Materi #8 Perencanaan Produksi SAP ERP 2 6623 - Taufiqur Rachman 1
Sales Forecasting 3 Peramalan Penjualan dapat menggunakan data tahun lalu dikombinasikan dengan target keuangan dan inisiatif marketing tahun ini untuk memprediksi penjualan kedepan. Siklus Proses Peramalan 4 Sumber: Charles C. Poirier, Forecasting, Demand Management and Capacity Planning 6623 - Taufiqur Rachman 2
Sales & Operation 5 Rough cut planning (Aggregate Planning) Feasible? Disaggregate planning Working day diambil dari Factory Calendar. Pada tahapan RCP perlu diperiksa kelayakan dari rencana produksi dengan memperhitungkan sumber daya yang terbatas seperti lini produksi yang memiliki kapasitas terbatas. (tindakan yang dapat diambil adalah memproduksi lebih awal, merencanakan lembur, memilih produk yang lebih menguntungkan dan mengabaikan yang lainnya). Safety stock dibulan May (274) untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada Juni, untuk menjaga utilisasi tidak melebihi 95% (spare kapasitas untuk change over, breakdown) Infinite Load Profile 6 Capacity Overload Capacity Capacity Underload 6623 - Taufiqur Rachman 3
Finite Load Profile 7 Capacity Smoothed Load Demand Management 8 Hasil dari Demand Management adalah Master Production Scheduling (MPS) yang merupakan perencanaan bagi semua finish good. MPS merupakan input kepada Detail Scheduling Process. MPS juga merupakan input kepada Material Requirement Planning (MRP). 6623 - Taufiqur Rachman 4
Master Production Scheduling 9 Weekly Demand NRG-A = (4134/21)x5 = 984.3 peti Pada Week lima (1 hari pada bulan jan, dan 4 hari pada bulan feb) Daily Demand NRG-A = 4134/21 = 196.9 peti Detailed Scheduling 10 Keputusan penting didalam detailed production scheduling adalah menentukan berapa lama suatu produksi dijalankan untuk masing-masing produk. Semakin lama produksi (lot size besar) berjalan berarti semakin sedikit set-up mesin diperlukan. Semakin sedikit set-up mesin berarti mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efektifitas kapasitas dari peralatan. Pada sisi lain produksi secara pendek (lot size kecil) bertujuan menekan persediaan barang jadi (biaya persediaan). Penentuan lama produksi berjalan membutuhkan keseimbangan antara biaya set-up dan biaya persediaan untuk meminimalisasi total biaya bagi perusahaan. 6623 - Taufiqur Rachman 5
Production Lot Size 11 Jenis Proses Produksi 12 Intermittent Production System Job Shop Production Process Batch Production Process Continuous Production System Mass Production Process Flow/Process Production System 6623 - Taufiqur Rachman 6
Teknik Penjadwalan 13 Penjadwalan Maju (Forward Scheduling ) Pekerjaan dimulai seawal mungkin sehingga pekerjaaan selesai sebelum batas waktu yang dijanjikan (due date). Konsekuensinya: terjadinya akumulasi persediaaan sampai pekerjaan tersebut diperlukan pada pusat kerja berikutnya. Penjadawalan Mundur (Backward Scheduling) Kegiatan operasi yang terakhir dijadwalkan lebih dulu, yang selanjutnya secara berturut-turut ditentukan jadwal untuk kegiatan sebelumnya satu persatu secara mundur. Konsekuensi dapat meminimalkan persediaaan karena karena baru selesai pada saat pekerjaan tersebut diperlukan pada stasiun kerja berikutnya. (Catatan: harus disertai dengan perencanaan dan estimasi waktui tenggang yang akurat, tidak terjadi break down selama proses maupun perubahan due date yang lebih cepat). Teknik Penjadwalan 14 6623 - Taufiqur Rachman 7
Forward VS Backward Scheduling 15 Forward Scheduling Start when the order is received May finish early Used to determine the earliest completion date Determine promise dates Builds inventory Backward Scheduling Uses MRP logic Schedule last operation to be complete on the due date Schedule previous operations back from the last operation Reduces inventory Priority Sequencing 16 Tujuan: untuk penentuan priotitas pekerjaan. Aturan umum: First come, first served (FCFS) Shortest processing time (SPT) Earliest due date (EDD) Longest processing time (LPT) Critical Ratio (CR) 6623 - Taufiqur Rachman 8
Aturan Prioritas Penyelesaian Pekerjaan 17 FCFS EDD SPT LPT CR First come, first served Tugas pertama tiba di sebuah pusat kerja diproses terlebih dahulu Earliest due date Pekerjaan dengan tanggal jatuh tempo paling awal yang diproses pertama Shortest processing time Pekerjaan dengan waktu pemrosesan terpendek diproses terlebih dahulu Longest processing time Pekerjaan dengan waktu pemrosesan terpanjang diproses terlebih dahulu Critical ratio Rasio waktu yang tersisa dengan waktu pekerjaan yang tersisa yang dibutuhkan, dan pekerjaan yang dijadwalkan dalam rangka meningkatkan rasio. Contoh Sequencing 18 Jika terdapat 5 buah pekerjaan yang diproses dengan menggunakan suatu pusat kerja yang sama. Diasumsikan kedatangan pekerjaan secara berturut-turut adalah A,B,C,D dan E. Waktu proses serta kapan pekerjaan yang harus selesai ditunjukan dalam tabel dibawah ini. Pekerjaan Lama Proses Jadwal A 10 15 B 6 10 C 11 21 D 12 18 E 9 16 6623 - Taufiqur Rachman 9
FCFS Sequencing 19 Urutan Pekerjaan Lama Proses Waktu Jadwal Keterlambatan A 10 10 15 0 B 6 16 10 6 C 11 27 21 6 D 12 39 18 21 E 9 48 16 32 Jumlah 48 140 65 Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan = 140 : 5 = 28 hari Rata-rata waktu keterlambatan = 65 : 5 = 13 hari Rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem = 140 : 48 = 2,91 SPT Sequencing 20 Urutan Pekerjaan Lama Proses Waktu Jadwal Keterlambatan B 6 6 10 0 E 9 15 16 0 A 10 25 15 10 C 11 36 21 15 D 12 48 18 30 Jumlah 48 130 55 Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan = 130 : 5 = 26 hari Rata-rata waktu keterlambatan = 55 : 5 = 11 hari Rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem = 130 : 48 = 2,71 6623 - Taufiqur Rachman 10
EDD Sequencing 21 Urutan Pekerjaan Lama Proses Waktu Jadwal Keterlambatan B 6 6 10 0 A 10 16 15 1 E 9 25 16 9 D 12 37 18 19 C 11 48 21 27 Jumlah 48 132 56 Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan = 132 : 5 = 26,4 hari Rata-rata waktu keterlambatan = 56 : 5 = 11,2 hari Rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem = 132 : 48 = 2,75 LPT Sequencing 22 Urutan Pekerjaan Lama Proses Waktu Jadwal Keterlambatan D 12 12 18 0 C 11 23 21 2 A 10 33 15 18 E 9 42 16 26 B 6 48 10 38 Jumlah 48 158 84 Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan = 158 : 5 = 31,6 hari Rata-rata waktu keterlambatan = 84 : 5 = 16,8 hari Rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem = 158 : 48 = 3,29 6623 - Taufiqur Rachman 11
CR Sequencing 23 Pekerjaan Lama Proses Jadwal Critical Ratio Sequence A A 10 15 0,67 B 6 10 0,60 C 11 21 0,52 D 12 18 0,67 E 9 16 0,56 D B E C CR Sequencing 24 Pekerjaan Lama Proses Waktu Jadwal Keterlambatan A 10 10 15 0 D 12 22 18 4 B 6 28 10 18 E 9 37 16 21 C 11 48 21 27 Jumlah 48 145 70 Rata-rata waktu penyelesaian pekerjaan = 145 : 5 = 29 hari Rata-rata waktu keterlambatan = 70 : 5 = 14 hari Rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem = 145 : 70 = 2,07 6623 - Taufiqur Rachman 12
Tugas 4 25 Pekerjaan Lama Proses Jadwal A 4 6 B 17 20 C 14 18 D 9 12 E 11 12 Hitunglah schedulling dari soal yang ada pada contoh dengan menggunakan aturan pritoritas penyelesaian pekerjaan, dan tentukan sequence yang paling optimal beserta alasannya. Scheduling Chart 26 6623 - Taufiqur Rachman 13
6623 - Taufiqur Rachman Load Chart 27 28 6623 - Taufiqur Rachman 14