PENGARUH TEKANAN ANISOTROPIK PADA BINTANG NEUTRON
|
|
|
- Hartono Cahyadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: DOI: doi.org/ / PENGARUH TEKANAN ANISOTROPIK PADA BINTANG NEUTRON A. M. Setiawan 1,a), A. Sulaksono,b) 1, Departemen Fisika FMIPA UI, Kampus UI Depok, a) b) Abstrak Kami menyelidiki faktor anisotropik σ dari bintang neutron berdasarkan beberapa model. Model yang digunakan dalam penyelidikan kami adalah model dari Doneva-Yazadjiev (DY), Herrera-Barreto (HB), dan Bowers-Liang (BL). Pada inti bintang neutron diasumsikan tersusun dari nukleon, lepton dan hyperon. Untuk ketiga model anisotropik tersebut, prediksi massa maksimumnya konsisten dengan observasi massa dari PSR J dan PSR J Kata Kunci: Hyperon, Bintang Neutron, dan Tekanan Anisotropik Abstract We investigate the anisotropic factor σ of neutron stars based on the Doneva-Yazadjiev (DY), Herrera-Barreto (HB), and Bowers-Liang (BL) anisotropic models. We assume that the neutron stars matter consist of nucleons, leptons, and hyperons. We obtain that the corresponding models predict neutron stars maximum mass consistent with PSR J and PSR J Keywords: Hyperon, Neutron Stars, and Anisotropic Pressure. 1. Pendahuluan Penetapan massa maksimum bintang neutron pada saat ini berasal dari pengukuran. Pertama, massa 1.97 ± 0.04M dari pulsar J yang diukur Shapiro delay [1]. Dan yang kedua, massa.01 ± 0.04M dari pulsar J yang diukur dari gravitational redshif (Z) []. Sedangkan dari analisis yang diperoleh saat ini mengenai distribusi massa dari jumlah pulsar dengan pengukuran massa yang presisi, massa gravitasi M G ~.1M dapat dianggap sebagai sebuah massa maksimum (M max ) bintang neutron [3]. Untuk mencapai massa maksimum bintang neutron yang lebih rendah dari,1 M [3] dapat dipenuhi dengan banyak model, jika inti bintang neutron hanya mengandung nucleon dan lepton. Namun, adanya nucleon dan lepton saja dalam inti bintang neutron ini secara fisis tidaklah realistis [4]. Secara umum, banyak model nuklir yang cocok dengan data eksperimen hyper-nuclei yang memprediksi keberadaan hyperon pada materi dengan kerapatan yang melebihi -3 kali kerapatan saturasi nuklir (ρ 0 = 0.16fm 3 ) [5]. Selain itu, keberadaan partikel seperti hyperon pada inti bintang neutron mempunyai dampak yang penting pada pendinginan bintang neutron [6]. Akan tetapi, prediksi massa maksimum bintang neutron dengan hyperon di intinya selalu lebih kecil daripada bintang neutron tanpa hyperon [6,7]. Sehingga kita dapat berargumentasi [8] bahwa tekanan pada materi bintang neutron bersifat anisotropik. Hal ini merupakan pengembangan asumsi awal yang dipahami para peneliti menyatakan bahwa tekanan dalam bintang neutron adalah isotropik. Tekanan anisotropik dapat disebabkan oleh adanya medan magnetik dan medan listrik yang kuat, kondensasi boson, perbedaan jenis fase transisi, keberadaan inti padat atau super fluidity [4]. Penelitian yang terbaru terhadap sifat bintang neutron anisotropik dapat ditemukan pada referensi [8 10] dan dikuatkan oleh hasil penelitian lainnya yang terdapat pada referensi [11 14]. Dalam penelitian ini, diasumsikan bahwa tekateki keberadaan hyperon di bintang neutron dapat dipecahkan dengan mempertimbangkan tekanan dalam materi bintang neutron bersifat anisotropik [5 7,15 18]. Properti bintang neutron sendiri dihasilkan melalui Equation of state (EOS) materi bintang yang dimasukkan ke dalam persamaan Tolmann-Oppenheimer-Volkoff (TOV), yang dimodifikasi ke dalam tiga model anisotropik, yaitu model dari Doneva-Yazadjiev (DY), Herrera- Barreto (HB) dan Bowers-Liang (BL). Hasil yang diharkapkan dalam penelitian ini yaitu massa maksimum bintang neutron anisotropik, konsisten dengan observasi massa dari PSR J dan PSR J Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-13
2 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik dan metode numerik. Equation of state (EOS) materi bintang neutron dibuat berdasarkan model medan rerata relativistik yang diperluas (Extended version Relativistic Mean Field atau ERMF) [4] dengan memasukkan partikel hyperon (H=Λ, Σ, dan Ξ) di inti dalam bintang neutron. Sedangkan untuk inti luar diasumsikan tersusun atas baryon dan lepton [4]. Dalam model ERMF, baryon berinteraksi melalui pertukaran medan meson (M), yaitu σ, ω, ρ dan φ. Baryon berisi nucleon yang terdiri dari proton dan neutron (N = p dan n), sedangkan lepton terdiri dari elektron dan muon (l = e dan μ) [4]. Maka untuk menghitung EOS, kerapatan lagrangian total dari semua partikel tersebut dapat ditulis sebagai berikut [16]: L = L free B + L free M + L lin BM + L nonlin free + L l (1) Besar kerapatan Lagrangian baryon bebasnya yaitu [4]: L free B = ψ B[iγ μ B=N,Λ,Σ,Ξ μ M B ]ψ B () dimana ψ B adalah medan baryon dan jumlahnya diperoleh dari N, Λ, Σ, dan Ξ baryon. Selanjutnya, kerapatan Lagrangian untuk meson bebas yaitu [4]: L M free = 1 ( μσ μ σ m σ σ ) 1 4 ω μνω μν + 1 ( μσ μ σ m σ σ ) + 1 m ω ω μ ω μ 1 4 φ μνφ μν + 1 m φ φ μ φ μ 1 4 ρ μνρ μν + 1 m ρ ρ μ ρ μ (3) dimana ω μν, φ μν, dan ρ μν adalah tensor medan yang berhubungan dengan medan meson ω, φ, dan ρ yang dapat didefinisikan sebagai: ω μν = μ ω ν ν ω μ, φ μν = μ φ ν ν φ μ, ρ μν = μ ρ ν ν ρ μ. (4) Untuk Lagrangian interaksi linear antara baryon dan meson yaitu [4]: L lin BM = B=N,Λ,Σ,Ξ ψ B [g σb σ + g σ Bσ γ μ g ωb ω μ 1 γ μg ρb τ B. ρ μ g φb φ μ ] ψ B (5) dimana τ B adalah matriks isospin baryon. Berikutnya, lagrangian yang menjelaskan interaksidiri meson untuk σ, ω dan ρ dapat ditulis sebagai [4]: L nonlin = κ 3g σn m σ 6m N σ 3 κ 4g σnmσ 4m σ 4 N + ζ 0g ωn 4 + η g σnmω 4m N + η ρg σn m ρ m B + η 1ρg σnmρ 4m N + η ρg ωnmρ (ω μ ω μ ) + η 1g σn m ω σω μ ω μ σ ω μ ω μ σρ μ. ρ μ σ ρ μ. ρ μ m N 4m N ω μ ω μ ρ μ. ρ μ (6) Dan kerapatan lagrangian lepton bebasnya yaitu [4]: L free l = ψ l[iγ μ l=e,μ μ M l ]ψ (7) l dimana ψ l adalah medan lepton (e dan μ). Untuk mendapatkan EOS, di sini kami menggunakan dua parameter set untuk setiap coupling constant. Parameter set BSP untuk coupling constant pada kerapatan lagrangian interaksi linear dan nonlinear untuk nucleon dan meson yang diambil dari referensi [19]. Sedangkan parameter set SU(6) symmetry untuk coupling constant pada kerapatan lagrangian interaksi linear antara hyperon dan strange meson yang diambil dari referensi [7]. Parameter set BSP digunakan karena parameter set ini memberikan deskripsi yang lebih baik dari properti global inti berhingga (finite nuclei) dan prediksinya terhadap properti materi nuklir sangat cocok dengan prediksi data dari ion berat [4]. Sedangkan parameter set SU(6) symmetry digunakan karena data-data eksperimen tentang hyperon terbatas karena kedalaman potensialnya [4]. Setelah EOS materi bintang neutron diperoleh, selanjutnya kita menurunkan persamaan TOV untuk menghasilkan properti bintang neutron. Persamaan TOV ini dapat diturunkan dari persamaan medan Einstein dengan asumsi simetri bola statik terpenuhi [0]. Untuk mengakomodasi asumsi tekanan anisotropik dalam inti bintang neutron, di awali dengan menggunakan tensor energi momentum sebagai [4,8,9]: T μν = qg μν + (ε + q)u μ u ν + σk μ k ν ; (8) σ = p q (9) dimana, σ adalah faktor anisotropik, p adalah tekanan radial, q adalah tekanan tangensial, g μν adalah matriks ruang-waktu, u μ dan u ν adalah kecepatan vektor-4 fluida, ε adalah kerapatan energi total, k μ dan k ν adalah satuan kecepatan arah radial dengan u μ k μ = 0. Di sini kita menggunakan matriks standar ruang-waktu simetri bola, yaitu: ds = e ν dt + e λ dr + r (dθ + sin θdφ ) (10) Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-14
3 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: Selanjutnya, substitusikan persamaan energi momentum di atas kedalam persamaan medan Einstein [1], maka diperoleh persamaan TOV untuk bintang neutron anisotropik yaitu [4]: (1+ p ε )(1+4πr3 M ) (r M) dp = Mε σ dr r r dm G = dr 4πr ε (11) Setelah persamaan TOV diperoleh, selanjutnya kita gunakan tiga model anisotropik yaitu model dari Doneva-Yazadjiev (DY), Herrera-Barreto (HB), dan Bowers-Liang (BL). Model DY mengasumsikan sigma berbentuk [9]: σ Λ ( M ) P (1) r Sedangkan untuk model HB sigmanya [8]: σ r (1 h) h P (13) Dan untuk model BL sigmanya adalah [10]: σ c [ ε 3p ] (ε + P)r (14) 1 M r Langkah terakhir, dengan metode numerik, kita bisa mendapatkan properti-properti bintang neutron dari persamaan TOV yang sudah dimodifikasi ke dalam tiga model di atas seperti, massa (M G ), sigma (σ), energy density (ε) dan jari-jarinya (R). 3. Hasil dan Pembahasan Dalam sub bab ini, kita akan membahas efek tekanan anisotropik pada bintang neutron yang diasumsikan terdapat hyperon di dalam intinya. Pada gambar 1 di samping, ditampilkan grafik perbandingan antara massa bintang neutron dengan jari-jarinya untuk beberapa model yang kami gunakan. Dari gambar 1 tersebut dapat kita ketahui bahwa untuk model isotropik, dimana bintang neutron diasumsikan memiliki hyperon di dalam inti tanpa kontribusi dari tekanan anisotropik, massa maksimumnya hanya mencapai M G = 1.74M dengan jari-jari pada massa maksimum yaitu R = 10,85km. Sedangkan jika diberikan tekanan anisotropik, massa maksimum bintang neutron untuk model DY dapat mencapai M G =.08M dengan jari-jari R = 11.9km. Massa maksimum untuk model HB mencapai M G =.09M dengan jari-jari R = 11.87km. Massa maksimum untuk model BL juga mencapai M G =.08M dengan jari-jari R = 11.89km. Sehingga dari data-data tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa tekanan anisotropik dapat meningkatkan massa maksimum Gambar 1. Grafik perbandingan massa bintang neutron terhadap jari-jarinya, untuk model isotropik, Doneva-Yazadjiev (DY), Herrera-Barreto (HB), dan Bowers-Liang (BL). bintang neutron dengan partikel hyperon di dalam intinya secara konsisten. Hal ini sesuai dengan batas massa maksimum bintang neutron yang lebih rendah dari,1 M pada observasi massa dari PSR J dan PSR J Untuk menunjukkan adanya tekanan anisotropik dalam inti bintang neutron, berikut ini ditampilkan grafik antara faktor anisotropik (σ) terhadap jari-jari (R) pada gambar. Untuk semua model anisotropik yang kami gunakan, baik model DY, HB dan BL, hasil faktor anisotropik (σ) menunjukkan nilai yang negatif relatif terhadap jari-jarinya (R). Gambar. Grafik antara faktor anisotropik (σ) terhadap jari-jari (R) untuk model Doneva- Yazadjiev (DY), Herrera-Barreto (HB), dan Bowers-Liang (BL). Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-15
4 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: Pada gambar di atas, untuk model DY, nilai maksimum σ yang diperoleh sebesar -3.86MeVfm -3, dengan jari-jari sebesar 7.km. sedangkan untuk model HB, nilai maksimum σ yang diperoleh sebesar -4.96MeVfm -3, dengan jari-jari sebesar 9.50km. Dan untuk model BL, nilai maksimum σ yang diperoleh sebesar -3.73MeVfm -3, dengan jarijari sebesar 8.34km. Faktor anisotropik (σ) merupakan selisih dari tekanan radial (p) dengan tekanan tangensial (q). Jika selisih nilai yang didapat dari kedua tekanan tersebut adalah nol, artinya tekanan yang bekerja pada bintang neutron tersebut adalah isotropik. Hal ini karena besar dari tekanan radial sama dengan tekanan tangensialnya. Namun jika faktor anisotropiknya (σ) bernilai negatif, dapat kita simpulkan bahwa tekanan yang bekerja dalam bintang neutron adalah anisotropik. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan anisotropik dalam bintang neutron sangat sensitif terhadap jari-jarinya. Sebagai konsekuensi dari bekerjanya tekanan anisotropik pada bintang neutron ber-hyperon, berikut ini kami tampilkan grafik antara energy density (ε) di pusat massa bintang neutron terhadap jari-jarinya (R) pada gambar 3 di bawah ini. semakin besar. Selanjutnya, nilai energy density (ε) mencapai maksimum untuk model DY, ε~1600 dimiliki oleh bintang neutron dengan jari-jari hanya 10.14km. Sedangkan untuk model HB, ε~1600 dimiliki oleh bintang neutron dengan jari-jari yang tidak jauh berbeda, yaitu 10.98km. Dan untuk model BL, ε~1600 dimiliki oleh bintang neutron dengan jari-jari yang serupa, yaitu 10.54km. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa semakin kecil jari-jari bintang neutron, energy density di pusat massa bintang semakin besar. 4. Simpulan Dari semua data pada sub bab hasil dan pembahasan di atas, menunjukkan kepada kita bahwa untuk ketiga model (model DY, HB, dan BL) properti-properti seperti massa (M G ), faktor anisotropik (σ), energy density (ε), dan jari-jari (R) bintang neutron dengan keberadaan hyperon di dalamnya memberikan hasil yang sangat meyakinkan. Hal ini tidak lain adalah karena peran tekanan anisotropik yang seakan-akan memberikan gaya repulsif di dalam inti bintang, sehingga mampu menaikkan massa bintang neutron berhyperon secara konsisten, sesuai dengan observasi massa dari PSR J dan PSR J Ucapan Terimakasih Terima kasih saya tujukan kepada Saipudin, M.Si selaku teman diskusi dalam melakukan komputasi program, sehingga waktu pelaksanaan penelitian menjadi lebih cepat. Daftar Acuan Gambar 3. Grafik antara jari-jari (R) terhadap energy density (ε) di pusat massa bintang neutron ber-hyperon dengan tekanan anisotropik. Pada gambar 3 tampak bahwa perubahan besar jari-jari (R) mempengaruhi energy density (ε) di pusat massa materi bintang neutron. Nilai energy density (ε) minimum untuk model DY, ε~00 dimiliki oleh bintang neutron dengan jari-jari sebesar 1.59km. Sedangkan untuk model HB, ε~00 dimiliki oleh bintang neutron dengan jarijari 13.8km. Dan untuk model BL, ε~00 dimiliki oleh bintang neutron dengan jari-jari 13.10km. Sehingga dari gambar 3 tersebut dapat kita simpulkan bahwa, nilai energy density di pusat massa semakin kecil saat jari-jari bintang neutron Jurnal [1] P. B. Demorest, T. Pennucci, S. M. Ransom, M. S. E. Roberts, and J. W. T. Hessels, Nature 467, 1081 (010). [] J. Antoniadis, P. C. C. Freire, N. Wex, T. M. Tauris, R. S. Lynch, M. H. van Kerkwijk, M. Kramer, C. Bassa, V. S. Dhillon, T. Driebe, J. W. T. Hessels, V. M. Kaspi, V. I. Kondratiev, N. Langer, T. R. Marsh, M. A. McLaughlin, T. T. Pennucci, S. M. Ransom, I. H. Stairs, J. van Leeuwen, J. P. W. Verbiest, and D. G. Whelan, Science (80-. ). 340, 1 (013). [3] B. Kiziltan, A. Kottas, M. De Yoreo, and S. E. Thorsett, Astrophys. J. 778, 66 (013). [4] A. Sulaksono, Int. J. Mod. Phys. E 4, (015). [5] J. L. Zdunik and P. Haensel, Astron. Astrophys. 61, 1 (013). [6] B. D. Lackey, M. Nayyar, and B. J. Owen, Phys. Rev. D 73, 0401 (006). Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-16
5 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: [7] J. Schaffner-Bielich and A. Gal, Phys. Rev. C 6, (000). [8] L. Herrera and W. Barreto, Phys. Rev. D 88, 0840 (013). [9] D. D. Doneva and S. S. Yazadjiev, Phys. Rev. D 85, 1403 (01). [10] R. L. Bowers and E. P. T. Liang, Astrophys. J. 188, 657 (1974). [11] D. Horvat, S. Ilijić, and A. Marunović, Class. Quantum Gravity 8, (011). [1] T. Harko and F. S. N. Lobo, Phys. Rev. D 83, (011). [13] P. H. Nguyen and J. F. Pedraza, Phys. Rev. D 88, (013). [14] J. P. Mimoso, M. Le Delliou, and F. C. Mena, Phys. Rev. D 88, (013). [15] I. Bednarek, P. Haensel, J. L. Zdunik, M. Bejger, and R. Ma, Astron. Astrophys. 157, 1 (01). [16] A. Sulaksono and B. K. Agrawal, Nucl. Phys. A 895, 44 (01). [17] W. Jiang, B. Li, and L. Chen, Astrophys. J. 756, 56 (01). [18] S. Weissenborn, D. Chatterjee, and J. Schaffner-Bielich, Phys. Rev. C 85, (01). [19] B. K. Agrawal, A. Sulaksono, and P.-G. Reinhard, Nucl. Phys. A 88, 1 (01). [0] N. K. Glendenning, Compact Stars: Nuclear Physics, Particle Physics and General Relativity, Second edi (Springer, New York, 000). [1] J. P. W. Diener, Relativistic Mean-Field Theory Applied to the Study of Neutron Star Properties, 008. Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-17
6 Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: e-issn: Seminar Nasional Fisika 016 SNF016-TPN-18
EFEK MESON σ PADA PERSAMAAN KEADAAN BINTANG NEUTRON
DOI: doi.org/10.21009/0305020501 EFEK MESON σ PADA PERSAMAAN KEADAAN BINTANG NEUTRON Alrizal 1), A. Sulaksono 2) 1,2 Departemen Fisika FMIPA UI, Kampus UI Depok, 16424 1) [email protected], 2) [email protected]
KARAKTERISTIK SYMMETRIC NUCLEAR MATTER PADA TEMPERATUR NOL
KARAKTERISTIK SYMMETRIC NUCLEAR MATTER PADA TEMPERATUR NOL Annisa Fitri 1, Anto Sulaksono 2 1,2 Departemen Fisika FMIPA UI, Kampus UI Depok, 16424 1 [email protected] 2 [email protected]
PROTON DRIPLINE PADA ISOTON N = 28 DALAM MODEL RELATIVISTIC MEAN FIELD (RMF)
PROTON DRIPLINE PADA ISOTON N = 28 DALAM MODEL RELATIVISTIC MEAN FIELD (RMF) J. P. Diningrum *), A. M. Nugraha, N. Liliani, A. Sulaksono Departemen Fisika Murni dan Terapan, FMIPA, Universitas Indonesia,
EFEK SEBARAN BOSON INHOMOGEN PADA BINTANG BOSON
EFEK SEBARAN BOSON INHOMOGEN PADA BINTANG BOSON M. Fitrah Alfian R. S. *), Anto Sulaksono Departemen Fisika FMIPA UI, Kampus UI Depok, 1644 *) [email protected] Abstrak Bintang boson statis dengan
Sifat-sifat Bintang Neutron Berotasi Lambat
Sifat-sifat Bintang Neutron Berotasi Lambat Tesis Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Magister Sains dalam Ilmu Fisika Kasmudin 7617168 Program Magister Ilmu Fisika Fakultas Matematika
TRANSISI FASA MATERI HADRONIK KE MATERI KUARK PADA INTI BINTANG NEUTRON EFENDI
TRANSISI FASA MATERI HADRONIK KE MATERI KUARK PADA INTI INTANG NEUTRON EFENDI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN OGOR OGOR 217 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
FENOMENA HALO BERDASARKAN MODEL RELATIVISTIC MEAN FIELD (RMF)
FENOMENA HALO BERDASARKAN MODEL RELATIVISTIC MEAN FIELD (RMF) A. M. Nugraha 1*), J. P. Diningrum 1 ), N. Liliani 1 ), T. Sumaryada 2 ), A. Sulaksono 1 ) 1 Departemen Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia,
Verifikasi Perhitungan Partial Wave untuk Hamburan!! n
Verifikasi Perhitungan Partial Wave untuk Hamburan n L dy Mascow Abdullah, Imam Fachruddin, Agus Salam 1. Departemen Fisika, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia 2. Departemen Fisika, Universitas
MEDAN SKALAR DENGAN SUKU KINETIK POWER LAW
Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 http://snf-unj.ac.id/kumpulan-prosiding/snf016/ VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: 339-0654 e-issn: 476-9398 DOI: doi.org/10.1009/030500505 KOMPAKTIFIKASI
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang W. Baade dan F. Zwicky pada tahun 1934 berpendapat bahwa bintang neutron terbentuk dari ledakan besar (supernova) dari bintang-bintang besar akibat tekanan yang dihasilkan
BAB I PENDAHULUAN. akibat dari interaksi di antara penyusun inti tersebut. Penyusun inti meliputi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem inti dapat dipelajari melalui kesatuan sistem penyusun inti sebagai akibat dari interaksi di antara penyusun inti tersebut. Penyusun inti meliputi proton
Efek Relativistik Pada Hamburan K + n
Efek Relativistik Pada Hamburan K + n Putu Adi Kusuma Yudha l, Dr. Agus Salam 2, Dr. Imam Fachruddin 3 1. Departemen Fisika, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia 2. Departemen Fisika, Universitas
Metrik Reissner-Nordström dalam Teori Gravitasi Einstein
JURNAL FISIKA DAN APLIKASINYA VOLUME 13, NOMOR 1 JANUARI 17 Metrik Reissner-Nordström dalam Teori Gravitasi Einstein Canisius Bernard Program Studi Fisika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains, Universitas
I. Pendahuluan Listrik Magnet Listrik berkaitan dengan teknologi modern: komputer, motor dsb. Bukan hanya itu
I. Pendahuluan Listrik Magnet Listrik berkaitan dengan teknologi modern: komputer, motor dsb. Bukan hanya itu 1 Muatan Listrik Contoh klassik: Penggaris digosok-gosok pada kain kering tarik-menarik dengan
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN : Analisis Lintasan Foton Dalam Ruang-Waktu Schwarzschild
Analisis Lintasan Foton Dalam Ruang-Waktu Schwarzschild Urai astri lidya ningsih 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura; e-mail: [email protected]
SOLUSI PERSAMAAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN-KLEIN-GORDON SIMETRI BOLA
SOLUSI PERSAMAAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN-KLEIN-GORDON SIMETRI BOLA Abdul Muin Banyal 1, Bansawang B.J. 1, Tasrief Surungan 1 1 Jurusan Fisika Universitas Hasanuddin Email : [email protected] Ringkasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.4. Hipotesis 1. Model penampang hamburan Galster dan Miller memiliki perbedaan mulai kisaran energi 0.3 sampai 1.0. 2. Model penampang hamburan Galster dan Miller memiliki kesamaan pada kisaran energi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dan medan hidrodinamik. Pertama, dengan menentukan potensial listrik V dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Analisis Elektrohidrodinamik Analisis elektrohidrodinamik dimulai dengan mengevaluasi medan listrik dan medan hidrodinamik. Pertama, dengan menentukan potensial listrik
EFEK PAIRING PADA ISOTOP Sn (N>82) DALAM TEORI BCS MENGGUNAKAN SEMBILAN TINGKAT ENERGI
EFEK PAIRING PADA ISOTOP Sn (N>82) DALAM TEORI BCS MENGGUNAKAN SEMBILAN TINGKAT ENERGI ALPI MAHISHA NUGRAHA [email protected] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengetahuan manusia tentang benda-benda di luar angkasa terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu benda angkasa yang menarik perhatian adalah bintang.
FOTOPRODUKSI MESON-ETA PADA PROTON
FOTOPRODUKSI MESON-ETA PADA PROTON Alhidayatuddiniyah T.W. Program Studi Informatika, Universitas Indraprasta PGRI [email protected] Abstrak Telah diinvestigasi reaksi fotoproduksi γp ηp dengan tujuan
Kemudian, diterapkan pengortonormalan terhadap x 2 dan x 3 pada persamaan (1), sehingga diperoleh
SOLUSI VAKUM PERSAMAAN MEDAN EINSTEIN UNTUK BENDA SIMETRI AKSIAL STASIONER MENGGUNAKAN PERSAMAAN ERNST Aldytia Gema Sukma 1, Drs. Bansawang BJ, M.Si, Dr. Tasrief Surungan, M.Sc 3 Universitas Hasanuddin,
Inti Atom dan Penyusunnya. Sulistyani, M.Si.
Inti Atom dan Penyusunnya Sulistyani, M.Si. Email: [email protected] Eksperimen Marsden dan Geiger Pendahuluan Teori tentang atom pertama kali dikemukakan oleh Dalton bahwa atom bagian terkecil dari
Xpedia Fisika DP SNMPTN 05
Xpedia Fisika DP SNMPTN 05 Doc. Name: XPFIS9910 Version: 2012-06 halaman 1 Sebuah bola bermassa m terikat pada ujung sebuah tali diputar searah jarum jam dalam sebuah lingkaran mendatar dengan jari-jari
Perluasan Model Statik Black Hole Schwartzchild
Perluasan Model Statik Black Hole Schwartzchild Abd Mujahid Hamdan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-raniry, Banda Aceh, Indonesia [email protected] Abstrak: Telah dilakukan perluasan model black
DAFTAR SIMBOL. : permeabilitas magnetik. : suseptibilitas magnetik. : kecepatan cahaya dalam ruang hampa (m/s) : kecepatan cahaya dalam medium (m/s)
DAFTAR SIMBOL n κ α R μ m χ m c v F L q E B v F Ω ħ ω p K s k f α, β s-s V χ (0) : indeks bias : koefisien ekstinsi : koefisien absorpsi : reflektivitas : permeabilitas magnetik : suseptibilitas magnetik
Universitas Indonesia. Asimetri Isospin Pada Materi Quark. Skripsi. Ali Ikhsanul Qauli
Asimetri Isospin Pada Materi Quark Skripsi Ali Ikhsanul Qauli 100665913 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Fisika Depok April 014 Asimetri Isospin Pada Materi Quark Skripsi Diajukan
KOMPARASI LAJU KONVERGENSI METODE EULER DAN RUNGE-KUTTA DALAM PENENTUAN MASSA DAN RADIUS TERSKALA WHITE DWARFS
KOMPARASI LAJU KONVERGENSI METODE EULER DAN RUNGE-KUTTA DALAM PENENTUAN MASSA DAN RADIUS TERSKALA WHITE DWARFS Redi K. Pingak Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana ABSTRACT
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal. 1-7 ISSN : Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (13), Hal. 1-7 ISSN : 337-8 Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet Nurul Asri 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas
Bab III Model Proses Deformasi Benang Viscoelastis Linear di Lingkungan Fluida Newton
Bab III Model Proses Deformasi Benang Viscoelastis Linear di Lingkungan Fluida Newton III.1 Stress dan Strain Salah satu hal yang penting dalam pengkonstruksian model proses deformasi suatu fluida adalah
JURNAL INFORMATIKA HAMZANWADI Vol. 2 No. 1, Mei 2017, hal. 20-27 ISSN: 2527-6069 SOLUSI PERSAMAAN DIRAC UNTUK POTENSIAL POSCH-TELLER TERMODIFIKASI DENGAN POTENSIAL TENSOR TIPE COULOMB PADA SPIN SIMETRI
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET Hani Nurbiantoro Santosa, PhD [email protected] 2 BAB 2 MEDAN LISTRIK DAN HUKUM GAUSS Pendahuluan, Distribusi Muatan Kontinu, Mencari Medan Listrik Menggunakan Integral,
Simulasi Geometri Nanoserat Hasil Pemintalan Elektrik
Jurnal Nanosains & Nanoteknologi ISSN 1979-0880 Edisi Khusus, Agustus 2009 Simulasi Geometri Nanoserat Hasil Pemintalan Elektrik Sahrul Saehana (a), Mikrajuddin Abdullah, dan Khairurrijal (b) Kelompok
Dinamika Pertukaran Partikel Pada Interaksi Nukleon-Nukleon Dalam Potensial Lokal
ISSN:89 133 Indonesian Journal of Applied Physics (1) Vol. No.1 halaman 15 April 1 Dinamika Pertukaran Partikel Pada Interaksi Nukleon-Nukleon Dalam Potensial Lokal R. Yosi Aprian Sari 1, Supardi 1, Agung
TENSOR KONTRAVARIAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BINTANG NEUTRON YANG BEROTASI CEPAT DIUKUR OLEH PENGAMAT ZAMO (ZERO ANGULAR MOMENTUM OBSERVERS)
41 A. Yasrina, Tensor Kontravarian TENSOR KONTRAVARIAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BINTANG NEUTRON YANG BEROTASI CEPAT DIUKUR OLEH PENGAMAT ZAMO (ZERO ANGULAR MOMENTUM OBSERVERS) Atsnaita Yasrina* Jurusan Fisika,
SOAL PEMBINAAN JARAK JAUH IPhO 2017 Pekan V Dosen Penguji : Dr. Rinto Anugraha
SOAL PEMBINAAN JARAK JAUH IPhO 2017 Pekan V Dosen Penguji : Dr. Rinto Anugraha 1. Pulsar, Bintang Netron, Bintang dan Keruntuhan Gravitasi 1A. Pulsar Pulsar atau Pulsating Radio Sources pertama kali diamati
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, teori dan observasi mengenai benda-benda langit seperti bintang, planet, galaksi serta benda
SOAL LATIHAN PEMBINAAN JARAK JAUH IPhO 2017 PEKAN VIII
SOAL LATIHAN PEMBINAAN JARAK JAUH IPhO 2017 PEKAN VIII 1. Tumbukan dan peluruhan partikel relativistik Bagian A. Proton dan antiproton Sebuah antiproton dengan energi kinetik = 1,00 GeV menabrak proton
Penentuan Fungsi Struktur Proton dari Proses Deep Inelastic Scattering e + p e + X dengan Menggunakan Model Quark - Parton
Penentuan Fungsi Struktur Proton dari Proses Deep Inelastic Scattering e + p e + X dengan Menggunakan Model Quark - Parton M.Fauzi M., T. Surungan, dan Bangsawan B.J. Departemen Fisika, Universitas Hasanuddin,
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Dapat menambah informasi dan referensi mengenai interaksi nukleon-nukleon
F. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Dapat menambah informasi dan referensi mengenai interaksi nukleon-nukleon di dalam inti atom yang menggunakan potensial Yukawa. 2. Dapat
Reproduksi Kurva Magnetisasi bagi Superkonduktor Mesoskopik Tipe II Berdasarkan Simulasi Numerik Persamaan TDGL
FOTON, Jurnal Fisika dan Pembelajarannya Volume 11, Nomor 2, Agustus 27 Reproduksi Kurva Magnetisasi bagi Superkonduktor Mesoskopik Tipe II Berdasarkan Simulasi Numerik Persamaan TDGL Hari Wisodo Jurusan
Chap 7a Aplikasi Distribusi. Fermi Dirac (part-1)
Chap 7a Aplikasi Distribusi Fermi Dirac (part-1) Teori Bintang Katai Putih Apakah bintang Katai Putih Bintang yg warnanya pudar/pucat krn hanya memancarkan sedikit cahaya krn supply hidrogennya sudah tinggal
LAMPIRAN A. (Beberapa Besaran Fisika, Faktor konversi dan Alfabet Yunani)
LAMPIRAN A (Bebeapa Besaan Fisika, Fakto konvesi dan Alfabet Yunani) Bebeapa Tetapan dan Besaan Fisika Massa matahai Jai-jai matahai Massa bumi Kecepatan cahaya Konstanta gavitasi = 1,99 10 30 kg = 6,9599
Chap. 8 Gas Bose Ideal
Chap. 8 Gas Bose Ideal Model: Gas Foton Foton adalah Boson yg tunduk kepada distribusi BE. Model: Foton memiliki frekuensi ω, rest mass=0, spin 1ħ Energi E=ħω dan potensial kimia =0 Momentum p = ħ k, dengan
Bab 2. Persamaan Einstein dan Ricci Flow. 2.1 Geometri Riemann
Bab 2 Persamaan Einstein dan Ricci Flow 2.1 Geometri Riemann Sebuah himpunan M disebut sebagai manifold jika tiap titik Q dalam M memiliki lingkungan terbuka S yang dapat dipetakan 1-1 melalui sebuah pemetaan
SOLUSI PERSAMAAN DIRAC PADA KASUS SPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL SCARF TRIGONOMETRIK PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN METODE POLINOMIAL ROMANOVSKI
SOLUSI PERSAMAAN DIRAC PADA KASUS SPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL SCARF TRIGONOMETRIK PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN METODE POLINOMIAL ROMANOVSKI Alpiana Hidayatulloh 1, Suparmi, Cari Jurusan Ilmu Fisika
UNIVERSITAS INDONESIA LINTASAN BEBAS RATA-RATA NEUTRINO DI BINTANG QUARK SKRIPSI SAIPUDIN 0706262741
UNIVERSITAS INDONESIA LINTASAN BEBAS RATA-RATA NEUTRINO DI BINTANG QUARK SKRIPSI SAIPUDIN 0706262741 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM STUDI FISIKA DEPOK NOPEMBER 2012 UNIVERSITAS INDONESIA
Lembar Pengesahan JURNAL. Telaah Fundamental Weak Interaction dan Nambu-Goldstone. ( Suatu Penelitian Teori Berupa Studi Pustaka )
Lembar Pengesahan JURNAL Telaah Fundamental Weak Interaction dan Nambu-Goldstone ( Suatu Penelitian Teori Berupa Studi Pustaka ) Oleh La Sabarudin 4 4 97 Telah diperiksa dan disetujui oleh TELAAH FUNDAMENTAL
Bab 2. Geometri Riemann dan Persamaan Ricci Flow. 2.1 Geometri Riemann Manifold Riemannian
Bab 2 Geometri Riemann dan Persamaan Ricci Flow 2.1 Geometri Riemann Geometri Riemann pertama kali dikemukakan secara general oleh Bernhard Riemann pada abad ke 19. Pada bagian ini akan diberikan penjelasan
KB.2 Fisika Molekul. Hal ini berarti bahwa rapat peluang untuk menemukan kedua konfigurasi tersebut di atas adalah sama, yaitu:
KB.2 Fisika Molekul 2.1 Prinsip Pauli. Konsep fungsi gelombang-fungsi gelombang simetri dan antisimetri berlaku untuk sistem yang mengandung partikel-partikel identik. Ada perbedaan yang fundamental antara
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET Hani Nurbiantoro Santosa, PhD [email protected] 2 BAB 1 PENDAHULUAN Atom, Interaksi Fundamental, Syarat Matematika, Syarat Fisika, Muatan Listrik, Gaya Listrik, Pengertian
PENERAPAN PERSAMAAN PROCA DAN PERSAMAAN MAXWELL PADA MEDAN ELEKTROMAGNETIK UNTUK ANALISIS MASSA FOTON
PENERAPAN PERSAMAAN PROCA DAN PERSAMAAN MAXWELL PADA MEDAN ELEKTROMAGNETIK UNTUK ANALISIS MASSA FOTON Disusun oleh: OKY RIO PAMUNGKAS M0213069 SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Hukum gravitasi Newton mampu menerangkan fenomena benda-benda langit yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi antar benda. Namun, hukum gravitasi Newton ini tidak sesuai dengan teori
Bab 5. Migrasi Planet
Bab 5 Migrasi Planet Planet-planet raksasa diduga memiliki inti padat yang dibentuk oleh material yang tidak dapat terkondensasi jika terletak sangat dekat dengan bintang utamanya. Karenanya sangatlah
Pendahuluan. Setelah mempelajari bab 1 ini, mahasiswa diharapkan
1 Pendahuluan Tujuan perkuliahan Setelah mempelajari bab 1 ini, mahasiswa diharapkan 1. Mengetahui gambaran perkuliahan. Mengerti konsep dari satuan alamiah dan satuan-satuan dalam fisika partikel 1.1.
1/24 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) FLUIDA. menu. Mirza Satriawan. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta
1/24 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) FLUIDA Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Pendahuluan Dalam bagian ini kita mengkhususkan diri pada materi
Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia
ANALISIS SIFAT-SIFAT PION DALAM REAKSI INTI DALAM TERAPI PION R. Yosi Aprian Sari Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY; [email protected], 081578010933 Abstrak Pion dapat dihasilkan dari interaksi proton
Teori Relativitas. Mirza Satriawan. December 7, Fluida Ideal dalam Relativitas Khusus. M. Satriawan Teori Relativitas
Teori Relativitas Mirza Satriawan December 7, 2010 Fluida Ideal dalam Relativitas Khusus Quiz 1 Tuliskan perumusan kelestarian jumlah partikel dengan memakai vektor-4 fluks jumlah partikel. 2 Tuliskan
Momen Inersia. distribusinya. momen inersia. (karena. pengaruh. pengaruh torsi)
Gerak Rotasi Momen Inersia Terdapat perbedaan yang penting antara masa inersia dan momen inersia Massa inersia adalah ukuran kemalasan suatu benda untuk mengubah keadaan gerak translasi nya (karena pengaruh
PELATIHAN OSN JAKARTA 2016 LISTRIK MAGNET (BAGIAN 1)
PLATIHAN OSN JAKATA 2016 LISTIK MAGNT (AGIAN 1) 1. Partikel deuterium (1 proton, 1 neutron) dan partikel alpha (2 proton, 2 neutron) saling mendekat dari jarak yang sangat jauh dengan energi kinetik masing-masing
MODEL PENAMPANG BUJUR BINTANG BEROTASI DENGAN VARIASI KECEPATAN SUDUT
MODEL PENAMPANG BUJUR BINTANG BEROTASI DENGAN VARIASI KECEPATAN SUDUT Iwan Setiawan 1 ABSTRAK: Konfigurasi kesetimbangan mekanis pada bintang-bintang berotasi ditelaah melalui model Roche. Pada kajian
Pengaruh Konstanta Kosmologi Terhadap Model Standar Alam Semesta
B-8 JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. (6) 7-5 (-98X Print) Pengaruh Konstanta Kosmologi Terhadap Model Standar Alam Semesta Muhammad Ramadhan dan Bintoro A. Subagyo Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Institut
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130 Data 1. Besaran Statistika berbicara tentang data dalam bentuk besaran (dimensi) Besaran adalah sesuatu yang dapat dipaparkan secara jelas dan pada prinsipnya dapat
UNIVERSITAS INDONESIA LINTASAN BEBAS RATA-RATA NEUTRINO DI BINTANG QUARK SKRIPSI SAIPUDIN
UNIVERSITAS INDONESIA LINTASAN BEBAS RATA-RATA NEUTRINO DI BINTANG QUARK SKRIPSI SAIPUDIN 0706262741 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM STUDI FISIKA DEPOK NOPEMBER 2012 UNIVERSITAS INDONESIA
Fisika Dasar II Listrik, Magnet, Gelombang dan Fisika Modern
Fisika Dasar II Listrik, Magnet, Gelombang dan Fisika Modern Pokok ahasan Medan Magnetik Abdul Waris Rizal Kurniadi Noitrian Sparisoma Viridi Topik Pengantar Gaya Magnetik Gaya Lorentz ubble Chamber Velocity
KONSEP DASAR STATISTIK
KONSEP DASAR STATISTIK DATA STATISTIK Data 1. Besaran Statistika berbicara tentang data dalam bentuk besaran (dimensi) Besaran adalah sesuatu yang dapat dipaparkan secara jelas dan pada prinsipnya dapat
LAPORAN PENELITIAN KAJIAN KOMPUTASI KUANTISASI SEMIKLASIK VIBRASI MOLEKULER SISTEM DIBAWAH PENGARUH POTENSIAL LENNARD-JONES (POTENSIAL 12-6)
LAPORAN PENELITIAN KAJIAN KOMPUTASI KUANTISASI SEMIKLASIK VIBRASI MOLEKULER SISTEM DIBAWAH PENGARUH POTENSIAL LENNARD-JONES (POTENSIAL 1-6) Oleh : Warsono, M.Si Supahar, M.Si Supardi, M.Si FAKULTAS MATEMATIKA
OPTIMASI PARAMETER POTENSIAL NUKLIR BAGI REAKSI FUSI ANTAR INTI-INTI BERAT
JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 13 NOMOR 2 JUNI 2017 OPTIMASI PARAMETER POTENSIAL NUKLIR BAGI REAKSI FUSI ANTAR INTI-INTI BERAT Viska Inda Variani 1, Vivin Fitrya Ningsih 1, Muhammad Zamrun F. 1, 1 Jurusan
Soal-Jawab Fisika Teori OSN 2013 Bandung, 4 September 2013
Soal-Jawab Fisika Teori OSN 0 andung, 4 September 0. (7 poin) Dua manik-manik masing-masing bermassa m dan dianggap benda titik terletak di atas lingkaran kawat licin bermassa M dan berjari-jari. Kawat
Kaji Ulang Model Nilsson untuk Proton atau Neutron dengan Z, N 50
Jurnal Fisika Indonesia Tri Sulistyani dan Candra Dewi Vol. 19 2015) No. 57 p.76-81 ARTIKEL RISET Kaji Ulang Model Nilsson untuk Proton atau Neutron dengan Z, N 50 Eko Tri Sulistyani * dan Nilam Candra
3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,
3. ORBIT KEPLERIAN AS 2201 Mekanika Benda Langit 1 3.1 PENDAHULUAN Mekanika Newton pada mulanya dimanfaatkan untuk menentukan gerak orbit benda dalam Tatasurya. Misalkan Matahari bermassa M pada titik
FOTOPRODUKSI η-meson PADA NUKLEON DENGAN MODEL ISOBAR
FOTOPRODUKSI η-meson PADA NUKLEON DENGAN MODEL ISOBAR Maya Puspitasari Izaak 1, Agus Salam 1 1 Departemen Fisika, FMIPA-UI, Kampus UI Depok 16424 [email protected], [email protected] Abstrak Telah
Listrik Statik. Agus Suroso
Listrik Statik Agus Suroso Muatan Listrik Ada dua macam: positif dan negatif. Sejenis tolak menolak, beda jenis tarik menarik. Muatan fundamental e =, 60 0 9 Coulomb. Atau, C = 6,5 0 8 e. Atom = proton
PERHITUNGAN ARAS-ARAS TENAGA PARTIKEL TUNGGAL INTI BOLA DENGAN POTENSIAL SAXON-WOODS
PTNBR BATAN Bandung, 7 Juli 007 PERHITUNGAN ARAS-ARAS TENAGA PARTIKEL TUNGGAL INTI BOLA DENGAN POTENSIAL SAXON-WOODS Raden Oktova dan Slamet Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta Kampus
KINEMATIKA. Fisika. Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom
KINEMATIKA Fisika Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom Sasaran Pembelajaran Indikator: Mahasiswa mampu mencari besaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1 Atom Pion Atom pion sama seperti atom hidrogen hanya elektron nya diganti menjadi sebuah pion negatif. Partikel ini telah diteliti sekitar empat puluh tahun yang lalu, tetapi
LAMPIRAN A. Ringkasan Relativitas Umum
LAMPIRAN A Ringkasan Relativitas Umum Besaran fisika harus invarian terhadap semua kerangka acuan. Kalimat tersebut merupakan prinsip relativitas khusus yang pertama. Salah satu besaran yang harus invarian
LAMPIRAN I. Alfabet Yunani
LAMPIRAN I Alfabet Yunani Alha Α Nu Ν Beta Β Xi Ξ Gamma Γ Omicron Ο Delta Δ Pi Π Esilon Ε Rho Ρ Zeta Ζ Sigma Σ Eta Η Tau Τ Theta Θ Usilon Υ Iota Ι hi Φ, Kaa Κ Chi Χ Lambda Λ Psi Ψ Mu Μ Omega Ω LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Telah banyak model fisika partikel yang dikembangkan oleh fisikawan untuk mencoba menjelaskan keberadaan partikel-partikel elementer serta interaksi yang menyertainya.
VI. Teori Kinetika Gas
VI. Teori Kinetika Gas 6.1. Pendahuluan dan Asumsi Dasar Subyek termodinamika berkaitan dengan kesimpulan yang dapat ditarik dari hukum-hukum eksperimen tertentu, dan memanfaatkan kesimpulan ini untuk
UNIVERSITAS INDONESIA MODEL POINT-KOPLING DENGAN KONSTANTA KOPLING BERGANTUNG DENSITAS TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA MODEL POINT-KOPLING DENGAN KONSTANTA KOPLING BERGANTUNG DENSITAS TESIS SYAEFUDIN JAELANI 1206306312 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PASCASARJANA FISIKA MURNI
Skyrmion, Soliton, Baryon, Pemetaan Harmonik dan Teori Medan
Skyrmion, Soliton, Baryon, Pemetaan Harmonik dan Teori Medan Miftachul Hadi 1, Hans J. Wospakrik 2 1 Applied Mathematics for Biophysics Group Physics Research Centre LIPI Puspiptek, Serpong, Tangerang
PERHITUNGAN MASSA KLASIK SOLITON
PERHITUNGAN MASSA KLASIK SOLITON ALHIDAYATUDDINIYAH T.W. [email protected] Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indraprasta PGRI Abstrak.
KONSEP DASAR STATISTIK
KONSEP DASAR STATISTIK Hakikat Statistika 1. Asal Kata Kata statistika berasal dari kata status atau statista yang berarti negara Tulisan Aristoteles Politeia menguraikan keadaan dari 158 negara yakni
Bab 1. Muatan dan Materi. 1.1 Teori Elektromagnetisme Muatan listrik. (ref: Bab 23)
Bab 1 Muatan dan Materi (ref: Bab 23) 1.1 Teori Elektromagnetisme Muatan listrik Konduktor, isolator, dan semikonduktor Coulomb dan ampere Hukum Coulomb Superposisi untuk banyak muatan titik Muatan itu
SOLUSI PERSAMAAN DIRAC DENGAN PSEUDOSPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL ROSEN MORSE PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLYNOMIAL ROMANOVSKI
32 Jurnal Sangkareang Mataram SOLUSI PERSAMAAN DIRAC DENGAN PSEUDOSPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL ROSEN MORSE PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLYNOMIAL ROMANOVSKI Oleh: Alpiana Hidayatulloh
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol. 16, No. 2, Oktober 2015
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol. 16, No., Oktober 15 Analisis Persamaan Dirac untuk Potensial Pöschl-Teller Trigonometrik dan Potensial Scarf Trigonometrik pada Kasus Spin Simetri Bagian Radial
PERHITUNGAN NUMERIK DALAM MENENTUKAN KESTABILAN SOLITON CERAH ONSITE PADA PERSAMAAN SCHRÖDINGER NONLINIER DISKRIT DENGAN PENAMBAHAN POTENSIAL LINIER
Jurnal Matematika UNAND Vol 3 No 3 Hal 68 75 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PERHITUNGAN NUMERIK DALAM MENENTUKAN KESTABILAN SOLITON CERAH ONSITE PADA PERSAMAAN SCHRÖDINGER NONLINIER
Persamaan Dirac, Potensial Scarf Hiperbolik, Pseudospin symetri, Coulomb like tensor, metode Polynomial Romanovski PENDAHULUAN
Jurnal Sangkareang Mataram 51 FUNGSI GELOMBANG SPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL SCARF HIPERBOLIK PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLYNOMIAL ROMANOVSKI Oleh: Alpiana Hidayatulloh Dosen Tetap
Saat mempelajari gerak melingkar, kita telah membahas hubungan antara kecepatan sudut (ω) dan kecepatan linear (v) suatu benda
1 Benda tegar Pada pembahasan mengenai kinematika, dinamika, usaha dan energi, hingga momentum linear, benda-benda yang bergerak selalu kita pandang sebagai benda titik. Benda yang berbentuk kotak misalnya,
Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Bidang Inklinasi
1 Jurnal Matematika, Statistika, & Komputasi Vol 5 No 1, 1-9, Juli 2008 Kestabilan Aliran Fluida Viskos Tipis pada Bidang Inklinasi Sri Sulasteri Jurusan Pend. Matematika UIN Alauddin Makassar Jalan Sultan
Transport Phenomena. Dr. Heru Setyawan Jurusan Teknik Kimia FT-ITS
Transport Phenomena Turbulensi Dr. Heru Setawan Jurusan Teknik Kimia FT-ITS Aliran laminar dan turbulent t 1 Pemodelan Turbulensi Semua pendekatan ang telah kita bahas sampai sejauh ini berlaku untuk aliran
Teori Dasar Gelombang Gravitasi
Bab 2 Teori Dasar Gelombang Gravitasi 2.1 Gravitasi terlinearisasi Gravitasi terlinearisasi merupakan pendekatan yang memadai ketika metrik ruang waktu, g ab, terdeviasi sedikit dari metrik datar, η ab
Catatan Kuliah MEKANIKA FLUIDA
Catatan Kuliah MEKANIKA FLUIDA Disusun oleh: AR ROHIM 14/371863/PPA/04607 PROGRAM STUDI S2 FISIKA DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA 2016 1 Daftar Isi
Elektron Bebas. 1. Teori Drude Tentang Elektron Dalam Logam
Elektron Bebas Beberapa teori tentang panas jenis zat padat yang telah dibahas dapat dengan baik menjelaskan sifat-sfat panas jenis zat padat yang tergolong non logam, akan tetapi untuk golongan logam
Alpiana Hidayatulloh Dosen Tetap pada Fakultas Teknik UNTB
6 Jurnal Sangkareang Mataram ISSN No. -99 SOLUSI PERSAMAAN DIRAC DENGAN PSEUDOSPIN SIMETRI UNTUK POTENSIAL SCARF TRIGONOMETRIK PLUS COULOMB LIKE TENSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLYNOMIAL ROMANOVSKI Oleh:
