#3 PEMODELAN JARINGAN DAN SISTEM
|
|
|
- Hamdani Sudirman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 #3 PEMODELAN JARINGAN DAN SISTEM 3.1. Pendahuluan Untuk mengevaluasi keandalan dari suatu komponen atau sistem yang pertama kali harus dilakukan adalah dengan memodelkan komponen atau sistem tersebut kedalam diagram blok keandalan (reliabiliy block diagram). Dari diagram blok keandalan ini kemudian dihitung keandalan dari komponen atau sistem yang bersangkutan. Hal ini sangat mungkin dilakukan untuk sistem yang sederhana. Untuk sistem yang lebih kompleks, evalusi keandalan dapat dilakukan dengan memakai teknik lain seperti pendekatan probabilitas kondisional (conditiional probabilistic approach), himpunan pemotong (cut set), himpunan pengumpul (tie set) dan pendekatanpendekatan probabilistik lain. Dalam mengevaluasi keandalan dari sistem, indeks keandalan dari masingmasing komponen yang ada didalam sistem yang akan dievaluasi dapat diekspresikan dengan nilai yang konstan untuk didurasi waktu tertentu. Cara mengevaluasi keandalan sistem seperti ini dikategorikan sebagai evaluasi model keandalan statis. Evaluasi keandalan dari suatu sistem dengan memakai model statis biasanya dilakukan pada analisa pendahuluan untuk mendesain suatu sistem. Model stastis dipakai untuk mengeveluasi berbagai kemungkinan desain dan dipakai untuk menentukan level keandalan yang diperlukan baik untuk subsistem dan komponen yang ada didalam sistem. Untuk membuat blok diagram keandalan dari suatu sistem, antara bentuk fisik sistem dan model blok diagram keandalan dari sistem tidak harus selalu sama. Blok diagram keandalan dari sistem akan sangat tergantung dari kepiawaian sang analisis dalam memahami cara kerja suatu sistem dan menerjemahkannya kedalam blok diagram keandalan. Susunan diagram blok keandalan ini untuk sistem yang sederhana pada dasarnya terdiri dari susunan seri dan paralel atau kombinasi susunan seri dan paralel. Sebagai contoh yang sederhana akan dipakai sebuah subsistem yang terdiri dari dua buah filteer. Jika didefinisikan agar sistem itu dapat berfungsi diperlukan dua buah filter yang bekerja bersamasama, maka diagram bllok keandalan dengan susunan seri adalah yang paling tepat untuk dipakai sebagai model. Sedang bila sistem itu akan berfungsi dengan baik bila hanya membutuhkan satu buah filter yang bekerja, maka diagram blok keandalan dengan susunan paralel adalah yang paling tepat untuk dipakai sebagai model. Gambar 3.1 menunjukan blok diagram keandalan dengan susunan seri dan paralel dari dua buah filter yang dipakai sebagai contoh penjelasan. Gambar 3.1. Susunan Seri dan Paralel Hal. 1 / 27
2 3.2. Sistem Dengan Susunan Seri Suatu sistem dapat dimodelkan dengan susunan seri jika kompponen-komponen yang ada didalam sistem itu harus bekerja atau berfungsi seluruhnya agar sistem tersebut sukses dalam menjalankan misinya. Atau dengan kata lain bila ada satu komponen saja yang tidak bekerja, maka akan mengakibatkan sistem itu gagal menjalankan fungsinya. Sistem yang mempunyai susunan seri dapat dikategorikan sebagai sistem yang tidak berlebihan (non-redundant system). Blok diagram keandalan untuk sistem yang terdiri dari dua komponen dengan susunan seri dapat dilihat pada Gambar 3.1.a. Misal keandalan untuk komponen 1 pada Gambar 3.1.a adalah R1 dan keandalan untuk komponen 2 adalah R2. Jika keandalan ini mewakili probabilitas suatu komponen untuk tidak mengalami kegagalan atau probabilitas sukses dari komponen pada periode waktu yang telah ditentukan, maka keandalan dari sistem tersebut diatas dapat diekspesikan sebagai perkalian indeks keandalan kedua komponen. Secara matematis, jika Rs menyatakan keandalan dari sistem diatas maka: (3.1) Dari sistem selain diekspresikan dalam keandalan, sistem itu juga bisa diekspresikan dalam bentuk ketakandalan (unreliability). Indeks ketakandalan ini mewakili probabilitas dari suatu komponen yang akan mengalami kegagalan pada periode waktu tertentu. Ketakandalan dari sebuah komponen i dinotasikan dengan notasi Qi. Hubungan antara indeks keandalan dan indeks ketandalan dari suatu komponen dapat diekspresikan kedalam rumusan sebagai berikut. (3.2) Gambar 3.2. Diagram Blok Keandalan Dari n Buah Komponen Dalam Susunan Seri Jika ada n buah komponen dalam susunan seri dan masing-masing memiliki indeks keandalan R1, R2,, Rn, seperti terlihat pada gambar 3.2, maka ekspresi keandalan dari sistem itu adalah: (3.3) Sedang ekspresi ketakandalan dari sistem dengan susunan seri dari n buah komponen adalah: Hal. 2 / 27
3 (3.4) Contoh 3.1 Sebuah sistem kontrol terdiri dari lima buah unit dimana semua unit pendukungnya ini bekerja seluruhnya agar sistem kontrol tersebut dapat berfungsi. Jika indeks keandalan dari kelima unit itu masing-masing adalah 0,9; 0,95; 0,87; 0,93 dan 0,9. Tentukan indeks keandalan dari sistem kontrol tersebut. Solusi Blok diagram keandalan yang paling mewakili dari sistem kontrol tersebut adalah blok diagram keandalan dengan susunan seri. Jika keandalan dari masing-masing unit diekspresikan dalam Ri maka keandalan dari sistem kontrol itu adalah Contoh 3.2 a. Dari contoh 3.1, jika masing-masing komponen mempunyai keandalan 0,9. Tentukan keandalan dari sistem kontrol diatas. b. Jika seorang desainer sanggup menyederhanakan sistem kontrol tersebut diatas hanya menjadi tiga unit, dengan nilai keandalan untuk masing-masing unit tetap 0,9. Hitung keandalan dari sistem kontrol yang baru. c. Beri komentar tentang nilai keandalan dari dua sistem tersebut diatas. Solusi a. Untuk sistem kontrol dengan susunan seri dari lima unit yang memiliki keandalan yang sama R1 = R2 = R3 = R4 = R5 = R = 0,9 b. Untuk sistem kontrol dengan susunan seri dari tiga unit yang memiliki keandalan yang sama R1 = R2 = R3 = R = 0,9 c. Dari hasil perhitungan diatas jelas terlihat bahwa komponen yang identik dengan keandalan yang sama bila disusun secara seri, maka semakin banyak komponen yang Hal. 3 / 27
4 disusun dalam susunan seri semakin banyak komponen yang disusun dalam susunan seri semakin turun keandalan dari sistem itu. Ini adalah karakteristik utama dari sistem dengan susunan seri. Gambar 3.3. Keandalan Dari Komponen-Komponen Dengan Susunan Seri (Angka di dekat kurva menunjukkan keandalan untuk masing-masing komponen) Hubungan antara jumlah komponen dalam susunan seri dengan nilai keandalannya untuk tiap-tiap komponen dengan keandalan 0,9 ; 0,95 ; 0,97 ; 0,98 ; 0,99 ; 0,999 ; dan 0,9999 dapat dilihat pada gambar 3.3. Contoh 3.3 Sebuah sistem terdiri dari 10 buah komponen yang identik. Agar sistem ini dapat bekerja kesepuluh komponen ini harus bekerja seluruhnya. Jika sistem ini didesain agar memiliki keandalan 0,95. Tentukan nilai minimum dari masing-masing komponen. Solusi Jika keandalan masing-masing kompponen adalah R, keandalan untuk sistem itu adalah Hal. 4 / 27
5 Keandalan yang disyaratkan adalah 0,95 ; sehingga keandalan dari masing-masing komponen dapat dicari dengan menyelesaikan persamaan Keandalan dari sistem dengan n komponen yang identik dalam susunan seri dapat pula didapatkan dengan cara pendekatan. Cara pendekatan ini diturunkan dari persamaan 3.3 dan persamaan 3.2. Secara umum keandalan dari sistem dengan n komponen yang identik dengan keandalan untuk masing-masing komponen adalah R dan ketakandalan untuk masing-masing komponen adalah Q dapat diekspresikan kedalam persamaan: (3.5) Persamaan 3.5 diatas dapat juga ditulis dalam bentuk ketakandalan sebagai (3.6) Dengan menerapkan teorema binomial, persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: (3.7) Jika nilai dari Q adalah sangat kecil, maka keandalan dari sistem dengan n komponen yang identik dalam susunan seri adalah (3.8) Persamaan (3.8) dapat pula dipakai untuk menyelesaikan contoh soal Hasil perhitungan ini 0,012% lebih tinggi dari hasil perhitungan eksak. Untuk perhitungan dengan metode pendekatan, hasil yang diperoleh ini tidak terlalu jelek Sistem Dengan Susunan Paralel Suatu sistem dapat dimodelkan dengan susunan paralel jika seluruh komponenkomponen yang ada didalam sistem itu gagal berfungsi maka akan mengakibatkan sistem itu gagal menjalankan fungsinya. Sistem yang memiliki konfigurasi paralel dapat dikategorikan sebagai sistem yang sangat berlebihan (fully redundant system). Blok diagram keandalan untuk sistem yang terdiri dari dua komponen dengan susunan paralel dapat dilihat pada gambar 3.1.b. Hal. 5 / 27
6 Misal ketakandalan untuk komponen 1 pada gambar 3.1.b adalah Q1 dan ketakandalan untuk komponen 2 adalah Q2. Jika ketakandalan ini mewakili probabilitas suatu komponen untuk mengalami kegagalan dari komponen pada periode waktu yang telah ditentukan, maka ketakandalan dari sistem tersebut diatas dapat diekspresikan sebagai perkalian ketakandalan dari sistem tersebut diatas dapat diekspresikan sebagai perkalian ketakandalan kedua komponen. Secara matematis, jika Qp menyatakan ketakandalan dari sistem diatas maka: (3.9) Sedangkan ekspresi keandalan dari sistem dengan susunan paralel untuk gambar 3.1.b adalah atau (3.10) (3.11) Sedang untuk n komponen yang tersusun dalam susunan paralel dengan ketakandalan untuk masing-masing komponen adalah Qi maka ekspresi ketakandalan dari sistem ituu adalah (3.12) Gambar 3.4. Blok Diagram Keandalan n Buah Komponen Dalam Susunan Paralel Sedang ekspresi keandalan dari n buah komponen yang tersusunan secara paralel adalah (3.13) Hal. 6 / 27
7 Contoh 3.4 Sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah komponen dengan keandalan untuk masingmasing komponen adalah R1 = 0,9 ; R2 = 0,95 ; dan R3 = 0,97. Ketiga kompponen inii akan disusun secara paralel. Hitung keandalan dari sistem ini. Solusi Ketakandalan dari sistem ini adalah: Keandalan dari sistem ini adalah: Contoh 3.5 Seorang system engineer akan mendesain sebuah subsistem yang merupakan bagian dari sebuah sistem pengolahan minyak. Subsistem ini hanya memerlukan satu buah komponen agar dapat menunjang proses pengolahan minyak. Untuk meningkatkan keandalan dari subsistem ini insiyur tadi merencanakan akan memasang komponen yang identik dalam subsistem ini secara paralel. Karena keterbatasan dana hanya ada tiga buah alternatif subsistem yang akan ia desain, masing-masing desain terdiri dari 2, 3, dan 4 komponen. Keandalan dari masing-masing komponen ini adalah 0,98. Jika sasaran dari pemilihan desain ini adalah untuk mendapatkan tingkat keandalan yang tinggi, susunan mana kira-kira yang akan dipilih oleh insinyur tadi. Solusi Untuk subsistem dengan dua komponen keandalan dari subsistem itu adalah: Untuk subsistem dengan tiga komponen keandalan dari subsistem itu adalah: Untuk subsistem dengan empat komponen keandalan dari subsistem itu adalah: Dari hasil perhitungan diatas jelas insiyur tadi akan memilih desain ketiga yaitu buah komponen dalam susunan paralel. Dari contoh desain diatas, jelas terlihat bahwa keandalan dari sistem dengan susunan paralel akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumalh komponen. Hal inii merupakan seiring dengan bertambahnya jumlah komponen. Hal ini merupakan Hal. 7 / 27
8 sifat utama dari suatu sistem dengan susunan paralel. Reprensentasi grafis dari sifat utama ini dapat dilihat pada gambar 3.5. Gambar 3.5. Keandalan Dari Komponen-Komponen Dengan Susunan Seri Angka di dekat kurva menunjukkan keandalan untuk masing-masing komponen 3.4. Sistem Dengan Susunan Gabungan Seri Paralel Untuk menganalisa suatu sistem sederhana dengan susunan seri atau paralel sudah didiskusikan pada seksi terdahulu. Susunan seri atau paralel merupakan susunan dasar yang akan dipakai untuk menganalisa sistem yang mempunayai susunan yang lebih kompleks. Blok diagram keandalan yang lebih kompleks akan mempunyai struktur gabungan antara susunan seri dan paralel. Prinsip dasar yang dipakai untuk menyelesaikan konfigurasi yang komplek ini adalah dengan mereduksi konfigurasi yang komplek ini secara berurutan dengan jalan menyederhanakan blok yang mempunayi struktur seri atau paralel terlebih dahulu menjadi blok diagram yang ekuivalen. Blok diagram yang ekuivalen ini akan mewakili konfigurasi asli sebelum konfigurasi ini disederhanakan. Untuk jelasnya akan diberikan beberapa contoh berikut ini. Contoh 3.6 Gambar dibawah inii menunjukan blok diagram keandalan dari suatu sistem. Keandalan untuk masing-masing kompponen adalah R1=0,95 ; R2=0,97 ; R3=0,99 ; R4=0,94 ; R5=0,98 ; R6=0,93. Hitung keandalan dari sistem tersebut. Hal. 8 / 27
9 Gambar 3.6. Diagram Blok Keandalan Untuk Contoh 3.6 Solusi Untuk menyelessaikan konfigurasi seperti ini, terlebih dahulu komponen 1, 2, dan 3 disederhanakan menjadi sebuah komponen yang ekuivalen yaitu komponen 7. Demikian juga dengan komponen 4, 5 dan 6. Ketiga kompponen ini disederhanakan menjadi sebuah komponen yang ekuivalen yaitu komponen 8. Gambar 3.7. Penyerdehanaan Blok Diagram Keandalan Contoh 3.6 Pada akhirnya kedua komponen yang ekuivalen ini, yaitu komponen 7 dan 8 disederhanakan menjadi komponen 9 yang mewakili sistem secara keseluruhan. atau Contoh 3.7 Dapatkan ekspresi umum untuk sistem yang diwakili oleh blok diagram keandalan seperti pada gambar 3.8 berikut ini, jika semua komponen memilki keandalan R dan ketakandalan Q Hal. 9 / 27
10 Gambar 3.8. Diagram Blok Keandalan Contoh Soal 3.7 Solusi Komponen 1 dan 2 disederhanakan menjadi sebuah komponen yang ekuivalen, yaitu komponen 7. Demikian juga komponen 4 dan 5 disederhanakan menjadi sebuah komponen yang ekuivalen, yaitu komponen 8. Gambar 3.9. Penyederhanaan Diagram Blok Keandalan Contoh Soal 3.7 semua komponen mempunyai keandalan R, sehingga: Untuk komponen 8, yang memiliki konfigurasi dan keandalan masing-masing komponen yang sama dengan komponen 7, keandalannya adalah Hal. 10 / 27
11 Komponen 7 dan 3 disederhanakan menjadi sebuah komponen yang ekuivalen yitu komponen 9 dengan keandalannya.. / Untuk komponen 10, yang memiiki konfigurasi dan keandalan masing-masing komponen yang sama dengan komponen 9, keandalannya adalah:. / Keandalannya untuk seluruh sistem adalah:. / 3.5. Sistem dengan Susunan Berlebihan Secara Parsial (Partially Redundant System) Jika sistem dengan susunan seri dikategorikan sebagai sistem yang tidak berlebihan (non-redundant system) dan sistem dengan susunan paralel dikategorikan sebagai sistem dengan susunan yang sangat berlebihan (fully redundant system), maka ada sebuah sistem yang bisa dikategorikan sebagai sistem dengan susunan berlebihan secara parsial (partially redundant system). Untuk mengevaluasi keandalan dari sistem yang memiliki konfigurasi berlebihan secara parsial, konsep susunan seri dan susunan paralel yang telah dibahas di seksi terdahulu tidak dapat langsung diterapkan. Untuk menyelesaikan perhitungan keandalan sistem ini, perlu diterapkan konsep distribusi binomial. Contoh berikut akan memperjelas pembahasan mengenai sistem dengan struktur berlebihan secara parsial. Contoh 3.8 Sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah susbsistem dengan keadalan untuk masingmasing subsistem adalah R1 ; R2 ; dan R3. Agar sistem itu dapat berfungsi, minimal harus ada dua sistem yang berfungsi. Diagram blok keandalan untuk sistem ini diilustrasikan pada gambar Dapatkan ekspresi umum yang mewakili keandalan sistem tersebut. Gambar Diagram Blok Keandalan Contoh 3.8 Hal. 11 / 27
12 Solusi Dengan mengaplikasikan konsep distribusi binomial, keandalan dari sistem itu dapat diekspresikan sebagai: Jika masing-masing subsistem memiliki keandalan yang sama yaitu R, maka ekspresi keandalan dari sistem itu adalah: 3.6. Pertimbangan Desain Antara Susunan Seri dan Paralel Misalkan ada sebuah sistem yang terdiri dari n buah komponen dalam susunan seri. Untuk meningkatkan keandalan dari sistem ini ada dua cara dasar yang umum dipakai yaitu dengan membuat masing-masing komponen yang ada di sistem berlebihan (component-level redundancy) atau membuat sistemya yang berlebihan (system-level redundancy). Diagram blok untuk kedua alternatif desain ini dapt dilihat pada gambar Gambar Konfigurasi Component-Level Redundancy dan System-Level Redundancy Untuk konfigurasi pada gambar 3.11.a, jika keandalan untuk masing-masing komponen adalah R, maka keandalan dari sitem itu adalah: ( ) (3.14) Sedang untuk konfigurasi pada gambar 3.11.b, jika keandalan untuk masing-masing komponen adalah R, maka keandalan dari sitem itu adalah: ( ) (3.15) Plot kurva dari persamaan 3.14 dan 3.15 dapat dilihat pada gambar 3.12 dan Hal. 12 / 27
13 Gambar Plot Kurva Untuk Persamaan 3.14 Gambar Plot Kurva Untuk Persamaan 3.15 Dengan membandingkan kurva 3.12 dan 3.13 jelas terlihat bahwa componentlevel redundancy akan memberikan keandalan sistem yang lebih tinggi untuk berbagai harga m dan n yang dicoba. Dari kedua kurva yangsudah diplot, dapat pula disimpulkan bahwa dengan memberikan cadangan pada tiap komponen akan memberikan keandalan yang lebih tinggi secara keseluruhan dibandingkan dengan memberi cadangan pada tiap sistem. Hal. 13 / 27
14 3.7. Standby Redundant System Pada sistem paralel redundancy, seluruh komponen dioperasikan secara simultan, sedangkan pada sistem standby redundant, unit standby akan dioperasikan hanya ketika dalam keadaan normal unit operasi dalam keadaan gagal. Perbedaan antara dua hal itu digambarkan dalam gambar 3.14 dibawah ini. Gambar Sistem Dengan Susunan Paralel Dan Sistem Dengan Susunan Standby Secara umum ada dua buah kasus dasar yang berhubungan dengan switching. Pertama, kita bisa menganggap switch yang dipakai adalah switch yang sempurna sehingga bisa dikategorikan sebagai kasus pengalihan yang sempurna (perfect switching) serta yang kedua, kita bisa menganggap switch yang dipakai adalah switch yang tidak sempurna sehingga bisa dikategorikan sebagai kasus pengalihan yang tidak sempurna (imperfect switching) Perfect switching Pada kasus ini, switch diamsusikan tidak pernah gagal pada saat pengoperasian dan juga tidak akan mengalami kegagalan pada saat melakukan pengalihan dari pengoperasian normal ke posisi standby. Gambar 3.14 merupakan contoh tipikal dari sebuah sistem yang memiliki susunan standby. Jika diasumsikan bahwa komponen 2 tidak mengalami kegagalan pada saat sedang dalam kondisi standby, maka sistem hanya akan mengalami kegagalan bila komponen 1 satu telah gagal sebelumnya dan setelah pengoperasiannya dialihkan ke komponen 2, komponen 2 juga gagal beroperasi. Karena itu probabilitas kegagalan sistem dapat dinyatakan ke dalam persamaan berikut ini. ( ) (3.16) Jika diasumsikan komponen 1 dan komponen 2 saling bebas (independent), maka persamaan (3.16) dapat disederhanakan menjadi: (3.17) Hal. 14 / 27
15 Persamaan (3.17) memberikan kesan seolah-olah sama dengan persamaan ketakandalan sistem yang memiliki dua komponen dengan susunan paralel. Hal ini tidaklah benar karena nilai numerik dari ketakandalan untuk komponen 2 tidak sama, karena komponen 2, yang merupakan komponen standby, hanya dipakai dalam waktu yang sangat singkat, sehingga indeks ketakandalan komponen 2 bila difungsikan sebagai komponen aktif dan standby akan memiliki indeks yang berbeda. Imperfect Switching Untuk kasus ini, kemungkinan switch mengalami kegagalan dalam mengalihkan tugas dari komponen aktif ke komponen standby akan dimasukkan dalam perhitungan. Jika Ps menyatakan probabilitas dari sukses dari switch untuk mengalihkan tugas, maka probabilitas kegagalan dari switch untuk melakukan pengalihan tugas dapat dinyatakan oleh. Dengan menggunakan persamaan (2.21), maka untuk kasus imperfect switching dapat diformulasikan ke dalam persamaan berikut ini. P(sistem gagal) = P(sistem gagal dengan kondisi switch berhasil melakukan pengalihan) x P(proses pengalihan berjalan sukses) + P(sistem gagal dengan kondisi switch gagal melakukan pengalihan) x P(proses pengalihan gagal) Atau secara matematis dapat ditulis sebagai: (3.18) Gambar Blok Diagram Untuk Kasus Standby Redundancy Dengan Switch Tak Sempurna Persamaan (3.18) untuk imperfect switching yang telah diturunkan, dapat diperluas lagi dengan menambahkan blok diagram lagi pada gambar 3.14.b, sehingga blok diagram keandalan untuk kasus imperfect switching berubah menjadi seperti pada gambar Blok diagram S yang pertama mewakili switch dalam melakukan proses pengalihan dari komponen aktif 1 ke komponen standby 2 dengan probabilitas kesuksesan Ps, sedangkan blok diagram kedua mewakili mode pengoperasian normal dari switch dengan indeks keandalan Rs dan indeks ketakandalan Qs. Dari gambar 3.15 terlihat bahwa tambahan komponen kedua disusun secar seri dengan susunan komponen yang sudah ada, sehingga persamaan keandalan dari sistem di atas dapat ditulis sebagai: Hal. 15 / 27
16 *, -+ (3.19) 3.8. Pemodelan Jaringan yang Kompleks Pada seksi terdahulu telah dibahas bagaimana memodelkan dan mengevaluasi keandalan dari suatu sistem yang memiliki susunan yang sangat sederhana. Pemodelan yang dimaksud adalah pemodelan sistem dengan susunan seri atau paralel. Ada beberapa susunan model yang pengevaluasian keandalannya tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan teknik pengevaluasian susunan seri atau paralel saja. Contoh yang sering dipakai untuk susunan yang kompleks adalah susunan jembatan seperti yang terlihat pada gambar Gambar Sistem Dengan Susunan Jembatan Secara visual, model sistem yang ditunukkan pada gambar 3.16 tidak bisa disederhanakan menjadi sistem dengan susunan seri dan paralel seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. Ada berbagai teknik standard yang bisa dipakai untuk mengevaluasi keandalan dari sistem yang memiliki diagram blok keandadalan yang kompleks. Ada beberapa teknik yang bisa dipakai untuk menyelesaikan evaluasi sistem yang memiliki susunan yang kompleks. Teknik-teknik itu antara lain teknik pengevaluasian dengan memakai pendekatan proabilitas kondisonal/bersyarat (conditional probability approach), metode cut set (cut set method) dan analisa pohon kegagalan (event tree analysis) Conditional Probability Approach Teknik pengevaluasian untuk sistem yang kompleks dengan memanfaatkan pendekatan probabilitas bersyarat (conditional probability approach) sebagian telah diulas pada bab 2. Persamaan (2.20) dan (2.21) akan dipakai untuk mengevaluasi keandalan sistem. Kedua persamaan itu adalah: P(sistem sukses) = P(sistem sukses jika B dalam kondisi baik)p(b s) + P(sistem sukses jika B dalam kondisi jelek)p(b f) (3.20) Sedangkan probabilitas dari kejadian komplemennya adalah: Hal. 16 / 27
17 P(sistem gagal) = P(sistem gagal jika B dalam kondisi baik)p(b s) + P(sistem gagal jika B dalam kondisi jelek)p(b f) (3.21) Contoh 3.9 Untuk sistem yang diwakili oleh gambar 3.16, sistem itu akan berfungsi jika salah satu jalur 13, 24, 154, atau 253 dalam kondisi yang bagus. Tentukan ekspresi keandalan dari sistem yang memiliki blok diagram keandalan seperti pada gambar Solusi Untuk menerapkan pendekatan probabilitas bersyarat, yang pertama harus dilakukan adalah memilih komponen yang akan dipertimbangkan sebagai komponen yang baik dan komponen yang buruk. Semua komponen yang ada yaitu komponen 1 sampai komponen 5 dapat dipilih sebagai komponen yang akan dipertimbangkan sebagai komponen yang baik dan buruk. Pemilihan komponen ini sangat penting, karena pemilihan komponen yang tepat akan sangat membantu untuk mempercepat penyelesaian evaluasi keandalan dari sistem. Untuk soal diatas, komponen nomor 5 dipilih sebagai komponen yang akan dipertimbangkan. Akibat dari pemilihan komponen ini, maka akan ada dua buah blok diagram keandalan yang masingmasing mewakili kondisi komponen 5 dalam keadaan baik dan buruk. Gambar 3.17 menunjukkan pembagian blok diagram ini. Gambar Blok Diagram Untuk Komponen No.5 Dalam Kondisi Baik dan Jelek Jika Ri menyatakan keandalan dari komponen i dan Qi menyatakan ketakandalan dari komponen i, maka secara umum persamaan keandalan untuk blok diagram dengan susunan jembatan seperti terlihat pada gambar 3.17 adalah: R s = R s(jika komponen no.5 baik)r s + R s(jika komponen no.5 jelek) Q s (3.22) Hal. 17 / 27
18 Untuk blok yang pertama, dimana komponen nomor 5 dianggap dalam kondisi yang bagus, persamaan keandalan dari blok di atas adalah: Rs(jika komponen no.5 baik) = (1 Q1Q2)(1 Q3Q4) (3.23) Untuk blok yang kedua, dimana komponen nomor 5 dianggap dalam kondisi yang jelek, persamaan keandalan dari blok di atas adalah: Rs(jika komponen no.5 jelek) = 1 (1 R1R3)(1 R2R4) (3.24) Dengan mensubstitusikan persamaan (3.23) dan (3.24) ke dalam persamaan (3.22), maka akan diperoleh persamaan keandalan dari sistem yang dimaksud. Persamaan keandalan dari sistem itu adalah: Rs = (1 Q1Q2) (1 Q3Q4)Rs + (1 (1 R1R3)(1 R2R4)Qs (3.25) Jika masing-masing komponen memiliki nilai keandalan R = 0,95 ; maka keandalan dari sistem itu adalah: Rs = (1 Q 2 ) 2 R + (1 (1 R 2 ) 2 )Q = (1 0,05 2 ) 2 x 0,95 + (1 (1 0,95 2 ) 2 ) x 0,05 Rs = 0, Contoh 3.10 Gambar 3.18 menunjukkan sebuah blok diagram keandalan dari suatu sistem. Diketahui R1=0,80 ; R2=0,85 ; R3= 0,90 ; R4=0,95 ; dan R5=0,97. Dengan menggunakan pendekatan probabilitas bersyarat, tentukan keandalan dari sistem tersebut. Gambar Blok Diagram Keandalan Untuk Contoh Soal 3.10 Solusi Seperti pada contoh soal terdahulu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih komponen yang akan dipakai sebagai acuan sebagai komponen bersyarat. Untuk soal di atas komponen nomor 2 adalah komponen yang paling cocok untuk dipilih sebagai komponen yang akan dipakai sebagai acuan sebagai komponen bersyarat. Jika komponen 2 dalam keadaan baik, maka blok diagaram keandalan yang Hal. 18 / 27
19 ditunjukkan pada gambar 3.18 akan berubah menjadi seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.19 sedang jika komponen 2 dalam keadaan jelek, maka blok diagaram keandalan yang ditunjukkan pada gambar 3.18 akan berubah menjadi seperti yang ditunjukkan pada gambar Gambar Blok Diagram Keandalan Contoh Soal No Untuk Kondisi Komponen No. 2 Dalam Kondisi Baik Gambar Blok Diagram Keandalan Contoh Soal No Untuk Kondisi Komponen No. 2 Dalam Kondisi Jelek Persamaan keandalan untuk sistem yang ditunjukkan pada gambar 3.18 adalah: R s = R s(jika komponen no.2 baik)r 2 + R s(jika kompenen no.2 jelek)q 2 (3.26) Untuk kondisi jika komponen 2 dalam keadaan baik, maka keandalan dari sistemnya bisa diturunkan dari blok diagram pada gambar 3.19, yaitu: Rs(jika komponen no.2 baik) = 1 Q4Q5 = 1 (0,05 x 0,03) = 0,9985 (3.27) Untuk kondisi jika komponen 2 dalam keadaan jelek, maka keandalan dari sistemnya bisa diturunkan dari blok diagram pada gambar 3.20, yaitu: Rs(jika komponen no.2 jelek) = 1 (1 R1R4)(1 R3R5) = 1 (1 0,80 x 0,95)(1 0,90 x 0,97) = 0,96952 (3.28) Dengan memasukkan nilai-nilai yang diperoleh pada persamaan (3.27) dan (3.28) ke dalam persamaan (3.26), maka akan diperoleh keandalan dari sistem. Nilai keandalan dari sistem itu adalah: Rs = Rs(jika komponen no.2 baik)r2 + Rs(jika kompenen no.2 jelek)q2 Rs = 0,9985 x 0,85 + 0,96952 x 0,15 = 0, Hal. 19 / 27
20 3.10. Metode Cut Set Untuk memahami konsep cut set, perhatikan gambar blok diagram keandalan dari suatu sistem seperti yang terlukis pada gambar Pada gambar 3.21, sebuah komponen di hubungkan secara seri dengan dua komponen lain yang telah dihubungkan secara paralel terlebih dahulu. Bila komponen 1 rusak maka akan mengakibatkan sistem tidak berfungsi. Sistem tersebut juga tidak akan berfungsi jika komponen 2 dan 3 dalam keadaan rusak, komponen 1 dan 2 dalam keadaan rusak, komponen 1 dan 3 dalam keadaan rusak, dan bila ketiga komponen dalam keadaan rusak. Bila komponenkomponen yang sudah disebutkan di atas dikumpulkan dalam sebuah himpunan (set) maka terbentuk himpunan yang beranggotakan komponen-komponen yang bila komponen-komponen itu dalam keadaan rusak akan menyebabkan sistem tidak berfungsi. Ini merupakan konsep dari cut set. Jadi cut set dapat didefinisikan sebagai berikut. Sebuah cut set adalah sekumpulan dari komponen yang bila komponenkomponen itu mengalami kegagalan, maka akan menyebabkan seluruh sistem akan mengalami kegagalan pula. Sebuah cut set dikatakan sebagai minimal cut set bila salah satu komponen yang terdapat di dalam minimal cut set itu mengalami kegagalan, maka akan menyebabkan seluruh sistem akan mengalami kegagalan pula, tetapi bila salah satu komponen yang terdapat di dalam mininimal cut set bekerja, maka tidak mengakibatkan sistem menjadi gagal. Cut set dari blok diagram keandalan pada gambar 3.21 adalah: {1}, {2,3}, {1,2}, {1,3}, dan {1,2,3}. Sedang minimal cut set dari blok diagram keandalan pada gambar 3.21 adalah: {1}, {2,3}. Gambar Blok Diagram Keandalan Metode cut set adalah metode yang sangat berguna untuk mengevaluasi keandalan dari suatu sistem karena dua alasan utama, yaitu: Metode ini dapat dengan mudah di kerjakan dengan menggunakan program komputer untuk mendapatkan penyelesaian yang cepat dan akurat. Cut set langsung berkaitan dengan modus-modus kegagalan sistem. Untuk dapat memahami perhitungan keandalan sistem dengan menggunakan metode cut set, perhatikan kembali gambar Minimal cut set dari blok diagram keandalannya adalah {1,2}, {3,4}, {1,4,5}, dan {2,3,5}. Mengingat semua komponen yang Hal. 20 / 27
21 terdapat di dalam minimal cut set ini harus gagal semuanya maka probabilitas kegagalan untuk semua komponen yang ada di dalam minimal cut set dapat diekspresikan dalam bentuk blok diagram keandalan dengan susunan paralel. Suatu sistem akan mengalami kegagalan jika tiap-tiap cut set mengalami kegagalan, maka semua cut set akan dihubungkan dalam susunan seri dalam blok diagram keandalan untuk mengekspresikannya. Gambar Minimal Cut Set Dari Contoh 3.22 Blok diagram keandalan yang ditunjukkan pada gambar 3.22 yang merupakan susunan seri dari beberapa minimal cut set lainnya tidak bisa dipakai untuk mengevaluasi keandalan sistem. Ini terjadi karena ada beberapa komponen yang muncul lebih dari satu kali di dalam satu kelompok minimal cut set. Selanjutnya untuk mengevaluasi keandalan dari sistem, maka konsep gabungan dari dua himpunan atau lebih akan dipakai. Jika Ci menyatakan minimal cut set ke-i, maka untuk kasus di atas kita akan memiliki: C1 = {1,2}, C2 = {3,4}, C3 = {1,4,5}, dan C4 = {2,3,5}. Dan jika P(Ci) mewakili probabilitas untuk event Ci maka ketakandalan dari sistem secara umum dapat diekspresikan sebagai: (3.29) Contoh 3.11 Gunakan formula 3.29 untuk menghitung ketakandalan dari sistem yang memiliki diagram blok keandalan seperti pada gambar Solusi Minimal cut set untuk kasus struktur jembatan seperti pada gambar 3.16 adalah Hal. 21 / 27
22 C1 = {1,2}, C2 = {3,4}, C3 = {1,4,5}, dan C4 = {2,3,5} Sedangkan ekspresi ketakandalan sistemnya adalah dimana Jadi, ketakandalan dari sistem adalah: (3.30) (3.31) Dengan mengambil nilai keandalan untuk masing-masing komponen dari contoh soal nomor 1 yaitu R1 = R2 = R3 = R4 = R5 = R = 0,95, maka kita akan memeperoleh nilai-nilai ketakandalan dari masing-masing komponen adalah: Q1 = Q2 = Q3 = Q4 = Q5 = Q = 0,05. Ketakandalan dari sistem akan menjadi Sedang keandalan dari sistem Sama dengan hasil yang diperoleh pada contoh soal pertama. Hal. 22 / 27
23 Perhitungan keandalan dan ketakandalan dari sistem baik dengan memakai pendekatan probabilitas bersyarat dan metode cut set sama-sama menghasilkan hasil yang presisi. Untuk sistem yang memiliki struktur yang lebih komplek dan jumlah komponen yang lebih banyak, kedua metode perhitungan keandalan yang sudah diuraikan secar teoritis dapat dipakai untuk melakukan perhitungan. Kendala yang dihadapi hanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perhitungan itu sangat lama dan melelahkan. Perhitungan keandalan dengan pendekatan akan mempercepat penyelesaian meski dengan tingkat presisi yang lebih rendah. Tingkat kesalahan (error) yang dibuat dengan metode pendekatan ini masih dalam batas-batas yang masih dapat di terima. Untuk melakukan perhitungan keandalan dengan metode pendekatan ada dua harga yang akan diperoleh. Harga-harga itu adalah batas atas (upper bound) dan batas bawah (lower bound) dari ketakandalan sistem yang dievaluasi. Upper bound dari ketakandalan suatu sistem dapat dihitung dengan mengambil kelompok pertama dari persamaan (3.29) dan lower bound dari ketakandalan suatu sistem dapat dihitung dengan mengambil kelompok pertama dan kedua dari persamaan (3.29). Formula upper bound dari ketakandalan sistem adalah (3.32) Sedang formula untuk lower bound dari ketakandalan sistem adalah (3.33) Contoh 3.12 Dengan menggunakan persamaan (3.32) dan (3.34), hitung keandalan dari sistem yang memiliki blok diagram keandalan seperti yang ditunjukkan pada gambar Bandingkan nilai keandalan yang diperoleh dengan memakai metode pendekatan ini dan nilai keandalan yang telah dihitung pada contoh Solusi Dengan mengambil nilai keandalan untuk masing-masing komponen dari contoh soal 3.10 yaitu R1 = R2 = R3 = R4 = R5= R = 0,95, maka kita akan memeperoleh nilai-nilai ketakandalan dari masing-masing komponen adalah: Q1 = Q2 = Q3 = Q4 = Q5 = Q = 0,05. Dengan demikian Hal. 23 / 27
24 Sehingga upper bound ketakandalan dari sistem adalah: dan nilai keandalan dari sistem adalah. Nilai ketakandalan dari sistem dengan menggunakan pendekatan upper bound adalah 0,59% lebih tinggi dari nilai ketakandalan sistem yang sebenarnya yaitu 0, Sedangkan keandalan sistemnya adalah 0,003% lebih rendah dari nilai keandalan sistem yang sebenarnya. Lower bound ketakandalan dari sistem adalah: dan nilai keandalan dari sistem itu adalah. Nilai ketakandalan dari sistem dengan menggunakan pendekatan lower bound adalah 0,02% lebih rendah dari nilai ketakandalan sistem yang sebenarnya yaitu 0, Sedangkan keandalan sistemnya adalah 0,0001% lebih tinggi dari nilai keandalan sistem yang sebenarnya. Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa tingkat kesalahan relatif hasil perhitungan keandalan dan ketakandalan sistem dengan memakai metode perhitungan masih dalam batas-batas yang wajar. Contoh 3.13 Dengan menggunakan blok diagram keandalan pada gambar 3.18, hitung ketakandalan dari sistem dengan menggunakan formula (3.32) untuk upper bound ketakandalan sistem dan formula (3.33) untuk lower bound ketakandalan sistem. Solusi Dari soal contoh soal nomor 2 diketahui R1=0,80 ; R2=0,85 ; R3=0,90 ; R4=0,95 ; dan R5=0,97. Berikut ini adalah diagram blok keandalan yang dipakai. Hal. 24 / 27
25 Minimal cut set dari blok diagram keandalan di atas adalah: C1 = {4,5} ; C2 = {1,2,3} ; C3 = {1,2,5} ; C4 = {2,3,4} Upper bound ketakandalan sistem adalah: Lower bound ketakandalan sistem adalah: Metode Tie Set Metode tie set adalah merupakan komplemen dari metode cut set. Metode ini digunakan dengan frekuensi yang lebih sedikit, karena secara praktis metode ini tidak secara langsung mengarah ke mode kegagalan dari sistem. Metode ini mempunyai aplikasi yang khusus dan sehingga metode ini tidak didiskusikan didiskusikan dengan rinci. Tie set adalah jalur minimal dari sistem dan oleh karena itu tie set merupakan sekumpulan komponen yang ada pada sistem yang dihubungkan secara seri. Akibatnya, sebuah tie set dikatakan gagal jika salah satu komponen didalamnya gagal dan probabilitas ini dapat dihitung mengunakan prinsip dari sistem seri. Oleh karena itu Hal. 25 / 27
26 agar sistem mengalami kegagalan, seluruh tie set harus gagal dan oleh karena itu seluruh tie set secara efektif akan dihubugkan secara paralel. Dengan menggunakan konsep ini diagram tie set untuk model gambar 3.16 ditunjukan dalam gambar Gambar Tie Set Dari Gambar 3.16 Yang perlu dicatat adalah, meskipun tie set dihubungkan secara paralel, konsep sistem paralel tidak dapat digunakan karena komponen sama dapat muncul dalam dua atau lebih tie set. Konsep gabungan (union) akan berlaku seperti yang diaplikasikan pada minimal cut set. Dari konsep sebelumnya tie set dan gambar 3.16, reliabilitas dari sistem ditunjukan dalam gambar 3.23 memiliki persamaan: (3.34) dimana: Ti adalah tie set ke-i dan probabilitas dari kejadian P(Ti). Persamaan (3.34) dapat dikembangkan dalam cara yang sama dengan persamaaan (3.29). (3.35) dimana: Hal. 26 / 27
27 Persamaan (3.35) memberikan indeks keandalan dari sistem. Jika R1= R2= R3= R4= R5=R, persamaan (3.35) akan berubah menjadi: Satu kekurangan dari tie set adalah persamaan (3.35) tidak dapat dipakai untuk menurunkan persamaan pendekatan untuk mengevaluasi indeks keandalan sistem. Hal ini disebabkan, karena secara umum nilai dari R adalah sangat tinggi sehingga hasil pendekatan yang dilakukan akan memiliki tingkat kesalahan yang cukup besar Referensi dan Bibliografi Priyanta. Dwi, [2000], Keandalan dan Perawatan, Institut Teknologi Sepuluh Nopemeber, Surabaya Billinton, R. and Ronald N. Allan., [1992], Reliability Evaluation of Engineering Systems: Concepts and Techniques, 2nd edition, Plenum Press, New York and London Henley, E. J. and Hiromitsu Kumamoto, [1992], Probabilistic Risk Assessment: Reliability Engineering, Design, and Analysis, IEEE Press, New York. Hoyland, Arnljot and Marvin Rausand, [1994], System Reliability Theory Models And Statistical Methods, John Willey & Sons, Inc. Kececioglu, D., [1991], Reliability Engineering Handbooks Volume 2, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey. Ramakumar. R, [1993], Engineering Reliability: Fundamentals and Applications, Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey Hal. 27 / 27
#8 Model Keandalan Dinamis
#8 Model Keandalan Dinamis 8.1. Pendahuluan Prosedur standar untuk mengevaluasi keandalan dari suatu sistem adalah dengan memecah sistem itu menjadi beberapa komponen. Langkah berikutnya adalah mengestimasi
PROSES MARKOV KONTINYU (CONTINOUS MARKOV PROCESSES)
#11 PROSES MARKOV KONTINYU (CONTINOUS MARKOV PROCESSES) 11.1. Pendahuluan Masalah keandalan yang berhubungan dengan sistem secara normal adalah space memiliki sifat diskrit yaitu sistem tersebut dapat
Rantai Markov Diskrit (Discrete Markov Chain)
#10 Rantai Markov Diskrit (Discrete Markov Chain) 10.1. Pendahuluan Berbagai teknik analitis untuk mengevaluasi reliability dari suatu sistem telah diuraikan pada bab terdahulu. Teknik analitis ini mengasumsikan
#12 SIMULASI MONTE CARLO
#12 SIMULASI MONTE CARLO 12.1. Konsep Simulasi Metode evaluasi secara analitis sangat dimungkinkan untuk sistem dengan konfigurasi yang sederhana. Untuk sistem yang kompleks, Bridges [1974] menyarankan
Materi #2 TIN315 Pemeliharaan dan Rekayasa Keandalan Genap 2015/2016
#2 PROBABILITAS 2.1. Pendahuluan Kata probabiliitas sering dipakai jika kehilangan sentuhan dalam mengimplikasikan bahwa suatu kejadian yang mempunyai peluang yang bagus akan terjadi. Dalam hal ini penilaian
TIN315 - Pemeliharaan dan Rekayasa Keandalan Materi #1 Genap 2015/2016. TIN315 - Pemeliharaan dan Rekayasa Keandalan
Materi #1 TIN315 Pemeliharaan dan Rekayasa Keandalan Pokok Bahasan 2 1. Pengenalan Disiplin Ilmu Keandalan dan Aplikasinya 2. Probabilitas 3. Pemodelan Jaringan dan Evaluasi Sistem 4. Pengantar Analisa
STRATEGI KEBIJAKSANAAN PERAWATAN #2
#14 STRATEGI KEBIJAKSANAAN PERAWATAN #2 14.1. Pemodelan Perawatan Terjadwal Ideal (Ideal Schedule Maintenance) Misalkan sebuah komponen yang tidak mampu rawat tetapi komponen tersebut menjalani perawatan
1.1 Konsep Model Jaringan
A 1 MODEL JARINGAN UNTUK SISTEM SEDERHANA 1.1 Konsep Model Jaringan Pada bab sebelumnya telah dijelaskan aplikasi dasar dari teori peluang untuk pengukuran keandalan sistem. Namun demikian, pada praktiknya
DISTRIBUSI PROBABILITAS DAN TERMINOLOGI KEANDALAN
#7 DISTRIBUSI PROBABILITAS DAN TERMINOLOGI KEANDALAN 7.1. Pendahuluan Pada pembahasan terdahulu, keandalan hanya dievaluasi sebagai suatu sistem rekayasa (engineering) dengan tidak menggunakan distribusi
B D. 1.1 Konsep Model Jaringan
A 1 MODEL JARINGAN UNTUK SISTEM KOMPLEKS 1.1 Konsep Model Jaringan P ada bab sebelumnya telah diuraikan teknik dalam melakukan pemodelan jaringan untuk sistem sederhana. eberapa pola hubungan komponen
#6 FAULT TREE ANALYSIS (FTA)
#6 FAULT TREE ANALYSIS (FTA) 6.1. Pendahuluan Seperti yang telah dibahas pada materi sebelumnya bahwa dua metode yang banyak digunakan untuk menganalisa kegagalan sistem adalah Fault Tree Analysis (FTA)
BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S.
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Sampel dan Kejadian Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S. Tiap hasil dalam ruang sampel disebut
Modul 2: Metode Model Kombinatorik
Modul 2: Metode Model Kombinatorik Pendahuluan metode kombinatorik Metode validasi kombinatorik adalah semacam teknik analitik / numerik dan dapat digunakan untuk model keandalan dan ketersediaan dibawah
Analisa Reliability Akibat Modufikasi Jumlah Power Pack Pada System Hydraulic Permesinan Geladak Pada MV Sirena
Analisa Reliability Akibat Modufikasi Jumlah Power Pack Pada System Hydraulic Permesinan Geladak Pada MV Sirena Eko Sasmito Hadi, Indro Dwi Cahyo * * Program Studi S-1 Teknik Perkapalan - Undip Abstrak
Studi Keandalan Sistem Distribusi 20kV di Bengkulu dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)
Studi Keandalan Sistem Distribusi 20kV di Bengkulu dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) Andhito Sukmoyo Nugroho, I.G.N. Satriadi Hernanda 2), Adi Soeprijanto 1) Jurusan Teknik
RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE DALAM PERAWATAN F.O. SERVICE PUMP SISTEM BAHAN BAKAR KAPAL IKAN
Jurnal Riset dan Teknologi Kelautan (JRTK) Volume 14, Nomor 1, Januari - Juni 2016 RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE DALAM PERAWATAN F.O. SERVICE PUMP SISTEM BAHAN BAKAR KAPAL IKAN M. Rusydi Alwi Dosen
Studi Perbaikan Keandalan Jaringan Distribusi Primer Dengan Pemasangan Gardu Induk Sisipan Di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271 B-119 Studi Perbaikan Keandalan Jaringan Distribusi Primer Dengan Pemasangan Gardu Induk Sisipan Di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan Fauziah, Adi
Evaluasi Keandalan Sistem Jaringan Distribusi 20 kv Menggunakan Metode Reliability Network Equivalent Approach (RNEA) di PT. PLN Rayon Mojokerto
Evaluasi Keandalan Sistem Jaringan Distribusi Menggunakan Metode Reliability Network Equivalent Approach EVALUASI KEANDALAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY NETWORK EQUIVALENT
ANALISA KETERLAMBATAN PROYEK MENGGUNAKAN FAULT TREE ANALYSIS
ANALISA KETERLAMBATAN PROYEK MENGGUNAKAN FAULT TREE ANALYSIS (FTA) (STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI TAHAP II UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG) NASKAH PUBLIKASI Untuk
BAB 7 DISTRIBUSI-COMPOUND DAN GENERALIZED SPASIAL MUHAMMAD NUR AIDI
7.1. Pendahuluan BAB 7 DISTRIBUSI-COMPOUND DAN GENERALIZED SPASIAL MUHAMMAD NUR AIDI Pada bab sebelumnya, penyebaran spatial (konfigurasi spasial) dimana ditunjukan sebagai ragam sampel quadran. Bab ini
PENETAPAN JADWAL PERAWATAN MESIN SPEED MASTER CD DI PT. DHARMA ANUGERAH INDAH (DAI)
Mulyono: PENETAPAN JADWAL PERAWATAN MESIN SPEED MASTER D DI PT. DHARMA... 9 PENETAPAN JADWAL PERAWATAN MESIN SPEED MASTER D DI PT. DHARMA ANUGERAH INDAH (DAI) Julius Mulyono ), Dini Endah Setyo Rahaju
OPTIMASI PERSEDIAAN SUKU CADANG UNTUK PROGRAM PEMELIHARAAN PREVENTIP BERDASARKAN ANALISIS RELIABILITAS
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Agustus 27 OPTIMASI PERSEDIAAN SUKU CADANG UNTUK PROGRAM PEMELIHARAAN PREVENTIP BERDASARKAN ANALISIS RELIABILITAS (Studi Kasus di PT. Terminal Peti Kemas Surabaya) Agus
ANALISIS KEANDALAN SISTEM 150 KV DI WILAYAH JAWA TIMUR
ANALISIS KEANDALAN SISTEM 150 KV DI WILAYAH JAWA TIMUR Ridwan Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus Keputih-Sukolilo, Surabaya-60111, Email : [email protected] ABSTRAK
STUDI PENEMPATAN SECTIONALIZER PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PENYULANG KELINGI UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN
Mikrotiga, Vol 2, No. 1 Januari 2015 ISSN : 2355-0457 5 STUDI PENEMPATAN SECTIONALIZER PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PENYULANG KELINGI UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN Azzahraninna Tryollinna 1*, Rudyanto
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2018), ( X Print) B 1
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2018), 2337-3520 (2301-928X Print) B 1 Penilaian Keandalan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bagian Timur Dan Bali Menggunakan Formula Analitis Deduksi Dan Sensitivitas Analitis
Studi Implementasi RCM untuk Peningkatan Produktivitas Dok Apung (Studi Kasus: PT.Dok dan Perkapalan Surabaya)
Studi Implementasi RCM untuk Peningkatan Produktivitas Dok Apung (Studi Kasus: PT.Dok dan Perkapalan Surabaya) G136 Nurlaily Mufarikhah, Triwilaswandio Wuruk Pribadi, dan Soejitno Jurusan Teknik Perkapalan,
Seminar TUGAS AKHIR. Fariz Mus abil Hakim LOGO.
Seminar TUGAS AKHIR Fariz Mus abil Hakim 2207 100 010 LOGO www.themegallery.com Studi Keandalan Jaringan Distribusi 20 kv Wilayah Malang dengan Metode Monte Carlo Pembimbing: Prof. Ir. Ontoseno Penangsang,
PERTEMUAN #1 PENGANTAR DAN PENGENALAN PEMELIHARAAN DAN REKAYASA KEANDALAN 6623 TAUFIQUR RACHMAN TKT316 PEMELIHARAAN DAN REKAYASA KEANDALAN
PENGANTAR DAN PENGENALAN PEMELIHARAAN DAN REKAYASA KEANDALAN PERTEMUAN #1 TKT316 PEMELIHARAAN DAN REKAYASA KEANDALAN 6623 TAUFIQUR RACHMAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III ISSN: X Yogyakarta, 3 November 2012
PENENTUAN RELIABILITAS SISTEM DAN PELUANG SUKSES MESIN PADA JENIS SISTEM PRODUKSI FLOW SHOP Imam Sodikin 1 1 Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jl.
KEANDALAN DATA CENTER BERDASARKAN SISTEM TIER CLASSIFICATIONS. Irham Fadlika
Irham Fadlika; Keandalan Data Center Berdasarkan Sistem Tier Classifications KEANDALAN DATA CENTER BERDASARKAN SISTEM TIER CLASSIFICATIONS Irham Fadlika Abstrak Ketika konsep keandalan (reliability) mulai
PERHITUNGAN PLANT RELIABILITY DAN RISIKO DI PABRIK PHONSKA PT.PETROKIMIA GRESIK
PERHITUNGAN PLANT RELIABILITY DAN RISIKO DI PABRIK PHONSKA PT.PETROKIMIA GRESIK IGP Raka Arthama, Patdono Soewignjo, Nurhadi Siswanto, Stefanus Eko Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi
KAJIAN DATA KETAHANAN HIDUP TERSENSOR TIPE I BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL DAN SIX SIGMA. Victoria Dwi Murti 1, Sudarno 2, Suparti 3
JURNAL GAUSSIAN, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 241-248 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian KAJIAN DATA KETAHANAN HIDUP TERSENSOR TIPE I BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL DAN
Usulan Penjadwalan Perawatan Mesin Dengan Mempertimbangkan Reliability Block Diagram Pada Unit Stand CPL Di PT Krakatau Steel
Usulan Penjadwalan Perawatan Dengan Mempertimbangkan Reliability Block Diagram Pada Unit Stand CPL Di PT Krakatau Steel Aji Munaji 1, M. adha Ilhami 2, Bobby Kurniawan 3 1, 2, 3 Jurusan Teknik Industri
Penerapan Metode Bayes dalam Menentukan Model Estimasi Reliabilitas Pompa Submersible pada Rumah Pompa Wendit I PDAM Kota Malang
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, 2017 2337-3520 2301-928X Print A33 Penerapan Metode Bayes dalam Menentukan Model Estimasi Reliabilitas Pompa Submersible pada Rumah Pompa Wendit I PDAM Kota Malang
Penggunaan Algoritma Kruskal yang Diperluas untuk Mencari Semua Minimum Spanning Tree Tanpa Konstren dari Suatu Graf
Penggunaan Algoritma Kruskal yang Diperluas untuk Mencari Semua Minimum Spanning Tree Tanpa Konstren dari Suatu Graf Narwen, Budi Rudianto Jurusan Matematika, Universitas Andalas, Padang, Indonesia [email protected]
Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
ANALISA PERAWATAN SISTEM DISTRIBUSI MINYAK LUMAS BERBASIS KEANDALAN PADA KAPAL KM.BUKIT SIGUNTANG DENGAN PENDEKATAN RCM (RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE) Relinton B Manalu 1, Untung Budiarto 1, Hartono
Penerapan Logika Fuzzy Pada Sistem Parkir Truk
Penerapan Logika Fuzzy Pada Sistem Parkir Truk Kuswara Setiawan Program Studi Sistem Informasi Universitas Pelita Harapan Surabaya, Indonesia Abstrak Suatu sistem dinamis dalam kehidupan sehari-hari seringkali
BAB III TINJAUAN PIRANTI LUNAK
BAB III TINJAUAN PIRANTI LUNAK 3.1 PEMILAHAN PIRANTI LUNAK Bahasan dalam bab ini dimulai dengan proses pemilahan piranti lunak, kemudian dilanjutkan dengan deskripsi piranti lunak yang terpilih dari proses
I Wayan Suardiawan 1) 1) Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 60111,
Evaluasi Keandalan Sistem Distribusi Jaringan Spindel GI Nusa Dua PT. PLN (Persero) Distribusi Bali UJ Kuta. Reliability Evaluation of Spindel Network Distribution System at GI Nusa Dua PT. PLN (Persero)
PENENTUAN PRIORITAS MODE KEGAGALAN PENYEBAB KECACATAN PRODUK DENGAN ANOVA (STUDI KASUS: CV. PUTRA NUGRAHA TRIYAGAN)
PENENTUAN PRIORITAS MODE KEGAGALAN PENYEBAB KECACATAN PRODUK DENGAN ANOVA (STUDI KASUS: CV. PUTRA NUGRAHA TRIYAGAN) Ida Nursanti 1*, Dimas Wisnu AJi 2 Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas
BAB II TEORI DASAR PROSES PENILAIAN KESELAMATAN
BAB II TEORI DASAR PROSES PENILAIAN KESELAMATAN 2.1 PENDAHULUAN SAE ARP4761 dikeluarkan oleh SAE (Society for Automotive Engineers) International The Engineering Society for Advancing Mobility Land Sea
PENENTUAN INTERVAL WAKTU PEMELIHARAAN PENCEGAHAN BERDASARKAN ALOKASI DAN OPTIMASI KEHANDALAN PADA PERALATAN SEKSI PENGGILINGAN E
PENENTUAN INTERVAL WAKTU PEMELIHARAAN PENCEGAHAN BERDASARKAN ALOKASI DAN OPTIMASI KEHANDALAN PADA PERALATAN SEKSI PENGGILINGAN E (Studi Kasus: PT ISM Bogasari Flour Mills Surabaya) Edi Suhandoko, Bobby
PERBAIKAN KEANDALAN SISTEM MELALUI PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION
PERBAIKAN KEANDALAN SISTEM MELALUI PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION Wahri Sunanda 1 1) Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung Email: [email protected] Abstract - The reliability
Peningkatan Keandalan Sistem Distribusi Tenaga Listrik 20 kv PT. PLN (Persero) APJ Magelang Menggunakan Static Series Voltage Regulator (SSVR)
Peningkatan Keandalan Sistem Distribusi Tenaga Listrik 20 kv PT. PLN (Persero) APJ Magelang Menggunakan Static Series Voltage Regulator (SSVR) Oleh: Putty Ika Dharmawati (2208100020) Dosen Pembimbing Prof.
MODEL PENJADWALAN FLOW SHOP n JOB m MESIN UNTUK MEMINIMASI MAKESPAN TANPA TARDY JOB DENGAN KENDALA KETIDAKTERSEDIAAN MESIN
MODEL PENJADWALAN FLOW SHOP n JOB m MESIN UNTUK MEMINIMASI MAKESPAN TANPA TARDY JOB DENGAN KENDALA KETIDAKTERSEDIAAN MESIN Jefikz Berhitu, Mokh. Suef, dan Nani Kurniati Jurusan Teknik Industri - Institut
Program Studi Teknik Mesin S1
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : STATISTIKA DAN PROBABILITAS KODE / SKS : IT042238 / 2 SKS Program Studi Teknik Mesin S1 Pokok Bahasan Pertemuan dan TIU 1 Pendahuluan memahami tentang konsep statistik
Peningkatan Kualitas melalui Desain Eksperimen (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Krupuk, Blitar)
Peningkatan Kualitas melalui Desain Eksperimen (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Krupuk, Blitar) Debora Anne Y. A., Vivi Yasin Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen
LOSS OF LOAD PROBABILITY (LOLP) INDEX UNTUK MENGANALISIS KEANDALAN PEMBANGKIT LISTRIK (Studi Kasus PT Indonesia Power UBP Suralaya)
BIAStatistics (2015) Vol. 9, No. 2, hal. 7-12 LOSS OF LOAD PROBABILITY (LOLP) INDEX UNTUK MENGANALISIS KEANDALAN PEMBANGKIT LISTRIK (Studi Kasus PT Indonesia Power UBP Suralaya) Yulius Indhra Kurniawan
Suatu sistem tenaga listrik memiliki unit-unit pembangkit yang bertugas menyediakan daya dalam sistem tenaga listrik agar beban dapat terlayani.
Suatu sistem tenaga listrik memiliki unit-unit pembangkit yang bertugas menyediakan daya dalam sistem tenaga listrik agar beban dapat terlayani. Unit pembangkit dapat mengalami gangguan setiap waktu yang
PERBANDINGAN KURVA PADA DISTRIBUSI UNIFORM DAN DISTRIBUSI BINOMIAL
Statistika, Vol., No., Mei PERBANDINGAN KURVA PADA DISTRIBUSI UNIFORM DAN DISTRIBUSI BINOMIAL Moh. Yamin Darsyah, Dwi Haryo Ismunarti Program Studi S Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang, Jl. Kedung
ANALISA KEANDALAN SISTEM BAHAN BAKAR MOTOR INDUK PADA KM. LEUSER
ANALISA KEANDALAN SISTEM BAHAN BAKAR MOTOR INDUK PADA KM. LEUSER Eko Sasmito H, Untung B. Program Studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ABSTRACT Fuel oil system is one of the
BAB 2 TEORI PENUNJANG
5 BAB 2 TEORI PENUNJANG 2.1 Sistem Distribusi Tenaga listrik Sistem distribusi bertugas mengirim tenaga listrik dari pusat listrik ke pelanggan. Kemampuan untuk melayani pelanggannya sangat tergantung
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH GRAPH & ANALISIS ALGORITMA (SI / S1) KODE / SKS : KK / 3 SKS
Pertemuan ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan dan TIK 1 Pendahuluan Penjelasan mengenai ruang lingkup mata kuliah, sasaran, tujuan dan kompetensi lulusan 2 1. Dasar-dasar 1.1. Kelahiran Teori Graph
PENJAMINAN KUALITAS SOFTWARE pada SIKLUS HIDUP PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK PROTOTYPING
PENJAMINAN KUALITAS SOFTWARE pada SIKLUS HIDUP PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK PROTOTYPING M. Nasrullah (5209100704) Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
ANALISA PERAWATAN BERBASIS RESIKO PADA SISTEM PELUMAS KM. LAMBELU
Jurnal Riset dan Teknologi Kelautan (JRTK) Volume 14, Nomor 1, Januari - Juni 2016 ANALISA PERAWATAN BERBASIS RESIKO PADA SISTEM PELUMAS KM. LAMBELU Zulkifli A. Yusuf Dosen Program Studi Teknik Sistem
IMPLEMENTASI FORMULA NEWTON-COTES UNTUK MENENTUKAN NILAI APROKSIMASI INTEGRAL TENTU MENGGUNAKAN POLINOMIAL BERORDE 4 DAN 5. Wahyu Sakti G. I.
Sakti G.I., Implementasi Formula Newton-Cotes Untuk Menentukan Nilai Aproksimasi Integral Tentu Menggunakan Polinomial Berorde 4 dan 5 IMPLEMENTASI FORMULA NEWTON-COTES UNTUK MENENTUKAN NILAI APROKSIMASI
PROSIDING ISSN : Seminar Nasional Statistika 12 November 2011 Vol 2, November 2011
(DS.6) ANALISIS KURVA PERTUMBUHAN SEBAGAI ANALISIS SETELAH MANOVA UNTUK DATA LONGITUDINAL Enny Supartini Statistika F MIPA Universitas Padjadjaran Bandung e-mail : [email protected] Abstrak Eksperimen
DESAIN SISTEM KENDALI TEMPERATUR UAP SUPERHEATER DENGAN METODE FUZZY SLIDING MODE CONTROL
J. Math. and Its Appl. ISSN: 1829-605X Vol. 13, No. 1, Mei 2016, 37-48 DESAIN SISTEM KENDALI TEMPERATUR UAP SUPERHEATER DENGAN METODE FUZZY SLIDING MODE CONTROL Mardlijah 1, Mardiana Septiani 2,Titik Mudjiati
METODE BERTIPE STEFFENSEN SATU LANGKAH DENGAN KONVERGENSI SUPER KUBIK UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR. Neng Ipa Patimatuzzaroh 1 ABSTRACT
METODE BERTIPE STEFFENSEN SATU LANGKAH DENGAN KONVERGENSI SUPER KUBIK UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR Neng Ipa Patimatuzzaroh Mahasiswa Program Studi S Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Kontrol Fuzzy Takagi-Sugeno Berbasis Sistem Servo Tipe 1 Untuk Sistem Pendulum Kereta
Kontrol Fuzzy Takagi-Sugeno Berbasis Sistem Servo Tipe Untuk Sistem Pendulum Kereta Helvin Indrawati, Trihastuti Agustinah Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
MODIFIKASI METODE NEWTON DENGAN KEKONVERGENAN ORDE EMPAT. Yenni May Sovia 1, Agusni 2 ABSTRACT
MODIFIKASI METODE NEWTON DENGAN KEKONVERGENAN ORDE EMPAT Yenni May Sovia, Agusni 2 Mahasiswa Program Studi S Matematika Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau
Jurnal Gradien Vol. 10 No. 1 Januari 2014 : 957-962 Analisis Model Regresi Linear Berganda dengan Metode Response Surface * Henoh Bayu Murti, Dian Kurniasari, Widiarti Jurusan Matematika, Fakultas Matematika
PRODI. Dosen : MM No.Revisi : 00. Semester : I Hal: 1 dari 5. kelompok. Deskripsi 2 populasi. Kemampuan. Kemampuan kerja.
RP S1 SP 01 A. CAPAIAN PEMAN : 1. CP 11.1 : Mampu menganalisis data secara kuantitatif baik secara univariat maupun Multivariat serta menerapkannya. 2. CP 8.1 : Memformulasikan masalah ke dalam pemodelan
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN (GBPP)
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN (GBPP) Mata Kuliah: Stabilitas dan Keandalan ; Kode: ; T: 2 sks; P: 0 sks Deskripsi Mata Kuliah: Mata kuliah ini berisi definisi stabilitas sistem tenaga listrik,
Pengukuran dan Peningkatan Kehandalan Sistem
Pengukuran dan Peningkatan Kehandalan Sistem Pengukuran Kehandalan Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menguraikan proses perancangan kehandalan sistem 3 Kehandalan
METODE PSEUDO ARC-LENGTH DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN NONLINIER TERPARAMETERISASI
Jurnal Matematika UNAND Vol. 5 No. 4 Hal. 9 17 ISSN : 233 291 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND METODE PSEUDO ARC-LENGTH DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN NONLINIER TERPARAMETERISASI RAHIMA
GAGASAN KONSEP KONEKTIVITAS MAKSIMAL KASUS JARINGAN JALAN LUAR KOTA
GAGASAN KONSEP KONEKTIVITAS MAKSIMAL KASUS JARINGAN JALAN LUAR KOTA Hitapriya Suprayitno1, Indrasurya B. Mochtar, Achmad Wicaksono Jurusan Teknik Sipil. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Surabaya
Kata Kunci : Jaringan Jalan, Metoda Penilaian Kualitas, Teori Graf, Konektivitas. ISBN No. 978-979-18342-0-9 C-146
PENGGUNAAN KONSEP KONEKTIVITAS TEORI GRAF SEBAGAI PIJAKAN BAGI UPAYA PENYUSUNAN METODA PENILAIAN KUALITAS JARINGAN JALAN PRIMER Hitapriya Suprayitno Jurusan Teknik Sipil. Institut Teknologi Sepuluh Nopember
ANALISA DINAMIS PADA JEMBATAN PCI GIRDER
ANALISA DINAMIS PADA JEMBATAN PCI GIRDER Santi JurusanTeknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Bina Nusantara, Jl. K.H. Syahdan No. 9 Kemanggisan, Jakarta Barat 11480, Fax. [email protected]
c. Bab II berisikan landasan teori yang digunakan oleh penulis dalam pemecahan permasalahan yang diteliti.
8 b. Bab I mengetengahkan latar belakang penulisan tesis, perumusan masalah, diagram keterkaitan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. c. Bab II berisikan landasan
Dynamic Economic Dispatch Menggunakan Pendekatan Penelusuran Ke Depan
1 Dynamic Economic Dispatch Menggunakan Pendekatan Penelusuran Ke Depan Sheila Fitria Farisqi, Rony Seto Wibowo dan Sidaryanto Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh
ANALISA RELIABILITY BERBASIS LOGIKA FUZZY PADA SISTEM MAIN ENGINE KAPAL TUGAS AKHIR
ANALISA RELIABILITY BERBASIS LOGIKA FUZZY PADA SISTEM MAIN ENGINE KAPAL TUGAS AKHIR MOCH. ABDUL RACHMAN Nrp. 2400 100 017 JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL BAB III METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DAN FAULT TREE ANALYSIS (FTA) 3.1 Failure Mode and Effect
Bab 2 LANDASAN TEORI
Bab 2 LANDASAN TEORI 2.1 Linear Programming Linear Programming (LP) merupakan metode yang digunakan untuk mencapai hasil terbaik (optimal) seperti keuntungan maksimum atau biaya minimum dalam model matematika
Probabilitas dan Proses Stokastik
Probabilitas dan Proses Stokastik Tim ProStok Jurusan Teknik Elektro - FTI Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 2014 O U T L I N E 1. Capaian Pembelajaran 2. Pengantar dan 3. Contoh 4. Ringkasan
Analisis Model Regresi Linear Berganda dengan Metode Response Surface
Jurnal Gradien Vol. 10 No. 1 Januari 2014 : 957-962 Analisis Model Regresi Linear Berganda dengan Metode Response Surface * Henoh Bayu Murti, Dian Kurniasari, Widiarti Jurusan Matematika, Fakultas Matematika
Analisis Keandalan Mechanical Press Shearing Machine di Perusahaan Manufaktur Industri Otomotif
Analisis Keandalan Mechanical Press Shearing Machine di Perusahaan Manufaktur Industri Otomotif Abdurrahman Yusuf 1, Anda Iviana Juniani 2 dan Dhika Aditya P. 3 1,2,3 Program Studi Teknik Desain dan Manufaktur,
PEMODELAN DISPARITAS GENDER DI JAWA TIMUR DENGAN PENDEKATAN MODEL REGRESI PROBIT ORDINAL
1 PEMODELAN DISPARITAS GENDER DI JAWA TIMUR DENGAN PENDEKATAN MODEL REGRESI PROBIT ORDINAL Uaies Qurnie Hafizh, Vita Ratnasari Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
BAB 5 FUNDAMENTAL DISTRIBUSI PELUANG MUHAMMAD NUR AIDI
BAB 5 FUNDAMENTAL DISTRIBUSI PELUANG MUHAMMAD NUR AIDI 5.1. Pendahuluan Untuk mendeteksi bagaimana konfigurasi titik dalam ruang apakah bersifat acak atau random, regular, ataupun cluster (kelompok); pertama-tama
Syarat Fritz John pada Masalah Optimasi Berkendala Ketaksamaan. Caturiyati 1 Himmawati Puji Lestari 2. Abstrak
Syarat Fritz John pada Masalah Optimasi Berkendala Ketaksamaan Caturiyati 1 Himmawati Puji Lestari 2 1,2 Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY 1 [email protected] 2 [email protected] Abstrak
ANALISA KEANDALAN SISTEM TENAGA LISTRIK JAKARTA DAN BANTEN PERIODE TAHUN
TECHNOLOGIC, VOLUME 5, NOMOR 2 ANALISA KEANDALAN SISTEM TENAGA LISTRIK JAKARTA DAN BANTEN PERIODE TAHUN 2011-2013 Erwin Dermawan 1, Agus Ponco 2, Syaiful Elmi 3 Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik,
LOSS OF LOAD PROBABILITY (LOLP) INDEX UNTUK MENGANALISIS KEANDALAN PEMBANGKIT LISTRIK (Studi Kasus PT Indonesia Power UBP Suralaya)
LOSS OF LOAD PROBABILITY (LOLP) INDEX UNTUK MENGANALISIS KEANDALAN PEMBANGKIT LISTRIK (Studi Kasus PT Indonesia Power UBP Suralaya) Yulius Indhra Kurniawan, Anindya Apriliyanti P Indonesia Power UBP Suralaya,
ANALISA SIFAT-SIFAT ANTRIAN M/M/1 DENGAN WORKING VACATION
ANALISA SIFAT-SIFAT ANTRIAN M/M/1 DENGAN WORKING VACATION Oleh: Desi Nur Faizah 1209 1000 17 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
Canggi Purba Wisesa, Analisis Keandalan Sistem Distribusi 20 kv di PT. PLN APJ Banyuwangi dengan metode Reliability Network Equivalent Approach
ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DI PT. PLN (PERSERO) APJ BANYUWANGI DENGAN METODE RELIABILITY NETWORK EQUIVALENT APPROACH (20 kv Distribution System Reliability Analysis At PT. PLN (Persero)
MODEL REGRESI DATA TAHAN HIDUP TERSENSOR TIPE III BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL. Jln. Prof. H. Soedarto, S.H., Tembalang, Semarang.
MODEL REGRESI DATA TAHAN HIDUP TERSENSOR TIPE III BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL Winda Faati Kartika 1, Triastuti Wuryandari 2 1, 2) Program Studi Statistika Jurusan Matematika FMIPA Universitas Diponegoro
PELUANG & ATURAN BAYES BI5106 ANALISIS BIOSTATISTIK
1 PELUANG & ATURAN BAYES BI5106 ANALISIS BIOSTATISTIK UTRIWENI MUKHAIYAR Eksperimen 2 Ciri-ciri i ii eksperimen acak (Statistik): ti tik) Dapat dulangi baik oleh si pengamat sendiri maupun orang lain.
Model Regresi Multivariat untuk Menentukan Tingkat Kesejahteraan Kabupaten dan Kota di Jawa Timur
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.1, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) 1 Model Regresi Multivariat untuk Menentukan Tingkat Kesejahteraan Kabupaten dan Kota di Jawa Timur M.Fariz Fadillah Mardianto,
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Travelling Salesman Problem (TSP) merupakan salah satu permasalahan yang penting dalam dunia matematika dan informatika. TSP dapat diilustrasikan sebagai perjalanan
ANALISA SISTEM SUPLAI ENERGI LISTRIK DITINJAU DARI KEANDALAN SISTEM GENERATOR DI PERTAMINA PRABUMULIH
ANALISA SISTEM SUPLAI ENERGI LISTRIK DITINJAU DARI KEANDALAN SISTEM GENERATOR DI PERTAMINA PRABUMULIH Antonius Hamdadi Rio Oktafian Aryansyah Universitas Sriwijaya Abstract In this thesis aims to analyze
METODE ANALISIS HARGA PANGAN 1
METODE ANALISIS HARGA PANGAN 1 Handewi P.S. Rachman Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 Abstrak Harga dan kaitannya dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
Pemetaan Status Gizi Balita Terhadap Kecamatan-Kecamatan Di Kabupaten Trenggalek Dengan Metode Analisis Korespondensi
Pemetaan Status Gizi Balita Terhadap Kecamatan-Kecamatan Di Kabupaten Trenggalek Dengan Metode Analisis Korespondensi Oleh : Teguh Purianto (0 09 06) Dosen Pembimbing : Wibawati, S.Si., M.Si. ABSTRAK Anak
Memahami dan menguasai konsep sistem informasi, Dapat menjelaskan peranan informasi dalam suatu organisasi, Struktur dari suatu sistem informasi,
Memahami dan menguasai konsep sistem informasi, Dapat menjelaskan peranan informasi dalam suatu organisasi, Struktur dari suatu sistem informasi, Dukungan komputer terhadap suatu sistem informasi, dan
Model Optimisasi Ukuran Lot Produksi yang Mempertimbangkan Inspeksi Sampling dengan Kriteria Minimisasi Total Ongkos
Model Optimisasi Ukuran Lot Produksi yang Mempertimbangkan Inspeksi Sampling dengan Kriteria Minimisasi Total Ongkos Arie Desrianty, Fifi Herni M, Adelia Septy Perdana Jurusan Teknik Industri Institut
Pertemuan 5 Konsep dan Prinsip Desain TIK : Menjelaskan konsep, prinsip dan tahapan dalam perancangan software
Pertemuan 5 Konsep dan Prinsip Desain TIK : Menjelaskan konsep, prinsip dan tahapan dalam perancangan software 1. Analisis dan Desain Model Gambar 4.1 Hubungan antara Analysis Sistem dan Design Model Desain
Oleh : Selvia Lorena Br Ginting, Reggy Pasya Trinanda. Abstrak
TEKNIK DATA MINING MENGGUNAKAN METODE BAYES CLASSIFIER UNTUK OPTIMALISASI PENCARIAN PADA APLIKASI PERPUSTAKAAN (STUDI KASUS : PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG) Oleh : Selvia Lorena Br Ginting,
DISAIN DAN IMPLEMENTASI PENGENDALI FUZZY BERBASIS DIAGRAM LADDER PLC MITSUBISHI Q02HCPU PADA SISTEM MOTOR INDUKSI
DISAIN DAN IMPLEMENTASI PENGENDALI FUZZY BERBASIS DIAGRAM LADDER PLC MITSUBISHI Q02HCPU PADA SISTEM MOTOR INDUKSI Syarif Jamaluddin a, Ir. Aries Subiantoro, M.Sc. b a,b) Departemen Elektro Fakultas Teknik,
Penerapan Teori Kombinatorial dan Peluang Dalam Permainan Poker
Penerapan Teori Kombinatorial dan Peluang Dalam Permainan Poker Johan Sentosa - 13514026 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
SEMINAR NASIONAL MESIN DAN INDUSTRI (SNMI6) 2010
MODEL INTEGRASI SISTEM PERSEDIAAN DAN PERAWATAN PADA DUA ESELON DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS Fifi Herni Mustofa 1, Arie Desrianty 1, Astri Nurhidayati 1) Staf Pengajar Teknik Industri ITENAS
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Probabilitas (Peluang) Probabilitas adalah suatu nilai untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu peristiwa (event) akan terjadi di masa mendatang yang hasilnya
I. AKTUARIA (A.1) MANAJEMEN RESIKO DALAM STRATEGI PERAWATAN ASET. Erni D. Sumaryatie Fakultas Sains, Institut Teknologi Telkom Bandung
I. AKTUARIA (A.1) MANAJEMEN RESIKO DALAM STRATEGI PERAWATAN ASET Erni D. Sumaryatie Fakultas Sains, Institut Teknologi Telkom Bandung [email protected] ABSTRAK Biaya perawatan (maintenance cost) aset
