RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
|
|
|
- Fanny Muljana
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) CPOB PAF 000 (2 sks) Semester VII Pengampu mata kuliah Dr. Muslim Suardi, MS, Apt Syofyan, S.Si., M. Farm, Apt Dr. Erizal, M.Si, Apt Program Studi S1 Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang, Tahun 2017 RPS PIF
2 A. LATAR BELAKANG Matakuliah Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) atau Good Manufacturing Practise (GMP) merupakan matakuliah wajib yang diberikan pada tahun akhir di semester ganjil yaitu semester VII dan termasuk ke dalam kelompok IPTEKS pendukung. CPOB ini terkait dengan matakuliah bidang teknologi farmasi seperti teknologi sediaan padat, semipadat dan cair serta teknologi sediaan steril. Matakuliah ini memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang aspek yang terkait dengan pembuatan obat termasuk aspek produksi dan pemastian mutu. Karena terkait dengan kegiatan farmasi industri, maka moteode pembelajaran yang dikembangkan adalah dengan metode SCL berbasis Small Group Discussion. Dengan metode ini mahasiswa dituntut untuk aktif belajar mandiri sebelum memulai perkuliahan seperti pengisian lembaran kerja mahasiswa (LKM) dan penyiapan bahan kuliah yang berisi topik perkuliahan yang dilakukan di rumah sehingga pada saat diskusi mahasiswa dapat berkontribusi secara aktif. Selain itu mahasiswa juga melakukan field trip ke industri farmasi sehingga akan memperkaya pengalaman dan pemahaman mahasiswa dalam implementasi CPOB di industri farmasi. B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN 1. Deskripsi Singkat Matakuliah Secara keseluruhan dalam mata kuliah ini akan dibahas mengenai CPOB sediaan farmasi ang meliputi 12 aspek CPOB berisi materi Hakekat CPOB, Aspek umum CPOB, Produksi dan Pengawasan Mutu, Program stabilitas dan analisis sediaan, Penanganan keluhatan terhadap produk, Inspeksi diri dan audit mutu, Dokumetasi dan Kualifikasi dan penjaminan mutu sediaan farmasi. Untuk memberikan gambaran lebih dini yang dikenal dengan early exposure terkait mata kuliah ini, maka mahasiswa diharapkan dapat mengunjungi (fied trip) ke beberapa industri farmasi, makanan dan minuman. 2. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu menjelaskan tentang pentingnya pengawasan dan penjaminan mutu dalam penerapan CPOB di industri farmasi dalam menghasilkan obat jadi yang memenuhi syarat, efektif dan aman. 3. Capaian Pembelajaran (Learning Outcomes) dan Kemampuan Akhir yang Diharapkan Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu : a. Menjelaskan hakekat CPOB b. Menjelaskan aspek umum CPOB. c. Menjelaskan aspek produksi dan pengawasan mutu obat. d. Menjelaskan program stabilitas dan analisis sediaan e. Menjelaskan penanganan keluhan terhadap produk f. Menjelaskan inspeksi diri dan audit mutu g. Menjelaskan sistem dokumentasi h. Menjelaskan kualifikasi dan validasi i. Menggunakan buku Farmakope Indoensia j. Melaksanakan cara berkomunikasi yang baik dan benar 4. Bahan Kajian (Materi Ajar) dan Daftar Referensi Bahan kajian kuliah ini adalah: a. Hakekat CPOB b. Aspek umum CPOB. c. Aspek produksi dan pengawasan mutu obat. d. Program stabilitas dan analisis sediaan RPS PIF
3 e. Penanganan keluhan terhadap produk f. Inspeksi diri dan audit mutu g. Sistem dokumentasi h. Kualifikasi dan validasi Daftar Referensi: Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Anonim, 2013, Farmakope Indonesia, Edisi V, Kemenkes RI, Jakarta Anonim, 2012, Peraturan Badan POM No. HK Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman CPOB Anonim, 2013, Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOB 2012 Jilid 1, Badan POM RI Anonim, 2014, Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOB 2012 Jilid 2, Badan POM RI 5. Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Metode pembelajaran: Metode pembelajaran yang dikembangkan adalah dengan metode SCL berbasis Collaborative Leraning. Dengan metode ini mahasiswa dituntut untuk aktif belajar mandiri sebelum memulai perkuliahan seperti pengisian lembaran kerja mahasiswa (LKM) yang berisi topik perkuliahan yang dilakukan di rumah sehingga pada saat diskusi mahasiswa dapat berkontribusi secara aktif. Alokasi waktu Pelaksanaan pembelajaran selama 14 minggu tatap muka dan 1 kali UTS dan 1 kali UAS Tiap tatap muka berlangsung selama 2 x 50 menit 6. Pengalaman Belajar Mahasisiwa Dalam mata kuliah ini, pengalaman belajar mahasiswa diwujudkan dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa selama satu semester, agar mahasiswa mampu mencapai kemampuan yang diharapkan di setiap tahapan pembelajaran. Proses ini termasuk di dalamnya kegiatan asesmen proses dan hasil belajar mahasiswa. 7. Kriteria (Indikator) Penilaian Penilaian mencakup prinsip edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan transparan yang dilakukan secara terintegrasi. Kriteria menunjuk pada standar keberhasilan mahasiswa dalam sebuah tahapan pembelajaran, sedangkan unsurunsur yang menunjukkan kualitas kinerja mahasiswa. Adapun kriteria penilaian meliputi penilaian hasil (UTS/UAS, tugas mandiri) dan penilaian proses yag meliputi: dimensi intrapersonal skill, atribut interpersonal softskill dan dimensi sikap / tatanilai. RPS PIF
4 8. Bobot Penilaian Bobot penilaian merupakan ukuran dalam prosen (%) yang menunjukkan prosentase keberhasilan satu tahap penilaian terhadap nilai keberhasilan keseluruhan dalam mata kuliah. Kriteria penilaian terdiri atas penilaian hasil dan proses sesuai dengan capaian pembelajaran, adalah sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria (indikator) dan bobot penilain No. Komponen Penilaian Bobot (%) 1. Penilaian hasil a. UTS/UAS 25 b. Tugas mandiri Penilaian proses 1. Dimensi intrapersonal skill Atribut interpersonal softskill Dimensi sikap dan tatanilai 20 Total Norma Akademik a. Kehadiran mahasiswa dalam pembelajaran minimal 75% dari total pertemuan kuliah yang terlaksana. b. Kegiatan pembelajaran sesuai jadwal resmi dan jika terjadi perubahan ditetapkan bersama antara dosen dan mahasiswa. c. Toleransi keterlambatan 15 menit. d. Selama proses pembelajaran berlangsung HP dimatikan. e. Pengumpulan tugas ditetapkan sesuai jadwal f. Yang berhalangan hadir karena sakit (harus ada keterangan sakit/surat pemberitahuan sakit) dan halangan lainnya harus menghubungi dosen sebelum perkuliahan. g. Berpakaian sopan dan bersepatu dalam perkuliahan. h. Pakai baju/kameja putih dan celana hitam untuk pria dan rok hitam bagi perempuan pada saat UTS dan UAS. i. Kecurangan dalam ujian, nilai mata kuliah yang bersangkutan nol. j. Mahasiswa yang menjadi penanggungjawab matakuliah diharapkan menghubungi dosen sehari sebelum kuliah untuk mengingatkan jadwal kuliah k. Membawa dan telah mengisi Lembaran Kerja Mahasiswa (LKM) yang terdapat pada buku pegangan sesuai topik perkuliahan sebelum kuliah dilaksanakan 10. Rancangan Tugas Mahasiswa Mahasiswa diberikan tugas dalam bentuk lembaran kerja mahasiswa dan wajib dikerjakan secara perorangan. Tugas tersebut akan dibahas secara bersama dikelas RPS PIF
5 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI : S1 FARMASI FAKULTAS /PPs: FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS MATA KULIAH KODE Rumpun MK BOBOT (sks) SEMESTER Tgl Penyusunan CPOB PAF 000 Matakuliah Inti OTORISASI Dosen Pengembang RPS Koordinator Rumpun MK Ka Program Studi Capaian Pembelajaran (CP) Catatan : S : Sikat P : Pengetahuan KU : Keterampilan Umum KK : Keterampilan Khusus Dr. Muslim Suardi, MS, Apt Syofyan Erizal Dr. Muslim Suardi, MS, Apt Dr. Fatma Sri Wahyuni, Apt CP Program Studi S8 Menunjukkan sikap bertanggung jawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri S9 Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan. S10 Menggunakan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi secara saintifik dalam memecahkan masalah kefarmasian. KU1 Merencanakan, mengembangkan, menyediakan dan mengendalikan mutu sediaan farmasi serta memahami manfaat klinisnya KU3 Memahami konsep management dalam pengelolaan bahan baku sampai menjadi sediaan farmasi P01 Dasar-dasar keilmuan yang cukup untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.. CP Mata Kuliah 1 Memahami aspek CPOB 2 Mengimplementasikan prinsip CPOB dalam produksi obat Deskripsi Singkat Mata Kuliah Secara keseluruhan dalam mata kuliah ini akan dibahas mengenai CPOB sediaan farmasi ang meliputi 12 aspek CPOB berisi materi Hakekat CPOB, Aspek umum CPOB, Produksi dan Pengawasan Mutu, Program stabilitas dan analisis sediaan, Penanganan keluhatan terhadap produk, Inspeksi diri dan audit mutu, Dokumetasi dan Kualifikasi dan penjaminan mutu sediaan farmasi. Untuk memberikan gambaran lebih dini yang dikenal dengan early exposure terkait mata kuliah ini, maka mahasiswa diharapkan dapat mengunjungi (fied trip) ke beberapa industri farmasi, makanan dan minuman RPS PIF
6 Materi Pembelajaran/ Pokok Bahasan 1. Hakekat CPOB 2. Aspek umum CPOB. 3. Aspek produksi dan pengawasan mutu obat. 4. Program stabilitas dan analisis sediaan 5. Penanganan keluhan terhadap produk 6. Inspeksi diri dan audit mutu 7. Sistem dokumentasi 8. Kualifikasi dan validasi Pustaka Utama : Anonim, 2013, Farmakope Indonesia, Edisi V, Kemenkes RI, Jakarta Anonim, 2012, Peraturan Badan POM No. HK Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman CPOB Anonim, 2013, Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOB 2012 Jilid 1, Badan POM RI Anonim, 2014, Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOB 2012 Jilid 2, Badan POM RI Pendukung : Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Media Pembelajaran Perangkat lunak : Perangkat keras : - LCD & Projector Team Teaching Dr. Muslim Suardi, MS, Apt Syofyan Erizal Assessment Matakuliah Syarat RPS PIF
7 Pelaksanaan Perkuliahan 2 SKS Mg Kemampuan akhir yg Ke- diharapkan Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Pengalaman Belajar Mahasiswa Kreteria (Indikator) Penilaian (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 1.Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan dan kontrak perkuliahan, serta pesan moral. 2.Mahasiswa mampu menjelaskan industri farmasi dan hakekat CPOB. 1. Tujuan, kontrak perkuliahan dan pesan moral 3.Hakekat CPOB -Sejarah CPOB -Landasan hukum -Tujuan CPOB -Sistem mutu -Istilah-istilah penting Diskusi (TM;2x(2x50 ) 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) 2 Mahasiswa mampu mendeskripsikan aspek umum CPOB Aspek Umum CPOB 1. Personalia 2. Bangunan-Peralatan- Sanitasi Higiene 3. Sertifikat CPOB Diskusi (TM;2x(2x50 ) 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi RPS PIF
8 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 3 Mahasiswa mampu menjelaskan produksi dan QC sediaan non steril Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Produksi QC sediaan non steril 1. Pegolahan 2. Pengemasan 3. IPC 4. QC Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) RPS PIF
9 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 4 Mahasiswa mampu menjelaskan produksi dan QC sediaan non steril 5 Mahasiswa dapat menjelaskan program stabilitas dan analisis sediaan Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Produksi QC sediaan steril 1. Pegolahan 2. Pengemasan 3. IPC 4. QC Program stabilitas dan analisis sediaan 1. Uji stabilitas 2. Analisis sediaan menurut FI Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Bobot Penilan (%) RPS PIF
10 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 6 Mahasiswa mampu menjelaskan penanganan keluhan terhadap produk Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Penanganan keluhan terhadap produk 1. Defenisi 2. Tata cara penangan keluhan Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan Kreteria (Indikator) Penilaian Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) RPS PIF
11 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 7 Mahasiswa mampu menjelaskan penanganan keluhan terhadap produk 8 UTS Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Produk kembalian 1. Defenisi 2. Tata cara penangan produk kembalian Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) 9 Mahasiswa mampu Inspeksi diri dan audit mutu Diskusi (TM;2x(2x50 ) 1. Mahasiswa RPS PIF
12 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan menjelaskan i inspeksi diri dan audit mutu 10 Mahasiswa mampu menjelaskan sistem dokumentasi di industri farmasi Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi 1. Inspeksi diri 2. Audit mutu Dokumentasi 1.Dokumentasi 2.Pentingnya dokumentasi 3.Dokumentasi proses produksi 4. Dokumentasi pengemasan 5. dokumentasi pengawasan mutu 6. Dokumentasi penjaminan Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Bobot Penilan (%) RPS PIF
13 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 11 Mahasiswa mampu menjelaskan kualifikasi dan kualifikasi alat mutu Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Kualifikasi disain dan instalasi 1.Definisi kualifikasi 2.Kualifikasi Disain 3.Kualifikasi Instalasi 4.Kualifikasi Operasional 5.Kualifikasi Kinerja 6.Proses Monitoring Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis Kreteria (Indikator) Penilaian Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) RPS PIF
14 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 12 Mahasiswa mampu menjelaskan kualifikasi operasional dan kinerja 13 Mahasiswa mampu menjelaskan validasi proses Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Kualifikasi operasional dan kinerja 1. Defenisi 2. Metode kualifikasi Validasi proses 1. Validasi prospektif 2. Validasi konkuren 3. Validasi retospektif Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Bobot Penilan (%) RPS PIF
15 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 14 Mahasiswa mampu menjelaskan validasi metode analisis Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Validasi metode analisis 1.Deefenisi 2.Metode validasi Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan dalam LKM 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menulis dan menjelaskannya kembali pada white board di depan kelas 1. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 2. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 3. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan Kreteria (Indikator) Penilaian Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) RPS PIF
16 Mg Ke- Kemampuan akhir yg diharapkan 15 Mahasiswa melihat langsung aplikasi CPOB di industri farmasi 16 Ujian Akhir Semester Bahan Kajian (Materi Ajar) Dan Referensi Kunjungan lapangan ke industri farmasi Metode Pembelajaran dan Alokasi Waktu Diskusi (TM;2x(2x50 ) Pengalaman Belajar Mahasiswa 4. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menjelaskannya kembali di depan kelas 5. Mahasiswa mendengar paparan dosen secara seksama 6. Mahasiswa memberikan pertanyaan saat diskusi atau tanya jawab 7. Mahasiswa mengerjakan latihan secara perorangan 8. Mahasiswa yang ditunjuk menyampaikan hasil latihan dengan menjelaskannya kembali di depan kelas Kreteria (Indikator) Penilaian Indikator Kesempurnaan isi LKM Ketepatan menjelaskan konsep Bentuk non-test; Isi LKM Keaktifan dalam diskusi Bobot Penilan (%) RPS PIF
17 LEMBARAN KERJA MAHASISWA (LKM) MATA KULIAH CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS ANDALAS Topik 1 Pertemuan Ke Hari/Tanggal Topik 1 Hakekat CPOB IDENTITAS A PETA KONSEP HAKEKAT CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) Current Good Manufacturing Practice Sejarah CPOB Tujuan CPOB Istilah-istilah penting Landasan Hukum Sistem Mutu B NARASI Dua Pasien RS Meninggal Setelah Disuntik Obat Bius Dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, meninggal dunia setelah pemberian obat anastesi Buvanest Spinal. Obat produksi PT Kalbe Farma ini diduga bukan berisi bupivacaine atau untuk pembiusan, melainkan asam traneksamat yang bekerja untuk mengurangi pendarahan. Kasus ini terjadi terhadap pasien yang melakukan operasi caesar dan urologi. Kedua pasien meninggal dalam waktu berdekatan pada tanggal 12 Februari
18 Kepala Hubungan Masyarakat RS Siloam Heppi Nurfianto mengungkapkan, bahwa pihak rumah sakit telah melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. Begitu juga menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Andi Wahyuningsih yang mengatakan bahwa hasil investigasi tim yang terdiri atas Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Perdatin, memeriksa lebih dalam RS Siloam Lippo Village, dokter anestesi, dokter ahli urologi, serta dokter ahli kebidanan dan kandungan di RS itu menunjukkan hasilnya, tak ada masalah dari sisi legalitas izin dan prosedur operasi standar. Lebih lanjut Heppi menjelaskan kronologisnya bahwa obat bius jenis Buvanest yang diterimanya dari produsen PT Kalbe Farma awalnya telah disuntikkan seperti biasa ke spinal atau tulang belakang pasien. Namun, setelah disuntikkan, terjadi gejala yang tidak wajar. Pasien merasa gatal-gatal dan mengalami kejang-kejang. Melihat hal tersebut, tim operasi langsung membawa kedua pasien yang dioperasi dalam waktu yang berdekatan ke ruang ICU. Gejala tersebut mulai muncul beberapa jam setelah anestesi atau obat bius itu disuntikkan. "Kita masukkan ke ICU, disayangkan, belum ada 24 jam, pasien sudah meninggal dunia di ICU," ucap Heppi. Dia mengungkapkan, seorang pasien operasi caesar yang tidak selamat melahirkan seorang anak yang selamat, sedangkan satu pasien lagi yang dioperasi urologi juga tidak bisa diselamatkan. Dokter yang menangani gejala tak lazim dari pasien tersebut, ucap Heppi, juga sempat merasa aneh. Padahal, pasien lain yang juga menggunakan obat bius dengan jenis dan keluaran yang sama diketahui normal-normal saja. Ketika dicek, ternyata memang bungkusan pada kemasan obat bius itu tertukar. Meninggalnya dua pasien di Rumah Sakit (RS) Siloam Karawaci, Tangerang, diduga karena kelalaian dari pihak produsen obat bius, yakni PT Kalbe Farma. Etiket atau bungkusan pada obat bius Buvanest Spiral itu diduga tertukar sehingga kandungan di dalamnya bukan untuk obat bius pada umumnya. Obat bius tersebut, yang bungkusannya tertukar, menyebabkan kandungan di dalam obat bekerja untuk mengurangi pendarahan, sedangkan kandungan yang seharusnya untuk obat bius adalah bupivacaine atau untuk pembiusan. Untuk tindak lanjut dari persoalan ini, Heppi telah menyerahkannya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM sendiri sudah melarang peredaran obat keluaran Kalbe itu sejak Minggu (15/2/2015) dan langsung membentuk tim investigasi. "Sudah diinstruksikan untuk menghentikan produksi, membekukan izin edar khusus untuk obat yang satu itu," kata Roy Sparingga, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Roy juga mengungkapkan telah membentuk tim investigasi untuk mencari tahu penyebab kedua pasien meninggal, apakah memang benar karena kekeliruan pihak Kalbe atau ada faktor lain. "Balai POM akan memverifikasi dan memonitor penarikan obat bius itu, lalu Kalbe juga kita minta melakukan investigasi mengapa itu bisa terjadi. Itu tanggung jawab mereka," kata Roy. Dugaan etiket atau bungkusan obat anestesi yang tertukar sehingga menyebabkan pasien meninggal dunia dinilai oleh apoteker sangat tidak masuk akal. "Kalau sampai keliru itu tidak masuk akal karena semua produk farmasi memiliki standar prosedur operasi (SOP), yakni cara pembuatan obat yang baik dan benar," kata A Haditomo, Anggota Dewan Penasihat Ikatan Apoteker Indonesia. Ia mengatakan, obat anestesi bupivacaine dan juga asam traneksamat yang saling tertukar itu bukanlah obat baru. Menurut Haditomo, setiap perusahaan farmasi sudah memiliki kontrol kualitas (QC) dalam produksinya. "Jadi waktu obat dimasukkan harus sesuai antara wadah dan isinya. Pasti ada QC sejak pembuatan sampai selesai," paparnya. Ia menambahkan, jika memang obat yang disuntikkan bukanlah obat anestesi, mengapa pasien bisa menjalani operasi dengan tenang. "Masih ada masalah yang perlu diperjelas. Ada missing link dalam kasus ini. Berarti ini bukan sekadar salah obat saja," paparnya. Dugaan bahwa pasien memiliki alergi berat pada jenis obat yang disuntikkan juga perlu diselidiki lagi. "Kalau memang alergi, seberapa berat derajatnya," katanya. Kasus dugaan kesalahan obat ini, menurut Haditomo, harus menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk menuruti ketentuan undang-undang kesehatan yang berlaku. "Sebenarnya semua sudah diatur dalam UU Kesehatan No 36 Tahun 2009, terutama 2
19 Pasal 108. Kalau semua prosedur dipatuhi, kasus seperti ini tidak perlu terjadi," katanya. Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 telah mengatur secara ketat prosedur pembuatan obat, pengamanan, sampai pendistribusian obat, hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini apoteker. "Obat adalah tanggung jawab apoteker, karena menurut aturan Undang-Undang, mulai dari proses produksi sampai dengan penyimpanan dan distribusi, hanya dilakukan oleh apoteker. Di rumah sakit yang memberikan kepada dokter adalah perawatnya," kata A Haditomo. Menurut A Haditomo, proses produksi obat di Indonesia telah memiliki standar yang disebut dengan cara produksi obat yang baik dan benar. Jika prosedur ini ditaati, seharusnya kasus salah obat sampai mengakibatkan pasien meninggal seperti di RS Siloam tak terjadi. "Kalau sampai ada kesalahan, pasti ada sesuatu. Ini yang harus diselidiki oleh pihak berwenang," katanya. PT. Kalbe Farma mengklaim selama ini telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk produksi seluruh obat-obatan. Belum diketahui pasti bagaimana isi obat anestesi Buvanest Spinal dapat tertukar dengan obat lain. Kami senantiasa menjaga kualitas produk kami, melakukan inovasi, mengutamakan keselamatan, dan perlindungan konsumen, ujar Presiden Direktur PT Kalbe Farma Irawati Setiady. Ira mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan penyelidikan dengan mengecek proses produksi secara keseluruhan. Menurut Ira, produk itu telah diproduksi selama 7 tahun dan belum pernah ada masalah. Untuk dugaan salah label, kita sedang melakukan investigasi, mengecek ulang seluruh proses yang ada, dari bahan baku hingga pelabelan supaya kita tahu akar permasalahannya ini, terang Ira. Sesuai keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kalbe menghentikan sementara kegiatan fasilitas produksi larutan injeksi hingga pemeriksaan selesai. Selain itu, menghentikan pemasaran serta distribusi produk Buvanest Spinal di seluruh Indonesia. Direktur PT Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, pihaknya memang menerima dua sampel Buvanest Spinal dari RS Siloam yang ternyata isinya tidak sesuai. Namun, pada sampel lainnya hingga kini belum ada kasus serupa. Sampel yang kami terima dari salah satu rumah sakit dan kami melakukan pemeriksaan memang kami menemukan ada ketidaksesuaian label. Tapi setelah kami melakukan pemeriksaan kembali sampel lain, kami tidak menemukan ketidakkesesuaian label, terang Vidjongtius. Manajemen Kalbe Farma optimistis tak ada kesalahan dalam sistem produksinya karena menerapkan cara pembuatan obat yang baik dan benar (CPOB). Vidjongtius menyatakan, proses produksi obat hingga tahap pelabelan menggunakan mesin otomatis yang secara berkala diinspeksi untuk memastikan standardisasi produk. Dari penelusuran internal terhadap retain sampel, tidak ditemukan ada kesalahan label. Jadi, pihaknya yakin Buvanest dan asam traneksamat tak tertukar di pabrik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih melakukan investigasi terhadap kasus dugaan tertukarnya label obat anestesi Buvanest Spinal dengan asam tranexamat produksi PT Kalbe Farma. Hasil sementara, BPOM menemukan potensi tertukarnya label obat pada saat proses produksi. "Kami mendatangi sarana produksi, bagaimana penerapan cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Di sana kami menyampaikan terdapat potensi terjadinya mix up (tercampur) karena penerapan CPOB belum sepenuhnya seperti yang diharapkan," terang Roy Sparingga. Diduga kuat kesalahan terjadi di sarana produksi. Ia juga menyatakan, CPOB pada sarana produksi itu tak sesuai harapan Atas kasus ini, BPOM tak hanya membekukan izin edar Buvanest Spinal dan asam tranexamat, melainkan juga menghentikan proses fasilitas produksi untuk larutan injeksi PT Kalbe Farma Setelah tertukarnya obat anestesi Buvanest dengan asam traneksamat yang mengakibatkan dua pasien di RS Siloam Lippo Village meninggal, BPOM telah menginstruksikan penarikan semua batch (kelompok produksi) Buvanest Spinal dan dua batch asam traneksamat, yakni batch nomor dan Sejak 12 Februari 2015 dua produk tersebut ditarik. Selain itu, izin edar Buvanest Spinal dibekukan sementara. 3
20 (sumber: dikutip dari tanggal 12 Agustus 2015 dengan sedikit perubahan) C SOAL JAWAB 1. Perhatikan kutipan kalimat berikut dari narasi di atas. Menurut A Haditomo, proses produksi obat di Indonesia telah memiliki standar yang disebut dengan cara produksi obat yang baik dan benar. Jika prosedur ini ditaati, seharusnya kasus salah obat sampai mengakibatkan pasien meninggal seperti di RS Siloam tak terjadi. "Kalau sampai ada kesalahan, pasti ada sesuatu. Ini yang harus diselidiki oleh pihak berwenang," katanya. PT. Kalbe Farma mengklaim selama ini telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk produksi seluruh obat-obatan. Belum diketahui pasti bagaimana isi obat anestesi Buvanest Spinal dapat tertukar dengan obat lain. Hasil sementara, BPOM menemukan potensi tertukarnya label obat pada saat proses produksi. "Kami mendatangi sarana produksi, bagaimana penerapan cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Di sana kami menyampaikan terdapat potensi terjadinya mix up (tercampur) karena penerapan CPOB belum sepenuhnya seperti yang diharapkan," terang Roy Sparingga. Diduga kuat kesalahan terjadi di sarana produksi. Ia juga menyatakan, CPOB pada sarana produksi itu tak sesuai harapan Dari kutipan tersebut, jelaskan menurut Saudara apa pentingnya CPOB tersebut bagi industri farmasi 4
21 2. Dalam sistem manajemen mutu obat, terdapat 3 komponen utama yang terlibat yaitu: QA, CPOB dan QC seperti yang tertera pada kutipan paragraf berikut: Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan penggunaanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu Kebijakan Mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem Pemastian Mutu (QA) yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkorporasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) termasuk Pengawasan Mutu (QC) dan Manajemen Risiko. Jelaskan beda ketiga komponen tersebut dan gambarkan bagaimana hubungan ketiganya dengan menggunakan diagram 5
22 3. Perhatikan alur kegiatan berikut untuk sediaan injeksi secara umum: 1. Apakah alur di atas menggambarkan proses pembuatan atau produksi atau pengolahan. Jelaskan (sebaiknya dengan alur yang baru dengan cara menyempurnakan alur di atas) sehingga dapat dijawab kenapa huruf P pada CPOB merupakan singkatan dari pembuatan 2. Dari alur tersebut di atas, tunjukkan dimana dugaan bisa terjadinya potensi mix up (pencampuran) produk sebagaimana kasus di atas. 6
23 4. Perhatikan kutipan paragraf berikut: Menurut Haditomo, setiap perusahaan farmasi sudah memiliki kontrol kualitas (QC) dalam produksinya. "Jadi waktu obat dimasukkan harus sesuai antara wadah dan isinya. Pasti ada QC sejak pembuatan sampai selesai," paparnya Tiap produk baik produk antara, produk ruahan ataupun obat jadi selalu melalui serangkaian pengujian, sehingga obat yang dihasilkan diharapkan betul-betul memenuhi persyaratan yang dibutuhkan. Apakah dengan adanya bagian QC yang melakukan serangkaian pengujian sudah cukup untuk memastikan mutu obat? 5. Perhatikan kutipan paragraf berikut: Kasus dugaan kesalahan obat ini, menurut Haditomo, harus menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk menuruti ketentuan undang-undang kesehatan yang berlaku. "Sebenarnya semua sudah diatur dalam UU Kesehatan No 36 Tahun 2009, terutama Pasal 108. Kalau semua prosedur dipatuhi, kasus seperti ini tidak perlu terjadi," katanya. Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 telah mengatur secara ketat prosedur pembuatan obat, pengamanan, sampai pendistribusian obat, hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini apoteker. "Obat adalah tanggung jawab apoteker, karena menurut aturan Undang-Undang, mulai dari proses produksi sampai dengan penyimpanan dan distribusi, hanya dilakukan oleh apoteker." kata A Haditomo. Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas 7
24 Sebutkan isi UU Kesehatan No 36 Tahun 2009, terutama Pasal 108. Kemudian terkait dengan hal itu, CPOB juga telah mensyaratkan bagian-bagian tertentu wajib diisi oleh apoteker, sebutkan! 6. Temukan beberapa istilah penting pada dua narasi di atas, yang termuat dalam CPOB. Dari beberapa istilah tersebut, adakah yang merupakan komponen utama CPOB? Sebutkan secara lengkap termasuk bagian lampiran (aneks)-nya 8
25 7. Sebutkan landasan hukum yang mengatur atau memuat tentang CPOB sekarang. Sebutkan juga riwayat singkat CPOB yang pernah berlaku di Indonesia hingga sekarang. Kebijakan penerapan CPOB menjadi wajib bagi industri farmasi farmasi. Sebutkan lembaga lain yang juga diwajibkan untuk menerapkan CPOB. 9
26 D LATIHAN UJI KOMPETENSI 1. CPOB tahun 2012 yang berlaku sekarang adalah CPOB ke.. a. 3 b. 4 c. 5 d Hal yang terbaru dalam CPOB 2012 ini adalah a. Manajemen mutu b. Manajemen risiko mutu c. Pengkajian mutu produk d. Audit mutu 3. Satu-satunya perubahan yang significant pada CPOB 2012 adalah persyaratan pembuatan produk Salep Mata (non-aseptis). Jika pada CPOB sebelumnya, proses pembuatan sediaan salep mata (non aseptis) BISA dilakukan di ruang kelas D yang kemudian dilakukan proses sterilisasi akhir (biasanya menggunakan sinar gamma), maka sesuai dengan Pedoman CPOB 2012, hanya boleh dilakukan di ruang kelas a. A b. B c. C d. E 4. Sertifikat CPOB diberikan untuk setiap a. Unit industri b. Unit bangunan c. Unit ruangan d. Unit sediaan 5. Pemberian sertifikat CPOB dimaksud, berdasarkan... a. Bentuk sediaan dan aktivitas pembuatan yang dilakukan b. Bentuk sediaan dan jenis obat yang diproduksi c. Sediaan betalaktam-nonbetalaktam dan jenis steril atau non steril d. Sediaan betalaktam-nonbetalaktam dan bentuk sediaan 6. Penerapan CPOB wajib dilaksanakan di, kecuali a. Industri bahan baku obat b. Lembaga yang memproduksi sediaan radiofarmaka c. Rumah sakit yang memproduksi sediaan infus NaCl 0,9% d. Rumah sakit yang memproduksi sediaan cairan NaCl fisiologis 7. Pelanggraran terhadap ketentuan penerapan CPOB dapat dikenakan sangksi berupa, kecuali: a. Peringatan lisan b. Penghentian sementara kegiatan; c. Pembekuan Sertifikat CPOB d. Pencabutan Sertifikat CPOB e. Rekomendasi pencabutan izin industri farmasi. 8. Secara prinsip CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan, kecuali: a. Tujuan penggunaanya 10
27 b. persyaratan dalam izin edar c. spesifikasi produk. d. efek yang diinginkan 9. Tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang lebih penting adalah: a. mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut b. Pengawasan mutu harus bersifat menyeluruh c. Pembuatan obat harus tetap konsisten d. Pelaksanaan CPOB harus ketat dan komitmen yang tinggi 10. Bagian yang esensial dari CPOB adalah a. produksi b. pengawaan mutu c. pemastian mutu d. manajemen mutu 11. Hal berikut dapat mempengaruhi mutu obat, kecuali: a. bahan awal dan bahan pengemas, b. proses produksi dan pengendalian mutu, c. lingkungan lokasi atau tempat industri berada d. personil yang terlibat. 12. Pada pedoman ini istilah pembuatan mencakup seluruh kegiatan berikut, kecuali: a. penerimaan bahan b. produksi c. pelabelan d. pemastian mutu e. penyimpanan dan distribusi dari obat 13. Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Untuk pencapaian tujuan mutu ini secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem... a. Kebijakan Mutu b. Manajemen mutu c. Pemastian mutu d. Pengawasan mutu 14. Obat tidak dijual atau didistribusikan sebelum manajemen menyatakan bahwa tiap bets produksi dibuat dan dikendalikan sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam izin edar dan peraturan lain yang berkaitan dengan aspek produksi, pengawasan mutu dan pelulusan produk. Siapakah manajemen yang dimaksud a. Kepala Pemastian Mutu b. Kepala pengawasan mutu c. Kepala produksi d. Kepala PPIC 15. Beberapa persyaratan dasar CPOB, diantaranya kecuali: a. semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, b. tahap proses yang kritis harus divalidasi; c. prosedur dan instruksi ditulis dengan bahasa yang jelas, 11
28 d. pencatatan dilakukan secara komputer dan tiap penyimpangan dicatat secara lengkap e. tersedia sistem penarikan kembali bets obat manapun dari peredaran; 16. Pengkajian mutu produk dilakukan terhadap semua obat terdaftar dengan tujuan untuk, kecuali: a. membuktikan konsistensi proses, b. membuktikan kesesuaian dari spesifikasi bahan awal dan produk jadi, c. melihat tren penjualan d. mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan 17. Pengkajian mutu produk dilakukan minimal tiap a. Satu bulan b. Tiga bulan c. Enam bulan d. Setahun 18. Suatu proses sistematis untuk melakukan penilaian, pengendalian dan pengkajian risiko terhadap mutu suatu produk disebut dengan istilah... a. Manajemen mutu b. Manajemen risiko mutu c. Manajemen audit mutu d. Manajemen pengkajian mutu 12
29 LEMBARAN KERJA MAHASISWA (LKM) MATA KULIAH CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS ANDALAS Topik 2 Pertemuan Ke Hari/Tanggal Topik 2 ASPEK UMUM CPOB IDENTITAS A PETA KONSEP ASPEK UMUM CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) Current Good Manufacturing Practice Personalia Sertifikat CPOB Bangunan Peralatan Sanitasi Higiene B NARASI PT Andalas Farma, Tbk adalah industri farmasi yang sudah terdaftar di Badan POM (nomur urut 123) sejak tahun 2000 dan memiliki struktur organisasi lengkap. Sampai saat ini PT Andalas Farma, Tbk telah memproduksi 15 jenis obat berikut: 1. Tablet parasetamol 2. Sirop parasetamol 3. Supositoria parasetamol 4. Tablet amoksisilin 5. Suspensi amoksisilin 6. Injeksi amoksisilin 13
30 7. Kapsul khloramfenikol 8. Sirop khloramfenikol 9. Tablet Antasid 10. Suspensi Antasid 11. Tablet propranolol 12. Tablet salut amitripthyline HCl 13. Krim hidrokortison 14. Injeksi seftriakson 15. Obat KB Diketahui bahwa catatan produk PT Andalas Farma adalah sebagai berikut. Produk Manhour per bets Ukuran bets Sediaan padat tab (non salut) Tablet Salut tab Sediaan liquid L Salep semi solid kg Sediaan steril L cair C SOAL - JAWAB 1. Perhatikan struktur organisasi PT Andalas Farma, Tbk berikut: Apakah struktur tersebut sudah mencerminkan manajemen yang baik menurut CPOB. Jika belum, buatlah struktur yang baik menurut CPOB 14
31 15
32 2. Analisislah berapa orang minimal jumlah karyawan di PT Andalas Farma, Tbk. Asumsi hari kerja efektif adalah 222 hari dan jam kerja 8 jam per hari. 16
33 3. PT Andalas Farma, Tbk akan melakukan tes akhir bagi calon karyawan yang akan ditempatkan di bagian produksi. Ada lima orang yang tersisa sementara yang akan direkrut adalah sebanyak 2 orang (1 orang di bagian steril dan 1 orang dibagian non steril). Adapun urutan 5 orang tersebut berdasarkan nilai ujian tertulis adalah sbb: No Nama Keterangan 1 Najmi Berjenggot, berkacamata 2 Verina Berjilbab 3 Thoriq Memiliki bekas luka terbuka dibagian kaki 4 Shaqila Berambut panjang 5 Syadam Riwayat asma Dari kelima kandidat tersebut, calon mana yang Saudara rekomendasikan. Jelaskan. 17
34 4. Seorang karyawan baru yang bekerja di PT Andalas Farma, Tbk akan ditempatkan bekerja di bagian produksi sediaan steril. Untuk itu, karyawan tersebut diberikan pelatihan yang terkait dengan produksi sediaan steril. Sebagai seorang manajer, Saudara diminta oleh atasan untuk memberikan pelatihan ini. Salah satu materi yang Saudara berikan adalah tentang tata cara memasuki ruang produksi dengan menggunakan alat bantu flow chart. Buatlah flow chart dimaksud dan jelaskan tahapannya secara jelas. 18
35 5. Buatlah denah berupa blok bangunan di PT Andalas Farma, Tbk. Jelaskan 19
36 6. Perhatikan gambar berikut. 20
37 Apa yang membedakan ruang produksi steril aseptis dengan sterilisasi akhir. Jelaskan juga beda ruang produksi sediaan steril dengan non steril 21
38 7. Sebutkan berapa jumlah sertifikat CPOB yang telah diterima oleh PT Andalas Farma, Tbk. Jelaskan alasannya. 22
39 8. Buatlah satu contoh bentuk sertifikat CPOB untuk industri PT Andalas Farma, Tbk ini dalam satu lembaran tersendiri 23
40 D LATIHAN UJI KOMPETENSI 1. Yang bukan merupakan personil kunci dalam industri famasi adalah a. Kepala bagian pemastian mutu b. Kepala bagian pengawasan mutu c. Kepala bagian produksi d. Kepala bagian pemasaran 2. Terhadap persnil kunci tersebut, berlaku aturan, kecuali: a. Dipimpin oleh seorang apoteker yang terkualifikasi b. Dipimpin oleh orang yang berbeda c. Tidak saling bertanggungjawab d. Mempunyai kepentingan lain diluar organisasi 3. Yang bukan merupakan tugas kepala bagian produksi adalah a. memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai prosedur b. memberikan persetujuan petunjuk kerja yang terkait dengan produksi c. memastikan bahwa catatan produksi telah dilaksanakan d. memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan 4. Berikut ini merupakan wewenang dari kepala bagian pengawasan mutu, kecuali: a. menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi b. memastikan bahwa seluruh pengujian yang diperlukan telah dievaluasi c. memberi persetujuan terhadap spesifikasi, petunjuk kerja pengambilan sampel, metode pengujian dan prosedur pengawasan mutu lain; d. memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan 24
41 5. Masing-masing kepala bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) memiliki tanggung jawab bersama dalam menerapkan semua aspek yang berkaitan dengan mutu, yang berdasarkan peraturan Badan POM mencakup, kecuali: a. higiene pabrik; b. validasi proses; c. pelatihan; d. penyimpanan catatan; e. pelulusan produk 6. Suatu industri memiliki catatan produk dan personalia sebagai berikut Produk Manhour per bets Ukuran bets Produksi per tahun Tablet A tab 50 bets Tablet B tab 40 bets Sirop C L 144 bets Salep D kg 200 bets Jika hari kerja efektif 1 tahun adalah 222 hari dan tiap hari karyawan bekerja selama 7 jam, berapa jumlah karyawan yang diperlukan.. a. 8 orang b. 10 orang c. 12 orang d. 15 orang 7. Pengunjung atau personil yang tidak mendapat pelatihan sebaiknya tidak masuk ke area tertentu dalam pabrik, yaitu area... a. produksi dan laboratorium pengawasan mutu b. pengolahan dan pengemasan c. produksi dan pelabelan d. produksi dan gudang penyimpanan 8. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk tujuan, kecuali.. a. memperkecil risiko terjadi kekeliruan, b. mencegah pencemaran silang c. memudahkan pembersihan d. memperlancar kegiatan produksi 9. Tindakan pencegahan hendaklah diambil untuk mencegah personil yang tidak berkepentingan masuk. Area yang tidak boleh digunakan sebagai jalur lalu lintas bagi personil yang tidak bekerja di area tersebut adalah, kecuali... a. Area produksi b. area penyimpanan c. area pengawasan mutu d. area pelabelan 25
42 10. Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata produk dengan cara penimbangan hendaklah dilakukan di area penimbangan terpisah yang didesain khusus untuk kegiatan tersebut. Area penimbangan dapat menjadi bagian dari a. area penyimpanan atau area produksi b. area produksi atau pengawasan mutu c. area pengemasan atau area penyimpanan d. area pengawasan mutu atau area penyimpanan 11. Untuk memperkecil risiko bahaya medis yang serius akibat terjadi pencemaran silang, suatu sarana khusus dan self-contained harus disediakan untuk produksi obat tertentu. Contoh produk yang dimaksud adalah a. Tablet amoksisilin b. Pil KB c. Injeksi sefadroksil d. Suspensi klorampenikol 12. Dari beberapa produk berikut, manakah yang bisa diproduksi dalam bangunan yang sama dengan suspensi kering amoksisilin a. Tablet metotreksat b. Pil KB c. Injeksi sefotaksim d. Tablet ampisilin 13. Tingkat kebersihan ruang/area untuk pembuatan obat diklasifikasikan berdasarkan jumlah maksimum a. partikulat udara b. partikel debu c. bakteri d. mikroba 14. Kelas kebersihan untuk pembuatan obat sirop parasetamol, adalah a. Kelas A b. Kelas B c. Kelas C d. Kelas D e. Kelas E 15. Pertukaran udara yang disyaratkan untuk ruang kelas D dan E adalah a kali per jam b kali per jam c kali per jam d kali per jam 16. Perhatikan tabel berikut yang menggambarkan 4 jenis bangunan (A, B, C, D) berdasarkan perbedaan tekanan udara Ruangan/Bagian Bangunan A Tekanan Udara Bangunan B Bangunan C Bangunan D Udara luar
43 koridor Pengolahan sediaan cair Pengolahan sediaan padat Ruang produksi non betalaktam, diberikan oleh bangunan a. A b. B c. C d. D 17. Ruang produksi betalaktam, diberikan oleh bangunan a. A b. B c. C d. D 18. Pengisian produk yang akan disterilisasi akhir hendaklah dilakukan di lingkungan minimal Kelas a. A b. B c. C d. D 19. Penanganan dan pengisian produk yang dibuat secara aseptis hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas a. A b. B c. C d. D 20. Area terpisah dan terkunci hendaklah disediakan untuk penyimpanan, kecuali bahan dan produk yang: a. diluluskan b. ditolak, c. ditarik kembali d. dikembalikan. 21. Secara umum, bangunan di industri farmasi dikelompokkan atas area berikut, kecuali a. Area penimbangan b. Area produksi c. Area pengemasan d. Area penyimpanan e. Area pengawasan mutu 22. Peralatan untuk mengukur, menimbang, mencatat dan mengendalikan hendaklah a. dikalibrasi 27
44 b. divalidasi c. distandarisasi d. dikualifikasi 23. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi, kecuali.. a. personil, b. bangunan, c. peralatan d. produk 24. Yang tidak termasuk higiene perorangan adalah.. a. mengenakan pakaian pelindung yang sesuai b. mengenakan pakaian pelindung yang bersih termasuk penutup rambut c. menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala d. mencuci tangan sebelum bekerja 25. Yang bukan termasuk pakaian pelindung kelas produksi sediaan non steril adalah.. a. Topi pelindung rambut b. Masker penutup mulut dan hidung c. Sepatu dan sarung tangan karet d. Kaca mata pelindung 26. Untuk masuk ke ruang produksi steril, personil harus melakukan hal berikut kecuali.. a. Mencuci tangan dengan bersih b. Mandi dan keramas menggunakan sabun antiseptik c. Memakai pakaian pelindung yang telah steril d. Menuju ruang antara (air shower) 27. Pemeriksaan kesehatan mata personil yang bekerja pada pemeriksaan visual produk steril, dilakukan tiap.. a. 3 bulan b. 6 bulan c. Satu tahun d. Dua tahun 28. Tiap personil yang mengidap penyakit atau menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah dilarang menangani, kecuali... a. bahan awal, b. bahan pengemas, c. bahan yang sedang diproses d. obat jadi e. alat 29. Produk yang paling terpengaruh oleh pencemaran adalah kecuali... a. sediaan parenteral b. sediaan yang diberikan dalam dosis besar c. sediaan yang diberikan dalam jangka waktu yang panjang d. sediaan dengan indeks terapi sempit 28
45 30. Pencemaran silang hendaklah dihindarkan dengan tindakan teknis atau pengaturan yang tepat, kecuali.. a. produksi di dalam ruang terpisah b. tersedia ruang penyangga udara c. memakai pakaian pelindung yang sesuai d. menggunakan sistem self-contained; 29
46 LEMBARAN KERJA MAHASISWA (LKM) MATA KULIAH CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS ANDALAS Topik 3 Pertemuan Ke Hari/Tanggal Topik 3 IDENTITAS Produksi Pengawasan Mutu (Sediaan nonsteril) A PETA KONSEP PRODUKSI - QC Pengolahan Produk Non Steril Bets Pengemasan Betalaktam -Nonbetalaktam B NARASI PT Andalas Farma, Tbk terdaftar sebagai perusahaan farmasi dengan kategori PMDN. Pada tahun 2015 ini, PT Andalas Farma, Tbk berdasarkan rencana produksi tahunan, telah menghasilkan banyak produk dengan rata-rata 10 bets tiap bulan untuk tiap unit sediaan. Untuk penomoran bets, dilakukan kodefikasi sebagai berikut: digit 1 menunjukkan bentuk sediaan yang diproduksi (1 = padat, 2 = cair berupa larutan, 3 = cair berupa dispersi kasar, dan 4 = semi padat) digit 2 menunjukkan bulan produksi (A = Januari, B = Februari, dst), digit 3 dan 4 menunjukkan tahun produksi (14 = 2014, 15 = 2015, dst) dan digit 5,6 dan 7 menunjukkan nomor urut produksi. 30
47 C SOAL - JAWAB 1. Perhatikan gambar alur produksi tablet Parasetamol (dengan vertical close system) berikut di PT Andalas Farma, Tbk 31
48 Berdasarkan alur di atas, sebutkan atau jelaskan: 1) Tunjukkan mana yang merupakan tahap pembuatan, produksi, pengolahan dan pengemasan 2) Siapa yang berwenang menerbitkan surat perintah produksi 3) Kepada siapa surat perintah tersebut diberikan? 4) Dokumen apa yang harus dibawa oleh petugas produksi untuk memulai proses produksi 5) Siapa yang merancang dan menyetujui atau mensahkan dokumen tersebut? 6) Dimana penimbangan dilakukan 7) Siapa yang melakukan penimbangan 8) Berapa kg parasetamol ditimbang 9) Dimana parasetamol yang telah ditimbang disimpan 10) Apa alat yang digunakan untuk pengeringan granul 11) Apa jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam IPC (termasuk jumlah sampel yang diambil dan persyaratan menurut FI atau non FI) 12) Siapa yang mengambil sampel untuk IPC 13) Dimana sampel IPC diambil dan diperiksa 14) Apa jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam untuk QC (termasuk jumlah sampel yang diambil dan persyaratan menurut FI atau non FI) 15) Siapa yang mengambil sampel untuk QC 16) Dimana sampel QC diambil dan diperiksa 17) Siapa yang memutuskan produk diluluskan atau ditolak 18) Siapa yang menempel label diluluskan atau ditolak 32
49 33
50 2. Perhatikan kutipan paragraf berikut, dari narasi pada topik 1 Sesuai keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kalbe menghentikan sementara kegiatan fasilitas produksi larutan injeksi hingga pemeriksaan selesai. Selain itu, menghentikan pemasaran serta distribusi produk Buvanest Spinal di seluruh Indonesia. Direktur PT Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, pihaknya memang menerima dua sampel Buvanest Spinal dari RS Siloam yang ternyata isinya tidak sesuai. Namun, pada sampel lainnya hingga kini belum ada kasus serupa. Sampel yang kami terima dari salah satu rumah sakit dan kami melakukan pemeriksaan memang kami menemukan ada ketidaksesuaian label. Tapi setelah kami melakukan pemeriksaan kembali sampel lain, kami tidak menemukan ketidakkesesuaian label, terang Vidjongtius. Manajemen Kalbe Farma optimistis tak ada kesalahan dalam sistem produksinya karena menerapkan cara pembuatan obat yang baik dan benar (CPOB). Vidjongtius menyatakan, proses produksi obat hingga tahap pelabelan menggunakan mesin otomatis yang secara berkala diinspeksi untuk memastikan standardisasi produk. Dari penelusuran internal terhadap retain sampel, tidak ditemukan ada kesalahan label. Jadi, pihaknya yakin Buvanest dan asam traneksamat tak tertukar di pabrik. Dari kutipan di atas, jelaskan bagaimana cara industri membuktikan bahwa tidak ada kesalahan seperti kasus di atas. 34
51 D LATIHAN UJI KOMPETENSI 1. Produksi sediaan betalaktam harus dilakukan pada gedung yang terpisah, karena alasan a. Sensitisasi kuat b. Toksisitas tinggi c. Resistensi tinggi d. Bahaya yang kuat 2. Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah bahan awal hendaklah diperiksa.. a. kebenaran penandaan dan label pelulusan b. jumlah wadah dan alamat pemasok c. nama bahan dan jumlahnya d. isi wadah dan labellnya 3. Sebelum dikirim ke area produksi, bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan hendaklah diperiksa ulang kebenarannya dan ditandatangani oleh a. supervisor produksi b. supervisor pengawasan mutu c. supervisor pemastian mutu d. supervisor PPIC 4. Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan diperiksa serta dibandingkan dengan hasil teoritis. Kegiatan ini disebut dengan istilah a. Rekonstruksi b. Reevaluasi c. Rekonsiliasi d. Rekonstitusi 5. Dalam semua tahap pengolahan perhatian utama hendaklah diberikan kepada masalah a. pencemaran silang b. pencampuran bahan c. homogenisasi produk d. penimbangan bahan 6. Parameter operasional yang kritis untuk tiap proses pencampuran, pengadukan dan pengeringan hendaklah tercantum dalam dokumen produksi induk, dan dipantau selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan bets. Yang bukan termasuk parameter kritis tersebut adalah.. a. Waktu b. Kecepatan c. Suhu d. Kelembaban 7. Produk cair, krim dan salep mudah terkena kontaminasi selama proses pembuatan. Sumber cemaran utama tersebut adalah... a. Partikel b. Debu c. Udara d. Mikroba 35
52 8. Perintah produksi dikeluarkan oleh.. a. Manajer PPIC b. Manajer QC c. Manajer QA d. Mnager produksi 9. Obat jadi adalah obat yang telah mengalami proses pengemasan a. Primer b. Sekunder c. Tersier d. Tanpa kemasan 10. Petugas yang dibutuhkan untuk penimbangan adalah berasal dari.. a. Petugas gudang dan produksi b. Petugas gudang dan QC c. Petugas produksi dan QC d. Petugas produksi dan PPIC 11. Terjadinya kasus salah pelabelan (packaging material) dimana sediaan A diberi label yang seharusnya untuk sediaan B, disebut dengan istilah... a. Cross contamination b. Mix-ups c. Segregasi d. Off label 12. Kesalahan pada kasus di atas, dapat diatasi dengan cara, kecuali... a. Barcode verifiyer b. Full segregation c. Doble check system d. Line clearance 36
53 LEMBARAN KERJA MAHASISWA (LKM) MATA KULIAH CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS ANDALAS Topik 4 Pertemuan Ke Hari/Tanggal Topik 4 IDENTITAS Produksi Pengawasan Mutu (Sediaan steril) A PETA KONSEP PRODUKSI - QC Pengolahan Produk Steril Bets Pengemasan Betalaktam -Nonbetalaktam B NARASI PT Andalas Farma, Tbk terdaftar sebagai perusahaan farmasi dengan kategori PMDN. Pada tahun 2015 ini, PT Andalas Farma, Tbk berdasarkan rencana produksi tahunan, telah menghasilkan banyak produk dengan rata-rata 10 bets tiap bulan untuk tiap unit sediaan. Untuk penomoran bets, dilakukan kodefikasi sebagai berikut: digit 1 menunjukkan bentuk sediaan yang diproduksi (1 = padat, 2 = cair berupa larutan, 3 = cair berupa dispersi kasar, dan 4 = semi padat) digit 2 menunjukkan bulan produksi (A = Januari, B = Februari, dst), digit 3 dan 4 menunjukkan tahun produksi (14 = 2014, 15 = 2015, dst) dan digit 5,6 dan 7 menunjukkan nomor urut produksi. 37
54 C SOAL - JAWAB 1. Perhatikan gambar alur produksi injeksi Amoksisilin berikut: Penimbangan Berdasarkan alur di atas, sebutkan atau jelaskan: 1) Tunjukkan mana yang merupakan tahap pembuatan, produksi, pengolahan dan pengemasan 2) Dimana penimbangan dilakukan 3) Siapa yang melakukan penimbangan 4) Berapa kg amoksisilin ditimbang 5) Dimana amoksisilin yang telah ditimbang disimpan 6) Apa jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam IPC (termasuk jumlah sampel yang diambil dan persyaratan menurut FI atau non FI) 7) Dimana sampel IPC diambil dan diperiksa 8) Apa jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam untuk QC (termasuk jumlah sampel yang diambil dan persyaratan menurut FI atau non FI) 9) Dimana sampel QC diambil dan diperiksa 38
55 39
56 2. Pada tanggal 18 Agustus 2015 diproduksi sediaan sirop parasetamol untuk nomor bets ke 77. Untuk itu petugas menimbang bahan-bahan sediaan sirop dengan volume L dan kemudian mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi produk ruahan dan siap untuk dikemas ke dalam botol. Sebelum pengisian ke dalam botol, wadah yang berisi massa L tadi dibagi menjadi 2 wadah yaitu wadah A dan wadah B, masing-masing bervolume 500 L. Setelah itu, baru dilakukan pengisian ke botol. Pada tanggal 19 Agusuts 2015, kembali diproduksi sediaan sirop parasetamol. Oleh petugasnya, ditimbang bahan untuk volume pembuatan 500 L, kemudian dicampur dan ditampung dalam wadah A. Setelah itu, petugas tersebut kembali menimbang bahan untuk volume pembuatan 500 L dan setelah dicampur, ditampung pada wadah B. Setelah itu, baru dilakukan pengisian ke botol dari masing-masing wadah. Formula yang digunakan untuk kedua wadah adalah sama dan dikerjakan oleh petugas yang sama pula. 1) Tulislah nomor bets untuk tiap wadah A dan B pada produksi di atas. Jelaskan alasannya. 2) Apa esensi dari bets? 3) Apa fungsi utama dari nomor bets? 4) Dimana nomor bets harus ditulis? 40
57 3. Pabrik kedatangan bahan baku aktif parasetamol dari pemasok yang telah dikenal (langganan). Bahan baku tersebut dikemas dalam 25 drum yang masing-masingnya memiliki masa 10 kg. Untuk itu segera dilakukan pemeriksaan kualitas bahan baku tersebut. a. Siapa yang memerintahkan pemeriksaan? b. Siapa yang melakukan pemeriksaan? c. Bagaimana cara melakukan sampling terhadap bahan baku? (metode dan alat) d. Berapa jumlah yang disampling? e. Apa alat yang digunakan untuk sampling f. Apa langkah pertama kali yang dilakukan terhadap barang yang akan disampling 41
58 D LATIHAN UJI KOMPETENSI 1. Personil yang bekerja di area bersih dan steril hendaklah dipilih secara seksama untuk memastikan bahwa mereka dapat diandalkan untuk bekerja dengan penuh disiplin dan tidak mengidap suatu penyakit atau dalam kondisi kesehatan yang dapat menimbulkan bahaya pencemaran terhadap produk. Pencemaran yang dimaksud adalah berupa a. Partikel asing b. Debu c. Mikrobiologis d. Pirogen 2. Setelah pelulusan suatu bets/lot oleh bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu), produk tersebut hendaklah dipindahkan dari area karantina ke a. Area penyimpanan b. gudang produk jadi c. gudang produk ruahan d. gudang bahan awal 3. Pengawasan Mutu mencakup hal berikut, kecuali... a. penimbangan b. spesifikasi c. pengujian d. prosedur pelulusan 4. Yang bukan tanggung jawab bagian pengawasan mutu adalah... a. membuat, memvalidasi dan menerapkan semua prosedur pengawasan mutu, b. menyimpan sampel pembanding dari bahan dan produk, c. memastikan pelaksanaan pemantauan stabilitas dari produk, d. mengawasi proses produksi sediaan obat, 5. Bagian yang penting dari sistem Pemastian Mutu adalah a. cara pengambilan sampel yang benar b. cara pengujian yang benar c. metode analisis yang efektif d. alat yang tervalidasi 6. Sampai berapa lama sampel pembanding tiap bets produk akhir harus disimpan a. Satu tahun pasca tanggal daluwarsa b. Dua tahun pasca tanggal daluwarsa c. Tiga tahun pasca tanggal daluwarsa d. Lima tahun pasca tanggal daluwarsa 7. Produk akhir hendaklah disimpan dalam a. Tanpa kemasan b. kemasan primer c. kemasan sekunder d. kemasan akhir 8. Berapa lama sekurang-kyrangnya sampel bahan awal (di luar bahan pelarut, gas dan air) harus disimpan bila stabilitasnya mengizinkan. 42
59 a. Satu tahun pasca pelulusan produk terkait b. Dua tahun pasca pelulusan produk terkait c. Tiga tahun pasca pelulusan produk terkait d. Lima tahun pasca pelulusan produk terkait 9. Jumlah sampel pertinggal bahan dan produk harus cukup untuk memungkinkan pelaksanaan minimal... pengujian ulang lengkap. a. Satu b. Dua c. Tiga d. Lima 10. Pakaian rumah dan pakaian kerja reguler hendaklah tidak dibawa masuk ke dalam kamar ganti pakaian yang berhubungan dengan ruang minimal ber-kelas a. A b. B c. A dan B d. B dan C 11. Pakaian kerja steril wajib dikenakan oleh personil yang bekerja di kelas a. A b. B c. A atau B d. A, B atau C 43
60 LEMBARAN KERJA MAHASISWA (LKM) MATA KULIAH CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB) FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS ANDALAS Topik 5 Pertemuan Ke Hari/Tanggal Topik 5 IDENTITAS Program Stabilitas dan Analisis Sediaan A PETA KONSEP Stabilitas Analisis Sediaan Uji stabilitas Dipercepat Pemeriksaan Fisika Pemeriksaan Mikrobiologi Uji stabilitas on going Pemeriksaan Kimia B SOAL JAWAB 1. Program stabilitas on going berbeda dengan program stabilitas uji dipercepat. Jelaskan dimana perbedaan kedua metode tersebut. 44
61 Tujuan uji dilakukan Uraian On going Uji dipercepat Kapan uji dilakukan Lama uji Interval waktu uji Suhu Kelembaban Alat Jumlah sampel Sumber sampel Parameter yang diuji Kriteria stabilitas 45
62 2. Diketahui data uji stabilitas dipercepat berikut: Diketahui, reaksi penguraian berlangsung menurut orde satu Tentukan perkiraan umur simpan obat (ED) pada suhu kamar 25 C. Jika ED obat hasil uji on going menunjukkan hasil yang lebih besar atau lebih kecil dari hasil uji dipercepat, apa langkah yang Saudara lakukan, jelaskan. 46
63 3. Jelaskan parameter apa saja yang diuji terhadap produk obat tablet menurut FI III, IV dan V FI III FI IV FI V 4. Lengkapi tabel berikut terkait analisis terhadap obat jadi menurut Farmakope Indonesia edisi V a. Tablet solid non steril Parameter uji Jumlah pengulangan pengujian Jumlah sampel Persyaratan menurut FI V b. Sediaan cair non steril Parameter uji Jumlah pengulangan pengujian Jumlah sampel Persyaratan menurut FI V c. Sediaan semisolid non steril 47
64 Parameter uji Jumlah pengulangan pengujian Jumlah sampel Persyaratan menurut FI V d. Sediaan steril Parameter uji Jumlah pengulangan pengujian Jumlah sampel Persyaratan menurut FI V 5. Berikut ini ada 3 orang analis (A, B dan C) melakukan evaluasi yang berbeda terhadap tablet salut amitripthyline HCl. Menurut saudara, siapa yang melakukan evaluasi yang benar menurut FI V? Sebutkan nama uji kualitas tersebut, kemudian saudara olah datanya, dan tentukan apakah memenuhi syarat farmakope atau tidak? a) A mengambil 20 tablet dan melakukan pemeriksaan bobot (mg) dengan hasil sebagai berikut: 198,1 200,2 205,2 201,5 209,2 204,5 196,9 204,7 201,3 205,5 199,6 202,0 203,2 201,9 201,3 205,7 198,5 205,2 204,1 199,1 Persyaratan: Tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada 48
65 kolom A dan tidak boleh satupun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom B, seperti pada tabel berikut: Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata (%) A B 25 mg atau kurang mg mg 7,5 15 Lebih dari 300 mg 5 10 b) B mengambil 30 tablet dan 10 tablet pertama ditetapkan kadarnya (%) satu persatu sesuai dengan cara penetapan kadar dalam monografi, dengan data sbb: 98,97 99,87 100,77 99,42 98,97 98,97 98,74 98,51 99,19 98,97 Persyaratan: Keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masingmasing dari 10 tablet tertetak antara % dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif 6,0% c) C mengambil 30 tablet dan 10 tablet pertama diperiksa bobot satu persatu dan kemudian dari hasil penetapan kadar zat aktif yang diperoleh (99,49%), ditentukan jumlah zat aktif dari masing-masing dari 10 tablet. Data bobot tersebut adalah sbb: 199,1 202,1 201,3 199,6 200,9 200,9 202,1 200,1 202,5 201,5 Persyaratan: Keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masingmasing dari 10 tablet tertetak antara % dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif 6,0% 6. PT Andalas Farma, Tbk melakukan pemeriksaan QC berupa uji disolusi terhadap tablet amitripthyline HCl dengan prosedur berikut: 49
66 a) Larutan baku Timbang seksama ± 20 mg amitripthyline HCl BPFI, masukkan ke dalam labu ukur 100 ml, encerkan dengan HCl 0,1 N sampai tanda batas. Pipet 2 ml larutan ke dalam labu ukur 50 ml, encerkan dengan HCl 0,1 sampai tanda batas. b) Larutan uji Masukkan 900 ml media disolusi ke tiap wadah, panaskan hingga suhu 36,5 37,5 C. Masukkan 1 tablet ke tiap keranjang dan masukkan ke dalam media. Jalankan alat dengan 100 rpm, 45 menit. Saring 25 ml larutan uji, buang 5 ml filtrat pertama. Pipet 3,0 ml filtrat ke dalam labu ukur 10 ml, encerkan dengan media disolusi sampai tanda batas dan ukur serapannya pada spektrofotometer uv-vis. Hasil yang diperoleh adalah sbb: No. chamber Absorban uji (Au) Absorban baku (As) 1 0,363 0, ,368 0, ,359 0, ,357 0, ,357 0, ,357 0,355 Bobot baku (Ws) (mg) Faktor kesetaraan baku (f) 20,3 0,9902 Tentukan rumus perhitungan disolusi dari data diatas, kemudian cari nilai disolusinya. Apakah uji disolusi memenuhi syarat farmakope? 7. PT Andalas Farma, Tbk sedang melakukan pemeriksaan QC terhadap tablet parasetamol yang diproduksi. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah uji penetapan kadar. Prosedurnya adalah sebagai berikut: a. Larutan uji 50
67 Timbang seksama 20 tablet, gerus sampai halus. Timbang seksama masa tablet yang mengandung 50 mg parasetamol, masukkan ke dalam labu 10 ml. Tambahkan NaOH 0,1 N sampai tanda batas, kocok hingga larut. Pipet 2 ml larutan, masukkan ke dalam labu ukur 100 ml, tambahkan NaOH 0,1 N sampai tanda batas, kocok homogen. Ukur serapan pada panjang gelombang 257 nm. b. Larutan baku Timbang dengan seksama 50 mg parasetamol BPFI, pindahkan ke dalam labu ukur 100 ml. tambahkan NaOH 0,1 N sampai tanda batas, kocok hingga larut. Pipet 2 ml larutan, masukkan ke dalam labu 100 ml. Tambahkan dengan NaOH 0,1 N sampai dengan tanda batas, kocok homogeny. Ukur serapan pada panjang gelombang 257 nm. Tentukan kadar parasetamol dalam tablet! Diketahui: Berat 20 tablet: ,8 mg Masa tablet yang ditimbang setara 50 mg = 64,5 mg (cari tau, kenapa bisa dapat angka ini?) Kadar parasetamol baku 99,86% Absorban baku: 0,712 dan Absorban uji: 0, PT Andalas Farma, Tbk sedang melakukan pemeriksaan QC berupa penetapan kadar hidrokortison asetat 2,5% dalam sediaan krim, dengan prosedur sebagai berikut: a. Penyiapan larutan pembanding Timbang seksama 50 mg hidrokortison asetat PK, masukkan ke dalam labu ukur 100 ml, tambahkan pelarut, kocok dan encerkan dengan pelarut hingga garis tanda, kocok. 51
68 Pipet larutan tersebut sebanyak 5 ml, masukkan ke dalam labu ukur dan tambahkan 10 ml larutan internal standar. Saring melalui millipore 0,45 mikron. b. Penyiapan larutan uji Timbang seksama sejumlah krim yang setara dengan 25 mg hidrokortison asetat (± 1 g krim), masukkan ke dalam labu ekstraksi, tambahkan dengan pipet 50 ml pelarut, kocok. Panaskan di atas penangas air suhu ± 60 C fasa gerak hingga krim larut, kocok lalu dinginkan dalam campuran metanol-es batu selama 20 menit, pusingkan. Pipet 5 ml larutan ini ke dalam wadah yang lain, tambahkan 10 ml larutan internal standar, kocok. Saring dengan millipore 0,45 mikron. c. Cara penetapan Inject 20 µl larutan pembanding dan 20 µl larutan uji pada sample injector HPLC, cetak curva dan hitung luas area dibawah kurva kromatogram yang dihasilkan. Tentukan berapa kadar hirokortison astetat (dalam %) dalam krim? Apakah sediaan memenuhi syarat? Diketahui hasil pemeriksaan diperoleh data yaitu: Berat hidrokortison asetat PK yang tertimbang: 50,2 mg Berat krim yang tertimbang: 1,146 gram Luas area larutan uji: Luas area larutan baku: Kandungan hidrokortison asetat tiap gram krim: 25 mg Kadar hidrokortison asetat PK: 99,95% 52
69 D LATIHAN UJI KOMPETENSI 1. Sampel suatu bets dari bahan awal, bahan pengemas atau produk jadi yang disimpan untuk tujuan pengujian apabila ada kebutuhan, selama masa edar dari bets terkait disebut dengan istilah a. Sampel pembanding b. Sampel uji c. Sampel representatif d. Sampel pertinggal 2. Sampel produk jadi dalam kemasan lengkap dari suatu bets disimpan untuk tujuan identifikasi sebagai contoh, tampilan, kemasan, label, brosur, nomor bets, tanggal daluwarsa, apabila dibutuhkan selama masa edar bets terkait disebut dengan istilah... a. Sampel pembanding b. Sampel uji c. Sampel representatif d. Sampel pertinggal 3. Sampel pembanding dan/atau sampel pertinggal berlaku sebagai riwayat baik untuk bets produk jadi maupun bahan awal yang dapat dievaluasi pada saat misal ada, kecuali... a. keluhan terhadap mutu produk, b. keraguan terhadap pemenuhan persyaratan izin edar, c. keraguan pada pelabelan/kemasan d. laporan efek samping obat 4. Berapa lama sekurang-kurangnya sampel pembanding dan sampel pertinggal dari tiap bets produk jadi harus disimpan. a. Satu tahun setelah tanggal daluwarsa b. Dua tahun setelah tanggal daluwarsa c. Tiga tahun setelah tanggal daluwarsa d. Lima tahun setelah tanggal daluwarsa 5. Berapa lama sekurang-kurangnya sampel bahan awal (kecuali pelarut, gas atau air yang dipakai dalam proses produksi) harus disimpan. a. Satu tahun setelah produk diluluskan b. Dua tahun setelah produk diluluskan c. Tiga tahun setelah produk diluluskan d. Lima tahun setelah produk diluluskan 6. Jumlah sampel pembanding hendaklah cukup untuk melakukan minimal... analisis lengkap pada bets sesuai dengan dokumen izin edar yang telah dievaluasi dan disetujui oleh Badan POM. a. Satu kali b. Dua kali c. Tiga kali d. Lima kali 7. Yang dimaksud dengan bahan awal dalam CPOB adalah a. Bahan aktif b. Bahan aktif dan eksipien 53
70 c. Bahan aktif dan bahan pengemas d. Bahan aktif, eksipien dan pengemas 8. Bets merupakan sejumlah obat yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus a. pembuatan b. produksi c. pengolahan d. pengemasan 9. Esensi dari bets adalah... a. Lama pencampuran b. Homogenitas c. Keseragaman kandungan d. Keseragaman bobot 10. Kegiatan menimbang, menghitung dan menyerahkan bahan untuk digunakan dalam produksi disebut dengan istilah a. Rekonsiliasi b. Compunding c. Dispensing d. Formulasi 11. Status berupa diluluskan atau ditolak, diberikan kepada produk pada tahap berikut, kecuali... a. Penimbangan b. Pengolahan c. Pengemasan d. Distribusi 12. Jumlah sebenarnya yang dihasilkan pada tiap tahap produksi obat dari sejumlah tertentu bahan awal yang digunakan disebut dengan istilah... a. Hasil nyata b. Hasil teoritis c. Hasil standar d. Hasil sebenarnya 13. Jumlah yang seharusnya dihasilkan pada tiap tahap produksi obat tertentu, dihitung berdasarkan jumlah komponen yang digunakan, apabila tidak terjadi kehilangan atau kekeliruan selama produksi disebut dengan istilah... a. Hasil nyata b. Hasil teoritis c. Hasil standar d. Hasil sebenarnya 14. Status bahan atau produk yang dipisahkan secara fisik atau dengan sistem tertentu, sementara menunggu keputusan apakah bahan atau produk tersebut ditolak atau disetujui penggunaannya untuk pengolahan, pengemasan atau distribusi disebut dengan istilah... a. Dokumentasi b. Kalibrasi 54
71 c. Karantina d. Pengawasan 15. Pada proses produksi sediaan steril, yang menjadi produk ruahan adalah.. a. Campuran masa dalam bentuk larutan b. Campuran masa yang siap mengalami proses pengisian c. Produk dalam kemasan primer d. Produk dalam kemasan sekunder 16. Suatu obat memiliki riwayat pembuatan sebagai berikut: Tanggal surat perintah produksi : 1 Agustus 2015 Tanggal penimbangan bahan : 2 Agustus 2015 Tanggal selesai pengemasan : 3 Agustus 2015 Tanggal disetujui untuk distribusi : 4 Agustus 2015 Dari tanggal tersebut di atas, tanggal berapa yang menyatakan tanggal pembuatan obat a. 1 Agustus 2015 b. 2 Agustus 2015 c. 3 Agustus 2015 d. 4 Agustus Bentuk penyimpangan dari produk adalah kecuali... a. Produk kembalian. b. Produk yang harus diproses ulang. c. Produk yang hanya diluluskan sebagian (bila ada). d. Produk yang hasil akhirnya di luar batas yang telah ditentukan 18. Penyimpangan yang mungkin terjadi pada aspek formulasi adalah kecuali... a. Kesalahan penimbangan bahan aktif obat yang dapat menyebabkan kadar atau potensi produk di luar persyaratan. b. Pemakaian bahan awal yang belum diluluskan atau ditolak. c. Penyimpangan dalam urutan pencampuran bahan. d. Kesalahan penempelan label obat. 19. Udara yang keluar dari fasilitas produksi betalaktam hendaklah dilewatkan melalui saringan udara HEPA dengan efisiensi minimal a. 90,50% b. 95,75% c. 97,90% d. 99,95 % 20. Prinsip memproduksi bets produk secara kampanye atau secara bersamaan di dalam fasilitas yang sama dapat dibenarkan asal telah mengambil tindakan pencegahan yang spesifik, dapat ditujukan untuk produksi sediaan... a. antibiotika golongan betalaktam penisilin, b. antibiotika golongan betalaktam nonpenisilin, c. hormon seks, d. onkologi 21. Kekuatan cahaya yang diguakan untuk pemeriksaan kejernihan ampul adalah... a. 200 lux b. 300 lux 55
72 c. 500 lux d. 600 lux 22. Contoh kegiatan produksi steril yang dilakukan di ruang kelas A adalah, kecuali.. a. Pengolahan dan pengisian aseptis b. Pengisian salep mata steril c. Pengisian suspensi steril d. Pengisian produk sterilisasi akhir 23. Industri tidak diperkenankan memakai nomor bets atau nomor lot yang sama pada produk yang sama selama periode waktu tertentu, yaitu paling sedikit dalam jangka waktu.. a. 5 tahun b. 10 tahun. c. 15 tahun d. 20 tahun 24. Jika bahan yang akan diambil sampelnya diperkirakan homogen dan diperoleh dari pemasok yang disetujui, maka digunakan rumus a. 1 +VN b. VN c. 0,4 VN d. 1,5 VN 25. Parameter pengujian tertentu untuk produk jadi yang telah disetujui pada saat pemberian izin edar dapat dikurangi bila hasil tren seluruh parameter yang diuji telah memenuhi syarat. Berapa jumlah bets minimal yang harus diproduksi secara berurutan dan memenuhi kriteria tertentu untuk memenuhi ketentuan di atas. a. 10 b. 15 c. 20 d Kriteria yang dimaksud oleh soal di atas adalah,kecuali... a. proses pembuatan sudah divalidasi; b. uji stabilitas memenuhi syarat; c. telah dilakukan pengkajian mutu produk d. telah dilakukan audit mutu 27. Parameter pengujian yang tidak boleh dikurangi (berdasarkan analisis risiko yang dilakukan oleh masing-masing industri) adalah a. Keseragaman kandungan; b. uji disolusi (untuk tablet, kapsul dan serbuk); c. kadar bahan aktif obat; dan d. uji sterilitas (untuk produk steril) 28. Uji lengkap perlu dilakukan, minimal sekali... a. Setahun 56
73 b. Dua tahun c. Tiga tahun d. Lima tahun 29. Alat yang digunakan untuk mengambil sampel bahan awal serbuk dalam drum dan kantong besar adalah... a. Thief sampler b. Auto sampler c. Stick sampler d. Stainless steel sampler 30. Pengambilan sampel berupa padatan, dilakukan dengan posisi... a. Horisontal b. Diagonal c. Vertikal d. Tak beraturan 57
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Farmasi Fisika Padatan Kode mata kuliah PAF 321 (2 sks) Semester II Pengampu mata kuliah Dr. Erizal, M.Si, Apt. Lili Fitriani, MPharmSc, Apt. Prof. Dr. Henny Lucida,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik)
CPOB { (Cara Pembuatan Obat yang Baik) CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) 2006 atau GMP (Good Manufacturing Practices) 2006 adalah suatu pedoman pembuatan obat berdasarkan berbagai ketentuan dalam CPOB
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) DISPENSING FAF 46 ( 3 sks) Semester 7 Pengampu mata kuliah Dr. Salman Umar, M.Si., Apt Deni Noviza, M.Si., Apt Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Andalas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.245 /Menkes/VI/1990, industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
RENCANAPEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANAPEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) RADIOFARMASI FAF 42 ( 2 sks) Semester 8 Pengampu matakuliah Dr. Salman, M.Si., Apt Rini Agustin, M.Si., Apt Program Studi Farmasi FakultasFarmasi UniversitasAndalas Padang,Tahun
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FARMASI RUMAH SAKIT. Kode Mata Kuliah FAF (2 sks) Semester 8
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FARMASI RUMAH SAKIT Kode Mata Kuliah FAF 462 - (2 sks) Semester 8 Pengampu mata kuliah Dr. Yufri Aldi, M.Si. Apt. Dr clin pharm. Dedy Almasdi, Apt. Dr. Yelly Oktavia
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KIMIA KRIMINOLOGI
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KIMIA KRIMINOLOGI Kode mata kuliah PAF (2 sks) Semester Ganjil Pengampu mata kuliah Dr.Roslinda Rasyid, MSi,Apt Dr. Elidahanum Husni MS,Apt Program Studi Farmasi Fakultas
Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt.
Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt. Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Perkembangan Lafi Ditkesad Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad) merupakan lembaga yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Nutraseutikal
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Nutraseutikal FAF 254 (2,0 sks) Semester Genap Pengampu mata kuliah Dr. Elidahanum Husni, MSi, Apt Dr. Roslinda Rasyid, MSi, Apt Fithriani Armin, S.Si., M.Si., Apt.
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) TAHUN 2016
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) TAHUN 2016 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2016 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KOSMETOLOGI PAF 438 (2 sks) Semester 8 Pengampu mata kuliah Rahmi Novita
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN UMUM. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Fisika Dasar. FAF 115 (1,0 sks) Semester Ganjil. Pengampu mata kuliah. Fithriani Armin, S.Si., M.Si., Apt.
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Fisika Dasar FAF 115 (1,0 sks) Semester Ganjil Pengampu mata kuliah Fithriani Armin, S.Si., M.Si., Apt. Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang,
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Teknologi Sediaan Steril Kode mata kuliah PAF 321 (3 sks) Semester V Pengampu mata kuliah Dr. Erizal, M.Si, Apt. Lili Fitriani, MPharmSc, Apt. Prof. Dr. Elfi Sahlan
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Sejarah PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi bekas perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah
BAB II TINJAUAN UMUM. Universitas Sumatera Utara
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan obat
KATA PENGANTAR QUALITY CONTROL
KATA PENGANTAR Assalamu alaikum, wr, wb, Segala Puji senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT beserta junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah S.A.W yang telah melimpahkan rahmat, berkah, dan
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FARMASI VETERINER PAF 000 (2 sks) Semester VIII Pengampu mata kuliah SYOFYAN, S.Si., M. Farm, Apt Lili Fitriani, M.Pharm, Apt Suryati, M.Sc, Apt Program Studi S1 Farmasi
Oleh : Bambang Priyambodo
Oleh : Bambang Priyambodo SISTEMATIKA CPOB: 2012 merupakan penyempurnaan dari CPOB: 2006, mencakup revisi terhadap : Pedoman CPOB: 2006 Suplemen I Pedoman CPOB: 2006 tahun 2009 Aneks 8 : Cara Pembuatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Kimia Bahan Alam II FAF 216 (3 SKS) Semester IV Pengampu matakuliah Prof. Dr. Dayar Arbain, Apt Prof. Dr. Amri Bakhtiar, Apt Dr. Yohannes Allen Program Studi Sarjana
B. Tujuan Tujuan Qualiy Assurance adalah untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.
PEMASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE/QA) A. Pendahuluan Industri farmasi bertujuan untuk menghasilkan obat yang harus memenuhi persyaratan khasiat (efficacy), keamanan (safety) dan mutu (quality). Berdasarkan
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) ANALISA OPTIMASI. EKM 204 (3 sks) Semester III. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) ANALISA OPTIMASI EKM 204 (3 sks) Semester III Pengampu mata kuliah Dr. Vera Pujani, SE, M.MTech Drs. Irsyal Ali, MM Meuthia, SE, M.Sc Idamiharti, SE, M.Sc Venny Darlis,SE.MRM
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan
Produksi di Industri Farmasi
Produksi di Industri Farmasi PRODUKSI istilah terkait Pembuatan Seluruh rangkaian kegiatan dalam menghasilkan suatu obat, meliputi produksi dan pengawasan mutu, mulai dari pengadaan bahan awal dan bahan
Aspek-aspek CPOB. Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi
Personalia Aspek-aspek CPOB Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi Pengawasan mutu Inspeksi diri dan audit mutu Penanganan keluhan terhadap produk, penarikan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO, JAKARTA SELATAN PERIODE 1 APRIL 3 JUNI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER KARTIKA
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN KEUANGAN 1. EKM 201 (3 sks) Semester III. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN KEUANGAN 1 EKM 201 (3 sks) Semester III Pengampu mata kuliah Prof. Dr.Tafdil Husni, SE, MBA Dr. Masyhuri Hamidi, SE, M.Si Prof.Dr.Syukri Lukman, SE, M.Si Sari
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Pembangunan Pedesaan ISS 617 ( sks) Semester VI Pengampu mata kuliah : Drs. Alfitri, MS Dr. Azwar, M.Si Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FISIOLOGI MANUSIA. FAF 133 ( 2: 1 sks) Semester 1
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FISIOLOGI MANUSIA FAF 133 ( 2: 1 sks) Semester 1 Pengampu mata kuliah : Prof. Dr. Armenia, MS, Apt Dr. Suhatri, MS, Apt Rahmi Yosmar, M.Farm, Apt Dwisari Dillasamola,
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN PEMASARAN II. EKM 208 (3 sks) Semester IV. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN PEMASARAN II EKM 208 (3 sks) Semester IV Pengampu mata kuliah Dr.Eri Besra, SE, MM Dr. Sari Lenggogeni, SE, MM Dr. Ratni Primalita, SE, Msi Dr. Verinita, SE,
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari industri rumah
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi 61 Bandung, di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) ANGGARAN PERUSAHAAN. EKM 205 (3 sks) Semester IV. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) ANGGARAN PERUSAHAAN EKM 205 (3 sks) Semester IV Pengampu mata kuliah Asmi Abbas, SE, MM Idamiharti, SE, M.Sc Laela Susdiani, SE, M.Com(App.Fin) Sari Surya, SE, MM Venny
Tugas Individu Farmasi Industri. Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu
Tugas Individu Farmasi Industri Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu Disusun Oleh : Eka Wahyu Lestari 14340004 Dosen : Drs. Kosasih, M.Sc., Apt. Program Profesi Apoteker
Viddy A R. II Selasa, 5 September 2017
INDUSTRI No. Tanggal Topik/Pokok Bahasan Substansi materi Dosen I Selasa, 29 Agustus 2017 Pendahuluan -Ruang lingkup industri farmasi -Pemenuhan CPOB -Jenis-jenis industri farmasi -Ciri-ciri industri farmasi
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA. EKM 202 (3 sks) Semester III. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA EKM 202 (3 sks) Semester III Pengampu mata kuliah Hendra Lukito,SE.MM.PhD Arrizal.SE.MSi Dr.Harif Amali Rivai,SE.MSi Meuthia,SE.MSc Dr.Rahmi
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN KEUANGAN 2. EKM 207 (3 sks) Semester IV. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN KEUANGAN 2 EKM 207 (3 sks) Semester IV Pengampu mata kuliah Prof. Dr.Tafdil Husni, SE, MBA Dr. Masyhuri Hamidi, SE, M.Si Prof.Dr.Syukri Lukman, SE, M.Si Idamiharti,
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN STRATEJIK. EKM 205 (3 sks) Semester IV. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN STRATEJIK EKM 205 (3 sks) Semester IV Pengampu mata kuliah Prof.Herri Arief Prima Johan,SE,MSc Arrizal,SE.MM Laela Susdiani,SE.M.Com Prof.Syukri Lukman Dr.Yulihasri,SE.MBA
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : ERNITA, S. Farm 093202016 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh tubuh yang sehat. Mulai dari melakukan olah raga, hidup secara
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KEPEMIMPINAN. EKM 408 (3 sks) Semester VII. Pengampu mata kuliah
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KEPEMIMPINAN EKM 408 (3 sks) Semester VII Pengampu mata kuliah Arief Prima Johan,SE,MSc Hendra Lukito,SE.MM.PhD Dr.Rahmi Fahmy,SE.MBA Program Studi Manajemen Fakultas
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan Disusun Oleh : Astrie Rezky, S. Farm. 093202004 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Lembar
BAB II TINJAUAN UMUM PT. PRADJA PHARIN (PRAFA) mengalami perkembangan pesat. PT. Prafa didirikan pada tahun 1960 oleh Tjipto
BAB II TINJAUAN UMUM PT. PRADJA PHARIN (PRAFA) 2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT. Prafa merupakan salah satu perusahaan farmasi Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. PT. Prafa didirikan
JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ANDALAS PADANG. TAHUN 2016
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) STATISTIK SOSIAL Kode Mata Kuliah ISS202 (3 sks) Semester II Pengampu Mata Kuliah Dr. Maihasni, S. Sos, M. Si Zeni Eka Putri, S. Sos, M. Si JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS
2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.880, 2016 BPOM. Industri Kosmetika Gol. B. Higiene Sanitasi. Dokumen. Penerapan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : SRI ROMAITO HASIBUAN, S.Farm 093202065 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK. Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt.
No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Riset, Teknologi
Perencanaan. Pengadaan. Penggunaan. Dukungan Manajemen
Perencanaan Penggunaan Pengadaan Dukungan Manajemen Distribusi Penyimpanan Menjamin tersedianya obat dgn mutu yang baik, tersebar secara merata dan teratur, sehingga mudah diperoleh pada tempat dan waktu
PERSONALIA
PERSONALIA 1. Persyaratan Umum Jumlah dan Pengetahuan: Memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya. Mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan Cara Pembuatan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT ASTRAZENECA INDONESIA CIKARANG SITE JALAN TEKNO RAYA BLOK B1A B1B, CIKARANG, BEKASI JAWA BARAT PERIODE 6 JANUARI 21 FEBRUARI 2014 LAPORAN
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 6 FEBRUARI 30 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AGATHA DWI
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk menunjang kesehatannya. Semua orang rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan kesehatan, bahkan
2. KETENTUAN UMUM Obat tradisional Bahan awal Bahan baku Simplisia
1. PNGERTIAN CPOTB Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional, Tujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG BANDUNG PERIODE 07 MARET 01 APRIL 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MOCHAMAD
SILABUS MATA KULIAH. Tugas. Tugas. Tugas FM-UAD-PBM-08-04/R0. Revisi : Tanggal Berlaku : 1 Februari A. Identitas
SILABUS MATA KULIAH Revisi : Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014 A. Identitas 1. Nama Mata Kuliah : Farmasi Industri 2. Program Studi : FARMASI Profesi 3. Fakultas : FARMASI 4. Bobot : 2 SKS 5. Elemen Kompetensi
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KESEHATAN MENTAL Pengampu mata kuliah: NENY ANDRIANI, M.PSI, PSIKOLOG FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA YPTK PADANG 2017 1 A. LATAR BELAKANG Mata kuliah
BAB III KEGIATAN DI INDUSTRI FARMASI P.T. KIMIA FARMA (PERSERO) TBK. PLANT MEDAN
BAB III KEGIATAN DI INDUSTRI FARMASI P.T. KIMIA FARMA (PERSERO) TBK. PLANT MEDAN 3.1 Keterlibatan Dalam Produksi Praktek Kerja Profesi Apoteker di P.T. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan, dilaksanakan
JUDUL RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) & KONTRAK KULIAH
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI JURUSAN/PROG. STUDIILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN-UHO JENIS DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) JUDUL RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) & KONTRAK
Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu
Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu Departemen QA merupakan departemen yang bertanggung jawab antara lain : a) Audit internal QA melakukan evaluasi kerja kesemua bagian/departemen
PEDOMAN PENYIAPAN DOKUMEN INDUK INDUSTRI FARMASI DAN INDUSTRI OBAT TRADISIONAL PENDAHULUAN
7 2012, No.294 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.04.1.33.02.12.0883 TAHUN 2012 TENTANG DOKUMEN INDUK INDUSTRI FARMASI DAN INDUSTRI OBAT TRADISIONAL PEDOMAN
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) AGRIBISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN PAB 124 (3 sks) Semester II Pengampu Mata Kuliah : Tim Dosen Koordinator : Dr. Ir. Nofialdi, MSi Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
RENCANAPEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN INOVASI. EKM 315 (3 sks) Semester VI. Pengampu mata kuliah:
RENCANAPEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MANAJEMEN INOVASI EKM 315 (3 sks) Semester VI Pengampu mata kuliah: Dr Donard Games, SE, M.Bus (Adv) Agestayani,SE.MM Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 659/MENKES/SK/X/1991 TENTANG CARA PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL YANG BAIK MENTERI KESEHATAN Menimbang : a. bahwa untuk membuat obat tradisional yang memenuhi persyaratan
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT
Penggunaan terbesar herbal. Fitofarmaka. supplement. kosmetik
Penggunaan terbesar herbal Fitofarmaka supplement kosmetik Pasar herbal Pasar dunia 10 M USD Nilai export indonesia 100 Triliun Kualitas Produksi herbal GAP GMP GDP GAP ON FARM Iklim Tanah Ketinggian bibit
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Sosiologi Terapan ISS 701 ( sks) Semester V Pengampu mata kuliah : Prof. Dr. Afrizal, MA Dr. Azwar, M.Si Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian industri farmasi Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau
REGULASI PENGELOLAAN DISTRIBUSI OBAT DAN URGENCY SERTIFIKASI CDOB
REGULASI PENGELOLAAN DISTRIBUSI OBAT DAN URGENCY SERTIFIKASI CDOB Disampaikan oleh: Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik & PKRT Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IKATAN APOTEKER INDONESIA Tangerang
PANDUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) TENTANG METODE PEMBELAJARAN DAN STRATEGI PENILAIAN MAHASISWA TAHUN 2017
PANDUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) TENTANG METODE PEMBELAJARAN DAN STRATEGI PENILAIAN MAHASISWA TAHUN 2017 LEMBAGA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU (LP3M) UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2017
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) MATA KULIAH: TERAPI KOMPLEMENTER MKL 353 (2 sks) Semester Genap
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) MATA KULIAH: TERAPI KOMPLEMENTER MKL 353 (2 sks) Semester Genap Koordinator : Ns. Zifriyanthi Minanda Putri, M. Kep PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG STUDI KEAHLIAN : KESEHATAN PROGRAM STUDI KEAHLIAN : KESEHATAN KOMPETENSI KEAHLIAN : 1. FARMASI (079) 2. FARMASI INDUSTRI
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61,
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61, Bandung di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
55 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum 1. Objek Penelitian Objek penelitian yang dilakukan penulis adalah peranan audit internal dalam menunjang efektivitas pengendalian internal penjualan dan
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.04.1.33.12.11.09938 TAHUN 2011 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENARIKAN OBAT YANG TIDAK MEMENUHI STANDAR DAN/ATAU PERSYARATAN DENGAN RAHMAT TUHAN
PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK
7 2013, No.122 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK PENDAHULUAN PRINSIP
(BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus Sejak berdirinya hingga sekarang ini PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 245/Menkes/SK/V/1990, yang dimaksud dengan industri farmasi adalah industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas dan obat jadi yang belum didistribusikan.
DOKUMENTASI
DOKUMENTASI PENDAHULUAN Dokumentasi adalah suatu bukti yang dapat dipercaya pada penerapan/pemenuhan CPOTB. Mutu yang direncanakan adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi keluhan yang terkait dengan
MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI
MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MATA PELAJARAN : KONSEP DASAR PENGAWASAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT BANDUNG
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT BANDUNG Disusun Oleh : YURAIDAH, S.Farm 083202097 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 LEMBAR
