SISTEM KOORDINAT GEOGRAFIK

dokumen-dokumen yang mirip
SAATNYA MENCOCOKKAN ARAH KIBLAT. Oleh: Drs. H. Zaenal Hakim, S.H. 1. I.HUKUM MENGHADAP KIBLAT. Firman Allah dalam Surat al-baqarah ayat 144: Artinya:

BAB II LANDASAN TEORI. hukum menghadap kiblat dan cara menentukan arah kiblat sangat

5. BOLA LANGIT 5.1. KONSEP DASAR SEGITIGA BOLA

SEGITIGA BOLA DAN ARAH KIBLAT

BAB IV ANALISIS FORMULA PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT DALAM BUKU EPHEMERIS HISAB RUKYAT 2013

MENGENAL GERAK LANGIT DAN TATA KOORDINAT BENDA LANGIT BY AMBOINA ASTRONOMY CLUB

(Fenomena Matahari di Atas Ka bah) Pandapotan Harahap NIM: Abstrak

APLIKASI SEGITIGA BOLA DALAM RUMUS-RUMUS HISAB RUKYAT

Simulasi Penentuan Sudut Arah Kiblat dengan Metode Segitiga Bola Menggunakan Bahasa Pemrograman GUI MatLab R2009

PROGRAM APLIKASI FALAKIYAH Bagian IV : APLIKASI PERHITUNGAN UNTUK PENGGUNAAN SUNDIAL MIZWALA dengan Casio Power Graphic Fx-7400g Plus

SEGITIGA BOLA. Kelompok 7. Saraswati Basuki Putri Nila Muna Intana Hesti Nikmah Safitri Alik Sus Adi

METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT DENGAN SEGITIGA SIKU-SIKU DARI BAYANGAN MATAHARI SETIAP SAAT

BAB IV ANALISIS METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT SLAMET HAMBALI. A. Analisis Konsep Pemikiran Slamet Hambali tentang Metode

AS Astronomi Bola. Suhardja D. Wiramihardja Endang Soegiartini Yayan Sugianto Program Studi Astronomi FMIPA Institut Teknologi Bandung

BAB IV ANALISIS PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN LINGKARAN JAM TANGAN ANALOG. A. Prinsip Penentuan Arah Kiblat dengan Menggunakan Lingkaran Jam

TATA KOORDINAT BENDA LANGIT. Kelompok 6 : 1. Siti Nur Khotimah ( ) 2. Winda Yulia Sari ( ) 3. Yoga Pratama ( )

A. JUDUL. Oleh. Drs. H. Nabhan Maspoetra, MM

METODE PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN TEODOLIT

0 o 0 0 BT. Dari hasil perhitungan diperoleh azimuth Mushola Miftahul Huda terhadap

Salman Alfarisy, Lc.* Sekretaris Asia Pacific Community for Palestine

MAKALAH SEGITIGA BOLA. disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Astronomi. Program Studi Pendidikan Fisika. oleh. 1. Dyah Larasati ( )

Cara Mudah Penentuan Arah Kiblat

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE

BAB II LANDASAN TEORI TENTANG ARAH KIBLAT

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN SAADOEDDIN DJAMBEK TENTANG ARAH KIBLAT. A. Penentuan Arah Kiblat Pemikiran Saadoeddin Djambek

BAB II HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ARAH KIBLAT

BAB IV ANALISIS PENENTUAN ARAH KIBLAT DALAM KITAB. A. Analisis Penentuan Arah Kiblat dengan Bayang- bayang Matahari dalam

BAB 3 TRIGONOMETRI. csc = sec = cos. cot = tan

Trigonometri. Trigonometri

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari lintasan benda-benda langit pada orbitnya masing-masing.

DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL BULAN KAMARIAH ALMANAK NAUTIKA DAN ASTRONOMICAL ALGORITHMS JEAN MEEUS

MENGHITUNG ARAH KIBLAT DENGAN RUMUS SEGITIGA BOLA

BAB IV ANALISIS METODE HISAB AWAL WAKTU SALAT AHMAD GHOZALI DALAM KITAB ṠAMARĀT AL-FIKAR

BAB IV ANALISIS METODE BAYANG-BAYANG AZIMUTH TERHADAP ARAH KIBLAT MASJID BAITUR ROHIM

A. Peta 1. Pengertian Peta 2. Syarat Peta

: Jarak titik pusat benda langit, sampai dengan Equator langit, di ukur sepanjang lingkaran waktu, dinamakan Deklinasi. Jika benda langit itu

PENINGKATAN PEMAHAMAN TAKMIR MASJID DI WILAYAH MALANG TERHADAP PENENTUAN AKURASI ARAH KIBLAT

ILMU UKUR TANAH 2 PENENTUAN POSISI

PENDAHULUAN Surveying : suatu ilmu untuk menentukan posisi suatu titik di permukaan bumi

MIMIN RIHOTIMAWATI TRIGONOMETRI

Dr. Ramadoni Syahputra Jurusan Teknik Elektro FT UMY

BAB IV APLIKASI DAN UJI AKURASI DATA GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) DAN AZIMUTH MATAHARI PADA SMARTPHONE BERBASIS ANDROID UNTUK HISAB ARAH KIBLAT

BAB I PENDAHULUAN. dan seluruh tubuhnya ke arah Ka bah yang berada di Masjidil Haram, karena

Soal No. 1 Perhatikan gambar berikut, PQ adalah sebuah vektor dengan titik pangkal P dan titik ujung Q

TRIGONOMETRI Matematika

MEMBUAT PROGRAM APLIKASI FALAK DENGAN CASIO POWER GRAPHIC fx-7400g PLUS Bagian II : Aplikasi Perhitungan untuk Penggunaan Teodolit

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA

ISTIYANTO.COM. memenuhi persamaan itu adalah B. 4 4 C. 4 1 PERBANDINGAN KISI-KISI UN 2009 DAN 2010 SMA IPA

BAB II DASAR TEORI II.1 Sistem referensi koordinat

Soal UN 2009 Materi KISI UN 2010 Prediksi UN 2010

BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN BINTANG SEBAGAI PENUNJUK ARAH KIBLAT KELOMPOK NELAYAN MINA KENCANA DESA JAMBU KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA

APLIKASI SISTEM KOORDINAT BOLA DALAM PENENTUAN PUSAT DAN TINGGI RATA RATA WILAYAH KECAMATAN SE KABUPATEN BANYUMAS DENGAN BANTUAN PROGRAM MATLAB

Telaah Penentuan Arah Kiblat dengan Perhitungan Trigonometri Bola dan Bayang-Bayang Gnomon oleh Matahari

Bab 3. Teleskop Bamberg

BAB I PENDAHULUAN. beraktifitas pada malam hari. Terdapat perbedaan yang menonjol antara siang

2009 ACADEMY QU IDMATHCIREBON

A. Analisis Fungsi dan Kedudukan Deklinasi Bulan dan Lintang Tempat dalam menghitung Ketinggian Hilal menurut Kitab Sullam an-nayyirain

Matematika EBTANAS Tahun 1999

BAB IV ANALISIS. A. Landasan Penyusunan Konversi Kalender Waktu Shalat Antar Wilayah. Dalam Kalender Nahdlatul Ulama Tahun 2016

PEMANFAATAN METODE PERGESERAN TITIK BAYANGAN MATAHARI DALAM MENENTUKAN ARAH KIBLAT MESJID AGUNG DAN MESJID JAMI KOTA PALOPO

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

f(-1) = = -7 f (4) = = 3 Dari ketiga fungsi yang didapat ternyata yang terkecil -7 dan terbesar 11. Rf = {y -7 y 11, y R}

Buku Pendalaman Konsep. Trigonometri. Tingkat SMA Doddy Feryanto

5. TRIGONOMETRI II. A. Jumlah dan Selisih Dua Sudut 1) sin (A B) = sin A cos B cos A sin B 2) cos (A B) = cos A cos B sin A sin B.

BAB IV ANALISIS KOMPARASI ISTIWAAINI KARYA SLAMET HAMBALI SEBAGAI PENENTU ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT

Trigonometri - IPA. Tahun 2005

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

BAB IV ANALISIS TERHADAP ARAH KIBLAT MASJID AGUNG BANTEN. A. Analisis terhadap Akurasi Arah Kiblat Masjid Agung Banten

Bab1. Sistem Bilangan

PROYEKSI PETA DAN SKALA PETA

PERANGKAT LUNAK UNTUK PERHITUNGAN SUDUT ELEVASI DAN AZIMUTH ANTENA STASIUN BUMI BERGERAK DALAM SISTEM KOMUNIKASI SATELIT GEOSTASIONER

Telaah Indikator Arah Kiblat melalui bayang bayang oleh Matahari pada saat di dekat zenith Ka bah

D. (1 + 2 ) 27 E. (1 + 2 ) 27

LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) PERBANDINGAN FUNGSI, PERSAMAAN, DAN IDENTITAS TRIGONOMETRI

Can be accessed on:

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB ARAH KIBLAT DR. ING KHAFID DALAM PROGRAM MAWĀQIT 2001

BAB IV ANALISIS TERHADAP PEDOMAN PRAKTIS PENENTUAN ARAH KIBLAT KARYA M. MUSLIH HUSEIN

Matematika EBTANAS Tahun 1991

Pertemuan 3. Penentuan posisi titik horizontal dan vertikal

B.1. Menjumlah Beberapa Gaya Sebidang Dengan Cara Grafis

BAB IV UJI KOMPARASI DAN EVALUASI QIBLA LASER SEBAGAI ALAT PENENTU ARAH KIBLAT. A. Konsep Penentuan Arah Kiblat Dengan Qibla Laser Setiap Saat Dengan

BAB IV UJI AKURASI AWAL WAKTU SHALAT SHUBUH DENGAN SKY QUALITY METER. 4.1 Hisab Awal Waktu Shalat Shubuh dengan Sky Quality Meter : Analisis

BAB GEJALA GELOMBANG

KARTU SOAL ULANGAN HARIAN

II. TINJUAN PUSTAKA. lim f(x) = L berarti bahwa bilamana x dekat tetapi sebelah kiri c 0 maka f(x)

APLIKASI DERET FOURIER UNTUK MENGETAHUI WAKTU TERBIT, KULMINASI, DAN TERBENAM MATAHARI SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Vektor di Bidang dan di Ruang

Pembagian kuadran azimuth

TRIGONOMETRI BAB 7. A. Perbandingan Trigonometri pada Segitiga Siku-siku

BAB GEJALA GELOMBANG

Lampiran 1. Instrumen Penelitian 1.1 RPP Kelas Eksperimen Pertama 1.2 RPP Kelas Eksperimen Kedua 1.3 LKS Kelas Eksperimen Pertama 1.

TRANSFORMASI KOORDINAT BOLA LANGIT KE DALAM SEGITIGA BOLA (EQUATORIAL DAN EKLIPTIKA) DALAM PENENTUAN AWAL WAKTU SALAT

UJIAN NASIONAL SMA/MA Tahun Pelajaran 2004/2005 MATEMATIKA (D10) PROGRAM STUDI IPA ( U T A M A )

Silabus. Kegiatan Pembelajaran Instrume n. - Menentukan nilai. Tugas individu. (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan

BAB II KONSEP UMUM TENTANG ARAH KIBLAT

BAB III METODE PENENTUAN ARAH KIBLAT ISTIWAAINI DAN THEODOLITE. 5 Agustus 1954 di sebuah desa kecil bernama Bajangan, kecamatan

V. FUNGSI TRIGONOMETRI DAN FUNGSI INVERS TRIGONOMETRI

MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 1992

Selain besaran pokok dan turunan, besaran fisika masih dapat dibagi atas dua kelompok lain yaitu besaran skalar dan besaran vektor

Transkripsi:

SISTEM KOORDINAT GEOGRAFIK Oleh: Ir. Djawahir, M.Sc Untuk mengidentifikasi posisi titik di bumi atau yang terkait dengan bumi, dikembangkanlah Sistem Koordinat Geografik dengan mendefinisikan bentuk bumi berupa bola (globe) dengan dimensi mendekati ukuran bumi yang sesungguhnya (jejari bumi R 6378 kilometer). Sebagai origin sistem koordinat biasanya diambil titik pusat bumi (geosentrik). Ku h P P Meridian P Meridian Greenwich P X Ekuator O P Q Gambar 1. Sistem Koordinat Geografik Sumber: http://homer.ugdsb.on.ca/ Dalam sistem koordint ini kedudukan suatu titik (P) dinyatakan dengan tiga komponen koordinat (lihat Gambar 1): a) Lintang geografik (sering dinyatakan dengan simbol huruf L atau φ), b) Bujur geografik (sering dinyatakan dengan simbol huruf B atau λ), c) Tinggi terhadap permukaan laut rerata (sering dinyatakan dengan simbol huruf h atau H). Lintang geografik diukur dari Ekuator (0 derajat) sepanjang busur meridian ke arah Kutub Utara (positif) atau ke arah Kutub Selatan (negatif) sampai ke proyeksi titik yang bersangkutan pada permukaan bola bumi acuan. Harga lintang geografik berkisar dari 0 derajat sampai +90 derajat untuk belahan bumi utara dan dari 0 derajat sampai 90 derajat untuk belahan bumi selatan. Pada Gambar di atas, lintang geografik titik P ialah P (=sudut QOP). Bujur geografik diukur sepanjang busur ekuator mulai dari meridian Greenwich ke arah Timur (positif) atau ke arah Barat (negatif) sampai meridian yang melalui titik yang 1

bersangkutan. Harga bujur geografik berkisar dari 0 derajat ( 0 jam) sampai 180 derajat (12 jam). Pada Gambar di atas, bujur geografik titik P ialah P (=sudut QOX). Tinggi titik diukur dari bidang acuan, biasanya permukaan laut rerata, sepanjang garis normal atau vertikal sampai ke titik yang bersangkutan. Pada Gambar di atas, tinggi titik P ialah hp. Jarak titik P ke origin sistem koordinat (pusat bumi) ialah R+hp Informasi tentang koordinat geografik titik-titik atau tempat pengamatan di permukaan bumi dapat diperoleh antara lain melalui data grafis yang disajikan oleh peta atau atlas, data koordinat yang disajikan oleh situs website Google Earth baik secara online maupun offline, pengukuran langsung di lapangan dengan sistem satelit (GPS, GNSS) atau metode ekstra terestrial yang lain. Perlu diketahui bahwa untuk perhitungan-perhitungan posisi teliti di bumi dan sekitarnya diperlukan bentuk dan dimensi bumi acuan yang lebih akurat, mendekati bentuk dan dimensi bumi yang sebenarnya, yaitu elipsoid. Dalam hal ini pendekatan bentuk bumi bola tidak lagi cukup akurat. Penentuan posisi dalam sistem satelit (GPS, GNSS, dsb) menggunakan acuan bumi elipsoid. SEGITIGA BOLA Yang dimaksud dengan segitiga bola ialah segitiga pada permukaan bola yang dibentuk dengan cara menghubungkan tiga titik pada permukaan bola dengan busur lingkaran besar. Jadi sisi-sisi segitiga bola ialah segmen-segmen busur lingkaran besar. Pada Gambar 2 di bawah, titik-titik A, B, dan C adalah titik-titik pada permukaan bola, sedangkan AB, AC, dan BC adalah segmrn-segmen busur lingkaran besar, C C O b a A B A c B Gambar 2. Segitiga bola ABC 2

Unsur-unsur segitiga bola terdiri dari tiga sudut dan tiga sisi. Pada gambar segitiga bola ABC di atas, unsur-unsur segitiga bola ialah sudut-sudut,, dan sisi-sisi a, b, c. Berbeda dengan segitiga datar yang jumlah ketiga sudutnya 180 derajat, jumlah ketiga sudut dalam segitiga bola ialah 180 derajat ditambah ekses sferis. Besaran sisi segitiga bola dinyatakan dalam satuan sudut, yang besarnya sama dengan sudut di pusat bola yang berhadapan dengan sisi yang bersangkutan. Misal, seperti dipresentasikan dalam Gambar 3, harga sisi AB sama dengan sudut atau sudut AOB. Sementara itu besaran sudut segitiga bola dinyatakan dalam satuan sudut yang besarnya sama dengan sudut yang diapit oleh dua garis lurus (misal AB1 dan AC1) yang masing-masing menyinggung busur sisi segitiga bola di titik sudut yang bersangkutan. Pada Gambar 3, dipresentasikan bahwa besar sudut (pada bidang datar yang menyinggung bola di titik A) adalah sama dengan sudut yang diapit oleh busur-busur AB dan AC di permukaan bola. A C C1 r O B B A B1 Gambar 3. Satuan unsur-unsur segitiga bola Sudut segitiga bola maupun busur segitiga bola dapat diukur dalam satuan DMS (Derajat, Menit, Sekon) maupun dalam satuan RADIAN. 2 [RADIAN] = 360 [DERAJAT] = 3,141592654 1 [RADIAN] = 57 O 17 44,8 = 57,29577778 O = 3437,746667 = 206264,8. Untuk transformasi besaran sudut dari satuan RADIAN ke satuan DERAJAT dan satuan SEKON atau DETIK dan sebaliknya dapat dilakukan sebagai berikut: = [RADIAN](180/ ) satuan DERAJAT = [DERAJAT]( /180) satuan RADIAN = [RADIAN](206264,8) satuan DETIK (busur) = [SEKON] / (206264,8) satuan RADIAN 3

SATUAN SUDUT, BUSUR, DAN WAKTU r B O r Gambar 4. Sudut dan busur r = OA=OB; busur AB = r ( dalam satuan radian) satu fase putaran = 360 o = 360 X 60 = 21600 = 360 X 60 X 60 = 1296000 360 o = 2 radian = 2 X 3,141592654 radian (1 radian = 57 o 17 44,8 = 206264,8 ) 360 o = 24 jam = 24 X 60 m = 1440 m = 24 X 60 X 60 s = 86400 s (1 jam=15 o ; 1 m =15 ; 1 s =15 ) Hubungan fungsional antara unsur-unsur segitiga bola dinyatakan dengan rumus-rumus segitiga bola. Rumus-rumus dasar segitiga bola meliputi rumus sinus, rumus cosinus, rumus tangen, dan rumus S. Berikut ini disajikan rumus sinus, rumus cosinus, dan rumus tangen dengan notasi unsur-unsur segitiga bola mengacu pada Gambar 2. Rumus sinus: sin a / sin = sin b / sin = sin c / sin... (1) Rumus cosinus: cos a = coc b cos c + sin b sin c cos cos b = coc a cos c + sin a sin c cos... (2) cos c = coc a cos b + sin a sin b cos cos = coc cos + sin sin cos a cos = coc cos + sin sin cos b... (3) cos = coc cos + sin sin cos c A Rumus tangen: tan ((a + b)/ 2) tan (( + )/ 2) ------------------ = ------------------- tan ((a b)/ 2) tan (( )/ 2)... (4) cos (( )/ 2) tan ((a + b)/ 2) = ------------------- tan c/ 2 cos (( + )/ 2)... (5) 4

sin (( )/ 2) tan ((a b)/ 2) = ------------------- tan c/ 2 sin (( + )/ 2) cos ((a b)/ 2) tan (( + )/ 2) = ------------------ cot / 2 cos ((a + b)/ 2) sin ((a b)/ 2) tan (( )/ 2) = ------------------ cot / 2 sin ((a + b)/ 2)... (6)... (7)... (8) Segitiga bola tertentu atau unik apabila tiga dari enam unsur-unsurnya tertentu (termasuk unsur yang tertentu ialah minimal satu sisi). Jadi segitiga bola tertertentu atau unik oleh himpunan unsur-unsur: (a) satu sisi dan dua sudut, atau (b) dua sisi dan satu sudut, atau (c) tiga sisi. PERHITUNGAN ARAH KIBLAT SHALAT Pendekatan atau asumsi yang diterapkan dalam penentuan arah kiblat shalat ialah bumi berbentuk bola, sehingga segmen-segmen busur lingkaran besar (jejari R= 6378 km) yang menghubungkan Kutub Utara (K), Ka bah (M), dan Titik tempat shalat (X) membentuk segitiga bola XKM sebagai berikut. K X - M 90 o - M 90 o - X M AMX AXM X Gambar 5. Segitiga bola XKM Unsur-unsur segitiga bola yang diketahui ialah: a) Sisi KX = 90 o X ( X adalah lintang geografik tempat shalat, untuk belahan bumi selatan bertanda negatif, untuk belahan bumi utara bertanda positif) 5

b) Sisi KM = 90 o M ( M adalah lintang geografik Ka bah = + 21 o 25 25 ) c) Sudut XKM = X M ( X adalah bujur geografk tempat shalat dan M adalah bujur geografik Ka bah = 39 o 49 40 ) Unsur segitiga bola yang dihitung ialah sudut A XM (= azimut Utara-Barat untuk wilayah Indonesia) dengan salah satu dari dua cara berikut: Cara I: Menghitung busur XM dengan rumus cos (XM) = cos(90 o - X) cos(90 o - M) + sin(90 o - X) sin(90 o - M) cos( X - M) kemudian hasilnya digunakan untuk menghitung sudut A XM dengan rumus atau rumus sin(a XM ) = sin (90 o - M) sin ( X - M)/ sin (XM) cos(90 o - M) - cos(90 o - X) cos (XM) cos(a XM ) = ------------------------------------------------ sin(90 o - X) sin(xm) Cara II: Menghitung (A MX + A XM )/2 dan (A MX A XM )/2 dengan rumus cos [{(90 o - X) (90 o - M)}/ 2] tan {(A MX + A XM )/2} = ---------------------------------------- cot{( X - M)/ 2} cos [{(90 o - X) + (90 o - M)}/ 2] sin [{(90 o - X) (90 o - M)}/ 2] tan{(a MX A XM )/2} = --------------------------------------- cot{( X - M)/ 2} sin [{(90 o - X) + (90 o - M)}/ 2] kemudian hasilnya dikurangkan untuk mendapatkan sudut A XM 6

PRAKTEK PENENTUAN ARAH KIBLAT SHALAT Dalil Al Qur an dan Hadist: Gambar 6. Shalat menghadap kiblat Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ea rah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS. Al- Baqarah 144). Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat) hadapkanlah mukamu ea rah Masjidil Haram (Ka bah). Sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka bah itu benar dari Allah (Tuhanmu) dan ingatlah bahwa Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan. (QS. Al Baqarah 149) Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ea rah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-ku. Dan agar Kusempurnakan ni mat-ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk (QS. Al- Baqarah 150). Bila kamu hendak mengerjakan salat, hendaklah menyempurnakan wudlu kemudian menghadap kiblat lalu takbir (HR. Bukhari dan Muslim). Apa yang ada di antara timur dan barat adalah kiblat. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi). 7

Penentuan atau orientasi arah kiblat shalat dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: 1. orientasi dengan kompas, 2. orientasi dengan bayangan matahari, 3. orientasi dengan azimut matahari atau bintang, ORIENTASI DENGAN KOMPAS Gambar 7. Orientasi arah kiblat shalat dengan kompas Langkah-lagkah: 1. Menghitung arah kiblat A XM dari arah Utara Geografik (U) 2. Menghitung arah kiblat A dari arah Utara Magnetik dengan mengoreksikan besaran deklinasi magnit ( ) kepada arah Utara Geografik A = A XM + ; dalam hal ini harga deklinasi magnetik bisa positif bisa negatif. 3. Pelurusan atau orientasai arah kiblat sesuai dengan besaran azimut yang telah dihitung. Pelurusan dapat dilakukan dengan menggunakan teodolit kompas (misal To), BTM, atau secara sederhana menggunakan kompas (kompas geologi atau kompas biasa). ORIENTASI DENGAN BAYANGAN MATAHARI arah sinar matahari matahari M X Gambar 8. Orientasi arah kiblat shalat dengan bayangan matahari 8

Konsepnya ialah pada saat matahari melintas tepat di atas busur XM (X = Tempat shalat dan M = Makkah/Ka bah) maka arah bayangan tongkat yang ditancapkan vertikal di tempat shalat X (pada permukaan datar/horizontal) adalah sesuai dengan arah kiblat shalat. Yang perlu dihitung kemudian ialah kapan matahari melintas di atas busur XM. Langkah-langkah: 1. Hitung waktu (tanggal, jam, menit, detik) saat matahari melintas di atas garis XM (busur yang menghubungkan tempat shalat dengan ka bah) 2. Pilih tempat (permukaan tanah) yang datar dan terbuka sehingga sinar matahari dapat langsung sampai ke tempat tersebut. 3. Dirikan tongkat vertikal (tegak lurus) diatas permukaan tanah atau gantungkan untingunting di tempat yang telah dipilih 4. Tepat pada saat yang telah dihitung, tandai arah bayangan tongkat atau arah bayangan benang unting-unting pada permukaan tanah. ORIENTASI DENGAN AZIMUT MATAHARI U B M S AXB AXS X Gambar 9. Orientasi arah kiblat shalat dengan pengamatan matahari Langkah-langkah: 1. Pilih suatu garis di permukaan tanah, misal kedua ujungnya masing-masing ditandai dengan titik X dan titik B 2. Dengan teodolit berdiri di salah satu titik tersebut (misal di X), maka azimut garis XB (=A XB ), ditentukan dengan pengamatan matahari atau bintang (S); Langkah ini memerlukan proses pengukuran dan perhitungan tertentu. 3. Dengan acuan garis XB yang telah ditentukan azimutnya (=A XB ), maka arah kiblat shalat (=A XM ) di tempat tersebut dapat direkonstruksi dengan menggunakan teodolit. 9

SAAT MATAHARI MELINTAS DIATAS GARIS HUBUNG ANTARA TEMPAT SHALAT DAN KA BAH Meridian Langit Ka bah t KuL Meridian Lokal Tempat Shalat ZM O Ekuator Langit S AXM ZX KsL KuL t 90 o - 90 o - S AXM 90 o - a ZX 10

ALGORITMA HITUNGAN INPUT Tanggal = DD Bulan = MM Tahun = YYYY To = 12 Tz = 7 (WIB), 8(WITA), 9 (WIT) HITUNG Julian Date untuk epok To JD = INT{ 365.25y } + INT{ 30.6001(m+1) } + DD + (To - Tz)/24 + 1720981.5 untuk MM < 02, y = YYYY 1, m = MM + 12 untuk MM > 02, y = YYYY, m = MM HITUNG data matahari untuk epok To 1. Deklinasi (δ), 2. Equation of time (ET) INPUT Lintang tempat shalat φ Bujur tempat shalat λ L Azimut Ka bah (A XM ) HITUNG waktu zone saat matahari melintas SS = (sin A XM cos φ)/ cos δ); CS= {sqr(1 SS*SS} Ca = (sin 2 δ - sin 2 φ)/( sin δ cos φ cos A XM - cos δ sin φ CS) Sa = {sqr(1 Ca*Ca} Ct = (Sa - sin δ sin φ)/ (cos δ cos φ) t = tan -1 {(sqr(1 Ct*Ct)/ Ct } Bila Ct < 0 maka t = t + 180 o T = t + 12 ET λ L + Tz [jam] T To < Δ T To =T Y Waktu Lintas T 11

DATA MATAHARI Julian Date (JD) JD = INT(365,25 y) + INT{30,6001(m+1)} + D + UT/24 + 1720981,5 untuk M < 2, m = M + 12 dan y = Y 1 untuk M >2, m = M dan y = Y UT = (jam + menit / 60 + detik / 3600) Tz (untuk WIB, Tz = 7) Data astronomik matahari t = JD 2451545 L = 280,460 o + 0,9856474 o t g = 357,528 o + 0,9856003 o t m = l + 1,915 o sin g + 0,020 o sin 2g = 23,439 o 0,0000004 o t m = tan -1 (cos tan m ) m = sin -1 (sin sin m ) R = 1,00014 0,01671 cos g 0,00014 cos 2g d m /2 = 0,2666 o / R p = 0,0024 o ET = 4(L m ) dalam satuan menit waktu 12