BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Benny Makmur
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan gel dan viskositas dari gelatin yang dihasilkan. Hasil karakteristik fisik gelatin dapat dilihat pada Tabel 6 dibawah ini. Tabel 6. Karakteristik Fisik Gelatin Kulit ikan nila Parameter Gelatin Kulit Ikan Nila Gelatin Tipe A (Tourtellote 1980) Rendemen (%) 8,28 - Kekuatan gel (Bloom) 200, Viskositas (cp) 12,5 2,0 7,5 Berdasarkan Tabel 6 diatas gelatin yang dihasilkan mempunyai nilai kekuatan gel tipe A (Tourtellote 1980). Sedangkan untuk nilai viskositas melebihi kisaran gelatin tipe A Rendemen Rendemen merupakan salah satu parameter penting dalam pembuatan gelatin. Efisein dan efektifnya proses ekstraksi bahan baku untuk pembuatan gelatin dapat dilihat dari nilai rendemen yang dihasilkan (Fahrul, 2005). Rendemen gelatin diperoleh dari perbandingan antara berat gelatin yang dihasilkan dengan berat bahan baku. Semakin besar rendemen yang dihasilkan, maka semakin efisien perlakukan yang diterapkan dengan tidak mengesampingkan sifat-sifat lainnya (Juliharam, 1997). Berdasarkan tabel karakteristik fisik gelatin, didapat rendemen kulit ikan nila sebanyak 8,28%. Nilai yang diperoleh masih rendah dari gelatin yang diperoleh melalui ekstraksi kolagen secara bertingkat (Glicksman, 1969) yaitu 14% sampai 28% terhadap bahan baku. 24
2 25 Menurut Ward dan Courts (1977) konversi kolagen menjadi gelatin dipengaruhi oleh suhu, waktu pemanasan dan ph. Selanjutnya menurut Lehninger (1982) bahwa protein akan rusak terdenaturasi tidak hanya oleh panas, tetapi oleh pengaruh ph, yaitu terjadi perubahan struktur utama rantai peptida pada protein. Jika protein terdenaturasi susunan ikatan rantai polipeptida terganggu dan molekul protein terbuka menjadi struktur acak dan selanjutnya terkoagulasi, sehingga jumlah kolagen yang terekstraksi lebih rendah (Rusli, 2004). Menurut Hinterwaldner (1977) semakin lama perendaman rendemen akan semakin kecil, hal ini disebabkan karena selama perendaman ph larutan semakin meningkat mendekati ph netral, sehingga penguraian tidak terjadi lagi meskipun perendaman masih berlanjut. Semakin tinggi suhu ekstraksi maka kolagen yang terurai menjadi filtrat gelatin semakin banyak. Menurut (Fahrul, 2005) penirisan kulit yang tidak sempurna setelah pencucian mengakibatkan kandungan air pada kulit menjadi tinggi sehingga pada saat penimbangan bobot yang terhitung bukan bobot murni kulit. Kandungan air yang tinggi dari bahan dapat mempengaruhi proses perendaman bahan, karena sifat dari air dapat mengencerkan konsentrasi larutan asam yang digunakan sehingga proses perendaman menjadi kurang efektif. Kirk dan Othmer (1966) menyatakan bahwa konversi kolagen menjadi gelatin dipengaruhi oleh ph, jenis bahan pelarut, suhu dan pengkonsentrasian. Peningkatan lama pemasakan (ekstraksi) atau pemanasan dalam air akan meningkatkan kelarutan kolagen sehingga rendemen gelatin akan meningkat, lebih lanjut dikatakan jika suhu ekstraksi melampaui 90 0 C maka konsentrasi gelatin akan meningkat dalam ekstraksinya Kekuatan Gel Kekuatan gel merupakan sifat fisik gelatin yang utama, karena kekuatan gel menunjukkan kemampuan gelatin dalam pembentukan gel (Rusli, 2004). Stainsby (1977) menyatakan bahwa pembentukan gel terjadi karena pengembangan molekul gelatin pada waktu pemanasan. Panas akan membuka
3 26 ikatan-ikatan pada molekul gelatin dan cairan yang semula bebas mengalir menjadi terperangkap di dalam struktur tersebut, sehingga menjadi kental. Setelah semua cairan terperangkap menjadi larutan kental, larutan tersebut akan menjadi gel secara sempurna jika disimpan pada suhu dingin. Kekuatan gel juga sangat berhubungan dengan pengaplikasian produk Hasil pengukuran kekuatan gel gelatin ikan nila adalah sebesar 200,76 bloom. Nilai kekuatan gel ini masih berada dalam kisaran standar mutu gelatin. Sebagaimana dinyatakan Glicksman (1969) bahwa kekuatan gel gelatin tipe A berada pada kisaran bloom dan tipe B berkisar antara bloom. Edward (1995) menyatakan kisaran nilai yang lazim diaplikasikan ke dalam konfeksioneri adalah bloom untuk permen jelly dan untuk marshmallow. Gelatin mengandung 19 asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida membentuk rantai polimer panjang (Glicksman, 1969). Senyawa gelatin merupakan suatu polimer linier yang tersusun oleh satuan terulang asam amino glisin-prolin-prolin atau glisin-prolin- hidroksiprolin. Komposisi asam amino gelatin bervariasi tergantung pada sumber kolagen tersebut, spesies hewan penghasil dan jenis kolagen (Ward dan Court, 1977). Gelatin tidak mengandung triptofan dan hanya mengandung sedikit tirosin dansistin (Charley, 1982). Menurut (Nussinovitch, 1997) gel terbentuk akibat ikatan hydrogen antar molekul gelatin. Menurut (Fahrul, 2005) pembentukan gel (gelasi) merupan suatu fenomena penggabungan atau pengikatan silang rantai rantai polimer membentuk jalinan tiga dimensi yang kontinyu, sehingga dapat menangkap air di dalamnya menjadi struktur yang kompak dan kaku yang tahan terhadap aliran di bawah tekanan. Pada waktu solid dari gelatin mendingin gelatin akan menjadi lebih kental dan selanjutnya terbentuk gel. Molekul molekul secara individu bergabung dalam lebih dari satu bentuk kristalin membentuk jaringan tiga dimensi yang menjerat cairan dan berikatan silang secara kuat sehingga menyebabkan terbentuknya gel (Fardiaz, 1989).
4 Viskositas Gel Viskositas merupakan salah satu sifat fisik gelatin yang cukup penting. Viskositas adalah daya aliran molekul dalam suatu larutan. Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan gelatin sebagai larutan pada konsentrasi dan suhu tertentu. Viskositas gelatin biasanya diukur pada suhu 60 0 C dengan konsentrasi 6,67% (b/b) (Leiner, 2006). Nilai dari viskositas tergantung pada temperatur (di atas 40 0 C viskositas menurun secara eksponensial dengan naiknya suhu), ph (viskositas terendah pada titik isoelektrik) dan konsentrasi dari larutan gelatin (Ward dan Courts, 1977). Nilai viskositas gelatin ikan nila yaitu sebesar 12,5 cp. Kisaran ini tidak termasuk pada syarat gelatin tipe A yaitu 2,0 cp 7,5 cp (Toutellote, 1980). Gelatin termasuk molekul besar. Menurut Ward dan Court (1977) menyatakan bahwa berat molekul (BM) gelatin mencapai sedangkan pada gelatin komersial berkisar antara Balian dan Bowes (1969) menyatakan bahwa berat molekul gelatin merupakan kelipatan 768 atau kelipatan C 32 H 52 O 12 N 10. Menurut (Setiawati, 2009) viskositas berhubungan dengan berat molekul (BM) rata-rata gelatin dan distribusi molekul, sedangkan bobot molekul gelatin berhubungan langsung dengan panjang rantai asam aminonya. Hal ini berarti semakin panjang rantai asam amino maka nilai viskositas akan semakin tinggi. Menurut Avena et al. (2006) bahwa semakin besar berat molekul dari gelatin maka distribusi molekul gelatin dalam larutan semakin lambat sehingga menghasilkan viskositas yang tinggi. Gudmunsson dan Hafsteinsson (1997) menyatakan bahwa adanya perbedaan viskositas gelatin, bisa jadi merupakan hasil dari adanya perbedaan rata-rata bobot molekul dan distribusi molekulernya. Viskositas juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain temperatur, ph dan konsentrasi dari larutan gelatin (Ward and Courts, 1077). 4.2 Karakteristik Organoleptik Marshmallow
5 28 Uji Organoleptik yang digunakan adalah uji hedonik. Uji hedonik bertujuan untuk mengetahui kesukaan panelis terhadap produk marshmallow yang meliputi kenampakan, warna, rasa dan tekstur dari produk marshmallow Kenampakan Kenampakan merupakan salah satu parameter organoleptik yang penting karena merupakan faktor yang pertama dilihat oleh konsumen saat melihat makanan dan umumnya konsumen cenderung memilih makanan yang memiliki kenampakan menarik (Carpenter et. al., 2000 dalam Wisnumurti, 2008). Hasil penelitian kenampakan marshmallow dapat disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Rata-Rata Kenampakan Terhadap Perlakuan Penambahan Gelatin dari Kulit Ikan Nila Perlakuan Median Rata-rata Gelatin 6 % 5 5,9 b Gelatin 8 % 7 6,3 b Gelatin 10 % 5 5,7 b Gelatin 12 % 5 4,6 ab Gelatin 14 % 5 4,5 a Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji perbandingan dengan taraf 5% Berdasarkan Tabel 7 diatas nilai rata-rata kesukaan kenampakan marshmallow berkisar antara 4,5 sampai dengan 6,3 dari skala 1-9 yang berarti bahwa kenampakan dari marshmallow pada perlakuan 12% dan 14% cenderung tidak disukai panelis dan untuk perlakuan 6%, 8% dan 10% disukai panelis. Hasil penelitian terhadap kenampakan marshmallow menunjukkan bahwa perlakukan penambahan gelatin 6%, 8% dan 10% berbeda nyata dengan perlakuan
6 29 penambahan gelatin 14%, sedangkan perlakuan penambahan gelatin 12% tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan gelatin 14%. Nilai rata-rata kesukaan tertinggi pada kenampakan marshmallow adalah pada penambahan gelatin 8% dan terendah pada penambahan gelatin 14%. Pada marshmallow dengan penambahan gelatin 8%, marshmallow memiliki warna yang putih dan cemerlang dan pada penambahan gelatin 14% warna dari marshmallow yang dihasilkan berwarna kuning jika dibandingkan dengan warna marshmallow dari perlakukan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan gelatin akan membuat warna marshmallow menjadi agak kekuningan dan kenampakan menjadi kurang menarik. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan (Maryani, 2010) bahwa semakin meningkatnya penambahan gelatin ikan nila, menyebabkan kenampakan menjadi kurang menarik Aroma Aroma dalam banyak hal menentukan enak atau tidaknya makanan, bahkan industri pangan menganggap sangat penting terhadap uji aroma karena dapat dengan cepat memberikan hasil penilaian apakah produk disukai atau tidak (Soekarto, 1985). Aroma merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan gelatin ikan nila, karena dikhawatirkan akan mempengaruhi penerimaan panelis terhadaop aroma marshmallow ikan yang dihasilkan. Hasil penelitian aroma marshmallow dapat disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Rata-Rata Aroma Terhadap Perlakuan Penambahan Gelatin dari Kulit Ikan Nila Perlakuan Median Rata-rata Gelatin 6 % 5 6 a Gelatin 8 % 7 6,7 a Gelatin 10 % 7 6,3 a Gelatin 12 % 6 5,8 a Gelatin 14 % 7 6,8 a
7 30 Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji perbandingan dengan taraf 5% Berdasarkan Tabel 8 nilai rata-rata kesukaan aroma marshmallow berkisar antara 5,8 sampai dengan 6,8 yang berarti bahwa aroma dari marshmallow disukai panelis. Hasil penelitian terhadap aroma marshmallow menunjukkan bahwa marshmallow dengan penambahan gelatin 6%, 8% 10%, 12% dan 14% tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan aroma marshmallow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aroma tidak berpengaruh nyata terhadap penambahan gelatin. Hal ini disebabkan karena marshmallow yang dihasilkan tidak tercium aroma gelatin untuk setiap perlakuan yang dihasilkan. Hal ini diduga karena bahan baku yang digunakan pada pembuatan gelatin yaitu berasal dari bahan baku yang segar, sehingga didapat gelatin yang sedikit tercium aroma ikan. Kesegaran bahan baku akan mempengaruhi kualitas aroma produk yang dihasilkan. Semakin segar bahan baku maka kualitas produk akan semakin tinggi (Ward dan Court, 1977). Menurut (Jhons 1977) pada aplikasi gelatin sebagai produk pangan, bau gelatin dapat dititupi menggunakan flavor/ perasa Rasa Rasa merupakan respon lidah terhadap rangsangan yang diberikan oleh suatu makanan. Penerimaan panelis terhadap rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kandungan senyawa kimia, suhu, konsentrasi bahan dan interaksi komponen lain (Winarno, 1997). Apabila suatu produk rasanya tidak enak, maka produk tersebut tidak akan diterima konsumen walaupun memiliki kandungan yang baik untuk tubuh. Oleh karena itu, rasa merupakan salah satu faktor penting dalam keputusann akhir konsumen untuk menolak atau menerima suatu produk. Marshmallow memiliki rasa yang manis pada umumya, karena bahan baku sirup glukosa yang digunakan dalam jumlah yang tinggi kurang lebih sekitar 50% dari adonan. Nilai rata-rata rasa dapat dilihat pada Tabel 9.
8 31 Tabel 9. Rata-Rata Rasa Terhadap Perlakuan Penambahan Gelatin dari Kulit Ikan Nila Perlakuan Median Rata-rata Gelatin 6 % 5 6 a Gelatin 8 % 6 5,7 a Gelatin 10 % 7 6,1 a Gelatin 12 % 5 5,3 a Gelatin 14 % 5 5,5 a Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji perbandingan dengan taraf 5% Berdasarkan Tabel 9 diatas nilai rata-rata kesukaan rasa marshmallow berkisar antara 5,3 sampai dengan 6,1 dari skala 1-9 yang berarti bahwa rasa dari marshmallow disukai panelis. Hasil penelitian terhadap rasa marshmallow menunjukkan bahwa marshmallow dengan penambahan gelatin 6%, 8% 10%, 12% dan 14% tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan rasa marshmallow. Penambahan gelatin tidak berpengaruh terhadap rasa dari mashmallow itu sendiri. Hasil pengamatan rasa terhadap penambahan gelatin menunjukkan bahwa rasa marshmallow untuk setiap perlakukan memiliki rasa yang manis dan rasa gelatin hampir tidak terasa. Hal ini diduga karena bahan baku gelatin yang digunakan berasal dari kulit ikan nila. Ikan nila sendiri memiliki rasa yang netral. Selain itu gelatin yang dihasilkan tidak memiliki rasa. Nilai rata-rata rasa marshmallow yang tertinggi adalah dengan penambahan gelatin ikan nila sebanyak 10% Tesktur Tekstur merupakan penginderaan yang berhubungan dengan sentuhan. Menurut De Man (1989) Penilaian tekstur bertujuan untuk mengetahui tingkat
9 32 penerimaan panelis terhadap elastisitas atau kekerasan suatu produk pangan dengan menggunakan indera peraba. Menurut Sartika (2009) pada umunya, tekstur marshmallow dicirikan dengan permukaan yang halus, merata dan tidak terdapat gumpalan-gumpalan. Pengaruh penambahan gelatin ikan nila terhadap rata-rata tekstur marshmallow dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Rata-Rata Tekstur Terhadap Perlakuan Penambahan Gelatin dari Kulit Ikan Nila Perlakuan Median Rata-rata Gelatin 6 % 3 3,9 a Gelatin 8 % 5 4,8 ab Gelatin 10 % 7 6,8 c Gelatin 12 % 5 5,3 c Gelatin 14 % 5 5,4 bc Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji perbandingan dengan taraf 5% Berdasarkan Tabel 10 diatas nilai rata-rata kesukaan rasa marshmallow berkisar antara 3,9 sampai dengan 6,8 dari skala 1-9 yang berarti bahwa tekstur dari marshmallow pada perlakuan penambahan gelatin 6% dan 8% tidak disukai panelis dan pada perlakukan 10%, 12% dan 14% disukai panelis. Hasil penelitian terhadap tekstur marshmallow menunjukan bahwa marshmallow dengan penambahan gelatin 6%, berbeda nyata dengan penambahan gelatin 10% dan 12%. Penambahan gelatin berpengaruh terhadap tekstur dari mashmallow itu sendiri. Hasil pengamatan tekstur terhadap penambahan gelatin yaitu pada setiap penambahan perlakuan yang diberikan akan membuat tekstur marshmallow menjadi semakin keras. Pada perlakuan penambahan gelatin 12% dan 14% tekstur gelatin lebih keras dibanding penambahan gelatin 6%, 8% dan 10%. Hal tersebut
10 33 diduga mempengaruhi penerimaan panelis terhadap tekstur marshmallow. Menurut (Jones, 1977) Semakin tinggi konsentrasi gelatin ikan nila yang ditambahkan menyebabkan tekstur marshmallow semakin keras. Panelis lebih menyukai tekstur yang elastis dan tidak terlalu kenyal (Maryani, 2010). Menurut (Purnomo, 1995) panelis lebih menyukai marshmallow yang mudah dikunyah. Gelatin yang ditambahkan ke dalam adonan akan menurunkan tegangan permukaan antara pertemuan udara-cairan sehingga memudahkan pembentukan busa dan produk yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut (Fardiaz, 1989). 4.3 Karakteristik Fisik Marshmallow Marshmallow dengan penambahan gelatin ikan nila diuji sifat fisiknya. Sifat fisik marshmallow yang diuji meliputi kekerasan dan elastisitas Kekerasan Kekerasan adalah sifat benda atau produk pangan padat dalam hal daya tahan untuk pecah akibat gaya tekan yang tidak bersifat deformasi (Soekarto, 1990). Hasil uji nilai kekerasan marshmallow dapat dilihat pada Gambar 3.
11 34 Gambar 3. Grafik Kekerasan Marshmallow Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji duncan dengan taraf 5% Berdasarkan Gambar 3 diatas terlihat bahwa penambahan gelatin berpengaruh terhadap tingkat kekerasan marshmallow (Lampiran 17). Nilai kekerasan tertinggi terdapat pada marshmallow dengan penambahan gelatain ikan nila 14% sebesar 657, 95 gram/cm 2, sedangkan nilai kekerasan terendah pada marshmallow dengan penambahan 6% sebesar 173,66 gram/cm 2. Menurut hasil pengamatan yang diperoleh semakin banyak jumlah gelatin yang ditambahkan menjadikan nilai kekerasan menjadi semakin tinggi, sedangkan penambahan jumlah gelatin yang rendah akan menghasilkan nilai kekerasan marshmallow menjadi rendah. Semakin tingginya nilai kekerasan, maka marshmallow yang dihasilkan akan semakin keras begitupun sebaliknya. Menurut Vail et. al (1978) gelatin sebagai pembentuk gel dapat mengubah cairan menjadi padatan yang elastis dengan mengikat air diantara misel-misel gelatin Elastisitas
12 35 Elastisitas didefinisikan sebagai laju bahan yang dideformasi kembali ke kondisi asal (tidak terdeformasi) setelah gaya yang mendeformasikan ditiadakan (deman, 1997). Jika suatu benda ditarik dan benda tersebut kembali pada kondisi awal saat benda tersebut dilepaskan dari tarikan, maka bisa dikatakan benda tersebut mempunyai sifat elastis. Elastisitas sangat berpengaruh terhadap kekenyalan dan tekstur marshmallow. Hasil analisis nilai elastisitas dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Grafik Elastisitas Marshmallow Keterangan : Angka yang diberi huruf yang sama, menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji duncan dengan taraf 5% Berdasarkan Gambar 4 diatas dapat diketahui hasil penelitian terhadap elastisitas marshmallow menunjukan bahwa penambahan gelatin pada kelima
13 36 perlakuan berbeda nyata terhadap kekerasan marshmallow. Rata-rata nilai elastisitas marshmallow berkisar antara 35,99 sampai dengan 69,36. Nilai elastisitas tertinggi terdapat pada marshmallow dengan penambahan gelatin 14% sebesar 69,364 sedangkan nilai elastisitas terendah terdapat pada marshmallow dengan penambahan gelatin 6% sebesar 35,99. Hasil pengamatan yang diperoleh adalah semakin banyak penambahan gelatin akan menghasilkan nilai elastisitas yang tinggi sedangkan semakin sedikit penambahan gelatin akan menghasilkan nilai elastisitas yang rendah. Hal ini menyebabkan semakin tinggi penambahan gelatin maka marshmallow yang dihasilkan akan semakin elastis. Pada penambahan gelatin 6% dan 8% tekstur marshmallow lebih lunak dibandingkan dengan penambahan gelatin 10%, 12% dan 14%. Hal ini diduga kadar air pada penambahan gelatin 6% dan 8% yang berada pada marshmallow yang dihasilkan lebih tinggi dengan penambahan gelatin 10%, 12% dan 14%. Hasil keseluruhan pengamatan penambahan gelatin pada marshmallow yaitu meliputi uji organoleptik (hedonik) dan uji fisik (kekerasan dan elastisitas) dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Rekapitulasi Hasil Penelitian Parameter Karakterisasi Gelatin Rendemen (%) 8,28% Kekuatan gel (bloom) 200,76 Viskositas (cp) 12,5 Parameter Marshmallow dengan Gelatin Ikan Nila (%) Kenampakan 5,9 b 6,3 b 5,7 b 4,6 ab 4,5 a Aroma 6,0 a 6,7 a 6,3 a 5,8 a 6,8 a Rasa 6,0 a 5,7 a 6,1 a 5,3 a 5,5 a Tekstur 3,9 a 4,8 ab 6,8 c 5,3 c 5,4 bc Uji Fisik Kekerasan 173,66 a 195,24 b 369,40 c 489,36 d 657,95 e Elastisitas 35,99 a 50,13 b 53,33 c 64,84 d 69,36 e
14 37 Berdasarkan Tabel 11 diatas terlihat bahwa marshmallow yang diberi gelatin 10% memiliki karakteristik organoleptik yang paling disukai panelis dilihat dari kriteria kenampakan, aroma, rasa dan tekstur. Karakteristik fisik terbaik adalah marshmallow dengan penambahan gelatin 10%, karena pada penambahan gelatin 10% marshmallow lebih cepat meleleh dalam mulut dibandingkan dengan penambahan gelatin 12% dan 14%. Hal ini menunjukan semakin banyak penambahan gelatin akan menghasilkan tekstur yang keras. Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis. Perbandingan hasil penelitian tentang marshmallow dengan beberapa penelitian yang sudah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Perbandingan Hasil Penelitian Marshmallow dengan Beberapa Penelitian Lain Peneliti Tahun Perlakuan Parameter Hasil Anugrahati 2008 Penambahan gelatin ikan kakap putih sebanyak 2%, 3%, 4% dan 5% Anugrahati 2008 Penambahan gelatin komersil sebanyak 2%, 3%, 4% dan 5% Sartika 2009 Penambahan gelatin ikan kakap sebanyak 6%, 8%, 10% Azizah 2013 Penambahan gelatin ikan nila sebanyak 6%, 8%, 10%, 12% Kenampakan, aroma, rasa, tektur dan elastisitas Kenampakan, aroma, rasa, tektur dan elastisitas Kenampakan, aroma, rasa, tektur, kekerasan dan elastisitas. Kenampakan, aroma, rasa, tektur, kekerasan dan elastisitas. Penambahan gelatin 3% disukai oleh panelis dengan nilai elastisitas 1,06 ± 002 Penambahan gelatin 4% disukai oleh panelis dengan nilai elastisitas 0,98 ± 003 Penambahan gelatin 10% disukai oleh panelis dengan nilai kekerasan 2108,07 gram/cm 2 dan nilai Elastisitas 98,30% Penambahan gelatin 10% disukai oleh panelis dengan
15 38 dan 14% nilai kekerasan 369,40 gram/cm 2 dan nilai kekerasan 53,33%
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Industri Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisik (uji lipat), organoleptik (uji hedonik), uji skoring dan analisis kimia (Pb). 1.1 Uji Lipat Uji lipat (folding test) merupakan
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin
4. PEMBAHASAN Dalam penelitian ini dilakukan proses ekstraksi gelatin dari bahan dasar berupa cakar ayam broiler. Kandungan protein dalam cakar ayam broiler dapat mencapai 22,98% (Purnomo, 1992 dalam Siregar
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya
Emma Rochima. Sarah Nur Azizah. KARAKTERISASI PRODUK MARSHMALLOW DENGAN PENAMBAHAN GELATIN ASAL LIMBAH KULIT IKAN NILA Emma Rochima. Sarah Nur Azizah.
CHARACTERIZATION OF MARSHMALLOW PRODUCT WITH ADDITION OF GELATIN FROM NILA FISH SKIN WASTE Emma Rochima. Sarah Nur Azizah. Faculty of Fishery and Marine Science. Padjadjaran University [email protected]
TINJAUAN PUSTAKA. Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tulang Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki pembuluh darah, limpa dan syaraf. Tulang terdiri atas bagian tulang yang kompak atau padat dan bagian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Jelly drink rosela-sirsak dibuat dari beberapa bahan, yaitu ekstrak rosela, ekstrak sirsak, gula pasir, karagenan, dan air. Tekstur yang diinginkan pada jelly drink adalah mantap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar
I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. Kepulauan Indonesia dengan daerah continental dengan perairan
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan
LEMBAR KUESIONER PENILAIAN SENSORIS PRODUK SUSU UHT FULL CREAM PADA RESPONDEN DEWASA
7. LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Kuesioner Penelitian LEMBAR KUESIONER PENILAIAN SENSORIS PRODUK SUSU UHT FULL CREAM PADA RESPONDEN DEWASA Berikut ini akan disajikan beberapa pertanyaan mengenai susu UHT
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK (Laporan Penelitian) Oleh RIFKY AFRIANANDA JURUSAN TEKNOLOGI HASIL
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pikiran, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan
IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengkukusan kacang hijau dalam pembuatan noga kacang hijau.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan mengenai : (4.1) Penelitian Pendahuluan, dan (4.2) Penelitian Utama. 4.1. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan lama
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tepung Tulang Ikan Tuna 4.1.1 Rendemen Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk atau bahan. Perhitungan
EKSTRAKSI GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) DENGAN JENIS DAN KONSENTRASI ASAM YANG BERBEDA
EKSTRAKSI GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) DENGAN JENIS DAN KONSENTRASI ASAM YANG BERBEDA TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Teknologi
I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian
I. PENDAHULUAN. bermanfaat jika diolah, misalnya dibuat marmalade (Sarwono, 1991). Bagian
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk Bali (Citrus grandis) memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi dalam 100 g bagian, yaitu sebanyak 43 mg dan vitamin A sebanyak 20 SI (Satuan Internasional),
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Afkir Itik afkir merupakan ternak betina yang tidak produktif bertelur lagi. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan sebagai bahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan
29 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar Rataan kandungan protein kasar asal daun singkong pada suhu pelarutan yang berbeda disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa
Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar
LAMPIRAN 61 62 Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar Nama Panelis : Tanggal pengujian : Instruksi : Cantumkan kode contoh pada kolom yang tersedia sebelum melakukan pengujian. Berilah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.
4. PEMBAHASAN Analisa Sensori
4. PEMBAHASAN Sorbet merupakan frozen dessert yang tersusun atas sari buah segar, air,gula, bahan penstabil yang dapat ditambahkan pewarna dan asam (Marth & James, 2001). Pada umumnya, frozen dessert ini
TINJAUAN PUSTAKA. dikelompokkan sebagai berikut:kingdomanimalia, FilumChordata, KelasAves,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler adalah jenis ayam dari luar negeri yang bersifat unggul sesuai dengan tujuan pemeliharaan karena telah mengalami perbaikan mutu genetik. Jenis ayam ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kolagen Kolagen berasal dari bahasa Yunani yang berarti lem (perekat). Kolagen merupakan komponen struktural utama dari jaringan ikat putih (white connetive tissue) yang meliputi
4.1. Pengaruh Pra Perlakuan dan Jenis Larutan Ekstraksi terhadap Rendemen Gelatin yang Dihasilkan.
4. PEMBAHASAN Pada penelitian ini, tulang ikan nila mengalami tiga jenis pra perlakuan dan dua jenis ekstraksi untuk mendapatkan ekstrak gelatin yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permen adalah produk makanan berbentuk padat yang dibuat dari gula atau pemanis lainnya dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain yang lazim dan bahan tambahan
I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer di Indonesia. Buah naga mengandung antara lain vitamin C, betakaroten, kalsium,
I. PENDAHULUAN. mencegah rabun senja dan sariawan (Sunarjono, 2003). Jeruk bali bisa dikonsumsi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk bali (Citrus grandis L. Osbeck) memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi dalam 100 g bagian, yaitu terdapat vitamin C sebanyak 43 mg dan vitamin A sebanyak
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pendahuluan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.. Hasil 4... Penelitian Pendahuluan Sebelum dilakukan penelitian utama, terlebih dahulu dilakukan penelitian pendahuluan pembuatan permen cokelat dengan penambahan daging ikan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam
44 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci Hasil penelitian pengaruh konsentrasi garam terhadap rendemen kerupuk kulit kelinci tercantum pada Tabel
1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan.
Penentuan kadar serat kasar Kadar serat kasar dianalisa dengan menggunakan metode Sudarmadji dkk, 1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml kemudian ditambahkan 200 ml H 2 SO4
Tekstur biasanya digunakan untuk menilai kualitas baik tidaknya produk cookies.
Force (Gf) V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.2 Tekstur Tekstur merupakan parameter yang sangat penting pada produk cookies. Tekstur biasanya digunakan untuk menilai kualitas baik tidaknya produk cookies. Tekstur
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan diawali dengan melakukan uji terhadap buah salak segar Padangsidimpuan. Buah disortir untuk memperoleh buah dengan kualitas paling
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kadar Air
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kadar Air Analisa kadar air dilakukan untuk mengetahui pengaruh proporsi daging dada ayam dan pisang kepok putih terhadap kadar air patties ayam pisang. Kadar air ditentukan secara
4. PEMBAHASAN Karaktersitik Fisik Sorbet Liqueur Jahe Merah
4. PEMBAHASAN Sorbet merupakan salah satu jenis frozen dessert yang memiliki kandungan berupa pemanis, penstabil, dan esktrak buah atau herbal. Pada proses pembuatan sorbet liqueur jahe merah diawali dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PEMILIHAN FORMULA Pada penelitian ini, formula awal yang dibuat mengacu pada Salamah et al (2006) yaitu 1.5% hidrokoloid, 28% gula pasir, dan 7% glukosa. Permen yang dihasilkan
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat
I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,
I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Perbandingan Tepung Tapioka : Tepung Terigu :
28 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Sensoris Pengujian sensoris untuk menentukan formulasi terbaik kerupuk goring dengan berbagai formulasi penambahan tepung pisang kepok kuning dilakukan dengan cara
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk Nipis Terhadap Kadar Protein Analisis protein dilakukan untuk mengetahui kualitas protein tahu putih hasil
PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY
PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY Ella Salamah 1), Anna C Erungan 1) dan Yuni Retnowati 2) Abstrak merupakan salah satu hasil perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan menjadi
HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging
TDTLA Pedaging HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Pertama Penelitian tahap pertama adalah pembuatan tepung daging-tulang leher ayam yang dilakukan sebanyak satu kali proses pembuatan pada waktu yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permen adalah produk makanan selingan yang terbuat dari gula/ pemanis, air, dan bahan tambahan makanan (pewarna dan flavoring agent). Permen banyak digunakan sebagai
4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Ketebalan dan Rendemen pada Nata
4. PEMBAHASAN Nata merupakan senyawa selulosa yang dihasilkan dari fermentasi substrat dengan bantuan mikroba yaitu Acetobacter xylinum. Selama proses fermentasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari A.
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan tingkat metabolisme yang tinggi. Ayam broiler sering dibudidayakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Broiler Ayam pedaging (Broiler) merupakan ayam ras yang memiliki daya produktivitas tinggi sehingga dapat menghasilkan produksi daging dalam waktu relatif singkat (5-6
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan meliputi pembuatan tepung jerami nangka, analisis sifat fisik dan kimia tepung jerami nangka, serta pembuatan dan formulasi cookies dari
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
42 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Permen Jelly Rumput Laut Karakteristik permen jelly rumput laut yang diuji pada optimasi formula meliputi karakteristik sensori, fisik dan kimia. Karakteristik
PEMANFAATAN KARAGENAN DAN ASAM SITRAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TAHU
PEMANFAATAN KARAGENAN DAN ASAM SITRAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TAHU SKRIPSI Oleh : Windi Novitasari NPM. 0333010002 JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
EFEK ASAM TERHADAP SIFAT TERMAL EKSTRAK GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA (Euthynnus affinis)
EFEK ASAM TERHADAP SIFAT TERMAL EKSTRAK GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA (Euthynnus affinis) Oleh : MARSAID/ 1409.201.717 Pembimbing: Drs.Lukman Atmaja, M.Si.,Ph.D. LATAR BELAKANG PENELITIAN GELATIN Aplikasinya
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).
I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.
I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Waktu
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
27 4 HSIL DN PEMHSN 4.1 Karakteristik Surimi Patin Pengaruh Pencucian Daging lumat dan surimi merupakan bahan baku yang sering digunakan pada industri perikanan. Sifat fungsional daging lumat dan surimi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Susu kedelai adalah salah satu hasil pengolahan yang merupakan hasil ekstraksi dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Susu Kedelai Susu kedelai adalah salah satu hasil pengolahan yang merupakan hasil ekstraksi dari kedelai. Protein susu kedelai memiliki susunan asam amino yang
NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh : PUJI ASTUTI A
PEMANFAATAN LIMBAH AIR LERI BERAS IR 64 SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SIRUP HASIL FERMENTASI RAGI TEMPE DENGAN PENAMBAHAN KELOPAK BUNGA ROSELLA SEBAGAI PEWARNA ALAMI NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : PUJI
HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack
Gambar 1. Struktur Telur (Romanoff dan Romanoff, 1963)
TINJAUAN PUSTAKA Struktur dan Komposisi Telur Telur merupakan bahan pangan yang sempurna, karena mengandung zat-zat gizi yang lengkap bagi pertumbuhan mahluk hidup baru. Protein yang terdapat pada telur
I PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat
BAB V PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisikokimia Kadar Air
BAB V PEMBAHASAN Cake beras mengandung lemak dalam jumlah yang cukup tinggi. Lemak yang digunakan dalam pembuatan cake beras adalah margarin. Kandungan lemak pada cake beras cukup tinggi, yaitu secara
I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi, sumber vitamin (A, C,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kulit Ikan Kulit merupakan hasil samping dari pemotongan hewan yang berupa organ tubuh pada saat proses pengulitan. Kulit hewan, berupa tenunan dari tubuh hewan yang terbentuk
PERBAIKAN NILAI TAMBAH LIMBAH TULANG IKAN TUNA (Thunnus sp) MENJADI GELATIN SERTA ANALISIS FISIKA-KIMIA
PERBAIKAN NILAI TAMBAH LIMBAH TULANG IKAN TUNA (Thunnus sp) MENJADI GELATIN SERTA ANALISIS FISIKA-KIMIA Mala Nurilmala 1), Mita Wahyuni1 1), Heidi Wiratmaja 2) Abstrak Tulang ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan
BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dibahas pada bab ini meliputi sintesis kolagen dari tendon sapi (Bos sondaicus), pembuatan larutan kolagen, rendemen kolagen, karakterisasi sampel kontrol,
BAB III METODE PENELITIAN. A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan.
BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan. B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Pembuatan sirup rosella dilakukan di Laboratorium Teknologi
I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan
Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada
PEMBAHASAN. I. Definisi
PEMBAHASAN I. Definisi Gel menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995), merupakan sistem semi padat, terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Satu
HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Satu Penentuan Formula Pembuatan Sabun Transparan Penelitian tahap satu merupakan tahap pemilihan formula pembuatan sabun trasnparan. Hasil penelitian tahap satu ini
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama dilakukan karakterisasi rumput laut kering Kappaphycus alvarezii dan buah mengkudu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bolu Kukus Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan telur dan gula. Terdapat banyak macam kue bolu, misalnya kue tart yang biasa dihidangkan
PENGARUH LAMA PERENDAMAN KEDELAI DAN JENIS ZAT PENGGUMPAL TERHADAP MUTU TAHU ISMED SUHAIDI
PENGARUH LAMA PERENDAMAN KEDELAI DAN JENIS ZAT PENGGUMPAL TERHADAP MUTU TAHU ISMED SUHAIDI Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Kedelai (Glycine max Merr)
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pembuatan Gel Ikan Nila Merah (Oreochromis sp) Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan frekuensi pencucian terbaik pada surimi ikan nila merah. Penelitian
Karakteristik mutu daging
Karakteristik mutu daging Oleh: Elvira Syamsir (Tulisan asli dalam Kulinologi Indonesia edisi Maret 2011) Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik dan digunakan konsumen
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Optimasi Polifosfat 1. Pengaruh Terhadap Rendemen Rendemen dihitung berdasarkan kenaikkan berat udang setelah perendaman dibandingkan dengan berat udang sebelum perendaman yang
5.1 Total Bakteri Probiotik
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Total Bakteri Probiotik Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bakteri L. acidophilus pada perbandingan tepung bonggol pisang batu
I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan
I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka
I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa, dan (7) Waktu
molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus
Populasi Kultur Starter HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan Perhitungan populasi dilakukan untuk mendapatkan kultur starter yang terbaik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Pada tahap pendahulan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung 83-87,5 g air; 3,3 4,9 g protein dan; 4 7,3 g lemak. Susu kambing
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Susu Kambing Susu kambing menurut hasil penelitian dalam Sodiq dan Abidin (2008) mengandung 83-87,5 g air; 3,3 4,9 g protein dan; 4 7,3 g lemak. Susu kambing dapat dikonsumsi
PENDAHULUAN. maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis,
I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis, tempat dan waktu penelitian. 1.1.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.) Cangkang kijing lokal yang diperoleh dari danau Teratai yang terdapat di Kec. Mananggu Kab. Boalemo
Studi Komposisi Sari Jagung Manis dan Karagenan Pada Kualitas Jeli Jagung Manis
Studi Komposisi Sari Jagung Manis dan Karagenan Pada Kualitas Jeli Jagung Manis Study the compotition of Sweet Corn Extract and Carrageenan Concentration on Sweet Corn Jelly Characteristics Arif Ashadi
Sifat Sensoris (Sensory Properties)
Analisis Sifat Sensoris Bahan Pangan By. Jaya Mahar Maligan Laboratorium Nutrisi Pangan dan Hasil Pertanian Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Hasil Pertanian FTP - UB 2016 Sifat
I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman labu kuning adalah tanaman semusim yang banyak ditanam di Indonesia dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu kuning tergolong
4.2. Kadar Abu Kadar Metoksil dan Poligalakturonat
Kualitas pektin dapat dilihat dari efektivitas proses ekstraksi dan kemampuannya membentuk gel pada saat direhidrasi. Pektin dapat membentuk gel dengan baik apabila pektin tersebut memiliki berat molekul,
I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,
I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan sebanyak dua kali. Penelitian pendahuluan yang pertama dimaksudkan untuk menentukan jenis bahan tambahan pengental yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Kerupuk Jagung 4.1.1 Pencampuran Adonan Proses pencampuran adonan ada dua kali yaitu dengan cara manual (tangan) dan kedua dengan menggunakan mixer. Langkah
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Organoleptik Bakso Ikan Nila Merah Uji organoleptik mutu sensorik yang dilakukan terhadap bakso ikan nila merah yang dikemas dalam komposisi gas yang berbeda selama
I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Hampir 60% produksi kakao berasal dari pulau Sulawesi yakni
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang Masalah, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian,
I. PENDAHULUAN. kuning atau merah (Prajnanta, 2003).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semangka (Citrullus vulgaris Schard.) merupakan buah yang digemari masyarakat Indonesia karena rasanya manis, renyah, dan kandungan airnya banyak, kulitnya keras dapat
