HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAHAN DAN METODE. Penapisan ketahanan 300 galur padi secara hidroponik 750 ppm Fe. Galur terpilih. Galur terpilih

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo

Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC

BAB. VII. PEMBAHASAN UMUM. Konsentrasi Fe dalam Tanah dan Larutan Hara Keracunan Fe pada Padi

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Lahan Bercekaman Besi

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum

PENGARUH PENGELOLAAN HARA NITROGEN TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

HASIL. memindahkan kecambah ke larutan hara tanpa Al.

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3. Nomor persilangan : BP3448E-4-2. Anakan produktif : 17 anakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA GALUR PADI TAHAN TUNGRO DI KABUPATEN BANJAR

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan Kultur Hara Gejala Keracunan Besi

BAB II KAJIAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi

HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL

TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan Tanaman Padi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

KK : 2.4% Ket: ** ( sangat nyata) tn (tidak nyata) Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil,

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

: Kasar pada sebelah bawah daun

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

KERAGAAN BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI SAWAH UMUR SANGAT GENJAH DI NUSA TENGGARA TIMUR

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. yang dikeringkan dengan membuat saluran-saluran drainase (Prasetyo dkk,

SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO

PENAMPILAN GALUR-GALUR JAGUNG BERSARI BEBAS DI LAHAN KERING KALIMANTAN SELATAN

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

STUDI TINGGI PEMOTONGAN PANEN TANAMAN UTAMA TERHADAP PRODUKSI RATUN. The Study of Cutting Height on Main Crop to Rice Ratoon Production

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Lahan Kering Masam

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Evaluasi Beberapa Galur Harapan Padi Sawah di Bali

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan

Lampiran 1. Deskripsi padi varietas Ciherang (Supriatno et al., 2007)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

III. METODE PENELITIAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

PELAKSANAAN PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Verifikasi Komponen Budidaya Salibu: Acuan Pengembangan Teknologi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

LAMPIRAN B 1 C 4 F 4 A 4 D 1 E 2 G 1 C 1 C 3 G 2 A 1 B 4 G 3 C 2 F 2 G 4 E 4 D 2 D 3 A 2 A 3 B 3 F 3 E 1 F 1 D 4 E 3 B 2

KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL EMPAT VARIETAS UNGGUL BARU PADI INPARA DI BENGKULU ABSTRAK

HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN FISIOLOGI KOMPETISI ANTARA TANAMAN PADI SAWAH DENGAN GULMA Echinochloa crus-galli

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

UJI DAYA HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI SAWAH DI SUBAK DANGIN UMAH GIANYAR BALI

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tajuk. bertambahnya tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Percobaan 1. Penapisan Galur Padi terhadap Cekaman Besi secara Hidroponik Perlakuan cekaman 750 ppm Fe ke dalam media larutan Yoshida konsentrasi penuh (full strength) selama 2 pekan menimbulkan gejala visual khas keracunan besi berupa bercak-bercak kecil berwarna cokelat (bronzing) pada daun tanaman padi (Gambar 3). bronzing 1 2 Gambar 3. Tanaman padi pada percobaan hidroponik dengan media larutan hara Yoshida: (1) kontrol (0 ppm Fe), (2) perlakuan (750 ppm Fe) yang menunjukkan gejala bronzing pada daun. Keracunan besi dimulai dari meningkatnya permeabilitas membran sel akar terhadap ion Fe 2+ (fero) sehingga penyerapan ion fero meningkat tajam. Penyerapan Fe 2+ yang berlebihan mengakibatkan aktivitas enzim polifenol oksidase meningkat yang akhirnya akan meningkatkan jumlah polifenol teroksidasi dalam jaringan tanaman terutama jaringan yang ada di daun. Hal tersebut diduga sebagai penyebab utama terbentuknya bercak-bercak kecil berwarna cokelat atau bronzing (Abdulrachman et al. 2009). Bercak-bercak kecil pada daun tanaman padi mulai dari ujung, menyebar ke pangkal daun, sampai semua permukaan daun berwarna kuning-oranye sampai cokelat. Bercak-bercak juga bisa muncul di tulang daun, dan pada tahap keracunan besi yang parah, daun mengering dan mati (Dobermann & Fairhurst 2000).

21 Gejala bronzing pada galur peka muncul tidak hanya di daun tua, tetapi juga di daun yang sedang aktif melakukan fotosintesis bahkan ada di daun muda. Tanaman padi yang keracunan besi mengalami penurunan tinggi tajuk sampai kerdil, akar terlapisi oksida besi (Fe 2 O 3 ) yang berwarna kuning, cokelat gelap sampai kehitaman, serta mengalami penurunan bobot kering tajuk dan akar, dan pada tingkat keracunan besi yang parah tanaman akhirnya mati (Suhartini 2004). Kandungan besi yang tinggi dalam jaringan tanaman mengakibatkan terbentuknya oksigen radikal bebas yang sangat fitotoksik dan dapat menyebabkan terdegradasinya protein dan lemak membran sel (Abdulrachman et al. 2009). Tanaman padi toleran cekaman besi hanya sedikit menampakkan gejala bronzing atau bahkan tidak memperlihatkan gejala bronzing, pertumbuhan berjalan normal, walau akar tetap terlapisi oleh oksida besi. Tanaman padi toleran cekaman besi memiliki kemampuan untuk menghindari dan mendetoksifikasi keracunan besi. Akar tidak menyerap hara besi secara berlebihan karena memiliki daya pengoksidasi dan selektivitas membran sel akar (Gambar 4). Hara besi yang terserap disimpan di jaringan tanaman dan atau didetoksifikasi secara enzimatik (Becker & Asch 2005). 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 4. Tanaman padi percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe (1) IR64 (kontrol peka), (2) Hawara Bunar (3) galur peka, (4) galur sedang, (5) galur toleran

22 Sebaran skor bronzing dari 300 galur padi populasi RIL F7 keturunan varietas IR64 dan Hawara Bunar terhadap cekaman 750 ppm Fe yaitu 122 galur sangat toleran (skor 0-1), 99 galur toleran (skor 2-3), 52 galur sedang (skor 4-5), 26 galur peka (skor 6-7) dan 1 galur sangat peka (skor 8-10). Dengan kata lain, galur padi populasi RIL F7 yang ditapis secara hidroponik cekaman 750 ppm Fe ini terdiri dari 221 galur (74%) bersifat toleran, 52 galur (17%) bersifat sedang dan 27 galur (9%) bersifat peka (Gambar 5). Jumlah tanaman 140 120 100 80 60 40 20 0 122 99 52 26 1 Sangat toleran Toleran Sedang Peka Sangat peka (skor 0-1) (skor 2-3) (skor 4-5) (skor 6-7) (skor 8-10) Gambar 5. Sebaran skor bronzing dari 300 galur padi populasi RIL F7 pada percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe. Percobaan ini juga menggunakan 2 varietas tanaman padi yang merupakan tetua galur-galur padi yang diuji yaitu Hawara Bunar dan IR64 (Tabel 3). Varietas Hawara Bunar masuk kriteria toleran (skor 2) dan IR64 masuk kriteria sedang (skor 5). Amnal (2009) melaporkan bahwa varietas Hawara Bunar termasuk toleran (skor 2) dan IR64 termasuk sedang (skor 5) pada percobaan hidroponik dengan tingkat cekaman 750 ppm Fe. Varietas IR64 mengalami persentase penurunan pertumbuhan tinggi tajuk, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar masing-masing 10%, 62%, 11% dan 26%. Sedangkan varietas Hawara Bunar mengalami persentase penurunan pertumbuhan tinggi tajuk, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar masing-masing 19%, 60%, 3% dan 23% (Tabel 3). Dengan demikian, perlakuan cekaman 750 ppm Fe selama 2 minggu pada media larutan hara Yoshida sangat berpengaruh pada pertumbuhan panjang akar dan kurang berpengaruh terhadap bobot kering tajuk tanaman padi varietas IR64 dan Hawara Bunar.

Tabel 3. Persentase penurunan pertumbuhan tanaman padi varietas IR64 dan Hawara Bunar (tetua) pada percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe. Peubah Persen bronzing Skor bronzing Selisih tinggi tajuk Selisih panjang akar Bobot kering tajuk Bobot kering akar 0 ppm Fe IR64 750 ppm Fe Penurunan pertumbuhan 0 ppm Fe Hawara Bunar 750 ppm Fe 23 Penurunan pertumbuhan 0% 48% - 0% 12% - 0 5-0 2-11.18cm 10.02cm 10% 16.68cm 13.53cm 19% 2.64cm 1.01cm 62% 2.42cm 0.98cm 60% 1.01g 0.90g 11% 1.44g 1.40g 3% 0.23g 0.17g 26% 0.39g 0.30g 23% Hasil sidik ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa peubah persen dan skor bronzing, selisih tinggi tajuk, bobot kering tajuk dan akar berbeda sangat nyata pada taraf uji 1%, sedangkan selisih panjang akar tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%. Peubah persen dan skor bronzing berkorelasi sangat lemah dengan tinggi tajuk, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar dengan nilai korelasi 0.00 0.05 (Lampiran 2). Dengan demikian dalam percobaan ini hanya peubah skor bronzing yang bisa dijadikan sebagai parameter penapisan toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi. Mayoritas galur (166 galur) mengalami pertumbuhan tinggi tajuk pada interval 8.00-14.99 cm, dengan pertumbuhan tinggi tajuk IR64 dan Hawara Bunar masing-masing 10.02 cm dan 13.53 cm. Mayoritas galur (170 galur) mengalami pertumbuhan panjang akar pada interval 0.00-1.10 cm, dengan pertumbuhan panjang akar IR64 dan Hawara Bunar masing-masing 1.01 cm dan 0.98 cm. Mayoritas galur (137 galur) memiliki bobot kering tajuk pada interval 0.81-1.20 g, dengan bobot kering tajuk IR64 dan Hawara Bunar masing-masing 0.90 g dan 1.40 g. Mayoritas galur (127 galur) memiliki bobot kering akar pada interval 0.25-0.36 g, dengan bobot kering akar IR64 dan Hawara Bunar masing-masing 0.17 g dan 0.30 g. Dengan demikian, mayoritas galur-galur padi populasi RIL F7 keturunan varietas IR64 dan Hawara Bunar memperlihatkan respon-respon di antara respon-respon kedua tetuanya (IR64 dan Hawara Bunar) terhadap cekaman

24 750 ppm Fe pada percobaan hidroponik. Sebaran peubah selisih panjang akar cenderung sama dengan sebaran peubah persen dan skor bronzing yaitu semakin ke kanan semakin menurun jumlahnya (Tabel 4). Tabel 4. Sebaran persen dan skor bronzing, selisih tinggi tajuk dan panjang akar, bobot kering tajuk dan akar dari 300 galur populasi RIL F7 pada percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe Peubah Persen bronzing (%) Skor bronzing Selisih tinggi tajuk (cm) Selisih panjang akar (cm) Bobot kering tajuk (g) Bobot kering akar (g) Jumlah tanaman pada kelas interval Sangat toleran Toleran Sedang Peka Sangat peka (0-9) (10-29) (30-49) (50-69) (70-100) 122 99 52 26 1 Sangat toleran Toleran Sedang Peka Sangat peka (0-1) (2-3) (4-5) (6-7) (8-9) 122 99 52 26 1 1.00-7.99 8.00-14.99 15.00-21.99 22.00-28.99 29.00-35.99 64 166 62 6 2 0.00-1.10 1.11-2.20 2.21-3.30 3.31-4.40 4.41-5.50 170 102 22 4 2 0.00-0.40 0.41-0.80 0.81-1.20 1.21-1.60 1.61-2.00 10 92 137 51 10 0.00-0.12 0.13-0.24 0.25-0.36 0.37-0.48 0.49-0.60 15 121 127 29 8 Metode penapisan secara hidroponik pada tingkat cekaman 750 ppm Fe selama 2 minggu ini diduga kurang mampu menapis sifat toleransi tanaman padi umur 28 hari terhadap cekaman besi. Sebagai contoh, varietas IR64 selaku kontrol peka masih termasuk kriteria sedang (skor 5), padahal skor bronzing varietas IR64 harusnya antara 7-9. Selain itu, sebanyak 74% galur padi populasi RIL F7 yang ditapis masuk kriteria sangat toleran dan toleran sehigga sebaran ketahanan galurgalur padi yang diuji lebih terkonsentrasi pada kriteria sangat toleran dan toleran. Kendala yang dihadapi selama percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe ini adalah gangguan iklim, dimana curah hujan selama bulan Agustus sampai Oktober 2010 sangat tinggi, yaitu lebih dari 400 mm per bulan (Lampiran 3). Curah hujan yang sangat tinggi dan kejadian hujan di siang hari diduga menyebabkan gangguan transpirasi dan penyerapan besi oleh tanaman padi. Hal tersebut menyebabkan perlakuan cekaman besi pada larutan hara Yoshida kurang berpengaruh pada tanaman padi yang diuji. Solusi yang dilakukan untuk meningkatkan transpirasi dan penyerapan besi oleh tanaman padi yaitu dengan

25 memasang lampu halogen sebanyak 3 buah yang masing-masing memiliki daya 500 watt pada saat hujan di siang hari. Dari hasil percobaan hidroponik dengan cekaman 750 ppm Fe ini dipilih 50 galur padi populasi RIL F7 yang toleran terhadap cekaman besi. Galur-galur padi terpilih masuk kriteria sangat toleran dan toleran (skor bronzing 0-2), selisih tinggi tajuk 4.48-23.73 cm, selisih panjang akar 1.10-5.22 cm, bobot kering tajuk 0.36-1.64 g, dan bobot kering akar 0.8-0.50 g. 2. Verifikasi Ketahanan 50 Galur Padi Terpilih terhadap Cekaman Besi 2.1. Percobaan Pot Penambahan 750 ppm Fe sehari sebelum tanam ke dalam media tanah Latosol Cimanggu pada percobaan pot tidak menyebabkan gejala khas keracunan besi (bronzing) pada daun tanaman padi varietas IR64 selaku kontrol peka. Varietas IR64 tumbuh normal dengan skor bronzing 0, tinggi tajuk 103 cm, jumlah anakan produktif 16, dan umur panen 111 hari. Gejala bronzing daun juga tidak tampak pada 50 galur padi populasi RIL F7 keturunan varietas IR64 dan Hawara Bunar yang diuji, fase pertumbuhan bibit sampai pematangan bulir berlangsung normal (Gambar 6). 1 2 Gambar 6. Tanaman padi tumbuh normal pada percobaan pot dengan media tanah Latosol yang ditambah 750 ppm Fe: (1) varietas IR64 (kontrol peka) umur 4 MST, (2) galur-galur yang diuji umur 11 MST.

26 Hasil analisis media tanah Latosol Cimanggu (Lampiran 4) sebelum ditambah 750 ppm Fe menunjukkan bahwa bahan organik C dan N rendah, rasio C/N sedang, P dan K sangat tinggi, Ca, Mg, dan Na tinggi, Al rendah, Fe tersedia dan Fe total rendah dan ph agak masam. Penambahan 750 ppm Fe dalam bentuk FeSO 4.7H 2 O ke dalam media tanah mengakibatkan konsentrasi Fe tersedia naik dari 4.2 ppm menjadi 9.1 ppm, konsentrasi Fe total naik dari 246 ppm menjadi 284 ppm dan ph media turun dari 6.2 menjadi 6.1 (Lampiran 5). Kondisi media tanah seperti ini tidak mengakibatkan keracunan besi pada tanaman padi yang diuji. Menurut Tadano dan Yoshida (1978), keracunan besi pada tanaman padi dapat terjadi pada kondisi tanah dengan konsentrasi 100 ppm Fe dengan ph 3.7 atau konsentrasi 300 ppm Fe dengan ph 5.0. Kandungan hara yang cukup bagi tanaman, seperti sangat tingginya hara P dan K akan menurunkan daya racun Fe 2+ dalam tanah (Damarjaya & Hermawan 1997). Penambahan 200 gram pupuk kandang dalam media tanah Latosol juga diduga membantu menurunkan kadar Fe 2+ yang terlarut dalam media tanah. Menurut Ruhaimah et al. (2009), pupuk kandang akan menghasilkan asam-asam organik dan pada tahap dekomposisi lanjut akan menghasilkan asam humat dan fulvat dengan gugus fungsional karboksil dan fenolik yang dapat mengikat logam besi untuk membentuk metal organo kompleks (khelat) dan akhirnya menurunkan kelarutan besi dalam tanah. Keadaan iklim selama percobaan pot dengan media tanah Latosol Cimanggu (Lampiran 6) yaitu temperatur udara, kelembaban udara, lama penyinaran dan curah hujan per bulan masing-masing 25.9 o C, 82%, 62% dan 273mm. Keadaan iklim tersebut sesuai untuk prasyarat pertumbuhan tanaman padi. Interaksi antara galur dan media tanah berbeda sangat nyata pada taraf uji 1% hanya untuk peubah bobot gabah per rumpun. Interaksi antara galur dan media tanah untuk peubah tinggi tajuk, jumlah anakan produktif, bobot gabah per malai, dan bobot 1000 butir berbeda nyata pada taraf uji 5%. Sedangkan interaksi antara galur dan media tanah untuk peubah jumlah anakan, umur berbunga, umur panen, panjang daun bendera dan malai, jumlah gabah isi dan hampa tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (Lampiran 7). Korelasi tertinggi terjadi antara tinggi tajuk dan

27 bobot basah jerami dengan nilai korelasi 0.53 dan korelasi terendah terjadi antara anakan produktif dan panjang malai dengan nilai korelasi 0.01 (Lampiran 10). Pertumbuhan tajuk, pembentukan anakan, pembentukan malai, pembungaan sampai fase pematangan 50 galur padi populasi RIL F7 yang diuji berjalan normal. Data hasil pengamatan percobaan pot media tanah Latosol Cimanggu berupa skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, umur berbunga, umur panen, panjang daun bendera, dan panjang malai tersaji pada Lampiran 8. Sedangkan jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot gabah per malai, bobot gabah 1000 butir, bobot gabah per rumpun, bobot basah (BB) jerami dan bobot kering (BK) jerami tersaji pada Lampiran 9. Keragaman data pada Lampiran 8 dan 9 hanya disebabkan karena perbedaan galur tanaman padi dan bukan berdasarkan ketahanan galur tanaman padi terhadap cekaman besi. Secara umum, karakter morfologi dan agronomi 50 galur padi populasi RIL F7 keturunan varietas IR64 dan Hawara Bunar yang diuji berada di antara karakter morfologi dan agronomi kedua tetuanya yaitu varietas IR64 dan Hawara Bunar. Tinggi tajuk berkisar antara 104-185 cm, jumlah anakan berkisar antara 5-22, jumlah anakan produktif berkisar antara 5-19, umur berbunga berkisar antara 72-93 hari, umur panen berkisar antara 102-118 hari, panjang daun bendera berkisar antara 24-62 cm, panjang malai berkisar antara 20-32 cm, gabah isi berkisar antara 50-201 butir/malai, gabah hampa berkisar antara 9-122 butir/malai, bobot gabah per malai berkisar antara 1.03-4.85 gram, bobot gabah 1000 butir berkisar antara 17.03-30.37 gram, bobot gabah per rumpun berkisar antara 8.59-49.01 gram, bobot basah jerami berkisar antara 53-304 gram, dan bobot kering jerami berkisar antara 12-69 gram. Dari 50 galur padi populasi RIL F7 keturunan varietas IR64 dan Hawara Bunar yang diuji diharapkan memiliki sifat unggul mendekati karakteristik padi tipe baru, yaitu mempunyai jumlah anakan sedang tetapi semua produktif (12 18 batang), jumlah gabah per malai 150 250 butir, persentase gabah bernas 85 95%, bobot 1.000 butir gabah bernas 25 26 g, batang kokoh dan pendek (80 90 cm), umur genjah (110 120 hari), daun tegak, sempit, berbentuk huruf V, hijau sampai hijau tua, 2 3 daun terakhir tidak cepat luruh, akar banyak dan menyebar dalam, tahan terhadap hama dan penyakit utama, gabah langsing, serta mutu beras dan

28 nasi baik. Dengan sifat-sifat tersebut, varietas padi tipe baru (PTB) diharapkan mampu berproduksi 9 13 ton GKG per hektar (Abdullah et al. 2008). 2.2. Percobaan Lapang Sawah KP Taman Bogo berada di ketinggian 20 mdpl, termasuk sawah rawa lebak dangkal (pematang), tinggi genangan kurang dari 50 cm dan genangan berasal dari curah hujan dan/atau luapan banjir sungai (Subagyo 2006). Lahan sawah yang digunakan untuk percobaan ini selalu tergenang dan air tidak dapat mengalir dengan baik karena hidrotopografinya terendah. Sumber air berasal dari kolam penampungan air hujan, air hujan yang turun dan air sungai yang diperoleh secara bergiliran (Gambar 7). Percobaan menggunakan metode stripe check (Lampiran 11) yaitu menempatkan tanaman kontrol varietas padi IR64 (kontrol peka), Hawara Bunar dan Mahsuri (kontrol toleran) memanjang sejajar dengan petak-petak 50 galur yang diuji sehingga masalah homogenitas lahan bercekaman besi dapat diatasi (Suhartini 2004). Curah hujan selama percobaan di KP Taman Bogo masuk kriteria sedang sampai sangat tinggi (153-421 mm per bulan) dengan banyak hari hujan 10-23 hari (Lampiran 12). Kondisi iklim seperti ini mendukung untuk pertumbuhan tanaman padi. Kontrol Galur Gambar 7. Plot percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo menggunakan metode tanam stripe check pada saat tanaman padi umur 8 MST. Hasil analisis tanah sawah KP Taman Bogo sebelum tanam (Lampiran 13) yaitu bahan organik C dan N rendah, rasio C/N sedang, P rendah, K, Ca, Mg, dan

29 Na sangat rendah, Al rendah, Fe tersedia sangat tinggi (338 ppm), Fe total tinggi (1.10 %), dan ph masam (4.6). Kondisi lahan sawah dengan kadar Fe tersedia tinggi, ph masam, kandungan hara rendah, lahan selalu tergenang dan tidak ada saluran air yang baik menyebabkan pertumbuhan tanaman padi benar-benar tertekan bahkan sebanyak 38% tanaman akhirnya mati. Menurut Yoshida (1981), keracunan besi terjadi di lahan yang kandungan haranya rendah, kandungan Fe tinggi, ph masam, mengandung pirit, drainase buruk, terletak di daerah cekungan, dan dalam keadaan selalu tergenang. Menurut Tadano dan Yoshida (1978), keracunan besi pada tanaman padi dapat terjadi pada kondisi tanah dengan konsentrasi 100 ppm Fe dengan ph 3.7 atau konsentrasi 300 ppm Fe dengan ph 5.0. Keracunan besi pada tanaman padi dimulai dari meningkatnya permeabilitas sel-sel akar terhadap ion Fe 2+, sehingga penyerapan ion fero meningkat tajam. Penyerapan Fe yang berlebihan mengakibatkan aktivitas enzim polifenol oksidase meningkat yang akhirnya akan meningkatkan jumlah polifenol teroksidasi. Kandungan Fe yang tinggi dalam tanaman mengakibatkan terbentuknya oksigen radikal bebas yang sangat fitotoksik dan dapat mendegradasi protein dan lemak membran sel sehingga tanaman akhirnya mati (Abdulrachman et al. 2009). Hasil percobaan lapang memperlihatkan bahwa varietas Hawara Bunar ternyata masuk varietas padi yang peka terhadap cekaman besi, padahal hasil uji hidroponik cekaman 750 ppm Fe sebelumnya varietas ini masuk kategori toleran. Begitu pula hasil penelitian Amnal (2009) yang melaporkan bahwa Hawara Bunar termasuk varietas toleran cekaman besi dengan skor bronzing 3 pada tingkat cekaman 1500 ppm Fe baik pada percobaan hidroponik maupun percobaan pot. Dengan demikian, metode pengujian cekaman besi pada skala rumah kaca baik dengan percobaan hidroponik maupun percobaan pot yang telah dilakukan di atas belum setara dengan pengujian cekaman besi di lapang. Hasil pengamatan (Gambar 8) menunjukkan bahwa tidak ada galur padi populasi RIL F7 yang masuk kriteria sangat toleran, 3 galur toleran (skor 3) yaitu nomor IRH195, IRH548 dan IRH715, 13 galur sedang (skor 5), 27 galur peka (skor 7) dan 7 galur sangat peka (skor 9). Varietas Mahsuri (kontrol toleran Fe) memperlihatkan sifat sangat toleran (skor 1), Sedangkan 2 tanaman kontrol lainnya (varietas IR64 dan Hawara Bunar) termasuk kriteria peka (skor 7).

30 Jumlah tanaman 30 25 20 15 10 5 0 27 13 7 3 0 Sangat toleran Toleran Sedang Peka Sangat peka Gambar 8. Sebaran skor bronzing dari 50 galur padi populasi RIL F7 terhadap cekaman besi di sawah KP Taman Bogo. Sifat keturunan (galur IRH195, IRH548 dan IRH715) lebih toleran terhadap cekaman besi dari kedua tetuanya (varietas IR64 dan Hawara Bunar) kemungkinan disebabkan oleh fenomena segregasi transgresif, yaitu segregasi yang menyebabkan keturunannya lebih baik atau buruk dari kedua tetuanya (Rieseberg et al. 2003). Pengamatan percobaan lapang hanya sampai tanaman umur 8 MST, karena setelah itu terjadi serangan hama tikus yang sangat masif yang meyebabkan gagal panen. Data hasil pengamatan yang bisa diperoleh berupa skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, dan persentase tanaman yang hidup. Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa semua peubah yang diamati pada percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo yaitu skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan dan persen tanaman yang hidup berbeda sangat nyata pada taraf uji 1% (Lampiran 15). Korelasi tertinggi terjadi antara skor bronzing daun dengan persentase tanaman yang hidup dengan nilai korelasi -0.645 (Lampiran 16). Hasil pengamatan terhadap 50 galur yang diuji (Tabel 5) memperlihatkan bahwa nilai skor bronzing berkisar antara 3-9 (rata-rata 6.36), tinggi tajuk berkisar antara 20-56 cm (rata-rata 39 cm), jumlah anakan berkisar antara 1-11 (rata-rata 3), dan persentase tanaman yang hidup berkisar antara 0-74 % (rata-rata 38%).

Tabel 5. Respon toleransi 50 galur padi populasi RIL F7 dan varietas kontrol pada percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo Galur Persentase Skor Tinggi tajuk Jumlah tanaman yang bronzing (cm) anakan hidup (%) IRH001 5.00cde 52.67hij 4.67efg 55.33 ijkl IRH094 5.67cdef 42.33bcdefghij 3.00abcdef 54.33 ghijkl IRH097 6.33defg 37.00abcdefghij 2.33abcde 33.33 abcdefghijk IRH108 6.33defg 47.33defghij 4.33defg 64.67 lm IRH135 6.33defg 53.00hij 4.00cdefg 58.67 jklm IRH153 6.33defg 33.67abcdefghi 4.00cdefg 42.33 defghijkl IRH161 5.00cde 48.33fghij 2.67abcdef 63.33 klm IRH163 6.33defg 46.67cdefghij 3.33abcdef 44.67 efghijkl IRH177 4.33bcd 56.33j 4.00cdefg 54.67 hijkl IRH181 7.00efgh 38.67abcdefghij 2.67abcdef 53.33 fghijkl IRH187 5.67cdef 33.33abcdefghi 1.67abc 28.67 abcdefghij IRH195 *) 3.67abc 44.00bcdefghij 5.00fg 47.67 fghijkl IRH205 9.00h 20.67a 1.00a 0.00 a IRH217 8.33gh 26.00abcd 1.00a 10.00 abcd IRH241 4.33bcd 42.00abcdefghij 2.00abcd 21.00 abcdefghi IRH246 5.67cdef 40.67abcdefghij 2.00abcd 36.67 bcdefghijk IRH267 9.00h 26.67abcde 1.00a 0.00 a IRH281 5.67cdef 25.67abc 3.00abcdef 42.00 defghijkl IRH286 7.00efgh 33.00abcdefghi 2.33abcde 44.33 efghijkl IRH293 7.00efgh 24.67ab 1.33ab 36.67 bcdefghijk IRH317 7.00efgh 31.67abcdefgh 2.67abcdef 42.33 defghijkl IRH322 6.33defg 42.00abcdefghij 4.00cdefg 30.00 abcdefghijk IRH342 6.33defg 41.00abcdefghij 4.00cdefg 45.67 efghijkl IRH351 8.33gh 26.00abcd 1.33ab 7.67 abc IRH374 7.67fgh 53.33ij 1.67abc 20.00 abcdefg IRH406 6.33defg 46.00bcdefghij 2.00abcd 31.00 abcdefghijk IRH414 7.00efgh 36.33abcdefghij 2.33abcde 27.67 abcdefghij IRH437 8.33gh 34.67abcdefghi 2.33abcde 20.33 abcdefgh IRH438 5.67cdef 37.67abcdefghij 7.67h 47.67 fghijkl IRH440 7.00efgh 39.33abcdefghij 2.67abcdef 32.00 abcdefghijk IRH452 7.67fgh 26.00abcd 1.33ab 19.00 abcdef IRH468 6.33defg 38.33abcdefghij 3.00abcdef 35.33 bcdefghijk IRH473 7.00efgh 25.33abc 1.33ab 40.00 cdefghijk IRH479 5.67cdef 43.33bcdefghij 3.67bcdefg 23.00 abcdefghi IRH508 4.33bcd 49.67fghij 5.00fg 49.67 fghijkl IRH531 6.33defg 45.67bcdefghij 2.67abcdef 37.67 bcdefghijk IRH548 *) 3.00ab 48.00efghij 4.33defg 54.33 ghijkl IRH549 6.33defg 43.67bcdefghij 3.33abcdef 47.67 fghijkl IRH560 8.33gh 29.00abcdef 1.00a 6.67 abc IRH574 6.33defg 45.33bcdefghij 4.67efg 46.67 efghijkl IRH581 8.33gh 25.33abc 1.67abc 5.67 ab IRH629 5.67cdef 42.67bcdefghij 7.33h 59.00 jklm IRH634 6.33defg 32.67abcdefghi 4.00cdefg 42.33 defghijkl IRH654 5.67cdef 39.67abcdefghij 2.67abcdef 49.00 fghijkl IRH663 6.33defg 36.67abcdefghij 2.67abcdef 42.00 defghijkl IRH699 7.00efgh 33.67abcdefghi 2.67abcdef 28.67 abcdefghij IRH715 *) 3.00ab 52.00ghij 10.67ij 74.33 lm IRH739 6.33defg 33.00abcdefghi 4.00cdefg 60.00 jklm IRH786 7.00efgh 39.33abcdefghij 6.00gh 42.33 defghijkl IRH787 7.00efgh 41.33abcdefghij 2.33abcde 35.67 bcdefghijk IR 64 7.00efgh 31.00abcdefg 3.00abcdef 53.00 fghijkl Hawara Bunar 7.00efgh 25.00ab 1.00a 13.00 abcde Mahsuri 1.67a 54.00ij 21.00j 87.00 m Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%. *) Galur-galur terpilih 31

32 Respon-respon ketahanan 3 galur padi terpilih yaitu IRH195, IRH548 dan IRH 715 (Gambar 9) berupa skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, dan persentase tanaman yang hidup masih berada di bawah respon varietas Mahsuri sebagai kontrol toleran. Nilai skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan dan persentase tanaman yang hidup ketiga galur terpilih masing-masing 3, 44-52 cm, 4-11, dan 47-73 %. Sedangkan nilai skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan dan persentase tanaman yang hidup varietas Mahsuri masing-masing 1, 54 cm, 21 dan 87% (Tabel 6). 1 2 3 Gambar 9. Galur-galur padi terpilih pada percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo: (1) IRH195, (2) IRH548 dan (3) IRH715 umur 8 MST Tabel 6. Respon ketahanan 3 galur padi terpilih dan 3 varietas kontrol terhadap cekaman besi di sawah KP Taman Bogo Peubah Respon galur terpilih IRH- 195 IRH- 548 IRH- 715 Respon tanaman kontrol IR64 (peka) Hawara Bunar Mahsuri (toleran) Skor bronzing 3 3 3 7 7 1 Tinggi tajuk (cm) 44 48 52 31 25 54 Jumlah anakan 5 4 11 3 1 21 Tanaman yang hidup (%) 47 53 73 53 13 87 Varietas Mahsuri yang telah dikenal baik sebagai kontrol toleran besi, merupakan varietas hasil persilangan Taichung 65/2 dan Mayang Ebos 80 di Central Rice Research Institute (CRRI), India. Kemudian, galur-galur hasil persilangannya ditapis di Malaysia dan akhirnya menjadi varietas Mahsuri yang beradaptasi baik di lahan tergenang dan sawah tadah hujan (IRRI 2006).

33 3. Verifikasi Ketahanan 3 Galur Padi Terpilih terhadap Cekaman Besi 3.1. Percobaan Hidroponik Selama percobaan berlangsung, kelembaban dan temperatur udara ratarata dalam rumah kaca masing-masing 60% dan 40 o C (Lampiran 17), curah hujan termasuk kriteria sedang yaitu 142-202 mm per bulan (Lampiran 18). Keadaan iklim tersebut menyebabkan transpirasi dan penyerapan besi berjalan normal sehingga perlakuan cekaman besi berfungsi baik. Perlakuan cekaman 1000 ppm Fe pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh, setengah dan seperempat menyebabkan bronzing pada daun tanaman padi yang diuji. Sedangkan tanaman padi pada media yang tidak diberi cekaman besi (kontrol) tidak memperlihatkan adanya gejala bronzing pada daun. Dengan demikian percobaan hidroponik media larutan Yoshida cekaman 1000 ppm Fe dapat digunakan sebagai metode penapisan toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi (Gambar 10). bronzing bronzing bronzing 1 2 3 4 Gambar 10. Tanaman padi umur 28 hari pada percobaan hidroponik setelah sepekan perlakuan besi dengan media larutan Yoshida konsentrasi: (1) penuh, 0 ppm Fe, (2) penuh, 1000 ppm Fe, (3) setengah, 1000 ppm Fe dan, (4) seperempat, 1000 ppm Fe Tanaman padi pada percobaan hidroponik cekaman 1000 ppm Fe ini memberikan respon lebih cepat dibanding percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe dengan menampakkan gejala bronzing daun pada hari kedua perlakuan cekaman besi. Hal ini diduga karena kadar besi yang meracuni tanaman padi lebih

34 tinggi dan juga karena waktu perlakuan cekaman besi lebih awal yaitu pada tanaman padi umur 21 hari. Hasil pengamatan (Gambar 11) memperlihatkan bahwa respon ketahanan tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik dengan media larutan Yoshida konsentrasi penuh, setengah dan seperempat pada tingkat cekaman 1000 ppm Fe ini relatif sama dengan hasil percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo. Skor bronzing 3 galur padi terpilih (IRH195, IRH548 dan IRH715) yaitu 1-3, dan 2 galur peka (IRH205 dan IRH581) yaitu 6-9. Skor bronzing varietas Mahsuri, IR64, dan Hawara Bunar masing-masing 1-2 (toleran), 5-6 (peka), dan 5-7 (peka). Galur/varietas toleran besi hasil percobaan lapang tetap mengekspersikan sifat tolerannya, dan galur/varietas peka besi hasil percobaan lapang juga tetap mengekspresikan sifat pekanya, kecuali galur IRH267 yang pada percobaan lapang masuk kriteria peka, maka pada percobaan hidroponik cekaman 1000 ppm Fe ini mengekspresikan sifat toleran besi. Skor bronzing galur IRH267 pada percobaan hidroponik cekaman 1000 ppm ini 1-3. Galur IRH267 diduga masih mengalami segregasi sifat toleransinya terhadap cekaman besi. Skor bronzing 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 penuh setengah seperempat Gambar 11. Skor bronzing 3 galur toleran terhadap besi (IRH195, IRH548 dan IRH715), 3 galur peka terhadap besi (IRH205, IRH267 dan IRH581) dan 6 varietas (IR64, Hawara Bunar, Mahsuri, Ciherang, Inpari 1 dan Inpari 13) yang diverifikasi dengan larutan Yoshida konsentrasi penuh, setengah dan seperempat pada tingkat cekaman 1000 ppm Fe.

35 Skor bronzing daun varietas Ciherang, Inpari 1 dan Inpari 13 masingmasing 5-7, 4-5 dan 2-3. Ketiga varietas padi tersebut adalah jenis padi sawah yang memiliki sifat unggul yang ingin diketahui sifat toleransinya terhadap cekaman besi. Hasil percobaan secara hidroponik cekaman 1000 ppm Fe menunjukkan bahwa varietas Inpari 13 termasuk kriteria padi toleran terhadap cekaman besi, sedangkan varietas Ciherang dan Inpari 1 masing-masing masuk kriteria peka dan sedang terhadap cekaman besi. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara galur/varietas dan media hidroponik untuk peubah persen dan skor bronzing, selisih tinggi tajuk dan panjang akar, serta bobot kering tajuk berbeda sangat nyata pada taraf uji 1%, sedangkan bobot kering akar dan kandungan besi tajuk tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (Lampiran 19). Korelasi tertinggi terjadi antara skor bronzing dengan selisih panjang akar dengan nilai korelasi Pearson -0.524 dan masuk kriteria cukup kuat (Lampiran 20). Dengan demikian dalam percobaan ini hanya peubah skor bronzing yang bisa dijadikan sebagai parameter penapisan toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi. Persen dan skor bronzing daun merupakan skala penilaian keracunan besi pada daun tanaman padi yang menunjukkan gejala khas keracunan besi berupa bercak-bercak kecil warna cokelat yang disebut bronzing. Penyerapan besi yang berlebihan mengakibatkan aktivitas enzim polifenol oksidase meningkat yang akhirnya akan meningkatkan jumlah polifenol teroksidasi. Hal tersebut diduga sebagai penyebab utama terbentuknya bronzing (Abdulrachman et al. 2009). Nilai persen dan skor bronzing daun terendah yaitu varietas Mahsuri dan galur IRH548 pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 1000 ppm Fe masing-masing 8% dan 1-2. Sedangkan nilai persen dan skor bronzing daun tertinggi yaitu galur IRH205 pada media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe masing-masing 79% dan 8-9 (Tabel 7 dan 8). Ekspresi toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi berdasarkan persen dan skor bronzing daun lebih terlihat nyata pada media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe dibandingkan dengan media lainnya. Nilai skor bronzing pada media ini mendekati nilai skor bronzing pada uji lapang. Media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe menunjukkan

36 hasil konsisten dengan hasil percobaan lapang untuk uji toleransi ketahanan tanaman padi terhadap cekaman besi dan dapat digunakan sebagai metode untuk uji toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi pada skala rumah kaca. Tabel 7. Persen bronzing tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Galur/ varietas Persen bronzing (%) pada media larutan Yoshida konsentrasi Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Galur toleran: - IRH195 0 a 13 bcde 17bcdef 13 bcde - IRH548 0 a 8 ab 20cdefg 23 efg - IRH715 0 a 12 abcde 10abcd 9 abc Galur peka: - IRH205 0 a 63 op 79q 73 pq - IRH267 0 a 10 abcd 23efg 21 defg - IRH581 0 a 27 fgh 58no 46 klm IR64 0 a 49 klmn 49lmn 51 lmn Hawara Bunar 0 a 51 lmn 69pq 44 jkl Mahsuri 0 a 8 ab 18bcdef 15 bcde Ciherang 0 a 48 klmn 59no 56 mno Inpari 1 0 a 38 ijk 57mno 35 hij Inpari 13 0 a 12 bcde 31ghi 15 bcde Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%. Tabel 8. Skor bronzing tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Galur/ varietas Skor bronzing pada media larutan Yoshida konsentrasi Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Galur toleran: - IRH195 0a 2.00bcde 3.00efg 2.00bcde - IRH548 0a 1.33bc 2.67def 3.00efg - IRH715 0a 1.67bcd 1.67bcd 1.00ab Galur peka: - IRH205 0a 6.67mn 8.67p 8.00op - IRH267 0a 1.67bcd 3.00efg 2.67def - IRH581 0a 3.33fgh 6.33lmn 5.00ijk IR64 0a 5.33jkl 5.67klm 5.67klm Hawara Bunar 0a 5.67klm 7.33no 5.00ijk Mahsuri 0a 1.33bc 2.33cdef 2.00bcde Ciherang 0a 5.33jkl 6.67mn 6.33lmn Inpari 1 0a 4.33hij 6.00klm 4.00ghi Inpari 13 0a 2.00bcde 4.00ghi 2.33cdef Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%.

Nilai pertumbuhan tinggi tajuk terendah yaitu varietas Ciherang pada media larutan Yoshida konsentrasi seperempat cekaman 1000 ppm Fe yaitu 4.09 cm. Sedangkan nilai pertumbuhan tinggi tajuk tertinggi yaitu galur IRH205 pada media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 0 ppm Fe yaitu 24.43 cm (Tabel 9). Pemberian cekaman 1000 ppm Fe ke dalam media menyebabkan penurunan pertumbuhan tinggi tajuk tanaman padi dan pertumbuhan tinggi tajuk akan cenderung menurun jika konsentrasi larutan Yoshida diturunkan. Tabel 9. Selisih tinggi tajuk tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Galur/ varietas Selisih tinggi tajuk (cm) pada media larutan Yoshida konsentrasi Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Galur toleran: - IRH195 13.59mno 11.29 hijklmn 9.97efghijk 7.28abcdefg - IRH548 17.23pq 9.93 defghijk 7.26abcdefg 7.01abcdef - IRH715 8.95bcdefghij 8.14 bcdefgh 5.98ab 6.18abc Galur peka: - IRH205 24.43s 9.87 defghijk 9.54cdefghijk 8.14bcdefgh - IRH267 18.09q 15.16 op 8.75bcdefghi 7.81bcdefg - IRH581 19.54qr 10.31 fghijkl 9.11bcdefghij 8.41bcdefgh IR64 14.42nop 7.37 abdefg 7.24abcdefg 6.70abcde Hawara Bunar 22.43rs 13.63 mno 12.26jklmno 7.86bcdefg Mahsuri 22.05rs 13.26 lmno 11.36hijklmn 9.75defghijk Ciherang 10.54ghijklm 6.47 abcd 6.69abcde 4.09a Inpari 1 12.47klmno 6.89 abcdef 7.15abcdefg 6.29abc Inpari 13 12.08ijklmno 6.50 abcd 8.09bcdefgh 6.77abcde Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%. Nilai pertumbuhan panjang akar terendah yaitu varietas Ciherang pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 1000 ppm Fe yaitu 0.46 cm. Sedangkan nilai pertumbuhan panjang akar tertinggi yaitu varietas Inpari 1 pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 0 ppm Fe yaitu 7.79 cm (Tabel 10). Pemberian cekaman 1000 ppm Fe ke dalam media menyebabkan penurunan pertumbuhan panjang akar tanaman padi dan pertumbuhan panjang akar akan cenderung menurun jika konsentrasi larutan Yoshida diturunkan. 37

Tabel 10. Selisih panjang akar tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Selisih panjang akar (cm) pada media larutan Yoshida konsentrasi Galur/ varietas Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Galur toleran: - IRH195 2.79klm 0.89 abcdef 1.81bcdefghijklm 2.27 ghijklm - IRH548 5.15n 0.59 abc 2.69jklm 1.54 abcdefghijk - IRH715 5.29n 0.77 abcde 2.97lm 2.93 lm Galur peka: - IRH205 2.39hijklm 0.54 ab 2.07efghijklm 1.41 abcdefghij - IRH267 4.88n 1.91 cdefghijklm 2.10efghijklm 2.09 efghijklm - IRH581 4.79n 1.19 abcdefghi 2.27ghijklm 1.79 bcdefghijkl IR64 7.61o 0.69 abcd 3.13lm 2.17 fghijklm Hawara Bunar 3.15m 1.07 abcdefgh 2.52ijklm 2.35 hijklm Mahsuri 5.40n 0.77 abcde 2.09efghijklm 1.40 abcdefghij Ciherang 4.39n 0.46 a 1.92cdefghijklm 0.64 abc Inpari 1 7.79o 0.83 abcdef 1.99defghijklm 2.08 efghijklm Inpari 13 7.18o 0.95 abcdefg 2.85klm 1.99 defghijklm Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%. Nilai bobot kering tajuk terendah yaitu galur IRH205 pada media larutan Yoshida konsentrasi seperempat cekaman 1000 ppm Fe yaitu 0.17 g. Sedangkan nilai bobot kering tajuk tertinggi yaitu varietas Ciherang pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 0 ppm Fe yaitu 0.90 g (Tabel 11). Bobot kering tajuk mengalami penurunan jika media larutan Yoshida diberi cekaman 1000 ppm Fe dan bobot kering tajuk akan cenderung menurun jika konsentrasi larutan Yoshida diturunkan. Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot kering akar terendah dan tertinggi masing-masing varietas Ciherang (0.07 g) dan galur IRH195 (0.19 g). Sedangkan media hidroponik dengan nilai bobot kering akar terendah dan tertinggi masing-masing larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe (0.10 g) dan larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 0 ppm Fe (0.16 g) (Tabel 12). Bobot kering akar mengalami penurunan jika media larutan Yoshida diberi cekaman 1000 ppm Fe dan bobot kering akar terendah pada media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe. 38

Tabel 11. Bobot kering tajuk tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Bobot kering tajuk (g) pada media larutan Yoshida konsentrasi Galur/ varietas Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Galur toleran: - IRH195 0.65stu 0.54 pqrs 0.51mnopqr 0.40 defghijklmno - IRH548 0.50klmnopqr 0.32 bcdefghij 0.30abcdefgh 0.27 abcde - IRH715 0.49klmnopqr 0.48 klmnopq 0.40defghijklmno 0.32 bcdefghij Galur peka: - IRH205 0.31bcdefgh 0.22 ab 0.25abc 0.17 a - IRH267 0.60qrst 0.50 klmnopqr 0.37cdefghijkl 0.30 abcdefgh - IRH581 0.71tuv 0.48 klmnopq 0.45ijklmnop 0.38 cdefghijklm IR64 0.73uv 0.42 ghijklmnop 0.38cdefghijklm 0.31 bcdefgh Hawara Bunar 0.53opqrs 0.41 fghijklmnop 0.29abcdefg 0.28 abcdef Mahsuri 0.79vw 0.61 rstu 0.45ijklmnop 0.43 hijklmnop Ciherang 0.90w 0.52 nopqr 0.54pqrs 0.46 jklmnop Inpari 1 0.67tu 0.38 cdefghijklm 0.36cdefghijk 0.26 abcd Inpari 13 0.49klmnopqr 0.37 cdefghijkl 0.33bcdefghij 0.31 bcdefgh Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%. Tabel 12. Bobot kering akar tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Bobot kering akar (g) pada media larutan Yoshida konsentrasi Galur/ varietas Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Ratarata Galur toleran: - IRH195 0.24 0.22 0.14 0.15 0.19dd - IRH548 0.22 0.16 0.11 0.11 0.15cd - IRH715 0.16 0.14 0.07 0.10 0.12bc Galur peka: - IRH205 0.20 0.12 0.11 0.09 0.13bc - IRH267 0.13 0.12 0.08 0.09 0.11bb - IRH581 0.20 0.12 0.13 0.12 0.14bc IR 64 0.14 0.13 0.12 0.12 0.14bc Hawara Bunar 0.16 0.10 0.08 0.10 0.11bc Mahsuri 0.14 0.15 0.10 0.10 0.12bc Ciherang 0.07 0.07 0.07 0.06 0.07aa Inpari 1 0.15 0.15 0.11 0.10 0.13bc Inpari 13 0.17 0.13 0.12 0.12 0.14bc Rata-rata 0.16c 0.14b 0.10a 0.11a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah ganda Duncan pada taraf uji 5%. Galur/varietas tanaman padi dengan nilai kandungan besi tajuk terendah dan tertinggi masing-masing varietas Inpari 1 (683 ppm Fe) dan galur IRH205 (1072 ppm Fe). Sedangkan media hidroponik dengan kandungan besi tajuk 39

terendah dan tertinggi masing-masing larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 0 ppm Fe dan larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 1000 ppm Fe (Tabel 13). Kandungan besi total tajuk tanaman padi mengalami peningkatan jika media larutan hara yoshida diberi cekaman 1000 ppm Fe dan kandungan besi total tertinggi terdapat pada media larutan Yoshida konsentrasi penuh cekaman 1000 ppm Fe. Tanaman padi cenderung menyerap hara besi lebih banyak dibanding tanaman lain. Kandungan besi pada jaringan tanaman padi berkisar antara 100-200 ppm dengan batas kritis keracunan besi dalam jaringan tanaman 300 ppm (Yoshida 1981). Penambahan 1000 ppm Fe ke dalam media hidroponik telah menyebabkan peningkatan kandungan besi pada jaringan tajuk tanaman padi. Tabel 13. Kandungan besi tajuk tanaman padi yang diuji pada percobaan hidroponik cekaman besi pada berbagai tingkat konsentrasi larutan Yoshida Kandungan Fe tajuk (ppm) pada media larutan Yoshida konsentrasi Galur/ varietas Penuh, 0 ppm Fe Penuh, 1000 ppm Fe Setengah, 1000 ppm Fe Seperempat, 1000 ppm Fe Ratarata Galur toleran: - IRH195 142 1068 973 575 690aa - IRH548 148 1603 1274 1042 1017ab - IRH715 140 1200 1105 946 848 ab Galur peka: - IRH205 151 1473 943 1721 1072bb - IRH267 119 1063 1050 723 739 ab - IRH581 126 1276 1024 974 850ab IR64 137 1434 894 563 757ab Hawara Bunar 161 1295 1418 1378 1063bb Mahsuri 157 1486 1098 1145 972ab Ciherang 166 1518 954 975 903ab Inpari 1 127 1329 962 312 683aa Inpari 13 161 1540 1047 825 893ab 145a 1357c 1062b 932b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah ganda Duncan pada taraf uji 5%. Tanaman padi yang peka mengalami keracunan besi yang parah bahkan akhirnya mati. Kandungan besi yang tinggi dalam tanaman mengakibatkan terbentuknya oksigen radikal bebas yang sangat fitotoksik dan dapat menyebabkan terdegradasinya protein dan lemak membran sel (Abdulrachman et al. 2009). Sedangkan tanaman padi yang toleran besi akan menyimpan kelebihan 40

besi pada jaringan tanaman dan atau menetralisir daya racun besi secara enzimatik (Becker & Asch 2005). Respon ketahanan 3 galur padi terpilih (IRH195, IRH458 dan IRH715) terhadap cekaman besi masih di bawah respon ketahanan varietas Mahsuri (kontrol toleran) terutama untuk skor bronzing dan pertumbuhan tinggi tajuk. Dan respon ketahanan galur padi IRH195 terhadap cekaman besi paling baik dibandingkan dengan 2 galur padi terpilih lainnya (Tabel 14). Tabel 14. Respon ketahanan 3 galur padi terpilih dan 3 varietas kontrol terhadap cekaman besi pada percobaan hidroponik cekaman 1000 ppm Fe Peubah IRH195 IRH458 IRH715 IR64 Hawara Mahsuri (peka) Bunar (toleran) Persen bronzing 14 17 10 50 55 14 Skor bronzing 2 2 2 6 6 2 Selisih tinggi tajuk (cm) 10.53 10.36 7.31 8.93 14.05 14.11 Selisih panjang akar (cm) 1.94 2.49 2.99 3.4 2.27 2.42 Bobot kering tajuk (g) 0.53 0.35 0.42 0.46 0.38 0.57 Bobot kering akar (g) 0.19 0.15 0.12 0.14 0.11 0.12 Kandungan Fe tajuk (ppm) 690 1017 848 757 1063 972 41 3.2. Percobaan Pot 3.2.1. Percobaan Pot media Tanah Podsolik KP Taman Bogo Pertumbuhan tanaman padi pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo (Gambar 12) relatif normal termasuk di antaranya varietas IR64 selaku kontrol peka cekaman besi dengan skor bronzing 3, tinggi tajuk 90 cm, umur panen 107 hari, jumlah anakan produktif 26, bobot gabah per rumpun 34.06 g (Tabel 15). Kondisi ini berbeda nyata dibandingkan dengan hasil pecobaan lapang di sawah KP Taman Bogo, dimana varietas IR64 sangat tertekan pertumbuhannya dengan tinggi tajuk 31 cm, jumlah anakan 3 dan skor bronzing 7. Skor bronzing 3 galur padi toleran (IRH195, IRH548 dan IRH715), 3 galur padi peka (IRH205, IRH267dan IRH581), dan 6 varietas (Mahsuri, IR64, Hawara Bunar, Ciherang, Inpari 1 dan Inpari 13) berkisar antara 1-3 (Gambar 13). Dengan demikian, metode percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo ini belum mampu menapis sifat toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi.

42 Gambar 12. Tanaman padi umur 8 MST pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo. Skor bronzing 3.50 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 1.00 2.33 1.00 3.00 1.00 2.33 3.00 3.00 1.33 3.00 2.33 2.67 0.50 - Gambar 13. Skor bronzing 12 tanaman yang diuji pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo Media tanah Podsolik sawah KP Taman Bogo (Lampiran 21) tergolong tanah miskin hara, organik C dan N rendah, rasio C/N sedang, P rendah, K, Ca, Mg, dan Na sangat rendah, Al rendah, Fe tersedia sangat tinggi (338 ppm), Fe total tinggi (1.10 %), dan ph masam (4.6). Setelah tanah sawah dimasukkan ke dalam ember dan digenangi selama 21 hari, maka kandungan Fe tersedia tanah turun menjadi 226 ppm, sedangkan ph tanah naik menjadi 5.1. Pada akhir tanam, Fe tersedia dan ph media tanah turun masing-masing menjadi 209 ppm dan 4.8 (Lampiran 22). Menurut Tadano dan Yoshida (1978), keracunan besi pada

43 tanaman padi dapat terjadi pada kondisi tanah dengan konsentrasi 100 ppm Fe dengan ph 3.7 atau konsentrasi 300 ppm Fe dengan ph 5.0. Penurunan kadar Fe 2+ dalam media tanah Podsolik KP Taman Bogo diduga akibat adanya penambahan air yang kontinyu ke dalam media tanah dengan ph air sekitar 6.5-6.7, tidak terciptanya suasana reduksi dalam pot menyebabkan asupan Fe 2+ juga semakin berkurang, dan adanya oksigen yang masuk ke dalam media tanah menyebabkan teroksidasinya Fe 2+ menjadi Fe 3+. Menurut Becker dan Asch (2005) daya oksidasi akar dan tersedianya oksigen di rizosfer menyebabkan akar tidak menyerap Fe 2+ dan Fe 2+ dioksidasi menjadi Fe 3+. Kelembaban dan temperatur udara rata-rata di dalam rumah kaca (iklim mikro) masing-masing 64% dan 37 o C (Lampiran 23). Sedangkan kelembaban dan temperatur udara masing-masing 76% dan 26 o C, dengan curah hujan rata-rata masuk kriteria sedang yaitu 275 mm per bulan (Lampiran 24). Keadaan iklim ini merupakan keadaan optimum untuk pertumbuhan tanaman padi, bahkan menyebabkan siklus pertumbuhan tanaman padi varietas IR64 dan Hawara Bunar lebih cepat dari keadaan normal. Dalam percobaan ini, umur panen IR64 dan Hawara Bunar masing-masing 107 dan 122 hari, sedangkan umur panen normal masing-masing 110-120 dan 133 hari (Lampiran 29 dan 33). Hasil sidik ragam (Lampiran 25) menunjukkan bahwa peubah skor bronzing, tinggi tajuk, umur panen, jumlah anakan dan anakan produktif, jumlah gabah isi dan hampa, bobot gabah 1000 butir dan gabah per rumpun, bobot basah dan kering jerami berbeda sangat nyata pada taraf uji 1%. Peubah panjang malai dan bobot gabah per malai berbeda nyata pada taraf uji 5%, sedangan peubah panjang daun bendera tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%. Skor bronzing berkorelasi paling kuat dengan jumlah gabah hampa dengan nilai korelasi Pearson 0.415 (Lampiran 26). Dengan demikian dalam percobaan ini hanya peubah skor bronzing yang bisa dijadikan sebagai parameter penapisan toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi. Respon 12 tanaman padi yang diuji pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo berupa skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, umur panen, panjang daun bendera, panjang malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot gabah per malai, bobot

44 gabah 1000 butir, bobot gabah per rumpun, bobot basah jerami dan bobot kering jerami tersaji pada Tabel 15. Nilai skor bronzing berkisar antara 1-3. Galur/varietas tanaman padi dengan nilai tinggi tajuk terendah dan tertinggi masing-masing IRH715 (84 cm) dan IRH205 (138 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai umur panen terendah dan tertinggi masing-masing IR64 (107 hari) dan Mahsuri (133 hari). Galur/ varietas tanaman padi dengan nilai jumlah anakan terendah dan tertinggi masingmasing Hawara Bunar (5) dan Inpari 1 (33). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai jumlah anakan produktif terendah dan tertinggi masing-masing Hawara Bunar (5) dan Inpari 1 (30). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai panjang daun bendera terendah dan tertinggi masing-masing Inpari 1 (27 cm) dan IRH548 (46 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai panjang malai terendah dan tertinggi masing-masing Inpari 1 (21 cm) dan Hawara Bunar (30 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai gabah isi terendah dan tertinggi masing-masing IRH581 (28 butir/malai) dan Mahsuri (131 butir/malai). Galur/ varietas tanaman padi dengan nilai gabah hampa terendah dan tertinggi masingmasing Mahsuri (11 butir/malai) dan IRH548 (170 butir/malai). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah per malai terendah dan tertinggi masingmasing IRH581 (0.28 g) dan Hawara Bunar (1.16 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah 1000 butir terendah dan tertinggi masing-masing Mahsuri (13.37 g) dan Hawara Bunar (37.50 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah per rumpun terendah dan tertinggi masing-masing IRH581 (5.84 g) dan IRH195 (38.80 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot basah jerami terendah dan tertinggi masing-masing IRH715 (56 g) dan Mahsuri (316 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot kering jerami terendah dan tertinggi masing-masing IRH715 (17 g) dan Mahsuri (114 g).

45 Tabel 15. Respon ketahanan 12 tanaman padi yang diuji terhadap cekaman besi pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo Galur/ varietas Skor bronzing Tinggi tajuk (cm) Umur panen (hari) Jumlah anakan Jumlah anakan produktif Panjang daun bendera (cm) Panjang malai (cm) Galur toleran: - IRH195 1.00 a 103 d 117 bc 25 cd 19 abc 33 ab 29 bc - IRH548 2.33 b 109 d 115 bc 18 b 17 abc 46 b 22 a - IRH715 1.00 a 84 a 107 a 23 bc 22 bcd 35 ab 23 ab Galur peka: - IRH205 3.00 b 138 f 119 bc 10 a 9 a 41 ab 26 abc - IRH267 1.00 a 101 cd 113 ab 20 bc 18 abcd 39 ab 26 abc - IRH581 2.33 b 94 bc 117 bc 10 a 9 a 30 ab 25 abc IR64 3.00 b 90 ab 107 a 31 de 26 cd 32 ab 24 ab Hawara Bunar 3.00 b 126 e 122 bc 5 a 5 ab 44 b 30 c Mahsuri 1.33 a 101 cd 133 c 34 e 30 d 38 ab 22 a Ciherang 3.00 b 85 a 117 bc 25 bcd 17 abc 37 ab 27 abc Inpari 1 2.33 b 86 ab 113 ab 33 e 30 d 27 a 21 a Inpari 13 2.67 b 101 cd 113 ab 23 bc 20 cd 37 ab 25 abc Galur/Varietas Gabah isi butir/malai Gabah hampa butir/malai Bobot gabah per malai (g) Bobot 1000 butir (g) Bobot gabah per rumpun (g) Bobot basah jerami (g) Bobot kering jerami (g) Galur toleran: - IRH195 113 de 44 abc 0.86 bc 22.47 abc 38.80 d 181 d 47 c - IRH548 62 abc 170 e 0.40 ab 19.40 ab 21.26 b 150 cd 51 c - IRH715 49 ab 27 ab 0.44 ab 26.73 bc 21.13 b 56 a 17 a Galur peka: - IRH205 113 de 146 de 0.78 abc 20.67 abc 22.47 bc 183 d 49 c - IRH267 70 bc 67 c 0.56 ab 23.93 bc 33.18 bcd 176 d 51 c - IRH581 28 a 130 d 0.28 a 29.90 cd 5.84 a 127 bc 39 bc IR64 69 bc 68 c 0.47 ab 20.70 abc 34.06 bcd 91 ab 31 b Hawara Bunar 89 bcd 54 bc 1.16 c 37.50 d 23.68 bcd 138 bcd 40 bc Mahsuri 131 e 11 a 0.59 ab 13.37 a 36.96 cd 316 e 114 d Ciherang 96 cde 58 bc 0.88 bc 27.10 bc 25.31 bcd 95 ab 30 b Inpari 1 53 ab 67 c 0.38 ab 21.50 abc 30.17 bcd 103 ab 33 b Inpari 13 82 bcd 111 d 0.58 ab 21.43 abc 32.44 bcd 95 ab 33 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%.

46 Tanaman padi dari 3 galur padi terpilih (IRH548, IRH715, dan IRH195), varietas Mahsuri, Hawara Bunar, dan IR64 pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo tampak pada Gambar 14. IRH195, IRH548, Mahsuri, Hawara Bunar, dan IR64 memiliki bentuk tanaman (habitus) tegak, sedangkan IRH715 bentuknya serak. Tanaman padi bentuk serak akan mudah rebah dan bisa merusak kualitas gabah sehingga kurang disukai petani. 1 2 3 4 5 6 Gambar 14. Tanaman padi di media tanah Podsolik KP Taman Bogo: (1) IRH548, (2) IRH715, (3) IRH195 (4) Mahsuri, (5) Hawara Bunar, (6) IR64 Hasil uji verifikasi 3 galur padi terpilih pada percobaan pot media tanah Podsolik KP Taman Bogo ini menunjukkan bahwa galur padi IRH195 memiliki karakter morfologi dan agronomi paling baik bila dibandingkan dengan 2 galur padi terpilih lainnya (Tabel 16). Galur 195 memiliki bentuk (habitus) tegak, tinggi tajuk 103 cm, jumlah anakan 25, jumlah anakan produktif 19, umur panen 117 hari, panjang daun bendera 33 cm, panjang malai 29 cm, jumlah gabah isi 113 butir/malai, jumlah gabah hampa 44 butir/malai, bobot gabah per malai 0.86 g, bobot gabah 1000 butir 22.47 g, bobot gabah per rumpun 38.80 g, bobot basah jerami 181 g dan bobot kering jerami 47 g.

Tabel 16. Respon ketahanan 3 galur padi terpilih dan 3 varietas kontrol terhadap cekaman besi pada percobaan pot media tanah Podsolik Taman Bogo Peubah Respon galur terpilih IRH195 IRH548 IRH715 Respon tanaman kontrol IR64 (peka) Hawara Bunar 47 Mahsuri (toleran) Skor bronzing 1.00 2.33 1.00 3.00 3.00 1.33 Bentuk tanaman tegak tegak serak tegak tegak tegak Tinggi tajuk (cm) 103 109 84 90 126 101 Umur panen (hari) 117 115 107 107 122 133 Jumlah anakan 25 18 23 31 5 34 Anakan produktif 19 17 22 26 5 30 Daun bendera (cm) 33 46 35 32 44 38 Panjang malai (cm) 29 22 23 24 30 22 Gabah isi (butir/malai) 113 62 49 69 89 131 Gabah hampa (butir/malai) 44 170 27 68 54 11 Gabah per malai (g) 0.86 0.40 0.44 0.47 1.16 0.59 Bobot 1000 butir (g) 22.47 19.40 26.73 20.70 37.50 13.37 Gabah per rumpun (g) 38.80 21.26 21.13 34.06 23.68 36.96 BB jerami (g) 181 150 56 91 138 316 BK jerami (g) 47 51 17 31 40 114 3.2.2. Percobaan Pot MediaTanah Podsolik Kentrong Ditambah 1000 ppm Fe Percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong yang ditambah 1000 ppm Fe menyebabkan keracunan besi lebih parah pada tanaman padi dibandingkan dengan cekaman besi di sawah KP Taman Bogo pada percobaan lapang (Gambar 15). Gambar 15. Tanaman padi yang diuji mengalami keracunan besi pada percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe

48 Hal ini tampak dari skor bronzing 12 tanaman yang diuji pada percobaan ini cenderung lebih tinggi dibanding hasil percobaan lapang, contoh skor bronzing 3 galur padi terpilih (IRH195, IRH548, dan IRH715) berkisar antara 4-6 padahal di lapang skornya 3 (Gambar 16). Galur padi IRH205 dan IRH581, varietas IR64, Hawara Bunar, Ciherang, Inpari 1 dan Inpari 13 masuk kriteria peka cekaman besi dengan skor bronzing berkisar antara 6-9. Galur IRH267 masuk kriteria sedang (skor 5) dan Mahsuri masuk kriteria tahan (skor 2). Dengan demikian, tanaman padi yang toleran cekaman besi tetap mengekspresikan sifat tolerannya, sedangkan tanaman padi yang peka cekaman besi tetap mengekspresikan sifat pekanya, kecuali galur IRH267 yang di lapang masuk kriteria peka dan dalam percobaan ini masuk kriteria sedang. Galur IRH267 diduga masih mengalami segregasi sifat toleransinya terhadap cekaman besi. Skor bronzing 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00-4.33 4.33 5.67 8.33 5.00 5.67 7.00 7.67 2.00 7.00 5.67 7.00 Gambar 16. Skor bronzing 12 tanaman yang diuji pada percobaan pot dengan media tanah Kentrong ditambah 1000 ppm Fe. Media tanah Podsolik Kentrong (Lampiran 21) tergolong tanah miskin hara, organik C dan N rendah, P rendah, K, Ca, Mg, dan Na sangat rendah, Al sedang, Fe tersedia sedang (6.84 ppm), dan ph sangat masam (4.3). Setelah tanah Podsolik Kentrong dilumpurkan selama 21 hari, maka kandungan Fe tersedia dan ph tanah mengalami kenaikan masing-masing menjadi 593 ppm dan 4.7. Penambahan 1000 ppm Fe ke dalam media tanah Podsolik Kentrong yang telah

49 dilumpurkan meningkatkan kadar Fe tersedia menjadi 892 ppm dengan ph 4.6 (Lampiran 22). Media tanah Podsolik Kentrong ditambah dengan 1000 ppm Fe menyebabkan keracunan besi yang sangat parah, pertumbuhan tanaman padi tertekan, bahkan untuk tanaman padi kriteria sangat peka mengalami kering dan mati. Menurut Kasno (2009), penggenangan lahan kering untuk dijadikan sawah menyebabkan kadar Fe 2+ meningkat, terutama pada tanah yang mempunyai kandungan besi tinggi. Lahan bercekaman besi bisa juga dijumpai di lahan sawah bukaan baru yang digenangi 3-4 minggu, lahan sawah bukaan baru yang banyak mengandung besi, misalnya tanah jenis Podsolik dengan ph rendah (< 5). Pada umumnya lahan kering mengandung oksida-oksida besi yang tinggi dan penggenangan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dari oksida besi, dari Fe 3+ yang tidak larut menjadi Fe 2+ yang sangat larut. Penggenangan dapat meningkatkan kelarutan ion Fe menjadi 600 kali lipat dalam tempo 30 hari yang memunculkan masalah keracunan besi pada tanaman padi. Keracunan besi merupakan hal yang sangat menakutkan petani sawah bukaan baru karena dapat menyebabkan gagal panen (Ismon 2006). Kelembaban dan temperatur udara rata-rata di dalam rumah kaca (iklim mikro) masing-masing 64% dan 37 o C (Lampiran 23). Sedangkan kelembaban dan temperatur udara masing-masing 76% dan 26 o C, dengan curah hujan rata-rata masuk kriteria sedang yaitu 275 mm per bulan (Lampiran 24). Keadaan iklim ini merupakan keadaan optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Hasil sidik ragam (Lampiran 27) menunjukkan bahwa peubah skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, panjang daun bendera dan malai, gabah hampa, dan bobot gabah 1000 butir berbeda sangat nyata pada taraf uji 1%. Peubah jumlah anakan produktif, gabah isi, bobot gabah per malai, bobot basah dan kering jerami berbeda nyata pada taraf uji 5%. Sedangkan peubah bobot gabah per rumpun tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%. Skor bronzing berkorelasi paling kuat dengan jumlah anakan dengan nilai korelasi Pearson 0.718 (Lampiran 28). Dengan demikian, jumlah anakan pada percobaan pot dengan

50 media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe ini bisa dijadikan indikator keracunan besi pada tanaman padi setelah skor bronzing. Respon 12 tanaman yang diuji pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe berupa skor bronzing, tinggi tajuk, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, panjang daun bendera, dan panjang malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot gabah per malai, bobot gabah 1000 butir, bobot gabah per rumpun, bobot basah jerami dan bobot kering jerami tersaji pada Tabel 17. Galur/varietas tanaman padi dengan nilai skor bronzing terendah dan tertinggi masing-masing Mahsuri (2) dan IRH205 (8). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai tinggi tajuk terendah dan tertinggi masing-masing Ciherang (27 cm) dan Mahsuri (66 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai jumlah anakan terendah dan tertinggi masing-masing Hawara Bunar (1) dan Mahsuri (7). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai jumlah anakan produktif terendah dan tertinggi masing-masing IRH205 (0.3) dan Inpari 1 (4.0). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai panjang daun bendera terendah dan tertinggi masing-masing IRH205(7 cm) dan IRH195 (29 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai panjang malai terendah dan tertinggi masing-masing IRH205 (5 cm) dan IRH195 (25 cm). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai gabah isi terendah dan tertinggi masing-masing IRH581 (1 butir/malai) dan IRH195 (28 butir/malai). Galur/ varietas tanaman padi dengan nilai gabah hampa terendah dan tertinggi masingmasing Inpari 1 (2 butir/malai) dan IRH267 (30 butir/malai). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah per malai terendah dan tertinggi masingmasing IRH581 (0.03g) dan IRH548 (0.57 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah 1000 butir terendah dan tertinggi masing-masing IRH205 (6.67 g) dan IRH267 (26.22 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot gabah per rumpun terendah dan tertinggi masing-masing IRH581 (0.03 g) dan IRH548 (1.92 g). Galur/varietas tanaman padi dengan nilai bobot basah jerami terendah dan tertinggi masing-masing Inpari 13 (1.27 g) dan IRH267 (22.53 g). Galur/ varietas tanaman padi dengan nilai bobot kering jerami terendah dan tertinggi masing-masing Inpari 13 (0.60 g) dan Mahsuri (6.80 g).

51 Tabel 17. Respon ketahanan 12 tanaman padi yang diuji pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe Galur/Varietas Skor bronzing Tinggi tajuk (cm) Jumlah anakan Jumlah anakan produktif Panjang daun bendera (cm) Panjang malai (cm) Gabah isi (butir/malai) Galur toleran: - IRH195 4.33 b 56.00 efg 4.00 bcd 2.67 bcd 28.67 c 24.67 d 28.00 b - IRH548 4.33 b 57.50 fg 3.00 abcd 1.67 bcd 18.33 bc 12.00 abc 24.67 b - IRH715 5.67 bc 40.67 bc 4.33 cde 3.67 cd 12.67 ab 9.67 abc 9.33 ab Galur peka: - IRH205 8.33 d 41.33 bc 1.33 ab 0.33 a 6.67 ab 4.67 ab 1.67 a - IRH267 5.00 b 62.17 fg 3.33 abcd 1.67 bcd 28.67 c 19.67 cd 4.33 a - IRH581 5.67 bc 54.00 defg 1.67 abc 0.33 a 5.00 ab 4.67 ab 1.00 a IR64 7.00 cd 42.83 bcd 3.33 abcd 2.00 bcd 10.33 ab 13.00 abcd 13.33 ab Hawara Bunar 7.67 d 50.50 cdef 1.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a Mahsuri 2.00 a 65.83 g 6.67 e 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a Ciherang 7.00 cd 26.83 a 1.67 abc 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a Inpari 1 5.67 bc 44.17 bcde 4.67 de 4.00 d 16.67 bc 15.67 bcd 10.33 ab Inpari 13 7.00 cd 35.33 ab 2.67 abcd 0.67 ab 8.00 ab 6.67 ab 2.67 a Galur/Varietas Gabah hampa (butir/malai) Bobot gabah per malai (g) Bobot 1000 butir (g) Bobot gabah per rumpun (g) Bobot basah jerami (g) Bobot kering jerami (g) Galur toleran: - IRH195 27.00 b 0.53 b 22.72 b 1.79 a 18.87 cde 6.77 b - IRH548 9.33 a 0.57 b 14.99 ab 1.92 a 16.13 abcde 5.00 ab - IRH715 6.67 a 0.19 ab 16.74 ab 0.97 a 4.00 abcd 1.47 ab Galur peka: - IRH205 5.33 a 0.03 a 6.67 ab 0.03 a 2.07 abc 0.73 a - IRH267 29.67 b 0.11 a 26.22 b 0.16 a 22.53 e 6.07 ab - IRH581 10.00 a 0.03 a 11.10 ab 0.03 a 13.33 abcde 4.33 ab IR64 4.67 a 0.26 ab 13.82 ab 0.77 a 6.40 abcde 2.13 ab Hawara Bunar 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a 3.47 abcd 1.20 ab Mahsuri 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a 19.27 de 6.80 b Ciherang 0.00 a 0.00 a 0.00 a 0.00 a 1.77 ab 0.67 a Inpari 1 2.00 a 0.27 ab 20.01 b 1.12 a 18.60 bcde 5.40 ab Inpari 13 3.33 a 0.05 a 11.67 ab 0.05 a 1.27 a 0.60 a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut wilayah berganda Duncan pada taraf uji 5%.

52 Kondisi cekaman besi yang parah diduga membuat beberapa tanaman padi yaitu varietas Hawara Bunar, Mahsuri, dan Ciherang tidak berbunga sampai dengan umur 133 hari. Hal ini diduga juga karena kandungan hara P (P 2 O 5, Bray) tanah Podsolik Kentrong lebih rendah dibanding tanah KP Taman Bogo (Lampiran 19). Hara P berperan dalam memacu pembentukan akar, penambahan jumlah anakan, mempercepat pembungaan dan pemasakan gabah (Abdulrachman et al. 2009) Tanaman padi dari 3 galur padi terpilih (IRH548, IRH715, dan IRH195), varietas Mahsuri, Hawara Bunar, dan IR64 pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe tampak pada Gambar 17. 1 2 3 4 5 6 Gambar 17. Tanaman padi percobaan pot dengan media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000ppm Fe: (1) IRH548, (2) IRH715, (3) IRH195, (4) IR64, (5) Hawara Bunar, dan (6) Mahsuri. Hasil uji verifikasi 3 galur padi terpilih pada percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe menunjukkan bahwa galur padi IRH195 memiliki karakter morfologi dan agronomi paling baik bila dibandingkan dengan 2 galur terpilih lainnya (Tabel 18). Galur IRH195 memiliki bentuk (habitus) tegak, tinggi tajuk 56 cm, jumlah anakan 4, jumlah anakan produktif 3, umur panen 133 hari, panjang daun bendera 29 cm, panjang malai 25 cm, jumlah gabah isi 28 butir/malai, jumlah gabah hampa 27 butir/malai, bobot gabah per

malai 0.53 g, bobot gabah 1000 butir 22.72 g, bobot gabah per rumpun 1.79 g, bobot basah jerami 18.87 g dan bobot kering jerami 6.77 g. 53 Tabel 18. Respon ketahanan 3 galur padi terpilih terhadap cekaman besi pada percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe Peubah Respon galur terpilih IRH195 IRH548 IRH715 Skor bronzing 4.33 4.33 5.67 Bentuk tanaman tegak tegak serak Tinggi tajuk (cm) 56.00 57.50 40.67 Umur panen (hari) 133 133 133 Jumlah anakan 4.00 3.00 4.33 Anakan produktif 2.67 1.67 3.67 Daun bendera (cm) 28.67 18.33 12.67 Panjang malai (cm) 24.67 12.00 9.67 Gabah isi (butir/malai) 28.00 24.67 9.33 Gabah hampa (butir/malai) 27.00 9.33 6.67 Gabah per malai (g) 0.53 0.57 0.19 Bobot 1000 butir (g) 22.72 14.99 16.74 Gabah per rumpun (g) 1.79 1.92 0.97 BB jerami (g) 18.87 16.13 4.00 BK jerami (g) 6.77 5.00 1.47 Pembahasan Penelitian ini merupakan bagian kecil dari kegiatan pemuliaan tanaman padi. Pemuliaan tanaman bertujuan untuk memperoleh atau mengembangkan varietas atau hibrida agar lebih efisien dalam penggunaan unsur hara sehingga memberi hasil tertinggi persatuan luas dan menguntungkan bagi penanam serta pemakai, diharapkan tahan pada lingkungan ekstrim seperti kekeringan, cekaman, serangan hama dan penyakit, dan lain-lain. Pemuliaan tanaman dapat dilakukan dengan cara : (1) melakukan pemilihan terhadap suatu populasi tanaman yang sudah ada, (2) melakukan kombinasi sifat-sifat yang diinginkan (secara generatif dan vegetatif), (3) melakukan penggandaan kromosom dan/atau mutasi sebelum melakukan pemilihan, dan (4) melalui rekayasa genetika (Mangoendidjojo 2003). Pelepasan suatu varietas baru dapat diperoleh melalui seleksi sebelum pelaksanaan persilangan dan seleksi setelah persilangan. Pelaksanaan persilangan

54 bertujuan untuk merakit kombinasi gen-gen baru dari sifat-sifat penting yang berada pada dua atau lebih varietas berbeda (Jambormias & Riry 2009). Pada tahap pertama, sebanyak 300 galur padi populasi RIL F7 ditapis dengan percobaan hidroponik cekaman 750 ppm Fe dan diperoleh 221 galur padi populasi RIL F7 yang toleran cekaman besi. Kemudian hanya 50 galur padi yang toleran cekaman besi yang diverifikasi lanjut sifat toleransinya terhadap cekaman besi. Pada tahap kedua, ketahanan 50 galur padi terpilih terhadap cekaman besi diverifikasi dengan percobaan pot media tanah Latosol Cimanggu ditambah 750 ppm Fe dan percobaan lapang di sawah bercekaman besi di KP Taman Bogo. Percobaan pot media tanah Latosol Cimanggu gagal untuk menapis ketahanan tanaman padi terhadap cekaman besi, karena tanaman padi tumbuh normal tanpa ada gejala keracunan besi (bronzing). Sedangkan percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo berhasil menapis ketahanan 50 galur tanaman padi terhadap cekaman besi dan diperoleh 3 galur padi terpilih yang toleran cekaman besi yaitu galur IRH195, IRH548, dan IRH715. Pada tahap ketiga, ketahanan 3 galur padi terpilih terhadap cekaman besi diverifikasi kembali dengan percobaan hidroponik cekaman 1000 ppm Fe dan percobaan pot media tanah Podsolik KP Taman Bogo dan Kentrong. Ketiga galur padi terpilih (IRH195, IRH548, dan IRH715) memperlihatkan konsistensi toleransinya terhadap cekaman besi. Teknik penapisan plasma nutfah padi untuk mendapatkan varietas padi toleran terhadap cekaman besi dilakukan secara langsung di lahan sawah yang telah diketahui memiliki tingkat kelarutan besi yang tinggi dan berpotensi menyebabkan keracunan besi. Metode alternatif lain untuk penapisan plasma nutfah padi pada skala rumah kaca adalah dengan percobaan hidroponik dan pot yang diberi cekaman besi (Suhartini & Makarim 2009). Percobaan hidroponik dengan larutan Yoshida sampai dengan konsentrasi 1500 ppm Fe merupakan metode yang dapat dikembangkan untuk melakukan penapisan sifat toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi dalam waktu relatif singkat dibandingkan dengan percobaan pot dan percobaan lapang, dengan batas kritis konsentrasi besi antara 250-500 ppm (Amnal 2009). Toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi dipengaruhi oleh kondisi hara tanaman, iklim atau musim, dan fase pertumbuhan tanaman. Metode

55 penapisan perlu didapat untuk dibakukan dan dijadikan metode penapisan massal varietas dan galur-galur padi hasil silangan. Hasil penapisan dengan metode tersebut harus dapat mencerminkan tingkat toleransi tanaman padi di lapang dengan tingkat cekaman besi yang umum terjadi di Indonesia dan diharapkan dapat langsung diaplikasikan pada skala luas. Terdapat hubungan sangat nyata antara skor bronzing dan hasil tanaman padi di lahan berkadar besi tinggi (Suhartini & Makarim 2009). Metode penapisan secara hidroponik pada tingkat cekaman 750 ppm Fe selama 2 minggu diduga kurang mampu menapis sifat ketahanan tanaman padi umur 28 hari terhadap cekaman besi. Varietas IR64 selaku kontrol peka masih termasuk kriteria sedang (skor 5), padahal varietas IR64 di sawah KP Taman Bogo masuk kriteria peka (skor 7). Varietas Hawara Bunar yang dalam percobaan ini masuk kriteria toleran (skor 2) ternyata di sawah KP Taman Bogo termasuk kriteria peka (skor 7). Selain itu, sebanyak 74% galur padi populasi RIL F7 keturunan IR64 dan Hawara Bunar yang ditapis masuk kriteria sangat toleran dan toleran sehigga sebaran ketahanan galur-galur padi yang diuji lebih terkonsentrasi pada kriteria sangat toleran dan toleran. Hasil percobaan hidroponik dengan media larutan Yoshida konsentrasi penuh, setengah dan seperempat pada tingkat cekaman 1000 ppm Fe relatif sama dengan hasil percobaan lapang di sawah KP Taman Bogo. Skor bronzing untuk 3 galur padi terpilih (IRH195, IRH548 dan IRH715) yaitu 1-3, dan skor bronzing varietas Mahsuri, IR64, dan Hawara Bunar masing-masing 1-2 (toleran), 5-6 (peka), dan 5-7 (peka). Ekspresi toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi berdasarkan persen dan skor bronzing daun akan lebih terlihat nyata pada larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe dibanding media lainnya. Nilai skor bronzing pada media ini mendekati nilai skor bronzing pada percobaan lapang. Dengan demikian, media larutan Yoshida konsentrasi setengah cekaman 1000 ppm Fe dapat digunakan untuk uji toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi dengan teknik hidroponik pada skala rumah kaca. Percobaan pot media tanah Latosol Cimanggu ditambah 750 ppm Fe gagal untuk menapis ketahanan tanaman padi terhadap cekaman besi, karena tanaman padi tumbuh normal tanpa ada gejala keracunan besi (bronzing). Konsentrasi Fe

56 tersedia dan ph media tanah Latosol Cimanggu masing-masing 9.1 ppm dan 6.1. Kondisi ini diduga karena media tanah mengandung cukup hara untuk tanaman padi dan pemberian pupuk kandang sehingga menurunkan kadar Fe tersedia dalam tanah. Pertumbuhan tanaman padi pada percobaan pot dengan media tanah Podsolik KP Taman Bogo relatif normal sehingga kurang mampu menapis ketahanan tanaman padi terhadap cekaman besi. Skor bronzing varietas IR64 selaku kontrol peka hanya 3, padahal seharusnya 7 (hasil percobaan lapang). Konsentrasi Fe tersedia media tanah Podsolik KP Taman Bogo dalam pot terus mengalami penurunan, awalnya 338 ppm, sebelum tanaman turun menjadi 226 ppm dan setelah tanam turun kembali menjadi 209 ppm. Nilai ph media tanah Podsolik KP Taman Bogo dalam pot awalnya 4.6, sebelum tanaman naik menjadi 5.1 dan setelah tanam turun menjadi 4.8. Kondisi ini diduga karena kurang terciptanya suasana reduksi dalam media tanah, penyiraman air dengan ph 6.5-6.7 dan adanya oksigen yang masuk ke dalam media tanah sehingga menurunkan kadar Fe tersedia dalam tanah. Percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong yang ditambah 1000 ppm Fe menyebabkan keracunan besi lebih parah pada tanaman padi dibandingkan dengan cekaman besi di sawah KP Taman Bogo pada percobaan lapang. Penambahan 1000 ppm Fe ke dalam media tanah Podsolik Kentrong yang telah dilumpurkan menyebabkan kadar Fe tersedia menjadi 892 ppm dengan ph 4.6. Menurut Kasno (2009), penggenangan lahan kering untuk dijadikan sawah menyebabkan kadar Fe 2+ meningkat, terutama pada tanah yang mempunyai kandungan besi tinggi. Lahan bercekaman besi bisa juga dijumpai di lahan sawah bukaan baru yang digenangi 3-4 minggu, lahan sawah bukaan baru yang banyak mengandung besi, misalnya tanah jenis Podsolik dengan ph rendah (< 5). Pada umumnya lahan kering mengandung oksida-oksida besi yang tinggi dan penggenangan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dari oksida besi, dari Fe 3+ yang tidak larut menjadi Fe 2+ yang sangat larut. Penggenangan dapat meningkatkan kelarutan ion Fe menjadi 600 kali lipat dalam tempo 30 hari yang memunculkan masalah keracunan besi pada tanaman padi. Keracunan besi merupakan hal yang sangat menakutkan petani sawah bukaan baru karena dapat

57 menyebabkan gagal panen (Ismon 2006). Menurut Tadano dan Yoshida (1978), keracunan besi pada tanaman padi dapat terjadi pada kondisi tanah konsentrasi 100 ppm Fe dengan ph 3.7 atau konsentrasi 300 ppm Fe dengan ph 5.0. Percobaan lapang bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh data keunggulan dan interaksi galur/varietas yang diuji terhadap lingkungan tempat percobaan dilakukan. Cekaman besi merupakan salah satu kendala yang umum dijumpai di areal pertanaman padi sawah. Cekaman besi terjadi di lahan sawah yang miskin hara, ph masam dengan kandungan besi tinggi. Kondisi tanah yang reduktif menyebabkan tingginya konsentrasi Fe 2+ terutama pada lahan tergenang dengan drainase buruk. Kandungan Fe 2+ berlebih dalam tanah dan penyerapan Fe 2+ berlebih oleh akar tanaman padi akan mengakibatkan keracunan besi pada tanaman padi (Audebert 2006). Menurut Yoshida (1981), keracunan Fe terjadi di lahan yang kandungan haranya rendah, kandungan Fe tinggi, ph masam, mengandung pirit, drainase buruk, terletak di daerah cekungan, dan dalam keadaan selalu tergenang. Percobaan lapang dilakukan di sawah KP Taman Bogo yang berada di ketinggian 20 mdpl dan termasuk sawah rawa lebak dangkal (pematang). Lahan sawah selalu tergenang dan air tidak dapat mengalir dengan baik karena hidrotopografinya terendah, kandungan hara rendah, Fe tersedia sangat tinggi (338 ppm), dan ph masam (4.6). Percobaan lapang telah mampu menapis ketahanan 50 galur tanaman padi populasi RIL F7 dan hasilnya adalah: tidak ada galur sangat toleran, 3 galur toleran (skor 3) yaitu nomor IRH195, IRH548 dan IRH715, 13 galur sedang (skor 5), 27 galur peka (skor 7) dan 7 galur sangat peka (skor 9). Varietas Mahsuri (kontrol toleran Fe) memperlihatkan sifat sangat toleran (skor 1), sedangkan 2 tanaman kontrol lainnya (varietas IR64 dan Hawara Bunar) termasuk kriteria peka (skor 7). Keracunan besi pada tanaman padi dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan vegetatif dan reproduktif (IRRI 2003). Keracunan besi pada tanaman padi dapat menyebabkan bercak-bercak kecil warna cokelat (bronzing), bercak-bercak pada tulang daun, daun bisa mengering dan mati, pertumbuhan terhambat, pembentukan anakan dan pemanjangan batang sangat terbatas (Dobermann & Fairhurst 2000). Sistem perakarannya jarang atau sedikit, kasar, dan berwarna

58 cokelat gelap, membusuk sampai mati (Syam et al. 2007). Hasil padi di lahan bercekaman besi umumnya rendah (Suhartini et al. 1999). Kandungan besi pada jaringan tanaman berkisar antara 100-200 ppm dengan batas kritis keracunan besi dalam jaringan tanaman 300 ppm (Yoshida 1981). Bila tingkat kepekatan besi dalam larutan hara lebih dari 40 ppm Fe 2+ dapat menimbulkan keracunan dan menghambat pertumbuhan padi. Gejala keracunan ditandai oleh tertekannya pertumbuhan tajuk dan perkembangan akar sejak umur 15 hari (Yandha & Yusuf 1993). Kelebihan besi terakumulasi di bagian epidermis, korteks, dan endodermis akar, bahkan pada beberapa varietas padi sensitif keracunan besi juga dijumpai di bagian xilem (Amnal 2009). Pada lahan bercekaman besi, jumlah anakan yang menghasilkan malai setiap rumpun dan jumlah gabah setiap malai menurun (Andyantoro 1991). Perlakuan cekaman 750 ppm Fe selama 2 minggu pada media larutan hara Yoshida menyebabkan varietas IR64 mengalami persentase penurunan pertumbuhan tinggi tajuk, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar masingmasing 10%, 62%, 11% dan 26%. Sedangkan perlakuan cekaman 1000 ppm Fe selama 1 minggu pada media larutan hara Yoshida menyebabkan varietas IR64 mengalami persentase penurunan pertumbuhan tinggi tajuk, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar masing-masing 49%, 91%, 42% dan 7%. Kondisi lahan sawah KP Taman Bogo dengan kadar besi tinggi, ph masam, kandungan hara rendah, lahan selalu tergenang dan tidak ada saluran air yang baik menyebabkan pertumbuhan tanaman padi benar-benar tertekan bahkan sebanyak 38% tanaman akhirnya mati. Kondisi cekaman besi yang parah pada percobaan pot media tanah Podsolik Kentrong ditambah 1000 ppm Fe diduga membuat beberapa tanaman padi yaitu varietas Hawara Bunar, Mahsuri, dan Ciherang tidak berbunga sampai dengan umur 133 hari. Keracunan besi pada tanaman padi dimulai dari meningkatnya permeabilitas sel-sel akar terhadap ion Fe 2+, sehingga penyerapan ion fero meningkat tajam. Penyerapan Fe yang berlebihan mengakibatkan aktivitas enzim polifenol oksidase meningkat yang akhirnya akan meningkatkan jumlah polifenol teroksidasi. Selain itu kandungan Fe yang tinggi dalam tanaman mengakibatkan terbentuknya oksigen radikal bebas yang sangat fitotoksik dan dapat menyebabkan terdegradasinya

59 protein dan lemak membran sel sehingga tanaman akhirnya mati (Abdulrachman et al. 2009). Menurut Siegbahn (2004) mekanisme pembentukan bronzing atau browning yaitu jika tanaman mengalami luka, atau serangan hama dan penyakit, atau senescence atau cekaman menyebabkan kerusakan plastida tempat enzim polifenol oksidase berada dan kerusakan vakuola tempat senyawa polifenol berada. Reaksi bronzing melibatkan komponen polifenol, oksigen, katalis Cu atau Fe, dan enzim polifenol oksidase. Polifenol akan bereaksi dengan oksigen yang dikatalisis oleh enzim polifenol oksidase dan katalis Cu/Fe melalui beberapa rangkain reaksi sampai membentuk melanin yang berwarna cokelat (Gambar 18). Monofenol Difenol tergantung keberadaan enzim dan O 2 Quinone Trihidroksi benzene Hidroksi qiunone reaksi spontan tidak tergantung keberadaan Melanin enzim dan O 2 (cokelat) Gambar 18. Reaksi bronzing atau browning pada tanaman Tanaman padi toleran terhadap cekaman besi mampu beradaptasi pada kondisi cekaman besi baik pada percobaan hidroponik, percobaan pot maupun percobaan lapang. Menurut Becker dan Asch (2005), mekanisme toleransi tanaman padi terhadap cekaman besi ada 3, yaitu: (1) Akar tidak menyerap besi. Akar tidak menyerap Fe 2+ karena memiliki daya pengoksidasi akar dengan mengoksidasi Fe 2+ menjadi Fe 3+ yang ada di rizosfer. Akar juga memiliki mekanisme selektivitas ion membran sel akar dengan tidak menyerap Fe 2+ ; (2) Kompartementasi besi. Fe 2+ yang diserap akar disimpan di jaringan akar (kompartementasi) untuk mencegah distribusi Fe 2+ ke tajuk. Fe 2+ juga bisa disimpan di jaringan yang ada di tajuk seperti di daun tua atau daun yang kurang aktif fotosintesisnya; (3) Detoksifikasi besi. Tanaman padi mampu bertahan terhadap keracunan Fe 2+ secara enzimatis. yang ada dalam sel melalui mekanisme detoksifikasi

60 Sifat keturunan dimana galur IRH195, IRH548 dan IRH715 lebih toleran terhadap cekaman besi dibandingkan dengan kedua tetuanya yaitu varietas IR64 dan Hawara Bunar kemungkinan disebabkan oleh fenomena segregasi transgresif. Menurut Rieseberg et al. (2003), segregasi transgresif yaitu segregasi gen pada sifat-sifat kuantitatif dari zuriat hasil persilangan dua tetua yang memiliki jangkauan sebaran yang melampaui jangkauan sebaran kedua tetuanya. Segregasi ini menyebabkan keturunannya lebih baik atau buruk dari kedua tetuanya. Menurut Jambormias dan Riry (2009), terjadinya variasi transgresif diharapkan oleh pemulia untuk memperoleh kultivar unggul melalui metode hibridisasi program pemuliaan tanaman. Hasil uji verifikasi ketahanan 3 galur padi terpilih (IRH195, IRH548 dan IRH715) terhadap cekaman besi dengan percobaan hidroponik 1000 ppm Fe dan percobaan pot media tanah Podsolik KP Taman Bogo dan Kentrong menunjukkan bahwa ketiga galur konsisten memiliki sifat toleran terhadap cekaman besi. Galur IRH195 memiliki karakter morfologi dan agronomi paling baik bila dibandingkan dengan 2 galur terpilih lainnya. Hasil percobaan pot media tanah Podsolik KP Taman Bogo menunjukkan bahwa galur padi IRH195 memiliki bentuk (habitus) tegak, tinggi tajuk 103 cm, jumlah anakan 25, jumlah anakan produktif 19, umur panen 117 hari, panjang daun bendera 33 cm, panjang malai 29 cm, jumlah gabah isi 113 butir/malai, jumlah gabah hampa 44 butir/malai, bobot gabah per malai 0.86 g, bobot gabah 1000 butir 22.47 g, bobot gabah per rumpun 38.80 g, bobot basah jerami 181 g dan bobot kering jerami 47 g.