BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Fanny Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Orientasi Kancah Penelitian Pengukuran frekuensi kemampuan bahasa reseptif dan rekam kejadian pre test dan post test dilakukan di ruang kelas Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar yang berlokasi di Salatiga, Jawa Tengah. Sedangkan untuk fase intervensi yang terjadi diantara pre test dan post test pengamatan dilakukan di ruang terapi Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar Salatiga, Jawa Tengah. Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar terletak di Jalan Suropati Rt 5/Rw 5, Togaten Mangunsari Salatiga, Jawa Tengah. Sekolah ini, merupakan sekolah untuk menangani anak berkebutuhan khusus, seperti autis, ADHD, ADD, Kesulitan belajar dan down syndrome. Proses intervensi yang dihadapi anak A berlangsung di ruang terapi selama 10 hari, dan per hari berlangsung selama 30 menit. Intervensi diberikan oleh peneliti sendiri, sedangkan observer satu bernama Ratih, lulusan dari sarjana okupasi terapi dan sudah berpengalaman sebagai terapis selama 6 tahun. Dan observer dua bernama Rubby, seorang sarjana jurusan sekolah luar biasa dan sudah berpengalaman sebagai terapis selama 8 tahun. B. Persiapan Penelitian Secara garis besar proses penelitian terbagi menjadi dua tahap, yaitu: 1. Pra penelitian a) Observasi awal Pada tanggal 3 Agustus 2015 Sampai tanggal 4 Agustus 2015 Peneliti mengamati kegiatan subjek A di dalam kelas bersama teman-temannya. Tujuan peneliti mengamati untuk mengetahui bagaimana pemahaman subjek tentang bahasa komunikasi yang disampaikan oleh para guru. Di dalam kelas terdapat 8 anak termasuk subjek, dengan guru kelas berjumlah 4 orang. 8 anak tersebut, memiliki kasus yang berbeda-beda yaitu 1 anak down syndrome, 1 anak cerebal palsy (cipy), dan 5 anak autis. Di kelas tersebut, seorang guru mendampingi dua orang anak. Setiap anak di sekolah tersebut, mempunyai jadwal terapi seminggu 3 kali. Setiap terapi, satu anak didampingi oleh satu terapis. Subjek termasuk salah satu anak yang belum memahami bahasa komunikasi yang disampaikan oleh para guru dibandingkan temantemannya. Subjek bahkan belum memahami insturksi-instruksi sederhana yang diberikan oleh para gurunya. Ketika guru memberikan instruksi, subjek cenderung cuek dan tidak melihat ke arah guru. Observasi peneliti difokuskan untuk pemahaman instruksi sederhana mengambil dan memasukkan suatu benda ke tempatnya. Pemahaman bahasa di dalam 36
2 komunikasi sangatlah penting untuk perkembangan proses belajar suatu individu. Hal ini sesuai dengan pendapat (Hoomdijah, 2004) yang mengatakan bahwa anak yang mengalami gangguan bahasa pada usia lima tahun memiliki peluang delapan kali lebih besar akan mengalami kesulitan belajar pada saat berusia 19 tahun dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami gangguan bahasa. b) Persiapan instrument ukur Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah lembar pencatatan data observasi (recording sheet) dan kamera video. Hal pertama yang dilakukan saat pra penelitian yaitu berdiskusi dan meminta pendapat dari Vidya Pangestika. Vidya Pangestika adalah seorang Psikolog lulusan dari UGM Yogyakarta, dan sekarang beliau bekerja di Sekolah Khusus Cahaya Harapan Madiun. Vidya Pangestika juga sudah pernah melakukan penelitian tentang metode floortime untuk anak autis. Peneliti berdiskusi tentang langkah-langkah metode floortime yang akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak autis. Dan peneliti juga meminta pendapat tentang sarana yang akan dipakai untuk penelitian tersebut. Setelah melakukan beberapa kali diskusi, maka diputuskan untuk langkah-langkah di dalam penelitian sebagai berikut : 5 menit ; Mengobservasi keadaan anak sebelum dilakukannnya intervensi. Apakah anak dalam keadaan senang atau bad mood. 5 menit ; membuka lingkaran komunikasi dengan memberikan balok pelangi ke subjek. 10 menit ; mengikuti aktivitas anak sambil melakukan komunikasi dua arah (baik secara verbal dan nonverbal) dengan memberikan instruksi ambil, masukkan. 5 menit ; memperluas permainan dengan menambah jumlah atau memberikan balok pelangi ke subjek. 5 menit ; memberikan kesempatan anak untuk menutup lingkaran komunikasi, dengan mengarahkan anak untuk merapikan balok pelangi, dan memberikan instruksi mengambil balok pelangi dan memasukkan ke dalam keranjang. c) Persiapan observer Peneliti menggunakan bantuan dua observer dengan dua alasan, yaitu : Pertama, menguji reliabilitas (keajegan) instrument ukur. Kedua, peneliti dapat melakukan konfirmasi keabsahan data hasil penelitian. Kriteria observer yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah: terapis anak berkebutuhan khusus yang sudah berkecimpung selama minimal 5 tahun 37
3 menjadi terapis. Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti memilih terapis di Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar yang bernama Ratih dan Rubby. d) Persiapan partisipan Peneliti mendapat partisipan, kebetulan anak A adalah murid di Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar dan peneliti termasuk salah satu pengajar di sekolah tersebut. Peneliti mulai menjalin rapport dengan anak A dan guru kelas mulai 27 Juli hingga 29 Juli Setelah itu, observasi dilakukan pada tanggal 3 Agustus hingga 4 Agustus 2015 untuk pre test Tanggal 5 Agustus hingga 15 Agustus 2015 untuk fase intervensi (B) atau floortime, dan tanggal 17 Agustus hingga 20 Agustus 2015 untuk post test. e) Deskripsi Partisipan Identitas partisipan Nama : A (inisial) Usia : 8 tahun Tanggal lahir : 21 Desember 2007 Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Salatiga Urutan kelahiran : Pertama Pendidikan : Setara kelas 1 SD Tanggal diagnosa : 3 November 2011 oleh dr Melly Budiman, Sp. KJ. 2. Pelaksanaan Penelitian a) Pre test untuk menentukan baseline Observasi guna mendapatkan data kemampuan bahasa reseptif anak dengan guru serta dokumentasi rekam kejadian dilakukan selama 2 hari berturut mulai tanggal 3 Agustus hingga 4 Agustus Pengamatan berlangsung di ruang kelas partisipan selama 30 menit per hari (dibagi menjadi 3 interval) dimulai pada pukul hingga 09.30, hasil kemampuan bahasa reseptif dari pre test diperoleh baseline pada tabel
4 Tabel 4.1 Frekuensi Kemampuan Bahasa Reseptif Fase Baseline 1 Hari Frekuensi kemampuan bahasa reseptif pada interval pengukuran Mengambil Memasukkan Jumlah Jumlah I II Total 1 Total 1 Keterangan: 1 = interval pengukuran 10 menit pertama 2 = interval pengukuran 10 menit kedua 3 = interval pengukuran 10 menit ketiga Pada observasi hari pertama di dalam kelas, guru memberikan instruksi kepada subjek untuk mengambil buku dan alat tulis yang ada di dalam tasnya, tapi subjek hanya diam dan tidak menatap ke arah guru yang memberikan instruksi tadi. Kemudian gurunya membantu mengambilkan buku yang ada di dalam tas subjek. Setelah pembelajaran selesai, dan guru memberikan instruksi untuk memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas kembali, subjek juga hanya diam tidak memahami perintah tersebut. Ketika istirahat, guru memberikan instruksi untuk mengambil bekal yang ada di dalam tas, subjek malah teriak-teriak sehingga guru yang membantu mengambilkan bekal tersebut. Begitu juga ketika memasukkan bekal ke dalam tas, guru juga yang memasukkan bekal tersebut. Pada observasi hari kedua di dalam kelas, guru melakukan permainan dengan subjek dan teman-temannya. Permainan tersebut yaitu mengambil bola dari dalam keranjang kemudian memasukkan bola tersebut ke dalam keranjang yang berbeda sesuai instruksi. Teman-teman subjek sangat antusias dan senang sekali dengan permainan tersebut. Ketika guru memberikan instruksi kepada subjek untuk mengambil bola, subjek hanya diam dan berjalan ke sana kemari tanpa arah. Guru mengulang-ulang perintah, tapi subjek tetap diam dan malah duduk. Setelah 25 menit guru memberikan instruksi lagi, subjek mau mengambil bola dan memasukkannya ke dalam keranjang. Pengamatan peneliti, subjek sudah berulang kali mengamati teman-temannya melakukan kegiatan tersebut, sehingga subjek menghafal gerakan tersebut. Jadi, bukan karena subjek memahami instruksi dari gurunya tersebut untuk mengambil bola dan memasukkan bola ke dalam keranjang. 39
5 a) Intervensi (B) Intervensi guna mendapatkan data frekuensi kemampuan bahasa reseptif anak dengan observer serta dokumentasi rekam kejadian dilakukan selama 10 hari berturut-turut (selain tanggal merah). Pengamatan dilakukan pada saat floortime berlangsung selama 30 menit per hari (dibagi menjadi 3 interval) dimulai pada pukul hingga Hasil kemampuan bahasa reseptif pada fase intervensi (B) dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.2 Frekuensi Kemampuan Bahasa Reseptif Fase Intervensi Hari Frekuensi kemampuan bahasa reseptif pada interval pengukuran Mengambil Memasukkan Jumlah Jumlah I II III IV V VI VII VIII IX X Total 22 Total 21 Keterangan: 1 = interval pengukuran 10 menit pertama 2 = interval pengukuran 10 menit kedua 3= interval pengukuran 10 menit ketiga Pada hari pertama melakukan intervensi di dalam ruang terapi, selama 15 menit subjek tidak mau duduk hanya berlari kesana kemari. Kemudian subjek duduk, tapi belum mau diarahkan sesuai instruksi. Subjek minta duduk dengan dipangku sambil memeluk, hingga waktu intervensi pertama selesai. Intervensi hari kedua, pada waktu sepuluh menit pertama subjek hanya berjalan mondar mandir sambil memegang salah satu balok pelangi. Kemudian sepuluh menit kedua, peneliti mengarahkan dengan memberi instruksi subjek untuk duduk, tapi subjek masih tidak mau duduk sendiri dan subjek masih minta dipangku. Pada sepuluh menit ketiga, subjek baru mau sekali diarahkan dengan instruksi untuk mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya. 40
6 Hari ketiga intervensi, ketika memasuki ruang terapi subjek seperti kurang semangat. Seperti biasa, ketika baru awal masuk ruang terapi, subjek pasti mondar mandir terlebih dahulu. Setelah lima menit mondar mandir, kemudian subjek teriak histeris kemudian menangis terus sampai jam intervensi selesai. Setelah wali kelas konfirmasi ke orang tua subjek ternyata subjek tadi sebelum berangkat sekolah belum sempat sarapan, jadi kemungkinan subjek lapar. Pada intervensi hari keempat, ketika subjek bertemu peneliti sudah senyum-senyum. Setelah mondar mandir sebentar, kemudian subjek mau untuk duduk sendiri. Sepuluh menit pertama dan sepuluh menit kedua, subjek mau diarahkan sekali dengan instruksi untuk memasukkan dan mengambil balok pelangi. Setelah sepuluh menit ketiga, subjek kelihatan sudah jenuh, kemudian subjek menolak untuk diarahkan dan tidak mau mendengarkan instruksi dari peneliti dan subjek berlari-lari di dalam ruangan sampai waktu intervensi selesai. Hari kelima intervensi, setelah memasuki ruang terapi subjek langsung duduk sambil memegang balok pelangi yang sudah peneliti siapkan. Balok pelangi hanya dipegang dan sesekali subjek terlihat menjilati balok pelangi tersebut. Pada sepuluh menit pertama subjek mau diarahkan untuk mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi. Pada sepuluh menit kedua, subjek hanya mau mengambil balok pelangi, tapi tidak mau memasukkan ke tempatnya. Kemudian subjek teriak-terik sambil minta keluar ruangan sampai jam intervensi selesai. Intervensi hari ke enam, ketika memasuki ruangan terapi sekitar tiga menit subjek berjalan memutari ruangan, setelah itu subjek duduk sambil menatap ke arah peneliti. Pada sepuluh menit pertama dan kedua, subjek mau mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya. Pada sepuluh menit ketiga, subjek sudah mulai jenuh dan menarik-narik peneliti mengajak keluar ruangan sampai jam intervensi selesai. Pada intervensi hari ketujuh, subjek terlihat semangat sekali. Subjek memasuki ruang terapi langsung duduk. Sepuluh menit pertama, subjek mau mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi, dan peneliti juga menambahkan balok pelangi lagi, subjek juga mau mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan kembali balok pelangi ke tempatnya. Sepuluh menit kedua, subjek sudah kelihatan jenuh, subjek berdiri dan mondar mandir di dalam ruangan, tapi tidak minta keluar ruangan. Setelah kelihatan capek, subjek duduk kembali. Sepuluh menit ketiga, subjek mau mengikuti sekali instruksi kembali mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya. Hari ke delapan intervensi, sepuluh menit pertama subjek mau mengikuti instruksi memasukkan dan mengambil balok pelangi ke 41
7 tempatnya, walaupun Cuma sekali. Kemudian subjek melempar-lempar balok pelangi dan tidak mau diarahkan. Sepuluh menit kedua, subjek mau kembali diarahkan untuk mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi, tapi juga sekali, kemudian subjek tiduran sambil menceracau tidak jelas. Sepuluh menit ketiga, subjek duduk dan mau memperhatikan dan mengikuti instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi sekali ke tempatnya. Setelah jam intervensi selesai, subjek hanya duduk diam, dan belum mau mengikuti arahan instruksi untuk merapikan dan memasukkan balok-balok pelangi ke dalam keranjang. Pada intervensi hari kesembilan, setelah memasuki ruang terapi, subjek hanya sebentar mondar mandir di dalam ruangan, setelah itu subjek duduk diam sambil mengamati balok pelangi yang peneliti siapkan. Sepuluh menit pertama subjek, mau mengikuti arahan instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi sebanyak dua kali. Pada sepuluh menit kedua dan ketiga, subjek juga mau mengikuti arahan instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya, walau cuman sekali. Ketika selesai intervensi, subjek mau mengikuti arahan instruksi peneliti untuk memasukkan balok pelangi ke dalam keranjang. Hari kesepuluh atau terakhir intervensi, subjek memasuki ruang terapi langsung duduk sendiri dan tersenyum ke arah peneliti. Sepuluh menit pertama dan kedua, kosentrasi subjek cukup bagus. Subjek mau mengikuti arahan instruksi dari peneliti untuk mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya. Sepuluh menit ketiga, terlihat subjek mulai jenuh, tapi subjek masih mau duduk dan mengikuti arahan instruksi peneliti untuk mengambil dan memsukkan balok pelangi. Setelah selesai intervensi, subjek juga mau mengikuti arahan instruksi untuk memasukkan dan merapikan balok pelangi ke dalam keranjang. b) Post test Observasi guna mendapatkan data frekuensi kemampuan bahasa reseptif anak dengan guru serta dokumentasi rekam kejadian dilakukan 4 hari berturut-turut mulai tanggal 17 Agustus hingga 20 Agustus Pengamatan berlangsung di ruang kelas partisipan selama 30 menit per hari (dibagi menjadi 3 interval) dimulai pada pukul hingga Setelah melakukan intervensi, subjek sudah mulai memahami arahan instruksi dari guru kelasnya ketika mengambil dan memasukkan suatu benda ke dalam tempatnya, walaupun instruksi masih harus diulang-ulang. Dapat dilihat hasil frekuensi kemampuan bahasa reseptif pada post test pada tabel berikut: 42
8 Tabel 4.3 Frekuensi Kemampuan Bahasa Reseptif Post Test Hari Frekuensi kemampuan bahasa reseptif pada interval pengukuran Mengambil Memasukkan Jumlah Jumlah I II III IV Keterangan: 1. interval pengukuran 10 menit pertama 2. interval pengukuran menit 10 menit kedua 3. interval pengukuran menit 10 menit ketiga C. HASIL PENELITIAN Grafik berikut memaparkan frekuensi kemampuan bahasa reseptif (mengambil dan memasukkan) anak dengan guru pada fase baseline 1 (A1) dan fase baseline 2 (A2). Pada fase intervensi (B) kemampuan bahasa reseptif (mengambil dan memasukkan) terjadi antara anak dengan observer. Grafik Kemampuan Bahasa Reseptif Mengambil Melalui grafik di atas dapat diketahui frekuensi kemampuan bahasa reseptif mengambil yang diamati pada fase baseline 1 (A1) hari pertama tidak terjadi perilaku mengambil, dan hari kedua naik menjadi 1 kali. Saat fase intervensi metode floortime (B) hari pertama frekuensi kemampuan bahasa reseptif mengambil belum menampakkan perilaku, hari kedua berjumlah 1 kali, dan hari ketiga tidak menampakkan perilaku lagi. Hari ke empat, lima, dan enam hasilnya sama sebanyak 2x perilaku mengambil. 43
9 Untuk hari ke tujuh dan delapan, perilaku mengambil naik menjadi 3x. Hari kesembilan, naik menjadi 4x perilaku mengambil dan hari kesepuluh naik menjadi 5x. observasi saat fase baseline 2 (A2) dilakukan berselang satu hari setelah hari terakhir metode floortime. Frekuensi kemampuan bahasa reseptif mengambil anak dengan guru hari pertama, kedua dan ketiga berumlah sama yaitu 5x. untuk hari keempat mengalami kenaikan berjumlah 5x. Grafik Kemampuan Bahasa Resptif Memasukkan Hasil penelitian kemampuan bahasa reseptif mengambil dan memasukkan fase baseline 1 (A1) hasilnya sama. Untuk hasil intervensi metode floortime mengambil dan memasukkan hasil yang berbeda pada pengamatan hari ke 5. Sedangkan fase baseline 2 (A2) hasilnya juga sama. D. PEMBAHASAN Pada tanggal 27 Juli 2015 peneliti mengadakan pertemuan secara langsung dengan guru kelas, dan anak A. Berdasarkan keterangan dari guru kelas, A termasuk anak yang sudah bersekolah di Sekolah Terpadu ABK Rumah Pintar sekitar 6 bulan. Walaupun usia partisipan sudah 8 tahun lebih, akan tetapi partisipan belum banyak memahami instruksi-instruksi sederhana yang diberikan oleh guru. Ketika di dalam kelas, guru memberikan instruksi-instruksi sederhana, partisipan hanya diam dan tidak melihat ke arah guru. Interview dengan orang tua subjek, peneliti lakukan pada tanggal 28 Juli dan 29 Juli Pada saat Interview kebetulan Ayah subjek di rumah karena cuti bekerja. Ayah subjek memberikan keterangan kalau dia bekerja di Jakarta sedangkan Ibunya juga bekerja di dalam kota dan pulangnya malam hari. Keseharian subjek di rumah dengan nenek dan 44
10 kakeknya. Subjek belum memahami komunikasi yang diberikan oleh orang lain, mungkin Karena di rumah kurang stimulus yang diberikan oleh nenek dan kakeknya. Ketika interview ibu partisipan mengatakan tidak ada keluhan dalam masa kehamilan anak A. Pada usia 6 bulan, anak A pernah terjatuh dari atas tempat tidur, tapi katanya tidak apa-apa. Pada usia 4 tahun, anak A mulai tidak mau bicara dan kontak mata mulai jarang. Kemudian orang tuanya membawa anak A ke Jakarta untuk diperiksakan ke dr. Melly Budiman, Sp. Kj. Hasil observasi dari dokter Melly bahwa anak A mengalami gangguan autistik. Anak A juga melakukan tes alergi dengan diamati melalui sampel feses dan darahnya. Pengamatan untuk fase baseline 1 (A1) dan baseline 2 (A2) dimulai pada saat kelas sosialisasi, di dalam kelas bersama gurunya. Hal ini sesuai dengan hasil diskusi peneliti dengan guru untuk memilih momen yang tepat pada anak A berinteraksi intens dengan guru yang berdurasi 30 menit. Hasil observasi saat metode floortime berlangsung atau fase intervensi (B) dilakukan selama 10 hari, 30 menit per hari. Pada hari I, kemampuan bahasa reseptif mengambil dan memasukkan antara anak A dengan observer belum terjadi karena ketika diberi instruksi untuk mengambil dan memasukkan balok pelangi anak A belum memahaminya, anak A hanya diam dan tidak mau melihat ke arah balok pelangi. Hari ke II anak A mulai mau diarahkan untuk mengambil dan memasukkan balok pelangi, dan frekuensi kemampuan bahasa reseptif terjadi sebanyak 1 kali. Pada intervensi hari ke III dengan observer, anak A hanya menangis dan menjerit-jerit selama 30 menit karena terlambat tidak makan pagi (sarapan). Sebelum melakukan intervensi pada hari ke IV, anak A diberikan bekal makanannya terlebih dahulu dan observer lebih memperbanyak instruksi mengambil dan memegang balok pelangi, dan hasil frekuensi bahasa reseptif yang didapat sebanyak 2 kali. Hari ke V, frekuensi bahasa reseptif mengambil dan memasukkan anak A berbeda, untuk mengambil berjumlah 2 kali sedangkan memasukkan berjumlah 1 kali, karena pada saat interval ke tiga, anak A sudah gelisah dan menjerit-jerit. Pada hari ke VI, frekuensi kemampuan bahasa reseptif, mengambil dan memegang berjumlah 2 kali. Intervensi pada hari ke VII dan VIII, frekuensi kemampuan bahasa reseptif, mengambil dan memegang anak A mengalami kenaikan berjumlah 3 kali. Pada hari ke IX, anak A sudah mulai memahami instruksi mengambil dan memasukkan balok pelangi ke tempatnya, dan frekuensi kemampuan bahasa reseptif berjumlah 4 kali. Pada hari terakhir atau hari ke X pemberian intervensi, kemampuan bahasa reseptif, mengambil dan memegang anak A berjumlah 5 kali. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Solmon dkk (2007), dalam jurnal penelitian Pilot Study of a Parent Training Program for Young Children With Autism, yang menggunakan sample anak sebanyak 45
11 86 orang. Pada penelitian ini, orang tua didorong untuk memberikan inervensi selama 15 jam per minggu, dengan melakukan permainan bebas dengan media apapun kepada anak-anaknya. Penelitian ini dilakukan selama 8 12 bulan, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa metode floortime sangat efektif untuk meningkatkan komunikasi pada anak autis. Penelitian dilakukan oleh Cullinane (2009) dengan menggunakan media yang berbeda. Penelitian dengan tema Evidence Base For The DIR /Floortime Approach. Di dalam penelitiannya, menggunakan media anak tangga untuk memberikan instruksi sederhana naik dan turun. Di dalam penetian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa metode floortime dapat membantu meningkatkan pemahaman bahasa anak autis, khususnya pemahaman bahasa naik dan turun. Hasil penelitian pengukuran frekuensi bahasa reseptif dengan menggunakan sarana media balok pelangi pada anak autistik sebelum dan sesudah metode floortime menunjukkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi kemampuan bahasa reseptif pada fase baseline 1 (A1) dan fase baseline 2 (A2). Walaupun intervensi metode floortime dalam penelitian ini hanya menggunakan media balok pelangi, akan tetapi frekuensi kemampuan bahasa reseptif menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Dengan pemberian intervensi secara konsisten dan dengan sarana yang menyenangkan akan memotivasi anak untuk belajar dan bermain dengan senang. Hal ini sependapat dengan Sadiman (2003) mengatakan bahwa sarana media yang menarik akan memacu anak untuk lebih giat dalam belajar. Metode floortime yang fleksibel dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan media apapun juga mempengaruhi kenyamanan subjek, karena dengan mengikuti setiap perilakunya, subjek menjadi lebih nyaman. Hal ini sependapat dengan Greenspan (2010) menyatakan bahwa metode floortime dapat dilakukan kapan saja, dimana, saja dan dengan menggunakan media apapun. Berdasarkan observasi dan pengamatan hasil rekam kejadian, peneliti memprediksikan beberapa faktor yang menyebabkan metode floortime mengalami peningkatan yang signifikan, antara lain : sarana media yang menyenangkan, pemberian intervensi dan waktu yang konsisten, memberikan pemahaman instruksi yang diulang-ulang, dan menciptakan suasana yang menyenangkan pada diri anak. 46
HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi
HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu taraf sejauh mana isi atau item item alat ukur dianggap dapat mengukur hal hal yang
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam melaksanakan suatu penelitian diperlukan adanya suatu metode yang akan
22 BAB III METODE PENELITIAN Dalam melaksanakan suatu penelitian diperlukan adanya suatu metode yang akan digunakan. Adapun tujuannya adalah untuk memperoleh pemecahan masalah dari suatu masalah yang sedang
X₁ X₂ X₃ X₄ X₅... O₁ O₂ O₃ O₄ O₅ O₁ O₂ O₃ O₄ O₅... O₁ O₂ O₃ O₄ O₅ Baselin1 (A1) Intervensi (B) Baseline (A2)
BAB III METODE PENELITIAN Sesuai dengan rumusan masalah maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan kasus tunggal atau Single Subject Research (SSR). Metode penelitian eksperimen yang dilakukan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum SDN Mangunsari 06 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SDN Mangunsari 06 Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014. Alamat
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Menurut Sugiyono (2011, hlm. 72) metode eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
KATA PENGANTAR. Hormat saya, Penyusun
KATA PENGANTAR Dalam rangka memenuhi tugas akhir skripsi, maka penyusun bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul Sikap ibu anak autistik terhadap pelaksanaan intervensi perilaku dengan metoda ABA
BAB III METODE PENELITIAN
40 BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Desain Penelitian ini adalah pre eksperimental design, yaitu desain percobaan yang tidak mencukupi semua syarat-syarat dari suatu desain percobaan sebenarnya.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Paparan Data a. Pra Tindakan Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengadakan observasi awal di MI Al-Hidayah 02 Betak Kalidawir
BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen
BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan subjek tunggal ( Single Subject Research ) yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2014 27 Maret 2014. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
BAB III METODE PENELITIAN
36 BAB III METODE PENELITIAN A. Subyek Penelitian dan Lokasi Penelitian 1. Subyek Penelitian Subyek penelitian yaitu seorang anak autistik berusia tujuh tahun, lakilaki berinisial N. Subyek tersebut dipilih
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di sekolah Dasar Negeri Mangunsari 01 Salatiga yang merupakan salah satu SD dengan subjek penelitian siswa
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data 1. Deskripsi Lokasi an an ini mengambil lokasi di SDLB Negeri Panggungsari yang terletak di Desa Panggungsari, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian yang akan dilaksanakan haruslah berdasarkan kajian-kajian dan metode penelitian yang telah didesain sebelum penelitian dilaksanakan. Penelitian didasari oleh masalah
1. a. Seberapa sering kamu dan seluruh keluargamu menghabiskan waktu bersamasama? b. Apa saja yang kamu lakukan bersama dengan keluargamu?
Lampiran 1 Kerangka Wawancara Anamnesa Dimensi Cohesion Separateness/Togetherness 1. a. Seberapa sering kamu dan seluruh keluargamu menghabiskan waktu bersamasama? b. Apa saja yang kamu lakukan bersama
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian ini merupakan kerja kolaborasi antara observer dan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian ini merupakan kerja kolaborasi antara observer dan peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran yang terlibat dalam penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan atas dasar permasalahan yang muncul di lapangan seperti yang telah diungkapkan pada BAB I yaitu kurang berkembangnya
BAB III PENYAJIAN DATA. Dalam Proses Penyembuhan Kesehatan Mental Klien Rumah Sakit Jiwa Tampan
BAB III PENYAJIAN DATA Pada bab III ini merupakan data yang disajikan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data
BAB III METODE PENELITIAN
45 BAB III METODE PENELITIAN 1.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan tipe pendekatan model quasi eksperimental yaitu penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. pilihan wajib gitar II di Jurusan Pendidikan Seni Musik FPBS UPI ini menggunakan
38 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian tentang perilaku belajar mahasiswa pada mata kuliah instrumen pilihan wajib gitar II di Jurusan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang akan digunakan
KATA PENGANTAR. kuesioner komitmen pengurus senat. Peneliti sangat berharap agar Saudara bersedia
LAMPIRAN 1 KUESIONER KATA PENGANTAR Dalam rangka pengambilan data untuk penelitian, peneliti meminta kesediaan dari Saudara agar berkenan meluangkan waktu untuk mengisi data pribadi dan kuesioner komitmen
BAB IV PEMBAHASAN. Tabel 4.1.Interaksi Sosial Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol. No Nama Skor Kategori Kelompok
BAB IV PEMBAHASAN 1.1.Deskripsi Subjek Penelitian 1.1.1. Lokasi Penelitian Penulis memilih melakukan penelitian di SMP Negeri 02 Kaliwungu yang beralamat di desa Papringan, kecamatan Kaliwungu, kabupaten
Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan perilaku mengabaikan tugas di kelas pada anak ADHD. Peneliti memberikan intervensi berupa video
PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada perilaku mengabaikan tugas di kelas yang dilakukan oleh anak dengan ADHD. Perilaku mengabaikan tugas merupakan perilaku anak yang tidak bisa memberi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian ini terdiri dari rancangan penelitian dan metode penelitian, populasi dan sampel, definisi operasional, tempat penelitian, waktu penelitian, etika penelitian,
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah rancangan Case Experimental
BAB III METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah rancangan Case Experimental Design atau disebut juga sebagai penelitian subjek tunggal (Single Subject Research). Subjek tunggal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sistriadini Alamsyah Sidik, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu fungsi manusia selain sebagai makhluk individu adalah sebagai makhluk sosial. Dengan fungsi tersebut, antara satu individu dengan individu lain
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. XI IPS 2 yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 17 siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di SMA N 3 Salatiga dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPS 2 yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 17 siswa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian ini akan diuraikan dalam tahapan tahapan pada setiap
60 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian ini akan diuraikan dalam tahapan tahapan pada setiap siklusnya. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus proses pembelajaran.
BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri
BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN A. Pembahasan Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri terhadap prosedur pemasangan infus dan membandingkan antara teori yang sudah ada dengan kenyataan
Konsep Diri Rendah di SMP Khadijah Surabaya. baik di sekolah. Konseli mempunyai kebiasaan mengompol sejak kecil sampai
BAB IV ANALISIS ISLAMIC COGNITIVE RESTRUCTURING DALAM MENANGANI KONSEP DIRI RENDAH SEORANG SISWA KELAS VIII DI SMP KHADIJAH SURABAYA A. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Seorang Siswa Kelas VIII Mengalami
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. untuk memperoleh gambaran proses pembelajaran IPA. Menurut guru kelas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Awal Penelitian Sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu dilakukan pengamatan langsung saat pembelajaran IPA dan kegiatan wawancara dengan guru
BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah :
BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel tergantung (dependent variable/ effectual variable) : kualitas hidup 2. Variabel bebas (independent
BAB III METODE PENELITIAN
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan masalah yang sedang dihadapi, yang dilakukan secara ilmiah dan sistematis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kemampuan menggambar bentuk geometri masih kurang diminati anak Kelompok B
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Observasi Awal Kemampuan menggambar bentuk geometri masih kurang diminati anak Kelompok B Paud Afiat seperti anak menggambar bentuk segitiga
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengumpulan data di lapangan yang dilakukan melaui wawancara, observasi dan studi dokumentasi yang telah ditelaah dengan teknik analisis
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mengenai proses pembelajaran pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Deskripsi Awal Untuk memperoleh data awal sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu dilakukan orientasi dan observasi terhadap guru kelas mengenai proses
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA ANALISA PROSES INTERAKSI
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA ANALISA PROSES INTERAKSI Inisial Klien Nama Mahasiswa : Ny. S (69 tahun) : Sinta Dewi Status Interaksi M-K : Pertemuan, ke-2,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penelitian dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga kali
41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas XI IPS 3 di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. Sebagaimana diuraikan pada bab III, tindakan penelitian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan juga menjadi hak setiap individu tanpa terkecuali seperti dijelaskan dalam
EFEKTIFITAS TEKNIK RILAKSASI DALAM MENGURANGI WAKTU PERILAKU HIPERAKTIF ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SDLB N 20 PONDOK II PARIAMAN
Volume 2 Nomor 3 September 2013 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 340-349 EFEKTIFITAS TEKNIK RILAKSASI DALAM MENGURANGI WAKTU PERILAKU HIPERAKTIF
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. didapatkan 10 siswa termasuk dalam kategori sangat rendah dan rendah yang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Salatiga. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas IX A dan Kelas IX B yang berjumlah
Buatlah pertanyaan tentang Kartu Keluarga di rumah! Sampaikan kepada gurumu dan teman-temanmu!
Buatlah pertanyaan tentang Kartu Keluarga di rumah! Sampaikan kepada gurumu dan teman-temanmu! Pertanyaan: Tuliskan tugas yang dilakukan Siti dalam membantu orang tua seperti gambar di atas dengan percaya
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. mengidentifikasi masalah pembelajaran matematika yang terdapat di kelas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Hasil Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini di awali dari orientasi lapangan untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran matematika yang terdapat di kelas 2.B
BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain itu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dewasa awal adalah individu yang berada pada rentang usia antara 20 hingga 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain
SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK
SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK Oleh Augustina K. Priyanto, S.Psi. Konsultan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus dan Orang Tua Anak Autistik Berbagai pendapat berkembang mengenai ide sekolah reguler bagi anak
MATERI DAN PROSEDUR. Pertemuan I : Pre-Session
MATERI DAN PROSEDUR Pertemuan I : Pre-Session 1. Sesi 1 : Penjelasan tentang program intervensi Tujuan : - Membuat partisipan paham tentang terapi yang akan dilakukan - Memunculkan motivasi pada diri partisipan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanaan di SMP Negeri 2 Ambarawa Kabupaten Semarang. Lokasi penelitian tersebut berada di Jl.
BAB III METODE PENELITIAN
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara yang dipergunakan dalam pengumpulan dan analisis data, serta menginterpretasikan data yang diperoleh menjadi suatu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
69 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dipilih karena mempunyai beberapa keistimewaan yaitu mudah dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari keluarga, dimana sebagian besar kelahiran disambut bahagia oleh anggota keluarganya, setiap orang tua mengharapkan anak yang sehat,
BAB I PENDAHULUAN. Anak berkebutuhan khusus (Heward dan Orlansky, 1992) adalah anak dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak berkebutuhan khusus (Heward dan Orlansky, 1992) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan
BAB III METODE PENELITIAN. (penelitian semu) dengan rancangan desain pretes-postes. dengan kelompok kontrol di RS PKU Muhammadiyah
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah quasy eksperiment (penelitian semu) dengan rancangan desain pretes-postes dengan kelompok kontrol di RS PKU Muhammadiyah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Paparan Data Pra Tindakan Pada tanggal 14 November 2016, peneliti berkunjung ke MI Sunan Ampel Bono Boyolangu Tulungagung. Peneliti
BAB III METODE PENELITIAN. memberikan intervensi pada sasaran penelitian. Eksperimen yang dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penenlitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, karena peneliti memberikan intervensi pada sasaran penelitian. Eksperimen yang dilakukan dalam penelitian
UPAYA MEMBANTU ANAK AUTIS Mohamad Sugiarmin
UPAYA MEMBANTU ANAK AUTIS Mohamad Sugiarmin Apa itu anak autis? Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan, biasanya mulai muncul sebelum usia tiga tahun. Gangguan ini menyebabkan kesulitan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Gambaran Sekolah Sebelum peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terlebih dahulu peneliti melakukan observasi di kelas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek penelitian 1. Lokasi penelitian Lokasi penelitian adalah di SLB X Lembang dengan subjek penelitian siswa tunarungu kelas V dan VI. Lokasi penelitian ini dipilih
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus) Proses pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional atau
BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berbagai macam vitamin, gizi maupun suplemen dikonsumsi oleh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah suatu titipan Tuhan yang sangat berharga. Saat diberikan kepercayaan untuk mempunyai anak, maka para calon orang tua akan menjaga sebaik-baiknya dari mulai
BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN GAMES PUZZLE UNTUK MELATIH DAYA INGAT PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. langkah selanjutnya adalah menganalisa data tersebut.
BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN GAMES PUZZLE UNTUK MELATIH DAYA INGAT PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Setelah data hasil penelitian lapangan terkumpul yaitu tentang penggunaan games puzzle untuk melatih daya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal 1. Observasi Sebelum melaksanakan proses penelitian, dilakukan observasi pengambilan dan pengumpulan data dan informasi tentang subjek penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pola Asuh Orangtua a. Pengertian Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SLB N Surakarta yang berlokasi di Jl. Cocak X Sidorejo, Sambeng, Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MI NU Pendidikan Islam yang terletak di Jln.Gondang Manis Bae Kudus dan masuk di wilayah desa gondangmanis
Manfaat Deteksi Dini. Tumbuh Kembang Anak SERI BACAAN ORANG TUA
03 SERI BACAAN ORANG TUA Manfaat Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan
TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER)
TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh
BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Fungsi utama Rumah Sakit yakni melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin majunya teknologi kedokteran,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Tindakan 4.1.1 Gambaran Sekolah Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangunsari 01 Salatiga, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. SD Negeri Mangunsari
LAMPIRAN A PENYESUAIAN RAGAM GERAK TERAPI GERAKAN TARI. Berjalan lembeyan. Berjalan lembeyan. kanan
LAMPIRAN A PENYESUAIAN RAGAM GERAK TERAPI GERAKAN TARI No Terapi Gerakan Tari Gronlund, dkk. (2005) Ragam Terapi Gerakan Tari Gronlund, dkk. (2005) Ragam Gerakan Tari Gembira Teknik Terapi Gerakan Tari
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Berikut ini merupakan penjelasan tiap siklusnya.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian ini akan di uraikan dalam tahapan-tahapan pada setiap siklusnya. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus proses pembelajaran.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dipilih karena mempunyai beberapa keistimewaan yaitu mudah dilakukan oleh
NPart Tests. Mann-Whitney Test Homogenitas. Ranks. Grup N Mean Rank Sum of Ranks. sebelum Total 14.
NPart Tests Mann-Whitney Test Homogenitas Ranks Grup N Mean Rank Sum of Ranks sebelum1 1 7 6.21 43.50 2 7 8.79 61.50 Total 14 Test Statistics b sebelum1 Mann-Whitney U 15.500 Wilcoxon W 43.500 Z -1.156
LETTER OF CONSENT. Dengan ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini
LAMPIRAN LETTER OF CONSENT Dengan ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama : Usia : Alamat : Menyatakan bersedia dengan sukarela untuk Membantu peneliti dalam menyusun penelitiannya yg berjudul
BAB III DESKRIPSI MASALAH
A. Identifikasi Klien BAB III DESKRIPSI MASALAH 1. Identitas Klien Nama Tanggal lahir/umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Alamat Wali Alamat orang tua : MG : 09 Februari 1998/ 14 tahun : Laki-laki : Islam
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kasihan Bantul Yogyakarta. SLB N 1 Bantul Yogyakarta merupakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Gambaran umum lokasi penelitian Sekolah Luar Biasa Negeri (SLB) 1 Bantul ini berdiri sejak tahun 1971 dan beberapa kali melakukan perubahan nama serta
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Persiapan Penelitian Sebelum melaksanakan penelitian pada tanggal 3 Maret 2012 penulis terlebih dahulu meminta surat ijin penelitian dari Fakultas Keguruan dan
STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP1) PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN DAN BERDUKA. No. MR : 60xxxx RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Lampiran 1 STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP1) PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN DAN BERDUKA Nama klien : Ny. M Ruangan : Nakula No. MR : 60xxxx RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor A. Proses Keperawatan 1. Kondisi Klien
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan, diskusi dan saran. Kesimpulan dalam penelitian ini berisi gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di KB Virgo Maria 2 Bawen. Subjek penelitian dari kelompok pretest maupun posttest adalah sama karena peneliti
RATE SISWA TUNAGRAHITA RINGAN DALAM BELAJAR PENYETELAN RANTAI SEPEDA MOTOR DENGAN METODE DEMONSTRASI
59 RATE SISWA TUNAGRAHITA RINGAN DALAM BELAJAR PENYETELAN RANTAI SEPEDA MOTOR DENGAN METODE DEMONSTRASI Horen Pujiono 1, Wahid Munawar 2, Sriyono 3 Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No.
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume 5 Nomor 1 Maret 2016 http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) ABSTRAK Vika Putri Erianny. 2016. Mengurangi Perilaku Hiperaktivitas Melalui Prosedur
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di CAC tempat Terapi di daerah Surabaya
54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di CAC tempat Terapi di daerah Surabaya Selatan. Luas tempat terapi ini
BAB III METODE PENELITIAN
20 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan suatu masalah yang dihadapi dan dilakukan secara ilmiah, sistematis dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Perangkat Pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 2 Pengasih merupakan salah satu sekolah menengah pertama yang berlokasi di Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. SMP Negeri
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal A. Aktivitas Pembelajaran Ekonomi Dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam penugasan, siswa cenderung pasif kurang termotivasi
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah siswa kelas VII G dan VII C SMP Negeri 9 Salatiga yang memiliki keterampilan sosial rendah yang masing-masing berjumlah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II SD Kutowinangun 08. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
LAMPIRAN 1. KUESIONER POLA ATTACHMENT
LAMPIRAN 1. KUESIONER POLA ATTACHMENT 1 Selamat Pagi/Siang/Sore, Saya Sekar Pradani Niken M.D.A.A.P (Mahasiswi Semester 8 dari Fakultas Humaniora, Jurusan Psikologi, Binus University) ingin melaksanakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
52 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Paparan Data Pelaksanaan Pra Tindakan Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 3 Bandung Tulungagung. Sebelum melakukan tindakan, peneliti melakukan
BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali rangsang dari lingkungannya. Perilaku yang kita ketahui, baik pengalaman kita sendiri ataupun
