BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Yanti Sudirman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 3 B II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Teori Struktur Ekonomi Pemangunan ekonomi di Indonesia merupakan agian penting dari pemangunan nasional dengan tujuan akhir, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang isa diukur antara lain melalui pendapatan riil per kapita yang tinggi. Berarti pemangunan ekonomi dapat diartikan seagai suatu proses yang menyeakan pendapatan riil per kapita meningkat dalam jangka panjang. Selain peningkatan produksi dan pendapatan agregat, proses pemangunan akan memawa peruahan mendasar dalam struktur ekonomi masyarakat. Peruahan struktur ini, selain diseakan oleh peningkatan pendapatan per kapita juga diseakan oleh peruahan teknologi, peningkatan sumer daya manusia, dan penemuan sumer material aru untuk produksi. Model Input-Output Badan Pusat Statistik (2005) menyajikan informasi tentang transaksi arang dan jasa serta saling mempunyai keterkaitan antar satuan kegiatan ekonomi dalam suatu rentang waktu tertentu (satu tahun) yang disajikan dalam entuk matriks. Isian sepanjang aris memperlihatkan alokasi output dan menurut kolom menunjukkan struktur input dalam proses produksi. Seagai model kuantitatif, tael Input-Output (tael I-O) mampu memeri gamaran tentang :. Struktur perekonomian yang mencakup struktur output dan nilai tamah masing-masing kegiatan ekonomi di suatu daerah; 2. Struktur input antara (intermediate input), yang menunjukkan penggunaan arang dan jasa oleh kegiatan produksi di suatu daerah 3. Struktur penyediaan arang dan jasa, aik yang erupa produksi dalam negeri maupun arang-arang yang erasal dari impor; dan 4. Struktur permintaan arang dan jasa, aik permintaan oleh kegiatan produksi maupun permintaan akhir untuk konsumsi, investasi, dan ekspor. Proses pemangunan ekonomi yang sudah erlangsung cukup lama dan telah menghasilkan pertumuhan ekonomi yang tinggi iasanya disusul dengan suatu peruahan mendasar dalam struktur ekonominya. Peruahan struktur ekonomi terjadi akiat peruahan sejumlah faktor, yang menurut sumernya dapat diedakan antara faktor-faktor dari sisi permintaan agregat (AD), dan faktor-
2 4 faktor dari sisi penawaran agregat (AS), atau dari kedua sisi pada waktu yang ersamaan. Selain itu, peruahan struktur ekonomi juga dipengaruhi secara langsung/tidak langsung oleh intervensi pemerintah di dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Dari sisi permintaan agregat, faktor yang paling dominan adalah peningkatan pendapatan per kapita masyarakat, yang peruahannya mengakiatkan peruahan dalam selera dan komposisi arang-arang yang dikonsumsi. Apaila pendapatan riil masyarakat meningkat maka pertumuhan permintaan akan arang-arang non makanan akan leih esar daripada pertumuhan permintaan terhadap makanan. Peruahan ini menggairahkan pertumuhan industri-industri aru, dan meningkatkan output di industri-industri yang ada. Dari sisi penawaran agregat (AS), faktor-faktor penting di antaranya adalah pergeseran keunggulan komperatif, peruahan teknologi, peningkatan pendidikan atau kualitas SDM, penemuan sumer-sumer ahan aku aru (new recources) untuk produksi, dan akumulasi arang modal. Semua ini memungkinkan untuk melakukan inovasi dalam produk atau proses produksi dan pertumuhan produktivitas sektoral dari faktor-faktor produksi yang digunakan. Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisis peruahan struktur ekonomi, yakni teori migrasi dari Arthur lewis, dan teori transformasi struktural dari Hollis Chenery. Teori Arthur Lewis (dalam Jhingan 2000) pada dasarnya memahas proses pemangunan ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan (rural) dan di daerah perkotaan (uran). Dalam teorinya Lewis mengasumsikan ahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya teragi menjadi dua, yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri seagai sektor utama. Di pedesaan karena jumlah penduduk yang tinggi, maka terjadi keleihan suplai tenaga kerja, dan tingkat kehidupan masyarakat erada pada kondisi susisten akiat perekonomian yang sifatnya juga susisten. Over supply tenaga kerja ini ditandai dengan produk marjinal sama dengan nol, dan tingkat upah riil yang sangat rendah. Huungan antara upah, jumlah tenaga kerja pada perekonomian pedesaan dapat dijelaskan
3 5 dengan menggunakan model persamaan ekonometrik sederhana mengenai dinamika pasar tenaga kerja yang terdiri dari : N D p = d (W -p, Q +p ) N S p = s (W p ) N D p = N S p = N p Q p = q p (N p ) Persamaan (2.) adalah permintaan tenaga kerja (N D p ) yang merupakan fungsi negatif dari tingkat upah (Wp) dan fungsi positif dari jumlah output sektor pertanian (Qp). Persamaan (2.2) adalah penawararan tenaga kerja (N S p ) yang merupakan fungsi dari tingkat upah (Wp). Persamaan (2.3) mencerminkan keseimangan di pasar tenaga kerja (laour market), yang menghasilkan suatu tingkat upah dan jumlah tenaga kerja keseimangan. Sedangkan persamaan (2.4) adalah fungsi produksi di sektor pertanian (Qp) yang merupakan fungsi dari jumlah tenaga kerja yang digunakan (Np). Nilai produk marjinal nol, artinya fungsi produksi di sektor pertanian seperti yang digamarkan pada persamaan (2.4) sudah erada pada skala kenaikan hasil yang semakin erkurang (diminishing return to scale), dimana setiap penamahan jumlah tenaga kerja justru akan menurunkan jumlah output yang dihasilkan. Dalam kondisi demikian, pengurangan jumlah tenaga kerja tidak akan menurunkan jumlah output di sektor pertanian. Hal inilah yang akan mendorong tingkat upah tenaga kerja di sektor pertanian menjadi sangat rendah. Di lain pihak, sektor industri di perkotaan yang mengalami kekurangan tenaga kerja erada pada skala kenaikan hasil yang semakin ertamah (increasing return to scale), dimana produk marjinal tenaga kerja positif. Hal ini menunjukkan ahwa tingkat upah tenaga kerja di sektor industri relatif tinggi. Peredaan tingkat upah tenaga kerja pada kedua sektor ini akan menarik anyak tenaga kerja untuk erpindah (migrasi) dari sektor pertanian ke sektor industri. Karena persediaan tenaga kerja di sektor pertanian tidak teratas, maka sektor industri dapat erkemang dengan menarik tenaga kerja secara tidak teratas dari sektor pertanian. Tenaga kerja ersedia pindah ke sektor industri karena mereka dapat menerima upah yang leih tinggi diandingkan dengan upah susisten di sektor pertanian. Produktivitas marginal tenaga kerja di sektor
4 6 industri leih tinggi dari upah yang mereka terima, sehingga mengakiatkan terentuknya surplus sektor industri. Surplus sektor industri dari selisih upah ini diinvestasikan kemali seluruhnya dan tingkat upah di sektor industri diasumsikan konstan serta jumlahnya ditetapkan meleihi tingkat rata-rata upah di sektor pertanian. Oleh karena itu, laju dari proses transfer tenaga kerja terseut ditentukan oleh tingkat investasi dan akumulasi modal secara keseluruhan di sektor Industri. Pada tingkat upah sektor industri yang konstan, kurva penawaran tenaga kerja perdesaan dianggap elastis sempurna. Sektor industri akan terus menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian sampai pada titik dimana tingkat upah sama dengan nilai produk marginal tenaga kerja sektor industri. Pada akhirnya rasio tenaga kerja-kapital (capital laor ratio) naik dan penawaran tenaga kerja di sektor pertanian tidak lagi elastis sempurna. Karena dalam model Lewis diasumsikan ahwa surplus sektor industri dari selisih upah diinvestasikan kemali seluruhnya, maka kurva produk marginal tenaga kerja akan ergeser ke kanan. Proses ini dapat digamarkan seagai pergeseran kurva penawaran tenaga kerja atau produktivitas marginal ke kanan pada sektor industri pada tingkat upah yang leih tinggi daripada upah susisten di sektor pertanian, seperti disajikan pada Gamar 3. Gamar 3 Model Dua Sektor Lewis. Menurut Todaro (2000), model Lewis pada kenyataannya mengandung eerapa kelemahan karena asumsi-asumsi yang digunakan, khususnya untuk seagian esar negara erkemang. Kelemahan pertama menyangkut reinvestasi modal dimana model terseut mengasumsikan ahwa tingkat pengalihan tenaga
5 7 kerja dan penciptaan kesempatan kerja di sektor industri seanding dengan tingkat akumulasi modal. Namun fenomena menunjukkan ahwa seagian esar reinvestasi justru dilakukan untuk mengemangkan industri dengan teknologi yang hemat tenaga kerja. Dengan demikian penyerapan tenaga kerja dari sektor pertanian akan erjalan laman. Belum lagi adanya kenyataan ahwa akumulasi modal tidak seluruhnya ditanamkan kemali di dalam negeri. Pelarian modal (capital flight) ke luar negeri sering terjadi karena alasan faktor keamanan di dalam negeri. Kelemahan kedua menyangkut asumsi surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan. Kenyataan menunjukkan ahwa kelangkaan tenaga kerja pertanian di perdesaan sudah mulai dirasakan, sementara pengangguran anyak terjadi di perkotaan. Kelemahan ketiga menyangkut asumsi tentang pasar tenaga kerja yang kompetitif di sektor industri, sehingga menjamin upah riil di perkotaan yang konstan sampai pada suatu titik dimana surplus tenaga kerja hais terpakai. Pada kenyataannya upah di pasar tenaga kerja sektor industri cenderung meningkat dari waktu ke waktu, aik secara asolut maupun secara riil. Dengan eerapa kelemahan terseut di atas, maka konsep pemangunan dengan erasis pada peruahan struktural seperti dalam model Lewis memerlukan eerapa penyempurnaan sesuai dengan fenomena ekonomi yang ada. Sementara teori dari Chenery dikenal dengan pattern of development, memfokuskan pada peruahan struktur dalam tahapan proses peruahan ekonomi di NSB yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri seagai mesin utama pertumuhan ekonomi. Peruahan struktur ekonomi erarengan dengan pertumuhan GDP yang merupakan total pertumuhan nilai tamah (value added) dari semua sektor ekonomi yang dapat dijelaskan seagai erikut : Misalkan suatu perekonomian hanya terdiri dari sektor pertanian dan sektor industri. Sehingga nilai tamah (NT) untuk masing-masing sektor dapat dituliskan seagai NT p dan NT i yang mementuk GDP, maka : GDP = NT p + NT i Atau GDP[ a(t) p + a(t) I ] =
6 8 Dimana a(t) p adalah pangsa GDP dari sektor pertanian dan a(t) i adalah pangsa GDP dari sektor industri, t menunjukkan periode. Pada tahap awal pemangunan (t=0), seelum sektor industri erkemang, pangsa GDP dari sektor industri leih kecil dianding pangsa GDP dari sektor pertanian atau a (0) I < a(0) p. Dalam proses pemangunan terjadi transformasi ekonomi, di mana pangsa GDP dari sektor industri semakin meningkat, sementara pangsa GDP dari sektor pertanian menurun. Pada tahap akhir pemangunan (t=) a() I > a() p, di mana a() I > a(0) i dan a() p < a(0) p. Proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat ila pergeseran pola permintaan domestik kearah industri manufaktur diperkuat oleh peruahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor, seperti yang terjadi di New Industrial Countries (NIC s ). Dalam model transformasi struktural, relasi antar pertumuhan output di sektor industri manufaktur, pola peruahan permintaan domestik kearah output industri dan pola peruahan perdagangan luar negeri dapat diformulasikan dalam suatu persamaan sederhana seagai erikut : Q i = D i + (X i M i ) + j X ij Dimana Q i = jumlah output ruto dari industri manufaktur; D i = permintaan domestik terhadap produk akhir industri manufaktur; (X i M i ) adalah ekspor neto ; j X = ij a ijx j adalah penggunaan produk manufaktur seagai arang antara oleh sektor j; a ij = koefisien input-output yang diasumsikan ervariasi sehuungan dengan variasi tingkat pendapatan per kapita. Gamar 4 Peruahan struktur Ekonomi Dalam Proses Pemangunan Ekonomi : Suatu Ilustrasi
7 9 Berdasarkan model ini, kenaikan produksi sektor industri manufaktur dinyatakan sama esarnya dengan jumlah dari empat faktor erikut : a. Kenaikan permintaan domestik, yang memuat permintaan langsung untuk produk industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestik untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap sektor industri manufaktur.. Perluasan ekspor, atau efek total dari kenaikan jumlah ekspor terhadap produk industri manufaktur. c. Susitusi impor, atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur. d. Peruahan teknologi, atau efek total dari peruahan koefisien input-output (a ij ) di dalam perekonomian akiat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur. Transformasi struktural dapat dilihat pada peruahan pangsa nilai output atau nilai tamah dari setiap sektor di dalam pementukan GDP atau GNP. Kontriusi output dari sektor pertanian dalam pementukan GDP semakin mengecil, sementara pangsa GDP dari industri manufaktur dan jasa mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan GDP atau pendapatan nasional per kapita. 2.2 Teori Pertumuhan Ekonomi Tujuan dari pertumuhan ekonomi adalah meningkatkan pendapatkan perkapita penduduk. Pendapatan perkapita kemudian akan memperluas pilihanpilihan (enlarging choices) penduduk untuk mencapai kesejahteraan-nya. Dengan demikian pertumuhan ekonomi adalah faktor yang penting untuk mencapai tingkat kesejahteraan penduduk. Oleh karena itu salah satu fokus dalam ilmu ekonomi adalah mengenai teori-teori pertumuhan ekonomi. Perkemangan teori pertumuhan pada umumnya erusaha mengidentifikasi faktor-faktor penyea pertumuhan dan prilakunya. Secara umum teori-teori pertumuhan ekonomi menyeutkan ermacammacam sumer pertumuhan ekonomi, diantaranya ersumer dari perdagangan, spesialisasi, pertumuhan penduduk, taungan, investasi, akumulasi kapital,
8 20 proporsi faktor produksi, teknologi sampai dengan teori aru yang erfokus pada keunggulan sumer daya manusia Pertumuhan Ekonomi Klasik. Ahli ekonomi klasik yang paling terkemungka yaitu Adam Smith, ada eerapa hal yang di tekankan oleh Adam Smith kaitannya dengan pertumuhan ekonomi adalah: sistem ekonomi pasar eas akan menciptakan efisiensi, memawa ekonomi kepada kondisi full employment, dan menjamin pertumuhan ekonomi sampai tercapai posisi stasioner (stationary state). Posisi stasioner terjadi apaila sumer daya alam telah seluruhnya termanfaatkan. Kalaupun ada pengangguran, hal itu ersifat sementara. Pemerintah tidak perlu terlalu dalam mencampuri urusan perekonomian. Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi dan menyediakan fasilitas yang mendorong pihak swasta erperan optimal dalam perekonomian. Pemerintah tidak perlu terjun langsung dalam kegiatan produksi dan jasa. Peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan ketertian dalam kehidupan masyarakat serta memuat "aturan main" yang memeri kepastian hukum dan keadilan agi para pelaku ekonomi. Dalam hal ini pemerintah erkewajian menyediakan prasarana sehingga aktivitas swasta menjadi lancar. Pandangan Smith kemudian dikoreksi oleh John Maynard Keynes (936), dalam dengan mengatakan ahwa untuk menjamin pertumuhan yang stail pemerintah perlu menerapkan keijakan fiskal (perpajakan dan perelanjaan pemerintah), keijakan moneter (tingkat suku unga dan jumlah uang eredar), pengawasan langsung dan mengandalkan mekanisme pasar dengan menginginkan peran pemerintah sekecil mungkin. Kedua kelompok umumnya sependapat ahwa salah satu tugas negara adalah menciptakan distriusi pendapatan yang tidak terlalu pincang (ada kaitan dengan tingkat saving dan konsumsi) sehingga pertumuhan ekonomi isa mantap dan erkelanjutan. Pemerintah perlu turun tangan untuk menyediakan jasa yang melayani kepentingan orang anyak ketika swasta tidak erminat menanganinya apaila tidak dieri hak khusus.
9 Teori Pertumuhan Harrod-Domar. Harrod dan Domar, memuat analisis dan menyimpulkan ahwa pertumuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) hanya isa tercapai apaila terpenuhi syarat-syarat keseimangan seagai erikut: G = k... (2.8) Dimana : G = Growth (tingkat pertumuhan output) k = Capital (tingkat pertumuhan modal) n = Tingkat pertumuhan angkatan kerja Agar terdapat keseimangan maka antara taungan (S) dan investasi (I) harus terdapat kaitan yang saling menyeimangkan, padahal peran k untuk menghasilkan tamahan produksi ditentukan oleh V (capital output ratio = rasio modal output). Apaila taungan dan investasi adalah sama ( I = S), maka : I K S K S Y Y K S / Y K / Y S V... (2.9) Richardson, H.W (977) mengatakan ahwa perekonomian daerah ersifat teruka. Artinya, faktor-faktor produksi / hasil produksi yang erleihan dapat diekspor dan yang kurang dapat diimpor. Impor dan taungan adalah keocorankeocoran dalam menyedot output daerah. Sedangkan ekspor dan investasi dapat memantu menyedot output kapasitas penuh dari faktor-faktor produksi yang ada di daerah terseut. Keleihan taungan yang tidak terinvestasikan secara lokal dapat disalurkan ke daerah-daerah lain yang tercermin dalam surplus ekspor. Apaila pertumuhan tenaga kerja meleihi dari apa yang dapat diserap oleh kesempatan kerja lokal maka migrasi neto dapat menyeimangkan tingkat pertumuhan angkatan kerja dan tingkat pertumuhan output. jadi, dalam perekonomian teruka, persyaratannya menjadi sedikit longgar.
10 22 Syarat statistik agi perekonomian teruka : S + M = I + X atau (s + m) Y = I + X, atau : M = Impor dan X = Ekspor I Y s m X Y... (2.0) Kita mengetahui ahwa ekspor suatu daerah I dapat dirumuskan seagai impor daerah daerah lain. X i n M ij n m ji Yj... (2.) j j Ekspor daerah i = total daerah-daerah j dari daerah i = nilai m (marginal propensity to import) daerah-daerah j dari daerah i dikalikan dengan tingkat pendapatan masing-masing setiap daerah j. Dengan demikian, Richardson merumuskan persamaan pertumuhan suatu wilayah adalah : gi si m i mjiyj / Yi... (2.2) Vi Catatan : I Y s m X Y I Y S Y s. v v dimana g s v g i. v i = s i + m i ( m ji Y j )/Y i g i si mi ( vi mjiyj) / Yi Berdasarkan rumus di atas maka agar suatu daerah tumuh cepat atau g i tinggi, dikehendaki agar : S i (tingkat taungan) = tinggi, m i (impor) = tinggi, ekspor = kecil, v i (capital output ratio/cor) = kecil, artinya dengan modal yang kecil dapat meningkatkan output yang sama esarnya. Yang termasuk dalam ekspor dan impor adalah arang konsumsi dan arang modal. Dalam model ini, keleihan atau kekurangan taungan dan dengan tenaga kerja dapat dinetralisir oleh arus keluar atau arus masuk dari setiap faktor di atas. Pertumuhan yang mantap tergantung pada apakah arus modal dan tenaga kerja interregional ersifat menyeimangkan atau tidak. Pada model ini arus modal dan tenaga kerja searah karena pertumuhan memutuhkan keduanya secara seimang. dalam prakteknya, daerah yang pertumuhannya tinggi (daerah yang telah maju) akan menarik modal tenaga kerja dari daerah lain yang pertumuhannya rendah dan hal ini memuat pertumuhan antara daerah menjadi
11 23 pincang. Artinya, daerah yang maju kian maju dan yang terelakang akan makin ketinggalan. Jadi pertumuhan antara daerah akan mengarah kepada hetteorgenous (makin pincang) Teori Pertumuhan Neoklasik. Teori pertumuhan neoklasik dikemangkan oleh Roert M. Solow dari Amerika Serikat dan T.W. Swan dari Australia. Model Solow-Swan menggunakan unsur pertumuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, dan esarnya output yang saling erinteraksi dengan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya sustitusi antara kapital (K) dan tenaga kerja (L). Oleh sea itu, fungsi produksinya erentuk : Y i = f i (K,L,t)... (2.3) Dalam kerangka ekonomi wilayah, Richardson kemudian menderivasikan rumus di atas menjadi seagai erikut : Y i = a i k i + (-a i ) n i + T i... (2.4) dimana : Y i K i n i T i a : esarnya output : tingkat pertumuhan modal : tingkat pertumuhan tenaga kerja : kemajuan teknologi : agian yang di hasilkan oleh faktor modal (- a) : agian yang dihasilkan oleh faktor di luar modal Agar faktor produksi selalu erada pada kapasitas penuh perlu mekanisme yang menyamakan investasi dengan taungan (dalam kondisi full employment). Dengan demikian, pertumuhan mantap memutuhkan syarat ahwa : Y MPK i i ai p.. (2.5) Ki MPK i = Marginal productivity of capital Jika p sudah tertentu dan a tetap konstan maka Y dan K harus tumuh dengan tingkat yang sama. Syarat keseimangan agi keseluruhan sistem adalah I i i i Si (2.6)
12 24 (walaupun dari suatu region taungan isa saja tidak sama dengan investasi ) Suatu daerah akan mengimpor modal jika tingkat pertumuhan modalnya leih kecil dari rasio taungan domestik terhadap modal. Dalam pasar sempurna marginal productivity of laour (MPL) adalah fungsi langsung tapi ersifat teralik dari marginal productivity of capital (MPK). Hal ini isa dilihat dari nilai rasio modal tenaga kerja (K/L). Apaila tiap daerah dimisalkan menghasilkan output yang homogen dan fungsi produksi yang identik maka di daerah yang K/L-nya tinggi terdapat upah riil yang tinggi dan MPK yang rendah. Adapun di daerah yang K/L-nya rendah terdapat upah riil yang rendah tetapi MPK yang tinggi. Seagai akiatnya modal akan mengalir dari daerah yang upahnya tinggi ke daerah yang upahnya rendah karena akan memerikan alas jasa (untuk modal) yang leih tinggi. Sealiknya, tenaga kerja akan mengalir dari daerah upah rendah ke daerah upah tinggi. Mekanisme di atas pada akhirnya menciptakan alas jasa faktor-faktor produksi di semua daerah sama. Dengan demikian, perekonomian regional/ pendapatan per kapita regional akan mengalami proses konvergensi (makin sama). Analisis lanjutan dari paham Neoklasik menunjukkan ahwa untuk terciptanya suatu pertumuhan yang mantap (steady growth), diperlukan suatu tingkat S (saving) yang pas dan seluruh keuntungan pengusaha diinvestasikan kemali (di wilayah terseut) Teori Pertumuhan Ekonomi Regional dan Interregional. Pertumuhan regional pada dasarnya mengunakan konsep-konsep pertumuhan ekonomi secara agregat. Hanya saja titik tekanan analisis pertumuhan regional leih diletakan pada perpindahan faktor (factor movements). Arus modal dan tenaga kerja yang mengalir dari suatu daerah ke daerah lain memuka peluang agi peredaan tingkat pertumuhan antar daerah. Dalam analisis dinamik, tingkat pertumuhan suatu daerah dapat jauh leih tinggi dari tingkat normal yang dicapai oleh perekonomian nasional ataupun sealiknya. Pertumuhan ekonomi regional adalah pertamahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di regional terseut, yaitu kenaikan seluruh nilai tamah (added value) yang terjadi. Perhitungan pendapatan regional pada awalnya diuat dalam harga erlaku. Namun agar dapat melihat pertamahan
13 25 dari satu kurun waktu ke kurun waktu erikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riil, artinya dinyatakan dalam harga konstan. Kemakmuran suatu regional selain ditentukan oleh esarnya nilai tamah yang tercipta di regional terseut juga oleh seerapa esar terjadi transfer payment, yaitu agian pendapatan yang mengalir ke luar regional atau mendapat aliran dana dari luar wilayah, menurut Budiono (999), "Pertumuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang," jadi, persentase pertamahan output itu haruslah leih tinggi dari persentase pertamahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka panjang ahwa pertumuhan itu akan erlanjut. Teori ekonomi regional menyatakan, kemakmuran suatu regional selain ditentukan oleh esarnya nilai tamah yang tercipta di regional terseut juga oleh seerapa esar terjadi transfer payment, yaitu agian pendapatan yang mengalir ke luar regional atau mendapat aliran dana dari luar wilayah. Berdasarkan terori ekonomi regional terseut maka dalam model pertumuhan ekonomi interregional memasukan dampak dari daerah tetangga, itulah seanya dinamakan model interregional. Dalam model ini diasumsikan ahwa selain ekspor pengeluaran pemerintah dan investasi juga ersifat eksogen dan daerah itu terikat kepada suatu sistem yang terdiri dari eerapa daerah yang erhuungan erat. Richardson (dalam Boediono 999) dengan memanipulasi rumus pendapatan yang dikemukakan pertama kali oleh Keynes, merumuskan model interregional ini seagai erikut : Pendapatan daerah adalah Yi = Ci + Ii + Gi + X i - Mi... (2.7) Pendapatan = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor impor Dimana : Ci = ai + ci Ydi... (2.8) Ydi = disposale income ci = Marginal propensity to consume I i Ii... (2.9) G i Gi... (2.20)
14 26 Dimana : X i M ji m ji Y j... (2.2) j j d M... (2.22) i Y d m ij Y i i Yi Ti... (2.23) T i tiyi... (2.24) Dimana : t = Tingkat pajak marginal A i ai Ii Gi... (2.25) Dimana : Ai = pengeluaran otonom total Jika persamaan-persamaan (2.7) sampai dengan (2.25) dimasukkan ke dalam persamaan no. (2.0) dan di tata kemali dalam rumus pendapatan daerah Richardson (977) : Ai mjiy j ( t) Y i... (2.26) ( ci mij)( ti) Arti dari rumus ini adalah pendapatan daerah i terdiri dari penjumlahan pengeluaran otonom ditamah dengan ekspor dikali multiplier regional. Multiplier regional adalah: K ( ci mji)( ti) (2.27) Model no. (2.26) dapat disederhanakan menjadi : Yi = A + Ki Xi Pendapatan regional = pengeluaran otonom ekspor multiplier. Model ini ereda dari model asis ekspor. Dalam model interregional peruahan pendapatan regional dapat erasal dari eerapa sumer, dan tidak lagi sematamata dari peruahan ekspor. Dalam model pertumuhan interregional, ada eerapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumuhan ekonomi suatu daerah. Dalam analisis I-O interregional (Nazara, 997), tiga hal utama yang erpengaruh terhadap pertumuhan ekonomi daerah, yaitu : () investasi, (2) pengeluaran pemerintah, dan (3) perdagangan antara daerah (ekspor-impor).
15 27 Dengan menggunakan Model Pertumuhan Interregional, maka diperoleh persamaan pendapatan regional seagai erikut : Ai mjiyj( t) Y i... (2.28) ( ci mij)( ti) Karena A i ai Ii Gi, maka persamaan di atas menjadi : ( ai Ii Gi mjiyj( t) Y i... (2.29) ( ci mij)( ti) Maka persamaan di atas diartikan ahwa : pendapatan daerah I (Yi) terdiri dari penjumlahan pengeluaran otonom ditamah dengan ekspor dikalikan dengan multiplier regional. Berdasarkan persamaan di atas, maka dapat kita lihat ahwa investasi (I) pada suatu daerah akan erpengaruh langsung dan ernilai positif terhadap pendapatan daerah (Y) terseut. Artinya, apaila investasi di suatu daerah ertamah esar, maka secara teoritis akan meningkatkan pendapatan daerahnya. Besarnya dampak peruahan pendapatan daerah akiat peruahan investasi (dy/di) tergantung pada angka pengganda (multiplier) regional. Angka pengganda regional (K) dari persamaan di atas, adalah : dy / di K.... (2.30) ( ci mij)( ti) Dimana : k : multiplier regional c : marginal propensity consume m : marginal propensity to import \ t : tingkat pajak marginal Dari uraian diatas maka sumer-sumer peruahan pendapatan regional meliputi :. Peruahan pengeluaran otonom regional (misalnya investasi dan pengeluaran pemerintah) 2. Peruahan tingkat pendapatan suatu daerah atau eerapa daerah lain yang erada dalam suatu sistem yang akan terlihat dari peruahan ekspor dari daerah i 3. Peruahan salah satu di antara parameter-parameter model (hasrat konsumsi marginal, koefisien perdagangan interregional, atau tingkat pajak marginal)
16 28 Selanjutnya skenario tentang pertumuhan antara daerah adalah : a. Surplus impor karena peningkatan pendapatan investasi masuk tenaga kerja masuk impor meningkat mendorong ekspor daerah sekitar impor daerah sekitar meningkat ekspor daerah i meningkat pemerataan pemangunan.. Surplus impor karena produksi merosot investasi keluar migran tenaga kerja keluar impor daerah luar meningkat ekspor daerah i meningkat menjadi sadle-point untuk daerah i tetapi dengan tingkat pendapatan yang leih rendah pemangunan antara daerah makin pincang. Dalam model pertumuhan interregional terlihat ahwa kemampuan untuk meningkatkan ekspor sangat erpengaruh demi menjamin kelangsungan pertumuhan suatu daerah dan menciptakan pemerataan pertumuhan antara daerah (Tarigan 2005), menjelaskan huungan yang terjadi antara daerah yang leih maju (seut saja dengan istilah kota) dengan daerah lain yang leih terelakang, seagai erikut :. Generatif : yaitu huungan yang saling menguntungkan atau saling mengemangkan antara daerah yang leih maju dengan daerah yang ada di elakangnya. Daerah kota dapat menyerap tenaga kerja atau memaparkan produksi dari daerah pedalaman (daerah yang leih terelakang). Sementara itu, daerah pedalaman erfungsi seagai tempat untuk memasarkan produkproduk yang dihasilkan oleh industri perkotaan, dan sekaligus dapat memenuhi keutuhan daerah terseut. Selain itu, kota merupakan tempat inovasi dan modernisasi yang dapat diserap oleh daerah pedalaman. Adanya pertukaran dan saling ketergantungan ini, akan menyeakan terjadinya pertumuhan dan perkemangan sejajar antara daerah kota dengan daerah yang ada di elakangnya. 2. Parasitif : yaitu huungan yang terjadi dimana daerah kota (daerah yang leih maju (tidak anyak memantu atau menolong daerah elakangnya, dan ahkan isa mematikan eragai usaha yang mulai tumuh di daerah elakangnya. Kota parasitif umumnya adalah kota yang elum anyak erkemang industrinya, dan masih memiliki sifat daerah pertanian tetapi juga perkotaan sekaligus.
17 29 3. Enclave (tertutup), dimana daerah kota (daerah yang leih maju) seakan-akan terpisah sama sekali dengan daerah sekitarnya yang leih terelakang. Buruknya prasarana, peredaan taraf hidup dan pendidikan yang mencolok dan faktor-faktor lainnya dapat menyeakan kurangnya huungan antara kedua daerah di atas. Untuk menghindari hal ini, daerah-daerah terelakang perlu didorong pertumuhannya, sedangkan daerah yang leih maju dapat erkemang atas kemampuannya sendiri. Pertumuhan memiliki empat ciri yaitu :. Adanya huungan internal dari eragai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, huungan internal sangat menentukan dinamika seuah daerah. Ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya sehingga apaila ada satu sektor yang tumuh akan mendorong pertumuhan sektor lainnya, karena saling terkait. Pertumuhan tidak terlihat pincang, dan sektor yang tumuh cepat tetapi ada sektor lainnya yang tidak terkena imas sama sekali. Bereda halnya dengan kota perantara (transit), hanya erfungsi mengumpulkan eragai macam komoditi dari daerah di elakangnya dan menjual ke kota lain yang leih esar, selanjutnya memeli eragai macam keutuhan masyarakat dari kota lain untuk didistriusikan ke daerah yang ada di elakangnya. 2. Ada efek pengganda (multiplier effect) Keeradaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan menciptakan efek pengganda. Apaila ada satu sektor di suatu wilayah mengalami kenaikan permintaan yang erasal dari luar wilayah, maka produksi sektor terseut akan meningkat. Karena ada keterkaitan dengan sektor-sektor lain, maka produksi sektor-sektor lainnya juga meningkat dan terjadi eerapa kali putaran pertumuhan, sehingga total kenaikan produksi isa eerapa kali lipat diandingkan dengan kenaikan permintaan awal yang erasal dari luar wilayah terseut. Unsur efek pengganda sangat erperan dalam memuat kota itu memacu pertumuhan daerah dielakangnya. Karena terjadi peningkatan produksi eragai sektor di daerah yang leih maju, akan memacu dan meningkatkan permintaan ahan aku dari daerah-daerah yang ada di elakangnya.
18 30 3. Adanya konsentrasi geografis Konsentrasi geografis dari eragai sektor atau fasilitas, selain isa menciptakan efisiensi di antara sektor-sektor yang saling memutuhkan, juga meningkatkan daya tarik (attractiveness) dari wilayah yang leih maju terseut. Orang yang datang ke wilayah terseut dapat isa memperoleh eragai keutuhan pada lokasi yang erdekatan. Dengan demikian dapat menghemat waktu, tenaga dan iaya. Hal inilah yang menjadi daya tarik wilayah maju untuk dikunjungi dan karena volume transaksi yang semakin meningkat akan menciptakan economic of scale sehingga tercipta efisiensi lanjutan. 4. Bersifat mendorong pertumuhan daerah di elakangnya Hal ini erarti antara wilayah yang leih maju dengan wilayah elakangnya terdapat huungan yang harmonis. Daerah yang leih maju memutuhkan ahan aku dari wilayah elakangnya dan selanjutnya menyediakan eragai macam keutuhan wilayah elakangnya untuk dapat mengemangkan diri. Apaila wilayah yang leih maju memiliki huungan yang harmonis dengan daerah elakangnya dan juga memiliki ketiga karakteristik di atas, maka wilayah terseut akan erfungsi mendorong daerah elakangnya. 2.3 Teori Perdagangan ( Ekspor - impor ) 2.3. Teori Basis Ekspor Richardson Teori asis ekspor dikemangkan dalam kerangka ilmu ekonomi regional oleh Charles M. Tieout (962) dalam Nopirin (995). Teori ini memagi kegiatan produksi / jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas; pekerjaan asis (dasar) dan pekerjaan non asis (service/pelayanan). Kegiatan asis adalah kegiatan yang ersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus erfungsi mendorong tumuhnya jenis pekerjaan lainnya. sedangkan pekerjaan service (non asis) adalah kegiatan untuk memenuhi keutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumuhan tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah terseut. Artinya, sektor ini ersifat endogenous (tidak eas tumuh). Teori asis ekspor enyeutkan ekspor tidak hanya mencakup arang/jasa yang dijual ke luar daerah tetapi termasuk juga di dalamnya arang atau jasa yang dieli orang dari luar
19 3 daerah walaupun transaksi itu sendiri terjadi di daerah terseut yang mendatangkan uang dari luar daerah. Kegiatan yang hasilnya dijual ke luar daerah atau mendatangkan uang dari luar daerah adalah kegiatan asis sedangkan kegiatan service (nonasis) adalah kegiatan yang melayani keutuhan masyarakat di daerah itu sendiri, aik pemeli maupun sumer uangnya erasal dari daerah itu sendiri. Richardson H.W. (977) dalam ukunya Elements of Regional Economics memeri uraian seagai erikut. Berkenaan dengan daerah i dapat dituliskan : Yi = (Ei M) + Xi... (2.3) Pendapatan = pengeluaran untuk arang /jasa domestik = ekspor, dimana : Ei = ei Yi... (2.32) Mi = mi Yi... (2.33) Xi = eksogen... (2.34) Dimana : ei : Hasrat memelanjakan uang (marginal propensity to expenditure) mi : hasrat memeli arang impor (marginal propensity to impor) Dengan mensusitusikan fungsi-fungsi (2.32), (2.33), dan (2.34) ke dalam no. (2.35), Maka, Y i = e i Y i m i Y i + X i, dengan demikian : Yi Xi e i mi... (2.35) Jika fungsi no. (2.35) diuah susunannya maka : Yi Xi ei mi... (2.36) Yi Xi adalah rasio pendapatan terhadap ekspor yang diseut multiplier asis dieri simol K. K ei mi... (2.37) Jadi, pendapatan regional adalah kelipatan dari ekspor, jika hasrat memelanjakan secara lokal (e m) adalah leih kecil daripada satu. Hasil yang diperoleh adalah multiplier asis rata-rata sedangkan untuk peramalan diperlukan peruahannya, yaitu : Y i Xi
20 32 Menurut Richardson, esarnya asis ekspor adalah fungsi teralik dari esarnya suatu daerah. Artinya, makin esar suatu daerah, ekspornya semakin kecil apaila diandingkan dengan total pendapatan, demikian pula impornya. Hal ini memuat daerah yang esar cenderung memiliki K yang tinggi karena rasio pendapatan ekspor adalah rendah, tetapi m juga rendah dan ini cenderung menaikkan K. Sealiknya, daerah yang kecil maka rasio pendapatan ekspornya adalah tinggi, tetapi m juga tinggi dan ini cenderung menurunkan K. jadi, K isa eruah apaila luas daerah analisis diuah. Dengan demikian, K sulit dijadikan pegangan tunggal dalam peramalan apaila luas daerah eruah dari satu kurun waktu ke kurun waktu erikutnya Perdagangan Interregional Menyangkut huungan antara negara ataupun antara wilayah dalam suatu negara, maka pada prinsipnya secara teoritis perdagangan antara wilayah dapat saling menguntungkan satu sama lain. Dengan menggunakan asumsi dua wilayah A dan B ; dan hanya satu arang yang diperdagangan; dapat dilakukan analisis secaraparsial untuk melihat terjadinya perdagangan antara wilayah. Analisis parsial perdagangan antara wilayah dapat dilihat pada gamar 5. Karena harga keseimangan yang terjadi di wilayah A ereda (leih rendah) dengan harga keseimangan di daerah B maka peredaan ini memuka peluang untuk terjadinya perdagangan antara wilayah (interregional). Barang akan mengalir (diekspor) dari wilayah A ke wilayah B. Harga arang di wilayah A akan naik karena jumlahnya erkurang, sementara harga arang di wilayah B akan turun karena jumlahnya ertamah anyak. Demikian seterusnya sampai pada satu titik dimana harga arang pada kedua wilayah adalah sama. Selanjutnya, dalam teori asis ekspor (ase export theory) yang menganggap ekspor satu-satunya kegiatan untuk mendorong tumuhnya jenis pekerjaan aru. Jadi pertumuhan ekonomi regional sangat tergantung kepada aktivitas ekspor.
21 33 Gamar 5 Analisis Parsial Perdagangan Antar Wilayah A dan B Gamar 6. Keseimangan harga regional A Gamar 7. Keseimangan harga regional B Dengan menggunakan persamaan-persamaan (2.37) diperoleh ahwa pendapatan regional merupakan kelipatan dari ekspor, dengan rumus : Y i Xi ei m i... (2.38) Dimana : Yi adalah pendapatan regional, ei adalah marginal propensity to expenditure, dan mi adalah marginal propensity to import. Dari persamaan di atas, maka diperoleh angka pengganda asis ekspor (multiplier) seagai erikut :
22 34 dyi / dxi K (2.39) e i mi Sedangkan dalam model pertumuhan interregional, yang merupakan perluasan dari teori asis ekspor, menganggap ahwa pertumuhan ekonomi regional terjadi tidak semata-mata diseakan oleh aktivitas ekspor tetapi juga diseakan oleh variael lainnya seperti : () investasi dan pengeluaran pemerintah, (2) pertumuhan daerah lain yang erada dalam satu sistem, dan (3) pertumuhan dalam hasrat konsumsi marginal, koefisien perdagangan interregional, dan tingkat pajak marginal. Kesimpulan dari model pertumuhan interregional disajikan dalam persamaan matematika seagai erikut : Y i = A + K i X i... (2.40) Dimana Yi adalah pendapatan regional daerah i, A adalah pengeluaran otonom total, yang terdiri dari pengeluaran untuk investasi dan elanja pemerintah, X adalah ekspor daerah i, dan K adalah angka pengganda regional yang esarnya adalah : K (2.4) ( ci m ij )( I ti) Demikian : ti : adalah tingkat pajak marginal. ci : Marginal propensity to consumen m : Marginal propensity to import 2.4 Kesempatan Kerja 2.4. Pengertian Kesempatan Kerja Menurut Tulus Tamunan (2003 : 64), kesempatan kerja diartikan seagai lapangan pekerjaan yang sudah diduduki dan yang masih lowong (vacancy). Berdasarkan lapangan pekerjaan yang masih lowong terseut timul keutuhan tenaga kerja yang akan datang, misalnya perusahaan (swasta maupun pemerintah) dan departemen. Adanya keutuhan terseut, erarti adanya kesempatan kerja agi orang yang menganggur. Besarnya lapangan kerja yang masih lowong atau keutuhan tenaga kerja yang secara riil diutuhkan oleh perusahaan tergantung pada anyak faktor. Di antaranya yang paling utama adalah prospek usaha atau
23 35 pertumuhan output dari perusahaan yang meminta tenaga kerja, ongkos tenaga kerja atau gaji yang harus diayar, dan harga dari faktor produksi lainnya, misalnya arang kapital. Tingkat produktivitas seseorang juga sangat tergantung pada kesempatan yang tersedia. Kesempatan dalam hal ini sekaligus erarti :. Kesempatan untuk ekerja. 2. Pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan keterampilan tiap-tiap orang. 3. Kesempatan untuk mengemangkan diri. Kesempatan kerja mengandung pengertian lapangan pekerjaan dan lowongan kerja yang tercipta untuk diisi melalui suatu kegiatan ekonomi (produksi). Dengan demikian, kesempatan kerja adalah mencakup lapangan pekerjaan yang sudah diisi dan semua lowongan pekerjaan yang elum diisi dan hal ini lazim diseut keutuhan tenaga kerja. Biasanya sulit untuk memperoleh data tentang kesempatan kerja, maka untuk keperluan praktis umumnya jumlah kesempatan kerja didekati dengan anyaknya lapangan pekerjaan yang terisi yang tercermin dari jumlah penduduk yang ekerja (employed). Pengertian yang sama juga diungkapkan oleh Djauhari (998) ahwa kesempatan kerja erkaitan dengan peluang yang tersedia agi tenaga kerja untuk terliat dalam kegiatan ekonomi produktif, dimana kesempatan kerja seagai kegiatan dari perusahaan atau usaha atau instansi dimana seseorang dapat ekerja. Pengertian semacam ini memetekan kesempatan kerja dalam arti sempit yaitu kesempatan kerja agi tenaga kerja untuk ekerja pada perusahaan atau instansi tertentu, sehingga tidak memperhitungkan kemungkinan lain dimana tenaga kerja tidak ekerja secara teikat pada suatu perusahaan atau instansi tertentu. Pengertian kesempatan kerja dalam analisis ekonomi makro memiliki dimensi yang amat luas Teori-teori Kesempatan Kerja Kesempatan Kerja Pandangan Klasik Ahli-ahli ekonomi klasik erkeyakinan ahwa kesempatan kerja penuh akan selalu tercapai dalam perekonomian. Pengangguran merupakan masalah yang ersifat sementara. Sekiranya ada kekurang kesempatan kerja, sistem pasar dengan sendirinya melakukan penyesuaian-penyesuaian sehingga akhirnya kesempatan kerja penuh tercapai kemali. Pandangan teori klasik terseut didasari
24 36 oleh dua alasan penting yang melandasi keyakinan terseut yaitu pertama, dalam perekonomian tidak terdapat kekurangan permintaan agregat dan kedua, fleksiilitas upah akan mengemalikan keseimangan di pasaran tenaga kerja (Mankiw, 2003). Menurut pandangan klasik ahwa perekonomian tidak akan kekurangan permintaan agregat, yang erarti segala arang yang diproduksikan akan dapat dijual, tingkat produksi nasional dan kegiatan ekonomi ditentukan oleh faktorfaktor produksi yang digunakan. Atas dasar terseut jumlah produksi (output) seagai dasar untuk menentukan kesempatan kerja. Huungan antara tenaga kerja dengan output yaitu melalui fungsi produksi. ungsi produksi yaitu suatu fungsi yang menggamarkan huungan antara jumlah produksi yang akan dihasilkan dengan jumlah faktor produksi (tenaga kerja) yang digunakan dalam suatu proses produksi Q Q = f (K, N) Output I II III 0 Tenaga Kerja N Gamar 8. Kurva ungsi Produksi, Sumer : Mankiw (200). Secara sederhana fungsi produksi dapat dituliskan seagai erikut : Q = f (K, N) (2.42) dengan asumsi, dalam jangka pendek tenaga kerja (N) merupakan satu-satunya input yang dapat diuah-uah penggunaannya, sedangkan faktor produksi lainnya seperti modal (K) ditentukan pada tingkat penggunaan tertentu. (Mankiw, 200).
25 37 Gamar 8 merupakan kurva fungsi produksi dimana menggamarkan huungan antara jumlah tenaga kerja (N) dengan produksi yang dihasilkan (Q), dimana terdapat tiga tahapan proses produksi yaitu:. Tahap pertama, yaitu tahap produksi dimana produk total mengalami pertamahan yang semakin lama semakin esar. Artinya jika produsen menamah tenaga kerja maka produk total yang dihasilkan akan ertamah dengan penamahan yang semakin esar. 2. Tahap kedua, yaitu tahap produksi dimana produk total mengalami pertamahan yang semakin lama semakin kecil. Artinya jika produsen menamah tenaga kerja maka produk total akan ertamah dengan pertamahannya semakin lama semakin kecil. 3. Tahap ketiga, yaitu produksi total semakin lama semakin erkurang. Artinya jika produsen menamah tenaga kerja maka produk total yang dihasilkan akan erkurang. Hal ini dikarenakan adanya law deminishing return (Hukum kenaikan hasil yang semakin erkurang). Analisis klasik adalah dilandaskan kepada sistem ekonomi yang ersifat pasar eas erarti setiap pasar, termasuk pasaran tenaga kerja, merupakan pasar persaingan sempurna. Dalam pasar seperti ini tingkat harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Dalam konteks pasar tenaga kerja, mekanisme pasar yang demikian erarti ahwa tingkat upah ditentukan oleh keseimnagan di antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Apaila keadaan ini tercapai, dalam analisis klasik, tingkat kesempatan kerja penuh telah tercapai. Penentuan tingkat kesempatan kerja dalam teori klasik ditentukan oleh; () Menentukan kesempatan kerja (2) Menentukan kurva penawaran tenaga kerja, dan; (3) Menentukan keseimangan dan peruahan keseimangan di pasar tenaga kerja. Kesempatan Kerja Pandangan Keynes Analisis Keynes mengenai kesempatan kerja ereda dengan pendapat klasik. Menurut Keynes, jika Permintaan efektif kurang, maka terdapat kekurangan kesempatan kerja dan meningkatnya permintaan efektif akan menamah kesempatan kerja.
26 38 Pengertian permintaan efektif leih lanjut dijelaskan oleh Alfred dan Douglas (dalam Blanchard, 2000:72-73), ahwa permintaan efektif sama dengan pendapatan nasional, yaitu hasil pendapatan, semua anggota dalam perekonomian, dan merupakan nilai dari output perekonomian yang ersangkutan. Mengingat harga total output nasional merupakan hal yang sama dengan hasil para pengusaha-pengusaha, yang dicapai dengan jalan menjual arang konsumsi, atau alat produksi, maka permintaan efektif disatu pihak, adalah sama dengan pengeluaran nasiona untuk arang konsumsi ditamah dengan pengeluaran nasional untuk arang investasi. Dalam setiap perekonomian, permintaan efektif akan menunjukkan jumlah uang yang dikeluarkan seenarnya untuk memeli produk-produk industri. Dengan demikian, hal terseut dapat dianggap seagai hasil semua faktor-faktor produksi, karena semua uang yang diperoleh oleh para pengusaha harus diayarkan erupa upah, unga modal, sewa dan laa. Dalam analisisnya Keynes leih anyak memperhatikan aspek permintaan, yaitu menganalisis mengenai peranan dari permintaan eragai golongan masyarakat di dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang akan dicapai oleh sesuatu perekonomian. Menurut keynes, tingkat kegiatan ekonomi negara ditentukan oleh esarnya kemampuan untuk memayar arang-arang dan jasa yang diminta terseut, yang diwujudkan dalam perekonomian. Bertamah esar permintaan efektif yang diwujudkan dalam perekonomian, ertamah esar pula tingkat produksi yang akan dicapai oleh sektor perusahaan. Keadaan ini dengan sendirinya akan menyeakan pertamahan dalam tingkat kegiatan ekonomi dan penggunaan tenaga kerja (kesempatan kerja) dan faktor-faktor produksi (Blanchard, 2000). Apaila kegiatan ekonomi ertamah tinggi dan leih anyak faktor-faktor produksi digunakan maka kesempatan kerja akan ertamah dan faktor-faktor produksi lainnya akan erkurang. Dengan demikian, tingkat penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian akan tergantung kepada esarnya permintaan efektif. Makin esar permintaan, makin kecil jurang di antara tingkat kegiatan ekonomi yang tercapai dengan kegiatan ekonomi pada tingkat kesempatan kerja penuh maka pengangguran akan menjadi leih ertamah kecil (Blanchard, 2000).
27 39 Komponen utama perelanjaan agregat atau permintaan agregat terdiri dari empat komponen dasar : () Total permintaan arang dan jasa oleh konsumen swasta (C) (2) Total permintaan arang investasi oleh perusahaan-perusahaan swasta (I) (3) Permintaan arang dan jsa untuk konsumsi maupun untuk investasi pemerintah (G) (4) Surplus neraca perdagangan atau selisih ekspor atas impor (E M). Jika pendapatan nasional atau produk nasional Bruto (GNP/ Gross National Product) dinotasikan dengan Y, maka secara sederhana dapat ditulis : Y = C + I + G + (E M)... (2.43) Dengan demikian pendapatan nasional atau pengeluaran (Y) ditentukan oleh permintaan agregat (C + I + G + (E M)). Dalam hal ini, diasumsikan ahwa terdapat huungan antara output nasional dan kesempatan kerja nasional (N), yang ditunjukkan dalam entuk fungsi produksi nasional dengan Y = f(n,k,t), yang mana f N>0 dan f N<0. Untuk tingkat teknologi tertentu (t) dan faktor tanah dan modal yang tertentu (K), total output nasional (GNP real) mempunyai huungan positif dengan kesempatan kerja. Semakin tinggi output nasional (Y) semakin tinggi kesempatan kerja (N). Tetapi ketika total kesempatan kerja dalam suatu masyarakat diatasi oleh esarnya angkatan kerja yang aktif maka terdapat suatu dimana output nasional maksimum yang hanya dapat dicapai pada kondisi kesempatan kerja penuh (full employment) (Blanchard, 2000:384). Inti model Keynesian terseut dan peredaannya dengan model klasik adalah pada penekanan model Keynesian ahwa dalam perekonomian pasar tidak ada jaminan pendapatan nasional yang terjadi (actual) akan sama tepat dengan pendapatan nasional potensial (Y f ) seperti yang diyakini dalam model klasik dan karena itu tidak akan pernah ada penganggur. Menurut model Keynesian, segala sesuatu ditentukan oleh permintaan agregat. Dapat saja terjadi ahwa output nasional (Y t ) leih kecil dari output potensial (Y f ). Dengan demikian, terdapat sumer daya yang tidak semua dapat dimanfaatkan termasuk sumer daya manusia/ pekerja. Akiatnya terjadi kesenjangan (gap) antara kesempatan kerja nasional aktual (N t ) dan kesempatan kerja nasional pada pengerjaan penuh (N f ) dan ini erarti terdapat pengangguran. (Blanchard, 2000: ).
28 40 Selanjutnya, oleh karena pengeluaran konsumsi (C) dan pengeluaran investasi (I) ditentukan oleh pendapatan nasional dan surplus trade ditentukan selain oleh pendapatan nasional juga ditentukan oleh pendapatan luar negeri. Maka cara meningkatkan permintaan agregat adalah dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah (G), misalnya anggaran pemerintah yang defisit sangat diperlukan untuk memperkecil kesenjangan antara output nasional aktual dan potensial dengan meningkatnya output nasional. Akiatnya kesempatan kerja akan meningkat. (Blanchard, 2000:385) Saran model Keynesian dalam upaya meningkatkan kesempatan kerja adalah menaikkan total permintaan agregat melalui peningkatan pengeluaran pemerintah secara langsung atau melalui keijakan pemerintah yang secara tidak langsung meningkatkan investasi swasta, antara lain dengan tingkat unga pinjaman yang rendah, susidi investasi, penurunan tarif pajak dan seagainya. Sepanjang dalam perekonomian terdapat pengangguran dan keleihan kapasitas ekonomi maka penawaran arang dan jasa akan merespons meningkatnya permintaan secara otomatis. Keseimangan aru tercapai dimana pendapatan nasional leih tinggi dan kesempatan kerja pun meningkat (Todaro, 2003:24). Berdasarkan penjelasan terseut, maka pasar tenaga kerja menurut teori Keynes pada dasarnya mengikuti pasar arang, dimana apaila output naik maka jumlah orang yang mendapat pekerjaan atau tingkat employment (N) juga naik. Sealiknya, employment turun apaila output turun (Keiser, 995). Kesempatan Kerja Neo Klasik (Insentif Harga) Intisari pemikiran yang terkandung dalam model intensif harga neoklasik yaitu :. Para produsen diasumsikan menghadapi dua harga relatif faktor produksi yaitu faktor produksi modal dan tenaga kerja. Mereka harus menggunakan kominasi modal dan tenaga kerja yang tersedia sedemikian rupa sehingga dapat meminimumkan iaya produksi dalam rangka mencapai laa yang maksimal. 2. Selanjutnya diasumsikan pula ahwa para produsen mampu memproduksi output dengan eragai proses teknologi produksi mulai dari teknologi padat karya hingga padat modal. Jadi apaila harga relatif tenaga kerja ternyata leih mahal daripada harga modal, maka para produsen terseut akan
29 4 mempergunakan metode produksi padat modal. Singkatnya mereka senantiasa akan memilih teknologi produksi yang hemat memakai faktor produksi yang harganya relatif rendah. 3. Bahwa produsen akan erusaha melakukan kominasi penggunaan antara faktor modal dan faktor tenaga kerja yang paling meminimalkan iaya produksi untuk mencapai output tertentu (least cost comination of factors). Atau dengan perkataan lain, produsen akan erusaha secara efesien dengan teknik produksi yang tepat. Hal ini akan sangat ditentukan oleh perandingan harga faktor yang dihadapi oleh produsen (relative factor prices). Dalam hal ini harga dipandang merupakan sinyal kelangkaan faktor produksi (Todaro, 2003: ) 2.5 Investasi 2.5. Konsep Investasi Investasi (investment) menurut Mankiw (2003), dapat didefinisikan seagai tamahan ersih terhadap stok kapital yang ada (net additional to exixting capital stock). Istilah lain dari investasi adalah akumulasi modal (capital accumulation) atau pementukan modal (capital formation). Menurut Mankiw, terdapat tiga jenis pengeluran investasi, yaitu investasi tetap isnis (usiness fixed investment) mencakup peralatan dan struktur yang dieli perusahaan untuk proses produksi. Investasi residensial (residential investment) mencakup rumah aru untuk tempat tinggal dan untuk disewakan. Investasi persediaan (inventory investment) mencakup arang-arang yang disimpan perusahaan di gudang, termasuk ahan-ahan dan persediaan, arang dalam proses produksi, dan arang jadi Teori Investasi Teori Investasi dari Keynes John Maynard Keynes mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas konsep marginal kapital (marginal efficiency of capital atau MEC). MEC dapat didefinisikan seagai tingkat perolehan ersih yang diharapkan (expencted net rate of return) atas pengeluaran tamahan kapital. MEC juga dapat diartikan tingkat diskonto (discount rate) yang menyatakan aliran perolehan yang
30 42 diharapkan dimasa yang akan datang dengan iaya sekarang dari kapital tamahan. MEC dapat dirumuskan dalam formula seagai erikut: C K ( R R 2 n.... (2.44.) 2 n MEC) ( MEC) ( R MEC) dimana R merupakan perolehan yang diharapkan (expected return) dari sudut proyek, dan C k adalah iaya sekarang (current cost) dari modal tamahan. Keputusan investasi sangat tergantung pada perandingan antara present value (PV) di satu pihak dan current cost of additional capital (C k ) di lain pihak. Apaila PV > C k, maka diputuskan investasi dilakukan, sealiknya kalau PV < C k diputuskan investasi tidak dilakukan. PV ( R R R 2 n (2.45) 2 n i) ( i) Persamaam investasi di atas dapat ditulis kemali dalam formula: ( i) ( R i) ( R 2 i) 2... ( R n i) n ( R MEC) ( R 2 MEC) 2... ( R n MEC) n (2.46) Sedangkan huungan antara permintaan investasi dan tingkat suku unga (i) dengan MEC tertentu, dinyatakan dalam fungsi seagi erikut: I = f (i) (given MEC)... (2.47) Apaila tingkat unga turun akan menyeakan permintaan investasi meningkat dan hal yang sealiknya akan erlaku kalau tingkat unga mengalami kenaikan. Teori Neo Klasik Teori neo klasik (neoclassical theory of investment) merupakan teori tentang akumulai kapital optimal. Menurut Teori neo klasik, stok kapital yang diinginkan ditentukan oleh output dan harga jasa kapital relatif terhadap harga output. Harga jasa kapital pada gilirannya ergantung pada arang-arang modal, tingkat unga, dan perlakukan pajak atas pendapatan perusahaan. Dengan demikian, menurut teori neo klasik peruahan di dalam output dan harga dari jasa kapital relatif terhadap harga output akan menguah atau mempengaruhi stok kapital yang diinginkan dan investasi. Seperti halnya Teori Akselerator, output ditentukan oleh stok kapital yang diinginkan. Oleh kerenanya, kenaikan di dalam pengeluaran pemerintah atau
31 43 penurunan di dalam pajak pendapatan perusahaan akan mendorong investasi melalui dampaknya atas permintaan agregat, dan selanjutnya output. Perlakuan atas pendapatan perusahaan merupakan hal penting. Menurut teori neo klasik, pajak perusahaan penting dikarenakan pengaruhnya atas harga dan jasa kapital, karena akan erpengaruh terhadap ketersediaan dana internal. Teori neo klasik mengatakan ahwa keijakan moneter melalui pengaruhnya atas tingkat suku unga dapat mempengaruhi atau menguah stok kapital yang diinginkan dan investasi (Mankiw, 2003). 2.6 Sektor Unggulan dan Pengemangan Sektor Djakapermana (200), menyatakan ahwa pengemangan sektor memiliki relevansi yang kuat dengan pengemangan wilayah. Wilayah dapat erkemang melalui erkemangnya sektor-sektor unggulan pada wilayah terseut yang mendorong sektor lainnya. Selanjutnya sektor lain akan erkemang dan mendorong sektor yang lainnya llagi yang terkait sehingga mementuk suatu keterkaitan antar sektor. Dalam sektor ini pengemangan sektor menjadi salah satu pendekatan yang perlu dipertimangkan untuk pengemangan wilayah. Agar prioritas pemangunan menjadi leih kongkrit dan tajam, maka seaiknya masing-masing daerah dapat menentukan komoditi keunggulan daerah yang dapat dikemangkan. Memahas produk atau komoditi unggulan yang perlu dikemangkan di daerah, erarti memeri perhatian terhadap ketersediaan dan agaimana pemanfaatan sumer daya seagai input agi pengemangan produk terutama pengemangan komoditi unggulan daerah. Ketersediaan dan pemanfaatan input terseut diharapkan pula dapat memperesar jumlah produk yang terjual (ekspor). Didalam analisis Input-Output menjelaskan Kegunaan Input-Output Tarigan (2006) yaitu seagai erikut:. Menggamarkan kaitan antarsektor sehingga memperluas wawasan terhadap perekonomian wilayah. Dapat dilihat ahwa perekonomian wilayah ukan lagi seagai kumpulan sektor-sektor, melainkan merupakan satu sistem yang saling erhuungan. Peruahan pada salah satu sektor akan lansung mempengaruhi keseluruhan sektor walaupun peruahan itu akan terjadi secara ertahap.
32 44 2. Dapat digunakan untuk mengetahui daya menarik (ackward lingkage) dan daya mendorong (forward lingkage) dari setiap sektor sehingga mudah menetapkan sektor mana yang dijadikan seagai sektor strategis dalam perencanaan pemangunan perekonomian wilayah. 3. Dapat mengetahui dampak pertumuhan ekonomi dan kenaikan tingkat kemakmuran, seandainya permintaan akhir dari eerapa sektor diketahui akan meningkat. Hal ini dapat dianalisis melalui kenaikan input antara dan kenaikan input primer yang merupakan nilai tamah (kemakmuran). 4. Seagai salah satu alat analisis yang penting dalam perencanaan pemangunan ekonomi wilayah karena isa melihat permasalahan secara komprehensif. 5. Dapat digunakan seagai ahan untuk menghitung keutuhan tenaga kerja dan modal dalam perencanaan pemangunan ekonomi wilayah, seandainya inputnya dinyatakan dalam entuk tenaga kerja atau modal. Sektor unggulan di masing-masing daerah, dengan mengunakan tael I-O dapat ditentukan eerapa kriteria sehingga sektor terseut seagai sektor unggulan yaitu:. Sumangan sektor produksi terseut pada total output di masing-masing Provinsi (share output). 2. Sumangan sektor terseut terhadap nilai tamah ruto (pendapatan regional di masing-masing Provinsi (share PDRB). 3. Daya penyearan (DP) dan derajat kepekaan (DK), yang merupakan keterkaitan sektor ke hulu dan ke hilir (forward dan ackward linkage) terhadap sektor produksi lainnya. 4. Nilai multiplier output, nilai tamah ruto, dan tenaga kerja 5. Perdagangan arang dan jasa Analisis perdagangan, Persentase nilai ekspor dari output, Kontriusi ekspor sektor terhadap total ekspor, Spesialisasi ekspor atau spesialisasi perdagangan, Pementukan investasi dan persentase investasi sektor terhadap total investasi. 6. Prospek sektor terseut di masa yang akan datang, dengan melihat potensi masing-masing Provinsi dan rata-rata pertumuhan sektor terseut dan juga dengan mempertimangkan kondisi daerah atau provinsi masing-masing.
33 45 Dalam model I-O, output memiliki huungan timal alik dengan permintaan akhir dan output terseut. Artinya jumlah output yang dapat diproduksi tergantung dari jumlah permintaan akhirnya. Namun demikian dalam keadaan tertentu, output justru yang menentukan jumlah permintaan akhirnya. Untuk melihat kinerja perekonomian suatu wilayah atau suatu Provinsi iasanya digunakan indikator-indikator makroekonomi, seperti peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan Tarigan (2006). Dalam konteks analisis input-output regional dalam menampilkan struktur ekonomi daerah Model Input-Output Regional, maka eerapa pengertian yang dianggap layak untuk diahas dalam rangka menganalisis kinerja perekonomian suatu daerah atau Provinsi adalah : () pertumuhan ekonomi daerah atau regional, (2 ) pendapatan daerah erupa produk domestik regional ruto (PDRB) dan (3) distriusi pendapatan daerah. Pendapatan regional menunjukkan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai oleh suatu daerah pada tahun tertentu. Sedangkan pertumuhan ekonomi daerah menunjukkan peruahan tingkat kegiatan ekonomi daerah yang terjadi dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui tingkat pertumuhan ekonomi daerah kita harus memandingkan pendapatan daerah terseut dari tahun ke tahun. Di dalam Model Interregional Input-Output (IRIO), keterkaitan antarregion adalah fakta yang tidak isa dipungkiri. Apa yang terjadi di suatu region esar kemungkinannya erpengaruh kepada region lain, dalam suatu lingkup perekonomian yang leih esar intensitas interaksinya. Model Interregional Input-Output atau Interregional I-O (IRIO) memagi perekonomian nasional erdasarkan sektor-sektor dan daerah kegiatan. Sehingga secara leih spesifik, Model Interregional Input-Output ini didefinisikan seagai kerangka statistik yang memperlihatkan huungan antara sektor ekonomi dari suatu region dengan region lainnya. Pada dasarnya model ini menggamarkan suatu kominasi dari eerapa Tael I-O regional (daerah tunggal) dengan memperlakukan estimasi khusus matrik impor antara regional. Model I-O Interregional mensyaratkan tersedianya data untuk menghitung koefisien input regional yang harus dapat menunjukkan mana input erasal dari regionnya sendiri, dan mana input yang
34 46 erasal dari region-region lain. Pada kenyataannya, data yang dapat digunakan untuk menghitung koefisien input regional terseut jarang sekali ada. Atas dasar ketersediaan data yang jarang seperti itu, maka Model Input-Output Multiregional (IRIO) dapat disusun, yaitu dengan mendapatkan koefisien teknis regional tanpa melihat atau memperhatikan asal usul dari region mana suatu input didapatkan. Nazara (997). Konsep multiplier adalah sangat penting dalam perencanaan, karena angka terseut memerikan gamaran atau ukuran dampak peningkatan output suatu sektor terhadap total output di suatu wilayah. Semakin esar nilai multiplier terseut, maka sektor terseut memiliki keunggulan. Output dalam model I-O dapat dihitung dengan rumus : (m) = ( I - A ) - (D) (2.48) Ij : aris dan kolom n : jumlah sektor D : Permintaan akhir I : matriks identitas A : matriks koefisien teknologi I-A) - : multiplier output (matriks invers Leontief) m : multiplier Dalam analisis input-output multiregional, peruahan pada permintaan akhir di suatu region, misalnya di daerah A, tidak hanya erpengaruh pada produksi output di daerah A saja, tetapi juga erpengaruh terhadap pementukan output di daerah lain-nya. Kegunaan tael I-O dalam analisis makro ekonomi adalah untuk mengukur seerapa jauh atau seerapa esar terjadi keterkaitan (linkage) antara sektor-sektor ekonomi. Di dalam tael I-O multiregional, analisis keterkaitan tidak hanya menganalisis keterkaitan di dalam satu regional, tetapi isa juga dijaarkan menjadi lintas sektoral dan lintas regional. Yang dimaksud dengan analisis keterkaitan disini adalah suatu analisis untuk mendeteksi kepekaan dari peningkatan output suatu sektor. Besarnya dampak keterkaitan ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : tingkat keterkaitan ke
35 47 depan (forward linkage) atau diseut derajat kepekaan; dan tingkat keterkaitan ke elakang (ackward linkage) atau diseut daya penyearan. Keterkaitan Keelakang (ackward linkage) atau Daya Penyearan. Daya penyearan (power of dispersion) adalah suatu analisis yang menggamarkan permintaan suatu sektor terhadap sektor-sektor produksi lainnya. Jumlah daya penyearan menunjukkan dampak dari satu unit permintaan akhir suatu sektor terhadap pertumuhan ekonomi di masing-masing sektor secara keseluruhan. Jumlah daya penyearan merupakan suatu ukuran untuk menganalisis keterkaitan ke elakang (ackward linkage). Indikator keterkaitan keelakang ini sering dipandang seagai perwujudan dari sektor yang memiliki asis aktivitas domestik (resources ase sector). Apaila suatu wilayah hendak memangun, iasanya keterkaitan keelakang ini menjadi salah satu indikator yang penting. Apaila sektor ini erkemang, maka sektor ini isa menarik sektor-sektor yang erada di elakangnya seagai penyedia input, sehingga dengan mendorong sektor yang forward linkage-nya kuat maka juga akan memawa pertumuhan sektor-sektor lain. Keterkaitan keelakang sektor akan menarik perkemangan sektor yang erada dielakangnya seagai penyedia input untuk ertumuh dan erkemang. Semakin esar keterkaitan ke elakang dari sektor ini, maka semakin unggul sektor terseut. Keterkaitan ke Depan (forward linkages) atau Derajat Kepekaan. Indikator keterkaitan ke depan ini sering dipandang seagai perwujudan dari sektor yang memiliki asis aktivitas domestik (resources ase sector). Apaila suatu wilayah hendak erkemang, iasanya keterkaitan kedepan ini menjadi salah satu indikator yang penting. Apaila sektor ini erkemang, maka sektor ini isa mendorong sektor-sektor yang erada di depannya seagai pemakai output, sehingga dengan mendorong sektor yang ackward linkage-nya kuat maka juga akan memawa pertumuhan sektor-sektor lain. Derajat kepekaan (degree of sensitivity) adalah suatu analisis yang menggamarkan kemampuan suatu sektor dalam mensuplay sektor-sektor produksi lainnya. Jumlah derajat kepekaan menunjukkan pementukan output di suatu sektor yang dipengaruhi oleh permintaan akhir masing-masing sektor
36 48 perekonomian. Jumlah derajat kepekaan ini merupakan suatu ukuran untuk menganalisis keterkaitan ke depan (forward linkage). Jumlah derajat kepekaan yaitu esaran yang menjelaskan dampak yang terjadi terhadap output suatu sektor seagai akiat dari peruahan permintaan akhir pada masing-masing sektor perekonomian. Oleh karena ini menjelaskan pementukan output di suatu sektor yang dipengaruhi oleh permintaan akhir masing-masing sektor perekonomian maka ukuran ini dapat digunakan untuk melihat keterkaitan ke depan (forward linkage). Keterkaitan ke depan sektor ini akan mendorong perkemangan sektor yang erada di depan-nya seagai penguna output, sehingga dia dapat untuk ertumuh dan erkemang. Semakin esar keterkaitan ke depan dari sektor ini, maka sektor ini seagai sektor unggulan. Dalam model I-O Output memiliki huungan timal alik dengan permintaan akhir terhadap output terseut. Dampak peruahan permintaan akhir terhadap pementukan output terkait dengan : () Dampak output adalah dampak peruahan permintaan akhir terhadap pementukan output sektoral di dalam region ataupun lintas region. (2) Dampak nilai tamah ruto adalah dampak peruahan permintaan akhir terhadap peruahan input primer (nilai tamah ruto); dan (3) Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja yang erfungsi untuk menganalisis dampak peruahan permintaan akhir terhadap keutuhan tenaga kerja. Dampak Output merupakan pementukan nilai tamah dari output. Indikator ini menunjukkan persentase pementukan nilai tamah dan nilai output yang diproduksi oleh satu sektor. Semakin esar nilai tamah dari total outputnya erarti sektor terseut dianggap memiliki keunggulan Dampak Nilai Tamah Bruto adalah input primer yang merupakan agian dari input secara keseluruhan. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan tael I-O, maka huungan antara nilai tamah ruto dengan output ersifat linier. Artinya, kenaikan atau penurunan output akan diikuti secara proporsional oleh kenaikan dan penurunan input primer (nilai tamah ruto). Semakin proposional huungan nilai tamah ruto sektor dengan output sektor maka semakin ungul sektor terseut.
37 49 Kontriusi nilai tamah sektor terhadap total nilai tamah. Indikator ini dimaksudkan untuk melihat peran atau kontriusi nilai tamah suatu sektor terhadap seluruh nilai tamah perekonomian. Semakin esar kontriusi sektor terseut terhadap perekonomian, maka semakin penting posisi sektor terseut seagai unggulan. Penggunaan input domestik. Kriteria ini anyak dipakai untuk penentuan keijakan pemangunan negara erkemang, dengan tujuan untuk menghemat devisa serta mengemangkan kegiatan yang anyak memanfaatkan sumer daya domestik. Semakin esar penggunaan input suatu sektor, maka sektor terseut isa dianggap memiliki keunggulan. Analisis Dampak Keutuhan Tenaga Kerja. Estimasi keutuhan atau daya serap tenaga kerja sektoral di region-region (Provinsi Provinsi) yang terkait, apaila terjadi kenaikan pada output sektoral yang dipengaruhi, oleh komponenkomponen permintaan akhir. Apaila dampak dari kenaikan output sektoral menyeakan terjadinya kenaikan keutuhan tenaga kerja maka sektor terseut unggul pada region terseut. Persentase nilai ekspor dari output. Pemahaman nilai ekspor dari output seenarnya ersumer dari keyakinan ahwa ekspor merupakan mesin pertumuhan atau engine of growth. Artinya pertumuhan perekonomian domestik adalah memanfaatkan perkemangan pasar luar, misalnya diseakan oleh relatif teratasnya daya serap pasar domestik atau sering diseut outward looking strategy. Semakin esar output suatu sektor, untuk diekspor maka sektor terseut dianggap unggul. Kontriusi ekspor sektor terhadap total ekspor, erkait dengan kriteria seelumnya, suatu sektor yang memiliki peran esar dalam total ekspor erarti sektor terseut memiliki keunggulan. Spesialisasi ekspor atau spesialisasi perdagangan. Hampir sama dengan indikator seelumnya, spesialisasi ekspor ini ditujukan untuk melihat spesialisasi ekspor suatu sektor dari perdagangan (eksport-import) di sektor terseut. Semakin esar (positif) spesialisasi ekspor sektor terseut, maka sektor terseut dikatakan seagai sektor unggulan. Apaila peran impornya makin esar maka sektor terseut ukan sektor unggulan.
38 50 Pementukan investasi. Konsep pementukan investasi mendasarkan ahwa apaila suatu sektor outputnya anyak dipergunakan untuk investasi kemali maka sektor terseut dikategorikan seagai sektor unggulan. Persentase investasi sektor terhadap total investasi. Suatu sektor yang outputnya anyak digunakan untuk investasi kemali relatif esar di dalam total investasi perekonomian maka sektor terseut dikategorikan sektor unggulan. 2.7 Model Interregional Input-Output Saling keterkaitan antar region adalah fakta yang tidak isa dipungkiri. Apa yang terjadi di satu region sangat mungkin erpengaruh kepada region lain, dalam suatu lingkup sistem perekonomian yang leih esar. Semakin dekat dua region semakin esar intensitas interaksinya. Atas dasar itulah maka model input-output untuk eerapa region dikemangkan. Model pertama yang akan kita ahas adalah adalah Model Input-Output Antarregion (Interragional Input-Output Model). Karena model ini pertama kali diajukan oleh Walter Isard pada tahun 95, maka model ini juga dikenal dengan nama Model Isard. Definisi analisis input-output Nazara (997), adalah usaha untuk memasukkan fenomena keseimangan umum dalam analisis empiris sisi produksi.seuah Tael Input-Output (Tael I-O) mencatat produksi dan pemagian produksi dari satu sistem perekonomian untuk satu periode waktu tertentu. Esensinya, tael I-O adalah seuah potret atau gamar numerik, menangkap ukuran, entuk dan sosok penting suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu, yang iasanya adalah selama satu tahun. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan disagregasi produk-produk yang diproduksi dalam satu perekonomian ke dalam sejumlah industri atau sejumlah sektor, dan mencatat transaksi di antara sektor-sektor ini dalam seuah tael transaksi.. Model Input-Output (I-O) Badan Pusat Statistik (2003) menyajikan informasi tentang transaksi arang dan jasa serta saling mempunyai keterkaitan antar satuan kegiatan ekonomi dalam suatu rentang waktu tertentu (satu tahun) yang disajikan dalam entuk matriks. Isian sepanjang aris memperlihatkan alokasi output dan menurut kolom menunjukkan struktur input dalam proses produksi.
39 5 Model I-O Interregional atau Interregional I-O (IRIO) memagi perekonomian nasional erdasarkan sektor-sektor dan daerah kegiatan. Sehingga secara leih spesifik, Model Interregional Input-Output ini didefinisikan seagai kerangka statistik yang memperlihatkan huungan antara sektor ekonomi dari suatu region dengan region lainnya. Pada dasarnya model ini menggamarkan suatu kominasi dari eerapa Tael I-O regional (daerah tunggal) dengan memperlakukan estimasi khusus matrik impor antara regional (Nazara, 997). Untuk memudahkan pemahaman terhadap IRIO dapat di susun pada tael.2.2, dilakukan penyederhanaan penyederhanaan, yaitu : diasumsikan hanya ada dua sektor dalam perekonomian, yaitu sektor I dan sektor 2, dan hanya terdapat dua wilayah atau region, yaitu wilayah A dan B. secara konsepsional pengertian susunan input dan alokasi output di dalam kerangka IRIO sama dengan Tael I-O single region. Susunan input pada Tael I-O ilateral antara provinsi A dan B dapat ditunjukkan melalui persamaan matematika erikut : x + x 2 + x + x 2 + x MA + V A = X A... Persamaan terseut di atas menunjukkan penjumlahan input antara ( ( 2.49 ) X ij A ) dan input primer atau nilai tamah ruto (V i A ) menjadi total input (X i A ). Peredaan yang secara spesifik isa ditampilkan melalui TIOI dengan model dua provinsi ini adalah memedakan input yang erasal dari produksi domestik dan yang erasal dari impor. Tael 4. Tael Interregional Input-Output disederhanakan 2 Wilayah dan 2 sektor Output Permintaan Antara Permintaan Akhir Provinsi A Provinsi B Input 2 2 INPUT ANTARA Provinsi A Provinsi B Import ROR Total Antara Input Primer Input (Nilai Tamah Bruto) Total Input X 2 X 2 X 2 X 2 X MA X i A V A X A X 2 X 22 X 2 X 22 X 2 MA X i2 A V 2 A X 2 A X X 2 X X 2 X MB X i B V B X B X 2 X 22 X 2 X 22 X 2 MB X i2 B V 2 B X 2 B Sumer: Badan Perencanaan Pemangunan Nasional ( 2003 ) Provinsi A MA Provinsi B MB Ekspor ROR E A E 2 A E B E 2 B Total Output X A X 2 A X B X 2 B
40 52 Keterangan : X ij : X ij Komponen input antara yang digunakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi A,dimana input antara terseut erasal dari produksi domestik provinsi A sendiri. : Komponen input antara yang digunakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi B, dimana input antara terseut erasal dari impor yang data dari provinsi A. Xij : Komponen input antara yang digunakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi A, dimana input antara terseut erasal dari impor yang didatangkan dari provinsi B. Xij : Komponen input antara yang digunakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi B, dimana input antara terseut erasal dari produksi domestik provinsi B sendiri. dan 2 : Output sektor dan 2 pada provinsi A yang dikonsumsi sendiri oleh provinsi terseut dalam entuk permintaan akhir yang terdiri dari : konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan pementukan modal serta peruahan stok. dan 2 : Output sektor dan 2 pada provinsi A yang diekspor ke provinsi B, kemudian digunakan oleh provinsi B terseut seagai permintaan akhir yang erupa: konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pementukan modal dan peruahan stok. EA dan E2 : Output sektor dan 2 pada provinsi A yang diekspor ke selain provinsi B (ekspor ROR = rest of the regions) yang diperlakukan seagai permintaan akhir. EB dan E2B : Output sektor dan 2 pada provinsi B yang diekspor ke selain provinsi A yang diperlakukan seagai permintaan akhir. X A : Total output sektor pada provinsi A dilihat menurut aris X2A : Total output sektor 2 pada provinsi A dilihat menurut aris XB : Total output sektor pada provinsi B dilihat menurut aris X2B : Total output sektor 2 pada provinsi B dilihat menurut aris dan 2 : Output sektor dan 2 pada provinsi B yang diekspor ke provinsi A, kemudian digunakan oleh provinsi A terseut seagai
41 53 permintaan akhir yang erupa : konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pementukan modal dan peruahan stok. dan 2 : Output sektor dan 2 pada provinsi B yang dikonsumsi sendiri oleh provinsi terseut dalam entuk permintaan akhir yang terdiri dari : konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pementukan modal dan peruahan stok. XMA dan X2MA : Input antara masing-masing sektor dan 2 pada provinsi A, yang erasal dari impor yang didatangkan dari selain provinsi B (impor ROR = Rest of the regions). XMB dan X2MB : Input antara masing-masing sektor dan 2 pada provinsi B, yang erasal dari impor yang didatangkan dari selain provinsi A (impor ROR = rest of the regions). MA : Permintaan akhir pada provinsi A yang erasal dari impor yang didatangkan dari selain provinsi B. MB : Permintaan akhir pada provinsi B yang erasal dari impor yang didatangkan dari selain provinsi A. XiA : Jumlah seluruh input antara yang digunakan oleh sektor pada provinsi A aik yang erasal dari : produksi domestik A sendiri, impor yang datang dari provinsi B, dan impor yang datang dari selain provinsi B (impor ROR). XiB : Jumlah seluruh input antara yang digunakan oleh sektor pada provinsi B aik yang erasal dari : produksi domestik B sendiri, impor yang datang dari provinsi A, dan impor yang datang dari selain provinsi A. VA dan V2A: Nilai tamah ruto yang diciptakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi A. B A : V dan V 2 Nilai tamah ruto yang diciptakan oleh masing-masing sektor dan 2 pada provinsi B. XA : Total input sektor pada provinsi A dilihat menurut kolom. X2A : Total input sektor 2 pada provinsi A dilihat menurut kolom. XB : Total input sektor pada provinsi B dilihat menurut kolom. X2B : Total input sektor 2 pada provinsi B dilihat menurut kolom.
42 54 X + X2 : Input antara sektor provinsi A yang erasal dari produksi domestik. X + X2 : Input antara sektor provinsi A yang erasal dari produksi provinsi B. XMA : Input antara sektor provinsi A yang erasal dari impor selain provinsi B. VA : Nilai tamah yang ditimulkan oleh sektor provinsi A. Dengan interpretasi yang serupa dapat dirumuskan persamaan susunan input untuk sektor 2 di provinsi A, dan sektor dan 2 di provinsi B melalui rumus erikut : MA A A X 2 + X 22 + X 2 + X 22 + X 2 + V 2 = X 2 MB B B X + X 2 + X + X 2 + X + V = X MB B B X 2 + X 22 + X 2 + X 22 + X 2 + V 2 = X 2 Persamaan di atas diturunkan dari huungan antara sel di dalam matriks kuadran I (input antara) dan matriks kuadran III (input primer). Diperlihatkan melalui susunan input sektoral terseut adanya ketergantungan suatu sektor dengan sektor lainnya di dalam provinsi yang sama dan ketergantungan suatu sektor dengan sektor lainnya di luar provinsi yang ersangkutan. Melalui persamaan susunan input terseut dapat dilihat ketergantungan sektor di provinsi A terhadap ahan aku/ahan penolong yang diimpor dari provinsi B atau provinsi lainnya. Begitu pula sealiknya situasi yang dihadapi oleh sektorsektor ekonomi pada provinsi B yang mengalami ketergantungan input antara yang harus diimpor dari provinsi A maupun provinsi lainnya. Selain susunan input, rekaman informasi lainnya yang dapat diperoleh dari tael I-O ilateral antara A dan B di atas adalah alokasi output sektoral yang memerikan gamaran tentang distriusi nilai produksi suatu sektor di dalam perekonomian lintas provinsi. Alokasi output sektoral di dalam tael I-O ilateral provinsi A dan B ditunjukkan melalui persamaan penjumlahan sel-sel matriks kuadran I (permintaan antara) dan kuadran II (permintaan akhir) yang disusun menurut aris. Alokasi output sektor dan 2 di masing-masing provinsi A dan B dapat dirumuskan melalui 4 uah persamaan erikut :
43 55 A A X + X 2 + X + X E = X X 2 + X 22 A A + X 2 + X E 2 = X 2 X + X 2 + X + X 2 B B E = X B B X 2 + X 22 + X 2 + X E 2 = X 2 Berikut dapat memperjelas struktur distriusi output sektor di dalam tael I-O ilateral provinsi A dan B yang dapat diedakan menjadi : X i + X 2 : Output sektor yang digunakan seagai input antara (permintaan antara ) di provinsi A sendiri. X + X 2 : Output sektor provinsi A yang diekspor dan digunakan seagai input antara oleh provinsi B. EA : Nilai produksi sektor provinsi A dikonsumsi seagai permintaan akhir oleh provinsi A sendiri. : Nilai produksi sektor provinsi A yang diekspor ke provinsi B seagai permintaan akhir. : Nilai produksi sektor provinsi A yang diekspor ke selain provinsi B. Jadi, persamaan alokasi output sektor di atas memperlihatkan ahwa jumlah permintaan antara ditamah jumlah permintaan akhir sama dengan output. Alokasi output sektor dapat diaplikasikan untuk sektor-sektor lainnya. Penjelasan ini akan mengetengahkan eerapa persamaan matematis yang dapat diturunkan dari suatu model I-O antara provinsi dengan menggunakan pendekatan tael I-O ilateral antara provinsi A dan B. eerapa persamaan matematis yang dapat dirumuskan melalui tael I-O ilateral antara provinsi A dan B merupakan dasar agi penyusunan analisis ekonomi dengan model I-O, karena entuk huungan di antara sel-sel matriks pada kuadran I, II dan III yang disusun ke dalam suatu sistem persamaan akan memungkinkan dilakukannya penyelesaian matematika yang seringkali digunakan untuk memuat estimasi terhadap variael-variael tidak eas yang erada dalam persamaan terseut, seperti : penyusunan estimasi output (X i ) yang ditentukan oleh peruahan permintaan akhir ( i ) dimana kedua variael terseut erhuungan dalam suatu sistem persamaan erikut ini : X i = (I A) - i... (2.50)
44 56 Di dalam suatu model I-O antara dua provinsi A dan B aik untuk intraregional maupun iterregional. Intraregional adalah keterkaitan sektor ekonomi (produksi) dengan sektor ekonomi lain dalam regional sendiri. Sedangkan iterregional merupakan keterkaitan sektor ekonomi (produksi) terhadap sektor-sektor ekonomi di luar reginal (keterkaitan dengan regional lain). Ada 3 lok matriks utama yang menjadi asis agi diturunkannya eerapa persamaan matematis, yaitu : () Tael Transaksi, (2) Koefisien Teknik, dan(3) Koefisien Saling Ketergantungan.. Tael Transaksi Matriks ini dientuk melalui terjadinya transaksi ekonomi lintas sektor dan lintas provinsi A dan B dimana transaksi terseut secara kolom isa direfleksikan dengan komposisi input yang terdiri dari input antara dan input primer, dan secara aris direfleksikan melalui distriusi arang/jasa ke dalam permintaan antara dan permintaan akhir antara provinsi. Sistem persamaan yang dapat dirumuskan dari tael transaksi ini dapat dilihat pada penjelasan susunan input dan alokasi output. 2. Koefisien Teknik Matriks koefisien teknik adalah matriks kumpulan sel-sel yang diperoleh dari rasio input antara terhadap total input atau outputnya. Matriks ini terletak di Kuadran I di dalam kerangka Tael I-O. cara penghitungan masing-masing sel matriks koefisien teknik adalah sama dengan penghitungan koefisien input pada Tael I-O single region, yaitu dengan rumus : a ij Xij Xj Dimana i :,2 n j :,2,n x j : output sektor ke j a ij : koefisien input sektor ke I untuk sektor ke j X ij : penggunaan input sektor ke I oleh sektor ke j Di dalam suatu model I O aik satu provinsi maupun antara provinsi, kumpulan koefisien input yang mengisi Kuadran I diseut seagai matriks A, yang isa dinotasikan dalam angun matriks erikut :
45 57 A = a a2 ai an a2 a22 ai2 an aij a2 j aij anj am a2n ain ann Dalam huungan dengan tael I-O ilateral antara provinsi A dan B, matriks terseut dapat dipecah ke dalam empat su-matriks erikut : aij Aij A Dimana : a ij ai j a ij : Koefisien input yang menunjukkan porsi penggunaan input antara produksi domestik provinsi A oleh sektor-sektor di provinsi A sendiri. a ij : Koefisien input yang menunjukkan porsi penggunaan input antara pada provinsi B dimana input antara terseut diimpor dari provinsi A. a ij : Koefisien input yang menunjukkan porsi penggunaan input antara a ij oleh sektor-sektor di provinsi A sendiri dimana input antara terseut diimpor dari provinsi B. : Koefisien input yang menunjukkan porsi penggunaan input antara produksi domestik provinsi B oleh sektor-sektor di provinsi B sendiri. 3. Koefisien Saling Ketergantungan (Interdependence Coefficients) Matriks koefisien saling ketergantungan ini diseut juga seagai matriks kealikan (inverse matrix) dari matrik (I-A).matriks ini leih dikenal dengan seutan matriks Leontief. Di dalam model I-O antara dua provinsi atau di dalam kasus Tael I-O ilateral antara provinsi A dan B angun persamaan matriks yang dapat dikemangkan dari model I-O satu provinsi adalah : a a 2 a a 2 a2 a22 a2 a22 a a2 a a2 a2 a22 a2 a22 XA X 2A XB X 2 B 2 2 Persamaan matriks terseut isa disederhanakan menjadi : 2 2 XA X 2A XB X 2 B
46 58 AX + = X X = (I A ) - Jika matriks (I A) - dieri notasi seagai matriks B, maka tranformasinya ke dalam angun matriks menjadi : ( I A) B Matriks B di atas merupakan himpunan koefisien saling ketergantungan lintas sektor dan lintas provinsi A dan B. jika matriks B terseut disustitusikan ke dalam persamaan X = (I A) -, maka perkalian matriksnya menjadi : ( A) X X X X A 2 X Dengan dasar sistem persamaan matriks terseut di atas, penghitungan dampak peruahan permintaan akhir terhadap peruahan output sektoral melalui suatu efek pengganda dapat distimulasikan ke dalam eerapa skenario erikut :. Jika permintaan akhir di provinsi A terhadap produksi domestik provinsi A sendiri untuk sektor ( ) meningkat seesar unit, maka pengaruh terhadap peruahan output sektor di provinsi A adalah seesar dan pengaruh terhadap output sektor 2 di provinsi A adalah seesar 2 dan pengaruh terhadap output sektor di provinsi B adalah dan pengaruh. terhadap peruahan output sektor 2 di provinsi B adalah 2 2. Jika untuk produk sektor di provinsi B meningkat satu unit, maka pengaruhnya terhadap peruahan output sektor di provinsi A adalah seesar 2 dan pengaruhnya terhadap peruahan output sektor 2 di provinsi A adalah seesar 22, kemudian pengaruhnya terhadap peruahan output sektor di provinsi B seesar 2 dan terhadap output sektor 2 di provinsi B seesar Jika 2 untuk produk sektor 2 di provinsi B meningkat unit, maka pengaruhnya terhadap peruahan output sektor di provinsi A seesar 2, A 2
47 59 dan pengaruhnya terhadap peruahan output sektor 2 di provinsi A seesar 22, kemudian pengaruhnya terhadap peruahan output sektor di provinsi B seesar B 2 dan terhadap output sektor 2 nya seesar 22 a. Keterkaitan Keelakang (Backward Linkage) atau Daya Penyearan. Analisis daya penyearan (Power of dispersion) adalah suatu analisis yang menggamarkan permintaan suatu sektor terhadap sektor-sektor produksi lainnya. Jumlah daya penyearan menunjukkan dampak dari satu unit permintaan akhir suatu sektor terhadap pertumuhan ekonomi di masing-masing sektor secara keseluruhan. Jumlah daya penyearan merupakan suatu ukuran untuk menganalisis keterkaitan ke elakang (ackward linkage). Indikator keterkaitan keelakang ini sering dipandang seagai perwujudan dari sektor yang memiliki asis aktivitas domestik (resources ase sector). Apaila suatu wilayah hendak memangun, iasanya keterkaitan keelakang ini menjadi salah satu indikator yang penting. Apaila sektor ini erkemang, maka sektor ini isa menarik sektor - sektor yang erada di elakangnya seagai penyedia input, sehingga dengan mendorong sektor yang forward linkage-nya kuat maka juga akan memawa pertumuhan sektor-sektor lain. Secara matematika, derajat kepekaan dapat diturunkan dengan rumus seagai erikut: ( A) Dimana : X X X X A 2 X (I-A) - : matriks invers : matriks permintaan akhir X : output Jika permintaan akhir di Provinsi A terhadap produksi domestik Provinsi A sendiri untuk sektor ( ) meningkat seesar unit, maka pengaruh terhadap peruahan output sektor di Provinsi A adalah seesar dan pengaruh terhadap output sektor 2 di Provinsi A adalah seesar 2, kemudian pengaruh A 2
48 60 terhadap peruahan output sektor di Provinsi B adalah dan pengaruh terhadap peruahan output sektor 2 di Provinsi B adalah 2. Secara umum, jumlah dampak akiat peruahan permintaan akhir suatu sektor (sektor ) di suatu region (Provinsi A ) terhadap seluruh sektor ekonomi (sektor dan sektor 2) di seluruh region (Provinsi A dan B) adalah: rj = (2.5) rj = j ij (penjumlahan kolom ). Dimana rj : jumlah dampak akiat peruahan permintaan akhir sektor-j. ij : dampak yang terjadi pada output sektor-i akiat peruahan permintaan akhir sektor j. Jumlah dampak pada persamaan di atas diseut seagai Daya Penyearan, dan esaran ini menunjukan dapak dari peruahan permintaan akhir suatu sektor terhadap output seluruh sektor ekonomi didalam wilayah dan wilayah lain-nya. Selanjutnya, rata-rata dampak yang ditimulkan terhadap output masing-masing sektor akiat peruahan permintaan akhir suatu sektor, dapat dihitung dengan mengunakan rumus seagai erikut: r n n j Y j ij... (2.52) dimana Yj adalah rata-rata dampak terhadap output masing-masing sektor akiat peruahan permintaan akhir sektor j. Karena sifat permintaan akhir dari masing-masing sektor saling ereda satu sama lain, maka kedua persamaan diatas ( rj dan Yj ) saling ereda satu sama lain-nya, maka persamaan terseut ukan merupakan ukuran yang sah untuk memandingkan dampak yang terjadi pada setiap sektor. Untuk keperluan perandingan, maka Yj harus dinormalkan (normalized) dengan cara memagi rata-rata dampak suatu sektor dengan rata-rata dampak seluruh sector. Ukuran yang dihasilkan dari proses ini diseut seagai indeks daya penyearan yang diformulasikan seagai erikut:
49 6.i n i. i. j... (2.53) n i j ij.j : indeks keterkaitan ke elakang (indeks daya penyearan)sektor-j : Koefisien input sektor i ij : koefisien output sektor j dari input sektor i i,j : aris dan kolom n : jumlah sektor Besaran j dapat memiliki nilai sama dengan satu, leih kecil dari satu dan leih esar dari satu. Bila j =, hal ini erarti ahwa daya penyearan sector j sama dengan rata-rata daya penyearan seluruh sektor ekonomi. Sedangkan ila j, menunjukan ahwa daya penyearan sektor j diatas rata-rata daya penyearan seluruh sektor ekonomi, dan sealiknya ila j, menunjukan daya penyearan sektor j leih rendah dari rata-rata daya penyearan seluruh sektor ekonomi. Keeradaan sektor ini akan menarik perkemangan sektor yang erada dielakangnya seagai penyedia input untuk ertumuh dan erkemang.. Keterkaitan ke Depan (forward linkages) atau Derajat Kepekaan Indikator keterkaitan ke depan ini sering dipandang seagai perwujudan dari sektor yang memiliki asis aktivitas domestik (resources ase sector). Apaila suatu wilayah hendak erkemang, iasanya keterkaitan kedepan ini menjadi salah satu indikator yang penting. Apaila sektor ini erkemang, maka sektor ini isa mendorong sektor-sektor yang erada di depannya seagai pemakai output, sehingga dengan mendorong sektor yang ackward linkage-nya kuat maka juga akan memawa pertumuhan sektor-sektor lain. Selanjutnya juga analisis derajat kepekaan (degree of sensitivity) adalah suatu analisis yang menggamarkan kemampuan suatu sektor dalam mensuplay sektor-sektor produksi lainnya. Jumlah derajat kepekaan menunjukkan pementukan output di suatu sektor yang dipengaruhi oleh permintaan akhir masing-masing sektor perekonomian. Jumlah derajat kepekaan ini merupakan suatu ukuran untuk menganalisis keterkaitan ke depan (forward linkage). Secara matematika, derajat kepekaan dapat diturunkan dengan rumus seagai erikut :
50 ( A) X X X X A A 2 2 X Dimana : (I-A) - : matriks invers : matriks permintaan akhir X : Output Selanjutnya, apaila terjadi peruahan pada permintaan akhir sektor di provinsi A ( ), maka akan mengakiatkan terjadinya peruahan input pada sektor seesar dan peruahan input pada sektor 2 2 dan peruahan input yang terjadi pada sektor di Provinsi B adalah dan peruahan input sektor 2 seesar 2. Penghitungan jumlah dampak sektor-i seagai akiat peruahan permintaan akhir di sektor i adalah : Si = (2.54) Si = j ij (penjumlahan aris ) Dimana : S i : jumlah dampak sektor i (akiat peruahan yang terjadi pada seluruh sektor). ij : dampak yang terjadi pada input sektor i akiat peruahan permintaan akhir sektor j. Si pada persamaan di atas diseut juga seagai jumlah derajat kepekaan yaitu esaran yang menjelaskan dampak yang terjadi terhadap output suatu sektor seagai akiat dari peruahan permintaan akhir pada masing-masing sektor perekonomian. Oleh karena ini menjelaskan pementukan output di suatu sektor yang dipengaruhi oleh permintaan akhir masing-masing sektor perekonomian maka ukuran ini dapat digunakan untuk melihat keterkaitan ke depan (forward linkage). Untuk keperluan perandingan antara sektor, dengan menggunakan logika yang serupa dengan pemahasan daya penyearan, maka persamaan dinormalkan menjadi :
51 63 n. j j i.... (2.55) n i j ij i. : indeks keterkaitan ke depan (indeks derajat kepekaan) sektor-i.j : koefisien output sektor j ij ij n : koefisien output sektor j yang erasal dari input i : aris dan kolom : jumlah sektor Dimana i = indeks derajat kepekaan atau leih sering diseut seagai derajat kepekaan saja. Nilai i> artinya ahwa derajat kepekaan sektor i leih tinggi dari rata-rata kepekaan seluruh sektor. Nilai i< artinya ahwa derajat kepekaan sektor i leih rendah dari rata-rata kepekaan seluruh sektor, dan nilai i = artinya ahwa derajat kepekaan sektor i sama dengan rata-rata kepekaan seluruh sektor. Keeradaan sektor ini akan mendorong perkemangan sektor yang erada di depan-nya seagai penguna output, sehingga dia dapat untuk ertumuh dan erkemang. 2.8 Pendekatan Sistem Dalam Pengemangan Wilayah Eriyatno (2002), dalam Djakapermana (200) menyatakan ahwa konsep sistem merupakan suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan terseut dapat dalam entuk peredaan kepentingan atau keteratasan sumerdaya. Seagai suatu pendekatan, sistem memerikan penyelesaian masalah dengan metode dan alat yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, mensimulasi, dan mendesain sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait, yang diformulasikan secara lintas-disiplin dan komplementer untuk mencapai tujuan yang sama. Beerapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pendekatan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yaitu ) analisis keutuhan, (2) formulasi permasalahan yang merupakan kominasi dari semua permasalahan
52 64 yang ada dalam sistem, (3) identifikasi sistem, (4) pemodelan astrak, (5) implementasi dan (6) operasi. Lukas (993) dalam Djakapermana (200) menyatakan ahwa secara teoritis komponen dalam suatu sistem saling erhuungan dan memiliki keergantungan antar sistem. Sistem harus dipandang secara keseluruhan dan akan ersifat seagai pengejar sasaran, sehingga terjadi seuah keseimangan untuk pencapaian tujuan. Seuah sistem mempunyai masukkan (input) dan keluaran (output). Pada seuah sistem ada umpan allik yang erfungsi seagai pengatur komponen-komponen sistem yang saling erinteraksi untuk mencapai tujuan dan sistem yang leih esar dapat terdiri atas eerapa sistem kecil (susistem) yang akan mementuk suatu hirarki. Untuk menyederhanakan seuah sistem, maka perlu dilakukan pemodelan. Model merupakan konsepsi mental, huungan empirikk atau kumpulan pernyataan matematik statistik atau dapat juga diartikan seagai representasi sederhana dari suatu sistem, sehingga interaksi untur-unsur yang kompleks dalam suatu sistem dapat diastraksikan dalam entuk huungan sea akiat dari peuah-peuah yang ditetapkan sesuai tujuan model, Pramudya (989) dalam Djakapermana (200). Tujuan yang paling mendasar dalam pemodelan adalah meningkatkan pemahaman tentang huungan-huungan yang terjadi diantara struktur umpanalik dan perilaku dinamis dalam suatu sistem, sehingga dapat dikemangkan eragai keijakan dalam rangka memperaiki perilaku permasalahan yang terjadi. Pemodelan dalam metode sistem dinamik (dynamics system) dimulai dengan konsep-konsep dan informasi yang ada dan digunakan di dalam prosesproses pengamilan keputusan. Persepsi-persepsi yang ada dirangkum dalam suatu model komputer dan disimulasikan untuk menghasilkan konsekuensikonsekuensi dinamis dari asumsi-asumsi tentang sistem terseut. Pemuatan model sistem dinamik mengasumsikan, ahwa perilaku sistem terutama ditentukan oleh mekanisme feedack. Oleh sea itu, setelah mendefinisikan atas sistem, deskripsi feedack loops merupakan langkah selanjutnya dalam sistem dinamik. Model-model sistem dinamik digamarkan melalui diagram-diagram, simol-stock, flow, variael-variael auxiliary, dan
53 65 konstanta yang erisi makna/arti, misalnya sifat-sifat matematik. Secara tipikal, model sistem dinamikk mengandung proses fisik, arus informasi, aspek manusia, soft factors, formasi dari persepsi, ekspektasi dan delay (penundaan). Secara grafik, tahapan pemodelan disajikan pada Gamar 9. Pengemangan model dilakukan melalui langkah-langkah : analisis keutuhan, identifikasi dan formulasi permasalahan serta stakeholder terkait, identifikasi sistem (atasan model), konseptualisasi model, desain model, verifikasi dan validasi model. Gamar 9. Tahapan Pemodelan Sistem Dinamik (Djakapermana, 200)
BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah kependudukan di Indonesia merupakan masalah penting yang perlu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kependudukan di Indonesia merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian dan pemahasan serius dari pemerintah dan ahli kependudukan. Bila para ahli
BAB IV. KERANGKA PEMIKIRAN. Bab ini merupakan rangkuman dari studi literatur dan kerangka teori yang
BAB IV. KERANGKA PEMIKIRAN Bab ini merupakan rangkuman dari studi literatur dan kerangka teori yang digunakan pada penelitian ini. Hal yang dibahas pada bab ini adalah: (1) keterkaitan penerimaan daerah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 21 Distriusi Distriusi dapat diartikan seagai kegiatan pemasaran untuk memperlancar dan mempermudah penyampaian arang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya
KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA ANALISA DENGAN KURVA IS, LM DAN BP
Bahan 6 Keijakan Moneter dan Fiskal Dalam Ekonomi Teruka KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA ANALISA DENGAN KURVA IS, LM DAN BP 1. Hal-hal Krusial Untuk Analisa Dengan Kurva
PERSEPSI TERHADAP PELAYANAN RUMAH KOST DI KELURAHAN GEBANG REJO (PERCEPTION BOARDING HOUSE SERVICES IN VILLAGE GEBANGREJO) BY Tabita R.
PERSEPSI TERHADAP PELAYANAN RUMAH KOST DI KELURAHAN GEBANG REJO (PERCEPTION BOARDING HOUSE SERVICES IN VILLAGE GEBANGREJO) BY Taita R. Matana ABSTRACT The purpose of this study was to determine the pereptions
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Adam Smith (1776) terdapat dua aspek utama pertumbuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Pembangunan Ekonomi Menurut Adam Smith (1776) terdapat dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Pada pertumbuhan output
BAB II STUDI KEPUSTAKAAN. Dalam bab ini akan diuraikan mengenai landasan teori yang menjadi dasar
BAB II STUDI KEPUSTAKAAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai landasan teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati, studi empiris dari penelitian sebelumnya yang merupakan studi penelitian
Pertumbuhan ekonomi wilayah
Teori Pertumbuhan ekonomi wilayah Adanya pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) Pertambahan pendapatan diukur dalam nilai
TINJAUAN PUSTAKA. Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah
16 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Ekonomi Pembangunan Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional yang kondisi-kondisi ekonomi awalnya kurang lebih bersifat
ANALISIS PENDAPATAN NASIONAL TIGA SEKTOR. Minggu 6
ANALSS PENDAPATAN NASONAL TA SEKTOR Minggu 6 Pendahuluan Pada agian terdahulu, telah diahas mengenai keseimangan pendapatan nasional 2 sektor dimana pelaku kegiatan ekonomi terdiri dari dua pelaku kegiatan
BAB 1 PENDAHULUAN. sektor utama ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Lingkungan mikro di dalam rumah tanaman khususnya di daerah tropika asah perlu mendapat perhatian khusus, mengingat iri iklim tropika asah dengan suhu udara yang relatif panas,
PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN
PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN Sumer: Art & Gallery 44 Matematika X SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi Standar kompetensi persamaan dan pertidaksamaan linier dan kuadrat terdiri atas tiga kompetensi dasar.
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti pertumbuhan pendapatan perkapita, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus
13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus dilaksanakan dengan berpedoman
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis 3.1.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Berbagai model pertumbuhan ekonomi telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi. Teori pertumbuhan yang dikembangkan dimaksudkan
BAB II. PROTEKSI TRAFO 60 MVA 150/20 kv. DAN PENYULANG 20 kv
BAB II PROTEKSI TRAFO 60 MVA 150/20 kv DAN PENYULANG 20 kv 2.1. Transformator Daya Transformator adalah suatu alat listrik statis yang erfungsi meruah tegangan guna penyaluran daya listrik dari suatu rangkaian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Pendapatan
PERTEMUAN 5 dan 6 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
PERTEMUAN 5 dan 6 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI Pendahuluan Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan
BAB 3 Pendapatan Nasional : Dari Mana Berasal dan Ke Mana Perginya
BAB 3 Pendapatan Nasional : Dari Mana Berasal dan Ke Mana Perginya Tutorial PowerPoint untuk mendampingi MAKROEKONOMI, edisi ke-6 N. Gregory Mankiw oleh Mannig J. Simidian 1 Model ini sangat sederhana
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER-04/MEN/1993 TAHUN 1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER-04/MEN/1993 TAHUN 1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA, Menimang: a ahwa seagai pelaksanaan Pasal 19
BAB I PENDAHULUAN. dari definisi ini bahwa pembangunan ekonomi mempunyai tiga sifat penting
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pengertian pembangunan ekonomi secara essensial dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat
ANALISIS PENGGUNAAN ANGGARAN KAS SEBAGAI TOLOK UKUR PENGENDALIAN BIAYA PADA PDAM KOTA BLITAR. Desi Apriani Retno Murni Sari. STIE Kesuma Negara Blitar
ANALISIS PENGGUNAAN ANGGARAN KAS SEBAGAI TOLOK UKUR PENGENDALIAN BIAYA PADA PDAM KOTA BLITAR Desi Apriani Retno Murni Sari STIE Kesuma Negara Blitar Astrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
BAB II PENDAPATAN NASIONAL
BAB II PENDAPATAN NASIONAL A. PENGERTIAN Pendapatan nasional merupakan salah satu indikator keadaan ekonomi suatu negara. Terdapat beberapa istilah dalam produksi nasional antara lain : a. GNP ( Gross
BAB III METODE PENELITIAN. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seluruh perusahaan yang
35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seluruh perusahaan yang go pulic di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang diamil diatasi pada perusahaanperusahaan
4. Mononom dan Polinom
Darpulic www.darpulic.com 4. Mononom dan Polinom Sudaratno Sudirham Mononom adalah pernataan tunggal ang erentuk k n, dengan k adalah tetapan dan n adalah ilangan ulat termasuk nol. Fungsi polinom merupakan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak sekedar memenuhi kebutuhan hayati saja, namun juga menyangkut kebutuhan lainnya seperti
I. PENDAHULUAN. perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosial, tingkah laku sosial, dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang melibatkan berbagai perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosial, tingkah laku sosial, dan institusi sosial,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Suryana (2000 : 3), mengungkapkan pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. usaha untuk memperbaiki kondisi pertumbuhan jagung dan menambah
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Peningkatan pertumuhan jagung melalui pemerian pupuk merupakan usaha untuk memperaiki kondisi pertumuhan jagung dan menamah keseuran tanah. Pemerian pupuk
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atau struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. pembangunan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara adalah pertumbuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati. Teori yang dibahas dalam bab ini terdiri dari pengertian pertumbuhan ekonomi,
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB LANDASAN TEORI. MANAJEMEN Manajemen adalah Kegiatan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penempatan orang (stafing), pengendalian (controlling), pengamilan keputusan (decision) dan
6. 2 Menerapkan konsep fungsi linier Menggambarkan fungsi kuadrat Menerapkan konsep fungsi kuadrat
Sumer: Art and Gallery Standar Kompetensi 6. Memecahkan masalah yang erkaitan dengan fungsi, persamaan fungsi linier dan fungsi kuadrat Kompetensi Dasar 6. Mendeskripsikan peredaan konsep relasi dan fungsi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perdagangan Antarnegara Tingkat perekonomian yang paling maju ialah perekonomian terbuka, di mana dalam perekonomian terbuka ini selain sektor rumah tangga, sektor perusahaan,
PENENTUAN JUMLAH BUS YANG OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE GOAL PROGRAMMING (Studi Kasus Di Trayek B 35 Jurusan Terboyo - Cangkiran Semarang)
PENENTUAN JUMLAH BUS YANG OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE GOAL PROGRAMMING (Studi Kasus Di Trayek B 35 Jurusan Teroyo Cangkiran Semarang) Arfan Bakhtiar, Diana Puspita Sari, Hendy Tantono Industrial
PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1
PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1 1. Para ekonom menggunakan beberapa variabel makroekonomi untuk mengukur prestasi seuah perekonomian. Tiga variable yang utama adalah real GDP, inflation
TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA BY : DIANA MA RIFAH
TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA BY : DIANA MA RIFAH DEFINISI Secara umum transformasi struktural berarti suatu proses perubahan struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri
ANALISIS MODEL PERTUMBUHAN INTERREGIONAL DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
ANALISIS MODEL PERTUMBUHAN INTERREGIONAL DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geografi Ekonomi Disusun Oleh : 1. Abdul Karim (K5410001) 2.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Pendapatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Distribusi Input dan Output Produksi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Dasar 2.1.1 Distribusi Input dan Output Produksi Proses produksi adalah suatu proses yang dilakukan oleh dunia usaha untuk mengubah input menjadi output. Dunia usaha
BAB I PENDAHULUAN. Kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan dari pembangunan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan dari pembangunan ekonomi nasional yang dapat dicapai melalui pembenahan taraf hidup masyarakat, perluasan lapangan
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Konsep Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi. dan tidak memusnahkan sumberdaya asli, manakala teori dan model
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pembangunan menentukan usaha pembangunan yang berkelanjutan
I.PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan
I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan ekonomi, hal ini disebabkan karena terjadinya keterbelakangan ekonomi. Pembangunan di bidang ekonomi
Materi Bahasan. Analisis Sensitivitas (Sensitivity Analysis) Analisis Sensitivitas. 1 Pengertian Analisis Sensitivitas
Materi ahasan nalisis Sensitivitas (Sensitivity nalysis) Pengertian analisis sensitivitas nalisis sensitivitas dengan metode grafis nalisis sensitivitas dengan metode simpleks Kuliah 7 TI Penelitian Operasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Definisi C. Tujuan 1. Tujuan Umum 2. Tujuan Khusus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernahkah anda menjadi seorang pasien yang datang ke dokter dan menolak dirawat? Biasanya penolakan muncul jika sang dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan seperti
Antiremed Kelas 10 Ekonomi
Antiremed Kelas 10 Ekonomi Pendapatan Nasional - Soal Halaman 1 01. Pada metode pendapatan, besar pendapatan nasional suatu negara akan sama dengan (A) jumlah produksi ditambah upah (B) jumlah investasi
III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
27 III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1. Kerangka Pemikiran Kebutuhan untuk menggunakan I-O Regional dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT semakin terasa penting jika dikaitkan dengan pelaksanaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, dan teori konvergensi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati. Teori yang dibahas dalam bab ini terdiri dari pengertian pembangunan ekonomi,
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Schumpeter dalam Sukirno (2006:251) pembangunan ekonomi
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Konsep Pembangunan Ekonomi Menurut Schumpeter dalam Sukirno (2006:251) pembangunan ekonomi bukan merupakan suatu proses yang bersifat harmonis
Pertanyaan: Isi semua kolom tersebut (sertakan perhitungannya di bawah tabel)
Tugas PIE Makro 1. Diketahui: C = 50 + 0,8 Yd S = - 50 + 0,2 Yd I = 40 Pendapatan Nasional Konsumsi RT Tabungan RT Investasi Pengeluaran Agregat 0 150 200 450 600 750 Pertanyaan: Isi semua kolom tersebut
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA 1 Meningkatnya a Produksi penangkapan - Bidang Perikanan produksi
III. KERANGKA TEORITIS
III. KERANGKA TEORITIS 3.1. Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter Kebijakan fiskal mempengaruhi perekonomian (pendapatan dan suku bunga) melalui permintaan agregat pada pasar barang, sedangkan kebijakan
FLUKTUASI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) DI KOTA PADANGSIDIMPUAN
FLUKTUASI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) DI KOTA PADANGSIDIMPUAN Enni Sari Siregar STKIP Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan Email : [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Pembangunan Ekonomi Menurut Adam Smith (1776) terdapat dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Pada pertumbuhan output
BAB II KERANGKA TEORI DAN KONSEP. pendapatan perkapita riil penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka
BAB II KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2.1.Pembangunan Ekonomi Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita riil penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang (Sukirno
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN JUDUL MATAKULIAH : TEORI EKONOMI MAKRO NOMOR KODE / SKS : EKP 2426 / 3 SKS DESKRIPSI MATA KULIAH : Mata kuliah ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap perkembangan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kesenjangan Ekonomi Antar Wilayah Sjafrizal (2008) menyatakan kesenjangan ekonomi antar wilayah merupakan aspek yang umum terjadi dalam kegiatan pembangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Prof. Simon Kuznet (1871) mendefinisikan bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang untuk menyediakan berbagai jenis
BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Pengertian Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi. Salah satu indikator yang sangat penting daam menganalisis
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Salah satu indikator yang sangat penting daam menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi di suatu negara adaah pertumbuhan ekonomi.
PEREKONOMIAN INDONESIA
PEREKONOMIAN INDONESIA Modul ke: TRANSFORMASI STRULTURAL Matsani, S.E, M.M EKONOMI BISNIS Fakultas Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id TRANSFORMASI STRUKTURAL. Transformasi struktural berarti
Pertemuan XI, XII, XIII VI. Konstruksi Rangka Batang
ahan jar Statika Mulyati, ST., MT ertemuan XI, XII, XIII VI. Konstruksi Rangka atang VI. endahuluan Salah satu sistem konstruksi ringan yang mempunyai kemampuan esar, yaitu erupa suatu Rangka atang. Rangka
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Pembangunan Ekonomi Pembangunan menurut Todaro dan Smith (2006) merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas
teori distribusi neoklasik
BAB 3 Pendapatan Nasional : Dari Mana Berasal dan Ke Mana Perginya Tutorial PowerPoint untuk mendampingi MAKROEKONOMI, edisi ke-6 N. Gregory Mankiw Model ini sangat sederhana namun kuat, dibangun antara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAA 21 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional Pendapatan nasional
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini disajikan berbagai teori yang akan digunakan dalam memecahkan permasalahan yang akan diteliti. Tinjauan teoritis ini meliputi pertumbuhan ekonomi, teori penciptaan
Perekonomian Indonesia
Modul ke: Perekonomian Indonesia Konsep dan Strategi Pembangunan Perekonomian Fakultas Ekonomi & Bisnis Janfry Sihite Program Studi Manajemen http://www.mercubuana.ac.id Arti dan Unsur Pertumbuhan Ekonomi
EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN
EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN www. lecture.brawijaya.ac.id/tatiek 4 MODEL-MODEL PEMBANGUNAN EKONOMI PERTANIAN MATERI PEMBELAJARAN 1 TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI 2 ADAM SMITH 3 RICARDO 4 ARTHUR LEWIS 5 SCHUMPETER
II. TINJAUAN PUSTAKA. proses di mana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan Ekonomi Regional Pertumbuhan ekonomi merupakan unsur penting dalam proses pembangunan wilayah yang masih merupakan target utama dalam rencana pembangunan di samping
III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Input-Output Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
BAB I PENDAHULUAN. kestabilan harga. Masalah pertumbuhan ekonomi adalah masalah klasik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang mengacu kepada trilogi pembangunan. Demi mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN. suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dapat meningkatkan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran keadaan suatu perekenomian dari suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat.
Bab 3 PERUMUSAN MODEL KINEMATIK DDMR
Ba 3 PERUMUSAN MODEL KINEMATIK DDMR Model kinematika diperlukan dalam menganalisis pergerakan suatu root moil. Model kinematik merupakan analisis pergerakan sistem yang direpresentasikan secara matematis
Metode Simpleks Diperbaiki (Revised Simplex Method) Materi Bahasan
/7/ Metode Simpleks Diperaiki (Revised Simple Method) Kuliah TI Penelitian Operasional I Materi ahasan Dasar-dasar aljaar dari metode simpleks Metode simpleks yang diperaiki TI Penelitian Operasional I
II. TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pertumbuhan ekonomi wilayah merupakan pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut,
Perekonomian Indonesia
MODUL PERKULIAHAN Perekonomian Indonesia Transformasi Struktural Perekonomian Indonesia Fakultas Program Studi Pertemuan Kode MK Disusun Oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Akuntansi 08 84041 Abstraksi Modul
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Ketenagakerjaan Penduduk suatu negara dapat dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Tenaga kerja adalah penduduk yang berusia kerja
BAB VI DEFLEKSI BALOK
VI DEFEKSI OK.. Pendahuluan Semua alok akan terdefleksi (atau melentur) dari kedudukannya apaila tereani. Dalam struktur angunan, seperti : alok dan plat lantai tidak oleh melentur terlalu erleihan untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijabarkan beberapa teori yang menjadi landasan analisis penulis mengenai hubungan kedua variabel utama, yaitu Foreign Direct Investment (FDI) dan pertumbuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam. perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat.
I. PENDAHULUAN. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara terletak pada
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara terletak pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kesempatan kerja. Pendekatan pertumbuhan ekonomi banyak
KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1. Teori Perdagangan Internasional Teori tentang perdagangan internasional telah mengalami perkembangan yang sangat maju, yaitu dimulai dengan teori klasik tentang keunggulan
Paradigma Pertumbuhan
Paradigma Pertumbuhan Sir Roy Harrod (1900 1978) Evsey Domar (1914 1997) John Maynard Keynes (1883 1946) Model Pertumbuhan Harrod Domar Roy Harrod (1939) Evsey Domar (1946) John Maynard Keynes Tingkat
BAB II FUNGSI, PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT
BAB II FUNGSI, PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT Standar kompetensi:. Memecahkan masalah yang erkaitan dengan fungsi, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat Kompetensi Dasar:. Memahami konsep fungsi.
Disusun Oleh : Dewi Ratna Nawangsari NRP Dosen Pembimbing : Tri Tiyasmihadi, ST. MT
STUDI PENGARUH BENTANGAN(SPAN) PADA SINGLE GIRDER OVERHEAD CRANE DENGAN KAPASITAS 5 TON TYPE EKKE DAN ELKE DAN KAPASITAS 10 TON TYPE EKKE TERHADAP BERAT KONSTRUKSI GIRDERNYA Disusun Oleh : Dewi Ratna Nawangsari
TINJAUAN PUSTAKA. ekonomi uang, dimana daya beli yang ada dalam uang dengan berjalannya waktu
13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Inflasi Inflasi merupakan salah satu resiko yang pasti dihadapi oleh manusia yang hidup dalam ekonomi uang, dimana daya beli yang ada dalam uang dengan berjalannya waktu mengalami
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sukirno (1994) Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa
= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1)
Inflasi adalah kecendrungan meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus. Kenaikkan harga satu atau dua barang tidak bisa disebut sebagai inflasi, kecuali jika kenaikkan harga barang itu
TEORI UTAMA PEMBANGUNAN
TEORI UTAMA PEMBANGUNAN MENURUT TODARO (1991;1994) Teori pertumbuhan linear. Teori perubahan struktural. Teori Dependensia. Teori neo-klasik. Teori-teori baru. Teori pertumbuhan linear Dasar pemikiran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang pernah dilakukan di Indonesia. tenaga kerja dengan variabel pertumbuhan ekonomi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan diuraikan mengenai landasan teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati, studi empiris dari penelitian sebelumnya dan Studi empiris yang dibahas
PERSAMAAN FUNGSI KUADRAT-1
PERSAMAAN FUNGSI KUADRAT- Mata Pelajaran K e l a s Nomor Modul : Matematika : X (Sepuluh) : MAT.X.0 Penulis Pengkaji Materi Pengkaji Media : Drs. Suyanto : Dra.Wardani Rahayu, M.Si. : Drs. Soekiman DAFTAR
BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Penulis menggunakan penelitian terdahulu sebagai acuan atau referensi untuk melakukan penelitian ini. Dengan adanya penelitian terdahulu
BAB 5 DESAIN DAN ANALISIS SAMBUNGAN
BAB 5 DESAIN DAN ANALISIS SAMBUNGAN Ba ini akan memahas kapasitas samungan rangka aja ringan terhadap gaya-gaya dalam yang merupakan hasil analisis struktur rangka aja ringan pada pemodelan a seelumnya.
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian pada umumnya mengalami fluktuasi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi adalah ukuran perkembangan perekonomian suatu negara dari satu periode ke periode berikutnya. Menurut Rahardja dan Manurung (2008), perekonomian
BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Begitu juga dengan investasi yang merupakan langkah awal
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mekanisme penanaman modal merupakan langkah awal kegiatan produksi suatu negara. Begitu juga dengan investasi yang merupakan langkah awal kegiatan pembangunan ekonomi.
ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT
ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT Pertumbuhan ekonomi NTT yang tercermin dari angka PDRB cenderung menunjukkan tren melambat. Memasuki awal tahun 2008 ekspansi
