Statistika (MMS-1001)
|
|
|
- Sri Hermanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Statistika (MMS-1001) Dr. Danardono, MPH Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA UGM
2 Materi dan Jadual Tatap Muka Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 1. Statistika Deskriptif 2. Statistika Deskriptif 3. Peluang dan Variabel Random 4. Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu 1. Tentang perkuliahan MMS Peran Statistika 3. Terminologi 4. Representasi Grafik 1. Distribusi Frekuensi 2. Ukuran Tengah 3. Ukuran Dispersi 1. Kejadian dan Peluang 2. Variabel Random dan Distribusinya 3. Harga Harapan, Variansi dan Sifat-Sifatnya 1. Distribusi Variabel Random Diskret 2. Distribusi Variable Random Kontinu MMS1001 p.1/228
3 Materi dan Jadual 5. Distribusi Sampling Statistik 1. Distribusi Sampling Statistik untuk Rerata 2. Pendekatan Normal untuk Binomial 6. Inferensi Statistik 1. Estimasi Parameter 2. Uji Hipotesis 7. Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang 1. Interval Konfidensi Untuk Mean 2. Uji Hipotesa Mean 3. Interval Konfidensi Untuk Proporsi 4. Uji Hipotesis Proporsi 8. Review dan Ringkasan 9. Inferensi Statistik Satu Populasi Normal 1. Interval konfidensi Untuk Mean 2. Uji Hipotesis Mean 3. Hubungan Interval Konfidensi dan uji Hipotesis MMS1001 p.2/228
4 Materi dan Jadual 10. Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang 11. Inferensi Statistik Dua Populasi Normal 12. Analisis Variansi Satu Arah 1. Interval konfidensi Untuk Selisih Mean Dua Populasi 2. Uji Hipotesis Selisih Mean Dua populasi 3. Interval konfidensi Untuk Selisih Proporsi Dua Populasi 4. Uji Hipotesis Selisih Proporsi Dua populasi 1. Interval Konfidensi Perbandingan Variansi Dua Populasi 2. Uji Hipotesis Perbandingan Variansi Dua Populasi 3. Interval konfidensi Selisih Mean Dua Populasi 4. Uji Hipotesis Selisih Mean Dua Populasi 1. Dasar-dasar ANAVA 2. Tabel ANAVA dan Uji F 3. Pembandingan Ganda MMS1001 p.3/228
5 Materi dan Jadual 13. Analisis Regresi Linear Sederhana 1. Dasar-dasar Model Regresi 2. Estimasi Model regresi 3. Analisis Korelasi 4. Inferensi dalam Regresi 14. Review dan Ringkasan Buku teks: Soejoeti, Z. (1984). Buku Materi Pokok Metode Statistik I, Universitas Terbuka, Penerbit Karunika, Jakarta. Gunardi, A. Rakhman (2004). Metode Statistika, FMIPA UGM, Yogyakarta. MMS1001 p.4/228
6 Penilaian Nilai MMS-1001 tahun 2005 (140 mahasiswa) A B C D E D C B A MMS1001 p.5/228
7 Penilaian No Unsur Penilaian Prosentase 1. Ujian Akhir 2. Sisipan 3. Tugas 4. Kuis MMS1001 p.6/228
8 Data Penghasilan mingguan 40 buruh bangunan di suatu kota (dalam ribuan rupiah): MMS1001 p.7/228
9 Data Hasil pengukuran keasaman (PH) dari 35 kolam di suatu daerah: 6,4 6,6 6,2 7,2 6,2 8,1 7,0 7,0 5,9 5,7 7,0 7,4 6,5 6,8 7,0 7,0 6,0 6,3 5,6 6,3 5,8 5,9 7,2 7,3 7,7 6,8 5,2 5,2 6,4 6,3 6,2 7,5 6,7 6,4 7,8 MMS1001 p.8/228
10 Data Tinggi (cm) dan berat badan (kg) 10 orang mahasiswa: Mahasiswa Tinggi Berat MMS1001 p.9/228
11 Data Banyaknya penjualan telepon seluler di suatu toko: Merek Banyak penjualan Sony-Ericsson 72 Motorola 60 Nokia 85 Samsung 54 LG 32 Siemens 64 MMS1001 p.10/228
12 Skala Pengukuran Skala Nominal Ordinal Interval Rasio Yang dapat ditentukan untuk dua pengamatan sembarang persamaan (klasifikasi) persamaan dan urutan persamaan, urutan dan jarak (satuan pengukuran) persamaan, urutan, jarak dan rasio (titik nol yang murni ada) MMS1001 p.11/228
13 Skala Pengukuran Contoh: Nominal: jenis pekerjaan, warna Ordinal: kepangkatan, tingkat pendidikan Interval: tahun kalender (Masehi, Hijriyah), temperatur (Celcius, Fahrenheit) Rasio: berat, panjang, isi MMS1001 p.12/228
14 Statistika Deskriptif Metode atau cara-cara yang digunakan untuk meringkas dan menyajikan data dalam bentuk tabel, grafik atau ringkasan numerik data. MMS1001 p.13/228
15 Grafik Stem-and-leaf Untuk menunjukkan bentuk distribusi data Data berupa angka dengan minimal dua digit Contoh (Data penghasilan buruh): Stem= 10, Leaf = 1 MMS1001 p.14/228
16 Distribusi Frekuensi Merupakan suatu tabel menunjukkan frekuensi kemunculan data atau frekuensi relatifnya yang berguna untuk meringkas data numerik maupun kategori. Untuk data diskret atau data kategori, banyaknya nilai yang dihitung kemunculannya biasanya sesuai dengan banyaknya nilai data yang berbeda dari data diskret atau kategori tersebut Untuk data kontinu, biasanya dibuat kelas interval 5-20 banyaknya. MMS1001 p.15/228
17 Distribusi Frekuensi Contoh (Data penghasilan buruh): Kelas Frekuensi Frekuensi Relatif Frekuensi Relatif Kumulatif [40, 50) 2 0,050 0,050 [50, 60) 8 0,200 0,250 [60, 70) 17 0,425 0,625 [70, 80) 9 0,225 0,900 [80, 90) 3 0,075 0,975 [90, 100) 1 0,025 1,000 MMS1001 p.16/228
18 Histogram Representasi grafik dari distribusi frekuensi data kontinu. Contoh (Data penghasilan buruh): Frekuensi Penghasilan (ribu rupiah) MMS1001 p.17/228
19 Poligon Frekuensi Representasi grafik dari distribusi frekuensi data kontinu dengan mengambil nilai tengah tiap kelas. Contoh (Data penghasilan buruh): Frekuensi Penghasilan (ribu rupiah) MMS1001 p.18/228
20 Ogive Frekuensi Kumulatif Plot frekuensi kumulatif dengan batas atas interval dari distribusi frekuensi. Contoh (Data penghasilan buruh): Frekuensi Kumulatif Penghasilan (ribu rupiah) MMS1001 p.19/228
21 Diagram Batang Representasi grafik dari distribusi frekuensi data diskret atau kategori. Contoh (Data telepon seluler): Sony Ericsson Motorola Nokia Samsung LG Siemens MMS1001 p.20/228
22 Diagram Lingkaran Representasi grafik dari distribusi frekuensi data diskret atau kategori. Contoh (Data telepon seluler): Motorola Sony Ericsson Nokia Siemens Samsung LG MMS1001 p.21/228
23 Notasi Himpunan Data Data statistik sering dilambangkan dengan huruf X, Y dilengkapi dengan indeks. MMS1001 p.22/228
24 Notasi Himpunan Data Data statistik sering dilambangkan dengan huruf X, Y dilengkapi dengan indeks. Contoh (Data penghasilan buruh): X: penghasilan mingguan buruh (dalam ribuan rupiah) X 1 = 58; X 2 = 72; X 10 = 73; X 40 = 75; MMS1001 p.22/228
25 Notasi Himpunan Data Data statistik sering dilambangkan dengan huruf X, Y dilengkapi dengan indeks. Contoh (Data tinggi dan berat mahasiswa): X : tinggi mahasiswa (cm) Y : berat mahasiswa (kg) X 1 = 170; Y 1 = 70; X 7 = 1683; Y 7 = 60; MMS1001 p.22/228
26 Notasi Sigma n X i = X 1 + X X n i=1 n i=1 m X ij = X 11 + X X nm j=1 MMS1001 p.23/228
27 Notasi Sigma Beberapa aturan: Jika X i = k, k suatu konstan, maka n X i = nk i=1 MMS1001 p.24/228
28 Notasi Sigma Beberapa aturan: Jika X i = k, k suatu konstan, maka n X i = nk i=1 Jika k suatu konstan, maka n kx i = k i=1 n i=1 X i MMS1001 p.24/228
29 Notasi Sigma Beberapa aturan: Jika X i = k, k suatu konstan, maka n X i = nk i=1 Jika k suatu konstan, maka n kx i = k i=1 n i=1 X i n (X i + Y i ) = i=1 n X i + i=1 n i=1 Y i MMS1001 p.24/228
30 Ringkasan Numerik Ringkasan Numerik atau statistik: Data tunggal (tidak dikelompokkan), dengan n observasi dinotasikan sebagai x 1, x 2,..., x n Data berkelompok (distribusi frekuensi), dengan k nilai tunggal dinotasikan sebagai x 1, x 2,..., x k yang masing-masing mempunyai frekuensi f 1, f 2,..., f k dengan n = k i=1 f i adalah total observasi MMS1001 p.25/228
31 Mean Aritmetik Data tunggal: Data berkelompok: x = 1 n n i=1 x i x = 1 n n f i x i i=1 MMS1001 p.26/228
32 Mean Terbobot Misalkan w i 0 adalah bobot (weight) untuk data tunggal x i x w = 1 n i=1 w i n w i x i i=1 MMS1001 p.27/228
33 Variansi Data tunggal: atau s 2 = 1 n 1 s 2 = 1 n 1 n (x i x) 2 i=1 n (x 2 i n x 2 ) i=1 MMS1001 p.28/228
34 Variansi Data berkelompok: atau s 2 = 1 n 1 s 2 = 1 n 1 n f i (x i x) 2 i=1 n (f i x 2 i n x 2 ) i=1 MMS1001 p.29/228
35 Peluang dan Variabel Random Statistika Inferensial: Mengambil kesimpulan, inferensi atau generalisasi tentang suatu populasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari sampel. Peluang (probabilitas): Harga angka yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi. MMS1001 p.30/228
36 Peluang dan Variabel Random Statistika Inferensial: Mengambil kesimpulan, inferensi atau generalisasi tentang suatu populasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari sampel. Peluang (probabilitas): Harga angka yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi. sangat tidak mungkin sangat mungkin tidak mungkin mungkin ya mungkin tidak pasti MMS1001 p.30/228
37 Peluang dan Variabel Random Statistika Inferensial: Mengambil kesimpulan, inferensi atau generalisasi tentang suatu populasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari sampel. Peluang (probabilitas): Harga angka yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi. sangat tidak mungkin sangat mungkin 0 1 tidak mungkin mungkin ya mungkin tidak pasti MMS1001 p.30/228
38 Peluang dan Variabel Random Eksperimen (percobaan, trial): Prosedur yang dijalankan pada kondisi yang sama dan dapat diamati hasilnya (outcome). Ruang sampel (semesta, universe: Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu eksperimen. Peristiwa (kejadian, event): Himpunan bagian dari suatu ruang sampel. MMS1001 p.31/228
39 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Pelemparan sebuah mata uang logam dua kali Hasil : Sisi mata uang yang tampak Ruang sampel : S = {MM,MB,BM,BB} dengan M: sisi muka dan B: sisi belakang Peristiwa : A = paling sedikit muncul satu belakang = {MB,BM,BB} B = muncul sisi yang sama = {MM,BB} MMS1001 p.32/228
40 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah biji kedelai ditanam Hasil : Tumbuh atau tidak tumbuh Ruang sampel : S = {tidak tumbuh, tumbuh} atau S = {0,1} Peristiwa : A = biji kedelai tumbuh = {1} MMS1001 p.33/228
41 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Pemilihan seorang mahasiswa secara random dan dicatat IPnya Hasil : Bilangan antara 0 sampai dengan 4 Ruang sampel : S = {0 X 4 X R} Himpunan bilangan real antara 0 sampai dengan 4 Peristiwa : A = IP di atas 2 = {2 X 4 X R} B = IP di bawah 1 = {0 X 1 X R} MMS1001 p.34/228
42 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : Ruang sampel : Peristiwa : MMS1001 p.35/228
43 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, 6 Ruang sampel : Peristiwa : MMS1001 p.35/228
44 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, 6 Ruang sampel : S = {1,2,3,4,5,6} Peristiwa : MMS1001 p.35/228
45 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, 6 Ruang sampel : S = {1,2,3,4,5,6} Peristiwa : A = muncul mata dadu genap MMS1001 p.35/228
46 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, 6 Ruang sampel : S = {1,2,3,4,5,6} Peristiwa : A = muncul mata dadu genap = {2,4,6} MMS1001 p.35/228
47 Peluang dan Variabel Random Contoh Eksperimen : Sebuah dadu dilempar sekali Hasil : mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, 6 Ruang sampel : S = {1,2,3,4,5,6} Peristiwa : A = muncul mata dadu genap = {2,4,6} B = muncul mata dadu gasal = {1,3,5} MMS1001 p.35/228
48 Peluang dan Variabel Random Peluang Suatu Peristiwa Definisi klasik, dengan menganggap tiap-tiap elemen ruang sampel S mempunyai peluang yang sama untuk terjadi. Peluang terjadinya peristiwa A, P(A) = n(a) n(s) dengan n(a) = banyaknya anggota dalam peristiwa A, dan n(s) = banyaknya anggota ruang sampel MMS1001 p.36/228
49 Peluang dan Variabel Random Peluang Suatu Peristiwa Beberapa ketentuan: 0 P(A) 1 P(S) = 1 (peluang dari ruang sampel) P( ) = 0 (peluang dari peristiwa yang tidak akan pernah terjadi) P(A) = 1 P(A c ) (aturan komplemen) P(A B) = P(A)+P(B) P(A B) (aturan penjumlahan) Bila A dan B adalah kejadian yang saling asing, A B =, maka P(A B) = P(A) + P(B) P(B) = P(A B) + P(A c B) A B dan A c B saling asing MMS1001 p.37/228
50 Peluang dan Variabel Random Peluang Suatu Peristiwa Contoh Sebuah dadu dilempar sekali. S = {1,2,3,4,5,6} dan n(s) = 6. Misal didefinisikan A : muncul mata dadu 3 dan B : muncul mata dadu bilangan prima A = {3} dan n(a) = 1 ; B = {2,3,5} dan n(b) = 3 dan P(A) = n(a) n(s) = 1 6 dan P(B) = n(b) n(s) = 3 6 = 1 2 MMS1001 p.38/228
51 Peluang dan Variabel Random Peluang Bersyarat dan Independensi Diketahui A dan B dua peristiwa dari ruang sampel S, dan P(B) > 0, maka peluang bersyarat terjadinya A jika diketahui B telah terjadi, ditulis P(A B), didefinisikan sebagai P(A B) = P(A B) P(B) Dua kejadian A dan B disebut kejadian independen jika P(A B) = P(A).P(B) MMS1001 p.39/228
52 Peluang dan Variabel Random Peluang Bersyarat dan Independensi Contoh (Peluang Bersyarat) Sepasang dadu dilempar bersama jika diketahui jumlah kedua mata dadu yang keluar adalah 6, hitunglah peluang bahwa satu diantara dua dadu tersebut adalah mata dadu 2. B = {jumlahan mata dadu adalah 6} = {(1,5),(2,4),(3,3),(4,2),(5,1)} dan A = {mata dadu 2 muncul dari salah satu dadu} = {(2,4),(4,2)} P(A B) = n(a B) n(b) = 2 5 MMS1001 p.40/228
53 Peluang dan Variabel Random Peluang Bersyarat dan Independensi Contoh (Peluang Bersyarat) Peluang suatu penerbangan yang telah terjadwal teratur berangkat tepat waktu adalah P(A) = 0,83; peluang sampai tepat waktu adalah P(B) = 0,82; peluang berangkat dan sampai tepat waktu adalah P(A B) = 0,78. Peluang bahwa suatu pesawat sampai tepat waktu jika diketahui berangkat tepat waktu adalah P(B A) = P(A B) P(A) = 0,78 0,83 = 0,94 Peluang bahwa suatu pesawat berangkat tepat waktu jika diketahui sampai tempat waktu adalah P(A B) = P(A B) P(B) = 0,78 0,82 = 0,95 MMS1001 p.41/228
54 Peluang dan Variabel Random Peluang Bersyarat dan Independensi Contoh (independensi) Suatu kota kecil mempunyai satu unit mobil pemadam kebakaran dan satu ambulans yang bekerja saling independen untuk keadaan darurat. Peluang mobil kebakaran siap saat diperlukan adalah Peluang ambulans siap waktu diperlukan adalah Dalam suatu kejadian kebakaran gedung, hitung peluang keduanya siap. Misalkan A dan B menyatakan kejadian mobil pemadam kebakaran dan ambulans siap. Karena A dan B independen, peluang mobil pemadam kebakaran dan ambulans siap : P(A B) = P(A).P(B) = 0,98 0,92 =,9016 MMS1001 p.42/228
55 Peluang dan Variabel Random Teorema Bayes P(A B) = P(A B) P(B) = P(A).P(B A) P(A).P(B A) + P(A c ).P(B A c ) Secara umum jika kejadian A 1, A 2,..., A k saling asing dan gabungannya A 1 A 2..., A k = S dan kejadian B = S B, maka P(A i ).P(B A i ) P(A i B) = k i=1 P(A i).p(b A i ) MMS1001 p.43/228
56 Peluang dan Variabel Random Teorema Bayes Contoh Sebuah pabrik mempunyai 3 mesin A, B dan C yang memproduksi berturut-turut 60%, 30%, dan 10% dari total banyak unit yang diproduksi pabrik. Persentase kerusakan produk yang dihasilkan dari masing-masing mesin tersebut berturut-turut adalah 2%, 3% dan 4%. Suatu unit dipilih secara random dan diketahui rusak. Hitung probabilitas bahwa unit tersebut berasal dari mesin C. Misal kejadian R adalah unit yang rusak, akan dihitung P(C R), yaitu probabilitas bahwa suatu unit diproduksi oleh mesin C dengan diketahui unit tersebut rusak. MMS1001 p.44/228
57 Peluang dan Variabel Random Teorema Bayes Contoh (lanjutan) Dengan teorema Bayes, kejadian P(A), P(B) dan P(C) adalah peluang (persentase produksi) dari masing-masing mesin; P(R A), P(R B) dan P(R C) adalah peluang (persentase kerusakan) dari masing-masing mesin. P(C R) = = P(C).P(R C) P(A).P(R A) + P(B).P(R B) + P(C).P(R C) (0, 1)(0, 04) (0,6)(0,02) + (0,3)(0,03) + (0,1)(0,04) = 4 25 MMS1001 p.45/228
58 Peluang dan Variabel Random Variabel Random Variabel random adalah suatu cara memberi harga angka kepada setiap elemen ruang sampel, atau suatu fungsi bernilai real yang harganya ditentukan oleh setiap elemen dalam ruang sampel Contoh Eksperimen (proses random) melemparkan uang logam tiga kali, S = {BBB, BBM, BMB, MBB, BMM, MBM, MMB, MMM}. Didefinisikan variabel random X : banyak M (muka) muncul dalam pelemparan uang logam tiga kali. MMS1001 p.46/228
59 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.47/228
60 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S X : S R R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.48/228
61 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S X : S R R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.49/228
62 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S X : S R R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.50/228
63 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S X : S R R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.51/228
64 Peluang dan Variabel Random Contoh (variabel random) S X : S R R BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM MMS1001 p.52/228
65 Peluang dan Variabel Random Variabel random diskret: Suatu variabel random yang hanya dapat menjalani harga-harga yang berbeda yang berhingga banyaknya (sama banyaknya dengan bilangan bulat) Variabel random kontinu: Suatu variabel random yang dapat menjalani setiap harga dalam suatu interval (tak berhingga banyaknya) Distribusi Peluang: Model matematik yang menghubungkan semua nilai variabel random dengan peluang terjadinya nilai tersebut dalam ruang sampel. Distribusi peluang dapat direpresentasikan dalam bentuk fungsi, tabel, atau grafik. Distribusi peluang dapat dianggap sebagai frekuensi relatif jangka panjang. MMS1001 p.53/228
66 Peluang dan Variabel Random Distribusi Peluang Diskret Fungsi f(x) disebut sebagai fungsi peluang dari variabel random diskret X, jika untuk setiap harga x yang mungkin : 1. f(x) 0 2. x f(x) = 1 Peluang untuk nilai x tertentu: P(X = x) = f(x) Distribusi kumulatif F(x) F(x) = P(X x) = t x f(t) MMS1001 p.54/228
67 Peluang dan Variabel Random Distribusi Peluang Diskret Distribusi peluang X dalam bentuk tabel: Harga X P(X = x) = f(x) x 1 P 1 x 2 P x k P k MMS1001 p.55/228
68 Peluang dan Variabel Random Distribusi Peluang Diskret Contoh Distribusi banyaknya sisi muka yang muncul dalam pelemparan mata uang logam tiga kali. Harga X P(X = x) = f(x) 0 1/8 1 3/8 2 3/8 3 1/8 P(x) = 1 MMS1001 p.56/228
69 Peluang dan Variabel Random Distribusi Peluang Kontinu (Fungsi Densitas) Distribusi peluang untuk variabel random kontinu. Fungsi f(x) disebut sebagai fungsi densitas peluang dari variabel random kontinu X, jika untuk setiap harga x yang mungkin : 1. f(x) 0 2. f(x)dx = 1 Nilai peluang untuk interval tertentu Distribusi kumulatif F(x) P(a X b) = b a f(x)dx F(x) = P(X x) = x f(u)du MMS1001 p.57/228
70 Peluang dan Variabel Random Distribusi Peluang Kontinu (Fungsi Densitas) Contoh Fungsi densitas suatu variabel random X f(x) = { x 2 untuk 0 < x < 2 0 untuk x yang lain MMS1001 p.58/228
71 Peluang dan Variabel Random Harga harapan, Variansi dan sifat-sifatnya Harga Harapan (Ekspektasi, Expected Value) E(X) = x xf(x) xf(x)dx E(X) sering ditulis sebagai µ X atau µ Variansi (Variance) bila X diskret bila X kontinu Var(X) = E(X µ) 2 = E(X 2 ) µ 2 MMS1001 p.59/228
72 Peluang dan Variabel Random Harga harapan, Variansi dan sifat-sifatnya Sifat-sifat Harga Harapan E(aX + b) = ae(x) + b, a, b konstan E [g(x) + h(x)] = E [g(x)] + E [h(x)] Sifat-sifat Variansi Var(aX + b) = a 2 Var(X), a, b konstan Deviasi standar (akar dari variansi): σ X = Var(X) MMS1001 p.60/228
73 Peluang dan Variabel Random Dua Variabel Random Ada dua variabel random yang diamati bersamaan dalam suatu eksperimen. Contoh: Sebuah mata uang logam dilemparkan tiga kali. X: banyaknya M muncul dalam dua lemparan pertama Y : banyaknya M muncul dalam lemparan ketiga Distribusi peluang untuk dua variabel random disebut sebagai distribusi peluang bersama MMS1001 p.61/228
74 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random X : S X : S R R x P(X = x) BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM X : banyaknya M muncul dalam dua lemparan pertama MMS1001 p.62/228
75 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random X : S X : S R R x P(X = x) BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM X : banyaknya M muncul dalam dua lemparan pertama MMS1001 p.63/228
76 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random X : S X : S R R x P(X = x) BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM X : banyaknya M muncul dalam dua lemparan pertama MMS1001 p.64/228
77 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random X : S X : S R R x P(X = x) 0 1/4 1 1/2 2 1/4 BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM X : banyaknya M muncul dalam dua lemparan pertama MMS1001 p.65/228
78 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random Y : S Y : S R R P(Y = y) y BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM Y : banyaknya M muncul dalam lemparan ketiga MMS1001 p.66/228
79 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random Y : S Y : S R R BBB P(Y = y) y 0 1 BBM BMB MBB BMM MBM 0 1 MMB MMM Y : banyaknya M muncul dalam lemparan ketiga MMS1001 p.67/228
80 Peluang dan Variabel Random Contoh Distribusi peluang variabel random Y : S Y : S R R y 0 1 P(Y = y) 1/2 1/2 BBB BBM BMB MBB BMM MBM MMB MMM 0 1 Y : banyaknya M muncul dalam lemparan ketiga MMS1001 p.68/228
81 Peluang dan Variabel Random Contoh (dua variabel random) Distribusi peluang bersama X dan Y, P(X = x, Y = y):: x y P(X = x) /4 1 1/2 2 1/4 P(Y = y) 1/2 1/2 1 MMS1001 p.69/228
82 Peluang dan Variabel Random Contoh (dua variabel random) Distribusi peluang bersama X dan Y, P(X = x, Y = y): x y P(X = x) {BBB} {BBM} 1/4 1 {BMB, MBB} {BMM, MBM} 1/2 2 {MMB} {MMM} 1/4 P(Y = y) 1/2 1/2 1 MMS1001 p.70/228
83 Peluang dan Variabel Random Contoh (dua variabel random) Distribusi peluang bersama X dan Y, P(X = x, Y = y): x y P(X = x) /8 1/8 1/4 1 2/8 2/8 1/2 2 1/8 1/8 1/4 P(Y = y) 1/2 1/2 1 MMS1001 p.71/228
84 Peluang dan Variabel Random Contoh (dua variabel random) Distribusi peluang bersama X dan Y, P(X = x, Y = y): x y P(X = x) /8 1/8 1/4 1 2/8 2/8 1/2 2 1/8 1/8 1/4 P(Y = y) 1/2 1/2 1 Jika P(X = x, Y = y) = P(X = x).p(y = y) untuk setiap nilai dari X dan Y maka dua variabel random tersebut dikatakan independen MMS1001 p.72/228
85 Peluang dan Variabel Random Kovariansi Ukuran numerik untuk variansi bersama dua variabel random Kov(X, Y ) = E [(X µ X )(Y µ Y )] = E(XY ) µ X µ Y Korelasi Kovariansi dibagi dengan standar deviasi X dan standar deviasi Y Kor(X, Y ) = Kov(X, Y ) σ X.σ Y MMS1001 p.73/228
86 Peluang dan Variabel Random Harga harapan untuk penjumlahan dan pengurangan dua variabel random, E(X + Y ) = E(X) + E(Y ) E(X Y ) = E(X) E(Y ) Variansi untuk penjumlahan dan pengurangan dua variabel random, Var(X + Y ) = Var(X) + Var(Y ) + 2Kov(X, Y ) Var(X Y ) = Var(X) + Var(Y ) 2Kov(X, Y ) MMS1001 p.74/228
87 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Eksperimen Bernoulli Eksperimen dengan hanya dua hasil yang mungkin Contoh melempar mata uang logam satu kali Mengamati telur ayam, apakah anak ayam itu jantan atau betina Mengamati kedelai yang ditanam, tumbuh atau tidak Reaksi obat pada tikus, positif atau negatif MMS1001 p.75/228
88 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Sifat-sifat Eksperimen Bernoulli tiap usaha (trial) menghasilkan satu dari dua hasil yang mungkin, dinamakan sukses (S) dan gagal (G); peluang sukses, P(S) = p dan peluang gagal P(G) = 1 p, atau P(G) = q; usaha-usaha tersebut independen MMS1001 p.76/228
89 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Bernoulli P(X = x;p) = p x (1 p) 1 x, dengan x = 0,1 (gagal, sukses) dan p adalah peluang mendapatkan hasil sukses. MMS1001 p.77/228
90 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Binomial Eksperimen Bernoulli dengan n usaha dan X : banyaknya sukses dalam n usaha tersebut. P(X = x;n, p) = ( ) n p x (1 p) n x, x x = 0,1,2,..., n Mean dan variansi E(X) = np; Var(X) = np(1 p) MMS1001 p.78/228
91 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Binomial dengan n = 6, p = 0, MMS1001 p.79/228
92 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Binomial dengan n = 6, p = 0, MMS1001 p.80/228
93 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Binomial dengan n = 6, p = 0, MMS1001 p.81/228
94 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Binomial) Suatu uang logam yang baik (seimbang) dilempar 4 kali. X adalah banyaknya muka muncul dalam 4 kali pelemparan tersebut. Pelemparan dipandang sebagai usaha, dan sukses adalah muka muncul. X merupakan variabel random binomial dengan n = 4 dan p = 1/2 dengan distribusi peluang: P(X = x; 4, 1 ( ) ( ) = x 2 ) x (1 1 2 )4 x, x = 0, 1, 2, 3, 4 MMS1001 p.82/228
95 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Binomial) Suatu uang logam yang baik (seimbang) dilempar 4 kali. X adalah banyaknya muka muncul dalam 4 kali pelemparan tersebut. Pelemparan dipandang sebagai usaha, dan sukses adalah muka muncul. X merupakan variabel random binomial dengan n = 4 dan p = 1/2 dengan distribusi peluang: P(X = x; 4, 1 ( ) ( ) = x 2 Peluang muka muncul dua kali, X = 2 P(X = 2; 4, 1 ( ) ( ) = 2 2 ) x (1 1 2 )4 x, x = 0, 1, 2, 3, 4 = 3 8 ) 2 (1 1 2 )4 2 MMS1001 p.82/228
96 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Binomial) Suatu uang logam yang baik (seimbang) dilempar 4 kali. X adalah banyaknya muka muncul dalam 4 kali pelemparan tersebut. Pelemparan dipandang sebagai usaha, dan sukses adalah muka muncul. X merupakan variabel random binomial dengan n = 4 dan p = 1/2 dengan distribusi peluang: P(X = x; 4, 1 ( ) ( ) = x 2 ) x (1 1 2 )4 x, x = 0, 1, 2, 3, 4 Peluang muka muncul paling tidak dua kali, X 2 P(X 2; 4, 1 ) = P(X = 2) + P(X = 3) + P(X = 4) 2 = MMS1001 p.82/228
97 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Hipergeometrik Eksperimen hipergeometrik: Dalam populasi berukuran N sebanyak k dinamakan sukses sedangkan sisanya N k dinamakan gagal sampel berukuran n diambil dari N benda Cara pengambilan sampel tanpa pengembalian MMS1001 p.83/228
98 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Hipergeometrik Distribusi peluang: P(X = x;n, n, k) = ( k N k ) x)( n x ( N, x = 0,1,2,..., min(n, k) n) Mean dan Variansi E(X) = n k N ; Var(X) = n k n N k N N n N 1 MMS1001 p.84/228
99 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Hipergeometrik) Suatu kotak berisi 40 suku cadang dengan 3 rusak. Sampel berukuran 5 diambil sekaligus dari kotak. Pengambilan sampel ini adalah suatu eksperimen hipergeometrik dengan X adalah banyaknya suku cadang rusak, N = 40, n = 5 dan k = 3 dengan distribusi peluang: P(X = x; 40, 5, 3) = ( 3 37 ) x)( 5 x ( 40 ), x = 0, 1, 2, 3 5 MMS1001 p.85/228
100 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Hipergeometrik) Suatu kotak berisi 40 suku cadang dengan 3 rusak. Sampel berukuran 5 diambil sekaligus dari kotak. Pengambilan sampel ini adalah suatu eksperimen hipergeometrik dengan X adalah banyaknya suku cadang rusak, N = 40, n = 5 dan k = 3 dengan distribusi peluang: P(X = x; 40, 5, 3) = ( 3 37 ) x)( 5 x ( 40 ), x = 0, 1, 2, 3 5 Peluang ditemukan satu suku cadang rusak dalam pengambilan sampel tersebut P(X = 1; 40, 5, 3) = ( 3 )( 37 ) 1 4 ( 40 ) = 0, MMS1001 p.85/228
101 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Hipergeometrik) Suatu kotak berisi 40 suku cadang dengan 3 rusak. Sampel berukuran 5 diambil sekaligus dari kotak. Pengambilan sampel ini adalah suatu eksperimen hipergeometrik dengan X adalah banyaknya suku cadang rusak, N = 40, n = 5 dan k = 3 dengan distribusi peluang: P(X = x; 40, 5, 3) = ( 3 37 ) x)( 5 x ( 40 ), x = 0, 1, 2, 3 5 Peluang ditemukan paling tidak satu suku cadang rusak dalam pengambilan sampel tersebut P(X 1; 40, 5, 3) = P(X = 1) + P(X = 2) + P(X = 3) = 0, , , 0010 = 0, 3376 MMS1001 p.85/228
102 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Poisson Sifat-sifat eksperimen Poisson: banyaknya sukses terjadi dalam suatu selang waktu atau daerah tertentu tidak terpengaruh (bebas) dari apa yang terjadi pada interval waktu atau daerah yang lain, peluang terjadinya sukses dalam interval waktu yang singkat atau daerah yang sempit sebanding dengan panjang interval waktu, atau luas daerah dan tidak tergantung pada banyaknya sukses yang terjadi di luar interval waktu atau daerah tersebut, peluang terjadinya lebih dari satu sukses dalam interval waktu yang singkat atau daerah yang sempit tersebut dapat diabaikan. MMS1001 p.86/228
103 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Poisson X adalah banyaknya sukses dalam eksperimen Poisson, yang mempunyai distribusi probabilitas P(X = x;λ) = e λ λ x, x = 0,1,2,... x! Mean dan Variansi E(X) = λ ; Var(X) = λ MMS1001 p.87/228
104 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Poisson dengan λ = MMS1001 p.88/228
105 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Poisson dengan λ = MMS1001 p.89/228
106 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Poisson dengan λ = MMS1001 p.90/228
107 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh (Distribusi Poisson) Rata-rata banyaknya partikel radioaktif yang melewati suatu counter selama 1 milidetik dalam suatu percobaan di laboratorium adalah 4. Peluang 6 partikel melewati counter dalam suatu milidetik tertentu adalah P(X = 6;λ = 4) = e 4 4 x 6! = 0,1042 MMS1001 p.91/228
108 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Normal Distribusi Normal dengan mean E(X) = µ dan variansi Var(X) = σ 2 mempunyai fungsi peluang, f(x;µ, σ 2 ) = 1 2πσ 2 (x µ) 2 e 2σ 2, < x < dan < µ <, σ 2 > 0 MMS1001 p.92/228
109 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Distribusi Normal Distribusi Normal dengan mean E(X) = µ dan variansi Var(X) = σ 2 (ditulis N(µ, σ 2 )) mempunyai fungsi peluang, f(x;µ, σ 2 ) = 1 2πσ 2 (x µ) 2 e 2σ 2, < x < dengan < µ <, σ 2 > 0, π = 3, dan e = 2, Distribusi Normal standar: distribusi Normal dengan mean 0 dan variansi 1, ditulis N(0,1) MMS1001 p.93/228
110 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal - Sumbu x : < x < MMS1001 p.94/228
111 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal - Sumbu x : < x < Fungsi peluang (sumbu y): f(x;µ, σ 2 ) = 1 2πσ 2 (x µ) 2 e 2σ 2, < x < MMS1001 p.94/228
112 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - MMS1001 p.94/228
113 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - µ simetris terhadap sumbu vertikal melalui µ, MMS1001 p.94/228
114 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - simetris terhadap sumbu vertikal melalui µ, memotong sumbu mendatar (sumbu x) secara asimtotis, MMS1001 p.94/228
115 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - µ simetris terhadap sumbu vertikal melalui µ, memotong sumbu mendatar (sumbu x) secara asimtotis, harga modus (maksimum) terletak pada x = µ, MMS1001 p.94/228
116 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - µ σ µ µ + σ simetris terhadap sumbu vertikal melalui µ, memotong sumbu mendatar (sumbu x) secara asimtotis, harga modus (maksimum) terletak pada x = µ, mempunyai titik belok pada x = µ ± σ, MMS1001 p.94/228
117 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Kurva Normal Sifat-sifat: - µ simetris terhadap sumbu vertikal melalui µ, memotong sumbu mendatar (sumbu x) secara asimtotis, harga modus (maksimum) terletak pada x = µ, mempunyai titik belok pada x = µ ± σ, luas kurva Normal sama dengan 1. MMS1001 p.94/228
118 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Luasan kurva di bawah kurva normal sampai batas b: L b L = b 1 2πσ 2 (x µ) 2 e 2σ 2 dx MMS1001 p.95/228
119 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L Dapat dihitung menggunakan tabel Normal Standar dengan terlebih dahulu mentransformasikan skala X N(µ, σ 2 ) ke Z N(0,1), Z = X µ σ b MMS1001 p.95/228
120 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L -3,4-3,3... 0,0... 3,3 3,4 X b σ z 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 MMS1001 p.95/228
121 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L x = 76 Contoh 1: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ) Hitunglah luas kurva Normal mulai ekor paling kiri ( ) sampai 76 MMS1001 p.96/228
122 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Contoh 1: transformasi dari X ke Z, L Z = X µ σ = 12 = 1, 33 Z = 1,33 MMS1001 p.96/228
123 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L Z = 1,33 Contoh 1: z 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0, ,0... 1,3 MMS1001 p.96/228
124 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L = 0,9082 Z = 1,33 Contoh 1: z 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0, ,0... 1,3 0,9082 MMS1001 p.96/228
125 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L Contoh 2: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ) Hitunglah luas kurva Normal antara 60 sampai 76 MMS1001 p.97/228
126 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 0 1,33 Contoh 2: transformasi dari X = 60 ke Z, Z = X µ σ = 12 = 0 transformasi dari X = 76 ke Z, Z = X µ σ = 12 = 1, 33 MMS1001 p.97/228
127 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 2 = 0, ,33 Contoh 2: L = L 2 L 1 = 0, 9082 L 1 MMS1001 p.97/228
128 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 1 = 0, 5 0 1,33 Contoh 2: L = L 2 L 1 = 0, , 5 MMS1001 p.97/228
129 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 0 1,33 Contoh 2: L = L 2 L 1 = 0, , 5 = 0, 4082 MMS1001 p.97/228
130 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. MMS1001 p.98/228
131 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) MMS1001 p.98/228
132 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) MMS1001 p.98/228
133 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 1 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) = P( < Z 2, 00) P( < Z 0, 67) MMS1001 p.98/228
134 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 1 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) = 0, 9772 P( < Z 0, 67) MMS1001 p.98/228
135 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 2 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) = 0, 9772 P( < Z 0, 67) MMS1001 p.98/228
136 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 2 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) = 0, , 7486 MMS1001 p.98/228
137 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal L 0,67 2,00 Contoh 3: Distribusi Normal dengan mean µ = 60 dan deviasi standar σ = 12, N(60, 12 2 ). Hitunglah luas kurva Normal antara 68 sampai 84. L = P(68 X 84) = P(0, 67 Z 2, 00) = 0, 2286 MMS1001 p.98/228
138 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Contoh 4: Diketahui N(0, 1), hitunglah P(Z 1, 5). 1,5 MMS1001 p.99/228
139 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Contoh 4: Diketahui N(0, 1), hitunglah P(Z 1, 5). P(Z 1, 5) = 1 P( Z 1, 5) 1,5 MMS1001 p.99/228
140 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Contoh 4: Diketahui N(0, 1), hitunglah P(Z 1, 5). P(Z 1, 5) = 1 P( Z 1, 5) 1,5 MMS1001 p.99/228
141 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal Contoh 4: Diketahui N(0, 1), hitunglah P(Z 1, 5). P(Z 1, 5) = 1 P( Z 1, 5) = 1 0, 9332 = 0, ,5 MMS1001 p.99/228
142 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
143 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal µ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
144 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal µ σ µ µ + σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
145 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal µ 2σ µ σ µ µ + σ µ + 2σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
146 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal µ 3σ µ 2σ µ σ µ µ + σ µ + 2σ µ + 3σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
147 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal 68% µ 3σ µ 2σ µ σ µ µ + σ µ + 2σ µ + 3σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
148 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal 95% µ 3σ µ 2σ µ σ µ µ + σ µ + 2σ µ + 3σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
149 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Luasan di bawah Kurva Normal 99% µ 3σ µ 2σ µ σ µ µ + σ µ + 2σ µ + 3σ X N(µ, σ 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.100/228
150 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? MMS1001 p.101/228
151 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 MMS1001 p.101/228
152 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 X =? X N(45, 13 2 ) MMS1001 p.101/228
153 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 X =? X N(45, 13 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.101/228
154 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 X =? Z = 0, 45 X N(45, 13 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.101/228
155 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 X = 13 0, Z = 0, 45 X N(45, 13 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.101/228
156 Distribusi Variabel Random Diskret dan Kontinu Contoh 5 (Distribusi Normal) Nilai-nilai ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional dianggap berdistribusi Normal dengan mean 45 dan deviasi standar 13. Jika hanya 32,5% calon mahasiswa yang akan diterima, berapakah nilai terendah calon mahasiswa yang diterima? 0,325 50,85 Z = 0, 45 X N(45, 13 2 ) Z N(0, 1) MMS1001 p.101/228
157 Distribusi Sampling Statistik Populasi: himpunan keseluruhan obyek yang diamati. Sampel: himpunan bagian dari populasi. Sampel Random: sampel yang diperoleh dengan cara pengambilan sampel sedemikian sehingga setiap elemen populasi mempunyai kemungkinan yang sama untuk terambil. Parameter: suatu harga (numerik) yang dihitung dari populasi, memberi deskripsi/karakteristik pada populasi. Statistik: suatu harga (numerik) yang dihitung dari sampel. Distribusi sampling statistik: distribusi peluang suatu statistik. MMS1001 p.102/228
158 Distribusi Sampling Statistik Populasi X 1, X 2,..., X N µ σ 2 MMS1001 p.103/228
159 Distribusi Sampling Statistik Populasi X 1, X 2,..., X N µ σ 2 Sampel 1 X 1, X 2,..., X n X 1 S 2 1 MMS1001 p.103/228
160 Distribusi Sampling Statistik Populasi X 1, X 2,..., X N µ σ 2 Sampel 1 X 1, X 2,..., X n X 1 S 2 1 Sampel 2 X 1, X 2,..., X n X 2 S 2 2 MMS1001 p.103/228
161 Distribusi Sampling Statistik Populasi X 1, X 2,..., X N µ σ 2 Sampel 1 X 1, X 2,..., X n X 1 S 2 1 Sampel 2 X 1, X 2,..., X n X 2 S MMS1001 p.103/228
162 Distribusi Sampling Statistik Populasi X 1, X 2,..., X N µ σ 2 Sampel 1 Sampel 2 Sampel M X 1, X 2,..., X n X 1 S 2 1 X 1, X 2,..., X n X 2 S X 1, X 2,..., X n X M S 2 M MMS1001 p.103/228
163 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
164 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 Distribusi peluang x P(X = x) 2 1/3 3 1/3 4 1/3 E(X) = ( ) 1 3 = 3 Var(X) = ( ) =2/3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
165 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
166 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
167 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
168 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
169 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3,3}, n = 2 X 5 = 3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
170 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3,3}, n = 2 X 5 = 3 Sampel 6 {3,4}, n = 2 X 6 = 3, 5 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
171 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3, 3}, n = 2 X 5 = 3 Sampel 6 {3,4}, n = 2 X 6 = 3, 5 Sampel 7 {4, 2}, n = 2 X 7 = 3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
172 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3, 3}, n = 2 X 5 = 3 Sampel 6 {3,4}, n = 2 X 6 = 3, 5 Sampel 7 {4, 2}, n = 2 X 7 = 3 Sampel 8 {4,3}, n = 2 X 8 = 3, 5 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
173 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3, 3}, n = 2 X 5 = 3 Sampel 6 {3,4}, n = 2 X 6 = 3, 5 Sampel 7 {4, 2}, n = 2 X 7 = 3 Sampel 8 {4,3}, n = 2 X 8 = 3, 5 Sampel 9 {4, 4}, n = 2 X 9 = 4 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.104/228
174 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2, 2}, n = 2 X 1 = 2 Sampel 2 {2, 3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 3 {2, 4}, n = 2 X 3 = 3 Sampel 4 {3, 2}, n = 2 X 4 = 2, 5 Sampel 5 {3, 3}, n = 2 X 5 = 3 Sampel 6 {3,4}, n = 2 X 6 = 3, 5 Sampel 7 {4, 2}, n = 2 X 7 = 3 Sampel 8 {4,3}, n = 2 X 8 = 3, 5 Sampel 9 {4, 4}, n = 2 X 9 = 4 Sampling dengan pengembalian M = N n = 3 2 = 9 MMS1001 p.104/228
175 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 x P( X = x) 2,0 1/9 2,5 2/9 3,0 3/9 3,5 2/9 4,0 1/9 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.105/228
176 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 x P( X = x) 2,0 1/9 2,5 2/9 3,0 3/9 3,5 2/9 4,0 1/9 µ X = E( X) = 2( 1 9 ) + 2, 5(2 9 ) + 3(3 9 ) + 3, 5(2 9 ) + 4(1 9 ) = 3 σ 2 X = Var( X) = 2 2 ( 1 9 ) + 2, 52 ( 2 9 ) + 32 ( 3 9 ) + 3, 52 ( 2 9 ) + 42 ( 1 9 ) 32 = 1/3 Sampling dengan pengembalian MMS1001 p.105/228
177 Distribusi Sampling Statistik Sampling dengan pengembalian Untuk sampel berukuran n dari populasi berukuran N dengan mean µ dan variansi σ 2, mean dan variansi dari statistik X: µ X = E( X) = µ σ 2 X = Var( X) = σ2 n MMS1001 p.106/228
178 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.107/228
179 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2,3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.107/228
180 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2,3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 2 {2, 4}, n = 2 X 2 = 3 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.107/228
181 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2,3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 2 {2, 4}, n = 2 X 2 = 3 Sampel 3 {3,4}, n = 2 X 3 = 3, 5 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.107/228
182 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 Sampel 1 {2,3}, n = 2 X 2 = 2, 5 Sampel 2 {2, 4}, n = 2 X 2 = 3 Sampel 3 {3,4}, n = 2 X 3 = 3, 5 Sampling tanpa pengembalian M = ( N n) = ( 3 2) = 3 MMS1001 p.107/228
183 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 x P( X = x) 2,5 1/3 3,0 1/3 3,5 1/3 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.108/228
184 Distribusi Sampling Statistik Contoh: Populasi {2, 4, 3}, N = 3 µ = 3, σ 2 = 2/3 x P( X = x) 2,5 1/3 3,0 1/3 3,5 1/3 µ X = E( X) =) + 2, 5( 1 3 ) + 3(1 3 ) + 3, 5(1 3 ) = 3 µ X = Var( X) =) + 2, 5 2 ( 1 3 ) + 32 ( 1 3 ) + 3, 52 ( 1 3 ) 32 = 1/6 Sampling tanpa pengembalian MMS1001 p.108/228
185 Distribusi Sampling Statistik Sampling tanpa pengembalian Untuk sampel berukuran n dari populasi berukuran N dengan mean µ dan variansi σ 2, mean dan variansi dari statistik X: µ X = E( X) = µ σ 2 X = Var( X) = σ2 n N n N 1 MMS1001 p.109/228
186 Distribusi Sampling Statistik Sifat-sifat Distribusi Sampling untuk Mean Sifat 1: Apabila sampel-sampel random dengan n elemen masing-masing diambil dari suatu populasi yang mempunyai mean µ dan variansi σ 2, maka distribusi sampling mean akan mempunyai mean µ X = µ dan variansi σ 2 X = σ 2 /n. Sifat 2: Apabila populasi (dalam sifat 1) berdistribusi Normal, maka distribusi sampling untuk mean juga berdistribusi Normal. MMS1001 p.110/228
187 Distribusi Sampling Statistik Sifat-sifat Distribusi Sampling untuk Mean Sifat 3 (Teorema Limit Pusat): Apabila sampel-sampel random diambil dari suatu populasi yang berdistribusi sembarang, yang mempunyai mean µ dan variansi σ 2, maka untuk n besar, distribusi sampling untuk mean dapat dianggap mendekati Normal dengan µ X = µ dan variansi σ 2 X = σ 2 /n, sehingga mendekati Normal Standar. Z = X µ σ/ n MMS1001 p.111/228
188 Distribusi Sampling Statistik Contoh 1: Seorang peneliti di bidang pertanian akan meneliti hasil dari suatu varietas padi di Indonesia. Akan diteliti 5 tanah pertanian tersebar di seluruh Indonesia yang dapat ditanami padi tersebut. MMS1001 p.112/228
189 Distribusi Sampling Statistik Contoh 1: Seorang peneliti di bidang pertanian akan meneliti hasil dari suatu varietas padi di Indonesia. Akan diteliti 5 tanah pertanian tersebar di seluruh Indonesia yang dapat ditanami padi tersebut. Populasi untuk masalah ini adalah hasil padi jenis tersebut yang diperoleh dari seluruh tanah pertanian di Indonesia. MMS1001 p.112/228
190 Distribusi Sampling Statistik Contoh 1: Seorang peneliti di bidang pertanian akan meneliti hasil dari suatu varietas padi di Indonesia. Akan diteliti 5 tanah pertanian tersebar di seluruh Indonesia yang dapat ditanami padi tersebut. Sampel untuk masalah ini adalah hasil padi yang diperoleh dari 5 tanah pertanian yang terpilih. Sampel ini akan merupakan sampel random jika, setiap tanah pertanian di Indonesia mempunyai peluang yang sama untuk terpilih ; dan pemilihan satu tanah pertanian tidak mempengaruhi atau dipengaruhi pemilihan tanah yang lain. MMS1001 p.112/228
191 Distribusi Sampling Statistik Contoh 1: Seorang peneliti di bidang pertanian akan meneliti hasil dari suatu varietas padi di Indonesia. Akan diteliti 5 tanah pertanian tersebar di seluruh Indonesia yang dapat ditanami padi tersebut. Sampel untuk masalah ini adalah hasil padi yang diperoleh dari 5 tanah pertanian yang terpilih. Sampel ini akan merupakan sampel random jika, setiap tanah pertanian di Indonesia mempunyai peluang yang sama untuk terpilih ; dan pemilihan satu tanah pertanian tidak mempengaruhi atau dipengaruhi pemilihan tanah yang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan mendaftar terlebih dahulu semua tanah pertanian di Indonesia dan diberi nomor identitas, kemudian dipilih 5 tanah pertanian secara random berdasarkan nomor identitas (misalnya dengan tabel bilangan random). MMS1001 p.112/228
192 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. MMS1001 p.113/228
193 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. Berdasarkan Sifat 1, distribusi sampling untuk mean ( X) mempunyai mean (E( X), harga harapan): µ X = µ = 41, 4 dan variansi (Var( X)): σ X = σ 2 /n = 84, 64/40 = 2, 116. MMS1001 p.113/228
194 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. Berdasarkan Sifat 1, distribusi sampling untuk mean ( X) mempunyai mean (E( X), harga harapan): µ X = µ = 41, 4 dan variansi (Var( X)): σ X = σ 2 /n = 84, 64/40 = 2, 116. Ukuran sampel n = 40 cukup besar untuk berlakunya Sifat 3, MMS1001 p.113/228
195 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. Berdasarkan Sifat 1, distribusi sampling untuk mean ( X) mempunyai mean (E( X), harga harapan): µ X = µ = 41, 4 dan variansi (Var( X)): σ X = σ 2 /n = 84, 64/40 = 2, 116. Ukuran sampel n = 40 cukup besar untuk berlakunya Sifat 3, X N(µ; σ 2 /n) Z N(0, 1) MMS1001 p.113/228
196 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. Berdasarkan Sifat 1, distribusi sampling untuk mean ( X) mempunyai mean (E( X), harga harapan): µ X = µ = 41, 4 dan variansi (Var( X)): σ X = σ 2 /n = 84, 64/40 = 2, 116. Ukuran sampel n = 40 cukup besar untuk berlakunya Sifat 3, , 97 2, 48 X N(41,4; 2, 116) Z N(0, 1) MMS1001 p.113/228
197 Distribusi Sampling Statistik Contoh 2: Suatu sampel random berukuran 40 diambil dari suatu populasi dengan mean 41,4 dan variansi 84,64. Hitung peluang bahwa mean sampel itu terletak antara 40 dan 45. Anggap ukuran populasinya sangat besar relatif terhadap ukuran sampel. Berdasarkan Sifat 1, distribusi sampling untuk mean ( X) mempunyai mean (E( X), harga harapan): µ X = µ = 41, 4 dan variansi (Var( X)): σ X = σ 2 /n = 84, 64/40 = 2, 116. Ukuran sampel n = 40 cukup besar untuk berlakunya Sifat 3, 0, , 97 2, 48 X N(41,4; 2, 116) Z N(0, 1) MMS1001 p.113/228
198 Distribusi Sampling Statistik Contoh 3: Diketahui suatu populasi dengan mean 82 dan deviasi standar 12. a. Jika suatu sampel random berukuran 64 diambil, berapa peluang bahwa mean sampel akan terletak antara 80,8 dan 83,2? MMS1001 p.114/228
199 Distribusi Sampling Statistik Contoh 3: Diketahui suatu populasi dengan mean 82 dan deviasi standar 12. a. Jika suatu sampel random berukuran 64 diambil, berapa peluang bahwa mean sampel akan terletak antara 80,8 dan 83,2? Karena n = 64 cukup besar, dapat digunakan Teorema limit pusat (sifat 3). Distribusi X akan mendekati normal dengan mean µ X = 82 dan deviasi standar σ X = 12/ 64 = 1, 5 P(80, 8 X 83, 2) dapat dihitung melalui Z = X 82 1,5 P(80, 8 X 80, , 2) = P( Z 1, 5 = P( 0, 8 Z 0, 8) 83, 2 82 ) 1, 5 = 0, 5762 MMS1001 p.115/228
200 Distribusi Sampling Statistik Contoh 3: Diketahui suatu populasi dengan mean 82 dan deviasi standar 12. b. Berapa probabilitasnya jika ukuran sampel random 100? MMS1001 p.116/228
201 Distribusi Sampling Statistik Contoh 3: Diketahui suatu populasi dengan mean 82 dan deviasi standar 12. b. Berapa probabilitasnya jika ukuran sampel random 100? Untuk n = 100, σ X = 12/ 100 = 1, 2 P(80, 8 X 80, , 2) = P( Z 1, 2 = P( 1, 0 Z 1, 0) 83, 2 82 ) 1, 2 = 0, 6826 MMS1001 p.117/228
202 Pendekatan Normal untuk Binomial Teorema Bila X adalah variabel random binomial dengan mean µ = np dan variansi σ 2 = npq, maka untuk n besar Z = X np npq merupakan variabel random normal standar. MMS1001 p.118/228
203 Pendekatan Normal untuk Binomial Binomial(n = 10, p = 0,5) Normal MMS1001 p.119/228
204 Pendekatan Normal untuk Binomial Binomial(n = 10, p = 0,5) Normal MMS1001 p.120/228
205 Pendekatan Normal untuk Binomial Binomial(n = 100, p = 0,5) Normal MMS1001 p.121/228
206 Pendekatan Normal untuk Binomial Binomial(n = 100, p = 0,5) Normal MMS1001 p.122/228
207 Inferensi Statistik Permasalahan dalam peluang MMS1001 p.123/228
208 Inferensi Statistik Permasalahan dalam peluang MMS1001 p.123/228
209 Inferensi Statistik Permasalahan dalam peluang Berapa peluang mendapatkan satu bola hitam dalam satu pengambilan? MMS1001 p.123/228
210 Inferensi Statistik Permasalahan dalam inferensi MMS1001 p.124/228
211 Inferensi Statistik Permasalahan dalam inferensi MMS1001 p.124/228
212 Inferensi Statistik Permasalahan dalam inferensi? Bagaimana karakteristik populasi berdasarkan sampel MMS1001 p.124/228
213 Inferensi Statistik Inferensi statistik: pengambilan kesimpulan tentang parameter populasi berdasarkan analisis pada sampel Konsep-konsep inferensi statistik: estimasi titik, estimasi interval dan uji hipotesis Estimasi parameter: Menduga nilai parameter populasi berdasarkan data/statistik. Estimasi titik: Menduga nilai tunggal parameter populasi. Misalnya parameter µ diduga dengan statistik X Estimasi interval: Menduga nilai parameter populasi dalam bentuk interval. Misalnya diduga dengan suatu interval A µ B MMS1001 p.125/228
214 Inferensi Statistik Contoh: estimator titik untuk mean µ rata-rata Median X = 1 n rata-rata dua harga ekstrim n i=1 X i X min + X maks 2 MMS1001 p.126/228
215 Inferensi Statistik Contoh: Estimasi Interval Diketahui variabel random Normal X dengan mean E(X) = µ dan Var(X) = 1. Maka (X µ) akan berdistribusi Normal standar. Z N(0,1) MMS1001 p.127/228
216 Inferensi Statistik Contoh: Estimasi Interval Diketahui variabel random Normal X dengan mean E(X) = µ dan Var(X) = 1. Maka (X µ) akan berdistribusi Normal standar. 68% X 0, 99 X + 0, 99 Interval Konfidensi (estimasi interval) 68% Z N(0,1) MMS1001 p.127/228
217 Inferensi Statistik Contoh: Estimasi Interval Diketahui variabel random Normal X dengan mean E(X) = µ dan Var(X) = 1. Maka (X µ) akan berdistribusi Normal standar. 95% X 1, 96 Interval Konfidensi (estimasi interval) 95% X + 1, 96 Z N(0,1) MMS1001 p.127/228
218 Inferensi Statistik Contoh: Estimasi Interval Diketahui variabel random Normal X dengan mean E(X) = µ dan Var(X) = 1. Maka (X µ) akan berdistribusi Normal standar. 99% X 2, 58 Interval Konfidensi (estimasi interval) 99% Z N(0,1) X + 2, 58 MMS1001 p.127/228
219 Inferensi Statistik Uji hipotesis: suatu proses untuk menentukan apakah dugaan tentang nilai parameter/karakteristik populasi didukung kuat oleh data sampel atau tidak Hipotesis penelitian: hipotesis tentang pernyataan dari hasil penelitian yang akan dilakukan Hipotesis Statistik: suatu pernyataan tentang parameter populasi MMS1001 p.128/228
220 Inferensi Statistik Hipotesis nol (H 0 ). Hipotesis yang akan diuji oleh suatu prosedur statistik, biasanya berupa suatu pernyataan tidak adanya perbedaan atau tidak adanya hubungan. Pernyataan nol dapat diartikan bahwa pernyataan tetang parameter tidak didukung secara kuat oleh data. Hipotesis alternatif (H 1 ). Hipotesis yang merupakan lawan dari H 0, biasanya berupa pernyataan tentang adanya perbedaan atau adanya hubungan. H 1 digunakan untuk menunjukkan bahwa pernyataan mendapat dukungan kuat dari data. Logika Uji Hipotesis. Tidak dapat dibuktikan bahwa suatu hipotesis itu benar, tapi dapat dibuktikan bahwa suatu hipotesis itu salah. MMS1001 p.129/228
221 Inferensi Statistik Tipe Kesalahan dalam Uji Hipotesis Keputusan Uji Kenyataan H 0 benar H 0 salah H 0 tidak ditolak benar salah (Tipe II) H 0 ditolak salah (Tipe I) benar MMS1001 p.130/228
222 Inferensi Statistik Tipe Kesalahan dalam Uji Hipotesis Keputusan Uji Kenyataan H 0 benar H 0 salah H 0 tidak ditolak benar salah (Tipe II) H 0 ditolak salah (Tipe I) benar Peluang melakukan kesalahan tipe I P(menolak H 0 yang benar) = α MMS1001 p.130/228
223 Inferensi Statistik Tipe Kesalahan dalam Uji Hipotesis Keputusan Uji Kenyataan H 0 benar H 0 salah H 0 tidak ditolak benar salah (Tipe II) H 0 ditolak salah (Tipe I) benar Peluang melakukan kesalahan tipe I P(menolak H 0 yang benar) = α Peluang melakukan kesalahan tipe II P(tidak menolak H 0 yang salah) = β MMS1001 p.130/228
224 Inferensi Statistik Contoh (Hipotesis statistik dan statistik penguji) Ingin diuji secara statistik pernyataan : suatu obat baru lebih baik dari obat yang selama ini digunakan. Misalkan p adalah proporsi (prosentase) orang yang sembuh setelah minum obat tersebut, dan obat dikatakan baik jika proporsi orang yang sembuh lebih dari 60 %. Pernyataan H 0 dan H 1 adalah sebagai berikut : H 0 : H 1 : p 0,6 (obat baru tidak lebih baik) p > 0,6 (obat baru lebih baik) MMS1001 p.131/228
225 Inferensi Statistik Contoh (Hipotesis statistik dan statistik penguji) Ingin diuji secara statistik pernyataan : suatu obat baru lebih baik dari obat yang selama ini digunakan. H 0 : H 1 : p 0,6 (obat baru tidak lebih baik) p > 0,6 (obat baru lebih baik) Dilakukan eksperimen terhadap 20 pasien. X : banyak pasien yang sembuh X Binomial(n = 20, p = 0,6) MMS1001 p.132/228
226 Inferensi Statistik Contoh (Hipotesis statistik dan statistik penguji) Ingin diuji secara statistik pernyataan : suatu obat baru lebih baik dari obat yang selama ini digunakan. H 0 : H 1 : p 0,6 (obat baru tidak lebih baik) p > 0,6 (obat baru lebih baik) Dilakukan eksperimen terhadap 20 pasien. X : banyak pasien yang sembuh X Binomial(n = 20, p = 0,6) X besar (banyak yang sembuh) menolak H 0, X kecil (banyak yang tidak sembuh) mendukung H 0 MMS1001 p.133/228
227 Inferensi Statistik Daerah penolakan (Daerah kritik): himpunan (daerah) harga-harga dimana H0 ditolak Statistik Penguji: statistik atau variabel random yang digunakan untuk menentukan apakah H 0 ditolak atau tidak ditolak. Bila statistik penguji masuk dalam daerah penolakan maka H 0 ditolak, sebaliknya jika tidak maka H 0 tidak ditolak. MMS1001 p.134/228
228 Inferensi Statistik Daerah penolakan (Daerah kritik): himpunan (daerah) harga-harga dimana H0 ditolak Statistik Penguji: statistik atau variabel random yang digunakan untuk menentukan apakah H 0 ditolak atau tidak ditolak. Bila statistik penguji masuk dalam daerah penolakan maka H 0 ditolak, sebaliknya jika tidak maka H 0 tidak ditolak. Contoh (lanjutan): Daerah penolakan: MMS1001 p.135/228
229 Inferensi Statistik Daerah penolakan (Daerah kritik): himpunan (daerah) harga-harga dimana H0 ditolak Statistik Penguji: statistik atau variabel random yang digunakan untuk menentukan apakah H 0 ditolak atau tidak ditolak. Bila statistik penguji masuk dalam daerah penolakan maka H 0 ditolak, sebaliknya jika tidak maka H 0 tidak ditolak. Contoh (lanjutan): Daerah penolakan: X 12 daerah penolakan MMS1001 p.135/228
230 Inferensi Statistik Daerah penolakan (Daerah kritik): himpunan (daerah) harga-harga dimana H0 ditolak Statistik Penguji: statistik atau variabel random yang digunakan untuk menentukan apakah H 0 ditolak atau tidak ditolak. Bila statistik penguji masuk dalam daerah penolakan maka H 0 ditolak, sebaliknya jika tidak maka H 0 tidak ditolak. Contoh (lanjutan): Daerah penolakan: X 15 daerah penolakan MMS1001 p.135/228
231 Inferensi Statistik P(Tipe I) = α untuk beberapa nilai p dengan menganggap H 0 benar (p 0,6) dan daerah penolakan X 12 p di bawah H 0 P(Tipe I) = α 0,2 0,3 0,4 0,6 P(X 12) 0,00 0,005 0,057 0,596 MMS1001 p.136/228
232 Inferensi Statistik Harga peluang untuk p = 0, 6 untuk beberapa kriteria penolakan X 12 X 14 X 16 X 18 Peluang 0,596 0,25 0,051 0,004 p-value: nilai α yang terkecil. MMS1001 p.137/228
233 Inferensi Statistik Tahap-tahap Uji Hipotesis Secara umum 1. Tentukan model probabilitas yang cocok dari data 2. Tentukan Hipotesis H 0 dan H 1 3. Tentukan Statistik Penguji, yang harus merupakan fungsi dari data dan tidak memuat parameter yang tidak diketahui 4. Tentukan tingkat signifikansi 5. Tentukan daerah kritik berdasarkan tingkat signifikansi 6. Hitung Statistik Penguji, apakah masuk daerah kritik atau tidak 7. Alternatif: Hitung p-value berdasarkan statistik penguji 8. Ambil kesimpulan berdasarkan 6 atau 7 MMS1001 p.138/228
234 Inferensi Statistik Satu Populasi Dua Populasi Populasi sembarang Populasi Normal Populasi sembarang Populasi Normal µ p µ σ 2 µ 2 1, µ 2 2 p 2 1, p 2 2 µ 2 1, µ 2 2 σ1, 2 σ2 2 k > 2 Populasi Analisis Variansi (ANAVA) MMS1001 p.139/228
235 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi Teorema Limit Pusat Apabila sampel-sampel random diambil dari suatu populasi yang berdistribusi sembarang, yang mempunyai mean µ dan variansi σ 2, maka untuk n besar, distribusi sampling untuk mean dapat dianggap mendekati Normal dengan µ X = µ dan variansi σ 2 X = σ 2 /n, sehingga mendekati Normal Standar. Z = X µ σ/ n MMS1001 p.140/228
236 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi µ X N(µ, σ 2 / n) MMS1001 p.141/228
237 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi 1 α µ X N(µ, σ 2 / n) MMS1001 p.141/228
238 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi 1 α µ X N(µ, σ 2 / n) Z N(0,1) MMS1001 p.141/228
239 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi α/2 α/2 1 α µ Z α/2 Z α/2 X N(µ, σ 2 / n) Z N(0,1) P( Z α/2 Z Z α/2 ) 1 α MMS1001 p.141/228
240 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi α/2 α/2 1 α µ Z α/2 Z α/2 X N(µ, σ 2 / n) Z N(0,1) P( Z α/2 Z Z α/2 ) 1 α P( Z α/2 X µ σ/ n Z α/2) 1 α MMS1001 p.141/228
241 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi α/2 α/2 1 α µ Z α/2 Z α/2 X N(µ, σ 2 / n) Z N(0,1) P( Z α/2 Z Z α/2 ) 1 α P( Z α/2 X µ σ/ n Z α/2) 1 α P( X Z α/2 σ n µ X + Z α/2 σ n ) 1 α MMS1001 p.141/228
242 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval mean (µ) suatu populasi α/2 α/2 1 α µ Z α/2 Z α/2 X N(µ, σ 2 / n) Z N(0, 1) Interval Konfidensi (1 α)100% untuk mean µ B µ A B = X Z α/2 σ n A = X + Z α/2 σ n MMS1001 p.142/228
243 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Contoh: Suatu sampel random dengan 150 keluarga di suatu kota menunjukkan penghasilan bulanan rata-rata Rp ,00 dengan deviasi standar Rp ,00. Hitung interval konfidensi 95% untuk rata-rata penghasilan bulanan seluruh keluarga di kota tersebut. MMS1001 p.143/228
244 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Contoh: Suatu sampel random dengan 150 keluarga di suatu kota menunjukkan penghasilan bulanan rata-rata Rp ,00 dengan deviasi standar Rp ,00. Hitung interval konfidensi 95% untuk rata-rata penghasilan bulanan seluruh keluarga di kota tersebut. Jawab: X : penghasilan bulanan di kota tersebut X = ; s = ; n = 150. Interval konfidensi 95% untuk rata-rata penghasilan bulanan (µ): B = X σ Z α/2 n = , = A = X + Z α/2 σ n = , = Interval konfidensi 95%: µ σ dapat diganti s MMS1001 p.144/228
245 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Uji Hipotesis Mean (µ) Populasi 1. Hipotesis A. H 0 : µ = µ 0 vs. H 1 : µ µ 0 B. H 0 : µ µ 0 vs. H 1 : µ > µ 0 C. H 0 : µ µ 0 vs. H 1 : µ < µ 0 2. Tingkat signifikansi α 3. Statistik Penguji Z = X µ 0 σ/ n atau Z = X µ 0 s/ n jika σ tidak diketahui diganti s. Distribusi dari Z adalah Normal Standar. MMS1001 p.145/228
246 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Uji Hipotesis Mean (µ) Populasi 4. Daerah penolakan (berdasarkan α dan Hipotesis) A. H 0 ditolak apabila Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 B. H 0 ditolak apabila Z > Z α C. H 0 ditolak apabila Z < Z α MMS1001 p.146/228
247 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Contoh: Ujian standar intelegensia telah diadakan beberapa tahun dengan nilai rata-rata 70 dengan deviasi standar 8. Sekelompok mahasiswa terdiri dari 100 orang mahasiswa, diberi pelajaran dengan mengutamakan bidang Matematika. Apabila dari 100 mahasiswa ini diperoleh hasil ujian dengan nilai rata-rata 75, apakah cukup alasan untuk mempecayai bahwa pengutamaan bidang Matematika menaikkan hasil ujian standar? MMS1001 p.147/228
248 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval proporsi (p) suatu populasi Jika X Binomial(n, p), maka variabel random x n mempunyai mean p dan variansi p(1 p) n Untuk n besar Z = x n p x n (1 x n ) n mendekati Normal Standar (Teorema Limit Pusat) MMS1001 p.148/228
249 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Estimasi interval proporsi (p) suatu populasi Interval Konfidensi (1 α)100% untuk p B p A B = ˆp Z α/2 A = ˆp + Z α/2 dengan ˆp = x n ˆp(1 ˆp) n ˆp(1 ˆp) n MMS1001 p.149/228
250 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Contoh: Jika 610 dari 900 sampel random petani di suatu daerah adalah buruh tani, hitunglah interval konfidensi 90% untuk proporsi buruh tani di daerah itu. MMS1001 p.150/228
251 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Uji Hipotesis proporsi (p) Populasi 1. Hipotesis A. H 0 : p = p 0 vs. H 1 : p p 0 B. H 0 : p p 0 vs. H 1 : p > p 0 C. H 0 : p p 0 vs. H 1 : p < p 0 2. Tingkat signifikansi α 3. Statistik Penguji Z = ˆp p 0 p 0 (1 p 0 ) n Distribusi dari Z adalah Normal Standar. MMS1001 p.151/228
252 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Uji Hipotesis proporsi (p) Populasi 4. Daerah penolakan (berdasarkan α dan Hipotesis) A. H 0 ditolak apabila Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 B. H 0 ditolak apabila Z > Z α C. H 0 ditolak apabila Z < Z α MMS1001 p.152/228
253 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Hubungan antara Interval Konfidensi dan Uji Hipotesis Interval Konfidensi (1 α)100% untuk mean µ X Z α/2 σ n µ X + Z α/2 σ n Daerah penolakan dengan tingkat signifikansi α untuk uji hipotesis H 0 : µ = µ 0 vs. H 1 : µ µ 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Daerah penerimaan Z α/2 Z Z α/2 MMS1001 p.153/228
254 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Hubungan antara Interval Konfidensi dan Uji Hipotesis Interval Konfidensi (1 α)100% untuk mean µ X Z α/2 σ n µ X + Z α/2 σ n Daerah penolakan dengan tingkat signifikansi α untuk uji hipotesis H 0 : µ = µ 0 vs. H 1 : µ µ 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Daerah penerimaan Z α/2 X µ 0 σ/ n Z α/2 MMS1001 p.154/228
255 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Hubungan antara Interval Konfidensi dan Uji Hipotesis Interval Konfidensi (1 α)100% untuk mean µ X Z α/2 σ n µ X + Z α/2 σ n Daerah penolakan dengan tingkat signifikansi α untuk uji hipotesis H 0 : µ = µ 0 vs. H 1 : µ µ 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Daerah penerimaan X Z α/2 σ n µ 0 X + Z α/2 σ n MMS1001 p.155/228
256 Inferensi Statistik Satu Populasi Sembarang Ringkasan Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik µ mean Z = X µ 0 σ/ n Z N(0, 1) B µ A B = X Z α/2 σ n A = X + Z α/2 σ n H 1 : µ µ 0 H 1 : µ > µ 0 H 1 : µ < µ 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Z > Z α Z < Z α p proporsi Z = Z N(0, 1) ˆp p 0 p0 (1 p 0 ) n B p A B = ˆp Z α/2 ˆp(1 ˆp) n A = ˆp + Z α/2 ˆp(1 ˆp) n H 1 : p p 0 H 1 : p > p 0 H 1 : p < p 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Z > Z α Z < Z α MMS1001 p.156/228
257 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Data dianggap berdistribusi Normal Ukuran sampel tidak harus besar Jenis parameter: mean µ variansi σ 2 Distribusi Sampling Normal t Chi-kuadrat (Chi-square) MMS1001 p.157/228
258 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Normal Standar Jika X 1,..., X n adalah sampel random berasal dari populasi Normal dengan mean µ dan variansi σ 2 maka variabel random Z = X µ σ/ n berdistribusi Normal Standar N(0, 1) MMS1001 p.158/228
259 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Distribusi t Jika X 1,..., X n adalah sampel random berasal dari populasi Normal dengan mean µ dan variansi σ 2 maka variabel random t = X µ s/ n berdistribusi t dengan derajad bebas n 1. Untuk n yang semakin besar, distribusi t akan mendekati distribusi Normal. MMS1001 p.159/228
260 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Distribusi Chi-kuadrat 2k Diketahui X 1,..., X k adalah variabel random yang berdistribusi Normal yang independen satu dengan yang lain. Distribusi variabel random χ 2 = X X 2 k berdistribusi Chi-kuadrat berderajad bebas k dengan mean E(χ 2 ) = k dan variansi Var(χ 2 ) = 2k MMS1001 p.160/228
261 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Distribusi Chi-kuadrat n 1 Diketahui X 1,..., X n adalah variabel random yang berdistribusi Normal dengan mean µ dan variansi σ 2 maka variabel random χ 2 = (n 1)s2 σ 2 berdistribusi Chi-kuadrat dengan derajad bebas n 1 MMS1001 p.161/228
262 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Distribusi Normal Standar Apabila sampel random berukuran n diambil dari suatu populasi yang berdistribusi Normal dengan mean µ dan variansi σ 2, maka variabel random Z = s2 σ 2 σ 2 2 n 1 berdistribusi N(0, 1) untuk n besar. MMS1001 p.162/228
263 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik µ mean Bila σ 2 diketahui Z = X µ 0 σ/ n B µ A B = X Z α/2 σ n A = X + Z α/2 σ n H 1 : µ µ 0 H 1 : µ > µ 0 H 1 : µ < µ 0 Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Z > Z α Z < Z α Z N(0, 1) Bila σ 2 tidak diketahui t = X µ 0 s/ n B µ A B = X t (n 1,α/2) s n A = X +t (n 1,α/2) s n H 1 : µ µ 0 H 1 : µ > µ 0 H 1 : µ < µ 0 t > t (n 1,α/2) atau t < t (n 1,α/2) t > t (n 1,α) t < t (n 1,α) t distribusi t dgn. derajad bebas n 1 MMS1001 p.163/228
264 Inferensi Statistik Satu Populasi Normal Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% σ 2 variansi χ 2 = (n 1)s2 σ 2 χ 2 chi-square dgn. derajad bebas k = n 1 Untuk n besar, Z = s2 σ 2 σ 2 2 n 1 B σ 2 A B = A = (n 1)s2 χ 2 (n 1,α/2) (n 1)s2 χ 2 (n 1,1 α/2) B σ 2 A B = A = s 2 1+Z 2 α/2 n 1 s 2 1 Z 2 α/2 n 1 Hipotesis alternatif H 1 : σ 2 σ 2 0 H 1 : σ 2 > σ 2 0 H 1 : σ 2 < σ 2 0 H 1 : σ 2 σ 2 0 H 1 : σ 2 > σ 2 0 H 1 : σ 2 < σ 2 0 Daerah Kritik χ 2 > χ 2 (k,α/2) atau χ 2 < χ 2 (k,1 α/2) χ 2 > χ 2 (k,α) χ 2 < χ 2 (k,1 α) Z > Z α/2 atau Z < Z α/2 Z > Z α Z < Z α Z N(0, 1) MMS1001 p.164/228
265 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Distribusi sampling selisih dua mean Misalkan X 11, X 12,..., X 1n1 dan X 21, X 22,..., X 2n2 adalah dua sampel random independen satu sama lain yang diambil dari populasi yang mempunyai mean µ 1 dan µ 2 serta variansi σ 2 1 dan σ 2 2, maka untuk n 1 dan n 2 besar, variabel random Z = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 berdistribusi Normal Standar, dengan X 1 = n 1 i=1 X 1i n 1 X2 = n 2 i=1 X 2i n 2 MMS1001 p.165/228
266 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Distribusi sampling selisih dua mean Jika σ 2 1 dan σ2 2 tidak diketahui, dan diasumsikan σ2 1 σ2 2 Z = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 berdistribusi Normal Standar dengan s 2 1 dan s2 2 sampel adalah variansi MMS1001 p.166/228
267 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Distribusi sampling selisih dua mean Jika σ 2 1 dan σ2 2 tidak diketahui, dan diasumsikan σ2 1 = σ2 2 Z = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 p( 1 n n 2 ) berdistribusi Normal Standar dengan s 2 p = (n 1 1)S (n 2 1)S 2 2 n 1 + n 2 2 yang disebut sebagai pooled variance MMS1001 p.167/228
268 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Distribusi sampling selisih dua proporsi Misalkan X 11, X 12,..., X 1n1 dan X 21, X 22,..., X 2n2 adalah dua sampel random independen satu sama lain yang diambil dari populasi yang berdistribusi binomial. Untuk n 1 dan n 2 besar, variabel random Z = (X 1 n 1 X 2 berdistribusi Normal Standar. n 2 ) (p 1 p 2 ) X 1 n 1 (1 X 1 n 1 ) n 1 + X 2 n 2 (1 X 2 n 2 ) n 2 MMS1001 p.168/228
269 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik µ 1 µ 2 selisih dua mean σ 2 1 dan σ2 2 diketahui Z= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) σ σ2 2 n 1 n 2 Z N(0,1) B µ 1 µ 2 A B=( X 1 X 2 ) Z α 2 σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 A=( X 1 X 2 )+ H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 Z>Z α/2 atau Z< Z α/2 Z>Z α Z< Z α Z α 2 σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 σ 2 1 dan σ2 2 tdk diketahui, B µ 1 µ 2 A H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 Z>Z α/2 atau σ 2 1 σ2 2 Z= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s s2 2 n 1 n 2 Z N(0,1) B=( X 1 X 2 ) s 2 Z α 1 + s2 2 2 n 1 n 2 A=( X 1 X 2 )+ Z α 2 s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 Z< Z α/2 Z>Z α Z< Z α MMS1001 p.169/228
270 Inferensi Statistik Dua Populasi Sembarang Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik σ 2 1 dan σ2 2 tdk diketahui, B µ 1 µ 2 A H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 Z>Z α 2 atau σ 2 1 = σ2 2 B=( X 1 X 2 ) Z< Z α 2 Z= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 p ( n ) 1 n 2 Z N(0,1) Z α 2 S 2 p ( 1 n n 2 ) A=( X 1 X 2 )+ Z α 2 S 2 p ( 1 n n 2 ) H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 Z>Z α Z< Z α s 2 p = (n 1 1)S2 1 +(n 2 1)S2 2 n 1 +n 2 2 p 1 p 2 Selisih dua proporsi Z= (ˆp 1 ˆp 2 ) (p 1 p 2 ) p1 ˆ (1 pˆ 1 ) + pˆ 2 (1 pˆ 2 ) n 1 n 2 Z N(0,1) ˆp 1 = X 1 n 1 ; ˆp 2 = X 2 n 2 B p 1 p 2 A B=(ˆp 1 ˆp 2 ) pˆ Z α 1 (1 ˆ 2 A=(ˆp 1 ˆp 2 )+ ˆ Z α 2 p 1 ) + pˆ 2 (1 pˆ 2 ) n 1 n 2 p 1 (1 pˆ 1 ) + pˆ 2 (1 pˆ 2 ) n 1 n 2 H 1 :p 1 p 2 p 0 H 1 :p 1 p 2 >p 0 H 1 :p 1 p 2 <p 0 Z>Z α atau 2 Z< Z α 2 Z>Z α Z< Z α MMS1001 p.170/228
271 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Distribusi sampling selisih dua mean Misalkan X 11, X 12,..., X 1n1 dan X 21, X 22,..., X 2n2 adalah dua sampel random independen satu sama lain yang berdistribusi Normal dengan mean µ 1 dan µ 2 serta variansi σ 2 1 dan σ2 2, maka variabel random Z = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 berdistribusi Normal Standar, dengan X 1 = n 1 i=1 X 1i n 1 X2 = n 2 i=1 X 2i n 2 MMS1001 p.171/228
272 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Distribusi sampling selisih dua mean Jika σ 2 1 dan σ2 2 tidak diketahui, dan diasumsikan σ2 1 σ2 2 t = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 berdistribusi t dengan derajad bebas k = (s2 1 /n 1 + s 2 2 /n 2) 2 (s 2 1/n 1 ) 2 n (s2 2/n 2 ) 2 n , atau k = (s2 1 /n 1 + s 2 2 /n 2) 2 (s 2 1/n 1 ) 2 n (s2 2/n 2 ) 2 n 2 1 dengan s 2 1 dan s2 2 adalah variansi sampel MMS1001 p.172/228
273 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Distribusi sampling selisih dua mean Jika σ 2 1 dan σ2 2 tidak diketahui, dan diasumsikan σ2 1 = σ2 2 t = ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 p( 1 n n 2 ) berdistribusi t dengan derajad bebas n 1 + n 2 2 dan s 2 p = (n 1 1)S (n 2 1)S 2 2 n 1 + n 2 2 yang disebut sebagai pooled variance MMS1001 p.173/228
274 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Distribusi sampling Perbandingan dua variansi Misalkan X 11, X 12,..., X 1n1 dan X 21, X 22,..., X 2n2 adalah dua sampel random independen satu sama lain yang berdistribusi Normal dengan mean µ 1 dan µ 2 serta variansi σ 2 1 dan σ2 2, maka variabel random F = s2 1 /σ2 1 s 2 2 /σ2 2 berdistribusi F dengan derajad bebas pembilang n 1 1, derajad bebas penyebut n 2 1 MMS1001 p.174/228
275 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik µ 1 µ 2 Selisih dua mean σ 2 1 dan σ2 2 diketahui Z= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) σ σ2 2 n 1 n 2 Z N(0,1) B µ 1 µ 2 A B=( X 1 X 2 ) Z α 2 σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 A=( X 1 X 2 )+Z α 2 σ 2 1 n 1 + σ2 2 n 2 H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 Z>Z α atau 2 Z< Z α 2 Z>Z α Z< Z α σ1 2 dan σ2 2 tdk diketahui dan σ1 2 σ2 2 t= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 B µ 1 µ 2 A B=( X 1 X 2 ) t α,k 2 A=( X 1 X 2 )+t α 2,k s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 s 2 1 n 1 + s2 2 n 2 H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 t>t α 2,k atau t< t α,k 2 t>t α,k t< t α,k t t k dgn k= (s2 1 /n 1 +s2 2 /n 2 )2 (s 2 1 /n 1 )2 + (s2 2 /n 2 )2 n 1 +1 n 2 +1 atau k= (s2 1 /n 1 +s2 2 /n 2 )2 (s 2 1 /n 1 )2 + (s2 2 /n 2 )2 n 1 1 n MMS1001 p.175/228
276 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik σ 2 1 dan σ2 2 tdk diketahui B µ 1 µ 2 A H 1 :µ 1 µ 2 µ 0 t>t α 2,k atau dan σ 2 1 = σ2 2 t= ( X 1 X 2 ) (µ 1 µ 2 ) Sp 2( n ) 1 n 2 t t k dgn. k=n 1 +n 2 2 B=( X 1 X 2 ) t α,k Sp 2( n 1 ) 1 n 2 A=( X 1 X 2 )+ t α,k Sp 2( n 1 ) 1 n 2 H 1 :µ 1 µ 2 >µ 0 H 1 :µ 1 µ 2 <µ 0 t< t α,k 2 t>t α,k t< t α,k S 2 p = (n 1 1)S2 1 +(n 2 1)S2 2 n 1 +n 2 2 σ 2 1 / σ2 2 Perbandingan dua variansi dengan F = s 2 1 /s2 2 F F α 2,k 1,k 2 k 1 = n 1 1, k 2 = n 2 1 B σ 2 1 /σ2 2 A B = s2 1 /s2 2 F (k1,k 2, α 2 ) A = s2 1 s 2 2 F (k1,k 2, α 2 ) catatan: F(1 α 2,k 1,k 2 )= H 1 :σ 1 σ 2 H 1 :σ 1 >σ 2 H 1 :σ 1 <σ 2 F>F α 2,k 1,k 2 atau F<1/F α,k 2 2,k 1 F>F α,k1,k 2 F<1/F α,k2,k 1 1/F( α 2,k 2,k 1 ) MMS1001 p.176/228
277 Inferensi Statistik Dua Populasi Normal Parameter Statistik Interval Konfidensi (1-α)100% Hipotesis alternatif Daerah Kritik µ d mean selisih data berpasangan t = D µ D s D / n dengan t distribusi t dgn derajad bebas k = n 1 B µ A B = X t (n 1,α/2) s n A = X + t (n 1,α/2) s n H 1 :µ D µ 0 H 1 :µ D >µ 0 H 1 :µ D <µ 0 t>t (n 1,α/2) atau t< t (n 1,α/2) t>t (n 1,α) t< t (n 1,α) MMS1001 p.177/228
278 Analisis Variansi Satu Arah Perluasan dari uji mean dua populasi Normal (data berasal dari populasi Normal) Ada k mean populasi yang dibandingkan Berdasarkan pada pemecahan variansi MMS1001 p.178/228
279 Analisis Variansi Satu Arah Inferensi mean populasi Normal Uji mean satu populasi H 0 : µ = µ 0 µ MMS1001 p.179/228
280 Analisis Variansi Satu Arah Inferensi mean populasi Normal Uji mean satu populasi H 0 : µ = µ 0 Uji mean dua populasi H 0 : µ 1 = µ 2 µ 1 µ 2 MMS1001 p.179/228
281 Analisis Variansi Satu Arah Inferensi mean populasi Normal Uji mean satu populasi H 0 : µ = µ 0 Uji mean dua populasi H 0 : µ 1 = µ 2 µ 1 µ 2 µ 3 Uji mean k populasi H 0 : µ 1 = µ 2 = µ 3 MMS1001 p.179/228
282 Analisis Variansi Satu Arah Uji Hipotesis H 0 : µ 1 = µ 2 =... = µ k H 1 : minimal ada dua mean yang tidak sama Statistik Penguji F = MST MSE dimana F F (k 1,n k) MST: mean square treatment (kuadrat rata-rata perlakuan) MSE: mean square error (kuadrat rata-rata sesatan) yang diperoleh dari Tabel Anava (Analisis Variansi) Daerah Kritis H 0 ditolak jika F > F (k 1,n k) MMS1001 p.180/228
283 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Perlakuan k 1 SST = k i=1 n i( X i X) 2 MST = SST k 1 Sesatan N k SSE = k i=1 (n i 1)S 2 i MSE = SSE N k F = MST MSE X i = 1 n i ni j=1 x ij S 2 i = 1 n i 1 ni j=1 (X ij X i ) 2 X = 1 N k i=1 ni j=1 x ij, N = n i MMS1001 p.181/228
284 Analisis Variansi Satu Arah Contoh: Dipunyai empat varitas padi yang akan kita uji produktivitasnya. Dua puluh empat petak tanah yang kira-kira mempunyai kesuburan yang sama dipilih. Kemudian 24 petak itu dibagi secara random menjadi empat kelompok, masing-masing 6 petak yang selanjutnya tiap kelompok ditanami satu varitas padi. Apakah rata-rata produktivitas 4 varitas padi tersebut sama? varitas A B C D MMS1001 p.182/228
285 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D MMS1001 p.183/228
286 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 MMS1001 p.183/228
287 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 X = 1 N k i=1 ni j=1 x ij = = 21, 38 MMS1001 p.183/228
288 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 X = 1 k ni N i=1 j=1 x ij = = 21, 38 SST = k i=1 n i( X i X) 2 = 6(19,67 21,38) 2 +6(19,00 21,38) 2 +6(18,50 21,38) 2 +6(28,33 21,38) 2 MMS1001 p.183/228
289 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 X = 1 k ni N i=1 j=1 x ij = SST = k i=1 n i( X i X) 2 = 391, 46 = 21, 38 MMS1001 p.183/228
290 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 X = 1 k ni N i=1 j=1 x ij = SST = k i=1 n i( X i X) 2 = 391, 46 SSE = k i=1 (n i 1)Si 2 = 21, 38 =(6 1)21,87+(6 1)40,40+(6 1)32,30+(6 1)12,27 MMS1001 p.183/228
291 Analisis Variansi Satu Arah varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 Si 2 21,87 40,40 32,30 12,27 X = 1 k ni N i=1 j=1 x ij = SST = k i=1 n i( X i X) 2 = 391, 46 SSE = k i=1 (n i 1)Si 2 = 534, 17 = 21, 38 MMS1001 p.183/228
292 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Perlakuan k 1 SST = k i=1 n i( X i X) 2 MST = SST k 1 Sesatan N k SSE = k i=1 (n i 1)S 2 i MSE = SSE N k F = MST MSE MMS1001 p.184/228
293 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = SST k 1 Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = SSE N k F = MST MSE MMS1001 p.184/228
294 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = 391,46 F = MST 3 MSE Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = 434,17 20 MMS1001 p.184/228
295 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = 130, 49 Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = 26, ,49 26,71 MMS1001 p.184/228
296 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = 130, 49 4, 8856 Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = 26, 71 MMS1001 p.184/228
297 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = 130, 49 4, 8856 Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = 26, 71 Statistik Penguji F = 4, 8856 Daerah Kritik (α = 0, 05) H 0 ditolak jika F > F (3,20) = 3, 10 MMS1001 p.184/228
298 Analisis Variansi Satu Arah Tabel Anava Hasil 4 Varitas Padi Sumber Variansi derajad bebas Jumlah Kuadrat (SS) Rata-rata Jumlah Kuadrat (MS) rasio F Varitas 3 SST = 391,46 MST = 130, 49 4, 8856 Sesatan 20 SSE = 534,17 MSE = 26, 71 Statistik Penguji F = 4, 8856 Daerah Kritik (α = 0, 05) H 0 ditolak jika F > F (3,20) = 3, 10 Kesimpulan F = 4, 8856 > 3, 10 H 0 ditolak, paling tidak ada dua mean yang tidak sama MMS1001 p.184/228
299 Analisis Variansi Satu Arah Pembandingan Ganda (Multiple Comparisons) Merupakan analisis lanjutan bila H 0 ditolak dalam Anava. Metode: Tukey Scheffé Bonferroni Newman - Keuls MMS1001 p.185/228
300 Analisis Variansi Satu Arah Metode Scheffé Mempunyai asumsi sama seperti Anava Menggunakan tabel F Hipotesis H 0 : µ i = µ j H 1 : µ i µ j untuk i j dan i, j = 1,2,..., k Daerah Kritik (Keputusan) H 0 ditolak, jika Xi X ( ) j > (k 1)S 2 F α,k 1,N k 1ni + 1nj (S 2 = MSE dalam Anava satu arah) MMS1001 p.186/228
301 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 MMS1001 p.187/228
302 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j µ A vs. µ B µ A vs. µ C µ A vs. µ D µ B vs. µ C µ B vs. µ D µ C vs. µ D (k 1)MSEF α,k 1,N k ( 1 n i + 1 n j ) Kesimpulan MMS1001 p.187/228
303 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j µ A vs. µ B µ A vs. µ C µ A vs. µ D µ B vs. µ C µ B vs. µ D µ C vs. µ D 3(26, 71)(3, 10) ( 1 ni + 1 n j ) Kesimpulan MMS1001 p.187/228
304 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j µ A vs. µ B 0,67 µ A vs. µ C 1,17 µ A vs. µ D 8,66 µ B vs. µ C 0,50 µ B vs. µ D 9,33 µ C vs. µ D 9,83 248, 403 ( 1 ni + 1 n j ) Kesimpulan MMS1001 p.187/228
305 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j µ A vs. µ B 0,67 µ A vs. µ C 1,17 µ A vs. µ D 8,66 µ B vs. µ C 0,50 µ B vs. µ D 9,33 µ C vs. µ D 9,83 ( ) 248, ni n j 248,403 ( ) 6 Kesimpulan MMS1001 p.187/228
306 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j 248, 403 µ A vs. µ B 0,67 9,1 µ A vs. µ C 1,17 9,1 µ A vs. µ D 8,66 9,1 µ B vs. µ C 0,50 9,1 µ B vs. µ D 9,33 9,1 µ C vs. µ D 9,83 9,1 ( 1 ni + 1 n j ) Kesimpulan MMS1001 p.187/228
307 Analisis Variansi Satu Arah Contoh Pembandingan ganda untuk varitas padi contoh di muka. Diketahui (dari hitungan di muka): varitas A B C D n i X i 19,67 19,00 18,50 28,33 MSE = 26, 71 Pembandingan ganda Scheffé: Pembandingan Xi X j 248, 403 ( 1 ni + 1 n j ) Kesimpulan µ A vs. µ B 0,67 9,1 H 0 diterima µ A vs. µ C 1,17 9,1 H 0 diterima µ A vs. µ D 8,66 9,1 H 0 diterima µ B vs. µ C 0,50 9,1 H 0 diterima µ B vs. µ D 9,33 9,1 H 0 ditolak µ C vs. µ D 9,83 9,1 H 0 ditolak MMS1001 p.187/228
308 Regresi Linear Sederhana Analisis Regresi digunakan untuk menyelidiki hubungan antara variabel dependen (respon) Y dengan variabel independen (variabel penjelas, prediktor) X. Hubungan antara Y dan X: fungsional statistik MMS1001 p.188/228
309 Regresi Linear Sederhana Contoh Hubungan Fungsional Y = X MMS1001 p.189/228
310 Regresi Linear Sederhana Contoh Hubungan Fungsional Y = (X 3) MMS1001 p.190/228
311 Regresi Linear Sederhana Contoh Hubungan Statistik MMS1001 p.191/228
312 Regresi Linear Sederhana Contoh Hubungan Statistik Y = X MMS1001 p.191/228
313 Regresi Linear Sederhana Contoh Dipunyai data umur dan tinggi dari sampel 8 buah pohon jenis tertentu sbb.: umur (tahun): tinggi (meter): 1,10 1,13 2,38 2,32 3,14 4,27 4,45 5,52 MMS1001 p.192/228
314 Regresi Linear Sederhana Contoh Dipunyai data umur dan tinggi dari sampel 8 buah pohon jenis tertentu sbb.: umur (tahun): tinggi (meter): 1,10 1,13 2,38 2,32 3,14 4,27 4,45 5, tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.192/228
315 Regresi Linear Sederhana Contoh Akan dicari garis linear ŷ = a + bx yang paling "mewakili" hubungan antara x (umur) dan y (tinggi) 6 5 tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.192/228
316 Regresi Linear Sederhana Estimasi (Penduga) garis regresi ŷ = a + bx Menggunakan Metode Kuadrat Terkecil (MKT) Prinsip MKT: Dicari nilai a dan b yang meminimalkan jumlah kuadrat residu (JKR), JKR = n i=1 (y i ŷ i ) 2 MMS1001 p.193/228
317 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon 6 5 tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.194/228
318 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon 6 5 tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.194/228
319 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon 6 5 tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.194/228
320 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon MMS1001 p.195/228
321 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon 3 2 ŷ }{{} y y ŷ MMS1001 p.195/228
322 Regresi Linear Sederhana Persamaan normal Penyelesaian yang diperoleh dari MKT: n i=1 y i n x i y i i=1 n = na + b i=1 n = a x i + b x i n i=1 i=1 x 2 i MMS1001 p.196/228
323 Regresi Linear Sederhana Persamaan normal Penyelesaian yang diperoleh dari MKT: a = b = yi x 2 i x i xi y i n x 2 i ( x i ) 2 n x i y i x i yi n x 2 i ( x i ) 2 Jika b dihitung terlebih dahulu, a bisa dihitung dengan a = yi b x i n = ȳ b x MMS1001 p.197/228
324 Regresi Linear Sederhana Persamaan normal Penyelesaian yang diperoleh dari MKT: a = b = (24,31)(204) (36)(136,41) 8(204) (36) 2 = 0,1443 8(136,41) (36)(24,31) 8(204) (36) 2 = 0,6432 Jika b = 0,6432 dihitung terlebih dahulu, a bisa dihitung dengan a = 24,31 (0,6432)(36) 8 = 0,1443 MMS1001 p.198/228
325 Regresi Linear Sederhana Contoh Data umur dan tinggi pohon: ŷ = 0, ,6432x 6 5 tinggi (meter) umur (tahun) MMS1001 p.199/228
326 Regresi Linear Sederhana Korelasi Koefisien korelasi antara Y dan X adalah ρ = Kov(X, Y ) Var(X)Var(Y ), 1 ρ 1 dimana Y dan X dianggap variabel random berdistribusi bersama tertentu (lihat kembali bagian Probabilitas di muka) MMS1001 p.200/228
327 Regresi Linear Sederhana Korelasi ρ menunjukkan tingkat hubungan linear antara kedua variabel. Estimasi titik untuk ρ adalah r = = (xi x)(y i ȳ) (xi x) 2 (y i ȳ) 2 n xy x y n x 2 ( x) 2 n y 2 ( y) 2 MMS1001 p.201/228
328 Regresi Linear Sederhana Contoh Korelasi Data umur dan tinggi pohon: r = = n xy x y n x 2 ( x) 2 n y 2 ( y) 2 8(136, 41) (36)(24, 31) 8(204) (36) 2 8(91,8991) (24,31) 2 = MMS1001 p.202/228
329 Regresi Linear Sederhana Koefisien Determinasi r 2 Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan linear antara x dan y dalam regresi linear r 2 = 100 ( ) SSR % SST dengan SST = (y i ȳ) 2 (jumlah kuadrat total), SSE = (y ŷ) 2 (jumlah kuadrat sesatan/residu/error), SSR = SST SSE (jumlah kuadrat regresi) Menunjukkan berapa persen variasi dari y yang dapat diterangkan oleh x MMS1001 p.203/228
330 Regresi Linear Sederhana Contoh Koefisien Determinasi Data umur dan tinggi pohon: SST = (y i ȳ) 2 = 18,02709 SSE = (y ŷ) 2 = 0, SSR = SST SSE = 18, , = 17,37644 ( ) SSR r 2 = 100 % SST ( ) 17,37644 = 100 % 18, = 96, 39% Untuk regresi sederhana, kuadrat dari koefisien determinasi sama dengan korelasi MMS1001 p.204/228
331 Regresi Linear Sederhana Korelasi Korelasi hanya untuk hubungan linear r=0, MMS1001 p.205/228
332 Regresi Linear Sederhana Inferensi dalam Regresi Diperoleh observasi berupa pasangan data (Y, X), (x 1, y 1 ),(x 2, y 2 ),...,(x n, y n ) Model Y i = β 0 + β 1 X i + ǫ i Asumsi: suku eror ǫ i independen dan berdistribusi normal N(0, σ 2 ) Parameter β 0 dan β 1 dinamakan koefisien regresi. MMS1001 p.206/228
333 Regresi Linear Sederhana Inferensi dalam Regresi y x 1 y = β 0 + β 1 x x 2 x3 x MMS1001 p.207/228
334 Regresi Linear Sederhana Inferensi dalam Regresi Penduga untuk β 0 dan β 1 adalah b 0 dan b 1 : b 1 = n x i y i x i yi n x 2 i ( x i ) 2 yi b 1 xi b 0 = n Penduga untuk σ 2 s 2 = n i=1 (y i ŷ) 2 n 2 = y 2 i b 0 yi b 1 xi y i n 2 MMS1001 p.208/228
335 Regresi Linear Sederhana Inferensi Kemiringan Garis Regresi (β 1 ) Statistik Penguji t = s b 1 β 1 n n x 2 ( x) 2 yang berdistribusi t dengan derajad bebas n 2 MMS1001 p.209/228
336 Regresi Linear Sederhana Inferensi Perpotongan Garis Regresi (β 0 ) Statistik Penguji t = s b 0 β 0 x 2 n x 2 ( x) 2 yang berdistribusi t dengan derajad bebas n 2 MMS1001 p.210/228
337 Regresi Linear Sederhana Contoh Hitunglah interval konfidensi 95% untuk kemiringan garis regresi (β 1 ) dari data umur dan tinggi pohon di muka. Telah dihitung β 0 = 0,1443 dan β 1 = 0,6432 (atau a dan b dalam notasi di muka) s 2 = y 2 i b 0 yi b 1 xi y i n 2 = 91,8991 (0,1443)(24,31) (0,6432)(136,41) 6 = 0, Interval konfidensi 95% untuk β 1 : β 1 ± t (α/2,n 2) s n 0,6432 ± 0,0508 atau (0,592; 0,694) n x 2 ( x) 2 MMS1001 p.211/228
338 Regresi Linear Sederhana Contoh Hitunglah interval konfidensi 95% untuk perpotongan garis regresi (β 0 ) dari data umur dan tinggi pohon di muka. Telah dihitung β 0 = 0,1443 dan β 1 = 0,6432 (atau a dan b dalam notasi di muka) serta s 2 = 0, Interval konfidensi 95% untuk β 0 : β 0 ± t (α/2,n 2) s 0,1443 ± 0,2569 atau ( 0,1126; 0,4012) x 2 n x 2 ( x) 2 MMS1001 p.212/228
339 Latihan 1. Dalam suatu eksperimen plant breeding dengan dua tipe bunga A dan B. Probabilitas terjadinya tipe A diharapkan lebih besar dari 7/16. Seorang ahli melakukan eksperimen dengan 100 kuntum bunga dan mendapatkan bahwa separuhnya adalah tipe A, dengan menggunakan α = 0,01; kesimpulan apakah yang dapat kita tarik? MMS1001 p.213/228
340 Latihan 2. Suatu jenis tikus tertentu yang mendpatkan makanan biasa menunjukkan kenaikan rata-rata 65 gram selama tiga bulan pertama dari hidupnya. Suatu sampel random dengan 40 ekor tikus seperti itu diberi makanan dengan protein tinggi dan menunjukkan kenaikan berat rata-rata 82 gram dengan deviasi standar 17,6 gram selama tiga bulan pertama hidupnya. Apakah fakta cukup mendukung dugaan bahwa makanan yang berprotein tinggi akan memperbesar kenaikan berat tikus? MMS1001 p.214/228
341 Latihan 3. Suatu perusahaan alat elektronik ingin menguji dua macam kualitas hasil produksinya. Untuk ini diadakan percobaan-percobaan dan diperoleh hasil sebagai berikut: 10 produk kualitas A mempunyai tahan hidup rata-rata 2600 jam dengan deviasi standar 300 jam. Sedangkan 15 produk kualitas B mempunyai tahan hidup rata-rata 2400 jam dengan deviasi standar 250 jam. Berdasarkan hasil percobaan di atas, apakah kita percaya bahwa kedua kualitas produk elektronik itu berbeda tahan hidupnya? (Anggap distribusi kedua populasi normal dengan variansi sama). MMS1001 p.215/228
342 Latihan 4. Seorang Zoologist ingin menggunakan tikus yang berat waktu lahirnya mempunyai variabilitas yang rendah. Tersedia dua jenis tikus yang berbeda. Dia mengambil sampel random dengan 10 jenis pertama dan 16 jenis kedua. Diperoleh S1 2 = 0,36 gram dan S2 2 = 0,87 gram. Apakah variabilitas dua jenis tersebut berbeda? (α = 0,02) MMS1001 p.216/228
343 Latihan 5. Suatu stimulan akan diuji akibatnya terhadap tekanan darah. Dua belas orang laki-laki diambil secara random dari laki-laki dalam kelompok umur tahun. Tekanan darah mereka diukur sebelum dan sesudah diberi stimulan. Hasilnya adalah sbb.: Tekanan darah sebelum dan sesudah (mmhg) orang ke sebelum sesudah Hitung interval konfidensi 95% untuk rata-rata selisih tekanan darah sesudah dan sebelum stimulan untuk semua orang laki-laki dalam kelompok tahun. MMS1001 p.217/228
344 Latihan 6. Ada hipotesis yang menyatakan bahwa untuk sepasang bayi kembar, berat badan bayi yang lahir kemudian lebih berat dari bayi yang lahir sebelumnya. Apabila kita ingin menguji pernyataan tersebut, uji statistik apa yang digunakan? MMS1001 p.218/228
345 Latihan 7. Suatu survei menyatakan bahwa dalam suatu daerah tertentu 20 % rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan. Suatu program pengentasan kemiskinan dilaksanakan pada daerah tersebut. Untuk mengetahui apakah program tersebut berhasil, sampel sebesar 400 rumah tangga diambil dari daerah tersebut, 68 rumah tangga dinyatakan berada di bawah garis kemiskinan. Berhasilkah program ini? (α = 0.05) MMS1001 p.219/228
346 Latihan 8. Sebuah program diet untuk mengurangi berat badan diterapkan pada 12 pria dan 14 wanita. Diperoleh hasilnya sebagai berikut (dalam kg): Wanita X X Pria Y Y ( X 1, X 2 adalah berat wanita sebelum dan sesudah melakukan diet ; Y 1, Y 2 adalah berat pria sebelum dan sesudah melakukan diet). a. Apakah program diet tersebut berhasil secara umum (tanpa memandang pria atau wanita)? (α = 0, 05) b. Bila ingin diketahui program diet tersebut lebih baik untuk wanita atau pria, inferensi statistik apakah yang dapat digunakan? MMS1001 p.220/228
347 Latihan 9. Dari sampel random n = 25 bola lampu, diperoleh tahan hidup rata-rata 1,85 tahun dan standar deviasi 0,5 tahun. a. Hitunglah interval konfidensi 95% untuk rata-rata tahan hidup bola lampu b. Hitunglah interval konfidensi 90% untuk variansi tahan hidup bola lampu c. Apabila n = 64, hitunglah interval konfidensi 90% untuk variansi tahan hidup bola lampu MMS1001 p.221/228
348 Latihan 10. Ingin diketahui mean berapa lama seorang mahasiswa melakukan chatting di internet. Untuk itu itu akan dilakukan survei di beberapa warung internet di kampus. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa standar deviasi dari lama chatting adalah 67 menit dan berdistribusi Normal. Bila kesalahan estimasi interval survei ini tidak boleh lebih dari 10 menit dengan tingkat konfidensi 95%, berapa ukuran sampel yang harus digunakan? MMS1001 p.222/228
349 Latihan 11. Ingin diketahui apakah suatu metode pembiakan tanaman pisang yang menggunakan cara modern menghasilkan pisang dengan berat yang lebih besar daripada pisang yang dikembangkan dengan cara tradisional. Diperoleh informasi sebagai berikut: Jenis pisang cara tradisional cara modern banyak sampel rata-rata pertandan 4,2 kg 4,8 kg deviasi standar 1,2 kg 0,9 kg a. Ujilah apakah terdapat perbedaan nyata dari hasil kedua metode pembiakan tersebut (α = 3%). Anggap kedua variansinya sama. b. Jika variansinya tidak diketahui apakah sama atau tidak, uji apakah yang dapat saudara gunakan untuk menguji kesamaan dua variansi? Dengan menganggap kedua populasi berdistribusi normal, tulislah hipotesis dan uji statistiknya MMS1001 p.223/228
350 Latihan 12. Apakah cukup bukti yang menyatakan bahwa lebih dari Is there sufficient evidence at 1% level (α=0.01) that more than 30% mahasiswa baru gagal memenuhi standar pengethauna dan pemahaman matematika jika 60 mahasiswa baru dari sampel 130 mahasiswa gagal memenuhi standar? MMS1001 p.224/228
351 Latihan 13. Suatu alat pengukur tekanan darah elektronik akan diuji ketepatan hasil pengukurannya. Bila hasil pengukuran tekanan darah sama atau mendekati hasil pengukuran alat ukur standar maka alat pengukur elektronik ini dinyatakan dapat dipakai. Dari 15 orang yang terpilih sebagai sampel dilakukan dua kali pengukuran masing-masing dengan alat ukur tekanan darah standar dan dengan alat ukur elektronik. Diperoleh hasil pengukuran tekanan darah diastolik sebagai berikut: alat standar alat elektronik Apakah alat pengukur tekanan darah elektronik ini dapat dipakai? (α=0,05) MMS1001 p.225/228
352 Latihan 14. Diketahui data gizi dan berat badan 50 anak usia 4-5 tahun di suatu desa seperti pada tabel berikut n status gizi berat badan (kg) rata-rata deviasi std. 35 baik 13,5 2,5 15 buruk 7,5 1,5 a. Hitunglah interval konfidensi 95% untuk proporsi anak dengan gizi buruk! b. Hitunglah interval konfidensi 95% untuk mean berat anak dengan status gizi baik! c. Statistik penguji apakah yang dapat digunakan untuk inferensi mean berat anak dengan status gizi buruk? Jelaskan! MMS1001 p.226/228
353 Latihan 15. Dengan menggunakan tabel Normal standar hitunglah: a. P( 2 Z 1.5) b. P(Z 1) c. k, jika diketahui P(0 Z k) = 0,4236 d. P(µ σ X µ + σ) e. k yang memenuhi P(X k) = 0,05 dengan Z adalah variabel random normal standar dan X adalah variabel random dengan mean µ dan variansi σ 2 MMS1001 p.227/228
354 Latihan 16. Suatu desain mobil diperkirakan akan menurunkan konsumsi bahan bakar sekaligus variabilitasnya. Sampel random dengan 16 mobil biasa diperoleh deviasi standar untuk konsumsi bahan bakar (liter per 100 km) sebesar 3,1. Sedangkan sampel random dengan 12 mobil desain ini diperoleh deviasi standar 1,8. Dengan asumsi sampel berasal dari distribusi normal ujilah bahwa desain mobil baru tersebut memang dapat menurunkan variabilitas konsumsi bahan bakar (α = 0,05). MMS1001 p.228/228
Statistika (MMS-1001)
Statistika (MMS-1001) Dr. Danardono, MPH [email protected] Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA UGM Materi dan Jadual Tatap Muka Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 1. Statistika Deskriptif
Statistika (MMS-1403)
Statistika (MMS-1403) Dr. Danardono, MPH [email protected] Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA UGM Materi dan Jadual Minggu ke- Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 1. Pendahuluan 1 Perkuliahan
Materi dan Jadual Tatap Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Statistika (MMS 2401) Muka Materi dan Jadual Materi dan Jadual
Materi dan Jadual Statistika(MMS 2401) Dr. Danardono, MPH [email protected] Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA UGM Tatap Muka Pokok Bahasan 1. Statistika Deskriptif 2. Statistika Deskriptif
Statistika (MMS-1403)
Statistika (MMS-1403) Dr. Danardono, MPH [email protected] Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA UGM MMS-1403 p.1/93 Distribusi Sampling Statistik Populasi: himpunan keseluruhan obyek yang
HARAPAN MATEMATIK. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016
HARAPAN MATEMATIK Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016 Pendahuluan Rata-rata perubah acak X atau rata-rata distribusi peluang X ditulis x atau. Dalam statistik rata-rata ini disebut harapan matematik
KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT.
KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT. EKSPERIMEN suatu percobaan yang dapat diulang-ulang dengan kondisi yang sama CONTOH : Eksperimen : melempar dadu 1 kali Hasilnya
Bab 2 DISTRIBUSI PELUANG
Bab 2 DISTRIBUSI PELUANG PENDAHULUAN Setiap peristiwa akan mempunyai peluangnya masingmasing, dan peluang terjadinya peristiwa itu akan mempunyai penyebaran yang mengikuti suatu pola tertentu yang di sebut
DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT TEORITIS 2. Distribusi Hipergeometrik
DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT TEORITIS 2 TI2131 TEORI PROBABILITAS MINGGU KE-10 Distribusi Hipergeometrik Eksperimen hipergeometrik memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. sebuah sampel random berukuran
Kumpulan pasangan nilai-nilai dari variabel acak X dengan probabilitas nilai-nilai variabel random X, yaitu P(X=x) disebut distribusi probabilitas X
Kumpulan pasangan nilai-nilai dari variabel acak X dengan probabilitas nilai-nilai variabel random X, yaitu P(X=) disebut distribusi probabilitas X (distribusi X) Diskrit Seragam Binomial Hipergeometrik
BAB II DISTRIBUSI PROBABILITAS
BAB II DISTRIBUSI PROBABILITAS.1. VARIABEL RANDOM Definisi 1: Variabel random adalah suatu fungsi yang memetakan ruang sampel (S) ke himpunan bilangan Real (R), dan ditulis X : S R Contoh (Variabel random)
Pengantar Proses Stokastik
Bab 1: Dasar-Dasar Probabilitas Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia 2015 Percobaan adalah kegiatan yang menghasilkan keluaran/hasil yang mungkin secara acak. Contoh: pelemparan sebuah dadu. Ruang
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Probabilitas Probabilitas adalah suatu nilai untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu peristiwa (event) akan terjadi di masa mendatang yang hasilnya tidak pasti (uncertain
MODUL II DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT DAN KONTINU
DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT DAN KONTINU A. TUJUAN PRAKTIKUM Melalui praktikum Modul II ini diharapkan praktikan dapat: 1. Mengenal jenis dan karakteristik dari beberapa distribusi peluang. 2. Menguji dan
DISTRIBUSI PROBABILITAS (PELUANG)
DISTRIBUSI PROBABILITAS (PELUANG) Distribusi Probabilitas (Peluang) Distribusi? Probabilitas? Distribusi Probabilitas? JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Distribusi = sebaran,
Pengantar Proses Stokastik
Bab 1: Dasar-Dasar Probabilitas Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Peluang Percobaan adalah kegiatan yang menghasilkan keluaran/hasil yang mungkin secara acak. Contoh: pelemparan sebuah dadu.
Pengantar Proses Stokastik
Bab 1: Dasar-Dasar Probabilitas Atina Ahdika, S.Si, M.Si Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Ruang Sampel dan Kejadian Ruang Sampel dan Kejadian Ruang Sampel dan Kejadian Percobaan adalah kegiatan
Probabilitas dan Statistika Distribusi Peluang Diskrit 2. Adam Hendra Brata
Probabilitas dan Statistika Distribusi Peluang Diskrit 2 Adam Hendra Brata Distribusi Hipergeometrik Distribusi Hipergeometrik Jika sampling dilakukan tanpa pengembalian dari kejadian sampling yang diambil
Metode Statistika STK211/ 3(2-3)
Metode Statistika STK211/ 3(2-3) Pertemuan V Peubah Acak dan Sebaran Peubah Acak Septian Rahardiantoro - STK IPB 1 Pertemuan minggu lalu kita sudah belajar mengenai cara untuk membuat daftar kemungkinan-kemungkinan
STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 3 Sebaran Peluang Peubah Acak
STK511 Analisis Statistika Pertemuan 3 Sebaran Peluang Peubah Acak Beberapa Konsep Dasar Percobaan statistika: kegiatan yang hasil akhir keluarannya tidak diketahui di awal, tetapi kemungkinan-kemungkinannya
Statistika Farmasi
Bab 3: Distribusi Data Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Distribusi Data Teori dalam statistika berkaitan dengan peluang Konsep dasar peluang tersebut berkaitan dengan peluang distribusi, yaitu
Pengantar Proses Stokastik
Bab 1: Dasar-Dasar Probabilitas Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Peluang Percobaan adalah kegiatan yang menghasilkan keluaran/hasil yang mungkin secara acak. Contoh: pelemparan sebuah dadu.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Probabilitas (Peluang) Probabilitas adalah suatu nilai untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu peristiwa (event) akan terjadi di masa mendatang yang hasilnya
BeberapaDistribusiPeluang. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
BeberapaDistribusiPeluang Diskrit Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Pengantar Pengamatanyang dihasilkanmelaluipercobaanyang berbeda
Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting. Oleh Azimmatul Ihwah
Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting Oleh Azimmatul Ihwah Distribusi Diskrit Fungsi probabilitas dari variabel random diskrit dapat dinyatakan dalam formula matematik tertentu yang dinamakan fungsi
DISTRIBUSI PELUANG.
DISTRIBUSI PELUANG [email protected] Distribusi? Peluang? Distribusi Peluang? Distribusi = sebaran, pencaran, susunan data Peluang : Ukuran/derajat ketidakpastian suatu peristiwa Distribusi Peluang adalah
STATISTIKA. Muhamad Nursalman Pendilkom/Ilkom UPI
STATISTIKA Muhamad Nursalman Pendilkom/Ilkom UPI 1 Daftar Isi Bab 1 Peluang Bab Peubah Acak Bab 3 Distribusi Peluang Diskret Bab 4 Distribusi Peluang Kontinu Bab 5 Fungsi Peubah Acak Bab 6 Teori Penaksiran
STK 511 Analisis statistika. Materi 3 Sebaran Peubah Acak
STK 511 Analisis statistika Materi 3 Sebaran Peubah Acak 1 Konsep Peluang 2 Peluang Peluang dapat diartikan sebagai ukuran kemungkinan terjadinya suatu kejadian Untuk memahami peluang diperlukan pemahaman
Probabilitas dan Statistika Variabel Acak dan Fungsi Distribusi Peluang Diskrit. Adam Hendra Brata
dan Statistika dan Fungsi Peluang Adam Hendra Brata acak adalah sebuah fungsi yang memetakan hasil kejadian yang ada di alam (seperti : buka dan tutup; terang, redup dan gelap; merah, kuning dan hijau;
BAB 8 DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT
BAB 8 DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT A. Peluang Peluang atau yang sering disebut sebagai probabilitas dapat dipandang sebagai cara untuk mengungkapkan ukuran ketidakpastian/ ketidakyakinan/ kemungkinan suatu
DISTRIBUSI SATU PEUBAH ACAK
0 DISTRIBUSI SATU PEUBAH ACAK Dalam hal ini akan dibahas macam-macam peubah acak, distribusi peluang, fungsi densitas, dan fungsi distribusi. Pada pembahasan selanjutnya, fungsi peluang untuk peubah acak
Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data
Statistik Dasar 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data 3. Ukuran Tendensi Sentral, Ukuran Penyimpangan 4. Momen Kemiringan 5. Distribusi Normal t Dan
Peubah Acak (Lanjutan)
Learning Outcomes 13 April 2014 Learning Outcomes Learning Outcome Outline Mahasiswa dapat mengerti dan menentukan peubah acak diskret Mahasiswa dapat memahami dan menghitung nilai harapan Mahasiswa dapat
Distribusi Peluang. Pendahuluan MODUL
MODUL 1 3 4 5 6 Pendahuluan Distribusi Peluang Pokok bahasan yang akan Anda pelajari dalam modul ini adalah distribusi peluang dan sifat-sifatnya. Pokok bahasan ini terdiri dari tiga subpokok bahasan,
KONSEP PROBABILITAS & DISTRIBUSI PROBABILITAS
KONSEP PROBABILITAS & DISTRIBUSI PROBABILITAS 5 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e- Mail : [email protected] Blog : hbp://debrina.lecture.ub.ac.id/ 2
DISTRIBUSI TEORITIS. P(M) = p = probabilitas untuk mendapat bola merah (sukses) 30
DISTRIBUSI TEORITIS Distribusi teoritis merupakan alat bagi kita untuk menentukan apa yang dapat kita harapkan, apabila asumsi-asumsi yang kita buat benar. Distribusi teoritis memungkinkan para pembuat
BAB II TINJAUAN TEORITIS. Menurut Darnius, O (2006, Hal : 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pendahulauan Menurut Darnius, O (2006, Hal : 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu rekayasa suatu model logika ilmiah untuk melihat kebenaran/kenyataan model tersebut.
DISTRIBUSI TEORITIS. Variabel Acak Distribusi Teoritis Binomial Normal
DISTRIBUSI TEORITIS DISTRIBUSI TEORITIS Variabel Acak Distribusi Teoritis Binomial Normal Variabel acak adalah sebuah besaran yang merupakan hasil dari percobaan acak yang secara untung-untungan, dapat
THEORY. By: Hanung N. Prasetyo PEUBAH ACAK TELKOM POLYTECHNIC/HANUNGNP
THEORY By: Hanung N. Prasetyo PEUBAH ACAK Variabel acak adalah suatu variabel yang nilainya bisa berapa saja Variabel acak merupakan deskripsi numerik dari outcome beberapa percobaan / eksperimen VARIABEL
BAB IV. DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT
BAB IV. DISTRIBUSI PROBABILITAS DISKRIT A. Variabel random diskrit. Variabel random diskrit X adalah : Cara memberi nilai angka pada setiap elemen ruang sampel X(a) : Ukuran karakteristik tertentu dari
KATA PENGANTAR. Salatiga, Juni Penulis. iii
KATA PENGANTAR Teori Probabilitas sangatlah penting dalam memberikan dasar pada Statistika dan Statistika Matematika. Di samping itu, teori probabilitas juga memberikan dasar-dasar dalam pembelajaran tentang
BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 3. HARAPAN MATEMATIK
Pertemuan 6. BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang. Variansi dan kovariansi. HARAPAN MATEMATIK Keragaman suatu peubah acak X diperoleh dengan mengambil g(x) = (X µ). Rataan
25/09/2013. Konsep Peubah Acak. Metode Statistika (STK211) Peubah Acak Diskret. Kuis. Tipe Peubah Acak
Konsep Peubah Acak Metode Statistika (STK11) Pertemuan V Konsep Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable Concept and Probability Distribution) Peubah acak merupakan suatu fungsi yang memetakan
Variabel Random dan Nilai Harapan. Oleh Azimmatul Ihwah
Variabel Random dan Nilai Harapan Oleh Azimmatul Ihwah Outcomes dari suatu eksperimen dapat dinyatakan dengan angka untuk mempermudah. Suatu variabel yang mengasosiakan outcomes dari suatu eksperimen dengan
DISTRIBUSI TEORITIS DISTRIBUSI TEORITIS
DISTRIBUSI TEORITIS DISTRIBUSI TEORITIS Variabel Acak Distribusi Teoritis Binomial Normal 1 Variabel acak adalah sebuah besaran yang merupakan hasil dari percobaan acak yang secara untung-untungan, dapat
STATISTICS. Oleh: Hanung N. Prasetyo DISTRIBUSI NORMAL WEEK 6 TELKOM POLTECH/HANUNG NP
STATISTICS WEEK 6 Oleh: Hanung N. Prasetyo DISTRIBUSI NORMAL Pengantar: Dalam pokok bahasan disini memuat beberapa distribusi kontinyu yang sangat penting di bidang statistika. diantaranya distribusi normal.
PENGANTAR MODEL PROBABILITAS
PENGANTAR MODEL PROBABILITAS (PMP, Minggu 1-7) Sri Haryatmi Kartiko Universitas Gadjah Mada Juni 2014 Outline 1 Minggu 1:HIMPUNAN Operasi Himpunan Sifat-Sifat Operasi Himpunan 2 Minggu 2:COUNTING TECHNIQUE
STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling
STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling Rengganis Banitya Rachmat [email protected] 4. Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial
Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.
Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan Statistika - FMIPA Institut Teknologi Bandung 2014 1 Tentang AK5161 Matematika
PEUBAH ACAK. Materi 4 - STK211 Metode Statistika. October 2, Okt, Department of Statistics, IPB. Dr. Agus Mohamad Soleh
PEUBAH ACAK Materi 4 - STK211 Metode Statistika October 2, 2017 Okt, 2017 1 Pendahuluan Pernahkah bertanya, mengapa dalam soal ujian penerimaan mahasiswa baru, jika jawaban benar diberi nilai 4, salah
DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. Distribusi Normal_M. Jainuri, M.Pd 1
DISTRIBUSI NORMAL Pertemuan 3 1 Distribusi Normal Pertama kali diperkenalkan oleh Abraham de Moivre (1733). De Moivre menemukan persamaan matematika untuk kurva normal yang menjadi dasar dalam banyak teori
Metode Statistika (STK 211) Pertemuan ke-5
Metode Statistika (STK 211) Pertemuan ke-5 [email protected] Memahami definisi dan aplikasi peubah acak (peubah acak sebagai fungsi, peubah acak diskrit dan kontinu) Memahami sebaran peubah acak
Bagian 2. Probabilitas. Struktur Probabilitas. Probabilitas Subyektif. Metode Frekuensi Relatif Kejadian untuk Menentukan Probabilitas
Probabilitas Bagian Probabilitas A) = peluang (probabilitas) bahwa kejadian A terjadi 0 < A) < 1 A) = 0 artinya A pasti terjadi A) = 1 artinya A tidak mungkin terjadi Penentuan nilai probabilitas: Metode
STK 211 Metode statistika. Materi 4 Peubah Acak dan Sebaran Peluang
STK 211 Metode statistika Materi 4 Peubah Acak dan Sebaran Peluang 1 Pendahuluan Soal ujian masuk PT diselenggarakan dengan sistem pilihan berganda. Jika jawaban benar diberi nilai 4, salah dikurangi 1
PERMUTASI, KOMBINASI DAN PELUANG. Kaidah pencacahan membantu dalam memecahkan masalah untuk menghitung
PERMUTASI, KOMBINASI DAN PELUANG A. KAIDAH PENCACAHAN Kaidah pencacahan membantu dalam memecahkan masalah untuk menghitung berapa banyaknya cara yang mungkjin terjadi dalam suatu percobaan. Kaidah pencacahan
Peubah Acak. Bab 4. Definisi 4.1 Peubah acak adalah suatu fungsi dari ruang contoh ke bilangan nyata, f : S R
Bab 4 Peubah Acak Definisi 4. Peubah acak adalah suatu fungsi dari ruang contoh ke bilangan nyata, f : S R Contoh 4. Jika Y adalah peubah acak banyaknya sisi muka yang muncul pada pelemparan tiga sisi
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam teori probabilitas dan statistika, distribusi binomial adalah distribusi probabilitas diskret jumlah keberhasilan dalam n percobaan ya/tidak (berhasil/gagal)
STATISTIK INDUSTRI 1. Random Variable. Distribusi Peluang. Distribusi Peluang Diskrit. Distribusi Peluang Diskrit 30/10/2013 DISKRIT DAN KONTINYU
STATISTIK INDUSTRI 1 Agustina Eunike, ST., MT., MBA Distribusi Peluang DISKRIT DAN KONTINYU Random Variable Random variable / peubah acak: Suatu fungsi yang mengaitkan suatu bilangan real dengan tiap elemen
PEUBAH ACAK DAN SEBARANNYA
LOGO STATISTIKA MATEMATIKA I PEUBAH ACAK DAN SEBARANNYA Hazmira Yozza Izzati Rami HG Jurusan Matematika FMIPA Universitas Andalas Percobaan : Pelemparan dua mata uang AA AG GA GG S X Definisi 2.1. Peubah
Distribusi Probabilitas Diskrit: Binomial, Multinomial, & Binomial Negatif
Distribusi Probabilitas Diskrit: Binomial, Multinomial, & Binomial Negatif 6 Debrina Puspita Andriani E-mail : [email protected] / [email protected] 2 Outline Distribusi Variabel Acak Diskrit Distribusi
Nilai harapan suatu variabel acak x ditulis E (x) didefinisikan E (x) = Σ x. f (x) Var (x) = σ x 2 = E [ x E (x) ] 2 = E (x 2 ) { E (x) } 2
Pertemuan ke- 4 BAB III POPULASI, SAMPEL & DISTRIBUSI TEORITIS VARIABEL DISKRIT DAN FUNGSI PROBABILITAS 3.1 Variabel Random atau Variabel Acak Variabel yang nilainya merupakan suatu bilangan yang ditentukan
MA2082 BIOSTATISTIKA Bab 3 Peubah Acak dan Distribusi
MA2082 BIOSTATISTIKA Bab 3 Peubah Acak dan Distribusi Orang Biologi Tidak Anti Statistika Silabus Silabus dan Tujuan Konsep peubah acak, fungsi peluang (probability density function), fungsi distribusi
Biostatistika (KUI 611) TOPIK 3: VARIABEL RANDOM & DISTRIBUSI PROBABILITAS
Biostatistika (KUI 611) TOPIK 3: VARIABEL RANDOM & DISTRIBUSI PROBABILITAS 1 Probabilitas Perlunya pengetahuan tentang probabilitas dalam Biostatistik Pengertian probabilitas, variabel random dan distribusi
Tugas Kelompok. Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif. Judul Makalah Revisi DISTRIBUSI PELUANG
Tugas Kelompok Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif Judul Makalah Revisi DISTRIBUSI PELUANG Kajian Buku Pengantar Statistika Pengarang Nana Sudjana Tugas dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
PROBABILITAS &STATISTIK. Oleh: Kholistianingsih, S.T., M.Eng.
PROBABILITAS &STATISTIK ke-1 Oleh: Kholistianingsih, S.T., M.Eng. KONTRAK PEMBELAJARAN UAS : 35% UTS : 35% TUGAS : 20% KEHADIRAN :10% SEMUA KOMPONEN HARUS ADA KEHADIRAN 0 NILAI MAKS D PEUBAH DAN GRAFIK
Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.
Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan Statistika - FMIPA Institut Teknologi Bandung 2014 1 Tentang AK5161 Matematika
BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S.
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Sampel dan Kejadian Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S. Tiap hasil dalam ruang sampel disebut
STATISTIK INDUSTRI 1. Agustina Eunike, ST., MT., MBA
STATISTIK INDUSTRI 1 Agustina Eunike, ST., MT., MBA Probabilitas PELUANG Eksperimen Aktivitas / pengukuran / observasi suatu fenomena yang bervariasi outputnya Ruang Sampel / Sample Space Semua output
Menghitung peluang suatu kejadian
Menghitung peluang suatu kejadian A. Ruang Sampel, Titik Sampel, dan Kejadian Dari pandangan intuitif, peluang terjadinya suatu peristiwa atau kejadian adalah nilai yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan
MK Statistik Bisnis 2 MultiVariate. Haryoso Wicaksono, S.Si., M.M., M.Kom. 1
Haryoso Wicaksono, S.Si., M.M., M.Kom. 1 Descriptive Statistics mengandung metoda dan prosedur yang digunakan untuk pengumpulan, pengorganisasian, presentasi dan memberikan karakteristik terhadap himpunan
Dasar-dasar Statistika Pemodelan Sistem
Dasar-dasar Statistika Pemodelan Sistem Kuliah Pemodelan Sistem Semester Genap 2015-2016 MZI Fakultas Informatika Telkom University FIF Tel-U Januari 2016 MZI (FIF Tel-U) Statistika Pemodelan Januari 2016
Contoh: Aturan Penjumlahan. Independen. P(A dan B) = P(A) x P(B)
Aturan Penjumlahan Mutually Exclusive: Kemungkinan terjadi peristiwa A dan B: P(A atau B)= P(A)+P(B) Not Mutually Exclusive: Kemungkinan terjadi peristiwa A dan B: P(Aatau B): P(A)+P(B) P(A dan B) Contoh:
Bab 5 Distribusi Sampling
Bab 5 Distribusi Sampling Pendahuluan Untuk mempelajari populasi kita memerlukan sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Meskipun kita dapat mengambil lebih dari sebuah sampel berukuran n
DISTRIBUSI PELUANG TEORITIS
Distribusi Teoritis 1/ 15 DISTRIBUSI PELUANG TEORITIS 1. Pendahuluan Titik-titik contoh di dalam Ruang Sampel (S) dapat disajikan dalam bentuk numerik/bilangan.. PEUBAH ACAK Fungsi yang mendefinisikan
DISTRIBUSI DISKRIT KHUSUS
DISTRIBUSI DISKRIT KHUSUS U N I F O R M ( S E R A G A M ) B E R N O U L L I B I N O M I A L P O I S S O N MA 4085 Pengantar Statistika 26 Februari 2013 Utriweni Mukhaiyar M U L T I N O M I A L H I P E
Distribusi Peluang Teoritis. Titik-titik contoh di dalam Ruang Sampel (S) dapat disajikan dalam bentuk numerik/bilangan.
Distribusi Peluang Teoritis. Pendahuluan Titik-titik contoh di dalam Ruang Sampel (S) dapat disajikan dalam bentuk numerik/bilangan. Peubah Acak Fungsi yang mendefinisikan titik-titik contoh dalam ruang
PELUANG DAN PEUBAH ACAK
PELUANG DAN PEUBAH ACAK Materi 3 - STK511 Analisis Statistika October 3, 2017 Okt, 2017 1 Konsep Peluang 2 Pendahuluan Kejadian di dunia: pasti (deterministik) atau tidak pasti (probabilistik) Contoh kejadian
Catatan Kuliah AK5161 MATEMATIKA KEUANGAN AKTUARIA. Insure and Invest! Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.
Catatan Kuliah AK5161 MATEMATIKA KEUANGAN AKTUARIA Insure and Invest! disusun oleh Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan STATISTIKA - FMIPA Institut Teknologi Bandung 2014 Tentang AK5161 MatKeu
Achmad Samsudin, M.Pd. Jurdik Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Achmad Samsudin, M.Pd. Jurdik Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia VARIABEL ACAK VARIABEL ACAK : suatu fungsi yang nilainya berupa bilangan nyata yang ditentukan oleh setiap unsur dalam ruang
Hidup penuh dengan ketidakpastian
BAB 2 Probabilitas Hidup penuh dengan ketidakpastian Tidak mungkin bagi kita untuk dapat mengatakan dengan pasti apa yang akan terjadi dalam 1 menit ke depan tapi Probabilitas akan memprediksikan masa
MATERI STATISTIK II. Genrawan Hoendarto
MATERI STATISTIK II Teori Probabilitas Variabel Acak dan Nilai Harapan Distribusi Teoritis Distribusi Sampling Pengujian Hipotesis Regresi dan Korelasi Linear Sederhana Statistik Nonparametrik Daftar Pustaka
Pengantar Statistika Matematika II
Bab 6: Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Inferensi Statistik Pendahuluan Inferensi Statistik Inferensi statistik adalah metode untuk menarik kesimpulan mengenai suatu populasi. Inferensi statistik
DISTRIBUSI PROBABILITAS
BAB 7 DISTRIBUSI PROBABILITAS Kompetensi Menjelaskan distribusi probabilitas Indikator 1. Menjelaskan distribusi hipergeometris 2. Menjelaskan distribusi binomial 3. Menjelaskan distribusi multinomial
Model dan Simulasi Universitas Indo Global Mandiri
Model dan Simulasi Universitas Indo Global Mandiri Nomor random >> angka muncul secara acak (random/tidak terurut) dengan probabilitas untuk muncul yang sama. Probabilitas/Peluang merupakan ukuran kecenderungan
Pertemuan V Konsep Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable Concept and Probability Distribution)
Pertemuan V Konsep Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable Concept and Probability Distribution) Peubah acak merupakan suatu fungsi yang memetakan ruang kejadian (daerah fungsi) ke ruang bilangan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI.1 Peubah Acak dan Distribusinya.1.1 Peubah Acak Definisi.1: Peubah acak adalah suatu fungsi yang menghubungkan sebuah bilangan real dengan setiap unsur di dalam ruang contoh, (Walpole
matematika DISTRIBUSI VARIABEL ACAK DAN DISTRIBUSI BINOMIAL K e l a s A. Penarikan Sampel dari Suatu Populasi Kurikulum 2013 Tujuan Pembelajaran
Kurikulum 20 matematika K e l a s XI DISTRIBUSI VARIABEL ACAK DAN DISTRIBUSI BINOMIAL Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut.. Memahami perbedaan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Data adalah bentuk jamak dari datum, yang dapat diartikan sebagai informasi yang diterima yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau dalam bentuk lisan dan tulisan
Harapan Matematik (Teori Ekspektasi)
(Teori Ekspektasi) PROBABILITAS DAN STATISTIKA Semester Genap 2014/2015 LUTFI FANANI [email protected] Sifat Definisi Harapan matematik atau nilai ekspektasi adalah satu konsep yang penting di dalam
Distribusi Sampling. Ayundyah K., M.Si. PROGRAM STUDI STATISTIKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2015
Distribusi Sampling Ayundyah K., M.Si. PROGRAM STUDI STATISTIKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2015 Populasi dan Sampel Unit adalah entitas (wujud) tunggal, biasanya orang atau suatu obyek, yang diinginkan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
4 BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada sub bab ini akan diberikan beberapa definisi dan teori yang mendukung rancangan Sequential Probability Ratio Test (SPRT) yaitu percobaan dan ruang sampel, peubah acak dan fungsi
BAB V DISTRIBUSI NORMAL. Deskripsi: Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep distribusi normal dalam pengukuran.
BAB V DISTRIBUSI NORMAL Deskripsi: Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep distribusi normal dalam pengukuran. Manfaat: Memberikan metode distribusi normal yang benar saat melakukan proses pengukuran.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Distribusi Normal Salah satu distribusi frekuensi yang paling penting dalam statistika adalah distribusi normal. Distribusi normal berupa kurva berbentuk lonceng setangkup yang
LAB MANAJEMEN DASAR MODUL STATISTIKA 1
LAB MANAJEMEN DASAR MODUL STATISTIKA 1 Nama : NPM/Kelas : Fakultas/Jurusan : Hari dan Shift Praktikum : Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma Kelapa dua E531 1 UKURAN STATISTIK Pendahuluan Ukuran statistik
Menjelaskan pengertian distribusi binomial, mengidentifikasi eksperimen binomial dan menghitung probabilitas binomial, menghitung ukuran pemusatan
Tujuan Pembelajaran Menjelaskan pengertian distribusi binomial, mengidentifikasi eksperimen binomial dan menghitung probabilitas binomial, menghitung ukuran pemusatan dan penyebaran distribusi binomial
MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA
KERJASAMA DINAS PENDIDIKAN KOTA SURABAYA DENGAN FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA Statistika dan Peluang untuk kegiatan PELATIHAN PENINGKATAN MUTU GURU DINAS PENDIDIKAN
Pengantar Statistika Matematika II
Bab 1: a FMIPA Universitas Islam Indonesia Parameter adalah karakteristik dari populasi (misal θ) adalah karakteristik dari sampel Akan dibahas konsep statistik dan distribusi sampling Parameter Misalkan
Metode Statistika (STK211)
Metode Statistika (STK211) Peubah Acak dan Sebaran Peluang (Random Variable and Probability Distribution) Dr. Ir. Kusman Sadik, M.Si Dept. Statistika IPB, 2015 1 Konsep Peubah Acak (Random Variable) Peubah
STATISTIK PERTEMUAN VI
STATISTIK PERTEMUAN VI 1. TEORI PENDUKUNG 1.1 Pendahuluan 1. Variabel acak 1.3 Distribusi variabel acak diskrit 1.4 Distribusi variabel acak kontinu 1.5 Distribusi multivariat 1.1 Pendahuluan Definisi
Jenis Distribusi. 1. Distribusi Probabilitas 2. Distribusi Binomial (Bernaulli) 3. Distribusi Multinomial 4. Distribusi Normal (Gauss)
Ir Tito Adi Dewanto Jenis Distribusi 1. Distribusi Probabilitas 2. Distribusi Binomial (Bernaulli) 3. Distribusi Multinomial 4. Distribusi Normal (Gauss) Pengantar Kunci aplikasi probabilitas dalam statistik
STATISTIKA LINGKUNGAN
STATISTIKA LINGKUNGAN TEORI PROBABILITAS Probabilitas -pendahuluan Statistika deskriptif : menggambarkan data Statistik inferensi kesimpulan valid dan perkiraan akurat ttg populasi dengan mengobservasi
