UNJUK KERJA MESIN PENGGILING PADI TIPE SINGLE PASS 1

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK. Kata kunci: padi, konfigurasi penggilingan, susut penggilingan, rendemen giling PENDAHULUAN

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai Negara agraris maka sebagian besar penduduknya. konsumsi untuk seluruh penduduk di Indonesia (Adiratma, 2004).

Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia Yogyakarta, 5-6 September 2014

BAB I PENDAHULUAN. sulit diperoleh. Di Indonesia kondisi ini masih diperburuk dengan adanya kendala

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan pangan pokok bagi penduduk Indonesia dan merupakan

KAJIAN PENGGUNAAN RICE MILLING UNIT (RMU) KELILING TERHADAP MUTU BERAS YANG DIHASILKAN 1

LAPORAN PRAKTIKUM Mata Kuliah Pasca Panen Tanaman PENGGILINGAN PADI. Disusun oleh: Kelompok 3

II. TINJAUAN PUSTAKA Terminologi Pasca Panen Padi. A. Kualitas Fisik Gabah

KARAKTERISASI MUTU GABAH, MUTU FISIK, DAN MUTU GILING BERAS GALUR HARAPAN PADI SAWAH

OPTIMASI PROSES PENGGILINGAN GABAH DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN ALGORITMA GENETIKA 1

Peningkatan Mutu Beras Petani Melaui Penambahan Alat Pengkabut di Penggilingan

Laporan Tahunan 2015: Inovasi Pertanian Bioindustri Menuju Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani

Kinerja Penggilingan Padi Kecil di Lahan Kering Kecamatan Lempuing. Small Milling Performances In Lempuing Jaya District Dry Land

Jl. Ciptayasa KM. 01 Ciruas Serang-Banten 2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan.

Dukat Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

STUDI UNJUK KERJA MESIN PENGGILINGAN PADI DI KANDANGHAUR, INDRAMAYU, JAWA BARAT NURUL RIZQIYYAH

II. TINJAUAN PUSTAKA

UJI KINERJA MESIN PEMECAH KULIT GABAH DENGAN VARIASI JARAK ROL KARET DAN DUA VARIETAS GABAH PADA RICE MILLING UNIT (RMU)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PROGRAM & KEBIJAKAN REVITALISASI PENGGILINGAN PADI DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah)

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - April 2014 di Kabupaten Pringsewu

BAB I PENDAHULUAN. yang digunakan sebagai media untuk menanam padi. memprihatinkan, dimana negara Indonesia yang memiliki lahan yang cukup luas

TINJAUAN PUSTAKA. barang dan jasa akan terdistribusi dengan jumlah, waktu, serta lokasi yang

KAJIAN PENGGUNAAN MESIN PENGGILING MOBILE TERHADAP MUTU BERAS UNTUK BEBERAPA VARIETAS PADI DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

Teknik Penanganan Pascapanen Padi untuk Menekan Susut dan Meningkatkan Rendemen Giling

UJI UNJUK KERJA MESIN PENYOSOH JUWAWUT TIPE ROL TUNGGAL DAN TIPE ROL GANDA

METODOLOGI. Waktu dan Tempat. Alat dan Bahan. Metode Penelitian

BAB I. PENDAHULUAN. yang kerap kali menjadi masalah. Masalah yang dihadapi adalah pertumbuhan

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman padi merupakan tanaman pertanian. Padi termasuk genus oryza L yang

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan 1. Investor 2. Analisis 3. Masyarakat 4. Pemerintah

EVALUASI MUTU BERAS DI PROPINSI JAWA BARAT, JAWA TENGAH, DAN JAWA TIMUR HASIL PANEN MUSIM KEMARAU 2007

Kajian Rendemen danmutu Giling Beras di Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan 232

KINERJA PROTOTIPE MESIN SOSOH TIPE ABRASIF PSA-M3 PADA PROSES PENYOSOHAN SORGUM

Jember, Juli, 2011 [PROSIDING SEMINAR NASIONAL PERTETA 2011] Rokhani Hasbullah 1), Riska Indaryani 1) Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sebuah negara pengekspor beras. Masalah ketahanan pangan akan lebih ditentukan

Tabel 1. Standar Mutu Beras Berdasarkan SNI

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Alat Pengolahan Padi 1.2. Penggilingan Padi

PENGARUH KETEBALAN DAN JENIS ALAS PENJEMURAN GABAH (Oryza Sativa L.) TERHADAP MUTU FISIK BERAS GILING KULTIVAR CIHERANG

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai

Penanganan Susut Panen dan Pasca Panen Padi Kaitannya dengan Anomali Iklim di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1984 Indonesia telah dapat berswaswembada beras. Namun, akhir-akhir ini

BEDAH SNI PRODUK UNGGULAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan

Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Mutu Fisik Beberapa Beras Aromatik

Keywords : Paddy, postharvest, steps postharvest, loss

PROSES PENGGILINGAN PADI MENGGUNAKAN RICE MILLING UNIT DI PT. MERTJUBUANA KAB. SUMEDANG-JAWA BARAT ELRADHIE NOUR AMBIYA SI

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam rangka pengamanan pengadaan beras

INFORMASI PRAKTIS PENANGANAN PASCAPANEN KEDELAI. OLeh Ir. I. Ketut Tastra, MS. Informasi Praktis Balitkabi No.:

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai wilayah di Indonesia memiliki lahan pertanian yang dapat ditanami

pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dan beras adalah salah satu hasil

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. karena produksi padi Indonesia yang masih rendah dan ditambah dengan. diperbaiki dengan manajemen pascapanen yang benar.

PENDAHULUAN. Peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 4,2 persen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI RICE MILLING UNIT ONE PHASE (STUDI KASUS DI UD. BELEKE MAJU KABUPATEN LOMBOK BARAT NTB)

ISSN eissn Online

BAB I PENDAHULUAN. kumpulan dari kebun-kebun sempit milik petani yang menjadi salah satu pilar

4 PEMBANGUNAN MODEL. Gambar 13. Diagram sebab-akibat (causal loop) antar faktor sediaan beras. Bulog Jumlah penduduk. Pedagang pengumpul

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung dalam 2 (dua) tahap pelaksanaan. Tahap pertama

BAB I PENDAHULUAN. Pangan adalah salah satu hak azasi manusia dan sebagai komoditi strategis

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI GOGO DAN PENDAPATAN PETANI LAHAN KERING MELALUI PERUBAHAN PENERAPAN SISTEM TANAM TANAM DI KABUPATEN BANJARNEGARA

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. MENEKAN KEHILANGAN HASIL

ALAT DAN MESIN PANEN HASIL PERTANIAN drh. Saiful Helmy, MP

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGGILINGAN PADI MOBILE DI KECAMATAN PANTAI LABU DAN KECAMATAN PANTAI CERMIN

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram

Masa berlaku: Alamat : Situgadung, Tromol Pos 2 Serpong, Tangerang Februari 2010 Telp. (021) /87 Faks.

STATISTIK HARGA PRODUSEN GABAH

Analisis Beban Kerja pada Proses Penggilingan Padi, Studi Komparasi antara Penggilingan Padi Skala Kecil dan Besar

Budijanto, S.,dan Azis, B.S. (2011). Produktivitas dan Proses penggilingan padi terkait dengan Pengendalian Faktor Mutu Berasnya. Jurnal Pangan.

ANALISIS MODEL PENGOLAHAN PADI (Studi Kasus di Kabupaten Lombok Timur, NTB)

BAB I PENDAHULUAN. bulat, beruas-ruas dan tingginya antara cm. Jagung merupakan

KAJIAN KONFIGURASI MESIN PENGGILINGAN UNTUK MENINGKATKAN RENDEMEN DAN MENEKAN SUSUT PENGGILINGAN PADA BEBERAPA VARIETAS PADI

Mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universita Lampung 2,3

ALAT DAN MESIN PANEN PADI

MODIFIKASI DAN UJI PERFORMANSI MEKANISME ALAT PENGUPAS KULIT ARI KACANG TANAH ( Arachis hypogaea L) SEMI MEKANIS TIPE BELT

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (ANGKA RAMALAN II TAHUN 2015)

PENDAHULUAN. Petunjuk Teknis Lapang PTT Padi Sawah Irigasi...

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

CARA PENGUJIAN MUTU FISIK GABAH DAN BERAS

Pengolahan lada putih secara tradisional yang biasa

PEMETAAN PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP KELUARAN PRODUK HASIL PERANCANGAN PEMUTIH BERAS MEKANIK MENGGUNAKAN METODE BIPLOT

Pertemuan ke-14. A.Tujuan Instruksional 1. Umum Setelah mengikuti matakuliah ini mahasiswa

BAB I PENDAHULUAN. Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah, dengan

Transkripsi:

UNJUK KERJA MESIN PENGGILING PADI TIPE SINGLE PASS 1 Hanim Zuhrotul A 2, Nursigit Bintoro 2 dan Devi Yuni Susanti 2 ABSTRAK Salah satu faktor yang mengakibatkan kehilangan hasil pada produk pertanian tanaman pangan khususnya padi adalah proses penggilingan. Mesin penggilingan yang sudah tua merupakan salah satu penyebab terjadinya kehilangan hasil dan kurang bagusnya produk beras yang dihasilkan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah melalui dinas pertanian memberikan bantuan mesin penggiling padi satu fase pada kelompok-kelompok tani tertentu. Namun demikian, sebagian dari mesin ini tidak difungsikan karena kapasitas mesin yang terlalu tinggi dan hasil kurang memuaskan. Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan pengujian kinerja mesin penggiling padi satu fase khususnya pada kualitas produk beras yang dihasilkan. Proses evaluasi dilakukan pada mesin yang bekerja pada kondisi putaran poros utama rata-rata 949 rpm serta dilakukan dengan dua kali ulangan. Bahan uji adalah gabah dengan kadar air rata-rata 13,5% yang terdiri atas 92% beras bernas, 6,65% beras kapang dan 1,05% kotoran. Hasil evaluasi yang dilakukan menunjukkan kapasitas input mesin adalah 1432,14 kg/jam dengan rendemen hasil rata-rata 63%. Analisis yang dilakukan pada beras pecah kulit (BPK) yang keluar dari husker adalah 82,86% BPK, 14,29% masih berupa gabah dan 2,8% sisanya adalah sekam. Kualitas beras hasil proses penggilingan terdiri atas 76% beras kepala, 13,44% beras patah dan 10,56% beras menir. Hasil ini menunjukkan bahwa kerja mesin penggiling padi ini sudah cukup bagus meskipun kapasitas mesin kurang sesuai untuk digunakan oleh petani dengan hasil yang masih kecil. Kata kunci: Mesin penggiling padi satu fase, kualitas beras 1 Disampaikan dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008 2 Staff Pengajar Jurusan Teknik Pertanian FTP UGM Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 1

A. PENDAHULUAN Tanaman padi masih merupakan komoditi strategis nasional. Produksi beras di Indonesia pada akhir tahun 2000 mencapai 51,899 juta ton GKG (Simatupang, 2000; Simatupang dan A. Syukur, 2002) pada akhir tahun 2002 diperkirakan sebesar 54 juta ton GKG. Beras adalah komoditas strategis dan merupakan pangan pokok bangsa Indonesia. Konsumsi beras setiap tahun selalu meningkat seiring dengan laju penambahan penduduk. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras yang salah satunya dilakukan dengan mengurangi kehilangan hasil (losses) yang terjadi ketika penanganan pascapanen dilakukan. BPS menyebutkan kehilangan hasil panen dan pasca panen akibat dari ketidaksempurnaan penanganan pasca panen mencapai 20,51 persen. Kehilangan yang terjadi meliputi kehilangan saat pemanenan 9,52 persen, perontokan 4,78 persen, pengeringan 2,13 persen dan penggilingan 2,19 persen. Angka ini jika dikonversikan terhadap produksi padi nasional yang mencapai 54,34 juta ton setara lebih dari Rp15 triliun. Penekanan kehilangan hasil ini tentunya akan berdampak langsung pada peningkatan produksi akhir (Budiharti, 2006). Penggilingan padi sebagai mata rantai akhir dari proses produksi beras, mempunyai posisi yang stratesis untuk ditingkatkan kinerja dan efisiensinya sehingga dapat menyumbang pada peningkatan produksi beras. Menurut Tjahjohutomo et. al. (2004) dalam Purwanto (2005), secara nasional terjadi penurunan kuantitatif rendemen beras giling dari tahun ke tahun yaitu 65 persen pada tahun 80 an, 63,3 persen pada akhir tahun 90 an dan pada tahun 2000 menjadi 62 persen. Penurunan rendemen beras ini bisa jadi karena pengaruh umur teknis alat penggilingan padi. Penambahan konfigurasi pada alat penggilingan padi yang dilengkapi dengan alat pembersih dan pemisah ternyata mampu meningkatkan rendemen 4 sampai 5 persen. Pada umumnya, proses penggilingan padi dapat dilakukan melalui dua tahapan yaitu proses pengupasan kulit biji dan proses penyosohan beras (Indrasari, et al., 2000). Mesin penggiling padi modern dilengkapi dengan peralatan yang lain seperti alat pembersih dan pemisah. Mesin ini tergabung dalam satu kesatuan yang kompak yang selanjutnya disebut sebagai Rice Milling Unit (RMU). Penggunaan RMU ini diharapkan dapat meningkatkan rendemen beras giling sekaligus menurunkan tingkat kehilangan hasil dalam kegiatan pascapanen padi. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 2

Kenyataan di lapangan khususnya ditingkat petani, peningkatan rendemen giling padi mengalami banyak kendala yang antara lain adalah mahalnya biaya investasi alat-alat mekanis yang dibutuhkan. Untuk itu, pemerintah melalui Dinas Pertanian memberikan bantuan RMU pada beberapa kelompok tani dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas beras dan mengurangi tingkat kehilangan hasil saat penggilingan. Namun demikian, beberapa RMU belum dioperasikan dengan optimal di tingkat petani sehingga diperlukan suatu evaluasi khususnya terhadap kinerjanya. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan evaluasi kinerja dari mesin penggiling padi tipe single pass yang merupakan bantuan pemerintah khususnya terhadap kualitas beras yang dihasilkan. B. BAHAN DAN METODE Pengujian mesin penggiling padi dilakukan untuk mengukur kinerja mesin RMU tipe satu fase dalam hubungannya dengan kualitas beras yang dihasilkan. RMU yang digunakan merupakan RMU satu fase yang dilengkapi dengan dua buah separator. Separator yang pertama digunakan untuk memisahkan beras pecah kulit yang keluar dari mesin pemecah kulit (husker), sedangkan separator kedua digunakan untuk memisahkan beras berdasarkan beras kepala, beras patah dan beras menir. Pengujian dilakukan di kecamatan kasihan kabupaten Bantul dengan dua kali ulangan menggunakan gabah dengan varieras yang sama. Kualitas gabah diamati dengan menghitung presentase gabah bernas, gabah kapang dan kotoran yang terbawa. Sedangkan analisis terhadap kualitas fisik beras yang dihasilkan meliputi analisis BPK dan analisis terhadap kualitas beras dengan menghitung presentase beras kepala, beras patah dan beras menir, serta analisis nilai rendemen total hasil penggilingan (Mudjisihono, 1994). C. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian dilakukan dengan dua kali ulangan dan pada kondisi putaran poros utama rata-rata 949 rpm. Kapasitas penggilingan rata-rata adalah 1432,14 kg/jam. Kapasitas ini tergolong besar sehingga kurang cocok digunakan oleh petani dengan hasil panen yang relatif kecil. Akan tetapi, apabila mesin ini ditempatkan dan dikelola oleh satu gabungan kelompok tani untuk usaha penggilingan padi, kapasitas giling alat ini sudah cukup memadai. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 3

1. Analisis Gabah Kualitas gabah yang digiling akan berpengaruh pada kualitas beras yang dihasilkan. Hasil pengujian terhadap beras awal yang digunakana sebagai sample dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kualitas gabah sample Kriteria Gabah A (%) Gabah B (%) 1 2 3 Rerata 1 2 3 rerata Kadar air 13,4 13,2 13,00 13,2 13,7 13,8 13,9 13,8 Gabah bernas 90,62 90,56 89,39 90.19 93,54 92,78 96,89 94,41 Gabah kapang 8,64 9,10 7,71 8,48 5,78 6,36 2,36 4,83 Kotoran 0,74 0,34 2,9 1,33 0,68 0,86 0,75 0,76 Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar air gabah sampel sudah memenuhi persyaratan untuk digiling. Gabah kering yang siap giling (GKG) mempunyai kadar air sekitar 14% (Ruiten, 1978). Tabel 1 juga menunjukkan bahwa kualitas gabah A sedikit lebih rendah dibandingkan dengan gabah B yang ditunjukkan dengan presentase gabah bernas yang lebih rendah. Kualitas gabah akan berpengaruh pada hasil penggilingan (Mudjisihono,1994). Dengan demikian rendemen giling gabah B akan lebih baik dari gabah A 2. Analisis Beras Pecah Kulit (BPK) Beras pecah kulit (BPK) adalah gabah yang telah terkupas kulit luarnya setelah keluar dari mesin pemecah kulit (Husker). Bagian utama dari mesin pemecah kulit adalah sepasang Rol Karet (Rubber Roll) berdiameter 220 mm dengan ketebalan karet 25 mm dan jarak antara keduanya adalah 0,5 mm. Gerakan berlawanan arah dari kedua rubber roll yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda akan mengupas kulit gabah dengan mekanisme gesekan. Hasil analisis terhadap beras pecah kulit yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 1. Kualitas gabah sample Gabah A (%) Gabah B (%) Kriteria 1 2 3 Rerata 1 2 3 rerata BPK 79,9 78,63 82,28 80,27 89,29 83,83 83,22 85,45 Gabah 14,95 18,35 16,66 16,65 8,51 12,01 15,3 11,94 Kotoran 5,15 3,02 1,06 3,08 2,2 4,16 1,48 2,61 Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 4

Tabel 2. menunjukkan bahwa persentase BPK yang dihasilkan pada sample gabah B lebih tinggi dibandingkan dengan gabah A. Hal ini disebabkan oleh kualitas gabah B yang sedikit lebih baik jika debandingkan dengan Gabah A. Mudjisihono (1994) menyebutkan bahwa besarnya BPK dipengaruhi oleh kualitas gabah dan alat penggilingnya. Dalam pengujian ini, alat penggiling yang digunakan sama sehingga dapat di simpulkan bahwa kualitas gabah adalah penyebab terjadinya perbedaan persentase BPK yang dihasilkan. 3. Analisis Beras giling Beras giling merupakan beras yang dihasilkan dari proses penggilingan atau penyosohan yang bertujuan untuk membersihkan beras pecah kulit dari lapisan bekatul dan lembaganya (Camacho, et al, 1978 dalam Mudjisihono, 1994). Rendemen beras giling dapat diperoleh dari perbandingan antara bobot beras giling yang dihasilkan dengan bobot gabah contoh awal dikalikan seratus persen (Suismono, et al, 2003). Dari kedua ulangan yang dilakukan, rendemen beras giling rata-rata yang diperoleh adalah 63%. Hasil ini seharusnya masih dapat ditingktkan mengingat secara laboratoris pada kondisi ideal dari beberapa varietas unggul menunjukkan dalam 1 butir gabah mengandung sekitar 21 25% sekam dan 6 7% lapisan aleuron, sedangkan untuk varietas lokal jumlah sekam dan aleuronnya sebesar 29 33%. Dengan demikian rendemen beras pecah kulit (BPK) seharusnya berkisar antara 75 79%, sedangkan beras putih (BP) 68 73% dari varitas unggul dan dari varietas lokal sebesar 67 71% (Thahir, 2002). Rendemen yang diperoleh dalam pengujian ini lebih rendah dari yang seharusnya mengingat dalam gabah sampel yang digiling masih terikut kotoran dan beras kapang (6% - 7%). Kualitas gabah berpengaruh pada hasil beras giling yang diperoleh. Namun denikian rendemen giling yang diperoleh tergolong wajar mengingat rendemen giling rata-rata saat ini adalah 61,2%. Selain rendemen, dalam pengujian ini juga dilakukan analisis terhadap kualitas beras yang dihasilkan dengan menghitung persentase beras kepala, beras patah dan beras menir. Beras kepala adalah butir-butir beras giling yang mempunyai panjang atau lebih dari 3/4 panjang rata-rata butir-butir utuh yang tidak rusak (Ruiten, 1978), sedangkan beras patah adalah butir beras sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran kurang dari 6/10 bagian, tetapi lebih besar dari 2/10 bagian bagian panjang rata-rata butir beras utuh, Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 5

dan beras menir adalah beras yang mempunyai ukuran lebih kecil atau sama dengan 2/10 bagian beras utuh Suismono,et al (2003). Semakin tinggi komposisi beras kepala maka kualitas beras dinilai lebih tinggi. Kualitas beras giling sangat dipengaruhi oleh kualits gabah dan mesin penggiling yang digunakan (Budiharti, 2006) Hasil pengujian lengkap dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Pengelompokan kualitas beras giling Spesifikasi Sampel Kualitas Gabah (%) Kualitas Beras Giling KA Bernas Kapang Kotoran Kepala Patah menir 69,06 16,52 14,42 Gabah A 13,2 90,19 8,48 1,33 67,44 16,12 16,44 70,58 15,14 14,28 Rata-rata 69,02 15,94 15,04 85,28 10,56 4,16 Gabah B 13,8 94,41 4,83 0,76 83,18 10,62 6,2 80,12 11,44 8,44 Rata-rata 82,86 10,87 6,27 Tabel 3 menunjukkan bahwa kualitas beras dari gabah sampel B lebih baik dari Gabah A. Beras B mempunyai persentase beras kepala yang lebih tinggi dibandingkan beras A dan komposisi beras patah pada beras B lebih rendah dari beras A. Anonim (1993) menyebutkan bahwa semakin tinggi persentase beras patah dalam proses menggiling, maka semakin rendah mutu beras giling dan semakin rendah harga berasnya. Hal ini didukung oleh Indrasari, et al., (2000) yang mengemukakan bahwa masyarakat lebih senang dengan beras yang utuh, karena dengan banyaknya beras utuh maka mutunya semakin baik. Apabila dirunut dari kadar air sampel gabah yang digunakan, kadar air gabah B lebih dekat pada kondisi optimal untuk dilakukan penggilingan. Kadar air optimum untuk proses penggilingan padi adalah 14%, dan jika terlalu kering atau terlalu basah maka akan mengakibatkan banyaknya beras patah (Ruiten 1978). Selain dipengaruhi oleh kualitas gabah, beras patah juga disebabkan oleh kondisi penggilingan seperti seperti lamanya proses penyosohan dan penggilingan. D. KESIMPULAN 1. Kapasitas mesin penggiling padi single pass yang diuji adalah 1432,14 kg/jam. Kapasitas ini tergolong tinggi dan kurang cocok bagi petani Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 6

2. Rendemen giling rata-rata yang dihasilkan 63% dengan komposisi 76% beras kepala, 13,44% beras patah dan 10,56% beras menir. Hasil ini tergolong baik meskipun masih dibawah yang seharusnya dapat dicapai Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 7

DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2003. Dinas Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam: Rakorbangda 2003. Yogyakarta. Budiharti, Uning, Harsono dan Reni Juliana. 2006. Perbaikan Konfigurasi Mesin Pada Penggilingan Padi Kecil Untuk Meningkatkan Rendemen Giling Padi. Balai Besar Mekanisasi Pertanian Serpong. Indrasari S. Dewi, R. Rustiasari, AD., Sutrisno dan S.J. Munarso, 2000. Pengaruh Perbedaan Varietas Dan Proses Pengolahan Terhadap Kandungan Zat Gizi Beras Kristal. Himpunan Makalah Seminar Nasional Industri Pangan. Mudjisihono, 1994. Prosedur Analisa untuk Mutu Gabah dan Beras.Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi, Jawa Barat. Purwanto, Aris Y. 2005. Kehilangan Pasca Panen Padi Kita Masih Tinggi. Inovasi Online Edisi Vol.4/XVII. Ruiten, 1978. Aspek-Aspek Mutu Padi dan Beras Giling dalam Bahan Latihan Teknologi Pasca Panen. Bagian Teknologi L.P3 Cabang Sukamandi. Simatupang, P. 2000. Anatomi Masalah Produksi Beras Nasional dan Upaya Mengatasinya. Makalah pada Seminar Nasional Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke depan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 9-10 Nopember 2000. Bogor. Simatupang, P., dan M. Syukur, 2002. Dampak Kehilangan Hasil Terhadap Kesejahteraan Sistem Padi. Workshop Kehilangan Hasil Pasca Panen Padi. Dirjen Bina Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Jakarta, 5 Juni 2002. Suismono, Agus Setyono, S. Dewi Indrasari, Prihadi Wibowo dan Irsal Las, 2003.Evaluasi Mutu Beras Berbagai Varietas Padi di Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Jawa Barat. Thahir R, 2002. Tinjauan Penelitian Peningkatan Kualitas Beras Melalui Perbaikan Teknologi Penyosohan. Makalah disajikan sebagai Persyaratan Kenaikan Pangkat /golongan IV/c. Balai Besar Pengembangan Alsintan, Serpong. Anonimus. 2003. Dinas Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam: Rakorbangda 2003. Yogyakarta Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 8