Moduler Prima Kurang Dari 50

dokumen-dokumen yang mirip
Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bagian ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep

2. Pengurangan pada Bilangan Bulat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,

matematika PEMINATAN Kelas X PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN EKSPONEN K13 A. PERSAMAAN EKSPONEN BERBASIS KONSTANTA

LANDASAN TEORI. bilangan coprima, bilangan kuadrat sempurna (perfect square), kuadrat bebas

BAB I BILANGAN. Skema Bilangan. I. Pengertian. Bilangan Kompleks. Bilangan Genap Bilangan Ganjil Bilangan Prima Bilangan Komposit

Saat menemui penjumlahan langsung pikirkan hasilnya dengan cepat lalu lakukan penjumlahan untuk setiap jawaban yang diperoleh.

1 INDUKSI MATEMATIKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Bilangan Totient sempurna (Perpect Totient Number atau PTN) adalah suatu

II. TINJAUAN PUSTAKA. terkait dengan pokok bahasan. Berikut ini diberikan pengertian-pengertian dasar

Teori bilangan. Nama Mata Kuliah : Teori bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 sks. Deskripsi Mata Kuliah. Tujuan Perkuliahan.

B I L A N G A N 1.1 SKEMA DARI HIMPUNAN BILANGAN. Bilangan Kompleks. Bilangan Nyata (Riil) Bilangan Khayal (Imajiner)

2 BILANGAN PRIMA. 2.1 Teorema Fundamental Aritmatika

Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS

OPERATOR. Percobaan 1: Mengimplementasikan Assignment operator dalam bahasa C.

KHAIRUL MUKMIN LUBIS

Materi W6b BARISAN DAN DERET. Kelas X, Semester 2. B. Barisan dan Deret Aritmatika.

FAKTOR DAN KELIPATAN KELAS MARS SD TETUM BUNAYA

TEORI BILANGAN. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan yang tidak mempunyai pecahan desimal, misalnya 8, 21, 8765, -34, 0.

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Matematika Wajib

LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA

Sri Purwaningsih. Modul ke: Fakultas EKONOMI BISNIS. Program Studi Manajemen dan Akuntansi.

Aplikasi Aritmetika Modulo dalam Validasi Nomor Kartu Kredit

BAHAN AJAR TEORI BILANGAN. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN

Materi Olimpiade Tingkat Sekolah Dasar BIDANG ALJABAR

TEORI BILANGAN DALAM PERSAMAAN DIOPHANTINE

Mengenal Bilangan Bulat

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2013 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2014

TEORI BILANGAN Setelah mempelajari modul ini diharapakan kamu bisa :

Pemfaktoran prima (2)

II. LANDASAN TEORI. Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada

Disusun Oleh : ARISMAN WIJAYA. Aris

Metode pembuktian untuk proposisi yang berkaitan dengan bilangan bulat adalah induksi matematik.

R. Rosnawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Tentukan semua bilangan bulat x sedemikian sehingga x 1 (mod 10). Jawab. x 1 (mod 10) jika dan hanya jika x 1 = 10 k untuk setiap k bilangan bulat.

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

Pengantar Teori Bilangan

Solusi Pengayaan Matematika Edisi 14 April Pekan Ke-2, 2006 Nomor Soal:

BAB 2 LANDASAN TEORI

Mengenal Bilangan Bulat

MODUL PERSIAPAN OLIMPIADE. Oleh: MUSTHOFA

Beberapa Uji Keterbagian Bilangan Bulat

II. TINJAUAN PUSTAKA. bilangan yang mendukung proses penelitian. Dalam penyelesaian bilangan

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

METODE SOLOVAY-STRASSEN UNTUK PENGUJIAN BILANGAN PRIMA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,

Teori Bilangan (Number Theory)

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2009 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2010

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?

MODUL PERKULIAHAN EDISI 1 MATEMATIKA DISKRIT

PEMBANGKIT BILANGAN ACAK (Random Number Generator)

Manusia itu seperti pensil Pensil setiap hari diraut sehingga yang tersisa tinggal catatan yang dituliskannya. Manusia setiap hari diraut oleh rautan

Lembar Kerja Mahasiswa 1: Teori Bilangan

Pembahasan Soal Final Kompetisi Matematika Pasiad ( KMP ) VIII Tahun 2012 Tingkat SMP

MODUL TEKNIK DIGITAL MODUL II ARITMATIKA BINER

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep yang mendasari konsep representasi

Induksi Matematika. Fitriyanti Mayasari

Penggunaan Algoritma LUHN Sebagai Validator Kartu Kredit dan Ponsel

A. PRINSIP INDUKSI SEDERHANA

PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca.

BAB IV ALOGARITMA DALAM OPERASI ARITMATIKA PENDAHULUAN

BAB VI BILANGAN REAL

BARISAN DAN DERET. Drs. CARNOTO, M.Pd. NIP Pola Barisan Bilangan

134 Ayo Belajar Matematika Kelas IV

Melakukan Operasi Hitung Bilangan Bulat dalam Pemecahan Masalah

SMP kelas 9 - MATEMATIKA BAB 16. HIMPUNANLatihan Soal 16.1 {22, 25, 26, 28, 30) {21, 24, 26, 28, 30) {21, 23, 24, 27, 29) {21, 23, 25, 27, 29)

Induksi 1 Matematika

Contoh Masalah Matematika dan Solusinya dengan Menggunakan Strategi Penemuan Pola

Penerapan Algoritma Brute Force dalam mencari Faktor Prima pada suatu Bilangan

Aplikasi Teori Bilangan Bulat dalam Pembangkitan Bilangan Acak Semu

Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik.

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Sifat Prima Terhadap Fungsionalitas Algoritma RSA

BAB I BILANGAN BULAT dan BILANGAN PECAHAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KAMPUS CIBIRU UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Analisis Kompleksitas Algoritma dalam Operasi BigMod

Problem A. Raja yang Bijak

BAB V BILANGAN BULAT

Percobaan Perancangan Fungsi Pembangkit Bilangan Acak Semu serta Analisisnya

BILANGAN CACAH. b. Langkah 1: Jumlahkan angka satuan (4 + 1 = 5). tulis 5. Langkah 2: Jumlahkan angka puluhan (3 + 5 = 8), tulis 8.

PENERAPAN AKSIOMA KETERBAGIAN DALAM PEMBELAJARAN KONSEP AKAR PANGKAT DUA DI KELAS VII SMP Oleh : Andi Syamsuddin*

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

Himpunan dari Bilangan-Bilangan

1. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan bukan pecahan yang terdiri dari bilangan :

BARISAN DAN DERET 1. A. Barisan dan Deret Aritmatika 11/13/2015. Peta Konsep. A. Barisan dan Deret Aritmatika

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

PERANAN ARITMETIKA MODULO DAN BILANGAN PRIMA PADA ALGORITMA KRIPTOGRAFI RSA (Rivest-Shamir-Adleman)

STRATEGI PENYELESAIAN MASALAH (PROBLEM SOLVING STRATEGIES) EDDY HERMANTO

BAHAN AJAR MATEMATIKA KELAS 5 SEMESTER I

Kongruen Lanjar dan Berbagai Aplikasi dari Kongruen Lanjar

KELAS 8 NASKAH SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA ANAK BANGSA HOTEL MERDEKA, 16 JANUARI 2011

1.Tentukan solusi dari : Rubrik Penskoran :

PETUNJUK UMUM OLMIPA UB 2013 BIDANG MATEMATIKA

SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2007 TINGKAT PROVINSI TAHUN Prestasi itu diraih bukan didapat!!!

PERKALIAN BINER BILANGAN N DIGIT DENGAN 3, 4, 5 DAN 6

BARISAN DAN DERET. Romli Shodikin, M.Pd. Prepared By : LANJUT

Pembangkitan Nomor Kartu Kredit dan Pengecekannya Dengan Menggunakan Algoritma Luhn

Review Kuliah Sebelumnya

Transkripsi:

Moduler Prima Kurang Dari 50 Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Bilangan Dosen Pembimbing Eko Yulianto, M.pd Oleh, Dini Indriani 142151234 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SILIWANGI 2015

2 MODULER PRIMA Dalam mata kuliah Teori Bilangan kita pasti mengenal istilah aritmatika moduler, bahkan istilah itu sudah tidak asing lagi khususnya bagi mahasiswa pendidikan matematika pada semester kedua, karena disetiap pembahasan materinya kata moduler selalu diikut sertakan dalam menyelesaikan permasalahan disetiap bab nya. Untuk itu marilah kita bahas apa itu aritmatika moduler dan bagaimana menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan aritmatika moduler. Aritmatika moduler (kadang juga disebut aritmatika jam) adalah sistem aritmatika untuk bilangan bulat dimana kedua bilangan bulat dioperasikan sampai mencapai nilai tertentu, yaitu modulus (sisa) atau juga merupakan bilangan sisa dari suatu pembagian bilangan bulat. Aritmetika modulo diperkenalkan pertama kali oleh Carl Friedrich Gaus dalam bukunya Disquistiones Arithmaticae yang dipublikasikan pada tahun 1801. Gambar 1. Carl Friedrich Gaus Gambar 2. Cover Buku Disquistiones Arithmaticae Dalam hal ini aritmatika akan diikut sertakan untuk menemukan sisa pembagian dari bilangan yang

3 tidak habis dibagi oleh suatu bilangan prima yang kurang dari 50, Karena jika hanya berfokus pada ciri-ciri bilangan yang habis dibagi oleh bilangan prima maka ketika kita mengetahui ciri-cirinya, kita hanya akan mendapatkan jawaban iya atau tidak. Lantas bagaimana jika diperjalanan kita menemukan bilangan yang tidak habis dibagi oleh bilangan prima, berdasarkan ciri-ciri tadi kita hanya bisa mendapatkan jawaban tidak tanpa kita tahu berapa sisa pembagiannya. Namun sebelum itu akan dibahas terlebih dahulu ciriciri bilangan yang habis dibagi oleh bilangan prima kurang dari 50. a. Bilangan habis dibagi 2 Semua bilangan habis dibagi dua jika bilangan yang diwakili oleh angka terakhirnya genap. Bukti: misalkan bilangan tersebut adalah. Supaya habis dibagi 2, maka haruslah b habis dibagi 2. Contoh 1 : Apakah bilangan 567 habis dibagi 2? jika tidak berapakah sisa pembagiannya? Jawab : 567 tidak habis dibagi 2 karena bilangan yang diwakili angka terakhirnya ganjil. Untuk mengetahui sisa pembagiannya maka disinilah saatnya menggunakan aritmatika moduler. Karena pembaginya 2 maka 2 merupakan modulo, oleh karena itu untuk sisa pembagiannya antara 0 dan 1. Sehingga kita bisa membuat hubungan seperti ini : = 37 = 40 37 = 2 3 Maka sisa pembagian dari 567 : 2 adalah 1 atau bisa ditulis dalam bentuk 567 Ada keistimewaan tersendiri dari bilangan yang tidak habis dibagi dua karena untuk mencari sisa pembagianya tidak perlu menggunakan cara diatas karena sudah pasti sisa pembagiannya 1, karena angka yang diwakili oleh angka terakhirnya ganjil.

4 sedangkan 0 hanya digunakan untuk bilangan yang habis dibagi 2 yaitu dengan ciri angka yang diwakili oleh angka terakhirnya genap. b. Bilangan habis dibagi 3 Suatu bilangan habis dibagi 3 jika jumlah bilangan yang diwakili oleh angka-angkanya habis dibagi 3. Contoh 1: Apakah bilangan 3456 habis dibagi 3? jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab : 3456 = 3+4+5+6 =3 18 Ternyata 18 habis dibagi 3 maka 3456 habis dibagi 3. sehingga sisa pembagiannya 0. Contoh 2: Apakah 1234 habis dibagi 3? Jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab: 1234 = 1+2+3+4 = 10 Untuk mengetahui sisa pembagiannya yaitu menggunakan aritmatika moduler, dengan 3 sebagai modulernya karena beperan sebagai pembagi, sehingga dibuat hubungan seperti berikut : 10 10 Untuk sisa pembagian dari bilangan yang tidak habis dibagi 3, sama dengan sisa pembagian jumlah digit angka bilangan awal. Maka sisa pembagian dari 1234 : 3 sama dengan sisa pembagian 10 : 3 adalah 1 atau bisa di tulis dalam bentuk atau Contoh 3: Apakah 56789 habis dibagi 3? Jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab: 56789 = 5+6+7+8+9 = 35 3 Untuk mengetahui sisa pembagiannya yaitu menggunakan aritmatika moduler, dengan 3 sebagai modulernya karena beperan

5 sebagai pembagi, sehingga dibuat hubungan seperti berikut : 35 35 56789 tidak habis dibagi 3 dengan sisa pembagian 2. c. Bilangan habis dibagi 5 Suatu bilangan habis dibagi 5 jika angka paling kanan dari bilangan tersebut adalah 5 atau 0. Contoh 1: Apakah 12345 dan 123567 habis dibagi 5? jika tidak tentukan sisa pembagiannya? Jawab: 12345 habis dibagi 5 karena angka paling kanan nya adalah 5 sesuai dengan ciri bilangan habis dibagi 5. 1234567 tidak habis dibagi 5 karena angka terakhirnya bukan 0 maupun 5. Adapun untuk mengetahui sisa pembagiannya yaitu ada 2 cara untuk bilangan yang tidak habis dibagi 5, yaitu : 1. Jika angka terakhirnya maka sisa pembagiannya yaitu angka terakhir itu sendiri. 2. Jika angka terakhirnya lebih dari 5 maka sisa pembagiannya yaitu angka terakhir dikurangi 5. d. Bilangan habis dibagi 7 Bilangan habis dibagi 7 jika bilangan kelipatan 7 mendekati angka awal tetapi lebih dari angka awal kemudian dikurangi angka awal, jika hasilnya habis membagi 7 maka bilangan awal habis dibagi 7. Contoh 1 : Apakah 100 dan 123 habis dibagi 7? jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab: 100 : 7 = 140 100 = 40 = 70 40 = 30 = 35 30 = 5 5 5 7 5 = 2 Sisa dari (100 : 7) yaitu 2 atau bisa ditulis sebagai 100 123 : 7 = 70 + 35 + 18 70

6 35 18 = 4 (mod 7) Sisa nya, 0+0+4 = 4 Sisa pembagian dari 123:7 yaitu 4 atau bisa ditulis, 123 e. Bilangan habis dibagi 11 Suatu bilangan habis dibagi 11 jika pada bilangan tersebut jumlah bilangan yang diwakili oleh angka pada tempat ganjil (dihitung dari sebelah kanan) dikurangi dengan jumlah bilangan yang diwakili oleh angka-angka pada tempat genap habis dibagi 11. 12345678=(8+6+4+2)-(7+5+3+1) = 20 16 = 4 11 4 4 Ternyata 12345678 tidak habis dibagi 11 dengan sisa pembagian 4 atau bisa ditulis 12345678. f. Bilangan habis dibagi 13 Bilangan habis dibagi 13 jika bilangan kelipatan 13 mendekati angka awal tetapi lebih dari angka awal kemudian dikurangi angka awal, jika hasilnya habis membagi 13 maka bilangan awal habis dibagi 13. Contoh 1: Apakah 2613, 100003, 655 habis dibagi 13? jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab : 2613 : 13 = 2600 + 13-2613 = 0 habis dibagi 13 Sehingga 2613 habis dibagi 13 100003 = 500 500 = = 12 = 24 200 200 = = = 5 Sisa = 58 100003 tidak habis dibagi 13 dengan sisa pembagian 7 atau bisa ditulis 100003 655 = 650 + 13 655 = 8 13 8 8 13 8 = 5 655 tidak habis dibagi 13 dengan sisa pembagian 5.

7 g. Bilangan habis dibagi 17 jika FPB dari bilangan itu dengan 17 adalah 17 maka bilangan itu habis dibagi 17, atau bisa menggunakan cara pengurangan kelipatan 17 dengan bilangan itu. Mencari FPB yang digunakan adalah menggunakan aturan Algoritma Stein, yaitu aturan ganjil genap. 1. Jika kedua bilangan ganjil, Misalkan dengan maka 2. Kedua bilangan genap Misalkan 3. jika bilangan ganjil dan genap misalkan dengan u genap dan v ganjil maka, Contoh : Apakah bilangan 357 habis dibagi 17? Jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab : Menggunakan cara dengan mencari FPB dari (357, 17) (357,17) = = (170, 17) = (85, 17) = (34, 17) = (17, 17 ) Ternyata FPB dari 357 dan 17 adalah 17 sehingga bilangan itu habis dibagi 17. Tetapi cara menggunakan FPB kurang efektif untuk bilangan prima karena tidak mengetahui sisa pembagiannya jika bilangan itu tidak habis dibagi. h. Bilangan habis dibagi 19 Bilangan habis dibagi 19 jika FPB dari bilangan itu dengan 19 adalah 19 maka bilangan itu habis dibagi 19, atau bisa menggunakan cara pengurangan kelipatan 19 dengan bilangan itu. Contoh ; Apakah bilangan 10045 dan 2381 habis dibagi 19? Jika tidak berapa sisanya? Jawab ; Disini kita menggunakan cara pada catatan poin 2 karena yang diminta dari soal selain menjawab habis dibagi atau tidak tetapi juga diminta untuk menjawab sisa pembagiannya, karena jika menggunakan cara

8 FPB tidak langsung mengetahui sisa pembagiannya. 10045 =19000-10045 = 8955 = 9500 8955 = 545 = 570 545 = 25 = 38 25 = 13 19 Maka bilangan 10045 tidak habis dibagi 19 dengan sisa pembagiannya 13 sesuai dengan cara pada catatan poin 2. i. Sisa pembagian Bilangan tidak habis dibagi 23. Sama seperti cara pada bilangan prima yang sebelumnya, sekarang bisa langsung diaplikasikan kepada contoh soal karena 23 merupakan bilangan prima. Contoh : Apakah 1578 habis dibagi 23?jika tidak berapa sisanya? Jawab : 1. 1578 = 2300 1578 = 722 = 920 722 = 198 = 230 198 = 32 = 46 32 = 14 23 Bilangan 1578 tidak habis dibagi 23 dengan sisa 14. j. Bilangan habis dibagi 29 56098 = 58000 56098 = 1902 = 2900 1902 = 998 = 1450 998 = 452 = 725 452 = 273 = 290 273 = 17 29 29 17 = 12 56098 tidak habis dibagi 29 dengan sisa 12 k. Sisa pembagian Bilangan tidak habis dibagi 31. FPB(12345,31) = (12345, 31) = (6157, 31) = (3063, 31) = (3032, 31) = (1516, 31) = (758, 31) = (379, 31) = (174, 31)

9 = (87, 31) = (28,31) = (7, 31) = (7, 3) = (1,1) Maka 12345 tidak habis dibagi 31 karena FPB nya 1. Namun cara ini tidak menandakan sisa pembagian karena 31 merupakan bilangan prima. Untuk mengetahui sisa pembagiannya bisa menggunakan cara pada poin-poin pada catatan. Disini kita menggunakan cara pada poin 2. 12345 = 15500 12345 = 3155 = 7750 3155 = 4595 = 6200 4595 = 1605 = 3100 1605 = 1495 = 1550 1495 = 55 = 62 55 = 7 31 Sisa pembagiannya 7. l. Sisa pembagian dari bilangan yang tidak habis dibagi 37 Suatu bilangan habis dibagi 37 jika bilangan itu dipisahkan tiga digit tiga digit dari belakang kemudian jika jumlah dari bilangan yang telah dipecah tadi bernilai bilangan berulang kelipatan tiga digit maka bilangan tersebut habis dibagi 37 atau bisa menggunakan FPB dari bilangan itu dengan 37 jika FPB nya bilangan prima itu sendiri maka bilangan tersebut habis dibagi 37. Contoh 1 : Apakah 179825 habis dibagi 37? jika tidak berapa sisa pembagiannya? Jawab : 1798258 = 001 + 798 + 258 = 1057 = 001+057 = 58 37 58 58 Sehingga sisa pembagiannya 21. Contoh 2 : Apakah 2345 habis dibagi 37? jika tidak berapa sisa pembagiannya? 2345 = 002 + 345 = 347 = 3 + 4 +7

10 = 37 14 14 14 Sehingga 2345 tidak habis dibagi 37 dengan sisa pembagian 14. m. Sisa pembagian dari bilangan yang tidak habis dibagi 41 Contoh : 2341 = 4100 2341 = 1759 = 2050 1759 = 291 = 410 291 = 119 = 205 119 = 86 41 86 86 Karena 86 tidak habis dibagi 41 maka 2341 tidak habis dibagi 41 sehingga didapat sisa pembagiannya 4 n. Sisa pembagian dari bilangan yang tidak habis dibagi 43 Contoh : 546 = 860 546 = 314 = 430 314 = 116 = 215 116 = 43 99 99 99 43 13 = 30 Karena 99 tidak habis dibagi 43 maka 546 tidak habis dibagi 43 sehingga didapat sisa pembagiannya 30. Contoh 2 : 4352 = 4300 + 52 4300 52 Sisa pembagiannya = 0 + 9 = 9 Karena 52 tidak habis dibagi 43 maka 4352 tidak habis dibagi 43 sehingga didapat sisa pembagiannya 9. o. Sisa pembagian dari bilangan yang tidak habis dibagi 47 Contoh : 234 = 470 234 = 236 = 235 236 = (-1) 47-1 Karena (-1) tidak habis dibagi 47 maka 234 tidak habis dibagi 47

11 sehingga didapat sisa pembagiannya 46. Contoh 2: 546 = 940 546 = 394 = 470 394 = 76 47 (76) (76) Karena 76 tidak habis dibagi 47 maka 546 tidak habis dibagi 47 sehingga didapat sisa pembagiannya 29. Adapun cara lain untuk mengetahui sisa pembagian bilangan prima 19 yaitu menggunakan aturan aritmatika modulo. Langkah-langkahnya : 1. Jika terdiri dari dua angka, pisahkan satu angka dari kiri dan tambahkan dengan 2 kali angka dari kanan, kemudian jika hasinya kurang dari modulo dan genap maka hasilnya dibagi 2 setelah dibagi 2 maka hasilnya sama dengan sisa pembagiannya. Jika setelah penjumlahan tadi hasilnya ganjil maka bilangan itu di tambah modulo dikurangi ganjil dibagi 2 hasilnya sama dengan sisa pembagiannya. 2. Jika terdiri dari 3 angka atau lebih maka lakukan cara diatas dengan memisahkan dua angka dari kiri kemudian lanjutkan seperti cara diatas setelah mendapatkan sisa dari penguraiandua angka dari kiri maka sisanya dibuat sebagai puluhan dan satuannya yaitu angka setelah yang dipisahkan tadi. Lakukan langkah itu sampai angka terakhir bilangan yang akan dibagi. Contoh yang terdiri dari dua angka: Tentukan sisa pembagian dari 98 dibagi 19? Jawab: 98 = 9 + 2(8) = 25 Karena 6 adalah genap maka sisa pembagiannya 6 dibagi 2 yaitu 3. Contoh yang terdiri dari 3 angka : Tentukan sisa pembagian dari 978 dibagi 19? Jawab: Karena terdiri dari 3 angka maka ambil dua angka dari kiri dan cari sisanya, 97 = 9 + 2(7) = 23

12 Karena angka 4 genap maka 4 dibagi 2 hasinya 2. Kemudian hasilnya dibuat menjadi puluhan dan satuannya adalah angka yang belum diuraikan dari bilangan awal, dalam hal ini yaitu 8. 28 = 2 + 2(8) = 18 Karena 18 genap maka 18 dibagi 2 hasilnya 9 dan 9 adalah sisa dari 978 dibagi 19. Contoh yang terdiri dari 6 angka : Tentukan sisa pembagian dari 178235 dibagi 19? Jawab : Seperti halnya pada contoh yang terdiri dari tiga angka maka pisahkan dua angka dari kiri, karena dalam soal diatas dua angka dari kiri adalah 17 dan maka ambil tiga angka dari kiri terlebih dahulu. 178 = 17 + 2(8) = 33 14 Diperoleh dari 33 dikurangi 19 atau bisa menggunakan cara seperti berikut, 33 = 3 + 2(3) = 9 Karena 9 ganjil maka modulo dikurangi 9 kemudian hasilnya di bagi 2 selanjutnya jumlahkan dengan 9. 19 9 = 10 = = 5 9 + 5 = 14 Karena 14 genap maka 14 dibagi 2 hasilnya 7. Setelah diketahui sisanya 7 kemudian dibuat menjadi puluhan dan satuannya adalah angka yang belum diuraikan dari bilangan awal, dalam hal ini yaitu 2. 72 = 7 + 2(2) = 11 Karena 11 ganjil maka, 19 11 = 8 = = 4 11 + 4 = 15 Setelah diketahui sisanya 15 kemudian dibuat menjadi puluhan dan satuannya adalah angka yang belum diuraikan dari bilangan awal, dalam hal ini yaitu 3. 153 = 15 + 2(3) = 21 Karena 2 genap maka, = 1

13 Setelah diketahui sisanya 1 kemudian dibuat menjadi puluhan dan satuannya adalah angka yang belum diuraikan dari bilangan awal, dalam hal ini yaitu 5. Dalam hal ini tidak perlu diuraikan kembali karena 15 masih anggota dari modulo. Karena tidak ada lagi bilangan yang belum diuraikan maka sisa pembagiannya adalah hasil terakhir yaitu 15. Catatan : 1. untuk bilangan kelipatan yang digunakan untuk dikurangi bilangan awal jika kelipatannya mengikuti pendekatan kelipatan modulo dari digit depan pada bilangan awal maka sisa pengurangan merupakan sisa pembagian bilangan awal, 2. jika menggunakan pola pendekatan kelipatan modulo yang dibagi 2 dari setiap bilangan sisa, jika tidak habis dibagi 2 maka menggunakan kelipatan 13 itu sendiri tetapi tidak begitu mendekati bilangan awal maka untuk mengetahui sisa pembagiannya yaitu dengan mengurangkan modulo dengan sisa pengurangan bilangan awal. 3. Jika bilangan awal menggunakan kelipatan yang nmendekati sekali bilangan awal maka sisa pengurangannya merupakan sisa pembagian bilangan awal dengan prima. 4. Jika yang digunakan adalah perkalian atau penjumlahan maka hasil dari perkalian dan penjumlahan itu merupakan sisa pembagiannya. Manfaat dari moduler prima ini yaitu untuk mengetahui sisa pembagian untuk bilangan yang tidak habis dibagi bilangan prima tanpa harus menggunakan pembagian secara manual, yaitu dengan menggunakan metode pendekatan dari bilangan yang akan dibagi adapun untuk mengetahui bilangan yang habis dibagi atau tidak maka bisa menggunakan FPB jika FPB nya 1 maka bilangan itu tidak habis dibagi oleh bilangan prima.

14 DAFTAR PUSTAKA Anonim. [Online]. Tersedia: https://www.google.co.id/se arch?q=buku+disquisitiones +arithmeticae&newwindow =1. [26 juni 2015] Hakim, Arnaz Maliku. [Online]. Tersedia:https://zanragtg.wo rdpress.com. [19 juni 2015] Hoca, Senol. [Online]. Tersedia: https://m.youtube.com/watc h?v=kgoi_y9lufa. [19 juni 2015] Nngermanto, Agus. [Online]. Tersedia: https://m.youtube.com/watc h?v=7hh0likudn0.[19 juni 2015] Sihabudin. [Online]. Tersedia: https://asimtot.wordpress.co m/2010/05/03/modulo-dankongruensi/.[20 juni2015]