BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Liana Budiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam matematika dikenal konsep fungsi naik monoton dan fungsi turun monoton. Jika f : R R merupakan fungsi naik monoton maka untuk setiap x, y R dengan x y berlaku hubungan: f(x) f(y) 0. Dengan kata lain, jika f merupakan fungsi naik maka untuk setiap x, y R berlaku: (f(x) f(y)) (x y) 0. (1.1) Dengan pengertian seperti yang dituliskan pada persamaan (1.1), konsep fungsi monoton dapat digeneralisasi untuk fungsi bernilai real yang terdefinisi di ruang yang lebih besar seperti R n atau di ruang Hilbert. Salah satu caranya adalah dengan menggantikan perkalian di R dengan inner product yang bersesuaian. Lebih luas, sifat yang ditunjukkan pada persamaan (1.1) dapat didefinisikan untuk pemetaan dengan domain ruang Banach ke dualnya, dengan peran dari inner product digantikan dengan perkalian nilai-nilai fungsinya. Berangkat dari hal tersebut, teori mengenai pemetaan monoton dari ruang Banach ke dualnya terus berkembang di berbagai cabang ilmu matematika. Pada awalnya, pendefinisian pemetaan monoton hanya terbatas pada pemetaan bernilai tunggal (single valued). Akan tetapi karena pada fungsi f : R R istilah monoton seringkali dihubungkan dengan diferensial f maka pendefinisian pemetaan monoton secara umum mulai dihubungkan dengan generalisasi diferensial yaitu subdiferensial, yang merupakan fungsi bernilai himpunan (set valued mapping). Oleh karena itu, pendefinisian pemetaan monoton diperluas untuk pemetaan- 1
2 2 pemetaan yang bernilai himpunan (set valued mapping) dengan mendefinisikan melalui grafiknya (Zeidler, 1990). Pemetaan monoton T adalah pemetaan (dapat berupa set valued mapping) dari ruang Banach X ke ruang dualnya, yaitu X, sehingga grafik pemetaan T memenuhi sifat [T (x) T (y)](x y) 0 untuk setiap x, y X. Dengan memahami pemetaan monoton berdasarkan grafiknya, setiap pemetaan monoton T dapat diperluas ke pemetaan monoton T sehingga grafik pemetaan T merupakan himpunan bagian dari grafik pemetaan T. Pemetaan monoton yang grafiknya tidak memiliki perluasan sesuai dengan pengertian di atas disebut dengan pemetaan monoton maksimal. Berbagai sifat pemetaan monoton maksimal telah ditemukan sejak tahun Salah satu di antaranya adalah bahwa jumlahan dua pemetaan monoton maksimal merupakan pemetaan monoton maksimal dengan tambahan syarat tertentu (Rockafellar, 1970). Selain itu, dibuktikan bahwa subdiferensial fungsi konveks yang semikontinu bawah dan proper merupakan pemetaan monoton maksimal (Rockafellar, 1970) dan bahwa pemetaan monoton maksimal pada ruang Banach dengan tambahan syarat tertentu memiliki domain dengan interior dan klosurnya merupakan himpunan konveks (Rockafellar, 1969). Dengan menggunakan pengertian invers pemetaan bernilai himpunan, diperoleh bahwa klosur dan interior range suatu pemetaan monoton maksimal merupakan himpunan konveks (Phelps,1997). Tetapi hal ini hanya berlaku pada ruang Banach refleksif. Untuk ruang Banach nonrefleksif, Simon Fitzpatrick dapat memberikan contoh pemetaan monoton maksimal dengan interior range yang tidak konveks (Phelps,1997). Hal ini menjadikan dasar bahwa perlu diberikan ketentuan tambahan untuk pemetaan monoton maksimal pada ruang Banach nonrefleksif agar memiliki range yang interior dan klosurnya konveks. Gossez (1971) memperkenalkan pemetaan monoton maksimal bertipe D (dense) dan berhasil membuktikan bahwa pemetaan tipe ini mempertahankan beberapa sifat penting yang telah ditemukan oleh Rockafellar pada ruang Banach no-
3 3 nrefleksif. Fitzpatrick (1988) memperkenalkan tipe pemetaan monoton maksimal yang disebut locally maximal monotone (selanjutnya disebut tipe FP) dan membuktikan bahwa pemetaan tipe ini mempertahankan beberapa sifat penting yang telah ditemukan oleh Rockafellar di ruang Banach nonrefleksif. Selain kedua tipe di atas, masih banyak diperkenalkan tipe-tipe pemetaan monoton maksimal yang lain pada ruang nonrefleksif yang masih mempertahankan sifat penting tersebut. Dengan munculnya definisi tipe-tipe baru tersebut, sifat-sifat pemetaan monoton maksimal di ruang nonrefleksif semakin sulit untuk dihubungkan dengan contoh-contoh fungsi di dunia nyata. Untuk itu, perlu diselidiki hubungan antara tipe-tipe baru tersebut. Jika dapat diketahui bahwa salah satu tipe merupakan generalisasi dari tipe yang lain maka besar kemungkinan sifat-sifat baru pemetaan monoton maksimal di ruang nonrefleksif dapat diaplikasikan ke permasalahan di dunia nyata yang berkaitan dengan pemetaan monoton di ruang nonrefleksif Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian ini adalah 1. Memaparkan definisi, contoh-contoh dan sifat-sifat utama pemetaan monoton maksimal di ruang Banach refleksif. 2. Memberikan contoh kasus di ruang Banach nonrefleksif yang tidak memenuhi sifat yang telah dipaparkan sebelumnya. 3. Memberikan definisi pemetaan monoton maksimal tipe D dan tipe FP pada ruang Banach nonrefleksif. 4. Memaparkan bahwa pemetaan monoton maksimal tipe D dan tipe FP memiliki sifat yang sama. 5. Membuktikan bahwa setiap pemetaan monoton maksimal tipe D merupakan tipe FP.
4 4 Dengan mengacu pada tujuan penelitian di atas, diharapkan penelitian ini memberikan manfaat antara lain: 1. Menambah pemahaman dan pengetahuan mengenai teori pemetaan monoton di ruang Banach nonrefleksif. 2. Memberi motivasi untuk meneliti hubungan antara tipe-tipe pemetaan monoton maksimal yang lain. 3. Memberi motivasi untuk meneliti aplikasi pemetaan monoton maksimal Tinjauan Pustaka Konsep pemetaan bernilai himpunan (set valued mapping) telah banyak diperkenalkan dalam berbagai literatur matematika. Khususnya dalam Zeidler (1990) dijelaskan bahwa jika A dan B merupakan himpunan tak kosong maka pemetaan T : A 2 B adalah pemetaan yang memasangkan setiap anggota A ke suatu himpunan bagian dari B. Dalam sumber yang sama, disebutkan pula pengertian domain efektif, range, grafik, invers, restriksi, dan perluasan pemetaan bernilai himpunan. Selanjutnya, Phelps (1997) mendefinisikan pemetaan monoton T : X 2 X sebagai fungsi bernilai himpunan dengan grafik T (selanjutnya disebut dengan G(T )) merupakan himpunan monoton. Suatu himpunan monoton dikatakan maksimal jika himpunan tersebut merupakan elemen maksimal dari himpunan monoton yang lain, dengan himpunan bagian sebagai urutan parsialnya. Pemetaan T dikatakan monoton maksimal jika G(T ) merupakan himpunan monoton maksimal. Dengan menggunakan lemma Zorn, dapat ditunjukkan bahwa untuk setiap pemetaan monoton T dapat ditemukan pemetaan T dengan T merupakan pemetaan monoton maksimal sekaligus perluasan dari T. Dengan menggunakan Teorema Kategori Baire dan sifat-sifat himpunan konveks diperoleh sifat penting pemetaan monoton maksimal yaitu bahwa jika T pemetaan monoton maksimal dan int(co(d(t ))) maka berlaku: 1. int(d(t )) = int(co(d(t )))
5 5 2. D(T ) = int(d(t )) 3. T terbatas lokal di setiap x int(d(t )). Akibatnya, jika T pemetaan monoton maksimal dan int(co(d(t ))) diperoleh bahwa int(d(t )), D(T ) merupakan himpunan konveks. Sifat tersebut dibuktikan oleh Rockafellar (1969) pada ruang Hausdorff yang locally convex. Oleh Phelps (1997), bukti Rockafellar diadaptasi untuk ruang Banach. Lebih lanjut, Phelps (1997) membuktikan bahwa jika T pemetaan monoton maksimal pada ruang Banach refleksif maka range T memiliki interior dan klosur yang konveks. Kasus yang menunjukkan bahwa hal ini tidak berlaku pada ruang Banach nonrefleksif diberikan oleh Simon Fitzpatrick melalui tulisan Phelps (1997). Adanya contoh penyangkal pada ruang Banach nonrefleksif memberikan motivasi untuk mendefinisikan syarat tambahan agar pemetaan monoton maksimal pada ruang Banach nonrefleksif memiliki range dengan interior dan klosur yang konveks. Salah satu syarat tambahan yang diberikan membentuk pemetaan monoton tipe dense (D). Pemetaan monoton T dikatakan bertipe D jika untuk setiap (x, x ) X X yang monoton terhadap G(T ) dapat ditemukan net (x α, x α) G(T ) dengan (x α ) terbatas dan x α x di topologi lemah dan x α x di topologi norma. Pemetaan monoton tipe D memiliki range dengan interior dan klosur yang konveks, meskipun di ruang nonrefleksif (Phelps, 1997). Sedangkan syarat tambahan lain yang diberikan membentuk pemetaan monoton tipe lokal (FP). Pemetaan monoton T dikatakan bertipe FP jika untuk setiap U X dengan U terbuka, dan U R(T ) dan untuk setiap (x, x ) X U dengan sifat untuk setiap (u, u ) G(T ) dan s U berakibat x u, x u 0 maka (x, x ) G(T ). Pemetaan monoton tipe FP memiliki interior dan klosur yang konveks, meskipun di ruang nonrefleksif (Phelps dan Fitzpatrick, 1992). Selanjutnya, Simons (1998) menunjukkan bahwa pemetaan monoton maksimal memiliki karakteristik tertentu yang berhubungan dengan Teorema Maksimum- Minimum. Dengan menggunakan hal ini, secara bertahap, Simons (1991) membuk-
6 6 tikan bahwa pemetaan monoton tipe D merupakan pemetaan monoton tipe FP Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah studi literatur dengan mengumpulkan informasi dari beberapa buku dan jurnal. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam penulisan tesis ini. 1. Memaparkan definisi, contoh-contoh dan sifat-sifat utama pemetaan monoton maksimal di ruang Banach refleksif. Untuk dapat memahami definisi dari pemetaan monoton, sebelumnya, pada dasar teori diberikan dahulu sekilas mengenai pemetaan bernilai himpunan meliputi pengertian dari domain efektif, range, grafik, invers, perluasan, dan restriksi pemetaan bernilai himpunan. Selanjutnya, diberikan definisi dan penjelasan mengenai topologi lemah dan topologi lemah* yang diperlukan ketika membuktikan beberapa sifat pemetaan monoton maksimal. 2. Memberikan contoh kasus di ruang Banach nonrefleksif yang tidak memenuhi sifat yang telah dipaparkan sebelumnya. Selain definisi, diberikan contoh dan sifat-sifat dasar dari pemetaan monoton maksimal. Diantara sifat-sifat tersebut terdapat sifat yang hanya berlaku pada ruang Banach refleksif. Hal ini diperjelas dengan memberikan contoh kasus pada ruang Banach nonrefleksif yang tidak memnuhi sifat tersebut. Untuk itu, diperlukan pengertian subdiferensial dan sifat-sifatnya. 3. Memberikan definisi pemetaan monoton maksimal tipe D dan tipe FP pada ruang Banach nonrefleksif. Untuk dapat memahami definisi pemetaan monoton tipe D dan FP diperlukan pengertian dari dual dan bidual suatu ruang bernorma. Selain itu diperlukan pengertian mengenai net dalam ruang topologis. Pengertian mengenai dual, bidual dan net dimasukkan dalam dasar teori. 4. Memaparkan bahwa pemetaan monoton maksimal tipe D dan tipe FP memi-
7 7 liki sifat yang sama. Untuk dapat membuktikan bahwa pemetaan tipe D dan tipe FP memiliki sifat yang sama diperlukan pengertian himpunan midpoint convex dan pengertian semikontinu atas untuk pemetaan bernilai himpunan dan bernilai tunggal. Hal ini diberikan pada dasar teori. 5. Membuktikan bahwa pemetaan monoton maksimal tipe D merupakan tipe FP. Teorema ini merupakan hasil akhir dan tujuan utama dari penelitian ini. Untuk membuktikannya, digunakan salah satu versi dari teorema maksimumminimum. Untuk dapat membuktikan teorema dan lemma tersebut diperlukan pemahaman mengenai ruang topologis Hausdorff, fungsi konveks, fungsi konkaf, fungsi affine, konjugat fungsi dan fungsi semikontinu atas. Hal-hal tersebut diberikan pada dasar teori Sistematika Penulisan Naskah tesis ini dibagi menjadi 6 bab. Bab I membahas mengenai latar belakang permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. Bab II berisi dasar teori yang digunakan pada bagian selanjutnya. Diantaranya adalah mengenai ruang topologis, ruang bernorma, pemetaan bernilai himpunan dan analisis konveks. Pendalaman materi setiap subbab yang dibahas disesuaikan dengan materi yang diperlukan pada bagian selanjutnya. Bab III berisi materi awal mengenai pemetaan monoton maksimal meliputi definisi, contoh-contoh, dan sifat-sifat dasar. Untuk memahami semua hal tersebut, sebelumnya diberikan materi mengenai topologi lemah dan topologi lemah*. Pada akhir bab ini diuraikan alasan perlunya membahas pemetaan monoton maksimal khusunya pada ruang Banach nonrefleksif. Bab IV berisi mengenai dua tipe pemetaan monoton maksimal pada ruang Banach nonrefleksif yaitu tipe D dan tipe FP. Dalam bab ini dibahas definisi dan sifat-sifat dasar kedua tipe tersebut. Tujuan utama bagian ini adalah menunjukkan
8 8 bahwa pemetaan monoton tipe D memiliki sifat yang sama dengan pemetaan tipe FP. Bab V berisi mengenai hubungan antara pemetaan monoton tipe D dan tipe FP. Untuk mengetahui hubungan antara kedua tipe tersebut sebelumnya dibahas mengenai Teorema Maksimum Minimum dan akibat teorema tersebut jika dihubungkan dengan pemetaan monoton. Selanjutnya, bab VI berisi kesimpulan dan saran.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pemetaan merupakan konsep yang tidak pernah terlepas dari bahasan matematika analisis. Pengaitan setiap anggota dari suatu himpunan dengan tepat satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu matematika merupakan ilmu dasar yang digunakan di berbagai bidang. Teori titik tetap merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika, khususnya matematika
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemetaan linear merupakan salah satu jenis pemetaan yang dikenal dalam bidang matematika, khususnya dalam bidang matematika analisis. Diberikan ruang vektor
BAB I PENDAHULUAN. umum ruang metrik dan memperluas pengertian klasik dari ruang Euclidean R n, sehingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Permulaan munculnya analisis fungsional didasari oleh permasalahan pada kurang memadainya metode analitik klasik pada fisika dan astronomi matematika.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teori titik tetap merupakan teori matematika yang sering digunakan untuk menjamin eksistensi solusi masalah nilai awal dan syarat batas persamaan diferensial
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kajian menarik dalam analisis adalah teori himpunan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kajian menarik dalam analisis adalah teori himpunan. Himpunan merupakan konsep dasar dari semua cabang matematika bahkan sudah diperkenalkan dalam pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam ilmu matematika, banyak pembahasan di bidang analisis dan topologi yang memerlukan pengertian ruang Hilbert. Ruang Hilbert merupakan konsep abstrak yang mendasari
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan Dalam ilmu matematika, khususnya dalam bidang analisis dikenal berbagai macam ruang, salah satunya adalah ruang metrik. Ruang metrik merupakan suatu
BAB III FUNGSI UJI DAN DISTRIBUSI
BAB III FUNGSI UJI DAN DISTRIBUSI Bab ini membahas tentang fungsi uji dan distribusi di mana ruang yang memuat keduanya secara berturut-turut dinamakan ruang fungsi uji dan ruang distribusi. Ruang fungsi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang berperan penting dalam perkembangan teknologi. Ilmu Matematika juga merupakan ilmu dasar yang banyak
BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR)
BAB II TEOREMA NILAI RATA-RATA (TNR) Teorema nilai rata-rata menghubungkan nilai suatu fungsi dengan nilai derivatifnya (turunannya), dimana TNR merupakan salah satu bagian penting dalam kuliah analisis
BAB III KEKONVERGENAN LEMAH
BAB III KEKONVERGENAN LEMAH Bab ini membahas inti kajian tugas akhir. Di dalamnya akan dibahas mengenai kekonvergenan lemah beserta sifat-sifat yang terkait dengannya. Sifatsifat yang dikaji pada bab ini
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan landasan teori tentang optimasi, fungsi, turunan,
BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini akan diberikan landasan teori tentang optimasi, fungsi, turunan, pemrograman linear, metode simpleks, teorema dualitas, pemrograman nonlinear, persyaratan karush kuhn
FUNGSI. range. Dasar Dasar Matematika I 1
FUNGSI Pada bagian sebelumnya telah dibahas tentang relasi yaitu aturan yang menghubungkan elemen dua himpunan. Pada bagian ini akan dibahas satu jenis relasi yang lebih khusus yang dinamakan fungsi Suatu
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Analisis fungsional merupakan salah satu cabang matematika analisis yang pembahasannya cukup kompleks karena mencakup banyak konsep, diantaranya ruang vektor,
DASAR-DASAR TEORI RUANG HILBERT
DASAR-DASAR TEORI RUANG HILBERT Herry P. Suryawan 1 Geometri Ruang Hilbert Definisi 1.1 Ruang vektor kompleks V disebut ruang hasilkali dalam jika ada fungsi (.,.) : V V C sehingga untuk setiap x, y, z
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Teori titik tetap merupakan salah satu subjek yang menarik untuk dikaji karena memiliki banyak aplikasi dalam berbagai bidang. Selama kurun waktu sepuluh tahun
BAB I PENDAHULUAN. Misalkan diberikan suatu ruang vektor atas lapangan R atau C. Jika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Misalkan diberikan suatu ruang vektor atas lapangan R atau C. Jika dilengkapi dengan suatu norma., maka dikenal bahwa suatu ruang vektor bernorma. Kemudian
BAB 1 PENDAHULUAN. 1 ; untuk k = n 0 ; untuk k n. e [n]
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Barisan bilangan real adalah suatu fungsi bernilai real yang didefinisikan pada himpunan N = 0, 1, 2,.... Dengan kata lain, barisan bilangan real adalah suatu fungsi
11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS)
11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS) 11.1 Definisi dan Limit Fungsi Monoton Misalkan f terdefinisi pada suatu himpunan H. Kita katakan bahwa f naik pada H apabila untuk setiap x, y H dengan x < y berlaku
I. Aljabar Himpunan Handout Analisis Riil I (PAM 351)
I. Aljabar Himpunan Aljabar Himpunan Dalam bab ini kita akan menyajikan latar belakang yang diperlukan untuk mempelajari analisis riil. Dua alat utama analisis riil, yakni aljabar himpunan dan fungsi,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu matematika merupakan suatu ilmu dasar yang terus berkembang dan banyak digunakan dalam berbagai bidang. Salah satu cabang ilmu matematika yang mengalami
BAB III OPERATOR LINEAR TERBATAS PADA RUANG HILBERT. Operator merupakan salah satu materi yang akan dibahas dalam fungsi
BAB III OPERATOR LINEAR TERBATAS PADA RUANG HILBERT 3.1 Operator linear Operator merupakan salah satu materi yang akan dibahas dalam fungsi real yaitu suatu fungsi dari ruang vektor ke ruang vektor. Ruang
MA3231 Analisis Real
MA3231 Analisis Real Hendra Gunawan* *http://hgunawan82.wordpress.com Analysis and Geometry Group Bandung Institute of Technology Bandung, INDONESIA Program Studi S1 Matematika ITB, Semester II 2016/2017
Karakteristik Operator Positif Pada Ruang Hilbert
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 05 A - 4 Karakteristik Operator Positif Pada Ruang Hilbert Gunawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto gunoge@gmailcom
BAB I PENDAHULUAN ( )
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persamaan diferensial merupakan persamaan yang melibatkan turunan dari satu atau lebih variabel tak bebas terhadap satu atau lebih variabel bebas dan dituliskan dengan
KEKONVEKSKAN DAERAH FISIBEL SECOND ORDER CONE PROGRAMMING DENGAN NORMA 1
KEKONVEKSKAN DAERAH FISIBEL SECOND ORDER CONE PROGRAMMING DENGAN NORMA 1 Caturiyati 1, Ch. Rini Indrati 2, Lina Aryati 2 1 Mahasiswa Program Studi S3 Matematika FMIPA UGM dan dosen Jurusan Pendidikan Matematika
MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan
MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016 Hendra Gunawan 4. Fungsi Kontinu 4.1 Konsep Kekontinuan Fungsi kontinu Limit fungsi dan limit barisan Prapeta himpunan buka 4.2 Sifat-Sifat Fungsi
BAB I PENDAHULUAN. Kata topologi berasal dari bahasa yunani yaitu topos yang artinya tempat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kata topologi berasal dari bahasa yunani yaitu topos yang artinya tempat dan logos yang artinya ilmu merupakan cabang matematika yang bersangkutan dengan
ABSTRAK 1 PENDAHULUAN
EKSISTENSI SOLUSI LOKAL DAN KETUNGGALAN SOLUSI MASALAH NILAI AWAL PERSAMAAN DIFERENSIAL TUNDAAN Muhammad Abdulloh Mahin Manuharawati Matematika, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Matematika, Universitas Negeri
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Derivatif memegang peranan penting dalam syarat optimalitas fungsi, yaitu untuk mencapai ekstrim, derivatif order satu fungsi tersebut harus bernilai nol.
BAB I PENDAHULUAN. Integral Lebesgue merupakan suatu perluasan dari integral Riemann.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Integral Lebesgue merupakan suatu perluasan dari integral Riemann. Sebagaimana telah diketahui, pengkonstruksian integral Riemann dilakukan dengan cara pemartisian
KEKONVERGENAN BARISAN DI RUANG HILBERT PADA PEMETAAN TIPE-NONSPREADING DAN NONEXPANSIVE
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 1 Hal. 42 51 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND KEKONVERGENAN BARISAN DI RUANG HILBERT PADA PEMETAAN TIPE-NONSPREADING DAN NONEXPANSIVE DEBI OKTIA HARYENI
TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dibahas beberapa konsep mendasar meliputi ruang vektor,
II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas beberapa konsep mendasar meliputi ruang vektor, ruang Bernorm dan ruang Banach, ruang barisan, operator linear (transformasi linear) serta teorema-teorema
Komposisi fungsi dan invers fungsi. Syarat agar suatu fungsi mempunyai invers. Grafik fungsi invers
Komposisi fungsi dan invers fungsi mempelajari Fungsi komposisi menentukan Fungsi invers terdiri dari Syarat dan aturan fungsi yang dapat dikomposisikan Nilai fungsi komposisi dan pembentuknya Syarat agar
KEKONVERGENAN NET DAN SUBNET PADA RUANG TOPOLOGIS. Oleh : FATKHAN YUDI RIANSA J2A Skripsi
KEKONVERGENAN NET DAN SUBNET PADA RUANG TOPOLOGIS Oleh : FATKHAN YUDI RIANSA J2A 006 019 Skripsi Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Jurusan Matematika Fakultas
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan, tinjauan pustaka, metodologi penelitian serta diakhiri dengan sistematika penulisan. 1.1. Latar
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Integral tipe Stieltjes merupakan salah satu topik yang banyak dipelajari dalam matematika analisis. Beberapa di antaranya adalah integral Riemann-Stieltjes,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Analisis merupakan salah satu cabang matematika yang mempelajari antara lain barisan, limit, deret, kekontinuan, kekonvergenan, integral, dan yang lainnya.
BAB II LANDASAN TEORI. Pada Bab Landasan Teori ini akan dibahas mengenai definisi-definisi, dan
BAB II LANDASAN TEORI Pada Bab Landasan Teori ini akan dibahas mengenai definisi-definisi, dan teorema-teorema yang akan menjadi landasan untuk pembahasan pada Bab III nanti, diantaranya: fungsi komposisi,
TINJAUAN PUSTAKA. Ruang metrik merupakan ruang abstrak, yaitu ruang yang dibangun oleh
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Metrik Ruang metrik merupakan ruang abstrak, yaitu ruang yang dibangun oleh aksioma-aksioma tertentu. Ruang metrik merupakan hal yang fundamental dalam analisis fungsional,
PROYEKSI ORTHOGONAL PADA RUANG HILBERT. ROSMAN SIREGAR Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Jurusan Matematika Universitas Sumatera Utara
PROYEKSI ORTHOGONAL PADA RUANG HILBERT ROSMAN SIREGAR Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Jurusan Matematika Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Pada umumnya suatu teorema mempunyai ruang lingkup
II. LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan
II. LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini sehingga dapat dijadikan sebagai landasan berfikir dalam melakukan penelitian dan akan mempermudah
BAB II KAJIAN PUSTAKA. pemrograman nonlinear, fungsi konveks dan konkaf, pengali lagrange, dan
BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka pada bab ini akan membahas tentang pengertian dan penjelasan yang berkaitan dengan fungsi, turunan parsial, pemrograman linear, pemrograman nonlinear, fungsi konveks
MATEMATIKA INFORMATIKA 2 FUNGSI
MATEMATIKA INFORMATIKA 2 FUNGSI PENGERTIAN FUNGSI Definisi : Misalkan A dan B dua himpunan tak kosong. Fungsi dari A ke B adalah aturan yang mengaitkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota B. ATURAN
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, maksud dan tujuan penulisan, tinjauan pustaka serta sistematika penulisan skirpsi ini. 1.1.
Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu struktur aljabar yang harus dikuasai oleh seorang matematikawan adalah grup yaitu suatu himpunan tak kosong G yang dilengkapi dengan satu operasi
Ruang Linear Metrik: Sifat Sifat Dasar Dan Struktur Ruang Dalam Ruang Linear Metrik
Ruang Linear Metrik: Sifat Sifat Dasar Dan Struktur Ruang Dalam Ruang Linear Metrik Oleh : Iswanti 1, Soeparna Darmawijaya 2 Iswanti, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Semarang, Semarang, Jawa
TRANSFORMASI LINIER PADA RUANG BANACH
TRANSFORMASI LINIER PADA RUANG BANACH Nur Aeni, S.Si., M.Pd Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UINAM [email protected] ABSTRAK Info: Jurnal MSA Vol. 2 No. 1 Edisi: Januari Juni
GRUP MONOTETIK TOPOLOGI DISKRIT BERHINGGA PADA DUALITAS PONTRYAGIN
Saintia Matematika Vol. 1, No. 6 (2013), pp. 591 602. GRUP MONOTETIK TOPOLOGI DISKRIT BERHINGGA PADA DUALITAS PONTRYAGIN L.F.D. Bali, Tulus, Mardiningsih Abstrak. Dalam teori grup topologi kompak lokal,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teori tentang subhimpunan fuzzy pertama kali diperkenalkan oleh Zadeh pada tahun 1965. Hal ini menginspirasi banyak peneliti lain untuk melakukan penelitian
BAB III FUNGSI KUASIKONVEKS
26 BAB III FUNGSI KUASIKONVEKS Bab ini akan membahas tentang fungsi kuasikonveks, di mana fungsi ini adalah salah satu generalisasi dari fungsi konveks. Fungsi kuasikonveks yang dibahas pada bab ini didefinisikan
Analisis Fungsional. Oleh: Dr. Rizky Rosjanuardi, M.Si Jurusan Pendidikan Matematika UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Analisis Fungsional Oleh: Dr. Rizky Rosjanuardi, M.Si Jurusan Pendidikan Matematika UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Lingkup Materi Ruang Metrik dan Ruang Topologi Kelengkapan Ruang Banach Ruang Hilbert
PEMETAAN KONTRAKTIF LEMAH MULTIVALUED DI RUANG METRIK PARSIAL
Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika (JMP) Vol. 9 No. 2, Desember 2017, hal. 1-10 ISSN (Cetak) : 2085-1456; ISSN (Online) : 2550-0422; https://jmpunsoed.com/ PEMETAAN KONTRAKTIF LEMAH MULTIVALUED
BEBERAPA TEOREMA TITIK TETAP UNTUK PEMETAAN NONSELF. Kata kunci : pemetaan nonexpansive, pemetaan condensing, pemetaan kompak.
BEBERAPA TEOREMA TITIK TETAP UNTUK PEMETAAN NONSELF Oleh: Rindang Kasih Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNIVET Sukoharjo Jl. Letjend Sujono Humardani No.1 Kampus Jombor Sukoharjo, e-mail: [email protected]
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Himpunan Fuzzy Tidak semua himpunan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari terdefinisi secara jelas, misalnya himpunan orang miskin, himpunan orang pandai, himpunan orang tinggi,
Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN
Modul 1 Himpunan Dra. Kusrini, M.Pd. PENDAHULUAN D alam Modul 1 ini ada 3 kegiatan belajar, yaitu Kegiatan Belajar 1, Kegiatan Belajar 2, dan Kegiatan Belajar 3. Dalam Kegiatan Belajar 1, Anda akan mempelajari
LEMBAR AKTIVITAS SISWA FUNGSI KOMPOSISI DAN INVERS FUNGSI Yang bukan merupakan fungsi nomor: Contoh: 1. y = f(x) g(x) 2. y = f(x) Syarat: f(x) 0
Nama Siswa Kelas LEMBAR AKTIVITAS SISWA FUNGSI KOMPOSISI DAN INVERS FUNGSI Yang bukan merupakan fungsi nomor: : : Kompetensi Dasar (KURIKULUM 2013): 3.2 Memahami konsep fungsi dan menerapkan operasi aljabar
Hendra Gunawan. 2 Oktober 2013
MA1101 MATEMATIKA 1A Hendra Gunawan Semester I, 2013/2014 2 Oktober 2013 Apa yang Telah Dipelajari pada Bab 2 2.1 Dua Masalah Satu Tema 2.2 Turunan 2.3 Aturan Turunan 2.4 Turunan Fungsi Trigonometri 2.5Aturan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengoptimalan merupakan ilmu Matematika terapan dan bertujuan untuk mencapai suatu titik optimum. Dalam kehidupan sehari-hari, baik disadari maupun tidak, sebenarnya
BAB 3 FUNGSI. f : x y
. Hubungan Relasi dengan Fungsi FUNGSI Relasi dari himpunan P ke himpunan Q disebut fungsi atau pemetaan, jika dan hanya jika tiap unsur pada himpunan P berpasangan tepat hanya dengan sebuah unsur pada
1 P E N D A H U L U A N
1 P E N D A H U L U A N 1.1.Himpunan Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang terdefenisi dengan baik (well defined). Artinya bahwa untuk sebarang objek x yang diberikan, maka kita selalu akan dapat
DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA
(Bekal untuk Para Sarjana dan Magister Matematika) Dosen FMIPA - ITB E-mail: [email protected]. December 11, 2007 Misalkan f terdefinisi pada suatu himpunan H. Kita katakan bahwa f naik pada H apabila
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori teori yang berhubungan dengan pembahasan ini sehingga dapat dijadikan sebagai landasan berpikir dan akan mempermudah dalam hal pembahasan
SIFAT-SIFAT FUNGSI KONVEKS YANG TIDAK DAPAT DIGENERALISASI MENJADI SIFAT-SIFAT FUNGSI KUASIKONVEKS
59 SIFAT-SIFAT FUNGSI KONVEKS YANG TIDAK DAPAT DIGENERALISASI MENJADI SIFAT-SIFAT FUNGSI KUASIKONVEKS Vika Andina, Endang Cahya, Siti Fatimah Departemen Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Correspondent autho:
Bab 2 Fungsi Analitik
Bab 2 Fungsi Analitik Bab 2 ini direncanakan akan disampaikan dalam 4 kali pertemuan, dengan perincian sebagai berikut: () Pertemuan I: Fungsi Kompleks dan Pemetaan. (2) Pertemuan II: Limit Fungsi, Kekontiuan,
MATEMATIKA DASAR PENDIDIKAN BIOLOGI UPI 0LEH: UPI 0716
MATEMATIKA DASAR PENDIDIKAN BIOLOGI UPI 0LEH: UPI 0716 N0 TOPIK FUNGSI 2.1 DEFINISI FUNGSI 2.2 DAERAH DEFINISI DAN DAERAH HASIL 2.3 JENIS-JENIS FUNGSI 2.4 OPERASI ALJABAR FUNGSI 2.5 FUNGSI GENAP, GANJIL,
MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan
MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016 Hendra Gunawan 4.2 Sifat-Sifat Fungsi Kontinu Diberikan f dan g, keduanya terdefinisi pada himpunan A, kita definisikan f + g, f g, fg, f/g secara
II. TINJAUAN PUSATAKA
4 II. TINJAUAN PUSATAKA 2.1 Operator Definisi 2.1.1 (Kreyszig, 1989) Suatu pemetaan pada ruang vektor khususnya ruang bernorma disebut operator. Definisi 2.1.2 (Kreyszig, 1989) Diberikan ruang Bernorm
fungsi Dan Grafik fungsi
fungsi Dan Grafik fungsi Suatu fungsi adalah pemadanan dua himpunan tidak kosong dengan pasangan terurut (x, y) dimana tidak terdapat elemen kedua yang berbeda. Fungsi (pemetaan) himpunan A ke himpunan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Integral merupakan salah satu konsep penting dalam matematika dan banyak aplikasinya. Dalam kehidupan sehari-hari integral dapat diaplikasikan dalam berbagai
OPTIMISASI KONVEKS: Konsep-konsep
OPTIMISASI KONVEKS: Konsep-konsep Caturiyati, M.Si 1 dan Himmawati Puji Lestari, M.Si 2 1,2 Jurdik Matematika FMIPA UNY 1 [email protected] 2 [email protected] Abstrak Pada masalah optimisasi konveks
F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR No. (TIU) 1. Limit Fungsi Mahasiswa dapar memahami secara mendalam (deduktif) pengertian limit fungsi, definisi dan te-orema-teorema serta mampu menga-plikasikannya
CARA LAIN PEMBUKTIAN TEOEMA ARZELA-ASCOLI DAN HUBUNGANNYA DENGAN EKSISTENSI PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL (SUATU KAJIAN TEORITIS)
CARA LAIN PEMBUKTIAN TEOEMA ARZELA-ASCOLI DAN HUBUNGANNYA DENGAN EKSISTENSI PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL SUATU KAJIAN TEORITIS) Sufri Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Kampus
Matematika
dan D3 Analis Kimia FMIPA Universitas Islam Indonesia Definisi Suatu fungsi f adalah suatu aturan korespondensi yang menghubungkan setiap objek x dalam satu himpunan, yang disebut domain, dengan sebuah
REFLEKSIVITAS PADA RUANG ORLICZ DENGAN KEKONVERGENAN RATA-RATA
REFLEKSIVITAS PADA RUANG ORLICZ DENGAN KEKONVERGENAN RATA-RATA Mila Apriliani Utari, Encum Sumiaty, Sumanang Muchtar Departemen Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia *Coresponding
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan memberikan penjelasan awal mengenai konsep logika fuzzy beserta pengenalan sistem inferensi fuzzy secara umum. 2.1 LOGIKA FUZZY Konsep mengenai logika fuzzy diawali
asimtot.wordpress.com BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Kalkulus Differensial dan Integral sangat luas penggunaannya dalam berbagai bidang seperti penentuan maksimum dan minimum. Suatu fungsi yang sering digunakan mahasiswa
BAB V RELASI DAN FUNGSI
BAB V RELASI DAN FUNGSI 6.1 Pendahuluan Relasi atau hubungan antara himpunan merupakan suatu aturan pengawasan antar himpunan tersebut, sebagai contohnya kalimat adalah ayah b atau kalimat 4 habis diabgi
KENDALI OPTIMAL PERMAINAN NON-KOOPERATIF KONTINU SKALAR DUA PEMAIN DENGAN STRATEGI NASH TUGAS AKHIR. Oleh : M.LUTHFI RUSYDI
KENDALI OPTIMAL PERMAINAN NON-KOOPERATIF KONTINU SKALAR DUA PEMAIN DENGAN STRATEGI NASH TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Jurusan Matematika Oleh
Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta
Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta 1 RELASI Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. 2 RELASI Relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota himpunan
Bab II Kajian Teori Copula
Bab Kajian Teori Copula.1 Pendahuluan Copula Tesis ini mengacu pada terminologi copula sebagai fungsi yang menghubungkan fungsi distribusi multivariat terhadap fungsi distribusi marginal uniform. Misalkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam pengelompokan aljabar ring, lapangan merupakan kejadian sangat khusus dari ring karena tidak hanya memiliki invers penjumlahan tetapi juga invers perkalian
Pengantar Topologi - MK : Prinsip Matematika
Pengantar Topologi - MK : Prinsip Matematika Topologi merupakan kajian pemetaan dari suatu obyek dalam ruang baik dalam struktur global maupun dalam struktur lokal yang lebih halus. Dapat dikatakan bahwa
FUNGSI DAN LIMIT FUNGSI
2 FUNGSI DAN LIMIT FUNGSI 2.1 Fungsi dan Grafiknya Definisi Sebuah fungsi f dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu aturan yang memasangkan setiap x anggota A dengan tepat satu y anggota B. A disebut
SIFAT-SIFAT HIMPUNAN PROXIMINAL
Prima: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2, No. 1, Januari 2018, hal. 49-56 P-ISSN: 2579-9827, E-ISSN: 2580-2216 SIFAT-SIFAT HIMPUNAN PROXIMINAL Arta Ekayanti Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Jl. Budi
BAB I PENDAHULUAN. : k N} dan A(m) menyatakan banyaknya m suku pertama (x n ) yang menjadi suku (x nk ), maka A(m)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Konvergensi barisan bilangan real mempunyai banyak peranan dan aplikasi yang cukup penting pada beberapa bidang matematika, antara lain pada teori optimisasi,
ANALISIS REAL 1. Perkuliahan ini dimaksudkan memberikan
ANALISIS REAL 1 Perkuliahan ini dimaksudkan memberikan kemampuan pada mahasiswa agar dapat memahami pernyataan-pernyataan matematika secara baik dan benar, berpikir secara logis, kritis dan sistematis,
BAB I PENDAHULUAN. Y dikatakan linear jika untuk setiap x, Diberikan ruang Hilbert X atas lapangan F dan T B( X ), operator T
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang dan Permasalahan Bidang ilmu analisis meruakan salah satu cabang ilmu matematika yang di dalamnya banyak membicarakan konse, aksioma, teorema, lemma disertai embuktian
