BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 3.1 Definisi Graf Graf G didefenisikan sebagai pasangan himpunan (V,E), ditulis dengan notasi G=(V,E). Dalam hal ini, V merupakan himpunan tidak kosong dari simpul-simpul (verticeataunode) digambarkan dalam titik-titik, dan E adalah himpunan sisi-sisi (edges atau arcs) digambarkan dalam garis-garis yang menghubungkan sepasang simpul [6]. Dapat dilihat pada Gambar 2.1. B e 1 e 2 e 3 A e 4 C Gambar 2.1 Graf [14] Pada Gambar 2.1 diatas, graf terdiri dari himpunan V dan E yaitu: V = (A, B, C) E = (e1, e2, e3, e4) Simpul-simpul pada graf dapat merupakan objek sembarang seperti kota, atom-atom suatu zat, nama anak, jenis buah, komponen alat elektronik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang merupakan studi kasus penulis. Sisi graf dapat menunjukkan hubungan (relasi) sembarang seperti rute penerbangan, jalan raya, sambungan telepon, ikatan kimia, dan lain-lain.

2 7 Notasi graf: G(V,E) artinya graf G memiliki V simpul dan E sisi. Banyaknya simpul (anggota V) disebut orde Graf G, sedangkan banyaknya sisi (anggota E) disebut derajat/ukuran (size) Graf G Jenis-Jenis Graf Garf terdiri dari beberapa jenis sebagai berikut: 1. Graf sederhana (simple graph) Graf yang tidak mengandung gelang maupun sisi ganda dinamakan graf sederhana. [14] 2. Graf tak-sederhana (insimple graph) Graf yang mengandung sisi ganda atau gelang dinamakan graf tak-sederhana Termonologi graf. [14] Macam-Macam Graf Menurut arah dan bobotnya, graf dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1. Graf berarah dan berbobot. Garf yang tiap busur mempunyai anak panah dan bobot.dapat dilihat pada Gambar B E A D 2 G C F 3 Gambar 2.2 Graf berarah dan berbobot 2. Graf tidak berarah dan berbobot Tiap busur tidak mempunyai anak panah tetapi mempunyai bobot.dapat dilihat pada Gambar 2.3.

3 8 2 B E A D 2 G C F 3 Gambar 2.3 Graf tidak berarah dan berbobot 3. Graf berarah dan tidak berbobot. Tiap busur mempunyai anak panah yang tidak berbobot.dapat dilihat pada Gambar 2.4. B E A D G C F Gambar 2.4 Graf berarah dan tidak berbobot 4. Graf tidak berarah dan tidak berbobot Tiap busur tidak mempunyai anak panah dan tidak berbobot.dapat dilihat pada Gambar 2.5. B E A D G C F Gambar 2.5 Graf tidak berarah dan tidak berbobot Representasi Graf Dalam pemrosesan graf dengan program komputer, graf harus direpresentasikan di dalam memori.terdapat beberapa representasi yang mungkin untuk graf.terdapat tiga

4 9 macam representasi yang sering digunakan pada graf sederhana, yaitu matriks ketetanggaan, bersisian, dan senarai ketetanggaan Matriks Ketetanggaan Dalam mempermudah perhitungan pada program komputer, graf dapat direpresentasikan dengan menggunakan matriks. Salahsatunya adalah matriks ketetanggaan. Misalkan G = (V, E) adalah sebuah graf sederhana dimana V = n, n > 1. Misalkan simpul dari G adalah v1, v2, vn. Maka, matriks ketetanggaan A dari G adalah n x n matriks, dimana dalamnotasi matematika dituliskan sebagai berikut [11] : = 1, jika simpul i dan j bertetangga. = 0, jika simpul i dan jtidak bertetangga. (2.1) Matriks ketetanggaan dari sebuah graf mengacu pada keterurutan dari simpul. Sehingga, ada sebanyak n! keterurutan yang berbeda yang terbentuk dari n simpul. Matriks ketetanggaan merupakan graf sederhana yang simetris, yaitu =. Hal ini disebabkan oleh kedua-duanya adalah 1 ketika vi dan vj mempunyai sisi, dan adalah 0 jika tidak ada sisi diantaranya, dinamakan juga matriks nol-satu, sedangkan untuk graf berarah, mtriks ketetanggaanya belum tentu simetri (akan berupa simetri jika berupa graf berarah lengkap). Selain itu, graf sederhana tidak mempunyai gelang, sehingga diagonal utamanya selalu 0 karena aii, i = 1, 2, 3,, n adalah 0. Sayangnya, matriks ketetanggaan nol-satu tidak dapat digunakan untuk merepresentasikan graf yang mempunyai sisi ganda. Untuk mengatasinya, maka elemen aij pada matriks ketetanggaan sama dengan jumlah yang berasosiasi dengan (vi, vj). Matriks ketetanggaannya bukan lagi matriks nol-satu untuk graf semu, gelang

5 10 pada simpul vi dinyatakan dengan nilai satu pada posisi (i, j) di matriks ketetanggaannya. Keuntungan representasi dengan matriks adalah elemen matriksnya dapat diakses langsung melalui indeks.selain itu, kita dapatmengetahui secara langsung apakah simpul i dan simpul j bertetangga Matriks Bersisian Bila matriks ketetanggaan menyatakan ketetanggaan simpul-simpul di dalam graf, maka matriks bersisian menyatakan kebersisian simpul dengan sisi. Misalkan G = (V, E) adalah graf dengan n simpul dan m buah sisi, maka matriks kebersisian A dari graf G adalah matriks yang berukuran m x n. Baris menunjukkan label simpul, sementara kolom menunjukkan label sisinya.dalam notasi matematika dituliskan sebagai berikut [11] : = 1, jika simpul i berisian dengan sisi j. = 0, jika simpul i tidak bersisian dengan sisi j. (2.2) Senarai Ketetanggaan Kelemahan matriks ketetanggaan adalah bila graf memiliki jumlah sisi relatif sedikit, karena matriksnya bersifat jarang, yaitu banyak mengandung elemen nol, sedangkan elemen yang bukan nol sedikit.ditinjau dari segi implementasi, kebutuhan ruang memory untuk matriks jarang, boros, karena komputer menyimpan banyak elemen nol yang tidak perlu. Untuk mengatasi masalah ini,senarai ketetanggaan mengenumerasi simpul-simpul yang bertetangga dengan setiap simpul di dalam graf [14].

6 Traveling Salesman Problem Sejarah Traveling Salesman Problem Permasalahan matematik yang berkaitan dengan Traveling Salesman Problem (TSP) mulai muncul sekitar tahun 1800-an. Masalah ini dikemukakan oleh dua orang matematikawan, yaitu Sir William Rowan Hamilton yang berasal dari Irlandia dan Thomas Penyngton Kirkman yang berasal dari Inggris. Diskusi mengenai awal studi dari persoalan TSP ini dapat ditemukan di buku Graph Theory by N.L. Biggs, E.K. LLoyd, and R.J. Wilson, Clarendon Press, Oxford, Bentuk umum dari persoalan TSP pertama kali dipelajari oleh para matematikawan mulai tahun 1930-an Karl Menger di Vienna dan Harvard. Persoalan tersebut kemudian dikembangkan oleh Hassler Whitney dan Merril Flood di Princeton. Penelitian secara mendetail hubungan antara Menger dan Whitney, dan perkembangan persoalan TSP sebagai sebuah topik studi dapat ditemukan pada tulisan Alexander Schriver On the history of combinatorial optimization (till 1960). [2] Definisi Traveling Salesman Problem Persoalan Traveling Salesman Problem (TSP) merupakan salah satu persoalan kombinatorial.banyak permasalahan yang dapat direpresentasikan dalam bentuk TSP. Persoalan ini sendiri menggunakan representasi graf untuk memodelkan persoalan yang diwakili sehingga lebih memudahkan penyelesaiannya. Diantara permasalahan yang dapat direpresentasikan dengan TSP adalah masalah transportasi, efisiensi pengiriman surat atau barang, perancangan pemasangan pipa saluran, proses pembuatan PCB (Printed Cirtcuit Board) dan lain-lain. Persoalan yang muncul adalah bagaimana cara mengunjungi simpul (node) pada graf dari titik awal ke setiap titiktitik lainnya dengan bobot minimum (biaya paling murah). Bobot atau biaya ini sendiri dapat mewakili berbagai hal, seperti biaya, jarak, bahan bakar, waktu, kenyamanan dan lain-lain.

7 12 Pada Traveling Salesman Problem (TSP), jumlah jalur yang mungkin diproleh dalam notasi matematika dituliskan sebagai berikut [11]: (2.3) Dimana: n = jumlah seluruh node k = jumlah node yang diseleksi Terdapat dua jenis Traveling Salesman Problem (TSP), yaitu asimetris dan simetris. Pada TSP asimetris, biaya dari node 1 ke node 2 tidak sama dengan biaya dari node 2 ke node 1. Sedangkan pada TSP simetris, biaya dari node 1 ke node 2 sama dengan biaya dari node 2 ke node 1. Untuk Traveling Salesman Problem (TSP) asimetris, jumlah jalur yang mungkin adalah permutasi dari jumlah node dibagi dengan jumlah node. Hal ini dapat dipahami karena secara siklus, sebuah jalur dengan urutan adalah sama dengan jalur dan Tetapi jalur dengan urutan tidak sama dengan Jadi apabila terdapat 10 node, maka jalur yang mungkin untuk TSP asimetris adalah: (2.4) Sedagkan untuk Traveling Salesman Problem (TSP) simetris, jumlah jalur yang mungkin adalah permutasi dari jumlah node dibagi dengan dua kali jumlah node. Hal ini dapat dipahami karena secara siklus sebuah jalur dengan urutan adalah sama dengan jalur dan Karena biaya dari node 1 ke node 2 sama dengan biaya dari node 2 ke node 1, maka jalur dengan urutan sama dengan jalur Jadi apabila terdapat 10 node, maka jalur yang mungkin untuk TSP simetris adalah: (2.5) Dalam sebuah graph, TSP digambarkan seperti Gambar 2.6 berikut:

8 13 A 5 B E D 2 C Gambar 2.6 Ilustrasi Masalah TSP Kota-kota pada Gambar 2.6 masing-masing mempunyai koordinat (x,y) sehingga jarak antar kedua kota dapat dihitung dengan rumusan: [2] (2.6) Pencarian Lintas Terpendek dapat dinyatakan dengan persamaan: [2] (2.7) Kompleksitas Masalah Solusi langsung atas masalah Traveling Salesman Problem (TSP) adalah metode brute force, yakni dengan mencoba semua kemungkinan yang ada, kemudian dilihat mana biaya yang paling minimum. Tetapi cara ini membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup banyak, karena jumlah kemungkinan yang dicoba berjumlah n!, di mana n merupakan banyak titik atau kota. Karena itu cara ini mustahil untuk dipraktekkan Algoritma Penyelesaian Traveling Salesman Problem Metode penyelesaian dibagi menjadi dua, yaitu penyelesaian secara eksak dan dengan menggunakan pendekatan (heuristic). Untuk yang secara eksak, hanya baik apabila

9 14 jumlah titik atau kota tidak terlalu banyak. Kurang rasional kalau untuk jumlah titik yang banyak digunakan cara eksak, karena akan memakan waktu dan tenaga yang sangat banyak. Metode heuristic, walaupun tidak dapat dibuktikan bahwa solusi tersebut paling optimal, tetapi secara rasio cara ini yang paling mungkin dipakai. Waktu untuk menghasilkan solusi lebih singkat, dapat dipakai untuk ribuan titik, dan hasil yang didapat juga dapat dikatakan hampir mendekati, bahkan kadang-kadang sama dengan solusi optimal. 1. Algoritma Eksak a. Algoritma Branch and Bound Hanya dapat dipakai untuk jumlah kota atau titik yang kecil (40 sampai 60 kota). Terbagi menjadi dua proses, yaitu branching dan bounding. Di mana dalam branching suatu feasible region dipecah-pecah menjadi beberapa feasible subregion, kemudian dalam bounding, subregionsubregion yang feasible tersebut digabungkan kembali. b. Algoritma Cutting Plane Algoritma ini berdasarkan linear programming. Cara kerjanya adalah dengan menyelesaikan program linier non integer, kemudian diuji apakah nilai optimum yang didapat merupakan solusi integer. Jika tidak, maka non integer dihilangkan, tetapi tidakmenghilangkan integer pada daerah feasible. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai menemukan solusi integer optimal. 2. Nearest Neighbour Algoritma ini tidak memerlukan banyak tenaga atau waktu dalam perhitungan dan dapat menghasilkan solusi yang cukup mendekati rute optimal, namun hanya bisa diandalkan untuk kasus tertentu saja. Untuk kasus yang umum metode ini seringkali menghasilkan rute tidak optimum.

10 Algoritma Genetik Algoritma Genetik (AG) banyak dipengaruhi oleh ilmu Biologi [9]. Sesuai dengan namanya, proses-proses yang terjadi dalam AGsama dengan apa yang terjadi pada evolusi biologi. Dalam biologi, sekumpulan individu yang sama, yang disebut spesies, hidup, bereproduksi, dan mati dalam suatu area, yang disebut populasi. Jika anggotaanggota populasi terpisah, misalkan karena terjadi banjir, gempa bumi atau bencana alam lainnya, maka individu-individu tersebut akan membentuk beberapa populasi yang terpisah. Dalam waktu yang cukup lama, mungkin saja akan terjadi proses pembentukan spesies baru. Dalam hal ini, terjadi perubahan hereditas secara bertahap yang membentuk ciri-ciri baru pada spesies tersebut. Perubahan bertahap secara bersamaan pada kedua spesies dikenal sebagai co-evolution. Konsep yang penting disini adalah hereditas, yaitu sebuah ide yang menyatakan bahwa sifat-sifat individu dapat dikodekan dengan cara tertentu, sehingga sifat-sifattersebut dapat diturunkan kepada generasi berikutnya. Setiap individu dari suatu spesies membawa sebuah genome yang berisi beberapa kromosom dalam bentuk molekul-molekul DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Setiap kromosom berisi sejumlah gen, dimana unit-unit hereditas dan pengkodean informasi diperlukan untuk membangun dan menjaga suatu individu. Setiap gen dibangun dari suatu urutan bases. Terdapat empat bases dalam kromosom yang dinyatakan sebagai A, C, G, dan T. Jadi, informasi disimpan dalam suatu pola digital, menggunakan keempat simbol tersebut. Selama perkembangan dan juga selama kehidupan suatu individu, DNA dibaca dengan suatu enzim yang disebut RNA (Ribo Nucleic Acid) polymerase. Proses ini dikenal sebagai transcription yang menghasilkan MesengerRNA(mRNA). Selanjutnya, protein dibentuk dalam suatu proses yang disebut translation menggunakan mrna sebagai sebuah template. Masing-masing gen dapat memiliki beberapa setting, yang dikenal dengan allele. Selanjutnya, genome yang lengkap dari suatu individu dengan semua settingnya disebut sebagai genotype. Suatu individu dengan semua sifat-sifatnya dikenal dengan istilah phenotype.

11 16 Konsep penting dalam teori evolusi adalah fitness dan selection untuk proses reproduksi. Pada proses evolusi di dunia nyata, terdapat dua cara reproduksi, yaitu reproduksi seksual dan aseksual. Pada reproduksi seksual, kromosom-kromosom dari dua individu (sebagai orang tua) dikombinasikan untuk menghasilkan individu baru. Artinya, kromosom pada individu baru berisi beberapa gen yang diambil dari orangtua pertama dan beberapa gen lainnya diambil dari orangtua kedua. Hal ini disebut dengan crossover (pindah silang). Namun demikian, proses pengkopian gen orangtua ini tidak luput dari kesalahan. Kesalahan pengkopian gen ini dikenal dengan istilah mutation (mutasi). Sedangkan pada reproduksi aseksual, hanya satu individu orangtua yang diperhatikan, sehingga tidak terjadi proses crossover. Tetapi, proses mutasi juga mungkin terjadi pada reproduksi aseksual. Algoritma Genetik (AG) adalah teknik optimasi yang terkenal. Secara umum ada tiga golongan besar teknik optimasi, yang berbasis pada kalkulus, enumeratif dan pencarian acak terarah (guide random search). Seperti dapat dilihat pada Gambar 2.7 berikut ini. TEKNIK PENCARIAN BERBASIS KALKULUS DIPANDU BIL. ACAK ENUMERTIVE LANGSUNG TIDAK LANGSUNG SIMULATED ANNEALING ALGORITMA EVOLUSI DYNAMIC PROGRAMMING FIBONACCI NEWTON STRATEGI EVOLUSI PEMROGRAMAN EVOLUSIONER DINAMIKA EVOLUSIONER ALGORITMA GENETIK Gambar 2.7 Diagram pengelompokan dalam teknik pencarian [11]. Sejak pertama kali dirintis oleh John Holland pada tahun 1960-an, Algoritma Genetik (AG) telah dipelajari, diteliti dan diaplikasikan secara kuat pada berbagai

12 17 bidang. AG sangat berguna dan efisien untuk masalah dengan karakteristik sebagai berikut: a. Ruang masalah sangat besar, kompleks, dan sulit dipahami. b. Kurang atau bahkan tidak ada pengetahuan yang memadai untuk merepresentasikan masalah ke dalam ruang pencarian yang lebih sempit. c. Tidak tersedianya analisis matematika yang memadai. d. Ketika metode konvensional tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. e. Solusi yang diharapkan tidak harus paling optimal, tetapi cukup dapat diterima. f. Terdapat batasan waktu, misalnya dalam real time system Pengertian Individu Individu menyatakan salah satu solusi yang mungkin. Individu dapat dikatakan samadengan kromosom, yang merupakan kumpulan gen. Beberapa definisi penting yang perlu diperhatikan dalam membangun penyelesain masalah menggunakan Algoritma Genetik (AG), yakni: 1 Genotipe (Gen), sebuah nilai yang menyatakan satuan dasar yang membentuk suatu arti tertentu dalam satu kesatuan gen yang dinamakan kromosom. Dalam AG, gen ini dapat berupa nilai biner, float, integer maupun karakter atau kombinatorial. 2 Allele, nilai dari gen. 3 Kromosom, gabungan gen yang membentuk nilai tertentu. 4 Individu, menyatakan suatu nilai atau keadaan yang menyatakan salah satu solusi yang mungkin dari permasalahan yang diangkat. 5 Populasi, merupakan sekumpulan individu yang akan diproses bersama dalam satu siklus proses evolusi. 6 Generasi, menyatakan satu siklus evolusi atau satu iterasi di dalam AG. 7 Phenotype, string (kromosom) yang merupakan solusi akhir. 8 Genotype, sejumlah kromosom hasil perkawinan yang berpotensi sebagai solusi.

13 18 Gambar 2.8 berikut ini menjelaskan hubungan dari istilah-istilah yang didefinisikan di atas. Allele 1 Gen Kromosom Allele Individu 1 Gen Kromosom Individu Allele 1 Gen Kromosom Individu Populasi Gambar 2.8 Ilustrasi definisi individu dalam algoritma genetik [11]

14 Struktur Umum Algoritma Genetik Algoritma Genetik (AG) memulai dengan suatu himpunan penyelesaian acak awal yang disebut populasi. Masing-masing individu di dalam populasi disebut kromosom yang merepresentasikan suatu penyelesaian terhadap masalah yang ditangani. Sebuah kromosom terdiri dari sebuah string yang terdiri dari berbagai simbol dan biasanya, tetapi tidak mutlak, string tersebut berupa sederetan bit-bit biner 0 dan 1. [2] Sebuah kromosom tumbuh atau berkembang biak melalui berbagai iterasi yang berulang-ulang, yang disebut juga generasi. Pada masing-masing generasi, berbagai kromosom yang dihasilkan akan di evaluasi menggunakan suatu pengukuran fitness. Untuk menghasilkan suatu generasi yang baru, berbagai kromosom baru yang disebut offspring, dibentuk dengan salah satu cara berikut: 1. Memadukan dua kromosom dari generasi terakhir mengunakan operator crossover. 2. Memodifikasi sebuah kromosommenggunakan operator mutasi. Generasi yang baru dapat dihasilkan denan cara: 1. Penseleksian, berdasarkan nilai fitness, berbagai parent, dan offspring. 2. Menolak yang lainnya, untuk menjaga ukuran populasi agar tetap konstan. Secara umum Algoritma Genetik dapat dilihat pada Gambar 2.9 berikut ini:

15 20 Gambar 2.9 Struktur Umum Algoritma Genetik. [2] Komponen- Komponen Algoritma Genetik Secara umum sebuah penerapan Algoritma Genetik akan melalui siklus sederhana yang terdiri dari 4 langkah, yaitu: [5] 1 Membangun sebuah populasi yang terdiri dari beberapa string (kromosom). 2 Evaluasi Masing-masing string (fitness value). 3 Proses seleksi agar didapat string yang terbaik. 4 Manipulasi genetik untuk menciptakan populasi baru dari string. Ilsutrasi mengenai siklus 4 langkah yang dinspirasi dari proses biologi untuk Algoritma Genetik di atas dapat dilihat pada Gambar 2.10.

16 21 Keturunan POPULASI (Kumpulan kromosom) Generasi Baru Induk Rekombinasi OPERATOR GENETIK Manipulasi EVALUASI (fungsi fitness) Reproduksi SELEKSI (proses pengkawinan) Gambar 2.10 Siklus algoritma genetik [11] Setiap siklus yang dilalui memunculkan generasi baru yang dimungkinkan sebagai solusi bagi permasalahan yang ada. Pada dasarnya AlgoritmaGenetik memiliki tujuh komponen. Tetapi banyak metode yang bervariasi yang diusulkan pada masing-masing komponen tersebut. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Suatu metode yang bagus untuk penyelesaian masalah A belum tentu bagus untuk masalah B, atau bahkan tidak bisa digunakan untuk masalah C Skema Pengkodean Pengkodean suatu kromosom adalah langkah pertama ketika kita menggunakan Algoritma Genetik untuk menyelesaikan suatu masalah. Pengkodean ini biasanya tergantung kepada masalah yang dihadapi. Pengkodean ini meliputi pengkodean terhadap gen yang terdapat dalam kromosom.

17 22 Terdapat tiga skema yang paling umum digunakan dalam pengkodean, yaitu: 1. Binary encoding. Setiap gen hanya dapat bernilai 0 atau 1. [11] X1 X2 X g1 g2 g3 g4 g5 g6 g7 g8 g9 Gambar 2.11 Skema pengkodean Binary Encoding [11] 2. Discrete decimal encoding. Setiap gen dapat bernilai salah satu bilangan bulat dalam interval [0,9]. [11] X1 X2 X g1 g2 g3 g4 g5 g6 g7 g8 g9 Gambar 2.12 Skema pengkodean Discrete decimal encoding [11] 3. Real-number encoding. Pada skema ini, nilai gen berada dalam interval [0,R], di mana R adalah bilangan real positif dan biasanya R=1. [11] X1 X2 X3 0,2390 1,0000 0,0131 g1 g2 g3 Gambar 2.13 Skema pengkodean Real-number encoding [11] 4. Permutation Encoding, setiap kromosom merupakan string dari sejumlah angka atau nomor yang merepresentasikan suatu posisi dalam suatu urutan. [11] Kromosom A Kromosom B

18 23 Pada contoh Gambar 2.11, 2.12 dan 2.13 skema pengkodean di atas terdapat tiga variabel, yaitu x 1, x 2, x 3 yang dikodekan ke dalam sebuah koromosom yang terdiri dari 9 gen (untuk binary encoding dan discrete decimal encoding) dimana setiap variabel dikodekan ke dalam 3 gen. Sedangkan pada real-number encoding ketiga variabeldikodekan ke dalam koromosom yang terdiri dari 3 gen, dimana masingmasing variabel dikodekan ke dalam 1 gen Nilai Fitness Suatu individu dievaluasi berdasarkan suatu fungsi tertentu sebagai ukuran performansinya. Di dalam evolusi alam, individu yang memiliki nilai fitness tinggi yang akan bertahan hidup. Sedangkan individu yang bernilai fitness rendah akan mati. Dalam masalah optimasi, jika masalah yang dicari adalah memaksimalkan sebuah fungsi h (dikenal sebagai masalah maksimasi) maka nilai fitness yang digunakan adalah nilai dari fungsi h tersebut, yakni f = h (dimana f adalah nilai fitness). Tetapi jika masalah adalah meminimalkan fungsi h (masalah minimasi), maka fungsi h tidak dapat digunakan secara langsung. Hal ini disebabkan adanya aturan bahwa individu yang memiliki fitness tertinggi lebih mampu bertahan hidup pada generasi berikutnya. Oleh karena itu nilai fitness yang dapat digunakan adalah f = 1/h, yang artinya semakin kecil nilai h, semkin besar nilai f. Pada masalah-masalah tertentu h dapat bernilai 0, yang mengakibatkan f dapat bernilai tak hingga. Untuk mengatsinya, h perlu ditambah sebuah bilangan yang dianggap sangat kecil sehingga niali fitness-nya menjadi: Dalam notasi matematika dituliskan sebagai berikut [11] : (2.8) Keterangan: f = fitness h = fungsi a = Bilangan yang dianggap sangat kecil dan bervariasi

19 24 Di mana a adalah bilangan yang dianggap sangat kecil dan bervariasi sesuai dengan masalah yang akan diselesaikan. Perbedaan nilai-nilai fitness yang terlalu kecil pada semua individu dalam populasi akan menyebabkan kencenderungan konvergen pada optimum lokal. Maka untuk menguranginya digunakan penskalaan nilai fitness. Prosedur ini juga akan mengurutkan nilai fitness secara ascending (menaik) dalam interval [f min, f max ]. [14] (2.9) Keterangan: f(i) = fungsinilai fitness f max f min = fitness maksimum = fitness minimum R(i),I = iterasi ke-i N,n = ukuran populasi Seleksi Induk Pemilihan dua buah kromosom sebagai induk, yang akan dipindahsilangkan, biasanya dilakukan secara proporsional sesuai dengan nilai fitness-nya. Beberapa metode yang biasa digunakan: 1. Roulette-wheel Sesuai dengan namanya, metode ini menirukan permainan roulette-wheel dimana masing-masing kromosom menempati potongan lingkaran pada roda roulette secara proporsional sesuai dengan nilai fitnessnya. Kromosom yang memiliki nilai fitness lebih besar menempati potongan lingkaran yang lebih besar dibandingkan dengan kromosom yang bernilai fitness rendah. Gambar 2.14 mengilustrasikan sebuah contoh penggunaan roulette wheel.

20 25 Gambar 2.14 Contoh penggunaan metode Roulette-wheel Pada proses roulette wheel ini akan dihitung nilai kumulatif dari probabilitas fitness masing-masing kromosom. P[i] = fitness[i] / jumlah fitness (2.10) (2.11) Keterangan: P[i] = probabilitas fitness[i] C[i] = nilai kumulatif indeks ke-i i = indeks kromosom (1,2,3, n) k = counter (1,2,3, n) Metode roullette-wheel sangat mudah diimplementasikan dalam pemrograman. Pertama, dibuat interval nilai kumulatif (dalam interval [0,1]) dari niali fitness masing-masing kromosom dibagi total nilai fitness dari semua kromosom. Sebuah kromosom akan terpilih jika bilangan random yang dibangkitkan berada pada interval nilai kumulatifnya. Pada Gambar 2.16 di atas, K1 menempati interval nilai kumulatif [0;0,25], K2 berada dalam interval [0,25;0,75], K3 dalam interval [0,75;0,875] dan K4 dalam interval [0,875;1]. Misalkan, jika bilangan random yang dibangkitkan adalah 0,6 maka kromosom K2 terpilih sebagai orang tua. Tetapi jika bilangan random yang dibangkitkan 0,99 maka kromosom K4 yang terpilih. Seperti dilihat pada Gambar 2.15.

21 26 Bilangan random=0,6 Bilangan random=0,99 Gambar 2.15 Ilustrasi prinsip kerja metode Roulette-wheel 2. Tournament Pada seleksi alam yang terjadi di dunia nyata, beberapa individu (biasanya individu jantan) berkompetisi dalam sebuah kelompok kecil sampai tersisa hanya satu individu pemenang. Individu pemenang inilah yang bisa kawin (pindah silang). Metode roulette-wheel selection tidak mengkombinasikan masalah ini. Sebuah metode tournament selection mencoba mengadopsi karakteristik alami ini. Dalam bentuk paling sederhana, metode ini mengambil dua kromosom secara random dan kemudian menyeleksi salah satu yang bernilai fitness paling tinggi untuk menjadi orang tua pertama. Cara yang sama dilakukan lagi untuk mendapatkan orang tua yang kedua. Metode tournament yang lebih rumit adalah dengan mengambil m kromosom secara random. Kemudian kromosom bernilai fitness tertinggi dipilih menjadi orang tua pertama, apabila bilangan random yang dibangkitkan kurang dari suatu nilai batas yang ditentukan p dalam interval [0,1]. Pemilihan orang tua akan dilakukan secara random dari m - 1 koromosom yang ada jika bilangan yang dibangkitkan lebih dari atau sama dengan p. Pada tournament selection, variabel m adalah tournament size (ukuran grup) dan p adalah tournament probability. Biasanya m diset sebagai suatu nilai yang sangat kecil, misal 4 atau 5. Sedangkan p biasanya diset sekitar 0,75.

22 Proses Reproduksi (Probabilitas Reproduksi) Proses reproduksi merupakan suatu proses untuk membentuk keturunan baru dengan mewariskan sifat-sifat yang sama dari kromosom induk. Proses reproduksi sebenarnya merupakan proses duplikasi dan tidak menghilangkan sifat kromosom induk yang lama. Hal ini dilakukan dalam proses algoritma genetika untuk menjaga sifat-sifat induk yang baik tidak akan hilang begitu saja. Prosedur Reproduksi Prosedur ini akan menduplikasi ulang kromosom induk secara lengkap sehingga menghasilkan turunan baru yang sama dengan induknya Pindah Silang (Crossover) Salah satu komponen paling penting dalam Algoritma Genetik adalah crossover atau pindah silang. Sebuah kromosom yang mengarah pada solusi yang bagus bisa diperoleh dari proses memindah-silangkan dua buah kromosom. Contoh pindah silang: Titik potong X 1 X 2 Orang tua Orang tua g 1 g 10 g 11 g 20 Anak Anak g 1 g 10 g 11 g 20 Gambar 2.16 Contoh proses pindah silang [11] Pada Gambar 2.16 contoh proses pindah silang di atas apabila solusi yang dicari adalah dan, maka koromosom Anak 1 memiliki nilai fitness tinggi dan menuju pada solusi yang dicari.

23 28 Pindah silang bisa juga berakibat buruk jika ukuran populasinya sangat kecil. Dalam suatu populasi yang sangat kecil, suatu kromosom dengan gen-gen yang mengarah ke solusi akan sangat cepat menyebar ke kromosom-kromosom lainnya. Untuk mengatasi masalah ini digunakan suatu aturan bahwa pindah silang hanya bisa dilakukan dengan suatu probabilitas tertentu Probabilitas Crossover (Pc). Artinya, pindah silang bisa dilakukan hanya jika suatu bilangan random [0,1] yang dibangkitkan kurang dari Pc yang ditentukan. Pada umumnya Pc diset mendekati 1, misalnya 0,8. Pindah silang bisa dilakukan dalam beberapa cara berbeda,yang paling sederhana adalah pindah silang satu titik potong (one-point crossover). Suatu titik potong dipilih secara random, kemudian bagian pertama dari orang tua 1 digabung dengan bagian kedua dari orang tua 2. Untuk kromosom yang sangat panjang, misalkan 1000 gen, mungkin saja diperlukan beberapa titik potong. Pindah silang lebih dari satu titik potong disebut n-point crossover, dimana n titik potong dipilih secara random dan bagian-bagian kromosom dipilih dengan probabilitas 0,5 dari salahsatu orang tuanya. [9] Mutasi Prosedur mutasi sangatlah sederhana. Untuk semua gen yang ada, jika bilangan random yang dibangkitkan kurang dari probabilitas mutasi (Pm)yang ditentukan maka ubah gen tersebut menjadi nilai kebalikannya (dalam binary encoding, 0 diubah 1, dan 1 diubah 0). Dalam swapping mutation dilakukan pertukaran tempat node. Biasanya Pm diset sebagai 1/n, dimana n adalah jumlah gen dalam kromosom. Dengan Pm sebesar ini berarti mutasi terjadi pada sekitar satu gen saja. Pada algoritma genetik sederhana nilai Pm tetap selama evolusi. Beberapa skema mutasi yang biasa digunakan: 1. Mutasi biner, contoh : => Swapping mutation, contoh : ( ) => ( )

24 Elitisme Karena seleksi dilakukan secara random, maka tidak ada jaminan bahwa suatu individu bernilai fitness tertinggi akan selalu terpilih. Kalaupun individu bernilai fitness tertinggi terpilih, mungkin saja individu tersebut akan rusak (nilai fitness-nya menurun) karena proses pindah silang. Untuk menjaga agar individu bernilai fitness tertinggi tersebut tidak hilang selama evolusi, maka perlu dibuat satu atau beberapa kopinya. Prosedur ini dikenal sebagai elitisme Pergantian Populasi Dalam Algoritma Genetik dikenal skema penggantian populasi yang disebut generational replacement, yang berarti semua individu (misal N individu dalam suatu populasi) dari suatu generasi digantikan sekaligus oleh N individu baru hasil pindah silang dan mutasi. Skema penggantian ini tidak realistis dari sudut pandang biologi. Di dunia nyata, individu-individu dari generasi berbeda bisa berada pada waktu yang bersamaan. Fakta lainnya adalah individu-individu muncul dan hilang secara konstan, tidak pada generasi tertentu. Secara umum skema pergantian populasi dapat dirumuskan berdasarkan suatu ukuran yang disebut generational gap G. Ukuran ini meunjukan persentase populasi yang digantikan dalam setiap generasi. Pada skema generational replacement, G = 1. Skema pergantian yang paling ekstrem adalah hanya mengganti satu individu dalam setiap generasi, yaitu G = 1/N, dimana N adalah jumlah individu dalam populasi. Skema pergantian ini disebut sebagai Steady-state reproduction. Pada skema tersebut, G biasanya sama dengan 1/N atau 2/N. Dalam setiap generasi, sejumlah NG individu harus dihapus untuk menjaga ukuran populasi tetap N. Terdapat beberapa prosedur penghapusan individu, yaitu penghapusan individu yang bernilai fitness paling rendah atau penghapusan individu yang paling tua. Penghapusan bisa berlaku hanya pada individu orang tua saja atau bisa juga berlaku pada semua individu dalam populasi. [9]

25 Cara Kerja Algoritma Genetik Secara garis besar, proses Algoritma Genetik adalah sebagai berikut: Choose initial population Repeat Evaluate the individual fitnesses of a certain proportion of the population Select pairs of best-ranking individuals to reproduce Apply crossover operator Apply mutation operator Until terminating condition Penjelasan tahapan algoritma genetik: 1. Tahap Inisialisasi, kromosom digenerasi secara random. Penting untuk dibuat sebarannya acak agar bisa menghasilkan solusi yang baik. 2. Tahap Evaluasi tiap-tiap kromosom diurutkan sesuai seberapa baik kromosom itu menyelesaikan masalah. Suatu nilai fitness diberikan untuk tiap kromosom. 3. Tahap Seleksi, kromosom yang paling fit dipilih untuk propagasi generasi berikutnya sesuai dengan seberapa fit mereka. 4. Tahap Rekombinasi, individu kromosom dan sepasang kromosom direkombinasi dan dimodifikasi, kemudian dikembalikan ke dalam populasi. Selanjutnya, tiap kromosom di encode sebagai tour yang mungkin. Kemudian dilakukan operasi crossover/persilangan dan roulette wheel selection. Tetapi crossover sederhana tidak dapat langsung dilakukan. Sebagai contoh, dapat diperhatikan pad Tabel 2.1 berikut ini. Tabel 2.1 Tur Parent Dengan Childnya ID PATH Parent Parent Child Child

26 31 Pada child 1 kota 1 dikunjungi 2 kali dan kota 5 tidak pernah 1 kali pun dikunjungi. Sedangkan pada child 2, kota 5 dikunjungi 2 kali dan kota 1 tidak pernah dikunjungi sama sekali. Karena itu diperlukan suatu metode crossover, biasanya menggunakan partially matched crossover. Menurut Buckland, tehnik partially matched crossover dijelaskan sebagai berikut [11]. Daerah crossing dipilih Parent 1: 12x34x5 Parent 2: 35x21x4 Mapping berikut ditentukan 3 -> 2 4 -> 1 Lalu kembali ke gen parent, dan gen diganti sesuai mapping gen di atas. Iterasi pertama (tukar 3 dengan 2) : Child 1: Child 2: Iterasi kedua (tukar 4 dengan 1) : Child 1: Child 2: Gen terakhir yang telah di crossover merupakan permutasi valid tanpa duplikasi. Roulette Wheel Selection merupakan teknik memilih anggota populasi dari kromosom sesuai dengan kebugaran/fitnessnya Traveling Salesman Problem dalam Algoritma Genetik Traveling Saalesman Problem (TSP) dapat dirumuskan sebagai berikut: terdapat sekumpulan N node dengan posisi-posisi koordinatnya {x,y}, i = 1,2,3,,N. Algoritma Genetik dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah TSP ini dengan cara sebagai berikut:

27 32 Suatu solusi direpresentasikan ke dalam suatu koromosom yang berisi nomor urut dari semua node yang ada. Masing-masing nomor urut node hanya boleh muncul satu kali di dalam koromosom sehingga satu koromosom merepresentasikan satu ruteatau satu solusi yang valid. Representasi ini disebut sebagai permutation encoding, dimana suatu kromosom merepresentasikan suatu permutasi dari nomor urut kota 1,2,3,,N. Kromosom-koromosom tersebut diperiksa nilai fitness-nya Kromosom yang nilai fitness-nya paling tinggi akan dipilih untuk terus hidup pada generasi berikutnya dan berpeluang melakukan crossover untuk menghasilkan kromosom atau individu baru yang diharapkan mempunyai nilai fitness yang lebih baik. Dengan adanya mutasi diharapkan dapat memperbaiki kromosom yang sudah ada. Individu-individu pada generasi-generasi berikutnya diharapkan akan memiliki nilai fitness yang lebih baik dan mengarah pada suatu solusi yang diharapkan. Solusi yang diambil adalah solusi pada individu atau kromosom yang paling besar nilai fitness-nya. Dalam TSP, pindah silang dapat diimplementasikan dengan skema order crossover. Pada skema ini satu bagian koromosom dipertukarkan dengan tetap menjaga urutan node (gen) yang bukan bagian dari koromosom tersebut. Di bawah ini adalah ilustrasi skema order crossover: K 1 K (a) A 1 A 2 A 1 A (b) (c) Gambar 2.17 Pindah silang menggunakan order crossover [11]

28 33 Mula-mula dua buah titik potong TP1 dan TP2, dibangkitkan secara random untuk memotong dua buah kromosom induk (orang tua), K1 dan K2 (Gambar 2.17.a). Kemudian dua koromosom anak, A1 dan A2 mendapat gen-gen dari bagian koromosom K1 dan K2 secara menyilang. Koromosom A1 mendapatkan {6, 5, 1} dan A2 mendapatkan {5, 3, 4} (Gambar 2.17.b). Posisi gen yang masih kosong pada A1 diisi dengan gen-gen dari K1, secara berurutan dari gen 1 sampai gen 6, yang belum ada pada A1. Hal yang sama juga dilakukan untuk koromosom A2 (Gambar 2.17.c). Pada TSP, operator mutasi biasanya diimplementasikan dengan menunkan gen termutasi dengan gen lain yang terpilih secara random. Misalnya, kromosom {2, 3, 4, 5, 6, 1} dapat termutasi menjadi koromosom {2, 6, 4, 5,3,1}. Dalam hal ini gen 3 dan 6 saling ditukar. Skema mutasi ini dikenal dengan swapping mutation.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Persoalan TSP merupakan salah satu persoalan optimasi kombinatorial (kombinasi permasalahan). Banyak permasalahan yang dapat direpresentasikan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN. Gambar 3.1 di bawah ini mengilustrasikan jalur pada TSP kurva terbuka jika jumlah node ada 10:

BAB III PERANCANGAN. Gambar 3.1 di bawah ini mengilustrasikan jalur pada TSP kurva terbuka jika jumlah node ada 10: BAB III PERANCANGAN Pada bagian perancangan ini akan dipaparkan mengenai bagaimana mencari solusi pada persoalan pencarian rute terpendek dari n buah node dengan menggunakan algoritma genetika (AG). Dari

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang

BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Teka-Teki Silang Teka-teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan yang mengharuskan penggunanya untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Traveling Salesman Problem (TSP) adalah permasalahan dimana seorang salesman harus mengunjungi semua kota yang ada dan kota tersebut hanya boleh dikunjungi tepat satu

Lebih terperinci

BAB III. Metode Penelitian

BAB III. Metode Penelitian BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum diagram alir algoritma genetika dalam penelitian ini terlihat pada Gambar 3.1. pada Algoritma genetik memberikan suatu pilihan bagi penentuan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi graf, permasalahan optimasi, model matematika dari objek wisata di Yogyakarta, dan algoritma genetika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka (Samuel, Toni & Willi 2005) dalam penelitian yang berjudul Penerapan Algoritma Genetika untuk Traveling Salesman Problem Dengan Menggunakan Metode Order Crossover

Lebih terperinci

Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)

Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) JTRISTE, Vol.1, No.2, Oktober 2014, pp. 50~57 ISSN: 2355-3677 Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) STMIK Handayani Makassar [email protected] Abstrak

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi

Lebih terperinci

ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM

ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM DEFINISI ALGEN adalah algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan evolusi Dalam evolusi, individu terus menerus mengalami perubahan gen untuk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Perkuliahan Penjadwalan memiliki pengertian durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian untuk melakukan aktivitas kerja[10]. Penjadwalan juga

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. memindahkan barang dari pihak supplier kepada pihak pelanggan dalam suatu supply

BAB II KAJIAN TEORI. memindahkan barang dari pihak supplier kepada pihak pelanggan dalam suatu supply BAB II KAJIAN TEORI Berikut diberikan beberapa teori pendukung untuk pembahasan selanjutnya. 2.1. Distribusi Menurut Chopra dan Meindl (2010:86), distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan barang

Lebih terperinci

Lingkup Metode Optimasi

Lingkup Metode Optimasi Algoritma Genetika Lingkup Metode Optimasi Analitik Linier Non Linier Single Variabel Multi Variabel Dgn Kendala Tanpa Kendala Numerik Fibonacci Evolusi Complex Combinasi Intelijen/ Evolusi Fuzzy Logic

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA DALAM OPTIMASI JALUR PENDISTRIBUSIAN KERAMIK PADA PT. CHANG JUI FANG

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA DALAM OPTIMASI JALUR PENDISTRIBUSIAN KERAMIK PADA PT. CHANG JUI FANG IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA DALAM OPTIMASI JALUR PENDISTRIBUSIAN KERAMIK PADA PT. CHANG JUI FANG Adnan Buyung Nasution 1 1,2 Sistem Infomasi, Tehnik dan Ilmu Komputer, Universitas Potensi Utama 3 Universitas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Penjadwalan adalah penempatan sumber daya (resource) dalam satu waktu. Penjadwalan mata kuliah merupakan persoalan penjadwalan yang umum dan sulit dimana tujuannya

Lebih terperinci

Penyelesaian Traveling Salesman Problem dengan Algoritma Heuristik

Penyelesaian Traveling Salesman Problem dengan Algoritma Heuristik Penyelesaian Traveling Salesman Problem dengan Algoritma Heuristik Filman Ferdian - 13507091 Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Nico Saputro dan Suryandi Wijaya Jurusan Ilmu Komputer Universitas Katolik Parahyangan [email protected]

Lebih terperinci

8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Perumusan Masalah METODE PENELITIAN Studi Pustaka Pembentukan Data

8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Perumusan Masalah METODE PENELITIAN  Studi Pustaka Pembentukan Data Gambar 4 Proses Swap Mutation. 8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Proses evaluasi solusi ini akan mengevaluasi setiap populasi dengan menghitung nilai fitness setiap kromosom sampai terpenuhi kriteria

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK. Kata kunci: Algoritma Genetika, Shortest Path Problem, Jalur Terpendek

PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK. Kata kunci: Algoritma Genetika, Shortest Path Problem, Jalur Terpendek PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK Fajar Saptono 1, Taufiq Hidayat 2 Laboratorium Pemrograman dan Informatika Teori Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas tentang travelling salesman problem (TSP), metodemetode yang digunakan dalam penyelesaian TSP. Khusus penggunaan metode algoritma genetika

Lebih terperinci

Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika

Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 18 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Optimasi Optimasi adalah salah satu ilmu dalam matematika yang fokus untuk mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi, peluang maupun

Lebih terperinci

Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika

Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Pengantar 2. Struktur Algoritma Genetika 3. Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Studi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka. Penelitian serupa mengenai penjadwalan matakuliah pernah dilakukan oleh penelliti yang sebelumnya dengan metode yang berbeda-neda. Berikut

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP)

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP) PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP) Mohamad Subchan STMIK Muhammadiyah Banten e-mail: [email protected] ABSTRAK: Permasalahan pencarian rute terpendek dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma Genetika merupakan suatu algoritma yang terinspirasi dari teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa kelangsungan hidup suatu makhluk dipengaruhi

Lebih terperinci

Bab II Konsep Algoritma Genetik

Bab II Konsep Algoritma Genetik Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi

Lebih terperinci

PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR

PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR Karels, Rheeza Effrains 1), Jusmawati 2), Nurdin 3) [email protected]

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi Graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V, E), yang dalam hal ini:

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi Graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V, E), yang dalam hal ini: 10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1.Konsep Dasar Graf Definisi 2.1.1 Graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V, E), yang dalam hal ini: V = himpunan tidak kosong dari simpul-simpul (vertices atau node)

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan membahas landasan atas teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan tugas akhir ini. Teori-teori yang dibahas mengenai pengertian penjadwalan, algoritma

Lebih terperinci

Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS

Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Desain Algoritma Genetika Untuk Optimasi Penjadwalan Produksi Meuble Kayu Studi Kasus Pada PT. Sinar Bakti Utama (oleh Fransiska Sidharta dibawah bimbingan Prof.Kudang

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION Samuel Lukas 1, Toni Anwar 1, Willi Yuliani 2 1) Dosen Teknik Informatika,

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan

BAB III PEMBAHASAN. Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan BAB III PEMBAHASAN Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan Algoritma Genetika dan Metode Nearest Neighbour pada pendistribusian roti di CV. Jogja Transport. 3.1 Model Matetematika

Lebih terperinci

BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM 3.1 TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Sebelum membahas pencarian solusi Travelling Salesman Problem menggunakan algoritma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan.

Lebih terperinci

ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning

ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS Surabaya 2003 Algoritma Genetika Algoritma

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Bagus Priambodo Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana e- mail : [email protected]

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIK UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH TRAVELING SALESMAN PROBLEM (STUDI KASUS: SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KOTA MEDAN)

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIK UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH TRAVELING SALESMAN PROBLEM (STUDI KASUS: SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KOTA MEDAN) IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIK UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH TRAVELING SALESMAN PROBLEM (STUDI KASUS: SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KOTA MEDAN) DRAFT SKRIPSI RAJO PANANGIAN HARAHAP 111421045 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian heuristik ysng didasarkan atas mekanisme seleksi alami dan genetika alami (Suyanto, 2014). Adapun konsep dasar

Lebih terperinci

PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL

PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 27 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terkait Penelitian terkait yang menggunakan algoritma genetika untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan kuliah telah banyak dilakukan.

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. diperoleh menggunakan algoritma genetika dengan variasi seleksi. A. Model Matematika CVRPTW pada Pendistribusian Raskin di Kota

BAB III PEMBAHASAN. diperoleh menggunakan algoritma genetika dengan variasi seleksi. A. Model Matematika CVRPTW pada Pendistribusian Raskin di Kota BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas mengenai model matematika pada pendistribusian raskin di Kota Yogyakarta, penyelesaian model matematika tersebut menggunakan algoritma genetika serta perbandingan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya 5 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya Traveling salesman problem (TSP) merupakan salah satu permasalahan yang telah sering diangkat dalam berbagai studi kasus dengan penerapan berbagai

Lebih terperinci

ENKRIPSI-DEKRIPSI DENGAN ALGORITMA GENETIKA

ENKRIPSI-DEKRIPSI DENGAN ALGORITMA GENETIKA ENKRIPSI-DEKRIPSI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Studi Kasus : "Implementasi konsep Algoritma Genetik untuk meningkatkan aspek kerahasiaan data pada Algoritma Knapsack" 1. Pendahuluan Masalah keamanan dan kerahasiaan

Lebih terperinci

Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah

Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Leonard Tambunan AMIK Mitra Gama Jl. Kayangan No. 99, Duri-Riau e-mail : [email protected] Abstrak Pada saat ini proses penjadwalan kuliah

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Algoritma Genetika Pada tahun 1975, John Holland, di dalam bukunya yang berjudul Adaption in Natural and Artificial Systems, mengemukakan komputasi berbasis evolusi. Tujuannya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan membahas landasan atas teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan skripsi ini. Teori-teori yang dibahas mengenai optimisasi, pengertian penjadwalan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma 13 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjadwalan Penjadwalan kegiatan belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan biasanya merupakan salah satu pekerjaan yang tidak mudah dan menyita waktu. Pada lembaga pendidikan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN ALGORITMA KONVENSIONAL PADA TRAVELING SALESMAN PROBLEM

PERBANDINGAN PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN ALGORITMA KONVENSIONAL PADA TRAVELING SALESMAN PROBLEM PERBANDINGAN PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN ALGORITMA KONVENSIONAL PADA TRAVELING SALESMAN PROBLEM Mohamad Irvan Faradian NIM : 13504024 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang Latar Belakang PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini, setiap perusahaan yang ingin tetap bertahan dalam persaingan dengan perusahaan lainnya, harus bisa membuat semua lini proses bisnis perusahaan tersebut

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. menggunakan model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD) dan penyelesaian

BAB III PEMBAHASAN. menggunakan model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD) dan penyelesaian BAB III PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai pembentukan portofolio optimum menggunakan model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD) dan penyelesaian model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD)

Lebih terperinci

Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner

Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 36 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengurutan Pekerjaan (Job Sequencing) 2.1.1 Deskripsi Umum Dalam industri manufaktur, tujuan penjadwalan ialah untuk meminimasikan waktu dan biaya produksi, dengan cara mengatur

Lebih terperinci

PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK

PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK Rudy Adipranata 1) Felicia Soedjianto 2) Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,

Lebih terperinci

Penerapan Algoritma Branch and Bound pada Perancangan Jalur Bandros

Penerapan Algoritma Branch and Bound pada Perancangan Jalur Bandros Penerapan Algoritma Branch and Bound pada Perancangan Jalur Bandros Irene Edria Devina / 13515038 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl.Ganesha

Lebih terperinci

Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA)

Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA) Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Siklus RCGA 2. Alternatif Operator Reproduksi pada Pengkodean Real 3. Alternatif Operator Seleksi 4.

Lebih terperinci

Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek

Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek Rudy Adipranata 1, Felicia Soedjianto 2, Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,

Lebih terperinci

Pencarian Rute Terpendek untuk Pengoptimalan Ditribusi Sales Rokok Gudang Garam di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Menggunakan Algoritma Genetika

Pencarian Rute Terpendek untuk Pengoptimalan Ditribusi Sales Rokok Gudang Garam di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Menggunakan Algoritma Genetika Pencarian Rute Terpendek untuk Pengoptimalan Ditribusi Sales Rokok Gudang Garam di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Menggunakan Algoritma Genetika Priza Pandunata, Rachmad Agung Bagaskoro, Agung Ilham

Lebih terperinci

ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning

ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Disusun oleh: Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PENS ITS Surabaya 2003 Algoritma

Lebih terperinci

Genetic Algorithme. Perbedaan GA

Genetic Algorithme. Perbedaan GA Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC)

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC) PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC) Yayun Hardianti 1, Purwanto 2 Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK:

Lebih terperinci

Jl. Ahmad Yani, Pontianak Telp./Fax.: (0561)

Jl. Ahmad Yani, Pontianak Telp./Fax.: (0561) APLIKASI PENCARIAN RUTE TERPENDEK MENGGUNAKANALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: Pencarian Rute Terpendek untuk Pemadam Kebakaran di Wilayah Kota Pontianak) [1] Putri Yuli Utami, [2] Cucu Suhery, [3] Ilhamsyah

Lebih terperinci

PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA. Abstraksi

PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA. Abstraksi PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA I Dewa Made Adi Baskara Joni 1, Vivine Nurcahyawati 2 1 STMIK STIKOM Indonesia, 2 STMIK STIKOM

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Graf 2.1.1 Defenisi Graf Graf G didefenisikan sebagai pasangan himpunan (V,E), ditulis dengan notasi G = (V,E), yang dalam hal ini V adalah himpunan tidak kosong dari simpul-simpul

Lebih terperinci

Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika

Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika Algoritma Genetika Pendahuluan Struktur Umum Komponen Utama Seleksi Rekombinasi Mutasi Algoritma Genetika Sederhana Referensi Sri Kusumadewi bab 9 Luger & Subblefield bab 12.8 Algoritma Genetika 1/35 Pendahuluan

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM Anies Hannawati, Thiang, Eleazar Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 17 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap

Lebih terperinci

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN METODE TABU SEARCH

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN METODE TABU SEARCH Buletin Ilmiah Mat. Stat. Dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No. 1 (2015), hal 17 24. PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN METODE TABU SEARCH Fatmawati, Bayu Prihandono, Evi Noviani INTISARI

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP)

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP) Abstrak PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP) Aulia Fitrah 1, Achmad Zaky 2, Fitrasani 3 Program Studi Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Graph Rinaldi Munir (2003) menjelaskan bahwa graph merupakan kumpulan verteks yang dihubungkan satu sama lain melalui sisi/ busur (edges). Suatu graph G terdiri dari dua himpunan

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYUSUNAN TEKA-TEKI SILANG

PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYUSUNAN TEKA-TEKI SILANG PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYUSUNAN TEKA-TEKI SILANG Afen Prana Utama 1, Edison Sinaga 1 D-3 Manajemen Informatika - STMIK Mikroskil Medan [email protected] Abstrak Teka-teki silang merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Algoritma Genetika Algoritma genetika sebagai cabang dari algoritma evolusi merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan suatu pencarian nilai dalam permasalahan-permasalahan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Evolutionary Algorithm merupakan terminologi umum yang menjadi payung

BAB II LANDASAN TEORI. Evolutionary Algorithm merupakan terminologi umum yang menjadi payung BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Evolutionary Algorithm merupakan terminologi umum yang menjadi payung bagi empat istilah : algoritma genetika (genetic algorithm), pemrograman genetika (genetic

Lebih terperinci

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE HILL CLIMBING

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE HILL CLIMBING Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 0, No. (2015), hal 17 180. PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE HILL CLIMBING Kristina Karunianti Nana, Bayu Prihandono,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS MASALAH

BAB IV ANALISIS MASALAH BAB IV ANALISIS MASALAH 4.1 Tampilan Program Persoalan TSP yang dibahas pada tugas akhir ini memiliki kompleksitas atau ruang solusi yang jauh lebih besar dari TSP biasa yakni TSP asimetris dan simetris.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. berkaitan dengan optimasi, pemrograman linear, pemrograman nonlinear, quadratic

BAB II KAJIAN TEORI. berkaitan dengan optimasi, pemrograman linear, pemrograman nonlinear, quadratic BAB II KAJIAN TEORI Kajian teori pada bab ini membahas tentang pengertian dan penjelasan yang berkaitan dengan optimasi, pemrograman linear, pemrograman nonlinear, quadratic programming dan algoritma genetika.

Lebih terperinci

KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA

KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu

Lebih terperinci

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM OPTIMASI PENDISTRIBUSIAN PUPUK DI PT PUPUK ISKANDAR MUDA ACEH UTARA

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM OPTIMASI PENDISTRIBUSIAN PUPUK DI PT PUPUK ISKANDAR MUDA ACEH UTARA TECHSI ~ Jurnal Penelitian Teknik Informatika Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe Aceh Penelitian ini membahas tentang Implementasi Persoalan Optimasi Rute Terpendek Pendistribusia n Pupuk pada PT. Sayed

Lebih terperinci

PEMANFAATAN METODE MONTE CARLO DALAM PENCARIAN PATH TERPENDEK PADA GRAF

PEMANFAATAN METODE MONTE CARLO DALAM PENCARIAN PATH TERPENDEK PADA GRAF PEMANFAATAN METODE MONTE CARLO DALAM PENCARIAN PATH TERPENDEK PADA GRAF Said Iskandar Al Idrus Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan [email protected] Abstrak Pada saat ini ada

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan

BAB II LANDASAN TEORI. Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Perusahaan Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan pengadaan suku cadang computer. Dalam bidang tersebut diharuskan berbadan hukum PD,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Travelling Salesman Problem (TSP) merupakan salah satu permasalahan yang penting dalam dunia matematika dan informatika. TSP dapat diilustrasikan sebagai perjalanan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dalam penelitian yaitu optimasi, graf, traveling salesman problem (TSP), vehicle

BAB II KAJIAN TEORI. dalam penelitian yaitu optimasi, graf, traveling salesman problem (TSP), vehicle BAB II KAJIAN TEORI Secara umum, pada bab ini membahas mengenai kajian teori yang digunakan dalam penelitian yaitu optimasi, graf, traveling salesman problem (TSP), vehicle routing problem (VRP), capacitated

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir ini, peranan algoritma genetika terutama untuk masalah optimisasi, berkembang dengan pesat. Masalah optimisasi ini beraneka ragam tergantung dari bidangnya. Dalam

Lebih terperinci

Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle

Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang

Lebih terperinci

BAB III MODEL DAN TEKNIK PEMECAHAN

BAB III MODEL DAN TEKNIK PEMECAHAN BAB III MODEL DAN TEKNIK PEMECAHAN III.1. Diskripsi Sistem Sistem pendistribusian produk dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan permasalahan vehicle routing problem (VRP). Berikut ini adalah gambar

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. genetika, dan algoritma memetika yang akan digunakan sebagai landasan dalam

BAB II KAJIAN TEORI. genetika, dan algoritma memetika yang akan digunakan sebagai landasan dalam BAB II KAJIAN TEORI Pada bab II ini dijelaskan mengenai beberapa teori tentang penjadwalan, penjadwalan kuliah, metode penyelesaian penyusunan jadwal kuliah, algoritma genetika, dan algoritma memetika

Lebih terperinci

OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK

OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK Usulan Skripsi S-1 Jurusan Matematika Diajukan oleh 1. Novandry Widyastuti M0105013 2. Astika Ratnawati M0105025 3. Rahma Nur Cahyani

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. berbeda di, melambangkan rusuk di G dan jika adalah. a. dan berikatan (adjacent) di. b. rusuk hadir (joining) simpul dan di

BAB II KAJIAN TEORI. berbeda di, melambangkan rusuk di G dan jika adalah. a. dan berikatan (adjacent) di. b. rusuk hadir (joining) simpul dan di 1. Teori graf BAB II KAJIAN TEORI 1. Definisi Graf G membentuk suatu graf jika terdapat pasangan himpunan ) )), dimana ) (simpul pada graf G) tidak kosong dan ) (rusuk pada graf G). Jika dan adalah sepasang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 8 BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa konsep dasar dan beberapa definisi yang akan digunakan sebagai landasan berpikir dalam melakukan penelitian ini sehingga mempermudah penulis untuk

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii

DAFTAR ISI. Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii DAFTAR ISI Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Faiz Rafdh Ch SISTEM INFORMASI ZAKAT BERBASIS WEB MENGGUNAKAN PHP DAN MYSQL PADA RUMAH ZAKATINDONESIA 1-7 Abdul Jamil Syamsul Bachtiar

Lebih terperinci