4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon
|
|
|
- Leony Lesmono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 4 Pembahasan 4.1 Sintesis Resasetofenon O HO H 3 C HO ZnCl 2 CH 3 O Gambar 4. 1 Sintesis resasetofenon Pada sintesis resasetofenon dilakukan pengeringan katalis ZnCl 2 terlebih dahulu. Katalis ZnCl 2 merupakan asam Lewis yang dapat membentuk kompleks dengan air. Dengan pembentukan kompleks, ZnCl 2 menjadi kehilangan fungsinya sebagai akseptor elektron (dengan menyediakan orbital kosong) sehingga pada akhirnya perannya sebagai katalis menjadi hilang. Oleh karena itu, ZnCl 2 yang akan digunakan perlu dikeringkan terlebih dahulu. Dari hasil pengukuran spektroskopi UV, terdapat puncak serapan pada daerah 230 nm dan 275 nm. Ketika penambahan reagen geser Na, terjadi pergeseran batokromik sebesar 55 nm (dari 275 nm menjadi 330 nm). Adanya pergeseran batokromik dengan penambahan reagen geser Na menunjukkan bahwa adanya gugus hidroksi pada senyawa yang diukur. Selanjutnya pada penambahan reagen geser AlCl 3 terjadi pergeseran batokromik sebesar 27 nm. Hal ini menunjukkan adanya gugus orto hidroksi terhadap gugus karbonil. Pada penambahan HCl tidak terjadi perubahan puncak yang mengalami pergeseran dari daerah 275 nm ke 302 nm tidak mengalami perubahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompleks yang terbentuk antara reagen geser AlCl 3 dengan resasetofenon bersifat yang stabil (Gambar 4. 2).
2 Gambar 4. 2 Spektrum UV resasetofenon (a) penambahan reagen geser Na, (b) penambahan reagen geser AlCl 3 dan HCl Pada pengukuran spektrum inframerah (IR), senyawa resasetofenon yang dihasilkan menunjukkan adanya puncak-puncak yang khas yang menandakan adanya gugus fungsi tertentu. Serapan pada bilangan gelombang 3300 cm -1 menunjukkan adanya gugus, serapan pada 3005 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur =C-H aromatik, serapan pada 2997 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H alifatik, serapan pada 1622 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=0, serapan pada 1606 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=C, dan serapan pada 839 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi tekuk gugus =C-H aromatik (Gambar 4. 3). 105 %T Res Asetofenon /cm Gambar 4. 3 Spektrum IR resasetofenon 46
3 Spektrum 1 H NMR menunjukkan adanya sinyal-sinyal proton pada daerah alifatik dan daerah aromatik. Sinyal singlet pada geseran kimia δ 12,7 ppm menunjukkan adanya proton pada gugus hidroksi yang terkelasi. Sinyal ini merupakan sinyal proton dari gugus pada posisi orto terhadap gugus asetil. Kemudian sinyal singlet pada geseran kimia δ 9,5 ppm menunjukkan adanya proton pada gugus posisi para terhadap gugus asetil. Selanjutnya terdapat sinyal proton untuk sistem aromatik ABX: sinyal proton pada geseran kimia δ 7,7 ppm dengan multiplisitas doblet dan konstanta kopling 9,15 Hz menunjukkan sinyal proton pada posisi 6 (Gambar 4. 4), sinyal proton pada geseran kimia δ 6,4 ppm dengan multiplisitas double doblet dan konstanta kopling 2,45 Hz dan 9,15 Hz menunjukkan sinyal proton pada posisi 5, sinyal proton pada geseran kimia 6,3 ppm dengan multiplisitas doblet dan konstanta kopling 2,45 Hz menunjukkan sinyal proton pada posisi 3. Gambar 4. 4 Spektrum 1 H NMR resasetofenon Hasil sintesis resasetofenon dari resorsinol dan asam asetat dengan bantuan katalis ZnCl 2 diperoleh kristal berwarna orange dengan rendemen 38,3%. Kristal yang diperoleh diukur titik lelehnya. Hasil pengukuran titik leleh diperoleh resasetofenon meleleh pada suhu C. Data literatur menunjukkan bahwa data titik leleh resasetofenon sebesar C (Cooper, 1955). 47
4 4.2 Reaksi Benzoilasi Resasetofenon Pada reaksi resasetofenon dengan benzoil klorida dengan katalis piridin dihasilkan tiga fraksi utama, yaitu fraksi A, fraksi B, dan fraksi C. Ada tiga kemungkinan produk reaksi yang dihasilkan (Gambar 4. 5) Gambar 4. 5 Kemungkinan produk reaksi benzoilasi resasetofenon (1) terbenzoilasi pada posisi orto, (2) terbenzoilasi posisi para, (3) terbenzoilasi pada posisi orto dan para Hasil pengukuran spektrum UV fraksi A, menunjukkan adanya serapan pada daerah 231 nm dan 318 nm. Pada penambahan reagen geser Na terjadi pergeseran batokromik sebesar 13 nm. Hal ini menunjukkan pada fraksi A terdapat gugus hidroksi. Pada penambahan reagen geser AlCl 3 terjadi pergeseran batokromik sebesar 50 nm, ketika ditambahkan reagen geser HCl tidak terjadi perubahan ( Gambar 4. 6). Hal ini menunjukkan adanya gugus karbonil dan hidroksi yang berdekatan. Dari hasil pengukuran spektrum UV, fraksi A diduga merupakan senyawa 2. Tetapi karena keterbatasan jumlah sampel fraksi A tidak dilakukan pengukuran data spektroskopi lainnya. 48
5 Gambar 4. 6 Spektrum UV fraksi A (a) penambahan reagen geser Na, (b) penambahan reagen geser AlCl 3 dan HCl Hasil pengukuran spektrum UV fraksi B, menunjukkan adanya serapan pada daerah 257 nm dan 318 nm. Pada penambahan reagen geser Na terjadi pergeseran batokromik sebesar 16 nm. Hal ini menunjukkan adanya gugus hidroksi pada fraksi B. Pada penambahan reagen geser AlCl 3 terjadi pergeseran batokromik sebesar 50 nm dan ketika ditambahkan reagen geser HCl tidak berubah. Hal ini menunjukkan adanya gugus hidroksi dan gugus karbonil yang berdekatan (Gambar 4. 7). Gambar 4. 7 Spektrum UV fraksi B (a) penambahan reagen geser Na, (b) penambahan reagen geser AlCl 3 dan HCl Pada pengukuran spektrum IR, fraksi B menunjukkan adanya puncak-puncak yang khas yang menandakan adanya gugus fungsi tertentu. Serapan pada bilangan gelombang 3450 cm -1 menunjukkan adanya gugus, serapan pada 3005 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur =C-H aromatik, serapan pada 2997 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H alifatik, serapan pada 1739 cm -1 menunjukkan adanya C=O terkonjugasi, serapan pada 1641 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=0, serapan pada 1597 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=C, dan serapan pada 827 cm -1 menunjukkan adanya gugus =C-H aromatik. 49
6 100 %T Daniel Hasil Benzoilasi /cm Gambar 4. 8 Spektrum IR fraksi B Spektrum 1 H NMR fraksi B menunjukkan adanya sinyal-sinyal proton daerah alifatik dan daerah aromatik. Sinyal singlet pada geseran kimia δ 12,5 ppm menunjukkan adanya proton yang terkelasi (posisi 2) (Gambar 4. 9). Untuk sinyal proton cincin B ditunjukkan dengan: sinyal proton pada daerah geseran kimia 8,2 ppm dengan multiplisitas doblet dan konstanta kopling 6,75 Hz menunjukkan sinyal proton posisi 8, sinyal proton pada daerah geseran kimia 7,5 ppm dengan multiplisitas triplet dan konstanta kopling 7,35 Hz & 7,95 Hz menunjukkan sinyal proton posisi 9, sedangkan sinyal proton pada daerah geseran kimia 7,6 ppm dengan multiplisitas triplet dan konstanta kopling 7,35 Hz & 7,95 Hz menunjukkan sinyal proton posisi 10. Untuk sinyal proton aromatik sistem ABX (cincin A) ditunjukkan dengan: sinyal proton pada daerah geseran kimia 7,8 ppm dengan multiplisitas doblet dan konstanta kopling 8,55 Hz menunjukkan sinyal proton pada posisi 6, sinyal proton pada daerah geseran kimia 6,8 ppm dengan multiplisitas doblet dan konstanta kopling 2,45 Hz menunjukkan sinyal proton pada posisi 3, sedangkan sinyal proton pada daerah geseran kimia 6,8 ppm dengan multiplisitas double doblet dan konstanta kopling 2,45 Hz & 8,55 Hz menunjukkan sinyal proton posisi 5. 50
7 Gambar 4. 9 Spektrum 1 H NMR fraksi B Spektrum 13 C-NMR pada geseran kimia 203,5 ppm dan 164,2 ppm menunjukkan sinyal karbon karbonil pada posisi 11 dan 13. Sinyal pada geseran kimia 163,9 ppm dan 156,9 ppm, 112,9 ppm, 111,2 ppm berturut-turut menunjukkan sinyal karbon pada posisi 10, 5, 4, dan 3. Sinyal karbon pada cincin B yang simetri ditunjukkan dengan sinyal pada geseran kimia 130,2 ppm, 128,8 ppm yang menunjukkan sinyal karbon pada posisi 8 dan 9. Sinyal pada geseran kimia 26,6 ppm menunjukkan sinyal karbon metil pada posisi 12. Rendemen dari fraksi B diperoleh sebesar 14,81%. 51
8 Gambar Spektrum 13 C-NMR fraksi B Hasil pengukuran spektrum UV fraksi C, menunjukkan adanya serapan pada daerah 222 nm. Pada penambahan reagen geser Na timbul puncak baru pada daerah 328 nm yang merupakan hasil pergeseran batokromik dari puncak sekitar 318 nm yang tidak muncul. Hal ini menunjukkan adanya gugus hidroksi pada fraksi C. Pada penambahan reagen geser AlCl 3 tidak terjadi pergeseran batokromik. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam fraksi C tidak mempunyai gugus karbonil dan hidroksi yang berdekatan. Gambar Spektrum UV fraksi C (a) penambahan reagen geser Na, (b) penambahan reagen geser AlCl 3 dan HCl Dari hasil pengukuran spektrum UV diduga fraksi C merupakan senyawa 1 (Gambar 4. 5). 52
9 4.3 Penjelasan produk hasil reaksi benzoilasi Hasil reaksi benzoilasi menunjukkan bahwa benzoilasi resasetofenon pada posisi para merupakan produk utama, sedangkan produk benzoilasi posisi orto merupakan produk samping. Hal ini merupakan hasil yang tidak diharapkan karena gugus benzoil diharapkan dapat memasuki posisi orto. Untuk menjelaskan fenomena ini dilakukan studi komputasi. Dalam studi komputasi dengan metode ab initio dilakukan peramalan struktur geometri dan energetika. Peramalan struktur geometri dilakukan untuk mencari konformasi resasetofenon yang paling disukai untuk resasetofenon. Sedangkan studi energetika dilakukan perhitungan untuk meramalkan produk mana yang lebih disukai secara termodinamika. Pada peramalan struktur geometri resasetofenon dibuat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi (Gambar a). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kemungkinan konformasi 9 (Gambar b), dimana terdapat ikatan hidrogen antara H yang terikat pada gugus hidroksi dengan atom O pada gugus karbonil. Adanya ikatan hidrogen ini, menyebabkan masuknya gugus benzoil pada posisi orto menjadi lebih sulit dibanding pada posisi para yang relatif lebih bebas. 53
10 Gambar Kemungkinan konformasi resasetofenon (a) nomor 1 sampai 12 merupakan kemungkinan konformasi resasetofenon, (b) konformasi resasetofenon paling stabil Pada studi energetika secara komputasi, dilakukan perbandingan energi produk benzoilasi posisi orto dengan produk benzoilasi posisi para. Hasil perhitungan ab initio dengan metode UHF/6-311G**//MP2/6-311G** menunjukkan bahwa produk benzoilasi posisi para lebih stabil secara termodinamika sebesar 31,26 kj/mol dibanding produk orto (Gambar 4. 13). Energi pengaktifan benzoilasi posisi orto dan para dapat diprediksikan secara teoretis menggunakan intuisi kimia. Secara intuisi kimia, dengan adanya ikatan hidrogen pada posisi orto dapat diduga bahwa energi pengaktifan benzoilasi posisi orto akan lebih besar dibanding energi pengaktifan benzoilasi posisi para. Data energi pengaktifan dan kestabilan termodinamika dapat digunakan untuk meramalkan produk kinetik dan produk termodinamika yang akan terbentuk. Dengan melihat data hasil perhitungan pada kasus ini, akan dihasilkan produk-produk kinetik dan produk 54
11 termodinamika yang sama yaitu produk benzoilasi posisi para. Karena energi pengaktifan benzoilasi posisi para lebih rendah dibanding posisi orto, pengontrolan kinetik produk orto melalui pengaturan suhu akan menjadi tidak efektif disebabkan produk orto yang dihasilkan cenderung mempunyai energi yang lebih tinggi dibanding produk para. Keadaan produk orto yang memiliki energi tinggi akan mencari penstabilan dengan mencari keadaan yang memiliki energi yang lebih rendah yaitu produk posisi para. Gambar Studi energetika produk benzoilasi dengan metode UHF/6-311G**//MP2-6311G** 4.4 Sintesis senyawa 1,3-diketon Gambar Kemungkian produk 1,3-diketon yang terbentuk (1) senyawa 1,3-diketon yang terbenzoilasi pada posisi para, (2) senyawa 1,3-diketon, (3) senyawa flavonoid terbenzoilasi pada posisi 3, (4) senyawa flavonoid terbenzoilasi pada posisi 3 dan 7 55
12 Dari hasil reaksi resasetofenon dan benzoil klorida dengan bantuan katalis piridin, empat fraksi yaitu fraksi A, B, C, dan D. Tetapi hanya fraksi C yang dilakukan pengukuran pengukuran lebih lanjut. Hasil pengukuran spektrum UV fraksi C, menunjukkan adanya serapan pada daerah 231 nm dan 365 nm. Pada penambahan reagen geser Na terjadi pergeseran batokromik sebesar 10 nm dari 365 nm menjadi 375 nm. Hal ini menunjukkan adanya gugus hidroksi pada fraksi C. Pada penambahan reagen geser AlCl 3 terjadi pergeseran batokromik sebesar 12 nm, ketika ditambahkan reagen geser HCl tidak terjadi perubahan. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam fraksi C mempunyai gugus karbonil dan hidroksi yang berdekatan (Gambar 4. 15). Gambar Spektrum UV fraksi C (a) penambahan reagen geser Na, (b) penambahan reagen geser AlCl 3 dan HCl Pada pengukuran spektrum IR, fraksi C menunjukkan adanya puncak-puncak yang khas yang menandakan adanya gugus fungsi tertentu. Serapan pada bilangan gelombang 3448 cm -1 menunjukkan adanya gugus, serapan pada 3005 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur =C-H aromatik, serapan pada 2922 cm -1 menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H alifatik, serapan pada 1741 cm -1 menunjukkan adanya C=O terkonjugasi, serapan pada 1625 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=0, serapan pada 1589 cm -1 menunjukkan adanya gugus C=C, dan serapan pada 875 cm -1 menunjukkan adanya gugus =C-H aromatik (Gambar 4. 16). 56
13 100 %T Daniel 1 Flavonoid /cm Gambar Spektrum IR fraksi C Spektrum 1 H-NMR fraksi C menunjukkan adanya sinyal-sinyal proton pada daerah aromatik. Sinyal singlet pada daerah geseran kimia δ 15,4 ppm menunjukkan sinyal proton pada gugus terkelasi posisi β, sinyal singlet pada daerah geseran kimia δ 12,3 ppm menunjukkan sinyal proton pada gugus terkelasi pada posisi 2. Untuk sinyal proton cincin aromatik simetri (cincin B) ditunjukkan dengan: sinyal proton pada daerah geser kimia δ 6,2 ppm (2H, d, J=7,35Hz) menunjukkan sinyal proton pada posisi 2, sedangkan sinyal multiplet pada posisi 3, 4 berada pada daerah geseran kimia sekitar 7,5 ppm. Untuk sinyal proton cincin aromatik simetri (cincin C) ditunjukkan dengan: sinyal proton pada daerah geseran kimia δ 7,9 ppm (2H, d, J= 7,35 Hz) menunjukkan sinyal proton posisi 6, sinyal proton pada daerah geseran kimia δ 7,6 ppm (1H, t, J=7,35 Hz & 6,10 Hz) menunjukkan sinyal proton pada posisi 3, sedangkan sinyal proton posisi 4 berada pada daerah geseran kimia δ 7,5 ppm dengan multiplisitas multiplet. Untuk sinyal proton cincin aromatik sistem ABX (cincin A) ditunjukkan dengan: sinyal proton pada daerah geseran kimia δ 7,8 ppm (1H, d, J=9,20 Hz) menunjukkan sinyal proton pada posisi 6, sinyal proton pada daerah geseran kimia δ 6,9 ppm (1H, d, J=2,45 Hz) menunjukkan sinyal proton pada posisi 3, sedangkan sinyal proton pada daerah geseran kimia 6, 8 ppm (1H, dd, J=2,45 Hz & 8,55 Hz) menunjukkan sinyal proton pada posisi 5. Sinyal proton pada daerah geseran kimia δ 6,8 ppm (1H, s) menunjukkan sinyal proton pada posisi β. 57
14 Gambar Spektrum 1 H NMR fraksi C Pada spektrum 13 C-NMR, terdapat sinyal karbon metilen, metin, dan C kuarterner. Sinyal karbon pada daerah geseran kimia δ 181,3 ppm, 177,5 ppm, 164,3 ppm merupakan sinyal karbon karbonil C=O pada posisi 1, β, dan 2. Sinyal karbon pada geseran kimia 163,9 ppm, 156,7 ppm menunjukkan sinyal karbon oksiaril pada posisi 2 dan 4. Sinyal karbon pada geseran kimia 130,2 ppm, 128,6 ppm, 116,9 ppm menunjukkan sinyal karbon pada posisi 1, 1, dan 1. Sinyal karbon pada geseran kimia 128,8 ppm, 128,6 ppm (2C), dan 126,8 ppm menunjukkan sinyal karbon simetri pada posisi 6, 2, dan 5 & 3 yang overlap. Sinyal karbon pada geseran kimia 130,2 ppm, 128,8 ppm, 113,5 ppm, 111,6 ppm, dan 90,2 ppm menunjukkan sinyal karbon pada posisi 4, 4, 6, 5, dan 3. Sedangkan sinyal karbon pada geseran kimia 30,9 ppm menunjukkan sinyal karbon pada posisi α (Gambar 4. 18). 58
15 Gambar Spektrum 13 C-NMR fraksi C 4.5 Peramalan kereaktifan substrat secara komputasi Dari penelusuran literatur, untuk sintesis resasetofenon dapat digunakan pereaksi resorsinol yang direaksikan dengan asetil klorida, anhidrida asetat, dan asam asetat. Untuk mengetahui ketiga sumber gugus asetil tersebut, dapat dilakukan perhitungan untuk meramalkan kereaktifan substrat yang akan digunakan. Hal perhitungan ab initio dengan metode UHF/6-311G**//MP2/6-311G** diperoleh selisih HOMO LUMO resorsinol dengan asetil klorida, anhidrida asetat, dan asam asetat berturut turut: 12,09 ev, 12,44 ev, dan 12,5 ev (Gambar 4. 19). 59
16 Gambar Perhitungan HOMO LUMO dengan metode UHF/6-311G**//MP2/6-311G** Menurut postulat Fukui (Fukui, 1971), dalam reaksi kimia, penstabilan keadaan transisi berhubungan dengan tingkat energi HOMO LUMO antara pereaksi yang satu dengan pereaksi yang lain. Jika selisih HOMO dan LUMO nya relatif rendah maka reaksi akan cenderung lebih mudah berlangsung karena reaksi tersebut akan memiliki energi pengaktifan yang relatif rendah. Sebaliknya jika selisih energi HOMO LUMO nya relatif tinggi maka reaksi akan cenderung berlangsung lebih sukar karena reaksi tersebut akan memiliki energi pengaktifan yang relatif tinggi. Dengan demikian, data perhitungan energi HOMO LUMO dapat digunakan lebih lanjut untuk peramalan kereaktifan dan efektifitas katalisis. Dari data perhitungan terlihat bahwa kereaktifan asetil klorida lebih baik dibanding anhidrida asetat dan asam asetat, sedangkan kereaktifan anhidrida asam asetat akan lebih baik dibanding kereaktifan asam asetat. Hasil perhitungan ini ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan karena peramalan ini bersesuaian dengan pengamatan empiris. 4.6 Peramalan mekanisme reaksi resasetofenon Pada penelitian ini dilakukan juga peramalan mekanisme reaksi pembentukan resasetofenon dari resorsinol. Pada peramalan ini, penulis mengajukan tujuh jalur mekanisme. Peramalan mekanisme ini, dilakukan menggunakan perhitungan ab initio dengan metode UHF/6-311G**//MP2/6-311G** (Gambar 4. 20). 60
17 Dari hasil perhitungan, diperoleh bahwa jalur 5 merupakan jalur yang paling mungkin yang diusulkan penulis. Hasil perhitungan jalur ini memiliki energi pengaktifan sebesar 17,09 kj/mol yang merupakan jalur dengan energi pengaktifan paling kecil, sehingga dapat diusulkan jalur ini merupakan jalur paling mungkin dalam pembentukan resasetofenon. Tabel 4. 1 Hasil Perhitungan Energi Pengaktifan Jalur Mekanisme No Jalur H (kj/mol) Ket. No Jalur H (kj/mol) Ket. 1 TS_TanpaKatalis 291, Jalur 7_K1 98, Jalur 2_K1_2 236, Jalur 4_8_K Jalur 2_K2_2 229, TS_DA_K2_2 216, Jalur 3_K1 1003, TS_DA_K3_2 202, Jalur 3_K2 1003, TS_DA_K4_1 230, Jalur 4_K7 68, TS_DA_K4_2 216, Jalur 5_K3_2 17, TS_DA_K5_1 270, Menuju 16 Jalur 6_K1 17, Jalur5 TS_DA_K6_2 206, K singkatan dari kemungkinan, DA singkatan dari dengan asetil klorida 61
18 Gambar Kemungkinan mekanisme yang diusulkan Nomor 1 sampai 7 menunjukkan kemungkinan jalur reaksi yang ditempuh Struktur keadaan transisi transisi jalur 5 berupa kompleks kelat antara Zn dengan kedua atom O dari asam asetat. Adapun struktur keadaan transisi resasetofenon adalah sebagai berikut. Gambar Struktur keadaan transisi jalur 5 62
19 Adapun usulan mekanisme jalur 5 yang diusulkan penulis adalah sebagai berikut (Gambar 4. 22). Cl HO H 3 C O O H Zn Cl HO O Cl Zn Cl ** H H H 3 C keadaan transisi 1 ** * HO + - O Cl Zn Cl HO + - O Cl Zn Cl H H 3 C H H 3 C keadaan transisi 2 intermediet HO CH 3 O Gambar Mekanisme reaksi resasetofenon yang diusulkan Daniel 63
4 PEMBAHASAN. (-)-epikatekin (5, 7, 3, 4 -tetrahidroksiflavan-3-ol) (73). Penentuan struktur senyawa tersebut
4 PEMBAHASAN Penelitian yang telah dilakukan terhadap fraksi non-alkaloid kulit batang Litsea javanica, berhasil mengisolasi 4 senyawa, satu diantaranya adalah senyawa murni yaitu (-)-epikatekin (5, 7,
BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Artonin E (36)
BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Artonin E (36) Artonin E (36) diperoleh berupa padatan yang berwarna kuning dengan titik leleh 242-245 o C. Artonin E (36) merupakan komponen utama senyawa metabolit sekunder yang
san dengan tersebut (a) (b) (b) dalam metanol + NaOH
4 Hasil dan Pembaha san Pada penelitian mengenai kandungan metabolitt sekunder dari kulit batang Intsia bijuga telah berhasil diisolasi tiga buah senyawaa turunan flavonoid yaitu aromadendrin (26), luteolin
4 Pembahasan Artokarpin (35)
4 Pembahasan Pada penelitian yang dilakukan terhadap kayu akar tumbuhan Kelewih (A. communis) telah berhasil diisolasi dua senyawa turunan flavonoid, yaitu artokarpin (35), dan kudraflavon C (77). Kedua
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan terhadap kayu akar dari Artocarpus elasticus telah berhasil mengisolasi dua senyawa flavon terprenilasi yaitu artokarpin (8) dan sikloartokarpin (13). Penentuan
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini tiga metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dari kulit akar A. rotunda (Hout) Panzer. Ketiga senyawa tersebut diidentifikasi sebagai artoindonesianin L (35),
HASIL. Tabel 1 Rendemen sintesis resasetofenon metode Cooper et al. (1955) Sintesis 1,3-Diketon
3 Sintesis 1,3-Diketon Kira-kira 1 mmol dibenzoil resasetofenon dilarutkan dengan 4 ml piridina lalu dipanaskan hingga mencapai suhu 50 C. Sementara itu, sekitar 3 mmol KOH 85% digerus dalam mortar yang
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Uji pendahuluan Uji pendahuluan terhadap daun Artocarpus champeden secara kualitatif dilakukan dengan teknik kromatografi lapis tipis dengan menggunakan beberapa variasi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Determinasi Tumbuhan Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Bandung untuk mengetahui dan memastikan famili dan spesies tumbuhan
Senyawa 1 C7H8O2 Spektrum IR senyawa C7H8O2. Spektrum 13 C NMR senyawa C7H8O2
Senyawa 1 C7H8O2 Spektrum IR senyawa C7H8O2 Spektrum 1 H NMR senyawa C7H8O2 Spektrum 13 C NMR senyawa C7H8O2 Jawaban : Harga DBE = ½ (2C + 2 - H - X + N) = ½ (2.7 + 2-8 - 0 + 0) = ½ (16-8) = 4 Data spektrum
4 Pembahasan. 4.1 Senyawa Asam p-hidroksi Benzoat (58)
4 Pembahasan Pada penelitian ini tiga senyawa metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dari dan Desmodium triquetrum Linn. Senyawa tersebut antara lain asam p-hidroksi benzoat (58) dan kaempferol (33),
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV.l. Hasil IV.Ll. Hasil Sintesis No Nama Senyawa 1. 2'-hidroksi calkon 0 Rendemen (%) Titik Leleh Rf Spektrum 43 86-87 0,44 (eterheksana Spektrum UV A^fjnm (A): 314,4; 221,8;
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis C-3,7-dimetil-7-hidroksiheptilkaliks[4]resorsinarena
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sintesis C-3,7-dimetil-7-hidroksiheptilkaliks[4]resorsinarena Pada penelitian ini telah disintesis C-3,7-dimetil-7- hidroksiheptilkaliks[4]resorsinarena (CDHHK4R) dari
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi Senyawa Fenolik Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar tumbuhan kenangkan yang diperoleh dari Desa Keputran Sukoharjo Kabupaten
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1. Uji fitokimia daun tumbulian Tabernaenwntana sphaerocarpa Bl Berdasarkan hasil uji fitokimia, tumbuhan Tabemaemontana sphaerocarpa Bl mengandung senyawa dari
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Hasil pemisahan ekstrak n-heksana dengan kromatografi kolom Tujuh gram ekstrak n-heksana dipisahkan dengan kromatografi kolom, diperoleh 16 fi-aksi. Hasil
ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris
BAB IV ASIL DAN PEMBAASAN 4.1. Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris Serbuk daun (10 g) diekstraksi dengan amonia pekat selama 2 jam pada suhu kamar kemudian dipartisi dengan diklorometan.
Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)
23 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Penyiapan Sampel Kualitas minyak kastor yang digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan reaksi transesterifikasi. Parameter kualitas minyak kastor yang dapat menjadi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis. Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penyulingan atau destilasi dari tanaman Cinnamomum
Penentuan struktur senyawa organik
Penentuan struktur senyawa organik Tujuan Umum: memahami metoda penentuan struktur senyawa organik moderen, yaitu dengan metoda spektroskopi Tujuan Umum: mampu membaca dan menginterpretasikan data spektrum
I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Pemisahan dengan VLC Hasil pemisahaan dengan VLC menggimakan eluen heksan 100% sampai diklorometan : metanol (50 : 50) didiperoleh 11 fraksi. Pengujian KLT
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin dan Kitosan Isolasi kitin dan kitosan yang dilakukan pada penelitian ini mengikuti metode isolasi kitin dan kitosan dari kulit udang yaitu meliputi tahap deproteinasi,
Penataan Ulang Beckmann
Penataan Ulang Beckmann Penulis: Cyntia Stiani Anggraini 10512081; K-01; Kelompok VI [email protected] Abstrak Di dalam laporan ini dibahas mengenai reaksi yang melibatkan penataan ulang Beckmann,
Noda tidak naik Minyak 35 - Noda tidak naik Minyak 39 - Noda tidak naik Minyak 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Hasil uji pendahuluan Setelah dilakukan uji kandungan kimia, diperoleh hasil bahwa tumbuhan Tabemaemontana sphaerocarpa positif mengandung senyawa alkaloid,
HASIL DAN PEMBAHASAN
21 ASIL DA PEMBAASA ilai e-docking dan Log P Senyawa Analog UK-3A E-docking program ArgusLab 4,0 digunakan untuk melihat kesesuaian antara senyawa aktif (ligan) dengan reseptor (protein/ligan) secara in
HASIL. Sintesis 1,3-Diketon. Sintesis Fenil Asetat. Sintesis o-benzoiloksiasetofenon
NaH 5% terhadap fase MTC. Garam o-hap akan terbawa ke fase air dan diasamkan dengan HCl 5% (ph diperiksa dengan indikator universal) lalu diekstraksi dengan MTC sampai seluruh o-hap terambil (dipantau
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel Temulawak Terpilih Pada penelitian ini sampel yang digunakan terdiri atas empat jenis sampel, yang dibedakan berdasarkan lokasi tanam dan nomor harapan. Lokasi tanam terdiri
Bab IV Pembahasan. Gambar IV 1 alat pirolisator sederhana
Bab IV Pembahasan IV.1 Rancangan alat Asap cair dari tempurung kelapa dibuat dengan teknik pirolisis, yaitu dekomposisi secara kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau
SINTESIS (E)-3-(4-HIDROKSIFENIL)-1-(NAFTALEN-1-IL)PROP-2-EN-1-ON DARI ASETILNAFTALEN DAN 4-HIDROKSIBENZALDEHID. R. E. Putri 1, A.
SINTESIS (E)-3-(4-HIDROKSIFENIL)-1-(NAFTALEN-1-IL)PROP-2-EN-1-ON DARI ASETILNAFTALEN DAN 4-HIDROKSIBENZALDEHID R. E. Putri 1, A. Zamri 2, Jasril 2 1 Mahasiswa Program S1 Kimia FMIPA-UR 2 Bidang Kimia Organik
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Mensintesis Senyawa rganotimah Sebanyak 50 mmol atau 2 ekivalen senyawa maltol, C 6 H 6 3 (Mr=126) ditambahkan dalam 50 mmol atau 2 ekivalen larutan natrium hidroksida,
Spektroskopi IR Dalam Penentuan Struktur Molekul Organik Posted by ferry
Spektroskopi IR Dalam Penentuan Struktur Molekul Organik 08.30 Posted by ferry Spektrofotometri inframerah lebih banyak digunakan untuk identifikasi suatu senyawa melalui gugus fungsinya. Untuk keperluan
KIMIA. Sesi. Benzena A. STRUKTUR DAN SIFAT BENZENA. Benzena merupakan senyawa hidrokarbon dengan rumus molekul C 6 H 6
KIMIA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 18 Sesi NGAN Benzena Benzena merupakan senyawa hidrokarbon dengan rumus molekul C 6 H 6 dengan struktur berbentuk cincin (siklik) segienam beraturan. Struktur kimia
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat-alat 1. Alat Destilasi 2. Batang Pengaduk 3. Beaker Glass Pyrex 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Corong Kaca 7. Corong Pisah 500 ml Pyrex 8. Ekstraktor 5000 ml Schoot/ Duran
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O telah diperoleh dari reaksi larutan kalsium asetat dengan
PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013
1 PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P00147 Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 13 2, bis(4 HIDROKSI KLORO 3 METOKSI BENZILIDIN)SIKLOPENTANON DAN 2, bis(4 HIDROKSI 3 KLOROBENZILIDIN)SIKLOPENTANON
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Metoda Sintesis Membran Kitosan Sulfat Secara Konvensional dan dengan Gelombang Mikro (Microwave) Penelitian sebelumnya mengenai sintesis organik [13] menunjukkan bahwa jalur
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Fraksinasi Sampel buah mahkota dewa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari kebun percobaan Pusat Studi Biofarmaka, Institut Pertanian Bogor dalam bentuk
SPEKTROSKOPI RESONANSI MAGNET INTI (NMR = NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)
SPEKTROSKOPI RESONANSI MAGNET INTI (NMR = NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE) Spektrum inframerah suatu senyawa memberikan gambaran mengenai gugus fungsional dalam sebuah molekul organik. Spektroskopi resonansi
SINTESIS 3-BENZOIL-7-HIDROKSIFLAVON DARI RESORSINOL DWI ARTHA SOLOVKY
SINTESIS 3-BENZOIL-7-HIDROKSIFLAVON DARI RESORSINOL DWI ARTHA SOLOVKY DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin
Laporan Praktikum Senyawa Organik Polifungsi KI2251 1 Kondensasi Benzoin Benzaldehid: Rute Menujuu Sintesis Obat Antiepileptik Dilantin Antika Anggraeni Kelas 01; Subkelas I; Kelompok C; Nurrahmi Handayani
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. NaOH dalam metanol dengan waktu refluks 1 jam pada suhu 60 C, diperoleh
37 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sintesis Senyawa Difeniltimah(IV) oksida Hasil sintesis senyawa difeniltimah(iv) oksida [(C 6 H 5 ) 2 SnO] menggunakan senyawa awal difeniltimah(iv) diklorida [(C 6 H 5 )
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Matahari adalah sumber energi yang sangat besar dan tidak akan pernah habis. Energi sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren (PS) Pada proses sintesis ini, benzoil peroksida berperan sebagai suatu inisiator pada proses polimerisasi, sedangkan stiren berperan sebagai monomer yang
Hasil dan Pembahasan
Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polimer Benzilkitosan Somorin (1978), pernah melakukan sintesis polimer benzilkitin tanpa pemanasan. Agen pembenzilasi yang digunakan adalah benzilklorida. Adapun
4. Hasil dan Pembahasan
4. asil dan Pembahasan 4.1 Analisis asil Sintesis Pada penelitian ini aldehida didintesis dengan metode reduksi asam karboksilat menggunakan reduktor ab 4 / 2 dalam TF. 4.1.1 Sintesis istidinal dan Fenilalaninal
KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS)
KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS) 1.PENDAHULUAN 2.KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI 3.SPEKTROSKOPI UV-VIS 4.SPEKTROSKOPI IR 5.SPEKTROSKOPI 1 H-NMR 6.SPEKTROSKOPI 13 C-NMR 7.SPEKTROSKOPI MS 8.ELUSIDASI STRUKTUR Teknik
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan Asap Cair Asap cair dari kecubung dibuat dengan teknik pirolisis, yaitu dekomposisi secara kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen
Transformasi Gugus Fungsi Senyawa Baekeol Sebagai Model Pembelajaran Kimia di Sekolah Menengah Atas
Transformasi Gugus Fungsi Senyawa Baekeol Sebagai Model Pembelajaran Kimia di Sekolah Menengah Atas Tati Rosmiati 1,a), Lia Dewi Juliawaty 2,b) dan Anita Alni 3,c) 1 SMA Negeri 3 Cimahi, Jl. Pasantren
III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK
Senyawa Fenolik pada Sayuran Indigenous III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK A. Kerangka Fenolik Senyawa fenolik, seperti telah dijelaskan pada Bab I, memiliki sekurang kurangnya satu gugus fenol. Gugus fenol
SINTESIS SENYAWA METIL β-(p-hidroksifenil)akrilat DARI ASAM β- (p-hidroksifenil)akrilat DAN METANOL MENGGUNAKAN METODE DEAN STARK TRAP
SINTESIS SENYAWA METIL β-(p-hidroksifenil)akrilat DARI ASAM β- (p-hidroksifenil)akrilat DAN METANOL MENGGUNAKAN METODE DEAN STARK TRAP Herlina Rasyid 1, Firdaus, Nunuk Hariani S. Jurusan Kmia, Fakultas
SINTESIS SENYAWA METOKSIFLAVON MELALUI SIKLISASI OKSIDATIF HIDROKSIMETOKSIKALKON
SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA V Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan Bangsa yang Berkarakter Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 6 April 2013
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asam karboksilat adalah salah satu grup senyawa organik oleh grup karboksil yang berasal dari dua kata yaitu karbonil dan hidroksil. Pada umumnya formula dari asam
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistirena Polistirena disintesis melalui polimerisasi adisi radikal bebas dari monomer stirena dan benzoil peroksida (BP) sebagai inisiator. Polimerisasi dilakukan
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Tahap Sintesis Biodiesel Pada tahap sintesis biodiesel, telah dibuat biodiesel dari minyak sawit, melalui reaksi transesterifikasi. Jenis alkohol yang digunakan adalah metanol,
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Analisis Sintesis PS dan Kopolimer PS-PHB Sintesis polistiren dan kopolimernya dengan polihidroksibutirat pada berbagai komposisi dilakukan dengan teknik polimerisasi radikal
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan Serbuk Dispersi Padat Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan dihasilkan serbuk putih dengan tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Semakin
Sintesis Senyawa Metil β-(p-hidroksifenil)akrilat dari Asam β-(p- Hidroksifenil)akrilat dan Metanol Menggunakan Metode Dean Stark Trap
Sintesis Senyawa Metil β-(p-hidroksifenil)akrilat dari Asam β-(p- Hidroksifenil)akrilat dan Metanol Menggunakan Metode Dean Stark Trap Herlina Rasyid, Firdaus, dan Nunuk Hariani S. Jurusan Kmia, Fakultas
4 Hasil dan Pembahasan
4 asil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Sintesis polistiren dilakukan dalam reaktor polimerisasi dengan suasana vakum. al ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kontak dengan udara karena stiren
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Ligan H AdBP dan H SbBP Pada penelitian ini dilakukan sintesis senyawa H AdBP dan H SbBP berdasarkan metode Jensen yang telah dimodifikasi. CH 3 1 H H H 3 CH 3 -H H
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L etanol, diperoleh ekstrak
Mesomeri Jurnal Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan
N-METIL LAUROTETANIN DAN BOLDIN, DUA SENYAWA TURUNAN ALKALOID APORFIN DARI Cryptocarya tawaensis Merr (Lauraceae) Fera Kurniadewi a, Yana M. Syah b, Lia D. Juliawaty b dan Euis H. Hakim b a Jurusan Kimia,
AROMATISITAS (Aromaticity)
AROMATISITAS (Aromaticity) diharapkan fenomena dan konsep aromatisitas bisa dipahami. Pamahaman ini diperlukan untuk bisa mengerti sifat kimia dan fisika kelompok senyawa kimia ini yang sangat banyak digunakan
Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi
Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai
I. KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI
I. KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI Pendahuluan Spektroskopi adalah studi mengenai antaraksi cahaya dengan atom dan molekul. Radiasi cahaya atau elektromagnet dapat dianggap menyerupai gelombang. Beberapa sifat
OPTIMASI WAKTU REAKSI SINTESIS SENYAWA BENZILIDENSIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALISATOR NATRIUM HIDROKSIDA
OPTIMASI WAKTU REAKSI SINTESIS SENYAWA BENZILIDENSIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALISATOR NATRIUM HIDROKSIDA OPTIMIZATION FOR REACTION TIME OF BENZYLIDENECYCLOHEXANONE S COMPOUND SYNTHESIS USING SODIUM HYDROXIDE
Isolasi Senyawa Artonin E dari Ekstrak Kulit Akar Artocarpus elasticus
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) C-61 Isolasi Senyawa Artonin E dari Ekstrak Kulit Akar Artocarpus elasticus Lita Amalia dan Taslim Ersam Jurusan Kimia, Fakultas
HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa Roxb.) menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran
5007 Reaksi ftalat anhidrida dengan resorsinol menjadi fluorescein
57 Reaksi ftalat anhidrida dengan resorsinol menjadi fluorescein CH H H + 2 + 2 H 2 H C 8 H 4 3 C 6 H 6 2 C 2 H 12 5 (148.1) (11.1) (332.3) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Reaksi pada gugus
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Poliuretan Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis poliuretan dengan menggunakan monomer diisosianat yang berasal dari toluena diisosianat (TDI) dan monomer
BAB I PENDAHULUAN. tersebar luas di alam. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas di alam. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis PSDVB-PAR Senyawa 4-(2 Piridilazo) Resorsinol merupakan senyawa yang telah lazim digunakan sebagai indikator logam pada analisis kimia karena kemampuannya membentuk
4026 Sintesis 2-kloro-2-metilpropana (tert-butil klorida) dari tert-butanol
4026 Sintesis 2-kloro-2-metilpropana (tert-butil klorida) dari tert-butanol OH + HCl Cl + H 2 O C 4 H 10 O C 4 H 9 Cl (74.1) (36.5) (92.6) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Substitusi nukleofilik
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT Pengantar Gugus fungsi dari asam karboksilat terdiri atas ikatan C=O dengan OH pada karbon yang sama. Gugus karboksil biasanya ditulis -COOH. Asam alifatik memiliki gugus alkil
Isolasi Senyawa Artobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) C-75 Isolasi Senyawa Artobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus Amalia Zafitri dan Taslim Ersam Jurusan Kimia, Fakultas
4 Hasil dan pembahasan
4 Hasil dan pembahasan 4.1 Sintesis dan Pemurnian Polistiren Pada percobaan ini, polistiren dihasilkan dari polimerisasi adisi melalui reaksi radikal dengan inisiator benzoil peroksida (BPO). Sintesis
HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Sebanyak 5 kg buah segar tanaman andaliman asal Medan diperoleh dari Pasar Senen, Jakarta. Hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian
SINTESIS SENYAWA KALKON TURUNAN 3,4 -DIMETOKSI ASETOFENON DAN UJI TOKSISITAS MENGGUNAKAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)
SINTESIS SENYAWA KALKN TURUNAN 3,4 -DIMETKSI ASETFENN DAN UJI TKSISITAS MENGGUNAKAN METDE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT) W.P.Hastiningrum 1, Y.Eryanti 2 & A.Zamri 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Kimia
Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia
OPTIMASI SINTESIS SENYAWA BENZILIDENSIKLOHEKSANON MELALUI VARIASI KONSENTRASI NATRIUM HIDROKSIDA Winarni, Sri Handayani, C. Budimarwanti dan Winarto Haryadi Universitas Negeri Yogyakarta, [email protected],
HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak
15 HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Penentuan kadar air berguna untuk mengidentifikasi kandungan air pada sampel sebagai persen bahan keringnya. Selain itu penentuan kadar air berfungsi untuk mengetahui
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyiapan Sampel Sampel daging buah sirsak (Anonna Muricata Linn) yang diambil didesa Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, terlebih
Gambar 1.1 Struktur khalkon
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Senyawa khalkon (C 15 H 12 O) atau benziliena asetofenon atau E-1,3- difenilprop-2-en-1-on, merupakan senyawa golongan flavonoid yang ditemukan dalam tanaman
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada awal penelitian dilakukan determinasi tanaman yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tanaman yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan
REAKSI PENATAAN ULANG. perpindahan (migrasi) tersebut adalah dari suatu atom ke atom yang lain yang
EAKSI PENATAAN ULANG eaksi penataan ulang adalah reaksi penataan kembali struktur molekul untuk membentuk struktur molekul yang baru yang berbeda dengan struktur molekul yang semula. eaksi ini dapat terjadi
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren Sintesis polistiren yang diinginkan pada penelitian ini adalah polistiren yang memiliki derajat polimerisasi (DPn) sebesar 500. Derajat polimerisasi ini
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari
PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1.
PEMBAHASAN Pengaruh Pencucian, Delignifikasi, dan Aktivasi Ampas tebu mengandung tiga senyawa kimia utama, yaitu selulosa, lignin, dan hemiselulosa. Menurut Samsuri et al. (2007), ampas tebu mengandung
DR. Harrizul Rivai, M.S. Lektor Kepala Kimia Analitik Fakultas Farmasi Universitas Andalas. 28/03/2013 Harrizul Rivai
DR. Harrizul Rivai, M.S. Lektor Kepala Kimia Analitik Fakultas Farmasi Universitas Andalas 28/03/2013 Harrizul Rivai 1 Penggunaan Spektrofotometri UV-Vis Analisis Kualitatif Analisis Kuantitatif 28/03/2013
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis.
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi TiO2 Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis. TiO2 dapat ditemukan sebagai rutile dan anatase yang mempunyai fotoreaktivitas
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengukuran bilangan peroksida sampel minyak kelapa sawit dan minyak kelapa yang telah dipanaskan dalam oven dan diukur pada selang waktu tertentu sampai 96 jam
5012 Sintesis asetilsalisilat (aspirin) dari asam salisilat dan asetat anhidrida
NP 5012 Sintesis asetilsalisilat (aspirin) dari asam salisilat dan asetat anhidrida CH CH + H H 2 S 4 + CH 3 CH C 4 H 6 3 C 7 H 6 3 C 9 H 8 4 C 2 H 4 2 (120.1) (138.1) (98.1) (180.2) (60.1) Klasifikasi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Sintesis 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il) propenon
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sintesis -(,5-dihidroksifenil)-(-piridin--il) propenon Senyawa -(,5-dihidroksifenil)-(-piridin--il) propenon disintesis dengan cara mencampurkan senyawa,5-dihidroksiasetofenon,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Ekstraksi sampel daun tumbuhan pacar jawa {Lawsonia inermis Lin) Sebanyak 250 g serbuk daun Pacar jawa, pertama-tama di ekstrak dengan n- heksan, diperoleh ekslrak
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini telah disintesis tiga cairan ionik
BAB IV HASIL DA PEMBAHASA Pada penelitian ini telah disintesis tiga cairan ionik berbasis garam benzotriazolium yaitu 1,3-metil oktadesil-1,2,3-benzotriazolium bromida 1, 1,3- metil heksadesil-1,2,3-benzotriazolium
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebanyak 400 gram sampel halus daun jamblang (Syzygium cumini)
4.1 Ektraksi dan Fraksinasi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sebanyak 400 gram sampel halus daun jamblang (Syzygium cumini) dimaserasi dengan pelarut metanol selama 4 24 jam, dimana setiap 24 jam
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,
D. 2 dan 3 E. 2 dan 5
1. Pada suhu dan tekanan sama, 40 ml P 2 tepat habis bereaksi dengan 100 ml, Q 2 menghasilkan 40 ml gas PxOy. Harga x dan y adalah... A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 5 Kunci : E D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 Persamaan
Penataan Ulang Beckmann
Penataan Ulang Beckmann [Rizki Maulana Arief] [10512029; 01; 02] [email protected] Abstrak Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatik yang digolongkan sebagai amida primer,
