TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono
|
|
|
- Liani Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UNIVERSITAS INDONESIA TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono NAMA Sunaryo NPM I Made Ambara NPM Kiki Anggraeni NPM 090xxxxxxx Widarto Susilo NPM M. Indarto NPM FAKULTAS EKONOMI PROGRAM MAGISTER ILMU EKONOMI DEPOK MARET
2 Analisis Input Output Perekonomian Indonesia Tahun 2008 I. Pendahuluan Dalam merumuskan suatu kebijakan pembangunan ekonomi, pengambil kebijakan haruslah memprioritaskan pembangunan pada sektor-sektor tertentu dalam perekonomian, mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, apabila ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka pembangunan ekonomi harus diutamakan pada sektor-sektor yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor-sektor di hulu dan hilirnya. Selanjutnya, keterkaitan antar-sektor yang kuat ini dapat berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Demikian pula, jika tingkat pengangguran yang rendah ingin terpenuhi, maka pembangunan ekonomi harus diprioritaskan pada sektor-sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Pemilihan sektor-sektor prioritas tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis tabel Input- Output (IO). Terdapat beberapa konsep untuk menganalisis tabel IO yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan tersebut, seperti konsep multiplier output, multiplier pendapatan rumah tangga dan multiplier kesempatan kerja, yang mengukur dampak perubahan permintaan akhir untuk output suatu sektor masing-masing terhadap output, income rumah tangga dan kesempatan kerja di seluruh sektor dalam perekonomian. Selain itu, terdapat konsep indeks keterkaitan ke belakang dan kedepan yang terkait erat dengan konsep Key Sektors, indeks kesempatan kerja dan indeks pendapatan masyarakat. Berkenan dengan pemilihan sektor prioritas tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 1. Bagaimana struktur Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per-sektor, struktur PDB berdasarkan pengeluaran, struktur output dan input perekonomian Indonesia di tahun 2008? 2. Sektor-sektor apa yang tinggi pengaruhnya terhadap peningkatan output seluruh sektor, memiliki keterkaitan tinggi dengan sektor lain di hulu/hilirnya dan yang termasuk kategori Key Sektors? 3. Sektor-sektor apa saja yang tinggi pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan seluruh pekerja dalam perekonomian? 4. Sektor-sektor apa saja yang banyak menyerap tenaga kerja? 5. Dengan simulasi, bagaimana pengaruh perubahan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan output seluruh sektor dalam perekonomian? 3
3 II. Sumber Data Tabel IO yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari buku hasil publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), dimana dalam buku tersebut, perekonomian Indonesia diklasifikasikan kedalam 66 sektor. Selanjutnya, untuk menyederhanakan analisis, 66 sektor tersebut perlu dikelompokkan ulang menjadi 19 sektor, dengan mengacu pada petunjuk konversi yang diberikan oleh BPS. Adapun, kesembilan belas sektor tersebut ditunjukkan oleh tabel II.1. Tabel II.1 Kode dan Nama 19 Sektor Kode Nama Sektor 1 Padi 2 Tanaman Bahan Makanan lainnya 3 Tanaman Pertanian Lainnya 4 Peternakan dan hasil-hasilnya 5 Kehutanan 6 Perikanan 7 Pertambangan dan penggalian 8 Industri makanan, minuman, dan tembakau 9 Industri lainnya 10 Pengilangan minyak bumi 11 Listrik, gas dan air minum 12 Bangunan 13 Perdagangan 14 Hotel dan Restoran 15 Pengangkutan dan Komunikasi 16 Lembaga keuangan, usaha bangunan dan jasa perusahaan 17 Pemerintahan umum dan pertahanan 18 Jasa-jasa 19 Kegiatan yang tak jelas batasannya Sumber : BPS Selanjutnya, untuk penyederhanaan penyampaian hasil analisis, sektor dalam perekonomian tersebut hanya akan disebutkan sebagai sektor 1, sektor 2 dan seterusnya s.d. sektor 19. Walaupun demikian, sesekali nama sektor akan dicantumkan untuk memperjelas pemaparan hasil analisis. Tabel IO yang digunakan dalam tulisan ini adalah tabel IO transaksi domestik dengan harga produsen. Penggunaan jenis tabel IO tersebut bertujuan agar setiap kenaikan permintaan akhir dari output suatu sektor, dapat diukur langsung pengaruhnya terhadap kenaikan produksi dalam negeri tanpa dipengaruhi oleh komponen impor, margin perdagangan dan biaya transportasi. 4
4 III. Metodologi Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah metodologi yang sudah lazim digunakan di dalam analisis perekonomian suatu region berdasarkan tabel input-output yaitu dengan melakukan prosedur matematis yang sudah baku terhadap data-data yang tersedia. Pada saat penyusunan tulisan ini, yang tersedia adalah data aktual total pekerja posisi Agustus 2008 yang dibagi dalam 9 sektor. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis digunakan data pekerja per sektor tahun 2005 yang di-update berdasarkan perbandingan total input per sektor tahun 2008 dengan tahun Kemudian data total pekerja aktual tahun 2008 tersebut dialokasikan secara proporsional ke setiap sektor menurut perbandingan hasil estimasi jumlah pekerja per sektor terhadap total estimasi jumlah pekerja tahun Data input-output yang digunakan dalam tulisan ini disajikan dalam Rp Juta rupiah sedangkan data pekerja dalam satuan orang. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil interpretasi dalam anilisis tenaga kerja dalam perekonomian. IV. Hasil Analisis IV.1 Analisis Deskriptif Data pada Tabel IO IV.1.1 Struktur PDB PDB dapat dihitung dengan 2 pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran dalam perekonomian yang meliputi pengeluaran rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal, perubahan stok modal dan ekspor netto. Pendekatan lainnya adalah dengan menjumlahkan seluruh input primer atau value added setiap sektor. Tentunya, kedua pendekatan perhitungan PDB tersebut menghasilkan nilai yang sama. Tabel IV.1 menunjukkan PDB Indonesia tahun 2008 yang dikelompokkan dalam 19 sektor dan ditampilkan berurutan berdasarkan sektor yang terbesar s.d. terkecil kontribusinya terhadap total PDB. Enam sektor pertama dari atas ke bawah kolom pertama tabel tersebut, yaitu sektor 9, 7, 13, 12, 16 dan 8 adalah penyumbang lebih dari 60 persen dari total PDB. Sedangkan kontributor terbesar PDB Indonesia tahun 2008 adalah sektor 9 (Industri Lainnya) dengan 16,15 persen. Tabel IV.1 juga menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sangat tergantung dari industri (sektor 8 dan 9) yang menghasilkan PDB sekitar 20% dari total. Grafik IV.1 menunjukkan PDB berdasarkan pengeluaran yang dilakukan dalam perekonomian. Konsumsi rumah tangga sebesar Rp triliun merupakan komponen utama (sekitar 60 persen) dari PDB. Pengeluaran untuk pembentukan modal merupakan komponen terbesar kedua dari PBD dengan jumlah Rp triliun atau sekitar 26% dari total PDB. 5
5 Tabel IV.1 PDB Indonesia per Sektor Tahun 2008 SEKTOR PDB (Juta Rp) % thd total PDB (1) (2) (3) 9 849,877, ,995, ,870, ,515, ,573, ,224, ,109, ,855, ,607, ,269, ,469, ,196, ,510, ,780, ,328, ,589, ,822, ,246, ,141, Jumlah 5,260,983, Grafik IV.1 GDP Berdasarkan Pengeluaran Tahun
6 IV.1.2 Struktur Input Grafik IV.2 Struktur Input Per Sektor Tahun 2008 Input suatu sektor dalam tabel I-O dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan asalnya, yaitu : 1) input antara yang berasal dari sektor lainnya, 2) input impor dan 3) input yang berasal dari pemilik modal atau pekerja (input primer / value added). Grafik IV.2 menunjukkan persentase penggunaan 3 jenis input terhadap total input suatu sektor. Terdapat 5 sektor yang menggunakan input primer sekitar persen. Sektor pengguna input primer tertinggi adalah sektor 2 dan 7. Untuk input antara, sektor 8 menggunakan input antara terbesar dari total inputnya, yaitu sedikit diatas 60%. Selain sektor 8, sektor 9,12 dan 14 menggunakan input antara lebih besar dari 2 input lainnya. Sementara itu, 2 sektor yang paling banyak menggunakan input impor adalah sektor 10 (pengilangan minyak bumi) dan 9 (industry lainnya) Kedua sektor tersebut, masing-masing menggunakan 20% input impor dari total input masing-masing sektor. Sedangkan 17 sektor lainnya, menggunakan input impor berkisar antara 0-12 persen. 7
7 IV.1.3 Struktur Output Barang dan jasa yang dihasilkan suatu sektor sebagian akan langsung dikonsumsi (termasuk diekspor) dan sebagian lagi akan digunakan sebagai input bagi sektor itu sendiri atau sektor lainnya dalam perekonomian. Grafik IV.3 Struktur Output 2008 Grafik IV.3 menunjukkan perbandingan tujuan penggunaan output dari suatu sektor. Output sektor-sektor yang sebagian besar (lebih dari 60%) akan digunakan kembali sebagai input adalah sektor 1(padi), sektor 3(tanaman pertanian lainnya), sektor 5, sektor 11 dan sektor 16, yang terbesar adalah pada sektor 1 (Padi), dimana lebih dari 90% outputnya akan digunakan kembali sebagai input. Penggunaan output suatu sektor untuk konsumsi akhir (final demand) lebih dari 60 persen terjadi pada 7 sektor (sektor 2,6,8,12,14,17,dan 18), dimana yang terbesar terjadi di sektor 17 (Pemerintahan umum dan Pertahanan) 8
8 IV.2 Analisis Output Multiplier dan Key Sektors Output multiplier (OM) bertujuan untuk melihat pengaruh kenaikan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap peningkatan output perekonomian secara keseluruhan (semua sektor). Pada tabel IV.3 kolom kedua menunjukkan 19 OM, masing-masing adalah total output mutiplier setiap sektor yang merupakan dampak kenaikan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap peningkatan output perekonomian secara keseluruhan (penjumlah dari output mutiplier setiap kolom dari matrik kebalikan Liontief domestik (I-A d ) -1 berukuran 19 x 19). Nilai OM 19 sektor tersebut telah diurutkan dari yang tertinggi smapi dengan yang terendah. Tabel IV.3 Nilai Output Multiplier (OM), Indeks Keterkaitan Ke Belakang (IKB) dan Indeks Keterkaitan Ke Depan (IKD) 19 Sektor Sektor OM IKB IKD Ket (1) (2) (3) (4) Key Sektor Backward Oriented Key Sektor Backward Oriented Backward Oriented Key Sektor Backward Oriented Backward Oriented Key Sektor Backward Oriented Key Sektor Forward Oriented Forward Oriented Non Key Sektor Non Key Sektor Non Key Sektor Forward Oriented Forward Oriented Non Key Sektor (5) Sektor 8 (Industri Makanan, Minuman dan Tembakau) memiliki nilai OM terbesar (1,98) dan sektor 2 (Tanaman Bahan Makanan Lainnya) memiliki nilai OM terkecil (1.22). Selain itu sektor yang memiliki OM terbesar kedua s.d. kelima adalah sektor 14, 4, 12, 11 dan 9. Contoh intepretasi dari nilai OM adalah sebagai berikut : setiap kenaikan permintaan output sektor 8 sebesar Rp. 1 Milyar, akan meningkatkan output perekonomian secara keseluruhan 9
9 sebesar Rp.1,98 Milyar. Dengan demikian, semakin besar nilai OM suatu sektor, semakin besar pula pengaruhnya dalam meningkatkan output seluruh sektor. Kolom kedua dan ketiga dari tabel IV.3, menunjukkan nilai Indeks Keterkaitan ke Belakang (IKB) dan Indeks Keterkaitan ke Depan (IKD) dari 19 sektor. Kedua indeks ini menunjukkan posisi nilai Keterkaitan Ke Belakang (KB) dan Keterkaitan ke Depan (KD) suatu sektor terhadap rata-ratanya. KB (KD) bertujuan untuk melihat kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan sektor di hulu (hilir) nya (hulu adalah sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor bersangkutan sedangkan hilir adalah sektor-sektor yang menggunakan output sektor yang bersangkutan). Selanjutnya, suatu sektor dikatakan mempunyai IKB/IKD yang tinggi apabila nilai IKB/IKD sektor yang bersangkutan lebih besar dari satu. IKB berhubungan erat dengan OM, karena IKB merupakan nilai OM suatu sektor dibagi dengan rata-rata nilai OM seluruh sektor. Hubungan yang erat tersebut menyebabkan urutan sektor dengan OM dan IKB terbesar s.d. terkecil adalah sama. Sesuai tabel IV.3 kolom ketiga, terdapat 11 sektor dengan IKB lebih besar dari 1 dan pada kolom keempat tabel III.3, terdapat 9 sektor dengan IKD lebih besar dari 1. Sektor kunci didefinisikan sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam penggerakkan roda perekonomian dan ditentukan berdasarkan IKB dan IKD. Sektor kunci adalah sektor yang memiliki nilai IKB maupun IKD lebih besar dari satu. Tabel IV.3 menunjukkan 5 sektor kunci yaitu sektor 8 (industri makanan, minuman dan tembakau), sektor 4 (peternakan dan hasilhasilnya), sektor 9 (industri lainnya), sektor 13 (perdaganan) dan sektor 15 (pengangkutan dan komunikasi). Selain itu, pada kolom kelima terdapat 6 sektor yang Backward Oriented (nilai IKB >1 dan IKD <1), 4 sektor yang Forward Oriented (nilai IKB <1 dan IKD>1), dan 4 sektor dengan kategori Non Key Sektor (nilai IKB dan IKD <1). IV.3 Analisis Income Multiplier dan Indeks Pendapatan Masyarakat (IPM) Tabel IV.4 Simple Household Income Multiplier (SHIM), IPM, SHIM Type I dan Koefisien Upah Sektor SHIM IPM SHIM Type I Koef Upah (1) (2) (3) (4) (5)
10 Tabel IV. 4, kolom kedua menunjukkan nilai SHIM untuk 19 sektor dari yang terbesar sd yang terkecil. Semakin besar nilai SHIM menunjukkan pengaruh yang besar dari peningkatan permintaan akhir atas output suatu sektor terhadap income pekerja di seluruh sektor. Sebagai contoh, peningkatan permintaan akhir output sektor 17 (pemerintahan umum dan pertahanan) sebesar Rp. 1 milyar, akan meningkatkan income pekerja di seluruh sektor sebesar Rp.830 juta. Tabel IV.4 kolom 3 membandingkan nilai SHIM tiap sektor terhadap rata-ratanya (disebut Indeks Pendapatan Masyarakat). Terdapat 6 sektor dengan nilai SHIM diatas rata-rata (IPM bernilai diatas 1), yaitu sektor 17 (Pemerintahan Umum dan Pertahanan), 18 (Jasa-Jasa), 11 (Listrik, Gas dan Air Minum), 14 (Hotel dan Restoran), 3 (Tanaman Pertanian Lainnya) dan 4 (Peternakan dan Hasil-Hasilnya). Hal yang menarik dari nilai IPM disini adalah peningkatan permintaan atas output sektor 17 (melalui peningkatan belanja pemerintah) sangat efektif meningkatkan income pekerja di seluruh sektor. SHIM Type I (kolom 4), merupakan rasio antara nilai SHIM dan Koefisien Upah, menunjukkan pengaruh peningkatan pendapatan pekerja di suatu sektor terhadap pendapatan nasional. Sebagai contoh, kenaikan 1 rupiah pendapatan pekerja di sektor 17, akan menciptakan pendapatan nasional sebesar 1,64 rupiah. IV.4 Analisis Multiplier Tenaga Kerja dan Indeks Tenaga Kerja (ITK) Analisis SEM digunakan untuk melihat pengaruh perubahan permintaan output suatu sektor terhadap kesempatan kerja di seluruh sektor. Tabel IV.5 kolom 2 menunjukkan nilai SEM untuk 19 sektor berdasarkan urutan dari yang terbesar s.d. yang terkecil. Sektor yang terkait dengan pertanian menempati posisi tiga besar nilai SEM tertinggi yaitu sektor 2 (tanaman bahan makanan lainnya), sektor 1 (padi) dan sektor 3 (tanaman pertanian lainnya). Dengan contoh sektor 2, nilai SEM berarti setiap peningkatan permintaan output sektor 2 sebesar Rp. 1 Milyar akan meningkatkan kesempatan kerja di seluruh sektor sebanyak 71 orang. 11
11 Tabel IV.5 kolom 3 menunjukkan nilai koefisien tenaga kerja yang merupakan jumlah pekerja di suatu sektor dibagi total input sektor yang bersangkutan, yang mengukur perubahan permintaan output suatu sektor terhadap perubahan kesempatan kerja di seluruh sektor tanpa adanya mekanisme keterkaitan antar-sektor (multiplier effect). Contohnya Jika permintaan output sektor 2 naik Rp. 1 Milyar, maka tenga kerja yang akan diserap seluruh perekonomian adalah sebanyak 66 orang. Selanjutnya, Tabel IV.5 kolom 4 menunjukkan nilai multiplier kesempatan kerja untuk 19 sektor. Artinya adalah jika terjadi peningkatan kesempatan kerja di sektor 2 sebanyak 1 orang, maka akan meningkatkan kesempatan kerja di seluruh sektor sebanyak 1,067 orang. Dan sektor 8 (Industri Makanan, Minuman dan Tembakau) memiliki MKK tertinggi yaitu 9,7. Tabel IV.5 Simple Employment Matrix (SEM), Multiplier Kesempatan Kerja (MKK) dan ITK Sektor SEM Koef TK MKK ITK (1) (2) (3) (4) (5) 2 0,071 0,066 1,067 3, ,068 0,063 1,091 3, ,042 0,034 1,253 1, ,032 0,027 1,182 1, ,027 0,003 9,736 1, ,023 0,011 2,234 1, ,023 0,019 1,215 1, ,022 0,017 1,296 0, ,021 0,006 3,484 0, ,021 0,013 1,585 0, ,014 0,010 1,385 0, ,014 0,009 1,493 0, ,012 0,009 1,366 0, ,010 0,004 2,210 0, ,009 0,004 2,295 0, ,006 0,003 2,168 0, ,004 0,002 2,778 0, ,003 0,001 1,725 0, ,001 0,000 3,722 0,038 Nilai Indek Tenaga Kerja (ITK) seperti yang ditunjukkan dalam Tabel IV.5 kolom 5 adalah nilai SEM suatu sektor dibagi nilai rata-rata SEM untuk seluruh sektor. Analisis ITK ini digunakan untuk melihat peran suatu sektor dalam hal meningkatkan besarnya jumlah tenaga kerja yang terserap oleh perekonomian. Jika indeks tenaga kerja disuatu sektor lebih besar dari satu 12
12 menunjukkan daya serap tenaga kerja di sektor yang bersangkutan sangat tinggi. Berdasarkan nilai ITK tiap sektor dalam tabel di atas, terdapat 7 sektor dengan nilai ITK lebih besar dari satu, dimana sektor-sektor yang erat kaitannya dengan pertanian berada pada peringkat teratas nilai ITK sebagaimana telah disebutkan. IV.5 Simulasi Tabel IV.6 menunjukkan hasil simulasi yang menggambarkan dampak adanya shock di dalam suatu sektor terhadap perubahan output nasional, penciptaan kesempatan kerja dan income pekerja di seluruh sektor. Dalam tabel tersebut dimisalkan diberikan shock berupa peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar. Kolom 2 menunjukkan hasil peningkatan output nasional akibat adanya kenaikan pemintaan akhir pada masing-masing sektor. Kolom 3 menunjukkan peningkatan kesempatan kerja dan kolom 4 menunjukkan peningkatan income seluruh pekerja di seluruh sektor. Tabel IV.6 Dampak Peningkatan Permintaan Akhir Output Sebesar 1 Milyar Rupiah Terhadap Output Nasional, Peningkatan Kesempatan Tenaga Kerja dan Income Pekerja di Seluruh Sektor SEKTOR Output Nasional Tenaga Kerja Income Pekerja di Seluruh Sektor (1) (2) (3) (4) , , , , , , , , , , , , , , , , ,
13 , , Dari tabel tersebut terlihat bahwa peningkatan output nasional akibat adanya peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar tertinggi pada sektor 8 (Industri makanan, minuman, dan tembakau) sebesar Rp ,00. Akan tetapi peningkatan output nasional yang tinggi tersebut tidak disertai dengan peningkatan kesempatan kerja yang hanya sebesar 27 orang saja. Peningkatan income seluruh pekerja pada seluruh sektor untuk sektor 8 juga hanya sebesar Rp ,00 Dilihat dari peningkatan kesempatan kerja, sektor 2 (Tanaman Bahan Makanan lainnya) menempati peringkat pertama yaitu peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 2 mampu menciptakan kesempatan kerja sebanyak 71 orang. Seperti halnya yang terjadi pada sektor 8 di atas, peningkatan kesempatan kerja yang tinggi akibat adanya peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 2 tidak disertai dengan peningkatan output nasional dan peningkatan income pekerja seluruh sektor yang tinggi pula. Peningkatan output nasional hanya sebesar Rp ,00 sedangkan peningkatan income pekerja seluruh sektor hanya sebesar Rp ,00. Dampak peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar terhadap peningkatan income pekerja seluruh sektor paling besar pengaruhnya pada sektor 17 (Pemerintahan umum dan Pertahanan). Peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 17 mampu meningkatkan income pekerja seluruh sektor sebesar Rp ,00. Peningkatan income pekerja seluruh sektor yang tinggi inipun juga tidak disertai dengan peningkatan output nasional dan peningkatan kesempatan kerja yang besar pula. Peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 17 hanya mampu meningkatkan output nasional sebesar Rp ,00 dan meningkatkan kesempatan kerja sebanyak 22 orang. Dari hasil simulasi di atas terlihat bahwa pembuat kebijakan tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor saja untuk menghasilkan kebijakan yang mampu memberikan pengaruh yang baik untuk output nasional, peciptaan kesempatan kerja dan income pekerja pada seluruh sektor secara besama-sama. Kebijakan harus diterapkan pada beberapa sektor disesuaikan dengan tujuan dari pengambil kebijakan. IV. Kesimpulan Dengan menggunakan analisis I/O dapat diketahui titik berat pembangunan ekonomi Indonesia seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan makroekonomi seperti : 1. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai jika pembangunan diprioritaskan pada sektor-sektor kunci dalam perekonomian Indonesia yaitu sektor 8 (industry makanan, 14
14 minuman dan tembakau), 4 (peternakan dan hasil hasilnya), 9 (Indutri lainnya), 13 (perdagangan) dan 15 (pengangkutan dan komunikasi). 2. Pengeluaran pemerintah yang akan memicu kenaikan permintaan akhir output sektor 17 (pemerintahan umum dan pertahanan), sangat efektif untuk meningkatkan pendapatan seluruh pekerja dalam perekonomian. 3. Tingkat pengangguran di Indonesia dapat efektif dikurangi dengan mengupayakan pembangunan sektor-sektor yang terkait dengan pertanian yaitu sektor 2 (tanaman bahan makanan lainnya), 1 (padi) dan 3 (tanaman pertanian lainnya). DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik, Tabel Input Output Updating 2008, Jakarta, Badan Pusat Statistik, Tabel Input Output Updating 2005, Jakarta. Hartono, Djoni, Peran Sektor Jasa Terhadap Perekonomian Jakarta : Analisis Input Output, Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia, Vol IV No.1, hal 39-57, Jakarta, Resosudarmo, Budy P., Djoni Hartono dan Ditya A. Nurdianto, Inter-Island Economic Linkages and Connections in Indonesia, Economics and Finance in Indonesia Vol. 56 (3), Page , LPEM UI, Jakarta,
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Uraian dalam Bab ini menjelaskan hasil pengolahan data dan pembahasan terhadap 4 (empat) hal penting yang menjadi fokus dari penelitian ini, yaitu: (1) peranan sektor kehutanan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Banjarnegara Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai peranan ekonomi sektoral ditinjau dari struktur permintaan, penerimaan
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan untuk
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Struktur Perekonomian Provinsi Jambi 5.1.1 Struktur Permintaan Berdasarkan tabel Input-Output Provinsi Jambi tahun 2007 klasifikasi 70 sektor, total permintaan Provinsi Jambi
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007 TABEL INPUT OUTPUT Tabel Input-Output (Tabel I-O) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang
ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT
PELATIHAN UNTUK STAF PENELITI Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Telekomunikasi ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT Oleh Dr. Uka Wikarya Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universtas
DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman 1-9 http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jme DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA
VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK
VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK 6.1. Struktur Perekonomian Kabupaten Siak 6.1.1. Struktur PDB dan Jumlah Tenaga Kerja Dengan menggunakan tabel SAM Siak 2003
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. 1. Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkage) tertinggi
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, sehingga dapat disimpulkan. 1. Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang
Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah
48 V. DUKUNGAN ANGGARAN DALAM OPTIMALISASI KINERJA PEMBANGUNAN BERBASIS SEKTOR UNGGULAN 5.1. Unggulan Kota Tarakan 5.1.1. Struktur Total Output Output merupakan nilai produksi barang maupun jasa yang dihasilkan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan
60 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang
III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan
III. METODE PENELITIAN Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan hipotesis, melainkan hanya mendeskripsikan
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU 6.1. Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku Aktivitas atau kegiatan ekonomi suatu wilayah dikatakan mengalami kemajuan,
Sebagai suatu model kuantitatif, Tabel IO akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai: mencakup struktur output dan nilai tambah masingmasing
Model Tabel Input-Output (I-O) Regional Tabel Input-Output (Tabel IO) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan
I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang terencana dan dilaksanakan secara bertahap. Pembangunan adalah suatu
BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, dilakukan beberapa macam analisis, yaitu analisis angka pengganda, analisis keterkaitan antar sektor, dan analisis dampak pengeluaran pemerintah terhadap
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010
65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA 6.1. Perkembangan Peranan dan Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Maluku Utara Kemajuan perekonomian daerah antara lain diukur dengan: pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan dan merupakan rangkaian kegiatan yang berkesinambungan, berkelanjutan dan bertahap menuju tingkat
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008
No.05/02/33/Th.III, 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008 PDRB Jawa Tengah triwulan IV/2008 menurun 3,7 persen dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q), dan bila dibandingkan
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 24/05/14/Th.XV, 5 Mei 2014 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan I tahun 2014, yang diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000, mengalami
ANALISIS INPUT-OUTPUT KOMODITAS KELAPA SAWIT DI INDONESIA
Perwitasari, H. dkk., Analisis Input-Output... ANALISIS INPUT-OUTPUT KOMODITAS KELAPA SAWIT DI INDONESIA Hani Perwitasari dan Pinjung Nawang Sari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Gadjah Mada
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 38/08/14/Th.XIV, 2 Agustus 2013 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas Triwulan II Tahun 2013 mencapai 2,68 persen Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan II tahun 2013, yang diukur dari
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,08 PERSEN No. 11/02/61/Th. XVII, 5 Februari 2014 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011
No.43/08/33/Th.V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 PDRB Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2011 meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan I tahun 2011 (q-to-q).
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 19/05/14/Th.XI, 10 Mei PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas y-on-y Triwulan I Tahun sebesar 5,93 persen Ekonomi Riau dengan migas pada triwulan I tahun mengalami kontraksi sebesar 1,19
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014
No. 68/11/33/Th.VIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan III tahun
ANALISIS KETERKAITAN DAN DAMPAK PENGGANDA SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT
ANALISIS KETERKAITAN DAN DAMPAK PENGGANDA SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT OLEH: Abdul Kohar Mudzakir Dosen Lab Sosek Perikanan, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014
No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
BPS PROVINSI JAWA TENGAH No. 06 /11/33/Th.I, 15 Nopember 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH PDRB JAWA TENGAH TRIWULAN III TH 2007 TUMBUH 0,7 PERSEN Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah pada
III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Input-Output Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN
164 BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN Adanya keterbatasan dalam pembangunan baik keterbatasan sumber daya maupun dana merupakan alasan pentingnya dalam penentuan sektor
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 09/02/61/Th. XIII, 10 Februari 2010 PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT TAHUN 2009 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2009 meningkat 4,76 persen dibandingkan
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. Kesimpulan yang dapat dikemukakan terkait hasil penelitian, yaitu.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat dikemukakan terkait hasil penelitian, yaitu. 1. Sektor industri pengolahan memiliki peranan penting terhadap perekonomian Jawa Barat periode
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 21/05/14/Th.XII, 5 Mei PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas Triwulan I Tahun mencapai 7,51 persen Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan I tahun, yang diukur dari kenaikan Produk Domestik
PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen
No. 62/11/75/Th. VII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen PDRB Provinsi Gorontalo triwulan III-2013 naik 2,91 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 30/08/31/Th.IX, 15 AGUSTUS 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Hal-hal yang akan diuraikan dalam pembahasan dibagi dalam tiga bagian yakni bagian (1) penelaahan terhadap perekonomian Kabupaten Karo secara makro, yang dibahas adalah mengenai
Analisis Input-Output dengan Microsoft Office Excel
Analisis Input-Output dengan Microsoft Office Excel Junaidi, Junaidi (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi) Tulisan ini membahas simulasi/latihan analisis Input-Output (I-O) dengan
PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN 2009
No. 09/02/15/Th. IV, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi pada tahun meningkat sebesar 6,4 persen dibanding tahun 2008. Peningkatan
SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA TAHUN 2008 ISSN : 0216.6070 Nomor Publikasi : 07240.0904 Katalog BPS : 9503003 Ukuran Buku : 28 x 21 cm Jumlah Halaman : 94 halaman Naskah : Subdirektorat Konsolidasi
GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum SNSE Kabupaten Indragiri Hilir yang meliputi klasifikasi SNSE Kabupaten Indragiri
gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.
5. RANGKUMAN HASIL Dari hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat dirangkum beberapa poin penting sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu: 1. Deviasi hasil estimasi total output dengan data aktual
PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012
BPS KABUPATEN SIMALUNGUN No. 01/08/1209/Th. XII, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun tahun 2012 sebesar 6,06 persen mengalami percepatan
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tegal Tahun 2012 ruang lingkup penghitungan meliputi
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO Triwulan II-29 Perekonomian Indonesia secara tahunan (yoy) pada triwulan II- 29 tumbuh 4,%, lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,4%). Sementara itu, perekonomian
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Secara umum sektor ini memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto
ANALISIS PERANAN SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH TAHUN 2000 DAN TAHUN 2004 (ANALISIS INPUT OUTPUT)
Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 137-155 ANALISIS PERANAN SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH TAHUN 2000 DAN TAHUN 2004 (ANALISIS INPUT OUTPUT) Didit Purnomo
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013
No. 09/02/31/Th. XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan
BADAN PUSAT SATISTIK PROPINSI KEPRI
BADAN PUSAT SATISTIK PROPINSI KEPRI No. 96/02/21/Th. IV / 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU PDRB KEPRI TAHUN 2008 TUMBUH 6,65 PERSEN PDRB Kepri pada tahun 2008 tumbuh sebesar 6,65 persen,
III. METODE PENELITIAN
29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 yang diklasifikasikan menjadi 10 sektor dan
BADAN PUSAT STATISTIK
BADAN PUSAT STATISTIK No. 50/08/Th.XII, 10 Agustus 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2009 Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008
BADAN PUSAT STATISTIK No.43/08/Th. XI, 14 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-
PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001
No. 07/V/18 FEBRUARI 2002 PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001 PDB INDONESIA TAHUN 2001 TUMBUH 3,32 PERSEN PDB Indonesia tahun 2001 secara riil meningkat sebesar 3,32 persen dibandingkan tahun 2000. Hampir
PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU
No. 10/02/14/Th.XV, 5 Februari 2014 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas Tahun 2013 mencapai 6,13 persen Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan IV tahun 2013, yang diukur dari Produk Domestik
BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)
BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO) IRIO memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa analisa. Kemampuan
PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH
J. Agroland 17 (1) : 63 69, Maret 2010 ISSN : 0854 641X PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH The Effect of Investment of Agricultural
APLIKASI INPUT OUTPUT
APLIKASI INPUT OUTPUT Selama ini sebagian besar perencanaan pembangunan ekonomi daerah masih bersifat parsial dan belum dapat mendeteksi bagaimana dampak investasi pada suatu sektor terhadap struktur perekonomian
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 26/05/61/Th. XV, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I-2012 EKONOMI KALIMANTAN BARAT TUMBUH 6,0 PERSEN Perekonomian Kalimantan Barat yang diukur berdasarkan
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013
No.23/05/31/Th. XV, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku tahun 2013 ruang lingkup penghitungan meliputi 9 sektor ekonomi, meliputi: 1. Sektor Pertanian
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 33/05/21/Th. VII, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012 PDRB KEPRI TRIWULAN I TAHUN 2012 TUMBUH 7,63 PERSEN PDRB Kepri pada triwulan I tahun
Daftar Isi. Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1
Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1 1.1 Latar Belakang... 1 1.1.1 Isu-isu Pokok Pembangunan Ekonomi Daerah... 2 1.1.2 Tujuan... 5 1.1.3 Keluaran... 5
KAJIAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN BEKASI
KAJIAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN BEKASI 1 YUHKA SUNDAYA, 2 INA HELENA AGUSTINA 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No. 1 Bandung, 40116
VI. ANALISIS DAMPAK INVESTASI, EKSPOR DAN SIMULASI KEBIJAKAN SEKTOR PERTAMBANGAN
VI. ANALISIS DAMPAK INVESTASI, EKSPOR DAN SIMULASI KEBIJAKAN SEKTOR PERTAMBANGAN 6.1. Dampak Kenaikan Investasi Sektor Pertambangan di Bagian ini akan menganalisis dampak dari peningkatan investasi pada
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013 A. PDRB PROVINSI KEPULAUAN RIAU MENURUT LAPANGAN USAHA I. PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2013 No. 75/11/21/Th.
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2009 MENCAPAI 4,5 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar
Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)
3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1
BPS PROVINSI MALUKU PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN
BPS PROVINSI MALUKU No. 01/05/81/Th.XV, 05 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN PDRB Maluku pada triwulan IV tahun 2013 bertumbuh
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007
BPS PROVINSI D.K.I. JAKARTA PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 No. 17/05/31/Th.IX, 15 MEI 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 13/02/Th. XV, 6 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2011 MENCAPAI 6,5 PERSEN Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen dibandingkan
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH No.38/08/12/Th.VII, 6 Agustus 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI ACEH TRIWULAN II-2012 Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan II-2012 secara triwulanan (q-to-q) mencapai
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
No. 06/02/72/Th. XIV. 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2010 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000
RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO
RINGKASAN ISVENTINA. H14102124. Analisis Dampak Peningkatan Ekspor Karet Alam Terhadap Perekonomian Indonesia: Suatu Pendekatan Analisis Input-Output. Di bawah bimbingan DJONI HARTONO. Indonesia merupakan
I. PENDAHULUAN. Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor. merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Gouws (2005) menyatakan perluasan
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2008
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 41/11/31/Th. X, 17 November 2008 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2008 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan III tahun 2008 yang diukur berdasarkan PDRB
BPS PROVINSI JAWA TENGAH
BPS PROVINSI JAWA TENGAH No.24/05/33/Th.IV, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2010 PDRB Jawa Tengah pada triwulan I tahun 2010 meningkat sebesar 6,5 persen dibandingkan triwulan
Pengertian Produk Domestik Bruto
KONTRIBUSI KEHUTANAN TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO 1 Dodik Ridho Nurrochmat 2 Pengertian Produk Domestik Bruto Neraca pendapatan nasional (national income accounting) merupakan salah satu inovasi penting
JEFRI TIPKA Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tengah Jl. R. A. Kartini No. 15 Kelurahan Namaelo, Masohi
Jurnal Barekeng Vol. 8 No. 1 Hal. 17 24 (2014) ANALISIS LQ DAN ANALISIS SHIFT- SHARE DALAM PEMANFAATAN EKONOMI SEKTORAL KABUPATEN MALUKU TENGAH TAHUN 2008 2010 LQ and Shift-Share Analysis in Sectoral Economic
