BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 PENDAHULUAN Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) digunakan secara tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian mengenai efek farmakologi mahkota dewa menunjukkan bahwa mahkota dewa memiliki aktivitas antihistamin, antioksidan, antidiabetes dan antiradang (Harmanto, 2003). Beberapa senyawa dari mahkota dewa yang telah berhasil diisolasi antara lain 4,4 - dihidroksi-2-metoksibenzofenon-6-o-β-d-glukopiranosida, mangiferin, kaempferol-3-o-β- D-glukosida (Zhang, 2005), 4,6-dihidroksi-4-metoksibenzofenon-2-O-glukosida dan falerin. Falerin merupakan senyawa hidroksi benzofenon glukosida yang salah satu cincin aromatiknya tersubtitusi metoksi (Rahmi, 2004). Falerin terbukti menghambat radang 36,7% pada jam kedua dan 23,4% pada jam kelima pada tikus betina galur wistar yang diinduksi radang dengan λ-karagenan dengan dosis 22,5 mg/kg bb (Mariani, 2005). Penelitian lebih lanjut mengenai falerin perlu dilakukan untuk mengetahui potensinya sebagai antiradang. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah penandaan senyawa dengan menggunakan isotop radioaktif sebagai perunut radioaktif untuk mengetahui biodistribusinya dalam tubuh. Falerin dapat ditandai dengan menggunakan 131 I. Isotop 131 I dipilih karena memiliki waktu paruh yang cukup lama yaitu 8 hari 57,6 menit dan memiliki energi yang tinggi sebesar 364 kev untuk radiasi gamma dan 606 kev untuk radiasi beta. 131 I dengan energi yang tinggi ini cocok digunakan untuk pengamatan biodistribusi karena dengan energinya yang tinggi memiliki kemampuan untuk menembus jaringan hidup sehingga biodistribusi dalam tubuh makhluk hidup mudah diamati. Selain itu penandaan 131 I diduga tidak banyak merubah kestabilan dan struktur senyawa falerin. Penelitian ini bertujuan untuk menandai falerin dan mengamati dampak penandaan senyawa falerin dengan 131 I terhadap biodistribusinya dalam berbagai jaringan hewan normal dan hewan radang. 1

2 BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab tinjauan pustaka ini diuraikan beberapa teori yang berkaitan dengan penelitian penandaan falerin dengan 131 I dan penggunaannya sebagai perunut lokasi radang. 1.1 Falerin sebagai Senyawa Antiradang Falerin merupakan senyawa yang telah diisolasi dari daun dan buah mahkota dewa. Falerin secara fisik berupa kristal putih kekuningan, larut baik dalam air suling dan memiliki Rf 0,42 pada KLT pelat silika gel GF 254 pra salut dengan sistem pengembang kloroform - metanol (7:3) dan penampak bercak asam sulfat 10% dalam metanol. Falerin memiliki titik leleh ºC. Spektrum ultraviolet dari falerin menunjukkan adanya serapan pada 210 dan 294 nm. Spektrum infamerah menunjukkan adanya gugus hidroksil pada puncak 3368 cm -1, karbon alifatik pada 2931 cm -1, gugus aromatik pada 685, 1651, 1506 cm -1 serta gugus karbonil yang ditunjukkan puncak tajam pada 1651 cm -1. Spektrum resonansi magnetik inti proton menunjukkan 6 proton aromatik pada δ 6,18; 6,34; 6,75; 6,86; 7,58; dan 7,71 ppm (cincin aromatik), proton anomerik pada δ 4,87 ppm (gugus glukosida) dan tiga proton metoksi pada δ 3,19; 3,57; dan 3,75 ppm. Falerin memiliki efek penghambatan terhadap radang pada tikus betina galur wistar yang diinduksi radang dengan λ-karagenan dengan dosis 22,5 mg/kg bb. Kemampuan menghambat radang pada dosis tersebut berbeda bermakna terhadap kontrol pada p<0,05 pada jam ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-5 dengan besar nilai penghambatan berturut-turut adalah 36,7%; 22,1%; 16,5%; dan 23,4%. O HO HO OCH 3 O HO O OH H O OH Gambar 1.1 Struktur kimia falerin 2

3 3 1.2 Penggunaan Radioisotop dalam Bidang Farmasi Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang kedokteran telah dimulai tahun 1901 oleh Henri Danlos dengan menggunakan radium untuk pengobatan penyakit Tuberculosis pada kulit. George C de Havessy, tokoh yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir pertama kali meletakkan prinsip perunut dengan menggunakan zat radioaktif. Di bidang farmasi, isotop radioaktif dapat digunakan untuk keperluan diagnosa dan terapi dalam bentuk radiofarmaka. Radiofarmaka adalah senyawa kimia atau obat yang mengandung nuklida radioaktif dalam strukturnya dan dapat diberikan secara oral, parenteral, dan inhalasi untuk keperluan diagnosa atau terapi penyakit. Radiofarmaka untuk keperluan diagnosa memanfaatkan sifat radioisotop yang memiliki sifat kimia sama dengan isotop stabilnya. Dalam hal ini radioisotop digunakan untuk menandai senyawa tertentu sehingga perubahan atau perpindahan senyawa tersebut dapat dipantau. Selain untuk keperluan diagnosa, radioisotop dapat digunakan untuk keperluan terapi. Radiasi yang dihasilkan oleh radioisotop dapat merusak sel baik normal maupun sel kanker. Radioisotop untuk terapi mengarahkan radiasi yang dipancarkan untuk merusak sel-sel tumor atau kanker yang lebih sensitif daripada sel normal. Berbagai jenis radioisotop yang digunakan sebagai perunut untuk diagnosa penyakit antara lain: teknesium ( 99 Tc), talium-201 ( 201 Ti), iodin-131( 131 I), natrium-24 ( 24 Na), xenon-133 ( 133 Xe) dan besi ( 59 Fe). 99 Tc yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah akan diserap terutama oleh jaringan yang rusak pada organ tertentu, seperti jantung, hati dan paru-paru Sebaliknya Ti-201 terutama akan diserap oleh jaringan yang sehat pada organ jantung. Oleh karena itu, kedua isotop itu digunakan secara bersama-sama untuk mendeteksi kerusakan jantung. I-131 akan diserap oleh kelenjar gondok, hati dan bagian-bagian tertentu dari otak. Oleh karena itu, 131 I dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan untuk mendeteksi tumor otak. Larutan garam yang mengandung Na-24 disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk mendeteksi adanya gangguan peredaran darah. Xe-133 digunakan untuk mendeteksi penyakit paru-paru. P-32 untuk penyakit mata, tumor dan hati. Fe-59 untuk mempelajari pembentukan sel darah merah. 1.3 Jenis Radiasi yang Dipancarkan Inti Radiasi yang dipancarkan oleh zat radioaktif dapat digolongkan menjadi tiga berdasarkan muatannya,yaitu radiasi sinar alfa, sinar beta dan sinar gamma.

4 Sinar Alfa Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel sinar alfa sama dengan inti helium bermuatan +2 dan bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Sinar alfa dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Daya tembus sinar alfa paling lemah diantara diantara sinarsinar radioaktif karena memiliki massa yang besar. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sinar alfa segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya. Tabrakan tersebut mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami ionisasi Sinar Beta Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang bemuatan -l dan bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi 0-1e. Energi sinar beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh jarak sampai dengan 300 cm dalam udara kering dan dapat menembus kulit Sinar Gamma Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetik berenergi tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa, dinyatakan dengan notasi 0 0y. Sinar gamma mempunyai daya tembus sehingga banyak digunakan untuk radiofarmasi diagnosa dengan mengamati pancaran radiasi dengan alat Gamma Counter. 1.4 Penandaan Senyawa dengan Radioisotop Penandaan senyawa dengan radioisotop dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait dengan struktur senyawa yang akan ditandai dan atom radioaktif yang akan digunakan untuk menandai Jenis Penandaan Penandaan senyawa dengan atom radioaktif berdasarkan jenis atom radioaktif yang digunakan dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu penandaan seisotop dan penandaan tidak seisotop ( Palmer, 1999).

5 5 a. Penandaan seisotop Penandaan seisotop dapat dilakukan dengan menandai senyawa dengan suatu isotop dari unsur yang sudah ada dalam senyawa sehingga keberadaan isotop tersebut identik dengan senyawa sebelum ditandai. Contohnya: penandaan triiodotironin,t 3 dengan 125 I. Pada proses tersebut 127 I yang tidak radioaktif digantikan dengan 125 I yang radioaktif. b. Penandaan tidak seisotop Penandaan Tidak seisotop dilakukan dilakukan dengan menandai senyawa dengan isotop dari unsur lain yang tidak ada dalam senyawa yang ditandai. Contohnya adalah pada penandaan heksametilpropilen amin oksim dengan 99m Tc ( 99m Tc- HMPAO) Metode Penandaan Penyiapan senyawa bertanda dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu: reaksi pertukaran isotop, sintesis kimia, sintesis biokimia, penandaan dengan nuklida asing, penandaan eksitasi (Ramli, 1994). a. Penandaan dengan reaksi pertukaran isotop Penandaan dengan metode ini dilakukan dengan menggantikan satu atau lebih atom dalam suatu molekul dengan isotop dari unsur atom yang sama tetapi punya nomor massa berbeda seperti ditunjukkan oleh persamaan berikut ini: Ax ** + Bx Bx * + Ax Persamaan tersebut menunjukkan bahwa senyawa Bx pada kondisi reaksi tertentu akan terjadi pertukaran atom x yang dimilikinya dengan atom x * dari senyawa Ax * dimana x * merupakan isotop dari atom x. Penggunaan reaksi pertukaran isotop menjadi sangat penting jika cara kimia tidak dapat dilakukan. Akan tetapi metode ini juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu reaksi ini merupakan reaksi yang bersifat reversibel sehingga atom yang telah ditandai dapat terlepas kembali. Selain itu adanya pengotor dalam pereaksi awal yang terlibat dalam reaksi pertukaran akan lebih menyulitkan pemurnian produk utama hasil reaksi. Contoh senyawa bertanda yang disiapkan dengan metode ini adalah senyawa bertanda 125 I-triiodotironin ( 125 I-T 3 ) dan 125 I-tetraiodotironin ( 125 I-T 4 ) (Palmer, 1999).

6 6 b. Metode sintesis kimia Metode ini banyak digunakan untuk penyiapan senyawa bertanda yang lebih kompleks. Sintesis biasanya dimulai dengan pereaksi senyawa bertanda antara yang sederhana. Penyiapan senyawa bertanda dengan metode ini memungkinkan pengaturan posisi penandaan isotop seperti yang diinginkan (Palmer, 1999). Sintesis yang dapat dilakukan sangat bervariasi berdasarkan kompleksnya struktur molekul yang disintesis. Oleh karena itu, hasil penandaan dengan metode ini dapat mencapai kisaran 1-90%. Rendemen reaksi biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase rendemen radiokimia. Rendemen radiokimia dari hasil penandaan dapat dihitung dengan formula berikut: Rendemen radiokimia : radioaktivitas total produk (mci) x 100% radioaktivitas total substrat (mci) c. Metode sintesis biokimia Metode sintesis biokimia menggunakan enzim sebagai katalis kimia dalam merubah suatu substrat radioaktif menjadi senyawa bertanda yang diinginkan. Perubahan substrat radioaktif dengan sintesis enzimatik ini sangat mirip dengan perubahan substrat yang terjadi melalui sintesis kimia untuk penyediaan senyawa bertanda. d. Metode penandaan dengan nuklida asing Metode ini paling umum digunakan dalam penyiapan senyawa bertanda. Jenis penandaan ini melibatkan molekul yang memiliki peranan biologis yang telah dikenal, kemudian suatu radionuklida dari unsur yang bukan merupakan bagian dari molekul tersebut direaksikan melalui ikatan kovalen atau ikatan kovalen koordinasi. Keterikatan radionuklida dari dalam molekul bukan dari hasil pertukaran dengan salah satu dari isotop yang berada di dalam molekul tersebut. Oleh karena itu hampir semua senyawa bertanda kategori ini mempunyai ikatan kimia yang terbentuk dari ikatan kelat, yaitu lebih dari satu atom yang berada dalam senyawa yang ditandai menyumbang pasangan elektron yang akan digunakan. e. Metode penandaan eksitasi Metode penandaan ini melibatkan ion radionuklida anak yang sangat reaktif hasil dari peluruhan inti selama peluruhan beta atau tangkapan elektron. Dalam reaksi ini dihasilkan ion berenergi tinggi yang mampu menandai berbagai senyawa yang berada

7 7 di sekitarnya. Misalnya senyawa dipaparkan pada 77 Kr yang meluruh menjadi 77 Br, maka ion 77 Br berenergi tinggi hasil peluruhan selanjutnya akan membentuk senyawa bertanda brom. Hal yang sama terjadi juga dengan berbagai protein yang dipaparkan pada 123 Xe yang menghasilkan protein teriodinasi hasil peluruhan 123 Xe Penandaan Senyawa dengan 131 I 131 I adalah radiosiotop pemancar sinar beta dan sinar gamma. Radiasi sinar beta yang dipancarkan oleh 131 I adalah sebesar 606 kev dan radiasi sinar gamma yang dipancarkan sebesar 364 kev. 131 I memiliki sifat mudah menguap dan waktu paruh 8 hari 57,6 menit. Penandaan senyawa menggunakan radionuklida iodium dapat dilakukan dengan beberapa metode penandaan dengan pereaksi Bolton-Hunter, triiodida, kloramin T, enzimatik, dan pereaksi Iodogen. a. Metode penandaan dengan pereaksi Bolton-Hunter Metode ini banyak digunakan untuk menandai peptida dan campuran yang tidak mengandung gugus tirosil dan histidil. Metode ini digunakan untuk menandai peptida dan senyawa yang tidak mengandung gugus tirosil dan residu histidil. Pembentukan konjugat terjadi melalui gugus amino bebas dari senyawa yang akan ditandai. Manfaat dari penggunaaan metode ini adalah protein tidak bereaksi langsung dengan zat pengoksidasi karena pada penandaan dengan pereaksi Bolton-Hunter awalnya dilakukan juga penandaan dengan kloramin T atau sama dengan metode sebelum pembentukan suatu konjugat dengan peptida atau senyawa yang akan ditandai. b. Metode triiodida Metode triiodida menggunakan reaksi adisi radioiodium terhadap senyawa yang akan ditandai dengan adanya campuran iodium dan kalium iodida. Reaksi yang terjadi ditunjukkan sebagai berikut : I 2 + KI I 2 + R R 131 I + K 131 I + RI Hasil penandaan senyawa dengan menggunakan metode ini hanya dapat mencapai 10 sampai dengan 30%.

8 8 c. Metode kloramin T Metode penandaan dengan kloramin T masih merupakan metode yang banyak digunakan untuk menandai senyawa dengan menggunakan iodium. Reaksi terjadi adalah perubahan atau oksidasi iodida menjadi ion iodin (I - ) dan iodinium (I + ). Oksidasi terjadi dalam larutan encer dimana kloramin T meningkatkan jumlah asam hipoklorit dan ion klorin positif yang mengoksidasi iodida menjadi I - dan I +. Oksidasi iodida dihentikan dengan penambahan zat pereduksi. Zat pereduksi yang biasa digunakan adalah sodium metabisulfit. Kloramin T merupakan oksidator kuat sehingga dapat menyebabkan kerusakan struktur pada gugus sulfidril atau sulfur. Contohnya pada sistein atau gugus S-CH 3 pada metionin. d. Metode enzimatik Penandaan senyawa dengan radioiodium dapat dilakukan dengan menambahkan enzim dalam jumlah nanomolar ke dalam campuran yang mengandung radioiodium dan senyawa yang akan diodinasi. Hasil dari proses iodinasi dengan metoda ini dapat mencapai 60% sampai dengan 85%. Iodinasi dengan menggunakan enzim laktoperoksidase berdasarkan reaksi kimia yang sama dengan iodinasi kimia pada metode kloramin T. Enzim laktoperoksidase memiliki potensi mengoksidasi Na 131 I yang lebih lemah daripada kloramin T sehingga efek yang tidak diinginkan dari proses oksidasi dapat dikurangi. Variasi dari metode ini dapat digunakan dengan menggunakan enzin glukosa oksidase bersamasama dengan substratnya, yaitu β-d-glukosa. Hal ini memiliki keuntungan karena akan dihasilkan H 2 O 2 secara terus-menerus yang akan digunakan pada reaksi dengan laktoperoksidase sebagai substrat. Pada saat yang bersamaan dengan ketika terjadinya reaksi tersebut H 2 O 2 diubah menjadi H 2 O dan iodida pada saat bersamaan dioksidasi menjadi I - dan I +. Penggunaan variasi metode penandaan dengan laktoperoksidase dengan menggunakan glukosa oksidase ini bermanfaat karena hidrogen peroksida yang diproduksi secara terus-menerus langsung digunakan oleh laktoperoksidase untuk mengurangi efek samping dari reaksi oksidasi yang tidak diinginkan. Radioiodinasi dengan metode ini cocok digunakan untuk penandaan senyawa biologis aktif yang dibutuhkan secara khusus untuk penentuan kadar radioreseptor.

9 9 e. Metode penandaan dengan iodogen (1,3,4,6 tetrakloro-3 α, 6 α difenilglikouril) Iodogen merupakan pereaksi yang dapat digunakan untuk mengoksidasi iodida dari Na 131 I menjadi ion iodin (I - ) dan iodinium (I + ) yang akan masuk ke dalam struktur senyawa yang akan ditandai. Iodogen tidak larut dalam air tetapi memiliki kelarutan yang baik dalam pelarut organik seperti kloroform atau diklorometana. Mekanisme oksidasi iodida menjadi ion iodin dan iodinium oleh Iodogen belum diketahui secara pasti, namun diduga dua gugus karbonil yang ada dalam struktur iodogen memiliki peran yang penting dalam proses oksidasi tersebut. Iodogen merupakan oksidator yang lebih lemah daripada kloramin T sehingga tidak diperlukan zat yang berfungsi untuk menghentikan reaksi seperti natrium metabisulfit pada reaksi penandaan metode kloramin T. Pada penggunaannya sebagai pereaksi Iodogen dilarutkan dalam pelarut organik seperti kloroform atau diklorometana kemudian disimpan hingga semua pelarutnya menguap dan Iodogen tertinggal di dinding tabung reaksi. Metode iodogen ini banyak digunakan untuk menandai protein dan membran sel atau senyawa lain yang memiliki gugus aromatik pada strukturnya. Cl N C O C N C Cl Cl N C O N Cl Gambar 1.2 Struktur kimia Iodogen Penggunaan dari metode ini dalam proses penandaan memiliki keunggulan,yaitu tidak dibutuhkan zat pereduksi kuat untuk menghentikan reaksi karena reaksi akan berhenti setelah campuran reaksi dipindahkan dari tabung yang berisi Iodogen dan waktu penandaan yang diperlukan lebih singkat daripada waktu yang dibutuhkan pada penandaan metode kloramin T. Penandaan dengan metode iodogen ini dapat memberikan hasil sampai dengan 90%.

10 10 f. Metode elektrolitik Metode ini menggunakan prinsip pelepasan iodin yang reaktif hasil elektrolisis campuran radioiodin dan senyawa yang akan ditandai. Iodin reaktif ini selanjutnya dapat bereaksi dengan senyawa yang akan ditandai. Hasil dari proses penandaan dapat mencapai 80%. Metode ini apat digunakan untuk menandai protein atau asam amino. 1.5 Metode Analisis dan Pemurnian Hasil Penandaan Hasil penandaan dianalisis dengan metode untuk mengetahui keberhasilan reaksi penandaan. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan penandaan sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui efektivitas penandaan. Setelah dianalisis hasil penandaan dimurnikan terlebih dahulu agar dapat digunakan sebagai perunut radioaktif atau sebagai radiofarmaka terapi Analisis Hasil Penandaan Analisis atau pengujian efektivitas hasil penandaaan suatu senyawa dengan radioisotop dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode kromatografi, seperti kromatografi lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi. a. Kromatografi lapis tipis Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi cair yang sederhana. Kromatografi lapis tipis ini dapat digunakan untuk keperluan kualitatif dan kuantitatif. Pada dasarnya kromatografi lapis tipis melibatkan dua bagian yaitu fasa gerak dan fasa diam. Fasa diam dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai penjerap. Empat jenis bahan penjerap yang sering digunakan dalam kromatogafi lapis tipis adalah silika gel, alumina, kiselgur (tanah diatomae) dan selulosa. Fase gerak dapat berupa semua jenis pelarut atau campuran pelarut yang dipilih berdasarkan kepolarannya. Dalam penggunaannya untuk menganalisis hasil penandaan pelat tipis yang telah ditotol dengan sampel dan telah dikembangkan dengan fasa gerak yang dipilih dikeringkan kemudian dihitung radioaktivitasnya dengan alat penghitung cacahan radiasi Single Channel Analyzer yang dilengkapi detektor NaI(TI). Dengan demikian dapat diketahui efektivitas hasil penandaan dan Rf dari senyawa bertanda yang dianalisis.

11 11 b. Kromatografi cair kinerja tinggi Kromatografi cair kinerja tinggi merupakan metode pemisahan komponen campuran senyawa kimia terlarut dengan sistem adsorpsi pada fase diam padat atau sistem partisi di antara fasa diam cair yang terikat pada penyangga padat dan fasa gerak cair yang mengalir dengan laju terkendali karena adanya tekanan tinggi. Sistem kromatografi cair kinerja tinggi terdiri dari dua subsistem, yaitu pemisahan dan pendeteksian. Subsistem pemisahan terdiri dari sistem pemasok pelarut dengan bagian utamanya berupa pompa yang mengalirkan pelarut dan sampel ke dalam kolom. Sedangkan subsistem pendeteksian terdiri dari detektor yang dihubungkan pada ujung akhir kolom. Agar dapat menganalisis hasil penandaan, alat kromatografi cair kinerja tinggi yang digunakan harus dilengkapi dengan detektor ultraviolet dan detektor radioaktif yang dapat mendeteksi munculnya puncak radioaktivitas dari senyawa bertanda yang dianalisis Pemurnian Hasil Penandaan Produk hasil penandaan harus dimurnikan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai perunut radioaktif maupun sebagai radiofarmaka yang akan digunakan untuk terapi. Berbagai macam metode pemisahan dapat digunakan untuk pemurnian senyawa hasil penandaan. Pertimbangan untuk memilih metode yang tepat untuk pemurnian disesuaikan dengan sifat senyawa hasil penandaan seperti polaritas dan berat molekul senyawa. Metode pemurnian yang banyak digunakan untuk memurnikan senyawa bertanda antara lain kromatografi eksklusi ukuran, kromatografi penukar ion, kromatografi cair kinerja tinggi semi preparatif, kromatografi lapis tipis preparatif dan kromatografi kertas preparatif.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penandaan falerin dengan 131 I adalah jenis penandaan tak seisotop. Falerin ditandai dengan menggunakan 131 I yang tidak terdapat dalam struktur falerin. Proses yang

Lebih terperinci

FISIKA INTI DI BIDANG KEDOKTERAN, KESEHATAN, DAN BIOLOGI

FISIKA INTI DI BIDANG KEDOKTERAN, KESEHATAN, DAN BIOLOGI FISIKA INTI DI BIDANG KEDOKTERAN, KESEHATAN, DAN BIOLOGI Stuktur Inti Sebuah inti disusun oleh dua macam partikel yaitu proton dan neutron terikat bersama oleh sebuah gaya inti. Proton adalah sebuah partikel

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.

Lebih terperinci

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini : Kompetensi Dasar: Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan metode pemisahan dengan KLT dan dapat mengaplikasikannya untuk analisis suatu sampel Gambaran Umum KLT Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan

Lebih terperinci

2. Dari reaksi : akan dihasilkan netron dan unsur dengan nomor massa... A. 6

2. Dari reaksi : akan dihasilkan netron dan unsur dengan nomor massa... A. 6 KIMIA INTI 1. Setelah disimpan selama 40 hari, suatu unsur radioaktif masih bersisa sebanyak 0,25 % dari jumlah semula. Waktu paruh unsur tersebut adalah... 20 hari 8 hari 16 hari 5 hari 10 hari SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun

Lebih terperinci

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography)

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography) Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography) Kromatografi DEFINISI Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1. BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada awal penelitian dilakukan determinasi tanaman yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tanaman yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan

Lebih terperinci

Jumlah Proton = Z Jumlah Neutron = A Z Jumlah elektron = Z ( untuk atom netral)

Jumlah Proton = Z Jumlah Neutron = A Z Jumlah elektron = Z ( untuk atom netral) FISIKA INTI A. INTI ATOM Inti Atom = Nukleon Inti Atom terdiri dari Proton dan Neutron Lambang Unsur X X = nama unsur Z = nomor atom (menunjukkan banyaknya proton dalam inti) A = nomor massa ( menunjukkan

Lebih terperinci

FISIKA ATOM & RADIASI

FISIKA ATOM & RADIASI FISIKA ATOM & RADIASI Atom bagian terkecil dari suatu elemen yang berperan dalam reaksi kimia, bersifat netral (muatan positif dan negatif sama). Model atom: J.J. Thomson (1910), Ernest Rutherford (1911),

Lebih terperinci

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Glibenklamid merupakan sulfonylurea generasi kedua yang digunakan sebagai obat antidiabetik oral yang berperan menurunkan konsentrasi glukosa darah. Glibenklamid merupakan salah satu senyawa

Lebih terperinci

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA BAB 1 TIJAUA PUSTAKA 1.1 Glibenklamid Glibenklamid adalah 1-[4-[2-(5-kloro-2-metoksobenzamido)etil]benzensulfonil]-3- sikloheksilurea. Glibenklamid juga dikenal sebagai 5-kloro--[2-[4{{{(sikloheksilamino)

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi Senyawa Fenolik Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar tumbuhan kenangkan yang diperoleh dari Desa Keputran Sukoharjo Kabupaten

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel Temulawak Terpilih Pada penelitian ini sampel yang digunakan terdiri atas empat jenis sampel, yang dibedakan berdasarkan lokasi tanam dan nomor harapan. Lokasi tanam terdiri

Lebih terperinci

PERCOBAAN PEMBELOKAN RADIASI SINAR BETA OLEH MEDAN MAGNET

PERCOBAAN PEMBELOKAN RADIASI SINAR BETA OLEH MEDAN MAGNET PANDUAN PENGGUNAAN KIT ATOM-INTI Oleh : Sukardiyono dan Yusman Wiyatmo Disampaikan pada Pelatihan Kepala Laboratorium Fisika SMA Kabupaten Kebumen dan Purworejo 11 Agustuas 2012 PERCOBAAN PEMBELOKAN RADIASI

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Sebanyak 5 kg buah segar tanaman andaliman asal Medan diperoleh dari Pasar Senen, Jakarta. Hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Runusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Runusan Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kimia inti adalah ilmu yang mempelajari struktur inti atom dan pengaruhnya terhadap kestabilan inti serta reaksi-reaksi inti yang terjadi pada proses peluruhan radio

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Fraksinasi Sampel buah mahkota dewa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari kebun percobaan Pusat Studi Biofarmaka, Institut Pertanian Bogor dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil determinasi tumbuhan dilampirkan pada Lampiran 1) yang diperoleh dari perkebunan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Penentuan kadar air berguna untuk mengidentifikasi kandungan air pada sampel sebagai persen bahan keringnya. Selain itu penentuan kadar air berfungsi untuk mengetahui

Lebih terperinci

KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA. Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif

KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA. Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif Oleh : Arif Novan Fitria Dewi N. Wijo Kongko K. Y. S. Ruwanti Dewi C. N. 12030234001/KA12 12030234226/KA12 12030234018/KB12 12030234216/KB12

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi 2 dikeringkan pada suhu 105 C. Setelah 6 jam, sampel diambil dan didinginkan dalam eksikator, lalu ditimbang. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai diperoleh bobot yang konstan (b). Kadar air sampel ditentukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L etanol, diperoleh ekstrak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Determinasi Tumbuhan Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Bandung untuk mengetahui dan memastikan famili dan spesies tumbuhan

Lebih terperinci

INTI DAN RADIOAKTIVITAS

INTI DAN RADIOAKTIVITAS KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA INTI DAN RADIOAKTIVITAS Disusun oleh Kelompok A 1: Siti Lailatul Arifah 12030234021/ KB 2012 Nuril Khoiriyah 12030234022/ KB 2012 Nurma Erlita Damayanti 12030234204/ KB 2012 Amardi

Lebih terperinci

U Th He 2

U Th He 2 MODUL UNSUR RADIOAKTIF dan RADIOISOTOP Radiasi secara spontan yang di hasilkan oleh unsure di sebut keradioaktifan, sedangkan unsure yang bersifat radioaktif disebut unsure radioaktif.unsur radioaktif

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Ekstraktif Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ekstrak aseton yang diperoleh dari 2000 gram kulit A. auriculiformis A. Cunn. ex Benth. (kadar air 13,94%)

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia) BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia) yang diperoleh dari Kampung Pamahan, Jati Asih, Bekasi Determinasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Garut, Jawa Barat serta

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat-alat 1. Alat Destilasi 2. Batang Pengaduk 3. Beaker Glass Pyrex 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Corong Kaca 7. Corong Pisah 500 ml Pyrex 8. Ekstraktor 5000 ml Schoot/ Duran

Lebih terperinci

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional 1 Pokok Bahasan STRUKTUR ATOM DAN INTI ATOM A. Struktur Atom B. Inti Atom PELURUHAN RADIOAKTIF A. Jenis Peluruhan B. Aktivitas Radiasi C. Waktu

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan karakteristik dilakukan untuk mengetahui kebenaran identitas zat yang digunakan. Dari hasil pengujian, diperoleh karakteristik zat seperti yang tercantum

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyiapan Sampel Sampel daging buah sirsak (Anonna Muricata Linn) yang diambil didesa Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, terlebih

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Tahap Sintesis Biodiesel Pada tahap sintesis biodiesel, telah dibuat biodiesel dari minyak sawit, melalui reaksi transesterifikasi. Jenis alkohol yang digunakan adalah metanol,

Lebih terperinci

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc. KROMATOGRAFI Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc. Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa memahami pengertian dari kromatografi dan prinsip kerjanya 2. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis kromatografi dan pemanfaatannya

Lebih terperinci

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Telah dilakukan penelitian isolat dari buah mahkota dewa, yang merupakan senyawa berkerangka benzofenon terhadap rattus novergicus (tikus) galur Wistar betina yang diinduksi λ-karagenan. Hasil

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang diperoleh dari perkebunan murbei di Kampung Cibeureum, Cisurupan

Lebih terperinci

Partikel sinar beta membentuk spektrum elektromagnetik dengan energi

Partikel sinar beta membentuk spektrum elektromagnetik dengan energi Partikel sinar beta membentuk spektrum elektromagnetik dengan energi yang lebih tinggi dari sinar alpha. Partikel sinar beta memiliki massa yang lebih ringan dibandingkan partikel alpha. Sinar β merupakan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai 40 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali menunjukkan bahwa sampel tumbuhan yang diambil di

Lebih terperinci

: Kimia Farmasetika Umum. Status Matakuliah

: Kimia Farmasetika Umum. Status Matakuliah Nama Matakuliah Kode / sks Prasyarat Status Matakuliah : Radio Farmasi : FAK 3531 / 2 SIES : Kimia Farmasetika Umum : Wajib Dieskripsi Singkat Matakuliah. Matakuliah Radio Farmasi terutama mempelajari

Lebih terperinci

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si.

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si. PENEMUAN RADIOAKTIVITAS Sulistyani, M.Si. Email: [email protected] SINAR KATODE Penemuan sinar katode telah menginspirasi penemuan sinar-x dan radioaktivitas Sinar katode ditemukan oleh J.J Thomson

Lebih terperinci

ZAT RADIO AKTIF DAN PENGGUNAAN RADIO ISOTOP BAGI KESEHATAN ABDUL JALIL AMRI ARMA

ZAT RADIO AKTIF DAN PENGGUNAAN RADIO ISOTOP BAGI KESEHATAN ABDUL JALIL AMRI ARMA ZAT RADIO AKTIF DAN PENGGUNAAN RADIO ISOTOP BAGI KESEHATAN ABDUL JALIL AMRI ARMA Bagian Kependudukan dan Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN Jika kita

Lebih terperinci

3. Pemanfaatan radioisotop sebagai sumber radiasi dan perunut dibidang kedokteran 3.1. Radioisotop sebagai sumber radiasi dibidang kedokteran

3. Pemanfaatan radioisotop sebagai sumber radiasi dan perunut dibidang kedokteran 3.1. Radioisotop sebagai sumber radiasi dibidang kedokteran 3. Pemanfaatan radioisotop sebagai sumber radiasi dan perunut dibidang kedokteran 3.1. Radioisotop sebagai sumber radiasi dibidang kedokteran Awal mula penggunaan radiasi dibidang kedokteran sebenarya

Lebih terperinci

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si.

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si. PENEMUAN RADIOAKTIVITAS Sulistyani, M.Si. Email: [email protected] APA ITU KIMIA INTI? Kimia inti adalah ilmu yang mempelajari struktur inti atom dan pengaruhnya terhadap kestabilan inti serta reaksi-reaksi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.

Lebih terperinci

JURNAL PRAKTIKUM SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 12 Mei 2014

JURNAL PRAKTIKUM SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 12 Mei 2014 JURNAL PRAKTIKUM SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 12 Mei 2014 Oleh KIKI NELLASARI (1113016200043) BINA PUTRI PARISTU (1113016200045) RIZQULLAH ALHAQ F (1113016200047) LOLA MUSTAFALOKA (1113016200049) ISNY

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV asil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Isolasi Kitin dari Limbah Udang Sampel limbah udang kering diproses dalam beberapa tahap yaitu penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi untuk

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Lokasi Penelitian Objek atau bahan penelitian ini adalah daun salam (Syzygium polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam yang didapatkan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Falerin (4,5-dihidroksi-5 -metoksibenzofenon-3-o-glukosida) adalah isolat dari buah mahkota dewa berkerangka benzofenon yang mempunyai aktivitas antiinflamasi. Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan dengan metode uji toleransi glukosa.

BAB IV METODE PENELITIAN. glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan dengan metode uji toleransi glukosa. 33 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat deskriftif dan eksperimental, dilakukan pengujian langsung efek hipoglikemik ekstrak kulit batang bungur terhadap glukosa darah

Lebih terperinci

Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin

Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin Laporan Praktikum Senyawa Organik Polifungsi KI2251 1 Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin Antika Anggraeni Kelas 01; Subkelas I; Kelompok C; Nurrahmi Handayani

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1.

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1. PEMBAHASAN Pengaruh Pencucian, Delignifikasi, dan Aktivasi Ampas tebu mengandung tiga senyawa kimia utama, yaitu selulosa, lignin, dan hemiselulosa. Menurut Samsuri et al. (2007), ampas tebu mengandung

Lebih terperinci

KIMIA (2-1)

KIMIA (2-1) 03035307 KIMIA (2-1) Dr.oec.troph.Ir.Krishna Purnawan Candra, M.S. Kuliah ke-4 Kimia inti Bahan kuliah ini disarikan dari Chemistry 4th ed. McMurray and Fay Faperta UNMUL 2011 Kimia Inti Pembentukan/penguraian

Lebih terperinci

Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur

Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur 1. Identifikasi suatu unsur dapat dilakukan melalui pengamatan fisis maupun kimia. Berikut yang bukan merupakan pengamatan kimia adalah. A. perubahan warna B. perubahan

Lebih terperinci

KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS)

KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS) KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS) 1.PENDAHULUAN 2.KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI 3.SPEKTROSKOPI UV-VIS 4.SPEKTROSKOPI IR 5.SPEKTROSKOPI 1 H-NMR 6.SPEKTROSKOPI 13 C-NMR 7.SPEKTROSKOPI MS 8.ELUSIDASI STRUKTUR Teknik

Lebih terperinci

TINJAUAN MATA KULIAH MODUL 1. TITRASI VOLUMETRI

TINJAUAN MATA KULIAH MODUL 1. TITRASI VOLUMETRI iii Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH MODUL 1. TITRASI VOLUMETRI Kegiatan Praktikum 1: Titrasi Penetralan (Asam-Basa)... Judul Percobaan : Standarisasi Larutan Standar Sekunder NaOH... Kegiatan Praktikum

Lebih terperinci

Aktivitas antiradang dari senyawa dominan buah mahkota dewa Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl

Aktivitas antiradang dari senyawa dominan buah mahkota dewa Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl Majalah Farmasi Indonesia, 21(2), 129 133, 2010 Aktivitas antiradang dari senyawa dominan buah mahkota dewa Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl Anti-inflammatory activity of dominant compound of mahkota

Lebih terperinci

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di 30 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 - Januari 2013, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas

Lebih terperinci

Kedua nuklida tersebut mempunyai nomor massa (A) yang sama dengan demikian nuklida-nuklida tersebut merupakan isobar.

Kedua nuklida tersebut mempunyai nomor massa (A) yang sama dengan demikian nuklida-nuklida tersebut merupakan isobar. 1. Ca dan Ar adalah merupakan A. Isotop B. Isobar C. Isomer D. Isoelektron E. Isoton Jawaban : B Kedua nuklida tersebut mempunyai nomor massa (A) yang sama dengan demikian nuklida-nuklida tersebut merupakan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN 16 BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Ekstrak buah mahkota dewa digunakan karena latar belakang penggunaan tradisionalnya dalam mengobati penyakit rematik. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ekstrak etanol

Lebih terperinci

SINTESIS SENYAWA METOKSIFLAVON MELALUI SIKLISASI OKSIDATIF HIDROKSIMETOKSIKALKON

SINTESIS SENYAWA METOKSIFLAVON MELALUI SIKLISASI OKSIDATIF HIDROKSIMETOKSIKALKON SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA V Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan Bangsa yang Berkarakter Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 6 April 2013

Lebih terperinci

Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L)

Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) I. Tujuan 1. Melakukan dan menjelaskan teknik-teknik dasar kromatografi kolom dan kromatografi lapis

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi enzim fibrinolitik Cacing tanah P. excavatus merupakan jenis cacing tanah yang agresif dan tahan akan kondisi pemeliharaan yang ekstrim. Pemeliharaan P. excavatus dilakukan

Lebih terperinci

Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir. Rida SNM

Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir. Rida SNM Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir Rida SNM [email protected] Outline Sesi 1 Radioaktivitas Sesi 2 Peluruhan Inti 1 Radioaktivitas Tujuan Perkuliahan: Partikel pembentuk atom dan inti atom Bagaimana inti terikat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mutschler, 1991). Tuberculosis (TB) menyebar antar individu terutama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K

HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K 7 Persentase inhibisi = K ( S1 S ) 1 K K : absorban kontrol negatif S 1 : absorban sampel dengan penambahan enzim S : absorban sampel tanpa penambahan enzim Isolasi Golongan Flavonoid (Sutradhar et al

Lebih terperinci

Kesetimbangan Kimia. Kimia Dasar 2 Sukisman Purtadi

Kesetimbangan Kimia. Kimia Dasar 2 Sukisman Purtadi Kesetimbangan Kimia Kimia Dasar 2 Sukisman Purtadi Keadaan Setimbang dan tetapan Kesetimbangan Kesetimbangan dinamis dan statis Syarat kesetimbangan Tetapan kesetimbangan dan peranannya Q dan K Nilai Q

Lebih terperinci

PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013

PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013 1 PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P00147 Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 13 2, bis(4 HIDROKSI KLORO 3 METOKSI BENZILIDIN)SIKLOPENTANON DAN 2, bis(4 HIDROKSI 3 KLOROBENZILIDIN)SIKLOPENTANON

Lebih terperinci

PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051)

PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051) PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051) Tanggal Praktikum : 02 Oktober 2014 Tanggal Pengumpulan: 9 Oktober

Lebih terperinci

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum KIMIA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 12 Sesi NGAN KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA Keteraturan sifat keperiodikan unsur dalam satu periode dapat diamati pada unsur-unsur periode

Lebih terperinci

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon 4 Pembahasan 4.1 Sintesis Resasetofenon O HO H 3 C HO ZnCl 2 CH 3 O Gambar 4. 1 Sintesis resasetofenon Pada sintesis resasetofenon dilakukan pengeringan katalis ZnCl 2 terlebih dahulu. Katalis ZnCl 2 merupakan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Desinfeksi merupakan salah satu proses dalam pengolahan air minum ataupun air limbah. Pada penelitian ini proses desinfeksi menggunakan metode elektrokimia yang dimodifikasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 5. Reaksi Transesterifikasi Minyak Jelantah Persentase konversi metil ester dari minyak jelantah pada sampel MEJ 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ

Lebih terperinci

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI suatu emisi (pancaran) dan perambatan energi melalui materi atau ruang dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau partikel 2 3 Peluruhan zat

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini rimpang jahe merah dan buah mengkudu yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol menghasilkan rendemen ekstrak masing-masing 9,44 % dan 17,02 %.

Lebih terperinci

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 1. Semua pernyataan berikut benar, kecuali: A. Energi kimia ialah energi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kosmetik Kosmetik merupakan bahan atau komponen kimia yang digunakan untuk mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari berbagai macam senyawa kimia

Lebih terperinci

CHAPTER III INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

CHAPTER III INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS CHAPTER III INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS CHAPTER iii INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS -Inti atom atau nukllida terdiri atas neutron (netral) dan proton (muatan positif) -Massa neutron sedikit lebih besar

Lebih terperinci

SEJARAH. Pertama kali digunakan untuk memisahkan zat warna (chroma) tanaman

SEJARAH. Pertama kali digunakan untuk memisahkan zat warna (chroma) tanaman KROMATOGRAFI PENDAHULUAN Analisis komponen penyusun bahan pangan penting, tidak hanya mencakup makronutrien Analisis konvensional: lama, tenaga beasar, sering tidak akurat, tidak dapat mendeteksi pada

Lebih terperinci

Cara Pengklasifikasian Kromatografi :

Cara Pengklasifikasian Kromatografi : Cara Pengklasifikasian Kromatografi : 1. Berdasarkan macam fasa gerak. 2. Berdasarkan pasangan fasa gerak dan fasa diam. 3. Berdasarkan mekanisme pemisahan. 1 Berdasakan Macam fasa gerak 1. Kromatografi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Uji fitokimia kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) Pada uji fitokimia terhadap kulit batang Polyalthia sp (DA-TN 052) memberikan hasil positif terhadap alkaloid,

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seperti yang telah kita ketahui pada dasarnya setiap benda yang ada di alam semesta ini memiliki paparan radiasi, akan tetapi setiap benda tersebut memiliki nilai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Piroksikam 2.1.1 Sifat Fisikokimia Gambar 2.1.1 : Struktur Kimia Piroksikam Piroksikam merupakan salah satu obat analgesik yang mempunyai waktu paruh yang panjang. Piroksikam

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Uji pendahuluan Uji pendahuluan terhadap daun Artocarpus champeden secara kualitatif dilakukan dengan teknik kromatografi lapis tipis dengan menggunakan beberapa variasi

Lebih terperinci

PELURUHAN RADIOAKTIF. NANIK DWI NURHAYATI,S.Si,M.Si nanikdn.staff.uns.ac.id

PELURUHAN RADIOAKTIF. NANIK DWI NURHAYATI,S.Si,M.Si nanikdn.staff.uns.ac.id PELURUHAN RADIOAKTIF NANIK DWI NURHAYATI,S.Si,M.Si nanikdn.staff.uns.ac.id 081556431053 Istilah dalam radioaktivitas Perubahan dari inti atom tak stabil menjadi inti atom yg stabil: disintegrasi/peluruhan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 22 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Produksi Furfural Bonggol jagung (corn cobs) yang digunakan dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur 4-5 hari untuk menurunkan kandungan airnya, kemudian

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA. Penentuan Kadar Glukosa Darah

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA. Penentuan Kadar Glukosa Darah LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA Penentuan Kadar Glukosa Darah Oleh : Kelompok 4 - Offering C Desy Ratna Sugiarti (130331614749) Rita Nurdiana (130331614740)* Sikya Hiswara (130331614743) Yuslim Nasru S. (130331614748)

Lebih terperinci

KIMIA UNSUR. (4) energi ionisasi kripton lebih tinggi daripada energi ioniasasi neon

KIMIA UNSUR. (4) energi ionisasi kripton lebih tinggi daripada energi ioniasasi neon KIMIA UNSUR GAS MULIA 1. Pernyataan di bawah ini yang merupakan sifat gas mulia a. terletak dalam sistem periodik pada periode kedelapan b. nomor atom terkecil adalah 8 c. sangat reaktif d. elektron pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel Zat warna sebagai bahan tambahan dalam kosmetika dekoratif berada dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Paye dkk (2006) menyebutkan,

Lebih terperinci

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris BAB IV ASIL DAN PEMBAASAN 4.1. Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris Serbuk daun (10 g) diekstraksi dengan amonia pekat selama 2 jam pada suhu kamar kemudian dipartisi dengan diklorometan.

Lebih terperinci

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI. A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan.

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI. A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan. PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan. B. Pelaksanaan Kegiatan Praktikum Hari : Senin, 13 April 2009 Waktu : 10.20 12.00 Tempat : Laboratorium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang paling mendasar manusia memerlukan oksigen, air serta sumber bahan makanan yang disediakan alam.

Lebih terperinci

kanker yang berkembang dari sel-sel yang berada pada kelenjar payudara. Dalam

kanker yang berkembang dari sel-sel yang berada pada kelenjar payudara. Dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker merupakan tumor ganas yang terbentuk akibat pertumbuhan sel-sel yang cepat, berlebihan dan tidak beraturan. Salah satu kanker yang banyak menyerang wanita adalah

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) Disusun oleh: Nama : Eky Sulistyawati FA/08708 Putri Kharisma FA/08715 Gol./Kel.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Perbedaan Kandungan CO 2 Sebelum dan Sesudah Pemurnian Perbedaan Kandungan CO 2 melalui Indikator Warna Pengambilan contoh biogas yang dianalisis secara kuantitatif sehingga didapatkan

Lebih terperinci

Kimia Inti dan Radiokimia

Kimia Inti dan Radiokimia Kimia Inti dan Radiokimia Keradioaktifan Keradioaktifan: proses atomatom secara spontan memancarkan partikel atau sinar berenergi tinggi dari inti atom. Keradioaktifan pertama kali diamati oleh Henry Becquerel

Lebih terperinci

Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi. PERCOBAAN R2 EKSPERIMEN RADIASI β DAN γ Dosen Pembina : Drs. R. Arif Wibowo, M.

Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi. PERCOBAAN R2 EKSPERIMEN RADIASI β DAN γ Dosen Pembina : Drs. R. Arif Wibowo, M. Laporan Praktikum Fisika Eksperimental Lanjut Laboratorium Radiasi PERCOBAAN R2 EKSPERIMEN RADIASI β DAN γ Dosen Pembina : Drs. R. Arif Wibowo, M.Si Septia Kholimatussa diah* (891325), Mirza Andiana D.P.*

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. - Beaker glass 1000 ml Pyrex. - Erlenmeyer 1000 ml Pyrex. - Labu didih 1000 ml Buchi. - Labu rotap 1000 ml Buchi

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. - Beaker glass 1000 ml Pyrex. - Erlenmeyer 1000 ml Pyrex. - Labu didih 1000 ml Buchi. - Labu rotap 1000 ml Buchi BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat-alat - Beaker glass 1000 ml Pyrex - Erlenmeyer 1000 ml Pyrex - Maserator - Labu didih 1000 ml Buchi - Labu rotap 1000 ml Buchi - Rotaryevaporator Buchi R 210 - Kain

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis dari monomer stiren melalui reaksi polimerisasi adisi dengan inisiator benzoil peroksida. Pada sintesis polistiren ini, terjadi tahap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1. Uji fitokimia daun tumbulian Tabernaenwntana sphaerocarpa Bl Berdasarkan hasil uji fitokimia, tumbuhan Tabemaemontana sphaerocarpa Bl mengandung senyawa dari

Lebih terperinci