HASIL DAN PEMBAHASAN. sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN. sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak"

Transkripsi

1 22 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Lingkungan Mikro Suhu dan kelembaban udara merupakan suatu unsur lingkungan mikro yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak homeothermic, yaitu harus mempertahankan suhu tubuhnya dalam kisaran normal untuk hidup dan berproduksi secara efisien. Suhu tubuh ayam broiler normalnya ±40,6 41,7 0 C. Ayam broiler dapat tumbuh secara optimal pada suhu lingkungan 18 0 C C (Kartasudjana dan Suptijatna, 2010) dan kelembaban 50-75% (Scanes, 2004). Suhu dan kelembaban yang tinggi akan menyebabkan stress pada ayam yang mengakibatkan konsumsi ransum menurun sehingga mempengaruhi bobot badan ayam. Temperatur lingkungan dapat dikontrol dengan cara melihat thermometer atau dengan cara melihat tingkah lakunya. Apabila terjadi panting berarti ayam mengalami stress akibat tingginya suhu lingkungan. Guna mengatasi suhu tinggi perlu memperhatikan ventilasi kandang yaitu tempat masuk dan keluarnya udara menuju dan keluar kandang. Fungsi dari ventilasi yaitu menjaga pergerakan udara di dalam kandang agar kualitas udara, suhu, dan kelembaban di dalam kandang tetap baik. Sehingga selama penelitian pada siang hari tirai kandang di buka dan pada malam hari tirai kembali ditutup. Selain itu kelembaban udara juga mempengaruhi terhadap stres panas melalui interaksi dengan suhu, kelembaban udara yang rendah menyebabkan dehidrasi pada ayam sedangkan kelembaban udara yang tinggi menyebabkan kandang bau karena dapat merangsang pertumbuhan mikroorganisme pada sekam.

2 23 Suhu dan kelembaban kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8. Tabel 7. Rataan Suhu Kandang Selama Penelitian Minggu Suhu Pagi Suhu Siang Suhu Malam...( 0 C) III IV V Rataan Tabel 8. Rataan Kelembaban Kandang selama Penelitian Minggu Kelembaban Pagi Kelembaban Siang Kelembaban Malam % III IV V Rataan 80,3 59,3 77, Pengaruh Lama Pencahayaan terhadap Konsumsi Ransum Rataan konsumsi ransum pada ayam broiler selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9. Rataan konsumsi ransum ayam broiler selama penelitian berkisar antara 3.087, ,00 gram per ekor. Dari hasil penelitian yang diperoleh dilanjutkan dengan uji statistic dapat dilihat pada lampiran 2. Berdasarkan perhitungan analisis ragam diketahui bahwa perlakuan lama pencahayaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum. Fakta tersebut memberi ketetapan bahwa lama pencahayaan tidak mempengaruhi jumlah konsumsi ransum.

3 24 Tabel 9. Pengaruh Lama Pencahayaan terhadap Konsumsi Ransum Ulangan Perlakuan P0 P1 P2 P3 gram , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,00 Jumlah , , , ,50 Rataan 3.276, , , ,90 Keterangan : P0 = 12 jam pencahayaan( wib) P1 = 2 jam gelap ( wib) : 10 jam terang ( wib) P2 = 4 jam gelap ( wib) : 8 jam terang ( wib ) P3 = 6 jam gelap ( wib) : 6 jam terang ( wib) Dari hasil penelitian yang telah dilakukan jumlah konsumsi ransum setiap perlakuan sama, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah faktor pencahayaan. Pemberian lampu penerangan terhadap ayam broiler pada manajemen pemeliharaan tergantung pada lama pemberian dan intensitas cahaya. Ternak unggas peka terhadap cahaya, karenanya dapat mempengaruhi proses biologis melalui aktivitas hormonal. Mekanisme proses fisiologis yang terjadi dalam penerimaan rangsangan sehingga dapat mempengaruhi organ-organ tubuh diawali dengan rangsangan mekanisne pada syaraf pengelihatan yang selanjutnya secara kimia berlangsung melalui rangsangan hormonal. Cahaya yang mengenai mata ayam akan diterima oleh reseptor pada mata ayam dan merangsang syaraf mata kemudian rangsangan ini diteruskan ke hipotalamus. Hasil kerja selanjutnya menyebabkan pengeluaran hormon pengendali dari hipotalamaus posterior. Hormon pengendali tersebut terdiri dari

4 25 hormon stimulasi tiroid yang meningkatkan aktivitas tiroid dan hormon somatotropik yang mengatur berbagai fungsi meningkatkan pertumbuhan. Tingkah laku ayam broiler sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Pada umumnya cahaya lampu yang lebih terang akan meningkatkan aktivitas, sementara yang lebih rendah memberi pengaruh dalam pengontrolan agresivitas berlebih yang berpotensi terjadinya kanibalisme, Hal tersebut disebabkan karena tingkat intensitas cahaya yang tinggi akan merangsang syaraf yang mempengaruhi kerja hormon pada ayam. Rangsang dari syaraf akan ditransformasikan ke hipothalamus yang akan mensekresikan hormon releasing factor. Hormon releasing factor yang dihasilkan akan mengatur kelenjar endokrin yang salah satunya adalah kelenjar adrenal yang produksinya akan meningkat dan akan meningkatkan pola konsumsi makan ayam, sehingga lama pencahayaan tidak akan banyak mempengaruhi pola konsumsi pakan dari ayam tersebut. Faktor lain juga dapat disebabkan salah satunya karena program pencahayaan yang dilakukan dengan memberikan sistem pencahayaan penuh selama 24 jam pada dua minggu awal sehingga konsumsi ransum sama meskipun pada umur berikutnya ayam diberi perlakuan pencahayaan yang berbeda. Selain itu pada pukul wib ayam mendapatkan cahaya yang cukup dari sinar matahari sehingga ayam tidak sama sekali kekurangan cahaya, hasil penelitian tersebut didukung oleh pernyataan menurut Wheaver dan Siegel (1968) bahwa tingkah laku makan ayam paling besar pada pukul wib dan karakter ini mulai tampak pada pukul wib sehingga pengaturan lama pencahayaan pada malam hari mulai pukul wib tidak mempengaruhi ayam untuk mengkonsumsi ransum.

5 Pengaruh Lama Pencahayaan terhadap Pertambahan Bobot Badan Pertambahan bobot badan merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai standar produksi. Hasil penelitian rataan pertambahan bobot badan ayam broiler ± 1.461, ,73 gram per ekor. Pertambahan bobot badan tertinggi terlihat pada perlakuan P3 (1.675,73 gram) yaitu lama pencahayaan 6 jam terang dan 6 jam gelap sedangakan pertambahan bobot badan terendah terlihat pada perlakuan P0 (1.461,20 gram) yaitu lama pencahayaan 12 jam terang. Pertambahan bobot badan ayam broiler selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Pertambahan bobot badan ayam broiler selama penelitian Ulangan Perlakuan P0 P1 P2 P3 gram , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,07 Jumlah 7.344, , , ,66 Rataan 1.468, , , ,73 Keterangan : P0 = 12 jam pencahayaan( wib) P1 = 2 jam gelap ( wib) : 10 jam terang ( wib) P2 = 4 jam gelap ( wib) : 8 jam terang ( wib ) P3 = 6 jam gelap ( wib) : 6 jam terang ( wib) Dari hasil analisis ragam pada lampiran 3 diketahui bahwa perlakuan lama pencahayaan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan. Guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan hasil penelitian yang telah dilakukan dilanjutkan dengan Uji Duncan yang dapat dilihat pada Tabel 11.

6 27 Tabel 11. Uji Duncan Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler Lama Pencahayaan Perlakuan (jam) Rataan Konsumsi Ransum (g) Signifikasi (0,05) P ,20 b P ,85 b P ,43 b P ,73 a Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom signifikansi menunjukan tidak berbeda nyata Pada Tabel 11 didapatkan hasil bahwa lama pencahayaan pada perlakuan P3 nyata lebih tinggi daripada pertambahan bobot badan pada perlakuan P2, P1 dan P0, sedangkan antara perlakuan P0, P1, dan P2 memperlihatkan pertambahan bobot badan yang sama. Meskipun konsumsi ransum pada setiap perlakuan sama, namun pada perlakuan P3 ransum dapat digunakan secara optimal untuk pertambahan bobot badannya karena konsumsi ransum yang optimal akan menyebabkan pertambahan bobot badan yang tinggi ini terjadi karena salah satu fungsi ransum bagi unggas adalah untuk pertumbuhan, hal ini berhubungan dengan proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh ternak yang akhirnya hasil proses tersebut digunakan untuk pertumbuhan ini berhubungan dengan fungsi cahaya yang dapat menggeretak kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon pertumbuhan untuk mengatur proses metabolisme sehingga proses pertumbuhan unggas akan terus berlangsung semaksimal mungkin sesuai dengan potensi genetiknya, selain itu cahaya gelap juga akan menghambat pelepasan hormon kortikosteroid dan dapat memberikan kesempatan pada ayam untuk lebih banyak beristirahat sehingga ransum yang dikonsumsi secara optimal akan digunakan ayam untuk menunjang terhadap pertambahan bobot badannya.

7 28 Waktu gelap yang lebih panjang juga menyebabkan nutrisi dari ransum lebih banyak digunakan untuk pembentukan daging bukan untuk aktifitas didalam kandang karena aktifitas fisik sangat rendah selama gelap dan pengeluaran energi untuk aktifitas berkurang (Rahimi, 2005), selama gelap terjadi pengosongan saluran pencernaan sehingga kesempatan ayam untuk mengkonsumsi ransum berkurang namun kesempatan ransum untuk dicerna ayam sempurna sehingga proses pencernaan dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik dan kebutuhan nutrien yang diperlukan tubuh dapat terpenuhi Pengaruh Lama Pencahayaan terhadap Konversi Ransum Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan rataan konversi Ransum berkisar antara 1,85 2,27. Konversi ransum terendah 1,85 yaitu pada perlakuan P3 dan konversi ransum tertinggi 2,27 yaitu pada perlakuan P1. Konversi Ransum ini kurang baik apabila dibandingkan dengan standar yang ada, standar konversi ransum ayam broiler adalah 1,6 (Cobb Vantress Inc, 2010). Rataan konversi ransum selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler selama Penelitian

8 29 Ulangan Perlakuan P0 P1 P2 P3 1 2,41 2,28 2,29 1,67 2 1,92 2,14 2,14 1,82 3 2,61 2,29 2,22 1,87 4 2,18 2,28 2,07 1,86 5 2,11 2,36 1,95 2,00 Jumlah 11,23 11,35 10,67 9,22 Rataan 2,24 2,27 2,13 1,84 Keterangan : P0 = 12 jam pencahayaan( wib) P1 = 2 jam gelap ( wib) : 10 jam terang ( wib) P2 = 4 jam gelap ( wib) : 8 jam terang ( wib ) P3 = 6 jam gelap ( wib) : 6 jam terang ( wib) Hasil analisis ragam konversi ransum pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa perlakuan lama pencahayaan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konversi ransum. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konversi ransum dilakukan Uji Duncan yang dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Uji Duncan Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler Lama Pencahayaan Perlakuan Rataan Konversi Ransum Signifikasi (0,05) P0 2,24 a P1 2,27 a P2 2,13 a P3 1,84 b Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukan tidak berbeda nyata Dari Tabel 13 didapatkan hasil bahwa nilai konversi ransum pada perlakuan P3 terhadap perlakuan P0, P1 dan P2 memperlihatkan pengaruh yang nyata, sedangkan antara perlakuan P0, P1 dan P2 memperlihatkan nilai konversi ransum yang sama. Hasil rataan konversi ransum dipengaruhi oleh hasil rataan

9 30 pertambahan bobot badan yang menunjukkan nilai tertinggi pada perlakuan P3, dari perlakuan P3 menunjukan bahwa ayam mengkonsumsi ransum sama pada setiap perlakuan namum pertumbuhannya relatif cepat ini menunjukan bahwa jumlah ransum yang dikonsumsi dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhannya sehingga pertambahan bobot badannya menjadi baik. Lama pencahayaan pada perlakuan P3 dapat memberikan kondisi yang nyaman bagi ayam untuk pembentukan daging karena periode gelap yang panjang menyebabkan ayam tidak banyak beraktifitas dalam kandang akibatnya ransum yang dikonsumsi efektif untuk pertumbuhan sehingga ayam lebih efisien dalam menggunakan ransum terhadap pertambahan bobot badannya.

PENDAHULUAN. relatif singkat, hanya 4 sampai 6 minggu sudah bisa dipanen. Populasi ayam

PENDAHULUAN. relatif singkat, hanya 4 sampai 6 minggu sudah bisa dipanen. Populasi ayam 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ayam broiler merupakan ayam ras pedaging yang waktu pemeliharaannya relatif singkat, hanya 4 sampai 6 minggu sudah bisa dipanen. Populasi ayam broiler perlu ditingkatkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. (Setianto, 2009). Cahaya sangat di perlukan untuk ayam broiler terutama pada

TINJAUAN PUSTAKA. (Setianto, 2009). Cahaya sangat di perlukan untuk ayam broiler terutama pada 7 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Cahaya Untuk Ayam Broiler Cahaya merupakan faktor lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan ayam, karena cahaya mengontrol banyak proses fisiologi dan tingkah laku ayam (Setianto,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. banyak dan menyebar rata di seluruh daerah Indonesia. Sayang, ayam yang besar

I. PENDAHULUAN. banyak dan menyebar rata di seluruh daerah Indonesia. Sayang, ayam yang besar I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam kampung sudah lama dikenal dan akrab dengan lidah masyarakat Indonesia. Telur dan dagingnya sudah lama digemari orang. Populasinya pun cukup banyak dan menyebar rata

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengamatan tingkah laku pada ayam broiler di kandang tertutup dengan perlakuan suhu dan warna cahaya yang berbeda dilaksanakan dengan menggunakan metode scan sampling.

Lebih terperinci

PROGRAM PENCAHAYAAN (Lighting) TIM BROILER MANAGEMENT 2017

PROGRAM PENCAHAYAAN (Lighting) TIM BROILER MANAGEMENT 2017 PROGRAM PENCAHAYAAN (Lighting) TIM BROILER MANAGEMENT 2017 FUNGSI DAN MANFAAT Fungsi pencahayaan pada pemeliharaan broiler adalah : o Penerangan : agar anak ayam dapat melihat tempat pakan dan minum serta

Lebih terperinci

Suhu Kandang. tubuh ternak. saat starterr berkisar antara 25

Suhu Kandang. tubuh ternak. saat starterr berkisar antara 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Suhu Kandang Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sulit dikendalikan. Kondisi cuaca sekitar tempat pemeliharaan ternak seperti panas sinar matahari dan curah hujan yang tinggi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi, permintaan masyarakat akan produkproduk peternakan

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang. Peningkatan cekaman panas yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi

BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang. Peningkatan cekaman panas yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi 1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan cekaman panas yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi dapat merupakan masalah serius pada pengembangan ayam broiler di daerah tropis. Suhu rata-rata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Usaha peternakan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk

I. PENDAHULUAN. Usaha peternakan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Usaha peternakan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat yang semakin meningkat, sejalan dengan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler

PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler 29 IV PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler Hasil penelitian pengaruh lama penggunaan litter pada kandang panggung terhadap konsumsi ransum disajikan pada Tabel 5. Tabel

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan dapat meningkatkan rata-rata bobot potong ayam (Gunawan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan dapat meningkatkan rata-rata bobot potong ayam (Gunawan dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Kampung Super Ayam kampung super merupakan hasil dari proses pemuliaan yang bertujuan untuk peningkatan produksi daging. Dalam jangka pendek metode persilangan dapat meningkatkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 23 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Konsumsi ransum dihitung berdasarkan jumlah ransum diberikan dikurangi sisa ransum. Rataan konsumsi ransum ayam lokal Jimmy s

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dunia, dikenal dengan nama spesies Gallus domesticus. Ayam broiler mempunyai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dunia, dikenal dengan nama spesies Gallus domesticus. Ayam broiler mempunyai 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peternakan Ayam Broiler dan Termoregulasi Ayam broiler merupakan jenis unggas yang paling banyak dipelihara di dunia, dikenal dengan nama spesies Gallus domesticus. Ayam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh Puyuh yang digunakan dalam penilitian ini adalah Coturnix-coturnix japonica betina periode bertelur. Konsumsi pakan per hari, bobot

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu HASIL DAN PEMBAHASAN Manajemen Pemeliharaan Komponen utama dalam beternak puyuh baik yang bertujuan produksi hasil maupun pembibitan terdiri atas bibit, pakan serta manajemen. Penelitian ini menggunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian DOC yang dipelihara pada penelitian ini sebanyak 1000 ekor. DOC memiliki bobot badan yang seragam dengan rataan 37 g/ekor. Kondisi DOC sehat dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Ransum Ransum penelitian disusun berdasarkan rekomendasi Leeson dan Summers (2005) dan dibagi dalam dua periode, yakni periode starter (0-18 hari) dan periode finisher (19-35

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bobot akhir ayam Broiler dari masing-masing perlakuan diperoleh dari

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bobot akhir ayam Broiler dari masing-masing perlakuan diperoleh dari 32 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Bobot Akhir Bobot akhir ayam Broiler dari masing-masing perlakuan diperoleh dari hasil penimbangan di akhir penelitian. Rataan bobot akhir masing-masing

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga

1. PENDAHULUAN. Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang penting diperhatikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Mikro Kandang Kandang Penelitian Kandang penelitian yang digunakan yaitu tipe kandang panggung dengan dinding terbuka. Jarak lantai kandang dengan tanah sekitar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Lingkungan Mikro Lokasi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Lingkungan Mikro Lokasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Mikro Lokasi Penelitian Berdasarkan pengambilan data selama penelitian yang berlangsung mulai pukul 06.00 sampai pukul 16.00 WIB, data yang diperoleh menunjukkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Secara umum penelitian ini sudah berjalan dengan cukup baik. Terdapat sedikit hambatan saat akan memulai penelitian untuk mencari ternak percobaan dengan umur

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Petelur Ayam petelur adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang dikembangkan pada tipe

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Broiler

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Broiler TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Ayam diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, class Aves, ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Galllus, species Gallus gallus, dan subspecies Gallus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan penduduk yang semakin pesat, permintaan produk

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan penduduk yang semakin pesat, permintaan produk 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Seiring dengan perkembangan penduduk yang semakin pesat, permintaan produk hasil peternakan yang berupa protein hewani juga semakin meningkat. Produk hasil

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi

I. PENDAHULUAN. Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Broiler memiliki kelebihan dan kelemahan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fungsi, yaitu sebagai ayam petelur dan ayam potong.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fungsi, yaitu sebagai ayam petelur dan ayam potong. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Kampung Ayam kampung dikenal sebagai jenis unggas yang mempunyai sifat dwi fungsi, yaitu sebagai ayam petelur dan ayam potong. Wahju (2004) yang menyatakan bahwa Ayam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu berasal dari daerah Karesidenan Kedu - Jawa Tengah terutama di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu berasal dari daerah Karesidenan Kedu - Jawa Tengah terutama di BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Kedu Ayam Kedu berasal dari daerah Karesidenan Kedu - Jawa Tengah terutama di Kabupaten Temanggung. Di Kabupaten Temanggung disamping ayam Kedu hitam, ada juga ayam Kedu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian Faktor manajemen lingkungan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak. Suhu dan kelembaban yang sesuai dengan kondisi fisiologis ternak akan membuat

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Volume Ginjal Pasca Transportasi

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Volume Ginjal Pasca Transportasi IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Volume Ginjal Pasca Transportasi Pemberian kombinasi starter probiotik BAL dan yeast tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan volume ginjal

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan

II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Berdasarkan bobot maksimum yang dapat dicapai oleh ayam terdapat tiga tipe ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan (Babcock,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 17 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-April 2010, di kandang percobaan blok B (unggas), Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternak Fakultas

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 15 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan Penelitian 3.1.1. Ternak Penelitian Ternak percobaan yang digunakan adalah ayam broiler yang telah dipelihara selama 2 minggu sebanyak 100 ekor dengan rataan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertumbuhan cepat, kulit putih dan bulu merapat ke tubuh (Suprijatna et al., 2005).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertumbuhan cepat, kulit putih dan bulu merapat ke tubuh (Suprijatna et al., 2005). 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam ras merupakan ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, kulit putih dan bulu merapat ke tubuh (Suprijatna et al., 2005).

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. ampas teh hitam dalam ransum terhadap tingkah laku puyuh petelur dilaksanakan

BAB III MATERI DAN METODE. ampas teh hitam dalam ransum terhadap tingkah laku puyuh petelur dilaksanakan 13 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang pengaruh sistem kandang bertingkat dan penggunaan ampas teh hitam dalam ransum terhadap tingkah laku puyuh petelur dilaksanakan selama 10 minggu dimulai

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. dikonsumsi seekor ternak. Menurut Rasyaf (2004) konsumsi ransum merupakan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. dikonsumsi seekor ternak. Menurut Rasyaf (2004) konsumsi ransum merupakan 24 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Konsumsi ransum merupakan ukuran untuk mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi seekor ternak. Menurut Rasyaf (2004) konsumsi ransum

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Standar Performa Mingguan Ayam Broiler CP 707

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Standar Performa Mingguan Ayam Broiler CP 707 TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Ayam broiler adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan ayam hasil budidaya teknologi peternakan dengan menyilangkan sesama jenisnya. Karekteristik ekonomi dari

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2008 di Desa Pamijahan, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggunakan kandang panggung peternak komersil. Analisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. betina akan mulai bertelur pertama kali pada umur hari (Rachmat dkk.,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. betina akan mulai bertelur pertama kali pada umur hari (Rachmat dkk., BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Puyuh Jantan Burung puyuh merupakan salah satu komoditi unggas dari genus Coturnix yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan daging. Burung puyuh betina akan mulai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum. mengetahui apakah ransum yang telah disusun memenuhi syarat atau tidak.

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum. mengetahui apakah ransum yang telah disusun memenuhi syarat atau tidak. IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Ransum Konsumsi ransum merupakan suatu perameter uji coba biologis untuk mengetahui apakah ransum yang telah disusun memenuhi syarat atau

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. masyarakat menjadikan ayam lokal sebagai ternak kesayangan (fancy) untuk dinikmati

PENDAHULUAN. masyarakat menjadikan ayam lokal sebagai ternak kesayangan (fancy) untuk dinikmati I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam lokal di Indonesia memiliki potensi yang sangat baik, akan tetapi belum dikembangkan secara maksimal. Keunggulan dari ternak ayam lokal yaitu dapat beradaptasi baik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, masyarakat akan cenderung mengonsumsi daging unggas

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi dalam

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi dalam IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Konsumsi ransum Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu. Ransum yang dikonsumsi oleh ternak digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor peternakan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi. Sumber daya

I. PENDAHULUAN. Sektor peternakan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi. Sumber daya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor peternakan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi. Sumber daya manusia yang berkualitas ditentukan oleh pendidikan yang tepat guna dan pemenuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Tabel 8. Rataan Konsumsi Ransum Per Ekor Puyuh Selama Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Tabel 8. Rataan Konsumsi Ransum Per Ekor Puyuh Selama Penelitian 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Konsumsi ransum adalah banyaknya ransum yang dikonsumsi oleh setiap ekor puyuh selama penelitian. Rataan konsumsi ransum per ekor

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Pemeliharaan pada Kepadatan Kandang

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Pemeliharaan pada Kepadatan Kandang 9 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Pengaruh Pemeliharaan pada Kepadatan Kandang yang Berbeda terhadap Bobot Karkas, Persentase Karkas dan Potongan Komersial Ayam Broiler dilakukan pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di Kandang Sumber panas selama penelitian berasal dari bohlam berdaya 60 watt yang dipasang sepanjang hari (24 jam) pada masing-masing kandang dan pemanas (brooder) berbahan

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. periode starter terhadap performans pada Ayam Kedu Hitam umur 0-10 Minggu.

BAB III MATERI DAN METODE. periode starter terhadap performans pada Ayam Kedu Hitam umur 0-10 Minggu. BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang pengaruh lama periode brooding dan level protein ransum periode starter terhadap performans pada Ayam Kedu Hitam umur 0-10 Minggu. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan telur terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Untuk memenuhi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian Suhu dan Kelembaban HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 26,9-30,2 o C. Pagi 26,9 o C, siang 30,2 o C, dan sore 29,5 o C. Kelembaban

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. periode finisher pada suhu pemeliharaan yang berbeda dilaksanakan pada tanggal

BAB III MATERI DAN METODE. periode finisher pada suhu pemeliharaan yang berbeda dilaksanakan pada tanggal BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang bobot relatif usus halus dan organ limfoid ayam broiler periode finisher pada suhu pemeliharaan yang berbeda dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 23 Maret 2018

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena,

I PENDAHULUAN. Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena, 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena, menghasilkan produk peternakan seperti telur dan daging yang memiliki kandungan protein hewani

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai

HASIL DAN PEMBAHASAN. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum 4.1.1 Sejarah dan Keadaan Umum Peternakan Jimmy s Farm merupakan suatu perusahaan peternakan ayam buras yang bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakannya tinggi dan dapat dipasarkan dalam waktu singkat (Amrullah, 2004).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakannya tinggi dan dapat dipasarkan dalam waktu singkat (Amrullah, 2004). 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan hasil seleksi genetik yang sangat ketat yang memang dititik beratkan pada laju kecepatan pertumbuhan tinggi dengan efisiensi pakannya

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Sumber : Label Pakan BR-611 PT. Charoen Pokphand Indonesia.

MATERI DAN METODE. Sumber : Label Pakan BR-611 PT. Charoen Pokphand Indonesia. MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di CV Mitra Sejahtera Mandiri, Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Penelitian dilaksanakan selama lima minggu yang dimulai dari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Peternak Itik Famili Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung

HASIL DAN PEMBAHASAN. Peternak Itik Famili Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung 20 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkah Laku Makan dan Minum Tingkah laku makan dan minum digambarkan dan terukur dari catatan rekaman CCTV berupa film selama penelitian. Pengamatan tingkah laku makan dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering (KBK) Konsumsi Bahan Kering (BK) dihitung berdasarkan konsumsi pakan,

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering (KBK) Konsumsi Bahan Kering (BK) dihitung berdasarkan konsumsi pakan, IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering (KBK) Konsumsi Bahan Kering (BK) dihitung berdasarkan konsumsi pakan, yang sangat dipengaruhi oleh kualitas dan palatabilitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Pembibit Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang cepat. Tipe ayam pembibit atau parent stock yang ada sekarang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Manajemen Pemeliharaan Breeder Strain broiler breeder yang digunakan dalam penelitian ini ialah Cobb 500, Ross 308 dan Hubbard Classic. Ayam ayam tersebut dipelihara di kandang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari -- Maret 2013 di kandang percobaan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari -- Maret 2013 di kandang percobaan 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Februari -- Maret 2013 di kandang percobaan milik PT. Rama Jaya Lampung yang berada di Desa Fajar Baru II, Kecamatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein hewani yang dibutuhkan bagi hidup, tumbuh dan kembang manusia. Daging, telur, dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari. modern mencapai di bawah dua (Amrullah, 2004).

I. PENDAHULUAN. umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari. modern mencapai di bawah dua (Amrullah, 2004). I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ayam broiler modern tumbuh sangat cepat sehingga dapat di panen pada umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari tingkah laku makannya yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Kampung Ayam kampung merupakan salah satu unggas lokal yang umumnya dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan daging (Suryana dan

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum 23 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Konsumsi ransum merupakan kegiatan masuknya sejumlah unsur nutrien yang ada di dalam ransum yang telah tersusun dari berbagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan tetuanya yang sudah diseleksi secara genetik. Karakteristik ayam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan tetuanya yang sudah diseleksi secara genetik. Karakteristik ayam 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan jenis ayam pedaging yang dihasilkan dari persilangan tetuanya yang sudah diseleksi secara genetik. Karakteristik ayam broiler yaitu memiliki

Lebih terperinci

Uji lanjut. Rata-rata K ,620 K ,380 K ,620 P 1,000 1,000 1,000. Kandang

Uji lanjut. Rata-rata K ,620 K ,380 K ,620 P 1,000 1,000 1,000. Kandang 52 Lampiran 1 Analisis ragam konsumsi ransum kumulatif Waktu * kandang 71413,000 2 35706,500 1,148,339 Waktu 4959,375 1 4959,375,159,694 Kandang 2078192,333 2 1039096,167 33,405,000 ** Galat 559901,250

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan PENDAHULUAN Latar Belakang Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang kehidupannya sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras) atau ayam sayur.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai

TINJAUAN PUSTAKA. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah dan Keadaan Umum Jimmy s Farm merupakan suatu perusahaan peternakan ayam buras yang bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai berkembang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rataan jumlah konsumsi pakan pada setiap perlakuan selama penelitian dapat. Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rataan jumlah konsumsi pakan pada setiap perlakuan selama penelitian dapat. Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Konsumsi Pakan Rataan jumlah konsumsi pakan pada setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rataan konsumsi pakan ayam kampung super yang diberi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Kandang

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Kandang TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Ayam diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, class Aves, ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Galllus, species Gallus gallus, dan subspecies Gallus

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan 9 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian evaluasi pengaruh frekuensi dan periode pemberian pakan yang berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Tabel 3. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial.

MATERI DAN METODE. Tabel 3. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial. MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di CV. Mitra Mandiri Sejahtera Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak lokasi kandang penelitian dari tempat pemukiman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Rataan performa produksi meliputi produksi telur, bobot telur, dan konversi pakan) Coturnix-coturnix japonica dengan penambahan Omega-3 dalam pakan ditampilkan pada Tabel 4. Tabel

Lebih terperinci

THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY

THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY Oleh : Suhardi, S.Pt.,MP Pembibitan Ternak Unggas AYAM KURANG TOLERAN TERHADAP PERUBAHAN SUHU LINGKUNGAN, SEHINGGA LEBIH SULIT MELAKUKAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN SUHU

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam jangka waktu tertentu. Tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat

HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam jangka waktu tertentu. Tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Konsumsi Pakan Konsumsi pakan puyuh adalah jumlah ransum yang dikonsumsi oleh puyuh dalam jangka waktu tertentu. Tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat energi dan palabilitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Kondisi Lingkungan Kelinci dipelihara dalam kandang individu ini ditempatkan dalam kandang besar dengan model atap kandang monitor yang atapnya terbuat dari

Lebih terperinci

Performa Ayam Jantan Tipe Medium Dengan Persentase Pemberian Ransum Yang Berbeda Antara Siang dan Malam

Performa Ayam Jantan Tipe Medium Dengan Persentase Pemberian Ransum Yang Berbeda Antara Siang dan Malam Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Lampung 07 September 2017 ISBN 978-602-70530-6-9 halaman 307-312 Performa Ayam Jantan Tipe Medium Dengan Persentase Pemberian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Konsumsi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Kandang adalah salah satu kebutuhan penting dalam peternakan. Fungsi utama kandang adalah untuk menjaga supaya ternak tidak berkeliaran dan memudahkan pemantauan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. penghasil telur juga dapat dimanfaatkan sebagai ternak penghasil daging

II. TINJAUAN PUSTAKA. penghasil telur juga dapat dimanfaatkan sebagai ternak penghasil daging 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Ayam tipe medium atau disebut juga ayam tipe dwiguna selain sebagai ternak penghasil telur juga dapat dimanfaatkan sebagai ternak penghasil daging (Suprianto,2002).

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian Kandungan Nutrisi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Pakan Penelitian Kandungan nutrisi pakan tergantung pada bahan pakan yang digunakan dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi pakan penelitian dari analisis proksimat

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian Pengaruh Frekuensi dan Periode Pemberian Pakan yang Berbeda

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian Pengaruh Frekuensi dan Periode Pemberian Pakan yang Berbeda 15 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian Pengaruh Frekuensi dan Periode Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Efisiensi Penggunaan Energi pada Ayam Buras Super Umur 3-12 Minggu yang Dipelihara Dikandang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Peningkatan jumlah penduduk serta semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap tahunnya. Konsumsi protein

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA dan mencapai puncaknya pada sekitar pukul WIB kemudian

II. TINJAUAN PUSTAKA dan mencapai puncaknya pada sekitar pukul WIB kemudian 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Suhu dan Konsumsi Ransum Manik dan Pamono (2001) menyatakan bahwa perbedaan suhu Indonesia antara siang dan malam hari cukup besar, umumnya suhu mulai meningkat setelah pukul

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan jumlah ransum yang tersisa (Fadilah, 2006). Data rataan konsumsi ransum

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan jumlah ransum yang tersisa (Fadilah, 2006). Data rataan konsumsi ransum HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Konsumsi Ransum Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang diberikan dikurangi dengan jumlah ransum yang tersisa (Fadilah, 2006). Data rataan konsumsi ransum broiler pada penelitian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam lokal saat ini menjadi salah satu bahan pangan yang digemari masyarakat luas untuk dikonsumsi baik dalam bentuk telur maupun dagingnya. Tingkat keperluan terhadap

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock, 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock, Hyline, dan Kimber); tipe medium (diantaranya Dekalb, Kimbrown, dan Hyline

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semaksimal mungkin dalam waktu sesingkat mungkin sehingga biaya operasional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semaksimal mungkin dalam waktu sesingkat mungkin sehingga biaya operasional 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ayam ras pedaging yang dikenal sejak tahun 1970- an dan berasal dari persilangan berbagai bangsa ayam. Ayam broiler mampu mewujudkan tujuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk menyeleksi pejantan dan betina yang memiliki kualitas tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk menyeleksi pejantan dan betina yang memiliki kualitas tinggi 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemeliharaan Ayam Salah satu syarat keberhasilan dalam pemeliharaan pembibitan ayam yaitu kemampuan untuk menyeleksi pejantan dan betina yang memiliki kualitas tinggi untuk

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi

I. TINJAUAN PUSTAKA. memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pedaging Ayam Pedaging adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keadaan Umum Breeding Center Puyuh Universitas Padjadjaran

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keadaan Umum Breeding Center Puyuh Universitas Padjadjaran IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Breeding Center Puyuh Universitas Padjadjaran Pusat pembibitan puyuh Universitas Padjadjaran merupakan suatu lokasi pembibitan dan budidaya puyuh yang memiliki

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Penambahan Kunyit dan Jahe Dalam

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Penambahan Kunyit dan Jahe Dalam 13 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Pengaruh Penambahan Kunyit dan Jahe Dalam Ransum, terhadap Performans Puyuh Jantan (umur 2-8 minggu) telah dilaksanakan pada bulan Juni Juli 2016, di

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Jantan Ilustrasi 3. Puyuh Padjadjaran Galur Hitam Generasi Kenam Penelitian dilakukan di Breeding Center Puyuh, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tinggi. Fakta ini menyebabkan kebutuhan yang tinggi akan protein hewani

I. PENDAHULUAN. tinggi. Fakta ini menyebabkan kebutuhan yang tinggi akan protein hewani 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara dengan jumlah dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Fakta ini menyebabkan kebutuhan yang tinggi akan protein hewani dengan

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Eceng Gondok Fermentasi dalam Ransum

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Eceng Gondok Fermentasi dalam Ransum 18 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang Penggunaan Eceng Gondok Fermentasi dalam Ransum terhadap Pemanfaatan Protein pada Ayam Broiler berlangsung pada tanggal 01 Oktober 2014 sampai 04 November

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam yang berasal dari hasil genetik yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam yang berasal dari hasil genetik yang 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ayam yang berasal dari hasil genetik yang memiliki karakteristik secara ekonomis dengan pertumbuhan yang cepat sebagai ayam penghasil

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Pertanian, Universitas Diponegoro pada tanggal 22 Oktober 31 Desember 2013.

BAB III MATERI DAN METODE. Pertanian, Universitas Diponegoro pada tanggal 22 Oktober 31 Desember 2013. 13 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan selama 10 minggu di Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro pada tanggal 22 Oktober 31 Desember 2013. Analisis kandungan bahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Lokasi Penelitian Ilustrasi 3. Lokasi Peternakan Rakyat Milik Bapak Dede Peternakan rakyat milik bapak Dede berada di Dusun Cinenggang, Desa Cileles, Kecamatan Jatingangor,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani dalam memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh pola pergantian periode pemberian pakan dan level

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh pola pergantian periode pemberian pakan dan level 11 BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN 3.1. Materi Penelitian Penelitian pengaruh pola pergantian periode pemberian pakan dan level protein terhadap konsumsi protein, rasio efisiensi protein dan retensi

Lebih terperinci