BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Falerin (4,5-dihidroksi-5 -metoksibenzofenon-3-o-glukosida) adalah isolat dari buah mahkota dewa berkerangka benzofenon yang mempunyai aktivitas antiinflamasi. Penelitian biodistribusi senyawa falerin pada hewan percobaan dapat dilakukan dengan metode perunut (tracer) radioaktif, yaitu memanfaatkan falerin bertanda atom radioaktif untuk mempelajari perilaku falerin di dalam tubuh hewan percobaan serta akumulasinya. Falerin yang dilabel radionuklida Iodinium-131 ( 131 I + ) dapat disintesis melalui metode oksidasi kloramin-t. Sementara itu penambahan atau pengurangan atom pada struktur molekul dapat mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dan sifat elektronik molekul, sehingga sifat fisiko-kimia yang berkaitan dengan interaksi biologi didalam tubuh akan berbeda antara falerin sebelum dan sesudah dilabel 131 I +. Kajian reaktifitas molekul falerin terhadap radionuklida 131 I + dan kemiripan struktur antara molekul falerin sebelum dan sesudah dilabel 131 I + dilakukan dengan menggunakan metode komputasi Austin Models 1 (AM1). Tahap pertama penelitian ini adalah penentuan konformasi molekul yang mempunyai energi global minimum. Penentuan konformasi ini menjadi penting karena pada keadaan energi tersebut, konformasi molekul ada dalam jumlah paling banyak. Sehingga dapat mewakili kemiripan molekul falerin yang dilabel 131 I + dengan senyawa induk, yakni konformasi moleku falerin yang mempunyai energi global minimum. Kajian reaktifitas molekul falerin dilakukan untuk mengetahui posisi serangan eletrofilik radionuklida 131 I + pada atom molekul falerin. Kajian yang dilakukan 17

2 18 meliputi reaktivitas molekul falerin pada keadaan energi global minimum. Reaktivitas molekul dianalisis menggunakan Teori Orbital Molekul Terdepan (Frontier Molecular Orbital Theory) dengan melihat parameter energi orbital molekul, muatan atom, kerapatan muatan total, dan potensial elektrostatiknya. Dua molekul dianggap mirip jika mirip secara struktur (bentuk) atau sifat elektroniknya. Kajian kemiripan struktur yang dilakukan meliputi (1) kemiripan secara geometri dengan parameter akar kuadrat rata-rata panjang ikatan, sudut ikatan, dan torsi dan (2) kemiripan secara elektronik yang menentukan sifat fisikokimia senyawa dengan parameter kontur kerapatan muatan total. 4.1 Pembangunan Model dan Optimasi Molekul Falerin Terhadap Struktur model molekul tiga dimensi falerin yang dibangun dengan menggunakan Drawing Tools dan Model Builder, dilakukan optimasi agar diperoleh konfigurasi molekul yang mempunyai energi minimum. Perhitungan energi optimasi geometri molekul falerin menghasilkan energi panas pembentukan ( H f ) sebesar -380,067 kkal/mol. 4.2 Penentuan Energi Global Minimum Molekul Falerin Molekul akan terus bergerak dengan mengubah konformasinya menuju konformasi molekul yang memiliki energi paling minimum. Energi global minimum adalah energi molekul yang menunjukkan kestabilan molekul dan batas pemutusan ikatan. Hasil perhitungan optimasi geometri dengan hyperchem tidak menjamin dapat menghasilkan konfigurasi molekul yang mempunyai energi global minimum. Analisis konformasi molekul dilakukan untuk mendapatkan konfigurasi molekul yang menunjukkan energi paling minimumnya (energi global minimum) dengan metode Raman plot. Metode ini dilakukan dengan memvariasikan secara sistematis torsi molekul yang mewakili rotasi dari molekul untuk menghasilkan atau menggambarkan semua kemungkinan konformasi molekul. Variasi torsi yang

3 19 digunakan dari -180 sampai +180 dengan perputaran torsi 10 disetiap perubahan variasi torsi. Molekul falerin mempunyai sembilan pusat stereogenik, yaitu atom C-3, C-6, C-7, C-8, C-16, C-18, C-19, O-12, dan O-47 (Gambar 4.1). Pada kajian yang dilakukan ditentukan lima dari sembilan pusat stereogenik yang digunakan untuk analisis konformasi molekul, yaitu: C-7, C-8, C-18, C-19, dan O-12. Pusat stereogenik di atom O-47 dan C-16 tidak disertakan dalam analisis energi konformasi molekul karena pusat stereogenik tersebut adalah gugus metoksi yang pengaruhnya terhadap energi konformasi molekul dapat dianggap kecil. Hasil perhitungan dengan menggunakan program Hyperchem (versi 7.51), perhitungan semiempirik, metode AM1, diketahui bahwa konformasi dengan energi paling minimum terdapat pada molekul dengan ΔH f -380, kkal/mol, T 1a (C-6, C-7, C-8, C-13) = -150º dan T 2b - (C-3, C-12, C-18, C-19) = -120º. Nilai ΔH f global minimum dapat dikatakan sama dengan ΔH f minimum kelompok variasi torsi tetapi konformasinya berbeda. Hal ini dapat dijelaskan karena perputaran torsi 10 disetiap perubahan variasi torsi bisa jadi terlalu besar untuk molekul falerin, sehingga tidak terlihat jelas perbedaannya. Gambar 4.1 Molekul falerin

4 20 Tabel 4.1 Gambar Grafik Hf Terhadap Variasi Torsi No. Grafik Hf Terhadap No. Variasi Torsi 1 4 Grafik Hf Terhadap Variasi Torsi Tabel 4.2 Energi Panas Pembentukan (ΔH f ) Minimum Molekul Falerin pada Kelompok Variasi Torsi Kelompok ΔH T Torsi 1a T 1b T 2a T 2b T f 2c (kkal/mol) 1 30 º 140 º -380, º -120 º -380, º 80 º -380, º 140 º -380, º -120 º -380, º 80 º -380, ,68 º 31,92 º 129,57 º -139,09 º 87,8 º -380,066 Keterangan: T 1a (C-6, C-7, C-8, C-13); T 2a (C-1, C-3, C-12, C-18); T 1b (C-5, C-6, C-7, C-8); T 2b (C-3, C-12, C1-8, C19) ; T 2c (C-12, C-18, C-19, C-24); ΔH f adalah Energi panas pembentukan; Konformasi molekul No. 7 adalah konformasi molekul hasil optimasi geometri.

5 Penentuan Reaktivitas Molekul Falerin Reaktivitas molekul dapat dianalisis menggunakan teori orbital molekul terdepan (Frontier Molecular Orbital Theory) dengan parameter energi orbital molekul, muatan atom, kerapatan muaatan total, dan potensial elektrostatik Muatan atom dan kerapatan muatan total Kerapatan muatan total menggambarkan distribusi muatan elektron pada molekul, sedangkan distribusi muatan elektron dinyatakan sebagai muatan atom. Kerapatan muatan elektron yang tinggi menunjukkan bahwa lokasi tersebut rentan terhadap serangan elektrofilik. Hasil perhitungan menunjukkan muatan atom C-17 (-0,219) paling negatif di antara atom C yang lain (Tabel 4.3) dan muatan atom O-27 (-0,338) paling negatif di antara atom O yang lain (Tabel 4.4). Pada Gambar 4.3. terlihat bahwa kontur kerapatan muatan total paling tinggi ada pada atom O-27 dan O-9 yang digambarkan dengan kerapatan kontur tinggi. Atom O-9 mempunyai kontur kerapatan muatan total tinggi karena atom O-9 adalah penarik elektron dan juga adanya migrasi elektron dari sistem resonansi yang mengikat metoksi, menyebabkan di atom O-9 terdistribusi lebih banyak elektron yang dinyatakan dengan muatan atom yang lebih negatif. Dari keterangan gambar dapat dikatakan bahwa daerah atom O-27 dan O-9 lebih rentan terhadap serangan elektrofilik. Akan tetapi tidak akan terbentuk ikatan antara radionuklida 131 I + dengan atom O karena ikatan yang terbentuk terlalu lemah. Ikatan yang paling memungkinkan terjadi antara radionuklida 131 I + adalah dengan atom karbon bermuatan negatif dan dari data diperoleh bahwa atom karbon yang kerapatan muatan total paling tinggi adalah C-4, C-15, dan C-17 (Gambar 4.2). Sedangkan serangan elektrofilik di atom C-5 tidak dimungkinkan karena adanya halangan sterik dari glukosa yang terikat di atom C-3. Begitu pula serangan

6 22 elektrofilik di atom C-8 tidak dimungkinkan karena adanya sistem resonansi yang stabil sehingga tidak dimungkinkan terjadi pemutusan ikatan pada atom C-8. Tabel 4.3 Muatan Atom C Paling Negatif Molekul Falerin Muatan Atom C Falerin Konformasi Molekul C-4 C-5 C-8 C-15 C-17 Setelah Global minimum -0,149-0,118-0,187-0,171-0,219 Tabel 4.4 Muatan Atom O Molekul Falerin Konformasi Muatan Atom O Falerin Molekul O-9 O-10 O-11 O-20 O-27 O-47 Setelah Global minimum -0,296-0,227-0,222-0,272-0,338-0,206 Kontur Kerapatan Muatan Total Muatan Atom Gambar 4.2 Kerapatan Muatan Total dan Muatan Atom Molekul Falerin setelah Global Minimum Potensial elektrostatik Potensial elektrostatik menunjukkan energi potensial pada tiap titik dalam ruang akibat distribusi muatan atom. Potensial elektrostatik yang negatif akan menolak ion muatan negatif dan menarik ion muatan positif dan berlaku untuk sebaliknya. Pada Gambar 4.3 daerah potensial elektrostatik negatif ditunjukkan pada daerah atom O-9, O-10, O-11, O-27, O-20, dan O-47. Daerah potensial elektrostatik negatif dominan di daerah atom O-10, O-11, dan O-9 karena atom C-3 yang berikatan dengan glukosa adalah pendorong elektron dan atom O-9 adalah penarik

7 23 elektron. Berdasarkan hal tersebut maka dimungkinkan radionuklida 131 I + akan tertarik pada daerah tersebut, tetapi karena ikatan radionuklida 131 I + dengan oksigen sangat lemah maka kemungkinan masuk radionuklida pada atom O tidak mungkin terjadi. Kontur Potensial Elektrostatik Potensial Elektrostatik Tiga Dimensi Potensial elektrostatik negatif: kontur violet Potensial elektrostatik positif : kontur hijau Gambar 4.3 Potensial Elektrostatik Molekul Falerin Potensial elektrostatik negatif: violet Potensial elektrostatik positif : hijau Orbital molekul Orbital molekul berhubungan dengan distribusi elektron dan menunjukkan probabilitas untuk menemukan elektron. Tiap orbital molekul mempunyai energi yang khas. Energi tersebut digambarkan sebagai nilai orbital molekul. Nilai energi orbital molekul besar menunjukkan kerentanannya terhadap serangan elektrofilik. Sementara serangan elektrofilik berhubungan dengan atom yang mempunyai orbital HOMO berkerapatan tinggi karena distribusi terbanyak elektron ditunjukkan oleh orbital HOMO. Dari hasil perhitungan energi orbital atom molekul falerin (Tabel 4.5) menunjukkan perbedaan energi orbital yang hampir sama pada atom sejenis. Sementara itu energi orbital atom O sedikit lebih besar dibandingkan dengan energi orbital atom C. Berdasarkan nilai energi orbital atom dan kontur HOMO yang rapat pada atom molekul falerin maka atom O-9, O-10, dan O-11 lebih rentan terhadap serangan

8 24 elektrofilik, dibandingkan atom C. Akan tetapi ikatan antara 131 I + dan atom oksigen adalah ikatan kovalen koordinasi yang lemah sehingga tidak akan terbentuk molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom O. Sehingga serangan elektrofilik paling mungkin terjadi di atom C-4, C-15, dan C-17. Berdasarkan pada parameter nilai energi orbital atom yang tidak dapat dibedakan antar ketiga atom C tersebut, maka reaktivitas senyawa falerin terhadap 131 I + hanya berdasarkan muatan atom. Tabel 4.5 Energi Orbital Atom C dan Atom O Molekul Falerin Molekul Energi Orbital Atom C Falerin C-4 C-14 C-17 S 1,219 1,217 1,216 Px 1,02 0,945 1,092 Py 0,937 0,934 0,949 Pz 0,973 0,966 0,961 Molekul Energi Orbital Atom O Falerin O-9 O-10 O-11 S 1,913 1,864 1,862 Px 1,387 1,645 1,538 Py 1,692 1,23 1,399 Pz 1,305 1,488 1,424 Kontur Dua Dimensi Orbital HOMO Tiga Dimensi Orbital HOMO Orbital HOMO: kontur violet Orbital HOMO: biru Orbital LUMO: kontur hijau Orbital LUMO: hijau Gambar 4.4 Orbital HOMO molekul falerin

9 Penentuan Kemiripan Molekul Falerin yang dilabel Radionuklida 131 I + terhadap Molekul Induk Dua molekul dianggap mirip jika mirip secara bentuk atau sifat elektroniknya. Jika tidak, maka dua molekul dianggap mirip jika mempunyai farmakofor pada posisi yang sama. Sedangkan dalam kimia molekul dikatakan mirip jika mempunyai sifat yang sama dan merupakan dasar hubungan empiris antara struktur dan aktivitas Kemiripan struktur Telah dilakukan kajian kemiripan molekul antara molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + dengan molekul induk (konformasi molekul falerin yang mempunyai energi global minimum). Pada kajian ini dilakukan metode RMS fit dan overlay antara molekul induk dengan molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-4, C-15, C-17, (C-15 dan C-17), (C-4dan C-17), (C-4 dan C-15), dan (C-4, C-15, dan C-17). Metode RMS fit dan overlay dilakukan untuk membandingkan secara visual dua molekul secara geometri, sehingga diketahui secara sekilas kemiripan kedua molekul tersebut. Pada metode ini dilakukan pertumpang tindihan molekul induk dengan molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + sehingga didapatkan dua molekul saling tumpang tindih yang mempunyai jarak antar atom molekul paling minimum. Nilai akar kuadrat rata-rata dihitung terhadap jarak antar atom molekul. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + pada atom C-17 lebih mirip dibandingkan dengan molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + pada atom C lainnya dengan nilai RMS fit paling kecil, yaitu: 0,745 A (Tabel 4.6).

10 26 Tabel 4.6 Nilai RMS Fit dan Gambar Overlay Molekul Falerin dengan Falerin Yang Dilabel 131 I + Overlay Gambar overlay Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-4 RMS: 2,899 A Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-15 RMS: 2,027 A Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-17 RMS: 0,745 Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-15 dan C-17 RMS: 2,099 A Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-4 dan C-17 RMS: 3,036 A

11 27 Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-4 dan C-15 RMS: 3,681 A Molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-4, C-15, dan C-17 RMS: A Dari hasil tersebut dilanjutkan dengan perhitungan akar kuadrat rata-rata dari panjang ikatan, sudut ikatan, dan torsi molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-15, C-17, dan (C-17; C-15), yang dilakukan untuk memastikan kemiripan secara struktur. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa senyawa falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-17 paling mirip dibandingkan molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-4, C-15, dan (C-17; C-15) dengan nilai akar kuadrat rata-rata panjang ikatan (0,0021), sudut ikatan (0,4185), dan torsi (2,9074) (Tabel 4.7). Tabel 4.7 Kemiripan Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + terhadap Senyawa Induk Akar Kuadrat Falerin yang Dilabel dengan 131 I + pada Atom C Rata-rata C-4 C-15 C-17 C-15 dan C-17 Panjang ikatan 0,0029 А 0,0018 0,0021 0,0029 Sudut ikatan 1,1605 А 0,2837 0,4185 6,2563 Torsi 68,727 А 13,5338 2, , Kemiripan elektronik Pada gambar 4.5 menunjukkan kontur kerapatan muatan total falerin sesudah dilabel pada atom C-4, C-15, C-17, dan (C-15 dan C-17), tampak berbeda dengan kontur kerapatan muatan total molekul induk. Pada molekul induk terdapat kontur kerapatan muatan total tinggi di atom O-27 dan O-9, sedangkan atom lainnya

12 28 digambarkan dengan kontur kerapatan muatan yang hampir merata di kerangka benzofenon. Kontur kerapatan muatan total falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-17 menunjukkan kerapatan muatan total yang tinggi di atom O-9, O-12, O-20, dan O- 47 dan atom lainnya kontur kerapatan muatan totalnya merata. Sedangkan kontur kerapatan muatan total molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-4 menunjukkan kontur kerapatan muatan total yang tinggi di atom O-10, O-11, O- 20, dan O-26, sedangkan atom lainnya kontur kerapatan muatan totalnya merata. Kontur kerapatan muatan total falerin yang dilabel radionuklida 131 I + dia atom C- 15 menunjukkan kontur kerapatan muatan total yang tinggi di atom O-9, O-11, O- 25, dan O-27, sedangkan atom lainnya digambarkan dengan kontur rendah. Sementara itu kontur kerapatan muatan total falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom (C-15 dan C-17) menunjukkan kerapatan yang tinggi di atom O-27, sedangkan atom lainnya kontur kerapatan muatan totalnya merata. Perbedaan kontur kerapatan pada masing-masing molekul falerin sebelum dan sesudah dilabel 131 I + dikarenakan perubahan konformasi molekul yang diakibatan perbedaan posisi subtitusi 131 I +. Dari ke empat molekul falerin yang dilabel 131 I + dapat dikatakan bahwa kontur kerapatan muatan total molekul falerin yang dilabel 131 I + pada atom C-4 lebih berbeda dibandingkan terhadap molekul induk. Konformasi Molekul Induk Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + di C-17

13 29 Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + di C-4 Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + di C-15 Dan C-17 Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + di C-15 Gambar 4.5 Kontur Kerapatan Muatan Total Molekul Falerin dan Molekul Falerin yang Dilabel 131 I Stabilitas molekul falerin yang dilabel Senyawa falerin yang diinginkan tidak hanya mirip tetapi juga stabil secara termodinamik sehingga tidak akan terjadi penguraian senyawa. Hasil perhitungan Hf molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + pada atom C yang berbeda menunjukkan bahwa molekul falerin yang dilabel sekaligus dengan dua radionuklida 131 I + pada atom (C-15 dan C17) menunjukkan kestabilan yang kurang baik dibandingkan dengan molekul falerin yang dilabel hanya dengan satu radionuklida 131 I + pada masing-masing atom C-4, C-15, dan C-17 dengan Hf - 337,224 kkal/mol. Tabel 4.7 Energi Panas Pembentukan Rata-rata ( H f ) Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + Falerin yang dilabel 131 I + pada atom C Energi panas pembentukan rata-rata (kkal/mol) , ,364

14 , dan , Penentuan Sifat Fisiko-Kimia Sifat elektronik molekul adalah faktor penentu sifat fisiko-kimianya. Pada hasil perhitungan analisis sifat fisiko-kimia antara molekul induk dengan molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom C-4, C-15, dan C-17 menunjukkan peningkatan nilai polarisabilitas molekul dan refraktivitas molar. Sementara itu nilai log P menunjukkan sedikit penurunan yang menunjukkan molekul lebih lipofil. Surface area yaitu luas permukaan molekul yang kontak dengan pelarut, menunjukkan peningkatan pada molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + pada atom C-4, C-15, dan C-17 terhadap molekul induk karena adanya subtitusi atom hidrogen dengan radionuklida 131 I + yang mempunyai ukuran atom lebih besar dan menyebabkan perubahan konformasi molekul. Sifat fisikokimia molekul falerin yang dilabel radionuklida 131 I + di atom (C-15 dan C17) menunjukkan perbedaan terhadap molekul induk dan molekul falerin yang dilabel 131 I + di atom C-4, C-15, dan C-17 dengan nilai polarisabilitas, refraktivitas molar, dan surface area lebih besar dan log P yang lebih kecil. Nilai log P yang lebih kecil akan tampak jelas pengaruhnya terhadap biodistribusi falerin, yaitu molekul falerin yang dilabel 131 I + akan terdistribusi lebih cepat ke organ atau jaringan dimana membran atau barier yang dilewati bersifat lipofil. Tabel 4.8 Parameter Fisiko-Kimia Senyawa Falerin Dan Falerin Yang Dilabel 131 I + Molekul Falerin yang Dilabel 131 I + Parameter Fisiko-kimia Molekul Induk di Atom C dan 17 Polarisabilitas 39,82 ų 44,85 ų ų 44,85 ų ų Refraktivitas molar 108,44 ų 120,76 ų ų 120,76 ų ų Log p -2, 85-2, , Surface area 629,47 Å 2 673,88 Å Å 2 663,22 Å Å 2

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Telah dilakukan penelitian isolat dari buah mahkota dewa, yang merupakan senyawa berkerangka benzofenon terhadap rattus novergicus (tikus) galur Wistar betina yang diinduksi λ-karagenan. Hasil

Lebih terperinci

PAH akan mengalami degradasi saat terkena suhu tinggi pada analisis dengan GC dan instrumen GC sulit digunakan untuk memisahkan PAH yang berbentuk

PAH akan mengalami degradasi saat terkena suhu tinggi pada analisis dengan GC dan instrumen GC sulit digunakan untuk memisahkan PAH yang berbentuk BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Poliaromatik hidrokarbon (PAH) adalah golongan senyawa organik yang terdiri atas dua atau lebih molekul cincin aromatik yang disusun dari atom karbon dan hidrogen.

Lebih terperinci

TEORI IKATAN VALENSI

TEORI IKATAN VALENSI TEORI IKATAN VALENSI Pembentukan ikatan kovalen dapat dijelaskan menggunakan dua teori yaitu teori ikatan valensi dan teori orbital molekul. Berdasarkan teori ikatan valensi, ikatan kovalen dapat terbentuk

Lebih terperinci

STRUKTUR LEWIS DAN TEORI IKATAN VALENSI

STRUKTUR LEWIS DAN TEORI IKATAN VALENSI Ikatan Kimia STRUKTUR LEWIS DAN TEORI IKATAN VALENSI Disusun oleh : Kelompok 11 Penty Cahyani 4301411038 Diyah Ayu Lestari 4301411040 Ifan Shovi 4301411041 Rombel 2 UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013 A.

Lebih terperinci

BAB IX PRAKTEK KIMIA KOMPUTASI

BAB IX PRAKTEK KIMIA KOMPUTASI 171 BAB IX PRAKTEK KIMIA KOMPUTASI Bab IX memberikan contoh beberapa praktikum kimia komputasi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa di laboratorium komputasi. al ini sangat diperlukan agar mahasiswa dapat

Lebih terperinci

LAPORAN RESMI PAKTIKUM KIMIA KOMPUTASI. Analisis Butana. Oleh : AMRULLAH 13/347361/PA/ Jum at, 4 Maret 2016 Asisten Pembimbing : Wiji Utami

LAPORAN RESMI PAKTIKUM KIMIA KOMPUTASI. Analisis Butana. Oleh : AMRULLAH 13/347361/PA/ Jum at, 4 Maret 2016 Asisten Pembimbing : Wiji Utami LAPORAN RESMI PAKTIKUM KIMIA KOMPUTASI Analisis Butana Oleh : AMRULLAH 13/347361/PA/15202 Jum at, 4 Maret 2016 Asisten Pembimbing : Wiji Utami Laboratorium Kimia Komputasi Departemen Kimia Fakultas Matematika

Lebih terperinci

PEMODELAN INTERAKSI ETER MAHKOTA BZ15C5 TERHADAP KATION Zn 2+ BERDASARKAN METODE DENSITY FUNCTIONAL THEORY

PEMODELAN INTERAKSI ETER MAHKOTA BZ15C5 TERHADAP KATION Zn 2+ BERDASARKAN METODE DENSITY FUNCTIONAL THEORY SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 2017 PEMODELAN

Lebih terperinci

STUDI AB INITIO: STRUKTUR MEMBRAN NATA DE COCO TERSULFONASI

STUDI AB INITIO: STRUKTUR MEMBRAN NATA DE COCO TERSULFONASI Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 STUDI AB INITIO: STRUKTUR MEMBRAN NATA DE COCO TERSULFONASI Sitti Rahmawati 1, Cynthia Linaya Radiman 2, Muhamad A. Martoprawiro 3 Universitas

Lebih terperinci

Konformasi dan Keisomeran

Konformasi dan Keisomeran Konformasi dan Keisomeran Tujuan Umum: memahami fakta bahwa adanya berbagai struktur yang BERBEDA, walaupun rumus molekulnya SAMA Tujuan khusus: memahami adanya berbagai jenis keisomeran mampu membedakan

Lebih terperinci

BAB 3 GEOMETRI DAN KEPOLARAN MOLEKUL

BAB 3 GEOMETRI DAN KEPOLARAN MOLEKUL GEOMETRI DAN KEPOLARAN MOLEKUL 3.1 PENGANTAR MENGENAI BENTUK MOLEKUL Bentuk molekul mengontrol sifat-sifat fisik maupun kimia molekul. Geometri elektron dan bentuk molekul ditentukan oleh orientasi semua

Lebih terperinci

SIMULASI EFEKTIVITAS SENYAWA OBAT ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F DALAM LAMBUNG MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1)

SIMULASI EFEKTIVITAS SENYAWA OBAT ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F DALAM LAMBUNG MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) SIMULASI EFEKTIVITAS SENYAWA OBAT ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F DALAM LAMBUNG MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) Agung Tri Prasetya, M. Alauhdin, Nuni Widiarti Kimia FMIPA

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA MAKALAH KIMIA DASAR

IKATAN KIMIA MAKALAH KIMIA DASAR IKATAN KIMIA MAKALAH KIMIA DASAR dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah kimia dasar Oleh : AZKA WAFI EL HAKIM ( NPM : 301014000 ) HELGA RACHEL F ( NPM : 3010140014 ) MUHAMMAD

Lebih terperinci

Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O 2

Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O 2 Ikatan Kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk

Lebih terperinci

PB = Psgan elektron bebas Dari BK dan PB atom pusat dpt diramalkan struktur molekul dng teori VSEPR

PB = Psgan elektron bebas Dari BK dan PB atom pusat dpt diramalkan struktur molekul dng teori VSEPR Pasangan elektron valensi mempunyai gaya tolak menolak Pasangan elektron bebas menempati ruang sesuai jenisnya BK = Bilangan Koordinasi = Jumlah atom / substituen yang terikat pada atom pusat PB = Psgan

Lebih terperinci

1.3 Pemodelan Molekul dalam Kurikulum A. Mengapa pemodelan molekul penting untuk pembelajaran kimia?

1.3 Pemodelan Molekul dalam Kurikulum A. Mengapa pemodelan molekul penting untuk pembelajaran kimia? 11 1.3 Pemodelan Molekul dalam Kurikulum Berikut disampaikan pentingnya pemodelan molekul dalam pembelajaran pada jenjang strata 1 bagi mahasiswa kimia. Beberapa contoh diberikan untuk dapat lebih memahami

Lebih terperinci

INTISARI. Kata kunci : QSAR, fungisida, thiadiazolin

INTISARI. Kata kunci : QSAR, fungisida, thiadiazolin ANALISIS HUBUNGAN KUANTITATIF ANTARA STRUKTUR DAN AKTIVITAS FUNGISIDA TURUNAN 1,2,4-THIADIAZOLIN BERDASARKAN PARAMETER MOLEKULAR HASIL PERHITUNGAN METODA PM3 Ida Puji Astuti Maryono Putri, Mudasir, Iqmal

Lebih terperinci

TEORI ORBITAL MOLEKUL

TEORI ORBITAL MOLEKUL Tugas Kelompok Mata Kuliah Kimia Anorganik TEORI ORBITAL MOLEKUL KELOMPOK V B EZZAR FITRIYANI ANWAR SAID ST. HUMAERAH SYARIF 12B160 12B160 12B16037 PROGRAM PASCASARJANA JURUSAN KIMIA UNIVERSITAS NEGERI

Lebih terperinci

PERCOBAAN I ANALISIS BUTANA

PERCOBAAN I ANALISIS BUTANA PERCOBAAN I ANALISIS BUTANA Tujuan : Minimisasi energi konformasi butana dengan menggunakan medan gaya (Force Field) MM+. Latar Belakang : Minimisasi energi mengubah geometri dari molekul ke energi yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA...

BAB II KAJIAN PUSTAKA... DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii ABSTRAK... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 Latar

Lebih terperinci

REAKSI DEKOMPOSISI SENYAWA ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F SUATU KAJIAN MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) ABSTRAK

REAKSI DEKOMPOSISI SENYAWA ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F SUATU KAJIAN MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) ABSTRAK 1 REAKSI DEKMPSISI SENYAWA ERITRMISIN F DAN 6,7 ANHIDRERITRMISIN F SUATU KAJIAN MENGGUNAKAN METDE SEMIEMPIRIS AUSTIN MDEL 1 (AM1) Enokta Hedi Permana 1, Agung Tri Prasetya 2, Kasmui 3 1) Mahasiawa Jurusan

Lebih terperinci

PERCOBAAN III KONFORMASI 1,3-BUTADIENA

PERCOBAAN III KONFORMASI 1,3-BUTADIENA PERCOBAAN III KONFORMASI 1,3-BUTADIENA Tujuan : Untuk mendapatkan geometri yang stabil untuk setiap energi minimum dari konformer 1,3-butadiena menggu-nakan perhitungan semi empiris AM1. Latar belakang

Lebih terperinci

1. Pendahuluan 2. Intermediate reaktif 3. Nukleofil and elektrofil 4. Tipe reaksi 5. Ions versus radicals

1. Pendahuluan 2. Intermediate reaktif 3. Nukleofil and elektrofil 4. Tipe reaksi 5. Ions versus radicals 1. Pendahuluan 2. Intermediate reaktif 3. Nukleofil and elektrofil 4. Tipe reaksi 5. Ions versus radicals TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan Reaktivitas dan Mekanisme, mahasiswa

Lebih terperinci

MAKALAH KIMIA ORGANIK IKATAN KIMIA DAN STRUKTUR MOLEKUL

MAKALAH KIMIA ORGANIK IKATAN KIMIA DAN STRUKTUR MOLEKUL MAKALAH KIMIA ORGANIK IKATAN KIMIA DAN STRUKTUR MOLEKUL Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kimia Organik Dosen Pembimbing : Ir. Dyah Tri Retno, MM Disusun oleh : Kelompok 1 1. Angga Oktyashari

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penandaan falerin dengan 131 I adalah jenis penandaan tak seisotop. Falerin ditandai dengan menggunakan 131 I yang tidak terdapat dalam struktur falerin. Proses yang

Lebih terperinci

Ikatan Kimia. Linda Windia Sundarti

Ikatan Kimia. Linda Windia Sundarti Ikatan Kimia Aturan ktet Unsur yang paling stabil adalah unsur yang termasuk dalam golongan gas mulia. Semua unsur gas mulia di alam ditemukan dalam bentuk gas monoatomik dan tidak ditemukan bersenyawa

Lebih terperinci

KIMIAWI SENYAWA KARBONIL

KIMIAWI SENYAWA KARBONIL BAB 1 KIMIAWI SENYAWA KARBONIL Senyawa karbonil adalah kelompok senyawaan organik yang mengandung gugus karbonil, C=O, gugus fungsional yang paling penting dalam kimia organik. Senyawa karbonil ada di

Lebih terperinci

Dr. Sci. Muhammad Zakir Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia, FMIPA, Unhas Makassar

Dr. Sci. Muhammad Zakir Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia, FMIPA, Unhas Makassar Perhitungan Orbital Molekul Dr. Sci. Muhammad Zakir Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia, FMIPA, Unhas Makassar Maksud percobaan 1. Mempelajari aplikasi software Hyperchem. Mempelajari cara menghitung

Lebih terperinci

Ikatan Kimia. Ikatan kimia adalah gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya menyebabkan terjadinya perubahan kimia.

Ikatan Kimia. Ikatan kimia adalah gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya menyebabkan terjadinya perubahan kimia. Ikatan Kimia 1. Ikatan Kimia 1.1 Pengertian Ikatan kimia adalah gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya menyebabkan terjadinya perubahan kimia. 1.2 Macam-Macam Ikatan Kimia Ikatan Ion:

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA DALAM BAHAN

IKATAN KIMIA DALAM BAHAN IKATAN KIMIA DALAM BAHAN Sifat Atom dan Ikatan Kimia Suatu partikel baik berupa ion bermuatan, inti atom dan elektron, dimana diantara mereka, akan membentuk ikatan kimia yang akan menurunkan energi potensial

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini tiga metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dari kulit akar A. rotunda (Hout) Panzer. Ketiga senyawa tersebut diidentifikasi sebagai artoindonesianin L (35),

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL Sebagian besar unsur di alam tidak pernah dijumpai dalam atom bebas (kecuali gas mulia), namun dalam bentuk berikatan dengan atom yang sejenis maupun atom-atom yang lain.

Lebih terperinci

Kimia Organik 1. Pertemuan ke 2 Indah Solihah

Kimia Organik 1. Pertemuan ke 2 Indah Solihah Kimia Organik 1 Pertemuan ke 2 Indah Solihah TEORI VALENCE SHELL ELECTRON REPULSION (VSEPR) (TEORI TOLAKAN PASANGAN ELEKTRON BEBAS) Pasangan elektron valensi mempunyai gaya tolak menolak Pasangan elektron

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. B. Rumusan Masalah 1. Apakah konformasi itu? 2. Konformasi apa saja yang di jelaskan di dalam konformasi senyawa rantai terbuka?

BAB I PENDAHULUAN. B. Rumusan Masalah 1. Apakah konformasi itu? 2. Konformasi apa saja yang di jelaskan di dalam konformasi senyawa rantai terbuka? BAB I PENDAULUAN A. Latar Belakang Stereokimia adalah studi mengenai molekul molekul dalam ruang tiga dimensi yakni bagaimana atom atom dalam sebuah molekul ditata dalam ruangan satu relatif terhadap yang

Lebih terperinci

DIAS NATRASUARI TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG KIMIA ANORGANIK

DIAS NATRASUARI TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG KIMIA ANORGANIK DIAS NATRASUARI 21030112130031 TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG KIMIA ANORGANIK Bentuk Molekul Bentuk Molekul Menggambarkan Molekul dan Ion dengan Struktur Lewis Rumus dua dimensi in menggambarkan

Lebih terperinci

! " "! # $ % & ' % &

!  ! # $ % & ' % & Valensi ! " "! # $ % & ' %& # % ( ) # *+## )$,) & -#.. Semua unsur memiliki bilangan oksidasi +1 Semua unsur memiliki bilangan oksidasi +2 Semua unsur memiliki bilangan oksidasi +3. Tl juga memiliki bilangan

Lebih terperinci

(2) kekuatan ikatan yang dibentuk untuk karbon;

(2) kekuatan ikatan yang dibentuk untuk karbon; Reaksi Subsitusi Nukleofilik Alifatik Reaksi yang berlangsung karena penggantian satu atau lebih atom atau gugus dari suatu senyawa oleh atom atau gugus lain disebut reaksi substitusi. Bila reaksi substitusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyak senyawa heterosiklik dengan aktivitas tertentu digunakan dalam pengobatan penyakit-penyakit menular. Penggunaan senyawa tersebut dalam pengobatan berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) digunakan secara tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian mengenai efek farmakologi mahkota dewa menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

TUGAS KIMIA ANORGANIK TEORI IKATAN VALENSI DAN HIBRIDISASI ORBITAL

TUGAS KIMIA ANORGANIK TEORI IKATAN VALENSI DAN HIBRIDISASI ORBITAL TUGAS KIMIA ANORGANIK TEORI IKATAN VALENSI DAN HIBRIDISASI ORBITAL ESTER ALNINTA BASA SIAGIAN (21030116140082) JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK SEMARANG 2016 A. DASAR TEORI IKATAN VALENSI Ikatan valensi

Lebih terperinci

BAB V ALKOHOL, ETER DAN SENYAWA YANG BERHUBUNGAN

BAB V ALKOHOL, ETER DAN SENYAWA YANG BERHUBUNGAN BAB V ALKOHOL, ETER DAN SENYAWA YANG BERHUBUNGAN 1. Pendahuluan etanol suatu alkohol fenol dietil eter suatu eter propilena oksida suatu epoksida 2. Ikatan dalam alcohol dan eter Eter dapat berbentuk rantai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari uraian latar belakang diatas dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Dari uraian latar belakang diatas dirumuskan permasalahan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai senyawa, baik senyawa organik maupun anorganik. Senyawa organik sangat banyak jenisnya, sehingga perlu adanya penggolongan

Lebih terperinci

KO I Pertemuan 2. Indah Solihah

KO I Pertemuan 2. Indah Solihah KO I Pertemuan 2 Indah Solihah Representations of Structural Formulas Menggambar struktur molekul menggunakan Dot formula (struktur lewis) lebih tidak praktis daripada dash formula (struktur garis) maupun

Lebih terperinci

BAB 3 IKATAN KRISTAL. 3.1 Macam-Macam Ikatan Kristal

BAB 3 IKATAN KRISTAL. 3.1 Macam-Macam Ikatan Kristal BAB 3 IKATAN KRISTAL Zat padat berdasarkan susunan atomnya dapat diklasifikasikan atas kristal dan amorf. Sebuah kristal mempunyai susunan atom yang teratur sehingga dapat berbentuk kubus, tetragonal atau

Lebih terperinci

RUMUS GARIS DAN KONFORMASI

RUMUS GARIS DAN KONFORMASI Reaksi DielsAlder Satutipereaksi adisi1,4 yang sangatpentingdiwakiliolehreaksi DielsAlder, yang merupakansuatujalankesenyawasikloheksena. reaksiinidiberinamaahlikimiajermanotto Diels dan Kurt Alder, yang

Lebih terperinci

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya Bab V Ikatan Kimia Sebagian besar unsur yang ada di alam mempunyai kecenderungan untuk berinteraksi (berikatan) dengan unsur lain. Hal itu dilakukan karena unsur tersebut ingin mencapai kestabilan. Cara

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA TERPADU GRUP IMC (INTERMOLECULAR CHEMISTRY) OLEH : Dr. Parsaoran Siahaan, MS

PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA TERPADU GRUP IMC (INTERMOLECULAR CHEMISTRY) OLEH : Dr. Parsaoran Siahaan, MS P a n d u a n P K T G r u p I M C 0 PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA TERPADU GRUP IMC (INTERMOLECULAR CHEMISTRY) OLEH : Dr. Parsaoran Siahaan, MS JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA Isana SYL

IKATAN KIMIA Isana SYL IKATAN KIMIA Isana SYL IKATAN KIMIA Kebahagiaan atom Konfigurasi i elektronik stabil Konfigurasi elektronik gas mulia / gas lamban (Energi ionisasi relatif besar dan afinitas elektron relatif kecil) Ada

Lebih terperinci

Prinsip-prinsip Kekuatan Ikatan

Prinsip-prinsip Kekuatan Ikatan Prinsip-prinsip Kekuatan Ikatan Pada awalnya, perbedaan harus dibuat antara stabilitas dan reaktifitas. Sayangnya, itu adalah praktek umum untuk membingungkan keduanya. Terlalu sering suatu zat yang relatif

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TIJAUA PUSTAKA A. Terapi Fotodinamik (Photodynamic Therapy, PDT) Proses terapi PDT dapat diilustrasikan secara lengkap pada tahapan berikut. Mula-mula pasien diinjeksi dengan senyawa fotosensitizer

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Matahari adalah sumber energi yang sangat besar dan tidak akan pernah habis. Energi sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi BAB II DASAR TEORI Pengujian reduksi langsung ini didasari oleh beberapa teori yang mendukungnya. Berikut ini adalah dasar-dasar teori mengenai reduksi langsung yang mendasari penelitian ini. 2.1. ADSORPSI

Lebih terperinci

BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA

BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA Benda = Materi = bahan Wujud benda : 1) Padat 2) Cair 3) Gas Benda Padat 1. Mekanis kuat (tegar), sukar berubah bentuk, keras 2. Titik leleh tinggi 3. Sebagian konduktor

Lebih terperinci

KAJIAN QSPR TEMPERATUR TRANSISI GELAS DAN SIFAT KIMIA FISIK DARI POLIMER TURUNAN POLIETILEN

KAJIAN QSPR TEMPERATUR TRANSISI GELAS DAN SIFAT KIMIA FISIK DARI POLIMER TURUNAN POLIETILEN 1 KAJIAN QSPR TEMPERATUR TRANSISI GELAS DAN SIFAT KIMIA FISIK DARI POLIMER TURUNAN POLIETILEN Yuniawan Hidayat, Iqmal Tahir, Karna Wijaya, Bambang Setiaji Austrian-Indonesian Centre for Computational Chemistry

Lebih terperinci

Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL

Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL Kekristalan Zat Padat Zat padat dapat dibedakan menjadi: Kristal yaitu bila atom atau molekul penyusun tersusun dalam bentuk pengulangan kontinu untuk rentang

Lebih terperinci

1. Pendahuluan 2. Orbital atom 3. Orbital molekul 4. Ikatan sigma 5. Ikatan pi 6. Orbital hibrida 7. Panjang dan kekuatan ikatan

1. Pendahuluan 2. Orbital atom 3. Orbital molekul 4. Ikatan sigma 5. Ikatan pi 6. Orbital hibrida 7. Panjang dan kekuatan ikatan 1. Pendahuluan 2. Orbital atom 3. Orbital molekul 4. Ikatan sigma 5. Ikatan pi 6. Orbital hibrida 7. Panjang dan kekuatan ikatan TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan Orbital,

Lebih terperinci

Komponen Materi. Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi

Komponen Materi. Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi Komponen Materi Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi Pengamatan ke Arah Pandangan Atomik Materi Konservasi Massa Komposisi Tetap Perbandingan Berganda Teori Atom Dalton Bagaimana Teori Dalton Menjelaskan Hukum

Lebih terperinci

Bentuk-Bentuk Molekul

Bentuk-Bentuk Molekul Bentuk-Bentuk Molekul Di bab ini, kita akan mempelajari bagaimana cara mengubah rumus molekul dari suatu senyawa menjadi sebuah rumus struktur senyawa dalam bentuk dua dimensi yang memperlihatkan hubungan

Lebih terperinci

menghilangkan kesadaran. Berdasarkan kerja farmakologinya, analgesik dibagi dalam dua kelompok besar yaitu analgesik narkotik dan analgesik non

menghilangkan kesadaran. Berdasarkan kerja farmakologinya, analgesik dibagi dalam dua kelompok besar yaitu analgesik narkotik dan analgesik non BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat memberikan dampak terhadap peradaban manusia. Hal ini, menuntut manusia untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut

Lebih terperinci

Kimia Koordinasi Teori Ikatan Valensi

Kimia Koordinasi Teori Ikatan Valensi Kimia Koordinasi Teori Ikatan Valensi Beberapa teori telah dirumuskan untuk menjelaskan ikatan dalam senyawaan koordinasi dan untuk merasionalisasi serta meramalkan sifat-sifatnya: teori ikatan valensi,

Lebih terperinci

BENTUK MOLEKUL. Summary : MENGGAMBARKAN MOLEKUL DAN ION DENGAN STRUKTUR LEWIS

BENTUK MOLEKUL. Summary : MENGGAMBARKAN MOLEKUL DAN ION DENGAN STRUKTUR LEWIS BENTUK MOLEKUL Summary : MENGGAMBARKAN MOLEKUL DAN ION DENGAN STRUKTUR LEWIS Cara menggambarkan bentuk molekul : mengubah rumus molekul menjadi struktur Lewis/formula Lewis Formula Lewis terdiri dari sekumpulan

Lebih terperinci

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 1. Semua pernyataan berikut benar, kecuali: A. Energi kimia ialah energi

Lebih terperinci

ORBITAL DAN IKATAN KIMIA ORGANIK

ORBITAL DAN IKATAN KIMIA ORGANIK ORBITAL DAN IKATAN KIMIA ORGANIK Objektif: Pada Bab ini, mahasiswa diharapkan untuk dapat memahami, Teori dasar orbital atom dan ikatan kimia organik, Orbital molekul orbital atom dan Hibridisasi orbital

Lebih terperinci

PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK. Ramadoni Syahputra

PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK. Ramadoni Syahputra PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK Ramadoni Syahputra 1. PENDAHULUAN 1.1 UMUM Ilmu kimia sangat berkaitan dengan bidang ilmu-ilmu teknik khususnya teknik elektro. Telah kita ketahui bersama bahwa gejala aliran elektron

Lebih terperinci

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS ISI BAB I 1. Pendahuluan 2. Struktur Atom 3. Elektronegativitas 4. Ikatan Ionik 5. Ikatan Kovalen 6. Struktur Lewis 7. Polaritas Ikatan 8. Sifat-Sifat Senyawa Kovalen TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah

Lebih terperinci

BAB IX AROMATISITAS, BENZENA, DAN BENZENA TERSUBSTITUSI

BAB IX AROMATISITAS, BENZENA, DAN BENZENA TERSUBSTITUSI BAB IX AROMATISITAS, BENZENA, DAN BENZENA TERSUBSTITUSI Benzena diisolasi tahun 1825 oleh Michael Faraday dan residu berminyak yang terimbun dalam pipa induk gas di London. Sampai 1940 ter batubara sebagai

Lebih terperinci

PERHITUNGAN ORBITAL MOLEKULAR

PERHITUNGAN ORBITAL MOLEKULAR PERHITUNGAN ORBITAL MOLEKULAR Dalam bab ini, molekul air digunakan untuk perhitungan orbital molekular. Karena itu, pertama-tama, buatlah sketsa trimatra dari molekul air. Kemudian putarlah keseluruhan

Lebih terperinci

Bahasan. Konsep Dasar. Simbol Lewis. 1. Teori Lewis : Ringkasan

Bahasan. Konsep Dasar. Simbol Lewis. 1. Teori Lewis : Ringkasan Bahasan Ikatan Kimia I: Konsep Dasar Irwansyah, M.Si Referensi: General Chemistry Principles and Modern Applications Petrucci arwood erring 8 th Edition Teori Lewis 2 Ikatan Kovalen 3 Ikatan Kovalen Polar

Lebih terperinci

STRUKTUR MOLEKUL SEDERHANA

STRUKTUR MOLEKUL SEDERHANA STRUKTUR MOLEKUL SEDERHANA Oleh : Dr. Suyanta Ikatan ionik dibentuk oleh tarikan elekrostatik antara kation dan anion. Karena medan listrik suatu ion bersimetri bola, ikatan ion tidak memiliki karakter

Lebih terperinci

01 : STRUKTUR MIKRO. perilaku gugus-gugus atom tersebut (mungkin mempunyai struktur kristalin yang teratur);

01 : STRUKTUR MIKRO. perilaku gugus-gugus atom tersebut (mungkin mempunyai struktur kristalin yang teratur); 01 : STRUKTUR MIKRO Data mengenai berbagai sifat logam yang mesti dipertimbangkan selama proses akan ditampilkan dalam berbagai sifat mekanik, fisik, dan kimiawi bahan pada kondisi tertentu. Untuk memanfaatkan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN MEKANIKA MOLEKUL

PERHITUNGAN MEKANIKA MOLEKUL Austrian Indonesian Centre (AIC) for Computational Chemistry Jurusan Kimia - FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) KIMIA KOMPUTASI Anatomi Perhitungan Mekanika Molekul l Drs. Iqmal Tahir, M.Si. Austrian-Indonesian

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA. RATNAWATI, S.Pd

IKATAN KIMIA. RATNAWATI, S.Pd IKATAN KIMIA RATNAWATI, S.Pd Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat: Menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya Menggambarkan susunan elektron

Lebih terperinci

Secara umum terdapat 4 tipe reaksi kimia organik: 1. Reaksi substitusi (Penggantian)

Secara umum terdapat 4 tipe reaksi kimia organik: 1. Reaksi substitusi (Penggantian) Secara umum terdapat 4 tipe reaksi kimia organik: 1. Reaksi substitusi (Penggantian) Suatu atom/gugus di dalam suatu senyawa diganti oleh suatu atom/gugus lain dari senyawa yang lain. Konsep dasarnya adalah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN KIMIA MEDISINAL

PENDAHULUAN KIMIA MEDISINAL PEDAHULUA KIMIA MEDISIAL Oleh: Siswandono Laboratorium Kimia Medisinal Kimia Medisinal (Burger, 1970) : ilmu pengetahuan yang merupakan cabang dari ilmu kimia dan biologi, digunakan untuk memahami dan

Lebih terperinci

~ gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia.

~ gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia. 1. Ikatan Kimia Struktur Molekul 1.1 Pengertian ~ gaya tarik antar atom yang pemutusan atau pembentukannya dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia. 1.2 Macam-Macam 1. Ikatan Ion: ikatan kimia yang

Lebih terperinci

3. Manfaat BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. 2. Tujuan

3. Manfaat BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. 2. Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Di alam semesta ini sangat jarang sekali ditemukan atom yang berdiri sendiri, tapi hampir semuanya berikatan dengan dengan atom lain dalam bentuk senyawa, baik senyawa

Lebih terperinci

Ikatan dan Isomeri. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc.

Ikatan dan Isomeri. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Ikatan dan Isomeri Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Susunan Elektron dalam Atom Mulai dikenalkan oleh Rutherford: Atom terdiri atas inti yg kecil & padat dan dikelilingi oleh elektron-elektron

Lebih terperinci

Senyawa Koordinasi. Ion kompleks memiliki ciri khas yaitu bilangan koordinasi, geometri, dan donor atom:

Senyawa Koordinasi. Ion kompleks memiliki ciri khas yaitu bilangan koordinasi, geometri, dan donor atom: Senyawa Koordinasi Terdiri dari atom pusat (kation logam transisi), ligan(molekul yang terikat pada ion kompleks) dan di netralkan dengan bilangan koordinasi. Dari gambar [Co(NH 3 )6]CI 3, 6 molekul NH3

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis dan Karakterisasi Karboksimetil Kitosan Spektrum FT-IR kitosan yang digunakan untuk mensintesis karboksimetil kitosan (KMK) dapat dilihat pada Gambar 8 dan terlihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PEDAULUA 1.1 Latar Belakang Masalah yeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan, subjektif dan manifestasi dari kerusakan jaringan atau gejala akan terjadinya kerusakan jaringan (Dipiro et

Lebih terperinci

1. Ikatan Kimia. Struktur Molekul. 1.1 Pengertian. 1.2 Macam-Macam. ~ gaya tarik antar atom

1. Ikatan Kimia. Struktur Molekul. 1.1 Pengertian. 1.2 Macam-Macam. ~ gaya tarik antar atom 1. Ikatan Kimia 1.1 Pengertian ~ gaya tarik antar atom Struktur Molekul 1.2 Macam-Macam 1. Ikatan Ion: ikatan kimia yang terbentuk akibat tarik-menarik elektrostatik antara ion positif (kation) dan ion

Lebih terperinci

BENTUK-BENTUK MOLEKUL

BENTUK-BENTUK MOLEKUL BENTUK-BENTUK MOLEKUL Menggambarkan Molekul dan Ion dengan Struktur Lewis Aturan Oktet Struktur Lewis 1. Untuk mencapai keadaan oktet, letakkan atom yang memiliki keelektronegativitas-an yang paling rendah

Lebih terperinci

BAB 3 IKATAN DAN STRUKTUR MOLEKUL

BAB 3 IKATAN DAN STRUKTUR MOLEKUL BAB 3 IKATAN DAN STRUKTUR MOLEKUL Atom-atom pada umumnya tidak ditemukan dalam keadaan bebas (kecuali pada temperatur tinggi), melainkan sebagai suatu kelompok atom atau sebagai molekul. Hal ini berarti

Lebih terperinci

AROMATISITAS, BENZENA DAN BENZENA TERSUBSTITUSI ACHMAD SYAHRANI ORGANIC CHEMISTRY, FESSENDEN DAN FESSENDEN, THIRD EDITION

AROMATISITAS, BENZENA DAN BENZENA TERSUBSTITUSI ACHMAD SYAHRANI ORGANIC CHEMISTRY, FESSENDEN DAN FESSENDEN, THIRD EDITION AROMATISITAS, BENZENA DAN BENZENA TERSUBSTITUSI ACHMAD SYAHRANI ORGANIC CHEMISTRY, FESSENDEN DAN FESSENDEN, THIRD EDITION 1 BENZENA PERTAMA KALI DIISOLASI OLEH MICHAEL FARADAY, 1825 DARI RESIDU BERMINYAK

Lebih terperinci

KOMPUTASI KIMIA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENELITIAN PADA MASA KRISIS DAN MASA DEPAN 1 Eva Vaulina Yulistia Delsy 2

KOMPUTASI KIMIA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENELITIAN PADA MASA KRISIS DAN MASA DEPAN 1 Eva Vaulina Yulistia Delsy 2 SEMINAR NASIONAL PENELITIAN DAN PENDIDIKAN KIMIA Kontribusi Penelitian Kimia Terhadap Pengembangan Pendidikan Kimia KOMPUTASI KIMIA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENELITIAN PADA MASA KRISIS DAN MASA DEPAN 1

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reaksi oksidasi merupakan reaksi yang memiliki peranan penting dalam metabolisme tubuh manusia. Reaksi oksidasi ini disebabkan oleh senyawa reactive oxygen species

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA ORGANIK dalam bidang ilmu FARMASI

IKATAN KIMIA ORGANIK dalam bidang ilmu FARMASI IKATAN KIMIA ORGANIK dalam bidang ilmu FARMASI Teori tentang ikatan kimia ini dipelopori oleh Kossel dan Lewis (1916) yang membagi ikatan kimia atas 2 (dua) bagian besar yakni: ikatan ionik atau ikatan

Lebih terperinci

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc.

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. ALKENA & ALKUNA Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Alkena, C n H 2n ; n = 3 C 3 H 6 CH 3 -CH=CH 2 } Hidrokarbon Alkuna, C n H 2n-2 ; n = 3 C 3 H 4 CH 3 -C=CH Tak Jenuh Ikatan rangkap Lebih

Lebih terperinci

PERUBAHAN SIFAT MELALUI STRUKTUR ATOM

PERUBAHAN SIFAT MELALUI STRUKTUR ATOM PERUBAHAN SIFAT MELALUI STRUKTUR ATOM 1.1 STRUKTUR ATOM Setiap atom terdiri dari inti yang sangat kecil yang terdiri dari proton dan neutron, dan di kelilingi oleh elektron yang bergerak. Elektron dan

Lebih terperinci

N N. Gambar 1.1. Struktur molekul piroksikam dan O-(3,4- diklorobenzoil)piroksikam.

N N. Gambar 1.1. Struktur molekul piroksikam dan O-(3,4- diklorobenzoil)piroksikam. BAB 1 PEDAHULUA Rasa nyeri merupakan perasaan tidak nyaman yang menyertai kerusakan jaringan dan timbul apabila rangsangan mekanik, termal, kimia atau listrik melampaui nilai ambang nyeri. Rasa nyeri dapat

Lebih terperinci

Air adalah wahana kehidupan

Air adalah wahana kehidupan Air Air adalah wahana kehidupan Air merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem hidup dan mencakup 70% atau lebih dari bobot semua bentuk kehidupan Reaksi biokimia menggunakan media air karena

Lebih terperinci

QUANTITATIVE STRUCTURE AND ACTIVITY RELATIONSHIP ANALYSIS OF 1,2,4- THIADIAZOLINE FUNGICIDES BASED ON MOLECULAR STRUCTURE CALCULATED BY AM1 METHOD

QUANTITATIVE STRUCTURE AND ACTIVITY RELATIONSHIP ANALYSIS OF 1,2,4- THIADIAZOLINE FUNGICIDES BASED ON MOLECULAR STRUCTURE CALCULATED BY AM1 METHOD Indonesian Journal of hemistry, 2003, 3 (1), 39-47 39 QUANTITATIVE STRUTURE AND ATIVITY RELATIONSIP ANALYSIS OF 1,2,4- TIADIAZOLINE FUNGIIDES BASED ON MOLEULAR STRUTURE ALULATED BY AM1 METOD Analisis ubungan

Lebih terperinci

IKATAN KOVALEN. berikutnya adalah membentuk elektron persekutuan. Dalam kerja sama ini, atom-atom

IKATAN KOVALEN. berikutnya adalah membentuk elektron persekutuan. Dalam kerja sama ini, atom-atom IKATAN KOVALEN Jika kerja sama dalam bentuk serah terima elektron tidak dapat dilakukan, maka pilihan berikutnya adalah membentuk elektron persekutuan. Dalam kerja sama ini, atom-atom yang akan berikatan

Lebih terperinci

BENTUK-BENTUK MOLEKUL

BENTUK-BENTUK MOLEKUL BENTUK-BENTUK MOLEKUL 10. 1. Menggambarkan Molekul dan Ion dengan Struktur Lewis Berikut adalah langkah-langkah dalam menggambarkan molekul dengan ikatan tunggal menggunakan struktur Lewis: 1) Letakkan

Lebih terperinci

Bab 10 Bentuk Bentuk Molekul

Bab 10 Bentuk Bentuk Molekul Bab 10 Bentuk Bentuk Molekul 10.1 Menjelaskan Bentuk-Bentuk Molekul dan Ion Menurut Struktur Lewis Hal pertama yang dilakukan untuk mengetahui bentuk dari suatu molekul ialah dengan mengubah rumus suatu

Lebih terperinci

DiGregorio, 1990). Hal ini dapat terjadi ketika enzim hati yang mengkatalisis reaksi konjugasi normal mengalami kejenuhan dan menyebabkan senyawa

DiGregorio, 1990). Hal ini dapat terjadi ketika enzim hati yang mengkatalisis reaksi konjugasi normal mengalami kejenuhan dan menyebabkan senyawa BAB 1 PENDAHULUAN Dewasa ini, pengembangan obat obat baru terus dilakukan dengan upaya untuk meningkatkan potensi obat obatan yang ada. Adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang demikian pesatnya,

Lebih terperinci

Kimia Organik 1. Pertemuan ke 3 Indah Solihah

Kimia Organik 1. Pertemuan ke 3 Indah Solihah Kimia Organik 1 Pertemuan ke 3 Indah Solihah Pembentukan Ikatan pada atom Fosfor Nomor atom fosfor (P) adalah 15 Tahap pembentukan ikatan : 1. Sebagian energi digunakan untuk hibridisasi, elektron pada

Lebih terperinci

Struktur Molekul:Teori Orbital Molekul

Struktur Molekul:Teori Orbital Molekul Kimia Fisik III, Struktur Molekul:, Dr. Parsaoran Siahaan, November/Desember 2014, 1 Pokok Bahasan 3 Struktur Molekul:Teori Orbital Molekul Oleh: Dr. Parsaoran Siahaan Pendahuluan: motivasi/review pokok

Lebih terperinci

KARAKTERISASI TEORITIS SEMIKONDUTOR SILICON NANOTUBE ARMCHAIR MENGGUNAKAN METODE DFT

KARAKTERISASI TEORITIS SEMIKONDUTOR SILICON NANOTUBE ARMCHAIR MENGGUNAKAN METODE DFT KARAKTERISASI TEORITIS SEMIKONDUTOR SILICON NANOTUBE ARMCHAIR MENGGUNAKAN METODE DFT (THEORETICAL CHARACTERIZATION OF ARMCHAIR SILICON NANOTUBE BASED DFT METHOD) Rieska Amilia* dan I Gusti Made Sanjaya

Lebih terperinci

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 1. Pada suhu dan tekanan sama, 40 ml P 2 tepat habis bereaksi dengan 100 ml, Q 2 menghasilkan 40 ml gas PxOy. Harga x dan y adalah... A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 5 Kunci : E D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 Persamaan

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA. Tim Dosen Kimia Dasar FTP

IKATAN KIMIA. Tim Dosen Kimia Dasar FTP IKATAN KIMIA Tim Dosen Kimia Dasar FTP Sub pokok bahasan: Konsep Ikatan Kimia Macam-macam ikatan kimia KONSEP IKATAN KIMIA Untuk mencapai kestabilan, atom-atom saling berikatan. Ikatan kimia merupakan

Lebih terperinci