Kebermaknaan Evaluasi Program Pendidikan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kebermaknaan Evaluasi Program Pendidikan"

Transkripsi

1 Opini Kebermaknaan Evaluasi Program Pendidikan Marni Serepinah SDK 4 BPK PENABUR Jakarta Abstrak etiap program, khususnya dalam pendidikan, dikatakan lengkap apabila disertai dengan evaluasi sebagai kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari program itu. Evaluasi program S perlu dilakukan secara objektif dan mendasar sehingga bermakna dan merupakan bentuk pertanggungjawaban. Akan tetapi, dalam kenyataannya terdapat program pendidikan yang mengalami perubahan, dihentikan, atau dikembangkan tanpa melalui evaluasi formatif atau sumatif sebagai dasar pengambilan keputusan. Tulisan ini mengkaji kebermaknaan evaluasi program pendidikan serta berbagai aspek penting yang perlu diperhatikan. Disimpulkan, betapa pentingnya makna hasil evaluasi program untuk menentukan kelanjutan suatu program. Setelah melalui pembahasan, tulisan ini memberikan saran agar dalam melakukan evaluasi program hendaknya memenuhi prinsip dan kriteria evaluasi, memilih model evaluasi yang sesuai, dan melakukan evaluasi itu secara tepat. Kata-kata kunci: Kebermaknaan, prinsip evaluasi, evaluasi program, pengambilan keputusan. Significance of Education Program Evaluation Abstract Any program particularly in education can be regarded complete if an objective and fundamental evaluation has been conducted on its implementation. The evaluation should also have significance for the attainment of the program objectives and accountability. However, in fact a number of education programs are changed, discontinued, or developed without any formative or summative evaluation, which attract criticism from the program environment. This article discusses some problems related to the program evaluation in education. It concludes the importance of the evaluation program to provide the decision maker to make accurate decisions particularly for education program. In conducting an evaluation, the article suggests to refer to the evaluation principles, meet the predetermined evaluation criteria, choose the appropriate evaluation model based on the relevant approach, and conduct the evaluation properly. Key words: Significance, program evaluation, evaluation principles, decision making. 78 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni 2013

2 Pendahuluan Salah satu berita Online detik.com, pada tanggal 23 Februari 2013, menyajikan informasi seputar akan diberlakukannya Kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan di Indonesia, yang akan berdampak pada keberlangsungan Ujian Nasional (UN). Dengan merujuk pada ucapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berita itu mengemukakan bahwa hasil evaluasi yang masih dilakukan akan menentukan UN dihapuskan atau diubah. Merujuk pada kelanjutan UN itu, terlihat betapa pentingnya evaluasi dalam pengambilan keputusan oleh Pemerintah. Peristiwa lain yang tak kalah mengejutkan berbagai pihak, adalah keputusan Mahkamah Konstitusi pada awal Januari 2013 lalu, mengenai penghapusan sistem Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Meskipun penghapusan tersebut dilakukan masih sebatas penghapusan nama dan kegiatan proses belajar-mengajar dengan sistem pembelajaran RSBI tetap dilaksanakan sampai akhir semester Kedua contoh yang bersekala nasional itu terjadi, tentunya tidak serta merta hanya keputusan tanpa pertimbangan yang matang tetapi di sinilah letak kebermaknaan suatu evaluasi program. Rekomendasi hasil evaluasi untuk pengambilan keputusan dihapusnya program tersebut karena tidak sesuai dengan konstitusi. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan lain adalah biaya yang mahal mengakibatkan diskriminasi pendidikan. Selain itu, pembedaan antara RSBI-SBI dan non-rsbi- SBI menimbulkan kastanisasi dalam bidang pendidikan. Di samping itu penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam tiap mata pelajaran di sekolah RSBI-SBI juga dianggap dapat mengikis jati diri bangsa dan melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan serta pelestarian bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Hal inilah yang tentunya menjadi dasar pengambilan keputusan penghapusan program RSBI. Berbagai topik/program pendidikan, seperti contoh program di atas, membutuhkan evaluasi agar Pemerintah pun tidak gegabah dalam pengambilan keputusan. Hasil evaluasi akan menentukan keberlangsungan suatu program. Kebutuhan akan pentingnya evaluasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengambilan keputusan akhir. Selain contoh di atas,beberapa contoh yang dapat dijadikan objek evaluasi berdasarkan identifikasi program: Program Akselerasi, Program Bilingual Class, Program Briliant Class, Kegiatan Ekskur, Masa Orientasi Siswa (MOS), Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kristiani ( PKBN2K), Olimpiade Sains Nasional (OSN), Program Studi Banding Antar Sekolah di Dalam dan Luar Negeri, Penerimaan Peserta Didik Baru, Ujian Nasional, Native Speaker/Ekspatriat, Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan TK/PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini), Program Full Day School, Pendidikan Inklusif, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Pendidikan Sistem Ganda, Program Pendidikan Dan Pelatihan Guru (P3G), Boarding School, Pend. Lima Hari, Keaksaraan, Kesetaraan, Home Schooling, Pendidikan Gratis, Subsidi Pendidikan, Subsidi Silang, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival & Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Bimbingan Konseling, Kuliah Kerja Nyata (KKN), PPL ( Program Pengenalan Lapangan), dan lain-lain. Evaluasi sangat dibutuhkan terutama dalam memaparkan secara sistematis dan detail, untuk mengetahui sampai sejauh mana suatu program pendidikan itu telah berjalan. Berikut ada empat faktor pendorong atau kecenderungan yang menyebabkan evaluasi dibutuhkan. 1. Akuntabilitas, merujuk pada justifikasi untuk pencapaian hasil yang realistis suatu program. 2. Pelaporan perihal dana. Jika suatu program akan dipertanggungjawabkan, tentu dibutuhkan rincian secara detail penggunaan dananya secara transparan. 3. Kegiatan untuk mengetahui sampai sejauh mana performa dan hasil kerja yang sedang atau telah dilakukan baik dalam tahap proses, hasil, dan dampak. 4. Pengambilan keputusan suatu program pendidikan. Untuk memutuskan apakah program dapat terus dilaksanakan, direvisi dan dikembangkan, atau dihentikan. Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni

3 Alasan di atas menjadi penting dan mempunyai makna yang mendalam untuk digeneralisasikan bahwa setiap program perlu untuk dievaluasi. Namun sebelum kita memahami lebih lanjut esensi kebermaknaan suatu evaluasi, pemahaman tentang konsep evaluasi program dalam dunia pendidikan menjadi dasar utama dan penting untuk dipahami. Pertanyaan selanjutnya antara lain, mengapa evaluasi program pendidikan harus bermakna? Bagaimana agar keputusan hasil evaluasi tersebut bermakna? Bagaimana mengevaluasi suatu program secara tepat sasaran? Serta keputusan apa saja yang bisa didukung oleh hasil evaluasi? Sejumlah pertanyaan tersebut menjadi dasar pemikiran yang coba diangkat dalam tulisan ini, sehingga kebermaknaan evaluasi program pendidikan mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan lengkap, dengan tujuan mengkaji lebih detail tentang konsep evaluasi program dan kebermaknaan dari evaluasi program terutama dalam dunia pendidikan. pengertian program, secara umum dan khusus. Pengertian program secara umum adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan. Sedangkan pengertian secara khusus, adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dengan waktu dan pelaksanaannya biasanya membutuhkan waktu yang panjang. Program juga merupakan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Menurut Isaac dan Michael dalam Muzayanah (2011:17), sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi untuk melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Secara umum evaluasi merupakan proses mengumpulkan informasi mengenai suatu objek, memberi nilai suatu objek, dan membandingkannya dengan kriteria, standar, dan indikator, yang dapat digambarkan sebagai berikut. Objek Evaluasi : Program Dibanding kan Kriteria Standar Indikator Hasil Evaluasi program : Berisi informasi tentang objek dalam kaitannya dengan kriteria, standar, dan indikator Kebermaknaan: Pengambilan keputusan mengenai objek evaluasi Gambar : Objek, kriteria, hasil dan kebermaknaan evaluasi Tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pendidik dan tenaga kependidikan serta berbagai pihak yang terkait dalam pengambilan keputusan di dunia pendidikan untuk berbagai keperluan, terutama dalam hal mengevaluasi suatu program pendidikan. Kajian Teoritis Konsep Evaluasi Program Sebelum membahas tentang evaluasi program lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian dasar tentang program. Arikunto dan Safruddin (2010: 3-4) menyebutkan dua Dengan pemahaman di atas, maka evaluasi program adalah suatu proses dalam menetapkan secara sistematis tentang suatu nilai, tujuan, efektivitas, atau kecocokan sesuatu, sesuai dengan kriteria dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses penetapan keputusan itu didasarkan atas perbandingan secara hati-hati terhadap data yang diobservasi dengan menggunakan standar tertentu yang telah distandarkan (dibakukan) seperti tergambar di atas. Standar yang digunakan merupakan standar yang memenuhi kriteria bahwa hasil dari evaluasi tersebut memenuhi prinsip validitas, reliabilitas, kontinuitas, dan 80 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni 2013

4 komprehensif, sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan dengan benar dan bijak. Tujuan Evaluasi Program Pendidikan Tujuan evaluasi program pendidikan adalah untuk memperoleh informasi akurat dan objektif tentang suatu program, serta mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah menganalisis sampai sejauh mana keterlaksanaan kegiatan program. Hal ini didukung oleh Wirawan (2011: 22) bahwa tujuan evaluasi program pendidikan adalah sebagai berikut. 1. Bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan dari suatu program dengan langkah mengetahui keterlaksanaan kegiatan program, untuk memahami sejauh komponen dan sub komponen terlaksana atau belum terlaksanan dan apa penyebabnya. 2. Menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan kelanjutan, perbaikan, atau menghentikan sebuah program terutama dalam dunia pendidikan. 3. Menilai kualitas (merit) baik- buruknya atau tinggi - rendahnya kualitas program dan kinerja program dalam kaitannya dengan suatu tujuan atau standar tertentu. 4. Menentukan ukuran kinerja dan ketercapaian materi serta program pendidikan. 5. Penentuan akuntabilitas suatu program. 6. Menentukan dasar, arah, strategi, dan keefektivitasan program pendidikan, sehingga keputusan dan kebijakan yang diambil membawa efektivitas yang efisien. 7. Melakukan dan memenuhi kebutuhan akreditasi sekolah. 8. Mengevaluasi kurikulum yang sedang berlaku maupun yang telah usai diberlakukan. 9. Menjawab dan mempertanggung jawabkan pengeluaran dana (BOS) yang telah disalurkan ke sekolah- sekolah. 10. Melakukan penilaian terhadap hasil prestasi siswa. Prinsip Evaluasi Program Pendidikan Evaluasi program pendidikan, mempunyai beberapa prinsip utama yang dapat dijadikan panduan dalam melaksanakan evaluasi. Pertama, peneliti harus berfikir secara sistematis, yaitu memandang program pendidikan yang diteliti sebagai satu kesatuan, yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan satu dengan lainnya dalam menunjang kinerja dari objek yang dievaluasi. Kedua, menggunakan standar, kriteria, tolok ukur, dan uji validitas dalam mengkaji dan menganalisis data yang diperoleh untuk mengambil kesimpulan. Ketiga, berdasarkan hasil penelitian disusun sebuah rekomendasi secara rinci, akurat, dan dipertanggungjawabkan, sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat. Apabila prinsip dari evaluasi suatu program telah terpenuhi dan telah dilaksanakan, maka hasil evaluasi program pendidikan tersebut, dapat dijadikan dasar dan rujukan utama setiap pengambilan keputusan, sehingga berbagai program dikatakan telah mencapai tujuan sesuai dengan yang ditetapkan. Akan tetapi, apabila evaluasi program yang dilakukan tidak memenuhi prinsip di atas, maka berbagai program dapat dikatakan tidak dievaluasi sesuai standar dan kriteria. Dengan demikian suatu program dapat dikatakan tidak terlaksana dengan baik karena tidak dievaluasi secara sistematis. Isu-isu tentang gagalnya suatu mega proyek, penutupan suatu sekolah, dan maraknya korupsi merupakan salah satu dari rentetan panjang, betapa pentingnya suatu program dikontrol dan dievaluasi. Fokus Evaluasi Program Pendidikan Memfokuskan evaluasi suatu program pendidikan, berarti menentukan secara spesifik, apa dan bagaimana evaluasi akan dilaksanakan, memfokuskannya hanya pada beberapa variabel penting yang mencakup (1) objek yang dievaluasi, faktor yang menjadi penentu suatu objek adalah evaluasi menjawab permasalahan apa, mengapa program diadakan, apa tujuannya, dan siapa yang dilayani, (2) mengidentifikasi dan mempertimbangkan tujuan evaluasi,kriteria yang ditetapkan, jelas, berguna, manusiawi, kompatible, dan berharga, (3) mengidentifikasi audiens, agar diketahui siapa yang akan dipengaruhi dan terlibat dalam evaluasi, serta siapa yang akan menggunakan hasil evaluasi itu, (4) mengidentifikasi pertanyaan/masalah evaluasi, dengan menentukan pertanyaan yang Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni

5 krusial/penting, dan (5) menentukan apakah evaluasi berpotensi untuk sukses, dalam artian benar-benar memiliki kebermaknaan yang tinggi, karena tidak semua evaluasi berpotensi untuk sukses. Mungkin saja hal itu terjadi karena adanya kepentingan berbagai pihak sehingga rekomendasi yang diberikan tidak lagi kompatible dan memiliki kebermaknaan yang tinggi. Fokus evaluasi tersebut tentunya menjadi tahapan utama dalam mengevaluasi program. Langkah Evaluasi Program Pendidikan Evaluasi diawali dengan mengaitkan program evaluasi itu sendiri dan pelaksana( orang yang dievaluasi). Rangkaian dan urutan logis langkah evaluasi menurut Muzayanah (2011:17), adalah sebagai berikut. 1. Memilih kriteria kelayakan yang tepat, agar memperoleh pertimbangan yang baik dalam tahapan evaluasi. 2. Menetapkan standar kinerja pada kriteria yang ditetapkan. 3. Mengumpulkan semua data kinerja dari subjek yang dievaluasi atas dasar kriteria yang berhubungan dengan standarnya. 4. Mengintegrasikan hasil ke dalam pertimbangan nilai akhir ( final value judgement) Langkah di atas, menjadi tahapan kerja yang akhirnya bermuara pada hasil evaluasi berupa rekomendasi dan pengambilan keputusan. Fungsi dan Kebermaknaan Evaluasi Program Pendidikan Evaluasi dilaksanakan untuk melayani upaya pengambilan keputusan. Pengambil keputusan tidak saja perencana dan administrator proyek, namun mencakup kelompok lainnya yang terlibat dalam lingkup kegiatan program. Evaluasi program, utamanya program pendidikan, dilakukan dengan objek lembaga pendidikan secara keseluruhan. Hasil keputusan evaluasi dari suatu program pendidikan menurut Arikunto dan Safruddin (2010: 22) antara lain sebagai berikut. 1. Apabila program dipandang tidak bermanfaat dan tidak dapat terlaksana sebagaimana tujuan awal diadakannya program, maka keputusan untuk menghentikan program merupakan keputusan yang final yang dapat dilakukan. 2. Apabila pendekatan, teori, atau terdapat beberapa bagian yang kurang sesuai dan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka keputusan untuk merevisi program merupakan keputusan akhir. 3. Apabila hasil evaluasi menunjukkan keterlaksanaan program berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat, maka keputusan untuk melanjutkan program merupakan keputusan akhir. 4. Apabila program yang telah dilaksanakan dan berhasil dengan baik, dan dapat diterapkan lagi pada waktu dan tempat yang berbeda, maka mempublikasikan lebih lanjut merupakan keputusan akhir. Fungsi dan kebermaknaan evaluasi, dapat kita tentukan berdasarkan audiens hasil evaluasi tersebut, audiens yang menggunakan hasil evaluasi menurut Tayibnapis (2008:10) terdiri dari: 1. Pihak-pihak yang memiliki peluang terbesar untuk dapat memanfaatkan hasil modifikasi program atau lingkungan tempat dilaksanakannya program tersebut. 2. Pihak-pihak yang terlibat dan sangat membutuhkan hasil evaluasi dengan tujuan untuk mengkonfirmasi respon atas keterlaksanaan program tersebut. Sponsor, perencana, dan administrator program seringkali merupakan audiensi yang terpenting dari hasil kajian evaluasi. Pihak lainnya yang memiliki perhatian besar pada program, juga dapat mengorientasikan sendiri keputusannya; Apakah terus berpartisipasi dalam kegiatan program atau hanya mengambil dan menerapkan sebagian program untuk kepentingan mereka sendiri. Dari uraian di atas, hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk pengambilan keputusan (decision making). Hasil evaluasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan memenuhi kriteria interpretasi yaitu: 1. Merumuskan dan menjelaskan interpretasi konteksnya, dan memberikan kepastian atau tidak berdasarkan ketercapaian tujuan. 2. Menjamin norma dan referensi yang tepat untuk pengambilan keputusan. 3. Menyatakan dan memberikan hasil yang rasional berdasarkan data analisis. 82 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni 2013

6 4. Menggunakan rangkuman dan teknik interpretasi yang holistik dan tepat. 5. Memberikan penjelasan alternatif dan intepretasi tertentu, pada bagian-bagian yang diperlukan. 6. Menyatakan batasan dan memberikan keterangan yang jelas hasil evaluasi. Model, Pendekatan, dan Komponen Standar Evaluasi Program Pendidikan Untuk menjamin kebermaknaannya sebuah evaluasi program, harus tepat model, pendekatan, serta memenuhi komponen standar. Berbagai Model Evaluasi yang banyak digunakan sebagai strategi dan dasar yang dipakai dalam pelaksanaan evaluasi program antara lain : 1. Model Evaluasi berorientasi pada ketercapaian tujuan program Model ini antara lain untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan dari suatu program terlaksana di dalam proses pelaksanaan program. Tujuan yang akan dicapai, pengaruh, dan akhir dari yang akan dicapai. Contoh: Dalam Wirawan (2011:81) Model Evaluasi Goal Oriented, dalam program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan menciptakan sekolah gratis, jika BOS dievaluasi maka yang diukur adalah ketercapaian BOS untuk menciptakan sekolah gratis di seluruh Indonesia. 2. Model Evaluasi berorientasi pada keputusan Evaluasi pada model ini, mengutamakan deskripsi program yang berjalan dan pertimbangan utama yang mengacu pada standar yang diberlakukan. Contoh: Countence Evaluation Model dan Model Evaluasi Formatif dan Sumatif. Dalam Wirawan (2011:87), program pemberantasan buta huruf tahun 2009 direncanakan telah usai, namun program tersebut baru mencapai target 50%, sehingga termin berikutnya yang merupakan tahapan selanjutnya jadi terhambat. Keputusan untuk memperbaiki target menjadi keputusan utama untuk pelaksanaan termin berikutnya. 3. Model Evaluasi berorientasi pada aktivitas dan orang-orang yang menanganinya Model ini, menerapkan per bagian dari keseluruhan aktivitas yang telah berjalan. Contoh : Menurut Arikunto dan Safruddin (2010:87) antara lain; Model Evaluasi CIPP (Context,Input,Process,Product) CIRO (Context,Input,Reaction, Outcome), Client Center Evaluation, CSE-UCLA (Center for the Study of Evaluation-University of California in Los Angeles). 4. Model Evaluasi pada pengaruh dan dampak program Model ini mengutamakan Evaluasi tentang pengaruh dan akibat dari adanya program. Contoh : Menurut Tayibnapis (2008: 34) Goal Free Oriented, Model Adversary. 5. Model Evaluasi Sistem Analisis Model ini dikenal juga dengan management Evaluation program, mengevaluasi suatu bagian dari program dengan sedetail mungkin. Contoh: Dalam Wirawan (2011: 107) Evaluasi masukan (yaitu input ) saja yang diutamakan. Dewasa ini, dengan banyaknya penelitian dan penemuan berbagai model Evaluasi, maka muncul model- model lainnya yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi serta kebutuhan dari suatu program antara lain : 1. Model Evaluasi Kirkpatrick, dikembangkan oleh Kirkpatrick 2. Logic Model, dikembangkan oleh Ladewig, Responsive Illuminatif Penerangan, dikembangkan oleh Parlett dan Hamilton 4. MAUT (Multiatribut Utility Method), dikembangkan oleh Dyer, Fishburn, Steuer, Wallenius & Zionts, 1992). 5. ADDIE (Analysis, Design, Development, Implement, Evaluation), dikembangkan oleh Dick & Carey 6. AKIP ( Akuntabilitas, Kinerja Instansi Pemerintah) dan LAKIP, Instruksi Presiden No. 7 Tahun CIRO ( Model Evaluasi yang digunakan dalam pelatihan), Warr, Bird, and Rackham (1979) 8. Model Evaluasi Benchmarking dikembangkan dalam Watson, 1994 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni

7 9. Model EKOP (Evaluasi Kualitas dan Output Pembelajaran), dimodifikasi oleh Kirkpatrick 10. Theory-driven Evaluation Model, dikembangkan oleh Huey Tsyh Chen 11. Model Brinkerhoff, dikembangkan oleh Brinkerhoff 12. Model Evaluasi Semu, dikembangkan oleh Daniel L. Stufflebeam (1999) Selain pemilihan model evaluasi yang tepat, perlu ditentukan juga pendekatan yang tepat. Bentuk-bentuk pendekatan evaluasi yang biasa digunakan menurut pendapat Tayibnapis (2008: 22) antara lain: 1. Pendekatan Preordinate: Evaluator menetapkan kriteria sebelum terjun ke lapangan, pengembangan kriteria berdasarkan teori atau ukuran baku dan standar tertentu. 2. Pendekatan Fidelity: Evaluator menetapkan kriteria berdasarkan pengembangan dan analisis dari objek yang akan dievaluasi, mempelajari dengan detail objek secara menyeluruh. 3. Pendekatan Gabungan: Pendekatan ini merupakan gabungan dari cara Preodinate dan Fidelity. 4. Pendekatan Proses: Penekanannya pada saat kriteria, kebutuhan, dan data evaluasi dikembangkan pada saat dan selama evaluator berada di lapangan. Berbagai pendekatan dan model evaluasi, tentunya tidak begitu saja digunakan oleh evaluator dalam menilai suatu program, semuanya bermuara pada tujuan evaluasi yang ditetapkan, serta tidak terpaku pada satu model saja, dapat juga digabungkan menjadi beberapa model evaluasi. Menurut Tayibnapis (2008:22), Committee on Standard for Educational Evaluation mengembangkan standar yang digunakan dalam evaluasi program pendidikan Standar tersebut, menjadi acuan penting dalam mengevaluasi suatu program pendidikan. Standar diharapkan menjadi tolok ukur keberhasilan evaluasi suatu program. Standar yang ditetapkan Committee on Standard for Educational Evaluation 1 meliputi komponen sebagai berikut. 1. Utility Standard Berkenaan dengan kegunaan dan kebermanfaatan serta kepraktisan, sehingga evaluasi menjadi jelas, tepat waktu, dan menjadi lebih jelas. 2. Feasibility Standard Berkenaan dengan masalah biaya, bersifat realistik, bijaksana, diplomatis, prosedurnya praktis, dan keuangan dikelola dengan baik serta biaya yang dikeluarkan efisien. 3. Propriety Standard Berkenaan dengan etika, evaluasi bertanggung jawab secara legal dan etis, tidak melanggar hukum. 4. Accuracy Standar Berkenaan dengan standar kecermatan, ketelitian, dan ketepatan. Evaluasi terhadap standar ini menunjukkan apakah menghasilkan pengetahuan yang valid dan reliable, komprehensif serta logis tentang evaluasi dan objek yang sedang direview. Contoh Implementasi Evaluasi Program Pendidikan Berikut ini disajikan contoh implementasi suatu evaluasi workshop atau pelatihan yang bertujuan meningkatkan dan memperbarui kecakapan dan kinerja guru. Menurut pendapat Mutrofin (2010: 21), tahapan kerja evaluator dimulai dengan melakukan pertanyaan: 1. Mengapa melakukan Evaluasi? Pertanyaan ini, mengandung makna, bahwa evaluasi yang direncanakan dapat memberi informasi yang berguna kepada pemberi dana, penyelenggara, sponsor, instruktur, dan peserta. Hal di atas dipertanyakan sebagai landasan untuk pengambilan keputusan rasional yang terkait dengan pendanaan dan sponsorship. 2. Apakah manfaat Evaluasi itu? Mengevaluasi pelatihan, berarti mengumpulkan, mengorganisasi, menganalisis, dan melaporkan data mengenai sejumlah aspek program dan dampaknya bagi peserta. 3. Apa yang harus kita rencanakan dalam melaksanakan Evaluasi? Evaluasi yang efektif tidak terjadi dengan begitu saja, perencanaan program pelatihan yang cermat, dimulai dengan merencanakan secara matang apa yang ingin dicapai oleh program itu, dan kemampuan apa yang diharapkan dari para peserta 84 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni 2013

8 sebagai hasil dari kegiatan pelatihan yang diselengga-rakan. 4. Kapan kita akan melakukan Evaluasi? Banyak orang menganggap evaluasi sebagai upaya mengisi kuesioner di akhir workshop atau pelatihan. Hal ini tidak tepat. Sebaiknya evaluasi dilakukan pada waktu berikut. a. Selama program berlangsung ( evalusi formatif) Indikasi yang dapat dilakukan, staf evaluator menyiapkan kartu berisi pernyataan tentang tujuan pelatihan workshop, manakala peserta telah mencapai sasaran atau tujuan, maka coretlah tujuan yang telah tercapai pada kartu peserta, kemudian di tengah berlangsungnya program, berikan kuesioner untuk menilai tingkat efektivitas pengajaran, rencana operasional secara rinci, dan interaksi sosial dalam workshop/pelatihan. Evaluator dapat mengadakan perubahan pada program yang diperlukan, apabila kuesioner diberikan di tengah-tengah proses pelaksanaan workshop atau kursus. Terutama untuk program yang jangka waktunya panjang, hal ini dapat dilaksanakan dengan efektif. b. Pada akhir program atau pada akhir dari bagian khusus suatu program (evaluasi sumatif) Evaluasi dapat dilakukan di akhir pengajaran, untuk mengukur keseluruhan efektivitas program dan menilai seberapa baik workshop dalam memenuhi setiap tujuan program. c. Pada saat beberapa waktu, setelah lewat pelaksanaan program ( evaluasi tindak lanjut) Tahap evaluasi di sini dimaksudkan sebagai tindak lanjut, bertujuan untuk meningkatkan kegunaannya (Utility) di masa yang akan datang serta menunjukkan akuntabilitas lebih lanjut terhadap penyelenggara dan sponsor (pemberi dana). Setelah menjawab pertanyaan di atas, tahap selanjutnya evaluator menentukan hal-hal berikut. 1. Menentukan model atau pendekatan yang akan digunakan. 2. Menentukan keputusan kriteria apa yang akan dievaluasi. 3. Membuat rancangan Evaluasi/desain teknis Evaluasi. Setelah menentukan model, kriteria, dan rancangan evaluasi, maka evaluator melakukan: 1. Pengambilan sampel. 2. Mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh. 3. Menafsirkan informasi Evaluasi. 4. Membuat keputusan hasil Evaluasi. 5. Rekomendasi hasil Evaluasi. Setiap rekomendasi, hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut. 1. Kesimpulan dan rekomendasi harus mampu menjawab tujuan riset evaluasi seperti yang telah disepakati semula. 2. Gunakan skala prioritas rekomendasi yang paling baik, cukup baik, atau kurang baik, jika menggunakan beberapa alternatif yang dapat direkomendasikan. 3. Setiap rekomendasi harus operasional dan rekomendasi akan lebih baik, jka diikuti dengan model aplikasi yang dapat diterapkan. 4. Tidak merubah kesimpulan dan rekomendasi jika tidak didasarkan pada hasil riset yang dilakukan. Hal penting yang juga perlu diperhatikan dan diperhitungkan dalam implementasi evaluasi adalah keakuratan, keajegan, dan keobjektifitasan informasi tentang program pendidikan yang dievaluasi. Ini penting untuk menghasilkan keputusan akhir yang reliable dan valid. Simpulan Kesimpulan Keterlaksanaan suatu program pendidikan, tidak terlepas dari tahapan evaluasi. Evaluasi dilakukan, baik pada saat program tersebut sedang berjalan, maupun pada saat program telah selesai dilaksanakan. Pada tahap inilah hasil keputusan evaluasi menjadi bagian terpenting dan sangat bermakna untuk pengambilan keputusan suatu program pendidikan oleh pemangku kebijakan. Agar Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni

9 kebermaknaannya tinggi, maka evaluasi suatu program pendidikan harus memenuhi prinsip dan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan pemilihan model, pendekatan yang tepat, dan memenuhi komponen standar yang baku serta akurat, handal, dan relevan. Dengan demikian, informasi yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan dengan benar dan bijak, apakah program pendidikan itu perlu dilanjutkan, direvisi dan dikembangkan, atau dihentikan. Setiap keputusan yang diambil oleh para pengambil keputusan berdasarkan hasil evaluasi dari evaluator menjadi masukan, mitra, dan kajian yang bermakna bagi keterlanjutannya suatu program pendidikan. Saran Untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi suatu program, hendaknya selalu dilakukan evaluasi formatif dan sumatif program. Hasil evaluasi itu dijadikan informasi dalam pengambilan keputusan tentang tindakan lebih lanjut atas program itu. Oleh karena terdapat berbagai model evaluasi, pemilihan model evaluasi hendaknya didasarkan pada tujuan evaluasi dan bentuk program sehingga informasi yang diperoleh dari hasil evaluasi dapat dipergunakan secara tepat untuk pengambilan keputusa. Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi & Safruddin Cepi. (2010). Evaluasi program pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Detik Online (diakses 23 Februari 2013) Hadi, Samsul.(2011). Metode riset evaluasi. Yogyakarta: Lakbang Grafika Iskandar, Ariadi. (2011). Evaluasi program Madrasah Aliyah keterampilan di MAN Purwokerto. Tesis, tidak dipublikasikan Kompas Online. com (diakses 12 April 2013) Muzayanah.( 2011). Evaluasi program pendidikan. Jakarta: Pasca Sarjana UNJ Mutrofin. (2010). Evaluasi program teks pilihan untuk pemula. Jawa Timur: Laksbang Republika Online (diakses 12 April 2013) Roswati. Evaluasi program/proyek (Pengertian, fungsi, jenis, dan format usulan), Jurnal Pendidikan PENABUR, No.11, Desember 2008, hal.68 Sudjana, Djudju.(2008). Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya Subianti, Achmad. (2004). Proses evaluasi pendidikan menuju Indonesia yang adil-jujur bersih-sehat dan benar ( Indonesi Madani). Yayasan Bermula dari Kanan Tayibnapis, Farida Yusuf. (2008). Evaluasi program dan instrumen evaluasi untuk program pendidikan dan penelitian. Jakarta : Rineka Cipta Tempo Online (diakses 12 April 2013) The Joint Committee on Standards for Educational Evaluation. (1988). The personnel evaluation standards. California: Sage Publication India Pvt.Ltd Viva.News.Online viva.co.id/(diakses 12 April 2013) Wirawan. (2011). Evaluasi ( Teori, model, standar,aplikasi, dan profesi). Jakarta : Rajawali Pers 86 Jurnal Pendidikan Penabur - No.20/Tahun ke-12/juni 2013

A. Pengertian Evaluasi Program

A. Pengertian Evaluasi Program A. Pengertian Evaluasi Program Pemahaman mengenai pengertian evaluasi program dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Pengertian evaluasi menurut

Lebih terperinci

BEBERAPA MODEL EVALUASI PENDIDIKAN (Disarikan dari Seminar Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan) Oleh Sofyan Zaibaski

BEBERAPA MODEL EVALUASI PENDIDIKAN (Disarikan dari Seminar Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan) Oleh Sofyan Zaibaski BEBERAPA MODEL EVALUASI PENDIDIKAN (Disarikan dari Seminar Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan) Oleh Sofyan Zaibaski Dalam sebuah proses pembelajaran komponen yang turut menentukan keberhasilan sebuah proses

Lebih terperinci

RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROYEK PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN

RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROYEK PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROYEK PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN A. Latar Belakang Perpustakaan Nasional RI mempunyai tugas pokok mengembangkan, melaksanakan dan mendayagunakan semua jenis perpustakaan

Lebih terperinci

BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ

BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ SEAMEO SEAMOLEC Jakarta - INDONESIA 2012 Pendahuluan Dalam topik ini akan diuraikan evaluasi hasil belajar

Lebih terperinci

Kedudukan Evaluasi Program dan Hasil Belajar Oleh: Novrianti Yusuf,M.Pd

Kedudukan Evaluasi Program dan Hasil Belajar Oleh: Novrianti Yusuf,M.Pd Kedudukan Evaluasi Program dan Hasil Belajar Oleh: Novrianti Yusuf,M.Pd Acapkali dalam beberapa pertemuan dengan mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Evaluasi Program mempertanyakan mengapa mata

Lebih terperinci

1. Penetapan dan penyediaan informasi yang bermanfaat untuk menilai keputusan alternatif;

1. Penetapan dan penyediaan informasi yang bermanfaat untuk menilai keputusan alternatif; Pengertian Evaluasi Program Pemahaman mengenai pengertian evaluasi program dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Pengertian evaluasi menurut Stufflebeam

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pythagoras pada materi menggunakan rumus pythagoras dalam memecahkan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pythagoras pada materi menggunakan rumus pythagoras dalam memecahkan 40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan yaitu pengembangan penilaian kinerja (performance assessment) untuk menemukan rumus pythagoras pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dan kuantitatif.

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dan kuantitatif. 45 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif yaitu penelitian yang memungkinkan dilakukannya observasi,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

BAB II KAJIAN TEORETIS. 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Sesuai dengan hakikat pekerjaan bimbingan dan konseling yang berbeda dari pekerjaan pengajaran, maka sasaran pelayanan bimbingan

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM OLEH : DRS.ZAINAL ARIFIN, M.PD. NIP

EVALUASI PROGRAM OLEH : DRS.ZAINAL ARIFIN, M.PD. NIP EVALUASI PROGRAM OLEH : DRS.ZAINAL ARIFIN, M.PD. NIP.19610501.1986011003 JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA B A N D U N G 2010 DEFINISI

Lebih terperinci

BAB IV RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PROYEK

BAB IV RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PROYEK BAB IV RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PROYEK 4.1. Latar Belakang Studi Perpustakaan Nasional RI mempunyai tugas pokok mengembangkan, melaksanakan dan mendayagunakan semua jenis perpustakaan di instansi pemerintah

Lebih terperinci

BAB II TELAAH PUSTAKA

BAB II TELAAH PUSTAKA BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Definisi Evaluasi Terdapat beberapa definisi tentang evaluasi berdasarkan para ahli, Menurut Ralph W.Tyler dalam (Wirawan 2012:80) mendefinisikan evaluasi sebagai process of determining

Lebih terperinci

PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013

PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013 PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013 YUBALI ANI, M.PD Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang jc_yubali@yahoo.com Abstrak Penilaian merupakan bagian integral dari pembelajaran. Seperti semua

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan

Lebih terperinci

: PENDIDIKAN ORGANISASI : DINAS PENDIDIKAN Halaman. 8. sebelum perubahan. 8, Belanja Tidak Langsung

: PENDIDIKAN ORGANISASI : DINAS PENDIDIKAN Halaman. 8. sebelum perubahan. 8, Belanja Tidak Langsung LAMPIRAN III : PERATURAN DAERAH NOMOR : 8 Tahun 2011 TANGGAL : 26 Oktober 2011 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. merumuskan masalah sampai dengan menarik kesimpulan (Purwanto,

BAB III METODE PENELITIAN. merumuskan masalah sampai dengan menarik kesimpulan (Purwanto, BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian merupakan keseluruhan cara atau kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian mulai dari merumuskan masalah

Lebih terperinci

TEST, PENGUKURAN, ASSESMEN, EVALUASI

TEST, PENGUKURAN, ASSESMEN, EVALUASI TEST, PENGUKURAN, ASSESMEN, EVALUASI Sugiyatno, M.Pd sugiyatno@uny.ac.id TEST Seperangkat pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait/sifat/atribut dimana tiap butir

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) BERFOKUS PADA MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY) POKOK BAHASAN SEGITIGA UNTUK SISWA KELAS VII

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian evaluasi. Pendekatan kuantitatif

METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian evaluasi. Pendekatan kuantitatif III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah di Kota Bandar Lampung tahun 2009. 3.2 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini

Lebih terperinci

BAB IV BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR

BAB IV BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR 41 LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 0058 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA TAHUN 2013 DENGAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pengembangan (research and development). Metode penelitian dan

BAB III METODE PENELITIAN. pengembangan (research and development). Metode penelitian dan BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan Pengembangan modul ini menggunakan jenis penelitian pengembangan (research and development). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN. Endang Mulyatiningsih

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN. Endang Mulyatiningsih PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN Endang Mulyatiningsih Mengajar merupakan tugas utama seorang pendidik (guru, dosen, tutor, instruktur, widyaiswara). Pendidik yang kreatif akan selalu menciptakan ide-ide

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Siti Nur Elia Lailasari, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Siti Nur Elia Lailasari, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan kreatif, karena

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kuantitatif mengutamakan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pengelolaan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Serpong sudah menggunakan pendekatan-pendekatan model madrasah efektif mulai dari input, proses, dan outputnya.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologik, yaitu

III. METODE PENELITIAN. pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologik, yaitu 79 III. METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian dan Desain Desain kegiatan evaluasi program dalam bahasan ini menggunakan model CIPP dengan rancangan penelitian evaluasi kualitatif yang bersifat deskriptif,

Lebih terperinci

WALIKOTA TASIKMALAYA

WALIKOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA Nomor : 14 Tahun 2008 Lampiran : - TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NON FORMAL DI KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Bertaraf Internasional sejak tahun pelajaran 2008/2009 (4 tahun)

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Bertaraf Internasional sejak tahun pelajaran 2008/2009 (4 tahun) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian SMP Negeri 1 Banjarnegara ditetapkan sebagai sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sejak tahun pelajaran 2008/2009 (4 tahun) berdasarkan Surat

Lebih terperinci

PENGARUH VALIDITAS DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER BIDANG STUDI KIMIA TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI

PENGARUH VALIDITAS DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER BIDANG STUDI KIMIA TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI 566 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 4, No.1, 2010, hlm 566-573 PENGARUH VALIDITAS DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER BIDANG STUDI KIMIA TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI Murbangun Nuswowati,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA BERBASIS SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT POKOK BAHASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK UNTUK KELAS X SMAN 10 MALANG

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA BERBASIS SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT POKOK BAHASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK UNTUK KELAS X SMAN 10 MALANG PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA BERBASIS SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT POKOK BAHASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK UNTUK KELAS X SMAN 10 MALANG Ratri Agustina, Kadim Masjkur, dan Subani Universitas Negeri Malang

Lebih terperinci

STRATEGI PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI

STRATEGI PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI STRATEGI PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI M a k a l a h Disajikan dalam Pelatihan Penulisan Proposal Penelitian Di Jurusan Pendidikan Biologi UNIKU, Kuningan 26 Maret 2011 O l e h: L i

Lebih terperinci

VALIDASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATA KULIAH STRATEGI PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI OBSERVASI DALAM LESSON STUDY

VALIDASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATA KULIAH STRATEGI PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI OBSERVASI DALAM LESSON STUDY VALIDASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATA KULIAH STRATEGI PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI OBSERVASI DALAM LESSON STUDY Muhyiatul Fadilah, Lufri, Ardi, Fitri Arsih FMIPA Universitas Negeri Padang caesura_iie@yahoo.com

Lebih terperinci

Korelasi Kualitas Pembelajaran Geografi dan Hasil Belajar terhadap Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas XII IPS SMAN 1 Ponorogo

Korelasi Kualitas Pembelajaran Geografi dan Hasil Belajar terhadap Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas XII IPS SMAN 1 Ponorogo 298 JURNAL PENDIDIKAN HUMANIORA, HAL 298-303 Korelasi Kualitas Pembelajaran Geografi dan Hasil Belajar terhadap Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas XII IPS SMAN 1 Ponorogo Novia Kresnawati Pendidikan Dasar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 1 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMK-PPN Lembang, yang bertempat di Jl. Tangkuban Parahu Km.3 Desa Cilumber Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

Lebih terperinci

KEBIJAKAN STRATEGIS DI BIDANG PENDIDIKAN

KEBIJAKAN STRATEGIS DI BIDANG PENDIDIKAN KEBIJAKAN STRATEGIS DI BIDANG PENDIDIKAN KEBIJAKAN STRATEGIS DI BIDANG PENDIDIKAN I. Arah Kebijakan 1. Menyediakan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh anak usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu organisasi dikatakan berhasil apabila visi, misi dan tujuannya tercapai. Untuk dapat mencapainya,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sukmadinata (Rosana, 2007) metodologi penelitian merupakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sukmadinata (Rosana, 2007) metodologi penelitian merupakan 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Menurut Sukmadinata (Rosana, 2007) metodologi penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsiasumsi

Lebih terperinci

MONITORING DAN EVALUASI

MONITORING DAN EVALUASI MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN NSPK Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria PETUNJUK TEKNIS MONITORING DAN EVALUASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,

Lebih terperinci

2014 KOMPARASI METODA NEDELSKY DAN ANGOFF DALAM PENETAPAN STANDARD SETTING KELULUSAN UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SMA

2014 KOMPARASI METODA NEDELSKY DAN ANGOFF DALAM PENETAPAN STANDARD SETTING KELULUSAN UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SMA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam praktik pendidikan, guru senantiasa dihadapkan pada keputusankeputusan dalam memberikan label pada setiap karakteristik atribut siswa. Pemberian atribut

Lebih terperinci

Pendahuluan. Desain Model Evaluasi Kualitas dan Output Program Perkuliahan Praktikum Zoologi Invertebrata. Rasional 1/7/2013

Pendahuluan. Desain Model Evaluasi Kualitas dan Output Program Perkuliahan Praktikum Zoologi Invertebrata. Rasional 1/7/2013 Desain Model Evaluasi Kualitas dan Program Perkuliahan Praktikum Zoologi Invertebrata Rini Solihat/Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Pendahuluan Deskripsi Program Perkuliahan Praktikum Zoologi Invertebrata

Lebih terperinci

Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI

Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia Panduan EDS Kepala Sekolah Dokumen ini diperuntukkan bagi PTK dan Siswa KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

keahlian atau kompotensi akan dapat mendukung peningkatan prestasi kinerja

keahlian atau kompotensi akan dapat mendukung peningkatan prestasi kinerja EVALUASI KINERJA KEPEGAWAIAN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN BONE BOLANGO Oleh Elvianti Pakaya, Ansar Made*, Nina Lamatenggo** Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN Lampiran III Peraturan Daerah Nomor Tanggal : : 5 TAHUN 2015 23 Oktober 2015 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan. pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan. pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam

Lebih terperinci

MENGEMBANGKAN KOMPETENSI GURU MELALUI LESSON STUDY

MENGEMBANGKAN KOMPETENSI GURU MELALUI LESSON STUDY MENGEMBANGKAN KOMPETENSI GURU MELALUI LESSON STUDY Ali Mahmudi *) Abstrak: Sesuai amanat UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, peningkatan kompetensi guru adalah suatu keniscayaan demi menunjang

Lebih terperinci

Oleh : Hepy S Pasambuna, Arwildayanto*, Arifin**

Oleh : Hepy S Pasambuna, Arwildayanto*, Arifin** EVALUASI PERAN KEPALA SEKOLAH DI SMA NEGERI SE KOTA KOTAMOBAGU Oleh : Hepy S Pasambuna, Arwildayanto*, Arifin** Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM. PERTEMUAN 1 Oleh: Prof. Dr. Yetti Supriyati, MPd.

EVALUASI PROGRAM. PERTEMUAN 1 Oleh: Prof. Dr. Yetti Supriyati, MPd. EVALUASI PROGRAM PERTEMUAN 1 Oleh: Prof. Dr. Yetti Supriyati, MPd. 1 Interrelation among concept : Doran, Lawrenz & Helgenson (1995) EVALUATION TESTING MEASUREMENT ASSESSMENT Evaluation: to evaluate the

Lebih terperinci

SOAL EDS ONLINE UNTUK KS.

SOAL EDS ONLINE UNTUK KS. SOAL EDS ONLINE UNTUK KS. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KS.1.1 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah pada tingkat kabupaten/kota pada satu tahun terakhir adalah... KS.1.2 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah

Lebih terperinci

Teori dan Praktek Evaluasi Program DIAN PERMATASARI K.D

Teori dan Praktek Evaluasi Program DIAN PERMATASARI K.D Teori dan Praktek Evaluasi Program DIAN PERMATASARI K.D Evaluasi merupakan alat dari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk menganalisis dan menilai fenomena ilmu pengetahuan dan aplikasi ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

Bab 6 INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR. A. Tujuan dan Sasaran Strategis

Bab 6 INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR. A. Tujuan dan Sasaran Strategis Bab 6 INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR A. Tujuan dan Sasaran Strategis Berdasarkan pada amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta misi dan visi Dinas

Lebih terperinci

Tugas KB 3 Mengembangkan strategi pembelajaran dan Penyusunan Evaluasi Nama : Jarot Susilo Instansi : LPPKS Indonesia

Tugas KB 3 Mengembangkan strategi pembelajaran dan Penyusunan Evaluasi Nama : Jarot Susilo Instansi : LPPKS Indonesia Tugas KB 3 Mengembangkan strategi pembelajaran dan Penyusunan Evaluasi Nama : Jarot Susilo Instansi : LPPKS Indonesia Deskripsi Tugas Buatlah sebuah resume dari semua bahan bacaan yang terdapat pada sub

Lebih terperinci

Siti Nurhayati 21, Didik S. Pambudi 22, Dinawati Trapsilasiwi 23

Siti Nurhayati 21, Didik S. Pambudi 22, Dinawati Trapsilasiwi 23 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN GARIS GARIS PADA SEGITIGA MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES BERDASARKAN METODE DISCOVERY LEARNING DI KELAS VIII SMP Siti Nurhayati 21,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. besar dirumuskan kesimpulan penelitian sebagai berikut:

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. besar dirumuskan kesimpulan penelitian sebagai berikut: 307 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada bagian ini dijelaskan kesimpulan dan rekomendasi yang mengacu kepada proses pengembangan yang diterapkan, permasalahan dan tujuan penelitian serta

Lebih terperinci

PENGGUNAAN SELF ASSESSMENT SEBAGAI UPAYA DOSEN MENINGKATKAN OBYEKTIVITAS DALAM PENILAIAN TUGAS PROYEK

PENGGUNAAN SELF ASSESSMENT SEBAGAI UPAYA DOSEN MENINGKATKAN OBYEKTIVITAS DALAM PENILAIAN TUGAS PROYEK Pendidikan ISBN : 979-498-467-1 PENGGUNAAN SELF ASSESSMENT SEBAGAI UPAYA DOSEN MENINGKATKAN OBYEKTIVITAS DALAM PENILAIAN TUGAS PROYEK Sri Yamtinah Prodi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP-UNS E-mail:jengtina_sp@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, faktor yang berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan tidak hanya tentang pengaturan keuangan, pengelolaan product

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Pendidikan Nasional adalah upaya mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berahlak mulia

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DALAM PEMBELAJARAN

BAB III PROSEDUR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DALAM PEMBELAJARAN BAB III PROSEDUR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DALAM PEMBELAJARAN A. Pendahuluan Dalam kegiatan pembelajaran segala sesuatu hal selayaknya dilakukan dengan tahapan yang jelas dan terarah. Oleh karena itu, penting

Lebih terperinci

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012 ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN SEMESTER MAHASISWA BIOLOGI MATA KULIAH BIDANG PENDIDIKANSEMESTER GASAL PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN AJARAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Evaluasi 2.1.1 Pengertian Evaluasi Evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang telah

Lebih terperinci

ANALISIS DESKRIPTIF SOAL MATEMATIKA PADA SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA/SMK TAHUN AJARAN 2012/2013 DAN 2013/2014 KABUPATEN JEMBER

ANALISIS DESKRIPTIF SOAL MATEMATIKA PADA SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA/SMK TAHUN AJARAN 2012/2013 DAN 2013/2014 KABUPATEN JEMBER ANALISIS DESKRIPTIF SOAL MATEMATIKA PADA SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA/SMK TAHUN AJARAN 2012/2013 DAN 2013/2014 KABUPATEN JEMBER Devira Ayu Nurandari 34, Toto Bara Setiawan 35, Arika Indah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan metode penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2011 NOMOR 16 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2011 NOMOR 16 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2011 NOMOR 16 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI TANGGAL : 12 SEPTEMBER 2011 NOMOR : 16 TAHUN 2011 TENTANG : PENYELENGGARAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

(Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta) Kata kunci: pembelajaran ekonomi, penilaian berbasis kompetensi.

(Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta) Kata kunci: pembelajaran ekonomi, penilaian berbasis kompetensi. Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 1 Nomor 2, Mei 2005 SISTEM PENILAIAN PEMBELAJARAN EKONOMI BERBASIS KOMPETENSI Oleh: Barkah Lestari (Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta)

Lebih terperinci

STUDI EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DITINJAU DARI CIPP PADA SEKOLAH DASAR NEGERI DI WILAYAH PERKOTAAN KABUPATEN BADUNG

STUDI EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DITINJAU DARI CIPP PADA SEKOLAH DASAR NEGERI DI WILAYAH PERKOTAAN KABUPATEN BADUNG STUDI EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DITINJAU DARI CIPP PADA SEKOLAH DASAR NEGERI DI WILAYAH PERKOTAAN KABUPATEN BADUNG Ni Md Sriadnyani 1, I.B. Surya Manuaba 2, Md Putra 1, 2, 3 Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan adalah suatu jenis penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PROFESIONAL DENGAN KINERJA GURU DI KABUPATEN KLATEN

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PROFESIONAL DENGAN KINERJA GURU DI KABUPATEN KLATEN HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PROFESIONAL DENGAN KINERJA GURU DI KABUPATEN KLATEN Udiyono* Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kompetensi profesional dengan kinerja guru dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (Research and Development) atau yang sering disebut penelitian R & D. Penelitian Pengembangan adalah metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN [ BAB III METODE PENELITIAN Suatu penelitian harus menggunakan metode penelitian yang tepat untuk menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kesalahan dalam pemilihan metode

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

RESEACH AND DEVELOPMENT. Imam Gunawan

RESEACH AND DEVELOPMENT. Imam Gunawan RESEACH AND DEVELOPMENT Imam Gunawan RESEACH AND DEVELOPMENT VERSI BORG AND GALL Menurut Borg and Gall (1989:782 model penelitian dan pengembangan adalah a process used develop and validate educational

Lebih terperinci

Optimalisasi Program Kemitraan RSBI dengan PT dalam Rangka Menuju SBI Mandiri

Optimalisasi Program Kemitraan RSBI dengan PT dalam Rangka Menuju SBI Mandiri Optimalisasi Program Kemitraan RSBI dengan PT dalam Rangka Menuju SBI Mandiri untuk berbagi pengalaman Oleh: Mardiyana Disampaikan pada Seminar Nasional Di FKIP UNS Surakarta, 26 Februari 2011 Landasan

Lebih terperinci

KEMAMPUAN MAHASISWA PPL MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN PADA MATERI SMA/MA KELAS X

KEMAMPUAN MAHASISWA PPL MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN PADA MATERI SMA/MA KELAS X KONSTRUKTIVISME, Vol. 8, No. 1, Januari 2016 pissn: 19799438, eissn: 24452355 KEMAMPUAN MAHASISWA PPL MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN PADA MATERI SMA/MA KELAS X Devita Sulistiana Jurusan Pendidikan Biologi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kajian Teori Tentang Program Muatan Lokal Keterampilan. 1. Pengertian Muatan Lokal Keterampilan

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kajian Teori Tentang Program Muatan Lokal Keterampilan. 1. Pengertian Muatan Lokal Keterampilan BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori Tentang Program Muatan Lokal Keterampilan 1. Pengertian Muatan Lokal Keterampilan Kurikulum muatan lokal adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan

Lebih terperinci

Kata kunci: analisis butir soal, mata pelajaran geografi,

Kata kunci: analisis butir soal, mata pelajaran geografi, 0 ANALISIS BUTIR SOAL UJIAN SEMESTER GENAP MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS X SMA NEGERI 1 NATAR Rima Melati 1, Drs. Hi. Sudarmi, M.Si. 2 Drs. Zulkarnain, M.Si. 3 The objective of the research was to analyze

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MEMBACA KELAS VII SMP

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MEMBACA KELAS VII SMP PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MEMBACA KELAS VII SMP Nila Maulana 1 Imam Agus Basuki 2 Bustanul Arifin 3 Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5 Malang Email: nila_maulana@yahoo.co.id

Lebih terperinci

SECONDARY ANALYSIS SKRIPSI MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNTAN YANG BERBENTUK PENELITIAN TINDAKAN KELAS

SECONDARY ANALYSIS SKRIPSI MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNTAN YANG BERBENTUK PENELITIAN TINDAKAN KELAS SECONDARY ANALYSIS SKRIPSI MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNTAN YANG BERBENTUK PENELITIAN TINDAKAN KELAS ARTIKEL PENELITIAN Oleh : MUSTIKA PURNAMA SARI NIM. F03109022 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN A.

BAB III METODE PENELITIAN A. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 8 Bandung yang berlokasi di Jalan Kiliningan, No.31 Kota Bandung pada tahun ajaran 2013/2014 semester genap. Pemilihan

Lebih terperinci

Penelitian Pengembangan

Penelitian Pengembangan 1 Penelitian Pengembangan Oleh : Nunuk Suryani Tesis dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan tesis dan disertasi yang ditulis

Lebih terperinci

PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 1 Pengertian Model a. Model adalah seperangkat prosedur yang sistematis untuk mewujudkan suatu proses. b. Proses sistematis

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian Menurut Arikunto (2010: 173) populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian penelitian adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

Pemahaman Guru Fisika SMA Kota Medan dalam Mengimplementasikan Standar Evaluasi Pendidikan

Pemahaman Guru Fisika SMA Kota Medan dalam Mengimplementasikan Standar Evaluasi Pendidikan Pemahaman Guru Fisika SMA Kota Medan dalam Mengimplementasikan Standar Evaluasi Pendidikan Alkhafi Maas Siregar 1 dan Rahmansyah 2 1. Jurusan Fisika FMIPA Unimed dan 2. Jurusan Fisika FMIPA Unimed Jln.

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO SINKRONISASI PRIORITAS NASIONAL DENGAN BELANJA DAERAH DALAM APBD TAHUN ANGGARAN 2013

PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO SINKRONISASI PRIORITAS NASIONAL DENGAN BELANJA DAERAH DALAM APBD TAHUN ANGGARAN 2013 PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO SINKRONISASI DENGAN BELANJA DAERAH DALAM APBD TAHUN ANGGARAN 2013 NO. 1 Prioritas 1 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemantapan Tata Kelola Pemerintahan yang Lebih baik

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN

BAB III. METODE PENELITIAN BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan alasan, bahwa dalam penelitian

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI GERAK DI SMP NEGERI 27 BANJARMASIN

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI GERAK DI SMP NEGERI 27 BANJARMASIN PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI GERAK DI SMP NEGERI 27 BANJARMASIN Mauizatil Rusjiah, M. Arifuddin J, dan Andi Ichsan M Program Studi

Lebih terperinci

BAB VI PENILAIAN DAN PENDEKATAN PENILAIAN

BAB VI PENILAIAN DAN PENDEKATAN PENILAIAN BAB VI PENILAIAN DAN PENDEKATAN PENILAIAN A. Pendahuluan Penilaian merupakan langkah lanjutan yang umumnya dilakukan oleh pendidik dengan berbasis pada data pengukuran yang tersedia. Penilaian atau Assessment

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN PRE-TEST DAN RESITASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X

PENGARUH PEMBERIAN PRE-TEST DAN RESITASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X PENGARUH PEMBERIAN PRE-TEST DAN RESITASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN GEOGRAFI SISWA KELAS X Ujang Solihin 1) Zulkarnain 2) Sugeng Widodo 3) Abstract: Methods and types of research used experimental

Lebih terperinci

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN UJI SERTIFIKASI KOMPETENSI KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN UJI SERTIFIKASI KOMPETENSI KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN 37 EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN UJI SERTIFIKASI KOMPETENSI KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN Suharto SMK SWADAYA TEMANGGUNG Email: Suharto111@rocketmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini diuraikan secara jelas mengenai pendekatan dan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini diuraikan secara jelas mengenai pendekatan dan metode BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini diuraikan secara jelas mengenai pendekatan dan metode penelitian yang digunakan, langkah-langkah penelitian, definisi operasional variabel, populasi dan sampel penelitian,

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang

1. PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang berkemampuan, cerdas, dan handal dalam pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

PENELITIAN EVALUATIF SEBAGAI SALAH SATU MODEL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. (Suatu Kajian Konseptual) Sri Kantun

PENELITIAN EVALUATIF SEBAGAI SALAH SATU MODEL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. (Suatu Kajian Konseptual) Sri Kantun PENELITIAN EVALUATIF SEBAGAI SALAH SATU MODEL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN (Suatu Kajian Konseptual) Sri Kantun Abstract : Evaluation research is basically a part of applied research. The important

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2011 NOMOR 2 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2011 NOMOR 2 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2011 NOMOR 2 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BOGOR DENGAN

Lebih terperinci

KUALITAS BUTIR SOAL ULANGAN SEMESTER GENAP IPA BIOLOGI DI SMP TAHUN PELAJARAN 2012/2013 JURNAL. Oleh SRI NURLAILA DJAKARIA NIM :

KUALITAS BUTIR SOAL ULANGAN SEMESTER GENAP IPA BIOLOGI DI SMP TAHUN PELAJARAN 2012/2013 JURNAL. Oleh SRI NURLAILA DJAKARIA NIM : KUALITAS BUTIR SOAL ULANGAN SEMESTER GENAP IPA BIOLOGI DI SMP TAHUN PELAJARAN 2012/2013 JURNAL Oleh SRI NURLAILA DJAKARIA NIM : 431 409 057 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA JURUSAN

Lebih terperinci

Kata Kunci: Pengembangan perangkat, Problem Based Learning (PBL), kompetensi siswa.

Kata Kunci: Pengembangan perangkat, Problem Based Learning (PBL), kompetensi siswa. PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI MATERI KLASIFIKASI TUMBUHAN UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA KELAS X SMA TAMAN HARAPAN MALANG Vivi

Lebih terperinci