V. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV. METODOLOGI. Kebijakan di sektor transportasi jalan dengan investasi atau pengeluaran

VII. ANALISIS MULTIPLIER SEKTORAL DAN EFEK TOTAL

VI. ANALISIS MULTIPLIER PEMBANGUNAN JALAN TERHADAP EKONOMI

METODE PENELITIAN. menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data sekunder adalah data yang


III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data tabel FSNSE pada tahun Jenis data

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Distribusi Input dan Output Produksi

VI. ANALISIS DAMPAK INVESTASI, EKSPOR DAN SIMULASI KEBIJAKAN SEKTOR PERTAMBANGAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

BAB I PENDAHULUAN. mengatur masuk dan keluarnya perusahaan dari sebuah indutri, standar mutu

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan bidang pertambangan merupakan bagian integral dari

BAB 4 METODE PENELITIAN

(PMTB) DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) ACEH TAHUN

METODOLOGI. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

DAMPAK TRANSFER PAYMENT TERHADAP PENDAPATAN RUMAHTANGGA PETANI DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Indonesia

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Dinas Pertanian Kota Bogor,

Model Input Output dan Aplikasinya pada Enam Sektor

IV. METODE PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan

Hasil penelitian Alfirman dan Sutriono (2006) yang meneliti masalah hubungan. pengeluaran rutin dengan produk domestik bruto (PDB) menemukan bahwa

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

III. KERANGKA PENELITIAN

BAB II METODOLOGI 2.1. PENGERTIAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jadi, dengan menggunakan simbol Y untuk GDP maka Y = C + I + G + NX (2.1)

BAB II KONSEP, DEFINISI DAN METODOLOGI

III. METODE PENELITIAN

ANALISIS INPUT-OUTPUT KOMODITAS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

BAB 4 ANALISIS HASIL PENELITIAN

Sebagai suatu model kuantitatif, Tabel IO akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai: mencakup struktur output dan nilai tambah masingmasing

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

III. METODE PENELITIAN

Analisis Input-Output dengan Microsoft Office Excel

Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN Kerangka Konstruksi Sistem Neraca Sosial Ekonomi Struktur Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia 2003

Metodologi Pengertian Produk Domestik Regional Bruto Beberapa Pendekatan Penyusunan PDRB

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

Katalog BPS :

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

ekonomi K-13 PENDAPATAN NASIONAL K e l a s A. KONSEP PENDAPATAN NASIONAL Semester 1 Kelas XI SMA/MA K-13 Tujuan Pembelajaran

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG

NERACA PEMBAYARAN, PENDAPATAN NASIONAL, GDP DAN GNP

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kuncoro (2010: 4) menyebutkan bahwa pembangunan di Negara Sedang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal

Economics Development Analysis Journal

VII. PERANAN DAN DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK DALAM PEREKONOMIAN

Analisis Input-Output (I-O)

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono

IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DAN SIMULASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SUATU PEREKONOMIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengenai dampak investasi pemerintah di sektor perdagangan sebesar Rp27

M E T A D A T A INFORMASI DASAR. 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara. Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik

BAB II PENDAPATAN NASIONAL

METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Sumber Data. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (self balance), ketidakseimbangan regional (disequilibrium), ketergantungan

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. 2.1 Definisi dan Ruang Lingkup Sektor Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu sektor strategis dalam pengembangan perekonomian Indonesia

Transkripsi:

V. METODE PENELITIAN 5.. Konstruksi Model IRSAM KBI-KTI Sebagaimana telah diungkapkan dalam Bab terdahulu bahwa studi ini akan menggunakan model Sistem Neraca Sosial Ekonomi Antarregional KBI-KTI atau Interregional Social Accounting Matrix (IRSAM KBI-KTI) dengan basis data tahun 2005. IRSAM KBI-KTI disusun dengan terlebih dahulu menyusun IRIO KBI-KTI, kemudian baru menyusun IRSAM KBI-KTI. Langkah-langkah tersebut dijelaskan melalui tahapan sebagai berikut: 5... Membangun Interregional Input Output (IRIO) Mengingat keterbatasan waktu, biaya serta ketersediaan datanya, penyusunan tabel Input-Output (I-O) interregional dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan semi survei. Penelitian langsung (survei) dilakukan terhadap sektor-sektor yang terkait dengan kegiatan Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum yaitu bangunan jalan dan jembatan dan kegiatan bangunan lainnya. Informasi utama yang dikumpulkan dalam penelitian lapangan adalah terkait dengan besarnya output dan biaya-biaya input (biaya produksi) dalam proses produksi di setiap sektor Bina Margaan di Indonesia. Dengan pendekatan ini, diharapkan besarnya aktivitas ekonomi Bina Margaan di setiap wilayah dapat diukur dengan baik, begitu juga keterkaitan ekonomi antara aktivitas ke Bina Marga dengan kegiatan ekonomi lainnya dapat diidentifikasi dengan lebih akurat. Penyusunan tabel I-O interregional Tahun 2005 pada prinsipnya dibangun berdasarkan dua pondasi utama yaitu Pertama, tabel I-O regional 30 provinsi

75 tahun 2005 dan Kedua, matrik perdagangan antardaerah (trade flow matrice). Dari data yang tersedia, tabel I-O provinsi dibuat dengan tahun yang berbedabeda, oleh karena itu agar semuanya menjadi tahun 2005, beberapa provinsi dilakukan updating dengan menggunakan metode RAS. Sedangkan matrik perdagangan antardaerah beberapa sektor (komoditas) didekati dengan menggunakan data arus barang menurut pelabuhan di Indonesia dan sektor lainnya diestimasi dengan menggunakan Gravity Model. Secara lengkap tahapan dari penyusunan tabel I-O interregional adalah sebagai berikut: Tahap I: Updating Tabel I-O Provinsi (30 provinsi). Untuk Provinsi yang mempunyai tabel I-O 2005, menyusun tabel I-O klasifikasi 22 sektor dengan cara melakukan agregasi sektor. 2. Provinsi yang tidak mempunyai tabel I-O 2005, terlebih dahulu melakukan agregasi klasifikasi 22 sektor, sama dengan poin. Kemudian menyamakan level tabel I-O yang dimilikinya menjadi tahun 2005, yaitu dengan cara menyesuaikan nilai tambah bruto di setiap sektor I-O dengan Nilai Tambah Bruto PDRB dari masing-masing provinsi. Kemudian dengan koefisien input dari tabel I-O yang ada dihitung struktur input tabel I-O tahun 2005. Hal yang sama juga dilakukan untuk permintaan akhir, komponen total permintaan akhir untuk masing-masing institusi diganti dengan PDRB menurut penggunaan tahun 2005. Kemudian dengan struktur konsumsi dari tabel I-O yang ada dihitung struktur permintaan akhir tabel I-O tahun 2005. Selanjutnya dilakukan proses penyeimbangan input dan output dengan metode RAS, sampai total input dan total output untuk setiap sektor sama.

76 3. Setelah tabel I-O 30 provinsi dengan 22 sektor terbentuk, dilakukan penggabungan I-O untuk provinsi-provinsi berdasarkan kawasan. Sehingga diperoleh tabel I-O Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia. Tahap 2: Penyusunan Matriks Perdagangan Antardaerah Pendekatan arus barang digunakan Transportations Flow dimana data arus barang tersebut mempunyai kontribusi yang sangat signifikan. Data yang digunakan adalah data arus barang menurut pelabuhan tahun 2005. Secara rinci langkah penyusunannya sebagai berikut : Langkah : Data ekspor antarkawasan hasil tabel I-O KBI atau KTI akan didistribusikan ke kawasan lain, dan menjadi impor di kawasan tersebut. Mekanisme destinasi dari ekspor AP menjadi impor AP dapat dilihat pada Gambar 32. Langkah 2:Koefisien input perdagangan antardaerah didapat dengan menggunakan proporsi ketersediaan barang di suatu wilayah dengan permintaan dari wilayah lainnya. Selanjutnya akan didapatkan hasil suatu matrik tabel I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen yang tidak mengandung barang dan jasa dari wilayah lainnya. Seperti terlihat pada Gambar 33 (Tabel Z).

77 77 DATA Data ARUS Arus BARANG Barang Tabel I-O Total Destinasi Impor Komoditi dari Propinsi NAD Ke wilayah Tujuan TUJUAN ASAL SEKTOR IMPOR TOTAL NAD. PAPUA JML LN Destinasi Impor Komoditi dari Propinsi NAD Ke wilayah Tujuan TUJUAN ASAL SEKTOR IMPOR TOTAL NAD. PAPUA JML LN Tabel IO Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen Prop. NAD Final Demand Industri 305 409 Total Output 30 304 AP LN AP LN. NAD.. NAD.. Total input Destinasi Impor Komoditi dari Propinsi Papua Ke wilayah Tujuan TUJUAN ASAL SEKTOR IMPOR TOTAL NAD. PAPUA JML LN Destinasi Impor Komoditi dari Propinsi Papua Ke wilayah Tujuan TUJUAN ASAL SEKTOR IMPOR TOTAL NAD. PAPUA JML LN Tabel IO Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen Prop. Papua Final Demand Industri 5 409 Total Output 4 AP LN AP LN. PAPUA.. PAPUA.. Total input Ekspor AP Impor AP 2 Tabel bantu RSP (Modified ) Prp. NAD x E tot M tot M LN RSP LN RSP LN. M NAD RSP NAD Gambar 32. Prosedur Penyusunan Koefisien Input Antardaerah RSP PAPUA RSP NAD. x E tot M tot M papua RSP papua. Perkalian matriks RSP LN dengan Tabel IO Total produsen NAD menghasilkan Tabel IO Total Produsen yg tdk mengandung impor dari Luar negeri. Dan seterusnya berlaku untuk i wilayah lain selain yang bersangkutan. Misal Tabel Z RSP prop = X prop - E prop + M prop M luar prop. X prop - E prop + M prop

78 Tabel IO Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen Prop. NAD Final Demand Industri 305 409 Total Output 30 304 AP LN AP LN Matriks Total Produsen Tanpa Impor Wilayah i NAD Matriks Total Produsen Tanpa Impor Wilayah i PAPUA Matriks Perdagangan Antar Propinsi ( Trade Flow ) TUJUAN NAD PAPUA LN TOTAL....... Total input Tabel IO Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen Prop. Papua Final Demand Industri 5 409 Total Output 4 AP LN AP LN. Total input ASAL PAPUA LN.. NAD.. TOTAL..... ASAL PAPUA LN.. NAD.. TOTAL..... ASAL NAD LN PAPUA...... TOTAL Tabel IO Total produsen Tabel Z Sehingga diperoleh Matriks Impor Provinsi NAD yang berasal dari wilayah lain dengan cara mengurangi Tabel IO Total Produsen dengan tabel Z yang dikenal sebagai Matriks Perdagangan Antar Provinsi Gambar 33. Prosedur Penyusunan Matriks Antardaerah 78

79 Tahap 3: Penyusunan Tabel I-O Interregional Setelah tabel I-O KBI dan KTI dan matriks perdagangan sudah tersusun, maka langkah selanjutnya adalah menyusun Tabel Input-Output KBI-KTI dengan mekanisme, seperti yang terlihat pada Gambar 34. Penjelasan alur penyusunan tabel I-O antarkawasan 2005 adalah sebagai berikut: Langkah : Memasukkan input antara tabel I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen single region ke dalam diagonal sektor tabel I-O antarprovinsi, hal yang sama dilakukan untuk komponen permintaan akhirnya. Langkah 2 : Memasukkan input primer masing-masing provinsi ke dalam baris input primer pada tabel I-O antarkawasan. Langkah 3 : Memasukkan nilai ekspor barang dan jasa dari suatu provinsi ke luar negeri. Langkah 4 : Mengisi nilai impor barang dan jasa yang masuk dari luar negeri ke suatu kawasan. Langkah 5 : Melakukan pengisian arus perdagangan antardaerah masing-masing kawasan.

80 A. Tabel IO 30 Provinsi Input INPUT ANTARA Input Primer Total Input NAD.. PAPUA. Lokal Dom Impor 22.. 22.. 22 Tabel Input Output Interregional Indonesia, 2005 Permintaan Antara Jml Final Demand NAD. PAPUA Ekspor PA 22.... 22 Nad. Papua Total Output 2 input antara 22 Impor Input primer Tabel I-O Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Prop. Papua Permintaan Permintaan Akhir 305 409 Total Output Antara 30 304 AP LN AP LN B. Matriks Perdagangan Antar Daerah Matriks Perdagangan Antar Propinsi ( Trade Flow ) TUJUAN NAD PAPUA LN..22..22..22 TOTAL 3 NAD.. 22 ASAL LN PAPUA.... 22 22 TOTAL Gambar 34. Prosedur Penyusunan Tabel I-O Interregional Tahun 2005 80

8 5..2. Penyusunan IRSAM Pada prinsipnya, transaksi dalam tabel IRIO adalah transaksi antarsektor ekonomi dan antarwilayah. Sedangkan transaksi yang ada didalam tabel IRSAM adalah transaksi 4 neraca pokok. Keempat neraca pokok yang dimaksud adalah neraca faktor produksi, neraca institusi, neraca sektor produksi dan neraca lainnya. Tabel 23. Tabel I-O Sektor 2 80 30 302 303 304 305 309 30 409 600 00 50 250 00 5 25-20 60 40 50 260 2 60 00 60 220 45 30 5 70 370 530 30 400 90 60 250 40 320 60 55 5 90 530 940 280 660 20 40 60 00 202 50 75 25 203 5 0 5 204 5 5 0 205 - - - 209 00 50 250 20 260 400 660 Keterangan : dan 2 : Sektor Ekonomi 30 : Konsumsi Rumahtangga 200 : Impor 302 : Konsumsi Pemerintah 20 : Upah / Gaji 303 : Pembentukan Modal 202 : Surplus Usaha 304 : Perubahan Stok 203 : Penyusutan 305 : Ekspor 204 : Pajak Tak Langsung 309 : Permintaan Akhir 205 : Subsidi 30 : Total Permintaan 209 : Nilai Tambah Bruto 409 : Impor 20 : Total Input 600 : Total Penyediaan Guna memudahkan pemahaman penyusunan IRSAM dengan berbasis data pada IRIO, maka dalam contoh di atas (Tabel 23) menggunakan satu wilayah,

82 karena tahapan penyusunannya sama, adapun contoh transfernya dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Kerangka Dasar SAM Penerimaan Faktor Pengeluaran Sektor Neraca Total Produksi produksi lainnya Alokasi Pendapatan Distribusi Faktor Produksi 0 0 Nilai Tambah ke Faktor Faktor Produksi dari Luar Negeri Pendapatan Faktorial Produksi Alokasi Pendapatan Faktor Produksi ke Transfer Antarinstitusi 0 Transfer dari Luar Negeri Distribusi Pendapatan Sektor Produksi 0 Permintaan Akhir Permintaan Antara Ekspor dan Investasi Total Output Alokai Impor, Neraca lainnya Pendapatan Faktor Produksi ke Tabungan, Pajak Tidak Langsung Transfer dan Neraca lainnya Total Penerimaan Lainnya Luar Negeri Distribusi Distribusi Total Total Pengeluaran Faktorial Pengeluaran Total Input Penngeluaran Lainnya Dari kerangka dasar SAM pada Tabel 24 kemudian dikembangkan menjadi tabel SAM yang ada pada Tabel 25. Tabel 26 adalah data tabel SAM dari tabel I-O dan Tabel 27 adalah tabel SAM Transfer Data yang bersal dari dari tabel I-O

83 83 Tabel 25. Pengembangan Kerangka Tabel SAM Penerimaan Pengeluaran 2 3 4 5 6 7 8 9 0 Total Tenaga Kerja Balas jasa Faktor Penerimaan Faktor FP dr LN Produksi Modal 2 F.P. Produksi Rumahtangga 3 Pendapatan Transfer Total Pene- Transfer Perusahaan 4 dari Faktor Antar- rimaan dari LN Pemerintah 5 Produksi institisi PTLN 6 Kons. Kons. Sektor rumah Peme Produksi 2 7 tangga rintah Input Antara Investasi Ekspor Total Output Neraca Capital 8 Tabungan Hutang Pembelan jaan Akumulasi Pajak Tak Langsung Netto 9 Pajak tidak langsung neto PTLN Penerimaan Luar Negeri 0 FP ke LN Transfer ke LN transaksi Berjalan Total Pengeluar Pengeluaran Pajak Total Pengeluaran an Tran- Faktor Total Input Investasi tidak lang saksi Produksi sung neto Berjalan

84 Tabel 26. Data Tabel SAM dari Tabel I-O Penerimaan Pengeluaran 2 3 4 5 6 7 8 9 0 Total Faktor Tenaga Kerja 20, 202 dan Penerimaan FP dari LN Produksi Modal 2 203 per sektor F.P. Rumahtangga 3 Transfer Total Pendapatan dari Trans fer Perusahaan 4 Antar Penerimaan Faktor Produksi dari LN Pemerintah 5 Institisi 204 + 205 6 302 Sektor 30 per per Produksi 2 7 sektor sektor Quadran I 303 305 Total Output Neraca capital 8 Tabungan Hutang Pembelanjaan Akumulasi Pajak Tak Langsung Neto 9 204 + 205 PTLN Penerimaan Luar Negeri 0 FP ke LN Transfer ke LN transaksi Berjalan Total Pengeluaran Faktor Produksi Total Pengeluaran Total Input Investasi Pajak Tak Lang sung Neto Pengeluaran Transaksi Berjalan 84

85 85 Tabel 27. Tabel SAM Transfer Data dari Tabel I-O Penerimaan Pengeluaran 2 3 4 5 6 7 8 9 0 Total Faktor Produksi Tenaga Kerja 40 60-00 Modal 2 55 85 ##### 40 Rumahtangga 3 00 ###### ###### ###### ###### ##### 00 Perusahaan 4 ###### ###### ###### ###### ##### ###### Pemerintah 5 ###### ###### ###### ###### 0 ##### 0 Sektor Produksi 6 00 5 00 50 25 20 255 2 7 220 45 60 00 70 395 Neraca Capital 8 ###### ###### ###### ##### 60 Pajak Tak Langsung Neto 9 5 5 0 Luar Negeri 0 -###### ##### ###### ###### 280 Total 00 40 320 ##### 60 255 395 60 0 280 Keterangan : - Tanda panah menunjukan alur transfer nilai. - ## menunjukan transaksi yang tidak bisa langsung diperoleh dari transaksi tabel I-O

86 Gambaran tersebut merupakan hasil maksimal transfer dari tabel I-O ke tabel SAM. Untuk melengkapi transaksi dari tabel lain diperlukan data-data tambahan, misalnya :. Alokasi Faktor Produksi Modal Faktor produksi bukan tenaga kerja disebut dengan faktor produksi modal. Balas jasa dari faktor produksi modal berupa keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah dan sebagainya. Balas jasa tersebut diperoleh dari penyertaan faktor produksi modal dalam kegiatan ekonomi. Balas jasa faktor produksi modal dikenal juga sebagai pendapatan kapital. Pendapatan kapital kemudian dirinci menjadi sektor produksi dan golongan rumahtangga. Misalnya total balas jasa yang diterima oleh faktor produksi modal yang diduga berdasarkan survei-survei tersebut harus sama dengan total surplus usaha pada tabel I-O. Misalnya hasil penghitungan menunjukan bahwa dari balas jasa modal yang ada 30% merupakan diterima oleh rumahtangga, 45% diterima perusahaan, 5% diterima pemerintah dan sisanya 20% milik luar negeri. Dengan demikian, karena balas jasa modal sebesar 40, maka balas jasa modal yang diterima rumahtangga sebesar 42, perusahaan domestik 63, pemerintah 7 dan balas jasa modal yang ke luar negeri 28. Disamping itu juga diperoleh informasi bahwa perusahaan X memperoleh keuntungan dari hasil kerja bisnis propertinya di luar negeri sebesar 0. Maka ada transfer balas jasa modal dari luar negeri sebesar 0 dan pendapatan perusahaan domestik dari balas jasa modal menjadi 73.

87 2. Transfer Transfer dalam SAM dirinci atas penerimaan dan pengeluaran transfer dari atau kepada, () rumahtangga, (2) perusahaan, (3) pemerintah, dan (4) luar negeri. Transfer dari rumahtangga dikeluarkan hanya untuk rumahtangga dan untuk pemerintah. Misalnya, hasil penghitungan menunjukan bahwa matrik transfer antarinstitusi seperti pada Tabel 28. Tabel 28. Matrik Transfer Antarinstitusi Penerimaan Pengeluaran Rumahtangga Perusahaan Pemerintah Luar Negeri Rumahtangga 0 7 2 79 Perusahaan - 0-7 Pemerintah 5 5 8 45 Luar Negeri 8 48 9-3. Konsumsi a. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Pengeluaran konsumsi rumahtangga adalah pengeluaran rumahtangga untuk barang dan jasa, misalnya untuk sandang, pangan dan papan. Pengeluaran tersebut tidak termasuk pengeluaran transfer rumahtangga. Pengeluaran konsumsi rumahtangga mencakup pengeluaran lembaga swasta nirlaba, karena pengeluaran lembaga ini dianggap sebagai bagian pengeluaran rumahtangga. Sumber data utama yang digunakan untuk menduga pengeluaran konsumsi rumahtangga adalah tabel I-O Indonesia dan survei-survei mengenai rumahtangga, seperti SUSENAS, SKTIR dan lainnya. Total pengeluaran konsumsi rumahtangga tersebut kemudian didistribusikan sesuai dengan yang terdapat pada tabel I-O.

88 b. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup unit pemerintah pusat yang terdiri dari departemen, lembaga non Departemen, lembaga tinggi negara dan lembaga pemerintah lainnya di daerah, serta pemerintah provinsi (daerah tingkat I), pemerintah kabupaten atau kota (daerah tingkat II) dan pemerintah desa. Pengeluaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), bukan bagian dari pengeluaran konsumsi pemerintah. Pengeluaran dari badan usaha tersebut digabungkan dengan sektor industri sesuai dengan jenis usahanya. Pengeluaran konsumsi pemerintah adalah pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa, seperti upah dan gaji, pembelian alat-alat kantor (ATK) dan sebagainya. Pengeluaran disini tidak termasuk transfer pemerintah. Sumber data utama yang digunakan untuk menduga pengeluaran konsumsi pemerintah adalah publikasi neraca keuangan pemerintah. Distribusi pengeluaran konsumsi pemerintah tersebut kemudian disesuaikan dengan tabel I-O, dengan memperhatikan perbedaan konsepsi antara pengeluaran pemerintah yang terdapat dalam tabel I-O dengan SNSE, yaitu mengenai subsidi kesehatan dan pendidikan. 4. Tabungan Tabungan adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi. Kadang-kadang tabungan juga merupakan neraca residual dalam kerangka SAM atau SNSE Indonesia. Hal ini dilakukan karena ketidaktersediaannya data mengenai tabungan secara lengkap.

89 Misalnya hasil penghitungan menunjukan bahwa besar tabungan rumahtangga sebesar 2.9% dari total konsumsi rumahtangga, keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan sebesar 27.40% dari keuntungan modal yang diterima perusahaan dan tabungan pemerintah sebesar 8.33% dari total konsumsi pemerintah. Dengan demikian, maka besar tabungan rumahtangga sebanyak 7, tabungan perusahaan 20 dan tabungan pemerintah. Dari informasi-informasi tambahan diatas, maka SAM-nya akan menjadi seperti yang ada dalam Tabel 29 dibawah ini. Tahapan yang sama juga dilakukan untuk menyusun tabel IRIO menjadi IRSAM. Tabel 29. Tabel SAM Lengkap Penerimaan Pengeluaran 2 3 4 5 6 7 8 9 0 Total Faktor Produksi Tenaga Kerja 40 60-00 Modal 2 55 85 0 50 Rumahtangga 3 00 42 0 7 2 79 0 Perusahaan 4 73 0 7 00 Pemerintah 5 7 5 5 8 20 45 00 Sektor Produksi 6 00 5 00 50 25 20 40 2 7 220 45 60 00 70 530 Neraca capital 8 7 20 22 60 Pajak Tak Langsung Netto 9 5 5 20 Luar Negeri 0-28 8 48 9 50 30 363 Total 00 50 0 00 00 40 530 60 20 363 5..3. Disagregasi Sektor Bangunan dan Klasifikasi Rumahtangga Dalam IRSAM yang terbentuk, dari 22 sektor ekonomi yang ada, kegiatan pendirian bangunan, pembuatan jalan dan jembatan, pemasangan instalasi, serta kegiatan konstruksi lainnya tergabung dalam sektor bangunan/konstruksi. Untuk

90 kepentingan penelitian, sektor bangunan tersebut di disagregasi menjadi sektor bangunan jalan dan jembatan, serta sektor bangunan lainnya. Sumber data disagregasi berasal dari publikasi statistik konstruksi yang menerangkan penyelesaian kegiatan konstruksi setiap tahun berdasarkan kelompok kegiatannya. Dari informasi tersebut dapat ditetapkan output sektor bangunan jalan dan jembatan serta output kegiatan bangunan lainnya. Kemudian struktur input dari kegiatan bangunan jalan dan jembatan di peroleh berdasarkan publikasi statistik konstruksi dan kajian teknis tentang kebutuhan biaya antara pembangunan jalan dan jembatan. Sedangkan untuk struktur input sektor bangunan lainnya diperoleh dari hasil pengurangan nilai struktur input sektor bangunan dikurangi dengan nilai struktur input bangunan dan jembatan. Sebagaimana diketahui, bahwa sektor bangunan/konstruksi merupakan barang investasi, sehingga semua output dari sektor ini menjadi komponen investasi di permintaan akhir. Pemilihan Sektor didasarkan pada kebutuhan analisis dan ketersediaan data yang akurat untuk kawasan KBI maupun KTI. Sehingga ditetapkan sektor ekonomi hanya berjumlah 36 sektor, disesuaikan dengan jumlah sub sektor PDB/PDRB. Disamping itu, sesuai kebutuhan analisis, sektor bangunan yang hanya ada sektor di PDB/PDRB dipisahkan menjadi 2 sektor, yaitu sektor bangunan jalan dan jembatan dan sektor bangunan lainnya. Pemisahan sektor bangunan tersebut didasarkan pada publikasi statistik konstruksi 2005, yang didalamnya menggambarkan jenis kegiatan konstruksi yang dilakukan pada tahun 2005. Gambaran tersebut juga menceritakan kegiatan konstruksi yang

9 diselesaikanpada tahun tersebut, setengah selesai, serta gambaran biaya yang diperlukan untuk masing-masing jenis kegiatan konstruksi. Untuk rumahtangga, pemisahannya berdasarkan klasifikasi penggolongan rumahtangga menurut World Bank. Dimana klasifikasi rumahtangga dibedakan menjadi 3, yaitu 40% rumahtangga berpendapatan paling rendah sebagai rumahtangga golongan rendah, 40% rumahtangga berpendapatan diatasnya sebagai rumahtangga golongan sedang, dan 20% rumahtangga berpendapatan paling atas sebagai rumahtangga golongan atas. Dalam proses penyusunannya, rumahtangga kota dan desa, masing-masing disortir dari rumahtangga yang berpendapatan paling rendah sampai ke rumahtangga yang paling tinggi. Kemudian diambil 40% paling rendah, 40% diatasnya dan 20% paling tinggi. Penetapan pakai persentase rumahtangga, bukan batas pendapatan. Karena jika pakai pendapatan, ketika ada inflasi atau perubahan harga, nilainya cenderung sudah berubah. Susenas selama ini dikenal hanya menggambarkan pola konsumsi rumahtangga Indonesia. Padahal, didalam questioner susenas juga terdapat item yang menggambarkan pendapatan rumahtangga, sumber pendapatan rumahtangga (upah/gaji, surplus dan pendapaan kapital) dan besarnya penerimaan dan pengeluaran transfer, sehingga data susenas cukup untuk membuat neraca rumahtangga. Neraca luar negeri yang sudah tergambar dalam tabel input output adalah ekspor dan impor barang/jasa. Sedangkan arus transfer berjalan dan transfer modal diperoleh dari Balance of Payment (BOP) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

92 5.2. Metode Analisis Analisis yang dilakukan dalam studi ini adalah sebagai berikut: () menggunakan nilai-nilai yang diekstrak dari tabel IRSAM KBI-KTI 2005, (2) menganalisis keterkaitan sektor-sektor produksi baik intra maupun interregional, (3) menganalisis efek multiplier (pengganda) output, nilai tambah, dan distribusi pendapatan institusi baik intra maupun interregional, dan (4) menganalisis dampak perubahan ekonomi suatu wilayah terhadap wilayah lain (spillover effect) dan terhadap perekonomian wilayah itu sendiri (self-generate effect), yang muaranya adalah menemukan pola ketergantungan ekonomi antara KBI dan KTI. Analisis dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif, untuk menjawab tujuan penelitian Pertama, Kedua dan Ketiga yaitu untuk mengetahui efek pembangunan jalan dan jembatan terhadap perekonomian meliputi pendapatan faktor produksi, pendapatan rumahtangga dan pendapatan sektor produksi baik intra maupun interregional KBI dan KTI yang dilakukan dengan analisis multiplier (pengganda) IRSAM KBI-KTI dan Keempat, untuk mengetahui besar peranan sektor pembangunan infrastruktur jalan terhadap perubahan pendapatan rumahtangga di KBI dan KTI dengan structural path analysis (analisis jalur struktural) sedangkan Kelima, untuk mengetahui dampak kebijakan pengembangan infrastruktur jalan Nasional terhadap ketimpangan pendapatan rumahtangga baik intra maupun interregional dan nilai tambah KTI dan KBI dilakukan dengan analisis simulasi kebijakan dan analisis distribusi pendapatan. 5.2.. Analisis Multiplier Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan Terhadap Pendapatan Faktor Produksi Pertambahan pendapatan rumahtangga sebagai efek dari pembangunan infrastruktur jalan, bukan saja berasal dari faktor produksi tenaga kerja, namun

93 juga dapat bersumber dari kepemilikan lahan dan modal. Dengan kata lain, stimulus fiskal untuk pembangunan infrastruktur jalan akan memberi efek multiplier terhadap pertambahan pendapatan faktor produksi tenaga kerja, lahan dan modal. Seluruh fenomena ini dapat dipotret secara komprehensif melalui analisis multiplier IRSAM, khususnya multiplier sektor infrastruktur jalan terhadap faktor-faktor produksi. 5.2.2. Analisis Multiplier Pembangunan Jalan dan Jembatan Terhadap Pendapatan Rumahtangga Sumber pendapatan rumahtangga berasal dari intra dan interregional. Sumber pendapatan intraregional, yaitu pendapatan berbagai kelompok rumahtangga yang berasal dari berbagai sumber di dalam wilayahnya sendiri, sedangkan pendapatan rumahtangga interregional yakni pendapatan berbagai kelompok rumahtangga yang berasal dari berbagai sumber wilayah lain. Faktor-faktor produksi berupa tenaga kerja, lahan dan modal seluruhnya dimiliki oleh rumahtangga. Oleh karenanya, segala perolehan pendapatan dari pemanfaatan tenaga kerja, modal dan lahan oleh suatu sektor pembangunan akan di transfer langsung ke rumahtangga. Dalam hal ini rumahtangga yang menerima transfer tersebut dapat distratakan menjadi rumahtangga berpendapatan rendah, sedang dan tinggi, serta dapat dipisahkan menurut wilayah kota dan desa sebagaimana yang dilakukan dalam studi ini. 5.2.3. Analisis Multiplier Pembangunan Jalan dan Jembatan Terhadap Pendapatan Sektor Produksi Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan diyakini mampu menggerakkan sektor riil dan memicu kegiatan produksi, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk mengungkap fenomena ini dapat

94 diperhatikan dari besarnya nilai multiplier sektor infrastruktur jalan dan jembatan terhadap pendapatan sektor-sektor ekonomi. Menganalisis keterkaitan sektor-sektor produksi baik intra maupun interregional. Analisis keterkaitan antara sektor-sektor produksi dapat dilihat dari dua sisi, keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan (forward linkages). Keterkaitan ke belakang menunjukkan daya penyebar, artinya kalau terjadi peningkatan permintaan akhir terhadap suatu sektor tertentu maka sektor tersebut akan mendorong peningkatan output semua sektor dengan kelipatan sebesar nilai multipliernya. Backward linkages menggambarkan keterkaitan antarsektor (aktivitas) produksi yang berada di berada di hilir (downstream sectors) dengan sektor-sektor produksi yang berada di hulu (upstream sectors). Sisi pandangnya adalah dari hilir ke hulu, dimana sektor yang berada di hilir sebagai pembeli input yang dihasilkan oleh sektor yang berada di hulu. Keterkaitan ke depan (forward linkages) menunjukkan derajat kepekaan suatu sektor tertentu terhadap permintaan akhir semua sektor-sektor lainnya. Dengan kata lain, jika terjadi kenaikan permintaan akhir pada semua sektor produksi maka suatu sektor tertentu akan memberikan respon dengan manaikkan output sektor tersebut dengan kelipatan sebesar koefisien multipliernya. Forward linkages menggambarkan keterkaitan antarsektor (aktifitas) produksi yang berada di hulu (up stream sectors) dengan sektor-sektor produksi yang berada di hilir (downstream sectors). Sisi pandangnya adalah sebagai penjual input dan koefisisen multipliernya menunjukkan kemampuan menjual sektor hulu tersebut apabila terjadi kenaikan permintaan akhir pada semua sektor ekonomi. Forward

95 linkages akan eksis apabila peningkatan produksi oleh sektor hulu (upstream sector) memberikan dampak eksternalitas positif terhadap sektor-sektor hilir (downstream sectors). 5.2.4. Analisis Jalur Struktural Penggunaan analisis jalur structural atau Structural Path Analysis (SPA) dimaksudkan untuk memperjelas jalur keterkaitan antara sektor infrastruktur jalan dan jembatan ke rumahtangga. Metode SPA mampu menunjukkan bagaimana pengaruh transmisi dari satu sektor ke sektor lainnya secara bersambungan dalam suatu gambar. Di dalam SPA, masing-masing elemen pada multiplier SAM dapat didekomposisi ke dalam pengaruh langsung, total, dan global. Ini berarti, SPA itu pada dasarnya adalah sebuah metoda yang dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh jaringan yang berisi jalur yang menghubungkan pengaruh suatu sektor pada sektor lainya dalam suatu sistem sosial ekonomi. Pengaruh dari suatu sektor ke sektor lainnya tersebut dapat melalui sebuah jalur dasar (elementary path) atau sirkuit (circuit) (Prihawantoro, 2002). Menurut Defourny dan Thorbecke (988) dalam Daryanto (200) bahwa metode dekomposisi yang konvensional tidak mampu untuk menguraikan multiplier ke dalam transaksi komponennya atau untuk mengidentifikasi transaksi dengan menyertakan suatu keterkaitan secara berurutan. Dekomposisi multiplier yang konvensional hanya mampu menguraikan pengaruh-pengaruh dalam dan antara neraca endogen saja. Untuk menganalisis jalur struktural dari semua sektor ekonomi tersebut digunakan perangkat lunak Matrix Accounts Transformation System (MATS) version.0.5.

96 5.2.5. Analisis Dampak Kebijakan Pengembangan Jaringan Jalan Nasional Analisis dampak kebijakan pengembangan jaringan jalan Nasional dilakukan dengan (a) analisis simulasi dan (b) analisis distribusi pendapatan.. Analisis Simulasi Analisis simulasi dilakukan untuk: () melihat sensitifitas perekonomian suatu wilayah terhadap perubahan ekonomi wilayah lain, (2) menelusuri struktur ekonomi interregional, dan (3) menemukan alternatif kebijakan pembangunan ekonomi regional yang bermuara pada pemerataan pendapatan rumahtangga intraregional dan interregional. Simulasi dengan cara merubah variabel eksogen (injeksi) dalam hal ini dengan menambah panjang atau membangun infrastruktur jalan terhadap neraca endogen yaitu pendapatan domestik regional bruto, kesempatan kerja, nilai tambah bruto dan distribusi pendapatan di KBI dan KTI. Skenario kebijakan pembangunan ekonomi regional diarahkan untuk meningkatkan perekonomian KTI agar setara dengan KBI. Analisis simulasi kebijakan digunakan untuk mengetahui dampak kebijakan di sektor infrastruktur jalan dan jembatan terhadap perubahan output sektoral, pendapatan tenaga kerja dan rumahtangga. Perubahan pendapatan tersebut yang akan dijadikan dasar untuk melakukan analisis distribusi pendapatan. Dalam analisis jalur struktural atau SPA sebelumnya telah diungkap bagaimana efek multiplier pembangunan sektor infrastruktur jalan dan jembatan tersebut dipancarkan ke rumahtangga ketika ada injeksi dana stimulus sebesar satu rupiah. Analisis skenario kebijakan pengembangan sistem jaringan jalan nasional, dana stimulus tidak lagi sebesar satu rupiah, namun sebesar nilai yang

97 sudah ditetapkan dalam simulasi kebijakan yaitu berdasarkan Konsep Jaringan Jalan Nasional dimana untuk KBI bertambah 2.32.28 km dan KTI bertambah 3.48.93 km (Bina Marga, 2009). Adapun simulasi-simulasi kebijakan yang diaplikasikan dalam studi saat ini adalah sebagai berikut: Simulasi : Stimulus fiskal untuk penambahan Jalan Nasional di KBI sepanjang 2.32.28 km dan di KTI sepanjang 3.48.93 km, sesuai dengan Konsep Jaringan Jalan Nasional 2009. Simulasi 2 : Stimulus fiskal untuk penambahan Jalan Nasional di KBI saja sepanjang 2.32.28 km. Simulasi 3 : Stimulus fiskal untuk penambahan Jalan Nasional di KTI saja sepanjang 3.48.93 km. Simulasi 4 : Seluruh dana stimulus penambahan Jalan Nasional diberikan pada KBI saja sepanjang 5.803.2 km. Simulasi 5 : Seluruh dana stimulus penambahan Jalan Nasional diberikan pada KTI saja sepanjang 5.803.2 km. Dalam simulasi-simulasi diatas, penambahan panjang jalan (km) di ekivalenkan terlebih dahulu dalam satuan moneter (Rupiah) yaitu di kalikan dengan estímate harga satuan penanganan jalan rata-rata baik untuk KBI maupun KTI. Harga satuan penanganan jalan merujuk pada data hasil studi Bina Marga (Bina Marga, 2009). Penanganan jalan yang dimaksud meliputi pekerjaan preservasi jalan termasuk jembatan (pemeliharaan, rehabilitasi dan rekonstruksi) dan pembangunan Jalan (pelebaran dan pembangunan baru). Hasil simulasi kebijakan berupa penjabaran besarnya persentase perubahan pendapatan

98 rumahtangga saat ada injeksi dana stimulus di sektor infrastruktur jalan dan jembatan serta perubahan kenaikan pendapatannya dari nilai dasar (baseline). 2. Analisis Distribusi Pendapatan Untuk mengukur kesenjangan atau ketimpangan yang digunakan dengan cara () Maximum to Minimum Ratio (MMR) dan (2) Coefficient of Variation (CV). Analisis distribusi pendapatan antara berbagai kelompok rumahtangga baik dengan cara Maximum to Minimum Ratio maupun Coefficient of Variation yaitu dengan menghitung selisih, penurunan indeks ketimpangan pendapatan antargolongan rumahtangga dari angka base baik intra maupun interregional KBI dan KTI, demikian pula dengan ketimpangan nilai tambah (PDRB) interregional KBI dan KTI juga dihitung selisih dari nilai base. Dengan demikian, dapat diketahui perubahan ketimpangan antar rumahtangga intra KBI dan KTI, interregional KBI-KTI (Nasional) serta perubahan ketimpangan nilai tambah interregional KBI-KTI.