4 DIFERENSIAL. 4.1 Pengertian derivatif

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4 DIFERENSIAL. 4.1 Pengertian derivatif"

Transkripsi

1 Diferensial merupakan topik yang cukup 'baru' dalam matematika. Dimulai sekitar tahun 1630 an oleh Fermat ketika menghadapi masalah menentukan garis singgung kurva, dan juga masalah menentukan maksimum atau minimum fungsi. Kemudian, kaitan antara garis singgung kurva dan velositas atau kecepatan suatu benda bergerak ditemukan pada masa berikutnya sekitar tahun 1660 an oleh Sir Isaac Newton ( ). Selanjutnya, Newton mengembangkan temuan ini menjadi teori uksi yang didasarkan ide intuitif dari it; didalamnya muncul konsep diferensial dimana beberapa istilah dan notasi diciptakan. Pada pihak lain, secara terpisah Gottfried Leibniz ( ) sekitar tahun 1680 menyelidiki bahwa luas daerah di bawah kurva dapat dihitung dengan membalik proses diferensial. Teknik menarik Leibniz ini dapat memecahkan masalah yang sebelumnya sangat sulit menjadi sangat mudah; merupakan pemicu ketertarikan bagi banyak matematikawan melakukan riset pengembangan dan dihasilkan teori koheren yang dewasa ini menjadi kalkulus diferensial dan kalkulus integral. Pada bab ini kita akan memahami teori diferensial dimana diasumsikan bahwa mahasiswa sudah memahami interprestasi sika dan geometris dari derivatif suatu fungsi. Diingatkan bahwa teori diferensial dan teori diferensial adalah dua topik yang konsepnya berbeda, namun keduanya dihubungkan oleh teorema fundamental kalkulus. Teori integral akan dipelajari pada bab berikutnya. 4.1 Pengertian derivatif Pada sub bab ini mahasiswa harus memahami beberapa pengetahuan dan keterampilan berikut : 1. Memahami denisi derivatif fungsi di suatu titik. 2. Memahami maksud istilah derivatif dan diferensial. 3. Menentukan derivatif fungsi di suatu titik dengan menggunakan denisi. 4. Memahami hubungan antara fungsi kontinu dan fungsi terdiferensial. 5. Memahami dan membuktikan sifat-sifat aljabar derivatif. 6. Memahami aturan rantai sebagai aturan diferensial untuk fungsi komposisi 7. Membuktikan (teorema) aturan rantai 8. Menggunakan sifat-sifat derivatif dan aturan rantai untuk menentukan derivatif suatu fungsi. 1

2 9. Memahami teorema yang menghubungkan derivatif fungsi dan derivatif fungsi inversnya. 10. Mengkaji masalah-masalah kritis yang berkaitan dengan konsep diferensial, seperti a) fungsi yang kontinu di mana-mana tetapi tidak terdiferensial di mana-mana b) ketakberlakuan aturan rantai jika ada syarat pada hipotesis yang tidak dipenuhi. c) ketakberlakuan torema pada indikator 9 jika fungsinya tidak naik tegas d) dll Sungguh banyak tuntutan pengetahuan dan keterampilan yang harus dicapai oleh mahasiswa. Bayangkan, ini hanya untuk 1 sub pokok bahasan. Padahal kita masih akan mempelajari 3 sub pokok bahasan yang lebih luas lagi yaitu Teorema nilai rata-rata (TNR), aturan L'Hospital dan Teorema Taylor. Tidak ada pilihan kecuali wajib memenuhi tuntutan seperti ini, kecuali kalau nanti siap menjadi sarjana 'ecek-ecek'. Hanya sistem pembelajaran berpusat pada mahasiswa sajalah yang dimungkinkan dapat mencapai tuntutan seperti ini. Mahasiswa yang pasif, hanya 'nrimo' dan pasrah pada nasib dipastikan tidak mungkin dapat 'eksis', akhirnya TERSINGKIR. Semangat dan motivasi mempunyai kekuatan luar biasa dalam mencapai sukses belajar, bukan kecerdasan. Denisi 4.1. Misalkan I R suatu interval, dan f : I R, c R. Bilangan real L dikatakan derivatif f di titik c jika diberikan sebarang ε > 0 terdapat δ > 0 sehingga berlaku x I dimana 0 < < δ L < ε. (4.1) Dalam kasus ini dikatakan f terdiferensial di c, ditulis f (c) = L. Lihat kembali denisi g(x) = L, kemudian diambil g(x) := f(x) f(c) x c dalam ekspresi (4.1). Dengan demikian dapat dikatakan, derivatif f di c diberikan oleh f (c) = (4.2) asalkan it ini ada. Sebelum lanjut, pahami dulu maksud Denisi 4.1, pahami mengapa ekspresi (4.1) dapat ditulis ke dalam bentuk (4.2). Fungsi f dikatakan terdiferensial di c jika derivatifnya f (c) ada. Fungsi f dikatakan terdiferensial pada I jika ia terdiferensial di setiap c I. Sampai di sini seharusnya sudah jelas perbedaan istilah derivatif dan diferensial. Istilah 'turunan' adalah bentuk nasionalisasi istilah 'derivative'. Contoh 4.1. Perhatikan fungsi f(x) := x 2, untuk x R.Misalkan c titik sebarang dalam R. Diperoleh f x 2 c 2 (c) = = = (x + c) = 2c. 2

3 Karena f (c) = 2c terdenisi untuk setiap c R maka diperoleh f (x) = 2x untuk x R. Dua sifat, kekontinuan dan keterdiferensialan ternyata memiliki hubungan implikasi seperti diungkapkan pada Teorema berikut. Teorema 4.1. Misalkan I R suatu interval, dan f : I R, c R. Jika f terdiferensial di c maka f kontinu di c. Bukti. Lihat kembali denisi f kontinu di c pada bab sebelumnya. Untuk x I dan x c, dibentuk ( ) = (). Karena f (c) ada, kemudian dengan memasangkan it pada kedua ruas persamaan ini dan gunakan sifat it hasil kali fungsi maka diperoleh f(x) = f(c), yaitu f kontinu di c. (lengkapi tahapan yang dihilangkan pada bukti ini) Dengan teorema ini, dapatkah Anda menyimpulkan lebih luas mana, himpunan fungsi terdiferensial atau himpunan fungsi kontinu? Teorema ini tidak mengatakan kontinu diferensial. Diperhatikan fungsi f(x) := x, x R. Fungsi ini jelas kontinu di 0 (lihat kembali bab kekontinuan semester lalu). Sekarang perhatikan untuk x 0,diperoleh f(x) f(0) x 0 = x x = { 1 jika x > 0 1 jika x < 0. Dengan mengambil it satu sisi di 0 maka diperoleh hasil sebagai berikut f(x) f(0) x = = 1 dan x 0 x 0 x 0 x f(x) f(0) x = x 0 + x 0 x 0 + x = +1. f(x) f(0) Karena kedua it satu sisi tidak sama maka disimpulkan x 0 x 0 sehingga f (0) tidak ada. Jadi, f tidak terdiferensial di 0. tidak ada Pahami dulu sajian dalam kotak di atas. Berikut ini diberikan masalah kritis yang berkaitan dengan kekontinuan dan keterdiferensialan. Kritis Pada tahun 1872, Karl Weirestrass mendenisikan fungsi f dalam bentuk deret takhingga berikut 1 f(x) := 2 n cos(3n x). n=0 Ternyata fungsi ini kontinu di mana-mana tetapi tidak terdiferensial di mana-mana. Buktinya sangat sulit. Tapi bagi mahasiswa berjiwa peneliti/penemu akan mencari tahu bagaimana cara membuktikan fakta ini. Banyak sumber belajar yang dapat digunakan, 3

4 Gambar 4.1: Grak fungsi Weierstrass seperti informasi melalui buku cetak ataupun referensi elektronik pada jaringan internet. Untuk jumlah parsial 5 suku pertama (n = 4) fungsi ini berbentuk f(x) = cos x cos 3x cos 9x cos 27x + 1 cos 81x 16 dan graknya diberikan sebagai berikut. Sifat aljabar diferensial Teorema 4.2. Misalkan I R suatu interval, dan c R. Bila fungsi f : I R dan g : I R terdiferensial di c maka a. untuk sebarang α R, fungsi (αf) terdiferensial di c, dimana b. fungsi jumlahan f + g terdiferensial di c, yaitu c. fungsi perkalian f g terdiferensial di c, dimana (αf) (c) = αf(c) (4.3) (f + g) (c) = f (c) + g (c) (4.4) (fg) (c) = f (c)g(c) + f(c)g (c) (4.5) d. fungsi hasil bagi f/g terdiferensial di c asalkan g(c) 0, dimana ( ) f (c) = f (c)g(c) f(c)g (c) g (g(c)) 2. (4.6) 4

5 Bukti. Hanya diberikan outline bukti untuk bagian c, sedangkan yang lainnya sudah ditulis dengan jelas pada buku paket. Silahkan dipelajari sendiri! Ketidaklengkapan ini harusnya dijadikan sarana untuk belajar mandiri, kecuali orang-orang pemalas (bukan bodoh) yang bermental kuli dan pengemis. Misalkan p := f g, maka untuk x c kita mempunyai bentuk berikut : p(x) p(c) = = = f(x)g(x) f(c)g(c) f(x)g(x) f(c)g(x) + f(c)g(x) f(c)g(c) g(x) g(c) g(x) + f(c). Perhatikan pada baris kedua, pembilang ditambah dengan suku f c)g(x)+f(c)g(x) suatu kuantitas bernilai nol sehingga tidak merubah apa-apa. Tujuannya agar diperoleh bentuk pada denisi diferensial seperti tampak pada baris berikutnya. Dengan menggunakan fakta g kontinu di c (mengapa?), yaitu g(x) = g(c), dan fakta yang diketahui pada hipotesis teorema maka diperoleh p(x) p(c) = f (c)g(c) + f(c)g (c), yaitu disimpulkan p = fg terdiferensial di c. Perjelas langkah-langkah yang masih bolong pada pembuktian ini, kemudian buktikan bagian lainnya yang belum disinggung. Kalau pada teorema ini hanya terlibat dua fungsi f dan g. Sesungguhnya dapat dikembangkan untuk berhingga banyak fungsi f 1, f 2,, f n dengan menggunakan prinsip induksi matematika. Kita amati untuk sifat jumlahan fungsi terdiferensial berikut. Corollary 1. Jika fungsi f 1, f 2,, f n terdiferensial di c I maka f 1 + f f n dan f 1 f 2 f n terdiferensial di c, dimana (f 1 + f f n ) (c) = f 1(c) + f 2(c) + + f n(c) (4.7) (f 1 f 2 f n ) (c) = f 1(c)f 2 (c) f n (c) + f 1 (c)f 2(c) f n (c) + + f 1 (c)f 2 (c) f n(c). (4.8) Suatu kejadian khusus pada sifat diferensial perkalian adalah bilamana f 1 = f 2 = = f n := f maka berlaku (f n ) (c) = n (f(c)) n 1 f (c). (4.9) Tunjukkan mengapa? Lebih khusus lagi bila f(x) = x, maka f n (x) = x n. Tulis saja g(x) := x n, maka diperoleh g (x) = n (f(x)) n 1 f (x) = nx n 1 1 = nx n 1. (4.10) 5

6 Fakta ini sudah Anda kenal dengan baik pada kalkulus, yaitu bila y = x n maka y = nx n 1. Notasi lain yang digunakan untuk f adalah Df dan df dx bila x variabel bebas pada fungsi f, yaitu f = f(x). Notasi df dx dikenal dengan notasi Leibniz salah seorang founding father kalkulus diferensial. Aturan rantai (chain rule) Ketika Anda di SMA atau pada kuliah ( kalkulus dasar tentunya tidak asing lagi proses 1 ) menentukan turunan fungsi y = sin + x 2 seperti berikut : ( ) y = cos 1 + x 2 d ( 1 + x 2) dx ( ) 1 = cos 1 + x x ( ) 2 1 = cos 1 + x 2 ) = cos ( 1 + x x 2x 2 x 1 + x 2 d ( 1 + x 2 ) dx Semuanya paham prosedur tersebut di atas, ada yang kurang paham. Segeralah sadar dan insyaah!...pertanyaannya, apa dasar Anda boleh melakukan langkah-langkah ini? Bagaimana pembenarannya? Pada bagian ini kita membahas turunan fungsi komposisi g f. Teorema 4.3. [Aturan Rantai] Misalkan I dan J interval pada R, dan misalkan g : I R, f : J R adalah fungsi-fungsi dimana f(j) I, dan misalkan c J. Bila f terdiferensial di c dan g terdiferensial di f(c) maka fungsi komposisi g f terdiferensial di c, dimana (g f) (c) = g (f(c)) f (c). (4.11) Bukti. Fakta yang diketahui pada teorema ini adalah c J, f(j) I, f terdiferensial di c dan g terdiferensial di f(c). Tulis d := f(c) dan didenisikan G : I R sebagai berikut { g(y) g(d) y d bila y I, y d, G(y) := g (d) bila y = d. Karena g terdiferensial di d, yaitu g (d) ada dan berlaku y d G(y) = g (d) = G(d) maka diperoleh bahwa G kontinu di d. Karena f kontinu di c dan f(j) I maka disimpulkan G f juga kontinu di c (justikasi!, mengapa?), sehingga berlaku (G f)(x) = (G f)(c) = G(f(c)) = G(d) = G(y) = y d g (d) = g (f(c)) (4.12) 6

7 ditulis (G f)(x) = g (f(c)). Menurut denisi fungsi G maka diperoleh g(y) g(d) = G(y)(y d) untuk setiap y I. (Mengapa?). Jadi, untuk x J dan misalkan y = f(x) maka berlaku g f(x) g f(c) = g (f(x)) g (f(c)) = g(y) g(d) = G(y)(y d) = G (f(x)) (y d) = G f(x)(). Untuk x c, kita bagi kedua ruas persamaan yang baru diperoleh dengan x c, diperoleh g f(x) g f(c) = G f(x) Diambil it mendekati c pada kedua ruas maka diperoleh, g f(x) g f(c) = G f(x) (f g) (c) = g (f(c)) f (c). = G f(x) Pahami betul setiap langkah dan pembenaran pada bukti di atas!. ( 1 ) Contoh 4.2. Pada ilustrasi awal sub pokok bahasan ini, fungsi h(x) = sin + x 2 dapat dipandang sebagai komposisi fungsi h = g f dimana g(x) = sin x dan f(x) = 1 + x2. Kemudian, fungsi f(x) = 1 + x 2 suatu komposisi fungsi f = g 1 f 1 dimana g 1 (x) = x dan f 1 (x) = 1 + x 2. Untuk fungsi komposisi yang terdiri dari tiga fungsi seperti ini, aturan rantai dapat diperumum sebagai (g g 1 f 1 ) (c) = g (g 1 f 1 (c)) g 1(f 1 (c)) f (c). Cek kebenaran prosedur di atas dengan formula ini! Contoh berikut adalah cara lain membuktikan turunan fungsi f n := ff f. }{{} n faktor Contoh 4.3. Misalkan f : I R terdiferensial pada I dan g(y) = y n. Karena g (y) = ny n 1 dan f n = g f maka berdasarkan aturan rantai diperoleh (g f) (x) = g (f(x)) f (x), yaitu (f n ) (x) = n (f(x)) n 1 f (x) untuk setiap x I. Contoh berikut ini menentukan derivatif fungsi dengan menggunakan aturan rantai dan denisi derivatif. 7

8 Contoh 4.4. Misalkan fungsi f didenisikan sebagai berikut { x 2 sin(1/x) bila x 0 f(x) := 0 bila x = 0. Tentukan f (x)? Penyelesaian. Untuk x 0 kita dapat menggunakan aturan rantai bersamaan dengan formula turunan hasil kali, yaitu diperoleh f (x) = 2x sin(1/x) cos(1/x), untuk x 0. Untuk x = 0 tidak ada aturan yang dapat digunakan. Oleh karena itu dikembalikan ke denisi originalnya, yaitu f f(x) f(0) x 2 sin(1/x) (0) = = = x sin(1/x) = 0. x 0 x 0 x 0 x x 0 Langkah terakhir menggunakan hasil yang pernah dipelajari pada pokok bahasan it, ingatkah?...lihat lagi. Jadi fungsi f terdiferensial pada R dengan derivatif { f 2x sin(1/x) cos(1/x) bila x 0 (x) := 0 bila x = 0. Ingat nilai 0 pada derivatif f (cabang bawah) tidak diperoleh dari f(0) = 0. Diperhatikan bahwa fungsi f kontinu di x = 0 tetapi fungsi f tidak mempunyai it di x = 0 (mengapa?), f tidak kontinu di 0. Fungsi invers Pada bagian ini dibahas hubungan derivatif fungsi dan derivatif inversnya, seperti diungkapkan pada teorema berikut. Teorema 4.4. Misalkan I R suatu interval, dan f : I R fungsi monoton tegas dan kontinu pada I. Bila J = f(i) dan g : J R monoton tegas dan kontinu, invers fungsi f. Bila f terdiferensial di c I dan f (c) 0, maka g terdiferensial di d := f(c), dimana g (d) = 1 f (c) = 1 f (g(d)). (4.13) Bukti. Dapat dilihat pada buku teks. Untuk sementara dilewatkan dulu memahami buktinya, tapi pahami dulu maksud teoremanya. Untuk memahami teorema ini, beberapa istilah: fungsi kontinu, monoton tegas, fungsi invers harus dipahami kembali. 8

9 Contoh 4.5. Misalkan n N, I := [0, ) dan misalkan f(x) = x n. Dengan mudah dapat dimengerti bahwa f monoton tegas dan kontinu pada I, sehingga inversnya ada yaitu g(y) = y 1/n untuk y J := [0, ) juga monoton tegas, kontinu. Diketahui pula f (x) = nx n 1 untuk semua x I. Jadi berdasarkan hal ini, jika y > 0 maka g (y) ada, yaitu g 1 (y) = f (g(y)) = 1 n (g(y)) n 1 = 1 n ( y 1/n) n 1 = 1 ny (n 1)/n. Akhirnya disimpulkan g (y) = 1 n y(1/n) 1, y > 0. Soal-soal yang dipecahkan 1. Gunakan denisi untuk menentukan derivatif fungsi berikut a) f(x) := x 3, x R b) k(x) := 1 x, x > 0 Penyelesaian. Untuk (a), ambil sebarang c R. Diperoleh f (c) := x 3 c 3 = = ()(x 2 + xc + c 2 ) = c 2 + c c + c 2 = 3c 2. Ada beberapa langkah yang sengaja tidak diberikan secara eksplisit. Tugas mahasiswalah yang harus melengkapinya. Jadi f (x) = 3x 2 untuk setiap x R. Untuk (b), diambil sebarang c > 0. Didapat k (c) := k(x) k(c) = 1 x 1 c = ( c x) () xc = ( c x) xc( x c)( x + c) = 1 = 1 xc( x + c) c 2 c = 1 2c c. Karena bentuk ini terdenisi untuk setiap c > 0 maka diperoleh k (x) = 1 2x x, x > Tunjukkan fungsi f(x) := x 1/3, x R tidak terdiferensial di x = 0. 9

10 Penyelesaian. Dibentuk pecahan yang mengarah pada f (0), yaitu f(x) f(0) x 0 = x1/3 0 x = 1 x 2/3. 1 Selanjutnya tunjukkan bahwa x 0 tidak ada (Petunjuk: gunakan kriteria barisan untuk it!). Karena x 0 x 0 x 2/3 f(x) f(0) tidak ada maka disimpulkan f (0) tidak ada. 3. Misalkan fungsi f terdenisi pada R dengan { x 2 jika x rasional f(x) := 0 jika x irrasional. Buktikan f terdiferensial di 0, dan tentukan f (0)! Penyelesaian. Berdasarkan denisi fungsi ini diperoleh f(0) = 0., diperoleh bentuk f(x) f(0) x 0 = f(x) x { f(x) x = x jika x rasional 0 jika x irrasional. Diperhatikan f(x) Selanjutnya, ditunjukkan x 0. Misalkan (x n) barisan yang konvergen ke 0, maka diperoleh barisan f(x n ) x n = Jadi apapun kasusnya barisan dan f (0) = 0. ( x ) f(xn) x n { x n 4. Tentukan turunan dan sederhanakanlah! a) f(x) := x 1+x 2 b) h(x) := ( sin x k) m, m, k N. sebagai berikut jika x n rasional 0 jika x n irrasional. ( ) f(xn) x n konvergen ke 0. Terbukti itnya ada Penyelesaian. Untuk (a) dikerjakan sendiri, cukup gunakan aturan turunan hsil bagi. Untuk (b), digunakan aturan rantai berikut : h (x) = m(sin x k ) m 1 d (sin x k) dx = m(sin x k ) m 1 cos x k d (x k) dx = m(sin x k ) m 1 cos x k kx k 1 = kmx k 1 (sin x k ) m 1 cos x k. 10

11 5. Misalkan n N dan f : R R didenisikan sebagai berikut { x n untuk x 0 f(x) := 0 untuk x < 0. Tentukan nilai n apa saja yang membuat fungsi ini kontinu di 0. Pertanyaan yang sama yang membuat fungsi ini terdiferensial di 0. Penyelesaian. Syarat kontinu di 0: x 0 f(x) = f(0) = 0. Agar syarat ini dipenuhi maka haruslah x 0 x n = 0. Syarat ini otomatis dipenuhi untuk setiap bilangan aslin. Jadi fungsi ini kontinu untuk setiap n N.Untuk keterdiferensialan di 0, diperhatikan bentuk berikut { f(x) f(0) = f(x) x 0 x = x n 1 jika x 0 0 jika x < 0. Agar f f(x) f(0) (0) ada maka haruslah x 0 x 0 nilainya haruslah nol. Jadi, harus dipenuhi ada. Agar it ini ada maka x 0 xn 1 = 0. Keadaan ini hanya dipenuhi oleh n = 2, 3,. dipenuhi?) (Mengapa n = 1 tidak 6. Misalkan f : R R terdiferensial di c dan f(c) = 0. Buktikan g(x) := f(x) terdiferensial bila hanya bila f (c) = 0. Penyelesaian. 4.2 Teorema nilai rata-rata (TNR) Seharusnya materi pada bagian sebelumnya sudah dipahami dengan baik. Pada sub pokok bahasan ini, kompetensi minimal yang yang harus dipenuhi adalah 1. Memahami maksud ekstrim relatif (minimum relatif dan maksimum relatif). 2. Memberikan interpretasi grak untuk minimum relatif dan maksimum relatif. 3. Memahami maksud teorema ekstrim interior (TEI) dan dapat membuktikannya. 4. Memahami kasus kritis pada TEI. 5. Memahami maksud dan dapat membuktikan teorema Rolle (TR). 6. Memahami maksud teorema nilai rata-rata (TNR). 7. Memberikan interpretasi grak untuk TNR. 8. Mengetahui sifat-sifat fungsi asal melalui informasi pada derivatifnya. 11

12 9. Memahami pengertian fungsi naik dan fungsi turun. 10. Memahami teorema yang menghubungkan derivatif dan naik turunnya fungsi dan dapat membuktikannya. 11. Memahami uji derivatif pertama untuk ekstrim dan mampu membuktikan teoremanya. 12. Mampu menggunakan TNR untuk menyelesaikan masalah pertidaksamaan. Sungguh banyak pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Bayangkan untuk 1 pertemuan saja seperti ini, bagaimana kalau selama kuliah ada 20 mata kuliah per semester 13 kali pertemuan 7 semester = 1520 kompetensi dasar yang seharusnya dapat dari tatap muka saja, belum lagi hasil belajar mandiri. Seharusnya semua lulusan mempunyai kualitas tinggi sejajar dengan lulusan perguruan tinggi kelas dunia, hebat. Denisi 4.2. Ada dua macam ekstrim relatif, yaitu maksimum relatif dan minimum relatif. Fungsi f : I R dikatakan mempunyai 1. minimum relatif di c I jika ada persekitaran V := V δ (c) sehingga f(x) f(c) untuk setiap x V I, 2. maksimum relatif c I jika ada persekitaran V := V δ (c) sehingga f(x) f(c) untuk setiap x V I. Teorema berikut memberikan syarat cukup untuk ekstrim interior, yaitu bilamana c titik interior interval I. Teorema 4.5. [Teorema ekstrim interior (TEI)] Jika c titik inteior interval I dan f : I R mempunyai ekstrim di c maka f (c) = 0. Bukti. Hanya dibuktikan kasus f mempunyai minimum relatif di c. Untuk maksimum relatif dibuktikan sendiri. Dibuktikan dengan kontradiksi, yaitu diandaikan f (c) > 0 dan f (c) < 0, kemudian ditunjukkan kontradiksi sehingga disimpulkan f (c) = 0. Karena diketahui f mempunyai minimum relatif di c maka terdapat V 1 persekitaran c sehingga berlaku f(c) f(x), untuk setiap x V 1. (4.14) Pengandaian f (c) > 0 mengakibatkan terdapat persekitaran V 2 dari c sehingga > 0 untuk setiap x V 2. (4.15) Dengan mengambil V := V 1 V 2 maka kedua ketidaksamaan ini berlaku untuk setiap x V. Ambil x V dan x < c maka berlaku < 0. Di lain pihak diperoleh = kontradiksi dengan f(c) f(x). } {{ } >0 () < 0 f(x) < f(c), }{{} <0 12

13 Kritis Fungsi f(x) := x 3 mempunyai sifat f (0) = 0 tetapi x = 0 bukan titik ekstrim. Ini berarti f (0) = 0 bukan syarat cukup agar c menjadi titik ekstrim. Ilustrasinya lihat pada gambar (kiri). Terkait dengan masalah kritis ini, kebiasaan mengambil turunan pertama kemudian diambil harga nolnya bukanlah cara yang sempurna dalam menentukan nilai ekstrim baik minimum maupun maksimum. Ada tahapan lagi untuk memastikan bahwa nilai nol turunan pertama merupakan ekstrim, yaitu menggunakan uji derivatif pertama yang akan dibahas berikutnya. Kritis Fungsi f(x) := x jelas mempunyai minimum relatif di x = 0, tetapi f (0) tidak ada. Ini menunjukkan bahwa adanya f (c) pada TEI sangat penting. Ilutrasinya dapat dilihat pada gambar (kanan). Teorema 4.6. [Teorema Rolle] Bila fungsi f : I R kontinu pada interval I := [a, b], terdiferensial pada interval (a, b) dan f(a) = f(b) = 0 maka ada c (a, b) sehingga f (c) = 0. Ilustrasi Teorema Rolle mengatakan bahwa bila dipenuhi beberapa syarat maka ada titik ekstrim di dalam interval (a, b). Ilustrasinya diberikan pada gambar berikut. y=f(x) f'(c) =0 a c b Gambar 4.2: Ilustrasi teorema Rolle (kiri) Bukti. Bila f 0, yaitu identik dengan fungsi nol maka sebarang c (a, b) pasti memenuhi f (c) = 0 karena derivatifnya juga nol di mana-mana. Sekarang andaikan saja f tidak identik dengan nol, yaitu cukup diasumsikan ada bagian f yang positif. Bila semua bagian f negatif, cukup diambil f. Lihat ilutrasi pada gambar berikut ini. Karena f kontinu dalam interval tertutup [a, b] maka berdasarkan Teorema maksimum-minimum, fungsi f mencapai maksimum di dalam [a, b], yaitu ada c [a, b] sehingga f(c) = sup f(x). x [a,b] Karena f > 0 maka f(c) > 0. Sekarang dipastikan bahwa c adalah titik interior, yaitu c (a, b). Seandainya c bukan interior maka c = a atau c = b. Tetapi hal ini tidaklah mungkin sebab f(a) = f(b) = 0, sedangkan f(c) > 0. Jadi dapat diyakini c adalah titik interior. Karena f (x) ada untuk setiap x (a, b) maka 13

14 f maks y=f(x) y= -f(x) f maks a c b a c b y=f(x) Gambar 4.3: Kemungkinan fungsi f tidak identik dengan nol otomatis f (c) juga ada. Sampai di sini semua asumsi pada TEI terpenuhi, yaitu c titik interior, f mencapai ekstrim pada I dan f (c) ada, sehingga disimpulkan f (c) = 0. Sebagai konsekuensi langsung Teorema Rolle, diperoleh Teorema nilai rata-rata berikut. Teorema 4.7. [Teorema nilai rata-rata] Bila fungsi f : I R kontinu pada interval I := [a, b], terdiferensial pada interval (a, b) maka ada c (a, b) sehingga f(b) f(a) = f (c)(b a) atau f(b) f(a) b a = f (c). (4.16) Ilustrasi Berdasarkan persamaan di atas, TNR mengatakan bahwa c adalah suatu titik dimana gradien garis singung kurva y = f(x) di x = c sejajar dengan garis yang melalui (a, f(a)) dan (b, f(b)) seperti diilustrasikan pada gambar berikut. (a,f(a)) y = f(x) h(x) sejajar (b,f(b)) a c x b Gambar 4.4: Ilustrasi dan interpretasi TNR Bukti. Didenisikan fungsi h : I R sebagai berikut h(x) := f(x) f(a) f(b) f(a) (x a). b a Selanjutnya ditunjukkan h memenuhi syarat pada Teorema Rolle: 14

15 h kontinu pada [a, b] karena ia tersusun atas fungsi-fungsi kontinu pada [a, b], Dengan argumen yang mirip, kita simpulkan h fungsi terdiferensial pada (a, b), h(a) = f(a) f(a) f(b) f(a) b a (a a) = 0 dan h(b) = f(b) f(a) f(b) f(a) b a (b a) = 0. Berdasarkan Teorema Rolle, terdapatlah c (a, b) sehingga h (c) = 0. Derivatif h (x) diperoleh sebagai berikut sehingga diperoleh h (x) = f (x) f(b) f(a) b a 0 = h (c) = f (c) f(b) f(a) b a f(b) f(a) b a = f (c). 4.3 Penggunaan teorema rata-rata Identikasi sifat fungsi asal melalui derivatifnya Teorema 4.8. Jika f kontinu pada interval tutup I := [a, b] dan terdiferensial pada interval buka (a, b) dengan f (x) = 0 untuk setiap x (a, b) maka f fungsi konstan. Bukti. Kita mulai dari f(a) yaitu nilai f di titik a. Dibuktikan f(x) = f(a) untuk setiap x (a, b]. Ambil sebarang x (a, b]. Karena fungsi f memenuhi syarat cukup TNR pada [a, x], maka terdapat c (a, x) sehingga f(x) f(a) = f (c)(x a). Karena f (c) = 0 maka diperoleh f(x) f(a) = 0, yaitu f(x) = a. diambil sebarang maka terbukti f fungsi konstan. Karena x Teorema 4.9. Jika f dan g kontinu pada interval tutup I := [a, b] dan terdiferensial pada interval buka (a, b) dengan f (x) = g (x) untuk setiap x (a, b) maka f = g + C untuk suatu konstanta C. Bukti. Ambil h(x) := f(x) g(x), maka diperoleh h (x) = 0. Berdasarkan teorema sebelumnya diperoleh h fungsi konstan, katakan h(x) = C. Akibatnya f(x) g(x) = C atau f(x) = g(x) + C Identikasi fungsi naik dan fungsi turun Denisi 4.3. Fungsi f dikatakan naik (increasing) pada interval I jika berlaku x 1 < x 2 f(x 1 ) f(x 2 ), dikatakan turun (decreasing) jika berlaku x 2 < x 2 f(x 1 ) f(x 2 ). Dikatakan naik tegas atau turun tegas jika tidak memuat tanda kesamaan. 15

16 4.3.3 Uji derivatif pertama untuk ekstrim Penyelesaian masalah pertidaksamaan 4.4 Aturan L'Hospital Marquis Guillame Francois L'Hospital ( ) mempublikasikan teorema imit dalam kalkulus yang belakang ini disebut aturan L'Hospital. Pada teorema it hasil bagi berlaku bahwa jika f(x) = A dan g(x) = B, dan jika B 0 maka f(x) g(x) = A B. Namun, jika B = 0 maka tidak ada kesimpulan yang dapat diambil. Dalam kasus A 0 maka it tersebut menjadi asalkan itnya ada. Dalam kasus A = 0 dan B = 0 maka it hasil bagi f g menghasilkan bentu taktentu 0 0. Limit bentuk tentu mungkin ada, mungkin juga tidak ada. Contoh 4.6. Misalkan f(x) := αx dan g(x) := x. Dalam kasus ini untuk c = 0, muncul bentuk taktentu 0 0. Tetapi f(x) x 0 g(x) = αx x 0 x = α. Dalam kasus ini bentuk taktentu 0 0 memberikan hasil bilangan real. Bentuk taktentu lainnya diberikan sebagai berikut :, 0, 00, 1, 0,. Aturan hospital untuk bentuk 0 0 Teorema Misalkan f, g : [a, b] R berlaku f(a) = g(a) = 0, dan g(x) 0 untuk a < x < b. Bila f dan g terdiferensial di a dan g (a) 0 maka f(x) x a + g(x) = f (a) g (a). Bukti. Karena f(a) = g(a) = 0, kita dapat menulis bentuk yang ekuivalen sebagai berikut f(x) f(a) f(x) f(x) f(a) = g(x) g(x) g(a) = x a g(x) g(a) x a Selanjutnya dengan menggunakan teorema it hasil bagi diperoleh f(x) x a + g(x) f(x) f(a) x a g(x) g(a) x a + x a = x a+ = f (a) g (a). 16

17 Hati-hati dengan syarat f(a) = g(a) = 0. Sebagai contoh, jika f(x) := x + 17 dan g(x) := 2x + 3 maka diperoleh padahal f(x) x 0 g(x) = 17 3, f (0) g (0) = 1 2. Hasil ini tidak sama dengan hasil yang ada dalam teorema dikarenakan f(0) = g(0) = 0 tidak terpenuhi. Contoh 4.7. Hitunglah it berikut dengan menggunakan teorema di atas x 2 + x x 0 sin 2x. Penyelesaian. Dalam soal ini kita mempunyai f(x) = x 2 +x dan g(x) = sin 2x, x 0 f(x) = x 0 g(x) = 0. Jadi diperoleh f(x) x 0 g(x) = x 2 + x x 0 sin 2x = 2x + 1 x 0 2 cos 2x = 2(0) cos 2(0) = 1 2. Teorema nilai rata-rata Cauchy (TNR-C) Teorema Misalkan f an g kontinu pada [a, b] dan terdiferensial pada (a, b), dan diasumsikan g (x) 0 untuk setiap x (a, b). Maka terdapat c (a, b) sehingga f(b) f(a) g(b) g(a) = f (c) g (c). 17

4 DIFERENSIAL. 4.1 Pengertian derivatif

4 DIFERENSIAL. 4.1 Pengertian derivatif Diferensial merupakan topik yang cukup 'baru' dalam matematika. Dimulai sekitar tahun 1630 an oleh Fermat ketika menghadapi masalah menentukan garis singgung kurva, dan juga masalah menentukan maksimum

Lebih terperinci

Analisis Riil II: Diferensiasi

Analisis Riil II: Diferensiasi Definisi Turunan Definisi dan Teorema Aturan Rantai Fungsi Invers Definisi (Turunan) Misalkan I R sebuah interval, f : I R, dan c I. Bilangan riil L dikatakan turunan dari f di c jika diberikan sebarang

Lebih terperinci

Muhafzan TURUNAN. Muhafzan, Ph.D

Muhafzan TURUNAN. Muhafzan, Ph.D 1 TURUNAN, Ph.D TURUNAN 3 1 Turunan Kita mulai diskusi ini dengan memperkenalkan denisi turunan suatu fungsi Denisi 1. Misalkan I R; f : I! R dan c 2 I: Bilangan L 2 R dikatakan merupakan turunan dari

Lebih terperinci

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN Menurut Bartle dan Sherbet (1994), Analisis matematika secara umum dipahami sebagai tubuh matematika yang dibangun oleh berbagai konsep limit. Pada bab sebelumnya kita telah mempelajari limit barisan,

Lebih terperinci

BAGIAN KEDUA. Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan

BAGIAN KEDUA. Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan BAGIAN KEDUA Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan 51 52 Hendra Gunawan Pengantar Analisis Real 53 6. FUNGSI 6.1 Fungsi dan Grafiknya Konsep fungsi telah dipelajari oleh Gottfried Wilhelm von Leibniz

Lebih terperinci

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN Menurut Bartle dan Sherbet (1994), Analisis matematika secara umum dipahami sebagai tubuh matematika yang dibangun dari berbagai konsep limit. Pada bab sebelumnya kita telah mempelajari limit barisan,

Lebih terperinci

BAB I DERIVATIF (TURUNAN)

BAB I DERIVATIF (TURUNAN) BAB I DERIVATIF (TURUNAN) Pada bab ini akan dipaparkan pengertian derivatif suatu fungsi, beberapa sifat aljabar derivatif, aturan rantai, dan derifativ fungsi invers. A. Pengertian Derivatif Pengertian

Lebih terperinci

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN Menurut Bartle dan Sherbet (994), Analisis matematika secara umum dipahami sebagai tubuh matematika yang dibangun oleh berbagai konsep limit. Pada bab sebelumnya kita telah mempelajari limit barisan, kekonvergenan

Lebih terperinci

Bahan Diskusi/Tugas Kelompok Topik: Turunan Fungsi

Bahan Diskusi/Tugas Kelompok Topik: Turunan Fungsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Bahan Diskusi/Tugas Kelompok Topik: Turunan Fungsi Definisi 1: Misalkan I R suatu interval, c I dan f : I R. Fungsi f disebut diferensiabel

Lebih terperinci

BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR)

BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR) BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR) Teorema nilai rata-rata menghubungkan nilai suatu fungsi dengan nilai derivatifnya (turunannya), dimana TNR merupakan salah satu bagian penting dalam kuliah analisis

Lebih terperinci

BAB I DERIVATIF (TURUNAN)

BAB I DERIVATIF (TURUNAN) BAB I DERIVATIF (TURUNAN) Pada bab ini akan dipaparkan pengertian derivatif suatu fungsi, beberapa sifat aljabar derivatif, aturan rantai, dan derifativ fungsi invers. A. Pengertian Derivatif Pengertian

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

Nilai mutlak pada definisi tersebut di interpretasikan untuk mengukur jarak dua

Nilai mutlak pada definisi tersebut di interpretasikan untuk mengukur jarak dua II. LANDASAN TEORI 2.1 Limit Fungsi Definisi 2.1.1(Edwin J, 1987) Misalkan I interval terbuka pada R dan f: I R fungsi bernilai real. Secara matematis ditulis lim f(x) = l untuk suatu a I, yaitu nilai

Lebih terperinci

11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS)

11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS) 11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS) 11.1 Definisi dan Limit Fungsi Monoton Misalkan f terdefinisi pada suatu himpunan H. Kita katakan bahwa f naik pada H apabila untuk setiap x, y H dengan x < y berlaku

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

= + atau = - 2. TURUNAN 2.1 Definisi Turunan fungsi f adalah fungsi yang nilainya di setiap bilangan sebarang c di dalam D f diberikan oleh

= + atau = - 2. TURUNAN 2.1 Definisi Turunan fungsi f adalah fungsi yang nilainya di setiap bilangan sebarang c di dalam D f diberikan oleh JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA-UPI BANDUNG HAND OUT TURUNAN DAN DIFERENSIASI OLEH: FIRDAUS-UPI 0716 1. GARIS SINGGUNG 1.1 Definisi Misalkan fungsi f kontinu di c. Garis singgung ( tangent line )

Lebih terperinci

Muhafzan FUNGSI KONTINU. Muhafzan, Ph.D

Muhafzan FUNGSI KONTINU. Muhafzan, Ph.D 1 FUNGSI KONTINU, Ph.D FUNGSI KONTINU 3 1 Kekontinuan Bab ini akan diawali dengan klas fungsi yang terpenting dalam analisis riil, yaitu klas fungsi-fungsi kontinu. Terlebih dahulu akan didenisikan gagasan

Lebih terperinci

Matematika I: APLIKASI TURUNAN. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 70

Matematika I: APLIKASI TURUNAN. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 70 Matematika I: APLIKASI TURUNAN Dadang Amir Hamzah 2015 Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I 2015 1 / 70 Outline 1 Maksimum dan Minimum Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I 2015 2 / 70 Outline

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA (Bekal untuk Para Sarjana dan Magister Matematika) Dosen FMIPA - ITB E-mail: [email protected]. November 19, 2007 Secara geometris, f kontinu di suatu titik berarti bahwa grafiknya tidak terputus

Lebih terperinci

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN Menurut Bartle dan Sherbet (1994), Analisis matematika secara umum dipahami sebagai tubuh matematika yang dibangun oleh berbagai konsep limit. Pada bab sebelumnya kita telah mempelajari limit barisan,

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

10. TEOREMA NILAI RATA-RATA

10. TEOREMA NILAI RATA-RATA 10. TEOREMA NILAI RATA-RATA 10.1 Maksimum dan Minimum Lokal Misalkan f terdefinisi pada suatu interval terbuka (a, b) dan c (a, b). Kita katakan bahwa f mencapai nilai maksimum lokal di c apabila f(x)

Lebih terperinci

FUNGSI KONTINU. sedemikian sehingga jika x adalah titik dari A (c), maka f (x) berada pada Vg (f (c)). (Lihat Gambar 5.1.1).

FUNGSI KONTINU. sedemikian sehingga jika x adalah titik dari A (c), maka f (x) berada pada Vg (f (c)). (Lihat Gambar 5.1.1). FUNGSI KONTINU 51 FUNGSI KONTINU 511 Definisi A R, f: A R, dan c A Kita mengatakan bahwa f kontinu di c jika, diberi persekitaran Vg (f (c)) dari f (c) terdapat persekitaran (c) dari c sedemikian sehingga

Lebih terperinci

Definisi 4.1 Fungsi f dikatakan kontinu di titik a (continuous at a) jika dan hanya jika ketiga syarat berikut dipenuhi: (1) f(a) ada,

Definisi 4.1 Fungsi f dikatakan kontinu di titik a (continuous at a) jika dan hanya jika ketiga syarat berikut dipenuhi: (1) f(a) ada, Lecture 4. Limit B A. Continuity Definisi 4.1 Fungsi f dikatakan kontinu di titik a (continuous at a) jika dan hanya jika ketiga syarat berikut dipenuhi: (1) f(a) ada, (2) lim f(x) ada, (3) lim f(x) =

Lebih terperinci

asimtot.wordpress.com BAB I PENDAHULUAN

asimtot.wordpress.com BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Kalkulus Differensial dan Integral sangat luas penggunaannya dalam berbagai bidang seperti penentuan maksimum dan minimum. Suatu fungsi yang sering digunakan mahasiswa

Lebih terperinci

Ayundyah Kesumawati. April 29, Prodi Statistika FMIPA-UII. Deret Tak Terhingga. Ayundyah. Barisan Tak Hingga. Deret Tak Terhingga

Ayundyah Kesumawati. April 29, Prodi Statistika FMIPA-UII. Deret Tak Terhingga. Ayundyah. Barisan Tak Hingga. Deret Tak Terhingga Kesumawati Prodi Statistika FMIPA-UII April 29, 2015 Akar Barisan a 1, a 2, a 3, a 4,... adalah susunan bilangan-bilangan real yang teratur, satu untuk setiap bilangan bulat positif. adalah fungsi yang

Lebih terperinci

1 SISTEM BILANGAN REAL

1 SISTEM BILANGAN REAL Bilangan real sudah dikenal dengan baik sejak masih di sekolah menengah, bahkan sejak dari sekolah dasar. Namun untuk memulai mempelajari materi pada BAB ini anggaplah diri kita belum tahu apa-apa tentang

Lebih terperinci

2 BARISAN BILANGAN REAL

2 BARISAN BILANGAN REAL 2 BARISAN BILANGAN REAL Di sekolah menengah barisan diperkenalkan sebagai kumpulan bilangan yang disusun menurut "pola" tertentu, misalnya barisan aritmatika dan barisan geometri. Biasanya barisan dan

Lebih terperinci

Open Source. Not For Commercial Use

Open Source. Not For Commercial Use Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1 Limit dan Kekontinuan Misalkan z = f(, y) fungsi dua peubah dan (a, b) R 2. Seperti pada limit fungsi satu peubah, limit fungsi dua peubah bertujuan untuk mengamati

Lebih terperinci

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016 Hendra Gunawan 5.3 Kalkulus Turunan Pada bagian ini kita akan membahas sejumlah aturan untuk diferensial dan aturan untuk turunan, yg mempunyai kemiripan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Latar Belakang Historis Fondasi dari integral pertama kali dideklarasikan oleh Cavalieri, seorang ahli matematika berkebangsaan Italia pada tahun 1635. Cavalieri menemukan bahwa

Lebih terperinci

2 BARISAN BILANGAN REAL

2 BARISAN BILANGAN REAL 2 BARISAN BILANGAN REAL Di sekolah menengah barisan diperkenalkan sebagai kumpulan bilangan yang disusun menurut "pola" tertentu, misalnya barisan aritmatika dan barisan geometri. Biasanya barisan dan

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

DERIVATIVE Arum Handini primandari

DERIVATIVE Arum Handini primandari DERIVATIVE Arum Handini primandari INTRODUCTION Calculus adalah perubahan matematis, alat utama dalam studi perubahan adalah prosedur yang disebut differentiation (deferensial/turunan) Calculus dikembangkan

Lebih terperinci

Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar Tanggal 6 s.d. 19 Agustus 2004 di PPPG Matematika

Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar Tanggal 6 s.d. 19 Agustus 2004 di PPPG Matematika PENGANTAR KALKULUS Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 004 di PPPG Matematika Oleh: Drs. SETIAWAN, M. Pd. Widyaiswara PPPG Matematika Yogyakarta

Lebih terperinci

F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR No. (TIU) 1. Limit Fungsi Mahasiswa dapar memahami secara mendalam (deduktif) pengertian limit fungsi, definisi dan te-orema-teorema serta mampu menga-plikasikannya

Lebih terperinci

MAKALAH MATEMATIKA DASAR TURUNAN (DIFERENSIAL)

MAKALAH MATEMATIKA DASAR TURUNAN (DIFERENSIAL) MAKALAH MATEMATIKA DASAR TURUNAN (DIFERENSIAL) KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah

Lebih terperinci

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016 Hendra Gunawan 4.2 Sifat-Sifat Fungsi Kontinu Diberikan f dan g, keduanya terdefinisi pada himpunan A, kita definisikan f + g, f g, fg, f/g secara

Lebih terperinci

LIMIT DAN KEKONTINUAN

LIMIT DAN KEKONTINUAN BAB 4 LIMIT DAN KEKONTINUAN Everything should made as simple as possible, but no simpler. Albert EINSTEIN Menurut Bartle dan Sherbet (1994), Analisis matematika secara umum dipahami sebagai tubuhnya matematika

Lebih terperinci

1 SISTEM BILANGAN REAL

1 SISTEM BILANGAN REAL 1 SISTEM BILANGAN REAL Bilangan real sudah dikenal dengan baik sejak masih di sekolah menengah, bahkan sejak dari sekolah dasar. Namun untuk memulai mempelajari materi pada BAB ini anggaplah diri kita

Lebih terperinci

KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia

KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia BAB II. FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN Fungsi dan Operasi pada Fungsi Beberapa Fungsi Khusus Limit dan Limit

Lebih terperinci

KALKULUS 1 HADI SUTRISNO. Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan. Hadi Sutrisno/P.Matematika/STKIP PGRI Bangkalan

KALKULUS 1 HADI SUTRISNO. Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan. Hadi Sutrisno/P.Matematika/STKIP PGRI Bangkalan KALKULUS 1 HADI SUTRISNO 1 Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan BAB I PENDAHULUAN A. Sistem Bilangan Real Untuk mempelajari kalkulus kita terlebih dahulu perlu memahami bahasan tentang sistem bilangan

Lebih terperinci

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world Catatan Kuliah MA20 KALKULUS 2A Do maths and you see the world disusun oleh Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan STATISTIKA - FMIPA Institut Teknologi Bandung 203 Catatan kuliah ini ditulis

Lebih terperinci

BARISAN BILANGAN REAL

BARISAN BILANGAN REAL BAB 2 BARISAN BILANGAN REAL Di sekolah menengah barisan diperkenalkan sebagai kumpulan bilangan yang disusun menurut pola tertentu, misalnya barisan aritmatika dan barisan geometri. Biasanya barisan dan

Lebih terperinci

(b) M merupakan nilai minimum (mutlak) f apabila M f(x) x I..

(b) M merupakan nilai minimum (mutlak) f apabila M f(x) x I.. 3. Aplikasi Turunan a. Nilai ekstrim Bagian ini dimulai dengan pengertian nilai ekstrim suatu fungsi yang mencakup nilai ekstrim maksimum dan nilai ekstrim minimum. Definisi 3. Diberikan fungsi f: I R,

Lebih terperinci

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun MA3231 Pengantar Analisis Real Semester II, Tahun 2016-2017 Hendra Gunawan, Ph.D. Bab 7 Limit dan Kekontinuan 2 Isaac Newton (1643-1727) Isaac Newton adalah seorang fisikawan & matematikawan Inggris yang

Lebih terperinci

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I Oleh Hendra Gunawan, Ph.D. Departemen Matematika ITB Sasaran Belajar Setelah mempelajari materi Kalkulus Elementer I, mahasiswa diharapkan memiliki (terutama):

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

Catatan Kuliah KALKULUS II BAB V. INTEGRAL

Catatan Kuliah KALKULUS II BAB V. INTEGRAL BAB V. INTEGRAL Anti-turunan dan Integral TakTentu Persamaan Diferensial Sederhana Notasi Sigma dan Luas Daerah di Bawah Kurva Integral Tentu Teorema Dasar Kalkulus Sifat-sifat Integral Tentu Lebih Lanjut

Lebih terperinci

Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan

Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan Barisan. Definisi. Barisan tak hingga adalah suatu fungsi dengan daerah asalnya himpunan bilangan bulat positif dan daerah kawannya himpunan bilangan real. Notasi untuk

Lebih terperinci

SISTEM BILANGAN REAL

SISTEM BILANGAN REAL DAFTAR ISI 1 SISTEM BILANGAN REAL 1 1.1 Sifat Aljabar Bilangan Real..................... 1 1.2 Sifat Urutan Bilangan Real..................... 6 1.3 Nilai Mutlak dan Jarak Pada Bilangan Real............

Lebih terperinci

Hendra Gunawan. 13 September 2013

Hendra Gunawan. 13 September 2013 MA1101 MATEMATIKA 1A Hendra Gunawan Semester I, 2013/2014 13 September 2013 Latihan (Kuliah yang Lalu) sin t 1. Menggunakan fakta bahwa lim 1, t0 hitunglah: t 2 sin( 2 ) a. limsin t.cot 2t b. lim t 0 0

Lebih terperinci

Zulfaneti Yulia Haryono Rina F ebriana. Berbasis Penemuan Terbimbing = = D(sec x)= sec x tan x, ( + ) ( ) ( )=

Zulfaneti Yulia Haryono Rina F ebriana. Berbasis Penemuan Terbimbing = = D(sec x)= sec x tan x, ( + ) ( ) ( )= Zulfaneti Yulia Haryono Rina F ebriana Berbasis Penemuan Terbimbing = = D(sec x)= sec x tan x, ()= (+) () Penyusun Zulfaneti Yulia Haryono Rina Febriana Nama NIm : : Untuk ilmu yang bermanfaat Untuk Harapan

Lebih terperinci

Turunan Fungsi. h asalkan limit ini ada.

Turunan Fungsi. h asalkan limit ini ada. Turunan Fungsi q Definisi Turunan Fungsi Misalkan fungsi f terdefinisi pada selang terbuka I yang memuat a. Turunan pertama fungsi f di =a ditulis f (a) didefinisikan dengan f ( a h) f ( a) f '( a) lim

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim h 0 f ( x h) f( x) h KELAS : XII IIS SEMESTER GANJIL SMA Santa Angela Bandung Tahun Pelajaran 017/018 XII IIS Semester 1 Tahun Pelajaran 017/018 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. Bab III terbagi menjadi tiga sub-bab, yaitu sub-bab A, sub-bab B, dan subbab

BAB III PEMBAHASAN. Bab III terbagi menjadi tiga sub-bab, yaitu sub-bab A, sub-bab B, dan subbab BAB III PEMBAHASAN Bab III terbagi menjadi tiga sub-bab, yaitu sub-bab A, sub-bab B, dan subbab C. Sub-bab A menjelaskan mengenai konsep dasar C[a, b] sebagai ruang vektor beserta contohnya. Sub-bab B

Lebih terperinci

1 SISTEM BILANGAN REAL

1 SISTEM BILANGAN REAL Bilangan real sudah dikenal dengan baik sejak masih di sekolah menengah, bahkan sejak dari sekolah dasar. Namun untuk memulai mempelajari materi pada BAB ini anggaplah diri kita belum tahu apa-apa tentang

Lebih terperinci

Matematika I : Limit. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 79

Matematika I : Limit. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 79 Matematika I : Limit Dadang Amir Hamzah 2015 Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I 2015 1 / 79 Outline 1 limit Introduction to Limit Rigorous Study of Limits Limit Theorem Limit Involving Trigonometric

Lebih terperinci

BAB I LIMIT-LIMIT Limit-limit Fungsi

BAB I LIMIT-LIMIT Limit-limit Fungsi .. Limit-it Fungsi BAB I LIMIT-LIMIT... Definisi. Misalkan A R. Suatu titik c R adalah titik cluster dari A jika setiap lingkungan-δ dari c, V δ (c) = (c-δ,c+δ), memuat paling sedikit satu titik dari A

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA (Bekal untuk Para Sarjana dan Magister Matematika) Dosen FMIPA - ITB E-mail: [email protected]. December 26, 2007 Misalkan f kontinu pada interval [a, b]. Apakah masuk akal untuk membahas luas daerah

Lebih terperinci

Catatan Kuliah MA1123 KALKULUS ELEMENTER I BAB III. TURUNAN

Catatan Kuliah MA1123 KALKULUS ELEMENTER I BAB III. TURUNAN BAB III. TURUNAN Kecepatan Sesaat dan Gradien Garis Singgung Turunan dan Hubungannya dengan Kekontinuan Aturan Dasar Turunan Notasi Leibniz dan Turunan Tingkat Tinggi Penurunan Implisit Laju yang Berkaitan

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim h 0 f ( x h) f( x) h KELAS : XI MIA SEMESTER : (DUA) SMA Santa Angela Bandung Tahun Pelajaran 06-07 XI MIA Semester Tahun Pelajaran 06 07 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. memahami sifat-sifat dari barisan fungsi. Pada bab ini akan diuraikan materimateri

BAB II KAJIAN TEORI. memahami sifat-sifat dari barisan fungsi. Pada bab ini akan diuraikan materimateri BAB II KAJIAN TEORI Analisis kekonvergenan pada barisan fungsi, apakah barisan fungsi itu? Apakah berbeda dengan barisan pada umumnya? Tentunya sebelum membahas mengenai barisan fungsi, apa saja jenis

Lebih terperinci

Bab 2 Fungsi Analitik

Bab 2 Fungsi Analitik Bab 2 Fungsi Analitik Bab 2 ini direncanakan akan disampaikan dalam 4 kali pertemuan, dengan perincian sebagai berikut: () Pertemuan I: Fungsi Kompleks dan Pemetaan. (2) Pertemuan II: Limit Fungsi, Kekontiuan,

Lebih terperinci

Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f

Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f D. URAIAN MATERI 1. Definisi dan Rumus-rumus Turunan Fungsi a. Definisi Turunan Sala satu masala yang mendasari munculnya kajian tentang turunan adala gradien garis singgung. Peratikan Gambar 1. f(c +

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pada Bab Landasan Teori ini akan dibahas mengenai definisi-definisi, dan

BAB II LANDASAN TEORI. Pada Bab Landasan Teori ini akan dibahas mengenai definisi-definisi, dan BAB II LANDASAN TEORI Pada Bab Landasan Teori ini akan dibahas mengenai definisi-definisi, dan teorema-teorema yang akan menjadi landasan untuk pembahasan pada Bab III nanti, diantaranya: fungsi komposisi,

Lebih terperinci

Bab 16. LIMIT dan TURUNAN. Motivasi. Limit Fungsi. Fungsi Turunan. Matematika SMK, Bab 16: Limit dan Turunan 1/35

Bab 16. LIMIT dan TURUNAN. Motivasi. Limit Fungsi. Fungsi Turunan. Matematika SMK, Bab 16: Limit dan Turunan 1/35 Bab 16 Grafik LIMIT dan TURUNAN Matematika SMK, Bab 16: Limit dan 1/35 Grafik Pada dasarnya, konsep limit dikembangkan untuk mengerjakan perhitungan matematis yang melibatkan: nilai sangat kecil; Matematika

Lebih terperinci

BAB I INTEGRAL TAK TENTU

BAB I INTEGRAL TAK TENTU BAB I INTEGRAL TAK TENTU TUJUAN PEMBELAJARAN: 1. Setelah mempelajari materi ini mahasiswa dapat menentukan pengertian integral sebagai anti turunan. 2. Setelah mempelajari materi ini mahasiswa dapat menyelesaikan

Lebih terperinci

Memahami konsep dasar turunan fungsi dan mengaplikasikan turunan fungsi pada

Memahami konsep dasar turunan fungsi dan mengaplikasikan turunan fungsi pada 5 TURUNAN JUMLAH PERTEMUAN : 4 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Memahami konsep dasar turunan fungsi dan mengaplikasikan turunan fungsi pada permasalahan yang ada Materi : 5.1 Pendahuluan Ide awal

Lebih terperinci

MA3231 Analisis Real

MA3231 Analisis Real MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim h 0 f ( x h) f( x) h KELAS : XI IPS SEMESTER : (DUA) SMA Santa Angela Bandung Tahun Pelajaran 015-016 XI IPS Semester Tahun Pelajaran 015 016 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul

Lebih terperinci

BAHAN AJAR DIKLAT PENGEMBANG MATEMATIKA SMA JENJANG DASAR

BAHAN AJAR DIKLAT PENGEMBANG MATEMATIKA SMA JENJANG DASAR PPPPTK Matematika Kode Dok Revisi : F-PRO-00 : 0 BAHAN AJAR DIKLAT PENGEMBANG MATEMATIKA SMA JENJANG DASAR Oleh : Drs. Setiawan, M.Pd. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT PENINGKATAN MUTU PENDIDIK

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA (Bekal untuk Para Sarjana dan Magister Matematika) Dosen FMIPA - ITB E-mail: [email protected]. December 6, 2007 Misalkan f terdefinisi pada suatu interval terbuka (a, b) dan c (a, b). Kita katakan

Lebih terperinci

TURUNAN FUNGSI KELAS : XI IPS

TURUNAN FUNGSI KELAS : XI IPS MATEMATIKA MODUL 4 TURUNAN FUNGSI KELAS : XI IPS SEMESTER : (DUA) MAYA KURNIAWATI SMA N SUMBER PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul ini kami susun sebagai salah satu sumber belajar untuk siswa agar dapat dipelajari

Lebih terperinci

LIMIT DAN KEKONTINUAN

LIMIT DAN KEKONTINUAN LIMIT DAN KEKONTINUAN Departemen Matematika FMIPA IPB Bogor, 2012 (Departemen Matematika FMIPA IPB) Kalkulus I Bogor, 2012 1 / 37 Topik Bahasan 1 Limit Fungsi 2 Hukum Limit 3 Kekontinuan Fungsi (Departemen

Lebih terperinci

ANALISIS REAL 1. Perkuliahan ini dimaksudkan memberikan

ANALISIS REAL 1. Perkuliahan ini dimaksudkan memberikan ANALISIS REAL 1 Perkuliahan ini dimaksudkan memberikan kemampuan pada mahasiswa agar dapat memahami pernyataan-pernyataan matematika secara baik dan benar, berpikir secara logis, kritis dan sistematis,

Lebih terperinci

Fungsi dan Limit Fungsi 23. Contoh 5. lim. Buktikan, jika c > 0, maka

Fungsi dan Limit Fungsi 23. Contoh 5. lim. Buktikan, jika c > 0, maka Contoh 5 Buktikan jika c > 0 maka c c Analisis Pendahuluan Akan dicari bilangan δ > 0 sedemikian sehingga apabila c < ε untuk setiap ε > 0. 0 < c < δ berlaku Perhatikan: c ( c)( c) c c c c c c c Dapat

Lebih terperinci

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1 Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB Deret Tak Hingga Pada bagian ini akan dibicarakan penjumlahan berbentuk a +a 2 + +a n + dengan a n R Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu pengertian barisan

Lebih terperinci

Memahami definisi barisan tak hingga dan deret tak hingga, dan juga dapat menentukan

Memahami definisi barisan tak hingga dan deret tak hingga, dan juga dapat menentukan 4 BARISAN TAK HINGGA DAN DERET TAK HINGGA JUMLAH PERTEMUAN : 5 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Memahami definisi barisan tak hingga dan deret tak hingga, dan juga dapat menentukan kekonvergenan

Lebih terperinci

Kuliah 3: TURUNAN. Indah Yanti

Kuliah 3: TURUNAN. Indah Yanti Kuliah 3: TURUNAN Indah Yanti Turunan Parsial DEFINISI Misalkan fungsi f: A R, dengan A R n adalah himpunan buka. Untuk setiap x = (x 1,..., x n ) A dan setiap j = 1,..., n limit f x j x 1,, x n f x 1,,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Di dalam BAB II ini akan dibahas materi yang menjadi dasar teori pada

BAB II DASAR TEORI. Di dalam BAB II ini akan dibahas materi yang menjadi dasar teori pada BAB II DASAR TEORI Di dalam BAB II ini akan dibahas materi yang menjadi dasar teori pada pembahasan BAB III, mulai dari definisi sampai sifat-sifat yang merupakan konsep dasar untuk mempelajari Fungsi

Lebih terperinci

16. BARISAN FUNGSI. 16.1 Barisan Fungsi dan Kekonvergenan Titik Demi Titik

16. BARISAN FUNGSI. 16.1 Barisan Fungsi dan Kekonvergenan Titik Demi Titik 16. BARISAN FUNGSI 16.1 Barisan Fungsi dan Kekonvergenan Titik Demi Titik Bila pada bab-bab sebelumnya kita membahas fungsi sebagai sebuah objek individual, maka pada bab ini dan selanjutnya kita akan

Lebih terperinci

Kelompok Mata Kuliah : MKU Program Studi/Program : Teknik Tenaga Elektrik/S1 Status Mata Kuliah : Wajib Prasyarat : - : Aip Saripudin, M.T.

Kelompok Mata Kuliah : MKU Program Studi/Program : Teknik Tenaga Elektrik/S1 Status Mata Kuliah : Wajib Prasyarat : - : Aip Saripudin, M.T. DESKRIPSI MATA KULIAH TK-... Matematika Dasar: S1, 3 SKS, Semester I Mata kuliah ini merupakan kuliah dasar. Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep matematika

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim 0 f ( x ) f( x) KELAS : XI IPA SEMESTER : (DUA) SMA Santa Angela Bandung Taun Pelajaran 04-05 XI IPA Semester Taun Pelajaran 04 05 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul ini kami

Lebih terperinci

CATATAN KULIAH ANALISIS REAL LANJUT

CATATAN KULIAH ANALISIS REAL LANJUT CATATAN KULIAH ANALISIS REAL LANJUT May 26, 203 A Lecture Note Acknowledgement of Sources For all ideas taken from other sources (books, articles, internet), the source of the ideas is mentioned in the

Lebih terperinci

LUAS DAERAH DI BAWAH KURVA SUATU FUNGSI

LUAS DAERAH DI BAWAH KURVA SUATU FUNGSI LUAS DAERAH DI BAWAH KURVA SUATU FUNGSI Afrizal, S.Pd, M.PMat Matematika MAN Kampar Juli 2010 Afrizal, S.Pd, M.PMat (Matematika) Luas Daerah Dibawah Kurva Juli 2010 1 / 29 Outline Outline 1 Limit dan Turunan

Lebih terperinci

SISTEM BILANGAN REAL

SISTEM BILANGAN REAL DAFTAR ISI SISTEM BILANGAN REAL. Sifat Aljabar Bilangan Real......................2 Sifat Urutan Bilangan Real..................... 6.3 Nilai Mutlak dan Jarak Pada Bilangan Real.............4 Supremum

Lebih terperinci

Memahami konsep dasar turunan fungsi dan menggunakan turunan fungsi pada

Memahami konsep dasar turunan fungsi dan menggunakan turunan fungsi pada 5 TURUNAN JUMLAH PERTEMUAN : 4 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Memahami konsep dasar turunan fungsi dan menggunakan turunan fungsi pada permasalahan yang ada Materi : 5.1 Pendahuluan Ide awal adanya

Lebih terperinci

SILABUS PENGALAMAN BELAJAR ALOKASI WAKTU

SILABUS PENGALAMAN BELAJAR ALOKASI WAKTU SILABUS Mata Pelajaran : Matematika Satuan Pendidikan : SMA Ungguan BPPT Darus Sholah Jember kelas : XII IPA Semester : Ganjil Jumlah Pertemuan : 44 x 35 menit (22 pertemuan) STANDAR 1. Menggunakan konsep

Lebih terperinci

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS PREVIEW KALKULUS TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Mahasiswa mampu: menyebutkan konsep-konsep utama dalam kalkulus dan contoh masalah-masalah yang memotivasi konsep tersebut; menjelaskan menyebutkan konsep-konsep

Lebih terperinci

BAB I SISTEM BILANGAN REAL

BAB I SISTEM BILANGAN REAL BAB I SISTEM BILANGAN REAL A. Sistem Bilangan Real Sistem bilangan real sangat erat kaitannya dengan kalkulus. Sebagian dari kalkulus berdasar pada sifat-sifat sistem bilangan real, sehingga sistem bilangan

Lebih terperinci

Kelompok Mata Kuliah : MKU Program Studi/Program : Pendidikan Teknik Elektro/S1 Status Mata Kuliah : Wajib Prasyarat : - : Aip Saripudin, M.T.

Kelompok Mata Kuliah : MKU Program Studi/Program : Pendidikan Teknik Elektro/S1 Status Mata Kuliah : Wajib Prasyarat : - : Aip Saripudin, M.T. DESKRIPSI MATA KULIAH TK-301 Matematika: S1, 3 SKS, Semester I Mata kuliah ini merupakan kuliah dasar. Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep matematika dan

Lebih terperinci

MODUL RESPONSI MAM 4222 KALKULUS IV

MODUL RESPONSI MAM 4222 KALKULUS IV MODUL RESPONSI MAM 4222 KALKULUS IV Mata Kuliah Wajib 2 sks untuk mahasiswa Program Studi Matematika Oleh Dr. WURYANSARI MUHARINI KUSUMAWINAHYU, M.Si. PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS

Lebih terperinci

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK UJI KONVERGENSI Januari 208 Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK Uji Integral Teorema 3 Jika + k= u k adalah deret dengan suku-suku tak negatif, dan jika ada suatu konstanta M sedemikian hingga s n = u + u 2 +

Lebih terperinci

TURUNAN. Ide awal turunan: Garis singgung. Kemiringan garis singgung di titik P: lim. Definisi

TURUNAN. Ide awal turunan: Garis singgung. Kemiringan garis singgung di titik P: lim. Definisi TURUNAN Ide awal turunan: Garis singgung Tali busur c +, f c + Garis singgung c, f c c P h c+h f c + f c Kemiringan garis singgung di titik P: f c + f c lim Definisi Turunan fungsi f adalah fungsi lain

Lebih terperinci

Hendra Gunawan. 11 Oktober 2013

Hendra Gunawan. 11 Oktober 2013 MA1101 MATEMATIKA 1A Hendra Gunawan Semester I, 2013/2014 11 Oktober 2013 Latihan (Kuliah yang Lalu) Dengan memperhatikan: daerah asal dan daerahhasilnya, titik titik potong dengan sumbu koordinat, asimtot

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA (Bekal untuk Para Sarjana dan Magister Matematika) Dosen FMIPA - ITB E-mail: [email protected]. December 11, 2007 Misalkan f terdefinisi pada suatu himpunan H. Kita katakan bahwa f naik pada H apabila

Lebih terperinci

KALKULUS I TEOREMA NILAI RATAAN (Mean Value Theorem) SUTRIANI HIDRI Matematika B

KALKULUS I TEOREMA NILAI RATAAN (Mean Value Theorem) SUTRIANI HIDRI Matematika B KALKULUS I TEOREMA NILAI RATAAN (Mean Value Theorem) SUTRIANI HIDRI Matematika B 1111140010 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2011 Teorema Nilai

Lebih terperinci

Fungsi dan Limit Fungsi 23. Contoh 5. lim. Buktikan, jika c 0, maka

Fungsi dan Limit Fungsi 23. Contoh 5. lim. Buktikan, jika c 0, maka Contoh 5 Buktikan jika c 0 maka c c Analisis Pendahuluan Akan dicari bilangan 0 sedemikian sehingga apabila c untuk setiap 0. 0 c berlaku Perhatikan: c ( c)( c) c c c c Dapat dipilih c Bukti: c c c Ambil

Lebih terperinci