Gambar 1.1 BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gambar 1.1 BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 9 Gambar 1.1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Probabilitas Dasar Andrei Kolgomorov ( ) meletaan landasan matematis teori peobabilitas dan teori acak. Dalam tulisaya, Kolgomorov menggunakan teori probabilitas dalam mempelajari pergerakan planet dan turbulensi aliran udara. Kontribusi penting laiya adalah proses stokastik, informasi, mekanika statistik dan dinamika nonlinear. Konsep probabilitas memungkinkan peneliti dalam mengolah statistika deskriptif ke dalam statistika inferensial. Asal teori probabilitas adalah modelisasi peluang permainan, pada pengambilan kartu dari satu set kartu atau permainan dadu. Probabilitas muncul dari kolaborasi antara Blaise Pascal dan Pierre de Fermat dalam menentukan peluang dari suatu permainan. Sejak kolaborasi tersebut probabilitas lebih banyak digunakan kepada permainan hingga abad ke-

2 1 18, ketika Pierre de Laplace dan Karl F Gauss menggunakan aturan dasar probabilitas terhadap masalah fisis laiya. Beberapa definisi dan aksioma yang akan digunakan dalam hal ini berkaitan dengan peristiwa dan probabilitas acak. Definisi 2.1 Eksperimen adalah suatu proses yang hasil dari keluaraya tidak diketahui secara pasti di mana eksperimen tersebut diasumsikan dapat di ulang dalam suatu waktu dan dibawah kondisi yang identik. Setiap pengulangan disebut sebagai repetisi. Eksperimen acak memenuhi tiga keadaan berikut: a) Himpunan seluruh keluaran tidak diketahui pasti dalam tiap percobaan. b) Dalam kedaan khusus, tidak diketahui keluaran mana yang akan terjadi. c) Eksperimen dapat diulang dengan keadaan yang mirip. 2.2 Peubah Acak Suatu eksperimen memuat sejumlah karakteristik yang terukur. Tetapi peneliti pada umumnya berkonsentrasi pada beberapa karakteristik tertentu pada suatu eksperimen. Apakah pada nilai karakteristik di sekitar pusat data atau pada penyebaran data. Pengelompokan keluaran suatu eksperimen diwakili oleh bilangan sederhana bertujuan untuk memudahkan deskripsi. Deskripsi tersebut diperlukan, tetapi di lain kasus hal itu berguna untuk menyatakan suatu bilangan sebagai perwakilan suatu keluaran di ruang sample. Definisi 2.2 Peubah acak adalah seluruh nilai bernilai riil yang tiap-tiap nilainya diasosiasikan dengan keluaran dari suatu eksperimen acak Peubah Acak Diskrit Definisi 2.3

3 11 Jika himpunan seluruh nilai yang mungkin dari peubah acak XX adalah suatu himpunan yang dapat dicacah sedemikian rupa, xx 1, xx 2, xx 3,, xx atau xx 1, xx 2, xx 3, sehingga X disebut sebagai variabel acak diskrit. Bagi suatu peubah acak diskrit XX, didefinisikan fungsi massa peluang PP xx (xx) sebagai: PP xx (xx) = PP(XX = xx) 2. Fungsi massa peluang PP(xx) bernilai positif, untuk sejumlah nilai xx tercacah. Dengan kata lain, jika XX mengambil salah satu dari nilaixx 1, xx 2, maka peubah acak diskrit X dengan nilai yang mungkin xx 1, xx 2, xx 3,, xx fungsi massa peluang adalah fungsi yang memenuhi kriteria berikut: 1). pp(xx ii ), ii = 1,2, 2). pp(xx ii ) = 1 ii=1 3). pp(xx ii ) = PP(XX = xx ii ) Peubah Acak Kontinu Definisi 2.5 Suatu peubah acak XX berdistribusi kontinu jika terdapat fungsi ff taknegatif, terdefinisi pada garis bilangan riil, sehingga setiap interval pada bilangan riil (berbatas atau tak berbatas), probabilitas bahwa X yang berada pada interval tersebut merupakan jumlahan daerah f pada interval tersebut. Sebagai contoh, keadaan yang menggambarkan definisi diatas, dengan batas dalam interval tertutup [aa, bb]. bb PP(aa xx bb) = ff(xx)dddd aa Berimplikasi pada:

4 12 PP(xx aa) = bb ff(xx)dddd aa ff(xx) dan PP(XX bb) = 2.2 Berdasarkan karakteristik f distribusi variabel acak kontinu dengan cara yang sama menyatakan bahwa fungsi probabilitas berkarakteristik distribusi peubah acak kontinu. Fungsi kepadatan peluang ff dapat digunakan untuk menggambarkan distribusi probabibilitas peubah acak kontinu. Jika suatu interval memuat kemiripan nilai X, probabilitasnya besar dan berkorespondensi dengan ff(xx). Memenuhi ketiga kaidah berikut: 1). ff(xx) 2). ff(xx) dddd = 1 bb 3). PP(aa xx bb) = ff(xx) dddd aa Distribusi probabilitas adalah visualisasi peubah acak XX dalam bentuk kurva. Ketika XX merupakan peubah acak berbatas, himpunan probabilitas yang digambarkan terhadap nilai yang mungkin disebut distribusi probablitas XX. Jika XX adalah peubah acak berbatas, dengan nilai-nilai 1, 2, maka daftar distribusi probabilitas berkaitan dengan XX = 1, XX = 2,. Jumlah seluruh probabilitas selalu sama dengan 1. Ingat bahwa XX merupakan variabel acak, sedangkan xx merupakan nilai spesifik dari variabel acak XX. Berakibat jika xx = 2 maka probabilitas PP(XX = xx) berarti PP(XX = 2), probabilitas bahwa XX adalah 2. Hal yang sama jika YY merupakan peubah acak maka PP(YY = yy) probabilitas YY dengan nilai khusus yy. 2.3 Ekspektasi dan Varians Ekspektasi

5 13 Dalam suatu pengukuran eksperimen, hasil pengukuran eksperimen seringkali menghasilkan variasi. Ukuran-ukuran yang menggambarkan karakteristik sampel berkorespondensi dengan karakteristik populasi. Secara sederhana karakteristik tersebut digambarkan sebagai nilai harapan atau lebih dikenal dengan mean. Secara matematis dinyatakan oleh formula berikut: 1). Peubah acak diskrit μμ xx = EE[XX] = xx ii PP(xx ii ) 2.3 ii=1 2). Peubah acak kontinu μμ xx = EE[XX] = xxxx(xx)dddd 2.4 Sifat-sifat nilai ekspektasi 1. EE[bb] = bb 2. EE[aaaa + bb] = aaaa[xx] + bb 3. EE[XX XX ] = EE[XX 1 ] + + EE[XX ] 4. EE[gg(XX, YY) ± h(xx, YY)] = EE[gg(XX, YY)] ± E[h(XX, YY)] 5. EE[gg(XX) ± h(xx)] = EE[gg(XX)] ± E[h(XX)] 6. EE(XX. YY) = EE(XX) E(YY) Bukti sifat 1. Pada peubah acak kontinu berlaku; EE[XX] = xxxx(xx)dddd EE[bb] = bb Sustitusi XX = bb maka EE[bb] = berlaku EE[bb] = bb ff(xx)dddd bbbb(xx)dddd, karena b merupakan konstanta

6 14 ff(xx)dddd = 1 EE[bb] = bb Bukti sifat 5. EE[gg(XX) ± h(xx)] = EE[gg(XX)] ± E[h(XX)] EE[XX] = xxxx(xx)dddd Substitusi Y = gg(xx) ± h(xx) EE[YY] = YYYY(xx)dddd = [ gg(xx) ± h(xx)]ff(xx)dddd Berlaku EE[YY] = gg[xx]ff(xx)dddd ± h[xx]ff(xx)dddd EE[gg(XX) ± h(xx)] = gg[xx]ff(xx)dddd ± h[xx]ff(xx)dddd EE[gg(XX) ± h(xx)] = EE[gg(XX)] ± EE[h(XX)] Varians. Pengukuran suatu variabel memungkinkan untuk mempermudah pemahaman mengenai suatu data. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat variabilitas sampel yang berhubungan dengan populasi dinyatakan didefinisikan oleh Var[X] = EE[(XX μμ) 2 ], secara jelas diperlihatkan oleh: 1). Variabel acak diskrit σσ 2 xx = Var[X] = (XX ii=1 μμ) 2 pp(xx ii ) 2.5 2). Variabel acak kontinu

7 σσ 2 xx = Var[X] = (XX μμ) 2 ff(xx)dddd 2.6 Varians untuk kasus kontinu dapat dijabarkan sebagai berikut Var[X] = EE[(XX μμ) 2 ] Var[X] = (XX μμ) 2 ff(xx)dddd = (XX 2 2XXμμ + μμ 2 )ff(xx)dddd = XX 2 ff(xx)dddd 2μμ XXXX(xx)dddd + μμ 2 ff(xx)dddd Var[X] = EE[XX 2 ] 2μμμμ[XX] + μμ 2 Karena μμ = EE[X] maka diperoleh: Var[X] = EE[XX 2 ] (EE[X]) Sifat-sifat varians: 1. Var[c] = 2. Var[ccX] = cc 2 Var[X] 3. Var[X + c] = Var[X] 4. Var[X X ] = Var[X 1 ] + + Var[X ] Distribusi Gamma dan Turunan Kalkulus Definisi 2.4

8 Jika ff adalah sebuah fungsi dan cc merupakan satu titik interior pada domain ff. Jika ff memiliki nilai maksimum atau minimum lokal di cc, maka 16 ff (cc) = atau ff (cc) tidak ada 2.8 Teknik pengintegralan parsial dd dddd [ff(xx)gg(xx)] = ff(xx)gg (xx) + gg(xx)ff (xx) 2.9 Misalkan uu = ff(xx) dan vv = gg(xx) dddd = ff (xx) dan dddd = gg (xx)dddd Persamaan 2.9 menjadi dd dddd [uuuu] = uu vv + uuvv Perhatikan persamaan (2.9) untuk memperoleh formula integral parsial, ruas kiri dan kanan dilakukan pengintegralan, sehingga diperoleh: dd dddd [ff(xx)gg(xx)] = ff(xx)gg (xx)dddd + gg(xx)ff (xx)dddd ff (xx)gg(xx)dddd + gg(xx)ff (xx)dddd = ff(xx)gg(xx) ff(xx)gg (xx)dddd = ff(xx)gg(xx) gg(xx)ff (xx)dddd

9 17 uu dddd = uuuu vv dddd 2.1 Definisi improper integral tipe-i (a) Jika ff(xx)dddd aa aa ff(xx)dddd = lim ff(xx)dddd aa Menyatakan bahwa limit tersebut eksis. bb (b) Jika ff(xx)dddd bb ff(xx)dddd = lim bb ff(xx)dddd Menyatakan limit tersebut eksis Improper integral ada untuk setiap bilangan aa, maka; eksis untuk setiap bilangan bb, maka aa ff(xx)dddd dan bb ff(xx)dddd yang dikaitkan ada dan divergen jika limitnya tidak ada. (c) Jika aa ff(xx)dddd dan aa ff(xx)dddd = ff(xx)dddd aa + ff(xx)dddd aa Distribusi dan Fungsi Gamma dikatakan konvergen jika limit ff(xx)dddd konvergen, maka didefinisikan: Andaikan suatu peristiwa Poisson terjadi dengan konstanta rate λλ per unit waktu. Misalkan variabel acak X menyataka sebagai waktu tunggu kejadian ke rr. Maka X memiliki pdf ff xx (xx), di mana ff xx (xx) = λλrr (rr 1)! xxrr 1 ee xx, xx > 2.1 Bukti

10 Pembuktian formula untuk ff xx (xx) dilakukan dengan mendifferensialkan fungsi kumulatif, FF xx (xx). Misalkan XX sebagai waktu tunggu peristiwa ke-r. Maka, FF XX (xx) = PP(XX xx) = 1 PP(XX > xx) FF XX (xx) = 1 rr 1 ee = = 1 (sedikitnya ada rr kejadian terjadi pada interval [, xx]) (λλλλ ) (λλλλ)! 2.11 Untuk memperoleh fungsi padat peluaya maka fungsi kumulatif pada kejadian yang berlangsung dalam interval [, x] adalah variabel acak Poisson dengan parameter λx, diturunkan terhadap x, diperoleh fungsi padat peluang sebagai berikut ff xx (xx) = FF xx(xx) = dd dddd 1 18 rr 1 ee = λλλλ (λλλλ)! 2.12 Berdasarkan aturan differensial dari perkalian dua buah fungsi pada persamaan (2.9), misalkan uu = ee λλλλ, vv = rr 1 ff XX (xx) = λλλλ = rr 1 = λλee = rr 2 = λλee = rr 2 = = λλee λλλλ (λλλλ)! λλλλ (λλλλ)! λλλλ (λλλλ)! λλλλ (λλλλ )! = λλee λλλλ (λλλλ)rr 1 (rr 1)! (λλλλ )! rr 1 (λλλλ) 1 λλλλ λλλλ ( 1)! = rr 1 (λλλλ) 1 λλλλ λλee ( 1)! =1 rr 2 (λλλλ)rr 1 (λλλλ) λλλλ + λλee λλee λλλλ (rr 1)!! + λλee λλλλ (λλλλ )rr 1 (rr 1)! = rr 2 (λλλλ ) = λλee λλλλ!

11 19 ff xx (xx) = = λλee λλλλ (λλ) rr 1 (xx) rr 1 (rr 1)! = (λλ)rr 1+1 (xx) rr 1 ee λλλλ (rr 1)! λλrr (rr 1)! xxrr 1 ee λλλλ, xx > Definisi 2.5 Diberikan bilangan riil r > dan λ >, peubah acak X dikatakan sebagai fungsi gamma pdf dengan parameter r dan λ jika: ff xx (xx) = Fungsi Gamma Γ(rr) = xx rr 1 ee xx dddd λλrr (rr 1)! xxrr 1 ee λλλλ, xx > atau GG(xx: rr, λλ) = λλrr Γ(rr) xxrr 1 ee λλλλ, xx > Beberapa pembuktian fungsi gamma untuk membantu penurunan rumus dalam 2.13 distribusi gamma. Mula-mula akan dicari nilai dari Γ 1 2, substitusi nilai rr = 1 2 ke pers. (2.13) Γ 1 2 = xx1 2 1 ee xx dddd Γ 1 2 = lim xx 2ee xx dddd 1 Fungsi diatas dijadikan kedalam bentuk polar, maka pertama-tama misalkan sebagai berikut: Substitusi xx = uu 2 dddd dddd = 2uu ke persamaan (2.14) Γ 1 = lim 2 (uu2 ) 1 1 2ee uu2 2 uuuuuu 2.14

12 2 Γ 1 = lim 2 1 uu 1 ee uu2 2 uuuuuu II 2 = ee uu2 dddd ee vv2 dddd = II 2 = 2ππ ee rr 2 rrrrrrrrrr Γ 1 = lim 2 1 uu 1 ee uu2 2 uuuuuu Dihasilkan Γ 1 = ππ 2 2ππ = 1 2 lim ee uu2 dddd ee uu2 vv 2 dddd dddd = dddd ee rr 2 2rrrrrr = 4π = 1 2 lim ee uu2 dddd = ππ Substitusi rr = 1 ke pers (2.13) diperoleh: Γ(1) = xx 1 1 ee xx dddd = ee xx dddd = lim ee xx dddd = lim ee xx = lim {( ee ) ( ee )} = 1 ee + ee = + 1 = 1 Dihasilkan Γ(1) = 1 Substitusi rr = 2 ke pers (2.13) diperoleh: Γ(2) = xx 2 1 ee xx dddd

13 21 Γ (2) = xxee xx dddd = lim xxee xx dddd = lim xxee xx + lim ee xx dddd = lim xxee xx + lim ee xx dddd = lim ee xx dddd = 1 Γ(2) = ( ee + ee ) + lim ee xx dddd Γ(2 ) = xxee xx dddd Diperoleh nilai Γ(2) = xxee xx dddd = 1 = ( + ) + 1 Substitusi rr = 3 ke pers (2.13) diperoleh: Γ(3) = xx 3 1 ee xx dddd Γ(3) = lim xx 2 ee xx dddd = lim xx 2 ddee xx = lim xx 2 ee xx + 2 lim xxee xx dddd

14 22 Γ(3) = lim xx 2 ee xx + lim xxee xx dddd Γ(3) = {( 2 ee ) ( 2 ee )} + 2 lim xxee xx dddd Γ(3) = ( + ) + 2 lim xxee xx dddd Γ(2) = Γ(3) = 2 xxee xx dddd xxee xx dddd = 1 maka Γ(3) = 2Γ(2) Γ(3) = 2 Diperoleh Γ(3) = xx 3 1 ee xx dddd = 2 Substitusi rr = 4 ke pers (2.13) diperoleh: Γ(4) = xx 4 1 ee xx dddd Γ(4) = lim xx 3 ee xx dddd Γ(4) = lim xx 3 ee xx dddd = lim xx 3 ddee xx = lim xx 3 ee xx + 3 lim xx 2 ee xx dddd = lim xx3 ee xx + 3 lim xx 2 ee xx dddd = lim ( 3 ee + 3 ee ) + 3 lim xx 2 ee xx dddd

15 23 = 3 ee + 3 ee + 3 lim xx 2 ee xx dddd = ( + ) + 3 lim xx 2 ee xx dddd Γ(4) = ( + ) + 3Γ(3) Γ(4) = 6 Diperoleh Γ(4) = xx 4 1 ee xx dddd = 6 Akan dicari formula ke-r untuk fungsi gamma sebagai berikut: ΓΓ(rr) = xx rr 11 ee xx dddd Γ(rr) = lim xx rr 1 ee xx dddd = lim xx rr 1 ddee xx Γ(rr) = lim xx rr 1 ee xx + lim ee xx ddxx rr 1 = rr 1 ee + rr 1 ee + (rr 1) xx rr 2 ee xx dddd Γ(rr) = + + (rr 1) lim xx rr 2 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1) lim xx rr 2 ddee xx Γ(rr) = (rr 1) lim xx rr 2 ee xx (rr 2) lim xx rr 3 ee xx dddd

16 24 Γ(rr) = (rr 1) ( rr 2 ee ) ( rr 2 ee ) (rr 2) lim xx rr 3 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1) (rr 2) lim xx rr 3 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2) lim xx rr 3 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2) lim xx rr 3 ddee xx Γ(rr) = (rr 1)(rr 2) lim xxrr 3 ee xx (rr 3) lim xx rr 4 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2) ( rr 3 ee ) ( rr 3 ee ) (rr 3) lim xx rr 4 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2) (rr 3) lim xx rr 4 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2)(rr 3) lim xx rr 4 ee xx dddd Γ(rr) = (rr 1)(rr 2)(rr 3) xx (rr 3) 1 ee xx dddd

17 Pada persamaan terakhir diketahui bahwa nilai terakhir adalah perkalian berulang menurun maka untuk nilai rr > 1 maka gamma rr menjadi: 25 Γ(rr) = (rr 1)(rr 2)(rr 3){Γ(rr 3)} Γ(rr) = (rr 1)Γ(rr 1) Γ(rr) = (rr 1)(rr 2)(rr 3) Γ(rr) = (rr 1)!, di mana rr > 1 Γ(xx + 1) = xxγ(xx) = xx! Γ(xx + 1) Γ(xx) = xx Γ(xx + ) Γ(xx) = xx + > xx(xx + 1) (xx + 1) (xx + )! xx! = (xx + 1) di mana (xx + 1) = xx(xx + 1) (xx + 1) untuk > xx! =! ( + 1) xx! xx ( + 1) xx = (xx + 1) (xx + 1) xx lim! xx (xx + 1) = lim! xx xx(xx + 1) (xx + 1) Diperoleh identitas! xx Γ(xx) = lim xx(xx + 1) (xx + 1) Identitas Weierstrass! xx xx(xx + 1) (xx + 1) = ee xx llll () ee xx 1 ee xx 2 xx 1 + xx/1 1 + xx/2 ee 1 + xx/ xx

18 lim! xx xx(xx + 1) (xx + 1) = lim ee Γ(xx) = lim ee 1 xx llll () 1 1 xx llll () 1 Γ(xx) = ee γγγγ 1 xx lim = + =1 eexx/ Γ(xx) = ee γγγγ 1 xx 1 + xx =1 Kedua ruas dilogaritmakan diperoleh ee xx 1 ee xx xx 1 + xx/1 1 + xx/2 ee 1 + xx/ ee xx 1 ee xx 2 xx 1 + xx/1 1 + xx/2 ee 1 + xx/ eexx/ 1 + xx/ llll{γ(xx)} = log(xx) γxx + xx pp llll 1 + xx pp pp=1 Berdasarkan persamaan terakhir diperoleh pppppp atau ffffffffffff dddddddddddddd yang dinotasikan oleh ψ(xx) untuk suatu bilangan bulat tak nol atau negatif dinyatakan dalam turunan logaritma Γ(xx) xx xx 26 ψ(x) = dd dddd {log [Γ(xx)]} ψ(x) = Γ (xx) Γ(xx) = γ 1 xx + 1 pp 1 xx + pp pp=1 Γ (xx) Γ(xx) = γ + 1 pp 1 xx + pp 1 pp=1 xx, 1, 2, γγ = lim pp log (pp) = pp 2.5 Estimasi Estimator dalah kuantitas yang didasarkan dari observasi sampel yang nilainya diambil sebagai indikator dari nilai parameter populasi yang tidak diketahui (sebagai contoh, rata-rata sampel xx sering digunakan sebagai estimator dari mean populasi yang tidak diketahui μμ) semakin lama semakin besar. Peubah acak dalam bentuk fungsi massa atau padat peluang adalah diketahui, tetapi distribusi bergantung pada

19 parameter tak diketahui yang memiliki nilai dalam himpunan yang disebut ruang parameter. 27 Dalam estimasi, sampel acak diambil dari distribusi untuk memperoleh beberapa informasi dari parameter tak diketahui. Dilakukan perulangan sebanyak eksperimen independen, sampel observasi XX 1, XX 2,, XX dan lakukan pendugaan nilai parameter menggunakan observasi xx 1, xx 2,, xx. Fungsi XX 1, XX 2,, XX digunakan menduga nilai parameter, statistik uu(xx 1, XX 2,, XX ) disebut sebagai penduga parameter yang dicari. Perhitungan uu(xx 1, xx 2,, xx ) dilakukan mendekati nilai parameter sebenarnya. Karakteristik populasi oleh bilangan tunggal berdasarkan pada sampel data dan mewakili nilai yang menggambarkan karakteristik populasi disebut dugaan titik Moments Estimator (MMes) Definisi 2.9 Secara sederhana estimasi parameter berdasarkan metode momen adalah dengan menyamakan momen populasi dengan momen sampel yang bersesuaian, dituliskan oleh: μμ 1 = mm 1 μμ 2 = mm 2 μμ = mm Persamaan di sisi sebelah kiri bergantung kepada distribusi parameternya. Persamaan di sisi sebelah kanan dapat dihiting berdasarkan data yang digunakan. Momen populasi ke didefinisikan sebagai μμ = E(XX ) Momen sampel ke disefinisikan oleh: n mm = 1 n XX ii Mengestimasi μμ dari sampel (XX 1,, XX ). Momen sampel pertama adalah mean sampel XX i=1

20 28 Misalkan XX 1, XX 2,, XX adalah peubah acak kontinu dan ff xx (xx) merupakan fungsi padat peluang dengan parameter tidak diketahui, θθ 1, θθ 2,, θθ. Momen pertama peubah XX, jika ada diberikan oleh integral berikut: EE XX jj = xx jj ff xx (xx, θθ 1, θθ 2,, θθ )dddd, jj = 1,2,, Momen sampel ke jj merupakan aproksimasi terhadap moment teoretis ke jj. Metode momen mengestimasi parameter tidak diketahui θθ 1, θθ 2, dan θθ terhadap model yang parameternya tidak diketahui adalah penyelesaian dari persamaan simultan xxff xx (xx, θθ 1, θθ 2,, θθ )dddd = 1 xx ii ii=1 xx 2 ff xx (xx, θθ 1, θθ 2,, θθ )dddd = 1 2 xx ii ii=1 xx ff xx (xx, θθ 1, θθ 2,, θθ )dddd = 1 xx Peubah acak diskrit dengan pmf pp xx (xx: θθ 1, θθ 2,, θθ ) metode momen mengestimasi penyelesaian persamaan simultan xx jj xx ii=1 pp xx (xx: θθ 1, θθ 2,, θθ ) = 1 xxjj xx Prosedur Metode Moments Tahapan pendugaan metode moments melibatkan tiga langkah dasar berikut ini: Misalkan terdapat paramerter yang akan diestimasi, msalkan θθ = (θθ 1,, θθ ). 1. Tentukan momen pupulasi, μμ, = 1, 2,,. μμ ll akan memuat satu atau lebih parameter θθ 1,, θθ

21 29 2. Tentukan hubungkan momen sampel, mm, = 1, 2,,. Banyaknya sampel moment harus sama banyak dengan parameter yang akan di estimasi. 3. Dari sistem persamaan, μμ = mm, = 1, 2,,, selesaikan parameter θθ = (θθ 1,, θθ ) yang merupakan penduga momen untuk θθ Maximum Likelihood Estimation (MLE) Definisi 2.6 Misalkan xx 1, xx 2,, xx merupakan sampel acak berukuran n dengan variabel acak diskrit pmf pp xx (xx, θθ), di mana θθ(θθ 1, θθ 2,, θθ ) adalah parameter tidak diketahui. Fungsi likelihood, L(θ), adalah perkalian pmf yang dikaitkan dengan n ke-k. LL(θθ) = PP(XX 1 = xx 1,, XX = xx ) LL(θθ) = PP(XX ii = xx ii ) ii=1 LL(θθ) = pp xx (xx ii : θθ) ii=1 Andaikan xx 1, xx 2,, xx adalah sampel acak berukuran n dari pdf kontinu, ff xx (xx, θθ) di mana θθ(θθ 1, θθ 2,, θθ ) merupakan parameter tak diketahui, fungsi likelihood dituliskan: LL(θθ) = ff(xx 1 = xx 1,, XX = xx ) LL(θθ) = ff(xx 1 ; θθ 1, θθ 2,, θθ ). ff(xx 2 ; θθ 1, θθ 2,, θθ ). ff(xx ; θθ 1, θθ 2,, θθ ) Pandang sebagai fungsi θθ 1, θθ 2,, θθ, disebut sebagai fungsi likelihood. Misalkan [uu 1 ( xx 1, xx 2,, xx ), uu 2 ( xx 1, xx 2,, xx ),, uu ( xx 1, xx 2,, xx )] Adalah tupel-k yang memaksimalkan LL ( θθ 1, θθ 2,, θθ ) sehingga: θθ 1 = uu 1 (XX 1, XX 2,, XX )

22 3 θθ 2 = uu 2 (XX 1, XX 2,, XX ) θθ 3 = uu 3 (XX 1, XX 2,, XX ) θθ = uu (XX 1, XX 2,, XX ) Adalah penduga kemungkinan maksimum dari θθ 1, θθ 2,, θθ. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut LL(θθ) = ff xx (xx ii, θθ) ii= Prosedur untuk menentukan MLE 1. Definisikan Fungsi Likelihood, LL(θθ). 2. Gunakan logaritma natural, ln[ll(θθ)]. 3. Ketika diterapkan, differensialkan ln[ll(θθ)] terhadap θθ, dan samakan dengan nol. 4. Selesaikan parameter θθ dan akan diperoleh θθ Sifat-sifat estimator Sifat yang diharapkan dari sebuah penduga adalah bahwa penduga tersebut berada sedekat-dekatnya dengan nilai sebenarnya parameter yang tidak diketahui. Bila diperhatikan mean bukanlah satu-satunya lokasi yang mungkin parameter dimana parameter berada.. Untuk praktisi statisi, pertanyaan penting adalah mendapatkan sampel statistik seperti mean, median, observasi terkecil atau obeservasi terbesar, sebaiknya dipilih mempersentasikan seluruh sampel. Untuk memahami matematika pendugaan, maka pertama-tama ingat bahwa setiap penduga adalah fungsi dari sekelompok peubah acak 1. Tidak Bias

23 31 Estimator tidak bias adalah estimator yang nilai harapaya sama dengan nilai sesungguhnya dari parameter yang akan ditaksir. Didefinisikan sebagai berikut Andaikan θθ merupakan estimasi titik untuk suatu parameter θθ. Maka θθ disebut sebagai estimator tidak bias apabila EE θθ = θθ. Jika EE θθ θθ, maka θθ dikatakan bias. Bias suatu penaksir titik θθ diberikan oleh BB θθ = EE θθ θθ. 2. Efisien Jika distribusi Sampling dari dua buah statistik mempunyai mean atau ekspektasi yang sama, maka statistik varians yang lebih kecil disebut sebagai estimator efisien dari mean, sementara statistik yang kedua adalah estimator tak efisien. Nilai dari kedua statistik masing-masing disebut estimasi efisien dan estimasi tak efisien. Dan dinotasikan andaikan bahwa θθ 1 dan θθ 2 adalah dua penduga takbias untuk parameter θθ. suatu penduga adalah efisien terhadap θθ apabila penduga memiliki varians yang lebih kecil. Ef(θθ 2, θθ 1 ) = VVVVVV (θθ 1 ) VVVVVV (θθ 2 ) Ef θθ 2, θθ 1 = E θθ 1 θθ 2 E θθ 2 θθ 2 Ef θθ 2, θθ 1 = E θθ 1 EE θθ 1 2 E θθ 2 EE θθ 2 2 Jika EEEE > 1 maka θθ 1 > θθ 2 artinya secara relative θθ 2 lebih efisien daripada θθ 1, dan jika EEEE < 1 maka θθ 1 < θθ 2 secara relative θθ 1 lebih efisien daripada θθ Konsisten Estimator konsisten adalah estimator yang cenderung sarna dengan nilai sebenarnya

24 32 meskipun ukuran sampel semakin lama semakin besar. Suatu penduga dikatakan konsisten jika memenuhi syarat berikut: 1. Jika ukuran sampel bertambah maka penduga akan mendekati nilai parameter sebenarnya. Jika sampel menjadi tak terhingga maka penduga konsisten harus dapat memberi suatu titik yang sempurna terhadap parameternya. Sehingga, θθ merupakan penduga konsisten, jika dan hanya jika: EE θ E(θ) 2 ssssssssssss 2. Jika ukuran sampel bertambah besar maka distribusi sampling penduga akan mengecil menjadi suatu garis normal diatas parameter sama dengan 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 \ BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Informasi-informasi faktual yang diperoleh berdasarkan hasil observasi maupun penelitian sangatlah beragam. Informasi yang dirangkum sedemikian rupa disebut dengan

Lebih terperinci

PERKIRAAN SELANG KEPERCAYAAN UNTUK PARAMETER PROPORSI PADA DISTRIBUSI BINOMIAL

PERKIRAAN SELANG KEPERCAYAAN UNTUK PARAMETER PROPORSI PADA DISTRIBUSI BINOMIAL PERKIRAAN SELANG KEPERCAYAAN UNTUK PARAMETER PROPORSI PADA DISTRIBUSI BINOMIAL Jainal, Nur Salam, Dewi Sri Susanti Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung

Lebih terperinci

Randy Toleka Ririhena, Nur Salam * dan Dewi Sri Susanti Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat ABSTRACT

Randy Toleka Ririhena, Nur Salam * dan Dewi Sri Susanti Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat ABSTRACT PERKIRAAN SELANG KEPERCAYAAN UNTUK NILAI RATA-RATA PADA DISTRIBUSI POISSON Randy Toleka Ririhena, Nur Salam * dan Dewi Sri Susanti Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat *email:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aljabar dapat didefinisikan sebagai manipulasi dari simbol-simbol. Secara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aljabar dapat didefinisikan sebagai manipulasi dari simbol-simbol. Secara 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Aljabar Definisi II.A.: Aljabar (Wahyudin, 989:) Aljabar dapat didefinisikan sebagai manipulasi dari simbol-simbol. Secara historis aljabar dibagi menjadi dua periode waktu,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Himpunan Fuzzy Tidak semua himpunan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari terdefinisi secara jelas, misalnya himpunan orang miskin, himpunan orang pandai, himpunan orang tinggi,

Lebih terperinci

a. Static Portfolio Analysis: Markowitz (1959) b. Dynamic Portfolio Analysis c. Contingent Claims Analysis: Black and Scholes (1973), Merton (1973)

a. Static Portfolio Analysis: Markowitz (1959) b. Dynamic Portfolio Analysis c. Contingent Claims Analysis: Black and Scholes (1973), Merton (1973) 1. Pendahuluan Dalam pasar keuangan, beberapa instrument financial yang perlu dikenali: a. Stock (Equitis, Securities, Shares) b. Bonds : Corporate, Municipal, Government (Long Term Borrowing) c. Corporate

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam pembicaraan statistik, jawaban yang diinginkan adalah jawaban untuk ruang lingkup yang lebih luas, yakni populasi. Tetapi objek dari studi ini menggunakan sampel

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang sampel S adalah himpunan semua hasil dari suatu percobaan. Kejadian E

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang sampel S adalah himpunan semua hasil dari suatu percobaan. Kejadian E 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Peluang Ruang sampel S adalah himpunan semua hasil dari suatu percobaan. Kejadian E adalah himpunan bagian dari ruang sampel. Peluang suatu kejadian P(E) adalah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengantar Pada bab ini akan diuraikan beberapa landasan teori untuk menunjang penulisan skripsi ini. Uraian ini terdiri dari beberapa bagian yang akan dipaparkan secara terperinci

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Perumusan Masalah Misalkan adalah proses Poisson nonhomogen pada interval dengan fungsi intensitas yang tidak diketahui. Fungsi intensitas diasumsikan terintegralkan lokal

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini, akan diuraikan definisi-definisi dan teorema-teorema yang

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini, akan diuraikan definisi-definisi dan teorema-teorema yang BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini, akan diuraikan definisi-definisi dan teorema-teorema yang akan digunakan sebagi landasan pembahasan untuk bab III. Materi yang akan diuraikan antara lain persamaan diferensial,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam teori probabilitas dan statistika, distribusi Binomial adalah distribusi probabilitas diskrit jumlah keberhasilan dalam n percobaan ya/tidak(berhasil/gagal)

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. menyatakan hubungan antara variabel respon Y dengan variabel-variabel

LANDASAN TEORI. menyatakan hubungan antara variabel respon Y dengan variabel-variabel 5 II. LANDASAN TEORI 2.1 Model Regresi Poisson Analisis regresi merupakan metode statistika yang populer digunakan untuk menyatakan hubungan antara variabel respon Y dengan variabel-variabel prediktor

Lebih terperinci

Estimasi Titik. (Point Estimation) Minggu ke 1-3. Prof. Dr. Sri Haryatmi, M. Sc. Universitas Gadjah Mada

Estimasi Titik. (Point Estimation) Minggu ke 1-3. Prof. Dr. Sri Haryatmi, M. Sc. Universitas Gadjah Mada Estimasi Titik (Point Estimation) Minggu ke 1-3 Prof. Dr. Sri Haryatmi, M. Sc. Universitas Gadjah Mada 2014 Prof. Dr. Sri Haryatmi, M. Sc. (UGM) Daftar Isi 2014 1 / 33 DAFTAR ISI 1 Minggu 1 Pertemuan 1

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini diberikan beberapa konsep dasar seperti teorema dan beberapa definisi sebagai landasan dalam penelitian ini. Konsep dasar ini berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam

Lebih terperinci

HANDOUT PERKULIAHAN. Pertemuan Ke : 3 : Distribusi Satu Peubah Acak dan Ekspektasi Satu Peubah Acak

HANDOUT PERKULIAHAN. Pertemuan Ke : 3 : Distribusi Satu Peubah Acak dan Ekspektasi Satu Peubah Acak HANDOUT PERKULIAHAN Pertemuan Ke : 3 Pokok Bahasan : Distribusi Satu Peubah Acak dan Ekspektasi Satu Peubah Acak URAIAN POKOK PERKULIAHAN A. Peubah Acak Definisi 1 : Peubah Acak Misalkan E adalah suatu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dikemukakan teori-teori yang mendukung pembahasan penyelesaian persamaan diferensial linier tak homogen dengan menggunakan metode fungsi green antara lain: persamaan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Beberapa Definisi dan Lema Teknis

Lampiran 1. Beberapa Definisi dan Lema Teknis Lampiran 1. Beberapa Definisi dan Lema Teknis Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Suatu percobaan yang dapat diulang dalam kondisi yang sama, yang hasilnya tidak dapat diprediksi dengan tepat tetapi kita

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 Peubah Acak dan Distribusinya.1.1 Peubah Acak Definisi.1: Peubah acak adalah suatu fungsi yang menghubungkan sebuah bilangan real dengan setiap unsur di dalam ruang contoh, (Walpole

Lebih terperinci

Peubah acak X yang berdistribusi normal dengan rataan sebagai: 2 ) X ~ N(,

Peubah acak X yang berdistribusi normal dengan rataan sebagai: 2 ) X ~ N(, 0 DISTRIBUSI NORMAL UMUM Distribusi normal umum ini merupakan distribusi dari peubah acak kontinu yang paling banyak sekali dipakai sebagai pendekatan yang baik dari distribusi lainnya dengan persyaratan

Lebih terperinci

BAB III PROSES POISSON MAJEMUK

BAB III PROSES POISSON MAJEMUK BAB III PROSES POISSON MAJEMUK Pada bab ini membahas tentang proses stokastik, proses Poisson dan proses Poisson majemuk yang akan diaplikasikan pada bab selanjutnya. 3.1 Proses Stokastik Koleksi atau

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengkaji penelitian Karakteristik Penduga Parameter Distribusi Log

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengkaji penelitian Karakteristik Penduga Parameter Distribusi Log II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam mengkaji penelitian Karakteristik Penduga Parameter Distribusi Log Normal Menggunakan Metode Generalized Moment digunakan beberapa definisi, dan teorema yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN TES KEMAMPUAN DASAR SAINS DAN TEKNOLOGI SBMPTN 2013 KODE 431

PEMBAHASAN TES KEMAMPUAN DASAR SAINS DAN TEKNOLOGI SBMPTN 2013 KODE 431 PEMBAHASAN TES KEMAMPUAN DASAR SAINS DAN TEKNOLOGI SBMPTN 203 KODE 43. Persamaan lingkaran dengan pusat (,) dan menyinggung garis 3xx 4yy + 2 0 adalah Sebelum menentukan persamaan lingkarannya, kita tentukan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN LANDASAN TEORI 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, banyak permasalahan yang dapat dimodelkan dengan proses stokastik. Proses stokastik dapat dibedakan menjadi dua yaitu proses stokastik dengan waktu

Lebih terperinci

INTEGRAL RIEMANN-LEBESGUE

INTEGRAL RIEMANN-LEBESGUE INTEGRAL RIEMANN-LEBESGUE Ikram Hamid Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FKIP Universitas Khairun ABSTRACT In this paper, we discuss a Riemann-type

Lebih terperinci

KAJIAN NUMERIK MODEL HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA UNTUK NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA AULIA RETNONINGTYAS

KAJIAN NUMERIK MODEL HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA UNTUK NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA AULIA RETNONINGTYAS KAJIAN NUMERIK MODEL HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA UNTUK NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA AULIA RETNONINGTYAS DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penerbangan, kedokteran, teknik mesin, software komputer, bahkan militer

BAB I PENDAHULUAN. penerbangan, kedokteran, teknik mesin, software komputer, bahkan militer BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Statistika merupakan salah satu ilmu matematika yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Di dalamnya mencakup berbagai sub pokok-sub pokok materi yang sangat bermanfaat

Lebih terperinci

DEFICIENCY PENAKSIR PARAMETER PADA DISTRIBUSI GAMMA

DEFICIENCY PENAKSIR PARAMETER PADA DISTRIBUSI GAMMA digilib.uns.ac.id DEFICIENCY PENAKSIR PARAMETER PADA DISTRIBUSI GAMMA oleh ANIS TELAS TANTI M0106003 SKRIPSI ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sains Matematika

Lebih terperinci

BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK

BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK 3. Perumusan Penduga Misalkan N adalah proses Poisson non-homogen pada interval 0, dengan fungsi intensitas yang tidak diketahui. Fungsi intensitas

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Logistik Distribusi logistik merupakan distribusi yang memiliki fungsi kepekatan peluang kontinu. Bentuk kurva distribusi logistik adalah simetris dan uni modal. Bentuk

Lebih terperinci

CNH3E3 PROSES STOKASTIK Peubah Acak & Pendukungnya

CNH3E3 PROSES STOKASTIK Peubah Acak & Pendukungnya CNH3E3 PROSES STOKASTIK Peubah Acak & Pendukungnya Dosen: Aniq A Rohmawati, M.Si TELKOM UNIVERSITY JALAN TELEKOMUNIKASI 1, BANDUNG, INDONESIA Ruang Sampel dan Kejadian PEUBAH ACAK (P.A) Fungsi yang memetakan

Lebih terperinci

II LANDASAN TEORI. 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang. 2.2 Peubah Acak dan Fungsi Sebaran

II LANDASAN TEORI. 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang. 2.2 Peubah Acak dan Fungsi Sebaran II LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Dalam suatu percobaan sering kali diperlukan pengulangan yang dilakukan dalam kondisi yang sama. Semua kemungkinan hasil yang akan muncul akan diketahui

Lebih terperinci

SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL FRAKSIONAL LINIER HOMOGEN DENGAN METODE MITTAG-LEFFLER. Helfa Oktafia Afisha, Yuni Yulida *, Nurul Huda

SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL FRAKSIONAL LINIER HOMOGEN DENGAN METODE MITTAG-LEFFLER. Helfa Oktafia Afisha, Yuni Yulida *, Nurul Huda SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL FRAKSIONAL LINIER HOMOGEN DENGAN METODE MITTAG-LEFFLER Helfa Oktafia Afisha, Yuni Yulida *, Nurul Huda Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kawasan Metropolitan Mebidang

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kawasan Metropolitan Mebidang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kawasan Metropolitan Mebidang Kawasan Mebidang (Medan, Binjai dan Deli Serdang) saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Propinsi Sumatera Utara dan juga sebagai pintu

Lebih terperinci

UKURAN RISIKO BERDASARKAN PRINSIP PENENTUAN PREMI : PROPORTIONAL HAZARD TRANSFORM. Aprida Siska Lestia

UKURAN RISIKO BERDASARKAN PRINSIP PENENTUAN PREMI : PROPORTIONAL HAZARD TRANSFORM. Aprida Siska Lestia Vol.8 No. () Hal. 6-8 UKURAN RISIKO BERDASARKAN PRINSIP PENENTUAN PREMI : PROPORTIONAL HAZARD TRANSFORM Aprida Siska Lestia Program Studi Matematika, FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Email : [email protected]

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI Teori yang ditulis dalam bab ini merupakan beberapa landasan yang digunakan untuk menganalisis sebaran besarnya klaim yang berekor kurus (thin tailed) dan yang berekor gemuk (fat

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Probabilitas (Peluang) Kehidupan sehari-hari sering dihadapkan dengan beberapa pilihan yang harus ditentukan memilih yang mana. Biasanya dihadapkan dengan kemungkinankemungkinan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (b) Variabel independen yang biasanya dinyatakan dengan simbol

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (b) Variabel independen yang biasanya dinyatakan dengan simbol BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Regresi Regresi adalah suatu studi statistik untuk menjelaskan hubungan dua variabel atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk persamaan. Salah satu variabel merupakan variabel

Lebih terperinci

STATISTIKA UNIPA SURABAYA

STATISTIKA UNIPA SURABAYA MATEMATIKA STATISTIKA (MATHEMATICAL STATISTICS) GANGGA ANURAGA Materi : Distribusi variabel random Teori Himpunan Fungsi Himpunan Fungsi Himpunan Peluang Variabel Random Fungsi Kepadatan Peluang Fungsi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses penelitian untuk mengkaji karakteristik penduga GMM pada data

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses penelitian untuk mengkaji karakteristik penduga GMM pada data 5 II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam proses penelitian untuk mengkaji karakteristik penduga GMM pada data panel ini, penulis menggunakan definisi, teorema dan konsep dasar yang berkaitan dengan pendugaan parameter,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. ilmiah. Pencacahan atau pengukuran karakteristik suatu objek kajian yang

BAB II LANDASAN TEORI. ilmiah. Pencacahan atau pengukuran karakteristik suatu objek kajian yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Peluang Pada dasarnya statistika berkaitan dengan penyajian dan penafsiran hasil yang berkemungkinan (hasil yang belum dapat ditentukan sebelumnya) yang muncul dalam

Lebih terperinci

Pengantar Statistika Matematika II

Pengantar Statistika Matematika II Bab 3: Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Bila sampling berasal dari populasi yang digambarkan melalui fungsi peluang f X (x θ), pengetahuan tentang θ menghasilkan karakteristik mengenai keseluruhan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dijelaskan pengertian tentang distribusi Weibull, maximum

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dijelaskan pengertian tentang distribusi Weibull, maximum 4 II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan pengertian tentang distribusi Weibull, maximum likelihood estimation, penyensoran, bias relatif, penduga parameter distribusi Weibull dan beberapa istilah

Lebih terperinci

BAB 4 KEKONSISTENAN PENDUGA DARI FUNGSI SEBARAN DAN FUNGSI KEPEKATAN WAKTU TUNGGU DARI PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT

BAB 4 KEKONSISTENAN PENDUGA DARI FUNGSI SEBARAN DAN FUNGSI KEPEKATAN WAKTU TUNGGU DARI PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT 29 BAB 4 KEKONSISTENAN PENDUGA DARI FUNGSI SEBARAN DAN FUNGSI KEPEKATAN WAKTU TUNGGU DARI PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT 4.1 Perumusan Penduga Misalkan adalah proses Poisson nonhomogen

Lebih terperinci

Pengantar Statistika Matematika II

Pengantar Statistika Matematika II Pengantar Statistika Matematika II Distribusi Sampling Atina Ahdika, S.Si., M.Si. Prodi Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia March 20, 2017 atinaahdika.com Bila sampling berasal dari populasi yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Pengertian Regresi Linier Pengertian Regresi secara umum adalah sebuah alat statistik yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih Analisis

Lebih terperinci

KAJIAN KELENGKUNGAN PERSAMAAN

KAJIAN KELENGKUNGAN PERSAMAAN KAJIAN KELENGKUNGAN PERSAMAAN KURVA DI RR Iis Herisman, Komar Baihaqi Jurusan Matematika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya iis@matematikaitsacid, komar@matematikaitsacid Abstrak Tujuan dari

Lebih terperinci

LIMIT DAN KEKONTINUAN

LIMIT DAN KEKONTINUAN LIMIT DAN KEKONTINUAN Departemen Matematika FMIPA IPB Bogor, 2012 (Departemen Matematika FMIPA IPB) Kalkulus I Bogor, 2012 1 / 37 Topik Bahasan 1 Limit Fungsi 2 Hukum Limit 3 Kekontinuan Fungsi (Departemen

Lebih terperinci

KONSISTENSI ESTIMATOR

KONSISTENSI ESTIMATOR KONSISTENSI ESTIMATOR TUGAS STATISTIKA MATEMATIKA II Oleh 1. Wahyu Nikmatus S. (121810101010) 2. Vivie Aisyafi F. (121810101050) 3. Rere Figurani A. (121810101052) 4. Dwindah Setiari W. (121810101054)

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Regresi Linier Sederhana Dalam beberapa masalah terdapat dua atau lebih variabel yang hubungannya tidak dapat dipisahkan karena perubahan nilai suatu variabel tidak selalu terjadi

Lebih terperinci

KONSEP DASAR TERKAIT METODE BAYES

KONSEP DASAR TERKAIT METODE BAYES KONSEP DASAR TERKAIT METODE BAYES 2.3. Peubah Acak dan Distribusi Peluang Pada statistika kita melakukan percobaan dimana percobaan tersebut akan menghasilkan suatu peluang. Ruang sampel pada percobaan

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. Distribusi Gamma adalah salah satu keluarga distribusi probabilitas kontinu.

LANDASAN TEORI. Distribusi Gamma adalah salah satu keluarga distribusi probabilitas kontinu. II. LANDASAN TEORI Distribusi Gamma adalah salah satu keluarga distribusi probabilitas kontinu. Distribusi ini merupakan distribusi fungsi padat yang terkenal luas dalam bidang matematika. Distribusi gamma

Lebih terperinci

DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. Distribusi Normal_M. Jainuri, M.Pd 1

DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. Distribusi Normal_M. Jainuri, M.Pd 1 DISTRIBUSI NORMAL Pertemuan 3 1 Distribusi Normal Pertama kali diperkenalkan oleh Abraham de Moivre (1733). De Moivre menemukan persamaan matematika untuk kurva normal yang menjadi dasar dalam banyak teori

Lebih terperinci

Pr { +h =1 = } lim. Suatu fungsi dikatakan h apabila lim =0. Dapat dilihat bahwa besarnya. probabilitas independen dari.

Pr { +h =1 = } lim. Suatu fungsi dikatakan h apabila lim =0. Dapat dilihat bahwa besarnya. probabilitas independen dari. 6.. Proses Kelahiran Murni Dalam bab ini, akan dibahas beberapa contoh penting dari waktu kontinu, state diskrit, proses Markov. Khususnya, dengan kumpulan dari variabel acak {;0 } di mana nilai yang mungkin

Lebih terperinci

Statistika & Probabilitas

Statistika & Probabilitas Statistika & Probabilitas Peubah Acak Peubah = variabel Dalam suatu eksperimen, seringkali kita lebih tertarik bukan pada titik sampelnya, tetapi gambaran numerik dari hasil. Misalkan pada pelemparan sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Distribusi probabilitas binomial adalah distribusi probabilitas diskrit yang paling sering digunakan untuk merepresentasikan kejadian dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih terperinci

BAB2 LANDASAN TEORI. Masalah program linier pada dasarnya memiliki ketentuan-ketentuan berikut ini (Winston, 2004)

BAB2 LANDASAN TEORI. Masalah program linier pada dasarnya memiliki ketentuan-ketentuan berikut ini (Winston, 2004) 7 BAB2 LANDASAN TEORI 2.1. Program Linier Program linear merupakan salah satu teknik dari riset operasi untuk memecahkan permasalahan optimasi dengan memaksimalkan atau meminimalkan suatu bentuk fungsi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. glide/refleksi geser, grup simetri, frieze group, graphical user interface (GUI) dijelaskan mengenai operasi biner.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. glide/refleksi geser, grup simetri, frieze group, graphical user interface (GUI) dijelaskan mengenai operasi biner. BAB II KAJIAN PUSTAKA Secara umum, pada bab ini membahas mengenai kajian teori yang digunakan dalam penelitian yaitu, grup, transformasi, translasi, refleksi, rotasi, glide/refleksi geser, grup simetri,

Lebih terperinci

Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting. Oleh Azimmatul Ihwah

Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting. Oleh Azimmatul Ihwah Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting Oleh Azimmatul Ihwah Distribusi Diskrit Fungsi probabilitas dari variabel random diskrit dapat dinyatakan dalam formula matematik tertentu yang dinamakan fungsi

Lebih terperinci

KAJIAN ESTIMASI PARAMETER BERDISTRIBUSI GAMMA DENGAN MOMENTS METHOD

KAJIAN ESTIMASI PARAMETER BERDISTRIBUSI GAMMA DENGAN MOMENTS METHOD KAJIAN ESTIMASI PARAMETER BERDISTRIBUSI GAMMA DENGAN MOMENTS METHOD DAN MAXIMUM LIKELIHOOD ESTIMATOR; SUATU TERAPAN DATA PARUH WAKTU DAN DATA SIMULASI SEBAGAI PERBANDINGAN SKRIPSI REHDAMENTA S TARIGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman sekarang, kemajuan sains dan teknologi sangat berkembang pesat. Salah satu ilmu yang berkembang adalah matematika yang merupakan induk dari semua ilmu

Lebih terperinci

INFERENSI STATISTIK DISTRIBUSI BINOMIAL DENGAN METODE BAYES MENGGUNAKAN PRIOR KONJUGAT. Oleh : ADE CANDRA SISKA NIM: J2E SKRIPSI

INFERENSI STATISTIK DISTRIBUSI BINOMIAL DENGAN METODE BAYES MENGGUNAKAN PRIOR KONJUGAT. Oleh : ADE CANDRA SISKA NIM: J2E SKRIPSI INFERENSI STATISTIK DISTRIBUSI BINOMIAL DENGAN METODE BAYES MENGGUNAKAN PRIOR KONJUGAT Oleh : ADE CANDRA SISKA NIM: J2E 006 002 SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada

Lebih terperinci

APLIKASI METODE BESARAN PIVOTAL DALAM PENENTUAN SELANG KEYAKINAN TAKSIRAN PARAMETER POPULASI. Agus Rusgiyono Jurusan Matematika FMIPA UNDIP.

APLIKASI METODE BESARAN PIVOTAL DALAM PENENTUAN SELANG KEYAKINAN TAKSIRAN PARAMETER POPULASI. Agus Rusgiyono Jurusan Matematika FMIPA UNDIP. APLIKASI METODE BESARAN PIVOTAL DALAM PENENTUAN SELANG KEYAKINAN TAKSIRAN PARAMETER POPULASI. Agus Rusgiyono Jurusan Matematika FMIPA UNDIP Abstraks Diberikan populasi dengan densitas dengan parameter,

Lebih terperinci

Kumpulan pasangan nilai-nilai dari variabel acak X dengan probabilitas nilai-nilai variabel random X, yaitu P(X=x) disebut distribusi probabilitas X

Kumpulan pasangan nilai-nilai dari variabel acak X dengan probabilitas nilai-nilai variabel random X, yaitu P(X=x) disebut distribusi probabilitas X Kumpulan pasangan nilai-nilai dari variabel acak X dengan probabilitas nilai-nilai variabel random X, yaitu P(X=) disebut distribusi probabilitas X (distribusi X) Diskrit Seragam Binomial Hipergeometrik

Lebih terperinci

Lampiran A. Beberapa Definisi dan Lema Teknis

Lampiran A. Beberapa Definisi dan Lema Teknis LAMPIRAN 33 Lampiran A. Beberapa Definisi dan Lema Teknis Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Definisi A.1 (Ruang contoh dan kejadian) Suatu percobaan yang dapat diulang dalam kondisi yang sama, yang hasilnya

Lebih terperinci

n p = putaran poros ( rpm ) ( Aaron, Deutschman, 1975.Hal 485 ) 3. METODOLOGI

n p = putaran poros ( rpm ) ( Aaron, Deutschman, 1975.Hal 485 ) 3. METODOLOGI n p = putaran poros ( rpm ) ( Aaron, Deutschman, 1975.Hal 485 ). METODOLOGI Pada bab ini akan dibahas secara detail mengenai perencanaan dan pembuatan alat,secara keseluruan proses pembuatan dan penyelesaian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. landasan pembahasan pada bab selanjutnya. Pengertian-pengertian dasar yang di

BAB II LANDASAN TEORI. landasan pembahasan pada bab selanjutnya. Pengertian-pengertian dasar yang di 5 BAB II LANDASAN TEORI Bab ini membahas pengertian-pengertian dasar yang digunakan sebagai landasan pembahasan pada bab selanjutnya. Pengertian-pengertian dasar yang di bahas adalah sebagai berikut: A.

Lebih terperinci

BAB 3 MODEL ESTIMASI REGRESI NONPARAMETRIK

BAB 3 MODEL ESTIMASI REGRESI NONPARAMETRIK BAB 3 MODEL ESTIMASI REGRESI NONPARAMETRIK Dalam melakukan estimasi pada suatu kasus regresi nonparametrik, ada banyak metode yang dapat digunakan. Yasin (2009) dalam makalahnya melakukan estimasi regresi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linier Program linier merupakan model umum yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan pengalokasian sumber-sumber yang terbatas di antara beberapa aktivitas yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Dalam suatu percobaan seringkali dilakukan pengulangan yang biasanya dilakukan dalam kondisi yang sama. Semua kemungkinan hasil yang akan muncul

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Distribusi Normal Salah satu distribusi frekuensi yang paling penting dalam statistika adalah distribusi normal. Distribusi normal berupa kurva berbentuk lonceng setangkup yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat dianggap mendekati normal dengan mean μ = μ dan variansi

BAB I PENDAHULUAN. dapat dianggap mendekati normal dengan mean μ = μ dan variansi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang melambangkan kemajuan zaman. Oleh karena itu matematika banyak digunakan oleh cabang ilmu lain

Lebih terperinci

pada Definisi 2.28 ada dan nilainya sama dengan ( ) ( ) Untuk memperoleh hasil di atas, ruas kiri persamaan (25) ditulis sebagai berikut ( )

pada Definisi 2.28 ada dan nilainya sama dengan ( ) ( ) Untuk memperoleh hasil di atas, ruas kiri persamaan (25) ditulis sebagai berikut ( ) LAMPIRAN 21 Lampiran 1 (Pembuktian Lema 2.1 Lema 2.1 (Eksistensi Fungsi Intensitas global Jika ([ ] adalah proses Poisson periodik dengan fungsi intensitas, maka ([ ] pada Definisi 2.28 ada dan nilainya

Lebih terperinci

Pengantar Proses Stokastik

Pengantar Proses Stokastik Bab 1: Dasar-Dasar Probabilitas Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Peluang Percobaan adalah kegiatan yang menghasilkan keluaran/hasil yang mungkin secara acak. Contoh: pelemparan sebuah dadu.

Lebih terperinci

Rangkuman Suku Banyak

Rangkuman Suku Banyak Rangkuman Suku Banyak Oleh: Novi Hartini Pengertian Suku banyak Perhatikan bentuk aljabar dibawah ini i. Suku banyak xx 2 + 4xx + 9 berderajat 2, sebab pangkat tertinggi peubah x adalah 2 ii. Suku banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam statistika, sebuah penaksir adalah sebuah fungsi dari sample data

BAB I PENDAHULUAN. Dalam statistika, sebuah penaksir adalah sebuah fungsi dari sample data BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam statistika, sebuah penaksir adalah sebuah fungsi dari sample data observasi yang digunakan untuk menaksir parameter populasi yang tidak diketahui. Ada

Lebih terperinci

PENS. Probability and Random Process. Topik 5. Beberapa jenis Distribusi Variabel Acak. Prima Kristalina April 2015

PENS. Probability and Random Process. Topik 5. Beberapa jenis Distribusi Variabel Acak. Prima Kristalina April 2015 Program Pasca Sarjana Terapan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Probability and Random Process Topik 5. Beberapa jenis Distribusi Variabel Acak Prima Kristalina April 215 1 Outline 1. Beberapa macam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Analisis survival atau analisis ketahanan hidup adalah metode yang

BAB II KAJIAN TEORI. Analisis survival atau analisis ketahanan hidup adalah metode yang BAB II KAJIAN TEORI BAB II KAJIAN TEORI A. Analisis Survival Analisis survival atau analisis ketahanan hidup adalah metode yang berhubungan dengan jangka waktu, dari awal pengamatan sampai suatu kejadian

Lebih terperinci

ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER

ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER 1 ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT PEMETAAN BILINEAR

SIFAT-SIFAT PEMETAAN BILINEAR SIFAT-SIFAT PEMETAAN BILINEAR Mustafa A.H. Ruhama Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FKIP Universitas Khairun ABSTRACT Let UU, VV and WW are vector

Lebih terperinci

Pengantar Statistika Matematik(a)

Pengantar Statistika Matematik(a) Catatan Kuliah Pengantar Statistika Matematik(a) Statistika Lebih Dari Sekadar Matematika disusun oleh Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan STATISTIKA - FMIPA Institut Teknologi Bandung 2014

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. 2. P bersifat aditif tak hingga, yaitu jika dengan. 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang

II. LANDASAN TEORI. 2. P bersifat aditif tak hingga, yaitu jika dengan. 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang II. LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Dalam suatu percobaan sering kali diperlukan pengulangan yang dilakukan dalam kondisi yang sama. Semua kemungkinan hasil yang akan muncul akan

Lebih terperinci

LAMPIRAN A OSILATOR HARMONIK

LAMPIRAN A OSILATOR HARMONIK 46 LAMPIRAN A OSILATOR HARMONIK Persamaan Schrodinger untuk Osilator Harmonik dapat dinyatakan sebagai berikut: dd 2 ΨΨ dddd 2 + (α y2 )Ψ = 0 (A.1) Dengan y = ( 1 ħ kkkk)1/2 dimana v = 1 2ππ kk mm α =

Lebih terperinci

MODEL LOG LINEAR UNTUK TABEL KONTINGENSI TAK SEMPURNA BERDIMENSI TIGA

MODEL LOG LINEAR UNTUK TABEL KONTINGENSI TAK SEMPURNA BERDIMENSI TIGA MODEL LOG LINEAR UNTUK TABEL KONTINGENSI TAK SEMPURNA BERDIMENSI TIGA (Studi Kasus Jumlah Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2008 Menurut Umur, Pendidikan dan Jenis Kelamin) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diperhatikan adalah jangka waktu dari awal pengamatan sampai suatu event

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diperhatikan adalah jangka waktu dari awal pengamatan sampai suatu event BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Analisis Survival Analisis survival merupakan suatu analisis data dimana variabel yang diperhatikan adalah jangka waktu dari awal pengamatan sampai suatu event terjadi dengan

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan

LANDASAN TEORI. Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan 4 II. LANDASAN TEORI Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan Schmeiser (1974), yang memiliki empat parameter dari pengembangan distribusi Lambda Tukey. Keluarga distribusi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab II ini dibahas teori-teori pendukung yang digunakan untuk pembahasan selanjutnya yaitu tentang Persamaan Nonlinier, Metode Newton, Aturan Trapesium, Rata-rata Aritmatik dan

Lebih terperinci

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK UJI KONVERGENSI Januari 208 Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK Uji Integral Teorema 3 Jika + k= u k adalah deret dengan suku-suku tak negatif, dan jika ada suatu konstanta M sedemikian hingga s n = u + u 2 +

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. ruang sampel dan dilambangkan dengan huruf S. Ruang sampel beranggotakan

TINJAUAN PUSTAKA. ruang sampel dan dilambangkan dengan huruf S. Ruang sampel beranggotakan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Percobaan dan Ruang Sampel Menurut Walpole (1995), istilah percobaan digunakan untuk sembarang proses yang dapat membangkitkan data. Himpunan semua hasil suatu percobaan disebut

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teori statistika telah mempengaruhi hampir semua aspek. Dalam teori statistika dan peluang, distribusi gamma (

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teori statistika telah mempengaruhi hampir semua aspek. Dalam teori statistika dan peluang, distribusi gamma ( I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Perkembangan teori statistika telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Hal ini disebabkan statistika merupakan salah satu disiplin ilmu yang berperan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Distribusi eksponensial tergenaralisir (Generalized Eponential Distribution) pertama kali diperkenalkan oleh Gupta dan Kundu pada tahun 1999. Distribusi ini diambil

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. penggunaan metode benefit prorate constant dollar dengan suku bunga model

BAB III PEMBAHASAN. penggunaan metode benefit prorate constant dollar dengan suku bunga model BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai estimasi parameter model Vasicek, penggunaan metode benefit prorate constant dollar dengan suku bunga model Vasicek, kemudian diterapkan dalam perhitungan

Lebih terperinci

Fungsi Gamma. Pengantar Matematika Teknik Kimia. Muthia Elma

Fungsi Gamma. Pengantar Matematika Teknik Kimia. Muthia Elma Fungsi Gamma Pengantar Matematika Teknik Kimia Muthia Elma Fungsi Gamma Defenisi Merupakan salah satu fungsi khusus yang biasanya disajikan dalam pembahasan kalkulus tingkat lanjut Dalam aplikasinya fungsi

Lebih terperinci

ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER

ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER 1 ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI WEIBULL DENGAN TRANSFORMASI MODEL REGRESI MENGGUNAKAN METODE KUADRAT TERKECIL LINIER A. Musdalifa, Raupong, Anna Islamiyati Abstrak Estimasi parameter adalah merupakan hal

Lebih terperinci

DISTRIBUSI SATU PEUBAH ACAK

DISTRIBUSI SATU PEUBAH ACAK 0 DISTRIBUSI SATU PEUBAH ACAK Dalam hal ini akan dibahas macam-macam peubah acak, distribusi peluang, fungsi densitas, dan fungsi distribusi. Pada pembahasan selanjutnya, fungsi peluang untuk peubah acak

Lebih terperinci

Ayundyah Kesumawati. April 29, Prodi Statistika FMIPA-UII. Deret Tak Terhingga. Ayundyah. Barisan Tak Hingga. Deret Tak Terhingga

Ayundyah Kesumawati. April 29, Prodi Statistika FMIPA-UII. Deret Tak Terhingga. Ayundyah. Barisan Tak Hingga. Deret Tak Terhingga Kesumawati Prodi Statistika FMIPA-UII April 29, 2015 Akar Barisan a 1, a 2, a 3, a 4,... adalah susunan bilangan-bilangan real yang teratur, satu untuk setiap bilangan bulat positif. adalah fungsi yang

Lebih terperinci

BAB III MODEL TRINOMIAL. Model binomial merupakan pemodelan dinamika pergerakan harga saham

BAB III MODEL TRINOMIAL. Model binomial merupakan pemodelan dinamika pergerakan harga saham 8 BAB III MODEL TRINOMIAL 3.1 Model Trinomial Model binomial merupakan pemodelan dinamika pergerakan harga saham yang hanya mempunyai dua kemungkinan pergerakan harga saham, yaitu harga saham naik atau

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. beberapa konsep dan teori yang berkaitan dengan penduga parameter distribusi GB2

II. LANDASAN TEORI. beberapa konsep dan teori yang berkaitan dengan penduga parameter distribusi GB2 5 II. LANDASAN TEORI Dalam proses penelitian penduga parameter dari suatu distribusi diperlukan beberapa konsep dan teori yang mendukung dari ilmu statistika. Berikut ini akan dijelaskan beberapa konsep

Lebih terperinci

PENAKSIR MAKSIMUM LIKELIHOOD DENGAN METODE ITERASI NEWTON - RAPHSON

PENAKSIR MAKSIMUM LIKELIHOOD DENGAN METODE ITERASI NEWTON - RAPHSON PENAKSIR MAKSIMUM LIKELIHOOD DENGAN METODE ITERASI NEWTON - RAPHSON Haposan Sirait 1 dan Rustam Efendi 2 1,2 Dosen Program Studi Matematika FMIPA Universitas Riau. Abstrak: Makalah ini menyajikan tentang

Lebih terperinci