PERSONALIA

dokumen-dokumen yang mirip
Tugas Individu Farmasi Industri. Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu

DIREKTORAT INSPEKSI DAN SERTIFIKASI OBAT TRADISIONAL, KOSMETIK DAN PRODUK KOMPLEMEN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu

KATA PENGANTAR QUALITY CONTROL

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)

Aspek-aspek CPOB. Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

B. Tujuan Tujuan Qualiy Assurance adalah untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik)

Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt.

Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu

BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum PT. Freshklindo Graha Solusi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri

DOKUMENTASI

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi

Produksi di Industri Farmasi

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

Penggunaan terbesar herbal. Fitofarmaka. supplement. kosmetik

Tugas dan Tanggung Jawab. a. Menetapkan tujuan,visi,dan misi perusahaan. b. Menetapkan kebijakan mutu dan tujuan mutu perusahaan.

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN

BAB II TINJAUAN UMUM. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik

2. KETENTUAN UMUM Obat tradisional Bahan awal Bahan baku Simplisia

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

KEBIJAKAN ALKOHOL DAN OBAT TERLARANG PT BENING TUNGGAL MANDIRI

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Singkat PT Kasa Husada Wira Jatim

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah

PENILAIAN SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) ISO 9001 : 2000

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

LAPORAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan

(BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus Sejak berdirinya hingga sekarang ini PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.

PEDOMAN PENYIAPAN DOKUMEN INDUK INDUSTRI FARMASI DAN INDUSTRI OBAT TRADISIONAL PENDAHULUAN

Kebijakan Manajemen Risiko

BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari industri rumah

BAB III KEGIATAN DI INDUSTRI FARMASI P.T. KIMIA FARMA (PERSERO) TBK. PLANT MEDAN

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Tahap Penelitian. Tahapan penelitian dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a. Tahap Pendahuluan

Sehingga semua pihak merasa ikut memilki dan merasakan hasilnya. Pelatihan dan Kompetensi Kerja Sistem Manajemen K3 SMK3

BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK. 2.1 Apotek dan Peran Apoteker Pengelola Apotek. Apotek adalah suatu tempat tertentu dilakukan pekerjaan kefarmasian dan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001

Lampiran 1 PROSEDUR AKTIVITAS PERSEDIAAN BARANG MASUK. PT. SUMBER REJEKI Jalan Gembong Sekolahan No.14 Surabaya STANDARD OPERATING PROCEDURE

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

REGULASI PENGELOLAAN DISTRIBUSI OBAT DAN URGENCY SERTIFIKASI CDOB

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK

VIII. SISTEM MANAJEMEN DAN ORGANISASI PERUSAHAAN

Menyetujui untuk diterbitkan Pada Tanggal 13 Oktober Oleh

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI

BAB IV ANALISIS. Laboratorium Pengawasan Mutu mempunyai fungsi yang sangat vital dalam

MANUAL PENETAPAN STANDAR AKADEMI KEBIDANAN WIJAYA KUSUMA MALANG

BAB 3 TATA LAKSANA SISTEM YANG BERJALAN

APOTEKER DI INDUSTRI FARMASI

BAB III ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

ISO 9001:2000. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. : PT. Multi Dimensi Persona. : Ruko Graha Indah Wisesa Kav A. No.9. Jl. Gayung Kebonsari No.

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 3 ANALISIS PERUSAHAAN. PT. Sarana Prima Kencana merupakan perusahaan yang berdiri di

TABEL 1 DAFTAR PERTANYAAN EFEKTIVITAS AUDIT INTERNAL

STRUKTUR ORGANISASI SEDERHANA DAN DESKRIPSI TUGASNYA

APOTEKER DI INDUSTRI FARMASI

BAB VIII. SISTEM MANAJEMEN DAN ORGANISASI PERUSAHAAN

PENJABARAN KKNI JENJANG KUALIFIKASI V KE DALAM LEARNING OUTCOMES DAN KURIKULUM PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN. sistem yang sedang berjalan dalam perusahaan, menganalisis kebutuhan informasi,

Transkripsi:

PERSONALIA

1. Persyaratan Umum Jumlah dan Pengetahuan: Memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya. Mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Personil di setiap bagian : cukup jumlahnya. Tanggung jawab masing-masing individu dimengerti secara jelas oleh individu ybs.

Kesehatan dan kebersihan Personil: Sehat fisik dan mental Mengenakan pakaian kerja yang bersih Tidak berpenyakit kulit, penyakit menular atau memiliki luka terbuka, Memakai penutup rambut dan alas kaki yang sesuai dan memakai sarung tangan serta masker apabila diperlukan

2. Organisasi dan Manajemen Perusahaan harus mempunyai struktur organisasi Uraian tugas dibuat secara tertulis untuk tiap-tiap individu Wewenang yang cukup untuk melaksanakan tanggung jawab

Visi dan Misi Perusahaan Perusahaan harus merumuskan visi dan misinya masing-masing Dalam visi terkandung cita-cita perusahaan Dalam misi terkandung jabaran tujuan dan langkah-langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Visi dan Misi perusahaan disampaikan kepada semua karyawan

3. Sumber Daya Manusia (SDM) Personil Kunci adalah personil yang seharusnya bekerja penuh waktu/full time yaitu pada posisi: Kepala Bagian Produksi Kepala Bagian Pengawasan Mutu Kepala Bagian Pemasaran dan Distribusi Kepala Bagian Tehnik, dan lain-lain Kepala Bagian Produksi dan Kepala Pengawasan Mutu hendaknya orang yang berlainan dan saling independen

7 Kualifikasi Personil Kunci Personil kunci harus memiliki kualifikasi: Berlatar belakang pendidikan science misalnya Sarjana Farmasi, Sarjana Kimia, Sarjana Mikrobiologi atau sarjana lain yang bidang ilmunya relevan dengan tanggung jawab yang diembannya. Mempunyai pengalaman praktis dan ketrampilan dalam kemimpinan sehingga memungkinkan melaksanakan tugas secara profesional

Kepala Bagian Produksi: Kepala Bagian Produksi dan Kepala Bagian Pengawasan Mutu harus dijabat oleh orang yang berbeda dan mempunyai kewenangan yang independen. Kepala Bagian Produksi : Seorang Apoteker, Sarjana Farmasi, Sarjana Kimia atau tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus di bidang produksi obat tradisional Mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam kepemimpinan sehingga memungkinkan melaksanakan tugas sebagai profesional. Hendaklah independen, memiliki wewenang serta tanggung jawab penuh untuk mengelola produksi obat tradisional mencakup tugas operasional produksi, peralatan, personil,, area produksi dan dokumentasi

9 Kepala Bagian Pengawasan Mutu : Seorang Apoteker, Sarjana Farmasi, Sarjana Kimia atau tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus di bidang pengawasan mutu produk obat tradisional Mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh dalam semua aspek pengawasan mutu produk seperti penyusunan, verifikasi dan penerapan prosedur pengawasan mutu Hendaklah independen, memiliki wewenang serta tanggung jawab penuh (bila diperlukan) menunjuk personil untuk memeriksa, meluluskan dan menilai bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi yang dibuat sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disetujui.

Personil di bagian Pengolahan Personil di bagian pengolahan setidaktidaknya berpendidikan setara dengan Sekolah Menengah Umum. Personil di bagian Laboratorium Personil di bagian laboratorium setidaktidaknya berpendidikan setara dengan Sekolah Menengah Atas Kejuruan yang terkait dengan tugasnya

Tanggung jawab bersama Kepala Bagian Produksi dan Kepala Bagian Mutu Mempunyai wewenang untuk membuat Standard Operation Procedure (SOP s)/ s)/protap dan dokumen- dokumen lainnya Pemantauan dan pengawasan lingkungan dan kebersihan tempat produksi (plant) Validasi dan kalibrasi Training, termasuk penerapan dan prinsip-prinsip jaminan mutu (QA)

Memberikan persetujuan terhadap pemasok Menyimpanan catatan Mengawasi kepatuhan terhadap CPOTB Melakukan inspeksi, investigasi dan mengambil sampel untuk memonitor faktor-faktor yang mungkin mempunyai dampak terhadap mutu

4. Pelatihan Program Pelatihan Pelatihan tentang Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik harus diberikan kepada seluruh personalia lama dan baru baik untuk tahap induksi ataupun pelatihan yang berkelanjutan Pelatihan khusus harus diberikan kepada personil yang bekerja area khusus atau dengan bahan yang berbahaya dan beracun Program pelatihan diberikan secara berkesinambungan paling sedikit sekali dalam setahun untuk menjamin agar personil terbiasa dengan persyaratan CPOTB yang berkaitan dengan tugasnya

14 Pelatihan hendaklah dilakukan menurut program tertulis yang telah disetujui oleh Kepala Bagian Produksi dan atau Pengawasan Mutu Materi pelatihan hendaklah dibakukan dan disetujui oleh Kepala Bagian Produksi dan Pengawasan Mutu Pelatihan CPOTB dapat diberikan oleh atasan yang bersangkutan, tenaga ahli atau oleh pelatih dari luar Untuk mengetahui keberhasilan pelatihan hendaklah dilakukan evaluasi yang meliputi : o Pengetahuan CPOTB secara menyeluruh dan secara khusus sesuai dengan tugas masing- masing o Penilaian menyeluruh terhadap kinerja personil

Dokumentasi Pelatihan Pelatihan yang sudah dilaksanakan perlu dicatat. Catatan Pelatihan CPOTB bagi personil hendaklah dibuat sesuai dengan bidang tugas masing-masing yang mencakup : 1. Tanggal pelatihan 2. Nama personil yang mengikuti pelatihan 3. Nama instruktur, bagian atau lembaga yang memberi pelatihan 4. Materi Pelatihan dan alat bantu yang digunakan 5. Peragaan yang dilakukan, jika ada 6. Evaluasi terhadap peserta latihan Penilaian bertujuan untuk menentukan kualifikasi personil apakah sudah cukup memadai melakukan tugas yang diberikan padanya

CONTOH URAIAN JABATAN KEPALA BAGIAN PRODUKSI NAMA PERUSAHAAN URAIAN JABATAN Halaman 1 dari. Disusun oleh. Tanggal. KEPALA BAGIAN PRODUKSI BAGIAN Diperiksa oleh Tanggal SEKSI Disetujui oleh. Tanggal. Uraian Tugas Jabatan Jabatan : Kepala Bagian Produksi Bagian : Produksi Melaporkan : Direktur kepada : - Supervisor gudang bahan baku Membawahi - Supervisor Pengolahan - Supervisor Pengemasan - Supervisor gudang produk jadi A. Pengetahuan, Keterampilan dan Kemampuan Nomor : Tanggal berlaku Mengganti Nomor. Tanggal Kepala Bagian produksi hendaklah seorang apoteker atau tenaga lain, memiliki pengalaman dan pengetahuan dibidang pemuatan kosmetik, perencanaan dan penedalian produksi, pengetahuan mengenai mesin CPOTB dan memiliki jiwa

B. Uraian Tugas Secara Umum Kepala Bagian Produksi bertanggung jawab atas terlaksananya pembuatan kosmetik, agar kosmetik tersebut memnuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan dan dibuat dengan memperhatikan pelaksanaan CPOTB, dalam batas waktu dan biaya produksi yang telah ditetapkan. C. Ruang Lingkup Tugas dan Tanggung Jawab 1. Bertanggung jawab atas terlaksananya pembuatan produk kosmetik yang memnuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan, mulai dari penimbangan, pengolahan, pengemasan sampai pengiriman ke Gudang Produk Jadi. 2. Mengatur perencanaan dan pengendalian produksi untuk memenuhi permintaan pelanggan agar stok bahan baku maupun produk jadi seimbang sesuai kebijakan perusahaan. 3. Memimpin dan mengarahkan bawahan dalam semua pelaksanaan tugas pengolahan dan pengemasan, baik secara teknis maupun administrasi. 4. Bertanggung jawab atas ketersediaan prosedur tetap dibagian produksi. 5. Bertanggung jawab untuk memeriksa Catatan Pengolahan Bets dan Catatan Pengemasan Bets dan menjamin produksi dilaksanakan sesuai dengan prosedur pengolahan dan prosedur pengemasan bets yang baku.

D. Wewenang : 1. Berwewenang untuk menambah dan mengurangi jumlah karyawan, mutasi dan promosi di Bagian Produksi sesuai dengan kebutuhannya dengan persetujuan Direktur 2. Berwewenang untuk membuat anggaran tahunan bagian produksi dengan persetujuandirektur dan melakukan pengawasan pelaksanaan anggaran tersebut. 3. Berwenang untuk meminta / menyetujui pengadaan sarana dan prasarana produksi sesuai dengan prosedur dan kebijakan perusahaan yang berlaku. 4. Berwenang menyetujui, mengubah atau memperbaiki PROTAP di bagian produksi. tgl..., 20. Telah dibaca dan dimengerti (.nama..) Kepala Bagian Produks Tembusan kepada: 1. Direktur 2. Kepala Bagian Personalia 3. Yang bersangkutan

CONTOH PROGRAM PELATIHAN CPOTB

CONTOH PROGRAM PELATIHAN CPOTB

CONTOH DOKUMENTASI / CATATAN PELATIHAN CPOTB

5. Permasalahan di bidang Personalia: Jumlahnya Kualifikasi kurang sesuai atau kurang memadai Pengalaman kerja kurang Campur tangan pengusaha dalam memberikan keputusan yang berkaitan dengan mutu

Kurang pengertian dalam mengembangkan materi pelatihan Struktur organisasi yang tidak jelas Personil yang keluar masuk Pencatatan pelatihan yang kurang memadai Keragaman tingkat sosial, ekonomi dan budaya perilaku karyawan Manajemen kurang menciptakan rasa ikut memiliki pada karyawan.