Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014"

Transkripsi

1 Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014 Tim Penulis : Sugianto, SKM, M.Sc.PH M. Faozan, SKM, MPH Asih Setyani, SP, MPH Lembaga Penerbit BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN 2014 i

2 Kata Pengantar Assalamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karunia Allah, kami dapat menyelesaikan Laporan Hasil Studi Diet Total (SDT) tahun 2014 Daerah Istimewa Yogyakarta SDT terdiri dari Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI). Pelaksanaan pengumpulan data SDT yang diawali SKMI 2014 di Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan di bulan Mei - Juli 2014 di 5 kabupaten/kota. Sebanyak 52 enumerator disebar di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta, dan 3 koordinator klaster yang berasal dari peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) serta 1 Penanggung Jawab Operasional Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 575 rumah tangga dapat dikunjungi dan sebanyak 1805 individu dapat di wawancara. Sebelum pelaksanaan pengumpulan data dilakukan terlebih dahulu pelatihan koordinator klaster dan enumerator. Proses manajemen data dimulai dari pengumpulan dan entri data ke komputer data di lapangan. Selanjutnya, proses data cleaning dilakukan oleh Tim Manajemen Data (mandat) dan Tim Teknis di Balitbangkes. Masih terbatasnya ketersediaan komposisi zat gizi dalam bahan makanan menyebabkan hasil SKMI belum dapat mencakup semua zat gizi. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh enumerator, koordinator klaster, penanggung jawab operasional peneliti dari Dinas Kesehatan Provinsi serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, rekan sekerja dari Badan Pusat Statistik (BPS), para pakar dari Perguruan Tinggi, para Dosen Politeknik Kesehatan dan semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan SDT ini. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Billahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum wr. wb. Jakarta, Desember 2014 Kepala Pusat Teknologi Terapan Kesehatan Dan Epidemiologi Klinik Dr. Siswanto, MHP ii

3 Kata Sambutan Assalamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karunia Nya, kita dapat menyelesaikan Laporan Hasil Survei Konsumsi Makanan Individu tahun Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) merupakan bagian dari Studi Diet Total (SDT) bersama dengan kegiatan Analisis Cemaran Kimia Makanan (ACKM). SKMI dilaksanakan di 33 provinsi (Kalimantan Utara masih bergabung Kalimantan Timur). Pelaksanaan SDT yang diawali uji coba kuesioner SKMI 2014 hingga pengumpulan data dilakukan sejak bulan Maret- Juli 2014 di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan mengerahkan sekitar enumerator yang menyebar di seluruh provinsi, 273 koordinator klaster yang terdiri dari peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dan dosen Poltekkes Jurusan Gizi serta 134 Penanggung Jawab Operasional Dinas Kesehatan Provinsi. Sebanyak rumah tangga dapat dikunjungi dan sebanyak individu dapat di wawancara. SDT telah menghasilkan informasi tentang macam hidangan, jenis bahan makanan yang dikonsumsi dan beratnya serta jumlah zat gizi yang dikonsumsinya. Dari jenis dan berat bahan makanan yang dikonsumsi dilakukan ACKM untuk mengetahui paparan dari beberapa zat mungkin menyebabkan penyakit tidak menular. Masih terbatasnya ketersediaan komposisi zat gizi dalam bahan makanan menyebabkan hasil SKMI belum dapat mencakup semua zat gizi. Proses manajemen data dimulai dari pengumpulan data di lapangan, kemudian dilakukan entry data ke komputer yang dilaksanakan di lapangan. Selanjutnya, proses data cleaning dilakukan oleh Tim Manajemen Data (mandat) dan Tim Teknis di Balitbangkes. Format data dibuat untuk keperluan laporan SKMI di 33 provinsi dan ACKM di Yogyakarta. Proses pengumpulan data, entri data dan khususnya data cleaning sungguh memerlukan ketelitian, stamina, pikiran dan kesebaran tingkat tinggi. Demikian pula, rancangan laporan dan khususnya rancangan tabel juga memerlukan pengalaman. Data konsumsi makanan individu ini harus dapat go international. Oleh karena itu, data perlu mengikuti format untuk harmonisasi internasional dalam FAO/WHO Chronic Individual Food Consumption Database seperti yang sudah tersedia di Cina dan Jepang, serta sedang dipersiapkan di Laos dan Myanmar. Data ini juga perlu harmonisasi kepentingan iii

4 stakeholders di bidang gizi dan keamanan pangan dalam format FAO/WHO Global Individual Food Consumption data Tool (FAO/WHO GIFT). Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari Badan Pusat Statistik (BPS), para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari Jajaran Dinas Kesehatan Provinsi, seluruh enumerator dan semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan SDT ini. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Billahi taufiq wal hidayah, Wassalamu alaikum Wr. wb. Jakarta, Desember 2014 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof.dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K)., MARS., DTM&H, DTCE iv

5 Ringkasan Eksekutif Studi Diet Total (SDT) 2014 adalah studi berbasis komunitas dengan sampel individu yang dapat mewakili provinsi dan nasional dengan menggunakan sub sampel Riskesdas SDT 2014 mencakup Survei Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) dan Analisis Cemaran Kimia Makanan (ACKM). SKMI dilakukan karena belum tersedia data konsumsi makanan individu nasional yang lengkap sebagai dasar melakukan ACKM. Penelitian ini merupakan survei berskala nasional dan multi years, dengan disain potong lintang (cross-sectional), non-intervensi/observasi, deskriptif dan analitik. Penelitian Studi Diet Total dilakukan pada tahun 2014 dan Studi Diet Total terdiri dari SKMI dan ACKM. Dari 26 BS terpilih untuk sampel SDT 2014 Daerah Istimewa Yogyakarta, BS yang berhasil ditemukan dan dikunjungi 26 BS (100%) yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota. Adapun dari jumlah target rumah tangga sebesar 642 RT terdapat 575 RT yang berhasil dikunjungi (89,6%). Sedangkan untuk jumlah target ART 2053 orang terdapat 1805 orang yang berhasil diwawncarai (87,9%). Hasil SDT di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa rata-rata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok serealia dan hasil olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah beras yaitu 143,2 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok serealia dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah beras yaitu 97,7 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok umbi dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah singkong dan olahan yaitu 19,1 gram per hari, kentang dan olahan 8,9 gram per hari dan ubi jalar 3,4 gram perhari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok umbi dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah singkong dan olahan yaitu 29,5 persen. Rerata penduduk mengkonsumsi bahan makanan kelompok kacang-kacangan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah kacang kedelai dan olahan yaitu sebesar 72,3 gram per hari. Persentase penduduk mengkonsumsi bahan makanan kelompok kacang-kacangan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah kacang kedelai dan olahan sebesar 72,0 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok sayuran dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah sayuran daun yaitu sebesar 65,5 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok sayuran dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah sayuran daun sebesar 85,0 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok buah-buahan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah pisang yaitu sebesar 20,3 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok buah-buahan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah pisang sebesar 20,4 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok daging dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah daging unggas yaitu sebesar 42,5 gram per hari, Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok daging dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah daging unggas sebesar 36,9 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok jeroan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah jeroan unggas yaitu sebesar 1,6 gram per hari, Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok jeroan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah jeroan lainnya sebesar 4,0 persen. Rerata penduduk mengkonsumsi bahan makanan kelompok ikan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah ikan air tawar yaitu sebesar 15,6 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok ikan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah ikan laut sebesar 6,9 persen. Rerata penduduk mengkonsumsi bahan makanan kelompok telur dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah telur ayam yaitu sebesar 25,20 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok telur dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah telur ayam sebesar 51,5 persen. v

6 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok susu dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah susu cair yaitu sebesar 4,9 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok susu dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah susu kental manis sebesar 12,3 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok minyak, lemak dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah minyak kelapa dan olahan yaitu sebesar 28,5 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok minyak, lemak dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah minyak kelapa sawit dan minyak kelapa sebesar 94,5 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok gula dan konfeksionari di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah gula yaitu sebesar 28,96 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok gula dan konfeksionari di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah gula sebesar 92,3 persen. Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok bumbu di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah bumbu basah yaitu sebesar 14,56 gram per hari. Persentase penduduk yang mengkonsumsi bumbu di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah garam sebesar 98,9 persen. Rerata konsumsi kelompok minuman jenis minuman serbuk, tertinggi adalah teh instan/daun kering (3.8 gram). Persentase penduduk yang mengkonsumsi kelompok minuman menurut kelompok umur tertinggi tertinggi adalah minuman serbuk (74,1%). Rerata tertinggi konsumsi air minum pada kelompok uisa tahun (1.330,6 ml). Rerata tertinggi konsumsi air minum kemasan bermerek adalah pada kelompok usia tahun (248,6 ml). Rerata tertinggi konsumsi minuman cair kemasan pabrikan adalah pada kelompok usia 5-12 tahun (38,7 ml). Persentase tertinggi penduduk yang mengonsumsi air minum berdasarkan sumber air adalah mengonsumsi air minum (97,7%). Rerata konsumsi suplemen tertinggi pada semua kelompok usia adalah minuman suplemen (0,4 ml). Rerata konsumsi jamu tradisional (0,54 ml) lebih tinggi dibanding konsumsi jamu pabrikan (0,02 mg) pada semua kelompok usia. Persentase tertinggi penduduk yang mengonsumsi suplemen adalah mengonsumsi suplemen multivitamin (1%). Persentase penduduk mengonsumsi jamu tradisional (0,9%) lebih tinggi dibanding jamu pabrikan (0,6%). Rerata asupan energi penduduk laki-laki baik di daerah perkotaan, perdesaan maupun secara keseluruhan lebih tinggi dibanding penduduk perempuan. Rerata asupan energi penduduk lakilaki di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan, paling tinggi pada kelompok usia tahun. Rerata asupan energi penduduk laki-laki di daerah pedesaan, tertinggi pada kelompok usia tahun. Sedangkan rerata asupan energi penduduk perempuan di daerah pedesaan, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun. Rerata kecukupan energi pada laki-laki berdasarkan kelompok usia, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (99%). Rerata kecukupan energi pada perempuan berdasarkan kelompok usia, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (96%). Berdasarkan tempat tinggal, rerata kecukupan energi penduduk perkotaan lebih tinggi dibanding pedesaan. Berdasarkan kuintil indeks kepemilikan, kelompok teratas memiliki rerata kecukupan energi tertinggi, dan kelompok menengah bawah memiliki rerata kecukupan energi terendah. Proporsi penduduk yang defisit energi menurut jenis kelamin, menunjukkan bahwa perempuan lebih mengalami defisit energi dibanding laki-laki. Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah perkotaan lebih mengalami defisit energi dibanding pedesaan. Berdasarkan kuintil indeks kepemilikan, penduduk kelas menengah bawah mengalami defisit energi tertinggi (49,1% ) dan penduduk kelas teratas mengalami defisit energi terendah. Persentase penduduk yang lebih dari 100 persen AKE menurut jenis kelamin, menunjukkan bahwa laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah perkotaan lebih mengalami kelebihan energi dibanding pedesaan. Berdasarkan kuintil indeks kepemilikan, penduduk kelas teratas mengalami kelebihan energi > 100 persen AKE tertinggi (31%) dan penduduk kelas menengah bawah mengalami kelebihan energi > 100% AKE terendah (15,7%). Rerata asupan protein penduduk laki-laki di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (78 g). Rerata asupan protein penduduk perempuan di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia vi

7 5-12 tahun (72 g). Rerata asupan protein penduduk laki-laki di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (69 g). Rerata asupan protein penduduk perempuan di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (56 g). Rerata kecukupan protein penduduk laki-laki maupun perempuan menurut kelompok usia, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (129). Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah perkotaan lebih tinggi kecukupan proteinnya dibanding penduduk daerah pedesaan. Berdasartkan indeks kepemilikan, rerata kecukupan protein tertinggi pada penduduk menengah teratas (107 persen). Proporsi penduduk yang defisit protein menurut jenis kelamin, menunjukkan bahwa perempuan lebih mengalami defisit protein dibanding laki-laki. Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah pedesaan lebih mengalami defisit protein dibanding pedesaan. Berdasarkan kuintil indeks kepemilikan, penduduk kelas menengah bawah mengalami defisit energi tertinggi (50,6persen) dan penduduk kelas teratas mengalami defisit energi terendah (26,3%). Proporsi penduduk yang lebih dari 100 persen AKP menurut jenis kelamin, menunjukkan bahwa laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah perkotaan lebih mengalami kelebihan protein dibanding pedesaan. Berdasarkan kuintil indeks kepemilikan, penduduk kelas teratas mengalami kelebihan protein > 100 persen AKP tertinggi (56,8%) dan penduduk kelas terbawah mengalami kelebihan protein > 100 persen AKP terendah (30%). Rerata asupan lemak penduduk laki-laki di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (81,1 g). Rerata asupan lemak penduduk perempuan di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (78,4 g). Rerata asupan lemak penduduk laki-laki di pedesaan, tertinmggi pada kelompok usia tahun (70,7 g). Rerata asupan lemak penduduk perempuan di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (76,0 g). Rerata asupan karbohidrat penduduk laki-laki di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (302,6 g). Rerata asupan karbohidrat penduduk perempuan di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (254,2 g). Rerata asupan karbohidrat penduduk laki-laki di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (295,3 g). Rerata asupan karbohidrat penduduk perempuan di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (245,7 g). Rerata asupan natrium penduduk laki-laki di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (1.553 mg). Rerata asupan natrium penduduk perempuan di perkotaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (2.126 mg). Rerata asupan natrium penduduk laki-laki di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia tahun (1.258 mg). Rerata asupan natrium penduduk perempuan di pedesaan, tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (1.558 mg). Rerata konsumsi gula dan garam, penduduk laki-laki menurut kelompok usia, tertinggi pada kelompok usia 55 + tahun. Rerata konsumsi minyak/lemak, penduduk laki-laki menurut kelompok usia, tertinggi pada kelompok usia tahun (24,5 g). Berdasarkan tempat tinggal, penduduk daerah perkotaan lebih rendah rerata konsumsi gula, garam, maupun minyak/lemak dibanding penduduk daerah pedesaan. Seluruh hasil SKMI dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk evaluasi dan perencanaan kesehatan khususnya di bidang gizi di tingkat pusat maupun daerah. Rekomendasi 1. Mengingat sumber makanan pokok lokal (ubi-ubian) masih sedikit dikonsumsi penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta (rerata 32,5 gram per orang per hari) dan masih ada penduduk yang mengalami defisit energy, maka perlu dirumuskan kebijakan penganekaragaman makanan pokok yang berbasis makanan lokal sebagai. 2. Mengingat sumbangan protein dari hasil laut masih sedikit (rerata konsumsi ikan laut 9,3 per orang per hari dan proporsi penduduk yang mengkonsumsi ikan laut hanya 6,9%) dibandingkan dengan potensi yang ada maka perlu kebijakan peningkatan potensi hasil laut sebagai sumber protein hewani bagi penduduk 3. Mengingat konsumsi sayuran dan buah masih sedikit maka perlu dirumuskan kebijakan untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah melalui edukasi dan peningkatan ketersediaan sayuran dan buah dengan harga yang terjangkau vii

8 4. Mengingat konsumsi minuman kemasan baik serbuk maupun cair pada anak mulai meningkat (kelompok usia 5-12 tahun mengkonsumsi minuman kemasan serbuk sebesar 3,6 gram per orang per hari dan mengkonsumsi minuman kemasan cairan sebesar 32,2 ml per orang per hari), maka perlu dirumuskan kebijakan untuk melindungi anak dari konsumsi minuman kemasan yang berlebihan 5. Mengingat sudah terdapat sebagian penduduk yang mengonsumsi gula (31,61 gram per orang per hari), garam (3,7 gram per orang per hari), dan minyak/lemak (50,3 gram per orang per hari), ini melebihi batas yang ditetapkan dalam Permenkes nomor 30 tahun 2013, maka perlu ditingkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko mengonsumsi berlebih gula, garam dan minyak/lemak melalui edukasi atau kampanye. viii

9 DAFTAR ISI Kata Pengantar... ii Kata Sambutan... iii Ringkasan Eksekutif... v DAFTAR ISI... ix DAFTAR SINGKATAN... xv BAB I. PENDAHULUAN Latar belakang Perumusan Masalah Penelitian Pertanyaan Penelitian Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 3 BAB II METODE PENELITIAN Disain penelitian Tempat dan Waktu Populasi dan Sampel Variabel dan Definisi Operasional Instrumen dan Cara Pengumpulan Data Instrumen Cara Pengumpulan Data Wawancara Penimbangan Berat Badan Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data Pengawasan Kualitas Data Analisis Data Ijin penelitian Pertimbangan etik penelitian BAB III HASIL Gambaran umum lokasi Jumlah sampel yang terkumpul (Response rates) Bahan makanan yang dikonsumsi individu menurut jenis makanan dan kelompok makanan (food group) Asupan dan Kecukupan Energi Asupan dan Kecukupan Protein ix

10 3.6. Asupan Lemak Asupan karbohidrat Asupan natrium Konsumsi gula, garam dan minyak/lemak Proporsi penduduk menurut tingkat kecukupan protein BAB IV. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA x

11 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Variabel dan Definisi Operasional SKMI... 6 Tabel 3.1 Distribusi BS, RT dan ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan Kabupaten/Kota, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.2 Distribusi ART yang Distribusi berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.3 Distribusi ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan umur dan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.4 Distribusi ART yang dapat dikunjungi (response rate) menurut karakteristik, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.5 Rerata Konsumsi Kelompok Serealia dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.6 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Serealia dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.7 Rerata Konsumsi Kelompok Umbi dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.8 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Umbi dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.9 Rerata Konsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan per orang perhari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.10 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.11 Rerata Konsumsi Kelompok Sayuran dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.12 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Sayur dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.13 Rerata Konsumsi Kelompok Buah- Buahan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.14 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Buah-buahan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.15 Rerata Konsumsi Kelompok Daging dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.16 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Daging dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.17 Rerata Konsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakart Tabel 3.18 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta xi

12 Tabel 3.19 Rerata Konsumsi Kelompok Ikan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.20 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Ikan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.21 Rerata Konsumsi Kelompok Telur dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.22 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Telur dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.23 Rerata Konsumsi Kelompok Susu dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.24 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Susu dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.25 Rerata Konsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.26 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.27 Rerata Konsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.28 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.29 Rerata Konsumsi Kelompok Bumbu per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.30 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Bumbu Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.31 Rerata Konsumsi Kelompok Minuman per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.32 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Minuman Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.33 Rerata Konsumsi Kelompok Makanan Komposit per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.34 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Makanan Komposit Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.35 Rerata Konsumsi Kelompok Air per orang per hari (ml) Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.36 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Air Menurut Kelompok UmurDaerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.37 Rerata Konsumsi Kelompok Suplemen dan Jamu per orang per hari (mg) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.38 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Suplemen dan Jamu Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta xii

13 Tabel 3.39 Rerata Konsumsi Serealia, Umbi/Pati, Kacang, Sayur, Buah, Daging dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel Rerata Konsumsi Jeroan, Ikan, Telur, Susu, Minyak, olahannya, Gula dan konfeksionari per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.41 Rerata Konsumsi Bumbu, Minuman, Makanan Komposit, Air dan Suplemen per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.42 Rerata Asupan Energi Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.43 Rerata Kecukupan Energi Menurut Karakteristik Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.45 Rerata Asupan Protein Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.46 Rerata Kecukupan Protein Menurut Karakteristik Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.47 Rerata Asupan Lemak Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.48 Rerata Asupan Karbohidrat Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.49 Rerata Asupan Natrium Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.50 Rerata Konsumsi Gula, Garam, Minyak/Lemak Pada Penduduk Menurut Karakteristik, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.51 Proporsi penduduk mengonsumsi gula, natrium dan lemak melebihi pesan Permenkes No 30 Tahun 2013 menurut karakteristik, Daerah Istimewa Yogyakarta Tabel 3.52 Proporsi penduduk menurut karakteristik demografi dan status kepemilikan asset, dan menurut tingkat kecukupan asupan protein, Daerah Istimewa Yogyakarta xiii

14 DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Rerata Konsumsi Kelompok Serealia dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.2 Rerata Konsumsi Kelompok Umbi dan Olahan per orang per hari (gram)menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.3 Rerata Konsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur,Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.4 Rerata Konsumsi Kelompok Sayuran dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.5 Rerata Konsumsi Kelompok Buah-buahan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur,Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.6 Rerata Konsumsi Kelompok Daging dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.7 Rerata Konsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.8 Rerata Konsumsi Kelompok Ikan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.9Rerata Konsumsi Kelompok Telur dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.10 Rerata Konsumsi Kelompok Susu dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.11 Rerata Konsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.12 Rerata Konsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.13 Rerata Konsumsi Kelompok Bumbu per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.14 Rerata Konsumsi Kelompok Minuman per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.15 Rerata Konsumsi Kelompok Makanan Komposit per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.16 Rerata Konsumsi Kelompok Air per orang per hari (ml), Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 3.17 Rerata Konsumsi Kelompok Suplemen dan Jamu per orang per hari (mg) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta xiv

15 DAFTAR SINGKATAN ACKM : Analisis Cemaran Kimia Makanan ADI : Acceptable Daily Intake AKG : Angka Kecukupan Gizi ART : Anggota Rumah Tangga Badan PPSDMK : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manumur Kesehatan Balita : Bawah Lima Tahun Balitbangkes : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan BB : Berat Badan BDD : Berat Dapat Dimakan BPOM : Badan Pengawasan Obat dan Makanan BPS : Badan Pusat Statistik BS : Blok Sensus BTP : Bahan Tambahan Pangan DKBM : Daftar Komposisi Bahan Makanan DS SDT : Daftar Sampel Studi Diet Total EFSA : European Food Safety Authority FAO : Food and Agriculture Organization FAO/WHO GIFT : FAO/WHO Global Individual Food Consumption Data Tool JECFA : Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives KEPK : Komisi Etik Penelitian Kesehatan Korwil : Koordinator Wilayah Lansia : Lanjut Umur Mandat : Manajemen Data xv

16 MDG s : Millenium Development Goals MSG : Mono Sodium Glutamat PAM : Perusahaan Air Minum Poltekkes : Politeknik Kesehatan PSP : Persetujuan Sesudah Penjelasan PTDI : Provisional Tolerable Daily Intake PTM : Penyakit Tidak Menular PTMI : Provisional Tolerable Montly Intake PTWI : Provisional Tolerable Weekly Intake RAN : Rencana Aksi Nasional RSE : Relative Standard Error RT : Rumah Tangga SDT : Studi Diet Total SKMI : Survey Kesehatan Masyarakat Indonesia WHO : World Health Organization xvi

17 1.1. Latar belakang BAB I. PENDAHULUAN Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) merupakan survei yang bertujuan untuk mengumpulkan data makanan yang dikonsumsi penduduk. Survei ini menjadi dasar bagi pelaksanaan Studi Diet Total (SDT). Studi Diet Total penting dilaksanakan karena berdasarkan data yang diperoleh dari Riskesdas (2010), makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia belum sesuai dengan kebutuhan. Masih terdapat mayarakat yang kurang gizi, namun terdapat juga masyarakat yang menghadapi kelebihan gizi terutama di perkotaan. Konsumsi makanan dan atau minuman bergula, bergaram dan berlemak jenuh tinggi disertai dengan konsumsi sayuran dan buah yang rendah, merupakan salah satu faktor risiko utama PTM terkait-gizi (Beaglehole et al, 2011). Selain itu tingkat pencemaran kimia pada bahan makanan dan minuman cukup tinggi ditemukan didaerah industri pertambangan dan pertanian hortikultura (Kemenkes 2012) berkaitan dengan penyakit tidak menular. Data mortalitas menurut kelompok penyakit berdasarkan kajian hasil survei kesehatan nasional (Atmarita, 2011) menunjukkan terjadinya pergeseran pola penyakit penyebab kematian pada berbagai golongan umur. Kasus kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, kanker dan diabetes melitus semakin meningkat dibandingkan dengan kasus kematian akibat penyakit menular. Angka kematian akibat penyakit diabetes melitus meningkat dari 1,1 persen menjadi 2,1 persen, hipertensi dari 7,6 persen menjadi 9,5 persen, dan stroke dari 8,3 persen menjadi 12,1 persen (Depkes, 2008 dan Kemenkes, 2014). Prevalensi gizi kurang, kependekan dan prevalensi gizi lebih di tahun 2013 cenderung tidak berubah dibandingkan dengan tahun Masalah gizi lebih sangat berkaitan dengan kejadian PTM, sehingga peningkatan angka kematian akibat PTM diduga berhubungan erat dengan pola konsumsi pangan (bahan makanan atau minuman) yang mencakup jumlah, mutu dan keamanan. Saat ini telah terdapat banyak data SDT yang berasal dari negara-negara yang telah melakukan studi ini, antara lain Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Kanada, Itali, Inggris, Perancis dan negara-negara Asia seperti Cina dan Malaysia. Saat ini SDT dilakukan di seluruh dunia dengan mengikuti pedoman umum yang dikembangkan oleh WHO terutama dari segi metode, sehingga pada akhirnya dapat diperoleh suatu informasi tingkat internasional yang terharmonisasi. Di Indonesia sampai saat ini belum pernah dilakukan SDT yang mencakup survei konsumsi pangan dan analisis senyawa kimia di dalam bahan pangan. Data konsumsi makanan tingkat nasional dari Susenas, Riskesdas 2007, dan Riskesdas 2010, belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelaksanaan SDT sesuai pedoman umum harmonisasi dari WHO. Data konsumsi dari Susenas merupakan hasil pendekatan dari biaya pengeluaran rumah tangga untuk pembelian pangan sehingga tidak bisa menunjukkan jumlah pangan yang sebenarnya dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh. Data konsumsi dalam Riskesdas 2007 juga merupakan data konsumsi rumah tangga, sehingga tidak bisa dihubungkan dengan data kejadian penyakit yang mewakili data individu, sedangkan Riskesdas 2010 sudah mempunyai data konsumsi individu tetapi tidak memiliki informasi tentang proses pengolahan yang diperlukan dalam menyiapkan sampel bahan makanan untuk keperluan analisis senyawa kimia. Dengan tidak adanya data nasional kecukupan dan keamanan konsumsi pangan serta kajiaan risikonya, maka Indonesia belum memiliki data sebagai evidence based yang dapat mewakili mayoritas penduduk Indonesia yang dapat digunakan sebagai informasi dalam forum-forum di tingkat internasional dan sebagai dasar pengambilan kebijakan. 1

18 Sampai saat ini belum ada data konsumsi pangan terkini dan lengkap dengan cara pengolahan makanan dan data paparan senyawa kimia pada populasi yang sangat terbatas, sehingga tidak dapat dihubungkan dan menjelaskan meningkatnya prevalensi PTM di Indonesia. Oleh karena itu untuk mendapatan data yang sangat penting ini, perlu dilakukan Studi Diet Total tingkat nasional. SDT yang dilakukan pada tahun mempunyai dua kegiatan yaitu kegiatan SKMI pada tahun 2014 bertujuan untuk mendapatkan data perubahan tingkat konsumsi gizi dan status gizi serta keragaman hidangan dan bahan makanan yang dikonsumsi penduduk dibandingkan dengan data Riskesdas 2010 dan kegiatan ACKM pada tahun 2015 untuk mengumpulkan data tingkat cemaran kimia dalam makanan yang dikonsumsi oleh penduduk. Oleh karena itu SDT dilaksanakan di Indonesia dimulai dengan kegiatan SKMI yang dilakukan di seluruh propinsi pada tahun 2014 termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta 1.2. Perumusan Masalah Penelitian Seperti telah dikemukakan di atas bahwa kejadian PTM semakin meningkat dari tahun ke tahun, demikian juga halnya dengan angka kematian yang diakibatkan PTM. Prevalensi masalah gizi tidak banyak mengalami perbaikan dari tahun 2007 sampai tahun Ada kecenderungan peningkatan prevalensi pendek (stunting), gizi kurang (underweight) dan kegemukan (obesity). Gambaran kesehatan dan gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan jumlah, mutu dan keamanan makanan yang dikonsumsinya dikenal dengan istilah you are what you eat. Prinsip ketahanan pangan bertumpu pada tiga hal, yaitu : tersedianya jumlah pangan yang cukup, bermutu dan aman bagi penduduk. Meningkatnya kejadian PTM dan tetap tingginya masalah gizi di Indonesia memberikan indikasi adanya masalah dalam makanan yang dikonsumsi oleh penduduk Indonesia baik dari segi jumlah, mutu maupun keamanannya Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian untuk SKMI 2014 Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu : 1. Berapakah jumlah makanan dan bahan makanan yang dikonsumsi penduduk menurut jenis dan kelompok makanan di Daerah Istimewa Yogyakarta? 2. Berapa tingkat asupan zat gizi individu dari semua kelompok umur di Daerah Istimewa Yogyakarta? 3. Apa saja zat gizi yang konsumsinya kurang dan apa saja zat gizi yang konsumsinya lebih di Daerah Istimewa Yogyakarta? 4. Berapa jumlah garam, gula dan minyak yang dikonsumsi penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta? 5. Makanan apa saja yang merupakan komponen sedikitnya 90 persen dari diet yang dikonsumsi penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta? 1.4. Tujuan Penelitian Tujuan umum Tersedianya data tentang kecukupan dan keamanan makanan yang di konsumsi oleh penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta. 2

19 Tujuan khusus 1. Memperoleh informasi rata-rata berat bahan makanan yang dikonsumsi individu menurut jenis makanan dan kelompok makanan (food group) di Daerah Istimewa Yogyakarta 2. Memperoleh informasi tentang tingkat asupan zat gizi (makro dan mikronutrien) individu di Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan konsumsi zat gizi individu dibandingkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Daerah Istimewa Yogyakarta 4. Memperoleh konsumsi garam, gula dan minyak yang dikonsumsi penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta 5. Memperoleh daftar makanan (food list) yang merupakan komponen sedikitnya 90 persen dari diet yang dikonsumsi penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta 1.5. Manfaat Penelitian 1. Mendapat informasi pola konsumsi bahan makanan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta 2. Mendapat informasi konsumsi zat gizi penduduk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta 3. Memperoleh daftar makanan (foodlist) untuk keperluan Analisis Cemaran Kimia Makanan (ACKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta 4. Mampu merencanakan penelitian lanjutan sesuai dengan permasalahan kesehatan 3

20 2.1. Disain penelitian BAB II METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan survei berskala nasional. Oleh karena itu disain SKMI 2014 di Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti disain nasional yaitu dengan disain potong lintang (cross-sectional), non-intervensi/observasi, deskriptif dan analitik Tempat dan Waktu Studi Diet Total (SDT) Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan di seluruh Kabupaten/Kota Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Mei-Juni Populasi dan Sampel Populasi dalam SKMI Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2014 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 5 kabupaten/kota. Besar sampel Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan kerangka sampling nasional terpilih 26 BS di 5 kabupaten/kota dan 642 RT dengan perkiraan indviidu sebesar orang. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Sampel adalah semua rumah tangga yang sudah didatangi dan terdaftar pada data Riskesdas 2013 dan semua anggota rumah tangga yang ada pada saat pengumpulan data SKMI di Daerah Istimewa Yogyakarta berlangsung. Kriteria eksklusi adalah rumah tangga tidak diambil datanya bila tidak memungkinkan untuk dikunjungi karena berbagai kendala dan rumah tangga serta anggota rumah tangga yang menolak berpartisipasi dalam SKMI di Daerah Istimewa Yogyakarta Cara Pemilihan Sampel Rumah tangga yang akan dikunjungi adalah rumah tangga yang menjadi sampel dalam Riskesdas 2013 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mendapatkan sampel individu, rumah tangga di BS yang sudah dikunjungi Riskesdas 2013 akan diambil secara acak sebanyak 642 rumah tangga. Dalam satu rumah tangga terdapat rata-rata 4,5 individu 2.4. Variabel dan Definisi Operasional Jenis data yang dikumpulkan secara lengkap dapat dilihat pada kuesioner, yaitu terdiri dari blok pertanyaan sebagai berikut: Tingkat Rumah Tangga Blok I : Pengenalan Tempat Blok II : Keterangan Rumah Tangga 4

21 Blok III Blok IV Blok V Blok VI : Keterangan Pengumpul Data : Keterangan Anggota Rumah Tangga : Daftar Hidangan Makanan/Minuman yang Dimasak di RT (Quicklist) : Persiapan dan Cara Mengolah Makanan/Minuman di Rumat Tangga Tingkat Individu Blok VII :Keterangan Pengumpul Data Blok VIII : Keterangan Individu Blok IX : Daftar Makanan yang Dikonsumsi ART dalam Satu Hari Kemarin Blok X : Konsumsi Makanan Individu Recall 1 x 24 Jam 5

22 Tabel 0.1 Variabel dan Definisi Operasional SKMI No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 1 Zat Gizi Diperoleh dari DKBM berdasarkan berat bahan makanan yang dikonsumsi 2 Konsumsi serealia Berat bahan makanan kelompok serealia yang dikonsumsi 3 Konsumsi umbiumbian 4 Konsumsi kacangkacangan, biji Berat bahan makanan kelompok umbi-umbian yang dikonsumsi Berat bahan makanan kelompok kacang-kacangan yang dikonsumsi 5 Konsumsi sayuran Berat bahan makanan kelompok sayuran yang dikonsumsi 6 Konsumsi buah Berat bahan makanan kelompok buah yang dikonsumsi 7 Konsumsi daging Berat bahan makanan kelompok daging yang dikonsumsi 8 Konsumsi jeroan/non daging Berat bahan makanan kelompok jeroan, non daging yang dikonsumsi 9 Konsumsi ikan Berat bahan makanan kelompok ikan yang dikonsumsi 10 Konsumsi telur Berat bahan makanan kelompok telur yang dikonsumsi 11 Konsumsi susu Berat bahan makanan kelompok susu yang dikonsumsi 12 Konsumsi minyak, lemak 13 Konsumsi gula, sirup, konfeksionari Berat bahan makanan kelompok minyak, lemak yang dikonsumsi Berat bahan makanan kelompok gula, sirup, konfeksionari yang dikonsumsi Analisis DKBM Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi 6

23 No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 14 Konsumsi bumbu Berat bahan makanan kelompok bumbu yang dikonsumsi 15 Konsumsi minuman Berat bahan makanan kelompok minuman yang dikonsumsi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi 16 Konsumsi makanan komposit Berat bahan makanan kelompok makanan komposit yang dikonsumsi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi 17 Konsumsi air Berat bahan makanan kelompok air yang dikonsumsi 18 Konsumsi suplemen Berat bahan makanan kelompok suplemen yang dikonsumsi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi Wawancara Rasio Rerata dan standar deviasi 19 Asupan energi Jumlah energi yang dikonsumsi Perhitungan berat bahan makanan yang dikonsumsi dengan kandungan zat gizinya 20 Asupan protein Jumlah protein yang dikonsumsi Perhitungan berat bahan makanan yang dikonsumsi dengan kandungan zat gizinya Rasio Rasio Rerata, standar deviasi dan proporsi Rerata, standar deviasi dan proporsi 21 Tingkat Kecukupan Asupan Energi Persentase asupan energi per orang per hari terhadap Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. AKE yang digunakan adalah didasarkan Permenkes No 75 Tahun Ordinal 1. < 70 % AKE % AKE % AKE 4. >130% AKE 22 Tingkat Kecukupan Asupan Protein Persentase asupan protein per orang per hari terhadap Angka Kecukupan Protein (AKP) yang dianjurkan untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. AKP yang digunakan adalah didasarkan Permenkes No 75 Tahun Ordinal 1. < 80 % AKP % AKP % AKP 4 >120% AKP 23 Asupan natrium Jumlah natrium yang dikonsumsi individu sehari kemarin Dihitung berdasarkan kandungan natrium bahan makanan yang ada dalam DKBM Rasio 7

24 No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 24 Asupan lemak Jumlah lemak yang dikonsumsi individu sehari kemarin Dihitung berdasarkan kandungan lemak bahan makanan yang ada dalam DKBM Rasio 25 Asupan karbohidrat Jumlah karbohidrat yang dikonsumsi individu sehari kemarin 26 Berat badan Berat badan seluruh responden, bayi, balita, remaja, dewasa dan lansia, baik perempuan dan laki-laki Dihitung berdasarkan kandungan karbohidrat bahan makanan yang ada dalam DKBM Dengan menggunakan timbangan badan dengan ketelitian 0,1 kg Rasio Ordinal 27 Makanan yang dikonsumsi ART Nama makanan dan minuman yang dikonsumsi individu sesuai waktu dalam satu hari kemarin Wawancara Nominal 28 Konsumsi makanan individu Jenis bahan makanan/minuman yang dikonsumsi individu anggota rumah tangga baik yang dimasak di rumah maupun yang diperoleh/dibeli di luar rumah selama sehari kemarin Wawancara dan penimbangan hidangan Nominal 29 Kode Hidangan Kode hidangan menurut daftar makanan yang telah disiapkan dalam buku pedoman SKMI Buku kode hidangan Nominal 30 Asal hidangan Bagaimana cara mendapatkan hidangan Wawancara Nominal 1. Di rumah tangga 2. dibeli 3. diberi 31 Nama dagang/merek Nama produk atau pembuat hidangan/makanan rumah tangga maupun pabrikan Wawancara dan pengamatan Nominal 32 Spesifikasi rasa Rasa yang tertera dalam kemasan pabrikan Wawancara dan pengamatan Nominal 33 Alamat tempat makanan dijual Alamat tempat hidangan /makanan yang dikonsumsi individu di luar Wawancara Nominal 8

25 No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 34. URT/porsi hidangan/makanan Ukuran yang dipakai rumah tangga untuk menyatakan jumlah hidangan atau bahan makanan Wawancara Ordinal sendok makan (sdm) sendok teh (sdt) centong, potong, biji, buah, piring 35. Sumber air Tempat memperoleh air yang digunakan untuk memasak dan minum 36 Perlakuan pada bahan makanan mentah Tindakan yang dilakukan terhadap makanan yang dikonsumsi mentah 37 Cara pengolahan Bagaimana cara hidangan/makanan tersebut dimasak yang paling berisiko terhadap adanya cemaran. Wawancara Nominal 1.Air kemasan 2.Air isi ulang 3.Air ledeng/pda 4.Air ledeng eceran/beli 5.Sumur bor/pompa 6.Sumur gali terlindung 7.Mata air tak terlindung 8.Penampungan air Hujan 9.Air danau/sungai/irigasi 10.Tidak tahu Wawancara Nominal 1.Dicuci dan dikupas 2.Dicuci, tidak dikupas 3.Tidak dicuci, dikupas 4.Tidak dicuci dan tidak dikupas 8.Tidak berlaku Wawancara Nominal 1.Bakar/asap 2.Goreng 3.Panggang/sangan/ sangrai 4.Rebus/Ungkep/presto 5.Tumis 6.Kukus 7.Seduh 9.Tidak diolah 9

26 No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 38 Status responden terkini Informasi atau keberadaan responden (KK dan ART) sebagai sampel individu SKMI 2014 pada saat pengumpulan data masih sama atau ada perubahan dibandingkan dengan data yang dikumpulkan dalam Riskesdas Wawancara Nominal 1.Tidak ada perubahan 2.Ada perubahan 3.Meninggal 4.Pindah 5.Lahir 6.ART baru 7.Tidak pernah ada dalam RT (fiktif) 39 Umur Umur anggota rumah tangga Wawancara Nominal a. < 1 bln isikan hari b. < 5 thn isikan bulan c. 5 thn isikan tahun 40 Status Pekerjaan Pekerjaan utama anggota rumah tangga yang berumur diatas 10 tahun Wawancara Nominal 1.Tidak bekerja 2.Bekerja 3.Sekolah 41 Persiapan cara memasak makanan/minuman di rumahtangga Diperoleh keterangan tentang asal, siapa yang memasak, berat bahan makanan, sumber air cara perlakuan dan pengolahan termasuk bahan bakar yang dipergunakan untuk memasak hidangan yang dimasak di rumah tangga Wawancara 42 Bahan Dasar Alat Masak yang digunakan Bahan dasar alat masak yang dipakai untuk memasak makanan dan minuman yang dikonsumsi keluarga. Contoh aluminium, gerabah, gelas Wawancara/ pengamatan Nominal 1.Aluminium 2.Seng 3.Besi 4.Kaca 5.Tanah/gerabah 6.Plastik 7.Keramik 8.Tembaga 9.Stainless steel 10.Enamel 11.Tidak pakai alat 10

27 No Variabel Penjelasan tentang variabel Metoda pengukuran Skala ukur Pengkategorian 43 Asal hidangan Asal bahan makanan/minuman tersebut diperoleh sebelum dimasak di rumah tangga 44 Air minum Jumlah air yang diminum individu selama satu hari (24 jam) kemarin Wawancara Nominal 1.Di rumah tangga 2. Dibeli 3. Diberi Wawancara Mililiter 45 Perlakuan pada bahan mentah Perlakuan terhadap setiap rincian bahan makanan yang digunakan dalam proses pemasakan hidangan makanan/minuman di rumah tangga Wawancara Nominal 1.Dicuci 2.Dikupas 3.tidak dicuci 4.Tidak dikupas 5.Tidak dicuci & tidak dikupas 7.Tidak berlaku 46 Pengolahan/pemasa kan Cara pengolahan dan pemasakan responden terhadap setiap hidangan yang dimasak di rumah tangga yang dapat menimbulkan cemaran dan rincian bahan makanannya Nominal Kukus<tumis< rebus<panggang<goreng <bakar* *< makin kecil risiko 47 Rincian bahan makanan 48 Siapa yang memasak 49 Merek Pabrik dalam Kemasan Rincian bahan sesuai resep yang digunakan dalam memasak hidangan makanan/minuman di rumah tangga termasuk bumbu dan air. Orang yang memasak makanan atau minuman dari masing-masing makanan/minuman yang dimasak di rumah tangga Tulisan atau label yang dibuat oleh pabrik/industri yang berada pada pembungkus atau kemasan makanan jadi/pabrikan yang dikonsumsi responden yang dibuat di rumah tangga Wawancara Nominal Wawancara Nominal 1. KK 2. Istri/suami 3. Anak kandung 4. Anak angkat/tiri 5. Menantu 6. Cucu 7. Orangtua/mertua 8. Famili lain 9. Pembantu 10. Lainnya Wawancara dan pengamatan 11

28 2.5. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data Instrumen Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Daftar Sampel SDT (DS SDT) Daerah Istimewa Yogyakarta (dari Daftar Sampel Rumah Tangga yang sudah tersedia pada saat Riskesdas 2013) 2. Kuesioner RT dan Kuesioner Individu 3. Buku foto makanan 4. Timbangan makanan dan penggaris 5. Peralatan antropometri timbangan berat badan digital Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan penimbangan berat badan. Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data : pengenalan tempat, keterangan rumah tangga dan anggota rumah tangga, daftar hidangan, keterangan individu, konsumsi makanan individu (recall 1x24 jam), Daftar makanan yang dikonsumsi 24 jam terakhir, URT/porsi serta sumber air. Wawancara dan penimbangan bahan makanan dilakukan untuk mengumpulkan data : berat rincian hidangan yang dimakan. Wawancara dan pengamatan dilakukan untuk mengambil data : persiapan, bahan dasar alat masak dan cara mengolah makanan dan keadaan biologis pada saat recall. Wawancara dan membeli bahan makanan dilakukan untuk mengambil data : jenis bahan makanan. Penimbangan menggunakan timbangan digital dilakukan untuk mengambil data berat badan dengan ketelitian 0,1 kg Wawancara Pengumpulan data di tingkat rumah tangga dan individu dilakukan dengan metode wawancara secara tatap muka. Wawancara dilakukan oleh tenaga pengumpul data yang berlatar belakang pendidikan gizi dan telah mendapat pelatihan sebelum pengumpulan data dilakukan. Wawancara dengan menggunakan instrumen yaitu 2 kuesioner yang berbeda: a. Kuesioner rumah-tangga, terutama ditujukan untuk mendapatkan informasi proses penyediaan makanan yang dikonsumsi keluarga. Mulai dari sumber bahan makanan diperoleh, proses persiapan sebelum pemasakan, cara pengolahan hingga alat masak dan bahan bakar yang digunakan dalam pemasakan. b. Kuesioner individu, terutama ditujukan untuk mendapatkan informasi jenis dan kuantitas (berat) makanan dikonsumsi oleh setiap anggota rumah-tangga. Termasuk minuman, bumbu, suplemen makanan, gula, garam dan minyak individu juga dikumpulkan. Tehnik wawancara Teknik wawancara untuk mengumpulkan data jenis dan kuantitas makanan yang dikonsumsi individu serta proses penyediaan makanan yang dikonsumsi keluarga, digunakan metode Recall 1 x 24 jam. Metode Recall adalah cara pengumpulan data individu dan keluarga yang 12

29 prinsipnya meminta responden mengingat kembali semua makanan yang dikonsumsi selama 24 jam yang lalu dengan cara probing (penggalian). Teknik metode Recall yang digunakan adalah 5-Step Multiple-Pass Method secara detail diuraikan dalam buku pedoman umum dan buku pedoman pengisian kuesioner. Kunjungan ulangan Recall 1 x 24 jam hanya dipilih secara purposive 3 RT dalam 1 BS, RT yang dipilih yang dapat ditentukan dalam 3 hari pertama pengumpulan data dalam setiap BS. Proses wawancara Persiapan Satu hari sebelum tim turun ke lapangan, ketua tim pengumpul data berkewajiban untuk memeriksa ulang semua rumah tangga di BS sesuai dengan DS-SDT Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan anggota tim lainnya mempersiapkan instrumen dan peralatan serta kalibrasi alat. Apabila rumah tangga tersebut sudah tidak ada karena berbagai alasan dan tidak mungkin dikunjungi, tidak perlu dicarikan penggantinya. Tim pengumpul data mengunjungi rumah tanggal terpilih untuk membuat janji kapan wawancara untuk pengumpulan data konsumsi dapat dilakukan. Hari Pengumpulan data Wawancara dilakukan sesuai dengan waktu yang telah disepakati antara tenaga pengumpul data dan ART yang akan diwawancarai. Setelah memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan naskah penjelasan yang intinya menerangkan maksud dan tujuan survei dilakukan, penggunaan hasil, metoda yang digunakan, risiko yang ditimbulkan, manfaat termasuk kompensasi yang diberikan atau yang akan diterima sebagai pengganti terganggunya waktu responden karena harus diwawancarai, jaminan kerahasiaan, hak mengundurkan diri serta alamat kontak yang dapat dihubungi dan waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. Setelah diberikan waktu responden berfikir menerima atau menolak, kemudian ditanyakan kesediaan responden untuk diwawancarai. Responden diminta untuk menandatangani informed consent jika bersedia. Setelah itu apabila responden bersedia untuk diwawancarai, setiap responden diminta untuk menandatangani formulir persetujuan setelah penjelasan (informed consent) Pewawancara melakukan penggalian informasi (probing) makanan dan minuman yang dikonsumsi dan rinci, untuk mendapatkan data yang akurat dan lengkap dengan cara membantu mengingat kembali makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari kemarin dengan tidak mengarahkan pertanyaan yang dapat menggiring responden ke suatu jawaban. Wawancara dapat dilakukan secara serempak pada suatu rumah tangga dimana setiap anggota tim bertanya pada masing-masing individu yang hadir secara bersamaan atau dapat dilakukan satu demi satu jika ART tidak hadir secara bersamaan. Mekanisme wawancara dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang paling sesuai dilakukan pada rumah tangga tersebut. Seperti telah disebutkan di atas, ada dua kuesioner yang digunakan sebagai alat pengumpulan data, yaitu kuesioner yaitu rumah tangga dan individu. Untuk kuesioner rumah tangga, ART yang diwawancarai adalah ART yang paling mengerti tentang pengolahan makanan yang dilakukan di rumah tangga, biasanya adalah ibu. Untuk kuesioner individu, wawancara dilakukan kepada seluruh ART di dalam rumah tangga tersebut, termasuk bayi dan anak-anak. Untuk bayi, wawancara dilakukan terhadap ibu, sedangkan pada anak-anak berusia < 15 tahun, wawancara dilakukan dengan pendampingan. Akan terdapat ART yang 13

30 diwawancarai lebih dari sekali,yaitu sebagai responden kuesioner rumah tangga dan sebagai responden kuesioner individu, atau sebagai responden yang mewakili bayi. Keseluruhan proses pengambilan data akan memerlukan waktu selama kurang lebih 45 menit/orang untuk kuesioner individu, dan 45 menit untuk kuesioner rumah tangga, sehingga hal ini cukup menyita waktu responden. Setelah selesai wawancara, teliti lagi apa ada informasi yang kurang lengkap atau terlewatkan. Sebelum meninggalkan rumah responden, sebagai ucapan terima kasih dan pengganti terganggunya waktu responden, maka akan diberikan kompensasi (bahan kontak) berupa uang sebesar Rp ,00 untuk setiap ART yang diwawancarai untuk kuesioner rumah tangga, dan Rp ,00 untuk setiap individu yang diwawancara. Partisipasi responden bersifat sukarela tanpa paksaan, dan bila tidak berkenan dapat menolak, dan sewaktu-waktu selama proses pengumpulan data dapat mengundurkan diri tanpa sanksi apapun Penimbangan Berat Badan Penimbangan berat badan dilakukan dengan penimbangan berat badan dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga menggunakan timbangan berat badan digital dengan tingkat ketelitian 0,1 kg. Rincian cara penimbangan berat badan terdapat di buku pedoman pengisian kuesioner Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data Bahan pengumpulan data yaitu berupa instrumen dan peralatan yang telah disebutkan diatas, dilengkapi juga dengan : 1. Daftar Sampel SDT (DS SDT) Daerah Istimewa Yogyakarta (dari Daftar Sampel Rumah Tangga sudah tersedia pada saat Riskesdas 2013) 2. Kuesioner RT dan Kuesioner Individu 3. Buku pedoman umum 4. Buku pedoman kode bahan pangan 5. Buku pedoman pengisian kode hidangan 6. Buku pedoman perkiraan jumlah garam dan penyerapan minyak goreng 7. Buku pedoman konversi berat matang-mentah, berat dapat dimakan (BDD) dan resep makanan siap saji dan jajanan 8. Buku foto makanan 9. Buku pedoman pengisian kuesioner 10. Buku pedoman pengorganisasian dan manajemen 11. Buku pedoman manajeman data 12. Timbangan makanandan penggaris 13. Peralatan antropometri timbangan berat badan digital 14. Peralatan manajemen data: Laptop, CD, flashdisk, program data entri 15. Perlengkapan lapangan enumerator: tas, 14andat, alat tulis, rompi, topi. 14

31 Rekrutmen Petugas Pelaksanaan Pengumpulan Data yang valid didapatkan dengan cara melakukan proses seleksi tenaga pengumpul data yang mempunyai keahlian khusus dengan latar belakang pendidikan ahli gizi (minimal D3 gizi). Proses seleksi tenaga enumerator bekerjasama dengan Poltekkes dan Perguruan Tinggi dibantu Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Persyaratan bagi petugas lapangan adalah sebagai berikut: Laki-laki dan perempuan lulusan D3 Gizi- S1 Gizi Diutamakan yang mempunyai dasar pendidikan D3 Gizi (menyertakan fotokopi ijazah) dan yang sudah berpengalaman melakukan wawancara recall 24 jam (menyertakan fotokopi sertifikat/tanda bukti) Mempunyai kemampuan mengoperasikan aplikasi office dan internet Menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) Usia tidak lebih dari 40 tahun Menyertakan surat keterangan berbadan sehat dari dokter Menandatangani kontrak kerja (tidak hamil selama menjalani kontrak kerja) bersedia ditempatkan di lapangan. Satu tim pengumpul data menangani tiga BS, oleh karena Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai 26 BS maka diperlukan sebanyak 13 tim dengan jumlah anggota 4 orang per tim. Proses rekrutmen: Proses rekrutmen di Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan dengan koordinasi antara Korwil I (Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik) dan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta Peminat/pelamar menyampaikan dokumen persyaratan tersebut diatas ke alamat: Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjadi dokumentasi dan bahan dasar seleksi Pelamar yang telah memenuhi semua dokumen persyaratan akan diberitahu dan diseleksi oleh Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pelatihan tenaga, Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta berkoordinasi dengan Badan Litbang Kesehatan 15

32 Tenaga enumerator yang telah terpilih dalam proses seleksi diharuskan mengikuti pelatihan selama 10 hari yang meliputi: Latar belakang dan tujuan Studi Diet Total (SDT) Metode SDT Cara wawancara dan mengisi formulir/kuesioner Penimbangan berat Praktek lapangan Cara kerja dan pembagian tugas di lapangan Menyusun jadwal pelaksanaan pengumpulan data Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) dilaksanakan tanggal 5-7 Mei 2014 di Hotel Mutiara Malioboro Yogyakarta diikuti 25 orang yang berasal dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, lintas sektor terkait di Daerah Istimewa Yogyakarta, Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta dan Badan Litbang Kesehatan. Training Center (TC) untuk pengumpul data rumah tangga dan individu tanggal 8-16 Mei 2014 diikuti 65 orang di Hotel Mutiara, Malioboro Yogyakarta. dilaksanakan Pelaksanaan Pengumpulan Data Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 21 Mei sampai dengan 6 Juni Pengumpulan data yang dilakukan di BS dilakukan oleh tim yang terdiri dari 4 orang yaitu: 1 orang ketua tim sekaligus sebagai koordinator lapangan dan bertanggungjawab untuk melaksanakan data entry 3 orang pewawancara konsumsi makanan (recall 24 jam) sekaligus melakukan penimbangan berat badan Setiap tim bertanggung jawab pada tiga BS yang akan diselesaikan dalam waktu 20 hari hari. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengunjungi RT dan BS yang terpilih. Kegiatan tenaga pengumpul data di RT yang dikunjungi adalah : Melakukan wawancara dengan individu ART dari RT yang ada dalam daftar sampel Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengisi kuesioner/formulir wawancara individu sesuai dengan pedoman Melakukan konfirmasi komposit bahan makanan (jenis dan berat) Melakukan penimbangan berat badan individu yang di wawancara Melakukan data entry hasil wawancara Melakukan editing dan cleaning data yang telah di entry Mengirim data yang telah diedit/ dicleaning ke alamat yang telah ditetapkan oleh tim mandat Bertanggung jawab pada barang-barang perlengkapan penelitian Proses seleksi tenaga enumerator bekerjasama dengan Poltekkes, Perguruan Tinggi dan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta 16

33 Koordinator Klaster Petugas lapangan lainnya yang dibutuhkan adalah koordinator klaster, yang bertanggung jawab pada tim yang bertugas mengumpulkan data. Setiap koordinator klaster bertanggungjawab pada 2 kabupaten yang berdekatan. Tugas penanggungjawab klaster Mengikuti pelatihan Training of Trainer (TOT) selama 10 hari. Melakukan pelatihan kepada tenaga pengumpul data Melakukan koordinasi dengan tenaga pengumpul data dalam pelaksanaan pengumpulan data di lapangan. Melakukan editing kuesioner yang telah diisi oleh petugas pengumpul data. Syarat-syarat koordinator klaster : Laki-laki atau perempuan Berpendidikan S1/S2/S3 menyertakan fotocopi ijazah Diutamakan yang berlatarbelakang pendidikan jurusan gizi dan atau yang sudah berpengalaman menjadi penanggungjawab teknis kabupaten/kota Mempunyai kemampuan mengoperasikan aplikasi office dan internet Menyerahkan fotocopi KTP Usia tidak lebih dari 55 tahun Menyerahkan persetujuan/ijin atasan Dokumen berkas lamaran diserahkan kepada Kordinator Wilayah (Korwil) yang menjadi penanggungjawab di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Korwil akan berkoordinasi dengan Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta 17

34 Pelatihan petugas Pelatihan direncanakan secara berjenjang. Pelatihan pertama yaitu melatih para koordinator klaster, yaitu koordinator yang bertanggung langsung kepada tim. Pelatihan dilaksanakan selama 10 hari, dengan materi semua bahan yang diperlukan untuk mengumpulkan data. Metode yang digunakan adalah pemaparan materi, praktek dikelas dan praktek di lapangan. Koordinator klaster yang telah mendapatkan pelatihan (TOT) akan melakukan pelatihan kepada seluruh tim enumerator (TC) diwilayah kordinasinya. Selesai pelatihan tim enumerator langsung melaksanakan pengumpulan data. Pelatihan Pengumpul dan Manajemen Data Pelatihan pengumpul data ditujukan kepada enumerator yang direkrut sebagai pengumpul data dan penimbang berat badan. Dalam pelatihan ini termasuk juga pelatihan ketua tim pengumpul data serta mekanisme kerjasama tim pengumpul data. Tujuan pelatihan pengumpul dan manajemen data di lapangan: 1. Untuk memperoleh keseragaman dalam pemahaman materi kuesioner, pemeriksaan, pengukuran, dan manajemen data. 2. Untuk memperoleh kesepakatan antar anggota tim mengenai pembagian tugas, jadwal dan mekanisme pelaksanaan. 3. Untuk memperoleh kesepakatan tentang mekanisme pengelolaan data di lapangan. 4. Untuk memperoleh kesepakatan tentang mekanisme pengaturan administrasi dan logistik. Pelaksanaan di lapangan Pengumpulan data Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan oleh enumerator yang terbagi menjadi 13 tim. Masing-masing tim terdiri dari empat orang enumerator yang bertanggung jawab terhadap dua BS. Tiga orang sebagai pengumpul data, satu orang bertanggung jawab untuk data entry. Satu enumerator setiap hari bertanggung jawab mengumpulkan data di satu rumah tangga. Satu BS terdiri dari 25 rumah tangga dan dipilih secara acak 3 rumah tangga yang diwawancara ulang setidaknya satu minggu kemudian. Waktu yang diperlukan selama 8-10 hari. Dibutuhkan 3 orang koordinator klaster, masing-masing koordinator klaster bertanggung jawab terhadap 2 kabupatan/kota atau 4-5 BS. Sebelum tim dilepas untuk mengambil data, perlu dilakukan pengecekan ulang keberadaan RT (pemutakhiran), menyiapkan seluruh kelengkapan yang diperlukan yaitu kuesioner, alat tulis, perlengkapan lapangan, serta peralatan untuk menimbang. Setiap selesai pengumpulan data, tim harus melakukan pengecekan kelengkapan pengisian kuesioner; melakukan data editing, melakukan data entri ; mengirimkan data setiap selesai data entri di setiap BS. Supervisi substansi dan administrasi dilakukan oleh tim Badan Litbangkes dan tim korwil Pengawasan Kualitas Data Untuk menjamin kualitas data yang dikumpulkan dilakukan beberapa kegiatan sebelum pengumpulan data (quality assurance), proses pengumpulan data (quality control) dan manjemen data sebagai berikut: 1. Penyediaan pedoman dan alat bantu wawancara, termasuk buku foto makanan, konversi bahan makanan matang ke mentah, perhitungan serapan minyak dan garam, 18

35 perhitungan umur, timbangan makanan dan timbangan berat badan, serta pedoman editing dan entry data di lapangan 2. Pelatihan bagi ketua pelaksana propinsi, koordinator klaster, dan petugas pengumpul data (enumerator) dalam teknik wawancara dan penggunaan alat bantu wawancara 3. Koordinator klaster melakukan supervisi/pendampingan dalam proses pengumpulan data yang dilakukan oleh enumerator. 4. Dilakukan editing data setiap hari setelah selesai pengumpulan data oleh enumerator yang dikoordinir oleh ketua tim, agar bila diperlukan konfirmasi ulang maka enumerator masih 19and mengunjungi ulang responden. Sebelum dientry ke 19andate19 data sudah harus melalui proses editing. 5. Dilakukan spot-check (validasi data isian kuesioner) oleh koordinator klaster terhadap 6 RT dalam 1 Tim pengumpul data. Dilakukan pemeriksaan terhadap konsistensi data, data yang tidak masuk akal, dan kelengkapan informasi dalam kuesioner. 6. Setelah data selesai di entry di lapangan untuk setiap BS, harus dikirim ke Mandat Badan Litbangkes untuk segera dilakukan cek receiving dan batching, dan data cleaning agar bila diperlukan konfirmasi dapat segera menghubungi petugas di lapangan. Selain itu entry data juga dikirimkan ke koordinator klaster. 7. Koordinator klaster melakukan supervisi dan pendampingan terhadap pengumpulan data yang dilakukan oleh enumerator. 8. Semua kegiatan koster : supervisi/pendampingan, validasi data isian kuesioner enumerator, mengecek hasil entry dan form kontrol yang dilakukan enumerator dicatat dalam log book yang dikirimkan setiap 5 hari sekali ke Ketua Pelaksana provinsi dan Manajemen Data Pusat untuk dilakukan penggabungan, data cleaning dan pengolahan data Analisis Data Hasil wawancara recall makanan pada individu, diperoleh berat masing-masing bahan makanan yang dikonsumsi dalam satuan gram dan ml, kemudian setiap jenis bahan makanan dikelompokkan dalam 17 grup makanan menurut pengelompokkan ASEAN yaitu: 1. Sereal dan hasil olahannya 2. Umbi-umbian dan hasil olahannya 3. Kacang-kacangan, biji 4. Sayuran dan hasil olahannya 5. Buah dan hasil olahannya 6. Daging dan hasil olahannya 7. Jeroan/non daging dan olahannya 8. Ikan, hewan laut lainnya dan hasil olahannya 9. Telur dan hasil olahannya 10. Susu dan hasil olahannya 11. Minyak, lemak dan olahan 12. Gula, sirup, dan konfeksioneri 13. Bumbu dan olahannya 14. Minuman 15. Makanan komposit 16. Air 17. Suplemen 19

36 Sehubungan terbatasnya data zat gizi pada daftar komposisi bahan makanan, maka hanya 5 jenis zat gizi yang dianalisi yaitu : 1. Energi 2. Protein 3. Lemak 4. Karbohidrat 5. Natrium Hasil analisis oleh tim mandat pusat dikirim ke masing-masing provinsi untuk penyusun laporan 2.8. Ijin penelitian. Izin penelitian diajukan pada Kementerian Dalam Negeri diteruskan sampai Pemerintah Daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai dengan waktu penelitian. Ijin penelitian untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dikeluarkan oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta Pertimbangan etik penelitian Pelaksanaan SDT tahun 2014, telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK), Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dengan Nomor LB.02.01/5.2/KE.189/2014. Persetujuan etik, naskah penjelasan serta formulir Informed Consent (Persetujuan Setelah Penjelasan) dapat dilihat pada Lampiran. 20

37 3.1. Gambaran umum lokasi BAB III HASIL Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara astronomis terletak pada Lintang Selatan dan Bujur Timur, dengan luas 3.185,80 km 2 atau 0,17 persen dari luas Indonesia ( km 2 ) (Sumber: RPJMD). Daerah Istimewa Yogyakarta bagian selatan dibatasi Lautan Indonesia, sedangkan di bagian Timur Laut, Tenggara, Barat dan Barat Laut dibatasi Provinsi Jawa Tengah. Batas-batas wilayah DIY meliputi : a. Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Kabupaten Klaten b. Sebelah Tenggara berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo d. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Kabupaten Magelang Secara administratif terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten, 78 kecamatan dan 438 kelurahan/desa, yaitu : a. Kota Yogyakarta (luas 32,50 km 2, 14 kecamatan, 45 kelurahan); b. Kabupaten Bantul (luas 506,85 km 2, 17 kecamatan dan 75 desa); c. Kabupaten Kulon Progo (luas 586,27 km 2, 12 kecamatan dan 88 desa); d. Kabupaten Gunungkidul (luas 1.485,36 km 2, 18 kecamatan, 144 desa); e. Kabupaten Sleman (luas 574,82 km2, 17 kecamatan dan 86 desa). Daerah Istimewa Yogyakarta terbagi menjadi daerah dengan ketinggian < 100 m, m dan m (sebagian besar di Kabupaten Bantul), m diatas permukaan laut terletak di Kabupaten Sleman. Secara fisiografi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dikelompokkan menjadi empat satuan wilayah : a) Satuan fisiografi Gunungapi Merapi, mulai dari kerucut gunung hingga bentang lahan vulkanik, meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut dan lereng gunung api merupakan daerah hutan lindung sebagai kawasan resapan air daerah bawahan. Wilayah ini memiliki luas kurang lebih 582,81 km 2 dengan ketinggian m. b) Satuan Pegunungan Seribu Gunungkidul, merupakan kawasan perbukitan batu gamping dan bentang karst tandus dan kurang air permukaan, di bagian tengah merupakan cekungan Wonosari yang terbentuk menjadi Plato Wonosari. Wilayah pegunungan ini memiliki luas kurang lebih 1.656,25 km 2 dengan ketinggian m. c) Satuan Pegunungan di Kulon Progo bagian utara, merupakan bentang lahan struktural denudasional dengan topografi berbukit, kemiringan lereng curam dan potensi air tanah kecil. Luas wilayah ini mencapai kurang lebih 706,25 km 2 dengan ketinggian : m. d) Satuan Dataran Rendah, merupakan bentang lahan fluvial (hasil proses pengendapan sungai) yang didominasi oleh dataran aluvial, membentang mulai dari Kulon Progo sampai Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Wilayah ini memiliki luas 215,62 km 2 dengan ketinggian 0 80 m. Kondisi fisiografi tersebut membawa pengaruh terhadap persebaran penduduk, ketersediaan sarana prasarana, sosial, ekonomi, serta ketimpangan kemajuan pembangunan. Daerah-daerah yang relatif datar, (dataran faluvial meliputi Sleman, Kota, dan Bantul) adalah wilayah padat penduduk, memiliki intensitas sosial ekonomi tinggi, maju dan berkembang namun juga banyak terjadi pencemaran lingkungan. 21

38 Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki iklim tropis dengan curah hujan berkisar 0,00 mm 13,00 mm per hari. Suhu udara rata-rata berkisar antara C. Kelembaban udara berkisar antara persen dan tekanan udara 1.005, ,2 mb dengan arah angin antara o dan kecepatan angin antara 0 knot sampai 29 knot Jumlah sampel yang terkumpul (Response rates) Dari 26 BS terpilih untuk sampel SDT 2014 Daerah Istimewa Yogyakarta, BS yang berhasil ditemukan dan dikunjungi 26 BS (100%) yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota. Adapun dari jumlah target rumah tangga sebesar 642 RT terdapat 575 RT yang berhasil dikunjungi (89,6 %). Sedangkan untuk jumlah target ART 2053 orang terdapat 1805 orang yang berhasil diwawancarai (87,9%). Kabupaten/ Kota Tabel 0.1 Distribusi BS, RT dan ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan Kabupaten/Kota, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 BS RUTA ART Target Kunj 1 Kunj 2 Target Kunj 1 Kunj 2 Target Kunj 1 Kunj 2 Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan jenis kelamin Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel 3.2 Tabel 0.2 Distribusi ART yang Distribusi berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis kelamin Jumlah N persen Laki-laki ,3 Perempuan ,7 Daerah Istimewa Yogyakarta ,0 Distribusi ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan jenis kelompok umur Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel 3.3 Tabel 0.3 Distribusi ART yang berhasil dikunjungi (response rate) berdasarkan umur dan Jenis Kelamin, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jumlah N persen 0 59 bulan 79 4, tahun 167 9, tahun 162 9, tahun ,8 > 55 tahun ,1 Daerah Istimewa Yogyakarta ,0 22

39 Tabel 3.4 Distribusi ART yang dapat dikunjungi (response rate) menurut karakteristik, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Karakterisitik Jumlah (N= 1694 ) N % Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Kelompok umur 0 59 bln thn th thn >55 thn Kuintil indeks kepemilikan Terbawah Menengah bawah Menengah Menengah atas Teratas Bahan makanan yang dikonsumsi individu menurut jenis makanan dan kelompok makanan (food group) 23

40 Tabel 0.5 Rerata Konsumsi Kelompok Serealia dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Serealia dan Olahan (g) Kelompok Umur Beras Olahan Beras Terigu Olahan Terigu Mie Jagung dan Lainnya Total Olahan Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 56,8 49,4 8,0 19,5 6,4 13, ,9 60,8 2,0 7,1 0,9 4, thn 130,9 69,7 5,9 21,0 10,6 19, ,7 85,2 2,9 13,2 2,3 8, thn 176,5 109,2 9,4 29,6 17,4 32, ,6 125,9 2,2 9,9 0,3 2, thn 155,0 97,8 8,6 27,4 16,1 23, ,0 82,2 3,7 16,4 0,2 2, > 55 thn 126,5 73,8 8,7 29,1 13,4 22, ,8 43,5 2,5 15,1 0,0 0, Semua umur 143,2 92,7 8,4 27,2 14,6 23, ,7 81,6 3,1 14,9 0,4 3, , , Beras 8,4 olahan beras 14,6 11,9 terigu olahan terigu mie 3,1 0,4 jagung dan olahannya lainnya Gambar 0.1 Rerata Konsumsi Kelompok Serealia dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta

41 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok serealia dan hasil olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah beras yaitu 143,2 gram per hari. Penduduk mengonsumsi serealia dan hasil olahannya kedua terbanyak adalah mie dengan rerata 36,7 gram per hari, diikuti terigu 14,6 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi beras tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 176,5 gram per hari. Rerata penduduk mengonsumsi mie tertinggi pada kelompok umur usia tahun yaitu sebesar 77,6 gram. Rerata penduduk mengonsumsi tertinggi terigu pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 9,4 gram per hari. Rerata konsumsi olahan terigu tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 28,5 gram per hari. Jagung dan olahannya paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur tahun sebesar 3,7 gram gram per hari. Tabel 0.6 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Serealia dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Serealia dan Olahan Kelompok Umur Beras Olahan Terigu Olahan Mie Jagung dan Lainnya Beras Terigu Olahan 0 59 bln 84,8 20,3 27, ,9 10,1 3, thn 98,8 14,4 40, ,3 9,0 9, thn 98,1 21,6 51, ,0 6,8 2, thn 97,8 22,5 54, ,3 13,8 0,8 > 55 thn 99,3 20,0 48, ,2 9,3 0,2 Semua umur 97,7 20,9 50, ,7 11,4 1,8 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok serealia dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah beras yaitu 97,7 persen, diikuti terigu 50,5 persen dan mie 27,7 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi beras tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 99,3 persen dan terendah kelompok umur 0 59 bulan sebesar 84,8 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi terigu tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 54,8 persen dan terendah 0-50 bulan sebesar 27,8 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi mie tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 42,0, terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 12,2 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan beras tertinggi pada kelompuk umur tahun sebesar 22,5 persen dan terendah umur 5-12 tahun sebesar 14,4 persen. 25

42 Tabel 0.7 Rerata Konsumsi Kelompok Umbi dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Umbi dan olahan (g) Kelompok Singkong dan Ubi jalar Kentang dan Sagu dan Umur Olahan Olahan Olahan Umbi lainnya Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 4,7 19,2 0,1 1,9 7,9 28,3 0,2 2,2 0,0 0,0 13,0 33, thn 8,0 22,3 2,7 23,5 9,3 53,3 0,4 4,1 0,1 1,8 20,4 61, thn 9,7 43,5 0,0 0,0 8,8 29,0 0,7 8,7 0,0 0,0 19,3 52, thn 18,2 65,4 4,1 26,2 10,4 44,0 0,2 1,7 0,8 11,7 33,7 85,6 > 55 thn 32,1 90,6 4,2 28,5 5,8 23,2 0,1 1,1 1,7 15,1 43,8 97,1 Semua umur 19,1 67,2 3,4 24,6 8,9 39,1 0,2 3,3 0,8 11,2 32,5 82,6 Gambar 0.2 Rerata Konsumsi Kelompok Umbi dan Olahan per orang per hari (gram)menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok umbi dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah singkong dan olahan yaitu 19,1 gram per hari, kentang dan olahan 8,9 gram per hari dan ubi jalar 3,4 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi singkong dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun tahun yaitu sebesar 32,1 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 4,7 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi kentang dan olahan tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 10,4 gram perhari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 5,8 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi tertinggi ubi jalar pada kelompok umur > 55 tahun tahun yaitu sebesar 4,2 gram per hari dan terendah kelompok umur tahun sebesar 0,0 gram per hari. 26

43 Tabel 0.8 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Umbi dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Umbi dan olahan Kelompok Umur Singkong Ubi jalar Kentang dan Sagu dan Umbi lainnya dan Olahan Olahan Olahan 0 59 bln 16,5 0,0 17,7 2,5 0, thn 24,0 2,4 14,4 1,8 0, thn 25,9 0,0 16,7 2,5 0, thn 29,4 3,2 13,9 1,8 1,3 > 55 thn 35,7 2,9 12,5 1,2 1,5 Semua umur 29,5 2,6 14,0 1,8 1,1 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok umbi dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah singkong dan olahan yaitu 29,5 persen diikuti kentang dan olahannya sebesar 14,0 persen serta ubi jalar sebesar 2,6 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengkonsumsi umbi dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 35,7 persen dan terendah kelompok umur 0 59 bulan sebesar 16,5 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi kentang dan olahan tertinggi pada kelompuk umur 0-59 bulan sebesar 17,7 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 12,5 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi ubi jalar tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 3,2 persen dan terendah pada kelompok umur tahun sebesar 0,0 persen. 27

44 Tabel 0.9 Rerata Konsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan per orang perhari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Kacang kacangan dan olahan (g) Kelompok Kacang Tanah Kacang Kedelai Biji-bijian dan Kacang lainnya Umur dan Olahan dan Olahan Olahan dan Olahan Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 0,4 1,8 23,2 45,8 0,06 0,35 0,6 1,9 24,2 46, thn 6,3 17,0 44,9 61,2 0,05 0,48 1,7 8,0 53,0 67, thn 4,6 15,7 56,6 59,0 0,03 0,49 1,1 6,2 62,3 62, thn 5,0 13,5 74,9 80,0 0,56 5,21 1,2 6,9 81,6 81,0 > 55 thn 4,8 15,7 93,7 93,9 0,62 6,58 1,9 7,6 101,0 95,6 Semua umur 4,8 14,4 72,3 81,0 0,45 4,96 1,4 7,0 79,0 82,9 Gambar 0.3 Rerata Konsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur,Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok kacang-kacangan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah kacang kedelai dan olahan yaitu sebesar 72,3 gram per hari, kacang tanah dan olahan sebesar 4,8 gram per hari serta kacang lainnya dan olahan sebesar 1,4 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi kacang kedelai dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun tahun yaitu sebesar 93,7 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 23,2 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi kacang tanah dan olahan tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 5,0 gram perhari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,4 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi kacang lainnya dan olahan pada kelompok umur > 55 tahun tahun yaitu sebesar 1,9 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,6 gram per hari. 28

45 Tabel 0.10 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Kacang-Kacangan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Kacang kacangan dan olahan Kelompok Umur Kacang Tanah dan Olahan Kacang Kedelai dan Olahan Biji-bijian dan Olahan Kacang lainnya dan Olahan 0 59 bln 6,3 40,5 3,8 10, thn 22,8 61,7 1,8 9, thn 18,5 66,7 0,6 4, thn 19,3 74,0 2,3 7,6 > 55 thn 15,4 80,2 1,5 12,2 Semua umur 18,0 72,0 1,9 8,8 Proporsi penduduk mengkonsumsi bahan makanan kelompok kacang-kacangan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah kacang kedelai dan olahan sebesar 72,0 persen diikuti kacang tanah dan olahan sebesar 18,0 persen dan kacang lainnya dan olahan sebesar 8,8 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi kacang kedelai dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 80,2 persen dan terendah kelompok umur 0 59 bulan sebesar 40,5 persen. Proporsi mengonsumsi kacang tanah dan olahan tertinggi pada kelompuk umur 5-12 tahun sebesar 22,8 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 6,3 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi kacang lainnya dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 12,2 persen dan terendah pada kelompok umur tahun sebesar 4,9 persen. 29

46 Tabel 0.11 Rerata Konsumsi Kelompok Sayuran dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Sayuran dan olahan (g) Kelompok Umur Sayuran Daun Sayuran Buah/ Sayuran Akar Sayuran Polong Sayuran lainnya Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 25,0 29,4 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 25,0 29, thn 44,9 58,2 0,30 1,83 0,00 0,00 0,00 0,00 45,2 58, thn 52,0 49,3 0,58 4,94 0,00 0,00 0,00 0,00 52,6 49, thn 73,6 67,7 0,24 2,47 0,00 0,18 0,36 3,74 74,2 69,6 > 55 thn 69,7 63,6 0,02 0,23 0,00 0,00 0,01 0,22 69,7 63,6 Semua umur 65,5 64,2 0,21 2,42 0,00 0,13 0,19 2,70 65,9 65,3 Gambar 0.4 Rerata Konsumsi Kelompok Sayuran dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok sayuran dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah sayuran daun yaitu sebesar 65,5 gram per hari, diikuti sayuran buah dan akar sebesar 0,21 gram per hari serta sayuran lainya sebesar 0,19 gram per hari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi sayuran daun tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 73,6 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 25,0 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi sayuran buah/sayuran akar tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 0,58 gram perhari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi sayuran lainnya tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 0,36 gram per hari. 30

47 Tabel 0.12 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Sayur dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Sayuran dan olahan Kelompok Umur Sayuran Sayuran Buah/ Sayuran Sayuran lainnya Daun Sayuran Akar Polong 0 59 bln 64,6 0,0 0,0 0, thn 67,1 3,6 0,0 0, thn 85,8 1,2 0,0 0, thn 89,4 1,1 0,0 1,5 > 55 thn 86,6 0,5 0,0 0,5 Semua umur 85,0 1,2 0,0 0,9 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok sayuran dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah sayuran daun sebesar 85,0 persen diikuti sayuran buah/sayuran akar 1,2 persen dan sayuran lainnya 0,9 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi sayuran daun tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 89,4 persen dan terendah kelompok umur 0 59 bulan sebesar 64,6 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi sayuran buah/sayuran akar tertinggi pada kelompuk umur 5-12 tahun sebesar 3,6 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi sayuran lainnya tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 1,5 persen. 31

48 Tabel 0.13 Rerata Konsumsi Kelompok Buah- Buahan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jenis Buah buahan dan olahan (g) Pisang Jeruk Mangga Pepaya Semangka Buah lainnya Buah Olahan Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 2,7 12,3 13,8 36,0 0,0 0,0 5,2 23,9 2,5 14,3 9,5 32,9 0,00 0,00 33,7 57, thn 4,9 17,2 3,6 16,1 0,3 3,7 1,6 17,0 3,0 16,5 17,2 59,1 0,00 0,00 30,6 68, thn 13,0 36,3 5,5 13,3 0,8 5,5 1,5 7,7 2,1 11,7 22,4 56,4 0,01 0,43 45,5 71, thn 19,7 49,1 6,7 22,9 1,1 11,8 5,2 28,0 5,4 34,4 17,4 56,0 0,00 0,00 55,5 102,8 > 55 thn 34,2 87,0 6,3 32,3 0,0 0,0 7,1 37,6 1,5 15,9 4,1 32,8 0,00 0,00 53,1 113,2 Semua umur 20,3 57,7 6,5 25,1 0,7 8,7 4,9 28,5 3,8 26,9 14,3 51,1 0,00 0,13 50,5 98,6 Gambar 0.5 Rerata Konsumsi Kelompok Buah-buahan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur,Daerah Istimewa Yogyakarta

49 Rata-rata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok buah-buahan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah pisang yaitu sebesar 20,3 gram per hari, diikuti buah lainnya sebesar 14,3 gram per hari serta jeruk sebesar 6,5 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi pisang tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 34,2 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 2,7 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi buah lainnya tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 22,4 gram perhari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 4,1 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi jeruk tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan yaitu sebesar 13,8 gram per hari. Tabel 0.14 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Buah-buahan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jenis Buah buahan dan olahan Pisang Jeruk Mangga Pepaya Semangka Buah lainnya Buah Olahan 0 59 bln 5,1 13,9 0,0 5,1 3,8 11,4 0, thn 10,8 10,2 1,2 1,8 3,0 13,8 0, thn 15,4 20,4 3,1 4,3 3,7 19,1 0, thn 21,7 14,7 1,9 5,5 5,5 14,3 0,0 > 55 thn 26,4 6,8 0,0 5,6 1,2 3,7 0,0 Semua umur 20,4 12,9 1,4 5,0 4,0 12,0 0,0 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok buah-buahan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah pisang sebesar 20,4 persen diikuti jeruk 12,9 persen dan buah lainnya 12,0 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi pisang tertinggi pada kelompok umur >55 tahun yaitu sebesar 26,4 persen dan terendah kelompok umur 0 59 bulan sebesar 5,1 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi jeruk tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 20,4 persen dan terendah kelompok umur >55 tahun sebesar 6,8 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi buah lainnya tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 19,1 persen dan terendah pada kelompok umur >55 tahun sebesar 3,7 persen. 33

50 Tabel 0.15 Rerata Konsumsi Kelompok Daging dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Daging dan olahan (g) Kelompok Umur Daging Unggas Daging Sapi, Daging Olahan Daging Olahan Daging Daging Babi Daging Total Kerbau Kambing, domba Unggas sapi,kerbau dan Olahan Lainnya Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 22,6 61,0 4,1 24,2 1,1 9,1 11,6 40,7 2,0 10,6 0,0 0,0 0,0 0,0 41,4 76, thn 53,4 81,8 4,7 24,0 5,0 27,0 5,9 20,6 7,9 19,3 0,0 0,0 0,1 1,1 76,9 95, thn 63,1 109,5 13,9 68,9 3,7 17,9 5,1 24,8 7,5 16,9 0,0 0,0 0,0 0,0 93,2 128, thn 46,9 77,7 8,6 36,2 2,4 17,3 1,2 8,9 5,2 17,1 0,3 11,4 0,0 0,0 64,6 90,1 > 55 thn 24,3 60,9 6,3 27,7 1,7 12,8 0,2 2,1 0,9 9,5 0,0 0,0 0,0 0,0 33,4 69,1 Semua umur 42,5 78,4 7,9 37,4 2,6 17,3 2,3 15,0 4,5 15,7 0,2 8,2 0,0 0,4 59,9 91,7 Gambar 0.6 Rerata Konsumsi Kelompok Daging dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta

51 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok daging dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah daging unggas yaitu sebesar 42,5 gram per hari, diikuti daging sapi, kerbau sebesar 7,9 gram per hari serta olahan daging sapi kerbau sebesar 4,5 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi daging unggas tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 63,1 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 22,6 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi daging sapi kerbau tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 13,9 gram perhari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 4,1 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi olahan daging sapi kerbau tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 7,9 gram per hari dan terendah pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,9 gram per hari. Tabel 0.16 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Daging dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Daging Unggas Daging Sapi, Kerbau Daging Kambing, domba Jenis Daging dan Olahan Olahan Daging Unggas Olahan Daging sapi,kerbau Daging Babi dan Olahan Daging Lainnya 0 59 bln 29,1 5,1 1,3 15,2 5,1 0,0 0, thn 39,5 4,2 4,2 13,2 19,8 0,0 0, thn 47,5 4,9 4,3 6,8 22,2 0,0 0, thn 40,8 9,4 2,5 2,9 14,5 0,1 0,0 > 55 thn 24,7 7,6 2,0 1,5 2,4 0,0 0,0 Semua umur 36,9 7,8 2,7 4,5 12,4 0,1 0,1 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok daging dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah daging unggas sebesar 36,9 persen diikuti olahan daging sapi kerbau 12,4 persen dan daging sapi kerbau 7,8 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi daging unggas tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 47,5 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 24,7 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan daging sapi kerbau tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 22,2 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 2,4 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi daging sapi kerbau tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 9,4 persen dan terendah pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 4,2 persen. 35

52 Tabel 0.17 Rerata Konsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakart 2014 Jenis Jeroan dan olahan (g) Kelompok Jeroan hewan berkaki Umur empat Jeroan Unggas Lainnya Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 0,0 0,0 2,6 12,8 0,1 1,9 2,7 13, thn 0,0 0,0 2,4 12,5 1,0 4,4 3,4 14, thn 1,4 9,2 2,2 9,6 0,4 3,4 3,9 13, thn 0,1 2,6 1,8 12,3 1,3 10,0 3,2 16,1 > 55 thn 1,1 10,2 0,3 5,0 0,6 4,4 2,0 12,1 Semua umur 0,5 6,1 1,6 10,8 1,0 7,7 3,0 14,7 Gambar 0.7 Rerata Konsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok jeroan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah jeroan unggas yaitu sebesar 1,6 gram per hari, diikuti jeroan lainnya sebesar 1,0 gram per hari dan jeroan hewan berkaki empat sebesar 0,5 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi jeroan unggas tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan yaitu sebesar 2,6 gram per hari dan terendah kelompok umur >55 tahun sebesar 0,3 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi jeroan laiinya tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 1,3 gram perhari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,1 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi jeroan hewan berkaki empat tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 1,4 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 0-12 tahun sebesar 0,0 gram per hari. 36

53 Tabel 0.18 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Jeroan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Jeroan dan Olahan Kelompok Umur Jeroan hewan berkaki Jeroan Unggas Lainnya empat 0 59 bln 0,0 3,8 0, thn 0,0 4,2 5, thn 2,5 6,2 1, thn 0,2 3,2 4,3 > 55 thn 1,2 0,5 4,4 Semua umur 0,6 3,0 4,0 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi bahan makanan kelompok jeroan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah jeroan lainnya sebesar 4,0 persen diikuti jeroan unggas 3,0 persen dan jeroan hewan berkaki empat 0,6 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi jeroan lainnya tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 5,4 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi jeroan unggas tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 6,2 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,5 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi jeroan hewan berkaki empat tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 2,5 persen dan terendah pada kelompok umur 0-12 tahun sebesar 0,0 persen. 37

54 Kelompok Umur Tabel 0.19 Rerata Konsumsi Kelompok Ikan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Ikan Laut Olahan Ikan Ikan Air Tawar Jenis Ikan dan Olahan (g) Udang, Kepiting dan Olahan Cumi, Kerang, Keong dan Olahan Hewan Air lainnya Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 1,3 8,3 0,5 5,0 15,0 63,6 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 16,8 63, thn 6,2 37,1 2,5 10,8 32,1 96,5 2,7 17,2 1,1 7,2 0,0 0,0 44,7 110, thn 13,3 66,4 3,4 22,8 12,0 58,3 2,1 20,6 1,3 7,7 0,0 0,0 32,1 94, thn 10,4 42,8 2,6 18,3 16,1 71,6 0,9 7,8 0,4 5,1 0,0 0,0 30,4 83,8 > 55 thn 8,3 40,0 2,4 12,6 9,4 57,9 0,5 5,1 0,4 5,2 0,0 0,0 20,9 70,5 Semua umur 9,3 43,5 2,5 16,6 15,6 70,1 1,1 10,4 0,6 5,5 0,0 0,0 29,1 84,4 Total Gambar 0.8 Rerata Konsumsi Kelompok Ikan dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok ikan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah ikan air tawar yaitu sebesar 15,6 gram per hari, diikuti ikan laut sebesar 9,3 gram per hari dan olahan ikan sebesar 2,5 gram per hari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi ikan air tawar tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 32,1 gram per hari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 9,4 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi ikan laut tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 13,3 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 1,3 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi olahan ikan tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 3,4 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 1,3 gram per hari. 38

55 Tabel 0.20 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Ikan dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Ikan Laut Olahan Ikan Jenis Ikan dan Olahan Ikan Air Tawar Udang, Kepiting dan Olahan Cumi, Kerang, Keong dan Olahan Hewan Air lainnya 0 59 bln 2,5 1,3 5,1 0,0 0,0 0, thn 4,2 10,2 11,4 3,0 2,4 0, thn 7,4 5,6 6,2 3,7 3,1 0, thn 8,6 5,9 7,1 4,7 0,9 0,0 > 55 thn 5,1 6,8 4,2 3,7 0,5 0,0 Semua umur 6,9 6,3 6,6 4,0 1,1 0,0 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bahan makanan kelompok ikan dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah ikan laut sebesar 6,9 persen diikuti ikan air tawar 6,6 persen dan olahan ikan sebesar 6,3 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi ikan laut tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 8,6 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 2,5 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi ikan air tawar tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 11,4 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 4,2 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan ikan tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 10,2 persen dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 1,3 persen. 39

56 Tabel 0.21 Rerata Konsumsi Kelompok Telur dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Telur Ayam Telur Bebek Jenis Telur dan Olahan (g) Olahan Telur Telur Lainnya Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 32,99 37,55 0,00 0,00 0,00 0,00 1,22 6,31 34,21 36, thn 33,13 38,09 0,56 5,68 0,10 1,64 0,84 4,38 34,63 38, thn 24,55 30,15 0,63 5,52 0,21 2,98 0,75 5,63 26,14 31, thn 27,25 37,32 0,43 5,33 0,46 5,49 0,41 3,59 28,55 38,16 > 55 thn 16,32 29,84 0,00 0,02 0,40 4,94 0,06 1,35 16,78 30,94 Semua umur 25,20 35,49 0,34 4,56 0,36 4,75 0,44 3,73 26,34 36,29 Total Gambar 0.9 Rerata Konsumsi Kelompok Telur dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok telur dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah telur ayam yaitu sebesar 25,20 gram per hari, diikuti olahan telur sebesar 0,36 gram per hari dan telur bebek sebesar 0,34 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi telur ayam tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 33,13 gram per hari dan terendah kelompok umur >55 tahun sebesar 16,32 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi olahan telur tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 0,46 gram perhari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi telur bebek tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 0,63 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 gram per hari. 40

57 Tabel 0.22 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Telur dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jenis Telur dan Olahan Telur Ayam Telur Bebek Olahan telur Telur Lainnya 0 59 bln 60,8 0,0 0,0 3, thn 58,7 1,2 0,6 3, thn 53,7 1,2 0,6 1, thn 55,4 1,5 0,7 1,7 > 55 thn 37,7 0,0 0,7 0,2 Semua umur 51,5 1,0 0,6 1,7 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bahan makanan kelompok telur dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah telur ayam sebesar 51,5 persen diikuti telur bebek sebesar 1,0 persen dan olahan telur sebesar 0,6 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi telur ayam tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan yaitu sebesar 60,8 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 37,7 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi telur bebek tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 1,5 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan dan > 55 tahun sebesar 0,0 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan telur tertinggi pada kelompok umur tahun dan > 55 tahun sebesar 0,7 persen dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,0 persen. Bahan makanan kelompok susu dan olahan Bahan makanan kelompok susu dan olahan menurut kelompok umur dibagi menjadi 6 kelompok yaitu : 1) susu kental manis, 2) susu bubuk 3) susu cair, 4) susu formula balita, 5) susu formula khusus, 6) susu olahan. Informasi secara lengkap bahan makanan kelompok susu dan olahan dapat dilihat pada Tabel 3.22 dan Tabel Tabel 0.23 Rerata Konsumsi Kelompok Susu dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok umur Susu kental manis Susu bubuk Jenis susu dan olahannya Susu formula balita Susu formula khusus Olahan susu Total Susu cair Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 23,3 48,9 2,1 9,6 41,5 54,4 0,0 0,0 7,0 25,1 95,1 95,3 16,7 59, thn 6,8 16,9 5,4 18,9 4,0 19,2 0,0 0,0 5,5 20,1 21,6 35,3 21,1 70, thn 4,2 11,8 2,4 8,5 0,2 2,2 0,0 0,0 3,2 14,0 10,4 21,2 8,0 55, thn 3,2 11,3 0,8 10,1 0,0 0,9 0,6 6,3 2,0 12,9 5,9 20,3 2,3 21,5 > 55 thn 2,3 9,3 0,5 3,0 0,2 2,6 0,9 5,6 0,1 0,8 3,0 9,5 0,9 8,9 Semua umur 4,4 16,1 1,4 10,1 2,4 15,9 0,5 5,3 2,2 13,3 11,4 34,5 5,0 35,2 41

58 Gambar 0.10 Rerata Konsumsi Kelompok Susu dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok susu dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah susu cair yaitu sebesar 5,0 gram per hari, diikuti susu kental manis sebesar 4,4 gram per hari dan susu formula balita sebesar 2,4 gram per hari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi susu cair tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 21,1 gram per hari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,9 gram per hari. Rerata penduduk mengonsumsi susu kental manis tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 23,3 gram per hari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 2,3 gram per hari. Rerata penduduk mengonsumsi susu formula balita tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan yaitu sebesar 41,5 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 4,0 gram per hari. Tabel 0.24 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Susu dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Susu Kental manis Susu Bubuk Jenis Susu dan Olahan Susu Cair Susu Formula Balita Susu Formula Khusus Olahan Susu 0 59 bln 25,3 10,1 10,1 46,8 0,0 11, thn 19,8 16,2 10,2 4,8 0,0 13, thn 14,8 9,9 3,1 1,2 0,0 6, thn 11,3 5,6 3,2 0,1 1,4 3,8 > 55 thn 7,8 6,8 2,7 1,5 3,4 0,7 Semua umur 12,3 7,6 4,1 3,2 1,5 4,6 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bahan makanan kelompok susu dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah susu kental manis sebesar 12,3 persen diikuti susu bubuk sebesar 7,6 persen dan susu cair sebesar 4,1 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi 42

59 penduduk mengonsumsi susu kental manis tertinggi pada kelompok umur 0-59 bulan yaitu sebesar 25,3 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 7,8 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi susu bubuk tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 16,2 persen dan terendah kelompok umur sebesar 5,6 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan susu tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 13,8 persen dan terendah pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,7 persen. Tabel 0.25 Rerata Konsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Kelapa Minyak, Lemak dan Olahan (g) Kelapa dan Olahan Minyak Lainnya, lemak dan Olahan Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 10,6 10,0 19,3 45,2 0,7 2,8 30,6 47, thn 16,5 13,1 25,1 52,7 1,1 3,0 42,8 54, thn 20,6 14,0 13,1 28,6 1,0 6,1 34,7 33, thn 23,7 16,4 28,2 50,6 0,9 3,3 52,8 54,4 > 55 thn 18,6 15,2 38,3 57,5 1,0 3,5 57,9 58,2 Semua umur 20,8 15,7 28,5 51,1 0,9 3,7 50,3 54,0 Total Gambar 0.11 Rerata Konsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta

60 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok minyak, lemak dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah minyak kelapa dan olahan yaitu sebesar 28,5 gram per hari, diikuti minyak kelapa sawit dan minyak kelapa sebesar 20,8 gram per hari dan minyak lainnya, lemak dan olahan sebesar 0,9 gram per hari. Berdasarkan kelompok umur, rerata penduduk mengonsumsi kelapa dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 38,3 gram per hari dan terendah kelompok umur tahun sebesar 13,1 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi minyak kelapa sawit dan minyak kelapa tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 23,7 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 10,6 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi minyak lainnya, lemak dan olahan tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 1,1 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,7 gram perhari. Tabel 0.46 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Minyak, Lemak dan Olahan Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Minyak, Lemak dan Olahan Kelompok Umur Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Kelapa Kelapa dan Olahan Minyak Lainnya, lemak dan Olahan 0 59 bln 81,0 26,6 10, thn 93,4 38,3 16, thn 98,8 27,8 10, thn 96,8 50,2 13,9 > 55 thn 91,0 61,6 14,4 Semua umur 94,5 48,5 13,8 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bahan makanan kelompok minyak, lemak dan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah minyak kelapa sawit dan minyak kelapa sebesar 94,5 persen diikuti kelapa dan olahan sebesar 48,5 persen dan minyak lainnya, lemak dan olahan sebesar 13,8 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi minyak kelapa sawit dan minyak kelapa tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 98,8 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 81,0 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi kelapa dan olahan tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 61,6 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 26,6 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi olahan minyak lainnya, lemak dan olahan tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 16,2 persen dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 10,1 persen. 44

61 Kelompok Umur Tabel 0.57 Rerata Konsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Gula dan Konfeksionari (g) Gula Permen Sirup Coklat Lainnya (madu,selai agaragar, Total jely) Rerat SD Rera SD Rera SD Rera SD Rerata SD Rerata SD a ta ta ta 0 59 bln 12,55 17,37 1,13 3,32 0,00 0,00 0,29 2,02 4,50 15,12 18,48 22, thn 21,85 23,32 1,45 3,59 0,76 4,33 1,95 8,09 7,18 31,51 33,18 39, thn 21,19 18,55 0,69 2,72 0,86 4,75 1,30 5,08 2,13 10,92 26,17 23, thn 31,59 27,05 0,05 0,67 0,47 3,42 0,39 2,64 0,33 4,39 32,84 28,46 > 55 thn 32,48 27,90 0,04 0,44 0,06 0,88 0,27 1,79 0,17 1,56 33,02 28,21 Semua umur 28,96 26,39 0,30 1,73 0,42 3,21 0,60 3,71 1,34 11,60 31,61 29,19 Gambar 0.12 Rerata Konsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok gula dan konfeksionari di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah gula yaitu sebesar 28,96 gram per hari, diikuti lainnya (madu, selai agar-agar, jely) sebesar 1,34 gram per hari dan coklat sebesar 0,60 gram per hari. Berdasarkan kelompok umur, rerata penduduk mengonsumsi gula tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 32,48 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 12,55 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi lainnya (madu, selai agar-agar, jely) tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 7,18 gram per hari dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,17 gram per hari. Rata-rata penduduk mengonsumsi coklat tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun yaitu sebesar 1,9 gram per hari dan terendah pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 0,27 gram per hari. 45

62 Tabel 0.28 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Kelompok Gula dan Konfeksionari Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Gula dan Konfeksionari Gula Permen Sirup Coklat Lainnya (madu,selai agaragar, jely) 0 59 bln 68,4 13,9 0,0 2,5 11, thn 85,6 19,2 4,8 10,2 12, thn 92,6 8,0 3,1 9,9 6, thn 94,4 0,8 2,5 3,6 3,4 > 55 thn 94,9 0,7 0,5 2,4 2,4 Semua umur 92,3 3,9 2,2 4,5 4,7 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bahan makanan kelompok gula dan konfeksionari di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah gula sebesar 92,3 persen diikuti lainnya (madu, selai agar-agar, jely) sebesar 4,7 persen dan coklat sebesar 4,5 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi gula tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 94,9 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 68,4 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi lainnya (madu, selai agar-agar, jely) tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 12,0 persen dan terendah kelompok umur > 55 tahun sebesar 2,4 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi coklat tertinggi pada kelompok umur 5-12 tahun sebesar 10,2 persen dan terendah pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 2,4 persen. Kelompok Umur Tabel 0.29 Rerata Konsumsi Kelompok Bumbu per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Bumbu (g) Garam Vetsin/ MSG/ Bumbu Bahan Bumbu Instan Bumbu Basah Mecin Kering Tambahan Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln 1,43 1,35 0,12 0,44 0,37 1,09 0,20 0,63 4,86 7,56 0,00 0,07 6,99 8, thn 2,89 2,58 0,25 0,52 0,98 3,23 0,82 3,30 12,67 15,04 0,00 0,02 17,61 17, thn 3,57 4,47 0,32 0,72 1,35 4,00 0,69 1,33 14,99 14,06 0,01 0,05 20,93 16, thn 3,90 3,47 0,42 2,64 1,27 8,53 0,81 2,40 14,88 17,19 0,02 0,54 21,30 21,86 > 55 thn 4,11 3,71 0,38 0,88 0,39 1,42 0,63 1,40 16,33 19,53 0,00 0,07 21,85 21,88 Semua umur 3,70 3,54 0,37 1,97 0,99 6,39 0,73 2,18 14,55 17,14 0,01 0,39 20,37 20,75 46

63 Gambar 0.13 Rerata Konsumsi Kelompok Bumbu per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata penduduk mengonsumsi bahan makanan kelompok bumbu di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah bumbu basah yaitu sebesar 14,56 gram per hari, diikuti garam sebesar 3,70 gram per hari dan bumbu instan sebesar 0,99 gram perhari. Berdasarkan kelompok umur, rata-rata penduduk mengonsumsi bumbu basah tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun yaitu sebesar 16,33 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 4,86 gram per hari. Rerata penduduk mengonsumsi garam, tertinggi pada kelompok umur > 55 tahun sebesar 4,11 gram per hari dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 1,43 gram per hari. Rerata penduduk mengonsumsi bumbu instan tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 1,35 gram per hari dan terendah pada kelompok umur 0-59 bulan sebesar 0,37 gram per hari. 47

64 Tabel 0.30 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Bumbu Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Bumbu Kelompok Umur Vetsin/ MSG/ Bumbu Bumbu Bumbu Bahan Garam Mecin Instan Kering Basah Tambahan 0 59 bln 88,6 17,7 20,3 24,1 59,5 0, thn 97,6 29,9 22,2 28,1 80,2 0, thn 100,0 34,0 32,1 39,5 84,6 1, thn 99,5 29,0 26,0 35,0 79,2 0,9 > 55 thn 99,8 33,3 15,9 30,6 80,4 0,7 Semua umur 98,9 30,0 23,5 33,2 79,2 0,9 Proporsi penduduk yang mengonsumsi bumbu di Daerah Istimewa Yogyakarta tertinggi adalah garam sebesar 98,9 persen diikuti bumbu basah sebesar 79,2 persen dan bumbu kering sebesar 33,2 persen. Berdasarkan kelompok umur proporsi penduduk mengonsumsi garam tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 100 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 88,6 persen. Proporsi penduduk penduduk mengonsumsi bumbu basah tertinggi pada kelompok umur tahun yaitu sebesar 84,6 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 59,5 persen. Proporsi penduduk mengonsumsi bumbu kering tertinggi pada kelompok umur tahun sebesar 39,5 persen dan terendah kelompok umur 0-59 bulan sebesar 24,1 persen. 48

65 Tabel 0.31 Rerata Konsumsi Kelompok Minuman per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Teh Instan / Daun Kering Jenis Minuman Serbuk (g) Kopi Bubuk Minuman Serbuk Minuman Kemasan Cairan Minuman Berkarbonasi Jenis Minuman cairan (ml) Minuman Beralkohol Minuman Lainnya Total Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur Total Gambar 0.14 Rerata Konsumsi Kelompok Minuman per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta

66 Rerata konsumsi kelompok minuman jenis minuman serbuk, tertinggi adalah teh instan/ daun kering (3.8 g) dan terendah adalah minuman serbuk (1.2 g). Konsumsi minuman teh instan/ daun kering tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (7 g) dan terendah pada kelompok usia 0-59 bulan (0.6 g). Konsumsi kopi bubuk tertinggi pada kelompok usia tahun (4.95 g) dan terendah pada kelompok usia 5-12 tahun (0.57 g). Sedangkan pada minuman serbuk, konsumsi tertinggi pada kelompok usia 5-12 tahun (3.6 g) dan terendah pada kelompok usia > 55 tahun (0.3 g). Konsumsi jenis minuman cair pada semua kelompok usia, tertinggi adalah konsumsi minuman kemasan cair (15.4 ml), terendah adalah minuman beralkohol (0.02 ml). Konsumsi minuman berkarbonasi tertinggi pada kelompok usia tahun (6.4 ml) dan terendah pada kelompok usia 0-58 bulan dan > 55 tahun (0.2 ml). Konsumsi minuman beralkohol hanya pada kelompok usia 5-12 tahun (0.13 ml) dan kelompok usia tahun (0.02 ml). Konsumsi tertinggi minuman lainnya pada kelompok usia 5-12 tahun (3.74 ml) dan terendah pada kelompok usia > 55 tahun (0.01 ml). Proporsi penduduk yang mengonsumsi minuman menurut kelompok umur di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel Tabel 0.32 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Minuman Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jenis Minuman Serbuk Teh Instan / Daun Kering Kopi Bubuk Minuman Serbuk Minuman Kemasan Cairan Jenis Minuman cairan Minuman Berkarbonasi Minuman Beralkohol Minuman Lainnya 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur Tabel 3.32 menunjukkan proporsi penduduk yang mengonsumsi minuman menurut kelompok umur. Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi jenis minuman serbuk adalah minuman serbuk (74.1%) dan terendah adalah jenis minuman kopi bubuk (15.9%). Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi teh instan pada kelompok usia > 55 tahun (81.7%) dan terendah pada kelompok usia 0-59 bulan (26.6%). Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi kopi bubuk pada kelompok usia tahun (22.7%), dan terendah mengonsumsi kopi bubuk pada kelompok usia 5-12 tahun (3%), sedangkan penduduk kelompok usia 0-59 bulan tidak mengonsumsi kopi bubuk. Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi jenis minuman cairan adalah minuman kemasan cairan (6.8%), disusul minuman berkarbonasi (2.4%), sedangkan terendah adalah minuman beralkohol (0.1%). Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi minuman kemasan cairan pada kelompok usia 5-12 tahun (12.6%), terendah pada kelompok usia >55 tahun (1.5%). Proporsi tertinggi penduduk mengonsumsi minuman berkarbonasi adalah pada kelompok usia 0-59 bulan (2.5%) dan terendah pada kelompok usia > 55 tahun (0.7%). Penduduk yang mengonsumsi minuman beralkohol hanya pada 2 kelompok usia yaitu 5-12 tahun dan tahun. Proporsi penduduk mengonsumsi minuman beralkohol pada kelompok usia 5-12 tahun (0.6%) lebih tinggi dibanding usia tahun (0.1%). 50

67 Tabel 0.33 Rerata Konsumsi Kelompok Makanan Komposit per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Jenis Makanan Komposit (g) Ayam goreng Pizza Burger Kentang Goreng Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur Total Gambar 0.15 Rerata Konsumsi Kelompok Makanan Komposit per orang per hari (gram) Menurut Kelompok Umur, Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata tertinggi konsumsi makanan komposit pada semua kelompok usia adalah pizza (0.8 g), disusul ayam goreng (0.4 g) dan terendah adalah burger (0.02 g). Sedangkan kentang goreng tidak ada yang mengonsumsi. Konsumsi pizza hanya pada kelompok usia tahun. Konsumsi ayam goreng tertinggi pada kelompok usia tahun (2.4 g), terendah pada kelompok usia tahun (0.2 g), sedangkan pada kelompok usia 5-12 tahun dan > 55 tahun tidak mengonsumsi ayam goreng. Konsumsi burger hanya pada kelompok usia tahun (0.04 g). 51

68 Proporsi penduduk yang mengonsumsi makanan komposit menurut kelompok umur di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel Tabel 0.34 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Makanan KompositMenurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Jenis Makanan Komposit Kelompok Umur Ayam goreng Pizza Burger Kentang Goreng 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan survey ini hanya mengonsumsi ayam goreng dan pizza, masing-masing sebanyak 0.4 persen. Proporsi tertinggi penduduk yang makan ayam goreng adalah pada kelompok usia 0-59 bulan (2.5%), dan terendah pada kelompok usia tahun (0.1%), kelompok usia 5-12 tahun dan > 55 tahun tidak mengonsumsi ayam goreng. Penduduk yang mengonsumsi pizza hanya pada kelompok usia tahun (1.9%) dan kelompok usia tahun (0.3%). Tabel 0.35 Rerata Konsumsi Kelompok Air per orang per hari (ml) Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Air Minum Air Minum Kemasan Bermerek Sumber Air (ml) Minuman cair kemasan pabrikan (jus cair, kopi cair, teh cair, minuman berkarbonasi, berenergi, isotonik, beralkohol dan minuman lain) Rerata SD Rerata SD Rerata SD Rerata SD 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur Total 52

69 Gambar 0.16 Rerata Konsumsi Kelompok Air per orang per hari (ml), Menurut Kelompok Umur Daerah Istimewa Yogyakarta 2014 Rerata tertinggi konsumsi air minum pada kelompok uisa tahun (1.330,6 ml), terendah pada kelompok usia 0-59 bulan (729,7 ml). rerata tertinggi konsumsi air minum kemasan bermerek adalah pada kelompok usia tahun (248,6 ml), terendah pada kelompok usia 0-59 bulan (87.9 ml). Rerata tertinggi konsumsi minuman cair kemasan pabrikan adalah pada kelompok usia 5-12 tahun (38.7 ml) dan terendah pada kelompok usia > 55 tahun (2.5 ml). Proporsi penduduk yang mengonsumsi air menurut kelompok umur di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel 3.36 Tabel 0.36 Proporsi Penduduk yang Mengonsumsi Air Menurut Kelompok UmurDaerah Istimewa Yogyakarta 2014 Kelompok Umur Air Minum Air Minum Kemasan Bermerek Sumber Air Minuman cair kemasan pabrikan (jus cair, kopi cair, teh cair,,minuman berkarbonasi, berenergi, isotonik, beralkohol dan minuman lain) 0 59 bln thn thn thn > 55 thn Semua umur

BUKU STUDI DIET TOTAL SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU PROVINSI RIAU 2014

BUKU STUDI DIET TOTAL SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU PROVINSI RIAU 2014 BUKU STUDI DIET TOTAL SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU PROVINSI RIAU 2014 Tim Penulis : Endi Ridwan Marice Sihombing Aprildah Nur Sapardin Tjetjep Syarif Hidajat Bolu Kembojo Pancake Durian Asem Pedas

Lebih terperinci

BUKU STUDI DIET TOTAL PROVINSI ACEH 2014

BUKU STUDI DIET TOTAL PROVINSI ACEH 2014 BUKU STUDI DIET TOTAL SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU PROVINSI ACEH 2014 Tim Penulis : Djoko Kartono, M.Sc., Ph.D Ir. Hermina, MKes Mukhlissul Faatih, MBiotech Lambai Aceh Asam sunti & temerui Sie reuboh

Lebih terperinci

BUKU SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU DALAM STUDI DIET TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA Tim Penulis :

BUKU SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU DALAM STUDI DIET TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA Tim Penulis : BUKU SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU DALAM STUDI DIET TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA 2014 Tim Penulis : Dyah Santi Puspitasari Elisa Diana Julianti Amalia Safitri Yurista Permanasari Lembaga Penerbit BADAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN 3 KUESIONER PENELITIAN

LAMPIRAN 3 KUESIONER PENELITIAN LAMPIRAN 3 KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG, KEMAMPUAN MEMBACA LABEL DAN KEBIASAAN MEMBACA LABEL INFORMASI GIZI PADA MAHASISWA FIKES UNIVERSITAS ESA UNGGUL TAHUN 2016 Nomor Responden

Lebih terperinci

PENGENALAN DKBM (TKPI) & UKURAN RUMAH TANGGA (URT) Rizqie Auliana, M.Kes

PENGENALAN DKBM (TKPI) & UKURAN RUMAH TANGGA (URT) Rizqie Auliana, M.Kes PENGENALAN DKBM (TKPI) & UKURAN RUMAH TANGGA (URT) Rizqie Auliana, M.Kes rizqie_auliana@uny.ac.id DKBM: 2 Daftar Komposisi Bahan Makanan dimulai tahun 1964 dengan beberapa penerbit. Digabung tahun 2005

Lebih terperinci

EMPAT PILAR GIZI SEIMBANG

EMPAT PILAR GIZI SEIMBANG LEMBAR BALIK PENDIDIKAN GIZI UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR EMPAT PILAR GIZI SEIMBANG Disusun Oleh: Iqlima Safitri, S. Gz Annisa Zuliani, S.Gz Hartanti Sandi Wijayanti, S.Gz, M.Gizi Supported by : Pedoman Gizi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energy dan zat-zat gizi. Kekurangan

BAB I PENDAHULUAN. hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energy dan zat-zat gizi. Kekurangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energy dan zat-zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam

Lebih terperinci

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT DIIT GARAM RENDAH Garam yang dimaksud dalam Diit Garam Rendah adalah Garam Natrium yang terdapat dalam garam dapur (NaCl) Soda Kue (NaHCO3), Baking Powder, Natrium Benzoat dan Vetsin (Mono Sodium Glutamat).

Lebih terperinci

PEMBERIAN MP ASI SETELAH ANAK USIA 6 BULAN Jumiyati, SKM., M.Gizi

PEMBERIAN MP ASI SETELAH ANAK USIA 6 BULAN Jumiyati, SKM., M.Gizi Tanggal 16 Oktober 2014 PEMBERIAN MP ASI SETELAH ANAK USIA 6 BULAN Jumiyati, SKM., M.Gizi PENDAHULUAN Usia 6 bulan hingga 24 bulan merupakan masa yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan

Lebih terperinci

BATASI KONSUMSI GULA, GARAM, LEMAK UNTUK MENGHINDARI PENYAKIT TIDAK MENULAR

BATASI KONSUMSI GULA, GARAM, LEMAK UNTUK MENGHINDARI PENYAKIT TIDAK MENULAR BATASI KONSUMSI GULA, GARAM, LEMAK UNTUK MENGHINDARI PENYAKIT TIDAK MENULAR Latar Belakang Perubahan pola makan menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang, karena mengandung kalori,

Lebih terperinci

SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI

SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI A. Pendahuluan Berdasarkan Undang-undang Pangan Nomor: 18 Tahun 2012, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang

Lebih terperinci

ISSN InfoDATIN PUSAT DATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI SITUASI GIZI. di Indonesia. 25 Januari - Hari Gizi dan Makanan Sedunia

ISSN InfoDATIN PUSAT DATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI SITUASI GIZI. di Indonesia. 25 Januari - Hari Gizi dan Makanan Sedunia ISSN 2442-7659 InfoDATIN PUSAT DATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI SITUASI GIZI di Indonesia 25 Januari - Hari Gizi dan Makanan Sedunia Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan

Lebih terperinci

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN GERAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL KOTA KEDIRI WALIKOTA KEDIRI, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Struktur penduduk dunia saat ini menuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk usia lanjut. Proporsi penduduk usia lanjut di Indonesia

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Lampiran 1. Angket Penelitian

KATA PENGANTAR. Lampiran 1. Angket Penelitian Lampiran 1. Angket Penelitian KATA PENGANTAR Ibu yang terhormat, Pada kesempatan ini perkenankanlah kami meminta bantuan Ibu untuk mengisi angket yang telah kami berikan, angket ini berisi tentang : 1)

Lebih terperinci

METODE. n = Z 2 P (1- P)

METODE. n = Z 2 P (1- P) 18 METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yaitu pengamatan yang dilakukan sekaligus pada satu waktu. Lokasi penelitian adalah TKA Plus Ihsan Mulya Cibinong.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, (7) Tempat dan Waktu Penelitian. I PENDAHULUAN Bab ini akan dibahas mengenai: (1) Latar belakang, (2) Identifikasi masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, (7)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran,

BAB I PENDAHULUAN. terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan sumberdaya manusia di Indonesia, terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran, penurunan kematian bayi, penurunan fertilitas

Lebih terperinci

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 1 Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 2014 Komoditas Produksi Pertahun Pertumbuhan Pertahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu tertentu yang akan dipenuhi dari penghasilannya. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu tertentu yang akan dipenuhi dari penghasilannya. Dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pola Konsumsi adalah susunan tingkat kebutuhan seseorang atau rumahtangga untuk jangka waktu tertentu yang akan dipenuhi dari penghasilannya. Dalam menyusun pola konsumsi

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. kemungkinan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Gizi lebih yang terjadi pada remaja,

BAB 1 : PENDAHULUAN. kemungkinan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Gizi lebih yang terjadi pada remaja, BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi lebih merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal. (1) Gizi lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi memberikan dampak positif dan negatif terhadap gaya hidup dan pola konsumsi makanan pada masyarakat di Indonesia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot skelet yang dapat meningkatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik dapat dikategorikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah,

Lebih terperinci

SKIRIPSI POLA KONSUMSI BERDASARKAN KEJADIAN OBESITAS PADA PENDUDUK USIA DEWASA (19 50 TAHUN) DI PULAU SULAWESI BERDASARKAN DATA RISKESDAS 2010

SKIRIPSI POLA KONSUMSI BERDASARKAN KEJADIAN OBESITAS PADA PENDUDUK USIA DEWASA (19 50 TAHUN) DI PULAU SULAWESI BERDASARKAN DATA RISKESDAS 2010 SKIRIPSI POLA KONSUMSI BERDASARKAN KEJADIAN OBESITAS PADA PENDUDUK USIA DEWASA (19 50 TAHUN) DI PULAU SULAWESI BERDASARKAN DATA RISKESDAS 2010 Diajukan untuk melengkapi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perlu disiapkan dengan baik kualitasnya (Depkes RI, 2001 dalam Yudesti &

BAB I PENDAHULUAN. perlu disiapkan dengan baik kualitasnya (Depkes RI, 2001 dalam Yudesti & BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelompok anak sekolah merupakan salah satu segmen penting di masyarakat dalam upaya peningkatan pemahaman dan kesadaran gizi sejak dini. Anak sekolah merupakan sasaran

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gizi lebih adalah masalah gizi di negara maju, yang juga mulai terlihat

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gizi lebih adalah masalah gizi di negara maju, yang juga mulai terlihat BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi lebih adalah masalah gizi di negara maju, yang juga mulai terlihat dinegara-negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai dampak keberhasilan di bidang ekonomi

Lebih terperinci

Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan.

Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan. Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut dibutuhkan untuk

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh 19 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan metode survey dengan desain cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Bogor. Penentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengubah pola diet di negara maju dan berkembang (The State of Food and

BAB I PENDAHULUAN. mengubah pola diet di negara maju dan berkembang (The State of Food and 1 BAB I 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Pertumbuhan pendapatan, perubahan harga relatif dan urbanisasi telah mengubah pola diet di negara maju dan berkembang (The State of Food and Agriculture, 2007). Di

Lebih terperinci

Program Studi : Ilmu Gizi / Ilmu Kesehatan Masyarakat (Lingkari salah satu) Umur Sampel : tahun

Program Studi : Ilmu Gizi / Ilmu Kesehatan Masyarakat (Lingkari salah satu) Umur Sampel : tahun 70 KUESIONER PENGUMPULAN DATA PERBEDAAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN ASUPAN SARAPAN ANTARA MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU GIZI DENGAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT DI UNIVERSITAS ESA UNGGUL KUESIONER DATA

Lebih terperinci

Bagaimana Memberikan Makan Bayi Setelah Usia 6 Bulan

Bagaimana Memberikan Makan Bayi Setelah Usia 6 Bulan Berikan Makan Lebih Banyak Selagi Bayi Tumbuh HalHal Yang Perlu Diingat Mulai beri makan di usia Usia antara 6 bulan sampai 2 tahun, seorang anak perlu terus disusui. Bila Anda tidak menyusui, beri makan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional study, yaitu data dikumpulkan pada satu waktu yang tidak berkelanjutan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

Serealia, umbi, dan hasil olahannya Kacang-kacangan, bijibijian,

Serealia, umbi, dan hasil olahannya Kacang-kacangan, bijibijian, 4 generasi, kromosom akan melalui proses evaluasi dengan menggunakan alat ukur yang disebut dengan fungsi fitness. Nilai fitness dari suatu kromosom akan menunjukkan kualitas kromosom dalam populasi tersebut.

Lebih terperinci

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT Nur Indrawaty Liputo Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Disampaikan pada Seminar Apresiasi Menu Beragam Bergizi Berimbang Badan Bimbingan

Lebih terperinci

GIZI DAUR HIDUP: Gizi Orang Dewasa

GIZI DAUR HIDUP: Gizi Orang Dewasa GIZI DAUR HIDUP: Gizi Orang Dewasa By Suyatno,, Ir., MKes. Contact: E-mail: suyatnofkmundip@gmail.com Blog: suyatno.blog.undip.ac.id Hp/Telp Telp: : 08122815730 / 024-70251915 Dewasa: Karakteristik Usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. indeks pembangunan manusia (Badan Pusat Statistik, 2013). Walaupun Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. indeks pembangunan manusia (Badan Pusat Statistik, 2013). Walaupun Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia yang memiliki penduduk 230 juta dengan beraneka ragam budaya, sosio-ekonomi dan letak geografis menduduki peringkat 107 dari 177 negara untuk indeks pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan

I. PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting, mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang

Lebih terperinci

GIZI SEIMBANG BAGI ANAK REMAJA. CICA YULIA, S.Pd, M.Si

GIZI SEIMBANG BAGI ANAK REMAJA. CICA YULIA, S.Pd, M.Si GIZI SEIMBANG BAGI ANAK REMAJA CICA YULIA, S.Pd, M.Si Remaja merupakan kelompok manusia yang berada diantara usia kanak-kanak dan dewasa (Jones, 1997). Permulaan masa remaja dimulai saat anak secara seksual

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional analitik, yaitu penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel

Lebih terperinci

Diet untuk Orang Dewasa

Diet untuk Orang Dewasa Diet untuk Orang Dewasa Karakteristik Dewasa: Usia reproduksi Usia produksi produktivitas kerja Aktivitas fisik menurun dibanding remaja, dikelompokkan: Ringan Sedang Berat Perubahan pola makan: Penyesuaian

Lebih terperinci

Sosialisasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia 2013: apa yang baru?

Sosialisasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia 2013: apa yang baru? Sosialisasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia 2013: apa yang baru? Djoko Kartono Pusat Teknol. Terapan Kes.& Epid. Klinik Balitbangkes Latar belakang AKG pertama 1968 dlm Workshop on Food, di review

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balita merupakan anak kurang dari lima tahun sehingga bayi usia anak dibawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini. Namun, karena faal (kerja alat tubuh semestinya)

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENGAWASAN TAKARAN SAJI PANGAN OLAHAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENGAWASAN TAKARAN SAJI PANGAN OLAHAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENGAWASAN TAKARAN SAJI PANGAN OLAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : a.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL i. HALAMAN PENGESAHAN.. ii. KATA PENGANTAR. iii. HALAMAN PERSYATAAN PUBLIKASI.. iv. ABSTRAK v. DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL i. HALAMAN PENGESAHAN.. ii. KATA PENGANTAR. iii. HALAMAN PERSYATAAN PUBLIKASI.. iv. ABSTRAK v. DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN.. ii KATA PENGANTAR. iii HALAMAN PERSYATAAN PUBLIKASI.. iv ABSTRAK v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL.... xii DAFTAR GRAFIK... xvi DAFTAR LAMPIRAN...... xvii

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia masih

BAB I PENDAHULUAN. Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia masih BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia masih tinggi. Penyakit tidak menular tersebut antara lain, penyakit jantung koroner, penyakit stroke, hipertensi,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study yaitu seluruh variabel diamati pada saat yang bersamaan ketika penelitian berlangsung. Penelitian

Lebih terperinci

Ikan, merupakan jenis makanan sehat yang rendah lemak jenuh, tinggi. protein, dan merupakan sumber penting asam lemak omega 3.

Ikan, merupakan jenis makanan sehat yang rendah lemak jenuh, tinggi. protein, dan merupakan sumber penting asam lemak omega 3. BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan, merupakan jenis makanan sehat yang rendah lemak jenuh, tinggi protein, dan merupakan sumber penting asam lemak omega 3. Ikan baik untuk tambahan diet karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tulang ditentukan oleh tingkat kepadatannya. Penurunan massa tulang akan terus

BAB I PENDAHULUAN. tulang ditentukan oleh tingkat kepadatannya. Penurunan massa tulang akan terus BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tulang yang sehat adalah tulang yang kuat dan tidak mudah patah. Kekuatan tulang ditentukan oleh tingkat kepadatannya. Penurunan massa tulang akan terus terjadi seiring

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEBUTUHAN PANGAN PADA REPELITA VI DI TIGA PROPINSI DI INDONESIA (Penerapan Pedoman Pola Pangan Harapan)

PERENCANAAN KEBUTUHAN PANGAN PADA REPELITA VI DI TIGA PROPINSI DI INDONESIA (Penerapan Pedoman Pola Pangan Harapan) FAE. Vol. 13, No. 1, 1995: 22 29 PERENCANAAN KEBUTUHAN PANGAN PADA REPELITA VI DI TIGA PROPINSI DI INDONESIA (Penerapan Pedoman Pola Pangan Harapan) Oleh.. 2 Mewa Arran' 1, Hidayat Syarief dan Clara M.

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2008 KONSORSIUM PENELITIAN: KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI PADA BERBAGAI AGROEKOSISTEM

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2008 KONSORSIUM PENELITIAN: KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI PADA BERBAGAI AGROEKOSISTEM LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2008 KONSORSIUM PENELITIAN: KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI PADA BERBAGAI AGROEKOSISTEM KARAKTERISTIK DAN ARAH PERUBAHAN KONSUMSI DAN PENGELUARAN RUMAH TANGGA Oleh : Harianto

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan-bahan lainnya yang

BAB II LANDASAN TEORI. bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan-bahan lainnya yang 29 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Diversifikasi Pangan 2.1.1. Pengertian Pangan Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan gizinya serta aktif dalam olahraga (Almatsier, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan gizinya serta aktif dalam olahraga (Almatsier, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah mereka yang berusia 10-18 tahun. Usia ini merupakan periode rentan gizi karena berbagai sebab, yaitu remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Pra-Sekolah Anak pra-sekolah / anak TK adalah golongan umur yang mudah terpengaruh penyakit. Pertumbuhan dan perkembangan anak pra-sekolah dipengaruhi keturunan dan faktor

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2007

LAPORAN HASIL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2007 LAPORAN HASIL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2007 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN RI TAHUN 2009 i KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi menu gizi seimbang. Sayur dan buah merupakan makanan

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi menu gizi seimbang. Sayur dan buah merupakan makanan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mengkonsumsi sayur dan buah merupakan salah satu syarat dalam memenuhi menu gizi seimbang. Sayur dan buah merupakan makanan penting yang harus selalu dikonsumsi setiap

Lebih terperinci

Penyusunan dan Perencanaan Menu Berdasarkan Gizi Seimbang

Penyusunan dan Perencanaan Menu Berdasarkan Gizi Seimbang Penyusunan dan Perencanaan Menu Berdasarkan Gizi Seimbang By. Jaya Mahar Maligan Laboratorium Nutrisi Pangan dan Hasil Pertanian PS Ilmu dan Teknologi Pangan Jurusan THP FTP UB Menu France : daftar yang

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR PENGUJIAN BAHAN PANGAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR PENGUJIAN BAHAN PANGAN No. BAK/TBB/BOG311 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2010 Hal 1 dari 9 BAB III ACUAN LABEL GIZI Jika kita membeli produk makanan atau minuman di supermarket, seringkali Informasi Nilai Gizi yang tercetak pada kemasan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PERETENSI WARNA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT

Lebih terperinci

Food Coping Strategy : Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Status Gizi Balita

Food Coping Strategy : Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Status Gizi Balita 16 KERANGKA PEMIKIRAN Karakteristik sebuah rumah tangga akan mempengaruhi strategi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Karakteristik rumah tangga itu antara lain besar rumah tangga, usia kepala rumah tangga

Lebih terperinci

KONSUMSI DAN KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN RUMAHTANGGA PERDESAAN DI INDONESIA: Analisis Data SUSENAS 1999, 2002, dan 2005 oleh Ening Ariningsih

KONSUMSI DAN KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN RUMAHTANGGA PERDESAAN DI INDONESIA: Analisis Data SUSENAS 1999, 2002, dan 2005 oleh Ening Ariningsih Seminar Nasional DINAMIKA PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PERDESAAN: Tantangan dan Peluang bagi Peningkatan Kesejahteraan Petani Bogor, 19 Nopember 2008 KONSUMSI DAN KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN RUMAHTANGGA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insidens dan prevalensi PTM (Penyakit Tidak Menular) diperkirakan terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan tantangan utama masalah kesehatan

Lebih terperinci

KETAHANAN PANGAN DAN STATUS GIZI KELUARGA PEROKOK DI KECAMATAN BERASTAGI KABUPATEN KARO

KETAHANAN PANGAN DAN STATUS GIZI KELUARGA PEROKOK DI KECAMATAN BERASTAGI KABUPATEN KARO KETAHANAN ANGAN DAN STATUS GIZI KELUARGA EROKOK DI KECAMATAN BERASTAGI KABUATEN KARO Etti Sudaryati, sudaryatiety@yahoo.co.id Juanita, joean_ita@yahoo.com Nurmaini, nurmainik@yahoo.com Ilmu Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

Ukuran rumah tangga dalam gram: 1 sdm gula pasir = 8 gram 1 sdm tepung susu = 5 gram 1 sdm tepung beras, tepung sagu. = 6 gram

Ukuran rumah tangga dalam gram: 1 sdm gula pasir = 8 gram 1 sdm tepung susu = 5 gram 1 sdm tepung beras, tepung sagu. = 6 gram Dibawah ini merupakan data nilai satuan ukuran rumah tangga (URT) yang dipakai untuk menentukan besaran bahan makanan yang biasa digunakan sehari- hari dalam rumah tangga. (Sumber: Puslitbang Gizi Depkes

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.

1 I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian. 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

Gambar 1. Kerangka pemikiran tingkat kecukupan energi zat gizi anak usia sekolah Keterangan : = Variabel yang diteliti = Hubungan yang diteliti

Gambar 1. Kerangka pemikiran tingkat kecukupan energi zat gizi anak usia sekolah Keterangan : = Variabel yang diteliti = Hubungan yang diteliti KERANGKA PEMIKIRAN Usia sekolah adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang manusia dewasa nantinya. Kebutuhan gizi pada masa anak-anak harus dipenuhi agar proses pertumbuhan dan perkembangan

Lebih terperinci

KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN

KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat

Lebih terperinci

PERBEDAAN POLA PANGAN HARAPAN DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN SUKOHARJO (Studi di Desa Banmati dan Kelurahan Jetis)

PERBEDAAN POLA PANGAN HARAPAN DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN SUKOHARJO (Studi di Desa Banmati dan Kelurahan Jetis) PERBEDAAN POLA PANGAN HARAPAN DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN SUKOHARJO (Studi di Desa Banmati dan Kelurahan Jetis) PENELITIAN Disusun Dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menilai proses tumbuh kembang pasca kelahiran ditinjau dari segi

BAB I PENDAHULUAN. dalam menilai proses tumbuh kembang pasca kelahiran ditinjau dari segi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berat badan pada saat lahir adalah indikator yang penting dan reliabel dalam menilai proses tumbuh kembang pasca kelahiran ditinjau dari segi pertumbuhan fisik dan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan kecerdasan anak. Pembentukan kecerdasan pada masa usia

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan kecerdasan anak. Pembentukan kecerdasan pada masa usia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Status gizi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang. Status gizi berhubungan dengan kecerdasan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yang bertujuan mempelajari hubungan pengetahuan gizi ibu dan kebiasaan jajan siswa serta kaitannya dengan status

Lebih terperinci

Pokok Bahasan. Ruang Lingkup. Gizi Bagi Pekerja. Kebutuhan Gizi Pekerja. ASI di Tempat Kerja 31/03/2014 2

Pokok Bahasan. Ruang Lingkup. Gizi Bagi Pekerja. Kebutuhan Gizi Pekerja. ASI di Tempat Kerja 31/03/2014 2 Oleh : Dr. Azwar Djauhari MSc Disampaikan pada : Kuliah Blok 22 Kesehatan Kerja Tahun Ajaran 2013 / 2014 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Pendidikan Dokter UNIVERSITAS JAMBI 31/03/2014

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian mencakup bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat. 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Lokasi penelitian

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Tabel 1 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian. Tahun Publikasi BPS Kabupaten Lampung Barat

METODE PENELITIAN. Tabel 1 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian. Tahun Publikasi BPS Kabupaten Lampung Barat METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Desain penelitian ini adalah retrospektif. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan yaitu (1) Kabupaten Lampung Barat akan melakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Indonesia

LAMPIRAN. Universitas Indonesia 90 LAMPIRAN 91 Lampiran 1: Prosedur Tes Bangku 3 Menit YMCA METODE TES KEBUGARAN: TES BANGKU 3 MENIT YMCA/ YMCA 3-MINUTE STEP TEST (Nieman, 2007) Tes bangku 3 menit YMCA dilakukan pada responden yang telah

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENYUSUNAN MENU SEHAT SEIMBANG BAGI GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DEVI NAWANGSASI. Abstrak

PENYUSUNAN MENU SEHAT SEIMBANG BAGI GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DEVI NAWANGSASI. Abstrak PENYUSUNAN MENU SEHAT SEIMBANG BAGI GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DEVI NAWANGSASI Abstrak Pemerintah sangat menyadari perlunya sumber daya manusia yang berkualitas untuk membangun bangsa. Kualitas sumber

Lebih terperinci

DAMPAK PROGRAM KRPL (KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI) TERHADAP POLA PANGAN HARAPAN (PPH) ABSTRAK

DAMPAK PROGRAM KRPL (KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI) TERHADAP POLA PANGAN HARAPAN (PPH) ABSTRAK DAMPAK PROGRAM KRPL (KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI) TERHADAP POLA PANGAN HARAPAN (PPH) Muh. Aniar Hari Swasono 1 )Nur Cholilah 2 ) Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan Email : hariswasono@gmail.com

Lebih terperinci

ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN

ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN Pelelangan Sederhana Pascakualifikasi Pengadaan Bahan Makanan Dinsosnakertrans Kab. Nganjuk Semula : BAB IV. LEMBAR DATA PEMILIHAN LEMBAR DATA PEMILIHAN A. LINGKUP PEKERJAAN

Lebih terperinci

Berikut adalah beberapa istilah dan definisi yang digunakan dalam Pedoman ini.

Berikut adalah beberapa istilah dan definisi yang digunakan dalam Pedoman ini. Berikut adalah beberapa istilah dan definisi yang digunakan dalam Pedoman ini. 2.1 Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua negara tak terkecuali Indonesia. Penyakit ini ditandai oleh

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua negara tak terkecuali Indonesia. Penyakit ini ditandai oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis atau diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering ditemui di hampir semua

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI TOHO KABUPATEN PONTIANAK

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI TOHO KABUPATEN PONTIANAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI TOHO KABUPATEN PONTIANAK NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi Orang Dewasa Status gizi pada orang dewasa dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kebiasaanya dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari. Kebiasaan makan

Lebih terperinci

BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BTP PENGERAS. Fungsi lain : Pengatur keasaman, pengemulsi, pengental, penstabil

BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BTP PENGERAS. Fungsi lain : Pengatur keasaman, pengemulsi, pengental, penstabil 2013, 548 8 LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PENGERAS BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN

Lebih terperinci

SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BADAN POM BIDANG PANGAN 2011

SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BADAN POM BIDANG PANGAN 2011 SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BADAN POM BIDANG PANGAN 2011 DIREKTUR STANDARDISASI PRODUK PANGAN BADAN POM RI 1 Maret 2012 1 LIST PERATURAN 1. Peraturan Kepala Badan POM No.HK.03.1.23.11.11.09605 Tahun 2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak remaja yang dimulai pada usia 12 tahun yaitu pada jenjang pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. anak remaja yang dimulai pada usia 12 tahun yaitu pada jenjang pendidikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan input utama pembangunan bangsa Indonesia untuk dapat bersaing atau berkompetisi di era globalisasi dengan bangsa lain. Upaya peningkatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatnya kesadaran,

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatnya kesadaran, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan Indonesia diselenggarakan dalam upaya mencapai visi Indonesia Sehat 2010. Tujuan pembangunan kesehatan 2005 2009 diarahkan untuk mencapai tujuan

Lebih terperinci

Edisi 2 ROADMAP DEPTAN.indb 1 2/15/2013 7:35:34 PM

Edisi 2 ROADMAP DEPTAN.indb 1 2/15/2013 7:35:34 PM Edisi 2 ROADMAP DEPTAN.indb 1 2/15/2013 7:35:34 PM Undang-Undang RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara

Lebih terperinci

Bab I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bab I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bab I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pola makan vegetarian telah menjadi pola makan yang mulai banyak menjadi pilihan masyarakat saat ini. Vegetarian adalah orang yang hidup dari mengkonsumsi produk yang

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 4 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR No. 03/03/53/Th. XIV, 1 Maret 2011 Total Nilai Ekspor Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 sebesar 35,937 juta US$, dengan volume sebesar 151,994 ribu ton. Angka sementara

Lebih terperinci

EDUKASI KESEHATAN KEPADA MASYARAKAT Apakah bermanfaat? Apa peran kita masing-masing?

EDUKASI KESEHATAN KEPADA MASYARAKAT Apakah bermanfaat? Apa peran kita masing-masing? EDUKASI KESEHATAN KEPADA MASYARAKAT Apakah bermanfaat? Apa peran kita masing-masing? Dr. dr. Herqutanto, MPH MARS Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI BERAPA BANYAK DARI KITA YANG MENGECEK KOMPOSISI

Lebih terperinci

ANGKET / KUESIONER PENELITIAN

ANGKET / KUESIONER PENELITIAN ANGKET / KUESIONER PENELITIAN Kepada yth. Ibu-ibu Orang tua Balita Di Dusun Mandungan Sehubungan dengan penulisan skripsi yang meneliti tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Balita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat

Lebih terperinci