KONTRIBUSI ERGONOMI UNTUK RANCANGAN PERAKITAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KONTRIBUSI ERGONOMI UNTUK RANCANGAN PERAKITAN"

Transkripsi

1 JURNAL TEKNOLOGI INDUSTRI, 1999, VOL. III, NO. 1, Hal ISSN KONTRIBUSI ERGONOMI UNTUK RANCANGAN PERAKITAN Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP INTISARI Persoalan umum yang sering dihadapi dalam suatu sistem perakitan manual adalah bagaimana meningkatkan kinerja dari sistem tersebut. Peningkatan kinerja tersebut harus tetap dalam batas-batas operator dapat bekerja dalam kondisi nyaman.untuk merancang sistem perakitan suatu produk, tidak bisa terlepas dari sistem perancangan dari produk itu sendiri. Dasar pemikiran yang telah dikembangkan oleh Boothroyd dan Dewhrust tentang minimum jumlah part atau komponen adalah merupakan konsep yang terbaik saat ini untuk digunakan sebagai suatu dasar dalam perancangan produk yang pengaruhnya secara positif berlanjut pada rancangan sistem perakitan (assembly) dan manufakturnya. Hasil evaluasi terhadap sistem rancangan produk yang dikembangkan oleh Boothroyd dan Dewhrust ini adalah efisiensi yang terjadi setelah perbaikan atau modifikasi produk melalui pengurangan jumlah part yang seminimum mungkin dibandingkan efisiensi sebelum modifikasi dilakukan. Perbaikan sistem perakitan steker menghasilkan pengurangan komponen yang semula 5 komponen menjadi 2 komponen dengan perbaikan efisiensi perancangan dari 0.36 menjadi PENDAHULUAN Rancangan perakitan ( Design For Assembly / DFA) adalah suatu rancangan perakitan bagi produk manufaktur untuk tercapainya efisiensi yang tinggi bagi sistem perakitan atau suatu peningkatan produktivitas di bagian perakitan (shop floor). Dengan harapan untuk meminimumkan biaya operasi yang terjadi agar produk bisa lebih kompetitif dalam pasaran. Rancangan perakitan ini bisa berdasarkan pada sistem perakitan manual ataupun otomasi tergantung dari pada investasi maupun pengembangan perencanaan dari sistem produksinya / manufakturnya. Untuk merancang sistem perakitan suatu produk, tidak bisa terlepas dari sistem rancangan dari produk itu sendiri, dimana fungsi dan bagian-bagian dari produk itu mempunyai konsep yang jelas dalam hal keberadaannya (existing). Dasar pemikiran yang telah dikembangkan oleh Boothroyd dan Dewhrust tentang minimum jumlah part atau komponen adalah merupakan konsep yang terbaik saat ini untuk digunakan sebagai suatu dasar dalam perancangan produk yang pengaruhnya secara positif berlanjut pada rancangan sistem perakitan (assembly) dan manufakturnya. Hasil evaluasi terhadap sistem rancangan produk yang dikembangkan oleh Boothroyd dan Dewhrust ini adalah efisiensi yang terjadi setelah perbaikan atau modifikasi produk melalui pengurangan jumlah part yang seminimum mungkin dibandingkan efisiensi sebelum modifikasi dilakukan. Oleh karena itu Helander menyatakan bahwa kelemahan dari metoda Boothroyd dan Dewhrust ini adalah hanya dapat dilakukan jika produk telah ada (existed) sebelumnya. Dan sulit dilakukan evaluasinya jika produk adalah baru sama sekali atau merupakan rancangan awal produk. Untuk itu Helander menyarankan ergonomi sebagai metode pendekatan dalam rancangan awal tersebut. Terlepas dari kedua konsep tersebut di atas, evaluasi yang ada tetap ditujukan pada manusianya (operatornya) ataupun robotnya (jika sistem adalah otomasi) dalam membentuk tugas-tugas kerjanya secepat mungkin dan seteliti mungkin. Sehingga efisiensi didasarkan pada waktu proses interaksi antara manusia (robot) dan produk.

2 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 48 Dari contoh pengalaman yang diberikan oleh Helander dari pabrik produk mesin fotocopy pada perusahaan IBM di Boca Raton, Florida, yang telah berhasil merancang ulang produk dengan hasil pengurangn jumlah komponen dari 27 menjadi 14 komponen, disebutkan bahwa ke 14 komponen hasil ulang rancangan tersebut dirancang untuk pemakaian sistem otomasi atau robot. Ke empat belas komponen tersebut membutuhkan persyaratan gerakan pemasangan masuk (insertion) komponen yang rumit namun bisa dilakukan secara manual. Dari hasil ulang rancangan ini, maka mekanisme perakitan untuk cara manual dan otomasi menjadi lebih sederhana dan mudah. Dan ketika manual menjadi pertimbangan utama, maka biaya yang terjadi adalah sangat murah. Pengurangan dan penyederhanaan komponen-komponen ini didasarkan pada pengenalan fungsi komponen dan penyederhanaan gerakan sehingga operator atau manusia menjadi mudah dalam melakukan tugasnya dan dasar pemikiran ini sebetulnya bertujuan juga untuk mempermudah robot dalam melakukan tugasnya (penyederhanaan proses keputusan, aksi dan kendali). Jadi dalam hal ini keterbatasan kemampuan manusia di jadikan obyek perancangan dalam merancang produk untuk tercapainya efisiensi dalam sistem kerja. 2. RANCANGAN UNTUK PERAKITAN (Design For Assembly / DFA) Rancangan untuk perakitan (design for assembly /DFA) adalah bagian dari sistem rancangan untuk manufaktur (design for manufacturing /DFM). Perakitan (assembly) memegang peranan penting dalam suatu proses manufaktur suatu produk. Dalam perakitan semua komponen datang bersama dan semua kesalahan ataupun kekurangan yang ditimbulkan pada awal proses menjadi tampak. Misalnya, jika rancangan tidak baik maka dalam perakitan terjadi kesulitan, apalagi jika ditambah adanya kesalahan toleransi, maka komponen/part tidak dapat dirakit dengan baik. Oleh karena itu level performansi dalam perakitan dapat dilihat sebagai indikator yang bagus bagi cara-cara pembuatan produk. Untuk itu juga, dalam pendekatan terhadap rancangan produk dan rancangan proses direkomendasi untuk membentuk analisa DFA sebagai langkah pertama sebelum DFM sebab DFA mempunyai pengaruh yang paling penting pada rancangan ulang produk (lihat gambar 1) Secara umum di kenal tiga macam operasi perakitan: a. Perakitan manual (manual assembly) b. Mesin-mesin perakit khusus (fixed automation) c. Perakit robot (robotic assembly, flexible automation) Dalam hal ini hanya bagian nomor satu, yaitu perakitan manual saja yang selanjutnya akan dibahas mengingat operasi ini melibatkan interaksinya yang besar terhadap manusia atau operator.

3 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 49 Design concept Design for assembly (DFA) Suggestions for simplification of product structure Selection of materials and processes and early cost estimates Suggestion for more economi materials and process Best design concept Design for manufacture (DFM) Detail design for minimum manufacturing cost prototype production Gambar 1 : DFA sebagai langkah awal dalam DFMA (design for manufactur and assembly) teknik. 3. METODA RANCANGAN PERAKITAN MANUAL (DFA) DARI BOOTHROYD- DEWHURST Metoda ini didasarkan pada studi yang mendalam dari operasi perakitan dengan tujuan untuk menentukan parameter operasional yang menyelesaikan atau menjawab pada persoalan biaya dan waktu perakitan. Studi-studi percobaan telah dilakukan untuk mengukur pengaruh dari simetri, ukuran, berat, ketebalan, dan fleksibilitas pada waktu angkat manual. Tambahan percobaan juga dilakukan untuk memperhitungkan pengaruh dari ketebalan pada pemegangan dan manipulasi komponen yang menggunakan penjepit, pengaruh geometri pegas, dan pengaruh dari berat pada waktu pembawaan untuk komponen yang membutuhkan dua tangan bagi pemegangan dan manipulasi. Dengan memperhatikan rancangan komponen bagi kenyamanan pemasukan atau penyisipan secara manual, percobaan dan analisa-analisa teori telah dibuat pada pengaruhnya terhadap rancangan pegangan pada waktu pemasukan manual, rancangan komponen untuk menghindari jamming selama perakitan, pengaruh dari geometri komponen pada waktu pemasukan, dan pengaruh penghalang jalan masuk dan keterbatasan penglihatan pada operasi-operasi perakitan.

4 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 50 Sebagai hasil, suatu klasifikasi dan sistem pengkodean bagi pembawaan(handling) manual, pemasukan atau penyisipan (insertion) dan proses pengikatan (fastening) dihadirkan dalam bentuk suatu sistem standard waktu bagi perancang untuk menggunakanya dalam penghitungan waktu perakitan manual. 4. EFISIENSI PERAKITAN (ASSEMBLY EFFICIENCY) Disini ada 2 faktor utama yang mempengaruhi biaya perakitan dari suatu produk atau sub perakitan, yaitu : jumlah total dari part dalam suatu produk, kenyamanan pembawaan, pemasukan, dan pengikatan rakitan dari produk. Tujuan dari metodologi DFA adalah untuk mencari suatu pengukuran yang mengungkapkan ke dua faktor tersebut diatas. Pengukuran ini disebut efisiensi perakitan (Assembly Efficiency) untuk perakitan manual Ema, Nmin. ta Ema = tma Nmin = minimum teori jumlah komponen ta = waktu dasar perakitan untuk satu komponen, adalah waktu rata-rata komponen yang ada untuk kondisi pembawaan, pemasukan dan pengikatan yang tidak sulit. tma = waktu perakitan perkiraan yang sebenarnya untuk komponen Jadi efisiensi perakitan adalah rasio dari waktu perakitan ideal terhadap waktu perakitan yang sebenarnya. Acuan untuk pengukuran ini diberikan berdasarkan pada jumlah minimum dari komponen, yang menghadirkan suatu situasi yang ideal. Untuk acuan ini Boothroyd-Dewhurst memberikan 3 kriteria yang harus dipenuhi atau dijawab sebelum melakukan pemisahan atau pengurangan komponen/part melalui cara penggabungan, yaitu: 1. Apakah part mempunyai pergerakan relatif terhadap part-part lain yang telah di rakit sebelumnya? 2. Apakah part diharuskan mempunyai jenis material yang berbeda atau harus di isolasikan terhadap part lain yang terakit? 3. Apakah part adalah terpisahkan dari part rakitan yang lain? Jika paling tidak satu dari ke 3 pertanyaan tersebut dijawab ya maka komponen perlu ditetapkan sebagai komponen yang terpisah atau dengan kata lain tidak bisa digabungkan 5. KLASIFIKASI SISTEM UNTUK PEMBAWAAN MANUAL (CLASSIFICATION SYSTEM FOR MANUAL HANDLING): Klasifikasi sistem adalah pengelompokan dari waktu-waktu standard perakitan, dengan kriteria pengelompokan yang mempengaruhi waktu perakitan ini, proses perakitan dibagi menjadi 2 kategori operasi: pembawaan manual (manual handling), dan pemasukan dan pengikatan manual (manual insertion and fastening). Kriteria dari klasifikasi pembawaan manual ini adalah: ukuran, ketebalan, berat, sarangan, kekusutan, mudah pecah, fleksibilitas, kelicinan, kelengketan, kebutuhan penggunaan 2 tangan, kebutuhan penggunaan alat pegang, kebutuhan peralatan optik, kebutuhan bantuan mekanik. Selain kriteria - kriteria itersebut, perlu diperhitungkan pula masalah pengaruh simetrikal komponen pada waktu pembawaan (effect of part symmetry on handling time) yang mempunyai pengaruh sangat penting pada hampir seluruh operasi perakitan.

5 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan PENGARUH SIMETRIS KOMPONEN PADA WAKTU PEMBAWAAN: Pembawaan komponen dalam operasi perakitan berarti memegang (grasp), pindah (move), orientasi (orient) dan penempatan (place) komponen. Satu dari kunci keistimewaan komponen yang berakibat pada waktu bagi pemegangan dan orientasi adalah geometri dan ini menyangkut pertanyaan apakah komponen berupa simetri atau tidak simetri. Oleh karena itu perlu didefinisikan mengenai simetri komponen sebab pada metodologi ini simetri komponen digunakan untuk memilih operasi perakitan yang sesuai. Disini ada 2 jenis simetri dari komponen: 1. Alpha ( α ) Simetri: perputaran simetri part terhadap sumbu yang tegak lurus sumbu pemasukan 2. Beta ( β ) Simetr: adalah perputaran simetri part terhadap sumbu pemasukan sumbu yang tegak lurus sumbu utama sumbu utama (sumbu pemasukan) β rotasi 180 α rotasi 180 Gambar 2 : simetri dari batang persegi Gambar 3: Alpha dan Beta simetri dari macam-macam part 7. KLASIFIKASI SISTEM UNTUK PEMASUKAN DAN PENGIKATAN MANUAL (CLASSIFICATION SYSTEM FOR MANUAL AND FASTENING): Langkah kedua dari operasi perakitan sesudah pembawaan komponen adalah proses pemasukan pemasangan dan pengikatan (pengencangan) yang menitik beratkan pada interaksi antara mempertemukan komponen sebagai kontak mereka dan menggabungkannya. Pemasangan manual dan pengencangan manual terdiri dari variasi tertentu tugas perakitan dasar seperti pasak, baut, las, keling snap, dan lain sebagainya. Keistimewaan rancangan yang berakibat penting terhadap waktu pemasangan dan pengencangan adalah: a. Kemampuan masuk kepada lokasi rakitan b. Kenyamanan operasi dari alat perakitan c. Kemampuan lihat lokasi perakitan d. Kenyamanan pengarahan dan memposisikan selama perakitan e. Kedalaman pemasangan

6 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 52 Pengaruh dari kriteria-kriteria tersebut pada waktu pemasangan adalah begitu komplek tetapi telah diteliti secara mendalam. Hasil dari penelitian dan pengujian terhadap ke 2 pengklasifikasian dan pengaruh dari beberapa aspek terpenting dari metoda ini diberikan pada ke 2 tabel ( tabel 1 dan tabel 2) dibelakang sebagai alat bantu empiris dalam memperhitungkan efisiensi perakitan manual yang diperlukan sebagai evaluasi hasil rancangan ulang produk yang ada sebagai dasar dari rancangan sistem perakitan. 8. ERGONOMI DAN SISTEM KERJA DALAM PERAKITAN Ergonomi atau Human Factors adalah suatu ilmu yang membahas tentang kelebihan dan keterbatasan manusia, dan secara sistematis memanfaatkan informasi-informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga dapat terbentuk produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih baik. Tujuan yang akan dicapai dari ergonomi dalam suatu sistem kerja perakitan adalah membentuk atau meningkatkan sistem kerja yang terdiri dari manusia, pekerjaan, perkakas dan peralatan, tempat kerja dan area kerja yang efisien, nyaman, dan aman dalam perakitan. Beberapa konsep penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, pertama adalah konsep kinerja manusia. Ergonomi berpusat pada manusia, bukan pada peralatan atau fasilitas. Jika manusia tidak terlibat dalam sistem, berarti tidak ada persoalan-persoalan ergonomi. Konsep kedua, bahwa sistem dipusatkan disekeliling manusia. Peralatan itu sendiri penting untuk menunjang kinerja dari manusia yang mengoperasikan atau melakukan proses perakitan. Hal yang sama juga berlaku bagi lingkungan yang ada di dalam sistem kerja tersebut. Konsep yang ketiga adalah definisi dari sistem kerja itu sendiri, yang meliputi batasan deskripsi pekerjaan yang akan dilakukan. Konsep yang keempat adalah adanya peningkatan atau perbaikan. Penggunaan ergonomi diperuntukkan untuk meningkatykan kinerja sistem kerja yang ada disekeliling manusia. Peningkatan bukan sekedar istilah yang abstrak, tetapi lebih mengarah pada konsep pengukuran secara umum. Peningkatan didalam sistem kerja harus dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif. adalah adanya peningkatan atau perbaikan. Penggunaan ergonomi diperuntukkan untuk meningkatkan kinerja sistem kerja yang ada disekeliling manusia. Peningkatan bukan sekedar istilah yang abstrak, tetapi lebih mengarah pada konsep pengukuran secara umum. Peningkatan didalam sistem kerja harus dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam perancangan atau perbaikan sistem kerja adalah prinsip ekonomi gerakan. Dalam makalah ini tidak seluruh prinsip-prinsip ekonomi gerakan akan dibahas. Beberapa yang penting adalah Prinsip-prinsip Ekonomi gerakan dihubungkan dengan Tubuh manusia dan gerakan-gerakannya. Dalam prinsip ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya simetris dan berlawanan arah, Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan memperlambat gerakan tersebut, pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi pekerja. Pekerjaan yang dirancang semudah-mudahnya akan mengurangi waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang baru untuk menguasai pekerjaan tersebut. Selain itu persoalan kognitif yang akan membingungkan pekerja dapat dihilangkan dan efisiensi penggunaan waktu untuk bekerja dapat ditingkatkan. Prinsip dasar yang digunakan dalam Metoda Rancangan Perakitan Manual (DFA) dari Boothroyd-Dewhurst sebenarnya menerapkan konsep dari prinsip-prinsip ekonomi gerakan. Sehingga hasil yang dicapai yaitu peningkatan efisiensi penggunaan waktu untuk pekerja dapat ditingkatkan.

7 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan APLIKASI METODA BOOTHROYD - DEWHURST DAN ANALISIS ERGONOMI Produk yang akan dipergunakan sebagai obyek analisis dalam makalah ini adalah produk Steker. Alasan penggunaan produk ini karena produk ini telah dipergunakan sebagai obyek dalam pelaksanaan analisis ergonomi di Laboratorium Analisis Perancangan Kerja Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dengan harapan kinerja dari proses perakitan yang dilakukan di Laboratorium saat ini dan kinerja dari apklikasi metoda Boothroyd- Dewhurst dapat diperbandingkan. Produk ini di Laboratorium diurai menjadi 5 komponen. Gambar 4 : Komponen Steker Proses perakitan 5 komponen steker yang dilakukan oleh Mahasiswa Program studi teknik Industri di Laboratorium dapat digambarkan melalui Peta tangan Kiri dan tangan Kanan berikut : PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN Sub Acara : Perakitan Steker Nama Pengamat : Yoni Hendra Nama Operator : Paulus Leta Leta Kelompok : C Tanggal Pengamatan : 30 September 1997 TANGAN KIRI TANGA N ELEMEN GERTAKAN 1. Mengambil kaki + merakit 2..Mengambil Rumah II + merakit 3. Mengambil Mur + merakit WAKTU (detik ) JARAK ( cm ) JARAK ( cm ) WAKTU ( detik ) KANAN ELEMEN GERAKAN 2, ,6 1. Mengambil Rumah I + merakit 2, ,2 2. Memegang + merakit 3, ,8 3. Memegang + merakit 4. Memegang + merakit Mengambil Baut + merakit 5. Memegang 0, ,5 5. Mengambil Obeng 6. Memegang 3, ,8 6. Memutar baut 7. Menaruh Steker ke - 0, ,5 7. Meletakkan Obeng Konveyor Total 16,4 detik ,4 detik Ringkasan Waktu Tiap Siklus : 16,4 detik

8 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 54 A. Aplikasi metoda boothroyd dewhurst dalam produk steker adalah sebagai berikut : Prosedur untuk mengaplikasikan metoda ini adalah : Langkah 1 Menyediakan informasi yang lengkap tentang produk atau perakitan yang akan dianalisa. Contoh dari informasi ini adalah gambar komponen penyusun produk/perakitan. Hal ini telah disediakan melalui gambar 4. Langkah 2 Melakukan identifikasi proses perakitan yang dilakukan terhadap komponen-komponen yang digunakan. Hal ini meliputi urutan proses perakitan yang dilaksanakan. Dalam perakitan ini urutan perakitan komponen yang dilaksanakan adalah : 1. Rumah Steker 1 ( Komponen no 5 ) 2. Kaki Steker ( Komponen no 4 ) 3. Rumah Steker 2 ( Komponen no 3 ) 4. Mur ( Komponen no 2 ) 5. Baut ( Komponen no 1 ) Langkah 3 Menyiapkan Lembar kerja perakitan. Lembar kerja ini dipergunakan untuk menentukan waktu operasi perakitan dan mengestimasikan jumlah komponen minimum teoritis melalui lembar kerja perakitan (Tabel 3: Lembar Kerja Perakitan Manual 1). Proses untuk menentukan waktu pembawaan manual per komponen ( Manual Handling Time ) dan waktu pemasukan manual per komponen ( Manual insertion time ) dilakukan dengan bantuan tabel 1 Classification and coding Table for manual handling dan tabel 2 Classification and coding Table for manual insertion. Langkah 4 Mulai merakit ulang produk, dimana perakitan pertama dimulai dari nomor komponen yang terbesar. Hal ini berguna untuk melengkapi data pada lembar kerja perakitan. Setiap baris pada lembar kerja dilengkapi dengan data untuk sebuah komponen. Sebagai contoh, baris pertama dilengkapi data sebagai berikut Kolom 1 : Identifikasi nomor komponen, komponen utama adalah rumah steker 1 dengan nomor komponen "5" Kolom 2 : Operasi ini dilakukan n kali. Dalam contoh ini operasi dilakukan 1 kali. Kolom 3 : Dua digit kode proses pembawaan yang ditentukan dengan bantuan tabel 1, sebagai contoh disini adalah "30" yang artinya nilai α + β = dan komponen mudah untuk dipegang dan dikendalikan dengan karakteristik thickness > 2 mm dan size > 15 mm Kolom 4 : Waktu pembawaan adalah 1.95 detik yang diperoleh dari tabel 1 dengan kode "30"

9 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 55 Kolom 5 : Dua digit kode proses pemasukan yang ditentukan dengan bantuan tabel 2, sebagai contoh disini adalah "00" yang artinya Komponen mudah dijangkau dan tidak terdapat hambatan untuk dimasukkan. Kolom 6 : Waktu pemasukan adalah 1.5 detik yang diperoleh dari tabel 2 dengan kode "00". Kolom 7 : Total waktu operasi dalam detik, yang dihitung dengan menjumlahkan data pada kolom (4) dan kolom (6) kemudian dikalikan dengan data di kolom (2). Kolom 8 : Biaya operasional dalam cents, dimana asumsi biaya operasi per detik adalah 0.4 cents. Sehingga total biaya operasi adalah 0.4 dikalikan dengan data di kolom (7). Kolom 9 : Menentukan jumlah minimum komponen teoritis yang akan dirakit. Estimasi jumlah ini merupakan langkah yang penting dalam menyelesaikan lembar kerja ini. Untuk menentukan jumlah ini, perancang harus menjawab beberapa pertanyaan berikut ini : 1. Selama proses perakitan apakah komponen bergerak relatif terhadap semua komponen yang telah dirakitkan? 2. Apakah komponen harus terbuat dari bahan yang berbeda terhadap komponen yang telah dirakitkan? 3. Apakah komponen harus terpisah dari komponen lainnya yang telah dirakit, karena jika tidak proses perakitan komponen lainnya tidak akan bisa dilaksanakan? Jika jawaban dari salah satu pertanyaan di atas adalah ya, maka nilai " 1" diletakkan pada kolom (9) Dalam contoh ini Rumah steker 1 merupakan komponen utama sehingga harus dipisahkan terhadap komponen yang lainnya. Langkah 5 : Menghitung jumlah total data pada kolom (7), (8), dan kolom (9). Langkah 6 : Menghitung Efisiensi perancangan manual = 3 x NM/TM Angka 3 dalam persamaan ini menunjukkan waktu 3 detik, yaitu asumsi waktu yang ideal untuk merakit sebuah komponen. Konsep ideal disini adalah komponen mudah dalam proses pembawaan, pemasukan dan pengencangngan dengan menggunakan snap-fit. Dari hasil lembar kerja yang telah diperoleh, ternyata efisiensi perancangan manual adalah Nilai efisiensi yang relatif kecil ini menunjukkan bahwa waktu operasi yang terjadi relatif lebih besar dari waktu operasi idealnya. Untuk meningkatkan efisiensi ini perlu dilakukan perancangan ulang.

10 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 56 B. Prosedur untuk Perancangan Ulang. Untuk melaksanakan perancangan ulang ini perlu diperhatikan beberapa informasi berikut : 1. Kriteria bahwa komponen harus dipisahkan dari komponen lainnya dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengurangi jumlah komponen yang ada. Tentu hal ini harus memperhatikan nilai ekonomi dan kendala pabrikasi yang ada. 2. Lingkup wilayah yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan proses pembawaan dan perakitan dapat dilihat melalui kolom (4) dan kolom (6). Waktu proses yang besar dapat dipertimbangkan untuk diperbaiki. Berdasarkan informasi di atas, maka prosedur untuk melakukan perancangan ulang adalah sebagai berikut: Langkah 1 : Memperhatikan data pada kolom (9). Jika data pada kolom (9) lebih kecil dari data pada kolom (2), kemungkinan komponen tersebut dapat dihilangkan/ digabungkan dengan komponen yang lain. Pengurangan jumlah komponen pada umumnya merupakan jalan yang efektif untuk meningkatkan proses perakitan. Langkah 2 : Memperhatikan kolom (4) dan kolom (6). Jika data pada kolom ini relatif besar, maka komponen ini memiliki potensi untuk mengurangi waktu proses perakitan maupun waktu pembawaan. Sehingga jika komponen ini dirancang ulang akan memberikan kontribusi pengurangan waktu proses yang cukup besar. Berdasarkan lembar kerja yang ada, terlihat bahwa pada: Langkah 1 : Komponen baut memiliki potensi untuk dihilangkan atau digabungkan dengan komponen yang lain. Langkah 2 : Komponen yang berpotensi untuk dirancang ulang adalah Rumah Steker 1 dan 2 kemudian diikuti dengan Mur. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa komponen yang harus dirancang ulang adalah : - Rumah Steker 1 - Rumah Steker 2 - Mur - Baut. Hasil rancangan ulang dari ke empat komponen tersebut adalah sebagai berikut : jumlah komponen steker yang akan dirakit bisa dikurangi menjadi 2 komponen.

11 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 57 Gambar 5 : Komponen Hasil Rancangan Ulang Berdasarkan komponen hasil rancangan ulang ini, efisiensi perancangan manual dapat ditentukan. Berdasarkan tabel 4 ( Lembar kerja perakitan manual 2 ) diperoleh efisiensi perancangan manual sebesar Jadi terdapat peningkatan efisiensi sebesar 0.43 Hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan perancangan ulang adalah tingkat kreatifitas dari perancang. Peningkatan efisiensi perakitan ini jika ditinjau dari besarnya waktu siklus perakitan terjadi pengurangan waktu yang sukup besar, semula adalah 33,38 detik menjadi 7,60 detik. Sehingga proses perakitan dapat dilaksanakan lebih cepat yang berakibat secara langsung terhadap meningkatnya tingkat produktifitas dari sistem perakitan steker. Penentuan waktu proses dalam metoda boothroyd dewhurst menggunakan standar waktu yang telah ditetapkan, yaitu menggunakan tabel 1 dan tabel 2. Sistem ini sebenarnya memiliki kesamaan dalam sistem perancangan stasiun perakitan manual dengan menggunakan sistem MTM (Methods- Time Measurement). Perbedaan yang terjadi disini adalah MTM membuat klasifikasi waktu standar berdasarkan elemen gerakan dasar, sedangkan dalam metoda boothroyd dewhurst penentuan waktu standar berdasarkan karakteristik dari komponen yang dirakitkan. Perbedaan konsep ini tentu saja akan berakibat pada perbedaan hasil akhir. Hal ini terlihat dari waktu total perakitan yang diperoleh dari hasil percobaan pengukuran langsung sebesar 16,4 detik ( dari Peta tangan kiri dan tangan kanan) dengan hasil awal dari metoda boothroyd dewhurst sebesar detik. Perbedaan ini jangan dianggap sebagai suatu penilaian bahwa pendekatan yang dipergunakan kurang akurat, perlu dipertimbangkan adanya waktu yang dipergunakan untuk faktor penyesuaian dan kelonggaran bagi operator selama melakukan aktivitasnya. Sehingga pemberian waktu yang lebih banyak dalam melakukan aktivitas perakitan akan mengakibatkan operator dapat bekerja lebih nyaman. Hasil perbaikan yang diperoleh ternyata juga lebih baik dari perakitan yang dilakukan di Laboratorium dengan selisih waktu 8.8 detik. Dalam aplikasi penggunaan secara praktis untuk menentukan waktu standar dalam suatu proses perakitan, tabel dalam metoda boothroyd dewhurst cenderung lebih praktis untuk dipergunakan. Hal ini disebabkan karena parameter input yang diperlukan adalah karakteristik dari komponen yang akan dirakitkan dimana informasi ini lebih mudah dipahami oleh perancang, dibandingkan dengan pengetahuan mengenai seluruh elemen dasar yang diperlukan untuk mengaplikasikan tabel MTM.

12 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP KESIMPULAN Peningkatan kinerja suatu sistem kerja harus selalu dapat diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penerapan metoda boothroyd dewhurst ini kriteria kuantitatif yang dipergunakan adalah efisiensi perancangan. Peningkatan efisiensi perancangan dalam suatu sistem perakitan manual dapat dilakukan dengan mengurangi atau merancang ulang komponenkomponen yang akan dirakitkan. Tentu saja kriteria untuk mengurangi dan merancang ulang komponen-komponen yang ada harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah dijelaskan diatas. Pengurangan jumlah komponen yang akan dirakitkan cenderung akan mengarah pada jumlah operasi perakitan dan tentu saja akan mengurangi beban kerja dari operator. Hasil akhir dari aplikasi metoda boothroyd dewhurst pada produk steker ternyata memberikan kontribusi yang baik, dimana efisiensi perancangan meningkat dari 0.36 menjadi 0.79, atau meningkat dari waktu perakitan sebesar 33,38 detik menjadi 7.6 detik. Bila dibandingkan dengan hasil pengukuran langsung di Laboratorium terjadi pengurangan waktu proses dari 16,4 detik menjadi 7.6 detik, atau terjadi pengurangan waktu sebesar 8.8 detik. Proses penentuan waktu standar bagi proses perakitan dalam metoda boothroyd dewhurst mirip dengan proses penentuan waktu standar dalam MTM. Perbedaan yang terjadi disini adalah MTM membuat klasifikasi waktu standar berdasarkan elemen gerakan dasar, sedangkan dalam metoda boothroyd dewhurst penentuan waktu standar berdasarkan karakteristik dari komponen yang dirakitkan. Perbedaan konsep ini tentu saja akan berakibat pada perbedaan hasil akhir. DAFTAR PUSTAKA Boothroyd, G., and Dewhurst, P.,1991, Design for manual Assembly, Boothroyd Dewhurst Inc.,Wakefield. Kaebernick, H.,Farmer,L.E., and Mozar, S.,1997, Concurrent Product and Process Design, The University of New South Wales. Niebel, B.W.,1988,Motion and Time Study,8 th edition, IRWIN Homewood, Illinois.

13 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 59 Tabel 1: Classification and Coding Table for Manual Handling (Estimasi waktu dalam detik )

14 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 60 Tabel 2: Classification and Coding Table for Manual Insertion (Estimasi waktu dalam detik )

15 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 61

16

17 Kontribusi Ergonomi untuk Rancangan Perakitan 61 Tabel 3: Lembar Kerja Perakitan Manual Name of Assembly Part ID No Number of times the operation is carried out consecutively Two-digit manual handling code Manual handling time per part Two-digit manual insertion code Manual insertion time per part Operation time, seconds (2) x [(4) + (6)] Operation cost, cents 0.4 x (7) Figures for estimation of theoretical minimum parts Rumah Steker Kaki Steker Rumah Steker Mur * Baut Waktu standar untuk baut termasuk tambahan waktu untuk mengambil alat bantu mengencangkan, menggunakan, dan meletakkan. Sehingga rumusan yang digunakan adalah : (2) x [(4) + (6) 3] TM NM Design efficiency = (3)(NM)/(TM) = 0.36

18 Bernadus Kristyanto dan Parama Kartika Dewa SP 62 Tabel 4: Lembar Kerja Perakitan Manual Name of Assembly Part ID No Number of times the operation is carried out consecutively Two-digit manual handling code Manual handling time per part Two-digit manual insertion code Manual insertion time per part Operation time, seconds (2) x [(4) + (6)] Operation cost, cents 0.4 x (7) Figures for estimation of theoretical minimum parts Rumah Steker Kaki Steker 7.6 TM NM Design efficiency = (3)(NM)/(TM) = 0.79

NASKAH PUBLIKASI PERANCANGAN ULANG PRODUK RAGUM PTI MENGGUNAKAN METODE DFA-BOOTHROYD/DEWHURST UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PERAKITAN

NASKAH PUBLIKASI PERANCANGAN ULANG PRODUK RAGUM PTI MENGGUNAKAN METODE DFA-BOOTHROYD/DEWHURST UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PERAKITAN NASKAH PUBLIKASI PERANCANGAN ULANG PRODUK RAGUM PTI MENGGUNAKAN METODE DFA-BOOTHROYD/DEWHURST UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PERAKITAN ( Studi Kasus Ragum PTI di Laboratorium Teknik Industri UMS) Diajukan

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL OTOMASI II ISBN :

SEMINAR NASIONAL OTOMASI II ISBN : PERANCANGAN ULANG PART BERDASARKAN METODE BOOTHROYD- DEWHURST DAN USULAN TATA LETAK STASIUN PERAKITAN PRODUK KOMPOR JENIS NGETL 10-50 (Studi Kasus di PT. Nayati Indonesia) Thedy Yogasara dan Febri Silviani

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE BOOTHROYD DEWHURST DALAM PERANCANGAN ULANG PRODUK RICHTPRESSE ( Studi Kasus di PT. Budi Agung Periangan )

PENERAPAN METODE BOOTHROYD DEWHURST DALAM PERANCANGAN ULANG PRODUK RICHTPRESSE ( Studi Kasus di PT. Budi Agung Periangan ) PENERAPAN METODE BOOTHROYD DEWHURST DALAM PERANCANGAN ULANG PRODUK RICHTPRESSE ( Studi Kasus di PT. Budi Agung Periangan ) Renila Yovita dan Thedy Yogasara Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PROTOTIPE MESIN PEMISAH SAMPAH MATERIAL FERROMAGNETIK DAN NON FERROMAGNETIK

ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PROTOTIPE MESIN PEMISAH SAMPAH MATERIAL FERROMAGNETIK DAN NON FERROMAGNETIK ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PROTOTIPE MESIN PEMISAH SAMPAH MATERIAL FERROMAGNETIK DAN NON FERROMAGNETIK Rifki Ilyandi 1, Dodi Sofyan Arief 2, Tekad Indra Pradana Abidin 3 Laboratorium Teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.2.1. Design for Manufacturing Sebagai Metodologi yang Paling Umum Kebutuhan pelanggan dan spesifikasi produk berguna untuk menuntun fase pengembangan konsep,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Profil Produk Meja Komputer LEX - 941 Sistem yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sistem perakitan komponen-komponen yang menyusun sebuah meja komputer (LEX 941).

Lebih terperinci

ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY UNTUK MESIN ROLL SHEETER KARET

ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY UNTUK MESIN ROLL SHEETER KARET ANALISIS DESIGN FOR ASSEMBLY UNTUK MESIN ROLL SHEETER KARET Sigit Yoewono, Darma Yuda Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung E-mail: [email protected], [email protected]

Lebih terperinci

PROPOSAL PENELITIAN Penelitian Mandiri

PROPOSAL PENELITIAN Penelitian Mandiri PROPOSAL PENELITIAN Penelitian Mandiri MEMPERBAIKI DAYA SAING PRODUK MELALUI PERBAIKAN EFISIENSI RANCANGAN PERAKITAN oleh: Ir. Bernadus Kristyanto, M.Eng., Ph.D PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI

Lebih terperinci

Penerapan Metoda Design for Manufacture and Assembly pada Handle Transformer Hand Bike

Penerapan Metoda Design for Manufacture and Assembly pada Handle Transformer Hand Bike Penerapan Metoda Design for Manufacture and Assembly pada Handle Transformer Hand Bike Rifko Rahmat Kurnianto 1,a, Agung Wibowo 2,b *, Tri Prakosa 3,c Institut Teknologi Bandung, Fakultas Teknik Mesin

Lebih terperinci

only) Langkah 1 Persiapan

only) Langkah 1 Persiapan MANUAL ASSEMBLY BOOTHROYD DEWHURSmengikuti tahapan Analisa dan Redesign sebagai berikut: Tahap Analisa Langkah 1 Persiapan Langkah 2 Mengisi table penilaiann Langkah 3 Mengidentifikasi problem pada skema

Lebih terperinci

USULAN PERBAIKAN PERANCANGAN PRODUK SMART LIGHT MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY BOOTHROYD-DEWHURST

USULAN PERBAIKAN PERANCANGAN PRODUK SMART LIGHT MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY BOOTHROYD-DEWHURST USULAN PERBAIKAN PERANCANGAN PRODUK SMART LIGHT MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY BOOTHROYD-DEWHURST Arief Irfan Syah Tjaja, Rochmat Puji Astomo, Rispianda Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi

Lebih terperinci

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI OLEH: Marianus T. Dengi 122080139 LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA & ERGONOMI JURUSAN

Lebih terperinci

PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN

PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN (Improving The Plug Assembling Method Through The Left and Right Hand Motions) I Wayan Sukania*,

Lebih terperinci

PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN

PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN I Wayan Sukania, Oktaviangel 2, Julita 2. Staf pengajar Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Untar 2. Mahasiswa Teknik

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian dan tujuan rancang fasilitas Wignjosoebroto (2009; p. 67) menjelaskan, Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Perancangan tata letak pabrik

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Menempuh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

LAPORAN TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Menempuh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG PRODUK RAGUM PTI MENGGUNAKAN METODE DFA-BOOTHROYD/DEWHURST UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PERAKITAN (Studi Kasus Ragum PTI di Laboratorium Teknik Industri UMS) Diajukan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu kerja Pengukuran waktu kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Berikut adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. desain produk dan evaluasi secara berkesinambungan, tingkat performa. waktu dan biaya perakitan dapat diatasi.

BAB I PENDAHULUAN. desain produk dan evaluasi secara berkesinambungan, tingkat performa. waktu dan biaya perakitan dapat diatasi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya proses desain merupakan langkah awal dari proses manufaktur. Sebagian besar biaya produksi ditentukan dalam proses desain dan perencanaan. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong semua perusahaan khususnya industri manufaktur saling bersaing untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Lebih terperinci

DESAIN PENGEMBANGAN PRODUK WALLSHELF MENGGUNAKAN INTEGRASI QFD DAN DFMA DI UD. XYZ

DESAIN PENGEMBANGAN PRODUK WALLSHELF MENGGUNAKAN INTEGRASI QFD DAN DFMA DI UD. XYZ DESAIN PENGEMBANGAN PRODUK WALLSHELF MENGGUNAKAN INTEGRASI QFD DAN DFMA DI UD. XYZ Ary Faizal¹, Saufik Luthfianto², Fajar Nurwildani³ 1. Mahasiswa Progdi Teknik Industri Universitas Pancasakti Tegal 2,3

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peta Kerja Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Lewat peta-peta ini kita bisa melihat semua langkah

Lebih terperinci

DESAIN MESIN GERGAJI PORTABLE UNTUK PEMBUAT KAYU GERGAJIAN DARI BATANG KELAPA SAWIT DENGAN PENDEKATAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY (DFMA)

DESAIN MESIN GERGAJI PORTABLE UNTUK PEMBUAT KAYU GERGAJIAN DARI BATANG KELAPA SAWIT DENGAN PENDEKATAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY (DFMA) DESAIN MESIN GERGAJI PORTABLE UNTUK PEMBUAT KAYU GERGAJIAN DARI BATANG KELAPA SAWIT DENGAN PENDEKATAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY (DFMA) Handri Gustiar 1, Yohanes 2 Laboratorium Teknologi Produksi,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Penelitian cara kerja atau yang dikenal juga dengan nama methods analysis merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan metode kerja yang akan dipilih untuk melakukan suatu pekerjaan.

Lebih terperinci

PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PERTEMUAN #2 TKT TAUFIQUR RACHMAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS

PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PERTEMUAN #2 TKT TAUFIQUR RACHMAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PERTEMUAN #2 TKT306 PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS 6623 TAUFIQUR RACHMAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN

Lebih terperinci

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA tutorial 6 MOTION STUDY Prodi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Tahun Ajaran 2016/2017 www.labdske-uii.com WORK TIME MEASUREMENT (MOTION

Lebih terperinci

ANALISA DFA PADA KATUP PENGATUR KECEPATAN SILINDER PNEUMATIK (DFA Analysis on Flow Control Valve of Pneumatic Cylinder)

ANALISA DFA PADA KATUP PENGATUR KECEPATAN SILINDER PNEUMATIK (DFA Analysis on Flow Control Valve of Pneumatic Cylinder) ANALISA DFA PADA KATUP PENGATUR KECEPATAN SILINDER PNEUMATIK (DFA Analysis on Flow Control Valve of Pneumatic Cylinder) Menhendry (1) (1) Staf Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang. E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL PERHITUNGAN INDEKS KOMPLEKSITAS PROSES PERAKITAN MANUAL

PENGEMBANGAN MODEL PERHITUNGAN INDEKS KOMPLEKSITAS PROSES PERAKITAN MANUAL PENGEMBANGAN MODEL PERHITUNGAN INDEKS KOMPLEKSITAS PROSES PERAKITAN MANUAL Hendri D. S. Budiono 1.a*, Dery Palgunadi 2.b Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

Lebih terperinci

USULAN DESAIN MEJA KOMPUTER LEX 941 UNTUK EFISIENSI PROSES PERAKITAN DI PT. SURYA CIPTA PELANGI

USULAN DESAIN MEJA KOMPUTER LEX 941 UNTUK EFISIENSI PROSES PERAKITAN DI PT. SURYA CIPTA PELANGI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri - Fakultas Teknik SKRIPSI Semester Ganjil 2005/2006 USULAN DESAIN MEJA KOMPUTER LEX 941 UNTUK EFISIENSI PROSES PERAKITAN DI PT. SURYA CIPTA PELANGI JANWAR

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PENYAMBUNGAN BODY DAN CHASSIS MOBIL PICK UP MULTIGUNA PEDESAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA)

PENGEMBANGAN PENYAMBUNGAN BODY DAN CHASSIS MOBIL PICK UP MULTIGUNA PEDESAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PENGEMBANGAN PENYAMBUNGAN BODY DAN CHASSIS MOBIL PICK UP MULTIGUNA PEDESAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) O L E H : P R I Y A M B O D O R A N G G A S A N T O S A 2 1 0 9 1 0 0 0 3

Lebih terperinci

ANALISIS FLEXIBLE ASSEMBLY LINE DENGAN MELAKUKAN VIRTUAL PROTOTYPING

ANALISIS FLEXIBLE ASSEMBLY LINE DENGAN MELAKUKAN VIRTUAL PROTOTYPING ANALISIS FLEXIBLE ASSEMBLY LINE DENGAN MELAKUKAN VIRTUAL PROTOTYPING The Jaya Suteja, Sunardi Tjandra Program Studi Teknik Manufaktur Universitas Surabaya Raya Kalirungkut, Surabaya, INDONESIA - 60292

Lebih terperinci

Perancangan Tata Letak

Perancangan Tata Letak Materi #2 TIN314 Perancangan Tata etak Fasilitas Perancangan Tata etak 2 Definisi: pengaturan tata letak fasilitas-fasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin,

Lebih terperinci

PENGUKURAN WAKTU TIDAK LANGSUNG DATA WAKTU GERAKAN

PENGUKURAN WAKTU TIDAK LANGSUNG DATA WAKTU GERAKAN PENGUKURAN WAKTU TIDAK LANGSUNG DATA WAKTU GERAKAN Kegunaan/Kelebihan data waktu gerakan 1. waktu baku pekerjaan dapat diketahui sebelum pekerjaan tsb dijalankan 2. waktu baku pekerjaan dapat diketahui

Lebih terperinci

GRUP TEKNOLOGI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEXMACO DISUSUN OLEH : NELA RESA PUDIN RIFAN FATURAHMAN SOBANA SUPIANTO

GRUP TEKNOLOGI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEXMACO DISUSUN OLEH : NELA RESA PUDIN RIFAN FATURAHMAN SOBANA SUPIANTO GRUP TEKNOLOGI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEXMACO DISUSUN OLEH : NELA RESA PUDIN RIFAN FATURAHMAN SOBANA SUPIANTO MATA KULIAH PENGANTAR SISTEM PRODUKSI DOSEN PEMBIMBING : BAPAK SAFRIZAL PROGRAM STUDI TEHNIK

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 SMED (Single Minute Exchange Die) Salah satu masalah yang dihadapi oleh industri manufaktur adalah seringnya keterlambatan dalam menyelesaian pekerjaan sehingga tidak sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 PENDAHULUAN Penentuan waktu standar akan mempunyai peranan yang cukup penting didalam pelaksanaan proses produksi dari suatu perusahaan. Penentuan waktu standar yang tepat dan

Lebih terperinci

ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER

ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER Disusun oleh: Nama : Eka Kurnia Npm : 32412408 Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : I. Ir.

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai

BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Flowchart Metode Penelitian Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai Studi Pendahuluan: Pengamatan flow process produksi Assembly

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perancangan sistem kerja Suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancanganterbaik dari system kerja yang bersangkutan. Teknik-teknik

Lebih terperinci

PENENTUAN URUTAN PERAKITAN PRODUK DENGAN LIAISON-SEQUENCE ANALYSIS

PENENTUAN URUTAN PERAKITAN PRODUK DENGAN LIAISON-SEQUENCE ANALYSIS PENENTUAN URUTAN PERAKITAN PRODUK DENGAN LIAISON-SEQUENCE ANALYSIS Ida Nursanti Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A Yani Tromol Pos I Pabelan, Surakarta.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keseimbangan Lintasan berkaitan dengan bagaimana operasi yang ditunjuk pada stasiun kerja dapat dioptimalkan melalui menyeimbangkan kegiatan yang ditugaskan

Lebih terperinci

PENERAPAN DESAIN UNTUK PERAKITAN (DFA) PADA PERAKITAN COOLBOX SEPEDA MOTOR SKRIPSI

PENERAPAN DESAIN UNTUK PERAKITAN (DFA) PADA PERAKITAN COOLBOX SEPEDA MOTOR SKRIPSI UNIVERSITAS INDONESIA PENERAPAN DESAIN UNTUK PERAKITAN (DFA) PADA PERAKITAN COOLBOX SEPEDA MOTOR SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik TRI PURWADI 0706267396

Lebih terperinci

PERBAIKAN METODE KERJA PENGANTONGAN SEMEN MENGGUNAKAN PETA TANGAN KIRI DAN KANAN. ABSTRAK

PERBAIKAN METODE KERJA PENGANTONGAN SEMEN MENGGUNAKAN PETA TANGAN KIRI DAN KANAN. ABSTRAK Konsumsi Semen PERBAIKAN METODE KERJA PENGANTONGAN SEMEN MENGGUNAKAN PETA DAN KANAN Cut Ita Erliana 1, Listiani Nurul Huda 2, A. Rahim Matondang 2 1 Program Studi Teknik Industri Universitas Malikussaleh

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB V HASIL DAN ANALISA BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Hasil Berdasarkan hasil dari pengujian validitas kuesioner, seluruh pernyataan kuesioner didapatkan nilai validitas r > r tabel, dengan r tabel yang memiliki tingkat signifikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Latar Belakang Masalah. Perumusan Masalah. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Latar Belakang Masalah. Perumusan Masalah. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini secara sistematis mengenai tahapan yang dilakukan dalam membuat penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan dapat digambarkan dengan sebuah flowchart pada gambar

Lebih terperinci

PERBAIKAN SISTEM KERJA DAN ALIRAN MATERIAL PADA PT. M MOTORS AND MANUFACTURING

PERBAIKAN SISTEM KERJA DAN ALIRAN MATERIAL PADA PT. M MOTORS AND MANUFACTURING PERBAIKAN SISTEM KERJA DAN ALIRAN MATERIAL PADA PT. M MOTORS AND MANUFACTURING Niken Parwati¹, Ibnu Sugandi². Program Studi Teknik Industri, Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta 12110 [email protected]

Lebih terperinci

Perancangan Tata Letak

Perancangan Tata Letak 1 TIN314 Perancangan Tata Letak Fasilitas Perancangan Tata Letak 2 Definisi: pengaturan tata letak fasilitasfasilitas operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin, bahan-bahan,

Lebih terperinci

1.6. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan tugas akhir ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.6. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan tugas akhir ini dapat dijabarkan sebagai berikut: BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penggunaan lintasan produksi seoptimal mungkin merupakan tujuan yang ingin dicapai tiap industri. Penggunaan lintasan produksi secara optimal dapat meningkatkan

Lebih terperinci

PERANCANGAN PROSES 81

PERANCANGAN PROSES 81 PERANCANGAN PROSES 81 Keterkaitan Perancangan Produk, Perancangan Proses, Perancangan Jadwal,dan Perancangan Fasilitas Perancangan Produk Perancangan Fasilitas Perancangan Proses Perancangan Jadwal 82

Lebih terperinci

DESIGN FOR MANUFACTURING

DESIGN FOR MANUFACTURING DESIGN FOR MANUFACTURING Design for Manufacturing (DFM) : Merupakan salah satu dari metoda Design for X (DFX) dimana X mungkin berhubungan dengan satu dari lusinan kriteria seperti reliability, robustness,

Lebih terperinci

ERGONOMI & APK - I KULIAH 3: STUDI & EKONOMI GERAKAN

ERGONOMI & APK - I KULIAH 3: STUDI & EKONOMI GERAKAN ERGONOMI & APK - I KULIAH 3: STUDI & EKONOMI GERAKAN By: Rini Halila Nasution, ST, MT STUDI GERAKAN Studi gerakan atau yang biasanya disebut dengan motion study adalah suatu studi tentang gerakan-gerakan

Lebih terperinci

Pengukuran Kerja Tidak Langsung (Predetermined Motion-Time System)

Pengukuran Kerja Tidak Langsung (Predetermined Motion-Time System) Pengukuran Kerja Tidak Langsung (Predetermined Motion-Time System) Latar Belakang Stop watch harus terus menerus mengamati pekerjaan Work sampling butuh ratusan/ribuan pengamatan Data waktu baku hanya

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan bagian rangka, pengaduk adonan bakso dan pengunci pengaduk adonan bakso adalah : 4.1.1 Alat Alat yang

Lebih terperinci

Sistem Produksi. Produksi. Sistem Produksi. Sistem Produksi

Sistem Produksi. Produksi. Sistem Produksi. Sistem Produksi Sistem Produksi Sistem Produksi 84 Produksi Produksi disebut juga dengan istilah manufaktur merupakan salah satu fungsi dalam perusahaan (fungsi lainnya a.l pemasaran, personalia, dan finansial). Produksi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN DEFINISI, RUANG LINGKUP, TUJUAN, DAN PROSEDUR PERANCANGAN FASILITAS

PENDAHULUAN DEFINISI, RUANG LINGKUP, TUJUAN, DAN PROSEDUR PERANCANGAN FASILITAS PENDAHULUAN DEFINISI, RUANG LINGKUP, TUJUAN, DAN PROSEDUR PERANCANGAN FASILITAS 7 Definisi Pabrik Pabrik/Industri setiap tempat dimana faktor-faktor seperti : manusia, mesin dan peralatan (fasilitas) produksi

Lebih terperinci

PERTEMUAN #8 ROBOT INDUSTRI 6623 TAUFIQUR RACHMAN TKT312 OTOMASI SISTEM PRODUKSI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL

PERTEMUAN #8 ROBOT INDUSTRI 6623 TAUFIQUR RACHMAN TKT312 OTOMASI SISTEM PRODUKSI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL ROBOT INDUSTRI Sumber: Mikell P Groover, Automation, Production Systems, and Computer- Integrated Manufacturing, Second Edition, New Jersey, Prentice Hall Inc., 2001, Chapter 7 PERTEMUAN #8 TKT312 OTOMASI

Lebih terperinci

Kata Kunci : konsep DFMA, jumlah komponen, biaya perakitan, biaya manufaktur, assembly efficiency

Kata Kunci : konsep DFMA, jumlah komponen, biaya perakitan, biaya manufaktur, assembly efficiency PENGEMBANGAN PRODUK INDUSTRI BOILER MENGGUNAKAN KONSEP DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY (DFMA) Nasrulloh Jamalludin ([email protected]), Mokh. Suef ([email protected]) Putu Dana Karningsih ([email protected])

Lebih terperinci

III. TINJAUAN PUSTAKA

III. TINJAUAN PUSTAKA III. TINJAUAN PUSTAKA A. Ergonomi Istilah ergonomi yang juga dikenal dengan human factors berasal dari bahasa Latin yaitu ergon yang berarti kerja, dan nomos yang berarti hukum alam. Sehingga, ergonomi

Lebih terperinci

practicum apk industrial engineering 2012

practicum apk industrial engineering 2012 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman modern seperti saat ini, sebagai pekerja yang baik harus mampu menciptakan suatu sistem kerja yang baik dalam melakukan pekerjaan agar pekerjaan tersebut

Lebih terperinci

ABSTRAK. vii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. vii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT Alpine Cool merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Produk yang dihasilkan perusahaan adalah Refigerator System atau yang lebih dikenal dengan sebutan panel pendingin. Dari

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES.

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES. PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES Arlis Yuniarso Program Studi Teknik Industri Universitas Dian Nuswantoro Semarang,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Methods Time Measurement Pengukuran waktu metoda atau Methods Time Measurement adalah suatu sistem penetapan awal waktu baku yang dilakukan secara tidak langsung dan

Lebih terperinci

APLIKASI DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PERANCANGAN PRODUK VACCINE CARRIER

APLIKASI DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PERANCANGAN PRODUK VACCINE CARRIER Jurnal Desiminasi Teknologi, Volume 2, No. 2, Juli 2014 APLIKASI DESIGN FOR ASSEMBLY (DFA) PADA PERANCANGAN PRODUK VACCINE CARRIER Rita Maria Veranika *) Abstrak : Perubahan pasar global yang cepat menyebabkan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODEL DRILL JIG UNTUK PENGGURDIAN FLENS KOPLING

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODEL DRILL JIG UNTUK PENGGURDIAN FLENS KOPLING PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODEL DRILL JIG UNTUK PENGGURDIAN FLENS KOPLING Mulyadi (1), Toti Srimulyati (2) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Padang (2) Staf Pengajar Jurusan Manajemen,

Lebih terperinci

Method Time Measurement (MTM-1) Nurjannah

Method Time Measurement (MTM-1) Nurjannah Method Time Measurement (MTM-1) Nurjannah Definisi Basic Methods Time Measurement (MTM-1) adalah suatu sistem penetapan awal waktu baku yang dikembangkan berdasarkan studi gambar gerakan - gerakan kerja

Lebih terperinci

DEFINISI. Peta kerja untuk kegiatan setempat digunakan untuk menganalisa suatu stasiun kerja. Peta pekerja & mesin Peta tangan kanan dan tangan kiri

DEFINISI. Peta kerja untuk kegiatan setempat digunakan untuk menganalisa suatu stasiun kerja. Peta pekerja & mesin Peta tangan kanan dan tangan kiri DEFINISI Peta kerja untuk kegiatan setempat digunakan untuk menganalisa suatu stasiun kerja MACAM Peta pekerja & mesin Peta tangan kanan dan tangan kiri Peta Pekerja dan Mesin : Menggambarkan Koordinasi

Lebih terperinci

Definisi ilmu seni memindahkan menyimpan melindungi mengontrol/ mengawasi material

Definisi ilmu seni memindahkan menyimpan melindungi mengontrol/ mengawasi material Definisi 1. Material handling adalah ilmu dan seni memindahkan, menyimpan, melindungi, dan mengontrol/ mengawasi material. 2. Material handling merupakan penyediaan material dalam jumlah yang tepat, pada

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIKUM PENANGANAN BAHAN DAN PERENCANAAN TATA LETAK FASILITAS

PANDUAN PRAKTIKUM PENANGANAN BAHAN DAN PERENCANAAN TATA LETAK FASILITAS PANDUAN PRAKTIKUM PENANGANAN BAHAN DAN PERENCANAAN TATA LETAK FASILITAS Disusun Oleh Tim Dosen dan Asisten PLO 2017 LABORATORIUM KOMPUTASI DAN ANALISIS SISTEM JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS

Lebih terperinci

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Tugas Akhir Sarjana Semester Genap Tahun 2006/2007

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Tugas Akhir Sarjana Semester Genap Tahun 2006/2007 UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Tugas Akhir Sarjana Semester Genap Tahun 2006/2007 Abstrak ANALISA EFISIENSI GERAKAN TANGAN DAN TATA LETAK FASILITAS PADA LINI PERAKITAN

Lebih terperinci

PENERAPAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY PADA PRODUK MESIN GILAS TIPE MGD-4 DI PT BARATA INDONESIA (PERSERO)

PENERAPAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY PADA PRODUK MESIN GILAS TIPE MGD-4 DI PT BARATA INDONESIA (PERSERO) TUGAS AKHIR RI 1592 PENERAPAN DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY PADA PRODUK MESIN GILAS TIPE MGD-4 DI PT BARATA INDONESIA (PERSERO) OKI AGUNG SETIYANTO NRP 2502 100.006 Dosen Pembimbing Ir Hari Supriyanto,

Lebih terperinci

Bagian Assembly Chart

Bagian Assembly Chart Materi #4 TIN314 Perancangan Tata Letak Fasilitas Bagian Assembly Chart 2 x : nomor part, berada dalam lingkaran kecil yyy : nama part, lingkaran yang agak besar SiAj : subassembly A : final product 6623

Lebih terperinci

LOGO EKONOMI GERAKAN

LOGO EKONOMI GERAKAN LOGO EKONOMI GERAKAN PERENCANAAN SISTEM KERJA STUDI GERAKAN Faktor Sistem Kerja: EKONOMI GERAKAN Pekerja, Bahan, Mesin dan Perlatan, Lingkungan Perencanaan Sistem Kerja: Mendapatkan sistem kerja yang lebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Jika dalam suatu organisasi atau perusahan telah diterapkan sistem kerja yang baik dengan diperhatikannya faktor-faktor kerja serta segi-segi ergonomis,tentunya perusahaan tersebut

Lebih terperinci

TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT

TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT By: Rini Halila Nasution, ST, MT Alat, bahan dan pekerja harus diatur posisinya sedemikian rupa dalam suatu pabrik, sehingga hasilnya paling efektif dan ekonomis.

Lebih terperinci

PERBAIKAN RANCANGAN PRODUK SPRING BED DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DAN DESIGN FOR MANUFACTURING

PERBAIKAN RANCANGAN PRODUK SPRING BED DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DAN DESIGN FOR MANUFACTURING PERBAIKAN RANCANGAN PRODUK SPRING BED DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DAN DESIGN FOR MANUFACTURING AND ASSEMBLY (DFMA) DI PT OCEAN CENTRA FURNINDO TUGAS SARJANA Diajukan untuk

Lebih terperinci

TIN314 Perancangan Tata Letak Fasilitas. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d

TIN314 Perancangan Tata Letak Fasilitas. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d #4 - AC dan OPC 1 TIN314 Perancangan Tata Letak Fasilitas Assembly Chart (AC) (1) 2 Bagian paling kiri AC merupakan nama part. Semakin ke kiri, penomoran S bertambah dan semakin ke bawah penomoran A bertambah.

Lebih terperinci

Bab 6 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan

Bab 6 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan Bab 6 Kesimpulan dan Saran 6.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Atribut produk vise portable yang diinginkan oleh konsumen adalah harga penjualan murah,

Lebih terperinci

(Sumber :

(Sumber : Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Laboratorium Proses Manufaktur merupakan salah satu laboratorium pada program studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri Universitas Telkom. Laboratorium ini

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Tata Letak Fasilitas 2.1.1 Pengertian Perencanaan Fasilitas Perencanaan tata letak fasilitas termasuk kedalam bagian dari perancangan tata letak pabrik. Perencanaan

Lebih terperinci

ANALISIS PRODUK DAN PROSES MANUFAKTURING

ANALISIS PRODUK DAN PROSES MANUFAKTURING ANALISIS DAN PROSES MANUFAKTURING Suatu rancangan ataupun rencana tentang tata letak fasilitas pabrik tidaklah akan bisa dibuat efektif apabila data penunjang mengenai bermacam-macam faktor yang berpengaruh

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Produktivitas. Dalam suatu industri manufaktur, tercapainya output merupakan target yang harus dicapai terutama dalam divisi produksi. Akan tetapi untuk mencapai target output

Lebih terperinci

Perancangan Metode & Tempat Kerja Bagian Packaging Produk Bumbu A di PT XYZ Dengan Menerapkan Prinsip Ergonomi

Perancangan Metode & Tempat Kerja Bagian Packaging Produk Bumbu A di PT XYZ Dengan Menerapkan Prinsip Ergonomi Prosiding Seminar Nasional Ergonomi dan K3 2006 Lab.E&PSK-TI-FTI-ITS-2006 Surabaya, 29 Juli 2006 ISBN : 979-545-040-9 Perancangan Metode & Tempat Kerja Bagian Packaging Produk Bumbu A di PT XYZ Dengan

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE A. BAHAN BAB III BAHAN DAN METODE Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Besi plat esser dengan ketebalan 2 mm, dan 5 mm, sebagai bahan konstruksi pendorong batang,

Lebih terperinci

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL 2.1 Landasan Teori Operation Process Chart (OPC) adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yang meliputi urutan proses

Lebih terperinci

PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT

PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer PERBAIKAN LINI FINISHING DRIVE CHAIN AHM OEM PADA PT FEDERAL SUPERIOR CHAIN MANUFACTURING DENGAN METODE KESEIMBANGAN LINI DAN METHODS TIME MEASUREMENT Lina Gozali *, Lamto

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Perkembangan ekonomi nasional saat ini tak terlepas dari adanya peningkatan teknologi dan globalisasi yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perindustrian dalam negeri, baik itu industri

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT TANAM BENIH JAGUNG ERGONOMIS DENGAN TUAS PENGUNGKIT

RANCANG BANGUN ALAT TANAM BENIH JAGUNG ERGONOMIS DENGAN TUAS PENGUNGKIT RANCANG BANGUN ALAT TANAM BENIH JAGUNG ERGONOMIS DENGAN TUAS PENGUNGKIT Rindra Yusianto Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang 50131 E-mail : [email protected] ABSTRAK Salah satu

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan pengolahan dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini : 1. Prinsip ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Bhayangkara Jaya. Pengaruh Audit..., Prasasti, Fakultas Ekonomi 2015

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Bhayangkara Jaya. Pengaruh Audit..., Prasasti, Fakultas Ekonomi 2015 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi bergerak sangat pesat ditandai dengan munculnya begitu banyak perusahaan lokal, nasional maupun multinasional. Hal ini menyebabkan persaingan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kerja Studi kerja adalah penelaahan secara sistematik terhadap pekerjaan, dengan maksud untuk : (Barnes, 1980, Halaman 6) 1. Mengembangkan sistem dan metode kerja yang lebih

Lebih terperinci

MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT)

MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT) MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT) 1.1. TUJUAN PRAKTIKUM Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan yang semakin pesat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan yang semakin pesat 14 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan yang semakin pesat menuntut kita untuk mampu menyelesaikan permasalahan yang semakin komplek, untuk itu diperlukan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERBAIKAN PRODUK SAKLAR DENGAN INTEGRASI METODE QFD DAN DFMA DI PT XXX

RANCANGAN PERBAIKAN PRODUK SAKLAR DENGAN INTEGRASI METODE QFD DAN DFMA DI PT XXX RANCANGAN PERBAIKAN PRODUK SAKLAR DENGAN INTEGRASI METODE QFD DAN DFMA DI PT XXX Rosnani Ginting, Ikhsan Siregar, Akhmad Bajora Nasution Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera

Lebih terperinci

Tabel 2.4 Penyesuaian menurut Westinghouse

Tabel 2.4 Penyesuaian menurut Westinghouse Tabel 2.4 Penyesuaian menurut Westinghouse 32 33 Tabel 2.5 Kelonggaran Tabel 2.5 Kelonggaran ( Lanjutan ) 34 Tabel 2.5 Kelonggaran ( Lanjutan ) 35 36 2.2 Peta Kerja 2.2.1 Pengertian Peta Kerja Peta kerja

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN Bab 7 Kesimpulan dan Saran BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan perilaku struktur bambu akibat beban rencana. Pengujian menjadi penting karena bambu merupakan material yang tergolong

Lebih terperinci

Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut

Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut Performa (2006) Vol. 5, No.2: 11-20 Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut Andi Susilo, Muhamad Iksan, Subono Jurusan Teknik Industri,

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data gerakan kerja dilakukan dengan cara merekam proses perakitan resleting polyester dengan handycam / kamera video. Setelah itu data

Lebih terperinci

PROGRAM PETA PROSES REGU KERJA DENGAN SOFTWARE VISUAL BASIC 6.0 SKRIPSI

PROGRAM PETA PROSES REGU KERJA DENGAN SOFTWARE VISUAL BASIC 6.0 SKRIPSI PROGRAM PETA PROSES REGU KERJA DENGAN SOFTWARE VISUAL BASIC 6.0 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Teknik Industri Oleh : CHATTRINE THERESIA LINAWATI 05 06 04769

Lebih terperinci

Arti Kata & Definisi Robot

Arti Kata & Definisi Robot Materi #10 Arti Kata & Definisi Robot 2 Arti kata robot Robot berasal dari bahasa Cekoslovakia: robota yang berarti pekerja paksa (forced worker). Definisi robot Menurut Kamus Webster: Robot adalah sebuah

Lebih terperinci

APLIKASI PREDETERMINED TIME SYSTEM DAN RANKED POSITIONAL WEIGHT PADA OPTIMALISASI LINTASAN PRODUKSI UPPER-SHOE DI PT. ECCO INDONESIA, SIDOARJO

APLIKASI PREDETERMINED TIME SYSTEM DAN RANKED POSITIONAL WEIGHT PADA OPTIMALISASI LINTASAN PRODUKSI UPPER-SHOE DI PT. ECCO INDONESIA, SIDOARJO B-2- APLIKASI PREDETERMINED TIME SYSTEM DAN RANKED POSITIONAL WEIGHT PADA OPTIMALISASI LINTASAN PRODUKSI UPPER-SHOE DI PT. ECCO INDONESIA, SIDOARJO Rina Lukiandari, Abdullah Shahab ITS Surabaya ABSTRAK

Lebih terperinci