagi. Saat pacaran, ketika ada masalah, bisa sampai berhari-hari gak diselesaikan, tapi sekarang setelah menikah, begitu ada masalah langsung segera diomongin. Menurut responden ini disebabkan karena ia merasa sudah semakin dekat dengan pasangannya dan sudah adanya komitmen dan ikatan pernikahan diantara mereka. Responden tidak bosanbosan untuk menegur suaminya dalam hal kebiasaan-kebiasaannya yang kurang baik, seperti lambat berangkat kerja. Responden akan marah pada suaminya, bila karena kebiasaan buruknya, ia jadi terlambat pulang kerja. 46
48 Iya. Terus kan kemaren kakak sempat bilang, terkait dengan masalah keluarga yang tidak kakak ceritakan ke abang. Itu alasannya apa kak? Karena menurut kakak ada sesuatu itu yang dia itu gak seharusnya tau gitu. Ya kalo yang umum-umum, masalah kita yang biasa-biasa ini ya, dia boleh tau. Tapi kalo yang masalahnya terlalu ini, ngapain dia harus ikut mikirin. Yang sekupnya itu orang lain pun gak perlu tau gitu. Ada beberapa masalah itu, sekedar kakak ma keluarga aja yang mecahin gitu, dia gak perlu tau. Tapi kan dah suami istri gitu kan. Kendalanya dalam hal apanya gitu kak? Kek mana ya. Kalo mo ceritanya rasanya gak nyaman gitu aja. Karena menurut pemikiran kakak gak seharusnya dia tau itu. Kayak ya kayak kita menyimpan aib kita itu seperti apa ya, yang namanya aib kan gak boleh diceritain ma orang lain, apalagi kalo aib saudara kita, kita tahu ngapai kita harus cerita lagi. Ya kakak gak kasih tau ke abang itu, ya masalah-masalah yang menurut kakak terlalu inilah untuk diceritakan. Terlalu apa kak? Apa ya. Pokoknya gak wajarlah gitu diceritakan, ngapain diceritain, gitu. Toh, dia gak ada, gak ada solusi dari dia. Gak kan ada dia memberikan atau pun ikut berpikir gak akan ada. Gak akan ada yang bisa dikerjakan, karena kakak sendiri pun gak bisa ngerjain apa-apa. Cuma sekedar mendengar, jadi ngapain diomongin. Gitu ya kak. Dalam mengisi waktu luang kak. Gimana perasaan kakak dalam mengisi waktu luang bersama pasangan kakak? Biasanya kalo pas liburan gitu, biasanya abang pas liburan selalu ada ini, kerjaan. Ya udah, tapi yang pasti kalo libur itu ke tempat ibunya abang, silaturahim. Terus kalo misalnya yang dihabiskan bersama gitu kak, ada? Dihabiskan bersama. Yang liburan kemaren ini karena liburan sama-sama tapi sama rombongan kantor. Gimana perasaannya kak? Kan jarang tuh. Pastinya senenglah. Biasanya, kayaknya abang tu lebih sering jumpa sama kawankawan di kantor dibandingkan dia sama Ada masalah keluarga yang menurut responden tidak harus ia ceritakan ke suami, karena menurutnya masalah itu adalah aib saudara, jadi tidak perlu diceritakan dan responden sendiri merasa tidak nyaman untuk menceritakannya, makanya lebih baik menurutnya untuk tidak diceritakan. Responden merasa senang sekali bila memiliki waktu luang bersama suaminya, 47
49 kakak. Sama-sama gitu ya senenglah. Kemana-mana sama, dari pagi sampe malam sama terus. Kalo pun hari minggu kadang, kadang ada ini, pigi sama ibu kan. Abang di rumah, walaupun libur, tapi gak jumpa juga. Jadi kak gimana tu kak, perasaannya, jarang ada waktu bersama dengan abang? Makanya kalo abang pulang itu, kami biasanya sebelum tidur malam itu ngobrol, kadang tidurnya setengah duabelas, Cuma ngobrol aja. Ato kalo udah capek ngobrolnya habis sholat shubuh itu, bang nanti jangan tidur ya, nanti cerita. Dah cerita kan, kakak ini, nyiapain sarapan, nah abang tidur lagi, kayak gitu aja. Berarti kakak tidak merasa ada kendala dengan ini. Pokoknya ada waktu yang disempatkan untuk bersama walaupun hanya komunikasi. He em. Kemaren kakak ada bilang, setelah menikah religiusitas kakak agak menurun. Itu gimana kak. Apa kira-kira yang menyebabkan penurunannya? Ini juga kali, faktor apa, dulu itu rasanya lingkungan itu yang membuat kita lebih. Waktu kuliah di Bogor itu, itu dah setelah nikah kan balik ke Bogor. Itu terasa bedanya yang disana itu dengan yang disini. Disana itu kita punya teman, kadang jam 4 dibangunin, diketok pintu kamar, shalat tahajud. Jadi otomatis kita kan terikut, awalnya ngikut teman, lama-lama kebiasaan. Terus kalo puasa senin kamis ada kawannya, kawannya ngikut, terakhir kita punya keinginan sendiri. Tapi toh disini karena gak ada kawannya, males yang timbul. Jadi lebih ke faktor lingkungannya. Kalo kakak, menurut kakak faktor lingkungan itu besar kali pengaruhnya. Sekarang mungkin setelah menikah tidak ada yang mengingatkan. He em. Tapi lagian pun abang kalo malam shalat tahajud itu, dia gak pernah bangunin kakak. Kakak taunya, bunyi-bunyi, o.. abang shalat, udah tidur lagi. O..gak ngajak sama-sama gitu. Enggak. Berarti lebih karena faktor lingkungan tadi. Iya. Kalo dari dalam diri kakak sendiri kak gimana? karena selama ini waktu mereka untuk bersamasama sangat sedikit. Responden meluangkan waktu, sebelum tidur atau sehabis shubuh untuk bisa ngobrol-ngobrol bersama suaminya, karena menyadari minimnya waktu luang yang mereka miliki bersama. Menurut responden, faktor lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap religiusitasnya. Suami responden kurang memotivasi dan mengajaknya untuk bersama-sama dalam beribadah. 48
50 Kalo dalam diri sendiri ada keinginan. Yang tetap bisa dijalankan itu baca al-quran habis maghrib, itu masih bisalah terus dijalankan, walaupun sekali-sekali bolong. Cuman kayak puasa, kayak dari ini lagi, dari segi berpakaian aja, biasanya sebelum nikah itu kita pasti lebih tertutup gitu. Rasanya takut gini. Sekarang, kadang rasanya pakaian itu ya elos aja pakaiannya mau kek mana kek mana. Kenapa bisa itu kak? Ya gak tau. Kira-kira kak? Ya itu tadi, kakak rasa mungkin karena faktor lingkungan disekitar kita itu. Kalo dulu kan, kita mau pigi kuliah, kalo kayak gini nanti pasti ada temannya yang komentar, ada yang selalu mengingatkan. Sekarang kalo gak, misalnya pigi ngajar, pakaian kayak apapun gak akan ada yang komentar, gitu. Abang? Abang gak tau kalo kakak pigi ngajar. Kalo ada abang pasti dia komentar. Kayak, pake bajunya, gak usah pake baju itulah, itu pendek bajunya, kalo pake baju itu jangan pake celana, pake rok aja, jadi belahan pahanya gak kelihatan. Kalo sama abang kayak gitu. Artinya abang tetap mengingatkan ya. Tapi biasanya kalo mau pigi gitu, bang nanti pake baju kek gini boleh. Gak usahlah, pake ini deh, ini aja. Kalo mau pigi sama-sama. Bang ini cocok. Oya, tapi pake jaket ya. Iya. Berarti hanya dalam ibadah-ibadahnya saja abang tidak mengingatkan? Kalo shalat wajib itu dia ngingatkan. Tapi kalo sunnahnya gitu, enggak dia sendiri aja. Kenapa tu kak? Gak tau. Gak kakak bilang, kok gak diingetin sih bang. Kadang di tanya gini, abang kok gak bangunin. Kan kakak ada bilang, bang besok puasa ya, nanti kalo abang bangun, bangunin ya, mau sahur. Kok gak abang bangunin. Kasihan abang lihat yayang, kayaknya capek kali. Kek gitu. Biasanyan abang gitu. Takut ganggu. Iya. Beralih ke masalah finansial, kira-kira selama ini ada gak masalah-masalah yang kak alami terkai dengan masalah keuangan keluarga? Terkait dengan masalah pakaian, suami responden sering mengingatkan an memberi masukan agar responden mengenakan pakaian yang lebih longgar dan panjang. Dalam pelaksanaan ibadah wajib, suami responden sering mengingatkannya, namun dalam ibadahibadah sunnah ia tidak mengajak responden, alasannya karena tidak ingin mengganggu responden. 49
51 Karena punya prinsip gak terlalu mementingkan uang, walaupun, kek gini sukma, kadang punya uang lebih, punya uang lebih dari biasanya itu, gak bisa nyimpan, kalo pun nyimpan pasti terpakai lagi bulan berikutnya, teruspun kalo gak punya duait kakak gak pernah ambil pusing. Ya udah aja gitu. Pokoknya duit untuk ongkos, kakak pigi ngajar ada, beli minyak abang ada, ya udah. Jadi gak pernah nganggap masalah. Kalo untuk persiapan jangka panjangnya kak? Untuk saat ini dipikirkan. Tapi kebutuhan kan, kita gak cuma untuk kakak ma abang berdua, masih ada adik. Ya mikir juga sih, kita kok gak punya tabungan, tapi ya udahlah, sekarang apa yang ada bisa dimanfaatkan bersama-sama ya dimanfaatkan bersama. Disyukuri aja. Iya, kalo rezeki itu kan insya Allah ada. Kembali ke masalah seksual kan kak, karena memang harus ditanyakan juga. Itu gimana kak penilaian kakak terhadap hubungan seksual kakak dengan pasangan selama ini? Ya, gak ada masalah. Karena kalo melakukan hubungan seksual, kami samasama mau, kalo misalnya kakak capek ato abang yang capek, ya enggak. Jadi gak ada, kayaknya gak ada paksaanlah. Terus kalo misalnya kakak lagi capek, tapi abang misalnya ada keinginan? Abang tau kondisi kakak kayak mana, dilihatnya kakak lemes, udah, dia mengerti. Tapi kakak sering gini, bang, abang marah? Enggak. Abang kan tau yayang capek, abang gak mau istri abang nanti berdosa karena abang minta gak bisa dipenuhi kan jadi berdosa, katanya. Ya udah, abang kayak gitu. Terus kak, kan belum memiliki anak, ketika misalnya dalam berhubungan gitu, bagaimana pengaruhnya? Pokoknya kami punya prinsip, kalo masih belum diberi anak, berarti Allah belum mempercayakan kita untuk ngurus anak. Itu aja. Walaupun disamping itu tetap berusaha, gak cuma sekedar menunggu. Kalo dari segi frekuensi berhubungannya itu gimana kak? Sebetulnya kalo kami, pada saat yang samasama pingin gitu, jadi setelah konsultasi ke dokter, ternyata frekuensi itu terlalu jauh, Responden tidak menjadikan hal keuangan sebagai masalah, yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, tidak terlalu menuntut lebih, memanfaatkan yang ada saja. Responden merasa tidak ada masalah dalam hubungan seksualnya dengan pasangan, karena tidak ada keterpaksaan dalam melakukannya, karena keduanya sama sama mau dan siap untuk melakukannya. 50
52 disuruh lebih sering gitu. Ya ikuti aja saran dokter. 51
53 VERBATIM Responden 2 (Pacaran) Wawancara IV Tanggal: 23 Mei 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 15 Menit Subjek : Istri Pelaku Verbatim Pemaknaan Menurut kakak, masa-masa yang paling, paling menyenangkan dalam pernikahan kakak, masamasa kapan? Kayaknya tiap hari menyenangkan. Masanya kak, misalnya tahun-tahun awal, tengah atau belakangan ini? Kek mana bilangnya ya, di tahun awal tu yang menyenangkannya pasti beda, tahun berikutnya yang menyenangkan itu pasti ada sesuatu yang berubah, jadi gitu, pasti ada. Maksudnya kek mana tu kak? Awal dulu pertama nikah kita senangnya, oh biasanya semua terbatas, sekarang kita bisa ini. Kesininya kita lebih dekat, lebih kalo kata orang masih ada malu-malunya, sekarang dah gak ada malu-malunya. Kayak gitu. Itu yang tadi di awal-awal kakak bilang yang terbatas maksudnya? Ya kalo waktu pacaran kan semua serba terbatas, gitu nikah kan dah gak ada batasan. Namanya, kayak orang baru ketemu kan masih ada malu-malunya kayak gitu lah. Menurut kakak, seberapa besar sih peran agama dalam sebuah rumah tangga? Yang kakak alami dalam pernikahan kakak, seberapa penting peran agama dalam kakak membina hubungan dengan suami? Pertama ya dari segi agama semuanya. Kayak hubungan suami istri, kita aja pingin Responden merasa bahwa tau sebetulnya dalam Islam itu seperti apa agama sangat berperan sih. Oh ternyata yang boleh itu, gak semua penting sebagai pedoman cara itu boleh dilakukan. Oh kek gitu, oh kalo dalam membina rumah yang kayak gitu gak boleh, itu haram hukumnya tangga. karena itu menyerupai binatang, pergaulan suami istri kayak-kayak gitu. Kalo seandainya kita gak berusaha cari tau, kita kan gak tau kan. Kalo sekarang ini banyak kan kayak CD CD yang adegannya kayak manalah gitu, kalo orangorang kan ada yang bilang, kayak senioranseniorang gitu, nanti kalian kalo udah berumah 52
54 tangga beli aja CD itu, cara-cara melakukan. Ternyata setelah dilihat itu gak semuanya bisa dicontoh. Ya penting. Terus kak, bagaimana hubungan kakak dengan abang dengan belum hadirnya anak ini? Pengaruhnya gak ada. Cuma kadang kalo pas lagi cerita sering kakak bilang, kita kan belum punya anak, nanti yang salah ini, ini, kek mana tu bang. Ah gak usah dipikirin, orang tujuan utama kita kan bukan sekedar untuk punya anak. Ya berarti Allah belum memberi kepercayaan pada kakak. Terus bagaimana pengaruhnya dengan kualitas hubungan seksualnya kak? Ya kami kalo ngelakuin itu suka sama suka, sama sama kepingin gitu. Kalo yang satu gak kepingin ya pasti gak jadi. Walaupun dah ke dokter kan, diaturlah jadwalnya ini, tapi rasanya juga gak nyaman, kayak terpaksa, jadi ya udah jalani aja. Terus kak gimana perasaan kakak dalam menjalani peran-peran kakak sebagai istri? Biasa aja. Pokoknya semua yang dikerjai itu ya enjoy aja, karena kalo kita ngerjai sesuatu dengan terpaksa pasti capek. Nikmati aja. Satu lagi kak, kita kan belajar dari pengalaman, pengalaman orangtua kita. Pengaruhnya ke kakak gimana tu, penilaian kakak dengan pernikahan orangtua kakak terhadap sikap kakak dalam menyikapi pernikahan kakak? Gak ada lah kalo kayak ketakutan gitu ya, karena bundo itu mendidiknya gak dengan memberikan contoh-contoh nanti suami mu kayak gini, gini, lihat tu ayah gitu. Gak pernah. Bundo gak pernah yang namanya menjelekkan. Jadi kami tu gak da trauma. Nanti kalo kawin kayak ayah gitu. Kalo pun pengaruh keluarga, namanya keluarga besar, ya semua yang nampak itu ya sebagai contoh aja, oh nanti jangan kayak gitu, lihat tu keluarga si anu, itu jangan kayak gitu. Tapi gak pernah jadi ketakutan gitu. Oh nanti kek itu, nanti kek gitu. Enggak. Biasanya kan dalam rumah tangga itu kan biasa ada konflik. Seringnya kan misalnya karena tidak seide. Kalo misal dalam menghadapi masalah perbedaan-perbedaan pendapat, gimana cara kakak mengatasinya? Komunikasi. Ya, kayak cara kerja abang kan selalu kakak omongin. Walaupun kadang Belum hadirnya anak terkadang menjadi beban pikiran responden, namun ia berusaha untuk memasrahkan hal ini pada kehendak Allah Swt. Jadwal berhubungan seksual yang disarankan dokter membuat responden merasa tidak nyaman ketika berhubungan seksual dengan pasangannya. Responden merasa enjoy dalam menjalankan peranperannya sebagai istri. Ayah responden yang menikah lagi tidak membuatnya menjadi trauma untuk menikah, karena ibunya dapat memberikan penjelasan yang baik kepada ia sejak dahulu. Responden mengambil pelajaran dari masalahmasalah pernikahan yang ia temui di keluarga besarnya. 53
55 didenger, kadang enggak, tapi gak pernah bosan, bilang aja terus. Apalagi itu yang kita omongin bukan sesuatu yang salah, kayak abang, bang habis shalat shubuh jangan tidur lagi lah. Walaupun Cuma beberapa kali aja dijalani ya tetap aja, paling kakak bolak balik, bang bangunlah bang, jangan tidur lagi. Ya kayak gitu lah. Walaupun gak dikerjai tapi tetap diomongin aja. Konsisten. Terus kan, sekarang kan sudah dua tahun nikah. Terus bagaimana harapan-harapan kakak untuk pernikahan kakak selanjutnya? Harapannya yang pasti semua orang ingin pernikahannya langgeng gak ada masalah. Yang pasti kami sama abang tu pasti berharap mempunyai keturunan, walaupun gak pake target, harus, harus gitu, enggak, Cuma keinginan itu pasti ada. Jadi harapannya ingin tetap langgeng dan punya keturunan. Mudah-mudahan harapanharapannya tercapai ya kak. Amin. Responden tidak bosanbosan untuk mengingatkan dan menegur suaminya bila sifat atau kebiasaankebiasaan buruknya muncul kembali, selalu ia komunikasikan. 54
56 VERBATIM Responden 3 (Ta aruf) Wawancara I Tanggal: 31 Maret 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 25 Menit Subjek : Suami Pelaku Verbatim Pemaknaan Assalamu alaikum Wr. Wb Wa alaikumsalam Wr. Wb Jadi, waktu menikah kemarin, usia bapak berapa ya pak? tahun ya. Terus alasan bapak menikah di usia tersebut apa ya? Pertama memang, keinginan. Insya Allah di usia 28 tahun itu saya sudah menikah, dan saya kan baru bergabung dengan daqwah ini. Pulang dari luar kota dulu, sering keluar kota kan, jumpa-jumpa ustadz, saya di ajak ngaji, ngaji dan banyak dengar kalo mau menikah seperti ini, seperti ini, seperti ini. Karena saya punya target usia 28 tahun sudah menikah, saya omongkan dengan ustadz, ana mau nikah. O.. ya udah, buatlah biodata, ini, ini, ini. Apa aja ustad? Nama, apa, segala macam. Terus ana buat, terus nanti serahkan ke saya. Saya serahkan. Seperti itu. Bagaimana proses perkenalan bapak dengan ibu? Kalo proses perkenalan memang ya belum kenal. Namanya, ya, melalui datalah ya. Saya dapat data, ibu dapat data. Seperti itu. Kebetulan saya dapat tiga data, ya istri ini termasuk calon yang ke dua. Pertama tu, semacam yang apa kan, kita harus cari yang lebih tua. Yang lebih tua, kemaren tu alasannya dia mo nyelesaikan kuliahnya. Ya udah, yang ke dua. Terus apalah kan, terus informasi. Pertama kan proses, akhi, akhwatnya gak mau dia, dia mau nerusin kuliah. Kan dah ada biodata, antum mau yang mana? Yang ini aja ustadz, ya, satu tua satu muda. Kita udah ini, dah tsiqoh (percaya) cari yang tua, ternyata yang lebih tua dari kita tidak mau. Ya, sebenarnya memang dari yang tiga data itu, dua orang Padang, satu orang Jawa. Memang keinginan juga kalo bisa lain suku. Seperti itu. Berapa lama prosesnya pak sampai akhirnya Usia saat menikah 28 tahun. Alasan menikah di usia 28 karena merupakan target responden bahwa di usia 28 tahun itu ia sudah menikah. Proses perkenalan dengan istri pertama kali melalui data yang diperoleh dari ustadz ketika responden sudah berniat untuk menikah. 55
57 menikah? Ya, subhana Allah, saya sendiri tidak, kira-kira disebut lama gak itu ya, tidak ya. Sebulan itu, sebulan kita putus. Ternyata terus dah apa, ganti data, kan terus di kasih. Besok ya ketemu, minggu besok ketemu, ta aruf. Ha, cepat kali. Ya udah, taaruf. Termasuk sebulan kelar lah tu sekali, makanya subhana Allah kali. Gimana penilaian bapak saat itu terhadap pasangan bapak itu, data kakak? Memang, saya lihat memang, saya baca datanya, dia itu orangnya tegas, gitu kan. Nampak. Saya tu termasuk orang yang kurang tegas, jadi saya ingin cari yang apalah ya, menutupi saya. Insya Allah lah ya, sekarang ini kenyataan. Kalo saya kurang tegas, mas kayak gini-gini, kalo itu baik ya saya terima juga. Pada intinya, saya lebih senang ketegasannya itu, saya kurang punya. Pada akhirnya apa yang membuat bapak yakin, oh ini pasangan saya, memilih kakak? Ya, seperti itu juga ya. Sholat istikharah ya. Sebenarnya kalo ustad Suryanda bilang, udah terlambat sebenarnya, harusnya sebelum dapat data itu sudah istikharah. Tapi ya, saat itu saya sholat istikharah, Ya Allah, kalo memang dia jodohku, dekatkanlah, kalo tidak ya, jauhkanlah. Insya Allah, ya mungkin itu tadi ya, pokoknya dalam hati ini bawaannya tenang aja gitu lo. Tidak ada apalah. Mungkin itu jodoh kita lah ya. Tenang, apa, enak gitu kan. Selesai shalat istikharah, bawaannya itu jodohku gitu. Hati ini, tenang aja gitu lo. Gak ada gejolak gitu, tenang. Seperti itu. Saat ini, usia pernikahan bapak udah berapa lama? Alhamdulillah udah tiga tahun. Udah tiga tahun. Terus gimana penilaian bapak terhadap pernikahan bapak di usia tiga tahun ini? Ya memang bisa dibilang cukup terlalu muda. Yang namanya pernikahan itu, pasti ada goresan-goresan. Memang semua itu harus kita sikapi dengan bijak, karena ya, saya juga baru. Alhamdulillah, dulu saya sales, sekarang di gudang, sering dengar, masukan-masukanlah, selain dari ustadz-ustadz kita. Terus dari orangorang yang memang kafaah tentang supaya gimana keluarga ini samara ya, sakinah, mawaddah warahmah. Hari sabtu dan rabu tu ada acara yang cukup bagus gitu untuk Proses ta aruf berlangsung selama satu bulan. Responden menilai istri saat taaruf adalah orang yang tegas, sedangkan menurut responden dirinya pribadi kurang tegas, maka ia ingin mencari pasangan yang tegas untuk menutupi kekurangan dirinya. Responden yakin memilih istrinya setelah melakukan shalat istikharah. Selesai shalat istikharah, ia merasa tenang dan semakin yakin bahwa calon istrinya saat itu adalah jodohnya. Usia pernikahan saat ini sudah tiga tahun. Responden menilai pernikahannya saat ini semuanya baik, walaupun sesekali terjadi masalah tetap disikapi dengan bijak,apalagi menurut responden pernikahannya masih cukup terlalu muda, jadi masih harus terus belajar. 56
58 bagaimana kita mendidik keluarga, mendidik anak gitu ya, yang baik. Jadi ya dari situlah saya belajar. Ya, memang ya, dalam keluarga ini kita harus terus belajar kan, tidak ada hentinya seperti itu. Selama ini, ya Alhamdulillah semuanya baik. Ya, kalo ada sesekali gitu pasti ada. Tinggal kitanya aja. Macam mana mo dibilang kan. Kalo kita berseteru itu juga dua-dua, apa, ngomong gitu, sebaiknya satu diam. Insya Allah, itu kami terapkan. Jadi kalo ngomong, saya yang banyak apa, diamnya. Setelah apa, dah tenang, baru saya, dah tenang, ada apa, ummi, apa, seperti ini? Selalu saya tanyakan, seperti itu? Sekarang penilaian bapak terhadap pasangan bapak seperti apa? Alhamdulillah baik. Namanya kita berumah tangga itu satu tim. Jadi kita saling kerja samalah. Mana yang kurang diapain, mana yang lebih, di pertahankan. Jadi tidak kerja sendiri gitu. Karena kalo kerja sendiri kan tidak baik. Jadi harus sama-sama. Ya salah ditegur, kalo apa, jadi jangan sampai kebablasanlah, orang Jawa bilang ya kan. Saling komunikasi pun saya terapkan, komunikasi, komunikasi, komunikasi. Saya ingatkan. Kadang-kadang karena keretakan dalam rumah tangga itu karena komunikasi yang tidak nyambung. Seperti itu. Ya, Alhamdulillah, makanya saya, macam kalo ada acara gitu, kalo ada acara yang baik gitu, ummi tolong dengerin ini, hari sabtu. Saya yang sering ingatkan, karena harus dua-dua tau gitu, karena kalo satu, saya terus tau aja, itu gak kan nyambung. Misal, ana dipinjamin flasdisk sama temen, ada taujih tentang pernikahan, ini mi dengerin mi. Soalnya kan, ummi-nya kadang yang sering-sering apa gitu kan. Jadi, sering kita kasih masukan gitu. Itu mungkin kekurangan istri saya. Dari kekurangan itu harus kita tambah terus, jangan sampai kurang terus, karena suatu saat kan itu akan bertambah. Insya Allah kan suatu saat manusia kan berubah. Waktu sebelum menikah kan pastilah kita punya harapan-harapan, pengennya istrinya seperti iniseperti ini. Ketika sudah menikah gimana perasaan bapak? Apakah sesuai dengan harapannya? Memang kalo harapan saya tidak terlalu banyak harapannya. Dan itu juga sesuai dengan Jika ada masalah, responden diam ketika pasangannya berbicara, setelah tenang, baru responden menanyakan kembali pada istrinya mengenai masalah tersebut. Penilaian responden terhadap pasangannya baik. Respoden menilai bahwa dalam rumah tangga, pasangan suami istri adalah satu tim, harus saling bekerja sama dan saling mengingatkan bila ada kesalahan, jadi tidak kebablasan. Responden juga selalu mengingatkan untuk selalu saling komunikasi, karena menurut responden, salah satu faktor penyebab keretakan dalam rumah tangga karena komunikasi yang tidak nyambung antara suami dan istri. Responden menyikapi kekurangan pasangannya dengan berusaha memberi masukan-masukan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Harapan responden adalah ingin memiliki istri yang 57
59 permintaan, do a orang tua gitu. Karena do a orang tua itu adalah Ya Allah, carikanlah istri anak ku itu istri yang sholeha. Dan saya juga seperti itu kalo ditanya, cukup sholeha, istri yang sholeha, yang apa gitu, itu cukup. Tidak usah lebihlah. Itu saja sudah cukup. Tidak harus kaya, apa, yang penting buat saya sholeha dan sayang ma anak-anak sama mendidik anak dengan baik. Jadi, harapanharapannya gak terlalu banyak. Jadi, harapan-harapan itu bapak dapatkan dari istri bapak? Ya, Alhamdulillah iya. Artinya, kita terus berusaha ya, karena kan, ada ikhwan bilang, akhwat juga manusia. Jadi, jangan mentangmentang akhwat, dia udah sempurna. Gak jadi patokan itu. Pasti ada kurangnya. Nah, kurangnya itulah yang harus kita sikapi dengan bijak. Tapi, Alhamdulillah, sekarang ya. Makanya kalo cerita harapan, saya rasa sebenarnya belum waktunya merasa itu cukup, gitu, karena usia pernikahannya masih tiga tahun. Tapi, kalo udah lebih lama, lebih efektif. Sekarang-sekarang ini, masih terus membangun, terus membangun, ya, supaya dirinya sesuai dengan harapan kita, istrinya tetap sholeha. Ya, tetap sama, kalo kita salah ya ditegur. Terus, bagaimana komunikasi bapak dengan istri bapak? Ya, Alhamdulillah cukup baik ya, cukup baik sekali. Tinggal buat jadwal aja ni. Saya ingin, nanti kita kan buat jadwal, tiap malam kamis tu, kita sharing gitu, ya komunikasi. Sebelum tidur itu cerita, tanggapan, apa, segala macam. Kalo komunikasi itu cukup baik, karena kita keluarga itu, ya, dibangun dengan komunikasi, karena kalo komunikasi tidak baik, tidak akan nyambung gitu. Insya Allah, komunikasinya baik lah. Perasaan bapak sendiri, ketika berkomunikasi dengan istri, gimana? Perasaan saat berkomunikasi dengan istri. Ya. Perasaannya. Ya, enak ya. Namanya juga sama istri, cakap sama istrinya. Ya, macam, kadang-kadang istri itu juga yang rajin nanya tu. Gimana mas, kerjanya mas? Ya, Alhamdulillah, bagus. Ya, mungkin istri, nyinyir, tapi dalam tanda kutip supaya kita bagus kerjanya. sholeha, sayang sama anakanak dan dapat mendidik anak dengan baik dan harapan tersebut responden dapatkan pada istrinya. Menurut responden, usia pernikahan yang baru tiga tahun belum waktunya untuk menilai sebuah pernikahan, karena masih terlalu muda dan masih terus membangun rumah tangga. Komunikasi responden dengan istri cukup baik sekali dan responden berencana untuk membuat jadwal tetap untuk sharing dan komunikasi untuk semakin memperlancar komunikasinya dengan istri. Responden merasa enak ketika komunikasi dengan istri. Istri responden rajin berkomunikasi dan menanyakan kondisi 58
60 Ya. Kadang-kadang, kerja pake selop aja kan. Mas, kerja kok pake selop, pake sepatu napa gitu, nanti dikantor payah, gini, gini, gini. Ya. Kadang kalo, ya, seperti itulah ya. Ya, perasaannya, ya, enjoylah ya. Namanya istri, dinikmatilah yah kan. Terus, bagaimana respon, ketika bapak berbicara dengan istri bapak, bagaimana respon istri bapak? Dalam hal? Ketika bapak berbicara, lagi curhat ato cerita sesuatu, tanggapannya bagaimana? Tanggapannya ya itu, dikasih masukan, seperti ini. Kalo memang masukannya itu tidak berkenan, ya, artinya kurang cocok dengan kita, ya, bukan seperti itu sebenarnya mi, seperti ini, gini, gini, gini. Kadang-kadang kan sedikit pandangan itu berbeda. Pandangan istri seperti ini, kita seperti ini. Seperti itu. Jadi kita jelaskan. Seperti itu. Masalah keterbukaan bapak dengan pasangan, gimana pak? Apa semua bapak ceritakan, ato? Ya, harus kita ungkapkan ya, karena siapa lagi gitu lo. Kalo kawan cerita kita, istri kita. Ya, harus jujurlah. Gitu. Itu juga salah satu prinsip saya ya. Ya jujur. Dalam agama pun kan memang harus jujur. Apapun ceritanya gitu. Itulah resikonya. Kadang-kadang ya buat orang apa itu kan penyampaiannya, disampaikan, seperti ini, seperti ini. Gimana kepercayaan bapak terhadap pasangan bapak? Kalo bisa, ada yang 100%, 200% lah. Saya tidak, tidak terlalu. Sudah percaya dengan istri saya, 200% lah ya. Sudah cukup percaya dengan istri saya. Insya Allah kan, dalam komunikasi itu ya nyambung. Terus informasiinformasi, hal-hal yang kecil apapun, saya selalu cerita. Jadi ya, insya Allah 100% saya percaya. Apalagi istri selalu komunikasi, mas, mau kemari, mas, saya mau buat ini. Sebenarnya dalam agama kan memang seperti itu. Tapi, dalam hati kecil saya, tidak pun dia permisi, saya sudah percaya, gitu kan. Kalo misalnya memiliki waktu luang, biasanya bapak melakukannya dengan apa? Kegiatannya? Biasanya, istri ni yang rajin. Ya, silaturrahim, kebiasaan kalo waktu luang berenang. Silaturrahim dan berenang yang paling responden dan sering memberi saran-saran positif pada responden. Responden komunikasi istrinya. menikmati dengan Pasangan responden merespon suami saat berkomunikasi dengan memberi masukan. Responden menyikapi perbedaan pandangan dengan memberi penjelasan kepada pasangannya. Keterbukaan responden dengan pasangan, baik. Menurut responden semua harus diungkapkan, harus jujur terhadap pasangan. Responden mempercayai istrinya sepenuhnya, apalagi istri juga selalu mengkomunikasikan segala sesuatunya pada responden. Responden mengisi waktu luangnya bersama pasangan, silaturrahim ke 59
61 sering. Kalo ada waktu yang panjang juga, sering, jalan-jalanlah. Kalo wisata berdua belum pernah, yang paling apa ya berenang, silaturrahim, tempat keluarga, tempat teman, karena Alhamdulillah, istri senang, saya juga. Kalo tidak capek kali, tanya istri, capek mas? Insya Allah enggak. Kesana yok. Ayok. Biasanya kalo yang memutuskan mau berenang, mau silaturrahim atom au pergi kemana gitu, siapa pak? Ya, tergantung. Ya, kalo memutuskan kan, gimana ya, kadang istri aja. Kalo gak ada kegiatan partai gitu, atau apa, macam berenang gitu, ya, ayok. Saya orangnya ayok aja. Kadang-kadang kalo kita laki-laki ini kan sebenarnya kepingin juga, bukan kepinginnya. Kadang-kadang kita kek mana bilangnya ya, gak tau mau kemana. Kadang istri yang apa, kita stand by aja. Cuma, kadang laki-laki suka jalanjalan, yok kesana mi, cuma kalo istri kan, seringnya yang ngajak. Kadang kita, udah banyak kerjaan, gak kepikiran lagi gitu. Istri yang lebih mengingatkan. Ayoklah silaturrahim, kan bisa memudahkan Allah memurahkan rezki. Ya, Alhamdulillah itu terbukti. Subhana Allah kan, sekarang dah ada usaha, usaha air, kadang ada yang nawari usaha aneh-aneh gitu, usaha minyak bot-bot gitu. Kadang-kadang gitu ada. Teruskan, sekarang udah menikah ya kan pak. Iya. Gimana kepedulian. Gimana perbandingannya tingkat religiusitas bapak, setelah menikah dibandingkan dulu sebelum menikah. Ibadahibadahnya? Ya, Alhamdulillah ya. Itulah tadi kan. Meningkatlah ya kan. Itu tadi, saling mengingatkan. Mas, dah sampe mana tilawahnya? Sampe sini. Yah kalah sama ummi, ummi dah selesai ni. Akhirnya, kalah sama istri ya, yee. Sama, tahajudnya juga gitu. Itulah dia, insya Allah, ya, meningkatlah. Terus gimana kepedulian bapak terhadap agama, gitu? Dengan agama? Kepeduliannya. Dengan agama ya. Wujud kepeduliannya gitu. Wujud kepeduliannya kalo Dalam aktivitas sehari-hari dari segi ibadahnya sanak keluarga dan teman, pergi berenang dan jalanjalan. Dalam hal memutuskan untuk mengisi waktu luang, istri yang lebih sering mengajak dan mengingatkan. Religiusitas responden semakin meningkat setelah menikah, karena sudah ada istri yang sering mengingatkan. 60
62 ato pekerjaan-pekerjaan. Gimana? Misalnya, aktif di partai itu kan termasuk. Ha, Iya. Itu makanya karena dari ya, masalahnya kalo kegiatan ibadahnya. Ya, cukup full gitu ya. Apalagi kita diajarkan dimana pun kita harus berdaqwah gitu ya. Memang gitu lah, memang daqwahnya pun kalo disekitar rumah kita, gak pala kali. Di kantorlah paling kan, ngajak orang sholat, apa segala macam. Seperti itu. Cukup apalah ya. Bisa di kata, gimana bilangnya ya, cukup full lah ya. Responden mewujudkan kepeduliannya terhadap agama dengan berdaqwah, menyebar kebaikan dimana pun ia berada, di sekitar rumah dan di kantor. 61
63 VERBATIM Responden 3 (Ta aruf) Wawancara II Tanggal: 21 April 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 28 Menit Subjek : Suami Pelaku Kan dalam pernikahan kan wajar tu pak sering ada masalah-masalah. Terus, bagaimanan cara bapak menyikapi atau menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada itu? Setiap ada masalah, pertama memang saya lihat masalahnya, memang saya selalu, kalo ada masalah itu saya selalu diam, gitu. Diam. Terus, lihat timing nya, sudah enak, sudah apa, baru, kenapa tadi mi, gitu kan, kenapa seperti ini, baru dibicarakan, gitu. Ya tidak pada waktu itu, setelah, setelah hatinya sudah, suasana hatinya sudah enak, baru, kenapa kok seperti ini, seperti itu. Jadi, tidak langsung diputuskan. Udah suasana hatinya enak, baru kita apakan. Cari waktu yang tepat ya. Iya, cari waktu yang tepat. Iya. Terus, bagaimana pak menurut bapak, pengaruh adanya suatu masalah itu dalam rumah tangga? Ya, pertama semakin mendewasakan kita. Terus, memang begitulah ilmu rumah tangga ini, pasti ada masalah kan. Itulah, e... apa namanya, kita hidup harus ada masalah kan, kita berumah tangga pasti ada masalah kan, gitu kan. Ya, seperti itu, akhirnya dengan ada itu semakin dewasa, semakin terus kita semakin sayang sama istrinya, seperti itu. Semakin sayanglah kita dengan pasangan kita. Terus, beralih ke masalah finansial kan pak. Bagaimana penilaian bapak terhadap ekonomi keluarga bapak saat ini? Ya, dibilang masih kurang baik ya, karena usaha, usaha yang kami jalani ya memang maju, ya berjalan, tapi, ya, artinya, pas juga kan saya anak paling besar, kadang-kadang bantu keluarga yang harus kita bantu gini, ya. Untuk kita cukuplah, tapi memang ada sedikit. Tapi, kalo kurang, berapa pun apanya kurang, jadi ya yang ada itu kita cukup-cukupin. Pemaknaan Responden menyikapi masalah dengan menganalisa masalah itu terlebih dulu. Responden menyikapi masalah yang muncul, pertama dengan bersikap diam, setelah suasana hati tenang, baru masalahnya dibicarakan bersama dengan pasangan pada waktu yang tepat. Menurut responden, masalah dapat mendewasakan seseorang dalam menjalani pernikahan ini dan dapat membuat pasangan itu semakin sayang satu sama lainnya. Keadaan ekonomi keluarga responden menurtutnya masih kurang baik, namun untuk saat ini masih mencukupi. 62
64 Yang mengelola keuangan keluarga, siapa pak? Istri. Istri ya. Terus, bagaimana kepercayaan bapak terhadap kakak dalam mengelola keuangan keluarga? Ya... yang penting, percaya ya, sepenuhnya percaya. Terus, nanti kalo hal-hal yang di luar yang kesepakatan kita, misalnya dia ingin memberi adiknya ataupun saya ingin memberi keluarga saya, kita tetap ini ya, izin gitu ya. Mas, saya mau memberikan ini, mas juga ini untuk mama atau apa, seperti itu. Jadi, tetep, kalo yang di luar, yang biasa belanja kita, tetep dikomunikasikan, gitu. Jadi, tidak ada saling curiga, walaupun kita sudah percaya, tapi kita tetap harus komunikasikan, seperti itu. Biar tidak terjadi kecurigaan ya pak. Iya. Jadi, sekarang kan sudah menikah kan pak, pasti punya keluarga baru, ada, keluarga semakin bertambah. terus, bagaimana hubungan bapak dengan keluarga-keluarga bapak, dari pihak bapak maupun dari pihak keluarga istri. Ya, alhamdulillah sampai saat ini masih baikbaik saja, karena itu, kita saling silaturahim ya, silaturahim ya. Pinomat sebulan sekali itu, ntah keluarga kita silaturahim lah. Kalo tempat orangtua, seminggu sekali insya Allah kesana, jadi insya Allah sampai saat ini masih baikbaik lah. Bagaimana perasaan bapak dalam menjalin hubungan, silaturahmi dengan pihak kaluarga? Perasaannya ya baik-baik aja ya, orang kayaknya tidak ada apa hal, yang, yang apa, yang membuat kita, ya benci atau slek mereka ya, mereka juga dengan kita baik. Itu dia. Ya, kita, dia baik, kita lebih baik, kan seperti itu. Ya, tidak ada, tidak ada perasaan yang apalah, krusial, tidak ada masalah yang apa, baik-baik saja. Setelah menikah, bagaimana hubungan bapak dengan teman-teman bapak yang dahulu? Ya, bisa dibilang, hubungannya, kalo teman kerja ya masih biasa. Ya, mungkin, karena temen-temen sudah berkeluarga semua, gitu ya. Rata-rata sudah menikah, jadi ya, palingpaling silaturahim ajalah. Tidak ada yang plus. Kadang-kadang kita sering juga, ya buatbuat acara. Maksudnya acaranya yang Keuangan keluarga dikelola oleh istri responden. Responden percaya sepenuhnya pada istri dalam mengelola keuangan. Dalam menjaga kepercayaan dan menghindari kecurigaan dalam hal keuangan, keduanya saling mengkomunikasikan kepada pasangannya bila ada pengeluaran di luar kesepakatan bersama yang telah ada. Hubungan responden dengan pihak keluarga baik-baik saja, diperkuat karena pasangan ini selalu menjaga silaturahim dengan pihak keluarganya tersebut. Perasaan responden dalam berhubungan dengan pihak keluarga baik-baik saja, karena pihak keluarga juga bersikap baik maka responden juga bersikap lebih baik lagi pada mereka. Hubungan responden dengan teman-temannya baik-baik saja, silaturahimnya tetap terjaga dan terkadang responden dan teman-temannya sering buat acara kumpul-kumpul 63
65 kumpul-kumpul sama gitu, apa, gitu. Itu aja, jadi tidak ada yang terlalu spesial ya. Artinya tetap menjalin hubungan dengan temanteman. Cemana? Artinya tetap, tetap menjalin hubungan dengan teman-teman yang lain. He-e. Tetep, tetep. Selama ini saya sendiri kan, sekarang dah bisa ngajak, yang mereka dengan istrinya, kita juga ngajak istri kita. Dan, ada satu abang angkat di amplas itu ya. Kadang-kadang istri kita bawa kesana gitu, supaya makin dekat kan, karena dulu dia dekat dengan kita gitu ya, ya, biar kenal dengan kawan kita, kita bawa kesana, gitu. Misal hari sabtu gitu kan, waktu jadi istri gak ngajar, kita bawa kesana, nanti pulang kerja, baru pulang, gitu. Jadi, istri tinggal sama istrinya, kita kerja duadua. Beralih ke masalah seksualitas kan pak. Bagaimana sikap bapak terkait dengan masalah seksualitas dengan pasangan. Misalnya dari segi frekuensi atau yang lain? Seksualitas ya. Gimana, gimana? Sikap, sikap ataupun perasaan bapak dalam masalah seksualitas dengan pasangan gitu, misalnya dari segi frekuensi atau hubungannya, itu gimana? Ya, kadang-kadang kalo kegiatan daqwahnya padat gitu ya, ya mungkin frekuensinya bisa seminggu sekali, tapi kalo ya yang longgarlonggar, dua minggu, eh, seminggu dua kali gitu ya. Tapi, kalo padat ya kadang-kadang sekali aja, gitu kan. Karena sama-sama letih kan, capek kan, itu tidak bagus untuk hubungan suami istri, kan gitu. Bagaimana kesetiaan bapak dengan pasangan bapak? Ya, insya Allah masih terjaga ya. Hm, istri yang kadang-kadang khawatir, gitu. Karena ya, saya dari keluarga yang kurang beruntung ya, orangtua saya, menikah lagi yang lakilakinya, jadi kadang-kadang dia, yang kalo bahasa Jawa nya wanti-wanti lah, gitu. Padahal kita tidak ada, gitu, tidak ada. Terus karena saya telah menikah, dulu waktu belum menikah, terus belum gabung dengan jamaah ini, dulu mas, dulu tempat curhatnya wanita. Ada kawan-kawan satu pengajian, satu remaja masjid, ada dua orang, curhat gitu ya, jadi bersama. Responden tetap menjalin silaturahim dengan temantemannya walaupun kini sudah menikah, bedanya dengan dulu, kalo ketemu masih sendiri, sekarang sudah bawa istri. Hubungan seksualitas responden dengan pasangan cukup baik, dari segi frekuensi bisa dua kali seminggu bila kondisi keduanya tidak sedang letih, tapi jika sama-sama letih, hanya sekali seminggu saja. Menurut responden, bila dalam kondisi tubuh letih, tidak bagus untuk berhubungan suami istri. Kesetiaan responden dengan pasangannya masih terjaga, justru istri responden yang sering khawatir, padahal responden tidak ada berniat untuk tidak setia. 64
66 nampaknya. Ya insya Allah, mudah-mudahan Allah tidak apa kan ya, dijagalah masih, tidak, tidak, hal-hal yang begitu jauhilah. Doain aja gitu, supaya dijauhin. Teruskan pak, bagaimana pengaruh, eh, perasaan bapak dengan hadirnya anak dalam pernikahan bapak? Ya, siapapun pasangan itu ya, pasti ingin. Dapat anak yang pertama itu, pasti bahagia sekali. Terus, hm, dengan kedua ini, sepasang ya kan, yang kedua ini harganya mahal ini. Maksudnya, kita mohon doa Allah itu diberikan anak laki-laki, alhamdulillah diberikan Allah lagi, dan kita bernadzar, saya pribadi bernadzar, seminggu untuk puasa gitu, artinya, alhamdulillah ummi nya dan anaknya itu laki-laki, selamat dua-duanya, insya Allah saya bernadzar seminggu puasa. Tapi memang, belum, belum, insya Allah nanti kalo ummi nya sehat, sudah sehat, kalo sudah bisa masak, abru kita mulai, karena, sekarang belum bisa, apa namanya, masih, belum kenceng, insya Allah kalo sudah pulih, insya Allah nadzar nya kita laksanakan. Terus, bagaimana hubungan bapak dengan istri sebelum menikah dengan sesudah, eh, sebelum memiliki anak dengan sesudah memiliki anak, bagaimana perbedaannya? Ya, memang, tidak kita pungkiri, maksudnya perasaan istri gitu, merasa terbagi gitu ya. Tapi, kadang-kadang, itulah kita, kadangkadang, sebenarnya tidak gitu. Tapi ya, namanya perasaan ya, itu sah-sah aja, merasa kadangkadang kita terlalu sama anak kali, gitu kan. Karena khawatir gitu kan, khawatir dia merasa tidak disayang lagi gitu. Padahal kalo diri pribadi tidak ada seperti itu, gitu ya, rasanya ya, memang kadang-kadang, kita cenderung gitu, tapi sebenarnya kita tidak, tidak mau seperti itu. Tapi, kadang-kadang memang kita cenderung ke anak kita, gitu kan. Ya, insya Allah saya, saya pribadi ya, insya Allah saya, ehm, samasamalah. Alhamdulillah ya, apalagi yang kedua ini, agak-agak dengar taujih lagi kan ya. Terus kita perbaiki hubungan kita, ya itu adalah, ya, kita kan dulu, belum, belum, tidak pernah pacaran, jadi jangan sampai masa-masa itu, artinya, dengan adanya anak, dihilangkan gitu. Tetep dijaga itunya. Makanya saya sekarang, walaupun ini lihat perasaan tetap Responden merasa bahagia sekali dengan hadirnya anak dalam pernikahannya, khususnya setelah anak keduanya yang baru-baru ini lahir, jadi sepasang sudah anaknya, ia bersyukur sekali dan bernadzar puasa seminggu atas keselamatan istri dan anak laki-lakinya itu. Perhatian responden dengan istri menjadi terbagi setelah hadirnya anak dalam RT nya, sehingga istri responden terkadang merasa tidak disayang lagi, karena responden lebih cenderung ke anak. Responden menyikapi hal ini dengan mulai memperbaiki kembali hubungannya dengan istrinya, dan mulai memanggil istri dengan panggilan-panggilan sayang yang menyenangkan hati istrinya. 65
67 disayang itu ya, sekali-sekali saya panggil sayang atau dek Halimah. Jadi, merasa, ya tidak ditinggalkan, gitu kan. Kalo perasaan wanita kan kadang-kadang cukup sensitif ya, ha, gak sayang lagi mas. Padahal tidak, tidak, tidak ada perasaan seperti itu. Kemudian, masalah kepribadian gitu pak, bagaimana penilaian bapak terhadap kepribadian pasangan bapak? Ya, sebenarnya ya, ya bagus. Terus, memang itulah, lagi-lagi, kita suami istri, akhwat maupun ikhwan itu adalah manusia, kan gitu kan, pasti ada kekurangan dan itu yang harus kita benahi, gitu kan. Dan itu memang yang saya suka dari istri saya itu, yang saya tidak punya itu adalah ketegasannya gitu, saya tidak punya itu. Dia seringkali, mas, pake ini, gitu ya. Jadi, menguatkan saya untuk mengambil keputusan, itu yang saya, salah satu yang saya suka dari istri saya itu, ketegasannya. Saya kurang punya gitu. Kadangkadang, mas seperti ini ya, dengan pertimbangan, ya kalo memang itu memang iya ya, ok, maju kita, seperti itu. Kan, nikahnya melalui proses taaruf kan pak, perkenalannya juga singkat, gitu. Terus bagaimana cara bapak menyesuaikan diri dengan pasangan bapak di awal-awal pernikahan? Subhana Allah, saya pun, e.., istri yang ini, saya masih grogi waktu itu, tapi terus, istri yang langsung memegang tangan saya, jadi, dan saya pun, serr, gitu kan. Terus, waktu di kamar gitu kan, dia langsung, dia yang buka bicara. Apa panggilan kita gitu, terus, dia langsung itu gitu. Mengakarabkan diri. He-e. Mengakrabkan diri. Ya, seperti itu, langsung kita tangkap gitu. Jadi ya, apa ya, gimana kalo saya panggil mas, ya saya setuju. Setelah itu ya, mungkin udah lihat foto-foto ya, foto-foto kita? Belum. Hehehe, sebenarnya ya macam kenal lama gitu, jadi gak ada, macam kenal lama gitu, jadi ya, Subha Allah gitu. Ya, cepatlah pengakrabannya. Cepatlah Cuma, mungkin dah lihat fotonya, jadi, kalo gak. Iya, tadi kakak udah bilang. Artinya, itu tidak terlalu pengaruh ya pak, perkenalan yang singkat itu tidak terlalu berpengaruh? Penilaian responden terhadap kepribadian pasangannya cukup baik, disamping memang masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. Responden senang dengan sifat tegas istrinya yang mana sifat ini kurang ada pada diri responden. Hubungan responden dengan pasangannya di awal-awal pernikahan, responden masih grogi, namun istri mampu mengkondisikan dan mengakrabkan diri dengan responden, sehingga suasana tegang diantara mereka menjadi cair. Walau perkenalannya dengan pasangan cukup singkat, namun ini tidak menjadi hambatan bagi mereka setelah menikah, keduanya mampu dengan 66
68 Enggak, enggak. Ya, memang, istri mungkin pandai gitu ya, pande apa, cepat mengakrabkan diri. Jadi ya, dia seperti itu, kita pun ya harus, masak dia sudah buka kita tidak apa, seperti itu. Sekarang kan sudah menikah kan pak, bagaimana perasaan bapak dalam menjalanai peran-peran bapak dalam rumah tangga, baik sebagai ayah, sebagai suami. Bagaimana perasaannya dalam menjalani itu semua? Ya, yang penting, semuanya itu, baik saya, itu masih banyak kekurangan gitu kan, sebagai suami gitu ya. Tapi ya, gitu pun kita selalu komunikasi sama istri kita gitu, ya seperti inilah mas, jadi tolong dibantu kekurangankekurangannya. Apa-apa yang masih kurang gitu kan, itu tolong. Sebelum tidur itu kadangkadang kita sering cerita gitu, apa kekurangan adek mas, jadi sering ini, sering sharing, apa, karena kan kita tim gitu ya, gak boleh sendiri-sendiri. Mungkin ya, insya Allah mengurus anak, mengurus semuanya itu ya, sama-sama lah gitu. Terus, menurut bapak, bagaimana pengaruh pola asu orang tua dulu, terhadap diri bapak dalam, setelah menikah ini? Gimana manfaatnya? Ya, manfaatnya ya, pola asuh ya, pola asuh. Gimana pengaruhnya pendidikan yang diberikan orangtua terhadap diri bapak? Memang ya alhamdulillah memang kita berasal dari keluarga yang ini sering dulu diajarkan shalat. Dulu, baik-baik semua. Keluarga mamak tu orang-orang nya yang suka shalat ke masjid, jadi artinya sampai sekarang terbawa terus. Memang, itu tadi ya. Ya, orangtua yang menikah lagi, istri khawatir, ya itu ya, dijauhilah. Berbuat baiklah dimana saja dan dengan siapa saja dan tanpa pamrih gitu kan. Karena, mamak seringkali mengingatkan kita, karena kita tidak tahu, ya walaupun nanti mamak berbuat baik, ya mungkin tergantung dengan kalian-kalian ini. Jadi kalian juga begitu, kalian berbuat baik, maka orang lain berbuat baik sama mamak. Itu yang sering, sering, berbuat baiklah sama orang dimana pun berada. Dan itu memang, saya ikuti, waktu sebelum menikah, saya pernah ke Parapat. Insya Allah orang tua angkat saya disana itu empat, ada satu, dua, tiga, tiga orangtua angkat itu yang, yang kalo lagi, lepas makan lah gitu, walaupun cepat menyesuaikan dan mengakrabkan diri dengan baik. Responden merasa mash banyak kekurangan sebagai suami, maka ia sering berkomunikasi dan sharing dengan pasangannya, untuk saling bekerja sama dalam menjalani peran-peran dalam rumah tangga. Ayah responden yang menikah lagi, menimbulkan kekhawatiran bagi istri responden, khawatir bila responden melakukan hal yang sama. Penanaman nilai-nilai moral dari pengasuhan orangtua sejak kecil terus melekat dalam diri responden hingga saat ini dan itu memberi manfaat yang baik bagi diri dan keluarganya. 67
69 ada uang makan dari keluarga itu ya, silahkan gitu, terbuka rumah kami, gitu. Seperti itu. Kalo masalah pengaruh pendidikan, gimana pak. Bagaimana pengaruh pendidikan bapak terhadap rumah tangga bapak? Pendidikan ya. Kebetulan saya tamat SMA. Memang keinginannya kan memang ya, dulu pengen kuliah. Ya, kerja sambil kuliah. Tapi ya itu memang Allah mungkin lain jalan ceritanya, udah nikah aja. Mungkin siapa pun keluarga itu ingin anak-anaknya nanti ya gak seperti orang tuanya ya, artinya mungkin lebih baik lah. Tapi ya, alhamdulillah saya sering denger gitu, bimbingan sabtu itu. Mungkin sukma pun perlu dengar juga. Acara apa tu pak? Di Smart FM. Smart FM, sabtu jam? Jam 10 sampe 12. Jadi itu, sering, bagaimana cara mendidik anak. Alhamdulillah semacam kuliah juga ya saya dengarkan. Karena itu, kayak yang kemaren saya bilang kan, kita tidak ada sekolahnya, karena itu, disitu dikasih tau bagaimana. Tidak mesti, anak itu potensinya macam-macam, jadi bisa dilihat tidak dari ya, sekolah itu hanya sebagai jenjang. Jadi, karena kalo disana itu dia seing mencontohkan Leonardo Da Vinci. Itu tidak anak sekolahan gitu, tapi dia, kalo sekarang dia dikenal Homeschooling gitu. Tapi, subhana Allah banyak temuan-temuan dia yang sekarang dipatenkan. Jadi ya, seperti itu. Yang penting itu, tidak usah jauh-jauh ya. Mudah-mudahan nanti, taat pada Allah nya juga rasul nya juga berbakti kepada kedua orang tua nya dna mudahmudahan berguna. Mungkin itu bagi saya sudah lebih dari cukup. Apalagi dengan pada masa sekarang ini melihat pergaulan, cukup apa, harus kita jaga. Berarti pendidikan juga sangat penting dalam sebuah rumah tangga. Iya, betul memang. Walaupun tidak secara formal, artinya secara informal juga kita tetap mencarinya. Iya, iya, benar. Terus, bagaimana pak, menurut bapak, pengaruh atau peran agama dalam rumah tangga? Ya, sangat penting sekali ya. Apalagi kita ya, alhamdulillah, kita, subhana Allah yang, kita sudah ada basic agama yang cukup baguslah. Menurut responden, pendidikan cukup berperan dalam rumah tangga, khususnya dalam mendidik anak-anak. Makanya, responden yang hanya tamatan SMA ini mengimbangi pendidikannya dengan selalu mendengarkan acara bimbingan buat keluarga disebuah stasion radio. Bagi responden, peran agama sangat penting untuk menjadi landasan dalam 68
70 Jadi, jangan sampai anak-anak kita, ya, bukan menjadi ustadz kan, setidaknya menjadi anak yang baiklah, sholeh, ditengah-ditengah masyarakat diterima itu dan yang penting, nilainilai agama memang dari rumah dulu diapakan. Dan yang paling, em.., guru yang baik itu adalah orang tuanya. jadi, contoh orangtua dulu, jangan anaknya disuruh shalat, orang tuanya gak shalat. Ayo ke masjid, gitu kan. Jadi, contoh dulu kita kasih, yang baik, baru sama-sama. Jadi, agama itu, harus paling utamalah, pentinglah bagi saya. Gitu kan. Terus, bagaimana pak menurut bapak, pengaruh, bapak kan dengan kakak berbeda suku. Bagaimana pengaruh perbedaan suku itu dalam hubungan bapak dengan kakak? Saya kira tidak ada masalah ya, karena saya waktu mau menikah dulu itu, memang kalo bisa jangan satu suku, gitu. Ya, selain itu baik kan untuk keturunan, terus menambah saudara kan gitu kan. Kan baik kita kan keturunannya ya, kalo lain suku, mudah-mudahan baik gitu ya. Bukan berarti satu suku tidak baik, artinya ya, menambah saudaralah, juga menambah suasana yang beda gitu ya. Gak Jawa-Jawa aja. Padang. Ya, adik saya, saya pertama Padang, yang kedua Batak, yang ketiga Padnag juga, yang keempat kemaren yang baru nikah itu, Nuri itu, itu dapat Batak juga, sama mamaknya Sunda memang. Jadi, tidak ada yang Jawa. Ntah yang kelima itu nanti, tinggal satu lagi, laki-laki. Iya ya. Dalam masalah komunikasi ya kan, dalam kebiasaan-kebiasaan, kan dalam setiap suku itu kan punya kebiasaan-kebiasaan sendirisendiri. Tidak ada kesulitan? Tidak. Tidak ada kesulitan. Artinya ya, walaupun, macam Padang kan, kalo dah Padang Medan, gak parah-parah kali kan. Semacam Jawa, Jawa Medan udah, ada kan ya sekadarnya aja. Waktu nikah pun, gak ada yang misalnya, pijak telor. Cuma ya, pakaian adatnya ada. sebuah rumah tangga. Untuk menanamkan nilainilai agama pada anak, orang tua harus bisa menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anakanaknya di rumah. Responden tidak mengalami masalah ataupun kesulitan terkait dengan perbedaan suku dengan pasangannya, karena dari awal sebelum menikah pun responden berharap menikah dengan pasangan yang berbeda suku darinya. 69
71 VERBATIM Responden I (Ta aruf) Wawancara III Tanggal: 13 Mei 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 30 Menit Subjek : Suami Pelaku Bapak bilang sifat kakak gampang merajuk. Itu gimana pak, perasaan bapak dengan sifat kakak yang gampang merajuk? Ya, dulunya gitu, mudah merajuk, tapi belakangan ini setelah kita kasih masukan, alhamdulillah berkuranglah gitu kan. Istilahnya kalo saya gak bilang merajuk, saya bilang merujak. Jadi kalo ummi itu lagi agak apa; yah pedas rujaknya ini. Jadi agak menghibur juga. Jadi ya memang kalo pertama itu memang kecewa gitu. Kalo saya pribadi kalo dirajukin gitu ya sungguh tidak enak gitu ya. Jadi kalo ummi marah gitu dibilangin aja dari pada kayak gini. Cuma ya namanya wanita memang seperti itu kebanyakan. Solusinya ya kita sharing dan kalo dia merajuk, hatinya sudah enak baru kita bicarakan, kenapa. Ini, ini, ini, abi tadi kayak gini. Oh...,maaflah kalo gitu ya. Biasanya kakak merajuknya dalam hal apa pak? Kadang-kadang cemburu, terus kadangkadang ada satu hal yang misalnya mau pergi gitu kan, kadang-kadang saya pun itu, saya kalo jumpa temen bukannya itu bukan lupa, keasyikan gitu, keasyikan ngobrol, bicara ini. Seharusnya mau pergi, nanti telat taunya. Kadang-kadang ini ya. Kalo sekarang udah gimanan pak? Sekarang kondisinya dah seperti apa? Sifat kakak? Yah, itu ya, yang dulunya apa sekarang ini apalah, ada, ada juga, cuma ya, gak sesering dulu, waktu baru-baru, baru perkenalan gitu kan, sedikit aja udah apa gitu. Sekarang ya seringnya sharing, seringnya dikomunikasikan, kenapa gini, gini, gini, sekarang dah jauh berkuranglah. Terus bagaimana respon kakak ketika bapak menetralisir, memberi penjelasan saat dia cemburu? Pemaknaan Responden merasa kecewa dengan sifat pasangannya yang mudah merajuk. Belakangan ini sifat pasangan responden yang mudah merajuk sudah berkurang, ini berkat masukan-masukan yang sering diberikan responden ke istri agar jangan mudah merajuk. Penyebab merajuknya istri responden selama ini terkadang disebabkan karena perasaan cemburu dan juga bila terjadi ketidaksesuaian antara rencana yang telah dibuat dengan kenyataan yang terjadi. Menurut responden sifat istrinya yang mudah merajuk saat ini sudah lebih berkurang dibanding dulu, karena sudah semakin sering dikomunikasikan bila ada masalah. 70
72 Ya, misalnya keadaan hatinya udah sejuk, udah tenang ya, kita tanyakan, terus kadang-kadang gini, seringnya memang salah paham atau tidak nyambung, tidak di tabayun (dikonfirmasi) dulu, mengapa tadi kok lama gitu kan. Jadi sebelum kita cerita dia sudah merajuk duluan gitu kan. Seharusnya kan di tabayun dulu makanya kadang-kadang tabayun dulu mi gitu lo. Ditanya dulu kenapa abi terlambat. Jadi setelah kita jelaskan ya seperti itu. Tapi ya, dah merajuk duluan. Kenapa seperti itu. Ya. Kemaren kan bapak ada bilang bahwa saat sebelum menikah kan bapak ada proses shalat istikharah kan. Disitu bapak katakan selesai shalat istikharah itu perasaan bapak itu tenang, nyaman gitu gak ada gejolak apapun. Itu maksudnya gimana pak? Perasaan tenang, nyaman gitu, dengan kebijakan bapak dalam mengambil keputusan akan menikahi calon istri bapak saat itu? Ya, maksudnya ya. Pernah, dulu pengalaman, mungkin shalat istikharahnya, mungkin ini melalui, yang beberapa kali gitu ya, artinya ada satu yang mengambil keputusan, keputusan itu tidak cocok, terus, masalahnya itu, pertama dinampakkan, terus yang keduanya, akhirnya tidak nyaman gitu, gelisah gitu ya. Kenapa kok gelisah gitu. Terus setelah kita kesana, rupanya ada satu hal yang mungkin memang, itu loh, o itu dia. Tapi waktu yang sama istri ini kita sahalat istikharah, ya kok luwes, sekeluarga kemari kok nyaman-nyaman aja, katanya, ya udah selo aja gitu. Kayaknya, kayaknya, kayaknya, jodohlah ini, kayaknya lancarlah ini, mungkin mudah-mudahan gitu kan, terus gitu pulang orangtua dari sini, gimana? Ya alhamdulillah, ya lancar-lancar aja Fer. Oya. Alhamdulillah, berarti, artinya, ya itu jodohku, gitu. Terus kan pak, sekarang pernikahannya kan sudah tiga tahun ni. Bagaimana perasaan bapak dalam menjalani pernikahan yang sudah tiga tahun ini? Ya perasaannya ada senang, juga ada susah. Namanya kehidupan rumah tangga pasti ada itulah ya, gejolak. Kembali lagi, tinggal kitanya yang menyikapinya bagaimana. Intinya, rumah tangga ini kan, terus kita Istri responden seringnya sudah merajuk duluan sebelum mengkonfirmasi terlebih dulu penyebab masalah yang timbul kepada suaminya. Responden merasa tenang dan yakin memutuskan untuk menikahi calon istrinya saat itu karena setelah shalat istikharah ia merasa tenang, nyaman dan segalanya dimudahkan saja, beda dengan pengalamannya saat proses dengan calon sebelumnya dimana ia merasa tidak nyaman, gelisah sampai akhirnya Allah menunjukkan ketidakcocokan responden dengan calon sebelumnya tersebut. Perasaan responden selama menjalani pernikahannya yang sudah tiga tahun ini, ada perasaaan senang dan juga ada susah. 71
73 harus belajar. Supaya bagaimana, apalagi saya juga baru berumah tangga. Semua kepala rumah tangga pasti menginginkan rumah tangga itu ya lancar-lancar saja. Ya seperti kita doakan, jadikanlah keluarga kita itu sakinah mawadah warahmah. Dan Allah kan tidak akan menguji hambanya. Kamu tidak akan dikatakan beriman sebelum kamu diuji. Kan seperti itu dia. Jadi pasti ada. Artinya, riak-riak dalam kehidupan rumah tangga itu pasti ada, tidak menutup kemungkinan. Tinggal kitanya gitu lo menyikapinya bagaimana. Bijaksana gak, gitu lo. Makin kita tidak bijaksana, ya mungkin rumah tangga kita tidak akan bahagia gitu ya. Lagi-lagi itu komunikasi, itu komunikasi sangat ditingkatkan sekali memang. Komunikasi itu dalam artian seperti apa pak? Ya, kalo ada sesuatu hal yang dalam bentuk apapun itu, ya, agar nyambung harus dikomunikasikan, harus di apa namanya, diberitahu, gitu, supaya jelas gitu lo kejadiannya seperti ini, agar di tabayun dulu, apa, dikomunikasikan. Jangan sampai yang, ya intinya jujur gitu ya, jujur sama pasangan, gitu. Tidak ada yang dibelakang, main belakang lah gitu kan. Dari tiga tahun pernikahan ini, menurut bapak masa-masa mana yang paling menyenangkan bagi bapak dalam pernikahan ini? Ya, maksudnya ya, sebelum punya anak kita memiliki keleluasaan untuk berdua-duaan. Subhana Allah, Allah termasuk menangguhkan kita punya anak ya, itu juga. Setelah kita kebagiaan itu, ya Allah memberi amanah, ya itu kita juga bahagia mempunyai anak, kan gitu kan. Yang pertama dan yang kedua juga. Diberikan anak kedua, ya insya Allah sepasang gitu ya, sesuai dengan keinginannya. Menurut bapak masa yang kurang menyenangkanya saat kapan pak dari masa-masa itu? Kalo dibilang kurang menyenangkan memang tidak ada. Cuma ya, kalo kadang-kadang saya, masa-masa yang kurang menyenangkan, saya rasa tidak ada. Sampai saat ini memang belum ada masa-masa kritis. Jadi mungkin, masa yang mungkin, itulah, yang ada riak-riak itu lah. Masa-masa apa, belum ada. Menurut responden masalah itu wajar saja dalam rumah tangga, tinggal bagaimana agar individu di dalamnya mampu menyikapi setiap persoalan dengan bijaksana. Menurut responden, komunikasi dan kejujuran dengan pasangan sangat penting sekali untuk selalu dibina dalam sebuah rumah tangga, sehingga setiap masalah yang muncul akan menjadi jelas dan dapat diselesaikan dengan baik. Masa-masa sebelum hadirnya anak memberikan keleluasaan pada responden dan istri untuk berduaduaan dan lebih mendekatkan diri satu sama lain. 72
74 Kalo bagi bapak, mana yang paling menyenangkan, sebelum memiliki anak atau sesudah memiliki anak? Ya, kalo itu. Pada dasarnya memang kita keluarga pasti menginginkan seorang momongan. Jadi bahagia berdua ato pas punya anak, itu juga. Ya kita harus, belum diberi anak pun kita harus bahagia. Cuma kan memang kalo anak ini kan amanah dari Allah, tinggal kita, gimanan amanah yang diberikan Allah ini agar nantinya kelak akan juga membahagiakan kita. Pada dasarnya ya, kita harus bahagia kan gitu. Apalagi kita di dunia ini tidak lama hidupnya. Jadi jangan sia-siakan kehidupan yang singkat ini. Kan kemaren bapak bilang kan, suami istri itu adalah satu tim. jadi bapak, ketika kakak ada kekurangannya disatu sisi, bapak bisa melengkapinya, gitu. Kemudian bapak juga memberikan masukan-masukan ke kakak untuk mendengarkan acara di radio itu ya. Terus bagaimana pak respon kakak ketika bapak memberikan nasehat untuk mendengarkan radio atau nasehat-nasehat yang lain? Alhamdulillah menerima gitu ya. Artinya ya karena memang kita tekankan, mas tidak akan bisa berhasil kalo tanpa bantuan ummi, gitu. Itu salah satunya. Terus kebahagiaan seorang suami itu karena ada istri dibelakangnya yang memang lebih, bagus gitu. Kita memberi masukan sama dia. Alhamdulillah ya apa yang kita bilang, tolong dengarkan ini, ini, dengan bahasa yang apa kan, walaupun,untuk kebaikan kita bersama, tapi ya tetap, kita minta tolong gitu ya. Tolong dengarkan ini mi, nanti jam sekian-sekian. Tolong, apa. Ada bahasa tolongnnya gitu ya. Ya artinya kan kita harus belajar gitu lo, karena hidup ini gak ada sekolahnya. Alhamdulillah istri menerima gitu ya, dengan lapang dada, kan memang kalo kita lagi capek gitu kan, tadi gimana, dengerin? Dengerin. Kita sharing lagi malamnya, gini, gini, gini. Oya, padahal sama-sama dengeri, tapi ya sharing juga gitu lo. Artinya, kakak tetap menerima ketika bapak memberikan masukan-masukan. Iya. Selama masukan-masukan itu baik ya, mudah-mudahan didengar. Kemaren bapak juga ada bilang kemaren ada masukan-masukan dari kakak yang kurang Istri responden menerima dan melaksanakan masukan-masukan yang diberikan responden kepadanya dengan baik demi kebaikan bersama. 73
75 berkenan ataupun kurang cocok dengan bapak, lalu bapak menjelaskan, tidak seperti itu mi, seperti ini, seperti ini. Maksudnya masukanmasukan kakak yang kurang berkenan itu misalnya seperti apa pak? Kadang-kadang ini, masalah usaha. Usaha? Usaha air ini kan. Kadang-kadang ada langganan yang tidak kita antar, itu tolong diantarlah. Karena, mengapa tidak kita antar, karena orangnya memang. Ya, penilaian istri dan saya beda gitu. Nanti kalo langganan gak diantar lari. Tapi saya punya pandangan lain, mau kadang saya malas gitu, ada satu yang mengganjal. Masukan yang lainnya, kadangkadang menanggapi masalah ya terlalu cepat menyimpulkan gitu. Jadi seringkali itu kita bantah, jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu gitu. Karena kita harus dengar dari dua belah pihak, kan gitu. Jangan langsung apa. Iya mas. Jadi kadang-kadang dia diterima juga begitu kalo memang apa. Respon kakak gimana pak? Ya, pada intinya nerima gitu ya. Seperti itu ya. memang ada juga yang ya, kadang-kadang kita punya bukti gitu ya. Benar gak. Jadi kadangkadang sampai titik yang kita tunggu itu, Ha kan, ini kan. Baru dia, Iya. Istilahnya masalah itu berproses dia kan, kita jelasin tidak pada itu kelihatan, akhirnya pada keesokan harinya, Ha kan, apa abi bilang kan, seperti itu kan kejadiannya. Misalnya itu pak seperti apa? Ya macam ini. Baru aja istri nyeritain kan. Ada langganan air disini, males kali saya ngantarnya. Istri ngotot suruh ngantar. Terakhir rupanya orangnya bermasalah dan sekarang pindah, botol kami dibawa. Tadi pulang, mas, mas, rupanya kakak itu rumahnya dah pindah. Ha... Tapi, tapi saya gak apa. Ya udahlah, ya udah gitu. Nantilah biar cari tau. Terus pak, bagaimana harapan bapak dalam mengisi waktu luang bersama keluarga bapak? Kemaren kan bapak bilang belum pernah ni wisata berdua dengan kakak. Itu bagaimana? Ya memang, karena memang kesibukan di daqwah ini, kadang-kadang bukan terlupakan, tapi waktu yang sempit gitu ya. Apalagi di Polonia ini, memang kadernya masih sikit. Jadi ya, dan yang mau kerja itu hanya beberapa Menurut responden, terkadang istrinya terlalu cepat dalam menyimpulkan suatu masalah tanpa mengkonfirmasinya lebih dulu. 74
76 orang, tidak semua, termasuk saya yang bisa dibilang kesana kemari gitu. Memang kalo ada waktu luang ya harus dimanfaatkan gitu loh. Dimanfaatkan. Ya kadang-kadang memang lebih sering sama anak-anak daripada ummi nya, karena ummi nya disitu kan. Cuma memang kalo pigi berdua, artinya, saya memang belum bisa. Kadang-kadang istri suka, ayo mas, pigi berdua gitu terus ninggalin anak-anak gitu, saya belum bisa. Artinya, memang ya harusnya dilakukan juga gitu lo, karena ya kita dulu menikah tidak dengan pacaran, jadi mungkin kadang-kadang istri pingin juga berdua-duaan. Ya, memang kalo apalah, untuk ngantar-ngantar ngaji, ngantar apa, bisa ninggalin anak. Tapi kalo pigi-pigi itu ya, agak jauhan gitu kan, agak lama ya, mau pigi berdua itu, gak, belum, saya berdua ma istri. Istri maunya kan, kepingin gitu. Tapi saya pribadi kadangkadang, udah bawa ajalah, bawa aja. Kayaknya karena dah satu keluarga gitu kayaknya gak lengkap kalo gak ngajak anakanak. Terus kemaren bapak juga ada bilang bahwa adanya suatu masalah dalam rumah tangga ti membuat bapak semakin sayang sama istri. Itu apa tu pak yang membuat masalah itu membuat bapak jadi makin dewasa dan makin sayang ma istri? Memang ya setiap ada masalah memang, kita semakin dewasa dan semakin cinta sama istri, gitu ya. Kita sharing, kasih masukan, istri juga mengerti apa yang kita mau bahwasanya kita harus seperti ini. Jadi kan, pola pikirnya berubah, jadi ada sesuatu yang muncul dari situ, kalo bahasa apanya inner beauty. Kita pun, subhana Allah, alhamdulillah istriku mau mengikuti yang kita inginkan. jadi itulah timbul rasa makin cinta, makin cinta, makin cinta. Alhamdulillah ya, kita punya istri yang istilahnya dikasih penjelasan terus dikasih apa, dia mengerti dan itulah yang menjadi pendewasaan bagi dia, dia juga, apa yang kita inginkan bersama bisa berjalan bersama, bahwasanya inilah yang kita harus tempuh. Dari situlah makanya timbul rasa cinta itu. Kemauan kita bersama-sama dan dia juga mau, kita juga mau, sama yang kita mauin dan Harapan responden agar dapat mengisi waktu luang bersama seluruh keluarganya, bersama istri berdua dan juga bersama anak-anaknya. Istri responden sering berharap untuk dapat sesekali pergi berdua dengan responden tanpa membawa anak, namun responden merasa kurang lengkap saja bila pergi tanpa membawa anak-anak. Menurut responden, masalah dalam rumah tangga dapat semakin medewasakan dan membuatnya semakin cinta dengan pasangannya karena dengan ada masalah membuat ia dapat melihat kepatuhan istri pada dirinya sebagai suami, dan adanya masalah membuat keduanya sama-sama belajar dan terus memperbaiki diri untuk lebih baik lagi, sehingga semakin hari semakin mendewasakan diri 75
77 kadang-kadang yang lucunya lagi, apa yang kita ingin sampaikan, ternyata istri juga ingin menyampaikan itu, gitu. Jadi itulah kan mi, kita banyak kesamaannya gitu lo, jadi jangan ada hal-hal yang beda sikit kita jadi apa. Iya mas, iya bi. Jadi, itulah timbul rasa cinta itu. Jadi itulah timbul rasa makin cinta, makin cinta. Terus pak, bagaimana kesepakatan bapak dalam hal pengasuhan anak? Kalo kesepakatan yang tertulis itu tidak ada. jadi ya, kita sama-sama mengerti aja. Lagi-lagi anak itu memang tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab ibu. Jadi, macam tadi pulang aja, ya walaupun saya capek tapi itulah subhana Allah nya Allah ini ya, saya capek kerja, tapi lihat anak, apa gitu, lihat istri kerja apa gitu, hilang rasa capeknya, jadi istri beresin yang lain, jadi kita main-main sama anak. Tapi karena hujan, kalo gak saya ajak jalan-jalan sore tadi. Terus kalo abi pulang, istri kurang enak perasaannya gitu, mau marah, setidaknya siapa yang apa, serahkan sama yang tidak marah. Biar anak itu tidak terkondisi dengan apa kita. Kadang-kadang kan kalo bahasa apanya sewot gitu ya. Jadi apa sikit anak dibuat langsung keluar gitu kan, kita jaga itu, jangan sampe seperti itu. Jadi betul-betul kita hati-hati dalam mendidik anak ini. Karena kan anak ambil contoh dari orangtuanya gitu ya. Jadi apa kondisi orangtuanya akan ia contoh. Jadi kalo ummi nya marah, abi lah yang ngomong ma anak gitu juga dengan ummi, saya agak capek sekali, kurang enak, ummilah yang apa. Jadi anak itu tidak ada terkontaminasi dengan kita. Berarti dalam pembagian peran dalam mengurus anak, berarti dua-duanya terlibat dalam pengasuhan anak. Itu harus, karena anak itu juga perlu figur ibu dan figur ayah, kecuali yatim piatu ya, itu lain cerita. Tapi kalo masih ada berdua, perlu dua-duanya. Itulah tadi satu tim kan, kerjasama yang baik tidak hanya dalam hal-hal berdua aja, tapi ya anak juga ya gimana. Lagi-lagi memang ya kalo kita bisa memilih sesuatu, ya ada jatah untuk istri. Untuk istri, untuk anak, untuk bersama-sama. Cuma memang me-manage waktu untuk istri belum bisa, jadi sejatinya harus sama-sama juga. keduanya. Menurut responden, tanggung jawab pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama, ibu dan ayah, jadi anak bukan hanya tanggung jawab ibu saja. Responden dan istri saling bekerja sama dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Ketika responden dalam keadaan marah atau sedang tidak enak hatinya, maka pengasuhan anak diserahkan ke yang tidak marah, istri, dan sebaliknya jika istri yang sedang marah maka anak diserahkan ke abi nya, dengan tujuan agar anak tidak terkontaminasi dengan emosi orangtuanya yang dapat mempengaruhi sifat dan perilakunya nantinya. Responden berharap agar dapat memanajemen waktu sehingga memiliki waktu untuk berdua-dua dengan istri, namun saat ini ia masih belum bisa 76
78 Ya. Pak, beralih ke masalah seksualitas, karena memang harus ditanyakan juga. Gimana komunikasi seksual bapak dengan pasangan? Bentuknya seperti apa? Ya, kalo kebanyakan normal ya. Cuma ya kalo kita ingin melakukan hubungan itu baiknya dikomunikasikan, lagi-lagi komunikasi. Ada juga kita pernah baca buku, alhamdulillah ya, kalo berhubungan itu jangan langsunglangsung gitu lo, rayu sikit, cerita sikit, apa sikit, seperti itu. Dan memang kalo kita capek sekali, kita tidak lakukan, karena nanti ada yang tidak puas gitu. Jadi ya lebih baik di cut, cari waktu yang, biasanya kalo gitu pagi, atau hari libur, pagi, jadi sama-sama fit, jadi tidak ada yang merasa dirugikan, seperti itu ya. Jadi ya, dia ingin nyenangkan kita, kita juga ingin menyenangkan dia. Malah kadangkadang, mohon maaf, kalo setiap berhubungan itu kita ucapkan terima kasih ya mi, nanti, sama-sama. Memang selalu kita ucapkan rasa terima kasih kita kepada dia, dia juga begitu. Mengenai frekuensi itu gimana pak? Terkait dengan frekuensi yang ada selama ini gimana pak? Kalo yang baru ini memang, ya pada awal apa lebih seringnya itu seminggu dua kali. Cuma kadang-kadang kalo itulah, di rumah kalo gak ada kegiatan, itu juga bisa gitu. jadi itu masih anak satu kemaren, kalo ini belum, belum, karena masih apa kan. Kira-kira seperti itulah. Ya itu kita rasa sudah cukup karena itu tadi, kita tidak mau kita sama-sama lelah melakukan itu. Jadi tidak ada merasa satu enak satu enggak lah gitu. Jadi, harus samasama dua-dua merasakan, menikmati hubungan itu. Pak, beralih ke masalah kesetiaan. Kalo misalnya lah nanti ada misalnya godaan-godaan dari wanita lain. Gimana bapak menyikapinya? Jadi, itu pasti ada. Cuma yang diajari nabi ya kalo kita lihat wanita itu menggoda, ingat istri kita di rumah. Jadi, apalagi, la tkhrobu zinna, jangan dekati zina. Jadi kalo seperti itu kita jauhi aja, kita tetap menjauh. Cuma godaan itu pasti ada. Apalagi kerja kantoran ya. Tidak semuanya yang mengerti tentang agama. Tapi kita sekedar hanya say hello aja, ya kita sapa, tidak ada hal-hal yang mendalam gitu kan, melakukannya. Menurut reponden, ketika ingin berhubungan seksual, maka keinginan tersebut harus dikomunikasikan terlebih dulu ke pasangan. Jika ada salah satu yang sedang capek atau kurang fit, maka tidak jadi melakukan, karena khawatir akan merugikan yang lain karena hasratnya tidak terpuaskan. Biasanya selesai berhubungan seksual, responden mengucapkan terima kasih kepada pasangannya, begitu pula sebaliknya, sebagai wujud rasa terima kasihnya pada pasangannya. Responden merasa cukup dengan frekuensi hubungan seksualnya dengan istri, karena keduanya menjaga agar saat berhubungan keduanya dalam kondisi fit sehingga keduanya menikmati hubungan tersebut tanpa ada yang merasa tidak enak. Bila ada godaan wanita lain, responden berusaha untuk menjauh dan menjaga jarak, ingat istri di rumah dan tidak mendekati zina, sesuai pesan agama. 77
79 karena memang kita kan di kantor perlu komunikasi. Kalo kita kaku juga, mereka juga, kita perlu sesuatu informasi dari dia, dia tak akan beri kan gitu kan. Jadi ya, kalo apa pun sekedar say hello aja. Nah kalo terlalu jauh kali pun, kita yang menjauh. Kadang-kadang yang selama ini di kantor, karena adah tau gitu, mereka mengerti sendiri memang. Ya insya Allah. Apalagi kita dah buat bendera kan, karena di meja itu dah banyak gambar PKS. O...PKS ini, lain ini. Ya, kita selo aja. Kemudian pak, bagaimana pengaruh orangtua bapak? Kita kan belajar dari pengalaman orangtua kita. Bagaimana bapak menilai pernikahan orangtua bapak itu terhadap sikap bapak dalam menyikapi pernikahan bapak saat ini? Satu yang saya tekankan sekali, jangan sampai, ya itu, saya menyakiti wanita, saya nyakiti istri. kenapa seperti itu, karena saya tahu sekali, gitu ya, karena saya anak paling besar di keluarga itu, bagaimana kalo istri itu disakiti, atau wanita itu disakiti gitu. Jadi, itu yang saya jaga. Makanya kadang-kadang kalo istri cemburu kan, udahlah mi. Mas sudah tau. Tapi insya Allah ya, mudah-mudahan Allah menjauhkan itu,makanya jangan ummi doadoakn seperti itu gitu. Dari dulu ya, dalam hati itu ya, jangan sampe lah istri atau apa tersakiti lah karena aku tau bagaimana seorang istri itu disakiti, diduakan, diapakan. Jadi ya, orangtua itu kan pisah, jadi kita ambil itunya gitu lo. Terakhir mungkin, gimana penilaian bapak terhadap pernikahan bapak sejauh ini? Ya, saya rasa walaupun tidak enak masih bisa dibilang masih kecil, masih perlu, kehidupan keluarga kita ini, apa yang kita cita-citakan seperti yang kita doakan. Kita selalu berdoa jadikan keluarga kami ini ya Allah, keluarga sakinah mawaddah warahmah. Jadi untuk mencapai itu tidak semudah membalik telapak tangan, perlu usaha, perlu pembelajaran, dan perlu pemikiran yang jauh, dan kelapangan dada, yang ada hal-hal yang, harus lapang dada. Kita terus berusaha suami istri. Mudah-mudahan Allah memberi yang terbaik bagi kita, agar memang, keluarga kita ini diridhoi dan dirahmati, agar yang kita cita-cita kan jadi kecapaian. Memang siapa pun Belajar dari pengalaman pernikahan orangtua responden yang pisah, membuat responden menerti bagaimana sakitnya perasaan wanita yang diduakan, ini mebuat responden bertekad untuk sebisa mungkin menjaga perasaan istrinya agar tidak tersakiti oleh perilakunya. Menurut responden keluarganya saat ini masih perlu untuk terus diperbaiki lagi, sehingga nantinya sesuai dengan apa yang dicita-citakan yakni menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. 78
80 keluarga, keinginan itu hidup bersama sampai nyawa memisahkan kita. Jadi itu yang berusaha mempertahankan cinta kita. Mudah-mudahan kita bersama-sama bisa membangun keluarga ini jadi yang kita inginkan. Jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Itu adalah cita-cita semua keluarga. Tapi itu tidak mudah untuk mencapai itu. Perlu perjuangan. Satu lagi mungkin pak, bagaimana penilaian bapak terhadap keadaan finansial bapak saat ini? Bagaimana harapan-harapan bapak kedepannya? Ya, kalo segi manusianya pengennya banyak. Cuma itu kan, kalo kita gaji kerja kantoran kan tidak mungkin lebih, kurang, dari tambahan apalah kan, yang tidak cukup signifikan. Jadi, kita harus belajar memanage keuangan itu. Ya, pandai mensyukuri nikmatlah intinya kan. Jadi gaji yang ada kita manfaatkan sebaik mungkin. Ya kalo ada rezeki tambahan ya alhamdulillah. Kita ada usaha ini kan, bisa untuk tambahantambahan. Itu pun ya menurut saya mudahmudahan rezeki itu nambah. Responden merasa kondisi ekonominya saat ini belum maksimal, responden berharap agar kedepan rezeki keluarganya dapat lebih meningkat dari sekarang. 79
81 VERBATIM Responden 4 (Ta aruf) Wawancara I Tanggal: 31 Maret 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 20 Menit Subjek : Istri Pelaku Waktu nikah kemarin, usia kakak berapa? Usianya 22, 22 tahun. Kemudian, apa alasan kakak menikah di usia tersebut? Ya...mungkin, ya...alhamdulillah sudah jodohnya disitu ya. Gak ada rencananya gitu. Cuma waktu SMA targetnya, di usia 20-an. Rupanya Allah mengabulin 22. Ya, alhamdulillah, masih 20-an juga. Bisa gak diceritakan kembali kak, flashback ke belakang, gimana proses perkenalan kakak dan abang? Ya, kalo proses perkenalan taaruf itu memang gak melalui pacaran. Beda orang yang pacaran sama orang yang dikenalin sama ustadzahnya. Kemarin itu proses perkenalan kakak itu, kemarin dikenalkan sama ustadzah kakak. Dikenalkan bukan langsung dipertemukan. Kita disuruh buat biodata, dan disuruh fotonya juga, beserta dengan foto. Jadi, walaupun proses taaruf itu beda dengan pacaran, tapi kita disuruh membawa foto, karena kan si calon itu ingin melihat calon istrinya, apakah ia sempurna secara dari jasadnya, seperti itu. Dan sebaliknya, suami juga kemarin di suruh ustadz nya untuk membuat biodata. Sama seperti yang kakak buat, lengkap, dari silsilah keluarganya, penyakit apa yang sering dialami, itu harus ditulia dibiodata itu, karena ketika nanti kita sudah berumah tangga dengan pasangan kita, biar kita tidak terkejut. Dari hal-hal yang terkecil harus dibuat di biodata itu, kesukaannya apa, minumannya apa, kebiasaannya apa, gitulah. Jadi, salah betul kalo orang bilang tanpa cinta bisa nikah. Ya, insya Allah yang kami hadapi, ya ini, baik-baik saja. Proses perkenalannya sampai akhirnya menikah itu berapa lama? Proses perkenalannya insya Allah cepat, Pemaknaan Usia saat menikah 22 tahun. Alasan responden menikah di usia 22 karena memang sudah jodohnya begitu dan memang sebelumnya punya target untuk menikah di usia 20-an. Responden mengenal suami melalui biodata dan foto calon suami yang diberikan oleh ustadzah-nya. Biodata tersebut berisi data diri, silsilah keluarga, penyakit yang sering dialami sampai dengan halhal kecil seperti kebiasaan dan kesukaan. Menurut responden, salah betul bila ada orang yang bilang bahwa tanpa cinta mustahil bisa nikah, karena telah terbukti pada diri responden dan suami bahwa sampai saat ini 80
82 kurang lebih sebulan. Itu, sekali taaruf, sekali pertemuan. Di proses pernikahannya pun, alhamdulillah lancar-lancar saja. Proses pernikahan ya prosesnya secara islami. Tidak memakai..ini ya, tidak memakai acara kibotkibotan, pesta-pesta, tidak memakai baju-baju selayar, lipstik, apa, tidak ya. Ya, memakai bajubaju muslimah, seperti itu. Ya, insya Allah kalo dilihat dari sejarah ato buku-buku cerita tentang nabi, ya seperti zaman-zaman rasulullah acara pernikahannya. Seperti itu. Insya Allah. Ya. Kan waktu perkenalannya singkat ya kak ya. Iya. Terus gimana hubungan kakak dan abang waktu itu? Itu tadi, alhamdulillah kita dengan cara pernikahan cara taaruf itu kan ada prosesprosesnya, ada proses sholat istikharah. Jadi, begitu, kita dianjurkan shalat istikharah. Alhamdulillah sekali shalat istikharah, itu tadi, insya Allah, mungkin karena jodoh tadi, begitu di sujud terakhir kok wajah sang calon suami yang terbayang. Seperti itu. Ya, alhamdulillah, shalat istikharahnyalah. Waktu itu, penilaian kakak terhadap calon pasangan kakak itu seperti apa? Penilaian kakak? Waktu proses taaruf itu. Ya, biasa aja. Ya kita berharap insya Allah dia suami terbaik untukku, untuk agamaku, untuk keluargaku. Itu aja, kakak berharap pada Allah aja. Begitu dipertemukan, karena kan ini. Sekali taaruf, waktu saya taaruf, maaf karena kakak yang duluan datang dirumah ustadzah kakak, sang suami agak telat, karena ustadz nya lagi ada acara waktu itu. Jadi, sambil menunggu mereka, ya itu. Kakak berharap, ya Allah kalo ini jodohku, insya Allah sekali proses taaruf, jadi. Insya Allah, dia baik untuk agamaku, keluargaku, dan semuanya. Apa yang buat kakak yakin saat itu bahwa calon pasangan kakak itulah yang akan menjadi suami kakak? Ya, itu tadi ya, di shalat istikharah tadi, karena kan shalat istikharah kan dua rakaat, di sujud terakhir itu, kakak terbayang wajah dia aja. Insya Allah iyu jawaban Allah, ya, Allah berikan. Padahal waktu ustadzah kakak ngasih biodata suami, calon suami itu ya, kakak tidak melihat fotonya dulu, karena insya Allah mereka dapat menjalani pernikahannya dengan baik, walau di awal sebelum menikah tanpa ada cinta diantara keduanya. Proses perkenalan dengan suami kurang lebih satu bulan, dan hanya sekali pertemuan dalam proses taaruf. Shalat istikharah sebagai bagia dari proses taaruf meyakinkan responden untuk memilih calon suaminya sebagai suaminya kelak. Penilaian responden terhadap calon suami saat taaruf, biasa saja, hanya saja responden berharap pada Allah semoga calon suami adalah yang terbaik. Pertemuan dalam proses taaruf dilakukan di rumah ustadzah responden. Responden yakin memilih suami dalam sekali proses pertemuan taaruf karena mendaat jawaban di sujud terakhir shalat istikharahnya. 81
83 komitmen kakak atai ke-tsiqoh-an kakak pada daqwah ini, ato pada ustadzah kakak, kakak tidak melihat foto dulu. Kakak yang kakak pentingkan biodatanya, siapa namanya, asal keluarganya dari mana, gitu. Dah gitu kesukaannya apa. Itu yang kakak lihat. Sementara foto itu masih di depan kakak. Mungkin ustadzah kakak saat itu ingin mencoba kakak. Kakak mo pilih mana nih. Mau lihat fotonya dulu ato biodatanya gitu kan. Jadi, waktu itu ustadzah menyodorkan fotonya duluan. Tapi yang kakak ambil biodatanya. Beda foto sama orangnya, dulu. Di fotonya itu orangnya kayak bapak-bapak kali. Terus lihat orangnya? Begitu lihat aslinya, kayak anak muda gitu. Iya. Jadi, usia pernikahan kakak udah berapa kak? Alhamdulillah sudah tiga tahun ya. Pas tanggal 20 malam. Tanggal 20 bulan tiga. Ya, alhamdulillah, hadiah pernikahannya Allah berikan itu sebuah anak laki-laki yang bernama Muhammad Shouqi Nur Rabbani. Jadi, anak kedua kami lahirnya pas di ulangtahun pernikahan kami yang ketiga tahun. Jadi kan, usia pernikahannya udah tiga tahun kan kak. Jadi, gimana kakak menilai pernikahan kakak saat ini? O... Karena beda usia kami lima tahun ya, suami tahun 77, kakak sendiri tahun 82, kan beda-beda lima tahun. Ya memang kakak akui kakak lebih kekanak-kanakan, karena kakak anak paling kecil, suami paling besar, ya alhamdulillah suami lebih ini dalam menyikapi sikap kakak. Yang jelas dalam rumah tangga itu gak yang mulus-mulus. Pasti ada ribut. Tapi, ya, alhamdulillah aman-aman saja. Kalo dari segi pernikahannya kak, kalo dalam rumah tangganya sendiri, dalam pernikahannya, gimana penilaian kakak? Pernikahannya? Maksudnya? Ya dalam pernikahannya. Hubungan dengan suami, dengan keluarga... O, ya, alhamdulillah, mungkin karena kakak orangnya, ini ya, bangsa yang cepat akrab, sama keluarga mertua lebih cepat akrab, karena waktu, istilahnya kita kan waktu habis akad, walimahan gitu kan masih kaku gitu ya sama orang tua suami. Karena kan baru sekali Usia pernikahan responden sudah tiga tahun. Responden mengakui dirinya masih kekanakkanakan, dan menurutnya suaminya dapat menyikapi sikap responden tersebut dengan bijak. Responden menilai pernikahannya saat ini aman-aman saja, walaupun sesekali pasti ada ributnya. Hubungan responden dengan keluarga suami cukup akrab, responden yang tipe cepat akrab dapat dengan mudah mengakrabkan diri dengan 82
84 ketemu gitu. Ya, kakak langsung manggil mamak, menyebutkan mertua itu langsung mamak, cepet gitu, akrab. Ya, alhamdulillah keluarga kami, kakak, lekat juga, cepat juga lekatnya. Dan sebaliknya. Jadi, alhamdulillah mungkin itu jodoh ya. Cepet. Dalam proses pun Allah memudahkan, dalam kedekatan antara kedua keluarga juga Allah memudahkan, cepet saling kenal, gitu kan. Karena kakak orangnya memang ini, cepat akrab sama orang, kalo orang bilang, sok kenal sok dekat, kakak biar aja orang mengatakan itu, yang penting kakak mendekatkan diri aja. Seperti itu. Terus kak, gimana penilaian kakak terhadap pasangan kakak sendiri, abang? Terhadap suami? Iya, suami. Alhamdulillah suami lebih banyak sabarnya ketimbang kakak, karena itu ya, kita kan... Allah mencipakan ada berbeda ya, ada yang keras, ada yang lembut. Jujur aja kakak orangnya keras, kakak sering suka merajuk. Ya, tapi alhamdulillah, suami yang sering sabar dalam menyikapinya. Gitu. Jadi, ya, insya Allah akhirnya baik lagi. Yang jelas gak pernah sampe tumbuk-tumbukan. Gak lah. Nauzubillah min dzalik, jangan sampe ya. Gitu. Terus, kan tadi kakak punya harapan-harapan sebelum menikah, kalo suaminya ingin seperti ini, seperti ini, seperti ini. Nah sekarang kan sudah menikah, gimana yang kakak rasakan, sesuai gak dengan harapan? Ya, alhamdulillah, itu tadi. Ya, alhamdulillah, banyak yang kakak inginkan dapat. Dari segi zihar, dari segi usianya, kakak ingin lebih tua dari kakak, minimal lima tahun. Ya, alhamdulillah Allah ngabulin. Terus yang badannya tinggi. Subhana Allah, Allah juga mengabulkannya. Dah gitu yang lebih dewasa dari kakak, alhamdulillah semua tercapai. Berkat doa-doa semuanya, ya, alhamdulillah berkat doa orangtua kakak juga gitu. Orangtua juga dukung. Sekarang kan sudah menikah kan kak. Jadi, dalam rumah tangga, dalam pernikahan kakak, gimana komunikasi kakak dengan abang? Ya, alhamdulillah bagus-bagus aja, baik komunikasi. Justru terlalu banyak komunikasi pun kami. Kadang-kadang kakak suka nelpon ke kantor, gitu kan, nanya, kek mana kerjaannya, sebaliknya suami pun gitu. Di luar suami nanya. mertua dan keluarga suaminya. Responden menilai suaminya sebagai seorang yang sabar, dan mampu menyikapi sifat responden yang mudah merajuk dengan sabar dan bijak. Harapan-harapan responden akan sosok suaminya responden dapatkan dari diri suaminya,baikdari segi usia, fisiknya, dan juga kedewasaannya. Komunikasi responden dengan suami cukup baik dan lancar. 83
85 Ya, alhamdulillah kalo komunikasi kami lancar. Seperti itu. Dimana pun berada tetep telpon-telponan, dialog. Kan wajar ni, dalam rumah tangga kan pasti tidak kita pungkiri pasti sering terjadi konflik. Gimana kakak, ketika ada konflik, bagaimana? Menanggapinya? He e, menanggapinya Seperti kakak bilang tadi. Mungkin terbawa karena kakak anak paling kecil kali ya, banyak merajuknya. Tapi, subhana Allah, ehm, ini, suami anak paling besar, dia lebih dewasa, dia lebih cepat menenangkan istrinya sendiri, gitu. Ya, alhamdulillah gak berlarut-larut gitu. Yang tadi kan tidak mesti sama, ada yang bisa menenangin dan ada yang sifatnya kasar, ada sifatnya lembut. Kakak memang orangnya agak keras memang, keras tapi tidak sembarang keras. Lihat-lihat juga. Seperti itu. Terus gimana kak, misalnya kakak terhadap pasangan kakak, terbuka gak? Ya, insya Allah terbuka. Ya, alhamdulillah gak ada yang ditutup-tutupi, kalo suami gak tau lah ya, kalo kakak, insya Allah kakak jujur aja. Ketika kakak cerita, gimana rerspon suami kakak? Cemana? Misal, ketika kakak bercerita, cerita tentang masalah yang kakak alami, tentang kejadian hari-hari ini, gimana respon suami kakak? Ya, alhamdulillah suami meresponnya. Dan juga dia mengasih tanggapan dan juga mengasih saran. Ya, alhamdulillah sarannya kakak terima kalo itu baik. Seperti itu. Terus, apakah pasangan kakak juga sering menceritakan dirinya ato tentang masalahmasalah yang dihadapinya ke kakak? Iya. Sering juga. Tapi, lebih banyak kakak yang nanya. Karena kan sebagai istri harus bisa melihat raut wajah suami. Gimana kerjaannya di kantor, kakak sering nanya, gimana abi kerjaannya, banyak apa gimana? Ya, alhamdulillah, dia jujur nanya. Ya, lumayanlah mi, katanya gitu. Jadi, kalo katanya lumayan berarti capek. Ya udah, gimana supaya dia agak tenang, kita service dari makannya, dari gizinya, dari apanya, seperti itu. Udah gitu, karena dah punya anak, kakak usahakan kalo abi nya istirahat, anak-anaknya kalo bisa jangan Responden menanggapi konflik yang ada dengan merajuk, namun tidak berlarut-larut. Suami responden lebih dewasa dan dapat menenangkan responden bila responden merajuk. Responden terbuka dan jujur dengan pasangan. Pasangan merespon komunikasi responden dengan memberi tanggapan dan saran. Pasangan responden sering bercerita dan berkomunikasi dengan responden tentang masalahnya, namun lebih sering responden yang menanyakannya sebagai wujud kepedulian dan perhatian kepada suami. Responden mendidik dan mengatur anaknya dengan 84
86 ganggu, biar kakak yang megang dulu, nanti udah selesai abi nya istirahat, baru kakak serahkan anaknya ke abi nya. Gimana pun kan, karena abi nya kerja dari pagi pulang sore, malam, anak harus sama abi, gitu, karena kan butuh juga dekat sama abi nya, nanti kalo dekat ma kakak aja, susah juga. Jadi harus lebih dekat gitu. Terus gimana kak kepercayaan kakak terhadap suami? Ya, kalo untuk kepercayaan kepada suami, ya insya Allah namanya manusia pasti ada rasa cemburu, gitu. Tapi, ya, alhamdulillah tadi, yang seperti tadi, suami lebih dewasa, dia juga pande menyikapi, memberi saran, jangan terlalu banyak cemburunya, nanti syetan yang berlebih-lebihan, katanya gitu. Insya Allah, kakak terima. Terus mengenai kejujuran, apakah kakak misalnya ada sesuatu, selalu jujur dengan suami kakak? Iya, kakak lebih sering cerita kalo ada masalah-masalah. Apalagi kan kalo dulu sebelum menikah, sama orang tua, sekarang lebih banyak curhat sama suami, tentang masalah kerjaan, tentang masalah daqwah, mungkin partai-partai, tukar pikiran ke suami dulu, gitu. Baru, suami kasih saran, kalo sarannya baik, kakak terima. Terus kan gini kak. Misalnya kita memiliki waktu luang, gitu kan. Biasanya apa yang kakak lakukan bila kakak punya waktu luang? Bersama keluarga. Kami waktu luang lebih sering, kalo gak jalan-jalan ato silaturahim, itu renang. Karena juga alhamdulillah, kakak juga guru renang, kakak lebih suka ngajar renang anak-anak. Jadi, anak kakak yang pertama, usia empat bulan itu dah kami bawa renang dan waktu kakak hamil yang kedua pun lebih sering renang. Jadi, kami lebih sering silaturahim, jalan-jalan, sama itu, berenang. Terus itu sambil jalan-jalan kami berdiskusi untuk memperbaiki atau untuk membicarakan target-target rumah tangga ke depannya. Jadi, diskusi, waktu luang. Terus kan, kalo mau pergi renang, ato mau silaturahmi itu siapa yang mutuskan kak? Kenapa? Yang mutuskan, yok kita kesini, ato kesini. Ya, sama-sama, sama-sama kami suka baik. Responden juga mengelola agar anak-anak juga mendapat kasih sayang dan pengasuhan dari ayahnya, yakni malam hari pengasuhan diberikan kepada ayahnya. Responden terkadang memiliki rasa cemburu, namun suami responden mampu menyikapinya dengan bijak. Responden sering cerita dan jujur kepada suami. Waktu luang sering diisi responden bersama keluarga dengan pergi jalan-jalan, silaturrahim, atau berenang. Sambil jalan-jalan, responden dan suami memanfaatkannya untuk berdiskusi tentang rumah tangganya. Keputusan untuk mengisi 85
87 silaturahim dua-dua, ngajak jalan-jalan, tapi lebih suka kakak jalan-jalan, lebih suka ngajak, kakak. Yok, abi, kita jalan-jalan kesini yuk. Dia nya, iya. Ya, alhamdulillah kalo memang gak ada acara lain, ya udah. Ya udah ummi. Tapi, kalo ada acara, ha, dia menjelaskan, afwan, abi lagi ada acara, nanti mau rapat di DPD. Alhamdulillah kakak terima gitu. Kalo kakak pengen, pulangnya cepet gak, kakak tanya, karena kan kakak orangnya suka jalan-jalan, ya kalo katanya cepat, ya kami jalan-jalan juga. Manajemen waktu lah ya. Iya, manajemen waktunya harus tepatlah. Seperti itu. Sekarang kita ke pertanyaan lain ya. Terus gimana kepedulian kakak terhadap agama? Kepedulian kakak sekarang kepada agama. Itu tadi ya, dari keluarga itu kakak apakan sesuai agama, dalam menata keluarga, dalam mendidik anak-anak pun kakak ajarkan sesuai dengan agama. Contohnya, jika abi nya pergi, kakak suruh anak-anak salaman dan ucapkan salam, seperti itu juga ketika makan, kakak ajarkan dia baca doa, karena dia belum bisa, jadi kakak yang bacakan, dia mengikuti. Apakah mengikuti dengan gerakan fisik, ato tangan, ato dengan ucapannya. Walaupun masih celat-celat, ya itu bisa dilatih. Jadi, insya Allah rumah tangga kakak, kakak penuhi dengan ehm..apa ya, mengikuti Al-qur an dan sunnah. Teruskan, sekarang kan sekarang udah menikah. Gimana perbandingannya, religiusitas kakak, ibadah-ibadah kakak, setelah menikah dibandingkan dengan saat sebelum menikah? Iya, lebih ini ya..dulu... Kualitas atau kuantitasnya. Kualitas ibadah waktu masih gadis dengan sekarang udah menikah, kayaknya kebanyakan lebih baiknya setelah menikah, karena ada dukungan suami ya, seperti itu. Mungkin kalo remajanya dulu, tahajud ato apa, tilawahnya masih agak-agak. Sekarang setelah menikah, kita mengkhatamkan berapa, hari itu bisa. Insya Allah. Jadi, setelah menikah religiusitasnya meningkat. Iya insya Allah. waktu luang dilakukan bersama, namun seringnya responden yang mengajak. Kepedulian responden terhadap agama diwujudkan dalam kehidupan rumah tangganya, yakni dengan menerapkan nilai-nilai agama, al-qur an dan sunnah dalam menata keluarga dan mendidik anak-anak. Religiusitas responden setelah menikah lebih baik dan meningkat dibandingkan sebelum menikah, karena sudah ada dukungan dari suami. 86
88 VERBATIM Responden 4 (Ta aruf) Wawancara II Tanggal: 21 April 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 35 Menit Subjek : Istri Pelaku Kan sekarang dah nikah kan kak. Kan wajar kalo dalam rumah tangga itu ada sering terjadi masalah-masalah atau konflik gitu kan. Itu bagaimana, cara kakak menyikapi atau mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada? Iya ya. Yang pertama ya, ditanya. Misalnya masalah keterlambatan pulang kerja, terus dia lupa, kan biasa, namanya manusia kan ada khilaf, ada lupa tanya, kenapa dia gak, kenapa dia terlambat, gitu ya. Itu pertama. Terus, e... apa... tidak sesuai dengan agenda, schedule yang kita atur, gitu. Itu kan bisa aja, kalo kita dah nyusun, tau-tau diluar agenda kita, seperti-seperti itu contohnya. Tapi gak langsung dibesar-besarin. Yang jelas komunikasilah. Komunikasi aja ya. Terus, bagaimana kak perasaan kakak dengan adanya suatu masalah itu? Ya, yang jelas sedih dan kecewa pertamanya. Tapi, kakak lama-lama ya istighfar aja. Oh ini salah satu kendala-kendala dalam rumah tangga yang harus diatasi. Ya, makanya, betul kata orang, rumah tangga itu bagus tergantung yang menjalankannya, gitu. Kalo orangnya sama-sama keras, makanya hancurlah seperti batu pecahlah dia seperti batu kan. E... pokoknya tergantung orangnya juga. Beralih ke masala finansial. Bagaimana penilaian kakak terhadap kondisi sosial ekonomi kakak saat ini? Sosial ekonomi keluarga? Maksudnya? Kondisi ekonomi keluarga kakak saat ini. Ya, alhamdulillah mencukupi, gitu ya. Ya, alhamdulillah kakak walaupun gak da kerja. Dulu kan ada kerja tetap, suami sekarang, dulu kami dua-dua sama-sama kerja tetap gitu. Sekarang cuma suami yang kerja menetap. Terus sekarang kakak ini aja, ada job-job panggilan Pemaknaan Responden menyikapi masalah yang ada dengan cara menanyakan penyebab masalah tersebut pada pasangannya, dan tetap mengkomunikasikanya dengan pasangan. Responden awalnya merasa sedih dan kecewa bila terjadi masalah dalam rumah tangganya, namun kemudian ia menyadari bahwa setiap rumah tangga tidak luput dari permasalahan dan harus diatasi dengan bijak. Menurut responden, keadaan ekonomi keluarganya saat ini mencukupi. 87
89 aja, gitu. Seperti itu aja. Insya Allah yang job panggilan itu udah tetap, sebulan dua kali. Iya ya. Kita kan gak seperti pekerja yang tiap hari kita masuk kerja, tidak. Sebulan, dua kali dipakai, seperti itu. Kak, yang mengelola keuangan keluarga siapa? Ya, alhamdulillah kami berdua, sama-sama, begitu. Yang lebih fokusnya? Ya, yang jelas kakak. Kakak ya. Terus gimana cara kakak mengelola keuangan? Ya, kakak kelola ya, pokoknya kakak atur. Jadi kalo misalnya gaji suami itu sekian, sebulan itu kalo bisa cukup, gitu. Bahkan alhamdulillah ada lebihnya. Itu tadi ya, kaya nya dalam rumah tangga itu tergantung istri. Kalo istrinya boros, maka keluarganya itu, e... Kebanyakan konflik-konflik dalam rumah tangga itu, keuangan, karena masalah uang ini bahaya, gitu. Ya, alhamdulillah, dari nafkah yang diberi suami bisa kita simpan, bahkan ada tabungan yang bahkan suami tidak tahu. Itu memang harus, suami tidak tahu, karena, kita gak tau ya, suatu saat ntah kejadian apa-apa gitu kan, terus, e.. jadi kita udah ada pegangan. Itu yang buat suami bisa bangga sama istri, ternyata istri diam-diam ada simpanan, simpanan dananya gitu. Kalo bisa, kalo masalah keuangan, bukan berarti ngajari bohong, tidak, sebagian harus dikasih tau, dan kalo bisa sebagian disimpan, jangan sampe suami tau, karena nanti kalo dia tau, nanti dia keenakan. Oh kan, kan itu ada lagi uang, kan ada lagi uang. Sebenarnya kita hemat, apalagi kita sudah punya anak kan, sewaktu-waktu ada keperluan mendadak sementara gaji suami belum keluar, gaji istri juga belum keluar. Nah gitu, kek simpanan yang rahasia itu bisa kita apakan, pergunakan, seperti itu. Beralih ke masalah keluarga. Sekarang kan sudah menikah, kan pasti dah punya keluarga baru ni. Bagaimana hubungan kakak dengan keluarga, pihak keluarga kakak, baik keluarga kakak sendiri maupun keluarga bapak? O... Ya, alhamdulillah ini ya, keluarga kami lebih dekat, akur gitu. Nauzubillah min dzalik, memang kebanyakan ada keluarga yang lain, ipar sama ipar bahkan tidak akur ya, nauzubillah Keuangan keluarga dikelola berdua oleh responden dan suaminya, namunyang lebih fokus mengelolanya adalah responden. Responden berusaha mengelola keuangan keluarga dengan baik, gaji yang diberikan dikelola agar cukup untuk keperluan keluarga dan ada sisanya untuk ditabung. Responden memiliki tabungan rahasia dari sisa uang belanja, yang tidak diketahui, guna keperluan mendadak yang tidak diduga-duga. Menurut responden, kaya nya sebuah keluarga tergantung pada kemampuan istri dalam mengelola keuangan. Hubungan responden dengan pihak keluarga 88
90 min dzalik. Kami akur gitu, bahkan e...kakaknya kakak sendiri manggil mertua kakak, mamak, supaya lebih dekat. Dan sebaliknya, kakak manggil mertua kakak, mamak, untuk mendekatkan diri, gitu. Terakhir, mertua-mertua kami dengan ipar-ipar anak-anaknya, ya udah kayak anak juga, gitu. Jadi dekat. Jadi lebih mengakrabkan ya. Mengakrabkan. Akur ya. Jadi semua kami akur dan rukun. gak ada cekcok dan konflik-konflik lain. Bagaimana kak perasaan kakak ketika berhubungan dengan mereka? Ya, alhamdulillah, karena suami paling besar, kakak dianggap gimana, ya udah mereka jadi lebih dekat gitu. Kebetulan mereka tidak memiliki kakak yang paling besar, karena lakilaki paling besar. Dan mereka dekat juga, salah satunya mengubah pikiran mereka ke kakak gitu, adik-adik iparnya. Dan sebaliknya, adik kakak yang paling kecil, yang di Gontor itu, suka tukar pikiran sama suami, atau adik-adik suami, kakak yang ngasih, lebih mendekat. Kalo suami kakak ingin memberi adik kandung kakak, ya dia langsung, seperti itu dekatnya. Bahkan mau curhat pun, kita mau sama iparnya, gitu. Contohnya sama suami kakaknya, gitu, malahan lebih, dia seneng suami kakak, adek kakak ini. Connect dia. Inilah, barter ya, seperti itu. Begitu juga ngasih uang belanja dengan orang tua, gitu. Kakak ngasih mertua, suami ngasih mamak kandung kakak, gitu. Kan ada kan yang langsung, mamaknya anaknya yang ngasih, suaminya mamaknya sendiri, gitu kan. Jadi, disitu, yang kebanyakan yang saling ketidakpercayaan itu timbul itu disitu. Terus kak, bagaimana hubungan kakak dengan temen-temen kakak dulu, setelah sudah menikah ini, gimana hubungannya? Iya ya. Alhamdulillah kakak itu kalo bergaul dengan yang lebih tua dari kakak usianya. Jadi kakak ada sekelompok, ibaratnya sekelompok kawan, kawan-kawan dekat, kakak paling kecil. Mereka tu lahir tahun 70-an, kakak 80-an. Jadi, ya udah mereka bilang, kakak lebih dewasa, padahal usianya masih anak-anak. bahkan mereka sering curhat ke kakak, terbalikkan, seharusnya kakak yang curhat ma mereka. Dan mereka menyikapinya, enak ya Halimah. Ya suami, mertua dan iparnya, terjalin dengan baik, cukup dekat, akur dan rukun satu sama lain, tidak ada cekcok atau masalah diantara mereka. Perasaan responden dalam berhubungan dengan keluarga dari suaminya cukup nyaman dan dekat, tidak lagi canggung atau segan, bahkan mereka saling curhat satu sama lain karena sudah merasa dekat. Cara lain dalam mendekatkan diri dengan pihak keluarga pasangan, responden jika ingin memberi sesuatu pada mertua, maka ia yang memberikannya langsung pada mertua, begitu pula sebaliknya dengan suami pada mertuanya, hal ini juga bisa menghindari timbulnya ketidak percayaan dalam hal keuangan keluarga. Hubungan responden 89
91 alhamdulillah. Kan diantara kelompok kami itu, kakak yang duluan menikah. Ya, alhamdulillah, seneng mereka, dan lebih dekat kok, dekat bertemu maksudnya, sejak kakak menikah kami gak renggang dalam persahabatan itu tetap,kalo sms, telpon, acara-acara rihlah di ajak. Tetap komunikasi ya. Iya. Terus kan, beralih ke masalah seksualitas kan kak.gimana sikap kakak ataupun perasaan kakak terkait dengan masalah seksualitas dengan pasangan kakak? Maksudnya gimana? Sikap kakak lah dalam hal seksualitas. Biasa aja gitu. Lancar-lancar saja? Ya, alhamdulillah. Terus kak, bagaimana kesetiaan kakak terhadap pasangan kakak? Kesetiaan ya, lebih dekat aja. Kakak ada makanan dikit, kalo dia belum pulang kerja, makanan itu yang jarang kami makan, sifat kakak, kakak mau tu ninggalin dia. Ya, alhamdulillah sebaliknya gitu. Contohnya kan, kami kan, contohnya ntah makan yang enakenak atau apa itu burger, gitu kan. Kakak beli satu, ah, kakak makan separo, kakak tinggal dia separo, gitu. Nanti dia pulang, udah, bi ini ada burger. Bukan berarti sisa kakak, enggak. Ingatlah kita sama suami. Kita makan enak, inget gitu, dan dia pun gitu. Alhamdulillah, dia ada dikasih temennya syukuran, semacam kare kambing gitu kan, dikasih dua potong, satu potong ditinggalinnya, pas pulang, mi, ini ada rejeki. Itu salah satu kesetiaannya yang lain. Terus, dia suka apa, kalo dalam pergaulan diluar-luar itu, kami seperti kawan, seperti lagu raihan itu, kalo diluar itu seperti teman, gitu. Dalam rumah tangga aja suami istri. Karena kalo kita terlalu mesra sekali itu kita kan, apalagi kalo kita gak bawa anak, kao kita mesra kali, kita bisa jadi fitnah. Padahal kita udah sah menikah kan, kecuali kalo kita bawa anak, kita mesra-mesra gak pa pa, karen aorang melihat, o dah punya anak, gitu. Tapi kalo kita gak bawa anak, kita terlalu mesra, jadi fitnah, berjilbab tapi kok gitu ya. Apalagi kan, muka kakak kan kata orang masih macam mana gitu kan. Banyak yang ngira kakak masih ini, pacaran. Kalo kami jalan dengan teman-temannya setelah menikah tetap terjalin dengan baik, tetap saling komunikasi satu sama lainnya. Kesetiaan responden pada pasangannya ditunjukkan dengan kasih sayang dan perhatiannya pada suaminya. Misal jika responden membeli makanan, ia tidak lupa menyisihkan sebagian untuk suaminya sebagai tanda bahwa ia ingat dengan suaminya, tanda sayang dan setianya pada sang suami. 90
92 berdua gitu, naik kereta, ada sebagian yang bilang baru nikah ya, gitu. Padahal dah dua anak. Karena ya, subhana Allah, orang-orang yang berjilbab, orang-orang yang berjilbab ini, ditambah lagi dia tidak ber...tidak berhias, seperti berlipstik, ber make up itu, subhana Allah, wajah itu semakin muda, semakin muda dan kesannya muda selalu gitu. Mungkin gitu kali, orang menyangka, baru nikah gitu. Bahkan asal kakak, waktu hamil kedua, anak pertama ya, gitu. Itulah salah satunya, padahal sudah anak kedua kan. Terus kan sekarang dah punya anak ni kan kak.bagaimana perasaan kakak dengan hadirnya anak dalam rumah tangga kakak? Anak ya. Subhana Allah anak itu memang betul ya, penyejuk hati, pengobat pada hati, salah satunya kalo pulang kerja, capek apapun diluar kalo kita dah jumpa anak, hilang capeknya, gitu. Terus kita ada masalah sama pasangan kita, kita ingat anak. Jadi itu yang membuat kita akur, salah satu yang membuat kita cepat langsung baikan, kita pikir anak kan. Terus, bagaimana kak hubungan kakak dengan bapak, sebelum memiliki anak dengan sesudah memiliki anak, gimana perbedaannya? Oh. Bedanya dalam, mungkin contoh dekatnya mungkin dalam segi panggilan, gitu. Dulu, waktu belum punya anak, mungkin karena dia orang Jawa jadi panggil mas. Gitu dah punya anak, mungkin panggilannya abi, gitu. Contohnya karena nama anaknya Nayla, ya abi Nayla, gitu. Untuk lebih dekat lagi, biar anak-anaknya lebih dekat gitu. Terus untuk membiasakan ke anak, karena kalo kita manggil mas juga, takutnya anak manggil mas, ya kan. Kadang-kadang anak-anak itu suka yang mana dia denger gitu. Contohnya, pernah kan kakak sekali dengar, bukan anak kakak, karena anak kakak kan belum pandai ngomong. Anak temen gitu, dia itu manggil suaminya mas gitu, sementara dia anaknya udah lima gitu. Terakhir, anak paling besar, mas, mas, katanya seperti itu. Terus kakak yang ngingatin. Di atas kakak umurnya. Udah punya anak pun, kok manggil mas sama suaminya kak. Oya lupa kak lim. Seperti itu. Makanya kakak, lebih suka manggil, abi Nayla, gitu. Makanya anak-anak, ini bi, walaupun Nayla belum bisa ngomong, masih aba, aba, gitu, dia suka gitu kan. Seperti itu. Itu Menurut responden, anak sangat berarti dalam sebuah rumah tangga, anak dapat menjadi penyejuk dan pengobat hati, serta dapat menjadi pencair suasana dikala pasangan sedang bertengkar, sehingga pertengkarannya tidak berlarut-larut. Setelah memiliki anak, perbedaan hubungan responden dengan suaminya yakni dari segi panggilannya, dulunya manggil mas, setelah punya anak manggil abi, abi Nayla, sesuai nama anak. 91
93 salah satunya. Terus, bagaimana pengaruhnya kak terhadap hubungan kakak dengan bapak? Apanya? Setelah memiliki anak itu? Hubungannya? Itu tadi, waktu baru menikah kita kan mesra, bisa apa tu, lebih dekat gitu. Ibaratnya, suami itu cuma ma kakak perhatiannya. Punya anak, sekarang dua, dua, jadikan tiga perhatiannya kan, dibagi-bagi lagi. Dulu kan fokus perhatiannya kan ke istrinya, waktu belum punya anak, istri gitu kan. Eh, tambah lagi anaknya, jadi tiga lah, jadi saingan kakak dua sekarang, saingan perhatian. Bagaimana pun itu hak anak, harus diperhatiin. Gitu ma kalo punya anak. Saingan ya, saingan ma anak. Hehehe. Iya ya. Terus kak, bagaimana kak, kan dah punya anak ni, bagaimana cara kakak mendidik anak-anak kakak? Kalo cara mendidik anak, tetap yang islami kakak ajarin, yang pertama. Dari contoh sikap, tingkah lakunya, dari segi permainannya, gitu kan. Kita pande-pande memilih. Pilihlah permainan ato bacaan yang islami gitu. Kalo permainan yang untuk mengasah motorik gitu, kan banyak sekarang mainan boneka-boneka, terus gimana-gimanalah gitu. Kita cari permainan yang mengasah motorik dia, contoh kayak balok-balok, terus apa namanya, apa itu, cucuk menyucuk, bisa bentuk itu, bentuk rumah yang harus mencocol, mencocol itu kan untuk mengasah motorik dia. Balok yang berwarna-warna. jadi kita bisa pilih warna apa. dan kalo bacaan, itu bacaan yang bercerita tentang nabi, ya, yang mungkin gambar-gambar yang kekanak-kanakan juga. Terus yang tentang doa-doa. Seperti itulah. Terus gimana kak perasaan kakak dalam menjalani peran-peran kakak dalam rumah tangga? Ya, alhamdulillah senang. Bawa senang aja. Yang penting begitu bekerja, begitu kita sudah memiliki anak, dengan bismillah, insya Allah, Allah membantu kita. Makanya, waktu pertama melahirkan, begitu kakak melahirkan, begitu anaknya langsung keluar, kakak bacakan surat al-fatihah, dengan rasa syukur kakak, insya Setelah memiliki anak, responden merasa perhatian suami menjadi terbagi, tidak seperti dulu saat belum punya anak, perhatiaan suami hanya tertuju padanya. Responden mendidik anakanaknya dengan pendidikan islami dan bernuansa religius, baik dari segi perilaku, bacaan ataupun jenis permainannya. Responden merasa senang dalam menjalankan peranperannya, sambil ia juga selalu memohon petujuk dan kemudahan pada Allah dalam menjalani peranperannya tersebut. 92
94 Allah, Allah memberi jalan lurus, kan ada petunjuk di surat fatihah yang kalo gak salah ayat empat. Menurut kakak, bagaimana sih pengaruh pola asuh orangtua kakak dulu terhadap diri kakak ini setelah menikah? Manfaatnya seperti apa? Gimana maksudnya? Pengaruh pola asuh orangtua kakak dulu dalam mendidik kakak itu gimana? Ada gak pengaruhnya gitu pada kakak, setelah kakak menikah ini? Ya, ya, alhamdulillah ada. Contohnya, kebetulan orangtua perempuan sudah meninggal. Jadi mendiang itu mengasuh, jadi mamak itu mengasuh kami dari anak yang sepuluh orang ini, agamanya yang dulu ditingkatkan, shalatnya. Dulu ingat kali, kalo anaknya gak shalat shubuh, disiram pake air satu ember, ya udah, tilam itu basah, kalo gak ngaji kami disetrap, gitu. Mungkin, yang itulah jadinya, hasilnya, kakak jadi setidaknya tau lah agama. Iya ya. Kemudian kak, bagaimana pengaruh pendidikan kak? Pendidikan dalam mengelola keluarga ini? Di keluarga ini? Pendidikan kakak. Ya, kebetulan kakak tamatan SMA, jadi kan gak ini kali. Cuma walaupun kakak tamatan SMA, ya alhamdulillah kawan-kawan kan banyak yang anak-anak mahasiswa, jadi walaupun kakak tidak dapat ilmu di kampus, kampusan, tapi alhamdulillah kakak mendapat ilmu dari kawan-kawan yang mahasiswa. Seperti itu. Jadi dapat sharing ilmu nya gitu ya kak. He-em, sharing gitu, dan juga baca buku lah, ditambah. Contohnya dalam pendidikan anak, dah gitu peran sebagai istri yang baru menikah, seperti itu. Baca-baca buku. Terus kak, bagaimana kak pengaruh atau peran agama itu dalam rumah tangga? Subhana Allah, sangat kuat sekali. Ibaratnya, ibaratnya kita berjalan ato kita, hm... musafir ke hutan, kita kan harus bawa kompas ya. Jadi, kami dalam rumah tangga itu, petunjuk kami al-qur an dan sunnah gitu. Seperti itu. Jadi kita ikutin apa kata-kata Allah di al-qur an dan apa kata-kata Allah di, maksudnya larangan Allah itu dihindari, insya Allah. Seperti itu juga Pendidikan dan penerapan nilai-nilai agama yang ditanamkan orangtua responden sejak kecil kini bermanfaat dalam kehidupan responden. Responden tamatan SMA, namun ia banyak berteman dengan mahasiswa dan sering mendapat ilmu dan sharing informasi dengan teman-teman mahasiswanya tersebut, ditambah juga dengan membaca buku seputar rumah tangga, sebagai istri atau dalam hal mendidik anak. Peran agama sangat penting sekali bagi responden, sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga, yakni al-qur an dan sunnah rasul yang telah diberikan Allah sebagai pedoman hidup umat Islam. 93
95 hadist dan juga sunnah-sunnah rasul. Kami ke anak, contohnya seperti tadi, makan dengan tangan kanan, itu kan ada dalam sunnahnya, terus tidur dengan berbaring ke kanan, itu ma anak kami turunin juga, berdoanya jangan lupa. Terus rasul itu kalo menidurkan cucunya Hasan dan Husein itu dia membacakan surat al-fatihah, ayat kursi, al-ikhlas, al-falaq, an-nas. Terus dibasuh ke tubuh cucunya Hasan dan Husein. Seperti itu. Itu salah satunya. Itu kami terapin dalam rumah tangga kami. Keluarga yang islami. He-e. Insya Allah. Terus kak, gimana kak, pengaruh suku, kakak kan beda suku ni ya ma bapak. Bagaimana pengaruh perbedaan suku itu dalam hubungan kakak dengan bapak? Ya, alhamdulillah kami kan sukunya, maksudnya kan, kalo kami gak asli gitu. Maksudnya suami gak asli Jawa dan Jawa kali, jadi kakak orang Padang, yang Padang kan orang tua, tapi kakak lahirnya di Medan, seperti itu. Dan mungkin karena kecilnya sampai besarnya di Medan, udah nyesuaiin. Cuman dari segi masakan, contohnya, dulu suami kan, dikeluarga ni kan sambalnya manismanis gitu. Rupanya begitu kenal dengan kakak, terkejut, masakan orang Padang pedas. Ya, alhamdulillah sampai sekarang dia lebih suka pedas ketimbang manisnya gitu. jadi disitulah penyesuaiannya. Terus kak, kembali lagi ke masalah seksualitas tadi gitu kan. Bagaimana sikap kakak, terhadap misalnya frekuensinya, terhadap hubungan kakak lah dengan suami kakak? Ya, yang jelas, ditanya dulu, kalo misalnya lagi ada masalah, lebih bagus gak usah, seperti itu kan. Nanti yang satu tidak enak. Terus kan ini ya, salah satu keharmonisan rumah tangga itu kalo apa namanya itu, afeksi yang dalam sex itu baik dan juga sering itu, insya Allah lebih harmonis lagi. Salah satu yang menyebabkan perceraian karena kurangnya itu tadi ya, berhubungan itu tadi kurang. Banyakan salah satu penyebab ini ya, perceraian-perceraian karena kurangnya mereka seperti itu, akhirnya jenuh, bosan, itu, cekcok, berantem, gitu. Tapi, kalo kami, alhamdulillah ya sering gitu. Seperti itu. Berarti tidak ada masalah dalam... Perbedaan suku antara responden dengan suami tidak menjadi kendala berarti dalam rumah tangganya, karena keduanya sudah mampu saling menyesuaikan dengan karakter suku masing-masing. Responden mengkomunikasikan keinginan seksualnya dengan suami, bila kondisi tidak memungkinkan, menurutnya lebih baik untuk tidak berhubungan. Responden berusaha menjaga frekuensi hubungan seksualnya dengan suami, karena menurutnya, intensitas hubungan juga turut mempengaruhi 94
96 Ya, alhamdulillah gak ada, gitu. Sering, suami sering nanya, kalo capek, udah gak usah. Ya, suami itu sering nanya apa kondisi istri. Ditanya dulu kondisi istrinya gitu. Ya, ahamdulillah dengan adanya itu, ya alhamdulillah baik-baik aja. Ada pengertian ya kak. Saling mengerti. Terus gimana kak, kepercayaan bapak pada kakak dalam mengelola keuangan? Kakak yang mengelola keuangan kan. Iya, seperti itu. Iya karena kakak kan, walaupun catatannya kurang rapi, kakak cerita gitu. Pengeluaran gaji, ya itu tadi ya kejujuran istri tadi, seperti itu. Pengeluaran ini, gini, gini. Terus, dana yang untuk beli buku sekian, dana yang untuk belanja sekian, gitu. Ya, abi ngasih berapa kemaren, abi kan ngasih sekian, jadi, pengeluarannya kayak mana. Misalnya segini, dan yang kakak bilang simpan rahasia itu, ya itu memang sengaja tidak kakak kasih tau gitu. Ya, misal sisanya, misal sisanya 200, kakak bilang, sisanya 100, cepek lagi kita, itulah simpanan rahasia kakak itu tadi ya. Dan kebetulan kemaren ada masalah, terus dia belum gajian, kakak juga belum gajian, ya itu, ngambil uang itu tadi. Terus, dia nanya, lho uang dari mana, kan kita sama-sama belum gajian. Rejaki anak, kakak bilang aja kayak gitu. Ada rejeki anak. Udah, dia diem kalo kakak udah bilang rejeki anak, udah. Kak, kemaren kan nikahnya secara taaruf ya kan kak. Balik lagi ke belakang. Kira-kira kesulitankesulitan apa aja yang kakak alami di masamasa awal pernikahan? Kan kalo taaruf kan dia perkenalannya singkat kan kak, jadi kan belum terlalu mengenal. Terus, gimana kak di awalawal pernikahan? Ya, kalo di awal pernikahan karena kita tidak pacaran, kalo dikeluarga kakak alhamdulillah sudah paham semua, karena alhamdulillah juga kakak sudah mengkondisikan keluarga dari semenjak SMA, nanti acara begini, begini, begini. Jadi, semenjak dari kakak SMA, kakak sudah mengkondisikan keluarga, dalam arti kata kakak juga sudah cerita, dalam Islam itu kita tidak pacaran dan juga em... Jadi, saya menginginkan pernikahan seperti yang dianjurkan Islam itu, gitu. Justru baru-baru nikah itu kendalanya dari keharmonisan rumah tangga. sebuah Hubungan seksual responden baik-baik saja, karena ada saling pengertian dan komunikasi seksual yang baik dengan pasangan. Responden berusaha menjaga kepercayaan suaminya dalam hal mengelola keuangan dengan selalu memberitahukan suaminya tentang pengeluaranpengeluaran yang dilakukan dan berapa dana yang tersisa, disamping ada juga sisa dana yang dirahasiakan responden untuk menjadi tabungan rahasia bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Kendala yang dihadapi responden di awal pernikahan yakni dalam hal menyikapi kultur Indonesia yang terbiasa bersalaman tangan bila bertemu, walaupun bukan dengan mahramnya. Hal ini bertentangan dengan prinsip Islam yang melarang umatnya 95
97 suami, gitu, karena terkejut. Contohnya dari salaman, banyak kan keluarga-keluarga lakilakinya maksudnya adik-adik mertua kakak pengin salaman kena. Ya udah. Sementara dalam Islam itu kan yang bukan mahram ato muhrim kan kita kan tidak boleh kena, seperti itu. Disitu sering tantangannya disitu. Apalagi pas lebaran. Nah, itu lebaran, tantangan tu, kalo untuk muslimah-muslimah yang memang betul-betul mengikuti perintah Allah yang tidak boleh menyentuh yang bukan mahramnya, itu banyak tantangan. Makanya, dengan cara mengatasi, ya udah, diselipkan dengan kain, kan jilbab kita kan besar. Ya udah, selipkan di jilbab aja, gitu. Tapi kita bisa kasih alasan, maaf nanti batal wudhunya, lagi wudhu. Ya kan memang kita seharusnya wudhu cemana pun. Shalat gak shalat ya tetap harus wudhu. Jadi pas itu alasannya. Jadi kondisinya waktu baru-baru menikah itu, keluarga suami dari segi salamannya aja, kalo dari keluarga kakak, mereka sudah mengerti. Dah paham ya. Terus misalnya kalo dari hubungan kakak sendiri dengan abang gitu, di awal-awal setelah menikah? Ya ini ya, banyakan, lebih banyakan kejutnya. Biasa tidur sendiri, kok ini ada laki-laki, siapa, gitu kan. Terus mau buka jilbab aja agak lama, karena kita kan, karena kita tidak pacaran itu kan. Pasti kita terkejut, kok tiba-tiba kok ada laki-laki masuk kamar. Terus tiba-tiba ada laki-laki jadi imam aku, kok kami jadi shalat berdua gitu kan, seperti itu, lebih banyak terkejutnya, karena mungkin gak da pacaran, gitu. Terus, gimana kakak menjalaninya tu kak? Menjalaninya. Ya, ada rasa terkejut. Tapi ya, alhamdulillah lancar-lancar saja. Lancar-lancar aja ya kak. Jadi, dalam masalah penyesuaian gitu kak? Maksudnya? Dalam menyesuaikan diri dengan pasangan, kan belum begitu kenal. Ya ini aja ya, karena ya alhamdulillah, karena kami ini ya, bangsa langsung dekat sama orang, ya udah. Ntah kenapa, kok macam, kalo orang yang mengira, kami pacaran dulunya. Kalo orang tidak tau, dikira kami pacaran. Ya udah macam orang yang dulunya pacaran, habis nikah biasa aja, biasa bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Kendala ini ia hadapi dari keluarga pihak suaminya, kalo dari pihak keluarga responden, insya Allah mereka sudah paham. Responden lebih banyak terkejut dan canggung dalam menghadapai masamasa awal pernikahannya, karena banyak hal yang biasanya responden lakukan sendiri, kini ia lakukan bersama suaminya, jadi masih menyesuaikan diri dengan status barunya sebagai istri. Responden mudah menyesuaikan diri dengan pasangannya walau di awal-awal setelah menikah, karena memang sifat responden yang juga mudah 96
98 aja, ngobrol, ketawa, bahkan hari pernikahan itu, biasa kan orang yang menikah tidak pacaran kan kalo disandingkan atau difoto berdua kan agak kaku, kalo kami seperti itu tadi, udah macam orang sudah menikah, ayo sini, sini, sini, foto kita, senyum gitu. Karena kan dari gambar kakak, kakak perhatikan, foto-foto kawan-kawan kan, kaku, gitu, ini, seperti patung gitu ato seperti pas photo, fotonya. Kalo kami, itu tadi mungkin ya, Allah sudah menyatukan hati kami, jadi pas begitu menikah, udah biasa aja, sini, sini mas, udah panggil aja mas. Biasanya kan agak kaku. Sini, sini mas foto, foto, foto. Dia pun gitu, dan kakak langsung dekat sama mertua, ayo mamak, sini mamak, langsung manggil mamak gitu. Waktu hari pernikahan itu ibaratnya kan, em... begitu ketemu calon, em..mertua baru kan, langsung cepat dekat, sini mak foto mak. Ya ahamdulillah mamak pun begitu. Iya nak, iya nak, gitu. Karena sifat kami, sosialisasi kami itu cepat dekat sama orang, kalo kakak, kawan-kawan dan murobbi sampe heran, kok langsung dekat gitu, karena pengalaman murobbi kami sama, dengan binaan yang lainlainnya, kaku gitu. Suruh foto aj payah. Nanti kalo Sukma lihat foto kami, kesannya kek mana gitu. Gitu ya kak. Berarti kan cepat. Cepat. Alhamdulillah. Menurut kakak, tidak ada, pengaruh taaruf itu gimana kak? Berarti tidak terlalu signifikan pengaruhnya kita pacaran ataupun taaruf? Tidak. Tidak kaku kali lah. Cepat dekat. jadi, mungkin waktu taarufnya itu kami jelas gitu ya. Maksudnya jelasnya dalam, kami tanya, sifatnya gimana, jadi begitu kami, kami nikah, oh, cepet tau, gitu. Kan salah satu, data itu, tanya sifatnya, sifatnya, kemauan dia apa, terus tanya, setelah menikah tinggal dimana, langsung, jadi cepat kita menyesuaikannya. Akhirnya, untuk orang yang mau menikah, nanti jika disuruh taaruf ya, harus ini, apa namanya, jeli, untuk yang mau ditanyakan, jeli gitu, jelas. dekat dengan orang lain. Menurut responden, kejelasan perkenalan saat proses taaruf juga akan menentukan kemudahan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan pasangan, oleh karenanya segalanya ditanyakan dengan jelas saat proses taaruf tersebut, misalnya tentang sifat-sifat atau kebiasaan pasangan kita tersebut. 97
99 VERBATIM Responden 4 (Ta aruf) Wawancara III Tanggal: 14 Mei 2008 Pukul : Wib Durasi : ± 45 Menit Subjek : Istri Pelaku Kemaren kan kakak ada bilang terkadang kakak mudah merajuk ke abang. Itu apa yang membuat kakak mudah merajuk? Ya, mungkin karena ada masalah juga, gitu. Ada kurangnya komunikasi gitu, sebelum ditanyakan, entah kenapa, biasa ya perempuan, udah langsung merajuk aja, padahal belum ditanyakan. Jadi, nanti malam baru ditanya. Kadang-kadang suami suka menjelaskan, suami yang suka, ada apa? Dia suka nanya. Baru situ cerita. Nanti kalo dia dah beberapa hari kakak tunggu dia gak nanyananya, akhirnya awak ngalah nanya sendiri. Memang kakak orangnya suka merajuk, mungkin karena faktor anak paling kecil perempuan kali ya, dan suami juga paling besar, jadi dia lebih dewasa, kakak lebih kekanak-kanakan. Tapi suami lebih sering bilang, ntah kenapa ya adek kalo di luar, gabung sama akhwat, pokonya kalo di luar rumah kok dewasa gitu. Tapi kalo dah dalam rumah tangga kan kayak anak-anak. Ya jelaslah, nanti kalo dewasa kali pun, kalo semuanya adek bawa dewasa kali, jadi gak ada kelucuannya gitu. Iya juga ya, katanya gitu. Tapi jangan seringseringlah merajuk sama abi, katanya gitu. Biasanya bapak responnya gimana tu kak? Kalo merajuk? Iya. Subhana Allah ya, walaupun dia merajuk, dia tetap negur gitu. Misalnya kan, mi, abi pigi kerja, gitu. Dia tetap memberi tangan yang suruh untuk kita salam, kan biasa gitu ya. Kakak pun gitu merajuk semarah-marah apapun tugas sebagai istri tetap kakak layani gitu, kayak macam sarapan paginya, makan malamnya, terus untuk menyalamnya waktu dia berangkat kerja, pulang kerja, itu tetap. Artinya walaupun merajuk kewajibankewajibannya tetap. Pemaknaan Responden mudah merajuk bila ada masalah, namun seringnya masalahnya tersebut belum dikonfirmasi kebenarannya ke suami, tapi sudah merajuk duluan. Responden mengakui sifatnya yang mudah merajuk, menurutnya ini bawaan karena ia anak perempuan paling kecil di keluarganya. Sementara suami anak paling besar dan sikapnya dewasa. Walaupun sedang marahan, responden atau suaminya yang marah, namun mereka tetap menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing dalam rumah tangga. 98
100 Iya tetap dijalankan dengan baik. Terus di depan anak-anak tetap kakak, tetap seloro, biar gak nampak. Tetap seloro, tetap tersenyum. Itu apa yang biasanya membuat kakak merajuk? Ini, apanya, kurang komunikasi yang jelas gtiu. Misalnya kan, contohnya ada acara gitu kan, abi pergi duluan, nanti jam berapa abi jemput gitu. Kita kan biasa ya dikalangan ummahat gitu. ya udahlah, ummi ada acara disini dulu, jadi acara kami itu udah berbagi-bagi. Pokoknya nanti abi cepat jemputnya ya gitu, karena kan insya Allah kakak orangnya ontime. Terus kalo lewat setengah jam apa lima menit ato berapa, kakak tanyakan memang sebelumnya. Padahal dah ditanya tapi entah kenapa kok masih merajuk juga gitu. Itu tadi kakak bilang, karena anak paling kecil itu suka manja. Tapi kalo dikeluarga, di keluarga kakak, kakak lebih dewasa, entah kenapa sama suami aja. Kenapa tu kak? Ya, kalo menurut kakak karena ini tadi ya, subhana Allah nya menikah melalui taaruf tadi gitu, karena kan kita, kalo orang kan pacaran dulu baru menikah, kalo kami nikah dulu. Menikah dulu baru pacaran, gitu. Jadi seperti masa-masa pacaran, seperti itu. Gimana orang pacaran pasti ada merajuk. Ni nikah dulu. Kadang-kadang kasihan juga nengok dia kalo kakak merajuk. Biasanya dia kek mana tu kak, abang? Kalo dia subhana Allah memang, kakak merajuk, kakak marah dia tetap santai aja macam gak da masalah gitu. Tetap negur, tetap, misalnya dia mau pigi bawa anak-anak jalan sore, salam ummi nak, salam ummi. Dia tetap ngajarkan anaknya gitu. Dia seperti itu orangnya. Ummi mau sarapan apa, kadang dia gitu. Cuma dia pande mengambil hati supaya istri nya cepat baik. Sarapan mi. Kadang kita salut juga. Baik lah jadinya. Perhatian ya, luluh lah hati kita. Perhatian dia. Udahlah baik langsung kita. Terus kak, dalam mengisi waktu luang, harapanharapan kakak bagaimana? Alhamdulillah kami kalo ada waktu luang, seperti yang kakak bilang kemaren, kadang silaturahim ke rumah saudaranya, terus ke rumah saudara dari pihak kakak, kadang- Sikap responden ketika sedang marah, diusahakan agar kemarahannya tersebut tidak terlihat oleh anak. Responden merajuk misal bila suami tidak menepati janji, walau sudah ditanyakan alasannya kenapa, tapi tetap saja responden merajuk. Menurutnya ini lebih karena sifat manjanya ke suami karena kalau di keluarga ia bisa bersikap dewasa. Menurut responden sifat manjanya yang mudah merajuk ke suami itu lebih karena perasaannya yang ingin dimanja seperti halnya orang-orang yang sedang pacaran, bedanya, reponden pacarannya setelah menikah. Suami responden pandai dalam mengambil hati sehingga responden ketika merajuk bisa luluh hatinya ketika melihat sikap dan perhatian suami yang begitu tulus padanya. Responden dan pasangan mengisi waktu-waktu luang dengan bersilaturahim ke rumah keluarga dan teman- 99
101 kadang ke rumaha saudara, kawan-kawan, gitu. Harapan-harapan untuk misalnya pengen berdua aja ni. Ada gak? Ada, kami lebih sering pigi berdua gitu. Walaupun mamak sudah meninggal, banyakan titip sama kakak, sama kakak di rumah. Kak titip ya, gitu. Taulah kakak karena kakak suka dititipin. Perasaannya gimana kan saat pigi bersama dengan suami? Kalo jalan-jalan berdua tanpa bawa anak-anak, ya itu, seperti orang-orang pacaran, jadi ingat waktu baru-baru menikah, seperti itu. Ingat masa-masa dahulu, ya udah, berdua. Itu insya Allah kalo gak seminggu sekali ato sebulan sekali itu, kami agendakan juga, jalan-jalan berdua, anak-anak jangan dibawa. Ya insya Allah itu salah satu bumbu untuk romantisnya rumah tangga. Memang betul kata orang, dalam rumah tangga itu gak ada yang mulus, Cuma gimana cara mengatasinya. Biasanya kakak mengatasinya, misalnya terjadi ketidakmulusan itu seperti apa? Ya inilah dengan menanyakannya. Memang sih, jujur saja awalnya merajuk duluan, nanyanya belakangan gitu, itu kan salah sebenarnya. Ntah kenapa setelah kakak menikah pula jadi seperti itu. Kakak pun heran. Kira-kira kenapa tu kak. Apa karena sudah ada suami? Iya kali, itu kali ya. Mungkin karena ada suami. Terus suami juga paling tua, terus dia lebih dewasa lagi cara memimpin rumah tangganya. Insya Allah kalo kakak bilang suami kakak alhamdulillah ideal lah kalo menurut kakak.tapi kalo menurut orang ya wallahu alam. Kalo menurut kakak udah subhana Allah kali. Udah ideal kali lah. Mengayomi, terus dia juga orangnya gak banyak cakap, cuma sekali cakap kita kena, maksudnya gak nyindir gitu tapi kita langsung dibuatnya tertekun gitu. Oh iya, betul juga lah, seperti itu. Kemaren kan kakak juga ad bilang bahwa setelah menikah religiusitas kakak meningkat. Kira-kira apa tu kak faktor penyebabnya, kenapa sih setelah menikah meningkat? Ya, alhamdulillah karena saling menguatkan teman. Responden merasa seperti orang-orang yang sedang pacaran bila berjalan berdua bersama suami, menurut responden kegiatan ini dapat menjadi bumbu untuk semakin romantisnya sebuah rumah tangga. Bila terjadi masalah dalam rumah tangganya, responden akan menanyakannya pada suami, namun sebelum ditanyakan diakui responden kalau ia biasanya sudah merajuk duluan. Responden merasa sifatnya yang kini mudah merajuk disebabkan karena kini ia sudah memiliki suami. Responden menilai suaminya saat ini sudah ideal bagi dirinya. Suami responden orangnya mengayomi, tidak banyak bicara namun sekali bicara membuat responden menjadi tertekun. 100
102 antara suami dan istri saling menguatkan. Mungkin waktu kita belum menikah, yang menguatin itu orangtua ya, karena masih tinggal ma orangtua, jadi orangtua. Terus setelah kita menikah, alhamdulillah lagi suami lah yang menguatkan. Jadi saling menegur. Jika ada misalnya, dari ibadahnya ada ketinggalan, contohnya dari hafalan gitu kan, kami punya target, hafalan qur an itu dalam bulan ini harus hafal sekian juz, gitu. Saling tegur menegur gitu, saling mengingatkan. Jadi kalo dalam peningkatan agama setelah menikah, ya itu, kami saling menguatkan aja, saling mengingatkan juga. Saling memotivasi lah ya. Saling memberikan motivasi supaya lebih meningkat lagi hafalannya dan ibadahibadah yang lainnya. Kemudian kakak bilang juga kan bahwa setelah memiliki anak kan perhatiaan suami jadi terbagi ni, terhadap anak dan kakak. Jadi kakak merasa kurang diperhatikan. Itu gimana kak perasaan kakak? Ya. Mungkin menurut kakak itu kita kurang diperhatikan. Tapi bagi suami kita juga diperhatikan, walaupun sikit-sikit kan, karena kan dah dibagi tiga, anak dua istri satu. Jadi ya perasaannya ya dibilang cemburu gak, gak ada. Cuma gini aja, oya, menyadari udah terbagi ni. Tapi alhamdulillah itu tadi waktu kami jalan berdua itu rasanya perhatiannya itu penuh, semua umminya gitu, karena anak-anaknya gak dibawa kan jadi ke kakak semua perhatiannya. Udah gitu aja. Jadi kakak menyadari aja bahwa memang sudah saat karena sudah ada anak-anak. Iya, karena kasihan juga kalo mereka gak dapat perhatian kan jadi kurang kasih sayang ayahnya ato abinya. Ya itu juga kasihan anak-anaknya. Jadi nanti kalo umminya mau ngapa-ngapain gak enak. Tapi alhamdulillah anak kakak yang paling besar ini dia mengerti kalo lagi ada abi dia mau main sama abinya, apakah itu dia buang air besar, buang air kecil, selagi ada abi dia mau ama abi, gitu. Tapi dia tau, waktu libur-libur aja, libur dan waktu pulang kerja, kalo mau pergi kerja tengoknya abi masih ada, macam ngerti gitu. Kadang dia kan apa yang kita bicarakan sama abinya dia dengar, kadang-kadang kakak suka nanya, abi hari ini abi mau pigi cepat apa Menurut responden peningkatan religiusitasnya setelah menikah disebabkan karena sudah adanya suami yang bisa saling menegur, mengingatkan dan menguatkan dalam peningkatan amal ibadah. Responden menyadari dan memahami bahwa kini perhatian suami sudah terbagi karena sudah hadirnya anak dalam pernikahan mereka. 101
103 lama? Kayaknya agak-agak santai ya. Mungkin anak mendengar. Ayok, ayok, ayok, ayok Nayla kita mandi, ini si ummi yang ajak. Dia gak mau, ma abi, dia nunjuk abinya. Udahlah. Terus kak, menurut kakak masa-masa yang paling menyenangkan dalam pernikahan kakak itu, masa-masa kapan? Tahun-tahun keberapa? Waktu nikah tahun pertama. Itu yang paling tak terlupakan. Itu kenapa kak? Karena mungkin karena kita tidak pacaran ya. Terus begitu kita menikah dengan suami yang alhamdulillah ideal menurut kita, kayaknya senang aja, ada masalah berat, beban apapun tetap, selagi ada suami disamping ya senang aja. Jadi kalo kakak bilang menyenangkan di tahun pertama. Bukan, bukan setelah iu tidak menyenangkan, itu yang nomor-nomor sekianlah yang menyenangkan. Itu juga semua menyenangkan. Cuma yang paling, kita kan pasti ada yang paling, ya di awal-awal menikah. Ibaratnya masa-masa pacarannya. Iya, ibaratnya itulah masa-masa pacaran. Terus kan kak, beralih ke masalah anak. Bagaimana kesepakatan atau pembagian peran kakak dan suami dalam pengasuhan anak? Ya, alhamdulillah kita udah buat pembagian kerja dalam mengurus anak. Tapi alhamdulilah itu di luar yang kita agendakan. Maksudnya kita harus nengok-nengok kondisi juga, kalo suaminya ato abinya lagi lelah, kakak menggantikan. Kalo si ummi nya lagi lelah, si abi yang menggantikan. Jadi kita bisa, bisa di luar agenda tidak pas kadang. Tapi kebanyakan pas yang kita sepakatin dalam membagi kerja untuk mendidik anak. Maksudnya kak? Maksudnya gini lo, kalo malam itu, kan sekarang dah dua ya, dulu waktu anaknya satu kalo malam si abi tugasnya buat susu, gitu kan. Ini sudah, maksudnya bukan buat susu, karena dia kan tidak minum susu formula ya. Maksudnya menguruslah, apakah dia mengelon, mengelon anaknya, gitu, untuk membuat cerita dongeng mengenai keislaman, ya seperti itu. Bagi-bagi tugas. Jadi yang, kalo yang kedua ini, si abi pegang, ngurus anak yang pertama, kakak yang ngurus kedua, karena kan masih kecil. Tahun-tahun di awal pernikahan merupakan masa yang paling menyenangkan dan tak terlupakan bagi responden. Bagi responden, seberat apapun masalah yang ada selagi ada suami disamping, ia tetap merasa senang. Responden dan suami telah membuat pembagian tugas dalam mendidik dan mengasuh anak, umumnya apa yang mereka telah mereka sepakati dapat terlaksana. 102
104 Berarti sama-sama terlibat dalam mengurus anak. Iya, apakah misalnya anaknya mau tidur kan, abi nya yang menemani sikat gigi, bersih-bersih, ambil wudhunya, gitu, dah diajarin dari kecil. Ya, kakak mengurusi si kecil gitu. Kadang kan dia mau tidur, nyusunya banyak, apalagi anak laki-laki lama, jadi kakak kebanyakan duduk. Iya ya kak. kemaren kan kakak juga ada bilang bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi keharmonisan dalam rumah tangga itu bila dalam hal seksualitasnya lebih sering, dari jumlah sering, juga afeksinya itu baik. Kakak bilang kan, ketika berhubungan afeksinya baik. Itu maksudnya gimana kak, afeksinya baik? Iya ya. Ditanya gitu. Kalo kakak ingat, kami dalam sebulan itu ada empat apa tujuh, seperti itu. Empat apa tujuh? Empat apa tujuh kali berhubungan seperti itu. Tapi, kenapa kakak bilang lebih baik, karena maksudnya gini, ditanyakan, kalo suami apa, istrinya lelah, ya itu tadi, komunikasi. Kalo dia, memang legowo, ya udah dia mengerti, seperti itu. Terus diiringi dengan doa supaya insya Allah tidak ada, apa namanya, rasa malas, kadang kan ada ya, salah satunya kalo tidak diiringi dengan doa, kadang suami sudah semangat,istri ngantuk aja bawaannya, seperti itu. Jadi ini juga tidak baik karena kan kurang menyenangkan, kurang menyenangkan buat suami seperti itu. Kebanyakan rata-rata kalo udah yang seperti itu, yang kalo berhubungan suami istri kebanyakan perempuan bawaannya ngantuk aja, lelah gitu. Makanya kakak saranin, insya Allah dengan doa tadi, dengan baca ta awudz atau auzubillahi minasyaithon nirrajim insya Allah syetan tidak akan mengganggu, karena itu juga ibadah bagi yang sudah menikah itu sangat ibadah. Jika menolak, si istri maka mendapat murka, kalo tidak ada alasan, tapi kalo dia membikin alasan, insya Allah dipahami gitu. Seperti itu. Itu tadi kak berarti afeksi yang kakak maksud tadi seperti apa? Perasaannya? Ya menyenangkan gitu, tidak ada yang menyakitkan, tidak ada keterpaksaan, memang ada kesepakatan mau sama sama mau. Menurut responden, berdoa sebelum berhubungan seksual dapat membantu menjaga agar stamina tubuh saat berhubungan seksual tetap optimal. Menurut responden, afeksi yang baik dalam berhubungan seksual yakni bila tidak ada keterpaksaan ketika berhubungan dan keduanya dalam keadaan sama-sama siap dan mau 103
105 Berarti afeksi yang kakak maksud, pada saat sama-sama mau, sama-sama siap. Iya benar. Yang jelas tidak ada keterpaksaan. Intinya tetap aja dikomunikasikan. Iya, dah gitu, ehm...alhamdulillah dari segi kebersihan, kalo mau berhubungan kami bersihbersih dulu. Maksudnya kak? Ya, mungkin dalam hal, sikat gigi dulu, bersihbersih badan dulu. Seperti yang dianjurkan nabi Muhammad, memakai harum-haruman, seperti itu. Justru kami sudah sepakat, kalo jorok gak mau gitu. Suami juga ternyata seperti itu, abi pun gak mau, katanya gitu. Ya, alhamdulillah, makanya karena itu ibadah, ya kita seperti shalat juga, kita harus bersih juga. Terus kak, sekarang kan pernikahannya sudah tiga tahun. Bagaimana ni harapan-harapan kakak dengan pernikahan kakak selanjutnya? Ya, insya Allah ya harapan kakak ya gak jauhjauh seperti harapan orang-orang banyak. Seperti keluarga nabi Muhammad dengan Siti Khadijah, gitu. Fatimah dan Ali, seperti di suratsurat undangan itu, gitu. Cuma yang perlu kita tekankan, kita tidak bisa seperti nabi Muhammad. Pasti kita ada kesalahankesalahannya, kita berusaha untuk mencontoh keluarga rasul, seperti itu. Terus harapan kakak ingin menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, dah gitu semakin lancar komunikasi dan insya Allah kakak lebih memperbaiki diri supaya menyenangkan suami dari fisik maupun psikisnya, dari kepintaran dan kecerdasan, karena cantik pun kita kalo tidak cerdas, ya suami kurang juga. Dalam arti kata cerdas dalam mendidik anak, insya Allah kita bangga. Baguslah mendidik anak, suami bangga. Itu salah satu yang membanggakan suami gitu. jadi jangan memikirkan kecantikan diri kita aja, anak tidak terurus, gitu, nauzubillah mindzalik. Terus suami tidak terurus, nauzubilla mindzalik. Insya Allah harapan kakak seperti itu, lebih Allah memberikan petunjuk kepada kami untuk memberi jalan yang baik dan petunjuk untuk kepintaran kepada kami orangtua supaya bagus dalam mendidik anak. Satu lagi mungkin yang terakhir, sekarang kan banyak kita lihat budaya kita orang-ornag menikah melalui proses pacaran. Kenapa kakak untuk melakukannya. Responden berharap agar kedepan keluarganya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, ia diberi kecerdasan dalam mendidik anak, dan komunikasi dengan suami semakin lancar. 104
106 lebih memilih melalui proses taaruf. Alasannya apa kak? Alasan menikah melalui taaruf atau pengenalan itu, alasan kakak karena insya Allah kita mencari yang halal, karena kalo pacaran dulu, gak ada sih pacaran yang gak ada pandangan, yang tidak ada kata-kata manis. Ya itu tadi, kakak memilih taaruf untuk mencari kehalalan dan juga mencari keridhoan Allah. Dan juga kakak lebih percaya melalui ustadzah dan ustad gitu. Mungkin karena insya Allah ke-tsiqoh-an (kepercayaan) kakak kepada ustadzah maupun kepada ustad itu tadi. Seperti itu. Apa yang membuat kakak yakin dengan proses ini kak? Ya dengan sholat istikharah tadi. Itu kan ada, ada usahanya ya. Ya kakak tidak langsung menerima, apa namanya, tidak langsung menerima yang ditawarkan ustadzah, gitu ya. Kita kan ada usahanya, shalat istikharah. Alhamdulillah sekali shalat istikharah dan dirakaat kedua di sujud terakhir Allah memberi jawaban, terbayang wajah calon suami saat itu. Ya, sementara kakak waktu itu belum melihat fotonya. Walaupun waktu itu udah diserahkan ke kakak tapi kakak tidak melihat fotonya. Kakak merasa itu udah, yakin aja gitu. Mungkin itu tadi ya, jodoh tadi keyakinan. Kakak langsung baca biodatanya aja. Waktu tu fotonya gak kakak buka-buka, shalat istikharah dulu, baru ada bayangan, baru kakak buka, lho, ini kan foto yang ini, wajah yang di waktu jawaban Allah di sujud terakhir itu. Subhana Allah, langsung kakak iyakan, alhamdulillah sekali taaruf langsung menyatakan iya jadi. Kemarin kan kakak cerita tentang masalah ekonomi. Dari gaji yang diberikan sekian kakak ada sedikit nabung. Ada sebagian tabungan yang kakak beritahu kan suami, ada sebagian yang kakak rahasiakan. Nah kalo yang dirahasiakan ini alasannya apa kak? Ya alasannya untuk pegangan. Bukan kita tidak percaya dengan suami, kita kan gak tau situasi nantinya, nanti mana tau dia keluarkeluar gitu tidak ada pengendalian, oya istri kan masih ada simpanan. Ada dua simpananlah seperti itu kan, ada dua simpanan tabungan gitu. Nanti kalo tau dia, terus, terus aja gitu. Responden memilih proses taaruf sebelum menikah dengan alasan karena adanya keinginan untuk mencari kehalalan dalam prosesnya, adanya harapan untuk mencari keridhoan Allah dan karena adanya kepercayaan pada ustadzahnya dalam memilih pasangan hidupnya kelak. Shalat istikharah membuat responden semakin yakin dengan calon suaminya saat itu, sehingga hanya dalam sekali pertemuan taaruf, responden sudah langsung memberi jawaban ya setuju untuk menikah dengan calon suaminya saat itu. Alasan responden merahasikan sebagian tabungannya dari suami dengan tujuan sebagai pegangan jika sewaktuwaktu ada kebutuhan dana yang mendadak. 105
107 Dikhawatirkan tidak mengikuti yang sudah kita atur keuangan tadi, mencegah. Dalam arti kata bukan kita yang macam-macam, tidak. Dan sudah terbukti ya, dari simpanan yang tidak suami ketahui itu, waktu saat, sementara dia belum gajian, kakak juga belum ada pegangan uang, itu pas-pas uang yang kita belanjakan. Sementara ada sesuaatu yang harus dibutuhkan saat itu dana. Alhamdulillah lebih, dari uang tabungan yang kakak tidak kasih tau ke suami, lebih dari yang dia butuhkan. Ya udah kakak serahkan. Terus dia nanya, ini uang dari mana, rezeki anak, itu aja kita jawab. Kalo kita bilang, simpanan rahasia, ya itu bukan rahasia lagi, ya bilang aja rezeki anak. Nah dari konteks kakak bilang rezeki anak itu dia berpikir, mungkin ada saudara-saudara ato kawan-kawan yang mengasih jajan, o ini Nayla buat Nayla, jajan, terus si ummi simpan-simpan. Dia kira seperti itu. Kenapa dikira seperti itu, karena kakak langsung nanya. Abi yakin ini? Yakin. Subhana Allah. Jadi keyakinan dia itu tetap kita jaga, bukan kita, ibaratnya bukan jadi azas manfaat, tidak. Nah jadi dia yakin pada kita, kita tidak, o bisa dibohongin terus ni, o enggak. Tapi banyaklah keuntungan dari tabungan rahasia yang kita sembunyikan itu. Yang jelas jangan kita buat foya-foya. Udah tiga tahun menikah, bayangkan tabungannya dah berapa, dia tidak tau gitu kan. Insya Allah ini kepintaran istri juga dan kehormatan istri juga. Bagaimana harapan-harapan kakak dengan kondisi ekonomi kakak kedepannya, gimana? Ya, yang jelas ya, insya Allah meningkat. Karena kan udah dua anak. Asuransinya lagi, untuk biaya sekolahnya. Ya insya Allah ditingkatkan lagi kehematannya, walaupun kita sudah hemat, bukan berarti kita apa namanya, celit ya, tidak. Hemat dalam arti kata yang harus keluar itu harus keluarkan. Contohnya nafkah istri, terus makanbuat anak dan suami dan untuk keluarga juga sebagainya, infak ya, karena kami tiap bulan itu udah kami agendakan infak gitu. Infaknya, terus kebutuhan untuk anak, apa itu susunya, pampersnya, terus makan-makanannya yang bergizi. Itu tetap dikeluarkan. Insya Allah lebih ditingkatkan lagi gizi makannya. Jadi bukan berarti hemat tapi anak gizi buruk, nauzubillah mindzalik. Tidak Kerahasiaan tabungan ini bukan dikarenakan karena responden tidak percaya pada suaminya, hanya sekedar menjaga kestabilan keuangan keluarga saja jika sewaktu-waktu ada keperluan dana yang mendadak. Responden berharap agar keuangan keluarganya kedepan semakin meningkat, dan ia akan berusaha untuk lebih hemat dalam mengatur keuangan keluarga. 106
108 seperti itu ya. Hemat dalam arti kata anak pun dalam segi gizi tetap ningkat, seperti itu. 107
a. Berapa lama mereka menikah b. Apa yang diharapkan dari hubungan pernikahan yang sedang dijalani 4. Perbedaan Tingkat Pendidikan
LAMIRAN 49 50 51 52 Lampiran 3. edoman Wawancara 1. Identitas ubjek a. Nama b. Usia c. endidikan d. ekerjaan 2. Identitas uami ubjek a. Nama b. Usia c. endidikan d. ekerjaan 3. Hubungan ubjek dengan uami
BAB II. 1. Pasangan WE dan ET (Mahasiswa perantauan asal Riau)
BAB II A. PROFIL INFORMAN 1. Pasangan WE dan ET (Mahasiswa perantauan asal Riau) WE adalah mahasiswa perempuan asal Riau. WE menempuh pendidikannya di kota Yogyakarta sejak tahun 2013. WE memilih berkuliah
Transkrip Wawancara dengan Anak Korban Broken Home
Transkrip Wawancara dengan Anak Korban Broken Home Informan 1 Nama : AD Jenis kelamin : Perempuan Usia : 14 Tahun Pendidikan : SMP Hari/tanggal wawancara : Jum at, 4 April 2014 Tempat wawancara : Rumah
Keindahan Seni Pendatang Baru
Pendatang Baru Hari ini adalah hari pertama Fandi masuk ke kampus. Karena dia baru pulang dari Aussie, setelah tiga tahun menetap dan sekolah disana, bersama dengan keluarganya. Orangtuanya telah mendaftarkannya
PEDOMAN WAWANCARA. 3. Pernahkah anda melakukan usaha untuk menggugurkan kandungan? tua/pasangan/orang-orang terdekat anda?
LAMPIRAN 59 PEDOMAN WAWANCARA 1. Bagaimana perasaaan anda ketika anda mengetahui bahwa anda sedang hamil? 2. Apa yang anda lakukan ketika anda mengetahui bahwa anda sedang hamil? 3. Pernahkah anda melakukan
PEDOMAN WAWANCARA. Calon Peserta
90 PEDOMAN WAWANCARA Calon Peserta Demand Masyarakat Menjadi Peserta Mandiri Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Di Kota Medan Tahun 2016 I. Identitas Nama : Umur : Pendidikan Terakhir : Pekerjaan
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dari mulai lahir sampai dengan meninggal dunia. Dari semua fase
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan perkembangan dari mulai lahir sampai dengan meninggal dunia. Dari semua fase perkembangan manusia
DAFTAR LAMPIRAN HASIL WAWANCARA INFORMAN 1
DAFTAR LAMPIRAN HASIL WAWANCARA INFORMAN 1 1. Bagaimana kondisi keluarga Anda (responden)? Kondisi keluargaku sangat harmonis, walaupun bapak sudah tidak ada tapi aku punya mamak yang luar biasa dan abang-kakakku
PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan
PENDAHULUAN I.A. Latar belakang Perkawinan merupakan salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan seseorang, disamping siklus lainnya seperti kelahiran, perceraian, atau kematian (Pangkahila, 2004).
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi dan Analisis Hasil Penelitian 1. Subjek S 1Untuk mengetahui kemampuan translasi model representasi dari Real Script menjadi Gambar Statis subjek S 1, maka diberikan
Transkrip Wawancara dengan Suami Broken Home
Transkrip Wawancara dengan Suami Broken Home Informan 1 Nama : Bapak MH Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 39 tahun Pendidikan : SMA Hari/tanggal wawancara : Selasa, 8 April 2014 Tempat wawancara : Rumah
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA Penelitian ini menggunakan wawancara sebagai teknik dalam pengumpulan data dan dalam pelaksanaannya akan dilakukan wawancara yang mendalam dan terstruktur guna mendapatkan
I. Arga ( tentang Dia dan Dia )
I. Arga ( tentang Dia dan Dia ) Dia indah, dia cantik. Bagiku dia penghuni taman hatiku. Namanya Andin. Buatku melihatnya tertawa, melihat dia tak terbebani itu bahagiaku. Andini Soebagio, perempuan cantik
Persahabatan Itu Berharga. Oleh : Harrys Pratama Teguh Sabtu, 24 Juli :36
Sahabat, kata yang sering kita dengar. Apakah kalian tahu arti dari sahabat? Semua pendapat orang tentang sahabat berbeda-beda. Menurutku sahabat adalah teman yang selalu ada saat kita sedang senang maupun
Lampiran 3. Verbatim Subjek 1. Waktu Wawancara : Sabtu, 08 Februari 2014 PENELITI (P) SUBJEK1 (YS)
131 Lampiran 3 Verbatim Subjek 1 Subjek 1 : Waktu Wawancara : Sabtu, 08 Februari 2014 ENELITI () SUBJEK1 () Kode Verbatim Koding Hallo.. gimana kerjaannya? 1 Udah. Uda beres. Oke. Anakmu gimana kabarnya?
BAB I PENDAHULUAN. membangun kehidupan sosial dan kehidupan bermasyarakat secara luas bagi seorang anak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga sebagai institusi sosial terkecil, merupakan fondasi dan investasi awal untuk membangun kehidupan sosial dan kehidupan bermasyarakat secara luas bagi
LAMPIRAN I. Verbatim (Bahasa Indonesia) Subjek JP. S : Iya, tidak apa-apa kak, saya juga punya waktu luang dan tidak ada kesibukan
LAMPIRAN I Verbatim (Bahasa Indonesia) P : Peneliti S : Subjek Subjek JP P : Assalamu alaikum, selamat pagi S : Wa alaikum salam, pagi.. P : Sebelum nya kakak mintaa maaf dik, mungkin mengganggu waktunya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan merupakan bersatunya seorang laki-laki dengan seorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan bersatunya seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri untuk membentuk keluarga. Dahulu pembagian peran pasangan suami
BIODATA INFORMAN. : Muhammad Ali Akbar Syihab. Tempat/Tanggal Lahir: Tanjung Beringin, 23 Desember : 4 (Empat) Dari: 6 (Enam) Bersaudara
BIODATA INFORMAN Nama : Muhammad Ali Akbar Syihab Tempat/Tanggal Lahir: Tanjung Beringin, 23 Desember 1993 Usia Anak Ke Agama Pendidikan : 21 Tahun : 4 (Empat) Dari: 6 (Enam) Bersaudara : Islam : - SD
PERTANYAAN WAWANCARA. Jenis kelamin: Pendidikan terakhir: Pendapatan/bulan : <3juta >3juta
PERTANYAAN WAWANCARA Nama: Jenis kelamin: Jabatan: Pendidikan terakhir: Lama bekerja: Pendapatan/bulan : 3juta 1. Saat ini ibu sedang menggunakan bank apa? Sudah berapa lama ibu menggunakan bank
GURU. Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo silahkan perkenalkan diri.
INT. CLASSROOM - DAY Suasana kelas yang bising akan obrolan murid terhenti oleh sahutan guru yang mendatangi mereka dan membawa seorang murid yang berdiri di depan pintu kelas. GURU Anak-anak, hari ini
LEMBAR HASIL WAWANCARA (INFORMAN)
LEMBAR HASIL WAWANCARA (INFORMAN) Inisial Nama : MA Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur Pendidikan Pekerjaan : 45 Tahun : SMA : Tidak Ada No. Variabel / Pertanyaan Informan Kemudahan Memperoleh Narkoba 1 Apakah
BAB I PENDAHULUAN. kehamilan yang sama. Jenis kelamin dari anak kembar ini bisa sama, tapi bisa
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak kembar adalah dua orang anak atau lebih yang lahir dari satu masa kehamilan yang sama. Jenis kelamin dari anak kembar ini bisa sama, tapi bisa juga berbeda. Secara
INFORMED CONSENT LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN. : Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas. Sumatera Utara
56 Lampiran 1 INFORMED CONSENT LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN Nama Peneliti : Ayu My Lestari Saragih NIM : 121101100 Instansi Peneliti : Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Judul
Rumah Ketua RT : (tok tok tok.) Assalamuallaikum.. permisi : Waallaikum salam eeeh perawat Evita.. apa kabar?
Setting: Di suatu hari yang cerah beberapa hari setelah dilakukannya implementasi oleh perawat Evita mengenai senam kaki dan edukasi mengenai terapi diet bagi sekelompok masyarakat yang menderita DM. Maka
LAMPIRAN HASIL WAWANCARA. Hasil penelitian melalui wawancara dengan tiga keluarga di RT 14 Kelurahan Way Halim Bandar Lampung:
LAMPIRAN HASIL WAWANCARA Hasil penelitian melalui wawancara dengan tiga keluarga di RT 14 Kelurahan Way Halim Bandar Lampung: 1. Komunikasi Keluarga a. Keluarga Bapak Rubai (48 tahun) Peneliti : Bagaimana
BAB I PENDAHULUAN. sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam rumah tangga sudah tentu terdapat suami dan istri. Melalui proses perkawinan, maka seseorang individu membentuk sebuah miniatur dari organisasi sosial
Lampiran 1 : Transkrip Wawancara Pasangan Suami Istri JS dan HS
Lampiran 1 : Transkrip Wawancara Pasangan Suami Istri JS dan HS : Selamat siang bu, boleh diperkenalkan nama ibu siapa, umur nya berapa dan alamatnya dimana? : Suku ibu apa? : Saya suku Batak : Agama ibu
BAB IV ANALISIS DATA. Analisis dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) didalam Menangani
80 BAB IV ANALISIS DATA Analisis dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) didalam Menangani Pola Pikir dan Perilaku Lesbian pada Remaja di Jeruk Lakarsantri Surabaya Setelah menyajikan data di lapangan
LAMPIRAN BIODATA DIRI
LAMPIRAN BIODATA DIRI A. Identitas Nama : IRNA SYAFITRI Nim : 080904052 Departemen : Ilmu Komunikasi Stambuk 2008 Tempat/Tanggal lahir : Kisaran, 22 Mei 1989 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Golongan
(Elisabeth Riahta Santhany) ( )
292 LAMPIRAN 1 LEMBAR PEMBERITAHUAN AWAL FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL JAKARTA Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah saudara luangkan untuk berpartisipasi dalam penelitian
Lampiran I PEDOMAN WAWANCARA. 1. Pemahaman pernikahan
58 Lampiran I PEDOMAN WAWANCARA 1. Pemahaman pernikahan a. Apa yang Bapak/Ibu ketahui tentang pernikahan? b. Menurut Bapak/Ibu, pada usia berapakah seseorang dikatakan siap untuk menikah? c. Menurut Bapak/Ibu,
A. SAJIAN DATA. 1. Respon Guru Jika Murid Tidak Mengerti Materi Pembelajaran
A. SAJIAN DATA Setiap individu memiliki kebiasaan yang berbeda hal tersebut tidak terlepas pada kebiasaan seorang guru dalam memulai kegiatan belajar mengajar. Pada setiap awal pembelajaran Nubuat sebagai
LAMPIRAN. 4. Menurut kamu sudah baik kah pelayanan humas? Ya mereka sudah bekerja dengan baik.
LAMPIRAN Transkip 1 : Informant bernama Vimala (2011-58-008) status mahasiswa aktif UEU fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Broadcasting. 1. Apakah yang kamu ketahui tentang opini publik? Opini publik bagi
DAFTAR LAMPIRAN. 1. Kapan pertama kali mengenal game point blank? Aku bang pertama kali mengenal point blank sejak umur 12 tahun.
DAFTAR LAMPIRAN HASIL WAWANCARA INFORMAN I 1. Kapan pertama kali mengenal game point blank? Aku bang pertama kali mengenal point blank sejak umur 12 tahun. 2. Kenapa tertarik dengan point blank? Gimana
Daftar pertanyaan untuk key informan : Customer service PT Galva Technologies (Sdri. Ayu)
Daftar pertanyaan untuk key informan : Customer service PT Galva Technologies (Sdri. Ayu) 1. Seberapa sering anda berkomunikasi dengan pelanggan 2. Apakah semua pelanggan yang datang diperlakukan yang
HASIL WAWANCARA INFORMAN 1
DAFTAR PERTANYAAN 1. Sudah berapa lama menikah? 2. Bisa ceritakan kembali bagaimana pertemuan awal bapak/ibu sampai menjalin hubungan? 3. Dalam keluarga bahasa apa yang digunakan sehari-hari? 4. Tradisi
LAMPIRAN II VERBATIM DAN FIELD NOTE RESPONDEN IC
LAMPIRAN II VERBATIM DAN FIELD NOTE RESPONDEN IC 106 107 VERBATIM WAWANCARA HASIL WAWANCARA SUBJEK 2 (IC) Hari : Selasa Tanggal : 13 Oktober 2015 Jam : 09.00-12.00 Tempat : Ruang tamu Kostan responden
BAB I PENDAHULUAN. memiliki tugas perkembangan yang sangat penting yaitu mencapai status
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa termasuk di dalam kategori remaja akhir dan dewasa awal. Pada masa itu umumnya merupakan masa transisi. Mereka masih mencari jati diri mereka masing-masing,
ANNIE DAN HALLEY. Written By. Puspasani
DAN Written By Puspasani SINOPSIS Siang hari yang panas, Annie pulang dari sekolah kepribadian. Mama Annie sudah menyiapkan makan siang untuknya. Setelah selesai makan siang, Mama Annie memberi tahu Annie
LAMPIRAN LAMPIRAN 71
LAMPIRAN LAMPIRAN 71 Lampiran 1 72 Lampiran 2 Informed Consent PENJELASAN PENELITIAN UNTUK BERPARTISIPASI SEBAGAI PARTISIPAN Judul Penelitian Nama Peneliti : Respon Kedukaan Pasien saat Terdiagnosa HIV
PERANCANGAN FILM KARTUN
PERANCANGAN FILM KARTUN NASKAH KISAH ANAK JALANAN Oleh YUS HARIADI 08.11.2104 S1 TEKNIK INFORMATIKA S1 5D Kisah Anak Jalanan Wrriten by Yus Hariadi 04 November 2010 Anak jalanan Mataram, NTB Blackscreen
BAB I PENDAHULUAN. pembuahan hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan, baik dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk yang tidak pernah berhenti berubah. Semenjak pembuahan hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan fisik maupun
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN Pada Bab IV ini akan dijelaskan hasil perolehan data di lapangan yang selanjutnya dianalisis untuk memperoleh deskripsi profil berpikir probabilistik siswa dalam menyelesaikan masalah
It s a long story Part I
It s a long story Part I #throwback MFR. Mantan terakhirku di zaman smp dulu. Semasa aku dan kamu mempunyai status, orang orang di sekolah bilang pasangan paling sweet satu sekolah. Bagaimana aku dan kamu
Ingatan lo ternyata payah ya. Ini gue Rio. Inget nggak? Rio... Rio yang mana ya? Ok deh, gue maklum kalo lo lupa. Ini gue Rio, senior lo di Univ
Bab 1 Dina sangat bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia merasa sangat terpojok. Kenapa disaat-saat seperti ini ia bertemu lagi dengannya padahal ia sudah berhasil melupakannya. Dina kan? seorang
DATA PERCAKAPAN. pada saat anak sedang mengerjakan tugas di dalam kelas)
Lampiran I DATA PERCAKAPAN 1. Percakapan, dan (konteks peneliti mengajak anak bercerita pada saat anak sedang mengerjakan tugas di dalam kelas) : Kau suka pelajaran apa th? : Gelas suka, bola suka. : Apa?
Perpustakaan Unika LAMPIRAN KUESIONER 30
LAMPIRAN KUESIONER 30 Sehubungan dengan penelitian saya yang berjudul PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP KEDISIPLINAN DOSEN FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN UNIKA SOEGIJAPRANATA SEMARANG, maka saya mohon kesediaan
ANALISIS MARKET RESEARCH UNEJ
1. Kegiatan selama liburan Bantu orang tua:3 Ya, kalo aku sih ya diem aja dirumah soalnya dirumah juga kan ada ibu punya took jadi bisa bantu-bantu (D,P,Aktif, Jalan-jalan:5 Kalo traveling, mungkin naik
Eh, maaf ga sengaja, gue lagi buru-buru. Loe ga papa? tanya Joe menyesal.
Saat kamu merasakan cinta terhadap seseorang tapi tidak bisa memberitahunya, apa yang akan kamu lakukan? Terus diam atau memberanikan diri untuk mengungkapkannya? Lita memilih untuk diam, karena dia pikir
BAB V BEBAN GANDA WANITA BEKERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
BAB V BEBAN GANDA WANITA BEKERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 5.1 Beban Ganda Beban ganda wanita adalah tugas rangkap yang dijalani oleh seorang wanita (lebih dari satu peran) yakni sebagai ibu
IDEOLOGI GENDER DAN KEHIDUPAN WANITA KEPALA RUMAH TANGGA (WKRT)
IDEOLOGI GENDER DAN KEHIDUPAN WANITA KEPALA RUMAH TANGGA (WKRT) 31 Ideologi Gender Ideologi gender adalah suatu pemikiran yang dianut oleh masyarakat yang mempengaruhi WKRT (Wanita Kepala Rumah Tangga)
"Ya ampun ini anak pikirannya makan terus. Hahahaha," jawab Ricky "Yah keliatan kali dari pipi Ki. Hahaha," timpal Cella Persahabatan yang nyaris
PROLOG "Grace, gimana tadi bisa gak?" Tanya Cella "Bisa sih, mudah-mudahan dapat nilainya bagus yah Cel," jawab Grace "Hai cewek-cewek, gimana tadi UNnya bisa gak?" Ucap Ricky "Bisa dong," jawab Cella
Hasil Wawancara Penelitian
Hasil Wawancara Penelitian 1. Subjek 1 Pertanyaan Jawaban Keterangan Nama bapak siapa? Sekarang usianya berapa pak? Di sini tempat tinggal bapak? Hmm pendidikan terakhir bapak dulu apa ya? Nama saya SL
LAMPIRAN. 1. Wawancara dengan Bapak Suwandi (Pemilik Tambak) Nurul P.Suwandi Nurul
LAMPIRAN Hasil Wawancara 1. Wawancara dengan Bapak Suwandi (Pemilik Tambak) : Assalamualaikum Pak : Walaikumsalam : Sebelumnya Saya ucapkan terima kasih pada Bapak sudah meluangkan waktu untuk Saya. Perkenalkan
PEDOMAN WAWANCARA. Nama : TTL : Tempat Tinggal : Usia : Agama : Suku : Pekerjaan : Anak : Lama tinggal bersama mertua : Usia Pernikahan :
PEDOMAN WAWANCARA Nama : TTL : Tempat Tinggal : Usia : Agama : Suku : Pekerjaan : Anak : Lama tinggal bersama mertua : Usia Pernikahan : Pertanyaan umum: 1. Apakah anda sebelum menikah sudah mengetahui
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA. Uraian :... Uraian : Mengikuti diklat atau pelatihan akuntansi zakat (PSAK 109) : Uraian :...
LAMPIRAN DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA A. Latar Belakang Pendidikan 1. Pendidikan terakhir : Cukup 2. Latar belakang pendidikan : Cukup 3. Mengikuti diklat atau pelatihan akuntansi zakat (PSAK 109) : Cukup
Lampiran 4. Verbatim Subjek 2. Waktu Wawancara : Rabu, 26 Maret 2014 PENELITI (P) SUBJEK2 (A)
142 Lampiran 4 Verbatim Subjek 2 Subjek 2 : Waktu Wawancara : Rabu, 26 Maret 2014 ENELITI () SUBJEK2 () Kode Verbatim Koding Bagaimana pekerjaan kamu? Ya begitu aja sih, Cuma akhir bulan katanya mau ada
Sepanjang jalan tiada henti bercerita dan tertawa, aku menghitung bintang-bintang dan tak terasa sudah sampai di tempat mie ayam rica-ricanya Pasti
Sepanjang jalan tiada henti bercerita dan tertawa, aku menghitung bintang-bintang dan tak terasa sudah sampai di tempat mie ayam rica-ricanya Pasti abang nya bingung nih kakak bawa cewek lain lagi Iyalah
PEDOMAN WAWANCARA. Eksistensi Komunitas Lesbian Di Kota Bandung. (Suatu Fenomenologi Tentang Eksistensi Komunitas Lesbian Di Kota Bandung)
107 PEDOMAN WAWANCARA Hari, tanggal : Sabtu, 3 juli 2010 Waktu : 15.15 Tempat : Kostan, Sekeloa Nara Sumber : Diana Umur : 20 tahun pendidikan terakhir Pekerjaan : SMA : Mahasiswi Eksistensi Komunitas
TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis
TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis tidaklah sulit. Mudah saja, simple dan sangat sederhana. Sebagai seorang
Verbatim. Tujuan Khusus Tema Sub Tema Kategori Kata kunci P1 P2 P3. dapat. Saya hanya pasrah kepada. kanker payudara istri pasca
LAMPIRAN 1 Verbatim Tujuan Khusus Tema Sub Tema Kategori Kata kunci P1 P2 P3 Mengidentifikasi Bentuk-bentuk Dukungan Pasrah dan Saya kaget, karena selama dukungan sosial dukungan emosional percaya kepada
Mari belajar keliling dan Luas Lingkaran.
LAMPIRAN 95 96 Lampiran 1 Instrumen tes pemecahan masalah open-ended materi lingkaran Mari belajar keliling dan Luas Lingkaran. Nama : Kelas/ No urut : Petunjuk Pengisian: 1. Berdoalah terlebih dahulu
: Dina Simbolon. Lama Bekerja : 10 Tahun (Sejak 2006) Waktu wawancara : 29 April 2016, WIB. P : Kenapa Ibu memutuskan untuk pindah kemedan?
Informan 1 : Nama : Dina Simbolon Umur : 53 Tahun Lama Bekerja : 10 Tahun (Sejak 2006) Waktu wawancara : 29 April 2016, 16.12 WIB P : Coba perkenalkan diri Ibu? I : Nama Ibu Dina Simbolon, asal ibu dari
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT. bekerja. Dampak dari masalah work family conflict yang berasa dari faktor
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT 6.1 Pendahuluan Fenomena work-family conflict ini juga semakin menarik untuk diteliti mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, baik terhadap wanita dan
LAPORAN KONSELING INDIVIDUAL
LAPORAN KONSELING INDIVIDUAL A. Identitas Konseli Nama : E Umur : 16 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Domisili : Yogyakarta B. Deskripsi Masalah yang Dikeluhkan Konseli adalah anak tunggalketiga
Dalam sehari, dia menghancurkan semua harapanku. Dalam sehari, dia membuatku menangis. Dalam sehari, dia menjadi mimpi terburukku
Dalam sehari, dia menghancurkan semua harapanku Dalam sehari, dia membuatku menangis Dalam sehari, dia menjadi mimpi terburukku Dalam sehari Hanya dalam sehari BRRAKKK!!! Pukulan Niken nyaris menghancurkan
JADWAL TENTATIF PENELITIAN
Lampiran 1 JADWAL TENTATIF PENELITIAN No. Nama Kegiatan Februari Maret April Mei Juni 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pemilihan sampel penelitian 2 Melakukan prolonged engagement 3 Melakukan
BAB I PENDAHULUAN. diandalkan pada saat individu mengalami kesulitan (Orford, 1992). Dukungan
BAB I PENDAHULUAN I. A. LATAR BELAKANG Dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, dan penghargaan yang diandalkan pada saat individu mengalami kesulitan (Orford, 1992). Dukungan sosial ini terbagi atas
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (INDEPTH INTERVIEW) Adapun pertanyaan yang disusun dalam melakukan Indepth Interview untuk
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (INDEPTH INTERVIEW) Adapun pertanyaan yang disusun dalam melakukan Indepth Interview untuk menggali informasi dari informan adalah : 1. Bisakah ibu menceritakan bagaimana ibu
Tugas Mid Semeter. Membuat Naskah Film Pendek
Tugas Mid Semeter Membuat Naskah Film Pendek Oleh : Setyo Wibowo 08.12.3315 S1-SI-5I STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Judul : Akhir yang Menyedihkan Sinopsis : Nining 20 tahun, Seorang Mahasiswi di sebuah akademi
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA Penelitian ini menggunakan wawancara sebagai teknik dalam pengumpulan data. Dalam pelaksanaannya akan dilakukan wawancara yang mendalam guna mendapatkan data yang akurat. Pedoman
Awalnya aku biasa saja tak begitu menghiraukannya, karena aku menganggap, dia sedang melampiaskan
Pernikahan Bapakku adalah seorang guru agama dan lumayan dikenal sebagai orang yang alim di lingkungan sekitar. karena risih dan merasa khawatir, setiapku pulang ke rumah selalu ada yang mengantar (seorang
23 April 2013 Introduction
23 April 2013 Introduction Hello... kenalin nama gue Leo, biasa gue dipanggil hia-hia, koko atau dipanggil saat ada acara sunatan (boong deng) dan gue udah tau (baca: sok tau) yang kalian pikirin kenapa
Pedoman Wawancara Siswi Sebagai Informan Tambahan Nama : Kelas : Pertanyaan 1. Menurut Adik penting tidak rasa percaya diri saat berpidato? Alasannya?
1. Apa tugas Adik sebagai pembimbing? 2. Materi-materi apa saja yang Adik berikan saat membimbing kegiatan public 3. Metode seperti apa yang Adik gunakan dalam membimbing kegiatan public 4. Upaya apa yang
Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara
86 Lampiran 1. Pedoman wawancara Pedoman wawancara saat penelitian Di Rumah Sakit Umum Bina Kasih Medan Daftar pertanyaan wawancara kepada keluarga pasien Data singkat informan Nama : Jenis Kelamin : Tanggal
KISAH DUA SAUDARA ADANG SUTEJA HADIYANTO TRUE STORY
KISAH DUA SAUDARA By ADANG SUTEJA HADIYANTO TRUE STORY Adang Suteja Hadiyanto Adang Suteja Hadiyanto (09.11.3525) jl mancasan kidul Depok Sleman Yogyakarta. INT.PAGI HARI Di sebuah kota besar yaitu kota
LAMPIRAN I : PERTANYAAN PENELITIAN
LAMPIRAN 68 LAMPIRAN I : PERTANYAAN PENELITIAN Kecemasan 1. Bagaimana perasaan anda menghadapi tindakan pemasangan WSD? 2. Apa yang anda cemaskan menghadapi tindakan pemasangan WSD? instrumental 1. Bagaimana
Research Question Theory Interview question
PPENDICES ppendix 1: THE GUIDELINE OF INTERVIEW Research Question Theory Interview question What are the difficulties faced by the student of EED of UMY in doing group discussion? 1. Lack of vocabulary
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN. Tabel 4.1 Jadwal Waktu dan Kegiatan Penelitian
45 BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN Dalam penelitian ini terdapat tahap-tahap kegiatan dalam pengerjaannya. Rincian waktu dan kegiatan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut:
Materi kuliah ini didownload dari. Tidak Ikhlas?
Modul Kuliah Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01 Materi Modul Kuliah Tauhid Judul Materi Tidak Ikhlas? Seri Materi KDW0118 Seri-18 dari 41 seri/esai File Paper Ada Tidak File Audio Ada Tidak File Video Ada
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam hal ini peneliti akan menguraikan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada tujuh partisipan selama kurang lebih dua bulan. Penyajian data hasil
Keberanian. Dekat tempat peristirahatan Belanda pada zaman penjajahan, dimulailah perjuangan nya.
Keberanian Pagi itu di pedesan Kaliurang udara tampak sejuk dan embun pagi mulai pupus. Pada hari pahlawan 10 November tahun dimana kita mengingat perjuangan para pahlawan Indonesia. Ibu Malino sedang
YANG TERHILANG Oleh: Yung Darius
YANG TERHILANG Oleh: Yung Darius ADEGAN 1. RUANG TAMU. SORE HARI. DUA ORANG (L/P) SEDANG BERCAKAP-CAKAP. 001. Orang 1 : Kayaknya akhir-akhir ini aku jarang melihat kamu ke gereja 002. Orang 2 : Jarang..!??
LAMPIRAN A: PEDOMAN OBSERVASI LAMPIRAN B: PEDOMAN WAWANCARA LAMPIRAN C: HASIL PENELITIAN DAN HASIL WAWANCARA ORANG TERDEKAT SUBJEK
LAMPIRAN LAMPIRAN A: PEDOMAN OBSERVASI LAMPIRAN B: PEDOMAN WAWANCARA LAMPIRAN C: HASIL PENELITIAN DAN HASIL WAWANCARA ORANG TERDEKAT SUBJEK LAMPIRAN D: TRIANGULASI SUBJEK LAMPIRAN E: TES GRAFIS DAN HASIL
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN A. Persiapan Penelitian Pada saat penelitian, peneliti melakukan persiapan dengan menggunakan alat ukur observasi dan wawancara. Observasi digunakan untuk mengetahui
No. Responden : Nama : Umur : Jenis Kelamin Pendidikan terakhir : Pekerjaan :
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM STUDI KUALITATIF PERILAKU BUANG AIR BESAR PADA IBU RUMAH TANGGA YANG TIDAK MEMILIKI JAMBAN KELUARGA DI KECAMATAN SUKARESMI KABUPATEN GARUT 2009 Informan : Ibu rumah tangga No.
Wawancara Partisipan 1
55 Verbatim Partisipan Wawancara Partisipan 1 S Isi Percakapan Kode P Selamat pasi mas 1 P1 Selamat pagi juga mbak 2 P Bisa minta waktunya sebentar mas sekitar 5-10 menit 3 P1 Iya bisa 4 P Perkenalkan
GUIDE INTERVIEW No. Uraian Pertanyaan
GUIDE INTERVIEW No. 1. 2. 3. Uraian Pertanyaan Berapa usia Anda ketika menikah dengan suami? Pada saat anda hamil apakah anda masih berstatus siswa (masih aktif sekolah)? Bagaimana tanggapan orang tua
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN
35 LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN 36 KUESIONER Responden yang terhormat, Saya Andre Kurniawan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen Unika Soegijapranata Semarang, memohon kesediaan Saudara
Naskah Manajemen Complain dan Customer Care
Naskah Manajemen Complain dan Customer Care 1. Karakter Emosional Complain Seorang ibu yang merupakan anggota keluarga pasien datang ke customer service menanyakan perihal tidak adanya tempat tidur yang
P : Saya Camilla kak dari Komunikasi USU, mau mewawancarai kakak untuk skripsi kak.
85 WAWANCARA 1 Tanggal : 8 Mei 2014 Jam : 08.00 WIB Tempat : Sekolah Khusus Autisme YAKARI Pewawancara : Camilla Emanuella Sembiring (P) Informan : Guru pendamping AZ (MR) P : Pagi kak Pagi dek P : Saya
BAB V DATA 5.1. Elemen-Elemen Komunikasi Interpersonal Sumber-Penerima Encoding-Decoding
BAB V DATA 5.1. Elemen-Elemen Komunikasi Interpersonal 5.1.1. Sumber-Penerima Pada saat komunikasi interpersonal dalam chat Facebook terjadi antara Pak Jasson dan Bondan, maka kemungkinan partisipan menjadi
Kerjakan dengan singkat dan jelas!
29 LAMPIRAN SOAL Nama : No : Kelas : Kerjakan dengan singkat dan jelas! 1. Alas sebuah limas berbentuk persegi dengan panjang sisinya 12 cm. Jika tinggi segitiga pada sisi tegak 10 cm, hitunglah a. tinggi
BAB I PENDAHULUAN. tugas dan sumber-sumber ekonomi (Olson and defrain, 2006).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia akan mengalami peristiwa penting dalam hidupnya, salah satunya adalah momen perkawinan dimana setiap orang akan mengalaminya. Manusia diciptakan untuk
Not Just A Friendship, We Are Big Family
Not Just A Friendship, We Are Big Family He s getting married! ucap Laras setengah ragu. So what? pertanyaan tapi dengan pandangan penuh selidik dilontarkan seperti tanpa punya perasaan oleh Lian, sahabat
