1.1 Konsep Model Jaringan

dokumen-dokumen yang mirip
B D. 1.1 Konsep Model Jaringan

#3 PEMODELAN JARINGAN DAN SISTEM

#8 Model Keandalan Dinamis

Materi #2 TIN315 Pemeliharaan dan Rekayasa Keandalan Genap 2015/2016

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S.

1.1 Konsep Probabilitas

PROSES MARKOV KONTINYU (CONTINOUS MARKOV PROCESSES)

Modul 2: Metode Model Kombinatorik

#12 SIMULASI MONTE CARLO

Pengukuran dan Peningkatan Kehandalan Sistem

Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu

KISI-KISI SOAL FISIKA SMA KELAS X LISTRIK DINAMIS. a. Seri b. Paralel.

Spanning-Tree Protocol

Distribusi Probabilitas Diskret Teoritis

BASIS DATA TERDISTRIBUSI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PROBABILITY AND GENETIC EVENTS

RANGKAIAN ARUS SEARAH

ANALISIS KEANDALAN SISTEM INSTRUMENTASI PLTG DI PT. PLN PLTD/G TELUK LEMBU PEKANBARU

PENENTUAN KEANDALAN DENGAN MENGGUNAKAN RELIABILITY BLOCK DIAGRAM (RBD) YANG BERKONFIGURASI REDUNDANT PADA MESIN BOILER DI PT. X

ANALISIS MEKANISME REDUNDANCY GATEWAY DENGAN MENGGUNAKAN PROTOKOL HSRP DAN VRRP

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

O L E H : H I DAYAT J U R U SA N TEKNIK KO M P U TER U N I KO M 2012

PENENTUAN HARGA OPSI TIPE EROPA DENGAN METODE BINOMIAL

BAB I PENDAHULUAN. kehilangan/kerusakan data maupun kesalahan pemrosesan data. [12]

JARINGAN UNTUK MERGING

Seminar Nasional IENACO ISSN:

Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III ISSN: X Yogyakarta, 3 November 2012

CHAPTER 7 DISCRETE PROBABILITY

Beberapa pertanyaan mendasar akan muncul dalam kaitannya dengan keandalan sistem. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi:

LAMPIRAN. Interface). Dengan mengunakan GNS3 kita dapat merancang dan. mengimplementasikan jaringan mendekati keadaan yang sebenarnya.

BAB I PENDAHULUAN. jaringan mengalami down. Jalur redundansi pada jaringan akan segera mem-backup

BAB 3 POMPA SENTRIFUGAL

Latihan soal-soal PENGHANTAR

Untai Elektrik I. Metode Analisis. Dr. Iwan Setyawan. Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana. Untai 1. I. Setyawan. Metode Arus Cabang

STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling

BAB I PENDAHULUAN. Kapal sebagai sebuah wahana teknis terdiri dari beberapa sistem permesinan yang


BAB 2 LANDASAN TEORI. menyediakan layanan ke komputer lain melalui koneksi jaringan. Server dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. yang berbeda agar bisa melakukan komunikasi antar device di dalam jaringan

ANALISIS DAN PERANCANGAN JARINGAN MENGGUNAKAN HSRP DAN VLAN PADA PT. MICROREKSA INFONET

Jobsheet Praktikum REGISTER

GRAF DALAM TOPOLOGI JARINGAN


BAB I PENDAHULUAN. zat cair melalui saluran tertutup. Pompa menghasilkan suatu tekanan yang

LANDASAN TEORI. menyatakan hubungan antara variabel respon Y dengan variabel-variabel

6/26/2011. Database Terdistribusi. Database Terdesentralisasi

TUGAS AKHIR ANALISA MINIMALISASI WATER HAMMER DENGAN VARIASI PEMILIHAN GAS ACCUMULATOR PADA SISTEM PERPIPAAN DI PT.

BAB 7 REGISTER Register

PRAKTIKUM 2. Rangkaian Seri dan Paralel. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS Modul Praktikum Program Studi Teknik Komputer

KARTU SOAL BENTUK PILIHAN GANDA

Interaksi Manusia Mesin ANALISA DAN PENGUKURAN KERJA

DISTRIBUSI PROBABILITAS DAN TERMINOLOGI KEANDALAN

KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)

DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA #3_INTERAKSI MANUSIA MESIN ANALISA DAN PENGUKURAN KERJA

Bab 2 LANDASAN TEORI

: Distribusi Peluang. : D. Rizal Riadi

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Praktikum Mesin-Mesin Fluida 2013 PENUNTUN PRAKTIKUM MESIN MESIN FLUIDA DISUSUN OLEH: MUHAMMAD HASBI, ST., MT

Maintenance and Reliability Decisions

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian yang telah dibahas

Dynamic Programming. Pemrograman Dinamis

PENS. Probability and Random Process. Topik 5. Beberapa jenis Distribusi Variabel Acak. Prima Kristalina April 2015

LISTRIK ARUS SEARAH (Oleh : Sumarna)

BAB I PENDAHULUAN.

MODUL 3: Finite Automata

Analisis Keandalan Sistem Distribusi Menggunakan Program Analisis Kelistrikan Transien dan Metode Section Technique

Rekonfigurasi jaring distribusi untuk meningkatkan indeks keandalan dengan mengurangi rugi daya nyata pada sistem distribusi Surabaya.

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan sumber energi listrik terus meningkat seiring meningkatnya

Gambar 5(a).Tabel Kebenaran Full Adder

Distribusi Probabilitas Variabel Acak Diskrit

Penggunaan Dynamic Programming pada Persoalan Penjadwalan Kedatangan Pesawat Terbang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RANGKUMAN MATERI LISTRIK DINAMIS

PEMODELAN DAN SIMULASI MAXIMUM POWER POINT TRACKER

BAB II LANDASAN TEORI

Pertemuan 3 METODE PEMBUKTIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

- Perintah SWICTH memiliki bentuk umum sebagai berikut :

STUDI PERBANDINGAN KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV MENGGUNAKAN METODE SECTION TECHNIQUE DAN RNEA PADA PENYULANG RENON

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

BAB III TEORI DASAR POMPA. Kerja yang ditampilkan oleh sebuah pompa merupakan fungsi dari head

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, pembelian didefinisikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Definisi Metode Numerik

(7) Sebagai contoh, sebuah kalimat dari bahasa Jerman dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris seperti berikut ini :

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Catatan Kuliah MA4181 Pengantar Proses Stokastik Precise and Stochastic. Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.

Pengenalan perangkat keras Iwan Syarif

BAB 4 PERANCANGAN DAN EVALUASI. 4.1 Perancangan Jaringan Komputer dengan Menggunakan Routing Protokol OSPF dan GLBP

TINJAUAN MATA KULIAH... MODUL 1: LOGIKA MATEMATIKA 1.1 Kegiatan Belajar 1: Latihan Rangkuman Tes Formatif

PERHITUNGAN PLANT RELIABILITY DAN RISIKO DI PABRIK PHONSKA PT.PETROKIMIA GRESIK

Transkripsi:

A 1 MODEL JARINGAN UNTUK SISTEM SEDERHANA 1.1 Konsep Model Jaringan Pada bab sebelumnya telah dijelaskan aplikasi dasar dari teori peluang untuk pengukuran keandalan sistem. Namun demikian, pada praktiknya sistem sering dimodelkan dengan menggunakan jaringan (network) dimana komponen komponen pada sebuah sistem dihubungan dalam pola hubungan seri, paralel, serta gabungan seri dan paralel. Kesulitan dalam pemahaman metoda-metoda analitik penilaian keandalan sering diakibatkan lemahnya pemahaman terhadap pemodelan jaringan ini. Disamping itu harus diingat pulan bahwa topologi struktur sistem tidak selalu sama dengan model jaringan. Hal ini karena sistem kadang memiliki mekanisme kerja yang berbeda dengan topologi struktur yang terlihat. Sebagai contoh, sistem pompa sentrifugal yang tersusun paralel secara phisik kadang kala memiliki karakteristik kerja dimana satu atau lebih pompa beroperasi dan pompa lainnya akan bekerja saat pompa utama gagal beroperasi. Karena itu hendaknya pemahaman terhadap karakeristik kerja sistem dimiliki terlebih dahulu sebelum kita melakukan pemodelan jaringan. Komponen-komponen dapat dikatakan terhubung secara seri jika untuk menjamin sistem sukses semua komponen harus beroperasi atau tidak boleh gagal. Kegagalan pada satu komponen yang terhubung seri akan menyebabkan kegagalan sistem. Komponen-komponen dikatakan terhubung secara paralel jika hanya satu komponen saja yang terhubung secara seri dibutuhkan untuk menjamin sistem 1

sukses. Sistem akan gagal jika semua komponen yang terhubung paralel juga gagal. Dengan demikian sistem seri sering juga disebut dengan istilah non-redundant system serta sistem paralel disebut dengan fully redundant system. 1.2 Sistem Seri A Sistem yang terdiri dari dua komponen seri yakni komponen A dan komponen memiliki indeks keandalan komponen (R) masing-masing R a dan R b. Dengan demikian keandalan sistem dapat ditentukan dengan: Gambar 1.2-1 Sistem seri dengan 2 komponen R s = R a x R b... Jika terdapat n komponen yang terhubung secara seri maka: n R s = Ri... i= 1 Dengan demikian indeks keandalan sistem yang terdiri dari beberapa komponen seri adalah perkalian dari indeks keandalan masing-masing komponen didalam sistem tersebut. Pada beberapa kasus penilaian keandalan, adakalanya akan lebih untuk menghitung indeks ketidakhandalan (unreliability-q) terlebih dahulu sebelum menghitung indeks keandalan. Mengingat keandalan dan ketidakhandalan adalah komplementer terhadap satu sama lain, maka Q s = 1 - R a x R b = 1-(1-Q a ).(1-Q b ) = Q a + Q b - Q a.q b... Dan untuk n komponen seri maka 2

n Q s = 1 Ri... i= 1 Contoh 3.1 Sistem A terdiri dari 5 komponen dan sistem terdiri dari 10 komponen identik dimana semua sistem harus beroperasi untuk menjamin sistem sukses. Jika indek keandalan masing-masing komponen adalah 0.95, berapakah indek keandalan sistem A dan tersebut tersebut? Untuk sistem A, maka Rs = 0.95 5 = 0,7737 Untuk sistem, maka Rs = 0.95 10 = 0,5987 Dari contoh soal di atas dapat diamati bahwa sistem seri akan sukses jika semua komponen yang ada pada sistem juga sukses. Kegagalan pada satu komponen akan menyebabkan sistem menjadi gagal. Semakin banyak komponen yang terhubung secara seri, maka keandalan sistem akan makin rendah. Contoh 3.2 Dua buah komponen identik yang terhubung secara seri memiliki indeks keandalan komponen 0.99. erapakah indeks ketidakhandalan system? Qs = 1 Ra.Rb = 1 0.99 2 = 0.0199 Contoh 3.3 Sebuah sistem membutuhkan 200 buah komponen identik yang terhubung secara seri. Jika indeks keandalan sistem tidak boleh kurang dari 0.99, berapakah indeks keandalan komponen dalam sistem? Rs = R 200 = 0.99 Dengan demikian R = 0.99 1/200 = 0.99995 3

1.3 Sistem Paralel A Perhatikan dua komponen A dan yang terhubung secara paralel seperti terlihat pada gambar 3.2. Pada susunan tersebut, sistem sukses ditentukan jika paling tidak salah satu dari komponen tersebut sukses. Dengan kata lain, sistem akan gagal jika semua komponen yang terhubung paralel gagal. Gambar 1.3-2 Sistem paralel dengan 2 komponen Indeks ketidakandalan sistem dirumuskan dengan: Q p = Q a x Q b... Jika terdapat n komponen yang terhubung secara seri maka, indeks ketidakandalan sistem adalah: n Q p = Qi i= 1... Dengan demikian indeks keandalan sistem diperoleh dengan: R p = 1 - Q s = 1 (Q a x Q b )... Jika terdapat n komponen yang terhubung secara seri maka, indeks keandalan sistem adalah: n R p = Qi 1... i= 1 Daro pernyataan di atas dapat diketahui bahwa semakin banyak komponen yang terhubung secara paralel di dalam sistem, maka indeks keandalan sistem akan semakin tinggi. Contoh 3.4 Sebuah sistem terdiri dari empat komponen yang terhubung paralel dengan indeks keandalan komponen adalah 0.99, 0.95, 0.98, dan 0.97. erapakah indeks keandalan dan ketidakandalan sistem? 4

Q p = Q 1 x Q 2 x Q 3 x Q 4 = (1-0.99) x (1-0.95) x (1-0.98) x (1-0.97) = 3.10-7 Dengan demikian indeks keandalan sistem adalah 1-3.10-7 = 0.9999997 Contoh 3.5 Sebuah komponen memiliki indeks keandalan 0.8. Analisalah pengaruh penambahan jumlah komponen jika komponen tersebut terhubung paralel satu sama lain. Jumlah Keandalan penambahan prosentase Komponen sistem keandalan keandalan Dari persamaan yang 1 0.800000 - - 2 0.960000 0.160000 20 telah dibahas di depan, 3 0.992000 0.032000 24 maka diperoleh hasil 4 0.998400 0.006400 24,8 5 0.999680 0.001280 24,96 sebagai berikut: Disini 6 0.999936 0.000256 24,99 terlihat bahwa penambahan koponen pertama terhadap satu komponen utama memberikan peningkatan prosentase keandalan yang paling besar. Penambahan beberapa komponen berikutnya tidak terlalu signifikan meningkatkan keandalan sistem secara keseluruhan. Contoh 3.6 Sebuah sistem yang memiliki indeks keandalan komponen 0.7, harus didisain agar memiliki indeks keandalan sistem sebesar 0.999. erapakah jumlah minimum komponen yang harus dihubungkan secara paralel? 1 0.999 = (1 0.7) n 0.001 = 0.3 n, sehingga n = 5,74 komponen, atau kalau dibulatkan akan menjadi 6 komponen. 1.4 Kombinasi sistem seri-paralel Pada kasus susunan kombinasi antara seri dan paralel, maka penyederhanaan sistem dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa komponen yang terhubung secara seri atau paralel menjadi satu nilai keandalan gabungan. 5

Contoh 3.7 1 2 3 4 5 6 7 8 Tentukan berapa indeks keandalan total sistem seriparalel ini jika indek keandalan masing-masing komponen adalah 0.9 Gambar 1.4-3 Sistem kombinasi seri-paralel Sistem di atas dapat disederhanakan dengan menggabungkan keempat komponen seri (1, 2, 3, 4) (disebut dengan 9) menjadi satu bagian gabungan, dan proses yang sama juga dilakukan untuk komponen seri (5, 6, 7, 8) (disebut dengan 10). Selanjutnya dua gabungan komponen yang terhubung secara paralel dapat diselesaikan dengan algoritma sistem paralel. 9 10 11 R 9 = R 1 R 2 R 3 R 4 R 10 = R 5 R 6 R 7 R 8 R 11 = 1 (1-R 9 )(1-R 10 ) = R 9 +R 10 -R 9 R 10 R 11 = 0.9 4 +0.9 4-0.9 8 = 0.8817 Gambar 1.4-4 Penyederhanaan sistem kombinasi seri-paralel Contoh 3.8 1 2 5 3 4 Dapatkan ekspresi keandalan sistem disebelah dan hitung indeks ketidakandalan sistem jika indeks keandalan masing-masing komponen adalah 0.8 Gambar 1.4-5 kombinasi seri-paralel Langkah penyederhanaan adalah dengan menggabungkan komponen 3 dan 4 menjadi gabungan komponen 6. Selanjutnya komponen 1, 2 dan 6 digabungkan kembali menjadi gabungan komponen 7 dan diakhiri dengan menyederhanakan susunan parelel antara komponen 7 dan komponen 5. 6

1 2 6 7 8 5 5 Gambar 1.4-6 Langkah penyederhanaan kombinasi seri-paralel Dari gambar diatas dapat dirumuskan: Q 6 = Q 3. Q 4 Q 7 = 1 (1 Q 1 )(1 Q 2 )(1 Q 6 ) = Q 1 +Q 2 +Q 6 Q 1 Q 2 -Q 2 Q 6 -Q 6 Q 1 +Q 1 Q 2 Q 6 Q 8 = Q 5. Q 7 Q 8 = Q 5 (Q 1 +Q 2 +Q 3 Q 4 -Q 1 Q 2 -Q 2 Q 3 Q 4 -Q 3 Q 4 Q 1 +Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 ) = 0.07712 Atau dengan cara yang lain diperoleh: R 6 =R 3 +R 4 -R 3 R 4 R 7 =R 1 R 2 R 6 R 8 =R 5 +R 7 -R 5 R 7 =R 5 +R 1 R 2 (R 3 +R 4 -R 3 R 4 )-R 5 R 1 R 2 (R 3 +R 4 -R 3 R 4 ) = 0.92288 Q 8 = 1 0.92288 = 0.07712 1.5 Partially Redundant System 2 4 Tentukan ekspresi indeks keandalan gambar berikut 1 3 7 5 6 dimana dari 3 komponen yaitu komponen 4, 5 dan 6, minimum hanya 2 komponen saja yang harus sukses untuk menjamin sistem sukses. Gambar 1.5-7 Partially redundant system 7

Sistem di atas dapat disederhanakan dengan cara menggabungkan komponen 2 dan 3 menjadi gabungan 8, selanjutnya komponen 4, 5 dan 6 digabungkan menjadi gabungan komponen 9. Komponen 1, gabungan 8 dan gabungan 9 selanjutnya dapat disederhanakan menjadi gabungan komponen 10 dan akhirnya dapat disederhanakan dengan memparalelkan gabungan komponen 10 dengan komponen 7. Langkah langkah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut. 1 8 9 10 11 7 7 Gambar 1.5-8 Penyederhanaan partially redundant system Perbedaan dengan contoh 3.8 di atas adalah bahwa pada kasus partially redundant system, gabungan komponen 9 tidak dapat dihitung langsung dengan memparalelkan ketiga komponen pendukungnya, karena ada persyaratan bahwa cukup 2 komponen saja harus sukses untuk menjamin gabungan komponen tersebut sukses. Ini bisa diselesaikan dengan menggunakan pendekatan distribusi binomial seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Q 8 = Q 2 Q 3 R 10 = R 1 R 8 R 9 Q 11 = Q 10 Q 7 = Q 7 (1-R 1 R 8 R 9 )= Q 7 (1-R 1 (1-Q 2 Q 3 )R 9 )= Q 7 (1-R 1 R 9 +R 1 R 9 Q 2 Q 3 ) Selanjutnya R9 diperoleh dengan menggunakan distribusi binomial, dimana R 4 =R 5 =R 6 =R dan Q 4 =Q 5 =Q 6 =Q dan menghasilkan R 9 = R 3 + 3R 2 Q dan Q 9 = 3RQ 2 + Q 3 Jika R 4 KR 5 KR 6 dan Q 4 KQ 5 KQ 6, maka: R 9 =R 4 R 5 R 6 +R 4 R 5 Q 6 +R 5 R 6 Q 4 +R 6 R 4 Q 5,dan Q 9 = R 4 Q 5 Q 6 +R 5 Q 6 Q 4 +R 6 Q 4 Q 5 +Q 4 Q 5 Q 6 Jika Ri = 0.8, maka R 9 = 0.8960, Q 9 = 0.1040, dan Q 11 = 0.06237 1.6 Standby Redundant System 8

Sistem standby mengoperasikan satu atau lebih komponen utama dan satu atau lebih komponen dalam posisi standby yang akan beroperasi bila komponen utama gagal. Proses pemindahan kerja komponen ini dilakukan dengan menggunakan switch. Gambar 3.9 (a) adalah susunan parallel redundant dimana komponen A dan beroperasi secara bersama-sama untuk melayani fungsi tertentu. Sementara itu Gambar 3.9 (b) adalah susunan standby redundant dimana komponen A beroperasi terlebih dahulu (karena terhubung dengan switch) sampai komponen tersebut gagal dan selanjutnya jika gagal switch akan berpindah ke komponen untuk menggantikan fungsi komponen A. A A (a) (b) Gambar 1.6-9 (a) Parallel redundancy (b) Standby redundancy Pada buku ini hanya akan dibahas penurunan algoritma sistem standby untuk kasus switch sempurna (tidak mungkin gagal) dan kasus switch tidak sempurna. Kasus switch sempurna: Jika switch sempurna, dimana switch pasti sukses dalam memindahkan fungsi kerja komponen A ke komponen saat komponen A tersebut gagal, maka sistem akan gagal jika komponen A gagal dan komponen gagal (dimana A sudah gagal terlebih dahulu), atau dapat dituliskan: Q = Q( A). Q( A) Jika komponen A dan komponen diasumsikan independen satu sama lain, maka Q = Q A. Q... Persamaan di atas serupa dengan persamaan peluang kegagalan sistem parallel redundancy. Hal ini tidak benar, sebab sekalipun peluang kegagalannya sama, 9

namun pada standby redundancy waktu operasi komponen-komponen didalamnya tentunya akan lebih kecil jika dibandingkan dengan parallel redundacy, sebab komponen hanya akan berfungsi jika komponen A gagal. Hal ini berbeda dengan parallel redundancy dimana kedua komponen beroperasi bersama-sama. Kasus switch tidak sempurna: Jika switch tidak sempurna, maka berarti switch tersebut memiliki peluang untuk gagal dalam memindahkan fungsi kerja komponen A saat gagal menuju komponen. Jika peluang switch sukses melakukan kerjanya adalah P s, maka peluang kegagalan switch akan menjadi Q s = (1 P s ). Permasalahan ini selanjutnya dapat diselesaikan dengan konsep peluang bersyarat (conditional probability) dimana: P(sistem gagal) = P(sistem gagal jika switch sukses) x P(switch sukses) + P(sistem gagal karena switch gagal) x P(switch gagal) Pernyataan diatas dapat diterjemahkan secara matematis menjadi: Q = Q A.Q.P s + Q A.Q s = Q A Q P s + Q A (1-P s ) = Q A Q P s + Q A Q A P s = Q A Q A P s (1-Q )... Jika switch terhubung dengan komponen (komponen A standby), maka: Q = Q QP s (1-Q A )... Jika switch memiliki peluang gagal tidak hanya pada saat melakukan fungsi pemindahan namun juga pada saat switch tersebut berada pada kondisi standby, maka kondisi tersebut bisa diwakili oleh hubungan seri antara Komponen A dan yang terhubung paralel dengan switch tersebut. Pada kondisi ini switch tidak hanya memiliki peluang gagal pada saat melakukan fungsi pemindahan kerja (P s ) namun juga memiliki peluang gagal saat pada kondisi standby (indeks 10

keandalan switch tidak sama dengan 1 saat pada posisi standby). Hal tersebut dapat dijelaskan melalui gambar berikut. A Ps Rs Gambar 1.6-10 Standby redundancy dengan switch tidak sempurna Dengan demikian: Q = [Q A -Q A P s (1-Q )] + Qs [Q A -Q A P s (1-Q )]Q s... R = R s (1-(Q A -Q A P s (1-Q ))... Jika switch terhubung dengan komponen (komponen A standby) maka: Contoh 3.9 Q = [Q -Q P s (1-Q A )] + Q s [Q -Q P s (1-Q A )]Q s... R = R s (1-(Q -Q P s (1-Q A ))... Jika susunan seperti pada gambar 3.10 memiliki indeks keandalan komponen A dan adalah 0.9 dan komponen memiliki keandalan jika komponen A sudah gagal terlebih dahulu sebesar 0.96, maka berapakah keandalan sistem jika (a) switch sempurna? (b) switch punya peluang gagal 0.08? (c) switch memiliki keandalan saat kondisi operasi sebesar 0.98? (a) R = 1 (1-0.9) (1-0.96) = 1 (0.1 x 0.04) = 0.996 (b) R = 1 (0.1 0.1x0.92(1-0.04)) = 0.988 (c) R = 0.98 x 0.988 = 0.969 Contoh 3.10 Sama seperti contoh 3.9, jika susunan seperti gambar dibawah dan komponen C dan D memiliki indeks keandalan 0.99 dan 0.8, berapa indeks keandalan sistem? 11

A Ps Rs C D Indeks keandalan bagian A,,P s dan R s sudah didapatkan pada contoh sebelumnya yakni 0.969. Karena itu indeks keandalan sistem secara keseluruhan adalah: R = R C (1-Q D (1-0.969)) = 0.99(1-0.2(1-0.969) = 0.984 12