BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Sonny Widjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Data Pratindakan Peneliti terlebih dahulu melakukan tahap pratindakan sebelum melaksanakan proses penelitian. Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan nyata dan kondisi awal di tempat penelitian. Tahap pratindakan dilakukan pada bulan Desember 2015 yang meliputi kegiatan wawancara, observasi, dan pretest. Wawancara dilakukan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dan keterampilan berbicara siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Observasi dilakukan terhadap aktivitas belajar siswa yang meliputi aspek minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Pretest dilakukan pada siswa kelas V dengan menilai aspek-aspek keterampilan berbicara siswa yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat permasalahan yaitu rendahnya keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Adapun hasil wawancara, observasi, dan pretest pada pratindakan ini dijabarkan sebagai berikut. a. Hasil Wawancara dengan Guru dan Siswa Kelas V Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan pada Senin, 21 Desember 2015 dengan guru kelas V (lampiran 16 halaman 310) yaitu Bibiana Sri Mulyani, diketahui bahwa masih terdapat siswa yang belum berani mengeluarkan pendapatnya saat pembelajaran. Selain itu, siswa belum terampil dalam menerapkan aspek-aspek keterampilan berbicara. Hal ini terlihat ketika siswa berbicara belum dilakukan dengan lancar dan menggunakan lafal yang jelas, sehingga berbicara siswa masih sering terputus-putus dan memberikan sisipan emmmm. Intonasi dan ekspresi berbicara yang digunakan belum tepat, sehingga terkesan kaku 73
2 74 dan datar. Hal yang disampaikan terkadang juga belum sesuai dengan perintah, sehingga isi pembicaraan siswa keluar dari topik yang dibahas. Rendahnya kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari siswa dan guru. Faktor dari siswa karena kurangnya pemahaman siswa terhadap materi atau konsep yang disampaikan serta perasaan malu dan takut pendapatnya salah. Faktor dari guru adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat. Hal ini dikarenakan guru terlalu mendominasi kegiatan pembelajaran, sedangkan siswa pasif dan hanya belajar tentang pengetahuan bahasa saja tanpa menggunakan bahasa tersebut. Keadaan pembelajaran yang seperti itu mengakibatkan siswa kesulitan untuk menggunakan bahasa secara lisan dan membuat siswa merasa bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga siswa terlihat tidak memperhatikan pelajaran dengan baik namun bermain dengan temannya. Data yang hampir sama diperoleh dari hasil wawancara dengan siswa kelas V (lampiran 17 halaman 317) yang dilakukan setelah wawancara dengan guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa tersebut dapat diketahui bahwa walaupun siswa telah dibiasakan untuk berbicara di depan kelas, namun siswa masih merasa kesulitan, malu, dan takut untuk mengungkapkan pendapatnya. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu pembelajaran akibat model pembelajaran konvensional yang digunakan guru. Waktu lebih banyak digunakan oleh guru untuk menerangkan materi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, tidak semua mendapat kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Akibatnya, siswa menjadi kesulitan untuk berbicara dengan lancar. Selain itu, ketika sedang berbicara siswa terkesan kaku dan datar karena tidak memperhatikan intonasi dan ekspresi berbicara. b. Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Kualitas proses pembelajaran berbicara diperoleh berdasarkan hasil
3 SKOR 75 pengamatan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berbicara berlangsung. Aspek yang diamati meliputi minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Kegiatan observasi pratindakan dilakukan pada Selasa, 22 Desember 2016 ketika proses pembelajaran berbicara sebelum menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada pratindakan dapat disajikan dalam tabel 3 sebagai berikut. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Pratindakan No. Aspek yang Diamati Frekuensi Persentase 1. Minat 17 58,62% 2. Keaktifan 7 24,14% 3. Kerja sama 8 17,24% 4. Kreativitas 10 34,48% Berdasarkan tabel 3 di atas, maka dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan klasikal pada pratindakan aspek minat berada pada interval 50%-79% (kategori cukup), sedangkan keaktifan, kerjasama, dan kreativitas berada pada interval dibawah 49% (kategori kurang). Dengan demikian, kualitas proses pembelajaran berbicara sebelum menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat dikatakan cukup kurang atau belum berhasil dan berkualitas. Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 4 di bawah ini Minat Keaktifan Kerja sama Kreativitas KETERANGAN Gambar 4. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Pratindakan
4 76 Berdasarkan gambar 4 di atas, maka dapat diketahui bahwa aspek pengamatan aktivitas belajar siswa yang memiliki distribusi frekuensi tertinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran berbicara sebelum menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE), yaitu minat dengan jumlah siswa adalah 17. Aspek yang memiliki distribusi frekuensi terendah yaitu kerja sama dengan jumlah siswa adalah 5. Adapun hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada pratindakan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 34 dan 35 halaman 361 dan 363. c. Hasil Pretest Keterampilan Berbicara Kondisi awal keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 yang masih sangat rendah diperkuat dengan hasil pretest. Pretest dilakukan berdasarkan kisi-kisi soal dan soal tes unjuk kerja keterampilan berbicara pada pratindakan (lampiran 10 dan 11 halaman 300 dan 301). Penilaiannya berdasarkan pedoman penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara (lampiran 20 dan 21 halaman 331 dan 335). Kegiatan pretest dilaksanakan pada Selasa, 22 Desember Data hasil pretest keterampilan berbicara siswa dapat diamati pada tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Pratindakan No. Interval Frekuensi Nilai Tengah f i.x i Persentase Keterangan Nilai (f i ) (x i ) (100%) ,45% Tidak Tuntas ,48% Tidak Tuntas ,59% Tidak Tuntas ,34% Tidak Tuntas ,45% Tidak Tuntas ,69% Tuntas Jumlah % Rata-rata nilai 68,97 Ketuntasan klasikal 20,69% Nilai tertinggi 84 Nilai terendah 56
5 FREKUENSI 77 Berdasarkan tabel 4 di atas, maka dapat diketahui bahwa dari 29 siswa terdapat 6 siswa atau 20,69% yang mencapai nilai 80 (KKM), sedangkan 23 siswa atau 79,31% belum mencapai KKM. Persentase ketuntasan klasikal tersebut berada pada interval dibawah 49%, sehingga termasuk dalam kategori sangat rendah. Dengan demikian, siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada pratindakan sangat kurang terampil dalam berbicara. Data hasil pretest keterampilan berbicara siswa di atas juga dapat disajikan dalam bentuk gambar 5 sebagai berikut: INTERVAL NILAI Gambar 5. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Pratindakan Berdasarkan gambar 5 di atas, maka dapat diketahui frekuensi dari masing-masing interval nilai. Frekuensi tertinggi terdapat pada interval nilai yang berjumlah 10 siswa, sedangkan frekuensi terendah terdapat pada interval nilai dan yang berjumlah 1 siswa. Selain itu, data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah frekuensi siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM lebih banyak dibandingkan jumlah frekuensi siswa yang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari KKM 80. Data ketuntasan keterampilan berbicara siswa selengkapnya dijelaskan pada tabel 5 di bawah ini.
6 78 Tabel 5. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Pratindakan No. Ketuntasan Jumlah Siswa Persentase (%) 1. Tuntas 6 20,69% 2. Tidak Tuntas 23 79,31% Total % Berdasarkan tabel 5 di atas, maka data dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 6 di bawah ini. KETUNTASAN KETERAMPILAN BERBICARA 20.69% Tuntas Tidak Tuntas 79.31% Gambar 6. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Pratindakan Berdasarkan tabel 5 dan gambar 6 di atas, maka dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tidak tuntas lebih banyak daripada jumlah siswa yang tuntas. Tuntas berarti mencapai nilai KKM 80 dan termasuk kategori terampil. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada pratindakan memiliki keterampilan berbicara yang sangat rendah. Hal ini dikarenakan siswa merasa malu dan takut salah apabila diminta untuk mengeluarkan pendapatnya. Akibatnya kegiatan pembelajaran menjadi kurang komunikatif karena kebanyakan siswa lebih memilih diam. Apabila keadaan ini dibiarkan maka keterampilan berbicara siswa dapat semakin sangat rendah.
7 79 Oleh karena itu, berdasarkan data dan fakta di atas, maka diperlukan tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Peneliti dan guru kelas V berkolaborasi untuk mencari solusi agar keterampilan berbicara siswa meningkat. Usaha yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melakukan perbaikan dan inovasi pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Adapun data hasil pretest keterampilan berbicara siswa secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 22 halaman Hasil Tindakan Siklus I Siklus I terdiri dari dua pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan adalah dua jam pelajaran (2 x 35 menit). Pertemuan pertama dilaksanakan pada Rabu, 20 April Pertemuan kedua dilaksanakan pada Kamis, 21 April Kegiatan pada siklus I terdiri dari empat tahapan, yaitu: a) perencanaan tindakan, b) pelaksanaan tindakan, c) pengamatan tindakan, dan d) refleksi tindakan. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut. a. Perencanaan Tindakan Pada tahap ini, peneliti bersama guru kelas V melakukan perencanaan untuk mempersiapkan pelaksanaan siklus I. Perencanaan tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan yaitu meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Adapun langkah-langkah pada tahap perencanaan tindakan meliputi: 1) Menetukan Pokok Bahasan Pokok bahasan berkaitan dengan materi pembelajaran. Adapun materi yang dipelajari pada pertemuan 1 adalah mengomentari persoalan faktual tentang fauna langka, yaitu Komodo dan Harimau
8 80 Sumatera. Pertemuan 2 adalah mengomentari persoalan faktual tentang flora langka, yaitu Cendana dan Damar. 2) Mengkaji Silabus Pembelajaran dan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peneliti terlebih dahulu mengidentifikasi Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam silabus pembelajaran bahasa Indonesia Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas V Sekolah Dasar (SD) semester II. Peneliti kemudian menyusun RPP pembelajaran berbicara berdasarkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun SK yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada poin 6 yang isinya mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama. KD yang digunakan yaitu pada poin 6.1. yang isinya mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa. Adapun bagian-bagian RPP dalam penelitian ini diadaptasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses. Bagian-bagian tersebut meliputi: identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, dampak pengiring, materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, media, dan sumber pembelajaran serta teknik penilaian. Penjabaran dari masing-masing bagian-bagian RPP siklus I tersebut dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5 halaman 159 dan ) Menyiapkan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes dan nontes untuk memperoleh data mengenai kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa. Tes yang digunakan adalah tes unjuk kerja keterampilan berbicara terhadap siswa. Nontes
9 81 yang digunakan adalah pengamatan kinerja guru dan aktivitas belajar siswa. 4) Menyiapkan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang diperlukan pada siklus I diantaranya: a) Media pembelajaran Media pembelajaran yang digunakan pada pertemuan 1 yaitu gambar berseri tentang Komodo dan Harimau Sumatera yang terancam punah. Pertemuan 2 menggunakan gambar seri tentang Cendana dan Damar yang terancam punah. Setiap pertemuan dibantu dengan Power Point (PPT) yang ditayangkan menggunakan laptop dan lcd. b) Menyiapkan Nomor Punggung Siswa Siswa mengenakan nomor punggung pada setiap pelaksanaan tindakan. Nomor punggung tersebut dibuat dari kertas karton yang diberi tali. Tujuan penggunaan nomor punggung tersebut untuk memudahkan peneliti saat mengamati aktivitas belajar dan menilai keterampilan berbicara siswa. c) Ruang kelas Ruang kelas yang digunakan adalah ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Ruang kelas tersebut kemudian diatur sesuai dengan kebutuhan, yaitu meja siswa dibuat menjadi empat baris dengan setiap baris terdiri dari empat bangku ke belakang. Antarbaris diberi jarak sehingga memudahkan guru untuk menguasai kelas. Dengan demikian, penataan ruang kelas tersebut dapat mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan. 5) Melakkan Koordinasi dengan Guru Kelas Peneliti melakukan koordinasi dengan guru kelas V pada hari Senin, 18 April 2016 bertempat di ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Koordinasi tersebut membahas tentang tempat dan waktu pelaksanaan tindakan serta langkah-langkah tindakan yang telah dibuat sebelumnya yaitu penerapan model pembelajaran Student Facilitator
10 82 and Explaining (SFE) untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. b. Pelaksanaan Tindakan Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V untuk menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) pada pembelajaran berbicara dengan menggunakan media gambar berseri. Guru kelas bertindak sebagai pengajar, sedangkan peneliti sebagai pengamat. Adapun penjabaran pelaksanaan pembelajaran berbicara pada siklus I sebagai berikut: 1) Pertemuan 1 a) Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiatan ini guru menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan apersepsi, orientasi, dan motivasi. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang pengertian dan contoh persoalan faktual. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara yaitu mengomentari persoalan faktual mengenai hewan langka dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Motivasi dilakukan dengan mengajak siswa untuk menirukan suara Kera dan Babi. Guru meminta perwakilan siswa untuk memimpin di depan kelas. b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut. (1) Eksplorasi Guru menayangkan dua gambar hewan langka yaitu Komodo dan Harimau Sumatera, kemudian meminta siswa untuk mengamati dan menyebutkan nama hewan tersebut. Guru
11 83 juga melakukan kegiatan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang ciri-ciri dan jumlah populasi hewan yang ada pada gambar. Guru melanjutkan kegiatan dengan memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok, kemudian membagi kelas menjadi enam kelompok sesuai kelompok belajar dan meminta setiap kelompok untuk duduk saling berhadapan. Guru menyampaikan garis-garis besar materi berupa penjelasan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya, setelah semua siswa mendapat kelompok. Guru juga menjelaskan tentang aspek-aspek keterampilan berbicara yang harus diperhatikan. Guru mengakhiri kegiatan elaborasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru membagikan lembar kerja siswa kepada setiap kelompok. Guru meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya dan menyelesaikan tugas. Guru memantau kinerja setiap kelompok dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya, ketika siswa telah selesai menyelesaikan tugas kelompok. Kelompok lain diberi tugas untuk memperhatikan dan menanggapi. (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk
12 84 menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru melanjutkan kegiatan dengan memberikan tindak lanjut berupa tugas kepada siswa untuk melatih kembali tentang aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengucapkan salam. 2) Pertemuan 2 a) Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiaan ini guru menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan apersepsi, orientasi, dan motivasi. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya dengan siswa tentang contoh persoalan faktual yang mereka ketahui. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara pada hari ini yaitu mengomentari persoalan faktual mengenai tumbuhan langka dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Motivasi dilakukan dengan mengajak siswa untuk melakukan tepuk semangat. b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut.
13 85 (1) Eksplorasi Guru menayangkan dua gambar tumbuhan langka yaitu Cendana dan Damar, kemudian meminta siswa untuk mengamati dan menyebutkan nama tumbuhan tersebut. Guru juga melakukan kegiatan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang ciri-ciri dan jumlah populasi tumbuhan yang ada pada gambar. Guru melanjutkan kegiatan dengan memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok kemudian meminta siswa duduk secara berhadapan dengan kelompok yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Guru menyampaikan garis-garis besar materi berupa penjelasan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya, setelah semua siswa mendapat kelompok. Guru juga menjelaskan tentang aspek-aspek keterampilan berbicara yang harus diperhatikan. Guru mengakhiri kegiatan eksplorasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru membagikan lembar kerja siswa kepada setiap kelompok. Guru kemudian meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya dan menyelesaikan tugas. Guru memantau kinerja setiap kelompok ketika mengomentari persoalan faktual yang diterima dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya, ketika siswa telah selesai menyelesaikan tugas kelompok. Kelompok lain diberi tugas untuk memperhatikan dan menanggapi hasil diskusi kelompok yang maju.
14 86 (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas kepada siswa untuk melatih kembali tentang aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengucapkan salam. c. Pengamatan Tindakan Tahap pengamatan tindakan dilakukan oleh peneliti selama proses kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Pengamatan dilakukan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 berdasarkan pedoman yang telah disiapkan sebelumnya, yaitu meliputi pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran berbicara, pengamatan aktivitas belajar siswa, dan pengamatan aspek-aspek keterampilan berbicara siswa. Pengamatan tindakan ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai kesesuaian pelaksanaan pembelajaran berbicara pada kelas V dengan RPP yang telah dibuat. Dengan demikian, diketahui seberapa besar pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and
15 87 Explaining (SFE) dapat menghasilkan perubahan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil pengamatan, maka diperoleh data pada siklus I sebagai berikut: 1) Hasil Pengamatan Kinerja Guru Pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) difokuskan pada beberapa aspek kemampuan guru dalam mengajar. Terdapat sembilan aspek yang diamati dengan empat indikator pada setiap aspek. Hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini. Tabel 6. Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus I No. Indikator/Aspek yang Diamati Skor Pertemuan Membuka pembelajaran Kejelasan dan sistematika dalam penyampaian materi pembelajaran Menggunakan sumber belajar dan media pembelajaran yang efektif dan efisien Melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students 2 3 Facilitator and Explaining (SFE) 5. Menumbuhkan partisipasi aktif dan antusiasme siswa dalam proses pembelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara runtut Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, lancar, baik, dan benar Melakukan penilaian/ evaluasi Menutup pembelajaran 2 2 Jumlah Rata-rata skor 2,56 2,78 Rata-rata skor siklus I 2,67
16 SKOR 88 Berdasarkan tabel 6 di atas, maka dapat diketahui bahwa rata-rata skor kinerja guru pada siklus I berada pada interval 2,01 3,00, sehingga termasuk dalam kategori baik. Kategori tersebut menunjukkan bahwa guru dapat dikatakan mampu dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Berdasarkan hasil pengamatan kinerja guru di atas, maka dapat disusun rekapitulasi data siklus I pada tabel 7 di bawah ini. Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus I No. Keterangan Hasil Rata-rata 1. Pertemuan 1 2,56 2,67 2. Pertemuan 2 2,78 Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 7 di bawah ini Pertemuan Pertemuan Rata-rata KETERANGAN Gambar 7. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus I Berdasarkan tabel 7 dan gambar 7 di atas, maka dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kinerja guru antara hasil pada pertemuan 1 dan 2 di siklus I sebesar 0,22. Dengan demikian, guru telah
17 89 memperbaiki kinerjanya dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun data hasil pengamatan kinerja guru secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Kualitas Proses Pembelajaran Berbicara Kualitas proses pembelajaran berbicara diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Aspek yang diamati meliputi minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dapat disajikan dalam tabel 8 sebagai berikut. Tabel 8. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus I No. Aspek yang Diamati Frekuensi Persentase 1. Minat 19 65,51% 2. Keaktifan 16 55,18% 3. Kerja sama 15 51,72% 4. Kreativitas 16 55,17% Berdasarkan tabel 8 di atas, maka dapat diketahui bahwa persentase skor masing-masing aspek aktivitas belajar siswa pada siklus I berada pada interval 50%-79%, sehingga termasuk dalam kategori cukup. Dengan demikian, kualitas proses pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat dikatakan cukup berhasil dan berkualitas. Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 8 di bawah ini.
18 SKOR Minat Keaktifan Kerja sama Kreativitas KETERANGAN Gambar 8. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Berdasarkan gambar 8 di atas, maka dapat diketahui bahwa aspek pengamatan aktivitas belajar siswa yang memiliki distribusi frekuensi tertinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siklus I, yaitu minat dengan jumlah siswa adalah 19. Aspek yang memiliki distribusi frekuensi terendah yaitu kerja sama dengan jumlah siswa adalah 15. Adapun hasil pengamatan aktivitas belajar siswa secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Penilaian Tes Unjuk Kerja Keterampilan Berbicara Siswa Penilaian terhadap keterampilan berbicara siswa ketika sedang mengomentari persoalan faktual dilaksanakan dengan menggunakan pedoman penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara. Penilaian difokuskan pada aspek-aspek keterampilan berbicara yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Data hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini.
19 FREKUENSI 91 Tabel 9. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus I No. Interval Frekuensi Nilai f i.x i Persentase Keterangan Nilai (f i ) Tengah (x i ) (100%) ,96% Tidak Tuntas ,42% Tidak Tuntas ,98% Tidak Tuntas ,77% Tuntas ,87% Tuntas Jumlah % Rata-rata nilai 77,38 Ketuntasan klasikal 44,83% Nilai tertinggi 86 Nilai terendah 66 Berdasarkan tabel 9 di atas, maka dapat diketahui bahwa dari 29 siswa terdapat 13 siswa atau 44,83% yang mencapai nilai 80 (KKM), sedangkan 16 siswa atau 55,17% belum mencapai KKM. Persentase ketuntasan klasikal tersebut berada pada interval dibawah 49%, sehingga termasuk dalam kategori sangat kurang. Dengan demikian, siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada siklus I sangat kurang terampil dalam berbicara. Data hasil keterampilan berbicara siswa di atas juga dapat disajikan dalam gambar 9 sebagai berikut INTERVAL NILAI Gambar 9. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus I
20 92 Berdasarkan gambar 9 di atas, maka dapat diketahui frekuensi dari masing-masing interval nilai. Frekuensi tertinggi terdapat pada interval nilai yang berjumlah 12 siswa, sedangkan frekuensi terendah terdapat pada interval nilai yang berjumlah 1 siswa. Selain itu, data tersebut menunjukkan bahwa jumlah frekuensi siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM lebih banyak dibandingkan jumlah frekuensi nilai sama dengan atau lebih dari KKM yaitu 80. Data ketuntasan keterampilan berbicara siswa selengkapnya dijelaskan pada tabel 10 berikut ini. Tabel 10. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus I No. Ketuntasan Jumlah Siswa Persentase (%) 1. Tuntas 13 44,83% 2. Tidak Tuntas 16 55,17% Total % Berdasarkan tabel 10 di atas, maka data dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 10 di bawah ini. KETUNTASAN KETERAMPILAN BERBICARA 55.17% 44.83% Tuntas Tidak Tuntas Gambar 10. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus I Berdasarkan tabel 10 dan gambar 10 di atas, maka dapat diketahui bahwa antara persentase jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit
21 93 dibandingkan siswa yang tidak tuntas. Tuntas berarti siswa telah mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan indikator kinerja yang telah ditetapkan yaitu 80% atau 24 siswa mendapatkan nilai 80 (KKM) belum tercapai. Adapun untuk hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara siswa pada siklus I secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman d. Refleksi Tindakan Berdasarkan hasil pengamatan tindakan dan tes unjuk kerja yang dilakukan pada siklus I, maka diperoleh beberapa temuan-temuan. Temuan tersebut berkaitan dengan kelebihan dan kelemahan selama pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining Explaining (SFE). Adapun temuan tersebut terdapat pada kinerja guru, kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa, sebagai berikut: 1) Kinerja Guru Berdasarkan hasil pengamatan tindakan siklus I guru telihat telah melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining Explaining (SFE). Langkah-langkah pembelajaran berbicara yang dilaksanakan oleh guru sebagian besar juga sudah sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Namun, masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun kekurangan-kekurangan tersebut yaitu: (a) guru kurang memberikan contoh tentang cara mengucapkan lafal yang jelas, berbicara yang lancar, serta isi pembicaraan, intonasi, dan ekspresi berbicara yang tepat; (b) guru menyampaikan semua materi pembelajaran pada tahapan penyampaian garis-garis besar materi pembelajaran; dan (c) guru belum mengajak siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.
22 94 2) Aktivitas Belajar Siswa Pengamatan aktivitas belajar siswa meliputi aspek minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus I penggunaan media gambar berseri yang warnanya beragam dan ditayangkan menggunakan PPT membuat siswa tertarik untuk mendengarkan penjelasan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Selain itu, adanya kegiatan diskusi memudahkan siswa dalam menyelesaikan tugas. Namun secara keseluruhan, hasil tersebut masih termasuk dalam kategori kualitas proses pembelajaran yang cukup. Hal ini dikarenakan masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun kekurangan-kekurangan tersebut yaitu: a) terdapat siswa yang masih sibuk bermain dengan teman terdekatnya, b) masih terdapat siswa yang merasa malu dan takut untuk mengungkapkan pendapat dan pertanyaan ketika proses pembelajaran berbicara berlangsung, serta c) pada kegiatan diskusi siswa masih bekerja secara individu dan tidak membantu teman yang masih mengalami kesulitan. 3) Keterampilan Berbicara Siswa Keterampilan berbicara siswa dinilai berdasarkan lima aspek yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Berdasarkan hasil penilaian keterampilan berbicara pada siklus I diketahui bahwa siswa terlihat telah mampu berbicara dengan benar-benar dibedakan antara bunyi konsonan dan vokal. Selain itu, isi pembicaraan siswa juga tidak menyimpang dari topik yang dibahas, namun komentar yang diberikan belum cukup luas. Berbicara siswa masih sering terputus-putus serta terkesan kaku dan datar. Oleh karena itu, hasil tersebut belum mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan yaitu 80% atau 24 siswa mendapatkan nilai 80 (KKM).
23 95 Berdasarkan hasil temuan-temuan tersebut, peneliti kemudian melakukan diskusi dengan guru kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Diskusi dilakukan untuk mencari solusi, sehingga pada siklus selanjutnya dapat mencapai hasil yang lebih baik. Adapun solusi yang diperoleh dari hasil diskusi meliputi: a) guru kembali mengkaji secara seksama dan berlatih menggunakan langkah-langkah pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada RPP untuk siklus selanjutnya; b) guru memberikan contoh penerapan aspek-aspek keterampilan berbicara pada siswa secara lebih jelas, c) guru mengoptimalkan kegiatan diskusi dengan cara menekankan kepada siswa untuk saling bekerja sama dalam melatih aspek-aspek keterampilan berbicara sebelum tampil di depan kelas, d) guru menekankan kepada siswa untuk tidak menghafalkan tetapi memahami hasil diskusi, dan e) mengganti media pembelajaran yang digunakan dengan video. 3. Hasil Tindakan Siklus II Siklus II terdiri dari dua pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan adalah dua jam pelajaran (2 x 35 menit). Pertemuan 1 dilaksanakan pada Sabtu, 23 April Pertemuan 2 dilaksanakan pada Rabu, 27 April Kegiatan pada siklus II terdiri dari 4 tahapan, yaitu: a) perencanaan tindakan, b) pelaksanaan tindakan, c) pengamatan tindakan, dan d) refleksi tindakan. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut. a. Perencanaan Tindakan Peneliti bersama guru kelas V melakukan perencanaan untuk mempersiapkan pelaksanaan siklus II. Perencanaan tersebut berdasarkan hasil refleksi dari siklus I. Oleh karena itu pada siklus II berisi langkahlangkah perbaikan pelaksanaan siklus I. Hal tersebut dilakukan untuk mempeloleh hasil yang lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pada tahap perencanaan tindakan meliputi: 1) Mengidentifikasi Kekurangan pada Siklus I dan Mencari Solusi Perbaikan yang Diperlukan
24 96 Mengidentifikasi kekurangan pada siklus I merupakan langkah yang harus dilakukan, sehingga diketahui kendala-kendala yang menghambat pencapaian indikator kinerja. Identifikasi tersebut diperoleh dari hasil pengamatan dan refleksi siklus I yang meliputi kinerja guru, aktivitas belajar siswa, dan nilai keterampilan berbicara siswa. Hasil identifikasi tersebut kemudian didiskusikan dengan guru, sehingga diperoleh solusi perbaikan yang diperlukan. Solusi tersebut kemudian diimplementasikan pada pelaksanaan tindakan di siklus II. Langkah ini dilakukan dengan tujuan lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/ ) Menetukan Pokok Bahasan Pokok bahasan berkaitan dengan materi pembelajaran. Adapun materi yang dipelajari pada pertemuan 1 adalah mengomentari persoalan faktual tentang pencemaran tanah dan suara. Pertemuan 2 adalah mengomentari persoalan faktual tentang pencemaran udara dan air. 3) Mengkaji Silabus Pembelajaran dan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan silabus bahasa Indonesia Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas V Sekolah Dasar (SD) semester II dan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) sebagai hasil refleksi siklus I. Adapun SK yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada poin 6 yang isinya mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama, sedangkan KD yang digunakan yaitu pada poin 6.1. yang isinya mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa. Adapun bagian-bagian RPP dalam penelitian ini diadaptasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 65
25 97 Tahun 2013 Tentang Standar Proses. Bagian-bagian tersebut meliputi: identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, dampak pengiring, materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, media, dan sumber pembelajaran serta teknik penilaian. Penjabaran dari masing-masing bagian-bagian RPP siklus II tersebut dapat dilihat pada lampiran 6 dan 7 halaman 208 dan ) Menyiapkan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan berupa penilaian tes dan nontes untuk memperoleh data mengenai kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa. Tes yang digunakan adalah tes unjuk kerja keterampilan berbicara terhadap siswa. Nontes yang digunakan adalah pengamatan kinerja guru dan aktivitas belajar siswa. 5) Menyiapkan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang diperlukan pada siklus II diantaranya: a) Media Pembelajaran Media pembelajaran yang digunakan pada pertemuan 1 yaitu video tentang pencemaran tanah dan suara. Pertemuan 2 menggunakan video tentang pencemaran udara dan air. Setiap pertemuan dibantu dengan speaker dan PPT yang ditayangkan menggunakan laptop dan lcd. b) Ruang Kelas Ruang kelas yang digunakan adalah ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Ruang kelas tersebut kemudian diatur sesuai dengan kebutuhan, yaitu meja siswa dibuat menjadi empat baris dengan setiap baris terdiri dari empat bangku ke belakang. Antarbaris diberi jarak sehingga memudahkan guru dalam menguasai kelas. Dengan demikian, penataan tersebut dapat mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan.
26 98 6) Melakukan Koordinasi dengan Guru Kelas Peneliti melakukan koordinasi dengan guru kelas V pada hari Jumat, 22 April 2016 bertempat di ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Koordinasi tersebut membahas tentang tempat dan waktu pelaksanaan tindakan serta langkah-langkah tindakan yang telah dibuat sebelumnya. Koordinasi dilakukan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan sehingga diperoleh hasil yang lebih meningkat. b. Pelaksanaan Tindakan Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V untuk menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) pada pembelajaran berbicara dengan menggunakan media video sebagai hasil refleksi dari siklus I. Guru kelas bertindak sebagai pengajar, sedangkan peneliti sebagai pengamat. Adapun penjabaran pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sebagai berikut. 1) Pertemuan 1 a) Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan rutin yang meliputi: mengucapkan salam, mengabsen siswa, dan meminta siswa untuk duduk dengan rapi. Guru kemudian menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan motivasi, apersepsi, dan orientasi. Motivasi dilakukan dengan mengajak siswa melakukan tepuk the best. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang persoalan faktual yang mereka ketahui. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara pada hari ini yaitu mengomentari persoalan faktual mengenai pencemaran tanah dan suara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti
27 99 terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut. (1) Eksplorasi Guru melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang penyebab dan dampak pencemaran tanah dan suara. Guru melanjutkan kegiatan dengan memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok kemudian meminta siswa berhitung satu sampai dengan enam. Siswa yang memiliki nomor yang sama menjadi satu kelompok dan duduk secara berhadapan. Guru menyampaikan garis-garis besar materi pembelajaran berupa penjelasan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya, setelah semua siswa mendapat kelompok. Guru juga menjelaskan dan mendemontrasikan contoh penerapan aspek-aspek keterampilan berbicara yang harus diperhatikan. Guru mengakhiri kegiatan eksplorasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru menayangkan dua video pencemaran yaitu pencemaran tanah dan suara. Guru meminta siswa untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting yang ada pada video. Guru kemudian membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok dan meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya. Guru memantau kinerja setiap kelompok dan menekankan siswa untuk saling bekerja sama dengan teman satu kelompok dalam mengomentari persoalan faktual yang diterima. Selain itu, guru membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil
28 100 diskusinya, ketika siswa telah selesai menyelesaikan tugas kelompok. Kelompok lain diberikan tugas untuk memperhatikan dan menanggapi. (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas kepada siswa untuk melatih kembali tentang aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengucapkan salam. 2) Pertemuan 2 a) Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiatan ini guru menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan motivasi, apersepsi, dan orientasi. Motivasi dilakukan dengan melakukan tepuk semangat. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang persoalan faktual yang telah dipelajari pada pembelajaran sebelumnya. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara yaitu mengomentari persoalan faktual
29 101 mengenai pencemaran udara dan air dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut. (1) Eksplorasi Guru melakukan kegiatan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang penyebab dan dampak pencemaran udara dan air. Guru melanjutkan kegiatan dengan memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok, kemudian meminta siswa duduk secara berhadapan dengan kelompok yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Guru menyampaikan garis-garis besar materi berupa penjelasan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya, setelah semua siswa mendapatkan kelompok. Guru juga menjelaskan dan mendemonstrasikan contoh penerapan aspek-aspek keterampilan berbicara yang harus diperhatikan. Guru mengakhiri kegiatan eksplorasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru menayangkan dua video pencemaran yaitu pencemaran udara dan air. Guru meminta siswa untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting yang ada pada video. Guru kemudian membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok dan meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya. Guru memantau kinerja setiap kelompok dan menekankan siswa untuk saling bekerja sama dengan teman satu kelompok dalam mengomentari persoalan faktual yang
30 102 diterima. Selain itu, guru membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya, ketika siswa telah selesai menyelesaikan tugas diskusi. Kelompok lain diberi tugas untuk memperhatikan dan menanggapi kelompok yang maju. (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas kepada siswa untuk melatih kembali tentang aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengucapkan salam. c. Pengamatan Tindakan Tahap pengamatan tindakan dilakukan oleh peneliti selama kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Pengamatan dilakukan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 berdasarkan pedoman yang telah disiapkan sebelumnya, yaitu meliputi pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran,
31 103 pengamatan aktivitas belajar siswa, dan pengamatan aspek-aspek keterampilan berbicara siswa. Pengamatan tindakan ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai kesesuaian pelaksanaan pembelajaran berbicara pada kelas V dengan RPP yang telah dibuat. Oleh karena itu, diketahui seberapa besar pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) dapat menghasilkan perubahan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan siklus II maka diperoleh data hasil observasi sebagai berikut: 1) Hasil Pengamatan Kinerja Guru Pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) difokuskan pada beberapa aspek kemampuan guru dalam mengajar. Terdapat sembilan aspek yang diamati dengan empat indikator pada setiap aspek. Hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada tabel 11 di bawah ini. Tabel 11. Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus II No. Indikator/Aspek yang Diamati Skor Pertemuan Membuka pembelajaran Kejelasan dan sistematika dalam penyampaian materi pembelajaran Menggunakan sumber belajar dan media pembelajaran yang efektif dan efisien Melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) Menumbuhkan partisipasi aktif dan antusiasme siswa dalam proses 4 4 pembelajaran 6. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara runtut 3 4
32 SKOR Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, lancar, baik, dan benar Melakukan penilaian/ evaluasi Menutup pembelajaran 4 4 Jumlah Rata-rata skor 3,33 3,56 Rata-rata skor siklus II 3,45 Berdasarkan tabel 11 di atas, maka dapat diketahui bahwa ratarata skor kinerja guru pada siklus II berada pada interval 3,01-4,00, sehingga termasuk dalam kategori sangat baik. Kategori tersebut menunjukkan bahwa guru dapat dikatakan sangat mampu dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Berdasarkan hasil pengamatan kinerja guru di atas, maka dapat disusun rekapitulasi data siklus II pada tabel 12 sebagai berikut. Tabel 12. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus II No. Keterangan Hasil Rata-rata 1. Pertemuan 1 3,33 3,45 2. Pertemuan 2 3,56 Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 11 di bawah ini Pertemuan Pertemuan 2 Rata-rata KETERANGAN Gambar 11. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus II Berdasarkan tabel 12 dan gambar 11 di atas, maka dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kinerja guru antara hasil pada
33 105 pertemuan 1 dan 2 di siklus II sebesar 0,23. Dengan demikian, terlihat bahwa guru telah memperbaiki kinerjanya dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun data hasil pengamatan kinerja guru secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Kualitas Proses Pembelajaran Berbicara Kualitas proses pembelajaran berbicara diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Aspek yang diamati meliputi minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus II dapat disajikan dalam tabel 13 sebagai berikut. Tabel 13. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus II No. Aspek yang Diamati Frekuensi Persentase 1. Minat 23 79,31% 2. Keaktifan 21 72,41% 3. Kerja sama 22 75,86% 4. Kreativitas 23 79,31% Berdasarkan tabel 13 di atas, maka dapat diketahui bahwa persentase skor masing-masing aspek aktivitas belajar siswa pada siklus II berada pada interval 50%-79%, sehingga termasuk dalam kategori cukup. Dengan demikian, kualitas proses pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat dikatakan cukup berhasil dan berkualitas. Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 12 sebagai berikut.
34 SKOR Minat Keaktifan Kerja sama Kreativitas KETERANGAN Gambar 12. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus II Berdasarkan gambar 12 di atas, maka dapat diketahui bahwa aspek pengamatan aktivitas belajar siswa yang memiliki distribusi frekuensi tertinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siklus II yaitu minat dengan jumlah siswa adalah 23. Aspek yang memiliki distribusi frekuensi terendah yaitu kreativitas dengan jumlah siswa adalah 16. Adapun hasil pengamatan aktivitas belajar siswa siklus II secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Penilaian Tes Unjuk Kerja Keterampilan Berbicara Siswa Penilaian terhadap keterampilan berbicara siswa ketika mengomentari persoalan faktual dilaksanakan dengan menggunakan pedoman penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara. Penilaian difokuskan pada aspek-aspek keterampilan berbicara yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Data hasil penilaian keterampilan berbicara siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 14 di bawah ini.
35 FREKUENSI 107 Tabel 14. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus II No. Interval Frekuensi Nilai f i.x i Persentase Keterangan Nilai (f i ) Tengah (x i ) (100%) ,86% Tidak Tuntas ,07% Tidak Tuntas ,00% Tidak Tuntas ,50% Tuntas ,57% Tuntas Jumlah % Rata-rata nilai 80,28 Ketuntasan klasikal 68,97% Nilai tertinggi 88 Nilai terendah 68 Berdasarkan tabel 14 di atas, maka dapat diketahui bahwa dari 29 siswa terdapat 20 siswa atau 68,97% yang mencapai nilai 80 (KKM), sedangkan 9 siswa atau 31,03% belum mencapai KKM. Persentase ketuntasan klasikal tersebut berada pada interval 60%-69%, sehingga termasuk kategori cukup. Dengan demikian, siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada siklus II cukup terampil dalam berbicara. Data hasil keterampilan berbicara siswa di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 13 di bawah ini INTERVAL NILAI Gambar 13. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus II Berdasarkan gambar 13 di atas, maka dapat diketahui frekuensi dari masing-masing interval nilai. Frekuensi tertinggi terdapat pada interval
36 108 nilai yang berjumlah 15 siswa, sedangkan frekuensi terendah terdapat pada interval nilai dan yang masing-masing berjumlah 1 siswa. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa jumlah frekuensi nilai di atas atau sama dengan KKM lebih banyak dibandingkan jumlah frekuensi nilai di bawah KKM yaitu 80. Data ketuntasan keterampilan berbicara siswa selengkapnya dijelaskan pada tabel 15 berikut ini. Tabel 15. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus II No. Ketuntasan Jumlah Siswa Persentase (%) 1. Tuntas 20 68,97% 2. Tidak Tuntas 9 31,03% Total % Berdasarkan tabel 15 di atas, maka data dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 14 di bawah ini. KETUNTASAN KETERAMPILAN BERBICARA 31.03% 68.97% Tuntas Tidak Tuntas Gambar 14. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus II Berdasarkan tabel 15 dan gambar 14 di atas, maka dapat diketahui bahwa antara persentase jumlah siswa yang tuntas pada siklus II lebih banyak dibandingkan jumlah siswa yang tidak tuntas. Tuntas berarti siswa
37 109 telah mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 telah mencapai nilai KKM yaitu 80. Namun, hasil tersebut menunjukkan bahwa indikator kinerja yang telah ditetapkan belum tercapai. Adapun hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara pada siklus II secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman d. Refleksi Tindakan Berdasarkan hasil pengamatan tindakan dan tes unjuk kerja yang dilakukan pada siklus II, maka diperoleh beberapa temuan-temuan sebagai berikut: 1) Kinerja Guru Berdasarkan hasil pengamatan tindakan siklus II diketahui bahwa guru telah memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran berbicara pada siklus II. Guru tidak menjelaskan semua materi pada tahap penyampaian garis-garis besar materi. Selain itu, guru telah memberikan contoh tentang cara pengucapan lafal yang jelas, berbicara yang lancar serta menggunakan intonasi, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi yang tepat. Namun, masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siklus II. Adapun kekurangan-kekurangan tersebut yaitu: (a) guru kurang melibatkan siswa untuk mempraktekkan penerapan cara pengucapan lafal yang jelas, berbicara yang lancar serta menggunakan intonasi, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi yang tepat; (b) guru belum mengajak siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran, dan (c) guru belum menyampaikan hasil belajar siswa. 2) Aktivitas Belajar Siswa Pengamatan aktivitas belajar siswa yang meliputi aspek minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Berdasarkan hasil pengamatan
38 110 aktivitas belajar siswa pada siklus II diketahui bahwa penggunaan media video yang berisi tentang kejadian yang ada di sekitar siswa dengan dilengkapi suara dan gambar membuat siswa memperhantikan dan fokus pada penjelasan materi pembelajaran. Selain itu, pada kegiatan diskusi siswa sudah mulai bisa bekerjasama dengan teman satu kelompok untuk menyelesaikan tugas. Namun secara keseluruhan, hasil tersebut masih termasuk dalam kategori kualitas proses pembelajaran yang cukup. Hal ini dikarenakan masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun kekurangan-kekurangan tersebut yaitu: a) pembentukan kelompok dengan cara berhitung mengakibatkan terdapat kelompok yang merasa tidak cocok dengan anggota kelompoknya, b) kegiatan diskusi belum dimanfaatkan secara baik oleh siswa untuk berlatih dan mempelajari hasil diskusi secara bersama, dan c) siswa masih terfokus untuk berlatih dan menghafalkan hasil diskusi yang ditulis secara individu. 3) Keterampilan Berbicara Siswa Keterampilan berbicara siswa dinilai berdasarkan lima aspek yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Berdasarkan hasil penilaian keterampilan berbicara siswa ketika mengomentari persoalan faktual pada siklus II siswa terlihat mampu berbicara dengan dapat dibedakan bunyi antara konsonan dan vokalnya. Siswa juga sudah mampu berbicara dengan tidak terlau sering terputus-putus bahkan hampir keseluruhan tidak lagi menyisipkan kata seperti eee..mmm dsb. Selain itu, siswa juga mampu berbicara sesuai dengan topik dan tidak terkesan datar. Namun, siswa masih terlihat malu-malu dan ragu dalam memberikan gerakan mimik/pantomimik saat berbicara. Oleh karena itu, hasil tersebut belum mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan.
39 111 Berdasarkan hasil temuan-temuan tersebut, peneliti kemudian melakukan diskusi dengan guru kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Diskusi dilakukan untuk mencari solusi, sehingga pada siklus selanjutnya dapat mencapai hasil yang lebih baik. Adapun solusi yang diperoleh dari hasil diskusi meliputi: a) guru mengkaji secara seksama langkah-langkah pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada RPP untuk siklus selanjutnya; b) guru melibatkan siswa untuk mempraktekkan kembali contoh yang diberikan guru tentang cara pengucapan lafal yang jelas, berbicara yang lancar serta menggunakan intonasi, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi yang tepat; c) guru menekankan kepada siswa untuk saling bekerja sama dalam melatih aspek-aspek keterampilan berbicara sebelum tampil di depan kelas; dan d) guru menekankan kepada siswa untuk tidak menghafalkan tetapi memahami hasil diskusi. 4. Hasil Tindakan Siklus III Siklus III terdiri dari dua pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan adalah dua jam pelajaran (2 x 35 menit). Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 29 April 2016 sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 30 April Kegiatan pada siklus III terdiri dari 4 tahapan, yaitu: a) perencanaan tindakan, b) pelaksanaan tindakan, c) pengamatan tindakan, dan d) refleksi tindakan. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut. a. Perencanaan Tindakan Peneliti bersama guru kelas V melakukan perencanaan untuk mempersiapkan pelaksanaan siklus III. Perencanaan tersebut berdasarkan hasil refleksi dari siklus II. Oleh karena itu pada siklus III berisi langkahlangkah perbaikan dan penyempurnaan dari pelaksanaan siklus II. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Adapun langkah-langkah pada tahap perencanaan tindakan adalah sebagai berikut.
40 112 1) Mengidentifikasi Kekurangan pada Siklus II dan Melakukan Penyempurnaan Tindakan yang Diperlukan Mengidentifikasi kekurangan pada siklus II merupakan langkah yang harus dilakukan, sehingga diketahui kendala-kendala yang menghambat pencapaian indikator kinerja. Identifikasi tersebut diperoleh dari hasil pengamatan dan refleksi siklus II yang meliputi kinerja guru, aktivitas belajar siswa, dan nilai keterampilan berbicara siswa. Hasil identifikasi kemudian didiskusikan dengan guru, sehingga diperoleh solusi perbaikan dan penyempurnaan tindakan yang diperlukan. Solusi tersebut kemudian diimplementasikan pada pelaksanaan tindakan di siklus III. Langkah ini dilakukan dengan tujuan mencapai indikator kinerja yang ditetapkan yaitu 80% atau terdapat 24 siswa mendapatkan nilai 80 (KKM). 2) Menetukan Pokok Bahasan Pokok bahasan berkaitan dengan materi pembelajaran. Adapun materi yang dipelajari pada pertemuan 1 adalah mengomentari persoalan faktual tentang banjir dan tanah longsor. Pertemuan 2 adalah mengomentari persoalan faktual tentang pemanasan global dan kebakaran hutan. 3) Mengkaji Silabus Pembelajaran dan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan silabus bahasa Indonesia Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas V Sekolah Dasar (SD) semester II dan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) sebagai hasil refleksi dan penyempurnaan siklus II. Adapun SK yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada poin 6 yang isinya mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama, sedangkan KD yang digunakan yaitu pada poin 6.1. yang isinya mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
41 113 Adapun bagian-bagian RPP dalam penelitian ini diadaptasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses. Bagian-bagian tersebut meliputi: identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, dampak pengiring, materi pembelajaran, model dan metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, media, dan sumber pembelajaran serta teknik penilaian. Penjabaran dari masing-masing bagian-bagian RPP siklus III tersebut dapat dilihat pada lampiran 8 dan 9 halaman 252 dan ) Menyiapkan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan berupa penilaian tes dan nontes untuk memperoleh data mengenai kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa. Tes yang digunakan adalah tes unjuk kerja keterampilan berbicara terhadap siswa. Nontes yang digunakan adalah pengamatan kinerja guru dan aktivitas belajar siswa. 5) Menyiapkan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang diperlukan pada siklus III diantaranya: a) Media Pembelajaran Media pembelajaran yang digunakan pada pertemuan 1 yaitu gambar dan video tentang bencana alam meliputi tornado, tsunami, gunung meletus, banjir dan tanah longsor. Pertemuan 2 menggunakan gambar dan video tentang pemanasan global dan kebakaran hutan. Setiap pertemuan dibantu dengan speaker dan PPT yang ditayangkan menggunakan laptop dan lcd. b) Ruang Kelas Ruang kelas yang digunakan adalah ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Ruang kelas tersebut kemudian diatur sesuai dengan kebutuhan, yaitu meja siswa dibuat menjadi empat baris dengan setiap baris terdiri dari empat bangku ke belakang.
42 114 Antarbaris diberi jarak sehingga memudahkan guru dalam menguasai kelas. Dengan demikian, penataan ruang kelas tersebut dapat mendukung kelancaran pelaksanaan penelitian. 6) Melakukan Koordinasi dengan Guru Kelas Peneliti melakukan koordinasi dengan guru kelas V pada hari Kamis, 28 April 2016 bertempat di ruang kelas V SDN Sumber IV Surakarta. Koordinasi tersebut membahas tentang tempat dan waktu pelaksanaan tindakan serta langkah-langkah tindakan yang telah dibuat sebelumnya. Koordinasi dilakukan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tindakan sehingga dapat mencapai indikator kinerja. b. Pelaksanaan Tindakan Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V untuk menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) pada pembelajaran berbicara dengan menggunakan media gambar dan video sebagai hasil refleksi dan penyempurnaan pelaksanaan siklus II. Guru kelas V bertindak sebagai pengajar, sedangkan peneliti sebagai pengamat. Adapun penjabaran pelaksanaan pembelajaran berbicara pada siklus III sebagai berikut: 1) Pertemuan 1 a) Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan rutin yang meliputi: mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa, mengabsen siswa, dan meminta siswa untuk duduk dengan rapi. Guru kemudian menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan apersepsi, motivasi, dan orientasi. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang jenis-jenis bencana alam. Motivasi dilakukan dengan mengadakan permainan tebak gambar bencana alam. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara pada hari ini yaitu mengomentari persoalan faktual mengenai banjir dan tanah longsor
43 115 dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut. (1) Eksplorasi Guru melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang penyebab dan dampak banjir dan tanah longsor. Kegiatan dilanjutkan oleh guru untuk menyampaikan garisgaris besar materi melalui demonstrasi cara menyampaikan komentar dengan memperhatikan aspek-aspek keteranpilan berbicara. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan contoh yang diberikan oleh guru di depan kelas. Guru selanjutnya memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok, setelah siswa maju ke depan kelas. Anggota kelompok berjumlah lima siswa berdasarkan teman bangku yang berdekatan yaitu bangku nomor satu menghadap ke bangku nomor dua ditambah satu siswa dari bangku nomor tiga dan seterusnya. Guru menjelaskan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya, ketika semua siswa mendapat kelompok. Guru mengakhiri kegiatan eksplorasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru menayangkan dua video bencana yaitu banjir dan tanah longsor. Guru meminta siswa untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting yang ada pada video. Guru kemudian membagikan lembar kerja siswa kepada setiap kelompok dan meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi
44 116 terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya. Guru memantau kinerja setiap kelompok dan menekankan siswa untuk saling bekerja sama dan berlatih dengan teman satu kelompok dalam mengomentari persoalan faktual yang diterima. Selain itu, guru juga membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya, ketika siswa telah selesai menyelesaikan tugas. Guru memberi tugas kepada kelompok lain untuk memperhatikan dan menanggapi kelompok yang maju. (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit, pada kegiatan ini guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas kepada siswa untuk melatih kembali tentang aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengucapkan salam. 2) Pertemuan 2 a) Kegiatan Pendahuluan
45 117 Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit, pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan rutin yang meliputi: mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa, mengabsen siswa, dan meminta siswa untuk duduk dengan rapi. Guru kemudian menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan melakukan apersepsi, orientasi, dan motivasi. Apersepsi dilakukan melalui kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang persoalan faktual yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Orientasi dilakukan dengan menyampaikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran berbicara pada hari ini yaitu mengomentari persoalan faktual mengenai pemanasan global dan kebakaran hutan dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Motivasi dilakukan dengan mengajak siswa melakukan tepuk the best. b) Kegiatan Inti Kegiatan inti dilaksanakan selama 50 menit. Kegiatan inti terdiri tiga tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut. (1) Eksplorasi Guru melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang penyebab dan dampak pemanasan global dan kebakaran hutan. Guru melanjutkan kegiatan untuk menyampaikan garis-garis besar materi melalui demonstrasi cara menyampaikan komentar dengan memperhatikan aspekaspek keteranpilan berbicara. Guru kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan contoh yang diberikan oleh guru di depan kelas. Guru memberitahukan bahwa akan diadakan kegiatan kelompok, setelah siswa maju ke depan kelas. Guru meminta siswa duduk secara berhadapan sesuai kelompok yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Guru menjelaskan tentang tugas yang harus dikerjakan yaitu mengomentari persoalan faktual yang diterima
46 118 oleh kelompoknya, ketika semua siswa mendapat kelompok. Guru mengakhiri kegiatan eksplorasi dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. (2) Elaborasi Guru menayangkan dua video bencana yaitu pemanasan global dan kebakaran hutan. Guru meminta siswa untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting yang ada pada video. Guru kemudian membagikan lembar kerja siswa kepada setiap kelompok dan meminta siswa berdiskusi untuk mengumpulkan informasi terkait persoalan faktual yang diterima oleh kelompoknya. Guru memantau kinerja setiap kelompok dan menekankan siswa untuk saling bekerja sama dan berlatih dengan teman satu kelompok dalam mengomentari persoalan faktual yang diterima. Guru juga membimbing kelompok yang mengalami kesulitan. Guru meminta setiap kelompok secara bergantian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain memperhatikan dan menanggapi. (3) Konfirmasi Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dari setiap kelompok. Guru kemudian memberikan reward berupa bintang atas penyampaian hasil diskusi kelompok. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. c) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dilaksanakan selama 15 menit, pada kegiatan ini guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Guru kemudian membagikan lembar soal tes formatif dan meminta siswa untuk mengerjakannya secara individu. Guru meminta siswa mengumpulkannya ke meja guru, ketika siswa telah selesai
47 119 mengerjakan soal tes formatif. Guru melakukan penilaian hasil belajar dan menyampaikan hasilnya kepada siswa. Guru memberikan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah untuk menuliskan komentar tentang persoalan faktual yang ada di sekitar lingkungan siswa. Guru mengakhiri kegiatan penutup dengan mengajak siswa berdoa dan mengucapkan salam. c. Pengamatan Tindakan Tahap pengamatan tindakan dilakukan oleh peneliti selama kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Pengamatan dilakukan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 berdasarkan pedoman yang telah disiapkan sebelumnya, yaitu meliputi pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran berbicara, pengamatan aktivitas belajar siswa, dan pengamatan aspekaspek keterampilan berbicara siswa. Pengamatan tindakan ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai kesesuaian pelaksanaan pembelajaran berbicara pada kelas V dengan RPP yang telah dibuat. Dengan demikian, diketahui seberapa besar pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) dapat menghasilkan perubahan pada kualitas proses pembelajaran berbicara dan peningkatan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan siklus III maka diperoleh data hasil observasi sebagai berikut: 1) Hasil Pengamatan Kinerja Guru Pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) difokuskan pada beberapa aspek kemampuan guru dalam mengajar. Terdapat sembilan aspek yang diamati dengan empat indikator pada setiap aspek. Hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada tabel 16 di bawah ini.
48 120 Tabel 16. Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus III No. Indikator/Aspek yang Diamati Skor Pertemuan Membuka pembelajaran Kejelasan dan sistematika dalam penyampaian materi pembelajaran Menggunakan sumber belajar dan media pembelajaran yang efektif dan efisien Melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) Menumbuhkan partisipasi aktif dan antusiasme siswa dalam proses 4 4 pembelajaran 6. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara runtut Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, lancar, baik, dan benar Melakukan penilaian/ evaluasi Menutup pembelajaran 4 4 Jumlah Rata-rata skor 3, 67 3,78 Rata-rata skor siklus III 3,73 Berdasarkan tabel 16 di atas, maka dapat diketahui bahwa ratarata skor kinerja guru pada siklus III berada pada interval 3,01-4,00, sehingga termasuk dalam kategori sangat baik. Kategori tersebut menunjukkan bahwa guru sangat mampu dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Berdasarkan hasil pengamatan kinerja guru di atas, maka dapat disusun rekapitulasi data siklus III pada tabel 17 sebagai berikut. Tabel 17. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus III No. Keterangan Hasil Rata-rata 1. Pertemuan 1 3,67 3,73 2. Pertemuan 2 3,78
49 SKOR 121 Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 15 di bawah ini Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-rata KETERANGAN Gambar 15. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus III Berdasarkan tabel 17. dan gambar 15 di atas, maka dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan antara hasil pada pertemuan 1 dan 2 di siklus III sebesar 0,11. Dengan demikian, terlihat bahwa guru telah memperbaiki kinerjanya dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Adapun data hasil pengamatan kinerja guru secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Kualitas Proses Pembelajaran Berbicara Kualitas proses pembelajaran berbicara diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) berlangsung. Aspek yang diamati meliputi minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus III dapat disajikan dalam tabel 18 sebagai berikut.
50 SKOR 122 Tabel 18. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus III No. Aspek yang Diamati Frekuensi Persentase 1. Minat 26 89,66% 2. Keaktifan 25 86,20% 3. Kerja sama 26 89,65% 4. Kreativitas 27 93,10% Berdasarkan tabel 18 di atas, maka dapat diketahui bahwa persentase skor masing-masing aspek aktivitas belajar siswa pada siklus III berada pada interval di atas 80%, sehingga termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian, kualitas proses pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat dikatakan berhasil dan berkualitas baik. Data di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 16 di bawah ini Minat Keaktifan Kerja sama Kreativitas KETERANGAN Gambar 16. Distribusi Frekuensi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Siklus III Berdasarkan gambar 16 di atas, maka dapat diketahui bahwa aspek pengamatan aktivitas belajar siswa yang memiliki distribusi frekuensi tertinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siklus III yaitu kreativitas dengan jumlah siswa
51 123 adalah 27. Aspek yang memiliki distribusi frekuensi terendah yaitu keaktifan dengan jumlah siswa adalah 25. Adapun hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus III secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman ) Hasil Penilaian Tes Unjuk Kerja Keterampilan Berbicara Siswa Penilaian terhadap keterampilan berbicara siswa ketika mengomentari persoalan faktual dilaksanakan dengan menggunakan pedoman penilaian keterampilan berbicara. Penilaian difokuskan pada aspek-aspek keterampilan berbicara yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Data hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara siswa pada siklus III tersebut dilihat pada tabel 19 di bawah ini. Tabel 19. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus III No. Interval Frekuensi Nilai f i.x i Persentase Keterangan Nilai (f i ) Tengah (x i ) (100%) ,97% Tidak Tuntas ,54% Tuntas ,62% Tuntas ,10% Tuntas ,76% Tuntas Jumlah % Rata-rata nilai 88,28 Ketuntasan klasikal 93,10% Nilai tertinggi 96 Nilai terendah 76 Berdasarkan tabel 19 di atas, maka dapat diketahui bahwa dari 27 siswa atau 93,10% mencapai nilai 80 (KKM), sedangkan 2 siswa atau 6,90% belum mencapai KKM. Persentase ketuntasan klasikal tersebut berada pada interval diatas 90%, sehingga termasuk kategori sangat baik. Dengan demikian, siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada siklus III sangat terampil dalam berbicara atau keterampilan berbicaranya tinggi. Data hasil
52 FREKUENSI 124 keterampilan berbicara siswa di atas juga dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 17 sebagai berikut INTERVAL NILAI Gambar 17. Distribusi Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Siklus III Berdasarkan gambar 17 di atas, maka dapat diketahui frekuensi dari masing-masing interval nilai. Frekuensi tertinggi terdapat pada interval nilai yang berjumlah 16 siswa, sedangkan frekuensi terendah terdapat pada interval nilai yang berjumlah 1 siswa. Dengan demikian, data menunjukkan bahwa jumlah frekuensi nilai di atas atau sama dengan KKM lebih banyak dibandingkan jumlah frekuensi nilai di bawah KKM ( 80). Data ketuntasan keterampilan berbicara siswa selengkapnya dijelaskan pada tabel 20 berikut ini. Tabel 20. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus III No. Ketuntasan Jumlah Siswa Persentase (%) 1. Tuntas 27 93,10% 2. Tidak Tuntas 2 6,90% Total % Berdasarkan tabel 20 di atas, maka data dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 18 di bawah ini.
53 125 KETUNTASAN KETERAMPILAN BERBICARA 6.90% 93.10% Tuntas Tidak Tuntas Gambar 18. Ketuntasan Keterampilan Berbicara Siswa Siklus III Berdasarkan tabel 20 dan gambar 18 di atas, maka dapat diketahui bahwa antara persentase jumlah siswa yang tuntas pada siklus III lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak tuntas. Tuntas berarti siswa telah mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan. Dengan demikian, data tersebut menunjukkan bahwa indikator kinerja yang ditetapkan yaitu 80% atau 24 siswa mendapatkan nilai 80 (KKM) telah tercapai pada siklus III. Adapun hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara pada siklus III secara lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman d. Refleksi Tindakan Berdasarkan hasil pengamatan tindakan dan tes unjuk kerja yang dilakukan pada siklus III, maka diperoleh beberapa temuan-temuan sebagai berikut: 1) Kinerja Guru Berdasarkan hasil pengamatan tindakan diketahui bahwa guru terlihat telah memperbaiki kinerja pada pembelajaran sebelumnya, sehingga pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dilakukan sesuai perencanaan dan sistematis. Guru terlihat sudah
54 126 mampu melaksanakan pembelajaran berbicara dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menggali pengetahuannya sendiri. Namun, guru masih belum menggunakan media pembelajaran sendiri. Selain itu, guru masih sering menggunakan bahasa daerah yang tidak baku. 2) Aktivitas Belajar Siswa Pengamatan aktivitas belajar siswa meliputi aspek minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus III diketahui bahwa siswa mampu menyelesaikan tugas dan memecahkan permasalahan dengan cara yang sesuai dengan perintah dan ditambah dengan media pendukung. Siswa juga aktif untuk menanggapi pertanyaan guru dan penampilan teman. Selain itu, siswa telah mampu bekerja sama untuk membantu teman yang mengalami kesulitan dalam menerapkan aspek-aspek keterampilan berbicara dan mempelajari hasil diskusi. Namun, masih terdapat siswa yang belum memanfaatkan kegiatan kelompok untuk berlatih dan mempelajari hasil diskusi. 3) Keterampilan Berbicara Siswa Keterampilan berbicara siswa dinilai berdasarkan lima aspek yang meliputi lafal, intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Berdasarkan hasil penilaian keterampilan berbicara siswa pada siklus III diketahui bahwa sebagian besar siswa telah mampu berbicara dengan benar-benar dibedakan antara bunyi konsonan dan vokal. Berbicara siswa juga tidak terkesan datar dan kaku karena siswa menambahkan rangkaian nada bicara dan gerakan mimik/pantomimik. Selain itu, penyampaian dilakukan dengan tidak terputus-putus dan tidak terdapat sisipan kata eee..mmm dsb. Hal yang disampaikan sesuai dengan topik yang dibicarakan. Namun, masih terdapat siswa yang malu-malu dan belum mampu menerapkan aspek intonasi dan ekspresi berbicara yang tepat ketika menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.
55 127 Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus III di atas, menunjukkan bahwa indikator kinerja yang telah ditetapkan yaitu 80% siswa atau 24 siswa mendapat nilai 80 telah tercapai. Selain itu, kualitas proses pembelajaran juga mengalami peningkatan dan termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian, peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 dinyatakan berhasil dan tindakan dihentikan pada siklus III. Data pada siklus III kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara setelah tindakan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan wawancara dengan guru (lampiran 18 halaman 321) kelas V yaitu Bibiana Sri Mulyani, diketahui bahwa guru kelas merasakan perbedaan yang signifikan dari segi keakifan siswa dalam pembelajaran berbicara. Selain itu, penggunaan media pembelajaran dan penerapan langkahlangkah model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) mampu menarik perhatian siswa. Penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) yang dilakukan secara berulang-ulang juga telah mampu melatih siswa untuk berunjuk kerja dengan memperhatikan aspek-aspek keterampilan berbicara. Data yang hampir sama diperoleh dari hasil wawancara dengan siswa (lampiran 19 halaman 326) kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, maka diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) membuat siswa merasa senang dan tidak bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa telihat minat untuk memperhatikan penjelasan guru dan teman. Siswa juga telah aktif pada kegiatan kelompok untuk bekerja sama dan membantu teman satu kelompok.
56 SKOR 128 Selain itu, siswa menjadi lebih berani dalam berkomentar dan menguasai materi pembelajaran. 5. Perbandingan Hasil Tindakan Berdasarkan analisis hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara dengan menerapakan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus menunjukkan bahwa selalu terjadi peningkatan pada setiap siklus. Peningkatan tersebut terjadi pada kinerja guru, aktivitas belajar siswa, dan keterampilan berbicara siswa. Perbandingan peningkatan hasil tindakan antarsiklus dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Perbandingan Peningkatan Kinerja Guru Antarsiklus Perbandingan peningkatan hasil pengamatan kinerja guru antarsiklus dapat dilihat pada tabel 21 di bawah. Tabel 21. Perbandingan Peningkatan Kinerja Guru Antarsiklus No. Siklus Hasil 1. Siklus I 2,67 2. Siklus II 3,45 3. Siklus III 3,73 Berdasarkan data tabel 21 di atas, maka untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil kinerja guru antarsiklus pada penelitian ini, dapat disajikan ke dalam bentuk grafik seperti gambar 19 di bawah ini Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 19. Perbandingan Peningkatan Kinerja Guru Antarsiklus
57 129 Berdasarkan tabel 21 dan gambar 19 di atas, diketahui bahwa hasil pengamatan kinerja guru siklus I mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 0,78, dan kembali meningkat sebesar 0,28 pada siklus III. Dengan demikian, maka data tersebut menunjukkan bahwa hasil pengamatan kinerja guru selalu mengalami peningkatan pada setiap siklus. Peningkatan tersebut memperlihatkan bahwa guru selalu memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapakan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). b. Perbandingan Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran Berbicara Perbandingan peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara dapat dilihat dari hasil peningkatan aktivitas belajar siswa antarsiklus pada tabel 22 di bawah. Tabel 22. Perbandingan Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Antarsiklus Pratindakan Siklus I Siklus II Siklus III Aspek yang Jumlah % Jumlah Jumlah Jumlah Diamati % % % siswa siswa siswa siswa Minat 17 58, , , ,66 Keaktifan 7 24, , , ,20 Kerja sama 5 17, , , ,65 Kreativitas 10 34, , , ,10 Berdasarkan data tabel 22 di atas, maka untuk melihat lebih jelas peningkatan aktivitas belajar siswa antarsiklus dapat disajikan ke dalam bentuk grafik seperti gambar 20 di bawah ini.
58 Skor % 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 89.66% 86.20% 89.65% 93.10% 79.31% 72.41% 75.86% 79.31% 65.51% 58.62% 55.18% 55.17% 51.72% Pratindakan 34.48% Siklus I 24.14% 17.24% Siklus II Siklus III Minat Keaktifan Kerja sama Kreativitas Aspek yang Diamati Gambar 20. Perbandingan Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Antarsiklus Berdasarkan tabel 22 dan gambar 20 di atas, maka diketahui bahwa kualitas proses pembelajaran berbicara di pratindakan mengalami peningkatan pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Dengan demikian, maka data tersebut menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran berbicara selalu mengalami peningkatan pada setiap siklus. Hal ini dapat terlihat dari selisih persentase ketuntasan klasikal masing-masing aspek yang dinilai pada setiap siklus sebagai berikut. 1) Hasil persentase ketuntasan minat di pratindakan mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 6,89%. Hasil tersebut kembali mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 13,8% dan pada siklus III sebesar 10,35%. 2) Hasil persentase ketuntasan keaktifan di pratindakan mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 31,04%. Hasil tersebut kembali mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 17,23% dan pada siklus III sebesar 13,79%. 3) Hasil persentase ketuntasan kerja sama di pratindakan mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 34,48%. Hasil tersebut kembali
59 131 mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 24,14% dan pada siklus III sebesar 13,79%. 4) Hasil persentase ketuntasan kreativitas di pratindakan mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 20,69%. Hasil tersebut kembali mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 24,14% dan pada siklus III sebesar 13,79%. c. Perbandingan Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Antarsiklus Perbandingan peningkatan hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara siswa antarsiklus dapat dilihat pada tabel 23 di bawah. Tabel 23. Perbandingan Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Antarsiklus No. Keterangan Pratindakan Siklus I Siklus II Siklus III 1. Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata Nilai 68,97 77,38 80,28 88,28 4. Ketuntasan Klasikal 20,69% 44,83% 68,97% 93,10% Berdasarkan data tabel 23 di atas, maka untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil penilaian tes unjuk kerja berbicara siswa antarsiklus dapat disajikan ke dalam bentuk grafik seperti gambar 21 di bawah ini Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata Nilai Ketuntasan Klasikal dalam % Pratindakan Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 21. Perbandingan Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Antarsiklus
60 132 Berdasarkan tabel 23 dan gambar 21 di atas, diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa siklus I mengalami peningkatan pada siklus II, dan kembali meningkat pada siklus III. Dengan demikian, maka data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa selalu mengalami peningkatan pada setiap siklus. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan nilai terendah, nilai tertinggi, rata-rata nilai, dan ketuntasan klasikal sebagai berikut. 1) Nilai terendah keterampilan berbicara siswa pada pratindakan mengalami peningkatan sebesar 10 pada siklus I, kemudian meningkat kembali pada siklus II sebesar 2 dan masih mengalami peningkatan pada siklus III sebesar 6. 2) Nilai teringgi keterampilan berbicara siswa pada pratindakan mengalami peningkatan sebesar 2 pada siklus I, kemudian meningkat kembali pada siklus II sebesar 2 dan masih mengalami peningkatan pada siklus III sebesar 8. 3) Rata-rata nilai keterampilan berbicara siswa pada pratindakan mengalami peningkatan sebesar 8,41 pada siklus I, kemudian meningkat kembali pada siklus II sebesar 2,9 dan masih mengalami peningkatan pada siklus III sebesar 8. 4) Persentase ketuntasan klasikal keterampilan berbicara siswa pada pratindakan mengalami peningkatan sebesar 24,14% pada siklus I, kemudian meningkat kembali pada siklus II sebesar 24,14% dan masih mengalami peningkatan pada siklus III sebesar 24,13%. B. Pembahasan Berdasarkan analisis data hasil penelitian yang dijabarkan dalam data pratindakan, hasil tindakan siklus I, hasil tindakan siklus II, hasil tindakan siklus III, dan perbandingan hasil tindakan antarsiklus, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016.
61 133 Peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara diketahui dari hasil aktivitas belajar siswa antarsiklus. Peningkatan terhadap keterampilan berbicara diketahui dari hasil penilaian tes unjuk kerja keterampilan berbicara antarsiklus. Adapun pembahasan peningkatan hasil penelitian ini pada pratindakan dan setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut. 1. Pratindakan Tahap pratindakan yaitu ketika guru belum melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) data menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 masih termasuk sangat rendah. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan guru dan perwakilan siswa kelas V. Hasil wawancara menyatakan bahwa walaupun siswa telah dibiasakan untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas, namun tidak semua siswa melaksanakannya. Hal ini dikarenakan terbatasnya waktu pembelajaran akibat penggunaan model pembelajaran yang konvensional. Model pembelajaran tersebut membuat guru lebih mendominasi pembelajaran, sehingga siswa hanya belajar tentang pengetahuan bahasa tanpa menggunakan bahasa tersebut. Oleh karena itu, siswa merasa kesulitan dan takut salah untuk mengungkapkan pendapatnya. Hasil wawancara tersebut kemudian diperkuat dengan hasil pengamatan aktivitas belajar siswa dan pretest keterampilan berbicara. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa rendahnya kualitas proses pembelajaran berbicara pada pratindakan dikarenakan penjelasan yang diberikan oleh guru terlalu banyak. Oleh karena itu, siswa kurang diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan pertanyaan dalam pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang demikian memasung keaktifan dan kreativitas siswa, sehingga siswa menjadi pasif dalam pembelajaran. Selain itu, tidak adanya kegiatan kelompok membuat siswa terbiasa bekerja secara individu dan kurang peduli kepada temannya yang mengalami kesulitan.
62 134 Hasil pretest menunjukkan bahwa rendahnya nilai keterampilan berbicara dikarenakan dari lima aspek keterampilan berbicara sebagian besar siswa telah menguasai satu aspek, sedangkan empat aspek lainnya belum mampu diterapkan dengan baik. Aspek yang telah dikuasai oleh sebagian siswa adalah lafal. Oleh karena itu siswa mampu mengucapkan kata-kata dengan benar-benar dapat dibedakan bunyi konsonan dan vokalnya. Empat aspek yang belum mampu diterapkan dengan baik oleh siswa yaitu intonasi, kelancaran, ekspresi berbicara, dan pemahaman isi. Intonasi dan ekspresi berbicara yang digunakan belum tepat bahkan ada yang tidak menggunakan, sehingga berbicara terkesan kaku dan datar. Siswa juga belum mampu berbicara dengan lancar, sehingga sering terputus-putus dan terdapat sisipan emmmmm. Selain itu, siswa belum terlalu memahami hal yang harus disampaikan, sehingga terkadang berbicara keluar dari topik pembicaraan. Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada pratindakan, maka diperlukan tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tindakan dilakukan melalui memperbaiki pelaksanaan pembelajaran berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus yang setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. 2. Siklus I Berdasarkan keadaan di pratindakan, maka peneliti melakukan tindakan dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) pada pembelajaran berbicara. Hasil tindakan pada siklus I menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran mengalami peningkatan dibandingkan pada pratindakan menjadi kategori cukup. Kategori tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbicara yang dilaksanakan cukup berhasil dan berkualitas. Pencapaian pada kategori tersebut dikarenakan hasil aktivitas belajar siswa yang ditunjang dengan kinerja guru termasuk dalam kategori cukup.
63 135 Pencapaian kinerja guru tersebut dikarenakan guru terlihat belum terbiasa untuk melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Oleh karena itu, guru menyampaikan materi secara keseluruhan pada tahap penyampaian garisgaris besar materi. Selain itu guru belum memberikan contoh tentang cara pelafalan yang jelas, berbicara yang lancar, serta penggunaan intonasi, ekspresi berbicara, dan isi pembicaraan yang tepat. Pencapaian aktivitas siswa tersebut dikarenakan penggunaan media gambar yang memiliki warna yang beragam mampu membuat siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan memperhatikan pelajaran. Namun, siswa belum terbiasa untuk berkerja sama, sehingga masih bekerja secara individu dan kurang peduli kepada temannya yang mengalami kesulitan. Selain itu, siswa masih malu-malu untuk aktif bertanya dan mengungkapkan pendapatnya secara individu serta menciptakan hasil yang kreatif. Oleh karena itu, siswa masih terbiasa berbicara secara klasikal ketika guru memancing denga pertanyaan-pertanyaan singkat. Hasil pada siklus I juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase ketuntasan klasikal keterampilan berbicara dibandingkan dengan pratindakan sebesar 24,14%. Namun, hasil tersebut masih termasuk dalam kategori sangat rendah. Dengan demikian, siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016 pada siklus I sangat kurang terampil dalam berbicara. Pencapaian tersebut dikarenakan dari lima aspek penilaian ysng semula siswa menguasai satu aspek meningkat menjadi dua aspek, sedangkan tiga aspek yang lain belum mampu diterapkan dengan baik. Aspek yang telah dikuasai yaitu lafal dan pemahaman isi. Oleh karena itu, ketika berbicara dapat benar-benar dibedakan antara bunyi konsonan dan vokal, serta isi pembicaraan sesui topik yang dibahas. Aspek yang belum mampu diterapkan dengan baik adalah intonasi, ekspresi berbicara, dan kelancaran. Intonasi dan ekspresi berbicara yang digunakan tidak tepat, sehingga berbicara siswa terkesan datar dan kaku. Hal ini dikarenakan siswa masih malu-malu untuk memberikan tekanan dan gerakan mimik/pantomimik. Siswa juga masih terpaku dengan
64 136 teks hasil diskusi, sehingga berbicara siswa tidak lancar karena sering terputus-putus. Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I, maka dapat diketahui bahwa indikator kinerja yang telah ditetapkan belum tercapai. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan pada siklus II. Perbaikan tersebut terkait dengan hasil refleksi yang diperoleh dari siklus I kemudian diimplementasikan pada siklus II. 3. Siklus II Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka diterapkan perbaikan pada siklus II. Hasil tindakan pada siklus II menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran mengalami peningkatan dibandingankan dengan siklus I. Pencapaian tersebut dikarenakan hasil aktivitas belajar siswa yang ditunjang dengan kinerja guru juga mengalami peningkatan. Guru telah memperbaiki kinerjanya, sehingga guru tidak menyampaikan materi secara keseluruhan pada tahap penyampaian garis-garis besar materi. Selain itu guru telah memberikan contoh tentang cara pelafalan yang jelas, berbicara yang lancar, serta penggunaan intonasi, ekspresi berbicara, dan isi pembicaraan yang tepat, namun belum meminta siswa untuk menirukan. Kinerja guru yang semakin baik tersebut, membuat aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil menunjukkan bahwa aspek minat dan kreativitas memiliki frekuensi paling tinggi, kemudian kerja sama, dan terendah adalah keaktifan. Siswa terlihat tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran karena guru mendemontrasikan cara menerapkan aspek-aspek keterampilan berbicara dan penggunaan media video yang tayangannya berisi tentang kehidupan sehari-hari, sehingga sangat menarik. Demonstrasi tersebut memberikan gambaran kepada siswa tentang penerapan aspek-aspek keterampilan berbicara, sehingga siswa dapat meniru dan mengadaptasinya dengan kreatif yaitu disesuaikan dengan kemampuan siswa. Siswa juga terlihat telah mampu bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Namun, siswa belum saling berlatih menerapkan aspek-aspek keterampilan berbicara dan aktif untuk memberikan komentar.
65 137 Selain itu, peningkatan juga terjadi pada persentase ketuntasan klasikal keterampilan berbicara siswa dibandingkan pada siklus I sebesar 24,14%. Pencapaian tersebut dikarenakan dari lima aspek penilaian, siswa yang semula menguasai dua aspek meningkat menjadi tiga aspek, sedangkan dua aspek yang lain belum mampu diterapkan dengan baik. Aspek yang telah dikuasai yaitu lafal, kelancaran, dan pemahaman isi. Oleh karena itu, ketika berbicara dapat benar-benar dibedakan antara bunyi konsonan dan vokal, tidak terlalu sering terputus-putus, dan isi pembicaraan sesuai topik yang dibahas. Aspek yang belum mampu diterapkan dengan baik adalah intonasi dan ekspresi berbicara. Siswa terlihat mulai berani untuk memberikan tekanan suara dan gerakan mimik/pantomimik, namun masih ragu-ragu sehingga berbicara siswa masih terkesan datar dan kaku. Walaupun hasil tindakan pada siklus II telah mengalami peningkatan, namun indikator kinerja yang telah ditetapkan belum tercapai. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan pada siklus III. Perbaikan tersebut terkait dengan hasil refleksi yang diperoleh dari siklus II kemudian diimplementasikan pada siklus III. 4. Siklus III Hasil tindakan pada siklus III menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran berbicara kembali mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus II. Kualitas proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik. Kategori tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbicara yang dilaksanakan berhasil dan berkualitas baik. Pencapaian pada kategori tersebut dikarenakan hasil aktivitas belajar siswa yang ditunjang dengan kinerja guru termasuk dalam kategori sangat baik. Pencapaian kinerja guru tersebut dikarenakan guru telah memperbaiki kinerjanya, sehingga sangat mampu dalam melaksanakan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE). Guru terlihat sudah terbiasa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model tersebut. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang semula didominasi oleh guru setelah diadakan tindakan
66 138 menjadi memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk menggali pengetahuannya sendiri. Namun, guru masih belum menggunakan media pembelajaran sendiri. Kinerja guru yang semakin baik tersebut, membuat aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil menunjukkan bahwa aspek kreativitas memiliki frekuensi tertinggi, kemudian minat dan kerja sama, serta yang paling rendah adalah keaktifan. Kreativitas terlihat dari cara siswa memecahkan permasalahan dan menciptakan hasil, yaitu ketika menyampaikan hasil diskusi siswa menambahkan media pendukung dari kertas. Minat terlihat dari siswa yang tertarik dan fokus pada penjelasan materi pembelajaran dengan menggunakan media video. Selain itu, siswa juga tertarik dengan penampilan temannya, sehingga mampu memberikan tanggapan. Aspek kerja sama terlihat ketika kegiatan diskusi siswa membantu teman yang mengalami kesulitan dan berlatih bersama untuk menerapkan aspek-aspek keterampilan berbicara. Keaktifan yang rendah disebabkan karena siswa telah paham dengan materi dan kegiatan pembelajaran, sehingga tidak banyak siswa yang mengajukan pertanyaan. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada persentase ketuntasan klasikal keterampilan berbicara siswa dibandingkan dengan siklus II sebesar 24,13%. Persentase ketuntasan klasikal keterampilan berbicara pada siklus III termasuk dalam kategori sangat baik. Pencapaian tersebut dikarenakan hampir semua aspek keterampilan berbicara dapat siswa kuasai. Sebagian besar siswa telah mampu berbicara dengan benar-benar dibedakan antara bunyi konsonan dan vokal. Berbicara siswa juga tidak lagi terkesan datar dan kaku karena siswa menambahkan rangkaian nada bicara dan gerakan mimik/pantomimik. Selain itu, penyampaian dilakukan dengan lancar karena tidak terputus-putus dan tidak lagi terdapat sisipan kata eee..mmm dsb. Hal yang disampaikan juga sesuai dengan topik yang dibicarakan. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus III, maka dapat diketahui bahwa indikator kinerja yang telah ditetapkan telah tercapai. Oleh karena itu, penelitian dapat dikatakan telah berhasil dan tindakan dihentikan pada siklus
67 139 III. Walaupun demikian, pembelajaran berbicara ini perlu dilakukan tindakan lebih lanjut oleh guru kelas V untuk memantau perkembangan belajar siswa. Hal ini dikarenakan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus III masih terdapat siswa yang belum mencapai KKM sebanyak dua siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi, diketahui bahwa penyebab siswa tersebut belum mencapai KKM yaitu a) siswa memiliki tingkat kognitif yang kurang jika dibandingkan dengan teman yang lain; b) siswa belum memanfaatkan kegiatan diskusi untuk berlatih bersama teman kelompoknya tetapi untuk bermain maupun menggangu temannya; dan c) siswa masih malu untuk mengungkapkan ide di depan kelas terutama dalam menerapkan aspek intonasi dan ekspresi berbicara. Usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memberikan remedial terhadap dua siswa tersebut. Selain itu, guru juga perlu memberikan penguatan agar siswa lebih percaya diri, sehingga dapat berbicara dengan memperhatikan aspek-aspek keterampilan berbicara secara tepat dan mencapai nilai KKM. Peningkatan hasil pada setiap siklus tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara setelah tindakan terhadap guru dan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V yaitu Bibiana Sri Mulyani, diketahui bahwa penerapan langkah-langkah model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) mampu mengaktifkan siswa, sehingga siswa yang semula diam menjadi berani berbicara. Selain itu, model pembelajaran tersebut mampu menarik perhatian siswa, sehingga siswa menjadi fokus dan mengikuti kegiatan pembelajaran berbicara dengan baik serta memperhatikan penjelasan guru dan temannya. Penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) yang dilakukan secara berulang-ulang juga telah mampu melatih siswa untuk berunjuk kerja dengan memperhatikan aspek-aspek keterampilan berbicara. Dengan demikian, setelah pembelajaran siswa telah mampu berbicara dengan lancar dan lafal yang digunakan jelas, kemudian menggunakan intonasi dan ekspresi berbicara yang tepat, serta hal yang disampaikan tidak menyimpang dari topik yang dibahas.
68 140 Data yang hampir sama diperoleh dari hasil wawancara dengan siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa tersebut, diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran berbicara dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) membuat siswa merasa senang dan tidak bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa telihat minat untuk memperhatikan penjelasan guru dan teman, sehingga mampu memberikan tanggapan dan pertanyaan saat pembelajaran. Siswa juga telah aktif dan mampu bekerja sama dengan baik untuk membantu dan berlatih bersama teman satu kelompok. Selain itu, siswa menjadi lebih berani dalam berkomentar dan menguasai materi pembelajaran. Oleh karena itu, ketika siswa diminta untuk mengungkapkan pendapatnya dapat dilakukan dengan lancar dan luwes. Hal ini dapat terlihat dari siswa yang tidak lagi berbicara dengan terputus-putus dan tidak malu untuk menambahkan gerakan mimik/pantomimik sebagai ekspresi berbicara. Berdasarkan analisis data hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa pada setiap siklus. Peningkatan pada kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa dengan menerapkan model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) dapat terjadi seiring meningkatnya aktivitas belajar siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran tersebut melatih siswa mempresentasikan ide atau gagasan kepada teman-temanya yang dikemas secara kelompok. Melalui kegiatan kelompok siswa menjadi aktif dan dapat bekerja sama untuk bertukar pendapat, menyelesaikan tugas, mempelajari hasil diskusi, berlatih mempresentasikan hasil diskusi, dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Melalui kegiatan mempresentasikan ide siswa akan termotivasi untuk menjadi presenter yang terbaik, sehingga minat dan kreativitas siswa akan tumbuh. Apabila siswa menunjukkan minat, keaktifan, kerja sama, dan kreativitas maka proses pembelajaran menjadi berkualitas baik. Proses
69 141 pembelajaran yang berkualitas tersebut mendukung diperolehnya hasil belajar yang optimal. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar. Dengan demikian, pencapaian keterampilan berbicara yang termasuk kategori sangat baik dalam penelitian ini, dapat diperoleh dikarenakan proses pembelajaran berbicara yang dilaksanakan berhasil dan berkualitas baik. Selain itu, kegiatan latihan mempresentasikan ide juga sangat sesuai dengan karakteristik keterampilan berbicara yang mekanis. Oleh karena itu, dengan siswa sering berlatih maka akan semakin terampil. Pendapat tersebut sejalan dengan Slamet (2009: 35) yang menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah keterampilan yang mekanis, sehingga dengan semakin banyak latihan maka semakin terampil seseorang dalam berbicara. Dengan demikian, model pembelajaran Students Facilitator and Explaining (SFE) ini dapat memudahkan dan mengaktifkan siswa untuk berbicara dikarenakan siswa dilatih untuk mengungkapkan ide atau gagasannya di lingkup kecil terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke lingkup yang lebih besar. Proses pembelajaran tersebut sangat efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Hal ini dikarenakan terkadang siswa takut jika harus langsung mengungkapkan ide atau gagasannya secara klasikal. Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan jurnal internasional Social Science and Humanity karya Thanyalak Oradee (2012) Vol 2 No. 6, maka memiliki tujuan untuk mengatasi permasalahan yang sama yaitu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Usaha yang dilakukan oleh Thanyalak Oradee adalah menerapkan Three Communicative Activities (Discussion, Problem-Solving, and Role Playing) dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan aktivitas belajar siswa dengan hasil akhir setelah tindakan menunjukkan persentase ketuntasan klasikal adalah sebesar 85,63% dan aktivitas belajar siswa adalah 4,50 (sangat baik). Hasil yang sama diperoleh dalam penelitian ini, yaitu meningkatkan keterampilan berbicara siswa lebih dari 80%, namun dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE).
70 142 Penelitian yang selanjutnya yaitu karya Jamilah Candra Pratiwi (2014). Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan penelitian tersebut, maka memiliki tujuan untuk mengatasi permasalahan yang sama yaitu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Usaha yang dilakukan oleh Jamilah Candra Pratiwi adalah menggunakan pendekatan scientific dengan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas VA SD Negeri Petoran Surakarta tahun ajaran 2013/2014 dengan hasil akhir pada siklus III menunjukkan persentase ketuntasan klasikal adalah sebesar 90,91% atau sekitar 30 siswa yang mencapai nilai ketuntasan. Hasil yang sama diperoleh dalam penelitian ini, yaitu meningkatkan keterampilan berbicara siswa lebih dari 90%, namun dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Penelitian yang lainnya yaitu karya Azzizah Nurlaili (2014. Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan penelitian tersebut, maka maka memiliki tujuan untuk mengatasi permasalahan yang sama yaitu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Usaha yang dilakukan oleh Azzizah Nurlaili adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN 03 Gemolong Tahun Ajaran 2013/2014 dengan hasil akhir yaitu pada siklus III menunjukkan persentase ketuntasan klasikal adalah sebesar 91,17% atau sekitar 31 siswa yang mencapai nilai ketuntasan. Hasil yang sama diperoleh pada penelitian ini yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa lebih dari 90%. Selain ketiga penelitian di atas, penelitian yang lain adalah karya Satria Suja Sentosa. Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan penelitian tersebut, maka usaha yang digunakan untuk mengatasi permasalahan pada masingmasing penelitian sama yaitu menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE). Permasalahan pada penelitian tersebut adalah proses dan hasil pembelajaran IPA tentang sumber energi panas dan bunyi pada siswa kelas IV SDN 2 Waluyorejo tahun ajaran 2014/2015 dapat
71 143 meningkat dengan hasil akhir menunjukkan persentase ketuntasan klasikal proses pembelajaran IPA adalah sebesar 88,40% sedangkan hasil belajar IPA adalah sebesar 91,1%. Dengan demikian, model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) terbukti dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pada ranah dan mata pelajaran lain. Hasil penelitian ini jika dibandingkan dengan empat penelitian di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan yang sama ataupun cara yang sama untuk mengatasi permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Sumber IV Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kondisi akhir telah mencapai indikator yang ditetapkan. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFE) dapat menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran berbicara dan keterampilan berbicara siswa.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Uraian mengenai hasil penelitian sebagai jawaban dari rumusan masalah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uraian mengenai hasil penelitian sebagai jawaban dari rumusan masalah yang diungkapkan pada Bab I akan disajikan dalam Bab IV ini. Pada bab ini diuraikan mengenai
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Orientasi dan Identifikasi Masalah Penelitian yang dilakukan penulis meliputi tiga kegiatan, yaitu : 1) kegiatan orientasi dan identifikasi masalah, 2) tindakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kondisi Awal Penelitian dilakukan di kelas 4 SD Negeri Ujung-Ujung 03 Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang pada semester II tahun pelajaran 2012/2013
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Tempat Penelitan Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Jepon yang terletak di Kelurahan Jepon, Kecamatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal Berdasarkan tes uji kompetensi matematika pada pokok bahasan pecahan ternyata hasilnya kurang memuaskan. Begitu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran dan Subyek Penelitian Sekolah Dasar Negeri Suruh 02 berlokasi di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Subyek dalam
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan Kelas yang di gunakan untuk penelitian adalah kelas IV yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan, dengan guru kelas yang bernama
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
52 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan Pada bagian ini, akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi Kondisi awal, deskripsi siklus I, dan deskripsi siklus II. Deskripsi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Lokasi Penelitian. 1. Letak Sekolah Dasar Negeri 01 Kaliwiro
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Letak Sekolah Dasar Negeri 01 Kaliwiro Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Kaliwiro, yang beralamatkan di Jalan Selomanik
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penelitian dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga kali
41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas XI IPS 3 di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. Sebagaimana diuraikan pada bab III, tindakan penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
64 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang hasil penelitian dari pelaksanaan pembelajaran siklus I dan siklus II. Berikut ini akan diuraikan tentang perencanaan,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB I HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Penelitian dilakukan di SD Negeri Jlamprang 2 Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo kelas II dengan jumlah siswa sebanyak 35 yang terdiri
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. bagian tumbuhan. Dalam pembelajaran IPA siswa belajar dengan
60 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Per Siklus Sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu melakukan kegiatan survey awal dengan tujuan mengetahui keadaan nyata yang ada di lapangan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Pra Siklus (Kondisi Awal) Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri Jogosuran 68 Kecamatan Pasarkliwon Surakarta khususnya di kelas 5 pada mata pelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum SDN Mangunsari 06 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SDN Mangunsari 06 Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014. Alamat
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan Penelitian ini dalam pelaksanaannya melalui tahap pratindakan dengan melakukan observasi, wawancara, dan uji pratindakan. Hasil wawancara dengan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Kondisi Pra Siklus Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Tleter Semester 2 Tahun ajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Bagian ini, akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi prasiklus, deskripsi siklus I, deskripsi siklus II. Deskripsi pra siklus membahas
BAB III METODE PENELITIAN. umumnya disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kunandar
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan Classroom Action Research atau yang umumnya disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kunandar (2011: 46) PTK adalah suatu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
49 4.1. Deskripsi Kondisi Awal BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri 02 Katong semester II Tahun Pelajaran 2012/2013
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini dilakukan melalui praktik pembelajaran di kelas 6 SD Negeri 2 Getas Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora, dengan jumlah siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan yang memaparkan uraian masing-masing siklus, mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh peneliti yang menggunakan rancangan penelitian model
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Sekolah Pada bab ini akan dipaparkan tentang hasil dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bersama guru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melaksanakan penelitian pada siklus I, terlebih dahulu peneliti
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Awal (Pra Siklus) Sebelum melaksanakan penelitian pada siklus I, terlebih dahulu peneliti mencari data awal nilai keterampilan berbicara pada pelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subyek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Gendongan 01 yang terletak di Jl. Margorejo No.580 Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Pada bab IV ini akan dikemukakan tentang: (1) Deskrispi kondisi awal (prasiklus), (2) Pelaksanaan tindakan (siklus I-II), (3) Hasil penelitian,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. No Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa Jumlah Persentase 1 Tuntas 8 36 % 2 Belum Tuntas % Jumlah %
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal Pembelajaran pra siklus dilaksanakan pada Hari Senin, 15 Oktober 2012 di kelas IV SDN Rejoagung 01 tentang materi penghitungan FPB dan KPK, yang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Padaan 02 Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang Semester II Tahun 2013/2014. Subjek penelitian adalah
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pra Tindakan Sebelum dilaksanakan tindakan, peneliti melakukan survey terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan nyata yang ada di lapangan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan Pada bagian ini, akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi PraSiklus/Kondisi awal, deskripsi siklus I, dan deskripsi siklus II. Deskripsi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1. Deskripsi Siklus 1 4.1.1.1. Perencanaan Tindakan 1 Pada tahapan ini, kegiatan penyusunan rencana pembelajaran dilakukan setelah diperoleh
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab IV ini akan dibahas mengenai hasil pelaksanaan penelitian, perbandingan hasil penelitian antar siklus, dan pembahasan hasil penelitian yang akan disajikan
BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaaan Tindakan Pada pelaksanaan tindakan ini akan diuraikan tentang deskripsi sebelum tindakan, deskripsi siklus I yang terdiri dari tahap perencanaan tahap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IVA SD Negeri 69 Kota Bengkulu.
67 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Refleksi Awal Penelitian ini dilaksanakan di kelas IVA SD Negeri 69 Kota Bengkulu. Subyek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IVA SD Negeri
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Data Pratindakan Kegiatan pratindakan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal objek penelitian sebelum diberi tindakan. Kegiatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri I Tulang Bawang Tengah Kecamatan
69 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Siklus I Kelas X ATPH dan X ATU Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri I Tulang Bawang Tengah Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Awal Subjek Penelitian Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan di kelas V yang berjumlah 29 siswa di SDN Lemahireng 2 Kecamatan Bawen tahun ajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Meningkatan hasil belajar bagi siswa yang kurang mampu dalam memahami mata pelajaran biologi merupakan penelitian tindakan kelas yang direncanakan pelaksanaannya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
44 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus) Kondisi awal adalah kondisi belajar siswa sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Berdasarkan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
57 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dipaparkan tentang penerapan strategi pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Data Hasil Penelitian 1. Pra siklus Pada tahap pra siklus ini yang dilakukan oleh peneliti berupa pendokumentasian daftar nama, daftar nilai peserta didik, dan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Bagian ini, akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi Prasiklus/kondisi awal, deskripsi siklus I, dan deskripsi siklus II. Deskripsi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Sekolah Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Wonoyoso, yaitu sebuah Sekolah Dasar di desa Wonoyoso Kecamatan Pringapus Kabupaten
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Pratindakan Peneliti melakukan observasi sebelum melaksanakan penelitian. Observasi bertujuan untuk mengetahui kondisi awal siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra siklus Pembelajaran pada kelas IV SD Negeri Rogomulyo 01 Kayen Pati pada kondisi awal sebelum diberi tindakan menggunakan metode pembelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Penelitian 4.1.1. Deskripsi Kondisi Awal ( Pra Siklus) Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas 5 SD Negeri Mrisi 2 Semester 2 Tahun
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Tlogodalem. SD Negeri Tlogodalem terletak di Dusun Ngadisari, Desa Tlogodalem, Kecamatan Kertek, Kabupaten
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Bagian pelaksanaan tindakan ini akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi prasiklus/ kondisi awal, deskripsi siklus I, dan deskripsi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran SDN 1 Ringinharjo Penelitian ini dilakukan di SDN 1 Ringinharjo Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Dilihat dari segi geografisnya SDN 1 Ringinharjo
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 1 Rojoimo. SD Negeri 1 Rojoimo terletak di Desa Mirombo Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. SD Negeri
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Penelitian 4.1.1. Pelaksanaan Pra Siklus Pada pra siklus, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi awal dengan tujuan untuk mengetahui hasil
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan Pada bab ini akan menguraikan tiga sub judul yaitu deskripsi prasiklus, deskripsi siklus I, dan deskripsi siklus II. Deskripsi Prasiklus
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan diuraikan secara rinci mengenai hasil penelitian yang
45 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan diuraikan secara rinci mengenai hasil penelitian yang meliputi temuan-temuan dari seluruh kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Sedangkan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum SDN 1 Krobokan Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SDN 1 Krobokan Kecamatan Juwangi Kabupaten
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Pada bagian pelaksanaan tindakan ini, diuraikan mengenai kondisi awal sebelum tindakan, siklus I, siklus II, hasil tindakan dan analisis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan di kelas 5 SD Negeri Sukorejo Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang. Jumlah siswa di kelas 5 sebanyak 19 terdiri dari
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Penelitian 4.1.1. Kondisi Awal Hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri Ledok 07 sebelum tindakan masih banyak siswa yang hasil belajarnya belum
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
104 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Refleksi Awal Proses Pengembangan Perangkat Pembelajaran Penelitian ini dilaksanakan di kelas VA SD Negeri 71 Kota Bengkulu. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Kondisi Prasiklus Prasiklus dilaksanakan pada minggu 1 dan 2 bulan September 2012 dengan dibantu oleh teman sejawat sebagai pengamat. Dalam
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian SD N Ngrandah 1 yang terletak di desa Ngrandah, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tenaga pengajar yang ada di SD Negeri
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Banjarmasin Timur, subjek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN Sungai Bilu 2 Banjarmasin Timur, subjek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah
Tingkat kemampuan A B C D 1 Apersepsi 10 2 Motivasi 12 3 Revisi 12
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pembelajaran yang diterapkan pada penelitian guna meningkatkan kreatifitas dan prestasi belajar dalam pemecahan masalah matematika adalah pembelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Pada pelaksanaan tindakan ini akan diuraikan tentang kondisi awal, siklus I dan siklus II,. Kondisi awal yang merupakan gambaran faktual
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus satu dan siklus dua masing masing siklus tiga kali pertemuan.
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan menerapkan model pembelajaran Modelling The Way pada materi
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Aek Kuasan dengan menerapkan model pembelajaran Modelling The Way pada materi Pedosfer
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kondisi Pra Siklus Kondisi awal sebelum diadakannya tindakan di SD N Ringin Harjo 01 kelas 4 Pada mata pelajaran IPS menunjukkan bahwa ppembelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Refleksi Awal Proses Pembelajaran Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV SDN 88 Kota Bengkulu. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini menyajikan tentang hasil penelitian dan pembahasannya. Adapun hasil penelitian ini dijabarkan dalam pelaksanaan tindakan. 4.1 Pelaksanaan Penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Pelaksanaan Tindakan 1.1.1 Kondisi Awal Sebelum pelaksanaan siklus 1 dan siklus 2, terlebih dahulu peneliti melakukan observasi awal dengan tujuan untuk mengetahui
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
38 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Siklus I Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 2 September 2014 dilaksanakan observasi awal dan tanggal 4 September
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Pelaksanaan Siklus 1 Dalam Siklus 1 terdapat 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut: a. Perencanaan (Planning) Pada siklus
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan membahas hasil penelitian yang telah peneliti lakukan. Pembahasan hasil penelitian meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kondisi awal Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas 5 SD Negeri 3 Karangwuni pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran siklus I, melalui pembelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 1.Siklus I a. Perencanaan Tindakan Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran siklus I, melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas VI Sekolah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Pelaksanaan Tindakan Siklus I A. Tahap Perencanaan Setelah diperoleh informasi pada waktu observasi, maka peneliti melakukan diskusi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Sebelum melaksanakan proses penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan kegiatan observasi dengan tujuan untuk mengetahui
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Ngajaran 03 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Subyek yang menjadi penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
30 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Kondisi awal merupakan keadaan siswa sebelum PTK dilakukan. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas 2 SD
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Pelaksanaan Penelitian 4.1.1 Deskripsi Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SDN Tambakboyo 02 pada tanggal 5-16 Maret
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA A. Deskripsi Data 1. Deskripsi Data Pra Siklus Tahap pra siklus adalah tahap dimana belum diterapkannya model pembelajaran yang baru. Tahap pra siklus ini bertujuan untuk
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV SDN Sidorejo Lor 05 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah. Penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Kondisi Awal Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Dukuh 01 Kota Salatiga. Dalam hal ini siswa kelas IV yang berjumlah 35 siswa. Berdasarkan data hasil
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1. Gambaran Sekolah Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Kopeng 03 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. SD Negeri Kopeng 03 terletak
Lampiran 1 : Refleksi Pembelajaran Pra Siklus REFLEKSI PEMBELAJARAN PRA SIKLUS
Lampiran 1 : Refleksi Pembelajaran Pra Siklus REFLEKSI PEMBELAJARAN PRA SIKLUS Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Kelas / Semester : Matematika : Memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Diskripsi Kondisi Pra Siklus Penelitian ini dilaksanakan di SD Kanisius Jimbaran yang terletak di jalan Mawar 6 Desa Jimbaran Kecamatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini dilakukan di SDN 1 Baleharjo Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri. SDN 1 Baleharjo terletak di lingkungan pedesaan yang jauh
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum SD Negeri 01 Ampel Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 01 Ampel Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Semester
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal A. Aktivitas Pembelajaran Ekonomi Dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam penugasan, siswa cenderung pasif kurang termotivasi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam praktek pembelajaran di kelas V SDN Blotongan 2 Salatiga dengan jumlah 39 peserta didik pada mata pelajaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan membahas hasil penelitian yang telah peneliti lakukan. Pembahasan hasil penelitian meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VC SDN 71 Kota Bengkulu. Subyek dalam
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil penelitian 1. Refleksi Awal Proses Pembelajaran Penelitian ini dilaksanakan di kelas VC SDN 71 Kota Bengkulu. Subyek dalam penelitian ini adalah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan Dalam pelaksanaan tindakan penelitian ini akan menguraikan antara lain: (1) kondisi awal, (2) siklus I, (3) siklus II, dan (4) pembahasan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
34 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN Salatiga 01 yang terletak di Jln. Diponegoro 13 dan masuk di wilayah Kelurahan Salatiga Kecamatan Sidorejo
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kewarganegaraan (PKn). Dari observasi awal yang telah dilakukan,
37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Penelitian 1. Deskripsi Awal Sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas, terlebih dahulu dilakukan observasi terhadap guru mata pelajaran Pendidikan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Sebelum dilaksanakan penelitian, guru lebih banyak melakukan mengajar dengan menggunakan model konvesional yaitu ceramah. Model
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan pada siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo Lor 06 Kecamatan Sidorejo Kota Sal atiga
