PUTUSAN SELA NOMOR : 52/C/PK/PJK/2007 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa permohonan peninjauan kembali telah mengambil putusan sela sebagai berikut dalam perkara : PT. KAISAR MOTORINDO INDUSTRI, beralamat di Jalan Agung Timur IX Blok 01/72-73, Sunter Podomoro, Tanjung Priok, Jakarta 14350, dalam hal ini memberi kuasa kepada Rustam Efendi Harahap, Pekerjaan Karyawan PT. Kaisar Motorindo Industri, beralamat di Jalan Agung Timur IX Blok 01 No. 24, Sunter Podomoro, Jakarta Utara, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 1 November 2006; Pemohon Peninjauan Kembali, dahulu Penggugat; m e l a w a n DIREKTUR JENDERAL PAJAK, beralamat di Jalan Jend. Gatot Subroto No.40-42, Jakarta 12190. Termohon Peninjauan Kembali, dahulu Tergugat; Mahkamah Agung tersebut, Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Penggugat telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap putusan Pengadilan Pajak No. Put.08927/PP/M-V/99/2006 tanggal 5 September 2006 yang telah berkekuatan hukum yang tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Tergugat dengan posita perkara sebagai berikut : Bahwa surat jawaban atau Keputusan Tergugat No. S-348/WPJ.21/- KP.0309/2006 tertanggal 4 Mei 2006 terhadap Surat Keberatan yang diajukan Penggugat kepada Tergugat mengenai penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) PPh Pasa 21 untuk Tahun Pajak 2003 dengan No. 00181/201/03/042/06 dan tanggal penerbitannya tanggal 1 Pebruari 2006; Bahwa Penggugat memohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Pajak agar tindak lanjut pelaksanaan penagihan pajak ditunda selama pemeriksaan sengketa pajak sedang berjalan; Dasar Hukum mengajukan gugatan ke Pengadilan Pajak adalah : a. Bahwa Pasal 23 ayat (2) huruf b UU KUP berbunyi Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap keputusan yang berkaitan dengan Hal. 1 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26, hanya dapat diajukan kepada Badan Peradilan Pajak. Apabila bunyi pasal ini ditafsirkan secara a contrario (salah satu penafsiran hukum menurut doktrin), maka sengketa mengenai keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan kecuali mengenai jumlah pajak terutang hanya dapat diajukan ke Badan Peradilan Pajak. Penafsiran ini terdukung dengan Pasal 31 ayat (3) yang mencantumkan kata, Keputusan lainnya dan asas peradilan yang tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya; b. Bahwa Pasal 23 ayat (2) huruf c jo Pasal 16 ayat (1), Pasal 14 ayat (2) UU KUP dimana dinyatakan, gugatan dapat diajukan terhadap keputusan yang tidak benar dan Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat Ketetapan Pajak; c. Pasal 31 ayat (1) UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak yang berbunyi Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak ; d. Pasal 31 ayat (3) UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak yang menyebutkan, Pengadilan Pajak dalam hal gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan penagihan pajak atau keputusan pembetulan atau keputusan lainnya ; e. Pasal 43 UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak yang mengatur mengenai penundaan pelaksanaan penagihan pajak; Alasan-alasan gugatan diajukan : Alasan-alasan gugatan diajukan adalah karena Tergugat menolak Surat Keberatan yang diajukan Penggugat sebagaimana dinyatakan di dalam Suratnya No. S-348/WPJ.21/KP.0309/2006 tertanggal 4 Mei 2006, Surat Keberatan yang Penggugat ajukan tidak memenuhi syarat formal dan dengan demikian tidak dapat diproses serta dipertimbangkan lebih lanjut ; Sebagai bahan pertimbangan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut : Pada tanggal 16 Februari 2006 Penggugat menerima SKPKB PPh Pasa 21 No. 00181/201/03/042/06 untuk Tahun Pajak 2003 yang diterbitkan berdasarkan Pasal 13 atau Pasal 17B Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 jo. Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 (P-1); Kronologis Pemeriksaan dapat Penggugat uraikan sebagai berikut : 1. Sekitar akhir Juli 2004 Penggugat menerima Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak dengan No. Pemb-052/WPJ.21/KP.0307/2004 tertanggal 29 Juli 2004 yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Pelayanan Hal. 2 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
Pajak Jakarta Tanjung Priok atas nama Direktur Jenderal Pajak disertai dengan daftar permintaan peminjaman buku-buku dan catatan-catatan (P- 2); 2. Pada tanggal 16 Agustus 2004 Penggugat menerima surat dari Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta Empat, yaitu Surat Perintah Pemeriksaan Pajak dengan No. PRIN-0354/WPJ.21/RP.01/2004 dan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan dengan No. PEMB-0353/WPJ.21/- RP.01/2004 tertanggal 16 Agustus 2004, dilampiri dengan daftar permintaan peminjaman buku-buku dan catatan-catatan (P-3); 3. Bulan November 2004 Penggugat menerima tembusan Surat Tugas dengan No. ST-264/WPJ.21/RP.01/2004 tertanggal 24 November 2004 yang isinya adalah penggantian nama-nama Petugas Pemeriksa (P-4); 4. Bulan Juli 2005 Penggugat menerima Surat Panggilan dengan No. S-043/- WPJ.05/RP.01/IV.2/2005 tertanggal 28 Juli 2005 untuk memberikan keterangan/bukti sehubungan dengan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak No. PRIN-0354/WPJ.21/RP.01/2004 dan selanjutnya atau sampai dengan pertengahan bulan Desember 2005 Penggugat sering mendapat panggilan baik secara tertulis maupun secara lisan untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan pemeriksaan pajak (P-5); 5. Pada tanggal 20 Desember 2005 Penggugat menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan No. Pemb.5109/WPJ.21/RP.01/2005, yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta Empat dengan lampiran Daftar Temuan Pemeriksaan Pajak yang ditandatangani oleh Kamarul Djani S., SH. sebagai Supervisor, Supriyambodo sebagai Ketua Tim, dan Tina Ristiana sebagai Anggota Tim (P-6); 6. Bahwa benar di dalam Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan disebutkan bahwa Penggugat diberikan kesempatan selama 7 (tujuh) hari untuk menanggapi hasil pemeriksaan, dan kesempatan tersebut Penggugat gunakan dengan mengirimkan surat tertanggal 27 Desember 2005, dan diterima pada pada hari itu juga, yang isinya antara lain Penggugat mempertanyakan mengenai proses pemeriksaan baik dari segi kewenangan maupun jangka waktunya (tanggal 27 Desember 2005); 7. Bahwa pertanyaan sebagaimana dicantumkan pada angka 6 di atas diajukan karena nama-nama Kamarul Djani S, SH. dan Supriyambodo tidak ada tercantum baik di dalam Surat Perintah Pemeriksaan Pajak, Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak dan Surat Tugas yang kami terima, Hal. 3 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
serta jangka waktu pemeriksaan yang telah melewati batas sebagaimana ditentukan di dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 545/KMK.04/2000; 8. Bahwa benar pada tanggal 6 Januari 2006 Penggugat menerima Surat Panggilan ke II, yang isinya Penggugat diminta untuk menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan dalam rangka pelaksanaan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan setelah penandatanganan Berita Acara Hasil Pemeriksaan, Penggugat menerima Ikhtisar Hasil Pembahasan Akhir, tanpa penjelasan mengenai proses pemeriksaan yang Penggugat pertanyakan, untuk ditandatangani dan surat tersebut Penggugat tandatangani demi untuk kepentingan semua pihak (P-7); 9. Bahwa dari kronologis pemeriksaan sebagaimana diuraikan di atas dikaitkan dengan Pasal 5 dan 3 Keputusan Menteri Keuangan No. 545/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang menyebutkan antara lain : Pemeriksa Pajak harus memiliki Tanda Pengenal Pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan pada waku melakukan pemeriksaan, memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan serta menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan kepada Wajib Pajak yang akan diperiksa. Pemeriksaan lengkap sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan dalam jangka waktu 2 (dua) bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling lama 8 (delapan) bulan; 10. Bahwa dari kronologis pemeriksaan terlihat adanya indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh Pemeriksa atau tidak sinkronnya pelaksanaan pemeriksaan dengan peraturan yang ada yang dari perspektif hukum, produk hukumnya akan batal demi hukum, maka Penggugat berkirim surat kepada Direktur Peraturan Perpajakan yang isinya memohon penjelasan mengenai pelaksanaan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 545/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak disertai uraian kronologis pemeriksaan yang hasil pemeriksaannya dijadikan sebagai dasar penerbitan SKPKB dan sekaligus menanyakan fungsi SKPKB yang diterbitkan dalam perspektif hukum (P-8); 11. Bahwa atas surat yang dikirim Penggugat sebagaimana disebut di dalam angka 10, Penggugat menerima surat dari Direktur Pemeriksaan, Penyidik dan Penagihan Pajak yang isinya antara lain Permasalahan diselesaikan melalui pengajuan Surat Keberatan (P-9); 12. Bahwa dengan berpedoman kepada Surat Direktur Pemeriksaan, Penyidik an Penagihan Pajak sebagaimana disebut di dalam angka 10 maka pada tanggal 28 April 2006 Penggugat mengajukan Surat Keberatan ke KPP Hal. 4 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
Jakarta Tanjung Priok yang dalam surat gugatan ini disebut sebagai Tergugat (P-10); 13. Bahwa pada saat Tergugat menerima Surat Keberatan yang diajukan Penggugat, Tergugat menyatakan secara lisan, Surat Keberatan tidak memenuhi syarat formal karena tidak mencantumkan jumlah pajak terutang menurut Wajib Pajak dan disarankan agar memperbaikinya ; 14. Bahwa pernyataan Tergugat tersebut adalah tidak benar karena apabila Tergugat mencermati dengan pemahaman terhadap kata-kata Pembatalan SKPKB yang tercantum di dalam Surat Keberatan yang diajukan Penggugat, Tergugat patut mengetahui jumlah pajak terutang menurut Wajib Pajak telah dicantumkan yaitu nihil; 15. Bahwa walaupun demikian untuk memenuhi syarat formal dari Surat Keberatan yang telah diajukan sebagaimana yang diinginkan Tergugat, pada tanggal 1 Mei 2006 (tanggal 29 dan 30 April 2006 merupakan hari libur) Penggugat mengirim surat yang dinyatakan sebagai tambahan penjelasan dari Surat Keberatan yang diajukan, yang isinya menjelaskan mengenai jumlah pajak terutang menurut Wajib Pajak (P-11); 16. Bahwa pada tanggal 17 Mei 2005 Penggugat menerima surat dari Tergugat dengan No. S-348/WPJ.21/KP.0309/2006 tertanggal 4 Mei 2006 yang isinya Surat Keberatan yang kami ajukan tidak memenuhi syarat formal dan dengan demikian tidak dapat diproses serta dipertimbangkan lebih lanjut (P-12); 17. Bahwa perusahaan baru berjalan beberapa tahun, dan untuk menghindari kesulitan di bidang perputaran keuangan serta keadaan perekonomian secara nasional yang memprihatinkan maka Penggugat memohon kepada Majelis Hakim untuk menunda pelaksanaan penagihan; Bahwa dari alasan-alasan gugatan diajukan sebagaimana diuraikan di atas maka gugatan yang diajukan adalah terhadap Keputusan Tergugat yang menolak memproses dan mempertimbangkan Surat Keberatan yang diajukan Penggugat sebagaimana tercantum di dalam Suratnya No. S-348/WPJ.21/- KP.0309/2006 tertanggal 4 Mei 2006 atas penerbitan SKPKB PPh Pasal 21 No. 00181/201/03/042/06 Tahun Pajak 2003 yang diterbitkan tanggal 1 Pebruari 2006 dan oleh karena itu penolakan memproses dan mempertimbangkan Surat Keberatan dan penerbitan SKPKB merupakan satu kesatuan yang digugat dan tidak dapat dipisahkan dan oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, Penggugat memohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Pajak agar berkenan memeriksa, mengadili dan memberi keputusan : Hal. 5 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
1. Keputusan Tergugat untuk tidak memproses dan mempertimbangkan Surat Keberatan yang diajukan Tergugat sebagaimana dinyatakannya dalam Surat No. S-348/WPJ.21/KP.0309/2006 tertanggal 4 Mei 2006 merupakan suatu tindakan yang keliru; 2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) PPh Pasal 21 Tahun Pajak 2003 No. 00181/201/03/042/06 yang diterbitkan Tergugat berdasarkan pemeriksaan yang tidak sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 545/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak, batal demi hukum; 3. Mengabulkan permohonan Penggugat agar tindak lanjut pelaksanaan penagihan pajak ditunda selama pemeriksaan sengketa pajak sedang berjalan; Menimbang, bahwa amar putusan Pengadilan Pajak Jakarta No. Put. 08927/PP/M-V/99/2006 tanggal 5 September 2006 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut : Menyatakan permohonan gugatan Penggugat terhadap Surat Tergugat No. S- 348/WPJ.21/KP.0309/2006 tanggal 4 Mei 2006 mengenai Permohonan Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan formal atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) PPh Pasal 21 Tahun Pajak 2003 No. 00181/201/03/042/06 tanggal 1 Februari 2006, atas nama PT. Kaisar Motorindo Industri, NPWP : 02.238.653.6-042.000, alamat : Jalan Agung Timur IX Blok 01/72-73, Sunter Podomoro, Tanjung Priok, Jakarta 14350, tidak dapat diterima; Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap i.c. putusan Pengadilan Pajak Jakarta No. Put. 08927/PP/M-V/99/ 2006 tanggal 5 September 2006 diberitahukan kepada Penggugat pada tanggal 4 Oktober 2006 kemudian terhadapnya oleh Penggugat diajukan permohonan peninjauan kembali secara lisan pada tanggal 30 November 2006 sebagaimana ternyata dari Akte permohonan peninjauan kembali No. PKA-194/SP.51/AC/XI/2006 yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Pajak dengan disertai memori alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada hari itu juga; Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 18 Desember 2006 kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya telah diajukan jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tanggal 25 Januari 2007; Hal. 6 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan Undangundang, maka oleh karena itu formal dapat diterima; Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan-alasan Peninjauan kembali yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut : 1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali bermaksud menyampaikan keberatan-keberatan atas Putusan Pengadilan Pajak yang nyata-nyata keliru dalam menerapkan ketentuan-ketentuan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Pengadilan Pajak sehingga salah dalam mengambil keputusan; 2. Bahwa kekeliruan dalam penerapan hukum yang dimaksud terlihat sebagaimana tercantum di dalam pertimbangan hukumnya (Onvoldoende gemotiveerd), yaitu : Bahwa Surat Gugatan No. 006/K-VII/05/06 tanggal 23 Mei 2006 ditandatangani oleh Rustam Efendi Harahap, jabatan Karyawan. Selanjutnya penandatanganan surat gugatan oleh Sdr. Rustam Efendi Harahap dilakukan dengan surat kuasa dari Herman Jaya, jabatan Direktur Utama PT. Kaisar Motorindo Industri tanggal 23 Mei 2006 (vide pertimbangan Putusan Pengadilan Pajak, halaman 5, alinea ke 7 dan halaman 6 alinea ke 1); Bahwa berdasarkan penelitian Majelis terhadap SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21 Formulir 1721-A diketahui bahwa memang benar Sdr. Rustam Efendi Harahap adalah karyawan pada PT. Kaisar Motorindo Industri, dalam arti bukan sebagai Pengurus ataupun Kuasa Hukum (vide pertimbangan Putusan Pengadilan Pajak, halaman 6, alinea ke 2); Bahwa Pasal 41 ayat (1) Undang-undang Pengadilan Pajak menyebutkan gugatan dapat diajukan oleh Penggugat, ahli warisnya seorang pengurus, atau kuasa hukumnya dengan disertai alasan-alasan yang jelas, mencantumkan tanggal diterima pelaksanaan penagihan, atau keputusan yang digugat dan dilampiri salinan dokumen yang digugat; Bahwa penjelasan mengenai Pasal 41 (1) tersebut menyebutkan cukup jelas ; Bahwa dari apa yang disebutkan Pasal 41 (1) Undang-undang Pengadilan Pajak beserta penjelasannya tersebut, Majelis berpendapat bahwa rumusan Hal. 7 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
pasal tersebut bersifat rigid, dalam arti tidak dapat ditafsirkan lain selain yang tertulis dalam pasal tersebut; Bahwa hal tersebut berarti apabila Pengurus tidak dapat menandatangani Surat Gugatan itu sendiri, maka yang bersangkutan harus menunjuk seorang Kuasa Hukum untuk menandatangani surat gugatan tersebut, untuk dan atas nama Pengurus yang bersangkutan, bukan dengan menunjuk seorang kuasa biasa yang berkedudukan sebagai karyawan perusahaan ; Bahwa pengertian Kuasa Hukum berbeda dengan kuasa biasa, hal itu dapat dilihat dari ketentuan Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Pengadilan Pajak yang menyebutkan : Untuk menjadi kuasa hukum harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Warga Negara Indonesia; b. Mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan perpajakan; c. Persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri; (vide Pertimbangan Putusan halaman 6, alinea ke 7); Bahwa disamping itu, ketentuan Bab VII tentang Ketentuan Khusus Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapakali diubah dan terakhir dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2000, antara lain mengatur hal sebagai berikut : Pasal 32 ayat (1) huruf a : Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal : a. Badan oleh Pengurus ; Pasal 32 ayat (3) : Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan Surat Kuasa Khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. Bahwa penjelasan ketentuan tersebut menyebutkan : ayat ini memberikan kelonggaran dan kesempatan bagi Wajib Pajak untuk meminta bantuan pihak lain yang memahami masalah perpajakan sebagai kuasanya, untuk dan atas namanya membantu dan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak ; 3. Bahwa dari apa yang disebutkan dalam Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Hal. 8 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir dengan Undang- Undang No. 16 Tahun 2000, Majelis berpendapat bahwa yang dapat menjalankan hak dan kewajiban perpajakan adalah Wajib Pajak itu sendiri atau pihak lain yang memahami masalah perpajakan yang mendapat Surat Kuasa Khusus dari Wajib Pajak; Bahwa selanjutnya Majelis berpendapat bahwa kuasa untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak termasuk mengajukan gugatan, tidak dapat dikuasakan kepada Pegawai Wajib Pajak (vide pertimbangan putusan halaman 7, alinea ke 2); Bahwa mengingat kedudukan Sdr. Rustam Efendi Harahap sebagai penandatangan surat gugatan tersebut bukan sebagai Pengurus maupun Kuasa Hukum sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 41 (1) Undang-undang Pengadilan Pajak, maka Majelis berpendapat bahwa yang bersangkutan tidak berwenang menandatangani surat gugatan dimaksud (vide pertimbangan putusan halaman 7 alinea ke 3); 4. Bahwa berdasarkan atas pertimbangan hukum Putusan Pengadilan Pajak No. Put-08927/PP/M-V/99/2006 tanggal 5 September 2006 sebagaimana telah diuraikan di atas, jelas menurut hukum jika putusan tersebut nyatanyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu : A. Bahwa Putusan Pengadilan Pajak nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan Undang-undang Pengadilan Pajak yaitu tidak lengkap mengutip Pasal 34 Undang-undang Pengadilan Pajak, yang semestinya juga mengutip Pasal 34 ayat (3), sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut : Ayat (1) : Para pihak yang bersengketa masing-masing dapat didampingi atau diwakili oleh satu atau lebih kuasa hukum dengan Surat Kuasa Khusus; Ayat (2) : Untuk menjadi kuasa hukum harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Warga Negara Indonesia; b. Mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan perpajakan; c. Persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri; Ayat (3) : Dalam hal kuasa hukum yang mendampingi atau mewakili Pemohon Banding atau Penggugat adalah keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua, Hal. 9 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
pegawai, atau pengampu, persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak diperlukan; - Bahwa oleh karena ketentuan Pasal 34 Undang-undang Pengadilan Pajak tidak dikutip dan dipertimbankan secara lengkap telah mengakibatkan Putusan Pengadilan Pajak tersebut tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bahkan dalam mengambil putusan tersebut terdapat kekhilafan atau kekeliruan yang nyata yaitu ketentuan untuk dapat menjadi kuasa hukum; - Bahwa sangat jelas menurut ketentuan Pasal 34 ayat (1) jo ayat (3) Undang-undang Pengadilan Pajak, kuasa hukum yang dapat mewakili atau mendampingi pihak yang bersengketa dalam Pengadilan Pajak dapat berupa : a. Kuasa hukum yang perlu memenuhi syarat-syarat Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Pengadilan Pajak; b. Kuasa hukum yang tidak perlu memenuhi syarat-syarat Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Pengadilan Pajak yaitu keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua, pegawai atau pengampu (vide Pasal 34 ayat (3) Undang-undang Pengadilan Pajak); - Bahwa dalam surat gugatan kepada Pengadilan Pajak No. 006/K- VII/05/06 tanggal 23 Mei 2006, ditandatangani oleh Sdr. Rustam Efendi Harahap (Pemohon Peninjauan Kembali), Karyawan PT. Kaisar Motorindo atas Kuasa dari Herman Jaya selaku Direktur Utama PT. Kaisar Motorindo; - Bahwa berdasarkan fakta hukum tersebut kedudukan hukum Sdr. Rustam Efendi Harahap (Pemohon Peninjauan Kembali) adalah Karyawan/Pegawai yang bertindak sebagai Kuasa Hukum PT. Kaisar Motorindo adalah tepat dan benar menurut hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (3) Undang-undang Pengadilan Pajak; - Bahwa namun demikian, dalam Putusan Pengadilan Pajak kedudukan hukum Sdr. Rustam Efendi Harahap tersebut di atas, sama sekali tidak dipertimbangkan bahkan telah diabaikan begitu saja, meskipun dalam pertimbangan Putusan Pengadilan Pajak, halaman 6 alinea ke 2 telah nyata-nyata disebutkan : Bahwa berdasarkan penelitian Majelis terhadap SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21 Formulir 1721-A diketahui bahwa memang benar Sdr. Rustam Efendi Harahap adalah karyawan pada PT. Kaisar Motorindo Industri ; Hal. 10 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
B. Bahwa Majelis tidak lengkap mengutip Pasal 32 Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketetuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir dengan Undang- Undang No. 16 Tahun 2000 (UU KUP) atau sekurang-kurangnya Pasal 32 ayat (1) huruf a, ayat (3) dan ayat (3.a); Ayat (1) : Dalam menjalankan hak dan kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal : a. Badan oleh Pengurus; Ayat (3) : Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk menjadi kuasa hukum harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Warga Negara Indonesia; b. Mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan perpajakan; c. Persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri; Ayat (3)a. : Kuasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; - Bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 32 ayat (3) huruf a UU KUP, selanjutnya Menteri Keuangan RI menerbitkan Surat Keputusan No. 576/KMK.04/2000 tentang Persyaratan Seorang Kuasa untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan; - Bahwa Pasal 1 ayat (1) Surat Keputusan Menteri Keuangan tersebut di atas berbunyi : Wajib Pajak dapat menunjuk seorang kuasa yang bukan pegawainya dengan suatu surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ; - Bahwa dengan dicantumkannya kata... yang bukan pegawainya,... dan seterusnya, maka persyaratan untuk Kuasa dimaksud di dalam Pasal 32 ayat (3) hanya ditujukan kepada orang lain atau yang bukan pegawainya dan dengan demikian Pasal 32 ayat (3) yang dijadikan Majelis sebagai dasar pertimbangan hukum adalah irrelevant ; Hal. 11 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas terbukti menurut hukum jika Putusan Pengadilan Pajak dalam perkara a quo, tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku bahkan dalam putusan tersebut terdapat kekhilafan atau kekeliruan yang nyata; Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan karena Putusan Pengadilan Pajak nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan pertimbangan : a. Bahwa Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang No. 14 Tahun 2002 menyebutkan Dalam hal kuasa hukum yang mendampingi atau mewakili Pemohon Banding atau Penggugat adalah keluarganya sedarah atau Semenda sampai dengan derajat kedua, pegawai atau pengampu persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak diperlukan, berdasarkan ketentuan tersebut pegawai perusahaan dapat menjadi kuasa hukum yang mendampingi atau mewakili Pemohon Banding atau Penggugat; b. Dengan demikian Rustam Efendi Harahap sebagai pegawai/karyawan PT. Kaisar Motorindo Industri dapat menjadi kuasa dari Penggugat dalam perkara ini; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka menurut Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : PT. KAISAR MOTORINDO INDUSTRI tersebut dan membatalkan Putusan Pengadilan Pajak No. Put.08927/PP/M-V/99/2006 tanggal 5 September 2006 serta Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan dibawah ini; Menimbang, bahwa oleh karena Putusan Pengadilan Pajak telah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka Mahkamah Agung menganggap perlu untuk memerintahkan Pengadilan Pajak untuk memeriksa kembali perkara ini dan selanjutnya memutus pokok perkara; Menimbang, bahwa penetapan biaya perkara harus ditangguhkan sampai ada putusan akhir dari Mahkamah Agung; Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No. 4 tahun 2004, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 tahun 2004 dan Undang-Undang No. 14 tahun 2002 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ; Hal. 12 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
M E N G A D I L I Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : PT. KAISAR MOTORINDO INDUSTRI tersebut; Membatalkan Putusan Pengadilan Pajak No. Put.08927/PP/MV/99/- 2006 tanggal 5 September 2006 tersebut; MENGADILI KEMBALI Memerintahkan Pengadilan Pajak untuk membuka kembali persidangan dalam perkara ini, dengan memanggil kedua belah pihak untuk menghadiri sidang yang akan ditentukannya dan melakukan pemeriksaan materi sengketa; Menyatakan Rustam Efendi Harahap Pegawai PT. KAISAR MOTORINDO INDUSTRI dapat menjadi kuasa dalam perkara ini; Memerintahkan kepada Pengadilan Pajak untuk mengirimkan kembali berkas pemeriksaan tambahan beserta berkas perkara itu kepada Mahkamah Agung; Menetapkan bahwa penetapan biaya perkara ditangguhkan sampai adanya putusan akhir; Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis tanggal 19 April 2007 oleh WIDAYATNO SASTROHARDJONO, SH.M.Sc. Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H. IMAM SOEBECHI, SH.,MH. dan TITI NURMALA SIAGIAN, SH.,MH. Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh A. KARIM MANAP, SH. Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak. Hakim-Hakim Anggota : Ketua : Ttd/H. IMAM SOEBECHI, SH.,MH. Ttd/WIDAYATNO SASTROHARDJONO, SH.M.Sc. Ttd/TITI NURMALA SIAGIAN, SH.,MH. Panitera Pengganti : Ttd/A. KARIM MANAP, SH. Biaya-biaya : 1. M e t e r a i : Rp. 6.000,- 2. R e d a k s i : Rp. 1.000,- 3. Administrasi Peninjauan Kembali. : Rp.2.493.000,- --------------------------- Jumlah : Rp.2.500.000,- Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I. a.n. Panitera Panitera Muda Tata Usaha Negara, Hal. 13 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007
ASHADI, SH. NIP. 220000754 Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung mempertimbangkan alasan-alasan Peninjauan kembali dari Pemohon sebagai berikut : mengenai alasan-alasan Pemohon Peninjauan Kembali ke 1 s/d 12 : Menimbang, bahwa alasan-alasan ini dapat dibenarkan, karena berdasarkan Pasal 34 ayat (3) Undang-undang Pengadilan Pajak, Pegawai dimungkinkan untuk mewakili Pengurus di persidangan; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, menurut pendapat Mahkamah Agung terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan dari Pemohon Peninjauan Kembali : PT. KAISAR MOTORINDO INDUSTRI dan membatalkan Putusan Pengadilan Pajak No. Put.08928/PP/- M-V/99/2006 tanggal 5 September 2006 serta Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini; Hal. 14 dari 13 hal. Put. No. 52/C/PK/PJK/2007