Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014)"

Transkripsi

1 Banking Weekly Hotlist (15 Desember 19 Desember 2014) Senin, 15 Desember 2014 Bank Andalkan Pinjaman Pemerintah Sejumlah perbankan memperkirakan kondisi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) akan menghadapi banyak tantangan pada tahun depan. Royke Tumilaar, Managing Director of Treasury, Financial Institutions & Special Asset Management PT Bank Mandiri Tbk mengatakan tantangan terbesar dari kebijakan pinjaman pemerintah. Kendati demikian, pihaknya yakin bahwa kondisi PUAB akan membaik terlihat dari volume transaksi yang lebih besar dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, Achmad Baiquni, Direktur Keuangan PT BRI Tbk, mengungkapkan bahwa realisasi utang pemerintah tidak akan berdampak signifikan. Hartati, Direktur Keuangan PT Bank OCBC NISP Tbk, menambahkan bahwa perbankan memiliki pendanaan alternatif pada tahun depan. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah bank yang meminjam dan menempatkan dana ke PUAB tercatat masing-masing 81 dan 94 bank dengan volume transaksi harian rata-rata Rp 12,2 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 10,7 triliun. Adapun hingga kuartal III 2014 suku bunga PUAB overnight (O/N) relatif stabil di 5,86% dan total volume tercatat Rp 11,8 triliun. Selain itu, deposit facility (DF) O/N tercatat Rp 129,4 triliun. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) BI Rate Siap Ikuti Kenaikan Bunga the Fed Bank Indonesia akan kembali menaikkan BI Rate menyusul kenaikan Fed Fund Rate oleh the Fed yang diperkirakan akan dilakukan pada awal tahun depan. Solihin M. Juhro, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan selain suku bunga acuan, Bank Indonesia memiliki instrumen lainnya seperti makroprudensial, financial deepening dan sistem pembayaran. Bauran kebijakan tersebut akan dilakukan dalam takaran dan waktu yang tepat sebagai langkah antisipasi tantangan tahun mendatang, seperti perlambatan ekonomi China dan peningkatan utang luar negeri (ULN). Bank Indonesia optimis bahwa pada tahun 2015 ekonomi Indonesia akan membaik. Pasalnya indikator Composit Leading Indicator (CLI) yang dibentuk Bank Indonesia menunjukkan bahwa tahun depan ekonomi Indonesia menunjukkan arah perbaikan. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar 5,4% - 5,8% dengan inflasi 4+1%. Adapun

2 pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan tumbuh 15% - 17%. Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, mengatakan hal utama yang paling ditunggu adalah mengenai suku bunga acuan the Fed. Kenaikan BI Rate lebih lanjut sebelumnya telah diperkirakan oleh Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom PT BNI Tbk. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) Bank Siapkan Skema Khusus Pelaku perbankan menilai bahwa diperlukan skema khusus terkait penyaluran kredit untuk nasabah nelayan dengan memperhatikan pola penghasilan nelayan. Budi Satria, Corporate Secretary PT BRI Tbk, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun skema khusus tersebut. Skema ini merupakan penyempurnaan dari produk lama perseroan yakni Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). Skema ini pun mencakup pola musiman penghasilan nelayan. Sementara itu Anika Faisal, Direktur Kepatuhan PT BTPN Tbk, mengatakan bahwa penyaluran kredit kepada nelayan harus melibatkan kelompok yang lebih besar yang tergabung dalam suatu kluster tertentu untuk mempermudah administrasi dan mitigasi resiko kredit. Anika mengakui bahwa penyaluran kredit ke sektor ini masih sangat rendah mengingat resiko kredit macet yang tergolong tinggi. Oleh karena itu, pihaknya meminta perbankan untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor ini. (Sumber: Bisnis Indonesia, 15 Desember 2014, 24) Selasa, 16 Desember 2014 RI Masih Kalah dari Kenya Transaksi nontunai di Indonesia masih sangat rendah yakni baru sekitar 8% dari total transaksi di Indonesia. Budi Hartono, Vice President Electronic Banking Group PT Bank Mandiri Tbk mengatakan transaksi nontunai perlu untuk ditingkatkan untuk membantu pencatatan Produk Dometik Bruto (PDB) di Indonesia. Kendati demikian, transaksi tunai di Indonesia masih sangat tinggi yakni diperkirakan sebesar US$425 miliar atau sebesar 85% dari total transaksi. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan Singapura dan Malaysia yakni masing-masing sebesar 39% dan 42%. Proporsi transaksi nontunai di Indonesia pun bahkan kalah dengan di Kenya. Tingginya tingkat kriminalitas mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai. Menurut Budi dalam kutipannya dari teori ekonomi Friedrich Schneider, meningkatkatnya jumlah transaksi elektronik sebesar 10% akan mengurangi shadow economy sebesar 5%.

3 (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 23) Bank Selektif Tekan NPL OJK meminta perbankan untuk tetap berhati-hati dalam memaju pertumbuhan kredit. Pasalnya sebelum menyalurkan kredit perbankan harus terlebih dahulu mempertajam analisis resiko dan memperkuat kemampuan SDM. Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengatakan perbankan harus mempertajam analisis kredit dengan memperhitungkan kondisi perekonomian. Lebih lanjut, pihaknya menuturkan bahwa sektor pertambangan dan komoditas perlu diwaspadai. Pasalnya permintaan kedua sektor tersebut sedang melambat di pasar global. Namun untuk tahun 2015, baik sektor pertambangan dan komoditas memiliki tren meningkat. Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) bulan September 2014, NPL sektor pertambangan meningkat dari September 2013 sebesar 1,47% menjadi 3,21%. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pertanian, perburuan dan kehutanan yang meningkat dari 1,62% pada September 2013 menjadi 2,06% pada September Selain itu, NPL sektor konstruksi pun meningkat menjadi 4,54%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3,31%. Menanggapi hal tersebut, Roosniati Salihin, Wapresdir PT Bank Panin Tbk mengatakan perseroan tahun depan akan akan fokus pada penyaluran kredit UMKM yang dinilai lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Pada tahun ini, bisnis perseroan hanya tumbuh sekitar 10% - 12% karena ketatnya likuiditas, ketidakstabilan politik akibat pemilu dan perlambatan ekonomi nasional. Demi mendukung penyaluran kredit ke sektor UMKM, perseroan berencana memperluas jaringan kantor cabang ke Indonesia bagian Timur. Sektor telekomunikasi dinilai cukup prospektif, namun belakang penyaluran kredit di sektor ini justru melambat secara signifikan. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI), penyaluran kredit di sektor ini hanya meningkat 11,78% (year on year), lebih rendah dibandingkan persentase pada 2 tahun yang lalu yang mencapai 30%. Mira Tayyiba, Kepala Sub Direktorat Pos, telekonomunikasi dan Informatika Bappenas mengatakan sektor telekonomunikasi membutuhkan nilai investasi yang besar yakni mencapai Rp 278 triliun hingga tahun 2019 untuk pembangunan akses intranet berkecepatan tinggi atau pita lebar (broadband). Tambok P. Setyawati, Vice President Division Head Market Intelligence and Business PT BNI Tbk mengaku sektor telekonomunikasi mempunyai prospek yang baik namun perbankan tidak ingin menambah resiko bermasalah. Pasalnya perbankan perlu memperhatikan kemampuan usaha, legalitas dan tenaga ahli sebelum memberikan kredit. Adapun Bank BNI sendiri telah menyalurkan kredit sektor telekomunikasi ke PT Telkom. Tahun ini, BNI menyediakan dana sebesar Rp 11 triliun untuk membiayai sektor telekonomunikasi dan hingga September 2014 realisasi penyaluran kredit tersebut sudah mencapai Rp 8,4 triliun. (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 24)

4 OJK Cek Kinerja Keuangan Bank OJK menegaskan hanya bank yang berkinerja baik yang dapat ikut serta dalam program layanan keuangan tanpa kantor. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan terdapat beberapa bank yang mengajukan keikutsertaannya dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), namun pihaknya akan menyeleksi dengan ketat bank-bank yang mengajukan izin Laku Pandai. Menurutnya hanya bank yang memiliki kesiapan infrastruktur teknologi infromasi dan komitmen pemilik yang menjalankan. Pihaknya juga menyatakan akan secara aktif memantau perkembangan aktivitas bank dan agen untuk melindungi konsumen. Kendati demikian, performa perbankan tahun ini dirasakan menurun. Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengatakan perlambatan sektor perbankan diakibatkan oleh kondisi ekonomi makro. Salah satu bank yang telah menerapkan layanan keuangan tanpa kantor adalah PT BRI Tbk melalui BRILink. (Sumber: Bisnis Indonesia, 16 Desember 2014, 24) Rabu, 17 Desember 2014 NPL Tinggi, Jumlah Bank Penyalur Dibatasi Pemerintah akan menghentikan bank-bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki NPL KUR yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI. Menurutnya NPL sudah tidak wajar apabila telah berada di atas kisaran 10% - 15%. Lebih lanjutnya, pihaknya meminta OJK untuk mengkaji penyebab tingginya NPL KUR pada bank-bank penyalur. Apabila NPL disebabkan oleh buruknya kualitas KUR sebagai akibat dari masalah bisnis dan merupakan hal yang dapat dihindari maka pemerintah akan membayar penjaminan pinjaman tersebut. Kendati demikian, pemerintah akan terus aktif menyalurkan KUR melalui bank yang memiliki NPL KUR yang rendah, seperti PT BRI Tbk. Rata-rata NPL KUR PT BRI Tbk tercatat 2,7%. Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM RI, akan menurunkan plafon KUR menjadi maksimal sebesar Rp 25 Juta pada Januari (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 1)

5 Biaya Kliring dan RTGS Dibatasi Bank Indonesia pada pertengahan tahun depan akan merilis beleid mengenai pembatasan biaya transaksi yang dikenakan kepada nasabah untuk produk kliring dan RTGS. Untuk Kliring, Bank Indonesia menetapkan biaya transaksi kepada bank sebesar Rp 1.000, sementara kliring sebesar Rp pada pagi hari serta Rp setelah lewat jam operasional pukul WIB. Bramudija, Kepala Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran, mengatakan pembatasan biaya ini akan diluncurkan bersamaan dengan RTGS II yang nantinya dapat menggunakan mata uang asing. Isbandiono Subadi, Wakil Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), mengatakan biaya perlu dibedakan antara bank kecil dan bank besar. Pasalnya bank kecil sudah selayaknya diberikan biaya yang rendah. Hingga 15 Desember 2014, nominal kliring nasional mencapai Rp 6,6 triliun dengan jumlah transaksi transaksi, sementara RTGS mencapai Rp 490 triliun dengan transaksi. Selain itu, Bank Indonesia juga akan merilis kliring generasi II. Sukarela Permana, Direktur Departemen Manajemen Sistem Pembayaran mengatakan keunggulan kliring adalah dapat digunakan secara multitransfer. (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 20) BI Setuju, OJK Pikir-pikir Untuk mendorong kualitas dan kuantitas kredit mikro, Bank Indonesia setuju untuk memberikan insentif dan disintensif kepada perbankan. Hal ini dilakukan sejalan dengan salah satu fokus regulator yang ingin meningkatkan sektor manufaktur Indonesia. Solihin M. Juhro, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan pengembangan di sektor manufaktur merupakan upaya dalam mendorong Indonesia sebagai hub perdagangan di dunia. Manufaktur yang diharapkan tumbuh adalah manufaktur yang berbasiskan sumber daya alam, sehingga Indonesia tidak perlu lagi ekspor bahan mentah yang akhir-akhir ini menurun akibat menurunnya harga komoditas global. Lain halnya dengan Bank Indonesia, OJK saat ini masih mengkaji terkait aturan pemberian insentif dan disinsentif. Ganjar Mustika, Kepala Departemen Penlitian dan Pengaturan Perbankan OJK mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada program yang akan berlansung yakni laku pandai. Adapun menurut data SPI, NPL UMKM perbankan terlampau membengkak. Menanggapi hak tersebut, Ganjar memberikan akan melakukan upaya lanjutan. Namun apabila salah satu perbankan terus mengalami peningkatan saldo, maka akan dikaji kemungkinan diberikan disinsentif. Hendar, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan pemberian insentif dan eksternal, diharapkan mampu menggenjot kredit UMKM, (Sumber: Bisnis Indonesia, 17 Desember 2014, 20)

6 Kamis, 18 Desember 2014 Ekonomi RI Tumbuh 5,6% Asian Development Bank (ADB) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 menjadi 5,6%. Sebelumnya ADB memproyeksi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,8% pada tahun depan. Edimon Ginting, Ekonom ADB untuk Indonesia mengatakan hanya konsumsi saja yang dapat mendorong ekonomi Indonesia, sementara andil ekspor akan lebih rendah dibandingkan ekspektasi ADB. Selain memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan, ADB pun memangkas pertumbuhan ekonomi tahun dari sebelumnya sebesar 5,3% menjadi 5,1%. Hal ini disebabkan oleh masih lemahnya investasi dan ekspor di Indonesia. Menurutnya ekspor akan meningikat tipis pada tahun depan, namun tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Investasi pun diperkirakan akan stagnan karena kondisi ekonomi dan politik yang belum menentu. Adapun pos belanja pemerintah masih akan tetap tinggi, namun akan lebih ditopang oleh belanja sektor produktif, seperti untuk pembangunan infrastruktur. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 4) Agunan Jadi Persoalan Nelayan Ono Surono, Ketua HImpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Barat mengatakan bahwa Nelayan saat ini tidak mengerti persyaratan yang akan menjadi agunan. Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah dan perbankan untuk melakukan edukasi agar Nelayan dapat mengerti cara meminjam ke bank. Nelayan kerap membutuhkan dana untuk membiayai pembelian alat tangkap yang lebih modern, tempat penyimpanan ikan dan pembelian kapal. Menurutnya potensi sektor kelautan dan perikanan sangat potensial. Ahmad Irfan, Direktur Direktur Komersial PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) mengatakan pihaknya telah mengucurkan kredit di sektor ini, namun belum begitu signifikan. Saat ini pihaknya tengah mengkaji upaya peningkatan kredit di sektor maritim dan akan mempertimbangkannya dengan prinsip prudential banking. Jafar Ismail, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat meminta Nelayan untuk ikut dalam koperasi agar tidak terjerat oleh rentenir. Di Sulawesi Utara, dilakukan suatu pendampingan bisnis kepada Nelayan yang merupakan kerjasama antara Bank Indonesia dengan dinas terkait. Luctor E. Tapiheru, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara mengatakan hal ini dilakukan untuk menekan resiko kredit bermasalah di sektor maritim. Perbankan enggan masuk ke sektor ini karena resikonya yang tinggi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun disebutkan bahwa nantinya Bank Pembangunan Daerah (BPD) akan ditunjuk sebagai agen

7 penyalur kredit untuk sektor maritim. Novie V. B Kaligis, Direktur Pemasaran Bank Sulut, menyambut baik hal ini. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 19) Kredit Investasi Akan Melambat Kondisi suku bunga yang masih tinggi serat defisit neraca perdagangan akan menekan penyaluran kredit investasi perbankan pada tahun depan. Padahal untuk mengejar target pertumbuhan sebesar 5,8% diperlukan struktrur investasi yang lebih besar. Eric Sugandi, Ekonom Standard Chatered, mengatakan kenaikan BI Rate akan memperlambat penyaluran kredit investasi. Pada kuartal III 2015, pihaknya memperkirakan Bank Indonesia akan kembali meningkatkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 8, 25%. Berdasarkan data SPI September 2014, kredit investasi tumbuh 16,39% (year on year). Namun seiring dengan peningkatan kredit, NPL kredit investasi pun meningkat dari 1,82% pada September 2013 menjadi 2,5 pada September Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Internasional Indonesia Tbk mengakui bahwa perlambatan kredit investasi tahun depan disebabkan oleh tingginya suku bunga. Suku bunga yang tinggi pun akan mempengaruhi konsumsi masyarakat sehingga kredit konsumsi pun akan cenderung melambat. Namun perlambatan ini hanya akan berlangsung pada kuartal I Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mangkoe Sasmito, Direktur Utama Bank Lampung. Pihaknya mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi akan menekan kredit konsumsi hanya hingga awal tahun depan. Sementara di Malang, Jawa Timur, kenaikan BI Rate kerap mempengaruhi kredit pemilikan rumah (KPR). Yan Jimmy, Kepala Sub Bagian Pengawasan Kantor OJK mengatakan KPR mengalami penurunan sebesar 41,24% (year on year). Selain itu, kredit realestate juga menurun 40,11% (year on year). Menurutnya meningkatnya suku bunga acuan kerap meningkatkan pula suku bunga KPR. Bunga KPR yang tinggi mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap rumah. (Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Desember 2014, 20)

8 Jumat, 19 Desember 2014 Kredit Mikro Ditargetkan Naik 4 Kali Lipat OJK menargetkan porsi kredit mikro sebesar 4-5 kali pada akhir pemerintahan Presiden RI, Joko Widodo. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisoner OJK mengatakan hal ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mendukung sektor maritim di Indonesia. Berdasarkan data statistik OJK, porsi penyaluran kredit perbankan untuk usaha mikro baru mencapai 3,74% dari total penyaluran kredit. Padahal 98,81% dari total usaha di Indonesia merupakan usaha mikro. Oleh karena itu, potensi pembiayaan masih cenderung tinggi. Skema layanan mikro diharapkan mampu mendorong literasi dan inklusi keuangan karena sifatnya yang low cost. Lebih lanjut layanan keuangan mikro dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang saat ini tengah mengalami perlambatan. Berdasarkan survei literasi keuangan tahun 2013, hanya 21,84% masyarakat yang dikategorikan sebagai well literated. Terkait NPL kredit mikro yang cenderung tinggi, Muliaman menambahkan hal tersebut dapat disiasati dengan menggabungkan kredit dengan asuransi mikro. (Sumber: Bisnis Indonesia, 19 Desember 2014, 19) Bank Waspadai Resiko Valas Sejumlah pelaku perbankan mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar kerap memberikan resiko pasar yang tinggi terhadap industri perbankan. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT OCBC NISP Tbk mengatakan resiko utama yang disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar adalah resiko pasar, selanjutnya resiko likuiditas dan kredit. Pihaknya menuturkan bahwa bank memiliki rasio intermediasi dalam bentuk valas sebesar 80% dan saat ini memiliki cadangan valas yang cukup ditambah dengan dana valas cadangan dari parent company sebesar US$ 300 Juta yang dapat ditarik. Walaupun begitu, pihaknya berharap agar gejolak nilai tukar akan kembali mereda. Vera Eve Lim, Direktur Keuangan PT Bank Danamon Tbk, mengaku sudah memperkirakan gejolak ini dan saat ini pihaknya akan menjaga likuiditas valas dan memperhatikan resiko nilai tukar tukat. Saat ini, rasio intermediasi valas (LDR) bank Danamon berkisar 40%. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT BCA Tbk, mengatakan saat ini bank memiliki ekses likuiditas valas sebesar US$ 700 Juta. Menanggapi gejolak nilai tukar, Ronald Waas, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan depresiasi nilai tukar disebabkan oleh tingginya permintaan valas seiring utang sejumlah perusahaan yang akan jatuh tempo pada akhir tahun Selain itu, melemahnya ekspor Indonesia pun kerap memacu penurunan Rupiah terhadap Dollar AS. Bank Indonesia akan mendorong perusahaan pemerintah dan swasta dalam melakukan lindung nilai (hedging)

9 dengan merombak aturan utang luar negeri. Peter Jacobs, Direktur Departemen Bank Indonesia mengatakan saat ini pihaknya sedang menyusun penyempurnaan secara detail dan teknis mengenai pinjaman luar negeri, seperti contoh dengan menambahkan detail rasio kewajiban valuta asing dan aset asing. Pada akhir Oktober lalu, Bank Indonesia merilis peraturan mengenai prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan ULN yang akan berlaku pada 1 Januari Dalam aturan tersebut, sejumlah perusahaan diwajibkan melakukan hedging dan menyediakan valas dalam rasio tertentu. Berdasarkan data dari Bank Indonesia per September 2014, total utang luar negeri tercatat US$ 292,28 miliar, tumbuh 11,19% (year on year). (Sumber: Bisnis Indonesia, 19 Desember 2014, 20) ***

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL POKOK BAHASAN I II KONDISI UMKM PERBANKAN KOMITMEN III POLA PEMBIAYAAN UMKM IV KESIMPULAN I KONDISI UMKM PERBANKAN

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA FREQUENTLY ASKED QUESTIONS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 1 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 1. Apa saja pertimbangan diterbikannya

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia)

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) 1. SBI 3 bulan PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) SBI 3 bulan digunakan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen untuk melakukan operasi

Lebih terperinci

Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing

Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Perbedaan pasar uang dan pasar modal yaitu: 1. Instrumen yang diperjualbelikan pasar modal yang diperjualbelikan adalah adalah surat-surat berharga jangka panjang seperti

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat BABI PENDAHULU~ 1.1 Latar Belakang Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat transaksi penggerak perekonomian. Besar kecilnya jumlah uang beredar akan mempengaruhi daya beli riil

Lebih terperinci

PNM Permodalan Nasional Madani

PNM Permodalan Nasional Madani Mendorong Akselerasi Intermediasi kepada Usaha Mikro dan Kecil melalui Linkage Program Abdul Salam Direktur PT (Persero) Seminar Linkage Program Gema PKM & Bank Indonesia 27 Agustus 2004 PT. (Persero)

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT PROSPEK USAHA Potensi pertumbuhan usaha memiliki potensi pertumbuhan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, . PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat,

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1997-2 1999 2. Arah Kebijakan 1997-1999 3 3. Langkah-Langkah Strategis 1997-1999

Lebih terperinci

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan.

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 8. Memantau kepatuhan BCA dengan prinsip pengelolaan bank yang sehat sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui unit kerja

Lebih terperinci

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan Pendahuluan Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Tinjauan Tata Kelola Perusahaan Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan TINJAUAN EKONOMI MAKRO INDONESIA TAHUN 2012 Perekonomian Indonesia tumbuh 6,2% di tahun 2012,

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kelangsungan

Lebih terperinci

Seksi Informasi Hukum Ditama Binbangkum. UTANG NEGARA i : PEMERINTAH BUKA HEDGING ii UTANG VALUTA ASING (VALAS) Nasional.kontan.co.

Seksi Informasi Hukum Ditama Binbangkum. UTANG NEGARA i : PEMERINTAH BUKA HEDGING ii UTANG VALUTA ASING (VALAS) Nasional.kontan.co. UTANG NEGARA i : PEMERINTAH BUKA HEDGING ii UTANG VALUTA ASING (VALAS) Nasional.kontan.co.id Pemerintah tak mau terus tekor gara-gara fluktuasi nilai tukar. Maka itu, pemerintah akan melakukan hedging

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Analisa & Pembahasan Manajemen

Analisa & Pembahasan Manajemen Pembuka Pesan Utama Pembahasan Rencana & Strategi Laporan Bisnis Tinjauan Pendukung Bisnis & Manajemen Risiko Pura Ulun Danau Bratan - Bali Sebuah candi air besar yang terletak di tepi barat laut Danau

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM

PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM UMUM Kegiatan usaha Bank senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat

Lebih terperinci

M E T A D A T A INFORMASI DASAR

M E T A D A T A INFORMASI DASAR M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Uang Primer 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 4 Contact : Divisi Statistik Moneter

Lebih terperinci

Garuda Indonesia Perluas Kemitraan Lindung Nilai dengan Bank Internasional Indonesia, Bank Mega, ANZ Indonesia dan Standard Chartered Bank Indonesia

Garuda Indonesia Perluas Kemitraan Lindung Nilai dengan Bank Internasional Indonesia, Bank Mega, ANZ Indonesia dan Standard Chartered Bank Indonesia Siaran Pers Garuda Indonesia Perluas Kemitraan Lindung Nilai dengan Bank Internasional Indonesia, Bank Mega, ANZ Indonesia dan Standard Chartered Bank Indonesia Jakarta, 14 April 2015 - PT Garuda Indonesia

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008. S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008. S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Pembelian Valuta Asing terhadap Rupiah kepada Bank Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan

Lebih terperinci

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN BANK & LEMBAGA KEUANGAN 1

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN BANK & LEMBAGA KEUANGAN 1 GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN BANK & LEMBAGA KEUANGAN 1 II. LEMBAGA KAUANGAN A. Lembaga Keuangan 1. Pengertian Lembaga Keuangan Lembaga Keuangan adalah badan usaha yang kekayaannya terutama berbentuk

Lebih terperinci

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Jakarta, Mei 2015 Agenda 1 Profil Indonesia Eximbank 2 Kinerja Keuangan 3 Lesson Learned Bab 1 Profil Indonesia Eximbank (LPEI)

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa saat ini jumlah transaksi maupun nilai nominal pengiriman uang baik di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga

I. PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang OJK. Pembentukan lembaga I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

LAPORAN November KINERJA 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN November KINERJA 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN PANIN Rp CASH FUND LAPORAN November 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan perundang-undangan yang berlaku,

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 28 /PBI/2008 TENTANG PEMBELIAN VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH KEPADA BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 28 /PBI/2008 TENTANG PEMBELIAN VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH KEPADA BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 28 /PBI/2008 TENTANG PEMBELIAN VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH KEPADA BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa salah satu tugas

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/22/PBI/2014 TENTANG PELAPORAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA DAN PELAPORAN KEGIATAN PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan Sistem Dealer Utama dan untuk lebih meningkatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi September 2010 Dasar-Dasar Pasar obligasi dikenal juga sebagai pasar surat utang dan merupakan bagian dari pasar efek yang memungkinkan pemerintah dan perusahaan meningkatkan modalnya. Sama seperti orang

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG PENERAPAN PRINSIP MENGENAL NASABAH (KNOW YOUR CUSTOMER PRINCIPLES) GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam menjalankan kegiatan usaha,

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2006 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

SUMBER DAN ALOKASI DANA PERBANKAN. Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM

SUMBER DAN ALOKASI DANA PERBANKAN. Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM SUMBER DAN ALOKASI DANA PERBANKAN PASAL 6 a UU PERBANKAN 7/1992 HAL POKOK USAHA BANK ADALAH PEROLEHAN DANA DARI SISI PASIVANYA YANG KEMUDIAN DITEMPATKAN PADA SISI AKTIVA DIMANA AKAN DIPEROLEH KEUNTUNGAN

Lebih terperinci

Perhitungan Jangka Waktu SBI. Contoh perhitungan jangka waktu SBI 1 (satu) bulan. Tanggal lelang : 1 Desember 2010

Perhitungan Jangka Waktu SBI. Contoh perhitungan jangka waktu SBI 1 (satu) bulan. Tanggal lelang : 1 Desember 2010 LAMPIRAN 1 PERIHAL PERUBAHAN KEENAM ATAS NOMOR Perhitungan Jangka Waktu SBI Contoh perhitungan jangka waktu SBI 1 (satu) bulan Data transaksi : Tanggal lelang : 1 Desember 2010 Tanggal setelmen hasil lelang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

ANALISIS PERAN LEMBAGA PEMBIAYAAN DALAM PENGEMBANGAN UMKM

ANALISIS PERAN LEMBAGA PEMBIAYAAN DALAM PENGEMBANGAN UMKM ANALISIS PERAN LEMBAGA PEMBIAYAAN DALAM PENGEMBANGAN UMKM PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2013 RINGKASAN EXECUTIVE

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 14 / 2 /PBI/ 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/11/PBI/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN ALAT PEMBAYARAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139 /PMK.06/2009 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139 /PMK.06/2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139 /PMK.06/2009 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN, PENYAMPAIAN, DAN PENGUBAHAN RENCANA JANGKA PANJANG SERTA RENCANA KERJA DAN ANGGARAN TAHUNAN LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR

Lebih terperinci

KOMITE-KOMITE EKSEKUTIF DIREKSI

KOMITE-KOMITE EKSEKUTIF DIREKSI adalah juga dari pejabat internal perusahaan. 7. Sehubungan dengan rencana pengunduran diri Sdr. Andreas Eddy Susetyo sebagai anggota Komite Pemantau Risiko per 1 Januari 2015, maka Komite merekomendasikan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan mengalami

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam upaya turut memelihara dan mendukung pencapaian stabilisasi nilai rupiah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Salah satu tolak ukur pembangunan nasional adalah pembangunan ekonomi dimana sektor ekonomi selalu menjadi fokus pemerintah dalam melaksanakan pembangunan

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis

Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis DBS Treasures merupakan layanan perbankan prioritas yang tidak hanya menyediakan pilihan produk perbankan tetapi juga produk investasi

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : ADITYA RAHMAN HAKIM 2005210181 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Lebih terperinci

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ) Pedoman Uji Coba Aktivitas Jasa Sistem Pembayaran dan Perbankan Terbatas Melalui Unit Perantara Layanan Keuangan

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ) Pedoman Uji Coba Aktivitas Jasa Sistem Pembayaran dan Perbankan Terbatas Melalui Unit Perantara Layanan Keuangan 1. Apakah yang dimaksud dengan Aktivitas layanan sistem pembayaran dan keuangan melalui UPLK? Aktivitas layanan sistem pembayaran dan perbankan terbatas melalui agen yang selanjutnya disebut dengan UPLK

Lebih terperinci

AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN ISLAM

AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN ISLAM AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN ISLAM SESI 02: Sistem Keuangan dan Lembaga Keuangan Syariah Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS.,CMA.,CA Konsep Uang KBBI alat penukar /standar pengukur nilai yang dikeluarkan pemerintah

Lebih terperinci

No.14/ 11 /DPM Jakarta, 21 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No.14/ 11 /DPM Jakarta, 21 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No.14/ 11 /DPM Jakarta, 21 Maret 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 10/42/DPD perihal Pembelian Valuta Asing terhadap

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KOMITE KEBIJAKAN PEMBIAYAAN BAGI USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KOMITE KEBIJAKAN PEMBIAYAAN BAGI USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KOMITE KEBIJAKAN PEMBIAYAAN BAGI USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Transaksi Mata Uang Asing. Bab 13

Transaksi Mata Uang Asing. Bab 13 Transaksi Mata Uang Asing Bab 13 Mengenal Valuta Asing Valuta asing atau biasa disebut juga dengan kata lain seperti valas, foreign exchange, forex atau juga fx adalah mata uang yang di keluarkan sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tujuan Bank Indonesia adalah

Lebih terperinci

Buku GRATIS ini dapat diperbanyak dengan tidak mengubah kaidah serta isinya

Buku GRATIS ini dapat diperbanyak dengan tidak mengubah kaidah serta isinya Edisi Tanya Jawab Bersama-sama Selamatkan Uang Bangsa Disusun oleh: Tim Sosialisasi Penyesuaian Subsidi Bahan Bakar Minyak Sampul Depan oleh: Joko Sulistyo & @irfanamalee dkk. Ilustrator oleh: Benny Rachmadi

Lebih terperinci

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS Oleh: Ginandjar Kartasasmita Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Bogor, 29 Agustus 1998 I. SITUASI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015

GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015 GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015 Prospek Ekonomi Global Tertekan Anjloknya Harga Minyak Aksi Stimulus Bank Sentral Eropa Terhambat Pemilu Yunani 5250 5000 4750 4500 4250 4000 3750 3500 1-Mar-121-Jun-121-Sep-121-Dec-121-Mar-131-Jun-13

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 26 Kondisi ekonomi makro pada tahun 26 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, memasuki tahun 26, stabilitas moneter di dalam negeri membaik tercermin dari stabilnya

Lebih terperinci

BAB III PRAKTIK TRANSAKSI PENUKARAN MATA UANG ASING DI PT VALASINDO SURABAYA

BAB III PRAKTIK TRANSAKSI PENUKARAN MATA UANG ASING DI PT VALASINDO SURABAYA 37 BAB III PRAKTIK TRANSAKSI PENUKARAN MATA UANG ASING DI PT VALASINDO SURABAYA A. Gambaran Umum PT Valasindo 1. Letak Lokasi PT Valsindo adalah sebuah perusahaaan yang terletak di pinggir jalan raya,

Lebih terperinci

YOLANDA AKSARI MAZDA 07140150

YOLANDA AKSARI MAZDA 07140150 IMPLEMENTASI PENURUNAN SUKU BUNGA DANA PIHAK KETIGA TERHADAP KEGIATAN OPERASIONAL PADA BANK NAGARI CABANG PADANG SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum OLEH YOLANDA

Lebih terperinci

Selamat Datang. Lingkage Program Bank dan LKM BANK PERKREDITAN RAKYAT

Selamat Datang. Lingkage Program Bank dan LKM BANK PERKREDITAN RAKYAT Selamat Datang Lingkage Program Bank dan LKM BANK PERKREDITAN RAKYAT Oleh : Soni Harsono Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia ( PERBARINDO) DPP-PERBARINDO JUMLAH ANGGOTA PERBARINDO

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal : Kewajiban Penyediaan Modal Minimum sesuai

Lebih terperinci

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Non Bank. Pinjaman Luar Negeri Perusahaan Bukan Bank

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Non Bank. Pinjaman Luar Negeri Perusahaan Bukan Bank Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Non Bank Pinjaman Luar Negeri Perusahaan Bukan Bank Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Likuiditas Valuta Asing Pinjaman Luar Negeri Perusahaan Bukan Bank Tim Penyusun

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan I 215 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat i Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank ii

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - 61 - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Dasar yuridis pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah yang tercantum

Lebih terperinci

Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate

Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate Pertanyaan 1 Q : Apa tujuan dikeluarkannya aturan Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)? A : Tujuan dari dikeluarkannya kebijakan ini adalah

Lebih terperinci

Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro

Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro Bakohumas Information & Communication Expo 2014, Bandung, 29 November 2014 Lucky Fathul Hadibrata DEPUTI KOMISIONER MANAJEMEN STRATEGIS OTORITAS JASA KEUANGAN Agenda

Lebih terperinci

Survei Ekonomi OECD INDONESIA

Survei Ekonomi OECD INDONESIA Survei Ekonomi OECD INDONESIA MARET 2015 IKHTISAR The quality of the translation and its coherence with the original language text of the work are the sole responsibility of the author(s) of the translation.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SERAH TERIMA PENGAWASAN MIKROPRUDENSIAL BANK DARI BANK INDONESIA KEPADA OTORITAS JASA KEUANGAN 31 Desember 2013

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SERAH TERIMA PENGAWASAN MIKROPRUDENSIAL BANK DARI BANK INDONESIA KEPADA OTORITAS JASA KEUANGAN 31 Desember 2013 SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SERAH TERIMA PENGAWASAN MIKROPRUDENSIAL BANK DARI BANK INDONESIA KEPADA OTORITAS JASA KEUANGAN 31 Desember 2013 Yang kami hormati, Menteri Keuangan Republik Indonesia,

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci