Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika
|
|
|
- Inge Lesmana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika Imam Cholissodin
2 Pokok Bahasan 1. Pengantar 2. Struktur Algoritma Genetika 3. Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Kondisi Berhenti (Termination Condition) 6. Tugas
3 Pengantar (1 of 5) Algoritma genetika (Genetic Algorithms, GAs) merupakan tipe EA yang paling popular. Algoritma genetika berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Karena kemampuannya untuk menyelesaikan berbagai masalah kompleks, algoritma ini banyak digunakan dalam bidang fisika, biologi, ekonomi, sosiologi dan lain-lain yang sering menghadapi masalah optimasi yang model matematikanya kompleks atau bahkan sulit dibangun.
4 Pengantar (2 of 5) Dalam bidang industri manufaktur, GAs digunakan untuk perencanaan dan penjadwalan produksi. GA juga bisa diterapkan untuk kompresi citra, optimasi penugasan mengajar bagi dosen, penjadwalan dan alokasi ruang ujian, optimasi penjadwalan kuliah, optimasi multi travelling salesman problem (M-TSP), dan penyusunan rute dan jadwal kunjungan wisata yang efisien. Algoritma genetika diilhami oleh ilmu genetika, karena itu istilah yang digunakan dalam algoritma genetika banyak diadopsi dari ilmu tersebut.
5 Pengantar (3 of 5) Apabila dibandingkan dengan prosedur pencarian dan optimasi biasa, algoritma genetika berbeda dalam beberapa hal sebagai berikut : o Manipulasi dilakukan terhadap kode dari himpunan parameter (biasa disebut chromosome), tidak secara langsung terhadap parameternya sendiri. o Proses pencarian dilakukan dari beberapa titik dalam satu populasi, tidak dari satu titik saja. o Proses pencarian menggunakan informasi dari fungsi tujuan. o Pencariannya menggunakan stochastic operators yang bersifat probabilistik, tidak menggunakan aturan deterministik.
6 Pengantar (4 of 5) Kelebihan GAs sebagai metode optimasi adalah sebagai berikut: o GAs merupakan algoritma yang berbasis populasi yang memungkinkan digunakan pada optimasi masalah dengan ruang pencarian (search space) yang sangat luas dan kompleks. Properti ini juga memungkinkan GAs untuk melompat keluar dari daerah optimum lokal. o Individu yang ada pada populasi bisa diletakkan pada beberapa sub-populasi yang diproses pada sejumlah komputer secara paralel. Hal ini bisa mengurangi waktu komputasi pada masalah yang sangat kompleks. Penggunaan sub-populasi juga bisa dilakukan pada hanya satu komputer untuk menjaga keragaman populasi & meningkatkan kualitas hasil pencarian. o GAs menghasilkan himpunan solusi optimal yang sangat berguna pada peyelesaian masalah dengan banyak obyektif.
7 Pengantar (5 of 5) Kelebihan GAs sebagai metode optimasi adalah sebagai berikut (lanjutan): o GAs dapat menyelesaikan masalah kompleks dengan banyak variabel (kontinyu, diskrit atau campuran keduanya). o GAs menggunakan chromosome untuk mengkodekan solusi sehingga bisa melakukan pencarian tanpa memperhatikan informasi derivatif yang spesifik dari masalah yang diselesaikan. o GAs bisa diimplementasikan pada bermacam data seperti data yang dibangkitkan secara numerik atau dengan fungsi analitis. o GAs cukup fleksibel untuk dihibridisasikan dengan algoritma lainnya. Beberapa penelitian membuktikan, hybrid GAs (HGAs) sangat efektif untuk menghasilkan solusi yang lebih baik. o GAs bersifat ergodic, sembarang solusi bisa diperoleh dari solusi yang lain dengan hanya beberapa langkah. Hal ini memungkinkan eksplorasi pada daerah pencarian yang sangat luas, yang dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah.
8 Struktur Algoritma Genetika Bagaimana menggunakan algoritma genetika untuk memecahkan suatu masalah ditunjukkan pada Gambar. Solusi dari suatu masalah harus dipetakan (encoding) menjadi string chromosome. Masalah Encoding Solusi (chromosome) Fungsi Fitness Algoritma Genetika Decoding Solusi mendekati optimum String chromosome ini tersusun atas sejumlah gen yang menggambarkan variabel-variabel keputusan yang digunakan dalam solusi. Representasi string chromosome beserta fungsi fitness untuk menilai seberapa bagus sebuah chromosome (untuk menjadi solusi yang layak) dimasukkan ke algoritma genetika. Dalam banyak kasus, bagaimana merepresentasikan sebuah solusi menjadi chromosome sangat menentukan kualitas dari solusi yang dihasilkan.
9 Struktur Algoritma Genetika Dengan menirukan proses genetika dan seleksi alami maka algoritma genetika akan menghasilkan chromosome terbaik setelah melewati sekian generasi. Chromosome terbaik ini harus diuraikan (decoding) menjadi sebuah solusi yang diharapkan mendekati optimum. Apabila P(t) dan C(t) merupakan populasi (parents) dan offspring pada generasi ke-t, maka struktur umum algoritma genetika dapat dideskripsikan sebagai berikut : procedure AlgoritmaGenetika begin t = 0 inisialisasi P(t) while (bukan kondisi berhenti) do reproduksi C(t) dari P(t) evaluasi P(t) dan C(t) seleksi P(t+1) dari P(t) dan C(t) t = t + 1 end while end
10 Struktur Algoritma Genetika Proses dalam algoritma genetika diawali dengan inisialisasi, yaitu menciptakan individu-individu secara acak yang memiliki susunan gen (chromosome) tertentu. Chromosome ini mewakili solusi dari permasalahan yang akan dipecahkan. Reproduksi dilakukan untuk menghasilkan keturunan (offspring) dari individu-individu yang ada di populasi. Evaluasi digunakan untuk menghitung kebugaran (fitness) setiap chromosome. Semakin besar fitness maka semakin baik chromosome tersebut untuk dijadikan calon solusi. Seleksi dilakukan untuk memilih individu dari himpunan populasi dan offspring yang dipertahankan hidup pada generasi berikutnya. Fungsi probabilistis digunakan untuk memilih individu yang dipertahankan hidup. Individu yang lebih baik (mempunyai nilai kebugaran/fitness lebih besar) mempunyai peluang lebih besar untuk terpilih.
11 Struktur Algoritma Genetika Setelah melewati sekian iterasi (generasi) akan didapatkan individu terbaik. Individu terbaik ini mempunyai susunan chromosome yang bisa dikonversi (decode) menjadi solusi yang terbaik (paling tidak mendekati optimum). Dari sini bisa disimpulkan bahwa algoritma genetika menghasilkan suatu solusi optimum dengan melakukan pencarian di antara sejumlah alternatif titik optimum berdasarkan fungsi probabilistic.
12 y Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana Untuk menjelaskan siklus GAs maka diberikan contoh sederhana masalah maksimasi (mencari nilai maksimum) dari sebuah fungsi sebagai berikut: max, y = f(x) = -x x 13, 0 x 15 Grafik dari fungsi tersebut : x Nilai maksimum fungsi adalah y=36 pada x=7.
13 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana Dalam siklus perkembangan algoritma genetika mencari solusi (chromosome) terbaik terdapat beberapa proses sebagai berikut: 1. Inisialisasi 2. Reproduksi 3. Evaluasi 4. Seleksi
14 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 1. Inisialisasi Inisialisasi dilakukan untuk membangkitkan himpunan solusi baru secara acak/random yang terdiri atas sejumlah string chromosome dan ditempatkan pada penampungan yang disebut populasi. Dalam tahap ini harus ditentukan ukuran populasi (popsize). Nilai ini menyatakan banyaknya individu/chromosome yang ditampung dalam populasi. Panjang setiap string chromosome (stringlen) dihitung berdasarkan presisi variabel solusi yang kita cari. Misalkan kita tentukan popsize=4 dan kita gunakan representasi chromosome biner (bilangan basis 2). Nilai x ditentukan antara 0 sampai 15 dan bilangan biner dengan panjang 4 sudah dapat menjangkau nilai x (ingat = 15). Jadi stringlen=4. (1 x ) + (1 x ) + (1 x ) + (1 x ) = = 15
15 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 1. Inisialisasi Nilai x ditentukan antara 0 sampai 15 dan bilangan biner dengan panjang 4 sudah dapat menjangkau nilai x (ingat = 15). Jadi stringlen=4. (1 x ) + (1 x ) + (1 x ) + (1 x ) = = 15 Misalkan kita dapatkan populasi inisial dan konversi chromosomenya menjadi x sebagai berikut: popsize=4, y = f(x) = -x x 13, 0 x 15 chromosome x y=f(x) P1 [ ] 3 20 P2 [ ] 4 27 P3 [ ] 9 32 P4 [ ] 5 32
16 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 2. Reproduksi Reproduksi dilakukan untuk menghasilkan keturunan dari individu-individu yang ada di populasi. Dan himpunan keturunan ini ditempatkan dalam penampungan offspring. Dua operator genetika yang digunakan dalam proses ini adalah tukar silang (crossover) dan mutasi (mutation). Ada banyak metode crossover dan mutation yang telah dikembangkan oleh para peneliti dan biasanya bersifat spesifik terhadap masalah dan representasi chromosome yang digunakan. Dalam tahap ini harus ditentukan tingkat crossover (crossover rate / pc). Nilai ini menyatakan rasio offspring yang dihasilkan proses crossover terhadap ukuran populasi sehingga akan dihasilkan offspring sebanyak pc x popsize. Nilai tingkat mutasi (mutation rate / pm) juga harus ditentukan. Sehingga dihasilkan offspring sebanyak pm x popsize.
17 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 2. Reproduksi (Crossover) Jika kita tentukan pc=0.5 maka ada 0.5 x 4 = 2 offspring yang dihasilkan dari proses crossover. Jika kita tentukan setiap crossover menghasilkan dua anak maka hanya ada satu kali operasi crossover. Misalkan P 1 dan P 3 terpilih sebagai parent dan titik potong (cut point) adalah titik 2, maka akan kita dapatkan offspring C 1 dan C 2 sebagai berikut: P1 [ ] P3 [ ] C1 [ ] C2 [ ] Setiap offspring mewarisi susunan gen (chromosome) dari induknya. Perhatikan dua bit pertama dari C 1 didapatkan dari P 1 dan sisanya dua bit terakhir dari P 3. C 2 mewarisi dua bit pertama dari P 3 dan sisanya dua bit terakhir dari P 1. Metode ini selanjutnya disebut one-cut-point crossover.
18 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 2. Reproduksi (Mutasi) Jika kita tentukan pm=0.2 maka ada 0.2x4=0.8 (dibulatkan jadi 1) offspring yang dihasilkan dari proses mutasi. Misalkan P 4 terpilih sebagai parent maka akan kita dapatkan offspring ke-3 (C 3 ) sebagai berikut: P4 [ ] C3 [ ] Perhatikan proses mutasi dilakukan hanya dengan memilih satu gen secara random, misal posisi ke-4 lalu mengubah nilainya. 3 individu dalam penampungan offspring hasil dari proses crossover dan mutasi : chromosome C1 [ ] C2 [ ] C3 [ ]
19 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 3. Evaluasi Evaluasi digunakan untuk menghitung kebugaran (fitness) setiap chromosome. Semakin besar fitness maka semakin baik chromosome tersebut untuk dijadikan calon solusi. Karena sebuah chromosome selalu memiliki nilai fitness dan beberapa properti lain, maka dalam pembahasan berikutnya seringkali digunakan istilah individu. Hal ini bisa dianalogikan dengan seorang manusia sebagai individu. Dia memiliki tubuh beserta susunan gen pembentuknya (chromosome), nama, umur, alamat dan properti lainnya.
20 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 3. Evaluasi Dari proses inisialisasi dan reproduksi kita sekarang mempunyai kumpulan individu sebagai berikut: chromosome x y=f(x) fitness P1 [ ] P2 [ ] P3 [ ] P4 [ ] C1 [ ] C2 [ ] C3 [ ] Karena masalah ini adalah pencarian nilai maksimum, maka nilai fitness untuk tiap individu bisa dihitung secara langsung fitness=f(x).
21 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Seleksi Seleksi dilakukan untuk memilih individu dari himpunan populasi dan offspring yang dipertahankan hidup pada generasi berikutnya. Semakin besar nilai fitness sebuah chromosome maka semakin besar peluangnya untuk terpilih. Hal ini dilakukan agar terbentuk generasi berikutnya yang lebih baik dari generasi sekarang. Metode seleksi yang sering digunakan adalah roulette wheel, binary tournament, dan elitism. Pembahasan metode-metode ini secara detail beserta pseudocode nya ada pada bagian selanjutnya.
22 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Seleksi Misalkan kita gunakan elitism selection. Metode ini memilih popsize individu terbaik dari kumpulan individu di populasi (parent) dan offspring. Dengan cara ini maka P 3, P 4, P 2 dan C 3 terpilih. Sekarang kita mempunyai kumpulan individu yang bertahan hidup pada generasi berikutnya sebagai berikut: asal pada P(t) P(t+1) chromosome x y=f(x) fitness P3 P1 [ ] P4 P2 [ ] P2 P3 [ ] C3 P4 [ ] Sampai tahap ini kita mempunyai P 1 (atau P 2 ) sebagai individu terbaik karena mempunyai nilai fitness terbesar.
23 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Seleksi Siklus proses 2 (Reproduksi) sampai proses 4 (Seleksi) ini akan berlangsung berulang kali (sekian generasi) sampai tidak dihasilkan perbaikan keturunan, atau sampai kriteria optimum (f(x) maksimum) ditemukan (tidak ditemukan lagi individu dengan fitness yang lebih baik). Siklus lengkap dari contoh ini ditunjukkan pada Gambar berikut. Populasi Inisial P 1 =[0011], f=20 P 2 =[0100], f=27 P 3 =[1001], f=32 P 4 =[0101], f=32 Parent Crossover: P 1 +P 3 Mutasi: P 4 Reproduksi Offspring C 1 =[0001], f=0 C 2 =[1001], f=20 C 3 =[0100], f=27 Populasi untuk generasi berikutnya P 1 =[1001], f=32 P 2 =[0101], f=32 P 3 =[0100], f=27 P 4 =[0100 ], f=27 Seleksi P(t) P 1 =[0011], f=20 P 2 =[0100], f=27 P 3 =[1001], f=32 P 4 =[0101], f=32 C 1 =[0001], f=0 C 2 =[1001], f=20 C 3 =[0100], f=27 P(t+1) P 1 =[1001], f=32 P 2 =[0101], f=32 P 3 =[0100], f=27 P 4 =[0100], f=27
24 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu Untuk memperjelas uraian pada bagian sebelumnya, sekarang bagaimana menangani angka pecahan (desimal) serta penggunaan seleksi roulette wheel maka diberikan lagi contoh sederhana masalah maksimasi (mencari nilai maksimum) dari sebuah fungsi sebagai berikut: max, f(x 1,x 2 ) = 19 + x 1 sin(x 1 π) + (10 x 2 ) sin(x 2 π), (2.2) -5,0 x 1 9,8 0,0 x 2 7,3 Plotting dua dimensi dari fungsi ini ditunjukkan pada Gambar disamping. Warna putih menunjukkan nilai fungsi yang lebih besar. Perhatikan bahwa fungsi ini mempunyai banyak nilai maksimum lokal. Plotting 2D fungsi
25 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 1. Representasi Chromosome Dalam kasus ini variabel keputusan (x 1 dan x 2 ) dikodekan dalam string chromosome biner. Panjang string chromosome tergantung pada presisi yang dibutuhkan. Misalkan domain variabel x j adalah [a j,b j ] dan presisi yang dibutuhkan adalah d angka di belakang titik desimal, maka interval dari domain tiap variabel setidaknya mempunyai lebar (b j -a j )x10 d. Banyaknya bit yang dibutuhkan (m j ) untuk variabel x j adalah (Gen & Cheng 1997) : (b j - a j ) x 10 d 2 m j - 1 Konversi (decoding) dari substring biner menjadi bilangan real untuk variabel xj adalah sebagai berikut: x j = a j + decimal(substring)((b j -a j )/(2 m j -1)) decimal(substring) merepresentasikan nilai desimal dari substring bagi variabel keputusan x j.
26 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 1. Representasi Chromosome Contoh : Misalkan untuk variabel x 1 dan x 2 kita tentukan mempunyai ketelitian 4 angka dibelakang titik desimal, maka kebutuhan bit untuk kedua variabel tersebut adalah: (9,8 ( 5)) x m m 1 m 1 = (Pembulatan ) (7,3 0) x m m 2 m 2 = 17 Maka panjang string chromosome adalah m 1 + m 2 = 35. Misalkan sebuah string chromosome yang dibangkitkan secara random adalah sebagai berikut: P j bit 17 bit 2 m log log 2 log log 2 1 m m m log log log
27 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 1. Representasi Chromosome Maka panjang string chromosome adalah m 1 + m 2 = 35. Misalkan sebuah string chromosome yang dibangkitkan secara random adalah sebagai berikut: P j bit 17 bit Maka chromosome tersebut bisa diuraikan (decoding) sebagai berikut: x x angka biner angka desimal x x , , , , ketelitian 4 angka dibelakang titik desimal dari (1, )
28 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 2. Inisialisasi Populasi inisial dibangkitkan secara random. Misalkan ditentukan popsize=10 maka akan dihasilkan populasi seperti contoh berikut: chromosome x 1 x 2 f(x 1,x 2 ) P 1 [ ] -2,2104 4, ,2705 P 2 [ ] 4,1904 7, ,0716 P 3 [ ] 5,0055 2, ,3991 P 4 [ ] 2,4915 2, ,7747 P 5 [ ] 3,3929 5, ,7376 P 6 [ ] -3,3773 2, ,3457 P 7 [ ] 5,0074 0, ,4962 P 8 [ ] -3,3773 2, ,3457 P 9 [ ] -2,2032 4, ,2263 P 10 [ ] 5,0074 0, ,4962 Rata-Rata 23,7163 Nilai x 1, x 2, dan f(x 1,x 2 ) didapatkan melalui proses decoding. Perhitungan fitness dijelaskan pada Sub ke-4. Individu terbaik pada populasi inisial ini adalah P 4 dengan fitness=f(x 1,x 2 )=
29 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 3. Reproduksi Crossover dilakukan dengan memilih dua induk (parent) secara acak dari populasi. Metode crossover yang digunakan adalah metode one-cut-point, yang secara acak memilih satu titik potong dan menukarkan bagian kanan dari tiap induk untuk menghasilkan offspring. Misalkan yang terpilih sebagai induk adalah P 6 dan P 2. Titik potong (cut point) adalah titik 2. Maka akan dihasilkan dua offspring (C 1 dan C 2 ) sebagai berikut: titik potong P 6 [ ] P 2 [ ] C 1 [ ] C 2 [ ]
30 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 3. Reproduksi Jika kita tentukan pc=0.4 maka ada 0.4x10=4 offspring yang dihasilkan. Karena setiap crossover menghasilkan dua anak maka ada dua kali operasi crossover. Misalkan yang terpilih sebagai induk pada crossover ke-2 adalah P 9 dan P 7. Titik potong (cut point) adalah titik 11. Maka akan dihasilkan dua offspring (C 3 dan C 4 ) sebagai berikut: titik potong P 9 [ ] P 7 [ ] C 3 [ ] C 4 [ ]
31 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 3. Reproduksi Mutasi dilakukan dengan memilih satu induk secara acak dari populasi. Metode mutasi yang digunakan adalah dengan memilih satu titik acak kemudian mengubah nilai gen pada titik tersebut. Misalkan yang terpilih sebagai induk adalah P 9. Titik acak yang terpilih adalah 18. Maka dihasilkan offspring (C 5 ) sebagai berikut: titik terpilih P 9 [ ] C 5 [ ] Jika pm=0.2 maka ada 0.2x10=2 offspring yang dihasilkan dari mutasi. Misal P 1 terpilih sebagai induk mutasi ke-2 dan titik acak yang terpilih 19 maka dihasilkan offspring (C 6 ) sebagai berikut: titik terpilih P 1 [ ] C 6 [ ]
32 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 3. Reproduksi Keseluruhan 6 offspring yang dihasilkan dari proses reproduksi (crossover dan mutasi) adalah sebagai berikut: chromosome C 1 [ ] C 2 [ ] C 3 [ ] C 4 [ ] C 5 [ ] C 6 [ ] Perhatikan bahwa sekarang kita mempunyai 16 individu (10 dari populasi awal ditambah 6 offspring).
33 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 4. Evaluasi Evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan 16 individu dengan cara: o Mengubah/memetakan string biner menjadi variabel x 1 dan x 2. o Menghitung nilai fungsi obyektive f(x 1,x 2 ). o Konversi nilai f(x 1,x 2 ) menjadi nilai fitness. Karena masalah ini adalah pencarian nilai maksimum, maka nilai fitness untuk tiap individu bisa dihitung secara langsung sebagai berikut: fitness = f(x 1,x 2 ) (2.5) Untuk masalah pencarian nilai minimum maka bisa digunakan rumusan (2.6) atau (2.7). C pada (2.6) merupakan nilai konstan yang harus ditetapkan sebelumnya. Penggunaan (2.7) harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan tidak terjadi pembagian dengan nol. fitness = C f(x) (2.6) fitness = 1 / f(x) (2.7)
34 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Seleksi dilakukan untuk memilih 10 dari 16 individu yang dipertahankan hidup pada generasi berikutnya. Metode yang digunakan adalah roulette wheel. Pendekatan ini dilakukan dengan menghitung nilai probabilitas seleksi (prob) tiap individu berdasarkan nilai fitnessnya. Dari nilai prob ini bisa dihitung probabilitas kumulatif (probcum) yang digunakan pada proses seleksi tiap individu. Langkah-langkah membentuk roulette wheel berdasarkan probabilitas kumulatif adalah: o Misalkan fitness(p k ) adalah nilai fitness individu ke-k. Maka bisa dihitung total fitness sebagai berikut: totalfitness popsize k 1 fitness P k Perhatikan bahwa nilai popsize sekarang adalah 16.
35 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Langkah-langkah membentuk roulette wheel berdasarkan probabilitas kumulatif adalah: o Misalkan fitness(p k ) adalah nilai fitness individu ke-k. Maka bisa dihitung total fitness sebagai berikut: totalfitness popsize k 1 fitness P k Perhatikan bahwa nilai popsize sekarang adalah 16. o Hitung nilai probabilitas seleksi (prob) tiap individu: fitness Pk probk, k 1,2,..., popsize totalfitness o Hitung nilai probabilitas kumulatif (probcum) tiap individu: k probcumk prob j, k 1,2,..., popsize j 1
36 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Dari proses evaluasi dan perhitungan probabilitas kumulatif, kita sekarang mempunyai kumpulan individu sebagai berikut: x1 x2 f(x1,x2) fitness prob probcum P1-2,2104 4, , ,2705 0,0657 0,0657 P2 4,1904 7, , ,0716 0,0548 0,1204 P3 5,0055 2, , ,3991 0,0686 0,1890 P4 2,4915 2, , ,7747 0,0748 0,2638 P5 3,3929 5, , ,7376 0,0331 0,2969 P6-3,3773 2, , ,3457 0,0607 0,3576 P7 5,0074 0, , ,4962 0,0663 0,4238 P8-3,3773 2, , ,3457 0,0607 0,4845 P9-2,2032 4, , ,2263 0,0656 0,5500 P10 5,0074 0, , ,4962 0,0663 0,6163 C1-3,2097 7, , ,7478 0,0435 0,6598 C2 4,0227 2, , ,7618 0,0695 0,7293 C3-2,1975 0, , ,8905 0,0699 0,7992 C4 5,0017 4, , ,8865 0,0621 0,8613 C5-2,2031 4, , ,2259 0,0655 0,9268 C6-2,2104 0,684 28, ,1587 0,0732 1,0000 Total 384,8348 prob x 100% Dengan nilai probabilitas seleksi (prob) tiap individu maka kita mempunyai roulette wheel sebagai berikut: Gambar 2.5 Roulette wheel peluang terpilihnya setiap individu
37 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Perhatikan ukuran tiap potongan pie pada Gambar 2.5 adalah sesuai dengan probabilitas (prob x 100%) terpilihnya setiap individu. Sekarang waktunya memutar roulette wheel untuk memilih setiap individu dengan langkah-langkah berikut: o Bangkitkan r bilangan random pada range [0,1]. o Pilih/cek nilai k mulai dari 1 sampai popsize sehingga r probcum k. Misal r = 0,5210 maka k=9, artinya individu yang ke-9 terpilih x1 x2 f(x1,x2) fitness prob probcum P9-2,2032 4, , ,2263 0,0656 0, C6-2,2104 0,684 28, ,1587 0,0732 1,0000 Total 384,8348 Karena, (0,5210 0,5500)
38 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Hasil roulette wheel selengkapnya bisa dilihat sebagai berikut: P(t+1) random (r) k individu terpilih chromosome Sekarang kita telah menyelesaikan satu iterasi (generasi) dengan individu terbaik adalah P 7 dengan fitness=26,8905 yang bisa diuraikan (decoding) sebagai berikut: x 1 = -2,1975 x 2 = 0,7466 dan f(x 1,x 2 ) = 26,8905 fitness P1 0, P9 [ ] 25,2263 P2 0, P8 [ ] 23,3457 P3 0, P9 [ ] 25,2263 P4 0, C5 [ ] 25,2259 P5 0, P2 [ ] 21,0716 P6 0, P2 [ ] 21,0716 P7 0, C3 [ ] 26,8905 P8 0, P7 [ ] 25,4962 P9 0, P3 [ ] 26,3991 P10 0, P8 [ ] 23,3457
39 Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Perhatikan individu terbaik pada generasi ke-1 (fitness=26,8905) ini lebih buruk dari pada individu terbaik pada populasi inisial (fitness=28,7747). Ingat dengan mekanisme roulette wheel maka individu dengan fitness lebih besar akan mempunyai peluang lebih besar untuk terpilih. Karena berupa peluang maka tidak menjamin bahwa individu terbaik akan selalu terpilih untuk masuk pada generasi berikutnya. Pada implementasi program komputer, individu terbaik ini disimpan pada variabel tersendiri untuk menghindari kemungkinan tereliminasi pada proses seleksi.
40 y=f(x) Studi Kasus: Maksimasi Fungsi dengan Presisi Tertentu 5. Seleksi Program uji telah dijalankan sampai generasi ke-1000 dan hasil terbaik didapatkan pada generasi ke-322 sebagai berikut: chromosome : [ ] x 1 = 8,5141 x 2 = 0,4789 dan f(x 1,x 2 ) = 37,0059 Hasil untuk beberapa generasi dalam tabel dan grafik : generasi f(x1,x2) generasi f(x1,x2) terbaik rata-rata terbaik rata-rata 0 28, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Terbaik Rata-Rata Generasi Perhatikan bahwa nilai rata-rata fungsi obyektif bersifat fluktuatif tapi cenderung naik sepanjang generasi.
41 Kondisi Berhenti (Termination Condition) Iterasi GAs diulang terus sampai kondisi berhenti tercapai. Beberapa kriteria bisa dipakai untuk hal ini sebagai berikut: 1. Iterasi berhenti sampai generasi n. Nilai n ditentukan sebelumnya berdasarkan beberapa eksperimen pendahuluan. Semakin tinggi ukuran dan kompleksitas masalah maka nilai n semakin besar. Nilai n ditentukan sedemikian rupa sehingga konvergensi populasi tercapai dan akan sulit didapatkan solusi yang lebih baik setelah n iterasi. 2. Iterasi berhenti setelah n generasi berurutan tidak dijumpai solusi yang lebih baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa GAs sulit mendapatkan solusi yang lebih baik dan penambahan iterasi hanya membuang waktu. 3. Iterasi berhenti setelah t satuan waktu tercapai. Ini biasa digunakan jika diinginkan untuk membandingkan performa dari beberapa algoritma. Dalam implementasi praktis, kombinasi kondisi (1) dan (2) bisa dipakai.
42 Tugas Kelompok 1. Sebutkan semua proses utama dalam siklus algoritma genetika? 2. Jelaskan keunggulan algoritma genetika sebagai algoritma yang berbasis populasi! 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan algoritma genetika bersifat ergodic? 4. Iterasi GAs diulang terus sampai kondisi berhenti tercapai. Jelaskan beberapa kriteria untuk hal ini? 5. Misalkan P 1 dan P 2 adalah parent untuk proses crossover. Tentukan offspring yang terbentuk jika dilakukan one-cut-point crossover pada titik ke-5. P1 [ ] P2 [ ]
43 Tugas Kelompok 6. Misalkan P adalah parent untuk proses mutasi. Tentukan offspring yang terbentuk jika dilakukan mutasi pada titik ke-5. P [ ] 7. Untuk masalah maksimasi (mencari nilai maksimum) dari sebuah fungsi sebagai berikut max, y = f(x) = (-(x 2 )/2) + 4x + 40, 0 x 15 Lengkapi tabel berikut: chromosome x y=f(x) fitness P1 [ ] P2 [ ] P3 [ ] P4 [ ]
44 Tugas Kelompok 8. Untuk fungsi uji (2.2) pada slide 24, maksimasi fungsi dengan presisi tertentu, lengkapi tabel berikut: P 1 [ ] P 2 [ ] P 3 [ ] P 4 [ ] chromosome x 1 x 2 f(x 1,x 2 ) 9. Pada table berikut P menunjukkan parent dan C menunjukkan offspring. Untuk seleksi roulette wheel, lengkapi kolom untuk probabilitas dan probabilitas kumulatif! fitness prob probcum P 1 25,2705 P 2 21,0716 P 3 26,3991 P 4 28,7747 C 1 12,7376 C 2 23,3457
45 Tugas Kelompok 10. Untuk soal no. 9, tentukan empat individu yang terpilih jika diberikan angka random 0,5342, 0,2189, 0,1987, dan 0,8652! 11. Untuk fungsi uji berikut : max, f(x 1,x 2 ) = 19 + x 1 sin(x 1 π) + (10 x 2 ) sin(x 2 π), -5,0 x 1 9,8 0,0 x 2 7,3 jika variabel x 1 dan x 2 kita tentukan mempunyai ketelitian 5 angka di belakang titik desimal, hitung kebutuhan bit untuk kedua variabel tersebut! 12. Jelaskan perbedaan antara Optimum Local dan Optimum Global! Note : Untuk memperjelas pemahaman anda, kerjakanlah latihan berikut sebisa mungkin tanpa melihat materi pada buku atau slide!
46 Terimakasih Imam Cholissodin
Lingkup Metode Optimasi
Algoritma Genetika Lingkup Metode Optimasi Analitik Linier Non Linier Single Variabel Multi Variabel Dgn Kendala Tanpa Kendala Numerik Fibonacci Evolusi Complex Combinasi Intelijen/ Evolusi Fuzzy Logic
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA)
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Siklus RCGA 2. Alternatif Operator Reproduksi pada Pengkodean Real 3. Alternatif Operator Seleksi 4.
Modul Matakuliah Algoritma Evolusi oleh
Modul Matakuliah Algoritma Evolusi oleh Wayan Firdaus Mahmudy Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK) Universitas Brawijaya September 2013 Kata Pengantar Buku ini disusun untuk mengisi kelangkaan
DASAR-DASAR Algoritma Evolusi
Modul Kuliah Semester Ganjil 2015-2016 DASAR-DASAR Algoritma Evolusi Wayan Firdaus Mahmudy Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK) Universitas Brawijaya Kata Pengantar Algoritma evolusi
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.
Algoritma Evolusi Evolution Strategies (ES)
Algoritma Evolusi Evolution Strategies (ES) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Struktur Dasar Evolution Strategies (ES) 2. Siklus ES (µ, λ) 3. Siklus ES (µ/r + λ) 4. Studi Kasus
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM DEFINISI ALGEN adalah algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan evolusi Dalam evolusi, individu terus menerus mengalami perubahan gen untuk
Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)
JTRISTE, Vol.1, No.2, Oktober 2014, pp. 50~57 ISSN: 2355-3677 Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) STMIK Handayani Makassar [email protected] Abstrak
Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner
Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi
Genetic Algorithme. Perbedaan GA
Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari
BAB III. Metode Penelitian
BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum diagram alir algoritma genetika dalam penelitian ini terlihat pada Gambar 3.1. pada Algoritma genetik memberikan suatu pilihan bagi penentuan
BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang
BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Teka-Teki Silang Teka-teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan yang mengharuskan penggunanya untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI
27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag.
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag. 12/11/2009 1 Ditemukan oleh Holland pada tahun 1975. Didasari oleh fenomena evolusi darwin. 4 kondisi yg mempengaruhi
BAB 2 LANDASAN TEORI
7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Perkuliahan Penjadwalan memiliki pengertian durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian untuk melakukan aktivitas kerja[10]. Penjadwalan juga
Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika
Algoritma Genetika Pendahuluan Struktur Umum Komponen Utama Seleksi Rekombinasi Mutasi Algoritma Genetika Sederhana Referensi Sri Kusumadewi bab 9 Luger & Subblefield bab 12.8 Algoritma Genetika 1/35 Pendahuluan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka (Samuel, Toni & Willi 2005) dalam penelitian yang berjudul Penerapan Algoritma Genetika untuk Traveling Salesman Problem Dengan Menggunakan Metode Order Crossover
8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Perumusan Masalah METODE PENELITIAN Studi Pustaka Pembentukan Data
Gambar 4 Proses Swap Mutation. 8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Proses evaluasi solusi ini akan mengevaluasi setiap populasi dengan menghitung nilai fitness setiap kromosom sampai terpenuhi kriteria
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan membahas landasan atas teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan tugas akhir ini. Teori-teori yang dibahas mengenai pengertian penjadwalan, algoritma
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian heuristik ysng didasarkan atas mekanisme seleksi alami dan genetika alami (Suyanto, 2014). Adapun konsep dasar
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Penjadwalan adalah penempatan sumber daya (resource) dalam satu waktu. Penjadwalan mata kuliah merupakan persoalan penjadwalan yang umum dan sulit dimana tujuannya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka. Penelitian serupa mengenai penjadwalan matakuliah pernah dilakukan oleh penelliti yang sebelumnya dengan metode yang berbeda-neda. Berikut
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika Nia Kurnia Mawaddah Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 65145 Abstrak Penjadwalan
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP)
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP) Mohamad Subchan STMIK Muhammadiyah Banten e-mail: [email protected] ABSTRAK: Permasalahan pencarian rute terpendek dapat
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan membahas landasan atas teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan skripsi ini. Teori-teori yang dibahas mengenai optimisasi, pengertian penjadwalan,
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK Usulan Skripsi S-1 Jurusan Matematika Diajukan oleh 1. Novandry Widyastuti M0105013 2. Astika Ratnawati M0105025 3. Rahma Nur Cahyani
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi
BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi graf, permasalahan optimasi, model matematika dari objek wisata di Yogyakarta, dan algoritma genetika
Algoritma Genetika dan Penerapannya dalam Mencari Akar Persamaan Polinomial
Algoritma Genetika dan Penerapannya dalam Mencari Akar Persamaan Polinomial Muhammad Abdy* 1, Maya Sari Wahyuni* 2, Nur Ilmi* 3 1,2,3 Jurusan Matematika, Universitas Negeri Makassar e-mail: * 1 [email protected],
Pencarian Rute Terpendek untuk Pengoptimalan Ditribusi Sales Rokok Gudang Garam di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Menggunakan Algoritma Genetika
Pencarian Rute Terpendek untuk Pengoptimalan Ditribusi Sales Rokok Gudang Garam di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Menggunakan Algoritma Genetika Priza Pandunata, Rachmad Agung Bagaskoro, Agung Ilham
BAB II LANDASAN TEORI
27 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terkait Penelitian terkait yang menggunakan algoritma genetika untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan kuliah telah banyak dilakukan.
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC)
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM WITH PRECEDENCE CONSTRAINTS (TSPPC) Yayun Hardianti 1, Purwanto 2 Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK:
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM Anies Hannawati, Thiang, Eleazar Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131,
Denny Hermawanto
Algoritma Genetika dan Contoh Aplikasinya Denny Hermawanto [email protected] http://dennyhermawanto.webhop.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
BAB III PERANCANGAN. Gambar 3.1 di bawah ini mengilustrasikan jalur pada TSP kurva terbuka jika jumlah node ada 10:
BAB III PERANCANGAN Pada bagian perancangan ini akan dipaparkan mengenai bagaimana mencari solusi pada persoalan pencarian rute terpendek dari n buah node dengan menggunakan algoritma genetika (AG). Dari
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir ini, peranan algoritma genetika terutama untuk masalah optimisasi, berkembang dengan pesat. Masalah optimisasi ini beraneka ragam tergantung dari bidangnya. Dalam
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjadwalan Penjadwalan kegiatan belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan biasanya merupakan salah satu pekerjaan yang tidak mudah dan menyita waktu. Pada lembaga pendidikan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Algoritma Genetika Pada tahun 1975, John Holland, di dalam bukunya yang berjudul Adaption in Natural and Artificial Systems, mengemukakan komputasi berbasis evolusi. Tujuannya
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION Samuel Lukas 1, Toni Anwar 1, Willi Yuliani 2 1) Dosen Teknik Informatika,
ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Disusun oleh: Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PENS ITS Surabaya 2003 Algoritma
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dilingkungan Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dilingkungan Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan
ABSTRAK. Job shop scheduling problem merupakan salah satu masalah. penjadwalan yang memiliki kendala urutan pemrosesan tugas.
ABSTRAK Job shop scheduling problem merupakan salah satu masalah penjadwalan yang memiliki kendala urutan pemrosesan tugas. Pada skripsi ini, metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan job shop scheduling
PENDAHULUAN. Latar Belakang
Latar Belakang PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini, setiap perusahaan yang ingin tetap bertahan dalam persaingan dengan perusahaan lainnya, harus bisa membuat semua lini proses bisnis perusahaan tersebut
BAB 2 LANDASAN TEORI
18 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Optimasi Optimasi adalah salah satu ilmu dalam matematika yang fokus untuk mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi, peluang maupun
BAB 2 LANDASAN TEORI
36 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengurutan Pekerjaan (Job Sequencing) 2.1.1 Deskripsi Umum Dalam industri manufaktur, tujuan penjadwalan ialah untuk meminimasikan waktu dan biaya produksi, dengan cara mengatur
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS Surabaya 2003 Algoritma Genetika Algoritma
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Umum Optimasi Optimasi merupakan suatu cara untuk menghasilkan suatu bentuk struktur yang aman dalam segi perencanaan dan menghasilkan struktur yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas tentang travelling salesman problem (TSP), metodemetode yang digunakan dalam penyelesaian TSP. Khusus penggunaan metode algoritma genetika
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Mike Susmikanti Pusat Pengembangan Informatika Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional Kawasan
Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN
Optimasi Penjadwalan Mata Kuliah Dengan Algoritma Genetika Andysah Putera Utama Siahaan Universitas Pembangunan Pancabudi Jl. Gatot Subroto Km. 4,5, Medan, Sumatra Utara, Indonesia [email protected]
PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Nico Saputro dan Suryandi Wijaya Jurusan Ilmu Komputer Universitas Katolik Parahyangan [email protected]
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA. Abstraksi
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA I Dewa Made Adi Baskara Joni 1, Vivine Nurcahyawati 2 1 STMIK STIKOM Indonesia, 2 STMIK STIKOM
KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan.
Algoritma Evolusi Optimasi Masalah Kombinatorial
Algoritma Evolusi Optimasi Masalah Kombinatorial Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Travelling Salesman Problem (TSP) 2. Flow-Shop Scheduling Problem (FSP) 3. Two-Stage Assembly
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Bagus Priambodo Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana e- mail : [email protected]
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN BIAYA MINIMAL DISTRIBUSI BARANG TIGA TAHAP PT. SEMEN TONASA
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN BIAYA MINIMAL DISTRIBUSI BARANG TIGA TAHAP PT. SEMEN TONASA Andi Baharuddin 1, Aidawayati Rangkuti 2, Armin Lawi 3 Program Studi Matematika, Jurusan Matematika,
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Kartina Diah KW1), Mardhiah Fadhli2), Charly Sutanto3) 1,2) Jurusan Teknik Komputer Politeknik Caltex Riau Pekanbaru Jl. Umban Sari No.1 Rumbai-Pekanbaru-Riau
ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN AKAR PERSAMAAN SEBUAH FUNGSI
ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN AKAR PERSAMAAN SEBUAH FUNGSI Akhmad Yusuf dan Oni Soesanto Program Studi Matematika Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. A. Yani km 35, 8 Banjarbaru ABSTRAK Algoritma
BAB II LANDASAN TEORI. Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Perusahaan Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan pengadaan suku cadang computer. Dalam bidang tersebut diharuskan berbadan hukum PD,
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Leonard Tambunan AMIK Mitra Gama Jl. Kayangan No. 99, Duri-Riau e-mail : [email protected] Abstrak Pada saat ini proses penjadwalan kuliah
Pencarian Rute Optimum Menggunakan Algoritma Genetika
Jurnal Teknik Elektro Vol. 2, No. 2, September 2002: 78-83 Pencarian Rute Optimum Menggunakan Algoritma Genetika Anies Hannawati, Thiang, Eleazar Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas
DAFTAR ISI. Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii
DAFTAR ISI Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Faiz Rafdh Ch SISTEM INFORMASI ZAKAT BERBASIS WEB MENGGUNAKAN PHP DAN MYSQL PADA RUMAH ZAKATINDONESIA 1-7 Abdul Jamil Syamsul Bachtiar
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma
13 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Sistem dan Informasi 2.1.1 Sistem Menurut Sutabri (2004), bahwa sistem adalah sekelompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lainnya berfungsi untuk mencapai
BAB II LANDASAN TEORI. Suatu graph merupakan suatu pasangan { E(G), V(G) } dimana :
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Graph Suatu graph merupakan suatu pasangan { E(G), V(G) } dimana : V(G) adalah sebuah himpunan terhingga yang tidak kosong ( non empty finite set) yang elemennya disebut
Analisis Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Nilai Fungsi Maksimum Djunaedi Kosasih 1) Rinaldo 2)
Analisis Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Nilai Fungsi Maksimum Djunaedi Kosasih 1) Rinaldo 2) Abstrak Algoritma genetika yang pertama kali diperkenalkan secara terpisah oleh Holland dan De
BAB III PEMBAHASAN. Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan
BAB III PEMBAHASAN Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan Algoritma Genetika dan Metode Nearest Neighbour pada pendistribusian roti di CV. Jogja Transport. 3.1 Model Matetematika
OPTIMASI JADWAL MENGAJAR ASISTEN LABORATORIUM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI JADWAL MENGAJAR ASISTEN LABORATORIUM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Indana Zulfa 1, Wayan Firdaus Mahmudy 2, Budi Darma Setiawan 3 Teknik Informatika, Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer,
ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 265 274. ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR Abdul Azis, Bayu Prihandono, Ilhamsyah INTISARI Optimasi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma Genetika merupakan suatu algoritma yang terinspirasi dari teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa kelangsungan hidup suatu makhluk dipengaruhi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Algoritma Genetika Algoritma genetika sebagai cabang dari algoritma evolusi merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan suatu pencarian nilai dalam permasalahan-permasalahan
BAB II LANDASAN TEORI
17 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
BAB II LANDASAN TEORI. digunakan sebagai pedoman perawatan adalah sebuah panduan sebagaimana
BAB II LANDASAN TEORI 2. Konsep Perawatan Pesawat Fokker F27 Buku Pedoman Perawatan yang diberikan oleh pabrik yang akan digunakan sebagai pedoman perawatan adalah sebuah panduan sebagaimana layaknya sebuah
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Desain Algoritma Genetika Untuk Optimasi Penjadwalan Produksi Meuble Kayu Studi Kasus Pada PT. Sinar Bakti Utama (oleh Fransiska Sidharta dibawah bimbingan Prof.Kudang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Persoalan TSP merupakan salah satu persoalan optimasi kombinatorial (kombinasi permasalahan). Banyak permasalahan yang dapat direpresentasikan
BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM 3.1 TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Sebelum membahas pencarian solusi Travelling Salesman Problem menggunakan algoritma
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK. Kata kunci: Algoritma Genetika, Shortest Path Problem, Jalur Terpendek
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK Fajar Saptono 1, Taufiq Hidayat 2 Laboratorium Pemrograman dan Informatika Teori Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,
BAB III ALGORITMA MEMETIKA DALAM MEMPREDIKSI KURS VALUTA ASING. Untuk memberikan penjelasan mengenai prediksi valuta asing
BAB III ALGORITMA MEMETIKA DALAM MEMPREDIKSI KURS VALUTA ASING Untuk memberikan penjelasan mengenai prediksi valuta asing menggunakan algoritma memetika, akan diberikan contoh sebagai berikut. Contoh Misalkan
Algoritma Evolusi Topik Lanjut Pada GA
Algoritma Evolusi Topik Lanjut Pada GA Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Hybrid Genetic Algorithms (HGAs) 2. Parallel Genetic Algorithms (PGAs) 3. Nilai Parameter Adaptif 4.
Optimasi Multiple Travelling Salesman Problem Pada Pendistribusian Air Minum Menggunakan Algoritme Genetika (Studi Kasus: UD.
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 9, Juni 2017, hlm. 849-858 http://j-ptiik.ub.ac.id Optimasi Multiple Travelling Salesman Problem Pada Pendistribusian
Optimasi Pemilihan Pekerja Bangunan Proyek Pada PT. Citra Anggun Pratama Menggunakan Algoritma Genetika
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 2, Februari 2017, hlm. 80-84 http://j-ptiik.ub.ac.id Optimasi Pemilihan Pekerja Bangunan Proyek Pada PT. Citra Anggun
PENERAPAN ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI DENGAN MENGUNAKAN PENYELEKStAN RODA ROULETTE
PENERAPAN ALGORTMA GENETK UNTUK OPTMAS DENGAN MENGUNAKAN PENYELEKStAN RODA ROULETTE Samuel Lukas, M.Tech." Abstract The purpose of this paper is to introducing genetic algorithm. This algorithm is one
BAB III PEMBAHASAN. diperoleh menggunakan algoritma genetika dengan variasi seleksi. A. Model Matematika CVRPTW pada Pendistribusian Raskin di Kota
BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas mengenai model matematika pada pendistribusian raskin di Kota Yogyakarta, penyelesaian model matematika tersebut menggunakan algoritma genetika serta perbandingan
PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN
BAB II LANDASAN TEORI. Evolutionary Algorithm merupakan terminologi umum yang menjadi payung
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Evolutionary Algorithm merupakan terminologi umum yang menjadi payung bagi empat istilah : algoritma genetika (genetic algorithm), pemrograman genetika (genetic
Implementasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Rute Berdasarkan Waktu Tercepat Objek Wisata Di Kabupaten Ngawi. Makalah
Implementasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Rute Berdasarkan Waktu Tercepat Objek Wisata Di Kabupaten Ngawi Makalah Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan
PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR
PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR Karels, Rheeza Effrains 1), Jusmawati 2), Nurdin 3) [email protected]
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PERMASALAHAN OPTIMASI DISTRIBUSI BARANG DUA TAHAP
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PERMASALAHAN OPTIMASI DISTRIBUSI BARANG DUA TAHAP Riska Sulistiyorini ), Wayan Firdaus Mahmudy ), Program Studi Teknik Informatika Program Teknologi Informasi dan Ilmu
PENYELESAIAN MINIMUM SPANNING TREE (MST) PADA GRAF LENGKAP DENGAN ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN TEKNIK PRUFER SEQUENCES
J~ICON, Vol. 2 No. 2, Oktober 2014, pp. 84 ~ 91 84 PENYELESAIAN MINIMUM SPANNING TREE (MST) PADA GRAF LENGKAP DENGAN ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN TEKNIK PRUFER SEQUENCES Emsi M. Y. Monifani 1, Adriana
MENGUKUR KINERJA ALGORITMA GENETIK PADA PEMAMPATAN MATRIKS JARANG
MENGUKUR KINERJA ALGORITMA GENETIK PADA PEMAMPATAN MATRIKS JARANG Nico Saputro dan Joice Aritonang Email : [email protected], [email protected] A matrix that has lots of zero elements is called
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Hemofilia Hemofilia adalah gangguan produksi faktor pembekuan yang diturunkan, hemofilia berasal dari bahasa Yunani yaitu haima yang artinya darah dan philein yang artinya mencintai
