Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014)"

Transkripsi

1 Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014) Senin, 15 Desember 2014 Bank Andalkan Pinjaman Pemerintah Sejumlah perbankan memperkirakan kondisi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) akan menghadapi banyak tantangan pada tahun depan. Royke Tumilaar, Managing Director of Treasury, Financial Institutions & Special Asset Management PT Bank Mandiri Tbk mengatakan tantangan terbesar dari kebijakan pinjaman pemerintah. Kendati demikian, pihaknya yakin bahwa kondisi PUAB akan membaik terlihat dari volume transaksi yang lebih besar dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, Achmad Baiquni, Direktur Keuangan PT BRI Tbk, mengungkapkan bahwa realisasi utang pemerintah tidak akan berdampak signifikan. Hartati, Direktur Keuangan PT Bank OCBC NISP Tbk, menambahkan bahwa perbankan memiliki pendanaan alternatif pada tahun depan. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah bank yang meminjam dan menempatkan dana ke PUAB tercatat masing-masing 81 dan 94 bank dengan volume transaksi harian rata-rata Rp 12,2 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 10,7 triliun. Adapun hingga kuartal III 2014 suku bunga PUAB overnight (O/N) relatif stabil di 5,86% dan total volume tercatat Rp 11,8 triliun. Selain itu, deposit facility (DF) O/N tercatat Rp 129,4 triliun. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) BI Rate Siap Ikuti Kenaikan Bunga the Fed Bank Indonesia akan kembali menaikkan BI Rate menyusul kenaikan Fed Fund Rate oleh the Fed yang diperkirakan akan dilakukan pada awal tahun depan. Solihin M. Juhro, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan selain suku bunga acuan, Bank Indonesia memiliki instrumen lainnya seperti makroprudensial, financial deepening dan sistem pembayaran. Bauran kebijakan tersebut akan dilakukan dalam takaran dan waktu yang tepat sebagai langkah antisipasi tantangan tahun mendatang, seperti perlambatan ekonomi China dan peningkatan utang luar negeri (ULN). Bank Indonesia optimis bahwa pada tahun 2015 ekonomi Indonesia akan membaik. Pasalnya indikator Composit Leading Indicator (CLI) yang dibentuk Bank Indonesia menunjukkan bahwa tahun depan ekonomi Indonesia menunjukkan arah perbaikan. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar 5,4% - 5,8% dengan inflasi 4+1%. Adapun

2 pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan tumbuh 15% - 17%. Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, mengatakan hal utama yang paling ditunggu adalah mengenai suku bunga acuan the Fed. Kenaikan BI Rate lebih lanjut sebelumnya telah diperkirakan oleh Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom PT BNI Tbk. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) Bank Siapkan Skema Khusus Pelaku perbankan menilai bahwa diperlukan skema khusus terkait penyaluran kredit untuk nasabah nelayan dengan memperhatikan pola penghasilan nelayan. Budi Satria, Corporate Secretary PT BRI Tbk, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun skema khusus tersebut. Skema ini merupakan penyempurnaan dari produk lama perseroan yakni Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). Skema ini pun mencakup pola musiman penghasilan nelayan. Sementara itu Anika Faisal, Direktur Kepatuhan PT BTPN Tbk, mengatakan bahwa penyaluran kredit kepada nelayan harus melibatkan kelompok yang lebih besar yang tergabung dalam suatu kluster tertentu untuk mempermudah administrasi dan mitigasi resiko kredit. Anika mengakui bahwa penyaluran kredit ke sektor ini masih sangat rendah mengingat resiko kredit macet yang tergolong tinggi. Oleh karena itu, pihaknya meminta perbankan untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor ini. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) Selasa, 16 Desember 2014 RI Masih Kalah dari Kenya Transaksi nontunai di Indonesia masih sangat rendah yakni baru sekitar 8% dari total transaksi di Indonesia. Budi Hartono, Vice President Electronic Banking Group PT Bank Mandiri Tbk mengatakan transaksi nontunai perlu untuk ditingkatkan untuk membantu pencatatan Produk Dometik Bruto (PDB) di Indonesia. Kendati demikian, transaksi tunai di Indonesia masih sangat tinggi yakni diperkirakan sebesar US$425 miliar atau sebesar 85% dari total transaksi. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan Singapura dan Malaysia yakni masing-masing sebesar 39% dan 42%. Proporsi transaksi nontunai di Indonesia pun bahkan kalah dengan di Kenya. Tingginya tingkat kriminalitas mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai. Menurut Budi dalam kutipannya dari teori ekonomi Friedrich Schneider, meningkatkatnya jumlah transaksi elektronik sebesar 10% akan mengurangi shadow economy sebesar 5%.

3 (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 23) Bank Selektif Tekan NPL OJK meminta perbankan untuk tetap berhati-hati dalam memaju pertumbuhan kredit. Pasalnya sebelum menyalurkan kredit perbankan harus terlebih dahulu mempertajam analisis resiko dan memperkuat kemampuan SDM. Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengatakan perbankan harus mempertajam analisis kredit dengan memperhitungkan kondisi perekonomian. Lebih lanjut, pihaknya menuturkan bahwa sektor pertambangan dan komoditas perlu diwaspadai. Pasalnya permintaan kedua sektor tersebut sedang melambat di pasar global. Namun untuk tahun 2015, baik sektor pertambangan dan komoditas memiliki tren meningkat. Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) bulan September 2014, NPL sektor pertambangan meningkat dari September 2013 sebesar 1,47% menjadi 3,21%. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pertanian, perburuan dan kehutanan yang meningkat dari 1,62% pada September 2013 menjadi 2,06% pada September Selain itu, NPL sektor konstruksi pun meningkat menjadi 4,54%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3,31%. Menanggapi hal tersebut, Roosniati Salihin, Wapresdir PT Bank Panin Tbk mengatakan perseroan tahun depan akan akan fokus pada penyaluran kredit UMKM yang dinilai lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Pada tahun ini, bisnis perseroan hanya tumbuh sekitar 10% - 12% karena ketatnya likuiditas, ketidakstabilan politik akibat pemilu dan perlambatan ekonomi nasional. Demi mendukung penyaluran kredit ke sektor UMKM, perseroan berencana memperluas jaringan kantor cabang ke Indonesia bagian Timur. Sektor telekomunikasi dinilai cukup prospektif, namun belakang penyaluran kredit di sektor ini justru melambat secara signifikan. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI), penyaluran kredit di sektor ini hanya meningkat 11,78% (year on year), lebih rendah dibandingkan persentase pada 2 tahun yang lalu yang mencapai 30%. Mira Tayyiba, Kepala Sub Direktorat Pos, telekonomunikasi dan Informatika Bappenas mengatakan sektor telekonomunikasi membutuhkan nilai investasi yang besar yakni mencapai Rp 278 triliun hingga tahun 2019 untuk pembangunan akses intranet berkecepatan tinggi atau pita lebar (broadband). Tambok P. Setyawati, Vice President Division Head Market Intelligence and Business PT BNI Tbk mengaku sektor telekonomunikasi mempunyai prospek yang baik namun perbankan tidak ingin menambah resiko bermasalah. Pasalnya perbankan perlu memperhatikan kemampuan usaha, legalitas dan tenaga ahli sebelum memberikan kredit. Adapun Bank BNI sendiri telah menyalurkan kredit sektor telekomunikasi ke PT Telkom. Tahun ini, BNI menyediakan dana sebesar Rp 11 triliun untuk membiayai sektor telekonomunikasi dan hingga September 2014 realisasi penyaluran kredit tersebut sudah mencapai Rp 8,4 triliun. (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 24)

4 OJK Cek Kinerja Keuangan Bank OJK menegaskan hanya bank yang berkinerja baik yang dapat ikut serta dalam program layanan keuangan tanpa kantor. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan terdapat beberapa bank yang mengajukan keikutsertaannya dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), namun pihaknya akan menyeleksi dengan ketat bank-bank yang mengajukan izin Laku Pandai. Menurutnya hanya bank yang memiliki kesiapan infrastruktur teknologi infromasi dan komitmen pemilik yang menjalankan. Pihaknya juga menyatakan akan secara aktif memantau perkembangan aktivitas bank dan agen untuk melindungi konsumen. Kendati demikian, performa perbankan tahun ini dirasakan menurun. Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengatakan perlambatan sektor perbankan diakibatkan oleh kondisi ekonomi makro. Salah satu bank yang telah menerapkan layanan keuangan tanpa kantor adalah PT BRI Tbk melalui BRILink. (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 24) Rabu, 17 Desember 2014 NPL Tinggi, Jumlah Bank Penyalur Dibatasi Pemerintah akan menghentikan bank-bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki NPL KUR yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI. Menurutnya NPL sudah tidak wajar apabila telah berada di atas kisaran 10% - 15%. Lebih lanjutnya, pihaknya meminta OJK untuk mengkaji penyebab tingginya NPL KUR pada bank-bank penyalur. Apabila NPL disebabkan oleh buruknya kualitas KUR sebagai akibat dari masalah bisnis dan merupakan hal yang dapat dihindari maka pemerintah akan membayar penjaminan pinjaman tersebut. Kendati demikian, pemerintah akan terus aktif menyalurkan KUR melalui bank yang memiliki NPL KUR yang rendah, seperti PT BRI Tbk. Rata-rata NPL KUR PT BRI Tbk tercatat 2,7%. Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM RI, akan menurunkan plafon KUR menjadi maksimal sebesar Rp 25 Juta pada Januari (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 1)

5 Biaya Kliring dan RTGS Dibatasi Bank Indonesia pada pertengahan tahun depan akan merilis beleid mengenai pembatasan biaya transaksi yang dikenakan kepada nasabah untuk produk kliring dan RTGS. Untuk Kliring, Bank Indonesia menetapkan biaya transaksi kepada bank sebesar Rp 1.000, sementara kliring sebesar Rp pada pagi hari serta Rp setelah lewat jam operasional pukul WIB. Bramudija, Kepala Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran, mengatakan pembatasan biaya ini akan diluncurkan bersamaan dengan RTGS II yang nantinya dapat menggunakan mata uang asing. Isbandiono Subadi, Wakil Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), mengatakan biaya perlu dibedakan antara bank kecil dan bank besar. Pasalnya bank kecil sudah selayaknya diberikan biaya yang rendah. Hingga 15 Desember 2014, nominal kliring nasional mencapai Rp 6,6 triliun dengan jumlah transaksi transaksi, sementara RTGS mencapai Rp 490 triliun dengan transaksi. Selain itu, Bank Indonesia juga akan merilis kliring generasi II. Sukarela Permana, Direktur Departemen Manajemen Sistem Pembayaran mengatakan keunggulan kliring adalah dapat digunakan secara multitransfer. (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 20) BI Setuju, OJK Pikir-pikir Untuk mendorong kualitas dan kuantitas kredit mikro, Bank Indonesia setuju untuk memberikan insentif dan disintensif kepada perbankan. Hal ini dilakukan sejalan dengan salah satu fokus regulator yang ingin meningkatkan sektor manufaktur Indonesia. Solihin M. Juhro, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan pengembangan di sektor manufaktur merupakan upaya dalam mendorong Indonesia sebagai hub perdagangan di dunia. Manufaktur yang diharapkan tumbuh adalah manufaktur yang berbasiskan sumber daya alam, sehingga Indonesia tidak perlu lagi ekspor bahan mentah yang akhir-akhir ini menurun akibat menurunnya harga komoditas global. Lain halnya dengan Bank Indonesia, OJK saat ini masih mengkaji terkait aturan pemberian insentif dan disinsentif. Ganjar Mustika, Kepala Departemen Penlitian dan Pengaturan Perbankan OJK mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada program yang akan berlansung yakni laku pandai. Adapun menurut data SPI, NPL UMKM perbankan terlampau membengkak. Menanggapi hak tersebut, Ganjar memberikan akan melakukan upaya lanjutan. Namun apabila salah satu perbankan terus mengalami peningkatan saldo, maka akan dikaji kemungkinan diberikan disinsentif. Hendar, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan pemberian insentif dan eksternal, diharapkan mampu menggenjot kredit UMKM, (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 20)

6 Kamis, 18 Desember 2014 Ekonomi RI Tumbuh 5,6% Asian Development Bank (ADB) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 menjadi 5,6%. Sebelumnya ADB memproyeksi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,8% pada tahun depan. Edimon Ginting, Ekonom ADB untuk Indonesia mengatakan hanya konsumsi saja yang dapat mendorong ekonomi Indonesia, sementara andil ekspor akan lebih rendah dibandingkan ekspektasi ADB. Selain memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan, ADB pun memangkas pertumbuhan ekonomi tahun dari sebelumnya sebesar 5,3% menjadi 5,1%. Hal ini disebabkan oleh masih lemahnya investasi dan ekspor di Indonesia. Menurutnya ekspor akan meningikat tipis pada tahun depan, namun tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Investasi pun diperkirakan akan stagnan karena kondisi ekonomi dan politik yang belum menentu. Adapun pos belanja pemerintah masih akan tetap tinggi, namun akan lebih ditopang oleh belanja sektor produktif, seperti untuk pembangunan infrastruktur. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 4) Agunan Jadi Persoalan Nelayan Ono Surono, Ketua HImpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Barat mengatakan bahwa Nelayan saat ini tidak mengerti persyaratan yang akan menjadi agunan. Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah dan perbankan untuk melakukan edukasi agar Nelayan dapat mengerti cara meminjam ke bank. Nelayan kerap membutuhkan dana untuk membiayai pembelian alat tangkap yang lebih modern, tempat penyimpanan ikan dan pembelian kapal. Menurutnya potensi sektor kelautan dan perikanan sangat potensial. Ahmad Irfan, Direktur Direktur Komersial PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) mengatakan pihaknya telah mengucurkan kredit di sektor ini, namun belum begitu signifikan. Saat ini pihaknya tengah mengkaji upaya peningkatan kredit di sektor maritim dan akan mempertimbangkannya dengan prinsip prudential banking. Jafar Ismail, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat meminta Nelayan untuk ikut dalam koperasi agar tidak terjerat oleh rentenir. Di Sulawesi Utara, dilakukan suatu pendampingan bisnis kepada Nelayan yang merupakan kerjasama antara Bank Indonesia dengan dinas terkait. Luctor E. Tapiheru, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara mengatakan hal ini dilakukan untuk menekan resiko kredit bermasalah di sektor maritim. Perbankan enggan masuk ke sektor ini karena resikonya yang tinggi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun disebutkan bahwa nantinya Bank Pembangunan Daerah (BPD) akan ditunjuk sebagai agen

7 penyalur kredit untuk sektor maritim. Novie V. B Kaligis, Direktur Pemasaran Bank Sulut, menyambut baik hal ini. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 19) Kredit Investasi Akan Melambat Kondisi suku bunga yang masih tinggi serat defisit neraca perdagangan akan menekan penyaluran kredit investasi perbankan pada tahun depan. Padahal untuk mengejar target pertumbuhan sebesar 5,8% diperlukan struktrur investasi yang lebih besar. Eric Sugandi, Ekonom Standard Chatered, mengatakan kenaikan BI Rate akan memperlambat penyaluran kredit investasi. Pada kuartal III 2015, pihaknya memperkirakan Bank Indonesia akan kembali meningkatkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 8, 25%. Berdasarkan data SPI September 2014, kredit investasi tumbuh 16,39% (year on year). Namun seiring dengan peningkatan kredit, NPL kredit investasi pun meningkat dari 1,82% pada September 2013 menjadi 2,5 pada September Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Internasional Indonesia Tbk mengakui bahwa perlambatan kredit investasi tahun depan disebabkan oleh tingginya suku bunga. Suku bunga yang tinggi pun akan mempengaruhi konsumsi masyarakat sehingga kredit konsumsi pun akan cenderung melambat. Namun perlambatan ini hanya akan berlangsung pada kuartal I Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mangkoe Sasmito, Direktur Utama Bank Lampung. Pihaknya mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi akan menekan kredit konsumsi hanya hingga awal tahun depan. Sementara di Malang, Jawa Timur, kenaikan BI Rate kerap mempengaruhi kredit pemilikan rumah (KPR). Yan Jimmy, Kepala Sub Bagian Pengawasan Kantor OJK mengatakan KPR mengalami penurunan sebesar 41,24% (year on year). Selain itu, kredit realestate juga menurun 40,11% (year on year). Menurutnya meningkatnya suku bunga acuan kerap meningkatkan pula suku bunga KPR. Bunga KPR yang tinggi mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap rumah. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 20)

8 Jumat, 19 Desember 2014 Kredit Mikro Ditargetkan Naik 4 Kali Lipat OJK menargetkan porsi kredit mikro sebesar 4-5 kali pada akhir pemerintahan Presiden RI, Joko Widodo. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisoner OJK mengatakan hal ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mendukung sektor maritim di Indonesia. Berdasarkan data statistik OJK, porsi penyaluran kredit perbankan untuk usaha mikro baru mencapai 3,74% dari total penyaluran kredit. Padahal 98,81% dari total usaha di Indonesia merupakan usaha mikro. Oleh karena itu, potensi pembiayaan masih cenderung tinggi. Skema layanan mikro diharapkan mampu mendorong literasi dan inklusi keuangan karena sifatnya yang low cost. Lebih lanjut layanan keuangan mikro dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang saat ini tengah mengalami perlambatan. Berdasarkan survei literasi keuangan tahun 2013, hanya 21,84% masyarakat yang dikategorikan sebagai well literated. Terkait NPL kredit mikro yang cenderung tinggi, Muliaman menambahkan hal tersebut dapat disiasati dengan menggabungkan kredit dengan asuransi mikro. (Sumber: Bisnis Indonesia, 19 Desember 2014, 19) Bank Waspadai Resiko Valas Sejumlah pelaku perbankan mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar kerap memberikan resiko pasar yang tinggi terhadap industri perbankan. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT OCBC NISP Tbk mengatakan resiko utama yang disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar adalah resiko pasar, selanjutnya resiko likuiditas dan kredit. Pihaknya menuturkan bahwa bank memiliki rasio intermediasi dalam bentuk valas sebesar 80% dan saat ini memiliki cadangan valas yang cukup ditambah dengan dana valas cadangan dari parent company sebesar US$ 300 Juta yang dapat ditarik. Walaupun begitu, pihaknya berharap agar gejolak nilai tukar akan kembali mereda. Vera Eve Lim, Direktur Keuangan PT Bank Danamon Tbk, mengaku sudah memperkirakan gejolak ini dan saat ini pihaknya akan menjaga likuiditas valas dan memperhatikan resiko nilai tukar tukat. Saat ini, rasio intermediasi valas (LDR) bank Danamon berkisar 40%. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT BCA Tbk, mengatakan saat ini bank memiliki ekses likuiditas valas sebesar US$ 700 Juta. Menanggapi gejolak nilai tukar, Ronald Waas, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan depresiasi nilai tukar disebabkan oleh tingginya permintaan valas seiring utang sejumlah perusahaan yang akan jatuh tempo pada akhir tahun Selain itu, melemahnya ekspor Indonesia pun kerap memacu penurunan Rupiah terhadap Dollar AS. Bank Indonesia akan mendorong perusahaan pemerintah dan swasta dalam melakukan lindung nilai (hedging)

9 dengan merombak aturan utang luar negeri. Peter Jacobs, Direktur Departemen Bank Indonesia mengatakan saat ini pihaknya sedang menyusun penyempurnaan secara detail dan teknis mengenai pinjaman luar negeri, seperti contoh dengan menambahkan detail rasio kewajiban valuta asing dan aset asing. Pada akhir Oktober lalu, Bank Indonesia merilis peraturan mengenai prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan ULN yang akan berlaku pada 1 Januari Dalam aturan tersebut, sejumlah perusahaan diwajibkan melakukan hedging dan menyediakan valas dalam rasio tertentu. Berdasarkan data dari Bank Indonesia per September 2014, total utang luar negeri tercatat US$ 292,28 miliar, tumbuh 11,19% (year on year). (Sumber: Bisnis Indonesia, 19 Desember 2014, 20) ***

Banking Weekly Hotlist (16 Februari 20 Februari 2015)

Banking Weekly Hotlist (16 Februari 20 Februari 2015) Banking Weekly Hotlist (16 Februari 20 Februari 2015) Senin, 16 Februari 2015 Suku Bunga Simpanan: Ruang Penurunan Masih Terkendala LPS menuturkan bahwa terdapat dua hal yang menjadi parameter penurunan

Lebih terperinci

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Overview Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) dalam RDG 13-14 Januari 2016 telah memutuskan untuk memangkas suku bunga

Lebih terperinci

International Monetary Fund UNTUK SEGERA th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C USA

International Monetary Fund UNTUK SEGERA th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C USA Siaran Pers No. 16/104 International Monetary Fund UNTUK SEGERA 700 19 th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C. 20431 USA Dewan Eksekutif IMF Menyimpulkan Konsultasi Pasal IV 2015 dengan Indonesia

Lebih terperinci

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Aktivitas sektor perbankan dalam suatu negara memegang peranan penting dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. Setiap orang dalam melakukan transaksi finansial yang berhubungan

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (04 Januari 08 Januari 2016)

Banking Weekly Hotlist (04 Januari 08 Januari 2016) Banking Weekly Hotlist (04 Januari 08 Januari 2016) Senin, 04 Januari 2016 Laba Bank Sulit Berkembang OJK menyatakan laba industri perbankan nasional pada kuartal IV/2015 mengalami penurunan dibandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk simpanan. Sedangkan lembaga keuangan non-bank lebih

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk simpanan. Sedangkan lembaga keuangan non-bank lebih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga keuangan digolongkan ke dalam dua golongan besar menurut Kasmir (2012), yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank. Lembaga keuangan bank atau

Lebih terperinci

ANALISA INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA 2012

ANALISA INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA 2012 ANALISA INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA 2012 Biro Riset BUMN Center LM FEUI Perbankan memiliki peran penting sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian bangsa. Memburuknya kinerja perbankan akan

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN I Triwulan I Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1%

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN I Triwulan I Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1% Triwulan I - 2015 SURVEI PERBANKAN Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1% Secara keseluruhan tahun 2015, optimisme responden terhadap pertumbuhan kredit semakin meningkat. Pada Triwulan

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (12 Januari 16 Januari 2015)

Banking Weekly Hotlist (12 Januari 16 Januari 2015) Banking Weekly Hotlist (12 Januari 16 Januari 2015) Senin, 12 Januari 2015 Pendatang Baru Kian Ekspansif Sejumlah bank pendatang baru di segmen mikro tengah aktif berekpansi menyalurkan kredit. Salah satu

Lebih terperinci

Laporan Direktur Utama

Laporan Direktur Utama 22 PT Bank Danamon Indonesia Tbk Laporan Tahunan 2008 Laporan Utama Pemegang Saham yang Terhormat, Tahun 2008 merupakan periode dengan banyak peristiwa yang menggoncangkan fondasi sektor keuangan global

Lebih terperinci

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank merupakan "nyawa

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (02 Maret 06 Maret 2015)

Banking Weekly Hotlist (02 Maret 06 Maret 2015) Banking Weekly Hotlist (02 Maret 06 Maret 2015) Senin, 02 Maret 2015 Protokol Krisis Harus Segera Diperbaiki Ketua Umum Perbanas mengungkapkan kinerja industri perbankan sepanjang lima tahun terakhir sudah

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (9 Februari 13 Februari 2015)

Banking Weekly Hotlist (9 Februari 13 Februari 2015) Banking Weekly Hotlist (9 Februari 13 Februari 2015) Senin, 9 Februari 2015 Bank RI Dapat Lampu Hijau Pertemuan Presiden RI, Joko Widodo, dengan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak, membuahkan

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN IV I II III IV I II III IV

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN IV I II III IV I II III IV SURVEI PERBANKAN Triwulan IV-2006 Target pemberian kredit baru pada triwulan I-2007 dan tahun 2007 diperkirakan meningkat Hanya sekitar 37,5% responden yang realisasi kredit barunya di bawah target yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya

BAB I PENDAHULUAN. dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Sebagian besar pendapatan bank berasal dari pendapatan bunga yang berasal dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya pertumbuhan

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (20 April 24 April 2015)

Banking Weekly Hotlist (20 April 24 April 2015) Senin, 20 April 2015 Banking Weekly Hotlist (20 April 24 April 2015) Perbankan Harus Waspadai Kenaikan NPL Sektor Pertambangan Perbankan harus mewaspadai risiko kenaikan kredit bermasalah/ NPL dari empat

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1%

SURVEI PERBANKAN PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1% SURVEI PERBANKAN Y jg brg dia TRIWULAN I-2015 PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1% Secara keseluruhan tahun 2015, optimisme responden terhadap pertumbuhan kredit semakin meningkat.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/11/PBI/2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

Lebih terperinci

Tahun Baru, Tantangan Lama

Tahun Baru, Tantangan Lama Senin, 4 Januari 2016 6:07 Tahun Baru, Tantangan Lama http://id.beritasatu.com/tajuk/tahun-baru-tantangan-lama/136579 Menkeu: APBN 2016 lebih kredibel. Karikatur ID 4 Januari 2016 Kita memasuki tahun 2016

Lebih terperinci

Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro

Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah

Lebih terperinci

2 Penyesuaian dilakukan dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang diterbitkan bank dalam perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) dalam kebijak

2 Penyesuaian dilakukan dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang diterbitkan bank dalam perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) dalam kebijak TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERBANKAN. BI. Giro Wajib Minimum. Rupiah. Valuta Asing. Bank Umum. Perubahan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 152). PENJELASAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (23 Februari 27 Februari 2015)

Banking Weekly Hotlist (23 Februari 27 Februari 2015) Banking Weekly Hotlist (23 Februari 27 Februari 2015) Senin, 23 Februari 2015 Sistem Ditjen Pajak Belum Siap Terkait penerapan Peraturan Dirjen Pajak No, Per-01/PJ/2015 mengenai kewajiban bank untuk melaporkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan III 2004 185 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2004, Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. institution) sendiri mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. institution) sendiri mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediately institution) sendiri mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan perekonomian. Sebagai lembaga

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Perkembangan Inflasi di Indonesia 14 INFLASI 12 10 8 6 4 2 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sumber: Hasil Olahan Data Oleh Penulis (2016) GAMBAR 4.1. Perkembangan

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran 1 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Tim Penulis Laporan Triwulanan, Bank Indonesia I.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan penawaran (supply) dan permintaan (demand) dana jangka

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan penawaran (supply) dan permintaan (demand) dana jangka BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan bagian dari suatu pasar finansial karena berhubungan dengan penawaran (supply) dan permintaan (demand) dana jangka panjang. Hal ini berarti pasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut UU No.10 tahun 1998 : Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam

Lebih terperinci

NAIK LAGI, UTANG PEMERINTAH RI KINI RP 3.323,36 TRILIUN

NAIK LAGI, UTANG PEMERINTAH RI KINI RP 3.323,36 TRILIUN NAIK LAGI, UTANG PEMERINTAH RI KINI RP 3.323,36 TRILIUN Detik.com Hingga akhir Mei 2016, total utang pemerintah i pusat tercatat Rp3.323,36 triliun. Naik Rp44,08 triliun dibandingkan akhir April 2016,

Lebih terperinci

Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference. Development. Jakarta, 2 September 2015

Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference. Development. Jakarta, 2 September 2015 Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference The Future of Asia s Finance: Financing for Development Jakarta, 2 September 2015 Yang terhormat Managing Director

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (26 Januari 30 Januari 2015)

Banking Weekly Hotlist (26 Januari 30 Januari 2015) Banking Weekly Hotlist (26 Januari 30 Januari 2015) Senin, 26 Januari 2015 BI Pertahankan Kebijakan Moneter Ketat Bank Indonesia akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat sebagai upaya untuk menjaga

Lebih terperinci

UMKM & Prospek Ekonomi 2006

UMKM & Prospek Ekonomi 2006 UMKM & Prospek Ekonomi 2006 Oleh : B.S. Kusmuljono Ketua Komite Nasional Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia (Komnas PKMI) Komisaris BRI Disampaikan pada : Dialog Ekonomi 2005 & Prospek Ekonomi Indonesia

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SIARAN PERS. 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK: Paket Kebijakan Ekonomi, Bangkitkan Kepercayaan Pasar

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SIARAN PERS. 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK: Paket Kebijakan Ekonomi, Bangkitkan Kepercayaan Pasar KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SIARAN PERS 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK: Paket Kebijakan Ekonomi, Bangkitkan Kepercayaan Pasar Jakarta, 21 Oktober 2015 Sebagai kementerian non teknis yang

Lebih terperinci

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua SAMBUTAN DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA SERAH TERIMA JABATAN KEPALA KANTOR PERWAKILAN BI PROVINSI ACEH BANDA ACEH, 20 OKTOBER 2015 Yang kami hormati, Gubernur Provinsi Aceh, Bp. Zaini Abdullah, Forum Komunikasi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA April 2015 Tim Riset SPMD Overview The Fed siap menaikan suku bunga acuan kapan saja yang berpotensi menarik dana tiba-tiba (sudden reversal) dari emerging market termasuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satunya ialah kredit melalui perbankan. penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha. Bank

BAB I PENDAHULUAN. satunya ialah kredit melalui perbankan. penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha. Bank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian suatu negara didukung oleh adanya suntikan dana dari pihak pemerintah baik melalui Lembaga Keuangan Bank (selanjutnya disingkat menjadi LKB) ataupun Lembaga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menghimpun dana dari pihak yang berkelebihan dana dan menyalurkannya

I. PENDAHULUAN. menghimpun dana dari pihak yang berkelebihan dana dan menyalurkannya 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan merupakan lembaga yang vital dalam mempengaruhi perkembangan perekonomian suatu negara. Melalui fungsi intermediasinya, perbankan mampu menghimpun dana dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia perbankan yang sangat pesat disertai dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia perbankan yang sangat pesat disertai dengan tingkat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia perbankan yang sangat pesat disertai dengan tingkat komplektisitas yang tinggi dapat mempengaruhi kinerja suatu bank. Komplektisitas yang tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh 19,7% tahun 2015, jauh lebih tinggi dari tahun triliun menjadi Rp triliun hingga akhir tahun.

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh 19,7% tahun 2015, jauh lebih tinggi dari tahun triliun menjadi Rp triliun hingga akhir tahun. BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang penelitian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan laba perbankan akan tumbuh 19,7% tahun 2015, jauh lebih tinggi dari tahun 2014 yang pertumbuhannya hanya 5%. Secara

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 80 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan berbeda. Penelitian mengenai kredit pernah ada akan tetapi dengan objek yang Pada penelitian kali ini penulis meneliti tingkat Loan to Deposit Ratio dan Non

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (5 Januari 9 Januari 2015)

Banking Weekly Hotlist (5 Januari 9 Januari 2015) Banking Weekly Hotlist (5 Januari 9 Januari 2015) Senin, 5 Januari 2015 Kredit Melemah hingga Akhir Tahun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pertumbuhan kredit cenderung melambat seiring dengan perlambatan

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN: Indonesia s Economy and The Prospect for Banking Industry 2016

OTORITAS JASA KEUANGAN: Indonesia s Economy and The Prospect for Banking Industry 2016 OTORITAS JASA KEUANGAN: Indonesia s Economy and The Prospect for Banking Industry 2016 Muliaman D. Hadad, Ph.D Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan IBI - Seminar Economic Outlook 2016 Jakarta,

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelebihan dana dan kekurangan dana (Mishkin, 2009). Bank memiliki peranan

BAB I PENDAHULUAN. kelebihan dana dan kekurangan dana (Mishkin, 2009). Bank memiliki peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan lembaga keuangan yang menerima simpanan dan membuat pinjaman serta sebagai lembaga perantara interaksi antara pihak yang kelebihan dana dan kekurangan

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan perekonomian Indonesia tidak terlepas dari peran perbankan dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediate atau lembaga yang berfungsi

Lebih terperinci

K L I P I N G. Kamis, 10 Oktober Berita terkait LPDB-KUMKM Demikian kliping ini disampaikan sebagai bahan informasi.

K L I P I N G. Kamis, 10 Oktober Berita terkait LPDB-KUMKM Demikian kliping ini disampaikan sebagai bahan informasi. K L I P I N G L P D B - K U M K M Kamis, 10 Oktober 2013 Berita terkait LPDB-KUMKM Demikian kliping ini disampaikan sebagai bahan informasi. No Media Cetak/Online Hal. Judul 1 Perekonomiantasik.blogspot.com

Lebih terperinci

Keynote Speech Seminar Pengembangan Ekonomi Produktif dalam Rangka Mendukung Program Minapolitan

Keynote Speech Seminar Pengembangan Ekonomi Produktif dalam Rangka Mendukung Program Minapolitan Keynote Speech Seminar Pengembangan Ekonomi Produktif dalam Rangka Mendukung Program Minapolitan Dr. Hendar Deputi Gubernur Bank Indonesia Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik dan stabil. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator yang memberikan nilai-nilai yang

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN II 2004

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN II 2004 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan II 2004 1 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN II 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan II 2004, Bank Indonesia Selama

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi, BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 12 BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 2.1 Bank Devisa di Indonesia. Dalam system perekonomian terbuka, perdagangan suatu negara akan terhubung dengan negara lain. Kegiatan perdagangan ini memerlukan alat

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Banten

Kajian Ekonomi Regional Banten Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja melalui penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. luas yang dikenal dengan istilah perbankan adalah kegiatan funding. Pengertian

BAB I PENDAHULUAN. luas yang dikenal dengan istilah perbankan adalah kegiatan funding. Pengertian BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dengan semakin berkembangnya suatu kegiatan perekonomian maka diperlukan sumber-sumber penyediaan dana guna membiayai kegiatan usaha yang semakin berkembang tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pasar modal akhir-akhir ini membawa peranan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pasar modal akhir-akhir ini membawa peranan yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan pasar modal akhir-akhir ini membawa peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian dunia. Bahkan pasar modal dapat juga dipandang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Bank merupakan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah ditegaskan dalam

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (2 Februari 6 Februari 2015)

Banking Weekly Hotlist (2 Februari 6 Februari 2015) Banking Weekly Hotlist (2 Februari 6 Februari 2015) Senin, 2 Februari 2015 BI Punya Ruang Pelonggaran Seiring melambatnya tingkat inflasi, analis Morgan Stanley memperkirakan Bank Indonesia akan menurunkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/10/PBI/2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 12/19/PBI/2010 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN TERKINI

PERKEMBANGAN TERKINI PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK. PERKEMBANGAN TERKINI KINERJA OPERASIONAL PERSEROAN Perbandingan Periode Sembilan bulan yang Berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan 30 September 2012 Pendapatan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

Kinerja CENTURY PRO FIXED

Kinerja CENTURY PRO FIXED 29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 3,058,893,148.56 - Keuangan - Infrastruktur 0-80% AAA A - 66.33% 15.52% 18.15% - Inflasi (Jan 2016) - Inflasi (YoY) - BI Rate 0.51% 4.14% 7.25% Kinerja Sejak pe- Deskripsi

Lebih terperinci

LAPORAN KOMISARIS. Jayant Rikhye. Tahun 2015 merupakan momentum yang penting bagi Bank Ekonomi untuk mengembangkan potensi ke tingkatan berikutnya

LAPORAN KOMISARIS. Jayant Rikhye. Tahun 2015 merupakan momentum yang penting bagi Bank Ekonomi untuk mengembangkan potensi ke tingkatan berikutnya Kilas Kinerja 2015 Profil Perusahaan Analisa dan Pembahasan Manajemen LAPORAN KOMISARIS Tahun 2015 merupakan momentum yang penting bagi Bank Ekonomi untuk mengembangkan potensi ke tingkatan berikutnya

Lebih terperinci

KONDISI TRIWULAN I I II III IV I II III IV I

KONDISI TRIWULAN I I II III IV I II III IV I SURVEI PERBANKAN Triwulan I-007 Target pemberian kredit baru pada triwulan II-007 dan tahun 007 diperkirakan masih akan meningkat Hanya 4,0% responden yang menyatakan realisasi kredit baru dalam triwulan

Lebih terperinci

TANTANGAN INTERMEDIASI PERBANKAN Oleh: Djoko Retnadi, Ekonom Senior, The Indonesia Economic Intelligence, Jakarta

TANTANGAN INTERMEDIASI PERBANKAN Oleh: Djoko Retnadi, Ekonom Senior, The Indonesia Economic Intelligence, Jakarta 1 TANTANGAN INTERMEDIASI PERBANKAN 2007 1 Oleh: Djoko Retnadi, Ekonom Senior, The Indonesia Economic Intelligence, Jakarta Kinerja perbankan nasional sampai dengan tahun 2006 dianggap belum memuaskan karena

Lebih terperinci

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH?

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH? Edisi Maret 2015 Poin-poin Kunci Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp13.000 per dollar AS, terendah sejak 3 Agustus 1998. Pelemahan lebih karena ke faktor internal seperti aksi hedging domestik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pembiayaan alternatif selain pembiayaan melalui perjanjian pinjaman (loan

BAB 1 PENDAHULUAN. pembiayaan alternatif selain pembiayaan melalui perjanjian pinjaman (loan BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Surat Berharga Negara (SBN) dipandang oleh pemerintah sebagai instrumen pembiayaan alternatif selain pembiayaan melalui perjanjian pinjaman (loan agreement). Kondisi APBN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan perekonomian dan bisnis di dunia sangat ini berlangsung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan perekonomian dan bisnis di dunia sangat ini berlangsung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian dan bisnis di dunia sangat ini berlangsung dengan pesat. Hal ini juga ditunjukkan dengan semakin banyaknya bank yang bermunculan di

Lebih terperinci

KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN SEMINAR MAJALAH INVESTOR

KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN SEMINAR MAJALAH INVESTOR Keynote Speech KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN SEMINAR MAJALAH INVESTOR Dengan tema Outlook Ekonomi dan Pasar Modal 2016 Balroom Hotel JW Marriot, Jakarta, 19 November 2015 Assalamu alaikum

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menggerakan roda perekonomian (Undang-Undang No.7 tahun 1992 pasal 1).

I. PENDAHULUAN. menggerakan roda perekonomian (Undang-Undang No.7 tahun 1992 pasal 1). I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Perbankan adalah lembaga intermediasi yang berfungsi sebagai pengumpul dana masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam rangka menggerakan roda

Lebih terperinci

Laporan Perekonomian Indonesia

Laporan Perekonomian Indonesia 1 Key Messages Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi spillover dan gejolak pasar keuangan global. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan relatif

Lebih terperinci

menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang

menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/20/PBI/2014 TANGGAL 28 OKTOBER 2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memfasilitasi investor untuk berinvestasi, untuk mendapatkan pengembalian yang

BAB I PENDAHULUAN. memfasilitasi investor untuk berinvestasi, untuk mendapatkan pengembalian yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Dalam era persaingan global setiap negara ingin bersaing secara internasional, sehingga dalam hal ini kebijakan yang berbeda diterapkan untuk memfasilitasi investor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit. Seseorang dapat membeli rumah secara tunai apabila orang tersebut memiliki uang yang nilainya sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah, inflasi

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah, inflasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada awal tahun 1998 yakni pada awal masa orde baru perekonomian Indonesia mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah,

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (23 Maret 27 Maret 2015)

Banking Weekly Hotlist (23 Maret 27 Maret 2015) Banking Weekly Hotlist (23 Maret 27 Maret 2015) Senin, 23 Maret 2015 ASEAN Finalisasi Kerangka Kerja Sama Perbankan Bank Negara Malaysia (BNM) mengumumkan bahwa para anggota ASEAN telah menuntaskan ASEAN

Lebih terperinci

Diskusi dan Analisis Manajemen

Diskusi dan Analisis Manajemen Diskusi dan Analisis Manajemen Data Keuangan Konsolidasi Hasil Usaha Pendapatan Bunga Bersih 4.603 5.645 7.136 26% Pendapatan Imbal Jasa 1.080 1.358 1.741 28% Pendapatan Operasional 5.683 7.003 8.877 27%

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/15/PBI/2004 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/15/PBI/2004 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/15/PBI/2004 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kondisi perekonomian nasional

Lebih terperinci

Diskusi Terbuka INFID

Diskusi Terbuka INFID Diskusi Terbuka INFID Dr. Edi Prio Pambudi Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 10 September 2015 PERSOALAN SAAT INI Tantangan Global Pemulihan ekonomi

Lebih terperinci

PROYEKSI MAKROEKONOMI INDONESIA

PROYEKSI MAKROEKONOMI INDONESIA PROYEKSI MAKROEKONOMI INDONESIA 2009-2013 Biro Riset LMFEUI Gejolak makroekonomi mulai terjadi sejalan dengan fluktuasi harga energi dan komoditas sejak semester kedua 2007. Fluktuasi tersebut disusul

Lebih terperinci

BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website :

BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website : Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Telepon : +62 61 3818189 +62 21 3818206 (sirkulasi)

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga seolah menjadi bayang-bayang

BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga seolah menjadi bayang-bayang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Permasalahan perbankan yang kerap kali muncul menjadi isu krusial bagi perbankan Indonesia dan menjadi perhatian masyarakat adalah masalah tingginya tingkat

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (30 Maret 02 April 2015)

Banking Weekly Hotlist (30 Maret 02 April 2015) Senin, 30 Maret 2015 Banking Weekly Hotlist (30 Maret 02 April 2015) Ruang Bank Menengah Menyempit Ruang pertumbuhan bisnis tujuh dari 15 bank terbesar Tanah Air kian menyempit dalam kurun waktu tiga tahun

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. Keberhasilan suatu perusahaan sangat bergantung pada keputusan yang

BAB I Pendahuluan. Keberhasilan suatu perusahaan sangat bergantung pada keputusan yang BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penelitian Keberhasilan suatu perusahaan sangat bergantung pada keputusan yang diambil oleh para manajer dari tiap bagian fungsional suatu perusahaan tersebut. Sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada akhir 1990-an telah menunjukkan bahwa ketidakstabilan ekonomi makro

BAB I PENDAHULUAN. pada akhir 1990-an telah menunjukkan bahwa ketidakstabilan ekonomi makro BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Krisis sistemik yang mengguncang sektor keuangan di Asia Tenggara pada tahun 1997 telah memberikan bukti adanya hubungan yang kuat antara stabilitas ekonomi makro dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Perbankan Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Perbankan Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-Undang Perbankan Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat

Lebih terperinci

Prediksi Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan 6,3%

Prediksi Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan 6,3% 1 Prediksi Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan 6,3% Prediksi tingkat suku bunga SPN 3 Bulan tahun 2016 adalah sebesar 6,3% dengan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi internal maupun eksternal. Data yang digunakan

Lebih terperinci

LAPORAN EKONOMI MAKRO KUARTAL III-2014

LAPORAN EKONOMI MAKRO KUARTAL III-2014 LAPORAN EKONOMI MAKRO KUARTAL III-2014 Proses perbaikan ekonomi negara maju terhambat tingkat inflasi yang rendah. Kinerja ekonomi Indonesia melambat antara lain karena perlambatan ekspor dan kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan depresiasi. Ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia juga telah

Lebih terperinci

Mempertahankan arah, menjadi lebih kuat.

Mempertahankan arah, menjadi lebih kuat. Bank Danamon Laporan Tahunan 2006 18 Laporan Direktur Utama Mempertahankan arah, menjadi lebih kuat. Di tahun 2006 Bank Danamon memperingati ulang tahunnya yang ke-50 dan menjadi lebih kuat pada akhir

Lebih terperinci

Boks Dampak Krisis Ekonomi Global terhadap Perbankan Kalsel

Boks Dampak Krisis Ekonomi Global terhadap Perbankan Kalsel Gejolak krisis ekonomi global mulai dirasakan dampaknya di Kalimantan Selatan. Tentu saja sektor perbankan juga tidak luput dari pengaruh krisis ini. Dalam rangka mengidentifikasi pengaruh krisis ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai pada setiap Negara, salah satunya Indonesia. Pada umumnya Usaha

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai pada setiap Negara, salah satunya Indonesia. Pada umumnya Usaha 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan unit usaha yang banyak dijumpai pada setiap Negara, salah satunya Indonesia. Pada umumnya Usaha Kecil dan Menengah

Lebih terperinci

KEBIJAKAN OTORITAS JASA KEUANGAN STIMULUS PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DAN PENINGKATAN SUPPLY VALUTA ASING DI SEKTOR JASA KEUANGAN 7 OKTOBER 2015

KEBIJAKAN OTORITAS JASA KEUANGAN STIMULUS PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DAN PENINGKATAN SUPPLY VALUTA ASING DI SEKTOR JASA KEUANGAN 7 OKTOBER 2015 KEBIJAKAN OTORITAS JASA KEUANGAN STIMULUS PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DAN PENINGKATAN SUPPLY VALUTA ASING DI SEKTOR JASA KEUANGAN 7 OKTOBER 2015 1. RELAKSASI KETENTUAN PERSYARATAN KEGIATAN USAHA PENITIPAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1997, ketika itu nilai tukar rupiah merosot tajam, harga-harga meningkat tajam yang mengakibatkan inflasi yang tinggi,

Lebih terperinci

Arah Kebijakan Otoritas Moneter Indonesia Tahun Oleh : Marsuki

Arah Kebijakan Otoritas Moneter Indonesia Tahun Oleh : Marsuki Arah Kebijakan Otoritas Moneter Indonesia Tahun 2008 Oleh : Marsuki Disampaikan dalam Seminar Perbankan Nasional STIEM Bongaya Dengan Tema : Arah Kebijakan Perbankan Nasional, Pasca Kenaikan Harga BBM.

Lebih terperinci