BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bab 3. Metodologi Penelitian

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERANCANGAN PRODUK. Chapter 2. Gasal 2014

PERANCANGAN PRODUK. Chapter 4. Gasal 2014

INDUSTRIAL DESIGN. Chapter 12

BAB II LANDASAN TEORI. skala bisnis kecil sampai menengah sebagai strategi utama untuk bersaing di

BAB I PENGEMBANGAN KONSEP

PERENCANAAN PRODUK PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK

Ir. Erlinda Muslim, MEE

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

PERANCANGAN PRODUK. Chapter 3. Gasal 2014

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN SEBAGAI AWAL IDE PRODUK

PERTEMUAN 4 (PENGEMBANGAN DAN PEMILIHAN KONSEP) SELASA & KAMIS, 1 & 3 NOVEMBER 2016

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PRODUCT ARCHITECTURE. Ir. Erlinda Muslim, MEE

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan)

Proses Kebutuhan Pelanggan

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERTEMUAN 5 (PENGUJIAN KONSEP) Senin, 7 November 2016

Ir. Erlinda Muslim, MEE

Ringkasan Chapter 12 Developing Business/ IT Solution

BAB III DISAIN PRODUK

BAB 2 LANDASAN TEORI

4. Kriteria IDE PRODUK :

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

BAB 2 LANDASAN TEORI

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan)

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang

BAB VII PRODUK Apa itu produk? Barang dan Jasa

MENINGKATKAN MUTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN UNTUK PERUSAHAAN DIGITAL

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Produk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODE PERANCANGAN SISTEM

ANTHROPOMETRI NURJANNAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi

SISTEM PENGEMBANGAN PRODUK BAGAIMANA MEMBUAT HOUSE OF QUALLITY

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Faktor Sukses, Kontraktor dan Perumahan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

PERENCANAAN & PERANCANGAN PRODUK

ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN DESAIN INDUSTRI PRODUK HANDPHONE: STUDI KASUS DI FAKULTAS EKONOMI UBINUS

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERANCANGAN KONSEP KURSI KANTOR BERDASARKAN KEBUTUHAN KONSUMEN DAN STUDI PERBANDINGAN PRODUK PESAING

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN NASKAH SOAL TUGAS AKHIR HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH INTISARI

BAB II METODE PERANCANGAN SISTEMATIS

PERENCANAAN PRODUK. Amalia, S.T., M.T.

BAB II LANDASAN TEORI

PRODUCT PLANNING. Produk Manufaktur. Gambar : Produk Manufaktur

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Product Design & Development Hubungan Kebutuhan Pekerja Terhadap Karakteristik Teknik Pada Perancangan Alat Pengepres Melinjo Dengan Metode QFD

BAB III METODE PENELITIAN

AKTIVITAS PENYUSUNAN KONSEP

BAB III METODOLOGI A. Lokasi dan Waktu B. Pengumpulan Data

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3. Metode Perancangan Produk

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

SI403 Riset Operasi Suryo Widiantoro, MMSI, M.Com(IS)

Bab 10 Manajemen Komunikasi Proyek

PROSES DESAIN FAKULTAS ILMU KOMPUTER - UNIVERSITAS BRAWIJAYA 3/14/2017

Manajemen Proyek Minggu 2

KONSEP PRODUK PENURUNAN KONSEP PRODUK 15/11/2015

BAB III LANDASAN TEORI. Desain Sistem Informasi menerangkan sistem adalah sekumpulan dari elemenelemen

BAB II LANDASAN TEORI. saling terkait dan tergantung satu sama lain, bekerja bersama-sama untuk. komputer. Contoh lainnya adalah sebuah organisasi.

Bab 3 Metodologi Penelitian

Teknik Informatika S1

BAB 3 METODE PERANCANGAN PRODUK

Manajemen Proyek Sistem Informasi DAY-1. Wiratmoko Yuwono, ST

LAMPIRAN LAMPIRAN ARAHAN STRATEGI (STRATEGIC INTENTION) Wawancara dilakukan pada pengguna aplikasi (user) yang berhubungan

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas lembaga pendidikan dan kurikulum yang digunakan menjadi. lulusan tersebut akan memiliki profesionalitas yang baik pula.

Minggu-4. Product Knowledge and Price Concepts. Pengembangan Produk Baru (new product development) By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM

BAB III LANDASAN TEORI. dibahas meliputi permasalahan-permasalahan atau prosedur-prosedur yang

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Sistem kumpulan dari elemen-elemen atau komponen-komponen atau subsistem-subsistem.

BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI CHAPTER 5

BAB II LANDASAN TEORI. teknologi, konsumen, pemasok atau supplier, dan terutama persaingan).

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Anthropometri Tubuh Manusia 2.1.1 Pengertian dan Tujuan Anthropometri Anthropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain (Nurmianto,p50). Tujuan utama Anthropometri adalah mendapatkan suatu produk desain yang sesuai dengan lengkuk tubuh manusia termasuk kelebihan dan keterbatasan manusia (The design fits to the man) dan bukan manusia yang menyesuaikan diri (The man fits to the design). 2.1.2 Anthropometri dan Aplikasi dalam Perancangan Fasilitas Kerja 1. Perancangan Areal Kerja (work station) 2. Perancangan Peralatan Kerja (mesin, perkakas dan dll) 3. Perancangan Produk-Produk Konsumtif (seperti pakaian, kursi, lemari, dan sebagainya) 4. Perancangan Lingkungan Kerja Fisik

36 2.1.3 Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya 1) Pengukuran Dimensi Struktur Tubuh (Structural Body Dimensions) Pengukuran dimensi-dimensi tubuh pada saat posisi tubuh standar dan tidak bergerak atau diam disebut juga Static Anthropometri. Ukuran dimensi tubuh yang diambil seperti ukuran kepala, tinggi tubuh, panjang kaki, panjang lengan, dan dll, biasanya dalam persentil 5 th dan 95 th (Wignjosoebroto,p62). 2) Pengukuran Dimensi Fungsional Tubuh (Functional Body Dimensions) Pengukuran dimensi dimensi tubuh pada saat tubuh melakukan gerakan gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Disebut juga Dynamic Anthropometri. Ukuran dimensi tubuh yang diambil seperti posisi tubuh pada saat menyetir mobil. Kita mendesain atau mengukur panjang kursi atau jok mobil, lebar dan jarak pedal gas, rem, dan kopling (Wignjosoebroto,p63-p64).

37 2.1.4 Prinsip Prinsip dalam Perancangan Produk/ Fasilitas Kerja 1) Prinsip Perancangan Produk bagi Individu dengan Ukuran yang Ekstrim Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya mengikuti kualifikasi tetapi masih bisa digunakan unutk memenuhi ukuran tubuh dari mayoritas populasi yang ada. Untuk dimensi minimum yang ditetapkan biasanya memakai ukuran persentil yang terbesar yaitu 90 th, 95 th, dan 99 th (seperti lebar dan tinggi pintu darurat). Sedangkan untuk dimensi maksimum yang ditetapkan diambil ukuran yang terkecil 1 th, 5 th, dan 10 th (jarak jangkauan) (Wignjosoebroto,p68). 2) Prinsip Perancangan Produk yang bisa Beroperasi di Antara Rentang Ukuran Tertentu Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang biasanya dapat diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksible digunakan oleh setiap orang yang memilikinya berbagai macam ukuran tubuh. Biasanya rentang ukurannya antara nilai persentil 5 th sampai 95 th (Wignjosoebroto,p68). 3) Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran Rata-rata Dalam prinsip ini suatu produk yang dirancang didasarkan terhadap ratarata ukuran manusia pengguna. Sering kali ukuran tubuh kita tidak sama dengan ukuran tubuh rata-rata. Jadi hanya orang yang memiliki ukuran tubuh rata-rata yang dapat menggunakan produk perancangan dengan prinsip ini. Sebenarnya prinsip lebih baik dihindari sebab dalam prakteknya

38 jarang ditemukan orang dengan ukuran dimensi tubuh sesuai dengan ratarata (Wignjosoebroto,p69). 2.1.5 Metode Pengukuran Anthropometri 2.1.5.1 Metode Ukur dengan Anthropometer Pengukuran dengan menggunakan Anthropometer. Biasanya memakai konsep percentil dari data yang berdistribusi normal. Biasanya untuk melakukan pengukuran bagian-bagian tubuh kita harus menentukan design approach, prinsip desain, dan barulah mengambil persentase dari populasi yang akan diakomodasikan dari desain kita. Untuk ukuran yang besar biasanya menggunakan persentil 95 th sedangkan ukuran kecil menggunakan persentil 5 th. Biasanya kita hanya melihat sebuah tabel yang berisi ukuranukuran dimensi tubuh dari berbagai persentilnya. Untuk desain dengan metode anthropometer akan sama akurat dengan metode tukang jahit, hanya tergantung dari cara pakainya saja. Sebagai metode ini akan lebih cocok jika digunakan untuk mengukur data-data seperti data lebar pinggul, panjang ibu jari, lebar telapak tangan, dll. 2.1.5.2 Metode Ukur Tukang Jahit Pengukuran dengan menggunakan metode ini biasanya menghasilkan data yang sama akurat dari metode yang pertama. Pada

39 metode ini pengukuran data-data Anthropometri dilakukan langsung ke bagian-bagian tubuh dengan menggunakan pita ukur (meteran). Metode ini biasanya dipakai untuk mendapatkan data ukuran untuk prinsip desain individual. Jadi seluruh dimensi-dimensi yang ada pada tubuh diukur untuk mendapatkan nilai ukuran yang tepat. Biasanya metode ini digunakan untuk mengukur data-data seperti tinggi badan, panjang jangkauan tangan ke atas, dan lain-lain. 2.2 Perancangan dan Pengembangan Produk Pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap produksi, penjualan, dan pengiriman produk (Ulrich,p2). Berikut adalah diagram proses pengembangan produk. Diagram menunjukkan pada fase apa setiap metode yang saling integrasi paling tepat untuk diterapkan.

40 Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p9) Gambar 2.1 Proses Pengembangan Produk Enam fase dalam proses pengembangan secara umum adalah (Ulrich,p15-17) : 0 Perencanaan : Kegiatan perencanaan sering ditujuk sebagai zerofase karena kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual. 1 Pengembangan Konsep : Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target diindentifikasi, alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh. Konsep adalah uraian dari bentuk, fungsi, dan tampilan suatu produk dan

41 biasanya diimbangi dengan sekumpulan spesifikasi, analisis produk-produk pesaing serta pertimbangan ekonomis proyek. 2 Perancangan Tingkat Sistem : Fase perancangan tingkatan sistem mencakup definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen. Gambaran rakitan akhir untuk sistem produksi biasanya didefinisikan selama fase ini. Output pada fase ini biasanya mencakup tata letak bentuk produk, spesifikasi secara fungsional dari tiap subsistem prosuk, serta diagram aliran proses pendahuluan untuk proses rakitan akhir. 3 Perancangan Detail : Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk dan indentifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok. Rencana proses dinyatakan dan peralatan dirancang untuk tiap komponen yang dibuat dalam sistem produksi. Output dari fase ini adalah pencatatan pengendalian untuk produk : gambar pada file komputer tentang bentuk tiap komponen dan peralatan untuk pabrikasi dan perakitan produk. 4 Pengujian dan Perbaikan : Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi dan evaluasi dari bermacam-macam versi produksi awal produk. Prototipe awal (alpha) biasanya dibuat dengan menggunakan komponen-komponen dengan bentuk dan jenis material pada produksi sesungguhnya, namun tidak memerlukan proses pabrikasi dengan proses yang sama dengan yang dilakukan pada produksi sesungguhnya. Prototipe alpha diuji untuk menentukan apakah produk akan bekerja sesuai dengan yang direncanakan dan apakah produk memenuhi

42 kebutuhan kepuasan konsumen utama. Prototipe berikutnya (beta) biasanya dibuat dengan komponen-komponen yang dibutuhkan pada produksi namun tidak dirakit menggunakan proses perakitan akhir seperti pada perakitan sesungguhnya. 5 Produksi Awal : Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada proses produksi sesungguhnya. 2.2.1 Perencanaan Produk Proyek pengembangan produk dikelompokkan menjadi 4 tipe (Ulrich,p36) : Platform produk baru. Turunan dari platform produk yang telah ada. Peningkatan perbaikan untuk produk yang telah ada. Pada dasarnya produk baru. Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p36) Gambar 2.2 Proses Perencanaan Produk Gambar 2.2 menggambarkan langkah-langkah dalam proses perencanaan produk. Pertama lipat gandakan peluang-peluang yang diprioritaskan dan

43 sekumpulan proyek-proyek yang menjanjikan dipilih. Sumber daya sumber daya dialokasikan untuk proyek-proyek ini dijadwalkan. Kegiatan-kegiatan perencanaan ini berfokus pada portfolio dari peluang dan proyek-proyek yang potensial dan kadang-kadang disesuaikan dengan manajemen portfolio, perencanaan produk keseluruhan, perencanaan lini produk, atau manajemen produk. Segera setelah proyek dipilih dan sumber daya dialokasikan, suatu pernyataan misi dikembangkan untuk setiap proyek. Formulasi dari suatu rencana produk dan pengembangan dari pernyataan misi akan mendahului proses pengembangan produk aktual. Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi proyek, terdapat lima tahapan proses berikut (Ulrich,p37) : 1. Indentifikasi Peluang. 2. Mengevaluasi dan memprioritaskan proyek. 3. mengalokasikan sumber daya dan rencana waktu. 4. Melengkapi perencanaan dan pendahuluan proyek. 5. Merefleksikan kembali hasil dan proses. 2.2.1.1 Mengidentifikasi Peluang-Peluang Rencana proses dimulai dengan mengindentifikasikan peluangpeluang pengembangan produk. Langkah ini dapat dibayangkan sebagai terowongan peluang karena bersama membawa input dari perusahaan. Proses indentifikasi peluang pengembangan produk

44 sangat berhubungan dengan kegiatan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Bila dipergunakan secara aktif, terowongan peluang dapat menampung ide-ide secara kontinu, dan peluang-peluang produk baru mungkin akan dihasilkan setiap waktu (Ulrich,p37-38). 2.2.1.2 Mengevaluasi dan Memprioritaskan Proyek Langkah kedua dalam proses perencanaan produk hçdala memilih proyek yang paling menjanjikan untuk diikuti. Empat perspektif dasar yang berguna dalam mengevaluasi dan memprioritaskan peluangpeluang bagi produk baru dalam kategori produk yang ada adalah (Ulrich,p38-42): Strategi bersaing Segmentasi pasar Alur teknologi Perencanaan platform produk Setelah itu, proses mengevaluasi peluang produk baru didiskusikan, dan menyeimbangkan portfolio proyek. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi peluang-peluang produk baru secara fundamental, dapat juga untuk mengevaluasi beberapa peluang produk. Kriteria-kriteria ini dapat digunakan pada matriks penyaringan

45 (screening) untuk mengevaluasi keseluruhan daya tarik dan tipe-tipe resiko untuk beberapa peluang yang tersedia. 2.2.1.3 Mengalokasikan Sumber Daya dan Rencana Waktu Perencanaan agregat membantu suatu perusahaan untuk menggunakan sumberdayanya secara efesien dengan mengambil proyek-proyek yang beralasan untuk diselesaikan berdasarkan sumber daya yang dianggarkan (Ulrich,p45). Dalam menentukan waktu dan urutan proyek, kadang digunakan istilah manajemen pipa (pipeline management), yang harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut (Ulrich,p46) : Penentuan waktu pengenalan produk Kesiapan teknologi Kesiapan pasar Persaingan Sekumpulan proyek yang dilakukan dengan proses perencanaan dalam waktu berurutan menjadi rencana produk. Rencana harus mencakup gabungan produk baru secara fundamental, proyek platform, dan proyek-proyek lanjutan dengan ukuran bervariasi. Rencana produk diperbaharui secara periodik sebagai bagian dari kegiatan perencanaan strategis perusahaan (Ulrich,p46).

46 2.2.1.4 Melengkapi Perencanaan dan Pendahuluan Proyek Segera setelah proyek disetujui, Namur sebelum sumber daya penting digunakan dilakukan kegiatan perencanaan Proyek Pendahuluan. Kegiatan ini melibatkan tim fungsional silang yang kecil yang sering dinamai tim inti. Dalam rangka memberikan petunjuk yang jelas untuk organisasi pengembangan produk, biasanya tim memformulasikan suatu definisi yang lebih detail dari pasar target dan asumés-asumsi yang mendasari operasional tim pengembangan. Keputusan-keputusan mengenai hal ini akan terdapat pada suatu pernyataan misi (mision statement). Pernyataan misi kadang-kadang juga disebut dsebagai perjanjian (charter) atau ringkasan disain (design brief). Pernyataan misi ini menjelaskan kemana arah yang akan dituju, tetapi tidak menjelaskan tempat tujuan dan cara untuk mencapainya. Pertanyaan misi mungkin mencakup beberapa dari keseluruhan informasi berikut (Ulrich,p48-49) : Uraian Produk Ringkas: uraian ini mencakup manfaat produk utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan konsep produk spesifik. Mungkin saja berupa pertanyaan visi produk.

47 Sasaran Utama Bisnis: sebagai tambahan sasaran proyek yang mendukung strategi perusahaan, sasaran ini biasanya mencakup waktu, biaya dan kualitas Pasar Target untuk Produk: terdapat beberapa pasar target untuk produk. Bagian ini mengidentifikasikan pasar utama dan pasar kedua yang perlu dipertimbangkan dalam usaha pengembangan. Asumsi-Asumsi dan Batasan-Batasan untuk mengarahkan usaha pengembangan : asumsi harus dibuat dengan hati-hati, meskipun mereka membatasi kemungkinan jangkauan konsep produk, mereka membantu untuk menjaga lingkup proyek yang terkelola. Untuk itu dibutuhkan informasi-informasi untuk pencatatan keputusan mengenai asumsi dan batasan. Stakeholder: satu cara untuk menjamin bahwa banyak permasalahan pengembangan ditujukan untuk mendaftar secara eksplisit seluruh stakeholder dari produk, yaitu sekumpulan orang yang dipengaruhi oleh keberhasilan dan kegagalan produk. Daftar stakeholer dimulai dari pengguna akhir (pelanggan eksternal akhir) dan pelanggan eksternal yang membuat keputusan tentang produk. Stakeholder juga mencakup pelanggan produk yang mendampingi perusahaan, seperti tenaga penjual, organisasi pelayanan, dan departemen produksi. Daftar stakeholder menyediakan suatu

48 bayangan bagi tim untuk mempertimbangkan kebutuhan setip orang yang akan diperngaruhi oleh produk. Karena pernyataan misi merupakan pegangan untuk tim pengembangan, suatu reality cek harus dilakukan sebelum melalui proses pengembangan. Langkah awal ini adalah waktu untuk memperbaiki, paling tidak mereka menjadi lebih hebat dan bernilai sesuai dengan kemajuan proses pengembangan. Tabel 2.1 Contoh Format Pernyataan Misi Pernyataan misi : (nama produk) Deskripsi produk : * Sasaran bisnis Kunci : * * * Pasar Utama : * Pasar Sekunder : * * Asumsi-asumsi : * Pihak yang terkait : * * * Langkah langkah dalam proses dapat dan seharusnya dijalankan secara simultan untuk memastikan apakah banyak rencana dan keputusan konsisten dengan yang lainnya dan dengan sasaran, kemampuan dan keterbatasan perusahaan.

49 2.2.1.5 Merefleksikan Kembali Hasil dan Proses Pada langkah terakhir dari perencanaan dan proses strategi, tim seharusnya menanyakan beberapa pertanyaan untuk memperkirakan kualitas proses dan hasil. 2.2.2 Pengembangan Konsep Sumber : Perencanaan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p57) Gambar 2.3 Proses Pengembangan Konsep Gambar diatas menjelaskan mengenai proses pengembangan konsep mulai dari identifikasi kebutuhan pelanggan hingga pada rencana alur pengembangan. 2.2.2.1 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Identifikasi kebutuhan pelanggan adalah sebuah proses yang dibagi menjadi lima tahap. Lima tahap tersebut adalah :

50 Langkah 1 : Mengumpulkan data mentah Proses pengumpulan data mencakup kontak dengan pelanggan dan mengumpulkan pengalaman dari lingkungan pengguna produk. Tiga metode yang biasa digunakan adalah : 1. Wawancara Satu atau lebih anggota pengembang berdiskusi mengenai kebutuhan dengan seorang pelanggan. Wawancara biasanya dilakukan pada lingkungan pelanggan dan berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam. 2. Kelompok fokus Moderator memfasilitasi suatu diskusi kelompok yang disebut kelompok fokus selama 2 jam. Kelompok ini terdiri dari 8-12 orang pelanggan. Kelompok ini ditempatkan dalam suatu ruangan yang dilengkapi cermin pada dua sisi yang membantu anggota tim pengembang mengamati proses yang sedang berlangsung 3. Observasi Produk Pada Saat Digunakan Mengamati pelanggan menggunakan produk atau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan tujuan produk tersebut diciptakan, dapat memberi informasi yang penting mengenai kebutuhan pelanggan. Observasi memang merupakan proses yang pasif, tanpa ada interaksi langsung ataupun kerja sama dalam

51 menggunakan produk dengan pelanggan. Namun demikian observasi memungkinkan tim pengembang mengetahui pengalaman dalam menggunakan produk dari tangan pertama. Idealnya anggota tim mengobservasi produk pada lingkungan yang sebenarnya. Pengguna utama merupakan orang yang tepat untuk diwawancara dalam identifikasi kebutuhan pelanggan. Tetapi dalam memilih pelanggan untuk diwawancara, biasanya kita juga harus memperhatikan orang orang yang terkait dengan produk tersebut (stakeholder), maka diperlukan juga pengumpulan data dari sekelompok ini. Pengumpulan data kebutuhan pelanggan sangat berbeda dengan sales call, tujuannya adalah untuk mendapatkan ekspresi yang jujur tentang kebutuhan, bukan meyakinkan pelanggan mengenai apa yang mereka butuhakan seperti sales call. Suatu tutunan wawancara akan berguna untuk menstrukturkan dialog tersebut. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan setelah pewawancara memperkenalkan dirinya dan menerangkan maksud wawancara tersebut : Kapan dan mengapa anda menggunakan produk jenis ini? Ceritakan pengalaman anda menggunakan produk ini.

52 Apa yang anda sukai dari produk sekarang? Hal hal apa yang anda pertimbangkan ketika membeli produk ini? Apa perbaikan yang ingin anda lakukan terhadap produk ini? Berikut ini adalah beberapa tuntunan untuk melakukan interaksi yang efektif dengan pelanggan : Biarkan wawancara mengalir apa adanya Gunakan perangsang visual dan alat peraga Hindari hipotesa awal tentang teknologi produk Biarkan pelanggan mendemonstrasikan produk atau tugas tugas tertentu yang berhubungan dengan produk Bersiaplah dengan kejutan atau ekspresi yang trcetus dari kebutuhan yang tersembunyi Amati informasi non verbal Empat metode yang biasa digunakan untuk mendokumentasikan hasil interaksi dengan pelanggan adalah : 1. Rekaman Suara (Audio Recording) Membuat rekaman suara sangat mudah. Namun, menterjemahkan hasil rekaman menjadi teks tertulis cukup memakan waktu.

53 2. Catatan Catatan tangan adalah metode yang paling umum dalam mendokumentasikan hasil wawancara. Catatan diterjemahkan langsung setelah wawancara yang digunakan untuk memberi gambaran wawancara yang sangat mirip dengan transkrip aktualnya. 3. Rekaman Video Rekaman video berguna untuk mendokumentasikan hasil diskusi kelompok fokus. Dan juga berguna untuk mendokumentasikan hasil observasi pelanggan di lingkungan penggunanya atau pada saat menggunakan produk sekarang. Kegunaan lainnya ialah untuk mempercepat adaptasi anggota tim pengembang baru terhadap tugas tugasnya dan sebgai bahan presentasi bagi pihak manajemen. 4. Foto Pengambilan foto untuk dokumentasi memberikan banyak gambaran keuntungan. Manfaat utamanya adalah mudah untuk ditampilkan, kualitas gambar bagus dan kemudahan fasilitas. Kerugiannya adalah relatif tidak mampu untuk menangkap informasi yang dinamis.

54 Hasil akhir dari mengumpulkan data adalah menyusun data mentah. Kemudian tugas akhir pada langkah 1 adalah menulis ucapan terima kasih yang berpartisipasi dalam proses. Langkah 2 : Menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan Kebutuhan pelanggan diekspresikan sebagai pernyataan tertulis dan merupakan hasil interpretasi kebutuhan yang berupa data mentah yang diperoleh dari pelanggan. Setiap pernyataan atau hasil observasi dapat diterjemahkan sebagai kebutuhan pelanggan. Berikut ini merupakan 5 petunjuk untuk menulis pernyataan kebutuhan pelanggan : Ekspresikan kebutuhan sebagai Apa yang harus dilakukan produk, bukan bagaimana melakukannya. Ekspresikan kebutuhan sama spesifiknya seprti data mentah. Gunakan pernyataan positif, bukan negatif. Ekspresikan kebutuhan sebagai atribut dari produk. Hindari kata kata harus dan mesti. Daftar kebutuhan pelanggan merupakan susunan final dari semua kebutuhan yang diperoleh dari wawancara pelanggan yang dilakukan terhadap target pasar.

55 Langkah 3 : Mengorganisirkan kebutuhan menjadi beberapa hierarki, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan ( jika diperlukan) tertier. Pada langkah 3 ini, hal yang dilakukan adalah mengorganisasikan kebutuhan kebutuhan menjadi beberapa hierarki. Daftar kebutuhan ini terdiri dari beberapa kebutuhan primer, dimana kebutuhan primer akan tersusun menjadi beberapa kebutuhan sekunder. Dalam kasus produk yang sangat komplek, kebutuhan sekunder dapat dipecah lagi menjadi kebutuhan tertier. Prosedur mengorganisasikan kebutuhan menjadi daftar hierarki merupakan proses yang intuitif, dan banyak tim yang dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik tanpa adanya petunjuk detail. Berikut dibawah ini, tahap tahap prosedur untuk mengelompokkan kebutuhan menjadi daftar hierarki : Tuliskan setiap pernyataan kebutuhan pada kartu kartu atau secarik kertas yang terpisah Kurangi pernyataan kebutuhan yang sama atau tidak dibutuhkan lagi Kelompokkan kartu kartu berdasarkan kesamaan kebutuhan yang diekspresikan Untuk setiap grup berikan nama / label

56 Pertimbangkan untuk mengelompkokkan grup yang dihasilkan menjadi super grup yang terdiri dari 2 sampai 5 grup Periksa dan edit kembali pernyataan kebutuhan yang telah disusun Langkah 4 : Menetapkan derajat kepentingan relatif setiap kebutuhan. Langkah 4 proses identifikasi kebutuhan pelanggan adalah menetapkan tingkat kepentingan relatif kebutuhan yang berupa nilai untuk setiap kebutuhan. Ada dua pendekatan dasar untuk menetapkan bobot kepentingan setiap kebutuhan, yaitu (1) bersandar pada pada konsesus anggota tim berdasarkan pengalaman mereka selama ini dengan pelanggan, atau (2) berdasarkan nilai kepentingan yang diperoleh dari survei lanjutan terhadap pelanggan. Bobot kepentingan setiap kebutuhan dapat diungkapkan dengan beberapa cara, yaitu nilai rata rata, standar deviasi, atau jumlah respon untuk setiap kategori kepentingn. Respon ini kemudian digunakan untuk menilai bobot kepentingan setiap pernyataan kebutuhan. Penentuan jumlah sampel untuk survey ke-2 adalah dengan rumus : n 2 2 p 1 p e

57 Keterangan : n = Jumlah ukuran sampel Z= Angka Tabel untuk selang tingkat kepercayaan Tertentu. p = Persen proporsi pasar yang akan dimasuki e = Allowable error Penentuan bobot berdasarkan hasil rata-rata dari bobot kepentingan tiap variabel. Langkah 5 : Merefleksikan hasil dan proses. Langkah terakhir pada metoda identifikasi kebutuhan pelanggan adalah menggambarkan kembali hasil dan proses. Tim harus menguji hasilnya untuk meyakinkan bahwa hasil tersebut konsisten dengan pengetahuan dan intuisi yang telah dikembangkan melalui interaksi yang cukup lama dengan pelanggan. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan untuk langkah ini ialah : Sudahkah kita berinteraksi dengan semua tipe pelanggan penting dalam target pasar kita? Apakah kita sanggup menangkap lebih jauh kebutuhan yang berhubungan dengan produk sekarang untuk menangkap kebutuhan yang tersembunyi dari pelanggan kita?

58 Masih adakah wilayah penyelidikan yang harus kita kejar untuk mencatat kemajuan wawancara atau survei yang telah dilakukan? Manakah diantara pelanggan yang diwawancara merupakan partisipan yang baik, yang dapat membantu kita pada usaha pengembangan produk yang lebih lanjut? Apa yang kita ketahui sekarang, namun belum kita ketahui waktu memulai proses? Apakah kita mendapatkan kejutan dengan kebutuhan yang terkumpul? Apakah kita sudah melibatkan semua orang dalam organisasi kita yang membutuhkan pemahaman yang baik mengenai kebutuhan pelanggan? Bagaimana kita memperbaiki proses pada usaha pengembangan di masa yang akan datang? 2.2.2.2 Spesifikasi Produk Speksifikasi produk yaitu menjelaskan tentang hal-hal yang harus dilakukan olah sebuah produk dan kumpulan dari spesifikasispesifikasi individual (Ulrich,p77). Speksifikasi terdiri dari metrik dan nilai metrik. Sebagai contoh waktu rata-rata untuk memasang adalah metrik, semantara kurang dari 75 detik adalah nilai metrik.

59 Dua tahapan pembuatan spsifikasi yang merupakan bagian dari pengembangan produk adalah menetapkan spesifikasi dan targetnya serta menetapkan spesifikasi akhir. Proses pembuatan target speksifikasi terdiri dari 4 langkah: 1. Menyiapkan gambar metrik, dan menggunakan metrik-metrik kebutuhan, jika diperlukan. Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung kebutuhan pelanggan menjadi sekumpulan nilai speksifikasi yang tepat dan terukur dapat dilakukan, dan upaya memenuhi speksifikasi dengan sendirinya akan menghasilkan kepuasan terhadap kebutuhan pelanggan yang terkait. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat daftar metrik: Metrik harus komplit. Metrik harus merupakan varibel yang berhubungan. Metrik harus praktis. Beberapa kebutuhan tidak dengan mudah diterjemahkan menjadi metrik yang terukur. Tabel 2.2 Contoh Format Daftar Metrik Kebutuhan No Kebutuhan Kepentingan 1 (Produk) 2 (Produk) 3 (Produk)

60 2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing. Ketika tim memulai proses pengembangan produk dengan beberapa ide tentang bagaimana produk bersaing di pasaran, target speksifikasi merupakan bahasa yang digunakan tim untuk berdiskusi dan menentukan posisi produknya dibandingkan produk yang ada, baik produk yang dimiliki perusahaan sendiri maupun produk pesaing. Dalam hal ini pengumpulan informasi pesaing menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Quality Function Deployment (QFD) adalah alat perencanaan dan pemecahan masalah yang digunakan untuk mengembangkan serta menghubungkan customer requirements terhadap engineering characteristic pada suatu produk (Dieter,p69).

61 Sumber : Engineering Design (Dieter,p70) Gambar 2.4 Contoh QFD Contoh penerapan dan penggunaannya dapat dilihat pada bab 4. 3. Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai untuk tiap metrik. Terdapat lima cara untuk mengungkapkan nilai metrik: Minimal X: speksifikasi ini menetapkan target untuk batas bawah metric, dimana nilai yang lebih tinggi adalah yang lebih baik. Maksimal X: speksifikasi ini menetspkan target untuk batas atas dari metrik, dimana nilai yang lebih kecil adalah lebih baik.

62 Diantara X dan Y: speksifikasi ini mentapkan targt batas atas dan bawah untuk nilai metrik. Tepat X: speksifikasi ini menetapkan target metrik pada nilai tertentu, dimana perbedaan nilai akan menurunkan kinerja. Kumpulan nilai diskret: Beberapa metrik mempunyai nlai berupa beberapa pilihan diskret. 4. Merefleksikan hasil dan proses. Setelah target ditentukan, tim memulai bekerja untuk menghasilkan solusi-solusi konsep. Spesifikasi target lalu dapat digunakan untuk membantu tim dalam memilih sebuah konsep. Dalam menentukan speksifikasi akhir sangat sulit karena adanya trade-offs, yaitu hubungan berlawanan antara dua speksifikasi yang sudah melekat pada konsep produk yang terpilih. Lima langkah dalam pembuatan speksifikasi akhir: 1. Mengembangkan model-model teknis suatu produk. Model teknis suatu produk adalah alat yang digunakan untuk memperkirakan nilai metrik untuk membuat beberapa keputusan desain. Dalam hal ini cenderung menggunakan istilah model untuk menyebut suatu bentuk tiruan fisik maupun analitik dari produk.

63 2. Mengembangkan model biaya suatu produk. Biaya yang dimaksud adalah biaya manufaktur dimana pihak perusahaan selalu memperoleh keuntungan yang cukup, juga dapat menawarkan produk ini ke pelanggan dengan harga bersaing. Untuk sebagian besar produk, perkiraan mengenai biaya manufaktur dapat diketahu dengan menuliskan daftar bahan-bahan dan komponen dan memperkirakan harga pembelian atau pabrikasi untuk setiap komponen. 3. Memperbaiki speksifikasi, membuat trade-offs jika diperlukan. Setelah tim membuat model kinerja teknis yang dibutuhkan untuk membuat model biaya awal, tim telah dapat menggunakan model ini untuk mengembangkan speksifikasi akhir. Speksifikasi akhir dapat dihasilkan dengan cara memaparkan nilai-nilai kombinasi yang mungkin melalui penggunaan model teknis, dan kemudian biaya-biaya penerapannya dapat ditentukan. Analisa Cojoint merupakan alternatif yang sesuai untuk menyempurnakan speksifikasi produk. 4. Menentukan speksifikasi yang sesuai. Proses penetapan speksifikasi akan lebih penting dan menantang jika produk yang dikembangkan sangat kompleks, terdiri dari subsistem, dan membutuhkan beberapa tim pengembangan. Beberapa speksifikasi komponen ditentukan bedasarkan alokasi

64 dana yang disediakan. Namun speksifikasi komponen lainnya harus ditentukan melalui pemahaman yang lebih kompleks mengenai bagaimana kinerja subsistem berhubungan dengan kinerja produk secara keseluruhan. 5. Merefleksikan hasil dan proses. Apakah produk ini akan memenangkan persaingan? Ada berapa banyak ketidakpastian yang ada pada model teknik dan model biaya? Apakah konsep yang dipilih oleh tim paling sesuai target pasar yang ditetapkan atau konsep itu diterapkan pada pasar yang lain? Haruskah perusahaan melalui usaha formal untuk mengembangkan model teknik yang lebih baik yang merupakan ukuran kinerja produk untuk masa yang akan datang? 2.2.2.3 Penyusunan Konsep Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk (Ulrich,p102). Konsep produk merupakan gambaran singkat bagaimana produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Proses penyusunan konsep dimulai dengan

65 serangkaian kebutuhan pelanggan dan spesifikasi target, dan diakhiri dengan terciptanya beberapa konsep produk sebagai sebuah pilihan akhir. Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p104) Gambar 2.5 Lima Langkah Metode Penyusunan Konsep

66 Memperjelas masalah mencakup pengembangan sebuah pengertian umum dan pemecahan sebuah masalah menjadi submasalah. Pernyataan misi untuk proyek, daftar kebutuhan pelanggan dan spesifikasi produk awal merupakan input yang ideal untuk proses penyusunan konsep, meskipun seringkali bagian-bagian ini masih diperbaiki pada saat tahapan penyusunan konsep dimulai. Membagi sebuah masalah menjadi submasalah yang lebih sederhana disebut dekomposisi masalah. Pendekatan-pendekatan untuk membagi sebuah masalah manjadi submasalah yang lebih sederhana yaitu : Dekomposisi fungsi. Dekomposisi berdasarkan urutan penggunaan. Dekomposisi berdasarkan kebutuhan utama pelanggan. Tujuan dari semua teknik dekomposisi ini adalah untuk membagi sebuah masalah kompleks menjadi sederhana sehingga dapat ditangani dengan lebih terfokus. Pencarian eksternal untuk menghasilkan solusi pada pokoknya merupakan proses pengumpulan informasi. Waktu dan sumber yang tersedia dapat dioptimasi dengan menggunakan sebuah strategi ekspansi dan fokus. Sedikitnya terdapat 5 cara yang baik untuk mengumpulkan informasi dari sumber eksternal, yaitu: wawancara

67 pengguna utama, konsultasi dengan pakar, pencarian paten, pencarian literature dan menganalisis (benchmarking) pesaing. Pencarian internal merupakan penggunaan pengetahuan dan kreativitas dari tim dan pribadi untuk menghasilkan konsep solusi. Pencarian bersifat internal dalam arti semua pemikiran yang timbul dari langkah ini dihasilkan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dalam tim. Pohon klasifikasi dan tabel kombinasi kemudian digunakan untuk menggali secara sistematis konsep penyelesaian tersebut dan untuk mengintegrasikan penyelesaian sub masalah ke dalam sebuah penyelesaian total. Akhirnya dapat dibuat sebuah langkah mundur untuk merefleksikan validitas dan kemampuan aplikasi dari hasil, seperti yang digunakan oleh proses. Tabel kombinasi konsep akan kurang berguna ketika jumlah kolom lebih dari tiga atau empat. Dari sini akan muncul beberapa macam konsep yang tujuannya sama yaitu untuk menjawab penyelesaian dari submasalah yang sudah difokuskan karena sifatnya memang penting. 2.2.2.4 Seleksi Konsep Seleksi konsep merupakan proses menilai konsep dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kriteria lain, membandingkan kekuatan dan kelemahan relatif dari konsep, dan

68 memilih satu atau lebih konsep untuk penyelidikan, pengujian dan pengembangan selanjutnya (Ulrich,p130). Metode seleksi konsep pada proses ini didasarkan pada penggunaan matriks keputusan untuk mengevaluasi masing-masing konsep dengan mempertimbangkan serangkaian kriteria seleksi. Gambar 2.6 Seleksi dan penyaringan konsep Proses seleksi konsep terdiri atas 2 langkah utama yaitu penyaringan konsep dan penilaian konsep dengan metode yang dikembangkan oleh Stuart Pugh pada tahun 1980-an dan sering sekali disebut seleksi konsep Pugh (Pugh,1990). Tujuan tahapan ini adalah mempersempit jumlah konsep secara cepat dan untuk memperbaiki konsep. Langkah-langkah pada tahapan penyaringan dan penilaian konsep, yaitu : 1. Menyiapkan matriks seleksi 2. Menilai konsep 3. Mengurut konsep

69 4. Mengkombinasi dan memperbaiki konsep 5. Memilih satu atau lebih konsep 6. Mereflesikan hasil dan proses Dengan dasar kedua matriks seleksi pada penyaringan konsep dan penilaian konsep, dapat diputuskan untuk memilih satu atau lebih konsep terbaik, konsep-konsep ini mungkin lebih lanjut dikembangkan, dibuat prototipe dan diuji untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan. Penyaringan Konsep Penyaringan adalah proses yang evaluasinya masih berupa perkiraan yang ditujukan untuk mempersempit alternatif. Selama penyaringan konsep, beberapa konsep awal dievaluasi dengan membandingkan dengan sebuah konsep referensi yang menggunakan matriks penyaringan. Pada tahap awal ini perbandingan kuantitatif secara rinci sulit untuk dihasilkan dan mungkin menyesatkan, sehingga digunakan sebuah sistem penilaian komparatif yang masih kasar.

70 Tabel 2.3 Contoh Matriks Penyaringan Konsep Kriteria seleksi Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Jumlah + Jumlah 0 Jumlah - Nilai akhir Peringkat lanjutkan? Konsep 1 2 n Proses penyaringan konsep merupakan proses penilaian yang sederhana yang menggunakan tiga simbol yaitu nilai relatif lebih baik (+), jika konsep tersebut lebih baik dari konsep yang lain dalam hal kriteria tersebut. sama dengan (0), jika untuk kriteria tersebut konsep tersebut sama dengan konsep yang lainnya. Dan terakhir lebih buruk (-), bila konsep tersebut lebih buruk dari konsep yang lainnya. Kemudian jumlah bobot tiap kriteria dijumlahkan untuk masing-masing konsep diberi rangking. Konsep yang dipilih untuk diteruskan adalah satu atau lebih konsep yang memiliki tingkat rangking yang lebih tinggi. Setelah beberapa alternatif dihilangkan, tim dapat memilih untuk meneruskan pada penilaian konsep, lalu mengadakan analisis yang lebih terperinci,

71 serta mengevalusi kuantitatif yang lebih terhadap konsep yang tersisa dengan menggunakan matriks penilaian sebagai pedoman. Penilaian Konsep Penilaian konsep merupakan sebuah analisis konsep yang ada untuk memilih salah satu konsep memungkinkan untuk membawa kesuksesan pada sebuah produk. Adapun langkah awal setelah penyaringan konsep adalah menyiapkan matriks seleksi. Tabel 2.4 Contoh Matriks Penilaian Konsep Konsep x y Kriteria Beban Rating Nilai Beban Rating Nilai Beban Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Kriteria 5 Kriteria 6 Kriteria n Total Nilai Peringkat Lanjutkan? Beberapa pola yang berbeda dapat digunakan untuk memberi bobot pada kriteria seperti menandai nilai kepentingan dari 1-5 atau mengalokasi nilai 100%. Selanjutnya penetapan rating dapat dilakukan oleh beberapa responden untuk menentukan apakah bobot yang diberikan sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Nilai rating dan beban dikalikan untuk mendapatkan nilai beban. Nilai beban ini yang akan dijumlahkan untuk menentukan rangking

72 tiap konsep yang dinilai. Total nilai untuk tiap konsep merupakan penjumlahan dari nilai yang berbobot. S j n r w ij i 1 j Dimana, r ij = nilai konsep j untuk kriteria i w j = bobot untuk kriteria i n = jumlah kriteria S j = total nilai untuk konsep j Sama seperti tahap penyaringan konsep, konsep yang terpilih adalah konsep yang memiliki rangking tertinggi. 2.2.2.5 Pengujian Konsep Pengujian Konsep berhubungan erat dengan seleksi konsep, dimana kedua aktivitas ini bertujuan untuk menyempitkan jumlah konsep yang akan diproses lebih lanjut. Namun pengujian konsep berbeda, karena aktivitas ini menitikberatkan pada pengumpulan data langsung dari pelanggaan potensial dan hanya melibatkan sedikit penilaian dari tim pengembang. Metode pengujian konsep terdiri dari 7 tahap yaitu : 1. Mendefinisikan maksud dari pengujian konsep Pengujian konsep dapat diartikan sebagai suatu eksperimen, oleh karena itu perlu didefinisikan dahulu maksud dari eksperimen ini

73 dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Konsep mana yang akan diuji?, Bagaimana konsep dapat diperbaiki?, Berapa Jumlah produk yang dapat dijual?, Dapatkah proses pengembangan dilanjutkan?. 2. Memilih Populasi Survei Seringkali produk ditujukan untuk pasar potensial dengan beberapa segmen sekaligus. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengujian ke beberapa segmen sekaligus akan membuang banyak waktu dan biaya, sehingga seringkali untuk menghindari pembengkakan biaya maka pengujian konsep cukup dilakukan dengan memilih pelanggan potensial dengan segmen pasar terbesar saja. 3. Memilih Format Survei Sama seperti survei-survei yang pernah dilakukan pada tahapan sebelumnya, jenis format yang dapat dipilih adalah dengan : faceto-face interaction, Telepon, Surat, E-mail, Internet. Dan tiap format memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. 4. Mengkomunikasikan Konsep Yang membedakan survei pengujian konsep dengan survei-survei sebelumnya adalah adanya konsep terpilih yang harus dkomunikasikan kepada responden untuk dinilai sendiri oleh mereka. Banyak cara yang dapat digunakan untuk

74 mengkomunikasikan Konsep yaitu : uraian verbal, sketsa, Foto dan gambar, storyboard, Video, simulasi, Multimedia interaktif, Model fisik, dan prototipe yang dioperasikan. Sehingga tim pengembang dapat memilih cara yang sesuai untuk mengkomunikasikan konsep disesuaikan dengan biaya dan kemampuan yang ada. 5. Mengukur respon pelanggan Data yang didapatkan dari survei dapat diolah dan digunakan untuk mengukur respon pelanggan, dan hal yang terutama diukur adalah Konsep mana yang dipilih, usulan perbaikan, serta keinginan pelanggan untuk membeli dengan dibagi ke dalam 5 skala yaitu pasti akan membeli, mungkin akan membeli, mungkin atau tidak akan membeli, mungkin tidak akan membeli, pasti tidak akan membeli. Atau bisa juga dengan cara menyuruh responden untuk menyebut angka peluang sendiri untuk membeli. 6. Mengiterpretasikan Hasil Maksud dari mengiterpretasikan hasil adalah bila memang ada konsep yang mendominasi, maka secara langsung konsep tersebut dapat dipilih untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan model, tetapi bila hasilnya tidak terbatas, maka konsep dapat dipilih berdasarkan pertimbangan waktu dan biaya. Dan tidak jarang juga tim pengembang dapat memperkirakan potensi penjualan produk 1 tahun ke depan setelah produk tersebut diluncurkan. Meskipun

75 sifatnya tidak pasti, tetapui prediksi penjualan cenderung berkorelasi dengan permintaan yang sebnarnya, karena itu prediksi penjualan merupakan informasi yang sangat berharga bagi Tim pengembangan produk. 7. Merfleksikan Hasil dan proses Manfaat utama dari pengujian konsep adalah memperoleh umpan balik dari pelanggan potensial, yang diuntungkan oleh pemikiran tentang pengaruh tiga variabel kunci yang terdapat pada model prediksi yaitu : Ukuran Pasar keseluruhan, Ketersediaan tentang produk, dan proporsi pelanggan yang mungkin akan membeli produk. Dalam merefleksikan hasil pengujian konsep, sebaiknya 2 pertanyaan kunci harus terjawab, yaitu : apakah konsep sudah dikomunikasikan dengan benar sehingga menghasilkan respon pelanggan sesuai dengan yang dituju? dan apakah hasil prediksi konsisten dengan hasil tingkat pengamatan tingkat penjualan terhadap produk-produk yang sama? Akhirnya pengalaman dengan produk baru kemungkinan besar dapat diterapkan di masa yang akan datang untuk produk-produk yang hampir sama.

76 2.2.3 Arsitektur Produk Semua produk terdiri dari elemen fungsional dan fisik. Elemen-elemen fungsional dari produk terdiri atas operasi dan transformasi yang menyumbang terhadap kinerja keseluruhan produk. Elemen-elemen fisik dari sebuah produk adalah bagian-bagian, komponen, dan sub rakitan yang pada akhirnya diimplementasikan terhadap fungsi produk. Elemen-elemen fisik diuraikan lebih rinci ketika usaha pengembangan berlanjut. Elemen fisik produk biasanya diorganisasikan menjadi beberapa building blocks utama yang disebut chunks. Setiap Chunk terdiri dari sekumpulan komponen yang mengimplementasikan fungsi dari produk. Arsitektur produk adalah skema elemen-elemen fungsional dari produk disusun menjadi chunk yang bersifat fisik. Dan menjelaskan bagaimana setiap chunk berinteraksi. Karakter arsitektur produk yang terpenting adalah modularitas. Ciri-ciri arsitektur modular adalah : Chunk melaksanakan atau mengimplementasikan satu atau sedikit elemen fungsional pada keseluruhan fisiknya, dan interaksi antar chunk dapat dijelaskan dengan baik, dan umumnya penting untuk menjelaskan fungsi-fungsi utama produk. Keputusan mengenai cara membagi produk menjadi chunk dan tentang berapa banyak modularitas akan diterapkan pada arsitektur sangat terkait dengan beberapa isu yang menyangkut kepentingan seluruh perusahaan seperti

77 perubahan produk, variasi produk, standarisasi komponen, kinerja produk, kemampuan manufaktur, dan manajemen pengembangan produk. Langkah-langkah dalam menetapkan arsitektur produk adalah dengan: 1. Membuat skema produk 2. Mengelompokkan elemen-elemen pada skema Skema adalah diagram yang menggambarkan pengertian tim terhadap elemen elemen penyusun produk. Setelah membuat skema produk yang ingin dirancang, langsunglah seluruh tim mengelompokkan elemen-elemen pada skema itu menjadi chunk. Setiap elemen dapat ditugas kepada satu chunk, sehingga menghasilkan beberapa chunk. Pada sisi ekstrim lainnya, tim dapat memutuskan bahwa produk hanya mempunyai satu chunk utama dan kemudian berusaha untuk mengintegrasikan semua elemen produk secara fisik. Kenyataannya, mempertimbangkan semua kemungkinan pengelompokan elemen akan menghasilkan banyak sekali alternatif. Salah satu prosedur untuk mengatur kompleksitasalternatif adalah dengan mengasumsikan bahwa setiap elemenpada skema akan ditugaskan terhadap satu chunk tersendiri. Kemudian secara bertahap dilakukan pengelompokkan jika memungkinkan. Untuk mengetahui kapan pengelompokkan dilakukan, dibawah ini adalah beberapa faktor dalam pengelompokan elemen-elemen pada skema untuk menjadi chunk :

78 1. Integrasi geometris dan presisi : Penugasan elemen terhadap chunk yang sama memungkinkan satu orang atau kelompok mengontrol hubungan fisik antar-elemen. 2. Pembagian fungsi : Ketika satu komponen fisik dapat mengimplementasikan beberapa elemen fungsional dari produk, elemenelemen fungsional ini sebaiknya dikelompokkan bersama-sama. 3. Kemampuan (Kapabilitas) Pemasok : pemasok yang dipercaya mungkin mempunyai kapabilitas tertentu yang berkaitan dengan proyek pengembangan, dan untuk memperbolehkan hasil terbaik dari kapabilitas tersebut, tim dapat mengelompokkan elemen-elemen yang merupakan keahlian dari pemasok menjadi satu chunk. 4. Kesamaan desain atau teknologi produk : ketikan dua atau lebih elemen fungsional dapat diimplementasikan menggunakan desain atau teknologi produksi yang sama, maka penggabungan elemen-elemen ini pada chunk yang sama akan menghasilkan desain atau proses produksi yang lebih ekonomis. 5. Lokalisasi perubahan : ketika tim mengantisipasi sejumlah besar perubahan pada beberapa elemen, yang lebih baik adalah mengisolasi elemen tersebut pada chunk terpisah, sehingga perubahan yang diperlukan terhadap elemen tersebutdapat dilakukan tanpa merusak chunk yang lain.

79 6. Mengamodasi variasi : elemen-elemen harus dikelompokkan sedemikian rupa untuk memungkinkan perusahaan memvariasikan produk dengan cara yang akan memberikan nilai tambah bagi pelanggan. 7. Kemungkinan standarisasi : jika beberapa elemen juga dapat digunakan pada produk lain, elemen-elemen ini dapat dikelompokkan menjadi satu chunk. 8. Kemudahan perpindahan berbagai jenis penghubung yang ada pada produk: beberapa interaksi dengan mudah dikirimkan menempuh jarak yang jauh. 2.2.4 Desain Industri (DI) Perhimpunan Desainer Industri Amerika (IDSA) mendefinisikan desain industri sebagai jasa profesional dalam menciptakan dan mengembangkan konsep dan spesifikasi guna mengoptimalkan fungsi-fungsi, nilai, dan penampilan produk serta system untuk mencapai keuntungan yang mutual antara pemakai dan produsen (Ulrich,p200). Bentuk dan ciri memegang peranan besar dalam peralatan dan produksi. Karena itu, hal ini harus diperhatikan secara bersama-sama oleh tim. Total biaya DI dan persentase anggaran pengembangan produk yang investasikan untuk DI diperlihatkan pada para pemakai produk dan industri yang menghasilkan berbagai produk. Statistik ini harus memberikan tim desain mengenal ide kasar tentang berapa banyak investasi DI yang diperlukan untuk

80 sebuah produk baru. Biaya relatif untuk DI sebagai bagian seluruh anggaran pengembangan juga memperlihatkan jangkauan yang luas. Biaya DI terdiri dari biaya langsung, biaya manufaktur, dan biaya waktu. Biaya langsung terdiri dari biaya konsultan, biaya tim pengembang, dan biaya material. Biaya konsultan merupakan biaya pada jasa untuk dapat mengkonsultasikan produk dan lebih terpercaya dalam perbandingan dengan produk yang lain. Biaya material terdiri dari biaya untuk bahan-bahan membuat prortotype. Biaya manufaktur hanya terdiri dari biaya desain termasuk dalam biaya proses produksi untuk pembuatan prortotype ini. Desain industri sangat penting terhadap suatu produk tertentu dari dua dimensi. Untuk menjelaskan pentingnya DI ada dua dimensi yaitu ergonomik dan estetis. Dimensi yang pertama yaitu dari segi ergonomiknya. Dapat kita lihat bahwa dimensi ini merupakan bentuk jamak ergonomik untuk menampung semua aspek suatu produk yang berhubungan dengan sisi manusia. Semakin penting aspek ergonomik terhadap kesuksesan produk, semakin tergantung pula produk tersebut terhadap desain industri. Oleh karena itu, dengan menjawab serangkaian pertanyaan dalam aspek ini, secara kualitatif kita dapat menilai pentingnya desain industri. Seberapa penting kemudahan pemakaian? Kemudahan pemakaian mungkin sangat penting untuk produk-produk yang sering digunakan.

81 Kemudahan pemakaian akan lebih diperlukan jika produk mempunyai beberapa ciri atau cara mengoperasikannya yang mungkin membingungkan dan menyebabkan pemakainya frustasi dalam penggunaannya. Ketika kemudahan pemakaian menjadi kriteria yang penting, desainer industri perlu menjamin bahwa ciri-ciri produk secara efektif dapat memberitahukan fungsi-fungsinya. Seberapa pentingnya kemudahan perawatan? Jika produk perlu diperbaiki secara berkala, kemudahan perawatan menjadi penting. Sekali lagi, adalah penting bahwa ciri-ciri suatu produk untuk memberitahukan prosedur perawatan / perbaikan kepada pemakainya. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, penyelesaian yang lebih, diperlukan untuk memenuhi perawatan secara keseluruhan. Berapa banyak interaksi pemakai yang diperlukan untuk fungsi-fungsi produk? Secara umum, semakin banyak interaksi pemakai dengan produk, produk akan semakin tergantung dengan desain industri. Semua ini harus dipahami benar oleh desainer industri. Lebih jauh lagi, setiap interaksi mungkin membutuhkan suatu pendekatan desain yang berbeda dan / atau riset tambahan. Berapa pembaruan yang interaksi pemakai perlukan? Suatu antarmuka pemakai memerlukan perbaikan terhadap desain yang telah ada yang secara relatif akan mudah dipahami untuk didesain. Semakin banyak pembaruan

82 pada interfase pemakai mungkin memerlukan riset yang substansial dan studi kemungkinan. Apa pokok permasalahan keamanan? Semua produk mempunyai pertimbangan keamanan. Untuk beberapa produk, hal ini dapat menghasilkan tantangan yang nyata bagi tim desain. Dimensi kedua dari desain industri adalah dimensi estetis. Seperti halnya dengan dimensi dari segi ergonomik, dimensi ini merupakan suatu dimensi yang penting yang harus diperhatikan dalam desain industri. kita juga dapat menilai pentingnya desain industri secara kualitatif dengan menjawab beberapa pertanyaan. Apakah diferensiasi produk visual diperlukan? Produk dengan market dan tekhnologi yang stabil sangat tergantung pada desain industri untuk menciptakan daya tarik estetis dan tentunya diferensiasi visual. Sebaliknya produk seperti internal disk drive komputer, yang dibedakan oleh kinerja tekhnologinya lebih sedikit tergantung pada desain industrinya. Seberapa penting gengsi kepemilikan, kesan, dan mode? Persepsi pelanggan terhadap suatu produk sebagian didasarkan oleh daya tarik estetis. Produk yang menarik mungkin diasosiasikan dengan mode dan kesan yang tinggi. Pada akhirnya hal itu akan menciptakan perasaan gengsi yang tinggi pada pemiliknya. Hal ini mungkin berlawanan dengan suatu produk yang terlihat dan terasa kasar atau konservatif. Ketika karakteristik

83 seperti itu penting, desain industri akan memainkan peranan penting dalam menentukan kesuksesan akhir. Akankah suatu produk estetis memacu atau memotivasi tim? Suatu produk yang mempunyai daya tarik estetis dapat membangkitkan perasaan bangga diantara para staf desain dan manufaktur. Kebanggaan tim dapat memotivasi dan menyatukan setiap orang yang berhubungan dengan proyek. Konsep awal desain industri memberikan tim suatu visi konkrit terhadap hasil akhir dari usaha pengembangan produk. Secara spesifik, proses DI dapat dipikirkan seperti fase-fase yang tertera berikut ini: 1. Penyelidikan kebutuhan-kebutuhan pelanggan Tim pengembangan produk mulai dengan mendokumentasikan kebutuhankebutuhan pelanggan yang diperoleh dari proses mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Karena desainer industri mempunyai kemampuan untuk mengenali pokok-pokok permasalahan yang melibatkan interaksi pemakaian, keterlibatan DI penting dalam proses kebutuhan. 2. Konseptualisasi Setelah kebutuhan dan tututan pelanggan dipahami, desainer industri membantu tim untuk membuat konsep produk. Selama tahap penggalian konsep ahli teknik dengan sendirinya memfokuskan perhatian mereka untuk menemukan penyelesain subfungsi teknis dari produk. Pada saat ini

84 desainer industri berkonsentrasi menciptakan bentuk produk dan penghubung pemakai. Desainer industri membuat sketsa yang sederhana. Untuk setiap konsep sketsa itu dikenal dengan sketsa yang pendek sekali. Sketsa-sketsa ini adalah media yang cepat dan tidak mahal untuk mengekspresikan ide-ide dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan. Konsep-konsep yang telah diajukan kemudian dicocokkan dan digabungkan dengan penyelesain teknis selama penggalian. Konsep-konsep ini dikelompokkan dan dievaluasi oleh tim berdasarkan kebutuhan pelanggan, kemungkinan teknis, biaya, dan pertimbangan manufaktur. Sangatlah tidak menguntungkan jika didalam beberapa perusahaan, desainer industri bekerja terpisah dari ahli teknis. Ketika hal itu terjadi, ID yang ajukan untuk konsep melibatkan bentuk dan gaya yang terikat. Ketikan ahli-ahli teknik menemukan konsep-konsep tersebut secara teknis tidaklah memungkinkan biasanya terdapat sejumlah pengulangan. Karenanya perusahaan telah menemukan keuntungan dengan menggabungkan koordinasi antara desainer industri dengan ahli-ahli teknik melalui fase pengembangan konsep sehingga pengulangan ini dapat dicapai dengan cepat bahkan dalam bentuk sketsa. 3. Perbaikan awal Pada fase perbaikan awal, desainer industri membuat model dari konsep yang paling menjanjikan. Model lunak (soft model) biasanya dibuat dalam skala penuh dengan menggunakan busa atau papan berinti busa. Ini adalah

85 metode kedua tercepat, namun sedikit lambat dari sketsa, digunakan untuk mengevaluasi konsep. Desainer industri menggunakan sejumlah model lunak untuk menilai ukuran, proposi, dan bentuk keseluruhan dari banyak konsep yang diajukan. Perhatian khusus ditujukan pada kehalusan produk di tangan dan di wajah. 4. Perbaikan lanjutan dan pemilihan konsep akhir Pada tahap ini, para desainer industi sering mengganti dari model lunak dan sketsa menjadi model keras dan gambaran informasi-intensif yang dikenal dengan rendering. Rendering meperlihatkan detail desain dan sering melukiskan penggunaan produk. Yang digambarkan dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Langkah perbaikan akhir sebelum memilih suatu konsep adalah menciptakan model keras (hard model). Model ini secara teknis belum berfungsi karena hanya mendekati replica desain akhir dengan penampilan yang realistic. Model keras terbuat dari kayu, busa tebal, plastik, atau logam. Model itu dilukiskan dan diberi tekstur; untuk mendorong atau meluncurkan gerakan. 5. Penggambaran kontrol Desainer industri menyelesaikan proses pengembangan mereka dengan membuat gambar control dari konsep akhir. Penggambaran akhir mendokumentasikan fungsi, ciri, ukuran, warna, sentuhan akhir permukaan, dan dimensi kunci.

86 6. Koordinasi dengan ahli tekik,menufaktur, dan pengecer Desainer industri harus bekerja berdekatan dengan ahli teknik dan personil manufaktur melalui subsekuen proses pengembangan produk. Beberapa perusahaan konsultasi desain industri menawarkan jasa pengembangan produk yang cukup luas, termasuk desain teknik detail dan pemilihan serta menajemen di luar pengecer baik material, peralatan, komponen, dan jasa perakitan. Penilaian kualitas ID untuk produk yang sudah jadi adalah tugas subjektif yang sudah melekat. Namun kita dapat menentukan secara kualitatif apakah ID mengerjakan tujuannya dengan menimbang setiap aspek dari produk yang dipengaruhi oleh ID. Dibawah ini ada 5 kategori untuk mengevaluasi sebuah produk. 1. Kualitas dari Antarmuka Pengguna Ini adalah rating tentang bagaimana mudahnya produk itu digunakan. Kualitas antarmuka pengguna dengan penampilan produk, rasa dan bentuk interaksi. Apakah keistimewaan dari produk secara efektif dapat menyampaikan operasinya kepada pengguna? Apa penggunaan produk intuitif? Apa semua fitur aman?

87 Apakah semua pengguna yang potensial dan menggunakan produk telah diidentifikasi? 2. Daya Tarik Emosional peringkat secara keseluruhannya, konsumenlah yang menjadi daya tarik bagi suatu produk. Daya tarik ini dicapai lewat penampilan, sentuhan, suara dan baunya. Apakah produk ini menarik? Mengasyikkan? Apakah produk ini bagus mutunya? Apa bayangan yang akan terlintas di pikiran anda jika melihat produk ini? Apakah produk ini menimbulkan perasaan bangga bagi pemiliknya? Apakah produk ini menyebabkan rasa bangga pada tim pengembangan dan staf bagi penjualan? 3. KemampuanMemelihara dan Memperbaiki Produk Ini adalah peringkat kesenangan untuk memelihara dan memperbaiki suatu produk. Pemeliharaan dan perbaikan seharusnya dipertimbangkan dengan interaksi antar pemakai. Apakah pemeliharaan dari produknya jelas? Apakah mudah? Apakah produk ini secara efektif menyampaikan cara membongkar dan memasang?

88 4. Ketepatan Penggunaan Sumber Ini adalah peringkat bagaimana sebaiknya sumber daya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Jenis sumber daya lebih diarahkan pada ID pengeluaran dolar dan fungsi lainnya. Faktor ini cenderung untuk menggerakkan harga harga seperti pada pembuatan barang barang. Rancangan produk yang kurang baik, salah satunya dari segi yang kurang penting atau produknya terbuat dari bahan yang tidak biasa yang akan mempengaruhi hasil peralatannya, proses pembuatan barang barang, proses pemasangan dan lainnya. Kategori ini mempertanyakan apakah investasi tersebut akan diberikan. Bagaimana sumber daya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan? Apakah bahan pilihannya tepat (baik harga dan kualitasnya)? Apakah produknya sudah ketinggalan atau rancangannya dibawah standar (apakah keistimewaannya tidak penting atau dapat diabaikan)? Apakah faktor ekologi juga dipertimbangkan? 5. Perbedaan Produk Ini adalah peringkat dari suatu produk yang unik dan konsisten terhadap identitas perusahaan. Perbedaan ini dilihat dari bentuknya.

89 Apakah pelanggan yang melihat produk di toko dapat menjadikannya suatu hal yang khusus oleh karena bentuknya? Apakah pelanggan mengingat produk yang telah dilihatnya di TV? Apakah produk alkan menjadi terkenal ketika terlihat di jalan? Apakah produk cocok atau dapat mempertinggi identitas perusahaan? 2.2.5 Design For Manufacturing (DFM) Biaya manufaktur merupakan penentu utama dalam keberhasilan ekonomis dari suatu produk. Keberhasilan ekonomis tergantung dari marjin keuntungan dari tiap penjualan produk dan berapa banyak yang dapat dijual oleh perusahaan. Jadi secara keseluruhan DFM memiliki sasaran jaminan kualitas produk yang tinggi, sambil meminimasi biaya manufaktur. DFM mengarahkan untuk meminimasi biaya manufaktur tanpa harus mengurangi kualitas dari produk tersebut. Metode itu terdiri dari lima langkah : Memperkirakan biaya manufaktur Mengurangi biaya komponen Mengurangi biaya perakitan Mengurangi biaya pendukung produksi Mempertimbangkan pengaruh keputusan DFM pada faktor lainnya.

90 Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p225) Gambar 2.7 Metode Perancangan Untuk Proses Manufaktur

91 2.2.5.1 Memperkirakan Biaya Manufaktur Biaya manufaktur merupakan jumlah seluruh biaya untuk input dari sistem dan untuk proses pembuangan output yang dihasilkan oleh sistem. Sebagian besaran biaya untuk produk, perusahaan biasanya menggunakan unit biaya menufaktur, yang dihitung dengan membagi total biaya menufaktur untuk beberapa periode dengan jumlah unit produk yang hasilkan selama periode tersebut. Biaya manufaktur dari suatu produk yang terdiri dari biaya-biaya dalam tiga kategori, yaitu : - Biaya-biaya komponen: komponen-komponen dari suatu produk mencangkup komponen standar yang dibeli dari pemasok. - Biaya-biaya perakitan: barang-barang diskrit biasanya dirakit dari kompone-komponen. Proses perakitan hampir selalu mencangkup biaya upah tenaga kerja dan juga mencangkup biaya peralatan dan perlengkapan. - Biaya-biaya overhead: overhead merupakan kategori yang digunakan un tuk mencangkup seluruh biaya-biaya lainnya. Overhead dapat digunakan untuk dua tipe yang berbeda : biaya pendukung dan alokasi tidak langsung. Biaya pendukung adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan penanganan material, jaminan kualitas, pembelian, pengiriman, penerimaan, fasilitasfasilitas dan pemeliharaan peralatan / perlengkapan. Alokasi tidak

92 langsung adalah biaya manufaktur yang tidak dapat secara langsung dikaitan dengan suatu produk namun harus dibayarkan dalam suatu usaha. Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p227) Gambar 2.8 Elemen Biaya Manufaktur dari Suatu Produk 2.2.5.2 Mengurangi Biaya Komponen Untuk kebanyakan produk diskrit yang sangat bersifat teknik, biaya komponen yang dibeli akan menjadi elemen yang biaya menufaktur yang paling berarti. Bagian ini menginformasikan beberapa strategi untuk meminimasi biaya-biaya. Strategi-strategi yang dapat ditempuh adalah : Memahami batasan-batasan proses dan dasar-dasar biaya Beberapa komponen mungkin dapat ditentukan harganya secara sederhana, karena perancangan tidak memahami kemampuan dasar

93 biaya, dan batasan-batasan proses produksi. Proses-proses yang memiliki kemampuan yang tidak mudah dijelaskan, strategi terbaik adalah dengan bekerja langsung dengan orang-orang yang sangat mengetahui proses produksi yang dimaksud. Ahli-ahli manufaktur ini umumnya akan memiliki banyak ide mengenai bagaimana merancang ulang komponen untuk mengurangi biaya produksi. Merancang ulang komponen untuk mengurangi langkah-langkah pemrosesan Kecermataan rancangan yang diusulkan akan mengarahkan pada usulan rancangan ulang yang dapat menghasilkan penyederhanaan proses produksi. Dengan mengurangi jumlah langkah dalam proses pablikasi umumnya memberikan hasil pengurangan biaya. Beberapa tahapan proses mungkin tidak diperlukan. Pemilihan skala ekonomi yang sesuai untuk pemrosesan komponen Biaya menufaktur untuk suatu produk biasanya turun bila volume produksi meningkat. Gejala ini dinamakan skala ekonomi. Skala ekonomi untuk suatu komponen yang dibuat dan terjadi karena dua alasan berikut :

94 1. Biaya tetap dibagi di antara lebih banyak unit 2. Biaya variabel menjadi lebih rendah karena perusahaan dapat mempertibangkan penggunaan proses-proses dan peralatan yang lebih luas dan efisien. Menstandarkan komponen-komponen dan proses-proses. Prinsip skala ekonomi juga digunakan dalam pemilihan komponen dan proses. Jika volume produksi bertambah, biaya per unit komponen akan berkurang. Kualitas dan kinerja sering meningkat dengan bertambahnya jumlah produksi dikarenakan pihak penghasil komponen dapat menginvestasikan dalam proses pembelajaran dan perbaikan dalam perancangan komponen dan proses produksinya. Untuk volume produk yang diharapkan, manfaat diperolehnya volume komponen yang lebih tinggi dapat dicapai melalui penggunaan komponen standar. Komponen standar biasanya umum dipakai untuk lebih dari satu produk. Standardisasi ini mungkin terjadi dalam lini produk dari satu perusahaan, atau dapat juga melalui pemasokan diluar, dengan lini yang berbeda dari beberapa perusahaan. Mengikuti black box pengadaan komponen Suatu strategi pengurangan biaya komponen yang digunakan secara efektif pada industri mobil jepang dinamakan perancangan

95 pemasok black box. Pada pendekatan ini, tim memberikan pemasok dengan hanya uraian komponen berupa black box, yaitu uraian mengenai apa yang harus dilakukan oleh komponen, dan bukannya bagaimana untuk mencapai hal tersebut. 2.2.5.3 Mengurangi Biaya Perakitan Perancangan untuk perakitan (Design For Assembly / DFA) kadang dinyatakan sebagai bagian DFM yang melibatkan minimasi biaya perakitan. Untuk kebanyakan produk, perakitan memberikan bagian total biaya yang relatif kecil. Sering suatu hasil yang menekankan pada DFA, keseluruhan hitungan komponen, kerumitan proses manufaktur dan biaya pendukung, seluruhnya mengurangi biaya perakitan. Beberapa prinsip yang berguna untuk mengarahakan keputusan DFA, yaitu : Menyimpan angka Indeks DFA ini dihitung dengan sebagai suatu indeks yang merupakan rasio waktu perakitan minimum teoritis dibandingkan dengan perkiraan waktu perakitan aktual produk. Konsep ini berguna dalam pengembangan intuisi mengetahui dasar dari biaya perakitan. Hal ini dirumuskan sebagai berikut : Indeks DFA = (jumlah komponen minimum teoritis)x(3 detik) perkiraan waktu perakitan total

96 Mengintegrasikan komponen Jika suatu komponen tidak memiliki kualitas yang diprelukan secara teoritis, maka akan terdapat kandidat untuk mengintegrasikan secara fisik satu atau lebih komponen. Integrasi komponen memberikan beberapa manfaat : - Komponen yang terintegrasi tidak harus dirakit. - Komponen yang terintegrasi sering lebih mudah untuk diolah dibandingkan komponen terpisah. - Komponen yang terintegrasi memungkinkan keterkaitan di antara bentuk geometris kritis untuk dikendalikan oeh proses pembuatan komponen dibandingkan dengan suatu proses perakitan. Memaksimumkan kemudahan perakitan Karakteristik ideal dari suatu perakitan adalah : - Komponen dimasukkan dari bagian atas rakitan. - Komponen lurus dengan sendirinya. - Komponen tidak harus diorientasikan. - Komponen hanya membutuhkan satu tangan untuk merakit. - Komponen tidak membutuhkan peralatan. - Komponen dirakit dengan gerakan linier, dan tunggal. - Komponen terkunci dengan segara setelah penggabungan.

97 Mempertimbangkan perakitan oleh pelanggan Pelanggan mungkin sabar melengkapi beberapa produk rakitannya sendiri, khususnya jika dengan mengerjakan hal tersebut memberikan keuntungan lain, seperti membeli dan menangani produk kemasan dengan mudah. Yang mana, dengan merancang suatu produk seperti itu akan lebih mudah dan lebih tepat dirakit oleh pelanggan kebanyakan yang akan mengabaikan petunjuk, da menjadikannya suatu tantangan tersendiri. 2.2.5.4 Mengurangi Biaya Pendukung Produksi Dalam bekerja untuk meminimasikan biaya komponen dan biaya perakitan, tim mungkin juga mencapai pengurangan dalam permintaan fungsi pendukung produksi. Beberapa tindakan langsung oleh tim untuk mengurangi biaya pendukung produksi : - Meminimasi kerumitan sistemik Suatu sistem manufaktur yang sangat sederhana akan menggunakan suatu proses tunggal untuk mengubah bahan baku tunggal menjadi komponen tunggal mungkin dengan sistem penarikan diameter batang plastik tinggal dari biji plastik.

98 Kerumitan timbul karena berbagai input, output, dan proses perubahan. - Proses pembuktian kesalahan (Error proofing) Aspek penting dari DFM adalah mengantisipasi kemungkinan mode kegagalan dari sistem produksi dan mengambil tindakan yang sesuai dalam proses pengembangan. Strategi ini diketahui sebagai proses pembuktian kesalahan. 2.2.5.5 Mempertimbangkan Keputusan DFM Pada Waktu Pengembangan Keterkaitan DFM dengan waktu pengembangan adalah kompleks. Hal ini, terdapat beberapa aspek hubungan. Pengunaan beberapa petujuk DFA dapat menghasilkan komponen-komponen yang sangat kompleks. Komponen-komponen ini mungkin begitu kompleks sehingga rancangan mereka atau pengadaan peralatan menjadi kegiatan yang menentukan jangka waktu usaha pengembangan keseluruhan. Pengaruh DFM pada biaya pengembangan Biaya pengembangan sangat simetris dengan waktu pengembangan. Maka, perhatian yang sama mengenai keterkaitan antara kerumitan dan waktu pengembangan digunakan untuk biaya pengembangan.

99 Pengaruh DFM pada kualitas produk Sebelum melakukan keputusan DFM, tim seharusnya mengevaluasi pengaruh keputusan pada kualitas produk. Pada beberapa kasus, tindakan mengurangi biaya manufaktur dapat memberikan pengaruh buruk pada kealitas produk, sehingga disarankan agar tim dapat menjaga dimensi kualitas yang penting untuk produk. Pengaruh DFM pada faktor-faktor eksternal Masalah eksternal adalah komponen yang digunakan kembali dan biaya daur hidup. Beberapa masalah tersebut adalah : Komponen yang dugunakan kembali: dengan mengambil waktu dan uang untuk mendapatkan komponen dengan biaya rendah yang mungkin berguna untuk tim lain yang merancang produk yang sama. Biaya umur pakai: melalui daur ulang produk, produk-produk tertentu mungkin mengakibatkan beberapa perusahaan atau biaya yang tidak dihitung untuk biaya manufaktur.

100 2.2.6 Membuat Prototype Prototype dapat difenisikan sebagai sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian. Dengan definisi ini, setiap wujud yang memperlihatkan sedikitnya satu aspek produk yang menarik bagi tim pengembangan dapat ditampilkan sebagai sebuah prototype. 2.2.6.1 Tipe tipe Prototype Prototype dapat berguna diklasifikasikan di antara dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah tingkat di mana sebuah prototype merupakan bentuk fisik sebagai lawan dari analitik. Prototype fisik merupakan benda nyata yang dibuat untuk memperkirakan produk. Contoh prototype fisik meliputi model yang tampilannya seperti produk, bukti bahwa prototype konsep digunakan untuk menguji sebuah pemikiran secara cepat, dan hardware percobaan digunakan untuk membenarkan fungsi dari sebuah produk. Prototype analitik menampilkan produk yang tidak nyata, biasanya matematis. Aspek yang menarik adalah produk dianalisis daripada dibuat. Contoh prototype analitik meliputi simulasi komputer, sistem persamaan penulisan kertas komputer, dan model komputer geometrik tiga dimensi. Dimensi kedua adalah tingkatan dimana sebuah prototype merupakan prototype yang menyeluruh sebagai lawan dari terfokus.

101 Prototype yang menyeluruh mengimplementasikan sebagian besar atau semua atribut dari produk. Prototype yang menyeluruh dapat disamakan dengan pemakaian sehari hari dari kata prototype, merupakan sebuah skala keseluruhan, versi kerja keseluruhan dari produk. Sebuah contoh prototype menyeluruh adalah yang diberikan kepada pelanggan untuk mengidentifikasi kekurangan dari desain sebelum memutuskan produksi. Berlawanan dengan prototype menyeluruh, prototype terfokus mengimplementasikan satu atau sedikit sekali atribut produk. Contoh prototype terfokus meliputi model busa, untuk menggali bentuk dari prototype dan kabel melilit pada papan sirkuit untuk memeriksa tampilan elektronik dari sebuah rancangan produk. 2.2.6.2 Kegunaan Prototype Dalam proyek pengembangan produk, prototype digunakan untuk empat tujuan, yaitu : Pembelajaran: prototype sering digunakan untuk menjawab dua tipe pertanyaan Akankah dapat bekerja? dan Sejauh mana dapat memenuhi kebutuhan pelanggan? Saat harus menjawab pertanyaan semacam ini, prototype diperlakukan sebagai alat pembelajaran.

102 Komunikasi: prototype memperkaya komunikasi dengan manajemen puncak, penjual, mitra, keseluruhan anggota tim, pelanggan dan investor. Penggabungan: prototype digunakan untuk memastikan bahwa komponen komponen dan subsistem-subsistem dari produk bekerja bersamaan seperti yang diharapkan. Milestones: Dalam tahap pengembangan produk berikutnya, prototype digunakan untuk mendemonstrasikan bahwa produk telah mencapai tingkat kegunaan yang diinginkan. Prototype milestones menyediakan hasil nyata, memperlihatkan kemajuan dan disiapkan untuk mejalankan jadwal. 2.2.6.3 Prinsip Pembuatan Prototype Beberapa prinsip berguna sebagai pemandu keputusan tentang prototype selama pengembangan produk. Prinsip prinsip tersebut ialah : Prototype analitik umumnya lebih fleksibel dibandingkan prototype fisik. Prototype fisik dibutuhkan untuk menemukan fenomena yang tidak dapat diduga.

103 Sebuah prototype dibutuhkan untuk menemukan fenomena yang tidak dapat diduga. Sebuah prototype dapat memperlancar langkah pengembangan lainnya. Sebuah prototype dapat merestrukturisasi ketergantungan tugas. 2.2.6.4 Teknologi Pembuatan Prototype Ratusan teknologi produk yang berbeda digunakan untuk membuat prototype, khususnya prototype fisik. Dan teknologi lainnya yang telah timbul sebagai hal yang penting sekali dalam 10 tahun terakhir, yaitu : Model komputer 3D Model ini menampilkan rancangan sebagai bentuk 3D, masing masing biasanya dibangun dari bangun geometrik kasar seperti silinder, balok dan lubang. Keuntungan model komputer 3D meliputi kemampuan untuk secara otomatis memperhitungkan sifat fisik seperti massa dan volume; dan efisiensinya meningkat dari membuat satu dan hanya satu gambaran resmi dari rancangan, menjadi dapat dibuat gambaran yang lebih terfokus, seperti tampilan yang mewakili keseluruhan

104 Pembuatan bentuk bebas Teknologi ini disebut stereolithografi, dan lusinan teknologi yang bersaing akan mengikutinya, membuat objek fisik secara langsung dari model komputer 3D dan dapat disebut sebagai pencetak tiga dimensi. 2.2.6.5 Merencanakan Prototype Metode empat langkah untuk merencanakan sebuah prototype selama usaha pengembangan produk. Menetapkan tujuan prototype Menetapkan tingkat perkiraan konsep Menggariskan rencana percobaan Membuat jadwal untuk perolehan, pembuatan dan pengujian 2.2.7 Analisis Ekonomis Pengembangan Produk Analisis Ekonomi membantu tim pengembangan produk untuk mengambil keputusan, proses ini memuat dua jenis analisis yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.

105 2.2.7.1 Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif adalah analisis yang melihat dari segi aliran kas masuk (pendapatan) dan kas keluar (biaya). Kas masuk berasal dari hasil penjualan produk. Kas keluar terdiri atas biaya proses pengembangan, biaya produksi seperti pembelian perlengkapan, dan alat-alat, biaya pemasaran dan penyokong produk dan biaya produksi yang terus-menerus seperti bahan mentah, komponen dan pekerja. Produk yang menguntungkan adalah produk yang menghasilkan jumlah kumulatif kas yang masuk lebih banyak dibandingkan yang keluar. Metode ini menggunakan metode Nilai bersih saat ini (Net Present Value / NPV), karena metode ini lebih mudah dimengerti dan digunakan secara luas dalam bidang bisnis. Metode analisis NPV menggunakan rumus : PV C 1 r t Dimana : PV = Nilai saat ini C R t = Nilai pada periode t = Suku bunga = Periode

106 Penggunaan rumus tersebut untuk menghitung aliran kas masuk dan keluar yang untuk mempermudah biasanya disajikan dalam bentuk tabel seperti di bawah ini. Nilai dalam ribuan (Rp) Biaya Pengembangan Biaya Perakitan Biaya Pemasaran dan penunjang Biaya Produksi Volume produksi Biaya Produksi/unit Pendapatan Penjualan Volume Penjualan Harga / unit Thn Thn Thn Thn 1 2 3 4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Aliran kas / periode Nilai saat ini tahun 1, r+10% Nilai bersih Proyek saat ini Sumber : Perancangan dan Pengembangan Produk (Ulrich,p282) Gambar 2.9 Tabel aliran kas, nilai saat ini dan nilai bersih saat ini 2.2.7.2 Analisa Kualitatif Analisis kualitatif adalah analisis yang lebih memperhatikan masalah lingkungan proyek, yakni menangkap persoalan-persoalan dan mempertimbangkan interaksi antara proyek dengan perusahaan, pasar dan lingkungan ekonomi makro. Analisis ini menggunakan analisis kuantitatif, hanya saja disesuaikan dengan keadaan faktor perusahaan, pasar dan lingkungan ekonomi makro tadi. Analisis kualitatif dilaksanakan untuk menangkap lingkungan yang lebih kompetitif dan dinamik.

107 2.3 Perencanaan Proses Proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana) yang ada (Assauri,p75). Walaupun jenis-jenis proses produksi sangat banyak, tetapi secra eksterm dapat dibedakan menjadi dua (Assauri,p75) yaitu : 1. Proses yang terputus putus (intermittent processes) Merupakan suatu proses produksi yang memerlukan waktu set up peralatan produksi dalam jangka waktu yang pendek kemudian dipersiapkan kembali untuk memproduksi produk lain. Proses perubahan mulai dari bahan baku sampai produk jadi dapat diamati dengan jelas. 2. Proses yang terus menerus (Continuous Processes) Merupakan suatu proses produksi yang memerlukan waktu set up peralatan produksi dalam jangka waktu yang panjang tanpa mengalami perubahan dan prosesnya akan terus menerus jika jenis produk yang sama dikerjakan. Proses perubahan mulai dari bahan baku sampai produk jadi tidak dapat diamati dengan jelas. Perencanaan proses memerlukan pemahaman tentang operasi operasi sebagai suatu sistem produktif. Dengan pendekatan sistematis, langkah langkah yang perlu diambil dalam perencanaan proses adalah :

108 Memutuskan tujuan tujuan perencanaan, yaitu untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, kapasitas atau semangat kerja karyawan. Memilih proses produksi yang relevan. Menggambarkan proses transformasi yang ada sekarang dengan bantuan bagan proses dan pengukuran efisiensi. Mengembangkan desain proses yang telah diperbaiki melalui perbaikan aliran proses. Mendapatkan persetujuan manajemen untuk desain yang telah diperbaiki. Mengimplementasikan desain proses baru. Pada umumnya perencanaan berbagai proses transformasi dilakukan dengan alat bantu yang berupa bagan bagan, yaitu : 1. Bagan perakitan (Assembly chart). 2. Peta proses operasi (operation process chart) 3. Struktur produk (product structure). 4. BOM (Bill Of Material). 2.3.1 Bagan Perakitan (Assembly Chart) Merupakan gambaran grafis dari urut urutan aliran komponen dan bagian rakitan suatu produk. Assembly Chart menunjukkan cara yang mudah dipahami tentang:

109 Komponen komponen yang membentuk produk. Bagaimana komponen komponen ini bergabung bersama. Komponen yang menjadi bagian suatu Sub Assembly. Aliran komponen kedalam suatu rakitan. Tujuan utama dari peta rakitan adalah untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen, yang dapat juga digambarkan oleh sebuah gambar terurai. Teknik ini juga dapat digunakan untuk mengajar pekerja yang tidak ahli untuk mengetahui urutan suatu rakitan yang rumit. 2.3.2 Peta Proses Operasi (Operation Process Chart) Operation Process Chart (OPC) adalah peta kerja yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi pekerjaan tersebut elemen-elemen operasi secara detail (Wignjosoebroto,p131) Beberapa keuntungan dan kegunaan OPC adalah : Menunjukkan operasi yang harus dilakukan untuk tiap komponen. Memberikan informasi mengenai hubungan antar komponen. Menunjukkan sifat pola aliran bahan. Membedakan antara komponen yang dirakit dan yang dibeli.

110 Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan OPC adalah : a. Bahan bahan Kita harus mempertimbangkan semua alternatif bahan yang digunakan, proses penyelesaian dan toleransi sehingga sesuai dengan fungsi, reliabilitas dan waktu. b. Operasi Harus mempertimbangkan mengenai alternatif proses pengolahan, pembuatan, pengerjaan dengan mesin, metode perakitan dan perlengkapan yang digunakan. c. Pemeriksaan Dalam hal ini kita harus mempunyai standar kualitas. d. Waktu Untuk mempersingkat waktu penyelesaian maka perlu diperhatikan semua alternatif mengenai metode, peralatan dan perlengkapan khusus. 2.3.3 Struktur Produk (Product Structure) Struktur produk terdiri dari komponen pembentuk produk akhir yang ditempatkan pada level 0 dan seterusnya, sehingga membentuk sebuah hirarki. Pada umumnya untuk Assembly item disebut dengan parent dan komponen pembentuknya disebut dengan child. Untuk produk akhir ditandai dengan level 0 dan semakin kebawah maka nomor level akan bertambah. Diagram

111 sistematik ini menunjukkan hubungan antar komponen terhadap parent dan hubungan keseluruhan perakitan. Terdapat 2 cara penomoran level struktur produk, yaitu : 1. Single Level Jenis ini menggambarkan hubungan sebuah induk dengan satu level komponen komponen pembentuknya. 2. Multi Level Jenis ini menggambarkan struktur produk yang lengkap dari level 0 sampai level yang paling bawah. Kegunaan struktur produk secara garis besar adalah : Mengetahui berapa jumlah item penyusunan suatu produk akhir. Memberikan rincian mengenai komponen apa saja yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk. 2.3.4 BOM (Bill Of Material) BOM adalah sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan dan bahan baku yang diperlukan untuk dirakit, dicampur atau membuat produk akhir. Beberapa kegunaan BOM adalah : Untuk menghitung biaya produk dan harga jual sehingga dapat diketahui laba dari hasil penjualan produk. Menentukan komponen komponen mana saja yang harus dibuat sendiri atau dibeli.

112 Menentukan komponen komponen dalam daftar pembelian dan order produksi yang harus dilepas. Beberapa macam BOM : 1. Eksplosion Merupakan BOM dengan urutan dimulai dari induk sampai komponen pada level paling bawah. BOM jenis ini menunjukkan komponen yang membentuk suatu induk dari level teratas sampai level terendah. 2. Implosion Merupakan BOM dimana urutan dimulai dari komponen sampai induk atau level paling atas. Secara singkat BOM jenis ini adalah kebalikan dari BOM eksplosion. Beberapa format BOM yang sering digunakan : 1. Multi Level Indented Eksplosion. Format ini adalah yang paling sering digunakan karena dapat memberikan informasi yang luas tentang produk dan sekaligus memperjelas urutan proses perakitannya. 2. Single Level BOM. Format ini hanya mendeskripsikan komponen komponen yang diperlukan pada level khusus untuk perakitan (Assembly).

113 3. Summarized BOM. Merupakan kesimpulan beberapa urutan keseluruhan kuantitas dari masing masing komponen yang diperlukan untuk membuat produk tanpa memperhatikan level perakitan. 4. Where Used BOM. Format ini membalik struktur produk untuk mengidentifikasi pada Sub perakitan, perakitan atau produk akhir apa suatu item digunakan. 2.4 Pengujian Statistik 2.4.1 Validitas dan Reliabilitas Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang harus diukur (Sugiyono,p109). Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono,p110). Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka dapat diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.

114 Sumber : Metode Penelitian Bisnis (Sugiyono,p112) Gambar 2.10 Skema Instrumen dan Cara Pengujian Validitas & Reliabilitas

115 2.4.1.1 Pengujian Validitas lain : Ada dua macam validitas sesuai dengan cara pengujiannya, antara Validitas eksternal instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data atau informasi lain yang mengenai variabel penelitian yang dimaksud. Bila terdapat kesamaan antara data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data atau informasi lain yang mengenai variabel penelitian yang dimaksud, maka dapat dinyatakan intrumen tersebut mempunyai validitas eksternal yang tinggi. Penelitian mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal instrumen, maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah sampel. Validitas internal dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan, yaitu mengungkap data dari variabel yang dimaksud. Adapun yang dimaksud dengan bagian instrumen dapat berupa butir-butir pertanyaan dari angket atau butir-butir soal tes, tetapi dapat pula kumpulan dari butir-butir tersebut yang mencerminkan

116 sesuatu faktor. Sehubungan dengan ini maka dikenal adanya validitas butir dan validitas faktor. Pengujian validitas sebuah instrumen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: Analisis faktor Analisis faktor dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor faktor dengan skor total, sesudah terlebih dahulu mengetahui kekhususan tiap faktor. Skor faktor dipandang sebagai nilai X dan skor total dipandang dengan nilai Y. Bila koefisien korelasi sama dengan atau lebih besar dari 0,3, maka dinyatakan valid. Analisis butir Prosedur untuk melakukan analisis butir, sebenarnya sama dengan prosedur melakukan analisis faktor. Analisis butir dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor butir dengan skor total. Skor butir dipandang sebagai nilai X dan skor total dipandang dengan nilai Y. Bila koefisien korelasi sama dengan atau lebih besar dari 0,3, maka dinyatakan valid. Rumus kolerasi yang dapat digunakan adalah rumus korelasi product moment, sebagai berikut:

117 r x x y y N 1 SxSy Dimana : r = Koefisien Korelasi Pearson y x N SxSy = Jumlah bobot total tiap kolom = Jumlah bobot total tiap baris = Banyaknya responden = Deviasi standar untuk x dan y 2.4.1.2 Pengujian Reliabilitas Secara garis besar ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal. Seperti pada validitas, jika ukuran atau kriteriumnya berada di luar instrumen maka dari hasil pengujian ini diperoleh reliabilitas eksternal. Sebaliknya jika perhitungan dilakukan berdasarkan data dari instrumen saja, akan menghasilkan reliabilitas internal. Reliabilitas eksternal Secara eksternal, pengujian dapat dilakukan dengan dengan testretest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan petama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi

118 positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel. Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara menkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan ekuivalen. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliabel. Pengujian reliabilitas gabungan merupakan gaubungan antara testretest dan ekuivalen. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Jika dengan dua kali pengujian dalam waktu yang berbeda, akan dapat dianlisis enam koefisien reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu semua positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel. Reliabilitas internal Reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan. Pengujian reliabilitas internal dilakukan

119 dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (split half), KR 20, KR 21, dan Anova Hoyt. Rumus Spearman Brown : r i 2( rb ) 1 r b Dimana: r i = reliabilitas internal seluruh instrumen r b = korelasi product moment antaran belahan pertama dan belahan kedua Rumus KR 20 (Kuder Richardson) r i k st k 1) 2 ( st 2 p iqi Dimana: k = jumlah item dalam instrumen Rumus KR 21 p i = Proporsi banyaknya subjek menjawab item 1 q i = 1 - pi 2 s t = varians total r i k M ( k M ) 1 k 1) k s 2 ( t Dimana: k = jumlah item dalam instrumen M = mean total skor 2 s t = varians total

120 Analisis Varians Hoyt (Anova Hoyt) r i 1 MKe MKs Dimana: r i = reliabilitas internal seluruh instrumen MKs = MKe = mean kuadrat antara subjek mean kuadrat kesalahan 2.4.2 Pengujian Hipotesis Nilai Tengah Suatu uji hipotesis statistik yang alternatifnya bersifat satu arah disebut uji satu arah (Walpole,p298), seperti: Ho: θ = θo, H1 : θ > θo Atau mungkin, Ho: θ = θo, H1 : θ < θo Wilayah kritik bagi hipotesis alternatif θ > θo terletak seluruhnya di ekor kanan sebaran tersebut. Sedangkan wilayah kritik bagi hipotesis alternatif θ < θo terletak seluruhnya di ekor kiri. Suatu uji hipotesis statistik yang alternatifnya bersifat dua arah disebut uji dua arah (Walpole,p298), seperti: Ho: θ = θo, H1 : θ θo

121 Wilayah kritiknya dipisah menjadi dua bagian yang ditempatkan di masingmasing ekor sebaran statistik ujinya. Hipotesis alternatif θ θo menyatakan bahwa θ > θo atau θ < θo. Dalam pengujian hipotesis yang statistik ujinya bersifat diskret, wilayah kritiknya dapat ditentukan sekehendak kita. Bila α terlalu besar, kita dapat memperkecil dengan mengubah nilai kritiknya. Tetapi kadang kala perlu memperbesar ukuran contohnya untuk mengimbangi membesarnya β. Dalam pengujian hipotesis yang statistik ujinya bersifat kontinu, biasanya menetapkan lebih dahulu nilai α, misalnya sebesar 0.05 atau 0.01, dan baru kemudian menentukan wilayah kritiknya. Suatu uji dikatakan nyata bila hipotesis nol ditolak pada taraf nyata 0.05, dan dikatakan sangat nyata bila hipotesis nol ditolak pada taraf nyata 0.01. Langkah-langkah pengujian hipotesis mengenai parameter populasi θ lawan suatu hipotesis alternatifnya dapat diringkas sebagai berikut : 1. Nyatakan hipotesis nol-nya (Ho) bahwa θ = θo. 2. Pilih hipotesis alternatif (H1) yang sesuai θ < θo, θ < θo, atau θ θo. 3. Tentukan taraf nyatanya (α) 4. Pilih statistik uji yang sesuai kemudian tentukan wilayah kritiknya. 5. Hitung nilai statistik uji berdasarkan data contohnya. 6. Keputusan : Tolak Ho bila nilai statistik uji tersebut jatuh dalam wilayah kritiknya, tetapi bila nilai itu jatuh di luar wilayah kritiknya terimalah Ho.

122 Tabel 2.5 Uji-uji Mengenai Nilai Tengah Ho Nilai Statistik Uji H1 Wilayah Kritik μ = μo x μ < μo z 0 z z, σ diketahui atau μ > μo n μ μo z z n 30 z z N 2 dan z z 2 2 xi i1 ; N σ = simpangan baku μ = μo x 0 t ; v = n-1 s n σ tidak diketahui atau n < 30 μ < μo μ > μo μ μo t t t t t t 2 dan t t 2 μ 1 μ 2 = do μ 1 μ 2 = do xi x2 d 0 2 2 n n z ; 1 σ 1 dan σ 2 diketahui t 1 i 2 0 ; s p x x 1 n 1 n 1 d v n1 n2 2 σ 1 = σ 2 tetapi tidak diketahui 2 2 2 n1 1s1 n2 1s 2 s p n n 2 1 2 2 2 2 μ 1 μ 2 < do μ 1 μ 2 > do μ 1 μ 2 do μ 1 μ 2 < do μ 1 μ 2 > do μ 1 μ 2 do z z z z z z 2 dan z z 2 t t t t t t 2 dan t t 2 μ 1 μ 2 = do μ 0 = do t' i 2 0 ; v s p x x 1 n 1 n 1 d 2 2 2 s1 n1 s2 n2 2 2 2 s n s n 1 1 2 2 n1 1 n2 1 σ 1 σ 2 dan tidak diketahui d d 0 t ; v = n-1, sd n Pengamatan berpasangan 2 2 μ 1 μ 2 < do μ 1 μ 2 > do μ 1 μ 2 do μ 0 < do μ 0 > do μ 0 do t' t t' t t' t 2 dan t' t 2 t t t t t t 2 dan t t 2