Solusi Persamaan Diferensial Biasa

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Solusi Persamaan Diferensial Biasa"

Transkripsi

1 Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa Penalaan adala metode yang lambat dan beliku-liku dengan mana meeka yang tidak mengetaui kebenaan menemukannya. Hati mempunyai penalaan sendii sedangkan penalaan itu tidak mengetauinya. (Blaise Pascal) Pesamaan difeensial adala gabungan antaa fungsi yang tidak diketaui secaa eksplisit dan tuunan (difeensial)-nya. Dalam kulia Fisika anda tentu masi ingat pesamaan geak sistem pegas. d d m + c + k = 0 (P.8.) dt dt dengan m adala massa pegas, k tetapan pegas, c koefisien edaman, dan posisi sebua titik pada pegas. Kaena adala fungsi dai t, maka pesamaan (P.8.) ditulis juga sebagai m "(t) + c'(t) + k(t) = 0 atau dalam bentuk yang lebi ingkas, m" + c' + k = 0. Pesamaan (P.8.) mengandung fungsi (t) yang tidak diketaui umus eksplisitnya, tuunan petamanya '(t), dan tuunan kedua "(t). Ati fisis difeensial adala laju peubaan sebua peuba teadap peuba lain. Pada pesaman (P.8.), '(t) menyatakan laju peubaan posisi pegas teadap waktu t. Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 375

2 8. Kelompok Pesamaan Difeensial Pesamaan difeensial dapat dibagi menjadi dua kelompok besa, yaitu pesamaan difeensial biasa dan pesamaan difeensial pasial.. Pesamaan difeensial biasa (PDB) - Odinay Diffeential Equations (ODE). PDB adala pesamaan difeensial yang anya mempunyai satu peuba bebas. Peuba bebas biasanya disimbolkan dengan. Conto 8. Conto-conto pesamaan beikut adala pesamaan difeensial biasa (PDB): (i) dy = + y d (ii) y' = + y (iii) dy/d + y - y = 0 (iv) y" + y'cos - 3y = sin (v) y"' - 3y' = - y" Peuba bebas untuk conto (i) sampai (v) adala, sedangkan peuba teikatnya adala y, yang meupakan fungsi dai, atau ditulis sebagai y = g(). Bedasakan tuunan tetinggi yang tedapat di dalam pesamaannya, PDB dapat lagi dikelompokkan menuut odenya, yaitu: a. PDB ode, yaitu PDB yang tuunan tetingginya adala tuunan petama. Conto (i), (ii), dan (iii) di atas adala PDB ode. b. PDB ode, yaitu PDB yang tuunan tetingginya adala tuunan kedua. Conto (iv) adala PDB ode dua. c. PDB ode 3, yaitu PDB yang tuunan tetingginya adala tuunan ketiga Conto (v) di atas adala PDB ode tiga. d. dan seteusnya untuk PDB dengan ode yang lebi tinggi. PDB ode ke atas dinamakan juga PDB ode lanjut.. Pesamaan Difeensial Pasial (PDP) - Patial Diffeential Equations (PDE). PDP adala pesamaan difeensial yang mempunyai lebi dai satu peuba bebas. Tuunan fungsi teadap setiap peuba bebas dilakukan secaa pasial. 376 Metode Numeik

3 Conto 8. Conto-conto pesamaan beikut adala pesamaan difeensial pasial (PDP): (i) u + y u = 6ye +y (yang dalam al ini, u = g(,y)) (ii) u t = 3sin( + t) + u + ( + ) y u (yang dalam al ini, u = g(, y, t)) Peuba bebas untuk conto (i) adala dan y, sedangkan peuba teikatnya adala u, yang meupakan fungsi dai dan y, atau ditulis sebagai u = g(,y). Sedangkan peuba bebas untuk conto (ii) adala, y, dan t, sedangkan peuba teikatnya adala u, yang meupakan fungsi dai, y, dan t, atau ditulis sebagai u = g(, y, t). Buku ini anya membaas metode-metode numeik untuk menyelesaikan PDB, kususnya PDB ode satu. Pada bagian aki bab akan ditunjukkan bawa PDB ode lanjut dapat dikembalikan bentuknya menjadi sistem PDB ode satu. 8. Teapan Pesamaan Difeensial Pesamaan difeensial bepeanan penting di alam, sebab kebanyakan fenomena alam diumuskan dalam bentuk difeensial. Pesamaan difeensial seing digunakan sebagai model matematika dalam bidang sains maupun dalam bidang ekayasa. Hukum-ukum dasa fisika, mekanika, listik, dan temodinamika biasanya didasakan pada peubaan sifat fisik dan keadaan sistem. Daipada menjelaskan keadaan sistem fisik secaa langsung, ukum-ukum tesebut biasanya dinyatakan dalam peubaan spasial (koodinat) dan tempoal (waktu) [CHA9]. Misalnya ukum Newton II menyatakan pecepatan sebagai laju peubaan kecepatan setiap waktu, atau a = dv/dt, ukum temodinamika (Fluks panas = -k T/, dengan k = konduktivitas panas, dan T = suu), ukum Faaday (Beda tegangan = L di/dt, dengan L = induktansi, dan i = aus). Dengan mengintegalkan pesamaan difeensial, diasilkan fungsi matematika yang menjelaskan keadaan spasial dan tempoal sebua sistem, dinyatakan dalam pecepatan, enegi, massa, atau tegangan. Pesamaan (P.8.) adala teapan PDB dalam bidang fisika. Dalam bidang teknologi pangan, biologi, famasi, dan teknik kimia, dikenal pesamaan yang Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 377

4 menyatakan bawa laju petumbuan baktei pada waktu t sebanding dengan jumla baktei (p) pada saat itu, dp = kp (P.8.) dt dengan k adala tetapan kesebandingan. Dalam bidang kelistikan (elekto), paa ekayasawan-nya tentu mengetaui bena ukum Kicoff untuk sebua angkaian listik sedeana RLC sepeti pada Gamba 8.. Hukum tegangan Kicoff menyatakan bawa jumla aljaba dai peubaan tegangan di sekeliling angkaian tetutup adala nol, di L dt + Ri = C q - E(t) = 0 (P.8.3) dengan L(di/dt) adala peubaan tegangan antaa indukto, L adala induktansi kumpaan (dalam eny), R adala taanan (dalam om), q adala muatan pada kapasito (dalam coulomb), C adala kapasitansi (dalam faad), dan E(t) adala tegangan yang beuba teadap waktu. L E C i R. Gamba 8. Rangkaian listik RLC Bebeapa pesamaan difeensial dapat dicai solusinya secaa analitis dengan teknik integal. Pesamaan (P.8.) misalnya, solusinya dapat ditemukan sebagai beikut: dp/dt = kp dp/p = k dt dp/p = k dt ln(p) + C = kt + C 378 Metode Numeik

5 ln(p) = kt + (C - C ) = kt + C, dengan C = C - C p = e kt + C = e kt e C = p 0 e kt, dengan p 0 = e C Jadi, solusi analitiknya adala p(t) = p 0 e kt dengan p 0 adala jumla baktei pada waktu t = 0. Bila p 0 = p(0) diketaui, maka solusi yang unik dapat dipeole. Dengan caa yang sama, solusi unik pesamaan (P.8.3) juga dapat diitung secaa analitik bila diketaui besa aus pada t = 0 adala i(0) = 0, yaitu i(t) = (E/R)( - e -Rt/L ) Setela pesamaan i(t) dipeole, besa aus pada sembaang waktu t dapat diitung. Metode numeik untuk pesamaan difeensial memainkan peanan sangat penting bagi ekayasawan, kaena dalam pakteknya sebagian besa pesamaan difeensial tidak dapat diselesaikan secaa analitik. Metode numeik dipakai paa ekayasawan untuk mempeole solusi pesaman difeensial. Bila metode analitik membeikan solusi pesamaan difeensial dalam bentuk fungsi meneus, maka metode numeik membeikan solusi pesamaan difeensial dalam bentuk faik. Upabab beikut ini membaas bebagai metode numeik untuk mengitung solusi PDB ode satu. 8.3 PDB Ode Satu Bentuk baku PDB ode satu dengan nilai awal ditulis sebagai y' = f(, y) dengan nilai awal y( 0 ) = y (P.8.4) Catatan: Kadang-kadang y' ditulis sebagai dy/d. Jadi, y' = dy/d. PDB ode satu yang tidak mengikuti bentuk baku tesebut aus ditulis ulang menjadi bentuk pesamaan (P.8.4), aga ia dapat diselesaikan secaa numeik. Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 379

6 Conto 8.3 Conto-conto pesamaan beikut adala pesamaan difeensial biasa dan tansfomasinya ke dalam bentuk baku PDB ode : (i) y' + y = 00 ; y(0) = Bentuk baku: y' = (00 - y)/ ; y(0) = (ii) -y' + y/ = y' - y ; y() = - Bentuk baku: y' = y / + y + ; y() = - Penyelesaian PDB secaa numeik beati mengitung nilai fungsi di + = +, dengan adala ukuan langka (step) setiap lelaan. Pada metode analitik, nilai awal befungsi untuk mempeole solusi yang unik, sedangkan pada metode numeik nilai awal (initial value) pada pesamaan (P.8.4) befungsi untuk memulai lelaan. Tedapat bebeapa metode numeik yang seing digunakan untuk mengitung solusi PDB, mulai dai metode yang paling dasa sampai dengan metode yang lebi teliti, yaitu. Metode Eule. Metode Heun 3. Metode Deet Taylo 4. Metode Runge-Kutta 5. Metode pedicto-coecto. 8.4 Metode Eule Dibeikan PDB ode satu, Misalkan y' = dy/d = f(, y) dan nilai awal y( 0 ) = y 0 y = y( ) adala ampian nilai y di yang diitung dengan metode Eule. Dalam al ini = 0 +, = 0,,,... n. Metoda Eule dituunkan dengan caa menguaikan y( + ) di sekita ke dalam deet Taylo: 380 Metode Numeik

7 ( ) + y( + ) = y( ) +! ( ) + y'( ) +! y"( ) +... (P.8.5) Bila pesamaan (P.8.5) dipotong sampai suku ode tiga, dipeole ( ) ( + ) + y( + ) y( ) + y'( ) + Bedasakan pesamaan (P.8.4), y'( ) = f(, y ) dan + - = maka pesamaan (P.8.6) dapat ditulis menjadi!! y"(t), < t < + (P.8.6) y( + ) y( ) + f(, y ) + y"(t) (P.8.7) Dua suku petama pesamaan (P.8.7), yaitu y( + ) = y( ) + f(, y ) ; = 0,,,..., n (P.8.8) menyatakan metode Eule atau metode Eule-Caucy. Metode Eule disebut juga metode ode-petama, kaena pada pesamaan (P.8.7) kita anya mengambil sampai suku ode petama saja. Untuk menyedeanakan penulisan, pesamaan (P.8.8) dapat juga ditulis lebi singkat sebagai y + = y + f Selain dengan bantuan deet Taylo, metode Eule juga dapat dituunkan dengan caa yang bebeda. Sebagai conto, misalkan kita menggunakan atuan segiempat untuk mengintegasi-kan f(,y) pada pesamaan difeensial y' = f(, y) ; y( 0 ) = y 0 Integasikan kedua uas dalam selang [, + ]: Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 38

8 + + y '( ) d = f (, y( )) d Gunakan atuan segiempat untuk mengintegasikan uas kanan, mengasilkan: y( + ) - y( ) = f(, y( )) atau y( + ) = y( ) + f(, y ) yang meupakan metode Eule Tafsian Geometi Metode PDB Pikikanla kembali bawa f(,y) dalam pesamaan difeensial menyatakan gadien gais singgung kuva di titik (,y). Kita mulai menaik gais singgung dai titik ( 0, y 0 ) dengan gadien f( 0, y 0 ) dan beenti di titik (, y ), dengan y diitung dai pesamaan (P.8.8). Selanjutnya, dai titik (, y ) ditaik lagi gais dengan gadien f(, y ) dan beenti di titik (, y ), dengan y diitung dai pesamaan (P.8.8). Poses ini kita ulang bebeapa kali, misalnya sampai lelaan ke-n, seingga asilnya adala gais pata-pata sepeti yang ditunjukkan pada Gamba 8.. y y=f () gadien f( n-,y n- ) L 0 3 L n- n Gamba 8. Tafsian geometi metode PDB 38 Metode Numeik

9 y y() y + sejati y + y A B C + Gamba 8.3 Tafsian geometi untuk penuunan metode Eule Bedasakan tafsian geometi pada Gamba 8., kita juga dapat menuunkan metode Eule. Tinjau Gamba 8.3. Gadien (m) gais singgung di adala y m = y '( ) = f(, y ) = y + = y + f(, y ) BC y = = + y AB yang tidak lain adala pesamaan metode Eule Analisis Galat Metode Eule Meskipun metode Eule sedeana, tetapi ia mengandung dua macam galat, yaitu galat pemotongan (tuncation eo) dan galat longgokan (cumulative eo). Galat pemotongan dapat langsung ditentukan dai pesamaan (P.8.7), yaitu E p y"(t) = O( ) (P.8.9) Galat pemotongan ini sebanding dengan kuadat ukuan langka seingga disebut juga galat pe langka (eo pe step) atau galat lokal. Semakin kecil nilai (yang beati semakin banyak langka peitungan), semakin kecil pula galat asil peitungannya. Peatikan bawa nilai pada setiap langka (y ) dipakai lagi pada langka beikutnya (y + ). Galat solusi pada langka ke- adala tumpukan galat dai langka-langka sebelumnya. Galat yang tekumpul pada aki langka ke- ini disebut galat longgokan (cumulative eo). Jika langka dimulai dai 0 = a Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 383

10 dan beaki di n = b maka total galat yang tekumpul pada solusi aki (y n ) adala E total n = (/ ) y"( t) = n = ( b a) ( b a) y"( t) = y"( t) = y"( t) (P.8.0) Galat longgokan total ini sebenanya adala E total = y(b) sejati - y( n ) Eule Pesamaan (P.8.0) menyatakan bawa galat longgokan sebanding dengan. Ini beati metode Eule membeikan ampian solusi yang buuk, seingga dalam paktek metode ini kuang disukai, namun metode ini membantu untuk memaami gagasan dasa metode penyelesaian PDB dengan ode yang lebi tinggi. Penguangan dapat meningkatkan ketelitian asil, namun penguangan tanpa penggunaan bilangan beketelitian ganda tidakla menguntungkan kaena galat numeik meningkat disebabkan ole galat pembulatan [NAK93]. Selain galat pemotongan, solusi PDB juga mengandung galat pembulatan, yang mempengaui ketelitian nilai y, y,, semakin lama semakin buuk dengan meningkatnya n (baca kembali Bab Deet Taylo dan Analisis Galat). Pogam 8. Metode Eule function y_eule(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung nilai y(b) pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 dengan metode Eule } va, n: intege;, y: eal; begin n:=(b-0)/; {jumla langka} y:=y0; {nilai awal} :=0; fo := to n do begin y:=y + *f(,y); { itung solusi y[] } := + ; { itung titik beikutnya } end; {fo} y_eule:=y; {y(b)} end; 384 Metode Numeik

11 Conto 8.4 Diketaui PDB dy/d = + y dan y(0) = Gunakan metode Eule untuk mengitung y(0,0) dengan ukuan langka = 0.05 dan = 0.0. Jumla angka bena = 5. Diketaui solusi sejati PDB tesebut adala y() = e - -. Penyelesaian: (i) Diketaui a = 0 = 0 b = 0.0 = 0.05 Dalam al ini, f(, y) = + y, dan peneapan metode Eule pada PDB tesebut menjadi y + = y + 0.0( + y ) Langka-langka: 0 = 0 y 0 = = 0.05 y = y ( 0 + y 0 ) = + (0.05)(0 + ) =.0050 = 0.0 y = y ( + y ) = (0.05)( ) = Jadi, y(0.0) ( Bandingkan dengan nilai solusi sejatinya, y(0.0) = e =.03 seingga galatnya adala galat = = ) (ii) Diketaui a = 0 = 0 b = 0.0 = 0.0 Dalam al ini, f(, y) = + y, dan peneapan metode Eule pada PDB tesebut menjadi y + = y + 0.0( + y ) Langka-langka: Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 385

12 0 = 0 y 0 = = 0.0 y = y ( 0 + y 0 ) = + (0.0)(0 + ) =.000 = 0.04 y = y + 0.0( + y ) = (0.0)( ) = = 0.06 y 3 = = 0.08 y 4 = = 0.0 y 5 =.08 Jadi, y (0,0).08 ( Bandingkan dengan solusi sejatinya, y (0.0) =.03, seingga galatnya adala galat = =.08 ) Conto 8.4 mempeliatkan bawa kita dapat menguangi galat dengan mempebanyak langka (mempekecil ). 8.5 Metode Heun (Pebaikan Metoda Eule) Metode Eule mempunyai ketelitian yang enda kaena galatnya besa (sebanding dengan ). Buuknya galat ini dapat dikuangi dengan menggunakan metode Heun, yang meupakan pebaikan metode Eule (modified Eule's metod). Pada metode Heun, solusi dai metode Eule dijadikan sebagai solusi pekiaan awal (pedicto). Selanjutnya, solusi pekiaan awal ini dipebaiki dengan metode Heun (coecto). Metode Heun dituunkan sebagai beikut: Pandang PDB ode satu y'() = f(, y()) Integasikan kedua uas pesamaan dai sampai + : + + f (, y( )) d = y' ( ) d = y( + ) - y( ) = y + - y Nyatakan y + di uas kii dan suku-suku lainnya di uas kanan: y + = y + + f (, y( )) d (P.8.) 386 Metode Numeik

13 Suku yang mengandung integal di uas kanan, + f (, y( )) d, dapat diselesaikan dengan kaida tapesium menjadi + f (, y( )) d [ f (, y ) + f ( +, y + )] (P.8.) Sulikan pesamaan (P.8.) ke dalam pesamaan (P.8.), mengasilkan pesamaan y + = y + / [f(, y ) + f( +, y + )] (P.8.3) yang meupakan metode Heun, atau metode Eule-Caucy yang dipebaiki. Dalam pesaman (P.8.3), suku uas kanan mengandung y +. Nilai y + ini adala solusi pekiaan awal (pedicto) yang diitung dengan metode Eule. Kaena itu, pesamaan (P.8.3) dapat ditulis sebagai Pedicto : y (0) + = y + f(, y ) Coecto : y + = y + / [f(, y ) + f( +, y (0) +)] (P.8.4) atau ditulis dalam satu kesatuan, y + = y + / [f(,y ) + f( +, y + f(, y )] (P.8.5) 8.5. Tafsian Geometi Metode Heun Metode ini mempunyai tafsian geometi yang sedeana. Peatikanla bawa dalam selang sampai + ½ kita mengampii solusi y dengan gais singgung melalui titik (, y ) dengan gadien f(, y ), dan kemudian meneuskan gais singgung dengan gadien f( +, y (0) +) sampai mencapai + [KRE88] (liat Gamba 8.4 dengan = 0). y y() y y 0 / / 0 Gamba 8.4 Tafsian geometi metode Heun Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 387

14 8.5. Galat Metode Heun Dai pesamaan (P.8.4), suku / [f(,y ) + f( +, y (0) +)] besesuaian dengan atuan tapesium pada integasi numeik. Dapat dibuktikan bawa galat pe langka metode Heun sama dengan galat kaida tapesium, yaitu 3 E p - y"(t), < t < + (P.8.5) = O( 3 ) Bukti: Misalkan, Y + adala nilai y sejati di + y + adala ampian nilai y di + Uaikan Y + di sekita : ( ) + Y( + ) = y( ) + ( ) + 3! = y + y' + 3! y"'( ) + ( ) + y'( ) + 3 y " + 6! y "' + y"( ) + Dengan menyatakan y ' = f(, y ) = f, maka Y + = y + f + f ' f "' + (P.8.6) Dai pesamaan (P.8.4), y + = y + / [f(,y ) + f( +, y (0) +)] uaikan f( +, y (0) +) dengan menggunakan deet Taylo di sekita : f( +, y (0) +) = f( +, y + ) 388 Metode Numeik

15 ( ) + = f(, y ) + + = f + f ' +! f " + ( ) + f '(, y ) +! f "(, y ) seingga pesamaan (P.8.4) dapat ditulis menjadi: y + = y + / [f(,y ) + f( +, y (0) +)] = y + / [f + f + f ' + ½ f " + ] = y + f + f ' f " + (P.8.7) Galat pe langka = nilai sejati - nilai ampian = Y + - y + = ( y + f + 3 f ' + 6 f "' + ) - (y + f + f ' f " + ) = f "' - 4 f "' + 3 = - f "' + 3 = - f "'(t), < t < + = O( 3 ) Galat longgokannya adala, n 3 E L = y"( t) = - = ( b a) = O( ) y"(t) (P.8.8) Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 389

16 Jadi, galat longgokan metode Heun sebanding dengan. Ini beati solusi PDB dai metode Heun lebi baik daipada solusi dai metode Eule, namun jumla komputasinya menjadi lebi banyak dibandingkan dengan metode Eule. Pebandingan metode Heun dengan metode Eule dilukiskan pada Gamba 8.5. y y + sejati y() y + () y + (0) y Heun Eule + Gamba 8.5 Pebandingan metode Eule dengan metode Heun Pogam 8. Metode Heun function y_heun(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan metode Heun pada PDB } va, n: intege;, y, y_s : eal; begin n:=(b-0)/; y:=y0; :=0; fo := to n do y'=f(,y); y(0)=y0 {jumla langka} {nilai awal} begin y_s:=y; { y dai langka - } y:=y + *f(,y); { y() dengan Eule } y:=y_s + / * ((f(,y_s) + f(+,y)); { y() dengan Heun } :=+; end; y_heun:=y; end; { titik beikutnya} 390 Metode Numeik

17 Conto 8.5 Diketaui PDB dy/d = + y ; y(0) = Hitung y (0.0) dengan metode Heun ( = 0.0) Penyelesaian: Diketaui f(, y) = + y a = 0 = 0 b = 0.0 = 0.0 maka n = (0.0-0)/0.0 = 5 (jumla langka) Langka-langka: = 0.0 y (0) = y 0 + f( 0, y 0 ) = + 0.0(0 + ) =.000 y () = y 0 + (/) [f( 0,y 0 ) + f(,y (0) )] = + (0.0/) ( ) =.004 = 0.04 y (0) = y + f(, y ) = ( ) =.04 y () = y + (/) [f(,y ) + f(, y (0) )] = (0.0/) [ ] = = 0.0 y (0) 5 = y 4 + f( 4, y 4 ) y () 5 = y 4 + (/) [f( 4,y 4 ) + f( 5,y (0) 5)] =.04 Jadi, y (0.0).04. Bandingkan: Nilai sejati : y(0.0) =.03 Eule (Conto 8.4) : y(0.0) =.08 Heun (Conto 8.5) : y(0.0) =.04 lebi baik dai Eule Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 39

18 8.5.3 Peluasan Metode Heun Metode Heun dapat dipeluas dengan meneuskan lelaannya sebagai beikut: y (0) + = y + f(, y ) y () + y () + y (3) + = y + / [f(, y ) + f( +, y (0) +)] = y + / [f(, y ) + f( +, y () +)] = y + / [f(, y ) + f( +, y () +)]... y (k+) + = y + / [f(, y ) + f( +, y (k) +)] Kondisi beenti adala bila y (k) + - y (k-) + < ε dengan ε adala batas galat yang diinginkan. Jika lelaannya dilakukan satu kali (sampai dengan y () + saja), maka lelaannya dinamakan lelaan satu lempaan (one sot iteation). Metoda Heun adala lelaan satu lempaan. Pogam 8.3: Peluasan Metode Heun function y_heun(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan peluasan metode Heun pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 } const epsilon = ; va, n: intege;, y, y_s, tampung : eal; begin n:=(b-0)/; {jumla langka} y:=y0; {nilai awal} :=0; fo := to n do begin y_s:=y; { y dai langka - } y:=y + *f(,y); { y() dengan Eule } epeat tampung:=y; y:=y_s + / *((f(, y_s)+ f(+, y)); {y() dengan Heun} until ABS(y-tampung) < epsilon; :=+; { itung titik beikutnya } end; y_heun:=y; end; 39 Metode Numeik

19 8.6 Metode Deet Taylo Kita suda meliat bawa metode Eule dituunkan dengan menggunakan deet Taylo. Deet Taylo pada penuunan metode Eule dipotong sampai suku ode petama seingga solusinya kuang teliti. Kita dapat meningkatkan ketelitian dengan memotong deet sampaisuku yang lebi tinggi lagi. Metode deet Taylo adala metode yang umum untuk menuunkan umus-umus solusi PDB. Metode Eule meupakan metode deet Taylo yang paling sedeana. Dibeikan PDB Misalkan y'() = f(,y) dengan kondisi awal y( 0 ) = y 0 y + = y( + ), = 0,,,n adala ampian nilai y di +. Hampian ini dipeole dengan menguaikan y + di sekita sebagai beikut: atau ( ) ( + ) + y( + ) = y( ) + y'( ) +! ( ) + y"'( ) + + n! n! y (n) ( ) ( ) + y"( ) + 3! 3 y( + ) = y( ) + y'( ) + y"( ) y"'( ) + + ( n) ( n) y n! (P.8.9) Pesamaan (P.8.9) menyiatkan bawa untuk mengitung ampian nilai y +, kita pelu mengitung y'( ), y"( ),, y (n) ( ), yang dapat dikejakan dengan umus y (k) () = P (k-) f(, y) (P.8.0) yang dalam al ini, P adala opeato tuunan, P = ( + f ) (P.8.) y Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 393

20 Conto 8.3 Diketaui PDB dy/d = ½ - ½ y ; y(0) = Tentukan y(0.50) dengan metode deet Taylo ( = 0.5). Penyelesaian: 0 = 0 y 0 = = 0.5 y =? y( ) = y( 0 ) + y'( 0 ) + 3 y"( 0 ) + 6 y"'( 0 ) + + ( ) n n! y (n) 0 + Misal kita anya mengitung y( ) sampai suku ode ke-4 saja. y'() = ½ - ½ y d y"() = ( ½ - ½ y ) d = ½ + f. (-/) = ½ - ( ½ - ½ y). ½ = ½ - ¼ + ¼ y d y"'() = ( ½ - ¼ + ¼ y) d = -/4 + f. /4 = -/4 + ( ½ - ½ y). ¼ = -/4 + /8 - y/8 Dipeole: seingga y (4) () = d (/4 + /8 - /8 y) d = /8 + f. (-/8) = /8 - (/ - y/). /8 = /8 - /6 + y/6 y( 0 ) = y(0) = y'( 0 ) = y'(0) = ½ 0 - ½ = -/ y"( 0 ) = y"(0) = ½ - ¼ 0 + ¼ = 3/4 y"'( 0 ) = y"'(0) = -/4 + /8 0 - /8 = - 3/8 y (4) ( 0 ) = y (4) (0) = /8 - /6 0 + /6 = 3/6 394 Metode Numeik

21 Dipeole: Seingga, y( ) = (-/) + ((0.5) /) (3/4) + ((0.5) 3 /6) (-3/8) + ((0.5) 4 /4) (3/6) = = 0.50 y =? y( ) = y( ) + y'( ) + 3 y"( ) + 6 y"'( ) + + y( ) = y'( ) = (/)(0.5) - (/)( ) = y"( ) = ½ - (¼) (0.5) + (/4)( ) = y"'( ) = -/4 + (/8)(0.5) - (/8)( ) = y (4) ( ) = /8 - (/6)(0.5) + (/6)( ) = ( ) n n! y (n) = y = ( ) + (0.5 /)( ) + (0.5 3 /6)( ) + (0.5 4 /4)( ) = Jadi, y(0.50) (Bandingkan dengan solusi sejati, y(0.50) = ) Galat Metode Deet Taylo Galat pelangka metode deet Taylo setela pemotongan ke-n adala ( n+ ) ( n+ ) f E t ( n + )! = O( n+ ) (t), 0 < t < + (P.8.) Pada Conto 8., galat pe langkanya adala E p 5 5! f (5) (t), 0 < t < 0.50 Kaena t tidak diketaui, kita anya dapat mengitung batas atas dan batas bawa galat E p dalam selang-buka (0, 50). Galat longgokan total metode deet Taylo adala: Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 395

22 E L = ( + ) n ( n + )! f ( n+) (t) = b a ( + ) n ( n + )! f (n+) (t) = (b - a) ( + ) f n ( t) ( n (P.8.3) n + )! = O( n ) 8.7 Ode Metode PDB Ode metode penyelesaian PDB menyatakan ukuan ketelitian solusinya. Makin tinggi ode metode, makin teliti solusinya. Ode metode PDB dapat ditentukan dai pesamaan galat pe langka atau dai galat longgokannya.. Jika galat longgokan suatu metode PDB bebentuk C p, C tetapan, maka metode tesebut dikatakan beode p. Sebagai conto, metode Eule Galat longgokan = ( b a ) ( b a) y"(t) = C, C = y"( t) = O() ode metode Eule = ( b a) metode Heun Galat longgokan = y"(t) = C ( b a), C = y"( t) = O( ) ode metode Heun =. Jika galat pe langka suatu metoda PDB bebentuk B p+, B konstanta, maka metode tesebut dikatakan beode p. Dengan kata lain, jika galat pe langka = O( p+ ) maka galat longgokan = O( p ). Sebagai conto, metode Eule Galat pe langka = ½ y"(t) = B, B = ½ y"(t) = O( ) ode metode Eule = -= 396 Metode Numeik

23 metode Heun Galat pe langka = - / y"(t) 3 = B 3, dengan B = - / y"(t) = O( 3 ) ode metode Heun =3- = Menentukan Galat pe Langka Metode PDB Galat pe langka metode PDB dipeole dengan bantuan deet Taylo. Kita suda pena menuunkan galat pe langka metode Heun dengan bantuan deet Taylo. Sekaang, posedu untuk menentukan galat pe langka suatu metode PDB dapat ditulis sebagai beikut: () Notasi nilai y ampian di + adala y + () Notasi nilai y sejati di + adala Y + (3) Uaikan y + di sekita (4) Uaikan Y + di sekita (5) Galat pe langka adala = (4) - (3) Conto 8.4 Hitung galat pe langka metode PDB y + = y + f dan tentukan ode metodenya. Penyelesaian: (metode Eule) Hampian : y + = y + f Sejati : Y + Uaikan y + ampian di sekita : Ruas kanan pesamaan y + suda tedefinisi dalam, jadi y + tidak pelu diuaikan lagi. Uaikan Y + di sekita : Y + = Y( + ) = y( ) + ( ) + y'( ) + ( ) = y + y ' +! y " +... = y + f + + y"( ) +...! f ' +... Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 397

24 Galat pe langka E p = Y + - y + = f ' + = = O( ) f '(t), < t < + Ode metode = - = Conto 8.5 Hitung galat pe langka metode PDB y + = y + / (3 f - 6 f f - ) dan tentukan ode metodenya. Penyelesaian: Hampian : y + = y + / (3 f - 6 f f - ) Sejati : Y + Uaikan y + di sekita : 3 f = 3 f -6 f - = -6 ( f - f ' + ½ f " - 3 /6 f "' + ) 5 f - = 5 ( f - f ' + 4 / f "- 8 3 /6 f "' + ) + 3 f - 6 f f - = f + 6 f ' + f " - 4 / 6 3 f "' + Uaikan Y + di sekita : y + = y + / (3 f - 6 f f - ) = y + / ( f + 6f ' + f " - 4 / 6 3 f "' + ) = y + f + ½ f ' + / 6 3 f " - / 3 4 f "' +... Y + = y + y ' + / y " + 3 /6 y "' + 4 /4 y (4) + = y + f + / f ' + / 6 3 f " + / 4 4 f "' + Galat pe langka E p = Y + - y + = / 4 4 f "' + / 3 4 f "' +... = 9 / 4 4 f "' +... = 9 / 4 4 f "'(t), - < t < + Ode metode = 4 - = Metode Numeik

25 8.8 Metode Runge-Kutta Penyelesaian PDB dengan metode deet Taylo tidak paktis kaena metode tesebut membutukan peitungan tuunan f(, y). Lagipula, tidak semua fungsi muda diitung tuunannya, teutama bagi fungsi yang bentuknya umit. Semakin tinggi ode metode deet Taylo, semakin tinggi tuunan fungsi yang aus diitung. Kaena petimbangan ini, metode deet Taylo yang beode tinggi pun tidak dapat dapat diteima dalam masala paktek. Metode Runge-Kutta adala altenatif lain dai metode deet Taylo yang tidak membutukan peitungan tuunan. Metode ini beusaa mendapatkan deajat ketelitian yang lebi tinggi, dan sekaligus mengindakan kepeluan mencai tuunan yang lebi tinggi dengan jalan mengevaluasi fungsi f(, y) pada titik tepili dalam setiap selang langka [CON80]. Metode Runge-Kutta adala metode PDB yang paling popupe kaena banyak dipakai dalam paktek. Bentuk umum metoda Range-Kutta ode-n iala: y + = y + a k + a k a n k n (P.8.4) dengan a, a,..., a n adala tetapan, dan k = f (, y ) k = f ( + p, y + q k ) k 3 = f ( + p, y + q k + q k )... k n = f ( + p n-, y + q n-, k + q n-, k q n-, n- k n- ) Nilai a i, p i, q ij dipili sedemikian upa seingga meminimumkan galat pe langka, dan pesamaan (P.8.4) akan sama dengan metode deet Taylo dai ode setinggi mungkin.. Galat pe langka metode Runge-Kutta ode-n : O( n+ ) Galat longgokan metode Runge-Kutta ode-n : O( n ) Ode metode = n Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 399

26 8.8. Metode Runge-Kutta Ode Satu Metode Runge-Kutta ode satu bebentuk k = f (, y ) y + = y + (a k ) (P.8.5) Galat pe langka metode R-K ode satu adala O( ). Galat longgokan metode R-K ode satu adala O(). Yang temasuk ke dalam metode Runge-Kutta ode satu iala metode Eule: k = f (, y ) y + = y + k (dalam al ini a = ) 8.8. Metode Runge-Kutta Ode Dua Metode Runge-Kutta ode dua bebentuk k = f (, y ) k = f ( + p, y + q k ) y + = y + (a k + a k ) (P.8.6) Galat pe langka metode Runge-Kutta ode dua adala O( 3 ). Galat longgokan metode Runge-Kutta ode dua adala O( ). Nilai a, a, p, dan q ditentukan sebagai beikut: Misalkan f = f (,y ) f (, y ) f =, dan f y = f (, y ) y Uaikan k ke dalam deet Taylo di sekita (, y ) sampai suku ode satu saja: k = f ( + p, y + q k ) = ( f + p f + q k f y ) = ( f + p f + q f f y ) = ( f + ( p f + q ff y )) Sedangkan k tidak pelu diuaikan kaena suda beada dalam bentuk (, y ). 400 Metode Numeik

27 Jadi, y + = y + a k + a k = y + a f + a f + a ( p f + q ff y ) = y + (a + a ) f + a ( p f + q ff y ) (P.8.7) Uaikan Y + sejati di sekita sampai suku ode dua saja: Y + = y + y ' + / y " (P.8.8) Mengingat y ' = f(,y ) = f dan y " = f '(, y ) = = = df f ( y ), d = f + f y f = f + ff y d f + d y dy d maka pesamaan (P.8.8) menjadi y + = y + f + / ( f + f f y ) (P.8.9) Galat pe langka metode adala E p = (P.8.9) - (P.8.7): = { y + f + / ( f + f f y ) } - { y + (a + a ) f + a ( p f + q f f y ) } = { f + / ( f + ff y ) } - { (a + a ) f + a ( p f + q ff y ) } Dengan membuat galat pe langka E p = 0, 0 = { f + / ( f + f f y ) } - { (a + a ) f + a ( p f + q f f y ) } Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 40

28 atau f + / ( f + f f y ) = (a + a ) f + a ( p f + q f f y ) (P.8.30) Aga uas kii dan uas kanannya sama, ausla a + a = a p = / a q = / Kaena sistem pesamaan di atas tedii atas tiga pesamaan dengan empat peuba yang tidak diketaui, maka solusinya tidak unik, dengan kata lain, solusinya banyak. Solusi yang unik anya dapat dipeole dengan membeikan sebua peuba dengan sebua aga. Misalkan ditentukan nilai a = t, t R, maka a = a = t p = q = a a = = t t Kaena kita dapat membeikan sembaang nilai t, beati metode Runge-Kutta Ode dua tidak teingga banyaknya. Conto metode Runge-Kutta ode dua adala metode Heun, yang dalam al ini a = /, a = /, p = q = Dalam bentuk Runge-Kutta ode, metode Heun dapat ditulis sebagai k = f(,y ) k = f( +, y + k ) y + = y + / (k + k ) Pogam Heun suda pena kita tulis (Pogam 8.). Sekaang pogam tesebut kita tulis lagi dalam bentuk Runge-Kutta ode menjadi Pogam 8.4 beikut ini. 40 Metode Numeik

29 Pogam 8.4 Metode Heun function y_heun(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan metode Heun pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 } va, n: intege;, y, y_s, _s : eal; begin n:=(b - 0)/; {jumla langka} y:=y0; {nilai awal} :=0; fo := to n do begin k:=*f(,y); k:=*f(+, y+k); y:=y + (k + k)/; :=+; end; y_heun:=y; end; Conto metode Runge-Kutta ode dua lainnya iala metode Ralston, yang dalam al ini a = /3 a = /3, p = q = 3/4 seingga metode Ralston dapat ditulis dalam bentuk Runge-Kutta ode dua sebagai k = f (, y ) k = f ( + 3 / 4, y + 3 / 4 k ) y + = y + ( / 3 k + / 3 k ) (P.8.3) Sepintas, metode Runge-Kutta tampaknya umit, tapi sebenanya metode Runge- Kutta muda dipogam. Dengan peitungan tangan, seingnya mengitung f(, y) meupakan pekejaan yang melelakan. Tetapi dengan kompute, al ini tidak menjadi masala. Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 403

30 8.8.3 Metode Runge-Kutta Ode Tiga Metode Runge-Kutta yang tekenal dan banyak dipakai dalam paktek adala metode Runge-Kutta ode tiga dan metode Runge-Kutta ode empat. Kedua metode tesebut tekenal kaena tingkat ketelitian solusinya tinggi (dibandingkan metode Runge-Kutta ode sebelumnya, muda dipogam, dan stabil (akan dijelaskan kemudian). Metode Runge-Kutta ode tiga bebentuk: k = f (, y ) k = f ( + /, y + / k ) k 3 = f ( +, y - k + k ) y + = y + / 6 ( k + 4k + k 3 ) (P.8.3) Galat pe langka metode R-K ode tiga adala O( 4 ). Galat longgokan metode R-K ode tiga adala O( 3 ). Pogam 8.5 Metode Runge-Kutta Ode 3 function y_rk3(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan metode Runge-Kutta ode tiga pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 } va, n: intege;, y, k, k, k3: eal; begin n:=(b - 0)/; {jumla langka} y:=y0; {nilai awal} :=0; fo := to n do begin k:=*f(, y); k:=*f( + /, y + k/); k3:=*f( +, y - k + *k); y:=y + (k + 4*k + k3)/6 { nilai y() } :=+; { titik beikutnya} end; y_rk3:=y; end; 404 Metode Numeik

31 8.8.4 Metode Runge-Kutta Ode Empat Metode Runge-Kutta ode empat adala k = f (, y ) k = f ( + /, y + / k ) k 3 = f ( + /, y + / k ) k 4 = f ( +, y + k 3 ) y + = y + / 6 (k + k + k 3 + k 4 ) (P.8.33) Galat pe langka metode Runge-Kutta ode empat adala O( 3 ). Galat longgokan metode Runge-Kutta ode empat adala O( ). Pogam 8.6 Metode Runge-Kutta Ode 4 function y_rk4(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan metode Runge-Kutta ode empat pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 } va, n: intege;, y, k, k, k3, k4: eal; begin n:=(b - 0)/; {jumla langka} y:=y0; {nilai awal} :=0; fo := to n do begin k:=*f(, y); k:=*f( + /, y + k/); k3:=*f( + /, y + k/); k4:=*f( +, y + k3); y:=y + (k + *k + *k3 + k4)/6 { nilai y() } :=+; { titik beikutnya} end; y_rk4:=y; end; Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 405

32 Conto 8.6 Diketaui PDB = dy + y d ; y(0) = 0 Tentukan y(0.0) dengan metode Runge-Kutta ode tiga. Gunakan ukuan langka = 0.0. Penyelesaian: Diketaui a = 0 = 0 b = 0.0 = 0.0 maka n = (0.0-0)/0.0 = (jumla langka) Langka: 0 = 0 y 0 = 0 = 0.0 y =? k = f( 0, y 0 ) = (0.0) ( + 0 ) = 0.0 k = f( 0 + /, y 0 + / k ) = (0.0) ( ) = k 3 = f( 0 +, y 0 - k + k ) = (0.0) ( ) = 0.00 y = y 0 + / 6 ( k + 4k + k 3 ) = 0 + / 6 ( ) = = 0.0 y =? k = f(,y ) = (0.0)( ) = 0.00 k = f( + /, y + / k ) = (0.0)( ) = 0.08 k 3 = f( +, y - k + k ) = (0.0) ( ) = y = y + / 6 (k + 4k + k 3 ) = / 6 ( ) = 0.07 Jadi, y(0.0) Nilai sejati y(0.0) = Metode Runge-Kutta ode yang lebi tinggi tentu membeikan solusi yang semakin teliti. Tetapi ketelitian ini aus dibaya dengan jumla komputasi yang semakin banyak. Jadi ada timbal-balik (tade-off) dalam memili suatu metode Runge-Kutta. 406 Metode Numeik

33 8.9 Ekstapolasi Ricadson Ekstapolasi Ricadson dapat diteapkan untuk mempebaiki solusi PDB dan mempekiakan galatnya, asal kita mengetaui ode metode PDB. Mula-mula solusi PDB diitung dengan ukuan langka. Kemudian solusinya diitung lagi tetapi dengan ukuan langka. Maka, solusi yang lebi baik adala y() = y(; ) + [ y(; ) - y(; )] (P.8.34) p yang dalam al ini, y(; ) = solusi PDB di dengan ukuan langka y(; ) = solusi PDB di dengan ukuan langka y() = solusi PDB yang lebi baik. p = ode metode PDB yang digunakan taksian galatnya adala ε = p [ y(; ) - y(; )] (P.8.35) Bila kita tidak mengetaui p, maka nilai pekiaan ketiga, y(; 4) memungkinkan kita menggunakan ekstapolasi Aitken sebagai pengganti ekstapolasi Ricadson. Liat kembali Bab Integasi Numeik. 8.0 Metode Banyak-Langka Sampai sejau ini kita tela mengenal metode Eule, metode Heun, metode deet Taylo, dan metode Runge-Kutta. Semua metode tesebut dikelompokkan ke dalam metode satu-langka (one-step), sebab untuk menaksi nilai y( + ) dibutukan satu bua taksian nilai sebelumnya, y( ). Kelompok metode PDB yang lain iala metode banyak-langka (multi-step). Pada metode banyak-langka, pekiaan nilai y( + ) membutukan bebeapa taksian nilai sebelumnya, y( ), y( - ), y( - ),.... Yang temasuk ke dalam metode banyak-langka adala metode pedicto-coecto. Metode Heun adala metode pedicto-coecto, namun metode Heun bukanla metode banyak-langka, sebab taksian nilai y( + ) anya didasakan pada taksian y( ). Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 407

34 Tujuan utama metode banyak-langka adala menggunakan infomasi dai bebeapa titik sebelumnya, y, y -, y -,..., untuk mengitung taksian nilai y + yang lebi baik. Bebeapa metode pedicto-coecto (P-C) yang temasuk ke dalam metode banyak-langka. Pada metode) P-C, kita menaksi nilai y + dai y, y -, y -,..., dengan pesamaan pedicto, dan kemudian menggunakan pesamaan coecto untuk mengitung nilai y + yang lebi baik (impove). pedicto : Menaksi y + dai y, y -, y -,... coecto : Mempebaiki nilai y + dai pedicto Metode P-C yang banyak ditulis dalam liteatu dan kita baas di sini adala:. Metode Adams-Basfot-Moulton.. Metode Milne-Simpson 3. Metode Hamming 8.0. Metode Adams-Basfot-Moulton Tinjau PDB ode satu y'() = f(, y()) Integasikan kedua uas pesamaan dai sampai + : + f (, y( )) d = + y ' ( ) d = y() + = y( + ) - y( ) = y + - y Nyatakan y + di uas kii pesamaan dan suku lainnya di uas kanan: y + = y + + f (, y( )) d (P.8.34) Pesaman (P.8.34) ini adala teoema dasa kalkulus (liat Bab, Integal), yang meupakan dasa penuunan pesamaan pedicto dan pesamaan coecto. 408 Metode Numeik

35 Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 409 Pesamaan Pedicto [MAT93] Pesamaan pedicto dipeole dengan mengampii fungsi f(, y()) ke dalam polinom intepolasi deajat tiga. Untuk itu, dipelukan empat bua titik yang bejaak sama, yaitu: ( -3, f -3 ), ( -, f - ), ( -, f - ), (, f ). Peatikan Gamba Gamba 8.6 Pembentukan pesaman pedicto Dai empat bua titik tesebut, bentukla polinom intepolasi Lagange deajat tiga: f(, y()) ( )( )( ) ( )( )( ) f ( )( )( ) ( )( )( ) f ( )( )( ) ( )( )( ) f ( )( )( ) ( )( )( ) 3 3 f

36 3 6-3 ( - - )( - - )( - ) f ( - -3 )( - - )( - ) f ( - -3 )( - - )( - ) f - ( - -3 )( - - )( - - ) f (P.8.35) Sulikan (P.8.35) ke dalam pesamaan (P.8.34). Hasil integasi pesamaan (P.8.34) membeikan: y * + = y + ( -9f f f f ) 4 (P.8.36) yang meupakan pesamaan pedicto. Pesamaan Coecto [MAT93] Pesamaan coecto dibentuk dengan caa yang sama sepeti pada pesamaan pedicto. Tetapi, titik-titik yang dipelukan untuk pembentukan polinom intepolasi (Gamba 8.7) iala ( -, f - ), ( -, f - ), (, f ), dan titik bau ( +, f * + ) = ( +, f( +, y* + )) Gamba 8.7 Pembentukan pesaman coecto 40 Metode Numeik

37 Dai empat bua titik tesebut, bentukla polinom intepolasi Lagange deajat tiga. Kemudian, integasikan polinom intepolasi tesebut dalam selang [, + ], untuk membeikan y + = y + ( f- - 5 f f + 9f * +) (P.8.37) 4 yang meupakan pesamaan coecto. Jadi, metode Adams-Basfot-Moulton dapat diingkas sebagai beikut: pedicto : y * + = y + / 4 ( -9f f f f ) coecto : y + = y + / 4 ( f f f + 9f * +) (P.8.38) (P.8.39) Galat pe langka metode Adams-Basfot-Moulton adala dalam ode O( 5 ), yaitu: pedicto : E p = Y + - y* + 5 / 70 5 y (5) (t), -3 < t < + coecto : E p = Y + - y + -9 / 70 5 y (5) (t), -3 < t < + dan galat longgokan adala dalam ode O( 4 ). Kaena itu, metode Adams-Basfot- Moulton di atas dinamakan juga metode Adams-Basfot-Moulton ode-4. Metode yang lebi enda adala metode Adams-Basfot-Moulton ode-3: pedicto : y* + = y + / (3 f - 6 f - + 5f - ) coecto : y + = y + / ) (5 f* f - f - ) Pada waktu penuunan pesamaan pedicto Adams-Basfot-Mouton ode-3 ini, polinom intepolasinya memelukan tiga bua titik, yaitu ( -, f - ), ( -, f - ), (, f ), sedangkan pada waktu penuunan pesamaan pedicto, polinom intepolasinya memelukan titik-titik ( -, f - ), (, f ), ( +, f * +). Galat pe langkanya adala dalam ode O( 4 ), yaitu: pedicto : E p = Y + - y* + 9 / 4 4 y"(t), - < t < + coecto : E p = Y + - y + - / 4 4 y"(t), - < t < + dan galat longgokan adala dalam ode O( 3 ). Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 4

38 Caa menuunkan pesamaan galat metode pedicto-coecto sama sepeti caa yang suda dijelaskan sebelumnya. Misalnya kita akan menuunkan pesamaan galat metode Adams-Basfot-Moulton ode-3 sebagai beikut: Uaikan pesamaan pedicto, coecto dan y + sejati di sekita. Pedicto Hampian : y* + = y + / (3 f - 6 f f - ) = y + / [3 f - 6( f - f ' + / f " - / 6 3 f "' + ) + 5(f - f ' + f " - 8 / 6 3 f "' + )] = y + / [f + 6f ' + f " f "' + ] = y + f + / f ' + / 6 3 f " - / 3 4 f "' + Sejati: Y + = y + y' + / y " + / 6 3 y "' + / 4 4 y (4) + Galat pe langka pedicto: = y + f + / f ' + / 6 3 f " + / 4 4 f "' + E p = sejati - ampian = / 4 4 f "' + / 3 4 f "' + = 9 / 4 4 f "' = 9 / 4 4 y"(t), - < t < + = O( 4 ) Coecto Hampian : y + = y + / (5f* + + 8f - f - ) = y + / [5( f + f ' + / f " + / 6 3 f "' + ) + 8 f ( f - f ' + / f " - / 6 3 f "' + )] = y + / (f + 6f ' + f " + 3 f "' + ) = y + f + / f ' + / 6 3 f " + / 4 f "' + Galat pe langka coecto: E p = sejati - ampian = / 4 4 f "' - / 4 f "' + 4 Metode Numeik

39 = - / 4 4 f "' = - / 4 4 y"(t), - < t < + = O( 4 ) Ode metode = 4 - = Metode Milne-Simpson Metode Milne-Simpson didasakan pada integasi f(, y()) pada selang [ -3, + ]: y( + ) = y( -3 ) + + f (, y( )) d (P.8.40) 3 Pesamaan pedicto dan coecto metode Milne-Simpson adala pedicto : y* + = y / 3 (f - - f - + f ) (P.8.4) coecto : y + = y - + / 3 ( f f + f + ) (P.8.4) dan galat pe langkanya adala dalam ode O( 5 ), yaitu: pedicto : E p = Y + - y* y (5) (t) coecto : E p = Y + - y + untuk -3 < t < y (5) (t) Metode Hamming Pesamaan pedicto dan coecto metode Hamming adala pedicto : y* + = y / 3 ( f - - f - + f ) (P.8.43) coecto : y + = y 8 + 9y (-f- + f + f + ) 8 (P.8.44) Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 43

40 8.0.4 Posedu Pendauluan PDB anya mempunyai satu nilai awal, yaitu y 0 = y( 0 ). Dengan demikian, metode banyak-langka tidak swa-mulai (self-stat), seingga tidak dapat diteapkan langsung, sebab metode tesebut memelukan bebeapa bua nilai awal. Inila kelemaan metode banyak-langka. Misalkan pedicto mempunyai pesamaan y* + = y + / (3f - 6f - + 5f - ) Untuk mengitung y* 3, kita aus mempunyai nilai y 0, y, dan y aga nilai f 0 = f( 0, y 0 ), f = f(, y ), f = f(, y ) dapat ditentukan. Untuk mendapatkan bebeapa nilai awal yang lain, kita aus melakukan posedu pendauluan (stating pocedue) dengan metode PDB yang bebas. Metode PDB yang seing dijadikan sebagai posedu pendauluan adala: - metode Eule - metode Runge-Kutta - metode deet Taylo Jadi, untuk conto pedicto di atas, y dan y diitung telebi daulu dengan sala satu posedu pendauluan. Selanjutnya, metode P-C dapat dipakai untuk mengitung y 3, y 4,..., y n. Pogam 8.7 Metode Adams-Basfot-Moulton function y_adams_basfot_moulton(0, y0, b, :eal):eal; {mengitung y(b) dengan metode Adams_Basfot_moulton pada PDB y'=f(,y); y(0)=y0 } va, n: intege;, y, y0, y, y, y3 : eal; begin n:=(b-0)/; {jumla langka} y0:=y0; {nilai awal dai PDB} {Posedu pendauluan untuk mengitung nilai awal lain, y, y, y3} y:=y_rk3(0, y0, 0+, ); {y()} y:=y_rk3(0, y0, 0+*, ); {y()} y3:=y_rk3(0, y0, 0+3*, ); {y(3)} :=0 + 3*; { 3 } fo :=4 to n do begin y:=y3 + /4*(-9*f(-3*, y0) + 37*f(-*, y) - 59*f(-, y) + 55f(, y3); y:=y3 + /4*(f(-*, y)-5*f(-, y) + 9*f(,y3) + 9*f(+,y); y0:=y; y:=y; 44 Metode Numeik

41 y:=y3; y3:=y; :=+; ( titik beikutnya } end; y_adams_basfot_moulton:=y; end; Keidealan Metode Pedicto-Coecto Metode pedicto-coecto dikatakan ideal jika galat pe langka pedicto mempunyai ode yang sama dengan galat pe langka coecto: galat pe langka pedicto : Y + - y * + A p galat pe langka coecto : Y + - y + αa p dengan α adala tetapan yang diketaui. Metode Adams-Basfot-Moulton, metode Milne-Simpson, dan metode Hamming adala metode P-C yang ideal. Metode Heun adala metode P-C yang tidak ideal, kaena galat pe langka pedicto : E p = Y + - y + y" (t) A galat pe langka coecto : E p = Y + - y + - y ''' (t) 3 B 3 Jika sebua metode P-C ideal, kita dapat mempeole nilai y + yang lebi baik (impove) sebagai beikut: y + - y* + = A p (P.8.45) y + - y + = αa p (P.8.46) dengan y + adala taksian yang lebi baik dai pada y +. Rumus y + dapat dipeole dengan membagi pesamaan (P.8.45) dengan pesamaan (P.8.46): y + y + y y * + + = A p αa p = α y + - Y + = α y + - α y* + Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 45

42 y + ( - α) = y + - α y* + y + = y + α y α * + y + = y + α - α y α * + + * α y + α y + ( ) + y = α - α y α * + + y α + ( ) y = α + y + α - α y α * + y + = y + + α α (y + - y* + ) (P.8.47) Suku α / (-α) ( y + - y* + ) pada pesamaan (P.8.47) meupakan taksian galat pe langka untuk mengitung y +, dan menyatakan fakto koeksi teadap nilai y +. Jadi, untuk mendapatkan taksian nilai y + yang lebi baik, tambakan y + dengan fakto koeksi tesebut. Conto 8.7 Tentukan pekiaan galat pe langka untuk nilai y + yang lebi baik dengan metode Adams-Basfot-Moulton. Penyelesaian: galat pe langka pedicto : E p = y + - y * + 5 / 70 y (5) (t) 5 galat pe langka coecto : E p = y + - y + -9 / 70 y (5) (t) 5 Dai pesamaan galat di atas, dipeole A = 5/70 dan αa = -9/70 Nilai α ditentukan sebagai beikut: α A = -9/70 α(5/70) = (-9/70) α = -9/5 46 Metode Numeik

43 Seingga, y = y + + ( 9/ 5 ) + ( y + - y* + ) + 9/ 5 9 = y + - ( y+ - y* + ) 70 Jadi, taksian galat pe langka untuk nilai y + adala E p -9 / 70 ( y + - y* + ) 8. Pemilian Ukuan Langka yang Optimal Ukuan langka adala pesoalan yang penting pada metode PDB yang bedasakan langka pe langka ini. Jika telalu kecil, jumla langkanya semakin banyak dan galat pembulatannya semakin besa. Sebaliknya, jika telalu besa, galat pemotongannya juga betamba besa kaena galat pemotongan sebanding dengan. Timbul petanyaan: beapaka ukuan langka yang optimal aga galat pe langka metode PDB dapat dipetaankan kuang dai ε? Misalkan kita mengitung solusi PDB dengan metode Runge-Kutta ode-4. Kita ingin galat pe langkanya kuang dai ε. Galat pe langka metode Runge-Kutta ode-4 bebentuk E p () = B 5 (P.8.48) dengan B adala konstanta yang begantung pada soal yang dibeikan. Aga E t () kuang dai ε, B 5 < ε maka ukuan langka ausla < (ε/b) /5 (P.8.49) Konstanta B ditentukan dengan caa pecobaan sebagai beikut:. Hitung y( ) dengan ukuan langka (disimbolkan dengan y( ;). Galat pe langkanya dinyatakan ole pesamaan (P.8.48). Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 47

44 . Hitung kembali y( ) dengan ukuan langka / (disimbolkan dengan y( ;/). Jadi, pelu dua langka untuk mengitung y( ) dengan galat tiap langka pe langka seluunya adala: E p (/) + E p (/) = B(/) 5 + B(/) 5 E p (/) = B(/) 5 = 5 B 6 (P.8.50) 3. Kuangi (P.8.48) dengan (P.8.50): E p () - E p (/) = B() 5 - / 6 B 5 = 5 / 6 B 5 (P.8.5) 4. Ruas kii pesamaan (P.8.5) diitung sebagai E p () - E p (/) = y( ;) - y( ;/) (P.8.5) 5. Samakan pesamaan (P.8.5) dengan pesamaan (P.8.5): 5 / 6 B 5 = y( ;) - y( ;/) seingga dipeole B = 5 6 y( ; ) y( ; / ) 5 (P.8.53) 6. Sulikan nilai B dalam ketidaksamaan (P.8.49) seingga dipeole batas maksimum nilai ukuan langka. Conto 8.8 Dibeikan PDB y' = y/( + ), y(0)= Tentukan ukuan langka aga galat pe langka kuang dai Penyelesaian: 48 Metode Numeik

45 Diketaui: 0 = 0 y 0 = ε = Dengan ukuan langka = dan = 0.5, metode Runge-Kutta ode-4 mengasilkan y = y (; ) = y = y (; 0.5) = Nilai B diitung dengan pesamaan (P.8.53): B = 6 ( ) 5 5 = Jadi, ukuan langka yang optimal aga galat pe langka metode Runge-Kutta ode-4 kuang dai ε iala < (0.0000/ ) /5 = Sistem Pesamaan Difeensial Dalam bidang sains dan ekayasa, pesamaan difeensial banyak muncul dalam bentuk simultan, yang dinamakan sistem pesamaan difeensial, sebagai beikut: dy y' = = f (, y, y,, y n ), y ( 0 ) = y 0 d dy y' = = f (, y, y,, y n ), y ( 0 ) = y 0 d M y' n = dy n = fn (, y, y,, y n ), y n ( 0 ) = y n0 (P.8.54) d Sistem pesamaan difeensial tesebut dapat ditulis dalam notasi vekto sebagai beikut: y' = f (, y), y( 0 ) = y 0 (P.8.55) yang dalam al ini, Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 49

46 y y' f y y' f y 0 y =., y' =., f =., y 0 = y n y' n f n y y 0 n 0 Semua metode yang tela dijelaskan untuk pesamaan tunggal (Eule, Runge- Kutta, dll.) dapat diteapkan pada sistem pesamaan di atas. Conto 8.9 Diketaui sistem PDB ode- dy = -0.5 y, y(0) = 4 dt dz dt = 4-0.3z - 0. y, z(0) = 6 Hitung y(0.5) dan z(0.5) dengan (a) metode Eule, dan (b) metode Runge-Kutta ode 3. Ambil = 0.5. Penyelesaian: y = y y', y' = z z', f = f f 0.5y = 4 0.3z 0.y y 0 = 4 6 Sistem PDB di atas dapat ditulis menjadi y' = f (t, y), y(t 0 ) = y 0 (a) Dengan metode Eule y + = y + f( t, y ): y + = y + f (t, y, z ) z + = z + f (t, y, z ) t 0 = 0 y 0 = 4 dan z 0 = 6 t 0 = 0.5 y = y(0.5) = y 0 + f (t 0, y 0, z 0 ) = 4 + (0.5){(-0.5)(4)} = 3 z = z(0.5) = z 0 + f (t 0, y 0, z 0 ) = 6 + (0.5){4 - (0.3)(6) - (0.)(4)} = Metode Numeik

47 (b) Dengan metode Runge-Kutta ode-3, seingga seingga k = f (t, y ), k = f (t + /, y + k /) k = f (t +, y - k + k ) y + = y + (/6)(k + 4k + k 3 ) t 0 = 0 y 0 = 4 t = 0.5 y =? k = f (t 0, y 0, z 0 ) = 0.5 {(-0.5)(4)} = - k = f (t 0 + /, y 0 + k /, z 0 + k /) = (0.5)f (0.5, 3.5, 5.5) = (0.5){(-0.5)(3.5)} = k 3 = f (t 0 +, y 0 - k + k, z 0 - k + k ) = 0.5 f (0.5, 3.5, 6.85) = 0.5{(-0.5)(3.5)} = y = y(0.5) = y 0 + / 6 (k + 4k + k 3 ) = 4 + / 6 {- + 4(-0.875) + (-0.85)} = t 0 = 0 z 0 = 6 t = 0.5 z =? k = f (t 0, y 0, z 0 ) = 0.5 {4 - (0.3)(6) - (0.)(4)} = 0.9 k = f (t 0 + /, y 0 + k /, z 0 + k /) = (0.5) f (0.5, 4.45, 6.45) = (0.5){4 - (0.3)(6.45) - (0.)(4.45)} = 0.8 k 3 = f (t 0 +, y 0 - k + k, z 0 - k + k ) = 0.5 f (0.5, 4.7, 6.7) = 0.5{4 - (0.3)(6.7) - (0.)(4.7)} = z = z(0.5) = z 0 + (/6)(k + 4k + k 3 ) = 6 + (/6) { (0.8) } = 6.86 Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 4

48 8.3 Pesamaan Difeensial Ode Lanjut Pesamaan diffeensial ode lanjut adala pesaman difeensial dengan ode yang lebi besa dai satu. Pesamaan difeensial ini dapat ditulis kembali sebagai sistem pesamaan difeensial ode-. Misalkan kepada kita dibeikan PDB ode- y" = f(, y, y') dengan nilai awal y( 0 ) = y 0 dan y'( 0 ) = z 0 Untuk menguba PDB ode- tesebut menjadi sistem PDB ode-, misalkan maka y' = z z' = y" = f(, y, y') = f(, y,z) ; y( 0 ) = y 0 dan z( 0 ) = z 0 Dengan demikian, pesamaan y" = f(, y, y') dapat ditulis menjadi sistem pesamaan difeensial biasa: dy = z, y(0 ) = y 0 d dz d = f(, y, y') = f(, y, z), z( 0 ) = z 0 atau dalam notasi vekto: y' = f(, y) ; y( 0 ) = y 0 yang dalam al ini y = y z z, y' = f = f (, y, z) y0, y( 0 ) = z0 Selanjutnya sistem pesamaan difeensial biasa ini sapat diselesaikan sepeti pada Conto 8.9 tedaulu. 4 Metode Numeik

49 Conto 8.0 Nyatakan PDB ode- beikut: y" - 3y' - y = 0 ; y(0) = dan y'(0) = 0.5 ke dalam sistem pesamaan difeensial biasa ode-. Penyelesaian: Diketaui PDB ode-: y" = 3y' - y = f(, y, y') Misalkan y' = z maka dan z' = y" = f(, y, y') = f(, y, z) = 3z - y y(0) =, z(0) = 0.5; seingga dipeole sistem PDB ode- dy = z, y(0) = d dz d atau dalam notasi vekto: = 3z - y, z(0) = 0.5 y' = f (, y) ; y(0) = y 0 yang dalam al ini, y = y z z, f = 3z y, y 0 = 0.5 Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 43

50 Conto 8. Nyatakan PDB ode-3 beikut: y"' - + y - y' + 3y" = 0 ; y(0) = 0; y'(0) = 0.5, y"(0) = ke dalam sistem pesamaan difeensial biasa ode-. Penyelesaian: y"' = - y + y' - 3y" = f(, y, y', y") Misalkan y' = z dan maka dan y" = z' = t t' = y"' = f(, y, y', y") = f(, y, z, t) = - y + z - 3t y(0) = 0, z(0) = 0.5, t(0) = ; seingga dipeole sistem PDB ode-: dy = z, y(0) = 0 d dz d dt d atau dalam notasi vekto = t, z(0) = 0.5 = - y + z - 3t, t(0) = y' = f (, y), y(0) = y 0 yang dalam al ini, y = y z t, f = y z t + z 3t, y(0) = Metode Numeik

51 Conto 8. Nyatakan PDB ode- beikut: "(t) - 5'(t) - 3(t) = 45 et, (0.5) = dan '(0.5) = ke dalam sistem PDB ode- Penyelesaian: "(t) = 45 e t '(t) + (t) Misalkan '(t) = z(t) maka 45 z'(t) = "(t) = f(t, (t), z(t)) = e t z(t) + (t) dan (0) =, z(0) = ; seingga dipeole sistem PDB ode-: d = z(t), (0.5) = ; dt dz dt = atau dalam notasi vekto: 45 e t z(t) + (t), z(0.5) = y' = f(t, y), y(0.5) = y 0 yang dalam al ini, y = ( t) z( t), f = 45 e z( t) t 5 3, y (0.5) = + z( t) + ( t) Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 45

52 8.4 Ketidakstabilan Metode PDB Pada bab-bab sebelumnya kita tela menyingggung ketidakstabilan pada metode numeik. Kaena solusi PDB dipeole secaa lelaan, yang setiap lelaan mengasilkan galat pemotongan, maka ada kemungkinan solusi pada lelaan teaki menyimpang cukup beati teadap solusi sejatinya. Untuk jelasnya peatikan metode PDB beikut: y + = y - + f(, y ) (P.8.56) Dengan bantuan deet Taylo, galat pe langka metode ini adala dalam ode O( 3 ), yang beati metode PDB tesebut beode dua. Kesimpulan sementaa kita, metode (P.8.56) mengasilkan solusi yang lebi teliti daipada solusi dengan metoda Eule (yang beode satu). Bila metode (P.8.56) diteapkan pada PDB dy y' = d = - αy, y(0) = y 0 > 0 dan α > 0 kita mempeole asil yang dipeliatkan ole Gamba 8.8. y solusi ampian, y y + f(, y + = solusi sejati, y = y 0 e - ) solusi ampian besesuaian dengan solusi sejati solusi ampian beosilasi Gamba 8.8 Ketidakstabilan metode PDB Peatikan bawa solusi analitik PDB ini adala y = y 0 e -α, yang mendekati nol dengan peningkatan. Tetapi solusi numeiknya menjadi tidak stabil dengan 46 Metode Numeik

53 peningkatan. Ketidakstabilan ini disebabkan ole penumpukan galat pe langka yang "tumbu" secaa tidak tebatas dengan meningkatnya jumla langka. Untuk jumla langka yang sedikit, solusinya masi stabil. Tetapi dengan meningkatnya jumla langka, solusinya menjadi tidak stabil. Bakan, untuk jumla langka yang tidak teingga, solusinya tumbu secaa tidak tebatas. Jadi, ada metode PDB yang anya baik untuk yang kecil, tetapi buuk untuk yang besa. Ketidakstabilan ditandai ole solusi yang beosilasi, tetapi ini tidak selalu demikian. Dalam paktek, indai penggunaan metode yang tidak stabil. Conto metode PDB yang tidak stabil untuk yang besa adala metode Eule dan metode Milne- Simpson. Metode Heun, metode Runge-Kutta ode-3, metode Runge-Kutta ode-4, dan metode Adams-Basfot-Moulton adala metode PDB yang stabil. 8.5 Conto Soal Teapan Pada angkaian listik, aus yang mengali tidakla tetap, tetapi beuba teadap waktu. Tinjau kembali angkaian RLC pada Gamba 8.. Hukum Kicoff menyatakan bawa jumla aljaba dai peubaan tegangan di sekeliling angkaian tetutup adala nol. Selain dalam bentuk PDB ode- (P.8.3), ukum Kicoff kadang-kadang disajikan dalam bentuk PDB ode-: L d dt q dq + R + q/c - E(t) = 0 dt (P.8.57) yang dalam al ini, L adala induktansi (dalam eny), R adala taanan (dalam om), q adala muatan pada kapasito (dalam coulomb), C adala kapsitasitansi (dalam faad), E(t) adala tegangan yang beuba teadap waktu (dalam volt). Pesamaan (P.8.56) adala PDB ode- yang dapat dipeca menjadi sistem PDB ode-: di dt = - Ri/L - q/cl + E(t)/L, i(0) = 0 dq = i, q(0) = 0 (P.8.58) dt Misalkan L = eny, C = 0.5 coulomb, E(t) = E 0 sin ωt, E 0 = volt, ω =.8708 detik, dan R = 0. Hitungla muatan kapasito setela 0 detik dengan metode Eule dan metode Runge-Kutta ode empat (gunakan ukuan langka = Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 47

54 0. detik). Bandingkan jawaban anda dengan solusi analitiknya yang dituunkan sbb : E 0 ω E0 q( t) = sin pt + sin ωt (P.8.59) L( p ω ) p L( p ω ) dengan p = / (LC). Dengan menyulikan besaan-besaan di atas dipeole pesamaan q(t), yaitu : q(t) = sin t + sin (.8708t) Penyelesaian: Pesoalan ini adala pencaian solusi PDB di dt = - Ri/L - q/cl + E(t)/L, i(0) = 0 dq = i, q(0) = 0 dt dengan L = eny, C = 0.5 coulomb, E(t) = E 0 sin ωt, E 0 = volt, ω =.8708 detik, dan R = 0. Diminta menentukan q(0), dalam coulomb, dengan metode Eule dan metode Runge-Kutta ode-4. Solusi dengan kedua metode PDB tesebut dipeliatkan ole tabel beikut: Metode Eule q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = Metode Runge-Kutta Ode- 4 q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = Nilai sejati q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= Metode Numeik

55 q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 49

56 q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= Metode Numeik

57 q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ] = q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= q[ ]= Pebandingan solusi: Eule Runge-Kutta Ode-4 Sejati q(0) Untuk mengitung q(0) dengan = 0. dipelukan sejumla n = (0-0)/0. = 00 langka. Kaena itu, dapatla dimengeti mengapa metode PDB yang beode enda sepeti metode Eule mempeliatkan asil yang sangat menyimpang (divegen) dengan solusi sejatinya ketika jumla langkanya membesa, sedangkan solusi dengan metode Runge-Kutta mempeliatkan kestabilannya pada setiap langka (bandingkan dengan solusi sejati pada setiap langka). Ini disebabkan galat pe langka pada metode Eule semakin menumpuk dengan betambanya jumla langka. Jadi, metode dengan ode tinggi sepeti metode Runge-Kutta ode-4 lebi disukai untuk masala ini. Tidak ada alasan bagi kita meemekan al-al kecil, kaena bukanka sutea itu beasal dai ulat? (Anonim) Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 43

58 Soal Latian. Dibeikan pesamaan difeensial beikut : dy/d = -y, y(0) =. Lakukan peitungan numeik untuk menaksi nilai y pada nilai-nilai dalam selang [0,5] (ambil ukuan langka = 0.) : (a) metode Eule (b) metode Heun (c) metode deet Taylo (d) metode Runge-Kutta ode-3 (e) metode Runge-Kutta ode-4 (f) metode Adams-Basfot-Moulton. Dibeikan pesamaan difeensial beikut : dy/d = y, y() = 0. Tentukan nilai (.4) dengan metode-metode (ambil ukuan langka = 0.) : (a) metode Eule (b) metode Heun (c) metode deet Taylo (d) metode Runge-Kutta ode 3 (e) metode pedicto-coecto Milne 3. Nyatakan dalam sistem pesamaan difeensial biasa ode satu : (a) 4y + 3y + 5y + y = 0 - y ; y() = 0, y ()=y () = (b) Ak d T/d + Pσ(T ) = Q; T () = 0, T()=0 (c) model matematika angkaian listik : 0.5 d Q/dt + 6dQ/dt + 50Q = 4 sin(0t) dengan Q = 0 dan i=dq/dt = 0 pada t=0. (d) (t) - (t) = 6 cos (t) ; (0) dan (0) = 3 (e) y " + (y ') + y =0, y(0)=0, y '(0) = (f) y "' = -y + y ', y(0) =, y '(0) = y "(0) = 0 4. Peliatkan bawa metode Runge-Kutta beikut ini : k = f(, y ) k = f( + α, y + αk ) 43 Metode Numeik

59 y + = y + [( - ) k + α k ) ] α adala beode dua untuk sembaang tetapan α (α 0). 5. Ekstapolasi Ricadson yang tela anda kenal di integasi numeik dapat juga diteapkan pada solusi PDB, yang betujuan untuk mempebaiki asil metode Runge-Kutta ode-4. Jika metode Runge-Kutta ode-4 digunakan dengan ukuan langka, maka nilai ampian y() adala: y(; ) = y + C 4 () dan jika digunakan ukuan step, maka nilai ampian y() adala : y() = y(;) + 6C 4 () Peliatkanla bawa ampian y() yang lebi baik (impove) adala : y() = / 5 [6y(;) - y(;)] (3) Kemudian itungla y (.4) menggunakan pesamaan (3) di atas bila PDB yang digunakan adala sepeti soal nomo di atas. 6. Masi bekaitan dengan ekstapolasi Ricadson. Jika metode Heun digunakan dengan ukuan langka, maka nilai ampian y() adala: y() = y + C () dan jika digunakan ukuan step, maka nilai apoksimasi y() adala : y() = y + 4C () Peliatkanla bawa ampian y() yang lebi baik (impove) adala : y() = /3 (4y - y ) (3) Kemudian itungla y (.4) menggunakan pesamaan (3) di atas bila PDB yang digunakan adala sepeti soal nomo di atas. 7. Dengan menggunakan PDB ode pada soal nomo 3(c) di atas, tentukan muatan listik Q dan aus I pada saat t = 0.. Metode yang digunakan : Runge-Kutta ode 3 dan ukuan langka = 0.. Bab 8 Solusi Pesamaan Difeensial Biasa 433

60 8. (a) Peliatkan galat pe langka metode pedicto-coecto Milne adala : galat pe langka pedicto : y + - y * y (5) (t) 90 galat pe langka coecto : y + - y y (5) (t) (b) Tentukan ode metode Milne (c) Tentukan taksian y + (yaitu nilai yang lebi baik daipada y + (d) Tentukan galat pe langka untuk y + 7. Dengan mengingat defenisi kalukulus untuk tuunan adala y () = lim 0 y ( + ) y( ) (a) Tuunkan metode Eule dai defenisi tuunan tesebut (b) Bila nilai y diitung pada + dan -, tuunkan metode bau, yaitu metode titik-tenga 0. Tuunkanla pesamaan pedicto pada metode P-C Adams-Basfot- Moulton bila titik-titik datanya diintepolasi dengan polinom Newton- Gegoy mundu. Bila PDB-nya adala sepeti pada soal nomo, tentukan ukuan langka yang optimal aga galat pe langka pada solusi PDB dengan metode Runge-Kutta ode-4 kuang dai Dibeikan PDB y = -y, y(0) =. Dengan mengambil ukuan langka = 0., peiksa kestabilan metode Eule, metode Runge-Kutta ode-3, metode titiktenga (liat jawaban soal 7b), dan metode Milne pada penaksian nilai y(0) 434 Metode Numeik

GROUP 1 ORDINARY DIFFERENTIAL HELEN P. SYIFA N. A. DITA W. A. LILIK H. HIDAYATUL M. AGUSYARIF R. N. RIDHO A. EQUATIONS

GROUP 1 ORDINARY DIFFERENTIAL HELEN P. SYIFA N. A. DITA W. A. LILIK H. HIDAYATUL M. AGUSYARIF R. N. RIDHO A. EQUATIONS GROUP HELEN P. SYIFA N. A. DITA W. A. LILIK H. HIDAYATUL M. AGUSYARIF R. N. RIDHO A. ORDINARY DIFFERENTIAL EQUATIONS DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

CNH2G4/ KOMPUTASI NUMERIK

CNH2G4/ KOMPUTASI NUMERIK CNHG4/ KOMPUTASI NUMERIK TIM DOSEN KK MODELING AND COMPUTATIONAL EXPERIMENT SOLUSI NUMERIK PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Pendahuluan Pesamaan Diffeensial : Gabungan dai fungsi ang tidak diketahui dengan

Lebih terperinci

Variasi Kuat Medan Gravitasi

Variasi Kuat Medan Gravitasi Vaiasi Kuat edan avitasi By Anawa Kuat medan avitasi bumi sanat dipenaui ole bebeapa al, antaa lain:. KETINIAN Vaiasi kuat medan avitasi akibat penau ketinian maksudnya, bawa besanya aya yan dialami ole

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. 4-2 Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. 4-2 Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) Sudayatno Sudiam ing Utai Mengenal Sifat-Sifat Mateial () 4- Sudayatno S & Ning Utai, Mengenal Sifat-Sifat Mateial () BAB 4 Aplikasi Pesamaan Scödinge Pada Atom Dengan Satu Elekton Dalam bab ini kita akan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB PENDAHULUAN. Lata belakang Pekembangan suatu teknologi sangat dipengauhi dengan pekembangan suatu ilmu pengetahuan. Tanpa peanan ilmu pengetahuan, bisa dipastikan teknologi akan sulit untuk bekembang

Lebih terperinci

SolusiPersamaanNirlanjar

SolusiPersamaanNirlanjar SolusiPesamaanNilanja (Bagian2) Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Infomatika I Oleh; Rinaldi Muni(IF-STEI ITB) Rinaldi Muni - Topik Khusus Infomatika I 1 MetodeSecant Posedu lelaan metode Newton-Raphson

Lebih terperinci

Bab 3. Solusi Persamaan Nirlanjar

Bab 3. Solusi Persamaan Nirlanjar Bab 3 Solusi Pesamaan Nilanja Saya tidak tahu bagaimana saya tampak pada dunia; tetapi bagi saya sendii saya nampaknya hanyalah sepeti seoang anak laki-laki yang bemain-main di pantai, dan mengalihkan

Lebih terperinci

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1 BAB 11 GRAVITASI Hukum gavitasi univesal yang diumuskan oleh Newton, diawali dengan bebeapa pemahaman dan pengamatan empiis yang telah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Mula-mula Copenicus membeikan

Lebih terperinci

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER BAB II MDAN ISTRIK DI SKITAR KONDUKTOR SIINDR II. 1 Hukum Coulomb Chales Augustin Coulomb (1736-1806), adalah oang yang petama kali yang melakukan pecobaan tentang muatan listik statis. Dai hasil pecobaannya,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. S 12 Gambar 2-1. Jaringan Dua Port dan Parameter-S

BAB II DASAR TEORI. S 12 Gambar 2-1. Jaringan Dua Port dan Parameter-S BAB II DAAR TEORI. PARAMETER Paamete digunakan untuk mempeole kaakteistik dai suatu jaingan dua pot yang beopeasi pada fekuensi tinggi. Paamete lain sepeti H, Y, dan tidak bisa meepesentasikan jaingan

Lebih terperinci

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK DFTR ISI DFTR ISI... 7. POTENSIL LISTRIK... 7. Potensial dan eda Potensial... 7. Dipole Listik...6 7.3 Kapasitansi Listik...9 7.4 Dielektikum... 7.5 Penyimpanan Enegi Listik...5 7.6 Pealatan : Tabung Sina

Lebih terperinci

19, 2. didefinisikan sebagai bilangan yang dapat ditulis dengan b

19, 2. didefinisikan sebagai bilangan yang dapat ditulis dengan b PENDAHULUAN. Sistem Bilangan Real Untuk mempelajari kalkulus perlu memaami baasan tentang system bilangan real karena kalkulus didasarkan pada system bilangan real dan sifatsifatnya. Sistem bilangan yang

Lebih terperinci

SUMBER MEDAN MAGNET. Oleh : Sabar Nurohman,M.Pd. Ke Menu Utama

SUMBER MEDAN MAGNET. Oleh : Sabar Nurohman,M.Pd. Ke Menu Utama SUMER MEDAN MAGNET Oleh : Saba Nuohman,M.Pd Ke Menu Utama Medan Magnetik Sebuah Muatan yang egeak Hasil-hasil ekspeimen menunjukan bahwa besanya medan magnet () akibat adanya patikel bemuatan yang begeak

Lebih terperinci

BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI

BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI 3. Pendahuluan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekspektasi banyaknya komponen

Lebih terperinci

Turunan Fungsi. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi

Turunan Fungsi. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi 8 Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi ; Model Matematika dari Masala yang Berkaitan dengan ; Ekstrim Fungsi Model Matematika dari Masala

Lebih terperinci

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan BAB II METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Bentuk penelitian yang dipegunakan dalam penelitian ini adalah bentuk penelitian koelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan umus

Lebih terperinci

Pendahuluan Elektromagnetika

Pendahuluan Elektromagnetika Revisi Febuai 2002 Modul 1 EE 2323 Elektomagnetika Telekomunikasi Pendahuluan Elektomagnetika Oleh : Nachwan Mufti Adiansyah, ST Oganisasi Modul 1 Pendahuluan Elektomagnetika A. Lata Belakang Sejaah page

Lebih terperinci

Bab. Garis Singgung Lingkaran. A. Pengertian Garis Singgung Lingkaran B. Garis Singgung Dua Lingkaran C. Lingkaran Luar dan Lingkaran Dalam Segitiga

Bab. Garis Singgung Lingkaran. A. Pengertian Garis Singgung Lingkaran B. Garis Singgung Dua Lingkaran C. Lingkaran Luar dan Lingkaran Dalam Segitiga ab 7 Sumbe: www.homepages.tesco Gais Singgung Lingkaan Lingkaan mungkin meupakan salah satu bentuk bangun data yang paling tekenal. Konsep lingkaan yang meliputi unsu-unsu lingkaan, luas lingkaan, dan

Lebih terperinci

untuk i = 0, 1, 2,..., n

untuk i = 0, 1, 2,..., n RANGKUMAN KULIAH-2 ANALISIS NUMERIK INTERPOLASI POLINOMIAL DAN TURUNAN NUMERIK 1. Interpolasi linear a. Interpolasi Polinomial Lagrange Suatu fungsi f dapat di interpolasikan ke dalam bentuk interpolasi

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON TRIGONOMETRI disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhi Semeste Pendek mata kuliah Tigonometi Dosen : Fey Fedianto, S.T., M.Pd. Oleh Nia Apiyanti (207022) F PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

Analisis Performansi Sistem Pendingin Ruangan Dikombinasikan dengan Water Heater

Analisis Performansi Sistem Pendingin Ruangan Dikombinasikan dengan Water Heater Junal Ilmia Teknik Mesin Vol. 4 No.. Apil 00 (57-6) Analisis Pefomansi Sistem Pendingin Ruangan Dikombinasikan dengan Wate Heate I Gusti Agung Pamaakayuda a), Ida Bagus Adinugaa b) Henda Wijaksana b),

Lebih terperinci

HUKUM COULOMB Muatan Listrik Gaya Coulomb untuk 2 Muatan Gaya Coulomb untuk > 2 Muatan Medan Listrik untuk Muatan Titik

HUKUM COULOMB Muatan Listrik Gaya Coulomb untuk 2 Muatan Gaya Coulomb untuk > 2 Muatan Medan Listrik untuk Muatan Titik HKM CMB Muatan istik Gaya Coulomb untuk Muatan Gaya Coulomb untuk > Muatan Medan istik untuk Muatan Titik FISIKA A Semeste Genap 6/7 Pogam Studi S Teknik Telekomunikasi nivesitas Telkom M A T A N Pengamatan

Lebih terperinci

FISIKA DASAR 2 PERTEMUAN 2 MATERI : POTENSIAL LISTRIK

FISIKA DASAR 2 PERTEMUAN 2 MATERI : POTENSIAL LISTRIK UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG Teknik Industi FISIKA DASAR PERTEMUAN MATERI : POTENSIAL LISTRIK SILABI FISIKA DASAR Muatan dan Medan Listik Potensial Listik Kapasito dan Dielektik Aus dan Resistansi

Lebih terperinci

GRAFITASI. F = G m m 1 2. F = Gaya grafitasi, satuan : NEWTON. G = Konstanta grafitasi, besarnya : G = 6,67 x 10-11

GRAFITASI. F = G m m 1 2. F = Gaya grafitasi, satuan : NEWTON. G = Konstanta grafitasi, besarnya : G = 6,67 x 10-11 GRAFITASI Si Isaac Newton yang tekenal dengan hukum-hukum Newton I, II dan III, juga tekenal dengan hukum Gafitasi Umum. Didasakan pada patikel-patikel bemassa senantiasa mengadakan gaya taik menaik sepanjang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Bedasakan pemasalahan, maka penelitian ini temasuk penelitian koelasional yang besifat deskiptif, kaena tujuan utama dai penelitian ini adalah untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3. Jenis dan Lokasi Penelitian 3.. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ekspeimen semu (quasi ekspeimental eseach, kaena penelitian yang akan dilakukan

Lebih terperinci

Sejarah. Charles Augustin de Coulomb ( )

Sejarah. Charles Augustin de Coulomb ( ) Medan Listik Sejaah Fisikawan Peancis Piestley yang tosi balance asumsi muatan listik Gaya (F) bebanding tebalik kuadat Pengukuan secaa matematis bedasakan ekspeimen Coulomb Chales Augustin de Coulomb

Lebih terperinci

FISIKA. Sesi LISTRIK STATIK A. GAYA COULOMB

FISIKA. Sesi LISTRIK STATIK A. GAYA COULOMB ISIKA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 04 Sesi NGAN LISTRIK STATIK A. GAYA COULOMB Jika tedapat dua atau lebih patikel bemuatan, maka antaa patikel tesebut akan tejadi gaya taik-menaik atau tolak-menolak

Lebih terperinci

SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI

SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 009 SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI Suciati

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fisika Dasa I (FI-31) Topik hai ini (minggu ) Geak dalam Satu Dimensi (Kinematika) Keangka Acuan & Sistem Koodinat Posisi dan Pepindahan Kecepatan Pecepatan GLB dan GLBB Geak Jatuh Bebas Mekanika Bagian

Lebih terperinci

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA Hingga sejauh ini kita sudah mempelajai tentang momentum, gaya-gaya pada fluida statik, dan ihwal fluida begeak dalam hal neaca massa dan neaca enegi.

Lebih terperinci

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 009 ANALISIS KORELASI 1. Koefisien Koelasi Peason Koefisien Koelasi Moment

Lebih terperinci

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi. KORELASI Tedapat tiga macam bentuk hubungan anta vaiabel, yaitu hubungan simetis, hubungan sebab akibat (kausal) dan hubungan Inteaktif (saling mempengauhi). Untuk mencai hubungan antaa dua vaiabel atau

Lebih terperinci

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON 1 BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON Sebelumnya telah dipelajai tentang hukum Newton: hukum I tentang kelembaban benda, yang dinyatakan oleh pesamaan F = 0; hukum II tentang hubungan gaya dan geak, yang

Lebih terperinci

Setiap mahasiswa yang pernah mengambil kuliah kalkulus tentu masih ingat dengan turunan fungsi yang didefenisikan sebagai

Setiap mahasiswa yang pernah mengambil kuliah kalkulus tentu masih ingat dengan turunan fungsi yang didefenisikan sebagai Bab 7 Turunan Numerik Lebi banyak lagi yang terdapat di langit dan di bumi, Horatio, daripada yang kau mimpikan di dalam ilosoimu. (Hamlet) Setiap maasiswa yang perna mengambil kulia kalkulus tentu masi

Lebih terperinci

LISTRIK STATIS. F k q q 1. k 9.10 Nm C 4. 0 = permitivitas udara atau ruang hampa. Handout Listrik Statis

LISTRIK STATIS. F k q q 1. k 9.10 Nm C 4. 0 = permitivitas udara atau ruang hampa. Handout Listrik Statis LISTIK STATIS * HUKUM COULOM. ila dua buah muatan listik dengan haga q dan q, saling didekatkan, dengan jaak pisah, maka keduanya akan taik-menaik atau tolak-menolak menuut hukum Coulomb adalah: ebanding

Lebih terperinci

LISTRIK STATIS. Nm 2 /C 2. permitivitas ruang hampa atau udara 8,85 x C 2 /Nm 2

LISTRIK STATIS. Nm 2 /C 2. permitivitas ruang hampa atau udara 8,85 x C 2 /Nm 2 LISTIK STATIS A. Hukum Coulomb Jika tedapat dua muatan listik atau lebih, maka muatan-muatan listik tesebut akan mengalami gaya. Muatan yang sejenis akan tolak menolak sedangkan muatan yang tidak sejenis

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG

BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG Setelah data dai kedua vaiabel yaitu vaiabel X dan vaiabel Y tekumpul seta adanya teoi yang

Lebih terperinci

Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa

Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (215 2337-352 (231-928X Print A-25 Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa Singgi Tawin Muammad, Erna Apriliani,

Lebih terperinci

Teori Dasar Medan Gravitasi

Teori Dasar Medan Gravitasi Modul Teoi Dasa Medan Gavitasi Teoi medan gavitasi didasakan pada hukum Newton tentang medan gavitasi jagat aya. Hukum medan gavitasi Newton ini menyatakan bahwa gaya taik antaa dua titik massa m dan m

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena 35 III. METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskiptif. Kaena penelitian ini mengkaji tentang Pengauh Kontol Dii dan Lingkungan Keluaga Tehadap

Lebih terperinci

LISTRIK STATIS. F k q q 1. Gambar. Saling tarik menarik. Saling tolak-menolak. Listrik Statis * MUATAN LISTRIK.

LISTRIK STATIS. F k q q 1. Gambar. Saling tarik menarik. Saling tolak-menolak. Listrik Statis * MUATAN LISTRIK. * MUATAN LISTRIK. LISTRIK STATIS Suatu pengamatan dapat mempelihatkan bahwa bila sebatang gelas digosok dengan kain wool atau bulu domba; batang gelas tesebut mampu menaik sobekan-sobekan ketas. Ini menunjukkan

Lebih terperinci

Gambar 4.3. Gambar 44

Gambar 4.3. Gambar 44 1 BAB HUKUM NEWTON TENTANG GERAK Pada bab kita telah membahas sifat-sifat geak yang behubungan dengan kecepatan dan peceaptan benda. Pembahasan pada Bab tesesbut menjawab petanyaan Bagaimana sebuah benda

Lebih terperinci

r, sistem (gas) telah melakukan usaha dw, yang menurut ilmu mekanika adalah : r r

r, sistem (gas) telah melakukan usaha dw, yang menurut ilmu mekanika adalah : r r 4. USH 4.1 System yang beada dalam keadaan setimbang akan tetap mempetahanan keadan itu. Untuk mengubah keadaan seimbang ini dipelukan pengauh-pengauh dai lua; sistem haus beinteaksi dengan lingkungannya.

Lebih terperinci

Untuk mempermudah memahami materi ini, perhatikan peta konsep berikut ini. Listrik Statis. membahas. Muatan Listrik. ditinjau menurut.

Untuk mempermudah memahami materi ini, perhatikan peta konsep berikut ini. Listrik Statis. membahas. Muatan Listrik. ditinjau menurut. Bab 7 Listik Statis Pada minggu yang ceah, Icha menyetika baju seagamnya. Sambil menunggu panasnya setika, ia menggosok-gosokkan setika pada bajunya yang tipis. Tenyata Icha melihat dan measakan seakan-akan

Lebih terperinci

Contoh Proposal Skripsi Makalahmudah.blogspot.com

Contoh Proposal Skripsi Makalahmudah.blogspot.com BAB I PENDAHULUAN.. Lata Belakang Masalah Peanan pemasaan dalam kebehasilan peusahaan telah diakui di kalangan pengusaha untuk mempetahankan kebeadaanya dalam mengembangkan usaha dan mendapatkan keuntungan.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. analisis paired sample T-test yaitu Ada atau tidaknya Pengaruh Terapi Rational

BAB IV ANALISIS DATA. analisis paired sample T-test yaitu Ada atau tidaknya Pengaruh Terapi Rational BAB IV ANALISIS DATA Analisis data meupakan hasil kegiatan setelah data dai seluuh esponden atau sumbe data lainnya tekumpul. Hal ini betujuan untuk mengetahui tingkat kebenaan hipotesis-hipotesis penelitian

Lebih terperinci

Solusi Persamaan Ricci Flow dalam Ruang Empat Dimensi Bersimetri Bola

Solusi Persamaan Ricci Flow dalam Ruang Empat Dimensi Bersimetri Bola Bab 3 Solusi Pesamaan Ricci Flow dalam Ruang Empat Dimensi Besimeti Bola Bedasakan bentuk kanonik metik besimeti bola.18, dapat dibuat sebuah metik besimeti bola yang begantung paamete non-koodinat τ sebagai,

Lebih terperinci

MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN

MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN 1. MOMENTUM LINEAR Momentum sebuah patikel adalah sebuah vekto P yang didefinisikan sebagai pekalian antaa massa patikel m dengan kecepatannya, v, yaitu: P = mv (1) Isac Newton

Lebih terperinci

Geometri Analitik Bidang (Lingkaran)

Geometri Analitik Bidang (Lingkaran) 9 Geometi nalitik idang Lingkaan) li Mahmudi Juusan Pendidikan Matematika FMIP UNY) KOMPETENSI Kompetensi ang dihaapkan dikuasai mahasiswa setelah mempelajai ab ini adalah sebagai beikut. Menjelaskan pengetian

Lebih terperinci

II. KINEMATIKA PARTIKEL

II. KINEMATIKA PARTIKEL II. KINEMATIKA PARTIKEL Kinematika adalah bagian dai mekanika ang mempelajai tentang geak tanpa mempehatikan apa/siapa ang menggeakkan benda tesebut. Bila gaa penggeak ikut dipehatikan, maka apa ang dipelajai

Lebih terperinci

1 Sistem Koordinat Polar

1 Sistem Koordinat Polar 1 Sistem Koodinat ola ada kuliah sebelumna, kita selalu menggunakan sistem koodinat Katesius untuk menggambakan lintasan patikel ang begeak. Koodinat Katesius mudah digunakan saat menggambakan geak linea

Lebih terperinci

1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH

1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH 48 Lampian ANGKET PERSEPSI SISWA TERHADAP PERANAN ORANG TUA DAN MINAT BELAJAR DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 8 MEDAN Nama : Kelas : A. Petunjuk Pengisian. Bacalah

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Keangka Pemikian Konseptual Setiap oganisasi apapun jenisnya baik oganisasi non pofit maupun oganisasi yang mencai keuntungan memiliki visi dan misi yang menjadi uh dalam setiap

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X HUKUM NEWTON TENTANG GRAVITASI K-13. A. Hukum Gravitasi Newton

FISIKA. Kelas X HUKUM NEWTON TENTANG GRAVITASI K-13. A. Hukum Gravitasi Newton K- Kelas X ISIKA HUKUM NEWON ENANG GAVIASI UJUAN PEMELAJAAN Setelah mempelajai matei ini, kamu dihaapkan memiliki kemampuan beikut.. Menjelaskan hukum gavitasi Newton.. Memahami konsep gaya gavitasi dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian ini betujuan untuk mendeskipsikan dan menganalisis pengauh evaluasi dii dan pengembangan pofesi tehadap kompetensi pedadogik

Lebih terperinci

Listrik statis (electrostatic) mempelajari muatan listrik yang berada dalam keadaan diam.

Listrik statis (electrostatic) mempelajari muatan listrik yang berada dalam keadaan diam. LISTRIK STATIS Listik statis (electostatic) mempelajai muatan listik yang beada dalam keadaan diam. A. Hukum Coulomb Hukum Coulomb menyatakan bahwa, Gaya taik atau tolak antaa dua muatan listik sebanding

Lebih terperinci

Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer. FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR

Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer. FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR Ole : Tony Hartono Bagio 00 KALKULUS DASAR Tony Hartono Bagio KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

Pengaturan Footprint Antena Ground Penetrating Radar Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole

Pengaturan Footprint Antena Ground Penetrating Radar Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole Pengatuan Footpint Antena Gound Penetating Rada Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole Ande Eka Saputa (1324243) Jalu Pilihan Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elekto dan Infomatika Institut

Lebih terperinci

TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS

TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS SEMESTER GENAP 008/009 TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS Alian dalam anulus adalah alian di antaa dua pipa yang segais pusat. Jadi ada pipa besa dan ada pipa kecil. Pipa kecil beada dalam pipa besa.

Lebih terperinci

dx = F(x) + C (P.6.1)

dx = F(x) + C (P.6.1) Bab 6 Integrasi Numerik Pelajarila jagad raya ini. Jangan kecewa karena dunia tidak mengenal anda, tetapi kecewala karena anda tidak mengenal dunia. (Kong Fu Tse - filusuf Cina) Di dalam kalkulus, integral

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskiptif, suatu metode penelitian yang ditujukan untuk untuk menggambakan fenomenafenomena

Lebih terperinci

Gerak Melingkar. Gravitasi. hogasaragih.wordpress.com

Gerak Melingkar. Gravitasi. hogasaragih.wordpress.com Geak Melingka Gavitasi Kinematika Geak Melingka Beatuan Sebuah benda yang begeak membentuk suatu lingkaan dengan laju konstan v dikatakan mengalami geak melingka beatuan. Besa kecapatan dalam hal ini tetap

Lebih terperinci

Konstruksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan

Konstruksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 6, No., (27) 2337-352 (23-928X Pint) A 28 Konstuksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan Reni Sundai dan Ena Apiliani Juusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu

Lebih terperinci

A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan

A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan. Turunan Fungsi Aljabar a. Mengitung Limit Fungsi yang Mengara ke Konsep Turunan Dari grafik di bawa ini, diketaui fungsi y f() pada interval k < < k +, seingga

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN PENELITIAN. tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh

BAB III RANCANGAN PENELITIAN. tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh 44 BAB III RACAGA PEELITIA.. Tujuan Penelitian Bedasakan pokok pemasalahan yang telah diuaikan dalam Bab I, maka tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mempeoleh jawaban atas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Pendahuluan Bedasakan tujuan penelitian ini, yaitu mendapatkan ekspektasi banyaknya komponen listik moto yang akan diganti bedasakan Renewing Fee Replacement Waanty dua dimensi,

Lebih terperinci

Ini merupakan tekanan suara p(p) pada sembarang titik P dalam wilayah V seperti yang. (periode kedua integran itu).

Ini merupakan tekanan suara p(p) pada sembarang titik P dalam wilayah V seperti yang. (periode kedua integran itu). 7.3. Tansmisi Suaa Melalui Celah 7.3.1. Integal Kichhoff Cukup akses yang bebeda untuk tik-tik difaksi disediakan oleh difaksi yang tepisahkan dapat dituunkan dai teoema Geen dalam analisis vekto. Hal

Lebih terperinci

REMBESAN AIR DALAM TANAH

REMBESAN AIR DALAM TANAH REMBESAN AIR DALAM TANAH Bagian Dosen Pengampu: RUNI ASMARANTO, ST., MT Email : [email protected] REMBESAN AIR DALAM TANAH Tana tesusun ole butianbutian tana padat dan poipoi yang saling beubungan

Lebih terperinci

Hand Out Fisika 6 (lihat di Kuat Medan Listrik atau Intensitas Listrik (Electric Intensity).

Hand Out Fisika 6 (lihat di Kuat Medan Listrik atau Intensitas Listrik (Electric Intensity). Hand Out Fisika 6 (lihat di http:).1. Pengetian Medan Listik. Medan Listik meupakan daeah atau uang disekita benda yang bemuatan listik dimana jika sebuah benda bemuatan lainnya diletakkan pada daeah itu

Lebih terperinci

- Persoalan nilai perbatasan (PNP/PNB)

- Persoalan nilai perbatasan (PNP/PNB) PENYELESAIAN NUMERIK PERSAMAAN DIFERENSIAL Persamaan diferensial biasanya digunaan untu pemodelan matematia dalam sains dan reayasa. Seringali tida terdapat selesaian analiti seingga diperluan ampiran

Lebih terperinci

BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK

BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK 1 BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK 4.1 Hukum Coulomb Dua muatan listik yang sejenis tolak-menolak dan tidak sejenis taik menaik. Ini beati bahwa antaa dua muatan tejadi gaya listik. Bagaimanakah pengauh

Lebih terperinci

dapat dihampiri oleh:

dapat dihampiri oleh: BAB V PENGGUNAAN TURUNAN Setela pada bab sebelumnya kita membaas pengertian, sifat-sifat, dan rumus-rumus dasar turunan, pada bab ini kita akan membaas tentang aplikasi turunan, diantaranya untuk mengitung

Lebih terperinci

FISIKA 2 (PHYSICS 2) 2 SKS

FISIKA 2 (PHYSICS 2) 2 SKS Lab Elektonika Industi isika SILABI a. Konsep Listik b. Sumbe Daya Listik c. Resistansi dan Resisto d. Kapasistansi dan Kapasito e. Rangkaian Listik Seaah f. Konsep Elekto-Magnetik g. Induktansi dan Indukto

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian meupakan encana atau metode yang akan ditempuh dalam penelitian, sehingga umusan masalah dan hipotesis yang akan diajukan dapat dijawab

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) Sudayatno Sudiam ing Utai Mengenal Sifat-Sifat Mateial () Sudayatno S & Ning Utai, Mengenal Sifat-Sifat Mateial () BAB 4 Aplikasi Pesamaan Scödinge Pada Atom Dengan Satu Elekton Dalam bab ini kita akan

Lebih terperinci

BAB II Tinjauan Teoritis

BAB II Tinjauan Teoritis BAB II Tinjauan Teoitis BAB II Tinjauan Teoitis 2.1 Antena Mikostip 2.1.1 Kaakteistik Dasa Antena mikostip tedii dai suatu lapisan logam yang sangat tipis ( t

Lebih terperinci

Chap 6 Model-Gas Real dan Ekspansi Virial. 1. Ekspansi Virial 2. Gugus Mayer

Chap 6 Model-Gas Real dan Ekspansi Virial. 1. Ekspansi Virial 2. Gugus Mayer Chap 6 Model-Gas Real dan Ekspansi Viial. Ekspansi Viial. Gugus Maye Fungsi Patisi Kanonik Untuk Gas Dengan Inteaksi Lemah Misalkan tedapat inteaksi (potensial) anta patikel : u ij, sehingga Hamiltonian

Lebih terperinci

Penyelesaian Model Matematika Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya

Penyelesaian Model Matematika Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya . Tentukan nilai maksimum dan minimum pada interval tertutup [, 5] untuk fungsi f(x) x + 9 x. 4. Suatu kolam ikan dipagari kawat berduri, pagar kawat yang tersedia panjangnya 400 m dan kolam berbentuk

Lebih terperinci

IDENTITAS TRIGONOMETRI. Tujuan Pembelajaran

IDENTITAS TRIGONOMETRI. Tujuan Pembelajaran Kuikulum 03 Kelas X matematika WAJIB IDENTITAS TRIGONOMETRI Tujuan Pembelajaan Setelah mempelajai matei ini, kamu dihaapkan memiliki kemampuan beikut.. Memahami jenis-jenis identitas tigonometi.. Dapat

Lebih terperinci

III. TEORI DASAR. Metoda gayaberat menggunakan hukum dasar, yaitu Hukum Newton tentang

III. TEORI DASAR. Metoda gayaberat menggunakan hukum dasar, yaitu Hukum Newton tentang 14 III. TEORI DASAR A. Hukum Newton Metoda gayabeat menggunakan hukum dasa, yaitu Hukum Newton tentang gavitasi dan teoi medan potensial. Newton menyatakan bahwa besa gaya taik menaik antaa dua buah patikel

Lebih terperinci

TRIGONOMETRI. Untuk SMA dan Sederajat. Penerbit. Husein Tampomas

TRIGONOMETRI. Untuk SMA dan Sederajat. Penerbit. Husein Tampomas TRIGONOMETRI Untuk SM dan Sedeajat Husein Tampomas Penebit 0 Husein Tampomas, Tigonometi, Unntuk SM dan Sedeajat, 018 PENGERTIN 1 PENGNTR KE FUNGSI TRIGONOMETRI Dalam bahasa Yunani, tigonometi tedii dai

Lebih terperinci

MODIFIKASI DISTRIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETRI BOLA

MODIFIKASI DISTRIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETRI BOLA p-issn: 2337-5973 e-issn: 2442-4838 MODIFIKASI DISTIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETI BOLA Yuant Tiandho Juusan Fisika, Univesitas Bangka Belitung Email: [email protected] Abstak Umumnya, untuk menggambakan

Lebih terperinci

MEDAN LISTRIK STATIS

MEDAN LISTRIK STATIS Listik Statis 1 * MUATAN LISTRIK. MEDAN LISTRIK STATIS Suatu pengamatan dapat mempelihatkan bahwa bila sebatang gelas digosok dengan kain wool atau bulu domba; batang gelas tesebut mampu menaik sobekan-sobekan

Lebih terperinci

MODEL DINAMIKA PADA SISTEM PENGEREMAN MOBIL

MODEL DINAMIKA PADA SISTEM PENGEREMAN MOBIL MODE DINMIK PD SISTEM PENGEREMN MOI geng Maulana 1, Yaan Nuadi 2 Yoanes Dewanto 3 Naniek ndiani 4 Juusan Teknik Inomatika, akultas Teknik UKM Reseac & Development Univesitas Pancasila, Sengseng Sawa, Jagakasa

Lebih terperinci

Bab. Bangun Ruang Sisi Lengkung. A. Tabung B. Kerucut C. Bola

Bab. Bangun Ruang Sisi Lengkung. A. Tabung B. Kerucut C. Bola Bab Sumbe: www.contain.ca Bangun Ruang Sisi Lengkung Di Sekolah Dasa, kamu telah mengenal bangun-bangun uang sepeti tabung, keucut, dan bola. Bangun-bangun uang tesebut akan kamu pelajai kembali pada bab

Lebih terperinci

Limit Fungsi. Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri

Limit Fungsi. Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri 7 Limit Fungsi Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Mengitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri Cobala kamu mengambil kembang gula-kembang gula dalam

Lebih terperinci

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral Sudaatno Sudiham Studi Mandii Fungsi dan Gafik Difeensial dan Integal oleh Sudaatno Sudiham i Dapublic Hak cipta pada penulis, 010 SUDIRHAM, SUDARYATNO Fungsi dan Gafik, Difeensial dan Integal Oleh: Sudaatmo

Lebih terperinci

trigonometri 4.1 Perbandingan Trigonometri

trigonometri 4.1 Perbandingan Trigonometri tigonometi 4.1 Pebandingan Tigonometi 0 Y x P(x,y) y X x disebut absis y disebut odinat jai-jai sudut positif diuku dai sumbu X belawanan aah putaan jaum jam Definisi : = x + y sin = y cos = x tan = y

Lebih terperinci

Dan koefisien korelasi parsial antara Y, X 2 apabila X 1 dianggap tetap, dinyatakan sebagai r y 2.1 rumusnya sebagai berikut:

Dan koefisien korelasi parsial antara Y, X 2 apabila X 1 dianggap tetap, dinyatakan sebagai r y 2.1 rumusnya sebagai berikut: Koelasi Pasial Koelasi Pasial beupa koelasi antaa sebuah peubah tak bebas dengan sebuah peubah bebas sementaa sejumlah peubah bebas lainnya yang ada atau diduga ada petautan dengannya, sifatnya tetentu

Lebih terperinci

Matematika ITB Tahun 1975

Matematika ITB Tahun 1975 Matematika ITB Taun 975 ITB-75-0 + 5 6 tidak tau ITB-75-0 Nilai-nilai yang memenui ketidaksamaan kuadrat 5 7 0 atau atau 0 < ITB-75-0 Persamaan garis yang melalui A(,) dan tegak lurus garis + y = 0 + y

Lebih terperinci

PERCOBAAN 14 RANGKAIAN BAND-PASS FILTER AKTIF

PERCOBAAN 14 RANGKAIAN BAND-PASS FILTER AKTIF EOBAAN 4 ANGKAIAN BAND-ASS FILTE AKTIF 4. Tujuan : ) Mendemonstasikan pinsip keja dan kaakteistik dai suatu angkaian akti band-pass ilte dengan menggunakan op-amp 74. ) Band-pass ilte melewatkan semua

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian,

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian, BAB III METODE PENELITIAN Pembahasan pada bagian metode penelitian ini akan menguaikan mengenai Identifikasi Vaiabel Penelitian, Definisi Vaiabel Penelitian, Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB PENDAHULUAN Lata Belakang Pada zaman moden sepeti saat sekaang ini, enegi listik meupakan kebutuhan pime bagi manusia, baik masyaakat yang tinggal di pekotaan maupun masyaakat yang tinggal di pedesaan

Lebih terperinci

II. MOMEN INERSIA BIDANG DATAR

II. MOMEN INERSIA BIDANG DATAR FAKULTAS TEKNK JURUSAN TEKNK SPL. MOMEN NERSA BDANG DATAR. Pendauluan Momen inesia dapat diseut juga Momen Kedua atau Momen Kelemaman. Data momen inesia suatu penampang dai komponen stuktu akan dipelukan

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING T.M Syahu Ichsan (1111667 ) Mahasiswa Pogam Studi Teknik Infomatika

Lebih terperinci

BAB II METODA GEOLISTRIK

BAB II METODA GEOLISTRIK BB METOD GEOLSTRK. Pendahuluan Metode Geolistik Metoda geolistik adalah salah satu metoda dalam geofisika yang memanfaatkan sifat kelistikan untuk mempelajai keadaan bawah pemukaan bumi. Metoda geolistik

Lebih terperinci