HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum"

Transkripsi

1 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2009, yang merupakan bulan basah. Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Dramaga, Bogor (Lampiran 3) diperoleh bahwa curah hujan pada bulan-bulan tersebut berkisar mm sampai mm dengan curah hujan rata-rata per bulan mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober dan curah hujan terendah pada bulan September. Jumlah hari hujan terbanyak 24 hari pada bulan Oktober dan terendah 13 hari pada bulan September. Kondisi curah hujan tersebut sangat mencukupi untuk pertanaman padi sawah tetapi menyulitkan untuk pelaksanaan pemeliharaan tanaman baik pemupukan maupun pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Bibit tanaman padi dipindah tanam padi berumur hari setelah semai (HST) dengan satu bibit per lubang tanam. Penyulaman tanaman dilakukan saat tanaman berumur 1 4 Minggu Setelah Tanam (MST). Penyulaman dilakukan karena serangan hama keong mas (Pomacea canaliculata L.). Penyulaman digunakan bibit yang berumur sama sehingga tidak tertinggal dengan tanaman awal. Populasi hama ini kian meningkat akibat kondisi air yang tergenang. Upaya pengendalian dilakukan sejak sebelum penanaman bibit (transplanting) hingga tanaman padi tampak kokoh yaitu dengan mengeringkan lahan dan memungut secara manual keong maupun telurnya dari lahan sawah. Kondisi pertanaman padi sawah secara umum dapat dilihat pada Gambar 1. Keragaan tanaman tiap perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 4. Hama lain yang banyak menyerang yaitu belalang. Hama ini menyerang pada saat pertumbuhan tanaman hingga saat pengisian bulir padi. Hama ini menyerang pada lahan percobaan dengan intensitas serangan yang cukup besar karena penularan dari petakan diluar penelitian. Hama ini menyebabkan daun pada tanaman padi tidak utuh lagi sehingga proses penyerapan fotosintesis kurang sempurna. Hama belalang dikendalikan dengan aplikasi insektisida dengan bahan aktif profenofos 500 EC dengan dosis 1 L/Ha.

2 15 Gambar 1. Kondisi Umum Tanaman pada Saat 7 MST Jenis gulma yang terdapat pada areal sawah terdiri dari gulma rumput, berdaun lebar, dan teki. Pengendaliannya gulma dilakukan secara manual pada areal pertanaman padi sawah pada saat tanaman berumur 3 dan 5 MST sampai dengan saat panen. Serangan hama dan penyakit dapat diatasi sehingga baik fase vegetatif maupun generatif terlihat normal. Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan unsur hara tanah pada awal dan akhir penelitian dilakukan secara komposit dengan mencampurkan tanah yang berasal dari semua petakan. Perlakuan pemupukan pada penelitian berupa pupuk daun yang diaplikasikan pada tajuk tanaman padi sehingga tidak langsung mengenai tanah. Pupuk dasar berupa Urea, SP-18 dan KCl yang diberikan melalui tanah pada seluruh perlakuan dengan dosis sama. Parameter yang dianalisis meliputi ph, N total, unsur P dan K. Hasil analisis diperoleh bahwa tanah sebelum penelitian memiliki nilai ph sekitar 5.6 atau tergolong agak masam. Hasil analisis hara setelah penelitian menunjukkan adanya peningkatan ph menjadi 6.5. Unsur N Total sebelum penelitian 0.12% setelah penelitian meningkat menjadi 0.16% menunjukkan kandungan unsur N total yang rendah dan unsur P sebelum penelitian 3.4% setelah penelitian menjadi 5.2% menunjukkan kandungan unsur P

3 16 sangat rendah. Kandungan unsur K tanah mengalami penurunan pada akhir penelitian 0.21 meq/100g. Selisih ph serta kandungan hara tanah pada awal dan akhir penelitian secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis dan Kriteria Sifat Kimia Tanah Penelitian Sifat Tanah Perlakuan Sebelum Perlakuan Setelah Pemupukan Pemupukan ph H 2 O 5.6 (Agak Masam) 6.5(Agak Masam) N-Total (%) 0.12 (Rendah) 0.16 (Rendah) P ters Bray I (%) 3.4 (Sangat Rendah) 5.2(Sangat Rendah) K dapat ditukar extr. NH4Oac (me/100g) 0.62 (Tinggi) 0.21 (Rendah) Sumber : SEAMEO BIOTROP, 2009 dan 2010; Hardjowigeno, S, Rekapitulasi Hasil Analisis Sidik Ragam Berdasarkan hasil rekapitulasi sidik ragam terhadap berbagai peubah yang diamati menunjukkan bahwa aplikasi perlakuan pupuk daun tidak berpengaruh nyata baik pada pertumbuhan maupun komponen hasil, kecuali pada peubah bobot basah jerami/tanaman. Secara rinci rekapitulasi hasil sidik ragam disajikan pada Tabel 4 dan 5. Tabel 4. Rekapitulasi Sidik Ragam Pupuk Daun terhadap Berbagai Peubah Pengamatan Peubah Pengaruh Perlakuan Koefisien Keragaman (%) Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman 3 MST tn MST tn MST tn MST tn MST tn MST tn 5.89 Jumlah Anakan 3 MST tn # 4 MST tn # 5 MST tn # 6 MST tn # 7 MST tn MST tn 14.15

4 17 Tabel 5. Rekapitulasi Sidik Ragam Pupuk Daun terhadap Berbagai Peubah Pengamatan (Lanjutan) Peubah Pengaruh Perlakuan Koefisien Keragaman (%) Bagan Warna Daun 3 MST tn MST tn MST tn MST tn MST tn MST tn 6.44 Biomassa Tinggi Tanaman tn 5.52 Panjang Akar tn Bobot Akar tn Bobot Tajuk tn Volume Akar tn 16.2 # Komponen Hasil dan Hasil Jumlah Anakan Produktif tn 18.6 Panjang Malai tn 6.35 Jumlah Malai tn Jumlah GabahMalai tn 17.6 Hasil Gabah Basah/Petak tn Hasil Gabah Kering/Petak tn Hasil Gabah Basah/Tanaman tn 17.5 # Hasil Gabah Kering/Tanaman tn # Bobot Basah Jerami/Tanaman * Bobot Kering Jerami/Tanaman tn # Bobot 1000 Butir tn 4.67 Persen Gabah Hampa tn # GKP tn GKG tn Keterangan : * = Nyata pada taraf 5%, tn = Tidak Nyata pada taraf 5 %, # = Tranformasi ((х+0.5)^0.5 ) Pertumbuhan Tanaman Hasil pengamatan dan analisis statistik (Tabel 6) menunjukkan bahwa aplikasi pupuk daun yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman, jumlah anakan serta Bagan Warna

5 18 Daun (BWD). Peubah jumlah anakan yang di pupuk dengan pupuk daun cenderung menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anakan tanpa pupuk daun seperti terlihat pada perlakuan 0.5 dosis PD1, 1 dosis PD1, 0.75 dosis PD2, 1 dosis PD2, 1.25 dosis PD3 dan 1.5 dosis PD3. Pada saat tanaman berumur 4 dan 6 MST Bagan Warna Daun menunjukkan skala < 4 sehingga perlu dilakukan pemupukan pupuk N susulan. Penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) berkaitan erat dengan pemupukan terutama nitrogen. Tanaman yang memiliki kecukupan unsur N akan menunjukkan warna daun hijau gelap. Pemupukan N sangat menentukan hasil tanaman padi sawah. Nilai kritis bagan warna daun 4, oleh karena itu tanaman harus segera diberi pupuk N bila warna daun berada di bawah skala 4. Skala Bagan Warna Daun pada saat tanaman berumur 4 MST sekitar pada saat tanaman berumur 6 MST, skala Bagan Warna Daun menunjukkan nilai sekitar Hal ini diduga pemupukan pupuk daun hingga 1.5 dosis belum mampu mempengaruhi Bagan Warna Daun. Walaupun demikian, perlakuan pupuk daun memiliki Bagan Warna Daun yang lebih tinggi daripada perlakuan tanpa pemupukan pupuk daun. Tabel 6. Pertumbuhan Tanaman pada Berbagai Pupuk Daun Perlakuan Tinggi Tanaman 8 MST Jumlah Anakan 8 MST Bagan Warna Daun 4 MST Bagan Warna Daun 6 MST Tanpa pupuk daun Pembanding dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD

6 19 Biomassa Analisis pertumbuhan merupakan suatu cara untuk mengikuti dinamika fotosintesis yang diukur oleh produksi bahan kering. Akumulasi bahan kering mencerminkan kemampuan tanaman dalam mengikat energi dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis, serta interaksinya dengan faktor-faktor lingkungan lainnya. Distribusi akumulasi bahan kering pada bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun dan bagian generatif, dapat mencerminkan produktivitas tanaman. Pengamatan biomassa yang diamati pada tanaman padi sawah terdiri atas panjang akar, bobot kering akar, bobot kering tajuk/rumpun dan volume akar. Secara umum aplikasi pupuk daun tidak berpengaruh nyata secara stastistik terhadap biomassa padi sawah pada 8 MST (Tabel 7). Namun demikian terlihat perbedaan yang sangat besar yang ditunjukkan pada panjang akar, bobot akar, bobot tajuk dan volume akar apabila dibandingkan antara yang dipupuk daun dengan tanpa pupuk daun. Tabel 7. Panjang Akar, Volume Akar, Bobot Kering Akar dan Tajuk pada Berbagai Perlakuan Pupuk Daun Perlakuan Panjang Akar (cm) Volume Akar (ml) Bobot Kering Akar (g) Bobot Kering Tajuk (g) Tanpa pupuk daun Pembanding dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD

7 20 Komponen Hasil dan Hasil Tanaman Pengamatan terhadap komponen hasil yang dilakukan meliputi jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah/malai, persentase gabah hampa, serta bobot 1000 butir bobot. Aplikasi pupuk daun tidak berpengaruh nyata secara statistik terhadap komponen hasil. Secara rinci komponen hasil tanaman padi sawah pada berbagai perlakuan pupuk daun disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Komponen Hasil Tanaman Padi Sawah pada Berbagai Perlakuan Pupuk Daun Perlakuan Jumlah Anakan Produktif/ Rumpun Panjang Malai (cm) Jumlah Gabah/ Malai Persentase Gabah Hampa (%) Bobot 1000 Butir (g) Tanpa pupuk daun Pembanding dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD Aplikasi pupuk daun menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap bobot gabah basah/tanaman, bobot gabah kering/tanaman, bobot gabah basah/petak, bobot gabah kering/petak, gabah kering panen dan gabah kering giling tanaman padi sawah. Namun, secara umum perlakuan pupuk daun memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol. Secara rinci pengaruh aplikasi pupuk daun terhadap hasil tanaman disajikan pada Tabel 9.

8 21 Tabel 9. Hasil Tanaman Padi Sawah pada Aplikasi Pupuk Daun Perlakuan Hasil Gabah Basah / Tanaman (g) Hasil Gabah Kering/ Tanaman (g) Hasil Gabah Basah/ Petak (kg) Hasil Gabah Kering/ Petak (kg) Tanpa pupuk daun Pembanding dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD dosis PD Berdasarkan Gambar 2 gabah kering panen dan gabah kering giling yang dihasilkan dengan pemberian pupuk daun memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan tanpa pemupukan pupuk daun. Aplikasi 1.5 dosis PD1 dan 1 dosis PD2 menghasilkan gabah kering panen paling tinggi (5280 kg/ha) sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan 3147 kg/ha. Aplikasi 1.5 dosis PD1 menghasilkan gabah kering giling 4533 kg/ha. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan aplikasi pupuk daun dapat meningkatkan gabah kering panen dan giling. Bobot Tajuk Tanaman Pada Saat Panen Aplikasi pupuk daun berpengaruh nyata terhadap bobot basah jerami tanaman padi sawah. Perlakuan Dosis PD1, dosis PD2, dosis PD3 berpengaruh nyata meningkatkan bobot basah jerami lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pupuk daun. Namun perlakuan pupuk daun tidak mempengaruhi bobot kering jerami (Tabel 10). Bobot basah jerami

9 22 dipengaruhi oleh kandungan air yang diserap oleh tanaman padi sehingga tanaman padi menjadi lebih sukulen. Gambar 2. Nilai Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG) Tabel 10. Pengaruh Pupuk Daun terhadap Bobot Tajuk Tanaman pada saat Panen Perlakuan Bobot Basah Jerami Bobot Kering Jerami (g) (g) Tanpa pupuk daun 406.6c Pembanding 491.6abc dosis PD abc dosis PD ab dosis PD ab dosis PD bc dosis PD ab dosis PD ab dosis PD ab dosis PD ab dosis PD bc dosis PD abc dosis PD abc dosis PD ab dosis PD a dosis PD ab dosis PD a Keterangan : angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5 %

10 23 Efektivitas Agronomi Relatif Nilai relatif efektivitas agronomis (RAE) merupakan nilai peningkatan hasil relatif antara perlakuan dosis pupuk yang diuji terhadap peningkatan hasil yang disebabkan oleh perlakuan pembanding (standar) dari perlakuan kontrol. Setiap nilai efektivitas agronomi > 100 menunjukkan bahwa perlakuan tersebut efektif secara agronomi. Terlihat pada Gambar 3 beberapa perlakuan pupuk daun memperlihatkan nilai RAE lebih besar dari 100. Perlakuan 0.5 dan 1.5 dosis PD1, 0.5, dosis PD2, 0.5, dosis PD3 memberikan nilai RAE lebih besar dari 100. Nilai RAE tertinggi ditunjukkan pada perlakuan 1.5 dosis PD1 dan 1 dosis PD2 dengan nilai RAE sebesar Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil perlakuan pupuk daun PD1 dan PD2 dapat meningkatkan hasil lebih besar % dibandingkan perlakuan peningkatan pupuk pembanding. Gambar 3. Nilai Efektivitas Agronomi Relatif (RAE) Tiap Perlakuan Peningkatan Hasil Aplikasi pupuk daun dapat meningkatkan hasil 15 sampai 67% dari perlakuan kontrol (Gambar 4). Perlakuan pupuk PD1 dapat meningkatkan hasil 28 67%. Peningkatan hasil tertinggi pada pupuk PD1 terjadi pada pemberian 1.5 dosis PD1. Perlakuan pupuk PD2 meningkatkan hasil 35 67%. Peningkatan

11 24 hasil tertinggi terjadi pada 1 dosis PD2. Sedangkan pada PD3 peningkatan hasil terjadi dari 15 49% dengan 1.5 dosis PD3 memberikan peningkatan hasil tertinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa pupuk daun dapat meningkatkan hasil dan efektif secara agronomi. Gambar 4. Peningkatan Hasil Aplikasi Pupuk Daun Analisis Usahatani Mengetahui tingkat efektivitas aplikasi pupuk daun PD1, PD2, dan PD3 dapat dilakukan analisis ekonomi usahatani. Peubah yang dianalisis tingkat keuntungan dan nilai R/C Rasio. Aplikasi PD1 0.5 dosis, 1 dosis PD2, dan 1.25 dosis PD3 menghasilkan keuntungan tertinggi untuk masing-masing pupuk. Aplikasi 0.5 dosis PD1 menghasilkan keuntungan Rp ,00 dengan R/C Ratio 2.42 hal ini menunjukkan besar 1 satuan rupiah yang dikeluarkan menghasilkan Rp 2.42,00. Aplikasi 1 dosis PD2 menghasilkan keuntungan Rp ,00 dengan R/C Ratio aplikasi 1.25 dosis PD3 menghasilkan keuntungan Rp ,00 dengan R/C Rasio 2.21 sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan keuntungan Rp ,00 dengan R/C Rasio Secara rinci efektivitas aplikasi pupuk daun terhadap analisis ekonomi usahatani disajikan pada Tabel 11.

12 25 Tabel 11. Efektivitas Aplikasi Pupuk Daun terhadap Analisis Ekonomi Usahatani Perlakuan Biaya Penerimaan Pendapatan R/C (Rp) (Rp) (Rp) Ratio Kontrol 6,950, ,014, ,064, Pembanding 7,625, ,120, ,495, Dosis PD1 7,400, ,920, ,520, Dosis PD1 7,625, ,120, ,495, Dosis PD1 7,675, ,185, ,510, Dosis PD1 7,062, ,934, ,872, Dosis PD1 8,300, ,480, ,180, Dosis PD2 7,400, ,360, ,960, Dosis PD2 7,625, ,934, ,309, Dosis PD2 7,675, ,480, ,805, Dosis PD2 8,075, ,614, ,539, Dosis PD2 8,300, ,800, ,500, Dosis PD3 7,140, ,680, ,539, Dosis PD3 7,236, ,065, ,829, Dosis PD3 7,157, ,694, ,537, Dosis PD3 7,427, ,425, ,997, Dosis PD3 7,523, ,054, ,531, Pembahasan Dengan sifat tanah seperti dikemukakan pada Tabel 3 maka tanah tersebut tergolong kurang subur dilihat dari kandungan unsur hara makro, dan ph tanah yang berstatus rendah. Faktor-faktor tanah tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman bila keadaannya tidak mendukung untuk memenuhi kebutuhan hara dan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian, pemupukan pada kegiatan budidaya padi menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman sehingga dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Berdasarkan hasil analisis tanah yang dilakukan, pemberian pupuk daun tidak mempengaruhi hasil analisis tanaman yang masih berperan meningkatkan nilai ph tanah, N-total, P pemupukan melalui akar. Tanah sawah yang digunakan dalam kegiatan penelitian memiliki sifat tanah yang agak masam dengan ph 6.5. Suplai nitrogen untuk padi sawah, diantaranya dapat berasal dari residu nitrogen ammonium dan nitrat di dalam tanah, nitrogen hasil mineralisasi bahan organik,

13 26 fiksasi oleh mikroorganisme tanah, dan dari pupuk yang diberikan (Ismunadji dan Roechan, 1988). Penggenangan tanah sawah dapat meningkatkan kadar P-tersedia dalam tanah (De Datta, 1981). Penggenangan umumnya dapat meningkatkan konsentrasi fosfat terlarut dan P-tersedia (Neue and Bloom, 1989). Saat tanah sawah tergenang, reduksi Fe 3+ dapat melepaskan P terjerap (De Datta, 1986). Fosfor tidak langsung terlibat dalam reaksi oksidasi-reduksi dalam tanah tergenang, tetapi terjadi pengaktifan kembali fosfor yang bereaksi dengan besi, kalsium dan magnesium akibat sejumlah unsur redoks yang dipengaruhi oleh penggenangan tanah (Patrick and Reddy, 1978). Peningkatan kadar P-tersedia diduga terjadi akibat adanya penggenangan tanah dan peningkatan ph tanah. Penggenangan tanah dapat meningkatkan ketersediaan P bagi tanaman. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan ph pada tanah masam sehingga dapat membebaskan sebagian P- terfiksasi. Peningkatan ph tanah pada tanah masam juga dapat meningkatkan mineralisasi P-Organik (Anwar dan Sudadi, 2007). Aplikasi pupuk daun pada tanaman padi sawah tidak berpengaruh nyata berdasarkan analisis sidik ragam terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan dan Bagan Warna Daun saat berumur 3 8 MST. Namun, perlakuan pupuk daun menunjukkan tinggi tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan pembanding. Aplikasi 1 dosis PD1 memberikan tinggi tanaman paling tinggi cm. Aplikasi 1.25 dosis PD2 memberikan jumlah anakan paling banyak anakan/rumpun. Bagan warna daun (BWD) yang dihasilkan pada pada 4 MST menunjukkan skala kurang dari 4 begitu pula pada saat tanaman berumur 6 MST namun lebih baik dari umur 4 MST. Peningkatan tersebut diduga karena pemberian pupuk daun yang diberikan mengandung unsur N, P, dan K yang ketiga unsur tersebut dapat membantu pertumbuhan. Menurut Salibury dan Ross (1992), tanaman yang cukup mendapatkan nitrogen biasanya mempunyai daun berwarna hijau tua dan lebat, dengan sistem akar kerdil, sehingga nisbah tajuk-akarnya tinggi. Menurut Blevins (1994), Magnesium sangat penting di dalam berbagai aspek fotosintesis, teralokalisasi antara 10-20% pada kloroplas daun.

14 27 Berdasarkan deskripsi/karakteristik varietas Way Apoburu (Lampiran 5) jumlah anakan produktif yang dihasilkan anakan/rumpun. Pada saat vegetatif, perlakuan pupuk daun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan saat 3 8 MST. Pada saat 8 MST, perlakuan 1.25 dosis PD3 memberikan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan perlakuan kontrol. Jumlah anakan produktif merupakan jumlah anakan yang menghasilkan malai. Jumlah anakan produktif umumnya lebih sedikit karena pada masa generatif ada beberapa malai yang terlambat masa pengisiannya. Perlakuan 0.75 dosis PD3 memperlihatkan jumlah anakan produktif yang lebih banyak sekitar anakan/rumpun sedangkan perlakuan kontrol anakan /rumpun. Tanaman padi sawah memiliki bulu halus dan kandungan unsur Si yang diduga menyebabkan sulitnya pupuk daun terserap oleh tanaman itu sendiri. Letak stomata tanaman pada umumnya terletak dibelakang daun. Penguapan air dari tumbuhan berhubungan dengan kehilangan air dalam melalui stomata, kutikula, atau lentisel. Menurut Salisbury and Ross (1995) menyatakan faktor lingkungan juga mempengaruhi tidak hanya proses transpirasi dan difusi, tapi juga mempengaruhi membuka menutupnya stomata pada permukaan daun yang dilalui lebih dari 90% air yang ditranspirasikan dan CO 2. Naiknya suhu daun, misalnya meningkakan penguapan dan sedikit difusi, namun menyebabkan menutup atau membuka stomata lebih lebar. Waktu matahari terbit, stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan, dan cahaya menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembapan, makan transpirasi meningkat. Angin membawa lebih banyak CO 2 dan mengusir uap air. Hal ini menyebabkan penguapan dan penyerapan CO 2 meningkat karena menyebabkan stomata menutup sebagian. Bila daun dipanaskan oleh sinar matahari dengan panas yang melebihi suhu udara, angin akan menurunkan suhunya. Akibatnya, tranpirasi menurun. Bila kandungan air tanah terbatas, transpirasi dan penyerapan CO 2 terhambat, karena stomata menutup. Selain faktor fisiologi ada kemungkinan faktor lingkungan yang membuat perlakuan pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan tanaman. Curah hujan yang tinggi saat penelitian terutama saat aplikasi pupuk

15 28 daun oleh air hujan dan belum diserap oleh tanaman, sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap perumbuhan tanaman. Hal ini kemungkinan ada unsur hara yang dikandung oleh pupuk daun yang disemprotkan pada tanaman, memerlukan waktu untuk dapat masuk ke dalam daun sehingga bila selama waktu tersebut turun hujan atau keadaan cuaca kering dan panas, maka menjadi berkurang penyerapannya. Faktor lingkungan dan internal tanaman mempengaruhi serapan tanaman untuk menjerap pupuk daun secara efektif. Pemberian pupuk daun tidak mempengaruhi persentase gabah hampa dan bobot 1000 butir. Brady dan Weil (2002) menyatakan bahwa nitrogen penting untuk pembentukan karbohidrat dalam tanaman. Nitrogen dapat meningkatkan kepadatan gabah tanaman berbiji dan jumlah protein di dalam biji. Hasil penelitian Wegner dan Michael (1971) dalam Mengel dan Kirby (1982) menunjukkan bahwa sintesis sitokinin akan terganggu jika kebutuhan akan unsur N tidak mencukupi. Ciri defisiensi nitrogen pada tanaman serelia di antaranya yaitu menurunnya jumlah butir padi per unit area, butir padi kecil, tapi relatif mengandung protein yang tinggi. Aplikasi pupuk daun tidak nyata berpengaruh terhadap komponen hasil dan hasil tanaman. Aplikasi pupuk daun tidak memberikan hasil/tanaman, hasil/petak dan dugaan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol. Namun, aplikasi pupuk daun lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol. Perlakuan 1 dosis PD2 dan 0.75 dosis PD3 menghasilkan bobot basah dan kering per tanaman lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol. Aplikasi pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan GKP dan GKG tanaman padi sawah. Hasil GKP tertinggi diperoleh dengan aplikasi 1.5 dosis PD1 dan 1 dosis PD2 yaitu 5280 kg/ha sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan 3147 kg/ha. Hal ini mendekati dengan rata-rata hasil varietas Way Apoburu 5.5 ton/ha. Aplikasi pupuk daun efektif secara agronomis dan ekonomis terlihat aplikasi pupuk daun menunjukkan nilai RAE % pada aplikasi 1.5 dosis PD1 dan 1 dosis PD2. Efektivitas analisis usahatani menghasilkan keuntungan dua kali lipat dari perlakuan tanpa pemupukan pupuk daun (kontrol). Pemberian dosis pupuk daun hingga 1.5 dosis rekomendasi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Persentase kandungan N,

16 29 P, dan K dalam masing-masing pupuk daun sangat kecil. Hal ini yang menyebabkan kebutuhan hara tanaman tidak cukup mendorong pertumbuhan maupun hasil tanaman bila dibandingkan dengan hara yang diberikan melalui akar. Beberapa hara tanaman yang diberikan bersifat immobile yang menyebabkan aplikasi pupuk daun tidak dapat tersebar secara merata keseluruh bagian tanaman. Kebutuhan hara tanaman terhadap serapan hara yang diberikan tidak diketahui sehingga jumlah hara yang diberikan sebatas rekomendasi saja. Kebutuhan hara tanaman akan unsur makro dianggap belum mencukupi untuk mempengaruhi pertumbuhan dan hasil yang maksimal. Bila kebutuhan akan N, P, dan K terpenuhi, maka proses metabolisme yang berkaitan dengan pembentukan dan pengisian gabah padi dapat berjalan dengan baik. Bobot GKG perlakuan pupuk daun yang relatif rendah menunjukkan padi mengalami defisiensi hara N, P, dan K. Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004) semakin tinggi tingkat produksi, maka semakin tinggi hara yang dibutuhkan. Sehingga, rendahnya produksi pada perlakuan pupuk dan menunjukkan rendahnya jumlah hara yang diberikan melalui pupuk tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Tanaman padi saat berumur 1-3 MST diserang oleh hama keong mas (Pomacea caanaliculata). Hama ini menyerang dengan memakan bagian batang dan daun tanaman yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Curah hujan selama penelitian dari bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010 tergolong tinggi sampai sangat tinggi yaitu berkisar antara 242.1-415.8 mm/bulan dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 Februari 2010. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Lahan 4. 1. 1. Sifat Kimia Tanah yang digunakan Tanah pada lahan penelitian termasuk jenis tanah Latosol pada sistem PPT sedangkan pada sistem Taksonomi, Tanah tersebut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di lahan sawah Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan jenis tanah latosol. Lokasi sawah berada pada ketinggian tempat 230 meter

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 KAJIAN TEORITIS 2.1.1 Karakteristik Lahan Sawah Bukaan Baru Pada dasarnya lahan sawah membutuhkan pengolahan yang khusus dan sangat berbeda dengan lahan usaha tani pada lahan

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

PENGARUH PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) SABTI WAHYUNINGSIH A

PENGARUH PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) SABTI WAHYUNINGSIH A 1 PENGARUH PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) SABTI WAHYUNINGSIH A24062453 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di lahan sawah Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan 4 TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Padi sawah dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu : padi sawah (lahan yang cukup memperoleh air, digenangi waktu-waktu tertentu terutama musim tanam sampai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut. Penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi umum Lahan penelitian berada diketinggian 250 m diatas permukaan laut (dpl ) dengan jenis tanah latosol darmaga. Curah hujan terendah selama penelitiaan yaitu 312

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Blast Furnace Slag dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 4.1.1. ph Tanah dan Basa-Basa dapat Dipertukarkan Berdasarkan Tabel 3 dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas 4.1.1. Keadaan Cuaca Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai faktor eksternal dan faktor internalnya yaitu genetika

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, pada bulan April 2009 sampai dengan Agustus 2009. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan 4 TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2008). Tindakan mempertahankan dan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dimulai dari April 2009 sampai Agustus 2009. Penelitian lapang dilakukan di lahan sawah Desa Tanjung Rasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 9 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Karakteristik Lokasi Penelitian Luas areal tanam padi adalah seluas 6 m 2 yang terletak di Desa Langgeng. Secara administrasi pemerintahan Desa Langgeng Sari termasuk dalam

Lebih terperinci

Sumber : Nurman S.P. (http://marisejahterakanpetani.wordpress.com/

Sumber : Nurman S.P. (http://marisejahterakanpetani.wordpress.com/ Lampiran 1. Deskripsi benih sertani - Potensi hasil sampai dengan 16 ton/ha - Rata-rata bulir per-malainya 300-400 buah, bahkan ada yang mencapai 700 buah - Umur panen padi adalah 105 hari sejak semai

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Contoh Tanah Hasil analisa sudah diketahui pada Tabel 4.1 dapat dikatakan bahwa tanah sawah yang digunakan untuk penelitian ini memiliki tingkat kesuburan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama penelitian berlangsung suhu udara rata-rata berkisar antara 25.1-26.2 o C dengan suhu minimum berada pada bulan Februari, sedangkan suhu maksimumnya

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pada musim tanam pertama penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai

BAHAN DAN METODE. Pada musim tanam pertama penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Pada musim tanam pertama penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai September 2012 oleh Septima (2012). Sedangkan pada musim tanam kedua penelitian dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kajian Teoritis 2.1.1. Sawah Tadah Hujan Lahan sawah tadah hujan merupakan lahan sawah yang dalam setahunnya minimal ditanami satu kali tanaman padi dengan pengairannya sangat

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor mulai bulan Desember 2009 sampai Agustus 2010. Areal penelitian memiliki topografi datar dengan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Rumah kaca University Farm, Cikabayan, Dramaga, Bogor. Ketinggian tempat di lahan percobaan adalah 208 m dpl. Pengamatan pascapanen dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Juli 2017 memiliki suhu harian rata-rata pada pagi hari sekitar 27,3 0 C dan rata rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Juli 2017 memiliki suhu harian rata-rata pada pagi hari sekitar 27,3 0 C dan rata rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengamatan Penunjang 4.1.1 Kondisi Lingkungan Tempat Penelitian Lokasi percobaan bertempat di desa Jayamukti, Kec. Banyusari, Kab. Karawang mendukung untuk budidaya tanaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Tanah Analisis tanah merupakan salah satu pengamatan selintas untuk mengetahui karakteristik tanah sebelum maupun setelah dilakukan penelitian. Analisis tanah

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari bulan Juni sampai bulan Oktober 2011. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Peubah yang diamati dalam penelitian ini ialah: tinggi bibit, diameter batang, berat basah pucuk, berat basah akar, berat kering pucuk, berak kering akar, nisbah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Ragam Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter-karakter yang diamati. Hasil rekapitulasi analisis ragam (Tabel 2), menunjukkan adanya

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM. Sedangkan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan kedelai 25 sampai 30 c

PEMBAHASAN UMUM. Sedangkan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan kedelai 25 sampai 30 c PEMBAHASAN UMUM Aqroklimat Tatas Hasil identifikasi dan interpretasi agroklimat ber- dasarkan pengamatan unsur-unsur iklim mulai tahun 1981 sampai dengan tahun 1990 menunjukkan bahwa Kebun Percobaan Unit

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan komoditas pangan penghasil

PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan komoditas pangan penghasil PENDAHULUAN Latar Belakang Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan komoditas pangan penghasil protein nabati yang sangat penting, baik karena kandungan gizinya, aman dikonsumsi, maupun harganya yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di desa Kleseleon, kecamatan Weliman, kabupaten Malaka, proinsi Nusa Tenggara Timur pada lahan sawah bukaan baru yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Semawung, Kec. Andong, Boyolali (lahan milik Bapak Sunardi). Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, dimulai bulan

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU

PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur terhadap Sifat Kimia Tanah Pengaplikasian Electric furnace slag (EF) slag pada tanah gambut yang berasal dari Jambi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan dengan titik

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, Kasihan, Bantul dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Y ijk = μ + U i + V j + ε ij + D k + (VD) jk + ε ijk

BAHAN DAN METODE. Y ijk = μ + U i + V j + ε ij + D k + (VD) jk + ε ijk 12 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai Februari-Agustus 2009 dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor. Areal penelitian bertopografi datar dengan jenis tanah

Lebih terperinci

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.

Lebih terperinci

APLIKASI PUPUK UREA PADA TANAMAN JAGUNG. M. Akil Balai Penelitian Tanaman Serealia

APLIKASI PUPUK UREA PADA TANAMAN JAGUNG. M. Akil Balai Penelitian Tanaman Serealia APLIKASI PUPUK UREA PADA TANAMAN JAGUNG M. Akil Balai Penelitian Tanaman Serealia Abstrak. Dalam budi daya jagung perlu memperhatikan cara aplikasi pupuk urea yang efisien sehingga pupuk yang diberikan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada 27 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada 105 13 45,5 105 13 48,0 BT dan 05 21 19,6 05 21 19,7 LS, dengan

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi 4.1.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 4 MST dan 8 MST masingmasing perlakuan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Dekomposisi Jerami Padi pada Plot dengan Jarak Pematang 4 meter dan 8 meter Laju dekomposisi jerami padi pada plot dengan jarak pematang 4 m dan 8 m disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan menunjukkan tidak ada beda nyata antar

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fauna Tanah 4.1.1. Populasi Total Fauna Tanah Secara umum populasi total fauna tanah yaitu mesofauna dan makrofauna tanah pada petak dengan jarak pematang sempit (4 m)

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi padi varietas Ciherang (Supriatno et al., 2007)

Lampiran 1. Deskripsi padi varietas Ciherang (Supriatno et al., 2007) Lampiran 1. Deskripsi padi varietas Ciherang (Supriatno et al., 2007) Asal persilangan : IR 18349-53-1-3-1-3/IR 19661-131-3-1//IR 19661-131-3-1///IR 64////IR 64 Umur tanaman : 116-125 hari Bentuk tanaman

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kec. Natar Kab. Lampung Selatan dan Laboratorium

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. Kebutuhan terhadap gizi ini dapat

I. PENDAHULUAN. dalam pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. Kebutuhan terhadap gizi ini dapat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang berperan penting dalam pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. Kebutuhan terhadap gizi ini dapat diperoleh dari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran. 28 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan 4.1.1 Tinggi Tanaman Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis dan dosis amelioran tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi ciherang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teoritis 2.1.1. Lahan Sawah Tadah Hujan Sawah tadah hujan adalah lahan sawah yang sangat tergantung pada curah hujan sebagai sumber air untuk berproduksi. Jenis sawah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Tabel 4.1. Karakteristik Tanah Awal Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Tabel 4.1. Karakteristik Tanah Awal Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Pemberian dosis kotoran kambing pada budidaya secara tumpang sari antara tanaman bawang daun dan wortel dapat memperbaiki

Lebih terperinci