BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Organoleptik Ikan Layang Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 2. Histogram hasil pengujian organoleptik ikan layang dengan konsentrasi belimbing 0%, 1%, 2%, dan 3% dapat dilihat pada Gambar 4. Nilai Organoleptik 8,00 6,00 4,00 2,00 a 8.00 a a a 8.00 ab bc cd a 8.00 bc 7.33 e ef ef gh g h gh ,00 0 Jam 4 Jam 8 Jam 12 Jam Lama Penyimpanan (Jam) 0 % (Kontrol) 1% 2% 3% Gambar 4. Histogram nilai organoleptik ikan layang (Decapterus sp.). Nilai-nilai pada diagram yang diikuti huruf berbeda menunjukkan berbeda nyata (p<0,05). Histogram pada Gambar 4 menunjukan nilai organoleptik mutu hedonik menurun seiring dengan lamanya penyimpanan namun penurunan pada setiap konsentrasi perlakuan berbeda. Nilai rata-rata mutu hedonik organoleptik untuk semua perlakuan pada faktor konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8. Nilai rata-rata pada penyimpanan pada 4 jam berturut-turut adalah 7.00, 7.33, 7.67 dan Nilai rata-rata pada penyimpanan 8 32

2 jam adalah 6.00, 6.00, 6.33 dan Nilai rata-rata pada penyimpanan 12 jam adalah 4.67, 5.00, 5.00 dan Pada penyimpanan 8 jam nilai rata-rata mutu hedonik untuk perlakuan dengan konsentrasi belimbing 3% masih memenuhi standar berdasarkan SNI ( ), sedangkan untuk kontrol (0%), konsentrasi 1% dan 2% tidak memenuhi standar. Pada penyimpanan 12 jam penggunaan belimbing wuluh untuk semua konsentrasi 0%, 1%, 2% dan 3% sudah tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh BSN (2006). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) untuk faktor perlakuan konsentrasi belimbing dan lama penyimpanan serta interaksi antar kedua faktor perlakuan menunjukan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai hedonik ikan layang. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) (Lampiran 4) untuk perlakuan konsentrasi belimbing menunjukkan bahwa perlakukan konsentrasi 0%, 1% dan 2% berbeda nyata dengan konsentrasi 3%, konsentrasi 1% dan 2% tidak berbeda nyata. Untuk lama penyimpanan 0 jam berbeda sangat nyata dengan 8 jam dan 12 jam, 4 jam dengan 8 jam dan 12 jam dan penyimpanan 8 jam dengan 12 jam. Penurunan nilai mutu hedonik pada semua perlakuan konsentrasi belimbing wuluh secara signifikan terjadi pada penyimpanan ke-12 jam pada semua perlakuan namun nilai rata-rata mutu hedonik berkisar 5-6 sehingga ikan tergolong pada kategori agak segar. Penurunan nilai kesegaran ikan layang hasil perlakuan belimbing dapat dilihat dengan adanya perubahan pada parameter organoleptik meliputi perubahan pre-rigor dimana pada fase ini ditandai dengan mulai disekresikannya lendir dari kelenjar di bawah permukaan kulit ikan. Lendir- 33

3 lendir akan membentuk suatu lapisan bening yang tebal di sekeliling tubuh ikan. Perubahan selanjutnya yang terjadi pada ikan layang pada penyimpanan ke-12 jam, perubahan jaringan otot terlihat pada ketika daging mulai kehilangan daya eleastisitas sehingga pada daging akan terdapat bekas jari namun bekas jari dapat hilang sehingga ikan dianggap masih berada tahapan rigormortis di penyimpanan ke-12 jam sebab tanda-tanda kebusukan belum terlihat jelas seperti bau busuk, dinding perut pecah, dan tekstur sangat lunak. Ikan hasil perlakuan 0% mulai menunjukan tanda kemunduran mutu yang ditandai dengan mulai mengendurnya jaringan daging ikan, bola mata cekung, pupil ke abu-abuan, kornea keruh, lendir tebal menggumpal, mulai berubah warna menjadi kuning, insang mulai mengalami diskolorasi, tekstur mulai lunak, mudah menyobek daging ikan dari tulang belakang dan bau amoniak sangat kuat, dan bau busuk. Berdasarkan Junianto (2003), fase rigor mortis tergantung pada beberapa faktor selain perlakuan konsentrasi belimbing yaitu jenis ikan, kondisi ikan saat didaratkan, cara kematian ikan, suhu lingkungan dan kondisi penyimpanan Penampakan Mata Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk penampakan mata ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai rata-rata organoleptik penampakan mata untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8.0, 8.0, 8.0, 8.0. Karakteristik mata ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni bola mata cembung, cerah dan kornea jernih dan masih tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata mutu hedonik untuk semua perlakuan berturut- 34

4 turut adalah 7.3, 7.7, 7.7 dan 8.0. Karakteristik nilai organoleptik 7 yakni kornea agak keruh dan bola mata agak cerah sehingga ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam, nilai rata-rata organoleptik lendir ikan layang semua perlakuan adalah 6.7, 7.0, 7.3, dan 7.7. Nilai organoleptik pada penyimpanan ke-8 jam masih dikategorikan ikan segar karena mempunyai nilai mutu organoleptik 7. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 5.0, 5.3, 5.3 dan 5.7. Karakteristik nilai organoleptik 5 adalah bola mata agak cekung, pupil keabu-abuan kornea agak keruh sehingga dapat dikatakan bahwa ikan layang pada penyimpanan ke-12 termasuk pada kategori ikan agak segar. Mata merupakan salah satu bagian tubuh ikan yang menjadi parameter kesegaran ikan. Ikan yang segar memiliki ciri-ciri bola mata yang cembung dan bola mata ikan busuk berbentuk cekung dan keruh (Junianto, 2003). Mata ikan layang segar terlihat dari hasil perlakuan terjadi penurunan nilai kenampakan mata seiring dengan lamanya masa simpan. Rendahnya nilai mutu hedonik mata ikan layang diduga terjadi karena akibat aktivitas bakteri yang begitu cepat sehingga mata ikan menjadi lebih cepat keruh. Pendugaan selanjutnya adalah asam belimbing yang digunakan dianggap masih berada dalam kisaran tidak berlebihan sebab jika asam terlalu kuat maka mata ikan layang akan memutih sehingga akan menurunkan nilai mutu hedonik. Hal ini sesuai dengan penelitian Agustini dkk (2009) yang menggunakan berbagai macam pengawet alami pada ikan yang berlebihan akan menurunkan nilai mutu hedonik ikan. 35

5 4.1.2 Lendir Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk penampakan mata ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai rata-rata mutu hedonik lendir ikan layang untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8.0, 8.0, 8.0, 8.0. Karakteristik lendir ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni lapisan lendir jernih, transparan dan cerah. Pada penyimpanan ke 0 jam ikan layang tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan berturut-turut adalah 7.3, 7.7, 7.7 dan 8.0. Karakteristik nilai organoleptik 7 yakni lapisan lendir mulai agak keruh, warna agak putih kurang transparan. Ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam,nilai rata-rata organoleptik ikan layang semua perlakuan adalah 6.0, 6.3, 7.0, dan 7.3. Karakteristik nilai organoleptik 6 untu lendir yakni lendir mulai agak keruh, warna putih agak kusam kurang transparan. Nilai organoleptik 6-7 dikategorikan sebagai ikan segar. Nilai rata-rata organoleptik pada penyimpanan ke-8 jam masih dikategorikan ikan segar karena mempunyai nilai 7. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 4.0, 4.3, Karakteristik nilai organoleptik 5 yakni lendir telah menggumpal, mulai berubah warna putih dan keruh sedangkan nilai 4 memiliki ciri lendir telah menggumpal, mulai berubah warna menjadi kuning dan keruh sehingga dapat dikatakan bahwa ikan layang pada penyimpanan ke-12 termasuk pada kategori ikan agak segar. 36

6 Lendir pada permukaan badan ikan dapat dijadikan parameter untuk menentukan tingkat kesegaran ikan dengan melihat kejernihan dapat ketebalan dari lapisan lendir. Berdasarkan hasil uji terlihat semakin tinggi konsentrasi, maka semakin meningkat mutu hedonik untuk paramater lendir. Hal ini diduga karena belimbing dapat membuat keadaan ikan menjadi asam sehingga aktivitas bakteri menjadi terhambat dan lendir yang terbentuk pada lapisan kulit ikan masih menyerupai ciri-ciri ikan segar. Berdasarkan Murniyati dan Sunarman (2000), pada proses pembusukan ikan terjadi tahap Hiperaemia yaitu lendir ikan terlepas dari kelenjar-kelenjarnya didalam kulit, membentuk lapisan bening yang tebal disekeliling tubuh ikan. Selain itu, jika suhu lingkungan naik maka aktivitas bakteri menjadi lebih cepat sehingga membuat pelepasan lendir dari kelenjar menjadi tebal dan keruh Insang Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk insang ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai ratarata mutu hedonik insang ikan layang untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8.0, 8.0, 8.0, 8.0. Karakteristik insang ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni warna merah kurang cerah tanpa lendir. Pada penyimpanan ke 0 jam ikan layang tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan berturut-turut adalah 7.3, 7.7, 8.0 dan 8.0. Karakteristik nilai organoleptik 7 yakni warna merah agak kusam tanpa lendir dan ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam,nilai rata-rata 37

7 organoleptik ikan layang semua perlakuan adalah 6.0, 6.3, 6.7, dan 6.7. Karakteristik nilai organoleptik 6 untuk merah agak kusam sedikit lendir. Nilai organoleptik 6-7 dikategorikan sebagai ikan segar. Nilai rata-rata organoleptik pada penyimpanan ke-8 jam masih dikategorikan ikan segar karena mempunyai nilai 7. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 5.0, 5.3, Karakteristik nilai organoleptik 5 yakni mulai ada diskolorasi, merah kecoklatan, sedikit lendir sehingga dapat dikatakan bahwa ikan layang pada penyimpanan ke-12 termasuk pada kategori ikan agak segar. Penggunaan belimbing wuluh dikatakan dapat membuat mutu hedonik insang ikan lebih baik daripada tanpa penggunaan belimbing (0%) namun mutu hedonik untuk insang dikatakan segar hanya mencapai penyimpanan ke-4 jam. Insang merupakan bagian yang mengandung paling banyak darah, darah merupakan media yang sangat subur bagi mikroba. Asam belimbing membuat mikroba pada insang terhambat. Insang pada perlakuan belimbing 1-3% lebih pudar dibandingkan dengan insang hasil perlakuan 0% pada penyimpanan ke-4 jam dan pada penyimpan ke-8 dan 12 insang menjadi merah coklat gelap dengan lendir yang mulai banyak terbentuk. Menurut Septiarni (2008), insang ikan termasuk organ tubuh yang paling rentan terhadap kebusukan dan cepat mengalami kebusukan dibanding organ tubuh lain karena akumulasi bakteri dalam jumlah tinggi pada insang. 38

8 4.1.4 Daging Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk daging ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai ratarata mutu hedonik daging ikan layang untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8.3, 8.3, 8.3, 8.3. Karakteristik daging ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni sayatan daging cemerlang, spesifik jenis, tidak pemerahan sepanjang tulang belakang. Pada penyimpanan ke 0 jam ikan layang tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan berturutturut adalah 7.3, 7.7, 8.0 dan 8.0. Karakteristik nilai organoleptik 7 yakni lapisan sayatan daging kurang cemerlang, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, dinding perut utuh. Ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam,nilai rata-rata organoleptik ikan layang semua perlakuan adalah 6.3, 6.7, 6.7, dan 7.0. Karakteristik nilai organoleptik 6 untuk sayatan daging mulai pudar dan muali terdapat pemerahan sepanjang tulang belakang. Nilai organoleptik 6-7 dikategorikan sebagai ikan segar. Nilai rata-rata organoleptik pada penyimpanan ke-8 jam masih dikategorikan ikan segar karena mempunyai nilai 7. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 4.7, 5.0, Karakteristik nilai organoleptik 5 yakni sayatan daging mulai pudar, banyak pemerahan sepanjang tulang belakang dan dinding perut agak lunak sehingga dapat dikatakan bahwa ikan layang pada penyimpanan ke-12 termasuk pada kategori ikan agak segar. 39

9 Daging ikan hampir seluruhnya terdiri dari daging bergaris melintang yang dibentuk oleh serabut-serabut daging. Warna daging ikan hasil perlakuan 1-3% memudar karena protein dalam daging mengalami agregasi, kondisi ini menghambat pembentukan pemerahan pada bagian tulang belakang. Pemerahan pada tulang belakang yang belum tampak membuat nilai mutu hedonik ikan layang hasil perlakuan 1-3% lebih tinggi dibandingkan dengan 0%. Berdasarkan penelitian Pia (2008) yang melihat mutu organoleptik ikan nila yang diberikan asam karbonat, bahwa sifat tekstur otot ikan segar banyak dipengaruhi oleh agregasi (pengumpulan) dan denaturasi protein akibat sifat asam dari asam askorbat Tekstur Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk tekstur ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai ratarata mutu hedonik tekstur ikan layang untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 8.0, 8.0, 8.0, 8.0. Karakteristik tekstur ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni agak padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek dari tulang belakang. Pada penyimpanan ke 0 jam ikan layang tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan berturut-turut adalah 7.3, 7.3, 7.0 dan 8.0. Karakteristik nilai organoleptik 7 yakni agak padat, kurang elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek dari tulang belakang dan ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam,nilai rata-rata organoleptik ikan layang semua perlakuan adalah 6.3, 6.7, 7.0, dan

10 Karakteristik nilai organoleptik 6 yakni agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari dan agak mudah menyobek daging dari tulang belakang. Nilai organoleptik 6-7 dikategorikan sebagai ikan segar. Nilai rata-rata organoleptik pada penyimpanan ke-8 jam masih dikategorikan ikan segar karena mempunyai nilai 7. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 4.7, 5.0, Karakteristik nilai organoleptik 5 yakni agak lunak, kurang elastis bila diekan dengan jari dan mudahmenyobek daging dari tulang belakang sehingga dapat dikatakan bahwa ikan layang pada penyimpanan ke-12 termasuk pada kategori ikan agak segar. Tekstur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen terhadap suatu produk pangan. Tekstur ikan layang hasil perlakuan 1-3% menjadi lebih kompak dan padat akibat asam mengikat air dari tubuh ikan. Berdasarkan penelitian Pia (2008) yang melihat mutu organoleptik ikan nila yang diberikan minuman karbonasi bahwa sifat tekstur otot ikan segar dipengaruhi oleh agregasi (pengumpulan) dan denaturasi protein, terutama protein miofibril akibat asam. Namun tekstur mengalami perubahan menjadi sedikit lunak seiring dengan lama penyimpanan sebab kekuatan asam dari belimbing semakin menurun sehingga daya ikat air semakin menurun akibatnya sedikit demi sedikit air masuk dalam daging ikan sehingga daging ikan melunak Bau Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik untuk bau ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 5. Nilai rata-rata mutu hedonik bau ikan layang untuk semua perlakuan konsentrasi belimbing (0%, 41

11 1%, 2% dan 3%) pada penyimpanan 0 jam adalah 9.0, 9.0, 9.0. Karakteristik bau ikan layang yang mempunyai nilai organoleptik 8 yakni bau agak segar spesifik jenis. Pada penyimpanan ke 0 jam ikan layang tergolong ikan segar. Pada penyimpanan 4 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan berturutturut adalah 8.0, 8.3, 8.3 dan 8.7. Karakteristik nilai organoleptik 8 yakni segar dan spesifik jenis dan ikan layang masih dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-8 jam,nilai rata-rata organoleptik ikan layang semua perlakuan adalah 6.0, 6.3, 6.7 dan 7.0. Karakteristik nilai organoleptik 6 yakni bau agak netral. Nilai organoleptik 6-7 dikategorikan sebagai ikan segar. Pada penyimpanan ke-12 jam, nilai rata-rata organoleptik untuk semua perlakuan adalah 3.0, 4.0, Karakteristik nilai organoleptik 5 yakni bau amoniak muali tercium sedikit bau asam. Karakteristik nilai organoleptik 3 yakni bau amoniak kuat, terdeteksi bau H 2 S dan bau asam dan busuk sehingga dapat dikatakan bahwa dari segi bau, ikan layang hasil perlakuan belimbing dengan konsentrasi 0% dan 1% tidak segar sedangkan ikan layang hasil perlakuan 2% dan 3% agak segar. Selama masa penyimpanan, bau ikan mengalami peningkatan yang menyebabkan nilai organoleptik oleh bau panelis semakin menurun. Menurut Junianto (2003), faktor yang menyebabkan ikan cepat mengalami bau busuk adalah kadar glikogennya rendah sehingga rigor mortis berlangsung lebih cepat. Penggunaan belimbing sebagai bahan pengawet dapat mencegah timbulnya bau ikan. Zat asam diduga dapat mencegah terbentuknya senyawa-senyawa sampingan hasil dari denaturasi protein yang menyebabkan bau amis ikan 42

12 sehingga bau ikan dapat disamarkan atau tidak dapat dideteksi oleh indera manusia, kondisi ini terlihat pada perlakuan 0% yang lebih amis dibandingkan dengan ikan hasil perlakuan 1%-3%. Bau amis (amoniak) yang timbul dari ikan merupakan hasil samping penguraian protein dari aktivitas bakteri, sehingga hubungan antara jumlah bakteri dengan amoniak yang terbentuk berbanding lurus. Kandungan asam dalam belimbing bersifat antimikroba sehingga jumlah mikroba ada pada ikan akan menurun, berkurangnya jumlah mikroba maka hasil amoniak yang terbentuk akan sedikit. Berdasarkan penelitian Aprianti (2011), yang melaporkan bahwa asam dapat menyamarkan bau yang timbul dari ikan segar yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah mikroba. 4.2 Nilai ph Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai ph ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 6. Histogram hasil pengujian ph ikan layang dengan konsentrasi belimbing 1%, 2%, dan 3% dapat dilihat pada Gambar 5. 43

13 Nilai ph 7,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 a ab cd bc 6.67 d ef 6.73 g jk 6.03 e 6.47 hi 6.11 kl fg ij l 5.97 m n Jam 4 Jam 8 Jam 12 Jam Lama Penyimpanan (Jam) 0 % (Kontrol) 1% 2% 3% Gambar 5. Histogram nilai ph ikan layang (Decapterus sp) hasil perlakuan konsentrasi belimbing wuluh selama masa penyimpanan suhu ruang. Histogram Gambar 5 menunjukan nilai ph menurun seiring dengan lamanya penyimpanan pada semua perlakuan konsentrasi. Pada penyimpanan 0 jam rata-rata nilai ph ikan layang untuk semua perlakuan yaitu 6.83, 6.77, 6.67 dan Pada penyimpanan 4 jam adalah 6.73, 6.44, 6.27 dan Pada penyimpanan 8 jam adalah 6.47, 6.11, 5.97 dan Pada penyimpanan 12 jam adalah 6.32, 6.07, 5.90 dan Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa nilai ph seluruh perlakuan konsentrasi belimbing wuluh menurun seiring bertambahnya konsentrasi dan lama masa penyimpanan. Nilai ph ikan layang pada seluruh perlakuan konsentrasi belimbing selama masa penyimpanan hampir sama dengan nilai ph ikan segar yang ditetapkan oleh Junianto (2003), yakni berkisar

14 Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (ANSIRA), konsentrasi belimbing wuluh dan lama penyimpanan serta interaksi antara keduanya memberikan pengaruh sangat nyata terhadap nilai ph ikan layang (Lampiran 7). Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) nilai ph yang terdapat pada Lampiran 8, untuk faktor konsentrasi belimbing yang menunjukan pengaruh yang berbeda sangat nyata adalah 0 % dengan 1%, 2% dan 3%, 1 % dengan 2% dan 3%, 2 % dengan 3%. Untuk faktor lama penyimpanan yang menunjukan pengaruh yang berbeda sangat nyata adalah lama penyimpanan 0 jam dengan 4 jam, 8 jam dan 12 jam, 4 jam dengan 8 jam dan 12 jam serta 8 jam dengan 12 jam. Penurunan nilai ph pada ikan layang diduga disebabkan semakin bertambahnya konsentrasi asam yang diberikan pada ikan layang sehingga mengakibatkan banyaknya jumlah kandungan asam organik yang masuk dalam daging ikan. Belimbing wuluh merupakan sumber asam organik yang dicirikan dengan asam sitrat sebagai komponen utama. Diketahui bahwa ekstrak kasar belimbing wuluh yang dipakai memiliki ph 1, nilai ph tersebut menandakan pengaruh asam organik yang kuat, sehingga jika konsentrasi belimbing ditambahkan maka pengaruh asam juga akan bertambah sehingga ph daging ikan pun ikut menurun. Seperti yang dikemukakan oleh Muchlisyiyah dan Yuwono (2012) bahwa semakin tinggi konsentrasi dari larutan asam yang diberikan, maka jumlah tingkat penurunan ph yang terjadi semakin besar. Seiring dengan lamanya penyimpanan, maka nilai ph yang rendah tersebut akan semakin menurun. Hal ini merupakan sifat alamiah dari ikan itu sendiri karena kemunduran mutu memang tidak akan meningkat namun akan terus 45

15 menurun. Selama masa penyimpanan, akan terjadi perombakan glikogen dalam daging menjadi asam-asam laktat. Semakin lama penyimpanan maka asam laktat yang terbentuk dari hasil penguraian semakin tinggi, penumpukan asam laktat ini menyebabkan ph ikan menurun. Berdasarkan Zakaria (2008) bahwa pada dasarnya energi pada jaringan otot ikan setelah mati diperoleh secara anaerobik dari pemecahan glikogen menjadi glukosa dan produk-produk turunannya. Selanjutnya penguraian glukosa melalui proses glikolisis akan menghasilkan ATP dan asam laktat. Akumulasi asam laktat inilah yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan ph daging ikan dan dapat menekan aktivitas mikroba sehingga memperlambat proses deteriorasi. Menurut Ilyas (1983) penyebab lain terjadinya penurunan nilai ph pada ikan disebabkan proses aktivitas enzim katepsin dalam menguraikan protein daging ikan. Pada proses enzimatis, protein akan diuraikan menjadi pepton dan asam-asam amino. Nilai ph erat pula kaitannya dengan tingkat pertumbuhan bakteri, semakin rendah ph maka semakin rendah pula kemampuan bakteri untuk melakukan pertumbuhan yang dapat menyebabkan menurunnya nilai Total Plate Count (TPC) (Kasmadihardja, 2008). 4.3 Nilai TPC (Total Plate Count) Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing wuluh terhadap nilai Total Plate Count (TPC) ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 8. Nilai ratarata TPC mikroba ikan layang hasil perlakuan dengan penambahan belimbing wuluh 1%, 2%, dan 3% selama masa penyimpanan ditunjukan pada Gambar 6. 46

16 Nilai TPC CFU/gr 5,10 4,90 4,70 4,50 4,30 4,10 3,90 3,70 3,50 d 4.60 c 4.77 e 4.43 gh ab 4.90 ef gh 4.23 i 4.13 k 4.00 a 4.97 fg 4.33 ij 4.10 k Jam 4 Jam 8 Jam 12 Jam Lama Penyimpanan (Jam) 0 % (Kontrol) 1% 2% 3% Gambar 6. Kurva nilai TPC ikan layang hasil perlakuan konsentrasi belimbing wuluh selama penyimpanan suhu ruang. Kurva pada Gambar 6 menunjukan terjadi penurunan nilai TPC mikroba pada ikan layang hasil perlakuan 1%, 2% dan 3% selama masa penyimpanan, namun untuk hasil perlakuan 0%, nilai TPC ikan layang mengalami kenaikan seiring dengan semakin lama masa penyimpanan. Rata-rata nilai TPC terendah selama masa penyimpanan terdapat pada perlakuan konsentrasi belimbing 3% dengan nilai rata-rata TPC berkisar antara 8.6x10 3 CFU/g 4.3x10 4 atau nilai log sebesar 3.90 CFU/g 4.60 CFU/g, dan rata-rata nilai TPC tertinggi terdapat pada perlakuan konsentrasi belimbing 0% yaitu dengan kisaran 4.3x10 4 CFU/g 9.0x10 4 CFU/g atau nilai log sebesar 4.60 CFU/g 5.0 CFU/g. Batas maksimum jumlah mikroba pada ikan segar berdasarkan SNI ( ) adalah 5 x 10 5 koloni/g (nilai log maksimal 5,7 cfu/g), sehingga nilai TPC untuk seluruh perlakuan selama penyimpanan memenuhi syarat SNI yang ditetapkan. 47

17 Berdasarkan hasil analisis ragam (ANSIRA) pada Lampiran 9, menunjukan bahwa perlakuan dengan konsentrasi belimbing wuluh dan lama penyimpanan serta interaksi antara keduanya memberikan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah TPC pada ikan layang. Hasil uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Lampiran 10), nilai TPC dari seluruh perlakuan konsentrasi belimbing wuluh berbeda sangat nyata. Rata-rata nilai TPC untuk lama penyimpanan 0 jam berbeda sangat nyata dengan penyimpanan 4 jam, 8 jam dan 12 jam menunjukan perlakuan yang berbeda sangat nyata. Interaksi antar keduanya pula menunjukan pengaruh yang berbeda sangat nyata. Hal ini diduga disebabkan pada jam ke 0, belum terdapat aktivitas pertumbuhan bakteri. Bakteri masih berada dalam fase adaptasi atau penyesuaian dengan kondisi ikan, walaupun pada dasarnya tubuh ikan sendiri telah mempunyai bakteri dalam jumlah tertentu. Tubuh ikan merupakan media yang subur bagi pertumbuhan bakteri, hal ini disebabkan oleh kandungan air yang tinggi dan juga komposisi kimiawi ikan yang cukup untuk mensuplai kebutuhan nutrisi mikroba. Seiring dengan lamanya penyimpanan, maka jumlah mikroba mengalami perubahan. Perlakuan konsentrasi 0% (tanpa penambahan belimbing wuluh) mengalami kenaikan diakibakan proses kemunduran mutu yang alami terjadi pada ikan. Kenaikan jumlah TPC bakteri diduga masih merupakan fase awal pertumbuhan bakteri ikan segar, sebab ikan merupakan media alami yang cukup baik untuk bakteri. Jika ditinjau dari lama penyimpanan, maka ikan yang diamati belum melewati fase rigor yang umumnya terjadi setelah ikan jam setelah ikan ditangkap, oleh karenanya jumlah TPC ikan segar masih berada dalam standar. Berdasarkan 48

18 Afrianto dan Liviawaty (2010), makin banyak cadangan glikogen yang dirubah menjadi asam laktat makin rendah ph yang dicapai namun bakteri belum mengalami pertumbuhan yang optimum. Namun setelah fase post rigor, ph ikan akan naik dan aktivitas bakteri meningkat. Pada perlakuan penambahan konsentrasi belimbing 1%-3%, terjadi penurunan nilai TPC ikan layang. Hal ini karena pengaruh ekstrak belimbing yang memiliki sifat sebagai antimikroba. Berbagai kandungan asam yang terkandung di dalamnya, secara langsung menghambat pertumbuhan mikroba. Zat asam dapat membuat metabolisme bakteri menjadi terganggu. Terganggunya metabolisme ini disebabkan oleh terjadinya pertukaran ion asam (H + ) dari lingkungan dengan tubuh bakteri. Dinding bakteri bersifat permeabel dengan komponen kimiawi seperti komponen lipid dan protein, namun sifat tersebut akan hilang jika terdapat perbedaan jumlah ion H di dalam dan di luar tubuh sel, akibatnya membran sel bakteri menjadi asam. Kondisi asam membuat DNA tidak melakukan proses metabolisme karena membutuhkan suasana yang netral. Menurut Afrianto dan Liviawty (2010), membran sitoplasma bakteri akan bersifat impermeable terhadap ion Hidrogen dan ion hidroksil, dan senyawa-senyawa utama dari sel seperti DNA dan ATP membutuhkan kondisi netral untuk bekerja. Kondisi ini membuat banyak bakteri yang tidak bermetabolisme (tidak beradaptasi dengan baik pada suasana asam) sehingga tidak terjadi pertumbuhan bakteri, dan berdampak pada menurunnya jumlah koloni seiring dengan lama penyimpanan. 49

KARAKTERISTIK MUTU ORGANOLEPTIK IKAN LAYANG

KARAKTERISTIK MUTU ORGANOLEPTIK IKAN LAYANG Jurnal Perikanan dan Kelautan EFEKTIVITAS KONSENTRASI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU ORGANOLEPTIK IKAN LAYANG (Decapterus sp.) Segar SELAMA PENYIMPANAN RUANG 1,2 Raflin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik Nilai Organoleptik BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Organoleptik Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik ikan lolosi merah (C. chrysozona) dapat di lihat pada analisis

Lebih terperinci

Efektivitas Belimbing Wuluh terhadap Parameter Mutu Organoleptik dan ph Ikan Layang Segar Selama Penyimpanan Ruang

Efektivitas Belimbing Wuluh terhadap Parameter Mutu Organoleptik dan ph Ikan Layang Segar Selama Penyimpanan Ruang Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume II, Nomor 1, Maret 201 Efektivitas Belimbing Wuluh terhadap Parameter Mutu Organoleptik dan ph Ikan Layang Segar Selama Penyimpanan Ruang 1,2 Raflin Djafar,

Lebih terperinci

Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar

Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar LAMPIRAN 61 62 Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar Nama Panelis : Tanggal pengujian : Instruksi : Cantumkan kode contoh pada kolom yang tersedia sebelum melakukan pengujian. Berilah

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penentuan Suhu Optimum Ekstraksi Inhibitor Katepsin Penentuan suhu optimum ekstraksi inhibitor katepsin bertujuan untuk mengetahui suhu optimum untuk pemisahan antara kompleks

Lebih terperinci

Lampiran 1 Tahapan Penelitian. Penirisan. 1 ekor karkas ayam segar. Tanpa perlakuan kitosan (Kontrol) Serbuk kitosan komersil.

Lampiran 1 Tahapan Penelitian. Penirisan. 1 ekor karkas ayam segar. Tanpa perlakuan kitosan (Kontrol) Serbuk kitosan komersil. LAMPIRAN 59 60 Lampiran Tahapan Penelitian Serbuk kitosan komersil ekor karkas ayam segar Tanpa perlakuan kitosan (Kontrol) Pembuatan larutan kitosan (0,5 %; %;,5%) Pemotongan Proses perendaman Penirisan

Lebih terperinci

Mutu Organoleptik dan Mikrobiologis Ikan Kembung Segar dengan Penggunaan Larutan Lengkuas Merah

Mutu Organoleptik dan Mikrobiologis Ikan Kembung Segar dengan Penggunaan Larutan Lengkuas Merah Nikè:Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.Volume II, Nomor 4, Desember 2014 Mutu Organoleptik dan Mikrobiologis Ikan Kembung Segar dengan Penggunaan Larutan Lengkuas Merah Herlila Tamuu, Rita Marsuci Harmain

Lebih terperinci

Uji Organoleptik Ikan Mujair

Uji Organoleptik Ikan Mujair Uji Organoleptik Ikan Mujair Bahan Mentah OLEH : PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mutu atau nilai-nilai tertentu yang

Lebih terperinci

Lampiran 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng

Lampiran 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng LAMPIRAN 86 65 88 Lampiran 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng Sumber: UPTD PPP Sadeng, 2007 89 66 Lampiran 3 Peta informasi lokasi penempatan rumpon laut dalam Sumber: UPTD PPP Sadeng, 2009

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).

Lebih terperinci

0 C. Ikan dimatikan dengan cara menusuk pada kepala bagian medula oblongata yang menyebabkan ikan langsung mati.

0 C. Ikan dimatikan dengan cara menusuk pada kepala bagian medula oblongata yang menyebabkan ikan langsung mati. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan yang dilakukan adalah penentuan fase kemunduran mutu (post mortem) pada ikan bandeng. Penentuan fase post mortem pada ikan bandeng

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa

Lebih terperinci

PENGUJIAN TINGKAT KESEGARAN MUTU IKAN DISUSUN OLEH: NAMA : F. I. RAMADHAN NATSIR NIM : G KELOMPOK : IV (EMPAT)

PENGUJIAN TINGKAT KESEGARAN MUTU IKAN DISUSUN OLEH: NAMA : F. I. RAMADHAN NATSIR NIM : G KELOMPOK : IV (EMPAT) TUGAS PENDAHULUAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL LAUT PENGUJIAN TINGKAT KESEGARAN MUTU IKAN DISUSUN OLEH: NAMA : F. I. RAMADHAN NATSIR NIM : G 311 09 003 KELOMPOK : IV (EMPAT) LABORATORIUM PENGAWASAN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN ES SEBAGAI PENGAWET HASIL PERIKANAN

PENGGUNAAN ES SEBAGAI PENGAWET HASIL PERIKANAN PENGGUNAAN ES SEBAGAI PENGAWET HASIL PERIKANAN Oleh : Eddy Afrianto Evi Liviawaty i DAFTAR ISI PENDAHULUAN PROSES PENURUNAN KESEGARAN IKAN PENDINGINAN IKAN TEKNIK PENDINGINAN KEBUTUHAN ES PENGGUNAAN ES

Lebih terperinci

PENILAIAN MUTU ORGANOLEPTIK IKAN MUJAIR (TILAPIA MOSSAMBICA) SEGAR DENGAN UKURAN YANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN DINGIN.

PENILAIAN MUTU ORGANOLEPTIK IKAN MUJAIR (TILAPIA MOSSAMBICA) SEGAR DENGAN UKURAN YANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN DINGIN. PENILAIAN MUTU ORGANOLEPTIK IKAN MUJAIR (TILAPIA MOSSAMBICA) SEGAR DENGAN UKURAN YANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Nurmeilita Taher Staf Pengajar pada Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 15 3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Sukabumi pada bulan Desember 2010. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan

Lebih terperinci

MUTU ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGIS IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) SEGAR DENGAN PENGGUNAAN LARUTAN LENGKUAS MERAH (Alpinia Purpurata K.

MUTU ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGIS IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) SEGAR DENGAN PENGGUNAAN LARUTAN LENGKUAS MERAH (Alpinia Purpurata K. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan MUTU ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGIS IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) SEGAR DENGAN PENGGUNAAN LARUTAN LENGKUAS MERAH (Alpinia Purpurata K. Schum) Herlila Tamuu, Rita Marsuci

Lebih terperinci

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.1 April 2009 ISSN : TINGKAT KETAHANAN KESEGARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) MENGGUNAKAN ASAP CAIR

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.1 April 2009 ISSN : TINGKAT KETAHANAN KESEGARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) MENGGUNAKAN ASAP CAIR TINGKAT KETAHANAN KESEGARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) MENGGUNAKAN ASAP CAIR. Riyantono 1 Indah Wahyuni Abida 2 Akhmad Farid 2 1 Alumni Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo 2 Dosen Jurusan Ilmu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu pelelehan es dan proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Metode Penelitian Jenis dan sumber data Metode pengumpulan data

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Metode Penelitian Jenis dan sumber data Metode pengumpulan data 17 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Jakarta Utara pada bulan Agustus hingga Oktober 2010. 3.2 Metode Penelitian

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sanitasi dan Higienitas di Tempat Pelelangan Ikan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sanitasi dan Higienitas di Tempat Pelelangan Ikan 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sanitasi dan Higienitas di Tempat Pelelangan Ikan Kebersihan terdiri dari dua aspek yang saling berkaitan yaitu sanitasi dan higienitas. Sanitasi adalah suatu usaha untuk mengawasi

Lebih terperinci

BAB 2. KUALITAS HASIL PERIKANAN. 2.1 Parameter Kualitas Hasil Perikanan

BAB 2. KUALITAS HASIL PERIKANAN. 2.1 Parameter Kualitas Hasil Perikanan BAB 2. KUALITAS HASIL PERIKANAN 2.1 Parameter Kualitas Hasil Perikanan Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar. Ikan segar yang masih mempunyai sifat sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. kemunduran mutu ikan sebelumnya (IFFI-1). Kedua instrumen ini

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. kemunduran mutu ikan sebelumnya (IFFI-1). Kedua instrumen ini 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Modifikasi Alat IFFI-2 merupakan modifikasi dari instrumen pendeteksi kesegaran atau kemunduran mutu ikan sebelumnya (IFFI-1). Kedua instrumen ini mengaplikasikan metode spektroskopi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Warna Dendeng Sapi Warna merupakan salah satu indikator fisik yang dapat mempengaruhi konsumen terhadap penerimaan suatu produk. Derajat warna menunjukkan tingkat warna

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Layang (Decapterus sp.)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Layang (Decapterus sp.) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Layang (Decapterus sp.) Ikan layang merupakan salah satu hasil perikanan lepas pantai yang terdapat di Indonesia. Ikan ini termasuk jenis pemakan

Lebih terperinci

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus Populasi Kultur Starter HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan Perhitungan populasi dilakukan untuk mendapatkan kultur starter yang terbaik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Pada tahap pendahulan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Organoleptik Bakso Ikan Nila Merah Uji organoleptik mutu sensorik yang dilakukan terhadap bakso ikan nila merah yang dikemas dalam komposisi gas yang berbeda selama

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk Nipis Terhadap Kadar Protein Analisis protein dilakukan untuk mengetahui kualitas protein tahu putih hasil

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perairan, dan mempunyai laut serta potensi perikanan yang sangat besar. Oleh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan disajikan pada Tabel 6.

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan disajikan pada Tabel 6. 1 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Terhadap Awal Kebusukan Daging Ayam Broiler Hasil penelitian pengaruh berbagai konsentrasi daun salam sebagai perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Daging Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Daging Sapi IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Daging Sapi Hasil penelitian pengaruh berbagai konsentrasi sari kulit buah naga merah sebagai perendam daging sapi terhadap total bakteri

Lebih terperinci

WULUH FRUITSTAR EXTRACT EFFECT WITH DIFFERENT AMOUNTS OF QUALITY FRESHNESS OF THE FISH TAMBAKAN (Helostoma temmincki) ABSTRACT

WULUH FRUITSTAR EXTRACT EFFECT WITH DIFFERENT AMOUNTS OF QUALITY FRESHNESS OF THE FISH TAMBAKAN (Helostoma temmincki) ABSTRACT WULUH FRUITSTAR EXTRACT EFFECT WITH DIFFERENT AMOUNTS OF QUALITY FRESHNESS OF THE FISH TAMBAKAN (Helostoma temmincki) By Ranggi Oktori 1), Suparmi 2), Dewita Buchari 2) ABSTRACT The purpose of this study

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Bakteriosin HASIL DAN PEMBAHASAN Bakteriosin merupakan senyawa protein yang berasal dari Lactobacillus plantarum 2C12. Senyawa protein dari bakteriosin telah diukur konsentrasi dengan menggunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian diperoleh hasil kadar ikan kembung yang diawetkan dengan garam dan khitosan ditunjukkan pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Manajemen kualitas

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Manajemen kualitas 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Pengendalian mutu adalah kegiatan terpadu mulai dari pengendalian standar mutu bahan dan standar proses produksi, yang dimaksud barang (jasa) yang dihasilkan sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan daya tahan ikan mentah serta memaksimalkan manfaat hasil tangkapan

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan daya tahan ikan mentah serta memaksimalkan manfaat hasil tangkapan BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi penanganan pasca panen Penanganan pasca panen dilakukan untuk memperbaiki cita rasa dan meningkatkan daya tahan ikan mentah serta memaksimalkan manfaat hasil tangkapan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah melon yang terolah minimal, beberapa senyawa penting

Lebih terperinci

DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc.

DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc. DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc. [email protected] Ikan = perishable food Mengandung komponen gizi: Lemak, Protein, Karbohidrat, dan Air Disukai Mikroba Mudah Rusak di Suhu Kamar Setelah ikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP)

BAB III METODE PENELITIAN. Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2013 di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet

Lebih terperinci

Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL

Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK) Peremajaan dan purifikasi terhadap kedelapan kultur koleksi isolat bakteri dilakukan terlebih dahulu sebelum pengujian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. ph larutan Derajat keasaman (ph) merupakan tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur dengan skala 0 sampai dengan 14. Tinggi rendahnya ph air sangat dipengaruhi oleh kandungan

Lebih terperinci

6. TINGKATAN MUTU HASIL TANGKAPAN DOMINAN DIPASARKAN DAN POTENSI KERUGIAN PENGGUNA PPP LAMPULO

6. TINGKATAN MUTU HASIL TANGKAPAN DOMINAN DIPASARKAN DAN POTENSI KERUGIAN PENGGUNA PPP LAMPULO 91 6. TINGKATAN MUTU HASIL TANGKAPAN DOMINAN DIPASARKAN DAN POTENSI KERUGIAN PENGGUNA PPP LAMPULO 6.1 Tingkatan Mutu Hasil Tangkapan yang Dominan Dipasarkan di PPP Lampulo Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi dan Analisis Data Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil berupa kadar ikan tuna yang diawetkan dengan metode penggaraman dan khitosan,

Lebih terperinci

Harryara Sitanggang

Harryara Sitanggang IV. Hasil Pengamatan & Pembahasan Penanganan pasca panen bukan hanya berlaku untuk produk pangan yang berasal dari tumbuhan atau biasa disebut produk nabati. Pemanenan dari komoditas hewani juga perlu

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Konsentrasi O dan CO dalam Kemasan mempunyai densitas antara.915 hingga.939 g/cm 3 dan sebesar,9 g/cm 3, dimana densitas berpengaruh terhadap laju pertukaran udara

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. 3.1 Lama waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2010 di PPI Muara Angke, Jakarta.

3 METODOLOGI. 3.1 Lama waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2010 di PPI Muara Angke, Jakarta. 19 3 METODOLOGI 3.1 Lama waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2010 di PPI Muara Angke, Jakarta. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

LAMPIRAN. 1. Skema Prosedur Pengujian Escherichia coli dari Produk Perikanan (SNI )

LAMPIRAN. 1. Skema Prosedur Pengujian Escherichia coli dari Produk Perikanan (SNI ) 38 LAMPIRAN 1. Skema Prosedur Pengujian Escherichia coli dari Produk Perikanan (SNI 01-2332.1-2006) Preparasi contoh Homogenisasi (25 gr sampel + 225 ml BFP) (selama 2 menit-3 menit) Pengencerandan Pendugaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Subani dan Barus (1989), ikan lolosi merah (C. chrysozona) termasuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Subani dan Barus (1989), ikan lolosi merah (C. chrysozona) termasuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Lolosi Merah (C. chrysozona) Menurut Subani dan Barus (1989), ikan lolosi merah (C. chrysozona) termasuk dalam family ikan caesiodidae yang erat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Layur (Trichiurus sp.) Ikan layur (Trichiurus sp.) menurut taksonominya diklasifikasikan sebagai berikut (Saanin 1984) Phyllum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Class

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisik (uji lipat), organoleptik (uji hedonik), uji skoring dan analisis kimia (Pb). 1.1 Uji Lipat Uji lipat (folding test) merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHSAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Peggunaan Probiotik terhadap ph

HASIL DAN PEMBAHSAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Peggunaan Probiotik terhadap ph IV HASIL DAN PEMBAHSAN 4.1 Pengaruh Tingkat Peggunaan Probiotik terhadap ph Derajat keasaman (ph) merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pada saat proses fermentasi. ph produk fermentasi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN MBAHASAN A. SUSUT BOBOT Perubahan susut bobot seledri diukur dengan menimbang bobot seledri setiap hari. Berdasarkan hasil pengukuran selama penyimpanan, ternyata susut bobot seledri mengalami

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Protein Kasar. Hasil penelitian pengaruh penambahan asam propionat dan formiat dengan

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Protein Kasar. Hasil penelitian pengaruh penambahan asam propionat dan formiat dengan IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Protein Kasar Hasil penelitian pengaruh penambahan asam propionat dan formiat dengan berbagai perlakuan, terhadap perubahan kandungan protein

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.) Cangkang kijing lokal yang diperoleh dari danau Teratai yang terdapat di Kec. Mananggu Kab. Boalemo

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Air Kualitas hidup ikan akan sangat bergantung dari keadaan lingkunganya. Kualitas air yang baik dapat menunjang pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan Laju Respirasi dengan Perlakuan Persentase Glukomanan Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah sawo yang terolah minimal, beberapa senyawa penting

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan

Lebih terperinci

4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Ketebalan dan Rendemen pada Nata

4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Ketebalan dan Rendemen pada Nata 4. PEMBAHASAN Nata merupakan senyawa selulosa yang dihasilkan dari fermentasi substrat dengan bantuan mikroba yaitu Acetobacter xylinum. Selama proses fermentasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari A.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus Wijatmoko**

PENDAHULUAN. Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus Wijatmoko** Pemanfaatan Asam Cuka, Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) untuk Mengurangi Bau Amis Petis Ikan Layang (Decapterus spp.) Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Salami Daging Kelinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Salami Daging Kelinci IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Perlakuan Terhadap Total Bakteri Salami Daging Kelinci Hasil penelitian penggunaan starter yogurt terhadap total bakteri Salami daging kelinci disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer di Indonesia. Buah naga mengandung antara lain vitamin C, betakaroten, kalsium,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90%,

Lebih terperinci

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) REBUS PADA SUHU KAMAR

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) REBUS PADA SUHU KAMAR PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) REBUS PADA SUHU KAMAR Sri Purwaningsih 1, Josephine W 2, Diana Sri Lestari 3 Abstrak Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di PT. Graha Insan Sejahtera yang berlokasi di salah satu Perusahaan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jalan Muara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN Riza Rahman Hakim, S.Pi Penggolongan hasil perikanan laut berdasarkan jenis dan tempat kehidupannya Golongan demersal: ikan yg dapat diperoleh dari lautan yang dalam. Mis.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan cepat mengalami penurunan mutu (perishable food). Ikan termasuk komoditi

I. PENDAHULUAN. dan cepat mengalami penurunan mutu (perishable food). Ikan termasuk komoditi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan pangan mentah merupakan komoditas yang mudah rusak sejak dipanen. Bahan pangan mentah, baik tanaman maupun hewan akan mengalami kerusakan melalui serangkaian reaksi

Lebih terperinci

APLIKASI METODE AKUSTIK UNTUK UJI KESEGARAN IKAN

APLIKASI METODE AKUSTIK UNTUK UJI KESEGARAN IKAN APLIKASI METODE AKUSTIK UNTUK UJI KESEGARAN IKAN Indra Jaya 1) dan Dewi Kartika Ramadhan 2) Abstract This paper describes an attempt to introduce acoustic method as an alternative for measuring fish freshness.

Lebih terperinci

KAJIAN SIFAT MUTU UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SEGAR PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR

KAJIAN SIFAT MUTU UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SEGAR PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR Berkala Perikanan Terubuk, Juli 2006, hlm.121-125 Vol. 33 No. 2 ISSN 0126-4265 KAJIAN SIFAT MUTU UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SEGAR PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR Rahman Karnila, Suparmi 1), Mei

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup Berdasarkan hasil pengamatan selama 40 hari massa pemeliharaan terhadap benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) diketahui rata-rata tingkat kelangsungan

Lebih terperinci

PENGAWETAN IKAN LAYANG

PENGAWETAN IKAN LAYANG Agricola, Vol 6 (1), Maret 2016, 58-66 p-issn: 2088-1673., e-issn 235-7731 PENGAWETAN IKAN LAYANG (Decapterus russelli) SEGAR MENGGUNAKAN EKSTRAK RUMPUT LAUT (Caulerpa racemosa) Saul A. Serpara 1) dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. protein hewani yang mengandung omega-3 dan protein yang cukup tinggi sebesar

BAB I PENDAHULUAN. protein hewani yang mengandung omega-3 dan protein yang cukup tinggi sebesar 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan tuna (Thunnus sp) merupakan salah satu sumber makanan sehat bagi masyarakat. Sebagai sumber makanan sehat, ikan tuna merupakan salah satu sumber protein hewani

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu hasil perikanan budidaya

BAB I PENDAHULUAN. nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu hasil perikanan budidaya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang mempunyai prospek cukup baik untuk dikembangkan. Berdasarkan data dari Kementerian

Lebih terperinci

PRAKTIKUM PENGOLAHAN DAGING, IKAN, SUSU, DAN TELUR Pengamatan Fisik Ikan dan Pembuatan Surimi

PRAKTIKUM PENGOLAHAN DAGING, IKAN, SUSU, DAN TELUR Pengamatan Fisik Ikan dan Pembuatan Surimi Nama Asisten : Rista Nurmalinda Tanggal Praktikum : 1 November 2016 Tanggal Pegumpulan : 15 November 2016 PRAKTIKUM PENGOLAHAN DAGING, IKAN, SUSU, DAN TELUR Pengamatan Fisik Ikan dan Pembuatan Surimi Sarah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan,

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan dasar yang paling esensial bagi manusia untuk mempertahankan hidup dan kehidupan. Makanan sebagai sumber zat gizi yaitu karbohidrat, lemak,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ikan nike adalah schooling dari juvenil ikan Awaous melanocephalus, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ikan nike adalah schooling dari juvenil ikan Awaous melanocephalus, dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Nike (Awaous melanocephalus) Ikan nike adalah schooling dari juvenil ikan Awaous melanocephalus, dan banyak terdapat di Perairan Gorontalo. Klasifikasi ikan nike menurut

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Susut Bobot Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan penurunan mutu buah. Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa kehilangan bobot pada buah-buahan yang disimpan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Pengeringan yang dilakukan dua kali dalam penelitian ini bertujuan agar pengeringan pati berlangsung secara merata. Setelah dikeringkan dan dihaluskan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Daya Rekat Telur Ikan Komet Daya rekat merupakan suatu lapisan pada permukaan telur yang merupakan bagian dari zona radiata luar yang mengandung polisakarida dan sebagian

Lebih terperinci

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Praktikum yang dilaksanakan pada 12 September 2011 mengenai perubahan fisik, kimia dan fungsional pada daging. Pada praktikum kali ini dilaksanakan pengamatan perubahan

Lebih terperinci

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT >> PENDAHULUAN Pedoman Cara Ritel Pangan yang Baik di Pasar Tradisional adalah acuan yang digunakan dalam melakukan kegiatan ritel pangan di pasar tradisional dan dalam rangka pengawasan keamanan pangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam 44 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci Hasil penelitian pengaruh konsentrasi garam terhadap rendemen kerupuk kulit kelinci tercantum pada Tabel

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Ikan tuna dalam kaleng Bagian 1: Spesifikasi

SNI Standar Nasional Indonesia. Ikan tuna dalam kaleng Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Ikan tuna dalam kaleng Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rata-rata penurunan bobot telur ayam ras yang disimpan pada suhu ruang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rata-rata penurunan bobot telur ayam ras yang disimpan pada suhu ruang BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Bobot Telur Rata-rata penurunan bobot telur ayam ras yang disimpan pada suhu ruang selama enam minggu seperti pada Tabel 4. Penurunan bobot telur ayam ras yang tertinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan

BAB I PENDAHULUAN. macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belimbing merupakan buah yang banyak mengandung air. Ada dua macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Belimbing

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 26 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Proksimat Ikan Bandeng Tipe ikan bandeng yang ditemukan di Indonesia memiliki ciri adanya perpanjangan sirip dorsal dan pektoral. Tipe ikan dengan perpanjangan ini

Lebih terperinci